Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 23 (Tamat)

Jilid 23 TAMAT

Setelah meninggalkan gunung, kembali ia ceburkan diri kedunia Kang-ouw.

Karena penuntutan balas sakit hati perguruannya sudah selesai, sedang asal-usul dirinya juga sudah terang, maka kali ini hanya soal yang menyangkut dirinya sendiri yang masih harus dibereskan.

Pertama-tama ia harus mencari ayahnya ialah Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa, supaya dapat memberi tahukan semua apa yang telah terjadi. -Kedua mengenai diri ut-tie Kheng, harus dibereskan secara baik2.

-Ketiga tentang janji dengan Thian-san Liong-lie, ia harus penuhi. Dan yang terakhir ia harus menepati atau sumpahnya kepada gadis baju merah siang-koan Kiauw.

Untuk ketiga kalinya ia mengunjungi gunung Hoa-san. Atas pesan ibunya ia hendak, mencari ayahnya. Giok-bin Khiam-khek Hoan Thian Hoa. Tapi dimana tempat kediamannya Hoan Thian Hoa? Ia sendiri masih belum tahu. Ia ingat si hweeshio gila pernah mengatakan bahwa dulu ketika mengadakan perjanjian dengan suhunya Hoan Thian Hoa selalu meninggalkan sepotong kertas di Bong-goat-peng.

Maka ia sekarang juga menggunakan cara meninggalkan sepucuk surat tersebut dibawah sebuah batu di Bong-goat-peng, sedang ia sendiri menantikan didalam goa dekat tempat tersebut.

Dengan beruntun ia menunggu sampai beberapa hari ternyata tidak berhasil menemukan orang yang ditunggu.

Ia mulai putus harapan, jika Hoan Thian Hoa mengambil keputusan untuk mengasingkan diri, tidak suka menemui siapa saja, sekalipun ia menunggu sampai sepuluh tahun juga percuma saja.

Kembali dua hari telah berlalu, di Bong-goat-peng tidak muncul bayangan orang satupun juga.

Hoan sin Cie sudah putus harapan benar2 dalam hidupnya ini mungkin tidak bisa melihat ayahnya lagi.

Ketika pertama kali Hoan Thian Hoa dengan ia sendiri dipaksa terjun kedalam jurang oleh Phoa Cit Kow, tapi berhasil bisa meloloskan diri, pernah memesan padanya supaya menyiarkan kabar didunia Kang-ouw bahwa Giok-bin Khiam-khek Hoan Thian Hoa sudah binasa didalam jurang. Dari sini bisa diketahui bahwa ayahnya sudah berkeputusan untuk mengasingkan diri se-lama2nya.

Jikalau ia tidak dapat menunaikan tugas pesan ibunya untuk mencarikan ayahnya, ibunya juga akan binasa karena putus harapan, sebab kemujizatan yang di-nanti2 selama belasan tahun ternyata menjadi hampa.

Apa yang membuat ia bingung ialah ia sendiri mungkin sudah tidak ada harapan balik lagi kepuncak gunung Pit-koan-hong untuk memberi kabar kepada ibunya.

Hari keempat telah tiba, matahari pagi baru muncul dari sela2 bukit, dengan bermandikan sinar matahari pagi. Hoan sin Cie berdiri bingung di Bong-goat-peng, dengan berkemak-kemik, ia berkata kepada dirinya sendiri:

"Aku harus dapat mencari sampai dapat dimana adanya ayah, sebab aku tidak bisa membuat ibu patah hati untuk kedua kalinya. sekalipun kau harus menggunakan waktu lama sekali, aku akan menyelusuri seluruh daerah gunung Hoa-san, aku harus berbuat demikian.

Pada saat itu, tiba2 ia merasakan desiran angin aneh. Bagi seorang yang mempunyai kepandaian tinggi seperti Hoan sin Cie, sedikit gerakan saja sudah cukup mengagetkan dirinya. Ketika merasakan desiran anginyang agak aneh itu, ia merasa heran dan dalam hatinya lantas mengira bahwa desiran angin itu ada gerakan orang yang mungkin adalah Hoan Thian Hoa yang sedang ditunggu, maka dengan cepat ia lantas balikan badannya. Benar saja sesosok bayangan orang sudah berada didepan matanya, orang itu ternyata adalah pemilik bendera Burung Laut, itu orang misteri yang selalu memakai kedok merah, "Mengapa cianpwee juga datang kegunung Hoa-san?" demikian tanyania Hoan sin Cie.

"Anak. apa maksudnya kau datang kemari?" orang aneh itu balas menanya. "Boanpwee hendak menc ari satu orang"

"Siapa?"

"Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa" "Apa perlunya kau mencari dia?" "Sebab. dia adalah ayah boanpwee"

Badannya orang berkedok merah itu menggetar, ia mundur dua tindak, kemudian berkata dengan suara gemetar:

"Anak. mengapa ketika aku berkali-kali mencegah kau jangan turun tangan kepada Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow, kau kukuh tidak mau mengakui bahwa dia ada ibumu sendiri, tapi mengapa sekarang kau hendak mencari ayahmu:..,...?"

"Sebab iblis wanita memang betul bukan ibu boanpwe."

"Ah anak. ibumu telah binasa di ujung Golok Maut, ini ada merupakan satu tragedi yang sangat menyedihkan didalam sejarah dunia Kang-ouw, tapi kau sampai sekarang kelihatannya masih tidak mempunyai perasaan menyesal. Anak. ah. . . apakah benar kau sedikitpun tidak tergerak hatimu?"

"Cianpwee, mungkin dalam hal ini cianpwee ada keliru     "

"Anak. semua sudah lalu kita bicarakan juga tidak ada gunanya. Tapi aku pastikan padamu, sedikitpun aku tidak keliru"

"Boanpwee berani bertaruh dengan cianpwee" "Bertaruh apa?" tanya orang berkedok heran.

"Boanpwee kata Giok-bin Giam-po bukan ibu boanpwee, sedang cianpwee berkukuh mengatakan bahwa iblis wanita itu ada ibu boanpwee, sekarang sebaiknya kita bertaruh saja"

"Bagaimana caranya?"

"Jikalau boanpwee kalah boanpwee akan segera bunuh diri disini, tapi jika cianpwee yang kalah bagaimana ?"

"Kau pikir bagaimana??"

"Mudah sekali, harap cianpwee buka kedok, supaya boanpwee bisa menyaksikan wajah asli cianpwee"

Orang berkedok merah itu kelihatan bersangsi sejenak. kemudian berkata dengan suara tegas: "Aku tidak mau bertaruh"

Hoan sin Cie merasa kecewa.

"Mengapa cianpwee tidak berani bertaruh?" ia menanya.

"Sebab pertaruhan ini besar akibat, aku tidak suka melihat kau kalah" "Tapi Boanpwee yakin benar pasti menang"

"Biar bagaimana aku tidak mau bertaruh" katanya orang berkedok sambil gelengkan kepala.

Hoan sin Cie seperti kehilangan pegangan, setelah berdiam sejenak, lalu berkata pula:

"Cianpwee tidak mau bertaruh, boanpwee juga tidak bisa memaksa. cuma ada satu hal, boanpwee ingin minta cianpwee suka menerangkan, kiranya cianpwee tidak akan menolak?"

"Coba kau katakan"

"Mengapa cianpwee mengetahui asal-usul diri boanpwee begitu jelas?"

"Tentang ini, anak. aku tidak bisa mendayawab" Hoan sin Cie majukan kakinya beberapa langkah dan berkata pula: "Tapi boanpwee ingin tahu"

Orang berkedok kain Merah menampak kelakuan Yo Cie Cong agak berbeda dari biasanya, dalam hati merasa agak heran-

"Yo Cie Cong benarkah kau ingin mengetahui ?"

"Boaopwee sekarang sudah balik asal, bernama Hoan sin Cie" "Apa ?"

Orang misteri berkedok kain merah itu berseru kaget, ia mundur satu tindak. = = ooo OOOOO ooo = =

Menyaksikan perubahan itu, Hoan sin Cie lantas berkata pula "Boanpwee sekarang sudah merubah nama menjadi Hoan sin Cie"

"Aaaa Anak. siapa yang memberikan nama itu padamu ?"

"Tentang ini sebentar boanpwee akan beritahukan, sekarang harap cianpwee terangkan pertanyaan boanpwee tadi"

Orang berkedok merah itu agaknya merasa sangat sulit, ia mendongak memandang angkasa, mulutnya membisu.

Hoan sin Cie sebaliknya sudah bertekad bulat hendak membuka tabir yang meliputi rahasia dirinya orang misteri ini, ketika melihat ada kesempatan baik, dengan kecepatan bagaikan kilat ia sudah menyamber kedoknya orang aneh itu.

Orang berkedok kain merah itu sesungguhnya tidak pernah menyangka sama sekali bahwa anak muda itu berani berbuat demikian terhadapnya. Belum lagi sempat ia memikir apa2, kedok merahnya sudah kena terjambret jatuh, sehingga ia berseru kaget.

Hoan sin Cie juga tidak kurang2 kagetnya ketika dapat melihat wajah asli si orang aneh dibalik kedoknya, seketika itu badannya lama gemetaran-

Orang berkedok kain merah itu ternyata bukan lain ada ayahnya sendiri, yaitu Giok-bin Kiam- khek Hoan Thian Hoa.

Segala rahasia yang menyelubungi dirinya sekian lamanya, kini telah terbongkar habis sampai disini.

Lama sekali ia baru bisa menenangkan pikira nnya, lalu berkata dengan suara terharu: "Ayah. .

. ."

Dan kemudian, ia berlutut dihadapannya, air matanya berljucuran seperti air hujan.

Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa sendiri tidak kurang terharunya. Dengan tangannya yang masih gemetaran ia memimpin bangun anaknya. Ia tidak dapat mengatakan apa2, hanya air mata murni saja yang mengalir keluar dari matanya membasahi pipinya. Ia meng-usap2 kepalanya Hoan sin Cie, puteranya dengan sangat mesranya, sebagaimana biasanya Kelakuan ayah terhadap anaknya semasa kecil.

Kesunyian demikian itu berlangsung terus, lama lama sekali. Masing2 sedang terbenam

dalam la muna nnya sendiri2 mengenangkan kembali masa lalunya. setelah keduanya tenang kembali, barulah Hoan Thian Hoa dapat membuka mulutnya memulai percakapan dengan lagu suara yang lemah-lembut, menanya.

"Anak. barusan kau kata hendak bertaruh dengan aku. Apa artinya ucapanmu itu ?" "Ayah, ayah sudah melakukan suatu kesalahan besar."

"Aku berbuat salah? salah besar? salah apa itu nak."

“Yah Malah, hampir2 ayah membuat lain kekeliruan yang lebih besar."

Hoan Thian Hoa kerutkan alisnya. Ia menanya lagi dengan perasaan heran: "Anak, dimana letak kesalahanku?"

"Giok-bin Giam-po itu, ayah, betul2 bukanlah ibuku."

Hoan Thian Hoa sesaat lamanya berdiri menjublek ditempatnya. Lama sekali barulah dapat membuka mulut lagi, berkata "Anak. aku tidak mengerti apa maksud perkataanmu ini."

Hoan sin Cie lalu menceritakan bagaimana halnya, ketika ia berada dalam keadaan masgul karena diberitahukannya kepadanya bahwa Giok-bin Giam-po itu adalah ibu kandungnya sendiri, lalu bagaimana secara mendadak ia dihampiri oleh seorang wanita berkerudung yang memberi tahukan padanya beberapa titik yang mencurigakan dan bagaimana selanjutnya ia menguraikan beberapa titik terangnya, kemudian bagaimapa pula ia memperlihatkan batu Liong-kuatnya kepada Giok-bin Giam-po untuk mendapatkan kepastian betul tidaknya wanita iiu ibunya sendiri, tetapi waktu itu ternyatalah bahwa wanita iblis itu bukan ibunya. karena sama sekali tidak mengenali benda Liong- kuat tersebut. sampai pada akhirnya dalam masa hidupnya Giok-bin Giam-po mengucapkan perkataan “Pit-koan”, ia terus pergi keatas puncak gunung Pit-koan-hong dan kemudian bagaimana ketika ia bertenmu dengan ibunya sendiri.

Hoan Thian Hoa yang mendengar kisah anaknya dengan seksama, hatinya terbenam dalam macam2 pikiran yang bercampur aduk. Kaget. girang, menyesal, tetapi juga ada sedikit perasaan malu.

Kisah itu sungguh ber-belit2 hanya dapat terjadi dalam khayalan, se-olah2 tidak dapat terjadi dalam kenyataan, tetapi sebenarnya itu semua merupakan kenyataan-Kenyataan yang sungguh2 telah terjadi.

Memang benar, Hoan Thian Hoa sendiri, selama belasan tahun terasa berada dalam kegelapan selalu. Hampir saja ia melakukan lagi kesalahan besar yang tentunya akan hebat pengaruhnya jika betul2 sampai ia membunuh dan karena sebab yang tidak benar.

"Anak. marilah sekarang kita berangkat ber-sama2 ke Pit-koan-hong."

Akan tetapi, dengan ajakan ini Hoan sin Cie sama sekali tidak menjawab, sikapnya berubah masgul, berdirinya tidak tenang. Tetapi, akhirnya dapat juga ia menjawab

"Ayah, ibu sekarang tentu sedang menanti2kan kedatangan ayah. ayah sebaiknya pergilah dulu sendiri, anak masih ada sedikit urusan yang masih belum beres. Maafkan anakmu yang mungkin tidak bisa menungkuli ayah serta ibu sampai hari2 tua."

Ucapannya Hoan sin Cie itu mengandung maksud tertentu, agaknya ia seperti sedang menampil selamat berpisah pada ayahnya. saat itu ia merasa bahwa ia sudah mempunyai

perasaan apa2 yang harus dikerjakan tidak ada hal yang perlu dipikirkan, maka satu2nya maksud yang hendak diujudkan ialah, menepati janji, atau sumpahnya sendiri terhadap kekasihnya ketika mereka masih ber-sama2 duduk dalam perahunya diatas lautan Lam-hay.

"Anak. kau masih mempunyai urusan apa lagi yang perlu dibereskan yang tidak bisa ditunda?" "Cuma sedikit urusan kecil saja ayah, tetapi tidak boleh ditunda. Legakan hatimu ayah,

janganlah kuatirkan keselamatan anak."

Hoan Thian Hoa setelah berpikir sejenak, lalu berkata pula dengan suara berat, "Anak. kau mesti pergi dan ketemukan ketua Pek-leng-hwee, perempuan berkerudung kain merah itu dulu."

"Ayah hendak memesan apa padanya?" "Tidak apa?"

"Lalu kenapa lagi?"

"Suatu rahasia besar tidak boleh dibocorkan- Kau pergilah sendiri kesana, anak barangkali saja nanti kau akan dapatkan sesuatu diluar dugaanmu."

Hatinya Hoan sin Cie merasa heran- ia ber-tanya2 sendiri dalam hatinya: “Entah apa maksud ayah menyuruh aku menemui perempuan berkerudung itu dulu? Apakah ayah diam-diam sudah memilih dia untuk dijadikan calon mantumu? Tapi ini toch tidak boleh jadi ? Begitu besar cintanya Ut-tie Kheng padaku, aku masih belum mampu membalasnya. Terpaksa aku juga mengecewakannya. Bagaimana kalau terhadap nona ut-tie saja aku tidak bisa berbuat apa2 lalu disuruh terlibat lagi dalam urusannya nona berkerudung itu? Apa lagi sampai pada saat ini aku masih belum bisa melihat Wajah aslinya nona itu? Bagaimana itu boleh jadi?”

"Ayah. terpaksa anak akan membikin kau kecewa. Kata orang2 tua, seorang anak yang tidak bisa menyambung keturunan keluarga, menjadi seorang anak yang tidak berbakti. Kalau begitu, aku akan menjadi seorang anak yang paling tidak berbakti dalam dunia ini." Mendadak ia ingat sesuatu, maka ia lantas bertanya pada ayahnya^

"Ayah, tempo hari ketika kita berada dalam rumah batu didalam pusat perkumpulan Im-mo-kau dilembah Im-bu-kok. nona berkerudung itu tiba2 merubah pendiriannya dan berbalik malah membantu membebaskan aku dari kesulitan, Katanya, itu adalah permintaan seseorang. Apakah. .

. .?"

"Benar. itulah hasil dari rencana ayahmu. Ayahmulah yang mengatur semuanya. ayah sengaja menyuruh dia gabungkan diri dengan orang2nya Im-mo-kao sambil menantikan ketika yang paling baik untuk menolongmu. juga, kalau ayah tidak berbuat begitu, mana bisa ayah tahu begitu jelas segala persiapan yang telah diatur oleh mereka dengan sangat rapinya? Mana bisa juga ayah tahu segala rahasia masuk-keluarnya dalam sembah Im-bu-kok itu?"

Hoan sin Cie merasa kagum bukan main atas kecerdasan luar biasa dari ayahnya, orang telah mengatur rencana nya begitu rapi, maka ia berkata sambil bersenyum:

"Ayah, nona berkerudung itu mengaku dia adalah puteri dari Pek-soa-kiong golongan Lam-hay- pay, tapi kenapa tahu2 ia bisa menjadi ketua Pek leng-hwee juga itu ayah, kematiannya ketua Pek-leng-hwee yang lama Cin Bie Nio, yang diwaktu malam buta dikutungi kepalanya oleh orang, aku curiga bahwa itu adalah hasil dari perbuatannya nona berkerudung itu?"

Hoan Thian Hoa mendengar perkataan anaknya, lantas bersenyum-senyum penuh mengandung arti.

"Bagaimana kejadiannya tentang itu, ayah juga kurang mengerti. Tapi,biar bagaimana juga, pasti ada satu hari kau nanti akan dapatkan penyelasannya."

Hoan sin Cie tidak berdaya, Dengan apa boleh buat ia mengalihkan pembicaraannya kelain urusan-

"Kabar menghilangnya ayah dari rimba bersilatan dulu. telah menyebabkan si orang tua Tangan Geledek Ngo Yong, terus-menerus menunggu dipuncak gunung Pit-koan-hong sampai lebih dari sepuluh tahun lamanya. sekarang ini, entah "

"Ya anak. orang tua itu adalah saudara angkat ayahmu. Dan juga ayahmu sudah bertemu dengan dia serta juga sudah menceritakan hal sebenarnya padanya."

Hoan sin Cie bersangsi sejenak. tetapi kemudian ia sudah dapat berkata lagi, ia bicara dengan Wajah merah padam. Katanya:

"Ayah, Thian-san Liong- lie Tho Hui Hong sampai sekarang masih tetap tidak melupakan ayah. .

. ."

Hoan Thian Hoa dengan sikap sungguh2 menjawab:

"Anak. Urusan yang sudah lalu, biarlah tinggalkan lailu. Biarlah pergi ber-sama2 berlalunya sang masa. Perlu apa kita mesti cari2 kesulitan sendiri?"

"Tapi anak pernah berhutang budi ke-cintaan daripadanya. Anak juga sudah berjanji hendak melakukan sesuatu untuknya. janji itu adalah bahwa anak hendak mencari dan menyelidiki jejak ayah."

"Anak, apakah kau tidak bisa beritahukan saja padanya bahwa ayah sudah tidak ada dalam dunia ini?"

"Apa itu nanti bukan akan lebih membuat ia berduka? Ia berhati sangat mulia. Anak tidak berani membohonginya"

"Lalu kalau begitu, kau mau apa lagi?"

Hoan sin Cie terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

"Anak. biarlah sang masa nanti akan membuat luntur sendiri kenang2annya. sekalipun kau memberitahukan padanya tentang sikap ayahmu, apa yang ayahmu bisa perbuat? Bukankah, itu nanti akan menambah saja kesengsaraan hidupnya? Lebih baik biarkan saja dia terus dengan harapannya, sekalipun harapan itu hanya harapan hampa belaka."

Berkata pula Hoan Thian Hoa sambil menarik napas.

Hoan sin Cie tidak dapat berbuat apa2 maka ia hanya angguk2an kepalanya saja. Dalam hal ini, apa yang dapat diperbuatnya ?

"Anak, kalau urusanmu sendiri selesai nanti, cepat21ah kau pulang ke Pit-koan-hong. Janganlah kau bergelandang lagi dalam dunia Kang-ouw."

"Baiklah ayah."

Namun, meski dimulut Hoan sin Cie dapat mengucapkan perkataan Baiknya, tapi dalam hatinya diam2 ia mengeluh. Ia ber-kata2 sendiri dalam hati, “Ayah, kau mungkin tidak bisa menemukan lagi anakmu ini yang tidak berbakti. Anakmu yang hendak menepati janji dengan siang-koan Kiauw, terpaksa tidak bisa menungkuli ayah dan ibu selamanya.” Karena berpikir demikian, Wajahnya tampak bersedih sesaat, tetapi tidak lama kemudian sudah pulih kembali seperti sedia kala. sebenarnya, ingin sekali ia menangis se-puas2nya. Tetapi dengan perbuatan demikian, tidaklah mungkin tentu baginya dapat melaksanakan janjinya itu. Ia harus rela memikul kayu salibnya asmara, Ia harus dapat membiarkan sang air mata mengalir masuk kedalam perutnya. Dipandang dari sudut lain, mungkin hanya dengan jalan begitu saja barulah ia dapat menenangkan rasa dan pikirannya yang sedang bergolak hebat, maka setelah memandang Wajah ayahnya dalam2, dengan memelihara agar suaranya tetap wajar, ia berkata. "Ayah, anak hendak pergi. Harap ayah-suka bawa diri baik,"

Hoan Thian Hoa anggukkan kepalanya. Ia tidak mengatakan apa2. Ia hanya mengawasi berlalunya sang anak sampai menghilang dari pandangan matanya. Ia lalu ketawa seorang diri. Ketawanya itu, adalah ketawa yang wajar, ketawa yang timbul dari hati nuraninya yang bebas dari se-gala2nya. Ia bangga mempunyai anak yang gagah perkasa. Ia gembira mempunyai anak yang dapat mengatasi kesulitan diri sendiri

Namanya pemilik Golok Maut Yo Cie Cong kalau mau dibandingkan dengan nama gurunya Hoan Thian Hoa, jago dari see-gak Leng Jie Hong, yang pada suatu masa mendapatkan nama julukan “orang gaib dari rimba persilatan”, ataupun dengan dirinya sendiri, rasanya masih jauh lebih baik, Jauh lebih terkenal dan jauh lebih cemerlang. suatu nama yang dalam waktu singkat menggetarkan seluruh rimba persilatan.

Dengan tidak terasa ia berkata seorang diri: “Aku masih beruntung Tuhan telah berlaku adil terhadapku. Apa yang masih kurang? Apa lagi yang masih aku inginkan ?”

setelah itu tubuhnya lantas bergerak sekejapan saja sudah menghilang dari tempat itu, hilang dimakan bayang2nya sendiri.

Sekarang marilah kita tengok kembali keadaan Hoan sin Cie, nama sipemilik Golok Maut Yo Cie Cong yang baru.

Dengan perasaan sedih ia meninggalkan ayahnya Hoan Thian Hoa. Perpisahan itu adalah perpisahan untuk se-lama2nya antara ayah dan anak. pikirnya mengingat demikian- Air mata dengan tidak terasa mengalir keluar dari Kelopak matanya, sebutir demi sebutir menitik turun membasahi ke dua pipinya,

Dalam hatinya ia meng-hitung2 tempo yang dijanjikan oleh Phoa-ngo Hweshio kepadanya, yaitu waktu tiga bulan, dalam tempo mana, berhasil atau tidak ia mencari jejaknya Ut-tie Kheng, harus menemui Hweshio gila itu dirumah makan oey-ho-lao. sekarang waktunya itu sudah tiba ut- ti Kheng sudah diketemukan yang kini sedang dititipkan ditempat kediamannya ketua Pek-leng- hwee baru, nona berkerudung itu, serta juga ia telah minta pertolongan wanita tersebut mengurus semua urusannya dengan Phoa-ngo Hweeshio dirumah makan oey-ho-lao. Kalau ia sendiri turut pergi kesana, mengingat niatnya Hweshio gila itu, rasanya ia sendiri tidak akan dapat melepaskan diri dari padanya. Maka itu mengapa ia tidak mintakan sekalian pertolongannya wanita berkerudung itu saja, lalu dengan perantaraan mulutnya menyampaikan kata2nya yang sukar dikeluarkan? Mungkin sekali penyelasan yang keluar dari mulutnya orang ketiga akan jauh lebih baik.

Setelah ia dapat mengambil keputusan tetap. segera ia tujukan langkahnya ke-pusat perkumpulan Pek-leng-hwee.

Disepanjang jalan, pikirannya tidak ber-henti2nya bekerja. Ia merasa, bahwa satunya soal yang masih harus dibuat penyelesaian ialah, janjinya sendiri kepada Thian-san Liong-lie, yang meski benar pernah dan sudah terlaksana, tetapi dengan terpaksa ia tidak berani menemukan lagi orang berhati mulia tersebut. Perkataan ayahnya memang benar. Biarlah ia menaruh harapan dihatinya untuk selamanya, karena kalau hatinya tergerak, tentu hidup akan lebih sengsara lagi. sebab kalau ia diberitahukan bahwa Hoan Thian Hoa itu sudah meninggal dunia, maka ia akan menerima pukulan bathin yang sangat hebat. Tetapi sebaliknya. apabila ia diberitahukan keadaan Hoan Thian Hoa sebenarnya, ia juga akan tetap kecewa, karena biar bagaimanA mereka berdua toch tidak dapat berkumpul sebagai suami isteri. Lain daripada itu, mengingat bahwa harapan bagaimana kecilnya pun juga masih dapat membuat orang hidup terus dalam harapannya itu. Tetapi sebaliknya dengan putus harapan, pasti akan membuat orang mati mereras karenanya.

Dengan tidak terasa ia berkata pada dirinya sendiri: "Bibi Tho, maafkanlah aku. Aku tidak akan tega menyaksikan kau sengsara hanya karena disebabkan kau putus harap. Bibi Tho, biarlah kau hidup terus diatas harapanmu yang hampa itu untuk se-lama2nya.

Tetapi, ada lagi suatu hal yang juga menyulitkan padanya. ia merasa tidak enak terhadap nona Ut-tie Kheng, ia berat menerima cintanya yang begitu besar. sekalipun ia harus mengakui juga bahwa ia sendiri sebetulnya cinta padanya, tetapi ia tidak dapat memaksa kemauannya yang tidak baik. ia tahu kalau nanti wanita berkerudung itu memberitahukan padanya tentang jejaknya sendiri, entah bagaimana penderitaan bathinnya nona cantik itu, Mungkin hatinya akan hancur lebur. . . .

Ia sebetulnya tidak tega menimpahkan segala kesengsaraan dan penderitaan hidupnya sendiri kepada orang lain, tetapi apa mau dikata, kejadian sudah begitu jadinya ia tidak dapat berbuat apa2 lagi, Ia tidak mau melupakan janjinya sendiri, ia tidak akan melupakan sumpahnya sendiri, juga tidak akan dapat tidur terus, karena perasaan cintanya sudah diberikan kepada siang-koan Kiauw, dan orang yang disebut belakangan ini sudah binasa dilautan Lam-hay. sekarang ia harus menepati janjinya sendiri, yaitu sumpahnya, ia tidak mau dikatakan orang bahwa dia adalah orang yang tidak bisa pegang janji,

Ia masih belum tahu, orang yang sudah mati itu masih mempunyai roh atau tidak. ia juga tidak tahu, roh orang mati itu dapat menyambung impian-lamanya dilain penitisan atau tidak. Ia masih menganggap bahwa cinta kasih yang putus ditengah jalan dalam dunia itu akan dapat bersambung lagi dalam lain penitisan dengan kekal dan abadi.

Demikianlah dugaan satu2nya, bahkan ia hamper percaya penuh bahwa dugaan itu akan menjadi kenyataan- ia se-olah2 merasa bahwa si gadis baju merah siang-koan Kiauw itu sedang me-lambai2kan tangannya serta me-manggil2 padanya "Engko Cong, akhirnya kau datang juga. sudah lama aku menunggu kedatanganmu ini "

Air matanya membikin suram penglihatannya. Dalam keadaan demikian, gerakan kakinya tanpa disengaja sudah menjadi perlahan sekali.

Pada saat itu, suara pujian kepada Buddha, membuat Hoan Sin Cie terkejut. Ia yang tadinya sedang terbenam dalam lamunannya sendiri, saat itu se-olah2 orang baru sadar, baru sadar dari tidurnya, lalu berhenti berjalan, Ketika ia dongakan kepalanya, segera dilihatnya, disuatu tempat tidak jauh dari padanya, tidak cukup dua tombak dihadapannya, berdiri berbaris dengan rapih. ber-turut2 tiga orang hweeshio tua, seorang imam dan delapan orang yang mengenakan pakaian orang biasa, salah satu dari tiga orang hweshio tadi masih mengenali siapa pemuda cakap yang ada dihadapannya adalah Pek Tie siansu dari gereja siauw-lim-sie.

Hoan sin Cie lantas merandek. Dengan perasaan heran ia mengawasi orang2 dihadapan matanya, sedang dalam hatinya lantas berpikir, “Apa setelah orang2nya lima partai besar dulu menderita kekalahan kini datang kembali hendak mengganggu aku dengan mengutus jago2 pilihan barunya?”

Salah satu Hweeshio ini saat itu membuka suaranya yang seperti genta berbunyi, menanya kepada Hoan sin Cie.

"Bukankah sicu ini, itu orang yang disebut Pemilik Golok Maut Yo Cie Cong?"

"Benar. itu adalah nama serta sebutanku dulu, Bolehkah aku tahu gelar Toa Ho siang yang terhormat?"

"Lolap adalah Pek Liauw dari siao-lim-sie."

"Ada urusan apa yang perlu Toa Hosiang bicarakan dengan aku yang rendah?"

"sicu dengan mengandal kepandaian dan kekuatan diri sendiri telah mengeruhkan suasana dalam rimba persilatan, hingga orang2nya se-olah2 sedang menghadapi hari kiamat. orang2 dari partai kami dan empat partai lainnya dengan maksud hendak membela kepentingan sekalian umat manusia, tidak bisa terus berpeluk tangan mengantapi sicu berbuat se- mau2nya, maka itu lolap dan kawan2 ini lalu diperintahkan untuk ceburkan diri dalam kalangan Kang-ouw mencari sicu."

Wajahnya Hoan sin Cie berubah dingin seketika, Dengan sorot mata tajam ia mengawasi orang2 itu sejenak. kemudian berkata dengan suara dingin:

"Aku masih harus menyelesaikan urusanku yang penting. Maafkan aku tidak bisa menemani kalian omong2 lebih jauh. Berbicara yang terang saja Toa Hosiang, katakanlah apa maksud kalian yang sebenarnya? Apa yang kalian inginkan dari aku?"

Orang2 kuat dari lima partai besar itu dengan serentak berubah wajahnya. Pek Liauw siansu lalu berkata sambil kerutkan alisnya.

"Omie-Tohud Harap sicu suka jelaskan segala perbuatan yang sicu lakukan selama ini."

"Ha, ha, ha Aku berbuat demikian itu melulu karena aku masih belum menyelesaikan habis

persoalanku. Aku mendapatkan beban sangat berat itu dari suhu yang juga telah minia aku menuntut balas untuk perguruanku dan sekalian untuk orang2nya Kam-lo-pang yang semua nya habis terbunuh ditangan mereka itu. Tentang ini rasanya orang2 dalam dunia Kang-ouw tidak ada satu yang tidak tahu. Apa lagi lainnya yang kalian perlukan dari aku ?"

"Itu memang benar. Kami juga pernah mendengar itu. Tetapi tindakan sicu itu, yang terus menerus melakukan pembunuhan besar2an terhahap orang2 yang tidak berdosa juga, apakah itu bukannya jauh melampaui batas penuntutan balas ?" "Berdasarkan alasan apa Toa Hosiang

berani keluarkan kata2 itu?"

"Apakah betul musuh2 sicu sebegitu banyaknya ?" "Kalau betul ?"

"Apakah buktinya?"

Hoan sin Cie dalam hati lalu berpikir “Aku tidak percaya kalau kalian orang2 dari lima partay besar memiliki kepandaian yang begitu tinggi, hingga berani2 kalian memusuhi aku?”

Dalam hatinya berpikir demikian, dari mulutnya lalu keluarlah jawabannya yang dingin ketus: "Urusanku adalah urusanku. Urusanku itu ada urusan pribadi. Mana boleh urusanku aku

beberkan dihadapan orang banyak? sekalipun kalian, orang2 dari lima partai besar, juga masih belum mempunyai hak menanyakan urusanku "

Wajahnya Pek Liauw siansu berubah seketika yang lain2nya juga sudah pada bersiap sedia. Suasana sampai disini sudah sangat menegang . . .

Hoan sin Cie lalu berkata pula "Tuan2, katakanlah bagaimana kalian hendak-menghadapi aku yang rendah?"

"Kalau sicu tidak bisa perlihatkan bukti- buktinya dihadapan kami, lolap sekalian yang mendapat perintah saja, bagaimana berani melanggarnya? Harap sicu suka ikut kami pergi kegereja siao-lim- sie sebentar. Disana kita b icara lagi."

"Menyesal Aku tidak punya tempo banyak. Kau bertindak. boleh disini saja sudah cukup," "Apa sicu mau paksa lolap turun tangan disini ?"

"Hmm Bicara putar balik. Akulah yang dipaksa oleh kalian "

"Kalau begitu, harap sicu nanti yangan menyesal "

"Aku bersedia belajar kenal dengan kepandaian yang tinggi dari orang2nya lima partai besar sekali lagi."

Pek Liauw siansu lampak sangat gusar. Wajahnya merah padam, badannya gemetaran- ia mengeluarkan lengan jubahnya yang lebar gerombongan, memberi isyarat supaya semua kawannya sebera bergerak semua. Begitulah, dua belas orang berdiri berbaris membentuk satu barisan panyang kebelakang, telapakan tangan orang yang satu diletakan diatas pundak orang lain didepannya.

Hoan sin Cie tidak mengerti permainan apa yang akan dipertunjukan dihadapannya. "Benarkah sicu hendak melakukan pertempuran dengan kami?" "Tempoku tidak banyak. Yangan banyak omong. silahkan mulai."

Pek Liauw siansu sekali lagi menyebut nama buddha. lengannya lalu didorong kedepan-...,. Sebelas orang lainnya tampak badannya agak tergetar.

Suatu kekuatan yang amat dahsjat meluncur keluar dari telapakan tangannya Pek Liauw siansu seorang, langsung menyerang Hoan sin Cie yang sudah juga bersiap sedia.

Hoan sin Cie terperanjat. Ia tahu bahwa itu adalah kekuatan-kekuatan pukulan tenaga bergabung, yang dinamakan To-im sin-kang.

Dengan cepat ia lantas mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya tipu pukulan Thian-khun sit- sek lantas meluncur keluar dengan cepatnya. . . .

sebentar saja suara angin men-deru2 dan suara seperti geledek menyambar terdengar memecahkan telinga. Keadaan disekitar tempat itupun menjadi gelap seketika. Kekuatan tenaga yang keluar dari tangannya Hoan sin Cie itu sedemikian hebatnya, jarang orang melihatnya dalam rimba persilatan.

Kiranya, ilmu yang dinamakan “To-im sin kang” itu, adalah suatu ilmu pukulan yang menggunakan kekuatan tenaga bergabungan beberapa orang yang masing2 menyalurkan kekuatannya kepada orang yang berada disebelah depannya, mulai dari belakang sampai pada orang yang terdepan. Maka itu, serangan yang keluar dari tangan orang yang berdiri paling depan itu bukan main hebatnya, juga jarang yang demikian itu dalam limb a Persilatan. Begitulah, kekuatan yang keluar dari tangannya Pek Liauw siansu, berarti juga adalah kekuatan bergabung itu.

setelah suara menggeleger yang amat dahsyat terdengar, sebagai akibat dari beradunya dua kekuatan yang amat hebat dari kedua belah pihak. lalu disusul dengan terdengarnya beberapa kali suara keluhan tertahan, beruntun keluar dari mulutnya orang2nya lima partai besar..

Hoan sin Cie sendiri merasakan dirinya seperti disambar geledek. dengan badan masih sempoyongan mundur sampai dua tombak kebelakang baru dapat berdiri tegak lagi. Dari mulutnya darah segar menyembur keluar. Ketika ia menyaksikan keadaan di pihak lawannya, segera ia dapat melihat keadaanyang lebin mengenaskan. Pek Liauw siansu dan Pek Tie siansu, itu dua Hweshio dari gereja siao-lim-sie, yang masih coba sedapat mungkin pertahankan dirinya yang masih ter-huyung2 terus, yang lainnya sudah rubuh bergelimpangan ditanah. sambil me-rintih2 tiada henti2nya. Dua orang Hweshio dari gereja siao-lim-sie itu, Wajahnya pucat pasi seperti kertas, darah menyembur keluar dari mulutnya, dan masih kelihatan sedikit darah yang mengalir disudut bibirnya.

Hoan sin Cie memesut darah dimulutnya, kemudian ketawa menyeringai. setelah itu, ia berjalan maju beberapa langkah menghampiri kedua Hweshio tua dari siao-lim-sie itu, orang yang dihampiri mengira kalau anak muda cakap tampan itu hendak turun tangan lagi terhadap mereka, maka semangatnya lantas terbang seketika. Tetapi kenyataannya jauh berada diluar dugaan mereka.

Mereka menyaksikan Hoan sin Cie yang sesampainya dihadapan mereka, lantas mengeluarkan sejilid buku kecil dari dalam sakunya yang kemudian diangsurkan kemuka mereka seraja berkata: "Toa Hosiang, inilah buktinya yang kalian ingini. Ini adalah buku, juga merupakan daftar nama

dari musuh2nya Kam-lo-pang jiwanya telah diambil semuanya."

Sambil berkata, ia mem-balik2 lembaran buku kecil itu selembar demi selembar di perlihatkan pada kedua siausu dari siao-lim-sie dan setelah selesai, ia lalu berkata pula sambil ketawa:

"Toa Hosiang maafkan aku yang tidak bisa mengawani kalian lebih lama." Mulutnya masih bicara, badannya sudah melayang jauh. sebentar kemudian sudah menghilang dari pandangan mata mereka.

Demikianlah, setelah Hoan sin Cie merubuhkan dua belas lawan kuat, orang2nya lima partai besar, dengan menggunakan ilmupukulan Thian-khun sit-seknya, lalu dengan cepat lari meninggalkan mereka yang masih terluka parah, terus menuju kepusatnya perkumpulan Pek-leng- hwee.

Pek-leng-hwee, adalah, suatu tempacang tidak asing lagi untuknya. Maka itu, perjalanannya itu tidaklah memakan banyak waktu, juga sama sekali tidak mendapatkan rintangan. sampai kira waktu mendekati tengah hari, Hoan sin Cie mulai memasuki daerah pegunungan oey-co-pa. Lapat- lapat dari jauh ia mendengar suara terompet berbunyi. Tatkala ia sampai didepannya pintu gerbang dari pusat perkumpulan Pek-leng-h wee itu, wanita berkerudung dan bibinya Cin Hong Lan berdua ternyata sudah berdiri didepannya pintu gerhahg menyambut kedatangannya Hoan sin Cie.

Begitu Hoan sin Cie melihat potongan tubuhnya Siang-koan Kiauw sang kekasih, hatinya terkesiap. Tetapi ia berada dalam lupa2 ingat itu hanya sedetik saja, lalu sudah lama kembali seperti biasa, Diam2 ia menghela napas.

"Mana aku berani menerima penghormatan yang begini besar Hweethio berdua yang jauh2 sudah menyambut sendiri kedatangan aku yang rendah," demikian Hoan sin Cie mulai membaka mulut berkata sambil ketawa.

"Tuan janganlah terlalu merendah. Mari kita masuk kedalam disana kita akan leluasa bicara." mengundang si wanita berkerudung.

"Baiklah, Hweethio, aku turut" jawab si anak muda.

Ketiga, orang itu lalu berjalan masuk kedalam sebuah ruangan besar, rupa nya itu adalah ruangan tempat perjamuan.

Saat itu, Hoan sin Cie serasa masih mempunyai banyak perkataan yang hendak dikeluarkan, tetapi ia tidak tahu bagaimana harus memulainya.

Achirnya adalah wanita berkerudung itulah yang lebih dulu membuka mulut menegur padanya:

"Kedatangan tuan ke pusat perkumpulan kami ini sebetulnya membawa kabar apa?" "Kedatanganku ini, membawa dua maksud. yang pertama, aku hendak mengucapkan terima

kasihku pada Hweethio yang telah memberi bantuan tenaga tatkala aku sedang berada dalam kesulitan tempo hari didafam lembah Im-bu-kok. kedua, aku juga masih mau minta pertolongan Hweethio lagi yang mungkin tidak pada tempatnya "

"Tidak usah merendah, asal aku bisa, aku pasti akan sedia untuk membantu tuan se-bisa2nya." "Aku mohon perantara Hweethio, sukalah Hweethio menyampaikan kabar kepada nona Ut-tie,

katakan saja bahwa aku dalam perjalanan ke Lam-hay untuk suatu urusan kecil, kebaikannya nona Ut-tie itu kepadaku, terpaksa akan aku kecewakan. Tapi, biar bagaimana, sekalipun aku yang rendah nanti sudah binasa, aku juga tidak akan bisa melupakan padanya."

"Eh Apa artinya perkataaamu ini? Perkataan yang tidak ada juntrungannya ini siapa yang bisa tahu"

"Sudah cukup asal Hweethio suka menyampaikan kata2ku itu saja, nona ut-tie pasti akan mengerti sendiri. "

Baru bicara sampai disini, air mukanya Hoan sin Cie tampak suram wanita berkerudung itu

tiba2 ketawa cekikikan. ia lalu berkata dengan suaranya yang nyaring merdu:

“Menurut apa yang aku tahu nona Ut-tie itu ada mencinta kau dengan setulus hatinya, kalau menyia2kan cintanya yang begitu besar, bukankah itu akan membikin hancur lebur impiannya?"

"Ya, tentang ini, aku juga mengerti. Tapi, urusan sudah maunya begitu, terpaksa aku cuma bisa berbuat begitu saja, lain daripada itu tidak bisa"

"Aku juga tahu apa maksudmu hendak pergi ke Lam-hay "

"Apa? Kau tahu?" tanya Hoansin Cie dengan paras muka ter-heran2.

"Ya Betul, sejak dulu kau mempunyai seorang kekasih yang kemudian terbenam dalam lautan Lam-hay sewaktu ia mengikuti kau pergi kepulau Batu Hitam ? Betul tidak. kalau sekarang kepergianmu ini tidak lain dan tidak bukan karena Kau hendak memenuhi sumpahmu sendiri pada kekasihmu itu, hendak menyusul padanya kealam baka?" Hoa sin Cie terperanjat bukan main, ia bangun berdiri dari tempat duduknya. Dengan sorot mata ke-heran2an ia mengawasi wanita berkerudung itu, lama tidak dapat mengucapkan apa2 ....

mendadak satu suara yang halus merdu terdengar masuk dalam telinganya Hoan sin Cie.

Seorang wanita cantik menggiurkan datang menghampiri Hoan sin Cie, lalu berkata pula dengan suaranya yang merdu.

"Engko Cong Kau juga datang kemari?"

Hoan sin Cie lebih2 terkejut Wajahnya seketika. Ia menjawab dengan suara gelagapan atas pertanyaan wanita cantik jelita itu "Adik Kheng .... kau .... kau . . .kau masih disini. ?"

Siapa wanita cantikyang datang menghampirinya itu ?

Pembaca dengan mudah saja menebaknya, sebab wanita muda cantik itu bukan lain ada nona ut-tie Kheng, yang terus menerus me-ngejar2 Yo Cie Cong alias Hoan sin Cie sekarang ini.

"Ya, Engko Cong, aku tahu kau pasti akan datang kemari, maka itu aku terus menunggu

disini sampai kau datang."

Hoan sin Cie bingung. Hatinya berdebaran tidak keruan- Entah bagaimana rasanya. setelah berpikir bulak-balik, akhirnya ia memberanikan diri berkata:

"Adik Kheng, apa yang aku katakan tadi pada Hweethio ini rasanya telah kau dengar semua, bukan? Harap kau suka maafkan aku. Aku masih mempunyai sedikit kesulitan dalam hatiku.

Mudah2an saja kita dilain, penitisan "

Bicara sampai kesitu, tenggorokannya merasa seperti terkancing, kata2nya yang selanjutnya tidak dapat diteruskan-

Ut-tie Kheng sebaliknya malah ketawa cekikikan, sambil bersenyum manis ia berkata: "Engko Cong, aku kurang paham maksudmu "

Hoan sin Cie mengelah napas dalam2, setelah bersangsi sejenak, ia lalu berkata pula, suaranya paraui

"Adik Kheng, aku mau minta diri dulu. Harap jaga dirimu baik2."

Belum lagi habis bicaranya, badannya sudah bergerak menjauhi, tetapi baru saja ia hendak meninggalkan ruangan itu. . . .

"Tunggu dulu” terdengar suara yang halus merdu masuk menusuk telinganya Hoan sin Cie. Itu adalah suaranya sang kekasih siang-koan Kiauw

Hoan sin Cie hendak membalikkan badan tetapi mendadak didepannya sudah berdiri menghadang seorang wanita, tetapi wanita itu bukanlah kekasihnya. Itu adalah wanita berkerudung, yang potongan badannya mirip dengan potongan badannya siang-koan Kiauw.

"Hweethio masih mempunyai urusan apa yang perlu dibicarakan lagi dengan aku yang rendah?

Lekaslah bicara."

"Jangan ter-gesa2 pemilik Golok Maut yang mulia, lihat dulu ini. "

Wanita berkerudung itu per-lahan2 menarik turun kerudung dimukanya. satu paras wanita yang sangat cantik terlihat berdiri dihadapannya Hoan sin Cie. sungguh cantik dia.

Hoan sin Cie menjadi kesima. Badannya tanpa disadari mundur beberapa tindak Hampir saja ia rubuh terjengkang ....

Siapa wanita cantik ituyang berdiri di-depan matanya? . . . Dia bukan lain adaiah si gadis

baju merah siang-koan Kiauw Kekasihnya Yo Cie Cong.

"Adik Kiauw .... Kau. . .Kau. . . .Kau Apa betul ini kau?" demikianlah serentetan kata2yang

tidak lampias, keluar dari mulutnya Hoan sin Cie.

Siang-koan Kiauw ber-senyum2 memikat,

Hoan sin Cie mengucak-ngucek matanya. Ia masih mengira bahwa ia sedang bermimpi. Tidak Ia tidak mimpi Tidak salah. Wanita cantik yang ada dihadapannya itu memang benar adalah si gadis baju merah siang-koan Kiauw. Itu adalah kejadian yang benar2 terjadi. Ia juga sekarang sudah tersadar. Maka ia lantas lari menghampiri dan terus menubruknya serta memeluk pinggang nya siang-koan Kiauw yang ceking langsing. Siang-koan Kiauw biarkan Hoan sin Cie memeluk dan menciumi dirinya seperti yang kerangsokan setan- Wajahnya sampai merah karena jengah. Hatinya berdebaran keras. ia mencoba hendak melepaskan dirinya dari pelukan kekasihnya, tetapi sia-sia saja. . . .

Akhirnya Hoan sin Cie juga lantas sadar. ia tahu bahwa perbuatannya itu sudah melewati batas, maka ia merasa jengah sendirinya.

Siang-koan Kiauw lantas berkata sambil menunjuk bibinya Cin Hong Lan, sekedar untuk menghilangkan rasa jengahnya.

"Engko Cong, bibi Cin inilah penolong besarku. Hari itu ketika aku kecebur dan terumbang- ambing dalam pecahan perahu, kebetulan sekali bibi Cin ini melihat aku, yang lalu menolongnya dan kemudian membawa aku pulang ke Pek-soa-kiong. selanjutnya aku lantas dipungut anak oleh ketua Pek-soa-kiong. Itulah sebabnya maka aku katakan bahwa aku adalah puterinya ketua Pek- soa-kiong padamu tempo hari. Tahun lalu aku balik kembali kedaerah Tionggoan untuk mencari keterangan tentang kematian ayahku. Dari orang2nya ayah yang masih setia padanya, aku dapatkan keterangan jelas bahwa memang betul ayahku binasa ditangannya ibu tiriku CinBie Nio itu Maka itulah pada malam harinya aku membunuh padanya "

Hoan sin Cie kini baru mengerti jelas sebab musababnya, maka semua rasa curiganya terhadap diri nona dihadapannya ini kini lenyap seketika, lenyap tanpa bekas.

"Engko Cong, apa kau masih hendak pergi lagi ke Lam-hay untuk memenuni sumpahmu itu?" demikian siang-koan Kiauw mengakhiri kata2nya sambil bersenyum manis. . . .

Hoan sin Cie hanya mengganda dengan ketawa, ketawa yang mengandung arti dalam, ketawa yang penuh madunya asmara.

Siang-koan Kiauw lantas menghampiri ut-tie Kheng, sambil menggandeng tangannya nona Ut- tie ia berkata pada Hoan sin Cie:

"Engko Cong, mari kita pergi ketaman bebelakang. Disana adikmu ini telah menyediakan sedikit barang hidangan merayakan hari pertemuan dan kumpulnya kita kembali."

Ut-tie Kheng dengan wajah kemerahan memandang wajahnya Hoan sin Cie. sejenak kemudian tundukkan kepalanya.

Hoan sin Cie hanya balas menatap padanya dengan ketawanya yang lebih mesra.

Kemudian mereka bertiga gandengan tangan dan ke-tawa2 berjalan menuju ketaman belakang.

Selanjutnya, didalam rimba persilatan ramai orang membicarakan seorang anak muda, jagoan yang sukar menemui tandingan, bukan saja sudah berhasil gilang-gemilang dalam usahanya menuntut balas bagi perguruannya, tetapi juga dengan sekali tepuk dapat dua hasil, sekaligus dapat merebut hatinya dua wanita cantik jelita yang gagah perkasa pula. . . .

T A M A T