Harimau Kemala Putih Jilid 09

Jilid 09  

KARENA aku pernah berkata kesempatan untuk matipun tak akan kalian temui!`

Selama berada ditempat seperti ini, kearah manapun kau melompat turun, tubuhmu pasti hancur dan nyawamu pasti melayang. "Masakan kau hendak meninggalkan dia di sini? jerit Cian-cian. “Ia boleh mencari seseorang untuk membopongnya!"

"Mencari siapa?"

"Kecuali kau, terserah ia mau minta tolong kepada siapa!"

"Biar aku saja! " Tong Bong segera berseru dengan penuh semangat.

Tong Lip tertawa dingin, ia tidak menggubris rekannya itu, sebaliknya bertanya kepada Hong nio:

"Kau menginginkan siapa yang akan membopongmu?" "Kau! " jawab Hong-nio tanpa berpikir panjang lagi.

*****

Kabut yang menyelimuti wilayah sekitar tempat itu sangat gelap, dari jarak beberapa depa pun sulit untuk melihat bayangan manusia.

Berada di atas gendongan Tong Lip, tiba-tiba Hong-nio bertanya: "Tahukah kau mengapa kupilih dirimu?"

"Tidak tahu!"

"Karena aku tahu bahwa kau sesungguhnya bukan seseorang yang terlalu jahat." "Aku orang jahat!"

"Kalau begitu, mengapa kau harus menolongku."

Tong Lip termenung, lama, lama sekali ia baru bertanya:

"Kau benar-benar ingin tahu?" "Yaa, aku benar-benar ingin tahu!"

Suara jawaban dari Tong Lip berubah menjadi begitu dingin dan kaku, jawabnya: "Kulepaskan kau karena aku telah dikebiri orang, pada hakekatnya aku tak mungkin menyentuh dirimu lagi, oleh karena itu akupun tak ingin membiarkan orang lain menyentuh dirimu."

Hong nio tertegun.

Mimpipun ia tak mengira kalau ada seorang pria yang berani mengutarakan rahasia besarnya kepada gadis asing yang belum lama dijumpainya.

"Kalau aku masih sanggup" lanjut Tong Lip dengan suara dingin, "sekarang kau telah kugagahi sebanyak berpuluh-puluh kali banyaknya!"

Hong nio tidak tahu bagaimanakah reaksi gadis lain seandainya mereka mendengar perkataan itu.

Tapi baginya sekarang hanya ada perasaan iba, kasihan dan simpatik yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, sekalipun hakekatnya itulah luapan perasaan yang paling mulia dan agung dari makhluk yang disebut manusia . . . . . . .

Ia tak tahu ucapan apakah yang harus dikatakan untuk menghibur hatinya, sementara pemandangan di depansanasudah samakin terang.

Akhirnya sampailah mereka dipuncak paling tinggi dari puncak Thian Tay hong.

Tempat itu merupakan sebuah dataran yang datar, pepohonan yang lebat, bukit bukit karang yang menjulang di mana mana serta sebuah tebing dengan ukiran tiga huruf yang amat besar.

"HUI-JIN KIAN" (Bukan alam manusia).

*****

Tempat itu adalah alam semesta? Ataulah alam baka? Di atas sorga loka? Ataukah dalam neraka?

Entah tempat apapun, yang pasti di situ tak ada kehidupan, sebab jauh memandang kesana, tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Tong Lip telah menurunkan Hong nio dari bopongannya, lalu dengan sepasang matanya yang berbisa seperti mata ular beracun menatap Ci Peng tajam tajam, katanya:

"Naik ke atassana, sudah tiada jalan lagi?" "Yaa, tidak ada lagi!" jawab Ci Peng. "Bukankah kau mengajak kami datang untuk mencari Tio Bu ki?" "Benar!"

"Tio Bu ki berada di mana?"

Sambil menuding ke arah tebing terjal yang terukir tulisan "Hui jin kiam" tersebut jawab Ci Peng:

"Tuh, disana!"

Di sekitar tebing terjal tidak nampak bayangan manusia, pada hakekatnya tempat itu bukan alam manusia.

"Di belakangsanamasih ada sebuah gua rahasia, Tio Bu-ki bersembunyi di dalamsana" kata Ci Peng lagi.

"Mengapa ia musti bersembunyi ditempat seperti ini?" "Karena dia takut!"

"Apa yang dia takuti?"

"Ia tahu selama ia masih hidup harus membalas dendam atas kematian ayahnya, kalau tidak maka siapapun tak akan menjumpai dirinya lagi."

Bagi orang persilatan, dendam sakit hati lebih dalam dari samudra, sebagai seorang putra yang berbakti ia musti membalas sakit hati tersebut.

"Ia sendiripun tahu bahwa ia sendiri bukan tandingan dari musuh besarnya Sangkoan Jin!" kata Ci Peng lagi.

Maka ia takut pergi membalas dendam, takut menenukan jejak Sangkoan Jin” "Yaa, ia ketakutan setengah mati!"

"Maka dari itu dia baru bersembunyi di sini?"

"Di alam kehidupan manusia sudah tiada tempat berpijak lagi baginya . . " kata Ci Peng dingin.

"Aku harap kau berbicara sejujurnya" ancam Tong Lip. "Baik jujur atau tidak, sebentar lagi persoalan ini akan tersingkap, kenapa aku musti membohongimu?"

"Baik, bawalah kami ke situ!" kata Tong Lip kemudian. "Tidak, aku tak boleh ikut pergi!"

"Kenapa?"

"Aku telah menghianatinya, bila ia bertemu denganku, maka akulah yang pertama-tama akan dia bunuh."

Setelah tertawa getir kembali katanya: "Sekalipun ilmu silat yang dimiliki Tio Bu-ki tidak terlampau lihay, untuk membunuhku bukan suatu pekerjaan yang sukar, waktu itu kalian pasti tak akan menolangku."

Tong Lip tertawa dingin, katanya: "Kau anggap aku tak dapat membunuhmu?"

"Bagaimanapun juga asal kalian berputar menaiki batu cadas itu, benar atau tidaknya perkataanku segera akan terbukti, kenapa tidak kalian periksa dulu kebenarannya? Kalau ia memang tak ada di situ, toh belum terlambat bila kau datang kembali untuk membunuhku?"

Tong Lip menatapnya tajam-tajam, pelan-pelan ia menyodokkan kedua jari tangannya ke depan dan menotok jalan darah lemas pada pinggangnya.

Ci Peng sama sekali tidak bermaksud untuk menghindarkan diri.

Tiba-tiba jari tangan Tong Lip berputar lagi seperti gangsingan, kemudian tahu-tahu jalan darahSianki hiat di tubuh Cian-cian ikut ditotoknya pula.

Totokan tersebut tidak dilancarkan dengan tenaga yang terlampau berat, tapi sasarannya tepat sekali:

Seketika itu juga Cian-cian terkapar dengan lemas.

Ci Peng telah roboh terkapar pula di tanah, sebab jari tangan Tong Lip kembali berputar dan jalan darahSianki hiat di tubuhnya ikut tertotok juga.

"Kau harus tahu" kata Tong Lip dengan dingin, "keluarga Tong bukan saja memiliki senjata rahasia yang manunggal, kamipun mempunyai ilmu totokan yang manunggal juga."

Ci Peng mengerti. Satu totokan dari keluarga Tong seperti juga senjata rahasia dari keluarga Tong, kecuali anak keturunan keluarga Tong, orang lain jangan harap bisa membebaskannya.

"Oleh sebab itu jika aku tak kembali lagi, kalianpun hanya akan menanti kematian di sini" sambung Tong Lip lebih lanjut.

Menunggu kematian biasanya lebih mengerikan daripada menghadapi kematian itu sendiri. Tiba tiba Hong nio berkata:

"Seandainya kau berhasil menemukan Bu ki, bolehkah kujumpai wajahnya sekali saja?"

Sudah lama ucapan itu tersimpan dalam hatinya, selama ini ia tak berani mengucapkannya ke luar, karena ia tidak tahu apa akibatnya bila perkataan itu dia utarakan.

Tong Lip menatapnya tajam-tajam, sepasang matanya yang berbisa seperti ular beracun memancarkan sinar yang mengerikan, tiba-tiba saja mimik wajahnya mengalami parubahan yang sangat aneh.

Hong nio menundukkan kepalanya, dengan sedih ia berkata:

"Akupun tak tahu bagaimana penyelesaiannya atas dendam sakit hati yang terikat di antara kalian berdua, tadi aku hanya ingin bertemu sekali saja dengannya."

"Asal dapat bertemu sekali saja dengannya, relakah kau mati?" kata Tong Lip dingin. Hong nio menggigit bibirnya keras-keras, kemudian pelan-pelan mengangguk.

Sorot mata Tong Lip semakin aneh, ia sendiripun tak tahu haruskah merasa benci? Dendam? Sedih? Ataukah cemburu?

Cian-cian memandang ke arah mereka berdua, perubahan emosi dalam hatinya ikut pula mengalami suatu perubahan yang aneh.

Dia sendiripun sedang menunggu jawaban dari Tong Lip.

Tapi Tong Lip tidak mengucapkan apa-apa, sepatah katapun tidak, kantung kulit di pinggangnya segera dikencangkan, sarung tangan kulit menjangan dikenakan dan paras mukanya berubah menjadi begitu sinis dan seram bagaikan kabut dingin di puncak bukit.

Kemudian ia putar badan dan berjalan pergi, melirik sekejap ke arah Hong-nio pun tidak. Tong Bong tiba-tiba berpaling, lalu katanya: "Baik, kukabulkan permintaanmu itu, aku pasti akan memberi kesempatan kepadamu untuk bertemu muka dengannya."

Kemudian, sambil menepuk kantung kulit di pinggangnya, ia tertawa terkekeh-kekeh.

Heeehh. . . heeeh. . . heeh. . cuma saja, aku tidak berani menjamin masih hidupkah dia? Ataukan sudah mati?"

*****

Hari makin lama semakin gelap.

Hong-nio berdiri seorang diri di tengah hembusan angin barat yang kencang, dengan termangu-mangu ditatapnya tulisan "Hui jin-kian" yang besar di atas dinding tebing itu tanpa berkedip.

Sekalipun telah bulan ke tujuh, angin yang berhembus di puncak bukit itu terasa dingin sekali seperti sayatan pisau.

Dua bersaudara dari keluarga Tong telah membelok di tebing karang sebelah depan, dapatkah mereka berjumpa dengan Bu ki? Apa yang bakal terjadi setelah mereka menemukannya?

Sekalipun ia tak pandai bersilat, tapi iapun tahu kalau senjata rahasia dari keluarga Tong menakutkan sekali.

Sesaat meninggalkan tempat itu mimik wajah Tong Lip kelihatan menakutkan sekali, apalagi masih ada seorang babi gila yang kejam, brutal dan buas . . . . .

Sudah pasti mereka tak akan melepas Bu-ki dengan begitu saja, dan pertemuannya kembali dengan Bu ki, mungkin si anak muda itu sudah tiada lagi di dunia ini.

Pelan pelan Hong-nio memutar tubuhnya dan memandang ke arah Ci Peng, katanya dengan sedih: "Tayhong tong bersikap sangat baik kepadamu, mengapa kau lakukan perbuatan seperti ini?"

Ci Peng tidak menjawab.

Cian-cian segera tertawa dingin, serunya ketus:

"Pada hakekatnya dia bukan seorang manusia, apa gunanya kau mengajak dia untuk mem-bicarakan kata-kata manusia?" Hong-nio menundukkan kepalanya, air mata telah jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

Cian-cian memandang ke arahnya, suata sinar mata yang sangat aneh kembali memancar ke luar dari balik matanya, tiba tiba ia bertanya:

"Kalau benar-benar sedang menguatitkan keselamatan Bu ki?"

Hong-nio berpaling dan memandang ke arahnya dengan terkejut, ke lututnya dengan nada agak gemetar: "Masakah aku bakal menguatirkan keselamat dari orang lain?"

"Aku sama sekali tidak bermaksud lain. aku tak lebih hanya . . . "

Hong-nio tidak membiarkan ia berbicara lebih jauh, tukasnya dengan cepat: "Kau harus tahu, seandainya Bu-ki mati, akupun tak akan hidup lebih jauh!"

Cian-cian menghela napas ringan pula.

"Aaai. . . . seandainya Bu-ki mati, siapa lagi yang sudi hidup lebih jauh ?"

Kembali ditatapnya Hong-nio lekat-lekat, lama, lama sekali ia baru berkata lebih jauh : "Bagaimanapun juga, kau toh tetap masih merupakan ensoku!"

"Semasa masih hidup aku menjadi anggota keluarga Tio, setelah matipun aku menjadi setan ketuarga Tio!"

"Kalau begitu, aku ingin memohon satu hal kepadamu!" "Apa yang kau inginkan?"

"Di balik sepatuku ada sebilah pisau belati, cabutlah ke luar pisau tersebut!"

Betul juga, di balik sepatunya memang ada sebilah pisau panjangnya mencapai tujuh nci, mana tipis, tajam lagi.

Hong-nio telah mencabut ke luar pisau belati itu.

Dengan gemas dan penuh kebencian Cian-cian melotot sekejap ke arah Ci Peng, kemudian katanya:

"Kau harus mewakili diriku untuk membunuh manusia pengecut yang terkutuk dan tak tahu malu ini!" Hong-nio sangat kaget setelah mendengar perkataan itu, jerit nya tertahan: "Apa? Kau . . . kau suruh aku membunuh orang?"

"Aku tahu selama ini belum pernah kau bunuh orang, tapi membunuh orang bukan suatu pekerjaan yang sukar, asal pisau ini kau tusukkan ke dalam ulu hatinya, sekali tusukan saja sudah cukup untuk membereskan selembar nyawanya."

Saking takutnya paras muka Hong-nio telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, tangan yang memegang pisau pun mulai gemetar keras, menyusul kemudian sekujur tubuhnya ikut menggigil.

"Kalau kau masih merasa dirimu adalah ensoku, kau harus melakukannya bagiku, bangsat itu harus kau bunuh sampai mampus!" sera Cian-cian penuh luapan dendam.

"Tapi . . . . tapi seandainya mereka balik ke mari . . . - "

"Kalau mereka sampai kembali ke sini, kau harus bunuh juga diriku, sampai matipun aku tak akan membiarkan manusia pengecut yang tak tahu malu itu menyentuh tubuhku."

Air mata Hong nio sudah tidak bercucuran lagi, tapi keringatnya mengucur semakin deras, keringat dingin lagi.

Sepasang mata Cian-cian sudah berubah menjadi merah membara, ia mulai menjerit keras:

"Mengapa kau belum juga turun tangan ? Apakah kau baru puas setelah menyaksikan mereka menganiaya diriku?"

Akhirnya Hong-nio menggigit bibirnya kencang-kencang, lalu selangkah demi selangkah berjalan ke depan menghampiri Ci Peng, pisau yang berada ditangannya segera diarahkan ke ulu hati lawan.

Tapi secara tiba-tiba saja ia merasa keheranan.

Semestinya manusia pengecut yang terkutuk dan tak tahu malu sangat takut menghadapi kematian, tapi mengapa wajahnya sekarang sama sekali tidak dihiasi rasa takut atau ngeri barang sedikitpun ? Sabaliknya ia malah kelihatan lega dan gembira ?

Hanya manusia yang merasa tak pernah melakukan perbuatan salah baru akan memperlihatkan sikap lega semacam itu.

Tak tahan lagi, Hong-nio bertanya: "Apa lagi yang hendak kau ucapkan?" "Hanya ada sepatah kata!" akhirnya Ci Peng menjawab. “Katakanlah!"

"Kau musti berusaha keras untuk membuat setumpuk api unggun di sekitar kami!" "Kenapa harus membuat api unggun?" Hong-nio bertanya keheranan.

Tak ada orang lain yang bisa membebaskan totokan jalan darah keluarga Tong kecuali anggota keluarga Tong sendiri, tapi bagaimanapun jahatnya suatu ilmu menotok jalan darah, paling banyak hanya bisa bcrtahan selama satu jam, asal kita mempunyai api unggun maka kalian bisa melewati masa kritis itu dengan selamat."

Rupanya Cian-cian sudah tidak sabar lagi, kembali ia berteriak dengan suara keras:

"Mengapa kau belum juga turun tangan? Kenapa kau musti mendengarkan segala ocehannya yang tak berguna? Tidakkah kau melihat bahwa ia sengaja sedang mengulur waktu?"

Kali ini Hong nio tidak menggubrisnya lagi, kembali tanyanya kepada Ci Peng: "Apakah mereka tak akan kembali lagi?"

Ci Peng tertawa, bahkan tampaknya sangat gembira.

"Tak mungkin bagi mereka untuk kembali dalam keadaan hidup!"

Tapi baru saja ia menyelesaikan perkataannya itu, Tong Bong telah muncul kembali di depan mata!

Sinar matahari sore memercikkan sinarnya dari balik bukit, senjapun telah menjelang tiba.

Tong Bong sudah melampaui tebing itu dan selangkah demi selangkah berjalan mendekat, sinar matahari sore persis menyinari raut wajahnya.

Mimik wajahnya kelihatan aneh dan sangat luar biasa, seolah-olah merasa sangat gembira, seakan-akan juga merasa ngeri dan takut.

Cian-cian segera berteriak keras:

"Kalau kau tidak turun tangan sekarang juga, nanti kau sudah tak sempat lagi!" Hong-nio menggigit bibir, pisaunya segera ditusukkan ke depan.

Dikala mata pisaunya sudah menembusi ulu hati Ci Peng, seperti harimau terluka Tong Bong telah menubruk datang lalu roboh ke tanah. Ia roboh terkapar seperti sebatang batok kayu yang sangat berat. Hong nio tertegun. Cian cianpun tertegun.

Sebaliknya Ci Peng tertawa, darah segar sudah mulai mengucur ke luar dari mulut luka di ulu hatinya, tapi gelak tertawanya masih begitu riang dan gembira.

Pada saat itulah dari belakang tebing yang curam meluncur kembali sesosok bayangan manusia, setelah berjumpalitan di udara orang itu langsung menubruk ke arah mereka.

Diantara percikan sinar matahari terakhir, tampaklah sepasang matanya yang berbisa seperti sepasang ular beracun itu.

Di balik sinar matanya itu seakan-akan penuh dengnn pancaran sinar benci, dendam dan menyesal.

Hong nio menjerit kaget, sambil melepaskan pisau di tangannya ia mundur ke belakang, sementara seluruh tubuh Tong Lip sudah menubruk tepat di atas tubuh Ci Peng.

Gelak tertawa Ci Peng masih kedengaran nyaring, bahkan kedengaran begitu gembira dan riangnya.

Napas Tong Lip terengah-engah, ditatapnya sekejap pemuda itu dengan sinar mata kebencian, kemudian teriak keras keras:

"Bagus sekali kau, bagus sekali, sungguh tak disangka akupun ikut tertipu oleh siasatmu.

Tiba-tiba ia menyaksikan pisau di ulu hati Ci Peng, segera dicabutnya senjata itu lalu menyeringai dan tertawa seram.

"Heehhh... heeehhh...heeehhh .. sayang kali toh akhirnya musti mampus juga di tanganku." Ci Peng tersenyum.

"Untungnya sekalipun mati, aku bisa mati dengan hati yang puas." katanya lirih.

Pisau di tangan Tong Lip sudah siap ditusukkan ke bawah, tiba-tiba ia berpaling dan memandang sekejap lagi ke wajah Hong nio secara tiba-tiba mimik wajahnya menunjukkan suatu perubahan yang sangat aneh.

Pada saat itulah mendadak mukanya menjadi kaku dan napasnya berhenti. Menyusul kemudian kepalanya terkulai dan roboh tak berkutik lagi di atas tanah. Mereka memang sudah kembali, sayang bukan muncul kembali dalam keadaan hidup.

Paras muka Ci Peng pucat seperti mayat, darah kental sudah hampir menodai sebagian besar bajunya.

Tusukan dari Hong nio tadi tidak terhitung enteng, bila setengah inci lebih ke dalam, saat ini Ci Peng pasti sudah menjadi mayat.

Terbayang sampai ke situ, keringat dingin Hong-nio yang telah mengering kini mulai mengucur kembali dengan derasnya.

Sebab pada saat inilah ia baru terbayang, orang yang barusan hendak dibunuhnya itu kemungkinan besar justru adalah tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwa mereka.

Tapi ia masih juga tak habis mengerti, dia tak tahu apa sesungguhnya yang telah terjadi, dia harus memaksa Ci Peng untuk menerangkannya bagi mereka.

Kata Ci Peng: "Meskipun Tong Lip adalah cucu buyut dari keluarga Tong, ilmu silatnya justru diperoleh langsung dari Tong Ji sianseng . . "

Konon keluarga Tong di wilayah Suchuan semuanya dibagi menjadi sepuluh bagian besar, di antaranya termasuk pula bagian pembuatan resep obat racun serta pembuatan bahan obatnya, pembuatan motif senjata rahasia serta penyimpanan senjata rahasia, bagian keamanan, melatih anak murid serta meronda keamanan wilayah.

Kesepuluh bagian ini secara terpisah masing-masing diurusi oleh sepuluh orang tianglo dari keluarga Tong. Tong Ji siangseng adalah salah seorang diantara ke sepuluh orang tianglo tersebut.

Tiada yang tahu bagian manakah yang diurusi olehnya, orang hanya tahu dia angkuh, kejam dan berilmu tinggi.

Diantara ke sepuluh orang tianglo dari keluarga Tong, dia pula yang lebih sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, oleh sebab itu namanya pula yang paling termashur.

Sedemikian takutnya orang kepadanya bisa terbukti dari sikap orang persilatan bila bertemu dengan seorang kakek berjubah biru, berikat kepala putih dan mengisap sebuah huncwe, entah dia adalah Tong Ji sianseng atau bukan, mereka selalu berusaha menyingkir jauh-jauh.

Entah suatu kesengajaan atau tidak, barang siapa berani menyalahi Tong Ji sianseng, maka selama hidup jangan harap bisa melewatkan hari-hari dengan tenang. Kata Ci Peng: “Sejak muda sampai tua, tidak banyak murid yang diterima Tong Ji siangseng tapi Tong Lip tersebut bukan saja telah menyumbang banyak tenaga dan pikiran untuk keluarga Tong, lagi pula dia harus menerima dulu banyak siksaan dan penderitaan sebelum akhirnya dapat menerima warisan ilmu silat darinya"

Hong-nio menghela napas di hati, ia tahu penderitaan macam apa yang telah diterima oleh Tong Lip.

Buat seorang laki-laki, penderitaan apalagi yang lebih berat dari pada suatu penderitaan akibat dikebiri orang?

Dia memang selalu berhati lembut, penderitaan serta siksaan yang dialami orang lain, seringkali dia ikut merasakannya pula, meski hanya terbatas pada bersedih hati belaka.

Ci Peng berkata lebih jauh: “Aku tahu, sudah terang kami bukan tandingan mereka, aku . . .” Ia tundukkan kepalanya dengan sedih, setelah berhenti sebentar baru terusnya:

"Asal usulku amat biasa dan umum, lagi pula akupun tak pernah peroleh pendidikan khusus dari seorang guru kenamaan, ditambah lagi selama banyak tahun belakangan, terlampau banyak urusan aneka ragam yang telah menyita waktuku, jangankan menangkan mereka, untuk melayani tiga gebrakanpun belum tentu aku sanggup.”

Hong nio segera menaruh rasa simpati kepadanya, dengan lembut ia menghibur:

"Hebat atau tidaknya ilmu silat yang di miliki seseorang sesungguhnya bukan suatu persoalan yang penting, bagaimanapun juga kita bukan binatang buas, belum tentu kita harus mengandalkan kekuatan dan kekerasan untuk menghadapi pelbagai masalah yang kita hadapi."

Ci Peng tertawa paksa, sorot matanya penuh dengan pancaran rasa terima kasih.

"Akupun tahu bahwa Tong Bong ada seekor babi gila, aku tak boleh membiarkan kalian terjatuh ke tangannya, oleh sebab itu terpaksa aku harus mempergunakan akal untuk membawa mereka datang ke mari."

"Apakah kau tahu bahwa mereka bakal mampus bila berani datang ke mari ?" tanya

Hong-nio.

Tempo hari sewaktu aku datang ke mari untuk mencari Tio kongcu, dengan mata kepala sendiri kusaksikan ada tiga orang jago silat yang jauh lebih lihay dari mereka tewas di bawah tebing curam itu, baru saja aku hendak menyelidiki sebab kematian mereka, tiba-tiba kudengar ada orang memperingatkan bahwa tempat itu adalah daerah terlarang, barang siapa berani memasukinya berarti akan mampus!" Meskipun kata-kata itu di ucapkan dengan sederhana, padahal setiap kali teringat kembali dengan peristiwa yang terjadi waktu itu, sampai sekarang pun hatinya masih terasa keder, ngeri dan takut sekali.

Tentu saja apa yang diketahui olehnya jauh lebih banyak dari pada apa yang dikatakan sekarang.

Tiga orang yang tewas di bawah jurang tempo hari rata-rata adalah jago pedang yang sudah kenamaan dan banyak tahun mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan.

Mereka datang ke situ adalah disebabkan untuk membalas dendam.

Musuh besar mereka konon adalah seorang jago yang sudah lama meninggal dunia, tapi menurut perkiraan Ci Peng, sampai sekarang orang itu pasti masih hidup, bahkan ia bersembunyi di belakang tebing curam yang disebut Hui jin kian tersebut.

Ilmu pedang yang dimiliki prang itu sudahmalangmelintang tiada tandingannya di kolong langit semenjak tigapuluh tahun berselang, tentu saja kepandaiannya sekarang sudah tak terlukidkan lagi kehebatannya.

Kalau memang ia tak ingin membiarkan orang lain tahu bahwa ia masih hidup di dunia ini, kenapa Ci Peng membocorkan rahasianya.

Membocorkan rahasia pribadi orang merupakan suatu perbuatan yang tercela, suatu perbuatan yang tidak baik.

Ci Peng telah bersumpah tidak akan mengutarakan rahasia tersebut kepada siapapun jua. Hong-nio tidak bertanya lebih jauh, dia hanya menghela napas panjang lalu berkata: "Aku tahu, hatimu waktu itu tentu menderita sekali!"

"Kenapa menderita?"

"Sebab bukan saja kami telah salah menuduhmu dengan tuduhan yang bukan-bukan, malah aku hendak membunuh dirimu."

Digenggamnya tangan pemuda itu erat-erat, kemudian menambahkan lagi".

"Akupun tahu mengapa kau tidak memberi penjelasan sejak tadi, sebab sekalipun kau terangkan kepada kami, belum tentu kami akan mempercayaiuya dengan begitu saja."

Tiba-tiba Cian cian tertawa dingin, katanya: "Heeehhh . . . heeehhh . . . heeehhh. dari mana kau bisa tahu kalau apa yang diucapkan

sekarang adalah kata-kata yang sejujurnya?"

Hong-nio berpaling memandang ke arahnya, lalu dengan lembut berkata:

"Aku tidak menyalahkan kau, sebab aku tahu hatimu tentu saja mempunyai perasan menyesal dan minta maaf kepadanya seperti apa pula yang kurasakan sekarang, oleh sebab itulah kau baru mengucapkan kata kata semacam itu."

Cian-cian menutup mulutnya rapat-rapat, malah sepasang matanya ikut pula dipejamkan rapat-rapat.

Matahari sore sudah tenggelam di langit barat, kegelapan malam pelan-pelan menyelimuti seluruh jagat, angin yang berhembus lewat terasa lebih dingin dan merasuk ke dalam tulang.

"Sekarang kau harus berusaha untuk membuat api unggun " kata Ci Peng kemudian.

Hong-nio seakan-akan sedang termenung memikirkan sesuatu, ia tidak menjawab. "Kemungkinan sekali dalam saku Tong-Lip terdapat bahan untuk membuat api " Ci

Peng kembali berkata.

Tapi Hong-nio seakan-akan sama sekali tidak mendengar apa yang dia bicarakan, mendadak gadis itu bangkit seraya berkata:

"Aku harus pergi menengoknya, aku harus menjumpainya walau apapun yang bakal terjadi!" "Mau pergi ke mana kau? Apa yang hendak kau lihat?" Ci Peng mendesak dengan cemas.

Hong-nio alihkan sorot matanya ke arah tebing curam di depansana, tebing itu bagaikan seekor binatang buas di tengah kegelapan malam, katanya:

"Kalau toh disanaada orangnya, mungkin juga Bu-ki berada di situ."

Sambil bergumam selangkah demi selangkah gadis itu berjalan menuju ke arah bukit curamsana.

Melihat perbuatan gadis itu, Ci Peng segera menjerit tertahan. "Jangan kesana, tempat itu adalah daerah terlarang!"

Hong-nio sama sekali tidak mendengar, bahkan menggubrispun tidak. Menyaksikan gadis itu selangkah demi selangkah mendekati tebing curam yang bernama "Hui jin kian" tersebut, peluh dingin membasahi sekujur badan Ci Peng saking tegangnya.

Cian-cian ikut gelisah, tak tahan ia berseru:

"Betulkah tempat itu adalah daerah terlarang yang tidak memperkenankan siapapun memasukinya?"

"Ehmm !" Ci Peng mengiakan: "Dia adalah seorang anak gadis, mana tak pandai ilmu

silat lagi, masakah orang di sans akan membunuhnya?"

"Tempat itu bukan alam manusia, mana mungkin ada manusia yang bisa hidup segar bugar di situ?"

Cian-cian menjadi amat gelisah, peluh dingin bercucuran pula membasahi sekujur tubuhnya. "Kalau memang di situ bukan alam manusia, mana mungkin ia bisa mati dibunuh?"

"Jika seoraug manusia telah tiba di tempat yang bukan alam manusia, mana mungkin dia tak akan mati.”

Malam semakin gelap, bukit yang terjal dan mengerikan ternyata bukan alam kahidupan manusia.

Selangkah demi selangkah Hong-nio berjalan menelusuri kegelapan, akhirnya ia telah lenyap dibalik kegelapan yang mencekam seluruh jagat itu . . .

Meskipup paras muka Ci Peng tetap tenang, tanpa emosi, namun kelopak matanya telah berkaca-kaca, seakan-akan ia menyaksikan tubuh si gadis yang lemah lembut itu sudah terjatuh ke dalam jurang yang tiadataradalamnya itu, tapi apa lacur ia justru tak mampu menyelamatkan jiwanya . . . .

Tiba-tiba Cian-cian bertanya:

"Apakah kau merasa bersedih hati bagi keselamatan jiwanya yang terancam ?"

"Ehmm !" Ci Peng tidak menjawab apa-apa cuma mengiakan.

"Seandainya aku yang pergi ke sana sekarang, sudah pasti takkan ada orang yang merasakan sedih bagi nasibku yacg buruk, sebab aku tidak lebih hanya seorang gadis yang binal, tak tahu aturan dan tak kenal baik buruknya manusia, tentu saja mati hidupnya tak akan diperhatikan pula oleh orang lain."

Ci Peng tidak menjawab, walau hanya sepatah katapun. “Sebaliknya dia lemah lembut, berhati welas, cantik lagi, setiap pria yang bertemu dengannya pasti akan senang kepadanya dan terpesona oleh kelembutan hatinya.”

Setelah tertawa dingin, ia meneruskan lagi.

“Bahkan manusia she Tong yang buas, kasar dan tak kenal peri kemanusiaan pun menyukainya, aku dapa tmenyaksikan kesemuanya itu dengan amat jelasnya!”

Lama kelamaan Ci Peng tidak tahan juga katanya kemudian:

“Orang lain menyukainya karena ia baik berbudi pekerti dan lemah lembut hatinya, terlepas apakah dia cantik wajahnya atau jelek sekalipun...!”

“Betul, dia memang sangat baik budi pekertinya, lemah lembut perasaannya, sedang aku berhati busuk, dengki dan jahat, aku tak dapat menarik tangan orang lain sambil sengaja memperlihatkan sikapnya yang hangat dan lemah lembut, aku... aku...”

Makin berbicara suaranya semakin parau dan sesenggukan, tanpa disadari air matanya seperti bendungan yang jebol mengucur ke luar dengan amat derasnya.

Padahal ia sendiripun tahu bahwa tidak seharunya dia sebagai seorang anak gadis mengucapkan kata kata seperti itu, siapa pula yang mengatakan bahwa ia tidak bersedih hati?

Begitulah, diakala ia sedang merasa sedih dan kesal oleh perasaan dengki yang muncul secara membingungkan dalam hati kecilnya itu, tiba tiba ia saksikan ada sesosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa sedang bergerak emnuju kearah mereka.

Itulah sesosok bayangan putih yang amat samar, seakan akan seorang manusia, seorang manusia yang amat kecil.

Andaikata bayangan tersebut adalah sesosok bayangan manusia, maka orang itu sudah pasti adalah seorang bocah cilik.

Tapi mengapa seorang bocah cilik bisa terbang? Kalau tidak terbang, kenapa ia bisa bergerak dengan kecepatan yang luar biasa?

Sementara ia masih kaget bercampur keheranan, tiba tia pinggannya menjadi kaku dan selapi kegelapan menutupi matanya.

Seketika itu juga ia merasa seakan-akan sudah sepuluh tahun lebih tak pernah tidur, ia merasa mengantuk sekali, matanya menjadi berat dan tak sanggup dipentangkan kembali ia betul- betul ingin tidur.

Akhirnya ia benar-benar tertidur.

***** ADASETAN

SINAR matahari berwarna keemas-emasan memancar masuk lewat jendela. Sinar itu menyorot di atas sebuah meja yang berkilat bagaikan sebuah cermin.

Semua barang yang berada di ruangan itu sama dengan meja tersebut, bersih, mengkilap dan sedikitpun tidak berdebu.

Ketika mendusin dari pingsannya, Cian-cian sudah berada dalam ruang tersebut.

Padahal dengan jelas ia merasa bahwa dirinya berada di atas sebuah bukit gersang yang gelap dan dingin, mengapa tahu-tahu sudah berada di sini ?

Jangan-jangan ia lagi bermimpi ?

Tapi ia bukan sedang bermimpi, ia benar-benar berada dalam keadaan sadar, diapun menyaksikan pula Ci Peng berada disana.

Sebenarnya Ci Peng sedang memandang ke arahnya, menanti gadis itu memandang pula ke arahnya, cepat-cepat ia menghindari tatapan sinar matanya itu. Ia memandang sekuntum bunga kuning yang berada di atas daun jendela . . .

Bunga kuning itu sedang mekar.

Kamar tidur Hong-nio selalu bersih tak berdebu, di atas jendela selalu pula terletak sekuntum bunga kuning seperti itu.

Tapi tempat ini bukan kamar Hong-nio. "Di mana Hong-nio?"

Ci Peng tidak menjawab, tapi di balik sinar matanya justru terselip rasa sedihnya yang tak dapat diketahui oleh siapapun .

. . . Kenapa kita bisa sampai di sini? Di manakah kita berada? Cian-cian tidak bertanya, semua persoalan semacam itu tidak penting baginya.

Ia tidak pernah melupakan perkataan dari Ci Peng, iapun tak pernah melupakan mimik wajah Tong Bong menjelang kematiannya.

Ia harus pergi mencari Hong-nio, entah tempat itu adalah alam manusia atau bukan. Tapi sebelum dia pergi, Hong nio telah muncul di hadapannya. oo0oo

"Baru saja aku mencapai tebing curam itu, kusaksikan ada sesosok bayangan putih kecil meluncur kearahku, kemudian kudengar ada seseorang berkata kepadaku : “Orang yang kau cari tidak berada di sini," kemudian secara tiba-tiba saja aku merasa mengantuk sekali dan tertidur nyenyak."

"Ketika mendusin tadi, kau telah berada di sini?" tanya Cian-cian.

Hong-nio mengangguk, sorot matanya penuh diliputi perasaan bingung dan tidak habis mengerti.

"Sesungguhnya tempat apakah ini?" ia berbisik.

"Siapapun tak ada yang tahu, tempat macam apakah di sini."

Terlepas tempat apakahsana, yang pasti tempat itu boleh dibilang merupakan sebuah tempat baik.

Di luar jendela terdapat sebuah halaman kecil, sinar matahari yang berwarna keemas-emasan sedang menyoroti kuntum bunga kuning ;yang sedang mekar itu.

Di luar rumah aneka bunga tumbuh subur, di luar pagar bambu adalah sebuah gunung gunungan dengan kolam ikan yang memelihara beberapa puluh ekor ikan leihi, di bawah wuwungan rumah bergelantungan sangkar burung nuri yang menyanyikan irama merdu.

Rumah itu cukup besar, perabotnya meski sederhana tapi amat bersih, selain ada kamar baca, kamar makan ada pula tiga buah kamar tidur, bahkan seprei di atas pembaringanpun tampak masih bersih.

Di belakang ada dapur, dalam dapur tersedia segentong penuh beras, di atas rak kayu tergantung pula segala macam daging babi, daging sapi, ikan asin dan ayam.

Paling belakangsanamerupakan sebuah kebun sayur yang menanam sayur putih, kedelai, kacang kapri serta lobak yang besarnya setangan bocah cilik.

Tak bisa disangkal tempat itu merupakan rumah tinggal seorang hartawan yang sedang menyepi, atau paling tidak merupakan rumah kediaman seorang jago silat yang telah mengasingkan diri dari keramaian dunia.

Setiap barang kebutuhan sehari-hari yang dapat kau pikirkan, dapat dijumpai dengan komplit disana, apa yang kau inginkan bisa segera didapatkan di situ. Tapi di tempat itu justru tak ada orang. Mungkin tuan rumah sedang pergi keluar?" tapi sekalipun mereka sudah menunggu lama sekali, belum juga kelihatan bayangan tubuh dari tuan rumahnya.

"Sebenarnya manusia-manusia macam apa yang tinggal dalam wilayah Hui-jin kian?" Cian- cian bertanya..

Jawaban Ci Peng masih juga jawaban yang semula: "Kalau sudah tahu tenpat ini Hui-jin kian (bukan alam manusia), dari mana datangnya manusia?"

Sekarang bahkan Ci Peng sendiripun tahu bahwa orang lain pasti dapat mengetahui, bahwa ia sedang menyimpan. suatu rahasia.

Ia telah bertekad, bagaimanapun juga rahasia tersebut tak akan dia utarakan.

Sebab siapapun yang mengetahui rahasia ini, hal tersebut tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa baginya.

Kata Ciao cian: "Mereka adalah manusia juga boleh, setan juga tak mengapa, kalau toh mereka telah menghantar kita ke mari, maka kita boleh saja tinggal di sini dengan tenang.”

Kenapa kita musti tinggal di sini terus menerus?.

"Sebab walaupun Bu-ki tidak berada di Hui jin-kian, sudah pasti ia masih berada di bukit Kiu- hoa-san, asal kita selalu sabar maka cepat atau lambat kita pasti akan berhasil mendapatkan kabar beritanya!" demikian Hong-nio menyahut.

Ia jarang sekali mengemukakan pendapat-nya, tapi pendapat yang dia ungkapkan selalu jarang dibantah orang.

Walaupun Ci Peng tak ingin tinggal di situ, mau tak mau ia musti menutup mulutnya rapat- rapat.

Untung saja kamar tidur di rumah itu terdiri dari tiga bilik, mereka setiap orang dapat menempati sebuah kamar yang tersendiri, atau mungkin kamar-kamar itu memang secara khusus disediakan untuk mereka?

Cian-cian selalu riang gembira bagaikan seorang anak kecil, sesungguhnya ia selalu kuatir kalau tidak menemukan tempat yang baik di atas bukit sebagai tempat tinggal, sungguh tak disangka secara tiba-tiba saja dari langit muncul sebuah tempat nyaman seperti ini.

Pada hakekatnya kejadian tersebut adalah suatu kejadian yang menyenangkan, seperti anak- anak kecil sedang bermain "Kee-kee- ciu." Bahkan Hong-nio sendiripun ikut membuang jauh-jauh kerisauan hatinya, ia berkata: Mulai hari ini, menanak nasi memasak sayur adalah pekerjaanku!"

Mencuci pakaian, mencuci mangkuk adalah pekerjaanku!" sambung Cian-cian tak kalah gembira-nya.

Mau tak mau Ci Peng mesti mengepos semangat sambil menambahkan: "Dan tugasku adalah memotong kayu bakar dan mengambil air!"

Di sebelah kiri rumah di belakang bukit terdapat sebuah sumber mata air, di atas bukit merupa-kan sebuah kebun buah dengan aneka macam buah yang sudah masak, buah pear yang kecut, buah Tho yang manis dan banyak airnya merupakan buah-buah kesukaan para gadis remaja.

Hampir seluruh kebutuhan manusia yang diperlukan sehari-harinya dapat diperoleh di tempat itu, sayang diantara semua barang yang serba komplit masih kekurangan sebuah benda.

Ternyata tempat itu tak ada lampu.

Bukan saja tak ada lampu, malah lilin, lentera, obor, batu api dan lampu tengtengan pun tak ada, pokoknya semua benda yang berhubungan dengan api dan lampu tak akan dijumpai di situ.

Kalau bukan tuan rumah di sana terlalu awal sudah pergi tidur, maka satu-satunya kemungkinan adalah ia tak pernah pulang ke rumah di malam hari.

masih untung di dapur tersedia korek api untuk menanak nasi, Ci Peng segera membuat api dan Hong-nio memasak daging ayam dan sebaskom besar kacang kapri yang baru dipetik, lalu menanak pula sebakul penuh nasi putih.

Cian-cian menuang piring kecil dengan minyak babi lalu mencari seutas tali sebagai sumbu dan menyulutnya sebagai pengganti lampu.

Sambil tertawa bangga ia berkata:

Dengan lampu kecil ini paling tidak kita tak sampai keliru menghantar nasi ke dalam hidung "

"Pemandangan di luar rumah sangat indah, kalau kita biar mendapatkan beberapa buah lampu lentera yang terbuat dari kaca, tentu pemandangannya jauh lebih indah lagi," kata Hong-nio. Ia memang selalu menyukai hal-hal yang indah, ia selalu merasa bahwa dalam rumah kecil yang ada di bukit dengan kebun yarg indah akan terasa lebih syahdu jika diterangi oleh lentera-lentera kaca yang indah . . . .

Tapi diapun tahu bahwa di tempat semacam ini jangan harap bisa memperoleh lampu lentera seindah itu.

Maka sore-sore mereka telah pergi tidur, mereka berharap keesokan harinya dapat pergi menjelajahi sekeliling bukit untuk mencari kabar berita tentang Bu-ki.

Malam itu Hong-nio menulis kembali buku hariannya di bawah penerangan lentera kecil yang terbuat dari piring minyak, dalam hati kecilnya ia masih mengharapkan lampu lentera semacam itu.

Keesokan harinya, ia bangun paling pagi.

Ketika ia membuka pintu, terlihatlah belasan buah lampu lentera yang indah tertera api di depan pintu, lentera itu semuanya terbuat dari kaca dan memantulkan sinar tajam di bawah sorotan sang surya.

*****

“Siapa yang mengantar lampu lampu lentera itu ke mari?”

“Darimana dia bisa tahu kalau kau menginginkan lampu lampu lentera semacam ini?” Hong nio tak mampu menjawab.

Memandang lentera lentera sebanyak itu, ia termangu untuk beberapa waktu lamanya, kemudian sambil tertawa getir katanya:

“Padahal aku sama sekali tidak menginginkan sebanyak ini, asal setiap ruangan ada sebuah itu sudah lebih dari cukup, sebab terlalu banyak malah merepotkan saja”

Kemudian mereka ke luar rumah untuk mencari jejak Bu Ki, menanti ketiga orang itu kembali lagi kesitu, ternyata dari sepuluh buah lentera yang semula berada di situ, kini tinggal lima buah saja.

Menyaksikan kenyataan tersebut, semua orang merasa tertegun, mereka merasa seakan akan ada segulung hawa dingin yang menyusup masuk lewat telapak kainya danlangsung menerjang naik ke dalam tubuh.

... Benarkah ada seseorang yang bersembunyi di dalam rumah dan selalu mendengar pembicaraan mereka? Meskipun di mulut mereka tidak membicarakannya, tapi begitulah yang dipirkan di dalam hati.

Maka mereka mulai mengadakan pencarian secara besar besaran, setiap sudut ruangan diperiksa dengan seksama, bahkan di kolong ranjang, di dalam peti, di atas wuwungan rumah, di balik lubung dapur mereka periksa dengan teliti, tapi hasilnya tetap nihil, tak sesosok bayangan manusiapun yang ditemukan.

Tangan dan kaki Cian-cian mulai menjadi dingin, tiba tiba ia berkata dengan lirih: “Kalian tahu apa yang sedang kupikirkan sekarang?”

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Hong nio.

“Aku menginginkan sebuah boneka dari tanah liat!”

Kemudian ia bertanya kepada Hong nio:

“Dan kau? Hari ini apa yang kau inginkan?”

“Boneka tanah liat mudah pecah kalau jatuh, aku menginginkan boneka dari kain.” “Boneka kain mudah robek, bukankah boneka dari kayu jauh lebih indah dan kuat?” sela Ci Peng.

“Apakah kau menginginkan boneka kayu?" Cian-cian berseru. "Aku menginginkan kedua duanya!" jawab Ci Peng

*****

Malam itu sebelum berangkat tidur sekali lagi mereka memeriksa setiap sudut rumah dengan teliti dan seksama, setelah yakin bahwa di sekitar tempat itu tiada orang yang bersembunyi, mereka baru mengunci baik-baik semua pintu dan jendela kemudian baru pergi- tidur.

Malam ini tidur mereka tidak nyenyak.

Keesokan harinya, ketika mereka membuka pintu, di luar pintu tak ada boneka tanah liat, tidak ada pula boneka kayu.

Tapi di luar pintu sana terdapat sebuah boneka kain, sebuah boneka kain yang besar sekali.

Kontan saja Cian-cian melotot besar-besar ke arah Hong-nio. Hong nio sendiri walaupun merasa tertegun, namun diapun tahu apa yang sedang dipikirkan gadis tersebut.

….. Apapun yang diinginkan orang lain agaknya sama sekali tidak diperhatikan oleh orang itu, tapi apa yang diminta Hong-nio segera diberikan dengan cepat.

. . . Mungkinkah dia adalah sahabatnya Hong-nio?

. . . Sesungguhnya "sahabat" macam apakah dia? Kenapa tak berani memperlihatkan diri? Hong-nio sendiripun tak sanggup untuk menerangkan persoalan itu, karena ia sendiri juga tidak habis mengerti.

Jangankan sahabat, seorang kenalanpun tidak ia miliki di tempat itu.

Sepasang biji mata Cian-cian segera berputar kian ke mari, kemudian tiba-tiba ia berkata:

"Aku sudah bosan makan hidangan masakanmu, sekarang aku ingin mencicipi masakan yang lain !"

"Kau ingin makan apa?" Hong nio segera bertanya.

"Aku ingio makan Ti tie masak kecap dan daging sapi masak kecap dari Gi hoa cay serta bakpao daging dari Gu put li !"

Hidangan yang disebutkan itu adalah hidangan-hidangan kenamaan dari ibukota.

Gi hoa cay terletak dikotasebelah barat, konon kuali yang dipakai untuk masak kecap daging sudah ada dua tiga ratus tahun tak pernah berhenti, daging kecap yang mereka jualpun mempunyai ciri khusus, asal masuk mulut maka orang dapat membedakan rasanya.

Gu put li terletak di Gang Soat say kang, bakpao yang mereka buat tak dapat ditandingi oleh siapapun.

Padahal jarak antara tempat itu dengan ibukotamencapai beberapa ribu li, sekalipun burung yang terbang di angkasa pun tak nanti bisa pulang pergi dalam setengah hari.

Hong nio tahu, rupanya Cian-cian sengaja hendak mengajukan persoalan yang sulit untuk mencoba orang itu, maka ia segera menyahut:

“Bagus sekali, malam ini akupun ingin masakan tersebut !” Cian-cian masih tidak lega hati, sekali lagi dia bertanya:

“Kau ingin makan apa?"

Sepatah demi sepatah kata Hong nio menjawab:

"Aku ingin makan Titie masak kecap dan daging sapi masak kecap dari Gi Hoa cay di ibukotaserta bakpao daging dari Gu put li !"

Hari itu kembali mereka ke luar rumah untuk melakukan pencarian, sekali pun demikian di hati mereka hanya selalu memikirkan daging masak kecap serta bakpao daging. Sekalipun orang itu memiliki kepandaian yang luar biasa, jangan harap bisa barangkat ke ibukotauntuk membeli barang-barang semacam itu dan kembali setengah harian kemudian.

Cian-cian tertawa dingin di dalam hati, pikirannya:

"Heeehh . . . heeehhh. heeehhh . . aku ingin melihat apakah selanjutnya kau masih punya

muka untuk melanjutkan permainan ini?"

Sebelum matahari terbenam, mereka telah buru-buru pulang ke rumah.

Benar juga, di atas meja telah siap sepiring besar Titie masak kecap, sepiring daging sapi masak kecap dan dua puluh biji bakpao yang masih panas.

Kalau hanya begini saja masih tidak termasuk aneh.

Yang lebih aneh lagi, ternyata daging kecap itu benar-benar membawa ciri khas masakan Gi- hoa-cay, kalau dimakan maka akan terasalah minyak kecap yang sudah berumur lama itu.

Yang lain mungkin bisa palsu, tapi kalau dalam hal ini tak mungkin bisa ditiru lagi.

Ci Peng gemar pula makan daging kecap macam begini, tapi ketika memakannya sekarang, ia tak tahu bagaimanakah rasa sebenarnya.

Sekali lagi Cian cian melotot ke arah Hong nio, kemudian sambil tertawa dingin sindirnya: “Heeehhh...heeehhh...heeehhh. tampaknya kepandaian yang dimiliki sahabatmu itu betul

betul luar biasa sekali”

Hong nio tidak menyalahkannya.

Peristiwa ini memang terlalu aneh, memang sepantasnya kalau orang akan merasa curiga kepadanya.

“Siapa sih temanmu itu?” tanya Cian cian,

“Kalau toh sudah datang, kenapa tidak tampilkan diri untuk makan bersama kamu?”

Sengaja ia memperlihatkan tertawanya yang amat riang, terusnya:

“Bagaimanapun juga, makanan ini kan sengaja ia beli dari tempat yang sangat jauh. ”

“Jauh sekali?” tiba tiba Ci Peng bertanya. “Yaa, jauh sekali!”

“Dapatkah kau pergi ke tempat yang begitu jauhnya untuk membeli hidangan hidangan tersebut kemudian kembali lagi ke sini dalam setengah harian saja?”

“Tentu saja aku tidak mampu!” “Pernahkah kau bayangkan manusia macam apakah di dunia ini yang sanggup berangkat ke ibu kota untuk membeli hidangan hidangan tersebut kemudian balik lagi kemari hanya dalam waktu setengah harian saja”

“Aku tidak dapat membayangkannya!”

“Aku sendiripun tak dapat membayangkan!” kata Ci Peng dengan cepat,

“Sebab pada hakekatnya tak ada seorang manusiapun di dunia ini yang sanggup melakukan perbuatan tersebut!”

“Tapi, bukankah semua hidangan yang kita minta sudah tertera didepan mata sekarang?”

Ci Peng segera menghela napas panjang.

“Aaaai aku toh hanya mengatakan bahwa tiada “manusia” di dunia ini yang sanggup

melakukan pekerjaan itu!” katanya.

Sengaja kata `manusia" diucapkan dengan tekanan yang lebih keras. Tiba tiba Cian-cian merasa ada hawa yang dingin yang menerobos masuk lewat dasar telapak kakinya.

"Maksudmu di sini ada setannya ? ia menjerit.

*****

PEMILIK RUMAH SETAN

SETAN dapat mengikuti semua pembicaraanmu, sekalipun suara pembicaraanmu amat lirih dan kecil, setan tetap dapat mendengarnya.

Tapi sebaliknya kau tak akan mampu mendengar suara pembicaraan setan.

Setan dapat pula menyaksikan dirimu, memperhatikan semua gerak gerikmu dan mengikuti semua perbuatanmu, sekalipun berada ditengah kegelapan diapun melihat dengan jelas.

Tapi kau tak dapat melihat setan, sekalipun setan berada di sampingmu, kau toh tetap tak dapat melihatnya.

Setan tak membutuhkan lampu. Semua barang kebutuhan tersedia di rumah itu, hanya lampu yang tak dimiliki.

Setan pun bisa menempuh perjalanan sejauh ribuan li dalam waktu singkat, tapi kau harus menempuh perjalanan selama tiga hari tiga malam untuk bisa mencapainya.

Mungkinkah "teman" Hong nio bukan manusia melainkan setan? Benarkah rumah itu adalah sebuah rumah setan?

oo0oo Malam telah tiba, bintang bertaburan memenuhi angkasa, air telaga yang jernih di bawah timpaan sinar bintang memantulkan sinar perak yang memanjang seperti sebuah ikat pinggang berwarna perak.

Menelusuri sumber air itu Hong nio pelan-pelan bergerak maju ke depan.

ia merasa tak dapat tidur, hatinya amat gundah, bukan saja kesal mana takut lagi, takutnya setengah mati.

Ia sama sekali tidak takut dengan setan.. Andaikata penghuni rumah itu benar-benar adalah setan, kalau toh ia baik kepadanya, diapun tak perlu takut kepadanya.

Sejak kecil ia tak pernah takut dengan setan, ia selalu merasa ada sementara orang justru lebih menakutkan dari pada setan.

Perduli apakah dia manusia atau setan, asal ia betul-betul sangat baik kepadanya, ia tetap merasa amat berterima kasih

Ia menjadi takut, karena secara tiba-tiba ia teringat akan diri Bu-ki . . . . .

Walaupun di dunia ini sungguh-sunggub terdapat sukma gentayangan, hanya sukma gentayangan dari Bu ki yang akan bersikap demikian baik kepadanya. "

Betulkah Bu ki sudah mati? Benarkah setan itu adalah sukma gentayangan dari Bu ki?"

Ia tak berani berpikir lebih lanjut, iapun tak berani mengungkap masalah tersebut di hadapan Cian-cian, ia telah merasakan bahwa antara mereka berdua sesungguhnya ada suatu selisih jarak.

Mungkin hal ini disebabkan karena sesungguhnya mereka bukan seorang sahabat yang akrab, mereka mempunyai hubungan satu sama lainnya karena Bu-ki lah yang menghubungkan tali perhubungan tersebut.

Cian-cian memang tak pernah memahami perasaan hatinya, diapun tak pernah mempercayai-nya,kalau diantara mereka sudah tak dapat saling memahami, mana mungkin bisa saling mem-percayai?"

Ujung dari sumber mata air itu adalah sebuah telaga kecil. Sekeliling telaga penuh tumbuh pepohonan siong yang amat besar dan rindang, selain itu tumbuh pula aneka macam bunga liar yang menyiarkan bau harum semerbak.

Di atas langit penuh tersebar beribu ribu bintang, di atas permukaan telaga memantulkan pula cahaya bintang. Tak tahan ia berjongkok di tepi telaga, mendayung segenggam air dan membasuh tangannya.

Penyerapan sinar matahari sepanjang siang membuat suhu air dalam telaga itu begitu sejuk, begitu lembut dan hangat .

Dibelakang bukit desa kelahirannya dulu, terdapat pula sebuah telaga sebesar telaga ini.

Sewaktu masih kecil dulu seringkali di tengah malam buta ia lari ke telaga dan berenang sepuasnya.

Sebenarnya ia memang seorang bocah perempuan yang nakal, hanya saja selama ini ia selalu mengekang kebinalan serta kebebasannya.

Sekarang, tanpa disadari terbayang kembali kenangannya dikala masih kecil dulu, saat saat kehidupannya yang paling bebas, paling senang dan tidak terikat oleh segala batas batas ketentuan.

Tak tahan lagi, ia mulai bertanya pada diri sendiri:

“Seandainya waktu bisa berulang kembali, dapatkah aku hidup sebebas dulu lagi?” Mendadak dalam hati kecilnya muncul suatu dorongan yang amat misterius...

Seandainya seorang dapat membuang semua pikiran dan perasaannya yang mencekam perasaannya untuk sementara waktu, lalu mengenag kembalai kenangan indahnya dikala masih kanak kanak dulu, maka jalan pikiran semacam itu bagi siapapun akan merupakan suatu daya pancingan yang sukar dilawan.

Denyut jantungnya berdebar keras, makin lama berdebar semakin cepat...

Sudah terlalu lama ia mengenang diri sendiri, ia merasa sudah sewajarnya kalau saat ini ia mendorongkan sedikit seluruh perasaannya.

Malam yang sepi terasa begitu syahdu, bukit yang hening menambah mesranya suasana ditambah lagi air telaga yang begitu sejuk, begitu hangat dan merangsang hati...

Akhirnya tak tahan lagi dengan tangan yang gemetar ia mulai melepaskan kancing kancing bajunya...

*****

Mungkin karena diusia mudanya dulu ia pernah mengalami suatu kehidupan yang bebas tanpa ikatan, maka perkembangan tubuhnya pun amat indah dan mempesona.

Kakinya yang panjang dan ramping kelihatan amat kencang, payudaranya mesti tidak terhitung besar tapi montok dan padat berisi, hanya saja lantaran sudah terlalu lama tak pernah kena matahari maka tampak sedikit pucat dan lembek, apalagi lekukan tubuhnya yang tinggi semampai dengan lekukan lekukannya yang indah, membuat gadis itu tampak semakin mempesona dalam keadaan bugil seperti sekarang ini.

Potong badang semacam ini justru merupakan potongan badang yang paling ideal dan pantas dibanggakan olehnya, belum pernah ada orang kedua yang pernah menyaksikan lekukan tubuhnya itu, bahkan ia sendiripun jarang sekali menikmatinya.

Setiap kali ia memandang tubuh sendiri yang padat dan indah, jantungnya selalu terasa berdebar keras.

Dengan cepatnya ia telah menyelam kedalam air, membiarkan air telaga yang segar serta kenangan dimasa kanak kanak dulu memeluk dan membuai tubuhnya.

Pada saat beginilah, tiba tiba ia merasa seperti ada sepasang mata sedang memperhatikannya.

Itulah sepasang mata yang besar dengan sorot mata yang tajam, mata itu bersembunyi di balik semak belukar yang lebar dan sedang mengawasinya tanpa berkedip, sorot mata itu penuh disertai rasa kaget, girang dan suatau perasaaan kagum yang disertai dengan kobaran napsu birahi.

Dengan cepat gadis itu merasa sekujur tubuhnya menjadi dingin dan kaku, cepat cepat ia melindungi tubuh bagian terlarangnya denga sepasang tangan sementara badannya cepat cepat menyelam ke dalam air.

Ketika ia muncul kembali diatas permukaan air untuk ganti napas, ternyata sepasang mata itu masih menatap terus kearahnya, bahkan sedang tertawa terkekeh kekeh.

Ia tidak menjerit.

Ia tidak berani memanggil Cian cian serta Ci Peng, ia hanya membenci pada diri sendiri, membenci diri sendiri kenapa bertindak kurang hati hati.

Padahal dengan sangat berhati hati ia telah memeriksa sekeliling tempat itu, sesungguhnya diatas bukit yang sunyi dan malam yang sepi tak mungkin ada manusia yang datang ke sana.

Tiba tiba orang itu tertawa lalu berkata:

“Haahhh...haahhh...haahhh...kau tidak menyangka kalau di sini masih ada orang lain, bukan?” Hong nio menutup mulutnya rapat rapt.

Ia benar benar tak tahu bagaimana harus menjawab, dia cuma berharap agar orang itu adalah seorang lelaki sejati dan segera meninggalkan tempat itu. Rupanya orang itu bukan seorang lelaki sejati, bukan saja ia tidak bermaksud untuk pergi dari situ, malahan dengan cekatan tubuhnya melompat ke luar dari semak belukar.

Dia adalah seorang pemuda yang gagah dan kekar, bajunya adalah pakaian ringkas berwarna kuning telur, bukan saja mukanya ganteng, badannya kekar, bertenaga besar lagi.

Perasaan Hong-nio makin tercekat, jantungnya berdebar makin keras, ia benar-benar ketakutan setengah mati.

Pemuda semacam itu adalah pemuda berdarah panas, apalagi di tempat yang begini sepi tanpa orang ketiga, mustahil kalau dia akan membuang kesempatan, sebaik ini untuk melepaskan birahinya.

Menyaksikan rasa kaget, takut dan ngeri yang menghiasi wajah gadis itu, pemuda tersebut tertawa semakin riang, katanya:

"Aku sendiripun tidak menyangka kalau aku bakal mempunyai rejeki sebaik ini."

Untung permukaan air sangat gelap, dia tak dapat melihat tubuh bagian bawahnya yang tersembunyi di dalam air, tapi celakanya ternyata pemuda itu mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu .

Jangan-jangan diapun hendak terjun pula ke dalam air?

Sebelum dia melompat ke air. Hong-nio sudah menjerit dengan perasaan takut. "Tidak boleh?"

Orang itu sengaja mengerdipkan matanya berulang kali. "Tidak boleh apa?" tanyanya pura pura tidak mengerti "Kau kau tidak boleh turun ke air."

Orang itu segera tertawa.

"Telaga ini toh bukan milikmu seorang, mengapa aku tak boleh turun ke air?"

Ia tidak buru-buru terjun ke air, perbuatannya sekarang ibaratnya seekor kucing sedang mempermainkan tikus tangkapannya, ia tidak terlalu buru-buru untuk menelannya.

Pemuda itu masih bermaksud untuk menggodanya dan mempermainkannya sepuas mungkin. Hong-nio sudah tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, ia mulai berteriak-teriak. Sambil tertawa orang itu segera berkata:

"Sampai pecahpun tenggorokanmu berteriak jangan harap ada orang yang bakal muncul di sini , hayo berteriaklah terus! Di tempat semacam ini yang ada hanya setan, jangan harap

kau temui manusia!"

Maksud pemuda itu sebenarnya hendak menakut-nakuti dara tersebut, tapi teriakannya itu justru mengingatkan Hong-nio kepada "temannya."

Mendadak ia teringat dengan "setan" yang selalu memenuhi apa yang diharapkan itu, segera teriaknya dengan suara lantang:

"Tahukah kau, apa yang kuinginkan sekarang?" "Apakah menginginkan diriku?"

Sambil menggigit bibir teriak Hong nio:

"Aku hanya menginginkan kau menjadi seorang buta!"

Baru selesai perkataan itu, mendadak dari balik kegelapan menyambar lewat serentetan cahaya yang lebih cepat dari pada sambaran kilat.

Seketika itu juga sepasang matanya yang jeli dan tajam segera berubah menjadi dua buah lubang hitam yang penuh berlepotan darah kental ”

Agaknya ia masih belum tahu apa gerangan yang telah terjadi, setelah tertegun sejenak, wajahnya baru menunjukkan perasaan ngeri bercampur takut, ia mulai menjerit kesakitan dengan suara yang menyayatkan hati, sambil menutupi mukanya ia lari dari situ, tapi kepalanya segera menumbuk di atas dahan pohon dan terjungkal, cepat-cepat ia merangkak bangun lagi dan lari terbirit birit dari situ.

Hong-nio sendiripun merasa terkejut karena ngeri dan ketakutan.

Cahaya tajam yang menyambar lewat bagaikan sinar petir itu munculnya sangat tiba-tiba tapi perginya pun di luar dugaan.