Harimau Kemala Putih Jilid 28

Jilid 28  

Sang surya baru memancarkan sinarnya dari luar jendela, mata pisau itu membiaskan sinar tajam yang amat menyilaukan mata. Namun tusukan pisau itu tidak dilanjutkan.

Bu ki juga tidak bergerak. Dia belum lagi tertidur, begitu orang itu masuk ke dalam ia telah mengetahuinya. Diapun lagi keheranan.

Dengan gerakan tubuhnya yang begitu gesit, lincah dan cepat seperti apa yang dilakukan sekarang, tidak seharusnya sodokan tinjunya tadi bersarang telak diatas batang hidungnya

Sodokan tinjunya itu tepat bersarang diatas hidungnya, hidungnya sudah kena dijotos sampai hancur dan bengkak-bengkak tidak karuan lagi bentuknya.

Mengapa dia harus menerima sodokan tinjunya itu? Apakah dia sengaja berbuat demikian agar Bu-ki memandang rendah dirinya, kemudian dia baru mendapat kesempatan untuk melakukan pembunuhan?

Bu-ki memang memandang dirinya. Mungkin sebagian besar orang sama-sama memandang rendah dirinya, menganggap “Siau poo” tidak lebih cuma seorang teman Tong Koat yang sama sekali tak ada gunanya mungkin berguna bagi Tong Koat, tapi bagi orang sama

sekali tak ada gunanya.

Tapi sekarang, orang yang sama sekali tak berguna itu telah menampilkan kelincahan, ketenangan serta kemampuan yang sama sekali diluar dugaan siapapun juga. Tangannya yang menggenggam pisau tampak sangat mantap, tiada butiran keringat yang membasahi wajahnya. Saat itulah Bu-ki membuka matanya dan memandang ke arahnya dengan pandangan dingin;

“Oooh.....rupanya kau. ”

“Tentu saja aku!”

Suara Siau poo sama tenangnya: “Aku toh sudah bilang, aku pasti akan membunuh dirimu!” “Aku masih ingat!” Bu-ki manggut-manggut.

“Sekarang aku telah datang untuk membunuhmu, sebab membunuh orang di siang hari jauh lebih gampang dari pada di malam hari”

“Oooo. ”

“Sebab siapapun pasti akan lebih teledor penjagaannya di siang hari, tapi bila malam telah tiba. kewaspadaannya malah semakin meningkat ”

“Ehmm, ucapanmu memang masuk diakal”

“Oleh sebab itu bila sekarang ada orang datang kemari, ada orang telah menemukan aku. maka aku adalah datang untuk membunuhnmu” perkataan itu kedengarannya sangat aneh.

Tak tahan lagi Bu-ki lantas berkata: Seandainya tiada orang yang mengetahui akan kedatanganmu, juga tak ada orang yang datang kemari?”

Tiba tiba Siau Poo tertawa sahutnya. “Bila aku sungguh sunnguh ingin membunuh kau, kenapa sampai sekarang belum juga turun tangan?”

Tertawanya kelihatan aneh sekali, juga amat misterius, tiba tiba sambil merendahkan suaranya dia berbisik: “Taukah kau ada berapa orang dalam benteng keluarga Tong ini yang menginginkan batok kepalmu?”

Bu-ki jga tertawa katanya: “Buat apa mereka menginginkan batok kepakalu ini?”

Suara tertawa Siau Poo semakin aneh, suaranya juga semakin rendah kemabali tanyanya; “Taukah kau berapa pasaran untuk batok kepala Tio-Bu-Ki pada saat ini?”

Paras muka Bu-ki sama sekali tidak berubah, ia sudah melatih dirinya secara baik-baik, melatih dirinya sehingga tidak mengalami perubahan apapun dalam menghadapi keadaan seperti apapun. Namun kelopak matanya toh berkerut juga. “Sesungguhnya siapakah kau?” “Kau seharusnya tahu tentang aku. ”

Sepatah demi sepatah Siau Poo melanjutkan: “Akulah See-si!”

Bu-ki tidak menunjukkan perubahan sikap apa apa. Walaupun delapan puluh persen dia sudah percaya kalu Siau Poo adalah See-si, tapi ia sudah terbiasa dengan sikap menyembunyikan segala macam perubahan perasaannya itu di dalam hati.

“Kemarin malam. aku telah datang kemari” kata Siau Poo, “Oooo. ?!”

“Waktu aku kemari, kau kebetulan lagi pergi!” “Oooo. ”

“Aku melihat kau masuk ke hutan, tapi aku tahu kau pasti tak mampu keluar dari situ, sebab untuk melalui hutan itu juga harus mengetahui kode rahasianya”

Kode rahasia yang dikatakanpun berbunyi: “Maju tiga mundur satu, kiri tiga kanan satu”

Sekarang, Bu-ki baru tahu mengapa pagi tadi ia tak mampu berjalan keluar dari hutan, sebab kode rahasia yang diketahuinya adalah kode rahasia bila kau ingin masuk hutan dari loteng kecil itu, jika ingin keluar dari hutan, maka kode rahasia yang harus digunakan pun merupakan kebalikannya.

Dalam tergesa gesanya Lui Ceng Thian telah membuat keteledoran, tapi gara gara keteledorannnya itu hampir saja selembar nyawanya ikut melayang.....

Walau bagaimanapun kecilnya suatu keteledoran; kemungkinan besar dapat berubah menjadi suatu kesalahan yang fatal, suatu kesalahan yang mematikan.

Pelajaran inipun berhasil diraihnya di dalam pengalaman yang pahit dan penuh penderitaan.Kata Siau Poo lagi:

“Waktu itu kau sudah pergi amat jauh, baru aku akan memberitahukan hal itu kepadamu, kau sudah melompat naik ke atas dahan pohon. aku tahu asal kau sudah naik ke atas, maka jejakmu dengan cepat akan ketahuan. ”

“Oleh sebab itu kaupun turut menyusup ke atas dengan maksud untuk membantuku memancing perginya jago jago tersembunyi?” “Sebenarnya aku ingin berbuat demikian tapi sudah ada orang yang bertindak selangkah lebih cepat dari padakau!” “Jadi orang itu bukan kau?” “Bukan!”

Ia jelas merasa kaget bercampur tercengang. “Masa kau juga tidak tahu siapakah orang itu?”

Bu-ki tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Siau Poo termenung, lewat lama sekali dia baru melanjutkan:

“Akupun tahu, begitu jejakmu ketahuan pasti ada orang yang akan segera memeriksa kamarmu serta meyakinkan apakah kau tetap berada di kamar atau tidak”

“Maka kaupun mewakili aku untuk tidur di atas ranjang tersebut?”

“Kugunakan selimut untuk menutupi kepala dan berpura pura tertidur sangat pulas, betul juga, tak lama kemudian benar benar ada orang yang datang melakukan pemeriksaan”

“Tapi kau toh tidak harus mengucapkan kata kata igauan?”

“Akupun tahu bahwa tidak harus mengigau, cuma kebetelun saja aku mempunyai kepandaian yang istimewa dalam bidang ini.

“Kepandaian apa?”

“Aku dapat menirukan suara orang lain; entah suara siapapun; aku dapat menirukannya secara persis dan tepat.”

Kemudian ia menambahkan “Dari serombongan orang yang diutus bersamaku, semuanya telah mendapat pendidikan khusus di dalam bidang ini”

“Taukah kau siapa yang telah datang melakukan pemeriksaan di dalam kamarku?”

“Aku tidak melihat, juga tak berani melihat, tapi aku tebak besar kemungkinannya adalah Tong Koat.”

Kemudian ia menambahkan lagi: “Sebab penjagaan serta keamanan di dalam benteng keluarga Tong merupakan tugas dan tanggung jawabnya”

“Kalau begitu kau juga seharusnya dapat berpikir, kemungkinan besar dia akan pergi ke kamarmu serta memeriksa apakah kau ada di dalam kamar atau tidak”

“Dia tak akan mencurigai diriku!” kata Siau Poo. “Kenapa?”

Siau Poo segara tertawa. “Kau seharusnya juga dapat melihat hubunganku dengannya adalah hubungan yang istimewa !”

Dia sedang tertawa, tapi dibalik senyuman itu penuh dengan kesedihan dan kepedihan.

Demi sumpah setianya kepada tujuan dan kepercayaan; meski dia rela mengorbankan segala sesuatunya; tapi pengorbanan itu entah terhadap siapapun merupakan suatu pengorbanan yang teramat besar.

Terbayang kembali hubungan mesranya yang tidak normal dengan Tong Koat, teringat pula akan kata “See-si” yang dipakai sebagai kata sandi serta makna sebenarnya yang terkandung dibalik nama itu, tentu saja Bu-ki dapat merasakan pula sampai dimanakah penderitaan, penghinaan, serta siksaan batin yang telah dialaminya selama ini.

Tak tahan lagi Bu ki menghela nafas panjang di dalam hati, kemudian berkata: “Entah bagaimanapun juga, tidak seharusnya kau menampakkan diri, juga tidak seharusnya mengadakan kontak dengan diriku, pengorbanan yang kau berikan kepada kami selam ini sudah terlampau besar, kau tidak seharusnya menyerempet bahaya lagi”

Siau Poo segera tertawa lebar, katanya: “Namun, pengorbanan yang telah kau berikan selama ini juga tidak kecil, bagaimana mungkin aku tega menyaksikan rahasia dan jejakmu ketehuan musuh?”

Dengan sorot mata tertegun Bu ki memperhatikannya beberapa saat, dia merasa menyesal, merasa terharu, merasa berterima kasih dan bercampur rasa kagum.

Hingga sekarang dia baru benar benar percaya, kalau di dunia ini masih terdapat orang lain yang rela mengorbankan diri demi kepentingan orang lain.

Justru karena di dunia masih terdapat manusia semacam ini maka keadilan dan kebenaran baru bisa selalu ditegakkan. Sebab itu pula manusiapun masih bisa selalu hidup di dunia ini.

Siau Poo tersenyum katanya: “Apalagi dia sekarang sudah mempunyai kedudukan bagus yang melindungi identitas kita yang sebenarnya, orang lain mengira kalau rasa benciku kepadamu sudah merasuk sumsum, setiap saat setiap detik selalu ingin mencabut nyawamu, mana mungkin mereka akan menduga kalau kita berdua sesungguhnya adalah sahabat?”

“Aku sendiripun tidak menyangka kalau di tempat seperti ini, aku masih mempunyai seorang teman seperti kau!”

Sekarang, di tempat ini dia sudah mempunyai tiga orang teman. Sikap Siau Poo secara tiba tiba berubah menjadi amat keren dan serius, katanya. “Ada beberapa persoalan aku harus memberitahukan kepadamu dan aku harap kau untuk memperhatikannya dengan serius dan seksama, sebab hal ini penting sekali artinya bagimu”

Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan “Kerja sama antara benteng keluarga Tong dengan Pek lek tong lebih tepat kalau dikatakan sebagai suatu perhubungan yang saling membutuhkan dan memanfaatkan, dan kini hubungan mereka tampaknya sudah berubah menjadi suatu hubungan yang sangat buruk sekali, bahkan besar kemungkinannya Lui Ceng thian sudah ditahan oleh mereka”

“inilah suatu kesempatan yang baik sekali buat kita. Jika kita dapat memanfaatkan kesemaptan ini dengan sebaik-baiknya, sehingga membiarkan mereka saling bunuh membunuh. maka dari tengah kita bisa meraih suatu keuntungan yang sangat besar sekali”

Ditahannya Lui Ceng thian jelas masih merupakan suatu rahasia beasr bagi orang orang benteng keluarga Tong, buktinya sampai Siau Poo pun tidak tahu menahu tentang hal ini.

Sungguh tak disangka justru Bu ki telah mengetahuinya lebih jelas bahkan telah bertemu sendiri dengan orangnya.

Kembali Siau Poo berkata: “Sekarang, walaupun anggota Pek lek tong sudah dibikin porak poranda, ada yang sudah mati terbunuh, ada pula yang dikejar kejar terus oleh orang orang Bentemg keluarga Tong. tapi aku percaya mereka pasti masih ada sisa sisa orang yang bersembunyi di dalam benteng keluarga Tong ini serta menanti kesempatan untuk melakukan gerakan lagi”

“Dalam soal ini, aku pasti akan memperhatikannya dengan lebih seksama lagi!”

“Racun yang diindap Tong Giok sudah terlampau dalam, tak mungkin dia dapat sembuh dalam waktu singkat, dalam soal ini kau tak perlu meresa kwatir”

“Bagaimana dengan Mi Ci?” tak tahan Bu ki bertanya. “Mi Ci?”

“Mi Ci adalah perempuan yang digotong pulang bersama peti mati yang berisi Tong Giok itu!”

“Apakah istri pertama dari Lui Ceng thian?” tanya Siau Poo.

Bu ki mengangguk, tanyanya lagi: “apakah dia sudah tertimpa musibah?” “Dia belum mati, tapi jejaknya tidak begitu kuketahui” Tentu saja persoalan semacam ini tak akan diperhatikan olehnya dengan seksama.

Tentu saja diapun tak akan menyangka akan hubungan dari istri pertama Lui Ceng thian dengan Bu ki.

Kembali Siau Poo berkata: “aku tahu, maksud kedatanganmu kemari adalah bertujuan untuk membunuh Sangkoan Jin serta membalaskan dendam bagi kematian ayahmu”

Bu ki mengakuinya. Maka Siau Poo berkata lebih lanjut: “Entah kau akan berhasil atau tidak, di dalam tujuh mendatang, kau harus sudah pergi meninggalkan benteng keluarga Tong”

“Kenapa?”

“Sebab semalam mereka telah mengutus orang menuju ke dusun Si tou cun untuk membuktikan apakah di dalam dusunn tersebut benar benar terdapat seorang manusia macam kau”

Agak tergerak hati Bu ki setelah mendengar perkataan itu, ujarnya: “Menurut anggapanmu, orang yang mereka utus ke dusun Si tou ceng bisa balik kemari di dalam sepuluh hari?”

“Walaupun orangnya belum tentu bisa balik kemari, tapi si burung merpati sudah pasti dapat samapi di sini dalam waktunya”

Burung merpati. Dengan cepat Bu ki teringat kembali dengan rombongan burung merpati yang dikirim pulang di kala Tong Ou berhasil memenangkan pertarungannya.....

Dengan cepat hatinya serasa tenggelam ke dasar lautan. “Aku juga tahu betapa berbahaya

dan sulitnya gerakanmu kali ini” ucap Siau Poo,

“Apalagi untuk menyelesaikan semua urusan dalam tujuh hari, boleh dibilang hal ini merupakan sesuatu yang mustahil, tapi, kau sudah tiada pilihan lainnya lagi”

Setelah berpikir sebentar, kembali katanya: “Atau tugasnya saja; paling aman kalau batas waktu bagimu untuk berdiam di sini jangan sampai melampaui tujuh hari”

“menurut pendapatmu, berapa harikah yang merupakan saat yang paling aman bagiku?” tanya Bu ki.

Setelah menghitungnya sebentar, dia berkata:

“Hari ini adalah tanggal dua puluh tiga sebelum fajar menyingsing tanggal dua puluh delapan, kau sudah harus pergi meninggalkan benteng keluarga Tong!”

“Akan kuingat sekali!” “Meski waktunya teramat singkat, tapi kau masih tak boleh terlalu bertindak gegabah, apalagi mengambil tindakan yang terlalu besar resikonya”

Dengan paras muka yang berubah menjadi serius, dia menambahkan:

“Kalau cuma nyawamu sendiri yang hilang, sekalipun mati juga tak perlu disesalkan, tapi kalau gara gara kejadian ini sehingga mempengaruhi situasi yang lebih besar, waah, kalau sampai begitu, mati seratus kalipunbelum tentu bisa menebus dosa tersebut”

“Kenapa tindak tandukku bisa mempengaruhi keadaan, situasi pada umumnya?”

“Sebab keluarga Tong sudah mempunyai ambisi untuk menyerang Tay hong tong. itulah sebabnya mereka bersekongkol dengan Sangkoan Jin agar Sangkoan Jin lah yang menjadi penunjuk jalan untuk mereka”

“Soal ini aku bisa menduganya!”

“Sekarang, walaupun mereka merasa kalau saatnya belum matang. tapi menurut pengamatanku, dengan kemampuan yang mereka miliki sekarang, bukan suatu pekerjaan yang sulit bagi mereka untuk membasmi Tay hong tong dari muka bumi”

Kemudian dengan sepatah demi sepatah dia melanjutkan:

“Menurut penilaianku, paling banter dalam tiga bulan mendatang, mereka sudah berkemampuan untuk membasmi Tay hong tong!”

Tangan dan tubuh Bu ki telah basah oleh keringat dingin. berita ini memang cukup menggetarkan perasaannya. Siau Poo berkata lebih lanjut:

“Bila kau berani bertindak secara gegabah menggusarkan mereka akibatnya besar kemungkinan kalau mereka akan mempercepat rencana untuk menyerang Tang hong tong, jika samapai begitu...’’

Dia tidak melanjutkan kata katanya. diapun tak perlu melanjutkan katanya.

Peluh dingin telah membasahi sekujur badan Bu ki perkataan tersebut telah membikin hatinya tercekat.

Siau Poo termenung sebentar tiba tiba katanya lagi. “Masih ada satu hal hendak kukatakan kepadamu!” “Soal apa?” “Kecuali aku, aku percaya pasti masih ada seseorang lagi yang diselundupkan ke dalam benteng keluarga Tong!”

“Dari mana kau bisa tahu?”

“Sebab beberapa kali aku menjumpai kesulitan. tapi secara diam diam orang itu telah membantuku untuk menyelesaikan kesulitan itu”

Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan. “Sebenarnya aku masih belum berani memastikan akan kebenaran dari persoalan ini sampai kemarin malam, aku baru percaya kalu dugaanku memang tidak salah”

“Maksud hal ini disebabkam karena selain kau, ternyata masih ada orang lain yang secara diam diam melindungiku serta membantuku untuk memancing perginya jago jago tersembunyi itu?”

Siau Poo tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya:

“Apakah kau sempat melihat jelas macam apakah bentuk wajah orang itu...?” Bu ki segera menggeleng.

“Aku hanya melihat kalau orang itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay, gerakan tubuhnya cepat sekali!”

“Dia itu seorang lelaki ataukah seorang perempuan?” “Kemungkinan besar adalah seorang lelaki!”

Ia berpikir sebentar, kemudian katanya lagi sambil, menggeleng:

“Tapi kemungkinan juga dia itu seorang perempuan, cuman perawakannya saja tinggi besar” Siau Poo kembali termenung, mukanya tampak aneh sekali.

“Apakah sudak kau temukan mungkin siapakah dia?” tanya Bu ki. Siau Poo mengangguk, kemudian menggeleng lagi, gumannya:

“Aku tak berani mengatakannya, tapi bila dugaanku tak salah...” Ia tidak melanjutkan kata katanya.

Dari anak tangga di luar sana seperti terdengar suara langkah manusia. dengan cepat Siau Poo menyusup keluar lewat jendela. Sebelum pergi ia sempat berpesan lagi:

“hati hati dan jaga diri baik baik. ingat sebelum tanggal dua puluh delapan kau sudah harus pergi”

Sekarang sudah tanggal dua puluh tiga tengah hari, itu berarti batas waktu Bu ki tinggal empat hari lebih.

Ia cuma mempunyai sebilah pedang dan tiga orang teman. Tapi orang yang harus dihadapi entah berapa banyak jumlahnya.

*****

MENYELIDIK

Tengah hari, itulah saatnya bersantap siang, Tong Koat munculkan diri untuk mengajak Bu ki bersantap.

Asal dia itu manusia, dia harus bersantap. Oleh sebab itu. meski napsu makan Tong Koat belakangan ini kurang baik, dia toh memaksakan diri untuk bersantap sedikit

Karena belakangan ini dia memang terlampau kurus. Bu ki juga tak dapat mengatakan dia itu gemuk, apabila dibandingkan dengan sementara binatang dia memang tak bisa dikatakan gemuk.

Paling tidak dia lebih kurus kalau dibandingkan dengan kuda nil, lingkaran pinggangnya juga lebih kecil satu dua inci dari pada lingkaran perut si kuda nil.

Untuk menutupi kekurangannya itu, tengaah hari tersebut terpaksa dia harus memaksakan diri untuk makan sedikit,

Sayang sekali napsu makannya memang kurang baik, maka dia cuma makan empat potong Ti tee (kaki babi), dua mangkuk bakmi, tiga ekor ayam dan seekor itik panggang yang hampir saja kurusnya dengan badannya itu.....

Kemudian tentu saja diapun makan sedikit hidanngan yang manis manis, kalau tidak, mana mungkin santapan tersebut bisa dianggap sebagai suatu santapan siang?

Maka diapun makan dua belas biji bakpao isi Tausa, enam lapis kueh lapis dan tiga potong kueh serabi,

Selesai bersantap tentu saja harus makan buah buahan sebagai pencuci mulut, dia cuma makan tujuh belas biji pisang, empat puluh biji buah apel dan lima biji semangka. Mau tak mau Bu ki memang harus kagum kepadanya,

Ia benar benar tak bisa membayangkan, andaikata napsu makan orang ini lagi baik, berapa banyak makanan yang bakal ditelan olehnya?

Napsu makan sendiri selamanya baik, tapi semua makanan yang telah dimakannya selama setengah bulan terakhir ini jika dijumlahkan, ternyata masih kalah banyak dibandingkan dengan hidangan yang dimakan Tong Koat dalam sekali makan.

Tong koat kelihatan murung sekali, dia murung karena masih ada beberapa biji semangka yang belum habis dimakan.

Sambil menggelengkan kepala dan menghela napas panjang, gumannya berulang kali “Bagaimana ini? Aku sudah tak mampu untuk memakannya lagi, aai bagaimana ini?”

“Aku punya sebuah akal bagus” seru Bu ki. “Apa akalmu itu? cepat katakan!”

“Bila tak bisa dimakan lagi, lebih baik jangan dimakan!”

Tong Koat berpikir sebentar kemudian sambil bertepuk tangan ia tertawa tergelak. “Haaahhh....haaaahhh.....haaahhh. suatu ide yang sangat bagus sekali, serunya,”Kalau tak

mampu dinamakan heran! kenapa ide sebaik ini tak pernah kebayangkan sebelumnya?”

Tertawanya itu bukan saja seperti orang anak-anak. bahkan lebih mirip dengan seorang anak bodoh.

Pada hakekatnya dia lebih cocok kalau dibilang mirip seorang bocah yang lemah ingatan

Untung saja Bu ki sudah tahu, si manusia lemah ingatan ini sebenarnya adalah manusia lemah ingatan seperti apa.

Akhirnya Tong Koat berhasil juga menyelesaikan santapannya.

Setelah mencuci sepasang tangannya yang kecil, putih dan gemuk itu dalam sebuah baskom, tiba tiba ia bertanya kepada Bu ki:

“Apakah kau dapat melihat garis muka orang?” “Melihat garis muka orang?” Sekalipun Bu ki tahu tentang arti perkataan itu, diapun akan berlagak seakan-akan tidak tahu.

Sebab pertanyaan yang diajukan oleh Tong Koat itu aneh sekali, jawabannya mau tak mau juga harus berhati hati.

Kembali Tong Koat berkata: “Maksudnya melihat garis muka orang adalah membaca dari paras muka orang lain untuk menentukan manusia macam apakah dia sebenarnya”

“Oooh. ?”

“Biasanya seorang yang pandai melihat garis muka orang, dalam sekilas pandangan saja dapat mengetahui baik buruknya orang serta bajik atau jahatnya seseorang”

“Aku mengerti!”

Tong Koat tersenyum, kembali katanya:

“Aku tahu, kau pasti pandai melihat garis muka orang” “Kenapa?”

“Sebab kau pandai membunuh orang”

“Masa orang yang pandai membunuh orang pasti pandai melihat garis muka orang?” “Kalau kau tidak pandai melihat garis muka orang, dari mana bisa kau ketahui manusia

macam apa yang tak boleh dibunuh? Dan manusia macam apa yang boleh dibunuh? Mnnusia macam apa bisa dibunuh? Dan manusia macam apa tak bisa dibunuh?

Bu ki tak bisa menyangkal bahwa sedikit banyak perkataan itu memang masuk diakal.

Jika seseorang yang menjadikan membunuh orang sebagai pekerjaannya, dia memang harus memiliki semacam kemampuan untuk mengawasi dan mempertimbangkan kemampuan orang lain.

Bukan saja dapat mengamati gerak geriknya, juga harus dapat membaca suara hatinya....

itulah yang dinamakan sebagai ilmu melihat garis muka orang

Bila seseorang bisa meramalkan nasib, dapat membacakan nasib orang yang sudah lewat dan yang akan datang, kebanyakan juga mendasarkan kepandaiannya dalam hal ini.

Terdengar Tong Koat berkata lagi: “Dapatkah kau membantuku untuk melihat garis muka orang?” Bu ki segera tertawa, sahutnya:

“Aku lihat kau ini banyak rejekinya, panjang umur, mana kaya juga anggun, cuma sayang napsu makanmu belakangan ini kurang baik”

Tong Koat segera tertawa tergelak.

“Haaahhh...haaahh....haaahh. tepat sekali ramalanmu itu, tepat sekali!”

“Tentu saja ramalanku sangat tepat, sebab aku sudah tahu manusia macam apakah dirimu itu, tak usah dilihatpun aku juga tahu”

Tong Koat tertawa. katanya lagi:

Aku toh bukan menyuruh kau untuk melihatkan garis mukaku!” “Lantas kau suruh aku melihatkan garis muka siapa?”

“Kau masih ingat dengan ke dua puluh sembilan orang itu?”

“Oooh, kau maksudkan dengan ke dua puluh sembilan orang yang kemarin dulu menginap di sini?”

“Yaa, memang merekelah yang kumaksudkan!”

“Aku masih ingat, agaknya dalam benteng keluarga juga terdapat rumah penginapan?” “Apapun terdapat di dalam benteng keluarga Tong!”

“Aku juga masih ingin, kau pernah mengucapkan sepatah kata kepadaku. !”

“Ucapan apa?”

Bu ki berhenti sejenak, kemudian sahutnya:

“Kau pernah bilang, jika ada seseorang ingi menginap di suatu rumah penginapan pemilik penginapan itu pasti akan bertanya kepadanya, siapa namamu? Datang dari mana? Mau ke mana? Datang kemari ada urasan apa  ?”

Tong Koat memang pernah berkata demikian. dia hanya mengakui daya ingatan Bu ki memang tidak jelek. Kembali Bu ki berkata:

“Dua malam berselang, apakah ke dua puluh sembilan orang itu menginap di dalam rumah penginapan kalian?”

“Benar!”

“Apakah kalian juga telah bertanya kepada mereka akan nama serta sal usulnya?” “Pernah!”

“Kalau toh kau sudah mengetahui siapakah mereka dan datang kemari untuk apa, buat apa musti mengajakku untuk melihat lagi?”

“Sebab ada semacam persoalan yang bagaimanapun kamu ajukan, juga tidak berhasil diperoleh jwabannya”

“Ooooh?”

“bagaimanapun juga, kami toh tak bisa langsung bertanya kepada mereka, hei kau mata ya?” “Betuk, meski sudah kalian tanyakan, mereka pasti juga tak akan mengakuinya”

“Maka dari itu, aku pun mengundang kau untuk melihatkan, sebenarnya mereka adalah seorang mata mata atau bukan?”

Sesudah tersenyum kembali dia menambhakan:

“Orang yang menjadi mata mata, batinnya pasti sangat guggup dan besar rasa curiganya bagaimanapun juga tampangnya pasti rada berbeda dengan lainnya, aku percaya kau pasti sanggup untuk membedakannya...”

Dari balik senyumannya kembali terpancar sinar tajam dari matanya yang sipit, sinar mata seseorang yang lemah ingatan sudah pasti tak akan setajam itu.

Hanya sinar mata ular berbisa baru akan memancarkan cahaya seperti itu.

Siasat busuk apalagi yang sedang ia sususn? Diantara ke dua puluh sembilan orang itu benarkah terdapat anak murid Tay hong tong?

Apakah dia sudah mulai menaruh curiga terhadap asal usul dari Bu ki...?”

Reaksi dari Bu ki sama sekali tidak lambat, dalam detik itulah dia telah membayangkan setiap keadaaan yang kemungkinan besar terjadi..... Dia hanya bertanya:

“Di manakah orang orang itu?”

“Mereka pun lagi bersantap, setiap orang harus bersantap”

*****

Dua puluh sembilan orang terbagi menjadi tiga meja, mereka sedang bersantap, di antaranya ada yang tua, ada yang muda, ada yang lelaki ada pula yang perempuan, dandanan mereka pun sama sekali berbeda, cara bersantap juga berbeda, ada yang makannya sangat lahap, ada yang makan sambil tundukkan kepala, ada pula yang makan dengan gaya seorang sastrawan.

Cukup memandang cara mereka bersantap, sudah bisa dilihat tingkat keduddukan sosial di dalam mayarakat.

Di antaranya orang yang makan paling lambat dan tampaknya paling baik cara makannya ternyata adalah Ci Peng!

Jantung Bu ki secara berdebar keras.

Ia sudah mendengar tentang hubungan Ci Peng dengan Cian Cian, sekarang Ci peng muncul di situ, berarti Cian Cian juga pasti berada di sekitar sana.

Mau apa mereka datang ke situ? Apakah datang untuk mencarinya?

Dia saja kenal dengan Ci Peng, tentu saja Ci Peng juga kenal dengan dirinya.

Asal paras muka Ci Peng memperlihatkan suatu perubahan yang aneh, maka dia sudah pasti akan mati.

Tiga buah meja makan yang bulat besar diatur di dalam sebuah halaman yang sejuk, di atas meja dihidangkan enam macam sayur, semacam kuah, empat macam hidangan barang berjiwa dua macam sayuran.

Waktu itu, Ci Peng sedang bersantap sepiring cah sawi kuah, tahu dan daging sapi masak lombok.

Dia telah melihat Bu ki.

Tapi paras mukanya tidak menunjukkan perubahan apa pun, sumpitnya masih tercekal kencang, bahkan sepotong daging yang sedang disumpitnya pun tidak terlepas. Selamanya Ci Peng memang pandai sekali mengendalikan perasaan, lagi pula besar kemungkinan ia sudah tidak mengenali wajah Bu ki lagi.

Entah siapapun itu orangnya, tak mungkin mereka bisa menemukan setitik hubungan antara dia dengan Bu ki.

Cian Cian juga tidak ditemukan di sana.

Tiga orang perempuan yang sedang bersantap semeja dengan Ci Peng tersebut, semuanya adalah perempuan perempuan yang belum pernah Bu ki jumpai selama ini.

Dengan cepat perasaan Bu ki berubah menjadi tenang kembali. Tiba tiba Tong Koat berbisik kepadanya,

“Coba kau lihat, bagaimana dengan orang orang itu?” “Aku lihat, orang orang itu tidak bagaimana”

“Dapatkah kau saksikan, siapakah di antara mereka yang besar kemungkinannya adalah mata mata?”

“Setiap orang kemungkinan besar adalah mata mata, setiap orang kemungkinan juga bukan”

“Kalau begitu menurut pendapatmu aku harus membunuh mereka semua? Atau melepaskan orang orang itu?”

“Kau pernah bilang, lebih baik salah membunuh dari pada salah melepas...” kata Bu ki hambar.

“Bersediakah kau untuk membantuku menghabisi nyawa mereka semua...?”

“Pekerjaan yang bisa menghasilkan uang kenapa musti kutolak? Dua puluh sembilan orang berarti dua ratus sembilan puluh laksa tahil”

Tong Koat segera menjulurkan lidahnya, sampai lama sekali baru ditarik kembali, katanya sambil tertawa getir

“Dari pada menyuruh aku keluarkan uang sebanyak ini, lebih baik aku saja yang dibunuh”

“Kalau begitu silahkan kau turun tangan sendiri. aku tahu selamanya kau membunuh orang tanpa dipungut bayaran!”

“Aku membunuh orang tidak memungut bayaran? Kapan kau pernah melihat aku membunuh orang?” Bu ki memang belum pernah melihatnya, ada sementara orang membunuh orang tanpa pisau, juga tak usah turun sendiri.

Tiba-tiba Tong Koat menghela napas panjang, katanya:

“Sebenarnya aku tidak seharusnya mencari kau untuk urusan semacam ini...!” “Lantas siapa yang seharusnya kau cari?” “Sangkoan Jin!”

Asal mendengar nama Sangkoan Jin, darah Bu ki terasa mendidih, jantungnya juga terasa berdenyut lebih cepat.

Andaikata Sangkoan Jin benar benar telah datang, andaikata ia berjumpa muka dengan Sangkoan Jin, dapatkah dia menguasai diri sendiri?

Dalam hal ini, ia sama sekali tidak mempunyai keyakinan.

Andaikata dia tak tahan dan turun tangan, dapatkah ia menusuk Sangkoan Jin sampai mati di ujung pedangnya?

Dia lebih lebih tidak yakin. Terdengar Tong Koat berkata:

“Konon Sangkoan Jin adalah seorang yang berbakat dari dunia persilatan yang jarang ditemukan dalam seratus tahunpun, bukan saja Bun bu siang cun (pandai dalam silat maupun sastra), lagi pula dia memiliki kepandaian yang bisa mengingat-ingat paras muka orang dalam sekilas pandangan, asal seseorang pernah diamatinya, maka dalam setiap kali perjumpaan dia tetap akan mengenalinya, sebagian besar murid Tay hong tong pernah dilihat olehnya, kalau dia yang kudatangkan kemari dia pasti dapat mengetahui siapakah mata matanya”

“Mengapa kau tidak mengundangnya kemari?” kata Bu ki Sekali lagi Tong Koat menghela napas panjang.

“Aaaai ! Sekarang kedudukannya sudah berada diatas. dia mana sudi mengurusi urusan

tetek bengek seperti ini?”

Mendadak dia berjalan ke depan dan menjura kepada orang orang yang sedang bersantap itu lalu sambil memicingkan matanya seraya tertawa, katanya:

“Kalian telah datang dari kejauhan, bila aku tidak menjamu kalian sebagaimana mestinya seorang tuan rumah terhadap tamunya harap kalian sudi memaafkan. Walaupun sayur yang dihidangkan hari ini kurang baik, toh nasinya bisa dimakan lebih banyakan sedikit. Tiba tiba ada orang yang tak tahan mengendalikan diri, mendadak tanyanya: “Sampai kapan kami baru boleh pergi”

Tong Koat tertawa, sahutnya:

“Bila kalian ingin, seuasai bersantap boleh saja pergi meninggalkan tempat ini”

baru selesai dia mengucapkan perkataan tersebut, sudah ada separuh di antaranya yang meletakkan sumpitnya ke meja, belum lagi mulutnya diseka mereka sudah terburu ingin pergi.

Ternyata Tong Koat sama sekali tidak bermaksud untuk menghalangi kepergian mereka itu.

Maka sisanya yang lainpun sama-sama meninggalkan tempat duduk dan berusaha pergi secepatnya dari situ.

Setelah semua orang tahu kalau di dalam benteng keluarga Tong kedatangan mata mata, siapapun di antara mereka tak ingin terseret di dalam peristiwa ini, tentu saja siapapun tak ingin berdiam terlalu lama lagi di sana.

Tiba tiba Tong Koat bertanya lagi kepada Bu ki.

“Benarkah kau tak dapat melihat siapa yang menjadi mata mata?” Bu ki menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Untung saja aku dapat melihatnya” kata Tong Koat lagi.

Kemudian sambil memicingkan matanya dan tersenyum, katanya lebih lanjut: “Padahal sejak semula aku sudah tahu kalau di sini ada seorang mat mata!” “Siapa?”

“Tio Bu ki!” Tio Bu ki.

Mendengar nama tersebut, yang paling terkejut sudah tentu Tio Bu ki sendiri.

Namun Tong Koat sama sekali tidak memandang ke arahnya, walau hanya sekejap matapun. Dari ke dua puluh sembilan orang yang berada di situ, hampir semuanya sudah keluar dari halaman tersebut, hanya seorang yang berjalan paling lamban.

Sepasang mata Tong Koat tertawa yang tajam bagaikan sembilu itu justru sedang mengawasi tubuh orang itu tanpa berkedip.

Ternyata orang itu bukan lain adalah Ci Peng. Mendadak Tong Koat tertawa dingin, lalu serunya,

“Yang lain boleh pergi semua, Tio Bu ki apakah kau juga ingin pergi ?”

Ci Peng sama sekali tidak memberikan reaksinya.

Ia tak boleh menunjukkan sesuatu reaksi, juga tak dapat menunjukkan suatu reaksi sebab dia sesungguhnya memang bukan Tio Bu ki.

Dia masih melanjutkan langkahnya menuju ke depan, meski jalannya tidak terlalu cepat, langkahnya pun tak pernah berhenti.

Dua tiga langkah lagi, sudah pasti dia akan berjalan keluar dari halaman tersebut.

Tapi dia tak sempat melangkah keluar dari halaman itu, karena secara tiba tiba Tong Koat telah menghadang jalan perginya.

Orang yang berperawakan besar seperti kuda ini ternyata memiliki gerakan tubuh yang jauh lebih lincah dari pada macan kumbang.

Tentu saja Ci Peng merasa terperanjat sekali.

Dengan sorot mata yang tajam Tong Koat memperhatikan dari atas sampai ke bawah berulang ulang, kemudian sambil memicingkan matanya dan tertawa katanya.

“Aku sangat memuja dirimu, kau memang benar benar pandai memahami diri ,”

“Aku?” kata Ci Peng.

“Sebenarnya akupun tak berani mengundangmu untuk tetap tinggal di sini sayang akupun kuatir orang lain tahu”

“Tahu apa?”

“Andaikata ada orang tahu itulah Tio Bu ki kongcu telah berkunjung ke benteng keluarga Tong, akan tetapi tak seorang menusiapun dari keluarga Tong yang baik baik menyambut kedatanganmu, bukankah kejadian ini akan menjadi lelucon yang bakal ditertawakan semua orang di dunia ini?”

“Akan tetapi aku tidak she Tio juga tidak bernama Bu ki!” sangkal Ci Peng. “Kau bukan Tio Bu ki?”

“Bukan!”

Tong Koat segera menghela napas panjang, katanya:

“Jika kau bukan Tio Bu ki, siapa pula yang bernama Tio Bu ki?” “Tiba tiba dia berpaling dan perintahnya kepada seorang centeng:

“Dapatkah kalian mengirim seseorang untuk mengundang kembali orang yang bernama Gou Biau itu?”

Gou Biau adalah seorang kakek botak yang berusia empat puluh tahunan, sepasang matanya tajam dan bercahaya kilat, jelas ia merupakan seorang jago kawakan yang kaya akan pengalaman.

Tadipun bersantap di situ, duduk dihadapan Ci Peng, makannya juda paling banyak dan paling cepat, seolah olah sama sekali tidak kuatir kalau sampai peristiwa ini menyerempet dirinya.

Tong Koat pun memperhatikannya atas bawah sampai beberapa kali, setelah itu dia baru bertanya:

“Kaukah yang bernama Gou Biau?” “Yaa, akulah orangnya!”

“Apa pekerjaanmu sekarang?”

“Aku adalah seorang piasau dari perusahaan ekspedisi Sam Tay piukiok sudah belasan tahun ngendon di dalam perumahan tersebut”

“Ada urusan apa kau datang kemari?”

“Aku sering kemari, sebab pengurus rumah penginapan di sini adalah seorang paman mertuaku!”

Mendengar perkataan itu, Tong Koat segera tersenyum. “Oooh....kalau begitu kau masih termasuk anak menantunya keluarga Tong...?” “Rumah penginapan yang berada di tempat itu masuk termasuk benteng keluarga Tong, pengurusnya bernama Tong Sam kui, diapun seorang keturunan dari keluarga Tong,

Kata Tong Koat lagi:

“Walaupun kau adalah menantunya keluarga Tong, tapi bila kuajukan pertanyaan kepadamu, kaupun harus menjawab dengan sejujurnya, setengah patah katapun tak boleh bohong”

“bagus, bagus sekali!”

Tiba tiba ia menuding ke arah Ci Peng kemudian tanyanya:

“Aku ingin bertanya kepadamu, dulu pernahkan kau berjumpa dengan orang ini?” Tanpa berpikir panjang Gou Biau segera menjawab:

“Pernah!”

“Di mana kau pernah berjumpa dengannya?”

“Di dalam sebuah rumah makan di kota Poo teng!”

“Hingga kini Bu ki baru mengerti apa sebabnya Tong Koat harus mencari orang itu untuk ditanyai?”

Kota Poo teng adalah pusat kekuasaan dari perkumpulan Tay Hong tong.....

Sudah lamakah kejadian itu berlangsung?” tanya Tong Koat lagi.

“Kalau dihitung hitung kejadian ini telah berlangsung pada dua tahun berselang”

“Orang yang pernah kau jumpai pada dua tahun berselang, masa masih bisa kau ingat kembali pada dua tahun kemudian?”

“Kesanku terhadap dirinya boleh dibilang cukup mendalam” “Kenapa?”

“Sebab pada waktu itu masih ada seseorang yang berada bersamanya, sedang terhadap orang itu selama hidup aku tak akan pernah melupakannya ”

“Siapakah orang itu?” “Orang itu adalah salah seorang dari tiga tongcu utama dalam Tay hong tong, si rase tua yang paling ditakuti setiap umat persilatan, Sugong Siau hong adanya!”

Perkataannya itu adalah ucapan yang jujur.

Tio Bu ki dapat melihat kalau ucapannya tidak bohong, sebab paras muka Ci Peng sudah nampak sedikit perubahan.

Kata Gou Biau lagi: “Hari itu kami sengaja berkunjung ke tempat Sugong Siau hong untuk meminta maaf sebab ketika barang kawalan kami melaluui kota Poo teng lantaran teledor ternyata lupa mengirim kartu nama ke markas Tay hong tong. maka pihak Tay hong tong lantas mengurus orang yang mengatakan bahwa keamanan barang kawalan kami tidak ditanggung lagi oleh pihak Tay hong tong!”

Tong Koat segera menghela napas panjang, katanya:

“Aaaai bagaimanapun juga, kalian memang terlampau sembrono, siapakah jago persilatan

di dunia ini yang tidak tahu kalau peraturan dari Tay hong hong selamanya lebih benar dari pada peraturan pemerintah sah.

Dan kalian merasa punya berapa besar kepandaian sehingga berani bertindak segegabah itu?”

“Kami sendiripun juga sadar kalau telah membuat bencana itulah sebabnya buru buru kami datang mencari Sugong toaya untuk meminta maaf ”

“Apa dia bilang”

“Sepatah       katapun       tidak      ia       katakan!” “Waaaaah. bukankah keadaan kalian menjadi runyam?”

“Untung saja ada kongcu ini di sampingnya ketika itu, coba kau bukan dia yang mintakan ampun untuk kami, sudah pasti barang kawalan kami itu jangan harap bisa keluar dari wilayah kota Poo teng dengan aman dan tenteram.

“Apakah orang yang mintakan ampun bagi kalian adalah orang itu? ujar Tong Koat sambil menuding ke arah Ci Peng.

“Benar!”

“Kau tidak salah melihat?” “Aku tidak salah melihat!” “Jadi justru karena dia sudah mintakan ampun bagi kalian, maka Sugong Siau hong baru tidak menuntut ketidaksopanan kalian itu lebih lanjut ?”

“Betul!”

Tong Koat segera tertawa, kembali katanya,

“Kalau begitu setiap perkataannya, bahkan Sugong Siau hong sendiripun pasti akan memberi muka kepadanya?”

Kemudian dengan pandangan mata tertawanya yang tajam bagaikan jarum itu dia amati Ci Peng sekali lagi, kemudian serunya:

“Kalau begitu, kepandaianmu betul hebat sekali”

Selamanya sikap Ci Peng selalu tenang dan pandai sekali menahan diri, tapi sekarang paras mukanya juga berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Waktu itu Sugong Siau hong sengaja membiarkan dia yang mintakan ampun buat Sam tay piaukiok, tujuan yang sesungguhnya adalah untuk memikul suatu kedudukan yang layak dan di segani orang baginya dalam dunia persilatan, agar teman teman persilatan banyak yang menaruh hormat kepadanya serta berterima kasih.

Memang begitulah perbuatan yang selalu dilakukan Sugong Siau hong, setiap waktu setiap saat dia selalu tak pernah lupa untuk memupuk angkatan muda agar lebih maju dan menempati kedudukan atau posisi yang lebih tinggi lagi dalam mata masyarakat.

Tentu saja pada saat itu dia tak pernah menyangka, jika perbuatannya itu justru mencelakakan diri Ci Peng.

Yaa, siapakah yang akan menyangka atas peristiwa yang bakal terjadi dikemudian hari? Sementara itu Tong Koat telah tertawa mengejek, kemudian ujarnya kembali:

“Jika kau bukan tio Bu Ki, lantas siapakah dirimu? Apa hubunganmu dengan Sugong Siau hong? Dan apa pula sebabnya dia begitu menuruti perkataanmu?”

Dalam keadaan seperti ini, apa pula yang masih bisa dikatakan oleh Ci Peng? Dia hanya bisa berkata:

“Aku bukan Tio Bu ki, aku tidak berasal dari marga Tio, namaku juga bukan Bu-ki!” “Oooh. jadi kau masih belum mau mengaku?” seru Tong Koat keras

“Aku tidak menyangkal apa apa, aku hanya bilang namaku bukan Tio Bu-ki, akupun bukan Tio Bu-ki!”

Rupanya dia telah mengambil keputusan, apa saja yang akan ditanyakan Tong Koat, dia hanya akan menjawab dengan sepatah kata, karena dia memang bukan Tio Bu-ki.

Hanya Tio Bu ki seorang yang benar benar tahu bahwa dia bukan Tio Bu ki

Apakah dia juga tahu kalau orang yang sekarang sedang berdiri disamping Tong-Koat barulah Tio Bu ki yang sesungguhnya?

Andaikata ia dapat menunjukkan dimanakah Tio Bu ki sesungguhnya berada, tentu saja ia bisa lolos dari situ dengan selamat.

Setiap orang hanya mempunyai selembar nyawa. Setiap orang tak urung akan takut mati. Apabila keadaan sudah terlalu memaksa, apakah diapun akan menghianati Bu-ki?

Bu-ki tidak yakin, bahkan Ci Peng sendiripun tak berani menyakininya. Tiba tiba Tong Koat berpaling lagi kepada centengnya sambil berkata:

“Dapatkah kalian mengutus orang untuk mengundang datang Tong Sam-kui?” MENCABUT PEDANG? ATAU JANGAN?

Tong Sam-kui adalah salah seorang keturunan keluarga Tong dari keluarga jauh yang paling menonjol sendiri. Dia masih terhitung saudara sepaman dengan Tong Lip.

Tahun ini dia berusia tiga puluh sembilan tahun, pandai bekerja dan luas pergaulannya terhadap makan minum dan berpakaian selalu menaruh perhatian khusus sehingga dia tampak bagaikan seorang pedagang yang berhasil.

Dalam kenyataan dia memang sukses sekali dalam usaha rumah penginapan yang kekuasaan diberikan kepadanya itu, dan lagi diapun mengerjakan pekerjaannya dengan sangat beraturan.

Didalam benteng keluarga Tong terdapat tiga puluhan buah toko setiap toko melakukan usahanya menurut aturan dan disiplin yang ketat, hal mana berbeda jauh bila dibandingkan dengan toko dari kota manapun didunia ini.

Sebab peraturan yang berlaku didalam benteng keluarga Tong adalah “Apa yang kau kerjakan kau harus mirip melakukan pekerjaan apa, kau menjual apa kaupun harus berteriak apa”

Dan disitu pula terletak kunci kesuksesan dari keluarga Tong selama ini. Tong Koat sudah mulai bertanya sambil menuding kearah Ci Peng tanyanya, “Kau pernah berjumpa dengan orang ini?”

“Pernah!”

Jawaban dari Tong Sam kui sama tegasnya dengan jawaban dari Gou Biau. “Kongcu ini sudah bukan pertama kali ini berdiam disini”

“Dulu ia pernah kemari?”

“Yaa, pernah datang kemari sebanyak empat kali”

Jawaban Tong Sam kui lebih terperinci lagi lanjutnya

“Ketika datang untuk pertama kalinya, ini terjadi pada akhir tahun yang lalu bulan sebelas tanggal sembilan belas. Selanjutnya setelah satu dua bulan satu kali baru berkunjung kemari, setiap kali datang dia tentu menginap selama dua tiga hari”

“Pernahkah kau bertanya kepadanya, dimana ia berdagang apa? Dan ada urusan apa datang kemari?”

“Sudah kunyatakan” “Apa jawabnya?”

“Dia bilang dia adalah seorang pedagang kain, tokonya berada dikota Sian sia merek Siang Tay, dia datang kemari dengan maksud untuk berjual beli”

“Apakah dia membawa barang dagangan?”

“Yaa, setiap kali datang ia selalu membawa barang dagangan, dan setiap kali juga barang dagangannya pasti habis”

Setelah tersenyum, lanjutnya:

“Sebab barang yang dijualnya sangat murah, bahkan lebih murah tiga bagian dibandingkan dengan para pedagang grosir!” Tong Koat juga tertawa.

“Dengan yang mendekil leher ada yang mengerjakan dagangan yang merugi juga ada yang mengerjakan, mengapa dia bersedia melakukan perdagangan yang merugi?”

“Itulah sebabnya aku merasa keheranan, maka ketika ia datang untuk kedua kalinya, akupun segera melakukan penyelidikan!”

“Bagaimana hasil penyelidikanmu?”

“Dikota Sian sia memang terdapat sebuah toko penjual kain yang memakai merk “Siang tay” cuma taukenya bukan dia”

Kemudian ia menambahkan:

“Tapi taukenya tahu kalau ada orang macam dia, sebab setiap dua bulan satu kali dia pasti datang untuk memborong kain, setelah itu barang dagangannya itupun dijual lagi kepada kami dengan harga bantingan”

“Apa pula yang berhasil kau selidiki?”

“Aku telah meninggalkan beberapa orang di toko Siang tay untuk menyaru sebagai pelayan disana, sebenarnya beberapa orang saudara itu bekerja pada tokonya engkoh Tek untuk belajar dagang kain, jadi cocok sekali kalau mengirim mereka untuk menyaru disana.”

Yang dimaksudkan sebagai engkoh Tek, adalah Tong Tek, dia adalah pengurus dari toko penjual kain didalam benteng keluarga Tong......

“Itulah sebabnya, ketika dia pergi ke Siang tay untuk memborong kain lagi, orang yang mengirim barang pesanannya ke rumahnya adalah saudara saudara kita” kata Tong Sam kui.

“Sungguh tepat dan sempurna sekali cara kerjamu kali ini!” puji Tong Koat sambil tertawa.

“Menurut laporan yang dikirim saudara saudara kita yang menghantar barang pesanan kerumahnya itu, diapun tinggal dikota Sian sia, yang ditempati adalah rumahnya Ong Lo tia, rumah tersebut disewa olehnya dengan beaya dua puluh tahil perak, jadi satu tahun uang sewanya adalah sepuluh tahil emas!”

“Tampaknya tidak kecil gedung yang ditempatinya itu?” kata Tong Koat sambil tertawa. “Yaa, memang tidak kecil!”

“Apakah dia tinggal dalam gedung yang begitu besarnya itu seorang diri?” “Tidak, dia tidak sendirian, masih ada seorang perempuan lagi yang tinggal bersamanya” “Perempuan macam apakah itu?”

“Seorang perempuan yang muda, mana cantik lagi, logat bicaranya bernada dialek utara!”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan

“Bahkan diapun telah menyuruh Ong Lo tia untuk membelikan seorang budak yang bernama ‘Kui ci’, berusia delapan belas tahun, tubuhnya mana gemuk, sedikit rada bodoh lagi”

“Kalau seorang nona sudah mencapai usia tujuh delapan belas tahun, sekalipun bodoh juga seharusnya mengerti sedikit urusan” kata Tong Koat.

Kemudian sambil memicingkan matanya tertawa lanjutnya: “sekalipun urusan lain tidak dimengerti,ada satu urusan tentu dimengerti olehnya!”

Urusan apakah itu? Sekalipun ia tidak menerangkan, orang lain juga dapat menduganya. Tong Sam-kui pun segera melanjutkan:

“Itulah sebabnya aku menyuruh Siau kiu ke sana, selamanya Siau kiu memang ahli sekali dalam menghadapi perempuan”

“Wah. kau memang pandai memilih orang!” puji Tong koat sambil tertawa

Tidak sampai setengah bulan kemudian dayang itu sudah tunduk seratus persen kepada Siau kiu, apapun yang dia ketahui ia utarakan semua tanpa tedeng aling aling

“Apa saja yang dia katakan?”

“Dia bilang perangai nona itu kasarnya bukan kepalang, kongcu tersebut merasa takut setengah mati kepadanya”

Kemudian setelah berhenti sebentar, pelan pelan dia melanjutkan:

“Dia masih memberitahukan pula kepada Siau kiu, biasanya kongcu itu memanggil si nona tersebut dengan sebutan namanya yakni Cian Cian”

Cian Cian!

Bu-ki merasakan hatinya bagaikan tenggelam di air. Ternyata Cian Cian juga berada disekitar tempat itu, tanyanya dia memang masih berada bersama Ci Peng.

Sekali lagi Tong Koat memicingkan matanya sambil tertawa, ujarnya pelan:

“Cian Cian, nama ini memang bagus sekali, nama ini memang betul betul sangat indah”

“Tapi orang yang bernama Cian Cian tidak banyak jumlahnya, setahuku cuma ada dua orang yang bernama itu!” ujar Tong Sam-kui.

“Dua orang yang mana?” tanya Tong Koat “Putri dari bibi biniku juga bernama Cian Cian” “Sedangkan yang satunya?”

“Aku dengar putri kesayangan Tio jiya dari Tay hong-tong, adik perempuannya Tio Bu-ki juga bernama Cian Cian”

“Tahukah kau, aku juga punya adik perempuan?” sela Tong Koat secara tiba tiba. “Tentu saja aku tahu”

“Tahukah kau akupun sangat takut kepadanya, takutku kepadanya boleh dibilang setengah mati?”

“Engkoh takut kepada adik bukan suatu kejadian yang aneh, banyak sekali engkoh engkoh didunia ini yang takut setengah mati kepada adiknya”

Tong Koat segerea menghembuskan napas panjang, ujarnya sambil tersenyum hambar: “Waaah.... kalau begitu bukan cuma aku saja yang takut kepada adikku. dan aku rasa,

urusan ini sudah cukup jelas!”

Paras muka Ci Peng sudah sedemikian pucatnya sehingga setitik darahpun tidak nampak, sekarang diapun tahu kalau dirinya telah melakukan kesalahan yang mematikan, suatu kesalahan yang tak bisa diampuni lagi.

Dia terlalu memandang remeh musuhnya, dia terlalu meremehkan kemampuan Tong Sam kui. Diapun terlalu meremehkan kemampuan Tong Koat.

“Sekarang, apalagi yang hendak kau katakan?” tegur Tong Koat kemudian sambil tertawa. “Aku tidak she Tio, akupun bukan Tio Bu ki!” ujar Ci Peng untuk kesekian kalinya.

Tong Koat segera menghela napas panjang katanya: “Kalau begitu, tampaknya aku terpaksa harus mengundang kedatangan si nona yang bernama Cian Cian”

Ia berpaling ke arah Tong Sam kui dan menambahkan,

“Aku pikir, sudah pasti kau telah mengirim orang untuk mengundangnya kemari bukan?” “Yaa, aku memang sudah mengirim orang ke situ, cuma ”

“Cuma kenapa?”

“Tampaknya kehebatan badan dari beberapa orang utusan itu kurang begitu baik secara tiba tiba saja mereka kena kejangkitan suatu penyakit aneh”

“Siapa saja yang kau kirim kesitu?”

“Beberapa orang saudara yang dulu mengikuti A-lek” A-lek adalah Tong Lek;

Sebetulnya diapun termasuk salah seorang yang berada dibawah pertanggungan jawab Tong Koat. Kelompok mereka bertugas didalam suatu gerakan operasi.

Diantara keturunan jauh dari keluarga Tong, hanya mereka yang tergabung dalam kelompok itu saja yang berhak mendapatkan senjata rahasia.

Mereka semua berpengalaman sangat luas dan merupakan jago jago tangguh yang cukup cekatan dan cepat reaksinya dalam menghadapi keadaan, selain itu merekapun memiliki kesehatan badan yang selalu berada dalam kondisi paling prima.

“Mengapa secara tiba tiba mereka bisa kejangkitan penyakit? penyakit apa yang mereka derita?” tanya Tong Koat

“Penyakit yang mengidap ditubuh mereka adalah semacam penyakit yang aneh sekali ada yang tengkuknya tahu tahu terlepas dari badan, ada yang tenggorokannya tiba tiba berlubang, seperti kena ditembusi oleh suatu benda tajam, ada juga yang dadanya berlubang sehingga kelihatan isi perutnya”

“Aaah. ! Sudah pasti hal itu bukan disebabkan tusukan orang, tentu saja nona Cian Cian tak

akan menusuk tenggorokan mereka tanpa sebab tanpa musabab, apalagi mematahkan tulang tengkuk mereka” “Itulah sebabnya kukatakan kalau mereka sudah kejangkitan suatu penyakit serius semacam penyakit yang aneh sekali”

“Wah betul, sudah pasti demikian. !” Tong Koat turut manggut manggut berulang kali.

“Yaa; pasti”

“Sekarang, dimanakah orang orang itu?”

“Jika seseorang sudah kejangkitan penyakit semacam ini, sudah barang tentu mereka akan mati tanpa bisa tertolong lagi”

“Apakah mereka sudah mati dirumah Tio kongcuya yang bukan bernama Tio Bu-ki ini” “Yaa, kemaren malam mereka sudah mati”

“Lantas dimanakah sinona yang bernama Cian Cian itu?”

“Jika dirumahnya secara tiba tiba kedapatan ada begitu banyak orang yang mati, tentu saja dia tak akan tega untuk berdiam terus didalam ruang tersebut”

“Makanya terpaksa dia angkat kaki?” sambung Tong Koat. “Yaa, mau tak mau terpaksa dia harus pergi”

“Tentunya dia tidak meninggalkan pesan yang memberitahukan kepada kalian, kemanakan dia telah pergi?”

“Ya, rupanya dia tak sempat lagi!”

Tong Koat segera menghela napas panjang, katanya:

“Ooooh. kejadian ini sungguh merupakan suatu yang sangat tidak kebetulan, penyakit yang

terjangkit ditubuh mereka sungguh terjadi bukan pada waktunya” Sambil gelengkan kepalanya berulang kali dia bergumam.

“Aku hanya berharap agar nona Cian Cian pun jangan sampai ketularan penyakit aneh yang berjangkit ditubuh mereka itu, bayangkan saja andaikata seorang nona cantik seperti dia, tiba tiba kehilangan kepalanya atau tulang tengkuknya patah, waah. tentu tak sedap dipandang

orang. !”

“Yaa, bentuk badannya sudah pasti kurang sedap dipandang!” sahut Tong Sam kui sambil menghela napas panjang pula. Kedua orang itu bukan saja memiliki bakat bagus untuk bermain sandiwara, lagipula merekapun memiliki suatu kerja sama yang sangat bagus !

Bu ki maupun Ci Peng diam diam berhembus napas lega, akhirnya Cian Cian tak sampai terjatuh ketangan mereka.

Walau tidak seharusnya turun tangan untuk melukai orang, tapi dalam suasana serta keadaan seperti itu, mungkin Cian Cian memang sudah tiada pilihan lain kecuali berbuat demikian.

Sekarang, walaupun jejaknya sudah ketahuan, paling tidak hal itu jauh lebih baik daripada terjatuh ketangan mereka.

Sambil bergendong tangan pelan pelan Tong Koat berjalan mondar mandir disana. Tiba tiba ia berhenti dihadapan Bu-ki seraya berkata:

“Masih ingatkah kau dengan sepatah kataku?” “Perkataan yang mana?” tanya Bu-ki.

“Lebih baik salah membunuh daripada salah melepas?” “Yaa, masih ingat”