Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 22

Jilid 22
Yo Cie Cong badannya tergetar dengan cepat segera mengeluarkan ilmu "Menggeser tubuh mengganti bayangannya," sehingga dengan demikian ia telah berhasil menghindarkan serangannya Kauwcu Im-mo-kao.

Dan setelah ini, cepat bagaikan kilat ia sudah menyerang kepala iblis Rambut Merah dengan senjata Golok Mautnya.

Iblis Rambut Merah hanya dapat melihat berkelebatnya. sinar putih, ujung golok tahu2 sudah berada didekat dadanya.

Serangan dengan Golok Maut itu dilakukan seCara aneh dan ganas. Dalam kagetnya iblis Rambut Merah miringkan tubuhnya dan melompat kesamping sembari juga menyerang lawannya.

Cara ini boleh dikatakan sangat kebetulan sekali. iblis Rambut Merah rasanya belum sampai ajalnya, maka telah terlolos dari serangan Golok Maut.

Hanya di bagian pahanya sedikit yang kena tergurat oleh ujung Golok Maut, sehingga dari situ menyembur keluar darah segar

Tepat pada saat itu Giok-bin Giam-po dan Tio Lee Tin telah melakukan serangan berbareng.

Yo Cie Cong lantas mengambil lain siasat, Dengan ilmunya Liang- kek Cin-goa ia melindungi bagian jalan darah dibelakang punggungnya, kemudian dengan menggunakan ilmu serangan yang dinamakan Lui-keng Thian-tee ia menyambuti serangannya Giok-bin Giam-po.

Suara beradunya kekuatan kedua pihak terdengar saling susul. Berbareng dengan itu, terdengar juga tiga kali suara seruan tertahan

Giok-bin Giam-po sudah dibikin ter-huyung2 oleh serangannya Yo Cie Cong.

Tetapi belakang punggung Yo Cie Cong telah kena ditampar dengan telak oleh Tio Lee Tin sampai matanya dirasakan ber-kunang2 dari mulutnya keluar suara keluhan tertahan.

Tetapi, dirinya Tio Lee Tin sendiri juga tidak luput dari bahaya. Tubuhnya sudah terpental mundur sampai lima tindak oleh karena ilmunya Liang-kek Cin-goan yang melindungi dirinya Yo Cie Cong.

Anak muda itu setelah memperbaiki kembali posisi, cepat bagai kilat menerjang pada iblis Rambut Merah. Ia menyerang dengan tangan kirinya yang sudah terpusatkan seluruh kekuatan tangan disitu.

Iblis Rambut Merah saat itu sudah timbul pikiran nekadnya. seluruh kekuatannya sudah dipusatkan dikedua belah tangannya untuk menyambut serangan Yo Cie Cong.

Diantara terdengarnya suara benturan sangat hebat, badan Yo Cie Cong terpaksa melayang turun. sedangkan hawa dingin yang keluar dari dalam tangannya iblis Rambut Merah dirasakan seperti jarum menusuk-nusuk ulu hatinya. Tetapi, iblis Rambut Merah sendiri tidak luput mulutnya juga mengeluarkan darah, badannya mundur sempoyongan.

Yo Cie Cong, yang memiliki kekuatan luar biasa berkat penemuannya dan pengalamannya yang sangat ajaib, sekalipun hawa dingin sudah menyusap masuk ke dagingnya, tetapi setelah sedikit mengerahkan kekuatan tenaganya, badannya sudah dirasakan segar kembali. cepat ia sudah bisa bergerak lagi seCara leluasa, dan tetap menggunakan Golok Mautnya menerjang pada iblis Rambut Merah sebentar lalu terdengar suara jeritan ngeri Diantara muncratnya darah merah. tampak berterbangannya kaki dan tangannya iblis Rambut Merah ditengah udara. hanya ketinggalan badannya yang menggeletak diatas tanah dengan mandi darah.

Giok-bin Giam-po dan Tio Lee Tin yang sudah tidak keburu memberi bantuan, ketika menyaksikan keadaan yang mengerikan dari pembunuhnya itu, matanya hampir copot. ke- dua2nya lantas kabur sipat kuning kearah rumah batu.

Yo Cie Cong lama berseru: "Hmm. masih mau lari?"

Tubuhnya sudah lompat melesat mengejar mereka, sebelum kakinya mengenjak tanah, tangannya sudah melancarkan satu serangan untuk memaksa kedua orang itu hentikan larinya. Kemudian orangnya sudah melayang turun dihadapannya kedua orang itu dalam jarak kira-kira setombak.

Kedua wanita itu wajahnya pucat pasi seketika, dengan badan gemetaran keduanya berdiri mengawasi si pemilik Golok Maut.

Yo Cie Cong dengan sorot matanya tajam memandang Tio Lee Tin sejenak, lalu berkata pelahan:

"Nona Tio, dengan memandang kebaikannya bekas suhumu, aku tidak mau membunuh kau. sekarang lekas kau pergi. Dengan sungguh2 aku bicara padamu, dikemudian hari apabila kau masih penasaran dan sudah berhasil mempertinggi ilmu silatmu, setiap saat kau boleh mencari aku."

Perasaannya Tio Lee Tin pada saat itu jauh lebih sengsara daripada dibunuh mati seketika. Ia hanya bardiam diri sambil tundukkan kepala, lama sekali baru bisa menjawab:

"Yo Cie Cong, hari ini kau tidak mau membunuh aku. tapi ada satu hari aku pasti akan membunuh kau"

Sehabis berkata ia mengawasi wajahnya pemuda bekas pujaannya itu. lalu dengan perasaan sangat ganas ia meninggalkan tempat itu.

Yo Cie Cong saat itu timbul pula napsu membunuhnya. sambil keriak gigi ia berkata pada Giok- bin Giam-po.

"Iblis jahat Hutang darah harus dibayar darah juga, bukan? Nah, sekarang sampai juga giliranmu"

Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow. tampak ketakutan. Dengan tidak terasa kakinya sudah melangkah mundur satu tindak. Wajahnya pucat seperti mayat. sehingga wajah yang tadinya cantiknya, kini sekejapan mata saja seperti telah berubah menjadi tua, sangat tua. . . .

Tapi kemudian, dengan tabahkan hati ia membentak bengis.

"Anjing kecil Jangan banyak mulut Kalau mau turun tangan, lekas sedikit"

Yo Cie Cong yang sudah mendapat kenyataan bahwa Giok-bin Giam-po ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ia sendiri, maka dalam hatinya sudah tidak ada rasa bimbang maupun ragu2 lagi. cepat ia maju dua tindak kemudian melancarkan serangannya dengan menggunakan tipu Khian-khun sit-sek.

Giok-bin-Giam-po hanya merasakan serangannya anak muda itu mengandung kekuatan tenaga yang sangat hebat sukar tertahan. ia merasa sudah tidak berdaya lagi menahan atau menyingkirkan diri dari padanya, tetapi ia masih tetap mencoba untuk melawan.

Maka. kesudahannya iblis wanita itu telah dibikin terpental, tubuhnya melayang dan kemudian jatuh ditanah sejauh tiga tombak dari tempatnya tadi berdiri Kembali Yo Cie Cong maju menghampirinya.

Giok-bin Giam-po yang terjatuh ditanah dengan cepat sudah berdiri lagi, Ujung bibirnya tampak berdarah. Wajahnya sangat menakutkan . Yo Cie Cong lalu menghunus Golok Mautnya.

Tetapi. selagi ia hendak turun tangan. mendadak saja angin kuat telah menyambut dengan hebat dari belakangnya, agaknya hendak mengarah jalan darahnya Beng bun-hiat.

= = ooo OOOOO 000==^, Yo CIE CONG tidak keburu turun tangan terus. Ia harus lompat menyingkirkan diri lebih dulu dari seranganyang datangnya secara tiba2 itu. Kemudian cepat bagaikan

kilat ia berbalik dan melihat bahwa orang yang menyerang dari belakangnya tadi ternyata adalah si orang berkedok kain merah.

Wajahnya berubah seketika. Dalam batinnya lantas berpikiri "orang berkedok ini telah beberapa kali melepas budi terhadap aku tetapi ia agaknya seperti bayangan yang selalu menguntit aku.

Berkali-Kali ia merintangi aku turun tangan terhadap iblis wanita ini, malah mengarang cerita yang bukan2. dengan mengatakan bahwa iblis ini adalah ibuku. Apa sih yang menjadi maksud sebetulnya?"

Seketika itu ia merasa tidak sendiri, maka segera menegur dengan suara agak kaku: "Cianpwee, apa artinya perbuatanmu ini?"

"Anak. kau tidak boleh membunuh dia." jawab si orang berkedok kain merah, suaranya agak tergetar.

Yo Cie Cong yang pada saat itu hatinya sudah panas, mendengar jawaban orang berkedok kain merah itu kemendongkolannya semakin men-jadi2.

"Hmm . . itu lagi disebut. sebetulnya dia bukan ibuku. Entah apa maunya orang ini selalu melarang aku turun tangan " demikian ia berkata pada dirinya sendiri

Meski dalam hati ia berpikir demikian, tapi dimulut sama sekali ia tidak bisa membantah larangan si orang berkedok kain merah hanya dengan cepat ia tiba2 bergerak lagi. Tangan kanan menggunakan tipu silat dari Golok Mautnya, sedangkan tangan kirinya mengeluarkan tipu serangan dari Lui-keng Thian-tee. Dengan berbareng ia menggunakan tipu serangan yang sangat hebat itu ia menerjang dirinya Giok-bin Giam-po tanpa memperdulikan lagi orang berkedok kain merah yang selalu merintangi maksudnya.

"Anak. kau akan menyesal untuk selama-lamanya." demikian orang berkedok kain merah itu berkata. berbareng dengan itu, dari samping ia mengirim satu serangan tangan2 kosong kearah Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong sudah mata gelap. Terhadap angin serangan orang berkedok kain merah agaknya sudah tidak dihiraukannya lagi. Ia tetap dengan usahanya, Golok Maut ditangan kanan dan serangan dahsyat dari tangan kiri dengan cepat menyerang orang yang dimau.

Giok-bin Giam-po yang sudah terluka, sudah tentu semakin tidak berdaya menghadapinya.

Bagaimana ia mampu melawan serangan Yo Cie Cong yang demikian hebat? sebentar kemudian suara jeritan ngeri terdengar memecahkan suasana kesunyian.

Dua lengan tangannya Giok-bin Giam-po terpapas kutung. Darah mengucur keluar dari situ seperti air mancur. Badannya rebah terlentang diatas kobakan darah,

Tetapi Yo Cie Cong sendiri, juga sudah terpental karena serangannya orang berkedok kain merah, badannya terpental sampai satu tombak jauhnya.

Ia lantas bangkit pula dengan badan sempoyongan, wajahnya pucat pasi. darah segar mengalir keluar dari ujang bibirnya.

Oleh karena tadi sedang mencurahkan seluruh perhatiannya terhadap musuhnya untuk melaksanakan maksudnya menuntut balas, maka sama sekali ia tidak mau menghiraukan lagi datangnya serangan orang berkedok kain merah, jadi sama sekali tidak berjaga2 terhadap serangan itu ini berarti juga bahwa serangan tadi itu telah mengenakan sasarannya secara telak sekali, itu pulalah sebabnya mengapa badannya Yo Cie Cong bisa terpental sebegitu jauh dan mulutnya mengeluarkan darah.

Sedangkan Giok-bin Giam-po, juga karena perbuatannya orang berkedok kain merah itu, telah terhindar dari serangan ketiga dari lanjutannya Yo Cie Cong sehingga dadanya tidak sampai berlubang, hanya kedua lengannya saja yang terkutung.

orang berkedok merah dengan badan gemetaran dan suara serak berkata kepada Yo Cie Cong. "Anak. kau telah melakukan perbuatan kejam."

Yo Cie Cong memesut darah yang mengalir keluar dari sudut bibirnya, dengan lengan bajunya, lalu menjawab sambil kertak gigi.

"Cianpwee ber-kali2 merintangi boanpwee yang hendak menuntut balas dendam pada iblis wanita ini. Apa sebenarnya maksud Cianpwee?"

"Anak. Kau akhirnya toch dapat membunuh dia juga. Ah. . . Kini Mengapa kau tidak dengar perkataanku" demikiun kata orang berkedok kain merah dengan nada suara penuh kedukaan,

“Hutang darah terhadap perguruan mana boleh tidak ditagih? Apakah perbuatan boanpwee tadi tidak benar ?"

"Tapi anak. dia adalah ibumu sendiri, didalam dunia. dimana ada anak membunuh mati ibunya sendiri? Tentu perbuatanmu kali ini akan mengakibatkan penderitaan batin seumur hidupmu.

Anak. mengapa kau begitu tega? Dimana liangsimmu?"

“Dia bukan ibuku" membantah Yo Cie Cong dengan suara ditandaskan. "Apa? Anak. apa kau kira aku membohongi kau?"

"Boanpwee mana berani mengatakan kalau Cianpwee membohongi boanpwee, tetapi memang sebenarnya dia bukan ibuku."

"Anak, kau salah salah besar Dia benar adalah ibu kandungmu sendiri"

Yo Cie Cong melirik kearah Giok-bin Giam-po dengan sorot mata gusar, kemudian setelah itu ia berkata kepada orang berkedok kain merah.

"Dengan bukti apa Cianpwee selalu mengatakan bahwa dia ini adalah ibu kandungku sendiri?" "Setelah aku tahu didadamu ada semacam benda ini yang cuma aku seorang yang tahu.

Mengertikah kau?"

"Menurut pikiran Cianpwee, ayah boanpwee seharusnya adalah Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa, bukan?"

Orang berkedok kain merah itu se-olah2 merasakan bumi yang sedang diinjak bergoncang keras, orangnya mundur satu tindak lalu berkata dengan nada suara berat, "Benar. Tidak salah"

Yo Cie Cong ketawa dingin. Kemudian ia berkata dengan suara yang agak gemetar. "Boanpwee lebih suka tidak mengetahui asal-usul diri boanpwee untuk se-lama2nya. Boa npwee lebih suka memakai shenya suhu. sama sekali boanpwee tidak sudi mempunyai ibu begitu macam. Tapi, dalam hal ini Ciaapwee memang keliru. Dia se-betul2nya bukan ibu boanpwee."

Orang berkedok kain merah itu sangat terperanjat mendengar bicaraan Yo Cie Cong. setelah termenung agak lama, ia baru bisa berkata lagi dengan suara duka:

"Anak, kau adalah seorang yang paling tidak beruntung didalam dunia. Dosa orang

tuamu telah dilimpahkan atas pundakmu. Aku tidak suka mencela kau. Tapi kalau kau tahu benar kalau dia ini adalah ibumu sesungguhnya, yang anggap perbuatannya memalukan sehingga kau tidak mau mengakui lagi padanya dan kemudian tanpa mengingat perikemanusiaan kau turun tangan terhadap ibumu sendiri, sungguh terlalu kejam perbuatanmu ini. Dimanakah rasa perikemanusiaanmu ?"

Bicara sampai disitu, suaranya sangat pilu kedengarannya,

Yo Cie Cong merasa heran sekali atas kelakuan orang berkedok ini. -sekalipun dia selalu memperlakukan dirinya seperti anaknya sendiri, juga tidak seharusnya sampai terpengaruh oleh kejadian ini demikian rupa, siapakah dia sebetulnya? Memikir demikian ia lalu bertanya dengan suara nyaring.

"Perkataan Cianpwee tidak salah. Tetapi dia boanpwee tegaskan sekali lagi. dia bukan ibu boanpwee. juga tidak perlu Cianpwee selalu ingat istilah kejam."

Pada saat itu, badannya Giok-bin Giam-po yang sudah tidak bertangan tiba2 bergerak. Kemudian terdengar suara rintihannya yang amat lemah. Ternyata ia masih belum binasa.

Kiranya. Tadi ketika Yo Cie Cong turun tangan menggunakan Golok Mautnya justru dibarengi pula oleh serangannya orang berkedok kain merah. Maka baru berhasil memapas kutung kedua lengan tangannya, gerakan ketiganya tidak keburu dilanjutkan, karena ia sendiri sudah dibikin terpental jauh akibat kena serangan hebat orang berkedok kain merah. Dengan demikian tidak sampai Giok-bin Giam-po menemui ajalnya pada saat itu juga.

Yo Cie Cong yang mengetahui bahwa Giok-bin Giam-po belum binasa, Golok Maut ditangannya lalu diangkat dan hendak. ....

Tapi orang berkedok kain merah itu dengan cepat sudah menghadang didepannya dan membentak dengan suara keras: "Kau mau bikin apa lagi ?"

"Dia harui binasa diujung Golok Mautku ini" "Kau tidak boleh mengulangi lagi kesalahanmu"

Sifat kukuh dan angkuhnya Yo Cie Cong. mendadak timbul saat itu, maka segera ia membantah.

"Hutang darah harus bayar darah. Itu baru adil. Dimaaa letak kesalahan boanpwee?" “Anak. kau tidak berani mengakui ibumu sendiri. Betulkah begitu?"

"Dia sebenarnya bukan ibu boanpwee. Bagaimana Cianpwee suruh boanpwee harus- mengakui padanya?"

"Anak. aku tidak ada hak memaksa kau mengakui ibumu sendiri. Kau sudah memapas kutung kedua tangannya, Cukup sudah. Aku minta kau sekali lagi, jangan melukai dia lagi."

"Maafkan, Boanpwee sungguh tidak bisa terima permintaan Cianpwe kali ini."

Orang berkedok kain merah. itu sampai tergetar badannya, kedok merahnya bergerak. jelas sekali, saat itu hatinya terpukul hebat,

Diatas tanah Giok-bin Giam-po yang menggeletak dengan mandi darah, kembali

perdengarkan suara rintihannya. Per-lahan2 ia membuka kelopak matanya. Terhadap perbuatan orang berkedok kain merah yang beberapa kali telah merintangi Pemilik Golok Maut turun tangan terhadapnya, sama dengan seperti perasaannya Yo Cie Cong, ia juga merasa bingung. ia hanya membuka lebar2 matanya yang sudah sayu. Menatap langsung matanya orang aneh dan ganjil yang masih belum diketahui asal-usul dan maksudnya itu.

Orang berkedok kain merah itu setelah terdiam agak lama, tiba2 berkata dengan suara amat keras:

"Kalau kau pasti hendak membinasakan dia, aku akan segera bunuh diri disini "

Bukan main terperanjatnya Yo Cie Cong melihat tingkah laku aneh orang berkedok kain merah ini, sampai tidak terasa kakinya melangkah mundur beberapa tindak. ...

Orang berkedok kain merah, yang didalam rimba persilatan terkenal sebagai pemilik Bendera Burung Laut yang namanya begitu terkenal sebagai orang yang suka membela keadilan, ternyata mengucapkan perkataan begitu dan sedia berkorban untuk membela seorang wanita riwayatnya begitu mesum, ini benar2 tidak habis dipikir.

Giok-bin Giam-po yang sedang terluka parah dan tinggal menunggu ajalnya saja, juga membuka matanya lebar2 ketika mendengar ucapan orang berkedok kain merah itu. Suatu pikiran ingin hidup terus tiba2 terlintas dalam otaknya. Meskipun ia sendiri tidak habis mengenrt apa sebabnya orang aneh itu hendak mengorbankan jiwa demi kepentingan dirinya, tetapi dengan adanya perbuatan orang aneh itu. mungkin jiwanya ada harapan besar akan tertolong.

Pada saat itu hatinya Yo Cie Cong dirasakan tidak keruan- sungguh tidak pernah ia menduga bahwa orang berkedok kain merah yang selama hidupnya dipandang dan dihormati seperti ayahnya sendiri saja kini ternyata hendak mengancam dirinya dengan tidak menyayangi dirinya sendiri jadi korban, sedang alasan yang digunakan selalu untuk kepentingan Yo Cie Cong sendiri, karena wanita itu dikatakannya adalah ibunya, Ya mengapa ?

Ke-dua2nya lalu terbenam dalam pikirannya sendiri2, Tidak ada yang berani buka mulut lebih dulu,

Didala m lembah Im-bu-kok itu, kabut tebal masih tetap menyelubungi sekitarnya. Bangkai orang2 Im-mo-kaojang binasa oleh Yo Cie Cong, telah menyiarkan bau amisnya yang hebat sehingga dapat membuat orang merasa mual, sunyi senyap. . . . Dalam suasana kesunyian macam itu ditempat tersebut, boleh dikatakan mirip dengan neraka.

Setelah dua orang berdiri menjublek sekian lamanya, akhirnya Yo Cie Cong mengeluarkan daftar nama musuh2nya Kam-lo-pang dari sakunya dengan perlahan, lalu membuka lembaran yang pertama lalu berjalan menghampiri mayatnya iblis Rambut Merah Cho Ngo Teng. Dengan jari tangannya mencontek darah dari atas badan mayat itu untuk menghapus namanya yang tertulis diatas kertas. setelah itu ia lalu membaca satu demi satu semua nama-nama musuhnya Kam-lo- pang. semua sudah penuh dengan tanda merah darah. Hanya tersisa namanya Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow yang belum terhapus.

Tingkah laku Yo Cie Cong disaksikan oleh Giok-bin Giam-po dan orang berkedok kain merah dengan hati berdebaran-

Sorot mata Yo Cie Cong yang penuh diliputi kegusarannya, kembali menyapu kearah Giok-bin Giam-po. Agaknya saat itu ia sudah akan segera bertindak lagi.

Giok-bin Giam-po dengan wajah minta dikasihani, matanya terus mengawasi orang berkedok kain merah.

Akhirnya orang berkedok kain merah berkata dengan suara2 bengis: "Apa benar kau mau meneruskan maksudmu berbuat kejam?"

Yo Cie Cong segera menjawab sambil kertak gigi.

"Atas budi Cia npwee yang telah beberapa kali memberikan pertolongan kepada boanpwee merasa sangat malu sampai sekarang masih belum bisa membalas budi. sebetulnya boanpwee harus dengar nasihat Cianpwee. tetapi kali ini, dalam urusan ini, terpaksa boanpwee tidak bisa lagi memenuhi permintaan Cianpwee. Nanti setelah boanpwee membereskan pensoalan darah ini, sekalipun Cianpwee menghendaki kepala boanpwee akan menyerahkannya, tanpa mengerutkan alis sedikit juga."

Badan orang berkedok kain merah itu berdebaran dan gemetaran sekujur badannya. Ia berkata seorang diri dengan suara yang memilukan hati: "Dosa. oo, dosa "

Kembali jeritan ngeri terdengar. Tampak dengan tenang Yo Cie Cong menyimpan Golok Mautnya.

Didadanya Giok-bin Giam-po saat itu sudah terdapat lubang besar. Tetapi darahnya tidak tampak. sebab ketika kedua tangannya tertabas darahnya sudah mengalir terlalu banyak.

Orang berkedok merah sempoyongan badannya, hampir sauja orangnya jatuh rubuh. Kemudian ia dongakkan kepala dan ketawa seperti orang gila. Tidak. suara itu sebetulnya bukanlah

suara ketawa, tetapi ialah suara ratapan tangis dari hatinya. Ratapan tangis karena pukulan batin yang terlalu hebat mendobrak hati sanubarinya. Yo Cie Cong lalu berjalan menghampirinya. "Cianpwee " Katanya dengan nada terharu.

Oran berkedok kain merah itu setelah merasa puas ketawa, lalu berkata dengan suara amat lemah.

"Kau. . . kau. . . . Akhirnya membunuh juga. Membunuh dla Membunuh ibumu sendiri."

"Dia bukan ibu boanpwee."

Pada saat itu, Tiba2 matanya Giok-bin Giam-po terbuka. Dengan menahan rasa sakitnya

yang sangat mulutnya berkemak-kemik. Lama sekali Akhirnya dapat juga ia mengeluarkan

perkataan: "Pit-koan ", Tetapi hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya, matanya lantas

meram lagi untuk se-lama2nya. Jiwanya melayang menyusul rohnya si iblis Rambut Merah yang sudah pergi lebih dahulu. . . .

Dengan demikian berakhirlah sudah riwayatnya satu iblis wanita yang meresahkan suaana didalam rimta persilatan beberapa puluh tahun. Ia menemui ajalnya dan mengakhiri hidupnya yang penuh kemaksiatan dilembah Im-bu-kok.

Dengan tidak terasa Yo Cie Cong mengulangi perkataannya giok bin Giam-po tadi. "Pit-koan- . . Pit-koan "

Tapi ia masih belum tahu apa yang dimaksudkan oleh iblis wanita itu dengan perkataan ^Pit- koan tersebut. Orang berkedok kain merah kembali dongokkan kepala dan menghela napas. Kemudian tiba2 mengangkat tangannya dan hendak memukul batok kepalanya sendiri. . . .

Yo Cie Cong dengan cepat mencekal tangannya orang berkedok kain merah itu. Ia berkata dengan suara sangat terharu "Apakah Cianpwee mempunyai hubungan rapat dengan dia ?"

Orang berkedok kain merah melepaskan tangannya yang dicekal oleh Yo Cie Cong, kemudian berkata dengan suara gemetar. "Apa kau kata?"

"Apakah boleh karena boanpwee tadi membunuhnya lalu Cianpwee hendak mengambil keputusan hendak begini?"

Orang berkedok kain merah itu bungkam tidak menjawab.

Yo Cie Cong tidak sabaran menantikan jawabannya, lalu bertanya pula.

"Mungkinkah boanpwee dalam hal ini terlalu memikirkan diri sendiri saja, ialah hanya memikirkan soal dendaman sakit hati perguruan boanpwee, sehingga tidak memikirkan kepentingan Cianpwee? sekarang urusan boanpwee sudah selesai. Terserah kepada Cianpwee bagaimana Cianpwee, Boanpwee juga akan mandah menerimanya."

Tetapi orang berkedok kain merah itu hanya mulutnya saja yang kelihatan berkemak-kemik, berkata seorang diri: "Apakah Kini aku bisa sesalkan dia? Tidak? Apa aku harus sesalkan Tuhan yang kejam? Tidak? Siapa yang harus disesalkan? Cuma terhadap orang tuanya sendiri. orang

yang menanam kesalahan ini. sekarang harus rela juga menelan buahnya Ah Anak. apa mau dikata "

Yo Cie Cong tidak tahu mengapa orang berkedok kain merah itu bisa mendadak berubah kelakuannya. Ia juga tidak mengerti perkataan yang diucapkannya tadi. setelah berpikir bulak balik akhirnya ia jatuhkan diri dan berlutut dihadapannya orang berkedok kain merah itu, kemudian berkata dengan suara sangat terharu.

"Boanpwee ber-kali2 telah menerima budi Cianpwee, sesungguhnya sangat malu sampai pada saat ini belum mampu membalasnya. sekarang silakan Cianpwee turun tangan. Hukumlah boanpwee. sekalipun boanpwee binasa juga tidak akan menyesal. "

Terdengar orang berkedok kain merah itu menghela napas. Kemudian memimpin bangun badannya Yo Cie Cong dan lantas berkata dengan suara sangat terharu:

"Anak maafkan aku yang tadi terburu napsu sehingga aku telah turun tangan berat terhadap dirimu. Bagaimana keadaan lukamu sekarang?"

Yo Cie Cong lalu menjawab sambil ketawa getir:

"Tidak apa. Itu belum boleh dibilang terluka. sekalipun benar terluka parah, boanpwee juga tidak akan menyesali perbuatan Cianpwee."

orang berkedok kain merah itu lantas membuat satu lubang untuk menanam jenazah Giok-bin Giam-po,

Yo Cie Cong coba mengatur jalan darahnya. Ia merasakan dadanya ada sedikit rasa sakit. Ia sebera mengerti bahwa dirinya memang benar sudah terluka. Maka itu ia lantas duduk bersila. Dengan ilmunya "Liang-kek Cin-goan" ia mau mencoba menyembuhkan lukanya sendiri.

Ilmu ‘Liang-kek Cin-goan’ sebetulnya sangat luar biasa. Dalam waktu sekejap saja lukanya Yo Cie Cong sudah sembuh kembali. Kesehatannya sudah pulih seperti sedia kala. Maka ia lantas membuka matanya dan lompat bangun.

Tatkata ia mencari-cari orang berkedok kain merah itu, ternyata sudah tidak dapat dilihatnya lagi. Tidak jauh didepan dirinya. terdapat segundukan tanah. Itu adalah kuburannya Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow yang dibuat oleh orang berkedok kain merah, tetapi masih belum dipasang batu, juga tidak ada tanda apa2nya. hanya segundukkan tanah merah yang berada di-tengah2 lembah Im-bu-kok. bekas sarangnya perkumpulan Im-mo-kao.

Yo Cie Cong yang sudah menyelesaikan tugasnya menuntut balas, se-olah2 kuda terlepas dari kekangan, lepas dari segala beban berat yang selama itu terus mencengkeram dirinya. Disamping merasa gembira, masih ada lagidua halyang menambat hatinya. Hal itu akan mengganjal hatinya selama belum diselesaikan-

Ia merasa tidak enak sekali terhadap dirinya orang berkedok kain merah. karena ia merasa sudah melukai hatinya begitu hebat. Dilain saat, ia lantas teringat kembali tentang dirinya sendiri yang masih gelap asal-usulnya.

Akhirnya, bayangan gadis baju merah siang-koan Kiauw. kembali terlintas dalam otaknya. Ia dengan gadis itu ernah bersumpah untuk sehidup,semati. siapa sangka

kecelakaan dilautan Lam-hay telah memisahkan kedua merpati yang belum dapat terbang tinggi itu, karena ia telah bersumpah hendak menyusul sang kekasih kealam baka setelah urusannya sendiri selesai, maka saat itu ia lantas teringat akan sumpahnya sendiri Yo Cie Cong lalu menggerakkan kakinya meninggalkan tempat yang penuh kenangan itu.

Baru berjalan beberapa langkah, ia asudah berhenti lagi. Dalam hatinya berpikir: ‘Jalan masuk kelembah ini tadi sudah ditutup oleh orang2nya Im-mo-kao. sekarang bagaimana aku bisa keluar dari sini?"

Tapi lain pikiran timbul pula: ‘Kenapa aku tidak mau menanyakan pada orang im-mo-kao untuk memecahkan soal ini? Menurut keterangannya nona berkerudung, katanya ada jalan lain langsung menuuju keluar juga."

Siapa nyana, dalam rumah yang sekian banyaknya itu ternyata sepi sunyi keadaannya, sama seperti sama tidak ada penghuninya. Ia sudah mencari ubek2kan tetapi akhirnya sia2 saja usahanya. Kalau begitu orangnya Im-mo-kao yang belum binasa. sudah pada kabur semuanya, sehingga tidak ada seorang pun yang ketinggalan disitu.

Yo Cie Cong beru jalan balik lagi masuk kedalam pusat perkumpalan im-mo-kao. semua barang2, meja kursi, masih teratur rapih ditempatnya. hanya tidak kelihaian bayangannya seorang manusai pun juga.

Dengan tidak sengaja Yo Cie Cong berjalan menghampiri sebuah meja. Tiba-tiba matanya terpaku pada sehelai kertas yang bertindihkan batu Giok kecil. cepat2 ia mengambil kertas tertindih itu, yang ternyata ada terdapat beberapa baris tulisan yang berbunyi demikian:

"Jalan keluar dari lembah, harus melalui jalanan di bawah kaki gunung See-hong disebelah Barat"

Dibawahnya tulisan yang indah2 ada lukisan seekor burung laut.

Yo Cie Cong begitu melihat seperti mengenali bahwa surat itu sudah ditinggalkan dengan sengaja. menunjukkan jalan keluar baginya. Diam2 ia mengucapkan terima kasihnya atas pertolongan orang berkedok kain merah itu.

Menurut petunjuk dan tulisan itu, jalan keluar itu tentunya berada disebelah barat dikaki gnnung see-hong.

oleh karena sudah menemukan jalan keluarnya, maka Yo Cie Cong lantas mengambil keputusan untuk membikin musnah gedung bekas markas besar perkumpulan kawanan iblis dari Im-mo-kao itu. sebentar saja asap mengepul tinggi api berkobar keras.

Didalam lembah yang hampir setiap hari tertutup kabut tebal, kini tampak menjadi merah marong. Dengan demikian, nama dari perkumpulan dari Im-mo-kao juga terhapus dengan sendirinya dalam dunia Kang-uuw.

Diantara bcerkobarnya sang api yang me-nyala2 hebat. Yo Cie Cong berlari kekaki gunung see- hong sebelah barat. Tidak lama ia mencari, benar saja ia menemukan sebuah goa keCil yang hanya dapat dilalui oleh satu orang saja. Goa itu tertutup dengan pintu batu, agaknya sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian orang. Tetapi pintu batu itu sudah dirusak oleh orang berkedok kain merah.

Yo Cie Cong berpaling dan memandang kedalam lembah yang kini sudah menjadi lautan api, kemudian masuk kedalam goa. Goa itu. makin dalam makin luas lorongnya. Sambil berjalan Yo Cie Cong berpikir, orang berkedok kain merah itu kenapa juga datang kepusat perkumpulan Im-mo-kao, bahkan sudah tahu semua jalan rahasianya? sungguh tidak bisa kupikirkan, Dan wanita berkerudung itu juga

telah menolong ut-tie Kheng, sungguh murah hatinya.

Tiba2 ia teringat kembali pada ucapannya Giok-bin Giam-po sebelum ia menarik napas yang penghabisan- entah apa yang dimaksudkan dengan perkataan ‘Pit-koan-nya itu. Ia makin memikir makin merasa aneh, achirnya merasa bingung sendiri

setelah setengah jam kemudian- mendadak terdengar suara seperti geledek. didepan matanya berkelebat sinar pituh. Dalam kagetnya ia buru2 lari maju. ketika berada di-mulut goa, sinar putih ituternyata adalah sinar kilat yang masuk melalui mulut goa,

Tatkala ia berdiri dimulut goa, dijalanan keluar mulut goa itu ternyata tertutup oleh tirai bening, kiranya itu adalah air terjun yang lepat menutupi mulut goa tersebut. Dari mulut goa itu jika menengok kebawah, didepan mata terbentang beberapa kolam yang luasnya kira2 setengah bouw.

suara seperti geledek tadi adalah suaranya air terjun yang jatuh kekolam tersebut.

Yo Cie Cong setelah memeriksa keadaan disitu sebentar, lalu mengerahkan tenaganya, seolah- olah anak panah yang terlepas dari busurnya, tubuhnya melesat menerobos air terjun, kemudian ia berputaran ditengah udara, lalu dengan gayanya yang indah sekali melayang turun kebawah.

Setelah melalui lagi beberapa kolam dan jalanan gunung yang sempit, ia lari menuju kejalanan besar.

Kata2 ‘Pit-koan- yang keluar dari mulutnya Giok-bin Giam-po sesaat sebelum menarik napasnya yang penghabisan, masih tetap berputaran didalam otaknya.

Ia menepok kepalanya sendiri, Agaknya perkataan pit-koan dari mulutnya iblis wanita itu, apa bukannya puncak gunung Pit-koan-hong yang dimaksudkan? Bukankah dipuncak gunung itu ia pernah berjumpa dengan dua wanita berparas jelek dan seorang tua yang mengaku sebagai saudara angkatnya Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa, yang menantikan munculnya Giok-bin Giam-po unujukkan diri ditempat tersebut? Kalau begitu puncak gunung Pit-koan-hong itu pasti ada mengandung banyak rahasia, tapi apa perlunya iblis wanita itu menyebut tempat itu?

Dengan adanya pikiran itu, Yo Cie Cong tuujukan langkahnya ke jalanan yang menuju kekota Lan--Ciau, dan dari situ langsung menuju kepuncak gunung Pit-koan-hong.

Maksudnya si tangan geledek Ngo Yong, se-mata2 heniak menyelidiki mati hidupnya saudara angkatnya, ialah Hoan Thian Hoa. Ia sudah menganggap pasti bahwa Giok-bin Giam-po ada berdiam dalam puncak gunung itu, oleh karena itu pula, ia pernah berjanji dengan Yo Cie Cong, masing2 akan mencari jejaknya Hoan Thiao Hoa, dan didalam tempo satu tahun. hendak bertemu lagi ditempat tersebut.

Kini Giok-bin Giam-po sudah binasa di uujung Golok Maut. Mcegenai perjanjiannya dengan Ngo Yong, didalam pertandingan dipuncak gunung Hoa-san, Yo Cie Cong sudah pernah memberitahukan kepada Hoan Thian Hoa, dan Hoan Thian Hoa sendiri sudah janji bahwa ia hendak pergi menyelesaikan sendiri persoalan tersebut. Kalau benar demikian hainya, si Tangan Geledek Ngo Yong tentunya sudah tahu sendiri kalau Hoan Thian Hoa masih hidup. Maka meski Yo Cie Cong datang lagi ketempat bekas kediamannya Ngo Yong, mungkin sudah tidak dapat menjumpai dirinya orang tua itu lagi.

Benar saja seperti apa yang ia duga, ketika ia tiba ditempat bekas kediamannya orang tua itu, goa itu sudah kosong melompong.

Menghadapi jurang yang sangat curam dan sukar dilalui itu Yo Cie Cong dengan perasaan bimbang mengawasi puncak gunung Pit-koan-hong yang diliputi oleh kabut tebal.

sudah tentu ia tidak mau meniru caranya Ngo Yong yang harus menantikan disitu sampai ada orang muncul dari sana. Giok-bin Giam-po sudah mati. Disaat hendak menarik napasnya yang penghabisan mengapa ia mengeluarkan perkataan pit-koan Dari mulutnya dua wanita jelek yang dulu pernah rubuh ditangannya Yo Cie Cong, pernah membantah dengan keras adanya Giok bin Giam-po diatas puncak gunung itu dan yang ada adalah lain orang. Hal ini sesungguhnya bisa membikin pusing kepala.

Yo Cie Cong berjalan lambat2 menyusuri tebing jurang yang mengitari puncak gunung Pit-koan- hong, ia mengharapkan bisa menemukan suatu jalan rahasia atau satu tempat yang letaknya bisa dicapai dengan kekuatan tenaga manusia yang menuju kesana.

Ia berjalan sudah lebih dari satu jam lamanya.jurang yang memisahkan puncak gunung itu paling sedikit masih sejarak kira-kira sepuluh tombak. maka hatinya sudah mulai agak dingin-

Pada saat itu, ia berdiri diatas batu yang agak menonjol ditepi jurang, kepalanya melongok kebawah jurang yang tidak kelihatan dasarnya. Lantas mengawasi dengan hati mendelu, tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Dengan tanpa dirasa, tangannya memungut sebuah batu, yang kemudian disambitkan kebawah jurang terus meluncur turun tidak kedengaran suara apa-apa.

Jika tidak berhasil menemukan jalan rahasia, jangan harap bisa menyeberangi kepuncak gunung Pit-koan-hong itu. Menurut keterangannya Ngo Yong, orang yang berdiam dipuncak gunung itu, dalam satu tahun paling banyak dua kali pasti keluar meninggalkan puncak gunung itu. Tapi Ngo Yong yang menantikan sampai 10 tahun lamanya, ternyata masih belum mendapatkan jalanan yang menuuju kesana.

Ia masih tetap menyambitkan batu-batu kebawah jurang, hanya sudut yang diarahnya saja yang sekarang agak tidak menentu. kadang-kadang disambitkan kesudut kanan, kadang-kadang kesudut kiri.

Seseorang kalau selagi berada didalam keputusan asa, atau keisengan, kadang-kadang memang bisa melakukan perbuatan yang tidak2 atau yang tidak mempunyai tujuan tertentu, keadaannya Yo Cie Cong pada saat itu justru adalah demikian.

Tapi, satu hal yang kebetulan, kadang2 juga mendapat dan menghasilkan kejadian2 yang mengejutkan.

Dengan tidak di-duga2, batu yang disambit oleh Yo Cie Cong ditempat sebelah kanannya kira2 20 tombak, ternyata sudah menimbulkan benturan suara yang cukup nyaring.

Penemuan ini adalah membuat girang hatinya. sebab dengan adanya barang yang dibentur batu, disitu tentu terdapat suatu tempat yang bisa digunakan untuk tancap kaki. Dan tempat yang mengeluarkan suara tadi persis ada di-tengah2nya jurang antara tempat ia berdiri dengan puncak gunung Pit-koan-hong, untuk menyebrang kesana rasanya tidak menjadi soal.

Dengan cepat ia gerakan kakinya menuju ketempat yang menimbulkan suara tadi, kemudian dari berbagai sudut dan jarak, ia menyambit dengan batu,

Kira2 setengah jam kemudian, ia sudah bisa menarik kesimpulan, bahwa dibawa kira2 10 tombak. mungkin ada terdapat sebuah tiang batu atau tangga batu yang menonjol dari tebing jurang ke-tengah2 jurang antara kedua bukit itu. sebab batu yang disambitkan ke tempat yang lebih jauh dari tengah itu, ternyata tidak menimbulkan suara apa2, sudah tentu tempat itupun ada sangat dalam, ternyata tidak menimbulkan suara apa2, sudah tentu tempat itupun ada sangat dalam, Ada kemungkinan tempat yang menonjol keluar itu tidak cukup luas, sebab ditempat sekitar yang menimbulkan suara benturan tadi, hanya kira2 cuma lima kaki saja luasnya, lebih dari itu juga tidak terdengar suara apa2.

Tapi tentang, adanya batu cadas yang menonjol itu hanya dapat di-duga2 dari sambitan batu tadi, sebab tempat tersebut tertutup oleh kabut yang amat tebal, sehingga tidak dapat ditembus oleh mata manusia. sekalipun Yo Cie Cong sudah pusatkan daya pandangnya. masih juga tidak dapat melihat apa2. Jikalau Yo Cie Cong hendak turun kesitu, cuma bisa me-naksir2 letaknya saja, kemudian meloncat turun secara untung2an. Perbuatan demikian memerlukan keberanian yang luar biasa, sebab sekali salah, bisa mengakibatkan kematiannya.

Dengan semangat ber-nyala2 Yo Cie Cong berbangkit, kembali ia menyambit dengan beberapa buah batu, setelah menimbang dengan cermat, ia lantas kerahkan kekuatan tenaga dalamnya dan terjun ke dalam jurang kabut tebal itu.

Yo CIE CONG BERUSAHA sedapat mungkin meringankan tubuhnya agar dapat lebih maju melayang-nya dan jangan sampai terjatuh kebawah. Ia sudah meluncur turun kira2 tiga puluh tombak. tetapi kedua kakinya masih belum dapat menginjak apa-apa. Hatinya mulai kebat-kebit. Kalau saja perhitungannya meleset, tamatlah riwayatnya.,

Tiba didepan matanya ia lihat ada sebuah benda hitam mengkeredep. Tanpa pikir panjang

lagi Yo Cie Cong lantas ulur tangannya menjambret benda tersebut, begitu tangannya berhasil dapatkan pegangan, badannya lantas bergelantungan ke-bawah.

Apa yang ia jambret barusan- kiranya ada sebuah tiang batu yang lebarnya tidak cukup tiga kaki. Tiang itu lurus berdirinya, agak condong kesebelah tengah jurang.

Dengan cepat Yo Cie Cong balik badannya dan naik lebih tinggi keatas tiang batu itu. Dengan penglihatannnya yang amat tajam, dalam suasana berkabut itu ia masih dapat melihat kedepan sejauh sepuluh tombak lebih. Besarnya tiang batu itu kira2 tiga kaki, menonjol keluar dari tebing jurang bagai jengger ayam, Di- kedua sisinya batu tersebut sangat licin- Kalau Yo Cie Cong tadi tidak berhasil menjambret dengan tangannya, saat itu barangkali ia sudah melayang turun sampai kedasar jurang. Badannya juga akan hancur lebur oleh karenanya.

Setelah Yo Cie Cong dapat menenangkan kembali pikirannya lantas ia melakukan penyelidikan. Dengan jalan menyusuri tiang batu itu, sebentar saja ia sudah sampai diujungnya. Kalau menurut taksirannya, tempat yang sudah dilalui olehnya sudah lebih dari tiga puluh tombak jauhnya. Kedua matanya memandang kedepan, diantara kabut menebal disitu terdapat suatu tempat yang gelap. Ia tahu juga bahwa tempat tersebut pasti adalah puncak gunung Pit-koan-hong.

Jarak antara tempat berdirinya Yo Cie Cong saat itu dengan puncak gunung Pit-koan-hong menurut perkiraannya tidak lebih dari dua puluh tombak jauhnya. Bagi Yo Cie Cong jarak dua puluh tombak masih belum merupakan soal sulit.

Dengan sekali lompat badannya sudah melesat jauh kedepan. Tatkala ia sampai ditempat sejauh beberapa puluh tombak badannya berjumpalitan, begitu juga kaki serta tangannya, lalu mencelat lagi keatas dan kemudian menurun kebawah menuju kelamping gunung Pit-koan-hong. Dan ia tiba diseberang jurang dengan selamat.

Keadaan disekitar tebing gunung sangat berbahaya. selain banyak batu2 cadas yang tajam- tajam. juga terdapat banyak pohon-pohon yang tinggi-tinggi. Tetapi oleh karena juga. Yo Cie Cong akan lebih mudah mendapatkan tempat untuk tancap kaki. Dalam girangnya, tanpa merasa ia bersiul nyaring.

Pada saat itu, tiba-tiba datang sambaran angin kuat menyerang dirinya dari atas.

Yo Cie Cong tahu bahwa itu adalah sambaran angina yang keluar dari tangannya seorang pandai, tetapi ia hanya ganda dengan ketawa dinginnya. Badannya melesat tinggi melayang turun dilain bagian. Dengan gerakan yang indah dan lincah, ia sudah berhasil menghindarkan diri dari serangan dahsyat barusan.

Begitu kakinya dapat menginjak batu, badannya melesat tinggi lagi se-olah2 terbangnya seekor burung, begitulah berulang-ulang kaki menginjak tanah lalu menotolnya dan pergi lagi se-olah2. lakunya kera yang sedang ber-lompat2an.

Tiba2 disebelah belakang ia mendengar suara orang berseru kaget: "Eii"

Tetapi Yo Cie Cong masih pura2 tidak dengar terus melesat keatas. kepuncak gunung tersebut. Dipuncak gunung, keadaannya berbeda jauh dengan keadaan dalam jurang yang kabutnya lebih tebal. Dengan daja penglihatannya Yo Cie Cong yang tajam, tidak sukarlah baginya untuk dapat melihat keadaan disekitarnya.

Belum Cukup setengah jam, Yo Cie Cong lompat pergi datang sudah berada diatas puncak gunung.

Disitu ada terdapat sebidang tanah datar kira2 satu bau luasnya, sekitarnya ditanami pohon2 siong, teratur rapih dan tampaknya sudah tua usianya. Disebelah dalam rimba pohon siong itu lapat2 Yo Cie Cong dapat melihat kesebuah rumah.

Ketika ia melihat kebawah, dilihatnya dua titik hitam dengan cepatnya melesat se-olah2 dua butir peluru yang ditembakan dari bawah. Yo Cie Cong tahu bahwa dua titik hitam itu adalah orang2 yang menyerang padanya. Hatinya diam-diam merasa geli.

setelah mengawasi keadaannya disekitarnya sejenak. la lantas melanjutkan lagi gerakannya menuju rumah tersebut.

"Siapa berani menginjak puncak gunung Pit-koan-hong ini sembarangan? sungguh besar nyalimu" demikianlah ia mendengar satu suara bentakan-

Suara itu demikian halus dan merdu kedengarannya, tetapi belum lagi suara itu berhenti, tahu2 dari dalam rumah tersebut melompat keluar dua bayangan orang menghadang dihadapan Yo Cie Cong.

selanjutnya, lantas terdengar dua arang itu berseru kaget "Eh "

Begitu melihat, Yo Cie Cong sudah segera mengenali bahwa kedua orang tersebut adalah dua orang perempuan jelek yang dulu pernah ia ketemukan dan menguntit secara diam2, bahkan pernah juga bertempur dengan mereka, sampai akhirnya ia melepaskan mereka, Melihat mereka berdua Yo Cie Cong lantas berkata sambil tersenyum^

"Nona2, apa selama ini kalian baik-baik saja? Dulu waktu aku berpisahan, aku yang rendah pernah katakan bahwa aku bisa datang sendiri mencari tempat ini. Bukankah sekarang perkataanku itu sudah terbukti?"

Dua wanita jelek itu tercengang. Lama mereka tidak dapat mengatakan apa-apa. Lama. . . lama sekali Akhirnya salah seorang diantara mereka berkata "Apa maksud tuan datang kemari?"

"Aku cuma mau berkunjung dan melihat rupanya majikanmu ?"

"Suhu belum pernah menemui orang luar dan tidak sudi menemui orang luar silahkan tuan kembali."

"Apa kalian hendak suruh aku turun gunung lagi ?" "Benar. cepatlah "

"Ha, ha. ha Dengan susah payah aku datang kemari, belum lagi bertemu dengan

majikannya aku sudah mau turun lagi. mana bisa? Tolong sampaikan pada majikan kalian kalau aku datang hendak menemui padanya. Kalau kalian tidak mau terpaksa aku pergi cari sendiri padanya."

"Hmm, Pit-koan-hong bukan tempatmu jual lagak"

"Apa? Goa macan atau sarang naga tidak ada artinya apa2 buat aku. Apa lagi cuma satu Pit- koan-hong. Kalian mau apa?"

"Apa kau perlu kami turun tangan sendiri mengusir kau baru mau berlalu dari sini ?"

"Ha, ha, ha. ha, Kepandaian kalian berdua masih ujauh dari sempurna. Tidak ada artinya

sama sekali buat aku. Kalian suruh aku turun gunung. Tidak mudah"

Kedua wanita jelek itu sangat gusar. Keduanya lalu menyerang berbareng kearah Yo Cie Cong. Yo Cie Cong diam2 mengerahkan ilmunya ‘Liang-kek Cin-goan’. menutup rapat tubuhnya.

Diwajahnya masih tetap menunujukkan roman ber-seri2. sengaja ia tidak menyingkir, juga tidak mau berkelit. Ia berlaku se-olah2 tidak tahu sama sekali adanya angin hebat yang menyambar kearahnya. Kedua wanita itu yang menyaksikan sikap Yo Cie Cong dengan jumawanya, panas hatinya.

Sambil kertak gigi mereka lalu menambah lagi kekuatannya sampai tiga bagian.

Siapa nyana angin serangan yang meluncur keluar dari tangan dua wanita jeiek itu, sebegitu lekas menyentuh tubuh Yo Cie Cong lantas lenyap tanpa bekas, musnah bagai terapung masuk dalam air laut.

Belum lenyap kagetnya mereka, suatu desiran angin dingin yang mengandung kekuatan sangat hebat menerpa badan mereka berdua. Itu adalah tenaga membaliknya serangan dua wanita jelek itu yang kini berbalik kearah mereka sendiri. Tentu saja kekuatannya menjadi dua kali lipat, karena mereka tadi menyerang dan menggabungkan kekuatan mereka.

Dua wanita jeiek itu ketakutan setengah mati. Dengan cepat mereka lompat menyingkir kedua samping.

Tetapi, meskipun gerakan mereka sudah dilakukan cukup gesit, tidak urung masih juga mereka terkena sambaran angin membaliknya Yo Cie Cong. sehingga dada mereka dirasakan sesak, Keduania seketika itu keluarkan seruan tertahan-

"Bagus, bagus Sudah berani masuk rumah orang tanpa mau mengaku salah. Sekarang kau hinakan sesukamu. Sungguh berani kau." demikian suara bentakan merdu terdengar dibelakangnya. Suaranya belum berhenti, angin kuat sudah menyambar mukanya Yo Cie Cong.

Jago Golok yang setiap waktu dirinya dilindungi oleh hawa murni dari ilmunya

‘Liang-kek Cin-goan’ menghadapi datangnya serangan tapi masih pura2 tidak tahu. Kembali suara seruan tertahan terdengar.

Ketika Yo Cie Cong menoleh kebelakang, ditempat sekitar tiga lomba k jauhnya dari padanya, kembali dilihatnya lagi dua orang perempuan jeiek yang berdiri terpaku ditempatnya dengan mata mengawasi ke arahnya tanpa berkedip. Wajahnya menyatakan keheranannya mereka, Diam2 ia merasa geli dihati.

Pikirnya: ‘Kenapa diatas puncak gunung Pit-koan-hong ini melulu orang2 jelek saja yang tinggal? Apa disini tempatnya semua orang jelek dalam dunia? Aneh, sungguh aneh?"

Dua wanita jeiek yang datang belakangan ini ternyata adalah orang2 tadi yang menyerang Yo Cie Cong sewaktu ia masih berada dekat dibawah jurang. Begitu mereka tiba diatas, mereka melihat kedua saudara seperguruan mereka sedang dibikin terpental tubuhnya karena kesambar kekuatannya Yo Cie Cong, maka segera mereka menyerang Yo Cie Cong untuk mencegah Yo Cie Cong mendesak terus saudara2 seperguruan mereka. Kekuatannya dua orang yang tergabung sudah tentu hebat. Tetapi tidak nyana, bukan saja mereka tidak berhasil melukai orang yang diserang, bahkan sebaliknya mereka sendirilah yang kena kesabat tenaga membalik dari mereka sendiri.

Empat wanita jeiek itu lantas menyatukan diri, ber-siap2 hendak menyerang Yo Cie Cong setiap waktu. salah seorang diantaranya tiba2 menanya: "Tuan datang ke Pit-koan-hong ini membawa kabar apa?"

"Tidak apa2, aku cuma mau ketemu majikanmu dan melihat rupanya."

"Kami beritahukan padamu, suhu kami tidak suka menemui orang luar. Adapun maksud suhu mengeram disini tidak lain karena tidak suka dilihat orang. Kau mengerti?" "Tapi

bagaimanapun aku harus menemukannya?"

"Tuan sungguh terlalu jumawa. Tuan tidak kenal aturan Tuan telah menghinakan kami tuan rumah, sungguh terlalu. Apa maksud tuan sebenarnya?"

Kedatangan Yo Cie Cong kepuncak gunung Pit-koan-hong ini, selain karena terdorong oleh perasaan herannya, juga karena ia bermaksud hendak mengetahui apa arti ucapan ‘Pit-koan’ yang keluar dari mulutnya Giok-bin Giam-po sesaat sebelum ia menghembuskan napasnya yang penghabisan. Perasaaa curiga dalam hatinya memaksa ia segera mengambil keputusan harus mengetahui keadaan sebenarnya. selain dari pada itu, asal "suhu” yang di-sebut2 oleh wanita jelek itu membuat ia lebih2 berhasrat ingin mengetahui semuanya. Ketika ia ditanyakan apa maksud kedatangannya yang sebenarnya kesitu, sudah tentu ia tidak mampu menjawab. oleh- karena itu, dalam keadaan terpaksa dengan apa boleh buat Yo Cie Cong tebalkan muka. Atas pertanyaan orang terakhir, bukannya ia menjawab, malah berbalik ia menanya: "Apa kalian benar2 mau merintangi aku yang hendak menemui majikan kalian?"

"Aku sudah katakan, kalau kau tidak bisa katakan apa maksud kedatanganmu yang sebenarnya, setapak saja jangan harap kau boleh bergerak dari sini" demikian salah seorang diantara mereka menjawab dengan sikapnya yang keren-

"Apa kalian hendak paksa aku turun angan terhadap kalian?"

Empat wanita itu tidak ada satu yang tidak terkejut. Dilihat dari kejadian barusan, sekalipun mereka berempat maju berbareng, rasanya juga masih tidak mampu merintangi kemauan orang.

Apa yang membuat mereka jeri dan tidak habis mengerti ialah, dengan cara bagaimana pemuda tampan dihadapan mereka ini dapat menyeberangi jurang yang demikian jauh jarak kedua tepinya dan curam lagi dalam itu? Mengapa tahu2 pemuda cakap ini sudah berada di tempat mereka?

Salah aeorang diantara. empat wanita jelek itu menanya: "Tuan siapa?" "Pemilik Golok Maut Yo Cie Cong.",

Kali ini lebih terkejut lagi mereka. Diwajahnya empat wanita jelek itu tampak menyolok sekali perasaan ketakutannya, hingga paras mereka yang memangnya sudah jelek bertambah jelek lagi. Mereka sungguh merasa heran dan tidak habis mengerti, apa sebabnya pemilik Golok Maut hingga datang ketempat mereka? serentak mereka mundur kebelakang tiga tindak. sambil mundur itu mereka berseru betbareng: "Pemilik Golok Maut"

"Tidak salah. Kalau kalian kenal gelagat, sebaiknya kalian lekas saja beritahukan pada majikan kalian-"

Empat Wanita itu semuanya membungkam Tidak ada yang berani menyahut.

Yo Cie Cong mengawasi keempat wanita jelek itu dengan sorot matanya yang tajam, kemudian dengan sekali gerakkan badan, tahu2 orangnya sudah menghilang dari hadapan mereka.

Empat wanita itu kembali berseru kaget. Ketika mereka berpaling melihat kerumah atap mereka, pemuda cakap tampan yang mengaku dirinya Pemilik Golok Maut, itu ternyata sudah berdiri didepan pintu rumah atap tersebut. cepat2 mereka lompat memburu. menyusul Yo Cie Cong.

Sesampainya mereka disana, semuanya seketika itu berdiri bagai orang kesima melihat apa yang terjadi dihadapan mata mereka.

Mereka melihat dekat pintu masuk. diatas sebuah balai bambu ada duduk suhu mereka, seorang wanita muda cantik luar biasa didepan pintu, berdiri Yo Cie Cong. Pemuda cakap tampan ini sedang berdiri kesima. saat itu mereka keduanya sedang mengadu pandangan mata. Diwajah keduanya tampak tegas perasaan ke-heran2an masing2. Apakah yang telah terjadi?

Kiranya, ketika Yo Cie Cong menggunakan ilmunya ‘Menggeser tubuh mengganti bayangan’ Cepat bagai kilat tahu2 sudah berada didekat rumah atap itu. setibanya ia di depan pintu masuk. ia segera dapat melihat sesuatu yang ganjil. Diatas balai2 bambu, duduk seorang wanita muda cantik bagai bidadari, Bukan kepalang terkejutnya Yo Cie Cong. Hampir ia menjerit. Wanita muda cantik yang sedang duduk diatas balai2 bambu itu, mirip sekali wajahnya dengan wajah Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow. sangat mirip bagai pinang dibelah dua.

"Apa orang yang sudah mati bisa hidup kembali seperti aku?" demikian jago Golok Maut menanya pada dirinya sendiri. Tetapi Giok-bin Giam-po terang sudah binasa diujung Golok Mautnya Yo Cie Cong, Mayatnya pun sudah dikubur oleh orang berkedok kain merah didalam lembah Im-bu-kok markas besarnya perkumpulan Im-mo-kao,

Apakah ia kini sedang berhadapan dengan setannya? Tidak. Waktu siang, tengah hari lagi, mana ada setan yang berani unjukkan diri.

Yo Cie Cong hamper tidak percaya matanya sendiri. Ia hamper tidak percaya bahwa apa yang dilihatnya betul adalah suatu kenyataan. ia terus. meng-ucek2 matanya. sedikitpun tidak salah Itu memang benar Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow, seketika itu bulu romanya berdiri semua.

Badannya menggigil macam orang kedinginan-

Sekalipun ia memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi, tetapi talkala menghadapi kejadian nyata dihadapannya, ia tidak bisa melakukan gerakan apa2. Ia berdiri terpaku ditempatnya. Berdiri bagai patung. ia coba menggigit jarinya sendiri sakit sama sekali ia tidak mimpi. Ia memang sedang menghadapi kenyataan yang tak dapat disangkal.

Dan. . ." Wanita Cantik yang duduk diatas balai2 bambu, begitu melihat Yo Cie Cong juga lantas kesima. Dengan mata tak berkedip mengawasi duduk bagai patung.

Ke-dua2nya berada dalam keadaan demikian, saling pandang muka berhadapan muka, mata beradu pandang, tampak jelas perasaan heran diwajah mereka masing2.

Waktu berlalu lagi. Lama. . . .lama sekali Tidak dengar ada yang memulai membuka mulut

bicara.

Empat wanita jelek yang memburu Yo Cie Cong tadi, juga semuanya pada berdiri kesima dengan mulut membisu menyaksikan kejadian itu.

Sudah sekian lamanya sang waktu berlalu, tiba2 mereka ber-lari2an kedalam lalu berdiri dikedua sisi balai2 bambu dengan mata mengawasi sebentar kearah Yo Cie Cong dan sebentar kemudian mengawasi wanita cantik yang sedang duduk di-balai2. Tidak ada jang ber-kata2.

Sunyi ... sunyi senyap Hampir setiap elahan napas orang2 dalam kamar itu maupun yang

diluar dapat terdengar nyata. sekalipun jarum jatuh disitu juga akan dapat terdengar.

Kesunyian macam itu berlangsung terus sekian lamanya. Kemudian Yo Cie Cong lebih dahulu dapat menenangkan kembali pikirannya. Ia lalu coba mengamati lagi sekali wajahnya wanita cantik itu dengan seksama. Tindakannya ini membuat ia dapatkan beberapa bagian yang tidak mirip2nya, dengan apa yang ada dari wajah Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow.

Wanita muda Cantik dihadapannya itu agaknya seperti sedang dirundung nasib malang. Alisnya berkerut, wajahnya murung, matanya sayu.

Tetapi walaupun demikian, mukanya itu masih kelihatan begitu jernih halus. tidak mirip2nya dengan muka Giok-bin Giam-po yang galak melihat meski cakap.

Kecuali perbedaan yang sedikit ini, wanita cantik diatas balai bambu itu betul mirip sekali dengan Giok-bin Giam-po. Mirip segalanya. Potongan badannya, raut mukanya, mata, hidung, mulut, tangannya yang putih halus, rambut dan lain2nya lagi sama semuanya

Tiba2 Dikelopak matanya wanita cantik itu keluar menetes butiran air mata setitik demi

setitik, bagai mutiara berjatuhan.

Yo Cie Cong menjadi semakin bingung. ia tidak habis mengerti, mengapa wanita itu menangis.

Ia tidak bisa memikirkan semua kejadian yang aneh yang ada dihadapan matanya.

Kejadian yang luar biasa. Dalam dunia ini, mana ada dua orang yang se-gala2nya mirip betul satu dengan lainnya? Yang lebih dan paling mengherankan Yo Cie Cong ialah, Giok-bin Giam-po sesaat sebelum menghembuskan napas penghabisan pernah mengatakan “Pit-koan-. Apakah yang dimaksud itu bukannya Pit-koan-hong? Mengingat lagi bahwa si Tangan geledek Ngo Yong, yang juga menganggap bahwa orang sembunyi diatas puncak gunung Pit-koan-hong adalah Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow, sungguh ia tidak habis mengerti. sungguh ia tidak habis mengerti sungguh suatu teka-teki yang sukar dipeCahkan- sungguh kejadian aneh yang luar biasa. Kejadian yang mirip khayalan, serupa dengan dongengan. Akhirnya wanita cantik diatas balai2 itulah yang mulai memecahkan suasana kesunyian disitu, ia mulai membuka mulut dengan pertanyaannya: "Anak. kau bernama apa ?"

Pertanyaan ini diucapkan dengan suara lemah-lembut, penuh rasa welas-asih, meruntuhkan hati setiap pendengarnya. sikapnya berwibawa, membuat orang sukar membantah permintaannya.

Yo Cie Cong terperanjat. Ia mengalah mundur setindak, Dalam hati ia berpikir, “Heran. Dilihat dari wajahnya, kira2 juga ia masih berusia dua puluhan tahun. Paling tinggi usianya dua tiga tahun diatasku. Kenapa ia panggil aku nak? Meski dihati ia memikir demikian, dimulut ia segera menjawab "Namaku Yo Cie Cong."

"Yo Cie Cong." "Ya."

"Anak apa maksudmu datang kemari ?"

Yo Cie Cong kelabakan, tidak dapat menjawab.

Kalau dulu ia menyelidiki puncak gunung Pit-koan-hong ini, maksudnya ialah hendak menCari tahu dirinya Glok-bin Giam-po. Tetapi sekarang Glok-bin Giam-po sudah binasa didalam tangannya, sudah tentu tidak dapat dipakai buat alasan-

Sebetulnya, kedatangannya kali ini hanya tersurung oleh perasaan herannya, berhubung mendengar ucapan terakkirnya Glok-bin Giam-po. Tapi tak dapat ia Ceritakan ini kepada wanita cantik dihadapannya.

Maka setetika itu wajahnya tampak merah, lama ia tidak bisa menjawab.

Wanita cantik itu kembali menanya "Apakah kau datang kemari hanya dengan secara kebetulan saja?"

Yo Cie Cong hanya angguk2kan kepala.

"Anak kedatanganmu ini memang tidak mempunyai maksud tertentu, kau boleh kembali menurut jalan dari mana tadi kau datang. Cuma kau harus berjanji bahwa kau tidak akan mengumumkan kepada siapapun juga apa yang telah kau saksikan hari ini."

Yo Cie Cong kembali anggukkan kepala.

Ia heran- Wanita cantik itu telah memberi kesan yang sangat baik padanya. Apakah sebabnya? Apa oleh karena kecantikannya? Atau sikapnya yang lemah-lembut? atau bahasanya yang penuh kasih sayang, welas kasih? Ia sendiri juga tidak tahu.

"Anak, aku suruh orang membikin sedikit hidangan untukmu, lalu kau boleh segera meninggalkan tempat ini."

"Tidak usah, jangan bikin berabe." jawab Yo Cie Cong. Wanita Cantik itu agak terkejut. "Kalau begitu, kau datang kemari tentu ada maksudnya," katanya.

"Boleh juga kalau dikata begitu."

"Baiklah kau ceritakan apa maksukmu itu?"

setelah bersangsi sejenak, Yo Cie Cong akhirnya berkata. "Pertama, bolehkah aku menanyakan nama mu yang mulia?"

Wanita Cantik itu mula2 terperanjat, tetapi tidak lama kemudian ia lantas menjawab dengan bersenyum sedikit,

"Aku tidak mempunyai nama, Nak. sekalipun ada, juga sudah lama ditelan oleh berlalunya masa."

Yo Cie Cong agak heran, sambil kerutkan alisnya ia berpikir, "Perkataan Giok-bin Giam-po yang terakhir itu pasti bukan tidak ada sebabnya. Apalagi wanita itu mirip sekali dengan wanita ini.

Dalam hal mana mungkin ada apa2 yang diharapkan- Kenapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk menyelidiki kecurigaan ini?" Memikir demikian, cepat2 ia menanya lagi.

"Apakah kau tahu tentang seorang wanita yang namanya Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow?" Wanita Cantik itu berubah parasnya ketika mendengar disebutnya nama Giok bin Giam-po.

Badannya gemetaran, balai yang diduduki sampai mengeluarkan suara berkerejotan. Rupanya hatinya tergoncang keras oleh pertanyaan Yo Cie Cong tadi. Ketika Yo Cie Cong melihat keadaan demikian, segera menduga bahwa dalam hal ini pasti ada apa2nya yang tidak beres. maka ia lalu menanya pula: "Kau toch tidak akan menyangkal pertanyaanku tadi, bukan?"

WANITA Cantik itu yang nampaknya sudah mulai tenang kembali, lalu balik menanya dengan suara bengis: "Kau sebenarnya siapa ?"

"Pemilik Golok Maut Yo Cit Cong, Muridnya pangcu Kam-lo-pang." "Kau menanya hal ini apa perlunya?"

"Sebab kau mirip sekali dengan dia"

"Adakah kau pernah melihat Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow?" "Bukan saja pernah melihat. Malah "

"Malah apa?"

"Dia sudah binasa diujung Golok Mautku."

Lima wanita yang berada didalam gubuk itu, ketika mendengar keterangan Yo Cie Cong, semuanya pada terperanjat.

Yo Cie Cong menduga lagi bahwa dengan keterangan itu pasti ia akan dapatkan reaksi hebat dari wanita Cantik itu, tetapi kenyataannya tidaklah demikian-

saat itu, si wanita Cantik hanya wajahnya saja yang sedikit beruhah. kemudian dongakkan kepala dan berkata sendiri seperti lakunya orang mengigau: "Kesalahan yang tidak disengaja masih dapat diampuni, tetapi dosa harus menerima hukumannya "

setelah mengucapkan perkataannya itu matanya kembali ditujukan kearahnya Yo Cie Cong.

Reaksi demikian dingin yang timbul dan dapat dilihat dari sikapnya wanita cantik itu membuat Yo Cie Cong merasa heran bukan main. Dalam hatinya diam2 ia berpikir: "Apakah wanita Cantik ini sama sekali tidak ada hubungannya dengaa Giok-bin Giam-po ?"

Belum lagi lenyap pikirannya itu, ia sudah mendengar wanita cantik itu memanggil padanya: "Anak "

Sebutan “Anak” ini yang terus2an diucapkan membuat Yo Cie Cong merasa jengah sendiri, berbareng juga merasa kurang puas, dengan segera ia memotong ucapannya si wanita Cantik,

"Bolehkah aku menanyakan usiamu?"

Wanita cantik itu mula2 tercengang kelihatannya, tapi kemudian lantas mengerti agaknya, maka ia lalu menjawab sambil ketawa hambar:

"Anak. jangan menanyakan usiaku, sudah cukup kalau aku menyebut kau Anak,"

Yo Cie Cong dengan perasaan ter-heran2 mengawasi wajah orang, didalam hatinya berpikir: "Apakah dia memiliki ilmu yang bisa membuat dirinya sendiri awet muda sehingga kelihatannya tetap seperti dara remaja? Giok-bin Giam-po juga seorang wanita yang sudah lanjut usianya, tetapi wajahnya juga seperti gadis berusia dua puluh tahunan saja. Mereka wajahnya mirip satu sama lain. Apakah didalam dunia ini ada kejadian yang begitu kebetulan? Apakah mereka memang betul bersaudara? "

Melihat Yo Cie Cong bengong membisu, wanita Cantik itu berkata lagi:

"Anak, terlalu banyak bicara tidak ada gunanya. Percaya apa tidak terserah padamu sendiri.

Masih ada pertanyaan apa lagi?"

Rupa2 pikiran tiba2 mengaduk dalam otaknya Yo Cie Cong: si Tangan geledek Ngo Yong pernah menganggap dengan pasti bahwa orang yang berdiam diatas puncak gunung ini adalah Giok-bin Giam-po.

-Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa pernah merintangi Giok-bin Giam-po turun tangan terhadap dirinya.

-orang berkedok kain merah yang sangat menyukarkan pikirannya itu, berkali2 merintangi dirinya yang hendak menuntut balas terhadap Giok-bin Giam-po.

-Bukankah Thian-san Liong- iie pernah mengatakan bahwa wajahnya sangat mirip sekali dengan Hoan Thian Hoa? Giok-bin Giam-po ketika pertama kali bertemu dengan dirinya sedikitpun tidak memperlihatkan perasaan ada mempunyai hubungan apa2 dengan dirinya.

Giok-bin Kiam-khek dengan Giok-bin Giam-po katanya pernah melahirkan seorang anak dan hilangnya anak itu tahunnya bertepatan dengan usianya sendiri.

Apakah anak itu adalah dirinya sendiri? semua apa yang telah terjadi telah berbayang didepan matanya Yo Cie Cong, Kalau semuanya itu dihubungkan satu sama lain, pokok pangkalnya agaknya bergantung diaias dirinya orang ketiga Dan orang ketiga itu, mungkin adalah wanita

cantik yang kini berada dihadapannya. Kalau dugaan itu tidak keliru, ada kemungkinan besar bahwa wanita cantik ini adalah ibu kandungnya sendiri.

Ketika Yo Cie Cong berpikir sampai disitu, hatinya berdebaran keras. Mungkin perkataannya orang berkedok kain merah itu tidak salah. hanya letak kesalahannya ialah, ia keliru melihat orangnya,

Tetapi apakah hal demikian itu bisa sampai betul2 kejadian? Apakah kejadian aneh ini benar2 akan terjadi pada dirinya sendiri?

Keanehan dan kejanggalan itu terjadi pula pada orang berkedok kain merah itu. siapakah sebetulnya orang itu? Mengapa ia mengetahui begitu jelas persoalan yang menyangkut dirinya sendiri?

Tibalah sudah saatnya bagi Yo Cie Cong untuk membuka tabir rahasia yang selama itu menyesak dadanya, memepatkan pikirannya.

Per-lahan2 ia mengulurkan tangannya pada batu Liong-kuat yang selalu dikalungi dilehernya. ia meloloskannya dan benda itu diletakkan ditelapakun tangannya. hatinya berdebaran keras, hampir saja melompat keluar, Dengan suara gemetar ia lalu menanya: "Apakah kau kenal benda ini?"

Matanya wanita Cantik itu terbelalak melihatnya. wajahnya menjadi pucat pasi seketika. Ia menegakkan duduk badannya, lalu menanya dengan suara gemetar. "Darimana kau dapatkan benda ini?"

"Sejak aku masih kecil benda ini sudah berada mengalungi leherku." "Kau Kau . , . Kau kata kau bernama Yo Cie Cong?"

"Ya. Memang sejak aku masih kanak2, sama sekali aku belum mengetahui asal-usulku sendiri, Aku tidak punya she. juga tidak nama, she dan nama yang aku pakai sekrang adalah pemberian dari suhuku."

"Kau . , , kau . . . Kau adalah . , . oooooo Tuhan Kau benar2 adalah akupunya . . .

Wanita Cantik itu berdaya upaya hendak bangun, tapi begitu balikkan badan, lantas jatuh menggelinding dari balai dan seketika itu juga lantas tidak sadarkan diri lagi.

Empat wanita jelek itu dikedua sisinya dengan serentak berseru^ "suhu" dan dengan ter-sipu2 mereka memondong lagi suhunya keatas balai2.

Kini barulah ketahuan bahwa wanita cantik itu adalah seorang yang bagian badan bawahnya sudah lumpuh, pantasan kalau ia terus duduk setengah rebahan diatas balai2nya.

Yo Cie Cong yang menyaksikan semua kejadian itu, dalam hatinya lantas mengerti duduknya perkara. Benarlah kalau begitu bahwa wanita cantik ini tentu ada ibu kandungnya sendiri.

Tetapi, sebelum persoalannya menjadi jelas betul, ia masih sedikit ragu2, Walau pun demikian hatinya sejak tadi sudah merasa tidak tenteram. Rahasia yang selama ini menyelubungi dirinya mungkin sebentar lagi akan dapat keputusannya.

Ia memandang wanita cantik yang sedang pingsan itu sejenak. lalu gerakkan tangannya. sambaran angin hebat keluar dari jari tangannya menyentuh jalan darahnya wanita cantik,

Dari mulutnya waniia Cantik itu terdengar suara elahan napas panjang, Kemudian orangnya siuman dan mencoba hendak duduk kembali.

Empat wanita jelek itu membimbing badannya sang suhu supaya dapat duduk kembali. Wanita Cantik itu dengan air mata ber-linang2 mengawasi Yo Cie Cong tanpa berkedip.

Kemudian berkata pada dirinya sendiri: "oooooh, Tuhan memang adil. Aku Phoa sian Cian sekalipun mati juga sekarang akan merasa ikhlas." Bukan main kagetnya Yo Cie Cong. Wanita itu ternyata beraama Phoa sian Cian-

Ia pernah mendengar ceritanya si Tangan Geledek Ngo Yong yang menyatakan bahwa dulu wanita yang menjadi isterinya Giok bin Kiam-kek Hoan Thian Hoa itu justru adalah Phoa sian Cian, tetapi kemudian Phoa sian Cian telah berubah menjadi Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow. Sekarang ini kalau dilihat dari kenyataan phoa sian Cian dan phoa Cit Kow, ternyata ada dua, bukannya seorang. oleh karena satu sama lain begitu miripnya, Hoan Thian Hoa sendiri sampai kena dikelabui dan terjadilah kesalah pahaman yang begitu besar. ....

Dalam peristiwa ini, entah ada terselip sebab musabab apa yang tentunya sangat ber-belit2.

Wanita cantik yang mengaku Phoa sian Cian itu, setelah mengeluarkan perkataannya pelahan2 dari dari dalam bajunya mengeluarkan sebuah batu kumala dengan kedua jari tangannya ia memperlihatkan benda itu kepada Yo Cie Cong. " Hong- kuat." seru Yo Cie Cong dan segera ia masuk kedalam rumah gubuk itu.

= = ooo ooooo ooo = =

Yo Cie Cong lari kehadapannya balai-balai itu, kemudian bertekuk lutut dihadapan wanita cantik itu sambil berseru: "lbu "

Hanya perkataan ini saja yang mampu ia keluarkan dari mulutnya, sebab saat itu tenggorokannya terasa terkancing. suaranya sesenggukan, air mata mengalir membasahi kedua

belah pipinya seperti jatuhnya air hujan.

Sejak Yo Cie Cong dilahirkan. “lbu” adalah panggilan pertama kalinya yang keluar dari mulutnya.

Empat wanita jelek itu hanya dapat menyaksikan semua kejadian itu dengan mata terbuka lebar keheranan-

Dengan tangannya, Phoa sian Cian meng-usap2 kepalanya Yo Cie Cong dengan mandi air mata,

Kejadian yang sangat mengharukan itu setelah berlangsung lagi sekian lamanya, perlahan2 keduanya mulai tenang kembali. Antara ibu dan anak itu dalam hatinya masing2 mengecapkan perasaan getir dan manis berbareng duka dan suka.

oleh karenanya, masing2 juga pada membungkam. Agaknya mereka masih belum dapat melenyapkan semua perasaan yang terpendam dalam hati mereka, Akhirnya adalah Phoa sian

Cian yang berkata kepada empat wanita jelek:

"Kalian boleh mengaso dulu. Kalian boleh bikinkan kita hidangan untuk be-ramai2 makan.” Empat wanita jelek itu menyahut berbareng, kemudian masuk kedalam.

Saat itulah Phoa sian Cian baru meng-amat2i wajah anaknya, Kemudian ia berkata dengan suara terharu: "Anakf kita toch tidak mengimpi?"

"lbu, ini adalah kejadian yang sebenarnya."

Kedua orang, anak dan ibu saling berpeluk dan menangis. Agaknya semua kedukaan, kesedihan yang terpendam dalam hati mereka selama belasan tahun itu, akan ditumplekkan

sekaligus pada saat itu juga. sampai suaranya menjadi serak. tenaganya hampir habis.

Sesudah air mata mereka dikuras kering, barulah mereka berhenti menangis. "Anak. barusan kau kata bahwa Phoa Cit Kow tetah binasa dalam tanganmu." "Ya. Dia adalah musuh perguruan anak."

"Ng. Tahukah kau siapa dia itu?" "Anak justru tidak mengerti soal ini."

"Anak. nanti ibumu akan menCeritakan kepadamu suatu kisah."

Yo Cie Cong mengetahui bahwa ibunya akan menceritakan suatu kisah yang sama sekali sangat di-harap2kan olehnya, maka lantas angguk2kan kepala sambil bersenyum kemudian ia menarik sebuah kursi bambu dan duduk dihadapannya -

Phoa sian Cian sambil pejamkan kedua matanya, diwajahnya beberapa kali tampak perasaan ragu2, Agaknya ia merasa berat akan mengisahkan kembali semua kenang2an dimasa mudanya, maka sama sekali ia baru membuka matanya. setelah memesut kering air matanya dengan lengan baju, ia lalu berkata dengan suara berat:

"Anak, sekarang ibumu akan mengisahkan semua. Kau boleh dengar dengan tenang." "Ya, ibu." "Dahulu kala, ada sepasang anak kembar wanita. Keluarganya saudara kembar wanita itu

adalah orang baik2 semuanya, serta juga terkenal dengan ilmu kepandaiannya, maka semuanya mendapat latihan ilmu silat yang bagus dan tinggi sekali. Kedua saudara kembar itu wajahnya mirip sekali satu sama lain. Kadang2 ayah bundanya sendiri juga tidak dapat membedakannya, Tetapi sifat mereka berdua sangat bertentangan. Yang lebih besar sang enci, sifatnya kejam dan ganas serta pandai menggunakan akalnya yang licik sebaliknya bagi sang adik, yang kecilan, sifatnya halus lemah lembut "

Yo Cie Cong sudah dapat menduga siapa saudara kembar yang dikatakan oleh ibunya itu, maka ia lantas berkata: "ow.."

Phoa sian Cian mengawasi anaknya sejenak. lalu berkata pular

"Kemudian- disuatu saat yang kebetulan mereka telah menemukan dua rupa benda pusaka yang ditinggalkan pada beberapa ratus tahun berselang. sang adik telah mendapatkan dua butir obat yang bisa membikin manusia tetap awet muda, sedangkan sang enci mendapatkan sejilid buku pelajaran ilmu gaib yang tidak lengkap. Dua butir obat itu yang berbentuk pil, masing2 dimakan oleh kedua saudara itu tiap orang sebutir. Tetapi kitab pelajaran ilmu gaib itu diam2 telah dipelajari oleh sang enci. Demikian masa dua puluh tahun telah berlalu. ayah bunda mereka beruntun telah meninggai dunia. Dua saudara kembar itu oleh karena sudah makan pil awet muda, wajahnya tetap cantik seperti gadis remaja. Kecantikan mereka tampak lebih dari pada sebelum mereka makan obat tersebut."

Yo Cie Cong baru sadar kini apa sebabnya mereka sampai sekarang masih kelihatan tetap muda. selagi ia hendak buka mulut, si ibu sudah lantas mencegah:

"Anak. anak jangan memotong pembicaraanku, dengarkan baik2 kisahku. Tidak lama kemudian, sang enci oleh karena sudah berhasil mempelajari seluruh isi kitab pelajaran ilmu gaib yang dapat digunakan untuk memikat hatinya lelaki, maka ia tidak betah dengan penghidupan dirumah. Ia lalu terjunkan diri dalam dunia Kang-ouw. Dalam beberapa tahun saja ia sudah membikin keruh dunia Kang-ouw. sehingga namanya sangat busuk diluaran orang2 golongan baik dari rimba persilatan telah merasa segan berurusan dengan dia. bahkan mereka semua sudah berdaya upaya hendak menyingkirkan diri dari padanya, tetapi oleh karena ia mempunyai kepandaian ilmu silat yang sangat tinggi serta banyak pula akalnya. maka orang2 rimba persilatan tidak berdaya sama sekali terhadapnya."

"Ibu, apakah dia itu Giok " Yo Cie Cong menyelak.

"Anak. kau jangan menyelak. Kemudian, sang adik juga mendengar kabar tentang perbuatan encinya itu. sebagai saudara kandungnya, ia tidak bisa tinggal peluk tangan begitu saja, maka ia juga turun dalam dunia Kang-ouw untuk mencari sang enci. ia bermaksud hendak memberi nasehat kepada sang enci supaya dia jangan lagi melakukan perbuatannya terus, supaja ia bisa insyaf, tetapi sang enci rupanya sudah sangat dalam tersesatnya, ia anggap semua nasenat adiknya sebagai sampah yang harus dibuang jauh2. sang adik terpaksa meninggalkan encinya dengan perasaan masgul. Dengan seorang diri ia kembali lagi kerumahnya. Dalam perjalanan pulangnya itulah sang adik itu berjumpa dengan seorang pemuda jago pedang yang tampan sekali. Dua muda-mudi itu mungkin sudah ditakdirkan oleh Tuhan, begitu berjumpa satu sama lain, keduanya lantas jatuh hati. maka pasangan merpati itu lantas merangkap jodohnya dan mengembara ke-mana2 untuk melewatkan hari2nya yang penuh madu cinta."

Bicara sampai disitu, wajahnya Phoa sian Cian mendadak kelihatan terang. Di mulutnya tersungging senyuman manis. setelah berdiam sejenak. la lalu berkata pula:

"Tidak lama mereka menikah, lantas melahirkan seorang anak laki2. Anak itu membawa perasaan gembira dan bahagia bagi suami istri muda itu. sang suami, si jago pedang yang tampan cakap wajahnya itu, ketika sang anak dilahirkan, sesudah merayakan hari ulang tahunnya, telah dipanggil pulang oleh suhunya untuk dilatih suatu ilmu yang sangat luar biasa. Dengan demikian, suami istri itu terpaksa berpisah dan pada saat itulah bencana yang tidak ter-duga2, tiba-tiba menimpah dirinya ibu dan anak itu "

Phoa sian Cian ketika mengisahkan sampai disitu, senyuman di wajahnya mendadak lenyap. berganti dengan perasaan sedih.

Yo Cie Cong yang mendengarkan kisah tersebut, dalam hati juga turut bersedih, Dirasakan agak susah bernapas.

"sang enci, yang sudah busuk karena kelakuannya sendiri itu, tiba-tiba

datang ketempat kediaman adiknya. sang adik yang memang sifatnya baik hati, sama sekali tidak menduga kalau encinya mengandung hati jahat terhadapnya. Kedua saudara itu berdiam selama tiga hari, kemudian sang enci tiba2 dengan tidak tahu malu meminta adiknya supaya suka menyerahkan suaminya, katanya untuk sementara waktu. Perbuatan yang ganjil dan melanggar kesopanan itu sudah tentu ditolak

dengan getas oleh adiknya. Tetapi sang adik masih belum tahu bahwa saat itu ia sudah terjebak dalam akal busuknya sang enci. Diam2 sang enci telah masukkan semacam obat racun kedalam makanan adiknya yang kemudian dimakan tanpa rasa curiga sedikitpun, maka kepandaian ilmu silat sang adik lantas lenyap semuanya dan badannya lumpuh separuh "

Diwajahnya Yo Cie Cong lantas terlintas suatu perasaan gemas, Dengan suara sedihnya ia memanggil ibunya: "lbu "

Phoa sian Cian menyahut, kemudian melanjutkan kembali kisahnya, sebagai berikut.

"sang enci yang berhati binatang itu setelah membikin celaka sang adik, rupanya masih belum merasa puas. Tetapi masih untung liangsimnya masih ada sehingga tidak sampai sang adik binasa seketika itu juga. Biar bagaimana ia masih menyayang sang adik, la lalu mengantar pulang ke kediamannya yang lama, malah ia suruh adiknya memilih empat wanita yang dianggap mempunyai kepandaian paling tinggi untuk mengawani sang adik itu Dengan demikian, maka

sang adik itu sudah kehilangan suaminya, juga kehilangan anaknya. Ia dibawa kesuatu tempat terpencil dari dunia luar disanalah dia disuruh melewatkan hari2nya yang penuh duka dan penderitaan batin yang sangat hebat. sebetulnya ia sudah ingin mati saja supaya terbebas dari siksaan bathinnya. Tetapi rupanya ia juga masih mengharap nanti sang enci kembali pada pikirannya dan memberi kesempatan padanya untuk bertemu kembali dengan suami dan anaknya. Harapan itu begitu kuat ada dalam hatinya, sehingga ia terus menantikan datangnya saat yang diharap-harapkan itu. setiap hari ia melewatkan penghidupannya dengan jalan mengajar ilmu silat keempat pelayannya dengan menggunakan mulutnya secara lisan sehingga mereka melewatkan penghidupan sampai sekian tahun lamanya."

Yo Cie Cong agaknya ada mengandung maksud tertentu, maka ia lantas menanya:

"sang adik yang dianiaya itu mengapa tidak mau menyuruh pelayannya menyampaikan kabar kepada suaminya?"

"Anak. pertanyaanmu ini benar. Pertama mereka berdua memang adalah saudara2 kembar.

Baik wajah maupun suaranya tidak mudah orang dapat membedakan. sudah tentu juga sang enci itu dapat mengelabui mata suaminya si adik. semula sang adik karena kuatir akan menimbulkan perasaan tidak senang diantara suami isteri, maka ia sama sekali tidak pernah memberitahukan kepada suaminya kalau ia itu ada mempunyai enci yang wajahnya mirip sekali dengan dia, sedangkan sang suami, yang belum lama munculnya dalam dunia Kang-ouw dan sudah lantas menikah dengan si adik, maka juga ia belum pernah berjumpa dengan wanita yang mirip wajahnya dengan isterinya, maka seandainya si adik bisa menyampaikan kabar, barangkali juga susah dipercaya. dan Kedua, sang enci itu mengajukan satu syaratpada adiknya, yaitu apabila sang adik merusak rencananya, ia akan segera membunuh anak satu2nya sebagai pembalasan.

Maka sang adik itu lebih suka korbankan dirinya karena ia hendak melindungi jiwa anaknya. Ketika sang adik itu sudah menjadi seorang bercacad, kecuali menyerah dirinya diperlakuan bagaimana saja oleh sang enci ia sudah tidak bisa berdaja sama sekali " Yo Cie Cong kembali keluarkan air mata. Ia tidak dapat menahan suara getaran hatinya, maka itu ia lantas bangkit dan berkata:

"lbu, jago pedang yang cakap tampan itu apakah bukan Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa?" "Benar. Benar dia,"

"Dan sang enci itu pasti adalah Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow, sedang sang adik tentunya ibu sendiri juga anak itu tentu aku, bukan?"

"Anak. baiklah kalau kau sudah mengerti, Kalau aku mandah menderita sampai saat ini, itu adalah karena aku masih mengharap kita bisa bertemu lagi."

Yo Cie Cong kembali mengeluarkan batu Liong- kuatnya.

"lbu, batu2 kita ini, Liong- kuat dan Hong- kuat kenapa Giok-bin Giam-po sama sekali tidak mengenalnya?"

"Ini adalah pemberian seorang padri pelancongan yang tidak dikenal. Aku, ibu dan anak, masing2 mempunyai sebuah. hanya ayahmu yang tahu."

Yo Cie Cong sekarang baru sadar. semua kejadian aneh yang dialami ternyata bahwa orang2 dunia Kang-ouw semua sudah menganggap bahwa Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow adalah ibunya Yo Cie Cong, Phoa sian Cian-

"Ibu, tahukah ibu apa khasiatnya batu Hong- kuat dan Liong- kuat ini?" "Memang ini aku tidak tahu."

"Anak dulu dengar suhu pernah cerita bahwa Hong- kuat dan Liong- kuat ini apabila dirangkap menjadi satu, dapat digunakan untuk menyembuhkan segala sakit2 racun. Barangkali racun jahat yang mengeram dalam badan ibu "

"Anak. mungkin sudah tidak ada gunanya lagi." "Tapi, kita toch boleh Coba2 saja bukan?"

"Anak. ini nanti bisa kita bicarakan lagi. selama kau berkelana didunia Kang-ouw, apakah kau pernah dengar kabar tentang ayahmu?"

"Ibu, biarlah anak juga nanti akan ceritakan suatu kisah" “Baiklah, cepat kau tuturkan-"

Yo-Cie Cong segera juga menceritakan semua apa yang telah terjadi atas dirinya, sehingga membuat sang ibu merasa kaget bercampur girang, tetapi juga merasa sedih. segala rupa perasaan bercampur aduk dalam hatinya. "Kau harus berdaya mencari ayahmu."

"Aku bisa. ibu, apa kau pernah menduga siapakah orang berkedok kain merah itu?"

Tentang ini, menurut ceritamu tadi. orang berkedok kain merah itu memang benar sangat mencurigakan, Karena tahu dengan jelas asal usulmu, bahkan dengan begitu keras merintangi kau turun tangan terhadap Phoa Cit Kow. Apa mungkin- . . ,.Anak cuma satu Cara, kau harus membuka kedoknya."

Pada saat itu empat Wanita jelek itu sudah menyuguhkan hidangan dan minuman yang lalu diletakan diatas balai2 dimana wanita cantik itu duduk.

"Anak. mereka berempat ini meski saja murid. tetapi sebetulnya hubungan

kita sudah seperti saudara sendiri selama belasan tahun, adalah mereka yang terus melayani ibumu, maka kau harus memberi hormat pada mereka dan seharusnya juga kau bahasakan mereka itu “Kow-kow” (bibi)."

Empat wanita itu menyahut serentak: "sudah, cukup dengan sebutan “suci” saja," Yo Cie Cong lantas bangkit berdiri, lalu menyoja memberi hormat pada mereka satu demi satu, kemudian berkata:

"Kow-kow sekalian, disini Yo Cie Cong memberi hormat pada kalian,"

Empat wanita jelek itu dengan ter-sipu2 membalas hormatnya, masing2 lantas merobah wajahnya dan saat itu terlihatlah wajah empat wanita cantik yang usianya kira2 tiga puluh

tahunan.

Yo Cie Cong seketika itu lantas berdiri menjublek. Pikirnya: "oooo. Kiranya mereka memakai kedok kulit," Sehabis bersantap. hari sudah mulai gelap. Dalam gubuk kecil itu, Cuma diperlengkapi perabot yang sederhana, lampu pelitanya juga kelihatan guram sinarnya. Ibu dan anak yang berpisah sudah sekian tahun lamanya, mengobrol sampai tengah malam, baru masuk tidur.

Esok paginya kembali dilewatkan sambil mengobrol. Yo Cie Cong juga menceritakan bagaimana dari dirinya si Tangan Geledek Ngo Yong, ia telah dapat tahu sedikit tentang dirinya.

Itu adalah ketika Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow belum lama setelah menggantikan kedudukan adiknya. ialah Phoa sian Cian. Giok-bin Kiam-khek Hoa Thian Hoa juga kembali dari tempat perguruannya. Tapi ia telah dapatkan bahwa isterinya itu sudah berubah, dari sifatnya yang lemah lembut mendadak berubah menjadi genit centil dan berandalan. Hoa Thian Hoa kecuali merasa heran dan berduka, tidak dapat berbuat lain-

Penghidupan demikian berlangsung hampir setengah tahun lamanya. Giok bin Giam-po ternyata sudah tinggalkan suami dan anaknya, sering pergi meninggalkan rumah. Hoan Thian Hoa sudah tidak bisa menahan sabar lagi akhirnya ketika Giok-bin Giam-po tidak berada didalam rumah, lantas kabur dengan membawa anaknya yang masih orok. kemudian, ia baru tahu bahwa isterinya itu ternyata adalah Giok-bin Giam-po yang namanya sudah ternoda dalam kalangan Kang-ouw, sedang seorang petani dimana ia titipkan anaknya juga sudah terbakar rumahnya, entah sudah pindah kemana.

Dengan demikian, maka anak orok itu, yang menurut ibunya dinamakan Hoan sin Cie, juga turut hilang. Hoan Thian Hoa sendiri juga lantas lenyap dari dunia Kang-ouw.

Yo Cie Cong, yang sekarang sudah tahu bahwa sendiri sebenarnya adalah Hoan

sin Cie, setelah menceritakan kisahnya itu, sang ibu yang mendengarkan cuma bisa menghelah napas sambil geleng2kan kepalanya

Semua peristiwa yang telah terjadi kepada mereka, sekarang kecuali mereka ibu dan anak. sekalipun Hoan Thian Hoa sendiri, masih belum ada seorang yang tahu.

Lama setelah mereka mengobrol. Hoan sin Cie nama (Yo Cie Cong selanjutnya) lalu berkata kepada ibunya.

"lbu mari kita coba sepasang batu Liong- kuat dan Hong- kuat untuk menyembuhkan racun dibadan ibu, baikkah?"

Phoan sian Cian meski masih merasa agak sangsi, tapi ia tidak mau mengecewakan pengharapan anaknya, maka terpaksa anggukkan kepala seraja berkata.

"Baiklah, anak, kau boleh coba" sehabis berkata, ia lalu menyerahkan batu Hong-kuatnya kepada anaknya.

Hoan sin Cie mengeluarkan batu Liong-kuatnya, yang lantas dirangkapkan menjadi

satu, seketika itu terjadilah suatu hal yang sangat mujijat. Bau harum luar biasa tiba2 keluar dari dua batu itu.

Hoan sin Cie dengan tangan kanan menggenggam sepasang batu mujijat itu, kemudian menggunakan ilmu kekuatannya ‘Liang-kek Cin-goan’, ia salurkan kedalam batunya.

sebentar kemudian, bau harum semakin keras. Uap warna hijau yang keluar dari sepasang batu itu juga menembus keluar dari tangannya Hoan sin Cie.

Ia tahu bahwa sepasang batu mujijat itu bisa2 digunakan untuk memunahkan segala racun, tapi bagaimana cara menggunakannya, ia sendiri juga tidak tahu. Dalam hati kecilnya menganggap bahwa ilmunya Liang-kek Cian-goan pernah dipakai untuk menyembuhkan racun dibadannya Ut-tie Kheng, jikalau digunakan dengan bantuannya Liong- hong Cin-kuat, mungkin lebih besar faedahnya. Dengan caranya main seruduk itu, tidak tahunya malah benar.

Phoa sian Cian sejak dapat mencium bau harum, ia rasakan seperti terus meresap kedalam ulu hatinya, dan sekujur badan dirasakan segar. Harapan mulai timbul pada hatinya, jika benar badannya yang sudah lumpuh separuh itu bisa disembuhkan ini benar2 merupakan suatu kejadian yang sangat mujijat. Hoan sin Cie yang dalam dirinya sudah mempunyai kekuatan tenaga dalam begitu hebat, digunakan untuk membantu bekerjanya batu mujijat itu, sudah tentu makin cepat mendatangkan hasil.

Sebentar saja bau harum sudah memenuhi ruangan gubuk yang tidak seberapa luas itu, sedang uap warna hijau, nampak semakin tebal sehingga merupakan benda semacam bola sebesar tiga kaki.

Hoan sin Cie duduk bersila dipinggir bale2, sepasang batu digunakan untuk mengobati bagian bawah badan ibunya yang telah lumpuh. la lakukan begitu dengan sungguh2, sebentar saja, badannya sendiri juga sudah diliputi oleh uap hijau.

Phoa sian Cian merasa seperti ada hawa dingin yang masuk kedalam badannya, kemudian menimbulkan rasa gatal yang sangat hebat. Badan bagian bawah yang tadinya sudah mati dan hilang daya rasanya, kini mendadak timbul perasaan, ini ada suatu bukti bahwa sepasang batu mujijat itu sudah mengunjukkan khasiatnya. Kegirangannya Phoa san Cian ini sesungguhnya seperti seorang yang mati hidup kembali, kejadian yang tadinya belum pernah diharapkan kini telah menjadi suatu kenyataan,

Anaknya yang sudah hilang telah diketemukan kembali Penyakitnya yang diderita belasan

tahun lamanya juga sudah bisa disembuhkan-Bagaimana ia tidak girang ?

Setengah jam kemudian, Hoan sin Cie sekujur badannya sudah bermandi keringat. sedang phoa sian Cian dalam badannya merasa ada kekuatan lweekang yang menyalurkan hawa dingin danpanas bergantian, menyusuri sekujur badannya. Jalannya makin lama makin kencang, badan bagian bawah yang semula sudah lumpuh, juga sudah dirasakan pulih kembali seperti sediakala. Karena girangnya sampai ia mengucurkan air mata.

Ia tahu bahwa racun dalam badannya sudah lenyap. anaknya sedang menggunakan kekuatan lweekangnya untuk memulihkan tenaga kekuatannya dulu2 yang sudah lama musnah,

Maka ia lantas singkirkan semua pikiran, lalu pusatkan semua perhatiannya, dengan kekuatan tangannya yang per-lahan2 sudah mulai pulih kembali, ia berdaya untuk dikumpulkan dengan hawa panas sehingga menyusuri sekujur badannya.

Kembali setengah jam telah berlalu, Wajahnya Hoan sin Cie pucat pasi tidak ada darahnya, sebaliknya Phoa san Cian kelihatan segar dan semangat, dibanding pada sebelumnya, se-olah2 bumi dengan langit perbedaannya.

Selesai menjalankan tugasnya, Hoan sin Cie lantas bersemedi untuk memulihkan kekuatannya.

Dengan penuh cinta kasih Phoa san Cian mengawasi anaknya, ia merasa bangga dan puas mempunyai anak seperti Hoan sin Cie.

Berkat penemuannya berbagai kemujijatan, Hoan sin Cie hanya dalam waktu tidak lama sudah berhasil memulihkan seluruh kekuatannya. Maka ia turun dari bale2. Dengan air mata ber-linang2 phoa sian Cian berkata padanya "Anak. ibumu bikin susah kau saja"

"Ibu, kau sekarang rasakan bagaimana?"

"Racunnya sudah lenyap seluruhnya, kekuatan tenagaku juga sudah pulih kembali."

sehabis berkata ia turun meninggalkan bale2nya, didalam ruangan itu ia berputaran beberapa kali.

Sejak ia dipaksa minum racun oleh encinya sendiri, Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow, kekuatan dan kepandaiannya ilmu silat telah musnah seluruhnya, sedang badan bagian bawah menjadi lumpuh. selama belasan tahun ia terus berada diatas bale2 bambunya.

Suaminya dikangkangi, anaknya di rampas, sedang ia sendiri menjadi seorang bercacad. Beberapa kali ia sudah ingin mati agar terbebas dari penderitaan lahir dan bathin, tapi suatu pengaruh yang tidak kelihatan, agaknya mengkisiki padanya, kau harus tahan uji, nanti akan timbul suatu kemujizatan atas dirimu

Dengan demikian, maka ia tahan terus segala penderitaannya, sehingga sekarang berjumpa kembali dengan anaknya. Diatas puncak gunung Pit-koan-hong, Hoan sin Cie tinggal satu bulan lamanya, sebab masih ada beberapa soal yang harus diselesaikan, ia lalu minta ijin kepada ibunya untuk turun gunung.