Harimau Kemala Putih Jilid 14

Jilid 14  

TONG GIOK segera tersenyum, katanya:

"Aku memang sedang menunggu jawaban darimu !"

"Disebelah selatan kota terdapat sebuah hutan lebar yang dinamakan Say cu lim (hutan singa), bukan cuma tanahnya yang luas, banyak pula pepohonannya, tempat itu merupakan sebuah rnmah makan di alam terbuka, dan kebetulan juga tauke rumah makan itu adalah sahabat karib Ciao In, itu ketua cabang kantor Tay hong tong disini!" Setelah berhenti sejenak, ia menerangkan lebih jauh:

"Sudah cukup lama Ciau In bercokol dikota ini menjabat kedudukannya sebagai kepala kantor cabang Tay hong tong!"

Tong Giok tertawa lebar, katanya kemudian:

"Buat mereka, tempat semacam itu memang terhitung suatu tempat yang paling bagus!"

Agaknya Cu ciangkwe ingin menebus dosanya dengan membuat pahala, penampilannya sekarang tampak begitu bersemangat dan begitu menjual tenaga.

Terdengar ia bertanya kembali dengan cepat:

"Sekarang dengan cara bagaimanakah kita akan mempersiapkan orang-orang kita?" "Aku harus berkunjung lebih dulu ke tempat lokaasinya sebelum mengambil keputusan" "Peninjauan akan dilakukaa kapan?"

"Aku pikir mereka pasti akan memilih besok sebelum senja untuk mulai melancarkan operasi ini, oleh karena itu kitapan tak perlu terlalu tergesa-gesa untuk melakukan pekerjaan ini"

Setelah tertawa, kembali ujarnya:

"Mulai sekarang sampai senja besok, hampir ada sepuluh jam lamanya waktu yang kita miliki aku pikir sepuluh jam yang tersedia tersebut sudah cukup buat kita untuk mengerjakan banyak urusan"

Sepuluh jam memang merupakan suatu jumlah waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan banyak persoalan, tapi apa saja yang telah mereka kerjakan selama ini?

"Operasi kita selama ini merupakan operasi yang pertama kalinya buat kita dipusat wilayah kekuasaan Tay hok-tong karena itu kalau tidak bergerak masih tidak mengapa, sekali bergerak hasilnya harus mengejutkan sehingga paling tidak harus menyuramkan ke wibawaan mereka dimata orang banyak!"

Sepasang mata yang sebenarnya begitu lembut, halus dan menawan itu, mendadak berubah menjadi begitu tajam melebihi tajamnya sembilu.

Dengan suara hambar ia berkata lebih jauh: "Kali ini bukan saja kita akan membunuh Samwan Kong, membunuh T"io Bu ki, membunuh Ciau In, kitapun akan membunuh semua orang Tay hong-tong yang berada disini "

Setelah mengucapkan empat kali kata "membunuh", namun senyuman lembut kembali menghiasi ujung bibirnya.

Angin berhembus kencang, tiba-tiba dari tengah udara berkumandang suara guntur yang menggelegar memekikkan telinga.

Sambil tersenyum Tong Giok kembali berkata:

"Kali ini kita akan membasmi orang-orang Tay hong tong ke akar-akarnya!" Sementara itu, Samwan Kong telah memberikan jawaban yang pasti untuk Bu-ki. Benar Sangkoan Jin memang berada di Benteng keluarga Tong!"

*****

SALING BERHADAPAN

BUNYI guntur menggelegar diudara, hujanpun turun dengan amat derasnya ......

Bu ki masih saja duduk diujung perahu tidak bergerak, dengan cepat curahan hujan deras membasahi sekujur tubuhnya.

Sejak kecil ia sudah amat membenci dengan hujan, bila tiap kali hujan sedang turun, ia selalu mengurung diri dalam kamar dan menbaca kitab-kitab sembahyangan yang hingga kini pun belum pernah dipahami olehnya .........

Tapi sekarang ia tidak terlalu membenci dengan hujan tersebut, sebab paling tidak air hujan bisa membuat kepala dan otaknya menjadi lebih dingin.

"Sangkoan Jin ternyata ada di Benteng keluarga Tong!"

Sekarang ia telah mengetahui jejak dari musuh besarnya, dengan cara apakah dia hendak menuntut balas atas sakit hatinya ini?

Bangunan benteng keluarga Tong luas sekali, aku tak dapat memastikan ia sebenarnya berada dimana, aku hanya pernah mendengar bahwa ia sudah kawin dengan seorang adik perempuan pocu, bahkan kini sudah menjadi salah seorang diantara beberapa orang anggota staf terpenting yang mengurusi kelurga Tong"

Sangkoan Jin sudah lama kehilangan istrinya karena ditinggal mati. Politik keluarga Tong terhadap pihak luar, persis seperti taktik politik yang pernah di pergunakan pihak pemerintah Han dimasa lalu, yakni gemar menggunakan hubungan "berbesan" untuk mengikat tali hubungan.

Perkawinan dari Sangkoan Jin ini pada hakekatnya telah menjadi semacam bukti bahwa antara dia dengan keluarga Tong sudah terikat suatu hubungan yang erat.

"Belakangan ini, jumlah anggota keturunan keluarga Tong bertambah makmur, jago lihaynya bertambah banyak, sejak berserikat dengan pihak Pek-lek tong, kekuasaannya bertambah besar, Tong ji siangseng dan Tong Oh, Tong Giok sekalian meski bernama lebih termashur dalam dunia persilatan tapi dalam benteng keluarga Tong sesungguhnya masih terdapat banyak sekali jago-jago lihay tak ternama yang mungkin jauh lebih menakutkan dari pada mereka"

Padahal persoalan-persoalan semacam ini tak perlu Samwan Kong terangkan, karena Bu-ki pun telah memahaminya..

Setelah melewati suatu masa penderitaan yang cukup sengsara, ia jauh lebih matang daripada dugaan siapapun atas dirinya.

*****

SAMWAN KONG telah barsembunyi dibalik ruang perahu, ia tak tngin kehujanan, tapi diapun tidak keberatan orang lain kehujanan.

Akhirnya Bu ki menengadah juga dan memandang ke arahnya, tiba-tiba ia berkata sambil tertawa:

"Aku tahu, apa yang sedang kau pikirkan sekarang". "Oya ?" Samwan Kong agak terkejut.

Kembali Bu-ki tertawa.

"Kau kuatir aku pergi ke benteng keluarga Tong untuk menghantar kematianku!" katanya. Samwan Kong mengakui kebenaran dari ucapan tersebut.

"Tapi kau tak usah kuatir" kata Bu-ki lagi "Akue sudah bukan manusia dungu yang bisanya cuma terbelalak dengan muka tertegun lagi, aku bukannya seorang bocah cilik yang cuma tahu mengadu jiwa dengan musuh besarnya. Akupun tak akan menangis sampai air mataku bercucuran, atau mata menjadi merah karena sedih, tak nanti aku akan menyusup ke dalam benteng keluarga Tong dengan begitu saja untuk mencari Sangkoan Jin" Sikapnya berubah menjadi mantap dan tenang, terusnya:

"Karena sekarang aku telah tahu, menderita dan terburu napsu hakekatnya tak akan mampu untuk menyelesaikan pelbagai persoalan, semakin menderita kau, musuhmu semakin senang, semakin terburu napsu kau, musuhpun semakin girang"

Kali ini Samwan Kong tertawa, ujarnya:

"Aku memang sudah tahu kalau kau bukan manusia sejenis telur busuk kecil yang pura-pura berlagak seperti seorang berbakti kepada orang tuanya.”

"Tadi kau masih melihat aku tertipu, tapi aku jamin peristiwa tersebut merupakan kejadian yang terakhir kalinya bagiku"

"Semoga saja betul-betul memang untuk terakhir kalinya " Samwan Kong kembali tersenyum.

“Akupun dapat menjamin kepergianku kali ini bukan untuk menghantar kematian dengan percuma, selama Sangkoan Jin masih hidup, aku tak akan mati duluan.”

Ia tidak menggertak gigi mengangkat sumpah, diapun tak mengtarakan kata-kata sesumbar, penampilannya yang tenang tersebut sebaliknya malah justru lebih mencerminkan kebulatan tekadnya.

"Aku pun tak akan membiarkan tiga orang yang sepanjang jalan menguntil dirimu terus menerus itu pulang dari sini dalam keadaan hidup!" kata Bu ki dengan tegas.

"Apa yang hendak kau lakukan?" Samwan Kong bertanya. Bu ki cuma termenung, tiada jawaban.

"Kalau ingin memancing ikan, kita harus memilih tempat yang baik" kata Samwan Kong, "aku tahu ditempat ini terdapat sebuah hutan yang bernama Say cu lim, tempatnya luas dan banyak pepohonannya "

"Aku tahu tentang tempat itu, aku pernah kesana!" tukas Bu ki sebelum ia menyelesaikan kata-katanya.

"Tempat yang luas dan lebar lebih mudah digunakan untuk menghindari senjata rahasia, tempat yang banyak pepohonannya lebih gampang dipakai untuk tempat persembunyian"

"Tapi tempat yang luaspun lebih gampang buat mereka untuk melarikan diri, lagi pula mereka berada dalam kegelapan sekarang, sedang yang membantu kita masih terlalu minim" "jadi menurut anggapanmu tempat itu tidak bagus?" "Tidak bagus!"

"Jadi kalau begitu kau ”

"Bagaimana caranya kau menyusup kedalam benteng keluarga Tong?" tiba-tiba Bu ki menukas pembicaraanya sambil mengajukan pertanyaan semacam itu.

"Sekilas pandangan, keluarga Tong ibaratnya suatu kota yang amat ramai, didalamnya terdapat beberapa buah jalan raya, beberapa puluh buah toko dan rumah makan, asal kau dapat mengatakannya maka disanapun akan kau jumpai"

"Kalau memang ada toko disana, itu berarti tak bisa dihindari lagi mereka tentu mempunyai hubungan dengan orang luar dalam soal perdagangan"

Samwan Kong tertawa.

"Tepat sekali" katanya, "oleh karena itu akupun menyamar sebagai seorang pedagang besar yang datang dari Liau tang dengan membawa separtai besar Jinsom asal tiang pek san dan separtai besar dagangan kulit domba, dengan gaya pedagang yang murni aku memasuki benteng keluarga Tong"

"Kemudian, secara bagaimana mereka bisa mengetahui kalau toa tauke ini sesungguhnya seorang tauke gadungan?"

"Dalam keluarga Tong terdapat seorang telur busuk kecil, ketika sedang kalah bertaruh diapun hendak main gila denganku, perbuatan itu ketahuan aku maka kuhajar dirinya habis- habisan, kemudian ia tidak melanjutkan kembali kata-katanya.

Dalam keadaan seperti ini, ia masih bertaruh, masih juga memukuli orang, tentu saja ia merasa agak rikuh untuk menceritakan kesemuanya secara terus terang.

Bu-ki tersenyum, katanya:

"Aku jadi teringat dengan sepatah kata lama yang sering dipakai oleh para setan judi.”

"Kata-kata lama biasanya adalah kata-kata yang baik, sedikit banyak tentu punya alasan yang cukup kuat"

"Seringkali, arti kata dari suatu kalimat belum tentu hanya menunjukkan satu hal saja.” "Tapi, bagaimanakah bunyi dari ujar-ujar lama tersebut?" tanya Samwan Kong ingin tahu. "Apa yang dihabiskan dalam perjudian harus dirampas kembali pula lewat perjudian!"

Haaahhh. . . . haaahhh. . . . haaahhh. yaa, kata-kata ini memang amat cocok, ucapan

tersebut memang sangat masuk di akal!" seru Samwan Kong sambil tertawa terbahak-bahak.

"Tempo hari, mereka berhasil menangkap ekormu dari meja perjudian, maka kali ini apa salahnya jika kau biarkan mereka menangkap ekormu sekali lagi.”

"Selama tugas itu diembel-embeli dengan judi, aku pasti akan setuju!" kata Samwan Kong tertawa.

"Walaupun pepohonan merupakan tempat persembunyian yang baik, tapi masih ada sesuatu yang jauh lebih baik lagi dari pada pepohonan tersebut."

Benda apakah itu?” "Manusia!"

Setiap tempat yang ada tempat judinya, disitu pasti ada orang, asal pertaruhannya berlangsung seru, maka manusia yang berkumput di sana pasti tak sedikit jumlahnya.

Dimana Samwan Kong hadir, tentu saja tempat itu tak mungkin tak akan ramai. Tiba-tiba Samwan Kong mcnggelengkan kepalanya sambil berseru:

"Cara ini tidak baik!" "Kenapa tidak baik?"

"Senjata rahasia dari keluarga Tong tidak bermata, andaikata sampai menghajar ditubuh orang lain, bukankah orang-orang itu akan mati dengan penasaran?"

"Keluarga Tong bukan komplotan urakan yang bertindak secara ngawur, bagaimanapun juga mereka adalah orang-orang dari keluarga persilatan, merekapun memiliki peraturan rumah tangga yang ketat, apalagi senjata rahasia mereka berharga sekali, tak nanti mereka akan sembarangan mempergunakan senjata rahasianya, apalagi sebelum yakin jika serangannya akan memberikan hasil yang diharapkan!"

Setelah tertawa, kembali ujarnya:

"Oleh karena itu semakin banyak orang disana semakin kalut suasananya, mereka semakin tak berani melepaskan senjata rahasianya secara sembarangan!" "Tapi didalam kekalutan suasana seperti itu bukankah kitapun sama saja sulit untuk menemukan mereka?"

"Kita pasti akan berhasil menemukan mereka!" "Kenapa?"

"Sebab Tay hong tong mempunyai kantor cabangnya disini, paling tidak dalam sebuah kantor cabang tentu teedapat puluhan orang saudara yang bersedia membantu kita"

Akhirnya Samwan Kong paham juga, katanya kemudian:

"Oleh karena itu, orang yang akan berjudi denganku, semuanya adalah saudara-saudara dari Tay hong tong"

"Yaa betul, setiap orang adalah orang sendiri!"

“Tapi kau harus memperlihatkan lebih dulu wajah-wajah mereka semua kepadaku!"

"Bahkan akupun bisa meninggalkan tanda rahasia di tubuh mereka yang hanya dipahami oleh mereka sendiri, orang lain tak akan melihat tanda rahasia tersebut, maka jika orang-orang dari keluarga Tong muncul disitu. "

"Maka keadaaaaya seperti tiga ekor tikus yang kecebur dalam tepung, bahkan seorang butapun dapat menanggap mereka keluar!" sambung Samwan Kong sambil tettawa tergelak.

"Benar, benar sekali!" Bu ki ikut tertawa.

Tiba-tiba Samwan Kong menggelengkan kepalanya lagi.

"Cara ini tidak baik, paling tidak ada sedikit yang tidak baik !" katanya. "Bagaimana yang kurang baik?"

Samwan Kong tertawa terbahak-bahak.

"Kalau orang yang bertaruh denganku semuanya adalah saudara-saudara sendiri, aku kan menjadi rikuh untuk menangkan uang mereka!"

Suara guntur membelah bumi, hujan kembali turun dengan derasnya seperti diguyurkan dari langit. Cia In sedang berdiri ditepi jendela sambil memandang hujan deras yang mirip sebuah tirai tersebut, sebenarnya dia bermaksud hendak menutup jendela, tapi entah mengapa, tiba tiba saja ia menjadi berdiri terkesima disana.

Tempat ini adalah suatu tempat yarg kering, sudah lama sekali belum pernah turun hujan sede-ras ini.

Dia masih ingat, hujan deras terakhir turun pada bulan sembilan tahun berselang.

Dia masih ingat jelas hal itu, karena pada malam tersebut ia telah kedatangan dua orang tamu agung, yaitu satu adalah Ci Peng sedang yang lain adalah Toa siocia dari keluarga Tio, Tio Cian-cian.

Sebenarnya waktu itu adalah musim gugur yang berhawa kering, disiang hari panasnya bukan kepalang, sedang hujan deras pada malam harinya segera mengguyur panas disiang harinya, ia telah menyiapkan sedikit sayur arak ditambah buah untuk menikmatinya seorarg diri.

Pada saat itulah. Ci Peng dan Cian-cian telah datang, bahkan keadaan mereka mengenaskan sekali.

Kemudian ia baru tahu kalau mereka sudah berdiam selama due bulan diatas bukit Kiu hoa- san demi menemukau jejak Bu ki, siapa tahu bukan saja Bu ki tidak ditemukan, malah sebalikmpa Hong nio ikut lenyap tak berbekas. . . .

Watak toa siocia tersebut betul-betul jelek sekali, terhadap Ci Peng selalu saja ia membentak atau mengahrdik seenaknya, sedikitpun tidak bermaksud memberi muka kepadanya.

Tapi Ci Peng sedikitpun tidak marah.

Semenjak Hong-nio lenyap tak berbekas, sepasang muda-mudi ini hidup sendirian di atas bukit yang terpencil, apa yang kemudian terjadi atas diri mereka berdua?

Tentu saja Cia In tidak bertanya, dia tak berani untuk menanyakan persoalan semacam itu.

Selamanya dia adalah seorang manusia yang bersikap teliti dan tahu diri, walaupun tak pernah melakukan suatu pakerjaan besar, dia pun tak pernah melakukan pelanggaran besar.

Sekalipun ia selalu merasa bahwa Ci Peng terlalu lemah dan mengalah, bukan berarti ia jemu terhadap pemuda yang mau berjuang untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi ini, bahkan diapun akan merasa gembira sekali bila Ci Peng dapat mempersunting Tio-siocia ini.

Maka dari itu, dia menitahkan orang untuk menambah arak, menambah sayur dan menyiapkan kamar tamu. Tapi Tio toa-siocia bersikeras hendak berangkat lagi pada malam itu juga, mereka berkunjung kesana tak lebih karena ingin mencari ongkos jalan, nona itu minta tiga ribu tahil perak.

Tiga ribu tahil bukan termasuk suatu angka yang kecil, jumlah tersebut sudah cukup bagi mereka untuk pergi kc tempat yang jauh sekali, hendak kemanakah toa siocia?

Ciau In pun tidak bertanya.

Banyak yang dikerjakan banyak pula kesalahannya, banyak bicara hanya mengundang datangnya bencana, semakin banyak persoalan yang diketahui, semakin banyak juga kesulitan yang dihadapi.

Itulah merupakan dasar teori paling penting yang harus dicamkan oleh setiap manusia.

Justru karena ia selalu dapat memegang teguh teori tersebut, maka dalam jabatannya yang sekarang ini ia bisa bercokol selama dua puluh tahun lamanya.

Dua puluh tahun bukan suatu jangka waktu yang terlampau singkat.

Dalam peristiwa "Heng-in Pacu" si macan tutul yang mujur tahun berselang, ia bukannya tidak mendengar tentarg hal tersebut, diapun bukannya tidak tahu kalau Heng-in pocu tak lain adalah Toa-kongcu dari Tio Kian, Tio Jiya.

Tapi oleh karena Bu ki tidak datang mencarinya, maka diapun berlagak seolah-olah tidak tahu.

Hari ini Samwan Kong datang berkunjung, ia disuruh menyambut kedatangan seseorang, siapakah orang itu? Sedikit banyak dalam hati kecilnya telah ada perhitungan.

Tapi, kalau toh orang lain tidak mengatakannya, buat apa pula ia mesti banyak urusan?

Lebih banyak yang dikerjakan lebih banyak pula kesalahan yang akan dilakukan, makin sedikit yang dkerjarkan makin sedikit pula kesalahannya, apalagi kalau tiada sesuatu yang dikerjakan, pasti tiada kesalahan juga yang akan dilakukan.

Seseorang yang telah berusia enam puluh tahun lebih, apakah masih ingin terlalu menonjolkan diri? Apakah dia masih ingin melangkak lebih ke atas lagi, menjadi seorang Tongcu?”

Sekarang ia sudah mempunyai sedikit tabungan, di luar kotapun memiliki beberapa hektar sawah yang penanamannya diserahkan kepada dua orang buruh tani untuk mengerjakannya, tiap tahun ia tinggal memungut hasil penanamannya saja. Sejak istrinya mengidap penyakit asma, mereka tidur berpisah kamar, tapi tak pernah terlintas dalam ingatannya untuk mencari bini muda lagi, apalagi terhadap dayang-dayang dalam rumahnya, ia lebih-lebih tak pernah menyentuhnya.

Peraturan dalam Tay-hong tong sangat ketat, ia tak boleh membiarkan orang lain membicarakan soal isengnya secara diam-diam.

Akan tetapi setiap kali dalam Liu cun wan didalam kota sana datang seorang nonva cilik yang masih baru dan orisinil! dari pihak rumah pelacuran tersebut pasti akan mengirim orang untuk memberi kabar kepadanya, kemudian diapun akan mengatur suatu tempat pertemuan yang sangat rahasia, untuk menikmati malam syahdu tersebut dengan penuh kenikmatan.

Barter semacam itu merupakan suatu transaksi perdagangan yang sama-sama tidak saling merugikan, dia tak perlu malu atas perbuatannya itu, diapun tak perlu kuatir atas terjadinya banyak kesulitan atas kejadian tersebut .....

Apalagi didalam usianya yarg lanjut seperti ini, ternyata ia masih cukup "bertenaga" untuk melakukan pekerjaan semacam ini, sedikit banyak timbul juga perasaan girang dalam hatinya.

Setiap kali selesai "bekerja", ia selalu merasakan semangatnya menjadi segar dan berkobar kembali, semangat kerja pun akan berlipat ganda.

Oleh karena itu ia sudah merasa puas sekali dengan cara hidupnya yang sekarang ini.

*****

UDARA kembali terasa agak dingin, dia ingin menyuruh Po-hok menyiapkan sedikit arak dan sayur, sebab pada setiap malam yang sedang hujan deras, ia selalu suka minum dua cawan arak.

Popohok adalah pelayan kepercayaannya, sudah hampir dua puluh tahun lebih ia bekerja mengikutinya, dihari-hari biasa jarang sekali ia berpisah dari sisinya.

Tapi hari ini sudah dua kali ia berteriak memanggil namanya, namun belum ada juga suara jawabannya.

Usia Po-hok tidak terhitung kecil, telinganya sudah tidak setajam dahulu lagi, lewat beberapa waktu kemudian, sudah sepantasnya kalau ia diberi kesempatan untuk menikmati sisa hidupnya dengar aman, tenang dan penuh kebahagiaan.

Po hok, po-hok, hanya mereka yang tahu bagaimana caranya melindungi (Po) rejekinya (Hok), baru benar-benar akan mendapat rejeki sepanjang waktu ...... Ciau In menghela napas dalam hatinya kemudian pelan-pelan berjalan kedepan pintu dan berteriak kembali memanggil nama pelayannya"

Dari luar segera terdengar suara sahutannya: "Aku sudah datang!"

Baru saja jawaban itu terdengar, seseorang telah melayarag masuk dengan kecepatan luar biasa.

Ia bukan berjalan masuk, pun bukan berlarian tapi melayang, melayang masuk bagaikan sebatang balok kayu kemudian seperti pula sebatang batok kayu tergeletak diatas tanah, tak berkutik lagi.

Orang itu memang Po hok, cuma ia sudah tak bernapas lagi, sebab tulang tengkuknya sudah dipatahkan orang.

Sekujur tubuh Ciau In menjadi dingin dan kaku, dan merasa tubuhnya seakan-akan tercebur ke dalam gudang es yang dingin sekali.

Suara guntur kembali menggelegar di angkasa, kilat ikut menyambar-nyambar.

Ia menjumpai seseorang sambil membawa sebuah payung berdiri dibawah wuwungan rumah, tepat dihadapannya sana.

Tapi menunggu suara guntur menggelegar untuk kedua kalinya, tahu-tahu orang itu sudah berdiri persis didepan matanya.

Dia adalah seorang pemuda yang masih muda belia, mukanya halus dan ayu, kulitnya putih kemerah-merahan sehingga sepintas lalu lebih mirip seorang gadis daripada seorang pemuda.

Tentu saja ia tak tahu kalau orang ini tak lain adalah orang yang paling keji dan perbuatannya paling kejam diantara anak keturunan keluarga Tong lainnya Tong Giok adanya.

Namun dengan pengalaman yang dimilikinya selama banyak tahun ia sudah merasa bahwa dengan kemunculan orang ini, maka kehidupannya yang aman dan tenang selama inipun akan berakhir.

Ia saksikan orang itu pelan-pelan melipat payung kertasnya dan meletakkan dibelakang pintu, ia selalu berusaha mengendalikan perasaannya, berusaha untuk bersikap setenang mungkin.

Akhirnya Tong Giok mendongakkan juga kepalanya dan memandang kearahnya sambil tertawa.

"Bukankah Po hok telah datang?" demikian ia berseru, "siapa lagi yang hendak kau cari?” Gelak tertawanya bertambah riang, katanya lebih jauh.

"Empat puluh tiga orang saudaramu dalam kantor cabang ini telah datang semua dan kini sedang menunggu diluar halaman sana, bila aku memanggil mereka akan datang, cuma

...tentu saja mereka tak bisa datang sendiri tanpa bantuanku"

Ciau In merasakan hatinya tertekan seakan-akan terjatuh dari atas bukit yang puluhan ribu kaki tingginya.

Walaupun orang itu berbicara dengan suara yang lembut dan senyuman manis menghiasi seluruh bibirnya, namun ia membawa hawa pembunuhan yang menggidikkan hati.

Bila manusia semacam ini berkata bahwa ia telah membunuh empat puluh tiga orang, maka sudah pasti ke empat puluh tiga sosok mayat itu telah berbaring dalam halaman, tak mungkin akan kurang walau hanya sesosokpun.

Ciau In tahu peluh dingin telah membasahi sekujur tubuhnya, bahkan kerutan diatas wajahnya yang mulai mengejang keraspun tak sanggup dikendalikan lagi.

Empat puluh tiga orang dengan empat puluh tiga lembar nyawa, mereka semua adalah saudara-saudara seperkumpulannya yang berkumpul dan bergaul selama banyak tahun.

Siapakah orang ini? Kenapa ia turun tangan sekeji ini terhadap mereka semua? Tong Giok tersenyum.

"Kau tak akan bisa menebak siapakah diriku ini, sebab ditanganku tidak mengenakan sarung tangan kulit menjangan yang berat dan tebal itu, senjata rahasiaku pun tak akan kusimpan dalam kantung kulit yang menjemukan, aku tak ingin orang lain segera mengetahui asal usulku hanya dalam sekilas pandangan saja"

"Kau berasal dari keluarga Tong?" Ciau In bertanya. "Akulah Tong Giok !"

Ciau In pernah mendengar nama ini, bahkan bukan cuma satu kali ia mendengar nama tersebut.

Konon orang ini pernah menciptakan rekor pembunuh orang paling banyak dalam semalaman suntuk .

Seratus tiga orang anggota Hu tau pang yang banyak tahun berselang bercokol di wilayah Cuan-tang telah disikat habis semua olehnya hanya dalam satu malam. Tiba-tiba Ciau In bertanya:

"Kau benar-benar pernah membunuh seratus tiga orang dalam semalaman suntuk?" "Aaah, itu mah bohong!" sahut Tong Giok, dengan suara tawar ia melanjutkan:

"Aku hanya membunuh sembilan puluh sembilan orang, sedang sisanya yang empat orang mampus lantaran ketakutan!" Ciau In segera menghela napas. "Aaai kelihatannya akupun

bukan tandinganmu!" ia berbisik.

"Yaa, sudah pasti kau bukan tandinganku!" "Sampai kapan kau baru akan membunuhku?" Aku belum tentu akan membunuhmu!" Apakah aku masih agak berguna bagimu” "Yaa, sedikit saja!"

"Apakah aku harus melaksanakan perintahmu sebelum peroleh pengampunan darimu?" "Apa yang bisa kau lakukan bagiku?" Tong Giok balik bertanya.

"Semua orang dari Tay-hong tong percaya kepadaku, walaupun saat ini semua saudaraku telah mati tapi aku bisa mengarang sebuah cerita palsu untuk mereka dan merekapun tak akan mencurigai diriku, karena itu aku masih bisa menjadi seorang Taucu dari kancor cabang ini, aku dapat mempersembahkan semua rahasia Tay hong-tong kepada kalian, jika ada dari orang-orang kalian yang datang kemari, akupun bisa mencarikan akal untuk melayaninya"

“Oooh, itu terlampau baik!"

"Aku bahkan bisa membatu kalian untuk memancing Tio Bu ki datang kemari, aku tahu bahwa kalian tentu ingin sekali membunuhnya, membabat rumput sampai seakar-akarnya".

"Tepat sekali"

"Meskipun aku seorang tua bangkotan yang loyo, tapi orang yang semakin tua sebenarnya semakin takut mati"

"Aku mengerti!" "Aku amat senang untuk melewati kehidupan seperti sekarang ini, aku benar-benar enggan untuk mati duluan, maka dikala senggang aku sering kali berpikir, kalau aku berjumpa dengan keadaan seperti hari ini, apa yang harus kulakukan?"

"Menurut pendapatmu?"

"Ilmu silatku sudah lama terbengkalai, sekalipun bertarung melawanmu, paling banter hanya akan membuat malu diri sendiri"

"Ehmm . . ! Kau benar-benar scorang manusia yang tahu diri"

"Maka dari itu sudah lama aku bertekad, seandainya menjumpai keadaan seperti ini maka aku hanya bisa menghianati Tay hong-tong untuk menyelamatkan jiwa sendiri"

Berbicara sampai disitu, pelan-pelan ia melanjutkan:

"Seorang manusia hanya mempunyai selembar nyawa, apapun juga persoalannya, tak akan lebih berharga dari pada nyawa sendiri"

"Yaa, perkataan itu memang tepat sekali"

"Maka jika seseorang bersedia mangorbankan jiwanya hanya dikarenakan persoalan lain, maka orang itu sudah pasti adalah seorang telur busuk yang goblok!"

Tong Giok tersenyum.

"Tentu saja kau bukan seorang telur busuk yang goblok bukan?" katanya. "Aku adalah telur busuk goblok yang kumaksudkan tadi!"

Agaknya Tong Giok merasakan jawaban tersebut sama sekali diluar dugaannya, cepat ia bertanya lagi:

"Kau adalah seorang telur busuk yang goblok?"

"Hingga kini aku baru benar-benar menjumpai keadaan seperti ini, sekarang aku baru tahu bahwa kematian dari seseorang sesungguhnya bukan suatu hal yang terlalu penting, bahkan kadang kala daripada hidup lebih enakan mati!"

"Apakah kan bersedia menjadi seorang telur busuk yang goblok" "Aku bersedia!"

***** CIAU IN malah menubruk kedepan, menubruk ke muka dengan menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya, kepalannya yang keras seperti baja langsung diayunkan ke wajah Tong Giok.

Seseorang yang bisa menjabat sebagai ketua cabang Tay-hong-tong selama banyak tahun, tentu saja dia bukan seorang manusia yang sama sekali tak berguna.

Ia pun pernah berlatih ilmu silatnya dengan tekun, ilmu Tay-hong-kun yang dilatihnya cukup bisa diandalkan. sekalipun sudah banyak waktu tak pernah turun tangan, tapi serangan tersebut masih dapat dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, apalagi disertai dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, tentu saja serangan tersebut benar-benar amat dahsyat.

Ia benar-benar sedang beradu jiwa!

Tapi sayang, tandingannya kali ini adalah Tong Giok.

Baru saja kepalannya diayunkan ke depan, jari-jari tangan Tong Giok yang halus telah mematahkan tulang tenggorokkannya.

Pelan-pelan ia mundur kembali dua langkah, lalu pelan-pelan roboh terkapar keatas tanah, seperti seorang yang amat lelah sedang membaringkan tubuhnya diatas pembaringan, ia roboh dengan begitu pelan dan tenang.

Sesaat menjelang elmaut merenggut selembar nyawanya, orang yang takut mati ini tiba-tiba saja menjadi sedikitpan tidak takut.

Sebab siapa menginginkan kebajikan dia akan menerima kebajikan, dan kini apa yang diharapkan telah terpenuhi.

Ia merasa dirinya telah menunjukkan rasa baktinya kepada Tay hong-tong, iapun menunjukkan kesetiaannya kepada empat puluh tiga orang saudaranya yang berada diluar halaman.

Ia tak usah malu pula terhadap dirinya sendiri.

*****

MENYAKSIKAN orang yang rela menjadi seorang telur busuk yang bodoh itu terkapar ditanah, entah apa yang dipikirkan Tong Giok?

Dikala membunuh orang, sekulum senyuman selalu akan menghiasi ujung bibirnya, tapi kali ini senyuman tersebut hampir boleh dibilang lenyap tak berbekas. Setelah membunuh orang, ia selalu akan merasakan suatu kegembiraan dan kepuasan yang sadis dan mengerikan.

Tapi yang ini dia merasa begitu kosong, hambar dan tiada perasaan apa-apa. Bahkan ia merasa begitu tidak bernapsu. tidak senang hati.

Sekarang ia baru mengerti apakah seseorang benar-benar pemberani atau tidak, tak akan diketahui dihari-hari biasa.

Seseorang yang dihari biasa kelihatan lemah dan tak berguna, seringkali menun-jukkan keberanian yang mengagumkan dikala menghadapi kematian.

Sebaliknya seseorang yang dihari-hari biasa selalu bertepuk dada sambil mengatakan tak takut mati, biasanya setelah berada dalam keadaan demikian malah sebaliknya akan ketakutan dan barusaha melarikan diri dari ancaman tersebut.

Tidak terasa lagi Tong Giok bertanya kepada diri sendiri.

Andaikata aku adalah Ciau In dan aku berada dalam keadaan seperti hari ini, apa pula yang akan kulakukan?"

Dia tak ingin mengetahui jawabannya.

Dengan langkah lebar, cepat-cepat ia berjalan keluar dari ruangan dan meninggalkan tempat itu.

*****

SEANDAINYA Ciau In benar-benar bersedia menghianati teman-temannya untuk menyelamatkan jiwa sendiri, Tong Giok tetap saja akan membunuhnya.

Cuma perasann Tong Giok setelah membunuh orang waktu itu akan jauh berbeda sekali.

Dia akan merasakan kegembiraan yang meluap-luap, merasa sangat puas dan senang karena ia kembali telah mempermainkan watak atau perangai manusia.

Tapi sekarang diapun mulai mengerti, disuatu saat perangai manusiapun akan berubah, sering kali orang akan merasakan pula harga dirinya.

Sering kali orang akan merasa bahwa harga diri jauh lebih bernilai beratus-ratus kali dari apapun didunia. Jika seseorang telah berpendapat demikian, maka siapapun jangan harap bisa membuat malu dirinya lagi.

Hal mana sedikit banyak telah menimbulkan pula rasa hormatnya terhadap "manusia" atau

paling tidak, dikala ia berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut ia mempunyai perasaan demikian.

Walaupun belum tentu perasaan tersebut akan berdiam terlalu lama didasar hatinya.. Yaa, begitulah keadaan dari Tong Giok. seorang manusia super aneh dari keluarga Tong.

*****

ILMU HAWA DINGIN

BULAN empat tanggal tiga, udara cerah.

Semalaman suntuk Tong Ci tham tak tidur nyenyak, ketika bangun keesokan harinya ia merasa pinggangnya linu dan tulangnya sakit, ia merasa perasaannya masgul sekali, ia menyesal kenapa kali ini mengikuti Tong Giok keluar rumah dan melakukan perbuatan yang sama sekali tidak disukai olehnya.

Setiap kali melakukan perjalanan, ia selalu akan menginap dirumah penginapan yang termahal dan paling nyaman, tapi kali ini Tong Giok bersikeras menolak usulnya itu.

Maka terpaksa mereka harus menyiapkan tiga lembar pembaringan dalam rumah kayu kecil yang gelap dan pengap dibelakang warung lombok yang kotor dan bobrok itu.

Pembaringan dari Tong Giok agaknya semalam dibiarkan kosong, sebaliknya Tong Kau yang bertampang seperti monyet tidur begitu nyenyak sehingga mendengkur macam babi.

Cu ciangkwe serta Oh Po cu yang berada dikamar sebelah selalu berbolak balik pula diatas pembaringannya, jelas tidur merekapun tidak nyenyak.

Hingga mendekati fajar, ia baru terlelap tidur sebentar, ketika bangun Tong Giok sudah mulai sarapannya.

Semangkuk besar nasi goreng telur yang panas sudah dihabiskan separuh mangkuk lebih.

Napsu makannya seperti selalu baik dan besar ia selalu makan sangat banyak dan tak pernah memilih bahan makanan.

Tong Koat yang amat memperhatikan soal makanan pernah berkata begini: "Sekalipun kau memasak sebatang balok kayu, dia toh sama saja akan melahapnya sampai habis"

Berbeda dengan pendapat Tong Oh, ia berkata begini:

"Sekalipun kau tidak memasaknya hingga matang, ia tetap bisa menghabiskannnya dengan tenang"

Keluarga Tong bukanlah suatu keluarga yang kaya mendadak, semua anak keturunan keluarga Tong amat menaruh perhatian terhadap pakaian dan makan minum mereka.

Satu-satunya yang terkecuali adalah Tong Giok. Seringkali Tong Ci tham merasa heran:

Kenapa manusia semacam ini masih bisa hidup? Apakah dia hanya hidup untuk membunuh orang?

Ia tahu, semalam Tong Giok pasti telah membunuh orang, sebab biasanya setelah membunuh orang dia tentu mempunyai selera makan yang sangat baik.

Ketika Tong Kau dan Oh Po-cu masuk ke dalam ruangan, ia sudah menghabiskan mangkuk yang ke tujuh.

Akhirnya ia turunkan juga sumpitnya. kemudian sambil memandang ke arah mereka dengan senyuman dikulum, katanya:

"Aku yang menggoreng sendiri nasi itu, telah kugunakan minyak babi setengah kati serta sepuluh butir telur ayam, rasanya sih tidak terlalu jelek, apakah kalian punya minat untuk makan barang dua mangkok saja?"

Sepagi ini, siapa yang tega makan nasi goreng telur dengan minyak sebanyak itu?" Tiba-tiba Tong Ci tham bertanya:

"Siapa yang telah kau bunuh semalam?"

"Kau tahu kalau aku telah membunuh orang ?" Tong Giok balik bertanya sambil

tertawa.

"Tapi aku tak dapat menduga manusia berharga manakah yang pantas kau bunuh ditengah malam buta seperti itu?" "Tidak sedikit orang yang pantas dibunuh di tempat ini" jawab Tong Giok kembali, "sayang aku hanya membunuh empat puluh empat orang!"

Waktu itu Cu ciangkwe baru saja akan menghirup air teh, tapi setelah mendengar jawaban tersebut, saking kagetnya air teh itu sampai muncrat keluar lagi lewat lubang hidungnya.

Agaknya Tong Ci-tham sudah terbiasa oleh berita semacam itu, dia hanya bertanya: "Empat puluh empat orang?"

"Yaa, mereka adalah Ciau In beserta ke empat puluh tiga orang anggotanya dalam kantor cabang!"

Paras muka Tong Ci-tham segera berubah hebat.

"Apakah kau tak dapat menunggu sampai kita membunuh Tio Bu ki lebih dulu baru membunuh mereka?"

"Tidak bisa!"

"Kau tidak kuatir mengusik rumput mengejutkan sang ular?" "Tidak takut!"

Tong Ci-tham tidak berbicara lagi, diapun tiada perkataan yang bisa diucapkan lagi.

Tong Giok memenuhi sendiri cawannya dengan air teh panas. kemudian pelan-pelan meneguknya, setelah itu sambil tersenyum dia baru berkata:

"Kemarin malam sebenarnya aku telah berencana untuk tidur nyenyak, aku pun tak ingin menempuh hujan badai untuk pergi membunuh orang"

"Kemudian, mengapa kau berubah pikiran?" tak tahan Tong Ci-tham bertanya. "Karena secara tiba-tiba aku telah teringat akan suatu hal"

"Apakah itu?"

"Tiba-tiba saja terpikir olehku bahwa pepohonan bukanlah suatu tameng atau tempat perlindungan yang paling baik, masih ada semacam pelindungan lagi yang jauh lebih baik.”

"Apakah itu?" "Manusia!" Tong Ci-tham melongo, jelas ia tidak habis mengerti.

"Bila Tio Bu-ki cukup pintar, maka dia pasti dapat menduga bahwa kita tak akan menghamburkan senjata rahasia perguruan kita yang jauh lebih berharga dari emas ini pada tubuh sekawanan manusia yang sama sekali tiada sangkut paut dengannya" kata Tong Giok.

"Yaa, senjata rahasia perguruan kita memang tak boleh digunakan secara sembarangan bilamana keadaan tidak terlalu mendesak!" Tong Ci-tham manggut-manggut tanda membenarkan.

"Maka dari itu, jika Tio Bu-ki cukup cerdik, dia pasti akan menyaruh anggota Tay-hong tong untuk menyamar sebagai manusia-manusia tersebut, sementara dia dan Samwan Kong akan menyusup diantara orang orang itu, dengan demikian kita pasti tak akan berani melepaskan senjata rahasia kepada mereka”

Sekalipun Tong Ci tham tidak menjawab, tapi mau tak mau dia harus mengakui juga ketelitian serta kesempurnaan jalam pemikirannya itu.

“Orang orang itu semua dalah orang orang mereka sendiri” kata Tong Giok lebih jauh. “Maka bila kita ikut membaurkan diri diantara mereka, ibaratnya tiga ekor musang diantara sekelompok ayam dalam seklias padnagan saja mereka tentu akan mengenali diri kita”

Setelah menghela napas panjang, kembali berkata:

“Waktu itu, bukan saja kita tak dapat menghajar mereka dengan senjata rahasia, malah sebaliknya kita akan menjadi umpan anak panah mereka...”

Tong Ci tham ikut menghela napas panjang, akhirnya dia mengakui juga. “Yaa, jika Tio Bu Ki cukup ceridk, dia pasti akan berbuat demikian...” “Aku rasa dia bukan mirip seorang tolol!”

“Yaa, memang tidak mirip!”

“Oleh sebab itulah terpaksa aku harus menempuh hujan badai untuk membunuh orang pada malam itu juga”

Tong CI tham berpikir sebentar, kemudian tak tahan ia bertanya lagi:

“Tapi bukankah sekarangpun mereka masih bisa membaurkan diri ditengah kerumunan orang banyak?”

“Keadannya akan berbeda!” “Kenapa?”

“Sebab asal orang orang itu bukan orang orang mereka sendiri, maka jika mereka dapat membaurkan diri, kitapun bisa pula membaurkan diri, mereka takan akan mengenali kita, sebaliknya kita kenali diri mereka...”

Setelah tertawa, ia menambahkan: “Bila Tio Bu Ki cukup pintar, dia tak akan melakukan tindakan berbahaya seperti ini” Tentu saja! Bila orang itu berbuat seperti itu, berarti dia kurang cerdik.

Tong Ci tham bukannya tidak mengerti atas perkatannya tersebut, tapi paras mukanya macam peti mati itu masih tetap kaku tanpa emosi, tanyanya lagi dengan suara ewa.

"Menurut pendapatamu, apa yang bakal dia lakukan?"

"Setelah kita membunuh Ciau In beserta konco-konconya, maka dia pasti akan makin bernapsu untuk membunuh kita!"

"Tentu saja!" Tong Ci-tham manggut-manggut.

"Maka dari itu, paling lambat malam nanti, Samwan Kong pasti sudah munculkan diri.” "Dia bakal munculkan diri dimana?"

"Dalam hutan Say-cu-lim?."

"Yaa, mungkin saja merekapun menganggap tempat itu kurang sesuai, tapi mereka tak akan menemukan tempat lain yang jauh lebih baik lagi!"

"Tapi hutan Say-cu-lim itu luas sekali " tak tahan Cu Ciangkwe menyela.

Tong Giok sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara lebih jauh, segera tukasnya:

"Pagi tadi aku telah berkunjung kesana, sekarang baru saja kembali ke rumah!" Cu Ciangkwee segera membungkam, ia tidak berkata apa apa lagi...

Tong Giok kembali berkata lebih jauh:

"Dalam hutan Say-cu-lim seluruhnya terdapat tiga buah pintu, aku pikir dia pasti akan melewati beberapa buah jalan yang terang dan masuk melewati pintu yang paling ramai pula, karena tujuan mereka yang sebenarnya adalah agar kita menemukan jejaknya.

"Setelah masuk?"

"Aku pikir dia pasti akan mencari tempat duduk di warung teh yang bernama Hoa swat-sian" Kenapa?" "Sebab tempat itu berlatar belakang telaga dengan sisi kiri kanannya berupa kebun bunga, karena itu meskipun empat penjuru berupa pagar pagar bambu yang terbuka, namun hanya ada sebuah jalan masuk kearah sana, karena itulah bila kita masuk ke luar, dia dapat memperhatikan gerak gerik kita dengan seksama"

Setelah berhenti sebentar, kembali dia berkata:

"Orang itupun mempunyai suatu kepandaian yang paling hebat, yakni bagaimanapun kita menyaru, dia dapat segera mengetahui hanya dalam sekilas pandangan saja"

"Banyak tahun berselang aku pernah mendengar tentang orang ini! "kata Tong Ci-tham, konon dia berasal dari perguruan Hoa Ngo koh, baik dalam ilmu meringankan tubuh, senjata rahasia menyaru serta ilmu lembek semuanya terhitung jagoan kelas satu."

Tong Giok manggut-manggut, ia mengalih-kan kembali pembicaraannya kepokok pembicaraan semula katanya:

"Waktu itu kemungkinan sekali Tio Bu ki sudah bersembunyi disekitar tempat itu, mungkin juga ia telah berada dalam warung penjual teh"

"Aku dapat mengenalinya dengan cepat!" tak tahan Oh Po cu menukas dari samping. "Yaa, andai kata Tio Bu ki masih berwujud seperti apa yang telah kau jumpai kemarin!" Oh Po cu seketika itu juga terbungkam dalam seribu bahasa.

"Seandaipya ia sudah menyaru diri, toh kau tetap tak akan mengenalinya juga" Tong Giok me-lanjutkan.

Oh Po cu tak berani membantah, ia cuma diam saja. Maka Tong Giok pun berkata lebih jauh:

“Tempat itu ramai sekali, biasanya banyak penjajah makanan yang hilir mudik disitu, peminta-mintapun tak sedikit jumlahnya, salah satu diantara orang-orang itu kemungkinan besar adalah Tio Bu ki, maka kita harus menunggu sampai dia turun tangan lebih dahulu"

Setelah tertawa, katanya kembali:

"Asalkan dia telah turun tangan, maka wajah aslinya akan segera diketahui secara jelas dan pasti!”

Tong Ci tham termenung sebentar, kemudian katanya: "Bila kita tinjau dari mulut luka dua orang itu, ilmu pedang yang dimilikinya bukan saja sangat cepat, lagipula amat tepat, bila kita biarkan ia turun tangan lebih dulu apakah hal ini tidak terlampau berbahaya ?"

Tong Giok kembali tertawa hambar.

"Untuk memotong dagingpun ada resiko-nya, apalagi membunuh orang!"

Tong Ci-tham telah mengeluarkan batu apinya dan siap menyulut tabung huncwe. Tiba-tiba Tong Giok berkata lagi:

"Ia tahu kalau kita ada tiga orang, karena itu kita biarkan mereka menjumpai tiga orang.”

Siapapun tidak mengerti akan kalimat dari perkataannya itu tapi siapapun tak ingin bertanya, Tong Giok berkata lebih jauh:

"Begitu Samwan Kong duduk, paman Tham, monyet kecil dan Lo Cu segera mengurungnya, bahkan boleh perlihatkan asal-usul kalian agar dia tahu bila orang-orang dari keluarga Tong telah datang”

“Akupun harus pergi?” tak tahan Cu ciangkwe bertanya.

“Yaa!, Tio Bu ki pernah berjumpa dengan engkoh Po, karena itu terpaksa hau harus menggantikanya!”

“Tapi aku. . . “

“Aku tahu kau terpaksa dimasukkan kedalam hitungan karena keadaan yang mendesak, tapi Tio Bu-ki tak akan tahu, dia hanya tahu kalau dari pihak keluarga Tong sudah datang tiga orang munculkan diri lagi, pula setiap saat mungkin akan merenggut nyawa Samwan Kong, maka dia pasti akan turun tangan”

Setelah tertawa, ia menambahkan:

“Waktu itu, tentu saja akupun sudah hadir disitu, asal Tio Bu ki turun tangan maka dia pasti akan mampus!”

*****

RENCANA ini tersusun amat rapi, setiap bagian, setiap langkah boleh dibilang telah diperhitungkan secara tepat, bahkan boleh dikatakan amat cermat dan teliti.

Hanya ada satu hal, satu bagian yang tidak ia terangkan kepada mereka semua ” Tong Ci tham, Tong Kau dan Cu ciangkwe, entah siapakah diantara mereka bertiga ini yang pasti ada seorang diantara mereka yang bakal mampus diujung pedang Tio Bu ki.

Dengan kecepatan pedang yang dimiliki Tio Bu ki, kemungkinan semacam itu boleh dibilang be-sar sekali.

Baginya hal ini merupakan suatu bagian yang tidak terlalu serius, asal ia dapat membunuh TioBu ki, persoalan yang lain dianggapnya sama sekali tak penting, mati hidup orang lainpun lebih-lebih tak akan dipikirkan dalam hatinya.

Ia tahu, Tong Ci-tham semua mungkin saja akan berpikir juga sampai kesitu, sayang sekali pada hakekatnya mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali berbuat demikian.

Karena mereka sudah pasti tak akan sanggup untuk mendapatkan rencana lain yang jauh lebih baik, karena ia jauh lebih pintar dari mereka semua.

Mengetahui kalau dirinya jauh lebih pintar dari pada orang lain, tak bisa diragukan lagi hal ini merupakan suatu persoalan yang pantas digirangkan. .

Dengan wajah berseri Tong Giok menghembuskan napas panjang, kemudian katanya: "Selesai bersantap nanti, kalian boleh mulai mempersiapkan diri!"

"Kau sendiri?" tanya Tong Ci tham.

"Sekarang aku ingin tidur dulu, tapi dikala kalian telah sampai dirumah makan Hoa gwat sian, aku pasti telah berada pula disana"

Setelah tertawa sejenak, ia berkata lagi:

"Cuma bila kalian tidak melihat diriku, kalian pun tak usah merasa kuatir!" "Kenapa?"

"Sebab aku pasti akan berusaha keras untuk menyaru diriku sedemikian rupa, sehingga bahkan kalian sendiripun tidak mengenalinya kembali"

"Kenapa?" kembali Tong Ci-tham bertanya.

"Bila kalian masih bisa mengenaliku, setelah melihat aku nanti, sedikit banyak wajah kalian akan menunjukkan pula sedikit perubahan, siapa tahu kalau pelubahan wajah kalian, itu justru akan digunakan oleh Tio Bu ki sebagai petunjuk yang jelas" Sesudah tersenyum ia menambahkan:

“Tio Bu ki adalah seorang yang pintar, kemungkinan sekali ia jauh lebih pintar dari pada kita semua"

Walaupun dibibir ia berkata demikian, tentu sajaa dalam hatinya tidak berpikir demikian, Sudah barang tentu ia jauh lebih pintar daripada Bu ki, bahkan lebih pintar dari siapapun juga, Terhadap kemampuannya itu, dia mempunyai rasa percaya pada diri sendiri yang sangat tebal.

*****

SEWAKTU melihat Mayat Ciau In tergeletak ditanah Tio Bu ki tidak melelehkan airmata, diapun tidak muntah.

Kesedihan dapat membuat orang melelehkan air mata, ketakutan bisa membuat orang muntah. Yang ada didalam hatinya sekarang hanya kemarahan.

Dia bukannya tak tahu kalau kemarahan paling mudah membuat orang melakukan kesalahan, tapi setiap orang tentu akan menjumpai suatu saat dimana ia tak dapat menguasahi diri sendiri.

Pelan-pelan Samwan Kong membelai tulang tenggorokan Ciau In yang hancur, tiba-tiba ia bertanya:

"Tahukah kau bahwa dalam tenaga dalam pun terdapat semacam ilmu yang dinamakan ilmu hawa dingin?”

Bu ki mengetahui akan hal ini.

Ilmu hawa dingin adalah sejenis ilmu tenaga dalam yang paling sulit dipelajari, tapi merupakan pula ilmu tenaga dalam yang paling menakutkan didunia ini.

Orang yang membunuh Ciau In adalah seseorang yang melatih diri dengan ilmu hawa dingin" kembali Samwan Kong berkata.

"Aku dapat melihatnya!"

"Sekalipun kepandaian ini merupakan sejenis kepandaian yang sangat lihay, namun siapapun enggan untuk melatihnya"

"Kenapa?" "Karena siapa yang melatih ilmu hawa dingin, biasanya dirinya akan berubah pula menjadi laki tidak lelaki, perempuan tidak perempuan, jadinya seorang banci yang tulen!"

"Apakah kau berhasil mengingat seseorang yang pernah melatih kepandaian semacam ini?” "Yaa, aku pernah mendengar orang mengatakannya!"

"Siapakah itu?" "Tong Giok!"

Bu-ki segera mengepal sepasang tangannya kencang-kencang, kemudian berbisik: "Aku sangat berharap kalau diapun ikut datang!"

"Apakah kau masih ingin mempergunakan diriku untuk memancing kemunculannya?" "Yaa!"

“Kapan?" "Hari ini!" "Dimana?"

"Hutan Say-cu-lim!"

"Masih di hutan Say-cu-lim?"

"Yaa! sebab aku tak bisa menemukan tempat yang jauh lebih baik daripada tempat itu!" Setelab tertawa, pelan-pelan ia melanjut-kan:

"Aku masih ingat kalau disitu terdapat sebuah warung penjual teh yang memakai merek Hoa Gwat sian!"

"Ehmm, tempat itu memang suatu tempat yang sangat baik!" Samwan Kong manggut- manggut".

"Sore nanti, kau boleh berjalan-jalan lebih dulu mengitari jalan raya, kemudian pergilah kesitu untuk menunggu sang ikan menubruk umpan, sebelum aku munculkan diri tak mungkin mereka akan turun tangan!" "Dan kau?" tanya Samwan .Kong.

"Aku akan menunggu lebih dulu disana!"

Dalam kamar Ciau In tergantung sebilah pedang, meski hanya dipakai sebagai tumbal untuk mengusir hawa sesat, mata pisaunya masih tajam sekali.

Bu ki meloloskannya dari atas dinding dan membelai mata pedang yang dingin dan tajam itu.

Bunga akan tumbuh dengan segar bila seringkali disirami air, demikian pula dengan pedang, bila telah menghirup darah maka pedang itu akan tampak lebih bercahaya dan lebih tajam.

Pelan-pelan Bu ki berkata:

"Hari ini aku akan meminjam dirimu, aku pasti akan membuat kau mencicipi darah musuhmu aku tak akan menyia-nyiakan harapanmu"

Ia menyentuh pedang dan bergumam mengemukakan suara hatinya.

Sayang meskipun pedang itu berisi, ia tak dapat bersuara, kalau tidak dia pasti akan memberitahukan kepadanya:

"Walaupun aku tak akan menyia-nyiakan harapanmu, sayang semua rencanamu sudah berada didalam perhitungan orang lain, kau sudah pasti akan mampus!"

*****

SEBELUM matahari tenggelam di langit barat, saat itulah sinar matahari bercahaya dengan terangnya.

Cahaya matahari meninggalkan bayangan tubuh yang menajang dari Tong Ci-tham, Cu ciangkwe serta Tong Kau di atas tanah, memanjang lagi melengkung, sehingga mirip dengan tiga sosok sukma gentayangan.

Ketika Oh Po-cu menyaksikan ketiga orang itu berjalan keluar, sorot matanya seakan-akan sedang melihat ada tiga sosok mayat sedang berjalan. . . .

Ia percaya Tio Bu0ki pasti akan mati kali ini, tapi ketiga orang itupun jangan harap bisa pulang kembali dalam keadaan hidup.

Untung ia tak perlu menguatirkan bagi keselamatan dirinya sendiri, tugas yang harus diselesaikannya kali ini amat ringan. Tong Giok hanya menyuruh dia untuk melakukan pengintaian belaka di sekitar tempat itu, bahkan makin jauh dari Hoa gwat sian makin baik. Tugas semacam ini tak mungkin akan menjumpai bahaya.

Maka sambil tersenyum, selangkah demi selangkah ia berjalan keluar dari Gang lombok.

*****

HUTAN SINGA

BULAN empat tanggal tiga senja.

Udara disenja itu masih secerah siang harinya, baru saja sang surya mulai tenggelam dilangit barat, udara terasa bersih dan membiru, sinar matahari sore meman-carkan keindahan warna menyejukkan hati.

Perasaan Samwan Kong ketika itu tidak terlalu sejuk.

Seperti orang tolol, ia berjalan menyusuri dua buah jalanan yang konon merupakan jalanan terindah disekitar tiga ratus li dari tempat itu, selama hampir setengah jam lamanya, diapun menyaksikan banyak nona dan isteri-isteri muda yang diam-diam keluar dari rumahnya untuk pergi secara sembunyi-sembunyi.

Biasanya mereka berbuat demikian hanya untuk membeli pupur atau gincu ditoko pupur sambil membuang beberapa lirikan untuk para penjaga toko yang masih muda itu, sebab kecuali berbuat demikian, tiada pekerjaan lain yang bisa menimbulkan kegembiraan mereka. 

Kemudian diapun berkunjung ke sebuah rumah penjual barang antik untuk menikmati serangkaian lukisan yang indah sambil pura-pura menjadi seorang calon pembeli yang serius.

Bahkan diapun sempat membeli sebungkus gula-gala untuk kemudian secara diam-diam membuangnya kedalam selokan.

Ia sendiripun tak tahu kenapa ia bisa melakukan perbuatan-perbuatan semacam ini.

Sesungguhnya ia sama sekali tidak terlibat atau punya sangkut paut perselisihan antara Tio Bu ki dengan keluarga Tong.

Tapi dia amat menyukai Tio Bu ki.

Seringkali seseorang bila pergi melakukan serangkaian perbuatan yang belum tentu menyenangkan hatinya, hanya demi orang-orang yang disenanginya.

Demikian pula halnya dengart Samwan Kong. Sekarang, untunglah dia sudah duduk dan memesan sepoci air teh kegemarannya.

Air yang mengalit dalam sungai amat bersih dan jernih, aneka bunga yang tumbuh di sekitar taman menyiarkan bau harum yaug semerbak, ia duduk dengan punggungnya menempel diatas sebuah tiang penyangga besar, dengan begitu iapun tak usah kuatir kalau ada senjata rahasia beracun dari pihak keluarga Tong yang akan menyambar ke arahnya dari belakang

......

Tangannya diletakkan, sangat dekat dengan kaki meja, sehingga setiap saat ia bisa mempergunakan meja tersebut sebagai tameng untuk melindungi dirinya.

Untung saja ia mulai merasa agak nyaman dan segar.

Apakah tiga orang dari keluarga Tong telah menjumpainya? Dapatkah mereka datang kemari mengikutinya?

Berbagai ragam penjaja kecil berjalan mondar mandir dalam warung teh itu, mereka membawa keranjang yang berisikan aneka macam buah-buahan segar serta aneka macam kueh kering serta manisan.

Delapan sembilan orang pengemis tua yang loyo duduk termenung dipinggir pagar, sambil menunggu pemberian sedekah dari orang lain.

Mereka sama sekali tidak memperlihatkan sikap tengik, sikap rendah yang menimbulkan rasa muak bagi siapapun yang melihatnya, orang-orang itu hanya bersandar sambil menunjukkan keletihan yang amat, suatu keletihan ysag telah merasuk ke tulang sumsum akibat keputus asaannya menghadapi kehidupan.

Mungkinkah diantara mereka terdapat pula orang keluarga Tong yang sedang menyamar?

Dari tiga puluhan tempat duduk yang tersedia disana, hanya belasan orang tamu yang menempatinya.

Seorang nenek bungkuk sedang menggunakan sebiji kueh untuk menghentikan tangisan cucunya yang makin menjadi.

Tiga orang pedagang yang gemuk-gemuk sedang ribut soal harga hingga wajah pun ikut berubah menjadi merah padam.

Dua orang kakek sedang duduk bermain catur.

Sepasang suami istri muda duduk dikejauhan sana sambil berbisik-bisik membicarakan kata cinta. Disamping sebelah lain sepasang suami istri setengah umur yang duduk disitu seperti orang asing, sepatah katapun tidak berbicara. Sang suami sedang menikmati sebiji bak pao dengan penuh kenikmatan, sebaliknya sang istri sedang memperhatikan suami istri muda jauh dipojok sana dengan terpesona.