Harimau Kemala Putih Jilid 30

Jilid 30  

Kembali Tong Koat tertawa.

“Siapa bilang aku menguatirkan keselamatan jiwamu ? BUkan aku saja yang tidak merasa kuatir, bahkan boleh di bilang sedikitpun tidak kuatir , kau tidak percaya ?”

Sudah barang tentu dia tidak akan merasa kuatir, diapun tak usah merasa kuatir, sebab bagaimanapun juga toh bukan dia yang bakal mampus, bukan dia yang menjadi umpan senjata rahasia beracun. Kenapa pula dia musti kuatir ? Di empat penjuru ruang loteng warung teh itu terdapat daun, jendela-jendela itu semuanya berada dalam keadaan terbuka lebar

Pada saat itulah, tiba-tiba tampak sekelompok burung merpati terbang lewat diluar jendela terbang diangkasa raya yang cerah dan berwarna biru.

Itulah sekelompok burung merpati berwarna hitam.

*****

(DIDALAM KEBUN BUNGA)

SETIAP orang mendongakkan kepalanya dan memandang kelompok burung merpati itu sekejap, kemudian sorot mata tiap orang, dialihkan ke wajah Bu-ki dan menatapnya tajam- tajam.

Burung merpati berwarna hitam ini merupakan sekelompok burung merpati yang dilatih secara khusus oleh paman Jit siok ku, kecepatan terbangnya satu kali lipat lebih cepat dari burung merpati biasa dan tiga kali lipat lebih jauh jarak yang bisa ditempuh, bila sedang terbang di tengah kegelapan, tidak mudah ditemukan orang lain.”

Dengan tenang Bu-ki mendengarkan keterangan tersebut, dia berharap Tong Koat mau banyak bicara, sebab mendengarkan pembicaraan orang lainpun bisa digunakan untuk mengendorkan ketegangan syaraf yang sedang mencekam.

Ia tak bisa tidak untuk mengakui kalau dirinya merasa sangat tegang, hingga sekarang, dia masuh belum berhasil menemukan cara yang terbaik untuk menanggulangi keadaan tersebut.

Kembali Tong Koat berkata :

Walaupun kelompok burung merpati ini di latih oleh paman Jit Siok ku khusus untuk mengirim berita rahasia, tapi menurut pengakuannya, burung merpati yang dipeliharanya itu diakui sebagai jenis burung merpati paling top yang ada di dunia ini!”

Kemudian sambil memicingkan matanya dan tertawa, dia melanjutkan :

“Tapi aku dapat menjamin bahwa burung merpati semacam ini sedikitpun tak enak untuk dimakan.”

“Kau pernah mencicipinya ?”

“Pokoknya asal bisa di makan, aku pasti akan berusaha dengan segala kemampuan untuk menangkap beberapa ekor serta mencicipinya, kalau tidak, mungkin selamanya aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.” “Konon dongeng manusia juga bisa dimakan, kau pernah makan daging manusia ?”

Sebenarnya dia tidak ingin tahu apakah Tong Koat pernah makan daging manusia atau tidak, dia tak lebih hanya memancing Tong Koat untuk berbicara.

Entah siapapun bila sedang berbicara, tak urung perhatiannya akan menjadi buyar, apalagi apa yang mereka bicarakan sekarang justru merupakan bahan pembicaraan yang paling menarik perhatian Tong Koat.

Andaikata dia menerjang keluar sekarang bukannya sama sekali tiada harapan lagi, cuma kesempatannya untuk berhasil tidaklah terlampau besar.......

Sebaliknya bila dia mencari kesempatan untuk menguasai Tong Koat lalu menggunakan Tong Kuat sebagai sandera, maka kesempatannya akan berubah menjadi lebih banyak.

Sayang ia benar-benar sudah tidak memiliki keyakinan lagi untuk berhasil.

Orang yang bertampang lebih goblok dari seekor babi ini bukan saja mempunyai reaksi yang amat tajam, ilmu silat yang dimilikinyapun sukar diukur.

Sementara itu Tong Koat sedang menerangkan hal yang menyangkut tentang daging manusia, dia berkata begini :

“Konon ada tiga macam daging manusia yang tak boleh dimakan, orang yang sedang sakit tak boleh dimakan, orang yang terlalu tua tidak boleh dimajan, orang yang lagi marah juda tak boleh dimakan!”

“Kenapa orang yang lagi marah tak boleh dimakan ?” tanya Bu-ki.

“Sebab bila orang lagi marah, daginggnya akan berubah menjadi kecut !”

Waktu itu Bu-ki telah bersiap-siap untuk turun tangan.

Walaupun ia tidak yakin ia tetap akan turun tangan karena dia sudah tidak memiliki pilihan kedua.

Siapa tahu secara tiba-tiba Tong Koat bangkit berdiri, kemudian katanya :

“Persoalan ini lebih baik, kita perbincangkan di kemudian hari saja, sekarang mari kita berangkat!”

Perasaan Bu-ki segera merasa tenggelam. Setelah satu-satunya kesempatan yang terakhirpun dilewatkan, terpaksa ia bertanya : “Kita akan kemana ?”

“Akan kuajak kau untuk memjumpai seseorang.” “Pergi menjumpai siapa ?”

“Nenek moyang!”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya :

“Dia orang tua telah berpesan, bila burung merpati sudah pulang, aku harus mengajakmu untuk pergi menjumpainya.”

Bu-ki segera bangkit berdiri, orang yang ingin dia jumpai sekarang adalah nenek moyang. Tiba-tiba ia teringat bahwa sebenarnya inilah kesempatan yang paling baik.

Apabila ia berhasil menguasai nenek moyang dan menjadi hanya sebagai sandera, bukan saja orang-orang dari benteng keluarga Tong akan menghantarnya dengan hormat keluar dari sini, siapa tahu dia masih bisa mempergunakannya untuk menukar selembar jiwa lain. 

Jiwa Sangkoan Jin.

Untuk menghadapi seorang nenek yang berusia tujuh delapan puluh tahunan, paling tidak akan jauh lebih mudah daripada menghadapi Tong Koat.

Sambil tersenyum Bu-ki lantas berkata :

“Apakah aku masih harus menutupi mataku ?” “Tidak perlu.”

Kemudian sambil memicingkan matanya yang tajam dan penuh senyuman itu, dia melanjutkan :

“Bila apa yang kau ucapkan tidak bohong, maka kau akan segera menjadi orang kami, selanjutnya kaupun boleh keluar masuk dalam kebun bunga dengan bebas.”

“Kalau apa yang kuucapkan bukan kata-kata yang sebenarnya ?” “Maka kali ini adalah hari terakhir bagimu untuk masuk kesana, sebab tidak mungkin kau bisa keliar lafi dalam keadaan hidup, buat apa aku musti menutupi matamu?”

“Yaa, memang tidak perlu.”

*****

SETELAH menyaksikan keadaan bangunan serta kehebatan dari benteng keluarga Tong, setiap orang pasti akan menduga bahwa ‘kebun bunga’ mereka pasti menempati area tanah yang luas sekali dengan penjagaan yang ketat.

Menanti kau benar-benar telah masuk ke dalam, baru akan kau jumpai bahwa jalan pemikiranmu itu tidak terlampau tepat.

Memang benar ‘kebun bunga’ menempati area tanah yang amat luas, bahkan jauh lebih luas dari pada apa yang orang pikirkan, akan tetapi disana tidak ditemukan penjagaan yang ketat.

Setelah menyeberangi sebuah jempatan keicl yang beralaskan kayu berwarna hijau, serta menembusi sebuah hutan dengan aneka bunga berwarna merah, maka akan kau jumpai bangunan rumah yang megah diatas sebuah bukit.

Sepintas lalu bangunan itu tampaknya seperti sama antara yang satu dengan lainnya, modelnya tidak ada sesuatu yang istimewa, tentu saja tiada pula nama jalan atau nomor rumah.

Oleh karena itu, sekalipun kau tahu orang yang sedang kau cari tinggal disitu, toh kenyataannya tetap sulit untuk menemukannya.

Di kedua belah sisi jalan kecil yang beralaskan batu hijau, merupakan bangunan dinding rumah berwarna kelabu. sepintas lalu tiada sesuatu perbedaan yang nampak.

Setiap jalan memiliki ciri yang sama.

Tong Koat membawa Bu-ki berputar kesana berputar kemari, berbelok kekiri berbelok ke kanan, akhirnya berhenti di depan sebuah pintu gerbang besar yang lebar dan berwarna hitam pekat.

Disinilah nenek moyang kami tinggal,” dia berkata, “sudah pasti nenek moyang sudah lama menunggu kedatangan kita.”

Dibelakang pintu gerbang adalah sebuah halaman besar, besar sekali, sesudah menembusi halaman terbentang sebuah ruang tamu yang besar, besar sekali. Di dalam ruangan itu terdapat meja kursi yang besar dan lebar, diatas dinding tergantung sebuah lukisan yang besar.

Setiap benda yang berada dalam benteng keluarga Tong tampaknya jauh lebh besar daripada benda di tempat lain, bahkan tidak terkecuali pula cawan teh dan mangkuk.

“Silakan!” ujar Tong Koat.

Menanti Bu-ki sudah duduk, diapun lenyap tak berbekas.

Sebenarnya Bu-ki mengira dia pasti akan masuk untuk memberi laporan, kemudian dengan cepatnya akan keluar lagi, siapa tahu ternyata ia tak memunculkan dirinya juga.

Suasana amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, tak nampak pula bayangan manusia.

Seorang diri BU-ki duduk di tengah ruangan yang luas, lebar dan tiada manusia lain itu, bahkan beberapa kali dia sudah tidak tahan dan siap menerjang keluar.

Dalam saat, keadaan dan suasana semacam ini, dia lebih baik tak berani bergerak secara sembarangan.

WAlaupun dia tidak melihat ada orang itu disitu , namum setelah si nenek moyang berada disitu, sudah pasti di tempat itu mustahil tanpa penjagaan yang ketat.

Penjagaan yang tidak terlihat kadangkala jauh lebih menakutkan daripada penjagaan yang terlihat.

Dia cukup memahami teori seperti itu.

Ia juga lebih dapat ‘bersabar’ daripada kebanyakan orang lainnya.

Secawan air teh yang diantar seorang bocah lelaki tadi sebetulnya masih panas tapi sekarang telah menjaid dingin.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya dari dalam ruangan berkumandang serentetan suara yang lemah lembut, tapi penuh berwibawa.

“Silakan minum air teh.”

Bu-ki dapat mengenali suara itu sebagai suaranya nenek moyang, ketika melakukan pemeriksaan terhadap dirinya tempo hari, ia sudah pernah mendengar suaranya.

Kali ini dia juga masih hanya mendengar suaranya, sedangkan orangnya entah berada dimana. Sekali lagi Bu-ki merasakan hatinya tenggelam ke bawah.

Jika orangnya saja tidak kelihatan, bagaimana mungkin dia bisa menaklukan dirinya. Diangkatnya cawan air teh itu dan diminumnya setegukan.

Air teh yang benar-benar getir.

Suara si nenek moyang itu kembali berkata lagi.

“Keluarga Tong termasyur karena senjata rahasia beracunya, kau tidak kuatir kalau dalam air teh itu ada racunnya ?”

Bu-ki segera tertawa.

“Jika kau orang tua tidak menginginkanku hidup terus, setiap saat aku bisa dijatuhi hukuman mati, mengapa pula kau musti mencampuri air teh dengan racun?”

Si nenek moyang tertawa, paling tidak kedengarannya seperti lagi tertawa.

“Kau benar-benar pandai menahan diri,” katanya “tak kusangka dengan usiamu yang begitumuda, ternyata memiliki kemampuan untuk menahan diri yang sangat hebat!”

Bu-ki masih tetap tersenyum.

Bahkan dia sendiripun diam-diam mengagumi diri sendiri, berada dalam keadaan seperti ini, ternyata ia masih sanggup duduk tenang disitu sambil minum teh.

Kembali si nenek moyang berkata.

“Kau adalah seorang bocah yang baik, kami keluarga Tong sangat membutuhkan manusia semacam kau, asal kau mau berdiam disini secara baik-baik, aku tak akan merugikan dirimu.”

Ternyata ia sama sekali tidak menyinggung tentang kabar yang di bawa pulang oleh burung merpati.

Apakah hal ini pun merupakan suatu perangkap ?

Dia berbuat demikian apakah disebabkan mempunyai tujuan yang lain ? Tujuan apakah itu ?

Tapi kalau didenger dari nada pembicaraannya, bukan saja amat lembut, dan lagi sedikitpun tidak terdengar maksud jahat. Walaupun Bu-ki bukan seorang yang bodoh, diapun bukan seorang yang lamban bereaksi, namum sekarang dia dibikin tertegun sampai berdiri termangu-mangu.

Ia benar-benar tidka habis mengerti apa maksud dan tujuannya, diapun tak tahu si nenek moyang hendak membicarakan soal apa lagi?

Tak disangka si nenek moyang ternyata tidak berbicara apa-apa lagi.

Suasana ama sepi dan hening, disekeliling tempat itupun tak nampak seorang manusiapun.

Entah beberapa saat kemudian, Tong Koat tampak memunculkan diri sambil tertawa cekikikan.

“Kau berhasil lolos dari pemeriksaan ini!”

“Aku berhasil lolos dari pemeriksaan ini?” tanya Bu-ki agak tertegun.

Tong Koat membawa secarik gulungan kertas sambil menghampirinya dia berkata :

“Inilah hasil pemeriksaan yang dibawa pulang oleh burung merpati itu, apakah kau ingin melihatnya ?”

Tentu saja Bu-ki ingin melihatnya.

Ketika gulungan kertas itu dibuka, maka berpecahlah beberapa huruf yang tertera jelas disana. “Benar-benar ada orang ini, bukti menunjukkan kebenaran dari pengakuannya.”

*****

Bu-ki betul-betul tak habis mengerti, sekalipun kepalanya dipukul sampai berlubangpun, dia tidak habis mengerti.

Benarkah di dusun Si tau ceng terdapat seorang manusia yang ber Li Giok thong?

Jangan-jangan orang yang diutus pihak keluarga Tong untuk melakukan pemeriksaan itu sama sekali tidak melakukan penyelidikan, tapi menulis laporan secara palsu ?

Atau jangan-jangan orang itu sudah disuap oleh teman-teman Bu-ki di tengah jalan, agar sengaja membuat laporan palsu.

Keadaan semacam ini hanya bisa di jelaskan dengan ketiga macam kemungkinan tersebut. Ketiga macam penjelasan tersebuk tampaknya saja seperti bisa di terima dengan otak, akan tetapi, bila di pikir lebih jauh, terasa pula sama sekali tidak mungkin.

Sekalipun di dusun Si tau ceng betul-betul terdapat seorang yang bernama Li Giok thong, latar belakang asal usulnya tak mungkin bisa sama dengan apa yang dikatakan Bu-ki, bagaimanapun juga didunia ini toh tidak mungkin ada suatu kejadian yang begitu kebetulannya.

Keluarga Tong memiliki peraturan yang sangat ketat, anak keturunan yang diutus keluar tidak mungkin berani menerima suap, apalagi mengirimkan laporan palsu.

Pada hakekatnya, tak ada orang yang tahu akan hal ini, sehingga tak mungkin ada orang yang bisa menyuapnya.

Seandainya ke tiga macam kesimpulan itu tak bisa di pegang sebagai dasar, lantas apa pula yang sesungguhnya telah terjadi ?

Bu-ki tidak berpikir lebih lanjut selama beberapa hari ini, ia telah menjumpai beberapa macam persoalan yang tidak bisa dipecah olehnya.....

Tapi yang pasti di balik semua kejadian ini tentu mempunyai hubungan antara yang satu dengan yang lainnya, meski hubungan itu misterius sifatnya......

Hanya saja sampai sekarang dia masih belum dapat menemukannya.

Entah bagaimanapun juga akhirnya ia berhasil meloloskan diri dari pemeriksaan tersebut. Padahal dia hanya berpegangan pada prinsip ‘bisa dilewatkan sampai dimana, dilewatkan sampai dimana’

Dan kini, dia masih harus bersabar terus.

Justru karena ia dapat bersabar, maka ia telah melewatkan beberapa kali ancaman bahaya yang sebetulnya sukar untuk di lewatkan.

Pelan-pelan Bu-ki menggulung kertas itu kembali, lalu di kembalikan kepada Tong Koat, katanya dengan hambar :

“Mana nenek moyangmu?”

“Nenek moyang telah melihatmu, dia merasa puas sekali terhadap dirimu. !”

“Apakah kau tidak memberi kesempatan kepadaku untuk menyambangi dia orang tua?” “Akupun sebenarnya ingin mengajakmu untuk pergi menyambangi dia orang tua, cuma sayangnya bahkan aku sendiripun tak dapat bersua dengan beliau!”

Setelah menghela nafas dan tertawa getir, lanjutnya,

“Bahkan aku sendiripun sudah sangat lama tak pernah bersua muka dengan dia orang tua!” “Apakah dia jarang sekali bertemu dengan orang ?”

“Yaaa, jarang jarang sekali”

“Mengapa ia tidak mau bertemu orang ?”

“Apakah karena dia bertampang sangat aneh sehingga tidak dapat bertemu orang ?” Bu-ki masih mempunyai suatu pandangan lain, suatu pandangan yang lebih ekstrim.

Mungkin nenek moyang yang sebenarnya telah mati, tapi lantaran ada orang yang hendak merebut kekuasaannya yang amat tinggi itu, maka kematiannya dirahasiakan, kemudian dengan menirukan suaranya, ia memberi perintah-perintahnya serta memerintah seluruh anak keturunan keluarga Tong.

Dalam keadaan seperti ini, sudah barang tentu ia tidak dapat bertemu dengan orang lain, bagaimanapun juga tak mungkin dia bisa memiliki wajah sebagai ‘nenek moyang’.

Walaupun pemikirannya ini sangat ekstrim, bukan berarti sama sekali tiada kemungkinannya.

Dunia ini memang sering kali terdapat kejadian-kejadian yang luar biasa, kejadian yang nyata seringkali bahkan lebih aneh dan luar biasa daripada cerita dongeng.

Bu-ki tidak sanggup berpikir lebih lanjut, diapun tak ingin berpikir lebih jauh.

Urusan perebutan kekuasaan dalam keluarga Tong sama sekali tiada sangkut paut dengan dengan dirinya, jadi dia merasa enggan untuk mencampurinya.

Dia hanya bertanya :

“Sekarang apakah kita sudah boleh pergi meninggalkan tempat ini ?

“Kau hendak pergi kemana ?”

“Memangnya kita tak akan pergi ke dalam sana untuk berjumpa dengan Sangkoan Jin?” “Tentu saja kita akan menjumpainya!” “Lantas apakah kita sekarang merasa perlu untuk pergi ke tempat tinggalnya ? Tong Koat segera tertawa.

“Kau anggap tempat ini adalah sempit apa ?” dia balik bertanya sambil memandangnya dengan suatu sorot mata yang aneh.

Bu-ki balas menatapnya lekat-lekat, sesaat kemudia dia baru bertanya pelan : “Memangnya dia berdiam-diam disini ?”

Tong Koat tidak menjawab.

Dia memang tak perlu menjawab, sebab si luar pintu sudah kedengaran seseorang menyahut : “Betul, aku memang tinggal disini”

Jantung Bu-ki kembali berdebar keras, darah yang mengalir diseluruh tubuhnya juga ikut mendidih.

Dia telah mendengar suara Sangkoan Jin, diapun mendengar suara langkah Sangkoan Jin. Musuh besar yang tiada ternyana telah berjumpa muka dengan dirinya sekarang.

Bukan saja mereka berada di satu atap, bahkan dengan cepatnya akan saling bersua. Kali ini, mungkinkah Sangkoan Jin akan mengenali dirinya sebagai Tio Bu-ki ?

*****

NAFAS HIDUP DAN MATI

BULAN empat tanggal dua puluh empat, tengah hari. Akhirnya Tio Bu-ki telah bersua muka dengan Sangkoan Jin.

Sangkoan Jin mempunyai perawakan yang tinggi dengan bahu yang lebar serta lengan yang panjang, setiap langkah kakinya akan lebih lebar lima inci daripada orang lain.

Diam-diam ia telah membuat perhitungan yang cermat, setiap langkahnya persis mencapai satu jengkal tujuh inci, tak akan kelebihan satu inci juga tak akan kurang dari sati inci. Terhadap setiap persoalan yang hendak dilakukannya dia selalu membuat perhitungan yang matang, setiap perbuatannya selalu tepat dan sempurna.

Kehidupannya sangat beraturan, ketat dan disiplin, bahkan terhadap makanan yang tiap hari di makanpun selalu ada saat dan banyaknya.

Bukan saja dia makan amat sedikit, air yang diminumpun tidka terlalu banyak, di hari biasa setetes arakpun tak pernah dicicipinya.

Sekarang dia masih hidup sendiri, tak pernah mendekati perempuan. Persoalan yang bisa membuat orang lain lupa diri, baginya sama sekali tidak tertarik.

Kesenangannya cuma satu...........

Kekuasaan !

Setiap orang yang bertemu dengannya, sudah pasti dapat melihat bahwa dia adalah seorang yang sangat berkuasa.

Dia seorang yang pendiam, jarang berbicara, sikapnya serius, dingin dan tidak berperasaan, entah muncul darimana dan kapan saja, dia selalu memperlihatkan suatu semangat yang berkobar, jiwa yang segar, sepasang matanya yang tajam bercahaya seakan-akan hendak menembusi hari siapapun yang di hadapinya.

Tapi, ternyata ia tidak melihat kalau orang yang berada dihadapannya sekarang adalah Tio Bu-ki.

Perubahan pada diri Tio BU-ki memang terlampau banyak.

*****

BU-KI telah duduk kembali.

Dia selalu berusaha untuk memberitahukan kepada diri sendiri :

“Harus sabar! harus menunggu! Kalau saat yang tidak meyakinkan belum tiba, jangan turun tangan secara sembarangan.”

WAktu itu Sangkoan Jin sedang menatapnya dengan sepasang matanya yang tajam seperti sembilu, tiba-tiba ia bertanya :

“Apa yang kau pikirkan barusan ?” “Apapun tak ada yang kupikirkan!” “Kalau begitu kau seharusnya mengetahui kalau aku berdiam di tempat ini.” Dia berpaling memandang sepasang lian yang tergantung di atas dinding. “Seluruh ruangan mabuk kepayang tiga ribu tamu

Sekilas cahaya pedang bersinar di empat puluh keresidenan.”

Gaya tulisannya yang kuat dan bertenaga, diatasnya tertera pula sebaris huruf kecil yang berbunyi :

‘Tulisan dari Jin kong’

Dengan suara dingin Sangkoan Jin berkata lagi :

“Jika dalam hatimu tidka memikirkan apa-apa, kenapa hanya tulisan sebesar itupun tidak kau perhatikan ?”

“Mungkin hal ini dikarenakan aku sedang berada dirumah orang, selamanya aku tak pernah celingukan di rumah orang”, sahut Bu-ki hambar.

Sangkoan Jin tidak berbicara lagi.

“Dan lagi akupun bukan seorang sastrawan yang gemar membuat syair atau membuat lian, oleh karena itu ”

“Oleh karena itu kenapa ?” tukas Sangkoan Jin.

Tiba-tiba Bu-ki bangkit berdiri, lalu sambil menjura katanya, “Selamat tinggal!”

“Kau hendak pergi ?”

“Kalau toh orang yang kau cari bukan manusia semacam diriku ini kenapa pula aku tidak pergi ?”

“Kau adalah manusia macam apa ?” tanya Sangkoan Jin sambil menatapnya lekat-lekat.

“Bila kau mempunyai kemampuan untuk menilai orang, tak perlu kukatakanpun seharusnya kau dapat melihat manusia macam apakah diriku ini, bila kemampuan untuk menilai orang saja tidak kau miliki, buat apa aku musti berbicara lagi?” Sangkoan Jin menatapnya sampai lama sekali, tiba-tiba dia berseru pelan : “Bagus, bagus sekali!”

Ia membalikkan badan mengadap ke arah Tong Koat, sikapnya turut berubah menjadi lebih halus dan lembut.

“Inilah orang yang kubutuhkan!” katanya.

Tong Koat segera tertawa setelah mendengar ucapan itu. Kembali Sangkoan Jin berkata :

“Akan kuperintahkan orang untuk membereskan halaman belakang sana, besok ia sudah dapat pindah kemari.”

“Sekarang, ternyata aku sudah boleh pergi bersantap bukan ?” tanya Tong Koat sambil tertawa.

“Tong Koat, kenapa tidak tinggal disini saja untuk bersantap bersama kami ?” Dengan cepat Tong Koat menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Kau suruh aku melakukan pekerjaan apapun boleh saja asal jangan suruh aku makan disini, aku benar-benar tak berani bersantap ditempat ini.”

“Tidak berani kenapa?” “Aku takut sakit!” “Kenapa bisa takut sakit ?”

“Kalau terlalu banyak hidangan sayur atau barang-barang berjiwa, perutku bisa sakit, apalagi bila dalam hidangan tak dijumpai sepotong daging, sudah pasti aku bakal sakit, malah sakitnya sudah pasti amat parah.”

Setelah menghela nafas panjang, dia melanjutkan :

“Diantara empat sayur yang dihidangkan untuk makan siang hari ini, tak semacampun yang mengandung makanan berjiwa!”

“Darimana kau bisa tahu ?” “Tadi aku telah mencari berita tentang soal ini, orang bilang rakyat menganggap makanan sebagai sumber kehidupan, terhadap persoalan macam begini, kenapa aku tak boleh menaruh perhatian khusus.”

*****

DAGING, ayam, ikan bertumpukan di atas meja. Tong Koat kembali bersantap dengan lahapnya.

Bu-ki sebetulnya sedikit tidak habis mengerti, seseorang yang baru saja makan hidangan begitu banyak dalam sarapan paginya, kenapa bisa makan hidangan sebanyak itu lagi di siang harinya.

Tapi nyatanya Tong Koat bisa melahap hidangan tersebut dengan lahapnya.

Ketika kedua ayam telah berubah menjadi setumpukan tulang, semangguk kuah daging sudah hilang tak berbekas, Tong Koat baru berhenti bersantap, ditatapnya wajah Bu-ki dan tiba-tiba berkata dengan suara lirih:

“Aku merasa kasihan kepadamu.” “Kau merasa kasihan kepadaku ?”

“Yaa, aku merasa teramat amat kasihan kepadamu.” “Kenapa ?”

“Sebab kau akan pindah ke tempat Sangkoan Jin, kalau aku disuruh menjadi kau seharipun sudah pasti tidak kerasan.

Bu-ki segera tertawa setelah mendengar ucapan itu. Kembali Tong Koat berkata :

“Disitu selain sayurnya tak enak dimakan, orangnya juga susah dihadapi.” Setelah menghela nafas panjang, terusnya :

“Sekarang, tentunya kau sudah dapat melihat sendiri, Sangkoan Jin adalah seorang manusia yang begitu sukar untuk dihadapi.

Mau tak mau Bu-ki harus mengakui akan kebenaran dari penilaian tersebut.

Namum orang yang paling sukar dihadapi di tempat itu bukanlah dia” ujar Tong Koat lagi. “Kalau bukan dia, lantas siapa lagi?” “Lian-lian!”

“Lian-lian? Siapakah Lian-lian itu ?”

“Lian-lian adalah putri kesayangan Sangkoan Jin , jangankan orang lain, aku sendiripun segera akan merasakan kepalaku pusing tujuh keliling bila bertemu dengannya.”

Tentu saja Bu-ki juga tahu kalau Sangkoan Jin mempunyai seorang putri tunggal yang bernama ‘Lian-lian’.”

Lian-lian tentu saja juga tahu kalau Tio Kian, Tio Jia mempunyai seorang putra tunggal yang bernama ‘Bu-ki’.

Tapi BU-ki sama sekali tidak kuatir kalau Lian-lian sampai mengenali dirinya.

Tak lama setelah Lian-lian dilahirkan, ibunya telah meninggal dunia, mungkin lantaran kehilangan istri kesayangannya maka rasa sayang Sangkoan Jin terhadap putrinya sama sekali berbeda dengan rasa sayang orang lain terhadap putri tunggalnya.

Ada banyak sekali orang yang merasa benci atau tidak senang terhadap putrinya karena istrinya meninggal setelah melahirkan. Walaupun tahu dalam hati kecil merekapun tahu kalau bocah itu tak salah, tapi mereka toh berpendapat juga, seandainya tiada bocah istrinyapun tak akan sampai mati.

Setiap orang sudah pati akan memiliki cara berpikir demikian, mengalihkan kemarahannya kepada orang lain, sebab cara berpikir semacam ini merupakan salah satu titik kelemahan dari manusia sejak jaman dahulu kala.

Semenjak kecil Lian-lian sudah berpenyakitan, bocah yang berpenyakitan tak urung akan mempunyai watak yang aneh dan sedikit agak berangasan.

Seorang ayah yang demikian sibuknya macam Sangkoan Jin, tentu saja tak akan memiliki banyak waktu untuk mengurus putrinya yang berpenyakitan seperti ini.

Maka semenjak kecil, Sangkoan Jin telah mengirim putrinya ke bukit Hoa san untuk merawat putrinya, sekalian belajar ilmu silat.

Padahal merawat penyakit dan belajar ilmu silat mungkin hanya suatu alasan belaka, alasan yang sesungguhnya mungkin adalah tak ingin berjumpa lagi dengan putrinya ini, sebab bila ia bertemu dengannya, maka tanpa terasa diapun akan teringat kembali dengan istri tercintanya yang telah tiada. Ini menurut jalan pemikiran Bu-ki.

Bagaimana pula dengan jalan pemikiran Sangkoan Jin ? tak seorangpun yang tahu.

Jalan pemikiran manusia memang sering kali amat rumit dan aneh, sehingga sukar untuk diduga atau di tebak oleh orang-orang di luar garis.

Bu-ki sendiripun tidka menyangka kalau Lian-lian akhirnya akan kembali juga ke tempat tinggal ayahnya.

Tong Koatsudah mulai melalap ayam yang ke tiga.

Caranya makan ayam istimewa sekali, mula-mula dadanya yang dimakan, kemudian naik ke atas kepala dan baru paha dan kakinya, sebagai penutup dia akan melahap bagian sayap dan lehernya.

Sayap dan leher ayam paling banyak melakukan gerakan, itulah sebabnya daging disekitar tempat itu paling enak rasanya.

Bagian yang paling enak dimakan, tentu saja harus ditinggalkan lebih dulu dan makan paling belakang.

Malah Tong Koat secara khusus mengemukakan hal itu :

“Tiada orang yang berebut denganku untuk memilih bagian-bagian ini, sebab bagian yang terbaik selalu kutinggalkan lebih dulu dan dimakan paling belakang”

“Seandainya ada orang yang saling berebut denganku, akupun tak akan melahapnya terlebih dulu”

“Kenapa?”

“Bila kita melahap bagian yang paling enak lebih dulu, kemudian baru makan bagian yang lain, lantas apa pula artinya?”

“Apakah kau rela membiarkan bagian yang paling enak itu diserobot orang lain?” “Tentu saja aku tak rela”

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

“Bila kau berikan bagian yang terbaik untuk orang lain, itu berarti kau adalah seorang yang tolol” “Kau sendiri enggan memakannya lebih dulu, tapi enggan pula memberikan kepada orang lain, lantas bagaimana caramu untuk mengatasi persoalan ini?”

“Tentu saja aku punya cara yang jitu” sahut Tong Koat sambil tertawa lebar, “inginkah kau tahu cara apakah yang digunakan untuk mengatasi hal ini?”

“Tentu saja ingin!”

“Bila dalam keadaan begini, maka aku akan merebut bagian yang paling baik lebih dulu dan kuletakkan di dalam mangkukku sendiri, kemudian bersama orang lainnya, bila bagian yang lain sudah habis diperebutkan, aku baru melalap bagian yang sudah berada dalam mangkukku itu”

“Suatu cara yang bagus sekali!” puji Bu ki.

“Bila kaupun ingin menirukan caraku bersantap, maka ada semacam persoalan yang perlu kau perhatikan baik-baik”

“Persoalan apakah itu?”

“Bila kau sedang bersantap, maka sambil makan lebih baik kau sambil memberi pelajaran kepada orang lain”

“Aku toh sudah berhasil merebut bagian yang paling baik? Kenapa harus memberi pelajaran lagi kepada orang lain?”

“Sebab cara bersantap seperti itu pasti tidak leluasa dalam pandangan orang lain, itulah sebabnya kau harus mendahuluinya dan beri pelajaran kepadanya”

“Bagaimana caraku untuk memberi pelajaran kepadanya?” tanya Bu ki.

“Sambil menarik muka beritahu kepada mereka, menjadi manusia harus meninggalkan rejeki di kemudian hari, oleh sebab itu makanan yang enak harus dimakan belakangan, tapi sikapmu sewaktu berbicara musti serius dan bersungguh-sungguh, caramu bersantap juga harus cepat, sebelum orang lain memahami teorimu itu, kau harus menghabiskan semua hidangan yang berada di depannmu, kemudian cepat-cepat angkat kaki untuk menyelamatkan diri”

Setelah berhenti sebentar, katanya kembali dengan wajah serius:

“Hal ini merupakan bagian yang terpenting, dan kau tak boleh sekali-kali untuk melupakannya”

“Kenapa aku harus mengambil langkah seribu?” tanya Bu ki. “Sebab bila kau tidak cepat kabur, kemungkinan besar orang lain akan menghajar dirimu” Bu ki segera tertawa terbahak-bahak.

Kali ini dia benar-benar tertawa keras.

Sudah banyak waktu ia tak pernah tertawa, kali ini merupakan pertama kalinya ia dapat tertawa dengan begitu riang gembiranya.

Sekarang batas waktunya sudah diperpanjang hingga waktu yang tak terhingga, sekarang ia masuk ke daerah jantung dari benteng keluarga Tong, besok diapun akan pindah ke rumah Sangkoan Jin, setiap saat bisa bertemu Sangkoan Jin, ini berarti setiap saat pula ia bisa mempunyai kesempatan untuk turun tangan.

Sekarang walaupun tujuan yang sebenarnya belum tercapai namun jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi.

Ini menurut jalan pemikirannya.

Sekarang tentu saja dia dapat berpikir demikian, apa yang bakal terjadi di kemudian hari, siapa pula yang bisa menduganya?

Bila ia dapat menduga apa yang kemudian bakal terjadi, maka bukan saja ia tak bisa tertawa, mungkin mau menangispun tak mampu bersuara lagi.

*****

Malam sudah kelam, suasana amat sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Hari ini boleh dibilang merupakan hari yang paling mendatangkan hasil bagi Bu ki, selesai bersantap siang, ia berhasil melepaskan diri dari Tong Koat dan tidur senyenyak-nyenyaknya, sebab malam nanti dia masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan.

Besok dia harus pindah ke tempat kediaman Sangkoan Jin, setelah masuk ke daerah terlarang di dalam “Kebun Bunga” sudah pasti gerak-geriknya tak akan seleluasa sekarang ini.

Oleh sebab itu, malam nanti dia harus melakukan kontak dengan Lui Ceng Thian minta kepada Lui Ceng Thian agar menyerahkan peta bangunan rumah tersebut kepadanya, kemudian berdaya upaya agar Lui Ceng Thian bersedia memberi sedikit bahan peledak dari Pek lek tong kepadanya....

Dia tak ingin mempergunakan bahan peledak macam begitu untuk menghadapi Sangkoan Jin, tapi bila dalam sakunya membawa bahan peledak yang sanggup menghancurkan peta ini, sedikit banyak benda itu akhirnya berguna juga, bilamana diperlukan, bukan saja benda itu bisa digunakan untuk membantunya melarikan diri, juga dapat melimpahkan semua perbuatannya yang telah dilakukannya itu kepada pihak perkumpulan Pek lek tong.

Dia percaya Lui Ceng Thian tak akan menampik permintaan itu.

Kegelisahan selama banyak waktu, sekarang akhirnya telah mendapatkan hasilnya, maka itu tidurnya kali inipun jauh lebih nyenyak dan nyaman, ketika mendusin kembali hari sudah malam.

Ternyata Tong Koat tidak datang mencarinya untuk bersantap malam, juga tak ada orang yang datang mengganggunya.

Sambil mengenakan mantelnya dia bangun dan membuka jendela, suasana di luar sana amat sepi seakan-akan malam sudah semakin larut.

Dia bertekad akan segera pergi mencari Lui Ceng Thian.

Sekarang, walaupun dia sudah tahu dengan cara apakah untuk berjalan masuk kedalam hutan tersebut, namun ia masih belum tahu dengan cara apakah melewati tanah kosong diluar hutan tersebut.

Lagi-lagi sebuah persoalan pelik berada didepan matanya.

Ia mempergunakan semacam cara yang paling sederhana, cara yang paling langsung untuk menyelesaikan persoalan yang pelik tersebut.

Begitulah, dengan langkah yang santai dan tenang, ia berjalan terus kedepan sana. Benar juga, tiada orang yang menghalangi kepergiannya.

Tentunya Tong Koat telah berpesan kepada para penjaga yang berada disekitar tempat itu, agar jangan terlalu membatasi gerak-geriknya.

Cuaca hari ini sangat baik, tampaknya dia seperti lagi berjalan-jalan sambil melihat bunga, apalagi tempat itupun masih belum mencapai daerah terlarang dari benteng keluarga Tong.

Aneka bunga sedang mekar dengan indahnya, ia sengaja berputar beberapa kali disekitar kebun bunga itu untuk meyakinkan bahwa tiada orang yang memperhatikan gerak-geriknya.

Kemudian baru dia mencari bunga Gwat Ci tersebut, menyingkirkan tanahnya dengan kaki, lalu dengan mempergunakan gerakan yang cepat, untuk mencabut bunga itu dan menerobos masuk kedalam. Seberapa panjang kah lorong bawah tanah itu, telah diperhitungkan dengan masak. Kali ini dia membawa korek api.

Ia percaya asal dirinya mendekati pintu masuk menuju keruang bawah tanah itu, Lui Ceng Thian pasti akan merasakannya.

Biasanya orang yang buta sepasang matanya, pasti mempunyai sepasang telinga yang luarbiasa tajamnya.

Tapi kali ini, dugaannya keliru besar.

Menurut perhitungannya, sekarang ia telah tiba dimulut masuk ruang rahasia tersebut, akan tetapi suasana didalam ruangan itu masih tetap tenang tanpa kelihatan ada sesuatu gerakan pun.

Dia lagi lagi merangkak bebrapa depa kedepan bahkan mendehem pelan. Tapi Lui Ceng Thian masih juga tidak meberikan reaksinya.

Sekalipun dia sedang tidur, tak mungkin sepulas ini tidurnya. Jangan jangan dia telah ngeloyor keluar lagi dari tempat ini?

Walaupun Bu ki membawa korek api, namun tidak dipergunakannya, sebab dia harus berjaga- jaga terhadap segala kemungkinana yang tidak diinginkan.

Ditempat ini penuh dengan bahan mesiu yang akan segera meledak bila terkena api. seandainya keadaan tidak terlalu memakssa dia tak akan mengambil resiko tersebut.

Kembali dia maju kedepan sambil meraba-raba, mendadak tangannya menyentuh suatu benda, itulah kaki meja milik Lui Ceng Thian.

Dengan jari tangannya dia mencoba untuk menyentil kaki meja itu beberapa kali, walau sudah disentil dua kali, namun belum juga ada reaksi.

Udara dalam ruangan itu, selain terendus bau belerang dan apotas yang menusuk hidung seakan-akan terdapat pula semacam bau yang aneh sekali.

Dia seperti pernah mengendus bau semacam itu, maka ditariklah nafas beberapa kali, dengan cepat dia mendapatkan kalau dugaannya memang tak salah.

Itulah bau amisnya darah!

Daya penciumannya cukup tajam, dia percaya dugaannya tak mungkin salah. mungkinkah Lui Ceng Thian sudah tertimpa bencana? Ataukah pihak keluarga Tong telah mengirim orangnya untuk datang merenggut jiwanya?

Tapi, pada saat itulah Bu ki telah mendengar pula dengusan nafas seseorang.

Jelas orang itu sudah lama menahan nafasnya, tapi karena ditahan terlalu lama maka akhirnya dia menjadi tak tahan, sebaba itu dia pun mulai bernafas lagi, malah suaranya lebih berat dan memburu.

Orang itu bisa manahan nafasnya, tentu saja dimaksudkan agar Bu ki tidak tahu kalau ditempat ini masih terdapat orang lain.

Dan orang ini sudah pasti bukan Lui ceng thian. Tapi siapakah dia?

Apakah Lui ceng thian telah menemui ajalnya ditangan orang ini?

Seandainya dia adalah anggota keluarga Tong, maka kedatangannya untuk membunuh Lui ceng thian sudah pasti karena memperoleh perintah.

Bila seseorang datang membunuh orang kerana mendapat perintah, maka dia tak perlu takut diketahui orang.

Kalau dia bukan anggota keluarga Tong kenapa bisa masuk kedalam ruaangan bawah tanah? Kenapa ia datang membunuh Lui ceng thian?

Tanpa terasa Bu ki teringat kembali dengan perkataan dari Lui ceng Thian.

“Tan seijinku siapapun tak berani datang kembali asal aku lagi senang, setiap saat aku

bersedia beradu jiwa dengan mereka !”

Bahan mesiu masih bertumpukan didalam ruangan rahasia itu.

Tatkala Lui ceng thian melihat ada orang hendak membunuhnya mengapa ia tidak menyulut bahan peledaknya?

Apakah orang ini dicari sendiri oleh Lui ceng thian?

Justru karena Lui Ceng Thian tidak menyangka kalau dia bakal berniat jahat, maka dia baru bisa terbunuh ditangannya! Banyak sudah yang dipikirkan Bu ki, dia pun membayangkan bagian yang paling menakutkan. Kalau toh orang ini enggan diketahui orang lain, sudah pasti dia akan berusaha untuk membunuh Bu ki, bahkan besar kemungkinan ia sudah mulai bergerak sekarang.

Dengan cepat Bu ki melakukan gerakan pula.

Sayang dengusan nafas itu lagi-lagi lenyap tak berbekas, pada hakekatnya dia tak tahu dimanakah orang itu berada.

Pelan pelan dia melingkari kaki meja itu, berniat untuk menerobos masuk lewat kolong meja.......

Mendadak terasa desingan angin tajam mendere, kemudian terasa ada segulung angin dingin yang amat tajam menusuk datang dari arah depan sana.

***** PERTARUNGAN DALAM RUANGAN

Inilah hawa pedang!

Walaupun Bu ki tak dapat melihatnya, ia masih dapat merasakannya.

Belum lagi mata pedang itu mencapai sasarannya, hawa pedang yang amat tajam itu sudah menyambar tiba di atas alis matanya. Bukan saja serangan itu cepat dan jitu, tenaga dalamnya juga amat sempurna.

Bu ki masih belum melihat orang ini, tapi ia sudah tahu kalau dirinya telah berjumpa dengan seorang musuh yang sangat menakutkan.

Seandainya di tangannya juga membawa pedang, dengan kecepatan serangannya, bukannya tak mungkin tak bisa menyambut serangan ini.

Sayang sekali ditangannya tidak membawa senjata, sekalipun dapat menghindari serangan yang pertama, belum tentu dapat menghindari serangan yang kedua.

Kalau toh dari ujung pedang orang ini dapat memancarkan hawa pedang yang begitu dingin dan tajamnya, dapat diketahui bahwa kesempurnaan ilmu pedangnya sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Entah bagaimanapun Bu ki mencoba menghindarkan diri, gerak geriknya tak nanti akan jauh lebih cepat daripada perubahan pedang itu.

Untung saja dia masih belum melupakan kaki meja tersebut. Mendadak tubuhnya menggelinding ke samping kiri kemudian tangannya diayunkan untuk mematahkan kaki meja tersebut.

“Braaang...!” pelbagai beda yang berada di atas meja itu segera jatuh berhamburan ke mana- mana menyusul robohnya meja tersebut.

Meja tersebut telah menolongnya untuk menahan serangan pedang.

Bu ki harus mendekam di balik kegelapan tanpa berani berkutik ataupun menghembuskan napas panjang.

Tapi dengan kesempurnaan kepandaian silat yang dimiliki orang ini, dengan cepat dia masih dapat menemukan dimanakah ia menyembunyikan diri, menanti serangan yang ketiga dan serangan yang keempat dilancarkan, apakah dia masih sanggup untuk menghindarkan diri?

Ia benar-benar merasa tidak yakin.

Pihak lawan mempunyai hawa pedang yang dingin menggidikkan serta ilmu pedang yang tajam dan lihay, sedangkan ia sendiri bertangan kosong belaka, pada hakekatnya tak mampu untuk menahan datangnya serangan macam itu.

Kemungkinan besar ruang bawah tanah ini akan berubah menjadi tempat kuburnya untuk selamanya.

Setelah melewati kesulitan dan penderitaan yang cukup lama, kelihatan kalau persoalan yang dihadapinya semakin ada harapan, bila dia harus mati di sini, bahkan siapakah pihak lawannyapun tidak diketahui, sampai matipun dia akan mati dengan mata tidak meram.

Sekarang dia hanya bisa menunggu, menunggu sampai tusukan ketiga dari lawannya menyambar datang, dia bersiap-siap untuk mengorbankan tangannya yang sebelah untuk mencengkeram pedang orang itu.

Dia rela mengorbankan segala-galanya demi beradu nyawa dengan orang ini....

Pertarungan antara mati dan hidup hanya berlangsung dalam sekejap mata, begitu sengit dan mengerikannya pertarungan ini, tak nanti pihak ketiga dapat memahaminya.

Ternyata suatu kejadian yang sama sekali di luar dugaan telah terjadi, sudah sekian lama dia menunggu, namun pihak lawan sama sekali tidak melakukan reaksi apapun juga.

Seseorang yang sudah jelas telah berada di posisi di atas angin, kenapa tidak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan pengejaran? Segala sesuatunya terasa gelap gulita, suasana hening dan sepi tak kedengaran sedikit suarapun.

Kembali Bu ki menunggu sampai lama sekali, peluh dingin telah membasahi seluruh tubuhnya, pada saat itulah ia mendengar ada seseorang berseru:

“Akulah yang datang. Sudah lama aku ingin datang menjengukmu”

*****

Suara itu berasal dari ruangan bagian atas, suara itu lembut, halus dan manja, seakan akan penuh mengandung perhatian serta cinta kasih yang dalam.

Siapa pula yang telah datang kesitu? Siapa yang hendak ditengoknya ?

Bu ki masih mendekam disudut ruangan tanpa bergerak, tapi ia telah mengenali suara orang itu.

Ternyata yang datang adalah Kian kian.

Tong Kian kian, istri baru dari Lui Ceng Thian!

Tentu saja dia datang untuk menjenguk Lui Ceng Thian, dia kuatir Lui Ceng Thian salah melukainya dalam kegelapan, maka sebelum tiba maksud kedatangannya dikemukakan terlebih dahulu, sayang Lui Ceng Thian tak akan mendengar lagi suaranya......

Dalam ruangan bawah tanah yang gelap, mendadak terlintas setitik cahaya lampu.

Kian kian membawa sebuah lentera kecil duduk didalam sebuah keranjang besar yang pelan pelan diturunkan ke bawah.

Diatas keranjang itu terdapat dua utas tali yang dihubungkan dengan roda berputar, ketika keranjang tersebut sampai dibawah ruangan dan sinar lentera menyinari seluruh tempat, Kian kian segera menjerit kaget.

Keadaan didalam ruang bawah tanah itu kacau balau tak keruan, tepat di bawah meja yang dirobohkan oleh Bu ki tadi terkapar sesosok tubuh manusia.

Orang itu sudah mati, noda darah diatas tenggorokannya sudah membeku, sewaktu Bu ki sampai disitu tadi, is sudah mati.

Yang mati adalah Lui Ceng Thian! Siapa yang telah membunuhnya? Sudah pasti orang yang melancarkan tusukan bagaikan kilat dari balik gelapan tadi.

Bekas tusukan pedang masih tertera diatas meja, peluh dingin yang membasahi tubuh Bu ki juga belum mengering, tak bisa disangkal lagi dalam ruang rahasia ini tadi masih terdapat seseorang yang lain.....

Tapi sekarang orang itu sudah lenyap tak berbekas.

Dia telah membunuh Lui Ceng thian, mengapa tidak membunuh pula diri Bu ki untuk membungkam mulutnya?

Sudah jelas dia telah memaksa Bu ki terdesak hebat tinggal matinya saja, mengapa ia tidak manfaatkan kesempatan itu untuk melanjutkan serangannya? Sebaliknya secara diam diam mengundurkan diri dari situ?

Sinar lampu memancar diatas wajah Lui Ceng thian, wajahnya masih menunjukkan rasa kaget, tercengang dan ngerinya menjelang saat kematian seakan akan sampai matipun dia tak percaya kalau orang ini bisa membunuhnya.

Siapakah orang itu? Mengapa dia harus membunuhnya? Kenapa tidak membunuh Bu ki?

Kian kian berdiri sambil membawa lentera, sinar lampu menyoroti mayat Lui Ceng thian, walaupun dia menunjukkan pula rasa tercengang bercampur kaget, namun dibalik rasa kaget dan tercengang terlintas pula perasaan gembira.

Kedatangannya kesitu kemungkinan besar bermaksud untuk membunuhnya, tak disangka ternyata ada orang yang telah membantunya untuk melaksanakan pembunuhan tersebut.

Pelan pelan Bu ki bangkit berdiri, kemudian katanya dengan suara hambar: “Agaknya kedatanganmu sudah terlambat satu langkah”

Dengan terperanjat Kian kian membalikkan badannya menatap wajah Bu ki, Diatas wajahnya yang pucat segera tersungging sekulum senyuman yang manis.

“Oooh; kau!”

Dia menghembuskan napas panjang, sambil menepuk dadanya pelan, ia berbisik lagi “Oooh. Kau benar benar membuat hatiku terperanjat”

“Benarkah aku telah membuat terperanjat?” Kian kian memutar biji matanya lalu tersenyum.

“Padahal seharusnya aku dapat menduga kalau perbuatan ini adalah hasil karyamu” katanya “Oooh. ?”

“Aku sudah dapat melihatnya, meskipun kau tidak meluluskan permintaanku waktu itu, tapi kau pasti akan membantuku untuk melakukan perbuatan ini, bagimu lebih banyak membunuh seseorang sama gampangnya dengan lebih banyak makan sepotong tahu”

Rupanya dia adalah menuduh dari Lui Ceng thian. !

Bu ki sendiripun tidak menyangkal, diapun tidak mendebat. Kembali Kian kian menghela napas panjang, katanya:

“Tampaknya, sekarang aku benar benar telah menjadi seorang janda !”

Ditangannya wajah Bu ki lekat lekat, dan sambil mengerling genit sambungnya:

“Dengan cara apakah kau hendak menghibur aku si janda muda yang patut dikasihani ini?”

*****

Malam semakin hening.

Kian kian telah tidur, setelah tidur mendusin kembali.

Ketika sedang tidur dia merintih, setelah bangun dari tidur diapun merintih, semacam rintihan yang membuat siapapun yang mendengarkan menjadi tak dapat tidur.

Tentu saja Bu ki pun tak dapat tidur.

Sebab Bu ki berbaring disisi tubuhnya. Bukan cuma dapat mendengar rintihannya, iapun dapat mendengar juga detak jantungnya.

Denyutan jantungnya cepat sekali, sedemikian cepatnya seakan akan setiap saat dapat berhenti. Dia memang seorang perempuan yang gampang mencapai puncak kepuasan.

Walaupun ia masih meminta setelah mencapai puncak kepuasan, tapi secara mudah ia akan mendapatkan kembali kepuasannya, hal ini berlangsung terus sampai dia hanya bisa berbaring disana sambil merintih belaka. Lelaki yang berpengalaman pasti akan tahu, perempuan semacam inilah merupakan perempuan yang paling gampang menggerakkan hati kaum lelaki.

Sebab dikala kaum lelaki memberi kepuasan kepadanya, diapun memberi kepuasan untuk kaum lelaki bukan hanya memenuhi kebutuhan kaum lelaki, diapun dapat memenuhi kejayaan serta harga diri seorang lelaki.

Sekarang Kian kian sudah mendusin.

Dia merintih, lalu mempergunakan tangannya yang halus tak bertulang untuk membelai dada Bu ki.

Suara rintihannya penuh mengandung rasa bahagia dan kegembiraan yang meluap.

“Barusan hampir saja kukira diriku turut mampus” ia berbisik sambil menggigit tubuhnya, “kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja dibawah tindian badanmu?”

Bu ki tidak menyahut. Diapun merasa amat lelah semacam kelelahan yang tak dapat dihindari setelah mencapai kegembiraan yang muncak.

Tapi begitu mendengar suaranya, dengan cepat semangatnya kembali berkobar. Dia masih muda gagah perkasa.

Ia sudah lama sekali tak pernah menyentuh perempuan.

Perempuan inipun merupakan manusia penting dalam keluarga Tong, asal ia bisa ditaklukan, dalam melakukan perbuatan apapun dia akan merasa lebih biasa.

Setelah perempuan itu membuka suara, tentu saja dia tak dapat menampik keinginannya, kalau tidak, bukan saja dia akan curiga, kuatirnya jika dia sampai mendendam.

Bila napsu birahi seorang perempuan sampai ditolak, maka dalam hatinya pasti akan diliputi oleh perasaan gusar dan mendendam yang berkobar kobar.

Seorang lelaki macam “Li Giok thong” memang tidak seharusnya menampik keinginan seorang perempuan macam Kian kian.

Bu ki masih mempunyai banyak alasan untuk memberi penjelasan kepada diri sendiri, agar hatinya, perasaannya memperoleh ketenangan.

Sayang dia bukan seorang lelaki munafik. Setelah melakukan dengan kesadaran penuh, tentu saja diapun tak perlu memberi penjelasan kepada dirinya sendiri.

Kembali Kian kian bertanya dengan suara lirih:

“Sekarang apakah kau sedang menyesal?”

“Menyesal?” Bu ki segera tertawa, “Mengapa aku harus menyesal? Selamanya aku tak pernah menyesali apa yang telah kulakukan”

“Kalau begitu, apakah besok malam aku masih boleh datang kemari lagi...?” tangan Kian-kian kembali mulai merangsang.

“Tentu saja kau boleh kemari” Bu ki mendorong tangannya, “tapi besok malam, aku sudah tidak berada di sini lagi”

“Kenapa?”

“Besok pagi aku akan pindah” “Pindah? Pindah kemana?”

“Pindah ke rumah kediaman Sangkoan Jin” sahut Bu ki, “sejak besok, aku sudah menjadi congkoannya Sangkoan Jin”

Kian-kian segera tertawa:

“Kau anggap aku tak berani ke sana untuk mencarimu? Kau anggap aku takut Sangkoan Jin?” Tiba-tiba ia meluruskan badannya dan menatap wajah Bu ki lekat-lekat, sambungnya:

“Mengapa kau harus ke tempat sana? Apakah lantaran dia mempunyai seorang putri yang cantik?”

Bu ki tidak menyangkal juga tidak mengakui akan hal tersebut. Kian-kian segera tertawa dingin, kembali ujarnya:

“Andaikata kau benar-benar berhasrat untuk mengincar putri kesayangannya itu, maka bakal runyam kau!”

“Oya ?”

“Siapapun tak berani mengusik dayang cilik itu” “Kenapa?”

“Sebab dia telah dicintai oleh seseorang” “Siapakah orang itu?”

“Seseorang yang tak berani diusik oleh siapapun, bahkan aku sendiripun tak berani mengusiknya”

“Kau juga takut kepadanya?” sengaja Bu ki bertanya. Ternyata Kian-kian mengakuinya:

“Tentu saja aku takut kepadanya, bahkan takutku setengah mati”

“Mengapa kau takut setengah mati kepadanya?” Tak tahan kembali Bu ki bertanya.

“Sebab bukan saja kepandaiannya jauh lebih hebat daripada diriku, lagipula berhati keji dan tidak berangasan, salah-salah dia bakal turun tangan keji tanpa memandang dulu”

Setelah menghela napas panjang terusnya:

“Walaupun aku adalah adik perempuannya, tapi bila aku berani menyalahi dia, ia sama saja akan merenggut nyawaku”

“Ooooh. kau maksudkan Tong Koat?”

Kian-kian segera tertawa dingin.

“Aaah, Tong Koat itu manusia macam apa? Seandainya Tong Koat bertemu dengannya, iapun sama saja akan ketakutan setengah mati”

Kembali lanjutnya:

“Sedari kecil dia dalah orang yang paling pintar, paling bagus dan paling pandai bekerja di antara kami bersaudara, apa yang dia inginkan segera didapatkan, selamanya tak pernah ada orang yang berani merampasnya, andaikata dia tahu kalau kaupun sedang mengincar putri Sangkoan Jin, maka kau. ”

“Aku kenapa?”

“Kau sudah pasti akan mampus, siapapun tak dapat menyelamatkan dirimu lagi” Sambil berbaring di atas dada Bu ki dan membelainya dengan lembut, pelan-pelan dia melanjutkan.

“Oleh sebab itu aku harus baik-baik melindungi dirimu, agar kau bertulus hati mencintai diriku, agar kau sama sekali tak punya kekuatan untuk mengincar orang lain lagi”

Sekarang, tentu saja Bu ki sudah tahu kalau yang dia maksudkan adalah Tong Au. Pedang milik Tong Au, apakah betul-betul lebih menakutkan daripada Tang Koat?

Dengan kecerdasan dan kepandaian Siau hong, mungkin masih sanggup untuk menghadapi Tong Koat. Tapi bagaimana dengan Tong Au?

Dalam perkumpulan Tay hong tong, siapakah yang sanggup menghadapi Tong Au?

Sekalipun Sangkoan Jin kena dipunahkan sehingga tinggal Tong Au, cepat atau lambat dia pasti akan merupakan bibit bencana juga bagi perkumpulan Tay hong tong.

Hawa napsu membunuh segera berkobar di dalam dada Bu ki.

Entah dia dapat pulang dalam keadaan hidup atau tidak, ia bertekad untuk tidak membiarkan Sangkoan Jin dan Tong Au tetap hidup segar di dunia ini.

Sekalipun dia harus dimasukkan ke dalam neraka tingkat ke delapan belas, akan dibasminya juga kedua orang ini.

Tiba-tiba Kian-kian berkata: “Dingin amat tanganmu!” “Oh ya?”

“Mengapa tanganmu berubah sedingin ini?” “Sebab aku takut!” jawab Bu-ki sambil tertawa. “Takut apa?”

“Takut dengan orang yang kau sebutkan barusan!”

“Dia memang tak lama lagi akan pulang kemari, sekembalinya ke rumah, siapa tahu kalau benar-benar akan pergi mencarimu?”

“Tapi aku toh tidak bermaksud untuk mengincar putrinya Sangkoan Jin…..?” “Tapi dia akan tetap pergi mencarimu!” “Kenapa?”

“Sebab kau belajar pedang, lagi pula semua orang agaknya mengatakan kalau ilmu pedangmu lumayan”

“Oleh sebab itu dia pasti akan mengalahkanku, agar semua orang tahu kalau ilmu pedangnya jauh lebih hebat daripada ilmu pedangku?” seru Bu-ki.

“Selama ini dia lebih suka mati dari pada mengaku kalah kepada orang lain”

“Seandainya nasibnya jelek dan kalah di ujung pedangku, apakah dia benar-benar akan mati?” “Besar kemungkinan!”

Dicekalnya tangan Bu-ki yang dingin erat-erat, kemudian melanjutkan, “tapi kau pasti bukan tandingannya, asal ia sudah meloloskan pedangnya, maka kau pasti akan mati, oleh sebab itu….”

“Oleh sebab itu kenapa?”

“Bila ia datang mencarimu nanti dan kau bersedia mengaku kalah, sudah pasti dia tak akan memaksamu untuk turun tangan!”

“Seandainya kebetulan sekali akupun seorang yang lebih suka mati dari pada mengaku kalah?”

Tiba-tiba Kian-kian melompat bangun, kemudian dengan mata melotot besar, wajah memerah karena marah, dia berteriak dengan suara yang keras sekali: “Kalau begitu, lebih baik kau mampus saja!”

*****

Kian-kian sudah pergi cukup lama, pergi meninggalkan tempat itu dengan hati mendongkol.

Bu-ki masih belum tidur, ia merasa matanya seakan-akan tak mau dipejamkan. Kematian Siau poo, lalu kematian Lui Ceng Thian selalu menghantui pikirannya, perasannya makin gundah, membuat ia benar-benar tak dapat tidur.

Besar kemungkinan mereka telah tewas di tangan seseorang yang sama dan kelihatannya orang itu bukan anak murid atau keturunan keluarga Tong, itulah sebabnya gerak-gerik orang itu selalu diliputi kerahasiaan dan kemisteriusan.