Harimau Kemala Putih Jilid 25

Jilid 25  

Bila ada orang ingin membuatmu terperanjat, cara yang terbaik untuk menghadapinya adalah balas memandang kearahnya sambil tertawa.

Sebab tertawa selain bisa membuat kau menjadi tenang dan pikiranmu mengendur, orang yang ingin membuatmu terkejut itu jika melihat kau masih bisa tertawa, mungkin saja dia malah akan dibikin terperanjat sendiri.

Asal kau bisa menggunakan tepat pada waktunya, tertawapun merupakan suatu senjata yang paling mujarab.

Sekarang Bu ki puns edang belajar untuk mau pergunakan senjata semacam itu.

Yang lebih benar lagi, ternyata sikongcu gemuk itupun sama pandainya mempergunakan senjata semacam itu.

Ia juga sedang tertawa.

Tertawanya itu kelihatan seperti agak ketolol tololan, jauh berbeda dengan senyuman Bu ki yang begitu menawan hati. Sebab dagin diatas wajahnya itu sesungguhnya terlalu banyak, panca inderanya hampir boleh dibilang disatukan oleh dagin lebih, ini membuata tampangnya seakan akan murung dan sedih sepnajang masa, sepertinya ia tak pernah merasakan senang atau gembira.

Untung saja Bu Ki sudah tak akan dapat ditipu lagi oleh tampang wajahnya itu.

Katanya sambil tersenyum. “Tentunya kau tidak menyangka bukan aku bisa berada didalam peti matimu?”

“yaa, aku memang sama sekali tidak menyangka”

Setelah tersenyum kembali ujarnya. “Manusia semacam kau ternyata masih bisa masuk kedalam peti mati tersebut, sesungguhnya hal ini merupakan sesuatu kejadian yang tidak gampang”

“Untung saja belakangan ini tubuhku bertambah kurus”

“Aku bisa melihat wajahmu pasti sudah berubah kurus banyak, jika harus kurus terus, bagaimana jadinya nanti?”

“Sesungguhnya aku harus bertambah kurus sedikit lagi” “Kenapa?”

Sambil bermuram durja si Kongcu gemuk menghela napas panjang. “Aaai...karena meski aku bisa masuk kedalam, ternyata sekarang tak bisa keluar dari sini”

Bu ki memandang kearahnya dengan wajah menunjukkan simpatik, katanya: “Sudah barang tentu kau tidak ingin berbaring terus didalam peti mati itu untuk selamanya bukan?”

“Yaa, aku tidak ingin!” sahut kongcu gemuk itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Kau harus segera mencari suatu akal yang baik untuk mengatasi kesulitan ini!” “Aku lihat, agaknya kau tak akan menarikku bangun dari dalam peti mati ini?”

“Yaa, aku tak akan berbuat demikian...” Bu ki harus emngakui kebenaran dari ucapan tersebut.

“Karena kau takut aku menyergapmu menggunakan kesempatan tersebut...?”

Bu ki kembali mengakuinya. “Yaa, seorang harus berhati hati didalam melakukan pekerjaan apapun selama dia masih bisa berhati hati” “Dapatkah kau membantu aku untuk mencarikan suatu akal lain?” “Dapat!”

“Bagaimana caranya? Cepat katakan!”“.

“Paha ayam itu segera akan habis kau makan, bila kau sudah tidak makan ayam nanti, kau pasti akan menjadi kurus karena kelaparan”.

Diawasi orang itu atas sampai kebawah, kemudian dengan wajah gembiria ia berkata lagi:

“Kalau dilihat dari bentuk badanmu sekarang, paling tidak harus menahan lapar selama tujuh delapan hari lamanya sebelum dapat merangkak bangun dari situ”.

Kongcu gemuk itu menjadi ketakukan setengah mati, sambil menunjukkan mimik wajah seakan -akan setiap saat bakal menangis”, katanya:

“Kalau harus menahan lapar selama tujuh delapan hari, bukankah aku bakal mati karena kelaparan?”.

“Apakah kau tak mampu?”

“Aku tak akan mampu cara semacam itu tak akan mampu kulakukan, kelaparan sehari saja aku bisa gila jadinya”.

Ditatapnya wajah Bu ki dengan muka minta belas kasihan, terusnya:

“Bukankah tadi kau masih bilang bahwa kita adalah teman, kau harus menolong aku”. Bu ki menggelengkan kepalanya dan menghela napas.

“Akupun sangat ingin menolongmu, cuma sayang aku sendiripun tak menemukan suatu cara yang baik untuk menolong dirimu”.

Mendadak ia berkeplok tangan sambil tertawa, serunya:

“Aaaah!, aku punya akal bagus, aku masih mempunyai sebuah akal lagi untuk menolongmu”. “Akal apakah itu?”.

“Asal daging badanmu kupotong sedikit saja, niscaya kesulitan ini bakal teratasi”. Tapi berapa banyak yang harus dipotong?”, seru kongcu gemuk itu lagi terkejut. “Tak usah dipotong terlalu banyak, paling banter cuma tujuh delapan puluh kati saja!”.

Agaknya ia sendiripun merasa cara ini paling baik, sehingga tanpa bisa ditahan lagi dia tertawa terbahak-bahak.

Belum lama dia tertawa, peti mati itu mulai gemerutukan nyaring. Kemudian, peti mati yang terbuat dari kayu jati itu tiba-tiba hancur berkeping-keping. Bu ki tak bisa tertawa lagi.

Ia cukup mengerti bahwa kayu jati adalah kayu yang kuat, keras dan tahan lama, tapi sekarang dengan mata kepala sendiri, ia saksikan kemampuan orang itu untuk menghancurkan kayu jati tersebut dengan pancaran tenaga dalamnya, siapa saja yang menyaksikan kejadian ini pasti tak akan mampu tertawa lagi.

Kongcu gemuk itu pelan-pelan sedang duduk diatas hancuran peti mati itu, kemudian katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Agaknya aku tak perlu diiris atau disuruh puasa lagi, nasibku benar-benar amat mujur”. Sambil berdiri dan menepuk bajunya, dia melanjutkan.

“Sekarang, agaknya aku harus memperkenalkan diriku sendiri”.

Sambil menuding hidung sendiri dengan jari tangannya yang gemuk dan putih, dia meneruskan,”Aku she Tong, bernama Tong Koat!”.

KEJADIAN MASA LALU

TONG KOAT? Si kongcu gemuk yang bebal, ketolol-tololan dan selalu bermuram durja itu ternyata bukan lain adalah Tong Koat.

Rupanya itu bersih, luas dan udaranya segar.

Bu ki duduk diam diatas sebuah kursi didekat jendela, tiba-tiba ia berkata:

“Tong Koat, apakah namau berasal dari huruf Koat, yang bernama kekurangan?”. “Tepat sekali!”.

“Namamu sungguh merupakan sebuah nama yang sangat baik, baiknya bukan kepalang”. Waktu itu Tong Koat juga telah duduk.

Apabila manusia macam semacam dia itu bisa duduk tentu saja ia tak akan berdiri saja. Sayangnya ia tak sanggup untuk duduk di atas bangku, maka terpaksa ia cuma duduk di atas pembaringan, sambil menyeka keringat dan mengatur napas yang terengah-engah, katanya:

“Sedari dulu kau sudah pernah mendengar namaku?” “Yaa, banyak sekali yang sudah kudengar tentang dirimu.” “Persoalan apa saja?”

“Ada orang berkata, kau adalah salah seorang manusia yang paling menakutkan di antara Tong bersaudara, ada pula yang mengatakan kau adalah siluman aneh, sebenarnya aku sama sekali tidak percaya.”

“Bagaimana sekarang?” “Sekarang aku suda percaya.”

Tong Koat segera tertawa terbahak-bahak, sedemikian kerasnya suara tertawa itu sehingga napas pun ikut terengah-engah.

Kembali Bu-ki berkata:

“Lo-sianseng yang pura-pura mabuk itu sebenarnya sudah mampu untuk menerima bidikan panah yang dipancarkan oleh Hek-thi-han, kenapa secara tiba-tiba ia melarikan diri?

Sebenarnya selama ini pun aku merasa tidak habis mengerti dengan persoalan ini.” “Dan sekarang?” tanya Tong Koat lagi.

“Sekarang aku sudah mengerti.” “Kenapa ia melarikan diri?”

“Sebab walaupun dia tidak terkena anak panah yang dibidikkan oleh Hek-thi-han, tapi ia sudah terkena senjata rahasiamu.”

“Oya?”

“Hek-thin-han memiliki tenaga yang besar dan kuat, sekali bidik panahnya bisa meluncur dengan disertai desingan angin yang amat tajam.”

“Yaa, tenaga yang dimiliki saudara itu sesungguhnya memang tidak terlalu kecil,” Tong Koat membenarkan. “Waktu itu, Lo-sianseng tersebut cuma mendengar desingan angin tajam yang terbawa oleh anak panah tersebut, tapi tidak memperhatikan kalau senjata rahasiamu juga pada saat yang bersamaan dibidikkan keluar, menunggu ia merasakan akan hal ini, keadaan sudah terlambat.”

“Yaa, memang sudah terlambat!”

“Tentu saja dia pun tahu sampai di manakah kelihaian dari senjata rahasia yang dimiliki keluarga Tong, demi menyelamatkan selembar jiwanya, mau tak mau terpaksa dia melarikan diri.

Tong Koat segera menghela napas panjang.

“Aaai... sayang sekali selembar jiwanya juga mungkin sulit untuk dipertahankan lagi.”

“Kau menyuruh Hek-thi-han menghadapi mereka, tujuannya adalah membiarkan mereka bertarung sendiri, sementara kau akan menjadi seorang nelayan yang beruntung.”

“Tong Giok adalah saudaraku, kalau aku turun tangan sendiri, mereka pasti akan menggunakan Tong Giok untuk menggertak aku, terpaksa aku harus menggunakan cara ini agar mereka sendiri pun tidak tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.”

Sambil bermuram durja, kembali ia menghela napas panjang, katanya:

“Kau adalah sahabat karibnya Tong Giok, tentunya kau juga harus mengerti akan kesulitan yang sedang kuhadapi, kau sepantasnya memaafkan diriku. ”

“Kau juga tahu kalau aku adalah sahabat karibnya Tong Giok?”

“Tentu saja aku tahu, kalau bukan sahabat karibnya, mengapa kau musti bersusah-payah untuk mengantarnya pulang?”

“Sekarang, tentunya ia sudah kau antar pulang ke benteng keluarga Tong, bukan?”

“Luka yang dideritanya tidak enteng, aku harus berusaha keras untuk mencari orang serta menyembuhkan luka yang dideritanya itu.”

Setelah tertawa, katanya lagi:

“Sebetulnya aku ingin meninggalkan perempuan yang tak suka memakai pakaian itu untukmu, tapi aku tahu kau pasti tak akan mampu untuk menghadapinya, maka terpaksa aku harus menggotong peti mati itu berikut kedua orang tersebut pulang ke benteng keluarga Tong, kemudian mengganti sebuah peti mati lain ke mari.” “Jadi kalau begitu, kau memang bermaksud baik kepadaku, sepantasnya kalau kuucapkan banyak terima kasih kepadamu.”

“Yaa, aku memang bermaksud baik.” “Terima kasih.”

“Tak usah sungkan-sungkan!” “Selamat tinggal!!”

Tong Koat menjadi tertegun.

“Apa artinya selamat tinggal?” serunya.

“Selamat tinggal artinya adalah aku minta kepadamu untuk pergi meninggalkan tempat ini.” “Mengapa kau harus pergi?”

“Sebab aku sudah tiada perkataan lain-lain lagi untuk dibicarakan dengan dirimu?” “Mengapa sudah tiada perkataan lain lagi?”

Bu-ki tertawa dingin, serunya:

“Kau toh sudah tahu kalau aku adalah sahabatnya Tong Giok, tapi di dalam persoalan apa pun kau selalu mengelabui diriku, selalu menggoda aku, membuat aku sendiri pun menganggap diriku sebagai orang bodoh, apalagi yang harus kukatakan lagi kepadamu?”

Semakin berbicara ia merasa semakin gusar, sehingga akhirnya dia berteriak keras: “Selamat tinggal!”

Kali ini dia yang pergi lebih dulu, sambil beranjak tanpa berpaling lagi segera pergi meninggalkan tempat itu.

Ranjang sudah barang tentu tak akan diletakkan di depan meja.

Sebetulnya Tong Koat masih duduk di atas ranjang, tampaknya untuk berjalan selangkah saja sudah enggan.

Tapi, ketika Bu-ki sudah hampir sampai di depan pintu, ternyata Tong Koat sudah berdiri di sana. Sekalipun di sana ada seorang yang bertubuh lebih kurus daripada Tong Koat, Bu-ki pun jangan harap bisa keluar dari sana.

“Apa arti dari kata selamat tinggal, tentunya kau cukup memahami, bukan ?”

“Yaa, aku merasa paham sekali.”

“Kalau toh kau enggan pergi, terpaksa aku yang harus pergi meninggalkan tempat ini.” “Kau jangan pergi dulu, jika kau pergi maka aku bisa payah.”

“Kenapa?”

“Sebab nenek moyang kami menyuruh aku untuk membawamu pulang ke rumah.” “Siapakah nenek moyangmu itu?”

“Nenek moyang kami itu adalah nenek Tong Giok, atau ibu dari ayah kami !”

*****

CIANGBUNJIN dari keluarga Tong di wilayah Seechuan adalah Tong Ciu. Hok-siu-siang- cuan (rejeki dan umur semuanya sempurna) Tong toa-sianseng, Tong Ciu.

Lo-sianseng ini selama hidupnya jarang sekali berkelana di dalam dunia persilatan, dia pun belum pernah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi orang lain, akan tetapi nama besarnya telah termashur di seantero jagad....

Orang semacam ini tentu saja seorang yang punya hok-ki, lagipula seorang yang bisa berumur panjang.

Selama hidupnya dia mempunyai tiga orang istri dan mempunyai tiga orang putra, lotoa adalah Tong Koat, sedang si bungsu adalah Tong Giok.

Masih ada seorang lagi adalah Tong Ou yang beberapa tahun belakangan ini nama besarnya makin lama semakin termashur di dalam dunia persilatan.

Selama dua tahun belakangan ini, nama besar Tong Ou boleh dibilang hampir sejajar dengan nama besar dari Tong ji-sianseng di masa lampau.

Sekarang, lambat laun Bu-ki mulai percaya bahwa di antara saudara keluarga Tong, sesungguhnya yang paling menakutkan bukan Tong Ou, melainkan adalah Tong Koat.

Kata Tong Koat: “Selama hidup, orang yang paling kutakuti bukan lain aadlah nenek moyang kami itu.” “Kau takut, aku tidak takut.”

“Bukankah kau adalah sahabat karibnya Tong Giok?” tiba-tiba Tong Koat bertanya. “Tentu saja!”

“Bila nenek dari sahabat karibmu ingin bertemu dengan kau, mengapa kau tidak pergi menjumpainya?”

Sesudah termenung sebentar, akhirnya Bu-ki menghela napas panjang.

“Seandainya dia orang tua benar-benar hendak menyuruh aku ke sana, terpaksa aku harus ke sana juga.”

Tentu saja dia harus pergi, sesungguhnya dia memang akan ke sana, sebab tujuan yang sebenarnya adalah berkunjung ke benteng keluarga Tong.

Tadi sebetulnya dia sedang memasang perangkap maju kemudian mundur lebih dulu, sebab berhadapan dengan manusia seperti Tong Koat, tentu saja dia harus menggunakan sedikit akal.

Karena itu dia tetap berusaha untuk mendebat, katanya:

“Tapi, aku tak dapat pergi dengan begitu saja pada saat ini.” “Kenapa?”

“Sebab sekarang, bahkan aku sendiripun merasa diriku adalah seorang tolol, seorang tolong yang asli”

“Akhirnya Tong Koat memahami juga arti dari perkataannya itu, dia berkata: “Apakah kau menginginkan diriku untuk menceritakan kejadian ini dari awal sampai akhir?”

Bu ki tidak menjawab. Tidak mnejawab biasanya berarti telah mengakuinya.

Tong Koat segera berkata: “Bukankah peti mati ini kau beli di sebuah toko penjual peti yang memakai mereka Lo an ki?” “Benar!”

Tauke pemilik toko peti mati Lo an ki tersebut bukankah seorang she Ciu yang berasal dari Lui Ciu?” “Benar!”

“Bukankah dia secara khusus mengirim dua orang putra untuk menghantar peti mati itu ke rumah penginapan yang kau tinggal itu, bahkan membantu dirimu pula untuk membaringkan orang itu kedalam peti mati...”

“Darimana kau bisa mengetahui tentang soal ini?”

“Terusterang kuberitahukan kepadamu, mereka tidak she Ciu melainkan she Tong. Ciu tauke tersebut adalah seorang saudara Tong yang agak jauh dari keluarga kami, mereka semua kenal dengan TOng GIok, maka begitu kau berangkat mereka lantas mengirimkan berita ini kepadaku lewat burung merpati”

Bu ki seperti agak tertgegun setelah mendengar perkataan itu.

Padahal persoalan tersebut adalah diketahuinya sedari dulu. Ciu tauke sperti juga sigemuk she Ong yang menjual daging, mereka adalah mata mata keluarga Tong yang semuanya disiapkan disitu.

Itulah sebabnya mengapa ia sengaja membeli peti dirumah penjual peti mati tersebut kemudian sengaja membiarkan mereka melihat diri Tong Giok.

Tapi sekarang dia harus memperlihatkan wajah kekagetan yang luar biasa.

Sekarang, dia baru tahu kalau dirinya berbakat yang baik sebaiknya untuk bermain sandiwara bahkan dia sendiripun hampir tidak mempercayainya.

TIba tiba Tong Koat berkata:

“Kau tahu siapakah lo sianseng yang secara tiba tiba melarikan diri itu?” Bu ki segera menggeleng.

Sekarang dia masih dalam ekadaan terkejut, sepatah katapun tak sanggup dia ucapkan, maka dia hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Dia she Sun!” TOng koat menerangkan.

Sekarang Bu ki sudah dapat berbicara lagi, dia berkata: “Banyak sekali ornag she Sun di dunia ini!”

“Tapi pada generasinya nenekku dulu, orang yang paling termashur namanya di dalam dunia persilatan adalah orang she Sun” “Tapi aku dengar orang yang paling tersohor di dalam dunia persilatan waktu itu bukan she Sun melainkan she Li”

“Kau maksudkan Siau li tam hoa?” “Benar!”

yang dimaksudkan sebagai Siau li tam hoa (Li kecil pengintip bunga) adalah Li Sun hoan.

Golok terbang SIau li, tak pernah meleset dari sasaran! Bukan saja dia adalah seorang dewa golok, diapun dewa diantara manusia.

Seribu tahun kemudian mungkin manusia dapat menciptakan sejenis senjata yang jauh lebih cepat, tepat dan dahsyat daripada golok terbangnya Li Sun hoan. Tapi di dunia ini, selamanya tak akan menemukan Siau li tam hoa kedua! Bayangan dalam benak manusia, selamanya juga tak dapat digantikan oleh orang kedua.

TOng Koat tak bisa tidak harus mengakui akan tepatnya pandangan BU ki, siapapun di dunia ini mau tak mau harus mengakui akan kebenaran ucapan tersebut.

Menyinggung soal golok terbang Siu li, bahkan Tong Koat sendiripun menunjukkan sikap yang sangat menghormat.

“Sampai saat ini, belum pernah kudengar ada manusia lain yang jauh lebih mengesankan dan jauh lebih terhormat daripada dirinya di dnuia persilatan ini”

“Tapi didalam kitab senjata tajam yang disusun oleh Pek Siau Seng. Siau li hui to tidak tercantum pada barisan pertama. Tempat pertama diisi oleh Thian Ki It kun”

Hal ini merupakan kenyataan, Bu ki tak bisa tidak untuk mengakui kebenaran dari ucapan tersebut.

Pek Siau seng adalah seorang manusia yang pintar dan tersohor dalam dunia persilatan waktu itu, dia selain cerdik, pergaulannya luas dan lagi pula berpengetahuan luas.

Sekalipun ia pernah berbuat suatu kesalahan besar yang tak bisa diampuni di masa tuanya karena kecerdasan yang dimilikinya. Tapi ketika ia menulis kitab senjata tajam, sikapnya sangat adil dan tidak berat sebelah. Oleh karena itu orang persilatan pada waktu itu merasa bangga sekali bila namanya dapat turut tercantum di dalam kitab senjata tajam.

Dalam kitab senjata tajam itu, toya dari Thian ki lojin serta gelang dari Sangkoan Kim hong berada di urutan atas dari nama Siau li hui to. Kemudian meskipun Thian Ki lojin tewas di tangan Sangkoan Kim hong, sedangkan Kim hong juga tewas di ujung golok terbang Siau li, akan tetapi tak ada orang yang beranggapan bahwa urutan nama dari Pek Siau-seng itu tidak adil.

Sebab unsur paling penting yang menentukan menang kalahnya suatu pertarungan, bukanlah pada ilmu silat belaka, tapi situasi, keadaan, kondisi badan serta perasaan mereka pada waktu itu, juga merupakan unsur penting yang menentukan kalah menang mereka.

“Thian ki lojin she Sun” kata Tong Koat, “Lo sianseng yang pandai berpura-pura mabuk itu adalah keturunannya. Sekalipun kepandaiannya menotok jalan darah bukan tiada tandingannya di dunia ini, akan tetapi jarang sekali ada orang yang sanggup untuk menandinginya”

Pelan pelan dia melanjutkan:

“Sun lo sianseng itu bukan lain adalah paman dari Lui Ceng-thian, tongcu Pek lek tong!”

Bu-ki sama sekali tidak merasa tercengang atau diluar dugaan terhadap berita tersebut, sebab dia sudah menduga kalau kakek itu mempunyai hubungan yang sangat erat sekali dengan keluarga Lui!”

“Lantas siapa pula perempuan yang tak suka memakai baju itu? Tentunya kau lebih-lebih tak akan bisa menduga”

“Oh yaa?”

“Dia bukan lain adalah istri Lui Ceng thian yang lama!” Berita ini memang sedikit diluar dugaan.

“Setelah kukatakan kalau dia adalah bekas istrinya Lui Ceng thian, tentunya kau lantas beranggapan bahwa Lui Ceng thian telah memberi pensiun kepada istrinya, karena dia hendak mengawini adik perempuanku yang cantik jelita itu bukan?” kata Tong Koat.

“Memangnya bukan?”

Tong koat segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Sejak lima tahun berselang, Lui Ceng thian telah memberi pensiun kepadanya. Waktu itu kami malah sama sekali belum menyinggung soal perkawinan tersebut”

“Mengapa Lui Ceng thian memberi pensiun kepada istrinya itu?” tanya Bu-ki. Tong koat menghela napas panjang. “Jika seorang lelaki hendak memberi pensiun kepada istrinya, tentu saja dia mempunyai banyak alas an yang tak bisa diterangkan kepada orang lain, kalau dia sendiri tidak menerangkan, bagaimana mungkin orang lain bisa mengetahuinya”

Kemudian sambil memicingkan matanya, dia melanjutkan.

“Tapi aku rasa kau pasti dapat melihatnya sendiri, Lui hujin yang sudah dipensiun itu bukanlah seorang perempuan yang setia. Bila sampai mengawini perempuan semacam ini sebagai istrinya, jelas itu bukan suatu kemujuran”

Agaknya Bu-ki tak ingin membicarakan terus tentang persoalan ini, kembali dia bertanya,

“Apakah keinginannya untuk berkunjung ke benteng keluarga Tong adalah untuk pergi mencari Lui Ceng-thian?”

“Sejak meninggalkan Lui Ceng-thian, kehidupannya di luar tidak terlalu baik, maka dia ingin kesana untuk memberi kesulitan kepada Lui Ceng-thian”

Setelah menghela napas panjang, dia melanjutkan,

“Semua perempuan di dunia ini adalah sama saja, bila kehidupannya sendiri kurang baik, maka diapun tak ingin menyaksikan kehidupan orang lain dilewatkan dengan baik. Padahal seandainya dia sudah kawin lagi dengan seorang suami yang berkenan di hatinya, sekalipun Lui Ceng-thian belutut sambil memohon kepadanya, belum tentu dia akan memperdulikan”

Bu-ki tidak membantah.

Perkataan tersebut bukannya sama sekali tak beralasan:

“Sekarang Lui Ceng-thian sudah menjadi menantunya keluarga Tong kami” kata Tong koat, “diapun merupakan cucu mantu paling disenangi oleh nenek kami, tentu saja kami tak akan membiarkan orang lain memberi kesulitan baginya”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya lagi dengan hambar,

“Apalagi belakangan ini dia sudah tinggal di dalam benteng keluarga Tong, entah siapapun itu orangnya, jika dia berminat untuk mencari gara-gara di dalam benteng keluarga Tong, maka dia pasti sudah salah mencari tempat”

Itupun merupakan suatu kenyataan! Nama besar benteng keluarga Tong dari wilayah Szechwan, sudah amat termasyur dalam dunia persilatan, sekalipun orang yang bermaksud mencari gara-gara itu bisa masuk dalam keadaan hidup, belum tentu ia bisa keluar lagi dalam keadaan hidup pula.

“Mengapa keempat saudara dari keluarga Lui juga mengikuti dirinya untuk mencari Lui Cheng-thian?”

Sekali lagi Tong koat memicingkan matanya sambil tersenyum,

“Agaknya bukan suatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan bagi seorang perempuan semacam dia, untuk mencari beberapa orang lelaki yang bersedia untuk menjual nyawa baginya, tentu saja kau sendiri juga bisa memikirkannya sampai ke situ bukan?”

Bu-ki tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Dia seakan-akan terbungkam dalam seribu bahasa.

Ia tahu apa yang diucapkan Tong koat memang tidak bohong, ucapan itu sangat beralasan sekali.

Tanpa terasa dia terbayang kembali akan sepasang matanya yang jeli, kulit badannya yang putih bagaikan susu, sepasang pahanya yang langsing tapi kencang.

Diam-diam ia bertanya kepada diri sendiri, Seandainya dia menyuruh aku untuk melakukan sesuatu, apakah akupun akan melakukan baginya?

Dengan sepasang mata yang hampir dipicingkan semua, Tong Koat sedang memperhatikan dirinya, lalu katanya sambil tersenyum:

“Sekarang apakah kau sudah bersiap-siap untuk turut aku pulang ke benteng keluarga Tong?” “Benar!”

*****

Dalam benteng keluarga Tong Bulan empat tanggal dua puluh dua, udara cerah.

Kejadian di benteng keluarga Tong. Bagaimanapun licik dan berbahayanya dunia persilatan, namun keadilan selalu ada selama seseorang berbakat dan berkemampuan, dia pasti akan ternama.

Bila seseorang sudah ternama, maka apapun yang dikehendaki dapat diraihnya dengan mudah, jalan kehidupannya juga akan mengalami perubahan drastis, berubah menjadi mentereng, menjadi cerah dan besar, cuma sayang kehidupan mereka seringkali pendek bagaikan bintang kejora yang lewat di angkasa. Karena mereka semua adalah jago-jago persilatan. Kehidupan orang persilatan pada dasarnya memang tak berakar, bagaikan daun kering yang terhembus angin, bagaikan yang

diombang-ambingkan air.

Dalam sejarah tiga ratus tahun belakangan ini, entah kenapa banyak enghiong yang bermunculan dalam dunia persilatan dan berapa banyak enghiong yang tenggelam dengan begitu saja.

Di antaranya tentu saja ada sementara orang yang kehidupannya kekal dan abadi, mungkin dikarenakan semangat mereka tak pernah mati, meski badan sudah mati semangat tak pernah mati.

Mungkin juga dikarenakan mereka sendiri meski sudah mati, tapi anak cucunya masih tetap merupakan suatu himpunan kekuatan yang tak tergoyahkan dalam dunia persilatan, maka nama besar mereka pun tak pernah punah dari dunia.

Selama tiga ratus tahun ini, kekuatan yang masih bisa berdiri utuh dalam dunia persilatan tanpa tergoyahkan selain partai Siau-lim, Bu-tong, Kun-lun, Tiam-cong dan Khong Tong beberapa partai persilatan yang bersejarah cemerlang, masih ada pula beberapa buah keluarga persilatan yang besar.

Di antara keluarga-keluarga persilatan ini meski di antaranya karena leluhur mereka mengorbankan diri demi keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan sehingga mendapatkan rasa hormat orang lain terhadap mereka, tapi sebagian besar adalah disebabkan karena mereka sendiri memiliki semacam kemampuan dan kepandaian silat yang luar biasa dan tak terkalahkan, maka mereka tetap bertahan dalam dunia ini tanpa tergoyahkan....

Di antaranya ada yang tersohor karena ilmu pertabibannya yakni Tio Kian-cay, ada yang tersohor karena ilmu dalam airnya Thian Hi tong, ada pula keluarga Lamkiong yang mempunyai kekayaan luar biasa, ada pula Ngo-hou Phang-keh (keluarga Phang) yang hebat karena ilmu goloknya, juga Pek-lek-tong yang tersohor karena ilmu senjata apinya.

Di antara keluarga-keluarga persilatan kenamaan ini, yang paling besar kekuatannya dan paling tersohor namanya, tentu saja keluarga Tong dari propinsi Szuchwan.

Senjata rahasia dari keluarga Tong amat tersohor dalam dunia persilatan, hingga kini belum ada senjata rahasia kedua yang bisa menggantikan kedudukan ini.

Semua anak keturunan keluarga Tong yang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, semuanya merupakan jago-jago yang disegani orang. Benteng keluarga Tong yang berada di bawah bukit di luar kota Gi-sia tersebut, setelah melalui pembangunan selama banyak tahun, dari beberapa petak rumah biasa, kini telah berkembang menjadi sebuah kota kecil.

Di tempat ini, dari sandang-pangan sampai hiburan ada secara komplit, bahkan termasuk juga penguburan atau perkawinan, setiap benda dapat diperoleh di sana, setiap benda bisa didapatkan secara berlimpah, hal mana sedikit banyak mengejutkan juga orang banyak.

Yang lebih hebat lagi, rumah makan yang paling tersohor di wilayah Szuchwan, toko kain yang paling modern dan toko kelontong yang paling lengkap, semuanya dapat ditemukan dalam benteng keluarga Tong.

Semua anak cucu keluarga Tong hampir seluruhnya memiliki kepandaian yang khusus, dengan menggunakan kemampuan sendiri mereka mencari uang lalu dihamburkan kembali di toko-toko tersebut.

Semua kekuatan, semua kemampuan, harta kekayaan hanya terbatas boleh beredar di sekitar wilayah itu saja.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, tentu saja benteng keluarga Tong makin lama semakin makmur, makin lama semakin bertambah besar dan megah.

Akhirnya Bu-ki sampai juga di benteng keluarga Tong.

Anehnya, ia sama sekali tidak merasa gejolak emosi yang hebat atau perasaan tegang yang luar biasa.

Di dunia ini sebetulnya memang ada sejenis manusia yang semenjak dilahirkan sudah cocok untuk berpetualangan, menyerempet bahaya, di hari biasa mungkin dia akan tegang dan gelisah bila menghadapi urusan kecil, tapi bila sudah berjumpa dengan bahaya yang sungguh, mereka sebaliknya malah berubah menjadi tenang.

Kebetulan Bu-ki adalah manusia semacam ini.

Cuaca amat cerah, bukit berderet nan hijau, bangunan rumah yang berlapis-lapis

dan genteng yang berwarna semu hijau tampak memanjang dari kaki bukit sampai tengah bukit sana.

Berdiri memandang tempat Bu ki berdiri sekarang, siapa saja pasti akan terpesona oleh pemandangan alam yang sangat indah itu.

Alam yang indah dapat memberikan perasaan megah, mentereng dan puas bagi siapapun yang melihatnya. “Itulah benteng keluarga Tong!” Tong Koat menerangkan. Nadanya penuh dengan rasa bangga dan angkuh:

“Coba kau lihat, bagaimana dengan tempat ini?” Bu ki segera menghela napas panjang.

“Aaii, betul-betul luar biasa!” pujinya.

Ucapan tersebut benar-benar muncul dari dasar hatinya.

Cuma di kala mengucapkan kata-kata itu, dalam hatinya segera timbul perasaan ngeri yang dalam.

Sekalipun dia tak pernah menilai rendah musuhnya, tapi kehebatan dari musuhnya terbukti jauh di luar dugaannya semula.

Mau tak mau dia menguatirkan keselamatan Tay Hong tong, bila tidak muncul kemukjijatan, boleh dibilang mustahil baginya untuk mengalahkan seorang musuh seperti ini, padahal kemukjijatannya terang sulit bisa dijumpai.

Di ujung jalan sana adalah pintu gerbang keluarga Tong, masih bercat biru dan cat itu belum kering.

“Setiap tahun sebelum sembahyang Bakcang, kami selalu mengecat kembali pintu gerbang ini!” Tong Koat menerangkan.

“Kenapa?”

“Karena di saat sembahyang Bakcang, kebetulan sekali adalah ulang tahun kakek moyang kami, dia orang tua suka akan keramaian, setiap tahun bila sudah sampai waktunya, kami semua akan mengucapkan selamat panjang umur kepadanya, menggunakan kesempatan itu semua orangpun akan berpesta pora dengan riang gembira”

Bu ki bisa membayangkan betapa ramainya suasana pada hari itu.

Biasanya di hari keramaian seperti ini setiap orang pasti akan mengendorkan kewaspadaannya pada diri sendiri, mereka pasti akan berusaha untuk mencari kesenangan, mencari kenikmatan dan minum-minuman sampai mabuk dan tak dapat dihindari lagi. Asal ada kembang api, ada sandiwara opera, ada arak, tiga macam kesenagan tersebut, pasti pula akan terjadi keteledoran. Bila mereka sampai teledor, itu berarti suatu kesempatan yang sangat baik buat Bu ki untuk beraksi. “Sekarang, jaraknya dengan perayaan itu masih setengah bulan” kata Tong Koat lagi, “inginkah kau tinggal di sini sambil ikut menghadiri keramaian tersebut?”

“Bagus sekali...” jawab Bu ki sambil tertawa.

Pintu gerbang terbentang lebar, tidak nampak suasana tegang, tidak nampak suasana serius, tiada pula penjagaan yang dilakukan dengan sangat ketat.

Setelah memasuki pintu gerbang, maka mereka menelusuri sebuah jalan raya beralaskan batu hijau yang rapi dan bersih, setiap batu hijau tersebut seakan-akan disikat sampai berkilat seperti cermin.

Di kedua belah sisi jalan terdapat beraneka ragam toko dan warung, bangunannya rapi dan mentereng, barang jualannya komplit dan selalu kelihatan penuh.

Sambil tersenyum Tong Koat berkata,

“Orang lain selalu mengira benteng keluarga Tong adalah suatu gua naga gua harimau, padahal kami sangat bergembira menerima kunjungan orang lain, siapa saja boleh datang kemari dan siapa saja akan kami sambut dengan senang hati”

“Sungguh?”

Tong Koat segera memicingkan matanya sambil tertawa, katanya:

“Kau juga seharusnya dapat melihat tempat ini adalah suatu tempat yang gampang untuk menghamburkan uang, bila ada orang yang menghamburkan uang di sini, kami baru ada untung untuk dipakai, setiap orang tentu akan menyambut kedatangan orang-orang yang bisa mendatangkan keuntungan baginya”

“Seandainya disamping menghamburkan uang, mereka juga ingin melakukan perbuatan yang lain?”

“Hal itu tergantung pada perbuatan apakah yang hendak dia lakukan” “Seandainya datang untuk mencari gara gara?”

“Tempat kamipun tersedia toko penjual peti mati, bukan saja barangnya murah, kadangkala bahkan gratis tanpa dibayar”

Setelah tertawa, kembali katanya: “Tapi selain peti mati, setiap barang yang dijual warung warung disini tidak murah harganya, kadangkala kami sendiripun kena digorok harganya oleh mereka” Bu ki dapat melihat satu hal, setiap barang yang dijual di warung warung tersebut, hampir seluruhnya adalah barang barang yang berkwalitas tinggi.

Para pemilik dan pelayan toko semuanya menyambut di luar pintu dengan senyuman dikulum apalagi ketika melihat kedatangan Tong Koat dari kejauhan, mereka menyapa bahkan menunjukkan sikap yang hangat, ramah dan kegembiraannya yang tak terlukiskan dengan kata kata.

Bu ki segera tersenyum, katanya: “Aku lihat setiap orang yang berada disini seakan akan pada suka denganmu”

Tong Koat menghela napas panjang. “Aaai... kau keluru kalau berkata demikian” gumamnya.

Sengaja dia merendahkan suaranya lalu berbisik. “Mereka bukan suka dengan diriku, mereka hanya suka dengan uang dalam kocekku, bila kau menginginkan seseorang mempersembahkan seluruh isi koceknya kepadamu, maka kau harus menunjukkan dulu sikap gembira dan senangnya kepada orang itu”

Tampaknya dia mempunyai hubungan yang cukup baik dengan semua orang disitu.

Toko yang paling bagus, paling mentereng dan paling anggun diantara deretan toko itu adalah toko penjual benda antik serta bedak dan gincu, pada hakekatnya jauh lebih besar daripada Poo sik Kay diibukota.

Dua buah tandu besar berhenti diluar pintu yang terdiri dari enam buah itu, seorang lelaki muda yang sangat tampan dan memakai topi kecil berwarna hijau dengan menggunakan dialek yang halus sedang menyapa kearah Tong Koat.

Agaknya dialek yang paling sering digunakan ditempa ini adalah dialek ibu kota yang halus, terutama sekali pelayan pelayan toko, hampir tak pernah terdengar dialek dari wilaya sechuan sendiri, pada hakekatnya berjalan jalan disepanjang jalan raya tersebut, bagaikan sedang berjalan jalan di ibukota.

Tong koat memandang sekejap kearah ke dua buah tandu itu, kemudian katanya. “Apakah Sam koh say say sedang melariskan daganganmu?”

Pemuda tampan itu segera tertawa paksa, sahutnya. “Sam koh naynay (nyonya muda ke tiga) tak pernah melupakan kami, tidak seperti kau, dalam setahun belum tentu melariskan dagangan kami satu kali”

Tong Koat segera tertawa. “Aku toh belum kawin, buat apa membeli pupur dan gincu? Untuk membedaki pantat?” Tiba tiba dari dalam toko terdengar seseorang berseru. “Siapa yang sedang berbicara diluar? Kenapa mulutnya tidak bersih? Cepat suruh orang untuk mencuci bersih mulutnya yang kotor itu”

Suaranya lemah lembut dan merdu sekali seperti bunga teratai yang masih segar saja.

Tong Koat segera menjulurkan lidahnya dan tertawa getir, buru buru serunya: “Aduh celaka, rupanya kali ini aku sudah mencari gara gara dengan sarang lebah...!”

Kali ini ia benar benar merendahkan suaranya, karena ia benar benar tak berani mengusik Koh naynay tersebut.

Dari dalam toko bedak muncul dua orang nyonya cantik yang bergaun panjang sekali.

Perawakan tubuh mereka cukup tinggi dan semampai, gaun yang dipakai sangat serasi, kalau berjalan juga lemah gemulai, ditengah kegenitan terbawa kegagahan, ditengah kelembutan terbawa kegenitan.

Yang berjalan dipaling depan itu berusia agak tua, kulit badannya putih bersih, matanya berbentuk bulat telur dan tampak beberapa titik burik diatas pipinya yang halus, sepasang matanya yang jeli dan bersinar tajam itu kelihatan bening dan sangat menarik sekali.

Ketika Tong Koat menjumpai kemunculannya, ternyata dengan sikap yang menghormat sekali dia membungkukkan badan sambil menjura, kemudian sambil tertawa paksa katanya:

“Koh nay-nay baik-baikkah kau?”

Dengan senyum tak senyum Koh nay-nay tersebut memandang ke arahnya, lalu menjawab:

“Aku masih mengira siapa yang datang, ternyata adalah kau! Hei, sedari kapan kau belajar menggosokkan pupur di atas pantatmu itu?”

Orangnya seperti juga dengan suaranya kedengaran merdu merayu, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada orang lain.

Perempuan yang lain itu segera tertawa cekikikan.

“Hi..hi...hi..hiiih... seandainya toa koan betul - betul memakai pupur untuk menggosok... menggosok tempat itu...hi.hi..hi.. melihat itunya segede gajah, waaah... tiga kati pupur wangipun belum tentu cukup untuk membedaki rata itunya ”

suara tertawa perempuan ini bagaikan bunyi keleningan, sepasang matanya juga seperti keleningan, mata bulat, besar lagi. Tapi begitu dia mulai tertawa, matanya yang besar itu segera berubah menjadi sipit seperti sebuah garis, garis yang berliuk-liuk, cukup untuk membelenggu lelaki manapun juga.

Selama berada di hadapan mereka, Tong Koat berubah menjadi alim sekali, bukan cuma alim, malah kelihatan ketolol-tololan.

Dia selalu tertawa kebodoh-bodohan, kecuali tertawa kebodoh-bodohan, tak sepatah katapun yang diucapkan.

Bu ki juga tertawa.

Dia tak pernah menyangka kalau dalam benteng keluarga Tong masih terdapat perempuan yang begitu menarik dan begitu menawan hati.

Walaupun perempuan bermata segede keleningan ini masih kecil usianya, sesungguhnya juga tidak terlampau kecil, kelihatannya mirip sekali dengan seorang nona cilik, seorang nona cilik yang setiap orang merasa ingin menciumnya bila bertemu dengannya.

Koh nay-nay itu lebih menarik lagi.

Walaupun dia tak bisa dibilang terlalu cantik, tapi ia periang, segar cemerlang, bagaikan sebiji buah pir yang baru dipetik dari atas pohon....

Lagipula merekapun pandai sekali melihat gelagat, mereka sama sekali tidak memberikan suatu kejelekan buat Tong Koat.

Dengan cepat kedua orang itu sudah naik ke dalam tandunya, tandu itupun dengan cepat digotong pergi.

Menanti tandu-tandu itu sudah jauh dari pandangan mata, Tong Koat baru menghembuskan napas lega, kemudian sambil menghela napas katanya,

“Tahukah kau, siapakah Koh nay-nay itu?” “Tidak tahu!”

“Dia adalah musuh tandinganku!” “Kau takut kepadanya?”

“Bukan cuma takut saja, orang yang tidak takut kepadanya dalam benteng keluarga Tong ini boleh dibilang cuma beberapa gelintir manusia saja ”

“Ia kelihatannya tidak begitu menakutkan, mengapa kalian jeri kepadanya?” “Dia adalah salah seorang yang paling disukai oleh nenek moyang kami, meski usianya tidak besar tapi tingkatannya sangat besar, kalau dihitung-hitung dia masih terhitung bibiku ditambah lagi adatnya yang suka mencampuri urusan orang, aiii persoalan apa saja dia

tentu mencampuri, siapapun orangnya dia tentu merasa tak senang, bila ada orang berani mengusiknya, nenek moyang kami akan marah-marah!”

Sesudah menghela napas panjang, katanya lagi sambil tertawa getir. “Coba bayangkan sendiri, menakutkan tidak manusia semacam itu?” “Yaa, menakutkan sekali” jawab Bu ki.

“Untung saja dia toh akan kawin juga!”

“Siapa yang berani kawin dengan manusia yang begitu menakutkan itu. ?”

“Sebenarnya sih tak ada yang mau, tapi akhirnya toh ada seorang juga yang mau” “Siapa?”

“Aku tak boleh bilang”

“Cuaca hari ini sungguh nyaman” kata Bu ki kemudian.

“Hei, kita toh sedang membicarakan Koh nay nay kami yang hendak kawin, kenapa secara tiba-tiba kau bicarakan soal cuaca?”

“Ya, karena soal Koh nay-naymu yang akan kawin itu tak bisa dibicarakan lagi” “Kau ingin tahu?”

“Ya, aku ingin tahu”

“Kalau memang begitu, kau harus memaksa kepadaku untuk mengatakannya keluar” “Bagaimana caranya memaksa?”

“Bila kau memperingatkan kepadaku, bila tidak kukatakan maka kau tak akan bersahabat denganku, maka pasti akan kukatakan”

“Baik, kalau tidak kau katakan maka aku tak akan bersahabat dengan dirimu” “Akan kukatakan!” “Siapakah yang berani mengawininya?” “Sangkoan Jin!”

Sangkoan Jin, Sangkoan Jin, Sangkoan Jin!

Bu ki telah menaksir nama itu di dalam hatinya, menggunakan pisau yang dinamakan “dendam kesumat” untuk mengukirnya, sambil mengukir sambil melelehkan air mata dan sambil mengucurkan darah.

Tapi sekarang, ketika ia mendengar nama tersebut, ternyata sama sekali tiada reaksi apa-apa darinya, siapapun itu orangnya tak akan bisa menarik kesimpulan dari mimik wajahnya kalau dia dan Sangkoan Jin mempunyai hubungan yang akrab.

“Tahukah kau tentang manusia yang bernama Sangkoan Jin itu?” tanya Tong Koat. “Aku tahu”

“Kau benar-benar tahu?”

“Dia adalah salah seorang di antara tiga pentoaln Tay Hong tong, ia telah membunuh sahabatnya yang paling akrab Tio Kian, kemudian menggunakan batok kelapa Tio Kian sebagai hadiah untuk musuh bebuyutan Tay Hong tong Lui Ceng Thian”

Ternyata ia tertawa lebar, kemudian melanjutkan.

“Sekalipun aku sangat jarang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, tapi peristiwa ini pernah kudengar dari cerita orang”

“Kau pernah mendengarnya dari siapa?”

Tong Giok yang menceritakan hal ini kepadaku. Tong Koat segera menghela napas panjang.

“Aaaai... sekarang aku baru tahu, Tong Giok benar-benar baik sekali kepadamu, bahkan kejadian semacam inipun mau dia ceritakan kepadamu”

“Sekarangpun aku baru tahu kau memang benar-benar baik sekali kepadaku, ternyata kejadian semacam inipun mau menceritakannya kepada diriku”

Tong Koat segera tertawa. Bu ki juga tertawa. “Tahukah kau di dalam benteng keluarga Tong, selain dia masih ada seorang siau Koh nay nay lagi?” tanya Tong Koat.

“Tidak tahu!”

“Siau koh nay nay itupun sama saja suka mencampuri urusan orang, dia juga merupakan seorang musuh tandinganku”

“Mengapa kau takut kepadanya?” “Sebab dia adalah adik perempuanku”

Seorang kakak takut dengan adiknya, kejadian ini bukan suatu kejadian yang aneh, memang banyak kakak yang takut dengan adiknya.

Tentu saja hal ini bukan dikarenakan adiknya benar-benar menakutkan, melainkan karena adiknya itu binal dan sukar dikendalikan.

“Untung saja adikku inipun sudah kawin dengan orang!” ujar Tong Koat lebih jauh. “Kawin dengan siapa?”

“Lui Ceng Thian!”

Lui Ceng Thian adalah musuh bebuyutannya Tay hong tong, Lui Ceng Thian adalah majikannya Pek lek tong.

Dendam kesumat antara Sangkoan Jin dengan Bu ki adalah dendam yang lebih dalam daripada samudra.

Sekarang, walaupun Bu ki belum bertemu dengan mereka, tapi tanpa disengaja telah bertemu dengan istri-istri mereka.

Ternyata ia merasa bahwa mereka amat cantik dan menarik hati. Sikap mereka terhadap dirinya ternyata aneh sekali.

Kedua orang itu menatapnya beberapa kejap, kemudian saling berpandangan pula dengan suatu sinar mata yang sangat aneh.

Akan tetapi mereka sama sekali tidak bertanya kepada Tong Koat siapakah orang itu? Apakah mereka sudah mengetahui dengan jelas tentang dirinya? Sesaat sebelum pergi, adik Tong Koat bahkan masih sempat memandang ke arahnya sambil tertawa, sepasang mata besarnya yang indah kembali berubah menjadi sebuah garis yang berliuk-liuk, seakan-akan hendak membelenggu hatinya.

Gadis yang begitu muda, dengan sepasang mata yang besar dan jeli, sesungguhnya tidak cocok buat Lui Ceng Thian, sebab bagaimanapun juga Lui Ceng Thian sudah tua.

Dalam Tay hong tong tentu saja terdapat pula bahan data mengenai Lui Ceng Thian, seingat Bu ki, tahun ini agaknya dia telah berusia lima puluh delapan, sembilan tahunan.

Ia bisa mengawini seorang istri muda yang cantik dan menarik semacam ini sebetulnya merupakan kemujuran baginya atau bukan?

Tanpa terasa Bu ki teringat kembali akan Mi Ci.

Mendadak ia teringat kembali akan banyak urusan, baru saja dia akan memecahkan persoalan itu satu demi satu, mendadak ia mendengar suara bunyi keleningan yang sangat memekikkan telinga.

Ketika ia mendongakkan kepalanya, maka terlihat serombongan burung merpati.

Langit nan biru, burung merpati yang putih dengan keleningan berwarna emas yang menyilaukan mata.

Setiap ekor burung-burung merpati itu semuanya memakai keliningan emas, serombongan burung merpati sedang terbang di angkasa nan biru dan terbang menuju ketengah bukit.

Suasana di atas jalan raya mendadak terjadi kegaduhan, setiap orang berlarian keluar dari dalam toko dan memandang rombongan burung merpati itu sambil bersorak-sorai.

“Toa sauya menang, toa sauya telah menang lagi!”

Setiap orang sedang tertawa, Tong Koat juga tertawa, cuma tertawanya tidak seriang orang- orang yang lain.

Agaknya Bu ki telah menaruh perhatian ke situ, segera dia bertanya dengan cepat: “Yang dinamakan toa sauya itu sebetulnya toa sauya yang mana?”

“Tentu saja toa sauya dari keluarga Tong, Tong Au adanya” “Kalau dia adalah toa sauya, maka bagaimana dengan kau?” “Aku adalah toa koan!” “Kalian adalah saudara sekandung?” “Ehmm!”

“Di antara kalian berdua, sebetulnya siapa yang lebih besar?” “Entahlah!”

“Aaah, masa sampai kau sendiripun tidak tahu?”

“Sebab ibuku mengatakan akulah yang lahir terlebih dahulu, tapi ibunya mengatakan dia yang lahir lebih dulu, sebenarnya siapa yang lahir lebih duluan tak akan seorang manusiapun yang tahu, tapi siapapun enggan menjadi loji, maka dalam keluarga Tongpun terdapat seorang toa sauya dan seorang toa koan”

Setelah memicingkan matanya dan tertawa, dia melanjutkan:

“Kalau ayahmu juga mempunyai beberapa orang istri, kau akan tahu dengan sangat jelas sesungguhnya apa yang telah terjadi”

Di balik senyumannya itu seolah-olah terdapat sebatang jarum, sebatang jarum yang tajam sekali.

Bu ki tidak bertanya lagi.

Ia sudah menyaksikan hubungan yang serba bertentangan dan retak di antara mereka berdua, dan penemuan itu sudah membuatnya merasa puas sekali.

“Burung merpati telah terbang kembali, itu menandakan kalau ia berhasil menang lagi dalam pertandingan kali ini” kata Tong Koat, “secara beruntun berhasil menang empat kali dan mengalahkan empat orang jago pedang kenamaan dari dunia persilatan, sesungguhnya kejadian ini memang patut digirangkan, patut dirayakan”

“Empat orang jago pedang kenamaan dari dunia persilatan? Siapa-siapa sajakah mereka?”

“Pokoknya ilmu pedang mereka sangat lihay, namanya juga amat tersohor dalam dunia persilatan, kalau tidak juga tak akan sampai toa sauya dari keluarga Tong turun tangan sendiri”

“Ada dendam sakit hatikah antara dia dengan ke empat orang itu?” “Tidak ada!” “Lantas kenapa ia pergi mencari mereka?”

“Karena dia ingin agar orang lain tahu, anak cucu keluarga Tong belum tentu harus mengandalkan senjata rahasia untuk meraih kemenangan”

“Senjata apakah yang dia pergunakan untuk meraih kemenangan itu?” “Dengan pedang”

Setelah berhenti sebentar, dengan hambar dia melanjutkan:

“Hanya menggunakan pedang untuk mengalahkan jago pedang kenamaan baru bisa memperlihatkan kelihayana toa sauya keluarga Tong yang sesungguhnya.”

“Lihaykah ilmu pedang yang dimiliknya?” Tong Koat tertawa,

“Kau juga menggunakan pedang”, katanya, “tunggu saja sampai dia pulang, kemungkinan besar diapun akan mencarimu untuk beradu ilmu pedang, waktu itu kau baru akan tahu sampai di manakah taraf kehebatan ilmu pedang yang dimiliknya itu”

Bu ki juga tertawa, katanya:

“Aaai kelihatannya, jalan yang terbaik bagiku adalah tidak tahu untuk selamanya”

Baru saja burung-burung merpati itu terbang di angkasa, Sau poo teman Tong Koat yang ganteng dan gagah itu sudah menampakkan batang hidungnya di sana.

Ia sudah balik ke benteng keluarga Tong lebih dahulu, sudah jelas pulang sambil mengawal peti mati yang berisikan Tong Giok serta Mi Ci itu.

Dengan langkah lebar dia berjalan mendekat, wajahnya tampak giruang dan penuh bersemangat, seakan-akan sedang menghadapi suatu kejadian besar yang pantas untuk dirayakan.

Dari tempat kejauhan, ia sudah mulai berteriak-teriak dengan suaranya yang lantang. “Kionghi, kionghi kejadian ini sungguh merupakan suatu peristiwa besar yang patut diberi

salam, pantas diberi ucapan selamat”

Tong Koat melirik sekejap ke arahnya dengan ujung mata yang tajam, lalu katanya. “Kemenangan yang berhasil diraih toa sauya dari keluarga Tong, apa pula sangkut pautnya dengan dirinya?”

“Sama sekali tak ada sangkut pautnya”

“Lantas apa yang kau girangkan?” tegur Tong Koat dingin.

“Aku sedang merasa gembira bagi sam sauya dari keluarga Tong” Sam sauya dari keluarga Tong adalah Tong Giok.

“Luka yang dideritanya telah berhasil disembuhkan nenek moyang: sekarang ia sudah dapat bangun untuk minum jinsom”

*****

SEORANG TEMAN

Tong Giok sudah dapat minum kuah jinsom.

Bila seseorang sudah dapat minum kuah jinsom sendiri, tentu saja diapun bisa juga membicarakan persoalan.

Bila banyak persoalan telah dia katakan, maka selembar nyawa Bu ki sudah pasti akan melayang.

Tapi Bu ki sama sekali tidak merasa terkejut, atau panik atau gugup, peluh dinginpun tak mengucur keluar,

Ternyata dia sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa, seakan-akan kejadian ini tak ada hubungan dengannya.

Tong Koat kembali melirik ke arahnya dengan ekor matanya yang tajam, tiba-tiba ia berkata, “Tong Giok adalah sahabat karibmu?”

“Benar!”

“Sesudah tahu kalau sahabat karibmu sembuh dari lukanya, mengapa kau tidak nampak gembira barang sedikitpun juga?”

“Aku merasa gembira sekali baginya”

“Tapi kenapa tidak kulihat tanda-tanda di atas wajahmu itu...?” “Sebab, akupun sama seperti kau, bagaimanapun gembiranya dalam hati atau bagaimanapun takutnya, orang lain tak akan bisa melihatnya dengan begitu saja”

“Sekalipun hatimu merasa takutnya setengah mati, wajahmu tetap tertawa, sekalipun aku tertawa dengan riang gembira, belum tentu hatimu merasa amat gembira”

“Tepat sekali!”

Tong Koat segera tertawa, tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh... haaahhh.. haaahhh... aku paling suka dengan manusia semacam ini, di kemudian hari kita pasti akan menjadi sahabat karib. ”

“Belum pasti!” tukas Bu ki. “Kenapa?”

“Sebab akupun seperti kau, di kala bibirku mengatakan “pasti”, belum tentu hatiku sungguh- sungguh berpikir demikian”

“Di mulut tak mengatakan “Belum pasti” mungkin kau telah menganggap diriku sebagai teman karibmu?”

“Belum pasti!”

Sekali lagi Tong Koat tertawa terbahak-bahak,

“Haaahh...haaahhh...haaahhh. sungguh tak kusangka, kecuali aku di dunia ini ternyata masih

terdapat manusia semacam kau” Bu ki tidak tertawa.

Ada sementara orang harus memegang peranan seseorang yang selalu tertawa, setiap waktu setiap saat harus tertawa, tapi ada juga yang harus memegang peranan tidak terlalu sering tertawa.

Menunggu Tong Koat telah selesai tertawa, pelan - pelan Bu ki bertanya: “Sekarang, apakah kau sudah dapat membawaku menjumpai Tong Giok?”

Dari balik sinar mata Tong Koat yang penuh senyuman segera memancar sinar yang lebih tajam daripada sembilu, katanya kemudian. “Ingkinkah kau pergi menjumpainya?”

Bu ki tidak menjawab, sebaliknya bertanya:

“Bila ia tahu aku telah datang, mungkinkah dia akan menyuruh kalian membawaku untuk menjumpainya?”

“Dia pasti ingin sekali bertemu denganmu” Tong Koat harus mengakui akan hal itu.

“Maka dari itu, sekalipun aku benar-benar tak ingin berjumpa dengannya, mau tak mau juga harus pergi menjumpainya”

“Ya, tepat sekali”

Tiba-tiba ia tertawa lagi, tambahnya:

“Padahal orang yang menunggu untuk berjumpa dengan dirimu bukan hanya satu orang saja” “Selain dia masih ada siapa lagi?”

Masih ada seorang teman, seorang teman yang sangat baik. “Teman siapa?”

“Temanku!”

“Kalau memang temanmu, kenapa ingin berjumpa denganku?” “Sebab dia kenal denganmu”

Dari balik matanya terpancar sinar mata yang tajam seperti jarum, sambil menatap Bu ki tajam-tajam, sepatah demi sepatah terusnya:

“Walaupun kau tidak kenal dengannya, justru dia kenal dengan dirimu...” Jalan raya itu panjang sekali.

Di ujung sana merupakan sebuah ruang pemujaan yang anggun dan mentereng, di belakang ruang pemujaan merupakan sebuah hutan yang rindang dan hijau.

Dari balik dedaunan yang rimbun, kelihatan ujung dinding sebuah bangunan. “Mereka semua sedang menantikan kedatanganmu di sana!” kata Tong Koat lagi. “Yang dimaksudkan mereka adalah Tong Giok dengan temanmu itu?” “Benar!”

Dari awal sampai sekarang, dia tak pernah menanyakan asal usul Bu ki, bahkan menyinggung soal itupun tak pernah.

Mungkinkah hal ini disebabkan temannya itu telah membeberkan asal usul Bu ki kepadanya? Maka sekarang dia merasakan tiada suatu kepentingan untuk ditanyakan kembali?

Paras mukanya tak pernah berubah, dia selalu tertawa, karena dia tidak boleh menimbulkan kewaspadaan Bu ki, sebab itu pula dia baru akan mengikutinya datang ke sana.

Datang untuk menghantar kematiannya!

Siapakah temannya itu? Apakah dia benar-benar mengetahui asal - usul Bu ki?

Sekarang, semua persoalan sudah tidak terlalu penting lagi, sebab Tong Giok telah “bangkit kembali dari kematiannya”

Tentu saja Tong Giok mengetahui siapakah Bu ki itu.

Sekarang, Bu ki seharusnya juga tahu, asal dia melangkah masuk ke dalam bangunan loteng itu, maka dia akan mati di situ, mati dalam keadaan mengenaskan.

Dia seharusnya cepat-cepat mengambil tindakan untuk melarikan diri dari sana.

Entah sekarang apakah dia masih punya kesempatan untuk kabur atau tidak, paling tidak dia harus mencobanya dulu.

Sebab, bagaimanapun juga berbuat demikian masih ada kesempatan untuk meloloskan diri.

Tapi ia tidak kabur, bahkan paras mukanya sama sekali tidak berubah. Dia seakan akan merasa rela untuk mati disitu.

Hutan yang hijau dan rimbun dengan sebuah bangunan loteng kecil yang tenang dan anggun. Musim semipun sedang menjelang tiba.

Baik seorang dapat mati ditempat yang begini indahnya, dalam musim yang begini cerahnya, siapapun akan menganggap bahwa kematiannya itu tidak sia sia belaka. Dibawah bangunan loteng tampak aneka warna bunga, ada bunga yang masih kuncup, ada pula yang telah mekar.

Pintu gerbang dibawah bangunan loteng itu tertutup rapat.

Tong koattelah mengulurkan tangannya, entah hendak mengetuk pintu? Entah hendak mendorong pintu?

Tiba tiba dia membalikkan badannya memandang wajah Bu ki, kemudian katanya: “Aku sangat mengagumi dirimu!”

“Oya?”

“Kau berani mengikuti aku datang kemari, aku benar benar merasa kagum sekali kepadamu” “Oya?”

“Karena aku tahu kau sudah pasti bukan sahabat Tong Giok!”

paras muka Bu ki sama sekali tidak berubah, ia masih tenang tenang saja.

Kembali Tong Koat berkata: “Aku adalah saudara sekandung dari Tong Giok, sejak kecil dia bergaul bersamaku, aku jauh lebih memahami wataknya daripada orang lain, bilamana perlu, sekalipun dia menjual diriku untuk daging bakpoa punt ak akan dia lakukan dengan kening berkerut, dan akupun tak akan merasa heran”

Setelah tertawa, terusnya: “Bayangkan saja, manusia semacam dia itu mana mungkin bisa punya teman? Bagaimana mungkin juga kau bisa menjadi temannya”

Bu ki masih tetap tenang tenang saja tanpa mengalami suatu perubahan apapun. Cuma tanyanya hambar: “Kalau aku bukan temannya lantas aku adalah apanya?”

“Kalau bukan teman sudah barang tentu musuh!” “Oh ya?”

“Musuhpun ada beraneka ragam, yang paling menggemaskan adalah mata mata” “Menurut kau, aku adalah musuh yang bagaimana” tanya Bu ki lagi dengan tenang. “Kau adalah musuh dari jenis yang paling menggemaskan itu”

Sesudah menghela napas, terusnya: “Seorang mata mata, ternyata berani datang kemari, mau tak mau aku harus merasa kagum kepadamu” “Padahal itupun tak perlu masuk dikagumi.