Harimau Kemala Putih Jilid 20

Jilid 20  

Bila nasi telah menjadi bubur, biasanya para gadis itu akan menyerah dan menuruti semua perkataannya.

Sayang sekali ia sudah tak bisa lagi dianggap sebagai seorang lelaki tulen lagi. Semenjak mempelajari ilmu berhawa dingin setiap bagian tubuhnya yang bersifat kelaki- lakian mulai pudar dan berubah.

Lambat laun nafsu birahinya tak dapat disalurkan lagi melalui cara yang normal, dia harus menggunakan cara lain untuk melampiaskannya, serentetan cara yang sadis, keji dan memuakkan.

Ketika Tong Giok berjalan menuju ke halaman luar, kereta telah disiapkan dan kudapun sudah dipasang pelana.

Menyaksikan pelana di atas kuda, terbayang pula jarum di atas pelana, tentu saja hatinya bertambah riang hampir saja ia tak dapat menguasai diri untuk tertawa tergelak.

Bila Tio Bu ki mengetahui kalau dia adalah Tong Giok, perubahan mimiknya wajahnya pasti menarik sekali.

Tetapi anehnya, Tio Bu ki yang selalu bangun pagi, sampai saat sekarang masih juga belum menampakkan diri.

Dia ingin sekali bertanya kepada sang kusir kepala, tapi sebelum niatnya diwujudkan Tio Bu ki telah muncul, dia bukan keluar dari kamarnya melainkan masuk dari tempat keluar.

Ternyata hari ini dia bangun kelewat pagi, cuma begitu bangun lantas keluar rumah. Kemana ia pergi sepagi ini? Apa yang telah ia lakukan? Tong Giok tidak bertanya.

Ia tak pernah menanyakan soal pribadi Tio Bu ki, Ia tak boleh membuat Tio Bu ki menaruh curiga kepadanya, walau hanya sedikit saja.

Ia selalu menjaga baik-baik suatu prinsip hidupnya:

Melihat dan mendengarlah sebanyak-banyaknya, berbicara dan bertanyalah sedikit-dikitnya.

Bagaimana juga pelana toh sudah disiapkan di atas punggung kuda, Tio Bu ki juga sudah hampir naik ke atas kudanya. Operasinya kali ini dengan cepat sudah hampir berhasil.

Tentu saja suatu akhir yang bahagia, bahagia baginya.

Sungguh tak disangka, setelah masuk ke dalam halaman, perbuatan pertama yang dilakukan Tio Bu ki adalah berseru kepada kusir kereta itu:

“Turunkan pelana kuda itu!” Tong Giok sedang bernapas, pelan-pelan lembut-lembut dan menarik napas dalam-dalam, bila ia sedang tegang maka beginilah keadaannya.

Ia tak bisa tidak merasa amat tegang.

Karena Tio Bu ki sendiripun tampak seperti amat tegang, air mukanya, mimik wajahnya dan sikapnya jauh berbeda dari keadaan biasa.

Jangan-jangan ia telah mengetahui rahasianya?

Sambil tersenyum pelan-pelan Tong Giok maju kemuka dan menghampirinya.

Deruan napasnya telah pulih kembali seperti sedia kala, senyumannya masih begitu ramah dan menawan hati tapi dalam hati kecilnya telah membuat persiapan yang paling buruk.

Asal paras muka Tio Bu ki menunjukkan sedikit gejala yang tidak beres, dia segera akan turun tangan lebih dulu untuk merobohkan musuh bebuyutan ini.

Setiap saat setiap waktu ia dapat melancarkan serangan yang terakhir itu. Serangan tersebut pasti akan mematikan.

Paras muka Bu ki memang kelihatan murung dan sangat berat, jelas ia mempunyai persoalan dalam hatinya.

Tapi sikapnya terhadap sahabatnya ini sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa, pun tidak memperlihatkan gejala yang mencurigakan, hanya sambil menghela napas panjang dia berkata;

“Kuda ini adalah seekor kuda yang baik”

“Yaa, memang seekor kuda yang baik”, Tong Giok membenarkan.

“Bila kau sudah berada di saat seorang temanpun tak dapat menolongmu, siapa tahu seekor kuda baik masih dapat menyelamatkan jiwamu”

“Aku percaya”

“Setiap ekor kuda yang baik tentu mempunyai perasaan yang tajam bila kau baik kepadanya. Dia pun dapat baik pula kepadamu, asal kau bisa membuatnya merasa senang dan nyaman. Jadi aku selalu akan membiarkannya merasa senang dan nyaman”

Tiba-tiba ia tertawa lebar dan serunya: “Kalau aku adalah seekor kuda, dan dikala tak ada perkerjaan harus memanggul pelana pelana yang berat, aku sendiripun pasti merasa tak nyaman dan tak senang hati”

Tong Giok ikut tertawa

Bu ki menerangkan lebih jauh.

“Hari ini kita toh tak akan meneruskan perjalanan, biarkan saja ia beristirahat sehari lagi dengan nyaman”

Padahal sekalipun tak usah ia jelaskan Tong Giok juga dapat mengetahui maksudnya.

Ia sama sekali tidak mencurigai dirinya sendiri sebagai seorang sahabat, ia berbuat demikian tak lain karena menyayangi kudanya itu.

Tapi mengapa ia tak jadi berangkat hari ini?

“Kita harus berdiam sehari lagi di sini” kata Bu ki menerangkan, “sebab pada malam nanti ada seseorang yang akan datang pula kemari”

Mimik wajahnya mendadak berubah agak tegang lanjutnya,

“Aku harus berjumpa dengan orang itu! Walau apapun yang akan terjadi...”

Tentu saja orang itu adalah orang yang sangat penting, pertemuan kali ini tentu hendak membahas suatu masalah yang sangat penting artinya.

Tapi siapakah orang itu?

Persoalan apa yang hendak mereka rundingkan? Tong Giok tidak bertanya,

Mendadak Bu ki bertanya kepadanya:

“Apakah kau tak ingin tahu siapakah orang yang hendak kutemui malam nanti?” “Aku ingin tahu”

“Kenapa kau tidak bertanya?”

“Karena persoalan itu adalah urusan pribadimu dengan aku sama sekali tak ada sangkut pautnya” Setelah tertawa kembali ia melanjutkan:

“Apalagi bila kau ingin memberitahukan kepadaku, sekalipun tidak kutanyakan kau toh sama saja akan memberitahukan juga kepadaku”

Bu ki ikut tertawa. Atas kecerdasan sahabatnya yang tahu urusan dan pandai melihat gelagat ini, bukan saja ia merasakan kagum, bahkan puas sekali.

Tiba-tiba ia tertawa lagi:

“Kalau pagi, kau minum arak tidak?”

“Biasanya aku mah tidak minum, tapi kalau ada teman hendak minum, dalam dua belas jam sehari aku akan mengiringinya”

Bu ki menatapnya lekat-lekat, kemudian menghela napas panjang.

” Aaaai !. Bisa berteman dengan seorang macam kamu sungguh merupakan suatu

kemujuran bagiku’

Tong Giok kembali tertawa, Karena ia benar-benar tak tahan untuk tertawa, hampir meledak perutnya saking gelinya.

Untung saja dia sering tertawa, lagi pula suara tertawanya selalu begitu lebut dan halus. Oleh sebab itu siapapun tak ada yang bisa mengetahui apa sesungguhnya yang sedang ia pikirkan.

Ada arak ,ada orang tapi tak ada yang minum arak bahkan mereka sama sekali tak punya gairah barang sedikitpun juga untuk minum arak.

Kata Bu ki demikian:

“Sebenarnya aku bukan sungguh-sunguh mencarimu untuk minum arak..!”. Tong Giok tersenyum,

“Aku dapat melihatnya!” dibalik senyuman tersebut penuh dengan pancaran sinar persahabatan dan memahami perasaan orang.

“akupun tahu bahwa kau pasti mempunyai suatu persoalan yang hendak dibicarakan denganku”

Tangan Bu ki masih memegangi cawan arak. Walaupun tak setetes arakpun yang diteguk, namun dia selalu lupa untuk meletakkannya kembali ke atas meja. “Kemurungan dan kekesalan apapun yang sedang memenuhi benakmu, tak ada salahnya kau beritahukan kepadaku” kata Tong Giok lagi dengan lembut,

Bu ki termenung lagi lama sekali, setelah itu pelan-pekan dia baru berkata. “Aku pikir, kau sudah tahu bukan apa hubunganku dengan Tay hong tong” Tong Giok sama sekali tidak menyangkal, dia menjawab:

“Nama besar ayahmu memang sudah kudengar semenjak kecil dulu. !”

“Tentunya kau juga pernah mendengar orang berkata Tay hong tong sesungguhnya adalah organisasi macam apa”

“Aku tahu Congtongcu dari perkumpulan Tay hong tong adalah Im Hui yan Im loya cu, selain itu masih ada tiga orang tongcu lagi, ayahmu adalah salah satu di antara ketiga orang tongcu tersebut”

Masalah semacam itu adalah persoalan yang umum diketahui setiap umat persilatan, dia berusaha keras untuk menjauhkan Tio Bu ki dari rasa curiga terhadapnya, dia berusaha agar orang itu tak tahu jika dia jauh lebih mengetahui masalah tentang Tay hong tong daripada siapapun di dunia ini.

Siapa tahu ia berhasil mengetahui masalah-masalah yang sebenarnya tak diketahui olehnya dari mulut Tio Bu ki.

“Padahal organisasi Tay hong tong jauh lebih besar dan rumit daripada apa yang dibayangkan orang lain”, kata Bu-ki lagi, “Dengan mengandalkan mereka berempat, jelas tak mungkin bisa mengurusi dan mengatasi persoalan yang begitu banyaknya”.

Ternyata memang tidak membuat Tong Giok merasa kecewa, lanjutnya lebih jauh:

“Misalnya saja, walaupun Tay hong tong selalu mempunyai pemasukan tapi pengeluarannya justru lebih besar, Im loya er, Sugong Siau hong, Sangkoan Jin serta ayahku semuanya bukan seorang yang ahli dalam masalah keuangan. Kalau bukan orang lain yang secara diam-diam membantu kami untuk mengurusi soal keuangan serta menutup kerugian yang diderita, pada hakekatnya Tay hong tong tak mungkin bisa bertahan sampai sekarang ini”.

Itulah masalah yang paling menarik hati Tong Giok.

Entah melakukan pekerjaan apapun, orang memang membutuhkan uang, kalau memang Tay hong tong tak ingin menjadi seperti perkumpulan yang lain, menarik pajak dari perjudian, pelacuran dan pajak perlindungan, tentu saja mereka harus menombok untuk menutup biaya pengeluaran yang sangat besar. Mencari uang bukan suatu pekerjaan yang gampang, mengatur keuangan jauh lebih tidah mudah lagi.

Para jago-jago persilatan yang menganggap uang bagaikan kotoran, tentu saja bukan seorang yang ahli dibidang keuangan.

Merekapun sudah lama menduga, dibalik kesemuanya itu pasti ada seorang lain yang secara diam-diam mengurusi bidang keuangan dari perkumpulan Tay hong tong.

“Dalam dunia persilatan tak akan seorangpun yang tahu akan nama serta kedudukannya” kata Bu ki lebih jauh, “malah dalam Tay hong tong sendiripun tidak banyak yang mengetahui akan hal ini, karena dikala dia menyanggupi kami untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, dia telah membuat perjanjian dengan Im loya cu. ”

-Siapapun tak dapat mengurusi pekerjaan dan jumlah angka keuangan yang dikerjakannya.

-Siapapun tak boleh menggunakan uang dengan sesuka hati dan membuat perjanjian keuangan dengan orang lain tanpa sepengetahuannya.

-Asal usulnya harus dirahasiakan.

“Setelah Im loya cu setuju untuk menerima ketiga syarat tersebut, iapun bersedia menerima tugas yang berat dan berbahaya ini” Bu ki melanjutkan.

Tong Giok mendengarkan penuturan itu dengan tenang, di atas wajahnya sama sekali tidak nampak pancaran sinar senang atau gembira karena berhasil mendengar rahasia tersebut.

Kembali Bu ki berkata:

“Karena dia sebetulnya bukan seorang anggota dunia persilatan, kalau ada orang mengetahui kalau dia mempunyai hubungan dengan Tay hong tong, bisa jadi akan banyak kesulitan yang akan datang mencarinya”.

Tong Giok menghela napas panjang kemudian:

“Aaaai ! Siapa tahu bukan orang persilatan saja, jika aku adalah musuh bebuyutan dari Tay

hong tong, maka aku pasti akan menggunakan pelbagai cara yang bisa kulakukan untuk membunuh orang lebih dulu”.

Perkataan itu benar-benar diutarakan tepat pada saatnya.

Orang yang dapat mengucapkan kata-kata semacam itu, menandakan bahwa hatinya lurus dan terbuka, tak nanti dia bisa melakukan perbuatan seperti apa yang telah ia ucapkan. Bu ki menghela napas panjang.

“Aaai terus terang, seandainya ia sampai ketimpa sesuatu kejadian yang diluar dugaan, bagi

Tay hong tong sesungguhnya hal ini adalah suatu kerugian yang besar sekali, oleh sebab itu. ”

Tiba-tiba sikapnya menunjukkan jauh lebih tegang dan serius, suara pembicaraannya juga makin merendah:

“Oleh sebab itu hari ini, mau tak mau aku harus bertindak lebih waspada dan berhati-hati lagi”

“Ooooo. h! Jadi orang yang akan datang kemari hari ini adalah orang itu?”

“Yaa, sebelum tengah malam nanti, dia pasti akan sampai di sini”.

WALAUPUN Tong Giok selalu tenang dan pandai menguasai diri dalam masalah apapun, tapi sekarang ia merasa bahkan jantungnya pun ikut berdebar dengan kerasnya.

Apabila ia dapat melenyapkan orang ini, pada hakekatnya seperti memenggal sebuah kaki dari Tay hong tong.

Orang itu bakal datang kemari pada malam ini juga.

Terhadap Tong Giok, kejadian ini benar-benar merupakan rangsangan yang besar sekali.

Tapi dia terus-menerus memperingatkan diri sendiri, janganlah sekali-kali memperlihatkan perubahan di atas wajahnya, janganlah membuat suatu gerak-gerik yang bisa menimbulkan kecurigaan lawan.

“Walaupun ia bukan seorang anggota dunia persilatan, tapi ia ternama sekali”, kata Bu ki lebih jauh, “rumah-rumah uang yang berada di sekitar wilayah Kwan tiong, paling tidak ada separuh di antaranya yang mempunyai hubungan dengannya, oleh sebab itu orang lain selalu menyebutnya sebagai Cay Sin (Dewa harta)!”.

“Dewa Harta”

Ketika dua patah kata itu masuk ke dalam pendengaran Tong Giok, seakan-akan digores dengan pisau segera melekat dalam-dalam di lubuk hatinya.

Asal ia sudah menemukan titik terang tersebut, tidak sulit untuk melacak jejaknya dan menemukan orang itu. Tong Giok memperlihatkan paras muka yang amat serius, katanya dengan nada bersunggu- sungguh:

“Persoalan ini adalah rahasia paling besar dari Tay hong tong kalian, tidak seharusnya kau memberitahukan kepadaku”

“Aku harus memberitahukan kepadamu!” seru Bu ki. “Kenapa?”

“Sebab kau adalah sahabat karibku, aku amat percaya kepadamu dan lagi ”

Ditatapnya Tong Giok lekat-lekat, kemudian pelan-pelan dia melanjutkan lebih jauh, “Ada suatu persoalan, terpaksa aku harus minta bantuanmu”

“Asal aku dapat melakukannya, aku pasti akan melakukannya untukmu!”, Tong Giok segera berjanji.

“Persoalan ini pasti dapat kau lakukan dan cuma kau seorang yang dapat melakukannya”.

Tong Giok tidak berkata apa-apa lagi, secara lamat-lamat ia mulai merasa bahwa ada seekor domba yang lagi menghantarkan dirinya ke mulut harimau.

Cawan arak itu masih berada di tangan, masih belum dilepaskan kembali ke meja.

Akhirnya Bu ki menghirup setegukan, arak Toa mi yang wangi dan pedas menelusuri lidahnya dan pelan-pelan mengalir masuk ke dalam tenggorokannya.

Bagaimanapun juga, sekarang ia merasa jauh lebih bersemangat, ia telah mengemukakan semua kemurungan dan kemasgulamn yang telah bersarang dalam dadanya selama ini......

Di tempat ini Tay hong tong juga mempunyai kantor cabang.

Karena tempat ini adalah pos terakhir dari Tay hong tong, juga merupakan garis depan yang berhadapan dengan lawan, inilah sebabnya bukan saja kantor cabang di sini agak besar, jumlah anggotanya juga jauh lebih banyak.

Di atas bukit tak dapat memuat dua ekor harimau.

Tapi kedua orang tocu itu bisa hidup dengan rukun dan damai, sebab mereka hanya tahu untuk bekerja bagi Tay hong tong, mereka tidak memiliki ambisi pribadi untuk merebut kekuasaan dan kedudukan. Dalam kitab catatan paling rahasia Tay hong tong tercantum beberapa keterangan tentang mereka, di antaranya bisa terbaca sebagai berikut:

Nama : Huam Im san

Julukan : Giok bin kim to kek (Jago golok emas berwajah pualam) Poan san-To jin (Tosu di tengah gunung)

Usia : lima puluh enam tahun.

Senjata : Golok Ci kim to, tiga puluh enam batang Ci kim piau. Perguruan : Ngo hau toa bun to

Istri : Phong Siong tin (telah meninggal) Putra : Tidak ada

Hobby : Waktu muda suka nama besar, usia pertengahan belajar agama to

Pujian dari Sugong Siau hong terhadapnya: Pintar, teliti memegang teguh peraturan perguruan, bertanggung jawab, disiplin dan sangat berguna.

Sedangkan yang lain adalah:

Nama : Ting Bau

Julukan : To pit-sin eng (Elang sakti bertangan tunggal). Usia : Dua puluh sembilan tahun.

Senjata : Pedang (pedang kutung) Perguruan : Tidak ada

Istri : Tidak ada Putra : Tidak ada

Hobby : Suka berjudi, suka minum arak.

SUGONG Siau hong tersohor karena pandai melihat orang, diapun seorang ternama karena pandai memilih pembantu, di dalam setiap catatan yang berada dalam Tay hong tong, di bagian belakangnya selalu dicantumkan pujian atau kritikan. Hanya Ting Bau serang yang terkecuali. Siapapun tak tahu, apakah dikarenakan Sugong Siau hong enggan memberikan penilaiannya terhadapa orang ini, ataukah ia tak dapat memberikan penilaiannya terhadap orang ini.

“Aku tahu tentang orang ini”, Tong Giok berkata. “Kau juga tahu?”

“Yaa, beberapa tahun belakangan ini, To pit sin eng termashur sekali namanya dalam dunia persilatan, lagipula dia telah melakukan beberapa pekerjaan yang sangat besar '

Setelah tertawa, dia menambahkan.

“Tidak kusangka ia telah menjadi anggota Tay hong tong!”.

Sebab walaupun Ting Bau memiliki nama yang terkenal, sayang sekali nama besarnya itu sama sekali tak ada harganya untuk menerima pujuan serta sanjungan.

Sebetulnya ia mempunyai nama keluarga yang baik

Ayahnya adalah seorang murid preman dari perguruan Bu tong pay, keluarga Ting merupakan keluarga persilatan yang tersohor di wilayah Kanglam.

Punya nama, kedudukan, punya harta kekayaan.

Tapi ketika berusia lima belas tahun, ia telah diusir ayahnya dari rumah.

Di antara empat jago pedang Bu tong pay, yang paling termashur namanya adalah Kim ki tojin, dia adalah kakek seperguruan dari ayahnya, memandang di atas wajah ayahnya ia telah menerimanya sebagai murid.

Tak disangka, selama berada dalam kuil Hian tian koan di atas bukit Bu tong san yang dikenal orang persilatan sebagai tempat suci itu, sikap maupun ulahnya masih ugal-ugalan ia masih suka bertindak menuruti suara hati sendiri, minum arak dan mabuk-mabukan sudah bukan suatu kejadian yang aneh di sana.

Suatu ketika, dikala ia sedang mabuk hebat, ternyata dia telah menantang seorang sahabat karib gurunya untuk berduel di bawah gunung.

Lengan kanannya kutung dalam pertarungan sengit itu, dia sendiri juga diusir dari Bu tong pay, bahkan pedangnya patah menjadi dua bagian. Tak disangka, tujuh delapan tahun kemudian, ternyata ia muncul kembali, muncul sambil membawa pedang kutungnya.

Walaupun lengannya telah kutung, pedangnya telah patah namun ia berhasil melatih serangkaian ilmu pedang aneh, ganas dan luar biasa.

Seorang diri dia mendatangi bukit Butong san dan mengalahkan Kim ki tojin bekas gurunya. Oleh sebab itu, ia menyebut dirinya sebagai Sin eng (si elang sakti).

Setelah ternama ulahnya masih ugal-ugalan, ia masih bergelandangan seorang diri tanpa tujuan, perbuatannya masih menuruti suara hati, selama banyak tahun ia memang telah melakukan pekerjaan yang luar biasa.

Sayang semua perbuatan yang pernah dilakukan olehnya, seperti pula wataknya, tak bisa membuat orang merasa kagum dan menaruh hormat.

Untung saja ia sendiri acuh terhadap semuanya itu dia tak pernah ambil perduli.

Bu ki dapat memahami perasaan Tong Giok, diapun dapat menangkap ejekan serta cemoohan di balik senyumannya itu.

Tapi pandangan Bu ki sendiri justru jauh berbeda,

“Tak peduli dahulunya dia adalah seorang manusia macam apa, yang pasti sejak menjadi anggota Tay hong tong, ia betul-betul menyumbangkan semua pikiran dan tenaganya demi kesejahteraan dan kejayaann Tay hong tong. ”

Tong Giok tersenyum,

“Mungkin saja ia telah berubah”, demikian ia berkata,”mungkin juga ia telah melepaskan golok pembunuh dan kembali ke jalan yang benar”.

“Ia memang telah bertobat!”.

“Mengapa Giok bin kim to khek disebut juga Poan san tojin? kedua nama itu seharusnya melambangkan dua orang yang sama sekali berbeda”.

“Sudah banyak tahun Huam Im san kehilangan istrinya, semenjak itulah dia mulai belajar ilmu agama To, maka dari Giok bin kiam to julukannya berubah menjadi Poan san tojin”.

Tong Giok segera tertawa tergelak. “Tidak kusangka di antara tocu dari Tay hong tong ternyata masih ada yang suka belajar agama To”.

Bu ki tertawa pula.

Tapi tertawanya itu dengan cepat telah lenyap kembali, ujarnya lebih jauh:

“Walaupun peraturan Tay hong tong sangat ketat, namun selamanya tak pernah mencampuri urusan pribadi orang lain, Ting Bau yang suka mabuk-mabukan, Huam Im san yang suka belajar agama To sama sekali tidak mempengaruhi tugas dan kewajiban mereka selama melaksanakan pekerjaan partai, selama ini mereka selalu merupakan dua orang yang paling setia dan paling berguna di antara tuocu-tuocu lainnya dalam perkumpulan Tay hong tong.

Tiba-tiba suaranya direndahkan, kemudian pelan-pelan berbisik:

“Tapi sekarang aku telah menjumpai salah seorang di antara mereka berdua ternyata adalah penghianat”

“Apa?” Tong Giok seperti terperanjat dibuatnya.

“Penghianat!” dengan wajah sedih dan marah Bu ki melanjutkan. “ternyata salah seorang di antara mereka berdua telah menghianati Tay hong tong dan menjual rahasia kepada musuh Tay hong tong!”.

Tong Giok seperti belum mau percaya dengan perkataan itu, tak tahan dia bertanya lagi: “Darimana kau tahu?”.

Pelan-pelan Bu ki mengangguk, katanya:

“Sebab semua orang yang kami kirim ke pihak lawan sebagai mata-mata, telah dikhianati olehnya!”.

Kemudia ia memberi penjelasan lagi:

“Sesungguhnya mereka semua memiliki perlindungan yang sangat baik, bahkan ada yang sudah lama sekali menyusup ke tubuh lawan tanpa berhasil ditemukan, tapi belakangan ini ”.

Mendadak suaranya menjadi sesenggukan, lewat lama sekali dia baru melanjutkan.

“Belakangan ini, secara tiba-tiba mereka semua telah dibunuh mati , ternyata tak seorangpun di antara mereka yang berhasil lolos dalam keadaan selamat!”. Tong Giok ikut pula menghela napas.

Padahal terhadap persoalan-persoalan semacam itu bukan saja dia tahu semuanya, bahkan jauh lebih jelas dari siapapun juga.

Dalam pembunuhan yang dilakukan waktu itu, bukan saja ia turut ambil bagian, bahkan ornag yang dibunuh olehnya tidak lebih sedikit dari siapapun.

Bu ki berkata lebih jauh.

“Semua masalah yang menyangkut diri mereka selama ini hanya diketahui oleh Huan Im san serta Ting Bau, kedua orang itu pula yang melakukan kontak dengan mereka, semua gerak- gerik serta rahasia mereka juga hanya diketahui oleh mereka berdua, maka ”

“Maka hanya mereka berdua pula yang ada kemungkinan telah menghianati mereka”, sambung Tong Giok cepat.

“Benar !”.

“tapi di antara mereka berdua, siapakah yang menjadi penghianatnya? Huan Im san? atau Ting Bau?”

Pertanyaan seperti itu ternyata diucapkan dari mulut Tong Giok, bahkan Tong Giok sendiripun merasa sangat geli.

Orang yang menemukan penghianat itu adalah dia, orang yang bertanggung jawab mengadakan kontak dan hubungan dengan penghianat itu juga dia, siapa lagi yang bisa lebih jelas mengetahui persoalan ini dari padanya?”

Kalau Tio Bu ki mengetahui akan persoalan ini, entah bagaimana mimik wajahnya nanti?, Entah bagaimana pula perasaannya.

Dalam keadaan seperti ini, ternyata Tong Giok masih sanggup menahan diri agar jangan tertawa, kepandaiannya memang terbukti hebat luar biasa.

Bu ki menatap terus setiap perubahan wajahnya, tiba-tiba ia bertanya:

“Siapakah di antara kedua orang ini yang sesungguhnya adalah penghianat, hanya kau seorang yang dapat memberitahukan kepadaku”.

Seandainya orang lain yang mendengar perkataan itu, dia pasti akan merasa amat terperanjat, Namun Tong Giok sedikitpun tidak bereaksi, ia tahu ucapan tersebut nanti ada kelanjutannya. Benar juga Bu ki segera melanjutkan kata-katanya,

“Karena hanya kau baru bisa membantuku untuk menemukan si penghianat di antara mereka berdua”.

“Kenapa?”.

“Kau tidak kenal dengan kedua orang ini bukan?” “Tentu saja tidak kenal”.

“Kalau aku mengatakan kau adalah orang dari keluarga Tong, dapatkah mereka mempercayainya?”.

Paras muka Tong Giok masih tetap tenang tanpa perubahan.

“Agaknya mereka tak punya alasan untuk tidak mempercayainya”, ia menjawab.

“Kalau toh orang-orang keluarga Tong bisa membeli Toucu dari Tay hong tong, apakah Tay hong tong juga sama saja dapat membeli orang-orang keluarga Tong?”

“Agaknya dapat?”

Jawaban yang diberikannya kali ini diucapkan dengan sangat berhati-hati, setiap kali menjawab dia selalu menambahkan kata “agaknya” di depan jawaban tersebut, sebab ia masih belum bisa memahami maksud dan tujuan Tio Bu ki yang sebenarnya.

“Oleh sebab itu, sekarang baik Huan Im san maupun Ting Bau kedua-duanya mengira aku telah berhasil membeli seorang penghianat dari keluarga Tong”, kata Bu ki lebih jauh.

“Aku datang kemari disebabkan karena aku ingin berjumpa dengan orang itu, kami telah berjanji akan bertemu hari ini”.

“Kalau kau berkata demikian, agaknya mereka tak punya alasan lagi untuk tidak mempercayainya”.

“Bahkan berulang kali aku telah berpesan kepada mereka agar hati-hati, sebab orang ini adalah seorang yang penting sekali, ada semacam benda yang sangat penting hendak diserahkan kepadaku, maka kita harus sekuat tenaga untuk melindunginya, jangan biarkan dia sampai jatuh ketangan orang lain!”

“Tahukah mereka, siapa orang itu?”. “Tidak tahu”. “Kalau mereka tak tahu, bagaimana caranya untuk melindungi orang itu?”.

“Karena aku sendiripun tak pernah berjumpa dengan orang itu, maka kami telah menjanjikan cara untuk mengenal identitasnya”.

“Asal dia sudah datang maka orang itu akan pergi ke rumah obat Jin tong yang ada di jalan besar sana untuk membeli empat Chee Tan pi dan empat chee Tang kwee, setelah itu dia akan pergi ke toko penjual daging di seberang jalan untuk membeli empat tahil ayam goreng dan empat tahil daging sapi, dia bersikeras untuk menimbangnya secara tepat, sedikitpun tak boleh lebih, sedikitpun tak boleh kurang. ”.

“Manusia semacam ini memang tidak banyak jumlahnya, gampang sekali untuk mengenali”, kata Tong Giok.

“Yaaa, kemudian orang itu akan menenteng Tan pi dan ayam goreng di tangan kiri, Tang kwee dan daging sapi di tangan kanan, dari jalan besar dia akan menuju timur laut, lalu belok ke kiri kemudian berjalan menuju hutan, menggantungkan Tan pi dan ayam goreng di atas pohon, membuang Tang kwe dan daging sapi di atas tanah, pada saat itulah kami baru munculkan diri untuk bertemu dengannya”.

Tong Giok tertawa,

“Menggunakan cara semacam ini untuk bertemu, betul-betul menarik sekali”, katanya. Bukan cuma menarik, lagi pula aman sekali.

Kemudian menjelaskan lagi:

“Kecuali orang yang telah berjanji denganku, siapapun tak akan sanggup untuk melakukan perbuatan semacam ini”.

“Kalau masih ada orang lain dapat melakukan pekerjaan semacam ini, orang itu pasti ada penyakitnya, lagipula penyakitnya pasti parah sekali”, kata Tong Giok tertawa.

“Oleh karena itu, aku percaya Huan Im san dan Ting Bau pasti tak bakal salah!”.

“Kalau memang orang itu ada janji dengan kau, sepantasnya kalau kau yang menunggu di sana, kenapa malah suruh mereka yang pergi?”.

“Karena aku cuma tahu dia akan datang sebelum matahari terbenam hari ini, tapi tidak mengetahui waktu yang persis”. “Jejakmu sangat rahasia, tentu saja mustahil bagimu untuk menunggunya sepanjang hari di tepi jalan, maka kaupun suruh mereka yang pergi ke sana?”.

“Betul!”, Bu ki manggut-manggut membenarkan, “Sebenarnya barang apakah yang akan dibawa kemari?”. “Sebuah nama!”.

“Nama dari penghianat tersebut?”. “Benar!”.

“Jadi sampai sekarang, kau masih belum tahu nama yang bakal dibawa datang itu mencantumkan nama Hua Im san atau Ting Bau!”.

“Meskipun aku tidak tahu, dalam hati si penghianat tersebut pasti tahu dengan jelas!”. “Tentu saja dia tak akan membiarkan orang itu menyerahkan nama tersebut kepadamu!”. “Yaa, tentu saja tidak”.

“Oleh karena itu begitu ia menjumpai kemunculan orang itu, ia tentu akan mencari akal guna membunuhnya dan melenyapkan saksi dari muka bumi”.

“Pasti, dia akan menggunakan cara apapun untuk mewujudkan cita-citanya, apapun yang bakal terjadi, orang itu pasti akan bikin bungkam untuk selamanya”.

“Padahal dari keluarga TOng tak pernah ada masalah semacam ini yang akan datang”, kata Tong Giok.

“Yaaa, benar!”.

“Oleh karena itu, orang tersebut adalah aku!”.

“Yaa terpaksa kau harus menerima untuk membantuku, sebab mereka tidak kenal denganmu, apalagi mereka hanya tahu kalau rekanku adalah seorang nona bergaun merah”.

“Oleh karena itu asal aku mau berganti pakaian dan berdandan sebagai seorang pria, kemudian diam-diam ngeloyor keluar, membeli sedikit Tan pi, Tang kwe, ayam goreng dan daging sapi di jalanan, aku segera akan membantumu untuk memancing kedatangan pengghianat tersebut”.

Setelah menghela napas dan tertawa getir terusnya:. “Cara ini memang sebuah cara yang sangat baik, hakekatnya tak bisa dibilang ada jeleknya, cuma ada satu hal yang perlu dikuatirkan andai kata ikan itupun melahap aku menjadi umpan lantas aku bagaimana jadinya?”.

“Aku juga tahu kalau pekerjaan ini sedikit banyak tentu ada bahayanya tapi aku tak berhasil menemukan cara yang lain, padahal aku harus berhasil menemukan penghianat tersebut sebelum si dewa harta sampai di tempat ini dan mengadakan pertemuan denganku”.

“Maka kau terpaksa datang mencariku”. “Yaa terpaksa aku harus mencarimu”.

Sekali   lagi   Tong   Giok   menghela   napas   panjang. “Aaai sesungguhnya kau memang tepat sekali mencariku”.

Di luar dia menghela napas, padahal perutnya hampir pecah saking gelinya, dia tak pernah mengira kalau Tio Bu ki bakal menyodorkan seekor domba yang begitu gemuk kepadanya, bahkan menuntun pula domba yang lain untuk dihantar ke mulut macan.

Rencana dari Tio Bu ki sesungguhnya sangat sempurna, kecuali mempergunakan cara itu, memang agak sulit untuk menemukan penghianat tersebut. Sayang ia telah salah memilih orang.

Sudah barang tentu Tong Giok tak akan mencarikan penghianat tersebut, sedangkan penghianat itupun pasti tak akan benar-benar ingin membunuh Tong Giok untuk membungkam mulutnya.

Justru mereka dapat mempergunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk membunuh dan membungkam mulut orang yang bukan penghianat tersebut.

Kemudian, mereka dapat melimpahkan semua dosa dan tuduhan ke atas tubuh orang itu, sementara penghianat yang sesungguhnya bergoyang-goyang kaki sambil melanjutkan kariernya menghianati teman-teman yang lainnya, karena selanjutnya tak mungkin ada orang yang bakal menaruh curiga kepada dirinya lagi.

Setelah itu, bahkan mereka bisa manfaatkan pula kesempatan yang sangat baik itu untuk membasmi Tio Bu ki serta si Dewa harta tersebut dari muka bumi.

Tindakan tersebut ibaratnya sekali tepuk dua lalat, satu kali bekerja dua hasil besar yang berhasil diraih. Sudah barang tentu prestasi semacam ini adalah suatu prestasi yang luar biasa sekali. Jangankan orang lain, bahkan Tong Giok sendiripun tidak menyangka kalau nasibnya sedang begitu baik.

Demikian, bukankah si penghianat itupun seakan-akan telah berubah menjadi seekor domba yang seakan-akan oleh Tio Bu ki telah disodorkan ke depan mulut macan Tong Giok?.

Jika seseorang berhasil menghadapi keadaan semacam ini, merasa yakin kalau setiap persoalan sudah terjatuh ke tangannya, kemenangan pasti berasa di tangannya, siapa yang tidak senang? Siapa yang tak gembira...?.

Itulah sebabnya Tong Giok tertawa geli di hati, tersenyum bangga secara diam-diam ia merasa bangga akan hasil yang bakal diraihnya tak lama kemudian.

Bulan empat tanggal dua belas, pagi.

Biasanya di saat seperti ini Huam Im san telah menyelesaikan “pelajaran”nya dan keluar dari kamar obat untuk sarapan pagi.

Hari ini dia agak lambat dari keadaan biasa, karena pagi-pagi sekali telah kedatangan seorang tamu yang sama sekali tak pernah disangka olehnya dan mengajaknya berbicara sampai lama sekali, membicarakan hal-hal yang mendatangkan kemasgulan hatinya.

Dalam kantor cabang ini ternyata ada penghianat, bahkan putra Tio Kian pun mengetahui akan soal ini.

Sudah banyak tahun ia memerintah dalam kantor cabang lain, tapi sekarang ternyata ia harus diberitahu oleh seorang pemuda ingusan tentang masalah tersebut, bahkan diajarkan pula apa yang akan harus dilakukan selanjutnya, dalam hal ini dia merasa tidak puas.

Terhadap anak muda, ia selalu tak memiliki kesan baik ia selalu beranggapan bahwa kaum muda tak pandai bekerja tak seorangpun yang bisa dipercaya.

Mungkin hal ini disebabkan karena ia sendiri sudah tidak terhitung muda lagi, walaupun dalam hal ini ia tak pernah mau mengakui akan kebenarannya.

Sikapnya terhadap Tio Bu ki sudah barang tentu masih amat sungkan dan hormat, ia menghantar sendiri tamunya sampai ke pintu gerbang sebelum kembali ke kamar obat.

Ruangan itu adalah tempat baginya untuk membuat obat. Berbicara yang sesungguhnya, tempat itu merupakan pula sorga baginya, sebelum mendapat ijin darinya, siapapun dilarang memasuki tempat itu.

Membuat obat bukan membuat emas. Walaupun ada sementara orang beranggapan bahwa membuat obat sama brutalnya dengan membuat emas, akan tetapi dia selalu acuh, tak ambil perduli.

Membuat obat disebut pula “membakar air raksa” atau disebut juga “makan batu”, itulah suatu pekerjaan yang anggun dan aneh, sangat anggun sekali dan sangat aneh sekali orang awam tentu saja tak akan mengerti.

Hanya orang-orang terhormat seperti Lau An atau seniman seperti Han Yat baru akan memahami pengetahuan serta kehebatan dari ilmu tersebut.

Ia sering kali bersantap dalam pesanggrahan Poan san-sian, biasanya Hong wi dan Ci lan yang menemaninya,

Hong wi dan Ci lan meski masih muda namun mereka sangat disiplin dan tahu peraturan,

Tapi hari ini, dari kejauhan ia sudah mendengar gelak tertawa mereka yang merdu, di antaranya bahkan terdengar suara seorang laki-laki.

Siapa yang begitu bernyali, berani mendatangi ruang pribadi Huan toaya untuk bergurau dengan dayangnya.

Tak usah dilihat lagi, dia sudah tahu kalau orang itu pastilah Ting Bau.

Karena siapapun tahu kalau Ting Bau adalah sahabat karibnya, hanya Ting Bau seorang yang boleh masuk keluar ruangan pribadinya secara bebas dan merdeka, bahkan bersarapan dengannya.

Sewaktu dia masuk ke situ Ting Bau sudah menghabiskan separuh mangkuk lebih Yan oh yang disediakan untuknya bersarapan pagi, ketika itu ia sedang bergurau dengan kedua orang dayangnya yang muda lagi cantik itu.

Kalau orang lain berbuat demikian, mungkin sekali Huam Im san akan menghajar kakinya sampai kutung.

Tapi Ting Bau terkecuali.

Mereka bukan saja bersahabat karib diapun merupakan rekan-rekannya yang terbaik. Menyaksikan ia berjalan masuk ke dalam ruangan, Ting Bau segera tertawa terbahak-bahak. “Haaahhh....haaahhh....haaahhhhh. tidak kusangka ternyata kaupun makan barang berjiwa, 

bahkan santapanmu begitu mewah dan lezat sekali”. Huan Im san ikut tertawa: “orang yang belajar agama juga manusia, setiap manusia tentu membutuhkan makanan”.

“Dahulu aku masih beranggapan asal kau makan sedikit batu saja sudah lebih dari cukup”, seru Ting Bau lagi sambil tertawa.

Huan Im san tidak bergurau lebih jauh meskipun mereka bersahabat, bagaimanapun juga mereka tak bisa bergurau mengenai “kepandaian membuat obat” yang sedang diyakininya.

Persoalan itu tak boleh disinggung oleh siapapun.

Untung Ting Bau telah mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain. Tiba-tiba ia bertanya, “Apakah Tio kongcu juga telah berkunjung kemari?”.

“Yaa, ia telah kemari!’.

“Kau juga sudah tahu tentang peristiwa itu?’. Huan Im san manggut-manggut.

Tentu saja dia harus tahu, sebab paling tidak dia juga merupakan salah seorang Toucu di tempat itu.

Sambil tertawa Ting Bau berkata:

“Kedatanganku kemari bukan bermaksud untuk kuah ayammu saja”.

“Jadi sekarang juga kau akan pergi menunggu kedatangan orang itu...?”, tanya Huan Im san. “Kau tidak ikut?”.

“Aku harus menunggu sebentar lagi, jangan lupa akupun harus bersantap dulu?”.

“Baik, bersantaplah dulu, aku akan berangkat duluan!”, seru Ting Bau kemudian sambil tertawa.

Huan Im san juga merasa geli, kini warung obat Tong jin tong serta toko makanan itu belum buka pintu, sekalipun orang itu telah datang, ia juga belum dapat membeli Tan pi, Tang kwee serta daging sapi dan ayam goreng.

Selamanya anak muda memang tak sabaran dalam melakukan pekerjaan apapun selalu terburu napsu dan hantam kromo, sepasang mata anak muda juga tidak terlalu jujur. Tiba-tiba ia menemukan kalau ia harus membelikan beberapa stel pakaian baru lagi untuk Hong wi dan Ci lan.

Pakaian yang dibuat setahun berselang, sekarang sudah terlalu kecil dan ketat, sedemikian ketatnya sehingga bagian-bagian badan yang seharusnya tak boleh diperlihatkan, dapat terlihat dengan amat jelasnya.

Tentu saja hal ini bukan dikarenakan pakaiannya menjadi kecil, sebaliknya karena belakangan ini, pertumbuhan badan mereka semakin matang dan lebih dewasa, sehingga setiap pria yang berjumpa dengan mereka, tanpa terasa harus menoleh sampai beberapa kali.

Ting Bau adalah seorang laki-laki.

Sepasang matanya tak bisa dibilang terlalu jujur.

Ketika dia sudah sampai di pintu depan, mendadak ia berpaling seraya berkata:

“Tiba-tiba aku menemukan bahwa orang yang belajar ilmu To, bukan saja bisa makan seperti orang yang lain, bahkan masih mempunyai pula suatu keuntungan lain.

“Keuntungan apa?”

“Perbuatan apapun yang dilakukan orang yang belajar agama To, mungkin akan dibicarakan orang lain, coba kalau aku seperti kau sekarang ada beberapa orang nona muda yang cantik melayani diriku, orang lain pasti akan menuduh aku sebagai seorang serigala perempuan”.

Selesai berkata sambil tertawa terbahak-bahak berjalan pergi dari situ.

Walaupun mereka mempunyai kedudukan yang sama, tapi bagaimanapun juga usianya jauh lebih tua darinya, paling tidak Ting Bau harus menaruh sikap hormat dan sopan kepadanya.

Yang lebih celaka lagi, ternyata manusia yang bernama Ting Bau ini seakan-akan tidak mengerti apa yang sebetulnya dimaksudkan dengan “sopan santun”.

Sekarang ia sudah mulai bersarapan pagi.

Hong wi dan Ci lan berdiri terus di sampingnya sambil memandang ke arahnya dengan wajah merah dan senyum kemalu-maluan, kedua orang gadis itu memperhatikan terus majikannya.

Tentu saja ia memahami apa arti dari lirikan itu.

Seorang gadis yang sempurna, dalam masa puber dan berbadan sehat, apalagi belum lama merasakan bagaimana nikmatnya “perbuatan itu” biasanya mereka akan menunjukkan gairah yang luar biasa sekali. Apalagi sejak dia makan batu, bukan saja sangat membutuhkan segala sesuatu yang bersifat panas, bahkan ia berubah menjadi luar biasa jantannya, bahkan jauh lebih jantan dari seorang pengantin lelaki, dengan kondisi semacam itu, ia sanggup memberikan kepuasan kepada perempuan manapun.

Setiap hari selesai sarapan pagi, biasanya akan mengajak kedua orang gadis muda itu masuk ke kamar latihannya dan di situ mereka diajarkan sedikit ilmu untuk menambah kenikmatan sorgawi.

Sekarang kedua orang gadis itu mulai gelisah, agaknya mereka sudah agak tak sabar untuk menunggu lebih lama.

Pelan-pelan Huan Im san meletakkan sumpitnya, bangkit berdiri dan berjalan kembali ke kamar latihannya......

Ketika muncul untuk kedua kalinya dari dalam kamar latihan, walaupun ia tampak sedikit letih namun perasaannya jauh lebih baik, bahkan terhadap kekurang ajaran Ting Bau tadi, iapun merasa tidak terlalu menjemukan lagi.

Barang siapa telah menikmati sorga dunia dan kehangatan tubuh perempuan, perasaannya pasti akan berubah menjadi riang gembira dan lebih luwes.

Sekarang dia hanya membutuhkan sepoci teh wangi, lebih baik lagi kalau ada sepoci teh Thi koan im dari bukit Bu gi-san di propinsi Hek-kian.

Dengan cepat ia teringat dengan “Bu gi cun”

Bu gi cun adalah nama sebuah warung penjual teh.

Warung teh ini dibuka oleh seorang Hok kian, seorang Hok Kian selalu suka teh ‘Thi koan im”.

Thi koan im yang dijual di warung teh ini konon benar-benar dihasilkan di puncak bukit Bu gi yang secara khusus dikirim kesana.

Letak warung teh itu bersebelahan dengan Cay ci cay.

Cay ci cay adalah nama dari sebuah toko penjual kueh dan makanan kecil teman minum teh, tempat toko itu berada bersebelahan dengan toko obat Tong jing tong, sedang warung penjual daging milik si gendut Ong letaknya tepat di seberang jalan.

Oleh karena itu jika hari ini Huan Im san tidak minum teh di warung Bu gi cun, kejadian ini baru aneh namanya. Kejadian aneh di dunia ini selamanya tak akan terlalu banyak, oleh karena itu diapun muncul di sana,

Tentu saja tidak sedikit orang-orang dalam warung teh itu yang kenal dengan Huan toaya, tapi hanya beberapa orang yang tahu kalau dia adalah seorang Toucu dari Tay hong tong.

Kalau ia seringkali pasang di luar dengan mencatut nama Tay hong tong, mungkin sekarang ia sudah menjadi mayat.

Ting Bau juga sudah datang, dia pasti berada di sekeliling tempat itu, tapi ia tidak melihat Ting Bau, ia melihat Siau kau cu (si anjing kecil).

Si anjing kecil atau Siau kau cu bukan anjing, dia manusia.

Walaupun orang lain memanggilnya seperti seekor anjing saja, namun bagaimanapun juga dia tetap seorang manusia.

Dia adalah seorang di antara sebelas pelayan dari rumah penginapan Ko Seng yang paling banyak melakukan pekerjaan tapi paling sedikit menerima uang.

Sekarang, entah tamu darimana yang sedang menyuruhnya beli sayur asin di warung dagingnya Ong gendut.

Huan Im san tahu, Tio Kongsu berdiam di rumah penginapan Ko Seng, bahkan dia membawa serta seorang nona bergaun merah.

Ternyata Tio Kongcu juga seorang pemuda yang romantis.

Si anjing kecil dengan menenteng beberapa bungkus sayuran asin telah pulang ke rumah penginapan.

Seorang penjual jeruk dengan membawa pikulan dagangannya lewat di muka warung daging si gemuk Ong.

Si gemuk Ong membeli sekati jeruk untuk putrinya.

Putrinya tidak gemuk seperti dia, karena ia hanya suka makan jeruk, tidak suka makan daging. Si Gemuk Ong adalah langganan tetap dari penjual jeruk itu.

Penjual jeruk itu keletihan, ia merasa letih dan haus, maka diapun mendatangi warung teh dan minta secawan air teh dari pelayan warung itu. Teh itu tentu tak bisa diminum secara gratis.

Ia menggunakan dua biji jeruk untuk ditukar sepoci air teh.

Pelayan itu membawa jeruk tadi ke belakang, dia membagi sebiji untuk putra majikannya, lalu dengan membawa poci besar pergi melayani tamunya.

Huan toaya adalah langganan lama, juga merupakan langganan yang baik, sudah barang tentu dia harus melayani secara istimewa.

Pertama-tama pelayan itu mendatangi Huan toaya untuk mengisi pocinya dengan air panas, malah membawa pula sebuah sapu tangan panas untuk membersihkan muka.

Huam Im san merasa puas sekali.

Ia suka orang lain menyanjung dan menghormatinya, maka ia selalu memberi tip yang cukup besar untuk pelayan ini.

Dengan penuh rasa terima kasih pelayan itu telah pergi. Ketika membuka sapu tangan itu, sebuah benda segera jatuh ke dalam tangannya, benda itu seperti segulung kertas.

Orang yang terlalu banyak minum teh, tak bisa dihindari tentu akan pergi kencing, maka setelah meneguk beberapa cawan teh, diapun bangkit berdiri ke belakang untuk buang hajat kecil.

Semua kejadian itu lumrah dan umum.

Walau siapapun yang menyaksikan kejadian tak mungkin ada yang merasa curiga.

Sekalipun diketahui oleh seorang nenek yang curigapun tak akan pernah menduga, kalau dalam kejadian yang berlangsung barusan ada suatu berita penting yang telah disampaikan ke tangan Huan Im san dari si nona bergaun merah yang berada dalam rumah penginapan Ko seng.

Pakaian yang dipakai Tong Giok sekarang sudah bukan gaun merah lagi.

Pakaian yang dikenakan adalah satu stel pakaian dari Tio Bu ki, sepatu hijau, kaus putih dan jubah biru, Walaupun bahan kain potongannya sangat baik, namun tak akan mendatangkan perasaan menyolok bagi yang melihat.

Keluarga Tio bukan keluarga yang kaya mendadak, Bu ki selalu pandai menggunakan bahan yang baik, dalam hal ini Tong Giok tak bisa tidak harus mengakuinya. Tong Giok belum pernah menyukai seseorang yang bakal mati di tangannya, tapi ia suka dengan Tio Bu ki.

Ia merasa Tio Bu ki itu orang yang sangat aneh, ada kalanya ia kelihatan seperti bodoh, padahal pintar sekali, adakalanya meski ia kelihatan seperti pintar, justru bodohnya bukan kepalang.

Tong Giok telah mengambil keputusan untuk membelikan sebuah peti mati yang paling baik baginya dan menyuruh Huam Im san untuk mengantar jenasahnya pulang ke perkampungan Ho hong san ceng.

Bagaimanapun juga mereka toh “teman”.

“Aku hendak membeli empat tahil ayang goreng dan empat tahil daging sapi”.

Tong Giok dengan mempergunakan bahasa yang paling baik mengutarakan isi hatinya kepada si gemuk Ong, kemudian menambahkan:

“Sedikitpun tak boleh lebih banyak, sedikitpun tak boleh kurang. ”

Sewaktu pulang membeli Tan-pi serta Tang kwe dari rumah obat Tong jin tong, ia telah melihat Huan Im san sedang duduk minum teh di warung teh Bu gi cun.

Seorang yang selalu pegang aturan, selalu bekerja giat rajin dan tak pernah melakukan kesalahan barang sedikitpun ternyata adalah seorang “penghianat”. Sesungguhnya kejadian ini betul-betul merupakan suatu peristiwa yang tak pernah disangka oleh siapapun. 

Sebenarnya sasaran mereka adalah Ting Bau tapi Tong Koat beranggapan bahwa Huan Im san lebih mudah digerakkan hatinya daripada Ting Bau.

Tong Koat mempunyai alasan sebagai berikut:

Manusia seperti Huan Im san pasti akan merasa tak puas terhadap pemuda yang tak tahu aturan dan acuh tak acuh semacam Ting Bau.

Tempat itu sebenarnya adalah daerah kekuasaan Huan Im san seorang, kini pihak Tay hong tong mengutus kembali seorang pemuda macam Ting Bau, bahkan dengan kedudukan yang seimbang dan sejajar dengannya, tak perduli pekerjaan apapun hendak dilakukan, harus dirundingkan dulu dengan seorang pemuda ingusan. Bagi seorang yang sudah terbiasa menjadi lotoa, pastilah kejadian ini merupakan suatu kejadian yang susah ditahan.

Ternyata Tong Koat juga mempunyai pengetahuan yang cukup dalam tentang ilmu pertapaan. Dia tahu banyak sekali resiko bagi orang yang menjalani latihan tersebut, diapun tahu barang siapa yang melatih kepandaian itu, bukan saja waktunya akan mengalami banyak perubahan akibat suhu panas badannya yang makin meninggi, bahkan nafsu birahinya pun akan berubah, lebih bergairah dan lebih besar.

Itulah sebabnya banyak orang yang ingin mencapai keadaan seperti itu, kenapa rela menyerempet bahaya untuk berlatih kepandaian itu,

Maka Tong Koat beranggapan demikian:

Kalau kita bisa memberikan sedikit obat mujarab serta rahasia ilmu pertapaan untuk Huam Im san, lalu menghadiahkan pula beberapa orang gadis perawan yang setiap saat bisa dipakai olehnya untuk “membuyarkan hawa panas”, bahkan berjanji pasti akan membantunya menghajar adat kepada Ting Bau, pekerjaan apapun yang kau sodorkan kepadanya, pasti akan dia terima dengan senang hati.

Kenyataannya kemudian, ternyata membuktikan bahwa pandangan tersebut memang tepat sekali.

Ketajaman mata Tong KOat dalam menilai orang memang sangat luar biasa, dalam hal ini mau tak mau Tong Giok harus ikut merasa kagum pula.

Tong Giok pun telah menjumpai Ting Bau.

Ting Bau sesungguhnya boleh dihitung sebagai orang pemuda yang menarik sayangnya ia terlalu ugal-ugalan, sehingga sekilas pandangan, tindak tanduknya lebih mirip dengan berandal kota atau seorang pemuda urakan.

Dalam bulan ke empat ini, ternyata ia mengenakan jubah musim panas, ujung baju sebelah kanannya yang kosong diikat pada pinggangnya dengan sebuah kain hijau, rambutnya awut- awutan sehingga kacau balau tak karuan, seperti sudah beberapa hari tak pernah disisir.

Bahkan dia menyisipkan pula kutungan pedangnya pada ikat pinggang, sebuah sarung pedangpun tak dikenakan.

Huan Im san yang selalu memandang tinggi soal kerajinan dan kebersihan dalam cara berpakaian, tentu saja merasa tak leluasa menyaksikan potongannya itu.

Setiap kali bertemu dengannya, Huan Im san selalu merasakan sekujur badannya menjadi tak segar, tak enak.

Empat tahil daging sapi dan empat tahil ayam goreng telah dipotong-potong dan dibungkus dengan kertas minyak menjadi bungkusan kecil. Dengan tangan kiri Tong Giok menenteng Tau pi serta ayam goreng, tangan kanan menenteng Tang kwe dan daging sapi, ia berjalan menelusuri jalan raya dan berbelok ke kiri.

Ia percaya Huan Im san tentu sudah menerima kabar yang dikirimnya lewat si anjing kecil.

Untuk menghindari kecurigaan ia menemani Tio Bu ki terus di dalam kamarnya. Hanya satu kali ia kembali ke kamarnya yaitu ketika mengawasi si anjing kecil membuang tempolong ludah.

Mimpipun Tio Bu ki pasti tak akan menyangka kalau si anjing kecil telah dibeli oleh pihaknya.

Bila seseorang merasa tak puas dengan kehidupan sendiri, kau pasti mempunyai kesempatan untuk membelinya.

Ini teori dari Tong Koat.

Sekarang Tong Giok percaya Huan Im san tentu akan “membunuhnya untuk membungkam mulut”, tapi merekapun tak akan turun tangan lebih dahulu untuk menghadapi Ting Bau.

Sudah dapat dipastikan, secara diam-diam Tio Bu ki tentu sedang mengawasi gerak-gerik mereka.

Oleh sebab itu, yang menjadi persoalan bagi mereka sekarang adalah bagaimana caranya untuk memancing Ting Bau agar ia turun tangan lebih dahulu.

Asal Ting Bau sudah turun tangan lebih dahulu, berarti dia adalah seorang penghianat, bagaimanapun dia menyangkal atau membantah juga sama sekali tak ada gunanya.

Sekalipun mereka tidak membunuhnya, Tio Bu ki tak akan mengampuninya dengan begitu saja.

Tong Giok mulai tersenyum.

Ia sudah mempunyai cara yang bagus untuk memaksa Ting Bau turun tangan lebih dahulu.

Untuk melindungi “orang yang sangat penting ini”, Ting Bau serta Huan Im san juga mengikuti datang ke sana.

Ting Bau bukan seorang penghianat.

Ting Bau pasti sudah mulai menaruh curiga kepada Huan Im san. Jika orang “yang sangat penting sekali” ini mempunyai hubungan dengan Huan Im san, nama yang ia serahkan kepada Tio Bu ki tentu saja bukan nama si penghianat yang sebenarnya.

Kalau nama yang dia serahkan adalah Ting Bau, Ting Bau sendiripun tak akan sanggup menyangkal.

Tentu saja Ting Bau juga akan berpikir sampai ke situ, maka asal dia menjumpai kalau antara “orang yang sangat penting” ini mempunyai gerak-gerik yang kurang beres dengan Huan Im san, dia pasti akan turun tangan lebih dahulu.

Walaupun hubungan antara persoalan-persoalan ini tampaknya sangat kalut, padahal sama mudahnya seperti “satu tambah satu adalah dua”.

Oleh sebab itu tiba-tiba Tong Giok berlega hati.

Langit amat jernih, sinar matahari cahayanya menerangi seluruh jagat.

Mungkin Ting Bau mempunyai banyak sekali penyakit lain yang kurang baik, tapi sepasang matanya sama sekali tak berpenyakit, apalagi dalam cuaca yang begini cerah. Jantan atau betinanya burung gereja yang satu li jauhnya di depan sanapun masih sanggup ia bedakan dengan nyata.

Mungkin ia terlalu mengibul dengan kehebatannya itu, tapi senyuman Tong Giok bagaimanapun pasti dapat dia lihat dengan jelas.

Sewaktu berpaling, ia jumpai Huan Im san juga sedang tertawa, maka tak tahan dia lantas menegur:

“Kau kenal dengan orang itu?”. Huan Im san segera menggeleng.

“Tapi aku rasa ia seperti kenal kau?”, kata Ting Bau.

Huan Im san masih tertawa, walaupun tidak mengakui ternyata diapun tidak berusaha untuk menyangkal.

Ia sedikitpun tidak merasa takut bila hubungan rahasia mereka sampai ketahuan Ting Bau, karena dia sebenarnya memang sedang memancing Ting Bau untuk turun tangan lebih dahulu.

Sungguh diluar dugaan, ternyata serangan yang dilancarkan Ting Bau jauh lebih cepat dari dugaannya. Belum lagi senyuman itu lenyap dari ujung bibirnya, ujung telapak tangan Ting Bau telah memenggal di atas nadi besar di belakang tengkuknya sebelah kiri.

Baru saja tangan kiri Tong Giok yang membawa Tan pi dan ayam goreng, hendak menggantungkan kedua bungkusan itu di atas dahan pohon, Huan Im san telah roboh.

Dia tahu Ting Bau telah turun tangan, tapi dia tidak menyangka kalau Huan Im san bakal dirobohkan oleh Ting Bau hanya dalam sekali gebrakan saja.

Bukan saja serangan itu dilancarkan dengan cepat dan sangat tepat, yang lebih menakutkan lagi, sebelum melancarkan serangan, ia sama sekali tidak memperlihatkan sedikit gejala atau tanda apapun.

Setelah mengambil keputusan untuk melancarkan serangan diapun tidak bertindak kepalang tanggung, ia sama sekali tidak sangsi, bahkan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk melakukan persiapan.

Tiba-tiba Tong Giok menemukan kalau dahulu ia terlalu menilai rendah orang ini, dalam kenyataan, ternyata orang ini jauh lebih berbahaya daripada apa yang dibayangkan orang lain.

Ternyata Ting Bau sama sekali tidak menubruk datang, dia masih berdiri tegak di tempat kejauhan dan mengawasinya dengan sepasang mata elangnya yang tajam.

Pelan-pelan Tong Giok menggantungkan Tan pi dan ayam goreng itu ke atas dahan pohon kemudian dia baru berpaling sambil menegur.

“Kau adalah To pit sin eng (Elang sakti berlengan tunggal)!”. “Yaa, akulah orangnya”.

“Kau tahu siapakah aku?’. “Aku tahu !”.

“Kau juga tahu kalau aku mempunyai semacam barang hendak diserahkan kepada Tio Bu ki?’.

“Aku tahu!”.

“Kau tak ingin membiarkan aku untuk menyerahkannya kepada dia?”. “Aku tak ingin!”.

“Kau ingin membunuh aku untuk membungkam mulutku?”. Kali ini Ting Bau tidak menjawab, namun diapun tidak bermaksud menyangkal.

Tong Giok menghela napas panjang, dia membanting bungkusan Tang kwe dan daging sapi itu keras-keras ke tanah, kemudian berseru:

“Kalau mau turun tangan, hayo cepatlah lakukan”.

“Kenapa kau tidak turun tangan?” ejek Ting Bau sambil tertawa dingin,”kalau toh kau adalah orang dari keluarga Tong, kenapa kau belum juga mengeluarkan senjata rahasia andalan kalian?”.

Sekarang Tong Giok mengerti,

Kiranya Ting Bau tak berani mendekatinya karena dia takut dengan senjata rahasia andalannya kalau memang orang “yang penting sekali” ini datang dari keluarga Tong,

sudah barang tentu dia membawa pula senjata rahasia andalan dari keluarga Tong.

Sesungguhnya Tong Giok memang datang dari keluarga Tong, sebenarnya diapun membawa senjata rahasia andalan keluarga Tong.

Andaikata dia mengeluarkan senjata rahasianya untuk menyerang, sekalipun ada sepuluh Ting Bau akhirnya orang itu juga akan mampus dengan badan hancur lebur tak berwujud lagi.

Sayang ia tak dapat mengeluarkan senjata rahasia andalannya itu.

Sebab ia telah melihat Tio Bu ki muncul dari tempat persembunyiannya......

Tio Bu ki munculkan diri dari belakang sebatang pohon waru yang besar dan kekar, kini ia sudah menghampiri Ting Bau.

Gerakan tubuhnya tak bisa dibilang sangat berhati-hati dan sama sekali tidak menimbulkan suara yang bisa membuat Ting Bau waspada.

Waktu itu, segenap perhatian Ting Bau telah ditujukan ke atas tubuh Tong Giok.

Berhadapan dengan seorang yang mungkin sekali di sakunya menggembol senjata rahasia andalan keluarga Tong, siapapun di dunia ini tak ada yang berani kelewat gegabah.

Tiba-tiba Tong Giok menghela napas panjang. “Aaai ! sayang”

“Kenapa sayang?” tanya Ting Bau.