Harimau Kemala Putih Jilid 08

Jilid 08  

SENJATA rahasia sisa yang merupakan bekas-bekas yang tak bisa dipakai oleh anak cucu keluarga Tong pun sudah memberikan ancaman yang begini menakutkan, tiga orang manusia kurcaci yang tidak mempunyai kedudukan dalam keluarga Tong pun sudah hampir merenggut nyawanya, bisa dibayangkan betapa mengerikannya anak cucu keluarga Tong sendiri.

Setiap kali teringat akan persoalan itu, dia mulai merasa sedih dan bersusah hati.

Kini keluarga Tong telah bersekongkol dengan pihak Pek leng tong, diantara pengiring Sangkoan Jin terdapat pula orang orang keluarga Tong . . .

Mungkinkah diantara mereka sudah terikat persekongkolan rahasia? Mungkinkah Sangkoan Jin telah bersembunyi di gedung keluarga Tong?

Tentu saja ia tak dapat melakukan penggeledahan di rumahnya keluarga Tong, ia sama sekali tidak mempunyai bukti, apa lagi sekalipun dia mempunyai bukti juga tak mungkin pergi mencari nya.

Berbicara dari ilmu silat yang dimiliki sekarang, jangankan melakukan penggele-dahan, untuk memasuki pintu gerbang keluarga Tong pun belum tentu mampu.

Teringat sampai di situ, ia merasakan sekujur badannya menjadi dingin karena basah oleh peluh.

Dia cuma berharap Samwan Kong bisa menemukan jejak Sangkoan Jin yang sebenarnya, agar ia dapat menyusun rencana yang bagus untuk menyusup ke dalam gedung keluarga Tong serta berusaha melakukan sergapan.

Dendam sakit hatinya tak mungkin bisa di balas hanya mengandalkan keberanian serta semangat yang berkobar-kobar saja.

Di situ ada arak, arak yang sangat wangi.

Orang yang baru menderita luka tak boleh minum arak, orang yang gemar berjudi tak boleh terlampau suka minum arak, seorang diri minum arak lebih lebih tidak menarik hati lagi.

Maka arak yang tersedia hampir tak pernah disentuh oleh siapapun. Bu-ki memenuhi cawan araknya dengan air teh, kemudian sambil di angkat ke hadapan Samwan Kong ia berkata:

"Kali ini kugunakan air teh sebagai pengganti arak untuk menghormatimu, lain kali aku pasti akan menggunakan arak sungguhan untuk menemanimu minum sampai puas"

"Asal lewat dua tiga hari lagi, kau boleh minum arak sungguhan," kata Samwan Kong. "Aku tak bisa mengendon terlalu lama di sini!" "Hei, kau buru-buru hendak pergi? Ataukah buru-buru hendak mengusirku pergi untuk mencarikan jejak orang yang sedang kau cari?"

“Kedua-duanya perlu segera kulakukan!" "Kau buru-buru hendak ke mana?*

"Aku harus pergi ke bukit Kiu-hoa-san, menunggu orang datang mencariku . . . !"

*Menunggu siapa?”

"Aku tidak mengetahui namanya, tidak mengetahui pula asal-usulnya, tapi aku tahu, jika di dunia ini masih ada orang yang mampu memecahkan kelihayan keluarga Tong, maka orang itu pasti dia!"

"Dengan cara apa ia sanggup memecahkan kelihayan orang-orang keluarga Tong?* "Dengan pedangnya!"

Samwan Kong segera tertawa dingin.

"Pernahkah kau saksikan ilmu Boan thian hoa yu (seluruh langit penuh dengan air hujan) kepandaian melepaskan sen ata rahasia yang paling tangguh dari keluarga Tong?"

Bu-ki tak pernah menyaksikan, tapi ia pernah mendengar.

Konon, jika kepandaian tersebut telah dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan, dalam waktu yang hampir bersamaan sepasang tangannya bisa melancarkan enampuluh empat macam senjata rahasia, yang secara bersamaan pula mengancam enam puluh empat buah jalan darah penting di tubuh seseorang.

Dalam keadaan demikian, kendatipun kau berusaha berkelit ke arah manapun, jangan harap bisa lolos dari ancaman senjata rahasia tersebut.

"Kecuali dia seorang mempunyai sepuluh buah tangan dengan sepuluh bilah pedang, kalau tidak jangan harap kepandaian Boan-thian-hoa yu dari keluarga Tong dapat kau pecahkann demikian Samwan Kong berkata"

"Dia hanya mempunyai sepasang tangan dengan sebilah pedang, tapi sudah lebih dari cukup untuk mengatasi kepandaian itu," Bu-ki kembali menegaskan dengan penuh keyakinan.

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Samwan Kong, agaknya iapun telah menduga siapa gerangan manusia yang dimaksudkan itu. Setelah hening sejenak, kembali Bu-ki berkata:

"Kecepatan gerak dari ilmu pedangnya aku jamin belum pernah kau saksikan atau me dengar sebelumnya.!”

Samwan Kong sengaja tertawa dingin.

“Heehhh . . . heeehhh . . . heeehhh sekalipun ilmu pedangnya benar-benar sangat cepat,

sekalipun jurus-jurus pedangnya cukup mampu untuk mengatasi ilmu Boan thian hoa yu dari keluarga Tong, belum tentu dia akan mewariskan ilmu pedangnya yang maha sakti itu kepada orang lain, apa lagi kepadamu.*

"Tentu saja belum tentu ia wariskan ilmu pedang tersebut kepadaku, sebab setiap saat ia dapat membinasakan diriku."

"Bila ia tak ingin membinasakanmu, berarti dia akan mewariskan ilmu pedang itu kepadamu? Kalau dia tak ingin mewariskan ilmu pedangnya kepadamu, maka dia pasti akan membinasakan dirimu?"

“Yaa, memang begitulah kenyataannya!”

Samwan Kong tidak berbicara lagi, dia hanya menatap wajah pemuda itu dengan termangu-

-mangu, mungkin saja ia sedang merasapi makna dari kata katanya itu. BUKIT KIU HOA-SAN

CI PENG mengaca dulu di depan cermin yang besar di dalam ruangan depan perkampungan Ho hong-san-ceng, setelah merasa puas dengan dandanannya, ia baru melangkah masuk dengan tindakan lebar.

Dia adalah seorang pemuda yang tampan, tubuhnya jangkung dan gagah, selembar wajah "babyface"nya yang tak pernah memuakkan orang yang memandangnya selalu dihiasi oleh sekulum senyuman yang jujur dan mendatangkan simpatik bagi orang melihatnya.

Dandanannya tidak terlalu perlente, tapi tidak juga terlalu rutin, gerak-gerik maupun tingkah lakunya amat sopan dan terpelajar sehingga tidak akan mendatangkan kesan jelek lagi memuakkan bagi siapapun.

Dilihat dari luaran, ia adalah seorang pemuda yang tanpa cacad, asal usul serta sejarah hidupnya tidak pula mendatangkan kecurigaan atau bahan perbincangan bagi orang lain.

Ayahnya adalah seorang piausu yang namanya tidak begitu termashur, tapi sampai menjelang masa pensiun belum pernah barang kawalannya dibegal orang, setelah pensiun dan pulang ke kampung, ia membuka perguruan dan menerima murid, meski tiada seorang muridnya yaug berhasil punya nama besar dalam dunia persilatan, murid-muridnya tidak pula melakukan kejahatan yang menodai pamornya.

Ibunya amat ramah dan terpelajar, dia adalah seorang ibu bijaksana yang terkenal dalam kampung, dan lagi ilmu sulam menyulamnya amat bagus sekali.

Dimusim dingin yang membekukan badan, di atas badan bocah bocah fakir miskin dalam kampung, pasti akan ditemukan mantel-mantel hasil bikinan Ci to tay tay.

Sebab itu meskipun keluarga mereka tidak begitu ternama, tapi sikapnya yang begitu ramah dan bijaksana kepada orang membuat keluarga Ci selalu dihormati dan disanjung orang.

Tahun ini dia berusia dua puluh tiga tahun, masih jejaka dan belum punya istri, kecuali sedikit suka minum arak, boleh dibilang ia tidak mempunyai kegemaran lain yang sifatnya sebagai pemborosan uang.

Pada usia enam belas, ia telah bekerja di perusahaan pengawalan barang yang pernah di ikuti ayahnya selama banyak tahun, tiga tahun kemudian ia telah diangkat menjadi seorang piausu secara resmi.

Waktu itu dia sudah tahu kalau perusahaan pengawalan barang itu berada di bawah naungan perkumpulan Tay hong tong, maka serta merta diapun menggabungkan diri dengan perkumpulan Tay hong tong serta menjadi muridnya seorang Toucu di bawah pimpinan Sugong Siau hong.

Tak lama kemudian, bakat serta kemampuannya bekerja membuat ia menjadi pusat perhatian para pemimpin, oleh Sugong Siau hong pribadi diapun diangkat menjadi seorang Hun si.

Walaupun sebagai seorang "Hun si" ia tidak memiliki kedudukan yang tetap, tapi kedudukkan tersebut langsung berada di bawah pimpinan ketiga orang toa Tongcu, baik dalam soal gaji maupun dalam hal kedudukan sederajat dengan kedudukan seorang Toucu kantor cabang malah kadangkala hak kekuasaannya lebih besar.

Tugas serta tanggung jawabnya adalah dalam hal melakukan kontak hubungan serta penyampai-an berita, diantaranya termasuk juga dalam soal melakukan hubungan ke luar serta melakukan kunjungan-kunjungan.

Sebab bakat istimewa yang dimilikinya bukan melakukan pembunuhan, juga bukan menggunakan tenaga kekerasan.

Ia pandai bergaul dan mempunyai selembar mulut yang pandai berbicara, oleh sebab itu ke manapuu ia pergi, dengan cepat dapat mengikat tali persahabatan dengan siapapun. Ia mempunyai cara penganalisa yang tajam terhadap suatu masalah, reaksi maupun cara berpikirnya cepat, melakukan pokerjaan tak pernah seadanya dan acuh, bila ia tugaskan uetuk melakukan pemeriksaan terhadap suatu persoalan, maka dia tak akan membuat orang menjadi kecewa.

Sugong Siau hong pernah berkata demikian kepadanya: "Nak, suatu ketika kau pasti akan menjadi seorang Tongcu!"

Sudah dua kali ia pernah berjumpa dengan Tio Kian, Tio jiya, tapi hari ini baru untuk pertama kalinya ia berkunjung keperkampungan Ho hong san ceng.

Hari ini Sugong Siau-hong memanggilnya datang secara khusus, konon karena sedikit "urusan prihadi".

jika Tongcu pribadi ada persoalan yang memintanya untuk menyelesaikan, itu berarti ia sudah masuk ke dalam pusat organisasi tersebut.

Meskipun di luar wajahnya ia berusaha mengendalikan ketenangan hatinya, namun tak dapat menutupi pergolakan rasa gembira dalam hatinya.

Sudah lama ia mendengar orang berkata bahwa putri kesayangan Tio jiya adalah seorang gadis cantik yang ternama, lagipula sampai sekarang masih belum punya jodoh, sejak Tio jiya meninggal dunia, sejak Tio kongcu pergi menmggalkan rumah, Tio siocia inilah yang mengatur serta mengendalikan perkampungan Ho hong san ceng.

Jika aku dapat menjadi menantunya perkumpulan Hohong san ceng "

Sesungguhnya hal ini merupakan suatu pengharapannya yang paling rahasia, ia jarang berpikir sampai ke situ karena setiap kali teringat kembali, jantungnya pasti akan berdenyut lebih cepat.

Hari ini adalah bulan tujuh tanggal lima, jaraknya dengan saat kematian Tio Kian sudah mencapai empat bulan lebih.

Sejak bulan empat, tak seorang manusiapun yang pernah mendengar kabar berita tentang Tio Kongcu, Tio Bu ki lagi.

Tio Bu ki seakan-akan telah lenyap tak berbekas. Hari ini udara sangat panas.

Walaupun ruang tengah perkampungan Ho hong san ceng tinggi lagi lebar, tapi bila duduk terlalu lama akan menyebabkan peluh bercucuran bagaikan hujan. Wi Hong nio menghantarkan sendiri sebuah handuk kecil yang direndam dalam air sumur yang dingin ke hadapan Sugong Siau-hong serta mempersilahkannya menggosok keringat.

Ia selalu lemah lembut dan menyenangkan, tapi belakangan ini ia lebih menunjukkan ketekatannya serta keteguhan hatinya.

Secara diam-diam ia selalu membantu Cian-cian mengatur rumah tangga, sekalipundemikian, belum pernah ia memperlihatkan sikap angkuhnya sebagai seorang majikan perempuan.

Hampir semua kelebihan dan keindahan dari seorang perempuan, dapat kau temukan dari tubuhnya seorang.

Tapi, bakal suaminya ternyata telah "lenyap" tak berbekas.

Dalam hati kecilnya Sugong Siau-hong menghela napas panjang . . . mengapa gadis cantik selalu bernasib jelek?

Cian-cian masih mengenakan pakaian berkabung, setelah melewati penderitaan serta percobaan yang berbulan bulan lamanya, sekarang ia sudah benar-benar menjadi dewasa.

Sekarang ia bukan lagi seorang nona kecil yang binal dan liar seperti dulu, sekarang ia telah menjadi seorang gadis yang dapat berdiri sendiri.

Perubahan tersebut membuatnya tampak lebih matang, lebih berpengalaman dan lebih cantik.

Perkembangan tubuhnya memang sangat baik, semenjak dulu ia sudah mesti mengenakan selembar kain untulc menutupi bagian dadanya. Hal ini membuatnya kelihatan bertambah menggairahkan dan mempesonakan, ia tampak seperti sekuntum bunga mawar yang indah tapi berduri

Setiap kali dia merasakan ada sekelompok pemuda-pemuda tampan yang secara diam-diam memperhatikannya, lalu tanpa sebab dia akan marah-marah.

Dari luar kedengaran ada orang melapor.

"Hun-si di bawah pimpinan Tongcu dari Tit it tong, Ci Peng mohon menghadap." Sugong Siau-hong segara memberi penjelasan.

"Aku yang menyuruhnya datang, dua bulan berselang aku telah menyuruhnya pergi mencari kabar tentang Bu ki."

Cian-cian segera bertanya. "Sudahkah ia menemukan sesuatu kabar tentangnya?"

"Itulah yangingin kutanyakan," Sugong Siau-hong menerangkan. "Maka dari itu kusuruh ia datang ke mari, agar kaupun ikut mendengarkan keterangannya."

Ketika Ci Peng berjalan masuk, senyuman yang menghiasi bibirnya begitu jujur dan sederhana. sikapnya mantap dan cukup menyenangkan bagi siapapun yang melihatnya.

Tapi semenjak pandangan pertama, Cian-cian sudah mempunyai kesan yang kurang baik terhadap orang ini.

Ia kuraug begitu suka terhadap laki-laki yang gemar memakai baju yang begitu rapi dan rambut yang disisir dengan rapinya semacam ini.

Ia selalu manganggap bahwa laki-laki semacam ini terlalu berlebihan, terlalu tidak memiliki ke-pribadian.

Seperti kakaknya yang bebas merdeka tidak mengurusi soal dandan dan tubuh sendiri, ia merasa lelaki-lelaki semacam itulah baru betul-betul merupakan seorang lelaki sejati.

Untung Ci Peng tidak seperti pemuda-pemuda lainnya, menggunakan sorot mata yang memuakkan untuk memperhatikan wajahuya, lagi pula begitu buka suara yang dibicarakan adalah adalah pokok persoalan.

Ia berkata demikian:

"Bulan tiga tanggal duapuluh delapan, masih ada orang yang pernah menjumpai Tio kongcu, agaknya itulah penampilannya yang terakhir di depan umum!"

"Hari itu dia menampakkan diri di mana?” tanya Sugong Siau-hong.

"Disebuah rumah penginapan yang memakai merek Tay-pek-ki di bawah bukit Kiu-hoa-san." Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan lagi.

"Mula-mula dia membeli arak dan rangsum kering lebih dulu di kota, kemudian menitipkan kuda tunggangannya di rumah penginapan Tay-pek ki dan berpesan kepada ciangkwee untuk merawat kudanya baik-baik, malah ia meninggalkan pula uang sebesar sepuluh tahil perak sebagai uang rumput untuk kudanya."

"Kalau begitu, dia pasti telah pergi ke bukit Kiu-hoa-san!" kata Sugong Siau-hong. "Semua orang memang berpendapat demikian, cuma saja cuma saja" Menyaksikan ia berbicara terbata-bata, dengan suara menggeledek Cian-cian segera membentak:

"Cuma saja kenapa?"

Sikapnya itu kurang begitu baik, karena selamanya ia paling benci dengan segala manusia yang bicaranya terbata-bata.

Ci Peng mengetahui akan persoalan itu, maka segera jawabnya:

"Setelah naik ke atas gunung, tak pernah ia turun kembali dari tempat tersebut!" "Dari mana kau bisa tahu?" tanya Cian-cian.

"Sebab kota kecil itu merupakan jalan lintas yang paling fital untuk memasuki bukit tersebut, lagipula kuda tunggangannya hingga sekarang masih tertinggal di rumah penginapan Tay- pek-ki, dengan mata kepala sendiri kusaksikan bahwa kuda tersebut adalah sebuah kuda baik."

Buat seorang lelaki macam Bu-ki, nilai dari seekor kuda jempolan kadangkala hampir me-nyerupai seorang sahabat karib.

Oleh karena itu, aku pikir jika Tio kongcu sudah turun gunung, tak mungkin dia akan meninggalkan kuda sebagus itu dirumah penginapan, kata Ci Peng.

Setelah berpikir sebentar, kembali ia menambahkan:

"Akan tetapi Han ciangkwee pemilik rumah penginapan itu merasa tak perlu cemas, karena ongkos rumput sebesar sepuluh tahil perak itu paling tidak bisa memelihara kuda itu selama satu tahun."

"Satu tahun?"ujar Cian-cian sambil mengernyitkan alis matanya, "apakah ia telah mempunyai rencana untuk tinggal selama satu tahun di atas bukit tersebut?"

"Oleh sebab itulah aku dengan membawa dua belas orang telah naik ke bukit untuk melakukan pencarian, setiap gua karang dan kuil Budha yang besar kecil tak terhitung banyaknya itu sudah kami geledah semua, tapi setitik jejakpun tidak berhasil kami temukan."

"Apakah setelah naik ke atas bukit, dia lantas lenyap tak berbekas dengan begitu saja?" Ci Peng termenung dan berpikir sejenak, lalu sahutnya: "Mungkin saja ia tak pernah naik keatas gunung, sebab semua hwesio yang ada di atas bukit telah kutanyai semua, tapi mereka semua mengatakan bahwa tak pernah menyaksikan seorang pemuda macam Tio kongcu "

Padahal manusia semacam Tio Bu-ki adalah seorang pemuda yang gampang meninggalkan kesan mendalam di hati orang, entah ke manapun dia pergi, pasti akan menarik perhatian orang banyak.

Sugong Siau-hong lantas bertanya:

"Hari itu manusia-manusia siapa saja yang telah menjumpai dirinya?"

“Tidak sedikit penduduk yang tinggal di sekitar tempat itu merasa kenal dengan Tio Kongcu." "Kenapa mereka bisa kenal dengan dirinya?"

Tampaknya Ci Peng tidak bermaksud menerangkan alasannya, tapi setelah menyaksikan raut wajah Cian-cian yang cemberut, ia segera berubah pikiran semula.

Secara ringkas ia menjelaskan:

"Sejak bulan tiga tanggal delapan sampai bulan tiga tanggal dua puluh tiga, selama setengah bulan saja Tio Kongcu telah menjadi orang yang ternama di tiga belas kota disekitar tempat itu."

Sinar matanya seakan-akan telah memancarkan kekaguman, lanjutnya lebih jauh:

"Karena dalam setengah bulan itu, seluruhnya ia sudah melemparkan tigapuluh sembilan kali angka "tiga kali enam," hampir semua rumah judi berhasil dia kalahkan, bahkan Ciau Jit tayya yang punya julukan "Raja judipun" pernah jatuh kecundang di tangannya."

Sesungguhnya dia tak ingin membicarakan persoalan semacam itu, sebab iapun tahu kalau waktu itu Bu-ki masih mengenakan pakaian berkabung, tidak pantas bagi orang berkabung untuk mengunjungi rumah judi clan bermain dadu.

Tapi ia tak ingin Cian-cian menuduhnya sengaja menyembunyikan sesuatu, ia dapat menebak tabiat dari perempuan itu.

Dapat mengenali watak dan perangai seseorang dalam sekali dua kali pandangan saja, hal itu sudah merupakan salah satu kemampuannya yang luar biasa.

Paras muka Hong-nio segera berubah, Cian-cian ikut berteriak pula keras-keras: "Kenapa ia berkunjung ke rumah judi untuk bertaruh? ia bukan manusia macam itu!" Ditatapnya Ci Peng dengan mata melotot dan nada marah, kemudian ujarnya kembali. "Kau pasti sedang ngaco belo sendiri!"

Ci Peng tidak membantahpun tak ingin membantah, dia tahu cara yang paling cerdik adalah mempertahankan ketenangannya.

Betul juga, Sugong Siau-hong segera berkata untuknya:

"Dia tak akan berani berbohong, tentu saja Bu-ki bukan seorang manusia sembrono yang bodoh semacam itu, dia bisa berbuat demikian karena ia pasti mempunyai tujuan tertentu."

Padahal ia tahu, Bu ki berbuat demikian karena ingin "memancing" kemunculan Samwan Kong.

Diapun tahu kenapa Bu-ki bcrkunjung ke atas bukit Kiu-hoa-san, dia bahkan tahu siapa yang sedang dicari si anak muda itu.

Anehnya, ternyata ia tidak mengatakan kepada mereka, mungkin dia mengira bila persoalan tersebut diutarakan, mungkin Cian-cian akan lebih kuatir lagi.

Kembali Cian-cian melotot dua kejap ke atas wajah Ci Peng, kemudian baru tanyanya: "Sebelum bulan tiga tanggal duapuluh tiga, ia berada di mana?"

"Tengah hari bulan ketiga tanggal duapuluh tiga, ia bersantap siang bersama dua orang tauke rumah judi dirumah makan Siu-oh-khang yang baru dibuka dan khusus menjual hidangan Suzhuan, pada waktu itu dia telah membinasakan tiga orang anggota keluarga Tong dari Suzhuan."

Seolah berhenti sejenak ia melanjutkan:

"Aku telah menyelidiki dengan jelas asal usul mereka, kecuali seseorang yang bernama Tong Hong adalah cucu keponakan dari Tong Ji sianseng, dua orang lainnya adalah famili jauh dari keluarga Tong.""

Cian-cian tertawa dingin tiada hentinya, kemudian katanya:

"Orang-orang keluarga Tong telah memasuki wilayah kekuasaan kita, ternyata kalian baru tahu setelah kakakku berhasil membinasakan mereka, sebetulnya apa pekerjaan kalian dihari- hari biasa?"

Ci Peng. kembali menutup mulutnya rapat-rapat. Akhirnya Cian-cian merasa bahwa perkataannya bukan hanya mmaki dia saja, bahkan Sugong Siau-hongpun ikut kena didamprat, maka cepat-cwpat dia mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

"Setelah membunuh ketiga orang itu, ke mana ia telah pergi .?" tanyanya kemudian.

"Sejak tanggal dua puluh tiga sampai tanggal dua puluh tujuh selama lima hari, tak seorang manusiapun yang pernah berjumpa dengan jejak Tio kongcu, hingga pada tanggal duapuluh delapan ia baru munculkan diri dibawah bukit Kiu-hoa-san."

"Dan kemudian secara tiba-tiba ia lenyap tak berbekas?" "Benar!"

Tidak tahan lagi Cian-cian tertawa dingin.

"Inikah hasil penyelidikanmu selama ini?" tegurnya. "Benar!"

Sugong Siau-hong yang berada di sampingnya segera tertawa ewa, timbrungnya dari samping:

“Sekalipun hanya soal-soal itu saja yang berhasil ia selidiki, aku pikir belum tentu orang lain dapat manyelidiki kabar sebanyak itu.”

Tiba-tiba Cian-cian melompat bangun, lalu teriaknya keras-keras:

"Kenapa aku musti menyuruh orang lain yang mencari berita? Memangnya aku tak bisa pergi sendiri?"

“Tapi urusan di sini ”

"Urusan kakakku jauh lebih penting dari persoalan apapun," tukas Cian-cian sebelum Sugong Siau-hong menyelesaikan kata-katanya.

Tentu saja Sugong Siau-hong dapat memahami wataknya, maka ia tidak bermaksud menghalangi niatnya, dia hanya bertanya:

"Siapa-siapa saja yang akan kau ajak pergi?"

Sebelum Cian-cian menjawab, tiba-tiba Hong-nio bangkit pula sambil berkata: "Dia hanya mengajakku seorang!"

Meskipun sikapnya masih lembut, tapi memancarkan ketegasan dan tekad hatinya. "Karena sekalipun ia tidak mengajakku, aku sendiripun bisa pergi seorang diri." Dulu berada di sungai Kiu-kung.

Jauh memandang bukit Kiu-hoa. Air terjun airnya jernih.

Tanganku menggapai. Siapapun boleh ikut.

Tuan men jadi tukang traktir. Berbaring di bawah awan nun tebal.

Itulah bait-bait syair dari dewa syair Li Pak, Kiu-hoa-sun erat sekali hubungannya dengan orang ini.

Ia pernah bilang begini:

"Dulu namanya bukit Kiu-cu-san, Li Pak bilang sembilan bukit bagaikan bunga teratai yang disayat-sayat, karenanya mengganti Kiu-cu-san menjadi di Kiu-hoa-san."

Kalau bukitnya erat hubungan dengan dewa syair ini, maka di atas bukit, di bawah bukit akan kau temui banyak tempat yang memakai nama Tay-pek.

Tay-pek-ki adalah salah satu diantaranya.

Kini Tio Cian-cian dan Wi Hong-hio telah berada di Tay-pek-ki.

*****

"Inilah kuda milik Tio kongcu," kata ciang-kwee dari Tay-pek-ki, "kami belum pernah mengurangi rumput segar bagiannya barang sedikitpun jua "

Tak bisa disangkal lagi ciangkwee yang gemuk dan putih itu adalah seorang lelaki jujur, Cian- cian juga tahu kalau ucapannya itu adalah kata-kata yang jujur. Kuda milik Bu-ki dipelihara dalam sebuah istal kuda yang tersendiri, kuda itu sangat gemuk, hanya saja selalu menunjukkan sikap acuh tak acuh, seakan-akan diapun sedang merindukan majikannya.

Berjumpa dengan Cian-cian, ternyata ia masih mengenalinya, ia meringkik dengan gembira dan membesutkan kepalanya di tubuh Cian-cian.

Hampir saja Cian-cian melelehkan air matanya karena pedih.

Ia berpaling menengok ke arah Hong Nio, ketika itu Hong-nio berdiri jauh seorang diri di bawah sebatang pohon, air matanya telah jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

Sesungguhnya ke mana perginya Bu-ki? Ke mana ia pergi dan tak kembali lagi? Waktu bersantap telah tiba.

Mereka tak ingin makan, pun tak tega untuk makan, sayur dan nasi telah dihidangkan di atas meja menantikan mereka.

Sayur yang mereka pesan terdiri dari enam macam sayur dengan semacam kuah, sepiring ayam masak tauge, sepiring cah sayur putih, sepiring hati babi masak kecap, sepiring sayur dimasak cabe, sepiring ikan gurame masak tauco, sepiring Ang-sio-hi dan semangkuk kuah gambas.

Sesungguhnya sayur semacam itu hanya sayur biasa, tapi mereka sangat terkejut dibuatnya.

Sebab keenam macam sayur itu justru merupakan kesukaan mereka dihari-hari biasa, dalam sepuluh kali bersantap paling tidak ada sembilan kali mereka bersantap dengan sayur-sayur tersebut.

Mengapa ciangkwee rumah penginapan ini bisa mengetahui sayur kesukaan mereka?

"Siapa yang suruh kalian membuatkan sayur-sayur itu?" tak tahan Cian-cian segera bertanya.

"Seorang tamu di ruang sebelah barat yang memesankan" jawab ciangkwee itu sambil tertawa paksa, "katanya sayur-sayur itu adalah sayur kesukaan nona-nona sekalian."

Paras muka Cian-cian segera berubah menjadi merah padam karena marah dan mendongkol serunya:

"Bukankah tamu itu bernama Ci Peng?" Ciangkwe segera mengangguk. Sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, Cian-cian telah melompat bangun sambil berteriak: "Panggil dia ke mari, cepat sedikit, makin cepat semakin baik!"

Ci Peng telah datang, datang dengan sangat cepat.

Ketika bertemu dengannya, Cian-cian menunjukkan sikap bagaikan berjumpa dengan musuh besarnya.

Dengan wajah membesi ia berseru:

"Mau apa kau mengikuti kami sampai di sini?"

"Aku datang untuk menjalankan perintah!" jawab Ci Peng. "Perintah siapa?"

"Sugong tongcu!"

"Mau apa dia suruh kau datang kemari?" "Untuk menjaga nona berdua!"

Kontan saja Cian-cian tertawa dingin, “Heeeh. . .Hee. . . heeehhh . . . atas dasar apa kau menganggap kami membutuhkan perlindungan orang lain?"

"Aku hanya tahu melaksanakan tugas seperti yang diperintahkan!"

"Dari mana kau bisa tahu kalau sayur-sayur itu adalah kegemaran kami?"

"Setelah Sugong tongcu melimpahkan tugas dan tanggung jawab itu kepadaku, sudah sepantas-nya kalau persoalan itupun harus kuketahui."

Dengan gemas Cian-cian melotot sekejap ke arahnya, lalu tertawa dingin tiada hentinya.

"Hehhhe. . . heehhe. . . heehhe. . . tampaknya kau memang sangat pandai melaksanakan tugas!"

Ci Peng tidak menjawab.

"Dapatkah kau melaksanakan sebuah pekerjaan untukku?" "Silahkan diperintahkan." Kembali Cian-cian melompat bangun, kemudian teriaknya keras-keras: "Dapatkah kau menyingkir dari hadapan kami? Semakin jauh semakin baik !"

Malam telah tiba, sinar lentera menerangi seluruh ruangan:

Tampaknya Cian-cian masih marah, sekalipun dihari-hari biasa diapun sering marah, tapi belum pernah selama ini marahnya.

"Apa yang membuat kau menjadi marah?" tanya Hong-nio lembut. "Aku sangat benci dengan orang itu!"

"Aku tidak berhasil menemukan hal-hal yang membuatnya tampak amat menjemukan atau pantas dibenci!"

"Tapi aku dapat melihatnya!" Hong-nio tidak bertanya lebih jauh.

Ia tahu seandainya dia bertanya lagi.

"Bagian manakah dari tubuhnya yang paling menjemukan?" Serta marta Cian-cian pasti akan menjawab begini:

"Seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah, tak sebagianpun dari tubuhnya yang tidak men-datangkan rasa jemu!"

Jika seseorang telah membenci orang lain, pada hakekatnya ia tidak memerlukan alasan apapun.

Seperti pula jika seseorang telah menyukai orang lain, diapun tidak memerlukan alasan apapun jua.

Kadangkala tanpa alasan memang jauh lebih baik dari pada ada alasan.

Maka dari itu Hong-nio hanya berkata dengan hambar: "Entah bagaimanapun juga, dia toh diutus kemari oleh Sugong Tayya, paling tidak kau harus memberi muka untuk Sugong tay- ya!"

Manjur juga perkataannya itu.

Di hari hari biasa Hong-nio memang jarang berbicara, tapi bila ia sudah berbicara, maka seringkali ucapannya akan mendatangkan kemanjuran. Sikap Cian-cian sudah banyak berubah, tapi pada saat itulah mereka mendengar suara jeritan kaget.

Itulah jeritan kaget yang diperdengarkan oraug banyak pada saat yang hampir bersamaan.

*****

Tio Cian-cian dan Hong-nio tinggal di kamar tamu sebelah belakang, ke arah belakang sana adalah tempat tinggal dari ciangkwe pemilik rumah penginapan serta para pelayannya.

Jeritan ngeri itu berkumandang dari arah belakang sana.

Hong-nio bukan seorang perempuan yang suka banyak urusan, tapi mendengar jeritan itu, Cian-cian telah menerjang ke luar.

Terpaksa dia harus mengikuti di belakangnya, ia tak ingin berdiam seorang diri di dalam kamar yang sepi dan masih asing baginya ini.

Ruang bangunan di belakang sana jauh lebih buruk dari pada bangunan di depan sana, mana lebih kecil lagi, dalam ruangan hanya ada sebuah lentera yang menerangi sekeliling ruangan.

Rumah itu amat sempit, hanya memuat sebuah meja dan beberapa buah bangku, di atas meja tertera nasi dan sayur.

Tadi Ciangkwe suami istri dan keempat orang pelayannya sedang bersantap, makan punya makan, tiba-tiba ciangkwe itu roboh ke tanah.

Ia salah makan sebatang duri ikan, baru saja duri itu hendak dicabutnya dari dalam mulut, tubuhnya telah roboh terjengkang ke tanah.

Sewaktu orang lain memayangnya bangun, tiba-tiba saja sekujur badannya telah melingkar menjadi satu, mana mengejang pula tiada hentinya, bibir yang gemuk kini membengkak besar sekali, seperti baru saja kena sebuah pukulan keras.

Bininya sudah hampir gila saking paniknya, ia berlutut di tanah sambil berusaha keras merogoh ke dalam mulutnya dan suruh ia muntahkan ke luar duri ikan tersebut.

Setiap orang telah menduga kalau duri ikan itu beracun, tapi tidak menyangka kalau racun dari sebatang duri ikan ternyata begini lihaynya . . . . . .

Ketika Cian-cian tiba di sana, paras muka sang ciangkwe yang gemuk itu telah menghitam, sepasang biji matanya melolot ke luar. Menanti bininya berhasil mengorek ke luar duri ikan itu, sekujur tubuhnya telah kaku dan tak mampu berkutik lagi.

"Gara-gara duri ikan sialan!"

Dengan perasaan cemas, takut dan marah, istrinya menggigit duri ikan itu dan berusaha melumatnya sampai hancur.

"Cepat tumpahkan ke luar, cepat tumpahkan lee luar!" tiba-tiba Cian-cian membentak keras. Sekali lagi istrinya Ciangkwe merasa terkejut, duri ikan di mulutnya terjatuh lee tanah dan....

"Tring!" menimbulkan dentingan yang cukup nyaring.

Sekarang semua orang baru melihat, duri ikan itu bukan sembarangan duri ikan, duri ikan itu tak lebih hanya sebatang jarum, sabatang jarum yang lebih kecil dari pada jarum untuk menjahit.

Di bawah timpaan sinar lentera, ujung jarum itu memantulkan sinar hijau kegelapan yang agak kebiru-biruan.

Cian-cian mengambil sepasang sumpit dan menjepit jarum tadi, paras mukanya segera berubah hebat, tak tahan ia menjerit tertahan:

"Aaaah Jarum beracun dari keluarga Tong!"

"Haaah ? Mana mungkin jarum beracun?" jerit istri ciangkwe macam orang histeris,

"mana mungkin dalam ikan ada jarum beracunnya?"

Di tengah jeritan-jeritan histerisnya yang parau dan menyeramkan, tiba-tiba kulit mukanya mulai mengejang kencang, menyusul kemudian sekujur badannya melingkar menjadi satu, keidaannya persis seperti keadaan suaminya ketika roboh terkapar ke atas tanah tadi.

Menyaksikan keadaan majikan perempuannya, para pelayan merasa sangat ketakutan, mereka berdiri tertegun dan take tahu apa yang musti dilakukan . . . .

"Siapakah diantara kalian yang telah makan ikan?" Cian-cian berteriak dengan lantang,

Paras muka para pelayan itu berubah hebat, dengan ketakutan dan perasaan ngeri yang bercampur aduk, semua orang berdiri kaku seperti patung, tubuh mereka gemetar keras, karena setiap orang telah makan ikan yang di maksud.

Mereka semuapun mulai berjongkok dan sekuat tenaga mengorek mulut sendiri, mereka ingin memuntahkan ke luar semua isi perut yang baru saja dimakannya itu. Tapi apa yang berhasil mereka tumpahkan ke luar tak lebih hanya air asam, sekalipun duri ikan yang mereka makan berhasil dikocok ke luar, keadaanpun sudah terlambat.

Tiba-tiba tiga orang diantara keempat orang pelayan itu roboh terkapar di atas tanah, kemudian tubuhnya segera menyusut dan menggumpal menjadi satu.

Pelayan yang tidak ikut roboh itu sudah dibikin ketakutan setengah mati, sekujur badannya lemas tak bertenaga, bahkan celananya sudah ikut basah kuyup karena entah sedari kapan ia sampai terkencing-kencing.

"Kau tidak makan ikan itu?" tegur Cian-cian.

Dengan gigi yang saling beradu karena takut, pelayan itu menjawab terbata-bata: "Aku . . aku telah maa. . . makan ikan yang. . . yang tidak pakai . . . pakai tauco"

Betul juga, di meja memang terdapat dua macam masakan ikan laut, yang satu adalah ikan gurame masak ang-sio sedang yang lain adalah ikan masak tauco.

Ia hanya makan Ang sio hi dan tidak makan ikan masak tauco.

Jarum beracun itu justru berada dibalik ikan masuk tauco tersebut, racun jahat dari ujung jarum telah merubah sepirng ikan masak tauco menjadi sepiring ikan beracun pencabut nyawa, asal orang makan sepotong saja maka jiwanya tak akan ketolongan, apalagi sang ciangkwe langsung menggigit jarum beracunnya tentu saja daya karja racun itu kambuh jauh lebih cepat.

Sekarang jelasnya sudah bahwa ada orang yang sengaja hendak mencelakai mereka, tak mungkin tanpa sebab musabab senjata rahasia beracun dari keluarga Tong bisa terjatuh kedalam sepiring hidangan ikan masak tauco .....

Tapi, siapakah yang menaruh jarum beracun itu dalam ikan? Siapa pula yang sebenarnya hendak mereka racuni?

*****

Di atas meja terdapat aneka macam sayur di tambah semangkuk kuah.

Kecuali dua macam hidangan ikan segar itu, masih ada lagi sepiring ayam masak tauge, sepiring cah sayur putih, sepiring hati babi masak kecap, sepiring sayur masak cabe dan semangkuk besar kuah gambas.

Sebenarnya sayur itu disiapkan untuk Cian-cian dan Hong nio. Ciangkwee rumah penginapan itu selalu hidup menghemat, kalau di rumah tak ada orang, untuk memasang lampupun enggan, tentu saja lebih lebih tak mungkin untuk membuang uang guna memesan hidangan selezat dan semewah itu.

Karena Cian-cian berdua sama sekali tidak menjamahnya, maka diapun mengundang istri dan pegawai pegawainya untuk menikmati bersama hidangan tersebut.

Siapa tahu sayur semeja itu justru merupakan bencana pencabut nyawa bagi mereka semua.

Menyaksikan kematian mengerikan yang menimpa orang-orang tak bersalah itu, sekujur badan Hong nio gemetar keras, ia bersandar di dinding ruangan sambil mengucurkan air mata.

"Rupanya kami berdualah yang sebenarnya hendak ia racuni!"

Aneka macam sayur itu disiapkan secara khusus olah Ci Peng untuk mereka berdua, tapi mengapa Ci Peng hendak meracuni mereka berdua? Jangan jangan ia telah betsekongkol secara diam-diam dengan keluarga Tong?

Dengan wajah hijau membesi Cian-cian menggigit bibirnya lalu berkata: "Kau hendak ikut aku pergi? Ataukah menunggu di sini saja?"

Kau . . . kau hendak kemana?* "Aku hendak membunuh orang !"

Kembali air mata Hong nio jatuh bercucuran, selamanya dia paling benci dengan segala macam kekerasan serta drama yang mengakibatkan mengalirnya darah kental, ia tak berani melihat orang lain membunuh orang, tapi ia lebih-lebih tidak berani untuk berdiam seorang diri di situ.

Tiba-tiba ia mulai membenci diri sendiri, ia membenci diri mengapa begitu lemah dan tak berguna?

Sambil menutupi wajahnya dia menerjang ke luar, baru saja ke luar dari pintu, ia telah menumbuk di tubuh seseorang.

Ternyata orang itu tidak lain adalah Ci Peng.

Malam itu malam bulan tujuh, beribu-ribu bintang memenuhi angkasa.

Sinar bintang yang redup memancar di atas wajah Ci Peng, senyumannya yang jujur dan polos kini lenyap tak berbekas, sebagai gantinya terlintaslah sikap buas, sesat dan jahat di atas wajahnya. Ketika Cian-cian memburu ke luar setelah mendengar jeritan kaget dari Hong nio, Ci Peng telah mencengkeram pergelangan tangan gadis itu.

"Lepaskan dia !"

Ci Peng hanya memandang ke arahnya dengan pandangan dingin, sama sekali tidak terlintas ingatan baginya untuk lepas tangan.

Cian-cian ingin menerkam ke muka, tapi niat tersebut segera dibatalkan, Hong nio masih berada di tangannya, ia tak boleh bertindak secara sembarangan.

Dengan susah payah ia berusaha mengendalikan perasaannya yang bergolak, lalu dengan suara rendah tegurnya:

"Kenapa kau lakukan perbuatan seperti ini?"

Sinar mata Ci Peng sama sekali tidak berperasaan, jawabnya dengan dingin dan ketus:

"Sebab aku ingin membuat kau tahu, bahwa sesungguhnya kau bukan seorang gadis yang luar biasa."

Suaranya kian lama kian bertambah tajam, ibaratnya sebilah pisau yang amat tajam, kau tidak lebih hanya seorang lonte kecil yang sudah terbiasa dimanja oleh bapakmu."

Siapapun tidak akan menyangka kalau ucapan semacam itu bisa diutarakan oleh seorang lelaki yang dihari-hari biasa tampak lemah lembut dan amat terpelajar.

Saking mendongkolnya, sekujur badan Cian-cian gemetar keras.

Tiba-tiba dari kegelapan sana kedengaran ada orang bertepuk tangan sambil tertawa cekikikan

.

"Haaahhh . . . haaahhh . . , haaahh . . tepat sekali, bocah perempuan itu memang rada mirip lonte, wah, kalau dibayangkan gerakan tubuhnya sewaktu "gituan" di ranjang, tanggung pasti yahud !"

Dua orang manusia muncul dari balik kegelapan.

Yang rada tinggian berbahu lebar dan perut agak busung, senyumannya licik dan tengik sepasang matanya sedang mengawasi bagian bawah pinggang Cian-cian dengan sorot mata yang amat buas.

Sedang yang rada pendek bermuka licik dan serius, sepasang matanya yang kecil tapi tajam itu kelihatan seperti seekor ular berbisa. Pada bagian pinggang kedua orang itu sama-sama tergantung sebuah kantung kulit, sedang pada tangan kanannya mengenakan sebuah sarung tangan yang terbuat pula dari kulit menjangan.

Tapi sepasang mata Cian-cian sudah berubah merah membara, ia tak ambil perduli apa yang bakal terjadi, ruyung lemas pada pinggangnya segera dilepaskan, kemudian sekali melompat ia telah menubruk ke muka.

Sekalipun Tio jiya kurang setuju kalau anak perempuannya belajar silat, tapi nona besar ini secara diam-diam telah melatihnya dengan tekun dan sungguh-sungguh.

Pada dasarnya dalam perkampungan Ho-hong-san-ceng memang banyak terdapat jago lihay, ditambah lagi kakaknya sering mewariskan ilmu silat kepadanya, dan diapun luar biasa cerdiknya,maka setelah berlatih banyak tahun, permainan ruyungnya boleh dibilang sudah amat lihay.

Cuma sayangnya kedua orang itu bukan anggota perkampungan Ho-hong san-ceng, merekapun tak perlu sengaja mengalah kepadanya.

Si pendek macam ular berbisa itu tiba-tiba menggetarkan tangannya yang bersarung tangan ke depan, lalu seperti lilitan seekor ular tahu-tahu ia cengkeram gagang ruyung itu.

Meski Cian-cian terkejut, ia tak berani gegabah, tendangan Yen yang siang hui tui (tendangan berantai burung meliwis) nya sudah banyak merobohkan lawan.

Serentak sepasang kakinya melancarkan serangkaian tendangan berantai ke depan.

Menanti ia mengetahui kalau ilmu silatnya tidak setinggi apa yang dibayangkan semula, keadaan sudah terlambat.

Kakinya tahu-tahu sudah kena ditangkap oleh sebuah tangan yang sangat besar.

Orang yang rada tinggi itu menggunakan tangannya yang besar untuk mencengkeram kakinya yang kecil mungil, lalu pelan-pelan mengangkatnya tinggi ke atas, senyuman yang menghiasi ujung bibirnya makin jalang dan cabul kemudian sambil tertawa terkekeh-kekeh ejeknya:

"Waaah . . . gaya beyini meming sedap dilihat, apalagi kalau dipakai untuk gituan Ooh,

sedap!"

Meskipun Cian-cian masih perawan dan suci bersih, bukan berarti kata-kata kotor tersebut tidak dipahami olehnya, sebab bagaimanapun juga manusia memang serba tahu, apalagi dalam masalah busuk ini? semacam begitu. Gadis itu merasa yaa malu, yaa cemas, yaa benci, akhirnya ia menyemburkan semulut riak kental ke wajah orang itu.

"Babi kau!"

Paras muka orang itu berubah hebat, berubah sedemikian hebatnya sampai kelihatan menyeringai seram dan menakutkan.

"Jangan!" tiba tiba Ci Peng berteriak.

Tapi orang itu sudah menyarangkan sebuah bogem mentahnya ke atas dada Cian-cian, rasa sakit yang aneh dan luar biasa membuat air mata gadis itu jatuh bercucuran, sekujur badannya mengejang keras, bahkan untuk berteriakpun tak sanggup.

Semakin mencorong sinar tajam dari mata itu, kembali ia tertawa terkekeh-kekeh, kepalannya telah disiapkan untuk melancarkan sebuah pukulan lagi.

Tapi kali ini kepalannya sudah kena ditangkap oleh laki-laki yang agak pendek itu. Dengan gelisah orang itu berseru: "Lo-sam, bolehkah kubereskan dulu lonte busuk ini” "Tidak boleh!" jawab Lo-sam.

"Kenapa tidak boleh?"

"Karena aku mengatakan tidak boleh!"

Kembali orang itu berteriak: "Hei, apakah kau harus menyuruh loco menyerahkan bocah perempuan yang halus dan lembut ini untuk si anak kura-kura itu?"

Sebenarnya mereka berbicara dengan dialek umum, tapi dalam berangnya orang itu telah memperdengarkan dialek aslinya.

Paras muka Lo-sam berubah menjadi hijau membesi, sambil menarik muka jawabnya ketus: "Kau bukan loco, dan dia bukan anak kura-kura, kita semua adalah sahabat!"

Teman mereka sudah barang tentu Ci Peng.

Sekalipun lelaki itu tidak bermaksuk menganggap Ci Peng sebagai temannya, tapi rupanya ia takut juga terhadap Lo-sam, maka sekalipun mendongkolnya sudah mencapai ke otak, ia toh melepaskan juga cekalannya atas diri Cian-cian. Tong Lip atau Si Lo sam kembali berkata: "Jauh - jauh menembusi ribuan li dari wilayah Siok tiong sampai ke mari, tujuan kami tak lain adalah ingin membereskan sedikit perhitungan dengan Tio Bu ki.

"Perhitungan apa yang hendak kau bereskan dengannya?" tak tahan Cian-cian bertanya. "Seorang saudaraku telah tewas di tangannya! Saudara mereka bukan lain adalah Tong Hong.

"Tong Hong hendak membunuh Tio Bu ki, maka Tio Bu ki membunuhnya," Tong Lip menerangkan, "sebetulnya kejadian semacam ini adalah kejadian yang umum dan lumrah, tapi kematiannya benar-benar terlalu mengenaskan . . .

Terbayang kembali mayat Tong Hong yang hancur tak karuan, serta rasa ngeri dan yang ter-cermin di atas wajahnya menjelang kematian, tiba-tiba sorot matanya lebih buas dan kejam, terusnya:

"Aku tahu diantara kalian berdua, seorang adalah bininya Tio Bu-ki dan seorang yang lain adalah adik perempuannya, aku sebenarnya hendak membunuh kalian agar ia merasakan pula siksaan dan penderitaan tersebut ."

"Kenapa kau belum juga turun tangan?" tanya Cian-cian.

"Karena kami dengan sahabat she Ci ini telah mengadakan suatu kontrak barter." "Barter apa?"

"Menggunakan kau untuk ditukar dengan Tio Bu-ki!" jawab Tong Lip. Kemudian setelah tertawa seram, ia melanjutkan:

"Barter ini akan berjalan sangat adil, yang kami inginkan adalah batok kepala Tio Bu-ki, sedang yang dia inginkan adalah kau, dia hendak mengajak kau untuk menemaninya tidur."

Cian-cian berpaling dan melotot ke arah Ci Peng dengan gemas, sinar mata yang membara memancar ke luar dengan seramnya.

Tapi Ci Peng melengos ke samping, seakan-akan tak pernah melihat sinar matanya itu. Kembali Tong Lip berkata:

"Kami tidak bermaksud mencopoti celana dalammu dan memaksa kau untuk menemaninya tidur, dia musti mengandalkan kepandaiannya sendiri untuk melaksanakan keinginannya, tapi kuanjurkan kepada kalian agar lebih baik bertindaklah lebih jujur, jangan mencoba untuk menimbulkan keonaran, lebih-lebih lagi jangan mencoba untuk kabur, sebab kalau tidak, terpaksa kami akan serahkan kamu berdua kepada Tong Bong."

Lanjutnya kembali setelah berhenti sebentar:

"Cara Tong Bong dalam menghadapi kaum perempuan istimewa sekali, aku jamin mimpipun kalian belum pernah memikirkannya."

Teringat akan sepasang mata Tong Bong yang jalang, cabul dan mengerikan itu serta sepasang tangannya yang kotor, Cian-cian ingin sekali tumpah-tumpah.

Terdengar Tong-bong tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya pula:

"Akupun amat menyukaimu, terutama menyukai sepasang kakimu, coba lihatlah, kakimu begitu panjang, begitu kuat dan padat berisi, oh! bikin jantung berdebar saja."

Dipungutnya sebatang kayu bakar lalu dipencetnya pelan, seketika itu juga kayu kering itu hancur berkeping-keping.

"Jika kau berani bermain gila di hadapanku, maka kakimu yang indah akan berubah menjadi seperti kayu kering ini!" ancamnya.

Mau tak mau Cian-cian harus mengakui bahwa kekuatan tangan orang ini benar-benar mengerikan.

Tapi ia tahu Tong Lip pasti lebih menakutkan lagi, kalau seorang gadis sudah terjatuh ke tangan dua orang manusia macam begini, lebih baik memang mati saja daripada hidup menanggung derita.

Tong Lip kembali berkata:

"Aku harap kalianpun jangan mencoba-coba untuk mencari mati, karena kujamin untuk matipun kalian tak akan sanggup."

"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" teriak Cian-cian sambil menggigit bibir.

"Aku hanya minta agar kalian mengikuti kami dengan jinak, menanti Tio Bu-ki berhasil kami temukan, maka kalian akan kuserahkan kepada sahabat Ci ini, waktu itu terserah apapun yang hendak kalian lakukan, perbuatan kalian sama sekali tak ada hubungannya dengan kami."

"Kau sanggup untuk menemukan Bu-ki?"

Ia telah menyanggupi kepada kami bahwa dalam tiga hari, Tio Bu-ki pasti.sudah dapat ia temukan! Lalu dengan sepasang matanya yang berbisa seperti ular beracun ia melotot sekejap ke arah Ci Peng, katanya lebih lanjut: "Bukankah kau sendiri yang berjanji demikian?"

"Benar!"

"Aku harap apa yang bisa kau ucapkan, bisa pula kau laksanakan!" "Aku pasti dapat melaksanakannya!"

Tong Bong tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeehhh . . . . heeehhh. . . heeehhhh. . . jika kau tak sanggup melaksanakannnya, bukan cuma tubuhmu saja yang secara tiba-tiba akan berubah menjadi sangat jelek dipandang tubuh, kedua orang bocah perempuan inipun akan beruhah menjadi amat tak sedap dinikmati."

Ia teristimewa menekan kata "badan" secara berat, seakan-akan minatnya terhadap tubuh orang lain besar sekali.

Cian-cian merasa seluruh bulu kuduk tubuhnya pada bangun berdiri, seakan-akan terdapat beribu-ribu ekor semut yang merambat di atas tubuhnya ....

Iapun berharap mereka bisa temukan Bu-ki, sebab ia percaya Bu-ki pasti mempunyai cara yang baik untuk menghadapi orang-orang itu, ia selalu mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan Bu-ki.

Tong Lip manatapnya tajam-tajam, kemudian berkata:

"Sekarang, apakah aku telah menerangkan setiap persoalan dengan sangat jelas?" Terpaksa Cian-cian mengangguk.

"Kalau begitu bagus sekali!" seru Tong Lip, ia berpaling ke arah Ci Peng dan kembali tanyanya:

"Benarkah Tio Bu-ki bersembunyi di atas bukit Kiu-hoa-san?" "Benar!"

"Besok pagi-pagi kita akan naik keatas gunung dan malam ini kita beristirahat di sini!" Kemudian kepada Hong-nio katanya: "Pergilah ke dapur dan siapkan makanan untuk kami, kalau dilihat tampangmu, aku sudah tahu kalau kau pandai sekali memasak sayur."

"Akan kutemani dia!" seru Cian-cian cepat. "Tidak, kau tak boleh kesana!" cegah Tong Lip. "Kenapa?"

"Karena kau sakit!"

Belum habis perkataannya itu, secepat sambaran kilat ia telah menotok jalan darah Cian-cian.

Sungguh cepat gerakan tubuhnya, ini membuktikan kalau kepandaian silat yang dimiliki telah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Ilmu silat yang dimiliki Cian-cian memang termasuk hebat, tapi dihadapannya, ilmu silat Cian-cian bagaikan permainan seorang anak kecil yang tak ada arti baginya.

Tong Lip menunjukkan wajah yang sangat puas.

"Sekarang aku hanya ingin makan hidangan yang paling lezat, minum sedikit arak wangi dan beristirahat dengan nyenyak ..........

"Suatu idee yang bagus!" seru Tong Bong sambil tertawa terkekeh-kekeh, "heehh ....heehh.....

memang suatu idee yang bagus sekali ."

Hong-nio bersembunyi disudut ruangan, seluruh tubuhnya melingkar menjadi satu, ia hanya merasa lelah, sedih dan putus asa.

Mereka tidak mengikat tubuhnya, tidak pula menotok jalan darahnya, mereka tidak takut ia kabur dari situ.

Babi yang cabul, tengik dan memuakkan itu selalu mengincarnya secara diam-diam, bahkan kemungkinan besar ia selalu berharap agar ia mencoba untuk kabur dari situ.

Dalam hati kecilnya ia telah bersumpah, ia tak akan kabur dari situ, diapun tak akan melakukan perbuatan apapun yang dapat menimbulkan kemarahan mereka.

Ia hanya berharap agar Cian-cian dapat pula berpendapat sepertinya, karena dalam keadaan demikian mereka harus tunduk dan menuruti saja, perkataan mereka.

"Tapi, bagaimana selanjutnya? Berapa lama mereka harus menahan diri ? Untuk berpikirpun ia tak berani.

Dua buah pembaringan yang berada dalam kamar telah ditempati oleh Tong Lip dan Tong Bong, setelah minum arak mereka tidur ngorok persis seperti babi.

Ci peng tak dapat bergerak bebas, karena jalan darahnya telah ditotok pula oleh mereka. Mereka mengikatnya menjadi satu dengan Cian-cian dengan mempergunakan seutas tali. Sambil tertawa terkekeh-kekeh Tong Bong berkata:

"Asal kau punya kepandaian untuk bergerak, silahkan bergerak dengan cara apapun, aku tak ambil perduli."

Ci Peng tak mampu bergerak.

Tong Bong kembali berkata sambil tertawa:

"Bisa dilihat tak dapat dinikmati, siksaan tersebut tentu sangat tak enak dirasakan.”

Ia merasa sangat bangga, karena idee ini berasal darinya, dialah yang bersikeras hendak menotok jalan darah Ci Peng.

"Sekarang kau masih belum serahkan Tio Bu ki kepada kami, kenapa kami harus percepat menyerahkan nona itu untuk kau nikmati?!

Ci Peng masih juga tersenyum.

"Aaaah . . . tidak menjadi soal, aku tidak terburu napsu!" sahutnya. BUKAN ALAM MANUSIA

CIAN-CIAN tak berani membuka mata.

Bila ia membuka matanya, maka akan terlihat tampang Ci Peng, si manusia munafik yang tak tahu malu itu tepat di hadapannya.

Selisih jarak antara muka Ci Peng dengan wajahnya hanya terpaut tidak sampai setengah depa.

Bagaimanapun, Cian-clan telah mencoba meronta, tubuh mereka berdua masih juga menempel satu sama lain. Kalau bisa dia ingin sekali mencekik laki-laki itu sampai mampus, belum pernah ia jumpai laki-laki tak tahu malu memuakkan seperti ini.

Meski demikian, suatu hawa panas dan bau khas seorang lelaki yang terpancar ke luar dari tubuh Ci Peng, menyebabkan hatinya terasa aneh, kalut dan sukar dilukiskan dengan kata- kata.

Ia hanya berharap agar malam yang menyiksa ini dapat dilewatkan dengan cepat, tapi bagaimana pula dengan besok?

Ia benar benar tak berani berpikir lebih lanjut.

Rasa lelah dan sedih yang kelewat batas, akhirnya membuat Hong-nio terlelap tidur dengan amat nyenyak.

Tapi . . . tiba-tiba ia tersentak bangun karena kaget, seketika itu juga seluruh tubuhnya menjadi kaku dan mengejang keras.

Sebuah tangan yang besar dan kasar sedang meraba pahanya dan pelan-pelan bergerak naik ke atas pinggangnya, lalu dengan suatu cara yang kasar dan bodoh mulai melepaskan kancing bajunya satu persatu.

Dia ingin berteriak, dia ingin muntah.

Tapi ia tak dapat muntah, ia pun tak berani berteriak, tahu seandainya menggusarkan babi ini, akibatnya akan jauh lebih fatal.

Tapi tangan itu bergerak makin berani, makin lama makin brutal dan tak tahu aturan, ia makin lama merasa makin tersiksa, makin tak tahan...

Untuk pertama kalinya dia teringat akan kematian, sayang untuk matipun saat ini dia tak mampu.

Kancing sudah terlepas semua, kini tiba giliran pakaiannya yang dicopot satu demi satu...

Tangan yang besar dan kasar itu telah menyentuh kulit tubuhnya yang halus dan lembut, dengusan napas yang membawa bau arak pelan-pelan semakin mendekati tengkuknya, dagunya dan makin mendekati bibirnya . . . .

Ia sudah tak dapat mengendalikan diri lagi mendadak sekujur badannya mulai gemetar keras.

Gemetar semacam ini rupanya semakin membangkitkan napsu birahi dari kaum pria, tangannya yang meraba, meremas dan memegang itu makin bekerja keras, makin bertenaga, makin bernapsu dan berani . . . Tiba-tiba, tangan ditarik ke luar dari balik celana dalamnya, menyusul kemudian tubuh yang berat seperti babipun ikut ditarik ke belakang ....

Terdengar Tong Bong meraung penuh kegusaran:

“Perempuan ini toh bukan milik anak kura-kura itu, kenapa loco tak boleh menyentuhnya?"

"Enyah kembali, ke pembaringanmu!" suara Tong Lip tetap sedingin es, baik-baik tidur di tempat, kalau tidak kukutungi sepasang tanganmu yang kotor itu!"

Ternyata Tong Bong tak berani membangkang.

Hong nio menggigit bibirnya keras-keras, menggigit hingga berdarah, sekarang sekujur tubuhnya baru terasa mengendor, akhirnya meledaklah isak tangisnya yang memilukan hati.

Dari balik kegelapan, sepasang mata yang berbisa bagaikan ular beracun itu sedang menatap-tajam-tajam, ternyata dia mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata yang membasahi pipinya.

Terhadap laki-laki ini, dia tak tahu haruskah merasa berterima kasih? Benci? Ataukah takut?

Ia takut laki-laki itu bertindak selangkah lebih ke depan, ia kuatir gerakannya diteruskan dengan gerakan lain.

Untunglah tangan Tong Lip setelah meraba pipinya tadi segera ditarik kembali, diapun segera bangkit berdiri.

Secara lambat-lambat ia seperti mendengar helaan napasnya yang panjang.

Keesokan hatinya, pagi-pagi sekali Hong nio telah bangun dan memasak sekuali besar bubur, ia mengambilkan semangkuk lebih dulu untuk Tong Lip.

Kali ini, ternyata Tong Lip berusaha menghindari tatapan matanya, bahkan memandang se-kejappun tidak, hanya ujarnya dengan dingin:

"Selesai makan bubur, kita akan segera naik gunung!”

Empat puluh delapan buah puncak bukit Kiu-hoa yang letaknya berjajar dengan membentuk lingkaran, bentuknya persis seperti sembilan kuntum bunga teratai.

Diantara empat puluh delapan buah puncak itu, Thian-ho merupakan puncak yang tertinggi, setelah naik ke atas gunung, tempat pemberhentian pertama dinamakan Soat-thian-bun, selewatnya tempat itu, jalan gunung makin sempit dan berbahaya. Dalam waktu singkat mereka sudah melewati Yong swan-ting, Teng sim sik, Poan siau teng, menyeberangi jembatan Tay siau sian kiau, lalu melewati pula Wong kang lo, Hay tham lim, melewati lagi Peh cap si ti leng ci soat dan sampailah di pagoda tempat menyimpan jasad Tee-cong pousat.

Tapi mereka semua tidak terlalu berminat dengan pousat.

Akhirnya sampailah beberapa orang itu di puncak Thian tay hong, terlihatlah awan bergerak lewat, bukit menjulang ke angkasa, batu aneh berserakan di mana-mana dan diantara celah- celah batu cadas tumbuh pohon siong yang rindang.

Kaki Hong nio sudah robek dan pecah-pecah, rambutnya kusut dan pakaiannya basah oleh keringat.

Segulung angin dingin berhembus lewat, bagaikan sebuah anak panah menerpa tubuhnya dan membuat sekujur tubuhnya gemetar keras. Tapi ia tidak menggerutu, tidak mengeluh atau pun menghela napas karena menyesal.

Tong Lip memandang sekejap ke arahnya, tiba-tiba ia berkata: "Kita harus sampai ke atas puncak bukit itu!"

"Aku tahu!" jawab Hong-nio.

*Kau harus pula sampai diatas!" Hong-nio menundukkan kepalanya.

“Aku. . . aku boleh mencobanya!” ia berbisik. "Tak perlu dicoba!”

*Aku bersedia menggendongnya" seru Cian-cian. "Tidak boleh!"

"Kenapa tidak boleh?"