Harimau Kemala Putih Jilid 06

Jilid 06  

"PADAHAL diantara sepuluh penjudi sembilan adalah penipu, orang yang tidak berjudilah yang benar-benar merupakan pemenang!"

"Tapi kau . . ."

Ciau Jit tayya menghela napas panjang.

"Aaaai . . . aku sudah terjerumus ke bidang itu, sekalipunhendak merangkak bangun, tubuhku sudah keburu berlepotan lumpur!"

Kemudian ia melanjutkan kembali: “Meski pun begitu, putra-putriku dan cucu-cucuku tak seorangpun yang akan berani berjudi lagi"

"Apakah mereka tidak suka berjudi?" tanya Bu-ki keheranan.

"Setiap manusia suka berjudi, cuma mereka lebih suka tangan sendiri!"

Setelah mendehem pelan, lanjutnya dengan hambar: "Diantara tigabelas orang putraku, ada enam orang diantaranya yang memiliki sebuah lengan!"

"Kenapa?”

"Karena secara diam-diam mereka telah berjudi!"

"Dan kaupun memenggal kutung sebuah lengan mereka?" sambung Bu-ki dengan cepat.

"Yaa, untuk anak cucu keluarga Ciau, barang siapa berani berjudi maka pertama kali berjudi kupenggal kutung sebuah lengannya, jika ketahuan berjudi untuk kedua kalinya maka akupun akan memotong sebuah kakinya." "Jika mereka berjudi untuk ketiga kalinya?" tanya Bu ki. Ciau Jit tayya tertawa ewa.

"Tak seorang manusiapun berani berjudi untuk ketiga kalinya, yaa, seorangpun tak ada!" Bu-ki tertawa getir.

"Andaikata aku adalah anak cucu keluarga Ciau, aku pasti berani berjudi untuk ketiga kalinya," demikian ia berkata.

Ciau Jit tayya tersenyum.

"Akan tetapi aku tidak keberatan bila orang lain berjudi, sebab semakin banyak orang berjudi di dunia ini, maka semakin baik pula penghidupan dari kami !”

Tiba-tiba ia berpaling ke arah Cia tauke sambil bertanya: "Kau punya berapa orang anak ?" "Tidak banyak !" jawab Cia tauke sambil tertawa paksa.

"Yang dimaksudkan tidak banyak itu berapa?" “Tujuhbelas orang !"

"Setiap tahun berapakah pengeluaran yang dibutuhkan mereka setiap orangnya?"

"Kecuali Lo toa, setiap orang rata-rata mendapatkan limaratus tahil perak setiap tahunnya." Kemudian tambahnya lagi:

"Sedang sang Lo toa mendapat seribu tahil perak !”

"Jadi kalau begitu berapa besar ongkos pengeluaran rumah tanggamu setiap tahunnya?"

"Wah, hal ini sulit untuk dikatakan, tapi kalau dihitung secara kasarnya paling sedikit juga diantara tujuh sampai delapan ribu tahil perak !”

"Apakah sudah termasuk juga pengeluaran-pengeluaran pribadimu setiap harinya?` Kembali Cia tauke tertawa paksa.

"Hampir setiap hari aku harus mengeluar-kan uang untuk ini itu, teman-teman dari petugas keamanan negara dan pegawai pengadilan harus kulayani, engkoh-engkoh dari gedung pembesar harus juga kulayani, jadi paling sedikit tiap tahunnya kami butuh uang sebesar sepuluh laksa tahil perak lebih untuk menutup semua perongkosan.`

Mendengar itu Ciau Jit tayya menghela napas panjang.

`Aaaai . . . akan tetapi bagi keluarga keluarga biasa, beberapa ratus tahil perakpun sudah cukup bagi mereka untuk hidup dengan tenang dan berbahagia! `

Ia berpaling ke arah Bu-ki dan tanyanya lagi:

`Tentunya kau bisa berpikir bukan, dari manakah biaya-biaya tersebut didapatkan untuk menutup semua kebutuhan tersebut?`

Bu-ki manggut-manggut, mendadak ia tertawa dan berkata: "Akan tetapi ongkos pengeluaranku justru harus didapatkan dari tempatnya itu.”

"Oleh karena itulah aku menganggap kau sebagai seorang manusia yang berbakat, asal tidak terlalu kelewat batas, dikemudian hari penghidupanmu pasti akan jauh lebih baik dari pada mereka semua.!”

"Aku bukan seorang manusia yang berbakat, akupun tidak mempunyai kepadaian apa-apa, cuma kemujuran tanganku mungkin rada baik.."

Kembali Ciau Jit-tayya picingkan matanya dan tertawa, tiba-tiba diambilnya dadu-dadu itu dan dilemparkan kembali ke dalam mangkuk.

Ternyata hasil yang diraih dalam pelemparannya kali ini bukan tiga angka enam, melainkan angka yang terkecil . . .

Satu, dua dan tiga.

`Hey, tampaknya kemujuran tanganmu telah berubah menjadi jelek!` kata Bu ki sambil tertawa.

`Tidak, sama sekali tidak berubah!`

Tangan yang sesungguhnya kosong itu tiba-tiba melemparkan kembali tiga biji dadu.

Ketika ketiga biji dadu itu berputar dalam mangkuk, dadu-dadu yang menunjukkan angka "satu, dua, tiga" itu segera tertumbuk hingga berguling, dengan demikian maka keenam biji dadu itu segera berubah semua menjadi enam buah angka enam. Ciau Jit tayya mengayunkan kembali tangannya, tangan yang kosong tiba-tiba berisi kembali dengan enam biji dadu, ketika ditebarkan ke mangkuk, dua belas biji dadu itu segera berputar bersama, ketika berhenti kemudian ternyata semuanya menunjukkan angka enam.

Tampaknya Bu ki tertegun menyaksikan semua adegan itu.

Ciau Jit tayya tersenyum, katanya kemudian: "Inipun termasuk kepandaian tangan, bagi seseorang yang betul betul ahli dalam berjudi, maka dalam tangannya sekaligus bisa tersimpan beberapa biji dadu-dadu cadangan, dan lagi orang lain tak akan melihat permainan kotornya itu.”

"Bahkan akupun tidak melihatnya", keluh Bu ki sambil tertawa getir.

"Oleh sebab itulah sekalipun dadu-dadu yang berada dalam mangkuk adalah dadu-dadu asli, asal dirubah olehnya dengan sedikit kepandaian maka dadu yang asli segera akan berubah menjadi dadu palsu, dan berapa yang ingin didapatkan, dia akan dapat meraih angka tersebut".

"Apakah kedua belas biji dadu itu semuanya telah diberi air raksa?" tanya Bu ki. "Silahkan dicoba!"

Bu ki menengok sekejap ke arah Cia Tauke, dan Cia Taukepun menjepit dadu tersebut dengan kedua jari tangannya, ketika ditekan dadu tadi, dadu yang lebih keras dari batu itu segera hancur dan air raksapun menetes keluar membasahi meja.

"Bagaimana pendapatmu?" tanya Ciau Jit Tayya kemudian.

"Bagus, bagusnya bukan kepalang!" sahut Bu ki sambil menghela napas panjang.

"Bagi orang yang melatih ilmu khikang, kepandaiannya jauh lebih hebat lagi, sekalipun kau jelas mengetahui bahwa angka yang diraih adalah angka enam, asal ia menggetarkan meja dengan ilmu khikangnya maka angka tersebut mungkin segera berubah menjadi angka satu."

Setelab tersenyum, tambahnya: "Tetapi berbicara dari sudut berjudi, cara semacam ini adalah cara curang yang tak boleh ditiru, sebab bagi seseorang yang benar-benar ahli, tak nanti dia menggunakan cara-cara semacam itu."

"Kenapa?" tanya Bu ki.

"Sebab berjudi adalah suatu perbuatan yang harus disertai dengan pengetahuan yang cukup, juga merupakan suatu kenikmatan yang tersendiri, sekalipun hendak mempergunakan sedikit kepandaian tangan di balik perjudian itu, hal ini perlu dilakukan secara halus dan lembut, tak boleh memakai sistim keras lawan keras, sehingga meskipun orang kalah, orang akan kalah dengan puas" Sambil tersenyum lanjutnya: "Jika orang lain kalah dengan hati yang puas dan lega, lain kali mereka baru mau datang untuk berjudi lagi."

Bu ki menghela napas panjang.

"Aaaai . . . rupanya memang harus disertai dengan pengetahuan".

Dari balik sepasang mata Ciau Jit Tayya yang sipit kembali mencorong ke luar sinar tajam yang menatap wajah Bu-ki lekat-lekat, kemudian katanya:

"Akan tetapi dalam pertaruhan kita nanti, tentu saja tak boleh menggunakan kepandaian tangan untuk memperoleh kemenangan".

Bu-ki tertawa.

"Sekalipun aku pingin mempergunakannya, sayang aku tak mampu untuk melaksanakannya. Ciau Jit Tayya menarik wajahnya, lalu berkata lagi:

"Bila kita ingin bertaruh, maka kita harus bertaruh secara adil, sama sekali tak boleh bermain curang atau memakai segala macam akal bulus !”

"Tepat!”

"Baik!" sekali lagi Ciau Jii Tayya memicingkan sepasang matanya, kalau begitu aku akan menemani Tio kongcu untuk bermain beberapa kali"

"Buat apa musti bermain beberapa kali?”

Lebih baik sekali bertaruh ditentukan siapa bakal menang dan siapa bakal kalah, itu baru sedap namanya

Sekali lagi Ciau jit tayya mementangkan sepasang matanya lebar-lebar, lewat lama sekali dia baru bertanya:

"Kau benar benar hanya ingin bertaruh sekali saja?"

"Asal bisa diketahui siapa menang dan siapa kalah, aku rasa satu kalipun sudah lebih dari cukup,"

Berapa besar yang hendak kau pertaruhkan?" "Harus kuperiksa dulu, tampaknya tidak terlalu banyak uang yang kubawa kali ini." Dari sakunya ia mengeluarkan setumpuk uang kertas, selain itu terdapat pula setumpuk daun emas yang dibuat tipis-tipis.

Sambil menghitung jumlahnya, dia menghela napas panjang dan bergumam seorang diri.

"Sasungguhnya tidak terlalu banyak yang kubawa kali ini, termasuk daun-daun emas yang tak ada artinya ini, paling banter juga cuma tigapuluh delapan laksa limaribu tahil perak!"

Kecuali Ciau Jit tayya, hampir dibilang paras muka setiap orang berubah hebat.

Sekalipun setiap orang di antara delapan orang yang hadir dalam ruangan itu merupakan jago- jago paling top dalam soal berjudi, akan tetapi sekaligus mempertaruhkan harta sebesar tigapuluh laksa tahil perak lebih dalam sekali taruhan adalah sesuatu yang luar biasa, belum pernah mereka temui kejadian semacam ini sebelumnya:

Tiba tiba Bu ki tertawa lebar, lalu katanya dengan cepat:

"Oh . . teringat aku sekarang, di meja. luarsanamasih ada dua laksa tahil perak, jadi jumlahnya persis mencapai empatpuluh laksa tahil perak . . . !"

Di luarsanamasih ada dua laksa tahil perak?” ulang Cia tauke dengan wajah berubah.

"Yaa, satu laksa tahil perak sebagai modalku dan si bandar wajib membayar selaksa tahil perak lagi sebagai taruhannya."

Paras muka Ciau Jit tayya sama sekali tidak berubah, segera ia menitahkan: "Kalau begitu keluarlah kesanadan ambit dua laksa tahil perak untuk Tio kongcu ini."

"Baik!" sahut Cia tauke.

"Sekalian pergilah ke kas uang dan coba lihat di situ ada uang berapa banyak, ambil semuanya ke mari!"

"Baik!"

Seorang laki-laki bermuka merah yang tinggi kekar tiba-tiba menyela dari samping: "Bagaimana kalau kutemani Lak ko untuk pergi ke luar?"

"Memang ada baiknya kalau Lau Lo pat bersedia menemaninya," kata Ciau Jit tayya, "apalagi kau memang punya usaha pula di tempas ini, bila kas hanya ada uang sedikit, kau boleh menambahkan sedikit lagi!”

"Baik” “Menanti mereka sudah pergi, Ciau Jit Tayya baru berpaling k6 arah Bu-ki seraya berkata dengan senyuman dikulum:

"Tio kongcu, inginkah kau menghisap huncwe lebih dulu?”

Begitu ke luar dari ruangan, dengan kening berkerut Lau Lo pat lantas berkata:

""Aku benar benar tidak habis mengerti apa yang hendak dilakukan oleh tua bangka itu?" "Dalam bagian yang mana kau tidak mengerti?" tanya Cia tauke.

"Kenapa tua bangka itu menceritakan semua perkembangan dan taktik permainan kita kepada penyakit itu? Kenapa tidak gunakan saja cara tersebut untuk menghadapinya?"

"Karena tua bangka tahu bahwa penyakit itu sesungguhnya bukan penyakit” kata Cia tauke. "Tapi cara permainan si tua bangka sebenarnya tidak diketahui sama sekali olehnya"". "Yaa, karena ia sedang menyamar sebagai babi untuk memakan harimau"

Setelah tertawa, kembali katanya:

"Akan tetapi si tua bangka juga bukan orang sederhana, sekalipun dia tahu bahwa cara itu tak akan mengelabuinya, maka didemonstrasikan kepandaian-kepandaian simpanannya di hadapan orang itu, dia berharap agar ia tahu lihay dan mengucapkan sepatah dua patah kata yang enak didengar, siapa tahu si tua bangka akan melepaskannya dengan begitu saja."

"Akan tetapi bajingan cilik itu justru tak tahu diri,” sambung Lau Lopat cepat.

"Oleh sebab itu menurut pendapatku, kali ini lo yacu telah bersiap sedia untuk turun tangan menghadapinya.”

"Tapi sudah tujuh delapan tahun si tua bangka tak pernah turun tangan, sedangkan bajingan cilik itu . . ."

Cia tauke segera tertawa.

"Jangan kuatir, jahe selamanya lebih tua lebih pedas, sekalipun siluman monyet Sun Go khong mempunyai ilmu tujuhpuluh dua merubah, ia tak mampu kabur dari telapak tangan Ji lay Hud!"

Kemudian tanyanya pula: "Sudah hampir duapuluh tahun kau mengikuti si tua bangka itu, pernahkah kau saksikan dia kalah bertaruh? " Belum pernah!” jawab Lau lo-pat.

Akhirnya sekulum senyuman tenang dan hati lega tersungging di ujung bibirnya, dan diapun menambahkan:

"Yaa, selamanya memang belum pernah!"

Kecuali suara "Bluup! Bluupl" bunyi asap huncwee yang berbunyi bagaikan peluit, dalam ruangan tidak terdengar suara apapun.

Dalam hati masing-masing sedang terlibat dalam suatu pemikiran yang serius. .

Semua orang sedang berpikir, harus mengunakan cara apakah untuk menangkan, "si macan tutul yang mujur" itu?

Tapi mereka gagal untuk menemukan sesuatu cara.

Setiap macam cara yang berhasil mereka bayangkan, tidak menjamin kemenangan seratus persen buat pihak mereka.

Si anak muda itu terlalu tenang, membuat orang susah menduga jalan pemikirannya, bahkan membuat orang merasa sedikit rada takut. Mungkinkah tangannya benar-benar lagi sangat mujur?

Atau mungkin karena dia percaya bahwa Ciau Jit tayya tak akan dapat mengetahui dengan cara permainan apakah dia berjudi?

Bagaikan motor uap, Ciau Jit tayya menghembuskan asap huncweenya secara beruntun, begitu nikmat ia merasakan harumnya tembakau, hampir saja matanya yang sipit terpicing rapat-rapat.

Mungkinkah ia telah mempunyai keyakinan menang dalam dadanya? Ataukah ia masih me-mikirkan dengan cara apakah dia akan menghadapi si anak muda itu?

Bu-ki cuma tersenyum sambil memandang ke arahnya, seperti seorang pengumpul barang kuno sedang mengamati sebuah benda antik dan memastikan keasliannya, seperti juga seekor rase kecil sedang mengamati gerak gerik dari seekor rase tua dan berharap dari gerak geriknya dapat mempelajari sedikit ilmu rahasia yang berguna bagi bekal hidupnya.

Apakah Ciau Jit tayya juga sedang memperhatikannya secara diam-diam?

Akhirnya Cia tauke dan Lau lo-pat muncul kembali sambil membawa setumpuk uang kertas, mereka sisihkan dulu dua tumpuk untuk diserahkan kepada Bu-ki. "Ini dua laksa tahil perak!" katanya.

"Kalian berhasil mengumpulkan empat puluh laksa tahil perak?" "Yaa, dan ini semua jumlahnya persis empatpuluhlaksa tahil perak!”

Cia tauke meletakkan uang kertas di meja dan menampilkan sekulum senyuman bangga di wajahnya.

Bisa mengumpulkan uang kontan sebanyak empat puluh laksa tahil perak dalam waktu singkat, hal ini merupakan suatu pekerjaan yang tidak gampang . . . .

Bu-ki segera berkata sambil tertawa:

"Rupanya usaha Cia tauke memang maju amat pesat dan mendatangkan keberuntungan yang melimpah.!

Cia tauke segera tertawa tergelak: "Haahhh.. . . haahhh . . . haahhh usaha semacam ini

memang merupakan suatu usaha yang mendatangkan keberuntungan paling melimpah!" "Bagus, sekarang bagaimana cara kita bertaruh?"

Lelaki setengah umur yang berwajah kuning kepucat-pucatan itu mendehem lebih dahulu, lalu katanya;

"Setiap permainan ada peraturan permainan, setiap pertaruhan ada pula peraturan pertaruhan!"

"Untuk melakukan suatu pekerjaan, kita memang harus melakukannya menurut aturan, apalagi dalam bertaruh uang, petaturannya tentu akan lebih besar lagi.”

"Akan tetapi, terlepas dari peraturan macam apakah itu, kedua belah pihak harus menyetujuinya lebih dahulu," sambung laki-laki setengah umur berwajah kuning itu.

“Benar!”

"Bila hanya ada dua orang yang akan bertaruh, maka pertaruhan akan berlangsung tanpa bandar."

"Tepat!"

"Oleh karena itu barang siapa yang berhasil meraih angka tertinggi dalam pelemparannya yang pertama, pihak kedua harus angkat kaki." "Andaikata jumlah angka yang diraih kedua belah pihak sama?" tanya Bu ki.

"Kalau sampai begitu, maka dalam pelemparan itu tak ada yang menang atau kalah, kita anggap seri dan harus diulang kembali.""

"Aku pikir cara ini kurang baik" tiba-tiba Bu ki menampik sambil menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kurang baiknya?"

"Kalau kedua belah pihak memperoleh jumlah lemparan yang sama terus menerus, bukankah pertaruhan itu akan berlangsung tiada habisnya? Wah, kalau begini caranya, Sekalipun bertaruh selama tiga hari tiga malampun belum tentu bisa menentukan siapa pemenangnya-"

"Lantas sistim judi yang bagaimanakah yang kau inginkan?"

“Barang siapa berhasil melemparkan dadunya dengan memperoleh angka paling tinggi, maka pihak yang lain harus mengaku kalah."

Angka yang paling besar adalah tiga angka enam, asal ia melemparkan dadunya maka angka yang bakal diraih adalah tiga angka enam.

Serentak delapan orang itu membelalakkan matanya lebar lebar, hampir dalam waktu yang bersamaan mereka bertanya:

"Siapa yang akan melempar lebih dulu?"

"Aku lihat Loya cu ini sudah tua dan lebih tinggi tingkatannya dariku, tentu saja sudah se-pantasnya kalau kupersilahkan kepadanya untuk melempar lebih dulu.”

Perkataan itu bukan saja membuat setiap orang merasa terperanjat, bahkan Ciau Jit Tayya sendiripun merasa sedikit di luar dugaan.

Jangan-jangan bocah muda itu sudah edan? Atau mungkin ia merasa mempunyai keyakinan yang amat besar?

Dengan paras muka sedikitpun tidak berubah, Bu-ki tersenyum dan berkata lagi: "Silahkan kau melempar lebih dulu !"

Kembali Ciau Jit tayya menatap lawan judinya lekat-lekat, setengah harian kemudian tiba-tiba ia berseru:

"Lo toa, ambil seperangkat dadu !” Dari sakunya lelaki setengah umur berwajah kuning itu mengambil ke luar sebuah kotak kecil yang terbuat dari batu kemala putih.

Dalam kotak berlapiskan kain sutera berwarna kuning dan isinya hanya tiga biji dadu yang terbuat dari batu kemala putih.

"Dadu batu kemala putih ini adalah dadu yang dipakai oleh para utusan dari negeri asing, asli buatan pribadi dari pemilik tokoPosik cay, benda ini ditanggung tak akan palsu."

"Berikan kepada Tio kongcu agar diperiksa!" perintah Ciau Jit Tayya.

Dengan menggunakan sepasang tangannya, laki laki serengah umur itu mengangsurkan dadunya kepada anak muda itu.

Bu-ki segera menolaknya dengan tangan sebelah, katanya sambil tersenyum lirih: "Tak usah diperiksa lagi, aku percaya dengan Loya cu ini !"

Sekali lagi Ciau Jit tayya menatapnya setengah harian, kemudian baru pelan-pelan mengangguk.

""Bagus, punya semangat !" pujinya.

Dengan mempergunakan sepasang jari tangannya yang berkuku panjang tiga inci itu diambilnya dadu tersebut satu demi satu, lalu sambil diletakkan dalam telapak tangannya kembali ia bertanya:

"Sekali lemparan menentukan menang kalah?" "Benar !"

Pelan pelan Ciau Jit tayya bangkit berdiri, tangannya diluruskan ke depan tepat mengarah di atas mangkuk, lalu dadu-dadu itu diletakkannya dengan seksama.

Cara pelemparan ini merupakan cara yang paling memakai aturan, barang siapa menyaksikan cara tersebut maka siapapun tak akan menaruh curiga walau sedikitpun.

*Triing !" Diiringi bunyi dentingan, ketiga biji dadu itu sudah terjatuh ke dalam

mangkuk.

Putaran dadu yang kencang membuat jantung tiap orang serasa ikut berputar pula. Akhirnya dadu dadu itu berhenti. Tiga angka enam, benar benar tiga angka enam. angka yang paling top yang berarti tiada bandingannya.

Bu-ki pun tertawa, sambil menepuk sakunya pelan-pelan ia bangkit berdiri. "Aku kalah!"

Setelah mengucapkan kata tersebut, tanpa berpaling ia segera angkat kaki dari situ.

AKAL BULUS

RUANGAN itu sudah lama berada dalam keadaan hening. Padahal ada sembilan orang berada dalam ruangan itu, biasanya ruangan dengan sembilan orang di dalamnya tak akan setenang itu.

Ke sembilan orang tersebut bukan saja tidak bisu bahkan mereka pandai sekali berbicara, orang-orang yang pandai bersilat lidah dengan segala kelicikan serta kecerdasannya.

Mereka semua tidak berbicara karena dalam hati kecil masing-masing sedang memikirkan satu hal Mengapa si macan tutul yang mujur berbuat demikian ?

Siapapun tidak menyangka kalau dia hanya mengucapkan dua patah kata saja: "Aku kalah!" dan kemudian ambil langkah seribu.

Penyelesaian dari suatu pertaruhan ini datangnya terlalu mendadak, terlalu di luar dugaan.

Lama sekali setelah ia pergi, Ciau Jit tayya baru mulai mengisi huncwenya dengan tembakau, lalu "Bluup! Bluuup! Bluuup!" menghisapnya dengan penuh kenikmatan.

Kembali lewat lama sekali, akhirnya baru kedengaran ada orang yang menyatakan pendapatnya, tentu saja orang pertama yang baka suara adalah Lau Lo pat.

"Kuberitahukan kepada kalian atas apa yang sesungguhnya telah terjadi, kalah yaa kalah, menang yaa menang, ia kalah maka dia harus angkat kaki."

"Sekalipun kekalahannya cukup manis, waktu pergipun manis juga, setelah terbukti kalah, kalau tidak pergi lantas mau apa lagi ia tetap mengendon disitu?"

Tak seorangpun yang menjawab, kecuali dia seorang hakekatnya tak ada orang lain, yang buka suara.

Ciau Jit Tayya menghisap huncwenya dengan penuh kenikmatan, selang sejenak kemudian setelah tertawa dingin katanya tiba-tiba:

"Lo-toa, menurut pendapatmu apa yang telah terjadi?" Lo-toa adalah laki-laki setengah umur yang berwajah kuning itu, dia she Pui, diantara delapan orang Kim kong di bawah pimpinan Cian Jit tayya, ia merupakan Lo-toa.

Pui lo-toa ragu-ragu sejenak, kemudian jawabnya : “Aku tidak mengerti . . “ "Kenapa tidak mengerti?"

"Apa yang dikatakan Lo pat memang ada benarnya juga, setelah kalah kalau tidak pergi lantas mau apa lagi?"

Tapi setelah berpikir sebentar kembali ujarnya: "Tapi aku selalu beranggapan bahwa kejadian tersebut tampaknya tak akan sederhana itu."

"Kenapa?"

"Sebab kekalahannya terlalu memuaskan!"

Itu memang kata-kata yang jujur. Sesungguhnya Bu-ki memang tak perlu kalah secepat itu, apa lagi sedemikian mengenaskan, sebab sebetulnya ia tak perlu mempersilahkan Ciau Jit tayya turun tangan lebih dulu.

Lau lo-pat tak dapat mengendalikan perasaannya, ia segera berseru: "Menurut pendapatmu, apakah dia mempunyai tujuan lain?"

Pui lotoa mengakuinya.

Kembali Lau lo-pat berkata: "Kalau memang demikian, tadi kenapa kita tidak menahannya saja di sini?"

Pui lotoa segera tertawa dingin.

"Orang lain sudah menderita kalah, lagi pula kalah dengan semanis dan seindah itu, dengan dasar apa kita hendak menahannya tetap berada di sini?"

Lau lopat tak sanggup berbicara lagi. Ciau Jit tayya segera berkata :

“Apakah kaupun dapat menebak kenapa ia berbuat demikian?” “Aku tak sanggup menebaknya” jawab Pui lotoa.

Orang lain telah kalah dalam berjdi, ludas seluruh uang taruhannya dan telah angkat kaki, apa lagi yang dapat kau lakukan terhadapnya? Ciau Jit tayya kembali mengisi huncwenya dengan tembakau, tapi dalam beberapa hisapan asap tembakau kembali padam, ia sendiripun tidak mengerti.

Sesungguhnya ia bukan lagi menghisap huncwe, ia sedang berpikir. Lewat lama, lama sekali akhirnya diatas wajahnya yang kurus dan kuning mendadak melintas suatu perubahan mimik wajah yang sangat aneh.

Delapan orang yang berdiri dihadapannya sudah dua puluh tahun lebih mengikutinya, mereka tahu hanay diakala teringat akan sesuautu urusan yang menakutkan dia baru menujukkan perubahan wajah semacam itu. Tapi siapapun tidak tahu apa yang sednag dipikirkan olehnya?

Bagi seorang kakek yang telah berusia tujuh puluh dua tahun dan sudah kenyang mengalamai pelbagai badai serta percobaan, sesungguhnya tiada masalah yang menakutkan lagi baginya.

Oleh sebab itu perasaan setiap orang serasa ditarik ke atas dan tergantung di tengah awang awang, mereka semua merasa dag dig dug dan tidak tenteram.

Akhirnya Ciau Jit tayya berkata juga. Ditatapnya Lau Lo Pat sekejap, kemudian katanya: “Aku tahu, hubunganmu dengan Lolak paling akrab, kau punya modal dalam rumah perjudiannya, tentu saja diapun punya modal di rumah perjudianmu, bukan?”

Lau lopat tidak berani menyangkal, dengan kepala tertunduk sahutnya: “Benar!”

“Aku dengar modalmu ditempa ini tidak terhitung sedikit?” “Benar!”

“Berapa besar modal yang kau ikut sertakan dalam usaha di sini?” “Enam laksa tahil perak!”

Berada di hadapan Ciau Jit tayya, persoalan macam apapun tak berani ia rahasiakan, maka kembali ujarnya lebih jauh:

“Kami sudah bekerja hampir empat tahun lebih dan selama ini berhasil meraih keuntungan sebesar dua puluh laksa tahil perak lebih, kecuali untuk pengeluaran sehari-hari, semuanya masih tersimpan di sini tanpa berkutik.”

Ia sedang tertawa, namun suara tertawanya kelihatan kurang begitu leluasa, sambungnya lebih jauh:

"Karena perempuanku ingin mempergunakan uang tersebut untuk membuka beberapa buah rumah pelacuran!"

“Konon perempuan yang paling kau sayangi diantara perempuan-perempuan yang berada di sekelilingmu bernama Bi-go?” kembali Ciau Jit tayya bertanya. "Benar!"

"Konon diapun suka sekali berjudi?"

Lau lopat tertawa paksa: "Judinya jauh lebih garang dari pada diriku, cuma lebih banyak menangnya dari pada kalah."

Tiba-tiba Ciau Jit tayya menghela napas panjang.

“Aaai...! Kalau memangnya lebih banyak urusan akan bertambah runyam...!” demikian keluhnya.

“... Bila seseorang mulai berjudi, makin sering dia menang makin runyamlah keadaannya, sebab dia selalu akan beranggapan bahwa tangannya amat mujur, mempunyai rejeki besar untuk berjudi, dalam keadaan demikian ia akan semakin ingin berjudi, bahkan makin berjudi taruhannya semakin besar, kendatipun suatu ketika menderita kalah sedikit, dia tak akan ambil perduli, sebab ia merasa kekalahan tersebut pada akhirnya toh akan tertebus kembali.”

Manusia macam beginilah yang dinamakan seorang penjudi, karena manusia dari jenis ini seringkali bisa kalah habis habisan, bahkan sampai modalpun ikut ludas.

Itu termasuk nasehat dari Ciau Jit tayya juga merupakan pembicaraan atas dasar pengalaman, entah sudah berapa ratus kali mereka berdelapan mendengar nasehat itu, siapapun tak akan melupakan untuk selamanya.

Tapi siapapun tidak habis mengerti kenapa dalam keadaan seperti ini Ciau Jit tayya menyinggung kembali persoalan tersebut.

Kembali Ciau Jit tayya bertanya:

“Berikut modal ditambah bunga berapa banyak yang bisa dibayar setiap saat dari meja perjudianmu itu?”

“Kalau seluruhnya dijumlahkan menjadi satu, mungkin ada duapuluh laksa tahil perak lebih” “Bila kau tak ada di rumah, siapa yang mengurusi gedung perjudianmu itu...?” “Perempuanku itu!” jawab Lau lopat.

Kemudian sambil tertawa paksa kembali ujarnya:

“Tapi kau orang tua jangan kuatir, sekalipun ia dapat makan cuka (ccemburu), selamanya belum pernah makan aku”

“Bagaimanapun jua, sedikit banyak dalam genggamannya tentu ada sedikit uang kontan bukan” tukas Ciau Jit tayya dengan suara dingin.

Lau lopat tak berani membantah lagi.

Ciau Jit-tayyapun mendesak lebih jauh: "Menurut perkiraanmu, berapa banyak uang yang dia miliki" Lau lopat agak ragu-ragu sejenak, akhirnya ia menjawab juga:

"Paling sedikit mungkin juga ada tujuh-delapan laksa tahil perak lebih ”

"Paling banyak?" desak Ciau Jittayya lebih lanjut.

"Sukar untuk ditetapkan, mungkin saja ia memiliki uang sebesar tujuh belas sampai delapan belas laksa tahil perak, tapi mungkin juga lebih dari itu."

Ciau-Jittayya termenung beberapa saat lamanya sambil memandangi tumpukan uang kertas di meja lewat lama sekali pelan-pelan ia baru berkata lagi:

"Lotoa, loji, losam, losu, longo dan lojit masing-masing mendapat dua laksa tahil perak."

Serentak keenam orang itu maju ke muka sambil menyatakan rasa terima kasihnya atas pemberian dari Ciau Jittayya, selamanya mereka tak berani menampik perintah orang tua itu.

"Lolak yang mengeluarkan modal, dia pula yang menanggung rasikonya, maka Lolak pantas mendapat bagianlimalaksa tahil perak."

Cia taukepun maju mengucapkan terima kasih, sedang dalam hatinya diam-diam merasa keheranan kalau memang setiap orang mendapat bagian, kenapa lopat sendiri yang tidak memperoleh bagian?

Akan tetapi berhubung Ciau Jittayya tidak menyinggung soal itu, siapapun tak berani menyinggungnya pula.

"Tiga laksa tahil perak kubagikan untuk orang-orang yang kubawa kali ini," kata Ciau Jittayya lebih jauh, sedangkan sisanya yang duapuluh laksa tahil perak untuk Lopat semua!

Ciau Jittayya selalu bertindak secara adil, bijaksana dan tidak berat sabelah, terhadap ke delapan orang muridnya boleh dibilang ia tak pernah pilih kasih, tapi kali ini Lau lopat hakekatnya tidak mengeluarkan tenaga apa-apa, tapi justru dia yang memperoleh bagian terbesar, sedikit banyak semua orang merasa tercengang juga.

Lau lopat sendiripun merasa amat terperanjat, buru-buru serunya: “Kenapa bagianku yang paling banyak!"

Ciau Jittayya segera menghela napas panjang: "Aaai, karana dengan cepat kau akan membutuhkan uang tersebut!" jawabnya lirih. Sebelum Lau Lopat sempat mengucapkan sesuatu, tiba-tiba lelaki setengah umur yang berwajah kuning itu sudah berseru tertahan: "Oooh, sungguh amat lihay, sungguh amat lihay..

...!"

"Siapa yang kau katakan amat lihay?" Cia tauke segera bertanya.

Sambil menghela napas panjang lelaki setengah umur itu gelengkan kepalanya berulang kali. "Pemuda she Tio itu benar-benar amat lihay!" katanya.

"Sesungguhnya akupun sudah berpikir sampai ke situ barusan, jalas ia berbuat demikian karena kuatir loya-cu berhasil mengetahui rahasia permainannya, diapun tak ingin merusak nama baik "si macan tutul yang mujur" tersebut, maka ia lebih suka mengalah pada permainan kali ini agar orang lain selamanya tak akan mengetahui dengan permainan apakah ia berhasil sukses dalam perjudiannya selama ini" kata Cia tauke.

Pelan-plan lelaki setengah umur itu mengangguk.

"Berbicara dari perbuatannya ini sudah cukup membuktikan bahwa dia memang cukup lihay!"

"Akan tetapi bagaimanapun jua ia toh tetap kalah empat puluh laksa tahil perak, jumlah tersebut bukan suatu jumlah yang sedikit!" kata Cia tauke kemudian.

"Asal orang lain tidak berhasil mengetahui rahasia permainannya, kesempatan baginya untuk meraih kembali kekalahan tersebut masih selalu tersedia."

"Bagaimana cara meraihnya?"

"Ia kalah dalam perjudian tentu saja kekalahan tersebut akan diraihnya pula dari meja perjudian."

Losam yang selama ini cuma membungkam dan tidak ikut berbicara apa-apa mendadak menghela napas, lalu katanya.

"Di sini dia kalah empat puluh laksa tahil perak, apakah jumlah tersebut tak bisa ia menangkan kembali dari tempat lain?"

"Dia akan meraihnya kembali di mana?" tanya Lau lopat.

Lelaki sctengah umur itu, hanya memandang kearahnya sambil tertawa getir dan gelengkan kepalanya berulang kali.

Tiba-tiba Cia tauke melompat bangun sambil berteriak: "Jangan-jangan ia telah menyantroni gedung perjudian milik lopat?"

"Aaaah ...tentunya sekarang kau mengerti bukan, apa sebabnya loya-cu menyisihkan bagian yang paling besar untuk lopat," sela Losam.

"Tapi aku masih tidak percaya secepat itu gerakan tubuhnya, masa dalam sekejap mata gedung perjudian milik Lopat telah ludas ditangannya?"

Ciau Jittayya mengerdipkan matanya lalu tertawa dingin.

"Kalau tidak percaya, mengapa kau tidak menyusul ke situ untuk membuktikannya sendiri?" demikian ia berkata.

Lau lopat telah menyerbu ke luar dari ruangan tersebut, disusul Cia tauke dibelakangnya. Lelaki setengah umur itu masih saja menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.

"Seandainya ia tidak menyerahkan gedung perjudiannya ke tangan seorang perempuan, mungkin tak akan secepat itu hartanya menjadi ludas, sayang kini ”

Setiap orang dapat memahami maksud perkataannya itu.

Kalau perempuan sudah kalah berjudi, hatinya pasti amat sakit, bila hati sudah sakit maka dia akan berusaha meraih kembali kekalahannya, apabila bertemu dengan seorang ahli berjudi, maka makin kalah tentu semakin banyak, dia baru berakhir bila harta kekayaannya sudah ludas semua.

"Memburu kembali modal yang hilang" merupakan pantangan terbesar bagi penjudi, kalau seorang penjudi yang benar-benar ulung maka begitu kalah dia lantas angkat kaki, tak nanti dia akan mengendon terus di tempat tersebut.

"Sekali kalah segera angkat kaki, mendapat hasil mujur lantas berhenti". Kata-kata nasehat tersebut selalu dipegang teguh oleh Ciau Jit Tayya, sebab sebagai seorang ahli dalam berjudi, dia tak akan melupakan kata kata nasehat tersebut.

Sekali lagi Losam menghela napas, katanya: "Aku berharap harta kekayaan milik lopat jangan sampai berada di tangan perempuan itu".

"Menurut penglihatanku, lolak pasti mempunyai bagian juga dalam usaha perjudian di situ, ia pasti mempunyai sejumlah modal yang di tanamkan disana."

Lalu setelah menghela napas panjang kembali katanya:

"Siapa tahu kalau diapun mempunyai seorang perempuan yang ditugaskan disana." Kalau dua orang perempuan yang menderita kalah, tentu saja jauh lebih cepat dari pada seorang perempuan saja.

Ketika Cia tauke muncul dalam ruangan itu, wajahnya hijau membesi, peluh sebesar kacang membasahi sekujur tubuhnya.

"Bagaimana?" tanya lelaki setengah umur itu.

Cia tauke ingin tertawa paksa, sayang suara tertawanya tak mampu diutarakan ke luar. "Dugaan loya-cu dan toako memang benar benar luar biasa!"

"Berapa banyak yang berhasil ia menangkan darisana?"

Limapuluh empat laksa tahil uang kertas dan dua buah gedung besar dalamkota!"

"Di antaranya berapa banyak yang merupakan uangmu?" tanya lelaki setengah umur itu lagi. "Sepuluh laksa tahil perak.”

Lelaki setengah umur itu memandang ke arah Losam, kedua-duanya saling berpandangan lalu tertawa getir.

Dengan gemas dan penuh kebencian Cia tauke segera berseru:

"Tidak kusangka bajingan yang masih muda usia itu ternyata lihay bukan kepalang!"

Sambil picingkan matanya Ciau Jit tayya seperti sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba ia bertanya.

""Apakah Lopat telah membawa orang untuk pergi mencari kesulitan baginya. .. ?"

"Ia telah merobohkan beberapa orang saudara petugas keamanan gedung tersebut, mau tak mau terpaksa kita harus mencarinya kembali."

"Sudah menangkan uang orang masih memukul orang, perbuatannya ini sedikit kelewat ganas dan keterlaluan," kata Ciau Jit tayya.

"Benar!"

Tiba tiba Ciau Jit tayya tertawa dingin.

*Aku takut yang garang dan keterlaluan bukan orang lain melainkan kita sendiri" jengeknya. "Kita . . ."

Tiba tiba Ciau Jit tayya menarik muka dengan wajah menyeramkan ia membentak: "Aku hendak bertanya kepadamu, sesungguhnya siapa yang turun tangan lebih dahulu?"

Melihat paras muka Ciau Jit tayya sudah membesi, Cia tauke semakin gugup dibuatnya, dengan terbata-bata sahutnya ;

"Aku . . . aku rasa . . . saudara-saudara kita yang bertugas di . . . di gedung yang turun tangan lebih . . . lebih dahulu!”

"Mengapa mereka turun tangan ? Apakah lantaran orang lain berhasil menang banyak maka kalian tidak mengijinkan orang itu angkat kaki?" tegur Ciau Jit tayya ketus.

"Saudara-saudara kita menganggap dia sedang bermain curang!" Hawa amarah telah menyelimuti seluruh wajah Ciau Jit tayya, setelah tertawa dingin katanya:

“Sekalipun dia bermain curang, selama kalian tidak berhasil memergokinya sendiri, hal ini harus diakui sebagai kemampuan orang, dengan dasar apa kalian tidak memperkenankan orang pergi?"

Dari balik matanya kembali mencorong ke luar serentetan sinar tajam, ditatapnya Cia Lak lekat--lekat kemudian tegurnya lebih jauh:

`Aku ingin bertanya kepadamu, tempat kaliansanasesungguhnya adalah gedung perjudian ataukah sarang penyamun?"

Cia tauke tak berani buka suara, ia menundukkan kepalanya rendah-rendah sambil menyeka keringat yang telah membasahi seluruh wajahnya.

Pergolakan emosi yang mencekam perasaan Ciau Jit Tayya dengan cepatnya mereda kembali.

Yang dibutuhkan oleh para penjudi bukan cuma "keberuntungan", melainkan harus ada "ketenangan".

Seorang penjudi yang mulai dengan kariernya sejak berusia belasan, bahkan sekarang telah menjadi "Raja judi", tentu saja ia harus pandai mengendalikan perasaan sendiri.

Sejak ia menerima orang-orang itu sebagai anak muridnya, ia telah menanamkan pengertian tersebut dalam benak mereka semua.

. . Sekalipun usaha perdagangan semacam itu tidak terlalu terhormat, tapi selalu mantap dan tenang, . . . Kita semua adalah pedagang, bukan pencoleng atau pembegal .

. . . Untuk melakukan usaha dagang semacam ini, yang dipergunakan adalah kepandaian serta kecerdikan, bukan kekerasan.

Satu satunya perbuatan yang paling dibenci oleh Ciau Jit tayya selama hidupnya adalah mempergunakan kekerasan.

Kembali ia bertanya:

"Sekarang, apakah kau telah paham dengan maksud hatiku?" "Yaa, aku telah paham!”

"Kalau begitu kau harus selekasnya memanggil Lopat agar segera kembali ke mari!" Cia tauke menundukkan kepalanya sambil tertawa paksa.

"Kalau sekarang baru pergi, aku kuatir sudah tak sempat lagi!" katanya lirih. "Kenapa?"

`Sebab ia telah membawa serta tiga bersaudara dari keluarga Kwik!" "Macam apakah tiga bersaudara Kwik itu?"

“Tiga orang manusia yang paling top di antara saudara-saudara kita lainnya." Setelah berhenti sebentar, Cia tauke menjelaskan kembali:

"Mereka jauh berbeda dibandingkan dengan saudara-saudara lainnya, mereka tak suka berjudi juga tak suka minum arak atau main perempuan, yang paling mereka sukai adalah menghajar orang, asal ada mangsa yang dapat dihajar, mereka tak pernah melepaskan kesempatan tersebut dengan begitu saja "

""Top" di sini dalam arti kata bukan cuma ganas, agresip, pemberani dan liar, bahkan termasuk juga sedikit gila".

"Gila" adalah sesuatu kata yang sukar di lukiskan dengan sepatah dua patah kata saja.

Tentu saja gila di sini bukan mengartikan sungguh-sungguh gila, melainkan suatu penyakit histeris yang seringkali tanpa diketahui sebab musababnya mengadu jiwa tanpa memikirkan hal-hal yang lain. Tiga bersaudara dari keluarga Kwik semuanya amat ‘Gila", apalagi setelah meneguk beberapa cawan arak.

Sekarang mereka semua telah minum arak, bukan cuma beberapa cawan saja, mereka telah minum banyak sekali.

Dari ketiga bersaudara Kwik tersebut, si Bungsu bersama Kwik Kau (anjing), loji bernamaKwikPa( si macan tutul ) serta lo ngo bernama Kwik Long ( si serigala ).

Kwik Kau sesungguhnya merupakan nama yang kurang sedap di dengar, ia sendiripun kurang begitu suka dengan nama itu, tapi lantaran bapaknya telah memberi nama tersebut kepadanya, maka mau tak mau nama itupun dipakainya terus sampai sekarang.

Bapak mereka adalah seseorang yang sangat garang, ia selalu berharap bisa memberikan nama yang garang untuk anak-anaknya, suatu nama binatang buas yang kedengarannya seram dan mengerikan.

Sayang sekali nama-nama binatang buas yang diketahuinya tidak terlalu banyak, sebaliknya putra yang dilahirkan tidak sedikit. Kecuali nama-nama seperti Hou (macan), Pa (macan tutul), Him (beruang), Say (singa), Long (serigala) . . . dan lain-lainnya, ia tak dapat menemukan kembali nama-nama binatang buas lainnya yang dapat dipergunakan.

Maka terpaksa putra bungsunya diberi name "Kau" atau anjing, sebab paling sedikit anjing masih bisa menggigit orang.

Kwik Kau memang bisa menggigit orang, bahkan sangat suka menggigit orang, kalau menggigit dia paling garang . . . tentu saja bukan menggigit dengan moncongnya, tapi mempergunakan goloknya.

Dalam sakunya selalu menggembol sebilah pisau tipis yang terbuat dari baja murni, karena ditempa secara terus menerus dengan sistim yang istimewa maka bentuknya bukan saja pipih, dan lagi amat lemas, bisa disabukkan pada pinggang nya sebagai sebuah ikat pinggang.

Ilmu goloknya sendiri bukan termasuk warisan jurus golok kenamaan yang bisa diandalkan, tapi sangat ganas dan penuh bertenaga.

Sekalipun seorang jago kenamaan yang sungguh-sungguh lihay bertarung dengannya, seringkali merekapun mampus di ujung goloknya.

Karena seringkali dia beradu jiwa dengan orang lain tanpa diketahui sebab musababnya. Karena dia sangat "Top". Sekarang mereka semua telah tiba di rumah penginapan yang memakai merek Peng-an (selamat), sebab Tio Bu-ki menginap dalam rumah penginapan Peng-an.

Peng-an atau selamat adalah rejeki, setiap orang yang sedang melakukan perjalanan selalu berharap sepanjang perjalanan bisa aman tenteram, maka di setiap tempat hampir dijumpai rumah penginapan yang memakai merek Peng-an atau selamat.

Kendatipun belum tentu semua orang yang menginap di rumah penginapan Peng-an pasti akan selamat, tapi semua orang lebih suka memilih tempat yang bertuah.

Rumah penginapan Peng-an bukan saja merupakan rumah penginapan terbesar dikotaitu, lagipula merupakan rumah penginapan kuno yang paling termashur untuk wilayah di sekitarnya.

Ketika Lau lopat dengan membawa sekalian tukang pukulnya tiba di situ, kebetulan seorang asing sedang berdiri sambil bergendong tangan di luar pintu untuk berteduh dari hembusan angin, memperhatikan empat huruf emas yang terpancang di depan rumah penginapan, ia tertawa dingin tiada hentinya.

Orang ini berusia tigapuluh tahunan, berbahu lebar dengan pinggang ramping, mukanya licik dan cekatan, ia mengenakan baju hijau yang lebar dengan kaus putih sepatu rumput dan ikat kepala berwarna putih pula.

Semua perhatian Lau Lopat hanya tertuju untuk menghadapi orang she Tio, pada hakekatnya ia tidak memperhatikan kehadiran manusia tersebut di situ.

Tiba-tiba orang itu tertawa dingin sambil bergumam:

“Menurut penglihatanku, rumah penginapan Peng-an sedikitpun tidak peng-an (aman), setiap orang yang telah masuk kedalam, mungkin bukan pekerjaan yang gampang untuk ke luar lagi dalam keadaan Peng-an!"

Lau Lopat segera berpaling dan menatapnya tajam-tajam, lalu bentaknya dengan penuh kegusaran:

"Bangsat, apa yang sedang kau gerutukan?"

Laki-laki berikat kepala putih itu sama sekali tidak gentar, wajahnya berubahpun tidak, ditatapnya dua kejap orang she Lau itu dengan pandangan dingin, kemudian ejeknya:

*Aku berbicara sekehendak hatiku sendiri, apa pula sangkut pautnya dengan dirimu?" Tidak sedikit jagoan kenamaan di wilayah sekitar situ yang dikenali Lau Pat, tapi orang itu tampaknya sangat asing, rupanya baru datang dari luar daerah, apa lagi dialeknya sewaktu berbicara jelas kedengaran membawa logat wilayah Shezuan yang amat tebal.

Lau Pat masih juga melotot ke arah orang itu, sebaliknya Kwik Kaucu (si anjing Kwik) telah menyerbu datang siap menghajar orang tersebut.

Orang itu masih juga mengejek sambil tertawa dingin:

“Heehh . . . heeehhh . . . heeehhh . . . bukan sasaran yang dicari sebaliknya mau menggigit sembarangan orang di luar, hati-hati saja, jangan sampai mulutmu yang hancur karena salah gigit."

Kepalan baja Kwik Kaucu sudah menonjok ke luar, tapi segera ditarik oleh Lau Pat sambil serunya dengan suara dalam:

`Lebih back kita layani dulu manusia she Tio itu, kemudian baru kita bereskan bajingan keparat ini!"

Bagaimanapun berang dan berangasannyaLau Pat,iatoh tetap merupakan seorang jago kawakan yang sangat berpengalaman dalam dunia persilatan, rupanya ia sudah merasa bahwa asal usul orang itu tidak sederhana, tampaknya di balik ucapan tersebut terkandung pula maksud lain yang sangat mendalam, maka dia tak ingin menimbulkan banyak kesulitan dengan orang tersebut.

Anjing Kwik masih tidak puas, sebelum berlalu dari situ ia sempat melotot beberapa kejap kearahnya sambil menantang:

“Bangsat, kalau betul-betul bernyali, tunggu saja di situ"

Sambil bergendong tangan orang itu mendongakkan kepalanya sambil tertawa dingin, sekejappun ia tidak memandang kearahnya.

Menunggu rombongan itu sudah masuk semua, orang itu baru mengangkat sebuah bangku panjang dan diletakkan di tepi pintu masuk, lalu sambil duduk dan menepuk-nepuk paha sendiri, ia mulai bersenandung menyanyikan lagu daerah.

Sebuah lagu belum habis disenandungkan, dari dalam ruangan kedengaran suara jeritan- jeritan ngeri yang menyayatkan hati, bahkan suara patahnya tulangpun secara lamat-lamat dapat kedengaran dengan jelas.

Orang itu mengernyitkan alis matanya sambil gelengkan kepala, sedang mulutnya mulai menghitung satu persatu. "Seorang, dua orang, tiga orang, empat orang,limaorang, enam orang .

Duabelas orang jago semuanya yang ikut Lau Pat masuk kedalam, tapi kini tinggal enam orang yang masih dapat ke luar dari ruangan tersebut dengan mempergunakan kaki sendiri.

Lau Pat sendiri walaupun masih bisa berjalan, tapi tulang pergelangan tangannya sudah patah, ia sedang memegangi pergelangan tangan kanannya dengan tangan kiri, peluh dingin membasahi sekujur badannya karena menahan sakit.

Kembali orang itu melirik ke arahnya sambil bergumam lagi:

"Tampaknya rumah penginapan Peng-an benar-benar tidak aman sedikitpun jua.”

*****

Dalam keadaan demikian Lau Pat hanya bisa pura-pura tidak mendengar . . .

Si Macan tutul yang mujur bukan cuma pandai melemparkan dadu, kenyataannya ilmu silat yang dia miliki jauh lebih tinggi dari pada apa yang diduganya semula.

Baru saja tiga bersaudara dari keluarga Kwik turun tangan, mereka telah dihajar seperti seekor anjing sehingga tak mampu merangkak bangun lagi, dari antara mereka bertiga paling sedikit ada sepuluh buah jari tangannya yang telah patah dan remuk.

Sebenarnya ia sendiri merasa amat yakin dengan ilmu Toa-eng- jiau-jiu (ilmu cakar elang) yang dimilikinya, siapa tahu orang lain justru menghadapinya dengan ilmu cakar elang pula, bahkan sekali gebrakan telah berhasil menghancur lumatkan pergelangan tangannya.

Sekarang sekalipun dia ingin mencari gara-gara lagipun tak berguna, karena itulah meski ia mendengar setiap ucapan orang itu dengan jelas, terpaksa ia harus berpura-pura tidak mendengar.

Siapa tahu orang itu justru tak mau melepaskannya dengan begitu saja, tiba-tiba ia bangkit berdiri lalu berkelebat dan menghadang di hadapan mukanya.

"Hey, mau apa kau?" tegur Lau Pat dengan paras muka berubah. Orang itu cuma tertawa dingin, tiba-tiba ia turun tangan.

Lau Pat mencoba untuk mengibaskan serangan tersebut dengan mempergunakan tangannya yang tidak putus, tapi belum tahu apa yang terjadi, tiba-tiba sikutnya sudah menjadi kaku, bahkan lengan yang masih normalpun kini terjulai ke bawah tak mampu digerakkan lagi. Dua orang jago segera menubruk dari belakang, tapi tanpa berpaling ia menyodokkan sikutnya ke belakang dan "Duk! Dukl" dua orang itu segera mengaduh kesakitan dan

roboh terguling di tanah.

Orang itu tidak berhenti sampai di situ saja, kembali ia cengkeram pergelangan tangan Lau Pat yang telah patah itu, lalu bentaknya nyaring: "Kena!"

"Kreeek !" Peluh dingin seperti air hujan membasahi sekujur badan Lau Pat, tapi

pergelangan tangannya yang putus kini telah tersambung kembali.

Orang itu mundur beberapa langkah lalu bergendong tangan, tegurnya sambil tersenyum: "Bagai mana?"

Lau Pat cuma berdiri tertegun di situ, tertegun sampai cukup lama, dilihatnya pergelangan tangan sendiri lalu digoyangkan keras-keras, kini ia baru mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi, dan iapun sadar bahwa orang ini adalah seorang jago tangguh yang berilmu tinggi.

"Dapatkah aku mengundang kau minum beberapa cawan arak?" tiba-tiba tanyanya. "Hayo berangkat!"

Ternyata jawaban orang itu cukup ringkas dan jelas.

Araktelah dihidangkan secara beruntun, Lau Pat dan orang itu mengeringkan tiga cawan arak kemudian baru menghembuskan napas panjang.

Tangannya yang semula patah pada bagian pergelangannya itu diluruskan ke muka, sambil acungkan jempolnya ia memuji:

"Bagus, suatu kepandaian yang amat jitu!"

"Sesungguhnya kepandaianku memang tidak jelek, tapi nasibmu justru jauh lebih bagus lagi." kata orang itu hambar.

Lau Pat segera tertawa getir.

"Nasib bagus apa yang kuperoleh?" keluhnya, "semenjak dilahirkan di dunia ini belum pernah aku Lau Pat menderita kekalahan total di tangan orang seperti apa yang kualami sekarang."

"Justru karena kau terjungkal di tangan orang itu dan menderita kekalahan tersebut, maka kukatakan bahwa nasibmu benar-benar amat bagus." kata orang itu lagi. Agaknya ia tahu kalau Lau Pat tidak mengerti dengan apa yang dikatakan, maka sambungnya kembali:

"Seandainya kau berhasil mengalahkan orang she Tio itu, maka kau benar-benar akan tertimpa sial."

Lau Pat semakin tidak mengerti lagi.

Orang itu meneguk dua cawan arak lagi sebelum bertanya lebih jauh:

"Engkau tahu, dari manakah si cucu kura-kura itu datang? Tahukah kau siapakah dia sesungguhnya?"

Lau Pat menggeleng. "Aku tidak tahu!"

"Tio Kian, Tio jiya dariTayhong tong tentunya kau ketahui bukan?"

Sudah lama Tio Kian termashur dalam dunia persilatan, sejak dua puluh tahun berselang namanya sudah menggetarkan seluruh dunia, baik kedua pantai sungai Huang-ho, wilayah Kwan tiong maupun Kwan pak, semuanya termasuk daerah kekuasaanTayhong tong, tentu saja nama Tio jiya diketahui hampir oleh setiap orang di daerah tersebut.

"Kalau Tio jiya saja tidak kuketahui namanya, sia-sialah hidupku selama ini." kata Lau Pat. "Nah, cucu kura-kura she Tio itu bukan lain adalah toa kongcunya Tio Kian !"

Paras muka Lau Pat kontan berubah hebat. Orang itu kembali tertawa dingin.

"Heehhh . . , heeehhh . . . heeehhh , bayangkan sendiri, seandainya kau berhasil

merobohkannya, apakah pihakTayhong tong akan melepaskan dirimu dengan begitu saja?"

Sambil minum arak, Lau Pat menyeka tiada hentinya peluh yang membasahi jidat dan dagunya, tiba tiba ia gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak benar, tidak, jelas ini tidak benar!" "Bagaimana mungkin tidak benar?" "Seandainya ia benar benar adalah kongcu-nya Tio jiya, asal sebutkan saja nama besarnya ke manapun dia pergi, bukan suatu perbuatan yang menyulitkan baginya untuk memperoleh sokongan sebesar beberapa puluh laksa tahil perak."

"Benar, perkataanmu memang benar!"

"Kalau memang demikian, apa gunanya ia musti mencari uang dengan memasuki rumah perjudian?"

Orang itu cuma tertawa, bahkan tertawanya kelihatan begitu aneh dan misterius pula.

"Apakah ia bermaksud hendak mencari kesulitan untuk kami dan berusaha untuk meng-hancurkan rumah-rumah perjudian kami?" desak Lau Pat lebih jauh.

Orang itu sedang minum arak, ternyata takaran araknya cukup hebat, sekalipun puluhan cawan sudah diteguk sekaligus, ternyata wajah nya sama sekali tidak berubah.

"Akan tetapi aku cukup mengetahui peraturan dalam lingkunganTayhong tong, dalam hal perjudian dan pelacuran mereka tak pernah mencampurinya."

Orang itu tersenyum.

"Peraturan tinggal peraturan, dia tetap adalah dia!" Paras muka Lau Pat segera berubah hebat.

"Apakah hal ini merupakan ideenya sendiri untuk mengobrak abrik rumah-rumah perjudian kami? Apakah diapun ingin menancapkan pengaruhnya pula dalam soal perjudian dan pelacuran? Karena terbelenggu oleh peraturan Tay-hong-tong maka ia tak berani mengemukakan nama serta asal usulnya ?"

"Hidup sebagai seorang anak muda yang gemar berfoya-foya, tidak sedikit tentu uang pengeluarannya sehari hari, terbentur oleh peraturan Tay hong tong yang amat besar dan ketat, bila ia tidak secara diam-diam mencoba untuk meraih sedikit keuntungan dengan cara lain, bagaimana mungkin penghidupannya bisa dilanjutkan terus?" kata orang itu ewa.

Setelah berhenti sejenak, segera sambungnya kembali:

"Jika ingin meraih uang yang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkat nya, tentu saja hanya dari dua cara itu saja paling gampang untuk mempe-rolehnya.

"Ditempat inipun Tay-hong-tong punya orang, aku dapat mengadukan kejadian ini kepada mereka," kata Lau Pat dengan gusar.