Harimau Kemala Putih Jilid 18

Jilid 18  

Tapi dia masih begitu muda, namun jalan pemikirannya ternyata begitu sempit, tak heran kalau setiap perbuatannya selalu mendatangkan rasa terkejut bagi siapapun. Kembali Siau lui bertanya:

“Barusan apakah kau pun telah mencampuri sedikit obat tersebut ke dalam poci arak itu?” “yaa, cuma sedikit sekali!” Poan bin lo sat membenarkan

“Obat apa yang telah kau campurkan ke dalam arak itu?” “Kun cu san!”

Kata kata yang terakhir itulah baru benar benar merupakan “melukiskan naga memberi mata” kunci rahasia dari kisah cerita tersebut letaknya dipaling belakang. Sekarang semua orang baru mengerti kenapa secara tiba tiba Siau lui menyinggung tentang peristiwa tersebut.

Ilmu silat yang dimiliki KOngsung Kong Ceng sekeluarga ter- hitung amat tangguh, seandainya bukan dikarenakan terkena racun Kun cu san tak mungkin mereka bisa dibekuk semua oleh Poan bin losat dan mandah disiksa tanpa memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan.

Tentu saja bubuk Kun cu san adalah sejenis racun yang tidak berwarna dan berbau, semacam obat beracun yang amat hebat sekali daya kerjanya.

Kalau tidak demikian, sebagai jago-jago kawakan yang ber- pengalaman dalam dunia persilatan bagaimana mungkin Kongsun kon ceng sekeluarga yang terdiri dari empat puluh lembar jiwa bisa dipecundangi tanpa merasa?

Tiba-tiba paras muka Bu-ki berubah hebat. Sambil memegangi perut sendiri menahan kesakitan yang luar biasa dia berseru:

“Aduuuuh. tidak benar!”

Mimik wajahnya menunjukkan sikap seorang yang kesakitan hebat, Matanya melotot besar, bibirnya memucat dan peluh sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya.

Paras muka Liu Sam Keng kontan saja ikut berubah, jeritnya dengan suara tertahan. “Apanya yang tidak benar?”

“Arak....arak dalam poci itu. ”

“kenapa....kenapa dengan arak dalam poci itu.... apakah....apakah. ”

Tapi sebelum perkataannya itu sempat diselesaikan, tahu tahu Siau-liui sudah melepaskan diri dari ceng- keramannya, menyusul kemudian secepat kilat ia menotok lima, enam buah jalan darah penting ditubuhnya.

Pada saat itulah. si nona bercelana merah itu menghela napas panjang.

“Aaaai...! Sungguh lihay....sungguh lihay. manusia lihay, bubuk Kun-cu-sannya juga lihay!”

Siau-lui tertawa terbahak bahak,

“haaahhh...haaahhh...haaahhh. apakah kau juga merasa kagum kepadaku?” “Yaaaa, aku merasa benar benar amat kagum kepadamu!”

Buki masih duduk tak berkutik ditempat semula, sepasang matanya terbelalak kaku, seakan akan sekujur badannya sudah tak mampu digerakkan lagi. Lian it lian sangat terkejut, ia segera melompat bangun dan menyerbu ke sisinya.

“Benarkah arak itu beracun?” tegurnya. “Tidak!”

“Kalau memang tidak beracun, kenapa kau menjerit tidak benar?”

“Justru karena tiada racun, maka aku baru mengatakan ridak benar!” sesudah menghela nanapas panjang, katanya kembali:

“Mereka bersikeras mengatakan arak itu beracun, bahkan caranya berbicara begitu hidup dan wajar, apa mau dikata dalam arak tersebut justru yiada racunnya, tentu saja ini menandakan kalau keadaan tidak benar!”

Siau lui tertawa terbahak bahak

“haaahh....haaahh....haaahh. kalau aku tidak sengaja berbicara dengan hidup dan wajar, mana

mungkin LIU Sam-keng si rase tua inibisa terjebak oleh siasatku?” Ternyata Liat It-lian masih belum mengerti. ia bertanya lagi kepada Bu-ki:

“jikalu dalam arak itu memang tidak beracun kenapa kau bisa berubah menjadi begini rupa?” “Aku telah berubah menjadi seperti apa?”

“Seperti orang keracunan berat” “Bu-ki segera tertawa.

“Orang yang seperti keracunan belum tentu benar benar keracunan, tidakkah kau rasakan bahwa perbedaannya teramat besar?”

“Untunglah ia mau membantuku” seru Siau-lui kembali, coba kalau ia tak bersedia membantuku untuk bermain sandiwara ini, untuk berhasil seperti apa yang sekarang ini rasanya tak akan segampang ini”

“Darimana kau bisa tahu kalau dia pasti akan membantumu unruk bermain sandiwara ini?” tanya Lian It-lian. “Karena aku tahu, diapun tak ingin membiarkan LIU Sam-keng mengajaknya pulang”

Lian It-lian segera bertanya lagi kepada BU-ki: “Darimana kau bisa tahu kalau dia sedang berbohong?”

“Seandainya Liu Sam-keng benar2 benar keracunan maka dia pun tak usah mengatakannya dengan terang dan jelas”

“Yaa paling tidak memang seharusnya ia menunggu sampai Liu Sam-keng roboh dahulu baru menerangkan keadaan yang sebenarnya” Lian It-lian manggut manggut tanda mengerti

Bu-ki segera tertawa,

“Akhirnya kau berubah juga menjadi seorang yang pintar” Lian It-lian memejamkan mulutnya rapat rapat.

Tadi ia merasa bahwa permainannya kalu dibandingkan dengan tipu muslihat bocah ini maka permainannya itu agaknya seperti permainan kanak kanak.

Tapi sekarang dia baru tahu kalu dugaannya itu ternyata keliru.

Yang benar bukan “agaknya” mirip lagi seperti permainan kanak] kanak, melainkan hakekatnya memang permainan kanak kanak..! Tentu saja perbedaan antara kedua hal inipun teramat besar sekali

POAN-BIN-LO-SAT kembali mengambil poci arak dan memenuhi cawan arak setiap orang.

Tak tahan Lian It-lian segera bertanya kembali

“Benarkah di halaman belakang rumah Kongsung Kong-ceng terdapat sebuah sumur yang dinamakan sumur air manis?”

“Benar” Poan bin-lo-sat mengangguk.

“Kau benar benar telah meracuni air dari sumur tersebut?” “Betul!”

“Tapi kau tidak mencampuri arak dalam poci dengan arak?”

Poan bin-lo-sat memandang kearahnya mencorong sinar tajam dari matanya dibalik kaincadar, tiba tiba katanya sambil tertawa: “Kau adalah seorang anak baik, akupun menyukai dirimu maka aku hendak memberitahukan kepadamu, ada dua hal yang musti kau ingatkan terus menerus ”

“Akan kudengarkan dengan seksama!”

“Seandainya kau ingin membohongi orang lain, pertama tama yang musti kau ingat adalah dikala membohongi orang, kau tak boleh sama sekali bicara bohong, sebelum itu paling tidak harus ada sepuluh kata merupakan kata kata jujur dan benar, agar setiap orang percaya bahwa kau sedang berbicara sejujurnya nah setelah semua orang percaya kau baru mulai berbohong, dengan demikin orang baru akan mempercayai seratus persen!”

“Masuk diakal!” seru Lian It-lian

“Seandainya kau tak ingin di bohongi orang maka kaupun harus ingat, apakah dalam sumur ada racun atau tidak serta dalam arak ada racunnya atau tidak adalah dua masalah yang berbeda”.

“Yaa, memang dua kejadian yang berbeda” kembali Lian It-lian membenarkan setelah menghela napas.

“Teori semacam ini sesungguhnya gampang dan sederhana, tapi justru amat sedikit orang yang memahaminya”

“Seandainya setiap orang bisa memahami teori tersebut masih ada siapa lagi yang bakal tertipu?”

Poan bin-lo-sat tersenyum.

“Justru karena amat jarang orang yang memahami teori itu, maka setiap hari tentu ada manusia di dunia ini yang ditipu orang”

“Betul!”

“Ya, memang tepat sekali!” nona bercelana merah itu ikut pula menghela napas panjang. SIAU LUI mengangkat cawannya Bu-ki pun mengangkat cawannya.

Siau lui mengawasi wajahnya lekat lekat, mendadak berkata: “Agaknya kau tidak terlalu gampang untuk tertipu?”

Bu-ki ikut tertawa.

“Wah kalau seringkali tertipu oleh siasat orang, itu baru tidak menarik namanya” “Agaknya kau telah berubah menjadi begitu tak suka bicara?”

“Perkataan yang tidak seharusnya dikatakan lebih baik jangan dikatakan, sebab. ”

“Sebab terlalu banyak berbicarapun, tidak menarik namanya” sambung Siau lui.

“Ya memang betul perkataanmu itu” sahut Buki sambil tersenyum dan manggut manggut.

“Kau adalah seorang yang pintar, jika kau bersedia ikut aku pergi, aku pasti akan mengangkat dirimu menjadi wakil kaucu”.

Bu-ki tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya:

“Kau hendak pergi?”

Siau lui juga tidak menjawab, tapi bertanya kembali:

“Seorang yang sama sekali buta dan tak bisa melihat apa apa dari mana bisa tahu kalau aku berada disini? kenapa ia bisa menemukan diriku. ?”

“Sebab ada orang yang telah memberitahukan hal ini kepadanya” “Ya, pasti ada!”

“Tapi aku tak ingin kali sampai jejakku ditemukan kembali oleh orang lain” “Kau tak ingin?”

“Ya, apakah aku harus cepat cepat angkat kaki meninggalkan tempat ini?” “Aku rasa makin cepat semakin baik!”

“Apakah kau jadi ikut aku?”

“Kalu kau jadi aku, mungkinkah kau pergi mengikuti diriku?” Bu ki balik bertanya. “Tak mungkin!”

“Kenapa?” “Karena kalau aku ingin jadi pemimpin, lebih baik aku mengangkat diriku sebagai kaucu, sebab menjadi wakil kaucu tentu tidak menarik hati”

“Kalau sudah tahu pekerjaan itu tidak menarik hati lalu manusia macam apa yang bersedia melakukannya?” “Tentu saja hanya telur busuk goblok yang melakukannya”

“Sekarang, coba lihat apakah aku mirip seorang telur busk yang goblok?” tanya Bu ki. “Kau tidak mirip”

Sesudah berhenti sebentar, pelan pelan ia melanjutkan:

“Jika aku mencari orang lain untuk bu-kaucu ku, dan ternya ia tak mau, tentu saja diapun tak bisa dianggap sebai seorang telur busuk goblok, sebab paling banter dia hanya bisa dianggap sebagai sesosok mayat belaka”

“Kenapa?”

“Sebab sekalipun pada waktu itu dia bukan sesosok mayat, tapi dalam waktu singkat dia pasti akan menjadi sesosok mayat!”

“Untung saja aku bukan orang lain” kata Bu ki

“Siau lui kembali menatapnya lama sekali, akhirnya dia menghela napas panjang. “Ya, untung saja kau bukan” bisiknya.

Ada semacam orang yang bilang datang lantas datang, bilang pergi lantas pergi.

Jika dia mau datang siapapun tak akan tahu kapan dia baru akan datang, setelah ia datang, siapapun tak dapat menghalangi dirinya.

Sebaliknya jika dia mau pergi, siapapun tak dapat menahan kepergiannya itu. Kebetulan Siau lui adalah orang semcam itu.

Maka dia telah pergi, pergi sambil membawa Liu Sam-keng yang meskipun jaln darahnya tidak tertotokpun, saking gusarnya ia menjadi setengah mati.

Ia telah bertanya kepada BU ki:

“Perlukah kutinggalkan orang ini untukmu?” Bu ki bukan orang bodoh, maka dia tak mau.

Orang ini ibaratnya besi baja yang menyengat tangan,bahkan merupakan benda yang paling menyengat tangan didunia ini. “Jika kau bersikeras untuk meninggalkan dirinya disini” kata Bu ki, “kemungkinan besar aku akan membunuhnya”

“Kau tak ingin membunuhnya?” tanya Siau lui “Aku tak dapat membunuhnya”

“Kenapa?”

“Karena aku tahu, diapun tak akan membinasakan aku”

Oleh karena itu kau tahu kalau dia tak akan membunuhmu, maka waktu itu kau baru pergi mencarinya untuk membuat perhitungan

Yang dimaksud kan waktu itu adalah bulan tiga tanggal dua puluh delapan tahun berselang, pada hari itu juga ia telah bersiap siap membayar hutangnya kepada Liu Sam-keng.

Siau lui mengetahui akan kejadia itu.

“Waktu itu sebenarnya adalah hari baik, hari penuh rejeki” katanya, “kebetulan juga hari perkawinanmu: ternyata kau telah mencarinya membereskan hutang. Karana agaknya kau tahu bahwa manusia macam ini tak mungkin membunuhmu dihari sebaik itu guna menagih hutang. ”

“Agaknya aku memang sedikit rada mengerti”

“Tampaknya, kau seperti sedikitpun tidak bodoh!” kata Siau lui kembali. Tiba tiba nona bercelana merah itu menghela napas panjang.

“Andai kata ia ada sedikit goblok, tak mungkin jiwanya bisa hidup sampai sekarang”

Akhirnya Siau lui pergi juga. Tiada orang yang menanyakan diri Biau jiu-jiu-sut, agaknya beberapa orang itu sama sekali tidak menaruh perhatian terhadapnya.

Benarkah Siau lui punya cara yang bagus untuk mengendalikan mereka? Ataukah karena mereka menaruh sesuatu rencana terhadap Siau lui?

Peduli bagaimanapun juga, Siau lui pasti dapat menjaga diri baik baik....

Oleh sebab itu Bu ki tidak menasehati apa apa kepadanya, dia hanya berharap agar dia jangan terlalu “ji-gi”, sebab jikalau seseorang selalu menjumpai keadaan yang berhasil memenuhi seleranya itu akan berubah menjadi sebaliknya. Agaknya Lian It lian sangat kuatir kalau Bu ki mengajukan pelbagai pertanyaan kepadanya, tidak menanti Bu ki membuka suara dia telah berkata lebih dulu:

“Aku tahu antara kalian suheng-sumoy pasti terdapat banyak persoalan yang hendak dibicarakan, aku tak dapat menemani kalian lebih jauh. Sekarang sekalipun langit mau ambruk, aku butuh tidur yang nyenyak lebih dahulu. ”

Maka dalam ruanganpun tinggal mereka suheng-moay berdua. Nona bercelana merah itu tertawa paksa lau katanya:

“Kau tentu tak pernah menyangka bukan kalau secara tiba tiba bisa muncul seorang sumoay yang mencarimu, agaknya kau sama sekali tidak mempunyai seoarang sumoay?”

Ya, aku memang tidak menyangka” Ditatapnya nona itu, lalu tersenyum:

“Kau benar benar lebih mirip seorang perempuan dari pada perempuan yang sesungguhnya!” Apakah nona bercelana merah itu bukan seorang perempuan tulen?

Ia menundukkan kepalanya rendah rendah lalu berkata:

“Aku berbuat demikian sesungguhnya karena terpaksa!” “Apakah kau telah menjumpai sesuatu kesulitan?”

Nona bercelana merah itu menghela napas

“Aaai ! kesulitan yang kujumpai hakekatnya besar bukan kepalang.”

“Kesulitan apa?”

“Ada beberapa orang musuh yang sangat lihay telah berhasil melacaki jejakku, sekarang aku telah didesaknya sehingga tiada jalan lain untuk melarikan diri lagi, maka dengan perasaan apa boleh buat terpaksa aku datang mencarimu.”

“Siapa siapa sajakah mereka itu?”

“Aku tidak bermaksud meminta bantuanmu untuk pergi menghadapi mereka” jawab nona bercelana merah itu dengan cepat. “Kenapa?”

“Sebab mereka semua adalah manusia-manusia yang tidak gampang dihadapi, aku tak bisa membiarkan kau menempuh bahaya lantaran aku, aku pun tahu bahwa kau sendiri pasti masih ada persoalan lain yang harus dilakukan”

Bu-ki tidak menyangkal.

Maka nona bercelana merah itu berkata lebih jauh.

“Oleh karena itu aku tidak lebih hanya berharap agar kau memperbolehkan aku berdiam untuk sementara waktu disini”

Sesudah menghela napas, katanya lebih jauh.

“Sebetulnya aku tak ingin mendatangkan banyak kerepotan bagimu, andaikata kau merasa menjumpai banyak kesulitan, maka setiap saat aku bersedia angkat kaki dari sini.”

“Bersahabatkah kita berdua?” tanya Bu ki “Aku berharap demikian!”

“Dikala seseorang menjumpai kesulitan, kalau bukan datang mencari teman, siapa pula yang dicari?”

Nona bercelana merah itu memandang kearahnya, sinar matanya penuh pancaran terima kasih.

Tapi begitu Bu ki memutar badannya, sorot mata itu segera berubah, berubah menjadi begitu dingin menyeramkan dan pancaran sinar bengis yang menggidikkan hati.

Kedatangannya kemari, tentu saja bukan benar benar untuk menghindari kejaran musuh musuhnya, dia datang kemari untuk membunuh orang.

Orang yang hendak dibunuhnya sudah barang tentu adalah Tio Bu ki

Sampai sekarang dia belum juga turun tangan, hal ini tak lain karana ia masih belum mempunyai keyakinan untuk mengatasi Bu ki.

Ia sedang menunggu datangnya kesempatan baik.

Karena “dia” bukan lain adalah “sahabat” Bu ki yang baru saja dikenalnya, LI Giok-tong adanya. Sedang Li Giok-tong, bukan lain adalah Tong Giok!

Tentu saja mimpipun Bu ki tak akan menyangka kalu sahabatnya ini adalah Tong Giok.

Ia memutar badannya memandang pohon waru diluar ruangan, setelha termenung sekian lama tiba tiba katanya:

“Kau tak dapat tinggal disini”

Tong Giok amat terkejut, tanyanya tanpa sadar:

“Kenapa?”

“Sebab besok pagi pagi sekali aku akan pergi, aku merasa tak tega meninggalkan kau seorang diri disini”

“Kalau begitu aku. ”

“Kau boleh pergi bersamaku, akan kuanggap kau sebagai keluargaku, segera akan kuperintahkan orang untuk menyiapkan sebuah kereta besar untukmu, aku percaya siapapun tak akan mencari orang didalam keretaku”

“Kau bermaksud hendak kemana?” tanya Tong Giok setelah termenung dan berpikr sebentar. “Ke wilayah Cuan-tiong!”

Setelah tersenyum, ia menambhakan:

“Orang orang itu sibuk mencari jejakmu disepanjang dua sungai besar, sedangkan kau telah pergi ke wilayah Cuan-tiong bukankah hal ini merupakan suatu tindakan yang sangat bagus?”

“Yaa memang bagus sekali” sorak Tong Giok sambil tertawa pula.

Ia benar benar merasa tindakan tersebut sebagai tindakan yang amat tepat.

Tentu saja disepanjang jalan dia akan lebih banyak memperoleh kesempatan untuk turun tangan, begitu melangkah masuk ke wilayah Cuan tiong, maka pemuda itu ibaratnya sang domba yang msuk ke mulut harimau, lebih tipis lagi harapannya untuk meloloskan diri.

Bahkan dia sendiripun tidak menyangka kalau nasibnya sedemikian mujur, ternyata segala sesuatunya berjalan lancar, dan semuanya diraih tanpa membuang banyak tenaga.

Tak tahan lagi dia bertanya: “Kita bersiap siap akan berangkat kapan?” “Besok pagi pagi sekali kita akan berangkat”

“Bagaimana dengan Lian kongcu itu? apakah diapun akan turut serta dalam perjalan ini?” “Dia tak akan ikut”

“Kenapa?”

“Sebab dia takut kalau aku sampai memukul kepalanya hingga pecah.” Bu ki sendiripun merasa sangat gembira.

Sesungguhnya dia memang suka membantu teman, apalagi dalam perjalanannya menuju wilayah Kuan-tiong yang jauh dan lama, bisa mempunya seorang sahabat sebagai teman seperjalanan, kejadian ini memang merupakan suatu kejadian yang menggembirakan.

Ia menghantar sendiri sahabatnya ini sampai ke pintu kamar tamu sebelum dia memohon diri dari situ.

Memandang bayangan punggung yang keluar dari kamar, hampir saja Tiong Giok tak kuasa menahan rasa gelinya, dia ingin sekali tertawa terbahak bahak,... kali ini Tio Bu ki betul betul akan mampus!

Malam yang kelam terasa amat sepi, suasana disekitar situpun amat hening.

Kalu dimasa lalu, asal Bu ki pulang ke rumah maka dia pasti akan membangunkan setiap orang, mengajaknya bercakap cakap dan mengajak mereka minum arak.

Ia selalu suka akan keramaian, tapi sekarang ia telah berubah bahkan dia sendiripun merasa bahwa dirinya telah berubah.

Sekalipun bukan berarti ia selalu bermuram durja, bersedih hati dan kesal, sehingga membiarkan orang lain tahu kalau ia sedang susah dan sedih, tapi kelincahan dan kesegarannya yang dimiliki dulu kini sudah lenyap tak berbekas, Tio Bu ki yang sekarang bukan Tio Bu ki yang dulu, Tio Bu ki yang sekarang sudah tak suka berbicara secara blak blakan lagi.

Sekarang ia sudah belajar bagaimana menyimpan kata katanya didalam hati, apa yang dipikirkan dalam hati, hanya dia yang tahu.

Sebab dia tak ingin tertipu lagi, diapun tak ingin mati konyol. Suasana dikebun amat sepi...

Dibalik kebun yang sepi, ternyata masih ada sinar lentera yang bergerak gerak dari sebuah ruangan tak jauh dari sana.

Cahaya lentera yang redup itu, ada kalanya terang benderang ada kalanya lenyap dan padam. Ruangan itu adalah kamar bacanya Tio Kian, Tio jiya.

Sejak Tio jiya meninggal dunia, tempat itu selalu dibiarkan kosong jarang sekali ada orang yang kesitu, lebih lebih ditengah malam buta, semakin mustahil ada orang yang berkunjung kesana.

Tapi kalau tak ada orang,kenapa ada cahaya lentera yang berkedip kedip?

Ternyata Bu ki tidak merasakan sesuatu yang aneh, agaknya memang sudah tak ada kejadian yang bisa membuatnya merasa kaget bercampur keheranan.

Betul juga, ternyata dalam kamar baca ada orangnya, dan kebetulan sekali ternyata orang itu adalah Lian it lian.

Ia seperti lagi mencari sesuatu barang, setiap rak buku, setiap laci yang berada dalam ruangan itu telah dibongkar olehnya sehingga keadaannya menjadi porak poranda.

Pelan pelan Bu ki masuk ke dalam dan menyelinap ke belakang, lalu secara tiba-tiba menegur:

“Apa yang sedang kau lakukan? Sudah kau temukan sesuatu?”

Dengan terperanjat Lian it lian berpaling, saking kagetnya ia sampai berdiri tertegun.

“Andaikata kau belum berhasil menemukannya aku bersedia membantumu, sebab bagaimanapun aku jauh lebih hapal terhadap setiap barang disini daripada dirimu” kata Bu ki.

Pelan pelan Lian It lian bangkit berdiri, menepuk bajunya yang kotor dan tertawa. “Coba kau tebak, apa yang sedang kucari?”

“Aku tak bisa menebaknya!”

“Tentu saja aku sedang mencari intan permata atau barang berharga lainnya, apakah kau tak tahu kalau aku adalah seorang perampok yang bekerja seorang diri?” “Kalau kau adalah seorang perampok ulung yang bekerja seorang diri maka kau kau pasti akan amti kelaparan”

“Oya?”

“Andaikata kau tidak mati kelaparan maka kau pasti sudah ditangkap orang, ditelanjangi dan digantung diatas pohon, atau paling tidak digebuki setengah mati”

Setelah tertawa dingin, katanya kembali:

“karena kau bukan saja tidak tajam dalam pengincaran, gerak gerikmu terlalu kasar dan bodoh, disini kau mencuri barang, orang yang berada satu li dari sinipun dapat mendengar suaramu”

“Sekarang, apakah kau hendak. hendak menggantung aku?”

Kata “menelanjangi” tersebut bukan saja tidak ia katakan, bahkan dibayangkan pun tak berani.

“Aku tak lebih hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu, tapi setiap pertanyaan yang kuajukan harus kau jawab dengan sejujurnya, kalu tidak maka aku akan. ”

“Kau akan apa?” tanya Lian It lian ketakutan.

“Kau paling takut aku berbuat apa? Nah, itulah yang yang akan kulakukan”

Merah padam selembar wajah Lian It lian karena jengah, sedangkan jantungnya berdebar semakin cepat.

“Aku tahu kau tidak she LIan, kaupun bukan bernama Lian It lian!” kata Bu ki lebih jauh Kemudian sambil menarik muka dan tertawa dingin, katanya kembali:

“Lebih baik kau mengaku saja secepatnya, apa sebetulnya she mu? Dan siap namamu? Mau apa kau datang kemari? Kenapa seperti sukma gentayangan saja selalu membuntuti diriku?”

Lian It lian menundukkan kepalanya rendah rendah, diam diam biji matanya berputar kesana kemari, mendadak ia menghela napas panjang dan berkata:

“Masakah kau tak dapat menduganya?” “Aku tak dapat!”

“Kalau seorang gadis tidak mencintai dirimu, mungkinkah dia datang mencarimu?” “Tak mungkin!”

Lian It lian menundukkan kepalanya semakin rendah, sikapnya kemalu maluan, dengan suara lirih sahutnya:

“Sekarang tentunya kau sudah mengerti bukan, kenapa aku datang mencarimu?” “Aku masih belum mengerti!”

Hampir saja Lian It lian melompat bangun saking jengkelnya, dengan suara keras teriaknya: “Apakah kau adalah seekor babi?”

“Sekalipun aku adalah seekor babi, tentunya aku bukan seekor babi yang telah mampus.” Tiba tiba Lian It lian tertawa

Pada saat ia mulai tertawa itulah, tubuhnya telah melompat ketengah udara, tangannya diayunkan dan melepaskan senjata rahasia andalannya.

Orang yang sering kali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, hampir sebagian besar membawa senjata rahasia, sayang senjata rahasianya tidak beracun, caranya menyambitpun kurang jitu, bila dibandingkan dengan senjata rahasia andalan keluarga Tong, tentu saja selisihnya jauh sekali.

Kalau senyumannya itu sangat manis, sangat memikat hati, membuat orang lain tidak menyangka kalau secara tiba tiba dia akan turun tangan, maka sergapannya itu pasti lihay sekali.

Apa lacur senyumannya itu tidak terlalu bebas, senyumannya terlalu dipaksakan.

Dia sendiripun tahu bila ingin mempergunakan cara ini untuk menghadapi Tio Bu ki, maka harapannya untuk berhasil pasti tak akan terlalu besar. Sayang dia justru tidak berhasil menemukan cara lain yang jauh lebih baik daripada cara itu.

Siapa tahu kenyataannya sekarang, ternyata cara itu manjur sekali, ternyata Tio Bu ki tidak melakukan pengejaran.

Angin dingin menerpa wajah, kegelapan mencekam seluruh permukaan jagad, bangunan rumah yang tinggi besar itu telah ditinggalkan jau di belakang sana.

Mendadak suatu perasaan aneh muncul dalam hatinya, ia merasa seakan akan sangat berharap agar Tio Bu ki dapat mengejar dirinya. Karena dia tahu, asal dirinya sudah pergi meninggalkan tempat itu maka selamanya jangan harap kembali lagi kesana, diapun selamanya jangan harap bisa berjumpa lagi dengan pemuda yang bercodet diatas wajahnya, terutama sewaktu tertawa....

Mungkin sebenarnya ia tak pantas datang ke situ, mereka sebenarnya tak pantas untuk bertemu.

Tapi sekarang dia telah datang, dalam hatinya telah tertera bayangan Bu ki yang tak mungkin bisa dilupakan untuk selamanya.

Tak tahan dia mulai bertanya kepada diri sendiri.

Seandainya ia mengejar datang dan menangkapku kembali, mungkinkah aku menceritakan rahasiaku kepadanya?

Kalau dia sudah mengetahui akan rahasiaku, bagaimana sikapnya terhadap diriku? Ia tidak berpikir lebih lanjut.

Bahkan untuk berpikir kembali pun dia tak berani

Sekarang, dia akan pergi ke suatu tempat yang sangat asing sekali baginya, setibanya disana maka mereka pun tak akan mempunyai kesempatan untuk saling berjumpa kembali.

Aiiiii ! Tidak ketemu juga lebih baik daripada setelah ketemu hanya akan mendatangkan

kemurungan dan kekesalan belaka, mendingan kalau hatinya tidak ikut gundah.

Pelan-pelan ia menghela napas panjang sambil menghimpun tenaganya kembali, ia berlarian menuju ke depan, melawan hembusan angin dingin dan keluar dari perkampungan Ho-hong- san-ceng.

Ia bertekad untuk tidak memalingkan kepalanya lagi, ia bertekad membuang jauh jauh semua kejadian yang mendatangkan perasaan kesal dan murung dalam hatinya itu.

Tapi apa mau dikata justru dalam hatinya mendadak muncul perasaan sedih dan kesepian yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Karena untuk selamanya ia tak dapat mengutarakan perasaannya itu kepada orang lain.

Senjata rahasia itu sudah itu sudah terpukul rontok keatas lantai, itulah beberapa batang senjata rahasia So cu piau yang dibuat amat indah, Ditengah kegelapan yang mencekap seluruh ruangan, benda itu memantulkan sinar keperak perakan yang menyilaukan mata.

Senjata rahasia semacam itu bukan cuma enteng lagi pula sangat indah dilihat, kadangkala bahkan dipakai sebagai perhiasan rambut.

Ada banyak sekali anak gadis yang suka mencari orang untuk membuatkan sedikit perhiasan yang bentuknya menyerupai senjata rahasia, meraka bukan sungguh sungguh ingin menggunakan senjata rahasia itu untuk melukai orang, mereka hanya merasa bahwa benda itu menarik dan indah.

Senjata rahasia yang begini menarik dan menyenangkan ini, tentu saja tak akan mampu merobohkan manusia seperti Tio Bu ki

Ia tidak pergi mengejarnya, karena ia sama sekali tak ingin mengejarnya.

...Sekalipun berhasil disusul, apa pula yang bisa dilakukan? Apakah dia benar benar hendak menelanjangi dirinya lantas menggantungnya di pohon dan menyiksanya?

Peduli dari manapun asal usulnya, peduli rahasia apapun yang dimilikinya, yang jelas ia tidak menaruh maksud jahat kepada Bu ki.

Dalam soal ini, tentu saj Bu ki dapat melihatnya

Oleh karena itu bukan saja dia tak ingin menyusulnya, bahkan diapun tak ingin mengetahui rahasianya.

....Terhadap seorang anak gadis seperti dia, bagaimanapun juga tak mungkin dia memiliki rahasia yang luar biasa.

Dikemudian hari dia baru tahu kalau dia telah keliru, bahkan suatu kekeliruan yang menakutkan.

Keadaan dalam kamar bca itu porak poranda, ibaratnya segerombol musang yang baru saja mengobrak abrik kandang ayam.

Bu ki tidak memasang lampu.

Dia tak ingin mencari bahan api ditempat yang porak poranda semacam ini, dia hanya berharap bisa duduk sebenta disana dengan tenang, membayangkan kembali semua peristiwa yang telah dialaminya selama ini, karena dikemudian hari mungkin dia tak akan menjumpai kesempatan semacam ini lagi. Ia teringat akan ayahnya, teringat pula “hari baik hari rejeki” yang mengerikan dan mengenaskan, teringat akan Hong nio, teringat akan Su-gong Siau-hong, teringat pula akan Long-Giok serta Siangkoan Jin.

Dia selalu merasa bahwa dibalik sekian banyak persoalan, masih terdapat suatu simpul mati yang belum berhasil dibuka olehnya.

Jika simpul mati itu sehari tak berhasil di bukanya, maka cepat atau lambat simpul mati tersebut pasti akan menjirat tengkuk sendiri dan menggantungnya hidup-hidup sampai mati

Yang lebih tak beruntung lagi, ternyata meski dia tahu akan simpul semacam itu, namun ia selalu gagal untuk mengetahui dimanakah letak simpul mati tersebut?

Tak tahan lagi ia menghela napas ringan, dari dalam halaman tedengar pula seseorang menghela napas ringan.

Meskipun helaan napas tersebut amat lirih, namun kemunculannya secara tiba tiba ditengah kegelapan malam begini masih cukup mengejutkan hati orang.

Tapi Buki berkutik pun tidak.

Ia seakan akan telah menyadari kalau malam ini masih ada orang lain yang akan mencarinya.

Betul juga, dari balik kegelapan telah muncul sesosok bayangan manusia, sewaktu didepan pintu, tiba tiba ia bertanya:

“Apakah kau sedang menunggu orang?”

“Darimana kau bisa tahu kalau aku sedang menunggu orang?” Bu ki balik bertanya.

“Sebab dikala menunggu orang maka lentera tak usah dipasang, siapapun orang yang bakal datang, tanpa dilihatpun kau juga tahu. ”

Ia tertawa lebar, kemudian menambahkan.

“Tentunya kau tidak menyangka bukan kalau dalam saat seperti ini masih ada orang bakal datang kemari, lebih lebih tak akan menyangka bukan kalau yang datang adalh aku?”

Bu ki mengakuinya

“Ya aku memang tidak menyangka!”

Orang yang barusan datang ini adalah Lian It lian, ternyata ia telah muncul kembali. “Dalam hati kecilmu kau tentu sedang berpikir bukan bahwa aku ini betul betul bagaikan sukma gentayangan saja, dengan susah payah melarikan diri, mengapa mau kembali kesini?”

“Aku memang ingin bertanya padamu, mau apa kau kembali lagi kemari...” ucap Bu ki Lian It lian segera menghela napas panjang.

“Aaai kali ini sesungguhnya bukan atas kemauanku sendiri aku kembali kemari”

“Apakah ada orang memaksamu kembali kesini?”

“Kalau bukan orang, pastilah aku telah ketemu dengan setan setan hidup lagi” “Tampaknya kau sering sekali berjumpa dengan kawanan setan hidup lagi” Sekali lagi Lian It lian menghela napas panjang.

“Aaai ! itulah dikarenakan tempat ini terlalu banyak setannya, ya setan laki laki ya setan

perempuan, ada setan tua ada pula setan muda, agaknya beraneka macam setan berkumpul semua disini”

“Setan macam apa pula yang telah kau jumpai kali ini?” “Setan tua!”

Sesudah tertawa getir ia melanjutkan:

“Kepandaian yang dimiliki setan tua iyu tampaknya jauh lebih hebat dari pada si setan kecil, kemanapun aku hendak pergi, ia selalu menghalangi perjalananku, membuat aku betul betul kehabisan akal untuk menghadapinya”

Meskipun nyalinya rada kecilan, meskipun caranya bertindak rada lemah, tapi ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya terhitung lumayan juga kehebatannya.

Orang yang telah dijumpai kali ini, entah manusia atau setan, ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya tentu jauh lebih tinggi dari pada apa yang dimilikinya.

Tidak banyak orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh selihay itu.....

“Apakah ia memaksamu untuk balik kemari menjumpaiku?” tanya Bu ki kemudian.

“Dia mengira aku telah membohongimu, dia suruh aku balik kemari dan bicara terus terang kepadamu.” “Kau bersedia bicara terus terang?”

“Apa yang kuucapkan selam ini sesungguhnya adalah kata kata yang sejujurnya”

“Kau adalah seorang perampok ulung yang datang kemari hanya untuk menggaet sejumlah uang?”

“Jadi kau tidak percaya?”

Bu ki menghela napas panjang.

“Aaai...kau betul betul menginginkan aku mempercayaimu?” ia balik bertanya.

Lian It lian tertawa dingin tiada hentinya

“Heehh...heehh...heehh...kenapa kau tak mau percaya? Apakah hanya seorang pria yang boleh menjadi bandit ulang? Perempuan toh sama sama manusianya, kenapa kaum perempuan tak bisa menjadi seorang bandit ulung?”

Ternyata Bu ki tidak menentang pendapatnya itu, malah katanya:

“Tentu saja perempuan boleh menjadi seorang bandit, sebab ini termasuk persamaan hak antara kaum pria dan akum wanita, bahkan kecuali menjadi Jay hoa cat(penjahat pemetik bunga) yang tukang menggagahi orang, mau jadi bandit macam apapun perempuan boleh melakukannya!”

Ia menghela napas panjang, lalu katanya:

“Aku cuma merasa bahwa kelihatannya secara tiba2 kau tidak mirip seorang bandit”

“Bagaimana sih tampang seorang bandit ulung? Apakah dia musti memasang papan nama diatas batok kepalanya? Apakah dikepalanya musti terpancang huruf yang berbunyai: Aku adalah seorang bandit ulung! Agar semua bisa tahu kalau aku ini memang seorang bandit profesional? Heran entah ditaruh kemana otak orang ini?”

“Oooh. jadi kau benar benar adalah seorang bandit? Seorang bandit ulung:”

“Tentu saja kalau kau masih belum juga percaya, aku juga tak bisa berbuat apa apa lagi” “Aku percaya!”

Lian It lian segera mengembangkan naps lega.

“Kalau kau mau percaya memang itu lebih baik lagi” katanya. “Tidak baik!”

“Apanya yang tidak baik?”

“Tahukah kau dikala kami berhasil menangkap seorang bandit, dengan cara apakah kami akan menghadapinya?”

Lian It lian menggelengkan kepalanya.

“Ada kalnya kami akan menelanjangi tubuhnya lalu menggantungnya diatas pohon, ada kalanya kami bahkan mengorek sepasang matanya, memotong telinganya dan mengutungi sepasang kakinya”

“Paras muka Liab It lian segera berubah hebat sekulum senyuman paksa dengan cepat ditampilkan diujung bibirnya.

“terhadap kaum wanita, tentu saja kau tak akan berbuat demikian bukan?” “Kau ...... kau tak akan menelanjangi ”

Kembali ia terbungkam dengan wajah berubah menjadi merah padam lantaran jengah bercampur takut.

“Aaaah, perempuan kan sama dengan orang, ini persamaan hak lho antara laki-laki dan perempuan, kalau perempuan bisa jadi bandit, kenapa kami tak bisa menghadapinya dengan cara begitu?’

liat It lian tak sanggup berbicara lagi, walau hanya sepatah katapun.

“tentu saja aku tak akan berbuat demikian terhadapmu”, Bu ki lebih lanjut, “sebab kita toh terhitung seorang sahabat”.

Liat It lian cepat-cepat tertawa.

“Betul, betul, kita memang sahabat!, Sejak semula aku sudah tahu kalau kau bukan seorang manusia yang buas dan bengis!” serunya kegirangan.

Bu ki juga tertawa, tiba-tiba ia bertanya lagi: “Pernahkah kau mendengar nama Sugong Siau hong?”

“Orang yang belum pernah mendengar nama orang ini sudah pasti adalah seseorang tuli!” jawab Liat It lian. Betul, Sugong Siau hong memang seorang ternama dalam dunia persilatan, benar-benar ternama.

“Tahukah kau, manusia macam apakah dia itu?” tanya Bu ki lafi.

“Konon sewaktu masih mudanya dulu dia adalah seorang lelaki tampan, tapi siapapun tak tahu lantaram apa dia tak pernah mau kawin, bahkan belum pernah berhubungan pula dengan perempuan macam apapun”.

“Yang paling dikuatirkan , paling diperhatikan kaum wanita selalu memang persoalan semacam ini”.

“Sebaliknya buat apa seorang lelaki persoalan semacam ini tak mungkin dianggap penting baginya”.

“Apalagi yang kau ketahui?”, tanya Bu ki selanjutnya.

“Konon tenaga dalamnya, ilmu pukulan lembeknya dan ilmu pedang Sip-ci-hui-kiamnya boleh dikata termasuk kepandaian nomor satu dalam dunia persilatan, sehingga ketua dari Bu- tong-pay pun pernah berkata ilmu pedangnya sudah pasti dapat dideretkan di antara nama- nama sepuluh jago pedang utama dalam dunia persilatan dewasa ini, bahkan kedudukannya masih lebih tinggi sedikit daripada Bang-sut-liong siangseng dari Butongpay”

“Selain itu?”

Liat It lian berpikir sebentar, kemudian jawabnya: “Konon diapun termasuk salah seorang di antara sepuluh manusaia paling berkuasa dalam dunia persilatan dewasa ini”

Setelah berhenti sejenak, ia menjelaskan lebih lanjut:

“Karena dia sesungguhnya adalah salah seorang dari empat pentolan dalam perkumpulan Tay hong tong, semenjak Cong-tongcu dari Tay hong-tong yaitu Im Hui yang, Im locianpwe menutup diri untuk berlatih pedang, semua persoalan dalam Tay hong-tong telah terjatuh di tangannya, setiap komandonya paling tidak akan mengakibatkan dua tiga puluh laksa orang akan munculkan diri untuk menjual nyawa baginya”

“Selain daripada itu?”

“Masih belum cukupkah semuanya itu?”

“Belum cukup, karena beberapa hal yang kau ucapkan barusan, sama sekali bukan bagian yang paling menakutkan dari dirinya”

“Oh ya?” “Meskipun ilmu pedang yang dimilikinya juga terhitung ampuh, tapi jika kau telah berjumpa dengannya, entah kemanapun kau hendak melarikan diri, ia selalu dapat menghadang di hadapanmu, membuat kau kehabisan akal dan tak mampu banyak berkutik lagi”

Akhirnya Liat It lian mengerti juga akan duduk persoalannya.

“Kalau begitu, orang yang memaksaku kembali barusan adalah Sugong Siau-hong?” dia bertanya.

“Aku juga tak tahu benarkah dia atau bukan, aku cuma tahu kalau ia telah datang” “Darimana kau bisa tahu?”

“Karena aku tahu Liu Sam-keng betul-betul seorang yang buta, dia searang buta tulen yang tak bakal salah”

“Liu Sam keng apakah seorang buta atau tidak, apa pula hubungannya dengan Sugong Siau- hong?” tanya Lian It lian.

“Dari mana seorang buta bisa tahu kalau Ji-gi-Tay-tee adalah Siau lui yang sedang dicari? Dari mana pula dia bisa tahu kalau Siau lui berada di sini? Sekalipun daya pendengarannya jauh lebih tajam daripada orang lain, apakah persoalan itu juga dapat didengarnya dengan telinga?

“Oleh sebab itu kau beranggapan bahwa tentu ada orang lain yang memberitahukan hal ini kepadanya?”

“Pasti!”

“Apakah orang yang kau maksudkan pasti adalah Sugong Siau hong?” “Pasti!”

“Kenapa?”

“Sebab aku tak dapat memikirkan orang kedua selain dirinya”

Sekalipun alasan tersebut tak dapat dianggap sebagai alasan yang baik, namun bagi Lian It lian hal mana sudah terhitung lebih dari cukup.

Lian It lian bukan searang manusia yang biasa diajak membicarakan soal cengli. “Walaupun aku tak akan menggantung dirimu, tak akan memotong telingamu atau menelanjangimu, orang lain mungkin saja dapat melakukan hal tersebut atas dirimu” ujar Bu- ki lagi.

“Yang kau maksudkan “orang lain” apakah Sugong Siau-hong?”

Bu ki tidak mengakui pun tidak menyangkal, hanya ujarnya dengan hambar.

“Anak murid dalam perguruan Tay hong tong bukanlah orang orang yang terlalu penurut, bila ada seseorang memberikan perintahnya, maka ia sanggup membuat mereka untuk beradu jiwa deminya…..

Ia tertawa dan menambahkan: “Siapa orang ini, rasanya meskipun tak kuberitahukan kepadamu, kau juga semestinya tahu”.

Suara tertawanya begitu lembut dan halus, tapi codet di atas wajahnya membuat senyuman itu tampak lebih dingin, keji dan mengerikan.

Setelah berhenti sejenak, dia berkata kembali:

“Sejak aku berusia tiga belas tahun, setiap tahun ayahku tentu memerintahkan kepadaku untuk berdiam selama setengah bulan di rumahnya, hal ini berlangsung terus hingga aku berusia dua puluh tahun baru berhenti”

“kalau begitu kau pasti dapat memainkan pula ilmu pedang Sip ci hui kiam miliknya” kata Lian It lian.

“Aku bukan disuruh ayahku mempelajari ilmu pedangnya, tapi belajar sikapnya menghadapi orang, serta cara kerjanya memecahkan setiap persoalan”

“Oleh karena itu, kau lebih memahami tentang dirinya daripada orang lain”

“Yaaa, itulah sebabnya aku tahu bahwa dia yang menyuruh kau kembali ke sini, bukan betul- betul menginginkan agar kau berbicara sejujurnya kepadaku…!’

“Kenapa?”

“Karena diapun tahu kalau kau tak akan mengatakannya kepadaku”

“Kalau memang demikian, kenapa ia memaksaku kembali ke sini, agar bertemu kembali denganmu?”

“Ia tahu kalau dia adalah sahabatku, ia tak ingin turun tangan sendiri menghadapimu, maka sengaja ditinggalkan untukku” Lian It-lian ingin tertawa, namun suara tertawanya tak sanggup dikumandangkan: “Apakah dia ingin melihat dengan cara apakah kau hendak menghadapi diriku?”

“Iapun cukup memahami tentang diriku, walaupun aku tak akan menelanjangi tubuhmu dan menggantungmu di pohon, akupun tak akan memotong telingmu atau mematahkan kakimu, ia tahu bahwa aku tak akan melakukan perbuatan semacam itu”

Lian It-lian segera menghembuskan napas lega, katanya cepat: “Aku juga tahu, kau tak akan berbuat demikian!”

Bu-ki menatapnya tajam-tajam, kemudian sepatah demi sepatah ia berkata kembali: “Tapi aku dapat membunuhmu!” Sikapnya masih tetap lemah lembut dan halus. Tapi sikap yang lembut dan serius ini justru menambah perasaan yang lebih mengerikan, lebih manis dan seram bagi penglihatan orang lain.

Paras muka Lian It-lian telah berubah menjadi pucat pasi seperti mayat.

Kembali Bu-ki berkata: “Ia suruh kau kembali ke sini, karena dia suruh aku membunuhmu, sebab kau memang mempunyai banyak hal yang patut dicurigai, sekalipun aku bakal salah membunuhmu, ini jauh lebih baik dari pada melepaskanmu pergi dari sini”

Dengan terkejut Lian It-lian memandang ke arahnya, seakan-akan baru pertama kalinya melihat jelas wajah orang ini.

“Sekarang walaupun kita tidak melihat dirinya, ia pasti dapat melihat kita berdua” ucap Bu-ki lebih jauh, bila aku tidak membunuhmu, dia pasti akan merasa terkejut dan keheranan, jauh di luar dugaan, tapi ia pasti tak akan menghalangimu lagi”.

Tiba-tiba ia tertawa berderai, lalu pelan-pelan melanjutkan: “Oleh karena itu aku akan membuatnya merasa terkejut dan keheranan sekali lagi”

Lian It-lian tertegun dibuatnya.

“Oleh karena itu lebih baik cepatlah kau tinggalkan tempat ini” kata Bu-ki, lebih baik jangan biarkan aku bertemu lagi denganmu, untuk selamanya”

Lian It-lian makin terkejut lagi.

Tadinya dia mengira dirinya telah melihat jelas akan orang ini, sekarang ia baru tahu kalau dia telah salah melihat.

Tiba-tiba Liat It-lian bertanya: “Aku hanya ada sepatah kata yang hendak kutanyakan kepadamu” “Tanyalah”

“Kenapa kau melepaskan aku pergi?”

“Karena aku senang” Alasan tersebut tentu saja tak bisa terhitung sebagai alasan yang terbaik, tapi bagi Lian It-lian, hal tersebut sudah lebih dari cukup.

Malam semakin gelap, cuaca semakin pekat. Ketika Sugong Siu-hong memunculkan diri dari kegelapan, Bu ki masih duduk di situ dengan tenangnya.

Ia sudah tahu kalo Sugong Siau hong pasti akan datang.

Sugong Siau hong juga duduk tepat di hadapannya, lama sekali ia menatap wajahnya, kemudian menghela napas panjang.

“Ucapanmu memang benar”, demikian katanya, “memang aku yang mengajak Liu Sam keng datang kemari, aku memang sangat berharap kau bisa membunuh perempuan itu”.

“Aku mengerti!”

“Siau lui adalah seorang bocah yang sangat berbahaya, jalan yang terbaik adalah membiarkan Liu Sam-keng membawanya pulang”

“Aku mengerti!”

“Tapi aku tak habis mengerti mengapa kau tidak membunuh perempuan itu tadi?” Bu ki tidak menjawab.

Hakekatnya ia memang menolak untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Ia percaya Sugong Siau hong pasti juga tahu, bila ia sudah menolak untuk menjawab siapapun tak akan mampu untuk memaksanya buka suara.

Sugong Siau hong telah menunggu sekian lama, ketika belum juga ada jawaban tiba-tiba ia tertawa.

“Ada banyak persoalan yang ingin kutanyakan kepadamu, jika kau merasa senang untuk menjawab, maka jawablah, bila tidak senang untuk menjawab, anggap saja tidak mendengar pertanyaanku itu”

“Cara ini memang paling baik!” sahut Bu ki sambil tertawa pula. “Apakah engkau sudah tahu jejak dan kabar berita Siangkoan Jin. ?”

“Sudah!”.

“Apakah engkau sudah bertekad hendak mencarinya sampai ketemu?’ “Benar!”

“Kau bersiap-siap, kapan kau berangkat?” “Besok pagi!”

“Apakah kau bermaksud berangkat seorang diri?” “Tidak!”

“Masih ada siapa lagi?” “Li Giok tong”

“Apakah kau sudah tahu tentang asal-usulnya?” “Tidak!”

“Dapatkah kau menahannya saja disini?” “Tidak dapat”

“Mengapa kau bersikeras hendak mengajaknya pergi?” “Pertanyaanmu kali ini tidak kudengar!”

Sugong Siau hong tertawa.

“Sekarang aku tinggal satu pertanyaan terakhir yang ingin kutanyakan kepadamu, lebih baik kau dapat mendengarnya”.

“Aku sedang mendengarkan!”.

“Adakah suatu cara yang dapat menahanmu tetap tinggal di sini serta merubah rencanamu semula?”.

“Tidak ada”. PELAN-PELAN Sugong Siau hong bangkit berdiri, pelan-pelan berlalu dari situ.

Benar juga, ternyata ia tidak bertanya apa-apa lagi, ia hanya menatap Bu ki tajam, seakan- akan masih ketinggalan satu persoalan yang hendak diberitahukan kepada Bu ki.

Tapi ia tidak mengutarakannya keluar.

Di dunia ini mungkin tak ada orang yang kedua yang bisa merahasiakan isi hatinya sendiri serapat dan secermat dia, pun tak akan ada orang kedua yang bisa merahasiakan rahasia orang lain lebih rapat darinya.

..........Rahasia apakah yang sebenarnya tersimpan dalam hatinya? Tampaknya dia ingin sekali mengutarakan keluar, kenapa justru tak jadi mengucapkannya?

..........Apakah karena ia segan mengucapkannya? Atau ia memang tak dapat mengucapkannya.

Ia berjalan lambat sekali, tubuhnya yang jangkung dan ceking itu tampak agak membungkuk, seakan-akan terdapat beban-beban berat yang tak kelihatan sedang menindih di atas tubuhnya.

Menyaksikan bayangan punggungnya yang membungkuk, tiba-tiba Bu ki merasa ia sudah cukup tua, julukan Bi-kiam-khek (jago pedang tampan) yang dimilikinya dahulu, kini telah berubah menjadi seorang kakek yang banyak pikiran dan berperasaan berat. Perasaan semacam ini masih terhitung perasaan pertama yang pernah dialami Bu ki.

Bila seseorang terlalu banyak memiliki rahasia hati dan rahasia orang lain, maka proses penuaannya akan berlangsung lebih cepat.

Karena dia pasti akan merasa terlalu kesepian hidup sebatang kara. Terhadap kakek yang penuh dengan pikiran ini meski Bu ki juga menaruh simpatik, namun tak tahan juga ia harus bertanya pada diri sendiri.

..........Sebenarnya persoalan apa yang tertanam dalam hatinya sehingga ia pun harus dikelabui?

..........Selama ini aku selalu gagal untuk menemukan simpul mati tersebut, apakah simpul mati itu harus kutemukan dari atas tubuhnya?

SETELAH keluar dari pintu tiba-tiba Sugong Siau hong berpaling kembali sambil berkata:

“Tak perduli Sangkoan Jin pada saat ini telah berubah menjadi manusia apapun, dulu kita toh pernah menjadi sahabat senasib sependeritaan yang mati hidup bersama”, suaranya penuh dengan luapan rasa sedih, “sekarang kami telah tua semua, selanjutnya mungkin sudah tiada kesempatan lagi bagi kita untuk bertemu kembali, ada semacam barang, aku harap kau dapat mewakiliku untuk mengembalikan kepadanya”

“Kau berhutang kepadanya?”

“Di antara persahabatan yang telah berlangsung banyak tahun, sedikit banyak di antara kami memang sering terjadi hubungan timbal-balik. Sayang sekarang kami bukan sahabat lagi, sebelum kami mati semua aku harus membayar dulu semua hutang-hutang ini”

Ditatapnya Bu ki lekat-lekat, kemudian katanya kembali: “Oleh karena sebab itu kau harus berjanji kepadaku, benda itu harus kau serahkan kepadanya sebelum ia meninggal dunia”

Bu ki termenung dan berpikir sejenak lalu berkata: “Kalau yang bakal mati bukan dia melainkan aku, akupun pasti akan menyerahkan kepadanya sebelum napasku berhenti”

Pelan-pelan Sugong Siau hong menghela napas panjang.

“Aku percaya kepadamu. !” katanya, “setelah kau menyanggupinya maka kau pasti dapat

melakukan dengan sebaik-baiknya”.

Agaknya ia tidak terlalu mengkuatirkan mati-hidupnya Bu ki, diapun sengaja tidak memperlihatkan sikap kuatirnya terhadap keselamatan si anak muda itu.

“Benda apa yang harus kubawa?” tanya Bu ki kemudian. “Seekor harimau!”.

Ia benar-benar mengeluarkan seekor harimau dari sakunya, kemudian melanjutkan: “Kau harus mengabulkan permintaanku, apapun yang bakal terjadi, kau tak boleh menyerahkan harimau ini kepada orang lain, dalam keadaan apapun, kau juga tak boleh membiarkan benda ini jatuh ke tangan orang lain”

Bu ki tertawa getir. Tiba-tiba ia merasa bahwa Sugong Siau hong telah menganggap harimau itu jauh lebih penting daripada nyawa sendiri.

Maka diapun menjawab: " Baik kusanggupi permintaanmu itu!”

Harimau itu terbuat dari sebuah batu kumala putih.Itulah Harimau kumala putih. Bulan empat tanggal tujuh, cuaca cerah.

Akhirnya Bu ki berangkat meninggalkan tempat itu, ia berangkat meninggalkan perkampungan Ho hong san ceng dengan membawa seorang manusia serta seekor Harimau kumala putih. Tujuannya adalah benteng keluarga Tong, sumber dari segala macam senjata rahasia paling beracun yang paling tersohor di seluruh kolong langit.

Anak murid keluarga Tong tak terhitung jumlahnya, jago-jago lihaypun tak bisa dihitung dengan jari, baginya tempat itu tak lebih dari sebuah sarang naga gua harimau. Dia hendak menerjang masuk ke dalam sarang naga, mengobrak-abrik gua harimau dan mengambil anak harimau.

Selain daripada itu diapun harus mengantar Harimau kumala putih tersebut ke dalam sarang harimau.

Sedang orang yang mendampingi perjalanannya tak lain adalah seekor harimau yang setiap saat mengawasinya dan bersiap-siap menerkamnya dengan ganas.

MENGANTAR DIRI KE MULUT HARIMAU

BULAN empat tanggal sebelas, udara cerah.

BUlan empat di daratan Tionggoan bagaikan bulan tiga di wilayah Kanglam, burung beterbangan dengan riangnya, inilah musim semi yang indah, sayang dikala musim semi telah mencapai puncaknya, iapun akan berlalu dengan begitu saja.

Setelah sinar senja yang indah memancar kelangit magribpun menjelang tiba. Banyak persoalan di dunia ini adalah demikian, terutama segala hal yang tampak indah dan menawan.

Oleh karena itu, kau tak perlu besedih hati, kaupun tak usah merasa sayang, sekalipun keindahan bisa dikejar, kau tak akan mampu untuk menahannya.

Sebab inilah kehidupan manusia, ada sementara persoalan yang ingin kau tahan pun belum tentu bisa menahannya.

Kau harus dapat belajar untuk menahan ketidak berperasaannya, sebelum dapat memahami bagaimana caranya menikmati kehangatannya. JENDELA kereta terbuka lebar, angin sejuk menghembus muka melalui jendela dan menyiarkan bau harum semerbak ke seluruh ruang kereta itu.

Tiong Giok bersandar di dalam ruang kereta, angin sejuk kebetulan menghembus di atas wajahnya.

Ia merasa hatinya amat senang, mukanya bersinar terang, sehingga ia tampak lebih mirip seorang perempuan daripada perempuan sesungguhnya.

Ketika tirai bergoyang terhembus angin, dari dalam ruang kereta dapat pula terlihat Tio Bu ki yang menunggang kuda dan berjalan mengikuti di sisi kereta. Mereka telah melakukan perjalanan bersama, andaikata ia tidak sedang gembira, sekarang Tio Bu ki sudah menjadi sesosok mayat.

Selama empat lima hari ini, paling tidak ia sudah menjumpai sepuluh kali kesempatan baik untuk turun tangan, bahkan sekarangpun terhitung suatu kesempatan yang baik sekali.

Melongok dari luar jendela, hakekatnya Tio Bu ki bagaikan sebuah sasaran bidikan hidup, dari belakang kepala sampai ke pinggang, dari nadi besar di belakang leher sampai ke persendian tulang punggung, setiap bagian sudah berada dalam lingkungan sasaran senjata rahasianya, asal dia turun tangan, bagian mana yang akan menjadi sasaran di situlah dia akan temui sasarannya.