Harimau Kemala Putih Jilid 27

Jilid 27  

Pek Lek Tong dari Kanglam selain sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan, pengaruhnya amat luas, lagipula mereka adalah orang kaya termashur didalam dunia persilatan, kemana anak keturuna keluarga Lui pergi, semua orang tentu, menyambutnya dengan segala kehormatan.

Terutama sekali Tongcu dari Pek lek tong generasi yang sekarang ini, selain Bun bu siang cu (menguasai ilmu silat maupun sastra) berambisi besar, juga termasuk lelaki tampan yang kenamaan didalam dunia persilatan.

Betulkah manusia yang buta bagaikan kelelawar dan dekil melebihi anjing budukan ini sesungguhnya adalah pemilik perkumpulan Pek lek tong dari Kanglam, Lui Ceng Thian yang amat tersohor namanya dalam dunia persilatan.

Siapa yang mau percaya dengan ucapan tersebut? Dan siapa pula yang berani mempercayainya?

Buki percaya.

Sedari tadi ia sudah berpikir sampai kesitu, tapi mau tak mau toh dia merasa kaget bercampur tercengang juga, tanpa terasa ia lantas bertanya:

“Mengapa kau bisa berubah menjadi begini rupa? Apakah keluarga Tong telah menghianati dirimu?”

Padaha tak usah ditanyapun, ia juga tahu kalau hal ini merupakan tindakan dari keluarga Tong.

Walaupun ia juga telah menduga bahwa perkawinan antara pihak Pek lek tong dengan keluarga Tong bakal mengakibatkan peristiwa tragis semacam ini.

Tapi diapun tahun, harta kekayaan dan kekuasaan Pek lek tong tidak nanti akan dibagi- bagikan kepada orang lain. Sekarang, kekayaaan maupun kekuasaan Pek lek tong sudah menjadi barang saku dari keluarga Tong, tentu saja Lui Ceng Thian menjadi kehilangan nilainya untuk dipergunakan.

Sekaran walaupun kehidupannya lebih buruk dari kehidupan seekor anjing, tapi ia hidup sudah merupakan suatu kejadian yang luar biasa.

Kembali Buki bertanya:

“Mengapa mereka belum membunuhmu?” “Sebab aku masih mempunyai sepasang tangan”

Lui Ceng Thian menjulurkan sepasang tangannya, tangan itu masih kelihatan tenang, mantap, lincah dan bertenaga.

Sambil membusungkan dada dan bersikap angkuh terusnya:

“Selama akau masih mempunyai sepasang tangan, mereka tak akan bisa membunuhku juga tak akan berani membunuhku”

“Kenapa tidak berani?”

“Sebab bila aku sampai mati, maka San hoa thian li (bidadari menyebar bunga) merekapun akan turut mati”

“San hoa thian li? Siapakah San hoa thian li itu?”

“San hoa thian li bukan seorang manusia, melainkan semacam senjata rahasia” Pelan-pelan dia melanjutkan:

“Semacam senjata rahasia yang dulu tak pernah ada dan dikemudian hari tak ada keduanya, bila senjata rahasia semacam ini sudah muncul didalam dunia persilatan, maka semua senjata rahasia yang ada didunia ini akan berubah seperti permainan kanak-kanak”

Benarkah didunia ini terdapat senjata rahasia yang begini menakutkan? Siapa yang akan mempercayainya?

Buki percaya

Ia jadi teringat kembali dengan senjata rahasia Tong Giok yang berada di atas koceknya. Walaupun kedua biji senjata rahasia itu belum sampai mencelakai orang, sebaliknya malah mencelakai diri sendiri, tapi daya kekuatan yang dimilikinya dapat disaksikan oleh setiap orang.

Padahal ujung jari Tong Giok hanya terobek sedikit sekali, tapi akibatnya ia menjadi orang cacad, ketika senjata rahasia itu dilemparkan sekenanya, seluruh bangunan kuil itu kena diledakan.

Dalam senjata rahasia tersebut selain ada racun yang jahat dari keluarga Tong, juga terdapat bahan peledak dari Pek lek tong.

Jika dua macam senjata rahasia mengunggal dari dua keluarga yang sudah lama termashur namanya dalam dunia persilatan dipersatukan, siapa lagi manusia didunia ini yang sanggup untuk melawannya.

Telapak tangan Bu Ki sudah basah oleh keringat dingin.

“Sudah sedari dulu keluarga Tong berambisi untuk merajai seluruh kolong langit, asal senjata rahasia ini berhasil diproduksi, maka itulah saat mereka untuk menjagoi seluruh dunia”

“Apakah sekarang belum sampai waktunya?” tanya Bu Ki “Belum!”

Kemudian dengan angkuh dia melanjutkan:

“Tanpa aku, tak mungkin ada San hoa thian li, justru karena sampai sekarang senjata rahasia tersebut belum selesai dibuat, maka mereka tak berani mengusik diriku”

“Seandainya mereka berhasil memproduksi benda itu?” “Bila ada San hoa thian li, berarti tiada aku Lui Ceng Thian”

“Oleh karena itu kau tak akan membiarka mereka berhasil dengan cepat ?”

“Sudah pasti tidak!”

Akhirnya Bu Ki menghembuskan napas lega. Kembali Lui Ceng Thian berkata:

“Ada sementara orang tentu beranggapa bahwa lebih baik mati saja daripada hidup sengsara seperti aku sekarang, tapi aku masih belum ingin mati” “Andaikata aku menjadi kau, akupun tak akan mati, asal kau masih sanggup untuk hidup lebih jauh, aku pasti akan hidup terus, sekalipun bisa hidup sehari lagi, aku juga akan hidpu sehari lebih lama!”

“oya?”

“Sebab aku masih harus menunggu datangnya kesempatan untuk membalas dendam, setiap saat kesempatan akan datang, asal orang masih hidup berarti kesempatan akan datang setiap saat”

“Betul!”

Mendadak suaranya berubah menjadi gembira sekali, lanjutnya:

“Ternyata memang aku tidak salah melihat, ternyata kau memang benar-benar adalah orang yang sedang kucari”

“Bu Ki masih belum dapat memahami ucapannya, dia menunggu orang itu menyelesaikan kata-katanya.

“Sekarang, mataku susah menjadi buta. Disekap pula ditempat ini seperti anjing liar, sekalipun ada kesempatan, belum tentu aku bisa memanfaatkannya, maka akau sangat membutuhkan bantuan seorang teman”

Dia meraba tangan Bu ki dan menggenggamnya kencang-kencang setelah itu lanjutnya:

“Kau benar-benar adalah teman yang sangat kubutuhkan, aku butuh sekali seorang teman seperti dirimu itu, kau harus menjadi temanku!”

Sepasang tangan Bu ki berubah menjadi dingin dan kaku.

Ia tak menyangka kalau pemimpin Pek lek tong bisa mohon bersahabat dengannya. Tak tahan dia lantas bertanya:

“Tahukah kau, siapa aku ini?”

“Peduli siapa kau, semuanya adalah sama saja!”

“Dari mana kau tahu kalau aku bakal menjadi sahabatmu?”

“Aku tidak tahu, tapi aku tahu bahwa orang-orang keluarga Tong hanya mempunyai dua pendapat”

“Pendapat apa?” “Kalau bukan sahabatnya adalah musuhnya!” “Yaa, aku pernah mendengar perkataan ini”

“Aku pun mempunyai suatu pendapat, asal kau bukan teman keluarga Tong, kau adalah temanku”

Kemudian dia bertanya pada Bu ki:

“Apakah kau adalah temannya keluarga Tong?” “Bukan”

“Kalau begitu, kau adalah temanku.” PERSOALAN PELIK

Sinar lentera menyoroti wajah Lui Ceng Thian, wajahnya penuh memancarkan sinar pengharapan dan permohonan.

Dia sangat berharp bisa mendapat seorang teman semacam ini, ia memohon orang itu bersedia menjadi temannya.

Tapi siapakah orang inipun belum diketahui olehnya. Akhirnya Bu ki menghela napas panjang, katanya.

“Benar, kalau aku bukan teman keluarga Tong, tentu saja adalah sahabatmu”

Ia lebih lebih tidak menyangka kalau dirinya bakal memenuhi permintaan LUi Ceng Thian, pemimpin dari Pek lek tong ini untuk menjadi sahabatnya.

Ia meluluskan permintaan, karena Lui Ceng Thian yang sekarang sudah bukan LUi Ceng Thian yang dulu, dia tak lebih hanya seorang kakek buta yang sudah kenyang menderita dan tersiksa, sudah banyak dihina, dicemooh dan dianiaya.

Ia benar-benar sudah tidak tega untuk menganggap kakek yang menggenaskan ini sebagai musuh besarnya.

Ia meluluskan, karena dia tahu sekarang mereka berada dalam satu tujuan yang sama, bila mereka bersahabat maka hal mana akan mendatangkan banyak kebaikan dan manfaat bagi kedua belah pihak. Sekarang Tio Bu Ki sudah bukan seorang pemuda yang berangasan lagi, sekalipun ia belum sampai mempelajari cara untuk memperalat orang lain, paling tidak ia telah mampu untuk membedakan mana yang berbahaya dan mana yang menguntungkan, dia pun tahu bagaimana harus berbuat agar menguntungkan pihaknya.

Sebab hal itu merupakan suatu hal yang maha penting.

Pekerjaan yang menguntungkan diri sendiri tanpa merugikan orang lain pasti akan ditampik oleh orang yang berakal budi.

Sekarang Lui Ceng Thian telah melepaskan genggamannya, ia kelihatan gembira sekali, gumamnya:

“Kau tak akan menyesal, setelah bersahabat dengan seorang teman seperti aku, kujamin kau pasti tak akan merasa menyesal”

“Aku pikir, saat ini kau pasti merasa menyesal sekali” kata Bu ki dengan hambar. “Apa yang kusesalkan?”

“Menyesal kau telah bersahabat dengan orang-orang semacam keluarga Tong!”

Paras muka Lui Ceng Thian segera berubah menjadi gelap dan murung, ujarnya dengan sedih: Tapi aku sama sekali tidak menyalahkan mereka, aku hanya membenci diriku sendiri. “Kenapa?”

“Sebab aku terlalu menilai rendah kemampuan mereka”

Sambil mengepal sepasang tinjunya kencang kencang, sepatah demi sepatah dia melanjutkan.

“Barang siapa yang terlalu memandang rendah musuhnya, hal ini merupakan suatu kesalahan yang tak dapat dimaafkan lagi, kesalahan itu tak pantas untuk dikasihani”

Inilah nasehat yang berhasil diciptakan olehnya setelah mengalami suatu pengalaman yang pahit dan penuh percobaan serta penderitaan.

“Ucapanmu itu pasti akan kuingat terus untuk selamanya” kata Bu-ki.

“Kalau toh kau sudah mengetahui tentang diriku, tentunya kau juga pernah mendengat tentang masalahku bukan?” tanya Lui Ceng Thian.

Bu-ki mengakuinya. Bila kau beranggapan bahwa aku menerima syarat perkawinan itu karena tertarik oleh kecantikan Tong Kian-kian, maka dugaanmu itu keliru besar sekali kata Lui Ceng Thian lebih lanjut;

Sekarang Bu-ki baru tahu kalau perempuan yang matanya sipit menjadi satu garis bila sedang tertawa itu bernama Kian-kian.

Kian-kian memang seorang perempuan yang amat cantik bukan cuma cantik saja, bahkan memiliki semacam daya tarik yang bisa membuat kaum lelaki menjadi terpikat.

Terhadap perempuan semacam ini, sekalipun ada lelaki yang mengorbankan diri demi dirinya, Bu-ki juga tak akan merasa keheranan.

“Benarkah kau bukan lantaran dia?” tanga Bu-ki. Lui Ceng Thian tertawa dingin.

“Heeehh........heeehh......heeehh. aku bukanlah seorang lelaki yang belum pernah melihat

kecantikan seorang wanita, istriku juga seorang perempuan yang cantik jelita” Istrinya yang dulu adalah Mi Ci.

Kecantikan Mi Ci daya tarik Mi Ci, semuanya sudah pernah dirasakan oleh Bu-ki. Lui Ceng-thian berkata lebih jauh:

“Tapi sekarang aku telah meninggalkan dirinya, aku tahu dia pasti tak akan memaafkan diriku, karena aku sendiripun tak dapat memaafkan diriku sendiri”

Dengan sedih dia melanjutkan;

“Tak sedikit peristiwa semacam ini yang banyak terjadi didunia ini, dikala kau telah kehilangan, saat itulah baru kau rasakan betapa berharganya dia”

Lagi lagi suatu nasehat yang diberikan setelah mengalami suatu penderitaan dan siksaan yang berat.

“Mengapa kau tinggalkan isterimu itu? Kenapa kau meluluskan permintaan ini?” tanya Bu-ki “Karena aku mempunyai ambisi!”

“Ambisi untuk menguasai seluruh kolong langit?” “Keluarga Tong ini menggunakan diriku untuk menguasahi seluruh kolong langgit, sebaliknya akupun sama juga ingin memperalat mereka, cuma sayang. ”

“Cuma sayang aku terlampau memandang rendah mereka, orang orang keluarga Tong ternyata jauh lebih lihay daripada apa yang kau perhitungkan semula” sambung Bu-ki.

Lui Ceng-thian segera mengakuinya.

“Itulah sebabnya mataku menjadi buta akupun dirantai orang disini bagaikan seekor anjing budukan”

Digenggamnya tangan Bu-ki kencang-kencang, maka katanya kembali; “Itulah sebabnya kau harus membantu diriku!”

“Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Aku masih punya teman, Pek lek tong masih punya anak buah, seandainya mereka tahu keadaanku sekarang, sudah pasti mereka akan berusaha mencari akal untuk menoong diriku”

“Taukah mereka akan keadaanmu sekarang?”

“Mereka sama sekali tidak tahu, mereka mengira aku berada didalam pelukan hangat wanita cantik”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan;

“Keluarga Tong telah memisahkan aku dengan orang lain, dalam sepuluh bulan belakangan ini, kau adalah orang hidup pertama yang pernah kujumpai”

Selama sepuluh bulan belakangan ini, apa yang bisa dilihat olehnya sebagai satu satunya barang yang bisa bergerak adalah sebuah keranjang bambu.

Keranjang itulah yang mengirim kebutuhan makan dan minumnya setiap hari dari atas, kemudian menaikkan senjata mesiu yang berhasil dibuatnya dalam sehari itu.

Bila satu hari tiada senjata mesiu yang dibuat, maka keesokan harinya terpaksa ia musti menahan lapar.

Jadi boleh dibilang, barter tersebut merupakan suatu barter yang dibayar secara kontan.

Tindak tanduk pihak keluarga Tong selalu mengutamakan kenyataan, oleh karena itu tindakan mereka selalu amat manjur...... Dalam sepuluh bulan terakhir ini, satu satunya pekerjaan yang berhasil ia buat dan cukup memuaskan hatinya adalah menggali sebuah terowongan bawah tanah

Sesungguhnya dia tidak bermaksud untuk menggali sebuah terowongan agar melarikan diri dari benten keluarga Tong, sebab dia tahu hal itu merupakan sesuatu yang mustahil

Ia menggali terowongan itu tak lebih agar memberi sedikit pekerjaan baginya, agar timbul setitik harapan dalam hatinya.

Jika seseirang sudah tiada setitik harapan lagi, bagaimana mungkin ia masih bisa hidup lebih jauh.

Kembali Lui Ceng-thian berkata:

Aku sudah bekerja keras selama sepuluh bulan lebih, meski masih jauh selisihnya dari sasaran yang kuincar, meski terowongan jalan bawah tanah ini hanya bisa kugali sampai dalam kebun bunga, tapi justru pekerjaan ini telah mendatangkan hasil.

“Kau telah menyelamatkan diriku”

“Justru karena itu juga, aku berhasil menemukan seorang teman” Bu-ki menghela napas panjang, katanya pula:

“Cuma sayang temanmu itu sudah tidak dapat hidup lebih jauh lagi” “Kenapa?”

“Tentunya kau tahu, bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menyusup masuk kedalam benteng keluarga Tong”

“Yaa, memang bukan sesuatu yang amat gampang”

“Aku bukan menyusup masuk kemari, aku adalah tamunya keluarga Tong,

Tong Kuat lah yang mengajakku kemari, tempat yang kudiami pun merupakan kamar tamu keluarga Tong yang khusus untuk menerima tamu agung”

“Kepandaianmu tentunya luar biasa sekali”

“Andaikata Tong Kuat menjumpai tamunya secara tiba tiba lenyap tak berbekas, coba bayangkan apakah aku masih bisa hidup lebih jauh lagi ”

“Dia tak akan menemukan hal ini” “Kenapa?”

“Sebab sebelum dia menemukan kau tidak berada didalam kamar, aku telah menghantarmu pulang”

Bu-ki segera tertawa getir.

“Dengan cara apa kau hendak menghantarku pulang? Mencekoki obat pelenyap bada kepadaku? Atau merubahku menjadi seekor lalat?”

Sesungguhnya persoalan ini memang merupakan sesuatu persoalan yang sangat pelik.

Agaknya Lui Ceng-thian seudah mempunyai rencana yang cukup matang didalam persoalan ini, segera katanya”

“Mula mula aku akan menghantarmu menuju ke kebun bunga diujung terowongan sana” “Kemudian?”

“Kemudian aku akan menerjang keluar lebih dulu dari tempat itu” Kata Lui Ceng-thian. Sesudah berhenti sebentar, dia menerangkan:

“Jika para penjaga disekitar tempat itu menjumpai diriku, maka mereka pasti akan mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk berusaha menangkap diriku”

“Dengan perbuatanmu itu, kau pasti akan tersusul dan ditangkap kembali oleh mereka”

“Itu mah bukan persoalan, sekarang San hoa thian li belum berhasil dibuat, sekalipun mereka berhasil menangkap diriku, paling banter cuma menghantarku kembali dan paling paling cuma menambahi dua buah borgol lagi diatas badanku”

“Mereka pasti akan bertanya kepadamu, dengan cara apa kau berhasil melarikan diri?” “Aku toh bisa saja membungkam diri” Dengan angkuh dia melanjutkan:

“Aku adalah Lui Ceng-thian, mereka seharusnya juga tahu Lui Ceng-thian bukan manusia yang tak becus, seandainya aku benar benar ingin melarikan diri dari gua ini, hal tersebut bukannya tak bisa kulakukan” Mau tak mau Bu-ki harus mempercayai juga, bagaimana juga Lui Ceng-thian boleh dibilang merupakan jagoan kelas satu didalam dunia persilatan dewasa ini.

“Perduli apapun juga yang bakal terjadi aku tak akan mengatakan soal terowongan bawah tanah ini kepadanya” kata Lui Ceng-thian lagi dengan cepat.

“Kenapa?”

“Sebab aku masih ingin menggunakan terowongan bawah tanah ini untuk mengadakan kontak denganmu”

Setelah berhenti sejenak, terusnya:

“Pokoknya asal kau sudah mendapatkan kabar, carilah suatu akal untuk memberitahukannya kepadaku”

“Andaikata aku melupakan dirimu?”

“Kau tak akan melupakannya, karena akupun tak akan melupakan dirimu. ”

Kalau toh aku belum melupakan dirimu, berarti setiap saat akupun masih bisa memberi tahukan rahasia ini kepada Tong Koat.

Kata kata semacam ini tidak dia ucapkan juga tidak perlu dia katakan.

Bu ki bukan seorang pemuda yang tolol, tentu saja dia dapat memahami arti dari pada perkataan itu.

Terdengar Lui Ceng Thian berkata lagi:

“Dikala mereka mengejar diriku nanti, kau dapat menggunakan kesempatan itu untuk menerobos masuk kedalam kebun itu.

“Sekalipun bisa sampai didalam hutan itu, belum tentu aku bisa balik kerumah” “Kenapa?”

“Sebab dalam hutan itu telah diatur semacam ilmu barisan yang sangat hebat” “Asal kau ingat selalu maju tiga mundur satu, kiri tiga kanan

satu maka hutan belantara itu dapat kau tembusi dengan gampang sekali ” “Masa segampang itu?”

“Didunia ini memang banyak terdapat kejadian yang sepintas lalu tampaknya sangat kacau dan rumit sekali, padahal setelah diungkapkan semuanya gampang dan sederhana sekali”

Inipun merupakan suatu nasehat yang baik sekali.

Jika seseorang sudah terlalu sering mengalami pukulan serta percobaan maka sering sekali dia akan berubah menjadi lebih cerdik.

“Menurut pendapatmu berapa besar kesempatan yang kau miliki?” tanya Bu-ki kemudian. “Paling tidak juga ada tujuh bagian”

Walaupun Bu-ki bukan seorang penjudi ulung tapi baginya, asal kesempatan ada tujuh bagian, hal mana sesungguhnya sudah lebih dari cukup baginya.

Lui Ceng-thian segera bertanya.

“Sekarang, persoalan apa lagi uang hendak kau ajukan?” “Masih ada satu lagi”

“Tanyalah!”

“Apakah terowongan bawah tanah ini digali oleh kau seorang?” “Selain aku masih ada siapa lagi?”

“Kecuali kau seharusnya masih ada seseorang lain” “Siapakah orang itu?”

“Seseorang yang membantumu mengangkut pergi pasir pasir yang telah digali itu?” Setelah berhenti sebentar, pelan-pelan dia melanjutkan:

“Untuk membuat terowongan sebesar dan sepanjang ini, sudah pasti pasir yang berhasil digali tak terhitung jumlahnya, andaikata tiada orang yang mengangkutnya pergi, memangnya kemana kaburnya pasir tersebut? Masa sudah kau telan semuanya kedalam perut?”

Masalah tersebut bukan saja merupakan suatu persoalan yang pelik lagipula juga merupakan kunci yang paling penting didalam peristiwa ini.... Sepasang kepalan Bu-ki telah mengepal kencang-kencang.

Andaikata Lui Ceng thian tak dapat menjawab pertanyaan itu, hal mana menunjukkan kalau apa yang telah diucapkan selama ini adalah kata kata bohong belaka.

Maka sepasang kepalan Bu ki yang sudah terkepal itupun segera akan menghajar tempat mematikan diatas tenggorokannya.

Cukup dengan sebuah jotosan, nyawanya pasti akan melayang meninggalkan raganya/ Sambil tertawa Lui Ceng thian segera berkata:

“Pertanyaan yang kau ajukan ini sebenarnya merupakan suatu pertanyaan yang bagus sekali” Dengan suara bangga, dia melanjutkan:

“Padahal aku sendiripun sudah lama sekali memikirkan persoalan ini, jika masalah itu tak dapat perselesaikan, maka pada hakekatnya tak mungkin bagiku untuk membuat terowongan ini. karena bagaimanapun juga aku toh belum ingin tertelan oleh tanah dan pasir yang kugali ini”

“Bukan sesuatu masalah yang gampang untuk menyelesaikan persoalan pelik itu” “Yaa, memang bukan sesuatu yang gampang”

“Apakah kau telah menyelesaikannya?”

“Kalau dahulu kau pernah datang kemari, dan seandainya kau pernah mengukur luasnya gua ini, maka kau akan menemukan bahwa ruangan gua ini kian hari kian bertambah sempit dan kecil, sekarang, paling tidak ruangan gua ini sudah menyempit sejauh beberapa depa”

Mendengar perkataan itu, Bu ki segera menjadi paham sendiri.

“Apakah kau maksudkan keempat dinding gua ini makin lama semakin menebal?” Lui Ceng thian segera tersenyum.

“Tampaknya kau tidak terlampau bodoh”

Jika pasir hasil galian dicampur dengan air lalu ditempelkan ke gua itu, otomatis pasir itu bakal menempel seterusnya. Apalagi gua tersebut adalah sebuah gua lumpur, keempat dinsingnya memang berdinding lumpur sedari awal, tentu saja tak mungkin ada orang yang secara khusus datang ke dalam gua itu hanya bermaksud untuk mengukur luasnya gua itu saja.

Siapapun tak mungkin bisa berpikir sampai kesitu.

Perlu dibicarakan sesungguhnya

cara itu sederhana sekali, tapi seandainya orang itu tidak cerdik sekali, tak nanti cara tersebut dapat ditemukan.

Mendadak Bu-ki merasa bahwa Lui Ceng thian sesungguhnya jauh lebih cerdas dan hebat dari pada apa yang dibayangkan semula.

Tapi sekarang ia sudah disekap oleh orang orang keluarga Tong bagaikan seekor anjing liar ditempat itu, bukankah hal tersebut menunjukkan kalau orang orang keluarga Tong jauh lebih menakutkan?

Sekarang apakah Tong Koat sudah mengetahui kalau Bu-ki sudah tidak berada didalam kamar tamunya?

Andaikata ia sudah mengetahuinya, dan kini Bu-ki pulang kembali kesitu, bukankah hal ini sama artinya dengan menghantar diri menuju ke mulut macan?

Tapi bagaimanapun juga mau tak mau Bu-ki harus kembali juga ketempat itu.

Ia tak dapat meniru cara Lui Ceng thian dengan sepanjang tahun menyembunyikan diri dalam gua yang tak tmapak langit dan tiada bersinar itu, tapi diapun tidak mempunyai cara lain lagi yang bisa ditempuh.

Karenanya terpaksa dia harus menyerempet bahaya.

Sekali demi sekali dia harus menyerempet bahaya. Setiap waktu setiap saat selalu menyerempet bahaya, besar kemungkinan akan menjadi petualangan yang paling akhir.

Entah kepada siapapun itu orangna, daya tekanan semacam ini sesungguhnya boleh dibilang terlampau besar.

Apa yang diperhitungkan oleh Lui Ceng thian memang sangat tepat dan sempurna.

Begitu dia melompat keluar dari bawah tanah, serentak semua penjaga maupun jago jago yang dipersiapkan disekeliling tempat mencurahkan semua perhatian kepadanya. Pengejaran secara besar besaran segera dilakukan untuk mengikuti jejaknya. Berbicara bagi pihak keluarga Tong, Lui Ceng thian memang betul betul terlalu penting, jauh lebih penting dari siapapun dan benda apapun yang ada didunia ini.

Bagaimana juga dan apapun yang bakal terjadi, mereka tak akan membiarkan datangnya mara bahaya akibat dari kaburnya orang maha penting tersebut.

Itulah sebabnya, Bu-ki memiliki kesempatan yang baik sekali untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Dan nyatanya dia memang manfaatkan kesempatan yang sedikit itu dengan sebaik baiknya.

Dengan cepat dia menerobosi tanah lapang yang kosong itu dan menyusup masuk ke dalam hutan itu.

Maju tiga mundur satu, kiri tiga langkah ke kanan satu langkah.

Cara tersebut sudah pasti bisa dipercaya dan tepat sekali sebagaimana sebenarnya.

Fajar sudah mulai menyingsing diufuk timur, kabut putih yang tebal juga mulai menyelimuti seluruh hutan......

Sambil menghitung dahan pohon disitu Bu-ki masih tiada hentinya menghitung. maju tiga

mundur satu, kiri tiga kanan satu.....

Mendadak terdengar seorang berkata dengan dingin:

“Kalau begitu caramu untuk menembusi hutan ini, sampai tua juga jangan harap bisa lolos dari situ”

PUTRI AYU

Bulan empat tanggal dua puluh tiga udara cerah.

Pagi itu kabut sangat tebal. Fajar yang diliputi kabut tebal.

Dari balik kabut tebal berwarna putih, muncul sesosok bayangan manusia berwarna putih, sehingga kelihatannya seperti sesosok sukma gentayangan.

Seandainya bayangan itu benar benar adalah sukma gentayangan. Bu ki malah tidak takut. Tapi yang dia lihat adalah seorang manusia.

dia adalah perempuan yang sangat cantik, cantik sekali. Menyaksikan Bu ki kaget, ia malah tertawa, sewaktu tertawa sepasang matanya berubah menjadi satu garis, sebuah garis lengkung yang indah yang sanggup merontokkan hati pria manapun.

bu ki pernah bertemu dengannya, bertemu sewaktu ada diluar toko penjual gincu, lagipula pernah mendengar Lui Ceng thian menyinggung namanya.

Perempuan itu adalah ong Kian kian.

Istri baru dari Lui Cong thian, Tong Kian kian.

suaminya diborgol orang dalam gua bawah tanah seperti anjing liar, sedang dia berdiri disitu sambil tertawa seperti bidadari.

Perasaan Bu ki bagaikan tenggelam ke dasar laut.

Dia tahu, walaupun ada sementara perempuan kelihatannya seperti bidadari, tapi selalu membawa kaum pria masuk neraka.

Untung saja dengan cepat ia dapat memulihkan ketenangannya, sekulum senyuman yang gembira dengan cepat tersungging diujung bibirnya.

“Selamat pagi!” sapanya.

“Sekarang memang masih pagi, kebanyakan orang belum lagi bangun dari tidurnya, kenapa kau sudah bangun?”

“Tampaknya kau juga belum naik tempat tidur, kau seperti sudah bangun sekarang” sahut Bu ki

Tong Kian kian segera memutar biji matanya lalu berkata

“Aku bangun lantaran suamiku tak ada, aku tak biasa tidur sendirian. ”

“Bila aku punya seorang istri semacam kau, sekalipun ada orang menghajar tubuhku dengan pecut, aku tak akan membiarkan kau tidur seorang diri dirumah”

Tiba tiba Tong Kian-kian menarik muka kemudian menegur.

“Besar amat nyalimu, dengan jelas kau sudah tahu siapakah aku, berani betul memperolok diriku?”

“Aaah, mengolok sih tidak, aku tak lebih hanya menyampaikan suara hatiku saja, bicara terus terang toh bukan suatu perbuatan yang berdosa ?” Tong Kian kian segera melototkan sepasang matanya bulat bulat, sambil menatapnya lekat lekat dia berseru

“Dalam hatimu masih terdapat perkataan apa lagi yang hendak kau utarakan?” “Kau benar-benar menyuruhku berbicara?”

“Katakan!”

“Andaikata aku tidak tahu siapakah kau, kalau tempat ini bukan benteng keluarga Tong, aku pasti ”

“Kau pasti kenapa? Hayo teruskan” seru Tong Kian-kian sambil menggigit bibir.

“Aku pasti akan menyuruh kau untuk menemani aku naik tempat tidur ” sahut Bu ki

sambil tertawa.

Tiba tiba Tong Kian kian menyerbu kemuka dan sebuah tempelengan langsung diayunkan keatas wajah Bu ki.

Akan tetapi gerakan tubuh dari Bu ki jauh lebih cepat daripadanya sekali cengkeram tahu tahu tangannya sudah kena ditangkap dan ditelikung ke belakang punggung.

Mendadak sekujur badan Tong Kian kian menjadi lemas, bibirnya setengah merekah dan pelan pelan menghembuskan napas panjang.

Tampaknya ia telah bersiap sedia untuk menerima tindakan selanjutnya dari Bu ki.

Kalau dilihat dari sikapnya, jelas dia tak akan menampik perbuatan apapun yang bakal dilakukan Bu ki terhadap dirinya

Cuma sayang dia telah salah tafsir.

Lagi lagi Bu ki sedang menyerempet bahaya.

Ia tidak lupa perasaan apakah yang sedang dipegangnya sekarang, diapun percaya tak bakal salah melihat manusia macam apakah Tong Kian kian itu.

Terhadap manusia macam apa, sepantasnya melakukan pekerjaan semacam apa.

Namun ia masih belum berani melakukan perbuatan yang agak kelewat batas, sekarang dia telah melepaskan tangannya. Bukan saja Tong Kian kian tidak merasa berterima kasih, dia malahan tertawa dingin tiada hentinya.

“Huuuh, kalau toh berani berbicara, kenapa tak berani melakukan?”

“Sebab tempat ini adalah benteng keluarga Tong, sebab aku tak berani mengusik Lui Ceng thian”

Tong Kian kian kembali tertawa dingin.

“Heeehhh....heeehhh...heeehhh. tentu saja kau tak berani mengusik Lui Ceng thian, siapapun

tak berani mengusik Lui Ceng thian”

“Itulah sebabnya sekarang aku hanya ingin mengucapkan dua patah kata kepadamu” “Dua patah yang mana?”

“Selamat tinggal!”

Sehabis mengucapkan dua patah kata itu, dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari situ, dia benar benar tak ingin banyak ribut lagi dengan nyonya muda tersebut.

Sayang Tong Kian kian justru tidak membiarkan dia kabur dengan begitu saja.

Pinggangnya yang ramping dan lembut itu hanya bergoyang pelan, tahu tahu ia sudah menghadang jalan pergi Bu ki sembari ujarnya dengan suara dingin:

“Sudah kukatakan, kalau begitu caramu berjalan, sampai tuapun jangan harap bisa keluar dari hutan ini”

“Kalau begitu biar aku berjalan jalan didalam hutan ini, mumpung udara segar, kabutpun makin menipis. Inilah saat yang paling tepat untuk berolah raga pagi”

Menggunakan kesempatan tersebut, dia memberi penjelasan:

“Aku memang berjuang untuk jalan jalan sambil menghirup udara pagi ”

“Betulkah kedatanganmu kemari hanya untuk berjalan jalan sambil menghirup udara?” jengek Tong Kian dingin:

“Tentu saja benar”

“Tahukah kau, semalam ditempat ini telah kedatangan mata mata?” Bu ki segera tertawa

“Aku jadi orang mempunyai suatu penyakit yakni paling mudah mempercayai perkataan orang lain, terutama dari kata kata seorang gadis yang cantik jelita, entah apa saja yang dia katakan, aku mempercayainya penuh”

Kemudian secara tiba tiba dia menarik muka, lalu terusnya:

“Cuma sayang apa yang kau katakan itu tak sepatah katapun yang kupercayai” “Kenapa tidak percaya?”

“Masa dalam benteng keluarga Tong bisa kedatangan mata mata? Siapa yang begitu berani mendatangi benteng keluarga Tong sebagai mata mata,. ”

Tong Kian kian melotot sekejap kearahnya, lalu menjawab:

“Sekalipun kau bukan mata mata, jika kena ditangkap dan dianggap sebagai mata - mata, kan penasaran namanya”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.

“Jika kau sudah mengetahui apa yang bakal dilakukan orang orang benteng keluarga Tong bila berhasil menangkap seorang mata mata, sudah pasti kau akan memohon kepadaku”

“Memohon apa kepadamu?”

“Memohon kepadaku untuk membawa kau balik kedalam kamar dan memohon aku untuk menghantarmu naik ranjang”

“Kalau begitu, aku harus menggunakan cara apa untuk memohon kepadamu?” “Pasti sudah tahu bukan”

Kembali ia menggigit bibirnya kencang-kencang.

Sepasang matanya sekali lagi berubah menjadi satu garis yang melengkung keatas

Bu ki juga sedang memandang kearahnya, mempergunakan semacam sinar mata yang tidak begitu sopan memperhatikan dirinya, setelah memperhatikan sekian lama, tiba tiba ia menghela napas panjang.

“Aaai sayang!” “Apanya yang sayang?”

“Sayang aku masih belum berani untuk mengusik Lui Ceng thian”

“Seandainya Lui Ceng thian secara tiba-tiba mati?” tanya Tong Kian kian sambil memutar lagi sepasang biji matanya.

“Dia mengidap penyakit?” “Tidak”

“Dia terluka?” “Juga tidak”

“Kalau memang tidak mengidap penyakit atau menderita luka, kenapa bisa mati?”

“Andaikata ada orang menusuk tenggorokannya dengan sebuah tusukan pedang dia sudah pasti akan mampus!”

“Tapi siapa yang berani menusuh tenggorokannya dengan sebuah tusukan pedang?” “Kau”

“Aku?” Bu-ki seperti amat terperanjat

“Kau tak usah mengelabuhi aku” ujar Tong Kian kian dengan suara dingin, " kaupun tak usah berlagak pilon dihadapanku, aku tahu apa yang menjadi pekerjaanmu”

“Apa yang menjadi pekerjaanku?”

“Kau adalah seorang pembunuh. Bila ada orang membayar sepuluh laksa tahil perak, manusia macam apapun bersedia kau bunuh”

“Tapi tentunya kau tak akan menyuruh aku untuk pergi membunuh suamimu bukan?”

“Aaah, belum tentu”

Dengan terkejut Bu-ki memandang kearahnya. “Kau. ”

“Walaupun aku tak mampu mengeluarkan uang sebesar sepuluh laksa tahil perak dalam waktu singkat. Namun akupun tak akan membiarkan kau membunuh orang dengan sia sia” Dia telah menempelkan badannya ke atas tubuh sang pemuda lalu merangkul tengkuk Bu-ki dengan sepasang tangannya.

“Asal kau bersedia menuruti perkataanku, akupun bersedia melakukan apa saja untukmu” bisiknya lirih.

Harum semerbak dengusan napasnya. Badannya juga lembut, empuk dan hangat.

Dia benar benar seseorang perempuan yang amat menarik, dan cukup membuat lelaki manapun tak kuasa menahan diri.

Bu-ki tampak seperti tak tahan juga, tiba tiba ia roboh ketanah, roboh diatas tanah lumpur yang becek.

Tiba tiba pula ia teringat dengan lumpur yang penuhi menodai badan sertai bajunya.

Entah siapapun itu orangnya, setelah merangkak masuk dan merangkak keluar melalui lorong tanah yang panjang tak urung badannya pasti akan kotor oleh lumpur.

Betul kabut pagi amat tebal, meski Tong Kian kian belum memperhatikannya, tapi cepat atau lambat pasti ada orang yang akan memperhatikannya.

Sekarang dia sudah berbaring diatas tanah becek yang berlumpur, badannya sudah bergerak kian kemari disitu, dengan begitu diapun mempunyai alasan yang kuat untuk menerangkan darimana datangnya lumpur yang memenuhi badannya.

Tentu saja Tong Kian kian tidak akan menyangka rencana apakah yang sedang diatur dalam hatinya.

Dia mengira pemuda itu sedang mengatur sesuatu maksud yang lain, seakan akan merasa terkejut, tapi juga gembira.

“Kau. apakah kau ingin melakukannya disini?”

“Tak mungkin disini”

“Yaa, tentu saja tak mungkin disini, karena ”

Ia tidak melanjutkan kata katanya, sebab ada orang telah melanjutkan kata katanya itu: “Karena perbuatan semacam ini tentunya tak boleh dilakukan disuatu tempat yang mungkin bisa disaksikan orang ketiga”

Tong Koat telah datang

Tong Kian-kian pun angkat kaki.

Perduli bagaimana galaknya dia, perduli bagaimana tebalnya kulit muka perempuan ini, toh ia tetap merasa rada rikuh.

Bu-ki sudah bangun berdiri, ia sedang membersihkan noda lumpur diatas badannya. Tiba-tiba Tong Koat menghela napas panjang, katanya:

“Perempuan ini adalah seorang perempuan jalang” “Kau tidak sepantasnya berkata demikian” ucap Bu-ki. “Kenapa?”

“Karena perempuan ini adalah adikmu!”

“Betul, aku memang tidak seharusnya berkata demikian, aku harus bilang adikku adalah seorang perempuan jalang”

Bu-ki ingin tertawa namun ia tak mampu tertawa.

Sebab paras muka Tong Kuat benar-benar tak sedap dipandang, sambil menarik muka katanya lagi:

“Asal sudah melihat lelaki yang berparas lumayan, dia selalu ingin menjajalnya, lelaki dari benteng keluarga Tong tak berani disentuh, diapun pergi mencari orang orang yang datang dari luar daerah”

“Aku datang dari luar daerah, tampangku termasuk lumayan!”

Tidak menunggu Tong Kuat berkata, ia sudah mengucapkannya terlebih dahulu. Mendengar kata kata tersebut, Tong Koat malahan tertawa.

“Sesungguhnya aku sama sekali tidak menolak maksudmu, cuma saja ”

“Cuma saja secara kebetulan kau hadir disamping, dan kebetulan pula perbuatan tersebut tak boleh ditonton orang lain” “Haaaahhh......haaahhhh......haahhhh. tepat, tepat sekali, memang sangat tepat” Tong Koat

tertawa terbahak bahak.

Mendadak dia merendahkan suara tertawanya, kemudian melanjutkan: “Tapi, laen kali kau harus bertindak lebih berhati hati lagi”

“Kenapa”

“Sebab walaupun aku tidak keberatan dengan hubungan kalian, tapi pasti ada orang yang merasa keberatan”

“Kau maksudkan Lui Ceng thian?” Tong Koat segera tertawa.

“Andaikata kau adalah moay hu ku, keberatatan tidak kau andaikata menyaksikan adikku pergi mencari lelaki lain?”

“Aku yakin tak seorang lelakipun di dunia ini yang suka memakai topi hijau (maksudnya melihat istrinya nyeleweng dengan lelaki lain)!”

“Itulan sebabnya, andaikata yang datang barusan bukan aku, melainkan Lui Ceng thian. ”

Dia menghela napas panjang, kemudian katanya lagi:

“Maka apabila aku ingin bertemu denganmu sekarang, mungkin aku terpaksa harus bekerja keras untuk mengumpulkan dulu kepingan-kepingan badannmu lantas menyambungnya lebih dulu”

Bu ki juga turut menghela napas panjang.

“Aaaai.. aku juga tahu akan kelihayan dari Pek lek cu tersebut, tapi ada satu hal yang tidak kupahami”

“Soal apa?”

“Mereka belum lagi kawin lama, atau boleh dibilang masih terhitung pengantin baru, mengapa ia sudah membiarkan istrinya yang cantik dan menawan hati ini tidur seorang diri di dalam kamarnya?”

“Teori ini sebetulnya sederhana sekali, semestinya kau juga dapat memikirkannya” “Kenapa?”

“Karena dia sudah mempunyai pandangan baru!”

Bu ki sengaja menunjukkan wajah terperanjat, serunya tertahan:

“Aaaah! Maksudmu, dia sudah mempunyai perempuan lain?”

“Ia sudah merasakan pahit getirnya perempuan, mana mungkin dia akan mencari perempuan lagi?”

“Kalau bukan perempuan yang dicari, memangnya dia mencari orang lelaki ”

Tong Koat segera tersenyum.

“Andaikata kau juga mempunyai banyak pengalaman seperti dia, maka kau akan segera mengerti bahwa orang lelaki sebenarnya jauh lebih menyenangkan daripada orang perempuan”

Ketika tertawa sepasang matanya juga berubah menjadi sebuah garis lengkung, persis seperti sorot mata adiknya ketika memperhatikan wajah Bu ki.

Tiba-tiba saja Bu ki merasa perutnya mual dan ingin tumpah.

Mendadak ia teringat diri “Siao-poo”, mendadak terbayang hubungan antara Tong Koat dengan Siau Poo.

Untung saja ia tidak sampai muntah, walaupun hal itu harus diatasinya dengan bersusah payah.

Ternyata Tong Koat memegang tangannya lalu menariknya sembari berkata lagi: “Masih ada satu hal lagi, kaupun musti bertindak sangat berhati-hati”

Bu ki berusaha keras untuk menahan diri, untung saja tangan itu tak sampai terbetot putus. Terpaksa dia bertanya:

“Persoalan apakah itu?”

“Lebih baik selama beberapa hari ini kau jangan sembarangan berjalan kesana kemari” “Kenapa?” “Sebab semalam tempat kami ini telah kedatangan mata-mata” “Sungguh?”

“Masa aku membohongimu?”

“Siapa yang begitu bernyali, berani mendatangi benteng keluarga Tong sebagai mata-mata?” “Tentu saja orang-orang yang tidak takut mati”

“Tahukah kau siapa orangnya?”

“Sekarang kami masih belum berhasil menemukannya, sebab itu semua tamu asing yang kebetulan menginap dalam benteng keluarga Tong semalam, termasuk orang-orang yang dicurigai”

“Kalau begitu tentu saja aku juga termasuk orang yang dicurigai bukan?” “Tidak, cuma kau seorang yang terkecuali”

“Kenapa?”

“Sebab semalam aku telah pergi menengokmu, aku melihat kau tertidur seperti anak kecil bahkan masih mengigau lagi”

Kemudian sambil menepuk tangan Bu ki terus seraya tersenyum.

“Aku tahu, kau pasti selalu merasa kuatir bila diusir oleh kami, sampai-sampai waktu mengigaupun kau memohon kepadaku, padahal kaupun tak usah kuatir, selama aku berada di sini, tak akan ada orang berani menyuruh kau pergi.

Bu ki tidak bermimpi, diapun tidak mengigau.

Bahkan semalam, pada hakekatnya ia tak pernah tidur.

Tapi siapakah yang tidur di ranjangnya? Siapakah yang mewakilinya untuk mengucapkan kata-kata igauan.

Orang pertama yang dipikirkan adalah Kwik Ciok ji, tapi andaikata Kwik Ciok ji yang tidur di atas ranjangnya, siapa pula orang yang menolongnya dengan mengalihkan perhatian para jago yang sedang menjaga sekitar hutan itu?”

Bu ki benar-benar tidak habis mengerti. Namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa, cuma tanyanya dengan hambar.

“Apakah kau tidak pernah memikirkan tentang si burung kecil itu. ?”

“Kau maksudkan Kwik Ciok Ji?” tanya Tong Koat. “Selain dia, siapa lagi?”

“Juga bukan dia”

“Dari mana kau bisa tahu kalau bukan dia?”

“Sebab aku telah menyuruhnya untuk melakukan suatu persoalan, hari belum lagi gelap dia sudah pergi”

Ternyata bayangan manusia yang membantu Bu ki untuk memancing pergi jago-jago dari benteng keluarga Tong bukan Kwik Ciok ji, orang yang tidur di ranjang Bu ki dan mengucapkan kata-kata igauan, sudah terang juga bukan Kwik Ciok ji, karena waktu itu dia sama sekali tidak berada di dalam benteng keluarga Tong.

Bu ki tidak berbicara.

Waktu ia masih dapat menjaga ketenangan hatinya, tapi untuk sesaat lamanya dia benar-benar tak sanggung mengucapkan sepatah katapun.

Tong Koat lagi menatapnya dengan sepasang matanya yang sipit seperti garis lengkung, kemudian katanya:

“Tampaknya kau sangat berharap kalau dialah mata-mata tersebut ”

“Aku cuma berharap kalian bisa selekasnya menundukkan mata-mata tersebut ” sahut Bu ki

hambar.

“Tak usah kuatir, entah siapakah orang itu dan entah berapa besarkah kepandaian silatnya, jangan harap dia bisa meninggalkan benteng keluarga Tong dengan selamat”

Sikapnya seolah-olah berubah menjadi amat sedih, bagaikan ia sudah menyaksikan sang algojo mengayunkan kampaknya, asal kampak itu diayunkan ke bawah, niscaya batok kepala mata-mata itu akan terpenggal sampai kutung.

Tampaknya dia memiliki keyakinan yang besar sekali. Tak tahan Bu ki bertanya lagi: “Apakah kau sudah menemukan titik terang?”

“Sekalipun saat ini belum kujumpai titik terang apapun, aku yakin titik terang tersebut sudah pasti dapat ditemukan”

“Oya?”

“Setiap orang yang kemarin malam seharusnya tidur di dalam kamar, namun tidak ditemukan berada di dalam kamarnya semuanya amat mencurigakan, inilah merupakan sebuah titik terang yang sangat baik”

“Kau sudah menemukan berapa orang?”

“Sampai sekarang sudah kuketemukan tujuh delapan orang” “Tapi mata-matanya toh cuma satu”

Tong Koat segera tertawa dingin, katanya:

“Lebih baik salah membunuh seribu, daripada melepaskan seorang. ”

Suara tertawanya persis seperti bocah cilik, serunya:

“Apalagi sekalipun salah membunuh tujuh delapan orang, juga tak bisa dibilang terlalu banyak”

Bu ki memahami maksud hatinya itu.

Andaikata mata-mata yang sebenarnya tidak diketemukan, maka ketujuh delapan orang itu sudah pasti akan mati ditangannya.

Sebab mereka sama sekali tidak takut bila sampai salah membunuh orang....

“Kendatipun ketujuh delapan orang itu bukan mata-mata semua, mata-mata yang sesungguhnya juga tak akan mampu untuk meloloskan diri” kata Tong Koat lebih jauh.

“Sedetik sesudah mata-mata itu menampakkan diri, aku telah menurunkan perintah untuk melarang siapa saja yang berada di dalam benteng keluarga Tong untuk meninggalkan tempat ini sebelum mata-mata tersebut tertangkap”

“Aku dengar pintu gerbang keluarga Tong tak pernah ditutup, benteng kalian selalu mengijinkan orang baru datang kemari” “Benar”

“Itu berarti semalam pasti ada pula saudagar dan pelancong yang kebetulan berada di dalam benteng keluarga Tong”

“Ya, jumlah mereka seluruhnya ada dua puluh sembilan orang”

“Jadi sebelum perintahmu itu kau cabut, sampai merekapun tidak boleh pergi dari sini?”

“Sudah kukatakan, entah siapapun orangnya, bila ia berani meninggalkan benteng keluarga Tong barang satu langkahpun, maka orang itu harus dibunuh tanpa ampun”

Kemudian dengan tangannya yang kecil, gemuk dan putih dia menggenggam tangan Bu ki erat-erat, kemudian lanjutnya:

“Kau harus percaya kepadaku, sebab semua perintah yang kuucapkan selamanya amat jujur” Bu ki tidak berbicara lagi.

Tong Koat segera berkata kembali:

“Aku pikir kau pasti lapar sekali sekarang, saat ini adalah waktu untuk sarapan pagi, belakangan ini walaupun napsu makanku kurang baik, sedikit banyak aku harus menemanimu untuk makan sedikit”

Suara tertawanya semakin riang lagi, terusnya:

“Akupun dapat memberi jaminan kepadamu: Bakmi ikan dan Bakpau daging buatan tempat ini tidak akan kalah bila dibandingkan dengan buatan rumah makan Kui goan koan di kota Hongciu”

Seseorang yang pandai sekali berbohong, bila berada dalam keadaan yang penting, dia tidak akan bicara bohong.

Apa yang dikatakan oleh Tong Koat tadi ternyata memang tiada yang bohong.

Bakmi dan bakpao yang ada di situ memang rasanya tidak kalah dengan buatan rumah makan Kui goan koan di kota Hongciu.

Ranjang Bu ki juga benar-benar pernah ditiduri orang.

Caranya tidur sangat baik, walaupun semalam dia telah tiduran sebentar di atas ranjang, tapi sebelum pergi, seperti di situ telah diatur kembali dengan rapi. Tapi sekarang keadaannya acak-acakan tidak karuan, seperti ada orang telah bermimpi jelek di tempat itu.

Lantas siapakah orang itu?

Kecuali Kwik Ciok ji, tiba-tiba Bu ki teringat kembali akan diri seseorang, See si. Sesungguhnya hal ini adalah rahasianya.

Rahasia tersebut selalu ia sembunyikan di dasar hatinya, bahkan untuk dipikirkan saja tidak berani, sebab dia kuatir tindak tanduknya akan menunjukkan jejak, dan dia kuatir hal tersebut diketahui oleh Tong Koat dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan sepasang jarum itu.

Tay hong tong pernah mengutus beberapa orang pasukan “berani mati” untuk menyelundup ke dalam wilayah musuh dan menjadi pencari info di situ.

Bukan saja mereka telah bersiap sedia mengorbankan jiwanya demi kepercayaan dan keperkumpulannya, lagipula mereka tidak segan untuk mengorbankan segala apapun, yang lelaki tak segan - segan mengorbankan kesucian tubuhnya.

Tapi sebagian besar dari orang-orang itu mengalami kegagalan total, hanya salah seorang di antaranya yang berhasil

menyelundup masuk sampai ke dalam benteng keluarga Tong. Orang ini adalah satu-satunya pion yang ditanamkan pihak Tay hong tong di dalam benteng keluarga Tong.

Lelaki atau perempuankah orang itu? Siapakah namanya? Bu ki sama sekali tidak tahu.

Sebab hal ini merupakan rahasia yang paling besar bagi perkumpulan Tay hong tong mereka.

Pelaksanaan dari tugas rahasia tersebut dipimpin langsung oleh Sugong Siau-hong, orang itupun langsung mendapat perintah dari Sugong Siau-hong.

Semua rahasia yang menyangkut tentang orang ini, selain Sugong Siau hong, tak ada orang kedua yang mengetahuinya.

Bu-ki cuma mengetahui tanda atau kode rahasia yang dipergunakan orang itu bila ingin mengadakan hubungan kontak dengan Sugong Siau hong.

Kode itu adalah. See-si. Dari dulu sampai sekarang, mata-mata yang paling berhasil adalah See si, tapi pengorbanan terbesar yang harus dibayar juga See si.

Sebab bukan saja dia telah mengorbankan nama dan kebahagiaan, juga mengorbankan perasaan dan kegadisannya, mengorbankan segala sesuatu yang paling berharga dari seorang wanita.

Tapi, bagaimana pula dengan “See-si” dari Tay hong tong?

*****

SAHABAT KETIGA

Siapakah See si?

Bu ki selalu berusaha untuk menjauhkan pikirannya dari pertanyaan itu, dia berusaha untuk menghindari persoalan itu, bahkan kendatipun ada orang yang bersedia memberitahukan kepadanyapun, dia akan menampik untuk mendengarkannya.

Pada hakekatnya, dia tak ingin mengetahui rahasia tersebut.

Sebab rahasia ini mempunyai pengaruh yang terlampau besar, setelah tahu akan hal ini, tak urung akan muncul pula semacam tanggung jawab atau beban di dalam hatinya.

Ia lebih tak ingin membiarkan orang itu tersiksa atau menderita hanya disebabkan gara-gara ulahnya.

Tapi sekarang, “See si” tampaknya sudah menampakkan diri bahkan dia menampakkan diri demi menyelamatkan selembar jiwanya.

Seandainya bukan “See si” yang memancing perginya jago-jago tersembunyi sekarang, besar kemungkinan dia sudah tewas di dalam hutan tersebut.....

Seandainya bukan “See-si” yang tidur di ranjangnya untuk melindungi dirinya, sekarang sudah pasti dia akan menjadi orang yang paling dicurigai, malah besar kemungkinannya Tong Koat malah turun tangan terhadap dirinya.

Tapi “See-si” hanya ada seorang.

Padahal yang memancing perginya jago-jago dari persembunyian dan orang yang tidur di ranjang jelas adalah dua orang yang berbeda, siapa pula orang yang satu itu?

Pikiran Bu-ki kembali merasa kacau dan kalut. Bukan cuma kalut saja, dia mulai menyesal, menyesal kemarin malam tidak seharusnya dia pergi menyerempet bahaya.

Tindakan yang dilakukan secara gegabah bukan saja membuat “See-si” menjadi terseret, bahkan terseret tanpa berhasil mendapatkan apa-apa.....

Andaikata Tong Koat hendak membunuh orang dalam keluarga Tong, berapa saja yang akan dibunuhnya, dia tidak akan merasa sedih atau murung.

Tapi jika kedua puluh sembilan orang saudagar dan pelancong itu sampai mati karena dia.....

Dia tak ingin berpikir lebih jauh.

Dia bersumpah, mulai hari ini dia tak akan melakukan sesuatu tindakan yang tidak yakin menghasilkan.

Tapi, kesempatan yang “meyakinkan” tersebut sampai kapan baru akan tiba? Dia harus mempergunakan cara apa untuk bisa mendekati Sangkoan Jin? Sekalipun ada kesempatan seperti itu, dapatkah dia memanfaatkan sebaik-baiknya untuk membinasakan diri Sangkoan Jin?

Ia masih belum ada keyakinan, sama sekali tiada pegangan.

Sekarang, walaupun dia telah berada dalam benteng keluarga Tong, namum selisihnya dengan sasaran yang hendak dicapai masih terlampau jauh.....

Di depan matanya masih terbentang sebuah perjalanan yang sangat panjang, panjang sekali, tak bisa disangkal lagi perjalanan yang harus dilaluinya itu jauh lebih sukar dan jauh lebih berbahaya.

Dapatkah dia menyeberangi jalan itu?

Mendadak Bu ki merasa sangat kecapaian, sedemikian capainya sampai dia ingin membuang segala sesuatunya jauh-jauh, sedemikan lelahnya sampai dia ingin menangis tersedu-sedu.

Ia tak dapat membuang segala sesuatunya, diapun tak dapat menangis.....

Tapi, paling tidak ia bisa pergi tidur sebentar.

Sepasang matanya dipejamkan, dia merasa sekujur badannya semakin tenggelam ke bawah, pelan sekali tenggelamnya makin lama semakin dalam, semakin dalam.....

***** Dua jendela itu setengah terbuka.

Pepohonan yang hijau dan rindang terbentang di luar jendela, udara terasa kering tapi segar.

Tiba-tiba sesesosok bayangan manusia berkelebat melewati pepohonan dan hijau dan menyusup naik masuk ke dalam ruangan lewat daun jendela, cepat dan gesit sekali gerakan tubuhnya, persis seperti seekor burung walet....

Orang itu berparas tampan, memakai pakaian ringkas yang perlente, gerak-geriknya sangat enteng, lincah dan cekatan, jauh lebih cepat daripada gerakan tubuhnya di waktu-waktu biasa.

Di tangannya dia menggenggam sebilah pisau.

Sekali melompat dia langsung menerjang masuk ke dalam ruangan dan menerkan ranjang Bu ki, mata pisaunya yang tajam langsung ditujukan ke atas tenggorokan Bu ki.