Ilmu Angin Sakti Jilid 02

Jilid 02

BENAR SAJA, menjelang sore Sin Hong tampak enggerak- gerakkan tangannya. Untuk kemudian mpak ia membuka kedua matanya, hingga membuat orang-orang yang mengelilinginya jadi kegirangan.

Sementara itu, kembali Lie Sin Hong menyebut-nyebut nama ayah dan ibunya, lalu menangis pula, menggerung-gerung.

―Siangkong,  sudahlah….‖  Keng-ma  berusaha  menghiburnya.

―Bukankah    kau    seorang    laki-laki,    adalah    lebih    baik    kau membalaskan sakit hati ayah ibu, dari pada menangis yang hanya akan melemahkan semangatmu belaka‖.

Lie Sin Hong tersentak, bagaikan terkena hajaran cambuk rasanya mendengar penuturan yang membakar semangat itu. Tersadarlah ia kini, sadar bahwa dialah seorang putera tunggal, putera satu-satunya yang telah ditinggal oleh kedua orang tuanya.

Pemuda ini menjadi terbakar oleh api kemarahan dan dendam demi akhirnya ia mengetahui bahwa kematian ayahnya adalah dilakukan oleh bekas murid Kie Pok Bu-koan sendiri.

Tiga hari kemudian, dengan membekal sepuluh potong emas, pada keesokan harinya Lie Sin Hong walaupun dengan hati berat, meninggalkan kota Siu-ciu untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang anak yang berbakti. Peralatan gedung Kie Pok Bu-koan dipercayakan kepada Keng-ma serta beberapa orang suhengnya, sebab kepergiannya kali ini tidak ketahuan kapan ia bakal kembali lagi.

Sambil berjalan ia teringat bahwa ia baru mewarisi lima belas jurus Cap Peh Lo Hoan To yang diturunkan oleh ayahnya, sehingga diam-diam ia menyesali ayahnya yang tidak menurunkan seluruh ilmu kepandaian itu. Namun dilain saat, hatinya agak terhibur, bila teringat bahwa ia telah mewarisi tujuh bagian dari ilmu silat ayahnya, sedangkan musuh yang dicarinya hanyalah seorang bekas murid yang baru dua bulan belajar di Kie Pok Bu-koan.

Sama sekali tak terpikir olehnya, bahwa kekalahan ayahnya bukanlah disebabkan oleh usianya yang sudah tua, akan tetapi justeru lawan sesungguhnya memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi.

Seperti orang buta yang kehilangan tongkat Lie Sin Hong berjalan tanpa mengetahui arah tujuan. Ia tak tahu harus pergi kemana, sedangkan bayangan orang yang membunuh ayahnya itupun dia ketahui samar-samar dari gambaran para suhengnya yang memberikan keterangan dengan kata-kata belaka.

Sementara itu, berita kematian Song-to Lie Kie Pok dalam beberapa hari saja telah tersebar luas, dari segala lapisan masyarakat ataupun golongan Rimba Persilatan mengetahuinya. Mereka kebanyakan ikut berduka kecuali beberapa orang yang merasa kegirangan yaitu orang-orang yang pernah dipecundangi oleh almarhum Song-to Lie Kie Pok.

Dalam perjalanannya mencari pembunuh ayahnya itu, Lie Sin Hong telah tiba dikota Teng Hong Koan. Lalu iapun mengambil jalan menuju kearah timur.

Sesudah melalui gunung Teng Hong San maka ia telah tiba dibagian barat kota Hoo-lam.

Sebagian telah dituturkan didepan, bahwa berita kematian Song-to Lie Kie Pok kecuali menimbulkan perasaan ikut berbelasungkawa bagi orang-orang golongan lurus, juga tidak mustahil pula bahkan sebaliknya menggembirakan lawan-lawannya, terutama orang- orang yang pernah dipecundangi oleh pendekar golok besar itu. Diantara orang-orang yang pernah dikalahkan itu, terdapat pula dua bersaudara Keng atau Keng Sie Heng Tee yang masing-masing bernama Keng Ciauw Lam dan Keng Ciauw Hie adiknya.

Mereka berdua ini adalah murid-murid murtad dari Bu-tong Sie- lo, atau empat ketua dari Bu Tong Pai, tingkat kedua.

Semula mereka menguasai daerah sebelah barat Hoo-lam. Daerah ini kira-kira pada sepuluh tahun yang lalu terpaksa ditinggalkan karena mereka telah dikalahkan oleh Song-to Lie Kie Pok.

Dengan kekalahannya ini, semula mereka berusaha untuk menuntut balas hingga mereka untuk itu, sepuluh tahun mengasingkan diri didaerah barat untuk meyakinkan ilmu silat mereka. Apa hendak dikata, sebelum mereka mencapai maksudnya, kini mereka telah mendengar bahwa musuhnya itu telah terbinasa, dibunuh oleh bekas muridnya sendiri.

Demikianlah, karena merekapun sesungguhnya tidak terlalu, mendendam sebab mereka sadar akan kesalahan perbuatannya, merekapun cuma kembali menguasai daerah operasi mereka sediri sebagai semula.

Pada suatu hari, sedang mereka berdua duduk-duduk didalam gua dengan diterangi enam batang lilin mereka berbicara mengenai hal ilmu silat, mendadak keenam batang lilin yang sedang menyala berkobar itu tahu-tahu padam dengan seketika. Padahal tidak terasa ada angin yang bertiup, atau tidak terlihat ada orang yang meniupnya. Merekapun jadi terkejut berbareng jeri, berpikir bahwa ada orang yang tanpa terlihat bayangannya telah dapat memadamkan enam batang lilin sekaligus, tentu orang tersebut berilmu kepandaian sangat tinggi. ―Cianpwe  manakah  yang  telah  berkenan  hendak  memberikan pelajaran?‖ Akhirnya Toa Keng Heng Tee berteriak, suaranya berkumandang nyaring dalam gelap.

Tiada jawaban, keadaan kembali sunyi senyap, serta gelap gulita.

―Siapakah   yang   datang?   Jangan   main   sembunyi-sembunyi, jawab!‖ Keng Ciauw Hie yang adatnya barangasan, membentak dengan suara kasar.

Tetap tidak terdengar suara jawaban, tidak juga desir angin. Akan tetapi, sedang kedua bersaudara Keng itu bermaksud hendak melompat keluar gua, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara yang dingin berasal dari tempat dimana tadi mereka duduk.

Terkejut mereka tidak terkatakan. Mungkin kata ada makhluk yang dapat bergerak begitu cepat, tanpa kesiur angin ataupun kelebatnya bayangan? Timbullah dugaan mereka bahwa yang telah bersuara itu tentulah sebangsa siluman.

Sedang mereka tahu benar keadaan kamar gua itu, yang hanya memiliki sebuah pintu masuk. Tak mungkin orang masuk melalui jalan yang lain. Namun mereka tak dapat tinggal diam. Mereka bersiap sedia, sebab mereka tidak mengetahui apa maksud kedatangan orang dengan cara menggelap itu.

Hingga karena habis kesabaran, Jie Keng Heng Tee Keng Ciauw Hie segera melontarkan dua belas biji cin-lian cu atau biji teratai perak kearah tempat duduk mereka tadi.

Ssrrr……. ssrrr…… ssrrr... demikianlah biji-biji teratai perak itu berhamburan.

Namun, hasilnya hanyalah menambah keheranan mereka belaka, kedua belas senjata rahasia itu lenyap tanpa bekas. Aneh  sekali.  Andaikata  ―tetamu‖  tak  diundang  itu  berkelit, setidaknya tentu akan menimbulkan suara benturan senjata rahasia itu membentur dinding gua. Akan tetapi, biji-biji teratai itu seakan mengenai tempat kosong, lenyap tanpa suara lagi.

Selang beberapa saat, maka terdengarlah suara tawa yang dingin meremangkan bulu roma. Kedua saudara Keng itu tersentak kaget, kiranya semua senjata rahasia itu telah kena disambuti oleh tetamu itu.

Sepanjang pengalaman hidupnya, tak pernah Keng Ciauw Hie mengalami kejadian yang demikian hebat. Selama sepuluh tahun ia melatih diri di daerah barat, terutama sekali ia memperdalam ilmu mempergunakan senjata rahasia teraiai perak itu, Dan selama berpuluh-puluh tahun ia berkelana, tak pernah ada orang yang mampu menyanggupi sekian banyak senjata rahasia yang dilontarkan sekaligus.

Keng Ciauw Lam melihat kegagalan saudara mudanya itu. Dan diam-diam ia merasa sangat kuatir bahwa lawan yang sangat lihai itu akan menjadi lebih berbahaya bila keadaan tetap gelap gulita seperti ini. Maka segera ia menyalakan sebatang lilin yang terdekat. 

Kamar gua itu kembali terang. Namun anehnya, tetamu yang tadi nyata-nyata berada dalam ruangan itu, kini tidak tampak lagi. Dalam kagetnya ini, ia mendengar suara tawa menyombong dibarengi ucapan yang mengatakan bahwa dialah orang yang telah membunuh Song-to Lie Kie Pok.

Sedangkan apabila kedua saudara itu melihat keatas meja, mereka melibat sebuah bungkusan terletak disitu, yang menyebarkan bau busuk yang menusuk hidung.

Menyaksikan kebebatan tetamu tak diundang itu, maka mereka tanpa terasa jadi bergidik. Mereka insyaf, bahwa andaikata orang itu menghendaki jiwa mereka, sungguh terlalu mudah, ibarat membalikkan telapak tangan saja.

Mereka memeriksa bungkusan diatas meja itu. Dan kembali mereka terkejut, ketika mereka membuka bungkusan itu maka terlibat olehnya sebuah kepala manusia yang telah rusak dengan sebuah surat dalam sampul. Apabila mereka meneliti, kiranya kepala itu adalah kepala Song-to Lie Kie Pok adanya.

Diatas sampul surat itu terdapat sebuah tulisan yang berisi peringatan  :  ―Yang  tidak  berkepentingan  dilarang  membaca  surat ini!‖

Sedangkan pada sudut yang lain dari sampul itu, terdapat sebuah  tulisan  yang  bernada  memerintah  :  ―Serahkan  surat  dan kepala ini kepada seaeorang yang beberapa hari lagi akan lewat ditempat ini!‖

Setelah membaca tulisan-tulisan ini, Keng Sie Heng Tee untuk sesaat saling berpandangan. Mereka menjadi ragu-ragu akan berita yang mengatakan bahwa Song-to Lie Kie Pok mengalami kebinasaan ditangan bekas muridnya yang berusia belum tiga puluh tahun. Memang orang tidak mudah untuk mempercayai kenyataan yang telah dicapai oleh Ong Kauw Lian yang menjadi sangat lihai luar biasa itu.

Sejak berhasilnya membinasakan musuh besar ayahnya, Ong Kauw Lian lantas cepat-cepat meninggalkan kota Siu-ciu. Dalam waktu yang sangat singkat, berkat ginkangnya yang telah mencapai tingkat sangat tinggi, maka sebentar saja ia telah menghilang dari pandangan penduduk kota itu.

Ia tidak langsung menuju ke Ceng Hong San melainkan ketika tiba disebelah timur kota Hoo-lam, ia memasuki sebuah bio yang bernama Kwan Tee Sio. Disitu, setelah meletakkan kepala Song-to Lie Kie Pok dibawah patung Kwan Kong dan mengeluarkan pedang peninggalan ayahnya Ong Kiauw Lian melakukan sembahyang.

Selesai sembahyang, karena haripun sudah malam dan ia merasa letih, maka iapun bermalam dalam kelenteng itu untuk beristirahat.

Keesokan karinya, pada waktu bari fajar, barulah ia melanjutkan perjalanannya. Pada waktu tengah hari maka ia telah lewati kota Hoo-lam.

Sebelumnya, ia pernah mendapat keterangan yang mengatakan bahwa disebelah barat kota, ada dua perampok yang bekerja tanpa anak buah, yang terkenal dengan julukan Keng Sie Heng Tee. Tetang hal ini ia mendengar keterangan dari susioknya.

Dan ia mengetahui pula bahwa kedua Saudara Keng itu pernah mempunyai dendam hati terhadap Lie Kie Pok.

Tengah ia berjalan sambil mengingat-ngingat demikian, ia melihat berkelebatnya seseorang yang wajahnya mirip dengan Lie Kie Pok. Hati Oug Kauw Lian jadi tertarik. Karena itu, maka iapun membayangi kepergian orang itu, yang ternyata menuju sebuah hotel.

Pada malam harinya iapun mendatangi hotel dimana pemuda berusia lima belas tahunan itu bermalam. Dengan mempergunakan ginkangnya yang sangat tinggi, maka ia dapat menemukan kamar sipemuda tanpa orang didatangi itu menyadarinya.

Ong Kiauw Lian mengadi sangat terkejut ketika ia melubangi kertas penutup jendela dan mengintai kedalam kamar, maka ia melihat pemuda yang diintainya itu sedang berlutut sambil

menangis tersedu-sedu, memanggil manggil nama Lie Kie Pok dan nama Ong Kiauw Lian sendiri dengan nama yang dipakai dalam perguruan Kie Pok Bu-koan. Dalam saat itu timbulah keinginannya untuk membabat rumput sampai ke akar-akarnya. Iapun lalu meacabut pedangnya untuk mewujudkan pikirannya itu.

Akan tetapi, sedang pedangnya sebentar lagi akan menghirup darah pemuda dalam kamar itu, tiba-tiba terdengar teriakkan seorang bocah yang menyayat memilukan.

Seakan terbetot oleh besi berani, maka Ong Kiauw Lian tidak jadi menebaskan pedangnya, akan tetapi sebaliknya melompat turun untuk menghampiri tempat anak kecil yang meratap-ratap itu.

―Ayah…  ibu...  dimana  kau  .  .?  Aku  lapar  ayah  ….  lapar  …‖ suara itu begitu kering dan parau keluar dari mulut seorang bocah berusia kira-kira  tahun yang menggeletak terkapar dilantai dengan tubuh kurus kering, seolah-olah tinggal tulang pembalut kulit belaka.

Dengan napas   tersengal-sengal   bocah   itu   merintih-rintih,

―Aduh…..   ibu…..   aduh…..‖   tampak   anak   itu   berusaha   untuk merayap bangun, akan tetapi belum berhasil maksudnya itu, ia telah tersungkur jatuh kembali.

Ong Kauw Lian si pembunuh Lie Kie Pok itu, dengan mata tak berkedip memandangi keadaan si anak yang mengenaskan itu. Rasa kemanusiaannya terbetot oleh kesengsaraan yang dipertunjukkan oleh bocah sengsara itu, dan hatinya keheranan melihat sepasang mata si bocah yang berkilat-kilat.

Dalam sekejap itu ia lupa, bahkan tadi ia hendak membunuh orang. Segera ia membungkukkan badan mengangkat tubuh si bocah yarg kurus kering itu. Ketika ia memperhatikan wajah anak itu, ia terkejut juga girang, sebab kecuali sepasang mata sibocah yang berkilat-kilat tajam luar biasa, ternyata bocah itu memiliki tanda bakat baik dalam tubuhnya. Ia terkejut ketika ia meraba nadi bocah itu ternyata napas bocah itu kira-kira tinggal beberapa titikan saja. Lupa ia akan maksudnya membunuh orang, seketika dibawanya anak itu menuju sebuah kamar untuk dibaringkan.

Tiga hari tiga malam, Ong Kauw Lian terpaksa harus menunggui sibocah yang penyakitan itu, sehingga mangsanya yang menginap di kamar sebelah, kini telah pergi.

Dua hari kemudian, setelah ternyata bocab itu benar-benar telah sembuh barulah Ong Kauw Lian meninggalkan hotel itu. Lewat setengah harian maka tibalah ia di Hoo lam barat, dimana tinggal Keng Sie Heng Tee si kedua saudara perampok itu.

Setelah melakukan penyelidikan, maka pada malam harinya Ong Kauw Lian menyatroni gua kedua perampok itu, yang kebetulan malam itu mereka sedang berunding tentang ilmu silat.

Begitulah, dengan menggunakan tipu Dewa suci hembusan angin, hasil ciptaan serdiri yang merupakan salah satu dari jurus Ceng Hong Hoat Sut, iapun mengumpulkan lweekang kedalam perutnya, untuk kemudian meniup sehingga berhasil memadamkan enam batang lilin tanpa menimbulkan suara desiran angin sama sekali.

Sedangkan ia sendiri setelab meruntuhkan semangat kedua saudara Keng itu, segera melanjutkan perjalanannya ke Cheng Hong San sambil tetapi menggendong bocah delapan tahunan itu untuk meyakinkan Ceng Hong Kiam Hoat dan Ceng Hoat Kunnya. Sekalian mendidik anak yang dianggapnya sangat berbakat itu.

Sementara itu, Keng Sie Heng Tee yang mengalami peristiwa menyeramkan itu, menjadi serba bingung. Untuk beberapa lama mereka menjublak diam tak berani berkata-kata.

Baru selang beberapa saat, Keng Ciauw Lam menyeletuk : ―Eh.  Hie  Tee,  sudahlah.  Mari  kita  simpan  kepala  ini,  jangan sampai nanti digerayangi tikus. Kita nantikan beberapa hari disini untuk menanti siapa sebenarnya orang yang dikatakan oleh Cin itu...‖

Demikianlah, Keng Sie Hong Tee menantikan sampai berlalu tempo tiga hari. Namun orang yang dimaksud belum juga muncul, sementara bau busuk kepala yang ditinggalkan orang, semakin menghebat.

Pada hari kelima setelah mereka berdua sudah tidak tahan oleh bau bacin itu, maka mereka memutuskan uniuk meninggalkan tempat itu.

Mereka tak berani sembarangan membuang kepala rusak itu, karena mereka ngeri akan akibatnya.

Setelah menunggu hingga hari ketujuh maka mereka menulis surat yang mereka tinggalkan bersama bungkusan kepala itu, dan mereka kembali mengembara ke daerah barat untuk memperdalam ilmu mereka.

****

Kini marilah kita kembali kepada Lie Sin Hong yang telah kita tinggalkan sejak di Hoo-lam timur.

Tiba di tempat itu, haripun telah senja. Disebuah tanjakan, ia menemukan sebuah rumah tanah berbentuk sebagai gua, ia heran berbareng curiga, karena ketika ia baru saja hendak masuk kedalam gua ia telah diserang oleh bau busuk yang sangat menusuk hidung.

Sin Hong mengurungkan maksudnya memasuki gua itu, lalu berlari-lari menjauhi sambil menekap hidungnya. Justru ketika ia baru saja berniat untuk meninggalkan tempat itu berkelebat suatu ingatan dikepalanya, cerita almarhum ayahnya  yang mengatakan bahwa ada segolongan orang yang suka menculik sesamanya untuk dijual sebagai bakso. Karena pikiran yang demikian maka segera ia membalikkan badan untuk kembali ke tempat tadi guna melakukan penyelidikan, bila perlu melakukan pembasmian.

Gua itu ternyata berbentuk seperti rumah sebuah pertapaan. Panjangnya kira-kira dua tumbak lebarnya setengah tumbak lebih. Heran ia. Mungkinkah sebuah pertapaan boleh dipergunakan sebagai tempat menyimpan bangkai?

Karena hendak cepat-cepat meninggalkan tempat itu, maka dengan mengeraskan hati dia memencet hidungnya keras-keras, sipemuda memasuki gua untuk memeriksa.

Lie Sin Hoog terkejut, karena baru saja ia memasuki mulut gua, maka dilihatnya diatas sebuah meja yang berada didepan pintu, ditataki selapis kain putih yang sudah kotor oleh darah yang menghitam kering, terlihat sebuah kepala manusia. Ia heran, sebab walaupun kepala manusia itu sudah rusak benar, akan tetapi rasa- rasa ia mengenalnya.

Maka dengan menahan perut yang seakan hendak muntah- muntah, ia menghampiri meja itu. Ia melihat sehelai kertas bertulis dan sebuah sampul surat terdapat disitu. Keheranannya kian bertambah.

Lie Sin Hong segera mengambil surat yang tak bersampul itu, dan membacanya. Seketika, hampir saja ia menjerit kaget, demi terbaca isi surat yang menerangkan bahwa kepala manusia yang tergeletak di meja itu adalah kepala Song-to Lie Kie Pok. Dijelaskannya pula disitu, tentang kelihaian orang yang membunuh

Lie Kie Pok, yang diduga mempunyai ilmu siluman. Sedang dibawah sekali surat itu terdapat sebuah kata-kata yang berbunyi Keng sie Heng Tee. Separuh mempercayai surat itu, dengan mata basah si pemuda membuka sampul surat yang satu lagi. Gemetar tangannya ketika membaca surat itu.

Disaat itu juga Lie Sin Hong menangis menggerung-gerung. Air mata yang mengucur adalah air mata dendam yang berkilat. Lalu dengan menghilangkan rasa mual maupun jijik, diangkatnya kepala yang tergeletak diatas meja itu, yang memang tidak lain adalah kepala Song-to Lie Kie Pok.

Sekali lagi Lie Sin Hong meyakinkan kepala itu. Setelah ia yakin benar bahwa kepala ini memang kepala ayahnya, maka kemudian ia membakarnya. Selanjutnya, didepan abu kepala ayahnya, Lie Sin Hong menangis menggerung-gerung sambil bersumpah untuk membalas sakit hati ayahnya itu.

Setelah memohon restu, maka sipemuda lantas menanam abu itu dibawah pohon kwi, untuk kemudian ia melanjutkan perjalanannya.

Beberapa hari kemudian, setelah kira-kira sepuluh hari ia menempuh perjalanan, sepuluh hari, maka ia telah berada dalam perjalanan menuju gunung Ceng Hong San. Berjalan pula dua hari, maka ia telah mencapai lereng gunung.

Dari suatu tempat yang agak menjulang tinggi, Lie Sin Hong melihat kejauhan tampak asap bergumpal-gumpal naik ke udara. Hatinya girang, dan berdebaran keras.

Namun beberapa saat kemudian, bila ia teringat akan kata-kata Keng Sie Heng Tee dalam surat itu, kegirangannya segera lenyap, berubah tinggal debaran jantungnya saja. Ia tahu bahwa kedua saudara Keng sendiri tidak berdaya ketika dipermainkan oleh

―cianpwe‖  yang  menitip surat  itu. bukankah itu berarti orang yang dicarinya itu berkepandaian sangat tinggi? Akan tetapi Lie Sin Hong tidak mengenal takut. Untuk membalaskan sakit hati ayahnya masakah ia harus mundur hanya karena surat itu saja?

Dengan menekan debaran jantungnya, sipemuda mempercepat jalannya, bertekad untuk mengadu jiwa dengan pembunuh ayahnya yang ternyata kini telah diketahuinya berdasar surat bersampul itu yang bernama Ong Kauw Lian.

Belum berjalan beberapa lama, cuaca mendadak berubah gelap. Kiranya belum memasuki daerah yang penuh ditumbuh pohon- pohon cemara yang rimbun. Pohon-pohon itu berdaun lebat, dan batangnya tinggi-tinggi seperti pencakar langit.

Kini ia berada dijalan yang dikanan kirinya ditumbuhi pohon cemara, seakan diapit. Pohon-pohon cemara yang berwarna hijau bagai selimut yang melapisi seluruh tanah pegunungan itu. Kecuali jalan-jalan sangat sempit, juga naik turun dan berliku-liku.

Belum lama ia berjalan, mendadak telinganya mendengar suara rintihan yang berasal dari sebatang pohon cemara. Dengan terkejut, cepat-cepat Sin Hong menghampiri suara rintihan itu.

Maka dilain saat si pemuda melihat dibawah rindangnya sebatang pohon cemara, tampaklah laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, sedang duduk menyender dengan napas empas-empis. Orang itu memakai jubah pertapa sedangkan mulutnya tak berhenti hentinya merintih kesakitan.

―Siapa   kau?‖   tanya   Sin   Hong   yang   lalu   menghampiri, berjongkok dengan maksud untuk memberikan pertolongan. Orang yang terluka itu agaknya mengucapkan beberapa patah kalimat yang tak jelas terdengar maka Sin Hong semakin mendekati. Sekonyong-konyong orang berjubah pertapa itu melonjorkan kedua tangannya kedepan sambil berkata tersendat-sendat:

―Bukankah kau berdiri dihadapanku ini bernama Lie Sin Hong?‖

Lie Sin Hong tersentak mundur setindak, terkejut melihat lengan yang kiranya tampak berlubang-lubang dan mengalirkan darah warna kehitam-hitaman. Sedangkan mukanya yang juga basah kuyup berwarna kehitaman pula, oleh sebab keringat yang kehitam- hitaman, bukan darah.

Tidak salah lagi, tentu orang itu baru saja melakukan pertarungan hebat yang berakhir dengan kekalahan hebat baginya. Akan tetapi siapakah orang itu? Mengapa ia mengenal nama si pemuda? Dan siapakah musuh orang itu, yang begitu kejam?

Orang yang memakai baju pertapa itu mengawasi sipemuda dengan sinar mata guram, untuk kemudian mengulangi pertanyaannya ketika pertanyaannya yang pertama tadi tidak mendapat jawaban.

Akhirnya, setelah menetapkan hati, Lie Sin Hong memberikan jawabannya :

―Yah,  lopeh benar aku Lie Sin Hong? Bagaimana  lopeh dapat mengenal namaku? Siapakah lopeh sebenarnya?‖

Kelihatan orang setengah tua itJ kegirangan akan tetapi secepat itu  pula  ia  menjadi  tampak  sangat  cemas.  Katanya  :  ―Sin  Hong. Bukankah kau putera Song-to Lie Kie Pok?‖

―Benar, tidak salah !‖ Sin HoDg tidak menyangkal. ―Habis siapakah sebenarnya, dan mengapa lopeh menderita seperti

ini?‖ Karena mendengar orang menyebut nama ayah, Lie Sin Hong kembali    menangis,    kemudian    berkata:    ―Tetapi...lopeh...ayah, ayahku telah.‖ pemuda itu terus menangis menggerung-gerung.

―Aku juga mengetahuinya ! Dan bukankah kau kemari hendak menuntut balas?‖

Lie Sin Hong semakin keheranan. Kiranya lelaki setengah umur itu telah begitu banyak mengetahui tentang dirinya.

―Lopeh,  benar-benar  aku  tidak  mengerti.  Bukankah  diantara kita baru saja saling bertemu, bagaimana lopeh dapat mengetahui semua itu?‖ Tanya Sin Hong mendesak.

―Anak…….  Aku  sebenarnya  adalah  paman  dari  orang  yang telah membunuh ayahmu…. Namaku An Hwie Cian…..‖

Sin Hong menjadi lebih-lebih terkejut. Ia memang pernah mendengar nama itu dari penuturan ayahnya, ―Lopeh, jadi siapakah yang telah membuatmu jadi begini rupa?‖

―Tunggu  dulu,  anak  muda,  jangan  potong  pembicaraan‖  kata lelaki setengah umur itu yang benar adalah Kim Bin Ho Lie An Hwie Cian.

―Pada  delapan  belas  hari  yang  lalu,  dia,  musuhmu  itu,  telah pulang. Dia memberitahukan kepadaku bagaimana ia dalam dua gebrakan saja berhasil membinasakan musuh besarnya yang berarti musuhku pula, memang perasaaaku waktu itu sangat bangga sekali.‖

Mendengar penuturan An Hwie Cian sampai disini, sebenarnya Sin Hong bermaksud untuk membunuh lelaki setengah tua itu. Akan tetapi melihat keadaan orang yang sudah tak berdaya itu, hatinya tak tega. Bukankah tak usah disabet golok orang itupun sebentar lagi akan mati! Maka timbul niat sipemuda untuk meninggalkan saja orang tua itu. Ketika mendadak terjadi sesuatu yang sangat tidak terduga. Lelaki setengah tua yang hampir mati itu telah meronta dari duduknya, kemudian menyambar tangan Sin Hong cepat-cepat, kemudian mencekalnya keras-keras, sehingga sipemuda tak berhasil melepaskan lengannya dari cekalan orang itu.

Sin  Hong  terkejut  bercampur  murka.  Ia  membentak  :  ―Apa maksudmu?‖

―Jangan naik keatas !‖ Sahut An Hwie Cian dengan suara serak.

―Dengan  kepandaianmu  seperti  ini,  percuma  saja  kau  menemui musuh besarmu yang berarti hanya mengantarkan nyawa belaka !‖.

Sebenarnya masih meluap kemarahan sipemuda ketika itu. Akan tetapi melihat orang yang tidak bermaksud jahat terhadap dirinya, maka walaupun dengan kasar, Sin Hong menyahut :

―Baik!‖

―Bagus ! kau dengarkan dulu ceritaku sampai selesai…..‖ kata An Hwie Cian selanjutnya.

―Memang  semula  aku  memuji  akan  kemajuan  keponakanku itu‖  begitulah  An Hwie  Cian  memulai ceritanya.  ―Diam-diam aku mengucap syukur, akan ketinggian ilmu keturunan saudaraku itu Akan tetapi beberapa orang sahabat yang mengatakan bahwa katanya, keponakanku itu tidak saja membunuh ayahmu, akan tetapi secara tidak langsung juga membunuh ibumu...‖

Sampat di sini telinganya mendengar cerita orang, maka hati Sin Hong bagaikan akan meledak akibat kemarahannya.

―……  dan  juga  salah  seorang  saudara  seperguruannya…….‖ begitulah dengan bersikap seakan-akan tidak melihat perubahan muka sipemuda, An Hwie Cian melanjutkan. ―Hari  itu,   kalau  tak  salah  adalah   hari  kelima   belas   sejak keponakanku itu pulang ke gunung. Aku maki dia habis-habisan, kucaci dan kumarahi, akan tetapi dia diam saja. Dengan tidak dijawabnya caci makiku itu, kukira dia telah insyaf, maka akupun tidak memarahinya lagi‖ An Hwie Cian berhenti sebentar untuk menghapus keringat hitam dimukanya, untuk kemudian melanjutkannya lagi.

―Akan  tetapi,   keesokan  harinya  telah  datang   pula   seorang sahabatku yang mengatakan bagaimana kejinya keponakanku itu mempermainkan kepala ayahmu‖.

Tanpa terasa lagi Sin Hong telah meloncat sangat tinggi, sekira tiga tombak, dengan isi dada seakan bergolak,

―Aku harap kau jangan berlaku demikian, tenanglah …..‖ kata- kata ini ditujukan kepada Sin Hong, hingga dilain saat pemuda itupun sudah kembali berdiri terpaku.

―Mendengar cerita itu, akupun menjadi gusar sekali‖ An Hwie Cian  melanjutkan  ―Aku  katakan  kepadanya,  bahwa  aku  seorang kesatria! Aku caci dia habis-habisan, hingga akhirnya kuusir dia! Pada saat itulah karena kemarahan yang tak terkendali, aku telah melayangkan tangan mengancam dadanya ‖

Sampai disini, An Hwie Cian mengatur napasnya kembali yang tampak memburu. Setelah itu barulah ia melanjutkan pula.

―Namun  ternyata  kepandaiannya   benar-benar  telah  berubah sama sekali! Ilmu kepandaiannya benar-benar membuat kagum. Aku jadi benar-benar terperanjat ketika pukulanku hampir mengenai dadanya, tahu-tahu dia telah menghilang entah kemana. Sedang aku kebingungan hendak memukul kemana tiba-tiba aku merasa tubuhku menjadi lemas ‖ Tanpa terasa mendengar kehebatan musuhnya itu Sin Hong memperdengarkan suara pekikan.

―Untuk selanjutnya, dia menghadiahkan pada dua lenganku ini dengan dua belas biji gin-lian-cu yang mengakibatkan muka dan keringat itu menjadi hitam seperti ini.....‖ tampak wajah An Hwie Cian  menegang   marah.   ―Selanjutnya  aku  diusir  dari  tempatku, sambil ditertawakan olehnya. Dikatakannya bahwa aku tidak berguna sama sekali ‖

Bercerita sampai disini, napas An Hwie Cian kembali memburu. Sedangkan Lie Sin Hong bungkam seribu bahasa, bahkan diam-diam ikut bertambah marah kepada murid yang berperangai buruk itu. Namun dibalik itu, iapun mengagumi kepandaian bekas murid ayahnya itu. Ia baru sadar sekarang, bahwa kekalahan ayahnya bukanlah disebabkan ketuaan usianya semata-mata akan tetapi juga karena kalah dalam hal ilmu kepandaian. Hingga karena itu. Sin Hong merasa sangat bersedih dan putus asa, seakan-akan sakit hati ayahnya tak mungkin ia dapat membalaskannya.

Ia ingat yang Keng Sie Heng Tee pernah menuturkan ilmu kepandaian manusia bernama Ong Kauw Lian itu, yang hebat luar biasa, seolah-olah memiliki ilmu siluman. Sedangkan sekarang, paman guru simanusia murtad itu sendiri mengatakan hal-hal yang sama. Hingga ia tak mungkin menyaksikan lagi, tentu kepandaian lawannya sangat luar biasa.

―Kau   tahu?‖   Lelaki   setengah   umur   itu   melanjutkan   kata- katanya.  ―Sebenarnya  disaat  itu  juga  aku  bermaksud  menghabisi jiwaku sendiri karena malu. Akan tetapi aku teringat akan dirimu… !‖

―Mengapa   lopeh   mengingat   diriku?‖   Sin   Hong   bertanya bimbang. ―Ya   aku   ingat   akan   dirimu   yang   kudengar   kabar   hendak mendaki gunung ini!‖

Terkejut Sin Hong mendengar keterangan bahwa mengenai kepergiannya itu ternyata telah tersebar luas.

―Demikianlah, aku tak jadi membunuh diri. Dengan segera aku mengerahkan lweekangku ke kepala, akupun menuruni puncak gunung ini. Hingga disini aku hampir kehabisan tenaga, dan duduk menantikan kedatanganmu‖.

Semua penuturan lelaki setengah tua itu masuk dalam perhatian Sin Hong. Tanpa sadar ia menghela napas, bersyukur kepada orang setengah tua itu sebab andaikata tidak bertemu dengan dia, entah bagaimana jadinya nasib dirinya.

―Jadi lopeh telah dua hari menantikan saya? tanyanya.

Orang setengah tua bekas ketua Ceng Hong San itu menganggukkan  kepala.  Tampak  ia  tersenyum  puas.  ―Benar  aku telah menantikan kau disini dua hari lamanya, karena aku merasa pasti bahwa kau tentu akan melewati tempat ini. Maksudku untuk memberitahu kepadamu, bahwa untuk saat ini kau harus bersabar.‖

―Janganlah kau mencari padanya, dulu…..?‖

Berkata sampai disini An Hwie Cian tersenyum puas. Kemudian  tanpa  ragu-ragu  ia  melanjutkan  bicaranya:  ―Disini  aku terangkan kepadamu bahwa secara tidak langsung aku telah menyelamatkan jiwamu‖

Lie Sin Hong mengangguk-anggukkan kepalanya untuk kemudian menghaturkan terima kasih.

―Maka dari itu ...hmmm ehmmm...sekarang aku mengharapkan bantuanmu… ‖ ―Jangan   kuatir    lopeh,    aku    tentu    akan    menggendongmu menuruni gunung ini‖ sahut Sin Hong cepat. Ia menduga bahwa lelaki setengah tua itu membutuhkan tenaganya.

Tetapi mendadak siorang tua tertawa terbahak-bahak. Lama tertawanya itu, hingga puas, barulah ia berkata:

―Anak  muda,  kau  salah  sangka.  Aku  bukan  mengharapkan bantuanmu menuruni gunung. Lagi pula, jikalau aku mau apakah kau mampu melakukannya,?‖

Merah padam wajah Sin Hong mendengar ejekan itu. Akan tetapi ia diam saja, sebab ia tahu bahwa orang tua itu berkata benar belaka.

―Anak  muda,  jangan kau  marah. Aku  hanya  main-main,‖ kata Kim Bin Ho Lie lebih lanjut ―untuk kesedianmu itu aku mengucap banyak-banyak terima kasih. Tetapi hendaklah kau ketahui bahwa umurku hanyalah tinggal beberapa tarikan napas saja……‖

Kata-kata itu mengejutkan benar bagi Sin Hong. Tak disangka bahwa si lelaki setengah tua yang umurnya tinggal beberapa kali tarikan napas itu masih bisa tertawa-tawa.

Sesudah itu, maka An Hwie Cian melanjutkan kata-katanya, kali ini ia berkata dengan sungguh suogguh.

―Dengarlah baik-baik. Aku harap, dari sini pergilah kau ke Soa tang. Carilah seorang gadis yang kira-kira seusia denganmu…… namanya An Siu Lian…..‖ sambil mengulurkan tangan, maka iapun memberikan sepucuk surat kepada Sin Hong lalu melanjutkan bicara.  ―Serahkanlah  surat  ini  kepadanya.  Nanti dengan dia,  kalau kau mengingini kau dapat bersama-sama‖ tiba-tiba An Hwie Cian si rase muka emas itu berhenti berkata, Kedua tangannya ditekankan kedada dan matanya dimeramkan. Melihat ini cepat-cepat Sin Hong mengeluarkan tangannya hendak membantu mengurut dada orang itu, akan tetapi tampak An Hwie Cian mengebaskan tangannya sambil berkata terputus-putus

―….pu  ..  teri  ...  ku  ...‖  kemudian  terus  diam.  Sejenak  itu napasnyapun berhenti, sebelum ia menyelesaikan kata-katanya yang tadinya hendak diuapkan ; ... d e ... ngan dia….pergi . . ke Thai ….. san…‖

Demikianlah An Hwie Cian tiba pada akhir hidupnya, meninggalkan dunia yang kotor ini di bawah tangan orang yang pernah dirawatnya sejak berusia  tahun. Malah kepada orang itu ia telah menurunkan seluruh kepandaiannya.

Setelah mendapat kenyataan bahwa orang setengah tua itu benar-benar telah menemui ajalnya, untuk beberapa saat Sin Hong berdiri terpaku. Ia bingung tak lahu apa yang harus diperbuatnya. Ditatapnya surat pemberian orang itu, untuk sejenak hatinya ragu- ragu. Bukankah ayahnya meninggal akibat perbuatan salah seorang murid Ceng Hong Pai?

Akan tetapi, ketika ia bermaksud meninggalkan jenazah itu, timbullah ingatannya akan pertolongan orang itu. Bukankah dia telah menyelamatkan jiwanya, walaupun dengau cara tidak langsung?

―Dialam  baka,  ayahpun  tentu  akan  mentertawakan  diriku  jika aku  meninggalkan  mayat  An  Hwie  Cian  begitu  saja  ―,  katanya dalam hati.

Lalu, diputuskannya untuk menguburkan jenazah An Hwie Cian. Dengan mempergunakan golok, Sin Hong menggali tanah. Dan dilain saat maka telah selesailah acara penguburan yang sangat sederhana itu. Setelah itu, dengan mempergunakan segumpal hio Sin Hong berlutut melakukan sambahyang didepan kuburan Si Rase Bermuka Emas itu, seorang bekas ketua Ceng Hong Pai. Selesai itu barulah ia menuruni gunung menuju suatu tempat yang dimaksudkan oleh An Hwie Cian, yaitu Shoatang.

Beberapa hari berjalan, maka tibalah Sin Hong di wilayah perbatasan Shoatang, yaitu sebelah barat propinsi Tit-lee.

Shoatang adalah kota hidup yang ramai untuk perhubungan antara daerah-daerah sebelah barat dan timur. Penduduknya padat perdaganganpun sangat ramai. Disitu terutama diperdagangkan orang adalah rempah-rempah yang didatangkan dari daerah lain.

Disini Sin Hong berjalan seraya matanya mengawasi kekanan dan kekiri. Siu-ciu kota kediamannya, boleh dikata tergolong kota yang ramai akan tetapi bila dibandingkan dengan Shoatang ini, keramaiannya terpaut sangat jauh.

Ketika melewati sebuah restoran, maka masuklah Sin Hong kedalamnya untuk memilih tempat duduk. Ia memesan sepiring nasi dan empat kati mie.

Tengah asyiknya ia makan, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut diluar restoran.

Ternyata yang membuat keributan itu adalah dua orang jongos dengan seorang pemuda yang tubuhnya kurus dan berpakaian compang camping.

Pemuda itu berusia kira-kira sebaya dengan Sin Hong. Kepalanya ditutupi dengan kopiah kain yang telah pecah-pecah serta sudah kumal benar, mukanyapun hitam kotor, hingga tak dapat dilihat tegas wajahnya.

Didaerah Shoatang ini, sekalipun di musim semi, hawa sangat dingin dan pemuda itu tidak bersepatu, jadi jelaslah bahwa ia seorang yang sangat melarat. Pada tangannya, ia menggenggam sepotong ubi. Ia mengawasi kedua jongos ita sambil tertawa, hingga giginya yang bagus tampak tidak sepadan dengaa keadaan yang kotor dan compang-camping.

―Mau  apa  lagi?‖  bentak  salah  seorang  jongos  itu,  ―Mengapa tidak lekas-lekas pergi?‖

―Baiklah  pergi?  Tentu  pergi  .  .  .‖  kata  pemuda  itu  seraya membalikkan tubuhnya, bermaksud hendak berlalu.

―Hai lepas ubi itu!‖ teriak kedua jongos itu.

Pemuda berpakaian kumal itupun melepaskan ubi dari tangannya. Akan tetapi karena tangannya kotor, maka tampaklah bekas tiga jarinya pada ubi itu, hitam lagi kotor. Tentu saja kue itu tak dapat dijual lagi.

Kedua   jongos   itu   sangat   marah.   ―Seeerr   !‖   kepalannya melayang. Pemuda itu menghindar hingga kepalan jongos itu lewat diatas kepalanya.

Sementara itu, Lie Sin Hong yang pikirannya sedang kacau, sejak tadi ia menyaksikan kelakuan kedua jongos dan pemuda kotor. Melihat keadaan si pemuda yang terancam bahaya, tak sampai hati Sin Hong membiarkan saja, ia tahu bahwa pemuda yang bagus barisan giginya itu tentu sudah lapar sekali.

―Jangan ! Jangan !‖ serunya, mencegah kegalakan kedua jongos tersebut.  ―Aku  yang  akan  membayar,  biarkan  dia  makan!‖  Lalu dijemputnya ubi yang kotor ditanah itu, untuk kemudian diberikannya kepada seekor anjing, tentu saja binatang itu cepat- cepat menubruknya, kemudian memakannya dengan lahap sambil menginbas-ngibaskan ekornya.

―Sayang...sayang  sekali...‖  seorang  jongos  tadi  menggerutu.

―Ubi selezat itu, diumpankan kepada anjing...‖ Namun Sin Hong tidak memperdulikan jongos-jongos itu, bahkan dengan sikap yang ramah, diberikannya dua potong ubi yang masih hangat kepada pemuda kotor itu, barulah dia kembali kemejanya untuk meneruskan makannya. Akan tetapi pemuda kotor itu mengikutinya, hingga membuat Sin Hong jadi kikuk.

―Mari makan bersama‖ kata Sin Hong mengundang.

―Baik!‖   sahut   sipemuda   kotor   itu   sambil   tertawa.   ―Aku sendirian tidak gembira. Justeru aku sedang mencari kawan‖ pemuda  yang  berlidah  pegunungan  itu  berkata  menyerocos.  ―Heh sahabat, jongos itu menyebalkan sekali bukan?‖

Sin Hong diam saja, hanya

"Mari makan bersama" kata Sin Hong mengguman dari bicaranya ia dapat mengenali dari mana asal pemuda kumal itu. Pemuda berpakaian kotor itu tampaknya berasal dari Siu-ciu, yaitu daerah Ceng Hong Koan.

Ketika pemuda kotor itu telah mengambil tempat duduk di sampingnya maka Sin Hong meneriaki jongos untuk memesan tambahan makanan.

Kedua jongos itu agaknya belum hilang dari kemendongkolan- nya tadi, dan ia melayani dengan sikap acuh. Mungkin karena melihat kawan baru Sin Hong hanyalah seorang penjemis.

―Apakah mentang-mentang aku melarat lantas tidak patut untuk makan masakanmu?‖ tegur si pemuda kolor tersinggung.

―Yah  benar  cepat! sediakan!‖  bentak  Sin Hong  pula.  Ia  muak melihat kelakuan jonggos-jongos itu. Mereka itu mengawasi kearah pakaian Sin Hong yang serba indah, kemudian memanggut- manggutkan kepalanya, untuk selanjutnya berkata berulang-ulang:

―Baik! Baik! Baik!‖ Sambil bersantap, maka pemuda kotor itu tak henti-hentinya berbicara, tentang segala apa saja yang ada di Ceng Hong Koan. Hal itu justeru menggembirakan Sin Hong, sebab ia teringat akan pesan An Hwi Ciang dari Ceng Hong San untuk mencari seorang gadis yang bernama An Siu Lian

Dan sekarang, duduk makan bersama-sama dengan pemuda itu, yang ternyata mengaku berasal dari Ceng Hong Koan, bahkan dia pandai sekali berbicara dengan kalimat yang rapih dan suara yang enak didengar. Smpai-sampai hampir saja Sin Hong terlanjur menerangkan maksud kedatangannya ke Shoatang ini.

―Kukira  tadi  ia  hanya  bodoh  dan  rudin  saja,  tidak  tahunya terpelajar juga‖ kata Sin Hong dalam hati.

Suatu kali, karena gembira mengobrol ia cekal tangan sipemuda kurus itu dengan keras. Heran ia, ketika merasai tangan tersebut terasa lembut dan hangat, sedangkan pemuda kurus itu sendiri tersenyum lalu menundukkan kepalanya.

Selang beberapa saat, tiba-tiba pemuda kurus itu menarik tangan Sin Hong sambil berkata :

―Sudah  terlalu  lama  kita  duduk-duduk  disini.  Makanan  sudah habis, mari kita pergi !‖

―Tunggu dulu! Makanan belum dibayar !‖ kata Sin Hong.

―O, Iya aku lupa‖, membenarkan pemuda melarat itu.

Dan apabila kuasa restoran itu menghitung, ternyata makanan yang telah mereka habiskan tidak kurang dari seharga delapan puluh tahil sembilan bun.

Untuk membayarnya Sin Hong mengeluarkan sepotong emas yang kemudian ditukarnya dengan dua ratus lima puluh tahil uang perak. Selesai membayar, Sin Hong memberikan persen sepuluh tahil kepada jongos dan kuasa restoran itu, sehingga mereka menjadi sangat kegirangan. Dengan amat hormatnya mereka mengantar tamu itu keluar dari restoran. Tiba di luar, maka tampaklah salju yang telah memenuhi jalan besar.

―Aku telah terlalu banyak merepotkanmu, barulah aku permisi sekarang‖ kata sipemuda kurus seraya memberi hormat untuk minta diri.

Sejak semula memang Sin Hong memang menaruh kasihan pada pemuda yang berpakaian compang-camping itu. Sedang hawa sangatlah dingin. Maka ia membuka baju luarnya kemudian dipakaikan pada tubuh pemuda kurus itu. Lalu berkata :

―Saudara, walaupun kita baru berkenalan akan tetapi kita sudah seperti sahabat lama. Maka kuharap sukalah kau memakai baju ini‖. Seraya berkata demikian, Sin Hong menyesapkan dua potong emas kedalam saku baju luarnya itu. Sedang pemuda itu tanpa mengucap suatu apa, lantas mengeloyor pergi.

Baru berjalan beberapa langkah, pemuda kurus itu menoleh kebelakang. Demi dilihatnya Sin Hong yang masih berdiri bengong memandangi, maka pemuda itu menggapaikan tangannya.

Sin  Hong  menghampiri,  seraya  katanya  :  ―Saudaraku,  apakah masih ada kekurangan sesuatu?‖

Pemuda   itu   tersenyum.   ―Kita   sudah   ngobrol   dan   makan bersama seperti sahabat lama. Tetapi kita belum berkenalan, itulah aneh. Siapakah she dan nama kakak yang mulia?‖

―O, iya! Benar, benar! Kita belum berkenalan‖, sahut Sin Hong.

―Ya  aku  lupa.  Aku  she  Lie,  namaku  Sin  Hong.  Kau  sendiri, hian-tee?‖ Tampaknya anak muda itu terkejut mendengar orang mengaku she Lie. Akan tetapi hal itu hanya sesaat, selanjutnya anak muda itu menjawab sambil tersenyum :

―Namaku Lian she Siu…  ‖

―Sekarang Saudaraku hendak kemana?‖ tanya Sin Hong pula.

―Apakah An hian-tee hendak kembali ke Ceng hong?‖

Anak muda yang mengaku bernama Siu Lian An itu menggelengkan kepala. ―Aku tidak niat untuk pulang ke Ceng Hong dahulu,‖  sahutnya  ―Eh,  toako,  aku  merasa  lapar  lagi.‖  begitulah anak muda itu sengaja memalingkan pembicaraan agaknya ia tidak senang menyebut-nyebut nama Ceng hong koan.

―Baiklah.  Mari  aku  temani  kau...‖  kata  Sin  Hong,  yang  tidak merasa aneh ataupun kesal. Entah mengapa, hatinya merasa sangat lekat kepada pemuda yang rudin tetapi periang itu.

Kali ini arak muda itulah yang mengajak Sio Hong memasuki sebuah restoran Tai-liong lauw. Hanya kali ini, tampaknya anak muda itu makan lebih lahap pula.

Sambil bersantap, tak henti-hentinya mereka bercakap-cakap kian kemari mengenai hal apa saja. Ketika mendengar penuturan Sin Hong tentang kematian Lie Kie Pok, maka anak muda yang bernama Lian An itu menundukan kepalanya, entah apa yang dipikirkan akan tetapi tampaknya ia berubah cemas.

―Ehh,  hiantee,  rumahmu  dimana?‖  tanya  Sin  Hong.  Ia  tidak melihat perubahan muka orang yang diajaknya bicara itu ―Mengapa kau tidak pulang saja? Disini hawanya sangat kurang sehat‖

―Ah  tidak.  Aku  tidak  mau  pulang.  Disana  ada  bajingan  yang selalu menggoda aku!‖ sahut Lian An seraya wajahnya memerah seperti orang kemalu-maluan. ―Bajingan  apa?‖  Sin  Hong   keheranan.   ―Apakah  kau  tidak sanggup melawan dia? Jangan takut, mari kuantar kau biar kuajar adat bajingan itu !‖

Mendengar kata-kata Sin Hong anak muda itu tersenyum, senyum yang mengandung ejekan. Hanya untung, Sin Hong tidak memperhatikan hal itu.

―An   hiantee.   Apakah   ibumu   dirumah   tidak    mengharap- harapkan kau?‖ tanya Sin Hong pula.

―Aku  tidak  punya   ibu.   Beliau   meninggal  dunia  sejak  aku berusia enam tahun ‖ jawab anak muda itu dengan kepala tunduk.

Ketika mendengar bahwa kawan bicaranya itupun sudah tidak mempunyai ibu, maka Sin Hong jadi teringat kepada ibunya sendiri yang mengalami kematian dengan cara yang sangat mengenaskan. Tanpa sadar ia menghela napas berkali-kali, untuk kemudian meminta maaf kepada anak muda itu.

―Ayahmu?‖   tanya   Sin   Hong   pula,   setelah   beberapa   lama mereka terdiam.

―Yah  justeru  itu.  Karena  ayah  pergi,  maka  aku  jadi tak  tahan akan gangguan-gangguan bajingan itu. Seminggu setelah ayah pergi, aku menyusul untuk mencarinya. Akan tetapi aku tersesat, hingga berbulan-bulan aku tidak dapat mencarinya sampai akhirnya aku tiba ditempat ini‖.

Sedang kedua anak muda itu asyik tercakap-cakap di tangga loteng terdengar suara dekat-dekat kaki lalu tampaklah seorang lelaki tua.

Laki-laki tua itu berusia kurang lebih enam puluh tahun. Pakaiannya sangat mentereng, indah sekali, sehingga tidak sesuai dengan kerut-merut pada mukanya. Ia memakai topi yang bentuknya aneh seperti topi seorang tukang tenung. Bajunya bersulam beruang benang emas yang indah. Juga mengenakan kaca mata putih, yang justeru biji matanya yang berkilat-kilat tajam tertampak dari luar, mengurut-urut jenggotnya yang lemas terurai, laki-laki tua itu memandangi tajam kearah Sin Hong dan Lian An yang sedang asyik bercakap-cakap.

Beberapa saat ia meneliti kedua pemuda itu, maka ia menghampiri untuk kemudian mengambil tempat duduk diantara kedua pemuda itu, sambil tersenyum-senyum ganjil.

―Lopeh,  kalau  hendak  makan,  makanlah  sepuasnya.  Mengapa mengawasi orang saja?‖ tegur Sin Hong dengan sikap hormat,

―Aku……tidak‖   sahut   orang   tua   itu.   ―Aku   hanya   sedang tertarik pada kalian, sebab kulihat pada air mukamu sebagai muka orang yang dirundung malang. Anak muda, cobalah berterus terang apakah agaknya yang membuatmu susah?‖

Sin Hong terkejut mendengar kata-kata itu. Ia jadi kagum. Sedang ia bermaksud hendak berkata, orang tua itu telah mendahului sambil bertepuk tangan.

―Tidak salah. Sinar matamu menunjukkan bahwa kau baru saja ditinggal seseorang‖.

Bertambah-tambah rasa kagum Sin Hong kepada orang tua itu, hingga tak terkendalikan pula ia segera berkata : ―Lopeh ramalanmu memang benar. Aku memang baru saja ditinggal oleh seseorang

…..‖

―Apa kataku, haaaa , ,? Tidak percuma aku dijuluki Koa , , Koa

., eh, anak muda, kalau tak salah yang kau tangisi bukanlah itu orang tuamu . .?‖ Orag tua itu tampak girang benar mendapat pujian tentang ramalannya yang tepat. Tentang ramalan bahwa Sin Hong menangisi orang tuanya itu hanyalah ramalan hitung-hitungan belaka, sekedar untuk menghibur anak muda itu. Akan tetapi orang tua itu menjadi kaget ketika mendengar jawaban Sin Hong.

―Benar lopeh. Yang baru kutangisi bukanlah orang tuaku, tetapi adalah orang itu yang kuanggap telah berjasa terhadap diriku…..‖

―Hah?  Bukan orang  tuamu? Habis apakah paman  atau kakakmu?‖ Tanya orang tua itu pula.

―Paman bukan, kakakpun bukan. Juga bukan saudaraku Sedang ayahku…… ayahku.‖ Sampai disini Sin Hong menghentikan kata- katanya. Ia tak berani menceritakan kematian ayahnya kepada orang yang baru saja beberapa saat dikenalnya.

―Dan  dalam  beberapa  jam  saja,  orang  itu  terus  mati‖,  kata orang tua itu.

―Siapakah dia itu?‖

―Dia  hebat  sekali  bagiku  Walaupun  dia  adalah  paman  dari orang yang telah membunuh ayahku, akan tetapi budinya takkan kulupakan sampai diakhir hidupku. Dan untuk dia itulah maka untuk membalas budinya aku berjanji untuk menemukan puterinya. Ai siocia…….‖

Baru Sin Hong berkata demikian, maka pemuda kurus yang mengaku bernama Siu Lian An yang kebetulan sedang menyuap nasi, seketika ia tersenggruk. Nasi berhamburan dari mulutnya ke meja dan ke bajunya, bahkan sebagian ada yang muncrat kemuka dan baju bersulam orang tua tukang koamia itu. Hingga kotorlah baju yang indah itu oleh serpih-serpihan nasi.

Mula-mula orang tua itu agaknya akan marah. Akan tetapi mendadak ia terkejut melihat sipemuda berpakaian compang- camping itu tampak gemetar dan wajahnya pucat bagai kertas. Sementara itu, Sin Hong melihat temannya itu terhuyung ditempat duduknya akan pingsan, maka cepat-cepat ia mengulurkan tangan hendak mengurut dada sipemuda kurus itu. Akan tetapi si anak muda telah mengebaskan tangan mencegat. Sementara itu siorang tua tukang koamia itu tertawa tergelak Sambil berkata keras: ―Sudah kuduga…….sudah kuduga…….‖

―Lopeh!‖  tanpa  terasa  Sin  Hong  telah  membentak,  mengira bahwa orang tua itu tidak mengenal aturan sopan santun.

Orang tua itu tidak marah bahkan terus tertawa sambil berkata:

―Anak  muda,  kau  telah  dipermainkan,  tapi  kau  tak  tahu?‖ Berkata sampai disini, tukang koamia itu menunjuk kearah sipemuda  kurus  sambil  melanjutkan  bicira.  ―Dia  bukan  seorang pemuda, melainkan seorang pemudi‖ Pada akhir kalimatnya situa tertawa semakin keras, terkekeh-kekeh membuat Sin Hong untuk beberapa saat terbungkam mengawasi temannya.

Sementara itu ―sipemuda kurus‖ yang merasa rahasianya telah dibongkar orang, menjadi kemalu-maluan dan menundukkan kepalanya-   ―Benar   toako.   Tidak   salah  dugaan   orang   tua   itu!‖ katanya seraya membuka kopiah bututnya sehingga rambutnya yang panjang hitam mengkilap tergerai sebawah, membuat Sin Hong beberapa saat terpesona tak bisa berkata barang sepatah.

Sementara itu, orang tua tukang koamia itu masih juga tertawa tak habis-habisnya. Barulah selang beberapa saat, setelah itu puas tertawa, ia berkata sambil mencekal pundak Sin Hong.

―Anak    muda,    tadi   kau    belum    menjawah    pertanyaanku.

Siapakah sebenarnya orang yang telah kau tangisi itu?‖

Sin Hong terkejut. Dibawah cekalan orang itu ternyata ia tidak dapat berbuat suatu apa. Orang tua yang mengaku sebagai tukang koamia itu bertubuh kurus, akan tetapi cekalannya pada pundak Sin Hong terasa sangat kuat sebagai tang baja, makin lama Sin Hong merasa makin nyeri kesakitan, Akhirnya ia menjawab juga :

―Dia  yang  sangat  kuhormati,  bernama  Hwie  Cian,  penghuni Ceng Hong……‖

Belum selesai Sin Hong berkata, mendadak ia telah dikejutkan oleh suara  ―bruuuk‖ dan berkesiurnya angin keras, Kiranya kawan baru itu telah jatuh pingsan, sementara lelaki tua yang mengaku sebagai tukang koamia itu telah berkelebat pergi entah kemana.

Menyadari kawan yang jatuh pingsan itu adalah seorang pemudi, maka Sin Hong, jadi gugup. Tanpa pedulikan kemana perginya si tukang tenung, maka Sin Hong cepat-cepat mengambil topi kain yang menggeletak dilantai. Setelah itu dicelupkannya kedalam tee- ow, untuk kemudian dipergunakan untuk mengusapi dahi si‖pemudi‖ yang berbedak arang.

Apabila telah beberapa kali mengusap maka Sin Hong mendapat kenyataan bahwa wajah yang semula kotor kini telah berubah menjadi sebentuk wajah yang putih mulus, dan sangat cantik yang membuat pemuda ini terpesona, diam dengan mata tak berkedip.

Teringatlah olehnya, betapa ketika tadi ia mencekal lengan temannya, terasa lengan itu lembut dan hangat. Serta ini ia menjadi malu dengan sendirinya ketika secara tak sengaja ia tadi meraba dada temannya itu.

Tengah Sin Hong terhanyut oleh lamunannya terdengarlah sipemudi berkata dengan suaranya yang halus, agaknya ia telah tersadar :

―Toako,  benarkah  An  Hwie  Cian  telah  meninggal  dunia?‖

―Hian…..‘‘   semula   Sin   Hong   hendak   memanggilnya   dengan sebutan hiante, akan tetapi ia segera teringat bahwa temannya itu adalah seorang wanita, maka ia segera merubah sebutann ya.

―A……. adik, memang benar, beberapa hari yang lalu aku telah menangisi An Hwie Cian yang telah terbinasa, dan aku pula yang menguburnya‖.  Sin  Hong  menjelaskan,  ―Ada  hubungan  apakah denganmu?‖ Mengapa engkau lantas jatuh pingsan?‖ Rupanya Sin Hong masih belum menyadari siapa adanya gadis yang berdandanan sebagai pemuda itu.

―Toako, baru saja kau mengatakan bahwa kau hendak mencari puteri An Hwie Cian untuk menyampaikan surat, benarkah?‖ tanya gadis itu dengan suaranya yang tersedu-sedan.

―Benar !‖ Sin Hong keheranan melihat si pemudi menangis.

―Toako…..     akulah     puterinya…..‖     karena     tak     dapat mengendalikan perasaannya lagi, maka pemudi yang mengaku sebagai puteri An Hwie Cian itu lantas menangis sejadi-jadinya, membuat sekalian orang yang berada didalam rumah makan itu mengawasi dengan heran.

Sedangkan Sin Hong, untuk sesaat tak dapat berkata suatu apa. Hatinya ragu-ragu, antara percaya dan tidak. Barulah sesaat kemudian  pemuda  itu  bertanya  :  ―Benarkah  kau  puteri  An  Hwie Cian?‖

―Toako untuk apakah aku membobongimu? Ada untung apakah itu mengakui ayah seseorang yang telah meninggal dunia?‖ Pertanyaan yang merupakan jawaban ini membuat Sin Hong jadi gugup.

―Bukan…..   bukan   begitu   maksudku   ...   jangan   kau   salah paham...‖ kata pemuda itu terputus-putus.

―Mari  suratku!  Mana  surat  itu,  mari!‖  pemudi  itu  mendesak sambil masih juga menangis. Sin Hong menyesal telah mengeluarkan pertanyaan yang mengandung kesangsian itu. Lalu tanpa ragu-ragu lagi, ia lantas memberikan surat pemberian An Hwie Cian kepada pemudi itu, katanya : ―Maafkan aku……. aku tidak bermaksud……‖

Namun si pemuda yang mengaku sebagai puteri An Hwie Cian itu selelah menerima surat itu, tanpa mempedulikan lagi lantas berlari keluar restoran. Sin Hong termangu memandangi punggung si pemudi tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Beberapa saat kemudian barulah dia tersadar ketika seorang jongos menegur untuk mengadakan perhitungan harga makanan, cepat-cepat Sin Hong membayarnya. Disaat itu Sin Hong baru ingat akan si tua tukang koamia yang tadi menghilang entah kemana ia mencoba untuk mengenali kembali lelaki tua yang berkaca mata putih itu, namun ia tidak mengenalinya dengan pasti.

Sementara itu, ketika ia hendak keluar restoran, dilihatnya seseorang yang sedang menaiki tangga loteng. Melihat siapa yang datang, hatinya menjadi girang, karena dia tidak lain adalah si pemudi. Dengan tertawa, Sin Hong menghampiri, seraya bertanya :

―Ada sesuatu yang ketinggalan?‖

Tanpa menjawab, pemudi itu lantas mengangsurkan surat ditangannya kepada Sin Hong. ―Bacalah !‖

Sementara Sin Hong menerima surat itu kembali, maka si pemudi berjalan menuju tempat duduknya. Sin Hong mengikuti dari belakang.

―Apakah   artinya   ini,   An-jie?‖   Tanya   Sin   Hong,   sambil membaca isi surat itu.

Isi surat itu membuat Sin Hong berpikir keras, tak dapat ia segera memutuskan pendapatnya, karena dalam surat itu tertulis agar Sin Hong bersama Siu Lian pergi menaiki gunung Thian-san bersama-sama untuk mencari guru An Hwie Cian yaitu Mie Ing Tianglo. Dalam keterangan yang lain terdapat pula kata-kata yang meyakinkan bahwa sipemudi ini adalah puteri Si Rase Bermuka Emas, yang ternama An Siu Lian, sehingga diam-diam Sin Hong merasa malu sendirinya, mengingat bahwa dirinya telah kena diingusi oleh si pemudi sejak tadi-tadi, tanpa disadarinya sama sekali.

―Baiklah   !‖   kata   Sin   Hong   pada   akhirnya,   ―Sebab   yang membunuh ayahku adalah Ong Kauw Lian, bukannya Ceng Hong Pai!‖  Lagi  pula  hatinya  berkata  lain  :  ―Bukankah  kesempatan  ini dapat pula berguna untuk memperdalam ilmuku?‖

―Lian-jie!Marilah kita pergi bersamal‖ ajak Sin Hong kemudian sambil menjabat tangan gadis itu.

Akan tetapi, belum mereka melangkah setindak dari tempatnya, tiba-tiba ditangga loteng terdengar derap kaki orang, kemudian muncullah empat orang, tiga laki-laki dan seorang perempuan.

Dua diantara ketiga laki-laki itu berusia masih muda, mungkin kira-kira delapan atau sembilan belas tahun. Keduanya berwajah cakap sekali. Sedang satunya lagi, agaknya suami wanita itu, berusia sekitar empat puluh tahun.

Lagak mereka ini, semuanya congkak sekali. Bergantian dipandanginya Sin Hong dan Siu Lian dengan tatapan mata memandang rendah. Melihat Siu Lian yang berwajah cantik akan tetapi berpakaian penuh tambalan, maka seorang diantara lelaki itu yang berhidung mancung mengerutkan kening sambil menunjuk sesuatu tempat duduk yang berhadapan dengan meja Sin Hong dan Siu Lian.

Oleh karena itu, maka dua orang jongos lantas bergegas merapikan tempat duduk yang ditunjuk oleh mereka, sekaligus juga menanyakan makanan apa yang mereka pesan. Sin Hong mengawasi sejenak, akan tetapi sesudah itu ia tak peduli lagi. Ketika ia memindahkan perhatiannya pada Siu Lan, kebetulan sekali puteri An Hwie Cian itu sendiri memandang kearahnya. Akhirnya kedua pandangan mata mereka bertemu, untuk beberapa saat, untuk kemudian kedua muda mudi itu menandukkan kepala masing-masing dengan jantung berdebar.

Untuk beberapa saat kedua muda mudi ini lupa akan tugas mereka untuk bersama-sama mendaki gunung Thai-san. Ketika seorang jongos datang untuk menanyakan makanan apa yang dipesan, barulah kedua muda mudi itu bangkit dari duduknya untuk berlalu.

Lekas-lekas keduanya meninggalkan tempat duduknya masing- masing. Sin Hong berjalan didepan Siu Lian dibelakang. Keduanya ini harus melewati keempat tetamu yang baru datang itu, justeru itulah Sin Hong sangat mendongkol sekali melihat sikap mereka yang selalu mengawasi Siu Lian dengan penuh selidik seperti orang bercuriga tetapi juga mencemooh.

Perasaan mendongkol itulah yang membuat Sin Hong ingin buru-buru meninggalkan restoran itu secepatnya. Hingga ia tidak menyadari bahwa ada orang yang melintangkan kakinya memotong langkah.

Karena itu maka tak ampun lagi kakinya keserimpet, tubuhnya terhuyung kedepan. Justeru keempat orang tamu baru itu duduk pada mulut loteng, maka tubuh Sm Hong yang terjerunuk kedepan, tak terkendalikan lagi lantas melayang jatuh kebawah, serta dapat dipastikan kepalanya akan hancur berantakan apabila membentur lantai restoran bagian bawah.

Namun Sin Hong adalah putera tunggal Song-to Lie Kie Pok. Sejak usia delapan tahun, ia telah digembeleng dengan ilmu silat tingkat tinggi, hingga dalam hal ginkangnyapun ia sudah tergolong mencapai tingkat tinggi pula.

Demikianlah disaat tubuhnya hampir membentur tangga pertengahan loteng, maka cepat bagaikan kilat ia mengulur tangannya dan dengan mempergunakan jurus It Ho Ciang Thian atau burung Ho menerjang langit, ia menjejak, tubuhnya lantas mengapung tinggi beberapa tombak ke udara, untuk kemudian menukik dengan kepala dibawah kaki diatas, hingga selanjutnya mendarat dengan selamat dilantai dengan tidak kurang suatu apa.

Kejadian ini berlangsung dengan sangat cepatnya, hingga hanya orang-orang yang berilmu tinggi saja yang dapat melihat kemahiran si pemuda dalam hal ginkang. Sedangkan orang-orang yang lain hanya kagum belaka, manggut-manggut ataupun memuji.

Begitu kakinya mendarat di lantai, seketika Sin Hong telah berada dimulut loteng kembali. Justeru pada saat itulah Siu Lian sedang dipermainkan oleh kedua anak muda sementara lelaki perempuan setengah tua itu hanya memandangi sambil tertawa-tawa belaka.

Cepat sekali Sin Hong bergerak. Tubuhnya melesat kearah kedua anak muda yang sedang mempermainkan Siu Lian. Kedua tangannya menyambar dengan cepat kearah kedua arak muda yang kurang ajar itu.

Mereka terkejut melihat datangnya serangan kilat itu. Lebih- lebih setelah mereka melihat bahwa yang telah menyerang itu adalah pemuda yang tadi kakinya diserempet oleh mereka.

Cepat-cepat kedua anak muda itu melepaskan Siu Lian, lalu membungkukkan tubuh menghindari serangan. Setelah itu secara serempak mereka menyerang kearah Sin Hong dengan pukulan- pukulannya. Namun diluar dugaan mereka, pemuda yang mereka pandang ringan itu ternyata gerakannya sangat gesit sekali. Kedua anak muda itu boleh gesit, akan tetapi Sin Hong sepuluh kali lebih gesit dari mereka. Serangan mereka dapat diegosi oleh Sin Hong dengan mudah sementara pemuda putera Song-to Lie Kie Pok ini telah melontarkan dua buah pukulannya kearah dua dada lawannya.

Kedua anak muda itu terkejut, tak mungkin mereka dapat menghindari ataupun menangkis serangan susulan Sin Hong, maka dalam gugupnya mereka menjejakkan kakinya ke lantai dan tubuhnya melayang mundur dengan cepat. Gerakan itu mengejutkan Siu Lian. Untuk sejenak ia tercengang karena gerakan menghindar semacam itu adalah gerak tipu Ceng Hong Pai.

Dilain pihak, Sin Hong agaknya tidak kehabisan akal. Berbicara tentang giakang, agaknya kedua anak muda itu bukan lawan pemuda Siu-ciu ini.

―Bagus   !‖   Sin   Hong   berseru,   sambil  pada   detik   itu   pula tubuhnya telah melayang maju merangsek dengan tidak memberi kesempatan kepada kedua lawannya untuk turun mendarat di lantai, kedua kepalannya menghajar kearah muka kedua lawannya itu. 

Sedang tubuh belum sempat menginjak lantai, maka tak mungkin lagi kedua anak muda itu menghindari serangan. Tak ampun lagi, kedua muka mereka terhajar dengan jitu oleh kepalan Sin Hong dengan keras, hingga keduanya lantas terbanting roboh sambil menjerit kesakitan. Sin Hong belum sempat bergerak lebih lanjut, ketika merasakan adanya kesiur angin tajam yang menyerang punggungnya.

Putera Song-to Lie Kie Pok yang telah mewarisi lima belas jurus Cap Peh Lo Hoan To yang mashur itu, tidak menjadi gugup. Ia bukan hanya melompat keatas menghindari, akan tetapi dengan menggunakan jurus keenam dalan Cap Peh Lo Hoan To, yaitu tonggeret menggelindingkan badan maka tubuhnya berjumpalitan kedepan dengan gerakan yang indah sekali, dan serangan membokong itu telah mengenai tempat kosong.

Terkejut bukan main sipenyerang gelap itu yang ternyata adalah siwanita setengah umur, melihat Sin Hong melakukan gerakan yang berasal dari gerak silat Siauw Lim itu. Tampak wajah wanita itu tentu datang mengeroyok, dengan cepat telah mendahuluinya, melontarkan tendangan kearah pundak lawan,

Untuk kegesitah Sin Hong kali ini, terpaksa si wanita melompat gugup ke kanan, barulah ia dapat menyelamatkan diri dari serangan. Hal ini membuat kedua anak muda bekas pecundang Sin Hong menjadi kagum berbareng juga menyesal yang tadi mereka memandang ringan pada pemuda lawan mereka itu.

Ternyata pertarungan antara perempuan setengah tua itu dengan Sin Hong ternyata berjalan seimbang. Sin Hong lebih lincah dari lawannya karena usianya yang masih muda. Melihat jejaknya gagal, maka dengan garakan Im-yang-kun tangan kanannya bergerak mengancam dada lawan.

Siwanita tak mau kalah cepat, segera mengegos sambil melanjutkan gerakan tangannya menerjang. Pertempuran ini berjalan semakin cepat dan seru. Hingga akhirnya terdengar suara baju yang memberebet sobek diiringi pekikan terkejut siwanita.

Setelah mengalami kejadian ini, maka siwanita merubah gerakannya. Kini ditangannya telah tergenggam sebatang pedang. Lalu dengan wajah merah padam, wanita itu membabatkan pedangnya dengan gencar.

****