-->

Golok Naga Kembar Jilid 06

Jilid 06

DENGAN mengambil kesempatan selagi istirahat untuk beberapa hari lamanya, Giok Hong telah menyambangi gurunya Thio Ciam Kui di kantor angkutan Gie Cee Pio Kiok. Orang tua itu jadi girang bukan main dapat berjumpa kembali dengan muridnya, setelah mereka saling berpisah dan tidak bertemu muka 10 tahun lamanya.

Usia Ciam Kui tatkala itu telah mencapai 60 tahun dan tenaganyapun sudah jauh berkurang daripada waktu 10 tahun yang lampau. Pengurusan kantor angkutan Gie Cee Pio Kiok itupun telah diserahkan kepada anaknya, Thio Kin Gie. Handai taulan Giok Hong yang masih membantu dalam kantor angkutan gurunya, seorang demi seorang telah datang bertemu dan saling berjabatan tangan dengan rasa akrab sekali.

Setelah saling memberi hormat dan menanyakan tentang keselamatan diri dan pekerjaan masing-masing, Ciam Kui lalu mempersilahkan Giok Hong dan Giok Tien masuk ke ruangan tengah, dimana mereka duduk mengobrol sambil minum teh wangi untuk melepaskan dahaga.

"Sudah banyak tahun aku tidak menjumpaimu" kata Thio Ciam Kui, "engkau tentunya sibuk sekali selama itu, bukan?".

Giok Hong mengangguk sambil menjawab, "Benar. Telah 10 tahun lamanya murid berpisah dengan guru, tapi karena pekerjaan amat sibuk, ditambah dengan pamanku telah menutup mata, maka aku tak dapat meninggalkan pekerjaan di Thian-cin barang sekejappun. Kali ini karena kereta pioku dirampok orang dan pio-suku telah menemui ajalnya dalam pertempuran dengan si perampok, aku terpaksa keluar juga untuk mengantarkan sendiri pio itu kemari. Dengan demikian, aku mendapat kesempatan yang terbaik untuk menyambangi guru. Aku belum tahu bagaimana keadaan kesehatan guru selama beberapa waktu ini?".

"Aku sendiri selalu baik-baik saja" kata orang tua itu. "Menurut cerita kawan-kawan dan handai taulan di kalangan Kang-ouw, kini namamu telah semakin tenar di daerah Tiongkok Utara dan terkenal dengan nama julukan Ngo-seng-to-ong. Apakah kabar ini benar?".

"Nama julukan Ngo-seng-to-ong itu adalah milik guru" sahut Sun Giok Hong dengan perasaan agak jengah, "maka aku punya kemampuan apakah yang melampaui ilmu kepandaian guru?".

"Ombak di lautpun mempunyai waktu surut dan pasang" kata Thio Ciam Kui, "maka kalau Ngo-seng-to-ong yang tua mundur ke belakang, maka sudah selayaknya Ngo- seng-to-ong yang muda tampil ke muka. Nama julukan ini dapat hidup langgeng sehingga di masa datang, sedang kemashuranmu itu bukan saja karena engkau sendiri yang telah membuat namamu semakin tenar di kalangan Kang-ouw, tapi juga berbarengan dengan engkau menghidupkan dan memuliakan nama-nama keluarga Sun dan Thio hingga kelain jaman. Aku girang sekali jika semua kabar yang telah kudengar itu semua benar dan bukan isapan jempol belaka".

Giok Hong lalu merendahkan dirinya sendiri atas pujian gurunya yang sangat muluk itu. Selagi mereka masih asyik mengobrol, tiba-tiba kasir dari Gie Cee Pio Kiok berlari masuk dengan tersipu-sipu dan menyampaikan beberapa patah perkataan dengan bisik-bisik di telinga induk semangnya itu.

Thio Ciam Kui yang menerima laporan tersebut jadi berubah wajahnya, sambil mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang kemudian ia menggeleng- gelengkan kepalanya. Tampaknya ada sesuatu hal yang membuat Ciam Kui tidak enak hati.

"Guru sudah berusia agak lanjut" kata Sun Giok Hong yang merasa heran melihat sikap orang tua itu yang tiba-tiba saja kelihatan berubah, "oleh karena itu, segala pekerjaan di kantor baiklah diserahkan kepada puteramu. Hari ini, kalau aku tidak keliru, guru tengah menghadapi sesuatu persoalan yang agak pelik. Kalau guru tidak berkeberatan, murid bersedia untuk membantu memecahkan persoalan yang sulit ini".

Thio Ciam Kui kembali menghela napas dan menjelaskan persoalannya sebagai berikut:

"Persoalanku ini agak panjang untuk diceritakannya" katanya. "Pada 20 tahun yang lampau, ketika melindungi pio dan lewat di gunung Ngo-tay-san, aku telah dicegat oleh seorang kepala berandal bernama Lie Kiam Hong yang hendak merampok

kereta-kereta pioku. Kepala penyamun ini ilmu silatnya sangat lihay, mahir mempergunakan pelbagai senjata serta mempunyai liauw-lo yang tidak sedikit jumlahnya. Setelah berhasil kukalahkan dan kabur entah ke mana perginya. Tiga tahun kemudian, ia telah muncul lagi dan mencari diriku untuk menuntut balas. Kali ini ia tidak mencegatku di jalan sunyi, tapi datang sendiri ke sini menantangku untuk bertempur dengannya. Karena ia begitu mendesak, akhirnya aku terpaksa meladeninya juga dan ia kembali dapat kukalahkan dengan menggunakan ilmu golok Pat-kwa-to. Tidak kapok dengan kekalahan itu, ia berjanji akan balik kembali dalam waktu tiga tahun".

"Berselang tiga tahun lamanya, benar saja Lie Kiam Hong telah datang kembali menantangku, hingga kita bertanding pula untuk kedua kalinya. Hasilnya, ia kembali menderita kekalahan dan berjanji akan datang lagi tiga tahun kemudian, dan begitu seterusnya. Jika dia selalu masih kena dikalahkan olehku, pasti dia akan datang kembali dengan tidak bosan-bosannya. Demikianlah katanya disetiap waktu hendak meninggalkan kantor Gie Cee Pio Kiok. Usiaku kian lama kian bertambah tua, sedang tenagaku pun kian berkurang dan rupanya ia bertekad untuk mengalahkanku. Kini aku benar-benar sudah payah, sudah terlampau lemah untuk dapat meladeninya. Di kantor, aku tidak mempunyai pio-su yang dapat menandinginya, maka aku merasa tidak sanggup lagi untuk mempertahankan nama baikku "

"Kalau begitu, mengapa dahulu guru tidak membunuhnya saja?" kata Sun Giok Hong dengan rupa mendongkol.

"Membunuh orang gampang, tapi kita harus pikirkan bagaimana akibat-akibatnya nanti" sahut Thio Ciam Kui. "Aku sama sekali tidak menduga bahwa si orang she Lie itu mempunyai hati yang begitu keras dan selalu balik kembali setiap 3 tahun sekali dan berdaya upaya untuk mengalahkanku ".

"Biarlah murid menggantikan guru untuk melawannya" kata Sun Giok Hong dengan hati yang mantap.

"Jika engkau hendak menggantikanku untuk bertempur dengannya" kata Thio Ciam Kui, "itupun tidak ada salahnya. Hanya engkau harus berhati-hati, sebab setiap 3 tahun sekali dia akan balik kembali, ilmu kepandaiannya selalu bertambah lihay saja. Ilmu tinjunya yang terakhir, yakni yang bernama Beng-houw-hui-thauw atau harimau galak membalikkan kepalanya, sesungguhnya amat lihay dan senantiasa dipergunakannya dengan secara tiba-tiba untuk membokong selagi kita sibuk melayaninya dengan golok. Aku sendiri hampir saja kena diperdayakannya, syukur juga aku berlaku cukup jeli hingga pukulan mautnya selalu jatuh di tempat yang kosong. Dia sendiri berbalik kena ditendang sehingga jatuh melosoh dan menderita luka-luka ringan. Kalau engkau hendak coba meladeninya, perlu sekali engkau berlaku waspada dan jangan sampai terjebak oleh siasatnya yang licik itu".

Giok Hong berjanji akan memperhatikan segala petunjuk orang tua itu. Ia berjalan keluar dengan diiringi oleh Sun Giok Tien dan kasir Lo Ho Jie yang datang membawa kabar itu.

Di muka kantor Gie Cee Pio Kiok benar saja sudah menanti seorang laki-laki berperawakan tinggi besar yang berusia empatpuluh tahun lebih, wajahnya bengis dan menyoren sebilah golok Toa-ma-to yang bentuknya tebal dan beratnya tidak kurang dari 30 kati lebih. Ia tampak berdiri disitu dengan rupa yang tidak sabaran dan menggerutu tidak ada habis-habisnya.

Begitu keluar berhadapan dengan orang laki-laki itu, Giok Hong segera menyoja sambil bertanya, "Apakah-Ho-han ini adalah Lie Kiam Hong Su-hu?".

Orang laki-laki itu menatap wajah Sun Giok Hong sambil kemudian membentak, "Engkau ini siapa?. Lekaslah engkau panggil si tua bangka she Thio itu keluar menjumpai aku!".

"Aku ini bukan lain daripada Sun Giok Hong dari kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok di Thian-cin" sahut si pemuda. "Guruku Thio Ciam Kui sudah jemu bertanding denganmu yang selalu kena dipecundanginya. Guruku mengirim aku yang menjadi muridnya untuk bermain-main denganmu sehingga engkau menjadi puas dan jemu untuk bertempur lagi!".

"Tutup bacotmu!" bentak Lie Kiam Hong. "Engkau bocah yang baru disapih bukanlah tandinganku yang setimpal. Pergilah panggil gurumu untuk meladeniku!".

Giok Hong menertawainya sambil berkata, "Dalam kantor kami di sini, kini telah diadakan suatu aturan tertentu. Siapa yang belum mampu mengalahkanku, tidak berhak menantang guruku. Tuan telah beberapa kali bertempur dengan guruku, tapi engkau selalu kena dipecundangi. Oleh sebab itu, dimana ada aturan engkau memonopoli bertanding dengan Kiok-cu kami saja?. Aiiii, engkau ini betul-betul tidak tahu diri!".

Sambil berkata demikian, si pemuda tudingkan jari tangannya ke arah Lie Kiam Hong, yang jadi gemetar karena amarah yang mendadak bergolak di dalam hatinya.

Orang she Lie itu menganggap dia telah dihina dihadapan orang banyak oleh seorang yang justru dianggapnya masih bocah itu. Ia membentak dengan suara menggeledek, "Dasar bocah tak tahu penyakit!. Jika engkau berani buka mulut besar, tentunya engkau punya juga kepandaian yang cukup mengejutkan orang!. Nih, terima bagianmu!".

Dengan gerak yang hampir tidak kelihatan karena saking cepatnya, Lie Kiam Hong segera melancarkan pukulannya dalam siasat Pai-san-in-ciong atau dengan kedua tinju mendorong lautan, kedua tinjunya menyodok dada si pemuda. Giok Hong yang kini sudah punya banyak pengalaman dan lihay ilmu silatnya, segera menangkis tinju si orang she Lie yang hampir menumbuk dadanya dengan Hoat-in-kian-gwat atau menghalau awan untuk melihat rembulan. Bersamaan dengan itu, cekalannya telah dipergunakan menurut cekalan ilmu Eng-jiauw-kun (ilmu ceker garuda) untuk menyergap pergelangan tangan pihak lawannya. Lie Kiam Hong jadi terkejut dan dengan sebat melancarkan pukulan maut yang bernama Beng-houw-hui-thauw itu. Giok Hong segera pergunakan tinjunya untuk "membeset" serangan tersebut.

Kemudian ia menyapu kaki Lie Kiam Hong dengan gerakan secepat kilat hingga si orang she Lie yang tak keburu berkelit, dilain saat telah jatuh terlentang dengan kedua kaki "menuding" langit. Ia jatuh di tanah bagaikan daun yang gugur dari tangkainya dan merasakan pinggangnya sakit bukan buatan.

Dalam pada itu, Giok Hong tinggal berdiri tegak, menghentikan serangan-serangan selanjutnya sambil mengawasi Lie Kiam Hong.

"Sudah cukupkah sebegitu saja?. Atau perkelahian ini masih perlu juga kiranya untuk diperpanjang?" katanya tenang.

Lie Kiam Hong tidak menyahut barang sepatah katapun, tapi lekas-lekas berbangkit sambil menghunus goloknya.

Giok Hong juga segera maju sambil menghunus golok Siang-liong-touw-cu-to dari dalam serangkanya. Tanpa banyak bicara lagi, mereka telah bertempur dengan mempergunakan golok masing-masing.

Dengan hanya memperhatikan beberapa jurus yang diperlihatkan pihak lawan dalam permainan goloknya, Giok Hong segera mengetahui bahwa Lie Kiam Hong ini boleh diakui sebagai salah seorang ahli golok yang lihay sekali, gesit gerakannya dan berbahaya setiap serangan yang dilancarkannya. Maka Giok Hong pun tidak berani sembarangan berlaku lengah dalam pertempuran ini.

Pertempuran berlangsung dengan cepat dan beberapa belas jurus telah dilampaui dengan hampir tak terasa lagi. Para pio-su, pegawai Gie Cee Pio Kiok dan orang luar yang datang berkerumunan di muka kantor angkutan untuk menonton keramaian, tak berbeda dengan orang-orang yang sedang berjualan di pasar.

Selama pertempuran itu berlangsung, diam-diam Lie Kiam Hong mengeluh di dalam hatinya. Diluar dugaannya, ilmu kepandaian Sun Giok Hong ternyata tidak di bawah kepandaian gurunya Thio Ciam Kui. Jika ia diberi kebebasan untuk memilih, ia lebih suka bertempur dengan Thio Ciam Kui daripada Sun Giok Hong yang selain tinggi ilmu silatnya, tenaganyapun masih penuh dan hebat sekali.

Anehnya, Giok Hong seolah-olah tidak mau mengalahkan musuhnya dalam waktu yang terlampau cepat, dia tak mau membuat malu atau melukai lawannya. Inilah syarat utama yang dimiliki oleh Sun Giok Hong semenjak ia berguru kepada It Kak Sian-su. Pikirnya, jika musuh itu akhirnya kena dikalahkan juga, biarlah ia merasa rela dan tidak mendendam kekalahannya itu di dalam hati untuk selama-lamanya.

Benar kepandaian Lie Kiam Hong cukup tinggi, tapi Giok Hong dapat menyudahi pertempuran itu dengan jalan menabas goloknya sehingga putus dalam waktu beberapa jurus saja lamanya. Tapi, akibat daripada perbuatannya ini tentunya akan menyebabkan rasa penasaran yang tidak kecil di dalam hati orang she Lie itu. Bahkan bisa juga karena kejadian itu, permusuhan di antara mereka akan berlangsung dengan berlarut-larut sehingga tak ada habis-habisnya.

Giok Hong hendak mencegah sedapat mungkin agar tidak terjadi peristiwa yang kelak dapat mengakibatkan sesuatu yang tidak enak bagi dirinya dan gurunya.

Untuk memperoleh kebaikan bagi kedua pihak, Giok Hong telah berlaku cukup bijaksana dengan bertempur tanpa menggunakan mulut goloknya yang sangat hebat itu. Dan untuk tidak menunjukkan kelemahan dirinya, ia desak Lie Kiam Hong dengan cara yang tidak mengenal kasihan, hingga Lie Kiam Hong jadi kelabakan dan matanya berkunang-kunang melihat sinar golok si pemuda she Sun yang menyamber mengurung tubuhnya bagaikan naga yang sedang mengaduk gelombang di lautan. Tatkala ia sedang sibuk untuk berusaha memecahkan kurungan sinar golok lawannya itu, tiba-tiba penglihatannya telah dibikin kabur oleh puluhan golok yang mengepung dirinya dari segala jurusan. Ketika sebilah golok menyamber ke batok kepalanya, Kiam Hong luput menangkisnya dan berteriak ngeri, "Matilah aku sekali ini!" katanya. Bersamaan dengan itu, Kiam Hong merasakan golok Sun Giok Hong menabas kepalanya sedemikian dahsyatnya hingga pada detik itu juga ia jatuh roboh di tanah tanpa sadarkan diri.

Sementara orang banyak yang menyaksikan kelihayan Sun Giok Hong yang begitu mengejutkan hati, sudah barang tentu jadi sangat kagum dan menyambut kemenangannya atas si orang she Lie dengan tepuk sorak yang riuh sekali.

Giok Hong kemudian menyuruh seorang pegawai mengambil setimba air, yang lalu disiramkan pada kepala Lie Kiam Hong yang jatuh pingsan itu. Sesaat kemudian ia siuman dan mendapatkan dirinya telah basah kuyup disiram air. Pada waktu ia memeriksa kepalanya, dengan tangannya yang merabah kepalanya itu, ternyata di situ tak kedapatan darah barang sedikit juga, hingga Kiam Hong yang melihat begitu lantas paham bahwa Giok Hong tidak berniat mencelakainya. Diam-diam ia merasa berterima kasih atas kebaikan lawannya, kalau tidak niscaya disaat itu juga jiwanya telah berpulang ke alam baka.

Melihat Kiam Hong telah siuman, Giok Hong buru-buru mengangkatnya bangun sambil meminta maaf bahwa ia barusan telah kelepasan tangan tanpa ia sendiri dapat mencegahnya.

Kiam Hong yang semula hendak melanjutkan pertempuran itu, ketika melihat sikap Giok Hong yang begitu rendah hati dan hormat, hatinya jadi girang dan lalu berkata, "Lo-tee, ternyata engkau adalah seorang yang bijaksana. Aku harus merasa malu atas perbuatanku yang semberono itu. Bersamaan dengan itu aku bersumpah dihadapanmu bahwa semenjak hari ini dan selanjutnya, aku Lie Kiam Hong yang semula telah bersumpah untuk mengalahkan Thio Ciam Kui sehingga aku memperoleh kemenangan, kini aku sudahi persoalan ini sampai disini, berhubung engkau telah berlaku baik hati mengampuni nyawaku. Selamat tinggal Siauw-eng-hiong, semoga engkau memperoleh kemajuan pesat dalam usahamu dikemudian hari".

Giok Hong mengantarnya sampai di luar pekarangan kantor Gie Cee Pio Kiok, dimana Kiam Hong memberi salam perpisahan kepadanya dan meninggalkan tempat itu dengan langkah yang lebar.

Thio Ciam Kui jadi sangat girang atas kemenangan muridnya itu, hingga ia perintahkan orang-orang bawahannya untuk menyediakan sebuah meja perjamuan sebagai tanda pemberian selamat menang perang kepada Giok Hong, kepada siapa ia memuji, "Muridku, ternyata engkau dapat berlaku keras dan lemah lembut dengan sekaligus. Ini sesungguhnya tidak kuduga sama sekali. Jika selanjutnya engkau bisa berbuat demikian, sudah jelaslah bahwa engkau akan dapat mempertahankan namamu sebagai salah seorang tokoh silat yang terbesar dalam Rimba Persilatan di Tiongkok Utara".

Sun Giok Hong tidak menjadi sombong atau kepala besar karena pujian gurunya yang begitu muluk, malah sebaliknya merendah dan mengatakan, bahwa semua itu adalah merupakan jasa daripada orang yang menjadi gurunya juga. Kalau tidak, bagaimana caranya ia dapat berbuat demikian dan mengenal tatakrama dalam dunia persilatan?.

Thio Ciam Kui jadi gembira sekali mendengar jawaban sang murid dan ia menahan Giok Hong, Giok Tien dan para kusirnya berdiam di kota Cee-lam hingga 3 atau 4 hari lamanya, kemudian baru pulang ke kota Thian-cin dengan perasaan hati lega dan bangga atas kemenangan-kemenangan yang diperolehnya selama itu. 0oo0

SESAMPAINYA di kota Thian-cin, musim semi sudah hampir berganti dengan musim kemarau, sedang tahun kerajaan Kong-sie telah hampir berakhir. Karena pemerintah Boan-ciu yang memerintah di Tiongkok pada masa itu kian hari kian bertambah buruk, maka negeri-negeri lain yang kuat dan berpengaruh, sehari demi sehari telah berani menunjukan tingkah laku yang sombong dan menganggap remeh.

Diantaranya, terhitung bangsa Jepang yang paling brutal dan tidak mengenal aturan. Para gelandangan bangsa Jepang yang mendapat bimbingan dari pemerintah mereka untuk memata-matai dan merongrong negeri Tiongkok, mengacau dengan seenaknya di pelabuhan-pelabuhan dalam wilayah Tiongkok Utara.

Berjual beli dengan paksa, dengan jalan kekerasan dan dengan gertakan, memperkosa kaum wanita baik-baik serta memperdayakan anak negeri yang bodoh, merupakan keistimewaan mereka di negeri orang. Lebih-lebih dalam hal memperdagangkan obat bius seperti madat, morfin, dan lain sebagainya.

Setiap kali mereka melakukan kejahatan, mereka segera kabur ke konsesi asing, sehingga polisi Boan-ciu tidak mudah dapat menangkap atau menghukum mereka. Sedangkan pemerintahan Boan-ciu yang memang mereka takuti, seolah-olah membutakan mata dan menulikan kuping atas segala perbuatan gila-gilaan yang telah diperbuat oleh kawanan manusia-manusia gelandangan itu.

Di antara tempat-tempat yang pernah dikacaukan mereka, kota Thian-cin terhitung sebagai kota yang paling malang. Selain kota Thian-cin terletak dekat dengan kota Pakkhia, kedudukannya pun tergolong sebagai salah sebuah pelabuhan dagang yang ramai dan besar di tepi lautan Pak-hay, yang juga merupakan pelabuhan yang terdekat dengan beberapa propinsi timur, Cin-huang-tao, Cing-tao, dan lain sebagainya, dimana bangsa Jepang mempunyai konsesi-konsesi.

Waktu Sun Giok Hong dan adik sepupunya Giok Tien pulang ke Thian Cin dan mengurus kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok, mereka kerap menerima laporan tentang pelbagai macam kejahatan dan perbuatan yang sangat menantang terhadap bangsa Tionghoa yang menjadi tuan rumah dalam negaranya sendiri. Ternyata di sana tidak terdapat orang yang suka menghiraukan tantangan-tantangan itu, hingga Giok Hong dan adik sepupunya gusar bukan main mendengar kabar tersebut.

Diantara rombongan para gelandangan bangsa Jepang itu, terdapat seorang yang bernama Kimura Shiro, seorang ahli Judo yang baru berusia antara 27 atau 28 tahun, berperawakan gemuk katai dan kuat sekali tenaganya. Ketika itu, Kimura Shiro bertugas sebagai pejabat dinas istimewa berkedudukan di kota Thian Cin. Disamping memata-matai soal-soal ketentaraan, iapun turut campur dalam penyelundupan barang-barang gelap dan obat bius ke seluruh Tiongkok, dengan Konsul mereka selalu melindungi segala perbuatan dan usaha rakyatnya yang tidak baik itu.

Kaki tangan Kimura Shiro selain terdiri dari beberapa belas orang bangsanya, iapun punya begundal-begundal bangsa Korea dan para buaya darat Tionghoa yang moralnya sudah terlampau bejat dan tak mungkin dapat diperbaiki lagi.

Mengambil barang-barang atau makan makanan orang tanpa mau membayarnya, sudah menjadi kebiasaan kawanan bajingan ini. Bahkan karena tak ada orang yang berani menentang atau melawan atas perbuatan mereka yang tak punya malu itu, banyak macam lagi kegaduhan yang telah mereka timbulkan tanpa mengindahkan di tanah siapa mereka sekarang berada.

Begitulah, jika mereka sudah kenyang makan dan mabuk-mabukan di kedai-kedai yang pemiliknya selalu mandah tanpa berani menentang apa-apa, Kimura Shiro lalu mengajak begundal-begundalnya memasuki rumah-rumah penduduk yang terdapat banyak kaum wanita yang berparas cantik, yang lalu digertak dan diperkosa sesukanya. Seolah-olah rumah penduduk itu adalah rumah pelacuran, dimana sembarang orang boleh keluar masuk tanpa merasa segan-segan lagi. Semakin para penghuninya ketakutan, semakin berani dan semakin kurang ajar pula kelakuan mereka semua.

Pada suatu ketika, ada seorang anak dara yang waktu berpapasan dengan si Kimura telah diganggu dan hendak dijadikan korbannya. Nona itu telah mencoba melawan, hingga saking gusarnya jago Judo ini telah menyekal nona itu dan lalu dibantingnya sehingga tulang iganya patah dan meninggal saat itu juga. Demikian juga seorang laki-laki yang hendak maju menolongnya, telah dikeroyok oleh kawanan buaya darat itu dan kemudian diceburkan ke dalam laut. Setelah itu, mereka bersorak-sorai kegirangan.

Kabar-kabar yang memanaskan hati orang itu telah sampai ke telinga Sun Giok Hong setelah ia pulang dari Cee-lam. Giok Hong marah bukan kepalang dan menggebrak meja sambil berseru, "Hai, sungguh kurang ajar sekali perbuatan- perbuatan iblis katai itu!. Jika di negeri orang mereka berani melakukan segala perbuatan yang gila-gilaan serupa itu, entahlah bagaimana jadinya jika kita berada di tanah air mereka sendiri!. Orang lain boleh gentar dengan mereka, tapi aku Sun Giok Hong bukanlah orang yang bisa diperlakukan dengan seenaknya saja!. Jika rakyatnya dihinakan, negaranya pun pasti akan diinjak-injak orang!. Aku bersumpah akan melabrak kawanan bajingan asing itu sehingga mereka kapok akan perbuatan mereka itu!".

Pada petang hari itu juga Sun Giok Hong sengaja menuju ke kedai minum di sisi pelabuhan, dimana Kimura dan para begundalnya kerap bergelandangan mencari mangsa di petang hari.

Selagi asyik berjalan-jalan dengan langkah perlahan-lahan, tiba-tiba Giok Hong melihat orang-orang yang semula lalu lalang di jalanan dengan tenang, jadi bingung dan berjalan separuh berlari sambil berkata-kata, "Lekas menyingkir, Kimura dan begundal-begundalnya tengah datang menuju ke sini!".

Mendengar kata-kata yang diucapkan orang itu dengan rupa ketakutan seperti itu, Giok Hong justru telah berkata pada dirinya sendiri, "Sungguh kebetulan sekali.

Sekarang hendak kutengok bagaimana tampangnya si pengacau katai itu!".

Diwaktu orang-orang di jalan menyingkir secepat mungkin, adalah si pemuda she Sun yang tetap tinggal berjalan-jalan dengan tenang, meski di dalam hati ia selalu bersiap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Beberapa orang yang tidak kenal dan mengira Giok Hong seorang desa yang baru pernah berkunjung ke dalam kota, diam-diam merasa khawatir akan keselamatan dirinya, tapi tidak berani memberitahukan peristiwa apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena rasa takut kepada kaki tangan Kimura yang kadang-kadang suka menyamar sebagai rakyat biasa, membuat orang-orang yang berhati kecil semakin khawatir kalau-kalau mereka nanti dianiaya oleh para begundalnya si iblis katai yang keji dan tak mengenal perikemanusiaan itu.

Dari kejauhan, Sun Giok Hong melihat seorang Jepang yang bertubuh gemuk katai tengah berjalan mendatangi dengan diiringi oleh beberapa orang begundalnya bangsa Korea dan Tionghoa di kiri kanannya. Beberapa begundal yang lainnya mengikuti mereka dari arah belakang.

Selama berjalan di jalan raya, tidak sedikit orang laki-laki atau perempuan yang berpapasan dengan Kimura dan begundal-begundalnya ditempiling atau ditendang, tanpa diketahui apa salah atau dosanya. Setelah itu, mereka tertawa terbahak-bahak dan bersorak sorai. seolah-olah semua itu merupakan suatu permainan yang sangat menyenangkan hati.

Kian lama mereka kian mendekat ke arah Sun Giok Hong, yang masih saja berjalan dengan tenang tanpa menghiraukan para bajingan yang tampaknya sudah agak mabuk itu.

"Sungguh besar sekali nyalinya bocah itu!" kata Kimura ketika dengan sekonyong- konyong ia melihat Sun Giok Hong tengah berjalan mendatangi ke arahnya. "Ayoh, lekas seret dia dan hantam hingga setengah mati!".

Dua orang begundal bangsa Korea dan Tionghoa yang hendak mencari muka dihadapan induk semangnya, tanpa ayal lagi segera hendak mencekal Sun Giok Hong.

Sebelum keburu turun tangan, mereka jadi terkesiap waktu menyaksikan "sang mangsa" merandek dan menatap wajah mereka dengan angker sambil dengan cepat menggerakkan kakinya untuk melibat mereka. Disaat itu juga, begundal-begundal Kimura merasakan terjangan dua tangan yang keras ke arah dada mereka dan.......Beeek! Beeeek!, mereka jatuh terlentang dan menjerit kesakitan

karena diri mereka terbanting ke tengah jalan raya!.

Itulah siasat Tui-cong-bong-goat atau menolak jendela untuk menjenguk rembulan yang telah dilancarkan Giok Hong.

"Hai, engkau berani melawan anak-anak Dewa Matahari?" teriak Kimura dengan biji mata seakan-akan hampir meloncat keluar karena amat marahnya. "Ayoh, keroyok dia, hantam habis-habisan!".

Tanpa diperintah sampai dua kali, para pengiring Kimura yang semua paham ilmu Judo, segera maju dengan serentak untuk menyekal Sun Giok Hong.

Giok Hong yang sudah pernah mendengar cerita orang tentang kelihayan Judo Jepang, sudah barang tentu tidak berani menganggap enteng lawan-lawannya itu. Giok Hong segera bersiap melakukan perlawanan kilat. Begitu melihat beberapa orang begundal Kimura menghampiri dirinya untuk mengepungnya, Giok Hong lekas mengambil posisi dengan membelakangi pagar tembok, kaki tangannya segera dikasih bekerja untuk menumbuk, menyabet, menyodok atau menendang musuh- musuh itu. Dengan gerakan secepat angin, dalam sedikit waktu saja Giok Hong telah membuat beberapa orang begundal begundal itu jatuh terlentang, tengkurup dengan kepala benjut atau badan babak belur. Kimura jadi sangat penasaran dan segera melompat maju dengan maksud membanting mampus si pemuda, yang berlaku berani mati itu dengan melukai anak-anak Dewa Matahari.

Kalangan pertempuran menjadi sunyi dan tegang, hanya terdengar tindakan- tindakan kaki anak buah Kimura saja yang lari serabutan keluar kalangan pertempuran. Mereka melihat induk semangnya maju perlahan-lahan sambil kedua lengannya diangkat kemuka, jari-jarinya terbuka lebar, dengan sikapnya yang garang. Kimura telah siap untuk menyerang Giok Hong, yang semula dianggap begitu gampang untuk dibanting, seperti ia membanting anak dara beberapa waktu yang lampau.

Giok Hong tetap berdiri, ia tidak menyerang, tapi matanya dengan tajam mengawasi si ahli Judo yang berpangkat Dan II itu. Dengan sikap ini, ia ingin menjajal sampai dimana kelihayan cekalan Kimura, yang dengan perlahan tapi tetap, maju menghampirinya. Ketika Kimura berhasil mencekal dada dan lengan baju Giok Hong, terdengarlah teriakan-teriakan begundal-begundalnya si Jepang itu, "Banting dia!. Patahkan batang lehernya!". Sementara Kimura yang hendak membanting lawannya dengan tidak kepalang tanggung, segera menggoncang-goncangkan tubuh Giok Hong dengan keras, untuk mencari-cari saat yang baik dan............"Ciaaaat !". Kimura Shiro telah menyerang sambil memekik keras dengan siasat Tomoi-nage atau membuang lawan sambil menjatuhkan diri. Tapi sayang, hasil dari bantingannya itu sungguh diluar dugaan si ahli Judo dan para begundalnya.

Begitu Giok Hong dilempar oleh musuhnya, dengan segera ia membarengi memutarkan tubuhnya dalam siasat Yauw-cu-hoan-sin atau alap-alap membalikkan badan, berputar di udara dan jatuh di suatu tempat yang terpisah beberapa belas kaki jauhnya dengan kedua kakinya mendahului turun ke muka bumi!. Maksud Kimura Shiro dengan siasat Tomoi-nage itu ialah untuk membenturkan kepala lawannya ke tembok. Jelas dapat dilihat dari caranya ia membanting, yakni semula digoncang- goncangkan dahulu tubuh sang lawan, lalu dengan cepat sekali ia menarik sambil kaki kanannya ditunjangkan di perut lawan, lalu sambil terlentang di tanah ia lepaskan tubuh lawannya di udara!. Sungguh diluar dugaannya, Giok Hong mendarat tepat beberapa tindak lagi dari tembok, malah mendaratnya dengan kedua kaki terlebih dahulu.

"Bagero!" memaki Kimura dengan amat sengitnya. Ia merasa sangat kecewa dengan bantingannya yang pertama itu, yang belum pernah gagal meminta korban pada waktu-waktu yang lampau. Setelah itu, ia maju lagi menghampiri Giok Hong.

Kali ini Giok Hong tidak menunggu sampai Kimura menyerang, dengan cepat ia mendahului menerjang dengan siasat Hek-houw-tauw-sim atau harimau hitam mencuri hati, tinjunya meluncur ke arah ulu hati si Jepang. Kimura cukup gesit untuk mengelakkan serangan itu, sambil mengegos ia balas menyerang dengan siasat Kata- guruma atau membanting dengan putaran pundak. Tangan kirinya hendak memegang lengan kanan Giok Hong yang sedang menerjang ulu hati, sedang tangan kanannya menyamber ke arah dada. Melihat demikian, Giok Hong batal menyerang, sebaliknya ia berkelit dan menyekal tangan Kimura yang hendak mencengkeram dadanya.

Kimura kaget sekali dengan perobahan siasat itu, karena ia tidak menduga Giok Hong dapat membatalkan serangannya demikian cepat dan berbalik hendak menangkap tangannya. Tidaklah percuma ia diberi pangkat Dan II oleh perguruan Judo di Jepang dahulu karena iapun segera dapat mengambil putusan dengan melompat ke belakang untuk memperbaiki posisinya, lalu sambil menggeram ia membabat dengan tangan yang jari-jarinya tegang lurus ke arah batang leher Giok Hong.

Terdengarlah suara bentrokan yang keras di tengah-tengah lapangan pertempuran itu dan Kimura tampak tergoncang kuda-kudanya karena Giok Hong telah menangkis dan sekaligus berhasil menangkap tangan itu. Sambil memperberat tubuhnya dengan ilmu Cian-kin-tui atau terpendam karena berat ribuan kati, dengan ilmu ini ia seolah- olah nancap di tanah sehingga kedua kakinya itu tak bergerak sedikitpun. Dengan demikian, sia-sia saja Kimura menarik untuk membanting atau melepaskan tangannya yang dicekal si pemuda.

Kimura salurkan tenaga ke arah lengannya, dengan itu ia berniat untuk mendesak serta memutuskan tenaga dalam Sun Giok Hong. Sayang, si orang she Sun pun tidak tinggal diam saja lalu semakin mempererat cekalannya dengan ilmu Thiat-see-ciang. Tampak tangan Kimura gemetar, mukanya meringis menakutkan dan akhirnya berteriak, "Ampun !". Bersamaan dengan suara itu, Giok Hong tiba-tiba

melepaskan kedua cekalannya sambil membetot. Kimura terhuyung ke depan, tapi mendadak ia jadi berdiri tegak dengan mata melotot, bagian depan celananya yang bagaikan kedodoran karena kebesaran, kontan basah dengan air seninya!, lalu

roboh bercokol ke belakang. Karena Giok Hong telah menyerang selagi lawannya terhuyung dengan siasat Thian-su-kay-in atau raja langit membubuhi stempel, kepalannya menumbuk ubun-ubun Kimura dengan keras. Giok Hong menantikan di tengah kalangan pertempuran sambil memasang mata ke arah gundal-gundal musuhnya. Suasananya jadi tambah tegang, waktu tampak Kimura merayap bangun dan berkata kepada anak buahnya dengan gusar, "Hai, tong nasi, bantulah aku menangkap orang Cina celaka itu!". Lalu dengan tindakan sempoyongan ia hampiri si pemuda, yang diam-diam merasa kagum juga akan semangat banteng orang Jepang itu.

Tapi, Giok Hong tidak lagi ingin memberi hati untuk orang yang mengeroyok dirinya. Waktu Kimura menerkam, ia telah putar tubuhnya, yang hanya terpisah sedikit saja dari lawan. Dengan demikian ia dapat mengelakkan serangan itu dengan manis sekali, berbareng dengan itu ia lantas ulur kedua tangannya menangkap kedua tangan Kimura.

Anak buah si Jepang yang melihat demikian, segera melancarkan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang tidak mengenal ampun ke arah Giok Hong. Sesaat kemudian mereka baru sadar, ternyata yang berteriak-teriak justeru Kimura sendiri, karena sewaktu mereka menyerang serentak. Giok Hong yang bermata jeli telah dapat melihat dan segera membetot sambil mendorong tubuh lawannya untuk mewakilkan ia menerima "hadiah" itu.

Hal mana, sudah tentu telah membuat Kimura yang keliru dikeroyok jadi menjerit- jerit bagaikan babi yang sedang disembelih.

Giok Hong yang menyaksikan peristiwa tersebut, mau tak mau jadi tertawa geli dalam hatinya. Kemudian ia gunakan suatu loncatan dengan siasat Tay-peng-ciong- thian atau garuda menerjang ke angkasa, tubuhnya mencelat keatas pagar tembok dan ia menuding Kimura dan para gundal-gundalnya sambil membentak, "Hai, kawanan tikus hutan!. Ayoh, enyahlah kamu dari sini!. Jika lain kali kamu berani datang lagi mengacau di sini, akan kubikin tiada seorangpun anatara kamu mampu kembali ke tempat kediamanmu!".

Sementara Kimura Shiro dan anak buahnya yang telah mengetahui bahwa si orang she Sun tidak boleh dibuat gegabah, tanpa banyak bicara segera kabur sambil memapah Kimura, masuk ke daerah konsesi Jepang. Sedang Sun Giok Hong kembali ke kantor Hin Liong Pio Kiok dengan perasaan puas dan gembira.

Tatkala itu, kepala polisi pemerintah Boan-ciu yang bertugas di kota Thian-cin adalah seorang kaum bangsawan Boan yang bernama Tong Sin Hui, seorang Bu-kie- jin (lulusan militer) yang berdisiplin dan jujur. Waktu mendengar peristiwa perkelahian Sun Giok Hong dengan Kimura Shiro, ia segera paham bahwa Konsul Jepang pasti takkan mau tinggal diam dalam menanggapi perkara keributan ini.

Lebih-lebih karena Kimura yang bertugas sebagai pejabat dinas istimewa dan terkenal sebagai jago Judo jempolan, telah kena dipecundangi oleh Sun Giok Hong, sehingga menderita luka-luka yang tak dapat dikatakan ringan di dalam tubuhnya.

Tong Sin Hui mendapat firasat tidak baik, karena jika nanti Konsul Jepang itu mengadu kepada atasannya, tentu persoalan ini akan menjadi tambah gawat dan Giok Hong bisa difitnah orang dengan secara keji. Untuk mencegah ini, ia lalu memerintahkan seorang polisi berpakaian preman mengundang si pemuda she Sun dari Hin Liong Pio Kiok, untuk dengan diam-diam menghadap ke kantornya.

Setelah Sun Giok Hong datang, Tong Sin Hui lalu menasehati agar si pemuda segera memindahkan kantornya ke suatu tempat yang terletak agak jauh dari kota Thian-cin. "Kalau tidak" katanya, "pasti engkau akan mengalami bencana besar!".

Sun Giok Hong yang mendengar nasihat tersebut, tidak lupa menyatakan terima kasihnya, tapi ia tambahkan juga dengan berkata, "Tong Tay-jin" demikian Giok Hong mulai. "Tayjin sebagai seorang yang bertanggung jawab penuh atas tata tertib di kota Thian-cin ini, seharusnya bertindak dengan cara keras, tegas dan menurut hukum- hukum yang telah ada untuk melindungi rakyat yang diperlakukan orang dengan sewenang-wenang. Tidak heran sekarang bangsa Jepang telah berani bertindak diluar batas kesusilaan, tanpa memandang muka lagi kepada pihak yang berwenang seperti anda ini. Apakah barang kali Tay-jin mendapat ancaman, sehingga Tay-jin jadi ketakutan setengah mati terhadap mereka?".

Tong Sin Hui yang mendengar kecaman tersebut, sebagai seorang yang berhati jujur, ia tidak menjadi gusar, malah telah membenarkan kata-kata itu. Tidak lupa ia menyampaikan duduknya perkara yang benar tentang politik pemerintah Boan-ciu terhadap bangsa Jepang. Sambil menghela napas, ia berkata, "Lo Sun, aku tidak salahkan kecamanmu itu, tapi engkau tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya tengah kuhadapi kini. Aku sendiri bukan takut pada bangsa Jepang, terus terang saja aku memang takut melanggar perintah Lo-hud-ya (Kok-bo atau Ibusuri Cie Hie, ibu kandung kaisar Kong Sie, Ceng Tek Cong). Beliau melarang aku dengan keras untuk bertindak atau melakukan sesuatu yang dapat menyinggung perasaan bangsa Jepang. Karenanya, aku tak berdaya untuk bertindak sebagaimana tugasku sebagai seorang kepala polisi".

"Sikap Tay-jin yang selalu mengalah kepada bangsa Jepang itu" kata Sun Giok Hong, "pasti takkan memberi akibat yang baik bagi diri Tay-jin sendiri. Mereka yang diberi kelonggaran sejengkal, kesudahannya akan minta hingga sedepa. Jika diberi bahu, mereka akan minta kepala. Siasat ini kesudahannya akan menyulitkan kita juga".

"Apa katamu itu" kata Tong Sin Hui, "memanglah benar dan masuk di akal. Tapi, kenyataannya sangat berat dan membuatku serba salah. Jika aku mengalah, sudah pasti aku akan diinjak oleh bangsa Jepang, jika aku bertindak sebagai seorang kepala polisi yang berwenang, aku akan dapat marah dari Ibusuri. Cobalah pertimbangkan olehmu, jika engkau berada dalam kedudukanku, cara bagaimanakah engkau mestinya bertindak terhadap persoalan yang rumit ini?".

Giok Hong jadi bungkam sejenak, berhubung dia sendiripun jika ditempatkan pada kedudukan Tong Sin Hui disaat itu, benar-benar akan sulit juga untuk dapat memecahkan persoalan yang sepelik itu. Iapun terpaksa minta maaf atas kecamannya yang hanya menuruti perasaan hatinya saja, sama sekali tidak ia pikirkan bagaimana prakteknya nanti. Syukur juga disaat itu suatu pikiran baru telah muncul dalam hati si pemuda she Sun, yang lalu berkata kepada kepala polisi she Tong itu sebagai berikut:

"Tay-jin, aku ada suatu saran untuk mencegah kaum gelandangan asing itu datang mengacau pula ke dalam kota Thian-cin".

Tong Sin Hui menanyakan saran apa yang sedang dipikirkan si pemuda, Sun Giok Hong lalu menjawab, "Aku ini adalah seorang rakyat biasa, kalau sampai kejadian aku berkelahi dengan siapapun, itu merupakan satu perkara yang tidak aneh dan biasa saja. Aku belum puas sebelum menghantam sehingga mereka kapok dan merasa segan untuk membikin ribut lagi di dalam kota. Agar tidak menyukarkan Tay-jin, aku akan berpura-pura mabuk dalam perkelahian itu, karena orang yang mabuk tidak sadar akan segala perbuatannya. Apakah Tay-jin dapat menyetujui usulku ini?".

"Siasat yang baik sekali!" Tong Sin Hui memuji. "Jika perkelahian itu terjadi di luar kota, ditambah lagi engkau berpura-pura mabuk, sudah tentu bukan menjadi tanggung jawabku untuk mengusik-usik urusan ini".

Sun Giok Hong jadi girang dengan jawaban itu, segera ia minta diri untuk pulang ke kantor Hin Liong Pio Kiok untuk berembuk dengan adik sepupunya Giok Tien. Mereka telah mupakat agar perusahaan angkutan Hin Liong Pio Kiok menghentikan dahulu usahanya untuk sementara waktu, kemudian memindahkan kantor mereka ke See- pou-tun yang terletak 20 lie jauhnya di luar kota Thian-cin. See-pou-tun ini merupakan sebuah kota kecil yang keadaannya boleh dikatakan ramai juga karena penghuninya mencapai jumlah 2000 sampai dengan 3000 orang banyaknya.

Setelah selesai menyewa rumah untuk tempat kediaman, maka diam-diam Giok Hong telah menyuruh orang bawahannya menyiarkan kabar burung di daerah kota Thian-cin, teristimewa yang berdekatan dengan konsesi Jepang, bahwa Sun Giok Hong tidak berani tinggal dalam kota Thian-cin, hingga selekas mungkin pindah ke See-pou-tun.

Semenjak kena dihajar oleh Sun Giok Hong dan keliru dikeroyok oleh anak buahnya sendiri, Kimura Shiro meringkuk di ranjang dalam keadaan luka-luka di asramanya di dalam konsesi Jepang. Waktu mendengar kabar bahwa Sun Giok Hong telah pindah ke See-pou-tun karena ketakutan, hatinya jadi gusar bukan main dan segera memikirkan jalan untuk menuntut balas.

Karena dia masih dalam keadaan sakit, dengan segera ia memerintahkan salah seorang anak buahnya yang bernama Nakao Yoshikawa yang terkenal lihay ilmu Judo, untuk mengajak 6 orang kaki tangannya pergi menyatroni Sun Giok Hong di See-pou- tun. Mereka menyamar sebagai orang-orang Tionghoa dan membawa senjata tajam yang disembunyikan di bawah pakaian masing-masing.

Meski mereka bertujuh menyamar sebagai orang-orang Tionghoa, tidak urung bentuk wajah dan gerak-gerik mereka menunjukkan dengan jelas, bahwa mereka semua adalah bangsa Jepang. Lebih-lebih mereka sukar menghindarkan kepalsuan mereka diwaktu bercakap-cakap, yang aksen dan caranya sama sekali tidak mirip dengan apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang Tionghoa.

Apa mau dikata, selagi mereka mencari-cari di mana tempat kediamannya Sun Giok Hong, tiba-tiba mereka telah dapat dilihat oleh salah seorang anak semang Sun Giok Hong yang bernama Lauw Hui. Ia segera melaporkan kepada induk semangnya tentang kedatangan mereka itu.

"Ternyata siasatku telah kelihatan hasilnya" kata Giok Hong sambil tersenyum. "Sekarang hendak kupasang jaring untuk menjebak mereka sekalian".

"Orang yang memimpin kawanan gelandangan Jepang itu" kata Lauw Hui, "adalah seorang yang bertubuh tegap dan agaknya bertenaga kuat sekali. Demikian juga dengan perawakan keenam orang anak buahnya itu. Harap Su-hu suka berlaku hati- hati".

"Tak usah engkau khawatir" kata si pemuda she Sun, "aku ada satu cara untuk menghadapi mereka".

Setelah itu, ia panggil Sun Giok Tien, untuk bersama-sama Lauw Hui dan seorang anak buah yang lainnya bersembunyi di dalam hutan yang terletak kira-kira 15 lie jauhnya di luar kota See-pou-tun. Ia sendiri, sudah menukar pakaiannya dengan seperangkat pakaian yang ringkas, lalu membawa sebilah badik beracun yang diselipkan di pinggangnya. Ia sengaja berjalan-jalan ke dalam pasar, dimana ia kebetulan melihat dari kejauhan Yoshikawa sedang bertanya dengan menggerak- gerakkan tangannya kepada seorang yang kebetulan dijumpai di jalan raya.

"Sudah tentu dia hendak menanyakan di mana tempat tinggalku" pikir si pemuda. Ketika ketujuh orang gelandangan itu melanjutkan pula perjalanan mereka, Giok

Hong lalu sengaja mendekati. Mereka berjalan tanpa mengindahkan orang lain yang berjalan mondar mandir di situ, hingga orang banyak jadi merasa seram. Setelah dapat mengenali siapa orang-orang itu, lekas-lekas mereka menyingkir jauh-jauh untuk mencegah pertikaian. "Bagus, memang beginilah cara mereka yang paling kuharapkan" kata Giok Hong di dalam hatinya. Dengan menyingkirnya orang banyak dari jalan raya, ia dapat bergerak dengan leluasa jika bertempur nanti.

Waktu kedua pihak saling berpapasan, Yoshikawa dan kawan-kawannya jadi merandek memandangi si orang she Sun. Kemudian salah seorang diantaranya menuding kepada Sun Giok Hong dengan maksud memberitahukan kepada induk semangnya, "Ini dia orangnya yang sedang kita cari!" katanya dengan keras.

"Siapa   engkau?"   bentak   Yoshikawa   yang   masih   ragu-ragu. "Hm !. Berdirilah biar kuat, sehingga engkau tidak roboh waktu

mengetahui siapa aku!" kata Giok Hong mengejek. "Aku adalah SunGiok Hong, orang

yang telah menghajar Kimura Shiro!".

Mendengar kata-kata itu, Yoshikawa jadi sangat gusar. Kemudian sambil memberikan tanda kepada kawan-kawanya untuk mengurung si pemuda, ia segera maju ke tengah kalangan.

Sikap menyerangnya sama benar dengan apa yang pernah diperlihatkan oleh Kimura, yakni kedua lengan diangkat kemuka, yang kiri lebih tinggi sedikit dari yang kanan, waktu maju ia tidak melangkah, hanya kaki kirinya bertindak sambil menyeret kakinya yang kanan. Yoshikawa tergolong satu tingkat lebih rendah daripada Kimura dalam urusan pangkat Judo. Tapi, tidaklah dapat dikatakan bahwa orang yang berpangkat Dan II selalu dapat mengalahkan orang yang pangkatnya lebih rendah, karena dengan kepandaian khusus serta kelincahan, seseorang dapat juga mengalahkan atau merobohkan oang yang pangkatnya lebih tinggi. Pangkat "Dan" diberikan sebagai penghargaan atas pengabdian atau pengalaman seseorang kepada ilmu tersebut.

Giok Hong lalu ke suatu sudut, dengan membelakangi tembok ia menantikan datangnya Nakao Yoshikawa beserta kawan-kawan. Jalan raya jadi lowong dan sunyi, tak seorangpun kelihatan di situ kecuali 7 orang yang sedang mengurung seorang Tionghoa.

"Ciaaaaaat!" Yoshikawa telah memecahkan kesunyian dengan teriakannya yang santar sambil menabas batang leher Sun Giok Hong dengan telapak tangannya. Si Pemuda lekas geser kaki kirinya sambil mengelak sedikit, dan baru saja tangan itu lewat di atasan kepalanya, Yoshikawa telah melancarkan tendangan ke arah dadanya. Kali ini ia tidak sungkan-sungkan lagi untuk membalas, sambil geser tubuhnya ke kanan, tangan kirinya menahan kaki lawan dan berbareng dengan itu, tinju kanannya menotok sedikit bagian paha lawannya yang lemah dan "Ah!". Yoshikawa

berteriak saking geli dan kagetnya, karena pukulan Giok Hong tepat mengenai paha mudanya.

"Kurang ajar!" bentak Yoshikawa yang jadi semakin gusar dan sengit. Lalu ia menerjang dengan maksud menabrak jatuh lawannya, baru kemudian "mengunci" dengan siasat Shime-wasa atau ilmu cekikan Judo.

Giok Hong pasang matanya dengan tajam ke arah Yoshikawa yang sedang menerkam, ia tunggu sampai tubuh lawannya itu datang dekat benar, baru dengan cepat ia mengegos sambil melancarkan siasat serangan Tok-pek-hoa-san atau dengan sebelah tangan membelah gunung Hoa-san. Telapak tangannya memenggal batang leher Yoshikawa dengan satu teriakan, "Aaaaaaaaaa!" dan "Buk!".

Yoshikawa tanpa dapat ditahan lagi telah menabrak tembok!. Giok Hong tertawa mengakak.

Yoshikawa cepat bangkit, walaupun masih merasa pusing karena bertabrakan dengan tembok. Setelah itu ia menghunus senjatanya sambil memberi isyarat, yang memang telah diatur dimuka kepada anak buahnya, untuk dengan serentak mereka menerjang Giok Hong.

Sementara Sun Giok Hong yang melihat gelagat tidak baik, lekas-lekas pergunakan siasat Yan-cu-chut-lim atau burung walet terbang keluar rimba, tubuhnya mencelat ke luar kalangan pertempuran dan kabur menuju ke dalam rimba, dimana Sun Giok Tien dan Lauw Hui serta seorang anak semangnya tengah menantikan musuh.

Tidak sadar bahwa semua itu adalah siasat belaka, Yoshikawa dan kaki tangannya segera mengejar bagaikan sekawanan pemburu yang sedang mengepung binatang buruannya.

Tatkala berkejar-kejaran sehingga 15 lie jauhnya dan akhirnya tiba di suatu jalan kecil di dalam rimba yang sunyi dan jarang dilewati manusia, barulah Giok Hong berhenti. Di situ ia memberi isyarat dengan siulan kepada adik sepupu dan dua orang semangnya, yang segera maju dari kiri kanan untuk membantunya melawan Yoshikawa dan enam orang anak buahnya.

Melihat Giok Hong tengah berdiri menantikan beserta Giok Tien dan kawan- kawannya, Yoshikawa merandek dan dengan tajam melirik ke arah musuh-musuhnya berkumpul. Setelah itu mereka berpencar, lima orang menghampiri Giok Tien, Lauw Hui dan kawannya, sedang Yoshikawa sendiri bersama seorang kawannya menghadapi Giok Hong.

Ahli silat Jepang itu yang menganggap Giok Hong takut kepadanya, segera maju untuk menerjang terlebih dahulu dengan siasat De-ashi-barai atau dengan kaki membanting lawan. Tangan kanannya bergerak menyamber ke arah dada, tangan kirinya ke lengan baju Giok Hong. Dengan siasat ini, ia bermaksud dengan tiba-tiba dan keras membetot tubuh lawannya ke samping kiri, sambil kaki kirinya dipalangkan di atas mata kaki kanan lawan. Dengan demikian, keseimbangan lawan akan buyar dan dengan mudah saja ia dapat merobohkan lawannya itu.

Giok Hong segera menyampok, lalu dengan gerakan kilat ia telah berada di belakang Yoshikawa, yang jadi terkejut sewaktu mendapat kenyataan bahwa musuhnya mendadak sudah "hilang" dari pemandangannya. Berbarengan dengan itu, ia rasakan tubuhnya terangkat sedikit, lalu terputar-putar di udara untuk akhirnya "terbang" dan menghantam pohon!.

Ternyata waktu berada di belakang lawan. Giok Hong sambil membungkukkan badannya telah berhasil menghimpit kedua belah kaki Yoshikawa yang lalu diputar dengan keras sembari memutar badannya sendiri.

Yoshikawa rasakan kepalanya pusing, sekujur badannya ngilu dan matanya berkunang-kunang. Untuk tidak menunjukkan kelemahan dirinya sendiri, ia segera bangkit dan mengambil badiknya yang tergeletak di tanah, yang mungkin terjatuh waktu ia dilemparkan.

Acuh tak acuh, dipungutnya badik itu dan dengan satu pekikan nyaring ia menyerang Giok Hong secara tiba-tiba.

Giok Hong geser kaki kanannya untuk mengelakkan tikaman, sungguh diluar dugaannya, tikaman Yoshikawa itu hanya satu gerak tipu saja. Waktu tikaman kedua menerjang, Giok Hong lekas-lekas berkelit, tapi............"Bretttt!" baju bagian bawah ketiaknya jadi tersobek!.

Tercetuslah suara tertawa Yoshikawa yang panjang dan seram, karena ia merasa puas sekali dengan hasil serangannya itu yang telah melukai kulit musuhnya. Meski tidak parah, tapi mengeluarkan juga sedikit darah.

Bagaikan orang kesetanan, Yoshikawa menyerang lagi, serangannya bertubi-tubi dan dahsyat mengarah bagian-bagian tubuh yang mematikan. Giok Hong berkelit, mengegos, lompat mundur untuk mengelakkan serangan- serangan itu, hingga pada suatu saat ia dapat menggunakan siasat Eng-jiauw-kun untuk menyekal pergelangan tangan Yoshikawa sambil menyerang dengan siasat Keng-thian-tang-tee atau mengejutkan langit, menggetarkan bumi. Jari-jari tangannya terpentang lebar dan kaku mencengkeram muka lawannya. Terdengar Yoshikawa menjerit tertahan dan tampak dengan tiba-tiba ia melepaskan badiknya, lalu roboh bergulingan ke belakang sembari menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Dari celah-celah jarinya merembes keluar benda cair kental merah darah!.

"Aku tak dapat melihat!. Aku tak dapat melihat!" teriak Yoshikawa serak, "Aku telah menjadi buta!".

Anak buah Nakao Yoshikawa yang tidak dapat kesempatan untuk membantu karena takut salah turun tangan, segera menimpuk dengan badiknya. Dengan mudah saja Giok Hong dapat mengelakkan, setelah itu dengan siasat Kui-seng-tek-tauw atau bintang Kui menendang gantang, ia menendang dada lawannya yang jadi terpental dan memuntahkan darah dari mulutnya.

Dilain pihak, Sun Giok Tien bersama dua orang kawannya telah maju menerjang kelima orang gelandangan yang lainnya dengan toya dan golok. Lawan yang hanya bersenjatakan badik saja, sudah tentu tidak mungkin memperoleh kemenangan.

Setelah pertempuran berlangsung beberapa jurus lamanya, seorang diantaranya telah kena dirobohkan. Yang seorang pecah kepalanya, sedang seorang yang lainnya menderita luka-luka parah, hingga mereka meringkuk di sisi jalan dalam keadaan tidak ingat orang.

Dua orang gelandangan lainnya, yaitu seorang Korea dan seorang Jepang yang berniat kabur, terlebih dahulu telah dikepung oldi Sun Giok Tien dan dua orang kawannya. Setelah kedua pihak bertempur dengan amat hebatnya, mereka itupun telah kena juga dirobohkan dan jatuh pingsan.

Setelah ketujuh orang itu telah dirobohkan dan jatuh pingsan, barulah Giok Hong mengajak Giok Tien dan anak-anak semangnya meninggalkan rimba itu secepat mungkin.

Orang-orang Jepang telah cukup terkenal diantara rakyat Tionghoa sebagai orang- orang jahil dan suka mengacau disana sini, maka tiada seorangpun suka datang menolong atau melaporkan kejadian tersebut kepada kantor polisi setempat. Diantara mereka yang pernah dianiaya, dirugikan serta dicemarkan kaum wanitanya, segera mengambil kesempatan membalas dendam selagi musuh-musuh mereka itu tidak ingat orang. Dengan tidak segan-segan mereka lalu memukuli orang-orang gelandangan yang pingsan itu sehingga pecah batok kepalanya dan mati, kemudian membakar mayat-mayat mereka di dalam hutan sehingga menjadi abu.

Demikianlah pembalasan rakyat yang lemah kepada mereka bertujuh.

Kemudian Sun Giok Hong mengajak Sun Giok Tien, Lauw Hui dan beberapa anak semangnya pindah ke Shanghai untuk mencari nafkah di sana.

0oo0