Ilmu Angin Sakti Jilid 06

Jilid 06

―Mana pemilik rumah makan?" seru orang pendek gemuk tadi. "Saya.. saya..!" Kuasa rumah makan itu segera muncul dari kolong suaraaya gemetar, demikian juga seluruh tubuhnya tak bisa diam karena ketakutan. Thay yoya... maafkan .?.aduuuh!‖. Belum selesai ia berkata, sebuah tamparan yang tidak tertampak oleh matanya, mengenai pipinya.

"Tahan!" Tiba-tiba pemuda tampan itu berseru mencegah sambil meloccat dari tempat duduknya, menghadapi si pendek gemuk yang garang itu.

"Dia tidak hersalah. Kalau mau cari urusan boleh kepadaku!"

Si pendek gemuk melihat kegesitan gerakan pemuda tampan itu, dia tampak tertejut. sebaliknya, Sin Hong merasa lega karena ia tett bahwa terayata pemuda tampan itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

Karen marahnya si pendek gemuk itu melotot, dan kumisuya bergerak-gerak.

―Bocah    mencari    mampus.    Minggir!‖    bentaknya    seraya tangannya yang besar berbulu-bulu itu mergebas kearah dada si pemuda. Akan tetapi kiranya pemuda itu cutup waspada. Dengan melangkah mundur setindak, maka hantaman tangan si pendek gemuk yang mengarah ke dadanya dapat dihindari dengan baik.

Karena gagal serangannya, maka penyerang itu menjadi tambah naik pitam. Begitu serangan pertamanya gagal, maka ia telah maju setindak membarengi ukulan yang kedua, cepat dan amat berbahaya. Dan bersamaan itu pula kedua temannya telah mengirim serangan ke arah si pemuda dari kanan dan kiri menjepit.

―Ha-ha-ha-ha!" Tiba-tiba terdengar si pemuda tampak tertawa." Tidak tahu malu! Tiga orang tua bangka meagerubut anak kecil" Begitu tertawa tangannya telah bergerak kepunggung, maka selanjutaya ia telah memegaug sebatang pedang yang langsung digerakan menyabet ke arah riga orang pengoroyok itu.

Pengoroyok-pengeroyok itu berlornpatan mundur karena terkejut dan merekapun tak mau melawan dengan tangan kosong, masing-masing lantas menarik senjatanya yakni toya, tombak dan golok besar.

Sesaat kemudian maka keempat orang itupun tetah terlibat dalam pertarungan yang seru. Sin Hong yang sempat menyaksikan cara bertempur pemuda cakap itu jadi terkeiut, karena tampaknya pemuda itu bertarung dengan gerakan yang mirip sekali thaw gaya dilakutai oleh Kim Biau Liu waktu didalarn guha melawan Sia Hong. Hanya bedanya, pemuda itu tampak mempunyai gerakan yang tebih cepat lebih gesit. Bukan main cepatnya gerakan pedangnya berkelebat-kelebat membuat bayangan-bayangan berkilatan dalam beberapa detik saja ia telah memainkan belasan Jurus serangan, membuat ketiga pengeroyok itu kocar kacir.

Ketiga pengeroyok yang semula memperlihatkaa sikap galak itu kini terdesak, tak banyak mulut dan mandi keringat. Sernentara itu, karena keempat orang itu bertempur dengan mempergunakan senjata, nista meja kursi rumah makan jadi berantakan, tamu-tamu pun sudah habis berhamburan pergi, kecuali satu-satunya Sin Hong yang menonton pertarungan itu sainbil mirurn-minum tenang.

Kian lama permainan pedang pemuda tampan itu semakin hebat. Tubuhnya seakan lenyap, tinggal kelebatan sinar pedang belaka yang menyarnbar-nyambar kian kemari, metibat ketiga lawannya.

Suatu saat pemuda itu mengelakan serangan senjata lawannya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mengayunkan pedang, menyabet keleher lawan yang kedua. serangan itu pula, kaki kanannya melayana dengan gerakan tipu Ayam Eanas Mematuk Elang. Hebat bukan main serangan ini, hingga lawannya si pendek gemuk yang memang tetah pening akibat dicecer serangan, masing-masing menggerakkan senjatanya menangkis pedang dan tendangan kaki yang berbahaya itu.

Serangan ini mereka dapat menghindarkannya, akan tetapi diluar dugaan mereka, ternyate serangan si pemuda yang serempak itu hanyalah pancingan belaka mencari lowongan pada musub- musuh karena secepat kilat, pemuda itu telah merubah serangannya, pedang telah berubah arah menusuk, sedangkan tendangan yang seberarnya dilakukan adalah dupakan kaki kiri. Akibatnya, tak ampun lagi kedua lawan itu terluka pundak oleh pedang, sedangkan yang seorang lagi terdupak betisrya dengan keras. Kedua lawan itupun menjerit kesakitan, tubuhrya terbanting roboh sehingga membuat si pendek gemuk jadi terkejut dan kalut perhatian. "Ha ha ha ha! Tunggu satabat! Tidak pantas datang dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan tanda mata,‖ seru pemuda tampan itu pula seraya pedargnya melurcur cepat mengarah punggung si pendek gemuk.

"Ah, kejarn sekali" seru Sin Hong dalam hatinya, yang menjadi tidak senang menyaksikan keteleagesan si pemuda tampan, sehingga diam-diam ia menyiapkan dua batang senjata rabasia dari cemara, siap untuk memberikan pertolongan pada orang yang sudah tak berdaya itu.

Namun pada saat itu, tiba-tiba matanya yang tajam melihat dari arah jendela melesat sesosok bayangan orang, gesit sekali bayangan itu sehingga dapatlah dipastikan bahwa orang yang Baru datang ini tentulah seseorang yang berilmu satgat tinggi. Begitu muncul muka, maka orang itu telah berada di tengah-tengah antara si pemuda tampan dengan orang yang pendek gemuk tadi.

Dia, yang baru datatsg itu adtaah seorang Tosu (Imam) yang beusia lima puluhan tahun. Jenggotnya bercabang tiga. Air mukanya menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang telah puas berkelana di kalangan kangouw, sedangkan kedua biji matanya bersinar-sinar sangat kejam.

Tosu ini, begitu muncul lantas bertindak. Lengan bajunya mengebut, maka pedang si pemuda tampan yang semula meluncur itu menyimpang ke saming si pendek gemuk. Dapatlah terbebas dari kebinasaan.

―Bagus.‖   pemuda   tampan   ini   mendengus   penuh   ejekan.

―Sekarang  tambah  satu  orang  pengeroyok   lagi.   Ayo   datanglah empat puluh lagi. Thaiya Giok Hwat tidak akan lari.‖ Agaknya dia tidak gentar walaupun menghadapi Tosu itu yang ternyata memiliki Iwekang yang lebih tinggi.

―Bocah   lancang!‖   bentak   orang   yang   pendek   gemuk   tadi.

―Jangan kurang ajar pentang matamu dengan siapa kau berhadapan sekarang.‖

"Dengan seorang Tosu bidung kerbau.‖ Mulutnya menjawab demikian, tangannya meluncurkan pedang mendahului menyerang si Tosu dengan gerakan tipu Bayi Langit Nangis menjerit.

Si Tosu yang merasa dihina dan diserang dengan begitu kasar menjadi sangat gusar. Setelah si pendek gemuk mundur, maka iapun melolos senjatanya yang berupa yang berwujud sebuah senjata alat tulis, langsung dipergunakannya menangkis pedang si pemuda. Sesaat kemudian merekapun bertempur dengan sengit.

Tampatnya kekuatan mereka hampir seimbang. Si Tosu dengan senjata tulisnya itu ternyata dapat bergerak dengan sangat tangkas dan berbahaya. Kecuali menusuk dan mengemplang, senjata alat tulis itu dapat dipergunakan sebagai alat menotok jalan darah, sehingga detik-detik selanjutnya senjata itu telah berkelebat mengurung si emuda yang mengaku bernama Giok Hwat Kong itu dengan puasnya. Sin Hong diam-diam mengagumi kepandaian si Tosu itu. walaupun orang tua itu. walaupun orang tua itu Cuma si gemuk pendek yang berandalan, akan tetapi ternyata Hwat Kong ilmu silatnya cukup hebat. Sedangkan pemuda itu mau tidak mau harrus melayaninya dengan sungguh-sungguh. Tidak berani lagi ia memandang ringan pada lawannya. Hal itu tampak pada gerakan- gerakan silatnya dan raut mukanya yang menjadi tegang sekali.

Dengan tidak kurang lincahnya, Hwat Kong merubah gerakan pedangnya menjadi cepat dan gencar, mengimbangi terjangan senjata alat tulis si Tosu yang menyambar-nyambar seperti gelombang.

Akan tetapi selama ini Hwat Kong belum dapat melakukan serangan secara bebas, bahkan sebaliknya, ia berada dalam keadaan tertahan serangan-serangan senjata si Tosu, amat cepat datangnya dan setiap kena ditangkis senjata itu bukannya terpental membalik, akan tetapi justeru seperti mendapat tenaga baru untuk melancarkan serangan-serangan lebih lanjut.

Untuk sesaat Hwat Kong tamak mengagumi kepandaian lawan, tetapi juga gugup. Untung saja ia bernyali besar, dan sebagai seorang murid dari seorang guru yang agaknya ternama, tentu saja ia harus dapat menjaga nama baik gurunya. Demikianlah walaupun selama ini ia hanya bertahan belaka, akan tetapi saat-saat tertentu ia sempat pula melayangkan serangan balasan, sehingga ia tidak begitu saja dapat dirobohkan.

Namun si Tosu nampaknya tidak mau memberi hati pada lawannya. Serangan-serangannya semakin hebat dan ganas. Sedikitpun ia tidak memberi kesempatan pada lawannya.

Giok Swat Kong yang mernangnya sedang nemusatkan perhatiannya pada senjatanya, sama sekali tidak menduga seranoan mendadak itu. ia tidak sempat lagi untuk menghindarinya sehingga ia hanya sempat mengerahkan Iwekang melindungi perutnya agar tidak menderita luka dalam.

Bukk!" Tendangan tepat mengenai perut si pemuda, dan pemuda itupun terhuyung mundur. Rupanya si Tosu benar-enar tidak akan mengampuni lawannya. Bersamaan dengan mengerahkan senjaranya menyerang ia membentak dengan keras.

"Lihat kawan-kawan! Bukankah dia orangnya yang telah mencuri lima belas potong emas hasil kita?‖ Maka ketika kata- katanya ini berhenti, ujung senjatanya sedang hendak menghajar dada Hwat Kong.

Tampaknya pemuda yang bernama Hoat Kong itu akan segera terbinasa dibawah hantaman si Tosu, akan tetapi pada saat mendekait detilik kebirassannya, dan sudah kebabisan daya tiba-tiba dari arah sebelah kiri melayang sebuah piauw. Ringan sekali gerakan senjata tabasia itu kareua tampaknya terbuat dari bahan sejenis kayu yang ringan. Akan tetapi oleh tenaga sambitan yang sangat besar. Benda itu dapat membentur ujung alat tulis si Tosu yang sudah hampir mengenai sasaran, hingga senjata itu jadi melenceng kesamping. Si Tosu terkejut bukan kepalang.

Si Tosu merduga bahwa ada orang lihai yang telah melindungi lawannya. la pun memutar tubuh, mencari-cari dengan matanya, siapa orangnya yang telah lancang tangan. Akan tetapi ia menjadi heran sekali ketika ia tidak melihat orang lain kecuaii seerang pemuda yang sedang duduk-duduk tenang, seolah-olah tidak tahu urusan. Pemuda itu sedang duduk diam tidak patut untuk dicurigai memiliki kelihaian. Tetapi siapakah dia pelindung lawannya itu?

Karena memikir-mikir demikian, maka si Tosu menjadi lengah. Dan pada saat ia berada dalam keadaan demikian itulah berkesiur angin sambaran pedang, menyerang kearah dadanya. Akan tetapi si Tosu kiranya benar-benar kosen. Dalarn keadaan yang sangat berbahaya itu ia masih sempat bertindak cepat. ia melompat kekanan, mendahului datangnya serangan dengan gerakan senjatanya menangkis sekaligus jari tangan kirinya digerakkan menotok jalan darah tay hui hiat Hwat Hong dibagian lambung. Kembali serangan si Tosu begitu cepat dan tak terduga sehingga membuat Hwat Kong gelagapan, dan karena inilah kiranya pemuda itu jadi nekat. Dengan melupakan berbahaya totokan yang dapat membuat dia mati lemas, pemuda tampan itu majukan tubuhnya kekanan seraya mengayunkan pedangnya.

Demikianlah kedua orang itu tanpa dapat menghindarkan diri atau mengendalikan serangan masing-masing akan terancam bahaya akan terbicasa, maka serangan mereka meluncur dengan cepat.

Namun dalam saat yang sudah demikian menentukan antata hancur dan binasa, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat, menyelak diantara mereka berdua, serta memisahkan pedang dan jeriji itu dari sasarannya masing-masing sebingga kedua orang yang sedang bertarung itu, baik si Tosu maupun Glok Hwat Kong tersentak mundur beberapa tidak. Demikian hebatnya tenaga Iweekang orang itu yang ternyata tidak lain adalah Lie Sin Hong.

―Maaf!" kata Sin Hong seraya merangkapkan tangan. "Kuharap urusan yang tak ada artinya ini disudahi sampai disini saja …!"

Kedua orang yang bertarung itu, terutama sekali si Tosu jadi sangat terkejut bukan main sunggub tak disangka bahwa pemuda yang sedang duduk menonton orang bertempur yang tampatnya begitu lemah, ternyata memiliki tenaga yang demikian hebatnya, sehingga si Tosu sendiri merasa kalah unggul. Senenarnya dengan perbuatan Sin Hong itu, si Tosu merasa sangst terhina, dan gusar bukan main. Akan tetapi merasakan kelihaian si anak muda maka ia hanya menyabarkan diri.

., Nakao kelihaian si anak muds maka ia maws harken dieri, "Baik!! baik! Aku Loo Kek Sie hari ini mengaku kalah terhadapmu.

Akan tetapi agar jangan sampai penasaran, harap kau suka memperkenalkan nama siecu, kalau sempat pinto mengharap siecu menyambangi gubugku orang tua!‖ kata si Tosu.

"Tentu! Tentu! Saudaraku tentu bersedia pergi ketempatmu di kota sebelah timur!" Giok Hwat Kong menyelak bicara dengan suara yang menunjukkan seolah-olah ia telah kenal baik dengan Sin Hong Sehiagga karena kuatir menyinggung perasaan orang, Sin Hong lekas memperkenalkan namanya, dan menyanggupi tempat tinggal Tosu itu.

"Ha, apa kataku? Saudaraku adalah orang laki-laki sejati. Dia pasti menepati janjinyal" kata Giok Hwat Kong pula.

―Sekarang  kau  boleh  pergil  Ha  ha  ha  ...!"  Kara  Giok  Hwat Kong pula mengejek kearah si Tosu sehingga si Tosu, Kek Sia Tojin.

―Hari ini dengan memandang kawanmu itu aku melepas tubuh busukmu, tetapi jika dalam waktu lima hari kau tidak melepaskan lima belas batang emas milikku, maka jangankan kau hanya ditempat seorang tuan muda itu saja, sepuluh kali lipat dari itupun aku tak akan mengampunimu!‖

Selarijutnya tanpa menunggu jawaban Tosu itu telah membalikkan tubuh dan mengajak teman-temannya untuk meringgaikan rumah makan itu.

―Ha  ha  hat"  Si  pemuda  tatupak  Giok  Hwat  Kong  mengejek. Memang barang-barangmu itu ada padaku, dan nanti lima hari lagi aku bersama kawanku pasti menyambangi gubugmu untuk mengembalikan emas-emasmu yang sudah kusulap menjadi lima belas potong orang.‖

Tidak terkirakan gusarnya si tosu bersama teman-temannya. Akan tetapi mereka jeri terbadap Sin Hong, maka walaupun dengan menempelkan telinga mereka terpaksa telan penghinaan itu dan berlalu pergi.

Sin Hong sendiri melihat prilaku Hwat Kong agak mendongkol, tetapi juga ia sadar bahwa pemuda tampan itu baru saja berkenalan dan belum bisa disebut sebagai sahabat karib apalagi saudara. Tetapi Hwat Kong justeru bersikap demikian, seakan-akan mereka sudah lama bersahabat. Lucu tetapi juga menyebalkan.

―Sahabat    Sin   Hong"   terdengar   Hwat    Kong    memanggil, menyadarkan Sin Hong dari lamunan. "Mari kita lanjutkan dahar!" berkata demikian Hwat Hong menarik tangan Sin Hong untuk diajak makan bersama-sama pada satu meja.

―Hong toako" dernikianlah Hwat Kong tanpa sungkan-sungkan memanggil toako kepada Sin Hong  ―Ilmu kepandaianmu membuat aku juga semua orang sangat kagum. Bolebkah aku mengetabui dari partai manakah dan siapakah gururnu?"

―Aku  dari partai sembilan"  sahut  Sin  Hong  berdusta.  Ia  ingat bahwa ia tidak holeb menerangkan kepada siapa juga mengenai nama perguruannya.

Jawaban itu mengberankan Hwat Kong karena sepanjang pengetahuannya tak pernah mendengar ada nama partai yang demikian.

―Sedang  guruku  adalah  orang  yang  tidak  mempunyai  nama. Usianya sudah seratus tahun dan orangnya kurus sekali, dan kau sendiri siauwte?" Sin Hong menambah keterangan ―Aneh,  aneh  sekali,  Kau  dari  partai  sembiIan?"  Hwat  Hong masih meragu kurang percaya.

"Benar," jawab Sin Hong mengiyakan.

Lawanpun dalam hati tertawa terpingkal-pingkal. "Gurumu tidak mempunyai nama, umurnya sudah satu abad kurus sekali?."

Sin Hong menganggukan kepalanya, seraya menahan suara ketawa yang hendak meneropos keluar mulutnya.

"Heran, belum pernah aku mendengar nama partai sembilan", kata  Hwat  Kong  menggerutu.  ―Kalau  mengenai  diriku,  aku  tidak berpartai guruku banyak sekali, campur-aduk, lagi dari kota yang jauh-jauh. Dan agar toako jangan sampai menuduh aku mencuri lima belas potong emas.‖

―Boleh kau mengoceh, memang kau banyak akal sih,‖ kata Sin Hong dalam hati.

"Pada empat tahun yang lalu, karena tidak tahan akan tekanan batin yang  menindih jiwaku, maka aku  meninggalkan rumab "

,sambung Hwat Kong lebth lanjut.

―Nah  itu  buktinya..." kata Sin Hong dalam hati." Siapa  nama- nama orang tuamu?‖ Akhirnya ia bertanya pula.

"Orang tuaku? Apabila orang tuaku masib hidup, tak mungkin aku menderita begini rupa, dan kabur dari rumah "

―Ah,‖  keluh  Sian  Hong.   Dan  seketika   itu,   terlintas  dalam benaknya wajab Ong Kauw Lian murid murtad yang telah membinasakan ayahnya.

‖Ernpat tahun lamanya‖, demikianlah Hwat Kong mulai bercerita.  ―Aku  merantau,  hingga  boleh  dikatakan  pengalamanku dalam dunia kangouw luas juga dan cukup banyak mengetahui bagaimana bekerjanya orang jahat atau baik. Demikianlah pada sepuluh hari yang lalu, ketika hendak memasuki kota ini, kira-kira empat puluh lie dari pintu selatan, aku berpapasan dengan segerombolan begal yang anggotanya terdiri dari orang-orang lihay tengah mengerubuti seorang saudagar yang tidak berdaya sama sekali dan memperoleh lima belas potong emas dari hasil perbuatannya itu.

Rombongan begal itu dipimpin oleh dua orang Tosu. Yang seorang adalah Kek Sie Tojin, yang seorang lagi justeru lebih lihai dari tosu yang pertama. Kulihat tosu itu mematah-matahkan sebuah golok besar dengan tangannya sehingga aku membatalkan diri untuk membantu saudagar itu.

Maka selanjutnya aku membayangi gerombolan begal itu dari jarak kira-kira dua puluh tombak tanpa mereka menyadari karena ternyata ilmu ginkangku jauh lebih baik dari mereka.. aku jadi heran ketika mereka memasuki kota Kang Po ini. masakan berani kaum begal mencari tempat beristirahat di dalam kota yang cukup ramai dan ada hukum negara. Didalam kota aku terus membayangi mereka hingga kuketahui mereka menuju ke utara. Ternyata mereka adalah orang-orang dari partai Pek Hie Pai atau Partai Alis Putih yang dimimpin oleh lima orang ketua tosu itu.

Setelah menyelidiki, malamnya dengan menggunakan Ya Heng Ie (pakaian gelap dengan kain penutup muka, aku pergi menyatroni rumah perkumpulan itu. kebetulan waktu itu mereka sedang berpesta. Mungkin merayakan keberhasilan mereka memperoleh barang rampasan yang agaknya tidak kurang dari tiga puluh ribu tahil. Mereka berpesta makan dan minum sepuasnya, sehingga dengan mudah aku dapat memasuki tempat mereka serta mengambil kembali lima belas potong emas yang berharga tidak kurang dari tiga puluh ribu tahil itu. 

Waktu dalam usahaku untuk meninggalkan perkumpulan aku kepergok oleh Kek Sie Tojin yang segera setelah melihat aku membawa sebuah gendongan, ia menyerangku. Tetapi karena pengaruh arak yang terlalu banyak diminumnya, tindakannya limbung dan aku dengan mudah dapat menghindari. Aku berlari meninggalkannya melalui atas genteng.

Rupanya waktu tadi ia bergebrak denganku, ia dapat mengenali gerakanku, hingga hampir saja aku jatuh jadi korbannya andaikata tidak mendapat pertolonganmu….. Aih, kiranya hari sudah malam!‖ Hwat Kong mengakhiri ceritanya.

Hwat Kong menawarkan Sin Hoeng untuk menginap dirumahnya. Bahkan dengan menarik tangan pemuda itu. Hwat Koang  menambahkan,  ―Sekalian  lihat  logam-logam  murni,  kalau kau menghendaki aku dapat marnbaginya separuh.."

Sin Hong diajak sampai keluar kota kemudian menyusuri sungai kecil yang airnya jernih. Tak lama kemudian mereka berduapun telah berada kira-kira sepuluh lie dari pintu kota dan berada di suatu ternpat yang penuh ditumbuhi pepohonan liar. Dan dilain saat setelah berjalan pula kira-kira enam lie, maka Sin Hong telah keluar dari daerah hutan tiba disebuah padang rumput dimana banyak terdapat bukit kecil.

―Dimanakah rumah pondokmu?" Tanya  Sin Hoag  yang  sudah mulai timbul keheranannya.

―Kurang  lebih  tiga  puluh  lie  lagi"  jawab  Hwat  Kong  sinekat seperti tidak menggubris keheranan Sin Hong.

―Tiga puluh lie?!"

―Ya." Hwat Kong membenarkan. ―Apakah toako curiga? Dapat berbuat apakah aku terhadapmu, yang memiliki kepandaian seratus kali lipat lebih tinggi dari padaku! Lagi puba tadi di rumah makan te!ah kujelaskan bahwa aku memiliki lima betas potoog emas. Tak mungkin aku membawa barang-barang itu ketota?"

Mendengar keterangan yang demikian Sin Hong manggut- manggutkan kepala, Ia menyadari pula mengapa temannya tidak suka menginap didalam kota. Maka selanjatnya Sin Hong tidak bertanya-tanya lagi, hanya mengikuti terus perjalanan temannya yang mengambil lurus kearah Barat.

Ketika itu rembulan yang teraag sedang berada ditengah-tengah cakrawala. Sinarnya yang keemasan membasahi padang rumput sebingga tampak sinar-sinat lembut berkilauan yang terhampar disepanjang jalan.

Sin Hong yang bermata jeli segera dapat melihat dtantara gundukan bukit-bukit kecil, terdapat tiga buah bukiit yang bentuk dan letaknya lain sekali dengan bukit-bukit lainnya. Dibawah pantulan sinar bulan, tiga bukit yang tampaknya aneh itu menimbulkan kecurigaan pada Sin Hong. Segera ia mengnampiri sekompulan benda-benda yang menimbulkan kecurigaannya yang ternyata adalah turnpukan tengkorak wanusta.

―Ternyata didaerab ini baayak sekali begal-begal kejam." kata Sin  Hong  menggerutu  sendirian.  ―Eh,  sauwte  apakah  artinya  ini? Kemari cepat!"

Hwat Kong yang mendengar suara orang memanggil gugup, segera menghampiri.

―Lihatlah!,‖  kata  Sin  Hong  pulaseraya  menunjuk  ke  sebuah tengkorak. Hwat Kong pun tidak kurang kekagetannya. Pada tengkorak itu terdapat lubang kuping, hidung dan mata yang lebih besar dari ukuran manusia biasa. Tampaknya bekas dilubangi dengan paksa dengan mempergunakan jari tangan, bukan bekas senjata tajam ataupun pedang. Hwat Kong mengukur kelima lubang-lubang yang ternyata memang tidak mustahil bila lubang itu bekas jari manusia. Begitupun pada tengkorak-tengkorak yang lain terdapat hal serupa. Melihat semua itu, wajah si pemuda tampan berubah hebat.

―Coba  toako,  kau  periksa  tiga  tumpukan  yang  lain  apakah jumlah dan susunannya sama dengan yang ini?‖ katanya setengah memerintah.

―Ya,   benar,‖   sahut   Sin   Hong   setelah   selesai   memeriksa.

―Jumlahnya sama sebelas, sedang susunannya berbentuk segitiga.‖

"Bukankab itu terbagi pula dalam empat-tingkat?" Tanya Hwat Kong menegaskan, sambil ia sendiri memeriksa tumpukan pertama yang tadi ditemukan oleb Sin Hong, yang bersusun empat, tiga-tiga dan satu.

―Eh, siauwte mengapa kau dapat?" Tanya Sin Hong heran.

Hwat Kong memperlihatkan wajah cemas. Ia tidak menjawab pertanyaan Sin Hong, melainkan dengan cara yang saugat cepat pada jarak kira-kira setombak dia mendekati Sin Hong, ia mencabut pedang kemudian menusuk!

Hebat dan benar-benar sarna sekali diluar dugaau Sin Hong, perbuatan pemuda yang mengaku bernama Hwat Kong itu.

Untuk sesaat itu Sin Hong terkejut dan menyesal karena dirinya terlalu percaya kepada orang yang baru dikenalnya itu. Dan barulah ia tersadar akan bahaya maut yang mengancarn. Ketika ujung pedang sedang meluncur kearah dadanya, Namun masih beruntung baginya bahwa disaat kernatian hampir tiba pada Saatnya terlintas dikepalanya akan suatu pelajaran iweekang dari India yang telah dirubah oleb gurunya disesuaikon cara yang lajim dipergunakan ditanah Tionggoan yang diberi narna sepasang Telapak Tongan Gaib. Teringat akan ini maka Sin Hong berseru, ―Bagus?"    Cepat    bukan    kepalang    ia    rangkapkan    kedua tangannya menangkap ujung pedang dan bersaman dengan itu ia salurkan tenaga Iwekangnya. Dan pada sat ini, karena terlalu gemasnya pada orang yang dianggapnya tak tahu membalas budi itu, pengerahan tenaga Iwekang krtelapak tangannya menggelombang sekuatnya. Pada saat itulah terdengar si pemuda Hwat Kong menjerit keras dan tubuhnya roboh terguling.

Kiranya ujung pedang telah mencair seperti kentalnya kanji, sedangkan gagangnya hancur menjadi bubuk.

Dengan hati yang masih mendongkol, Sin Hong bermaksud meninggalkan teman baru yang kurang ajar itu. Akan tetapi baru saja ia bertindak selangkah, terdengar Hwat Kong tertawa keras sambil memanggil-manggil.

―Toako! Jangan pergi sulu! Dua orang iblis sedang mendatangi, kau harus dapat menguasai mereka. Pembunuh-pembunuh keji yang telah menjagal manusia dengan mata tak berkedip!‖ dan nekat bukan main, tanpa menghiraukan tangannya yang hangus terbakar akibat serangan Iwekang Sin Hong, maka Hwat Kong telah menghadang dihadapan Sin Hong sambil tertawa-tawa,

―Mau  apapa  kau?!‖   bentak  Sin  Hong   yang   menjadi  sebal melihat pernuda tampan itu. tangannya dikebaskan dan akibatnya pemuda tampan itu terpelanting roboh berguling-guling.

―Toako,  lihatlah!  Mereka  datang!‖  Sambil  berkata  demikian, Hwat Kong menunjukkan sikapnya yang tegang, date langsung meniarap.

Lie Sin Hong yang sebenarnya tak mau memggubris kata-kata teman yang nakal itu, tanpa terasa menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Hwat Kong. Kurang lebih dua puluh tombak dari tempat dimana terdapat tiga tumpukan tengkorak terlihat tiga bayangan manusia yang melesat cepat sekali. Bayangan itu yang tampak nyata adalah rambutnya yang riap-riapan bergerak sangat cepat, sesaat kemudian telah berada di dekat tiga tumpukan tengkorak itu. dan setelah mereka tiba, seorang diantaranya mengayunkan sebelah tangannya, tangan yang sambil mengeluarkan gerengan yang keras menghajar bagian tingkat paling atas dari tumpukan tengkorak itu sehingga dengan kena angin sambarannya saja telah hancur luluh berhamburan kian kemari terbawa angin malam.

Melihat raut wajah keduanya yang baru datang itu yang nampak menyeramkan itu, agaknya benar juga dugaan Hwat Kong, maka Sin Hong pun menirukan perbuatan kawannya meniarap diatas rumput dan Hwat Kong breringsut-ingsut menghampirinya.

―Toako,  dengan kemandaianmu  mencairkan ujung  pedang  itu, maka aku yakin kau dapat menindih kedua manusia iblis itu. dan maafkan kelancanganku tadi yang berani mencoba-coba kepandaianmu. Ah, toako sungguh kepandaianmu luar biasa sekali…‖ bisik Hwat Kong seraya meringis menunjukkan telapak tangannya yang hitam melepuh.

Sin Hong diam saja, dan dalam hati ia agak kasihan juga melihat keadaan temannya.

"Tahukah toako, siapa mereka itu?" Bisik Hwat Kong pula bertanya. Sin Hong menggelengkan kepalanya.

"Mereka itulah yang mendirikan tumpukan tengkorak itu. Keduanya mereka sangat lihay dimasanya, mereka malang melintang dibarat ini. Kita berdua tentu masih kecil, maka toako tidal mengetatui mereka. Sedang aku mengetahui juga dari cerita guruku saja. Dua orang itu sangat telengas, bagi mereka, mernbunuh orang sama dengan minum air di gentong, atsu mandi- mandi di kali. Siapa mendengar nama mereka biasanya belum melihat orangnya juga sudah gentar, sebab juga tidak sedikit orang- orang gagah yang roboh di tangan mereka.

―Mengapa   orang-orang   gagah   tak   mau   berhimpun   lantas menghancurkan kedua orang itu beramai-ramai?‖ tanya Sin Hong.

"Orang-orang gagah dari selatan dan utara sungai besar, dan dari barat sini pernah tiga kali mengadakan perhimpunan besar digunung Hoa San, lalu beruntun selama lima tahun mencoba mengepung Ang Oei Mokko, namun kedua iblis itu dapat meloloskan diri. Baru setelah orang-orang bubaran, mereka muncul pula. Entah bagaimana kemudian orang tidak pernah lagi melihat jejak mereka, maka beberapa tahun kemudian orang menganggap mereka tentu sudab menemui ajalnya. Tidak di sangka-sangka sekarang dipadang rumput ini kita menjumpai mereka".

Mendengar penuturan Swat Kong, maka semakin besarlah fiat Sin Bong untuk membinasakan kedua iblis tersebut. lapun lantas menceritakan malapetaka hebat yang telah menimpa keluarga Oei sebagai akibat kekejaman kedua iblis itu. Hingga tanpa sadar Hwat Kong telah terpekik keras ketika mendengar cerita itu.

"Kalau tidak salah, sekaraag ini mereka tengah meyakinkan ilmu yang lihai luar biasa yang telah membuat semua guruku tidak berdaya untuk menghadapinya.‖ kata Kwat Kong.

''Bagaimana kau dapat mengenali akan tanda-tanda mereka?" "Mengapa tidak!‖ sahut Swat Kong. "Dengan mata kepalaku

sendiri   siauwte   pernah   menyaksikan   cara   mereka   bertempur

merobohkan guru-guruku satu persatu…‖

"Kalau begitu, biarlah aku binasakan mereka itu kata Sin Hong. Dalam hati la juga berpendapat, bahwa dengan cara itu ia telah membalaskan sakit hati keluarga Oei paman dan keponakan. Sementara itu, kkedua Iblis yang memang bukan lain adaiab Ang Oei Mokko setelah puas menghancurkan empat buah batok kepala manusia segera menghilang tanpa terlihat lagi bayangannya, suatu pertanda bahwa sukarlah diukur tingginya ilmu meringankan tubuh mereka.

"Kini", tiba-tiba terdengar suara Kwat Kong berkata, "Aku harap selanjutnya toako berlaku hati-hati. Mereka sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Hendaklah diketahui bahwa yang satunya, yang usianya lebih tua dari Oei Mokko kepandaiannya lebih lihai pula.‖ menerangkan lebih jauh. ―Sekarang toako coba berjalan tujuh puluh langkah kearah timur laut. Periksalah disana apakah terdapat sebuah peti ma ti?"

Pengetahuan Hwat Kong yang begitu luas membuat Sin Hong kagum. sehingga selanjutnya tak ada lagi kecurigaannya pada teman barunya yang nakal itu. Bahkan seteIah mendapat keterangan itu, tanpa pikir lagi ia segera berlari-lari ke arah tempat yang ditunjuk oleh temannya tersebut.

Setelah tujuh puluh tindak, Sin Hong pun mulai memeriksa. Agak lama juga ia melakukan usahanya itu, tetapi peti mai yang dimaksudkan belum juga ditemuinya. Hanya pada sebuah legokan, ia dapatkan sebuah ujung batu lembaran yang, muncul dari dalam tanah. Ujung batu telah kotor dan tertutup rumput hijau. Sin Hong menariknya sekuat tenaganya, akan tetapi jangaukan tercabut, bergemingpun tidak. Batu itu seakan berakar dalam tanah.

Akhirnya, karena khawatir makan waktu terlalu lama, segera dikepalnya ujung batu itu dengan sebelah tangan kirinya. Sedang tangan kanannya dengan membuat lingkaran bulat yang kemudian diputar-putar, diam-diam ia mengerahkan tenaga dalam keseluruh lima jeriji tangan kanannya. Itulah pengerahan tenaga lweekaug yang dilakukan dengan tipu Angin Tembaga Mengejar Naga! Untuk kemudian tangannya itu ditempelkan keatas telapak tangan kirinya yang sedang memegang ujung lembaran batu itu. Dan bukan main. dengan segera, perlahan- lahan tetapi pasti, lembaraa batu itu tercabut, terbongkar dari dalam tanah.

Dalamnya tanah hampir dua kaki. Ia pun segera menggapaikan tangannya memanggil Hwat Kong. Dibawah sinar rembulan, tampaklah sebuah peti mati berbentuk kotak atau peti batu, dimana didalamnya menggeletak sasosok mayat.

Tiba-tiba Hwat Kong lantas berbisik :

―Manusia-manusia  iblis  itu  akan  segera  balik  kemarl  untuk melenjutkan latihanaya, sebagai alatnya adalah mayat ini. Maka sebagai umpan, aku akan mengantikan mayat ini, merebah dalam peti. Dan Toako pergilah mencari tempat perlindungan. Toako segera harus datang apa bila aku telah bergebrak dengan mereaa. Saat nanti toako tak perlul menaruh kasihan pada mereka, segeralah turun tangan. Giam Lo Ong akan memberikan pahala besar jika dapat membunuh kedua iblis itu !

Dalam bicara itu, Hwat Kong masih dapat berkelakar, sedangkan keadaan begitu berbahaya, sehingga setidaknya menimbulkan kekaguman Sin Hong makin membesar tapi juga khawatir.

―Musuh itu demikian lihainya, apakah tidak lebih baik jika kita menghajar mereka secara langsung?‖ kata Sin Hong yang masih merasa sangsi akan keselamatan temannya.

―Aku  akan  membokong  mereka.  Kukira  tidak  ada  cara  yang lebih baik dari ini!‖ sahut Hwat Kong dengan suara mantap, sambil mengangkat tutup peti. ―Tutuplah lembaran batu ini seperti semula, hanya berikan sedikit lubang untuk bernafas!‖ Sin Hong segera melakukan permintaan temannya itu, walaupun dalam hatinya ia merasa amat sangsi akan keselamatan temannya yang terlalu nekat itu.

Perlahan-lahan dan dengan hati tergoncang, Sin Hong menutup peti mati itu dan menimbunnya sedikit dengan tanah berumput. Dalam menyaksikan kerelaan sang kawan yang demikian bencinya memusuhi kejahatan, sesuai dengan perasaan sendiri, maka timbullah tekad dalam hatinya untuk dengan jalan bagaimanapun harus dapat menyelamatkan dia dari bahaya.

Tiba-tiba terdengar suara pasir dan injakan kaki yang sangat samar, Siin Hong semakin tegang. Suara langkab kaki yang demikian, menandakah babwa orang memiliki tenaga dalam yang telah tinggi. Diam-diam ia merasa sayang bahwa orang yang demikian ternyata tetah menyala-gunakan ilmunya.

Sebentar saja suara itu terdengar semakin jelas. Dan benar saja tidak jauh dari tempatnya bersembunyi di bawah sinarnya rembulan yang gemilang tampak sesosok bayangan hitam yang bergerak dengan pesat diatas tanah pasir.

Sesaat kemulian bend: bi:am itu telah datang mendekat. Maka nyatalah babwa mereka adalah dua orang yang berjalan dengan saling merapatkan badan satu sama lain, bergerak-gerak sangat cepat seakan terbaag belaka.

Apabila sebentar kemudian tindakan kaki mereka tidak menerbitkan pula, disalah satu bukit tempat berdiri dua buah bayangan, berdiri diarn. Dilihat dari kepalanya, yang seorang mengenakan topi kulit adalah seorang pria yang agakaya berasal dari Tibet, hingga Sin Hong jadi heran karena bukankah katannya kedua iblis itu adalah orang-orang India? Apikah mungtin salah satu dari mereka itu memang orang Tibet yang kemudian mengambil kebangsaan india?.

Yang kedua tidak mengenakan penutup kepala, sehingga kelihatan rambutnya awut-awutan yang sebagian diatas dahinya dikonde. Diapun lelaki juga berdiri membelakangi Sin Hong.

―Pastilah   mereka   itu   Ang   Oei   Mokko‖   pikir   Sin   Hong.

―Sekarang  ingin  aku  menyaksikan  bagaimana  mereka  melatih  diri dan apakah yang dilakukan Hwat Kong.‖

Salah seorang dari bayangan itu segera berjalan mengitari yang seorang lainnya. Terdengar jelas tulang-tulang berkelebatan dan semakin cepat ia berputaran maka suara itu makin jelas terdengar.

Lie Sian Hong yang telah mempelajari ilmu Iwekang tingkat tinggi, masih heran juga melihat cara orang berlatih yang demikian.

―Tidak  salah,  memang  tenaga  mereka  begitu  hebat.  Pantaslah Hwat Kong mengujiku dengan cara yang keterlaluan tadi‖ pikir Sin Hong. Dan rasa kagumnya terhadap temannya yang berpandangan luas itu makin terasa.

Orang itu menggerak-gerakkan tangannya, dipanjang- pendekkan dan memperdengarkan suara berkeretekan sekali-sekali. Rambutnya berkibar-kibar sangat menyeramkan. Hingga tiba-tiba orang itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menyusul kemudian sebelah tangannya yang lain menyerang dada temannya. Bukan main, Sin Hong keheranan melihat kelakuan orang itu.

Dapatkah orang yang menjadi saudaranya itu bertahan dari serangan? Tanya Sin Hong dalam hatinya.

Selagi demikian orang tersebut kembali sudah menyerang pula. Kali ini ia menyerang ke seluruh bagian kepala, setiap serangannya bertambah cepat dan hebat. Akhirnya orang yang menjadi saudaranya itu mirip orang yang telah mati. Tubuhnya tidak bergerak, bergeming ataupun bersuara. Tepat pukulan yang ke lima, iblis itu melompat mencelat, berjumpalitan. Dengan kaki diatas dan kepala dibawah, menyambar muka saudaranya yang bagai orang mati itu dengan kelima jarinya mencengkram, hingga dilain saat muka itu telah copot, tepat seperti apa yang pernah didengar oleh Sin Hong dari penuturan pembantu rumah keluarga Oei.

Hampir-hampir Sin Hong menjerit karena bergidik dan ngeri. Walaupun ia sudah terhitung pemuda gemblengan, akan tetapi kejadian mengerikan itu baru pertama kalinya ia menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri, betapa seorang manusia bertindak begitu keji terhadap sesamanya.

Sebaliknya si iblis tertawa panjang, suaranya berkumandang. Lalu kelima jarinya ditarik keluar, berlumuran darah dan otak manusia. Sambil mengawasi tangannya yang demikian itu ia tertawa-tawa. Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Sin Hong bersembunyi, hingga pemuda ini dapat melihat muka iblis itu.

Sebuah wajah yang tidak mirip muka manusia, tetapi setengah hantu, merah menyala seperti bara. Melihat wajah itu, maka Sin Hong tahu kalau iblis itu seorang kakek berusia sekitar enam puluh tahun yang bernama Ang Mokko atau si hantu merah.

Yang lebih mengerikan yaitu iblis itu memperdengarkan suara mengakak, akan tetapi mukanya tidak melukiskan kalau ia sedang tertawa, malah cemberut mengerikan.

Sekarang Sin Hong baru sadar bahwa orang yang telah menjadi ikorban iblis itu tentu bukanlah Ang Mokko, akan tetapi adalah orang lain yang sengaja hendak dijadikan korban latihan belaka. Sehabis tertawa Ang Mokko membuka seluruh pakaian korbannya. Selanjutnya tubuh si korban yang telanjang itu digolekkan diatas tanah. Sedangkan si iblis sambil merangkapkan kedua tangannya berjingkrak-jingkrak memutari.

Dikala berlompatan itu, dengkulnya tampak tidak menekuk, juga badannya tidak dibungkukkan. Ia melompat tinggi-tinggi dengan tubuh lurus dan kaku.

Mendadak sambil berlompatan dan memekik-mekik si iblis telah menukik dan melayang ke arah peti mati dimana didalamnya Hwat Kong terbaring.

Menyaksikan hal ini, walaupun Sin Hong sudah menduga hal itu bakal terjadi. Akan tetapi hati si pemuda bukan main terkejut dan cemasnya. Segera ia mencabut pedangnya. Begitu Hong Pokiam terhunus maka sinarnya yang kemilau berkilat diudara. Dan pantulan cahaya terang itu telah terlihat olehAng Mokko, menyadarkan iblis itu bahwa ada orang lain yang telah menyaksikan dia berlatih diri. Iapun berpaling cepat ke arah asal timbulnya cahaya berkilat itu.

―Sia…,‖  baru  sampai  disitu  si  iblis  membentak,  mendadak terdengar suara tutup peti mati menjeblak, disusul munculnya bayangan yang berkelebat meluncur ke arah kedua matanya.

Itulah pedang Hwat Kong yang sejak tadi mengintai melalui lubang kecil, mengamat-amati perbuatan si iblis. Dan begitu melihat sasarannya tiba untuk bertindak, dengan menggunakan kedua kakinya menendang tutup peti, ia meloncat keluar seraya dengan pedangnya langsung diluncurkan ke arah bagian yang lemah tubuh si iblis yaitu sepasang matanya.

Sebenarnya jika bukan karena tidak sengaja Sin Hong menghunus Hong Pokiam belum tentu Hwat Kong sempat melancarkan pembokongan yang diduga akan membawa hasil. Dalam seketika itu, hati pemuda tampan itu telah bersorak kegirangan.

Namun yang kini hendak dijadikan pembokongan itu adalah Ang Mokko, seorang jago nomoor satu, yang tiga puluh tahun lalu disaat kedua pemuda itu dilahirkan telah malang melintang dikalangan kangouw dan mengalami tidak sedikit pertempuran besar maupun kecil.

Demikianlah, walaupun terkejut bukan main, akan tetapi iblis itu masih sempat menguasai diri. Dengan mengelakkan muka sedikit, maka ia telah menggerakkan tangan kanannya dengan kelima jarinya terkembang seperti kipas menyambut datangnya serangan.

Hebat sekall akibat bentrokan senjata tajam dan jari tangan si iblis itu. Pletak... ! terdengar suara benda patah. Kiranya pedang Hwat Kong telah patah tiga dengan pemegangnya sendiri jatuh terbanting keras sekali.

Benar-benar diluar dugaan bahwa iblis itu masih mampu mematahkan serangan bahkan sekaligus iapun melancarkan serangan balasan yang sangat berbahaya. Dalam gusarnya karena dibokong, maka cepat luar biasa sebelum Hwat Kong sempat bangkit berdiri ia telah membuat lingkaran dengan tangannya dan tubuhnya memutar maju, selanjutnya batok kepala Hwat Kong hendak dicengktramnya. Ilmu cabut nyawa dengan kelima jari iblis itu dilancarkan dan sesaat saja terlambat, nyawa pemuda itu akan melayang.

Tetapi rupanya belum saatnya Hwat Kong menemui ajalnya. Sebelum tangan iblis itu mengenai sasarannya, telah meluncur angin dingin menyambar ke arah punggung si iblis.

Si iblis insyaf bahwa angin tajam itu adalah angin serangan bukan dari senjata sembarangan, maka ia tak berani menerima dengan telapak tangannya. Tetapi dengan tangan, akan tetapi cepat sekali tangannya yang telah diulurkan kedepan ditarik kembali dan secepat kilat ia berjungkir balik sambil menarik senjatanya yang berwujud sepasang tongkat batu kumala hitam yang disebut Hek Giok Thung. Dengan mengangkat tongkatnya itu, maka si iblis telah menangkis serangan pedang yang sedang meluncur datang. Benterokan senjatapun terjadi menimbulkan suara yang nyaring.

Kiranya tongkat kumala itupun senjata mustika pula. Sama sekali terhajar oleh Hong Pokiam tidak sedikitpun mendapat kerusakan. Bahkan kini kedua senjata itu saling menempel karena masing-masing tidak menarik kembali serangannya, melainkan mereka saling menekan dengan mengerahkan tenaga dalamnya.

Kedua belah pihak berdiri tegak dengan kuda-kuda mereka. Keduanya mengempos segenap tenaga untuk mengerahkan tenaga masing-masing. Dan dalam hal ini tampak nyata perlahan-lahan tetapi pasti Sin Hong berhasil menggempur pertahanan kuda-kuda lawannya sampai-sampai iblis itu jidatnya berkeringat berbutir- butir.

Sementara itu Hwat Kong yang saat itu telah menyingkir, menjadi tegang dengan sendirinya ketika menyaksikan adu tenaga dan kekuatan itu. walaupun ia melihat Sin Hong berada diatas angin, akan tetapi khawatir juga, mengingat lawannya adalah Ang Mokko raja iblis yang terkenal sangat keji dan banyak akal liciknya.

Tak lama kemudian terdengar seruan Ang Mokko, tubuhnya tampak meloncat mundur karena terkejut. Bukan alang kepalang rasa terkejutnya ketika ia merasakan betapa lihainya si pemuda yang semula dia pandang rendah. Dipihak lain, Lie Sin Hongtetap berdiri di tempatnya semula, sama sekali tidak berkisar sedikitpun. Ketika ia hendak merangsek maju, maka Hwat Kong memperdengarkan suara mengejek.

―Ang  Mokko!  Kiranya  kau  hanya  seekor  keledai  jompo… Ha…ha…ha…ha! namun kosong belaka. Sekali bergebrak sudah roboh ditangan seorang pemuda! Ha…ha…ha…ha!.

Kata-kata ejekan itu belum juga habis, maka Ang Mokko dengan gusarnya membentak nyaring.

―Bocah  cilik  mau  mampus!  Siapa  bilang  aku  kalah?  Tunggu kubereskan temanmu, baru tiba giliranmu merasakan kelihaian tanganku!‖

Habis berkata iblis itupun menyerang maju, tongkat kumalanya menyambar ke arah kepalanya Sin Hong.

Menghadapi serangan lawan, Sin Hong menggeserkan kakinya kesamping setindak. Sambil mundur, diangkatnya pedang ditangan. Dengan demikian maka ia telah balas menebas lengan lawan.

Ang Mokko sangat gesit, buru-buru ditariknya kembali tangannya. Dan pada gebrakan pendahuluan, mereka sama-sama lihai.

Sin Hong mengetahui bahwa lawan sangat lihai. Maka ia tak mau membuang-buang waktu. Segera dimainkannya ilmu pedangnya dari ilmu pedang Sin Hong Kiam Hoat. Satu jurus,

‗Daun bambu dipermainkan angin‘ adalah salah satu cabang dari Sin Hong Kiam Hoat yang hebat dan lihai. Seperti daun-daun yang lemas dan tipis pedang Sin Hong bergetar menari kian kemari dan nyata sekali berhasil mendesak si iblis.

Ang Mokko lebih-lebih terkejut. Kemana saja tongkat kumalanya hendak digerakkan, seakan-akan membentur kepungan sinar pedang yang sangat rapat dan tak mungkin ditembusnya. Tidak pernah disangkanya bahwa di daerah barat ini terdapat seorang jago muda yang memiliki keahlian ilmu pedang yang dapat mengungguli dia. Menurut pantasnya, Sin Hong adalah seorang pemuda yang baru turun gunung dan berhadapan dengan pentolan seperti Ang Mokko, jangankan mendesak, bertahanpun hanya paling lama satu sampai dua jurus. Tetapi ini sungguh luar biasa dan Ang Mokko berubah jadi makin penasaran.

Satu kali ketika tongkat Ang Mokko hampir saja berhasil mengemplang pundak Sin Hong, tahu-tahu pemuda itu telah mengelak kesamping dan pedangnya membabat lengan orang yang tentu membuat lawannya kalang kabut menghindari. Lekas-lekas Ang Mokko menarik kembali serangannya hingga karena itu tenaganya banyak berkurang. Dan apabila tongkatnya kena terhajar pedang sipemuda, senjata itu terpental dan somplak sedikit. Tongkat kumala jatuh berkerontangan. Si iblis semakin kalap.

Ang Mokko menggerung keras, mengitari tubuh Sin Hong dengan mata berkilat-kilat menyala. Tangan kanannya membuat sebuah lingkaran, sedangkan tangan kiri dihadapkan kemuka siap untuk bekerja. Itulah jurus lima jari pencabut nyawa. Melihat hal demikian, maka Hwat Kong berseru memperingatkan Sin Hong.

Baru saja Hwat Kong berteriak, sekonyong-konyong Ang Mokko mengeluarkan teriakan pula, tangan kirinya terjulur ke muka cepat sekali. Dengan kuku-kukunya yang tajam muncul keluar mengerikan sekali.

Hwat Kong menduga bahwa Sin Hong akan menghadapi bahaya besar. Akan tetapi kiranya tidaklah demikian yang sebenarnya terjadi. Ang Mokko menjerit bukannya mengancam jiwa lawannya, akan tetapi sebaiknya saat itu justeru ujung pedang sinhong sedang mengancam tenggorokan si iblis. Ang Mokko kehabisan akal untuk menghindarinya, maka ia hanya memeramkan matanya sambil membuka mulutnya lebar-lebar, sementara dari mulut itu terdengar suara melengking yang menggelegar hebat berkumandang sangat jauh.

―Celaka,    dia    memanggil   kawannya‖    teriak    Hwat    Kong memperingatkan kawannya, ―Cepat bereskan dia!‖

Dan pada detik itu pula, ujung pedang Sin Hong telah membeset kedua mata si iblis hingga darah membanjir keluar bersamaan dengan suara melolong kesakitan. Melihat si iblis telah terluka, segera Hwat Kong bertindak cepat. Ia melompat ke depan menubruk dengan papan batu penutup peti ditangannya dihantamkan ke batok kepala si iblis.

Ang Mokko telah buta sekarang, iapun tidak pernah meyakinkan ilmu membedakan suara, akan tetapi pendengarannya sangat tajam. Sambaran angin papan batu dan tusukan pedang yang meluncur ke arahnya menerbitkan angin dan terasa olehnya. Maka itu ia segera berkelit dengan cepat. Ia dapat mengeos serangan pedang, akan tetapi tidak dapat lolos dari hantaman paan batu yang menyerang dari arah belakang. Maka tak ampun lagi punggungnya kena digempur papan batu. Iblis itu berguling-guling kesakitan. Walaupun dia adalah seorang yang mahir tenaga iweekang dari India, akan tetapi karena matanya telah rusak, maka pukulan yang mengenai punggung itu terasa seakan-akan hampir mencopot nyawanya.

Setelah berhasil pada serangan itu, Hwat Kong agaknya tidak puas sampai disitu saja. Begitu dalam dendamnya terhadap Ang Mokko, iblis yang telah membunuh guru-gurunya. Dan hari ini agaknya ia hendak membalaskan sakit hati gurunya langsung melancarkan serangan yang kedua.

Tetapi Ang Mokko belum mati. Dan ketangguhannya memang luar biasa. Serangan yang kedua itu telah diduganya dan ia telah mendahului dengan tangannya mencengkram. ―Pengecut, siapa ini!‖ teriak iblis itu penasaran sekali. Terlihat diwajahnya bahwa ia lebih suka mati di tangan Sin Hong daripada binasa oleh orang yang menyerang secara menggelap yang ia tahu memiliki kepandaian jauh lebih rendah daripadanya. ―Cepat katakan supaya kalau tuan besarmu mati, dapat mati meram!‖

Hwat Kong tertawa dingin,

―Masik   kenalkah  kau   pada   Pek   Sin   Coa   Lie   Cu   Cong?‖ sahutnya.

Ang Mokko terkejut sejenak, setelah itu ia tertawa panjang.

―Hai   bocah   ingusan!   Kiranya   kau   murid-murid   orang   tak berguna  itu!‖  kata  Ang  Mokko  memandang  rendah.  ―Kau  hendak menuntut balas untuk kekalahan manusia-manusia tak becus itu? ha ha ha ha.‖

―Tidak salah. Kau harus mampus malam ini juga!‖ Kwat Kong mencaci maki karena gurunya dihina.

Namun pada saat itu juga, hampir bersamaan dengan habisnya kata-kata Hwat Kong, dari kejauhan terdengar suara pekikan yang melengking-lengking. Pekikan itu membuat Hwat Kong gugup dan terkejut. Ia tahu bahwa seorang saudara Ang Mokko telah datang. Oei Mokko atau si iblis muka kuning memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada Ang Mokko. Dan menyusuk lemudian terdengar pula lengkingan yang makin keras, berarti iblis muka kuning itu telah semakin mendekat.

Bertambah-tambah  terkejutnya  Hwat  Kong.  ―Ah,  bukan  main cepatnya larinya iblis itu!‖ katanya mengeluh seranya berpaling ke arah Sin Hong, seakan hendak memperingatkan kepada kawannya bahwa bahaya lebih besar sedang mendatangi. Tetapi Sin Hong hanya berdiri diam. Pemuda ini berjiwa pendekar, walaupun lawannya adalah seorang iblis, akan tetapi ia tak suka membunuh orang yang sudah tak berdaya.

Ang Mokko sendiri juga sudah tidak mau melakukan serangan. Ia berdiri diam kaku sambil menanti bantuan saudaranya yang akan membunuh kedua musuhnya ini. waktu yang tidak seberapa itu dipergunakan untuk mengatur pernafasan, mengatur tenaga dalamnya yang buyar sejak matanya terluka hebat.

Oei Mokko telah berkelebat tampak di kaki bukit. Dan suasana pertarungan yang tadi gaduh, kini menjadi sunyi. Hwat Kong pun tampak terpengaruh oleh suara pekikan si iblis muka kuning yang berlari pesat sambil terus memekik.

****

Untuk sementara waktu pertempuran antara Sin Hong melawan si iblis Oei Mokko kita tunda dahulu. Marilah kita sekarang menengok Ang Siu Lian yang selama ini kita tinggalkan dan diduga telah menemui ajalnya menjadi santapan beruang.

Ketika itu, seperti kita mengetahui, demi keselamatan Siu Lian, Sin Hong telah melemparkannya ke sebuah mulut guha.

Nanaun kerika terjatuh ia merasa seperti ada yang menyarnbutnya, Ia merasakan tangan yang memeluk tubuhnya berbulu kasar, dan dari mulutnya tak henti-hentinya mendengus suara yang berbau busuk. Dan betapa terkejutnya Siu Lian ketika ia menengok ternyarta yang memeluk di rinya adalah seekor beruang. Hampir saja gadis itu pingsan seketika. Ia meronta sekuatnya sambil menjerit-jerit. tetapi apa dayanya, dia hanyalah seorang gadis dalam pelukan seekor biruang yang memiliki tenaga sepuluh kali tipat dari tenaga laki-laki. Akhirrya kehabisan tenaga dan jatuh pingsan.

Tidak tahu ia berapa lama tak sadarkan diri. Ketika terjaga dilihatnya hari telah malam disekelilingnya terdapat banyak sekali pepobonan dan batu-batu kecil yang berserakan tidak teratur letakanya. Dengan pertolongan sinar rembulan Siu Lian melihat bahwa bajunya penub bernoda-noda darah. Dan melihat itu, maka terasa tubuhnya sakit-sakit. Ruparya karena gadis itu meronta-ronta tadi maka beruang memangnya binatang hutan mempererat pelukannya dengan cakar, sehingga menimbulkan banyak luka-luka sigadis.

Siu Lian mencoba untuk bangun berdiri.

Tetapi ia menjadi sangat terkejut ketika dirasakan seluruh tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga. Keterkejutannya makin menghebat, demi ketika ia memandang ke muka, dan terlihat olehnya sesuatu yang membuatnya hampir pingsan kembali.

Pada jarak dua puluh tindak didepannya terlihat oehnya dua ekor beruang lain warna, seekor berwarna hitam dan yang seekor putih sedang bergumul bertarung dengan hebat.

Ketika tadi beruang hitam sedang melarikan si gadis dan melintas tempat ini, maka tiba-tiba didepannya menghadang beruang lain yang seluruh tubuhnya berwarna putih seperti kapas. Beruang ini hendak merampas Siu Lian dari pelukan si beruang hitam sehingga akhirnya terjadilah pertarungan seru diantara mereka.

Mereka hampir sama kuatnya. Bergantian saling banting, terkam dan dorong. Suatu saat ketika si hitam lengah maka si putih langsung menangkap dan membantingnya dengan keras ke atas tanah. Beruang hitam memekik kesakitan. Sambil meraung murka, beruang itu melompat berdiri untuk siap siaga. Akan tetapi sayang, lawannya sama sekalii tidak memberi kesempatan kepadanya. Ia telah menubruk maju sambil mementang mulutnya yang lebar.

Beruang itu menjadi nekat, dan dilain saat telah mengigit pundak lawannya. Keras sekali kedua binatang itu saling menggigit tidak mau melepaskannya. Sampai hari telah menjadi malam mereka masih juga gantian gigit menggigit, saling cakar dan saling tindih, hingga akhirnya karena kehabisan tenaga dan darahnya, maka keduanya berkelonjoton beberapa saat kemudian selanjutnya diam tidak berkutik sama sekali. Mereka telah binasa.

Setelah mengetahui kedua beruang itu telah mati, maka dengan menguatkan hati dan tenaganya, Siau Lian berusaha untuk cepat- cepat melarikan diri mencari selamat. Ia sangat khawatir kalau- kalau didaerah gunung Thiansan ini banyak berusang yang lainnya.

Selangkah demi selangkah Siu Lian menjauhi tempat kejadian tadi. Hatinya sedih memikirkan nasibnya, juga ngeri membayangkan bahaya yang mungkin bisa menimpa dirinya. Mengapa dirinya selalu terlibat dalam kedukaan-kedukaan dan mengapa nasib harus demikian terjadi atas dirinya. Demikian ia bertanya pada diri sendiri.

Sejak ia baru bisa bercakap-cakap, ibunya telah meninggalkannya. Dan ketika ia sedang menginjak remaja, ayahnya terbunuh olehnya sendiri. Akhirnya kini ia harus terpisah dari pemuda yang benar-benar telah membuatnya jatuh cinta, Lie Sin Hong.

Dengan seluruh tubuh cerasa sakit, lapar dan dahaga, Siu Lian melanjutkan perjalanan tanpa tujuan tertentu. Paginya tibalah ia pada suatu tempat dimana dihadapannya melintang sebuah sungai. Dengan hati gembira si gadis lantas melepaskan dahaga, meneguk air kali sepuas-puasnya. Kenyang nainum, maka tubuhnya terasa agak segar, dan tanpa disadari akhirnya ia tertidur. Tidak lama ia tertidur, ketika matahari naik, ia telah terjaga. karena perutnya yang minta diisi, Sin Lian merjadi bingung, ketika disadarinya bahwa ia telah membekal senjata lagi, sedangkan perutnya semakin didiamkan semakin perih.

Mendadak ia teringat sesuatu segera ia menceburkan diri kedalam sungai, dan beberapa saat kemudian ia telah berhasil menangkap dua, ekor ikan.

Samba memanggang ikan menunggu masak. pikiran sigadis terbayang selalu pada Sin Hong, Teringat pengalarnannya mandi disungai bersarna pemuda itu di Le pien.

Mengingat ini. maka ia bertekad setelah mengisi perutnya ia akan menjelajahi seluruh lereng gunung Thiansan untuk mencari Sin Hong.

Ikan panggang telah matang, kulit sisiknya mengelupas, bau gurih menebar membuat perut si gadis semakin keruyukan. Menghadapi daging ikan yang berminyak dan wangi itu, Siu Lian lalu mengambilnya untuk dimakan.

―Gurih. Untukku seekor!‖

Tiba-tiba batu saja Siu Lian hendak melahap ikan matang itu, terdengar suara menegur. Ia terkejut. Tadi sebelum ia memanggang ikan, tidak seorangpun berada di tempat itu. tapi kini ada orang muncul begini mendadak tanpa kedengaran suaranya mendekati, pertanda bukanlah orang sembarangan.

Siu Lian belum sempat menoleh, orang menegur minta ikan itu telah muncul di hadapan si gadis, bahkan kini telah mengambil tempat duduk dengan sikap yang tenang.

Orang yang baru datang ini adalah seorang lelaki berusia pertengahan. Pakaiannya sebagaimana orang-orang yang biasa tinggal disebuah pulau. Pada beberapa bagian terdapat tambalan yang nampaknya sengaja dijahit kecil-kecil. Tangannya memegang sebatang tongkat yang bentuknya seperti rotan, akan tetapi agak sedikit lebih besar dari rotan biasa. Dipunggungnya menggembong sebatang pedang. Sedangkan wajahnya wajar saja, sejak muncul hingga sekarang duduk, matanya tak pernah lepas dari ikan-ikan yang mengepulkan asap gurih.

Belum juga Siu Lian memberikan jawaban, apakah ia suka memberikan seekor ikannya atau tidak, orang pulau itu telah mengeluarkan sebuah hiolo. Begitu tutupnya dibuka maka menebar bau arak yang harum. Dia minum dari hiolo itu beberapa teguk, lalu diangsurkannya ke arah si gadis.

―Biasa minum arak?‖ tanyanya.

Sebenarnya sikap orang itu tidak menyenangkan dihati Siu Lian. Tetapi ia cukup waspada dan cerdik. Melihat orang yang kasar tapi aneh itu, si gadis tak mau sembarangan bertindak. Maka ia hanya menilak tawaran itu, dengan cara yang halus.

Dan pada saat itu matanya yang awas, dapat melihat kedua telapak tangan orang pulau itu yang sedang memegangi hiolo. Telapak tangan itu hingga sebatas pergelangan berwarna kuning! Siu Lian teringat akan kata-kata mendiang ayahnya prihal seorang pendekar dari golongan hitam yang akhli dalam hal Iwekang penghuni pulau Tho Liuto.

Siu Lian tertawa dalam hatinya, ketika melihat tingkah orang pulau itu yang tampaknya sangat mengiler melihat pada ikan panggang itu. hidung laki-laki itu kembang kempis, dan mulutnya komat-kamit menelan-nelan. Tetapi si gadis takk ada maksudnya mempermainkan orang yang baru muncul itu, maka ia segera memberikan seekor ikan kepadanya.

Begitu diulurkan, begitu lantas disambar dan dimakan dengan lahap. Sambil mengunyah tak henti-hentinya mulutnya mengoceh. ―Lezat…   lezat   sekali!   Enak!   Gurih!   Hmmm!   Dan   tak   lama antaranya, mulutnya menyemburkan tulang-tulang ikan, pertanda bagiannya telah habis.

―Aku  adalah  seorang  penghuni  sebuah  pulau.   Makan  ikan bagiku merupakan hal yang terlalu biasa. Tetapi ikan ini gurih sekali, hmmm.‖ katanya pula.

Siu Lian tertawa. Tak tega melihat orang yang demikian nafsunya makan ikan. Maka si gadis lantas memberikan bagian ekor ikan bagiannya.

Buntut bertulang itupun tidak ditolak, langsung disambar dan dikunyah, bersemangat seperti orang makan dada ayam. Setelah habis semuanya barulah orang itu menepuk-nepuk perutnya seperti orang kekenyangan. Melihat itu, tak tahan Siu Lian pun tertawa.

Orang pulau itu merogoh kantongnya, lalu dari dalamnya dikeluarkan sepotong perak besar, lalu disodorkan ke arah Siu Lian sambil berkata,

―Anak yang manis, ambillah ini!‖

Siu  Lian  menampik.  ―Aku  menganggap  pemberian  itu  adalah pemberian persahabatan, aku tidak memerlukan uang.‖ sahutnya.

Orang  itu  menyeringai,  agaknya  malu.  ―Tisak  boleh  tidak.‖ katanya.   ―Aku   adalah   seorang   perantau,   seorang   pelancongan. Tidak mungkin untukku makan milik orang lain tanpa membayar sepeserpun!‖

―Apa  artinya  seekor  ikan?‖  si  gadis  tetap  menolak  pemberian uang   itu.  ―Lagipula  ikan  itu  bukan  milikku.   Aku  memperoleh dimana setiap orang boleh mendapatkannya seberapa dia mau… kalau, eh, kau mau lagi, biarlah aku yang menangkapkannya beberapa ekor lagi !‖ Orang pulau itu tertawa terkekeh-kekeh.

―Anak manis, Ah, anak manis!‖ biji matanya tampak bersinar- sinar   bening,   gembira   dan   terharu.   ―Polos   benar   kata-katamu. Kukira kau dalam kesulitan anak manis. Mari coba kau terangkan padaku, mengapa kau sampai seorang diri berada di tempat ini? katakanlah, tentu aku akan menolongmu!‖

Siu Lian cerdik, ia tahu orang yang memiliki watak-watak aneh sebagaimana orang pulau itu tentulah bukan orang sembarangan. Maka setelah berpikir sebentar barulah ia berkata,

―Untuk   menjelaskan   kesulitanku   itu   mudah   sekali,   tinggal mengucapkan saja. akan tetapi aku belum mengetahui lo-jinke siapa sebenarnya?‖

―Hahaha!‖  kau  memang  anak  manis,  polos  dan  cerdik  pula! Baiklah, baiklah. terhadap kau aku tidak perlu sungkan-sungkan lagi. Aku adalah seorang she Gouw. Pemilik pulau Tho liu-to. Dan oleh karena tindakaknu yang sering kulakukan tanpa banyak pikir, maka orang-orang memanggilku si Sesat,‖ kata orang itu yang tidak lain adalah Shia hiap Gouw Hian Lie pendekar sesat dari pulau Tho Liu-to.

Siu Lian telah mengetahui dari ayahnya, bahwa pendekar ini memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Walaupun sikapnya angin- anginan, tetapi sebenarnya dia bukanlah orang jahat. Maka segera saja sebelum Gouw Bian Lie sempat melakukan suatu apa, Siu Lian telah menjatuhkan diri sambil berkata,

―Suhu,  walaupun  kau  tak  sudi  menerimaku  menjadi  murid, tetapi terimalah hormatku ini!‖

―Cerdik,  pintar.  Cerdik  kau  anak  manis! Hanya  darimana  kau mengetahui aku sedikit mempunyai kepandaian silat?‖ kata Bian Lie yang memang telah merasa suka sekali kepada gadis itu. ―Dari  ayah‖  sahut  Siu  Lian  seraya  menekan  bibirnya,  sebab saat ia mengucapkan kata-kata ituteringat ia akan nasib ayahnya yang binasa dengan cara yang mengenaskan sekali.

―Ah,   kau   masih   mempunyai   ayah.   Apakah   ayahmu   tidak mencarimu sampai kau sendirian di sini? Eh siapa ayahmu, ha? Sampai aku lupa, dasar sudah tua, pelupa! Siapakah ayahmu dan kau namamu siapa?‖

―Ayahku  An  Hwe  Cian  dari  Cheng-hong.‖  Berkata  sampai disini tak lagi dapat ditahankan air mata si gadis mengucur dan ia menangis.

Sedangkan Gouw Bian Lie demi mendengar keterangan Siu Lian menjadi kegirangan, berlompatan seperti anak kecil sambil berseru-seru.  ―Dasr  jodoh!  Dasar  jodoh!  Hingga  Siu  Lian  yang sedang bersedih jadi keheranan.

―Suhu kenapa?‖ tanya gadis itu.

―O, bagus sekali, kau ingat tentang tukang koamia di Shoatang? Jawab Gouw Bian Lie seraya kemudian menceritakan mengapa sampai terjadi demikian. Kiranya Gouw Bian Lie adalah suheng dari orang tua aneh yang pernah mengaku sebagai tukang koamia (nujum) yang pernah menggoda Siu Lian bersama Sin Hong di Shoatang. Sudah menghilangnya tukang tenung itu, esok harinya ia telah datang kembali untuk mencari Siu Lian, akan tetapi gadis itu telah pergi entah kemana. Dan selanjutnya tukang tenung itu berusaha untuk menemukan si gadis sampai-sampai ia menjumpai suhengnya dan diminta bantuan untuk mencari gadis itu.

Segera sesudah Siu Lian disuruh berganti pakaian, karena pakaian di tubuhnya tercabik-cabik dan penuh noda darah, maka keduanya lantas meninggalkan tempat itu sebagai seorang guru dan murid, sedangkan mengenai pakaian itu akhirnya ditemukan oleh Sin Hong sehingga pemuda ini menduga bahwa Siu Lian telah binasa menjadi korban beruang.

Sebenarnya bukanlah hal yang dibuat-buat apabila Gouw Bian Lie bergembira sekali mendengar bahwa ayah Siu Lian adalah An Cian Hian adanya. Beginilah kisahnya :

Si pendekar sesat dari Tho lio-to ini adalah merupakan murid turunan kesatu dari partai Liong san pay. Dia masih mempunyai seorang saudara seperguruan yang bernama Tie Koan Cai dan karena adik seperguruannya inipun wataknya angin-anginan seperti Shi hiap, maka dia dianggap orang sebagai seorang sesat ula. Hanya adik seperguruannya itu lebih memperhatikan soal melihat nasib atau peruntungan orang, hingga dia mendapatkan julukan Koa mia- shia atau Si Tukang Tenung Uring-uringan. Dia ditunjuk oleh mendiang guru dan suhengnya untuk tetap tinggal di Liongsan menjaga dan merawat semua peninggalan yang diwariskan Sucouw mereka.

Pada suatu hati Tie Koan Cie telah menyelesaikan dan meyakinkan teori-teori pengetahuan mengetahui ilmu melihat wajah orang, maka ia termenung untuk membuktikan kebenaran penemuan-penemuannya. Ditengah perjalanan, ketika tiba di daerah Shoatang, tiba-tiba ia teringat akan seseorang yang pernah menyelamatkan jiwanya, menolong dan mengobati dirinya, yaitu An Hwie Cian anak murid Ceng Hong Pai turunan kelima, tetapi sebagaimana juga dirinya lebih banyak memperhatikan hal-hal yang lain diluar ilmu silat. Hanya bedanya Tie Koan Cai memperdalam ilmu tenung, sedangkan An Hwie Cian mengenai ilmu ketabiban.

Kepada An Hwie Cian, Tie Koan Cai menceritakan bahwa, sampai ia kercunan begitu hebat, adalah akibat luka dalam pertarungan melawan seorang akhli dari India. Sebenarnya Tie Koan Cai, tidak seharusnya kalah dalam pertarungan itu, sebab dengan bertangan kosong dan bertempur setengah hati saja ia telah dapat membuat lawannya Hek Mahie kalang kabut.

Akan tetapi, karena memang kebiasaannya angin-anginan dan tertawa hahahihi, maka ia tidak menyadari bahwa tiga ekor ular besar piaraan orang india itu menghampiri dirinya atas perintah majikannya. Tie Koan Cai baru sadar akan bahaya ketika seekor diantaranya berhasil melibat dan memagut pahanya.

****