Harimau Kemala Putih Jilid 10

Jilid 10  

DALAM waktu singkat, suasana di sekeliling tempat itu telah pulih kembali dalam keheningan, tak sesosok bayangan manusiapun yang tampak, seakan-akan disanatak pernah terjadi suatu kejadian apapun. Tapi orang itu dengan jelas sudah roboh, secara tiba-tiba berubah menjadi seorang buta. Tak tahan Hong-nio mengendalikan perasaannya yang tak keruan, ia berteriak keras: "Aku ingin menjumpaimu, dapatkah aku bertemu muka denganmu?"

Suasana di sekeliling bukit itu masih tetap hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Hong-nio betul-betul sangat ketakutan, hampir gila rasanya dia menghadapi keadaan seperti itu, tanpa berpikir panjang lagi ia melompat bangun dan tanpa menyeka tubuhnya lagi yang basah kuyup, ia kenakan pakaiannya dan kabur pulang ke rumah.

Untungnya sepanjang perjalanan ia tidak menjumpai hal-hal di luar dugaan lagi, deogan selamat tibalah gadis itu di depan rumah kecil yang misterius.

Sekalipun ia merasa sangat takut, sangat lelah, tapi ia tak ingin membangunkan Cian-cian serta Ci Peng, menanti dengusan napasnya sudah mulai tenang kembali, ia baru membuka pintu dan kembali ke dalam kamarnya.

Suasana dalam kamar gelap gulita.

Untung gadis itu masih ingat di mans ia menyimpan korek api, dengan cepat ia telah memasang lampu, sinar lentera yang lembut dan terang selalu mendatangkan perasaan hangat dan aman bagi siapapun.

Tapi dikala sinar lentera mulai menerangi sekeliling ruangan, gadis itu kembali menjerit kaget.

Ternyata seseorang telah duduk di dalam kamarnya.

Dia adalah seorang manusia berbaju kasar yang bsrwajah pucat, orang itu duduk di atas kursi di sudut ruangan tak berkutik, sepasang matanya berwarna putih juga dan tak tampak biji matanya, juga jelas diapun tak dapat menyaksikan keadaan disekitarsana.

Ternyata orang itu adalah seorang buta.

Cian cian dan Ci Peng telah datang pula, sesungguhnya mereka sendiripun tidak tidur ketika Hong-nio pulang merekapun tahu.

Tapi tak ada yang tahu sejak kapan si buta itu muncul disana, kehadirannya yang tak di sangka dan tak dirasakan itu cukup mengejutkan hati mereka berdua.

“Siapa kau?" Cian-cian segera berteriak keras. Dengan wajah tanpa emosi si buta itu balik bertanya dengan suara dingin: "Dan siapa pula kau?"

"Mau apa kau datang ke mari?"

“Mau apa pula kau datang ke mari?" balas si buta.

Cian-cian menjadi amat gusar, teriaknya: "Sekarang akulah yang sedang bertanya kepada m u! "

"Akupun tahu bahwa sekarang kau lagi bertanya kepadaku, tapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu seharusnya akulah yang mengajukan kepada kalian .. . !"

Dengan dingin ia melanjutkan:

"Rumah ini adalah rumahku, siapa kalian semua? Mau apa datang ke mari . . . ?`

Cian-cian tak bisa berbicara lagi, walaupun kadangkala diapun seorang gadis yang tidak tahu aturan, tapi kali ini ia betul-betul tak dapat berbicara apa-apa, tentu saja tak dapat pula

mem-bantah.

Sekarang mereka tak bisa berkata apa-apa lagi, sebab mereka memang tidak mempunyai alasan yang cukup untuk membantah atau menjawab pertanyaan si buta itu.

Diapun percaya bahwa si buta itu tidak bohong.. rumah samacam ini tentu saja tak mungkin tak ada pemiliknya.

Dalam rumah itu, benda apapun dapat kau jumpai, hanya lampu lentera yang tidak ada, karena tuan rumahnya adalah seorang buta, orang buta tentu saja tidak membutuhkan lampu.

Yaa, apa gunanya seorang manusia buta menggunakan lampu? Toh ia tak dapat melihat apa- apa.

Sambil tertawa paksa Ci Peng berkata:

"Kami datang ke sini untuk berpesiar, rumah ini hanya ingin kami gurakan selama beberapa hari saja!"

`Aku tak mau tahu ada urusan apa kalian datang ke mari, aku hanya berharap kalian segera pergi dari sini."

"Bolehkah kami berdiam beberapa hari lagi?* Ci Peng meminta. "Tidak boleh!"

Kami bersedia membayar uang sewa yang tinggi, baik berapapun yang kau harapkan!* "Tidak, aku tak akan mengabulkannya, walau berapa saja yang akan kalian bayar!” Kemarahan Cian-cian kembali berkobar, teriaknya dengan suara lantang:

"Apakah kau suruh kami pindah dari sini sekarang juga?" Si Buta itu merenung sejenak, akhirnya ia menjawab:

“Baik, aku akan memberi waktu sehari lagi kepadamu, sebelum matahari terbenam besok, kalian sudah harus pergi meninggalkan tempat ini . . .`

Pelan-pelan ia bangkit berdiri, lalu dengan menggunakan tongkat berwarna putih sebagai pe-nunjuk jalan pelan- pelan ia ke luar dari situ, sementara mulutnya seakan-akan sedang bergumam:

"Padahal lebih cepat kalian tinggalkan tempat ini semakin baik, sebab kalau tidak pergi juga, kukuatirkan bencana besar, segera akan muncul di depan mata!"

Suasana di luar rumah masih tetap gelap gulita.

Setelah berada di luar, tiba-tiba bayangan tubuh si buta itu lenyap di balik kegelapan.

Mengapa seorang buta dapat tinggal di atas gunung yang terpencil? Kenapa ia bisa membersihkan tempat sedemikian bersih dan rapinya?

Ci Peng menghela napas panjang, katanya: "Si orang buta itu sudah pasti bukan manusia sembarangan, kita .. ."

"Heeehh...heeehh...heeehh... apakah kau hendak menasehati kami agar segera angkat kaki dari sini? “ Cian-cian menyindir sambil tertawa dingin.

Ci Peng tidak menyangkal, memang begitulah tujuan sebenarnya.

"Tentu saja kita harus pergi dari sini” ujar Cian-cian lebih lanjut, "sebab bagaimanapun juga aku sudah tak betah tinggal terus di tempat macam rumah setan ini.!"

Walaupun ia sedang berbicara dengan Ci Peng sepasang matanya mengawasi Hong nio lekat lekat. Keadaan Hong nio sekarang persis seperti seseorang yang baru naik dari dalam air, keadaannya basah kuyup.

Mau apa ia ke luar rumah ditengah malam buta? Kenapa ia sampai tercebur ke dalam air.

Tentu saja Hong-nio sendiripun mengeta-hui bahwa keadaannya sekarang memang gampang menimbulkan kecurigaan orang, namun Cian-cian tidak bertanya kepadanya, walau hanya sepatah katapun.

Tidak bertanya rasanya lebih runyam dari pada ditanya.

la tahu selisih jarak di antara mereka berdua kian lama kian bertambah jauh.

*****

Malam semakin kelam.

Sebenarnya Hong-nio menganggap dirinya pasti tak dapat tidur malam itu, siapa tahu mendadak ia tertidur dengan begitu saja.

Tapi tidurnya tidak dapat dikatakan terlalu nyenyak, sebab ia masih dapat merasakan sesuatu.

Dalam lelap tidurnya itu, ia merasa seakan-akan di sisi tubuhnya telah bertambah dengan sesuatu dan sesuatu itu agaknya seperti seorang manusia.

Orang itu berbaring persis di samping tubuhnya, tapi orang itu mempunyai perawakan tubuh yang kecil dan pendek, lagi pula dari tubuhnya terendus semacam bau harum yang aneh sekali.

Dia ingin berteriak, namun tak sepotong suarapun dapat ke luar, ia ingin bergoyang namun tubuhnya tak mampu berkutik.

Orang itu seolah-olah sedang memeluk tubuhnya, mencium pipinya dan mencium bibirnya

......

Ia merasa amat gelisah, merasa amat takut, tapi tubuhnya segera menunjukkan suatu reaksi yang aneh sekali, dia ingin membuka matanya dan memeriksa siapa gerangan orang itu?

Dia ingin tahu, apakah orang itu adalah Bu ki?

Tapi ia tak sanggup membuka matanya, sekali pun sudah mengerahkan segenap kekuatan tubuhnya, mata terasa begitu berat dan tak mampu dibentangkan lagi.

Secara lamat-lamat iapun mendengar orang itu seakan-akan sedang bergumam: "Kau adalah milikku, kecuali aku, siapapun tak boleh menyentuh dirimu lagi!"

Meskipun suara tersebut dengan jelas berkumandang dari sisi telinganya, tapi ia merasa suara tersebut seakan akan datangnya dari suatu tempat yang jauh sekali.

Apakah orang itu adalah Bu ki? Kenapa suaranya tidak mirip suara dari Bu ki?

Tiba tiba ia tertidur lelap, ketika mendusin kembali sekujur badannya sudah basah oleh keringat dingin.

Dia dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang gencar, tentu saja Ci Peng yang ke luar membuka pintu.

Ternyata orang yang mengetuk pintu adalah siorang buta yang semalam itu,kunjungannya yang mendadak ini sangat di luar dugaan Ci Peng.

“Apakah kau datang untuk mendesak kami agar lekas-lekas angkat kaki dari sini?" Ci Peng segera menegur.

Di luar dugaan, ternyata si orang buta itu menggelengkan kepalanya. “Mulai sekarang kalian tak perlu pindah lagi!" katanya.

Tak disangka begitu cepat si orang buta itu telah berubah pikirannya . . . .

Hampir saja Ci Peng tidak percaya dengan kenyataan tersebut, serunya agak sangsi, "Maksudmu, kami boleh berdiam terus di sini?"

"Yaa, terserah kalian suka betapa lama saja di sini, pokoknya kau boleh tinggal di sini sepuas puasnya."

”Kenapa secara tiba-tiba kau berubah pikiran?" tidak tahan Ci Peng bertanya lagi. "Sebab rumah ini sudah bukan menjadi milikku!"

*Lantas siapakah pemilik rumah ini?" "Seorang sahabat!"

"Seorang sahabat? Sahabat siapa?" Si orang buta itu tidak menjawab. Tapi dengan cepat Ci Peng telah teringat kembali dengan "orang" yang mengirim lentera kaca, boneka kain serta daging kecap dan Gi hoa cay tersebut.

Ci Peng merasakan napasnya rada dingin, tapi mau tak mau dia musti bertanya lagi: “Apakah sahabat itu mengijinkan kepada kami untuk tetap tinggal di tempat ini?" "Yaa, tapi dia punya sebuah syarat!"

"Apa syaratnya?*

"Malam ini dia akan datang bersantap bersama kalian.” Ucapan itu segera membuat Ci Peng menjadi tertegun.

Syarat semacam ini tak berani ia sanggupi secara gegabah, tapi bagaimanapun jua dia harus menyanggupinya.

Bagaimanapun jua, kau telah tinggal di rumah milik orang, kalau orang itu hanya ingin datang untuk bersantap, maka permintaan tersebut boleh dibilang merupakan suatu permintaan yang tidak terlampau keterlaluan.

Tapi persoalannya sekarang hanya satu.

“Sababat itu sesungguhnya adalah seorang sahabat macam apa?

Sementara Ci Peng masih ragu ragu, Cian-cian sudah menyerbu ke luar sambil berseru: "Dia ingin makan apa?"

"Apa saja bolehlah, ia tahu di tempat ini terdapat seorang nona Wi yang pandai memasak!" ooo0ooo

Senja itu, Hong-nio sedang mempersiapkan sayur untuk makan malam. Ayam, daging dan sosis sudah dinaikkan ke dalam kukusan, ikan asinpun sedang siap masuk kuali.

Lobak-lobak yang baru dicabut akan dimasak kuah, sekalipun tidak tersedia daging iga yang masih segar, paling tidak kalau dimasak dengan daging asinpun sama lezat rasanya.

Selain dari pada itu, dari kolam diapun menangkap dua ekor ikan leihi segar, sebetulnya ikan itu akan dimasak kuah tapi setelah berpikir kemudian akhirnya ikan itu dikukus. ikan yang dimasak terlalu lama maka kesegaran dan kegurihannya akan hilang, ikan leihi yang tidak segar dan tidak gurih akan terasa hambar dan seperti makan kayu.

Coba kalau ikan mas, paling sedap tentu saja dimasak kuah karena kegurihannya akan lebih kentara.

Memasakpun harus ada suatu kepandaian khusus, terutarna untuk menjodohkan suatu bahan masakan dengan cara memasaknya.

Berbicara sesungguhnya, semua bahan yang tersedia bukan termasuk bahan masakan yang baik, tapi berada di tangan seorang ahli masak memasak maka ibaratnya sebilah pedang yang tidak terlalu baik berada di tangan seorang jago yang ahli dalam permainan pedang.

Terhadap soal itu, Hong-nio mempunyai keyakinan khusus.

Tapi sewaktu memasak sayur, tiba-tiba perasaan hatinya selalu merasa tidak tenang. Siapakah pemilik rumah ini? Sesungguhnya manusia macam apakah dia itu?

Dia adalah seorang "manusia"? Apakah hanya setan atau sukma gentayangan? Atau mungkin dia adalah Bu ki?

Kalau bukan Bu ki, siapa pula orang itu? Kenapa begitu baik kepadanya? Kenapa setiap per-mintaannya selalu dikabulkan dengan begitu saja?

Hong-nio sedang mencuci tauge.

Sosis masak tauge merupakan sejenis hidangan yang termasuk lumayan juga kelezatannya.

Waktu itu Cian-cian sedang memotong sosis, mendadak ia berpaling dan memandang wajahnya lekat-lekat, kemudian tegurnya:

"Benarkah kau adalah ensoku?"

Hong nio menghela napas panjang di dalamhati.

Walaupun ia merasa Cian cian tidak pantas mengajukan pertanyaan semacam itu kepadanya, tapi ia menyahut juga:

"Selamanya aku adalah ensomu!”

"Kalau begitu sudah sepantasnya kalau kau memberitahukan kepadaku, siapakah orang yang akan makan malam bersama kita malam nanti!” "Dari mana aku bisa tahu siapakah orang itu?”

Cian-cian mengiris sosis-sosis itu keras-keras, dengan menarik muka sindirnya: “Aaaah . . : ! Masa kau tidak tahu? Bukankah dia adalah sahabatmu?"

Hong nio memejamkan matanya rapat-rapat, ia kuatir air matanya jatuh bercucuran, sekalipun air mata serasa hendak meleleh ke luar, air mata itu hanya boleh meleleh dalam perutnya.

Tiba-tiba ia teringat pula dengan impian buruk yang dialaminya semalam, suatu impian buruk yang tak mungkin bisa diceritakan, kepada siapapun jua . . .

Bau harum yang aneh . . . ciuman di atas bibirnya yang hangat dan mesrah . . . Sebenarnya dia adalah Bu-ki atau bukan?.

Kalau dia memang benar-benar adalah Bu-ki, kenapa dengan cara semacam itu dia bersikap kepadanya? .

Walaupun sepasang tangan Hong-nio tidak berada dalam air dingin, tapi entah mengapa tiba- tiba saja sekujur badannya menggigil keras sekali, seperti orang ketakutan.

Pada saat itulah, ia mendengar di luar rumahsanaada orang sedang berseru, suara itu parau tapi nyaring sekali.

Itulah suara dari si buta, ia berteriak dengan lantang. "Tamu kehormatan kalian telah datang!”

Hong-nio sedang menggorengtempe, ia memasaknya dengan irisan sosis yang tersedia, untuk pertama kalinya ia lupa memberi garam dalam masakannya..

Hati kecilnya selalu membayangkan "tamu" yang telah duduk di ruang depan itu apakah ia

lebih pantas disebut tamu ? Ataukah sebagai tuan rumah? Dia hanya berharap bisa lekas-lekas menyelesaikan masakan sayurnya yang terakhir dan keluar ke ruang depan untuk melihatnya sendiri.

Sesungguhnya manusia macam apakah dia? Kenapa ia mempunyai kekuatan sebesar itu sehingga dapat melakukan pekerjaan yang sebenarnya sulit dilakukan orang lain.

Mimpipun ia tak menyangka kalau tamu misteriusnya itu, ternyata tidak lebih hanya seorang bocah cilik. TAMU AGUNG

BOCAH itu duduk di kursi utama, sedikit pun tidak menunjukan perasaan tak tenang, se akan-akan sudah terbiasa disanjung dan di hormati orang.

Dia mengenakan pakaian berwarna putih salju, bahannya dari bahan berkwalitet tinggi, bersih, putih dan sedikitpun tiada bernoda.

Sikap serta tingkah lakunya agung sekali, mukanya yang pucat memancarkan sinar serius, keren dan berwibawa seperti seorang raja muda.

Mukanya yang pucat serta sikapnya yang keren, serius dan berwibawa seakan-akan sudah merupakan ciri khas dari kaum bangsawan.

Walaupun ia sedang berusaha keras untuk memperlihatkan sikapnya sebagai seorang dewasa, tapi usianya toh tetap masih kecil, paling banter belum mencapai dua belas atau tiga belas tahun.

Ketika menyaksikan Hong-nio berjalan masuk ke dalam ruangan, di atas wajahnya yang keren, serius dan berwibawa itu tiba-tiba saja mengalami suatu perubaban yang sangat aneh, sorot matanyapun memancarkan sinar kehangatan.

Ci Peng sedang memperkenalkan bagi mereka berdua . . .

"Saudara ini adalah Lui kongcu, tamu agung kita semua, sedangkan dia adalah nona Wi, tukang masak kita yang paling jempolan!

Bocah cilik itu seakan-akan sama sekali tidak mendengar apa yang sedang dia katakan. sepasang matanya yang memancar-kan sinar kehangatan menatap wajah Hong-nio tanpa berkedip.

Seandainya ada seorang laki-laki dewasa yang memandang seorang gadis dengan sinar mata semacam itu, tak bisa disangkal lagi tindakannya itu adalah suatu tindakan yang kurang sopan. Tapi ia tak lebih hanya seorang bocah cilik.

Walaupun Hong-nio merasa kaget dan keheranan, bahkan di luar dugaan, namun perasaan was-was dan beban yang menekan perasaannya jauh lebih berkurang.

Tentu saja orang yang muncul dalam impian nya semalam juga tak mungkin adalah bocah cilik ini, mungkin juga apa yang terjadi benar-benar hanya suatu impian belaka. Suatu impian yang menakutkan dan memalukan sekali. Ketika terbayang kembali impiannya semalam, wajah gadis itu segera berubah menjadi merah, apalagi ketika mengetahui kalau dalam sayurnya lupa diberi garam, mukanya berubah semakin merah lagi.

Tapi tamu agung kecil ini agaknya menaruh perhatian khusus terhadap hidangan semacam ini, sebab sayur yang lain hampir boleh dibilang tak pernah disentuh olehnya.

Sedikit sekali yang dia makan, sedikit pula yang dibicarakan. Pada hakekatnya tak sepatah katapun yang pernah ia ucapkan, malah kecuali Hong-nio seorang yang selalu diperhatikan. seakan-akan orang lainnya dianggap seperti orang mati saja, sekejappun tak pernah ia perhatikan diri mereka.

Sepasang matanya itu tak pernah meninggalkan wajah Hong-nio barang sekejappun, sekalipun dia tak lebih hanya seorang bocah cilik, tak urung Hong-nio dibikin tersipu-sipu juga.

Cian-cian selalu memperhatikan gerak-gerik mereka berdua, tapi lama kelamaan ia dibikin tak betah juga.

Untung tamu agung itu sudah bangkit berdiri, rupanya hendak pergi meninggalkan tempat itu, atau dengan perkataan lain santap malam yang penuh keseraman dan kengerian itu segera akan berakhir.

Baru saja Hong-nio menghembuskan napas lega, tiba-tiba bocah cilik itu berkata: "Temanilah aku berjalan-jalan keluar!"

Apa yang dia inginkan selalu dilaksanakan dengan begitu saja, seakan-akan ia tak ambil perduli bagaimanakah pandangan orang terhadap dirinya.

Ia selalu menganggap setiap perkataannya merupakan perintah, suatu perintah yang tak boleh dibangkang oleh siapapun jua.

Hong-nio betul-betul tak tahu apa yang musti dia lakukan, ia berharap Cian-cian membantunya berbicara. Tapi rupanya Cian-cian sudah ber tekad tak akan mencampuri urusan mereka.

Bocah cilik itu masih menatapnya tak berkedip, menantikan jawabannya, sorot mata itu penuh disertai dengan pengharapan yang menyala-nyala, seakan-akan dia kuatir kalau ajakannya ditolak.

Menyaksikan kejadian tersebut, diam-diam Hong-nio menghela napas panjang, akhirnya ia menyahut juga: "Baiklah, akan kutemani kau untuk berjalan jalan di luar!"

Diapun seperti juga Bu-ki, selalu tak tega menampik permintaan orang, apalagi orang itu tak lebih hanya seorang bocah.

Apa yang bisa dilakukan seorang bocah berusia dua-tiga belas tahun kepadanya?. Malam amat sepi, bintang-bintang bertaburan di angkasa.

Menelusuri sumber air yang berwarna ke perak-perakan mereka berjalan menuju kedepan. lama sudah mereka jalan bersanding namun tak seorangpun yang buka suara.

Bocah ini benar-benar sangat istimewa dan aneh sekali.

Hong-nio betul-betul tak dapat menebak apa yang sedang ia pikirkan sekarang? Kadangkala ia tampak masih amat kecil, tapi kadangkala ia tampak jauh lebih besar dari usia yang sebenarnya.

Sudah berapa lama mereka berjalan, kini mereka hampir tiba di ujung sumber air ter sebut yakni kolam air tersebut.

Tak tahan Hong-nio segera berbisik: "Bagaimana kalau kita jangan maju lebih ke depansana?"

“Kenapa?" tanya si bocah.

Hong-nio tak sanggup mengucapkannya, ia pun tak berani mengatakannya, peristiwa semalam hingga kini masih membuatnya ketakutan, membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

Si bocah itu manatapnya lekat-lekat, tiba-tiba ia berkata:

"Kau tak usah takut, orang yang semalam berada di sini, kini sudah tidak berada di tempat itu lagi".

"Kau maksudkan manusia yang mana?" seru Hong-nio terkejut. "Itu orang yang secara tiba-tiba berubah menjadi buta!"

Hong-nio lebih terkejut lagi.

"Dari mana kau bisa tahu?" serunya. Bocah cilik itu tertawa tergelak. "Haaahhh. . . haaahhh. . . haaahhh. . . kenapa aku tidak tahu?" Senyumannya tampak begitu misterius dan berbangga hati.

Dengan rasa amat terperanjat Hong-nio mengawasinya, lalu dengan nada menyelidik tanyanya:

"Apakah kau?" "Tentu saja aku!"

"Kau yang telah melukai sepasang matanya sehingga menjadi buta?"

"Sesungguhnya dia adalah salah seorang yang diutus oleh musuh kami untuk mencari jejak kami, orang itu memang tidak seharusnya dilepaskan dengan begitu saja, apalagi ia berani ber-sikap begitu kurangajar kepadamu ”

Paras mukanya segera menampilkan keseriusan dan kekerenan, lanjutnya lebih jauh: "Selama aku masih ada, tak akan ada orang yang berani mempermainkan dirimu lagi". Dengan perasaan kaget, tercengang ya berterima kasih Hong-nio lantas berseru:

"Jadi kau yang mengirim lentera kaca untukku?" Bocah itu manggut-manggut.

"Aku pula yang mengirim babi kecap dari Gi-hoa-cay untukmu!" ia menambahkan.

Lama sekali Hong-nio menatapnya, mula- mula menghela napas panjang, kemudian katanya lagi sambil tertawa.

"Mengapa aku tak dapat melihat kalau kau berilmu kepandaian sehebat itu?"

"Kepandaianku jauh lebih besar dan hebat dari pada apa yang kau bayangkan dalam benakmu", kata bocah itu dengan angkuhnya.

Tiba-tiba Hong-nio merasakan bahwa bocah ini bukan saja amat misterius, mana lucu lagi. "Heee dari mana kau dapatkan daging masak kecap dari Gi-hoa-cay itu ?" tanyanya.

"Kau tak usah tahu dengan cara apa kudapatkannya, asal kau menginginkannya, asal kau menginginkan sesuatu, aku pasti dapat melakukannya untukmu". Hong-nio merasa lebih berterima kasih, lebih gembira lagi.

Bocah ini benar-benar terlalu baik kepadanya, bila ia dapat dilindungi oleh seorang bocah ajaib semacam ini, sesungguhuya peristiwa itu betul-betul merupakan suatu peristiwa yang me-nyenangkan.

Tak tahan lagi ia bertanya:

"Dapatkah kau memberitahukan kepada-ku, siapa namamu?" "Namaku adalah Lui, Lui dari arti kata geledek".

"Siapa pula she mu?"

Tiba-tiba wajah si bocah itu menunjukkan rasa sedih yang amat sangat, tapi kemudian sahutnya dengan dingin:

"Aku tidak mempunyai nama marga!" Kenapa ia bisa tak punyai nama marga?

Apakah dia adalah seorang anak yatim piatu yang semenjak dilahirkan sudah tak tahu nama marganya sendiri?

Segera timbul perasaan kasihan dan simpatik dalam hati kecil Hong-nio, ia merasa sudah se-harusnya melindungi bocah itu sebagaimana seorang ibu yang sayang kepada anaknya.

Dengan penuh kelembutan ia menarik tangan bocah itu lalu menggenggamnya dengan hangat, katanya lembut:

"Kalau begitu, untuk selanjutnya aku akan memanggil Siau-lui kepadamu !"

Tiba-tiba ia merasa tangannya berubah menjadi amat hangat, lalu tangannya tergenggam kencang, dengan suara yang lirih bocah itu bergumam:

"Kau adalah milikku, kau adalah milikku.."

Entah disebabkan telapak tangannya yang panas, ataukah sepasang matanya yang

memancar-kan sinar kehangatan, tiba-tiba saja Hong-nio merasakan jantungnya ikut berdebar keras.

Tapi dengan cepat ia memberitahukan pada diri sendiri: "Dia tak lebih hanya seorang anak kecil!"

Tapi tangannya, matanya, sedikitpun tidak mirip dengan seorang bocah cilik.

Hong-nio ingin melepaskan diri dari genggamannya, tapi ia takut menyinggung perasaannya, maka dengan lembut katanya lagi:

"Aku mengetahui maksudmu, aku bersedia menjadi toa-cicimu!" "Kau bukan enciku!" kata Siau-lui tiba-tiba.

"Aku bukan?"

"Apakah kau tak tahu bahwa kau adalah orangku? Semenjak kemarin malam, kau sudah menjadi milikku, kau telah menjadi istriku."

Hampir saja jantung Hong-nio melompat ke luar dari rongga dadanya karena kaget, kontan saja ia menjerit:

"Jadi kemarin malam adalah kau?" Siau-lui manggut-manggut.

"Semua bagian tubuhmu dari atas sampai ke bawah telah kulihat, setiap bagian tubuhmu telah ku .telah ku. . "

Tiba-tiba telapak tangannya terasa lebih panas, tangan Hong-nio digenggamnya semakin kencang.

Seandainya Cian-cian yang menghadapi kejadian itu, sekarang sudah pasti ia telah melepaskan diri dari genggamannya, bahkan mungkin telah menempeleng wajahnya.

Tapi Hong-nio bukan Cian-cian.

Hong-nio adalah seorang gadis yang lemah lembut dan berbudi luhur, itulah type dari seorang gadis bangsa Han yang sesungguhnya.

Ia sangat tak tega untuk melukai hati siapapun juga.

Baginya ia tak lebih hanya seorang bocah, apa yang dilakukanpun tak lebih dari dorongan emosi dari seorang bocah, karena ia terlampau menyendiri, terlampau kesepian, terlalu membutuhkan kasih sayang dan cinta kasih dari orang lain.

Ia sangat berharap agar bocah itu dapat menenangkan hatinya, maka katanya: "Apa yang telah kau lakukan dapat kumaafkan bagimu, asal dikemudian hari kau harus ingat selalu agar jangan mengulangi kembali perbuatan semacam itu. Karena aku adalah seorang perempuan yang telah bersuami, aku bukan seorang gadis remaja lagi".

Sekuat tenaga Siau-lui gelengkan kepalanya berulang kali, serunya dengan suara keras:

"Aku tahu bahwa kau tak punya suami, suamimu Tio Bu-ki yang belum pernah tidur bersamamu itu kini sudah mati, sekarang akulah suamimu, kecuali aku, siapapun tak boleh menyentuh dirimu lagi".

Tiba-tiba Hong-nio dipeluknya erat-erat, seperti apa yang telah dilakukannya semalam, ia mencium bibirnya dengan mesra.

Hong-nio merasakan pikirannya benar-benar sangat kalut.

Suatu kelembutan dan kehangatan dari seorang ibu terhadap anaknya membuat ia tak tega mencelakai bocah tersebut, tak tega untuk mendorong tubuhnya dari situ.

Apalagi sekalipun dia hendak mendorongnya juga tak akan mampu untuk melepaskan diri dari pelukannya.

Tapi dengan cepat suatu reaksi lain sebagai seorang gadis membuat tubuhnya secara otomatis menimbulkan suatu reaksi yang sangat aneh, suatu reaksi yang membuat badannya menjadi menggigil.

Ia mulai merasa hawa panas yang aneh mulai menyusup ke luar dari tubuhnya dan menjalar ke mana-mana, ia mulai menggigil, tapi apa mau di kata lawannya tak lebih hanya seorang bocah.

Hakekatnya ia tak tahu apa yang mesti dilakukannya sekarang.

Pada saat itulah, mendadak tubuh Siau-lui melompat ke udara lewat hadapan mukanya, seakan-akan sebuah boneka kayu yang tiba-tiba tali di belakang punggungnya diangkat seseorang ke atas.

*****

Benarkah ada orang yang telah mengangkatnya ka atas? Hong-nio tak sempat melihat dengan jelas,

Ia hanya menyaksikan sesosok bayangan berwarna putih kelabu berkelebat lewat dari hadapan mukanya kemudian lenyap dibalik kegelapan. Mengikuti lenyapnya bayangan manusia itu, tubuh Siau-luipun ikut lenyap tak berbekas.

Segala sesuatunya kembali sudah lewat, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun disana, tapi benarkah Hong nio dapat menganggap apa yang telah terjadi selama ini atas dirinya hanya sebagai suatu persoalan yang seakanakan tak pernah terjadi?

Berhadapan dengan bukit yang sepi, cahaya bintang yang berkilauan, tiba-tiba ia merasa ada suatu kepedihan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata menyelimuti perasaannya, hanya ia tak tahu kesedihan itu lantaran musibah yang telah menimpa dirinya selama ini? Ataukah karena kabar Bu ki yang tak kunjung sampai?

Apakah Bu ki begitu tega meninggalkannya dengan begitu saja, bahkan pertemuan yang ter-akhirpun tak pernah ia lakukan?

Tentu saja Bu ki tak mau mati, lebih lebih lagi tak ingin mati.

Akan tetapi kematian sama pula seperti musibah lain yang ada dalam dunia ini, biasanya membuat orang tak berdaya, membuat orang harus menerima kenyataan dengan perasaan apa boleh buat.

Hong nio bertekad tak akan menangis.

Kalau harus menangis, dia akan menangis sepuasnya setelah berjumpa dengan Bu ki nanti.

Entah ia sudah mati juga boleh, masih hidup juga boleh, pokoknya setelah bersua muka dengannya, dia akan menangis dengan sepuas-puasnya.

Lantas, buat apa ia menangis? Sekalipun ia menangis sampai mati, juga tak akan ada gunanya.

Pelan-pelan ia membesut air matanya dan bangkit berdiri, tiba-tiba ia menyaksikan ada

se-seorang sedang berdiri di hadapannya sambil memandang ke arahnya dengan pandangan dingin.

Tentu saja orang itu tak dapat memandang dengan sepasang matanya, sebab orang itu bukan lain adalah si buta yang pernah dijumpainya semalam.

Tapi orang itu justru seakan-akan sedang memandang ke arahnya, memandangnya dengan se-pasang mata yang buta dan tak mungkin bisa dipakai untuk melihat orang itu.

Tiba-tiba ia bertanya:

"Inginkah kau bertemu lagi dengan Tio Bu ki?" Hong nio segera merasakan jantungnya berdebar dengan keras. "Kau tahu sekarang dia berada di mana"!" serunya.

“Ikutilah aku!" pelan-pelan si buta memutar badannya, lalu dengan toya putihnya sebagai pe-nunjuk jalan, pelan-pelan maju ke depan.

Tanpa berpikir panjang lagi Hong-nio segera mengikuti di belakangnya.

Setelah menembusi sebuah hutan lebat, sampailah si manusia buta itu di ujung sumber mata air, yakni di tepi kolam kecil itu.

Dia berada di sini?" "Benar!"

Di tepi kolam itu tak seorang manusiapun yang tampak, disanahanya ada sebuah peti mati, peti mati berwarna hitam dan tampak masih baru.

Apakah Bu ki berada dalam peti mati itu?

*****

Peti mati itu kosong. "Di manakah Bu ki?"

"Bila kau ingin bertemu dengan Bu ki, maka tidurlah di dalam peti mati itu!" "Tidur di dalam peti mati itu?"

Kalau orang itu masih hidup segar bugar, kenapa ia harus tidur di dalam peti mati?

Apakah ia telah dianggap sebagai seorang yang telah mati? Atau paling tidak sudah hampir men-dekati saat kematiannya.

Paras muka si orang buta itu tetap dingin, tanpa emosi, siapapun tak tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang.

Tapi Hong-nio tak mau ambil perduli terhadap kesemuanya itu, soal-soal semacam itu tak penting baginya, apa yang ia ketahui hanya ber temu dengan Bu ki secepatnya, sekalipun ia harus mati secara wajar ataukah harus mati secara mengerikan, ia tak ambil perduli, bahkan ia rela untuk melakukannya. Sebab itu ketika si orang buta itu memintanya untuk tidur ke dalam peti mati itu, ia tidak membantah, bahkan mengucapkan sepatah kata pun tidak.

Ia sudah pasrah, ia hanya tahu berjumpa dengan Bu ki, walau apapun resikonya. Maka iapun tidur ke dalam peti itu, membaringkan diri ke dalam peti mati hitam itu. DIKUBUR HIDUP - HIDUP

PENUTUP peti mati itu ditutupkan ke tempatnya semula, menyusul kemudian peti mati itupun digotong orang.

Apakah si orang buta itu hendak menguburnya hidup-hidup ?

Hong-nio masih berada dalam keadaan sadar, kengerian dan rasa seram selalu membuat orang berada dalam keadaan sadar.

Ia merasa bukan hanya seorang yang menggotong peti mati itu, karena gotongannya amat tenang dan jalannya amat cepat.

Pada mulanya mereka melalui jalan-jalan yang datar dan rata, tapi selanjutnya jalanan itu makin menanjak dengan tajamnya.

Meskipun sedang berbaring di dalam peti mati tapi ia masih dapat merasakan udara makin lama semakin dingin, jelas mereka sedang berjalan menuju ke atas, sekian lama dan sekian jauh sudah mereka lakukan perjalanan, akhirnya sampailah di dekat suatu puncak bukit rasanya.

Tapi mereka sama sekali tidak berhenti, malah perjalanan yang dilewati terasa aneh sekali, kadang kala mereka jalan naik ke atas tapi ada kalanya turun ke bawah, ada kalanya jalan itu lurus sekali, tapi ada kalanya pula berliku-liku.

Kalau didengar dari langkah kaki mereka, kadangkala mereka seakan-akan sedang berjalan melalui batu kerikil, ada kalanya pula berjalan melalui lapisan batu yang keras sekali.

Suhu udara di luarsanatiba-tiba saja mengalami perubahan lagi, kini udara terasa hangat dan nyaman, agaknya mereka sedang melalui sebuah gua karang.

Kembali mereka lanjutkan suatu perjalanan yang cukup jauh, tiba-tiba dari luarsanakedengaran beberapa suara yang aneh sekali.

Seolah-olah ada batu karang yang sedang bergesek, seakan-akan pula ada suatu roda yang sedang berputar. Meskipun peti mati itu ditutup rapat sekali, tapi masih ada pula bagian yang tembus udara, tiba tiba saja ia mengendus bau harum yang semerbak.

Pada saat itulah peti mati itu sudah diletakkan pelan di atas tanah, agaknya di atas sebuah tanah berumput yang lembut dan lunak.

Seandainya mereka bermaksud untuk menguburnya hidup-hidup, kenapa harus melakukan perjalanan sekian lama dan memilih tempat di situ?, sebenarnya tempat apakah ini?

*****

Suasana di sekeliling tempat itu amat hening, sepi, tak kedengaran sedikit suarapun.

Lama sudah ia menunggu dalam peti mati yang gelap gulita itu, tapi dari luarsanabelum kedengaran juga sesuatu gerakan, ia mencoba untuk mengetuk penutup peti mati, tapi tiada jawaban juga.

Rupanya para penggotong peti mati itu secara diam-diam telah mengundurkan diri dari situ setelah meletakkannya disana.

Setengah harian kembali ia menunggu, akhirnya ia tak sabar dan membuka penutup peti itu.

Betul juga, di luar tak tampak seorang manusia pun, bahkan si orang buta itupun tak kelihatan.

Sekuat tenaga ia menggeser penutup peti mati itu bangun, lalu duduk, tapi dengan cepat ia menemukan bahwa dirinya seakan-akan berada dalam alam impian seperti dalam cerita dongeng.

Tapi jelas tempat itu bukan alam impian, tempat itupun jelas bukan alam manusia.

Bangunan rumah itu terbuat dari batu granit yang keras dan berkilap seperti kaca, empat penjuru sekelilingsanapenuh dilapisi sutera merah yang berkembang emas, di depan pintu tergantung sebuah tirai yang terbuat dari kain halus.

Tepat di ruangan tengah berdiri sebuah meja sembahyang yang bentuknya seperti gua alam, cuma di atas meja sembabyang itu tidak di sembah patung Budha atau patung pousat, yang ada disanahanya sebilah pedang.

Pedang itu bentuknya panjang sekali tapi bentuknya antik, sama sekali tidak dihiasi oleh mutiara atau berlian sebagaimana pedang-pedang lainnya.

Bentuk sederhana seperti itu berbeda jauh sekali bila dibandingkan dengan perabot mewah yang berada di sekeliling tempat itu. Apakah pedang itulah yang disembah- sembah oleh tuan rumah tempat misterius ini?"

*****

Cahaya lampu menyinari seluruh ruangan itu, sinar lampu memancar ke luar dari aneka macam lentera kacaPersiayang berbentuk aneh-aneh.

Di atas sebuah meja kecil terdapat sebuah tungku terbuat dari emas, dari tungku itulah menyiar ke luar bau harum yang semerbak.

Permukaan tanah dilapisi oleh permadani buatanPersia, motifnya indah bahannya halus, membuat siapapun yang menginjakkan kakinya di atas permadani itu akan merasa bagaikan menginjak di tanah berumput dimusin semi yang indah.

Meskipun Hong-nio sendiripun berasal dari keluarga kaya, belum pernah ia jumpai tempat semewah dan semegah seperti tempat ini.

Rasa kejut dan cengang membuatnya hampir saja melupakan keseraman dan kengerian yang semula mencekam perasaannya.

Sambil melihat serta berjalan, tanpa terasa sudah amat jauh ia berjalan, mendadak ia mem-perdengarkan kembali suatu jeritan kaget.

Ternyata ia telah menjumpai sebuah peti mati lagi.

Peti mati itu terbuat dari tembaga, sesosok tubuh membujur di dalam peti mati tersebut, sepasang tangannya disilangkan di depan dada dan mengenakan baju berwarna putih bersih, mukanya yang kurus kering berwarna pucat sedikitpun tiada warna darah, tampaknya sudah mati agak lama ....

Hong-nio sendiri digotong masuk ke tempat itu di dalam sebuah peti mati dan sekarang kembali dijumpai sebuah peti mati lagi ditempat ini.

Apakah tempat yang mewah dan megah ini tak lebih hanya sebuah kuburan belaka?

Hong-nio merasakan kaki dan tangannya menjadi dingin seperti es, suatu reaksi serta merta muncul dalam hatinya, membuat gadis itu berusaha mencari suatu benda untuk melindungi dirinya.

Tiba-tiba ia teringat dengan pedang yang tergantung di atas meja sembahyangan itu.

Sambil memutar badannya ia memburu ke situ, tapi sebelum jari tangannya sempat menyentuh gagang pedang itu, mendadak terdengar seseorang berseru: "Jangan kau sentuh pedang itu!"

Suara itu sangat dingin, kaku dan teramat asing sekali, yang lebih mengerikan lagi ternyata suara tersebut berasal dari dalam peti mati tembaga itu.

Saking ngerinya Hong-nio merasakan sekujur tubuhnya menjadi kaku seperti patung, lewat lama sekali ia baru memutar badannya untuk menengok ke arah peti mati itu.

Kini orang yang mati dan semula berbaring dalam peti mati itu telah bangkit berdiri, waktu itu dengan sapasang matanya yang jeli bagaikan cahaya kilat sedang memandang kearahnya, kemudian sepatah demi sepatah kata berkata:

"Kecuali aku seorang, tak seorang manusiapun di dunia ini yang boleh menyentuh pedang tersebut!"

Lalu diantara pembicaraan itu terdengar nada penuh kewibawaan yang membuat orang lain mau tak mau harus mempercayainya:

“Siapa berani menyentuhnya, dia harus mati!” “Kau...”

“Aku bukan orang mati, juga bukan sesosok mayat hidup!”

Lalu dengan suara yang tinggi melengking dan penuh mengandung nada sindiran ia berkata lebih jauh.

“Ada banyak orang yang mengira aku telah mati sayang sampai sekarang aku masih belum mati”

Hong nio menghembuskan napas panjang, ia berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, tapi tak tahan, akhirnya ia bertanya:

“Tempat ini adalah milikmu?”

“Coba lihatlah, bagaimanakah keadaan tempat ini?”

“Aku tidak tahu, pada hakekatnya aku tak tahu bagaimana harus menjawab...!” kata Hong nio sambil bergumam.

Sesudah berpikir sebentar, kembali katanya:

“Akupun tak pernah berkunjung ke keraton kaisar tapi aku percaya tempat ini pasti jauh lebih indah dan menarik daripada kertaonnya kaisar...”

Tiba tiba orang itu tertawa dingin, katanya:

“Keraton? Huuh... kertaon itu baru terhitung seberapa?”

Keraton yang indah dan megah, tempat Kaisar bertahta, ternyata dalam padangannya masih belum terhitung seberapa. Tiba tiba Hong nio memberanikan diri sambil berkata:

“Ada satu persoalan ingin kutanyakan pekadamu, cuma bersediakah kau untuk menjawabnya?”

“Tanyakanlah!” “Sebenarnya siapakah kau?”

Orang itu termenung sejenak, kemudian pelan pelan memutar badannya dan menuding sepasang “lian” yang tercantum di luar peti mati itu.

Lian tersebut berbunyi demikian:

“Tenang bersabar bagaikan langit dan bumi. Tenang mendalam seakan-akan menyimpan rahasia."

Berulang kali Hong-nio membaca sepasang "lian" tersebut dan berusaha untuk membahas arti-nya, tapi kemudian sambil tertawa getir katanya: "Sayang aku tidak mengerti!"

"Bait tersebut merupakan dua bait dalam kitab sembahyangan milik Tee-cong-sip-lun-keng, karena hal itu pula Tee-cong pousat mendapat nama hingga tenar di mana-mana."

"Aaah, kalau begitu kau adalah Tee-cong pousat?" seru Hong-nio sambil memandangnya dengan terperanjat.

"Meskipun kedua patah tulisan itu berasal dari atas kitab Buddha, namun arti yang sebenarnya justru mengandung inti sari dari suatu ilmu pedang " pelan-pelan orang itu menerangkan.

Sepasang matanya semakin memancarkan sinata tajam terusnya:

"Dalam dunia yang luas dewasa ini, hanya aku seorang yang benar-benar memahami arti dari kata-kata tersebut."

Hong-nio masih saja. menantikan jawaban dari pertanyaannya tadi.

Kembali orang itu berkata: "Di tempat inilah Tee-cong mendapatkan ilhamnya, sedang aku, walaupun sudah mendapat ilham sayang tak dapat menjadi Buddha, sebaliknya malahan hidupku sepanjang tahun ada dalam neraka."

Sinar matanya tiba-tiba memancarkan kesedihan, katanya lebih lanjut:

"Selama dua puluh tahun ini, kehidupanku selalu kulewatkan bagaikan berada dalam neraka saja."

"Kalau begitu kau " bisik Hong-nio.

Akhirnya orang itu menjawab juga pertanyaannya: "Aku bukan pousat, tapi namaku adalah Teo cong, soal lain lebih baik kau tak usah tahu, sebab tahupun tiada manfaatnya bagimu."

Hong-nio tak berani bertanya lagi.

Ia telah mengetahui bahwa orang ini pasti mempunyai pengalaman yang memedihkan hati dimasa silamnya, asal usulnya pasti pula menyelimuti suatu rahasia yang besar sekali.

Rupanya orang itu sudah lama tak pernah mengucapkan kata-kata sebanyak itu, seakan-akan pula secara mendadak merasa lelah sekali.

Baru saja Hang-nio ingin bertanya kepadanya: "Apakah kau yang menyuruh si orang buta mengantarku kemari? Di manakah Bu-ki sekarang?"

Tapi orang itu keburu sudah masuk kembali ke dalam peti matinya, memejamkan mata, menyilangkan tangannya di depan dada dan tidak berkutik lagi..

Hong-nio tak berani mengganggunya .

....Dikala orang lain membutuhkan waktu untuk beristirahat, belum pernah ia mmgganggu siapapun meski dikarenakan pelbagai alasan apapun yang dapat dipertanggung jawabkan.

Iapun duduk, sementara sepasang matanya memperhatikan tirai sutera yang tergantung di depan pintu itu.

Ingin sekali ia berjalan ke luar dari ruangan itu untuk melihat-lihat, tapi tempat ini adalah rumah orang lain .

Belum pernah ia berjalan mondar-mandir seenaknya sendiri di rumah orang lain, entah di rumah siapapun sama saja.

Tentu saja iapun tak dapat duduk sepanjang masa di tempat itu dengan cara semacam ini. Untunglah pada saat itulah si orang buta munculkan diri.

Sambil menyingkap tirai pintu dan berjalan masuk, ia hanya mengucapkan sepatah kata saja, "Silahkan!"

Kata-kata tersebut ibaratnya suatu mantera sakti yang mengandung suatu kekuatan mujizat, serta merta Hong-nio bangkit berdiri dan tanpa mengucapkan sepatah katapun pergi

me-laksanakan perintahnya itu. Di balik pintu merupakan suatu alam impian lain yang jauh lebih indah, kecuali perabot yang sama-sama megah dan mewah nya seperti perabot di ruang depan, di situ masih ada pula sebuah pembaringan.

"Mulai hari ini, kamar ini akan menjadi kamarmu" demikian si buta berkata, "kalau lelah, kau boleh tidur di sini, kalau lapar bunyikan bel yang berada di ujung pembaringan, apapun yang ingin kau makan, segera akan ada orang yang mengantarkannya bagimu".

"Perkataan itu seperti dalam dongeng belaka. Setiap orang tak akan terlepas dari rasa ingin tahunya, tak tahan Hong-nio berkata:

"Terserah apapun yang ingin kumakan?"

Tiba-tiba ia teringat dengan daging masak kecap, segera katanya lebih lanjut:

"Andaikata aku ingin makan daging masak kecap dari Gi-hoa-cay, apakah kau dapat me-nyediakannya?"

Si buta segera memberikan jawabannya dengan suatu kenyataan, ia ke luar sebentar untuk mem-beri perintah dan tak lama kemudian hidangan yang diinginkan telah dihidangkan di depan matanya.

Hong-nio tak dapat mempercayainya dengan begitu saja, ia segera bertanya lagi: "Benarkah daging masak kecap ini dibeli dari Gi-hoa cay yang berada di ibukota?"

"Daging masak kecap yang di jual di Gi-hoacay sekarang sudah tidak asli lagi, sebab kuali besi serta bumbu asli mereka telah kubeli dengan uang sebesar sembilan ribu tahil perak".

"Bagaimana pula dengan bakpao dari Ko-put-li?"

"Toa-suhu yang membuat bakpao ditempat itu, semenjak banyak tahun berselang sudah berada di dapur kami".

Kalau dibicarakan, hal tersebut mirip sekali dengan cerita dongeng, tapi jelas bukan kata bohong, atau paling tidak telah menjelaskan banyak sekali persoalan yang sesungguhnya susah untuk dijelaskan.

"Aku sama sekali tak ingin tahu di manakah suhu pembuat bakpao dari Ko-put-li berada, aku hanya ingin tahu di manakah Bu-ki pads saat ini ?" kata Hong-nio.

"Menanti kau sudah sampai waktunya untuk bertemu dengannya, kau akan mengetahui dengan sendirinya!" Dibalik sepasang matanya yang kosong dan berwarna kelabu itu, entah berapa banyak rahasia yang telah disimpan olehnya.

Hong-nio tidak bertanya lagi.

Dia adalah seorang perempuan yang telah mengerti keadaan, ia tahu banyak persoalan di dunia ini adalah sama saja, semuanya harus menunggu sampai tiba saat yang dinantikan.

Bila saatnya belum tiba, sekalipun gelisah juga sama sekali tak ada gunanya. Sekalipun demikian, ia toh bertanya kembali:

"Mengapa kau mengorbankan uang sebesar sembilan ribu tahil perak untuk membeli kuali besi itu?"

"Yang kubeli bukan kuali besinya, melainkan bumbu kecap yang sudah mengental di dasar kuali tersebut".

"Aku tahu bumbu di dasar kuali itu memang luar biasa sekali, konon sekalipun kita masukkan sebatang kayu balok ke dalam bumbu kecap itu, sewaktu dimakanpun rasanya juga nikmat".

"Sayang kami tak pernah memasak kayu balok masak kecap, yang kami masak adalah daging", kata si buta hambar.

"Jadi dengan uang sebesar sembilan ribu tahil perak," tujuanmu hanya ingin membeli bumbu kecap yang telah mengerak di dasar kuali itu untuk membuat daging masak kecap sendiri?"

"Benar!"

Andaikata Cian-cian, dia pasti akan bertanya lagi:

"Apakah kalian hendak membuka rumah makan penjual daging kecap? Apakah kalian hendak menyaingi dagangan dari rumah makan Gi-hoa-cay"

Tapi Hong-nio bukan Cian-cian, maka dia hanya bertanya:

"Kenapa?"

"Sebab setiap saat kemungkinan besar majikan ku ingin makan daging masak kecap". "Kenapa kau tidak berangkat untuk membelikannya?" "Sebab sekalipun menunggang kuda yang paling cepat dan menempuh perjalanan siang malam tak berhentipun, paling tidak juga membutuhkan waktu selama dua sampai tiga puluh jam untuk berhasil memperolehnya".

"Kau pernah mencobanya?"

"Hanya pernah mencoba sekali saja!"

"Apakah pada kali itu juga kau telah membeli pula kuali yang berisi bumbu tersebut?" "Benar!"

"Jadi kalau majikanmu ingin makan, maka setiap saat setiap waktu telah tersedia?" "Benar!"

"Seandainya dia ingin makan . . . "

Belum habis gadis itu berkata, si buta telah menukas dengan suara dingin:

"Sekalipun dia ingin makan hidungku, segera akan kupotong hidungku ini dan mempersembah-kan ke hadapannya".

Hong-nio tak dapat berbicara lagi.

"Apakah kau masih ingin menanyakan sesuatu lagi?" tanya si buta kemudian. Akhirnya Hong-nio menghela napas panjang, katanya:

"Padahal aku tidak ingin menanyakan persoalan-persoalan tentang masalah tersebut". "Aku sudah tahu persoalan apakah yang sesungguhnya ingin kau tanyakan . ."

"Kau tahu?"

"Ya, bukankah kau ingin bertanya kepadaku, siapakah sebenarnya dia? Kenapa mempunyai ke-kuasaan sebesar ini?"

Hong-nio tak dapat menyangkal kebenaran dari perkataannya itu.

Tiba-tiba ia menemukan bahwa si buta itu meski sudah buta dan tak berbiji mata lagi, sesungguhnya dapat menembusi hati orang.

Terdengar si buta berkata lagi: "Kau adalah seorang perempuan yang sangat berpendidikan, amat lemah lembut, amat sopan dan tahu urusan, selamanya tak pernah membiarkan orang merasa jemu dengan perkataannya, apalagi melakukan perbuatan yang membuat orang menjadi jemu, demi orang lain kau rela menyiksa diri sendiri".

Tiba-tiba ia menghela napas panjang dan berkata lagi:

"Sekarang, gadis semacam kau sudah tidak terlalu banyak bisa didapatkan lagi ”

Sebenarnya perkataan itu adalah suatu kata-kata pujian dan kata-kata sopan santun, tapi ketika diucapkan olehnya ternyata mengandung perasaan sedih dan ketidak beruntungan yang amat tebal.

Sepasang matanya yang telah tak dapat melihat apa-apa itu, seakan-akan telah menyaksikan suatu musibah, suatu ketidak beruntungan yang segera akan menjelang tiba.

*****

Ketika si buta muncul kembali untuk kedua kalinya, ini terjadi pada dua hari kemudian.

Hong-nio tak dapat memastikan secara pasti bahwa waktu sudah lewat dua hari, sebab tempat itu pada hakekatnya adalah lambung bukit, di tempat semacam itu sulit untuk membedakan siang ataupun malam.

Dia hanya tahu dari titik-titik bocornya air, dari teko tembaga disudut ruangansana, sudah hampir dua puluh jam lebih kebocoran itu terjadi.

Ia merasakan dirinya sangat lemah tak bertenaga.

Karena ia tak pernah menelan sebutir nasi atau setitik airpun.

Walaupun ia tahu asal bel di ujung pembaringan itu dibunyikan, maka makanan apapun yang diinginkan segera akan didapatkan.

Tapi ia tak pernah menyentuh bel tersebut, setiap benda yang berada dalam ruangan itupun tak pernah ia sentuh.

Sekalipun pintu itu tak dikunci, asal ia menyingkap tirai yang menutupi pintu tersebut, ia segera akan ke luar darisana, tapi ia lebih suka tinggal di tempat itu.

Sebab selamanya, ia tak pernah melakukan perbuatan yang sudah secara jelas diketahui olehnya bahwa hal tersebut tak akan mendatangkan hasil apa-apa. Sekalipun dia lemah lembut, sangat tahu urusan dan dapat menyiksa diri, tapi apa yang sudah tak ingin dilakukannya, tak pernah ada orang yang akan memaksanya untuk melakukan.

*****

Si buta seakan-akan sedang "memperhati-kan" pula dirinya. Akan tetapi kali ini ia tak berhasil menebak suara hatinya.

Sikap Hong-nio kepadanya masih tetap lemah lembut, amat sopan dan begitu menyaksikan ke-datangannya ia segera bangkit untuk menyambutnya.

"Silahkan duduk!"

Si buta tidak duduk, dia hanya menyingkap tirai pintu seraya berseru pula: "Silahkan!

Hong-nio sama sekali tidak bertanya kepadanya hendak diajak ke manakah ia pergi, seakan- akan terhadap kejadian apapun ia sudah bersiap sedia untuk menerimanya tanpa membantah.

Baru berjalan ke luar dari pintu itu, ia telah menyaksikan manusia berbaju putih yang mengaku bernama "Tee-cong" itu sedang duduk di ruangan menantikan kedatangannya.

Di atas meja telah dihidangkan pelbagai masakan yang lezat dan menyiarkan bau harum, dua orang budak yang berdiri kaku di samping bagaikan patung, masing-masing membawa sebuah baki besar terbuat dari emas yang berisikan penuh dengan aneka buah-buahan yang tampak masak dan segar, di antaranya tampak buah pear dari Peng-ciu, buah kurma dari Lay-yang, semangka dari Hami, buah delima dari Peking, jeruk dari Lamhong dan pisang serta nanas dari pulau Lam hay.

Ia duduk di tepi meja makan, sekalipun tidak bangkit berdiri namun sikapnya sangat ramah dan lembut, bahkan sepasang matanya yang memancarkan sinar setajam sembilu itupun berubah jauh lebih lembut, halus dan tenang.

Sekarang ia sudah tidak mirip lagi sebagai sesosok mayat hidup yang misterius, melainkan lebih mirip seorang tuan rumah yang mempunyai pengetahuan mendalam tentang soal hidangan dan buah-buahan.

Tepat di hadapannya masih tersedia sebuah kursi kosong yang berlapiskan kulit rase, sekalipun saat ini adalah musim panas yang amat gerah, tapi di tempat dasar bumi yang lembab dan basah, benda tersebut memang terasa sangat dibutuhkan.

"Silahkan duduk!" ia berkata. Hong nio pun duduk di kursi tersebut.

Hidangan yang telah siap di mejapun merupakan aneka macam hidangan lezat yang selama hidupnya belum pernah ia jumpai.

Dengan sorot mata tajam, manusia berbaju putih itu mengawasinya sekejap, kemudian pelan- pelan berkata:

"Kau adalah seorang manusia yang sangat aneh. Barang siapapun di dunia ini seandainya mengalami keadaan sepertimu sekarang, tak nanti mereka akan melakukan tindakan seperti apa yang telah kau lakukan sekarang . . . “

Hong nio segera tertawa, "Sesungguhnya apapun tidak kulakukan," katanya.

Hidangan apapun juga tak pernah kau makan," sambung manusia berbaju putih itu cepat. Setelah berhenti sejenak, lanjutnya lebih jauh:

"Seseorang bila sedang tak ingin makan, sekalipun ada yang memaksanya juga tak akan dapat untuk memaksanya menuruti kemauanmu . . .”

"Aku sendiripun berpendapat demikian!"

"Bila kuberitahukan satu hal kepadamu, entah dapatkah kau berubah pikiranmu itu?" Hong nio tidak berbicara, ia sedang menantikan pembicaraannya lebih jauh.

“Tio Bu-ki sama sekali belum mati” kata manusia-berbaju putih itu, "cepat atau lambat kau pasti dapat berjumpa dengannya."

Hong-nio berusaha keras untuk mengendalikan diri, sebab ia tahu luapan rasa gembira yang diperlihatkan di meja makan adalah suatu perbuatan yang melanggar sopan santun.

"Aku jamin kalian pasti akan saling berjumpa muka, selama hidup belum pernah aku mengingkari janji," kata orang berbaju putih itu lagi.

Hong nio tidak mengucapkan sepatah kata lagi, diapun tidak menanyakan persoalan apa-apa lagi.

Ia mulai menggerakkan sepasang sumpitnya.

*****

Seperti juga Siau lui, manusia berbaju putih itu hanya makan sangat sedikit sekali. Hong-nio juga tidak makan terlalu banyak.

Sebenarnya seseorang yang sudah dua tiga hari menderita kelaparan, kemudian secara tiba- tiba berhadapan muka dengan semeja penuh hidangan lezat, semestinya dia akan menunjukkan sikap yang kurang terkontrol dan agak rakus.

Tapi Hong nio adalah terkecuali.

Karena ia sadar bahwa dirinya sama sekali tak memiliki kekuatan untuk melawan orang lain, karenanya ia harus mempergunakan otak dan perasaannya untuk mengendalikan keadaan itu.

Dalam melakukan perbuatan apapun jua, ia setalu berusaha untuk mengendalikan luapan emosi sendiri.

Manusia berbaju putih itu sedang memandang ke arahnya, sinar mata yang tajam itu penuh dengan pancaran rasa kagum dan memuji, pelan-pelan katanya:

"Kau harus tahu bahwa aku adalah seseorang yang gemar sekali bermakan enak, tapi jumlah makanan yang bisa kumakan hanya sedikit sekali, lagi pula setiap waktu setiap saat aku membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Tiba-tiba ia berhenti sekian lama, sedang menantikan pertanyaan dari Hong-nio yang menanyakan alasannya.

Betul juga, pada saat yang tepat Hong-nio sedang bertanya:

"Kenapa demikian?" "Karena aku keracunan!"

`Sejak kapan kau menderita keracunan?" paras muka Hong-nio agak berubah. "Sudah hampir mendekati duapuluh tahun lamanya."

Tiba-tiba paras mukanya berubah menjadi penuh kesedihan, kekesalan dan kemu-rungan, katanya lebih jauh:

"Racun itu benar-benar merupakan sejenis racun yang menakutkan sekali, selama duapuluh tahun terakhir ini selalu menggerogoti tubuhku dan menyiksa diriku, setiap tahun sekali aku harus pergi meminta sebutir obat pemunah untuk mempertahankan selembar jiwaku, sekalipun demikian aku masih tak boleh terlalu lelah apalagi mempergunakan hawa murniku untuk melakukan suatu pertarungan, kalau tidak, bila racun itu sampai kambuh kembali maka sekalipun bisa mendapatkan obat pemunahnya juga sama sekali tak berguna." Siapapun juga, semua orang dapat melihat bahwa dia adalah seorang laki-laki yang sombong dan tinggi hati, tapi sekarang ia telah menceritakan musibah yang telah menimpa dirinya itu kepada Hong-nio.

Cerita tersebut bukan saja menimbulkan simpatik di hati Hong-nio, lagi pula membuatnya merasa sangat terharu, dengan suara yang lembut segera katanya:

"Aku rasa, selama banyak tahun ini kau pasti sudah banyak merasakan penderitaan dan siksaan."

Ternyata orang berbaju putih itu menghindari tatapan sinar matanya, lewat lama sekali ia baru berkata lagi setelah tertawa dingin:

“Obat penawar itu bukan kudapatkan dengan cara memohon kepadanya, tapi aku memperoleh-nya dengan jalan menukar memakai kepandaianku kalau tidak demikian, sekalipun harus mati akupun tak akan pergi memohon kepadanya.

Walaupun Hong-nio tak tahu perselisihan-nya dengan Siau Tang-lo, tapi ia tidak menaruh curiga atas perkataannya itu.

Kembali mencorong sinar tajam dari mata manusia berbaju putih itu, katanya:

"Dulu dengan mengandaikan sebilah pedang, aku telah malang melintang tanpa tandingan dalam dunia persilatan, tak terhitung jumlah manusia yang kubunuh selama ini, musuh besar ku tersebar dimana-mana, sekalipun orang yang tiada sakit hati dengankupun selalu berusaha menginginkan batok kepalaku, sebab siapapun yang dapat membunuhku, maka ia dapat mempergunakan darahku untuk mempolesi namanya hingga menjadi tenar."

Kembali ia tertawa dingin, katanya lebih jauh: