Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 19

Jilid 19

Ia sudah tidak berdaya unluk mencegah suatu tragedi yang mengenaskan yang segera akan terjadi dihadapan matanya sendiri.

Giok-bin Kiam-khek setelah berpikir sejenak lalu berkata: "Cit Kow, mengingat perhubungan kita dimasa yang lampau, untuk penghabisan kali aku peringatkan kau aku harap kau bisa segera merubah kelakuanmu, selanjutnya kau undurkan diri dari dunia Kang-ouw, untuk melewatkan sisa hidupmu. jikalau tidak kau nanti pasti akan mendapat pembalasan atas segala dosa dan perbuatanmu. Kau mau dengar atau tidak, terserah padamu sendiri. Selamat tinggal"

Diantara suara jeritannya Phoa Tiit Kow, Hoan Thian Hoa dan Yo Cie Cong ke-dua2nya sudah terjun kedalam jurang yang tidak kelihatan dasarnya itu.

Ketika Phoa cit Kow melongok kedalam jurang. ia cuma melihat kabut tebal yang menutupi jurang yang dalam itu, dan selanjutnya tidak melihat apa2 lagi.

iblis wanita yang terkenal kejahatannya dan keganasannya serta kekejamannya itu kini ternyata masih bisa mengeluarkan air mata. Disini nyata sekali bahwa hati dan perasaan prikemanuslaannya masih ada.

= = ooo OOOOO ooo = = Tatkala Yo Cie Cong tersadar dari pingsannya, sinar matahari menyoroti matanya sampai terasa silau. Ia telah dapatkan dirinya berada dihadapan satu bukit kecil.

Ia lantas lompat bangun, dan melihat kalau Giok- bin Kiam-khek sedang memandang kearahnya dengan mata guram.

"cianpwee, ini tempat apa?" ia menanya. "Lamping gunung dibelakangnya gunung Hoa san" "Dan itu iblis wanita?"

"Sudah pergi"

Setelah pikirannya tenang kembali, Yo-Cie Cong ingat apa yang telah terjadi dalam pertempuran mati2an dengan iblis wanita itu diatas gunung Hoa-san pada kemaren malam. Lapat2 ia masih ingat bagaimana ia telah menggunakan seluruh kekuatan seluruhnya untuk menghajar iblis wanita itu, tapi mendadak Hoan Thian Hoa turun tangan menotok dirinya, sehingga ia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk mengelakan diri, Dan urusan selanjutnya, ia sudah tidak tahu sama sekali.

Maka ia lantas menanya dengan perasaan heran-

"Bolehkah cianpwe menceritakan apa yang telah terjadi dalam pertempuran semalam itu?" "Aku katirkan kau yang sudah gelap mata nanti celaka ditangannya iblis wanita itu, maka aku

totok jalan darahmu, dan terjun kedalam jurang yang curam "

"Terjun kedalam jurang yang curam?" tanya Yo Cie Cong heran.

"Benar, ini ada suatu jalanan rahasia yang bisa menuju kejalan raya. Dua puluh tahun berselang, dengan tidak sengaja aku telah menemukan jalanan rahasia ini. Dibawah lamping gunung kira2 sepuluh tombak lebih ada sebuah goa, kalau dilihat dari atas, goa itu tidak kelihatan, maka orang tidak menduga kalau disitu ada terdapat sebuah goa. setelah aku terjun kejurang, aku lantas membelok kedalam goa. iblis wanita itu dengan mata kepala sendiri telah menyaksikan aku mengempit dirimu terjun kedalam jurang, dalam anggapannya tentu kita berdua sudah binasa dibawah jurang"

"Selama boanpwe masih bernapas sekalipun diujung langit, boanpwe juga pasti akan mencari lagi dirinya iblis wanita itu"

sepintas lalu wajahnya Hoan Thian Hoan tampak berubah, ia lantas putar pembicaraannya kelain soal.

"Mari kita balik keatas gunung Hoa-san, suhu sekalian tentunya sedang menantikan kita dengan hati cemas"

Tapi dalam hati Yo Cie Cong berpikir: "Urusanku sendiri masih banyak yang belum kuselesaikan, jika aku balik keatas gunung nanti pasti terlibat lagi oleh ut-tie Kheng. Adik Kiauw masih belum ketahuan bagaimana nasibnya, bagaimana aku boleh terlibat lagi dalam urusan asmara yang hanya akan menyusahkan dirinya orang lain tapi juga berarti menyusahkan diriku sendiri Maka sebaiknya aku tidak balik saja." setelah mengambil keputusan demikian maka ia lantas berkata kepada Hoan Thian Hoa

"Budi kecintaan cianpwe, boanpwe tidak bisa lupakan untuk se-lama2nya. Karena boanpwe masih banyak urusan yang akan dibereskan, maka boanpwe tidak ingin balik keatas gunung."

"Ng, tapi aku ada satu permintaan yang rasanya ada sedikit janggal" "Katakan saja."

"Aku minta supaya kau anggap bahwa Hoan Thian Hoa semalam sudah kubur dirinya didalam jurang"

Lama Yo Cie Cong berpikir, ia baru mengerti maksudnya, Maka lalu berkata: "Tapi boanpwe juga ada ber-sama2 cianpwe terjun kedalam jurang."

"Hidup dan matinya manusia ada ditangan Tuhan. apakah kau tidak bisa menceritakan bahwa kau telah tertolong jiwamu secara kebetulan?" "Baiklah, boanpwee nanti akan simpan rapat2 rahasia cianpwe ini, supaya jangan sampai ada orang yang tahu lagi"

"Dari sini turun kebawah gunung membelok kekanan, adalah jalan besar Hoa im" "Boanpwee masih ada dua urusan yang cianpwee harus ketahui"

"Baiklah, coba kau ceritakan"

"Pertama, Thian-san Liong-lie yang sekian tahun berkelana didunia Kang-ouw dengan men- sia2kan masanya yang bahagia. maksudnya ialah hendak mencari keterangan tentang diri cianpwee"

Sepintas lalu wajahnya Hoan Thian Hoan tampak sangat masgul, sejenak hatinya tergoncang hebat, baru bisa menjawab sambil mengelah napas:

"Penghidupanku telah dibikin tersesat oleh asmara, soal yang sudah lalu. biarlah berlalu untuk selama-lamanya. Kalau kau nanti berjumpa lagi dengan Thian san Liong-lie, kau boleh beritahukan padanya bahwa Hoan Thian Hoa sudah kubur dirinya didalam jurang" 

Dengan tersebut demikian bukankah akan membikin luka hatinya Thian-san Liong- lie.. "Bolehkah aku memanggil kau anak?"

"Boanpwe senang sekali"

"Anak. kau harus ingat betul tentang pelajaran apa yang dinamakan "dengan pedang tajam memapas benang asmara" sekali sudah salah jangan kita ulangi kesalahan itu, apalagi usia manusia toch tidak berbalik muda lagi?"

"Kedua, ialah saudara angkat cianpwee si tangan geledek Ngo Yong, telah menganggap pasti bahwa Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow ada sembunyikan diri dipuncak gunung Pit-koan-hong.

Karena hendak menyelidiki jejak cianpwee ia telah menggunakan waktunya yang berharga menunggu dibawah puncak gunung itu sampai sepuluh tahun lebih lamanya"

Hoan Thian Hoa nampak sangat terharu. dikelopak matanya sampai mengembeng air. dengan suara agak serak ia menjawab : "soal ini aku nanti akan bereskan sendiri"

"Kalau begitu izinkanlah boanpwee permisi dahulu" "Anak. semoga kali bisa menjaga dirimu. baik2."

"Terima kasih banyak2" Keduanya lantas saling berpisahan.

Yo ce Cong setelah meninggalkan Hoan Thian Hoa, terus lari turun gunung, dalam hatinya yang masih tidak bisa ia lupakan, ialah tentang musuh2 perguruannya.

Lima musuhnya Kam-lo-pang yang terkuat, kecuali siluman rambut merah yang masih belum unjukan diri, manusia jelek nomor satu Ang kut Tan sudah dibinasakan- yang lainnya seperti Liat- yang Lo-koay, siluman Tengkorak Lui Bok Thong dan Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow sudah pada muncul bahkan sudah pernah. bertempur dengannya,

Dalam pertempuran terachir melawan Giok-bin Giam-po baru2 ini, Yo Cie Cong telah merasa bahwa kekuatannya masih belum cukup untuk menghadapi musuh2nya yang terkuat itu. Maka ia anggap soal yang terpenting baginya sekarang, ialah menambah kekuatan dan kepandaiannya ilmu silat. Ia ingin lekas2 supaya bisa memahami kepandaian ilmu silat yang tertulis dalam potongan kayu pusaka ouw-bok Po-lok itu.

Tapi untuk mempelajari suatu kepandaian atau ilmu apa saja. orang harus mencari suatu tempat yang tersembunyi dan yang letaknya sangat sunyi serta tenang tentram.

Disepanjang jalan otaknya terus bekerja. sebentar saja ia sudah sampai dijalan raya.

setelah bermalam satu malam didalam kota kecil, esoknya lantas berpikir: "Ya, digunung Hoa- san ada terdapat banyak bukit dan goa. sebenarnya ada merupakan suatu tempat yang paling tepat ntuk mempelajari ilmu. Mengapa tidak mencari salah satu tempat tersembunyi dalam gunung itu untuk mempelajari ilmu ouw-bok Po-lok itu." Dengan membekal ransum kering yang cukup banyak. ia balik lagi kegunung Hoa-san.

setelah melalui beberapa jurang yang curam dan mendaki beberapa bukit yang tinggi, achirnya telah diKetemukan sebuah goa yang letaknya disamping gunung Yo Cie Cong sangat girang, dengan tanpa ragu2 ia lantas menuju ketempat tersebut dan dengan sangat hati2 memasuki goa.

Goa itu tidak luas, kira2 hanya satu tumbak persegi, tapi keadaannya bersih dan kering, seperti pernah ditinggali manusia.

Ketika Yo Cie Cong berjalan masuk kira2 20 tumbak dalamnya, tiba menemukan sebuah kamar batu. hatinya mulai bercekat

Tiba2 hawa panas menyambar keluar dari dalam kamar batu itu. oleh karena goa itu memang tidak cukup luas, hingga Yo Cie Cong sudah tidak ada kesempatan untuk menyingkirkan dirinya.

Ia seperti pernah merasakan hawa panas semacam itu. dimana? ia sudah tidak bisa ingat lagi. Tapi saat itu sudah tidak ada ketika lagi untuk berpikir, dan perasaan untuk membela diri, dengan sendirinya lantas timbul. Ketika tangannya mendorang hawa asap merah putih dari ilmunya Liang- khek cin-goan lantas meluncur keluar dari telapakan kedua tangannya.

Hawa panas yang menyerang dirinya tadi dengan cepat lantas dibikin buyar oleh ilmunya Liang- kek cin-goan-

Yo Cie Cong meski merasa benci terhadap orang yang berada didalam goa itu, karena dengan diam2 sudah menjerang padanya. Tapi kalau mengingat ia sendiri juga tanpa permisi memasuki goa yang ada penghuninya. sedikit banyak juga ada kurang pantas. Maka seketika itu ia lantas pikir hendak berlalu dari tempat tersebut untuk menc ari lain goa lagi.

siapa nyana selagi hendak membalikan badannya. dari dalam goa itu mendadak terdengar suara orang bicara:

"Siapa yang berani sembarangan memasuki kediamanku ?"

Yo Cie Cong lantas berpikir, diluar tidak ada tanda2 kalau goa itu ada penghuninya. siapa yang tahu kalau kau berdiam didalamnya ?

Tapi ia masih coba menahan hawa amarahnya. dengan suara agak lunak ia menyahut:

"Aku yang rendah adalah Yo Cie Cong. karena tidak tahu kalau dalam goa ada orangnya. maka sudah kelancangan masuk. terhadap kelancangan ini, harap kau suka maapkan, dan kini aku bersedia hendak berlalu"

"Tunggu dulu, kalau dengar dari suaramu agaknya usiamu masih sangat muda, tapi ternyata mampu menyambuti seranganku ini sesungguhnya sangat ganjil. Bocah, siapakah gurumu? Dari golongan mana gurumu itu? Lekas jawab terus terang"

sejenak Yo Cie Cong merasa kaget, kemudian ia menjawab: "Tentang guruku dan golonganku, tidak ada perlunya untuk diberitahukan kepadamu"

sebentar lantas terdengar suara ketawa cekikikan yang sangat aneh, kemudian disusul oleh suara yang amat seram:

"Bocah yang terlalu jumawa, kalau kau tidak mau menjawab terus terang, jangan harap kau bisa keluar dari goa"

Yo Cie Cong lantas naik darah, dengan suara ketus dingin ia menjawab: " Untuk keluar dari goa ada sangat mudah bagiku. apa yang kau bisa berbuat terhadap diriku?"

"Setan cilik, aku hendak bikin hancur tulang2mu " "Rasanya kau masih belum mempunyai itu kemampuan?"

"Hahaha Tahukah kau siapa adanya aku ini?" "Aku tidak perduli siapa adanya kau"

"HmBuat beberapa puluh tahun lamanya belum pernah ada orang yang mengatakan demikian terhadap aku siorang tua."

Yo Cie Cong dalam hatinya lama berpikir: manusia atau siluman apa sebetulnya dia, mengapa berani omong besar begitu rupa? Apa tidak baik aku belajar kenal padanya?

Selelah itu, ia lantas balas dengan suara telawa dingin, kemudian dengan kata2nya yang mengejek:

Aku tadi toch sudah mengatakan, tidak perduli kau siapa, toch tidak bisa berbuat suatu apa terhadap diriku Kau mau apa?" Aku mau kau mampus, mengerti" "Begitu membuka mulut kau sudah menghendaki orang mampus, kiranya kau juga bukan manusia baik2. Kuberitahukah padamu, yang akan mampus barangkali bukan aku tapi kau sendiri"

"Bagus setan cilik, hari ini kau pasti mampus" "Tidak perd uli siapa yang akan mampus, beritahukanlah duiu siapa namamu?"

"Haha, nama? Biar bagaimana kau toch sudah mampus, buat apa kau mau tahu nama akan orang"

"Dan tahukah kau siapa adanya siaoya-mu ini?" Yo Cie Cong balas menanya. "Haha, setan cilik. boleh juga, katakanlah siapa kau ini?"

"Pemilik Golok Maut" "Hai, apa kau kata" "Pemilik Golok Maut""

"Hahahaha setan cilik, kau bawa-bawa nama itu tidak ada gunanya. Berapa besar usiamu? Mengapa kau berani mengaku bernama Pemilik Golok Maut? sedang setan tua itu

barangkali kini sudah menjadi tanah berikut tulang2nya"

Mendengar jawaban ini, Yo cte Cong lama menduga bahwa orang dalam goa ini sudah lama tentu tidak keluar didunia Kang-ouw lagi, jikalau tidak. bagaimana ia tidak tahu keadaan sebenarnya tentang dirinya Pemilik Golok Maut. Dalam hati kecilnya orang ini mungkin cuma tahu Pemilik Golok Maut yang paling dulu majukan diri Maka ia lantas menjawab dengan ejekannya:

"Haha, mata dan telingamu barangkali sudah tidak ada gunanya lagi siaoyamu ini justru ada itu orang yang mempunyai julukan Pemilik Golok Maut"

"Pui setan tua itu telah sudah binasa di cit-lie-peng, dan orang yang mengantarkan jiwanya keacherat itu justru ada aku si orang tua sendiri. "

Yo Cie Cong mendadak ingat siapa adanya orang yang berada didalam goa itu. Darahnya lantas mendidih seketika, dengan suara bengis ia berkata: " Liat- yang Lokoay ini yang dinamakan bahwa orang yang berdosa itu tidak akan terlolos dari hukumannya. Kau, kau sekarang telah bertemu dengan orang yang akan meminta jiwamu" sehabis berkata, ia lantas hendak mener yang masuk.

Tapi sekali lagi ia sudah disambuti dengan hawa panas yang luar biasa, yang meluncur keluar dari dalam goa.

Yo Cie Cong lantas putar kedua tangannya, setelah membikin buya hawa panas itu, matanya lantas kebentrok dengan seorang tua berwajah bengis dengan pakaiannya yang merah, siapa lagi kalau bukanna Liat- y ang Lokoay.

Untuk sesaat lamanya Yo Cie Cong sampai seperti gemetar sekujur badannya, siluman tua ini bukan saja merupakan salah satu musuh terbesar dari perguruannya, bahkanpernah turun tangan keji terhadap dirinya ditempat yang dinamakan cit-lie-pang.

Kalau bukan ditolong oleh orang misterius yang berkedok merah dan dengan khasiatnya mustika Gu-liong-kauw yang ada pada dirinya, sehingga ia bisa hidup lagi, saat ini barang kali ia sudah menjadi setan gentayangan. " Eh, setan cilik, benarkah kau ada pemilik Golok Maut?"

"Apa kau kira aku bohong? Di cit-lie-peng aku perah menerima tangan ganasmu, dan sekarang aku hendak menagih hutang itu berikut bungannya"

Liat-yang Lokoay baru sadar bahwa Pemilik Golok Maut yang berambut putih dahulu yang binasa didalam tangannya, adalah setan cilik ini yang menyaru, tapi ia masih segar bugar, ini benar2 ada merupakan satu hal yan sangat ganjil.

"Setan cilik, dahulu jiwamu telah lolos dari kematian, tapi hari ini aku hendak lihat bagaimana kau bisa lolos lagi dan tanganku?"

sembari ketawa cekikilan- kedua tangannya lantas bergerak, sebentar saja telapakan tangannya lantas berubah menjadi merah seperti bara. begitu pula sinar matanya. ditambah lagi dengan pakaiannya yang berwarna merah. hingga seperti orang yang dibikin dari benda yang sedang dibakar. Keadaannya itu sesungguhnya sangat seram dan menakutkan, Yo Cie Cong tidak berani berlaku gegabah, pada kedua tangannya suduh dipusatkan seluruh kekuatannya. ia sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Ketika dalam pertempuran di cit-lie-peng ia masih belum tahu benar khasiatnja

Liang- kek cin-goan. hingga tidak mampu menyambuti serangannya yang panas membara.

Mendadak, ia melihat berkelebatnya sinar merah.

Liat-yang Lo-koay sudah mulai dengan serangannya yang amat dahsyat.

sebelum serangannya tiba. hawa panasnya dirasakan sudah seperti berhadapan dengan batu bara yang dibakar.

Yo Cie Cong sudah bertekad hendak membinasakan jiwanya setan tua ini, maka ia lantas menyambuti dengan ilmunya Liong- kek cin-goan.

suatu ilmu silat yang bagaimana aneh dan ganas, yang dikuatirkanjalah berhadapan dengan ilmu silat yang bisa melumpuhkan ilmu silatnya sendiri. Ilmunya Liat-yang Lokoay yang dinamakan Liat-yang-ciang^ itu, ada merupakan ilmu pukulan yang bersifat panas dan keras. sedang ilmunya Yo Cie Cong Liang- kek cin-goan, dengan ditambah kekuatannya mustika Gu-liong-kauw serta telurnya burung rajawali raksasa ada terdiri dari ilmu yang sifatnya lunak dingin tapi juga mengandung keras atau panas, hingga setiap waktu bisa berubah menjadi lunak atau panas keras.

Ketika kekuatan yang dilancarkan oleh kedua pihak dengan sekuat tenaga itu beradu, lantas menimbulkan suara menggeleger seperti geledek. hingga goa yang tidak seberapa luasnya itu seperti mau ambruk.

Yo Cie Cong terpental mundur tiga tindak dadanya dirasakan sesak, sedang Liat-yang Lokoay terdengar keluarkan seruhan tertahan, badannya terpental mundur beberapa tindak, setelah membentur dinding goa, baru bisa berdiri lagi. Tapi darah segar lantas nampak mengalir keluar dari mulutnya, hingga wajahnya yang sudah seram nampaknya lebih seram lagi.

ia sungguh tidak nyana bahwa ilmunya Liat-yang-ciang yang ia kira sudah tidak ada orang yang mampu menyambuti, ternyata sudah dibikin punah oleh ilmunya Yo Cie Cong yang sangat aneh.

Bahkan setelah ilmunya sendiri dibikin punah, ia rasakan dadanya seperti digempur dengan martil besar, hingga hampir saja terjatuh dan tidak bisa bangun lagi.

Yo Cie Cong yang sudah berhasil dengan serangannya, dengan tanpa ragu2 lagi lantas mener yang masuk kedalam kamar batu, dan berdiri berhadapan dengan Liat-yang Lokoay sejarak tidak sampai satu tumbak.

ia lantas masukan tangannya kedalam balik baju bagian dadanya, sebentar Golok Mautnya sudah berada didalam tangannya.

Liat-yang Lokoay ketika melihat senjata golok maut itu, wajahnya lantas paujat pasi, dengan suara bengis ia menanya: "setan cilik, kaupernah apa dengan Yo cin Hoan?"

"Heh, heh Biarlah kau nanti kalau mati tidak akan menjadi setan penasaran, aku beritahukan padamu, bahwa aku adalah muridnya pangcu dari Kam-lo-pang itu"

Kiat-yang Lokoay pada saat ini dadanya sudah dirasakan sakit setengah mati, ia tahu bahwa ia tidak akan bisa lolos dari tangannya anak muda. Maka lantas timbul pikiran kejinya. Dengan diam2 ia pusatkan seluruh kekuatannya, kemudian dengan kecepatan bagaikan kilat, ia menyerang secara tiba2.

Yo Cie Cong yang selalu waspada, sudah siap menghadapi setiap serangan dari

musuhnya, maka dengan hampir sama cepatnya ketika serangan Liat- yang Lokoay meluncur keluar, ia sudah geser kakinya sehingga tiga kaki jauhnya.

Ketika suara seperti geledek menggeleger, pintu Lkmar batu dan dinding batu telah menjadi hangus oleh gempuran dari tangannya Liat-yang Lokoay, sedang anginnya sudah membikin gelap keadaan dalam kamar batu itu.

Yo Cie Cong yang menyaksikan hebatnya serangan tersebut juga merasa kaget, kalau bukan karena ia mempunyai Liong-kek cin-goan yang justru merupakan ilmu yang bisa melumpuhkan ilmu sangat jahat itu, barangkali dirinya sudah menjadi hangus. Dipihaknya Liat-yang Lokoay, serangan, tadi ada merupakan serangannya yang terakhir, maka setelah serangannya itu meluncur keluar, luka dalam badannya semakin hebat. hingga darah yang mengalir dari mulutnya semakin deras,

Yo Cie Cong dengan mata beringas dan suara bengis berkata padanja: "Liat-yang lokoay, hutangmu darah terhadap jiwanya 200 lebih orang2 Kam-lo-pang, sekarang sudah tiba waktunya kau harus bayar"

sehabis mengeluarkan perkatannya yang terachir, tangannya lantas bergerak, diantara berlelebatnya sinar putih, lantas disusul dengan suara jeritan ngeri, dalam kamar batu itu lantas seperti hujan darah, kaki dan tangannya Liat-yang Lokoay terkutung dari anggota badannya. didadanya terdapat sebuah lobang besar dan jiwanya lantas melayang pada seketika itu juga.

Yo Cie Cong bisa bernapas lega, ia masukan lagi senjata Golok Mautnya, lalu mengeluarkan buku cacatannya musuh2 Kam-lo-pang, dengan darahnya Liat-yang Lokoay ia menghapus musuh yang babis direnggut jiwanya itu dari daftar nama tersebut.

setelah mengaso sejenak. Yo Cie Cong keluar dari kamar batu itu. Ia mencari-cari lagi dan achirnya ia menemukan tempat yang dianggap cukup baik untuk ia berdiam sementara waktu.

Ia lantas keluarkan bekal makanan keringnya, setelah cukup menangsal perutnya, lalu mengeluarkan dua potong kajupusakanya ouw-bok Po-lok. dengan tekun ia mulai mempelajarinya ouw-bok sin-kang.

sang waktu telah berlalu dengan tanpa dirasa, tahu2 3 hari 3 malam sudah berlalu.

selama itu, Yo Cie Cong sudah berhasil memahami empat gerakan yang lainnya dalam ilmu silat yang tertulis dalam kayu pusaka itu. Empat gerak tipu serangan itu masing2 dinamakan-

1. Lip-ciang To- liong (dengan telapakan bisa membunuh naga).

2. chiu hong Loksyap (angin musim chiu menyapu daun pohon).

3. Lo-hay siu-po (ombak lautan yang mengamuk sehingga menerbitkan gelombang amat dahsyat),

4. Kian-khun sit-sek (Dunia telah dibikin suram).

Dengan semangat menyala-nyala dan kepandaiannya ilmu silat yang sudah tidak ada taranya, dibawah sinar matahari pagi, ia meninggalkan gunung Hoa-san.

Baru saja ia memasuki daerah perbatasan antara propinsi Inlam dan Burma, ia telah mendengar kabar yang mengejutkan-Maka dengan cepat ia lantas melanjutkan perjalannnya.

= = ooo OOOOO ooo = =

KABAR itu, ialah mengenai dirinya seorang wanita misterius yang selalu mengenakan kerudung dimukanya, kini telah memegang pimpinan sebagai ketua perkumpulan Pek-leng-hwee, yang ketuanya lama cin Bie Nio telah dibinasakan secara misterius.

sebagai pembantu utamanya dalam jabatannya sebagai ketua, wanita misterius itu telah mengangkat dirinya "siok-bun Yan-go" cin Hong Lan, seorang kuat nomor satu di Pek-soa-kiong dari Lam-hay-pay.

Kejadian ini merupakan suatu kejadian penttng bagi Yo Cie Cong, sebab sejak meninggalnya cin Bie Nio secara aneh, ia selalu diliputi oleh perasaan heran dan curiga.

Ia masih ingat dengan jelas tentang dirinya itu wanita berkerudung, yang disebut “kiongcu" atau tuan puteri oleh cin Hong Lan. Ini ada suatu bukti bahwa wanita itu adalah orang dari Pek- soa-kiong. Tapi mengapa sekarang memegang tampuk pimpinan Pek-leng-hwee, apakah orang2nya Pek-leng-hwee mau tunduk kepadanya?

Peristiwa dipenggalnya kepala ketua Pek-leng-hwee cin Bie Nio diwaktu tengah malam, dan kemudian pada esok harinya telah kedapatan bahwa kepala itu dipakai untuk sembahyang dikuburannya ketua Pek-leng-h wee yang lama, yang juga pernah menjadi suaminya cin Bie Nio sendiri, apakah itu ada perbuatannya orang dari Pek-soa-kiong yang hendak merebut kedudukan ketua Peksleng-hwee ? Dugaan demikian meski agak beralasan, tapi rasanya masih kurang tepat. Yo Cie Cong pernah sangsikan bahwa wanita berkerudung itu adalah siang-koan Kiauw, si gadis baju merah yang ia anggap sudah binasa dalam lautan Lam-hay, sebab kecuali paras mukanya yang dikerudungi, sehingga tidak dapat dilihat dengan tegas, bentuk badannya maupun gerak geriknya, ada sangat mirip dengan wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu. Tapi wanita aneh itu sikapnya se-olah2 benar puteri dari Pekssoa-kiong, ini sesungguhnya merupakan suatu hal yang sangat ganjil dan tidak habis dimengerti.

Tiba2 ia ingatperkataannya Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow diatas gunung Hoa-san ketika berbicara dengan Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa, katanya munculnya lagi ia kali ini dikalangan Kang-ouw, maksudnya yang terutama ialah hendak menuntut balas sakit hati atas kematian muridnya, ialah cin Bin Nio Dengan demikian, tidak perlu disangsikan lagi. iblis wanita itu pada suatu hari pasti akan datang kepusat perkumpulan Pek-leng-hwee.

jikalau Yo Cie Cong segera berangkat ke oey-co-pa, tempat kedudukannya pusat Peksleng- hwee, selain bisa menemukan Giok-bin Giam-po untuk menagih hutang, tapi juga dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sepak terjangnya wanita misterius itu memegang pimpinan Pek-leng-hwee.

Dengan tujuan itulah, maka YoCie Cong lantas tujukan perjalanannya ke-pusat Pek-leng-hwee. sepanjang perjalanan ia selalu memutar otak memikirkan persoalan itu.

sekarang ia sudah dapat memahami lima macam gerak tipu silat yang tertulis dalam potongan kayu pusaka ouw-bok Po-lok. Gerak tipu silat itu sesungguhnya merupakan gerak tipu sangat luar biasa. Waktu Yo Cie Cong mainkan gerak tipu itu, ia telah bias mengeluarkan seluruh kepandaian dan kekuatan tenaganya begitu leluasa, maka buat menghadapi Giok-bin Giam-po, sudah tidak merupakan soal apa2 lagi.

Dalam pertemuannya ditempat kediamannya tabib mulia Gouw Cee Jin, ketika tabib yang berhati mulia itu dibinasakan oleh orang2nya Im-mo-kao, wanita aneh. berkerudung itu pernah mengatakan kepada pengawalnya "ia bisa mencari kita sendiri”

Dan kini telah menjadi kenyataan benar2 ia sendiri hendak pergi mencari mereka, ini sungguh aneh. Apakah wanita berkerudung itu mempunyai kepandaian untuk meramalkan semua kejadian yang belum terjadi? didalam hal ini ada mengandung rahasia apa? ia makin memikir makin bingung.

setelah melakukan perjalanan beberapa hari dengan tanpa beristirahat, tengah hari Yo Cie Cong sudah tiba ditempat tujuannya ialah ocy-co-pa yang letaknya kira2 20 lie diluar kota Kiu- kang.

Apa yang mengherankan, dalam perjalanan itu ia tidak lihat ada orang yang merintangi atau mengeluarkan tanda bahaya.

Yo Cie Cong terus menuju kepintu gerbang yang merupakan pintu terdepan gedung pusatperkumpulanPeksleng-hwee. Ditempat itu pada belum lama berselang ia pernah membinasakan jiwanya si manusia jelek nomor satu Ang Kut Tan. "siapa?"

Tiba2 Yo Cie Cong dengar suara bentakan, dan kemudian dari dalam muncul empat orang laki2 berpakaian ringkas.

Ketika 4 orang laki2 itu mengetahui siapa orangnya yang baru datang itu, hatinja

ketakutan setengah mati, hingga lantas balikan badan hendak kabur "Berdiri jangan kabur"

suara bentakan Yo Cie Cong ini agaknya mengandung pengaruh besar sekali, sebab 4 orang laki2 itu lantas seperti lemas sekujur badannya, semuanya tidak berani angkat kaki lagi, badannya bergemetaran.

Dalam hati mereka masing2 lantas berpikir- ^Malaikat elmaut ini muncul lagi disini, pasti akan menimbulkan pertumpahan darah la g i. yang satu belum beres dan kini muncul yang lain.

Rasanya Peksleng-hwee hari ini tidak akan terlepas dari nasibnya yang meng enas ka n^ Aku hendak menemui ketua kalian" demikian Yo Cie Cong berkata.

"siaohiap .... hendak .. menemui ketua kami?" menegaskan salah satu dari empat laki2 itu. "Benar, ketua kalian yang baru yang aku maksudkan." "Ketua kami saat ini tidak berada di- dalam " Benarkah tidak ada?"

"Ketua kami dibawa kabur orang jahat"

Yo Cie Cong melengak. Ia merasa heran, wanita berkerudung itu mempunyai kepandaian ilmu silat sangat tinggi, sedang pengawalnya ialah cin Hong Lan, juga merupakan seorang kuat nomor satu dari Lam-hay-pay. Mengapa sampai dibawa kabur orang, ini sesungguhnya ada merupakan satu kejadian aneh. Nampaknya orang yang membawa kabur itu tentunya bukan orang sembarangan,

"Dibawa kabur oleh siapa?" tanya pula Yo Cie Cong heran.

“Kabarnya suhunya ketua kami yang lama Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow telah menuduh ketua kami yang sekarang sebagai pembunuhnya ketua kami yang lama, ia malah mengatakan.”

“Dimana sekarang mereka berada?" tanya Yo Cie Tong dengan bengis.

Empat laki2 itu ketika melihat Yo Cie Cong mendadak sontak begitu beringas, rasa takutnya semakin men-jadi2. Mereka menduga ada kawannya Giok-bin Giam-po, maka lantas tidak ada yang berani menjawab.

“Lekas jawab, iblis wanita itu apa sekarang masih berada didalam ataukah kabur kemana?"

Empat laki2 itu wajahnya pucat seketika, mereka mengira yang dikatakan iblis wanita itu adalah ketuanya yang baru, maka tambah tidak bisa menjawab. "Manusia tidak ada gunanya"

Yo Cie Cong dengan sengit memaki sendiri, kemudian ia ayun tangannya, dan 4 laki2 itu sebentar saja sudah dibikin terpental sejauh satu tumbak lebih.

selanjulnya Yo Cie Cong lantas lompat masuk- dengan melalui jalanan batu, ia terus menuju kepusatnya Pek-leng-hwee.

Dengan beruntun ia melalui dua ruangan, tapi tidak kelihatan bayangan seorangpun juga, hingga dalam hatinya lantas berpikir: "Aneh, apakah orang2nya Pek-leng-hwee sudah binasa semua?"

Kembali ia menuju keruangan ketiga. Begitu memasuki ruangan ini, dalam hatinja

lantas bercekat. Apa yang terbentang dihadapan matanya, ada suatu pemandangan yang sangat mengerikan.

Bangkai2 manusia pada menggeletak ditanah, darah segar mengguruntang seperti air banjir, hawa buruk hampir membuat Yo Cie Cong muntah uger, Bangkai itu. terdiri dari beberapa jenis laki2 perempuan tua muda, jumlahnya tidak kuraun dari 50 jiwa. Yo Cie Cong berdiri kesima menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.

Apakah orasg2 ini semua binasa ditangannya Giok- bin Giam-po Phoa cit Kow? iblis wanita itu sesungguhnya keliwat ganas, Yo Cie Cong yang datang terlambat setindak saja, ternyata sudah tidak keburu mencandak dirinya. Dan sekarang kalau mencari jejaknya, barangkali sudah tidak mudah lagi diketemukan.

Tapi dimana sisanya orang2 Peksleng-hwee? Apakah hanya tinggal itu 4 orang laki2 saja?

Menurut keterangannya itu 4 laki-laki. Giok- bin Giam-po menuduh wanita berkerudung itu sebagai pembunuhnya ketua Peksleng-hweecinBie Nio. Dan iblis wanita itu pernah berkata kepada Hoan Thian Hoa hendak menuntut balas terhadap kematian muridnya itu. Tapi dengan berdasar apa ia berani memastikan kalau wanita berkerudung itu yang membunuh mati cinBie Nio? Dan sekarang kemana dibawanya wanita berkerudung itu?

Karena gerak geriknya wanita misterius itu ada mirip benar dengan kekasihnya yang dianggapnya sudah binasa dilautan Lam-hay. Yo Cie Cong terhadap wanita misterius itu mempunyai kesan yang aneh dalam hatinya.

sekarang, ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia begitu besar perhatiannja

terhadap kejadian itu, dan begitu gelisah pikiran-nya memikiri nasibnya wanita berkerudung yang sangat aneh itu. Setelah berpikir sejenak. la masuk keruangan lain untuk mengadakan penyelidikan lebih lanjut, tapi masih letap tidak menemukan bayangan seorangpun juga semua ruangan nampak sepi sunyi seperti sudah tidak ada penghuninya. Ia lantas timbul pikirannya hendak menanyakan pula kepada 4 laki2 tadi.

Tapi ketika ia balik keluar lagi kepintu gerbang, 4 laki2 itu ternyata sudah menghilang. Kali ini ia benar2 semakin gelisah, ia tidak tahu harus berbuat apa?

Ia menengok mengawasi gedung2 yang mewah itu, tapi sudah merupakan gedung setan yang sepi sunyi dan seram.

Mendadak ia dengar suara jeritan orang yang terbawa oleh siliran angin- Dalam kagetnya, Yo Cie Cong lantas memperhatikan dari mana arah datangnya suara itu, yang agaknya datang dari belakang gunung yang ada disekitar oey-co-pa.

sejenak setelah suara jeritan itu sirup, keadaan menjadi sunyi, seperti tidak pernah terjadi apa2.

Yo Cie Cong setelah berpikir sejenak, ia lantas terbang melesat kebelakang gunung. setelah melalui bukit pertama, didepannya lantas terbentang tiga puncak gunung yang

menjulang tinggi kelangit. Ditengah-tengah antara 3 puncak gunung itu, ada terdapat sebuah tanah belukar yang dikitari banyak pepohonan. Di-tengah2 tanah belukar yang kosong ada terdapat banyak orang berkumpul yang jumlahnya ditaksir lebih dari seratus orang.

Pemandangan itu telah menarik perhatiannya Yo Cie Cong. ia segera terbang melesat kedalam rimba, dengan sangat hati2 ia nyelundup kedalam tanah belukar itu, ternyata orang banyak itu sedang berdiri mengitari sebuah kuburan. Disekitar tanah kuburan itu ada banyak tanaman pohon besar.

Yo Cie Cong lantas naik dan sembunyikan dirinya diatas satu pohon yang daunnya lebat. Dari sela2 daun pohon ia bisa memandang keadaan disebelah bawah.

Dan apa yang dilihat? suatu pemandangan yang hampir membuat dadanya meledak telah terbentang dihadapan matanya.

IA lihat cin Hong Lan dengan rambut riap2an dan baju tidak keruan serta darah mengalir dari mulutnya, sedang berdiri dengan badan limbung. Terang ia sudah terluka parah didalamnya. sedang siwanita berkerudung tampak menyender dibatu kuburan dihadapannya ada berdiri Giok- bin Giam-po.

saat itu ia dengar suaranya Giok- bin Giam-po yang membentak wanita berkerudung itu dengan suaranya yang bengis .

“Budak hina, kau jawab juga mati, tidak menjawab juga mati."

Wanita berkerudung itu nampaknya sudah ditotok jalan darahnya, hingga tidak bisa bergerak sama sekali.

Cin Hong Lan dengan sikap galak dan suara bengis memotong perkataannya Giok bin Giam-po: "Siluman wanita, kalau kau berani mengganggu seujung rambutnya saja, Lam-hay-pay

tidak akan tinggal peluk tangan terhadap perbuatanmu "

"Hahaha Lam-hay-pay bisa bikin apa? Hari ini kau sendiri juga tidak bisa dapat ampun "

Anak buahnya Pek-leng-hwee yang jumlahnya lebih dari seratus orang dan yang pada berdiri mengitari mereka, kelihatannya pada ketakutan setengah mati.

Yo Cie coog kini baru mengerti, apa sebabnya gedung perkumpulan Pek-leng-hwee menjadi sepi tidak ada orangnya, kiranya sudah pada berkumpul disini.

Ia tidak tahu apa sebabnya iblis wanita Giok-bin Giam-po itu telah menangkap dan membawa dirinya wanita berkerudung itu datang kemari ?

Giok-bin Giam-po setelah ketawa cekikikan sejenak, lalu berkata lagi: "Kau budak hina, hari ini aku suruh kau merasakan sendiri bagaimana rasanya orang dipenggal kepalanya?"

sehabis mengucapkan perkataannya. badannya dengan cepat sudah bergerak dan dari salah satu anak buahnya Peksleng-hwee ia telah menjambar sebilah pedang tajam berkilatan- Cin Hong Lan dengan tidak menghiraukan keadaannya sendiri, lantas menubruk dirinya Giok- bin Giam-po.

Tapi dengan tanpa menoleh, Giok-bin Giam-po kibaskan tangannya, kemudian disusul oleh suara jeritan dan badannya cin Hong Lan sudah terpental sejauh dua tumbak. rubuh tidak bangun lagi.

suara gaduh terdengar dari mulutnya anak buah Peksleng-hwee, tapi tidak ada satu yang berani bergerak.

sebabnya sudah nyata, siapa saja yang berani turun tangan, itu berarti mengantarkan jiwa secara sia2 saja.

Dengan kepandaian seperti anak buahnya Pek-leng-hwee, kalau mau menolong jiwa ketawa mereka yang baru dari tangannya iblis wanita itu, jangan harap bisa berhasil. Giok- bin Giam-po tangannya diangkat tinggi2.

saat itu ada sangat kritis. Nampaknya kepala wanita berkerudung itu sudah akan dibikin terpisah dari badannya.

Mendadak ada sinar putih berkeredep. diatas tanah dihadapannya Giok-bin Giam-po tampak menancap sebilah seajata yang aneh bentuknya Diantara orang banyak lantas terdengar suara : "Golok Maut "

Pemilik Golok Maut yang namanya ditakuti oleh semua orang dari golongan hitam dan putih itu mengapa bisa muncul disini? Dan apa maksudnya? orang2 yang ada disitu mungkin hanya seorang saja yang mengerti. Ia itu adalah Giok-bin Giam-po Phoa cit Kouw sendiri

Tapi didalam pertempuran digunung Hoa-san. pikirnya. setan cilik itu terang sudah mampus terjun kedalam jurang ber-sama2 Hoan Thian Hoa, apakah bisa jadi ada lain pemilik Golok Maut lagi ?

Giok-bin Giam-po dengan pedang masih tetap ditangan, ia tidak perdulikan munculnya Golok Maut secara tiba2 itu. sebab dengan kepandaiannya sendiri sudah cukup untuk menjagoi rimba persilatan, ia sudah tidak perlu takut kepada siapa-pun juga.

Selagi semua orang masih berada dalam keadaan ter-heran2, sesosok bayangan orang tiba2 meluncur turun di-tengah2 lapangan.

“Pemilik Golok Maut " demikian anak buahnya Peksleng-hwee diam2 pada berseru.

Giok-bin Giam-po tarik kembali pedangnya yang hendak dijatuhkm diatas lehernya wanita berkerudung itu, ia berpaling menghadapi Yo Cie Cong. setelah memandang sejenak, lantas berkata “Hei, setan cilik, kau masih belum mampus?"

Dengan wajah gusar Yo Cie Cong menjawab: "jikalau aku mati, siapa yang menagih hutangmu ini ?"

"Aku tanya kau, dimana sekarang Hoan Thian Hoa berada?" "Sudah mati"

Giok-bin Giam-po wajahnya lantas berubah, suaranya agak gemetar: "Apa benar ia sudah binasa?"

"Benar, bangkainya juga sudah tidak utuh ?"

Giok-bin Giam-po badannya menggetar, air mata turun ber-linang2. Kiranya iblis wanita ini masih belum melupakan cinta kasihnya terhadap Hoan Thian Hoa. Yo Cie Cong dalam hati diam2 merasa geli sendiri "setan cilik, kau memhohongi aku?"

"Apa perlunya aku buang2 tempo yang berharga untuk membohongi kau?" "Dan kau sendiri mengapa tidak mampus ?"

"Karena aku harus menagih hutangmu dahulu "

Yo Cie Cong menjawab, sambil matanya melirik kepada dirinya wanita berkerudung yang berdiri dihadapan batu kuburan dalam keadaan tidak berdaya. Ketika matanya Yo Cie Cong dapat lihat tulisan diatas batu kuburan, ia baru tahu kalau dalam kuburan itu ada bersemajam arwahnya siangkoan Kin, ketua Pek-leng-hwee yang dulu.

Yo Cie Cong lantas sadar apa sebaabnya Giok-bin Giam-po memilih tempat ini untuk membinasakan jiwanya siwanita berkerudung, itulah karena batok kepalanya-cin Bie Nio dipakai sembahyang dihadapan kuburan tersebut. Benarkah cin Bie Nio binasa ditangannya wanita berkerudung ini?

Mengapa kepalanya cin Bie Nio digunakan untuk sembah yang didepan kuburannya siang-koan Kin,

Dengan hak apa wanita berkerudung itu bisa memegang pimpinan sebagai ketua Peks leng- hwee.

jika ia itu adalah siang-koan Kiauw, Sigadis baju merah, sudah tentu tidak perlu menimbulkan pertanyaan, tapi ia bukannya siang-koan Kiauw. Kesemuanya ini benar2 membikin pusing kepala Yo Cie Cong.

Giok-bin Giam-po setelah berdiam sejenak, diwajahnya kembali tampak perasaan gusarnya. sambil memandang dengan tajam wajahnya Yo Cie coog ia berkata.

"Hmmm... setan cilik, sungguh pintar kau menjawab. Dasar kau harus mampus ditanganku, kata kau datang kemari untuk mengantarkan jiwa mu, bukannya menagih hutang. Ha ha ha "

"Kedatanganku justru hendak mengantarka kau untuk menemui Giam-lo-ong"

Diatas gnnung Hoa-san Giok-bin Giam-po pernah ^belajar kenal dengan kepandaiannya Yo cie Cong, ia anggap masih belum merupakan tandingan yang cukup kuat bagi dirinya. maka ia sedikitpun tidak pandang mata dirinya anak muda ini. sudah tentu ia tidak tahu kalau selama beberapa hari ini Yo Cie Cong sudah berhasil memahami ilmu silatnya yang terbaru yang ia dapatkan dari kayu pusaka ouw-bok Po-lok. yang dinamakan ouw-bok sin-kang.

Keadaannya Yo Cie Cong pada saat itu bukan lagi seperti Yo Cie Cong pada beberapa hari berselang.

Dengan masih memandang hina ia berkata: "sudah dekat ajalmu kau masih bisa omong besar"

Yo Cie Cong tidak mau ambil pusing Ucapannya Giok-bin Giam-po, dengan menggunakan ilmunya menggeser tubuh menukar bayangan-, sejepat kilat ia sudah menghilang dari depan matanya Giok-bin Giam-po. Kemudian dengan ilmunya Hui-siu Kay-hiat dari pelajarannya si hweshio gila ia sudah berhasil membebaskan dirinya wanita berkerudung dari totokannya. Wanita berkerudung itu setelah totokannya dibebaskan- berdiri dengan tegak. Giok-bin Giam-po lantas naik darah, dengan suara bengis ia membentak: Kau cari mampus "

Ucapannya itu dibarengi dengan serangannya yang sangat ganas, dengan beruntun sampai tiga kali ia menyerang dirinya Yo Cie Cong.

Dengan secara bagus dan gesit sekali Yo Cie Cong mengelakan ketiga serangan ganas itu, kemudian dengan membalikan tangannya ia membalas menyerang dengan tipu serangannya yang terbaru “Lip-ciang To-liong”

Ini ada merupakan gerak tipu yang kedua dalam ilmu serangan ouw-bok sin-kang, kekuatannya sudah tidak ada taranya, jika serangan itu mengenakan dengan telak. bisa membikin hancur lebur badannya orang yang diserang.

Giok-bin Giam-po ketika melihat tipu serangan yang belum pernah dilihatnya itu meski ia sudah merupakan seorang kuat dan banyakpengalamannya, tapi masih merasa sangat asing dengan tipu serangan yang sangat aneh itu, sehingga tidak berdaya untuk memecahkan serangan tersebut.

Masih untung ia ada mempunyai kepandaian snngat tinggi, serangan itu masih mampu ia hindarkan, hingga dirinya tidak sampai hancur lebur.

Diam2 dalam hatinya merasa heran, mengapa Bocah ini dalam berapa hari saja sudah berubah seperti kerangsukan setan? Dari mana ia dapatkan kepandaian itu Yo Cie Cong geser mundur kakinya, dengan mata beringas ia berkata: "lblis wanita, seranganku kali ini tidak mampu membereskan kau, aku segera membunuh diri dihadapanmu "

Ucapan Yo Cie Cong ini membikin kuncup hatinya Giok-bin Giam-po, sebab kalau Yo Cie Cong tidak mempunyai kesanggupan penuh, sudah tentu tidak berani mengUcapkan perkataan demikian tegas, jung berarti pertaruhkan jiwanya sendiri,

Tapi sebagai seorang yang kenamaan, sudah tentu tidak mau mandah digertak begitu saja oleh musuhnya.

Anak buahnya Peksleng-hwee yang berdiri disekitar tempat itu, sungguh tidak nyana bahwa Pemilik Golok Maut yang belum lama berselang pernah mendatangi sarangnya Pek-leng-hwee untuk menuntut balas dendam dan membunuh mati dirinya si manusia jelek nomor satu itu, kini telah turun tangan menolong jiwanya ketua mereka yang baru. bahkan ia memikul segala resikonya untuk menghadapi si iblis wanita Giok-bin Giam-po. Maka dengan perasaan ter-heran2 semua mata telah ditujukan kepada dirinya anak muda yang aneh itu. 

"Setan cilik, besar sekali bacotmu " Giok-bin Giam-po membentak dengan suara gusar. "lblis wanita, jangan banyak bicara, terimalah kematianmu"

sehabis itu, gerak tipu terakhir dalam ilmu silat ouw-bok sin- kang yang dinamakan “Kian-khun sit-sek” telah meluncur keluair dari tangannya. Kekuatan yang sangat dahsyat telah menggempur dirinya iblis wanita itu.

Anak buahnya Pek-leng-hwee yang berada disekitarnya telah terdesak mundur oleh angin pukulan yang sangat hebat itu, hingga semua pada pucat pasi, sampai si wanita berkerudung itu sendiri juga menyingkir mundur sejauh 5 tumbak. setelah kepanikan itu berlalu, suara jeritan lantas terdengar.

Giok-bin Giam-po dengan wajah pucat dan darah meleleh keluar dari mulutnya, nampak berdiri kira2 dua tumbak lebih dari tempatnya semula. Matanya nampak sayu, dadanya bergolak. badannya sempoyongan,

sedang difihaknya Yo Cie Cong, ia masih berdiri tegak ditempatnya.

Anak buahnya Pek-leng-hwee semua pada melongo menyaksikan kejadian tersebut. Mereka mengira itu ada dalam impian, sebab kekuatan yang demikian dahsyat, sebetulnya agak ganjil kalau dipunyai oleh seorang muda seperti Yo Cie Cong ini,

Dengan sikapnya yang sangat tenang Yo Cie Cong menghunus senjata Golok Mautnya, setindak demi setindak telah menghampiri Giok-bin Giam-po.

iblis wanita wajahnya pucat pasi, ia merasa se-olah2 menghadapi malaikat elmaut yang sedang me-lambai2kan tangannya.

saat itu ia sudah terluka parah, bergerak saja barangkali sudah tidak bisa, maka cuma bisa menantikan ajalnya saja..

"lblis wanita, hutang darah harus bayar darah, saat kematianmu sudah tiba"

setiap patah perkataan Yo Cie Cong se-olah2 pisau belati menusuk dihulu hatinya iblis wanita yang sangat ganas itu.

iblis wanita yang sudah lanjut usianya, tapi kelihatannya masih cantik molek seperti gadis remaja itu, sebentar lagi sudah akan msnjadi korbannya Golok Maut Yo Cie Cong. ia harus binasa dalam keadaanputus kedua tangan, kedua paha dan berlobang didadanya, seperti juga korban2 yang lain2nya ......

Mendadak pada saat itu ditengah kalangan ada berkelebat bayangan, seorang aneh berkedok kain merah sudah ditengah2 antara orang banyak itu "Pemilik bendera burung laut "

Demikianlah terdengar suaranya orangZ Pek-leng-hwee berseru.

Yo Cie Cong ketika mengetahui orang yang muncul secara mendadak itu ada si orang berkedok kain merah yang ia paling junjung dan dihormati, untuk sesaat merasa heran, hingga terpaksa menunda maksudnya hendak menghabiskan jiwanya Giok-bin Giam-po. Sedang dalam hatinya berpikir. "Heran, mengapa ia muncul secara mendadak”

Meski dalam hatinya berpikir demikian tapi mulutnya masih berkata dengan sikapnya yang menghormat, "cianpwe apa selama ini ada baik?" orang berkedok kain merah itu mengangguk.

Yo Cie Cong angkat lagi tangannya, Golok Mautnya sudah akan dikerjakan-,..

"Anak, kau tidak boleh membinasakan dia" demikian ia dengar suaranya orang berkedok kain merah itu.

Hal ini membuat Yo Cie Cong semakin heran- Tapi perkataannya orang berkedok kain merah itu bagi Yo Cie Cong se-olah2 mempunyai pengaruh gaib, hingga dengan tanpa terasa tangan yang sudah diayun tadi per-lahan2 dilurunkan kembali."cianpwee apa artinya ini?" ia menanya.

"Anak, aku kata kau tidak boleh membinasakan jiwanya dia" suaranya orang berkedok kain merah itu agak gemetar.

"Kenapa ?"

"Kalau kau bunuh dia kau nanti bisa menyesal " "Boanpwee? Boanpwee bisa menyesal?" "Benar"

“Musuh perguruan, sudah selayaknya dibinasakan- Hutang darah harus dibayar dengan darah.

Tidak ada suatu alasan bagi boanpwee untuk menyesal"

Yo Cie Cong yang saat itu sudah menghadapi musuh besarnya, sedetikpun rasanya sudah tidak bisa menunda lagi. setelah mengucapkan perkataannya, kembali tangannya diangkat, senjatanya sudah akan mencabut jiwa musuhnya. "Anak, jangan"

Hampir berbarengan Yo Cie Cong hendak turun tangan, orang berkedok itu dengan kekuatan tenaga dalamnya jaag hebat menyerang dari samping, hingga badan Yo Cie Cong terpental minggir.

Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong, apa sebabnya siorang berkedok merah mati2an mencegah ia menuntut balas dendam terhadap dirinya si iblis wanita? Apakah .... apakah orang

berkedok merah itu dahulu ia juga pernah menjadi kekasihnya si iblis wanita? Kalau benar demikian halnya, sekalipun orang berkedok merah itu pernah melepas budi begitu hesar terhadapnya, tapi dalam hatinya Yo Cie Cong mau tidak mau lantas merasa kecewa atas perbuatannya itu.

Bagi Giok-bin Giam-po perasaan herannya ada lebih2 daripada Yo Cie Cong. yang sudah menganggap dirinya akan binasa. siapa nyana telah muncul tuan penolong yang berupa orang berkedok merah, yang ia tidak kenal. ini benar2 merupakan suatu perbuatan yang sangat ganjil.

Kepingin hidup langgeng dan segan mati itu memang sudah menjadi kodratnya manusia, Apalagi orang yang sudah berada ditepinya jurang kematian, dimana mendapat kesempatan untuk hidup lagi, sudah tentu tidak mau melepaskan begitu saja. Demikianlah perasaannya Giok-bin Giam-po pada saat itu, ini ada merupakan satu2nya kesempatan yang paling baik untuk menolong jiwanya dari kemaiian dibawah Golok Maut Maka dengan cepat sekali ia lantas mengambil dan menelan beberapa butir pil obat luka didalam buatannya sendiri setelah merasa pulih tenaganya, ia lantas timbul pikirannya hendak kabur, Yo Cie Cong dengan wajah berubah menanya kepada orang berkedok merah:

"cianpwee, bolehkah cianpwee memberitahukan apa sebabnya cianpwee mencegah boanpwee melakukan penuntutan balas ini?"

Dengan menekan perasaan hatinya, sehingga hampir tidak bisa mengeluarkan suara, orang berkedok itu menjawabi

"Anak, kau tidak usah tanya apa sebabnya yang sudah pasti adalah aku tidak akan membohongi kau"

"Boanpwee tahu kau cianpwee tidak membohongi boanpwee, tapi sakit hati dalam perguruan, bagaimana tidak harus dibalas? Bagaimana nanti boanpwee ada muka untuk menemui suhu dialam baka?" "Tapi, kau tidak bisa membinasakan dia"

“jikalau cianpwee tidak mau mengatakan sebabnya, boanpwee hari ini terpaksa harus menentang perintah cianpwee."

"Anak, apa kau tidak boleh tidak harus membinasakaa dia ?" “Sudah pasti"

"Tapi kau nanti akan menderita kemenyesalan seumur hidupmu"

Perkataan ini membuat Yo Cie Cong merasa sangsi. Dalam hati lantas berpikir. "Membunuh dia mengapa aku harus menderita kemenyesalan seumur hidup?"

"Dengan tanpa sadar ia melirik lagi kepada Giok- bin Giam-po, lirikan ini membuat ia lantas mengambil keputusan melanjutkan maksudnya untuk mengambil jiwanya iblis wanita itu.

"Apa cianpwee tetap tidak mau menerangkan apa sebabnya?" demikian ia menegaskan sekali lagi kepada orang kedok merah.

= = ooo OOOOO ooo = =

"KAU pasti hendak mengetahui?" “Pasti^

Buat kepentingan dirimu sendiri, kau sebetulnya lebih baik tidak tahu. jikalau tidak, anak, aku kuatir kau nanti akan mengalami penderitaan bathin untuk seumur hidupmu"

Perkataan ini membuat Yo Cie Cong lebih bingung, perasaan herannya semakin memuncak.

Apakah dalam hal ini ada menyangkut dengan asal-usul diriku? Demikian dalam hati kecilnya ia menanya.

Tapi ia tidak bisa memikir terlatu lama, iblis wanita itu adalah musuh besar perguruannya, juga merupakan satu wanita genit cabul ganas dan kejam, yang sudah ternoda dalam kalangan Kang- ouw.

Pada saat itu, mendadak ada berkelebat bayangan orang. Tubuhnya Giok-bin Giam-po mendadak melesat tinggi, dengan cepat melewati kepala orang banyak yang berdiri mengitari. Ia hendak kabur.

Yo Cie Cong lantas membentak dengan suara keras: "Mau lari kemana?" Dengan cepat ia menyusul.

orang aneh berkedok merah itu juga lantas menyusul dibelakang,Yo Cie Cong.

Wanita berkerudung kain mendongakan kepalanya mengawasi kearah berlalunya ketiga orang itu, kemudian sambil mengikuti dirinya cin Hong Lanjung masih pingsan, ia ajak turun gunung semua anak buahnya Pek-leng-hwee.

Sekarang mari kita mengikuti jejaknya Yo Cie Cong. Dengan mengunakan ilmunya mengentengi tubuhnya yang luar biasa, ia terus mengejar Giok- bin Giam-po.

Ia sudah mengambil keputusan tidak akan membiarkan dirinya Giok- bin Giam-po kabur begitu saja. Maka ia sudah keluarkan seluruh kepandaiannya untuk dapat menjandak diri musuh besarnya itu.

Giok- bin Giam-po meski sudah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, terus lari se- kencang2nya, tapipi biar bagaimana masih kalah setingkat dengan kepandaiannya lari pesat Yo Cie Cong, apalagi ia barusan terluka parah, sadah tentu tambah sukar baglnya untuk lolos dari tangannya anak muda itu.

jarak antara dua orang yang saling kejar itu makin lama makin dekat.

Yo Cie Cong sudah bertekad bulat menunaikan kewajibannya menuntut balas sakit hati perguruannya, tidak mau pikir lebih panjang lagi semua perkataannya siorang berkedok merah.

Keadaan Giok-bin Giam-po sudah seperti anjing yang habis dipukul, ia terus lari secara membabi buta dengan hati ketakutan.

iblis wanita itu pernah malang melintang didunia Kang-ouw beberapa puluh tahun

la manya, kegenitannya, kecabulannya, kekejamannya dan keganasannya sudah membikin kalang kabut dunia rimba persilatan. sesungguhnya tidak nyana kalau hari ini ia mengalami nasib yang begitu mengenaskan Didalam hatinya, ia masih mengira bahwa perbuatannya orang aneh berkedok merah tadi yang mencegah Yo Cie Cong menghabiskan jiwanya, tentu kepincuk oleh kecantikannya, sebab kejadian demikian sudah seringkali ia alami.

oleh karena tindakan orang berkedok tadi, maka ia telah mendapat kesempatan untuk memulihkan kekuatannya, dan setiap kesempatan ia akan gunakan untuk melarikan diri Maka apa yang dikatakan oleh orang berkedok dan Yo Cie Cong tadi, sama sekali tidak masuk kedalam telinganya.

jikalau tidak. keadaan barangkali bisa berubah. Jarak antara kedua orang yang kejar2an itu sekarang hanya tinggal lima tumbak saja.

Yo Cie Cong lantas membentak dengan suara keras: "iblis wanita, kau tidak akan bisa lolos?" Ia lalu kerahkan seluruh tenaganya, secepat kilat ia melesat dan turun dihadapannya Giok-bin

Giam-po kira2 dua tombak jauhnya.

Giok-bin Giam-po sudah terbang semangatnya, ia terpaksa hentikan gerakannya. sikap bengis dan gemas telah menggantikan parasnya yang cantik molek. sepasang matanya yang semula dapat digunakan untuk memikat hatinya setiap orang laki2, kini telah berubah begitu menakutkan.

Yo Cie Cong dengan mata beringas dan dada hampir meledak. berkata sambil kertak gigi: "iblis wanita. Giam-lo-ong suruh kau mati jam tiga pagi, tidak nanti jiwamu bisa diulur sampai

jam lima. Mengertilah kau bahwa sekarang kau tidak bisa dapat pengampunan lagi"

Giok-bin Giam-po mengerti bahwa saat itu sudah tidak ada harapan untuk melepaskan diri dari cengkramannya anak muda itu, namun ia juga tidak mau mandah begitu saja untuk menerima nasibnya. Maka saat itu lantas timbul pikiran nekadnya,

Dengan wajah merah padam, ia lantas menyahut dengan suara bengis: "Setan cilik, aku ingin lihat siapa sebetulnya yang harus binasa?"

Hampir berbareng dengan Ucapannya yang terachir itu, kedua lengan bayunya sudah. dikibaskan menjambar mukanya Yo Cie Cong. Sesaat itu bau harum luar biasa lantas keluar dari lengan baju tersebut.

Yo Cie Cong ketika baru muncul di dunia Kang-ouw, dulu pernah merasakan keganasannya bau harum dari tangannya cin Bie Nio, yang hampir saja membinasakan dirinya. Maka ketika melihat Giok-bin Giam-po menggunakan tipu serangan yang sangat jahat itu, ia lantas keluarkan suara dihidung. Berbareng dengan itu, ia lantas kerahkan ilmunya Liang- kek cian-goan untuk melindungi dirinya, hingga sekejap saja seluruh ^adannya sudah diliputi oleh uap berwarna merah tercampur putih.

Giok-bin Giam-po begitu menyerang dengan ilmunya yang paling ampuh, ia lantas dapat lihat bahwa anak muda itu agaknya tidak bergeming barang sedikit. sedang bau harum yang keluar dari lengan bajunya, begitu menyentuh uap berwana merah putih itu, lantas buyar tanpa bekas.

Bukan kepalang rasa kagetnya, wajahnya lantas pucat seketika.

Yo Cie Cong delikan matanya, selagi hendak menggunakan lagi tipu serangannya “Kian-khud Sit-sek^ untuk membikin tamat riwayatnya iblis wanita itu, tiba2 berkelebat bayangan merah, dan orang aneh berkedok merah, itu tahu2 sudah berada dihadapannya.

Yo Cie Cong tahu bahwa orang berkedok merah itu kembali hendak merintangi maksudnya untuk membunuh wanita itu, terpaksa ia keraskan hati, ia pikir hendak bikin habis jiwanya Giok- bin Giam-po dahulu baru nanti bicara lagi. Setelah mengambil keputusan demikian, kedua tangannya lantas diayun "Anak jangan"

Berbareng dengan seruannya orang berkedok itu, suatu kekuatan tenaga dalam lantas menggempur Yo Cie Cong.

Ledakan hebat dari beradunya kedua macam kekuatan tenaga dalam itu telah menggoncangkan tanah pegunungan tersebut. Berbareng dengan itu, lantas terdengar pula dua kali suara seruhan. Giok-bin Giam-po dan orang berkedok merah itu badannya tampak terpental dua tombak oleh serangan Yo Cie Cong tadi.

Dengan kekuatannya dua jago tua seperti orang berkedok merah dan Giok-bin Giam-po, ternyata masih belum mampu menyambuti serangan Yo Cie Cong yang dinamakan Kian-khun sit- sek itu.

Masih untung tadi orang berkedok merah segera turun tangan hingga bersama dengan kekuatannya Giok-bin Giam-po baru bisa menahan sebagian kekuatannya Yo Cie Cong, kalau

tidak. mungkin saat itu Giok-bin Giam-po sudah menggeletak sebagai mayat.

Yo Cie Cong yang selamanya pandang orang berkedok merah itu sebagai ayahnya sendiri, tidak nyana kini ia merasa kecewa, lantaran urusan Giok-bin Giam-po, seorang iblis wanita yang sudah terkenal kejahatannya, telah ber-kali2 orang berkedok itu mencegah padanya untuk turun tangan.

Dengan perasaan tidak habis mengerti ia lantas menanya sambil kerutkan alisnya: "cianpwee, apakah artinya ini"

"Anak. kau tidak boleh membunuh mati padanya"

Giok-bin Giam-po yang melihat orang berkedok merah itu kembali unjukan diri membela dirinya, lantas mengerti bahwa saat itu tidak nanti ia bisa dibinasakan oleh Yo Cie Cong.

selagi Yo Cie Cong bicara dengan orang berkedok merah, kesempatan itu telah digunakan lagi untuk kabur. Maka dengan cepat ia lantas gerakan badannya dan menghilang dari depan mata mereka.

Yo Cie Cong segera dapat lihat. dengan gusar ia lantas hendak mengejar pula....

Tapi satu tangan yang bertenaga kuat telah menekan pundaknya. Ia tahu siapa yang turun tangan itu. Maka ia cuma bisa mengawasi berlalunya Giok-bin Giam-po dengan sorot mata ber- api2.

Dengan wajah berubah berkata pula kepada orang berkedok merah:

"Telah ber-kali2 boanpwee menerima budi cianpwee, buat mana, untuk se-lama2nya boanpwee tidak akan lupakan. oleh karena cianpwee tetap tidak menghendaki boanpwee turun

tangan terhadap iblis wanita itu, maka hari ini untuk sementara boanpwee membiarkan ia berlalu dalam keadaan hidup, itu hanya sekedar untuk membalas budi cianpwee kepada boanpwee, Tapi lain kali jika bertemu lagi, maapkan kalau boanpwee berlaku kurang sopan, boanpwee memohon supaya cianpwee tidak akan merintangi lagi maksud boanpwee"

Orang berkedok merah itu lepaskan tangannya dari pundak Yo Cie Cong dan berkata sambil menghelah napas:

"Anak, se-kali2 kau tidak boleh membinasakan dirinya "

Adatnya Yo Cie Cong yang tinggi hati dan keras kepala, membuat ia tidak dapat menahan sabar lagi, dengan perasaan agak kurang senang ia berkata pula: "Boanpwee barangkali tidak dapat mengiringi kehendak cianpwee lagi"

"Anak yang beradat keras, aku tadi sudah kata kalau kau membunuh mati padanya. kau nanti akan menderita kemenyeselan seumur hidupmu"

"Tapi cianpwee belum menerangkan apa sebabnya " "Apa benar kau ingin tahu juga?"

"Yah "

"Tapi anak. setelah kau mengetahui, kau nanti akan menderita" "Bulak-balik cianpwee masih tidak sudi menerangkan apa sebabnya"

"Bukan aku tidak mau menerangkan, tapi aku takut setelah kau mendengar, kau nanti tidak sanggup menerima"

"Kalau begitu, boanpwee juga tidak bisa memaksa. Kali, boanpwee permisi berlalu" "Anak, kau hendak kemana?"

"Boanpwee telah menerima pesan mendiang suhu, untuk menagih hutang jiwanya orang2 Kam- lo-pang. satu saja masih ada musuh2nya Kam-lo-pang yang belum binasa diujung Golok Maut, boanpwee merasa tidak enak makan dan tidak enak tidur. Maka boanpwee hendak melanjutkan usaha boanpwee untuk mencari itu semua musuh2nya Kam-lo-pang sehingga terbasmi habis semuanya..."

Orang berkedok merah itu tiba2 keluar kan keluhan sedih, dengan suara mengge-tar ia berkata

:

"Anak, biarlah aku beritahukan padamu"

"jikalau cianpwee anggap ada mempunyai kesulitan yang tidak pantas dijelaskan, biarlah

boanpwee tidak akan memaksa"

"Anak. kau dengarlah, dia mungkin ada ibumu sendiri" "Apa cianpwee kata?"

"Dia mungkin ada ibumu sendiri"

Yo Cie Cong kaget bagaikan disambar geledek. saat itu matanya dirasakan gelap. kepalanya puyeng, hampir saja ia rubuh pingsan.

“Betulkah bahwa Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow, itu wanita terkutuk adalah ibu kandungnya sendiri?”

Ia sungguh tidak sangka bahwa wanita terkutuk, yang dalam dunia Kang-ouw namanya sudah ternoda sebagai wanita cabul genit kejam ganas sudah tidak ada keduanya, ternyata adalah ibunya sendiri

Ia rasakan bumi yang diinjak seperti ambles, sukmanya seperti melayang keluar dari raganya. Apa ini akan merupakan satu tragedi yang sangat mengenaskan?

Ia lebih suka tidak mengetahui asal-usul dirinya untuk selama-lamanya, ia lebih suka tidak mempunyai ibu, tapi segala lamunan tidak mampu merubah kenyataan.

Andai kata benar bahwa Giok-bin Giam-po itu ada ibu kandungnya sendiri, kalau begitu Giok- bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa tentu ada ayahnya juga. Hoan Thian Hoa pernah hidup sebagai suami isteri dengan, Giok-bin Giam-po, sedang wajahnya sendiri juga sangat mirip dengan wajahnya Hoan Thian Hoa. Ini suatu bakti bahwa apa yang diUcapkan oieh orang berkedok merah itu tadi sedikitpun tidak salah.

Ia ingat pula bagaimana kelakuannya Hoan Thian Hoa diatas gunung Hoa-san, bagaimana dengan perasaan duka ia ber-kali2 mencegah padanya turun tangan terhadap Giok-bin Giam-po ketika ia hendak menghabiskan jiwanya wanita cabul itu.

Semua apa yang telah terjadi ini kalau direnungkan kembali, tambah membenarkan Ucapannya orang berkedok tadi.

Untuk beberapa tahun lamanya ia telah berusaha hendak mencari tahu rahasia yang meliputi dirinya, dan sekarang rahasia itu sudah kelihatan terbuka sedikit tabirnya, tapi kenyataannya ada begitu kejam.

wajah Yo Cie Cong seperti putihnya kertas, matanya tidak bercahaja. Se-olah2 satu patung kayu yang tidak bernyawa, ia berdiri menjublek. hanya napas yang menghembus keluar dari lubang hidungnya yang masih ada. Hatinya tengah menderita bathin hebat, sekali2, dirasakannya pedih, penderitaan itu se-akan2 ada lebih hebat daripada kematian.

Apa yang kini terbentang didepan matanya hanya warna kelabu. Gunung yang berdiri dengan angkernya, lembah yang curam, daun pohon yang hijau, gumpalan awan putih, meski itu semua merupakan suatu pemandangan yang indah permai, tapi didalam pemandangan matanya kini semua agaknya sudah berubah warna aslinya ...

Pemilik Golok Maut yang begitu kesohor dan menggemparkan dunia rimba

persilatan, ternyata ada keturunannya satu wanita rendah, hina dina yang sudah dianggap sebagai sampah masyarakat dunia rimba persilatan.

Ia ingin mati saja saat itu juga, ia merasa se-gala2nya dalam sekejap itu sudah hamcur berantakan. Kalau ia binasa ia tidak usah memikul itu segala penderitaan bathin yang sangat hebat.

Giok-bin Giam-poPhoa cit Kow ada musuh besar perguruannya, tapi juga merupakan ibu kandungnya sendiri Dendam sakit hati musuh tidak boleh tidak harus dibalas, tapi didalam dunia di mana ada seorang anak membinasakan ibu kandungnya dengan tangan sendiri?

Segala cita2 muluk. semua idamannya, dalam sekejapan saja telah ludes, musnah seperti tertiup angin toufan.

Orang berkedok kain merah yang berdiri didampingnya, saat itu diuga sedang menderita siksaan bathin yang lebih hebat daripada Yo Cie Cong. Air mata sudah membasahi kedok, giginya benjatrukan. Apa sebabnya, hanya ia sendiri yang tahu. Lama sekali dalam keadaan hening.

Dua jago yang masing2 pernah mengalami masa emas sebagai orang2 kuat yang pernah menggoncangkan dunia Kang-ouw, siapa nyana kini telah terbenam dalam kedukaan dan

kesedihan yang hampir mematahkan semangat kesatriaannya.

Pada saat itu, tidak jauh dibelakang mereka, dibaliknya sebuah pohon siong yang besar dan rindang daunnya, ada sembunyi sesosok tubuh manusia.

bayangan manusia itu kelihatannya sangat langsing, sudah cukup lama ia berdiri di belakang pohon itu, apa yang telah terjadi atas diri dua orang kuat itu, ia sudah dapat lihat semuanya dengan nyata. Tiba2....

Yo Cie Cong dongakan kepala dan berteriak dengan suara keras: "Bukan, bukan, dia bukan ibuku, aku tidak mempunyai ibu"

Kelakuannya itu agak mirip dengan kelakuannya seorang gila, se-olah2 merupakan satu protes terhadap dewa yang hendak menetapkan nasibnya,

"lbu, ibu " suara kumandang menggema dialam yang sunyi ditanah pegunungan, bagaikan

pisau belati yang amat tajam, penderitaan itulah menusuk diulu hatinya Yo Cie Cong.

Orang berkedok merah itu kini telah membuka suaranya .

“Anak. kau tenanglah sedikit, semua ini adalah nasib, yang sudah ditakdirkan oleh yang kuasa.

Memang itu kejam, tapi sebagai manusia, apa daya? Aku dapat memastikan apa sebabnya ayahmu menghilang dari dunia Kang-ouw, tentunya juga karena suatu kesalahan yang membuat penyesalan untuk se-lama2nya ini, Mungkin, selama beberapa puluh tahun itu, hati sanubari dan bathinnya sudah mengalami penderitaan sangat hebat atas kesalahan yang ia lakukan dengan secara tidak sengaja itu"

Sangat terharu hatinya Yo Cie Cong mendengar perkataan orang berkedok itu, pikirannya nampak sudah mulai reda. "Mengapa cianpwee mengetahui terjadinya peristiwa ini?"

"Anak. tentang ini, kau tak usah tanya tanya2. aku tidak bisa menerangkan padamu"

"Baiklah, aku permisi berlalu dahulu, budi kebaikan cianpwee yang beberapa kali telah memberi pertolongan kepada boanpwee, barangkali sudah tidak bisa boanpwee balas lagi"

"Kau hendak kemana?"

"Aiii Dunia meski sangat luas, tapi sudah tidak ada tempat sejengkal saja bagi boanpwee tancap kaki, Tapi, ya, baik juga boanpwee dapat segera menunaikan janji hati boanpwee kepada seorang yang boanpwee tidak bisa lupakan"

"janji dalam hati? Apakah itu?"

“Dengan terus terang boanpwee beritahukan kepada cianpwee, boanpwee ada mempunyai seorang kawan wanita, yang pernah ikut dalam perjalanan boanpwee keluar lautan Lam-hay untuk minta obat kepada Pengail Linglung. Ditengah jalan perahu yang boanpwee tumpangi telah terserane badai hingga tenggelam. Boanpwee sendiri telah tertolong, tapi kawan itu entah bagaimana nasibnya. Mungkin masih ada didasarnya lautan, mungkin juga sudah menjadi mangsanya ikan, sejak waktu itu boanpwee telah bersumpah, satelah semua usaha boanpwee dibereskan, boanpwee akan menyusul arwahnya kealam baka untuk hidup ber-sama2 "

"Anak, dia itu siapa?"

"Namanya siang-koan Kiauw, gadis yang mempunyai kegemaran memakai pakaian warna merah, maka disebut sebagai gadis baju merah " Saat itu, bayangan langsing yang sembunyi dibelakang pohon siong tadi, nampak terperanjat dan tergoncang hatinya.

“Anak. apakah didalam dunia ini kau sudah tidak mempunyai orang lain lagi yang ada harganya mendapat perhatianmu?"

"Tidak ada."

"Termasuk ayahmu sendiri?"

Diwajahnya Yo Cie Cong mendadak air mata mengalir dikedua pipinya. "Apa kau benci ayahmu?"

"Tidak. boanpwee tidak membenci siapa pun juga, hanya membenci nasib boanpwee sendiri Boanpwee tidak ingin menemui dia"

"Kalau dugaanku tidak keliru, rasanya masih ada seorang gadis lain lagi, yang turut menempati sebagian hatimu"

"Tidak ada"

"Bagaimana dengan nona ut-tie Kheng cucu perempuannya si Pengail Linglung Lan-tie Kun-siu." "Dalam hati boanpwee tidak ada dia "

"Tapi dia ada begitu dalam mencintai dirimu?" "Kelihatannya boanpwee terpaksa akan mengecewakan dia"

"Anak. dengar kataku, kalau arwah nona siang-koan Kiauw dialam baka mengetahui dia tidak setuju kau berbuat demikian"

Yo Cie Cong ketawa getir."

"Tapi boanpwee sudah mengambil keputusan tetap. tidak ada seorangpun juga yang bisa menghalangi boanpwee berbuat demikian. Nah, selamat tinggal, cia npwee"

sehabis berkata, dengan tindakan lesu dan badan sempoyongan bagaikan seorang yang sudah tidak bersemangat, ia ngeleyor pergi.

Dengan nada menggetar menahan perasaan terharu orang berkedok merah itu beberapa kali memanggil "Anak "

Tapi Yo Cie Cong se-olah2 sudah tidak dengar panggilannya itu, tetap melanjutkan perjalanannya dengan tanpa tujuan, se-olah2 orang yang sedang mabuk arak.

Orang berkedok merah itu agaknya juga sudah putus asa, dengan badan menggigil ia berkata kepada dirinya sendiri

"Anak yang harus dikasihani, tidak, tidak aku tidak akan membiarkan ia berbuat

begitu, karena itu berarti akan merusak hidupnya sendiri Aku harus berdaya untuk mencegah, apapun yang akan terjadi"

"Cianpwee, mungkin siaolie bisa memberi sedikit bantuan tenaga?" Tiba2 satu suara yang merdu terdengar dibelakangnya orang berkedok,

orang berkedok itu, dengan perasaan kaget berpaling kebelakang, tepat dibelakang dirinya ada berdiri seorang wanita baju merah dengan kerudung kain merah pula.

Dengan kepandaiannya orang berkedok merah yang begitu tinggi hampir2 tidak ada taranya ternyata masih tidak berasa kalau dibelakangnya ada berdiri seseorang, dapatlah dimengerti bagaimana besar kedukaannya dan hebatnya penderitaan bathinnya jago yang sangat misterius itu. "Apa nona kata"

Nona kerudung merah itu mendekati dan ber-bisik2 ditelinganya orang berkedok merah. siapa hanya angguk2kan kepalanya, kemudian menjawab dengan suara gemetar^ "Nona, anak itu aku serahkan padamu"

"Harap cianpwee tidak usah kuatir, siaolie percaya urusan sekecil ini masih mampu membereskannya "

Wanita berkerudung itu setelah memberi janjinya kepada orang berkedok merah, dengan cepat menyusul jejaknya Yo Cie Cong.

Setelah mendengar orang berkedok merah itu memberi tahukan asal-usul dirinya, Yo Cie Cong lantas ludes semua pengharapannya. Ia merasa bahwa penghidupan buat ia sudah tidak ada artinya, kecuali kematian. sudah tidak ada obat lain lagi yang mampu menyembuhkan luka didalam hatinya.

Permusuhan dalam perguruannya, ia juga kesampingkan semuanya, ia merasa semua telah kosong, bagaikan orang yang sudah hilang semangatnya ia berjalan seenaknya.

Mendadak, satu suara yang sudah tidak asing lagi baginya dan yang siang hari malam ia telah rindukan, terdengar di belakang dirinja: "Yo siaohiap. harap kau berhenti sebentar"

Yo Cie Cong se-olah2 baru tersadar dari mimpinya, dengan kelakuan bagaikan orang linglung ia berpaling sejenak kemudian meneruskan perjalanannya pula.

Tapi siapa kira, badannya nona berkerudung itu telah melesat tinggi dan tahu2 sudah berada dihadapannya.

Yo Cie Cong terpaksa hentikan kakinya sekarang ia melihat tegas bahwa dihadapannya ada berdiri seorang wanita berkerudung yang bukan lain daripada ketua Pek-leng-hwee yang baru.

"Hweetio, ada maksud apa merintangi perjalananku?"

Wanita berkerudung itu perdengarkan. suara ketawanja yang amat merdu, kemudian menjawab dengan suara lemah-lembut

"Siaohiap telah melepas budi kepadaku dihadapannya kuburan ketua Peksleng-hwee yang lama, maka dengan ini aku hendak mengucapkan terima kasih"

Yo Cie Cong mendengar suaranya wanita berkerudung itu agaknya sangat berbeda dengan apa yang ia pernah dengar pada belum lama berselang, nada dari suara itu kini agaknya mirip benar dengan nada suaranya siangkoan Kiauw, si gadis baju merah yang menjadi idam2annya. Tapi ketika ia teringat bahwa wanita dihadapannya itu adalah putri dari Pek-soa-kiong, hatinya lantas menjadi dingin lagi.

"itu tidak perlu" demikian ia menjawab. "siaohiap sekarang hendak kemana?"

"Aku mau kemana, rasanya nona tidak perlu tahu"

"Tapi aku pernah menerima budimu begitu besar, aku merasa apabila tidak menyatakan terima kasih kepadamu, dalam hatiku merasa tidak enak. Maka aku sengaja datang kemari untuk mencari kau, Aku mohon siaohiap tinggal beberapa hari digedung perkumpulan kami, bagaimana?"

"Aku ucapkan banyak terima kasih atas kebaikanmu, tapi sayang saat ini aku tidak ada waktu terluang"

"Apa sebabnya siaohiap menolak begitu getas?"

Yo Cie Cong saat itu hatinya sudah kosong melompong, sudah tentu tidak mempunyai kegembiraan untuk mengobrol terlalu banyak, maka lantas berkata dengan suara agak kurang senang:

"Harap kau tidak merasa kecil hati. Aku bukan sengaja hendak memberi pertolongan kepadamu, maksudku se-mata2 ditujukan kepada itu Giok "

Ia sebetulnya hendak meng Ucapkan perkataan ^Giok-bin Giam-po, tapi ketika mengingat bahwa wanita itu adalah ibunya sendiri, hatinya dirasakan sangat pedih, hingga Ucapannya yang sudah sampai di ujung bibir, ditelan kembali.

Wanita berkerudung iiu berlagak tidak mengerti, ia lantas berkata pula :

"Tapi siaohiap turun tangan memberi pertolongan kepada diriku itu adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah, apakah tidak boleh kalau aku menyatakan terima kasih kepadamu?"

Yo Cie Cong sudah mulai tidak sabaran. digerecoki terus2an oleh wanita berkerudung itu, maka lantas menyahut dengan sikap agak kasar, “Perkataanku tadi sudah cukup jelas, harap kau teruskan perjalananmu”

Sehabis berkata. dengan tanpa menghiraukan sikapnya si wanita berkerudung, lantas hendak melanjutkan perjalanannya.

"Siaohiap, masih ada suatu hal yang aku ingin memberitahukan padamu" "Aku tidak mempunyai tempo untuk mendengarkan ceritamu"

"Tapi hal ini ada sangat penting hubungannya dengan dirimu " Ketika mendengar kata2 wanita berkerudung paling belakang, Yo Cie Cong seperti tertarik hatinya dan hentikan kakinya. "coba ceritakan" katanya.

"Bolehkah siaohiap mampir keperkumpulan kami dahulu sebentar, nanti aku jelaskan ?" "Kalau begitu tak usah cerita"

"8aiklah kalau siaohiap merasa keberatan, sekarang aku beritahukan sedikit dahulu saja" "Katakanlah"

"Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow, menurut pikiranku yang cupat, mungkin bukan ibumu." Ucapan wanita berkerudung ini benar2 mempunyai pengaruh besar sekali, hingga Yo

Cie Cong pada saat itu hatinya lantas tergoncang hebat. Ia merasa heran mengapa wanita berkerudung itu mengetahui urusannya ini?

Ketika orang berkedok merah itu memberi tahu tentang rahasia yang menyangkut dirinya, wanita berkerudung ini tidak berada disitu, mengapa ia sekarang justru datang untuk memberitahukan soal ini? Maka ia lantas menanya dengan suara agak gemetar: "Bagaimana nona mengetahui soal ini?"

"Karena soal ini agak panjang kalau mesti diceritakan. bagaimana pikiran siaohiap. kalau nanti saja setelah kita berada di perkumpulan kami aku jelaskan lagi."

Dalam hatinya Yo Cie Cong mendadak timbul suatu perasaan yang menakutkan. jika wanita berkerudung ini tidak bisa memberi alasan yang cukup kuat, persoalan yang menyangkut dirinya yang ingin supaya cuma diketahui oleh ia sendiri dan orang berkedok merah itu, Dan untuk menutup rahasia ini, supaya dikemudian hari setelah ia binasa tidak sampai na manya ternoda oleh karenanya, ia harus ambil tindakan tegas, atau jika perlu membunuh mati wanita berkerudung ini, agar rahasia dirinya tidak tersiar dikalangan Kang-ouw.

Wanita berkerudung itu agaknya sudah dapat lihat perubahan sikap yang aneh dari Yo Cie Cong, diam2 hatinya terperanjat juga.

"Berdasar apa hweetio mengUcapkan perkataan ini?" demikian la dengar Yo Cie Cong menanya. "Aku kata setelah kita tiba digedung Pek-leng-hwee nanti aku beritahukan padamu" "Aku ingin

sekarang mengetahuinya"

"Kalau aku tidak mau menjelaskan ?"

"Barang kali kau tidak bisa berbuat se-sukamu"

Ketika ia mengucapkan perkataannya itu, wajahnya nampak tegas napsunya hendak membunuh. ia bertindak maju mendekati si wanita berkerudung, matanya mengawasi dengan tidak berkesip.

Tapi wanita berberudung itu agaknya tidak merasa takut, ia malah bisa berkata dengan seenaknya. iaohiap hendak berbuat apa?"

“Heh, heh, aku bisa membunuh mati kau"

"Tapi aku beritahukan hal ini sebetulnya ada bermaksud baik aku tidak percaya kau benar2 hendak membunuh mati aku "

"Tapi aku bisa melakukan seperti apa yang aku ucapkan ?" Wanita berkerudung itu ketawa. "Kalau begitu baiklah kita masing2 jalan sendiri2, bagaimana kalau kita bikin habis perkara ini?" "Tidak bisa, kita sama2 sudah keluarkan perkataan, tidak ada lain jalan lagi." "Apakah kau tidak

boleh tidak membunuh mati aku ?" .

"Ini masih belum tentu, tapi aku mau supaya sekarang juga kau menjawab pertanyaanku, dengan berdasar apa kau mengucapkan perkataanmu tadi?"

"sudah tentu ada sebabnya " "coba kau ceritakan "

"Untuk mengucapkan terima kasih atas bantuanmu, setelah aku berlalu dari hadapan kuburan, aku lantas balik lagi hendak mencari kau. Tidak nyana aku telah mendapat dengar pembicaraanmu dengan orang berkedok merah itu "

"Maka kau lantas mencuri dengar?" .

"Bukan mencuri dengar, itu hanya kebetulan saja " "Hm Kalau begitu berdasarkan apa kau ucapkan tadi bahwa Giok- bin Giam-po mungkin ibuku?"

Wanita berkerudung itu nampak kemeksmek. tidak bisa menjawab.

Ucapan bisik2 yang ia sampaikan kepada orang berkedok merah tadi, bukan perkataan yang ia ucapkan kepada Yo Cie Cong sekarang. Perkataan yang ia ucapkan kepada Yo Cie Cong ini, hanya diucapkan secara sembarangan, sekenanya saja. sekarang setelah didesak begitu rupa oleh Yo Cie Cong sudah tentu ia lantas kelabakan. Tapi ia sekarang sudah tidak bisa merubah perkataannya lagi. jikalau ia tidak bisa memberikan alasannya yang cukup kuat, maka Yo Cie Cong yang menghendaki supaya rahasia itu jangan sampai bocor, barangkali bisa membunuh mati pada dirinya. "Kau mau menjelaskan atau tidak?"

Yo Cie Cong mendesak pula sambil maju lagi satu tindak. Diwajahnya sudah penuh kegusaran, nampaknya sudah akan turun tangan. celaka jika Yo Cie Cong benar turun tangan, habislah tentu riwayatnya wanita berkerudung itu. suasana nampak sangat tegang.

= = ooo OOOOO ooo = =

PERKATAAN yang diucapkan secara bisik-bisik oleh si wanita berkerudung kepada orang berkedok merah, Saat itu ia masih belum mau mengumumkan-

Dalam keadaan terdesak begitu rupa, wanita berkerudung itu mendadak dapat suatu pikiran yang sangat bagus. Ia hendak sampaikan kepada Yo Cie Cong kata2 yang memberikan Yo Cie Cong sedikit harapan dirinya terangkat dari jurang kenistaan dan dengan secara kebetulan pula nanti membuka tabir rahasia yang sangat mengenaskan-Yo Cie Cong maju lagi setindak, ia berkata dengan suara bengis

Wanita berkerudung itu agaknya sudah berpikir matang, maka dengan tenang dan bersenyum simpul ia berkata.-

"Baik, aku nanti jawab. Giok-bin Giam-po itu aku berani pastikan bukan ibu kandungmu " "Kau bisa buktikan-?"

“Jikalau kau bisa berpikir dengan tenang kau tentunya dapat membayangkan sendiri bagaimana keadaannya dan sikapnya Glok bin Giam-po ketika itu locianpvee berkedok merah telah beberapa kali mencegah turun taagan terhadap dirinya. Bukan satu kali saja beliau berkata bahwa kau tidak boleh membunuh mati padanya, karena kalau kau memaksa hendak membunuhnya juga. kau akan menderita bathin untuk se-lama2nya. Ucapan itu ada begitu terang dan tegas, tapi iblis wanita itu sedikitpun tidak perlihatkan reaksi apa2. Padahal ikatan bathin antara ibu dan anak, betapapun kejamnya seorang ibu, tidak nanti bisa melupakan anaknya sendiri. Binatang buas juga tidak ada yang makan anaknya, apalagi manusia. Maka aku berani pastikan kalau dia itu bukan ibu kandungmu. Didalam hal ini mungkin masih ada mengandung rahasia apa2.”

Yo Cie Cong bengong mendengarkan keterangan wanita berkerudung itu. Suatu keterangan yang ada mengandung alasan sangat kuat. Memang dimana ada seorang ibu melihat anaknya tidak tergerak sedikitpun ketika mereka bertemu satu sama lain? selain dari itu, ketika untuk pertama kali Giok-bin Giam-po bertemu padanya diatas gunung Hoa-san, mengapa tidak tergerak hatinya, meskipun wajahnya sendiri ada sangat mirip dengan Hoan Thian Hoa.

Apakah ia sudah lenyap hati kemanusiannya?

Hatinya Yo Cie Cong mulai bimbang lagi. Kalau benar demikian halnya, berarti ia lolos dari bencana kenistaan.

Tapi ketika ia ingat lagi itu hanya dugaannya si wanita berkerudung se-mata2 tidak mempunyai bukti yang kongkrit. Apalagi mengingat perkataan dan tidak tanduk Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa dan orang berkedok merah itu, ternyata tidak bertentangan satu sama lain. Kalau mereka tidak yakin kebenarannya, masakah mereka berani meng Ucapkan begitu pasti?

Mengingat hatinya merasa saagat kecewa dan menderita.

Wanita berkerudung itu ada seorang yang amat cerdik. ia agaknya sudah dapat menebak pikirannya Yo Cie Cong, dengan tenang, ia berkata: "siaohiap tadi selalu mengatakan hendak membunuh mati aku, apakah itu disebabkan rahasia bernoda yang menyangkut diri siaohiap takut diketahui orang lain, sehingga perlu melakukan pembunuhan untuk menutup mulut?"

Ucapan ini se-olah2 pisau belati yang amat tajam menusuk diulu hati Yo Cie Cong. Ia memang ada itu maksud, maka ditanya demikian wajahnya lantas saja berubah.

Wanita berkerudung itu setelah perdengarkan suara ketawa dingin, lalu berkata pula yang se- olah2 ditujukan kepada dirinya sendiri.

"Didalam kalangan Kang-ouw telah tersiar kabar bagaimana kejam dan ganasnya Pemilik Golok Maut, kalau begitu memang benar"

Yo Cie Cong kembali berubah wajahnya. sifat pribadinya ia tidak begitu buas dan kejam. Kalau ia membunuh orang, itu se-mata2 hanya dilakukan untuk menuntut balas sakit h ati perguruannya.

"Siaohiap. kalau kau membunuh mati aku, meskipun bisa menutupi mata dan telinganya orang luar, tapi perbuatanmu itu. tidak dapat membohongi hati nuranimu sendiri"

Yo Cie Cong tampak sangat berduka. "Kau pergilah" katanya dengan suara pelahan. "Tapi apa yang aku ucapkan barusan, kau masih belum menjawabnya ?"

"Aku minta supaya kau tinggalkan aku, sebelum aku bertindak membunuh mati dirimu "

"Harap siaohiap suka dengar perkataanku yang terakhir. Kau ada menanggung kewajiban untuk menuntut balas sakit hati perguruanmu, apakah karena urusan yang belum ada kepastiannya kau lantas hendak lepas tangan begitu saja? jikalau kewajibanmu menuntut balas sakit hati itu sudah selesai, meskipun kau tidak bisa turun tangan terhadap dirinya Giok-bin Giam-po karena masih ada hubungan keluarga. Ini ada satu hal yang sangat terpaksa, kiranya suhumu juga masih bisa memaafkan perbuatanmu ini"

Perkataan wanita berkerudung ini membuat Yo Cie Cong bersangsi. Memang, ia sesungguhnya tidak boleh karena urusan pribadinya lantas melalaikan kewajibannya, bagaimana nanti ia mempertanggung jawabkan dihadapan suhu?

Wanita berkerudung itu lantas berkata pula: "Tapi aku masih tetap dengan pendapatku sendiri bahwa Giok-bin Giam-po itu pasti bukan ibumu."

Yo Cie Cong berpikir keras mengenai urusan tersebut. Mendadak ia ingat kalung Liong kuatnya yang dipakainya sejak ia masih kanak2. Menurut ketetangan suhunya, batu Liong kuat itu seharusnya masih ada sepotong lagi yang bernama Hong- kuat. Ia ingat2 kembali akan perkataannya wanita berkerudung tadi yang cukup beralasan. sekarang ia telah mengambil keputusan tetap. jikalau Giok-bin Giam-po nanti tidak dapat mengunjukkan batu lainnya yang dinamakan “Hong- kuat atau ia tidak mengenali Liong- kuat yang ada padanya, itu berarti bahwa si iblis wanita itu memang bukan ibu kandungnya. Masih adalagi satu kemungkinan yaitu kalau kesalahan itu terjadi pada waktu semulanya. Ia sendiri mungkin bukan anaknya Giok-bin Giam-po dan dengan Hoan Thian Hoa juga tidak ada sangkut pautnya. semua apa yang telah terjadi mungkin hanya kebetulan saja.

"Ya, mengapa aku tidak pikir begitu sejak semula dancuma mengukuhi penderitaanku sendiri?" demikian kata Yo Cie-Cong dalam hatinya. “Benar Aku harus mencari Giok-bin Giam-po atau Hoan Thian Hoa sekali lagi untuk membikin jelas persoalan ini.”

Memikir demikian semangatnya Yo Cie Cong lantas saja terbangun kembali. Ia telah mengambil keputusan untuk melanjutkan usahanya dalam penuntutan balas dendam perguruannya.

Dari sikap dan parasnya Yo Cie Tiong, Wanita kerudung itu sudah dapat mengetahui adanya perubahan dalam hatinya anak muda itu, maka ia lantas berkata pula: "Siaohiap. kalau kau tidak menganggap aku berlaku kurang sopan, aku ingin menanyakan sesuatu hal lagi padamu"

"Silahkan"

"Aku dengan secara kebetulan telah mendengar perkataanmu sendiri bahwa kau masih mempunyai seorang sahabat wanita yang telah terkubur dilautan Lam-hay apa betul ?"

Dengan wajah sedih Yo Cie Cong anggukkan kepala.

"Kau juga ada mengatakan bahwa kau akan menyusul arwahnya setelah urusanmu sendiri sudah selesai?" "Benar "

"Tapi, disamping sahabat wanitamu itu, masih ada lagi seorang nona cantik, ialah nona ut-tie yang begitu dalam mencintai-mu, bukan?"

"Dengan dia hanya secara kebetulan kadang2 berkumpul, kadang2 berpisah pula. Ini sebetulnya soal yang lumrah, masih belum boleh dikatakan cinta."

"Aku rasa tidak mungkin begitu." Yo Cie Cong mendelu hatinya.

"Perkataan Hweetio sudah cukup banyak. Hal itu adalah urusan pribadiku sendiri, tidak seharusnya sembarang orang turut cumpur. Nah, sampai bertemu dilain waktu."

Sehabis berkata dengan cepat ia telah meninggalkan ketua Pek-leng-hwee itu. Wanita aneh itu mendadak menarik kain kerudungnya.

Dibalik kain kerudung itu terlihatlah segera wajahnya yang cantik jelita dengan senyuman manis tersungging dibibirnya terus memandang berlalunya Yo Cie Cong, tetapi kemudian ia menghelah napas dan memakai kerudungnya pula.

Kita menyusul pada si pemilik Golok Maut.

Yo Cie Cong semangatnya kembali pada keadaannya semula. Dengan tujuan tetap ia lari menuju kegunung Hoa-san. Ia mengharap bisa menemukan Hoan Thian Hoa lebih dahulu, dengan bantuan batu Liong- kuat yang ada padanya ia ingin segera dapat membuka tabir rahasia yang selalu membuat pikirannya pepat. Beberapa hari kemudian Yo Cie Cong sudah sampai lagi

digunung Hoa-san.

Ia sudah mencari hampir ke segenap penjuru, dan pelosok, tetapi sedikitpun ia tidak mendapatkan tanda2 kemana dan dimana perginya atau adanya mereka, yaitu kedua orang tua aneh, ut-tie Kheng, seorang ajaib dan Hoan Thian Hoa.

Pada waktu itu, oleh karena hendak menepati janjinya pada dua manusia aneh dari rimba persilatan, maka ia hanya menuruti petunjuk yang diberikan oleh Phoa-ngo Hweeshio atau si Hweeshio gila, langsung menuju kesuatu tempat yang bernama Bong-goat-peng.

Mengenai tempat sembunyinya. si manusia ajaib dan Hoan Thian Hoa sama sekali ia masih belum tahu, gunung Hoa-san yang sang sangat luas daera hnya, sudah tentu tidak akan mudah untuk mendapat atau mencari orang yang sedang mengasingkan diri disitu.

Tetapi ia masih tidak mau berputus asa ia masih terus mencari-c ari dengan tidak kenal artinya lelah, sebab itu adalah untuk kepentingannya sendiri, ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri.

Giok bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa itu mungkin sekali adalah ayahnya sendiri, tetapi mungkin juga bukan.

satu2nya hal yang penting untuk segera diketahui pada saat itu juga ialah soal ini. Tetapi dalam hatinya masih tetap mengharap akan mendapatkan jawaban yang lain dari itu, sebab apabila benar2 Giok-bin Giam-po itu ada ibu kandungnya sendiri, sesungguhnya tak mungkin ia dapat hidup lebih lama dalam dunia yang fana ini.

setengah bulan telah dilewati dengan tanpa hasil apa2. Ia sudah mulai putus harapan. Bukan saja ia sudah tidak berhasil menemukan jejaknya orang2 yang sedang dicarinya malah sedikit tanda2 yang mencurigakan sajapun tidak dapat diketemukan.

Pada suatu hari pagi-pagi sekali, halimun tebal meliputi seluruh daerah gunung Hoa-san, semua seperti masih berada dalam keadaan tidur nyenyak, berjalanlah Yo Cie Cong dengan hati masgul meninggalkan gunung Hoa-san.

Tatkala untuk kedua kalinya ia menginjak tempat yang dinamakan Bong- goat-peng, dalam keadaan remang2 diliputi halimun tebal, samar2 ia dapat melihat berdiri sesosok tubuh manusia. Kejadian ini sesungguhnya telah menarik perhatiannya.

Waktu begini pagi dengan cuaca yang juga buruk. ternyata maiih ada juga orang yang berani seorang diri ditempat itu, bukankah itu merupakan suatu kejadian yang sangat aneh? Dengan perasaan ke-heran2an Yo Cie Cong berjalan menghampiri ketempat berdirinya orang tersebut.

Ketika ia sudah berdiri dekat dengan tempat berdirinya orang tadi, tiba2 ia keluarkan seruan tertahan "Hei."

Hampir bersamaan dengan waktu Yo Cie Cong keluarkan seruan tertahannya, mendadak terlihat orang itu balikan badan dan terus menyerang Yo Cie Cong. "Bibi Tho, aku " demikian Yo Cie Cong berseru sambil mengelakan serangan.

Kiranya orang yang sedang berdiri diBong-goat-peng itu bukan lain daripada Thian-san Liong-lie Tho Hui Hong.

Seruan Yo Cie Cong tadi telah membuat Thian-san Liong-lie cepat2 menarik kembali serangannya, dengan perasaan terheran-heran ia berkata^ "oh, kau... Anak. kenapa kau juga datang kegunung Hoa-san ini?"

"Aku sedang mencari seseorang." "siapa dia...?"

Yo Cie Cong baru sadar kalau ia sudah terlepasan omongan- setelah berdiri menjublek sebentar ia lalu berkata.

"Aku sedang mencari seorang sahabatku, tetapi ia telah ingkar janji."

Dimulut ia berkata begitu, dihati ia merasa tidak enak sendiri. sebetulnya ia tidak mau membohongi Thian-san Liong-lie, bibinya yang baik hati ini, tetapi sebaliknya ia jugg sungkan menerangkan hal yang sebenarnya. "Anak. benarkah kau ini yang di-sebut2 pemilik Golok Maut"

“Ya, benar, Maafkan aku bibi Tho, selama itu aku merahasiakan soal itu terhadap kau. Mengapa bibi Tho begini pagi hari sudah ada disini seorang diri?"

Diwajahnya Thian-san Liong- lie terlintas perasaan sedih. Ia mengelah napas perlahan, lama sekali barulah ia dapat menjawab pertanyaan orang.

"Terhadap gunung Hoa-san ini sebetulnya aku sudah mempunyai perasaan suka. setiap waktu, pada masa2 yang tertentu aku pasti datang mendaki gunung ini,"

Yo Cie Cong hanya anggukan kepala, namun dalam hatinya berpikir: Bibi Tho ini tentunya tidak bisa melupakan kekasihnya Giok-bin Giam-khek Hoan Thian Hoa, sehingga ia rela berdiri seorang diri ditempat sunyi senyap dan dingin seperti ini. Aih Asmara sejak dahulu kala memang selalu mambawa gara2 saja. Aku pernah berjanji padanya untuk mencarikan Hoan Thian Hoa dan sekarang orang itu sudah kuketemukan, tetapi apa mau ia telah menyuruh aku pegang rahasia.

Bagaimana seharusnya persoalan ini kuselesaikan? seorang laki2 seharusnya mesti pegang janji. Tetapi aku, disamping tidak boleh membuka rahasianya Hoan Thian Hoa, juga tidak patut kalau aku mengingkari janjiku sendiri pada bibi Tho”