Ilmu Angin Sakti Jilid 05

Jilid 05

SIN HONG lantas mengambil sampul yang satunya lagi, yang bertuliskan :

―Bagaimana harus mengubur tulang belulangku.‖ Setelah dibukanya tutup sampul dan mengeluarkan isinya, maka ia melihat beberapa baris, kalimat yang tertulis pada selembar kertas putih.

Setelah menggali lubang, tolong galilah sedalam empat kaki. Apabila memang kau bersungguh-sungguh hendak menguburku, disitulah pendamkan aku. Karena dengan aku bersemayam ditempat yang lebih dalam, maka aku dapat bersemedi lebih bebas, bebas dari segala gangguan rayap dan semut.

Sejak semula memang telah timbul rasa hormat pada kerangka manusia yang disangkanya kerangka seorang cianpwe. Maka Sin Hong lantas menuruti saja segala pesan dalam sampul-sampul surat itu.

Sin Hong menggali lagi, bekerja keras dengan penuh semangat. Seluruh tubuhnva telah bermandi peluh. Ketika galiannya telah hampir mencapai empat kaki, mendadak pedangnya membentur pula pada sebuah benda keras, yang ternyata juga sebuah peti pula.

Peti ini agak lebih kecil dari tadi, besarnya kira-kira satu setengah kaki persegi.

―Benar-benar kukoai sikap orang gagah ini‖ pikir Sin Hong,

―Entah simpanan apa lagi yang ada dalam peti ini,‖

Peti ini lebih mudah untuk dibukanya, karena tutupnya memang tidak terkunci. Kembali, Sln Hong mendapatkan sebuah sampul surat. Dan ia menjadi sengat terkejut, apabila membaca isi surat yang terakhir ini ;

―Hebat kau, anak jujur! Terima kasih akan jasamu. Maka sudah selayaknya aku balas kebaikanmu dengan memberikan rahasia pemecahan semua lukisan-lukisan ANGIN SAKTI yang kusimpan di utara ―kuburan‖ ku ini. Apabila peti yang pertama tadi yang jauh lebih besar dari ini dibuka, maka dari dalamnya akan menyambar keluar enam batang kim-hong Cui (bor emas berkepala burung Hong) yang mengandung racun. Surat dan peti yang terdapat disitupun palsu semuanya. Malahan juga beracun, semua itu, kumaksudkan untuk menghukum orang-orang yarg beradat rakus dan takabur, sedangkan PUSAKA aslinya berada DALAM PETI INI!‖

Sin Hong untuk sejenak terdiam. Dalam hati ia bersyukur, bahwa ketika membuka peti yang pertama, ia hendak mengorek sampai yang ada didalamnya. Memang ia hanya merasa kasihan pada kerangka cianpwe itu, sama sekali tidak ada niat untuk menyerakahi barang warisannya. Hal itulah kiranya yang membuat ia selamat. Andaikata tidak mustahil ia masih dapat hidup sampai menemukan peti yang kedua ini.

Setelah menyelesaikan segalanya, Sin Hong mengambil kedua peti itu, meletakkannya kesamping. Lalu ia berpaikui beberapa kali didepan tanah kubur cianpwe itu. Dengan demikian maka ia telah menjadi    seorang    ―ahli    waris‖,    dari    seorang    cianpwe    yang sebenarnya sedang menjadi incaran para orang kang-ouw.

Dengan membawa dua peti itu, Sin Hong bertindak keluar kamar batu. Dalam gua ia sambil mesatakan jalan keluarnya, sehingga dikemudian hari mudah baginya untuk keluar masuk kesana. Juga ia membuat sebuah terowongan yang dimulai dari mulut gua, yang kiranya terbuat dari susunan batu-batu. Agaknya cianpwee yang luar biasa sengaja membuat mulut gua demikian agar tidak mudah orang luar mencapai tempat itu.

Setelah menyingkirkan tumpukan batu-batu itu kiranya disitu menjadi sebuah terowongan yang berakhir pada tepi mulut jurang. Jurang itu terlalu sangat dalamnya, pemandangan disana gelap semata. Hanya tampak dindingnya belaka dimana terdapat batu- batu kecil yang berbaris pada jarak masing-masing sepuluh tombak. Walaupun Sin Hong memiliki ilmu cecak, agaknya ia tak mungkin dapat menuruni dinding jurang itu.

Karena bingung untuk mencari jalan keluar, perhatiannya jadi berkurang, pegangannya pada peti itu mengendur, sehingga tak terasa kedua peti itu tergelincir dari pundaknya.

Sin Hong berusaha untuk meraihnya. Peti yang kecil dapat juga ditangkapnya kembali. Akan tetapi peti yang besar, bahkan terbentur menjauh, karena terlalu berat tak berhasil Sin Hong menangkapnya, hingga peti itu terlontar menjauh, terguling hingga membentur sebuah batu besar.

Dan sungguh mengerikan. Begitu membentur batu, maka tutup peti besar itu menjeblak. Nampak enam batang kim-hong-cui beterbangan disusul suara menggelegar, kiranya peti itu telah hancur berkeping-keping karena meledak.

Dapatlah dibayangkan, betapa kiranya andaikata Sin Hong yang membuka peti itu. Tepatlah seperti apa yang tertulis pada surat pada peti kecil itu.

Tetapi akibat ini semua, membuat Sin Hong juga mencurigai peti kecil, peti yang kedua itu. Siapa tahu peti inipun mengandung rahasia bencana pula? pikirnya.

Karena kecurigaannya ini, maka dengan hati-hati diperiksanya peti itu. Lalu perlahan-lahan dibukanya tutup peti itu. Ia dapatkan selembar sampul surat dimana pada sudutnya terdapat tulisan yang berbunyi :

―Bakar surat ini !‖

Terpengaruh akan bunyi tulisan itu, maka Sin Hong kembali balik kedalam lorong. Diambilnya obor yang masih menyala disitu. Lalu dengan meletakkan surat itu diatas tanah, iapun membakarnya. Kertas yang tidak begitu lebar itu, dalam waktu singkat berkobar dan tak lama antaranya telah menjadi abu. Tetapi kemudian ada yang membuat Sin Hong terheran-heran. Dibalik abu kertas itu, terbayang sebarisan tulisan yang indah, yang berbunyi sebagai berikut :

Anak, kini kau adalah muridku, maka selanjutnya pergilah kau menyusuri pinggang gunung sebelah kanan, hingga akhirnya kau akan tiba pada tempat yang buntu. Dan sebagai gantinya, kau akan mendapatkan sebuah terowongan yang ditutupi oleh tumbuh-tumbuhan rumput. Masukilah hingga akhirnya nanti kau akan sampai pada suatu gua dimana pada tempat itu terdapat lukisan-lukisan pelajaran ilmu silat ciptaan guruku Sin Hong Cu Kek Beng. Cukup sekian, dan sebagai yang terakhir, pesanku, untuk dapat membuka peti ini, geserken kuping peti kekanan sedikit.

Sekian, gurumu, murid tunggal Sin Hong Cu Kek Beng Tek Kwee Kiesu

Cepat-cepat Sin Hong lantas berlutut untuk paiku! dihadapan terowongan itu. Ia mengangkat guru pada seorang yang bernama Tek Kwee Kiesu.

Lalu dengan tangan menggendong peti, Sin Hong menyusuri pinggang gunung tersebut, menuruti petunjuk dalam surat abu tadi, setelah beberapa lama ia mencari-cari, akhirnya ia mendapatkan gua yang dimaksud yang kiranya adalah gua yang secara kebetulan tempo hari telah ia temukan, yaitu gua dimana terdapat banyak lukisan-lukisan monyet, gua tempat ia menguburkan baju Siu Lian.

Dalam hati Sin Hong menduga pasti bahwa gua inilah yang ada hubungannya dengan cerita Bian Liep tentang partai Angin Sakti. Pencipta partai itu adalah Sin Hong Cu Kek Beng. Yang kini berarti adalah terhitung Secouw dari Sin Hong !

Tiba disitu. Sin Hong lantas membuka peti, dengan sedikit menggeser kuping peti, maka tutup peti itu menjeblak dengan sendirinya, Didalam peti itu, terdapat dua buah kitab, dan selembar surat. Dengan hati girang Sin Hong membaca surat yang berisi petunjuk itu.

Dihaturkan kepada yang berjodoh. Cuci tanganmu setiap selesai membacanya. Janjan uarkan peristiwa ini kepada siapa juga.

Sehabis membaca, tanpa terasa Sin Hong menghela napas,

―Sungguh   luar   biasa   hati-hati,   dan   pemikirannya   begitu mendalam, Cianpwe yang luar biasa ini !‖ katanya dalam hati, memuji. ―Agaknya ia kuatir kitab-kitab ini terjatuh ketangan orang jahat‖.

Selanjutnya Sin Hongpun mengambil kedua kitab itu, sebuah kitab yang satu adalah kitab bernama ―SIN HONG IWEEKANG‖, sedangkan buku yang satu lagi, yang satu setengah lebih tebal bertuliskan ―PEMECAHAN LUKISAN‖.

Dengan kalimat pemecahan itu tentu dimaksudkan petunjuk yang berhubungan dengan gambar-gambar yang terukir pada dinding gua.

Sin Hong mencoba membalik-balikan halaman buku yang pertama. Dari dalamnya dilihat tulisan denga huruf yang kecil-kecil, beserta beberapa gambar jalan darah manusia. Sejumlah gambar menjelaskan tenteng cara orang berlatih napas

―Tidak salah tentu inilah pelajaran tentang melatih lweekang‖, kata Sm Hong dalam hati. Gambar-gambar itu demikian jelasnya dan terperinci dengan lengkap sehingga terasa mengagumkan benar. Pada kitab yang kedua, tidak terdapat gambar! akan tetapi jelas disitu diterangkan mengenai cara-caranya mempelajari lukisan lukisan-lukisan.

Setelah itu, maka Sin Hong mencuci tangan. Kemudian ia mengatur tempat sembahyang, lalu dengan menggunakan segulung tanah, Sia Hong melakukan sembahyang dan bersumpah bahwa ia mengakui Tek Kwee Kiesu sebagai gurunya.

Kini ia merasa yakin dan pasti, kalau yang dimaksud oleh Bian Liep sebagai tempat luar biasa, tidak lain adalah gua yang kini telah menjadi ―gurunya‖.

Diam-diam Sin Hong mengucapkan syukur kepada Tuhan yang Mahi Pengasih, dan almarhum ayahnya yang telah memberikan jalan kepadanya.

Pada keesokan harinya, ia telah mulai membuka halaman pertama dari kitab yang kedua itu Sin Hong menjadi terkejut, demi membaca pada halaman itu yang berisikan beberapa pantangan, antaranya : Dilarang sembarangan melukai orang kecuali kepada seseorang yang tertentu. Dilarang menyiarkan berita tentang adanya peninggalan itu.

Sin Hong berjanji dalam hati, bahwa ia akan memenuhi pantangan-pantangan itu. Pada halaman berikutnya, Sin Hong mendapatkan bagian-bagian dimana disitu dijelaskan cara mempelajari lukisan monyet yang ternyata adalah pelajaran gabungan dari berbagai cabang.

Diantaranya ada juga dari Siauw-lim-pai, sehingga membuat pemuda itu semakin bersemangat untuk mempelajarinya. Sejak saat itu serta hari-hari berikutnya Sin Hong giat melatih diri, menirukan semua gerak-gerakan yang terlukis pada dinding gua dengan mengikuti  petunjuk  kitab  ―pemecahan  lukisan‖  sebagai  pedoman. Kiranya Sin Hong adalah seorang pemuda yang berbakat, ulet dan rajin, hingga beberapa tahun telah dilalui tanpa terasa.

Tanpa terasa lima tahun sudah Sin Hong berdiam didalam gua itu. Kini ia telah berusia dua puluh tahun dan ilmu kepandaiannya sudah boleh dikata cukup hebat.

Dengan kecerdasan otaknya, ilmu silat yang cukup tinggi yang telah dimiliki sebelumnya, digabungkannya dengan ilmu silat Sin Hong itu. Tetapi akibat dari bersunyi diri didalam gua itu hingga bertahun-tahun, maka mengenai perubahan dunia kang-ouw ia tidak mengetahui sama sekali.

Saat ini, semula Sin Hong bermaksud untuk turun kedunia ramai. Akan tetapi karena kuatir ilmu kepandaiannya belum mencukupi, maka pemuda itu mengurungkan maksudnya, kembali berlatih dengan tekun.

Sampai saat itu, kalangan kang-ouw sama sekali tidak mengetahui bahwa tempat rahasia yang menjadi biang sengketa pada mereka, sebenarnya telah didapatkan oleh seorang pemuda yang bernama Lie Sin Hong.

Pada suatu malam, setahun sesudah pada awal musim semi sebagaimana biasa, sehabis berlatih Sin Hong lantas makan. Lalu ia duduk-duduk didepan perapian. Sambil iseng, Sin Hong membaca kitab latihan lweekang. Satu jam kemudian, sedang ia bermaksud untuk mematikan api dan membaringkan badan, mendadak telinganya mendengar suatu benda yang melayang jatuh dari jarak beberapa puluh tombak. Sin Hong keluar untuk memeriksanya, akan tetapi ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Akhirnya ia kembali untuk tidur.

Kira-kira tengah malam, ia terjaga dengan terkejut ia merasa pasti bahwa diluar gua tentu ada sedikitnya dua orang asing yang sedang mendatangi. Ia lantas bangkit dan duduk untuk memasang telinga. Namun mendadak ia mencium wangi-wangian yang menusuk hidung.

―Celaka !‖ kata Sin Hong dalam hati, terkejut. Segera menutup hidung menahan napas, segera ia melompat turun seraya menghunus pedangnya. Akan tetapi, sungguh mengejutkan, Sin Hong merasa kakinya seakan tidak bertenaga lagi. Ketika ia menginjakkan kaki ketanah, tubuhnya terhuyung, hampir saja ia roboh terjungkal.

Bersamaan dengan itu pintu terbuka bergedubrakan, terpentang lebar karena sebuah dupakan yang sangat keras. Menyusul kemudian sesosok bayangan tampak melesat masuk, lalu seberkas sinar golok menyambar kearah Sin Hong.

Sin Hong merasa kepalanya pusing sekali, akan tetapi ia masih sadar. Ia kuatkan hatinya, maka ketika serangan datang, ia masih dapat berkelit menghindari. Serta bersamaan dengan itu ia balas menyerang dengan pedangnya.

Bayangan itu memutar tangannya untuk menangkis serangan Sin Hong. Menghadapi lawan yang kepandaiannya cukup tinggi itu, Sin Hong tak mau berlaku lambat, ta menghindar sambil sekaligus menyerang pula.

Kali ini serangan Sin Hong cukup hebat, dan berhasil melukai pundak orang asing itu. Penyerang itu menjerit tertahan, kesakitan. Ia menjadi limbung, dari air mukanya tertampak ia merasa heran sekali musuh yang masih muda belia telah terkena racun asap hio pemulas, mengapa masih juga dapat demikian gigihnya. Disaat itu juga, sebenarnya penyerang gelap itu tentu sudah rubuh akibat tusukan pedang Sin Hong andaikata kedua orang temannya yang datang dari luar tidak segera menolongnya.

―Begitu gagah, dia !‖ kata sang kawan, keheranan. Sin Hong tidak memperdulikan kepada dua orang yang baru datang itu. Ia hendak memberi hajaran pula, jika tidak sekonyong- konyong kepalanya menjadi pusing, serta dilain saat ia telah roboh pingsan.

Entah berapa lama telah berlalu, ketika kemudian ia tersadar. Dirasakan seluruh tubuhnya lemas, dan ngilu. Waktu ia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya maka ia kaget, Ternyata seluruh tubuhnya telah terbelenggu oleh tali yang sangat ulet, yang agaknya Sin Hong takkan mampu memutuskannya.

Menyesal sekali, bahwa baru hari ini Sin Hong mempelajari Sin Hong Iwekang. Api dikamarnya masih berkobar terang. Dilihat kedua orang musuhnya sedang sibuk menggeledah kamar dan pakaian Sin Hong habis diacak-acak olehnya.

―Celaka !‖ Keluh Sin Hong dalam hati. Ia menyesali diri yang ternyata tidak punya kemampuan apa-apa, serta kurang berhati- hati hingga musuh dapat menyerbu masuk, bahkan merobohkan dirinya pula. Bagaimana ia dapat membalaskan sakit hati orang tuanya, kalau begini halnya?

Tetapi Sin Hong sadar, ia tidak membuka matanya lebar-lebar, pura-pura ia masih pingsan karena pengaruh asap hio. Sedikit kelopak matanya dimelekkan agar dapat mengintai apa yang dilakukan oleh orang-orang asing itu.

Ketika akhirnya dapat melihat jelas pendatang-pendatang itu, Sin Hong terkejut. Rasa-rasa seperti ia pernah mengenal kedua orang yang datang belakangan itu, Meteka berusia kurang lebih lima puluhan tahun, mukanya kering dan kuning dan satu sama lain hampir serupa. Orang yang kedua, yang tadi Sin Hong berhasil melukainya adalah seorang pendeta yang bertubuh besar dan gemuk. Tentu mereka adalah orang-orang kangouw yang hendak mencuri  tempat  luar  biasa‖,  pikir  Sin  Hong.  ―Mengapa  mereka dapat mengetahui, serta datang kemari?‖

Pendeta gemuk ini kosen, sedangkan kedua orang yang lain itupun tampaknya bukan orang lemah. Tidak salah lagi, mereka tentu hendak mencari kitab.

Sambil berpikir, Sin Hong mencoba mengerahkan tenaganya untuk memutuskan tali belenggu tetapi sia-sia, dan hatinya jadi mendongkol dan kecewa.

Ternyata ketiga orang itu bukanlah orang-orang kangouw biasa, selama Sin Hong dalam keadaan pingsan, mereka telah menotok jalan darah pemuda itu, sehingga waktu pemuda itu berusaha mengerahkan tenaganya, maka ia hanya merasa urat urat tubuhnya kesakitan. Maka Sin Hong kembali berdiam diri, berpikir untuk mencari daya upaya.

Sekonyong-konyong si pendeta berseru kegirangan :

―Disini !‖ serunya.

Sin Hong jadi terkejut bukan alang kepalang ketika melihat dari bawah pembaringannya pendeta itu menarik keluar peti besi yang kecil  dimana  pada  beberapa  hari  yang  lalu,  kitab  ―Pemecahan Lukisan‖ diletakkan.

Kedua orang yang mukanya pucat kering itupun ikut kegirangan. Bertiga mereka lantas menghampiri meja untuk kemudian bersama-sama membuka tutup peti, untuk mengeluarkan isinya kitab ―Pemecahan Lukisan‖ itu.

Membaca tulisan tersebut, lantas mereka tertawa berkakakan.

―Benar-benar di sini …….!‖ katanya dengan suara nyaring. ―Ji dan sha ko, tidak sia-sialah kita selama dua puluh tahun bersusah payah mencari benda ini. Kita akan menjadi orang paling liehay dikolong langit ini, ha, hahaha‖

Segera pendeta itu membuka halaman-halaman kitab dan melihat huruf-huruf kecil yang tertulis disitu. Karena girangnya, ia tertawa-tawa sambil tak henti-hentinya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal

―Sampai  mati  juga  kalian  tidak  akan  dapat  memecahkannya tanpa mengetahui tempat tempat lukisan-lukisannya‖, kata Sin Hong dalam hati.

Mendadak salah seorang yang mukanya pucat kering itu berseru, seraya menunjuk kearah Sin Hong ―Hei, hendak lari?‖

Sin Hong terperanjat bukan main. Ia menduga bahwa orang mengetahui akal muslihatnya, si pendeta yang pundaknya telah terluka itu terkejut, dan menoleh dengan segera.

Tiba-tiba si muka pucat kering itu menggerakan tangannya, dalam waktu yang tak ada sedetik itu juga, sebatang pisau kecil telah ditancapkan dipunggung pendeta itu.

Hebat sekali menancapnya pisau itu, hingga tembus sebatas gagangnya. Kedua laki-laki bermuka pucat kering itu lantas melompat minggir menjauhi sipendeta seraya menghunus senjata, sedangkan pendeta itu alisnya meringis bengis dan memperdengar- kan suara tawa yang dingin.

―Kita  bertiga  adalah  saudara  seperguruan  yang  telah  berjerih payah mencari benda ini hingga duapuluh tahun. Sekarang setelah kita berhasil, kalian berdua saudara bermaksud hendak mengangkangi sendiri, bahkan turun tangan jahat terhadapku, hahaha ……‖ Itulah suara tawa bercampur teguran yang terdengar dingin menegakkan bulu roma. Sehabis berkata, pendeta itu menggerakkan tangannya kebalakang, agaknya bermaksud untuk mencabut pisau yang menancap dipunggungnya itu. Namun sebelum tangannya berhasil menjangkau pisau itu, mendadak ia menjerit keras, bersamaan dengan itu, iapun roboh terguling. Sebentar ia meregang nyawa, lalu seluruh tubuhnya diam ia tak berkutik lagi.

Bergidik Sin Hong melihat perbuatan kedua saudara itu, yang begitu telengas membunuh saudara seperguruan sendiri.

―Jika  sekarang  tidak  kuhabiskan  jiwamu,  apakah  nanti  tidak mengusir diri kami !‖ Kata dua orang bersaudara secara bergantian menendangi tubuh sipendeta yarg tergeletak diatas tanah itu .

Kedua orang ini tidak menyadari bahwa Sin Hong telah tersadar sejenak lama, Mereka memperdengarkan suara tawanya yang menyeramkan. Lalu dia sentil sumbu lilin untuk membuang jungnya, hingga sesaat itu ruanganpun jadi terang benderang.

Mereka menghampiri meja. Salah seorang diantaranya lantas membalik-balikan halaman kitab. Ia membaca dengan suara penuh kegembiraan dan puas.

Mereka bergantian membaca, membalik-balikkan kitab dengan penuh semangat, pada berapa halaman kitab yang agaknya lengket, mempergunakan air liurnya untuk membasahi jari, dan membuka pula.

Sin Hong tetap mengintai, hingga tiba-tiba ia teringat bahwa kitab itu mengandurg racun. Dia menduga bahwa kedua orang itu sebentar pasti akan roboh keracunan. Teringat akan hal ini, kerena kagetnya Sin Hong memperdengarkan suara tertahan.

Si Muka pucat kering mendengar suara orang, maka menoleh, justru saat itu Sin Hong sedang memandang kearahnya, segera orang itu bangkit, dengan tindakan dibuat-buat dia mendekati sipendeta yang tergeletak itu, untuk mencabut pisau belati dari punggungnya, setelah itu ia mendekati Sin Hong dengan sikap peruh ancaman.

―Ai,  kiraiya  kau  pencuri  cilik  yang  dahulu  berlagak  dungu!‖ seru orang bermuka pucat kering itu.

―Diantara  kita  sebenarnya  tidak  bermusuhan,  akan  tetapi  hari ini aku tak dapat mengampuni jiwamu!‖ Katanya pula. Kedua biji matanya bersinar memancarkan hawa pembunuhan, dan sambil mengangkat pisau itu tinggi-tinggi ia memperdengarkan suara tawa iblis.

―Jika aku segera  membunuhmu  hingga kau  menghadapi Giam lo  ong,  tentu  kau  akan  mati  penasaran!‖  Katanya  lagi.  ―Agar  kau dapat mati puas aku perkenalkan dulu diriku, Sin Eng, Kin Bian Liu dari Tinpa.

―Oh kiranya kau‖ sahut Sin Hong yang sekarang teringat bahwa kedua saudara itu adalah orang-orang yang pada lima tahun yang lalu pernah dibuat pecah nyalinya oleh kelihaian Balghangadar dan Auwyang Siang Yong.

―Bagus,  kau  masih  ingat.  Itu  bagus  !‖  Orang  yang  mengaku bernama Kim Bian Liu itu berkata mengejek, ―Dan supaya matimu bisa meram, hendak kujelaskan dari mana asalnya kami yang hebat- hebat ini. Aku adalah turunan keenam puluh satu dari tingkatan ketika partai Thian-Lam-pai. Pihak kami dengan Tek Kwee Kiesu adalah musuh bebuyutan. Binatang she Tek itu telah membunuh lima puluh satu orang suhengku, dan keempat sucouwku‖

―Hebat sekali !‖ kita Sin Hong mengejek.

―Ya  hebat  sekali,  bahkan dia  juga  telah  memperkosa  sucieku, kemudian dia kabur kemari. Untuk balasan tahun aku mencari dia untuk membalaskan sakit hati, siapa tahu dia mampus dan warisannya jatuh ketanganmu. Aku tak perlu tahu hubunganmu dengan binatang she Tek itu, tetapi kukira kaupun bukan orang. Sekarang aku hendak menghabisi jiwamu, harap tenteramkan hatimu. Jika kau hendak menuntut balas, nanti hantumu boleh datang ke Bieciu, hahaha……‖

Si pucat kuning yang memang bernama Kim Bian Liu itu belum selesai berkata ketika tubuhnya mendadak limbung, lalu terhuyung- huyung ke arah Sin Hong menggeletak.

Sio Hong terkejut. Ia menyadari bahwa saat ini adalah saat mati hidup baginya. Maka dalam keadaan yang sangat berbahaya ini, ia mengerahkan tenaganya sambil mengatur jalan pernapasan menurutkan petunjuk dalam kitab Sin Hong Lwee Kang.

Bukan main girangnya pemuda itu, ketika ternyata ia berhasil. Segera disaat itu juga ia merasa tubuhnya menjadi segar kembali, bahkan lebih dari itu, ia merasakan bahwa tenaganya berkumpul pada kedua belah tangannya. Dan ...tes ..... tes segera bersamaan dengan datangnya tubuh lawan ia telah bebas dari totokan dan ikatan. Setelah mana, ia lantas melompat maju untuk mendahului menyerang.

Tiba-tiba orang yang mukanya pucat kering itu rubuh terjengkang dengan sendirinya.

Sin Hong terkejut. Walaupun ia batal menyerang, ia toh harus bersiap. Tambang bekas pengikat tubuhnya, dipegangnya erat-erat, dipergunakannya sebagai senjata. Ia melangkah mendekati lawannya itu.

Kin Bian Liu tampak mengkerojotkan kedua kakinya beberapa kali, untuk kemudian seluruh tubuhnya diam, tidak berkutik lagi serta dari mata hidung, telinga dan terutama mulutnya mengalir keluar darah hidup yang berwarna semu biru. Maka jelaslah ia telah mati keracunan, racun hebat yang terdapat pada halaman-halaman kitab Tek Kwee Kiesu, waktu ia membasahi jarinya dengan air liurnya sendiri.

Tak lana kemudian terdengar pula jeritan melolong seseorang yang diikuti suara gedebrukan suara tubuh yang ambruk ketanah. Kiranya saudaranya yang bernama Kin Bian Eng itupun mengalami nasib yang serupa.

Lega hati Sin Hong, bahwa kini ia dapat selamat dari ancaman manusia-manusia ganas itu. Hari itu mengubur ketiga jenazah itu. Dan apabila ia memeriksa lukisan-lukisan di kamarnya, ternyata gambar-gambar itu tidak kurang suatu apa. Agaknya ketiga orang Thian-Lam-pai itu masuk melalui pintu belakang.

Tetapi dibalik itu, timbul pula kesangsian di hati pemuda ini. Ia ragu-ragu, apakah sebenarnya Tek Kwee Kiesu itu orang dari jalan terang ataukah sesat.

Apabila mengingat pada surat-surat Tek Kwee Kiesu yang agaknya begitu bencinya pada orang orang jahat, agaknya dia bukanlah orang yang buruk budi pekertinya. Akan tetapi apabla mendengar dari ucapan orang Thian lam-pai itu, kecuali Tek Kwee Kiesu seorang pembunuh, juga perbuatan memperkosa wanita adalah perbuatan yang sangat rendah. Timbul kebimbangan di hati Sin Hong, apakah setelah mengetahui bahwa orang yang mewarisi ilmu adalah begitu wataknya, mau diteruskan ataukah tidak pelajaran ilmu silat yang diperolehnya itu.

Akan tetapi, apabila terbayang betapa rakusnya ketiga orang Thian-lam-pai itu terhadap peti besi itu, maka tampaknya merekapun bukan orang baik-baik.

Dalam kebimbangannya itu, Sin Hong telah menyeret keluar peti besinya. Lalu kitab yang ada didalamnya diambil, ditimang- timangnya. Suatu waktu tangannya telah diulurkan mendekati api yang berkobar. Tampaknya Sin Hong hendak membakar kita itu. Entah mengapa pikiran tiba-tiba berubah. Diletakkannya kitab itu, kemudian     diambilnya     kitab     ―Sin     Hong     Iwekang‖     yang disembunyikannya dibawah bantal kayu.

Dibalik-baliknya kitab itu, diperhatikan benar isinya, hingga akhirnya terasa sayang baginya uniuk merusakkan kitab itu. Bahkan kemudian ia membalik-balikkan halaman kitab itu sampai pada halaman terakhir.

Tiba-tiba matanya membentur pada sederetan huruf yang merupakan kata-kata bukan kata yang berisi pelajaran ilmu, akan tetapi adalah merupakan catatan mengenai riwayat hidup Tek Kwee Kiesu. Demikianlah kata-kata itu ;

Hari itu adalah hari gembira bagi kami sekeluarga. Hari masih pagi buta. Aku sudah berada ditengah keluargaku. Sembilan kakak kakak perempuanku juga ada bersama mengelilingiku. Semuanya bergembira, terutama ibuku yang telah berusia enam puluh dua tahun. Dengan duduk diri ayah, sebenta-sebentar beliau tersenyum memandangku, putera tunggal yang saat itu merayakan ulang tahun yang kesembilan.

Kami adalah dari keluarga berada. Maka perayaankupun diadakan secara besar-besaran. Hampir seluruh tetangga kani diundang, sedang untuk menjaga keamanan dan menjaja kami, lima puluh orang pembantu dikerahkan. Lebih-lebih lagi untuk menambah keriaan hari ulang tahun itu, istimewa ayah telah mengundang serombongan tukang wayang dari ibu kota yang saat itu sangat termashur sekali untuk daerah Tiongkok Selatan. Hari itu kami benar-benar bergembira.

Tak lama kemudian serombongan pengemis, berdatangan minta sedekah. Dimana ayah lantas memerintah aku untuk memberikan uang kepada mereka, masing-masing dua puluh cie. Mereka ikut pula gembira, dan setelah mengucapkan syukur, merekapun lantas berlalu.

Demikianlah, karena terlalu gembiranya, maka tanpa terasa hari telah menjelang malam. Dan tak lama kemudian, tamu satu demi satu atau berbondong-bondong permisi pulang, sehingga menjelang pukul tiga rumahku telah sepi, hanya tinggal kami beserta para pembantu rumah tangga. Sedangkan kedua ‘kong’ dan ‘ma’ sudah masuk tidur.

Saat itu ketika ayah sedang bercakap-cakap, dengan ibu dan kesembilan saudara perempuan, pembantu para jongos membereskan meja, tiba-tiba seluruh jendela rumah memperdengarkan suara gedubrukan, serta merta serombongan orang bertopeng menyerbu masuk.

Serentak memasuki ruangan, mereka mengamuk dengan senjata sehingga keadaan menjadi panik. Lebih-lebih ibu yang sudah berusia tua tidak dapat menguasai dirinya lagi, segera jatuh pingsan disaat itu juga yang lantas dirubungi oleh saudara-saudara perempuanku, Namun orang-orang bertopeng yang berjumlah tidak kurang dari dua puluh orang itu menangkapi saudara-saudara perempuanku yang tidak berdaya apa-apa,

Mereka kurang ajar sekali, dengan tangan mereka yang jahil, mereka bertindak tidak sopan terhadap saudara-saudara perempuanku, sehingga menimbulkan rasa geram pada setiap orang yang memiliki sifat laki-laki sejati.

Lain pembantu-pembantu yang berjumlah lima puluh orang itu. serta para centeng-centeng yang berkepandaian biasa saja itu, berusaha tutuk menghalangi perbuatan mereka. Tetapi apalah artinya, orang-orang bertopeng itu justru adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi. Satu demi satu terdecgar suara sesambatan, dan pembantu-pembantu rumah tangga kami bercucuran bermandi darah. Kucatat mereka sebagai pembantu-pembantu rumah tangga yang setia, sebagai pahlawan-pahlawan yang memikul tanggung jawab hingga titik darahnya yang penghabisan. Mengerikan sekali. Aku yang hanya seorang bocah, tak tahan melihat semuanya itu, hingga aku jatuh pingsan…….‖

Membaca hingga disini, Sin Hong segera sadar akan alasan- alasannya mengapa sampai Tek Kwee Kiesu membunuh sampai lima puluh lima orang Thian-lam-pai serta memperkosa sembilan keluarga perempuannya……….

―Tentulah  itu   merupakan  pembalasan……‖  kata  Sin  Hong dalam hatinya.

Entah berapa lama kemudian, ketika aku tersadar, aku melihat betapa diatas lantai bergelimpangan bangkai-bangkai manusia termasuk kakak-kakakku dimana pakaian mereka koyak-koyak tidak teratur, terutama pada bagian…….. ah ah,. tak dapat aku menulisnya dengan kata-kata. Hatiku terbakar oleh dendam.

Apapula melihat saudara-saudaraku yang telah mendahuluiku

dengan cara yang begitu mengenaskan, dengan kehormatan yang telah hilang…………………

―Terlalu  !‖  seru  Sin  Hong.  Pada  saat   itu  juga  ia  berlutut dihadapan buku itu, meminta maaf pada gurunya, dimana tadi ia telah menduga buruk terhadap diri Tek Kwee Kiesu.

Disaat itu juga sebenarnya aku bermaksud hendak membunuh diri, kalau tidak kudengar suara ayah memanggil-manggil. Ah rupanya ayah belum ajal. Segera akupun menghampirinya. Disitulah, pada saat tarikan napasnya yang penghabisan, ayah menjelaskan bahwa orang orang bertopeng yang telah melakukan kekejaman itu adalah orang-orang dari partai Thian-lam-pai. Mereka melakukan keganasan itu karena permintaan sumbangan mereka telah ditolak oleh ayah, karena ayah mengetahui bahwa mereka itu adalah penjudi-penjudi besar.

Agaknya karena penolakan itulah membuat mereka sakit hati, dan datang untuk menghancurkan keluarga kami. Beberapa saat kemudian, ketika beliau (ayahku) hendak menghembuskan napasnya yang penghabisan, beliau menganjurkan padaku agar dengan cara bagaimanapun aku harus dapat membalaskan sakit hati itu.

Demikian sejak hari utu, dengan meninggalnya ayah, ibu dan saudara-saudaraku mata aku jadi yatim piatu, tidak sanak tidak saudara atau pun pembantu rumah tangga. Sungguh sakit hatiku sedalam lautan. Betapa tidak? Enam puluh empat jiwa termasuk kedua ‘kong dan ‘ma’ telah terbinasa dalam satu malam saja. Begitulah, dari kehidupan seorang anak tunggal keluarga yang berada aku menjadi seorang bocah yang terlunta-lunta, sebatang kara hidup dengan megandalkan belas kasihan orang.

Dua tahun aku hidup dalam keadaan demikian, hingga akhirnya aku ditemukan oleh searang pendekar besar yang ternyata kini adalah sucouwmu, yaitu Sin Hong Cu Kek Beng.

Sejak itu hidup dibawah asuhan beliau yang memberikan padaku ilmu pelajaran. Ilmu silat dan ilmu surat. Dan sepuluh tahun kemudian aku telah mempunyai ilmu silat yang cukup berarti.

Muka guruku menjadi pucat pasi ketika mendengar ceritaku tentang bencana yang telah menimpa keluargaku, pucat karena marah.

Segera diperintahnya aku untuk turun gunung dan segera membalaskan sakit hati. Dikatakannya pula bahwa dengan kepandaianku sebagai sekarang, jangan hanya seratus Thian-lam- pai, andaikata dua kali lipat dari itu, masih belum merupakan tandinganku. Begitulah, setelah melakukan perpisahan maka esok harinya aku turun gunung.

Putusanku sudah tetap, yaitu aku harus membunuh sedikitnya lima puluh lima anggota partai Thian lam pai serta memperkosa sedikitnya! Dan dalam hal ini, pada taraf pertama aku berhasil, lima puluh satu anak serta cucu murid Thian-lam serta empat kakek guru mereka berhasil telah kubunuh. Sedang tiga puluh lima anggota keluarga perempuannya, dalam waktu delapan belas hari aku berhasil mencemarkan kehormatannya serta kemudian menghabisi jiwanya……‖

―Pembalasan total yang terlalu hebat !‖ seru Sin Hong seorang

diri.

―Akan tetapi, seperti tadi kukatakan aku berhasil hanya dalam

taraf pertamanya saja. Karena tiba-tiba ketika korbanku yang terakhir kucemarkan, yang bernama Kwee Bian Un, mendadak aku terjerumus kedalam api asmara.

Tak kuasa aku membunuhnya, bahkan kemudian kularikan ia kedalam sebuah goa.

Akan tetapi mungkin sudah takdir, karena kelalaian ini aku terjerumus kedalam jurang kehancuran. Demikianlah diluar tahuku, ternyata goa tempatku bersembunyi beberapa hari kemudian dilingkung oleh tidak kurang tiga puluh orang dari Khong- tong-pai, Bu-tong-pai dari Ceng-hong-pai maupun Thian- lam-pai sendiri. Dari Ceng-hong-pai, Mie Ing Tiangloo sendiri yang memimpinnya.

Dalam gabungan itu, ternyata mereka sangat hebat dan liehai bukan main, sehingga baru saja aku membinasakan enam orang dan melukai sebelas diantaranya, aku tertangkap. Bukan main siksaan yang kuderita dari mereka yang memang kuanggap sudah sewajarnya. Akan tetapi dengan susah payah, dengan menanggung penderitaan seluruh urat-urat tangan kanan diputuskan orang, akhirnya aku dapat meloloskan diri. Aku kembali kegunung Than-ala-san, akan tetapi sungguh kecewa, guruku telah berpulang sejak dua bulan yang lalu, dan yang membuatku terkejut adalah pedang guruku lenyap entah kemana. Pada telapak tangan beliau, hanya kudapatkan surat yang isinya merupakan perintah kepadaku agar aku mencari dan mendapatkan benda pusaka itu.

Lima tahun lamanya aku melatih diri di puncak gunung. Setelah kurasakan pulih seluruh kemampuanku, aku kembali turun gunung. Dan memenuhi pesan guruku aku pergi ke daerah India untuk menyelidiki serta mengambil pedang pusaka guruku, baru kemudian aku pergi ke Tinpa untuk membayar lunas sakit hati keluargaku.

Namun, kiranya tak kuasa aku melawan takdir. Setelah berhasil aku mengambil kembali pedang pusaka, aku barus segera kembali ke Than-ala-san, karena saat terakhir bagiku akan segera tiba. Dan akupun meniru perbuatan guru berpulang dengan cara duduk bersemedi. Dan secara tenang akupan menyusul beliau.

…………..dan terima kasih kepadamu sekarang kuucapkan yang telah menanamkan jenazahku sebagaimana layaknya, sebagaimana yang pernah kulakukan atas diri sucouwmu. Hanya ada pesanku yang terakhir, pertama-tama turun gunung pergilah ke Tinpa, dan carilah disana turunanku.

Kalau dia seorang perempuan, peristerilah dia. Akan tetapi bila dia seorang lelaki dan sebaya umurnya denganmu, angkatlah dia sebagai suteemu, turunkanlah segala ilmu silatmu. Dan apabila ia lima atau sepuluh tahun lebih muda darimu, angkatlah dia sebagai murid. ―Hmmmm,  hampir  saja  aku  terpedaya  oleh  manusia-manusia Thian-lam  tadi‖,  gerutu  Sin  Hong  seorang  diri.  ―Dan  hampir  saja aku menjadi seorang murid durhaka membakar kitab akibat ocehan mereka. Jangan kuatir suhu, apabila telah tiba saatku untuk berkelana maka aku akan penuhi semua pesanmu. Dan bahkan apabila mereka orang-orang Thian-lam hendak menuntut balas juga, biar kusapu bersih mereka. Lebih-lebih pula suhu bermusuhan dengan orang-orang Ceng-hong pai. Ayahku telah binasa ditangan anak murid Ceng-hong pai. Mulai hari ini aku akan mempelajari kedua kitabmu lebih rajin…………

Selanjutnya. Sio Hong bertambah tekun mempelajari Sin Hong Lwee Kang dengan teliti. Diperhatikannya semua petunjuk- petunjuk serta cara-cara bagaimana mengatur pernapasan. Ia perhatikan gerak-gerak dalam peta. Tujuh hari Sin Hong membaca terus menerus, maka ia mendapat kenyataan bagaimana bedanya pelajaran itu dengan Ilmu silat pedang ataupun ilmu silat tangan kosong.

Waktu pertama kali ia membaca, terasa agak bingung. Tetapi karena kecerdasan otaknya, akhirnya dapat juga ia mengikuti setiap petunjuk-petunjuk dalam kitab dengan sebaik-baiknya.

Dan pada hari yang kesepuluh, terasa olehnya betapa tubuhnya menjadi sangat ringan, sedangkan kekuatan tenaganya menjadi berlipat ganda. Tetapi pada hari yang kesebelas ia mendapatkan kesukaran, dimana ia sampai pada pelajaran yang tanpa gambar.

Untuk selingan, Sin Hong kemudian melatih ilmu dari kitab yang satunya lagi, yaitu kitab Penuduhan Lukisan. Dengan bantuan lukisan-lukisan monyet, Sin Hong mendapatkan kemajuan yang semakin pesat.

Ketika kembali ia hendak mempelajari Sin Hong Lwee Kang, maka sekali ia mendapat kesulitan pada pelajaran-pelajaran yang tanpa gambar itu. Akan tetapi kali ini ia teringat akan ukiran-ukiran yang terdapat pada tembok kamar Tek Kwee Kiesu gurunya. Sin Hong ingat bahwa pada ukiran-ukiran itu jelas tergambar urat-urat tubuh manusia. Bukankah ada huhungannya dengan pelajaran yang sekarang ini?

Terpikir yang demikian, maka tanpa membuang waktu lagi Sin Hong pergi mendapatkan kamar gurunya. Dengan tidak menemukan kesulitan suatu apa-apa, Sin Hong dapat tiba disana. Dan apa yang dicarinya itu ternyata benar belaka. Semua ukiran- ukiran itu ternyata memang membantu penjelasan pelajaran lweekang baginya. Maka tidak terkatakan betapa girang pemuda ini.

Dengan tidak membuang waktu pula, Sin Hong lantas melakukan latihan-latihan berdasarkan petunjuk kitab Sin Hong Iwe Kang dan dibantu oleh ukiran-ukiran dikamar gurunya itu. Ia tahu cara mengatur pernapasan secara sempurna serta tahu pula urat-urat tubuh yang mana yang harus dibuka.

Berhasil dengan latihan-latihannya ini, maka Sin Hong mengucapkan terima kasih dan menyoja tiga kali didepan makam gurunya.

Ketika ia hendak meninggalkan kamar itu, tiba-tiba matanya tertarik pada pedang aneh yang menggeletak dipinggir kuburan, yang tadinya sama sekali tidak menarik perhatiannya. Ia teringat akan pedang pusaka yang katanya adalah peninggalan dari leluhur gurunya.

Pedang itu agak melengkung bagaikan ular naga yang melilit diri, ekornya merupakan gagang, sedangkan ujungnya yang tajam berbentuk paruh burung hong. Patuk itu dapat dipakai menikam akan tetapi juga menggaet senjata lawan. Sedangkan pada gagangnya terdapat tiga buah huruf yang terukir, ―Hon-po-kiam,‖ Sm Hong berjalan keluar ketika nyala obor hampir padam. Tidak lupa membawa beberapa buah kim-hong-cui, senjata rahasia yang berbentuk seperti obor itu .

Tiba diluar, ketika melihat sebuah batu yang menghalangi jalan, secara iseng Sin Hong menyabetkan pedangnya. Sungguh tak terduga, batu itu terbabat potong menjadi dua bagian.

―Aha !‖ seru pemuda itu kegirangan. ―Ini dia pedang mustika !‖ Dan ketika ia mencoba untuk menusuk dinding gua, maka pedang itu amblas hampir sampai ketangannya.

Bukan main girangnya anak muda ini. Maka begitu tiba di gua tempat ia berlatih, ia langsung melakukan latihan dengan petuh semangat dan gembira.

Mula-mula dipermainkannya ilmu pedang ayahnya. Setelah itu ia melatih ilmu silat gabungannya. Ternyata pedang itu sesuai sekali dipakai, terutama sekali waktu ia memainkan Sin Hong Kiam hoatnya. Bukan main bertambah girangnya melihat kenyataan itu semua.

Selanjutnya berminggu-minggu dan berbulan tanpa mengenal bosan dan lelah, Sin Hong tekun melatih diri dengan Sin Hong Lwee  Kang  maupun  ―Pemecahan  Lukisan.‖  termasuk  juga  latihan mempergunakan senjata rahasia kim-leng-cui tidak ditinggalkan.

Namun pada saat mempelajari Sia Hong Lwe Karg dan tiba pada halaman terakhir, tiba-tiba ia merasakan suatu kesulitan pula. Ia mengulangi dan melatih berulang-ulang pada bagian itu akan tetapi bukannya dapat memahami, sebaliknya malah kepalanya jadi pusing. Padahal ia yakin benar bahwa ia tidak salah mengartikannya.

Malamnya, dalam saat ia membaringkan tubuhnya, memikirkan kedua kitab pelajaran ilmu silat tersebut, sinar bulan berpantulan memasuki gua melalui celah-celah dinding gua yang retak. Ia menghitung=hitung dalam hati, kiranya telah sepuluh tahun ia menjadi penghuni gua tersebut. Maka terpikir olehnya untuk turun gunung mencari musuh besarnya Ong Kauw Lian, pembunuh ayah dan ibu serta saudara-saudara seperguruannya.

Kecuali itu, terbayang pula wajah An Siu Lian puteri An Hwie Cian ketua Ceng-hong-pai yang telah binasa di tangan keponakan sendiri itu. Mengingat akan gadis itu, maka dalam hati ia berharap mudah- mudahan keturunan Tek Kwe Kiesu, gurunya itu, yang harus ditemukannya di Tienpa adalah seoraog anak laki-laki, sehingga tidak akan banyak menimbulkan kesulitan.

Sebulan kemudian, setelah berulang kali mengulang dan mengulang seluruh pelajaran dari kedua kitab warisan gurunya itu, Sin Hong lantas membakarnya. Ia mengingat bahwa jika kitab itu sampai terjatuh ketangan orang-orang Thian-lam-pai, akan sangat membahayakan bagi ketenteraman dunia kangouw.

Dalam sekejap saja maka api telah berkobar, membakar kedua kitab pusaka yang sebenarnya menjadi impian setiap orang gagah di kalangan rimba persilatan.

Sekian lama api menyala, berkobar membakar kedua kitab itu. Akan tetapi aneh. Selagi semua lembaran-lembaran kitab itu hangus menjadi abu, maka kulit kitab Sin Hong Lwee Kang sama sekali tidak hangus, hanya menjadi hitam belaka.

―Aneh !‖ pikir Sio Hong. Lalu dicobanya untuk merobek kulit kuku itu, akan tetapi tidak berhasil. Padahal Sin Hong tahu bahwa tenaganya sangat kuat.

Ketika ia menjentik-jentik dan menekan-nekan serta memperhatikan lebih jauh, ternyata kulit buku itu tidak terbuat dari kertas biasa. Akan tetapi ternyata terbuat dari baja campuran emas yang dilapis entah bulu sejenis apa yang rangkap dua. Lapisan itu berbentuk kaos, akan tetapi bahannya jauh lebih halus. Apabila Sin Hong mempethatikan lebih jauh, kiranya pada kaos pelapis itu terdapat tulisan ―KAOS PELINDUNG JIWA‖.

Segera, tanpa ayal lagi, dikenakannya kaos itu. Untuk membuka lapisannya, ia mempergunakan sebuah pisau, Ketika dikorek, maka ia menemukan sehelai kertas yang terdapat disitu.

Selembar kertas yang ternyata berisikan gambar-gambar. Gambar-gambar ilmu pukulan dan ilmu pedang. Hingga akhirnya Sin Hong sadar bahwa gambar-gambar itu adalah petunjuk penting untuk kitab Sin Hong Iwee Kang pada halaman-halaman yang akhir, dimana ia mendapat kesulitan untuk mempelajarinya.

Dengan ditemukannya gambar-gambar itu, maka kegembiraan Sin Hong sungguh tak terlukiskan. Berarti ia dapat sudah melatih diri dengan seluruh ilmu yang terdapat dalam kedua kitab itu.

Karena penemuan ini, maka Sin Hong mengundurkan waktu keberangkatannya selama beberapa hari untuk melatih diri lebih lanjut. Seluruh latihan yang semula samar-samar kini telah dapat dilatihnya dengan baik.

Selanjutnya, setelah merasa telah siap semuanya, maka Sin Hong menyiapkan buntalan untuk berangkat turun gunung. Setelah berlutut dan paikui dihadapan makam Tek Kwee Kiesu, serta memberikan salam terakhir pada makam Siu Lian, maka sambil menggendong Hong-po-kiam, ia mulai dengan perjalanannya.

Tidak lupa, ia menutup mulut gua dengan batu besar, agar jangan sampai ada orang lain yang dapat menemukan tempat itu.

Hari inilah, hari yang pertama kali bagi Sin Hong mulai turun gunung sejak sepuluh tahun yang lalu ia mengasingkan diri.

Maka tidaklah mengherankan apabila sekarang Sin Hong melihat segala sesuatu yang tampak olehnya seperti asing baginya. Setelah berjalan setengah harian, kira-kira hari hampir pukul dua, maka Sin Hong telah tiba pada lereng pegunungan yang ditumbuhi hutan cemara. Pohon-pohon cemara itu kini tampak telah berubah benar, Daun-daunnya rimbun-rimbun, sehingga walaupun saat itu matahari sedang naik tinggi, tetapi Sin Hong hampir tidak merasainya. Bahkan yang terasa olehnya adalah nyaman dan sejuk serta angin yang meniup terasa silir-silir lembut.

Sedang asyiknya ia berjalan, mendadak terdengar suara burung- burung pemakan bangkai berterbangan diatas kepala, Sin Hong mengaagkat kepala untuk meyakinkan. Mendadak saja ia teringat sesuatu. Lalu cepat-cepat ia naik, memanjat pohon. Lalu dengan pedangnya ia memotong sebuah dahan.

Dahan itu dibawanya turun. Lalu diambilnya duri-duri yang melekat padanya. Setelah merauti duri-duri itu kemudian menyimpannya maka iapun melanjutkan perjalanan kembali.

Menjelang malam hari, Sin Hong telah tiba di gunung. Ia teringat akan keluarga Oei, maka iapun bermaksud untuk menyambanginya.

Ketika tiba pada dusun tempat paman dan keponakan itu, maka Sin Hong menjadi keheranan melihat dusun itu sepi-sepi saja, tidak terdengar gonggong anjirg. Didepan rumah keluarga Oei tidak juga terlihat jongos yang menyambut, sunyi sekali.

Karena kesunyian yang mencurigakan itu maka Sin Hong berusaha menghampiri sebuah pintu gedung yang tampak agak membuka. Diketuknya pintu rumah itu. Dari ketukan-ketukan lemah sampai ketukan yang keras, tidak juga terdengar ada jawaban dari dalam, hingga karena habis kesabaran, maka digedor-gedornya pintu itu keras-keras, barulah beberapa lama kemudian tertampak keluar seseorang yang jalannya terbungkuk-bungkuk menghampiri. ―Siapa  tuan……..  tuan  siapa?‖  demikianlah  dengan  terburu- buru kakek bungkuk itu menegur.

―Aku   seorang   tamu   dekat,   hendak   bertemu   menyambangi kedua Oei-lohiap‖ kata Sin Hong.

―Oh,  bukankah  tuan  adalah  tamu  muda  yang  pada  beberapa tahun yang lalu pernah berkunjung kemari bersama tuan Balgha?‖ Kakek itu menegaskan penglihatannya dengan mengangkat muka memandang tajim.

―Ya, saya Lie Sin Hong……‖ sahut si pemuda membenarkan.

Baru saja Sin Hong menjawab demikian maka tampak kakek itu menundukkan kepalanya sambil pundaknya bergerak-gerak, menangis.

―Kakek  mengapa  kau?‖  Sin  Hong  keheranan.  Terasa  olehnya firasat buruk yang telah menimpa keluarga itu.

―Oh,  anak  Sin  Hong…..‖  demikian  kata  kakek  itu  sambil mempersilahkan     tamunya     memasuki     rumah.     ―Kau     tidak mengetahuinya…..‖

Sio Hong diajak masuk kedalam, duduk-duduk sambil tak lama kemudian kakek itu telah menyediakan secangkir teh.

―Kakek,  apakah  malapetaka  telah  menimpa……‖  Sin  Hong telah tak sabar.

Kakek itu menyeka matanya berulang-ulang. Baru kemudian menjawab :

―Malapetaka……….     yah     malapetaka.     Setahun     setelah kedatangan kalian berdua tuan Balgha, maka kekampung ini telah datang dua orang yang berhidung bengkok serta mengenakan ikat kepala yang bentuknya aneh sekali. Oleh karena mereka datang pada malam hari, sedang yang seorang mukanya merah dan satunya kuning, yang kelihatan pada mereka hanyalah matanya saja yang menyala seperti obor. Ternyata mereka itu tidak hanya berdua saja. Jauh di dibelakang mereka, ikut serta satu orang yang ternyata adalah sebangsa kita.

Mereka langsung memasuki rumah gedung Oei chungcu, tanpa menghiraukan sopan santun. Mereka itu adalah orang-orang jahat, yang datang hendak menuntut balas. Satu orang yang datang belakangan itu adalah bekas begal yang pada enam tahun yang lalu pernah dikalahkan oleh chungcu kami!‖

―Apa yang mereka lakukan?‖ Tanya Sin Hong.

―Kedua  orang  asing  yang  mukanya  sangat  menyeramkan  itu, sangat tidak tahu aturan sama sekali.. Mereka sangat telengas. Ketika tuan kami sedang berbicara dengan bekas pecundangnya, kedua orang bermuka hantu itu telah membuat kegaduhan. Yang satunya yang mukanya kuning dengan kelima jarinya telah membunuh jongos yang saat itu sedang membawa air teh diatas nampan. Dengan kelima jarinya yang sangat buas itu, ia mencengkeram mata kuping dan hidung jongos itu. sehingga masing-masing bagian muka itu copot dari kepalanya……‖

―Aih, mengapa begitu telengas?‖ Sin Hong berseru terperanjat. Dalam kitab pemecahan lukisan, memang terdapat ilmu yang sejenis itu, yaitu mencabut nyawa dengan lima jari. Ilmu itu terdapat di tanah India. Tidak mudah orang dapat meyakininya. Orang bermuka kuning itu agaknya tidak boleh dipandang ringan.

―Cepat  sekali gerakan tamu asing  itu, sehingga siapapun tidak dapar mencegah kejadian itu. Dan selanjutnya kedua chungcu kami telah terlibat dengan pertarungan melawan bekas begal itu. Sebenarnya si bekas begal itu bukanlah lawan kedua chungcu kami. Akan tetapi sedang ia terdesak hebat, mendadak terdengar pekikan suara si orang asing yang bermuka merah !‖ ―Bukan  main  orang  bermuka  hantu  itu.  Dengan  permainan tangan kosong ia dapat memecah pertahanan kedua chungcu kami. Dan tak lama kemudian terdengar jeritan chungcu muda Oei Hong Gap. Ternyata beliau telah mengalami nasib yang sangat mengerikan, mukanya hancur seperti jongos tadi, ―

―Ahhh...‖ tanpa sadar Sin Hong mengeluh dan bergidik.

―Melihat nasib sang keponakan, maka Oei toa chungcu menjadi sangat gusar, Dan beliau berusaha untuk membalaskan sakit hati keponakannya itu. Akan tetapi sebelum sempat berbuat banyak, beliaupun telah mengalami nasib yang serupa, mukanya terbelah, pisah dari kepalanya…….!‖ Kakek itu tersengguk-sengguk menangis ―Aku yang saat itu tengah bersembunyi di loteng melihat tegas semuanya itu terjadi. Mungkin saat itu aku telah mati lemas. Tetapi mataku masih dapat melihat betapa iblis yang ternyata bernama Ang Oei Mokko itu selanjutnya dengan kekejaman yang luar biasa, membunuh! sekalian penghuni rumah yang ditemuinya……. Tidak seorangpun yang tersisa dalam rumah, kecuali aku dan…… ukh ukh ukh !‖ Si kakek menangis menggerung-gerung pula.

―Terlalu…….‖  untuk  kesekian  kalinya  Sin  Hong  mengeluh menggidik ngeri, sungguh dinyana bahwa nasib keluarga Oei akan begitu mengenaskan Untuk beberapa saat pemuda itu duduk termangu, diam tak berkutik.

―Tuan dapatkah  menduga  siapakah  diantara  keluarga  chungcu yang masih selamat?‖

―Bukankah    Oei    siocia?‖    sahut    Sin    Hong    gugup    dan menggeragap.

―Benar.  Thian  memang  tidak  buta,  satu-sayunya  turunan  Oei chungcu yang berhasil meloloskan diri, dia itulah…..‖, sahut kakek itu  menjelaskan.  ―Dia  dibawa  lari  oleh  Liu  siauwji,  ketika  iblis kejam itu sedang mengamuk…….‖

―Syukurlah  kalau   begitu‖,   kata   Sin  Hong.   ―Jikalau   begitu halnya berarti keturunan Oei tidak tumpas sama sekali‖ pikirnya.

―Hanya entah kemana dibawanya puteri itu pergi. Tuan muda, apabila dibelakang hari kau menjumpainya harap tolong kirimkan kabar……‖

Sin Hong menyangupi. Selanjutnya karena ia pikir sudah tak ada pula manfaatnya untuk berlama-lama disitu, maka Sin Hong lantas mengambil hio untuk melakukan sembahyang didepan meja aku paman dan keponakan keluarga itu, barulah ia meminta diri untuk melanjutkan perjalanan.

Papa hari kelima dalam perjalanannya itu Sin Hong tiba pada sebuah dusun yang ramai, yang terkenal dengan araknya yang harum yaitu dusun Kang-po. Disitu Sin Hong dapat memperoleh seekor kuda.

Sebelum melanjutkan perjalanan pemuda itu bermaksud untuk masuk kedalam sebuah warung depan minum arak, barang beberepa teguk. Didepan rumah makan itu Sin Hong tertarik pada seekor kuda berwarna merah mulus yang tertambat.

Ketika sedang meneliti kuda itu, mendadak perhatiannya tertarik pada sebuah tanda rahasia yang terlekat dipojokan tembok, Sin Hong tahu bahwa tanda dari orang kalangan kangouw. karena bukannya ia pernah menjadi seorang piauwsu? Tanda-tanda semacam itu memang sering ia dapati dalam pekerjaannya itu.

Dengan tenang Sin Hong memasuki sebuah rumah makan. Dilihatnya didalam ruargan itu, seorang pemuda yang berpakaian sangat perlente sedang duduk-duduk minum seorang diri. Apabila melihat dari pakaiannya, tampaknya pemuda itu agaknya tergolongan orang kang-ouw.

Pemuda yang menyendiri itu berwajah sangat cakap, hampir- hampir Sin Hong tak percaya bahwa pemuda itu seorang laki-laki karena wajahnya yang sangat halus dan seperti ―cantik‖ itu.

Disisi sebelah barat pemuda cakap itu, duduk pula dua orang laki-laki, yang seorang gemuk dan yang seorang lagi kurus. Mereka berwajah kasar, dan berulang kali mereka tampak melirik kearah si pemuda tampan.

Sedangkan si pemuda tampan itu agaknya tidak memperhatiltan tingkah laku kedua orarg itu. Ia minum secawan demi secawan,

sehingga kemudian tampak tubuhnya limbung, walaupun demikian, wajahnya masih melukiskan bahwa ia sedang berduka hati. Berkali-kali ia menggoyang-goyangkan kepalanya, dan tangannya mengepal-ngepal. Tetapi sungguh aneh, sama sekali ia tidak menyadari bahwa dua orang yang duduk didekatnya sering mengincer kearahnya.

Pada saat itu, terdengar sigemuk berkata serak :

―Hayo  kawan,  kau  harus  habiskan dua ratus cangkir  ! Minum terus, tidak boleh curang !‖

Temannya, yang kurus itu berjingkrak.

―Kau  gila  !‖  bentaknya,  ―Kau  sendiri  belum  menghabiskan tujuh cawan, bagaimana kau mau mendesak aku menghabiskan dua ratus cangkir !‖

―Tapi tubuhmu kurus, ingat, kau membutuhkan banyak minum arak agar tubuhmu menjadi panas dan bertenaga. Paling sedikit, sebenarnya kau harus menghabiskan tiga ratus cangkir !‖ ―Ngomong  busuk  !‖ Si kurus menggerutu, mendongkol; ―Aku tid.k mau minum lagi !‖

―Hei,  tidak  mau  minum?‖  bentak  sigemuk,  seraya  kemudian diangkatnya sebuah poci arak, dan diselugukkannya kedalam mulut sikurus.

Si kurus jadi gusar. Tangannya dikebaskan sehingga arak itu tertumpah ruah menyiram tubuhnya. Sigemuk tetap memaksa, sehingga keduanya lantas bergumul, seperti disengaja, pergumulan mereka sampai melanggar sipemuda tampan.

―Kurang ajar!‖ Pemuda itu membentak seraya bangkit.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara barang jatuh. Kiranya sebuah kantong bersulam milik pemuda tampan itu, dan dan didalamnya tampak meletik keluar sepotong emas serta beberapa tahil perak.

Sipemuda tampan bergerak cepat sekali, menginjak kantongnya mendahului kedua orang yang berlagak mabuk itu. Lalu diraupnya uang-uang perak dan emasnya itu seraya berseru :

―Kalian hendak merampas?!‖

Kedua orang yang bergumul itu berhenti bergulat. Si gemuk kontan membentak : ―Siapa merampas?‖

―Berani sembarangan menuduh orang. Kuhajar kau !‖ si kurus mengancam.

Menyaksikan ketiga orang yang hendak ribut itu beberapa orang tamu yang lain datang meleraikannya.

Sin Hong tertawa menyaksikan perbuatan kedua orang kasar itu. Ia mengerti dan maklum bahwa perbuatan kedua orang itu bergumul memang sengaja untuk secara diam-diam untuk merampas kantong orang, atau setidak-tidaknya mengetahui isi kantong pemuda itu. Cuma sayangnya merek kalah cepat dengan pemiliknya sehingga maksud mereka tidak kesampaian.

Sin Hong mendekati kedua orang kasar itu. Sambil mendorong mereka agar menjauh, ia menegur :

―Apakah  kailan  sudah  sinting  !  Mau  bergumul,  ya  bergumul saja, tak perlu menyeruduk tempat orang lain !‖ Sambil menegur, demikian ia mendorong kedua orang itu agak keras, sehingga terhuyung kebelakang, kesakitan. Dan mereka sungguh tak mengira, bahwa pemuda yang mendorong-dorong mereka itu telah mengambil isi kantong celana mereka

―Bangsat  itu  yang  sembarangan  menuduh  orang  !‖  Kata  si gemuk marah dan mencaci. Tetapi beberapa tamu yang lain, yang memang melihat asal keributan itu, jadi menyalahkan mereka.

―Sudah ! kalian yang mengganggu urang!‖

―Kalau  mau  minum  sambil  guling-gulingan  minum  dirumah sendiri saja !‖ begitulah kata tamu-tamu yang lain.

Pemuda tampan yang berpakaian kangouw itu memandang kearah  Sin  Hong  sambil  mengangkat  cawannya  :  ―Saudara,  mari minum bersama !‖

―Terima kasih‖ sahut  Sin Hong seraya duduk. Dari tempatnya ia mengawasi kedua orang kasar itu.

Mereka itu tampaknya masih mendongkol kepada si pemuda tampan, dan berulang kali mereka mengawasi dengan sorot mata tajam. Lalu seorang diantaranya, sikurus memanggil kuasa rumah makan untuk perhitungan.

Si gemuk masih menggerutu. Tangannya dimasukkan kedalam kantong celana, agaknya ia hendak mengeluarkan uang. Tiba-tiba tampak melongo, dan tangannya masih terbenam dalam kantong celana, sementara wajahnya jadi pucat dan berkeringat.

Melihat perubahan sikap temannya, maka si kuruspun lantas meraba sakunya, iapun menjadi tertegun, dengan mendadak. Dan bola matanya berputar-putar kebingungan.

Kedua orang itu saling pandang, Saling mengawasi, sedang mulut mengatup rapat tidak dapat berkata barang sepatah katapun juga.

―Jumlah  semua  ....  cuma  dua  tahil  lima  cie…..‖  kata  kuasa rumah makan seraya membungkuk hormat kepada kedua tamu itu.

Sebaliknya kedua tamu itu saling pandang menyeringai, seperti monyet mencium terasi. Tangan mereka masih belum ditarik dari dalam kantong celana.

―Tuan-tuan,  semuanya  berjumlah  dua  tahil  lima  cie‖,  kuasa rumah makan itu mengulangi.

Lalu dengan gugup dan muka sebentar meraba sebentar pucat, si gemuk menjawab gugup :

―Kalau boleh…… kami membayar lain kali……saja hehe‖. Tuan rumah memperlihatkan sikap yang dingin dan keheranan.

―Wah,   rumah   makan  kami   bisa   pailit,   kalau   semua   tamu berhutang‖, kata kuasa rumah makan itu.

Si jongos yang juga mendongkol melihat tingkah laku orang, ikut-ikutan menyeletuk

―Apakah kalian  berdua  berdua  bukannya  hendak  mengganggu kita? Sudah minum berpuas-puas, membikin keributan lagi…. Kalau benar-benar tidak berduit, hayo buka baju !‖ Dan tamu-tamu yang lain ikut menimbrung : ―Memang mereka berdua itu ialah…….‖

Melihat gelagat yang tidak enak, kedua orang itupun membuka bajunya, Rupanya dengan kedua potong baju itu saja, harga dua tahil lima cie belumlah cukup, dan sijongos telah mengambil kopiah tamu itu.

Kedua tamu itu murka bukan buatan roman mukanya sampai merah hijau, merah pucat tak menentu. Akan tetapi mereka tak berdaya, dan setelah mendapat perlakuan yang sangat kasar itu, mereka bergegas keluar meninggalkan rumah makan.

Seperginya kedua dorang itu, Sin Hong jadi teringat sesuatu.

Mereka itu tampaknya memang bukan orang baik-baik. Menilik

sikapnya mungkin mereka adalah orang-orang bawahan dari suatu perkumpulan. Tidak mustahilkah mereka akan mengadu kepada pemimpin mereka?

Teringat akan hal yang demikian, maka Sin Hong bermaksud untuk menghampiri sipemuda tampan untuk memberikan peringatan. Akan tetapi baru saja ia berdiri, diluar rumah makan terdengar suara ribut-ribut, dan tak lama kemudian belasan orang laki-laki yang wajahnya kasar daa beringas, tampak memasuki rumah makan sambil membuat kegaduhan.

Diantara mereka itu, terdapat dua orang yang habis dilucuti tadi. Mereka itu menunjuk kearah sipemuda tampan, maka langsung belasan orang itu mengurung sipemuda. Salah seorang diantara mereka yang berhidung pesek dan bercabang bauk agaknya adalah pemimpin rombongan menghampiri sipemuda dengan garang.

Dengan kedatangan belasan orang itu, maka suasana dalam warung menjadi panik. Beberapa orang tamu yang bernyali kecil segera membayar makanan, dan berlalu dengan cepat. Si gemuk yang tadi mati kutu, kini dihadapan kawan-kawannya rupanya bermaksud hendak pamer kegagahan. Sekali menghampiri sipemuda tampan ia mengulur tangan untuk menjambret dada orang. Akan tetapi sebelum tangannya yang berbulu itu sampai pada sasarannya, terdengar ia menjerit, kesakitan seperti babi dipotong.

―Wadauuu...!‖  dan  bertepatan  dengan  itu  tubuhnya  terbanting dari kursinya yang ringsek.

Beberapa orang tamu yang masih berada disitu, melihat kejadian itu dan tertawa geli, melihat si gemuk yang jatuh dengan muka ke tanah, sehingga beberapa buah giginya copot dan menyembur darah.

Yang hebat, setelah jatuh, si gemuk bukannya bangkit berdiri, akan tetapi ternyata pingsan seketika. Hal ini membuat para ramu yang menyaksikan jadi kaget.

―Pembunuhan  !‖  Seru  para  tamu  yang  tadi  tertawa,  kini  jadi panik, dan serabutan keluar untuk menghindari kejadian mungkin berkembang makin besar.

Si pesek yang melihat nasib bawahannya demikian, menjadi sangat gusar. Serentak ia mengomando bawahannya untuk segera turun mengeroyok.

―Berhenti  !‖  Tiba-tiba  terdengar  suara  bentakan  yang  sangat, dan berpengaruh sekali, sehingga membuat para pengeroyok itu mengurungkan maksudnya Mereka semuanya jadi bungkam, dan pandang matanya terarah kepintu rumah makan, dimana berdiri seseorang yang bertubuh pendek gemuk dengan sebuah golok besar melintang didepan dadanya. Dibelakang orang gemuk pendek itu tampak berdiri pula dua orang lain yang sikapnya tidak kalah garangnya. Melihat munculnya orang-orang itu, maka diam-diam Sin Hong telah menyiapkan beberapa batang dari cemara yang akan dipergunakannya sebagal piauw bila saatnya perlu nanti ia membantu sipemuda tampan itu.

―Keluar kalian !‖ bentak orang pendek gemuk itu kepada para pengeroyok dengan suaranya yang keras mengguntur.

Anak buah sihidung pesek itu, tanpa digebah sekali lagi, telah berebutan keluar sambil ketakutan. Sedangkan sipemuda tampan, dengan   sikap   mengejek,   berseru   :   ―Ayo   cepat   keluar!   Keluar semua!‖ Tampaknya ia sama sekali tidak menghiraukan sipesek dan anak buahnya yang menggerutu dan melotot kearahnya. ****