Harimau Kemala Putih Jilid 12

Jilid 12  

LAU PAT sedang menyeka keringat.

Seseorang yang semakin tak punya uang keringatnya yang mengucur keluarpun semakin banyak, semakin tak mampu mengganti semakin tak kering keringat yang disekanya.

Setelah termenung dan ragu-ragu beberapa waktu lamanya, dengan perasaan apa boleh buat Lau Pat menggigit bibir dan berkata:

"Aku tak sanggup untuk membayar uang taruhanmu itu!"

Bu-ki tampak seperti tertegun setelah mendengar perkataan itu, sebab kejadian tersebut benar- benar di luar dugaannya.

"Masakan uang yang hanya berjumlah tiga puluh laksa tahil lebih sedikit pun tidak sanggup kau bayar? " katanya.

"Jangankan tigapuluh laksa lebih, tiga laksapun aku tak sanggup untuk membayar."

*Kalau sudah tahu tak mampu membayar, kenapa kau masih juga bertaruh denganku?" "Karena aku ingin menangkan kembali uangku."

Jawaban tersebut terhitung pula sebuah jawaban yang jujur.

Barang siapa yang sudah kalah bertaruh, siapakah yang tak ingin menangkan kembali modalnya? Tapi siapa yang ingin menangkan kembali modalnya, siapa pula yang bisa tak kalah?

"Sekarang apa yang hendak kau lakukan?" Bu ki bertanya kemudian setelah termenung sebentar.

"Aku sendiripun tak tahu apa yang musti kulakukan sekarang " Lau Pat gelengkan

kepalanya berulang kali.

Kenapa kau tidak berusaha untuk pergi meminjam kepada orang lain ?" `Tapi ke manakah aku harus pergi meminjam?,

"Pergilah mencari saudara-saudaramu, atau mungkin juga pergi mencari teman-temanmu.`

Tiba-tiba Lau Pat tertawa keras, suara tertawanya seperti seseorang yang sedang menangis, katanya: "Jika seseorang sudah hampir jatuh bangkrut, mana ada saudara lagi dan mana ada teman lagi?"

Inilah pelajaran dan pengalaman yang harus dialaminya dengan perasaan yang tertekan dan tersiksa, sebenarnya dia tidak ingin mengatakannya ke luar.

Tapi sekarang ia mengatakannya juga, karena hatinya benar-benar sudah dingin dan putus asa.

Semua orang lain telah menganggap pula bahwa ia benar-benar sudah menghadapi jalan buntu, tapi kecuali seseorang.

Tiba-tiba ia berkata : "Kau keliru!" KAU KELIRU

KAU keliru !" Orang yang mengucapkan kata-kata tersebut mempunyai logat yang istimewa, nada perkataannyapun istimewa.

Suara itu diucapkan dengan nada yang rendah, berat dan asing, sekalipun seseorang yang merupakan jago kawakanpun tak dapat membedakan suara itu berasal dari dialek propinsi mana.

Nada suaranya seakan-akan membawa semacam kekuatan yang memaksa orang lain harus menerima maksud hatinya itu.

Kalau dia mengatakan kau keliru, maka kau pasti keliru, bahkan kau sendiripun akan merasakan bahwa dirinya pasti telah keliru.

Hal ini memang sesuai sekali dengan gayanya yang anggun dan perlente, dandanannya yang necis dan sikapnya yang agung.

Dahulu ia jelas tak pernah berkunjung ke tempat itu, dulu diapun belum pernah berjumpa dengannya.

Lau Pat tidak kenal dengan orang itu, katanya kemudian: "Kau mengatakan bahwa aku keliru?"

Manusia asing yang berasal dari tempat tak dikenal itu menyahut: "Yaa, kau bukannya sudah tak punya teman, paling tidak kau masih ada seorang teman sekarang”

"Siapakah temanku itu?" “Aku!"

Pelan-pelan ia berjalan kedepan.

Serta merta orang-orang yang berada di sekeliling ternpat itu menyingkir ke samping dan memberi sebuah jalan lewat baginya.

Setibanya di depan Bu-ki, ia hanya menggumankan sepatah kata.

"Aku akan membayarkan ketiga puluh dua laksa tujuh ribu enam ratus delapan puluh tahil itu bagimu!"

Ketika selesai mengucapkan kata-kata tersebut, setumpuk uang kertas telah berserakan di atas meja.

Di dalam melakukan pekerjaan ia selalu berbuat seperti waktu berbicara, sederhana, singkat lebih jauh, tapi jelas, sama sekali tidak bermain sabun.

Lau Pat tertegun.

Seorang manusia asing yang belum pernah dijumpai sebelumnya ternyata bersedia menjadi sahabatnya dikala ia sedang menghadapi jalan buntu, bahkan secara sakarela mengeluarkan pula sejumlah uang yang tak terhitung besarnya itu untuk membantunya.

Lau Pat bukan seorang manusia yang gampang dibuat terharu oleh kejadian apapun, tapi sekarang secara tiba-tiba saja ia merasakan matanya rada basah, tenggorokannya seakan akan tersumbat oleh suatu yang amat besar.

Lama sekali dia baru bertanya lagi. "Benarkah kita adalah sababat?”

Orang asing itu menatapnya tajam tajam, lalu pelan-pelan men jawab:

"Setahun berselang, ada seorang sahabatku yang kalah ludas sewaktu berjudi di sini, kau membiarkannya berhutang, bahkan tidak memaksanya, malahan memberi sangu uang jalan kepadanya, masih ingatkah kau akan kejadian itu?" Sambil menepuk bahu Lau Pat, dia berkata:

"Sejak hari itulah, kau adalah sahabatku!" "Tapi . . . tapi itukan suatu kejadian kecil!"

"Kejadian tersebut bukan suatu kejadian kecil saja, karena orang itu adalah sahabatku!"

Asal mengucapkan kata "sahabat," maka nada suaranya segera akan berubah menjadi begitu serius dan menaruh hormat.

Bukan saja ia memandang tinggi arti dari pada kata "hormat" tersebut, bahkan kata-kata itu dipandang jauh lebih berharga dari pada apa pun juga.

"Mari kite pergil" katanya lagi sambil menarik tangan Lau Pat. "Pergi? Kenapa harus pergi?"

"Kau sudah bangkrut di tempat ini, karena itu sambil mendongakkan kepala kau harus keluar dari sini dan berjuang kembali untuk membangun usaha baru"

"Benar!" kata Lau Pat kemudian sambil mendongakkan kepalanya, "kita harus pcrgi!" "Tunggu sebentar!" tiba tiba Bu ki berseru.

Sinar mata orang asing itu segera memancarkan sinar yang lebih tajam dari sembilu, dengan dingin tegurnya

"Apakah kau masih akan bertaruh lagi?" Bu ki tertawa .

"Sebenarnya aku memang ingin bertaruh lagi, karena hanya dengan bertaruh baru dapat membuat keluarga orang hancur berantakan dan sepanjang masa tak dapat mendongakkan kcpalanya kembali."

Begitu ia tertawa, maka codet di atas wajahnya itu seakan-akan merubah semuanya itu menjadi luar biasa seramnya, begitu seram dan sadisnya hingga sukar dilukiskan dengan kata- kata.

Pelan-pelan ia berkata lebih lanjut:

"Sebenarnya aku telah bertekad untuk bertaruh dengannya sehingga dia bangkrut dan mampus." Orang asing itu sama sekali tidak bertanya:

"Kenapa?"

Karena ia tahu Bu ki pasti dapat menjelaskan sendiri.

"Karena setahun berselang, ada seseorang yang hampir mati di tangannya, dan kebetulan sekali orang itupun seorang sahabatku."

Setelah tertawa ewa Bu-ki melanjutkan:

"Ia pernah membantu sahabatmu, maka kau membantunya, tapi dia ingin merenggut nyawa sahabatku, maka sudah barang tentu akupun menginginkan pula selembar jiwanya."

Dengan gigi membayar gigi, dengan darah membayar darah, hal ini sudah lumrah dan berlaku pada saat itu.

Meskipun pembalasan semacam ini agak kejam dan liar, tapi dendam sakit hati antara umat persilatan hanya bisa diselesaikan pula dengan cara seperti itu.

Orang asing itu termenung beberapa waktu lamanya, lama sekali, dia baru bertanya: "Sekarang apa yang ingin kau lakukan?"

Bu-ki menatap orang itu lama sekali, kemudian baru sahunya :

"Kau adalah seorang sahabat yang baik. Bisa berkenalan dengan seorang sahabat seperti kau, sedikit banyak memang ada juga hal-hal yang menyenangkan, make dari itu. ."

Pelan-pelan ia mendorong seluruh tumpukan uang yang berada di hadapannya itu ke hadapan orang tersebut.

"Maka dari itu sekarang juga aku minta kepada kalian untuk membawa pula semua benda tersebut pergi dari sini."

Selesai mengucapkan kata-kata itu dia putar badan dan pergi dirisana, ia pergi dengan langkah lebar dan sama sekali tidak berpaling kembali.

*****

Cuaca hari ini sangat cerah, matahari bersinar indah, anginpun berhembus silir semilir. Bu-ki menarik napas panjang-panjang, mendadak ia merasakan hatinya gembira sekali, sudah lama sekali dia tak pernah merasakan kcgembiraan seperti hari ini.

Dia selalu adalah seorang manusia yang berpikiran aneh.

Ia tak pernah memaksa orang lain, diapun tak ingin orang lain memaksanya, dia tak suka berhutang kepada orang lain, karena itu diapun tak suka orang lain berhutang kepadanya.

Itulah kebiasaan yang aneh baginya.

Seperti juga kebanyakan manusia yang berperasaan sama, ketika suatu hutang telah berhasil dibereskan, dia selalu akan merasakan betapa enteng dan senang hatinya.

Apalagi dia telah mencoba ilmu pedangnya, bahwa dia sendiripun merasa amat puas dengan hasil yang berhasil diperolehnya itu.

*****

Tempat itu adalah sebuah lorong panjang yang sepi dan tiada manusia lain, ketika hampir sampai di mulut lorong, ia sudah mendengar ada ujung baju tersampok angin berkumandang dari atas atap rumah, gerakan itu sangat enteng dan cepat, jelas seseorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna.

Menanti ia sudah hampir tiba di mulut lorong tadi, orang itu sudah berdiri di bawah pohon Pek-yang di luar lorong tersebut dan sedang menantikan kedatangannya.

Ternyata orang itu tak lain adalah si nona yang tak usah tertawapun kelihatan sepasang lesung pipinya yang dalam itu.

Sekarang ia sedang tertawa.

Sambil bertolak pinggang dengan tangan sebelah dan memegang cambuk kuda dengan tangan yang lain, ia memandang ke arah Bu-ki sambil tertawa manis.

Bu-ki tidak tertawa, diapun tidak menengok ke arahnya. Seakan-akan sama sekali tak terlihat olehnya bahwa disanaada seorang manusia seperti itu, ia berjalan lewat di hadapannya tanpa berkedip.

Sudah cukup banyak kesulitan yang dihadapinya, ia benar-benar tak ingin mencari kesulitan lagi bagi dirinya sendiri.

Kesulitan biasanya akan datang bersama-sama dengan perempuan, terutama seorang gadis cantik yang menyaru sebagai seorang pria. Apalagi terhadap seseorang yang sudah jelas orang lain mengetahui bahwa dia adalah seorang gadis yang sedang menyaru sebagai seorang lelaki, tapi ia sendiri justru mengira bahwa orang lain tidak mengetahui kalau dia adalah seorang perempuan.

Jika perempuan semacam ini membawa pula sebuab cambuk, maka bila kau sampai bertemu dengannya, jalan terbaik adalah mengambil langkah seribu.

Bu-ki memilih sebuah cara yang baik, sayangnya sekali cara itu yang terbaik kadangkala bisa mendatangkan pula ketidak manjuran.

Baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba bayangan manusia berkelebatan lewat, seorang manusia yang memegang cambuk kuda di tangan kanannya telah berdiri tepat dihadapan mukanya.

Asal kau maju satu dua langkah lagi ke depan, kemungkinan besar hidungmu akan saling beradu dengan hidungnya.

Entah dia itu seorang laki ataupun seorang perempuan, dia tak ingin hidung mereka saling beradu.

Maka terpaksa dia harus berhenti.

Si nona yang menyaru sebagai seorang laki-laki itu melotot ke arahnya dengan mempergunakan sepasang matanya yang besar dan jeli, lalu tegurnya:

"Apakah kau adalah seorang manusia bermata buta yang tak dapat melihat orang?" Tentu saja dia bukan.

Maka Bu ki menggeleng, karena dia bukan seorang buta.

"Apakah aku adalah seorang manusia yang tanpa wujud?" kembali gadis itu bertanya. Sekali lagi Bu ki harus menggelengkan kepalanya.

Sambil menatap ke atas wajahnya dengan mata yang melotot besar, gadis itu berkata lebih jauh:

"Kalau memang begitu kenapa kau tidak menengok diriku?"

"Karena aku tidak kenal denganmu!" akhirnya Bu-ki harus menjawab pula dengan pelan.

Alasan tersebut memang suatu alasan yang paling baik, sebab barang siapa sudah terkena batunya, biasanya dia akan putar badan dan angkat kaki darisana. Tapi hal tersebut ternyata terkecuali untuk si nona tersebut.

Dia malah tertawa tergelak, lalu serunya. "Apa salahnya kalau memang tidak kenal? Siapakah yang akan saling mengenal sejak dilahirkan di dunia? Kau tak usah merasa tak enak hati, aku tak akan menyalahkan dirimu!"

Terpaksa Bu-ki harus membungkam diri dalam seribu bahasa.

Tiba-tiba ia merasa bahwa sekalipun kau mempunyai alasan yang bagaimanapun kuatnya, percuma saja bila dibicarakan dihadapan nona itu, sebab urusan tak bakal akan beres.

Sambil menuding ujung hidung sendiri dengan cambuk kudanya, nona itu memperkenalkan diri:

"Aku she Lian, bernama Lian It-lian, yang berarti sekuntum bunga teratai" Setelah tertawa ia berkata-lagi:

"Jika kau beranggapan bahwa nama tersebut adalah nama seorang perempuan maka dugaanmu itu keliru besar, sebab pada jaman dahulu dalam dunia persilatanpun terdapat seorang jago gagah yang bernama It-to- lian-hoa (sekuntum bunga teratai) Liu Tek-tay!"

Bu-ki masih juga membungkam diri.

Lian It-lian telah menunggu sekian lama, karena belum ada jawaban juga yang kedengaran, tak tahan ia berkata lagi:

"Aku telah selesai berkata, kenapa kau masih belum juga berbicara . . .

"Aku hanya ingin mengucapkan dua patah kata saja!" ucap Bu ki kemudian. "Due kata yang mana?"

"Sampai jumpa!"

“Sampai jumpa” biasanya berarti tidak sampai berjumpa lagi.

Setelah mengucapkan sampai jumpa, sebetulnya ia benar benar akan “Sampai jumpa”, siapa tahu ia benar benar telah berjumpa lagi.

Walaupun nona itu seakan akan tidak begitu mengerti tentang segala persoalan, tapi ilmu meringankan tubuhnya benar benar tak terkirakan hebatnya.

Baru saja Bu Ki memutar badannya, tahu tahu dia sudah menanti di hadapannya, sambil menarik muka tegurnya:

“Hei, sebearnya apa maksudmu?” Sekalipun dia sedang menarik muka, tapi sepasang lesung pipitnya justru tampak makin jelas.

Bu Ki sama sekali tidak menikmati sepasang lesung pipitnya itu, bahkan sambil menarik muka pula katanya:

“Aku sama sekali tidak mempunyai maksud apa apa, aku hanya ingin cepat cepat sampai jumpa!”

“Sekarang bukankah kita telah berjumpa lagi?”

Setelah tertawa dia menambahkan:

“Bil kau ingin cepat cepat sampai jumpa lagi, maka akupun segera pula berjumpa lagi denganmu, bukankah hal ini bagus sekali?”

Bu Ki benar benar dibikin bodoh.

Ia benar benar tidak menyangka kalau dalam dunia benar benar terdapat manusia semacam ini.

Terdengar Lian It lian berkata lebih jauh

“Kalau toh kita sudah berjumpa lagi sekarang, maka kau harus mengakui pula akan hal ini, nah sekarang kau mesti beritahu kepadaku, siapa namau? Darimana kau mempelajari ilmu pedangmu itu?”

Ternyata gadis itu bukannya benar benar tak punya aturan, diapun bukan sungguh sungguh bermuka tebal, dia hanya ingin mengetahui nama Bu Ki serta asal usul ilmu pedangnya.

Tentu saja Bu Ki sendiripun bukan sungguh sungguh menjadi bodoh.

Dia seperti sedang mempertimbangkan hal itu, lama sekali dia termenung, kemudian baru katanya:

“kupun ingin sekali memberitahukan kepadamu, sayangnya akupun merasa amat takut” “Apa yang kau takuti?”

"Takut bini, aku takut sekali dengan bini aku” Lian It lian segera tertawa.

"Bukan cuma kau seorang yang takut bini, katakan saja dengan berterus terang, aku takkanmentertawakan dirimu."

"Bila kau tidak mentertawakan aku, aku lebih-lebih tak boleh mengatakannya kepadamu." "Kenapa?" "Sebab aku selalu menuruti perkataan dari biniku, apa yang dia suruh aku lakukan, akupun segera melakukannya tanpa membantah, Jika dia melarang aku melakukan sesuatu, aku pasti tak akan melakukan apa yang telah dilarang kepadaku itu."

Bukan saja dia mengucapkan banyak sekali perkataan, bahkan kata-kata itu semrawut dan tidak jelas kedengarannya.

"Apakah dia melarang kau berbicara?" tanya Lian It lian kemudian dengan wajah tercengang,

"Ia mengizinkan aku berbicara, tapi tidak mengizinkan aku berbicara dengan laki tidak laki perempuan tidak perempuan dan manusia yang perempuan menyaru sebagai lelaki."

Lian It lian tidak tertawa lagi? Sepasang pipinya kontan berubah menjadi merah padam, sambil melompat bangun ia tertawa dingin tiada hentinya.

"Kalau kau tak mau bicara, memangnya aku tak dapat melihatnya sendiri ? " bentaknya.

Lompatannya itu mencapai ketinggaan tujuh delapan depa lebih, belum lagi habis berbicara tahu-tahu ia sudah mengayunkan cambuknya ke bawah dari tengah udara.

Meskipun senyumannya manis, tapi caranya melancarkar seranganpun amat ganas, jika hal ini terjadi pada setahun berselang. sekalipun Bu-ki dapat menghindari serangan cambuk yang pertama, belum tentu ia dapat menghindari serangannya yang kedua.

Serangan gadis itu sejurus demi sejurus menyambar ke bawah tiada hentinya, mana cepat ganasnya bukan kepalang.

Bila setahun berselang dia diserang semacam begini, kemungkinan besar Bu-ki sudah terhajar sebanyak tujuh-delapan puluh kali banyaknya.

Untung saja Bu-ki yang sekarang bukan lagi Bu-ki pada setahun berselang . . . .

Sekalipan serangan cambuknya amat cepat, cara Bu-ki untuk menghindarpun jauh lebih cepat. Sekalipun serangan cambuknya bagaikan ular berbisa yang mencari korban, jangankan melukainya, untuk menjawil ujung bajunyapun tak mampu.

Dia hanya menghindar terus, sama sekali tidak membalas.

Bila gadis itu ingin mengetahui asal usul dari ilmu pedangnya, maka diapun ingin pula mengetahui asal usul dari ilmu silatnya.

Sayang sekali ia tak berhasil untuk mengetahui hal tersebut. Ternyata ilmu silat yang dimiliki nona itu benar-benar terlampau kacau, macam gado-gado. Mungkin saja hal ini dikarenakan ilmu silat yang dipelajarinya terlampau beraneka macam, maka dari itu tenaga dalamnya sukar ditingkatkan mutunya.

Secara lamat lamat Bu-ki dapat mendengar dengusan napasnya yang makin lama makin

ter-sengal, wajahnya pun makin lama semakin memucat, tiba-tiba saja ia berdiri tak berkutik.

Tentu saja Bu-ki tiada maksud untuk menggunakan kesempatan tersebut untuk mencari kemenangan.

Dia hanya ingin cepat-cepat pergi dari situ.

Ia belum juga pergi, karena secara tiba-tiba nona itu membuang cambuknya lalu mendekap ulu hatinya dengan sepasang tangan, dengusan napasnya makin lama makin menderu, paras mukanya makin lama pun semakin menakutkan, seakan-akan telah menderita luka dalam yang cukup parah.

Padahal Bu ki tahu, jangankan melukainya, menjawil seujung rambutnyapun tidak.

Lian It lian menatapnya tajam-tajam, seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu, tapi belum sempat mengucapkan sesuatu, mendadak ia roboh terkapar ke tanah dan tak berkutik lagi.

Bu ki menjadi tertegun.

Dia bukannya seorang manusia yang terlalu menaruh curiga kepada orang lain, tapi mau tak mau dia musti bersikap lebih waspada dan berhati hati lagi .

. . . . Apakah si nona itu sedang bermain sandiwara?

Ia tak ingin tertipu, tapi iapun merasa tak baik untuk berlalu darisanadengan begitu saja.

. . Kalau ia bukan lagi bersandiwara? Kenapa pula tiba-tiba bisa berubah jadi begitu?

Jangankan memukul, menyentuhpun tidak, tapi kenapa ia roboh mendadak? Sekalipun penyakit lamanya tiba tiba kambuh, toh mustahil kalau langsung berubah seserius itu.

Apalagi barusan ia tampak begitu gagah, sehat dan segar seperti sekuntum bunga mawar yang merah, segar tapi penuh berduri.

Bu-ki bersiap-siap akan pergi dari situ.

Ia tak ingin kena ditempelang olehnya sewaktu menundukkan kepala untuk memeriksa keadaannya nanti. Sudah amat jauh pemuda itu pergi, tapi si nona tersebut masih berbaring tak berkutik dl tempat semula.

Bisa waspada dan berhati hati, meski merupakan tindakan yang bagus, tapi melihat orang kesusahan tanpa ditolong bukanlah watak yang dimilikinya walaupun bakal tertipu,

baik buruk dia harus menerimanya juga untuk kali ini saja.

Ia segera berjalan kembali, jauh lebih cepat dari pada sewaktu berlalu darisanatadi. Ia membungkukkan badannya lebih dulu untuk memeriksa dengusan napasnya.

Napas itu lirih dan lemah.

Lalu ia meraba jidatnya, jidat itu dingin seperti es. Dengan cepat ia menarik tangannya.

Tangan tersebut lebih dingin lagi, bahkan jari-jari tangannya telah membeku denyutan nadinya begitu lemah dan lirih hampir saja tak terdengar lagi.

Bu-ki mulai gelisah, ia tak tahu apakah jantungnya masih berdetak atau tidak?

Teringat sampai di situ, ia segera memeriksanya dengan seksama, dalam keadaan begini ia tak mau berpikir terlalu jauh, sebab dalam hatinya tak pernah terlintas niat jahat atau niat cabul lainnya.

Dengan sangat berhati-hati, telapak tangannya ditempelkan di atas dadanya dan kemudian dengan cepat ia berhasil membuktikan dua persoalan.

Jantungnya masih berdetak.

Dia adalah seorang perempuan, perempuan asli yang masih hidup segar.

Tapi si gadis yang lebih segar dari sekuntum bunga mawar tadi, kini telah berubah menjadi seuntai rumput kering yang layu dan nyaris tak bernilai lagi.

Lantas apa yang harus dia lakukan?

Tentu saja ia harus menghantarnya pulang, sayang ia sama sekali tak tahu di manakah tempat tinggalnya?

Iapun tak dapat membawa pulang ke tempat di mana ia menginap sekarang. Dua hari terakhir ini ia tinggal di rumah penginapan, tapi membopong pulang seorang nona gede yang setengah hidup setengah mati ke dalam rumah penginapan, rasanya bukan suatu perbuatan yang baik.

Kalau ia membuangnya di situ dan tidak mengurusinya lagi, tentu saja hal ini lebih-lebih merupakan suatu perbuatan yang tak baik.

Bu-ki menghela napas panjang, dibopongnya nona itu dari tanah, ia bersiap-siap mencari seorang tabib untuk memeriksakan dulu penyakitnya. .

Waktu itulah tiba-tiba muncul sebuah kereta kosong yang sedang lewat.

Menjumpai kereta kosong tersebut, keadaan Bu-ki ibaratnya seorang yang hampir mati tenggelam tiba-tiba bertemu dengan sebuah perahu.

Buru-buru ia lari ke depan dan menghadang kereta tersebut.

"Tahukah kau ditempat mana aku bisa temukan seorang tabib di sekitar sini?" Kakek tua si kusir kereta itu segera tertawa.

"Kau dapat mencari aku, sesungguhnya telah mencari orang yang paling tepat!"

Sekalipun si kusir kelihatannya sudah tua, loyo dan tak bertenaga lagi, namun ia dapat melarikan kereta tersebut secepat terbang.

Si nona gede sepetti mawar merah itu masih juga macam seuntai daun kering, begitu loyo, sayu dan dingin hingga sedikitpun tidak membawa tanda kehidupan lagi.

Tiba-tiba Bu-ki teringat, semestinya ia harus membawa nona itu untuk menjumpai Ciau In.

Perkumpulan Tay hong tong membuka kantor cabanya di sini, Ciau In adalah Tongcu dari kantor cabang itu, seperti pula namanya, dia adalah seorang mausia pilihan yang mantap dan tenang, paling cocok kalau ditugaskan mengurusi pelbagai persoalan penting.

Tapi kemudian iapun berpikir kembali, andaikata Ciau In sampai salah sangka akan hubungannya dengan nona tersebut, sudah pasti urusan akan bertambah runyam.

Seseorang bila telah bertemu dengan persoalan semacam ini, rasanya ia tak bisa berbuat lain kecuali menerima kesialan tersebut.

Baru saja ia menghela napa di hati, krereta itu telah berhenti, berhenti tepat di pinggir sebuah sungai yang sepi, bukan saja tak nampak si Tabib yang akan memeriksa penyakit si nona, malah setengah potong bayangan manusiapun tak nampak. Jangan jangan kakek loyo kusir kuda itu adalah seorang anggota Liok lim yang biasa bekerja sebagai “totokan” (penodong dengan senjata)?

Tampak kakek loyo itu mengayunkan cambuk kudanya ke udara hingga berbunyi “Taaarr, taarrr !”, kemudian serunya dengan lantang:

“Telah kubawa ke mari dua ekor kambing gemuk, satu jantan satu betina, satu mampus satu hidup!”

“Kiriman kuterima ” dari balik alang alang sungai segera terdengar seseorang menyahut.

*****

Bunga alang alang belum memutih, dari balik ilalang yang lebat tapi gundul itu, tiba tiba meluncur ke luar sebuah sampan kecil.

Seorang nelayan yang memakai topi lebar terbuat dari anyaman bambu dengan baju jas hujan, menutulkan sebuah galah panjang ke dasar sungai, meluncurlah sampan itu ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Topi lebarnya dikenakan sangat rendah hingga hampir menutupi sebagian besar wajahnya, Bu Ki tak dapat melihat raut wajah orang itu.

Bu Ki pun tidak kenal dengan nelayan tersebut.

Ternyata ia tidak menanyakan soal ini kepada si kakek kusir kereta, padahal seorang tabib yang dicari, kenapa ia membawa mereka menjumpai seorang nelayan.

Iapun tidak bertanya siapakah nelayan itu.

Sang nelayan hanya mengucapkan sepatah kata: "Naiklah ke perahu!"

Bu-kipun membopong nona itu dan melompat naik ke atas sampan kecil tersebut.

Seorang yang tadi masih bertindak hati-hati dan penuh kewaspadaan, kenapa sekarang secara tiba-tiba bertindak begitu gegabah?

Galah panjang di tangan nelayan itu sedikit menutul di dasar sungai, sampan kecilpun meluncur ke tengah sungai.

Kakek kusir kereta menjalankan pula keretanya meninggalkan tempat itu, cuma ia sempat berteriak kembali:

"Kambing gemuk telah diantar datang, sampai kapan arak wangi bisa diambil?" "Empat guci arak wangi, besok pasti sudah dikirim, segucipun tidak berkurang" jawab sang nelayan dengan suara lantang.

Kereta itu berlalu dengan cepat meninggalkan tempat itu, dalam sekejap mata hanya debu yang beterbangan di udara.

Sampan kecil itupun telah berada di tengah sungai.

Baru saja Bu-ki membaringkan si nona dalam ruang perahu, nelayan itu telah meletakkan galah panjangnya dan berjalan mendekat.

Sampan kecil mulai berputar-pu.tar di tengah sungai.

Nelayan itu menatap wajah Bu-ki, kemudian sambil tertawa dingin tiba-tiba tanyanya: "Kau dapat berenang?"

"Bisa sedikit!" jawab Bu-ki. "Apa artinya bisa sedikit?"

"Bisa sedikit artinya aku tak akan tenggelam bila tercebur ke dalam air, tapi bila ada orang menarik kakiku, maka tak mau tenggelampun terpaksa aku musti tenggelam juga."

"Sungguh tak kusangka kau begitu jujur dan berterus terang!" "Aku memang jujur!"

"Tapi kadang kalapun orang jujur tak boleh berbicara jujur!" "Kenapa?"

"Sebab bila terlampau jujur, maka ia bakal kebobolan uangnya!"

"Aah, baik-baik begini masa uangku bakal kebobolan? Yang benar saja!" Nelayan itu tertawa dingin tiada hentinya.

"Kau tak usah berlagak goblok." katanya, "aku ingin bertanya kepadamu, kau ingin harta atau nyawa?"

"Aku inginkan kedua duanya!" "Kau tidak kuatir kuceburkan dulu dirimu ke dalam air, lantas menarik kakimu hingga tenggelam?"

"Aku kuatir!"

"Kalau begitu lebih baik serahkan saja semua uangmu tanpa melawan, aku tahu banyak juga hasil yang berhasil kau raih dari tempat Lau Pat-ya hari ini."

Bu-ki menghela napas panjang, kemudian tertawa getir.

"Aaaai, rupanya sudah semenjak tadi kau mengincar diriku!" pekiknya.

"Ah, tak usah banyak omong!" bentak nelayan itu keras, "mau kau serahkan tidak?" "Tidak!"

"Kau pingin mampus?" "Tidak!"

"Lantas apa yang kau inginkan?" tanya sang nelayan tak tahan, rupanya ia merasa agak keheranan.

"Aku ingin keempat guci arak wangi itu kau hidangkan kepadaku, dan kita menikmatinya bersama," ujar Bu-ki pelan.

Nelayan itu jadi tertegun.

Belum lagi penodong mendapatkan hasil todongannya, ia malah kena ditodong duluan, ini baru lucu namanya!

"Hei, aku lihat kau punya penyakit mungkin?" seru nelayan itu kemudian tak tahan. "Tidak! Aku sama sekali tidak mengidap penyakit apa-apa!"

"Dengan dasar apa kau anggap aku bukan saja tak akan menodong uangmu bahkan akan mengundangmu minum arak?"

"Dengan dasar apa pula kau anggap diriku ini seorang telur busuk yang goblok?" Bu-ki balik bertanya sambil tertawa lebar.

"Siapa yang menuduhmu sebagai telur busuk yang goblok?" "Kalau aku bukan seorang telur busuk yang goblok, memangnya aku suka menaiki sampanmu secara begitu ceroboh dan gegabah?"

Nelayan itu jadi tertegun dibuatnya.

"Jadi kau sudah kenali diriku semenjak tadi?" ia bertanya. "Tentu saja!"

"Lantas siapakah aku ini?"

"Kau adalah si setan judi paling sial yang tiada tandingamnya di kolong langit, karena jumlah kekalahan yang pernah kau alamipun tak pernah bisa disusul orang lain!"

Nelayan itu jadi bodoh dibuatnya.

Bu ki tertawa terbahak-bahak, tapi pada saat ia sedang tertawa paling gembira itulah , tiba- tiba....

"Plok!" bunyi amat nyaring bergema memecahkan kesunyian.

Suara itu berasal dari pipinya, ternyata sebuah tamparan paling halus, tapi paling keras telah mampi di situ"

Bu-ki ikut dibikin bodoh jadinya.

Ternyata menggunakan kesempatan dikala mereka sedang tidak menaruh perhatian, nona Lian itu sudah melompat bangun, waktu itu ia sedang melotot ke arahnya dengan sepasang matanya yang besar seperti gundu, lalu sambil tertawa dingin ujarnya:

"Dengan dasar apa kau berani meraba tubuhku lalu membopong aku? Kalau bukan aku yang menempelengmu siapa pula yang akan menempelengmu?"

Bu-ki tidak berdebat.

Dia sendiri seharusnya sudah tahu, ia meraba dadanya karena dia hendak menolongnya.

Ya, apa lagi yang dapat dibicarakan bila menghadapi seorang perempuan tak tahu aturan itu?

Belum lagi sang nelayan memahami duduk perkaranya, tiba-tiba berkumandang kembali sebuah suara nyaring "Plok!"

Kali ini suara tersebut bukan berasal dari wajah Bu-ki, tapi muncul dari atas wajah si nona itu. Diapun kena ditempeleng satu kali.

Nona itu terbodoh dibuatnya, dengan kaget ia memandang ke arah Bu-ki, lalu serunya tergagap:

"Kau , . . kau berani memukul orang?"

"Kalau kau berani memukul, kenapa aku tak berani? "Aku boleh memukulmu, kau tak boleh memukulku." "Kenapa?"

Karena . . . karena . . ." saking gelisahnya nona Lian mendepak depakkan kakinya ke lantai perahu, "kaukansudah tahu bahwa aku adalah seorang perempuan."

"Perempuan itu manusia atau bukan sih" "Tentu saja manusia!"

"Nah, kalau memang perempuan boleh memukul lelaki, kaum lelaki kan boleh juga memukul perempuan?"

Lian It-lian gelisah bercampur mendongkol tapi apa mau dikata ia tak sanggup menghadapi ketajaman mulut orang.

Bila seorang perempuan tak mampu menandingi orang lain, seringkali mereka akan pergunakan cara yang sama . . . nekad !

Tiba-tiba ia melompat lompat seperti orang gila, kemudian teriaknya dengan gemas:

"Kau berani meraba dadaku, membopong aku sekarang menempeleng aku pula, aku tak ingin hidup, aku ingin mati saja dihadapanmu!"

Tiba-tiba ia lari kedepan dan. . "Pluung!" menceburkan diri ke dalam sungai.

*****

BUNGA TERATAI BERDURI

ARUS sungai yang amat deras!

Begitu melompat ke air, tubuhnya tak pernah muncul kembali di atas permukaan. Tak tahan Bu-ki bertanya:

"Dalamkah air di sini?”

"Tidak terhitung terlampau dalam," sahut sang nelayan, "cuma, kalau untuk menghanyutkan beberapa orang nona seperti dia sih masih belum menjadi persoalan."

Bu-ki tertawa dingin.

"Toh bukan aku yang mendorongnya mencebur ke air, mati hidupnya apa pula sangkut pautnya denganku?”

"Oh, tentu saja tak ada sangkut pautnya, sedikitpun tak ada sangkut pautnya.”

"Apalagi perempuan tak tahu aturan macam dia memang lebih baik mampus saja daripada hidup."

"Bagus, bagus sekali, memang bagus sekali!"

Perkataannya itu belum lagi selesai diucapkan, tiba-tiba "Plung!"

Bu-kipun menceburkan diri ke sungai.

Air itu bersih sekali, namun dinginnyapun bukan kepalang..

Bisa berenang dalam sungai yang berarus deras dalam udara semacam ini memang terhitung pula satu kejadian yang menyenangkan.

Sayang Bu-ki sedikitpun tidak merasa gembira.

Baru saja tubuhnya tercebur ke air, ia lantas merasa ada orang yang sedang menarik kakinya, dalam waktu sekejap ia sudah meneguk air sungai beberapa tegukan.

Walaupun air sungai itu bersih lagi dingin, namun meneguk air deagan cara semacam itu memang kurang begitu nyaman.

Apalagi ketika air diminum lewat mulut, kemudian harus disembur ke luar lewat lubang hidung, oh! Betapa tersiksanya perasaan semacam itu.

Bahkan ia sendiripun tak tahu berapa teguk sudah air sungai yang ia teguk, iapun tak tahu berapa banyak yang masuk ke perut dan berapa banyak yang tersembur ke luar lagi lewat hidung. Sekarang dia baru tahu, bagaimanapun tenangnya seseorang, bila sudah tercebur ke sungai dan meneguk beberapa teguk air sungai, maka ia lantas akan berubah jadi pusing tujuh keliling, sedemikian pusingnya sehingga tak sanggup lagi membedakan mana timur mana barat, utara atau selatan. . .

Dengan susah payah tangannya berhasil juga menyambar sebuah benda, agaknya sebuah galah bambu yang panjang, akhirnya muncul juga kepalanya dari permukaan air.

Si nona Lian telah berada di pantai, ia sedang memandangnya seakan-akan lagi menertawakan dan mengejeknya.

"Di atas tanah aku tak sanggup mengalahkanmu, terpaksa aku musti memberi sedikit pelajaran dalam air, akan kulihat dikemudian hari kau berani memukuli perempuan lagi atau tidak?"

Menunggu ia tersadar sama sekali, nona itu sudah lenyap, sebaliknya si nelayan itu sedang memandang ke arahnya sambil tertawa.

"Ternyata kaupun seorang setan yang lagi sial, kalau aku adalah si setan judi yang sial, maka kau adalah si setan perempuan yang sial, tampaknya kau jauh lebih siap dari pada aku."

Si Setan bertaruh yang sial ini sudah barang tentu adalah Samwan Kong.

***** Bu-ki mengaku bahwa dirinya sedang sial. Tapi ia sama sekali tak marah.

Memang begitulah romantikanya orang hidup, kadangkala apes, kadangkala mujur.

Dikala lagi mujur, ia tak pernah bersikap terlalu gembira hingga lupa daratan, dikala sial diapun tak pernah terlalu marah dan sedih.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh Samwan Kong sedang memandang kearahnya, lalu berkata: Biasanya kesialan seseorang seringkali datang karena dicari sendiri !"

"Kalau sialku ini bukan kucari sendiri!"

"Dia toh seorang nona muda, masakah tanpa sebab tanpa musabab ia datang mencari mu?" seru Samwan Kong tertawa.

Tapi memang begitulah kenyataannya, nona itu bersikeras mencarinya tanpa sebab musabab. Tapi Bu-ki sudah tak ingin membicarakan lagi persoalan itu, katanya: "Kenapa kau tidak bertanya kepadaku, kenapt aku dapat mengenali diriku ?" "Ya, aku memang hendak menanyakan persoalan ini kepadamu!"

Topi lebar yang dipakai rendah-rendah hingga menutupi sebagian besar wajahnya itu segera dilepaskan, sekarang Bu-ki baru bisa melihat bahwa raut wajahnya sama sekali telah berubah, kini wajahnya berubah menjadi begitu suram menggidikkan hati dengan sepasang mata mati yang mendirikan bulu roma orang.

"Raut wajahmu itu tampaknyapun tidak terlalu hebat, lebih baik kenakan saja topi lebarmu itu!" ujar Bu-ki..

"Tapi raut wajahku ini jauh lebih berharga dari pada raut wajahku yang dahulu." “Oya?"

"Apakah tidak kau lihat bahwa aku sedang mengenakan selembar kulit manusia?" Setelah tertawa tergelak, ia berkata lebih jauh:

"Aku rasa kulit wajah ini mungkin sekali adalah kulit wajah yang paling mahal di dunia saat ini, konon buatan dari Jit-kiau-tongcu (bocah berkepandaian sakti) pribadi, coba lihatlah !

Bagaimana pendapatmu?" "Bagus sekali!"

Topeng kulit manusia itu memang amat sempurna pembuatannya, seandainya ia tidak me-ngatakannya sendiri, sekalipun berada di bawah cahaya matahari, orang lainpun sulit untuk me-lihatnya dengan jelas.

"Tapi sebelum naik ke atas sampan, kau telah mengenali diriku," seru Samwan Kong. "Aku tak usah mesti melihat dulu wajahmu!" Bu-ki menerangkan.

"Kau dapat mengenali suaraku?" "Tepat sekali!"

"Sudah hampir setahun lamanya kita tak pernah bersua muka, tadipun aku cuma mengucapkan sepatah kata, masakah kau dapat menangkap suara siapakah itu?" "Sekalipun sepuluh tahun tak pernah bersua, aku tetap dapat mengenali suaramu!"

Samwan Kong segera menghela napas panjang

"Aaai tampaknya bukan cuma kepandaianmu saja yang hebat, lagi pula permainan setanmu

juga tak sedikit jumlahnya".

"Apakah raut wajahkupun banyak berubah?" tanya Bu-ki kemudian!. "Yaa, banyak sekali perubahannya!"

"Apakah kau yang menyuruh kereta kuda itu pergi menjemputku?" "Betul!"

"Dari mana kau bisa tahu kalau aku berada disana? Apakah masih ada orang yang dapat me-ngenali aku sebagai Tio Bu-ki?"

"Kalau di tempat lain aku tak tahu, tapi di sekitar tempat ini tampaknya memang masih ada seorahg".

"Siapakah dia?"

"Aku!" jawab Samwan Kong cepat. Sesudah tertawa lebar, ujarnya lebih jauh:

"Meskipun wajahmu telah berubah, codet di atas wajahmu masih belum berubah, codet tersebut adalah tanda khusus, yang kutinggalkan sendiri di atas wajahmu, mana mungkin aku tidak kenal?" .

Wajah Bu-ki pernah tersambar robek oleh pasir beracun yang amat jahat, waktu itu memang dialah yang turun tangan sendiri memotong daging beracun yang ada di atas pipinya itu, sehingga sampai sekarang tertinggallah sebuah codet besar seakan-akan sebuah senyuman.

Tentu saja selama hidup Bu-ki tak akan melupakan peristiwa tersebut ........

Sambil tertawa Samwan Kong kembali berkata.

"Kalau kau masih ingat bahwa kepandaianku kalah dalam bertaruh nomor satu di kolong langit, maka seharusnya kaupun tak akan lupa kalau kepandaianku dalam mencari orangpun nomor satu di kolong langit, bahkan Siau Tang lo pun kutemukan, kenapa kau tak dapat kutemukan?" "Apakah tahun ini kau kembali pergi mencarinya?" "Tahun ini tidak!"

"Kenapa?"

"Sebab aku tak ingin membawa kesulitanku kepadanyasana, sudah terlampau banyak kesulitan yang dia hadapi."

"Oleh karena itu kaupun tidak pergi ke tempat tinggalnya Bwe hujin?" "Aku lebih-lebih tak boleh mendatangkan segala kesulitan baginya." "Sesungguhnya kesulitan apakah yang kau maksudkan?"

Samwan Kong tidak langsung menjuwab, dari sakunya ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang terbuat d:ri kertas minyak.

Ia mengelupas kertas minyak bagian luar, di dalamnya masih terdapat dua lapis bungkusan dari kain kasar, setelah kedua lapisan tersebut dilepas maka tampaklah sebatang senjata rahasia yang memancarkan sinar gemerlapan.

Itulah senjata rahasia duri beracun dari keluarga Tong yang telah menggetarkan seluruh kolong langit.

Keluarga Tong dari wilayah Suchuan yang tersohor karena senjata rahasia beracunnya!

*****

Sang surya telah tenggelam dilangit sebelah barat.

Di bawah timpaan sinar matahari menjelang senja, Tok-ci-li atau Duri beracun tersebut tampak terbuat dari tigabelas lembar daun baja yang kecil dan lembut sekali, bukan cuma cara buatannya saja yang indah dan bagus lagi pula setiap lembar daun baja tersebut memancarkan cahaya yang berbeda, hingga tampak seperti sekuntum bunga iblis yang indah.

Meski indah menarik, tapi keindahan tersebut membawa suatu rasa ngeri dan seram bagi siapa-pun yang melihatnya.

Entah sudah berapa kali Samwan Kong memperhatikan senjata rahasia tersebut, tapi sekarang kembali ia terpesona dibuatnya oleh senjata rahasia penyebar maut tersebut.

Seakan-akan senjata rahasia tersebut telah membawa suatu daya kekuatan iblis yang bisa membetot sukma setiap orang. Ia menjulurkan tangannya seolah-olah hendak merabanya, tapi sebelum ujung jarinya menyentuh lembaran daun baja yang kecil tersebut, tiba-tiba ia menariknya kembali seakan- akan terkena aliran listrik yang bertegangan tinggi.

Akhirnya ia menghela napas panjang, sambil tertawa getir katanya : "Inilah kesulitanku!"

"Apakah pihak keluarga Tong mengutus orang untuk mencari gara-gara denganmu?"

"Bukan mereka yang hendak datang mencariku, adalah aku yang telah pergi mencari mereka" "Kau pernah berkunjung ke keluarga Tong?"

"Aku telah berkunjung ke situ dan merekapun telah datang pula kemari !" Samwan Kong

membenarkan.

Paras muka Bu-ki agak berubah.

"Keluarga Tong telah mengutus orangnya ke mari?" ia menegaskan.

"Sepanjang jalan paling tidak ada tiga orang yang selalu membuntutiku, dari wilayah Suchuan mereka menguntit terus sampai di sini."

Matahari senja masih belum tenggelam di balik bukit, Tok-ci-li yang berada di tangannya masih memantulkan sinar yang gemerlapan.

Tiga belas lembar daun baja memantulkan tigabelas macam sinar yang gemerlapan, seakan-

-akan setiap saat warna cahaya tersebut berubah selalu dengan teraturnya.

"Benda ini merupakan salah satu senjata rahasia paling ampuh dari senjata rahasia yang dimiliki keluarga Tong, hanya jago-jago kelas tinggi dari keluarga Tong yang pantas mempergunakan senjata rahasia tersebut." Samwan Kong menerangkan.

Sesudah menghela napas, ia melanjutkan:

"Sewaktu berada dalam rumah penginapan kecil di sebelah barat wilayah Suchuan, hampir saja benda itu merenggut selembar nyawaku".

"Kalau begitu salah satu di antara tiga orang yang menguntitmu itu, paling tidak ada seorang yang merupakan keturunan langsung dari keluarga Tong yang memiliki ilmu tinggi".

"Aaai ! Siapa tahu kalau ketiga-tiganya adalah jago lihay semua!" keluh Samwan Kong. "Kau tidak menjumpai mereka?"

"Tiga orang telur busuk cilik itu bukan cuma memiliki sepasang kaki yang lebih cepat dari kelinci, hidung yang lebih tajam dari anjing pemburu, bahkan pandai pula sedikit ilmu merubah wajah, sepanjang perjalanan paling tidak ketiga orang itu telah berubah sebanyak empat puluh enam kali, malah suatu kali ia pernah merubah dirinya menjadi seorang perempuan yang sedang bunting tua!"

Sesudah tertawa terbahak-bahak, ia berkata lebih lanjut.

"Untung saja kebetulan sekali aku adalah seorang kakek moyangnya permainan macam begitu, meskipun mereka telah merubah diri dengan cara apapun, aku selalu berhasil menangkap ekor rase nya! Haaahh...haaahh....haaahhh. "

Padahal sepanjang jalan ia sendiripun telah merubah diri sebanyak delapan belas kali, bahkan suatu kali dia merubah dirinya menjadi seorang gadis dusun yang berkaki besar.

Akan tetapi bagaimanapun ia merubah diri, orang lain sama saja selalu berhasil menangkap ekor rasenya.

Hakekatnya ilmu merubah wajah memang bukan ilmu sihir atau ilmu sulap, bagaimanapun sempurnanya seseorang merubah diri, tak mungkin mereka bisa merubah dirinya menjadi seseorang yang lain.

"Aku rasa jumlah keturunan langsung dari keluarga Tong selamanya tidak begitu banyak, dari ketiga angkatan yang masih hidup sekarang, terhitung dari sang kakek sampai sang cucu, yang betul-betul telah mencapai dewasa hanya tiga puluh orang lebih, sedang kaum lelakinya paling tidak cuma dua puluh orang lebih."

Terhadap segala sesuatu yang menyangkut soal keluarga Tong, tidak sedikit yang dia fahami.

Terhadap setiap perguruan dan keluarga yang mungkin akan mendatangkan ancaman bagi per-guruanTayhong tong, ia selalu memahami dan mendalaminya secara bersungguh- sungguh.

"Meskipun jumlah keturunan mereka tidak terlampau banyak, tapi dalam sepuluh orang, paling tidak tujuh orang diantaranya adalah jago-jago tangguh," ucap Samwan Kong.

Gemerlap sorot mata Bu-ki setelah mendengar ucapan tersebut, segera ucapnya:

"Menurut pendapatmu apakah diantara tiga orang yang datang kali ini terdapat pula Tong Oh dan Tong Giok diantaranya?" Ketika mendengar nama `Tong Oh` disinggung, Samwan Kong seperti merasa terperanjat, segera serunya:

"Kaupun tahu bahwa dalam keluarga Tong terdapat dua orang manusia macam itu?" "Aku pernah mendengar orang membicarakannya"

“Kali ini mereka tidak datang?"

*Dari mana kau bisa tahu?"

"Bila mereka telah datang, masa aku bisa hidup sampai sekarang?"

Sekali lagi mencorong sinar tajam dari balik mata Bu-ki, tanyanya dengan cepat: "Benarkah mereka sedemikian lihaynya?``

"Benar," jawaban dari Samwan Kong ternyata amat singkat dan begitu terbuka.

Bu-ki termenung beberapa saat lamanya, lewat lama sekali pelan-pelan ia baru berkata.

"Jika mereka betul-betul sedemikian lihaynya, maka dikala kau anggap mereka belum datang, kemungkinan besar mereka telah datang ke mari."

Kau bisa hidup sampai sekarang, mungkin dikarenakan tujuan mereka yang sesungguhnya sama sekali bukan kau.

Ucapan tersebut tidak diutarakan oleh Bu-ki, ia hanya menyimpannya dalam hati saja. Tiba tiba sambil tertawa dingin kembali ucapnya:

“Perduli mereka cuma tiga orang yang datang, setelah sampai di sini, bagaimanapun juga aku

tak akan membiarkan mereka pulang dengan tangan hampa...” “Apakah yang kau inginkan ketika mereka pulang nanti?” “Semoga saja mereka bisa pulang dengan menenteng batok kepala” “Batok kepala siapa?”

“Batok kepala mereka sendiri!”

Dengan terkejut Samwan Kong memandang ke arahnya, tiba tiba ia bertepuk tangan keras keras dan tertawa tergelak.

“Bagus, bagus sekali, bocah muda! Kau memang punya semangat!” “Dimanakah mereka bertiga sekarang?” tanya Bu Ki kemudian

“Setelah bersusah payah, aku berhasil meloloskan diri dari pengawasan mereka semalam” “Tapi aku yakin mereka pasti berada di sekitar tempat ini!” Bu Ki menandaskan.

“Ya, kemungkinan tersebut memang selalu ada” “Asal kau menampakkan diri, maka dengan cepat mereka akan berdatangan kemari”

Samwam Kong seakan akan merasa terperanjat sekali, dengan suara tertahan ia berseru: “Apakah kau hendak menggunakan aku sebagai umpan untuk memancing ikan...?” “Benar!” jawaban dari Bu Kipun cukup singkat dan jelas.

“Dahulu akupun mempunyai seorang teman yang gemar memancing ikan, suatu kali ia berhasil mendapatkan seekor ikan yang besar sekali”

ditatapnya Bu Ki dengan mata melotot, lalu meneruskan, “Tapi bagaimana kahirnya? Kau bisa tebak?”

“Yaa, apalagi? Akhirnya dia pasti malah kena ditelan oleh ikan besar tersebut!” “Tepat sekali!” kata Samwan Kong.

“Ketiga ekor ikan yang hendak kita pancing itu bukan cuma besar, lagipula beracun, bahkan racunnya hebat sekali”

“Kau takut?”

“Yaa, tentu saja aku takut.!” "Kau tak berani pergi?"

Samwam Kong kembali menghela napas panjang.

"Takutnya sih sebetulnya takut, tapi perginya juga harus tetap pergi!” Bu-ki segera merasakan semangatnya berkobar kembali, katanya: "Sekarang masih ada dua persoalan yang hendak kuajukan kepadamu!" "Tanyalah!"

"Siapakah kakek loyo si kusir kereta itu?" "Dia adalah seorang sahabatku!"

"Bisa dipercaya?"

Samwan Kong tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia hanya menyebutkan nama kakek tersebut.

"Dia she Ciau bernama Ciau In.”

"Ciau In dari perkumpulan,Tayhong tong?" "Benar!"

"Kau tidak beritahu kepadanya siapakah aku bukan?” tanya Bu ki lebih jauh dengan cemas. "Aku cuma mengatakan kepadanya bahwa kau adalah sahabatku, tapi kau juga penagih hutangku.”

"Oleh sebab itu kecuali kau, di tempat ini tiada orang lain yang tahu lagi bahwa aku adalah Tio Bu ki!”

"Yaa, aku rasa memang tak ada!"

Bu ki menghembuskan napas panjang, dengan sorot mata tajam ditatapnya Samwan Kong lekat-lekat.

Sekarang tinggal satu pertanyaan yang harus diajukan kepadanya, tapi persoalan yang terakhir ini biasanya justru merupakan yang terpenting.

Akhirnya ia bertanya juga:

"Kepergianmu ke keluarga Tong apakah demi menemukan jejak Sangkoan Jin? "Benarkah ia bersembunyi disana?"

*****

Lorong itu panjang dan dalam sekali. Menurut hasil sensus dari pemerintahan setempat, dalam lorong yang panjang itu seluruhnya terdapat penghuni sebanyak seratus tiga puluh sembilan keluarga.

Ke seratus tiga puluh sembilan keluarga itu hampir memiliki kegemaran yang sama,yakni setiap keluarga gemar makan lombok.

Maka dari itu lorong itupun disebut orang sebagai Gang lombok. Adaorang bilang:

“Keluarga yang miskin gemar makan lombok, karena mereka tak mimpi membeli sayur lain, maka kebanyakan makan nasi dengan lombok (cabe), demikian pula dengan keluarga di lorong tersebut, mereka gemar makan lombok berhubung mereka semua amat miskin.”

Adaorang bilang:

“Orang-orang dari wilayah In-lam, Suchuan dan Ou-lam gemar makan lombok, karena wilayah sekitar tempat itu berhawa amat lembab, keluarga yang menghuni di lorong tersebut gemar makan lombok berhubung mereka berasal dari wilayah-wilayah tersebut yang kemudian hijrah ke mari, Tapi sesungguhnya kenapa keluarga dalam lorong itu pada gemar lombok, tak seorangpun yang tahu.

Tapi semua orang tahu kalau lorong itu bernama Gang lombok.

Ketika senja telah lewat, si pincang oh dengan langkah yang terpincang-pincang berjalan masuk ke Gang lombok.

Ting Kang dan To Jiang dengan langkah yang terpincang-pincang pula, mengikuti di belakangnya, bahkan mereka jauh lebih pincang dari pada rekannya yang benar-benar pincang.

Karena kaki mereka semua telah terluka, terluka tepat di atas tempurung lututnya yang kini dibalut dengan kain.

Mereka mengikuti Oh Po cu (si pincang 0h) ke mari bukan lantaran mereka ingin makan lombok, melainkan mereka ingin melampiaskan rasa dendam sakit hatinya, mereka beranggapan hanya Oh Po-cu yang bisa membalaskan dendam sakit hati mereka.

Karena dengan mata kepala sendiri mereka telah menyaksikan kepandaian sebenarnya dari Oh Po-cu.

Malam itu, ketika mereka suruh ia ke luar untuk "bercakap-cakap", meskipun Oh Po-cu tidak memberi pelajaran kepada mereka, tapi telah mendemonstrasikan suatu kepandaian yang sangat lihay di hadapan mereka.

Mereka percaya, kepandaian silat yang di miliki Oh Po-cu sama sekali tidak berada dibawah si setan t.b.c. yang secara beruntun melemparkan angka enam tiga kali sebanyak empat belas kali itu.

Oh Pocu lebih suka mengembalikan sepuluh laksa tahil peraknya dari pada turun tangan, jelas disebabkan oleh maksud lain.

Maka mereka selalu mengikuti di belakangnya.

Pada mulanya, Oh Po cu masih berlagak pilon, tapi sampai akhirnya ia menyanggupi juga.

"Baik, aku akan membalaskan dendam buat kalian," demikian ia berjanji, "bahkan akupun akan menghajar putus sepasang kaki anjing kecil itu, tapi aku punya syarat."

Syaratnya adalah:

"Peduli apapun yang kuminta kalian lakukan, kalian harus melaksanakannya dengan mulut membungkam." Arti dari pada membungkam, tentu saja tak boleh banyak bertanya.

Syarat tersebut kedengarannya memang rada sedikit janggal dan tak masuk di akal, tapi mereka toh menyetujuinya juga.

Bagaimanapun mereka tak akan membiarkan seorang prajurit tanpa nama pergi dari situ dengan bebas merdeka, setelah menusuk kaki mereka masing-masing dengan dua tusukan.

Apapun yang harus dilakukan, berapapun yang harus dibayar, mereka tetap akan me-lakukannya.

Dendam sakit hati sedalam lautan ini musti dibalas berikut rentenya, walau bagaimanapun caranya.

Oh Po-cu segera memperlihatkan wajah yang puas, katanya kemudian:

"Sekarang, kalian harus mengundang aku untuk bersantap lebih dulu, aku ingin makan ikan leihi masak tausi serta ayam panggang masak lombok "

Setelah berhenti sebentar, ia bertanya kembali:

"Sukakah kalian makan hidangan-hidangan yang pedas dan berlombok ?"

"Kami suka sekali!" buru buru Ting Kang berseru. Oh Po-cu tertawa lebar, kembali katanya.

"Kalau begitu bagus sekali, aku tahu di tempat manakah kita musti menikmati panggang ayam masak Cabe, tanggung saking pedasnya air mata akan bercucuran membasahi wajah dan peluh dingin membasahi sekujur badan."

Oleh sebab itulah, merekapun berkunjung ke Gang lombok. WARUNGLOMBOK

MENJELANG malam adalah saat orang bersancap malam, seluruh Gang lombok dipenuhi oleh bau harum lombok yang semerbak dalam kuali, tiap keluarga hampir semuanya sedang memasak lombok.

Dalam anggapan orang-orang itu, kalau makan tak ada lombok, ibaratnya seperti lagi berjalan tanpa bercelana, suatu hal yang serasa tak sedap di hati. Bila kau tak pernah makan lombok, lebih baik jangan memasuki lorong tersebut, kalau tidak maka air matamu segera akan bercucuran karena kepedasan.

Diam-diam To Jiang sedang menyusut air matanya.

Ia tak habis mengerti mengapa Oh Po-cu membawa mereka untuk bersantap di tempat seperti ini? Karena pada hakikatnya ia tak percaya kalau dalam lorong tersebut bisa di jumpai warung makan.

Pada hakekatnya ia tak dapat membayangkan bakal ada orang yang mendatangi tempat semacam itu untuk bersantap.

Tapi pada saat itulah ia telah menjumpai sebuah warung makan.

Itulah sebuah warung makan yang sangat kecil, di depan pintu tergantung sebuah lombok berenteng-renteng banyaknya yang berwarna merah darah, tentu saja rentengan lombok merah itu digunakan sebagai papan nama.

Oleh karena itu warung makan itu disebut orang sebagai Warung lombok.

Pemilik warung lombok adalah seorang laki-laki gemuk yang bertubuh pendek, ia she Cu dan mempunyai tabiat yang baik sekali.

Sekalipun ada orang memakinya sebagai "Ti Pat-kay" (siluman babi ) tepat di depan hidungnya, diapun tak akan marah.

Bila pada setahun berselang kau pernah berkunjung ke rumah makan Siau-oh khong itu, rumah makan paling besar dan paling megah dalamkota, maka kau pasti akan merasa keheranan.

Karena ciangkwe dari warung lombok ini tak lain adalah Toa tauke dari rumah makan Siu oh khong setahun berselang.

Menurut pengakuannya, ia jatuh pailit dengan amat cepatnya lantaran terjadinya peristiwa pembunuhan pada bulan empat tahun berselang.

Tiga orang kawan sedesanya yang khusus datang dari wilayah Suchuan untuk membantunya, tiba-tiba tewas secara mengerikan pada saat yang bersamaan dalam ruang utama di atas lotengnya.

Sejak peristiwa itu, semakin jarang tamu berkunjung ke situ, maka rumah makan Siu oh khong pun terpaksa harus tutup pintu. Maka dari itu, terpaksa ia harus pindah ke mari dan membuka sebuah warung lombok yang kecil.

Ternyata usaha di warung lombok tidak termasuk jelek, dari tujuh-delapan buah meja yang tersedia, ada separuh diantaranya sudah di tempati para tamu.

Yang paling mengherankan Ting Kang adalah kehadiran Cia-Lak, itu toa tauke dari rumah perjudian yang selalu memperhatikan soal makanan dan minuman di tempat itu.

Belum lama mereka duduk di situ, Cia Lak telah datang, ia datang ditemani seorang pemuda yang kurus kering lagi kecil seperti seekor monyet.

Baik dia maupun Oh Po-cu, mereka sama-sama pernah berjumpa dengan Cia tauke, tapi Cia Lak berpura-pura tidak kenal dengan mereka.

Si pemuda kurus kering macam monyet itu pun memesan ikan leihi masak tausi serta ayam panggang masak lombok.