Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 21

Jilid 21

Ketika serangannya Yo Cie Cong tadi tidak mengenakan sasarannya, diam2 juga merasa terkejut, Dengan cepat lalu ia mengeluarkan ilmu ‘Menggeser tubuh mengganti bayangan2nya’. Gerakannya ini hampir bersamaan waktunya dengan waktu si iblis Rambut Merah mengeluarkan serangannya.

Sesungguhnya tidaklah kecewa si iblis Rambut merah menjadi pemimpin dari suatu perkumpulan besar dan tercatat sebagai musuh Kam-lo-pang nomor satu, Sesaat ketika badan lawannya melejit dan lenjap dari depan matanya, segera ia menarik kembali serangan tangannya dan mundur satu tombak. Dengan demikian sehingga keduanya lalu berdiri berhadapan kembali dalam jarak tiga tombak.

Yo Cie Cong yang sudah dipenuhi hawa napsu hendak membunuh, sedikitpun tidak mau berhenti mengaso. cepat bagaikan kilat badannya sudah bergerak maju lagi.

SERANGAN yang dilancarkan kali ini sudah menggunakan gerakan dari jurus kedua yang dinamakan Lip-ciang To liong dari ouw-bok Sin- kang.

Tipu serangan itu tampaknya sangat aneh dan ganjil yang tidak ada tandingannya didalam dunia rimba persilatan- Iblis Rambut Merah melongo menyaksikan lawannya ini menggunakan tipu serangan yang sangat ganjil dan belum pernah dilihatnya selama hidupnya. Serangan tersebut hampir mengancam seluruh bagian terpenting dari anggota badannya. Tampaknya serangan itu untuk dihindarkan dengan tangkisan bagaimanapun juga rasanya sukar sekali, maka seketika itu juga semangatnya lantas terbang.

Dalam gugupnya terpaksa ia menggunakan ilmunya yang dinamakan ‘Naga terbang kelangit, badannya melesat tinggi keatas, ditengah udara badannya berputaran, demikian barulah dapat ia terhindar dari serangan lawannya yang mematikan. Namun tidak luput sekujur badannya sudah bermandikan keringat dingin.

Beruntun tiga kali serangan sudah dilancarkan oleh Yo Cie Cong tetapi ternyata masih belum berhasil menundukkan lawannya maka hatinya sudah semakin gemas. Kali ini masih tetap menggunakan serangan Lip-ciang To- liong.

Si iblis Rambut Merah cho Ngo Teng, yang masih belum dapat kesempatan memperbaiki kedudukannya, kembali merasakan datangnya serangan hebat-

iblis yang sudah pernah mengganas dan malang melintang didalam kalangan Kang-ouw selama beberapa puluh tahun, baru hari inilah untuk pertama kalinya menemukan lawan demikian tangguhnya, juga merasakan pengalaman yang begitu pahit, maka timbullah pikiran buasnya.

Kedua tangannya lantas diputar cepat, dengan ilmu silatnya ‘Menutup langit dan matahari’ menutup rapat seluruh bagian terpenting pada tubuhnya, kedua kaki melakukan serangan dengan tendangan beruntun, cepat laksana titiran.

Jikalau Yo Cie Cong berani maju secara keras, tentulah ia akan mengalami tendangan kakinya iblis itu yang dapat membinasakan. Tetapi kakinya si iblis sendiri juga seolah2 diberikan pada sang lawan.

Menimbang akan untung ruginya, terpaksa Yo Cie Cong merubah siasat bertempurnya. Dengan cara menyerang lantas hendak menunggu lawannya.

Si iblis Rambut Merah sama sekali tidak pernah menyangka kalau sang lawan yang masih muda itu dapat merubah siasatnya begitu cepat ia hanya dapat merasakan angin kuat sudah menggempur dirinya dan tipu silat ‘Menutup langit dan matahari’ tadi ternyata tidak lagi berhasil menahan serangan sang lawan.

Selagi si iblis hendak lompat menyingkirkan diri dari bahaya sudah terlamtat, sudah kasep. Setelah terdengar suara ‘Gedebuk’ yang amat keras, kedua tangannya dirasakan sakit sekali se-

akan2 mau patah. Dadanya sudah terkena telak serangan tangan Yo Cie Cong. se-olah2 digempur oleh barang berat ribuan kati, seketika itu ia berseru tertahan badannya juga mundur lima langkah.

Yo Cie Cong yang sudah bertekad bulat hendak mengambil jiwa musuh besarnya ini, sudah tentu tidak mau memberi kesempatan bernapas pada si iblis tua. Tangannya dengan cepat sudah digerakan lagi, suatu kekuatan tenaga dalam yang maha dahsyat meluncur keluar dari tangannya. Dengan kekuatan ini ia mau menerkam dirinya iblis Rambut Merah. Tangan kanannya pun tidak tinggal diam, masuk dibalik baju dan keluar lagi dengan Golok Maut.

Si iblis Rambut Merah yang menyaksikan keadaan demikian ternyata sama sekali tidak gugup.

Ia memutar kedua tangannya hendak mengelakkan kekuatan tenaga Yo Cie Cong yang mau menekan dirinya kemudian ia berkata dengan suara serem:

"Setan cilik Aku mau lihat kau masih bisa lari kemana?"

Baru saja iblis Rambut Merah itu menutup perkataannya, Yo Cie Cong merasakan ada serangan dari belakangnya maka dengan cepat sudah menggeser tubuhnya kekanan sampai delapan kaki jauhnya, kemudian balikkan badan. seketika itu ia kaget seperti disambar geledek. Badannya sampai tergetar Giok-bin Giam-po Phoa cit Kouw dan si siluman Tengkorak Lui Bok Thong kedua-duanya tampak berdiri sejauh dua tombak dibelakang bekas tempat ia berdiri tadi.

Rasa perih hatinya Yo Cie Cong saat itu benar2 jauh lebih hebat daripada akan menerima kematian

Tiga iblis tangguh yang berdiri dihadapannya, semua merupakan musuh2 kuat perguruannya.

Tidak pernah ia menyangka kalau mereka bertiga bisa bergandengan tangan bekerja sama.

Dua orang diantara ketiganya saja, masih belum menjadi soal baginya. Tetapi dengan adanya Giok-bin Giam-po juga disitu yang mungkin adalah ibu kandungnya sendiri, baginya benar2 merupakan suatu duri dimata, sukar rasanya untuk ia melaksanakan usahanya menyingkirkan musuh2 perguruannya.

Perkataan wanita baju merah berkerudung tempo hari itu se-olah2 masih berkumandang ditelinga...

Dengan sorot matanya yang sayu, Yo Cie Cong menatap wajahnya Giok-bin Giam-po. Tetapi apa yang ia dapatkan dari wajah yang masih ayu itu, ternyata hanyalah rasa perasaan permusuhan, kebencian dan kebuasan

Malaikat itu, hatinya seperti berteriak: “Dia bukan ibumu Bukan, bukan itu hanya kesalahannya itu orang berkedok kain merah yang sudah keliru dalam anggapannya sendiri. Dia hanya Giok-bin Giam po. Dia harus binasa diujung Golok Maut.”

Belum lagi hilang lamunannya, ketiga iblis itu sudah maju kehadapannya mengambil sikap mengurung.

Tetapi lain pikiran saat itu timbul dalam otaknya Yo Cie Cong. seandainya wanita ini benar2 adalah ibunya dan ia sekarang akan membunuhnya, betapalah sakit hatinya, akan jadi manusia macam apakah dia? Betapapun besar dosanya seorang ibu, di dalam dunia ini tidak ada anak yang tega membunuh mati ibunya sendiri

Rasa pedih yang menjelubungi hatinya membuat wajahnya Yo Cie Cong beberapa kali berubah.

Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow yang usianya sudah lanjut, wajahnya masih tetap cantik seperti gadis jelita.Begitupula bentuk tubuhnya, langsing montok menggiurkan setiap hati kaum pria. semua gerak-gerik dan senyumnya cukup menawan hati setiap orang.

Saat itu ia gerakkan badannya, matanya mengerling kesetiap orang yang ada disampingnya. jari tangan kanannya yang lancip. dengan sangat luwes coba membereskan rambutnya riap2an tertiup angin, setelah itu kemudian ia membuka mulut dan perdengarkan suaranya yang merdu merayu:

"Bocah, sekali lagi kutanyakan padamu. Bagaimana sebetulnya dengan Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa?"

Yo Cie Cong yang pikirannya sudas ruwet dan kalut menjawab gemas. "Sudah binasa"

"Apa benar ?"

"Percaya atau tidak terserah padamu"

Wajahnya Giok-bin Giam-po terlihat muram saat itu,

Si siluman Tengkorak Lui Bok Thong lantas perdengarkan suara ketawanya aneh, kemudian berkata dengan suara ketus.

"Setan cilik. Apa sepotong kayu ouw-bok Po-lok itu masih ada dibadanmu?"

sebenarnya memang iblis ini masih tahu yang dibadannya Yo Cie Cong sendiri masih ada sepotoag kayu yang lainnya, malah sekarang ia sudah berhasil memahami seluruh isinya yang tentera dalam dua potongan kayu pusaka itu.

Yo Cie Cong lantas menjawab sambil tepok2 pinggangnya, "Ada disini Kau mau apa?"

"Lekas serahkan padaku supaya aku dapat memberikan kematian secara sempurna padamu." "Ouw-bok Po-lok bagimu sudah tidak ada gunanya "

Siluman Tengkorak yang saat itu belum mengerti apa maksud perkataan Yo Cie Cong, lantas menanya:

"Kenapa?"

Sambil delikkan matanya, Yo Cie Cong menjawab dingin:

"Sebab kau cuma bisa hidup sampai sekarang ini saja Kau sudah tidak ada waktu lagi untuk memahami isinya "

"Ha.. setan cilik Nanti kuremukkan tulang2mu” sehabis keluarkan perkataannya, iapun menyerang dengan tiba2.

Sambil ketawa dingin Yo Cie Cong angkat tangannya menyambuti serangan lawan.

Si iblis Rambut Merah, berbareng pada saat itu, juga mengeluarkan serangannya. sambil berkelit Yo Cie Cong menyambuti serangan dari dua jurusan itu dengan dua belah tangannya.

Setelah tiga serangan tersebut saling beradu, ke-tiga2nya kelihatan pada ter-huyung2 badannya.

Yo Cie Cong yang sudah ingin cepat tahu siapa sebetulnya Giok-bin Giam-po itu, setelah melancarkan serangannya tadi, mendapat kenyataan bahwa lawannya tidak turun tangan lagi menyerang padanya, maka juga ia tidak mau menyerang lagi. dengan cepat ia mengeluarkan batu Liong- kuat yang dikalungkan didepan dadanya. Batu itu sengaja digenggamnya dalam tangannya se-akan2 sengaja dipertontonkan pada Giok-bio Giam-po.

Dengan hati berdebaran ia menantikan reaksinya iblis wanita itu. se-olah2 seorang persakitan yang menantikan vonis terakhir, demikianlah dapat dikatakan keadaan Yo Cie Cong waktu itu.

Jikalau Giok-bin Giam-po mengenali batu Lioag-kuat itu, kalau ia dapat juga mengeluarkan biji Hong-kuatnya, tidak usahlah disangsikan lagi kalau wanita itu benar2 adalah ibu kandungnya sendiri Kalau betul demikian terjadinya, maka ludeslah sudah segala pengharapan hidupnya.

Tetapi, jikalau wanita itu tidak mengenal batu Liong- kuat itu, apa yang diduga oleh wanita berkerudung itu, pastilah benar semuanya

Diam-diam ia juga turut berdoa kepada yang Maha Esa. Ia mengharapkan sangat jawaban seperti apa yang diduga oleh si wanita berkerudung.

Sekujur badannya dirasakan menggigil, keringat dingin mengucur deras. wajahnya yang tadi cakap. berubah menjadi pucat ketika itu.

Perubahan serupa itu, dimatanya ketiga iblis itu telah menimbulkan rasa takut dan dugaan yang rupa2. Mereka mengira bahwa anak muda itu hendak mengeluarkan ilmu silatnya yang lebih aneh lagi, maka semuanya pada bersiap sedia untuk menantikan segala kemungkinan, sebab melihat kepandaian dan kekuatan tenaga dalam anak muda itu membuat mereka harus selalu bersiap siaga. Akan tetapi, kenyataannya adalah diluar dugaan mereka semua.

Yo Cie Cong dengan keberaniannya bagaikan seorang yang sedang menuju ke- medan perang untuk menunaikan tugasnya, tangan kanannya diangkat perlahan2, kemudian ia pentang jari tangannya, hingga batu ‘Liong-kuat’ yang agak berkilauan itu bisa tertampak dengan nyata, ialah diunjukkan kepada Giok-bin Giam-po, apakah iblis wanita itu mengenali batu itu atau tidak?

Pada saat itu, hatinya berdebar keras, perasaan tegang mempengaruhi seluruh pikirannya, dengan tanpa berkesiap ia memandang wajahnya Giok-bin Giam-po, se-olah2 ingin dari wajah yang ayu itu mendapatkan jawabannya.

Beberapa detik telah berlalu, dan jawaban yang ia dapat dari sikapnya Giok-bin Giam-po, telah membuat ia kegirangan setengah mati.

Sebab wanita genit itu ketika mendapat lihat batu ‘Liong-kuat’ ditangannya Yo Cie Cong, karena tidak mengerti apa maksudnya anak muda itu mengunjukan batu itu,

Dikiranya ada mengandung tujuan tertentu, maka kecuali mengunjukan perasaan bingung seperti juga halnya dengan kedua iblis tua yang lainnya, sedikitpun tidak mengunjukan perobahan sikap seperti seorang yang telah melihat barang kenang2annya. ini ada suatu bukti yang nyata bahwa wanita genit itu benar-benar tidak mempunyai sangkutan apa dengan dirinya,

Giok-bin Giam-po memang benar tidak tahu apa maksudnya Yo Cie Cong berbuat demikian, maka lalu majukan pertanyaan: "Bocah, kau hendak bermain sandiwara apa lagi?"

Pertanyaan ini berarti suatu pengakuan bahwa wanita genit ini sama sekali tidak kenal benda apa yang berada didalam tangannya Yo Cie Cong.

Kegirangannya Yo Cie Cong pada saat itu, tidak dapat dilukiskan dengan pena. Baginya, ini ada merupakan suatu keajaiban. Apa yang ditakuti dan dikuatirkan, kini telah lenyap semuanya, Giok- bin Giam-po bukan ibunya, ini sudah pasti, dengan demikian maka dirinya juga tidak ada hubungannya dengan Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa.

Tapi disamping perasaan kegirangan, ia juga mempunyai sedikit rasa kecewa, sebab asal-usul dirinya kembali merupakan suatu teka-teki yang belum terjawab.

Yo Cie Cong setelah mendengar pertanyaan Giok-bin Giam-po, dengan tenang masukan kembali ‘Liong-kuat’nya dibalik dada bajunya, kemudian dengan paras berubah ia menyahut: "Aku menghendaki jiwanya kalian bertiga -

Tiga iblis pada terkejut.

Iblis Rambut merah cho Ngo Teng, dengan matanya beringas, setelah memandang wajahnya Yo Cie Cong sejenak lalu berkata: "setan cilik, lebih baik kau serahkan dirimu secara baik, mungkin kami bisa memberikan kematian yang sempurna bagi dirimu"

Yo Cie Cong pada saat itu sudah lenyap semua perasaan yang mengganggu pikirannya, maka semangatnya bangun kembali napsunya hendak menuntut balas dendam juga semakin berkobar. ia dongakan kepalanya dan tertawa ber-gelak2, seolah-olah hendak melampiaskan semua kebencian dan kemendongkolan dalam hatinya dalam cara demikian.

Perbuatan Yo Cie Cong itu benar2 membuat keder hatinya tiga iblis yang sudah malang melintang didunia Kang-ouw.

Lama sekali, ia baru hentikan ketawanya, kemudian dengan nada suara yang sangat dingin ketus berkata kepada mereka:

"Kalian bertiga lebih baik maju berbareng, supaya kalian nanti kalau mati juga tidak kesepian, satu sama lain bisa berkawan untuk menemui Giam-lo-ong"

Ucapan yang sangat jumawa itu, telah membuat merah wajah tiga iblis itu. seorang anak muda yang usianya belum cukup 20 tahun, ternyata sudah berani keluarkan perkataan begitu sombong, menantang tiga kawanan iblis yang sudah terkenal kuat dan keganasannya, untuk mengeroyok dirinya, ini benar2 merupakan suatu kejadian yang sangat langka didalam rimba persilatan- .

Tapi ketiga iblis tua itu juga mengakui kekuatan diri masing2, jika bertanding satu persatu yang mampu menandingi Yo Cie Cong. Maka sekalipun Yo Cie Cong tidak menantang demikian, mereka barang kali juga akan berbuat demikian

Pada saat itu, anak buahnya Im-mo-kao. yang sudah pada binasa dan terluka, lima diantaranya, ialah si Pedang Berdarah Kong jie si Garuda sakti suma chiu dan tiga laki2 pertengahan umur, nampak bangkit berdiri dari tumpukan mayat2, dengan badan sempoyongan coba menyingkir dari tumpukan bangkai kawannya.

Mareka berlima merupakan orang2 yang masih hidup diantara beberapa puluh anak buahnya Im-mo-kao, perasaan takut masih belum lenyap dari wajah mereka.

Iblis Rambut merah cbo Ngo Teng lalu ulapkan tangannya kepada mereka seraya berkata: "Kamu pulang dulu kepusat merawat luka-lukamu "

Mereka berlima se-olah2 mendapat pengampunan besar, setelah mengucapkan terima kasih, lantas meninggalkan medan pertempuran.

Setelah berlalu, ketiga kawanan iblis itu lalu memberi isyarat satu sama lain. Giok bin Giam-po lalu bergerak lebih dulu, ia menerjang dirinya Yo Cie Cong dan melakukan serangan hehat. Kepandaian dan kekuaian iblis wanita ini, diantara kawanan iblis itu terhitung yang paling kuat, maka serangannya yang dilancarkan secara mendadak itu, seolah-olah gelombang air laut yang menggulung.

Yo Cie Cong sudah bertekad hendak menghabiskan jiwanya iblis wanita itu lebih dulu. maka ia juga keluarkan tenaga sepenuhnya untuk menyambuti serangan tersebut.

Setelah kekuatan kedua pihak saling beradu, Giok-bin Giam-po wajahnya nampak pucat pasi, badannya mundur dua tindak. sedang Yo Cie Cong hanya tergoncang sedikit badannya.

Belum Yo Cie Cong mendapat kesempatan untuk bernapas, iblis Rambut Merah cho Ngo Teng sudah menyerbu dengan serangannya yang sangat hebat.

Yo Cie Cong kerahkan seluruh kekuatannya, dengan ilmnnya Kan-goan cin-cao yang ia kerahkan sampai 10 bagian penuh ia menyambuti serangan si rambut merah.

Tatkala suara menggelegar terdengar karena beradunya kekuatan kedua fihak itu, badannya iblis Rambut Merah sudah terpental mundur tiga tindak, baru bisa tancap kakinya. sedang Yo Cie Cong yang masih belum menarik kembali serangannya, sudah lantas diserang oleh siluman Tengkorak Lui Bok Thong.

Yo Cie Cong dengan mata beringas, cepat balikkan badannya dan mengirim satu serangan hebat. Hampir berbarengan pada saat itu, kedua iblis lainnya sudah menyerang dari belakangnya.

Ketiga iblis itu dengan bergandengan tangan mengeroyok satu anak muda yang belum lama muncul didunia Kang-ouw. Dengan kedudukan dan nama mereka dikalangan Kang-ouw sebetulnya ada merupakan suatu perbuatan yang sangat memalukan bagi dunia rimba persilatan. Tapi tujuan mereka ialah hendak menyingkirkan jiwanya Yo Cie Cong, yang didalam mata mereka bukan saja merupakan seorang yang sangat berbahaya, tapi juga mengancam kedudukan mereka semua.

Maka mereka telah turun tangan tanpa mengenal kesihan sama sekali.

Tidak kecevva Yo Cie Cong sebagai satu jago yang sangat dimalui, meskipun sekaligus harus melawan ketiga musuh2nya yang sangat tangguh, tapi sedikitpun tidak merasa takut atau keder.

Setelah mengirim satu serangan kepada dirinya Siluman Tengkorak Lui Bok Thong, karena mengetahui belakang dirinya terancam oleh kedua musuhnya yang lain, maka ia enjot tubuhnya melesat tinggi, dengan ilmunya mengentengi tubuh yang luar biasa ia terbang mengikuti angin serangan dari kedua musuhnya tadi.

Siluman Tengkorak Lui Bong Thong yang terkena serangan Yo Cie Cong dengan telak. badannya lantas mundur sempoyongan. Yo Cie Cong sendiri pada saat itu sudah melayang turun dari udara. semua gerakan Yo Cie Cong tadi dilakukan demikian gesit dan cepatnya, sehingga orang2 kuat seperti tiga iblis itu juga merasa kagum dan ter-heran2.

Sejenak setelah mereka terpesona terhadap gerakan Yo Cie Cong, setelah dirinya Yo Cie Cong sudah turun lagi ketanah, lantas mengirim serangannya lagi yang lebih dahsyat. Hingga sebentar kemudian terdengar suara gemuruh yang memekakan telinga, angin yang meluncur keluar dari serangan tangan tiga iblis itu membuat tanah dan batu pada berterbangan-

Yo Cie Cong dengan kekuatan tenaganya yang melebihi manusia biasa, dengan sangat berani menyambuti serangan tersebut.

Setelah beberapa kali mengadu kekuatan, Yo Cie Cong baru merasakan kalau keadaan agak tidak beres. Kawan iblis itu dengan kekuatan tiga orang, bukannya menyerang secara mengeroyok. tapi secara bergiliran, kalau yang satu menyerang, dua lainnya lantas mundur, demikian seterusnya, hingga ia yang harus menyambuti setiap serangan sudah tidak mempunyai kesempatan untuk bernapas.

Kalau cara demikian diantapi berlangsung terus-terusan, sekalipun manusia yang terbikin dari besi juga tidak sanggup tahan lebih lama lagi, apa lagi manusia biasa,

Maka dalam hatinya lantas berpikir hendak menggempur dan dapat merubuhkan satu persatu kepada musuh2nya yang tangguh itu. Setelah berpikir demikian, ia lalu kerahkan ilmunya Liang- kek cin-goan kebatas puncaknya, dengan secara berbareng ia menggempur Ibiis Rambut Merah dan Giok-bin Giam-po, dan selagi kedua iblis itu menyingkir mundur untuk mengelakan serangannya yang sangat dahsyat itu Yo Cie Cong dengan ilmunya ‘Menggeser tubuh menukar bayangan," bagaikan setan sudah melejit kesampingnya siluman Tengkorak Lui Bok Thong dan melesat keluar dari kurungan ketiga iblis tersebut.

Siluman tengkorak Lul Bok Thong yang tadi melakukan serangan terhadap dirinya Yo Cie Cong dan mendadak kehilangan sasarannya, tahu-tahu disampingnya merasa sambaran angin, maka segera mengetahui kalau gelagat tidak beres. Dengan cepat ia coba putar tubuhnya kebelakang, tapi Yo Cie Cong sudah menghadang lagi kesamping dirinya serta mengirim satu serangan hebat.

Serangan itu telah mengenakan dengan telak, siluman Tengkorak setelah keluarkan seruan tertahan, mulutnya lantas menyemburkan darah, gerak badannya mulai kendor.

Selagi pihak lawannya berada dalam keadaan tidak berdaya, Yo Cie Cong dengan cepat sudah menghunus senjata Golok Mautnya.

Iblis Rambut Merah dan Giok- bin Giam-po nampak terkejut menyaksikan kejadian demikian, dengan cepat mereka memburu kepada Yo Cie Cong, Tetapi sudah terlambat,

Sebentar sudah terdengar suara jeritannya Lui Bok Thong, kedua pahanya Siluman Tengkorak itu sudah dipereteli, dadanya berlubang, darah menyembur bagaikan pancuran, hingga jiwanya melayang pada saat itu juga,

Yo Cie Cong setelah menamatkan jiwa musuhnya, dengan cepat sudah putar tubuhnya dan melesat sejauh dua tumbak.

Tidak kecewa iblis Rambut Merah cho Ngo Teng sebagai seorang pemimpin, setelah menyaksikan kejadian demikian, lantas berkata kepada Giok-bin Giam-po "Phoa Hok-hoat (pelindung hukum), lekas kau kerjakan menurut rencana kita semula, lekas "

Giok-bin Giam-po segera gerakan badannya, dengan cepat meluncur keluar kalangan. Menampak iblis wanita itu hendak kabur, Yo Cie Cong lantas menggeram: "lblis wanita,

serahkan jiwamu jangan harap kau bisa kabur"

Berbareng dengan itu badannya lantas melesat tinggi, se-olah2 bintang meluncur dari langit, ia meluncur turun dihadapannya giok-bin Giam-po, kemudian melancarkan serangan tangan yang amat dahsyat, hingga Giok-bin Giam-po terpental balik sampai bergulingan.

Tapi pada saat itu serangannya iblis Rambut Merah yang amat dahsyat juga sudah sampai dibelakangnya Yo Cie Cong, serangan membokong iblis ini agaknya dilancarkan dengan sepenuhnya, karena ia ingin menggunakan kesempatan tersebut membikin mampus jiwa musuhnya,

Diperlakukan sangat licik secara demikian, Yo Cie Cong merasa sangat gusar. ia lantas angkat tangannya, " menutup serangannya iblis Rambut Merah, Tatkala kekuatan kedua pihak saling beradu, Yo Cie Cong lengannya merasakan kesemutan, sedang badannya iblis Rambut Merah sudah terpental sejauh satu tumbak.

Hampir berbarengan pada saat itu juga, Giok- bin Giam-po yang bergulingan ditanah, sudah berdiri lagi dan mengirim satu serangan kepada Yo Cie Cong-

Meskipun Yo Cie Cong sudah merasakan ada orang yang membokong dirinya, tapi sudah tidak berdaya untuk menahan serangan bokongan itu. Dalam keadaan kejepit, ia lantas melesat maju satu tumbak. untuk mengelakkan serangan tersebut, tapi tidak urung sambaran anginnya masih membuat dadanya sesak. hampir saja ia tidak bisa pertahankan dirinya.

Yo Cie Cong menggeram hebat, badannya melesat maju lagi satu tumbak lebih, sambil kertek gigi, ia menggunakan serangannya ‘Kui-Leng Thian-tee’ dari ilmu silatnya ouw-bok sin-kang. Sebentar kemudian terdengar suara gemuruh bagaikan guntur, suatu kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat secepat kilat sudah menggulung dirinya Giok- bin Giam-po.

Tapi berbareng dengan itu juga, iblis Rambut Merah sudah keluarkan bentakan nyaringo "jangan coba melukai orang"

Kedua tangannya lantas mendorong dengan kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat. maksudnya ialah hendak memaksa supaya Yo Cie Cong urungkan serangannya terhadap dirinya Giok-bin Giam-po.

Iblis wanita itu semula ketika menampak serangan Yo Cie Cong yang demikian hebatnya, nyalinya sudah kuncup, ia tidak berani menyambuti dengan kekerasan, maka dengan cepat singkirkan dirinya. Tapi serangan dari ilmu silat ouw-bok sin-kang itu ada merupakan suatu ilmu silat yang sudah tidak ada taranya. meski ia sudah menyingkir secepat mungkin, tapi masih belum mampu menghindarkan seluruhnya dari ancamannya serangan tersebut, hingga achirnya badannya masih kena digulungdan terbang melayang sampai dua tumbak jauhnya, mulutnya mengeluarkan darah.

Tapi dilain pihak. serangannya iblis Rambut Merah cho Ngo Teng, juga sudah mengenakan dirinya Yo Cie Cong dengan telak.

Yo Cie Cong merasa badannya menggetar, matanya ber-kunang2, hingga mundur sempoyongan sampai 5 tindak. baru bisa berdiri tegak. Untung dalam dirinya ada mengandung rupa2 pengaruh benda mustika dan ilmu yang sudah tiada taranya, terutama ilmunya Liang-kek cing-goan, sudah berhasil memunahkan sebagian besar serangan dari lawannya, kalau tidak demikian, barangkali ia akan menderita luka yang tidak ringan.

Berbareng pada saat Yo Cie Cong terkena serangannya iblis Rambut Merah, Giok-bin Gam-po sudah menghilang dari depan matanya

Iblis Rambut Merah cho Ngo Teng telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Yo Cie Cong sudah terkena serangannya dengan telak, tapi sedikitpun tidak terluka, bukan kepalang rasa kagetnya.

Yo Cie Cong ketika mengetahui bahwa Giok-bin Giam-po sudah kabur, dadanya dirasakan hampir meledak, maka ia lantas tumplekkan semua kegusarannya kepada dirinya iblis Rambut Merah, yang dianggap sudah memberi kesempatan untuk ia kabur.

"Cho Ngo Teng, inilah saatmu untuk membayar hutang" demikian ia berseru dengan suara gusar.

Sehabis mengucapkan perkataannya, kedua tangannya lantas diputar, kekuatan tenaga dalam lantas meluncur keluar, se-olah2 gelombang air laut, sehingga iblis Rambut Merah sudah tidak mempunyai kesempatan untuk keluarkan kekuatannya guna menyambuti serangan tersebut, oleh karenanya maka ia terpaksa mundur ber-ulang2, keadaannya itu sangat mengenaskan sekali.

Tiba2, iblis Rambut Merah keluarkan siulan aneh, badannya mendadak melesat kesamping satu tombak jauhnya mengelakkan serangan Yo Cie Cong, dengan kecepatan bagaikan kilat ia telah mengeluarkan serupa benda merah dari pinggangnya. Benda merah itu kira2 tiga tumbak persegi lantas dilemparkan diatas kepalanya Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong terperanjat, dengan cepat ayun tangannya memukul kearah benda merah itu, tapi ia lantas merasakan bahwa benda merah itu agaknya sangat ringan, terhadap serangan tangannya hanya bergoyang sebentar saja, lalu meluncur turun lagi.

Tatkala ia mengawasi dengan seksama, benda itu ternyata ada jaring berwarna merah darah..

Dengan cepat jaring aneh berwarna merah itu sudah akan menjaring kepala, kini terpisah dengan kepalanya hanya tinggal kira2 tiga kaki saja.

Iblis Rambut Merah baru mengeluarkan benda itu karena dalam keadaan berbahaya, rupanya benda itu bukan benda sembarangan. jaring aneh selebar satu tumbak persegi itu secepat kilat sudah mengancam Yo Cie Cong, hingga ia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menghindarkan dirinya dari jaringan tersebut.

Dalam keadaan demikian, Yo Cie Cong lalu keluarkan ilmunya Liang- kek cin-goan melindungi sekujur badannya. sebentar kemudian uap berwarna merah tercampur putih sudah keluar dari dalam tubuhnya dan melindungi sekujur badannya, se-olah2 dikelilingi selapis kabut tebal yang tidak bisa ditembus oleh apa saja.

Dengan demikian Yo Cie Cong berhasil menghindarkan jiratan jaring aneh itu, yang telah kandas diluar uap merah putih, tapi bagian bawah sudah menutupi tanah, hingga dirinya Yo Cie Cong kini sudah seperti tertutup oleh kurungan berwarna merah.

Tapi dipihaknya iblis Rambut Merah Cho Ngo Teng, juga dikejutkan oleh ilmu kepandaian Yo Cie Cong yang luar biasa dan sangat ajaib. Sampai ia menjadi kesima, tapi kemudian ia keluarkan tertawanya bangga, hatinya merasa puas,

"Setan cilik, sekalipun kau mempunyai kepandaian yang sangat hebat, tapi kau bisa tahan berapa lamanya? Dengan terus terang Kauwcumu beritahukan padamu, ini dinamakan ‘siao-heng Ang-in-bau’ jaring2 merah menumpas rupa. jaring ini ada mengandung racun yang sangat berbisa, baik manusia atau binatang, siapa terkurung didalamnya, lantas akan hancur lebur menjadi hangus. Kalau kau tidak percaya kau boleh lihat keadaan disekitarmu, apakah aku membohongi atau menggertak kau?" demikian ia berkata dengan bangganya. 

Yo Cie Cong benar saja lantas memperhatikan keadaan disekitarnya, saat itu bukan kepalang rasa kagetnya.

Apa yang terbentang didepan matanya, ialah itu bangkai2nya orang2 Im-mo-kao yang tadi terbinasa didalam tangannya, kini sudah tidak kelihatan lagi, sebagai gantinya ialah segundukan arang hitam. Dan semua tanah yang tersentuh oleh jaring aneh itu lantas berubah menjadi hangus, rumput2 dan tumbuh2an lainnya tampak masih terbakar hingga mengepul asapnya.

Yo Cie Cong meski merasa sangat gusar, tapi ia sudah tidak berdaya melepaskan dirinya dari kurungan jaring yang sangat ajaib itu,

saat itu ia masih mengandalkan ilmunya Liang- kek cin-goan untuk melindungi dirinya. Hingga racun yang ada didalam jaring aneh itu tertolak sejauh tiga kaki. Tapi, cara demikian ini paling banyak menghamburkan kekuatan tenaga dalam, jika waktunya agak lama, sudah tentu ia tidak kuat bertahan terus2an-

Kembali terdengar suaranya iblis Rambut Merah yang mengejek: "setan cilik, kau tunggu saja sampai badanmu dan tulang2mu hancur menjadi abu..Ha, ha, ha " "

"Setan tua jangan bangga dulu Apa dengan jala begini lantas kau kira bisa bikin susah aku?" bentak Yo Cie Cong gemas.

Akan tetapi, oleh karena perbuatan iiu, daya tahan kekuatan tenaga dalamnya menjadi kendur dengan sendirinya sehingga jaring merah itu menurun lagi sampai setengah kaki kebawah. cepat2 dikerahkan lagi ilmunya, kekuatan Liang- kek cin goannya ditambah beberapa bagian. Dengan kekuatan tenaganya yang sangat ampuh ini ia hendak berusaha untuk menahan turunnya terus jaring lawannya itu.

Perasaan bangganya iblis Rambut Merah tampak semakin nyata diwajahnya. Ia tidak menyangka kalau pemilik Golok Maut, yang selama ini merupakan orang kuat yang paling ditakuti orang2 dunia Kang-ouw. ternyata hanya sebegitu saja. Kepandaiannya akan terjatuh juga kiranya ditangannya.

Kalau tadinya Yo Cie Cong tahu benda merah itu begitu lihaynya, sudah tentu sebelum benda itu dapat mengurungnya, ia akan sudah lompat pergi jauh2. Entah apa pula dan bagaimana akibatnya dengan iblis Rambut Merah itu. Kembali setengah jam telah berlalu. Daya pertahanannya Yo Cie Cong sudah mulai berkurang pula, Keringat dingin sudah mulai membasahi jidatnya.

Jikalau pemilik Golok Maut masih bisa mempertahankan hidupnya, jikalau ia bisa menangkan pertempuran dengan selamat, bukan hanya kawanan iblis itu akan dibasminya habis seluruhnya, perkumpulan Im-mo kaopun tentu tidak luput dari bencana kemusnahan,

Justeru karena kepandaian dan kekuatan pemilik Golok Maut telah menggetarkan jagatlah yang telan membuat siluman Tengkorak Lui Bok Thong dan Giok- bin Giam-po Phoa cit Kow yang tidak berani menghadapi sipemilik Golok Maut seorang diri, kemudian satu demi satu mengabdikan diri kepada perkumpulan Im-mo-kao dengan maksuk untuk ber-sama2 menghadapi pemilik Golok Maut seorang.

Iblis Rambut Merah cho Ngo Teng. yang saat itu telah dapat melihat Yo Cie Cong agaknya sudah keripuhan, dalam hati berpikir : "Aku harus cepat2 melenyapkan orang ini supaya tidak banyak pikiran dikemudian hari. Kalau sampai ia berhasil lolos nanti, hebat sekali akibatnya tentu".

Memikir begitu iblis Rambut Merah lalu perdengarkan suara ketawanya yang menyeramkan, kemudian berkata:

"Setan cilik Lebih cepat2 aku antarkan kau pulang menemui suhumu didalam kubur" setelah selesai mengucapkan perkataannya, dengan cepat ia lalu mengirim serangan dari jarak jauh.

Akan tetapi, setelah terdengar suara ‘Buk’ yang amat nyaring, satu kekuatan yang tiada tertampak membikin terpentalnya tubuh iblis Rambut Merah sendiri yang setelah mundur sempoyongan beberapa saat baru bisa berdiri tegak lagi.

Meski Yo Cie Cong dapat mempertahankan diri berkat ilmu Liang- kek cin-goannya yang selalu dapat melindugi disekitar badannya yang bahkan dapat juga menolak balik setiap serangan musuh, tetapi kalau keadaan terus menerus berlangsung secara demikian, tentu lama kelamaan kekuatan tenaga dalamnya akan kena pengaruhnya juga.

Demikianlah, jaring merah itu akhirnya bergerak turun lagi kebawah setengah kaki, terpisah dengan kepalanya tinggal lagi dua kaki saja.

Ketika iblis Rambut Merah mengetahui serangannya tidak membawa hasil, kembali ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dan menyerang lagi. Kali ini ia sudah mengerahkan kekuatannya sampai full (penuh) sehingga serangannya ini jauh lebih hebat daripada serangannya yang pertama tadi.

Sambil kertak gigi Yo Cie Cong menyambuti serangan tersebut.

Kembali terdengar suara benturan amat nyaring. jaring merah tampak bergoyang, lalu turun lagi satu kaki kebawah.

jikalau iblis Rambut Merah melancarkan lagi serangannya, dua kali lagi saja, mungkin sukar bagi Yo Cie Cong untuk menghindarkan diri dari bencana kematiannya,

Sebab begitu turun sedikit lagi saja, begitu menyentuh sedikit kepalanya saja, jaring merah itu bisa membikin seluruh tubuhnyab hangus.

Hati Yo Cie Cong sudah mulai merasa cemas.Bukannya ia takut mati. Bukannya ia pengecut.

Tetapi ia merasa bahwa saat itu ia masih belum boleh mati Masih ada musuhnya yang masih belum dibunuhnya. Bagaimana ia dapat mati meram?

Pada saat yang membahayakan bagi Yo Cie Cong itulah lagi2 iblis Rambut Merah melancarkan serangannya, serangan yang ketiga kalinya. Kali ini ternyata serangannya jauh lebih hebat daripada dua serangannya yang terdahulu

Yo Cie Cong delikkan matanya. Ia tahu kalau kali ini sukar sekali baginya untuk dapat meloloskan diri dari bencana, maka itu timbullah sudah pikirannya hendak binasa bersama-sama musuhnya.

jarak kedua pihak saat itu lebih dari empat tumbak jauhnya. Kalau saja Yo Cie Cong mau menggunakan ilmu ouw-bok sin-kangnya, salah satu, yang mana saja, asalkan dengan sepenuh tenaga, pasti iblis Rambut Merah akan binasa seketika. Tetapi dengan berbuat begitu, dla sendiri juga tidak akan luput dari bencana, sebab dengan mengerahkan meluruh kekuatan tenaganya kekuatan tenaga dalam yang melindungi dirinya juga akan segera buyar dan ia sendiri tentu akan segera terjaring oleb jaring lawannya, dan tidak ampun lagi tubuhnya akan mati hangus

Keadaan sudah sangat genting. suasana ketegangan sudah memuncak Agaknya mala-petaka sudah tidak dapat dihindarkan lagi oleh kedua belah pihak.

Yo Cie Cong sudah mengerahkan seluruh ilmu Liang- kek cin-goannya, sampai kebatas yang tertinggi. Ia sudah bertekad hendak binasa ber-sama2 dengan musuhnya ini.

Tiba2 ia dapatkan satu pikiran yang dianggapnya dapat dipakai untuk menghindarkan bencana tersebut.

Kiranya, menurut jalan pikirannya Yo Cie Cong, jaring merah itu yang terbuat dari bahan halus semacam sutera yang sangat ulet, dengan lubang jaringnya yang kira2 sebesar mangkok. meski benang sutera itu sendiri tidak dapat diputuskan begitu saja, tetapi lubang2nya itu agaknya masih dapat dilewati, dapat ditembusi oleh kekuatan tenaga dalamnya, atau senjata rahasianya. justru lubang2 itulah yang membuka jalan pikiran Yo Cie Cong.

Dengan masih tetap berusaha mempertahankan supaya jaring merah itu jangan sampai turun terus Yo Cie Cong coba berjongkok dan memungut batu2 kecil yang terdapat disekeliling badannya, kemudian ia menyambit keluar melalui lubang jaring.

Tetapi, janganlah mengira batu2 itu kecil sekali bentuknya dan tidak ada artinya. Meluncur dari dalam tangannya Yo Cie Cong yang sudah memiliki kekuatan tenaga dalam yang sudah mencapai ketingkat yang sudah tidak ada taranya, batu2 kecil itu merupakan senjata yang cukup ampuh baginya.

Cepat bagai kilat batu2 kecil itu bertoblosan keluar jaring, hingga serangan dan kekuatan tenaga sang lawan dapat dibikin punah sebagian.

semua gerakan Yo Cie Cong tadi telah dilakukan dengan kecepatan luar biasa, sukar dilihat oleh lawan-

Serangannya iblis Rambut Merah baru lagi keluar separuh, mendadak matanya dapat melihat beberapa butir benda hitam kecil meluncur keluar melalui lubang jaringnya dengan

sangat pesatnya. Angin dan kekuatan tenaga njalangsung menuju kearahnya.

Dengan terjadinya kejadian serupa itu, dengan terpaksa mau tidak mau iblis Rambut Merah harus menarik kembali serangannya, sehingga berkurang juga tekanan terhadap dirinya Yo Cie Cong.

Sesaat selagi iblis Rambur Merah menarik pulang serangannya dan menyingkirkan diri dari serangan batu2 lawannya, dengan cepat Yo Cie Cong sudah menghunus senjatanya. Golok Maut keluar dari sarungnya terus membabat jaring merah yang mengurung dirinya.

Akan tetapi, mesti benar jaring tersebut terbuat dari bahan yang sangat halus, kekuatan dan daya tahannya terhadap segala rupa senjata tajam tidaklah dapat dicela. sekalipun Golok Mautnya Yo Cie Cong, juga tidak berdaya sama sekali terhadap beberapa utas benda halus dan ulet itu.

Iblis Rambut Merah yang melihat kejadian itu semua, segera berkata dengan nada suara mengejek "Setan cilik Mau keluar dari jaring? HHmmm jangan harap bisa"

sehabisnya mengucapkan perkataan itu, kembali tangannya terayun, kembali ia hendak menyerang.

sambil kertak gigi kembali Yo Cie Cong cun menyerang lagi dengan menggunakan batu2 kecilnya,

Perbuatan serupa itu diulangi terus menerus sampai beberapa kali, sehingga iblis Rambut Merah tidak berdaya menambah tenaganya untuk membinasakan dirinya anak muda lawannya itu, tetapi tidak urung Yo Cie Cong sendiri pun juga tidak dapat meloloskan diri dari cengkeraman jaring merah tersebut.

Keadaan sudahlah menjadi jelas sekali bahwa kedudukan Yo Cie Cong jauh lebih berbahaya daripada waktu semula ia bertahan tadi. Tekanan iblis Rambut Merah dirasakan makin lama makin hebat.

Jikalau dalam waktu satu jam ia masih tetap belum mampu meloloskan diri dari dalam kurungan jaring berbisa lawannya itu, ada kemungkinan besar yang kekuatan tenaga dalamnya akan habis dengan sendirinya dan tentu juga ia sendiri akan dibikin musnah dalam jaring tersebut.

Sebaliknya bagi iblis Rambut Merah sendiri, ia juga dibikin ter-heran2 tidak habis mengerti oleh kekuatannya Yo Cie Cong. Meski sudah terkurung sekian lamanya didalam jaring ampuhnya, ternyata anak muda ini masih saja mampu bertahan terus.

Kalau sampai terlolos, ia sendiri tidak berani membayangkan bagaimana nanti akibatnya mungkin sama seperti halnya d engan perkumpulan Cie-in-pang dan Ban siu-pang, Im-mo-kao- pun akan mengikuti jejaknya dan musnah sama sekali. oleh karena memikir itu semua dalam hatinya mulai timbul rasa gelisahnya.

Iblis Rambut Merah setelah mengerjakan terus otaknya, tiba2 mendapatkan satu pikiran keji. seketika itu juga ia terus menggerakkan badannya, terus mengitari jaring merahnya, sedangkan tangannya tidak henti2nya terus juga mengirimkan serangannya yang ber-tubi2.

Perbuatannya ini sungguh sangat keji. Meski benar Yo Cie Cong dapat menggunakan ilmu Liang-kek cin-goan, meski benar ia dapat mempertahankan diri sampai tidak dapat dikurung oleh jaring berbisa itu, tetapi apakah ia masih mampu juga menyambuti lagi serangannya sang lawan? sudah pasti ia tidak mampu karena tentu sudah lelah sekali. Ia sudah tidak mampu lagi menerima setiap serangan yang dilancarkan oleh iblis Rambut Merah, sehingga dengan demikian- berarti ia mandah menerima gebuk.

Meskipun iblis Rambut Merah sudah menyerang dengan cara berputaran, akan tetapi kekuatannya tidak berubah, kekuatan tenaganya masih cukup hebat untuk menekan Yo Cie Cong yang sudah kepajahan- Maka itu dalam tempo sekejapan saja keadaan disekitar tempat tersebut sudah seperti terkurung angin dan debu yang beterbangan-

Yo Cie Cong hanya menggunakan ilmu Liang-kek cin-goannya untuk melindungi dirinya dari tungkrupan jaring merah lawannya, berbareng dengan itu juga untuk menyambut serangan lawannya. Maka itu setelah beberapa kali mengadu kekuatan, ia susah merasakan dadanya bergolak. tenaganya pun dirasakannya berkurang.

jika kejadian itu berlangsung lagi setengah jam saja, tidak ampun lagi pasti jiwanya Yo Cie Cong akan melayang,

Melihat keadaan demikian, iblis Rambut Merah tidak mau menyia2kan kesempatan-serangannya makin lama makin gencar.

Malaikat el-maut agaknya sudah melongok-longok Yo Cie Cong, setindak demi setindak berjalan menghampiri hendak menjemput diri Yo Cie Cong pergi ke tempatnya.

Yo Cie Cong sedapat mungkin berusaha umuk menenangkan pikirannya, ia berdaya supaya jangan sampai darah hidupnya muntah keluar dari dalam mulutnya. Disamping itu ia juga terus memutar otak memikirkan cara bagaimana supaya ia bisa meloloskan diri dari kurungan musuhnya.

Meski jaring itu merupakan benda ringan, tetapi dibawah pengaruhnya angin hebat yang terus menerus menekan jaitu dari serangan iblis Rambut Merah yang disertai dengan tanah yang terus menerus mengepul tinggi, benda itu kelihatan naik turun hendak menungkrup Yo Cie Cong.

Menyaksikan keadaan demikian, dalam otaknya Yo Cie Cong tiba2 berkelebat suara akal yang sehat untuk meloloskan diri Maka seketika itu semangatnya lantas terbangun kembali.

Mendadak. mendadakan saja, uap merah tercampur putih tampak tegas menyelubungi bagian atas kepalanya Yo Cie Cong, jaring merah terangkat tinggi lebih dari satu kaki. Ternyata itu semua adalah gerakannya Yo Cie Cong yang dilakukan cepat. Ia setelah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, berhasil mengangkat naik jaring berbisa musuhnya. Kemudian setelah itu kedua tangannya terus dikerjakan meraup cepat segumpalan tanah bercampur pasir yang terus disebarnya keatas.

jaring berbisa itu, yang kesambar kekuatan serangan angin duluan dan kelanggar gumpalan tanah pasir belakangan, lantas naik lagi tinggi keatas sampai beberapa kaki. Kesempatan sebaik itu tidak disia-siakan oleh Yo Cie Cong. Dengan cepat ia menoblos keluar dari bawah jaring berbisa lawannya.

Iblis Rambut Merah yang melihat To Cie Cong meraup tanah tadi, sudah dapat menebak juga maksudnya tetapi ia sama sekali tidak berdaya mencegah perbuatannya anak muda itu, maka itu sebelum Yo Cie Cong melesat keluar dari dalam kurungannya lebih dulu ia sudah kabur sipat kuping meninggalkan lawannya.

Yo Cie Cong setelah berada diluar jaring, ternyata iblis Rambut Merah sudah tidak kelihatan lagi bayang2nya.

Bukan main rasa gusarnya Yo Cie Cong. sampai ia banting2 kaki dan ber-teriaK2 seorang diri "sungguh sial iblis itu bisa kabur. Tidak ada lain jalan kecuali menyerbu pusat perkumpulannya"

Ketika ia melihat bangkai2nya orang2 im mo-kao yang sudah hangus semuanya, dalam hati merasa tidak tega juga, maka itu ia lantas menggali lubang dan mengubur semua bangkai berikut jaring merah berbisa itu yang ditinggal begitu saja oleh yang empunya, Iblis Rambut merah.

Setelah selesai semua pekerjaannya, ia lalu melanjutkanperjalannya. Ia mau mencari terus jejaknya dua musuh besarnya itu.

Apa yang membuat ia sangat girang dan bersemangat ialah, saat itu ia sudah dapat keputusan bahwa Giok- bin Giam-po itu bukanlah ibu kandungnya sendiri Meskipun ia masih merasa sedih karena masih belum juga dapat mengetahui asal-usul dirinya sendiri, tapi ia merasa itu jauh lebih baik daripada harus mempunyai ibu seperti Giok- bin Giam-po itu.

Dengan sendirinya, ia merasa tidak senang terhadap perkataan orang berkedok kain merah yang mengatakan bahwa iblis wanita itu adalah ibunya. sebaliknya ia merasa bersyukur sangat terhadap wanita berkerudung jaag memberi petunjuk padanya bahwa wanita itu bukanlah ibunya. jika tidak adanya petunjuk dari wanita misteri itu, mungkin sekali ia sudah tidak punya keberanian hidup lebih lagi dalam dunia ini. = = ooo ooooo ooo = =

Siao-kay-nia, adalah nama suatu bukit kecil yang terletak di-tengah2 gunung Tay pit-san, juga merupakan tempat dimana berdirinya pusat perkumpulan im-mo-kao.

Hari itu, pagi2 sekali, didaerah gunung Tay-pit-san yang tampaknya sangat angker kelihatan benda putih melesat seperti asap mengepul. Tetapi, bagi orang2 rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi, sudah akan segera mengenali bahwa benda putih itu bukanlah asap yang mengepul, melainkan seorang berkepandaian sangat tinggi yang sedang mengeluarkan kepandaian lari pesatnya.

oleh karena sangat pesatnya gerakan kakinya, sampai2 bayangannya saja tidak dapat dilihat, dari jauh kelihatan seperti asap mengepul saja.

Siapakah adanya orang itu? Apakah perlunya sewaktu hari masih begitu paginya sudah berada didaerah pegunuhgan yang jarang dikunjungi manusia itu?

orang itu sudah tentu bukan lain daripada Yo Cie Cong adanya, itu orang yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut, yang namanya sudah lama menggetarkan jagad.

Ia tengah mencari suatu tempat, ialah pusat perkumpulannya Im-mo-kao.

Pada saat itu, ditempat sejarak seratus tombak lebih dari tempatnya berlari, juga terlihat sesosok bayangan manusia, yang sebentar menghilang, agaknya orang itu sedang menguntit Yo Cie Cong. sudah tiga hari lamanya Yo Cie Cong memasuki daerah gunung Tay-pit-san itu, sekalipun sudah mencari ubek-ubekan. tapi masih belum menemukan tempat yang dicari, ialah pusatnya perkumpulan im-mo kao. sedangkan bayangannya seorang pun ia juga tidak pernah menjumpai.

Pusatnya satu perkumpulan agama yang begitu besar seperti Im-mo-kao, sampai tidak kelihatan bayangannya seorang pun juga, ini sebenarnya merupakan suatu hal yang amat ganjil.

Dalam hati Yo Cie Cong lalu berpikir: “Apakah si Hitam hanya mendengar dari orang lain saja? yang sebenarnya pusat Im-mo-kao itu tidak ada didaerah ini, atau dalam hal ini mungkin masih terselip apa2nya yang agak aneh ?”

Yo Cie Cong sudah ambil putusan hari itu ia akan melakukan tuntutannya yang penghabisan kali. jikalau masih juga tidak berhasil, ia akan meninggalkan gunung tersebut untuk mencari keterangan lagi pada orang lain.

Tiba2 disuatu lembah sebelah kiri bukit siao-kay-nia ia melihat beberapa bayangan orang, yang sebentar kemudian lantas melenyap kembali.

Yo Cie Cong diam-diam merasa girang. Dalam pikirannya, jlkalau ditempat itu betul terdapat manusianya, barangkali agak mudah untuk mencari keterangan. Maka dengan cepat ia lantas lompat melesat kelembah tersebut. Benar saja. Disitu ia telah menemukan empat orang.

Hanya dengan beberapa kali lompatan saja ia sudah berada ditempat tidak jauh diatasnya keempat orang tersebut. sambil bersiul nyaring ia meluncur turun dihadapannya empat orang tersebut.

Dalam kagetnya, mereka itu lantas pada menghentikan tindakannya. Dengan perasaan ter- heran2 mereka memandang wajahnya Yo Cie Cong yang cakap tetapi kecut.

Empat orang itu ternyata adalah orang2 laki2 pertengahan umur yang berdandan sebagai pemburu binatang hutan-

Melihat itu, diam2 Yo Cie Cong menghelah napas seperti putus asa. Tetapi ia masih juga menanya pada mereka:

"Apakah tuan2 tahu dimana letaknya pusat perkumpulan Im-mo-kao ?"

Empat laki2 itu mendadak berubah wajahnya, satu diantaranya lantas menjawab: "Apa? Im- mo-kao? Kami belum pernah dengar orang berkata."

Yo Cie Cong agaknya merasa kecewa. Tetapi ia masih belum mau putus asa. Kembali ia menanya.

"Apakah tuan2 pernah melihat di-dekat2 tempat ini ada orang2 dunia Kang-ouw yang mundar- mandir?"

orang tadi lantas menjawab: "Dari sini terus masuk kira2 satu lie jauhnya, ada sebuah rumah batu. Disana sering kami lihat orang keluar masuk. Benar apa tidak itu tempatnya yang tuan cari, kami juga tidak tahu."

Yo Cie Cong saat itu sudah darat melihat bahwa orang2 laki2 yang berdandan sebagai pemburu itu wajahnya bengis2, matanya berjelilatan macam bangsat. Agaknya kelakuan mereka tenang tidak sewajarnya, maka dalam hatinya lantas timbul rasa curiganya. Dengan suara kaku dingin ia berkata pula: "Apakah keterangan yang kalian berikan ini betul semuanya ?"

Empat laki2 itu terperanjat, sehingga mereka mundur beberapa tindak. salah seorang diantaranya lantas menjawab: "Tidak ada perlunya bagi kami untuk membohongi tuan".

Yo Cie Cong cuma keluarkan suara dari hidungnya. Ia tidak mau banyak bicara lagi. Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan berjalan menuju ketempat yang ditunjuk.

Berjalan tidak berapa lama, disuatu tempat, dibawah sebuah puncak gunung tinggi, betul saja kelihatan sebuah rumah batu yang tersembunyi letaknya didalam sebuah rimba.

Kalau dilihat dari atas gunung, rumah itu tidak kelihatan sama sekali. Karena teraling oleh banyakpohon2 yang sangat rindang. Melihat keadaan tempat tersebut, maka dalam hatinya lantas berpikir: ^sebagai pusat perkumpulan besar, im-mo-kao rasanya tidak mungkin mendirikan tempat didalam rumah batu ditempat ini. Tetapi kalau benar ada orang yang mendiami, juga tidak ada halangan untuk aku minta keterangan-.

Memikir demikian, ia lalu melangkah masuk kedalam rumah batu tersebut.

Rumah batu itu didalamnya ternyata sangat luas. Dinding temboknya terbuat dari batu semuanya. Kalau orang berada didalamnya, se-olah2 merasa berada dalam kuburan saja.

Yo Cie Cong dengan beruntun sudah melalui dua buah kamar batu. Tetapi sampai sebagitu jauh, masih tetap ia belum dapat menjumpai seorang juga, sehingga dianggapnya bahwa rumah itu adalah tempat kosong yang tidak ada penghuninya.

Belum lagi hilang rasa h era nnj a, tiba2 terdengar suara keresekan- pintu batu yang berada di- tengah2 mendadak terpentang lebar2. Ketika Yo Cie Cong meiihat kedalamnya, darahnya lantas naik seketika. Ia lantas berseru bengis "Giok-bin Giam-po Hari ini kau tidak bisa lolos lagi"

Sehabis berkata ia lantas angkat tangannya hendak menyerang iblis wanita itu.

Tetapi Giok- bin Giam-po lantas berkata: "Anjing cilik jangan keburu napsu Lihat dulu siapa ini"

Yo Cie Cong terpaksa urungkan maksudnya. Ketika matanya memandang kearahnya Giok-bin Giam-po, ternyata dibawa kakinya iblis wanita itu ada rebah terlentang

seseorang. dan ketika ia mengamat-amati dengan seksama, orang itu ternyata adalah cucu perempuannya si Pengail Linglung ut-tie Kheng yang entah dengan cara bagaimana bisa terjatuh dalam tangannya iblis wanita itu.

Yo Cie Cong rasakan dadanya hampir meledak. Tanpa ayal lagi ia lantas menerjang masuk kedalam.

"Anjing cilik. Tenang sedikit Kalau kau berani bergerak sembarangan nanti akan kuambil jiwanya dia lebih dulu” Giok-bio Giom-po mengancam.

Ketika Yo Cie Cong melihat, ujung kakinya iblis wanita itu benar saja sedang ditujukan pada jalan darah leng bun-hiat dibelakang punggungnya ut-tie Kheng. Maka lantas ia berkata gusar: "Iblis, Kalau kau berani ganggu seujung rambutnya saja, nanti akan kuremukkan tulang2mu

semua"

Giok- bin Giam-po ketawa seram.

"Kalau aku menghendaki jiwanya dia." katanya, "mudah sekali cuma dengan menotol dengan ujung kakiku saja, beres sudah"

Pada saat itu meski Yo Cie Cong merasa gusar, ia tak berdaya. Bagaimana cepat ia bisa turun tangan, tidak nanti akan dapat melebihi kecepatannya iblis wanita itu mencelakai jiwanya ut-tie Kheng. Maka itu ia tidak berani sembarangan bertindak.

Giok- bin Giam-po yang menyaksikan keadaannya anak muda itu, lalu berkata pula sambil ketawa: "Bocah, urusan ini sebetulnya dapat diurus sangat sederhana sekali. Kalau kau tidak menghendaki dia binasa, sudah cukup kalau kau menerima satu syarat yang akan kuadukan padamu. "

Dengan menahan perasaan gusarnya, Yo Cie Cong akhirnya berkata dengan kertak gigi: "Apa syaratnya? Lekas katakan-"

"Kau kutungi sendiri satu lengan tanganmu, lalu serahkan Golok Mautmu dan juga itu kayu wasiat ouw-bok Po-lok Dengan berbuat begitu nanti kau boleh bawa dia pergi. Dan hutang diantara kita, dikemudian hari kau mau menagih apa tidak. itu terserah padamu sendiri syarat ini kau pikir bagaimana?"

"Kau mimpi" seru Yo Cie Cong tanpa pikir2 lagi.^

"Kalau begitu, kau benar2 menghendaki budak perempuan ini binasa dibawah kakiku." sehabis berkata, kakinya dengan perlahan menyentuh punggangnya ut-tie Kheng.

Yo Cie Cong bercekat juga hatinya. Tetapi sjarat yang diajukan oleh iblis wanita itu berat sekali dirasakannya, ia tidak bisa sama sekali. syarat itu sebetulnya jauh lebih keji daripada menghendaki jiwanya Golok Maut, itu merupakan lambang baginya. jikalau ia mau menyerahkan benda itu, seperti juga ia menyerahkan jiwa raganya. sedangkan kayu ouw-bok Po-lok itu, juga merupakan benda warisan dari perguruannya. Bagaimana boleh diserahkan pada orang yang menjadi musuh besar perguruannya sendiri?

Tetapi sebaliknya ia juga tidak bisa membiarkan ut-tie Kheng binasa dibawah kakinya iblis wanita telengas itu.

Ut-tie Kheng mencinta sangat terhadap dirinya. Ia sendiri juga sebetulnya sudah merasa cinta padanya, tetapi ia tidak berani menyatakan, dengan berterus-terang, sebab hatinya sudah dibawa pergi oleh siang-koan Kiauw, yang sudah dianggapnya binasa dilautan Lam-hay.

Tetapi kakeknya Ut-tie Kheag, pernah menanam budi besar padanya. Kalau ia bisa terus hidup sampai saat itu, semua itu adalah karena jasanya si Pengail Linglung itu disamping semua itu si Hweeshio gila pun sudah berpesan wanti2 padanya untuk mencari dan menemukan kembali ut-tie Kheng. semua itu telah membuat ia tidak bisa peluk tangan menyaksikan nona cantik itu menghadapi bahaya maut.

Tetapi dengan cara bagaimana baiknya ia dapat merintanginya maksud iblis wanita itu?

Ia tahu betul, seandainya ia terima baik syarat yang diajukan oleh musuhnya musuh itu pasti tidak mau lepaskan dia berlalu begitu saja. Kalau sang musuh itu ajukan syarat serupa itu maksud dan tujuannya tidak lain untuk membikin kedudukannya menjadi lemah dulu.

Untuk sesaat lamanya Yo Cie Cong tidak dapat berbuat suatu apa. sedangkan dada dan pikirannya terus bergolak. hampir saja meledak.

"Bocah, kau terima apa tidak?" demikian ia dengan si iblis wanita mendesak.

Yo Cie Cong hanya perdengarkan suara dihidung, sama sekali ia tidak mau menjawab. Tiba2, dinding sebelah kanan dari kamar batu tersebut, saat itu ber-gerak2, tidak lama kemudian dari situ muncul keluar serombongan orang yang berjalan paling depan, ternyata

Kauwcu dari Im-mo-kao, si iblis Rambut Merah cho ngo Teng. Dibelakangnya berjalan mengikuti lebih dari sepuluh orang.

Diantara orang2 itu yang dikenalnya, terdapat wakil Kauwcu suma chiu, Kauwcu muda dan Tlo Lee Tin-

Tetapi apa yang membuat ia lebih heran adalah, itu wanita berkerudung yang baru2 ini diangkat sebagai ketua baru dari perkumpulan Pek-leng-hwee, entah apa sebabnya juga berada didalam rombongan orang2 tersebut. Rombongan itu pada berbaris disebelah kanan. semua mata diunjukan kearahnya Yo Cie Cong.

Dibelakangnya Yo Cie Cong, kembali terdengar tindakan kaki orang. ia tahu bahwa diluar kamar saat itu pasti sudah dikurung oleh semua orang2nya Im-mo-kao.

Dengan mengandal kekuatannya sendiri, mungkin ia masih sanggup melihat orang2 itu yang berjumlah banyak. tetapi dengan ut-tie Kheng yang sudah berada dibawah ancaman sang musuh, mana dapat ia bergerak leluasa tanpa mengakibatkan kematiannya cucu si Pengail linglung?

Saat itu, matanya Yo Cie Cong sedang ditujukan pada si wanita berkerudung, tetapi sedikitpun ia tidak bisa melihat sikap apa yang ada dibalik kerudung merahnya itu.

Iblis Rambut Merah cho Ngo Teng. perdengarkan suata ketawa yang menyeramkan berkata: "setan cilik Kau sudah pikir masak2?"

sorot matanya Yo Cie Cong yang penuh hawa amarah menatap wajahnya iblis tua itu, namun masih tetap ia tidak menjawab.

Apa yang masih merupakan suatu pertanyaan besar baginya pada saat itu ialah "Dimana letaknya pusat perkumpulan im-mo-kao itu ?"

Kalau dilihat dari gelagatnya, pada saat itu ada kemungkinan besar pusatnya perkumpulan itu memang betul terletak digunung tersebut, Tetapi juga terang bukanlah didalam rumah batu ini.

Hawa udara didalam rumah itu agaknya sangat lembab, sehingga bisa membuat orang susah bernapas. "setan cilik Akan kuhitung. satu sampai lima Kalau kau masih tetap tidak mau terima baik sjarat itu, akan kuhabiskan jiwanya budak perempuan ini." demikian Giok- bin Giam-po berkata lagi sambil ketawa terkekeh-kekeh.

“Kalau begitu, kalian sendiri juga akan mati semuanya" Yo Cie Cong juga tidak mau kalah gertak.

Jawaban ini membikin terperanjat semua orang.

Tiba2 wanita berkerudung itu berpaling dan berkata pada Giok-bin Giam-po: "Phoa Hokshoat (Phoa pelindung hukum), aku punya akal sedikit, untuk paksa dia menerima syarat itu"

"Akal apa ?"

Dengan sorot mata gemas Yo Cie Cong mengawasi dirinya wanita berkerudung itu, dalam hatinya diam2 berpikir: ^Kau sendiri juga tidak akan terhindar dari kematian-

Wanita berkerudung itu lantas menjawab^ "Mudah sekali cuma perlu .. , ."

Berbareng pada saat itu, kakinya sudah digeser, sehingga badannya sudah berada dibelakangnya Giok-bin giam-po, kemudian ia berkata dengan bengis: "Geser kakimu"

Kiranya tangannya wanita berkerudung pada saat itu sudah mengancam bagian jalan darah penting dibadannya Giok-bin Giam-po.

Perbuatan yang sama sekali tidak ter-duga2 itu, membuat Giok-bin Giam-po yang sedang mengancam orang, berbalik terancam sendiri jiwanya, sehingga wajahnya seketika itu menjadi pucat pasi.

Sudah barang tentu juga perubahan yang terjadi secara mendadak ini juga membuat semua orang pada terperanjat dan ter-heran2.

Yo Cie Cong hamper tidak percaya mata kepalanya sendiri, Ia hampir tidak percaya bahwa apa yang terjadi didepan matanya itu betul2 adalah suatu kenyataan-

Mengapa wanita berkedok itu bisa berada didalam rombongan orang2 im-mo-kao. Tetapi pada saat segenting waktu itu, ia lantas turun tangan secara mendadak.

Pada saat itu, Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow benar saja sudah menggeser kakinya yang sedang mengancam dirinya ut-tie Kheng.

Oleh karena kini keadaan telah berubah jadi sedemikian rupa semua orang2nya Im-mo-kao pun tidak ada seorang juga yang berani turun tangan. Kesempatan ini telah digunakan se-baik2nya oleh Yo Cie Cong.

Tepat pada saat Giok-bin Giam-po menggeser kakinya dari dekat ut-tie Kheng, dengan menggunakan ilmunya ‘Menggeser tubuh mengganti bayangan’, cepat bagai bersandar disuatu sudut dinding sambil memondong tubuhnya sinona.

Iblis Rambut Merah cho Ngo Teng dengan sorot mata buas mengawasi dirinya si wanita berkerudung. Lama sekali baru dapat ia berkata dengan suaranya yang seram:

“Budak hina Kau berani berkhianat? Peksleng-hwee nanti akan kusapu bersih sampai rata dengan tanah"

Wanila berkerudung itu. dengan suaranya yang halus merdu, menjawab: "jiwamu sendiri masih belum bisa menjamin, berani kau omong besar lagi. Tahukah kau bahwa

pemimpin Pek-leng-hwee bukan seperti lampu yang akan kehabisan minjak?"

Yo Cie Cong dengan sorot mata ter-heran2 menatap wajahnya wanita berkerudung itu sejenak. kemudian berkata pada iblis Rambut Merah dengan suaranya yang ketus dingin,

"Cho Ngo Teng sekali lagi aku mau kasih penjelasan padamu. Im-mo-kao akan segera sampai pada hari naasnya, seperti apa yang terjadi dengan Kam-lo-pang pada dua puluh tahun berselang. Dengan demikian kawanan bicokok dari dunia Kang-ouw tahu bahwa semua dosa itu hamru ditebus dengan setimpal"

semua orang2nya Im-mo-kao pada menggigil ketika mendengar perkataan Yo Cie Cong tersebut. Pada saat itu sesosok bayangan mendekati si wanita berkerudung dan dengan melakukan serangan membokong.

Yo Cie Cong lantas berseru: "Kau cari mampus"

kemudian dengan kecepatannya yang sudah tidak ada taranya lagi langsung mengirim satu serangan hebat kearahnya pembokong tersebut.

Hampir bersamaan pada saat wanita berkerudung itu dibikin terkejut, Giok- bin Giam-po sudah berhasil melepaskan diri dari ancaman wanita berkerudung itu.

Diantara suara jeritan ngeri, tubuhnya Tio Lee Tin yang langsing, telah terpukul oleh serangan Yo Cie Cong tadi dan wanita berkerudung itupun, pada saat itu juga lantas lompat melesat dan berdiri disampingnya Yo Cie Cong.

Ternyata, orang yang melakukan serangan membokong terhadap wanita berkerudung tadi itu, adalah bekas anak muridnya orang berkedok kain merah yang sudah berontak terhadap perguruannya. orang itu tidak lain daripada Tio Lee Tin-

Untunglah perbuatannya itu sudah dipergoki oleh Yo Cie Cong yang sudah berlaku sangat waspada, yang lantas segera turun tangan menghalangi perbuatan licik dari Tio Lee Tin-

Tetapi, selain menolong dirinya wanita berkerudung. Yo Cie Cong juga sudah melepaskan dirinya Giok-bin Giam-po dari ancaman bahaya maut.

Dengan perasaan sangat terharu Yo Cie Cong berkata pada wanita berkerudung itu, yang saat itu sudah berada disampingnya:

"jikalau nona tadi tidak turun tangan memberikan bantuan entah apa yang akan terjadi malam ini. sungguh sukar dibayangan. Aku yang rendah hampir saja kesalahan mengira kelakuan nona yang telah bercampuran dengan kawanan iblis."

"Ucapanmu ini baik kau simpan saja dulu. sekarang keadaan sangat berbahaya." cepat wanita berkerudung itu menjawab.

Benar saja, semua orang2nya Im-mo-kao pada saat itu dengan cepat sudah menghilang dari ruangan tersebut.

Hanya tertinggal iblis Rambut Merah cho Ngo Teng dengan Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow lagi saja dipihaknya Im-mo-kao. sambil lempangkan kedua tangannya sebatas dada, badannya mereka perlahan-lahan bergerak mundur kebelakang.

"Aaaa, mau kemana? serahkan dulu jiwa kalian- kata Yo Cie Cong bengis. Ucapannya dibarengi dengan meluncurnya serangan dahsyat dari tangannya.

Dua iblis itu dengan cepat lompat masuk kedalam berbareng dengan itu, lantas terdengar suara seperti bom atom meledak. sehingga batu dan pasir pada berhamburan. Dinding sekitar pintu telah menjadi sebuah lubang besar dan rumah yang terbuat dari pada batu tampaknya seperti segera ambruk.

Dari pintu yang sudah rubuh itu, jika orang melongok kedalamnya. akan melihat disebelah dalamnya terdapat lagi sebuah jalan lorong yang gelap.

Yo Cie Cong yang sangat cerdik, sudah lantas sajar bahwa pusatnya perkumpulan Im-mo-kao tentu terletak dibawah goa ini. sedangkan rumah batu itu sendiri se-benarnya hanya merupakan pintu masuknya.

Empat orang laki2 yang berdandan seperti pemburu tadi, sudah terang ada orang2nya Im-mo- kao yang dengan sengaya memberitahukan jalan pada Yo Cie Cong supaya masuk dalam perangkapnya.

Baru saja Yo Cie Cong hendak bergerak menerjang masuk kedalam jalan goa yang gelap itu, tiba2 terderigar suaranya siwanita berkerudung. "Siaohiap. bagaimana dengan ini?"

Yo Cie Cong kini baru ingat bahwa dirinya Ut-tie Kheng saat itu masih belum ingat orang.

Tetapi ia juga kuatir kalau membiarkan mereka berlalu begttu saja, kawanan iblis itu nanti akan merat semuanya. Maka itu sesaat lamanya ia merasa serba salah. Achirnya ia lalu tundukkan kepada memeriksa keadaannya ut-tie Kheng. sekarang ia tahu bahwa nona itu hanya kena tertotok jalan darahnya saja, lain tidak, maka dengan secara ter-gesa2 ia menjawab siwanita berkerudung:

"Atas bantuanmu kali ini, dilain kali pasti akan kubalas. Nona Ut-tie cuma kena totokan pada jalan darahnya. Barangkali tidak akan menjadi rintangan sedikit juga. Harap nona suka bawa ia dulu untuk sementara waktu. Tiga bulan kemudian engkongnya, siorang tua yang disebut Pengail Linglung akan menantikan kedatangannya dirumah makan oey-ho-lao. Aku sendiri, kini akan berusaha terus untuk mengejar musuh2ku, maka aku serahkan dirinya nona Ut-tie ini pada nona, dan atas bantuan sekali lagi ini, aku ucapkan sekali lagi banjak2 terima kasih."

Sebabisnya berkata dengan cepat ia menggunakan ilmu, ‘Hui-siu Kay-hiat’ membuka totokan jalan darah ditubuhnya ut-tie Kheng, kemudian badannya bergerak dan terus melompat masuk kedalam goa.

Wanita berkerudung itu tiba2 berseru dengan suara nyaring: "Kau balik"

Yo Cie Cong terpaksa balik kembali, dengan wajah tampak gelisah ia bertanya: "Masih ada urusan apa nona panggil aku kembali ?"

Wanita berkerudung itu tampak berpikir sejenak. lalu berkata dengan suaranya yang lemah lembut: "Barang kali kau sudah tidak keburu mengejar mereka."

"Kenapa ?"

"Dari dalam goa ini, melalui jalanan didalam gunung, bisa menembus kesuatu tempat yang dinamakan Im-bu-kok. juga tempat ini merupakan markas besarnya Im-mo-kao. Tapi dalam lembah itu banyak sekaii terdapat jalan rahasianya. orang yang hendak kau kejar ada kemungkinan besar sudah merat melalui lain jalan yang masih belum diketahui oleh lain orang."

Yo Cie Cong melongo mendengar keterangan itu, kemudian lalu berkata sambil ketawa getir: "Tapi aku pantang mundur kalau karena itu saja."

"Kalau begitu, kau harus berlaku sangat hati2. jangan sampai kena kejeblos oleh akal busuk yang sangat keji dari mereka."

"aksud baik nona akan selama kusimpan dalam hati, Bolehkah aku tahu nama nona yang mulia?"

"Ini nanti akan kuberitahukan bila kita bertemu lagi."

Terpaksa Yo Cie Cong hanya anggukan kepalanya, dengan wajah agak muram ia menanya. "Nona sekarang sudah menjadi pemimpin perkumpulan Pek-leng-hwee. Mengapa mau mengabdi pada mereka orang Im-mo-kao? Dan apa lagi sebabnya nona berani berkhianat terhadap mereka dan menolong aku yang rendah dengan tidak memikir akibatnya dikemudian hari? Boleh nona memberikan sedikit penjelasan mengenai ini?"

"Aku cuma menerima pesan dari orang lain supaya aku masuk perkumpulan ini. Beradanya aku disini, dengan menggunakan akal pura2 berserikat dengan Im-mo-kao." .

"Siapa itu orang yang memesan pada nona?" "orang berkedok merah."

Yo Cie Cong semakin bingung ketika mendengar jawaban itu, hingga dalam hatinya lantas berpikir: ^Apa sebabnya orang berkedok merah menyuruh wanita berkerudung menyelundup masuk kedalam perkumpulan im-mo-kao. Tindakan ini agaknya melulu lagi2 untuk kepentinganku. Tetapi mengapa dan bagaimana dia tahu kalau aku akan datang kemari hendak mencari musuhku^,

Orang berkedok kain merah itu sejak pertama kali bertemu ditepinya danau Naga dulu, agaknya terus membuntutinya, malah setiap kali apabila Yo Cie Cong berada dalam keadaan yang sangat berbahaya ia lalu muncul secara tiba2. Mengapa?

Inipun merupakan suatu teka-teki juga bagi Yo Cie Cong. suatu teka-teki yang sulit dapat dijawab, sehingga membuat Yo Cie Cong semakin memikir semakin bingung dibuatnya.

"Tahukah nona apa sebabnya orang berkedok merah itu minta nona berbuat begitu?" "Tentang ini, maafkan aku tidak bisa berikan jawabannya padamu,"

"Kalau begitu, sekarang juga kuserahkan nona ut-tie ini kepada nona. sampai bertemu lagi." setelah meninggalkan pesannya itu, Yo Cie Cong lalu mewujutkan maksudnya untuk mengejar musuh2nya, sekejap saja ia sudah menghilaog, dari hadapannya itu wanita berkerudung.

setelah pemuda gagah dan tampan itu lenyap dari pandangannya, si wanita berkerudung menghela napas panjang sambil mengawasi terus kearah menghilangnya Yo Cie Cong.

Pada saat itu, ut-tie Kheng sudah siuman kembali. Ketika ia membuka matanya terus ia melompat bangun. Dengan sorot mata ter-liar2an ia mengawasi itu waniia berkerudung, lama sekali baru ia bisa membuka suara: "Kaukah yang menolong aku ?"

"Bukan-"

“siapa?"

"Pemiik Golok Maut."

"Dan sekarang, kemana dia?"

"sudah pergi. Tapi dia telah menyerahkan kau padaku. Dia suruh aku mengawani kau kerumah makan oey-ho-louw untuk menemui engkong mu."

Rasa pedih dan duka terlintas diwajahnya ut-tie Kheng, "Tidak Aku harus mencari dia."

"Kau tidak dapat menemui dia. sekarang kita sendiri berada dalam keadaan bahaya. Kita perlu meninggalkan tempat ini dulu. Lebih cepat lebih baik,"

"Tidak. Kalau mau pergi, pergilah sendiri Aku masih perlu padanya." "Kemana kau hendak mencarinya ?"

Ut-tie Kheng yang sudah ingin sekali bertemu dengan Yo Cie Cong, ketika mendengar pertanyaan itu, lantas terperanjat. Dalam hatinya lalu berpikir. Benar juga katanya, kemana aku harus mencari padanya." setelah berpikir sejenak. kemudian berkata pula: "Bolehkah kau beritahukan padaku kearah mana tadi dia pergi?"

"Aku sendiri juga tidak tahu. sebab ketika tadi dia berlalu, dia tidak mengatakan lebih dulu kepadaku."

Sepasang matanya ut-tie Kheng lantas merah. Butiran air mata mulai mengalir keluar. Ia masih tetap kukuh dengan pendiriannya sendiri, maka ia terus saja mendesak pada wanita berkerudung: "Tolonglah kau beritahukan padaku. sekalipun sampai diujung langit aku akan juga akan mencari terus padanya."

sehabis berkata, ia lantas memutar tubuhnya hendak berlari keluar dari rumah batu itu. "Untuk sekarang ini, barangkali dia masih belum mau menemui kau. Mungkin dia masih ada

kesulitan. Aku tahu kalau kau mencinta sangat padanya, maka kau harus dengar perkataannya. Bahkan kau harus turut juga memikirkan bagaimana kesengsaraan dan penderitaan engko-mu yang terus-menerus menantikan kau."

Ut-tie Kheng tergerak hatinya.

Wanita berkerudung itu lantas menepuk pundaknya ut-tie Kheng seraya berkata: "Aku mungkin lebih tua daripada kau. Maka ijinkanlah aku memanggilmu adik, Marilah ikut aku pergi"

Sambil menarik tangannya ut-tie Kheng ia lari dengan pesat.

sekarang mari kita menyusul Yo Cie Cong yang mengejar musuhnya dari jalanan goa itu. Napsunya untuk dapat menuntut balas sakit hati perguruannya telah membuat ia melupakan segala bahaya. Diluar dugaannya, disepanjang perjalanannya didalam terowongan itu ia tidak mendapatkan rintangan suatu apa.

Tidak antara lama ia lantas dapat melihat sinar terang. ia tahu juga bahwa ia sudah sampai diujungnya mulut goa , maka lantas gerak kakinya dipercepat.

Ketika Yo Cie Cong berada didalam terowongan, sesosok bayangan manusia terus menguntit dibelakangnya secara diam2,

Ketika Yo Cie Cong sudah keluar dari mulut goa, kembali ia dapatkan dirinya berada dimulut lembah lagi yang banyak kabutnya. Tetapi dengan mengandalkan daja lihatnya yang sangat tajam, ia masih dapat melihat dengan tegas keadaan disekitar tempat tersebut.  Lembah sempit dimana ia berdiri ternyata dikitari oleh puncak2 gunung yang menjulang tinggi kelangit. Diantara tebalnya kabut, samar2 dapat dilihatnya beberapa buah bangunan rumah, yang mungkin menjadi pusatnya perkumpulan Im-mo-kao yang satunya lagi.

Tetapi apa yang mengherankan disitu ia tidak dapat melihat bayangan seorangpun juga, setelah berpikir sejenak, Yo Cie Cong lalu berjalan lagi mendekati bangunan rumah2 tersebut.

Ia telah mengerahkan kekuatannya pada kedua tangannya bersiap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan-

Mendadak, dibelakang dirinya terdengar suara gemuruh.

Yo Cie Cong terperanyat. Ketika ia menoleh, mulut goa ternyata sudah dibikin meledak dan saat itu batu2 sedang berhamburan dengan hebatnya menguruk tempat tersebut.

Yo Cie Cong hanya mengawasi itu semua sambil ketawa dingin. semua itu tidak digubrisnya sama sekaii. Ia terus melanjutkan perjalanannya untuk mencapai bangunan rumah2 tersebut.

Didalam lembah itu, kabut tampak sangat tebal.

Karena tempat tersebut dikitari oleh puncak gunung, maka hanya tebing tinggi yang seperti dinding batu sajalah yang mengitari tempat tersebut. Karena curamnya tempat itu, sampai segala binatang, juga sukar tinggal ditempat tersebut. Itu pulalah sebabnya mengapa Yo Cie Cong sudah mencari ubek2an, masih belum dapat menemukan pusatnya perkumpulan Im-mo-kao yang sangat tersembunyi itu.

Yo Cie Cong, yang dalam hatinya hanya memikirkan menuntut balas sakit hati saja, sama sekali tidak memikirkan kalau jalan mundurnja-sudah buntu.

Ia terus berjalan. Makin lama makin mendekati rentetan rumah2 itu. sekarang ia telah dapat melihat dengan nyata bahwa barisan rumah2 yang kira2 ada seratus buah banyaknya itu. terpisah kira2 seratus tombak dari bangunan rumah2 itu terpant yang sebuah papan besar yang diatasnya ada gambaran lukisannya setengah badan dari seorang berambut merah dengan roman mukanya yang bengis. Itu adalah gambarnya iblis Rambut Merah cho Ngo Teng sendiri.

Yo Cie Cong dalam gusarnya lalu menyerang papan itu dengan tangannya. sebentar kemudian papan itu sudah hancur berantakan.

Papan yang merupakan lambang dari perkumpulan Im-mo-kao telah hancur berantakan ditanah.

Tiba2 matanya menatap sebuah gundukan ditanah, yang letaknya disebelah kanan sepuluh tombak dari tempatnya berdiri, Diatas gundukan tanah itu ternyata masih terdapat sebuah peti mati, Yo Cie Cong segera lompat menghampiri.

Disampingnya peti mati, ada sebuah liang kubur yang tampaknya baru habis digali. Didepan peti mati yang terletak disamping liang kubur, terdapat sebuah batu nisan.

Yo Cie Cong merasa heran melihat pemandangan itu. Entah siapa orangnya yang binasa, sampai sekarang masih belum dikubur?

Terdorong oleh perasaan heran, membuat ia seperti tertarik oleh batu nisan itu, Dan apa yang tertulis diatas batu nisan itu, hampir saja membuat dadanya meledak. Batu nisan itu tertulis dengan huruf2nya yang berbunyi: "Disini tempat bersemayam arwahnya pemilik Golok Maut Yo Cie Cong"

Tidak usah dikata lagi, peti mati disitu adalah perbuatannya orang2 Im-mo-kao yang sengaya menyediakan tempat tersebut untuknya.

Dalam gemasnya, ia mengayunkan tangannya menggempur peti mati itu.

"Anak. jangan" dermikianiah tiba-tiba terdengar suara yang kemudian disusul oleh munculnya seseorang dengan dibarengi kekuatan tenaga dalam menghalangi perbuatan Yo Cie Cong yang hendak menghancurkan peti tersebut.

Dengan secara kebetulan, tubuhnya melayang kebelakang sebuah pohon bambu.

Baru saja badannya Yo Cie Cong terpental, lantas terdengar suara ledakan hebat, tanah dan batu pada berhamburan ditengah udara, bercampur dengan asap dan baunya obat pasang. Gundukan tanah serta peti matinya telah hancur berantakan-

Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong. sungguh tidakpernah ia menyangka bahwa peti mati itu berisikan bahan peledak. Hampir saja ia hancur lebur disitu.

Ia masih belum tahu juga, siapakah adanya orang yang tadi membuat ia terpental begitu jauh. Untuk ketiga kalinya ia telah terhindar dari bahaya kematian.

Tepat pada saat suara ledakan tadi berbunyi, disekitar tempat tersebut lantas

muncul beberapa bayangan manusia. Dua orang yang rupa2nya memimpin rombongan tersebut, ternyata ada Iblis Rambut merah sendiri, dengan iblis wanita Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow.

Saat itu lantas terdengar suaranya Iblis Rambut Merah yang diiringi oleh suara ketawanya yang menyeramkan.

"Ha, ha, ha, Bencana sudah kita singkirkan, sekarang kita boleh tidur dengan perasaan

aman,"

Giok-bin Giam-po lantas menyahut dengan suara dingini "Kauwcu, kau jangan merasa girang dulu Periksalah dulu keadaan sekitar tempat ini. setan cilik itu ternyata sudah bisa lolos dari senjatamu yang paling ampuh, jaring merahmu dan didalam kamar batu kembali ia dapat ditolong oleh si budak hina yang menghianati kita. sekarang aku masih merasa sangsi apakah setan cilik itu "

"Ha. Phoa Hok-hoat, kau terlalu banyak pikir Setan cilik itu saat ini barangkali sudah menemui Giam-lo-ong."

Meski dimulutnya Iblis Rambut Merah mengatakan demikian, tetapi dihatinya ia masih punya sedikit rasa kuatir. cepat2 ia berjalan menuju ketempat yang barusan meledak.

Setelah mengadakan pemeriksaan sejenak. lalu ia berseru kaget: "Eh sungguh aneh. Kenapa sama sekali tidak kelihatan tanda2 darah atau kepingan daging manusia?" Giok-bin Giam-po dengan wajah berubah berkata:

"Jangan2 sekali lagi ia dapat meloloskan diri Rencana kita yang terakhir ini kalau sampai gagal lagi, habislah sudah semuanya."

Iblis Rambut Merah kini baru merasa bahwa keadaan sudah sangat genting. Dengan cepat ia mengulapkan tangannya dan lekas berikanpada semua anak buahnya: "Geladah"

"Menjalankan perintah."

Diantara suara riuhnya anak buahnya Im mo-kao yang berjumlah tidak kurang dari dua ratus jiwa, dengan senjata masing2 terhunus dan men-bagi2 diri menjadi beberapa kelompok. terus mengadakan pemeriksaan disekitar tempat tersebut.

Tetapi didalam hatinya setiap orang itu semuanya pada diliputi perasaaan takut yang sangat, semua merasa ketar-ketir, sebab dengan melakukan penggeledahan secara demikian itu, tidak bedanya dengan perbuatannya kambing yang hendak mencari jejaknya harimau. 

Yo Cie Cong yang sedang bersembunyi dibelakangnya sebatang pohon bambu. telah dapat mendengar nyata semua pembicaraan mereka.

Selagi ia memikir bagaimana baiknya unjukkan diri, dilihatnya orang2nya Im-mo-kau dengan gerombolan beberapa puluh orang, sedang berjalan menuju ketempat persembunyiannya.

sebentar saja rombongan orang2 itu sudah sampai ditempat yang tidak cukup dua tombak didepan matanya.

Rasa gusar telah menyesak dada. Dengan wajah penuh hawa napsu membunuh, badannya Yo Cie Cong melesat tiga kali.

Rombongan orang2 im-mo-kao itu, ketika melihat dari belakang gerombolan bambu

muncul dengan mendadak dirinya seseorang, apalagi setelah mengetahui siapa orangnya itu, semangatnya lantas terbang seketika. sehingga suara jeritan dan seruan terdengar amat ramai. Sambil kertak gigi Yo Cie Cong menghampiri mereka, kemudian memutar kedua belah tangannya, dengan menggunakan kekuatan penuh dengan ilmunya chiu-hong Lok-yip ia menyapu kearah rombongan orang2 tersebut.

Dalam waktu sekejapan saja lantas terdengar suara jeritan ngeri beberapa kali, orang2 itu pada terbang tinggi untuk terus jatuh bergelimpangan se-olah2 daun kering tertiup angin saja,

Yo Cie Cong yang sudah sangat mendongkol dan merasa gemas bukan kepalang atas perbuatannya orang2 Im-mo-kao, turun tangannya pun tanpa mengenal kasihan lagi. tanpa pilih bulu. setelah serangannya yang pertama itu, ia menyusul pula oleh serangan lanjutannya. Maka sebentar saja anak buahnya Im-mo-kao yang jumlahnya kira2 empat puluh orang itu sudah pada menggeletak diatas tanah bagai bangkai-bangkai semuanya.

Didalam lembah yang diliputi kabut tebal itu, yang tampaknya meski seram tetapi tenang, sesungguhnya tidak pernah disangka bahwa hari ini akan terjadi pembunuhan besar2an-

Setelah rombongan orang yang pertama itu terbinasa semuanya, rombongan yang lainnya lantas pada meluruk maju semua menyerbu Yo Cie Cong. Yo Cie Cong lantas menghunus senjata. Kembali Golok Maut akan beraksi.

Dengan senjara Golok Maut ditangan kanan dan kekuatan tenaga dalam ditangan kiri ia melesat kedalam rombongan orang2 itu Perbuatan yang sudah seperti orang kesetanan,

Sebentar saja disitu sudah banjir darah.

Anggota badan manusia tampak berserakan ditanah. Mereka semua telah menjadi korbannya Golok Maut.

Pembunuhan yang sangat mengerikan ini berlangsung terus, sehingga dalam waktu sekejapan saja darah sudah membanjiri tempat itu, bangkai manusia ber-tumpuk2 seperti gunung anakan.

Beberapa anak buahnya Im-mo-kao yang terhitung golongan yang paling kuat, setelah mengadakan perundingan sejenak. dibawah pimpinan Kauwcunya sendiri mulai menyerbu Yo Cie Cong.

Orang2nya Im-mo-kao yang masih belum binasa dengan rasa penuh ketakutan lantas pada mundur serabutan.

Diantara tumpukan bangkai manusia itu, Yo Cie Cong berdiri tegak se-olah2 utusan Giam-lo- ong baru tutun dari langit.

Iblis Rambut Merah bersama Giok- bin Giam-po dan beberapa puluh orang kuat Im-mo-kao lainnya mengurung dirinya Yo Cie coag di-tengah2.

Diantara rombongan orang2 itu, juga terdapat Tio Lee Tin yang saat itu sedang memandang Yo Cie Cong dengan sorot mata buas.

saat itu matanya Yo Cie Cong sudah merah membara. Badannya sudah berlepotan darah musuh2nya. Dengan sorot mata buas ia menatap wajahnya iblis Rambut Merah. kemudian berkata padanya dengan suara gusar .

"Cho Ngo Teng Hari ini tidak akan satu manusia pun juga yang boleh tinggal hidup didalam lembah In-bun-kok ini"

Ucapan yang diberitahu penuh rasa kegusaran dan napsu pembunuhan ini, membuat kawanan iblis itu pada tergont yang hebat hatinya.

Iblis Rambut merah matanya mengawasi bangkai anak buahnya yang berserakan ber-tumpuk2 diatas tanah, dengan sorot mata gusar yang tak terhingga ia menjawab:

"Setan cilik Kauwcumu kalau tidak mampu membeset kulitmu dan tidak dapat membikin remuk tulang2mu, bersumpah tidak akan jadi orang lagi"

Sehabis mengeluarkan perkataannya. badannya agak mundur setengah tindak. sepasang matanya dipejamkan dan kedua lengan tangannya diangkat naik, kemudian mendorong keluar dengan perlahan- saat itu juga lantas terdengar suara tulang2 yang berkretekan, dan telapakan tangannya segera keluar hawa dingin luar biasa yang bisa mencapai sejarak kira2 tiga tombak. Yo Cie Cong segera mengerti bahwa itu ada ilmu serangannya iblis rambut Merah yang paling ampuh yang dinamakan Thay-im-ciang, Maka ia segera mengeluarkan ilmunya ‘Liang-kek cin- goan’ untuk menyambuti serangan tersebut.

Kekuatan dari kedua pihak termasuk ilmu kekuatan sakti semuanya. maka diluar kelihatan tidak seberapa hebat dan aneh, tapi kekuatan ada mengandung didalamnya ada sangat hebat.

Oleh karena dahsyatnya ilmu Liang- kek cin-goan yang setiap saat bisa berubah keras maupun lunak. maka begitu kedua kekuatan itu bertemu, lantas kelihatan mujijatnya ilmu tersebut.

Setelah terdengar suara benturan nyaring, ilmu kekuatan yang mengandung hawa dingin dari iblis Rambut Merah lantas buyar dan lenyap seketika.

Pada saat itu anak buahnya iblis Rambut Merah yang termasuk golongan kuat, telah melakukan serangan membokong kepada dirinya Yo Cie Cong dengan berbareng.

Kekuatan dari orang2 yang dipusatkan jadi satu itu, sudah tentu merupakan kekuatan tenaga gabungan yang hebat sekali.

Yo Cie Cong yang mengetahui dirinya sedang dibokong, lantas memusatkan seluruh kekuatannya itu pada kedua tangannya, kemudian mengeluarkan serangannya dengan menggunakan ilmunya dari ouw-bok sin-kang yang dinamakan ‘Kiau-khun sit-sek’

Kekuatan yang keluar dari kedua tangannya Yo Cie Cong telah menimbulkan gemuruh bagaikan gunung rubuh, angin hebat telah mendampar, se-olah2 gelombang air laut yang sedang mengamuk.

Akibatnya dua orang diantara orang kuat tadi sudah binasa seketika itu juga, yang lainnya pada jatuh bergulingan, sedang Yo Cie Cong sendiri juga terpental mundur sampai beberapa tindak.

Dalam keadaan demikian. iblis Rambut Merah kembali melakukan serangannya dengan ilmunya ‘cay-im-ciang’

Yo Cie Cong sambil kertak gigi lompat kesamping dua kaki, tapi belum lagi berdiri tegak. Giok- bin Giam-po dan dua orang kuat dari Im-mo-kao yang berada dikanan Yo Cie Cong sudah mengeluarkan serangannya berbareng.

Keadaan Yo Cie Cong pada saat itu se-olah2 terjepit diantara orang2 kuat dari kawanan iblis itu, serangan dengan kekuatan tenaga hebat telah menggempur dirinya dari berbagai penjuru.

Dengan menggunakan seluruh kekuatan tenaganya Yo Cie Cong kembali mengeluarkan ilmunya ouw-bok sin-kang gerak keempat yang dinamakan ‘Lo-hay siu-po’ untuk menyambuti setiap serangan musuhnya.

Setelah beberapa jurus berlalu Yo Cie Cong sudah mulai bergolak dadanya. ia pikir jika pertempuran berlangsung terus secara demikian, sesungguhnya tidak menguntungkan baginya, maka ia menggunakan akal untuk menarik keuntungan-

Dengan cepat ia rubah caranya bertempur, sembari mengikuti arahnya angin, ia berterbangan ditengah udara, ini adalah ilmunya dari wan-san siok-sioknya cek Kun, yang merupakan suatu ilmu meringankan tubuh yang istimewa.

Setelah Yo Cie Cong berputaran ditengah udara, kemudian menukik turun bagaikan burung alap2 yang hendak menerkam mangsanya.

Dan setiap kali ia menyerang dengan cara menukik itu, pasti ada seorang yang menjadi korban.

Sebentar saja, fihak musuhnya cuma ketinggalan iblis Rambut Merah, Giok-bin Giam-po dan Tio Lee Tin bertiga. Yo Cie Cong lantas melayang turun lagi ketanah.

sedang orang2nya Im-mo-kao yang berdiri sejarak 10 tombak jauhnya, agaknya sudah dapat melihat kalau pertempuran ini tidak menguntungkan pihaknya. maka dengan diam2 pada angkat kaki secara pengecut.

Yo Cie Cong setelah turun, dengan cepat mengeluarkan senjata Golok Mautnya, sedang tangan kirinya dengan kekuatan tenaga sepenuhnya menyerang Giok-bin Giam-po. Iblis wanita itu menyambuti serangannya Yo Cie Cong sambil ketawa dingin. Tetapi sama sekali ia tidak pernah menduga bahwa serangannya Yo Cie Cong itu bisa begitu hebat.

Setelah saling mengadu kekuatan dirinya Giok-bin Giam-po terpental mundur sampai tiga tindak. Yo Cie Cong hanya tergetar sedikit saja badannya.

Berbareng pada saat itu iblis rambut Merah juga sudah melancarkan serangannya dengan tenaga sepenuhnya.