Ilmu Angin Sakti Jilid 03

Jilid 03

TENTU saja Sin Hong tak berani berlaku khayal. Dengan CEpat dilolosnya golok kecil di pinggangnya. Menyusul kemudian terdengar  suara  nyaring,  ―trang!‖  Golok  dan  pedang  saling  bentur dengan keras, menimbulkan suara berisik.

Keduanya terhuyung mundur beberapa langkah, Sin Hong cepat mempergunakan kesempatan itu, dengan mendahului menyerang dengan mempergunakan kelima belas jurus Cap Peh Lo Hoan To.

Dengan segera mulai tampak bahwa Sin Houg berada diatas angia. Jurus-jurus dahsyat Cap Peh Lo Hoan To nya, walaupun baru lima belas jurus yang dimilikinya akan tetapi sudah cukup baginya membuat lawan terdesak dan kerepotan.

Segera Sin Hong melihat suatu lowongan pada diri lawan. Goloknya yang bergerak dari kiri kekanan, mendadak dirubahnya, membuat sebuah lingkaran yang mengurung siwanita. Sekali diputar, maka golok itu telah digetarkan menyambar pundak kanan musuh….. ―Trang  !‖  Namun  dalam  detik  yang  berbahaya  bagi  siwanita. kiranya golok Sin Hong telah diputar oleh suatu sinar kilat yang datang meluncur sangat cepat, Sin Hong merasakan tangannya agak tergetar, kiranya si laki-laki setengah tua itupun telah turun membantui isterinya

Senjata si lelaki tidak hanya berhenti sampai disitu, akan tetapi terus meluncur mengancam dada Sin Hong. Cepat bagaikan kilat

Sin Hong mengangkat goloknya menangkis, lalu diteruskan dengan bentakannya yang membarengi gerakan goloknya mengirimkan tiga serangan ganda, bagian atas tengah dan bawah.

Kiranya sisuami itu dengan memutarkan pedangnya, telah dapat memunahkan serangan Sin Hong.

Sin Hong penasaran, ia putar goloknya, menyabatdengan keras ke arah tujuh bagian tubuh lawan, namun laki-laki setengah tua itu sudah dapat mengelakannya dengan baik.

Disini ternyata bahwa kepandaian mereka boleh dibilang seimbang akan tetapi cukup membuat laki-laki selengah tua itu terkejut juga, dimana lawannya yang masih muda itu ternyata sanggup memberikan perlawanan hingga puluhan jurus, tanpa dapat didesak sama sekali.

Setelah selesai mengatur jalan napasnya kembali, si wanita yang melihat suaminya belum berhasil merobohkan lawannya, segera pula maju mengerubut. Tentu saja kali ini menbuat Sin Hong jadi kuatir. Melawan si suami saja belum tentu dapat memenangkan pertarungan, apalagi dengan suami isreri itu turun bersama-sama.

Tak lama antaranya, maka tampaklah Sin Hong mulai kepayahan. Diam-diam pemuda ini menyadari bahwa pertarungan itu harus segera diakhiri. Tiba-tiba satu diantara ketiga orang yang tengah bertempur itu tampak mencelat tinggi sekali, dan dengan kecepatan luar biasa, telah meluncur kearah Siu Lian yang saat itu sedang berdiri bengong.

Sebelum Siu Lian menyadari apa yang akan terjadi maka bayangan yang berkelebat kearahnya itu telah menotok jalan darahnya, untuk kemudian dengan gerakan yang sangat cepat pula, bayangan itu telah merangkul pinggang sigadis untuk digondolnya pergi.

Dengan tanpa menuruni anak tangga, maka bayangan itu yang ternyata adalah Sin Hong telah berada diluar restoran dan cepat luar biasa telah melompat kepunggung kuda putih. Dan pada detik selanjutnya kuda itu telah melancarkan lari dengan cepat.

Kedua orang laki-laki perempuan itu boleh gesit dan tangkas, akan tetapi menghadapi ginkang putera Song-to Lie Kie Pok yang sangat lihay itu, mereka tidak berdaya apa- apa. Demikianlah ketika mereka sudah tidak dapat melihat bayangan lawannya lagi.

Untuk mengejar sudah tak mungkin lagi, dan melihat dipihaknya tidak menderita cidera suatu apa, maka sambil menghela napas mereka kembali memasuki restoran.

Lie Sin Hong membedal kudanya semakin cepat. Hingga sebentar saja ia menoleh kebelakang, rumah makan itu tampak tinggal bayangan samar-samar belaka, untuk kemudian lenyap dari pandangan sama sekali.

Les kuda dipegang ditangan kanan, sedangkan tangan kiri merangkul pinggang sinona yang kini telah dibebaskan dari celakannya. Hati si pemuda berdebar keras, entah mengapa, sejak perkenalannya yang beberapa saat itu, ia berat untuk berpisah dengannya. Membalapkan kuda kira-kira dua jam, kuda putih yang entah milik siapa itu telah terpisah lebih dua ratus lie dari Shoatang. Tiba disini, setelah yakin bahwa tidak ada orang yang mengejarnya, barulah Sin Hong menarik kendali kuda.

Sin Hong melompat turun dari kuda, diikuti oleh si gadis yang juga merasa telah sama-sama lekat hatinya. Sambil berpegangan tangan muda-mudi ini berdiri dihadapan, tanpa dapat mengucapkan sepatah kata jua, walaupun sebenarnya apa yang ingin mereka katakan sebenarnya terlampau banyak. Mereka tak tahu dengan cara bagaimana hendak memulai pembicaraan. hanyalah hati mereka belaka yang membisikkan isi kalbunya masing-masing.

Beberapa saat kemudian, ketika mereka telah tersadar, segera si pemudi menarik tangannya dengan wajah yang memerah, hingga pipinyapun tampak merah jambu, menunduk tersipu-sipu.

Sin Hong masih berdiri mematung, ketika Siu Lian mengambil sapu tangan dari dalam pelana kuda, lalu pergi ke sebuah kali kecil untuk mencelupkan sapu tangan itu. Setelah itu barulah ia kembali sambil berkata:

―Kau pakailah sapu tangan ini…….‖

Sin Hong mengerti maksud gadis itu, dan menerima sapu tangan itu, untuk selanjutnya si pemuda telah menyeka bersih wajah Siu Lian. Sekonyong-konyong sedang Sin Hong dengan hati gembira mengusapi wajah sigadis, maka sigadis telah bertanya:

―Tahukah   Toako,   siapa   kedua   orang   yang   tadi   bertempur denganmu?‖

Lie Sin Hong menggelengkan kepalanya.

―Mereka   adalah   saudara-saudara   seperguruanku!‖   Siu   Lan menerangkan. ―Bagaimana kau mengetahui?‖ tanya Sin Hong.

―Kulihat  dari gerakan ilmu  silat  mereka, sejalan benar dengan ilmu silat ayahku…..‖

―Tapi mengapa perbuatan mereka begitu tak mengenal aturan?‖ pertanyaan Sin Hong ini tidak mendapat jawaban, bahkan Siu Lian berkata  lain:  ―Toako!  tidak  dapat  tidak,  kita  barus  kembali  ke Shoatang.‖

―Kembali?‖   Sin  Hong   terperanjat.   ―Kita   kembali  kesana?‖

―Benar  !‖  sahut  sinona.  ―Aku  merasa  pasti  bahwa  mereka  adalah suheng-suhengku !‖

Sin Hong terdiam, ragu-ragu. Sebenarnya ia tidak suka untuk menjumpai orang-orang yang baru saja berbentrok dengannya, atau tetapi untuk berpisah dengan sinona, o. terlebih-lebih tidak suka ia.

―Bagaimana?‖ Siu Lian bertanya menegaskan.

―Tapi  bagaimana  kalau  mereka  mengeroyok  aku  lagi?‖  Sin Hong masih sangsi.

―Apabila   mereka   melukai   dirimu,   akan   kuterjang   mereka, biarlah kita mati bersama-sama !‖ Kata Siu Lian dengan nada yang tegas meyakinkan sekali, sehingga membuat semangat Sin Hong terlonjak,  lalu  dengan  gembira  ia  menjawab  :  ―Lian  jie,  untuk selama-lamanya aku akan mendengar kata-katamu. Sampai matipun aku tak mau berpisah darimu lagi !‖

An Siu Lian mengangguk puas. Sesaat kemudian mereka berdua telah berada dipunggung kuda putih tegap itu. Binatang itupun meluncur kembali berlari diatas jalan yang tadi ditempuh mereka sewaktu meninggalkan restoran itu. Begitu turun dari punggung kuda. Siu Lian membimbing tangan Sin Hong untuk memasuki restoran dan disambut oleh jongos rumah makan itu dengan gembira.

―Kau baik-baik saja tuan?‖ tegur seorang jongos.

―Keempat  orang  itu  memang  bukan  orang  baik-baik.  Mereka sudah pergi. Tuan hendak dahar apa?‖ kata jongos yang lain.

―Apa? Mereka sudah pergi?‖ tanya Siu Lian terkejut.

―Betul. Mereka pergi kearah yang bersamaan dengan tuan, akan tetapi mereka mengambil jalan sebelah sana……‖, jongos itu menjelaskan.

―Sudah berapa lama mereka pergi?‖ tanya Sin Hong.

―Kira-kira tiga jam yang lalu!‖

―Mari  kita  susul  mereka!‖  An  Siu  Lian  mengajak  Sin  Hong dengan menarik tangan pemuda itu, Lie Sin Hong menurut. Mereka lantas membalapkan kudanya melalui jalan yang ditunjukkan oleh jongos tadi. Tentu saja jongos-jongos itu menjadi keheranan melihat muda mudi yang tadi melarikan diri dari kejaran empat orang itu, kini malah justru hendak pergi menyusul dengan tergesa-gesa.

Sampai datang waktu magrib, Sin Hong membalapkan kudanya sambil memasang mata dan telinga, akan tetapi orang-orang yang disusulnya belum juga tampak.

Mereka menduga bahwa orang-orang yang dikejarnya itu tentu telah meagambil jalan lain, oleh karena itu merekapun merubah arah lari kudanya. Akan tetapi hingga hari menjadi gelap, tetap saja belum dapat menemukan jejak mereka. Hingga terbitlah dugaan pada hati Sin Hong. Ia berkata : ―Kita hendak pergi ke Thai-san, apa tidak mungkin merekapun sedang pergi ke sana juga?‖ An Siu Lian sependapat juga. Dan segera merekapun mengarah perjalanan mereka menuju kesana. Akan tetapi karena hari sudah gelap, maka malam itu mereka memasuki sebuah dusun untuk mencari tempat menginap.

Pagi berikutnya, mereka membeli seekor kuda pula, sehingga dengan demikian mereka dapat leluasa melakukan pengejaran. Walaupun cara itu sebenarnya kurang menyenangkan dibanding dengan saling rangkul sepanjang jalan, akan tetapi adalah lebih daripada terus-terusan memberati kuda putih itu dengan beban dua orang di punggungnya. Dengan masing-masing menunggangi seekor kuda, maka perjalanan mereka jadi lebih cepat.

Lie Sin Hong sebenarnya adalah seorang piauwsu, sebagaimana dia sering mewakili pekerjaan ayahnya. Membuat perjalanan- perjalanan semacam itu memang menyenangkan baginya, apalagi ditemani seorang gadis pujaan hatinya itu.

Seringkali, apalagi mereka telah lelah terlalu banyak melakukan perjalanan, mereka lantas beristirahat, mengambil tempat duduk yang teduh, untuk duduk-duduk pada tempat yang sepi, selama itu, ikatan-ikatan hati mereka semakin erat, tali cinta mulai samar- samar terasa mengikat dihati masing-masing‖

Namun, sebagaimaaa mereka adalah muda-mudi turunan pendekar yang tahu menjaga diri tentu saja tidak berbuat sesuatu yang melanggar susila ataupun adat sopan santun. Apabila mereka menginap di hotel, mereka menyewa dua kamar yang bersisian, kecuali agar mereka dapat saling menjaga, juga sesungguhnya agar selalu dapat bercakap, berbisik-bisik, melahirkan getaran hatinya masing-masing.

Setelah melakukan perjalanan kira-kira enam minggu lamanya tibalah mereka pada suatu tanah pegunungan. Dan alangkah gembiranya mereka demi mendapatkan kenyataan bahwa pegunungan itu justeru adalah pegunungan Tai-san.

Jalan-jalan disitu, amatlah berbahaya Puncak dan tinggi menjulang, sedangkan lembahnya curam menyeramkan. Kecuali itu, jalannya penuh dengan liku-liku yang terkadang memerlukan mereka berjalan sangat hati-hati.

Kiranya sesuai dengan namanya, Thai-san sungguh sangat luasnya. Beberapa puncaknya terselimuti ataupun salju, mirip dengan raksasa berbulu putih yang menyeramkan akan tetapi juga indah.

Setelah menempuh waktu kira-kira dua minggu tibalah kini mereka pada jalan yang menuju jalan puncak. Disitu hanya terdapat sebuan jalan saja, berkelak kelok seperti ular berenang. Dengan diapit oleh sepasang puncak yang hampir berdampingan, jalan kecil itu sempit sekali, lebarnya tidak lebih dari dua kaki, Kecuali itu juga penuh dengan liku-liku yang licin dan berbatu-batu ataupun naik, maka pada jalan ini mereka terpaksa turun dari kuda, dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Mereka terus melanjutkan perjalanan sesuat dengan petunjuk dalam surat peninggalan mendiang An Hwie Cian.

Tak lama kemudian tibalah mereka itu di suata tempat yang datar, jalanpun sudah tidak terlalu berbahaya lagi. Kiranya mereka telab tiba dipuncaknya gunung Thai san. Maka selanjutnya mereka lantas beristirahat.

Ternyata puncak gunung ini merupakan suatu tanah datar, tidak turun naik ataupun bertanah batu-batu cadas. Hanya pada ketika ini hati Sin Hong berdebaran keras.

Tepat saat magrib, mereka telah tiba pada suatu tanjakan, sesuai dengan petunjuk dalam surat itu, maka mereka mendapatkan sebuah gua pertapaan yang terbuat dari batu seluruhnya. Mereka menjadi keheranan mendapat kenyataan babwa gua tersebut ternyata sunyi- sunyi belaka.

Keduanya tidak berani lancang memasuki gua. Mereka menjadi sangat cemas, ketika hari semakin gelap, udarapun terasa sangat dingin. Akan tetapi mereka telah sekian lamanya menempuh perjalanan, sehingga karena letih, mereka tertidur dimulut gua.

Kira-kira tengah malam, Sin Hong tersentak dari tidurnya, karena sebuah mimpi buruk. Ditengoknya gadis teman seperjalanannya, Siu Lian yang saat itu tidur dengan kaki telanjang tanpa sepatu. Dengan hati sedih dan susah Sin Hong cepat-cepat membuka sepatu, dan mengenakannya pada kaki gadis pujaan hatinya itu.

Untuk beberapa saat Sin Hong menatapi wajah sigadis, yang saat itu dalam keadaan terpejam tidur. Alangkah lembut dan cantiknya gadis ini. wajahnya yang gemilang bagai rembulan dan bibirnya yang merah merekah tidak mustahil dia menjadi pujaan hati setiap pemuda yang pernah mengenalnya.

Setelah puas memandangi wajah pujaan hatinya itu, maka Sin Hong membaringkan tubuh untuk melanjutkan tidurnya. Namun, karena terlalu banyak pikiran yang mengaduk-aduk dikepalanya, maka baru beberapa larna kemudian ia dapat tertidur kembali.

Waktu fajar keesokan harinya. Sin Hong bangun lebih dulu dari kawannya. Ia menanti dengan sabar sampai akhirnya sigadis terjaga dengan sendirinya. Siu Lian menjadi terkejut juga girang, untuk kemudian mengucapkan terima kasih untuk sepatu yang telah dilekatkan dikakinya.

Diam-diam hati gadis ini merasa sangat bersyukur, ia yakin benar bahwa pemuda itu seorang pemuda yang baik hati, peribudinya tinggi, tidak juga kurang ajar. Maka tanpa disadari ia telah benar-benar terpikat hatinya.

Hari itu mereka menanti hingga matahari sudah naik diatas kepala belum juga tampak adanya tanda-tanda orang yang berada didalam gua. Hingga mereka menjadi sangsi. Akhirnya, ketika hari mulai hampir malam, habislah kesabaran mereka. Demikianlah, selanjutnya mereka bermaksud untuk menerobos masuk kedalam gua itu.

Dengan cara beriringan, Sin Hong berjalan didepan, mereka memasuki gua dengan hati berdegup keras.

Berjalan kira-kira lima puluh langkah kedalam, tibalah mereka pada suatu tanah datar yang luas. Didepan mulut gua itu hanya cukup untuk satu badan manusia saja, akan tetapi ditempat ini, ternyata keadaannya jauh berbeda, luas dan darar. Hanya anehnya, gua yang tampaknya menandakan dihuni oleh manusia itu, keadaannya sepi-sepi saja, lengang seakan-akan tidak berpenghuni Sehingga keadaan ini, dengan suasana yang sudah mulai gelap, menjadi terasa menyeramkan.

Akhirnya, karena bingungnya terpaksa An Siu Lian melanggar pesan  ayahnya  dalam  surat,  berteriak-teriak  memaaggil  :  ―Su  .....

cooouaw ! Suuucoooouw!‖ Semula gadis ini memanggil perlahan- lahan, akan tetapi ketika tidak mendapat jawaban iapun lantas berseru-seru sekuat-kuatnya. Namun tidak juga mendapatkan jawaban, kecuali gema suaranya sendiri yang kembali terdengar bergaung.

Mereka jadi penasaran. Dan merekapun melakukan penyelidikan kedalam gua itu, menerobos masuk kebagian yang lebih dalam lagi Setelah berjalan-jalan berliku-liku kira-kira sejam lamanya, tibalah mereka pada sebuah jalan yang lebar, yang merupakan sebuah lorong. Kiranya lorong itupun buntu. Ketika mereka memeriksa dinding batu yang mengapit kanan kiri lorong kiranya mereka mendapatkan sebuah lubang yang besar. Dan apabila mereka melongok kedalam lubang itu, kiranya disitu terdapat sebuah kamar. Merekapun memasuki kamar tersebut.

Ternyata kamar gua itu terang, tidak seperti jalan-jalan ataupun lorong-lorongnya. Sinar bulan dapat menembusi beberapa lubang yang terdapat pada langit-langit kamar, sehingga mereka dapat melihat segala apa saja yang terdapat didalamnya.

Tiba-tiba Siu Lian menjerit kaget, sambil jarinya menunjuk kearah sebuah sudut, begitupun Sin Hong tidak kurang terkejutnya. Mereka melihat pada pojokan kamar itu, sebuah tengkorak manusia yang masih duduk bersila, sedangkan pada selipan jari tangannya yang tinggal tulang belulang itu terdapat sehelai kertas.

Mereka melihat pada pojokan kamar itu, sebuah tengkorak manusia yang masih duduk bersila.....

Adapun kerangka manusia itu, karena lantai kamar yang bergoyang-goyang karena terinjak oleh kedua muda-mudi itu, seketika ambruk menjerunuk, sehingga kerangka manusia itu kini lelah berubah menjadi tulang-tulang yang berserakan.

Kejadian ini hampir saja membuat Siu Lian berlari karena ketakutan. Akan tetapi tiba-tiba ia merasa ada yang menarik tangannya, disusul suara bisikan Sin Hong : ―Lian-jie jangan takut. Tulang-tulang kerangka itu kemungkinan besar adalah salah seorang paman gurumu. Mari kita baca surat itu !‖

Dalam gugupnya itu, Siu Lian hendak mengambil surat itu, mengoreknya dari tumpukan tulang, dengan tangannya. Akan tetapi Sin Hong yang mempunyai banyak pengalaman sebagai piauwsu segera  memperingatkannya  :  ―Jangan  sentuh  !‖  teriaknya.  ―Tidak mustahil barang-barang itu beracun !‖ Seraya berkata demikian, Sin Hong mengambil sebatang kayu lantas dipergunakannya untuk mengorek-orek tulang belulang itu.

Kiranya tepat sekali dugaan Sin Hong. Kayu yang dipergunakan untuk mengorek-orek tulang itu menjadi hangus, dan membuat mereka menjadi bergidik ngeri. Dapatlah dibayangkan betapa andaikata tadi Siu Lan tidak dicegah menyentuh tulang- tulang tersebut.

Selanjutnya, surat itu dibiarkan tergeletak, dan berdua mereka muda mudi itu membaca dari tempatnya berdiri, Isi surat itu kira- kira beginilah bunyinya :

Kepada yang mendapatkan surat ini, harap lekas-lekas menyampaikan kepada Bin Ho Lie An Hwie Cian ketua Ceng Hong Pai di Ceng Hong San, bahwa seorang muridnya yang be nama Ong Kauw Lian, dengan membawa kawan telah berani menghina dan bahkan membunuh kakek gurunya sendiri.

Pesan Warisan. Mie Ing Tiangloo.

Selesai membaca surat itu, tanpa terasa air mata Siu Lian berderaian turun. Kemudian gadis itu menangis menggerung- gerung. Ia tahu bahwa kakek gurunya ini adalah satu-satunya orang yang paling diandalkan, kiranya diapun telah tewas oleh perbuatan Ong Kauw Lian pula. Lantas siapakah orangnya yang akan sanggup menghadapi ―bajingan‖ itu?

Sementara itu, seperti orang yang kehabisan akal, Sin Hong berdiri mematung, bungkam, dan tak tahu apa yang harus diperbuat. Untuk sementara pikirannya menjadi buntu, akan tetapi dibalik itu, ia mengagumi juga kelihaian Ong Kauw Lian dengan mencuri delapan belas jurus ilmu golok Song-to Lie Kie Pok, kiranya kepandaiannya telah menjadi demikian hebat. Cita-cita Sin Hong untuk membalaskan sakit hati ayahnya bila menghadapi kenyataan, tampaknya akan menjadi lebih sulit lagi. Tengah Sin Hong melamun demikian, terdengar Siu Lian berkata nyaring : ―Toako. Tak mungkin kita akan diam bigini saja. Marilah kita pergi ketanah barat, masakah di kolong langit ini tak ada orang yang dapat menandingi ilmu kepandaiannya?‖

―Benar   Lian-jie‖,   sebut   Sin   Hong   yang   telah   tergugah semangatnya. ―Marilah kita tinggalkan tempat ini !‖

Beberapa saat kemudian, setelah mereka selesai mengubur tulang-tulang kerangka manusia itu sebagaimana mestinya, maka mereka segera meninggalkan tempat pusat Ceng Hong Pai itu. Mereka berdua mengambil jalan dari mana tadi mereka datang, untuk kemudian setelah sampai dikaki gunung, mereka memutar, mengikuti aliran sebuah sungai. Dan malampun tiba.

Kebetulan mereka menemukan sebuah batu yang besar, maka disitulah mereka beristirahat merebahkan diri. Karena letihnya, maka dalam waktu singkat mereka lantas sudah tertidur pulas.

Pagi berikutnya, setelah mereka mendapa kan kuda masing- masing yang kemarin mereka tinggalkan, mereka melanjutkan perjalanan.

Disepanjang jalan mereka tidak henti-hentinya bercakap-cakap, bertukar pikiran, menceritakan pengalaman masing-masing selama mereka belum berkenalan.

Mendengar cerita Sin Hong mengenai kematan ayahnya, maka kebencian Siu Lian terhadap Ong Kauw Lian semakin membesar. Tertusuk hati dara ini ketika ia mendengar kisah betapa kejinya seorang murid murtad sebagai Ong Kauw Lian itu telah membinasakan guru maupun suhengnya sendiri, bahkan dia pula yang menjadi penyebab kematian Lie Sie ibu Sin Hong.

Ketika penuturan Sin Hong sampai pada diri Kim Bin Ho Lie An Hwie Cian yang menemukan nasib malang terbinasa ditangan keponakan murid sendiri, maka air mata Siu Lian mengucur deras tak tertahan.

Mereka kedua muda mudi ini, semula adalah berdiri pada pihak yang bermusuhan, yaitu antara Ceng Hong Pai dan Kie Pok Bu- koan. Akan tetapi dengan adanya kematian Song-to Lie Kie Pok maupun An Hwie Cian yang terbinasa ditangan Ong Kauw Lian, maka kedua muda mudi ini boleh dikata telah melupakan seluruh pertentangan lama. Mereka begitu karib seakan-akan diantara mereka tidak pernah terdapat benih permusuhan, bahkan kini secara diam-diam diantara mereka telah terjalin suatu benih asmara.

Setelah menempuh perjalanan kira-kira lebih seminggu, mereka mendapatkan jalan-jalan yang tidak berlika-liku lagi, datar, tidak terdapat batu-batuan cadas yang mengganggu bahkan jalanpun tidak sempit lagi.

Di kanan kiri jalan tumbuh pohon-pohon besar yang rindang daunnya. Dan ketika mereka menyelidiki mereka menjadi kegirangan ketika mendapatkan kenyataan bahwa mereka telah sampai pada perbatasan daerah Tibet.

Pada suatu hari tibalah mereka di sebelah barat kota Ie Pien. Saat itu sudah mendekati hari raya Toa yang udarapun mulai panas. Sedang mereka mencari tempat meneduh, mendadak mereka mendengar suara gemericiknya air. Ketika mereka menemukan sebuah kali, hingga keduanyapun jadi kegirangan.

Kali itu berair bening, bagaikan kaca! dasar kali tampak jelas terlihat oleh mata, bahkan ikan-ikan yang berenang-renang kian kemari, tampak menyenangkan sekali. Sedang pada kedua tebing kali itu, tumbuhlah tumbuh-timbuhan berakar, yang akarnya berjuraian meroyok turun, mencegah air kali.

Karena girangnya, keduanyapun mandi, menceburkan diri kekali tanpa ingat membuka pakaiannya terlebih dahulu. Puas mandi- mandi merekapun berjemur ditepian, dibawah sinar matahari yang hangat. Tanpa terasa, tiba-tiba cuaca menjadi gelap.

Sedang suasana gelap menuruni bumi, maka tiba-tiba terdengar suara guntur sambung menyambung. Cuaca berubah menjadi gelap pekat sementara kilat dan guntur semakin hebat sambar menyambar.

―Takutkah, Lian jie?‖ Tanya Sin Hong.

―Aku  tokh ada  bersamamu, apa  yang  dapat  kutakutkan‖ sahut dara itu yang membuat Sin Hotg merasa bangga hatinya.

Hujan turun dengan lebat. Kedua muda mudi itu mengambil tempat mereka bernaung itu tidak terdapat orang lain, dengan demikian mereka tidak menaruh perhatian kepada siapapun kecuali pada diri mereka sendiri.

Demikianlah, setelah hujan yang turun bagaikan dicurahkan dari langit itu mereda, cuaca menjadi terang kembali, kiranya hari masih siang, maka merekapun melanjutkan perjalanan.

Sebulan mereka menempuh perjalanan, maka tibalah mereka pada suatu pegunungan yang daerahnya diliputi salju. Dari rumah seorang pend duk dusun maka ia menukar kuda-kuda mereka dengan seperangkat pakaian tebal. Dan ketika mereka menanyakan dimana meraka berada sekarang, kiranya mereka telah tiba didaerah Tibet timur, dan kini mereka telah menginjakkan kakinya didaerah pegunungan Thang-ala-san.

Pegunungan Thang-ala-san adalah suatu pegunungan yang selain diliputi oleh salju abadi. Menurut cerita orang-orang dusun, di tempat tersebut, di tempat-tempat yang tinggi ataupun yang sukar dilalui manusia, banyak bersemayam orang-orang berilmu tinggi. Penduduk menasehati muda-mudi itu untuk menggagalkan maksudnya untuk mendaki puncak gunung yang berbahaya itu, atau tetapi muda-mudi itu tetap berkeras untuk melanjutkan perjalanan. Para penduduk menambahi cerita-ceritanya dengan adanya penghuni-penghuni puncak gunuog maupun lereng-lereng yang banyak terdapat gua-gua yang dalam, katanya disitu kecuali tinggal banyak pertapa-pertapa sakti ataupun raksasa yang doyan makan daging manusia. Akan tetapi bagaimana pemuda-pemudi itu dapat menerima cerita lamunan seperti itu? Mereka bertekad untuk menemukan seorang guru yang pandai, dan halangan apapun mereka takkan hiraukan lagi.

Demikianlah, tidak menghiraukan pada nasehat para orang dusun, kedua muda-mudi itu melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Disekitar gunung Thang-ala-san terdapat banyak puncak yang menjulang tinggi. Selama mereka pada bagian yang tinggi-tinggi ini, mereda merasa seakan-akan dunia menjadi sempit, dan berjalan diantara pohon-pohon besar mereka mendapatkan bayangan- bayangan yang serba menyeramkan.

Sesudah melewati puncak tertinggi, barulah mereka tiba pada sebidang tanah datar, dimana dari tempat itu bila mereka memandang kebawah, tampaklah puncak pegunungan yang lain bagaikan beruang putih yang indah dipandang mata.

―Untunglah  kita  tidak  meladeni  segala  cerita-cerita  kosong penduduk-perduduk  dusun  itu‖,  kata  Siu  Lian  ―Andaikata  tidak, agaknya kita takkan dapat melihat pemandangan yang seindah ini‖.

―Tetapi  Lian  jie‖,  sahut  Sin  Hong.  ―Daerah  pegunungan  ini adalah daerah yang masih asing bagi kita. Tidak mustahil pula, andaikata cerita para penduduk dusun itu ada juga benarnya. Oleh karena itu kita tak boleh kurang hati-hati‖. Siu Lian membenarkan.

Saat ini, mereka sedang menuruni sebuah lembah, dimana disekeliling tempat itu terdapat tumbuh-tumbuhan liar yang tumbuh. Tiba-tiba dari balik sebuah pohon yang besar, tampak me lesat suatu bayangan besar yang menyambar kearah mereka terdua.

Mereka terperanjat bukan buatan, ketika mendapat kenyataan bahwa bayangan yang sedang menyambar itu adalah seekor beruang.

Beruang itu besar sekali, bulu tubuhnya putih seluruhnya bagaikan salju, hanya moncongnya belaka yang berwarna hitam. Melihat bentuk dan buasnya binatang itu. kedua muda mudi itu menjadi sangat cemas.

Akan tetapi Sin Hong, putera Song-to Lie Kie Pok ini, tidak tinggal diam. Dengan mempergunakan tenaga lweekang yang telah diperhitungkan, ia melontarkan tubuh Siu Lian kedalam sebuah gua kecil yang terletak pada jarak beberapa tombak dari tempatnya berdiri. Sedang ia sendiridengan mempergunakan gerak jurus It Hoo Cong Thian, maka badannya melesat naik setinggi beberapa tombak keatas. Ketika tubuhnya masih mengapung diudara, maka dia menengok kebawah. Dan............ betapa terkejutnya ia demi menyaksikan dengan nyata bahwa beruang itu tidak berjumlah hanya seekor, akan tetapi tidak kurang dari tiga puluh ekor.

Kemudian, ketika ia menoleh kearah tempat Siu Lian, kekagetannya makin menjadi-jadi demi melihat bahwa Siu Lian tidak berada di tempat itu lagi.

Akan tetapi ia tidak dapat terlama-lama berpikir. Tubuhnya kini telah melayang turun. Maka secepatnya ia telah mencabut golok.

Beruang yang pertama tadi, karena tubrukannya luput, tampak menjadi marah. Ia mengeluarkan suara gerengan yang gemuruh, berbareng dengan tubuhnya yang menerkam pula dengan cepat. Kuku-kuku kaki depannya yang berbonggol-bonggol dan runcing itu mengancam dada sipemuda. Namun, Sin Hong bergerak lebih cepat. Dengan mudah ia melompat kekanan menghindari serangan, selanjutnya ia telah membalas menyerang dengan bacokan goloknya mengincar punggung binatang itu. Nyata sekali bahwa dalam hal kegesitan dan kecekatan binatang itu bukanlah lawan Sin Hong si Putera Song-to Lie Kie Pok. Sebelum binatang itu dapat menghindar, punggungnya telah putus terbabat golok, hingga binatang itu memperdengarkan suara pekikan mengguntur, untuk selanjutnya roboh binasa.

Akan tetapi tidak begitu mudah Sin Hong dapat membebaskan dirinya dari ancaman bahaya, baru saja beruang pertama dapat roboh dibinasakan, maka berlompatanlah datang, kira-kira  ekor beruang menerjang kearahnya.

Kesembilan beruang itu agaknya luar biasa, mereka seakan- akan mempunyai akal pikiran seperti manusia. Mereka tidak begitu saja datang lantas menyerang, akan tetapi mereka mengepung Sin Hong dari segala penjuru sehingga membuat pemuda itu mau tidak mau jadi kerepotan juga.

Benar juga, dengan ilmu goloknya yang telah mencapai tingkat tinggi, sekali putar dan tabas, Sin Hong dapat merobohkan beberapa ekor binatang buas itu. Akan tetapi binatang itu jumlahnya terlalu banyak. Satu roboh, yang datang menyerbu lebih dari tiga. Roboh tiga, maka berlompatanlah mereka binatang-binatang itu tak terbilang banyaknya.

Namun Lie Sin Hong tak mau putus asa. Tentu saja ia tidak sudi menemui ajal dicabik-cabik oleh binatang buas itu. Ketika enam ekor beruang menerkam dalam waktu serempak, maka Sin Hong memutar tubuhnya, goloknya bekerja menuruti jurus pertama Cap Peh Lo Hoan To. Hebat sekali akibat jurus itu. Mana saja beruang yang datang terlebih dulu, pasti segera roboh binasa dengan seketika. Dan dalam sekejap saja, keenam ekor beruang itu telah tergeletak ditanah tak berkutik. Demikianlah selanjutnya dengan mempergunakan Cap Peh Lo Han To jurus demi jurus Sin Hong telah berhasil membunuh setiap beruang yang datang kepadanya. Hingga hampir seluruh binatang pegunungan itu habis dibinasakan olehnya, kecuali beberapa ekor yang kemudian karena takut telah melarikan diri kedalam hutan.

Sedang Sin Hong sendiri, segera teringat akan keselamatan Siu Lian. Cepat ia berlari ke arah gua kecil dimana tadi ia melemparkan dara itu. Dikiranya, gadis itu telah menyembunyikan diri kedalam gua karena takut pada binatang-binatang itu. Maka ia memanggilnya :

―Lian-jie! Dimanakah kau? Lian jie !‖

Diluar dugaannya, begitu ia memasuki gua itu dibuat menjadi tercekat hatinya cemas dan kuatir. Dirasakannya seluruh tubuhnya menjadi dingin seperti menyentuh es !

Gua itu tidak kecil ! Sebaliknya bahkan sangat luas serta berbatu- batu yang banyak berserakan. Sedangkan diri Siu Lian tidak ditemukan disitu, walaupun bayangannya.

Tergoncang hati Sin Hong. Dalam kebingungannya itu, kaki dan tangannya jadi gemetar, pandangan matapun berkunang-kunang berputaran. Untuk beberapa saat pemuda ini tak dapat menguasai dirinya.

―Lian-jiiiie!    Lianjiiieee    !‖    Teriaknya    memanggil-manggil dengan suara gemetar.

―Lian  jiiieee  !‖  Akan  tetapi  tidak  terdengar  jawaban.  Hanya gema suaranya sendiri saja yang kembali datang membuat suasana jadi lebih menegangsan.

―Lian jiie !‖ Sampai serak Sin Hong memanggil-manggil hasilnya nihil belaka. Hingga hampir-hampir pemuda itu berputus asa.

Mendadak dalam keputus-asannya itu ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Diantara batu-batu yang berserakan didalam gua itu, terdapat bekas kaki. Dan ketika Sin Hong meneliti, betapa terkejutnya ia, ketika ternyata bahwa bekas tapak kaki itu ada dua macam tapak kaki manusia dan bekas tapak kaki binatang.

Walau bagaimanapun, Sin Hong lantas menyusuri jejak-jejak itu. Akan tetapi aneh bin ajaib, jejak itu lenyap kira-kira pada pertengahan gua. Bahkan disitu menunjukkan tanda-tanda telah terjadi pergumulan. Melihat ini, lemaslah tulang sendi sipemuda. Bayangan-bayangan nasib yang mengerikan mengenai diri sidara, terbayang dimatanya.

Kembali sipemuda memanggil-manggil, sambil berlarian kian kemari memeriksa keadaan seluruh gua tersebut, akan tetapi hasilnya nihil belaka, Siu Lian tetap lenyap tak ketahuan dimana jejaknya.

Dalam bingung dan putus asanya ini, Sin Hong lantas mendapatkan sebuah batu besar, Disitu ia duduk dengan lesu. Ketika terasa perutnya jadi lapar, maka si pemuda mengisinya dengan daging-daging kering bekal yang dibawanya dari penduduk dusun. Lumayan daging kering yang dimakannya tanpa selera itu dapat pula menghilangkan pengaruh perut yang keroncongan. Akan tetapi sesudah itu ia berasa ngantuk lalu direbahkan badannya diatas batu itu.

Namun, bayangan cantik dan sikap yang gagah dari Siu Lian selalu bermain didepan matanya. Walaupun sipemuda berusaha memejamkan matanya, akan tetapi sebaliknya dari bisa tidur bahkan rasa mengantuk itu jadi hilang sama sekali. Makin berusaha untuk berdiam, hatinya semakin gelisah. Dalam baringnya, sipemuda membalik kekiri kekanan. mengkurap atau menelentang, dan kegelisahan itu kiranya semakin mencengkam hatinya. Akhirnya ia tergolek saja, dengan mata terpentang lebar, menelentang menatapi langit-langit gua.

Mendadak pada sebuah dinding terlihat olehnya sesuatu yang menarik hatinya. Segera dihampirinya. benda itu. setelah dibersihkannya dari debu yang melekat, ternyata benda itu adalah sebuab lukisan yang indah, berbentuk seekor monyet yang sedang duduk dengan kakinya yang dilonjorkan kedepan.

Aneh sekali, gerakan monyet dalam lukisan itu seakan-akan dapat mempengaruhi Sin Hong, mengingatkannya pada sesuatu. Tanpa disadarinya, Sin Hong telah menirukan gerak binatang dalam gambar itu. Seketika sipemuda terperanjat. Kiranya gerakan monyet itu mirip sekali dengan gerakan silat Siauw-lim.

Bahkan ketika ia mengulang-ulangi dan memperdalam gerakan itu, hasilnya ternyata lebih hebat dari gerakan yang pernah diajarkan oleh ayahnya sendiri !

Karena girangnya. Sin Hong lantas membuka baju luarnya, dipergunakannya untuk membersihkan dan menggosok-gosok lukisan itu yang kiranya ternyata adalah sebuah ukiran.

Lie Sin Hong mempunyai kecerdasan otak yang agak lumayan juga. Karena ukiran itu didapatkannya hanya sebuah maka dalam waktu yang tidak lama, segera ia dapat menghafalnya dengan baik, Setelah puas mengulang-ulangi gerakan menurut petunjuk dalam lukisan itu, akhirnya ia menjadi bosan. Dan oleh karena itu timbullah keinginannya untuk mencari ukiran-ukiran yang lain.

Dengan mencoba-coba, ia membersihkan dan menggosok- gosok dinding disebelah ukiran yang pertama tadi. Kegembiraannya Semakin bertambah-tambah ketika akhirnya ia menemukan ukiran yang lain pula, yang berbentuk seekor monyet pula akan tetapi dalam gerakan yang merupakan sambungan dari pada gerakan dalam ukiran monyet yang pertama.

Karena penemuan yang kedua inilah maka Sin Hong menduga pasti banyak ukiran-ukiran semacam itu terdapat disitu. Dengan segera iapun lantas membersihkan bagian dinding yang lain, yang ternyata dugaan itu benar belaka. Pada tempat yang lain terdapat juga lukisan yang serupa akan tetapi yang gerakan monyet itu merupakan saling hubungan dengan gerak-gerak ukiran satu dengan yang lain.

Kiranya, memang kepergian Lie Sin Hong menuju tanah barat ini adalah untuk mencari guru silat yarg pandai. Guru yang pandai itu belum ditemukannya, akan tetapi ia mendapatkan kenyataan bahwa ukiran-ukiran sekian banyak itupun merupakan pelajaran ilmu silat yang aneh dan luar biasa. Demikianlah, maka tanpa pikir lagi, iapun segera meniru dan melakukan setiap gerakan menurutkan petunjuk dalam lukisan-lukisan monyet tersebut.

Tak dapat dilukiskan betapa girargnya Sin Hong, ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu pukulan yang diperoleh dari lukisan-lukisan itu ternyata sangat luar biasa. Setiap gerakan yang berubah-ubah menyesatkan ternyata banyak sekati cabang- cabangnya yang indah dan aneh, hingga setelah dia merasa yakin dan menghafal benar setiap jurus itu, ia yakin bahwa gerakan- gerakan itu jauh lebih tinggi daripada Cap Peh Lo Hoan Kun.

Pertama-tama yang terasa olehnya setelah melatih gerakan- gerakan itu ialah tubuhnya terasa semakin enteng.

Begitulah Sin Hong melatih diri dengan tekun hingga tanpa terasa hari telah berganti. Barulah setelah tubuhnya terasa sangat letih, Sin Hong lantas istirahat. Akan tetapi justru saat itulah, ia teringat pada Siu Lian. Sin Hong jadi terkejut, terus melompat keluar rumah. Matahari telah naik  tinggi,  dan  Sin  Hong  berterial-teriak  memanggil:  ―Siu  Lian! Siu Lian!‖

Seperti juga kemarin, maka panggilan Sin Hong tidak mendapat jawaban, tinggal suara sendiri yang melenyap ditelan oleh luasnya alam pegunungan.

Akhirnya karena bosan dan hampir putus asa maka Sin Hong kembali untuk memasuki gua. Hingga akhirnya ia tersadar akan adanya bahaya mengancam. Dari arah semak-semak sebelah kiri, tampak melesat sebentuk senjata, berwarna kuning berkilauan. Dan pada saat yang bersamaan itu pula dari arah sebelah kanan terasa kesiur angin tajam datang menyambar.

Benar-benar saat itu Sin Hong berada dalam bahaya yang menjepit. Tak mungkin lagi ia berkelit, sebab sisi kanan kirinya telah terkurung. Maka dalam gentingnya ancaman itu Sin Hong cepat-cepat menotolkan kakinya ketanah, selanjutnya tubuhnya mengapung keudara. Goloknya telah terpegang ditangan, dan begitu tubuhnya meluncur turun, diputarnya senjata itu untuk melindungi diri.

Baru saja sipemuda meletakkan kakinya di tanah, mendadak lima bayangan manusia telah menerjang tiba. Tiga orang dari sebelah kiri, sedang dua orang lagi yang menyerang dari sebelah kanan adalah suami isteri setengah tua yang pernah ditemui di rumah makan di Shoatang.

Isteri  setengah  tua  itu  berkata  menbentak  :  ―Penculik  kecil!

Serahkan sumoaiku !‖

Sin Hong menangkis serangan suami isteri itu, seraya berseru : ―Jie  wie  toako,  aku  belum  pernah  berkenalan  dengan  kalian, mengapa tanpa sebab menuduhku menculik sumoi mu !‖

―Bangsat!  Tak  ada  penjahat  mengakui  dosa!  Awas  pedang!‖ Dan membarengi bentakannya itu, si wanita telah meluncurkan pedangnya ke dada Sin Hong.

―Uh,   keji   !‖   Sin   Kong   berteriak   seraya   memutar   golok, selanjutnya bagaikan berkelebatannya bayangan kilat, maka golok itu telah bergerak menurut jurus-jurus yang baru dipelajarinya kemarin.

Dengan seketika kedua suami isteri itu melompat mundur kebelakang untuk melindungi diri sambil terkejut. Mereka sungguh tak mengira bahwa pemuda yang baru sebulan yang lalu itu pernah bergebrak dengan merela kini telah mendapat kemajuan begitu pesat.

Dalam waktu beberapa gebrakan saja, Sin Hong dapat membuat suami isteri itu terdesak hebat. Mereka ini memang murid-murid Ceng Hong Pai, sebagai yang pernah dikatakan oleh Siu Lian. Si suami bernama Tung han Taihiap Tan Cian Po, pertahanannya telah kocar-kacir, jalan napasnyapun sudah tak teratur lagi. Begitu pula dengan isterinya Hoo Siok Eng.

Keduanya telah bermandi keringat, sementara itu hanya dapat main mundur atau berkelit belaka, sama sekali tidak mampu balas menyerang.

―Celaka   !‖   Tiba-tiba   terdengar   wanita   itu   berteriak   kaget, pedangnya telah terpental, melayang terbang ke udara beberapa tombak. Pada detik yang bersamaan tampak sinar golok berkelebat, tahu-tahu si wanita menjerit kesakitan, pergelangan tangannya telah terluka berdarah. Untuk menghindarkanserangan susulan, maka si wanita hendak menotolkan kakinya meloncat pergi, akan tetapi sebelum maksudnya sampai, segulung sinar golok telah mendahului mengancam tenggorokannya. Si wanita terkejut bukan buatan, bahkan ia hampir putus asa. Mendadak sekali, pada saat siwanita menghadapi mautnya itu terlihat sesosok bayangan tinggi besar yang menggerakkan tongkatnya menahan gerakan golok.

Kiranya tongkat tersebut dapat bergerak lebih cepat, dan tahu- tahu telah mengancam jalan darah kie-bun-hiat dari Sin Hong. Melihat serangan yang demikian hebatnya, maka Sin Hong cepat- cepat menarik kembali senjatanya, dipergunakan untuk menangkis tongkat.

Terdengarlah bunyi beradunya senjata berkelontrangan nyaring untuk selanjutkan tampak selembar cahaya putih berkilat melayang keudara. Kiranya itulah golok Sin Hong terlepas dari cekalan.

Rupanya walaupun dalam hal ilmu silat Sin Hong mungkin sepuluh kali lipat lebih tinggi dari lawannya, akan tetapi dalam hal tenaga dalam ia masih harus mengakui keunggulan lawan.

Akan tetapi Sin Hong pantang meayerah. Pada saat itu, Tan Cian Po sedang mengangkat pedangnya menyerang. Sin Hong berlaku cepat. Dengan tidak menunggu datangnya serangan, Sio Hong telah melayang cepat kearah sisi kanan Cian Po.

Dengan kelima jari tangan kiri memukul pergelangan tangan, maka tangan kanannya mengancam muka Cian Po. Andaikata pertempuran ini terjadi tiga hari yang lalu, agaknya siang-siang Sin Hong tentu sudah dapat dikalahkan oleh suami isteri itu.

Maka dapatlah dibayangkan betapa hebatnya kemajuan yang diperoleh itu dengan petunjuk-petunjuk ilmu silat melalui lukisan- lukisan dalam dinding gua itu. Begitu terkena pukulan, maka pedang Cia Po terlepas dari cekalan, dan dilain saat senjata itu telah berada di tangan Sin Hong yang kemudian dipergunakan untuk menyerang dada sipendekar dari daerah Tungkiam dan Hankiang.

Pada saat yang sangat berbahaya bagi Cian Po ini, tiba-tiba terdengar suara gerengan yang sangat keras dari orang yang bersenjatakan tongkat itu. Dia ini adalah orang asing dimana di kepalanya dia mengenakan ubel-ubel (udeng-udeng), mencelat memberikan pertolongan kepada Cian Po.

Sementara itu bersamaan dengan tikaman pedangnya ke dada, Sin Hong melancarkan pukulan tangan kirinya ke perut Cian Po. Kedua tikaman dan pukulan yang dilancarkan sekaligus itu adalah jurus kelima belas dan keenam belas pada lukisan gambar monyet itu yang dipelajari kemarin.

Tetapi sayang sekali, sebelum kedua serangannya ini mengenai sasaran, Sin Hong merasakan adanya sambaran angin keras yang mengancam salah satu jalan darah yang dapat membinasakan dirinya.

Untuk menolong dirinya, tanpa pikir panjang lagi Sin Hong membatalkan serangan mautnya. Cepat bagaikan kilat ia melompat kekanan seraya memutar pedang rampasannya, menikam kearah tenggorokan orang asing yang berhidung bengkung seperti paruh burung betet itu.

Bukan buatan terkejutnya orang asing itu, melihat kelihaian sipemuda. Namun kiranya ia telah cukup banyak pengalaman. Setelah serangannya tersebut gagal, maka disilangkannya tongkatnya membalik guna menangkis serangan sipemuda yang hampir mencelakakan jiwanya itu.

Sin Hong sudah dapat merasakan kemahiran tenaga dalam orang asing itu, maka ia tidak mau membenturkan senjatanya. Sebaliknya, dengan kelincahannya ia merubah serangannya mencuat keatas, mengancam kedua biji mata lawan.

Perubahan serangan sangat cepat dan dasyat itu membuat keempat orang Ceng Hong Pai itu menjadi tak habis pikir. Sebulan yang lalu Sin Hong belum berhitung lawan yang berbahaya, akan tetapi sekarang hanya dalam jangka waktu yang tidak panjang, ternyata pemuda ini telah begitu lihai.

Tidak mustahil apabila pemuda itu telah berjumpa dengan seorang cianpwe yang sakti, begitulah pikir mereka. Tetapi, walaupun bagaimana, orang asing itu memang dalam hal pemgalaman yang diperolehnya dari pertarungan-pertarungan besar maupun kecil yang pernah dilakukannya.

Demikianlah, dengan cepat sekali tongkatnya disabetkan dari atas kebawah, sehingga dengan demikian ia dapat mengunci gerakan pedang Sin Hong yang segan melakukan benturan tenaga.

Setiap serangan Sin Hong dapat dipunahkan bahkan tongkat orang asing itu dapat bergerak demikian rupa, hingga apabila Sin Hong hanya mengandalkan jurus-jurus yang baru diperolehnya kemarin itu, punggungnya akan terancam bahaya.

Sedang orang asing itu bergembira melihat dirinya akan segera memperoleh kemenangan, sekonyong-konyong sinar pedang Sin Hong telah berubah menjadi segulung sinar yaag melindungi tubuhnya dengan ketat.

Itulah ilmu golok Cap Peh Loh Hoan To yang saat itu telah digabung dengan gerakan-gerakan ilmu silat yang diperolehnya dari lukisan-lukisan itu. Sungguh hebat, dalam sekejap saja, tubuh sipemuda seakan telah dipagari tembok sinar pedang yang sangat rapat.  Orang asing berhidung benikung itu tersentak mundur dengan kaget. Sungguh tak menduga bahwa sipemuda dapat merubah gerakannya demikian hebatnya. Dan menyerang hingga membela diri! Demikianlah, serangan orang asing itu menjadi gagal, hingga ia menjadi penasaran dan gusar.

Dalam gusarnya itu, orang asing ini menggerakan tongkatnya dengan sekuat tenaga, menyapu kearah lawan. Sekali tongkatnya menyapu maka dua belas jalan darah Sin Hong terancam bahaya.

Untuk serangannya yang terakhir ini, si orang asing telah menggunakan pengerahan tenaga lwekangnya, sebab ia tahu bahwa kelemahan adalah dalam hal tenaga dalam. Dengan sangat cepatnya dan seakan tak dapat ditabas, serangan itu meluncur terus menghantam dua belas jalan darah maut sipemuda.

Belum sempat Sin Hong mengeluarkan jurus-jurus gabungannya yang lain, maka serangan orang asing itu telah datang tak mungkin diegosi lagi. Sin Hong mengambil keputusan nekad. Keadaan sudah tak mungkin dapat dihindari maka ia memutar tubuhnya cepat-cepat dengan maksud menerima pukulan tongkat itu dengan punggungnya !

Akan tetapi rupanya ajal belum waktunya menghinggapi tubuh sipemuda. Pada detik keselamatan jiwa Sin Hong hanya tergantung pada seutas rambut, mendadak terdengar suatu teriakan yang sangat keras, yang menggetarkan semua benda yang kedapatan disitu. Tidak terkecuali, orang yang berada disitu merasa badannya tergetar hebat, termasuk Sin Hong maupun orang asing itu.

Hanya untung bagi Sin Hong, ia dapat bergerak sangat cepat, ia menetapkan hati, meloncat kesamping sambil menyontekkan pedangnya, hingga dapat merobek lengan baju orang asing itu.

―Bocah  dari  mana  kau,  ha?‖  Bentak  orang  asing  itu  dengan kaget dan gusarnya. Apabila memperhatikan nada suara dan cara berpakaiannya, agaknya dia ini orang Turki adanya, yaitu suatu bangsa yang menghuni jazirah barat dari benua Asia ini,

Sin Hong belum sempat menyahut, tetapi telah terdengar suara tawa yang aneh dari puncak pohon.

―Tua   bangka   Karra   Gamalye,   tak   tahu   malu   mengerubuti seorang bocah ingusan.‖ Demikianlah suara aneh itu menegur.

―Tiga tua bangka dan dua anjing kecil mengeroyok seorang bocah hahaha ‖

Lie Sin Hong dan kelima orang lainnya, tidak terkecuali Karra Gamalye orang Turki itu semuanya memandang keatas dengan terkejut. Segeralah mereka melibat seseorang yang berjenggot panjang sedang duduk bersila dipuncak yang sangat tinggi.

Badan orang itu kate, sehingga jenggotnya yang panjang itu melebihi panjang badannya. Tidak berapa jauh dari tempat kate berjenggot ini, tampak pula duduk lima orang yang lain, yang sikapnya juga tampak aneh-aneh.

Agaknya keenam orang aneh itu telah sejak tadi hadir ditempat itu, hingga mereka dapat melihat pertarungan dibawah tadi. Menggetarnya sekalian benda-benda, dan melesetnya serangan Karra Gamalye si orang Turki itu, adalah akibat teriakan si orang kate berjenggot. Mengingat gagalnya serangan tadi, maka si orang Turki jadi sangat murka, dadanya seakan meledak saking marahnya.

Dengan tidak membuka suara lagi, Karra Gamalye telah menjejakkan kakinya ke tanah, dan tubuhnya melesat keatas dengan sangat cepat untuk menjambak jenggot orang kate yang dianggapnya jahil itu.

Tetapi, dengan tenang sekali, orang kate itu tiba-tiba telah berpindah tempat ke puncak pohon lain sambil berkata mengejek : ―Dengan  seorang  bocah  ingusan  kau  tidak  dapat  berbuat  apa- apa, buat apa aku meladeni kau?‖

Mendengar kata-kata yang sangat mengejek itu, bukan buatan marahnya Karra Gamalye. Tetapi ketika sedang bermaksud untuk mengejar orang berjenggot itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan Tung-han Taihiap.

Karra Gimalye menjadi sangat terkejut, demi melihat muka kawannya itu menjadi bersemu ungu, suatu tanda bahwa sang kawan telah terkena serangan beracun! Karra Gamalye mengurungkan niatnya untuk mengejar si kate berjenggot lebih jauh.

Dan segera menghampiri kedua suami isteri itu, serta memberi isyarat kepada kedua pemuda, putera mereka untuk meninggalkan tempat itu.

Namun baru saja ia berjalan kira-kira sepuluh tombak, dari atas pohon terdengar suara orang tertawa aneh sambil berkata;

―Hai tua bangka! Apakah kau membutuhkan obat pemunah?‖ Bersamaan dengan kata-kata itu, maka dari atas pohon tampak

melayang sebuah bungkusan, yang meluncur kearah punggung

Karra Gamalye yang dibareagi suara tertahan; ―sambut !‖

Karra Gatnalye belum sempat menyadari apa yang akan terjadi, tiba-tiba  sekali,  ―buukk!‖  tiada  dapat  dielakkan  lagi,  punggung orang  Turki  itu  telah  kena  dihajar  oleh  ―senjata  rahasia‖  yang berwujud sebuah bungkusan tersebut, hingga tak ampun lagi orang yang bertubuh tinggi besar itu terguling roboh, hingga beberapa tombak jauhnya.

Akan tetapi hebatnya, justru Karra Gamalye tidak merasa sakit sama sekali akibat sambitan itu. Justru hal inilah yang membuat orang Turki itu bertambah gentar. Dalam  pada  itu,  ia  mengamat-amati  ―senjata  rahasia‖  yang telah membuat kehilangan muka itu. Kiranya benda itu hanyalah sebuah bungkusan yang berisi obat-obatan. Maka segera dijemputnya pemuda itu, untuk kemudian berlari-lari mendapatkan Tung-han Tai hiap.

Dikala itu, Sin Hong memperhatikan segala yang terjadi atas diri orang Turki itu. Lalu ia memandang keatas, dimana terlihat keenam orang tadi masih tetap berada ditempatnya.

Dalam hati Sin Hong berkata; ―Mereka ini adalah orang-orang berkepandaian tinggi, untuk keperluan apakah mereka mendatangi gunung Thang-ala-san. Apakah manusia-manusia sakti yang pernah diceritakan orang dusun kepada kami, tempo hari? Ataukah mereka ini dari satu rombongan atau bukan?‖

Sedang asyiknya menduga-duga demikian, Sin Hong tiba-tiba dikejutkan  oleh  suara  sikerdil  yang  keras  sekali  mengaum:  ―Hai anak muda! Kau memiliki ilmu silat yang aku pernah melihatnya apakah boleh dapat mencuri?‖

Tergetar Sin Hong mendengar pertanyan yang menuduh itu, yang membuat ia menduga bahwa sikate itu tentulah penghuni gunung ini. Disaat itu juga, sipemuda jadi kecewa, mengingat bahwa maksudnya untuk mempelajari ilmu silat dalam lukisan itu, ada kemungkinannya bakal gagal. Karena keenam orang aneh itu, terutama sikate telah menuduhnya demikian.

―Nyata-nyata    sikate    tadi   telah    memberikan    pertolongan, menyelamatkan aku dari serangan orang asing itu. Akan tetapi mengapa sekarang ia berbalik menuduh?‖ tanya Sin Hong dalam hati.

Justeru pada saat itu sebelum Sin Hong sempat memberikan jawaban, sekonyong-konyong terdengar suara seseorang yang datangnya dari arah puncak pohon yang lain : ―Hai  orang  kate  she  Auwyang,  jangan  berkata  tak  keruan  ! Dengan bukti apa kau lancang menuduh bocah yang putih bersih itu sebagai pencuri?‖

Demikianlah, suara itu memang beralasan juga, hingga untuk sementara waktu sikate jadi terbungkam, hanya matanya saja yang tajam mengawasi kearah Sin Hing. Barulah kemudian ia membalikkan tubuh mengawasi orang yang telah menyemprotnya barusan.

―Kiranya  kau,  si  mata  sipit‖,  demikian  si  kate  menggerutu, sedang sikapnya menjadi berubah sengit ketika mengetahui bahwa orang itulah yang telah menegurnya tadi.

―Kepandaianmu  sudah  melebihi  kepandaian  semua  kalangan rimba persilatan di negerimu. Aku Auwyang Siang Yong sungguh tak mengerti, untuk keperluan apakah kau datang ke daerah ini dengan menyeberangi lautan?'

Girang hati Sin Hong mendapat kenyataan itu. Bukankah dari pembicaraan itu nyata bahwa mereka berasal dari lain golongan? Lebih-lebih ketika pemuda ini memperhatikan lebih lanjut, ia melihat keempat orang yang lainpun sedang saling pelototkan mata dengan sikap seakan-akan hendak bertempur.

―Mengherankan sekali‖ kata Sin Hong dalam hati ―Mereka itu tampaknya hendak saling baku hantam, dan bermusuhan. Namun, kalau hanya hendak saling mengadu kepandaian, mengapa mereka harus memilih gunung ini yang letaknya jauh dari pergaulan manusia?‖

―Auwyang  Siang  Yong‖,  si  orang  bermata  sipit  itu  berkata  :

―Seenaknya saja kau bicara. Lihatlah jelas, bukalah matamu  lebar- lebar, apakah daerah pegunungan ini termasuk daerah Tionggoan? Apakah juga tempat ini, gunung Thang-ala-san, letaknya berdekatan dengan tempat kakak ayahmu Auwyang Keng Liak bersemayam? Dan, haha, untuk keperluan apakah jauh-jauh kau datang mendaki pegunungan ini?‖

―Diam !‖ bentak si kate dengan marah.

―Kau  boleh  mencaci,  bahkan  boleh  membunuhku  kalau  kau becus !‖ sambung Auwyang Siaug Yong. ―Tapi awas ! Jangan kau sebut-sebut nama pamanku disini! Aku sangat mengagumi kau telah mempertunjukkan kepandaianmu mempergunakan am-gie dan lweekangmu! Dan aku tahu bahwa ilmu kepandaianku masih dangkal, baru enam bagian saja dari kepandaian pamanku. Tetapi melihat pertunjukkan yang kau pamerkan tadi, aku menjadi gatal tangan. Aku menyadari bahwa aku bukanlah tandinganmu karena kau adalah seorang ahli silat nomor satu dari pulau sembilan ! Oleh karena itu, melulu hanya karena keinginanku untuk menambah pengetahuan, aku mohon beberapa pengajaran dari kau! Yaitu ilmu silat pedang bengkok dari pulau sembilan yang termashur itu. Sudikah Balghangadar?‖

Demikianlah tantangan Auwyang Siang Yong dengan cara merendah itu sekaligus ia telah mengejek. Sementara itu, keempat orang lain yang berada ditempat yang lain pula itu, benar-benar sudah siap hendak bertarung.

Sementara itu tampaknya Sin Hong sudah tidak diperdulikan lagi. Demi ia melihat hal yang demikian, cepat-cepat ia pergi menyembunyikan diri di balik sebuah pohon besar, untuk selanjutnya mengintai permainan apakah yang akan dipertunjukkan oleh keenam orang aneh itu.

―Auwyang Siang Yong, kau terlalu memuji !‖ Sesaat kemudian Sin Hong mendengar jawaban dari Balghangadar, Siorang sipit dari seberang lautan itu memecah kesunyian. Suara itu, tampaknya merendah akan tetapi jelas dibarengi dengan pengerahan tenaga lwekang yang tinggi, hingga suaranya menggema sampai kekaki gunung. Dengan segera Sin Hong menekap telinganya dengan kedua belah tangan.

―Tak  sanggup  aku  menerima  pujianmu  itu!  Kau  Siang  Yong sudi memberikan pelajaran kepadaku, inilah yang benar-benar untuk meminta saja aku takkan berani.

Sungguh suatu kehormatan yang sangat besar bagiku! Hingga perjalananku ke Thang-ala-san ini, walaupun tidak berhasil mendapatkan barang itu, aku rasa tidak sia-sia. Auwyang Siang Yong kita adalah orang-orang rimba persilaian dari negeri yang berlainan, kukira tak perlukah kita saling merendah.

Karena aku sudah menduga, begitu juga guruku, bahwa untuk mendapatkan barang itu, kita harus melakukan adu tenaga terlebih dahulu. Didaerah Tionggoan sebelah utara, orang yang memiliki kepandaian sebagai Auwyang cianpwe hanyalah kau, keponakannya, maka juga dari sejak lama seluruh rakyat negeriku telah mengagumi dirimu.

Sekarang kau sudi hendak memberikan pelajaran kepadaku, maka aku Balghangadar sebagai wakil dari rakyat merasa sangat bersyukur. Baiklah kita tak usah membuang-buang waktu lagi. Apakah saudara Siang Yong hendak mempertunjukkan Sat-tui Kiu- wan mu yang termashur itu? Silahkan!‖

Kata-kata ini walaupun diucapkan saling susul dengan napas perlahan, akan tetapi jelas dapat menembus telapakan tangan Sin Hong. Dapatlah dibayangkan betapa hebatnya tenaga dalam orang bermata sipit itu.

―Sungguh dalam pengetahuanmu, Balghangadar. Sebelum kita bertanding kau sudah mengetahui kebisasaku. Memang tidak salah lagi, karena kau meminta akan kuturuti keinginanmu itu. Bersiap- siaplah !‖

―Baik !‖

Kedua orang itu tengah bersiap-siap, dan saling memperhatikan gerakan apa yang akan dilancarkan oleh lawannya. Tiba-tiba diantara kedua puncak pohon dimana kedua lawan berlainan negeri itu mengambil tempat, tampak berterbangan belasan ekor burung pegunungan yang besar-besar.

Burung ini sangat pesat terbangnya. Dalam sekejap saja mereka telah terbang menjauh sekitar delapan atau sembilan tombak, tetapi sekonyong-konyong seperti ditarik oleh tenaga besi berani yang sangat kuat, binatang-binatang itu mendadak berhenti maju.

Sayapnya saja yang mengelepar-gelepar, untuk selanjutnya tanpa dapat ditahan lagi, binatang-binatang itu terbang mundur dengan sangar cepat kearah tempat dimana Balghangadar siorang sipit itu duduk bersila.

Terlihat orang asing itu menggerakkan telapak tangannya menarik, dengan lengan yang terulur kedepan.

Tidak terlukiskan betapa terkejut dan kagumnya putera Song-to Lie Kie Pok bahkan juga siorang kate Auwyang Siang Yong, menyaksikan pertunjukan tenaga lweekang yang sangat hebat itu. Itulah tenaga lweekang yang sangat tinggi dan mahir, yang memerlukan tempo belasan tahun untuk meyakinkannya.

Cepat sekali burung pemakan bangkai yang berjumlah sembilan belas ekor itu tiba dihadapan Balghangadar. Dan disaat itu juga, terdengar suara orang sipit itu membentak keras, sambil telapak tangannya ditamparkan kedepan.

Maka kesembilan belas ekor burung itu, bagaikan anak panah lepas dari busurnya, meleset kedepan sambil memekik, bagaikan didorong oleh tenaga badai yang sangat dahsyat menyambar kearah jalan darah pada tubuh Auwyang Siang Yong.

Benar-benar sebuah pertunjukan tenaga lweekang yang sulit diukur betapa tingginya. Dan Lie Sin Hong sampai termangu melihat semuanya itu, karena apa yang disaksikannya kali ini melebihi apa yang pernah didengar dari ayahnya tentang beberapa ahli lweekang dari dataran Tiongkok.

Saat itu, Sin Hong benar-benar telah melupakan urusan Siu Lian atapun Ong Kauw Lian. Seluruh perhatian pemuda ini tertuju kepada simanusia kate Auwyang Sian Yong, untuk menyaksikan gerakan apakah yang akan dilakukan si manusia kate itu untuk menghindari serangan lawan yang sangat dahsyat itu.

Sementara itu, Auwyang Siang Yong pun tidak kalah terkejut. Dia ini adalah seorang turunan seorang ahli yang menjagoi wilayah Tiongkok utara dan mempunyai kepandaian tersendiri pula. Ia cuma mengagumi tenaga lweekang yang dimiliki oleh pamannya.

Dikala kesembilan belas ekor burung itu hampir membentur tubuhnya, untuk membebaskan diri Auwyang Siang Yong telah menggenjotkan tubuhnya. Mendadak dengan kecepatan kilat dan gesit sekali tubuhnya itu telah melayang naik puluhan tombak, hingga Sin Hong tak dapat menduga kemana orang kate itu kembali turun.

Orang hanya melihat kesembilan belas burung itu telah terjungkal mati tanpa memperdengarkan jeritan. Dan untuk selanjutnya Auwyang Siang Yong yang tubuhnya masih mengapung diudara itu telah memegang senjata yang berbentuk sebuah kebutan.

Dengan cepat pula, Auwyang Siang Yong telah membuka serangan dengan jurus Cap-cie-kai-tui atau sepuluh jari membuka angin, badannya meluncur kearah Balghangadar. Kebutannya bekerja menghajar kepala lawan siorang dari pulau sembilan itu.

Akan tetapi dengan gerakan yang sengat cepat pula, sebelum kebutan Siang Yong yang dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah itu tiba, Balghangadar telah menghunus senjatanya yaitu sebatang pedang yang bengkok ditengahnya digerakkannya menangkis.

Tak dapat dihindarkan lagi, maka kedua senjata saling bentur dengan sangat keras.

Kemudian, dengan mempergunakan tenaga benturan itu, maka kedua orang itu sambil memperdengarkan bentakannya yang nyaring, melesat ke tengah udara, dengan Siang Yong lebih tinggi dari pada lawannya.

Dengan demikian dalam sekejap mata saja maka kedua orang yang saling gempur itu masing-masing telah dapat mempertunjukkan kemahirannya Balghangadar unggul dalam hal tenaga dalam atau lweekang, sebaliknya Siang Yong lebih unggul dalam hal ginkang.

Maka sesaat kemudian, Balghangadar telah mendarat turun terlebih dulu diatas pohon. Sedangkan burung-burung yang terjungkal mati itu menghajar pohon dimana Siang Yong tadi duduk bersila, hingga pohon itu terbelah dua dan tumbang menimbulkan suara gaduh.

Disaat itu, dikala Sin Hong berada datam kekagumannya, akan kehebatan lweekang dan ginkarg kedua tokoh itu. Sekonyong- konyong diatas pohon dimana Balghangadar mengambil tempat duduk terdengar dua suara saling bentak. Menyusul tampak dua bayangan melesat keudara, yang seorang lebih tinggi antara tujuh atau delapan tombak, itulah bayangan Balghangadar dan Siang Yong.

Yang satu adalah keponakan dari seorang jago Tiongkok utara, ahli ginkang yang belum ada duanya. Sedangkan lawannya, yang telah menolong Sin Hong dari tuduhan, adalah murid dari seorang ahli silat kelas satu di pulau sembilan, ahli lweekang yang tak ada tanding pada jamannya.

Maka tidaklah mengherankan apabila masing-masing pihak mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Sedangkan keempat orang yang lain yang tadi tampaknya hendak bertarung, kini cuma mengawasi kedua orang yang sedang bertarung itu.

Rupa-rupanya, keempat orang itu telah jeri melihat penunjukan lweekang dan ginkang orang hingga secara diam-diam mereka telah mengalah terhadap kedua orang yang sedang bertarung itu.

Hanyalah, sesuatu apa itu yang keenam orang perebutkan, sampai dua ahli lweekang dan ginkang itu bertekad untuk mengukur tenaga, Sin Hong tidak mengetahuinya.

―Auwyang Siang Yong‖ tiba-tiba Balghangadar berkata dengan senyum  mengejek.  ―Oleh  karena  baru  saja  kita  begitu  berhadapan begitu bergebrak sehingga aku tidak sempat menanyakan kesehatan pamanmu, yang tentunya berada dalam sehat-sehat saja bukan?‖

Sungguh lucu kata-kata orang dari Pulau Sembilan itu. Dia menanyakan kesehatan paman orang tetapi, dia sendiri yang menjawabnya pula.

―Cu….......apakah  Auwyang  heng  yang  sudah  meletihkan  diri berkunjung datang ke Thang-ala-san inipun untuk urusan mencari lukisan-lukisan itu?‖ Sambil mengakhiri ucapannya itu. Balghangadar melirik kearah Lie Sin Hong. Dilihatnya anak muda itu tengah berdiri mengawasi Auwyang Siang Yong dengan mata tak berkedip. Hingga melihat sikap pemuda ini, Balghangadar diam-diam menghela napas lega.

―Saudara  Balghangadar  !‖  Auwyang  Siang  Yong  menjawab

―Kau  barusan  menyebut-nyebut  itu.  Memang  aku  oleh  pamanku ditugaskan untuk urusan itu. Cuma aku tidak mengerti, mengapakah kabar ini tersebar demikian luas hingga sampai kenegerimu? Mengapa pula kau yang dasar-dasar ilmu silatmu berlainan dengan dasar-dasar ilmu silat di negeriku juga menginginkan lukisan- lukisan itu. Sungguh lucu, sungguh sangat lucu, hahaha….‖

Memang ejekan itu tepat sekali. Tepat sekali bagi seorang asing yang memasuki negeri lain. Dan mendengar ejekan itu tentulah orang asing itu akan tertusuk hatinya, karena secara tidak langsung ia telah disindir menghendaki barang yang bukan milik negaranya.

Tapi rupa-rupanya Balghangadar siorang dari pulau sembilan itu adalah lain. Ejekan itu tidak mempengaruhi jiwanya, malah ia kelihatan tersenyum. Senyum yang orang lain takkan mengerti maksudnya.

Sesaat kemudian ia berkata.

―Auwyang  Siang  Yong,  katamu  tepat  sekali.  Tepat  dan  jitu untuk menggencet orang lain. Aku datang kemari untuk tugas guruku untuk mencari lukisan itu yang…….‖ sebentar ia berhent, kemudian  melanjutkan  ―tapi……  tidak  perlu  kuterangkan.  Nanti juga kau akan mengetahuinya. Dan Auwyang Siang Yong, kuharap kau berbelas kasihan kepadaku dengan hudtimmu yang sangat lihai itu tentu aku akan berterima kasih tak ada habisnya…….‖

****