Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 20

Jilid 20

Yo Cie Cong berpikir pergi datang, tetapi semua terasa buntu tidak dapat mengambil keputusan tetap.

"Anak, kau rupanya masih punya banyak urusan- Apa sebetulnya yang sedang kau pikirkan ?"

Yo Cie Cong merasa agak sukar menjawab pertanyaan itu, maka segera ia alihkan pembicaraannya kelain soal.

"Bibi Tho, maafkan kalau aku beriaku kurang sopan- Aku ingin dapatkan sedikit keterangan dari kau, adakah Glok-bin Kiam-khek IHoa Thian Hoa itu pernah mencintai bibi?”

Wajahnya Thian-san Liong- lie taimpak Semakin muram. cinta telah membuat ter-sia2 masa mudanya ia selalu menantikan terwujutnya cintanya yang dirindukan "Anak. apa perlunya kau menanyakan soal ini ?"

"Aku cuma mau tahu sedikit saja. Pengorbanan begitu besar dari bibi Tho ini sebetulnya ada harganya atau tidak."

"Anak, itu semua sudah lalu, Biarlah semuanya berlalu begitu saja. Kalau kita ungkit2 lagi nanti akan terus membikin ruwet pikiran manusia yang sudah biarlah sudah. cuma, apa yang bisa kuberitahukan padamu, kita berdua memang pernah saling mencinta, meski dalam waktu yang sangat singkat saja. Walaupun begitu, sudah cukup untuk kujadikan kenangan selama hidupku, sekalipun ia kini telah lenyap dan tidak ketahuan mati hidupnya "

"Bibi Tho dia "

Yo Cie Cong sebenarnya ingin sekali memberitahukan keadaan yang sebenarnya mengenai orang yang di-cari2 bibinya itu. Tetapi ketika mengingat bahwa mungkin sekali Hoan Thian Hoa itu ayahnya sendiri, ditambah lagi karena ia pernah berjanji padanya bahwa ia akan menyiarkan ke dunia Kang-ouw tentang kebinasaannya ke dalam jurang, maka perkataan yang hampir keluar dari mulutnya itu lalu ditelannya kembali.

"Dia siapa dia itu, anak ?"

Wajah Yo Cie Cong lantas berubah jadi merah seketika, "Kau berdua berpisah apakah lantaran dia cintakan orang lain?"

"Tapi aku masih bisa maafkan padanya, sebab dia juga manusia biasa, terdiri dari darah dan daging seperti juga manusia lainnya, tidak berdaya melawan godaan wanita."

Hatinya Yo Cie Cong serasa tertusuk. Wanita yang dimaksudkan oleh Thian-san Liong- lie ini justru adalah Giok- bin Giam-po Phoa Tiit Kouw, sedangkan yang tersebut belakangan ini ada kemungkinan besar adalah juga ibu kandungnya sendiri, Hanya dari Ucapan bibi Tho-nya ini, sudahlah cukup terpeta bagaimana orangnya macam Giok-bin Giam-po itu.

Ia tidak inginkan pembicaraan itu berlangsung terus, Ia juga tidak ingin membicarakan hal2 yang mengenai dirinya Giok-bin Giam-po, meskipun ada kemungkinan besar ia adalah ibunya sendiri Tetapi dengan terbukanya tabir yang menyangkut dirinya sendiri, baginya hanya merupakan suatu penderitaan bathin yang sangat besar saja, maka itu cepat ia alihkan pembicaraan kelain hal.

"Bibi Tho, yang sudah biarlah sudah. Lupakanlah padanya." "Anak, kau masih belum mengerti ?"

Sebetulnya Yo Cie Cong juga belum mengerti pahit getirnya orang yang sedang terbenam dalam lautan asmara. Hanya terhadap seorang gadis, gadis baju merah siang-koan Kiauw, sampaipada saat itu saja masih belum dapat didapatkannya. Untuk menghapus bayangannya seorang yang pernah menggores dalam hati sanubari seseorang yang sangat berkesan, itu sebetulnya merupakan suatu hal yang tidak mungkin sama sekali.

Ia merasa tidak perlu berdiam lebih lama lagi disitu. Ia merasa tidak mampu melakukan sesuatu untuk bibi Tho-nya. Didalam perasaannya, didalam liangsim-nya ia merasa masih berhutang budi kepada Thian-san Liong- lie. Hutang yang mungkin tidak mampu dibayarnya, sebab ia sudah berjanji hendak mencari kabar beritanya tentang Hoan Thian Hoa untuk bibi Tho- nya ini setelah bertemu muka dengan Hoan Thian Hoa yang masih segar bugar dalam dunia, yang hanya karena hendak mengasingkan diri dari dunya ramai tidak dapat diberitahukannya pada pada bibi Tho-nya.

Kabut tebal yang meliputi daerah gunung Hoa-sanp per-lahan2 melenyap. sinar Matahari pagi sudah mulai mencorong, keadaan yang semua remang2 kini per-lahan2 turut berubah menjadi semakin terang. Tetapi kedua orang itu, yang kelihatan berdiri tenang di Hong-goat-peng. masih tetap terbenam dalam lamunannya sendiri2. suara burung2 berkicau terdengar ramai, dari atas pohon2 besar. agaknya mereka turut membicarakan nasib malang yang menimpa dirinya kedua mahkluk hidup itu.

Yo Cie Cong menghela napas panjang, Dengan sorot matanya yang penuh rasa simpati ia mengawasi Thian-san Liong-lie sejenak. lalu berkata "BibiTho, aku pernah berjanji hendak melakukan sesuatu uutukmu, tapi "

"Apa....apa? Anak. aku sudah tidak ingat lagi apa itu."

"BibiTho, aku dahulu pernah berjanji hendak turut menyelidiki jejaknya atau soal mati hidupnya Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa."

"Ooooo, itu" Hanya begitu saja yang dapat keluar dari mulutnya Thian-san Liong- lie. Dimatanya terlihat tegas sinarnya yang penuh rasa cinta kasih, berterima kasih dan murung. Rupa2nya perasaan tercampur aduk jadi satu. Ia menatap wajahnya Yo Cie Cong sekian lama, lalu geleng2kan kepalanya, kemudian berkata sambil ketawa getir.

"Anak. apa kau juga masih belum mendapat kabar apa2 mengenai dirinya? Tapi aku masih merasa berterima kasih padamu."

Wajahnya Yo Cie Cong merah karena ia sebetulnya telah membohongi bibinya itu .

Keadaan telah memaksa ia berbuat demikian, tapi sebagai seorang jujur, biar bagaimana hatinya merasa tidak enak terhadap bibinya yang paling dihormati dan dicintai itu.

Ia tundukkan kepalanya, tidak berani memandang Thian-san Liong-lie. Hatinya merasa tidak tenteram, maka ia merasa tidak berani berada lebih lama lagi, kalau tidak. la nanti bisa menerangkan keadaan yang sebenarnya,

"Bibi Tho, aku masih mempunyai kewajiban hendak menyelesaikan penuntutan balas sakit hati terhadap perguruanku, maka tidak bisa mengawani kau lebih lama lagi mudah2an dilain kali apa bila bertemu lagi, kita masih sama2 dalam keadaan selamat tidak kurang suatu apa. sementara mengenai janjiku yahg hendak mencari tahu dirinya Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa, aku masih hendak melakukan terus sehingga mendapat kabar sebenarnya."

Lagi sekali Thian-san Liong- lie mengawasi wajahnya Yo Cie Cong, sementara itu dalam hatinya kembali berkata: " betapa miripnya anak ini dengan dia."

Dengan tanpa dirasa, matanya lantas merah, air mata ber-linang2 mengalir turun dipipinya. Ia buru2 berpaling dan memandang matahari yang baru terbit dan berkata kepada Yo Cie Cong dengan suara terharu.

"Anak pergilah, aku cuma ingin menyampaikan sepatah kata saja kepadamu, jiwamu seperti juga dengan matahari pagi yang sedang munculpada saat ini, mudah2an kau bisa bawa diri baik2. selamat sampai ketemu kembali"

"Bibi Tho, terima kasih atas perhatianmu. selamat bertemu"

Sementara itu, dalam hatinya lantas berpikir: "ja, jiwa ku seperti matahari pagi yang sedang muncul, tapi nasib dan perjalanan hidupku akan membuat aku lebih cepat menemukan ajalku."

Achirnya, dengan sorot mata sayu, ia memandang Thian-san Liong- lie sekali lagi, kemudian balikkan badannya dan berlalu. Dibelakangnya, ia dengar suara orang menghela napas panjang.

Hari itu, diwaktu lohor, Yo Cie coog dengan seorang diri berjalan diatas jalan raya yang menuju ke ouw-pak. Didalam hatinya sedang memikirkan perjalanannya untuk selanjutnya musuh2nya yang hendak dicari, ternyata tidak karuan jejaknya.

Ia terpaksa harus mencari dengan sabar. saat itu, ia sedang tujukan kakinya dalam perjalanan menuju kepusatnya perkumpulan Im-mo-kao, untuk membuka tabir apa sebabnya Im-mo-kao selalu memusuhi dirinya? Tapi dimana letaknya pusat perkumpulan Im-mo-kao? sama sekali belum diketahui olehnya.

Sejak rahasia asal usul dirinya dibuka oleh orang berkedok kain merah, hatinya terus merasa seperti tertindas, sehingga membuat ia susah bernapas. setiap menit dan setiap detik, selalu dibayangi oleh penderitaan bathinnya. Tiba2 ada beberapa bayangan orang telah melalui disampingnya.

Yo Cie Cong dengan tanpa terasa telah berseru: "Hiii" sedang dalam hatinya lantas berpikir: heran, apakah didalam golongan pengemis Kay-pang ada terjadi sesuatu? sebab tengah hari hingga saat ini, sudah ada lima rombongan orang2 kuat dari golongan itu yang lewat melalui aku.^

Diwaktu masih anak2. Yo Cie Cong sudah pernah bergaul dengan kawanan pengemis, maka terhadap golongan Kay-pang, sedikit banyakada mempunyai tali perhubungan persahabatan.

saat itu ia lantas berpikir pula: "Mengapa aku tidak minta keterangan keadaan mereka? Kalau betul dalam Kay-pang ada kesulitan, dengan mengingat hubungan kita yang lama,aku yang mengetahui urusan ini bagaimana bisa peluk tangan begitu saja?" Setelah mengambil keputusan demikian, dengan tanpa ayal lagi tubuhnya lantas melesat, secepat kilat ia sudah berlarian menyusul orang2 Kay-pang tadi.

sebentar saja, ia sudah lari kira2 dua lie, tapi orang2 dari Kay-pang tadi sebaliknya sudah tidak kelihatan bayangannya. Ia merasa ter-heran2, sebab dengan kepandaiannya ilmu lari pesatnya yang dipunyai, meskipun belum menjagoi didalam rimba persilatan, tapi tidak sampai begitu jauh selisihnya dengan kepandaian orang2 Kay-pang. Tidak mungkin dalam beberapa detik saja sudah ketinggalan begitu jauh, bahkan tidak bisa mencandak jejaknya. Dalam hal ini, kalau tidak melampaui terlalu jauh, orang2 itu tentunya menyimpang ditengah jalan.

Terpaksa Yo Cie Cong hentikan kakinya. Dengan matanya yang tajam, ia coba mencari sekitarnya.,

Dibelakang dirinya terpisah kira2 satu lie jauhnya, mendadak ia dapat lihat lagi beberapa bayangan orang sedang ber-lari2an. sebelum mengetahui apa yang akan terjadi, bayangan orang itu sudah membelok kedalam rimba yang berada disebelah kanannya jalan

"Apa aku kata, orang2 tadi kiranya pada membelok kedalam rimba" demikian Yo Cie Cong berkata kepada dirinya sendiri.

Dengan cepat ia lantas putar badannya dan melesat kearah rimba. Kali ini bayangan beberapa orang itu benar2 sudah tidak terlepas lagi dari pandangan matanya, hingga sebentar saja sudah berhasil mencandaknya.

Benar seperti apa yang ia duga, orang2 itu adalah orang2 golougan Kay-pang. Dengan kecepatan luar biasa, se-olah2 bianglala, ia meluncur turun dihadapannya orang2 itu berkata.

"Berhenti "

Dalam terkejutnya, empat orang Kay-pang yang usianya kira2 pertengahan umur, mendadak hentikan gerakan kakinya. Ketika mengetahui bahwa orang yang minta mereka hentikan tindakannya adalah seorang pemuda cakap. satu diantaranya lantas hendak menegur. Tapi kawannya yang berwajah pucat kuning, sambil goyangkan tangannya mencegah ketiga kawannya bertindak secara gegabah,

Kemudian dengan seksama ia meng-amat2i dirinya Yo Cie Cong, wajahnya lantas mengunjukan perasaan kagetnya, setelah mundur satu tindak, ia lantas berkata dengan agak gemetar: "Tuan adalah "

Yo Cie Cong lantas menjawab dengan tenang: "Pemilik Golok Maut."

Begitu nama itu keluar dari mulutnya, empat orang kuat dari golongan pengemis itu se-olah2 berjumpa dengan setan atau siluman, wajahnya pucat seketika, dengan serentak pada mundur tiga tindak.

sebab dimana malaikat pencabut nyawa itu muncul, disitu pasti akan terjadi pertumpahan darah. Dengan kepandaian yang begitu tinggi, empat orang kuat dari golongan pengemis itu tahu bukan tandingannya. jikalau Pemilik Golok Maut itu bermaksud mencabut nyawa mereka, sudah tentu mereka cuma bisa pasrah pada nasib saja.

Lama tidak ada yang membuka suara, akhirnya pengemis yang wacahnya pucat kuning itu telah memberanikan diri untuk menanya:

"Numpang tanya, apa sebabnya tuan merintangi perjalanan kami berempat?" "Kalian hendak kemana" Yo Cie Cong balas menanya,

"Apa perlunya tuan menanyakan soal ini?" berkata si pengemis wajah pucat. "Kau tak usah perduli, jawab saja pertanyaanku sejujurnya."

Empat orang kuat dari golongan pengemis itu betul merasa tersinggung oleh perbuatannya Yo Cie Cong yang dianggapnya sangat memandang rendah. Mukanya lantas berubah bengis dan kejam. salah seorang diantaranya lalu berkata dengan suara gemas:

"Kami orang2 dari golongan pengemis. lebih baik hancur lebur tapi tidak suka dihina. Apa yang tuan tanya tidak dapat kami jawab. Terserah padamu sendiri Kalau mau turun tangan, lekaslah"

sehabis berkata keempat orang itu masing2. pada berdiri dengan mengambil sikap menantang, sebaliknya dengan Yo Cie Cong, ia telah dibikin tercengang oieh tindakan mereka itu. Ia tidak tahu apa sebabnya mereka berbuat seperti itu, maka cepat2 ia menanya dengan heran-

"Apa maksud kalian berbuat begitu?"

Mereka melihat pemilik Golok Maut itu agaknya tidak ada maksud turun tangan, walaupun maksujang sebenarnya masih belum diketahui, maka yang wajahnya pucat tadi lalu berkata pula:

"Harap tuan beritahukan dahulu apa maksud pertanyaan tuan tadi?" "Aku hendak menanyakan seseorang. Apa dia berada didekat sini?" "siapa dia itu?"

"si pengemis sakti kecil wajah hitam."

orang2 itu tiba2 saja berubah wajahnya semua dan menjawsb serentak, "Yang tuan maksudkan tadi adalah sesepuh (Tianglo) dari golongan kami."

"sekarang dia ada dimana?"

"Tuan mencari sesepuh kita ada perlu apa "

"Ha, ha ... Giok- hoa- jie, selamat bertemu." demikian terdengar suara seruhan seseorang yang lantas disusul dengan munculnya seseorang pengemis kecil yang hitam- legam parasnya. Dengan mata terbelalak lebar dan mulut terpentang ia ketawa dengan tidak henti2nya menghadap Yo Cie Cong.

"Ha, ha ... si Hitam, kita bisa bertemu lagi disini?" kata Yo Cie Cong sambil ketawa.

Empat orang dari golongan pengemis tadi, semuanya lantas menghampiri si Hitam untuk memberi hormat seraya berkata: "Kami menjumpai Tiang-lo."

Pengemis cilik hitam itu lantas berkata sambil kibaskan tangannya: "Pergilah kalian-" Mereka itu dengan lakunya yang sangat hormat lantas pergi meninggalkan sesepuh mereka.

setelah keempat orang itu berlalu, si Hitam lantas berkata sambil mencekal tangannj a Yo Cie Cong.

"Hah, kawan, ternyata adalah kau yang menjadi pemilik Golok Maut. Aku si pengemis hitam telah menganggap bahwa ilmuku mengubah rupa sudah menjagoi didalam rimba persilatan, tapi ternyata masih bisa kau kelabui juga.Benar2 aku merasa takluk padamu. Dahulu, dalam pertempuran di cit-lie-peng, kita berdua hampir saja bertempur sendiri"

Yo Cie Cong yang bertemu kembali dengan kawannya memain dimasa kanak2, dalam hati merasa sangat gembira sekali. Ia seperti balik kembali pada masa hidupnya sebagai pengemis.

Dengan tangannya ia menepuk pundak si Hitam dan berkata: "Hitam, maafkan aku. Waktu itu tidak boleh membuka kedokku sendiri, maka dengan terpaksa aku harus mengelabui kau juga, ha ha ha "

Tetapi tepukan tangan yang tidak disengaya tadi dirasakan sakit sekali oleh si Hitam, maka yang tersebut terakhir ini lantas saja ber-teriak2. "Hai, kawan Apa kau tidak bisa ringankah sedikit tanganmu?"

"Kenapa? Rasanya makin lama kau menjadi makin tidak ada gunanya."

"Hai Giok- hoa- jie. Di cit-lie-peng bukankah kau sudah dihajar sampai binasa oleh Liat- yang Lokoay?"

"Tentang ini lain kali akan kuceritakan padamu per-lahan2. ceritakanlah padaku dahulu apa sebetulnya yang terjadi dalam golonganmu ?"

"Bagaimana kau tahu?"

“orang2 golongan pengemis dalam satu hari ini kulihat ada beberapa rombongnn yang ber- lari2an diatas jalan raya. Bukankah itu merupakan suatu bukti nyata bahwa digolongan pengemis ada terjadi apa2."

Mendadak saja wajahnya si Hitam berubah. Ia berkata dengan nada suara gemas demikian. "Dugaanmu sangat tepat. Didalam golongan kami memang terjadi sesuatu. Pada dewasa ini

kami sedang undang berkumpul semua orang kuat dalam golongan kami untuk merundingkan soal ini."

"Bolehkan aku tahu soal apa yang kau maksudkan-" "Ah Dalam golongan kami rupanya sedang ketimpa nasib malang, maka telah terjadi bhl yang demikian rupa, sebetulnya aku merasa sangat malu untuk menceritakan pada lain orang. Tapi, oleh karena dimasa kanak2 kau pernah berada diantara kita juga, hitung2 sebagai tanda setia kawan, hitung2 kau masih merupakan keluarga dari golongan kami juga, maka tidak ada halangan untuk kuberitahukan juga padamu , . ,,"

"Tak usah ber-belit2. Bicara dengan tegas"

“Kejadian ini telah terjadi karena ketua cabang golongan kami didaera houw-pak, yaitu Tok gan-kay (pengemis mata satu) ciu Lie, telah berhianat meninggalkan teman2nya dan ketarik oleh perkumpulan Im-mo-kao, sehingga cabang perkumpulan golongan kami untuk daerah ouw-pak telah berubah menjadi cabang Im-mo-kao. Malahan dengan secara kejam, dengan tidak mengingat tali persahabatan kami, cin Lie telah mem-bunuh2i semua orang2nya yang menentang tindakannya. sekarang, ketua dari golongan kami telah mengutus aku memimpin lima puluh orang yang paling kuat dan ditugaskan menangkap cin Lie yang menghianati kita supaya bisa dihukum menurut peraturan golongan kami”

“Dan kemudian?”

"Menurut apa yang dikatakan oleh anak buah golongan kami yang mengadakan penyelidikan, didalam cabang ouw-pak kini telah diduduki oleh beberapa orang kuat dari Im-mo-kao. Diantara orang2 kuat itu, yang menjadi kepalanya adalah kepala bagian pelindung dari perkumpulan tersebut, yalah seorang bernama Lui Bok Thong bergelar siluman Tengkorak"

Yo Cie Cong membelalakkan sepasang matanya lebar2.

"Apa? Kau kata si siluman Tengkorak Lui Bok Thong itu sudah menjadi ketua bagian pelindung hukum dari Im-mo-kao?"

= = ooo ooooo ooo = =

“BENAR, Tentang masuknya si siluman Tengkorak Lui Bok Thong kedalam perkumpulan Im-mo- kao, terjadinya baru pada ackir2 ini saja."

"Tuhan ternyata masih berlaku adil sekarang mungkin iblis itu tidak akan terlolos lagi dari hukuman karena dosanya."

"Apa arti perkataanmu ini?"

"Si siluman Tengkorak Lui Bok Thong merupakan salah satu musuh terbesar dari perkumpulanku. Belum lama berselang, ia dapat meloloskan diri dari kejaranku. Tadinya aku masih mengira akan sukar sekali mencari jejaknya iblis itu. sungguh tidak kusangka aku masih ditakdirkan dapat menghukumnya. Ha, ha iblis itu rupanya sudah ditakdirkan umurnya cuma

tinggal beberapa hari lagi saja."

"Giok Hoa-jie, perlu kuberitahukan padamu, semua urusan yang terjadi diatas yang ada sangkut pautnya dengan perkumpulan kami selamanya tidak ada orang luar yang boleh turut campur tangan-“

"Baiklah, Hitam, bukannya aku mau menghina perkumpulanmu. Kalau golongan Kay-pang hendak bermusuhan terang2an dengan Im-ma-kao, barangkali masih sangat jauh selisihnya"

"Tapi peraturan yang ditinggalkan oleb cowsu golongan kami, tidak boleh tidak harus diindahkan oleh orang2nya, maka kamipun hendak berbuat sekuat tenaga kita sendiri"

Setelah berpikir sejenak, Yo Cie Cong lalu berkata,

"Kalau aku hanya berhitungan dengan orang2nya Im-mo-kao, sedang kau bertindak menangkap orang dari golonganmu sendiri saja, bukankah itu tidak melanggar peraturan golonganmu?"

"Kalau begitu, janganlah kau bertindak untuk kali ini, sebab kalau tidak, nanti orang akan salah anggap bahwa golongan pengemis telah meminjam kekuatan orang luar untuk membasmi orang sendiri"

"Tapi, tujuanku yang utama adalah si siluman Tengkorak Lui Bok Thong. Kedua adalah orang2nya Im-mo-kao, sebab Lui Bok Thong itu merupakan salah satu musuh besar perguruanku dan orang2 im mo-kao, adalah musuh2 buyutanku, kalau kau suruh aku melewatkan kesempatan sebaik ini, barangkali tidak mudah "

"Giok- hoa- jie, kabarnya kau telah membunuh orang2nya Im-mo-kao tidak sedikit. sebetulnya bagaimana sih duduknya perkara ?"

"Ketika untuk pertama kali aku muncul didunya Kang-ouw, dengan menyaru sebagai suhu, aku telah munculkan diri untuk menuntut balas terhadap semua musuh2 perguruanku. Tentang kematiannya suhu, kecuali aku dan pembunuhnya sendiri, si iblis rambut merah, tidak ada orang lain lagi yang tahu. Tapi perkumpulan Im-mo-kao ternyata berani sesumbar memastikan, katanya pemilik Golok Maut yang muncul waktu-aku muncul itu, bukannya pangcu dari Kam-lo-pang sendiri, Dalam hal ini, pasti ada rahasia apa2 yang tersembunyi. Dan selanjutnya, ketika perkumpulan tersebut telah mengutus banyak orang2nja yang kuat2, dengan berbagai jalan dan dengan berbagai akal keji tidak sungkan2 lagi mereka terus memaksa untuk membunuh aku, maka itu aku harus membereskan persoalan ini.”

Si Hitam terdiam dan berpikir keras.

Yo Cie Cong lalu melanjutkan penuturannya:

"Eh Hitam, apakah kau tahu siapa sebetulnya orang yang mengaku sebagai Kauw-cu dari Im- mo-kao itu? sebab, meski aku pernah bertempur dengan dia, karena dia memakai kedok, tidak dapat kulihat wajah aslinya."

“Mengenai wajah asli Kauwcu dari Im-mo-kao itu, dalam dunya Kang-ouw barangkali belum ada orang yang tahu "

"Kalau begitu mungkin kau sendiri juga tidak tahu ?" “Ya, aku juga tidak tahu."

"Tapi dimana letaknya pusat perkumpulan Im-mo-kao itu, sebetulnya kau toch mesti sudah tahu, bukan?"

"Pusat perkumpulan Im-mo-kao, kabarnya-terletak didekat gunung Tay-piat-san."

Yo Cie Cong terbangun semangatnya dengan mendadak. Keterangan pengemis cilik ini sangat berharga sekali untuknya.

"Eh Hitam, apa benar2 kau tidak izinkan aku turut turun tangan?" tanyanya sungguh2. "Bukannya tidak boleh, tapi cerita mulut orang di dunia Kang-ouw itu ada sangat jahat"

"Heh, heh, segala mulut orang. kalau begitu kau boleh sediakan anak muridnya golongan Kay- pang uatuk mengantarkan jiwa"

Sebetulnya si hitam bukannya tidak tahu kalau kekuatan musuh ada jauh lebih kuat dari kekuatan pihaknya sendiri jika hanya mengandal kekuatan sendiri untuk melaksanakan perintahnya sang ketua, akibatnya sangat menguatirkan- Tapi perkumpulan pengemis yang hendak membersihkan nama baik perguruannya, harus meminjam tenaganya Pemilik Golok Maut, ini agak kurang pantas dan bisa menjadi buah tertawaan dunia luar. Maka saat ini si Hilam merasa serba salah .

Bagi Yo Cie Cong maksudnya disamping hendak menuntut balas sakit hati, sesungguhnya memang ada maksud hendak memberi bantuan tenaga kepada kawannya itu.

Kini setelah menghadapi kesulitan demikian, lantas putar otaknya, kemudian ia mendapat suatu pikiran, maka lantas berkata sambit bersenyum:

"Hitam, dahulu suhumu sudah pernah mengajari aku ilmu menukar rupa. Meski-pun suhumu berkukuh tidak mengijinkan aku melakukan peradatan pengangkatan guru, tapi se-tidak2nya masih ada setengah hubungan murid dengan guru, bukan?"

"Ng Memang boleh dikata bahwa kau masih ada sedikit hubungan keluarga perguruan dengan kita. Dan kau kemukakan soal ini apa maksudnya?"

"Baiklah sekarang aku tanya kau lagi, antara kita berdua bolehkah dibilang setengah suheng dan sutee ?"

si Hitam ada seorang yang banyak akalnya, tapi sesaat itu ia tidak dapat menebak maksud yang sebenarnya dari sahabatnya ini. Dengan sikap ter-heran2ja lantas berkata: "Giok-hoa-jie, pembicaraan ini makin lama makin melantur, didalam dunya mana ada hubungan separuh suheng separuh sutee?"

"Tapi kau tadi sudah mengakui bahwa aku dengan suhumu ada mempunyai hubungan setengah suhu dan murid "

"Baiklah, kau memang pintar omong. sekarang aku akui, kenapa memangnya?"

Yo Cie Cong lantas tertawa.

"Didalam perkumpulan Kay-pang, kau mendapat kedudukan apa?" tanyanya.

"Ei aku masih ingat rasanya dahulu pernah beritahukan padamu, aku ada menduduki salah satu kursi dari tiga Tianglo"

"Itu bagus, sekarang aku hendak tanya lagi, dalam golongan Kay-pang bukannya ada tugas diluaran bagi anggota Tianglo"

si Hitam kini segera mengerti kemana jumtrungannya perkataan sahabatnya ini, maka lantas berkata dengan mulutnya terbuka lebar:

"Bocah, sekali lagi aku mengaku kalah. Kiranya maksud pertanyaanmu yang begitu ber-belit2 tadi adalah ini? Kau sungguh pintar, dengan ambil jalan memutar begitu jauh, kiranya hendak mendapatkan kedudukan Tiang lo bagian luar untuk turut campur urusan ini" 

"Benar, degan kedudukan sekarang ini, rasanya kau ada hak untuk menganggap diriku sebagai Tianglo yang bertugas dibagian luar bukan? Dengan berbuat demikian rasanya kau juga tidak melanggar peraturan yang sudah ditetapkan oleh cowsuyamu.”

Si Hiiam lantas bungkam. tapi diam2 dalam hatinya merasa sangat girang. Untung, kawannya itu mendapatkan pikiran demikian sebab dengan begitu, Yo Cie Cong lantas bisa turun tangan secara terang2an dengan sah, tidak perlu kuatir dicela orang. Dengan kepandaian dan kekuatan yang dimiliki oleh Yo Cie Cong yang memegang peranan Pemilik Golok Maut, ia boleh tak usah kuatir lagi menghadapi musuh yang bagaimana kuatnya.

"Bagaimana? Hitam, jikalau kau anggap bahwa usulku ini kurang tepat, apa boleh buat, terpaksa aku hendak pergi lagi. Aku toch bisa mencari padanya sendiri"

Si Hitam itu setelah bersangsi sejenak. achirnya dari dalam bajunya ia mengeluarkan sebuah benda kecil bambu yang hitam jengat, dengan sangat hati2 ia berikan kepada Yo Cie Cong seraya berkata:

"Ini ada salah satu dari lima buah tanda kepercayaan golongan kami. Dengan membawa tanda ini, kau dapat dipandang sebagai salah satu Tianglo golongan kami. setiap anak murid dari golongan kami akan memandang tanda perintah ini sebagai sesepuhnya sendiri-

"Aku tidak memerlukan barang ini. Dengan keteranganmu saja sudah cukup,"

"Tidak Tidak boleh sebentar lagi, dihadapan anak buahku kau harus perlihatkan benda ini. ini merupakan suatu peraturan-"

Yo Cie Cong lantas terima benda itu dan disimpannya dalam sakunya. "Mari kita pergi." si Hitam mengajak Yo Cie Cong.

"Kemana?" "Ikuti saja aku."

Dalam keadaan cuaca remang2, kelihatan dua bayangan manusia berlarian menuju kedalam sebuah rimba."

Tidak lama kemudian dua bayangan itu sampai disebuah kelenteng tua yang sudah rusak d is ana sini, mungkin karena sudah lama tidak dirawat orang. Gentengnya pada berantakan dan dindingnya pun banyak sudah yang berlubang. "sudah sampai" kata si Hitam.

Ia yang jalan lebih dulu mengendurkan langkah kakinya, yang lalu diturut oleh Yo Cie Cong, setelah memasuki pintu kelenteng lantas terlihat empat orang keluar dari ruangan yang gelap. Dengan berbareng empat orang itu berkata "Kami menyambut kedatangan Tianglo."

Si Hitam, dengan sikapnya yang gagah2an lantas menyahut: "Tidak perlu memakai banyak peradatan." Yo Cie Cong yang menyaksikan kelakuan sahabatnya itu, hampir saja tertawa ter-bahak2 saking geli hatinya.

setelah melalui lagi ruangan kelenteng yang cukup luea, lalu memutar jalan lorong dan masuk kependopo belakang.

Didalam ruangan pendopo yang dindingnya sudah setengah rubuh, keadaannya terang dengan pelita. Lantainya juga bersih agaknya habis disapu.

Beberapa puluh anak2 buahnya golongan pengemis dengan sikapnya yang sangat hormat pada berdiri dan ketika melihat kedatangannya si Hitam, lantas semuanya pada berserut "menyambut kedatangan Tiang- lo." Kemudian pada minggir dan berdiri dikedua sisi.

Si Hitam dengan menggandeng tangannya Yo Cie Cong berjalan terus menuju kedalam ruangan lalu berdiri di-tengah2.

Anak buah golongan pengemis dengan sorot mata ter-heran2 mengawasi Yo Cie Cong sedari masuknya tadi.

si Hitam memberi isyarat pada Yo Cie Cong supaya ia mengeluarkan benda keercayaannya, kemudian lantas memberitahukan pada sekalian anak buahnya, demikian-"saudara ini adalah Tiang-lo bagian luar dari golongan kita."

Sekalian anak buah golongan pengemis itu semua lantas pada memberi hormat sambil berseru: "menyambut kedatangan Tiang-lo baglin luar"

Mendapat sambutan secara demikian rupa, Yo Cie Cong merasa jengah sendiri. Untuk sesaat lamanya ia merasa canggung, lakunya agak gugup, Dengan susah payah akhirnya dapat juga ia berkata. "saudara2 tidak perlu melakukan banyak peradatan-"

Si Hitam lalu berkata pula sambil kibaskan tangannya: "saudara2, silahkan duduk-“ sehabisnya berkata, si Hitam lantas duduk numprah ditanah yang kemudian diikuti oleh Yo Cie Cong dan sekalian anak buah golongan pengemis lainnya.

Pemilik Golok Maut ternyata ada salah satu Tianglo dari golongan pengemis, hal ini membuat mereka yang sudah mengenalnya pada merasa ter-heran2.

setelah diadakan perundingan, akhirnya diambillah suatu keputusan bahwa pada nanti malam, tepat jam tiga mereka akan menyerbu gedung cabang perkumpulan golongan pengemis yang sekarang sudah diduduki oleh Im-mo-kao daerah ouw-pak.

sebentar kemudian di ruangan belakang sudah disediakan barang hidangan beserta minumannya. Untuk menantikan datangnya jam tiga pagi, mereka makan dan minum se- puas2nya.

Kelihatan Yo Cie Cong ber-bisik2 sejenak dengan si Hitam, siapa hanya angguk-anggukan kepala lalu memberi pesan apa2 dengan tanda gerakan tangan,

Yo Cie Cong lalu berjalan masuk ke dalam pendopo belakang, Tidak lama kemudian dari dalam pendopo belakang itu lantas muncul keluar seorang pengemis pertengahan umur. Ia mengawasi dan ketawa terhadap si Hitam, kemudian melesat keluar dari ruangan-

Selanjutnya, beberapa puluh anak buah golongan pengemis itu, d iba wah pimpinannya si Hitam sendiri, ber-bondong2 keluar dari dalam kelenteng, Dengan mengeluarkan kepandaian masing2 mereka lari kearah Timur laut,

Gedung bekas cabang perkumpulan partai pengemis sekarang sudah berubah menjadi cabangnya perkumpulan Im-mo-kao yang menjadi ketua cabang perkumpulan tersebut adalah si Pengemis Mata satu ciu Lie.

Ketika kentongan berbunyi tiga kali, didalam ruangan gedung cabang perkumpulan itu kelihatan lilin masih menyala, keadaannya terang benderang,

Ternyata, diwaktu larut malam demikian disitu masih juga diadakan suatu perjamuan yang tampaknya sangat meriah. Dimeja perjamuan bagian kepala, duduk seorang orang tua yang wajahnya pucat pasi dengan hidungnya yang melesek kedalam dan mulutnya yang lebar, tetapi. sinar matanya hijau

berkilauan- wajah orang tua tersebut kelihatan sangat menyeramkan, seperti juga bagai yang baru bangun dari dalam peti mati lagaknya. Di-kanan dan kiri orang tua tersebut duduk mendampingi dua orang wanita muda dengan sikapnya yang centil genit dan dandanannya yang sangat heboh.

Diatas kursi bagian tuan rumah, duduk satu pengemis tua yang matanya hanya tinggal satu, sedangkan ditempat duduk bagian lainnya kelihatan penuh orang2 dari berbagai golongan-

Dari gerak gerik mereka, tampaknya mereka mempunyai kepandaian yang cukup berarti.

Pada saat itu si Pengemis Mata satu yang bertindak sebagai tuan rumah, mulai membuka mulut.

"Menurut kabar yang kami terima, ketua dari golongan pengemis telah mengutus si Pengemis sakti wajah hitam, salah satu dari tiga Tianglo golongan pengemis, dengan membawa beberapa puluh anak buahnya yang terkuat sedang menuju kemari untuk membuat perhitungan dengan kita.."

Orang tua yang seperti mayat parasnya itu ketawa dingin mendengar Ucapan si Mata satu kemudian berkata.

"Ciu Tancu, kau kuatirkan apa? Ada kami yang duduk disini, pasti kami akan suruh mereka bisa datang tapi tidak bisa pulang kembali."

"Tapi si setan cilik Hitam itu, didalam golongan pengemis sudah terkenal lihay dan cerdik.

Kepandaiannya juga sangat tinggi."

"Ha, ha ciu Tancu, sekarang ini kedudukanmu adalah ketua cabang dari perkumpulan kita

Im-mo-kao. Aku tidak akan percaya kalau golongan Kay-pang nanti berani memusuhi kita secara terang2an- Rasanya Bocah2 yang dikirim oleh ketuanya itu dan nanti akan datang dengan cuma2 saja."

Tiba2 pada saat itu, diluar pekarangan terdengar suara orang ketawa dingin yang kemudian disusul dengan perkataannya, demikian- "Ajal sudah diambang pintu, masih bisa omong besar-“

suara itu tidaklah keras, tetapi terdengarnya sudah menusuk telinga, sehingga semua orang yang ada duduk dimeja perjamuan itu ada lompat bangun dengan wajah berubah.

Seorang pengemis pertengahan umur seperti lakunya satu siluman, muncul dengan mendadak dihadapan-pintu ruangan tempat perjamuan. Dengan sorot matanya yang menakutkan, mula2 ia mengawasi orang tua yang wajahnya seperti mayat, kemudian menjapu kesemua orang yang duduk disekitar tempat perjamuan tersebut dan pada akhirnya mengawasi si Pengemis Mata Satu.

Tok-gan-kay "si Pengemis Mata satu" yang dipandang demikian rupa, kelihatan dan ketakutan setengah mati.

Dari meja perjamuan sebelah kanan lantas berdiri dua orang tua dengan sikapnya yang menghina mengawasi pengemis setengah umur yang baru datang itu salah seorang diantaranya lantas berkata dengan suara bengis sambil menuding pada tetamu yang tak diundang itu "Kau Kawanan anjing Besar sekali nyalimu Berani kau memasuki cabang perkumpulan kami secara sembarangan? Apa kau mau antarkan jiwa ?"

Pengemis pertengahan umur itu dengan sikap tenang dan nada suara dingin menjawab: "Tempat ini terang adalah gedung cabang perkumpulan golongan kami. Kan? kawanan iblis Dengan hak apa berani mendaulat rumah orang. Malam ini memang kami sengaya datang untuk mengantarkan jiwa kalian kealam baka. satupun jangan harap bisa lolos."

saat itu diruangan perjamuan lantas ramai dengan suara orang yang ber-teriak2. Dua orang tua tadi dengan sangat gusar membentak: "Kau benar2 cari mampus"

Berbareng dengan itu, lantas menyerbu kearah tamu yang tak diundang tersebut. sebentar kemudian lantas terdengar dua kali suara jeritan ngeri,

Badannya kedua orang tadi tampak terbang melayang kepekarangan kemudian jatuh ditanah dengan tidak mengeluarkan suara lagi. Keadaan hening sejenak.

Mungkin saat itu jiwa mereka sudah melayang keacherat. Banyak orang2 kuat yang saat itu berada dalam ruangan perjamuan, tetapi tidak ada seorangpun juga yang dapat mengetahui dengan ilmu kepandaian apa pengemis pertengahan umur tadi membinasakan lawannya, sebab dengan hanya segebrakan saja dua orang itu yang terkenal cukup tangguh telah binasa.

Tidak heran kalau mereka menjadi kesima dan berdiri menjublek. selanjutnya.....

Setelah kesimanya hilang ada empat orang yang maju berbareng mengerubuti pengemis pertengahan umur tadi. Dengan tidak mengindahkan peraturan dunya Kang-ouw, mereka sudah turun tangan berbareng menyerang lawannya yang hanya seorang diri.

Tetapi pengemis pertengahan umur itu agaknya sedikitpun tidak keder. Dengan tenang tetapi sebat, tangannya dikibaskan- Dari tangan mana lantas meluncur keluar suatu tenaga kekuatan yang sangat hebat.

Ketika kekuatan itu beradu dengan kekuatan keempat orang tadi, lantas terdengar suara gempuran hebat, sehingga tanah bergejang, genteng berterbangan dan empat orang tadi terpental balik kedalam ruangan-

Suara jeritan ngeri lantas terdengar disusui dengan muncratnya darah segar dan suara jatuhnya badan manusia.

Sekejapan saja empat orang yang menyerang. tadi sudah menggeletak sebagai mayat. Dengan demikian, semua orang kuat yang ada didalam ruangan lantas mulai merasa jeri dan ketakutan setengah mati.

Orang tua yang seperti bangkai wajahnya tadi, menjadi beringas matanya, wajahnya kelihatan semakin menj eramkan.

Sambil perdengarkan suara ketawanja yang aneh orang pucat pasi itu berkata: "Hmm Tidak

nyana kepandaianmu lumayan juga. Tapi, jangan harap kau bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup Malam ini, kalau tidak bisa membeset kulitmu dan mematahkan tulang2mu, rasanya masih belum puas hatiku."

Dengan sorot mata buas pengemis pertengahan umur itu mengawasi orang tua seperti majat itu sejenak. kemudian berkata kepaja si Pengemis Mata satu

“Ciu Lie Kau berani mengkhianati perkumpulan kita dan menghina peraturan cowsuya kita.

Malam ini adalah yang penghabisan kau bernapas dalam dunia "

Si pengemis Mata satu ciu Lie, berubah wajahnya jadi pucat pasi, Ia memikir bulak- balik, tetapi ia tidak dapat ingat siapa adanya pengemis pertengahan umur ini.

Beberapa orang kuat dari golongan pengemis, sudah diketahuinya dengan jelas kepandaiannya masing2, tetapi belum pernah ia melihat orang macam pengemis pertengahan umur ini, apalagi belum pernah ia menyaksikan kepandaiannya yang luar biasa.

Dengan laku tenang dibuat sebisa-bisa, ia lantas membentak dengan suara keras: "Kau siapa?

Berani kau menggunakan nama golongan pengemis untuk mencari setori ??"

Pengemis pertengahan umur itu ketawa dingin lalu mengeluarkan sebuah benda kecil hitam jengat.

Sambil memperlihatkan benda hitam tersebut ia berkata: "Penghianat Kenalkah kau pada benda ini ?"

Ketika melihat benda yang dipegang dalam tangannya si pengemis aneh, yang ternyata adalah tanda kepercayaan bagi Tiang-lo golongan pengemis, semangatnya ciu Lie lantas terbang seketika.

Dengan ketakutan setengah mati ia mundur dua tindak. tetapi la masih coba menanya: "Dari mana datangnya orang semacam kau ini? kenapa kau bisa memiliki tanda kepercayaan itu?"

Pengemis pertengahan umur itu menyahut sambil ketawa dingin:

"Penghianat. Berani kau menghina kami dari golongan Tianglo? Tunggu saja, orang yang akan membereskan jiwamu segera akan datang" Ciu Lie segera melihat gelagat amat genting baginya, sebab pengemis pertengahan umur ini dengan hanya sebentaran saja sudah berhasil membinasakan enam orang kuatnya Im-mo-kao. selain daripada itu, didalam ruangan ini sudah terjadi kegaduhan begitu hebat. tetapi, orang2 yang mendapat tugas menjaga dibagian luar seorangpun tidak ada yang nongol. Apakah mereka itu sudah dibinasakan semuanya ? Mengingat sampai disitu, pengemis Mata satu itu, lantas berdiri bulu romanya.

Tepat pada saat itu, dari luar terdengar suara berisik orang berjalan- Dihadapan pintu ruangan perjamuan mendadak muncul serombongan orang.

Tatkala ciu Lie mengetahui siapa adanya orang2 yang datang iiu, hatinya lantas mengeluh, "celaka"

Rombongan orang itu kiranya dipimpin oleh si Pengemis wajah hitam, salah satu Tianglo dari golongan Kay-pang. Dibelakangnya diikuti serombongan anak buah golongan pengemis yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang.

sebagian besar dari antara mereka, adalah bekas anak buahnya sendiri yang sudah disekap karena menentang perbuatannya, tetapi entah bagaimana sekarang semuanya bisa bebas dan ikut dengan rombongan tersebut.

Rombongan si hitam itu sesampainya di dalam ruangan lantas berhenti.

Bekas anak buah golongan pengemis yang masih setia kepada ciu Lie, saat itu lantas pada berdiri dengan badan gemetaran dan satu sama lain saling pandang dengan penuh rasa takut.

Pengemis pertengahan umur tadi saat itu juga sudah undurkan diri dan berdiri berendeng dengan si Hitam.

Didalam ruangan besar, ruangan perjamuan, yang tadinya penuh suara riang gembira, kini sudah diliputi perasaan tegang dari orang2nya.

si pengemis Mata satu ciu Lie, dengan wajah ketakutan terus mengawasi si orang tua yang wajahnya seperti bangkai.

Ditangannya si Hitam saat itu sudah memegang sebilah bambu. setelah mengawasi kawanan penghianat itu sejenak. tongkat bambu ditangannya lantas diangkat tinggi2, kemudian berkata dengan suara nyaring berwibawa :

"Masih belum mau tundukan kepalakah kalian untuk mengakui dosamu? Dan tunggu kapan lagi?"

Ia mengulangi perkataannya sampai tiga kali, tetapi tidak ada seorangpun yang menyahuti.

“Kalau begitu, terpaksa kami keluarkan perintah untuk menangkap pengkhianat"

Didalam ruangan bekas perjamuan itu lantas terjadi kegaduhan hebat. suasana semakin tegang.

orang tua berwajah bangkai hidup itu memperdengarkan suara ketawanya yang aneh sambil berjalan kehadapan pintu. kemudian berkata dengan bengis.

"Pengemis kecil jangan jual lagak disini. Malam ini, tempat ini akan menjadi kuburannya kalian semua."

"Kau manusia macam apa?" balas menjengek si Hitam sambil ketawa dingin:

"Aku adalah pelindung Im-mo-kao. Tahukah kau? Disini ini sudah menjadi cabangnya perkumpulan Im-mo-kao, Disini bukan tempatmu untuk berbuat sesuka hatimu ”

“Pui..Hari ini kami datang disini, hanya untuk menangkap pengkhianat dan menegakkan peraturan perkumpulan kami. Tidak ada hak kau mencampuri urusan kami" "Nah Boleh coba2 tangkap saja."

Anak Buah golongan pengemis dengan wajah gusar sudah hendak maju bergerak, semuanya, saat itu, pengemis pertengahan umur yang berdiri disampingnya si Hitam mendadak berjalan maju dua langkah, Dengan mata beringas dan suara ketus dingin berkata pada orang tua yang wajahnya seperti bangkai itu.

"Lui Bok Thong jiwamu sendiri belum mampu kau jamin, apa kau kira masih mampu membela jiwanya lain orang ?" Orang tua yang wajahnya seperti majat itu, yang memang benar adalah si siluman Tengkorak Lui Bok Tong, ketika mendengar pengemis pertengahan umur itu menyebut secara langsung, sesaat tampak agak terkejut, kemudian dengan mata beringas ia berkata:

"Pengemis busuk Malam ini, orang pertama akan kukirim menghadapi Giam-lo-ong adalah kau"

Semua orang kuat Im-mo-kao dan orang2nya golongan pengemis yang turut mengkhianat lantas pada mengerubung dibelakang Lui Bok Thong.

Agaknya pertempuran besar2an sudah akan segera berlangsung,

Pengemis pertengahan umur itu majukan kakinya setindak kemuka, sambil ketawa dingin ia berkata:

"Lui Bok Thong Tahukah kau siapa sebenarnya aku ini?"

sehabis berkata, pengemis pertengahan umur itu lalu membuka baju luarnya yang robek dan juga membuka topinya yang kumal kemudian mengusap wajahnya yang mesum, sehingga terlihatlah sekarang seorang pemuda yang cakap tampan rupanya.

si siluman Tengkorak Lui Bok Thong, kelihatan seperti orang kehilangan pegangan, mendadak mundur setindak.

orang2 yang berada dibelakangnya berseru "Pemilik Golok Maut "

"LuiBok Thong Tempo hari masih untung kau dapat lolos dari tanganku Tapi malam ini tidak gampang lagi bagimu meloloskan diri,"

Tentang dirinya pemilik Golok Maut yang mendadak bisa berubah menjadi Tianglo golongan pengemis, betul jauh diluar dugaan semua orang. bayangan maut telah mengintai semua orang diruangan itu.

sebabnya ialah: Dimana Pemilik Maut muncul, disitu pasti penumpahan darah tidak dapat dihindarkan lagi. Terutama Bagi orang2nya Im-mo-kao perasaan takutnya semakin menjadi2 jika mengingat antara pemilik Golok Maut dengan pemimpin Im-mo-kao sudah merupakan-sateru besar, maka malam itu akan menjadi saat yang paling berbahaya bagi mereka.

Dengan cara bagaimana Yo Cie Cong. bisa muncul secara mendadak didalam ruangan perjamuan itu?

Ternyata, setelah Yo Cie Cong mengubah rupa menjadi pengemis pertengahan umur, dengan menuruti petunjuk si Hitam yang sudah kenal baik keadaannya gedung cabang perkumpulan Kay- pang di ouw-pak. terus menuju langsung kesana. Dengan ilmu lari pesatnya yang luar biasa, ilmunya Menggeser tubuh mengganti bayangan- serta kepandaian ilmu "Liu-im hut-biat^nya, disepanjang jalan telah berhasil melalui semua pos penjagaan, baik yang gelap maupun yang terang, serta juga sudah membikin rubuh dengan ilmu totokannya pada orang2 yang melakukan penjagaan disitu, maka kemudian-seperti lakunya setan ia bisa muncul dengan mendadak diruangan perjamuan-

Sebelum ia menemui kawanan pengkhianat itu, lebih dahulu ia sudah membebaskan semua orang bekas anak buahnya ciu Lie yang tidak mau turut memberontak, maka itulah rombongan si Hitam yang berjalan belakangan bisa sampai ditempat tersebut dengan tidak ada rintangan apapun juga.

si pengemis Mata satu ciu Lie, yang sudah terkurung seperti ikan dalam jambangan, ternyata masih belum sadar.

Dengan tidak memperdulikan Lui Bok Thong, Yo Cie Cong lantas berkata pada orang2nya bekas golongan pengemis:

"saudara2 bekas anak buah golongan pengemis, segera keluar meninggalkan ruangan ini menunggu keputusan Tiang-lo kita. Mengingat perbuatan kalian yang tidak disengaja, mungkin masih bisa mendapat pengampunan supaya kalian bisa mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahan- siapa2 yang tidak mau dengar nasehatku ini. mau menyesal juga nanti sudah tidak ada gunanya lagi."

Saat itu didalam ruangan itu terdengar suara orang ribut2 yang kemudian disusul dengan terdengarnya suara jeritan ngeri lalu terdengar suara orang berkata: "Siapa saja yang berani bergerak. empat orang ini sabagai contohnya"

Yo Cie Cong, menoleh ketempat orang2 tersebut, segera dilihatnya seorang yang sudah lanjut usianya, telah turun tangan terhadap bekas anak buah golongan pengemis yang hendak mengaku kesalahannya maka saat itu lantas saja naik darahnya, dengan bengis ia membentak:

"Kawanan tikus Berani kau berlaku se-wenang2?"

Dengan ilmu Menggeser tubuh mengganti bayangan-, sebentar saja Yo Cie Cong sudah berada diantara mereka. suara riuh segera terdengar.

Orang2 itu semua sudah mundur kesudut dinding. Dengan perasaan takut semua orang tadi pada mengawasi pemilik Golok Maut itu dengan badan gemetaran-

Si Siluman Tengkorak Lul Bok Thong yang tadi berdiri berhadapan dengan Yo Cie Cong, ternyata tidak mampu mencegah Yo Cie Cong bergerak pergi dari hadapannya. Dengan cepat lantas balik badannya menghampiri Yo Cie Cong. Walaupun demikian masih merasa takut2.

Yo Cie Cong mengawasi empat orang anak buah golongan pengemis yang sudah menggeletak ditanah sebagai mayat, kemudian dengan sorot mata tajam lalu mengawasi orang tua pembunuhnya tadi,

"Kau yang membunuh empat orang ini?" tanyanya bengis.

orang tua jtu dengan wajah pucat pasi melangkah mundur. Tetapi baru dua langkah badannya sudah berbenturan dengan dinding, maka sudah tidak ada tempat untuk ia mundur lebih jauh.

"Kalau begitu. terpaksa kuantarkan kau pulang lebih dulu" Demikianlah Yo Cie Cong kata.

Tangannya pun dengan cepat sudah digerakkan- Tak lama kemudian suara jeritan ngeri menyusul, badannya orang tua tadi terus terbang melayang keluar pintu dan ketika jatuh ditanah, ternyata tulang2nya sudah remuk dan jiwanya melayang seketika.

Si siluman Tengkorak Lui Bok Thong sebetulnya juga merupakan salah satu iblis yang sudah sangat terkenal keganasannya. Tetapi karena ia pernah jatuh dua kali ditangannya Yo Cie Cong, saat itu ia hanya dapat mengawasi kejadian berlangsung dengan penuh kegusaran, sedangkan matanya tampak berputaran, entah sedang mencari pilihan apa, maka terhadap anak buahnya yang terbunuh oleh Yo Cie Cong se-olah2 sama sekali tidak dilihatnya.

Kembaii Yo Cie Cong berseru: "Anak buah golongan pengemis yang memberontak siapa2 yang suka mengakui dosa sendiri, lekas keluar ruangan"

Kali ini seruannya itu ternyata berhaail baik, sudah sepuluh orang lebih bekas anak buahnya golongan pengemis dengan wajah muram berjalan keluar meninggikan ruangan perjamuan. Hanya tertinggal empat atau lima orang yang masih belum mau sadar, masih tetap berdiri disampingnya ciu Lie.

Yo Cie cong lantas berseru pada kawannya, si Hitam: "Tiang-lo harap keluarkan perintah untuk menjalankan peraturan-"

SETELAH mendengar perkataan Yo Cie Cong itu, si Hitam lalu ulapkan tangan memberi isyarat maju.

Anak buah golongan pengemis dalam rombongan si Hitam segera memancarkan diri membuat suatu bentuk setengah lingkaran, mengurung musuh-musuhnya didalam ruangan bekas perjamnan tersebut..

"Mana murid2 dari bagian pelindung hukum? Lekas maju kemuka turut aku" demikian si Hitam berseru.

"Teecu sekalian ada disini menanti perintah Tiang lo." demikian terdengar seorang menjawab dari dalam rombongan orang2 itu.

"cepat turut aku meher yang kedalam. Tangkap kawanan pemberontak ?" "Mendengar perintah"

Dari dalam rombongan itu melesat keluar sebelas orang yang langsung berjalan masuk kedalam ruangan. Si siluman Tengkorak LuiBok Thong dengan tidak mengeluarkan suara sedikitpun juga mendadak balikkan badan dan mengayun tangannya menyerang mereka.

Gerakannya yang tidak di-sangka2, membuat Yo Cie Cong tidak sempat mencegah lagi. sedangkan si Hitam dan sepuluh orang anak buahnya dari bagian pelindung hukum, yang sama sekali juga tidak menyangka kalau akan terjadinya aksi si siluman Tengkorak itu yang begitu cepat. semuanya dapat dibikin terpental mundur sampai kembali ketempat asalnya.

Yo Cie Cong gusar. Ia lantas berkata sambil delikan mata: Lui Bok Thong kalau mau cari mampus tunggu sebentar lagi”

Yo Cie Cong mengucapkan perkataannya itu sambil menggerakkan tangannya, mengurangkan desakan serangan Lui Bok Thong pada kawan2nya.

saat itu Lui Bok Thong sedang berdiri membelakangi Yo Cie Cong. Ketika merasakan dari arah belakangnya datang sambaran angin kuat tadinya ia bermaksud hendak memutar tubuh dahulu untuk kemudian menangkis serangan lawan, tetapi karena cepat datangnya serangan itu, ia sudah tidak punya waktu lagi berbuat seperti apa yang dipikir.

Dalam gugupnya, terpaksa ia melesat tinggi diatas akan kemudian turun kembali diluar ruangan.

Anak buah golongan pengemis yang mengurung diluar ruangan melihat Lui Bok Thong melesat keluar, dengan serentak lalu mengeluarkan serangan berbareng.

sambaran angin dari serangan dengan menggunakan tenaga dalam yan tergabung hebatnya tentu bukan main, Badan Lui Bok Thong dirasakan seperti tertindih barang berat ribuan kati, sehingga terpaksa ia harus meluncur turun kebawah, tidak dapat melalui mereka.

Begitu kakinya menginjak bumi. matanya dirasakan ber-kunang2, darahnya dirasakan bergolak hebat.

Pada saat itu si siluman Tengkorak dipaksa meninggalkan ruangan oleh Yo Cie Cong, si Hitam dan sepuluh orang anak buahnya sudah menyerbu masuk. Yo Cie Cong juga lantas berseru.

"Hitam, kawanan pemberontak kuserahkan padamu "

setelah berkata begilu, badannya dengan cepat diputar balik, matanya mengawasi beberapa orang2nya Im mo-kao, juga Lui Bok Thong sendiri supaya jangan sampai ada kesempatan untuk mereka melarikan diri.

Si Hitam sendiri dengan wajah keren berwibawa menghadapi si Pengemis Mata satu ciu Lie, kemudian berkata dengan suara bengis.

"Pemberontak yang berani Kau sudah mengkhianati couwsuya dan perguruan kita. Apa tidak lekas2 serahkan dirimu dan akui dosamu? Apa perlu aku turun tangan sendiri ?"

si Pengemis Mata satu ciu Lie yang mengetahui disitu ada berdiri pemilik Golok Maut, sadar kalau semua rencana dan niatannya sekarang ini pasti akan buyar ludas semuanya semudah bulu tertiup angin. juga ia tahu benar bahwa peraturan dari golongan pengemis itu keras sekali yang apabila sampai benar2 terjadi ia dapat dibawa pulang kemarkas besarnya golongan pengemis, tentu tidak akan ada lagi harapan hidup baginya, maka saat itu sudah timbul benar2 jiwa berontaknya. Ia hendak berlaku nekad, melawan sampai titik darah yang penghabisan.

Sambil delikan matanya yang hanya tinggal sebelah, ciu Lie berkata dengan suara keras- "Aku ciu Lie sudah mengatakan- aku sudah lama mengundurkan diri dari golongan pengemis.

Apa hubungannya antara aku dan peraturan kaum pengemis?"

Beberapa anak buahnya ciu Lie yang turut memberontak dan tidak mau memisahkan diri daripadanya, saat itu meski betul ada lagi beberapa orang yang sudah merasa menyesal, tapi tahu keadaan sangat genting, merasa mereka berada dipunggungnya macan sudah tidak ada jalan lain lagi bagi mereka kecuali berlaku nekad. si Hitam dengan sorat mata gusar mencaci maki mereka.

"ciu Lie Kau sudah dekat pada ajal. Apa kau masih belum sadar? oleh karena perbuatanmu seorang golongan pengemis sampai mendapat malu besar. Mengertikah kau? Hai, orang2ku Tangkap " sehabis memberikan perintahnya, ia sendiri juga tidak tinggal diam, lebih dahulu ia bergerak menjerang kearah ciu Lie, sedangkan sepuluh orang anak buahnya juga sudah lantas bergerak menyerang Lima orang komplotannya ciu Lie.

Di suatu sudut ruangan bekas perjamuan tadi. dengan cepat lantas sudah menjadi medan pertempuran, terjadilah suatu pertempuran sengit, pertempuran mati2an

Mereka yang sedang bertempur, disatupihak adalah orang2 mau menegakkan hukum dan nama baiknj a, perkumpulan pengemis hendak menangkap kawanan pemberontak yang mengkhianati perguruanana sendiri akan kemudian dihukum menurut peraturan perkumpulannya, dilainpihak adalah itu kawanan pengkhianatnya sendiri, yang saat itu karena sudah berada dalam keadaan kejepit sekali, hendak melawan mati2an-

Orang2nya Im-mo-kao yang menyaksikan kejadian tersebut, tidak ada satu yang tidak merasa gusar dan kalau dapat tentu mereka juga. hendak turun tangan cepat2 membantu pihaknya ciu Lie. Tetapi, karena masih ada orang yang ditakuti oleh mereka, yaitu si Golok Maut yang terus menerus mengawasi mereka dari samping dengan terpaksa mereka hanya dapat menonton jalannya pertempuran, mengawasi si Pengemis Mata satu yang sedang bergulat mati2an mempertahankan nyawanya.

Si siluman Tengkorak Lui Bok Thong yang merupakan salah satu anggota penting dan yang sudah diutus sendiri oleh pemimpinnya untuk memperkuat kedudukan didaerah ouw-pak, juga untuk mencegah jangan sampai golongan pengemis nanti bertindak membersihkan golongannya sendiri yang memberontak. sungguh tidak pernah menyangka kalau ditempat tersebut ia akan bertemu kembali dengan pemilik Golok Maut, yang saat itu mendadak sontak bisa sunglap dirinya menjadi Tiang lo golongan pengemis bagian luar.

Ia telah mengukur kekuatan pihaknya sendiri yang agaknya masih belum mampu menandingi kekuatan Yo Cie Cong seorang saja. Apalagi setelah ia mengetahui caranya Yo Cie Cong turun tangan tadi, agaknya kekuatan anak muda itu sudah bartambah jauh lebih hebat berlipat ganda daripada waktu tempo hari mereka bertempur rasanya sukar sekali untuk ia dapat bertindak secara leluasa.

Jikalau Yo Cie Cong tidak unjukkan diri, sekalipun golongan pengemis akan mengerahkan seluruh kekuatan dan semua anak buahnya yang ada, sudah dipastikan olehnya mereka tidak akan mampu berbuat suatu apa.

Untuk beberapa saat lamanya si siluman tengkorak Lui Bok Thong tidak tahu bagaimana harus bertindak.

Sewaktu si silnman Tengkorak LuiBok Thong masih berada dalam keadaan ragu2 itu, pertempuran didalam ruangan sudah berachir. Kemenangan digondol oleh si Hitam dan kawan2nya.

Kawanan pemberontak sudah tertawan hidup2 semuanya.

Yo Cie Cong dengan cepat lantas bergerak keluar ruangan dan berdiri menghadap si siluman Tengkorak. Dengan mata tak berkedip dan sorotnya yang bengis menakutkan ia mengawasi terus musuh besarnya itu yang sedang berdiri diam tak dapat bergerak. Dadanya Yo Cie Cong kelihatan bergerak2, matanya tambah lama tambah beringas, agaknya sudah tidak dapat lagi ia mengendalikan napsu membunuhnya.

selagi rombongan si Hitam hendak keluar ruangan, mendadak orang2nya Im-mo-kao datang semua menghadang mereka, karena orang yang ditakuti mereka, yaitu si Pemilik Golok Maut, yang saat itu sedang keluar ruangan menghadapi si siluman Tengkorak. Dalam perhitungan mereka, kekuatannya si siluman Tengkorak sendiri sudah cukup untuk menghadapi pemilik Golok Maut seorang, maka pada anggapan mereka, saat itu adalah saat yang paling baik untuk mereka menolong kawanan pemberontak. Dengan adanya pegangan demikian, maka menyerbulah mereka kearah rombongannya si Hitam. Ketika melihat keadaan tidak beres, Yo Cie Cong yang selalu waspada lantas membentak dengan keras: "Apa kalian semua cari mati?"

Mulutnya bicara, badannya tidak tinggal diam. Ia bergerak cepat hendak menyerbu masuk lagi kedalam.

Si siluman Tengkorak lantas perdengarkan suara ketawanya yang aneh, cepat bagaikan kilat sudah turUn tangan membokong Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong baru saja bergerak. sama sekali tidak menyangka kalau si siluman Tengkorak bisa turun tangan dengan cepat dan tiba2. sebelum dapat putar balik tubahnya, kekuatan yang maha hebat sudah datang menyerang, hampir sampai pada sasarannya.

Dalam keadaan kepepet, dengan cepat lantas dikeluarkannya ilmu mengentengi tubuh yang sangat luar biasa. sebentar ia telah berhasil menghindarkan serangan lawan, badannya melesat tinggi keatas, meluncur dengan cepatnya akan kemudian menukik pula kebawah.

Ketika badannya masih berada ditengah udara, dengan cepat ia memutar balik dan sambil menukik turun balas menyerang pada si siluman Tengkorak.

Serangan yang dilakukan dari atas, lagi pula dilakukan dengan disertai perasaan sangat gemas, dapatlah dibayangkan betapa hebatnya serangan itu.

Tetapi Lui Bok Thong, tidaklah kecewa mendapatkan julukan siluman Tengkorak. Namanya pun pernah menggetarkan dunya Kang-ouw. Ia sudah mempunyai daya rasa yang sangat hebat. Dari jauh ia sudah tahu kalau Yo Cie Cong ujuga balas menyerang, maka ia lantas gerakan kakinya, mundur sampai beberapa tombak jauhnya.

Yo Cie Cong setelah menyerang si siluman Tengkorak tidak berhasil, badannya lantas melesat masuk kedalam ruangan.

Disana dia melihat si Hitam dan kawan2nya terdesak kesatu sudut, walaupun sudah melawan dengan gigih. juga kelihatan olehnya mereka tidak berdaya menahan serangannya beberapa puluh orang2 kuatnya Im-mo-kao itu.

Si Hitam sekalian melihat Yo Cie Cong masuk kedalam ruangan, semangatnya lantas terbangun seketika. sekarang mereka maju merangsak lagi dan berdaya hendak merebut kemenangan-

Yo Cie Cong dengan suara ketus dingin berkata kepada orang2nya Im-mo-kao: " “Kalian sendiri yang cari mampus. jangan sesalkan kalau aku nanti turun tangan terlalu ganas."

Orang2 Im-mo-kao yang akan sudah berhasil memukul mundur anak buahnya golongan pengemis, tiba2 dikejutkan oleh ucapan Yo Cie Cong tadi, yang pada saat itu kelihatan sedang berdiri ditengah2 ruangan dengan wajah beringas, sehingga semuanya pada menghentikan gerakannya dan terus menyingkir kekedua sisi. Yo Cie Cong, sambil ulapkan tangan kearah si Hitam, berkata: "cepat kalian keluar."

Si Hitam dengan rombongannya, seraya menggiring bekas anak buahnya ciu Lie beserta ciu Lie sendiri yang memberontak. berlalu meninggalkan ruangan tersebut.

selagi Yo Cie Cong hendak turun tangan membereskan ujiwanya orang2 Im-mo-kao, dipekarangan terdengar suara ribut2 yang kemudian disusul oleh terdengarnya suara jatuhnya orang dan diantaranya ada yang berseru: "jangan kasih iblis tua itu meloloskan diri"

Yo Cie Cong dalam hati merasa kaget. Ia tahu yang siluman Tengkorak tentunya sedang berusaha untuk melarikan diri

Dalam gusarnya ia lantas turunkan tangan kejamnya cepat2. Dengan menggunakan gerak tipu ketiga dinamakan sin-hong Loksyap dari "ilmu ouw-bok sinkang, sekejapan saja suara jeritan yang mengerikan terdengar saling susul dan semua orang kuat dari Im-mo-kao se-olah2 disapu angin puyuh, semuanya telah berjatuhan ditanah dengan tidak mampu bangun lagi, Yo Cie Cong sudah tidak punya kesempatan lagi unthk memeriksa mereka itu sudah mati ataukah masih hidup, dengan cepat sudah melesat keluar dari dalam ruangan dan kemudian berseru pada si Hitam: " Hitam, kalau ada waktu kita ketemu lagi"

Laksana anak panah lepas dari busurnya, badan Yo Cie Cong melejit keluar mengujar si siluman Tengkorak. tetapi sungguh aneh bin ajaib. Hanya dalam tempo sekejap mata saja si siluman Tengkorak itu sudah tidak dapat dilihat bayangannya.

Bukan kepalang jengkel dan gusarnya Yo Cie Cong. ia terus mencari ubek2an dimana tempat persembunyiannya musuh besarnya itu.

Per-lahan2 disudut Timur sudah terlihat sinar terang. Bintang2 dilangitpun sudah tidak terlihat lagi.

Dari jauh terdengar suara berkicaunya burung dan berkokoknya ajam, suatu tanda

bahwa sang pagi telah menjelang tiba. Tetapi, sampai pada saat itu bayangannya si siluman Tengkorak masih belum kelihatan. Matahari sudah mulai muncul.

Yo Cie Cong dengan hati penuh rasa penasaran telah menghela napas ber-ulang2. ia mengendurkan gerak kakinya dengan lesu berjalan diatas jalan raya.

sungguh tidak pernah diduganya, karena kelalaian sedikit saja ia telah memberikan kesempatan musuh besarnya meloloskan diri lagi.

Makin memikir makin jengkel, sehingga otaknya dirasakan butek dan dadanya seperti mau meledak.

Tiba2 suatu pikiran terlintas dalam otaknya: “siluman Tengkorak Lui Bok Thong kini menujabat sebagai pelindung hukum dari perkumpulan Im-mo-kao, saat ini sudah tentu juga ia balik kepusat perkumpulannya yang letaknya didekat daerah gunung Tay-piat-san- Ia sendiri saat itu memang juga bermaksud hendak mengunujungi pusat perkumpulan kawanan iblis itu untuk membikin perhitungan dengan pemimpinnya. Disamping itu, ia ujuga hendak mencari tahu apa sebabnya perkumpulan Im-mo-kao selalu menghendaki jiwanya maka jikalau benar Lui Bok Thong berada disitu sesungguhnya adalah suatu hal yang sangat kebetulan sekali baginya.”

Karena mengingat itu semua, perasaan jengkel serta gusarnya yang membuat pikirannya pepat, per-lahan2 mulai mereda, semangatnya pun sudah terbangun kembali.

selagi enak2nya ia berjalan, tiba2 dilihatnya sesosok bayangan manusia yang lari kearahnya.

Dalam kagetnya, dengan cepat ia sudah bersiap sedia.

Diantara desiran angin, bayangan orang itu tahu2 sudah merandek dihadapannya sejauh tidak cukup dari satu tombak.

Pada saat itu barulah ia mendapat kenyataan bahwa bayangan orang adalah si Hweshio gila Phoa-ngo Hweshio.

Diwajahnya Hweshio gila itu ternyata tidak seperti biasanya, kini kelihatan wajahnya muram, se-olah2 sedang diliputi perasaan kesal, rupanya menghadapi banyak kesulitan.

Yo Cie Cong memberi hormat padanya dan kemudian berkata: "Locianpwee, tidak dinyana kita akan bertemu lagi disini."

Phoa-ngo Hweshio. delikan matanya dan menjawab dengan suara engos-angosan: "Bocah, kau tentunya tidak mengira kalau aku datang khusus untuk mencari kau sendiri"

"Mencari boanpwee?" tanya Yo Cie Cong terkejut, badannya mundur setindak.

“Oleh karena kau, Bocah, sampai aku situa bangka lari2an ke-mana2. sebaliknya kau kelihatan enak2an saja."

Yo Cie Cong menjadi semakin bingung dibuatnya Ia lantas bertanya dengan ter-heran2, "Ada urusan apakah sampai Locianpwee perlu mencari boanpwee?"

"Hmm, Bocah saatku untuk menerima kebenaran telah dibatalkah olehmu."

Perkataan ini membuat Yo Cie Cong merasa geli dalam hati, sehingga hampir2 saja ia ketawa. sedangkan dalam hatinya diam2 berpikir: “Kau si Hweshio gila ini yang masih suka minum arak dan makan barang berjiwa, toch masih bisa bicara hendak menerima kebenaran. Kalau begitu nanti para hweshio didalam dunia bisa menjadi dewa semuanya." Meski dalam hatinya berpikir demikian, diluarnya kelihatan masih berlaku sangat menghormat terhadap hweeshio angin2an ini.

"Harap Locianpwee suka jelaskan persoalannya," demikian akhirnya ia berkata.

"0leh karena kau dengan budak perempuan itu, membuat si tua bangka Pengail Linglung tak bisa balik kembali ke pulau Batu Hitam dilautan Lam-hay, sedang aku, si Hwee-shio gila, juga tidak bisa kegunung ceng-keng-hong. Bocah Dosamu ini besar sekali"

Yo Cie Cong menjadi semakin tidak mengerti. Bagaimana ut-tie Kheng juga dibawa2nya, maka sambil kerutkan kening, berkata pula ia: "Boanpwee masih belum mengerti maksud locianpwee."

"Kau ini benar2 tidak tahu, apa berpura-pura?"

"Boanpwee benar2 masih belum mengerti apa maksud perkataan locianpwee," "Sekarang aku mau tanya kau. Dimana adanya adik Kheng- mu sekarang?"

"Eeee ketika Boa npwee meninggalkan Bong- goat-peng digunung Hoa-san, bukankah ia sedang sama2 dengan locianpwee berdua ?"

Si Hweeshio gila mendadak berubah wajahnya.

"Bocah, belum lama waktu kau meninggalkan kami tempo hari, ia ujuga naik keatas puncak. tetapi lantas tidak balik kembali."

"Hal ini sesungguhnya boanpwee tidak tahu sama sekali." kata Yo Cie Cong sambil geleng2kan kepala.

"Ia telah berkata hendak melihat kau di atas puncak." "Tapi boanpwee tidak pernah melihatnya."

Keduanya lantas pada terdiam ditempatnya.

Tidak lama kemudian berkata pula Phoa ago Hweeshio: "Bocah, benarkah kau tidak tahu?" "Bagaimana boanpwee berani membohongi locianpwee ? Apalagi, juga tidak ada untungnya

membohong."

"Hmm, kalau begitu, terpaksa aku harus mencari lagi secara berpencaran. Aku berikan padamu batas waktu tiga bulan. saat itu nanti kita bertemu dirumah makan oey-ho-lauw."

"Baiklah, boanpwee menurut perintah locianpwee."

"Tetapi, Bocah, sekali lagi kuperingatkan padamu. se-kali2 janganlah kau lupakan itu kejadian, tatkala kau mengobati budak perempuan itu dengan ilmumu Liang- kek cin-goan, Lagi juga budak perempuan itu cinta sekali padamu, cintanya sangat besar."

Yo Cie Cong yang mendengar itu menjadi merah parasnya, kemudian berkata sambil ketawa getir:

"Waktu itu, boanpwee sudah jelaskan pada cianpwee bahwa boanpwee ada mempunyai kesulitan yang sangat besar, sehingga tidak bisa tangkap jodoh dengan nona ut-tie atau kepada wanita lainya, siapa saja."

"Tutup mulut Waktu itu kenapa kau terima baik perintahku"

"Ya. saat itu boanpwee tidak bisa tinggal peluk tangan begitu saja melihat ut-tie berada dalam keadaan bahaya. Boanpwee telah pikir bahwa nanti, setelah urusan selesai boanpwee akan memberi keterangan sendiri pada nona ut-tie. Kalau ia seorang gadis bijaksana dan bisa memahami kesulitan boanpwee, rasanya tidak sukar untuk dia memaafkan boanpwee "

"Tapi, kalian berdua yang sudah bersentuhan tubuh waktu mengobati dia, apakah kau masih merasa tega suruh ia kawin dengan laki2 lain?"

"Anak gadis dalam dunya Kang-ouw apa masih perlu mempertahankan segala peraturan begitu?"

"Tapi, kalau dia tidak mau terima?"

Yo Cie Cong bungkam, tidak dapat menjawab.

Kalau sampai benar2 terjadi ut-tie Kheng tidak mau mengerti, urusan ini memang akan menjadi runyam sekali Tetapi ia sendiri pernah bersumpah bahwa setelah semua urusannya selesai nanti, ia hendak pergi menyusul arwahnya siang-koan Kiauw. cara bagaimana ia bisa melanggar sumpahnya sendiri ?

Maka itu, setelah menjublek sekian la manya barulah ia dapat berkata pula: "Tentang urusan ini, bagaimana kalau kita nanti bicarakan lagi setelah dapat menemukan nona ut-tie ?"

"Baiklah Tapi, Bocah hati2lah jaga dirimu. Aku si Hweeshio gila bukan seperti lampu yang sudah akan kehabisan minyak"

Yo Cie Cong hanya mengganda dengan ketawa getir. Mendadak ia ingat sesuatu, maka lalu menanya: ^

"Apa locianpwee tahu, Manusia gaib dari rimba persilatan dan muridnya mengasingkan diri digunung Hoa-san sebelah mana?"

"Hal ini aku sendiri juga masih belum tahu."

"Kalau begitu dengan cara bagaimana locianpwee bisa mengadakan perjanjian dengan dia?" "Itu kan sederhana sekali Tinggalkan saja tulisan diatas batu Hong-goat-peng."

Yo Cie Cong se-olah2 sudah putus asa, Ia ingin sekali dapat menemukan sekali lagi pada Giok- bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa supaya dapat membuktikan asal-usul dirinya apakah betul seperti apa yang diUcapkan oleh orang misterius berkedok kain merah, Tampaknya rahasia yang mengenai dirinya terpaksa harus menunggu sampai dapat bertemu dengan Giok-bin Giam-po lagi baru bisa dibikin jelas,

Kalau mengingat Giok-bin Giam-po, hatinya dirasakan sakit dan sedih. Kalau benar yang iblis wanita itu adalah ibunya sendiri, hal ini sesungguhnya sangatlah menyedihkan hatinya.

Si Hweeshio gila yang melihat perubahan pada wajahnya Yo Cie coag yang agaknya tengah melamun, lantas membuka pula mulutnya untuk mengalihkan pembicaraan kelain soal.

"Bocah, malam itu ketika kau mengejar Hoan Thian Hoa mengapa lantas tidak kembali lagi?" "Boanpwee anggap bahwa urusan gunung Hoa-san itu sudah selesai, maka itu Boanpwee

cepat2 pergi mengurus soal2 lainnya. oleh karena ita juga maka sudah tidak ada kesempatan lagi untuk boanpwee balik menemui locianpwee berdua. Dalam hal ini boanpwee mohon supaya locianpwee suka maafkan."

"Hmmm. Dan sekarang ini kau mau ke mana lagi?" "Melanujutkan usaha boanpwee untuk mencari musuh2 suhu,"

"Baiklah kalau begitu. Kau boleh terus melanjutkan usahamu. Tapi, urusan yang mengenai dirinya budak perempuan itu janganlah lupakan- Perhatikanlah betul2." "Baiklah. sampai ketemu lagi."

Yo Cie Cong berkata sambil memberi hormat, kemudian melanjutkan lagi perjalanannya dengan berjalan per-lahan2.

Urusan ut-tie Kheng membikin pikirannya menjadi tambah risau. Nona yang agak berandalan dan selamanya menuruti kemauan sang hati sendiri itu entah ada kejadian apa lagi yang menimpa atas dirinya.

Tempo hari ketika terjatuh dalam tangannya cin Bie Nio, hampir2 saja jiwanya melayang.

Disepanjang jalan itu pikirannya Yo Cie Cong terus bekerja keras, ia mengenangkan kembali semua perjalanannya selama ia muncul didunya Kang-ouw. semua itu se-olah2 suatu impian yang aneh, sebab impian itu agaknya akan berlangsung terus.

Musuhnya Kam-lo-pang yang namanya tercantum dalam daftar musuh2nya Kam-lopang, hanya tinggal tiga orang lagi yang masih belum dapat dibereskan- salah seorang diantara tiga musuh2nya itu, yang sampai sekarang masih belum dapat diketemukan jeujaknya, yaitu musuh kuat nomor satunya. si Ilbis rambut merah cho Ngo Teng. Dua orang yang lainnya, yaitu si siluman Tengkorak Lui Bok Thong dan Giok- bin Giam-po Phoa cit Kow itu wanita yang dikatakan sebagai ibunya sendiri

Oleh karena keterangannya orang berkedok kain merah itu telah membuat pikirannya menjadi kalut, sebab diantara musuh dan ibu, ia tidak bisa mengambil keputusan secara tegas, jikalau bukan karena keterangannya si wanita berkerudung yang menjadi ketua Pek-leng-hwee yang baru, mungkin ia sudah tidak mempunyai keberanian untuk hidup lebih lama dalam dunya ini lagi.

Disepanjang jalan ia terus memikirkan persoalan itu Dan kini satu persatu mulai dipikirkan dengan seksama.

Ia mengharap supaya dugaannya wanita berkerudung itu menjadi kenyataan bahwa Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow itu benar2 bukan ibu kandungnya sendiri.

Ia lebih suka rahasia yang mengenai dirinya sendiri tetap menjadi rahasia selamanya, ia lebih suka dirinya akan seorang diri daripada mempunyai ibu hina dina yang sudah membikin noda nama keluarganya dan sudah busuk didalam kalangan rimba persilatan,

Perkataannya wanita berkerudung agaknya memang sangat beralasan, jikalau Giok-bin Giam- po benar adalah ibu kandungnya sendiri tidak nanti sampai hilang sifat kemanusiaannya. Mengapa setelah dua kali bertemu muka, sedikitpun Giok-bin Giam-po tidak mempunyai perubahan perasaan apa2? sekalipun seorang yang sudah tidak mempunyai liangsim (perasaan) juga tidak nanti bisa bersifat demikian kejamnya.

Masih ada lagi, tentang dirinya Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa, meskipun diatas gunung Hoa-san pernah dengan secara mati2an merintangi ia turun tangan terhadap Giok-bin Giam-po, tetapi perbuatannya itu boleh dianggap sebagai suatu perbuatan yang mulia bagi seorang pendekar budiman seperti Hoan Thian Hoa itu, namun masih belum dapatlah dipastikan kalau dia itu adalah ayahnya sendiri, sebab jikalau betul ia adalah ayahnya, mengapa tidak mau mengenali diri anaknya.

Dalam hal ini rupa2nya masih banyak lagi rahasia yang masih sukar dapat dipecahkan kesungguhannya.

Yang paling aneh ialah itu orang berkedok kain merah, mengapa ia mengetahui tentang rahasia ini?

Selagi Yo Cie Cong masih terbenam dalam lamunannya sendiri, tiba2 angin mendesir se-olah2 ada kejadian apa2...

Dengan cepat ia menghentikan gerak kakinya. Tatkala ia memandang keadaan disekitarnya, matanya segera dapat melihat ada beberapa puluh bayangan orang yang pada ber-lari2an dan berhenti ditempat kira2 sejarak tiga tombak dari tempatnya berdiri

salah seorang diantara orang2 itu,yaitu yang mengenakan pakaian jubah panjang warna abu2 dengan dandanannya seperti seorang sastrawan, namun tangannya hanya tinggal sebelah, orang itu ternyata bukan lain daripada bekas pecundangnya yang dulu dapat meloloskan diri dari tangannya, yaitu si Pedang Berdarah Kong jie, thian-cu dari perkumpulan Im-mo-kao.

Tidak usahlah disangsikan lagi bahwa semua yang ada dalam rombongan orang2 itu adalah orang2nya Im-mo-kao.

Yo Cie Cong memandang serombongan orang2 itu dengan waujah ma rail padan dan mata beringas.

Rombongan orang2 itu, yang rapa2nya juga sedang mengincar dirinya Yo Cie Cong. begitu sampai ditempat tersebut, sudah lantas berpencaran mengambil sikap mengurung terhadap dirinya anak muda itu.

Seorang orang tua yang rambutnya putih, mata sipit dan hidung melengkung, keluar dari dalam rombongannya dan maju menghampiri Yo Cie Cong, kemudian berkata sambil ketawa yang kedengarannya sangar menyeramkan: "Apa benar kau ini Yo Cie Cong yang menjadi pemiliknya Golok Maut?"

Yo Cie Cong dengan sikap menghina mengawasi orang tua itu. "Benar Tidak salah" jawabnya ketus dingin.

"Hmm Kau ber-kali2 telah menbinasakan orang2nya Im-mo-kao dan kau juga yang telah

mengubrak-abrik cabang perkumpulan kami didaerah In-thay, maka sekalipun kau mati sampai seratus kali, masih belum cukup rasanya untuk menebus dosamu itu." “Sombong sekali sahabat berkata. sahabat ini ada orang nomor berapa dikalangatn Kang-ouw?"

.

“Kau kenali, aku adalah Hu-Kauwcu (wakil ketua) Im-mo-kao. Namaku suma chiu. orang

memberikan gelar padaku Garusa sakti. Kedatanganku justru hendak mengantarkan jiwa anjingmu keneraka"

"Hmm orang semacam kau ini, masih belum pantas keluarkan kata2 begitu."

Suma chiu lantas berobah wajahnya lantas membentak dengan suara gusar: "Tidak Pantas? Ya, boleh kau rasakan saja sendiri "

sambil berkata badannyapun tidak tinggal diam, terus melangkah maju, kedua

tangannya cun bergerak saling susul. Kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat, dibarengi dengan menderunya angin keras meluncur keluar dengan cepat dari tangannya itu dan se-olah2 angin puyuh, telah datang menggulung badannya Yo Cie Cong.

Tetapi jago pemilik Golok Maut ini masih tetap berdiri tegak ditempatnya, hanya bajunya saja yang ber-kibar2 tertiup angin serangan sang lawan. ia berdiri sambil memandang lawan dengan pandangan mata menghina, kemudian mengayunkan kedua tangannya. Hawa uap merah putih lantas meluncur keluar menyambuti serangan hebat itu.

Ketika kekuatan tenaga dalam yang terhebat yang dilancarkan oleh Suma chiu berbentrokan dengan hawa uap merah putih itu, se-olah2 batu tercebur dalam empang, dengan sekali terdengar sekali suara "Bruk” lantas lenyap tak berbekas.

Bukan kepalang kaget si Garuda sakti, sebab kekuatan tenaganya yang diperlihatkan oleh lawannya, yang demikian anehnya, baru kali inilah dijumpainya dalam sekian lamanya ia merantau.

Qrang2 kuat lainnya, anak buahnya Im-mo-kao, ketika menyaksikan keadaan demikian dengan sendirinya semua pada merasa terkejut.

Si Pedang Berdarah Kong jie, masih menaruh dendam sakit Hati terhadap anak muda itu karena tangannya telah dibikin kutung sebelah. sekalipun mengatahui Yo Cie Cong ada sangat lihay, tapi ia masih hendak mengandalkan keampuhan senjata pedangnya dan jumlah kawannya yang banyak, ia hendak menuntut balas sakit hatinya. Maka, sementara Yo Cie Cong baru bergebrak dengan Suma chiu, dengan mata beringas dan hati panas, ia lantas gerakan badannya dan berdiri berendeng dengan Suma chiu, kemudian berkata sambil kertak.

"Bocah, hari akhirmu sudah tiba"

Yo Cie Cong melirik padanya sejenak. dengan sikapnya yang menghina ia menjawab. "Kau yang sudah pernah jadi pecundang dan sekarang hanya merupakan rohnya setan gentayangan, ternyata masih berani membuka mulut besar, betul2 kau tidak tahu malu ""

Mendengar jawaban itu dadanya Kong jie hampir meledak. Dengan menggeram hebat, ia lantas putar tangannya yang cuma tinggal satu. Dengan kekuatan tenaga sepenuhnya, ia menjerang kepada musuhnya yang tangguh itu.

Hampir berbareng pada saat itu si Garuda sakti Suma chiu ujuga melancarkan serangannya yang tidak kepalang tanggung hebatnya.

Dua orang kuat nomor sat dari Im-mo-kao itu, dengan berbareng telah mengeroyok dirinya satu anak muda yang munculnya di dalam dunya Kang-ouw belum begitu lama, sebetulnya merupakan suatu perbuatan yang sangat memalukan bagi orang2 Kang-ouw. Tapi karena mereka menganggap dengan sendirian tidak mampu menandingi lawannya, maka dengan secara pengecut mereka menggunakan siasat yang sangat rendah itu.

Karena mereka merupakan orang2 kuat yang bukan sembarangan, maka serangannya itu ada sangat dahsyat, angin yang timbul dari serangan mereka seolah-olah ombak laut dan angin pujuh yang sedang mengamuk^ hingga di tempat sekitar satu tombak, masih terasa hebatnya serangan tersebut.

Yo Cie Cong ujuga tidak berani berbuat gegabah lagi, dengan ilmunya Liang kek cin-goan, ia menyambuti serangan kedua orang kuat itu. Ketika kekuatan kedua fihak saling beradu, lantas terdengar suara gempuran hebat, Yo Cie Cong badannya agak tergetar, tapi sebentar saja sudah bisa berdiri tegak lagi. sedang pihaknya Suma chiu dan Kong jie, masing2 sudah dibikin terpental sejauh, setindak dan setindak. Mereka nampaknya masih pada sempoyongan, lama sekali baru bisa berdiri tegak kembali. sambil ketawa Yo Cie Cong berkata:

"Biarlah kalian berdua belajar kenal apa yang dinamakan ‘ciang-kang’. Tenaga telapak tangan

...."

Badannya agak mendak, kekuatan tenaganya dipusatkan pada kedua tangannya, ilmu Kan- goan cin-caonya telah dikerahkan sampai sepuluh bagian penuh.

Mendadak tangannya didorongkan keluar, lalu dengan segera terdengar suara seperti geledek menyambar.

Kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat meluncur keluar.

Si Garuda sakti Suma chiu dan si-pedang berdarah Kong jie berubah wajahnya saketika. Tetapi dihadapannya anak muda untuk tarik mundur dirinya. Apa lagi tadi mereka sudah keluarkan omongan besar. Maka itu, diam2 mereka hanya bisa kertak gigi, dengan tenaga sepenuhnya keduanya lalu melancarkan serangannya juga.

Setelah terdengar suara gempuran hebat, terdengar dua kali suara seruan tertahan-Suma chiu sudah mundur sampai sejauh dua tombak. wajahnya pucat pasi laksana mayat. Dadanya dirasakan bergolak, napasnya empas- empis.

Kong jie terus terpental mundur kearah rombongannya sendiri, mulutnya menyemburkan darah segar.

Sisa kekuatan serangan Yo Cie Cong tadi ternyata masih menimbulkan gelombang angin hebat, sehingga rombongan orang2 Im-mo-kao yang berdiri disekitarnya pada berkibaran baujunya.

Malah beberapa diantaranya sudah rubuh terjengkang. - -

Dipihaknya Yo Cie cong sendiri, saat itu orangnya masih berdiri tegak laksana gunung Thay- san. Wajahnya sedikitpun tidak memperlihatkan perubahan apa2.

Kejadian serupa itu telah membuat semua orang2 Im-mo-kao yang termasuk orang2 kuat kelas satu pada merasa ketakutan setengah mati. Yo Cie Cong sambil delikan matanya berkata bengis:

"Diantara kalian, kalau ada orang yang berani terus terang mengatakan apa sebabnya Im-mo- kao selalu memusuhi aku, selalu maui jiwaku, akan kuberikan padanya kesempatan untuk hidup, Aku cuma mau cari orang yang menjadi biang keladinya dan tidak suka merembet2 orang yang sama sekali tidak berdosa. Tapi kalau kalian masih tidak mengindahkan peringatanku ini, jangan menyesal sebentar akan rasakan sendiri akibatnya.”

Rombongan orang2 iiu lantas menjadi gempar.

Si Garuda sakti Suma chiu mengawasi semua anaknya dengan buas sejenak, kemudian memberi perintahnya dengan suara keras-"semua maju "

Anak buah Im-mo-kaojung berada disekitar tempat itu semuanya lantas ber-teriak2 dan menyerbu berbareng.

Perbuatan mereka itu se-olah2 seperti yang kerangsukan setan, kalap tanpa menghiraukan akibatnya.

Yo Cie Cong dengan mata merah dan hati panas lantas membentak keras- "Kalian cari mampus?"

Tangannya pun tidak tinggal diam. Dengan gerak tipu jurus ketiga yang dinamakan sin-hong Lok-yap dari ilmunya ouw-bok sin-kang, terus memapaki serbuannya orang banyak yang sudah seperti orang2 gila itu.

Seketika itu kekuatan yang maha hebat terus menggulung orang yang datang menyerbu. sebentar kemudian lalu terdengar suara jeritan disana-sini.

orang2 yang tadinya datang menyerbu lebih, dulu adalah orang2 pertama yang rubuh menjadi korban. Badan mereka sudah dibikin terapung tinggi ketengah udara. Dan kemudian, ketika Yo Cie Cong menyusul dengan serangan lanjutannya yang dinamakan Lo- hay chiu-ko, kekuatan yang lebih hebat dari yang duluan juga menggempur orang2 yang berani maju mendekatinya. sehingga semuanya pada terpental balik dan jatuh bergulingan jauh2.

Suara jeritan ngeri lantas terdengar....

Berganti badan orang beterbangan dan jatuh bergelimpangan. sebentar saja, diatas tanah disekitar tempat tersebut sudah penuh dengan badannya orang2 yang jatuh binasa dan terluka.

Hanya beberapa gelintir diantara mereka, yang agak lebih baik kekuatannya, masih coba berkutet hendak memberikan perlawanannya.

Yo Cie Cong dengan kertak gigi lantas merubah tipu silatnya lagi. Kali ini ia menggunakan tipunya yang di-namakan Kian-khun sit-sek.

Beberapa orang yang menjadi korban pertama dari serangan yang disebut belakangan ini sudah lantas binasa seketika itu juga tanpa dapat mengeluarkan suara apa2.

Yang terkena serangan agak ringan, mulutnya pada menyemburkan darah segar dan badannya pada terpental seujauh lima tombak lebih, sehingga dalam waktu sekejapan mata saja beberapa puluh orang kuat itu pada binasa atau terluka berat. Tidak ada seorangpun juga yang dapat lolos dari bencara tersebut.

sekalipun Suma chiu sendiri, itu wakil ketua Im-mo-kao, yang kekuatannya tentulah yang paling tinggi diantara mereka, juga memuntahkan ‘kecap’ dari mulutnya.

Yo Cie Cong per-lahan2 menghampiri Suma chiu.

Pada saat itu, Suma chiu yang biasanya sangat garang, waujahnya sudah sebentar pucat sebentar merah dan terus mundur kebelakang beberapa tindak.

"Suma chiu -sekarang kaulah yang harus menjawab pertanyaanku." demikian Yo Cie Cong, terus berjalan setindak demi setindak,

sebelum Suma chiu dapat menjawab. mendadak terlihat berkelebat sesosok bayangan orang yang terus meluncur turun ketengah lapangan-

Ketika Yo Cie Cong membalikkan badannya untuk melihat siapa adanya orang yang baru datang itu, kiranya ia adalah seorang orang dengan perawakan tinggi besar dengan kain kerudung yang membungkus kepalanya sampai sebatas pundak. Dalam hati diam2 Yo Cie Cong berkata "Aaaa, inilah orangnya yang menjadi biang keladi."

Orang aneh itu setelah datang dekat dan mengawasi keadaan disekitar tempat tersebut sesaat lamanya. memalingkan mukanya kearah Yo Cie T^ong. Dengan suara mengandung rasa gusar yang me-luap2, berkatalah ia:

"Setan cilik Kauwcu- mu kalau sampai tidak bisa menghacurkan tulang2mu, bersumpah tidak mau ujadi orang lagi."

Orang aneh yang berkerudung itu memang bukan lain daripada Kauwcu (pemimpin dari perkumpulan Im-mo-kao) yang tempo hari pernah bergebrak sekali dengan Yo Cie Cong.

Kekuatan kedua pihak,dalam pertempuran waktu itu ternyata masih berimbang. sudah barang tentu Kauwcu itu masih belum tahu kalau baru2 ini Yo Cie Cong sudah berhasil meyakinkan ilmu silat kelas tertinggi, ouw-bok sin-kang yang tertulis dalam dua potongan kayu pusaka, sehingga baik kepandaian ilmusilatnya maupun kekuatan tenaga dalam serta luarnya, sudah meningkat jauh lebih tinggi berlipat ganda daripada tempo hari ia menempur Kauwcu misterius itu.

Yo Cie Cong dengan mata merah membara lantas berkata dengan suara bengis: "Setan tua bangkotan Apa maksud kau ber-kali2 mengutus anak buahmu menyusahkan aku?"

"Hhhh, hhhm ? setelah kau mati nanti, suhumu yang sudah jadi setan itu bisa kasih tahu sendiri padamu."

Terperanjat Yo Cie Cong bukan main ketika mendengar jawaban tersebut. cara bagaimana orang aneh ini bisa mengetahui kalau suhunya sudah binasa. Waktu suhunya pertama mendapat bencana, pada dua puluh tahun berselang, kala itu Yo Cie Cong sendiri masih belum dijelmakan ke dalam dunia. sudah tentu apa yang dimaksudkan dengan kematian suhunya itu, pasii adalah kematiannya yang kedua kalinya di dalam goa batunya. Setelah berpikir sejenak. segera ia dapat mengamhil keputusan hendak membuka kedoknya orang aneh ini lebih dulu.

oleh karena sudah ada ancar2, maka ia tidak mau menjawab perkataan musuhnya sebaliknya dengan kekuatan tenaga sepenuhnya sudah menyerang cepat bagaikan kilat.

Kauwcu dari Im-mo-kao itu tidak menjadi gugup karenanya. sebaliknya malah lantas perdengarkan suara ketawanya yang seram, kemudian mengangkat tangan menyambuti serangan lawannya yang muda. suara amat nyaring segera terdengar.

Yo Cie Cong sudah terpental mundur satu tindak. Tetapi Kaucu dari Im-mo-kao Itu sudah mundur ter-huyung2 sampai tiga tindak.

Yo Cie Cong tidak mau memberi kesempatan sang lawan dapat memperbaiki posisinya, dengan cepat ia susulkan serangan lainnya dengan menggunakan tipu serangan Kian-khun sit-sek Diantara gemuruh suara angin- terdengar suara keluhan tertahan-Badan Kaucu Im-mo-kao itu sudah ter-huyung2 lagi kebelakang.

Yo Cie Cong masih belum mau sudah begitu saja. Dengan cepat ia menggunakan ilmunya ‘Menggeser tubuh mengganti bayangan-. Cepat bagai kilat ia sudah memutar tubuh dan tatkala balik kembali, ditangannya sudah menggenggam kerudung Kauwcu Im-mo-kao. Kauwcu Im-mo- kao setelah terbuka kedoknya, telah perdengarkan suara seruan kaget.

Sekarang Yo Cie Cong baru dapat melihat wajah aslinya orang aneh itu, yang ternyata adalah se-orang2 berwajah buas macam setan, rambutnya berwarna merah seperti darah.

Dalam kagetnya ia berseru: "iblis Rambut Merah?"

IBLIs RAMBUT MERAH Cho Ngo Teng, merupakan musuh Kam-lo-pang nomor satu juga dialah orang yang melakukan pembunuhan kedua kalinya terhadap dirinya Yo cin Hoan, suhunya Yo Cie Cong dengan kedua orang susioknya, ciu Lip To dan cek Kun

Maka itu, orang ini merupakan musuh terbesar dan musuh utama Kam-lo-pang. juga musuh utamanya Yo Cie Cong sendiri.

Kegusaran dan kedukaan Yo Cie Cong hampir tidak dapat dikendalikan lagi.

sungguh tak pernah disangka Kauwcu dari Im-mo-kao inilah ada itu orang yang setiap saat, setiap detik tak dapat dilupakan dan dialah orang yang sudah dicarinya kemana-mana sebagai musuh nomor satu Kam-lo-pang.

Yo Cie Cong merasa gegetun pada dirinya sendiri mengapa seujak lama tidak pernah memikirkan tentang ini.

Perkumpulan Im-mo-kao menggunakan kata2 Im dan Mo sebagai nama dan Im-mo (iblis dari acherat) ini ujuga merupakan julukan dari cho Ngo Teng

sejak Yo Cie Cong muncul didalam dunia Kang-ouw, perkumpulan Im-mo-kao ini lantas menyiarkan berita yang mengatakan bahwa pemilik Golok Maut yang sedang mengganas saat itu bukanlah pangcu dari Kam-lo-pang sendiri dan sekarang, kalau di-pikir2, barulah menjadi terang benderang persoalannya.

sebabnya ialah, suhu dan susioknya semua dibinasakan oleh iblis tua ini sendiri sudah dengan sendirinya hanya dia sendiri yang mengetahui kalau orang yang mengaku pemilik Golok Maut dan yang sudah menyaru sebagai Yo cin Hoan, bukannya Pangcu dari Kam-lo-pang.

Kalau Im-mo-kao telah menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghadapi Yo Cie Cong dulu, maksud dan tujuannya sudahlah pasti mereka hendak menyingkirkan bencana dikemudian hari bagi pertumbuhan perkumpulan tersebut.

iblis Rambut Merah Cho Ngo Teng, setelah kerudungnya dicopoti oleh Yo Cie Cong, selain merasa gusar, juga merasa kaget. Apa yang lebih mengherankan, Bocah ini mengapa dalam waktu singkat tidak terlihat, kekuatannya sudah bertambah begitu banyak ? sungguh ini merupakan kejadian aneh luar biasa baginya.

Matanya Yo Cie Cong beringas hampir mengeluarkan darah, Badannya bergemetaran saking marahnya. sambil kertak gigi ia berkata dengan suara bengis: "Cho Ngo Teng, hukuman atas semua dosamu sudah tidak mungkin kau menghindarkannya, sekarang aku pasti hendak mencincang dirimu sebingga menjadi ber-keping2 Aku juga hendak membasmi semua anak buahmu, hingga peristiwa berdarah yang kau timbulkan kepada Kam- lopang, aku akan ulangi kepada dirimu dan semua anak buahmu "

Si iblis Rambut Merah cho Ngo Teng meski ada merupakan satu iblis yang sangat buas dan kejam, tapi tidak urung dibikin keder oleh perkataan Yo Cie Cong yang penuh rasa dendam ini.

Dengan kekuatan dan kepandaian yang dimiliki oleh malaikat maut kecil ini, memang ia dapat melakukan seperti apa yang diucapkan-

"Setan cilik, Tadi aku sudah katakan bahwa aku hendak bikin hancur lebur tulang2mu " cuma demikian saja ia bisa menjawab.

"Iblis tua Aku bereskan kau dulu, Nanti baru akan kubasmi habis seluruh anak buahmu" kata Yo Cie Cong pula dengan wajah yang bengis.

Baru sauja perkataannya ditutup, ia sudah melancarkan serangannya yang sangat dahsyat.

Serangan yang dilakukan dengan penuh rasa gusar yang me-luap2 itu sudah tentu jauh lebih hebat dari biasanya.

Yo Cie Cong sudah merasa gemas sekali terhadap iblis ini, ia segera dapat membereskan jiwanya, supaya segera dapat melampiaskan kemendongkolannya yang terpendam dalam hatinya sekian lamanya.

si Iblis Rambut Merah terkeujut. Ia juga terus menyambuti dengan sepenuh tenaga.

Tidak lama kemudian kekuatan kedua pihak lantas saling beradu. suara gempuran terdengar. Si Iblis Rambut Merah sudah dibikin terpental mundur sampai tiga tindak. Dadanya dirasakan bergolak, hampir saja ia muntah darah. Yo Cie Cong berhenii sesaat, lalu mengirim serangannya

yang kedua.

Kali ini ternyata jauh lebih keras dan jauh lebih hebat daripada serangannya yang pertama tadi.

Si iblis Rambut Merah tidak berani menyambuti dengan kekerasan. Ia hanya berkelit mengelakkan serangan sang lawan. Dari samping iapun mengirim serangan balasan. Dalam hati ia sudah mengerti kalau hari ini, kalau ia tidak berhasil membinasakan lawannya yang sangat tangguh itu, pastilah Im-mo-kao akan mengalami keruntuhan hebat. Maka itu serangan yang dilancarkan tadi itu juga tentunya sangat ganas dan teleng Pertempuran ini ada merupakan pertempuran antara mati dan hidup.