Harimau Kemala Putih Jilid 13

Jilid 13  

CIA-LAK sedang menundukkan kepalanya sambil bersantap, air mata telah bercucuran, peluh telah membasahi sekujur tubuhnya karena kepedasan.

Keadaan Ting Kong lebih payah lagi, karena kepedasan hampir saja ia tak mampu menahan diri.

Ia benar-benar merasa tak habis mengerti, mengapa orang-orang itu baru merasa puats setelah makan hidangan yang pedas sehingga kepedasan seperti itu, ia lebih lebih tidak mengerti kenapa Oh-Po cu mengajak mereka bersantap ditempat semacam ini.

Tapi ia tak berani bertanya, karena inilah syarat dari mereka dengan Oh-Po cu yang telah disetujui bersama.

Oh Po cu betul-betul tak takut pedas, bukan saja setiap sayur yang dipesan selalu diberi cabe yang berlipat kali banyaknya, bahkan diapun masih makan lombok mentah, minum arak dan sebutir keringatpun tidak membasahi wajahnya.

Tapi dengan cepat Ting Kang menemukan bahwa masih ada orang lain dalam warung itu yang jauh lebih tak takut pedas dari padanya.

Orang itu adalah seorang kakek, pinggangnya ke lewat panjang dengan punggung yang lurus dan tegap, ia memakai sebuah jubah panjang warna biru yang sudah mulai memutih karena tuanya, sebuah huncwe panjang terselip pada pinggangnya. Seorang pemuda yang duduk semeja dengannya ternyata tidak makan cabe sedikitpun, dia hanya memesan semangkok mi kuah yang dimasak dengan telur ayam.

Mereka duduk dimeja tepat disamping meja Ting Kang tepat berhadapan muka dengan pemuda tersebut.

Kalau dilihat usianya maka paling banter baru berkisar dua puluh tahunan, wajahnya halus dan tampan, kulitnya yang putih kemerah-merahan mirip sekali dengan kulit badan seorang nona.

Bahkan tingkah lakunya jauh lebih malu-malu kucing daripada seorang nona.

Asal orang lain memandang dua kejap kearahnya, kontan saja pipinya berubah menjadi merah jengah, andaikata Ting Kong tidak memperhatikan lebih dulu kalau dadanya datar tanpa tonjolan, dan lagi tidak diikat dengan selembar kain, hampir saja dia akan menganggap orang itu sebagai seorang perempuan yang menyaru sebagai laki-laki.

Sekarang mereka telah selesai bersantap, kakek itupun mulai menghisap huncweenya.

Beruntun para tamupun membayar rekening dan berlalu, kini dalam warung tinggal tiga meja saja yang berisi tamu.

Kecuali mereka dua meja, Cia Lak beserta pemuda yang kurus seperti monyet pun masih belum angkat kaki dari situ.

Cu tauke yang ramah tentu saja tidak mengusir mereka, sebaliknya malah menutup pintu besarnya.

Sekarang sudah saatnya warung ditutup, tapi kenapa para tamunya belum juga meninggalkan tempat itu?

Ting Kong kembali merasa keheranan.

Tiba-tiba saja suasana dalam warung itu berubah menjadi hening, sepi dan tak kedengaran se-dikit suarapun, hanya kakek itu saja yang sedang pelan-pelan menghisap huncwenya.

Cia Lak masih juga kegerahan, peluh mencucur keluar tiada hentinya dan iapun menyeka keringat tiada habisnya.

Mendadak Ting Kang merasakan suatu suasana yang sangat aneh. ia merasa warung lombok yang kecil dan bobrok itu secara tiba-tiba berubah menjadi begitu menyeramkan dan mengerikan, seakan-akan suatu bencana besar segera akan menjelang tiba.

Pada saat itulah pemuda kurus kering seperti monyet itu berteriak secara tiba-tiba: "Cia tauke!"

Seperti merasa terperanjat Cia Lak segera melompat bangun, kemudian sambil tertawa paksa ia bertanya:

"Ada urusan apa?"

Si Bandar judi yang dihari-hari biasa selalu meletakkan sepasang matanya di atas kepala itu, ternyata bersikap luar biasa sungkannya terhadap pemuda ceking seperti monyet tersebut.

Dengan suara pelan, pemuda ceking bertampang monyet itu berkata lagi:

"Aku secara khusus mengundang kehadiranmu kemari, tak lain hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu"

"Tanyalah!" kata Cia Lak.

"Bulan empat tahun berselang, benarkah kau bersama Tio-Bu-ki bersama-sama pergi ke rumah makan Siu-oh khong?"

"Paras muka Cia Lak segera berubah hebat. . "Tapi aku. ”

"Aku hanya bertanya benar atau tidak" tukas pemuda ceking itu dengan suara ketus, "soal lain kau tak perlu memberi penjelasan lagi!"

"Baik!"

"Hari itu, benarkah kau melakukan perjalanan bersama-sama Tio Bu ki ?" tanya pemuda

itu kemudian:

"Benar!"

"Benarkah dengan mata kepala sendiri kau menyaksikan ia membunhuh mati tiga orang itu?" "Benar!"

"Setelah peristiwa tersebut, Apakah ia sendiri menderita luka atau tidak.?" "Agaknya tidak!"

"Kau betul-betul yakin kalau ia tidak terluka?" "Aku aku tidak begitu yakin" “Kalian berdiri saja disana sambil menyaksikan ia pergi meninggalkan tempat itu, bukankah kalian tak berani turun tangan menghadapinya meskipun ia sudah terluka sekali pun. . .”

"Waktu itu kami ”

"Aku hanya bertanya kepadamu, benar atau tidak?" bentak pemuda ceking itu sambil menarik wajah.

"Benar!"

Pemuda itu memandang kearahnya tiada emosi diatas wajahnya, kemudian pelan-pelan berkata:

"Sebenarnya adalah kalian yang ingin membunuh dia, tapi tidak menyaksikan ia pergi meninggalkan tempat itu untuk berkentutpun kalian tak berani"

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, sambil ulapkan tangan katanya kembali: "Pertanyaanku telah selesai kuajukan sekarang pergilah dari tempat ini !"

Agaknya Cia Lak tidak mengira kalau ia bakal lolos dari situ dengan demikian gampangnya, dengan rasa kejut bercampur girang ia lantas bangkit berdiri dan siap berlalu.

Sambil tertawa meringis, Cu ciangkwe memperhatikan wajahnya, tiba-tiba ia berkata: "Apakah Cia tauke tidak melupakan sesuatu persoalan?"

"Persoalan apa?" tanya Cia Lak keheranan.

"Apakah kau tidak lupa untuk melunasi dahulu rekeningmu ?"

"Oooh yaa, yaa, yaa" seru Cia Lak sambil tertawa paksa, "segera akan kulunasi, segera

akan kulunasi, berapa jumlah seluruhnya?"

"Rekening hari ini ditambah rekening tahun berselang, total jenderal semuanya adalah dua tahil perak ditambah selembar nyawa”

"Selembar nyawa?" bisik Cia Lak dengan wajah berubah, "nyawa siapa?" "Tentu saja nyawamu!"

Kemudian sambil pincingkan matanya dan tertawa lirih, ia julurkan tangannya ke depan sambil berkata: "Harap dua tahil perak itu di bayar lebih dulu!"

Dengan paras muka hijau membesi Cia Lak segera mengeluarkan sekeping uang perak dan mem-bantingnya keras-keras ke wajah Cu ciangkwe, bentaknya keras-keras:

"Tak usah dikembalikan lagi sisanya!°°

Ditengah bentakan keras tubuhnya menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa, dia bermakud hendak menerjang keluar lewat selembar daun jendela disisinya.

Tapi Cu ciangkwe yang gemuk pendek yang sebenarnya masih duduk dibelakang meja kasir itu, mendadak telah menghadang didepan jendela sambil memandang kearahnya sambil tertawa cekikikan, katanya:

"Uang kembalinya apakah kau berikan kepada ku sebagai tip?" "Benar!"

"Uang kembalinya masih ada delapan tahil perak, terima kasih banyak, terima kasih banyak!"

Selangkah demi selangkah Cia Lak mundur terus kebelakang, tiba-tiba ia roboh terjengkang ke tanah tanpa sebab tanpa musabab langsung roboh terjengkang dengan begitu saja.

Begitu roboh ke tanah, tubuhnya masih melejit-lejit beberapa kali, kemudian tak berkutik lagi untuk selamanya.

Ketika memeriksa wajahnya, ternyata paras mukanya telah berubah menjadi hitam pekat seperti arang, lidahnya menjulur ke luar, sepasang biji matanya melotot keluar. Seakan-akan lehernya dicekik oleh sutas tali yang tidak terlihat oleh mata.

Suasana dalam warung pulih kembali dalam keheningan.

Cu ciangkwe yang pendek lagi gemuk itu telah kembali ke belakang meja kasirnya sambil duduk dengan tenang.

Si kake pun masih duduk tenang ditempat semula sambil menghisap huncwenya penuh kenikmatan.

Ting Kang dan To Jiang tak berani berkutik lagi, saking takutnya kedua orang itu merasakan sepasang kakinya menjadi lemas semua.

Mereka selalu mementangkan matanya lebar-lebar, tapi tidak diketahui apa yang menyebabkan kematian Cia Lak. Pelan-pelan pemuda ceking bertampang monyet itu bangkit berdiri, ia membawa sepasang sumpit dan menuju kehadapan Cia Lak, tiba-tiba sumpitnya bergerak kedepan dan menjepit ke atas tenggorokan Cia Lak.

Tahu-tahu ia telah menjepit keluar sebatang jarum.

Sebatang jarum yang lebih kecil dari pada jarum pentul, pada ujung jarum masih tersisa noda darah.

Diatas tenggorokan Cia Lak pun terbentik keluar setitik gelembung darah yang amat sedikit. Sebatang jarum dengan Setitik darah dan selembar nyawa!

Suatu jarum beracun yang sungguh lihay, suatu gerakan serangan yang sungguh amat cepat.

Pemuda ceking bertampang moyet itu memperhatikan jarum beracun dalam jepitan sumpitan sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

Setelah menghela napas panjang, ia pun bergumam:

“Sayang. . . . .sayang. "

Pelan-pelan ia berjalan kembali ketempat semula, dicucinya jarum tersebut dalam cawan araknya, lalu mengeluarkan selembar sapu tangan yang putih bersih untuk menyekanya sampai kering, setelah itu membungkusnya dengan kain tadi dan dimasukkan ke dalam sakunya.

la tidak berpaling lagi kearah Cia Lak, bahkan memandang sekejap kearahnya pun tidak. Yang dia sayangkan adalah jarum tersebut, bukan selembar nyawa dari Cia Lak.

*****

TELAPAK tangan Ting Kang dan To Jiang telah basah oleh peluh dingin, mereka benar- benar ingin sekali meninggalkan tempat itu secepatnya.

APA mau dikata Oh Po-cu justru tak bermaksud untuk meninggalkan tempat itu, bahkan sikap maupun gerak-geriknya masih begitu santai dan tenang.

Tiba-tiba kakek tua itu menyodorkan huncwe ditangannya kepada sipincang Oh.

Oh Po cu juga tidak berbicara, ia menerima huncwe tersebut dan menghisapnya sekali, lalu menyodorkan kembali huncwe tersebut kepada kakek tadi. Kakek itu menyedot kembali huncwenya sekali sedotan, lalu untuk kedua kalinya diberikan kepada Oh Po-cu.

Begitulah kejadian tersebut berlangsung berulang-ulang, kau satu sedotan aku saju sedotan, mereka berdua sama-sama menyedot dengan mulut membungkam.

Percikan api dalam tabung huncwenya berkelip-kelip tiada hentinya, asap tembakau yang menyelimuti ruanganpun makin lama semakin menebal, kedua orang itu seakan-akan sedang menunggu pihak lawannya untuk buka suara lebih dulu. .

Akhirnya Oh Po cu berkata juga:

"Orang yang kutunggu-tunggu telah munculkan diri!" "Bagus sekali!" kakek itu menyahut.

"Tahun ini secara beruntun ia telah melepaskan kembali empat belas kali angka emam tiga kali!”

"Sungguh tak disangka kemujurannya tahun ini masih seperti juga kemujurannya tahun berselang"

"Benar"

"Cuma sayang selama hidup ini tak akan memiliki kemujuran semacam itu lagi.”

Ia menerima huncwe tersebut dan menyedotnya sekali, kemudian sambil disodorkan kembali ke tangan Oh Po-cu, ia melanjutkan:

Sebab pada saat ini sudah barang tentu dia adalah seorang mati, tentu saja orang mati tak akan memiliki kemujuran lagi”

"Dia belum mampus!" Oh Po-cu menukas. "Kau belum membunuhnya?"

"Belum!"

"Kenapa?"

"Karena aku tidak memiliki keyakinan yang menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sama seperti tahun berselang"

"Kau tidak yakin?" "Ya, wajahnya sama sekali telah berubah, bahkan Lau Pat sendiripun tidak lagi mengenalinya"

"Raut wajah seseorang memang sesungguhnya seringkali dapat berubah-ubah ." "Ilmu silatnya juga ikut berubah!" Oh po-cu menambahkan.

"Darimana kau bisa tahu kalau ilmu silatnya juga ikut berubah"

"Aku telah pergi memeriksa mayat dari Tong Hong sekalian, dilihat dari mulut luka ditubuh mereka yang mematikan itu dapat diketahui bahwa meski serangan orang itu cukup ganas, namun tenaganya masih kurang dengan tenaga yang kurang tentu saja tak akan terlalu cepat gerakannya?"

"Bagaimana pula dengan orang yang kau jumpai pada tahun ini?"

Oh Po-cu tidak menjawab, ia berpaling ke arah Ting Kang serta To Jiang, kemudian perintahnya:

"Berdirilah kalian, biar dia orang tua memeriksa mulut luka ditubuh kalian itu"

Mulut luka itu tidak terlalu dalam, maka dengan cepat mereka dapat bangkit berdiri dan berjalan.

Kakek itu memeriksa mulut mereka dengan seksama, paras mukanya masih belum menunjukkan perubahan apa-apa.

Api pada tabung huncwenya telah padam.

Pelan-pelan ia mengeluarkan batu api dan selembar kertas untuk menyusut tabung huncuwenya itu, kemudian pelan-pelan ia baru bertanya:

"Apakah ketika itu kalian hanya bertangan kosong belaka?" "Tidak!" jawab Ting Kong.

"Aku membawa pedang Siang bun kiam, dan ia membawa golok Yan leng to . . ." To Jiang me-nambahkan.

"Kalian tidak melancarkan serangan?" Ting Kong tertawa getir. "Pada hakekatnya kami tak sempat untuk turun tangan!" sahutnya. "Siapa yang terkena tusukan lebih dulu?"

Ting Kong memandang kearah To Jiang, ToJiang balik memandang kearah Ting Kong, lalu mereka berdua sama-sama gelengkan kepalanya.

"Kami tak dapat mengingatnya lagi, sahut kedua orang itu kemudian.

"Tak dapat mengingatnya kembali? Ataukah memang tak dapat membedakannya dengan jelas?"

Sekali lagi To Jiang memandang kearah TingKong dan Ting Kong balas memandang To Jiang, kedua orang itu terpaksa harus mengakui kebenaran dari perkataannya itu.

Sesungguhnya mereka memang bukan tak ingat lagi, tapi memang tak dapat mengetahuinya dengan jelas. sambaran pedang itu terlampau capat, mereka merasa seakan-akan terkena tusukan pada saat yang bersamaan.

Bahkan kaki manakah dari kedua belah kaki mereka yang terkena lebih dulu pun tidak diketahui oleh mereka berdua.

Tiba-tiba kakek itu menghembuskan napas panjang, lalu pujinya berulang kali: "Bagus, ilmu pedang yang bagus! Ilmu pedang yang bagus!.

Kembali ia sodorkan huncwenya ke tangan Oh Po cu, kemudian bertanya: "Apakah kau dapat melihat, ilmu pedang apakah yang ia pergunakan?" Oh Po-cu gelengkan kepalanya berulangkali.

"Aku hanya dapat melihat bahwa ilmu pedang yang ia pergunakan itu bukan ilmu pedang Hhe-hong wu li-kiam-hoat dari Tio Kian, juga bukan ilmu pedang Sip-ci-hwe kiam dari Sugong Siau-hong"

"Oleh karena itu kau merasa yakin bahwa dia bukan Tio Bu ki?" kakek itu menambahkan. Oh Po cu termenung agak lama, kemudian baru jawabnya:

"Aku tak berani memastikan!" Kakek itu tidak berbicara lagi. Huncwe itupun bergerak dari tangan yang satu kembali ke tangan yang lain, asap huncwe yang disembur keluar kian lama kina bertambah tebal sehingga ruangan tersebut seolah-olah diselimuti oleh selapis kabut yang tipis.

Diantara kerlipan api yang berkedip-kedip peluh sebesar kacang lambat-lambat sudah membasahi jidat Oh Po-cu.

Kembali lewat cukup lama, akhirnya kakek itu berkata lambat-lambat. "Agaknya kau tidak membawa serta Lau Pat kemari!"

"Aku tak membawa dia kemari" Oh Po cu segera menerangkan. "Kenapa?"

"Karena ia telah dibawa pergi oleh seeorang sahabatnya” "Siapakah sahabatnya itu?”

"Giok-bin siau-beng siang (Beng siang kecill berwajah pualam) Thio Yu hiong, Thio jiko dari antara tujuh bersaudara keluarga Thio dari Lam-hay!”

Walaupun paras muka kakek itu masih tetap tanpa emosi, tapi sesudah mendengar nama tersebut, biji mata mulai melompat-lompat.

Betul jejak kependekaran dari tujuh bersuadara keluarga Thio dari Lam-hay sangat jarang bertemu dalam dunia persilatan, tapi jika pendekar mereka, kekayaan keluarga mereka, kekuasaannya dan kehebatan ilmu silatnya jarang yang tidak diketahui dalam dunia persilatan.

Terutama sekali Thio jiko tersebut, begitu sosial dan ksatrianya siapapun juga merasa amat bangga dan gembira bila dapat bersahabat dengannya.

Tak seorang manusiapun yang suka berbuat kesalahan atau menyinggung sahabat semacam ini.

Pelan-pelan kakek itu berkata lagi!

"Sudah hampir setahun lamanya kau tiba disini, kejadian yang seharusnya kau lakukan ternyata tak satupun yang telah kau kerjakan”

"Aku tak dapat mengerjakannya!"

Kakek itu kembali menutup mulutnya rapat-rapat. Huncwe tersebut sudah cukup lama berada ditangannya, tapi kali ini ia sama sekali tidak menyerahkannya kembali ke tangan Oh Po cu.

Ting Kong sudah mulai bermandi keringat dingin karena menguatirkan keselamatan dari Oh Po-cu.

Ia pernah menyaksikan ilmu silat milik Oh Po-cu, ia percaya Oh Po cu dapat disebut sebagai seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan.

Akan letapi orang-orang yang berada dalam warung lombok saat ini, seakan-akan setiap orang-nya memiliki semacam kekuatan yang misterius tapi jahat yang dapat merubah niat serta jalan pikiran mereka untuk menentukan mati hidup seseorang..

Mereka seakan-akan seperti setiap saat menginginkan seseorang roboh dihadapan mereka secara mengerikan.

Malam sudah amat larut.

Tiba-tiba Cu ciangkwe bangkit berdiri, lalu sambil menarik suara dia berkata:

"Aku tak tahu apakah orang yang dijumpai Po-ko hari ini adalah Tio Bu ki atau bukan, tapi aku yakin bahwa hari itu dia pasti sudah terluka"

Kakek yang menghisap huncwee itu tak bersuara lagi.”

Pemuda ceking bertampang monyetpun membungkam diri dalam seribu bahasa. . Apalagi pemuda tampan yang pemalu itu, tentu saja lebih-lebih tak mungkin buka suara.

Oh Po-cu memandang sekejap ke arah mereka, lalu memandang pula ke arah Cu ciangkwe, tiba-tiba ia bertanya lagi:

"Kau yakin?" "Yaa, aku yakin"

"Tapi pada waktu itu toh kau tidak hadir diatas loteng?"

"Walaupun waktu itu aku tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tapi aku mempunyai keyakinan bahwa dia pasti telah terluka"

"Atas dasar apakah kau berani berkata demikian?" “Ketika Tong Hong datang waktu itu, aku telah memeriksa kain pas jalannya sehari sebelum keluar rumah ia baru berhasil mendapatkan dua puluh tiga batang senjata rahasia Ci li beracun dan sepuluh tahil tiga rence pasir Toan huan sah!"

Kemudian ia menambahkan kembali:

"Dua macam senjata rahasia yang diperolehnya itu termasuk senjata rahasia kelas sembilan, engkoh Koat lah yang memberi kain pas jalan kepadanya!"

"Betul!" Oh Pa-cu mengangguk tanda membenarkan.

"Ketika mengikuti Sangkoan Jin berkunjung keperkampungan Ho-hong-san-ceng, untuk membunuh seorang centeng dari keluarga Tio guna merahasiakan jejaknya, ia telah pergunakan sebatang senjata Tok-ci-li!" kata Cu ciangkwe lebih jauh.

"Ia tidak membawa pergi Tok ci li yang telah dilepaskan waktu itu?"

"Merurut pengakuannya, waktu itu keadaan mendesak sekali, ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berbuat demikian!"

"Yang ia bunuh ketika itu tak lebih cuma seorang centeng, kenapa ia musti mempergunakan senjata rahasia dari perguruan kita?"

"Oleh sebab itulah aku telah menghukumnya menurut peraturan perguruan kita, aku telah menyuruhnya berbaring hampir setengah bulan lamanya diatas pembaringan"

"Bagus, lanjutkan lebih jauh!"

Cu ciangkwe mendehem sebentar, kemudian meneruskan:

"Kecuali sebatang Tok ci li yang telah terpakai itu, dalam sakunya masih sisa dua puluh dua batarg senjata Tok ci li, sedangkan pasir beracun yang sepuluh tahil tiga rence tersebut masih tetap segelan dan sama sekali tidak digunakan"

"Sehari sebelumnya terjadinya peristiwa itu, dia minta kepada kami untuk carikan orang guna membuat dua perangkat sarung tangan yang terbuat dari kulit menjangan, katanya sarung tangan tersebut hendak dipergunakan oleh dua orang saudara dari keturunan mak inang tua"

"Kau mengabulkan permintaannya?” tanya Oh Po-cu.. Cu ciangkwe manggut-manggut.

"Yaa, karena ia bilang orang yang hendak dihadapinya adalah Tio Bu ki, putra Tio Kian" "Kenapa mereka dari golongan lo-nay ma bisa mempunyai senjata rahasia dari perguruan kita" tanya Oh Po cu.

"Ia telah membagi empat belas batang senjata rahasia tok ci-li miliknya kepada mereka dan menitahkan kedua orang itu menyergap bersama dari depan dan belakang, sehingga dalam sekali penyerangan Tio Bu ki bisa dibereskan jiwanya"

"Kemudian?"

"Setelah mereka gagal melaksanakan tugas aku segera menutup tempat itu dan pencarian

di-lakukan, tapi hanya lima belas batang tok ci li yang berhasil ditemukan kembali", "Padahal enam belas batang yang mereka lancarkan bukan?"

"Benar!”

"Waktu itu Cia Lak maupua Lau-pat hadir pula ditempat kejadian, jangan-jangan dibawa kabur mereka?" Oh Po cu mengemukakan kecurigaannya.

"Ah, hal ini tak mungkin terjadi, jangankan membawanya kabur, untuk menyentuhpun mereka tak berani"

"Oleh sebab itu kalian lantas menduga bahwa sebatang tok ci li yang tidak ditemukan kembali itu, sudah pasti bersarang ditubuh Tio Bu-ki?"°

"Waktu itu dia pergi meninggalkan tempat tersebut dengan langkah tergesa-gesa, dan orang yang melihat kalau langkahnya sudah gontai sewaktu meninggalkan tempat itu, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa sepasang matanya sudah terbelalak kaku!"

Setelah berpikir sebentar, ia berkata lagi:

"Tapi anehnya, beberapa hari kemudian ada yang mengatakan pernah melihatnya muncul di Tay-pek-ki dibawah bukit Kiu-hoa-san, kemudian engkoh Lip dan engkoh Bong pergi kesana mencarinya, siapa tahu setelah ke sana merekapun telah kembali lagi"

"Seandainya ia memang sudah terkena senjata rahasia perguruan kita. kenapa tidak mati?" tanya Oh Po-cu.

"Yaa. itulah sebabnya aku sendiripun tidak habis mengerti!"

*****

SEKARANG tentu saja Ting Kang dam To Jiang telah mengerti, kecuali mereka berdua hampir semua orang yang hadir dalam warung lombok saat ini adalah orang yang berasal dari sekeluarga. Ob Po-cu sudah pasti bukan she Oh, Cu ciangkwe pun pasi bukan she Cu, sebab mereka semua bukan lain adalah jago-jago dari keluarga Tong di wilayah Zuchuan.

tentu saja sudah lama mereka mengetahui tentang kelihayan senjata rahasia beracun dari keluarga Tong, tapi mereka tidak menyangka kalau susunan organisasi dari keluarga Tong, ternyata sedemikian rahasianya, sehingga setiap orang yang diutus keluar tampaknya tidak sederhana, semua gerak geriknya terorganisir dengan suatu kerja sama yang amat rapi.

Kelihayan dari pemuda bertampang monyet itu sudah cukup mengejutkan hati mereka, tapi ketelitian Cu ciangkwe lebih-lebih mengagumkan hati mereka berdua.

Si kakek tua itu masih saja duduk tak berkutik ditempat semula sambil menghisap huncweenya, ia duduk setangguh sebuah bukit karang, cukup ditinjau dari ketenangan dan kemantapannya ini, sudah bisa diketahui bahwa orang inipun pasti tidak sederhana.

Kecuali pemuda tampan yang pemalu itu, kini hampir setiap orang telah memberikan pertanggungan jawabnya atas tugas yang harus dilaksanakan.."

Tugas Oh Po-cu adalah mengawasi Lau Pat, sambil menunggu kemunculan kembali dari Heng-in-Pa-cu, (si Macan tutul yang mujur).

Tugas si pemuda bertampang monyet itu membereskan Cia Lak, tugas Cu ciangkwe adalah bercokol disitu sambil melakukan kontak dengan orang-orangnya.

Dari tugas-tugas yang harus mereka laksanakan, ada yang berhasil dengan sukses, ada pula yang gagal total, tapi baik itu berhasil atau gagal, suatu laporan resmi harus dibereskan kepada atasannya.

Orang yang akan memberikan penyelesaian atas tugas-tugas tersebut semestinya adalah kakek yang duduk sambil menghisap huncwe itu, tapi diapun tidak berbicara walaupun sepatah katapun.

Apakah ia sedang menunggu orang juga? Siapa yang sedang ditunggunya?

Tiba-tiba suatu perasaan aneh muncul dari dasar hati Ting Kong, ia merasa kakek berhuncwe itu agaknya bukanlah sang pemimpin yang sebenarnya.

Sang pemimpin yang sebetulnya pasti orang lain, seseorang yang tak dapat mereka lihat.

Hanya orang inilah baru-betul-betul memiliki kekuasaan yang bisa menentukan mati hidup orarg lain. Sejak awal sampai sekarang, orang itu lah yang sesungguhnya telah mengendalikan suasana di tempat ini.

Setiap orang harus melaporkan semua perbuatan, semua perjuangan dan semua peristiwa yang dialaminya kepada orang itu, untuk selanjutnya menunggu keputusannya.

Tapi siapakah orang ini?

.. ....... Kenapa hingga saat ini, mereka masih belum melihat orang tersebut?

Jantung Ting kong mulai berdebar keras. Lamat-lamat perasaannya seperti sedang berkata, tak lama kemudian orang itu akan munculkan diri dihadapan mereka..

*****

MALAM sudah semakin larut.

Tiba tiba angin puyuh berhembus kencang diluat kedai, angin itu sedemikian kencangnya sehingga menjebolkan kertas jendela yang mulai lapuk dan berkibar-kibar menimbulkan suara gemerisik yang sangat gaduh..

Kakek itu masih saja menghisap huncwenya dengan penuh kenikmatan, percikan api yang berkelip-kelip sayup-sayup menerangi raut wajahnya yang kaku bagaikan peti mati itu.

Angin diluar tak dapat berhembus masuk ke dalam ruangan, asap huncwenya tak dapat pula menyebar keluar.

Ini membuat asap tersebut memenuhi seluruh ruangan warung lombok, sehingga bagaikan selapis kabut yang tebal.

*****

JAGO LIHAY

KABUT asap menyelimuti seluruh ruangan.

Ting Kang menyaksikan bocah muda yang ayu tapi pemalu itu seperti sudah sedikit tak tahan, ia mulai mendengus berulang kali.

Pemuda itu tidak menghisap huncwe, tidak minum arak, pun tidak makan lombok.

Apakah dia juga bukan anggota keluarga Tong? Yang lebih aneh lagi, baru saja ia mulai terbatuk-batuk, kakek yang perokok hebat itu segera menurunkan huncweenya, bahkan menggunakan ibu jarinya yang dibasahi sedikit dengan air ludah untuk memadamkan api dalam mangkuk huncwee tersebut.

Bocah muda yang ayu itu memandang sekejap kearahnya sambil tertawa, kemudian berkata. “Terima kasih!”

Suara pembicaraannya lembut dan halus pula, bahkan membawa dialek dari ibu kota malah sama sekali tidak terbawa logat orang Zuchuan sebagaimana yang lainnya.

Ia mengeluarkan secarik sapu tangan berwarna putih bersih, lalu dipakai untuk menyeka tangannya.

Ia memiliki jari jemari yangpanjang, ramping dan halus, tingkah lakunya sangat lembut dan halus bagaikan seorang gadis perawan.

Ting Kong memandang kearahnya, hampir saja ia dibikin terpesona.

Padahal Ting Kong bukan seorang Homo, dia bukan seorang laki laki yang tertarik dengan kaum jenisnya.

Tapi setelah berjumpa dengan seorang laki laki ayu seperti ini, bahkan diapun mulai terpikat hatinya, mulai tergetar oleh keayuannya itu.

Ternyata bocah muda yang ayu itupun sedang memandang kearahnya sambil tertawa, tiba tiba ia berkata:

“Aku dapat melihatnya kalau kaupun tidak suka yang peda pedas, tadi, kau tentu bleum kenyang!”

Ting Kong tak berani mengaku, tak berani pula menyangkal.

“Akan kusuruh Cu ciankwe buatkan beberapa macam sayur yang tak pedas lagi, kalian boleh pelan pelan bersantap disini, menanti aku selesai bercakap cakap dengan mereka, pasti akan kutemani kalian berdua lagi, mau bukan?”

Suaranya masih tetap begitu lembut, sikapnya masih begitu tulus, sekalipun terhadap seorang asing, sikapnya tetap lemah gemulai dan menawan hati.

Dalam keadaan seperti ini, Ting Kong mana berani menampik?

Cu ciankwe telah menitahkan orang untuk menyiapkan beberapa macam sayur yang tidak pedas, tapi bocah ayu itu tiba tiba menghela napas panjang, lalu berkata:

“Aku benar benar tidak habis mengerti, kenapa setiap hari masih ada juga orang orang kita yang melakukan pekerjaan yang salah?” Perkataan itu masih diucapkan olehnya dengan lemah lembutnya, tapi setelah mendengar perkataannya itu, paras muka Cu ciangkwe segera memperlihatkan rasa ngeri dan takut yang amat tebal.

Apalagi Oh Pocu, peluh sebesar kacang telah membasahi seluruh jidat dan tubuhnya. Pemuda ayu itu berpaling ke arah Cu ciangkwe, lalu bertanya:

“Hari itu, setelah keluar dari pintu Tio Bu ki telah berbelok ke arah mana?” “Ia berbelok ke sebelah kanan!” buru-buru Cu ciangkwe menjawab.

“Pada deretan sebelah kanan, berapa banyak rumah yang berada disana ?”

Cu ciangkwe agak tertawa, kemudian sahutnya:

“Tentang soal itu. aku belum pernah menghitungnya!”

Aku telah menghitungnya! Pemuda ayu itu menyambung cepat. Kemudian tanpa berpikir lagi, ia berkata lebih jauh:

"Rumah pertama sebelah kananmu adalah sebuah kedai penjual barang kelontong, rumah kedua sebelah pegadaian, rumah ketiga penjual barang antik dan lukisan kenamaan. ”

Sepanjang jalan ia menghapal terus, sehingga pada akhirnya ia berkata:

“Rumah yang terakhir adalah sebuah toko penjual peti mati, besar kecil seluruhnya terdiri dari seratus dua puluh enam buah toko”

Peluh sudah mulai membasahi wajah Cu ciangkwe.

Sudah hampir setahun lebih ia berdiam di situ, tapi tidak banyak yang diketahui, sebaliknya pemuda ayu itu baru datang dua hari, tampaknya jauh lebih memahami daripadanya.

Pemuda ayu itu berkata kembali:

“Ketika keluar rumah makan Siu oh khong hari itu, waktu menunjukkan tengah hari baru lewat, setiap toko sedang buka untuk berjualan, setiap toko pasti ada orangnya, apakah kau telah bertanya kepada mereka semua?”

“Tidak!” sahut Cu ciangkwe sambil menyeka keringat pada jidatnya dengan ujung baju. “Aku telah bertanya kepada mereka!” kata pemuda ayu itu. Pelan-pelan ia melanjutkan.

“Ketika Tio Bu ki tiba di depan rumah yang ke delapan belas, sebuah kedai penjual wangi- wangian, ia sudah hampir roboh ke tanah. Nyonya majikan kedai tersebut menyaksikan kejadian ini dengan mata kepala sendiri, ia sering duduk dibelakang meja kasir sambil menonton laki-laki yang lewat didepan rumahnya, karena suaminya masih memiliki tiga orang gundik. diluar rumah"

Bahkan persoalan semacam inipun berhasil ia selidiki sedemikian jelasnya, bukan saja Cu ciangkwe merasa terkejut, diapun merasa kagum sekali.

Pemuda ayu itu berkata lagi.

"Waktu itu adalah musim semi, agaknya setiap orang tak ingin mampus dimusim semi, maka usaha penjual peti mati diujung jalan itu kurang begitu baik. Pelayan dan para tukang kayunya sering main kartu dalam toko, ketika itu ada seorang tukang kayu yang sedang kalah bertaruh dan berdiri di depan pintu dengan wajah murung, dialah yang telah melihat Tio Bu ki berjalan lewat didepan tokonya"

.....Tukang kayu itu she Yu, hari itu total jendral ia kalah tiga rencee lima hun.

.....Hari itu, kebetulan majikan mereka sedang keluar rumah, maka sehabis bersantap siang merekapun mulai bermain gaple.

menurut penuturan tukang kayu she Yu itu, baru saja Tio Bu ki berbelok ketikungan jalan, ia sudah menumbuk diatas tubuh seseorang. Orang itu memiliki parawakan tubuh yang tinggi besar, wajahnya bengis bukan cuma kenal dengan Tio Bu-ki, malahan ia seperti datang kesitu khusus untuk mencarinya, dengan cepat ia memanggil sebuah kereta kuda dan membawa Tio Bu-ki pergi dari situ.

Setiap adegan, setiap kejadian, ia telah selidiki semua dengan teliti dan jelas, maka pada akhirnya diapun dua kesimpulan:

.... ..Tio Bu-ki memang betul-betul termakan oleh sebatang Tok ci li kita, bahkan baru keluar dari rumah makan Siu oh khong racun jahat itu sudah mulai bekerja.

. .....Orang yang menyelamatkan dirinya tak lain adalah orang yang kita kuntit terus semenjak dari wilayah Cuan tiong.

Maka sekarang, tinggal satu persoalan yang belum terpecahkan. ......Barang siapa terkena senjata rahasia dari keluarga Tong, maka satu jam kemudian dia pasti akan mati tak ketolongan lagi, kenapa Tio Bu ki bisa muncul kembali di bukit Kiu hoa san?

Apakah ia belum mati!

*****

SELESAI mengutarakan semua keterangannya, pemuda ayu itu memandang ke arah Cu ciangkwe dan menantikan pendapatnya.

Peluh dingin telah membasahi sekujur tubuh Cu ciangkwe semenjak ia mendengarkan keterangan tersebut, bahkan Ting Kang dan To Jiang pun dibuat termangu oleh keterangan itu.

Sebetulnya mereka selalu beranggapan bahwa cara kerja Cu ciangkwe sudah merupakan cara kerja dari seorang yang teliti, tapi kalau dibandingkan dengan pemuda ayu itu sekarang, pada hakekatnya Cu ciangkwe betul-betul mirip Ti pat kay (siluman babi). . . .

Sayur yang tidak pedas telah dihidangkan ternyata makanan tidak pedas yang dibuat warung lombok ini lezat juga rasanya.

Sayang Ting Kang dan To Jiang sudah tak dapat makan lagi, sekalipun bisa makan, merekapun tak bisa membedakan bagaimana rasanya.

Karena pada waktu itu, Cu ciangkwe telah bersembunyi di sudut ruangan dan diam-diam tumpah.

Ia betul-betul terpampau ketakutan, saking takutnya sampai air pahit dalam lambungpun ikut ditumpahkan keluar.

Kakek penghisap huncwe itu kelihatan agak ragu, tapi akhirnya berkata juga:

“Putra-putrinya terlalu banyak, beban keluarganya sangat berat, apalagi di rumah masih ada seorang ibu yang tua”

“Aku tahu!” jawab pemuda ayu itu.

“Meskipun dia agak sedikit bodoh, tapi tugas tersebut toh sudah ia lakukan dengan segala kemampuan yang dimilikinya”

“Aku tahu!”

Kakek penghisap huncwe itu menghela napas panjang, ia tidak berbicara lagi. Tiba-tiba pemuda ayu itu berseru:

"Monyet kecil, kemari kau!"

Pemuda bertampang monyet itu segera beranjak dan menghampirinya, kemudian dengan sikap penuh hormat berdiri hadapannya.

"Apalah Cia Lak adalah orang kenamaan di kota ini?” pemuda ayu itu mulai bertanya.. “Benar”

"Seandainya secara tiba-tiba ia lenyap tak berbekas, apakah akan ada banyak orang yang mencarinya?” "Benar"

"Ketika kau mengajaknya datang kemari tadi, apakah ada orang dijalan yang berjumpa dengannya?"

Tentu saja ada!, Cia Lak adalah searang kenamaan, tentu saja tidak sedikit jumlah orang yang kenal dengannya.

"Kecuali mempergunakan senjata rahasia dapatkah kau membunuhnya denigan mempergunakan cara yang lain?" kembali pemuda ayu itu bertanya.

"Dapat!"

"Kalau memang begitu, kenapa kau musti mempergunakan senjata rahasia dari perguruan kita? Apakah ingin membiarkan orang lain tahu, kalau dari perguruan kita sudah ada orang yang tiba di sini? Bahkan tinggal di Gang Lombok?"

Pemuda bertampang monyet yang sesungguhnya bernama Tong Kau itu tak sanggup berbicara lagi, raut wajahnya yang bertmpang monyet itu mulai mengejang keras, bahkan penuh diliputi oleh rasa takut dan ngeri yang amat tebal.

Padahal pemuda ayu itu sama sekali tidak mengatakan hendak msngapakan diri mereka, tapi ia dari Cu ciangkwe sudah ketakutan setengah mati sehingga untuk berbicarapun tak mampu lagi.

Sekarang, tentu saja Ting Kang dan To Jiang telah tahu, siapakah sesungguhnya pemimpin di-tempat ini.

Sesungguhnya mimpipun mereka tak menyangka kalau orang itu adalah si pemuda ayu yang lebih mirip banci ini. Perasaan Ting Kang yang sebenarnya sudah mejadi "tertarik" itu, tentu saja saat ini telah padam.

Sekali lagi pemuda ayu itu tertawa kepadanya, tiba-tiba ia bertanya dengan lembut: "Tahukah kau, mengapa mereka demikian ketakutan?"

Ting Kang menggeleng.

Pemuda ayu itu tertawa manis, sahutnya.

"Sebab mereka tahu kalau diri mereka telah melakukan kesalahan, merekapun tahu macam apakah diriku ini"

Sambil tersenyum ia melanjutkan:

"Aku pikir, kau tentu tidak tahu bukan manusia macam apakah aku ini ?" Ting Kang mengakuinya.

"Dahulu, ada orang yang pernah menghadiahkan sebait kalimat kepadaku untuk melukiskan diriku yang sebenarnya" ujar pemuda tersebut. "dan kalimat tersebut berbunyi: Kejam tak berperikemanusiaan tak punya perasaan tanpa emosi, orang tua sendiripun tidak kenal"

Gelak tertawanya semakin riang dan gembira, lanjutnya:

"Orang itu benar-benar amat memahami keadaanku yang sebenarnya, kalimat yang ia lukiskan tentang diriku itu memang sangat bagus sekali ”

Dengan perasaan terkejut Ting Kang memandang kearahnya, tapi bagaimanapun ia memandang, tidak ditemukan juga kengerian seperti apa yang telah ia lukiskan tentang dirinya sendiri itu.

"Kau tidak percaya?" tanya pemuda ayu itu. Ting Kang menggeleng.

Pemuda ayu itu tertawa.

"Yaa, jangankan kau, akupun kadang kala juga tak percaya!" Tiba-tiba ia mangalihkan pembinaraannya ke soal lain, katanya: "Sayur yang telah dihidangkan itu tidak pedas mengapa kalian berdua tidak mendahar lebih banyak lagi?"

“Kami semua telah kenyang?"° jawab To Jiang. "Benar-benar telah kenyang?"

"Yaa benar-benar telah kenyang?"

Pemuda ayu itu segera menghela napas panjang, katanya:

"Aaai, kalau begitu akupun bisa berlega hati, aku selalu beranggapan bahwa membiarkan

seseorang mati dalam keadaan lapar, hal itu salah sauatu peristiwa yang kejam dan tak berperi kemanusiaan, lagipula sangat tidak sopan”

Diiringi helaan napasnya yang ringan, tiba tiba ia merentangkan ketiga buah jari tangannya dan menotok tenggorokan To Jian dengan ujung jarinya.

Ting Kang segera menangkap suara remukkan tulang tenggorokan yang amat nyaring, bersamaan itu pula dia melihat juga sepasang biji mata To Jiang tiba tiba melotot keluar, napasnya tiba tiba berhenti dan sekujur tubuhnya tiba tiba mengejang kaku.

Kemudian, ia mendengus bau busuk yang menusuk hidung dan sangat memuakkan.

Pemuda ayu itu kembali memandang ke arahnya sambil tersenyum, lalu bertanya: “Sekarang kau sudah percaya bukan?”

Ting Kang merasa tubuhnya seakan akan menjadi beku dan kaku, untuk bergerak pelanpun tak sanggup.

Akhirnya ia paham juga kenapa CU cciangkwe ingin muntah muntah tadi, sebab saat ini diapun ingin muntah.

Keseraman seolah olah suatu tangan besar yang tak dapat dilihat dengan mata sedang meremas remas usus dan lambungnya dengan kekuatan yang sangat besar.

Kini ketiga buah jari tangan sang pemuda ayu yang panjang dan lembut itu telah tiba pula diatas tenggorokannya.

Mendadak ia kerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk berteriak keras: “Siapa kau?”

Seseorang dikala mengetahui bahwa kematian tak akan dihindari lagi, seringkali berharap agar ia tahu sebetulnya dirinya telah mati ditangan siapa. Sebetulnya hal ini merupakan suatu kebiasaan yang menggelikan, suatu perbuatan goblok yang lucu dan mentertawakan orang, bahkan bisa membuat seseorang tertawa sehingga empedu, air pati dan air matanya meleleh keluar.

“Aku adalah Tong Giok!” pemuda ayu itu menjawab.

*****

TONG GIOK

Setelah mendengar nama itu, Ting Kangpun segera menghembuskan napasnya yang penghabisan lewat tenggorokannya yang telah remuk, seakan akan ia merasa bahwa kematiannya tidak terlalu penasaran.

Bila seseoraag entah bertemu dengan Tong Giok, tentu saja dia akan tewas ditangan Tong Giok dan pendapat ini seakan-akan sudah tercamkan dalam hati setiap orang, suatu pendapat yang telah mendarah daging dan tak bisa dihapus lagi.

Tong Giok kembali mempergunakan selembar sapu tangan putih itu membersihkan tangannya, caranya membersihkan tangan tak akan berbeda dari cara seorang pengumpul barang antik sedang membersihkan benda antik kesayangannya yang bernilai amat tinggi.

Tangannya memang kelihatan seperti sebuah barang antik, sebuah benda porselen yang mengkilap, halus dan licin.

Tapi siapapun tak akan menyangka kalau sepasang tangannya itu sanggup meremukkan tulang tenggorokan orang hanya dengan sebuab pencetan yang ringan sekalipun.

Tiba-tiba Tong Kau berseru:

"Kalau ingin turun tangan, cepatlah turun tangan! Aku sendiri yang telah melakukan perbuatan salah, aku tak akan menyalahkan dirimu"

"Kau telah melakukan perbuatan salah?" ujar Tong Giok, "kenapa aku sama sekali tidak teringatnya kembali?"

Dengan terkejut Tong Kau memandang ke arahnya, lalu berbisik: “Kau. ”

Tong Giok tersenyum. kembali katanya: "Kadangkala ada sementara persoalan memang cepat kulupakan lagi, jika ada orang yang menyinggung kembali masalahnya, mungkin selama hidup aku tak akan teringatnya kembali"

Wajah Tong Kau yang diliputi rasa kaget dan tercengang, segera berubah menjadi berseri karena kegirangan,

Tong Giok kembali bertanya pula kepada Cu ciangkwe:

"Masih ingatkah kau, apa yang telah kau lakukan tadi?" Dengan cepat Cu ciangkwe gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tidak teringat lagi, sedikitpun tidak teringat lagi" sahutnya. Tong Giok menepuk-nepuk bahu Oh Po cu, talu berkata lagi:

"Sedang tentang kau, dirimu sama sekali tak pernah bersalah, jika aku adalah kau maka akupun akan berbuat demikian, sebab aku tak ingin menyalahi Thio ji kongcu, aku lebih lebih tak ingin mati diujung pedang orang lain"

Oh Po cu memandang kearahnya, rasa hormat dan penuh luapan rasa terima kasih terpancar keluar dari balik matanya.

Meskipun orang lain yang telah dibunuh tapi hal itu sekaligus telah memberi pelajaran kepada Cu ciangkwe dan Tong Kau yang tak akan dilupakan mereka selamanya.

Sekarang ia sedang membutuhkan pembantu, mereka semua adalah saudara-saudaranya, ia membutuhkan tenaga-mereka untuk setiap saat membiarkan mereka beradu jiwa demi kepentingannya.

Sekalipun cara kerjanya terhitung aneh, eksentrik, tapi sama saja dapat mencapai tujuan, bahkan seringkali jauh lebih mujarab dibandingkan dengan cara-cara yang lain.

Tong Giok merasa puas sekali dengan penampilan rasa hormat dari orang-orang itu.

Menghormat, biasanya dapat diartikan juga sebagai kesetiaan dan ketaatan melakukan perintah.

Ia sangat membutuhkan kesetiaan dan ketaatan orang lain terhadapnya, karena ia tahu jika dia ingin menggantikan kedudukan ayahnya yang telah tua untuk memegang tampuk pimpinan tertinggi dalam keluarga Tong, maka dia masih harus merangkak keatas melewati kepala- kepala orang yang setia kepadanya itu.

Saingannya yang paling besar sesungguhnya bukan Tong Oh. Tong Oh terlalu sombong, sedemikian sombongnya dia sehingga segan untuk memperebutkan kursi kebesaran tersebut dengannya.

Orang yang benar-benar ia kuatirkan adalah orang lain, setiap kali teringat akan orang itu, bahkan dalam hati kecilpun ia akan merasakan sedikit kedinginan dan menggigil.

Tapi apa mau dikata, justru ia tak tahan untuk memikirkannya juga sampai kesitu!

Seandainya Tong Koat berada disini, entah bagaimana caranya menyelesaikan persoalan ini? Dengan cara apa pula dia hendak menghadapi Tio Bu ki?"

*****

KAKEK penghisap huncwe itu sedang menatapnya lekat-lekat, dari balik matanya seakan- akan telah muncul kembali sesosok bayangan manusia lain.

Selama ini kakek tersebut tidak begitu suka dengan Tong Giok, tapi ia tak bisa tak setuju dengan cara kerjanya.

Sebab cara kerja Tong Giok, hampir persis satu sama lainnya dengan cara kerja Tong Koat. Ia masih ingat ada orang pernah berkata begitu:

“Profil Tong Giok seperti Tong Koat yang diperkecil, hubungan antara mereka berdua tak

jauh berbeda seperti hubungan Tong Ci tham dengan jikonya”

Tong Ci tham adalah kakek penghisap huncwe itu, sedang jikonya tak lain adalah Ji sianseng yang amat termashur dalam dunia persilatan itu.

Dalam hati kecilnya kakek itu mulai tertawa getir:

Selama ini dia memang selalu menirukan lagak jikonya, tapi ia tahu selama hidup tak mungkin ia tdapat menandingi jikonya itu.

Jika Tong Ji siangseng berada disini, tak nanti Tong Giok akan berani bersikap begitu sombong dan jumawa seperti ini.

Walaupun dalam hati kecilnya kakek ini merasa sedih dan meneyesali nasib dirinya yang jelek, namun perasaan tersebut tak sampai ditampilakn diatas wajahnya.

Paras mukanya selalu dan sepanjang masa kaku macam sebuah peti sebab itulah ia baru bernama Tong Ci tham. Kwalitet kayu terbaik untuk membuat peti mati adalah kayu dari jenis Ci tham, karena itu ia bernama Tong Ci tham.

Hanya dia tak tahu, setelah mati nanti apakah dia akan memeproleh pula sebuah peti mati yang terbuat dari kayu Ci tham.

Sudah berulang kali persoalan dia renungkan di dalam hati.

Seandainya Tong Ji sianseng sedang menghisap huncwe, Tong Giok tak akan berbatuk batuk, sekalupun benar benar ingin batuk, diapun akan berusaha untuk menahannya.

Tong Ci tham sekali lagi menyusut huncwenya. Ia tak ingin menyalahi Tong Giok...

Siapa pyang tak ingin menyalahi seorang manusia tak berperasaan yang bapaknya sendiripun

kau kenal?

Tapi diapun tak ingin membiarkan Tong Giok menganggap dirinya benar-benar seorang kakek bangkotan yang tidak berharga untuk dihormati.

Seorang kakek loyo yang sudah mendekati akhir hayatnya, harus bergaul menjadi satu dengan Tong Giok, Seorang pemuda berillian yang sinarnya mulai memancar ke empat penjuru, bagaimanapun juga timbul pula sedikit rasa sedih dan serba salah yang tak wajar.

*****

KALI ini bukan saja Tong Giok tidak batuk dia malah membantunya mengambil kertas dan menyulutkan api untuk huncwenya.

Bagaimanapun juga, Tong Ci-tham merasa hatinya jauh lebih lega dan nyaman. Maka Tong Giok pun berkata kembali:

"Apakah sekarang kita sudah dapat memastikan hari itu Tio bu-ki benar-benar telah terkena senjara rahasia dari perguruan kita atau tidak?"

Untuk memperlihatkan rasa hormatnya terhadap orang tua, tentu saja pertanyaan ini diajukan kepadanya.

“Ya, sudah!" Tong Ci-tham mengangguk.

"Tapi kitapun telah memastikan kalau Tio Bu-ki belum mati!" lanjut Tong Giok. "Benar!” "Orang yang kita kuntit mulai dari wilayah Cuan-tiong sampai disini, memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat lihay, lagi pula pandai ilmu merubah wajah, bahkan kadang kala perawakan tubuhnya yang tinggi atau pendekpun bisa dirubah-rubah, jelas diapun memahami pula ilmu Sut-kut-kang (ilmu menyusut tulang) yang merupakan ilmu paling sulit untuk dipelajari"

"Benar!”

"Orang ini sudah pasti gemar bertaruh, walaupun dengan jelas tahu kalau kita sedang menguntitnya, tapi seringkali diam-diam mengeloyor pergi untuk bertaruh, bahkan tiap kali bertaruh tentu aklah, sedemikian kalahnya sampai seringkali harus mencuri untuk menutupi ongkos perjalanannya.”

Setan judi semacam dia memang amat jarang dijumpai dalam dunia dewasa ini.” Kata Tong- ci-tham.

“Untuk bisa memenuhi semua syarat sebagai seorang setan judi macam dia, rasanya meamng ada seorang di dunia saat ini.”

“Kau maksudkan Samwan Kong?” mencorong sinar tajam dari balik mata Tong Ci-tham. “Betul, memang dialah yang kumaksudkan!”

“Apakah orang ini ada permusuhan atau perselisihan dengan pihak kita ?” tanya Tong Ci-

tham lagi.

“Tiada perselisihan, ia berkunjung ke benteng keluarga Tong tak lain hanya membantu Tio Bu-ki mencari seseorang”

“Apakah Sangkoan Jin yang sedang ia cari?” “Benar!”

“Oleh karena itu, kau beranggapan bahwa orang yang telah menyelamatkan Tio Bu-ki hari itu juga dia?”

“Seratus persen pasti dia!”

*****

SEKARANG mereka telah mengancingkan kancing yang pertama kuat-kuat, dikala berhasil mengancingkan setiap kancing, mereka pun melepaskan pula suatu tali simpul yang memusingkan mereka. Sekarang mereka sedang bersiap-siap untuk membebaskan tali simpul yang kedua. Tong Giok segera mengajukan kunci dari persoalan tersebut, katanya:

"Di sini Samwan Kong tidak berteman, tidak pula memiliki tempat untuk menyembunyikan diri, kenapa ia musti kabur ke sini?"

Sepintas lalu persoalan ini kelihatannya gampang dan sederhana, padahal tidak mudah untuk memecahkannya.

Tong Ci-tham memang seorang jago kawakan yang berpengalaman luas, dengan cepat ia telah mengutarakan jawabannya.

"Yaa, karena Tio Bu ki sedang menantikan kedatangannya disini!" Kemudian ia menjelaskan lebih jauh.

"Ia pergi kesana untuk mencarikan berita buat Tio Bu ki, tentu saja ia harus kembali kemari untuk melaporkan hasil penyelidikannya kepada Tio Bu ki, siapa tahu kalau mereka sebenarnya memang telah berjanji untuk bertemu muka disini"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Tong Giok, dengan wajah kagum dan memuji, katanya:

"Yaa, keteranganmu memang tepat dan bagus"

"Berbicara sebaliknya, kalau toh ia sudah sampai disini, berarti Tio Bu ki pasti berada disini pula" kata Tong Ci tham lebih lanjut.

"Tepat sekali!" .

"Orang yang dijumpai si pincang hari ini, meski tampangnya telah banyak berubah, tapi toh tiada orang yang mengatakan bahwa dia bukan Tio Bu ki!"

Oh Po-cu, si pincang she Oh ini amat setuju dengan pendapat tersebut. Tong Ci tham berkata lagi:

"Jika dia adalah Tio Bu ki, maka dengan pelbagai cara ia pasti akan berusaha untuk bertemu muka dengan Samwan Kong"

Setelah berpikir sejenak, katanya kembali: "Sebaliknya, jika mereka sudah saling berjumpa muka, maka orang itu sudah pasti adalah Tio Bu ki"

"Tepat sekali!"

"Oleh karena itu ”

Oleh karena itu bagaimana? ia tidak melanjutkan lagi.

Persoalan ini sebenarnya merupakan suatu masalah yang penuh liku-liku dan suatu masalah yang perlu otak yang kuat untuk menelusuri serta memecahkannya, tapi ia sudah tua, makin hari otaknya makin lemah, tampaknya agak kewalahan juga kakek itu untuk mengatasi semua masalahnya.

Dengan cepat Tong Giok membantunya untuk berbicara lebih lanjut:

"Oleh karena itu asal kita dapat menemukannya, berarti dapat pula menemukan Tio Bu ki!" "Masa kita masih dapat menemukan dirinya?" tanya Tong Ci tham agak keheranan"

Tong Giok tertawa.

"Sekalipun kita tak mampu menemukan dirinya, diapun akan membuat kita dapat menemukan kembali jejaknya!"

Tong Ci tham semakin tidak berhasil mengerti, terutama terhadap perkataannya yang terakhir itu.

"Aku sengaja membiarkan dia dapat meloloskan diri dari penguntilan kita, tujuannya tak lain agar ia dapat berjumpa dengan Tio Bu ki dan menyelidiki apa tujuan sebenarnya dari kunjungannya kebenteng keluarga Tong"

"Kenapa?" Tong Ci tham mesib juga tidak mengerti.

"Sebab bilamana mereka telah berjumpa, maka Tio Bu ki akan segera tahu kalau dari pihak keluarga Tong sudab ada tiga orang yang menguntil sampai disini"

"Betul!"

"Bila kau adalah Tio Bu ki dan mengetahui kalau dari pihak keluarga Tong ada tiga orang telah sampai di wilayah kekuasaan Tay-hong-tong, dapat kah kau biarkan ketiga orang itu pulang lagi dalam keadaan selamat?"

"Tidak mungkin!" "Diapun berpendapat demikian, maka jika dia ingin membunuh kita, maka pertama-tama ia harus menemukan diri kita?" kata Tong Ci tham cepat.

"Oleh sebab itulah dia pasti akan pergunakan Samwan Kong sebagai umpan untuk memancing kita tiga ekor ikan besar!"

Seperti baru menyadari akan hal itu, dengan cepat Tong Ci-tham berseru lagi:

"Oleh sebab itu sekalipun kita tak berhasil menemukan Samwan Kong, diapun pasti akan membiarkan kita dapat menemukannya kembali!"

Tong Giok tersenyum.

"Oleh sebab itu juga, asal kita dapat menemukan Samwan Kong, kitapun dapat menemukan pula diri Tio Bu- ki.

Sekarang simpul mati yang kedua telah terbuka, kancing kedua pun telah dikaitkan kencang- kencang.

"Didalam keadaan seperti ini, Tio Bu-ki seperti akan mengatur suatu jebakan dan membiarkan kita masuk perangkap!" Tong Giok lagi-lagi berbicara.

"Betul!" Tong Ci- tham mengangguk.

"Dia pasti akan bersembunyi ditempat kegelapan, menanti Samwan Kong berhasil memancing kemunculan kita, maka dari balik kegelapanpun dia akan melancarkan sergapan kilat, asal sergapannya itu mematikan dan salah seorang diantara kita berhasil dibunuhnya lebih dulu, maka dua orang sisanya, dengan kekuatan ilmu silat yang mereka miliki tentu dapat mengatasi secara mudah. Apalagi mereka bisa minta bantuan dari kantor cabang Tay- hong-tong disini untuk membantu pihaknya."

"Itukan menurut perhitungannya!" kata Tong Ci-tham sambit tertawa dingin.

"Berbicara dari sudutnya, perhitungan semacam ini tidak termasuk perhitungan yang salah, sebab dia tak akan menyangka kalau kita berhasil memperhitungkan kehadirannya di sini"

"Padahal hal tersebut justru sangat penting!" ucap Tong Ci-tham lagi .

"Yang lebih penting lagi, ia sama sekali tak tahu kekuatan yang sebenarnya kita miliki" sambung Tong Giok.

"Tapi paling tidak dia kan sudah tahu kalau dari pihak kita sudah ada tiga orang yang datang!" "Tapi ia tak tahu siapakah ketiga orang itu? Hal mana masih belum cukup untuk memperhi-tungkan kekuatan kita yang sebenarnya"

"Tentu saja mereka lebih lebih tak menyangka kalau Tong Giok pun telah ikut datang" Tong Ci-tham menambahkan dengan suara tawar.

Tong Giok tetap santai, seolah-olah sindiran tersebut sama sekali tak terdengar olehnya, katanya kembali:

"Sewaktu berada di rumah penginapan kecil di wilayah Cuan see tempo hari, aku sengaja menyerangnya tanpa mengena pada sasaran, bukan cuma membiarkan ia berhasil kabur, bahkan membawa lari juga sebatang Tok ci li kita, hal tersebut tak lain bermaksud agar ia menilai rendah kekuatan kita yang sebenarnya, agar dia mengira kalau Tok ci li tersebut sudah merupakan senjata rahasia terlihay yang kita miliki"

Setelah tersenyum, pelan-pelan dia melanjutkan: "Mengetahui diri mengetahui lawan, dengan begitu setiap pertempuran baru bisa dimenangkan, jika ia sampai menilai rendah kekuatan kita, maka itu berarti mereka sedang mencari jalan kematian buat diri sendiri!"

Pelan-pelan Tong Ci-tham menghembuskan napas panjang, ucapnya:

"Oleh sebab itu pula, dalam pertarungan yang akan kita hadapi nanti, hanya kemenangan yang bakal kita raih"

"Tapi merekapun bukan berarti sudah tidak memiliki prasyarat lagi yang sekiranya bisa menguntungkan pihaknya!" kata Tong Giok.

"Prasyarat apakah itu?"

"Tempat ini adalah wilayah kekuasaan Tay-hong-tong, paling tidak mereka sudah menang dalam soal daereh!"

Tong Ci-tham mengakui kebenaran dari perkataan tersebut.

"Tentu saja merekapun menaruh rasa was-was terhadap kehebatan dari senjata rahasia keluarga Tong, oleh sebab itu mereka pasti akan mencari suatu tempat yang paling menguntungkan bagi pihaknya untuk Mempersiapkan jebakan tersebut.

"Tempat yang bagai manakah baru akan menguntungkan bagi pihaknya?"

"Pertama, tempat itu harus merupakan sebuah tanah lapang yang luas, agar mereka mempunyai tempat yang cukup untuk menghindarkan diri"

"Ehmm, betul!". "Kedua, tempat tersebut harus memiliki banyak tempat yang dapat membuat mereka menyembu-nyikan diri secara baik"

Setelah berhenti sejenak, ia menjelaskan lebih jauh:

"Seperti misalnya pohon, benda ini merupakan suatu tempat yang baik untuk bersembunyi, jika pepohonannya rindang dan lebat maka sulitlah buat senjata rahasia untuk mencapai sasaran"

"Ehmm, betul!"

"Ketiga tempat itu harus masih berada dalam wilayah kekuasaannya, dengan demikian mereka dapat menyiapkan orang-orangnya disekitar tempat tersebut secara aman dan rahasia terjamin misalnya saja jika tempat itu adalah sebuah rumah makan maka mereka dapat mengganti semua pelayan dan ciangkwe rumah makan tersebut dengan anak murid Tay-hong tongnya ."

"Inipun betul juga!"

"Tapi sayangnya, setiap hal yang ada untungnya pasti ada ruginya, jika mereka berbuat demikian maka ada pula kejelekan-kejelekannya yang merugikan pihak mereka"

"Apa kejelekan-kejelekannya" kembali Tong Ci-tham bertanya dengan perasaan tak habis mengerti.

"Tempat semacam itu sudah pasti tidak terlalu banyak jumlahnya, jika kita menebak secara jitu tempat macam apakah yang bakal dipilihnya, maka asal kita pergunakan cara yang sama dengan menyembunyikan juga orang-orang kita disana habis sudah rencana bagus mereka tersebut "

"Aku tahu tempat manakah yang memiliki syarat-syarat seperti itu!" tiba tiba Cu ciangkwe berkata.