-->

Golok Naga Kembar Jilid 01

Jilid 01

Pendahuluan

DI TANAH Yan dan Tio, yang sekarang terletak diantara propinsi-propinsi Hopak dan Shoasay, pada jaman dahulu banyak lahir orang-orang gagah dan cerdik pandai yang berkepandaian tinggi dan mempunyai kegagahan yang sangat mengagumkan, sehingga dengan kepandaian dan kegagahan itu mereka telah merantau dan berjalan malang melintang keluar daerah dan ke pedalaman kota San-hay-kwan tanpa mengenal takut. Sang waktu berlangsung sangat cepat, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, membuat pergantian jaman ke jaman hampir tak dirasakan orang.

Begitupun nama tanah-tanah Yan dan Tio turut juga berganti, walaupun dengan terjadinya perubahan jaman ini, tanah-tanah Yan dan Tio tinggal tetaplah menjadi tanah dimana banyak terlahir orang-orang gagah hingga jaman ini.

Di dalam Rimba Persilatan terdapat delapanbelas macam senjata, yang hampir seluruhnya dipergunakan oleh setiap orang yang berkecimpung dalam kalangan ini, namun tidak pernah diketemui seorangpun yang dapat mempergunakan kedelapanbelas macam senjata-senjata itu dengan sama mahir dan lincahnya. Karena jika seumpama ia mahir dalam memainkan salah satu senjata, belumlah menjadi ukuran bahwa ia juga paham mempergunakan senjata-senjata yang lainnya. Oleh karena itu, maka timbullah nama-nama julukan khusus untuk setiap orang yang mahir dalam hal memainkan salah satu macam senjata tersebut, misalnya di muka nama Sun Giok Hong (tokoh dalam kisah nyata yang pembaca sedang nikmati) terkenal dengan nama julukan Ngo-seng-to-ong atau RAJA GOLOK DARI LIMA PROPINSI. Dalam kalangan persilatan di Tiongkok Utara muncul seorang pemuda gagah bernama Ong Cu Pin, yang nama aslinya hampir dilupakan orang, tetapi nama julukannya tetap tinggal harum hingga saat ini. Ia itu bukan lain daripada orang gagah yang kita pernah kenal dengan nama julukan Toa-to Ong Ngo atau Ong Ngo si Golok Besar. Ong Cu Pin ini adalah anak kelima dari jago silat Ong Tek Po, maka ia umum dikenal orang pada masa itu dengan sebutan Ngo Jie (si anak kelima).

Seperti juga dengan keadaan jaman yang silih berganti, begitupun halnya dengan kelahiran para pendekar dan orang-orang gagah yang silih berganti muncul dari satu jaman kelain jaman tanpa putus-putusnya. Jika yang seorang sudah berusia tua dan mengundurkan diri, maka angkatan mudanya segera tampil ke muka untuk menggantikan kedudukannya.

Demikianlah sejak lahirnya Toa-to Ong Ngo yang kita telah ketahui riwayat hidupnya sedari lama, kini kita beralih kepada Sun Giok Hong yang seolah-olah telah ditakdirkan untuk muncul sebagai pengganti Toa-to Ong Ngo yang mahir mempergunakan golok dalam Rimba Persilatan di Tiongkok Utara.

Ahli permainan golok she Sun ini asal kelahiran propinsi Hopak. Perawakan tubuhnya tegap dan kuat. Ia beralis panjang sehingga melampaui matanya. Hidungnya mancung, romannya gagah. Matanya jeli dan mengeluarkan sinar berpengaruh, tetapi ia bertabiat peramah dan manis budi bahasanya. Dan sebagai seorang pemuda keturunan ahli-ahli silat, iapun terlahir dengan membawa bakat yang sama dengan para leluhurnya, yakni kakek, ayah dan paman-pamannya, semua tergolong sebagai jago-jago silat kenamaan dari masa yang lampau, sedangkan ia sendiri belajar ilmu silat dibawah bimbingan ayahnya. Hanya sangat disayangkan ayahnya tidak berumur panjang, sehingga Giok Hong telah menjadi anak yatim diwaktu usianya baru saja masuk belasan tahun. Tapi karena Giok Hong bersifat cerdik, ulet dan berhati mantap, maka dalam usia 12 tahun ia telah menjadi salah seorang pemuda gagah dan ikut serta dalam rombongan para pelindung kereta-kereta pio dari perusahaan angkutan yang memakai merek Hin Liong Pio Kiok di Thian-cin.

Kala itu di akhir dinasti Ceng pada tahun kerajaan Kong-sie (antara tahun 1875- 1908). Pemerintahan pada jaman itu telah menjadi kacau balau, sehingga banyak muncul perampok-perampok yang membuat huru hara di sana sini dan merajalela tanpa dapat ditindas oleh pihak yang berwajib. Maka para saudagar yang biasa berhubungan ke lain propinsi dan berjual beli di sana, tak dapat bekerja dengan tenteram dan selamat tanpa meminta perlindungan dari kantor-kantor pengangkutan yang mempunyai banyak "orang-orang kuat" untuk melindungi barang-barang dagangan mereka.

Oleh karena itu, tidaklah heran jika pada jaman itu berdirinya kantor-kantor angkutan tak berbeda dengan tumbuhnya jamur di musim hujan. Semula mereka dapat bekerja sama, tetapi lama kelamaan mereka saling bersaing dengan jalan mengundang atau mendatangkan orang-orang gagah dari selatan dan utara, dengan diberi upah yang tinggi dan jaminan-jaminan yang sangat memuaskan.

Dengan majunya perusahaan-perusahaan angkutan itu, maka di kalangan persilatan di selatan dan utara dengan secara langsung merasakan akibatnya, sehingga banyak orang-orang gagah yang semula kurang begitu terkenal, dengan tiba-tiba saja namanya mengalami ketenaran dengan kegagahan dan kepandaian yang mereka miliki. Hari ini mereka menggempur kawanan perampok di sini dan dihari esoknya mereka menghancurkan atau menggagalkan serbuan kilat perampok lain yang namanya sudah terkenal dan ditakuti orang.

Pada jaman kacau balau itulah, Sun Giok Hong muncul sebagai salah seorang pio- su atau pelindung kereta-kereta pio yang gagah berani di Tiongkok Utara. Sedangkan pemimpin dari perusahaan angkutan Hin Liong Pio Kiok dimana ia bekerja itu, bukan lain daripada pamannya sendiri yang bernama Sun Seng Bu. Perusahaan angkutan Hin Liong Pio Kiok ini telah lama terkenal di luar dan di dalam San-hay-kwan. Tidak kurang dari seratus orang gagah dari pelbagai golongan atau cabang persilatan membantu memberi perlindungan dalam perusahaan angkutan tersebut, sehingga para saudagar merasa tenteram dan aman, jika barang-barang mereka dikirim dibawah pengawalan Hin Liong Pio Kiok itu.

Pada waktu jago silat Ho Goan Kah yang terkenal dengan nama julukan Oey-bian- houw atau Harimau muka kuning membuka rumah perguruan silat di Shanghai, Sun Giok Hong telah diminta bantuannya untuk mengajar. Demikianlah dengan memangku jabatan sebagai salah seorang guru silat di sana, dimana ia telah bekerja beberapa tahun lamanya dengan mendapat pujian sebagai salah seorang guru yang jiatsim (giat dan bersungguh-sungguh hati) dalam hal memajukan ilmu silat yang menjadi warisan dari kakek moyang mereka.

Setelah itu ia pindah mengajar pada Ceng Bu Tee Yok Hwee di Kwitang (Tiongkok Selatan), dimana pada masa itu hidup ahli silat Oey Siauw Hiap, murid utama Tan Hiang dari golongan perguruan silat Coa Lie Hut. Pada waktu dinasti Ceng berakhir dan pemerintahan di Tiongkok kembali ke tangan bangsa Tionghoa dan bernama Tiong Hoa Bin Kok atau Negara Republik Tiongkok, Oey Siauw Hiap telah membuka perguruan silat Ceng Bu Tee Yok Hwee itu dengan meminjam tempat dalam kelenteng Tay-hut-sie. Justru itu Siauw Hiap yang memang gemar ilmu silat telah mendapat kabar bahwa Sun Giok Hong berkunjung ke selatan. Maka dengan tidak membuang waktu pula ia segera menjumpainya dan menyatakan keinginannya untuk mengangkat Giok Hong menjadi guru hingga Giok Hong yang melihat Siauw Hiap begitu sungguh-sungguh ingin menjadi muridnya, akhirnya telah mengabulkannya juga. Sejak waktu itu ia telah menerima banyak murid-murid di Kwitang, antara mana boleh disebutkan nama-nama Ma Kiam Hong, guru silat wanita Lim Siauw Lip dan yang lain-lainnya.

Sun Giok Hong mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Bun Yong dan juga gemar ilmu silat. Pada tahun Bin Kok ke 26 (1937), Bun Yong telah mengikuti tentara nasional memanggul senapan untuk melawan pasukan Jepang.

Pada tahun Bin Kok ke 27 (1938) tatkala pasukan Jepang menyerbu ke propinsi Kwitang dan pemerintah Kwiciu (ibukota Kwitang) berpindah ke Kiok-kang, Sun Giok Hong terpaksa mengungsi ke Kwitang Utara, dimana salah seorang anak laki-lakinya yang lain, Eng Yong, telah gugur dalam peperangan sebagai seorang patriot muda yang tidak rela melihat negerinya diserang musuh.

Demikianlah sekelumit riwayat keluarga Sun Giok Hong yang selain terkenal sebagai seorang ahli silat yang disegani dimasa yang lampau, juga dapat dicatat namanya sebagai ayah seorang patriot muda yang tidak percuma mendidik putra- putranya sehingga menjadi pahlawan-pahlawan bunga bangsa yang namanya akan selalu diingat orang sepanjang masa.

Kini kita persilahkan para pembaca yang terhormat untuk mengikuti riwayat hidup Sun Giok Hong yang telah muncul di kalangan Kang-ouw ketika usianya baru masuk duabelas tahun.

0oo0 PADA masa itu kantor pengangkutan Hin Liong Pio Kiok telah menerima pesanan untuk mengangkut sepuluh kereta penuh barang-barang yang berupa kulit kayu dan tumbuh-tumbuhan untuk bahan obat, lok-jiong dan jin-som keluaran Kwan-tong serta bahan-bahan obat lain yang berharga lebih kurang 100 ribu tael emas. Barang-barang berharga itu diangkut dari seorang saudagar di Tiang-cun dalam propinsi Kirin (Mancuria) ke kota Thian-cin, dari mana akan diangkut pula ke kota Kim-leng (sekarang Kang-leng dalam propinsi Kang-souw). Kala itu karena pelayaran belum lagi dapat dilakukan dengan leluasa, maka pengangkutan-pengangkutan kebanyakan dilakukan dengan mengambil jalan darat. Kantor pengangkutan Hin Liong Pio Kiok karena mempunyai hubungan yang luas kebanyak propinsi-propinsi yang terletak jauh dari pantai, lagipula mempunyai banyak kantor-kantor cabang di sana sini, maka kepada kantor pengangkutan Hin Liong Pio Kiok yang ber-kedudukan di kota Tiang- cun, dari mana barang-barang berharga itu segera dikirim ke kantor pusat Thian-cin, yang akan mengirim itu dengan langsung ke kantor cabangnya di kota Kim-leng.

Barang-barang tersebut telah sampai di kota Thian-cin dengan selamat dan tak kurang suatu apapun juga, maka para pelindung kereta-kereta pio itu dapat kembali ke kota Tiang-cun dengan muka riang dan bebas dari tanggung jawab yang berat itu.

Kini adalah tugas para pio-su atau pelindung kereta-kereta pio di Thian-cin yang bertanggung jawab untuk mengangkut kesepuluh kereta pio yang berisikan barang- barang berharga itu ke kota Kim-leng secepat mungkin.

Kuda-kuda yang sudah lelah diganti dengan kuda-kuda yang masih segar untuk menarik kereta-kereta pio tersebut, begitupun para pio-su yang tinggi ilmu silatnya dan banyak pengalamannya dalam hal melindungi kereta-kereta pio telah dikumpulkan dan ditetapkan siapa-siapa saja yang harus menerima tugas dan tanggung jawab yang maha berat itu. Maka setelah selesai berunding, dua orang pio- su telah ditunjuk untuk melindungi kereta-kereta pio itu, dengan Sun Giok Hong yang baru berusia 12 tahun diperintah ikut serta untuk mencari pengalaman.

Salah seorang antara kedua pio-su itu bernama Ma Tiauw Hoan, seorang ahli silat Shoatang yang mahir ilmu tendangan dan paham memainkan sebilah golok besar.

Yang seorang lagi bernama The Kee Hu, ahli silat kelahiran Hopak yang mahir ilmu Thian-see-ciang dan lihay sekali permainan golok Kun-tong-to. Kedua orang pio-su ini telah sekian lamanya bekerja di kantor pengangkutan Hin Liong Pio Kiok dengan selamat dan belum pernah mengalami kegagalan dalam waktu melindungi kereta- kereta pio yang dipercayakan oleh induk semang mereka. Walaupun mereka tidak dilarang mempertaruhkan jiwa untuk mempertahankan nama baik Hin Liong Pio Kiok dari gangguan para perampok yang banyak merajalela disana sini dewasa itu.

Kedua orang pio-su ini amat senang bergaul dengan Sun Giok Hong dan menganggap si pemuda itu sudah sebagai muridnya saja. Dan jika ada waktu luang, mereka selalu memberi pelajaran ilmu golok secara sukarela dan tidak bosan- bosannya, hingga semakin Giok Hong rajin belajar, semakin bersemangat pula mereka memberi pelajaran-pelajarannya. Dan kini Giok Hong ikut serta dalam perjalanan itu sehingga mereka berdua merasa sangat girang dan sewaktu-waktu menuturkan pengalaman mereka selama hidup dikalangan persilatan pada masa yang lampau.

Hal mana, sudah barang tentu, sangat menarik perhatian Giok Hong yang masih muda itu.

Kesepuluh kereta pio itu ditarik oleh duapuluh ekor keledai baster, dengan panji- panji tiga persegi yang tertera lukisan kepala harimau dipajang di atas setiap kereta tersebut, hingga walaupun dipandang dengan sepintas lalu saja, orang segera dapat mengenali bahwa lukisan-lukisan itu berarti semboyan daripada kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok. Maka para perampok dan terlebih pada siang hari telah mengetahui isyarat ini, tiada seorangpun yang berani sembarangan merampoknya.

Iringan-iringan kereta ini berangkat menuju ke selatan di bawah sinar matahari yang terang benderang dan desiran angin sepoi-sepoi basah. Sun Giok Hong dengan menggendong golok di punggungnya, tampak duduk di atas kereta di samping salah seorang kusirnya, sedangkan Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu yang sedari siang telah mempersiapkan diri, menyoren golok dan membekal alat-alat keperluan mereka dengan selengkap-lengkapnya, mereka berjalan mengiringi dengan masing-masing berkuda yang dapat berlari cepat dan menempuh perjalanan jauh.

Sesudah berjalan tiga hari lamanya, dikala senja hari, tibalah mereka di Tio-kee- tun, sebuah kota kecil yang terletak di arah selatan Thian-cin.

Mereka sekarang telah berada di suatu tempat yang berjarak 240 lie jauhnya dari kota Thian-cin, disebuah kota kecil di arah barat gunung Thay-san (dalam propinsi Shoatang). Rumah-rumah yang terdapat di sini hanya seratus lebih saja banyaknya, sedangkan penduduknya terdiri dari 500 atau 600 jiwa. Rumah makan dan rumah penginapan hanya ada 5 atau 6 buah saja jumlahnya.

Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu yang sudah biasa lewat di sini dan kenal baik keadaan jalan-jalan dan tempat-tempat di situ, lalu mampir ke rumah penginapan yang biasa mereka tumpangi untuk bermalam. Sesudah mereka menyimpan kereta- kereta pio dan berpesan kepada tukang-tukang kereta untuk menjaga kereta mereka masing-masing, kedua orang pio-su itu lalu mengajak Sun Giok Hong pergi ke rumah makan, dimana mereka bertiga duduk untuk makan dan minum, setelah itu mereka kembali ke rumah penginapan untuk beristirahat.

Pada petang hari itu rembulan di langit muncul di antara kabut yang agak tebal, hingga warnanya yang kekuning-kuningan tampak buram dan tidak jelas. Begitupun sinar bintang-bintang yang jauh di angkasa raya, hanya sewaktu-waktu saja tampak berkedip-kedip di balik awan yang melayang-layang di udara tertiup oleh angin malam yang sejuk.

Kira-kira pada waktu tengah malam, tiba-tiba terdengar tukang-tukang kereta itu menjerit dan membuat Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu sangat terkejut, dengan membawa golok mereka berlari-lari ke ruangan dari mana suara jeritan itu terdengar.

Sesampainya di sana, ternyata kesepuluh kereta pio itu sudah tidak tampak lagi bayang-bayangannya, sedangkan keduapuluh orang kusir dan pembantu- pembantunya saling lihat-lihatan bagaikan orang-orang yang terkesima. Selanjutnya dengan menilik pagar bambu yang runtuh di belakang ruangan tempat menyimpan kereta-kereta pio itu, mereka segera mengetahui bahwa kesepuluh kereta-kereta pio itu telah dilarikan orang dengan mengambil jalan dari sana.

Tatkala The Kee Hu berlari-lari keluar untuk memperhatikan ke arah mana kereta- kereta pio itu dilarikan orang, dari kejauhan dengan samar-samar ia mendengar suara meringkik keledai baster dan seruan beberapa orang yang memaksa binatang- binatang itu untuk berjalan lebih cepat lagi.

"Ternyata kereta-kereta kita itu dilarikan ke atas gunung!" kata The Kee Hu sambil mengangkat kepalanya memandang ke arah gunung Thay-san yang diliputi kabut dan hanya diterangi oleh cahaya yang suram.

"Pendapatmu itu sungguh cocok sekali dengan pikiranku" kata Ma Tiauw Hoan. "Sekarang marilah kita menyusul ke sana bersama-sama!" Kemudian mereka berdua lalu mengambil kuda yang segera ditunggangi untuk melakukan pengejaran ke atas gunung.

Sun Giok Hong dan keduapuluh tukang kereta itu menantikan kabar kedua orang pio-su itu dari malam sehingga fajar menyingsing, tetapi mereka berdua ternyata tidak juga kelihatan kembali, hingga si pemuda menjadi khawatir dan berniat untuk menyusul mereka jika hingga terang tanah mereka belum kembali juga ke rumah penginapan itu.

Tatkala sinar matahari mulai tampak mengintai di ufuk timur, dari kejauhan Giok Hong melihat ada dua ekor kuda yang sedang berjalan mendatangi dengan perlahan- lahan, dengan di atas punggung binatang-binatang itu tampak menggendong suatu benda yang bentuknya semula tak dapat mereka lihat dengan jelas. Tetapi ketika kuda-kuda itu telah cukup dekat, barulah mereka ketahui, bahwa kedua binatang itu tengah menggendong dua orang manusia yang ternyata bukan lain daripada Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu adanya.

Kedua orang itu diikat dengan tambang di atas punggung binatang-binatang itu, karena mereka ternyata sudah dalam keadaan pingsan dan juga telah menderita iuka- luka yang tak dapat dikatakan ringan.

Sun Giok Hong yang melihat kejadian itu, segrera mengajak beberapa orang tukang kereta untuk membantunya menggotong kedua orang pio-su itu ke dalam kamar, dimana mereka diobati dan dibalut luka-lukanya serta diberi minuman air jahe untuk memulihkan kembali tenaga mereka.

Ma Tiauw Hoan menderita luka bekas bacokan golok pada bahu kirinya dan juga luka terkena anak panah di bagian pinggangnya, sedangkan The Kee Hu terluka oleh bacokan golok pada punggung dan paha kanannya. Giok Hong tampak khawatir sekali akan keselamatan kedua orang sahabat karibnya yang hampir dianggapnya sebagai guru-gurunya itu.

Ketika kedua pio-su itu siuman, dengan menghela napas panjang Ma Tiauw "Hoan lalu berkata, "Dengan kegagalan kita pada kali ini, ada kemungkinan kami berdua tak punya muka lagi untuk menunjukkan diri di antara khalayak ramai "

Ketika Giok Hong menanyakan sebab musababnya, Tiauw Hoan lalu menerangkan sebagai berikut:

"Si perampok kereta-kereta pio itu bukan lain daripada Thio Sam Liong dari Thio- kee-cung. Keluarga Thio pada umumnya mempunyai hubungan yang baik sekali dengan Hin Liong Pio Kiok. Oleh karena itu aku semula tak percaya, bahwa salah seorang anggota keluarga Thio tersebut bisa merusak hubungan persahabatan ini dengan jalan melakukan perampokan dengan cara yang begitu pengecut. Kami sendiri karena mengingat pada hubungan yang baik antara kedua belah pihak, sama sekali tidak menyangka bahwa kami berdua telah masuk ke dalam perangkap mereka. Kami dihujani anak panah, sehingga sebatang panah diantaranya sukar kuhindarkan dan mengenai tepat pada pinggangku. Kemudian mereka mengeroyok kami berdua, sehingga selanjutnya kami jatuh pingsan dan selanjutnya tak tahu lagi kejadian apa yang telah menimpa diri kami".

Setelah mendengar keterangan kedua orang tersebut, Sun Giok Hong jadi sangat mendongkol hatinya dan berseru, "Oh, kawanan tikus hutan itu ternyata berani mengganggu kereta-kereta pio kita dari Hin Liong Pio Kiok?. Baik!. Tunggulah sampai aku naik ke atas gunung untuk menuntut balas!.

"Kami berdua tidak sanggup melawan mereka yang jumlahnya begitu banyak" Ma Tiauw Hoan coba mencegah si pemuda itu untuk mengambil tindakan yang sedemikian nekatnya, "apalagi kau ini yang masih berusia sangat muda dan belum punya banyak pengalaman di kalangan Kang-ouw. Jika sekarang kau pergi ke sana, bukankah itu berarti sama saja engkau mengantarkan jiwamu dengan percuma?. Hal paling benar yang harus kau lakukan adalah segera pulang ke Thian-cin untuk mengabarkan peristiwa yang kita alami ini kepada pamanmu di sana, agar supaya persoalan selanjutnya dapatlah diurus sebagaimana mestinya".

Tapi Sun Giok Hong meski baru belasan tahun saja usianya, ternyata hatinya sudah sangat mantap dan tak gentar menghadapi sesuatu kejadian gawat serupa itu. Maka tanpa menghiraukan lagi larangan si pio-su she Ma itu, ia segera bersiap-siap untuk naik ke atas gunung untuk menegur perbuatan Thio Sam Liong yang sudah tidak lagi memandang hubungan persahabatan itu.

Begitulah sesudah berpesan kepada para tukang kereta untuk melayani segala keperluan Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu yang menderita luka-luka itu, Giok Hong lekas-lekas pergi sarapan. Kemudian, setelah menanyakan arah jalan untuk menuju ke Thio-kee-cung, ia segera membawa golok dan senjata rahasianya untuk menuju ke atas gunung dengan berkuda.

Di sepanjang jalan, Giok Hong menyaksikan keindahan pemandangan alam di sekitar gunung Thay-san itu. Tapi karena perjalanannya ini bukanlah untuk mencari hiburan, maka ia tak dapat menikmatinya dan hanya tahu melanjutkan perjalanannya selekas mungkin, hingga kudanya dipacu ke atas gunung dengan tidak ada henti- hentinya.

Tatkala berjalan lebih kurang duapuluh lie jauhnya, maka tibalah si pemuda ke dalam sebuah hutan yang lebat, dimana selagi memperhatikan keadaan di sekitarnya, tiba-tiba terdengar mendesirnya sebatang anak panah yang menyambar ke jurusannya. Tapi Sun Giok Hong yang pernah berlatih untuk menghindari bokongan musuh, segera memiringkan sedikit kepalanya, sehingga anak panah itu melayang tipis di dekat daun telinganya dan menancap pada sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi jalan.

Si pemuda lekas menahan tali kekang kudanya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak lama kemudian dari dalam rimba itu muncul serombongan kawanan perampok yang dikepalai oleh seorang pemuda yang berusia antara 23 atau 24 tahun. Ia menunggang seekor kuda putih, di tangannya mencekal sebuah busur Kim-lian- kiong, sedang di atas punggungnya tergantung sebuah golok Tay-kam-to yang besar dan berat sekali kelihatannya.

Sun Giok Hong yang melihat kedatangan orang yang berpakaian ringkas dengan mengenakan saputangan besar sebagai ikat kepalanya itu segera menatap wajah orang itu sambil berseru dengan lantangnya, "Apakah benar kau yang sedang mendatangiku ini adalah Thio Sam Liong?"

"Benar" sahut pemimpin kawanan perampok itu, "Aku ini memang Thio Sam Liong dari Thio-kee-cung. Kau yang baru saja lepas menyusu, membawa golok dan senjata rahasia datang menyatroni daerah kekuasaanku ini, apakah itu bukan hendak mengantarkan jiwamu sendiri?".

Sun Giok Hong bukan main rasa dongkolnya mendengar kata-kata si perampok sombong itu, tetapi tidak urung ia memberikan juga jawabannya, "Aku Sun Giok Hong, kemenakan pemilik kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok. Pamanku dan Cung-cu Toa-ya disini adalah sahabat karib, tapi tak tahu apa sebab musababnya pada kemarin malam kereta-kereta pio kami dirampok dan kedua orang pio-su kami dilukai?.

Bukankah itu berarti, bahwa pihakmu telah dengan sengaja merusak hubungan persaudaraan itu?". Thio Sam Liong jadi tertawa mengakak dan berkata, "Oh, orang semuda kau ini akan mampu menuntut balas dan berani datang meminta kembali kereta-kereta pio- mu itu?".

"Memang benar demikian" sahut Sun Giok Hong dengan hati dongkol, juga akan menuntut balas atas perbuatanmu yang curang yang telah melakukan serangan secara gelap itu!".

Thio Sam Liong yang mendengar omongan pemuda itu, lalu mencibirkan bibirnya sambil mengeluarkan suara dengusan dari lobang hidung dan berkata, "Hm, nyatalah bahwa kau ini seorang yang bernyali besar sekali!. Betapa tinggi kepandaianmu sehingga kau berani bermusuhan dengan kami di sini?. Aku bukan omong sombong, dengan sebelah tangan kananku diikat, aku masih sanggup untuk menundukkanmu sehingga berlutut dan merengek-rengek meminta ampun di hadapanku, kau mengerti?".

Wajah Sun Giok Hong jadi merah padam karena amat gusarnya mendengar hinaan seperti itu.

"Seorang gagah lebih suka mati daripada dihina!" katanya. "Oleh karena itu, sekarang aku tantang kau untuk bertempur denganku sehingga 300 jurus lamanya!".

"Akan kusaksikan sampai dimana keunggulanmu!", kata Thio Sam Liong sambil tertawa mengejek. "Tetapi janganlah kau nanti menangis, kalau sampai gigi-gigimu yang baru tumbuh itu rontok seluruhnya".

Sesudah berkata demimkian, ia segera mnggantung busurnya di geger kudanya, kemudian lekas-lekas ia mengambil golok Tay-kam-to dari punggungnya sambil berseru, "Ayo, mari kita mulai pertempuran ini!".

Sun Giok Hong pun tidak kalah tangkasnya dan segera menangkis bacokan lawannya dengan golok di tangannya. Begitulah selanjutnya mereka saling desak mendesak dari atas kuda, dengan yang satu tak mau mengalah mentah-mentah dari lainnya. Dalam waktu sekejapan saja pertempuran itu telah berlangsung beberapa jurus lamanya, tapi kedua-duanya ternyata sama pandai dan gagah beraninya, sehingga pertempuran itu berkesudahan dalam keadaan seri.

"Bocah she Sun!" seru Thio Sam Liong sambil menahan golok lawannya, "Sekarang kita boleh turun dari kuda dan bertempur di atas tanah!".

Sun Giok Hong menuruti ajakan si orang she Thio itu. Begitu mereka turun dari kuda, mereka segera saling menyerang dengan tidak kalah tangkas dan dahsyatnya daripada di atas punggung kuda tadi.

Tapi dalam pertempuran di atas tanah, ternyata Sun Giok Hong lebih unggul daripada Thio Sam Liong. Karena ketika pertempuran baru saja berlangsung beberapa jurus lamanya, sudah tampak jelas bahwa Sam Liong kalah ulet dan gesit dibandingkan si pemuda she Sun itu, ditambah lagi Sam Liong sendiri sudah mandi keringat walaupun pertempuran itu sendiri belum lagi berlangsung sampai duapuluh jurus lamanya.

Kesudahannya, karena malu jika dia sampai dikalahkan orang, maka Sam Liong segera memberi isyarat kepada para anak buahnya untuk maju membantunya menempur si bocah she Sun, yang ternyata tidak gentar meski dirinya dikeroyok oleh puluhan orang yang bersenjatakan pentungan atau tombak.

Dalam babak pertama, Sun Giok Hong masih dapat bertahan, tetapi dalam babak- babak selanjutnya ia telah mulai terlihat keteteran, karena ia seorang diri sudah barang tentu bukan lawan yang seimbang dari sekian banyak musuh yang sudah dewasa dan bersenjatakan senjata-senjata yang bergagang panjang. Syukur juga selagi jiwa si pemuda she Sun terancam bahaya maut, tiba-tiba dari kejauhan muncul seorang pemuda lain yang berkuda dan memacu kencang binatang tunggangannya ke bawah gunung sambil berseru, "Kalian segera hentikan pertempuran ini!".

Mereka sekalian yang telah mengenali siapa adanya orang yang baru datang itu, lantas mundur keluar dari kalangan pertempuran dan menghentikan pengeroyokan mereka atas diri pemuda she Sun itu.

Hal mana, juga diikuti oleh Thio Sam Liong yang segera melompat ke pinggir dan berdiri tegak di situ dengan napas yang terengah-engah. Dan jika ditilik dari sikapnya disaat itu, ternyata Sam Liong pun agak jerih juga menghadapi pemuda yang baru datang ini.

Sun Giok Hong sendiripun tampak keheran-heranan melihat suasana tersebut. Dalam keadaan demikian, diam-diam ia memperhatikan wajah orang yang baru datang itu, yang ternyata agak mirip dengan Thio Sam Liong walaupun usianya selisih antara 4 atau 5 tahun tuanya. Selanjutnya karena menduga bahwa Sam Liong itu berada dalam urutan yang ketiga di antara saudara-saudaranya, yang mana dapat diketahui jelas dengan angka "Sam" (tiga) yang dicantumkan pada namanya itu, Giok Hong segera timbul dugaan, kalau-kalau orang ini adalah salah seorang kakak dari lawannya itu. Maka sambil menggenggam golok dengan kedua tangannya, si pemuda she Sun lalu menyoja ke arah orang yang baru datang itu sambil bertanya, "Lauw-hia, apakah engkau ini benar salah seorang Thio Siauw-ya dari Thio-kee-chung?".

Si pemuda yang baru datang itu segera mengangkat tangan membalas hormat dan melompat turun dari atas kudanya, sedang salah seorang kawanan perampok itu menarik tali kekang binatang itu, yang lalu dituntun ke pinggir untuk dijagainya.

"Pie-jin (saya yang hina) memang benar bernama Thio Jie Liong dari Thio-kee- chung" sahut orang yang baru datang itu. "Aku lihat siauw-ko-ko ini mempunyai kepandaian ilmu golok yang sedemikian lihaynya, hingga adikku Sam Liong yang usianya lebih tua tak dapat mengalahkanmu, sehingga telah coba main keroyokan dengan cara tidak beraturan. Keluarga kami meski bukan terbilang kaum pendekar yang agung/ tetapi kami pantang berlaku curang seperti apa yang sekarang dilakukan oleh adikku ini. Aku berharap supaya siauw-ko-ko sudi memaafkannya kali ini. Tetapi belum tahu apakah siauw-ko-ko ini bukan orang Thian-cin dan dari keluarga Sun di sana?. Dan apakah sebab musababnya sampai engkau bertengkar dengan adikku?".

"Rupanya Jie-ya belum mengetahui jelas duduk permasalahan yang sebenarnya" kata Sun Giok Hong, tapi selanjutnya dia tak meneruskan pula penuturan itu.

"Bagaimana?. Aku sungguh tidak paham apa katamu", kata Thio Jie Liong yang merasa heran melihat sikap si pemuda she Sun itu.

"Hal ini Jie-ya boleh tanyakan sendiri kepada Sam-ya", sahut Sun Giok Hong.

Thio Jie Liong lalu melirik pada adiknya sambil membentak, "Lagi-lagi kau yang telah membuat keonaran ini, bukan?".

Wajah Sam Liong sekonyong-konyong menjadi merah dan menjawab dengan suara yang terputus-putus, "Ka karena berhutang uang dan kalah dalam perjudian

sehingga jumlah ribuan tail perak, maka aku aku terpaksa

melakukan........per.........perbuatan ini".

"Setelah merampok kereta-kereta pio kami" Sun Giok Hong memotong pembicaraan itu, "Sam-ya juga melukai dua orang pio-su kami, yang hingga kini masih dirawat di rumah penginapan di Tio-kee-tun".

"Sungguh kurang ajar sekali perbuatanmu itu!" Jie Liong mendamprat adiknya itu. "Kau berjudi adalah tanggung jawabmu sendiri, tetapi mengapa merampok kereta- kereta pio orang yang menjadi handai taulan kita keluarga Thio?. Bukankah itu dapat merusak hubungan persahabatan antara pihak kita dan pemilik Hin Liong Pio Kiok?. Aku sekarang hendak bertanya kepadamu, kereta-kereta pio itu sekarang ada di mana?. Lekas kau kembalikan dalam keadaan seperti semula, utuh dan tiada kurang sepotongpun!".

"Kereta-kereta pio itu sekarang aku titipkan di Pek-in-kok" menerangkan Thio Sam Liong, "dan jikalau Jie-ko hendak meminta kembali itu semua, marilah kau boleh ikut kami pergi ke sana".

"Baik" kata Thio Jie Liong, "aku beri kau kesempatan untuk mengembalikan kereta- kereta pio itu dalam keadaan untuh pada saat ini juga untuk dibawa menghadap kepada ayah!".

Thio Sam Liong menyanggupi dan segera berlalu dengan mengajak anak buahnya sekalian.

Tatkala ditunggu-tunggu sekian lamanya, ternyata Sam Liong dan kawan- kawannya tidak juga kembali, hingga Jie Liong jadi mendongkol dan berkata kepada Sun Giok Hong, "Celaka!, ada kemungkinan adikku mengingkari janji dan kabur ke lain tempat!. Sekarang Sun Hian-tee boleh ikut aku pergi ke sana".

Begitulah Giok Hong lalu menunggang pula kudanya dan mengikuti Thio Jie Liong memasuki rimba yang lebat dan melalui jalan-jalan gunung yang curam, kemudian setelah berjalan 6 atau 7 lie jauhnya, tibalah mereka disebuah lembah yang diliputi kabut, dimana Jie Liong menunjuk ke suatu jurusan sambil berkata, "Itu lembah yang tampak di sana, bernama Pek-in-kok. Di sana tampaknya sunyi-sunyi saja dan tiada kedapatan manusia, maka ada kemungkinan adikku telah membawa pergi kereta- kereta .pio itu kelain tempat. Sungguh makan hati sekali kita mendidik anak jahat serupa dia!".

Giok Hong tak dapat berbicara selain daripada mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

Dari situ Jie Liong lalu mengajak si pemuda she Sun untuk melakukan penyelidikan ke lembah Pek-in-kok tersebut. Keadaan di sana sungguh amat sunyi dan tiada kedapatan manusia yang berumah tinggal di situ, hingga tidak mudah mencari keterangan diantara para penghuni-penghuninya yang hanya terdiri dari binatang- binatang hutan itu.

Syukur juga selagi mereka kehilangan akal, tiba-tiba di antara jalan yang bertanah lembek itu, tampak jelas beberapa banyak bekas roda kereta dan kaki keledai baster, hingga kedua orang itu segera mengikuti bekas-bekas itu dengan sangat teliti sekali. Karena dengan melihat jurusan yang dituju oleh rombongan kereta-kereta pio yang dilarikan Thio Sam Liong dan kawan-kawannya itu, Jie Liong segera dapat menduga dengan pasti, bahwa adiknya telah melarikan kereta-kereta itu ke jalan gunung di arah barat. Maka sambil tersenyum getir ia berkat, "Sun Hian-tee, ternyata adikku telah melarikan kereta-kereta pio itu ke desa Han-kee-chung yang terletak di puncak Say-bin-hong!".

"Apakah desa Han-kee-chung itu merupakan desa yang khusus untuk tempat persembunyian kaum perampok?" bertanya Sun Giok Hong agak ragu.

Thio Jie Liong menghela napas dan berkata, "Hal ini Sun Hian-tee akan ketahui nanti. Sekarang marilah kita terlebih dahulu menjumpai ayahku, agar supaya kita dapat mengetahui tindakan apa yang dapat kita ambil selanjutnya".

Sun Giok Hong mengangguk dan segera mengikuti Thio Jie Liong pulang -ke desa Thio-kee-chung, yang terpisah lebih kurang sepuluh lie jauhnya di arah timur lembah Pek-in-kok tadi. Desa Thio-kee-chung ini ternyata amat luas dan dikelilingi oleh pagar tembok. Banyak gedung-gedung, loteng-loteng dan taman-taman bunga yang dipelihara dengan sangat baik di empat penjuru daerahnya. Maka dengan menilik keadaan dan gedung-gedung serta bangunan-bangunannya yang begitu banyak dan indah-indah modelnya, membuat keadaan di situ tidak berbeda dengan sebuah kerajaan kecil yang diperintah oleh seorang raja muda yang mahir sekali dalam hal mengatur dan membangun istana-istananya. Maka Sun Giok Hong yang menyaksikan keadaan di dalam desa itu, selain merasa sangat kagum, iapun jadi berpikir di dalam hatinya, "Thio Sam Liong itu adalah seorang putera dari seorang yang sangat kaya raya, tetapi mengapakah dia berani merampok kereta-kereta pio yang dilindungi oleh kantor angkutan yang mempunyai hubungan sangat baik dengan ayahnya sendiri?. Apakah barangkali ada udang dibalik batu?".

Sebelum si pemuda she Sun dapat memikirkan lebih jauh kecurigaannya itu; saat itu juga Jie Liong mengajak ia masuk ke dalam chung, dimana sesudah menyerahkan kuda-kuda tunggangan mereka dalam tangan para pelayan di situ, mereka segera menuju ke sebuah gedung besar dengan terlebih dahulu melalui sebuah gerbang yang dibangun di tengah chung itu.

Begitulah sesudah melalui cimche yang luas, mereka melewati sebuah lorong panjang yang menembus ke dalam taman, dimana tampak beberapa banyak paviliun- paviliun dan loteng-loteng yang masing-masing bentuk dan besar kecilnya tidak sama. Setibanya di sebuah ruangan besar yang terletak di tengah-tengah taman bunga, Jie Liong lalu minta Giok Hong menunggu sebentar, sedangkan ia sendiri lalu masuk ke dalam untuk mengabarkan kedatangan si pemuda she Sun itu kepada ayahnya.

Tidak begitu lama dari kejauhan muncullah seorang laki-laki yang usianya telah lanjut, dengan diiringi oleh Jie Liong dan beberapa orang pelayan di sebelah belakangnya. Orang tua itu berjalan dengan gerak dan langkah yang masih gagah ke arah ruangan besar dimana Sun Giok Hong duduk menantikan.

Dan begitu melihat orang tua itu berjalan mendatangi, Giok Hong lekas-lekas bangkit dan berdiri tegak untuk menyambut orang tua itu yang diduganya bukan lain daripada ayah Thio Jie Liong adanya.

Orang tua itu meski usianya telah mencapai 60 tahun, tetapi tubuhnya masih kekar dan matanya seolah-oleh mengeluarkan sinar yang tajam sekali. Ia mengenakan baju panjang yang dibuat daripada sutera biru yang berlukiskan seekor naga yang melingkar.

Sambil memberi hormat dengan jalan menjurah dan menekuk sebelah lututnya, Sun Giok Hong lalu bertanya, "Apakah Tiang-jin ini adalah Thio Pek-pek yang menjadi chung-cu dari desa Thio-kee-chung di sini?".

"Benar" sahut orang tua itu, setelah memperhatikan perawakan dan wajah pemuda she Sun itu. "Lo-hu bernama Thio Ciam Goan. Aku mendengar Jie-jie telah melaporkan bahwa Sam-jie telah merampok kereta-kereta Hin Liong Pio Kiok milik pamanmu Sun Sin Bu serta melukai dua orang pio-su. Apakah itu benar adanya?".

"Thio Pek-pek" kata Sun Giok Hong, "apa yang dikatakan Jie-ya, memang benar itulah yang sesungguhnya telah terjadi, sedang kedua orang pio-su kami itupun hingga kini masih dirawat disebuah rumah penginapan di Tio-kee-tun. Maksud Tie-jie datang ke sini, adalah karena mengingat akan hubungan pamanku dan Pek-pek yang begitu erat, maka aku berniat akan melaporkan sendiri tentang terjadinya peristiwa perampokan ini kepada Pek-pek di sini. Tetapi siapa kira sesampainya ditengah jalan, aku telah dicegat oleh Thio Sam-ya dan kawan-kawannya yang segera mengepungku. Syukur juga Jie-ya keburu datang menolong, kalau tidak, ada kemungkinan Tie-jie tak dapat menjumpai Pek-pek saat ini".

Sementara Thio Ciam Goan yang mendengar pengaduan dari anaknya dan Sun Giok Hong yang ternyata bersamaan bunyinya, sudah barang tentu menjadi gusar sekali kepada anaknya yang ketiga itu, sehingga matanya membelalak dan kumis serta janggutnya bergerak-gerak bagaikan ditiup desiran angin.

"Sungguh kurang ajar sekali anak itu!" cercanya. "Sam-jie memang gemar sekali berjudi. Jika dia sudah kalah habis-habisan, dia kerap menjadi nekat dan menipu kiri kanan. Sekarang ia merampok kereta-kereta pio yang diangkut oleh kantor angkutan pamanmu, aku di sini mengalami akibatnya yang tidak enak. Sekarang Hian-tit tak usah merasa khawatir apa-apa. Lo-hu berikan jaminan untuk mengembalikan kereta- kereta pio itu dalam keadaan utuh. Jika ternyata ada kekurangan, Lo-hu akan ganti menurut harga yang patut dibayar". Kemudian ia menoleh pada Thio Jie Liong dan melanjutkan bicaranya, "Jie Liong, sekarang juga kau boleh berangkat ke Han-kee- chung dan serahkan kartu namaku kepada Han Su-ya di sana, untuk minta pertolongannya menangkap si anak celaka itu dan setelah itu dibawa menghadap kepadaku di sini!".

"Baiklah, ayah" kata Thio Jie Liong yang segera berangkat ke Han-kee-chung dengan membawa kartu nama ayahnya itu.

"Karena persoalannya menyangkut pada kantor angkutan kami" kata Sun Giok Hong, "maka telah membuat Jie-ya dan Sam-ya saling bertengkar; hingga untuk itu boan-pwee merasa sangat menyesal sekali".

"Segala kesalahan ini adalah Lo-hu yang harus tanggung" kata Thio Ciam Goan. "Di waktu muda, Lo-hu yang merantau dikalangan Kang-ouw, tidak mempunyai cukup waktu untuk mendidik anak sendiri, sedangkan ibunya terlampau memanjakannya.

Oleh karena itulah Lo-hu sekarang telah menerima 'buah' daripada kesalahan Lo-hu sendiri!. Sam-jie yang kerap bergaul dengan segala anak bengal dan penjudi, akhirnya terseret juga menjadi pecandu judi, sehingga dia menjadi terlampau kasip untuk dipimpin ke jalan yang benar".

"Jika demikian halnya" kata Sun Giok Hong, "bolehkah Tit-jie mendampingi Jie-ya untuk sama-sama pergi ke desa Han-kee-chung itu?".

Thio Ciam Goan merasa tidak keberatan, ia lalu memerintahkan Jie Liong untuk mengajak Giok Hong menemaninya.

"Hian-tit masih sangat muda dan perlu sekali mencari pengalaman yang lebih banyak" kata orang tua itu. "Segala urusan kau boleh serahkan kepada Jie-jie untuk diselesaikan, tetapi jangan sekali-kali kau turut campur tangan".

Giok Hong mengucap banyak-banyak terima kasih atas petunjuk ahli silat tua itu yang kemudian memerintahkan Jie Liong untuk mengajak si pemuda makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke Han-kee-chung.

Sesudah selesai makan, Thio Jie Liong lalu membawa goloknya sendiri dan kartu nama ayahnya, berangkat ke Han-kee-chung dengan ditemani oleh Sun Giok Hong dan duapuluh orang chung-teng (penjaga desa) yang berkuda dan bersenjata lengkap.

Dari desa Thio-kee-chung mereka menuju ke barat, mendaki gunung dan melewati rimba yang lebat, dan tatkala berjalan lebih kurang 30 atau 40 lie jauhnya, maka tibalah mereka di sebuah chung yang juga tidak kalah besarnya dengan Thio-kee- chung, dimana terdapat rumah-rumah para penghuninya yang berjumlah kira-kira 200 atau 300 buah banyaknya. "Tempat ini bernama puncak Say-bin-hong" kata Thio Jie Liong, "sedang chung yang terletak di sebelah sana itu, adalah Han-kee-chung yang akan kita tuju".

Tetapi, ketika baru saja mereka mendekati gerbang desa tersebut, tiba-tiba terdengar suara yang amat riuh dan dibarengi dengan munculnya serombongan kawanan berandal sejumlah 50 atau 60 orang banyaknya, yang dikepalai oleh Thio Sam Liong dan seorang pemuda lain yang usianya lebih kurang 26 atau 27 tahun, perawakannya besar tlan lebih kurang 6 kaki tingginya, kepalanya besar dan matanya bulat, berhidung mancung dengan mulut yang lebar.

Dengan golok Tay-kam-to di tangan, si pemuda yang disebut belakangan itu menuding ke arah Thio Jie Liong dan Sun Giok Hong sambil membentak, "Kalian segeralah menyingkir saat ini juga!. Kalau tidak, kalian harus tanggung sendiri segala akibatnya. Aku sengaja berlaku murah hati kali ini, berhubung mengingat persahabatan kami dengan keluarga Thio. Tapi apabila kalian tetap memaksa hendak maju juga, janganlah kalian mengatakan aku tidak lagi memandang persahabatan ini. Golokku yang tidak bermata akan membabat setiap orang yang berani melangkah melewati ambang gerbang desa Han-kee-chung ini!".

Thio Jie Liong yang masih dapat menahan sabar atas perlakuan kasar yang ditunjukkan oleh pemuda sombong itu, segera tampil ke muka sambil mengeluarkan kartu nama ayahnya dan berkata, "Han Hian-tee, aku membawa kartu nama ayahku untuk minta berjumpa dengan ayahmu. Harap tolong saudara melaporkannya kepada beliau".

Tetapi si pemuda itu dengan suara ketus segera menjawab, "Tidak ada!. Ayahku tengah melakukan perjalanan ke kota Kim-leng, maka tak ada waktu untuk melaporkan kepadanya!. Ayo, enyahlah kalian dari sini!".

Perlakuan ini sudah barang tentu membuat hati Thio Jie Liong mengkal dan balas membentak, "Han Siauw Houw!. Aku berbicara kepadamu secara hormat dan secara baik-baik, tetapi mengapakah kau berlaku sedemikian kasarnya?. Rupanya kau telah dihasut oleh adikku, sehingga kau berbalik melindungi seorang perampok dan sengaja ingin merusak hubungan persaudaraan diantara kita!. Aku datang ke sini atas perintah ayahku untuk mengambil pulang kereta-kereta pio yang dirampok oleh saudaraku itu. Maka dari itu, apakah masalahnya yang telah membuat kau melindunginya dengan cara mati-matian serupa itu?. Jika kau mengingat hubungan yang begitu baik antara keluarga kita berdua, segeralah kau serahkan kereta-kereta pio Hin Liong Pio Kiok beserta adikku yang telah merampoknya. Kalau tidak, jangan sampai nanti kau katakan aku keterlaluan. Thio Jie Liong masih kenal saudara dan sahabat, tetapi ingatlah, bahwa golokku ini tidak bermata dan tidak pandang bulu!".

Mendengar kata-kata Jie Liong yang sudah begitu marah, Han Siauw Houw pun tidak menjadi jeri dan segera maju menerjang sambil berseru, "Lihat golokku!".

Begitulah kedua orang itu telah bertarung dengan tidak banyak cakap lagi.

Han Siauw Houw ini bukan lain daripada putera tunggal Han In Houw, chung-cu dari Han-kee-chung, yang selain bersahabat karib dengan Thio Ciam Goan dari Thio- kee-chung, merekapun masih terhitung sanak saudara. Seperti juga Thio Ciam Goan, Han In Houw pun tergolong seorang tokoh dalam kalangan persilatan di Shoatang yang namanya sama tenarnya dengan si jago tua she Thio itu. Oleh karena itu, dalam kalangan persilatan di Shoatang muncul nama julukan Thay-san-liang-houw atau dua harimau dari gunung Thay-san. Yakni menunjukkan bahwa harimau yang satu dimaksudkan adalah Thio Ciam Goan, sedangkan harimau yang lainnya yaitu Han In Houw adanya.

Seperti juga pergaulan kedua orang tua itu, begitupun anak-anak mereka bergaul dengan eratnya. Thio Sam Liong dan Han Siauw Houw hampir hidup sebagai saudara kandung saja. Karena, bukan saja mereka masih bersanak saudara, juga mereka mempunyai kegemaran yang sama pula, yaitu judi dan pelacur.

Maka sesudah Sam Liong merampok kereta-kereta pio Hin Liong Pio Kiok dan kabur dari tangan kakaknya, lekas-lekas ia menuju ke Han-kee-chung untuk meminta perlindungan Siauw Houw di sana, yang sudah tentu saja suka menerimanya dengan tangan terbuka, lebih-lebih karena ayahnya tidak ada dan memang benar-benar tengah melakukan perjalanan ke kota Kim-leng.

Han Siauw Houw yang melihat ayahnya tidak ada di rumah, sudah barang tentu merasa tidak ada seorangpun yang perlu ditakutinya. Oleh karena itu tanpa menimbang lagi, apakah orang yang dibelanya itu benar atau salah, segera saja ia mendamprat Thio Jie Liong dan seolah-olah sengaja memperkeruh jalannya persoalan.

Tapi Thio Jie Liong bukan seorang pengecut yang dapat sembarangan digertak orang. Maka begitu ia diserang oleh Han Siauw Houw, iapun telah siap sedia untuk memapakinya. Dengan demikian bacokan Han Siauw Houw bukan saja tidak mengenai sasarannya, malah ia sendiri hampir saja kena ditebas oleh golok Jie Liong yang menyambar kepadanya bagaikan angin cepatnya. Hanya pertempuran itu tidak berlangsung terlalu lama, karena begitu merasa bahwa dia tak sanggup meladeni Thio Jie Liong lebih lama lagi, Siauw Houw segera memanggil Thio Sam Liong untuk datang membantu.

Thio Sam Liong yang merasa telah mendapat perlindungan si pemuda she Han tu, terpaksa lompat maju untuk membantu Siauw Houw mengeroyok Jie Liong, hingga Sun Giok Hong menjadi sangat gusar dan membentak, "Aku datang!".

Sesudah berkata demikan, ia segera memutar goloknya untuk menghambat serangan Thio Sam Liong yang hendak diluncurkan kepada kakaknya sendiri, hingga terjadilah pertempuran dahsyat yang dilakukan oleh empat orang dan terpecah menjadi dua rombongan. Pihak orang-orang bawahan Han Siauw Houw tak berdaya untuk membantu induk semang mereka, berhubung tahu bahwa antara kedua chung- cu Han-kee-chung dan Thio-kee-chung mempunyai hubungan persaudaraan yang erat sekali.

Dalam pertempuran itu, Thio Sam Liong yang beberapa waktu lalu hampir dipecundangi oleh Sun Giok Hong, tidaklah sanggup membantu Han Siauw Houw yang sudah keteter dalam pertempuran dengan kakaknya, bahkan ia sendiri tak mampu mengalahkan lawan yang mencegatnya, yang ternyata mempunyai kepandaian lebih unggul daripada dirinya sendiri.

Begitulah, tatkala pertempuran itu sudah berlangsung beberapa jurus lamanya, Han Siauw Houw merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang, sedang dalam rombongan yang lain, Sun Giok Hong telah mendesak Thio Sam Liong begitu rupa, sehingga bukan saja ia hampir tak mampu melakukan serangan balasan, malah untuk menjaga serangan Giok Hong pun hampir-hampir ia tak sanggup.

Dalam keadaan begitu, Giok Hong sebenarnya mudah sekali untuk melukai dan merobohkan lawannya, tapi karena mengingat bahwa antara pihak Hin Liong Pio Kiok dan Thio Ciam Goan dari Thio-kee-chung mempunyai hubungan yang baik sekali, maka terpaksa ia berlaku sedikit longgar dan tidak menurunkan tangan besi untuk menindasnya hingga habis-habisan.

Hal mana telah diketahui pula oleh Thio Jie Liong dan Sam Liong sendiri yang menjadi lawan si pemuda she Sun itu.

Sementara dilain pihak Thio Jie Liong terpaksa berlaku longgar kepada Han Siauw Houw, berhubung ayahnya dan ayah Siauw Houw bukan saja bersahabat akrab, tetapi juga masih bersanak saudara. Oleh karena itu, ia sengaja mengulur waktu untuk memperlambat pertempuran dan setelah Han Siauw Houw sudah tampak lelah dan napasnya terengah-engah, barulah ia desak dengan secara dahsyat sekali, hingga dilain saat ia telah berhasil merobohkan Siauw Houw yang dihantam dengan menggunakan belakang goloknya.

Para chung-teng Han-kee-chung jadi terkejut bukan main, karena menyangka bahwa induk semangnya telah dilukai Jie Liong dan jatuh mengusruk dan tidak ingat pula pada dirinya. Tapi ketika kemudian ditolong orang, ternyata ia tidak menderita luka apa-apa, selain jatuh pingsan karena terlampau letih dalam pertempuran itu.

Sementara Thio Sam Liong yang juga terkejut melihat Siauw Houw dirobohkan kakaknya, dilain saat telah kena tertendang oleh Sun Giok Hong hingga jatuh terjungkel, dengan goloknya terpental entah ke mana jatuhnya.

Oleh karena khawatir adiknya akan menderita celaka dalam tangan Sun Giok Hong, maka Jie Liong lekas-lekas berseru, "Sun Hian-tee, harap kau suka memaafkannya!".

Sun Giok Hong paham, bahwa Jie Liong khawatir juga kalau sampai ia kelepasan tangan, sehingga akhirnya dapat mencelakai diri adiknya itu.

"Thio Jie-ya tak usah khawatir" katanya sambil tertawa, "aku tanggung Sam-ya tak sampai menderita celaka, kecuali luka-luka ringan karena jatuh dari kuda".

Mendengar kata-kata itu, disamping berterima kasih, Thio Jie l.iong juga jadi sangat gembira dan memuji, "Sun Hian-tee, dalam usia yang begini muda, kau telah berkepandaian sangat mengagumkan, kukira kelak engkau akan menjagoi dalam Rimba Persilatan!".

Sesudah berkata demikian, Thio Jie Liong segera melucuti senjata adiknya dan Han Siauw Houw, untuk kemudian digiring ke Han-kee-chung dan mengambil sepuluh kereta pio yang telah dirampas oleh kedua orang muda yang bertabiat jahat itu. Ibu kandung Siauw Houw telah meninggal dunia, hingga di dalam desa itu hanya ada ibu tirinya saja, tapi karena ibu tirinya itu sendiri tak mau ambil pusing terhadap perbuatan Siauw Houw, maka Jie Liong terpaksa menyuruh orang-orang bawahannya untuk mengangkut kereta-kereta pio tersebut untuk dibawa pulang ke rumahnya, desa Thio-kee-chung.

Setibanya di muka pintu desa itu, Thio Sam Liong lalu berkata kepada kakaknya, "Jie-ko, ayah pasti akan sangat marah kepadaku dan menghukumku jika engkau mengajak aku pulang untuk menjumpainya!. Dengan mengingat kecintaan terhadap saudara kandungmu sendiri, sudilah kiranya engkau membebaskanku?. Aku akan merantau dan berjanji dengan setulus hatiku untuk tidak memusingkan kepala ayah, ibu dan engkau sendiri".

"Sebuas-buasnya harimau, masakan dia sampai hati memakan anaknya sendiri?" Jie Liong menasehati sang adik. "Sebagai seorang kakak sekandung, akupun sangat mencintaimu. Kukira kau tak akan dapat hasil-hasil yang baik dengan cara hidup merantau seperti itu, lagipula ayah pasti dapat memaafkan segala kesalahan- kesalahanmu. Maka, marilah kita pulang dan tidak usah merasa takut".

Sesudah itu, ia segera menyuruh orang-orang bawahannya untuk mengajak Sam Liong masuk ke desa Thio-kee-chung, sedangkan ia sendiri bersama Sun Giok Hong mengikuti di belakang dengan tidak berkata-kata.

Begitu masuk ke ruangan tengah, di situ mereka tampak Thio Ciam Goan tengah duduk menantikan mereka dengan wajah yang gagah dan penuh kegusaran.

Begitu orang tua itu melihat Thio Sam Liong masuk dengan diiringi oleh orang- orang bawahannya sambil menundukkan kepala, segera saja ia membentak dengan suara yangbengis, katanya, "Binatang!. Betapa beraninya engkau merusak persaudaraan diantara kita dan keluarga Sun!. Engkau ini memang benar-benar anak durhaka, dan tidak pantas lagi menjadi anak keluarga Thio yang terhormat!".

Segera ia bangkit dari kursinya dan hendak menghajar Sam Liong, tapi Giok Hong sudah mendahului maju menghadang di hadapannya sambil memberi hormat dan berkata, "Sie-pek, karena mengingat bahwa kesalahan saudara Sam Liong masih dapat diperbaiki, maka aku mohon dengan sangat supaya Sie-pek sudi memaafkannya. Karena jika Sie-pek sampai menghukum saudara Sam Liong, itu sama saja halnya engkau menghukum diriku dengan membuat saudara Sam Liong sebagai sasarannya. Oleh sebab itu, aku mohon Sie-pek supaya sudi memaafkan saudara Sam Liong, karena aku yakin pada masa-masa yang akan datang ia pasti dapat mengubah perbuatannya sehingga menjadi seorang yang baik".

Sementara ibu Sam Liong yang mendengar suara ribut-ribut di ruangan tengah itu kemudian mengetahui hal apa yang telah terjadi di sana, segera keluar untuk juga memohon ampun atas kesalahan anaknya. Maka Ciam Goan yang melihat begitu, barulah kegusarannya menjadi sedikit reda dan berkata, "Jika tidak memandang muka Sun Giok Hong, aku pasti telah menghukum anak durhaka ini. Tapi jika ia nanti berani melakukan pula sesuatu hal yang dapat menodai nama baik keluarga Thio, tentu aku tak dapat lagi mengampuninya!". Sesudah itu ia menoleh ke arah Sam Liong yang berlutut di hadapannya sambail membentak, "Enyahlah kamu dari hadapanku!".

Thio Sam Liong tak berani membantah dan segera masuk ke dalam mengikuti ibunya.

"Kedatanganku kali ini" kata Giok Hong dengan muka menyesal, "semata-mata hanya menimbulkan kekacauan bagi Sie-pek dan keluarga di sini, hingga untuk itu aku mohon maaf sebesar-besarnya pada darimu sekalian. Lain kali jika aku kebetulan lewat di sini, sudah barang tentu aku akan mampir untuk menanyakan keselamatan Sie-pek sekeluarga".

Ciam Goan manggut-manggut dengan wajah yang berseri-seri. "Hari sudah menjelang petang" kata orang tua itu, "sedangkan kunjungan Sie-tit kemari tidak selalu terjadi begitu kebetulan seperti sekarang ini. Oleh sebab itu, aku persilahkan Sie-tit menginap di sini, Untuk kemudian melanjutkan perjalananmu pada esok hari".

Sesudah berkata demikian, Ciam Goan lalu memerintahkan Jie Liong menemani Sun Giok Hong, sedangkan ia sendiri lalu memerintahkan para pembantunya untuk menyediakan satu meja perjamuan, dengan ia sendiri dan Jie Liong menemani si pemuda she Sun duduk makan minum dengan hati gembira.

Selama pertemuan berlangsung, Ciam Goan telah menanyakan hal ihwal Sun Giok Hong sehingga datang ke Thio-kee-chung. Atas pertanyaan itu, si pemuda she Sun telah menerangkan satu persatu, sejak kereta-kereta pionya dirampok orang sehingga ia terpaksa menempur Han Siauw Houw dan Thio Sam Liong, hingga orang tua itu jadi sangat kagum akan kepandaian dan kegagahan pemuda itu. Setelah itu, ia menanyakan dalam ilmu kepandaian apa yang menjadi kegemaran dan kemahiran si pemuda, yang satu persatu telah dijawab oleh Giok Hong dengan laku hormat dan merendah, hingga Thio Ciam Goan jadi sangat girang dan berkata, "Sungguh tepat sekali apa kata peribahasa 'Harimau tak akan beranak anjing'. Keluarga Sun memang sudah sedari jaman leluhurmu dahulu mahir ilmu silat dan pandai menggunakan segala macam senjata. Ayah dan pamanmu telah lama termasyur di kalangan Kang- ouw sebagai ahli-ahli silat yang sangat disegani orang, kini anaknya pun kelak akan meneladani juga perjalanan orang-orang tuanya itu. Maka setelah perjamuan selesai, Lo-hu ingin minta Sie-tit mempertunjukkan beberapa macam ilmu silat yang menjadi warisan dan kebanggaan keluargamu itu, tapi belum tahu apakah Sie-tit sudi mengabulkan permintaanku itu?". Giok Hong yang mendengar perkataan orang tua itu, dengan segera ia menyoja sambil membungkukkan badannya dan berkata, "Jika Sie-pek tidak buat celaan, sudah barang tentu Tit-jie pun bersedia untuk mengabulkan permintaan itu. Tapi jika dalam ilmu silatku terdapat banyak kekeliruan-kekeliruan dan tidak baik untuk dipertunjukkan, Tit-jie banyak berharap agar Sie-pek sudi memberikan petunjuk- petunjuk berharga bagi kemajuanku dimasa depan".

Thio Ciam Goan kelihatan girang sekali mendengan jawaban itu, hingga setelah perjamuan ditutup dan beristirahat sebentar, dengan segera ia mengajak Giok Hong menuju ke tengah lapangan untuk berlatih ilmu silat, dimana Giok Hong diminta untuk bersilat dengan tangan kosong, kemudian mempergunakan golok yang dimainkan Giok Hong dalam ilmu Pat-kwa-to yang memang menjadi kegemarannya itu.

Ilmu golok tersebut telah dimulai dengan gerak perlahan, tapi kian lama kian bertambah cepat dan dahsyat, sehingga sinar goloknya yang membungkus tubuhnya seakan-akan tak dapat ditembus oleh tetasan air hujan, Dan tatkala permainan goloknya telah mencapai bagian-bagian yang tercepat, di tengah lapangan hanya tampak sinar golok yang berkelebat-kelebat dan mengeluarkan suara menderu-deru, tubuh si pemuda yang telah diliputi sinar berkilauan itu hampir sukar dikenali.

Kemudian ia menghentikan permainan goloknya, memberi hormat kepada Thio Ciam Goan dan Thio Jie Liong, dan kembali ke tempat duduknya dengan paras muka yang tidak berubah, begitupun napasnya tidak tampak tersengal-sengal.

"Ah-ha, sungguh ilmu golok yang bagus sekali!" memuji orang tua itu, "sayang diantaranya masih ada beberapa bagian yang kurang sempurna. Harap Sie-tit tidak menjadi kecil hati atau merasa kurang senang dengan bahasanku ini".

"Segala petunjuk-petunjuk Sie-pek" kata Giok Hong, "Tit-jie pasti akan terima dengan segala senang hati dan berterima kasih".

"Kalau begitu" kata orang tua itu pula, "Lo-hu ada sedikit omongan yang hendak disampaikan kepadamu. Yang pertama-tama, ilmu golokmu memang sesunggunya hebat sekali, tapi sayang masih kurang kecepatannya. Dalam Kitab Ilmu Silat dikatakan, bahwa gerak golok harus ganas bagaikan harimau yang buas, sedangkan gerak pedang harus tangkas dan gesit bagaikan naga berterbangan. Segala gerak- gerik harus disesuaikan dengan keadaan, disamping berlaku cerdik untuk melihat gelagat. Karena segala gerak yang kurang tepat, ada kemungkinan dapat merugikan diri kita sendiri. Maka dalam hal menyerang dan menjaga serangan lawan, disamping memerlukan kepandaian, kitapun perlu sekali berlaku waspada, agar dengan tenaga yang sekecil-kecilnya kita dapat mengalahkan lawan yang kuat dan ganas, melakukan serangan kilat bila memungkinkan, dan berlaku kendur dan bersifat menjaga sebelum mengetahui sampai dimana keunggulan lawan kita. Yang kedua, dalam usiamu yang semuda ini, pengalamanmu masih kurang, engkau pun masih sangat perlu untuk melatih diri dengan giat dan ulet, jangan takut lelah atau mudah mundur karena rasa kecewa apabila menjumpai sesuatu kesukaran yang tampaknya tak mungkin diatasi. Selanjutnya engkau mempunyai bakat yang baik sekali serta tepat untuk menduduki tempat yang tinggi dalam Rimba Persilatan dikemudian hari, maka ada baiknya jika engkau mencari pula seorang guru yang pandai untuk mendidikmu sehingga menjadi salah seorang tokoh yang disegani dan menjadi pengganti dari jago-jago silat tua yang telah mengundurkan diri dari kalangan Kang-ouw. Hingga begitu kaum tuanya mundur, maka tibalah saatnya bagi kaum muda untuk tampil ke muka, oleh karena itu besar harapanku agar ilmu silat di tanah tumpah darah kita tetap terpelihara dengan sebaik-baiknya dari satu jaman kelain jaman".

Giok Hong yang berotak cerdik segera mengerti akan inti percakapan orang tua itu.

Ia lantas berlutut di hadapan Thio Ciam Goan sambil berkata, "Thio Sie-pek, Tit-jie sangat tertarik oleh nasihatmu yang sangat berharga itu. Selanjutnya karena aku berpendapat bahwa Sie-pek merupakan salah seorang tokoh yang terkemuka dalam Rimba Persilatan di jaman ini, maka tidak ada salahnya untuk Sie-pek menerima Tit- jie sebagai murid. Harap Sie-pek jangan menolak permintaanku ini".

Tapi Ciam Goan lekas-lekas mengangkat bangun si pemuda sambil berkata, "Sun Hian-tit tak usah menghormatiku sampai begitu. Usia Lo-hu telah lanjut, tenagaku pun kian hari kian bertambah kurang, hingga tak sanggup lagi untuk menerimamu sebagai murid. Lagipula ilmu golokku masih kalah jauh dengan ilmu golok pamanmu. Maka dari itu, bagaimana caranya aku berani sembarangan menerima kau sebagai muridku?. Tapi Hian-tit tak usah berkecil hati, Lo-hu akan perkenalkan kau dengan seorang guru silat kenamaan, yang ilmu goloknya telah lama disegani orang di lima propinsi utara. Aku berani menjamin ia akan suka menerimamu sebagai muridnya, jika Lo-hu bantu memperkenalkanmu kepadanya".

Tatkala Giok Hong coba menanyakan siapa adanya guru silat yang namanya begitu dipuji oleh Thio Ciam Goan, orang tua itu lalu berkata, "Dia bukan lain daripada adik kandungku sendiri Thio Ciam Kui, yang sekarang membuka kantor angkutan Gie Cee Pio Kiok di kota Cee-lam. Ciam Kui mempunyai hubungan yang baik sekali dengan keluargamu. Ia mahir ilmu golok dari warisan Ma Hiang, yang -telah mengangkatnya sebagai murid dalam".

Giok Hong yang mendengar nama ahli silat tingkatan tua itu, dengan segera tersadar dan balik bertanya, "Bukankah beliau jago tua yang tergolong dalam nama sebutan Pak Ma Lam Gu itu. Pamanku sendiri memang kerap menyebut-nyebut nama Ma Hiang Su-hu".

Thio Ciam Goan mengiakan sambil menambahkan, "Betul dia. Nama kedua tokoh silat itu memang cukup dikenal orang, sehingga kaum wanita dan anak-anakpun tampaknya tidak asing lagi dengan nama-nama itu. Nama Ma Hiang sangat terkenal di sebelah utara Sungai Kuning, sedangkan Gu Pay menjagoi di sebelah selatan sungai tersebut. Ma Hiang mahir dalam ilmu silat Tiang-kiauw-cu dan ilmu golok, tapi Gu Pay lihay sekali ilmu silat Toan-kiauw-ciu. Kedua orang itu membawa bakat dan kebaikannya sendiri-sendiri, walaupun kedua-duanya merupakan keluaran perguruan silat Siauw-lim juga. Adik kandungku Ciam Kui sedari masih anak-anak sudah berguru pada Ma Hiang, hingga ia mendapat warisan kepandaian yang tidak sedikit dan menjadi seorang murid kesayangan gurunya. Sejak ia membuka pio kiok dan berjalan malang melintang di kalangan Kang-ouw, tidak sedikit jago-jago dari golongan hitam dan putih telah ia kalahkan, maka kemudian namanya jadi sangat terkenal dengan nama sebutan Toa-to Thio Ciam Kui, atau Thio Ciam Kui si Golok Besar. Jika Lo-hu memperkenalkan kau kepadanya, niscaya dia akan menerimamu sebagai murid dengan segala senang hati".

Giok Hong jadi sangat girang dan berterima kasih untuk kebaikan hati orang tua itu.

Kemudian Ciam Goan menulis sepucuk surat perkenalan yang kemudian diserahkannya kepada si pemuda, untuk kemudian diserahkan kepada adik kandungnya di Cee-lam.

Begitulah pada petang hari itu Giok Hong telah bermalam di desa Thio-kee-chung.

Pada keesokan harinya sesudah sarapan dan meminta diri kepada Thio Ciam Goan sekeluarga. Giok Hong kembali ke rumah penginapannya dengan diantar oleh Thio Jie Liong dan beberapa orang anak semangnya, yang telah turut membantu si pemuda mengangkut sepuluh kereta pio yang tempo hari sempat dirampas oleh Han Siauw Houw dan beruntung dapat diambil pulang dalam keadaan masih utuh.

Sesampainya di rumah penginapan, ternyata Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu masih rebah di ranjang karena luka-lukanya belum sembuh betul, tapi mereka terlihat gembira bukan buatan melihat Giok Hong kembali dengan membawa balik kesepuluh kereta pio yang dilarikan orang dengan cara diam-diam itu.

"Giok Hong Su-tit" kata mereka dengan suara yang hampir berbarengan, "kami berdua sesungguhnya sangat malu dengan ketololan dan kebodohan kami sendiri, sehingga tak mampu membawa pulang kereta-kereta pio kita yang telah dirampas orang itu. Syukur juga Sie-tit memiliki kepandaian dan keberanian yang jauh melampaui kami, kalau tidak, tak tahulah dimana kami harus menaruh muka kami!".

Tapi Giok Hong lantas menghibur mereka dengan mengatakan bahwa semua orang mempunyai kemujuran dan kesialan yang berbeda-beda, tidak perduli betapa gagah dan pandainya mereka berjaga-jaga, niscaya ada suatu waktu mereka mengalami kerugian juga dalam tugas mereka. Lebih-lebih mengenai pekerjaan melindungi kereta-kereta pio, yang sudah jelas lebih banyak celakanya daripada selamatnya.

Maka tanpa adanya kejadian-kejadian yang tidak enak serupa itu, dimanalah orang dapat keinsafan untuk berlaku lebih waspada dalam waktu-waktu yang akan datang.

Manakala Ma dan The menanyakan lebih jauh tentang peristiwa-peristiwa yang telah dialami Giok Hong selama sehari semalam itu, si pemuda lalu menuturkan segala sesuatu seperti apa yang telah kita sebutkan di bagian atas tadi. Dan setelah Giok Hong menjamu Thio Jie Liong dan anak-anak semangnya yang telah membantunya mengangkut kereta-kereta pio itu dari sarang penjahat Han Siauw Houw hingga ke tempat penginapannya, barulah kedua pihak saling berpisah dan berjanji untuk berjumpa lagi dilain waktu.

Keesokan harinya, karena Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu belum dapat melakukan tugas mereka karena luka-luka yang mereka derita belum sembuh benar, maka Giok Hong telah pula mengangkut mereka dalam salah satu kereta pio itu, dengan ia sendiri bertanggung jawab sebagai pemimpin dari iring-iringan kereta-kereta pio Hin Liong Pio Kiok yang mengibarkan panji-panji kepala harimau itu melanjutkan perjalanannya. Dari Tio-kee-tun ke arah selatan, melewati Kiok-hu dan menuju ke tepi sungai. Di sepanjang jalan tidak tampak seorang berandalpun yang berani mencegat iring-iringan kereta pio tersebut.