Harimau Kemala Putih Jilid 19

Jilid 19  

Ia belum sampai turun tangan, karena ia belum mempunyai keyakinan untuk berhasil dengan serangannya.

Bukan saja ilmu silat yang dimiliki Tio Bu ki sangat lihay, reaksinya juga sangat cepat, lagi pula tidak terlalu bodoh, untuk menghadapi manusia semacam ini, ia tak boleh teledor barang sedikitpun juga, ia tak boleh membuat kesalahan walau hanya sedikitpun juga.

Karena manusia semacam ini tak akan menyediakan kesempatan baik untuk kedua kalinya kepadanya.

Oleh sebab itu kau harus menunggu sampai saat dimana kau merasa amat yakin bahwa seranganmu itu pasti akan mendatangkan hasil baru melancarkan serangannya.

Tong Giok sedikitpun tidak merasa geli. ia percaya kesempatan semacam itu pasti akan muncul setiap saat, diapun percaya dugaannya pasti tak bakal salah.

Ia tidak bermaksud memandang rendah kemampuan Tio Bu Ki.

Sejak terjadinya peristiwa di hutan Say-cu lim dalam rumah makan Hoa gwat-sian, tentu saja diapun dapat mengetahui manusia macam apakah Tio Bu ki itu.

Tentu saja iapun tak akan memandang rendah diri sendiri.

Rencananya kali ini dapat berlangsung dengan begitu lancar, tampaknya hal tersebut dikarenakan nasibnya yang sedang mujur, oleh sebab itu baru dijumpainya kesempatan yang baik dan Tio bu ki masuk ke dalam perangkap sendiri.

Tapi ia tak pernah beranggapan keberhasilannya selama ini tergantung pada kemujuran nasibnya. Ia beranggapan bahwa istilah “nasib yang mujur” sama artinya dengan “dapat memanfaatkan kesempatan yang ada”.

Bila seseorang dapat memanfaatkan kesempatan yang ada, maka dia pastilah seseorang yang bernasib sangat baik!

Ia memang tak pernah melepaskan setiap kesempatan yang ada.

Operasi yang diadakan di Hoa gwat-sian tempo hari telah mengalami kegagalan total, bahkan kekalahan yang dialaminya terlampau tragis.

Tapi dengan cepat ia dapat memanfaatkan kembali kesempatan yang ada, ia telah menghianati Oh Po-cu, oleh sebab itu ia baru mempunyai kesempatan untuk bersahabat dengan Tio Bu-ki, sebab itu ia baru bisa mendapat kepercayaan dari Tio Bu-ki dan bersedia mengikat tali persahabatan dengannya.

Berbicara baginya, menghianati seseorang hakekatnya sama gampangnya dengan makan sepotong tahu, apakah dapat memanfaatkan kesempatan yang ada, itu baru paling penting.

Asal bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, iapun merasa tak sayang untuk menghianati bapaknya sendiri sekalipun.

Sebab di situlah terletak kunci dari dunia keberhasilan atau kegagalan dari suatu usaha.

Ia percaya pada hari itu pasti tak akan ada orang yang menaruh curiga bahwa dia sekomplotan dengan Oh Po cu, lebih tak mungkin lagi kalau dialah Tong Giok.

Jika ada orang yang menganggap hal ini merupakan kemujurannya, maka kemujuran inipun atas hasil ciptaannya sendiri.

Terhadap diri sendiri ia merasa puas sekali.

Kuda yang ditunggangi Bu ki tentu saja seekor kuda yang termasuk dalam predikat Cian tiong sian it.

Arti dari Cian tiong sian it adalah di antara seribu ekor kuda jempolan yang tersedia, paling banter hanya bisa terpilih seekor kuda semacam itu.

Dalam istal kuda di markas besar perkumpulan Tay hong tong, terbagi pula tingkatan- tingkatan “atas menengah dan bawah” tiga buah tingkatan seperti dalam rumah pelacuran di kebanyakan kota. Perempuan-perempuan dari rumah pelacuran tingkat atas tak mungkin bisa “ditunggangi” oleh orang-orang biasa.

Kuda dalam istal kuda tingkat ataspun demikian juga.

Anak murid perkumpulan Tay hong tong jangan harap bisa menunggangi kuda dari “istal tingkat atas” bila tiada urusan yang maha penting atau tugas yang sangat berbahaya.

Bu ki bukan manusia sembarangan.

Bu ki adalah putra tunggal dari Tio Kian, Tio Jiya, sedangkan Tio jiya adalah pendiri dari perkumpulan Tay hong tong, juga merupakan tonggak dari Tay hong tong.

Seandainya tiada Tio jiya kemungkinan besar perkumpulan Tay hong tong sudah akan ambruk sedari dulu, kalau tiada Tio jiya mungkin di dunia ini tak akan ada perkumpulan yang bernama Tay hong tong.

Mungkin Bu ki masih belum memahami bagaimana caranya memilih teman, tapi terhadap kuda ia selalu mempunyai pengetahuan yang luas, diapun memiliki ketajaman mata yang melebihi siapapun.

Caranya memilih seekor kuda bahkan jauh lebih jitu daripada seorang hidung belang yang berpengalaman dalam memilih lonte.

Kuda ini adalah salah seekor kuda pilihan yang berhasil ditemukannya dari tiga puluh dua ekor kuda Cian tiong sian it yang tersedia.

Tong Giok juga tahu kalau kuda ini adalah seekor kuda pilihan, tapi yang menarik seleranya bukan kuda jempolan tersebut.

Agaknya ia lebih tertarik dengan kulit pelana yang berada di punggung kuda tersebut.

Itulah sebuah pelana yang terbuat dari kulit kerbau, potongannya amat indah dan rapi jahitannya juga rumit dan rapat. Andaikata tidak diperhatikan secara cermat, rasanya memang tidak gampang untuk menjumpai jahitan pada pelana tersebut.

Tapi pelana kuda macam apapun tentu akan dijahit pinggirannya dengan bahan yang kuat, kemudian menggunakan lilin yang telah digosok mengkilap untuk menutupi bekas jahitan itu agar orang tak dapat menjumpai bekas bekas jahitan dan pakunya.

Mendengar Tio Bu ki yang duduk di atas pelana kudanya itu, mendadak tong Giok teringat akan suatu kejadian yang amat menarik hati. Seandainya tukang kulit yang membuat pelana itu ketika sedang menjahit telah mematahkan sebatang jarum karena kurang hati-hati.

Jika ia kurang cermat dan tidak mengeluarkan jarum yang putus di dalam pelana itu kemudian telah menggosokkan lilin di atasnya sehingga tidak tampak dari luar.

Seandainya pada suatu hari, kutungan jarum itu tiba-tiba muncul dari balik pelana. Seandainya waktu itu secara kebetulan ada orang yang duduk di atas pelana tersebut.

Seandainya kebetulan waktu itu musim panas sehingga pelana yang digunakan tidak terlalu tebal.

Maka kutungan jarum yang sedang menongol keluar itu tentu akan melubangi celananya dan melukai tubuhnya.

Ternyata jarum memang bukan suatu kejadian yang serius, mungkin ia tak akan merasa sakit, sekalipun andaikata sakit, rasanya juga tak seberapa.

Tapi andaikata secara kebetulan ujung jarum itu mengandung racun bahkan kebetulan pula jarum tersebut telah diolesi racun keji dari keluarga Tong, maka orang yang duduk di atas pelana itu pasti akan merasa gatal-gatal di sekitar mulut luka bekas tusukan jarum tersebut. Setelah melakukan perjalanan sekian waktu, dia pasti akan mulai menggaruk garuk mulut luka tadi.

Jika ia sudah mulai menggaruk, maka dua tiga ratus langkah lagi orang sedang naas itu tentu akan terjungkal dari atas kudanya tanpa diketahui sebab musababnya, bahkan orang itu akan mati begitu saja.

Lebih kebetulan lagi seandainya orang yang sedang naas itu adalah Tio Bu ki. Tong Giok mulai tertawa.

Semua andaikata yang terbayang dalam benaknya bukan tak mungkin bisa terjadi, sekalipun jarum si tukang kulit tidak kebetulan putus. Tong giok juga bisa menyusupkan sebatang kutungan jarum di atas pelana tersebut, karena hal itu bukan perbuatan yang terlalu sulit.

Tong Giok benar benar tak tahan untuk tertawa, sebab ia merasa jalan pemikirannya benar benar terlalu menarik hati.

Tiba tiba Bu ki berpaling dan memandang kepadanya, kemudian menegur: “Apa yang sedang kau tertawakan?” “Aku teringat akan sesuatu lelucon!” jawab Tong Giok “Lelucon apa?”

“Lelucon tentang seorang tolol!” “Bersediakah kau menceritakan kepadaku?” “Tidak bisa”

“Kenapa?”

“Karena lelucon itu benar benar terlalu menggelikan, ketika kuceritakan kepada orang tempo hari, orang itu tertawa terbahak bahak samapai perutnya pecah dan muncul sebuah lubang besar, lubang yang besar sekali”

Bu ki ikut tertawa.

“Benarkah ada orang yang bisa tertawa sampai bisa pecah perutnya?” ia bertanya. “Hanya manusia macam dia yang bisa!”

“Manusia macam apakah dia?” “Diapun seorang yang tolol”

Setelah berhenti sebentar ia menambahkan:

“Hanya orang tolol baru suka mendengarkan lelucon tentang orang tolol, dan hanya orang tolol juga baru suka menceritakan lelucon tentang orang tolol”

Tong Giok masih tertawa, tapi Bu ki sudah tak mampu tertawa lagi.

Seorang tolol mendengarkan seorang tolol lain yang menceritakan tentang “lelucon seorang tolol”

Persoalan semacam ini sebenarnya memang sebuah lelucon.

Tapi seandainya kau memikirkannya kembali dengan seksama, maka kau akan merasa bahwa lelucon itu bukan saja mengandung sindiran, bahkan penuh mengandung kesedihan.

Semacam kesedihan yang dirasakan oleh setiap manusia. Semacam kesedihan yang bernada apa boleh buat. Jika kau mau memikirkannya secara cermat, bukan saja kau tak bisa tertawa, mungkin ingin menangispun tak bisa.

“Itu mah bukan lelucon namanya!” kata Bu ki. “Memang bukan!” Tong Giok membenarkan. “Aku masih ingin mendengarkan leluconmu itu” “Baik, aku akan bercerita kembali” kata Tong Giok Setelah berpikir sejenak, ia baru bercerita.

“Dulu ada seorang tolol membawa seorang nona yang cantik jelita berjalan-jalan di sebuah jalan raya, tiba tiba nona itu terpeleset dan jatuh terlentang di atas tanah”

“Selanjutnya?”

“Selanjutnya sudah tak ada lagi” “Inikah leluconmu?”

“Ya, benar!”

“Leluconmu ini tidak menggelikan”

“Jika kau melihat seorang nona yang berdandan sangat cantik berjalan jalan dengan seorang tolol, si tolol tidak terpeleset, si nona malah jatuh terjengkang masakah waktu itu kau tidak merasa geli?”

“Seandainya aku menyaksikan sendiri kejadian tersebut mungkin saja aku akan ikut tertawa geli”

“Semua cerita leluconku sama semua nadanya, meskipun kedengarannya tidak menggelikan, tapi seandainya benar benar ada orang melakukan lelucon itu, maka orang pasti tertawa terbahak bahak karena geli”

Ia sudah mulai tertawa, tertawa dengan riangnya:

“Waktu itu siapa tahu perutmu benar benar akan muncul lubangnya karena geli, mungkin juga hanya sebuah lubang yang kecil sekali”

“Tak perduli lubangnya besar atau kecil, yang penting kedua duanya tetap berupa lubang” “Tepat sekali” Tong Giok tertawa.

........... Malam semakin gelap.

Setelah membicarakan soal “lelucon orang tolol” dengan Tio Bu ki dalam perjalanan sore tadi, hingga kini Tong Giok masih merasa sangat riang dan gembira.

Bila sang kucing berhasil menangkap tikus, dia tak akan segera menelannya.

Tong Giok mempunyai banyak hal yang sama seperti seekor kucing. Sekarang Tio Bu ki ibaratnya seekor tikus yang sudah terjatuh ke dalam cengkeramannya, diapun hendak mempermainkan tikus itu sepuasnya sebelum akhirnya ditelan.

Kejadian seperti ini baru terhitung kejadian yang paling menggembirakan hatinya.

...........

Rumah penginapan ini adalah sebuah rumah penginapan yang terhitung lumayan, setiap daun jendela dari kamar kamar tamunya berada dalam keadaan rapat, di atas jendela tak akan dijumpai sebuah lubang sekecil jarumpun.

Tio Bu ki yang berada dalam kamar sebelah sudah lama tak kedengaran suaranya lagi, agaknya ia telah tertidur.

Tong Giok bangun terduduk, dari kepalanya ia meloloskan sebatang tusuk konde emas. Kemudian dari saku kecil pakaian dalamnya ia mengeluarakan sebuah kantong uang yang bersulamkan sekuntum bunga.

Sekarang dia masih mengenakan gaun berwarna merah dan berdandan sebagai seorang perempuan, kedua macam benda itu merupakan benda yang seringkali dibawa dalam tubuh seorang nona, sehingga siapapun tak akan menaruh curiga sampai ke situ.

Tapi setiap malam tiba, ketika suasana telah hening dan semua orang sudah tertidur lelap, dia selalu akan mengeluarkan kedua macam benda itu dan diperiksanya dengan seksama, bahkan jauh lebih berhati hati daripada seorang hartawan sedang menghitung rekeningnya.

Setiap kali sebelum melakukan perbuatan itu, dia selalu akan menutupi pintu dan jendela rapat rapat, mencuci tangannya dengan air hangat dan menyeka tangannya dengan selembar kain putih yang bersih.

Setelah itu dia baru duduk di bawah lentera mencabut keluar tusuk konde itu dan menggunakan dua jari tangannya yang lembut dan panjang untuk memegang ujung tusuk konde serta memutarnya dengan pelan. Ternyata bagian tengah dari tusuk konde itu kosong, isinya adalah semacam bubuk halus berwarna keemas-emasan, inilah Tong hun sah (pasir pemutus nyawa) yang amat tersohor dari keluarga Tong, bubuknya lembut dan halus tapi beratnya luar biasa sekali.

Makin kecil bentuk senjata rahasia tersebut, makin susah orang untuk menghindarinya, makin berat bobotnya semakin jauh pula daya timpuknya.....

Tak bisa disangkal lagi, senjata rahasia yang dipergunakan ini adalah senjata rahasia pilihan dari keluarga Tong.

Kepala tusuk konde itupun kosong, di dalamnya berisikan semacam lilin yang bening dan tanpa warna, bila bertemu angin lantas mengering.

Asal kepala tusuk konde itu diremasnya sampai hancur,maka lilin itu akan mengalir di tangannya dan melindungi telapak tangannya.

Selamanya dia paling tidak suka menirukan cara cara saudara yang lain dengan menggembol senjata rahasianya di dalam sebuah kantong kulit yang tergantung di pinggangnya, cara semacam itu seakan akan takut kalau orang lain tidak tahu bila mereka adalah murid dari keluarga Tong.......

Iapun paling tak suka menggunakan sarung tangan kulit menjangan yang tebal lagi berat itu.

Ia beranggapan bahwa melepaskan senjata rahasia dengan mengenakan sarung tangan, seperti halnya seorang laki laki meraba tubuh gadis bugil dengan sarung tangan.

Bukan saja tangannya tak akan merasakan apa-apa, tidak menarik pula.

Persoalan semacam ini ia enggan untuk merayakannya. Isi Kantong uang itu adalah segulung tali emas, sebungkus jarum, dua biji mata uang yang bertuliskan Kit-siong Ji-gi dan sebiji batu kristal yang memantulkan sinar.

Gulungan benang itu terbuat dari rantai emas murni yang tipis dan kuat, bahkan setiap saat bisa dipergunakan untuk mematahkan tengkuk orang, lagi pula kuat untuk menggantung seseorang di pohon, seandainya ia terkurung dalam sebuah tebing yang curam diapun bisa menggelantung pada rantai emas tanpa kuatir tali itu putus di tengah jalan.

Batu kristal tersebut adalah semacam batu mustika yang disebut Kim kong sik, konon dibandingkan dengan batu kumala yang paling bersih pun nilainya lebih tinggi, benda itu bisa digunakan untuk membeli manusia yang tidak serakahpun untuk berpihak kepadanya.  Ada uang bisa membuat setan menggiling tahu, bilamana keadaan memerlukan, batu kristal tersebut mungkin bisa digunakan untuk menyelamatkan jiwanya.

Sayang orang yang tahu soal mutu barang tidak terlalu banyak, nilai dari benda tersebut belum tentu bisa diketahui oleh setiap orang.

Oleh karena itu dia membawa pula dua biji mata uang emas sebagai persiapan.

Setiap benda, setiap persoalan dan setiap keadaan hampir seluruhnya telah dipersiapkan dengan cermat.

*****

KOCEK atau kantong uang itu terbuat dari kain sutera halus, di permukaan depan maupun belakang masing masing bersulamkan sekuntum bunga botan dan daunnya terbuat dari benang emas dan mutiara.

Putik bunganya ternyata bisa bergerak, setiap saat benda itu dipetik.

Tiba tiba sekulum senyuman bangga yang misterius tersungging di ujung bibir Tong Giok, inti bunga dari kedua kuntum bunga botan itulah terletak rahasia yang sesungguhnya, di sanalah terdapat senjata rahasia yang paling dibanggakan olehnya.

Daya kekuatan dari senjata rahasia tersebut bukan saja belum pernah disaksikan oleh orang orang persilatan, bahkan mimpipun tak pernah mengiranya.

Sekalipun Tio Bu ki berhasil mengungkap rahasia asal usulnya dengan mengandalkan kedua biji senjata rahasia tersebut, diapun bisa membuat tubuh Tio Bu ki hancur lebur berkeping keping sehingga mati tanpa tempat kubur.

Cuma saja apabila belum tiba saat yang diperlukan, dia takkan menggunakan kedua macam senjata rahasia tersebut.

Sebab hingga sekarang, mereka belum berhasil menguasai sepenuhnya rahasia pembuatan senjata rahasia macam itu.

Modal yang telah mereka tanamkan didalam pembuatan senjata rahasia tersebut, jumlahnya sudah luar biasa mengejutkan. Bahkan telah mengorbankan pula nyawa dari tujuh delapan orang ahli, malah seorang ahli mereka yang paling hebat dan secara khusus diserahi tanggung jawab oleh keluarga Tong untuk pembuatan senjata rahasia tersebut nyaris tewas pula oleh senjata tersebut. Hingga ia meninggalkan benteng keluarga Tong, senjata rahasia semacam itu seluruhnya baru berhasil diproduksi sebanyak tiga puluh delapan batang, setelah dilakukan percobaan, ternyata yang terjamin bisa digunakan secara menakjubkan hanya dua puluh biji.

Menurut perhitungan mereka sendiri, nilai dari setiap benda tersebut bisa mencapai seribu tahil emas lebih.

Untung saja kepercayaan mereka terhadap senjata rahasia macam itu lambat laun sudah mulai dapat dikendalikan, tehnik pembutan mereka pun makin lama berubah semakin tinggi dan hebat.

Menanti mereka bisa memproduksi senjata rahasia tersebut dalam jumlah yang banyak, pada saat itulah Tay hong tong akan hancur musnah untuk selama lamanya dari muka bumi.

Terhadap hal itu ia mempunyai rasa percaya yang tinggi.

*****

Sekarang Tong Giok telah memeriksa setiap benda itu sekali, setiap macam benda tersebut masih tetap utuh sempurna seperti sedia kala.

Ketika ia merasa amat puas, diambilnya selelehen lilin dari tempat lilin dan dipoleskan pada ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah tangan kanannya, setelah itu dengan menggunakan tiga buah jari tangannya ia mencabut keluar sebatang jarum dari dalam kantongnya.

Jarum itu bentuknya tidak jauh berbeda dengan jarum jarum biasa, tapi bahkan dia sendiripun tak berani menyentuhnya secara sembarangan.

Ia harus memoleskan lilin untuk menutupi pori pori kulit badannya terlebih dahulu sebelum memegang, kalau tidak walupun kulitnya tidak terluka, hawa beracun bisa meresap masuk melalui pori pori di atas badannya, itu berarti ketiga jari tangannya harus dipotong untuk menghindarkan dari keracunan berat.

Oleh karena si tukang kulit yang diharapkan bisa meninggalkan kutungan jarum pada pelana tersebut, ternyata tidak melakukannya, Tong Giok bertekad hendak membantu pekerjaannya. Meskipun rencana ini tidak terhitung sangat bagus, pun belum tentu mendatangkan hasil seperti yang diinginkan, tapi rencana itu mempunyai sedikit kebaikannya sekalipun tidak

berhasil, Tio Bu ki juga tak akan menaruh curiga kepadanya.

Karena setiap orang bisa ngeloyor masuk ke istal kuda di tengah malam buta, siapapun bisa pula menancapkan sebatang jarum di atas pelana kudanya kemudian menutup bekas jarum itu dengan lilin. Pekerjaan semacam ini bisa dilakukan setiap musuh Tio Bu ki yang macam apapun. Padahal musuhnya tidak terhitung sedikit, mana mungkin dia akan mencurigai sahabatnya sendiri.

Apalagi “sahabat”nya ini pernah membantunya untuk menangkap seorang musuh yang sudah hampir berhasil melarikan diri.

Bahkan Tong Giok telah memikirkan pula keadaan yang paling buruk.

Sekalipun Tio Bu ki menaruh curiga kepadanya, diapun mempunyai alasan yang sangat baik untuk membantah.

“Setiap hari aku berada bersamamu, andaikata aku ingin mencelakaimu, setiap saat setiap waktu aku bisa mencari kesempatan untuk melakukannya kenapa aku harus mempergunakan cara ini? Toh cara ini tak bisa dibilang merupakan cara yang terbaik?”

Alasan semacam itu walaupun diucapkan kepada siapapun sudah lebih dari cukup, apa yang dipikirkan Tong Giok memang benar benar amat sempurna.

Setiap masalah, setiap keadaan dan setiap bagian selau dipikirkannya dengan cermat, hanya ada satu hal yang tak pernah diduga olehnya.

Ia tidak menyangka kalau masih ada seekor domba lain yang bersikeras menghantarkan diri ke mulut harimau.

Setelah mempunyai rencana yang cukup cermat sewaktu dikerjakan ternyata tak terlalu sulit.

Kemanapun kau berada, istal kuda dari setiap rumah penginapan tak mungkin merupakan sebuah tempat yang ketat penjagaannya.

Istal kuda Tio Bu ki seperti halnya pula dengan istal istal lain, letaknya hanya berada di suatu sudut ruangan bagian belakang.

Berbicara buat manusia seperti Tong Giok, melakukan pekerjaan ini hakekatnya jauh lebih mudah daripada makan sawi hijau.

Malam sudah semakin kelam.

“Sebelum malam tiba mencari penginapan, setelah ayam berkokok berada di perjalanan”, tentu saja para tamu dalam rumah penginapan itu sudah pada tidur.

Ketika Tong Giok berjalan kembali dari istal, ternyata ia masih mempunyai kegembiraan untuk meikmati keindahan malam di bulan keempat yang sejuk ini.

Rembulan hampir purnama, bintang bertaburan di angkasa, udara malam sungguh indah menawan, tiba tiba ia merasa seperti ada keinginan untuk membuat syair. Semacam syair yang sesungguhnya bertolak belakang dengan rencananya untuk membunuh orang.

Tapi menunggu ia balik kembali ke halaman di luar kamar tidurnya perasaannya telah berubah menjadi hawa pembunuhan!

*****

DALAM kamar ada lampu.

Padahal sewaktu meninggalkan kamarnya tadi, lentera telah dipadamkan, pekerjaan semacam ini tak pernah dilakukannya dengan teledor, tak mungkin ia lupa untuk memadamkan lentera.

Lalu siapakah yang telah memasang lampu di dalam kamarnya?

Di tengah malam buta begini, siapakah yang telah berkunjung ke dalam kamarnya?

Seandainya orang ini adalah musuh besarnya mengapa ia memasang lentera sehingga meningkatkan kewaspadaannya?

Jangan jangan orang ini adalah sahabatnya?

Di sini dia hanya mempunyai seorang “teman” dan hanya temannya ini yang tahu dia berada dimana.

Ditengah malam buta begini, kenapa Tio Bu ki berkunjung ke kamarnya? Apakah dia telah menaruh curiga kepadanya?

Langkah kakinya tidak berhenti, bahkan sengaja memberatkan langkah kakinya agar orang yang berada di dalam kamar bisa mendengarnya dengan jelas.....

Oleh sebab itu diapun segera mendengar ada seseorang menjawab dari dalam kamar: “Ditengah malam buta begini, kau telah pergi ke kamarnya?”

Suara itu bukan suara Bu ki.

Tong Giok segera dapat mendengar suara siapakah itu, tapi ia benar benar tidak menyangka kalu orang itu bisa datang kemari.

.................. Siapapun tidak menyangka kalau Lian It lian bisa datang ke situ, lebih tidak mengira kalau bukan Tio Bu ki yang dicari, sebaliknya malah datang menjumpai Tong Giok.

Tapi apa mau dibilang ia telah datang, apa mau dibilang justru ia berada dalam kamar Tong Giok.

Melihat si nona bercelana merah itu masuk kamar, ia mulai menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.

“Di tengah malam buta begini, mau apa seorang nona pergi keluyuran di tempat luaran? Apakah tidak takut diperkosa orang?”

Sewaktu mengucapkan kata “diperkosa”, ternyata wajahnya tidak memerah, dia benar benar merasa bangga sekali.

Kulit mukanya benar benar lebih tebalan, lebih tuaan pula.

Sayang di bagian yang lain masih terlalu halus, bukan saja ia masih mengira orang lain tak tahu kalau dia adalah perempuan menyaru lelaki, diapun tak tahu orang lain seorang lelaki atau perempuan?

Ia masih percaya kalau nona bercelana merah ini benar benar adalah seorang nona. Tong Giok tertawa.

Wajahnya sewaktu tertawa, seperti seekor harimau menyaksikan seekor domba yang sedang mengantarkan diri ke mulutnya.

*****

PENGALAMAN ANEH

Senyuman Tong Giok lembut tapi genit, membawa pula tiga bagian rasa kemalu maluan, entah apapula yang sedang dipikirkan dalam hatinya, sewaktu tertawa wajahnya selalu demikian.

Senyuman secamam ini entah telah mencelakai berapa banyak orang. Lian It lian kembali menghela napas, katanya:

“Sungguh beruntung kau dapat kembali dengan aman dan selamat, kalau tidak sungguh membuat orang hampir mati karena cemas”

“Siapa yang hampir mati karena cemas?” tanya Tong Giok. “Tentu saja aku!” jawab Lian It lian sambil menuding hidung sendiri.

“Apa yang kau gelisahkan?” tanya TOng Giok dengan senyum manis dikulum.

“Kenapa aku tidak gelisah? Apakah kau tidak melihat betapa kuatirku atas keselamatanmu?”

Ternyata wajah Tong Giok berubah agak memerah, padahal dalam hatinya merasa geli sekali, saking gelinya sehingga hampir pecah perutnya.

........Ternyata budak cilik ini hendak mempergunakan SI-lam-ki (siasat lelaki tampan) untuk merayu aku, seorang gadis suci dari keluarga baik baik.

Tong Giok tak tahan untuk tertawa, sambil menundukkan kepalanya ia bertanya. “Apakah kau melihat suko ku?”

Dengan cepat Lian It lian gelengkan kepalanya.

“Aku sama sekali tidak mencarinya, aku secara khusus datang kemari untuk menjenguk dirimu”

Kepala Tong Giok tertunduk semakin rendah. “Menjenguk aku? Apanya yang menarik dari aku?

“Aku sendiri tidak tahu apa yang menarik darimu, aku hanya merasa tak tahan untuk datang menjengukmu, keinginanku ini boleh dibilang sudah mendekati gila”

Tong Giok semakin merasa malu, perkataannya semakin berani, nyalinya juga makin lama makin besar.

Ternyata ia mulai menarik tangan Tong Giok.

........Kalau toh semua orang adalah perempuan apa salahnya untuk menarik narik tangannya? Tentu saja ia tak ambil peduli.

Tong Giok lebih lebih tak ambil peduli .

Walaupun ia masih belum tahu apa yang sedang dipikirkan budak tersebut di dalam hatinya, tapi entah apapun yang sedang dipikirkan olehnya, dia tak akan ambil peduli.

Bagaimanapun yang bakal rugi bukan dia. Sekalipun dia hanya berniat untuk menggoda nona bercelana merah ini saja, yang bakal rugi kali ini tetap dia.

Menyaksikan rasa “malu” dari Tong Giok hampir saja Lian It lian meledak perutnya saking geli.

...........Agaknya nona ini sudah mulai tertarik kepadaku, kalau tidak kenapa ia bersedia digenggam tangannya olehku?

Lian It lian tak tahan untuk tertawa, katanya:

“Bagaimana kalu kita keluar untuk berjalan jalan?” “Ditengah malam buta begini kenapa kita musti keluar?”

“Suko mu tinggal di kamar sebelah, aku tak ingin membiarkan dia tahu kalau aku telah datang”

“Kenapa?”

“Aku kuatir dia merasa cemburu” Tong Giok sudah mulai agak mengerti.

...........Ternyata budak ini sudah tertarik kepada Tio Bu ki, lantaran kuatir kalau aku bermain kasak kusuk dengan Tio Bu ki, maka ia bermaksud merayuku, kalau aku benar benar tertarik kepadanya, tentu saja Tio Bu ki akan kutinggalkan dan ia segera akan memungutnya di tengah jalan.

Walaupun dalam hatinya Tong Giok merasa geli, wajahnya menunjukkan sikap seperti lagi marah, katanya:

“Aku tidak lebih hanya sumoaynya, ia sama sekali tak berhak untuk mengurusi diriku, atas dasar apa dia harus merasa cemburu?”

Senyuman Lian It lian masih tetap ringan.

“Padahal aku juga tahu kalau kau tak akan tertarik kepadanya” dia berkata. “Darimana kau tahu?”

Sambil tertawa jawab Lian It lian: “Bagian mana dariku yang tidak lebih hebat darinya? Mana mungkin kau bisa tertarik kepadanya?

Paras muka Tong Giok berubah menjadi semakin merah lagi. “Bagaimana? Mau ikut aku keluar atau tidak?” tanya Lian It lian.

Dengan wajah memerah Tong Giok menggelengkan kepalanya berulang kali. “Aku takut!”

“Kau takut apa?”

“Takut diperkosa orang!”

“Aku toh selalu mendampingimu, apalagi yang musti kau takutkan?” “Yang kutakuti justru kau!”

Lian It lian kembali tertawa.

Tiba tiba ia “menemukan” bahwa si nona yang kelihatan kemalu maluan ini sesungguhnya adalah siluman rase.

Dia adalah seorang perempuan. Tapi sekarang, bahkan dia sendiripun agaknya mulai tertarik, seorang perempuan bisa tertarik hatinya, apalagi seorang laki-laki?

Bila ada seorang lelaki yang setiap hari selalu berkumpul dengannya, dan tak sampai terpikat baru aneh namanya. Tio Bu-ki adalah seorang laki-laki. Tio Bu-ki setiap hari selalu berada bersamanya.

Lian It-lian mulai bertekad, dia tak akan membiarkan siluman rase manapun berhasil memikat diri Tio Bu-ki. Bila ada orang mengatakan kalau ia tertarik kepada Tio Bu-ki, maka sampai matipun dia tak akan mengakuinya.

Ia berbuat demikian tak lebih karena sikap Tio Bu-ki kepadanya terhitung masih lumayan juga, bahkan telah melepaskannya. Ia tak ingin berhutang budi kepadanya, kebetulan sekarangpun dia tak ada pekerjaan lain, maka sekalian dia akan membantu Tio Bu-ki untuk melakukan pemeriksaan, apakah nona ini adalah seekor siluman rase atau bukan. Si nona yang tanpa berubah wajah dapat membunuh orang ini bukan cuma menakutkan, bahkan sedikit agak mencurigakan.

***** Hal ini adalah perkataannya sendiri. Maka sekalipun ada orang merasa curiga terhadap kata- kata ”kebetulan”, “kebenaran”, “sekalian” dan lain-lainnya, diapun tidak ambil perduli.

Karena semuanya itu dia katakan untuk didengar oleh diri sendiri, asal dirinya merasa puas, itu sudah lebih dari cukup.

Bulan empat yang lembut, hembusan angin yang sejuk…. Dengan lemasnya Tong Giok berbaring di atas tubuhnya, seakan-akan sedikit tenagapun tidak dimilikinya. Dengan bernafsu Lian It-lian memeluk nona itu kencang-kencang, memeluknya dengan hangat dan mesra, bahkan dapat dirasakannya pula debaran jantung nona itu. Agaknya jantung dalam tubuhnya juga berdebar agak keras.

Nona itu seperti akan mendorongnya, tapi tidak mendorong dengan tenaga sungguh-sungguh. “Kau hendak membawaku kemana?”

“Ke suatu tempat yang baik”

“Aku tahu tempat itu bukan suatu tempat yang baik” “Kenapa?”

“Karena kau bukan orang baik”

Lian It-lian sendiripun tak bisa tidak mengakui kalau dirinya tak bisa dihitung sebagai orang baik .

Perbuatannya tak bisa disangkal lagi lebih mendekati seorang penjahat yang berhati kejam. Tapi tempat ini benar-benar adalah sebuah tempat yang baik…. semacam tempat yang biasa ditemukan hanya oleh penjahat semacam dia dengan membawa seorang gadis.

Permukaan tanah berlapiskan rumput nan hijau, keadaan itu tak ubahnya seperti pembaringan, empat penjuru berupa pepohonan dan bunga yang segar, persis menutupi pemandangan sana dari pandangan luar, udaranyapun harum semerbak karena bau bunga yang segar.

Jika seorang anak gadis bersedia diajak seorang lelaki untuk berkunjung ke tempat seperti ini, biasanya hal ini menandakan kalau ia telah bersiap-siap untuk melepaskan kesempatannya untuk melawan.

Lian It-lian sendiripun merasa sangat bangga, katanya: “Berbicara menurut suara hatimu, bagaimanakah pendapatmu tentang tempat ini?”

Dengan wajah merah karena jengah Tong Giok menjawab: “Hanya orang jahat seperti kau, baru bisa menemukan tempat semacam ini….” Lian It-lian segera tertawa. “Aaah…..! Bahkan manusia semacam akupun harus menggunakan waktu yang cukup lama sebelum berhasil mendapatkan tempat semacam ini”

“Apakah kau telah merencanakan kesemuanya ini sejak permulaan dan memang berniat untuk mengajakku datang kemari?” Lian It-lian tidak menyangkal perkataan itu.

Memang kali ini dia telah merencanakan segala sesuatunya dengan sempurna, bahkan apa yang harus dilakukan pada langkah selanjutnya juga telah direncanakan secara terperinci.

Tiba-tiba ia menarik tubuh Tong Giok dan mencium bibir merah dari si nona gadungan itu. Kontan saja Tong Giok merasakan sekujur badannya menjadi lemas.

Sekujur badannya telah berbaring di dalam pelukan si penjahat gadungan, maka mereka berduapun segera menjatuhkan diri ke atas tanah berumput yang empuk bagaikan kasur busa di atas pembaringan itu.

Kalau dibilang Lian It-lian tidak sedikitpun merasa tegang, itu bohong namanya. Bukan saja ia tak pernah memeluk seorang pria, diapun belum pernah memeluk seorang gadis. Napasnya terasa agak memburu, mukanya terasa panas dan tangannya menjadi dingin.

Si nona gadungan itu tertawa cekikikan bersandar dalam pelukannya, ia meletakkan kepalanya di atas dada orang, membuat ia merasa jantungnya berdebar keras. Kalau dibilang siapa yang bajingan, maka si nona gadungan itulah bajingan besar, setelah menjumpai kesempatan sebaik ini, tentu saja dia tak akan melewatkannya dengan begitu saja.

Sebaliknya si bajingan gadungan justru adalah seorang nona tulen, ia benar benar merasakan sekujur badannya menjadi lemas. Bila seorang bajingan ingin membuat seorang nona merasakan sekujur badannya menjadi lemas, maka perbuatan itu bukan suatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan.

Tentu saja dia tahu bagian mana dari tubuh seorang nona yang merupakan bagian yang “mematikan”. Lian It-lian juga sudah tahu sekarang dia harus mengambil suatu tindakan yang tegas. Tangan “nona” tersebut sudah mulai menggerayangi tubuhnya, malah makin lama gerayangannya makin tak sopan.

Walaupun ia tidak takut “dia” menggerayangi bagian tubuhnya yang “mematikan”, tapi ia tak ingin membiarkan “dia” tahu kalau dia adalah seorang lelaki gadungan, seorang lelaki yang tak “bersenjata”.

Tiba-tiba ia turun tangan, dengan mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya, ia mencengkeram jalan darah penting pada tulang persendian lengan Tong Giok. Sekalipun serangannya itu bukan dilakukan dengan ilmu Hun cing cuat kut jiu ( ilmu memisahkan otot merenggangkan tulang), tapi kelihayannya hampir sepadan dengan kepandaian tersebut.

Kali ini Tong Giok benar-benar tak berkutik lagi, ditatapnya lelaki gadungan itu dengan terkejut, kemudian tegurnya: “Mau apa kau?”

Jantung Lian It-lian masih berdebar keras, napasnya masih tersengal-sengal. “Apakah kau benar-benar hendak memperkosa aku?” teriak Tong Giok Lagi.

Setelah mengatur napas sejenak, Lian It-lian berhasil menenangkan kembali hatinya, sambil tertawa ia menggelengkan kepalanya berulang kali. “Kau tidak memperkosa aku, aku sudah merasa sangat gembira, mana berani kuperkosa dirimu!”

“Lantas mengapa kau harus menggunakan cara semacam ini untuk menghadapiku, aku….aku toh tidak mengajakmu”

Lian It-lian segera menghela napas panjang. “Aku juga tahu kalau kau tidak mengajakku, kaupun tak dapat memperkosa diriku, tapi kuharap kau bisa berbuat sedikit agak jujur, karena aku tak ingin seperti nasib Biau jiu jin kut. Tanpa diketahui apa sebabnya tahu-tahu sudah mati di tanganmu”

“Mana mungkin aku akan bersikap demikian terhadapmu? Masa kau tidak tahu kalau aku…aku menaruh perhatian kepadamu?”

Dia seakan-akan merasa sakit hati dan terhina oleh perkataan itu, sehingga setiap saat bisa jadi akan meledak isak tangisnya. Lian It-lian merasa hatinya menjadi lunak kembali, dengan lembut dia berkata: “Jangan kuatir, akupun tak akan berbuat apa-apa kepadamu”

“Sebenarnya kau mau apa?” “Ilmu silat Tio Bu-ki berasal dari ajaran orang tuanya, aku belum pernah mendengar dia punya sumoay, heran, kenapa secara tiba-tiba bisa muncul seorang sumoay seperti kau?”

Tiba-tiba Tong Giok menghela napas panjang, sahutnya: “Kau tampaknya seperti tidak bodoh, kenapa urusan semacam inipun tidak kau pahami?”

“Urusan ini adalah urusan apa?”

“Sumoay itu banyak jenisnya, belum tentu harus belajar dari satu perguruan baru terhitung sumoay”

“Lantas kau adalah sumoay dari jenis yang mana?” “Kenapa kau tidak tanya sendiri kepadanya?” Ia seperti agak marah, terusnya:

“Pokoknya dia sendiri mengakui aku adalah sumoaynya perduli aku adalah sumoay dari jenis yang mana, orang lain lebih baik tak usah turut campur”

Perkataannya memang sangat masuk akal, Lian It lian dibuat tertegun dan tak tahu bagaimana harus menjawab.

Tong Giok kembali menghela napas, katanya lagi:

“Padahal kau tak usah cemburu, antara aku dengan dia sesungguhnya tak ada hubungan apa- apa bahkan menyentuh tangannyapun tak pernah ”

“Oooh, jadi kau mengira aku sedang cemburu?” “Memangnya kau tidak cemburu?”

Lian It lian merasa rada marah.

Bila rahasia hatinya secara tiba-tiba dibongkar orang, biasanya rasa marah memang segera akan timbul.

Sambil menarik muka katanya kemudian,

“Bagaimanapun juga, pokoknya aku merasa asal usulmu sangat mencurigakan, maka dari itu aku ingin ...

“Kau ingin apa?”

“Aku ingin menggeledahmu”

“Baik, geledahlah, kau boleh menggeledah sekujur badanku”

Wajahnya memerah, bibirnya digigit kencang-kencang, seakan-akan ia sudah siap untuk menerima penganiayaan tersebut.

Bila Lian It lian betul-betul adalah seorang lelaki tulen, bila nyalinya agak besaran sedikit dan ia benar-benar menggeledah “sekujur tubuhnya” dari atas sampai ke bawah, maka ia segera akan membuktikan kalau nona itu sesungguhnya adalah seorang nona gadungan.

Sayang seribu kali sayang, Lian It lian terlalu jujur, nyalinya kurang besar, diapun tidak berniat untuk bermain sabun. Itulah sebabnya bagian “mematikan” dari Tong Giok sama sekali tidak digerayangi malah disentuhpun tidak.

Karena itu dia cuma berhasil menggeledah sebuah kocek bersulamkan bunga teratai, sudah barang tentu ia tak akan menduga kegunaan dari kocek itu.

Sesungguhnya kocek bersulamkan bunga teratai itu merupakan senjata yang paling diandalkan dan dibanggakan Tong Giok, sayang jangankan seorang macam Lian It lian, sekalipun jago kawakan yang pengalamannya sepuluh kali lebih hebatpun belum tentu bisa mengetahui rahasia dibalik kocek tersebut.

Sambil menggigit bibir menahan diri, dengan gemas Tong Giok melotot sekejap ke arahnya, kemudian menegur:

“Sudah selesai belum geledahmu?” “Ehmmm!”

“Ehmmm itu apa artinya?”

Padahal ia sendiri juga tahu, “ehmm!” tersebut berarti ia sudah menunjukkan perasaan agak menyesal.

Karena ia memang tidak berhasil menemukan sesuatu benda yang mencurigakan. Sambil tertawa dingin Tong Giok berkata:

“Akupun tahu kalau kau bukan sungguh-sungguh hendak menggeledahku, kau kau cuma

.... cuma ingin menggunakan kesempatan ini untuk mempermainkan aku, mencari alasan untuk menggerayangi tubuhku .... kau cuma ingin mencari keuntungan buat diri sendiri ”

Makin berbicara mukanya semakin merah, seakan-akan air matanya setiap saat bakal meleleh keluar.

Tiba-tiba Lian It lian tertawa.

“Hmm ! Sudah mempermainkan orang, menggerayangi badan orang, sekarang tertawa, tak

kusangka kau masih punya muka untuk tertawa, itu namanya nyengir kuda” seru Tong Giok. “Kau kira aku benar-benar mendapat untung dengan menggerayangi badanmu itu?” “Memangnya tidak?” “Baik akan kuberikan kepadamu”

Seakan-akan ia sudah mengambil suatu keputusan besar dia bertekad hendak menguarkan rahasia pribadinya.

“Aku juga seorang perempuan, mana mungkin aku bisa mendapat keuntungan dari perbuatan itu”

Dengan terkejut Tong Giok memandang ke arahnya, seakan-akan “rahasia” tersebut benar- benar telah mengejutkan hatinya.

Sambil tertawa Lian It lian berkata lagi:

“Aku suka sekali menyaru sebagai laki-laki dan sering kali kulakukan, tak heran kalau kau tidak menyangkanya”

Mendadak tong Giok menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Aku tidak percaya, aku tidak percaya!” serunya, “sampai matipun, aku tetap tidak percaya”

Sekulum senyuman menghiasi wajah Lian It-lian, mukanya berseri-seri, ia seperti merasa sangat bangga dengan perbuatannya itu.

Sampai sekarang dia baru “menemukan” bahwa ilmu menyarunya benar-benar sangat sempurnya.

“Lantas bagaimana baru bisa membuatmu percaya?” tanyanya kemudian sambil tersenyum. “Aku ingin menggerayangi tubuhmu dulu”

Walaupun sedikit merasa rikuh dan mukanya menjadi merah, tapi pikirnya toh sama-sama perempuan, sekalipun badannya akan digerayangi seorang perempuan, agaknya persoalan ini juga bukan suatu persoalan yang terlalu hebat.

Oleh sebab itu, setelah mempertimbangkan sejenak, diapun setuju. “Baiklah, tapi kau hanya boleh meraba pelan-pelan!”

Bahkan dia memegangi tangan Tong Giok dan merabakan ke atas payudaranya, karena ia kuatir tangan orang itu akan menggerayangi pula bagian “mematikannya”.

Tong Giok segera tertawa lebar.

Dengan muka merah padam karena jengah Lian It lian segera melepaskan tangannya. “Sekarang kau sudah tidak marah lagi bukan?”

“Tidak marah lagi!” sambil tertawa Tong Giok gelengkan kepala.

Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya untuk meraba kembali payudara orang. Lian it lian segera menjerit kaget:

“Hey, mau apa kau?”

“Aku ingin merabanya lagi!”

“Aaaah ! Masa kau masih belum percaya kalau aku ini seorang perempuan?”

Tong Giok segera tertawa tergelak.

“Justru karena aku percaya kalau kau adalah seorang perempuan asli, maka aku ingin meraba lagi”

Akhirnya Lian It lian baru merasa kalau gelagat sedikit kurang beres ....

Tiba-tiba ia merasa sorot mata si “nona” itu berubah menjadi aneh sekali, sayang terlalu lambat ia mengetahui akan hal itu.

Secepat sambaran kilat Tong Giok telah mencengkeram jalan darah pada persendian tulang sikunya, lalu sambil tertawa cekikikan katanya:

“Karena walaupun kau adalah seorang lelaki gadungan, kebetulan akupun seorang perempuan gadungan!”

Lian It lian segera menjerit kaget.

“Apakah kau adalah seorang lelaki?” teriaknya. Tong Giok tertawa terbahak-bahak.

“Kalau tidak percaya, kaupun boleh meraba sekujur badanku!” sahutnya nyaring. Lian It lian hampir saja jatuh semaput.

Si nona gede itu ternyata seorang laki-laki. Barusan ia masih memegangi tangan laki-laki itu untuk dirabakan pada payudaranya, malah ia telah memeluknya dan mencium bibirnya.

Membayangkan kembali semua kejadian tersebut Lian It lian merasa menyesal sekali, sehingga kalau bisa dia ingin menumbukkan kepalanya ke atas dinding untuk menghabisi nyawa sendiri.

*****

TONG GIOK masih tertawa, tertawanya seperti seekor musang yang baru saja mencuri tiga ratus ayam kecil.

Sebaliknya Lian It lian mau menangispun tak sanggup menangis.

“Kau tak dapat menyalahkan aku” demikian Tong Giok berkata. kau merayuku lebih dulu, kau juga yang telah membawa aku datang kemari ....

Gelak tertawanya makin riang terusnya:

“Tempat ini memang suatu tempat yang sangat baik, tak mungkin ada orang yang akan menemukan tempat ini”

“Kau...kau. apa yang ingin kau lakukan?” tanya Lian It lian dengan suara gemetar.

“Akupun tak ingin berbuat apa-apa, aku hanya ingin mengulangi sekali lagi apa yang telah kau lakukan kepadaku barusan”

Apa yang telah diucapkan ternyata benar-benar telah dilakukan. Baru selesai dia berkata, bibir Lian It lian telah diciumnya dengan amat mesra.

Lian It lian merasa yaa malu! yaa gelisah, yaa mendongkol, yaa takut ...

Yang lebih menjengkelkan lagi, ternyata dari hati kecilnya justru timbul suatu perasaan aneh yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Kalau bisa dia ingin mati saja daripada hidup.

Sayangnya, is justru tak bisa memenuhi harapannya untuk mati. Tang Tong Giok sudah mulai merogoh ke balik bajunya.

Ia pernah menggerayangi tubuhnya, tentu saja diapun akan menggerayangi tubuhnya, cuma sewaktu dia balas menggerayangi tubuhnya sekarang, sudah barang tentu tangannya tidak sesungkan Lian It lian tadi. “Lebih baik bunuhlah aku” Lian It lian berteriak keras.

Padahal dia sendiripun tahu bahwa kata-katanya itu tak berguna, mustahil Tong Giok akan memenuhi keinginannya itu.

Sekalipun pada akhirnya Tong Giok akan membunuhnya juga, dia pasti akan melakukan banyak pekerjaan yang lain lebih dulu sebelum membunuhnya.

Justru pekerjaan yang lain itulah yang paling ditakuti, justru hal itulah yang mengkilik-kilik hatinya.

Lian It lian mulai terisak amat sedih.

Sebenarnya dia tak ingin menangis, sayang air matanya sudah tak mau menuruti perkataannya lagi.

Tangan Tong Giok mulai bergerak-gerak, gerakannya sangat lembut, sangat lambat.

Bahkan sewaktu meremas-remas bagian tertentu dari tubuhnya, ia melakukannya dengan begitu lembut, halus dan penuh kehangantan.

“Aku tahu apa yang kau takuti” katanya sambil tersenyum,” karena akupun tahu kau pasti masih seorang gadis perawan”.

Mendengar sebutan “Gadis perawan” isak tangis Lian It lian semakin sedih dan menjadi-jadi.

“Tapi kaupun seharusnya dapat melihat sendiri, bahwa lelaki semacam aku sebenarnya tidak terlalu tertarik kepada kaum wanita” kata Tong giok lebih jauh,”itulah sebabnya, asal kau bersedia mendengarkan perkataanku, siapa tahu kalau kau akan kulepaskan”

Kata-kata tersebut, seolah-olah bukan diucapkan secara sengaja untuk menghibur hatinya.

Lelaki ini memang terlalu mirip dengan seorang perempuan, siapa tahu kalau ia sungguh- sungguh tidak begitu tertarik dengan kaum wanita?

Akhirnya timbul juga setitik harapan dari hati kecil Lian It lian, tak tahan diapun bertanya: “Kau suruh aku menuruti perkataan apa?”

“Ada beberapa persoalan ingin sekali kutanyakan kepadamu, apa yang kutanyakan harus kau jawab dengan sejujurnya, asal aku mendengar kalau kau sedang bohong maka terpaksa aku akan ” Ia berhenti sebentar untuk tertawa kemudian baru melanjutkan:

“Waktu itu, apa yang ingin kulakukan, rasanya tak usah kuterangkan pun kau sendiri juga tahu”

Tentu saja Lian It lian tahu.

Justru karena dia tahu, maka dia baru merasa ketakutan. Kembali Tong Giok berkata:

“Aku hendak bertanya kepadamu, sebenarnya siapa kau? Apa hubunganmu dengan Tio Bu ki? Darimana kau bisa tahu kalau dia tak punya sumoay? Kenapa kau mengetahui begitu banyak tentang persoalannya? Kenapa pula kau hendak menyelidiki asal usulku”

“Bila kujawab semua pertanyaanmu itu dengan sejujurnya, benarkah kau akan melepaskan aku?”

“Aku pasti akan melepaskan kau!”

“Kalau begitu lepaskanlah aku lebih dulu, nanti pasti aku akan menjawab semua pertanyaanmu itu”

Tong Giok tertawa.

Dikala ia mulai tertawa, tangannya telah bekerja untuk merobek sebagian dari pakaian yang dikenakan gadis itu, katanya sambil tersenyum: “Selamanya aku paling tak suka untuk tawar menawar dengan orang lain, kalau kau masih enggan berbicara, akan kutelanjangi dirimu lebih dahulu….”

Bukannya bertambah menangis, Liat It-lian malah menghentikan isak tangisnya. “Mau bicara tidak?” bentak Tong Giok.

“Tidak!” jawab Lian It-lian tiba-tiba dengan suara lantang.

Jawaban ini agaknya sedikit diluar dugaan Tong Giok, dia lantas bertanya: “Kau tidak takut?” “Aku takut, takutnya setengah mati, tapi aku tak akan menjawab semua pertanyaanmu itu” “Kenapa?” Tong Giok makin keheranan.

Sambil menggigit bibirnya kencang-kencang, jawab Lian It-lian: “Karena sekarang aku sudah tahu kalau kau adalah seorang laki-laki, bila tujuanmu adalah hendak mencelakai Tio Bu-ki, tak peduli aku akan menjawab atau tidak, kau tak akan melepaskan aku” Ternyata dalam hal ini dia telah dapat memahaminya. Mendadak Tong Giok menemukan, meskipun gadis itu bernyali agak kecil, tapi otaknya sangat cerdas.

“Tak perduli aku akan berbicara atau tidak, kau toh bakal….. bakal memperkosaku” kata Lian It-lian lagi.

Diluar dugaan, ternyata gadis itu berani pula mengucapkan kata-kata seperti itu. Rupanya ia telah mengambil keputusan dalam hatinya, ia telah bertekad untuk menghadapi persoalan itu secara gagah. Teriaknya dengan suara lantang: “Kalau mau turun tangan, cepat lakukan! Aku tak akan takut, akan kuanggap seperti tergigit anjing gila, tapi ingat! Sampai matipun aku tak akan melepaskan dirimu!”

Mimpipun Tong Giok tidak menyangka kalau secara tiba-tiba ia dapat berubah menjadi begini rupa, seandainya lelaki lain yang menyaksikan keadaannya itu, mungkin dia tak akan melepaskannya dengan begitu saja.

Sayang sekali Tong Giok bukan lelaki lain. Hakekatnya ia masih belum bisa dianggap sebagai seorang lelaki tulen.

Akhirnya Lian It-lian jatuh tak sadarkan diri. Ia jatuh tak sadarkan diri dikala tangan Tong Giok mulai melepaskan tali pinggangnya. Dikala Lian It-lian sudah sadar kembali, peristiwa tersebut telah terjadi dua hari berselang.

Ternyata ia masih belum mati, dapat membuka kembali sepasang matanyapun sudah dianggap suatu kejadian yang aneh.

Ada sementara kejadian yang jauh lebih menakutkan daripada mati, mungkin lebih baik mati daripada mengalami kejadian semacam itu. Tapi anehnya, ternyata kejadian yang amat dikuatirkan itu sama sekali tidak terjadi.

Dia masih seorang gadis perawan, apakah kejadian seperti itu pernah terjadi atas dirinya atau tidak, sudah barang tentu ia jauh lebih jelas dari siapapun.

Kenapa orang ini melepaskan dirinya? Ia benar-benar tak habis mengerti. Ketika tersadar kembali dari pingsannya, ia berada dalam sebuah kereta berkuda, sekujur badannya masih tetap lemas tak bertenaga, sama sekali tak punya kekuatan, malah untuk dudukpun ia tak mampu.

Siapakah yang telah mengirimnya ke dalam kereta berkuda ini? Sekarang ia hendak dikirim kemana? Baru saja dia hendak mencari seseorang untuk ditanya, dari balik jendela tahu-tahu sudah nongol keluar sebuah kepala manusia. “Toa siocia baik baikkah kau?” sapa orang itu sambil tersenyum.

Orang itu bukan si nona gadungan itu, diapun bukan Tio Bu-ki, walaupun ia tak kenal dengan orang itu, ternyata orang itu kenal dengan dirinya. “Siapakah kau?” tegur Lian It-lian kemudian.

“Seorang sahabat!” “Sahabat siapa?”

“Sahabat Toa siocia, juga sahabat Lotay-ya” “Lotay-ya yang mana?”

“Tentu saja Lotay-ya dari Toa-siocia”

Paras muka Lian It-lian segera berubah hebat. Orang ini bukan saja kenal dengan dirinya, seakan-akan diapun mengetahui semua seluk beluknya.

Seluk beluknya tidak diliputi kesedihan atau tragedi yang memedihkan hati, tapi justru hal mana merupakan suatu rahasia besar, dia tak ingin orang lain mengetahui rahasia ini, lebih- lebih tak ingin Tio Bu-ki mengetahuinya. Dengan cepat dia bertanya lagi: “Apakah kau juga sahabat Tio Bu-ki?”

Orang itu tersenyum dan menggeleng. “Mengapa aku bisa sampai di sini?” kembali Lian It- lian bertanya dengan keheranan.

“Seorang sahabat yang mengantarmu kemari, dia suruh aku mengantar Toa-siocia pulang ke rumah”

“Siapakah sahabat yang kau maksudkan itu?” “Dia she Tong, bernama Giok!”

Mendengar nama “Tong Giok” sekali lagi LIan It-lian jatuh tak sadarkan diri.

*****

Bulan empat tanggal dua belas, udara cerah. Sewaktu Tong Giok terbangun dari tidurnya, matahari telah jauh di awang-awang dan menyorot masuk lewat daun jendela. Biasanya pada saat seperti ini, mereka telah berangkat melanjutkan perjalanan, tapi pada hari ini belum ada orang yang membangunkannya, apakah Bu-ki seperti dia, agak terlambat bangun dari tidurnya,?

Padahal ia tidur tak terlalu lama, ia pulang amat lambat, ketika naik ke tempat tidur, fajar sudah hampir menyingsing. Paling banter dia cuma tidur barang satu jam lebih sedikit, tapi wajahnya sekarang kelihatan begitu segar, begitu bersemangat dan berseri-seri.

Bila seseorang sedang gembira dan riang hatinya, selalu wajahnya bersinar terang dan semangatnya kelihatan segar.

Tentu saja perasaannya sedang riang gembira, sebab semalam dia telah melakukan suatu perbuatan yang patut dibanggakan.

Terbayang kembali mimik wajah Lian It-lian setelah mengetahui bahwa dia adalah seorang laki-laki, hingga sekarangpun ia masih merasa geli sekali.

Dia percaya dikala Lian It-lian telah sadar nanti, dia pasti akan merasa sangat keheranan, dia pasti tak habis mengerti kenapa ia telah melepaskan dirinya.

Sesungguhnya diapun tak ingin melepaskan dirinya. Tapi dikala dia menarik tali pinggangnya tadi, tiba-tiba ada semacam benda yang terjatuh dari atas badan Lian It-lian.

Menyaksikan benda tersebut dengan cepat ia telah dapat menebak asal usul Lian It-lian yang sebenarnya.

Dia bukan saja mengetahui asal usul dari gadis itu, lagi pula mengetahui akan hubungannya dengan Tio Bu-ki.

Tapi dia tak dapat membunuhnya, diapun tak ingin membinasakan dirinya. Sebab membiarkan gadis itu tetap hidup jauh lebih berguna dari pada membiarkannya mati, tapi diapun tak melepaskannya pergi, sebab dia tak bisa membiarkannya sampai bersua kembali dengan Tio Bu-ki.

Sesungguhnya persoalan ini adalah suatu masalah yang pelik, untung saja dia berada di situ, maka persoalan yang pelik inipun dengan cepat dapat diselesaikan.

Walaupun tempat ini masih merupakan wilayah kekuasaan Tay hong tong, namun sudah mendekati ke perbatasan ……. perbatasan antara wilayah yang dikuasai Tay hong tong dengan wilayah yang diperintah oleh Pek lek tong….

Sejak Pek lek tong bersekutu dengan keluarga Tong, perbuatan pertama yang hendak dilakukan adalah membasmi kekuasaan Tay hong tong dari muka bumi. Sekarang, walaupun operasi mereka masih belum dimulai, tapi di berbagai tempat telah dipersiapkan jebakan-jebakan dan perangkap. Terutama di tempat seperti ini.

Tempat ini adalah daerah kekuasaan yang paling ujung dari Tay hong tong, tapi justru merupakan pos pertama yang akan mereka serang.

Walaupun untuk sementara waktu mereka masih belum dapat seperti Tay hong tong secara resmi membuka kantor cabang di situ, namun persiapan yang diam-diam mereka atur amat sempurna, bahkan dari pihak kantor cabang Tay hong tong di tempat itupun sudah disusupi dengan orang-orang mereka.

Tay hong tong tak akan menyangka siapa di antara anggotanya yang merupakan pengkhianat.

Karena orang ini bukan saja selalu setia dan dapat dipercaya, lagi pula dia masih terhitung salah seorang yang bertanggung jawab atas keutuhan Tay hong tong di tempat itu.

Orang yang telah mereka beli ini, ibaratnya merupakan sebatang rumput beracun di dalam jantung Tay hong tong.

Tong Giok tersenyum, kembali ia kenakan celana gaunnya yang berwarna merah.

Sekarang tentu saja Lian It-lian sudah dikirim kembali oleh orang-orang keluarga Tong yang telah bersiap siaga di sekitar wilayah itu.

Cara kerja mereka selamanya cepat; bersih dan bisa dipercaya. Semalam ketika ia mengantarnya pergi, bukan berarti dalam hati kecilnya tidak terlintas rasa sayang atau kecewa.

Dia masih seorang gadis perawan. Dia muda, cantik, sehat dan padat berisi. Payudaranya begitu kencang, putih dan kenyal, kulit badannya putih mulus dan halus, terutama sepasang pahanya yang putih dengan belahan merah ditaburi warna hitam di antara bagian tengahnya, di tengah kegelapan malam tampak begitu indah dan mempesona. Kalau dibilang ia sama sekali tidak tertarik, itu hanya kata-kata bohong belaka. Walaupun ia tak dapat membunuhnya, tapi untuk memakainya terlebih dahulu, mungkin baginya malah akan mendatangkan keuntungan. Seorang gadis perawan, bagi setiap laki-laki di dunia ini selalu dianggap menarik, aneh dan mendatangkan suatu perasaan yang luar biasa.