Harimau Kemala Putih Jilid 26

Jilid 26  

“OYA?”

“Sekalipun aku adalah seorang mata mata akupun akan tetap mengikutimu datang ke mari” “Oya..”.

“Karena aku tahu Tong Giok belum sadar kalian tak lebih hanya ingin menggunakan cara tersebut untuk mencoba diriku”

“Oooh.. . lantas?”

“Kalian saja masih harus menggunakan cara ini untuk menyelidikiku, itu menanda-kan kalau kalian, masih belum yakin seyakin- yakinnya babwa aku ini seorang mata-mata atau bukan”

Kembali Tong Koat tertawa. menggunakan sorot matanya yarg tajam seperti jarum menatapnya lekat lekat, kemudian katanya:

“Dari mana kau bisa tahu kalau Tong Giok belum sadar?”

“Sebab kuah jinsom adalah obat kuat,. bi la seseorang yang keracunan baru sadar da-ri pingsannya, maka dia tak boleh sekali-kali minum kuah jinsom kalau tidak maka sisa racun yang masih mengeram dalam tu-buhnya tak urung akan kambuh kembali”

Dengan hambar dia melanjutkan: “Keluarga Tong adalah keluarga yang ahli dalam hal menggunakan racun, maka teori semacam inipun tidak dipahami?”

Mau tak mau Tong Koat harus mengakui juga akan kebcaaran itu, katanya kemudian: “Yaa, teori semacam inii sepantasnya kalau dimengerti oleh kami”

” Cuma sayang dia tidak mengerti”

Dengan dingin diliriknya Siau Poo sekejap kemudian melanjutkan: “Sobatmu ini ternyata tidak sepintar tampangnya!”

Selembar wajah Siau Poo yang sangat tampan itu segera berubah menjadi merah padam karena jengah, sepasang kepalannya digenggam kencang-kencang, seakan akan kalau bisa dia hendak meninju hidung Bu-ki. Cuma sayang kepalanya itu tak mampu diayunkan ke depan, sebab Tong Koat juga menyetujui dengan pendapatnya itu.

Kembali Tong Koat menghela napas pan jang, lalu sambil tertawa getir katanya: ” Temanku ini memang tidak sepintar tampangnya,sebaliknya kau justru lebih pintar daripada tampangmu itu”

“Maka dari itu aku telah datang kemari!”

“Cuma sayang kau lupa, aku masih ada seorang teman yang mengenali dirimu” “Oya?”

Kau tidak percaya?”

Bu-ki juga tak bisa, tidak harus percaya, karena Tong Koat telah membuka pintu bawah loteng kecil itu.

Begitu pintu dibuka, Bu-ki segera menjumpai seorang sahabat. Orang yang dijumpainya itu bukan

Cuma sahabatnya Tong Koat, sebenarnya diapun sahabatnya. Ia telah menjumpai Kwik Ciok- ji. Ternyata sahabat Tong Koat adalah Kwik Ciok ji.

SUASANA dalam ruangan itu nyaman, segar dan tenang. Kwi Kiok ji sedang minum arak disana, dengan gaya yang seenaknya duduk dikursi sam bil minum arak.

Agaknya tidak banyak waktu orang ini berada dalam keadaan sadar. Tapi begitu berjumpa dengan Bu ki, ia seperti segera sadar dari mabuknya sambil melompat bangun teriaknya

“Betul dia! Benar-benar memang dial” Ditatapnya Bu-ki tajam-tajam,kemudian: sambil tertawa dingin dengan seramnya dia berkata: “Sungguh tak kusangka kau punya keberanian untuk datang kemari!”

Paras muka Bu-ki sama sekali tidak berubah. Dari atas sampai ke bawah tubuhnya seakan akan tiap syarafnya terdiri dari otot kawat tulang besi, sama sekali tak terpengaruh oleh perubahan macan apapun.

“Kau kenal dengan orang ini?” tanya Tong-koat

“Tentu saja aku kenal” sahut Kwik Ciok ji, “kalau aku tidak kenal, siapa lagi yang mengenalinya”

“Siapakah orang ini?” “Bunuh dulu orang itu, kemudian baru kuberi tahukan kepadamu” “Katakan dulu, kemudian mau dibunuhpun belum terlambat” “Aku kuatir waktu itu keadaan akan terlambat”

Sambil menuding kearah Bu ki, terusnya. “Orang ini bukan saja licik dan keji juga berbahaya sekali, kau harus turun tangan terlebih dulu”

Tong koat tidak berniat untuk turun tangan. Bu ki juga sama sekali tidak bergerak. Sebaliknya Siau pao secara diam-diam

menyelinap datang, kemudian secepat kilat turun tanga, bogem mentahnya langsung diayunkan ke atas batang hidung pemuda itu.

“Prryyaak. !” terdengar bunyi tulang hidung yang hancur termakan bogem mentah.

Ternyata tulang hidung yang hancur bukan tulang hidung Bu ki. melainkan milik Siau poo.

Baru saja kepalan Siau poo diayunkan kemuka bogem mentah Bu ki telah mampir dulu diatas tulang hidungnya.

Seluruh badannya terlempar kearah belakang sehingga membentur diatas dinding.

Air mata ingus, dan darah bercucuran membasahi seluruh wajahnya, Kwik Ciok ji segera berteriak.

“Coba kau lihat apakah orang semacam ini tidak pantas untuk mampus?

Terang terangan dia tahu kalau Siau poo mempunyai hubungan denganmu, tapi dia toh turun tangan keji juga, sekarang kalau tidak kau bunub dirinya masih akan menunggu sampai kapan lagi?.

Ternyata Tong Koat masih belum ada maksud untuk turun tangan, dia malah sedang memandang Siau Poo sambil gelengkan kepalanya berulang kali dan menghela napas panjang.

“Tampaknya orang ini bukan saja tidak mempunyai kecerdikan seperti tampangnya, bahkan jauh lebih goblok dari pada apa yang pernah kubayangkan selama ini”

“Kenapa?” tanya Kwik Ciok ji mewakili Siau poo. “Sudah diketahui olehnya kalau orang ini licik, keji dan berbahaya, kenapa dia masih mencoba untuk turun tangau lebih dulu?”

“Apakah. apakah tonjokan vang diterimanya itu hanya suatu tonjokan yang sia sia?”

“Yaa, agaknya dia memang harus pasrah pada keadaan”

“Kenapa kau tidak mambantunya untuk melampiaskan kemangkelan ini?” tanya Kwik Ciok Ji lagi.

Sambil memicingkan matanya memandang Bu ki, sahut Tong Koat: ‘Sebab makin lama aku merasa semakin tertarik dengan orang ini”

“Kau tahu, siapakah orang ini? “Tidak”

“Dia adalah seorang pembunuh, seorang pembunuh yang telah membunuh tiga belas Orang! “Ia benar benar telah membunuh tiga belas Orang?”

“Yaa, seorang pun tak ada yang kurang” “Mengapa ia harus membunuh mereka?”

“Karena ada orang memberi lima laksa tahil perak kepadanya!”

“Oooh. jadi barang siapa memberi lima laksa tahil perak kepadanya maka dia a-kan pergi

membunuh orang?”

“Dia selamanya cuma kenal uang, tidak kenal manusia”

Tiba tiba Tong Koat membalikkan badan nya dan menatap Bu ki tajam tajam kemudian tanyanya:

“Benarkah apa yang dikataaan itu?” “Hanya ada satu hal yaag tidak benar!” “Hal yang mana?”

“Harga yang dikatakan tidak benar!”

Setelah berhenti sebentar dengan hambar terusnya: “Sekarang nilaiku sudah meningkat, kalau tak ada sepulub laksa tahil perak, aku tak akan turun tangan”

Kembali Tong Koat menghela napas panjang.

“Aaaai minta bayaran sepuluh laksa tahil perak baru bersedia membunuh satu orang

apakah harga itu tidak terla lu mahal?” “Tidak mahal!” jawab Bu ki.

“Sepuluh laksa tahil perak tidak terhitung mahal?”

“Kalau ada orang berani mengeluarkan se-puluh tahil perak,itu berarti harganya tidak mahal”

“Kali ini, apakah ada orang yang bersedia membayarmu sepuluh laksa tahil perak menyuruhmu datang kemari membunuh orang?”

Selamanya aku hanya membunuh orang yang yakin bisa kubunuh, setelah membunuh aku pun harus mundur, dengan selamat tanpa cedera barang sedikitpun juga.

Dengan dingin lanjutnya

“Orang yang bisa kubunuh amat banyak, tempat yang bisa kupakai untuk membunuh juga tak sedikit, aku masih belum ingin mati, kenapa harus datang ke benteng keluarga Tong untuk membunuh anggota keluarga Tong”

Tong koat tertawa terbahak bahak.

Haaahhh.. . haaahhh.... haaahhh.... masuk diakal masuk diakal !”

“Tapi dia sudah datang kemari, berarti diapun tidak mempunyai maksud tujuan yang baik” lagi lagi Kwik Ciok ji berteriak keras.

“Oya?”

“Ia membunuh orang,tentu saja orang lain juga akan membunuhnya, dia datang kemari pasti dengan tujuan untuk menghindar kan diri dari kejaran orang. Bila kau meng anggap dia benar benar adalah sahabatnya Tong Giok, dengan maksud tujuan yang baik menghantar Tong Giok pulang kemari, maka dugaanmu itu keliru besar, jika kau mena hannya disini, kau pasti akan menjumpai banyak kesulitan!” Tong Koat segera tersenyum.

“Menurut pandanganmu apakah aku adalah seorang yang takut dengan kesulitan?” Kwik Ciok ji agak tertegun, kemudian meng-hela napas panjang, sahutnya sambil tertawa getir.

“Yaa, kau memang bukan!” ‘Padahal kalian semestinya adalah sahabat karib!”

“Kenapa aku harus bersahabat dengan pembu–nuh yang suka membunuh orang semacam dia?” seru Kwik Ciok ji dengan teramat gusarnya.

Sambil memicingkan matanya, Tong koat sege-ra tertawa.

“Sebab kau sendiripun tak lebih cuma seorang pencuri,tidak lebih hebat daripada dirinya.”

Kwik Ciok ji tidak berbicara lagi, tapi mata nya masih mendelik ke arah Bu ki dengan gemasnya.

Bu ki sama sekali tidak memperdulikan dirinya.

Tong koat segera tetawa terbahak bahak, dengan tangannya yang putih dan gemuk digenggamnya tangan Bu ki,kemudian katanya, “Perduli karena apapun kau datang,setelah sampai disini aku tak akan mengusirmu pergi”.

“Kenapa?” tanya Bu ki. Karena aku menyukaimu!”

Kemudian sambil memicingkan matanya dan tertawa, dia melanjutkan,

“Sekalipun tujuanmu datang kemari adalah untuk membunuh orang, asal orang yang hendak kau bunuh bukan aku, hal itu tidak menjadi soal”

Tangannya masih menggenggam tangan Bu ki, tapi pada saat itulah mendadak tampak cahaya pisau berkelebat lewat, kemudian langsung menusuk ke tubuh Bu ki.

Pisau itu dicabut keluar dari balik sepatu yang dikenakan Siau Poo.

Dia selalu mengawasi Bu ki dengan sinar mata bengis seakan-akan seorang istri pencemburu yang sedang mengawasi suaminya nyeleweng dengan perempuan lain.

Kemudian dengan menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya dia melancarkan sebuah tusukan ke depan.

Waktu itu sepasang tangan Bu ki masih tergenggam kencang. Bu ki sama sekali tidak berpaling, tiba-tiba kakinya melayang ke depan melancarkan tendangan kilat, tubuh Siau Poo pun mencelat jauh ke belakang sana.

Di atas punggungnya seakan-akan mempunyai sepasang mata yang selalu mengawasi keadaan di sekelilingnya.

Kembali Tong Koat tertawa terbahak-bahak:

“Haaahhh...haaahhh...haaahhh... orang yang berani mengajukan harga sebesar sepuluh laksa tahil perak untuk membunuh orang seharusnya dia memang musti punya kemampuan yang hebat”

Bu ki menyambut dengan dingin:

“Orang yang berani meminta sepuluh laksa tahil perak untuk membunuh orang, selain dia harus berkepandaian hebat, juga harus punya peraturan yang ketat...”

“Peraturan apa?”

“Bila orang ingin menghancurkan hidungku, aku harus menghajar hidungnya sampai hancur” “Bila ada orang ingin membunuhmu, kaupun akan membunuhnya?” tanya Tong Koat.

“Aku tak akan membunuhnya?” “Kenapa?”

“Sebab aku tak pernah membunuh orang secara gratis”

Siau Poo dengan ingus dan darah yang masih bercucuran keluar segera berteriak dengan suara parau:

“Tapi aku bersumpah akan membunuhmu” Sambil menerjang ke depan, terusnya:

“Ingat saja baik-baik, cepat atau lambat pada suatu ketika aku hendak membunuhmu!” Kemudian tanpa berpaling lagi dia menerjang keluar dari ruangan tersebut.

Tiba-tiba Kwik Ciok ji tertawa terbahak-bahak. “Haaahh..haaahh...haahh Li Giok Tong, wahai Li Giok tong, tampaknya kemanapun kau

hendak menyembunyikan diri, di situ toh ada orang juga hendak membunuhmu, bila manusia semacam kau bisa berumur panjang, itu baru dinamakan kejadian aneh”

Mendadak Bu ki membalikkan badannya, ditatapnya orang itu dengan dingin, lalu sepatah demi sepatah katanya:

“Kau merupakan pengecualian!” “Pengecualian dalam hal apa?”

“Aku tak pernah membunuh orang secara gratis, tapi demi kau, kemungkinan besar aku dapat melanggar kebiasaanku itu”

Kwik Ciok ji tidak tertawa lagi, dengan pandangan yang dingin diapun menatapnya tajam- tajam, lalu katanya ketus.

“Kau juga suatu pengecualian!” “Oya?”

“Selamanya aku tak pernah mencuri barang-barang secara gratis, tapi demi kau, setiap saat setiap waktu kemungkinan besar akupun dapat melanggar kebiasaan itu”

Bu ki segera tertawa dingin.

“Apa yang bisa kau curi dari diriku?” “Mencuri otakmu!”

Tapi di kala mereka bersama-sama membalikkan badannya, seakan-akan siapapun enggan untuk melihat musuhnya lebih lama lagi.

Tapi di kala mereka membalikkan badannya itulah, dengan cepat kedua orang itu saling bertukar kode mata.

Dalam waktu singkat dibalik senyuman licik dan menyeringai dari Kwik Ciok ji itu terlintas rasa gembira dan kagumnya yang luar biasa terhadap diri Bu ki.

Bu ki memang pantas dipuji dan dikagumi.

Sandiwara yang dibawakan olehnya kali ini sungguh luar biasa sekali, bahkan bisa dilangsungkan lebih jauh. Dalam detik itu juga, dari balik mata Bu ki terpancar sinar mata yang berkilat, itulah rasa terima kasih yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Mau tak mau dia harus berterima kasih sekali atas bantuan dari rekannya ini.

Tanpa Kwik Ciok ji, tak mungkin dia bisa membawakan sandiwara tersebut, bahkan skenario dari sandiwara itupun disusun oleh Kwik Ciok ji baginya.

Sekarang ia sudah dapat melihat bahwa peranan yang dibawakan olehnya adalah suatu peranan yang bagus dan sangat menguntungkan. paling tidak bisa bisa mencari muka di

hadapan Tong Koat.

Manusia semacam Tong Koat memang memerlukan seorang pembantu setia yang setiap waktu setiap saat bisa digunakan olehnya untuk membunuh seseorang.

Tak bisa disangkal lagi Kwik Ciok ji telah dapat memahami akan titik kelemahan tersebut, titik kelemahan yang dapat dipergunakan bagi keuntungan mereka, maka diapun sengaja mengaturkan suatu peranan yang demikian itu untuk Bu ki.

Sekarang, tentu saja Bu ki sudah percaya dengan ucapan Tong Koat, di sini benar-benar ada seorang teman yang sedang menantikannya.

Untung saja sahabatnya ini bukan sahabat Tong Kat, melainkan sahabatnya. Sahabat semacam ini, asal ada seorang saja, hal ini sudah lebih dari cukup.

Mimpipun Bu-ki tidak menyangka kalau di sini masih ada seorang temannya lagi yang sedang menunggu, bahkan diapun seorang teman karibnya.

SUATU KESALAHAN

Bangunan loteng kecil ini tak bisa dianggap terlampau kecil, di atas loteng ternyata terdiri dari empat buah kamar, keempat buah kamar itupun tak bisa dianggap kecil.

Tong Koat mengajak Bu ki masuk ke kamar nomor satu di sebelah kiri, lalu tanyanya: “Bocah, kau lihat kamar ini, boleh tidak?”

Di dalam kamar terdapat sebuah pembaringan yang besar, lebar dan empuk, di atas ranjang terdapat seprei yang bersih, di luar jendela terbentang hutang yang hijau, udara kering tapi segar.

“Bagus sekali” kata Bu ki. “Inginkah kau tinggal di sini?” kembali Tong Koat bertanya. “Ingin!”

“Akupun ingin sekali mempersilahkan kau berdiam di sini, berapa lama pula kau boleh tinggal di tempat ini !”

“Bagus sekali!”

“Cuma sayang, ada satu hal yang tidak terlalu bagus” “Hal yang mana?”

Tong Koat tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya:

“Di kala kau berdian di rumah penginapan selalu akan bertanya dulu siapa she dan apa namamu? Datang dari mana? Mau kemana? Datang kemari ada urusan apa?”

“Benar!”

“Pernahkah aku bertanya kepadamu?” “Tidak pernah”

“Tahukah kau mengapa aku tidak menanyakan soal itu?” “Kenapa?”

“Karena aku tak dapat memberi kesempatan kepadamu untuk melatihnya ”

“Melatih apa?” “Melatih berbohong!”

Kembali sepasang matanya dipicingkan kemudian lanjutnya,

“Bila terlampau sering berbohong, diri sendiri saja tidak percaya, apalagi orang lain” “Yaa, masuk diakal”

“Oleh karena itu ada sementara persoalan kami cuma akan bertanya satu kali, entah kau sedang berbohong tidak, kami dapat mengetahuinya”

“Kalian?” “Kami maksudnya selain aku masih ada orang-orang yang lain” “Siapakah orang-orang yang lain itu?”

“Mereka yang dapat mengetahui apakah kau sedang berbohong atau tidak dalam sekilas pandangan saja”

Dengan sepasang tangannya yang putih dan gemuk menggenggam sepasang tangan Bu ki kemudian terusnya,

“Padahal aku tahu, kau tak akan berbicara bohong, tapi kaupun harus melewati pemeriksaan tersebut kemudian baru boleh tinggal disini dengan aman sentausa”

“Kalian bermaksud hendak menanyainya mulai kapan?” “Sekarang!”

Begitu ucapan tersebut diucapkan, dia telah menotok jalan darah ditubuh Bu ki.

Bu ki membiarkan tangannya digenggam karena dia memang bertujuan agar jalan darahnya bisa ditotok.

Bu ki harus memberi kesan kapada Tong Koat bahwa dia sama sekali mempercayainya, dan seratus persen percaya kepadanya.

Seseorang yang dalam hati kecilnya tak punya tujuan dan maksud-maksud tertentu baru akan percaya seratus persen kepada orang lain.

Dia harus memberi kesan kepada Tong Koat bahwa hatinya benar-benar jujur dan terbuka.

Bila kau menginginkan orang lain mempercayai dirimu, maka kau harus membuat orang lain beranggapan bahwa kaupun mempercayainya.

Dia harus membuat Tong Koat percaya kepadanya, kalau tidak pada hakekatnya tak mungkin baginya untuk hidup disana.

Cahaya lampu yang sangat kuat menyoroti diatas wajah Bu ki. Suasana di empat penjuru sekeliling tempat itu terasa gelap gulita.

Apapun tidak terlihat olehnya, dia hanya bisa mendengar suara napas yang lirih dibalik kegelapan itu, bahkan suara napas itu bukan hanya suara napas seorang saja. Dia tidak tahu siapa-siapa sajakah orang-orang itu, dia juga tak tahu Tong Koat telah membawanya kemana.

Diapun tak tahu dengan cara apakah orang-orang itu hendak memeriksa dan menanyai dirinya.

Dari balik kegelapan kembali terdengar suara langkah manusia, kembali ada beberapa orang yang berjalan masuk dari luar.

Diantaranya ada seseorang yang mengucapkan beberapa patah kata lalu duduk. “Aku datang terlambat!”

Ia sama sekali tak bermaksud memberi penjelasan atas keterlambatannya. lebih-lebih tak bermaksud untuk meminta maaf.

Dia seakan-akan beranggapan bahwa orang lain harus memahaminya. Bila ia sampai terlambat, sudah pasti ada alasan yang cukup kuat.

Dia seperti menganggap orang lain sudah sepantasnya menunggu akan kehadirannya.

Suara orang itu rendah, berat, dingin, hambar dan penuh rasa percaya pada diri sendiri, bahkan masih membawa juga sikap angkuh yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Mendengar suara orang itu, Bu ki merasakan darah yang mengalir disekujur badannya seolah- olah mendidih dengan kerasnya.

Tentu saja dia mengenali suara orang itu.

Sekalipun ia dijebloskan ke dalam neraka tingkat delapan belas, sekalipun tubuhnya dicincang menjadi hancur berkeping-keping dibakar sampai tinggal abunya dia tak akan melupakan orang ini.

Sangkoan Jin!

Orang ini bukan lain adalah Sangkoan Jin. Akhirnya Sangkoan Jin telah menampakkan diri.

Walaupun Bu-ki masih belum dapat melihatnya, tapi ia sudah dapat mendengar dengusan napasnya. Dendam kesumat yang lebih dalam dari samudra, air mata darah yang selamanya meleleh membasahi wajahnya, tak seorang manusiapun bisa membayangkan betapa penderitaannya dan tersiksanya dia selama ini....

Sekarang, musuh besarnya sudah bernapas dalam sebuah ruangan yang sama, tapi ia justru hanya bisa duduk dalam ruangan itu bagaikan mayat hidup. Badannya sama sekali tak mampu berkutik.

Bagaimanapun juga, ia tak boleh berkutik.

Dia harus mempergunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk berusaha mengendalikan diri.

Sekarang saatnya belum tiba, bila sekarang dia bergerak, maka ia akan mati tanpa liang kubur. Mati memang tak perlu dipikirkan.

Tapi bila dia harus mati sedang musuh besarnya masih hidup, bagaimana mungkin dia bisa menghadap arwah ayahnya dialam baka?

Dalam keadaan begini, bahkan perubahan mimik wajah yang anehpun sama sekali tidak terlihat diatas wajahnya.

Tak seorang manusiapun yang bisa memahami betapa menderita dan tersiksanya seseorang yang menahan sabar dan mengendalikan gejolak emosi didalam hatinya.

Tapi dia harus bersabar!

Dalam hatinya seakan-akan terdapat sebilah pisau tajam. Sekujur badannya seakan-akan hendak disayat-sayat menjadi berkeping-keping kecil.....

Tapi dia harus bersabar dan bersabar terus. Sangkoan Jin telah duduk.

Empat buah sinar lampu yang dibuat secara khusus dan mempunyai daya pancar yang kuat hampir seluruhnya ditujukan keatas wajah Bu ki yang pucat.

Peluh sebesar kacang telah membasahi seluruh wajah si anak muda itu.....

Walaupun ia tak dapat melihat Sangkoan Jin, tapi Sangkoan Jin sudah pasti dapat melihat kearahnya. Melihat dengan jelas sekali. Tak pernah dia sangka kalau ia akan berjumpa dengan Sangkoan Jin dalam keadaan seperti ini.

Ia percaya paras mukanya sudah banyak mengalami perubahan, bahkan kadang kala ia sendiripun hampir tidak mengenali dirinya sendiri bila berhadapan dengan cermin.

Akan tetapi, dia tidak mempunyai keyakinan yang bisa diandalkan bahwa Sangkoan Jin tak akan mengenalinya lagi.

Andaikata Sangkoan Jin sampai mengenalinya, maka akibatnya tak akan bisa dibayangkan lagi.

Bangku yang didudukinya meski besar dan lebar tapi sekarang, dia merasa seakan-akan sedang duduk diatas sebuah bangku yang berjarum.

Peluh dingin telah jatuh bercucuran membasahi seluruh bajunya.

*****

Akhirnya terdengar juga suara yang berkumandang, ternyata bukan suara dari Sangkoan Jin, ternyata Sangkoan Jin belum mengenali dirinya lagi.

“Siapa namamu?” dari kegelapan terdengar suara menegur. “Li Giok Thong!”

“Darimana dusunmu?”

“Wan lam, Sit si, desa Sit tau cung” “Orang tuamu?”

“Li Im tam, Li Kwik si!”

Pertanyaan-pertanyaan itu datangnya sangat cepat. Tiada kesempatan buat Bu ki untuk berpikir. Dia harus menjawab dengan lancar dan cepat pula.

Sebab setiap pertanyaan yang kemungkinan besar akan ditanya oleh lawan entah sudah beberapa kali dia menanyai dirinya sendiri.

Dia percaya sekalipun pertanyaan-pertanyaan itu diajukan oleh seorang petugas pengadilan yang berpengalamanpun, belum tentu bisa mengetahui apakah ia sedang berbicara sejujurnya atau tidak. Tentu saja bukan jawaban sesungguhnya yang dia berikan, juga bukan semuanya bohong.

Andaikata kau hendak membohongi orang, paling tidak dari sepuluh patah kata bohong ada tiga patah yang bohong tapi tujuh bagian yang jujur, dengan begitu orang lain baru mempercayainya.

Ia tak pernah lupa dengan nasehat ini.

Tempat yang diucapkan olehnya tadi memang benar-benar ada, di situlah letak desa kelahiran dari inang pengasuhnya, bahkan dia masih bisa berbicara dengan dialek daerah tersebut.

Tempat itu sangat jauh sekali letaknya, sekalipun mereka bakal mengirim orang untuk melakukan penyelidikan, paling tidak pulang pergi membutuhkan waktu hampir dua puluh hari lamanya.

Untuk menyelidiki seseorang yang sebenarnya tidak pernah ada wujudnya, tentu saja jauh lebih membuang wakti lagi, menanti mereka berhasil mendapat tahu duduk persoalan yang sebenarnya, paling tidak kejadian itu akan berlangsung pada satu bulan kemudian, selama satu bulan yang tersedia, dia masih bisa melakukan banyak pekerjaan.

Dia harus berusaha keras untuk berlomba dengan waktu.

Dia bilang ayahnya adalah seorang siucay rudin yang gagal dalam ujian, sewaktu ia masih kecil, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Oleh karena itu ia berkelana dalam dunia persilatan, bertemu dengan seorang manusia aneh dalam sebuah peti mati dan ia diajak pulang ke dalam sebuah gua yang mirip kuburan dan memperoleh warisan ilmu silat serta ilmu pedang selama satu tahun lebih.

Tokoh aneh dalam peti mati itu menderita keracunan hebat dalam tubuhnya yang tidak memperkenankan dia tinggal terlalu lama di situ, maka terpaksa dia harus berkelana kembali di dalam dunia persilatan.....

Berulang kali manusia aneh itu berpesan kepadanya agar jangan mempergunakan ilmu pedangnya untuk mencari nama besar dalam dunia persilatan, maka diapun terpaksa menjadi seorang pembunuh tak ternama.

Seseorang yang memilih membunuh orang sebagai pekerjaannya, maka dia harus mengesampingkan soal nama, keluarga maupun perasaan.

Dia dan Tong Giok bisa berkawan akrab, karena mereka berdua sama-sama adalah manusia yang tak berperasaan. Belakangan ini dia bertemu lagi dengan Tong Giok dalam hutan Say-cu lim, mereka berduapun melakukan perjalanan bersama menuju ke sebuah kota kecil di tepi perbatasan propinsi Szuchwan.

Suatu malam Tong Giok pergi memenuhi suatu janji, tapi lama sekali belum kembali, ketika ia pergi mencarinya, ternyata Tong Giok telah menjadi seorang cacat yang mati tidak hiduppun tidak.

Ia bertekad menghantar Tong Giok pulang, lantaran selain mereka adalah bersahabat, juga karena dia hendak mencari tempat untuk menghindarkan diri dari kejaran musuh-musuhnya.

Ia percaya sekalipun musuhnya tahu kalau dia berada dalam benteng keluarga Tong, tak nanti ia berani datang mencarinya.

Semua perkataan itu ada yang kenyataan dan ada pula yang bohong, tapi semua merupakan suatu rangkaian cerita yang enak sekali didengar dan dinikmati.

Ketika ia menyinggung soal tokoh aneh di dalam peti mati itu terdengar olehnya dengusan napas setiap orang yang berada dalam kegelapan itu seakan-akan berubah menjadi lebih berat dan kasar.

Tak bisa disangsikan lagi, merekapun pernah juga mendengar kisah cerita tentang orang itu.

Tapi mereka tak banyak bertanya mengenai masalah yang menyangkut orang itu seakan-akan tak seorangpun yang bersedia menyinggung masalah itu seakan-akan masalah itu merupakan penyakit menular yang menakutkan.

Merekapun tidak menanyakan lagi soal kota kecil di tepi perbatasan serta pertemuan yang dilakukan Tong Giok waktu itu sehingga mengakibatkan kelumpuhan itu.

Tak bisa disangkal lagi Tong Koat sudah pasti telah menyelidiki persoalan itu dengan sejelas- jelasnya, itu semua persiapan yang dilakukan Bu ki dalam pertemuan tempo hari sesungguhnya sama sekali tidak sia-sia belaka.

Yang mereka ributkan sekarang adalah haruskah mereka memberi ijin kepada seseorang yang banyak mempunyai persoalan tetap tinggal di situ.

Dari balik kegelapan mendadak terdengar suara deheman pelan, semua perdebatanpun segera terhenti sama sekali.

Serentetan suara yang tua, lemah dan parau pelan-pelan mengemukakan kesimpulannya.

“Entah siapakah orang ini, bagaimanapun juga dia adalah teman Tong Giok, entah kenapa dia menghantar Tong Giok pulang, yang pasti ia telah menghantar Tong Giok sampai di sini” “Oleh karena itu, dia boleh tetap tinggal di sini, berapa lama ia suka berada di sini, berapa lama pula dia boleh tinggal di tempat ini”

Maka Bu ki pun tinggal di situ. Malam semakin kelam,

Daun jendela dalam ruangan setengah terbuka, angin malam berhembus lewat dan membawa udara yang kering tapi segar.

Tong Koat telah pergi, sesaat sebelum pergi, sambil memicingkan matanya dia berkata kepada Bu ki:

“Kesan nenek moyang terhadapmu baik sekali, bahkan menganggap semua ucapanmu itu jujur, maka ia mengijinkan dirimu untuk tetap tinggal di sini”

Untuk mengelabuhi Sangkoan Jin, lebih-lebih tidak gampang lagi.

Mungkin saja hal ini disebabkan karena mimpipun mereka tak menyangka kalau Tio Bu ki berani mendatangi benteng keluarga Tong, mungkin juga karena suara, wajah maupun potongan badan Bu ki telah banyak mengalami perubahan.

Bu ki cuma bisa berpikir demikian.

Karena dia tak percaya kalau kejadian ini merupakan kemujurannya, lebih tak mungkin baginya untuk menemukan alasan lainnya.

Dia ingin sekali melihat apakah Sangkoan Jin juga mengalami banyak perubahan, sayang apapun tidak berhasil dia lihat.

Dia hanya merasakan tempat itu adalah sebuah ruangan yang besar sekali, selain Tong Koat dan Sangkoan Jin, paling tidak di tempat itu masih terdapat belasan orang lagi.

Tak bisa disangkal lagi belasan orang yang hadir di ruangan itu sebagian besar tentunya merupakan pentolan-pentoaln dari benteng keluarga Tong, dan tempat tersebut tak bisa disangkal lagi pastilah di dalam “kebun bunga”, kemungkinan besar tempat itu merupakan pusat keluarga Tong dari mana perintah-perintah harian biasanya dikeluarkan....

Sewaktu berangkat, jalan darah tidurnya telah ditotok oleh Tong Koat, bahkan cara Tong Koat menotok jalan darahpun sangat tepat dan berat, apapun tidak dirasakan olehnya. Tapi sewaktu kembali, sikap Tong Koat jauh lebih sungkan, dia hanya menutup matanya dengan secarik kain hitam, lagi pula menggotongnya dengan mempergunakan sebuah usungan.

Sekalipun dia tidak dapat melihat jalan masuk dan keluar di tempat itu, tapi dia dapat merasa bahwa perjalanan dari tempat dimana ia tinggal sampai di ruang tersebut, semuanya terdiri dari seribu tujuh ratus delapan puluh tiga langkah.

Setiap langkah yang ada, semuanya telah diperhitungkan dengan teliti dan seksama.

Pulang dari tempat itu, jalan yang ditempuh adalah jalan menurun, semuanya ada tiga tempat yang berundak-undakan, jumlah undak-undakannya mencapai sembilan puluh sembilah buah, melewati sebuah kebun bunga, sebuah hitan dan sebuah sumber mata air.

Ia dapat mengendus bau harumnya bunga, apeknya daun dan kayu, juga mendengar suara mengalirnya air.

Ketika melalui sumber mata air tersebut dia malah mengendus bau belerang yang amat menusuk penciuman, kemungkinan besar sumber mata air itu adalah air mata air panas.

Cuaca di propinsi Szhechwan amat hangat. Di sana sini banyak terdapat mata air panas yang mengandung belerang.

Sekarang ia cukup mendorong daun jendela, maka tampaklah hutan yang telah dilaluinya tadi.

Setelah keluar dari hutan dan berbelok ke sebelah kanan, mereka akan melalui sebuah undak- undakan batu yang terdiri dari tiga puluh delapan tingkat, kemudian berbelok melalui sebuah kebun bunga dan sesaat kemudian akan tiba di sumber mata air panas itu.

Bila sudah tiba di sumber air panas, itu berarti jaraknya dengan tempat yang dituju sudah tak jauh lagi.

Ia percaya dirinya sudah pasti dapat menemukan kembali tempat itu.

Tentu saja sepanjang jalan pasti akan menjumpai penjagaan yang ketat, tapi sekarang malam sudah semakin larut, penjagaan ditempat itupun sudah pasti akan jauh lebih mengendor.

Apalagi hari ini dia baru tiba, sekalipun orang lain menaruh curiga kepadanya, juga tak akan menyangka kalau malam ini juga ia sudah melakukan suatu pergerakan.

Dia menganggap inilah kesempatan yang terbaik baginya, di kemudian hari belum tentu dia akan menjumpai kesempatan sebaik ini.

Ia bertekad untuk mulai melakukan pergerakan.. Daun jendela masih terpentang lebar, di luar jendela adalah hutan yang dimaksud, jendela itu tak sampai tiga kaki tingginya dari atas permukaan tanah.

Tapi ia sama sekali tidak melompat turun melalui jendela.

Bila ada orang sedang mengawasinya, yang paling diperhatikan sudah tentu adalah daun jendela tersebut.

Maka ia lebih suka melalui pintu gerbang melalui anak tangga daripada lewat jendela, sebab sekalipun ketahuan orang, iapun masih bisa memberikan penjelasan.

“Berganti dengan pembaringan baru rasanya kurang terbiasa, maka aku tak bisa tidur dan ingin keluar rumah untuk berjalan-jalan”

Ia telah mempelajari banyak hal, dalam melakukan perbuatan apapun, ia selalu menyiapkan jalan mundurnya terlebih dahulu.

Di luar pintu terdapat sebuah jalan orang, selain itu masih ada lagi tiga buah ruangan yang semua pintunya tertutup rapat, entahkah ada seseorang yang berada di sana.

Rupanya tempat itu adalah tempat yang khusus dipakai untuk menyambut kedatangan tamu agung dari benteng keluarga Tong, kemungkinan besar Kwik Ciok ji tinggal pula di sana.

Tapi Bu ki sama sekali tidak berhasrat untuk mencarinya.

Dia tidak boleh melakukan sesuatu tindakan yang bisa menaruh kesan kepada orang-orang keluarga Tong, bahwa mereka sesungguhnya adalah sahabat karib.

Inipun merupakan salah satu jalan mundur yang telah dipersiapkannya lebih dulu.

Ternyata di dalam maupun di luar loteng tiada penjaganya. Dalam hutan itupun tidak nampak adanya penjagaan.

Belakangan ini, sudah tiada jago persilatan yang berani mendatangi benteng keluarga Tong untuk mencari gara-gara, kehidupan mereka dilalui dengan aman tenteram, hal mana sedikit banyak membuat penjagaanpun menjadi lebih teledor, apalagi tempat itu sudah makin mendekati pusat kekuasaaan dari keluarga Tong, pada hakekatnya tak mungkin orang lain bisa memasuki wilayah tersebut.

Tapi Bu ki masih tetap bertindak sangat berhati-hati.

Hutan itu luas sekali menurut perhitungannya, paling tidak dia harus berjalan sejauh empat ratus tiga belas langkah untuk menembusinya sampai keluar. Dia percaya perhitungannya itu pasti tepat sekali.

Sekalipun langkah tiap manusia berbeda mesti ada yang langkahnya lebar, ada pula yang langkahnya pendek, tapi dia yakin sekalipun ada selisihnya, selisih tersebut tidak akan beda tiga puluh langkah.

Setelah menentukan arahnya yang tepat, dia telah berjalan sejauh empat ratus tiga belas langkah.

Di dalam sana masih tampak sebuah hutan yang lebat sekali dengan pepohonan yang rimbun. Karena itu, dia berjalan maju lagi sejauh tiga puluh langkah lebih.....

Tapi apa yang dijumpai?

Kembali ada sebuah hutan yang lebat dengan pepohonan yang rimbun membentang di depan mata.

Untuk kesekian kalinya Bu ki melanjutkan perjalanannya maju lima puluh langkah lagi ke depan.

Tapi sebuat hutan dengan pepohonan yang lebat kembali membentang di depan matanya. Peluh dingin sudah mulai bercucuran membasahi sekujur badan Bu ki.

Hutan tersebut seolah-olah telah berubah menjadi suatu lautan hutan yang tak bertepian, dia seakan-akan tak pernah bisa keluar lagi dari cengkeraman hutan belantara itu.

Mungkinkah di dalam hutan belantara itu telah dipersiapkan semacam ilmu barisan yang sangat lihay?

Ia tak bisa menemukannya.

Dedaunan yang rimbun dan lebat telah menghalangi sinar rembulan di malam itu, bahkan cahaya bintangpun tak nampak sama sekali.

Ia bertekad untuk naik ke atas dahan pohon dan menengok dari atas. Tapi keputusan tersebut justru keliru besar.

Berada dalam keadaan seperti ini, bagaimanapun kecilnya kesalahan yang dibuat, semuanya bisa mengakibatkan kematian yang mengerikan. TEMAN KEDUA

Seandainya dalam hutan itu tiada penjagaan, maka di atas puncak pohon lebih lebih tak mungkin ada.

Sesungguhnya inilah suatu jalan pemikiran yang amat serasi, kebanyakan orang tentu berpendapat demikian, sayang sekali pemikiran semacam ini justru salah besar.

Begitu Bu ki melompat naik ke atas dahan pohon, dia segera sadar kalau jalan pikirannya keliru besar, sayang keadaan sudah terlampau lambat.

Mendadak tampak cahaya api berkilauan dan percikan bunga api memancar ke empat penjuru, sebatang panah berapi yang memancarkan cahaya tajam dengan cepatnya melesat ke tengah angkasa yang gelap.

Pada saat yang bersamaan, dua baris anak panah yang gencar berhamburan datang dari mana- mana.

Dia bisa saja melompat turun dari dahan pohon dan mundur melalui jalan semula. Tapi ia tidak berbuat demikian.

Dia percaya, setelah jejaknya ketahuan maka semua persiapan yang ada di sekitar tempat itu telah bergerak seluruhnya, hutan yang sesungguhnya aman tenteram kini telah berubah menjadi suatu hutan belantara yang penuh dengan hawa pembunuhan yang mengerikan, bila hutan ini dapat ditinggalkan mungkin keamanannya malahan terjamin.

Ia bertekad untuk menyusup keluar lewat batang pohon tersebut.

Itulah keputusan yang diambilnya pada kesempatan terakhir, ia sendiripun tidak tahu apakah keputusan yang diambilnya itu benar atau tidak.

Ujung kakinya telah menemukan sebatang dahan pohon yang jauh lebih kuat dan keras, dengan meminjam daya pantul dari dahan pohon tersebut, ia melesat ke depan.

Desingan angin yang tajam dan mengerikan menyambar lewat dari belakang tubuhnya. Ia tidak berpaling untuk menengok desingan angin tajam itu.

Sekarang posisinya sudah berada dalam keadaan yang amat kritis, asal ia berpaling maka besar kemungkinan jiwanya akan melayang meninggalkan raganya. Setiap kekuatan dan setiap tenaga yang dimilikinya tak boleh dihambur-hamburkan dengan begitu saja, tubuhnya juga berubah bagaikan sebatang anak panah yang melesat ke muka dengan menyerempet di atas dahan pohon.

Kembali ada dua buah baris hujan panah yang meluncur datang dan menyambar lewat dari atas kepalanya.

Ia belum menangkap suara bentakan, juga belum melihat kemunculannya sesosok bayangan manusia, tapi setiap jengkal tanah di sekililing tempat itu telah diliputi hawa pembunuhan yang mengerikan sekali.

Kehidupan yang tenang dan aman tenteram sama sekali tidak mengendorkan penjagaan dalam benteng keluarga Tong, nama besar keluarga Tong yang tersohor turun temurun juga bukan diperoleh dengan begitu saja.

Memandang dari atas dahan pohon, tampaklah hutan tersebut bukanlah sebuah hutang yang tak bisa ditembusi untuk selama-lamanya.

Di depan hutan sana terdapat sebuah lapangan kosong, dua puluh kaki kemudian baru terdapat tempat untuk menyembunyikan diri.

Barang siapa ingin melalui tanah kosong seluas dua puluh kaki itu, maka jejaknya sudah pasti akan ketahuan lawan.

Asal jejaknya sudah ketahuan lawan, maka ia segera akan menjadi sasaran dari hujan panah tersebut.

Dengan begitu, bukan saja Bu ki tak bisa mundur juga tak bisa maju ke depan.

Pada saat itulah tiba-tiba ia menyaksikan ada sesosok bayangan manusia sedang melesat ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Gerakan orang itu tampaknya jauh lebih cepat dari pada gerakan Bu ki sendiri.

Di mana hujan panah itu menyambar datang, hanya dalam sekali tebasan saja anak panah tersebut sudah rontok ke tanah, sementara tubuhnya juga telah melesat sejauh sepuluh kaki lebih ke depan.

Siapakah orang itu?

Ia sengaja menampakkan diri, sudah pasti tujuannya adalah membantu Bu ki untuk memancing perginya jebakan-jebakan tersebut.

Tentu saja orang itu adalah temannya Bu ki. Orang pertama yang diingat Bu ki adalah Kwik Ciok-ji, selain Kwik Ciok-ji tak mungkin ada orang lain.

Ia tidak berpikir lebih jauh, buru-buru tubuhnya tenggelam ke bawah, lalu secara beruntun mempergunakan gerakan Peng sah lok ing (manyar menukik menyambar pasir), Yan cu sam cau sui (burung lewat tiga kali menutul air) dan Hui nio to lim (burung terbang melintasi hutan), dengan menggunakan tiga kali perubahan tubuh, ia sudah menembusi tanah lapang dan menyusup ke dalam kebun.

Bersembunyi di bawah pepohonan, ia mendengar ada suatu langkah kaki yang ramai bergema lewat dari hadapannya.

Sekalipun penjaga di sekitar tempat itu sudah terpancing pergi oleh bayangan manusia tadi, tapi jelas kebun bunga itu bukan suatu tempat yang aman ditinggali terlalu lama.

Dia harus pergi kemana?

Ia tak berani mengambil keputusan secara gegabah lagi, sebab kemanapun dia akan pergi, ia tidak yakin bisa meloloskan diri dari tempat tersebut.

Pada saat itulah, mendadak ia menemukan suatu kejadian yang aneh sekali. Bintang bertaburan di angkasa.

Tiba-tiba ia menyaksikan ada sekuntum bunga sedang bergerak-gerak, bukan daunnya yang bergerak melainkan tangkai berikut akarnya yang bergerak.

Akar berikut tanah tiba-tiba bergerak meninggalkan permukaan, seakan-akan

ada sebuah tangan yang tidak tampak sedang mencabut bunga itu berikut akarnya. Dari atas tanah muncul sebuah gua, dari dalam gua tiba-tiba muncul sebuah kepala.

Bukan kepala tikus juga bukan kepala kelinci, melainkan kepala manusia , kepala manusia

dengan rambutnya yang kusut serta beruban semua.

Bu ki merasa amat terkejut belum sempat ia melihat jelas raut wajahnya, tiba-tiba orang itu bertanya.

“Apakah kau hendak ditangkap oleh orang-orang keluarga Tong. ?”

Bu ki mau tak mau harus mengakuinya. “Masuk, masuk, cepat masuk kemari!”, kembali orang itu berseru.

Selesai berkata, kepalanya segera ditarik masuk kembali kedalam gua tersebut, Siapakah orang ini? mengapa secara tiba-tiba muncul dari bawah tanah?

Kenapa ia minta kepada Bu ki untuk masuk kedalam guanya? Rahasia apa yang terdapat didalam gua.

Bu ki tidak habis mengerti juga tak punya waktu untuk memikirkannya....

Ia mendengar ada suara langkah manusia bergema datang, kali ini ternyata menuju kearah dimana ia berada.

Dari balik kebun seakan-akan tampak cahaya api yang sedang berkedip-kedip.

Dalam keadaan demikian, dia tidak punya pilihan lain lagi kecuali menyembunyikan diri kedalam gua tersebut.

Sebab ia sudah mendengar teriakan dari Tong Koat....

Dalam gua tersebut terdapat lorong bawah tanah yang dalam sekali.

Ketika Bu ki menerobos masuk kedalam, orang itu segera menutup kembali mulut gua dengan pohon bunga tadi. Suasana dalam gua seketika berubah menjadi gelap gulita, bahkan kelima jari tangan sendiripun sukar dilihat,

Suara langkah manusia diatas kedengaran makin keras dan makin banya, lewat lama sekali ia baru mendengar orang itu berbisik dengan suara amat lirih:

“Ikutlah aku!”.

Bu ki terpaksa harus merangkak menelusuri lorong bawah tanah itu sambil meraba kesana- kemari, lorong tersebut amat sempit dan lagi kecil, hanya seorang saja yang bisa menerobosnya sambil meliuk-liukkan badannya seperti ular.

Orang yang berada didepan itu merangkak dengan pelan sekali.

Mau tak mau dia musti bertindak berhati-hati, sebab bila dia merangkak lebih cepatan maka Bu ki segera akan mendengar suara bunyi gemerincingnya rantai yang saling beradu.

Akhirnya Bu ki baru tahu kalau kaki dan tangan orang itu telah diborgol dengan rantai baja, rantai baja yang sedemikian kerasnya hingga bacokan golokpun tidak mempan. Benarkah dia anggota keluarga Tong.

Andaikata dia adalah anggota keluarga Tong, kenapa kaki dan tangannya diborgol dengan rantai dan disekap didasar tanah?.

Kalau dia bukan anggota keluarga Tong, lantas siapakah dia? Kenapa bisa sampai disitu/.

Lorong bawah tanah itu dalam sekali, entah berapa dalamnya, terasa panjangnya bukan kepalang tapi tidak diketahui pula seberapa panjangnya.

Bu ki hanya merasakan lorong bawah tanah yang sebelumnya dingin dan lembab, kini kian lama kian bertambah panas dan menyengat badan, malah lamat-lamat dia mendengar suara air yang mengalir, maka dia lantas menduga kalau tempat itu letaknya persis dibawah sumber air panas tersebut.

Kemudian ia mendenar kakek itu berseru:

“Kita sudah sampai ditempat tujuan!”. Sampai dimanakah mereka?’

Disitu tiada lampu juga tiada cahaya api Bu ki belum bisa melihat apa-apa. Tapi ia dapat bangkit berdiri, lagipula dia merasa tempat itu lebar dan luas. Kembali ia dengar kakek itu berkata:

“Inilah rumahku!”.

Tempat itu letaknya masih berada dibawah tanah, kenapa rumah sikakek itu berada dibawah tanah? Apakah ia tak bisa bertemu dengan orang? Ataukah tidak ingin bertemu dengan orang?

Ataukah orang lain yang tidak memperkenankan dia berjumpa dengan orang. ?

Tempat ini letakknya masih berada dalam komplek benteng keluarga Tong, seandainya dia bukan anggota keluarga Tong, mengapa rumahnya bisa berada dalam komplek benteng keluarga Tong?.

Seandainya dia adalah anggota keluarga Tong, mengapa pula dia berdiam dibawah tanah?

Suara kakek itu kedengaran sangat rendah, berat dan parau, seolah-olah penuh dengan penderitaan, suatu penderitaan yang tak dapat diutarakan keluar. Bu ki merasa mempunyai banyak pertanyaan yang hendak diajukan kepadanya tapi sebelum pemuda itu sempat buka suara, dia telah bertanya lebih dahulu.

“Apakah kau membawa korek api?”. “Tidak”

“Juga tidak membawa batu api?’ “Tidak!”

Tiada api berarti tiada cahaya, tanpa cahaya berarti ia tak bisa melihat apa-apa.

Hidup didalam kegelapan uang melihat kelima jari sendiripun tak dapat, sesungguhnya merupakan suatu penderitaan yang luar biasa,

“Tempat ini adalah rumahmu, seharusnya kau memiliku benda untuk membuat api”, kata Bu ki.

Buat apa aku mempunyai benda untuk membuat api?. “untuk memasang lentera!”.

“Kenapa aku harus memasang lentera?”. “Kau tak pernah memasang lentera?”.

Selamanya aku tidak memasang lentera, disinipun tak boleh memasang lentera?’. Bu ki menjadi tertegun.

Ia tidak habis berpikir, kenapa orang ini bisa hidup sepanjang tahun didalam sebuah tanah yang tak pernah ada sinarnya?’.

Terdengar kakek itu bertanya lagi:.

“Siapakah kau? Mengapa bisa sampai disini, Kau mencari keluarga Tong apakah dikarenakan ada suatu dendam kesumat?’.

Secara beruntun dia mengajukan tiga buah pertanyaan, tapi tak sebuah pertanyaanpun dijawab oleh Bu ki.

Bahkan sepatah katapun tidak diucapkan olehnya. “Mengapa kau tidak berbicara?” tanya kakek itu lagi.

“Sebab aku tak dapat melihatmu, aku tak akan berbicara dengan seorang yang tidak kulihat wajahnya”.

“Seandainya aku tak dapat melihatmu, aku tak akan berbicara dengan seseorang yang tidak kulihat wajahnya”.

“Seandainya kau tidak terlampau bodoh, sekarang tentunya kau sudah bisa menduga bukan bahwa aku adalah seorang yang buta”.

Bu ki memang telah berpikir sampai kesitu.

“Kau tidak dapat melihatku, akupun tak dapat melihatmu, bukankan hal ini sangat adil?’. lagi- lagi kakek itu berkata.

Bu ki tidak berkata apa-apa lagi.

Tampaknya ia sudah mengambil keputusan, dia tak akan berbicara dengan seseorang yang tak dapat dilihat wajahnya.

Kakek itupun tidak berbicara pula.

Seorang anak muda, dibawa masuk kedalam sebuah tempat semacam ini oleh seorang kakek yang aneh dan misterius mungkinkah ia bisa menahan rasa ingin tahunya dan membungkam terus.

Ia yakin cepat atau lambat Bu ki pasti tak dapat mengendalikan emosinya, ta tak menyangka kalau pemuda bernama Bu ki ini sesungguhnya jauh berbeda dengan orang lain.

Bu ki sangat pandai mengendalikan diri.

Entah berapa lama sudah lewat, kakek itu masih tak sanggup menahan diri lagi, tiba-tiba ia berseru:

“Aku merasa kagum sekali kepadamu, kau memang benar-benar seorang pemuda yang hebat. Bu ki tetap membungkam,

“Kau pasti ada dendam dengan keluarga Tong, tapi kau berani menyusup kedalam benteng keluarga Tong, apalagi bernyali untuk melakukan penyelidikan terhadap daerah terlarang benteng keluarga Tong berdasarkan hal ini, sudah terbukti sudah kalau kau memang seorang manusia luar biasa”. Bu ki tidak berbicara lagi.

“Setelah berada dalam keadaan begini dan berada ditempat seperti ini, ternyata kau masih bisa menahan diri, seakan-akan sudah kau duga kalau tempat ini terdapat lampu dan kalau kau bersikeras tidak bersuara, maka aku bakal memasangkan lampu bagimu”.

Setela menghela napas terusnya:.

“Bocah muda semacam kau ini tidak banyak lagi jumlahnya, sesungguhnya aku merasa butuk sekali seorang teman semacam kau”.

Bu ki masih saja belum berbicara.

Entah apapun yang dikatakan kakek itu dia sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa. Pada saat itulah, cahaya lentera menerangi seluruh ruangan.

Cahaya lentera itu muncul dari sebuah lentera kaca, walau berada dalam kejadian apapun walau ada angin yang bagaimana kencangnya, jangan harap bisa menggoncangkan cahaya api dalam lentera tersebut.

Terhadap cahaya ini, dia musti berhati-hati dan selalu waspada, sebab disekeliling tempat ini penuh berserakan belerang, opotas dan bahan mesiu, bisla bertindak kurang berhati-hati maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Kakek itu duduk dibelakang sebuah meja yang sangat besar, diatas meja penuh berserakan alat-alat yang belum pernah dilihat Bu ki, ada benda yang mirip jarum, ada yang mirip pipa, ada yang mirip tabung kosong, ada yang bengkok-bengkok, adapula yang meliuk-liuk seperti tusuk konde.

Suasana dalam ruangan bawah tanah itu gelap lagi lembab, selain sebuah meja disudut sana masih terdapat sebuah pembaringan.

Kakek itu hidup dalam gua bagaikan hidup seekor tikus, tangan maupun kakinya diborgol

orang dengan rantai yang sangat besar, mukanya yang pucat piat sudah tumbuh panu sebesar mata uang karena udara yang lembab, sehingga mukanya bagakan mengenakan topeng sebuah topeng saja.

Bau busuk yang sangat menusuk hidung memancar keluar dari tubuhnya, paling tidak sudah ada setahun lamanya ia tak pernah mandi.

Pakaian yang dikenakan itu sudah kumal dan robek-robek sehingga andaikata pengemis yang melihatnyapun akan mencemooh. Kehidupan orang itu pada hakekatnya jauh lebih tersiksa dari pada kehidupan seekor anjing.

Tapi sikapnya, gerak-geriknya justru membawa hawa keangkuhan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Manusia semacam dia itu, masih mempunyai keangkuhan apa lagi yang dapat diperlihatkan? Bu ki sedang memperhatikan tangannya.

Seluruh badannya bau lagi dekil, tapi anehnya sepasang tangannya putih bersih dan lagi halus, mana mantap lagi.

Yaaa, suatu kemantapan yang luar biasa.

Sekalipun ia buta seperti seekor kelelawae kehidupannya lebih jelek daripada kehidupan seekor anjing, tapi sepasang tangannya itu terawat sangat baik.

Sepasang tangannya itu diletakkan diatas meja, entah tujannya demi menjaga kebersihan antaukah untuk dipamerkan kepada orang lain.

Mau tak mau seluruh perhatian Bu ki tertuju juga diatas sepasang lengannya itu.

Mimpipun tak pernah ia sangka kalau orang itu bisa mempunyai sepasang tangan yang begitu indah lagi bersih.

Cahaya api dalam lentera kaca memancarkan sinar terang.

“Sekarang, tentunya kau sudah melihat diriku bukan?’, kata sikakek tersebut. “Ehmmm !”.

Sekarang, tentunya kau sudah bersedia untuk berbicara bukan?”. Siapa kau?’.

Sebenarnya sudah lama dia ingin mengajukan pertanyaan itu tapi ia selalu bersabar diri untuk menahan pertanyaan itu didalam hati, karena suatu jalan pemikirannya yang sangat aneh secata tiba-tiba muncul didalam hatinya.

Bukan cuma suatu pemikiran yang aneh, menakutkan lagi.

Tampaknya kakek itu seperti dibuat terkejut pleh pertanyaan itu, segera gumamnya. “Siapakah aku?, Siapa aku. ’

Betul wajahnya masih tanpa emosi, tapi suaranya membawa semacam penderitaan dan sindiran yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Mendadak ia menghela napas panjang lalu berkata.

“Selama hidup jangan harap kau bisa menyangka siapakah diriku, sebab aku sendiripun hampir melupakan siapakah diriku sebenarnya”.

Kembali Bu ki memperhatikan tangannya, semacam jalan pemikiran yang aneh tapi menakutkan kembali melintas didalam hatinya.

Suatu jalan pemikiran yang ia sendiripun tak berani mempercayainya justru tak tahan muncul dan berkecamuk didalam benaknya.

Karena sikap angkuh itu, karena sepsang tangannya yang mantap dan aneh, juga karena Mi Ci,

Mengapa dia bersikeras akan mendatangi benteng keluarga Tong. Mengapa Tong Koat, bertekat untuk menghabisi nyawanya.

Tiba-tiba Bu ki berkata, “Aku tahu siapakah kau”.

“Kau tahu?”, jengek kakek itu sambil tertawa dingin, “Yaa, kau she Lui!’.

Ditatapnya wajah kakek itu tajam-tajam, betul juga, paras muka kakek itu berubah hebat, berubah menjadi menakutkan sekali.

Bu ki tak berani memperhatikan wajahnya lagi ia lantas berseru dengan lantang. “Kau adalah Lui Ceng thian!’.

Mendadak sekujur bafan kakek itu mengejang keras, bagaikan secara tiba-tiba ada sebatang jarum yang menusuk tulang punggungnya.

Lewat lama, lama sekali bagaikan sekujur badannya meledak, sepatah demi sepatah dia menjawab: “Betul, akulah Lui Ceng thian!”.

Keluarga Lui dari Kanglam tersohot dan menjadi kaya raya dalam dunia persilatan karena senjata rahasia mesiunya, hingga kini sudah bersejarah dua ratus tahun.

Sepanjang sejarah dua ratus tahun, banyak perubahan sudah terjadi didalam dunia persilatan, tapi nama serta kedudukan mereka didalam dunia persilatan tak akan pernah pudar.