Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 18

Jilid 18

Baru saja turun tangan Yo Cie Cong sudah membinasakan salah seorang lawannya. Dari sini dapat dibayangkan betapa tingginya kekuatan tenaga dalamnya.

Akan tetapi, oleh karena mereka masih tetap memikirkan hendak mengandalkan jumlah orang yang lebih banyak untuk merebut kemenangan, maka mereka dengan alis berdiri dan mata mendelik sudah siap sedia untuk menerkam lawannya.

Sepasang matanya Yo Cie Cong kelihatan merah membara. Di wajahnya yang kecut dingin tegas sekali kelihatan napsu membunuhnya. ia mengawasi dua belas orangnya Im-Mo kau itu dengan beringas.

Orang yang duduknya tegak seperti pagoda diatas kudanya tadi, dengan suaranya yang seperti geledek menyambar telah berkata: "Bocah, apa kau sudah pernah makan nyalinya macan maka berani meng-utik2 kepala macan?"

"Adakah kalian semua ini orang2nya Im-mo-kao?" balas tanya Yo Cie Cong sengit.

"Kalau begitu, kau tentu adalah orang yang jadi pemimpin didaerah In-thay, yang bernama GOuW Pa Thian dengan gelar Hek-so Toat-beng (Dengan ilmu hitam mencabut nyawa itu"

"Ha, ha, ha Bocah, kau sudah kenal aku. Masih berani kau melukai orang2ku ?"

Yo Cie Cong tidak menghiraukan kata2nya, ia malah balas menanya lagi: "Si tabib Go Cee Jin itu apa betul kalian yang membunuh?"

Dua belas orang Im-mo-kao itu, termasuk Gouw Pa Thian sendiri berubah wajahnya. tanpa merasa mereka mundur setindak. Dengan dua belas pasang mata mereka terus menatap wajahnya Yo Cie Cong.

Kiranya, pemimpin cabang Im-mo-kao untuk daerah In-thay Gouw Pa Thian, telah mendapat perintah rahasia dari Kauwcunya untuk lekas memimpin dua belas orang Haocu dibawah kekuasaannya dengan membawa surat undangan harus menemui Go Cee Jin, itu tabib kenamaan minta supaya ia suka menjadi ketua dari bagian pengobatan untuk Im-mo-kao dan kalau orang tua itu tidak mau menurut atau menolak, katanya harus segera dibunuh. sebetulnya soal itu dapat mereka lakukan tanpa ada orang yang tahu, tetapi sungguh tidak disangka kalau pemuda yang dingin kecut sikapnya ini, se-akan2 sudah mengetahui jelas semua perbuatan mereka. Bagaimana kalau mereka tidak jadi terperanjat ?

Mereka betul2 tidak pernah menyangka kalau tindakan mereka yang sudah mereka lakukan dengan hati2, tidak tahunya masih ada. juga kelalaiannya.

Mereka sama sekali tidak tahu kalau itu surat undangan yang dibuat oleh Kauwcunya sendiri, yang harus disampaikan kepada Go Cee Jin, sudah jatuh dalam tangannya pemuda cakap dengan wajah kecut dingin ini.

oleh karena Go Cee Jin dulu pernah meleps budi besar terhadap perguruannya, sudah lama Yo Cie Cong ada maksud hendak membalas budinya tabib mulia itu. Tetapi oleh karena ia masih belum tahu tempat kediaman orang tua tersebut, maka sebegitu lama masih belum juga terlaksana segala cita2nya itu.

Dengan sangat kebetulan sekali ia telah bertemu dengan itu perempuan berkedok kain merah dan nenek jelek bibinya itu. Dari mulut mereka sendiri ia telah mengetahui babwa mereka hendak pergi ketempatnya Go Cee Jin untuk minta obat, maka terus ia menguntit dan akhirnya ia dapat melihat peristiwa berdarah tersebut.

Kalau tidak ada kejadian yang sangat kebetulan itu, bukankah tabib itu akan mati secara mengecewakan sekali?

setelah mengetahui siapa2 adanya orang yang membinasakan orang tua itu, Yo Cie Cong telah bersumpah untuk membinasakan juga musuh si tabib mulia, hitung2 untuk membalas budinya orang tua tersebut.

Mari sekarang kita tengok kembali orang2 Im-mo-kao yang harus berhitungan dengan Yo Cie Cong.

Mereka itu sejenak merasa kaget, dengan berbareng lantas timbul maksud jahat mereka. sebab. jikalau kejadian tersebut sampai dapat tertangkap oleh telinganya sang Kauwcu

bukankah mereka nanti akan mendapat hukuman berat atas kecerobohan mereka? Apalagi Im- mo-kao yang sedang siap mengumpulkan orang2 pandai, kalau sampai kejadian itu tersiar luas. tentu sekali akan membawa pengaruh tidak baik untuk Im-mo-kao.

Tetapi apa yang mereka tidak dapat mengerti adalah tentang asal-usulnya pemuda ini sebetulnya dari golongan mana.

Gouw Pa Thian lalu berkata sambil ketawa seram: "Bocah, kau mau bikin apa?"

"Aku kuatir akan kesalahan membunuh orang. maka aku sudah tanya dahulu lebih jelas pada kalian. Kini ternyata kalian sudah mengaku terus terang, maka sudah tidak ada apa2 yang perlu dikatakan lagi."

Ucapan ini sesungguhnya sangat jumawa, ia tidak pandang mata sama sekali kedua belas orang kuat itu, agaknya baginya mudah sekali orang2 itu dibuat permainan.

Tidak heran kalau kedua belas orang itu lantas pada berteriak kalap. Diantaranya ada dua orang tua yang lantas saja maju keluar dari rombongan. seorang yang usianya lebih tua lantas berkata lalu menuding Yo Cie Cong:

"Bocah, apa kau ini minta keadilan dari kami atas kematiannya si setan tua Go Cee Jin?" "Benar.. Tidak salah!! Aku mau kalian membayar hutang jiwanya berikut bunganya." "Hh, hh,. . .Bocah, kau ini apa sudah gila? Kau orang macam apa?"

"orang macam apa? Kalau aku sebutkan, kalian nanti pada terbang semangatnya semua." orang tua yang lainnya lantas nyelutuk: "Bocah, perkataanmu sungguh sombong sekali.

sebutkan dahulu namamu supaya kami bisa mencatat diatas buku. Ha ha ha "

Yo Cie Cong per-lahan2 mengeluarkan Golok Mautnya yang lalu dibolang-balingkan dihadapannya kedua belas orang itu.

"Golok Maut Golok Maut "

Demikianlah dari sana-sini kedengaran suara teriakan. setiap menunjukkan rasa takutnya hati mereka merasa jeri. sebentar kemudian hanya terlihat berkelebatnya sinar putih yang membuat silau matanya orang2 itu, kemudian disusul dengan dua kali suara jeritan ngeri, darah lalu menyembur keluar. Lengan tangan kedua orang tua itu sudah terpapas kutung. Didadanya masing2 terdapat lubang besar jiwanya melayang seketika itu juga.

Tidak ada seorang pun juga yang mengetahui dengan cara apa dan bagaimana caranya Yo Cie Cong tadi turun tangan.

orang2 itu sekarang pada ketakutan setengah mati, badannya pada menggigil macam orang kedinginan.

selanjutnya disusul lagi oleh tiga orang Hioto yang juga menjadi korbannya Golok Maut.

Gouw Pa Thian dengan mata merah lantas beseru dengan gusar: "maju semua" sisanya orang2 itu yang masih bernyawa lantas pada berseru. "Baik" lalu masing2 pada

mengeluarkan senjatanya dan dengan serentak menyerbu pemilik Golok Maut,

Yo Cie Cong sedikitpun tidak merasa jeri. Dengan Golok Maut ditangan kanan dan telapakan tangan kirinya yang ampuh, ia melayani setiap orang yang menyerbu padanya.

saat itu ia sudah mengambil keputusan tetap hendak membasmi habis kawanan penjahat2 Maka. setiap serangannya baik dengan Golok Mautnya, maupun dengan tangan kosongnya,

dilakukan dengan sepenuh tenaga.

se-olah2 seekor harimau didalam rombongan atau kawanan kambing, dalam tempo sekejapan suara jeritan ngeri terdengar disana sini, darah berhamburan, bangkai manusia bergelimpangan. sekejap mata saja hampir semuanya sudah tidak ada nyawanya. cuma tinggal Gouw pa Thian seorang, dengan mata beringas mengawasi malaikat elmaut itu.

Sungguh tidak disangka, hanya dengan berapa kali gerakan saja semua anak buahnya sudah menggeletak menjadi bangkai. Kepandaian dan kekuatan macam itu benar2 merupakan suatu hal yang sangat langka.

sebagai Tancu (Ketua cabang) Im-mo-kao, kepandaiannya Gouw Pa Thian sudah tentu tidak boleh dipandang ringan. Ketika menyaksikan semua anak buahnya dibikin binasa dalam Tempo segebrakan, bagaimana ia mau mengerti begitu saja? Maka ia lantas mendelikan matanya dan dengan buas mengawasi Yo Cie Cong, kemudian membentak dengan suara keras:

"setan cilik, Hari ini, jikalau aku tidak dapat mencincang dirimu, aku bersumpah tidak mau jadi orang lagi."

setelah selesai mengUcapkan perkataannya ia lalu maju menerjang, kedua tangannya menyerang beruntun. setiap serangan yang dilancarkan mengandung kekuatan yang sangat hebat. serangan demikian hebat itu terus dilancarkan sampai delapan belas kali.

Untuk Yo Cie Cong, serangan demikian itu sudah tentu tidak ada artinya. Telapakan tangannya dipakai untuk menyambuti setiap serangan, Tangan itu tampak mengeluarkan hawa mengepul merah dan putih.

Ber-kali2 terdengar suara benturan nyaring, serangan yang bebat dari Gouw Pa Thian waktu berbenturan dengan ilmu Liang- kek Cingoannya Yo Cie Cong, se-olah2 lumpur masuk dalam lautan, lantas musnah sama sekali.

Gouw Pa Thian yang mencecer dengan serangan2nya tadi, ternyata tidak mendapatKan hasil yang memuaskan, cepat2 tarik mundur serangannya dan mundur teratur. ia lalu pendekkan badannya dan bungkukkan gegernya. Kedua tangannya diangkat perlahan-lahan.

Ketika sudah lurus dengan dadanya, kedua telapakan tangan itu kini telah menjadi besar dengan memperlihatkan warna hitam nyengat, matanya malotot seperti genta. Kumis pendek dibawah hidungnya tampak berdiri dan bergoyang2. wajahnya itu kelihatan sangat menakutkan.

Yo Cie Cong yang menyaksikan perubahan keadaan itu, dalam hati lantas berpikir: "orang ini bergelar Hok-sa Toat-beng. (Dengan ilmu hitam mencabut nyawa), kelihatannya sekarang ini ia akan mengeluarkan ilmu Hek-sa-ciang yang dianggapnya paling ampuh. Agaknya ia hendak bertekad hendak adu jiwa dengan aku. Tetapi agaknya dia juga tidak berani gegabah." Tetapi Yo Cie Cong juga tidak mau gegabah. Ia turunkan kedua tangannya. Meski diluarnya kelihatan tenang lakunya, tetapi diam2 sudah mengerahkan ilmu Kan-goan Cin-Caonya untuk malindungi seluruh badannya. Ia sudah bersedia hendak dengan kekerasan melawan kekerasan pada lawannya itu. Ia ingin tahu sampai dimana kekuatannya ilmu Hek-sa-Ciang.

Gouw Pa Thian seteiah memusatkan ilmu Hek-sa-Ciangnya lantas berseru keras. "Bocah, serahkan jiwamu "

Kedua tangannya lantas didorong keluar. Tindakannya kali ini se-olah2 hendak mengadu jiwa saja, sebab seluruh tenaganya sudah dipusatkan kekedua belah tangannya.

Maka, dengan tanpa cadangan tenaga yang ditinggalkan sedikit pun juga, serangannya itu hebat sekali, se-olah2 gelombang laut yang menggulung, dibarengi dengan berkesiurnya angin hebat dan mengepulnya hawa hitam. Ia pikir hendak sekaligus merubuhkan lawannya.

sekalipun tidak sampai binasa, setidak-tidaknya juga harus dibikin terluka parah.

Yo Cie Cong sedikitpun tidak mengeluarkan suara. Ia juga sudah mendorong kedua telapakan tangannya. Ilmu yang keluar dari telapakan tangannya. se-olah2 angin puyuh menyambuti gelombang serangan Gouw Pa Thian yang sedang menyerbu.

Tatkala dua kekuatan saling beradu, lantai terdengar suara dahsyat seperti guntur. Batu dan tanah pada beterbangan sampai keadaan menjadi gelap. kemudian disusul dengan keluarnya suara seruan tertahan. Gouw Pa Thian mundur terhuyung-huyung sampai lima langkah.

Yo Cie Cong sendiri juga terpental sampai tiga tindak baru bisa tancap kaki. Pikirannya agaknya sudah dibikin tegang. Ia sekarang baru tahu bahwa kekuatan orang she Gouw ini sebetulnya tidak boleh dianggap remeh,

Dimana tempat debu berhamburan, bangkai2 manusia yang tadi bergelimpangan ditanah itu, kini sudah bergulung dan berserakan ditempat sejauh kira2 lima tombak.

sedang kuda2 tunggangan mereka, rupa2nya sudah terlatih baik, meski pada kaget. tapi tidak lari serabutan, hanya pada mundur kira-2 sepuluh tombak.

Dalam adu kekuatan itu, Gouw Pa Thian sudah tahu kekuatan sendiri yang ternyata masih belum mampu menandingi kekuatan lawan. Maka ia lantas timbul pikiran hendak kabur.

Pikirannya: "Bocah ini ada pemilik Golok Maut yang sedang dicari-cari oleh kauwcunya, sudah banyak orang2nya Im-mo-kao yang kuat terbinasa didalam tangannya, apa perlunya harus mengantarkan jiwa disini, ada lebih baik aku berusaha untuk meloloskan diri, supaya bisa mengabarkan kepada pusat" .

Berpikir sampai disitu, ia lantas berkata Sambil ketawa haha hihi: "Bocah, rekening ini lain hari kita bikin perhitungan lagi "

Dengan tidak menantikan jawaban lawannya, ia sudah melesat sejauh lima tombak lebih. Tapi selagi hendak melanjutkan perjalanannya, tahu2 si pemilik Golok Maut sudah berada dihadapannya dengan tanpa bersuara, hingga ia mundur setindak dengan hati ketakutan.

"Apa kau ingin kabur, tidak begitu gampang, he"

"Bocah, Tancumu masih ada urusan penting yang harus diselesaikan, urusan kita lain waktu kita bereskan lagi "

"Gouw Pa Thian, kau sudah mengaku kalah ?"

Hek-sa Toat-beng Gouw Pa Thian yang kini menjabat ketua dari cabang Im-mo-kao, bagaimana mau menelan begitu saja hinaan Yo Cie Cong itu? Maka wajahnya yang hitam bagai pantat kuali, seketika itu lantas menjadi merah padam. Namun kenyataan tidak dapat dibantah, jika berdiam lebih lama lagi disitu, mungkin akan mengalami nasib serupa dengan dua belas anak buahnya.

setelah berpikir sejenak ia lantas berkata sambil kertak gigi: " Hari ini toayamu mengaku kalah, tapi lain hari akan mencari kau lagi untuk membuat perhitungan"

"Mengaku kalah juga tidak boleh." jawabnya Yo Cie Cong dengan sikap yang memandang rendah.

Gouw Pa Thian hampir saja dadanya meledak. "Bocah, kau hendak berbuat apa?" ia berseru keras. "Dalam peristiwa pembunuhan tabib mulia Go Cee jin, kau merupakan salah seorang pembunuh terpenting, maka aku tidak bisa melepaskan kau begitu saja"

Gouw Pa Thian sudah memuncak kegusarannya, tanpa hiraukan apa akibatnya, ia lantas maju menghampiri dan berkata dengan suara seperti orang kalap.

"Bocah, toayamu akan adu jiwa dengan kau" Kedua tangannya lalu diputar, dengan kekuatan tenaga sepenuhnya, ia menyerang Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong angkat lempang kedua tangannya, pe-lahan2 disodorkan, tapi gerakan yang kelihatannya sangat sederhana itu, sebetulnya ada mengandung kekuatan yang sangat hebat.

Kembali terdengar suara benturan yang kemudian disusul oleh suara jeritan ngeri, tubuh njagouw Pa Thian seperti sebuah bola bundar yang terus menggelinding sejauh satu tombak lebih, kedua tangannya sudah putus sampai batas penggelangan, darah mengalir seperti air keluar dari pancuran, Tapi ia masih keraskan kepala untuk bangun berdiri meski dengan badan sempoyongan. sedang sepasang matanya kelihatan merasa sakit hingga kulit diwajahnya sebentar2 harus dikerutkan, tapi ia terus menahan rasa sakit itu. jidatnya keluar keringat se-gede2 kacang kedele, yang mengetel terus tidak ber-henti2nya, ujung bibirnya juga mengalir darah segar hingga wajahnya makin menakutkan kalau dipandang.

Yo Cie Cong setelah berpikir sejenak, tiba2 berkata: "Gouw Pa Thian, kalau kau mau menyawab dengan terus terang pertanyaanku. aku nanti akan mengampuni jiwamu "

"Bocah, kau boleh turun tangan. Hutang darah ini cepat atau lambat perkumpulan kami pasti akan membuat perhitungan dengan kau"

"Hm, hutangnya Im-mo-kao kepadaku masih terlalu banyak sekali, tidak usah diminta aku sendiri bisa datang menagih "

"Bocah toayamu tidak sudi menjawab pertanyaanmu " "Benar ?"

"Kau tidak perlu banyak bacot"

"Kalau begitu aku terpaksa aku mengiringi kehendakmu, tapi sebelum kau binasa aku perlu beritahukan padamu dahulu, cabang im-mo-kao di In-thay sudah ditakdirkan akan mengalami kehancurannya. Ini adalah sebagai ganjaran atas perbuatanmu yang sudah membunuh mati seorang tabib mulia seperti Go Cee Jin itu "

"Bocah, apakah kau hendak membasmi habis2an semua keluarga kita?. . ."

sebelum ia bisa melanjutkan perkataannya, hawa merah putih telah meluncur keluar dari tangan Yo Cie Cong dan terus menjerang dadanya.

Gouw Pa Thian cuma menjerit sebentar, isi perutnya sudah keluar berhamburan ditanah hingga jiwanya melayang seketika itu juga.

Yo Cie Cong menghitung perjalanannya dari situ kekota In-thay-tin sudah tidak jauh lagi, maka ia lantas mengambil keputusan hendak membasmi cabang perkumpulannya Im-mo-kao itu sekalian.

Yo Cie Cong lalu kumpulkan kuda2 tunggangan mereka, kemudian bangkai2 orang2nya Im-mo- kao itu diikatkan diatas pelana kuda. sudah itu lantas gebah kuda tersebut hingga pada lari serabutan dengan diikuti oleh Yo-Cie Cong.

oleh karena kuda2 itu sudah kenal rumahnya, maka terus lari pulang kecabang Im-mo-kao di In-thay-tin.

ooo ooooo ooo

In-thay-tin cuma merupakan satu kota kecil yang dibangun disepanjang kaki gunung.

jumlah penduduknya juga tidak banyak,

cabang Im-mo-kao di kota In-thay-tin letaknya disisi lembah dibagian barat, sekitarnya dihalangi oleh puncak gunung yang menjulang tinggi kelangit, hingga tempat itu merupakan satu lembah yang cukup pada yang dan strategis. Kalau sudah memasuki perjalanan kira2 tiga lie didalam lembah itu, lantas kelihatan terbentang sebidang tanah yang luas dan bangunan rumah beberapa ratus buah banyaknya. Itulah sarangnya cabang Im-mo-kao dikota tersebut-

Waktu lohor hari itu, matahari sudah mulai langsir kebarat, Dalam lembah seperti diselu-ungi oleh selapis kain sutra berwarna kuniug emas. Awan2 tipis berterbangan diatas lembah, keadaan didalam lembah kelihatan tenang sunyi, siapa pun tidak akan menduga kalau bencana sudah berada didepan mata.

suara derap kaki kuda, dari jauh kedengaran semakin dekat. orang2 yang ditugaskan menjaga di pos penjagaan diluar lembah mereka pada mengenali bahwa itu ada kuda2 dan rombongan ketua cabang Im-mo-kao yang sedang pulang kelembah, maka buru2 memberikan tanda yang harus segera disampaikan kedalam lembah,

Dimatanya penjaga2 itu, cuma menampak kuda2 itu lari dengan pesat sedang para penunggangnya pada tengkurap diatas kuda masing2. Mereka tidak dapat lihat tanda apa2 yang aneh.

sepuluh lebih kuda2 itu sudah melalui pos penjagaan dan terus lari kedalam lembah. Ditanah lapang sudah berkumpul banyak anak buahnya Gouw Pa Thian yang menyambut ketuanya.

Kuda2 itu setelah hentikan larinya, napasnya nampak masih memburu, tapi penunggangnya masih tetap tidak ada yang turun, tampaknya sedikitpun tidak mengunjukan gerakan apa2, hal ini merupakan suatu keanehan

"Darah". . . begitu terdengar suara orang berseru dari dalam rombongan orang2 yang menyambut.

sekarang orang2 yang datang menyambut itu mulai merasa curiga. Mereka segera maju menghampiri, ternyata sepuluh lebih orang-orangnya cabang im-mo kao dari daerah In-thay itu sudah menjadi majat semua. Darah masih membeku dibadan masing2.

Sekejab saja keadaan lantas menjadi gempar, semua orang tidak tahu bagaimana harus bertindak,

suara genta tanda bahaya lantas dibunyikan nyaring, membuat suasana dalam lembah yang semula sepi sunyi telah berubah menjadi riuh gempar.

semua orang2 dari cabang itu lantas berkumpul ditengah lapangan, tapi mereka tidak berdaya untuk menghadapi kejadian yang terjadinya secara mendadak itu,

cabang im-mo-kao itu pada saat itu juga seperti diliputi oleh ketegangan, seolah-olah menghadapi hari kiamat.

Wakil ketua si Tangan Geledek cu Khoan, segera mengeluarkan perintah untuk memperkuat penjagaan disemua pos2nya, kemudian mengadakan perundingan dengan orang2 yang mempunyai kedudukan Hiocu keatas, untuk merundingkan cara bagaimana supaya bisa menghadapi kejadian yang mendadak itu.

Kalau dipikiri ilmunya Hek-soa-ciang Gouw Thian, didalam kalangan Kang-ouw boleh dikata sudah sukar menemukan tandingan, sedang ke-12 hiocu yang mendampingi padanya itu juga merupakan tenaga pilihan, tidak nyana mereka mengalami nasib demikian rupa, Dan sekarang harus pulang dalam keadaan tidak bernyawa.

Menurut anggapan mereka, kali ini ketua keluar lembah untuk mengundang tabib Go Cee Jin turun gunung, sebetulnya tidak perlu membawa pengikut orang kuat begitu banyak, sebab Go Cee jin cuma pandai dalam ilmu obat2an, tapi kepandaiannya ilmu silat sebetulnya biasa saja.

Kematian rombongan orang2 ini, sudah terang ada perbuatannya orang lain. Tapi siapakah orangnya? Mungkin juga pembunuhnya bukan cuma seorang sendiri saja.

sebab bisa membinasakan tiga orang yang termasuk golongan orang2 kuat, bahkan bisa mengikat tubuh mereka diatas kuda yang kemudian dikirim pulang. jika itu ada perbuatannya satu orang saja, maka orang itu kepandaian dan kekuatannya sudah tentu sudah seperti malaikat.

Apa lagi kalau dilihat dari caranya pembunuhan itu dilakukan mungkin orang sengaya mencari setori dengan Im-mo-kao. jika benar demikian halnya. maksud dan tujuannya orang itu tidak boleh dipandang remeh.

jalan satu2nya yang paling baik, kecuali melakukan penjagaan dengan sekuat tenaga ialah lekas melaporkan kepada pusat untuk minta petunjuk.

selagi wakil ketua cabang dan para hiocu mengadakan pertemuan didalam ruangan rapat, mendadak terdengar suara orang ketawa dingin, tapi tidak kelihatan bayangan orangnya. suara itu kedengarannya menyeramkan, se-olah2 suara hantu, hingga membuat berdiri bulu roma.

Para hiocu yang sedang mengadakan pertemuan itu pada merasa terkejut dan ketakutan, buru2 pada meninggalkan tempat duduk masing2.

Tiba- terdengar pula "krak" kemudian disusul oleh berkelebatnya sinar putih. diatas penglari rumah ditengah-tengah ruangan telah manancap satu benda putih yang mengeluarkan sinar gemerlapan.

Dalam keadaan panik dan ketakutan, wakil ketua dan para hiocu segera dongakan kepala untuk menegasi benda apa yang menancap diatas penglari itu ?

Ternyata ada sebuah senjata yang aneh bentuknya, golok bukan golok. gergaji bukan gergaji. " Golok Maut" demikian wakil ketua, si Tangan Geledek cu Khwan, yang lebih dahulu membuka

suara.

seruan cu Khwan tadi seolah-olah bunyi geledek ditengah hari, membuat terbang semangatnya para hiocu yang ada disitu.

sebab dimana Golok Maut sampai disitu pasti akan terjadi penumpahan darah. Dan sekarang senjata pencabut nyawa ini sudah mengunjungi cabangnya Im-mo-kao berarti pula bahwa disitu akan mencabut jiwa manusia.

Kematiannya ketua cabang Gouw Pa Thian dan rombongannya, sudah pasti ada perbuatannya pemilik Golok Maut.

selagi orang2nya cabang Im-mo-kao berada dalam ketakutan dan kebingungan, tiba2 muncul seorang pemuda cakap dengan suara yang kaku dingin. Dengan sinar matanya yang tajamnya luar biasa, pemuda itu menjapu wajah setiap orang yang ada disitu, kemudian berkata dengan suaranya yang dingin:

"jika kalian ingin menghindarkan penumpahan darah besar2an, lekas bubarkan cabang perkumpulan Im-mo-kao ini "

Perkataan yang sangat jumawa dan permintaan yang bukan2 ini, didalam telinganya orang Im- mo-kao itu sesungguhnya dirasakan sangat tidak sedap sekali.

Apakah dengan hanya sepatah perkataan dari pemuda ini cabang Im-mo-kao daerah In-thay harus dibubarkan ?

Walaupun bagaimana, orang dari cabang Im-mo-kao itu masih ingin mempertahankan derajatnya, maka sebagai jawaban, wakil ketua lantas perintahkan orangnya membunyikan genta untuk menyatakan bahwa disitu sekarang berada dalam keadaan bahaya.

sebentar saja suara tang tang tang tang menggema diudara dengan sangat riuhnya.

segenap orang2nya cabang Im-mo-kao lantas datang berduyun-duyun memburu keruangan rapat, hingga sebentar saja tempat tersebut sudah terkurung rapat.

si Pemilik Golok Maut, didalam kalangan Kang-ouw boleh dikata hampir semua orang tahu. senjata yang menancap diatas panglari sudah memberitahukan kepada semua orang2 cabang im- mo-kao apa artinya wakil ketuanya tadi membunyikan genta tanda bahaya, Mereka nampak pada kasak-kusuk. wajahnya mengunjukan rasa jeri.

Bagaimana pemilik Golok Maut bisa berada didalam sarangnya cabang im-mo kao daerah In- thay tanpa diketahui oleh para penjaga, pos penjagaan? itulah yang menjadi pertanyaan dalam hati hampir setiap orang.

si Tangan Geledek. co Khoan setelah tenangkan pikirannya lantas berkata^ "apa maksudnya tuan minta pembubaran cabang im-mo-kao disini ?"

"Kau mempunyai kedudukan apa didalam cabang im-mo-kao daerah In-thay ini?" Yo Cie Cong balas menanya.

"Aku yang rendah adalah cu Khoan bergelar si Tangan Geledek. sebagai wakil ketua dari cabang im-mo-kao disini."

"Bagus AKU tidak mempunyai banyak waktu, maka dengan singkat kuberitahukan bahwa berhubung dengan perbuatan orang2 kalian yang telah membunuh mati Gouw Cee Jin itu tabib mulia yang kenamaan, maka kecuali algojonya sendiri itu orang2 yang sudah kubinasakan, aku datang kemari untuk minta kalian segera bubarkan cabang perkumpulan ini, sekedar sebagai peringatan bagi siapa yang melakukan kejahatan" semua orang yang mendengar keterangan tersebut pada terkejut.

Yo Cie Cong berkata pula kepada cu Khoan. "sekarang juga kau harus keluarkan perintah untuk membubarkan cabang perkumpulan ini"

cu Khoan ketakutan, ia merasa serba salah bagaimana ia berani membubarkan cabang Im-mo- kao itu? sebab dengan berhuat demikian, meskipun ia terhindar dari tangannya pemilik Golok Maut, tapi juga tidak bisa terlolos dari tangannya Im-mo-kao pusat, yang nanti tentu akan mengambil tindakan keras terhadap perbuatannya itu.

setelah berpikir lama, akhirnya ia beranikan diri untuk menjawab^ " Ini aku tidak bisa" "Tidak bisa ?"

"Maaf aku tidak dapat memenuhi permintaanmu ini "

"Kalau begitu kau harus tanggung jawab untuk bencana besar atau pertumpahan darah besar2an disini."

Binatang kalau berada dalam keadaaan terjepit juga masih bisa menggigit, apa lagi manusia. Demikian dengan orang2 cabang Im-mo-kao itu meski merasa jeri terhadap dirinya pemilik Golok Maut, tidak berani mengunjukkan perasaan gusarnya, tapi setelah berada dalam keadaan terjepit, mereka lantas-berlaku nekad, hingga saat itu keadaan dalam- ruangan lantas menjadi gempar.

oooo ooo oooo

DENGAN sorot matanya yang dingin Yo Cie Cong menyapu semua orang2nya cabang Im-mo- kao daerah In-thay ini, kemudian ia berpaling dan berkata kepada cu Khoan: "Kau terima baik atau tidak permiataanku tadi ?"

Dengan wajah pucat pasi dan sambil kertak gigi cu Khoan menjawab: "Tuan terlalu sekali mendesak orang "

"Haha, oleh karena aku tidak ingin melakukan pembunuhan terhadap orang2 yang tidak berdosa. maka aku majukan permintaan ini. Kalau begitu, maksudmu ialah memaksa aku mengambil tindakan kejam itu?"

Dari sampingnya cu Khoan tiba2 melesat keluar dua bayangan orang yang lantas keluarkan suara bentakaa keras: "Bocah ganas"

suara bentakan itu lantas disusul oleh berkelebatnya dua bilah pedang yang membabat dirinya Yo Cie Cong.

"cari mampus, kau" Yo Cie Cong kata.

Dengan tanpa menoleh lagi, satu tangannya lantas bergerak, dua orangnya cabang Im-mo-kao yang melakukan serangan mendadak tadi lantas keluarkan jeritan ngeri, badan mereka lantas rubuh ditanah dan binasa seketika itu juga.

Dalam waktu segebrakan saja Yo Cie Cong sudab membinasakan dua orang kuat dari cabang im-mo-kao daerah In-thay, kekuatan itu seolah-olah bukan kekuatan manusia biasa. orang2 yang ada disitu kembali dibikin gempar.

Dengan perasaan terharu, cu Khoan lantas turun tangan- secepat kilat ia melancarkan serangan mengarah jalan darah didada Yo Cie Cong.

Kecepatannya orang she cu itu turun tangan, sesungguhnya sangat mengejutkan, tidak kecewa ia mendapat gelar si Tangan Geledek. serangannya itu bukan saja cepat tapi juga hebat dan ganas,

Tapi, sekalipun ia bergerak begitu cepatnya apa mau Yo Cie Cong bergerak lebih cepat lagi. Ketika diserang, dengan ilmunya "Menggeser tubuh mengganti bayangan" ia sudah menghilang dari depan matanya cu Khoan, dan tatkala ia balik lagi ditempatnya semula, ditangannya sudah menggenggam Golok Mautnya yang tadi menancap diatas tiang penglari. Gerakan itu lebih tepat kalau dikatakan gerakannya satu malaikat.

cu Kboan yang diawasi demikian rupa oleh Yo Cie Cong, hatinya lantas bergidik.

Tapi, keadaan sudah mendesak demikian rupa, ia tidak boleh tidak harus turun tangan, sekalipun ia tahu benar bahwa tindakannya itu berarti mengantarkan jiwanya sendiri, ia terpaksa harus berbuat demikian.

Hening sejenak, ia lantas melancarkan serangannya lagi

Yo Cie Cong membentak dengan suara keras: "lni ada kau sendiri yang mencari mampus, jangan sesalkan aku"

Meski mulutnya bicara, tapi kaki dan tangannya tidak menganggur. Tangan kirinya mengeluarkan serangan kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat, untuk menahan serangan cu Khoan, sedang tangan kanannya hampir berbareng melancarkan serangan dengan Golok Mautnya.

sekejap kemudian lalu terdengar suara jeritan ngeri, hingga membuat semua orang yang mendengarnya pada berdiri bulu romanya, kemudian menampak darah merah muncrat keluar dari tubuhnya cu Khoan, wakil ketua cabang im-mo-kao daerah In-thay itu sudah kutung kedua pahanya, didepan dadanya terdapat satu lobang besar, darah merah menyembur keluar, jiwanya melayang seketika itu juga.

Para hiocu lainnya yang menyaksikan cara kematian yang sangat mengerikan dari wakil ketuanya, masing2 pada maju, menyerbu. Beberapa puluh orang telah melancarkan serangan tangan berbareng kearah diri Yo Cie Cong.

Anak muda itu sudah hilang sabarnya, dengan golok mautnya ia mengamuk seperti kerbau gila, sebentar saja suara jeritan ngeri terdengar disana-sini, kemudian disusul oleh muncarnya darah merah dan jatuhnya kaki tangan manusia yang sudah dipereteli dari tempatnya.

Dalam waktu sekejap mata saja, beberapa puluh hiocu yang menyerang berbareng kepada Yo Cie Cong tadi sudah pada menggeletak ditanah menjadi bangkai.

sisanya yang masih hidup serta orang2 yang menjaga diluar, karena mereka apabila berani turun tangan, itu berarti telur menggempur batu, maka tidak ada satupun yang berani membuk mulut. Mereka pada berdiri seperti patung.

setelah Yo Cie Cong hentikan gerakannya, keadaan menjadi sepi sunyi, suasana diliputi oleh rasa ketakutan dan bayangan maut.

sesudah sekian lama keadaan sunyi senyap. Yo Cie Cong lalu gerakan kakinya menuju kelapangan diluar ruangan rapat-

semua orang dari cabang im-mo-kao daerah In-thay yang sudah mati kutunya itu lantas pada mundur saling serabutan, setiap orang mengunjukan perasaan kuatir yang sangat hebat.

Yo Cie Cong sesudah berdiri ditengah lapangan, lalu berkata dengda suara bengis, "Pemilik Golok Maut tidak mau berbuat keterlaluan, siapa yang kenal gelagat harap segera

berlalu dari sini dan menuntut penghidupan yang pantas. Aku nanti akan menghitung dari satu sampai tiga, siapa yang tidak mau berlalu jangan salahkan kalau Golok Maut nanti akan meminta korban lagi"

"satu" Yo Cie Cong mulai menyebut.

Dalam rombongan orang2 itu lantas terbit suara gaduh. "Dua"

orang2 lantas pada lari serabutan, belum sampai Yo Cie Cong menyebut angka tiga, semua orang sudah kabur bersih.

Yo Cie Cong karena mengingat pesannya Phoa-ngo Hweshio maka meski ia tadi terpaksa melakukan pembunuhan secara kalap, tapi dalam hati masih tahu kira2. jika tidak demikian. orang2 dari cabang im-mo-kao daerah In-thay ini barangkali semuanya akan mengalami nasibnya seperti orangnya Cie-in-pang.

Malam itu ada gelap. sedang yang tadinya merupakan markasnya cabang perkumpulan Im-mo- kao daerah In-thay keadaannya sunyi senyap. tidak kelihatan lampu menyala seperti biasanya, juga tidak terdengar suara apa.. Dimalam yang gelap itu, tampak Yo Cie Cong dengan seorang diri mendongak kelangit sembari menghela napas panjang dan mulutnya mendoa "Gouw iocianpwe, kau boleh merasa puas?"

sehabis mendoa, badannya lantas bergerak, laksana seekor binatang kampret terbang melesat meninggalkan tempat tersebut.

sekarang tujuannya hanya dipusatkan kepada perjalanannya kegunung Hoa-san untuk menepati janji dengan dua orang aneh dunia rimba persilatan.

Dalam pertandingan dengan muridnya Leng jie Hong nanti meski namanya saja katanya menguji kekuatan kedua pihak tapi sebetulnya didalamnya masih mengandung maksud untuk berebutan nama dan kedudukan. Sebab manusia gaib Leng jie Hong, dalam kalangan Kang-auw sudah lama dianggap sebagai orang kuat momor satu, maka sepanjang perjalanan itu hatinya Yo Cie Cong masih merasa berdebaran-

Buat ia sendiri, sedikitpun tidak mempunyai maksud hendak merebut kemenangan dalam pertandingan itu, supaya mendapat nama harum, Tapi jika benar ia tidak sanggup melawan muridnya leng jie Hong, sudah tentu akan mengecewakan pengharapannya dua manusia aneh Pak- leng dan Lam-tie. Ia pikir akan berbuat sekuat tenaga, jangan sampai mengecewakan kedua orang tua itu, dalam hal ini sudah tentu saja soal menang atau kalah bukan soal mutlak.

Pada waktu lohor dimalaman rembulan purnama, Yo Cie Cong sudah memasuki daerah gunUng Hoa-san-

Didepan matanya lantas terbentang pemandangan alam yang indah permai dan daerah gunung tersebut serta keangkerannya puncak2 gunung yang ber-deret2 sangat luas. Tidak antara lama, cuaca sudah mulai gelap. sang malampun telah tiba.

Yo Cie Cong terus menuju kepuncak yang paling tinggi. Tapi diluar gunung masih ada gunung nampak yang satu lebih tinggi dari pada yang lain. Gunung yang ber-deret2 itu seperti tidak ada batas akhirnya. Maka hendak menemukan tempat yang dinamakan Hong gwat-peng yang masih sangat asing baginya, sebetulnya bukan satu soal mudah. Ia hanya ingat tempat itu letaknya dibelakang puncak gunung Hoa-san itu

Sinar bintang2 dilangit nampak mulai guram, rembulan sudah mulai muncul dari sela-sela gunung.

suasana nampak makin sunyi seram.

Yo Cie Cong lari lebih pesat, hatinya merasa berdebaran, sebab sampai pada saat itu ia masih belum manemukan tempat yang dinamakan Bong-gwat-peng itu

Rembulan sudah berada di-tengah2 langit saat itu Yo Cie Cong berdiri diatas satu puncak gunung. mengawasi keadaan disekitarnya. Dalam hatinya berpikir "puncak ini rasanya yang paling tinggi, tapi dimana adanya Bong-gwat-peng?"

selagi Yo Cie Cong masih menengok kesana kemari dalam keadaan kebingungan, mendadak terdengar suara yang datangnya dari arah suara tempat tidak jauh dari tempat ia berdiri

"Apakah diatas sana adalah Yo Cie Cong? Kita sudah cukup lama menantikan kedatanganmu"

Mendengar suara itu, Yo Cie Cong merasa agak malu, sebab semua tindak tanduknya sudah dilihat orang tanpa ia merasa. Sedang orang yang melihat itu berada dimana, ia sendiri masih belum mengetahui.

Dengan memperhatikan dari mana datangnya suara tadi, Yo Cie Cong pasang matanya dari sela2nya pepobonan yang sangat lebat ia dapat lihat disuatu tempat tidak cukup enam tombak dari tempat ia berdiri disitu ada terdapat sebidang tanah datar yang tidak seberapa luasnya, yang menonjol dari tengah2nya lamping gunung. Di-tengah2 tanah datar itu ada berdiri satu bayangan orang.

Yo Cie Cong setelah menyahuti "Maafkan kedatangan boanpwee yang agak terlambat" badannya lantas bergerak laksana seekor burung bungau, setelah berputaran tiga kali ditengah

udara dengan gayanya yang manis, ia lantas melayang turun ketanah datar tersebut,

"suatu gerakan mengentengi tubuh yang sangat bagus sekali" demikian satu2nya seorang tua telah memberi pujian. segera disusul oleh suaranya saorang jelita yang lembut merdu: "Engko Cong, kami mengira kau tidak datang, kau benar2 membuat orang gelisah saja "

Kemudian disusul oleh munculnya seorang gadis jelita dengan tubuhnya yang kecil langsing, yang memapaki Yo Cie Cong.

"Adik Kheng, satu laki2 harus bisa pegang janji, bagaimana aku boleh tidak datang?"

Yo Cie Cong nampak ut-tie Kheng ternyata banyak lebih kurus, matanya tidak berani memandang langsung pada wajah sinona jelita dengan matanya yang hitam jeli.

Ia lalu alihkan pandangan matanya kearah kedua orang tua, ialah Pek-hong Phoa-ngo Hweshio dan Lam-tie Kun siu, yang sedang duduk disamping gunung sembari minum arak. Disebelah orang tua itu ada sebuah kursi kayu panjang diatasnya ada duduk setengah rebahan seorang tua kurus yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua.

Yo Cie Cong lantas menghampiri kedua orang tua itu untuk memberi hormat, kemudian berpaling dan berkata kepada orang tua duduk setengah rebahan.

"Locianpwee ini tentunya adalah Leng lo-cianpwee yang mendapat gelar sebagai orang gaib dari rimha persilatan? Boanpwee Yo cie Cong disini memberi hormat"

sehabis berkata ia lantas hendak berlutut, tapi baru hendak jatuhkan dirinya, orang tua itu lantas ketawa ber-gelak2 dan sambil angkat satu tangannya ia berkata: "Bocah tidak usah pakai banyak peradatan"

Dari tangannya orang tua itu lantas meluncur keluar kekuatan tenaga dalam (lweekang) yang sangat hebat, mencegah Yo Cie Cong menjalankan peradatan.

Tapi Yo Cie Cong mendadak timbul pikirannya untuk menguuji kekuatannya sendiri, ia pusatkan semua kekuatan Iweekangnya melanujutkan maksudnya berlutut dibawahnya orang tua itu. sehabis menjalankan hormatnya ia lantas berbangkit dengan perlahan se-olah2 tidak pernah terjadi apa2.

Lam-tie dan Pak-hong yang mengangkat cawan araknya, tidak diminum isinya, sambil bersenyum mengawasi Yo Cie Cong.

Jago see-gak Leng jie Hong nampak tercengang sejenak. mendadak tertawa ber-gelak2 suaranya sampai menggema ditengah udara, "Bagus bagus bagus " demikian ia memberi pujian.

Yo Cie Cong berdiri dengan tenang, tidak berkata apa2. sedang ut-tie Kheng, saat itu sudah berdiri berendeng dengan Yo Cie Cong.

Pak-hong Phoa-ngo Hweshio setelah tenggak araknya, lantas berkata kepada jago see-ggk itu: "Leng loujie, apa yang kau maksudkan bagus tadi?"

jago see-gak itu dengan sinar matanya yang aneh, kembali memandang Yo Cie Cong sejenak. lalu berpaling dan menjawab Pak-hong: "Hanya ini sauya, aku Leng jie Hong hari ini sudah pasti akan kalah"

"Apa kau kata ?"

"Naganya manusia, bunga ajaib dalam rimba persilatan. Kau berdua tua bangka setelah gila dan linglung ini, ternyata mempunyai pandangan mata yang sangat tajam dan peruntungan yang sangat bagus"

"Tua bangka she Leng, kau tahu bahwa kami berdua tidak mempunyai murid, Bocah ini adalah aku si hweshio gila yang menemukan. Kemudian aku pikir hendak menggunakan dirinya untuk mewakili diri kami berdua. Ini hanya sekedar untuk memenuhi perjanjian malam ini. Apa kau menyesal?"

"Mana boleh, aku toch sudah janji dahulu kalian berdua boleh mencari orang yang akan mewakili kalian berdua, bagaimana aku bisa menyesal."

"Pertandingan toch sifatnya cuma sebagai ujian saja, untuk menilai siapa sebetulnya yang lebih kuat. Menang atau kalah tidak menjadi soal. Kita tiga orang yang sudah tua bangka hitung2 menonton keramaian" berkata si Pengail Linglung sambil kedipkan matanya yang sipit.

Leng jie Hong mendadak menggapai tangannya sembari berkata: "Thian Hoa sini, lihat orang yang bakal menjadi tandinganmu " Yo Cie Cong kini baru ingat itu orang yang tadi telah memanggil padanya ketika ia masih belum menemukan tempat tersebut. Ia buru-buru menyongsong seorang laki2 cakap berusia kira2 40 tahunan, yang juga sedang menghampiri padanya.

Laki2 itu meski usianya sudah tidak muda lagi. tapi ada mempunyai wajah potongan yang cakap. tampan dan sangat menarik,

Yo Cie Cong sebagai orang dari tingkatan muda, buru2 mendahului memberi hormat seraya berkata: "Boanpwre Yo Cie Cong disini memberi hormat"

Laki2 setengah umur itu matanya mengeluarkan sinar aneh dengan suara agak gemetar ia menjawab: "Aku yang rendah adalah Hoan Thian Hoa"

Yo Cie Cong hampir saja menjerit kaget, dengan tanpa sadar ia sudah mundur setindak. kemudian menanya dengan hati berdebaran^ "cianpwee adakah Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa?"

"Benar"

Tiba2 Phoa-ngo Hweshio nyeletuk: "Bocah, dia adalah itu jago pedang nomor satu dari golongan muda yang dikabarkan sudah menghilang dari dunia Kangouw sepuluh tahun lebih lamanya, Hanya si tua bangka she Leng ada satu permintaan tentang ini tidak boleh disiarkan dikalangan Kang-ouw" Yo Cie Cong anggukkan kepala sebagai jawaban.

ut-tie Kheng tiba2 berkata: "Kongkong, kau lihat mereka berdua mengapa ada begitu miripnya satu sama lain, jika tidak karena usianya yang berbedaan begitu jauh, benar2 seperti saudara kembar saja "

Bicara sampai disini ut-tie Kheng merasa terlepasan omong. sebagai satu gadis, bagaimana boleh mengUcapkan perkataan demikian? Maka seketika wajahnya lantas merah, hatinya merasa tidak enak sendirinya.

Tiga orang tua itu meski juga mempunyai itu perasaan, tapi masing2 pada menyimpan didalam hati. setelah , mendengar perkataan ut-tie Kheng, sekali lagi pada mengawasi Yo Cie Cong dan Hoan Thian Hoa yang sudah berhdapan, memang benar mereka berdua ada sangat mirip. seperti pinang dibelah dua.

Memang, jika tidak karena usianya yang berbeda jauh, mereka benar2 bisa dianggap sebagai saudara kembar saja.

Dalam hati Hoan Thian Hoa merasa sangat tidak enak sekali, namun ia pura2 ketawa dan berkata: "Benarkah kita ada mirip satu sama lain? ini sesungguhnya ada satu soal yang sangat aneh "

Yo Cie Cong pada saat itu telah gelisah pikirannya, ia ingat kembali semua hal2 yang sudah ada. . . .

Ia pernah menjanjikan Thian-san Liong- lie hendak menguruskan satu hal, ialah hendak mencari kekerangan tentang dirinya Hoan Thian Hoa yang mati atau hidupnya masih merupakan satu teka teki. Dan sekarang. ia telah berhadapan dengan orang yang ia hendak cari itu, dengan demikian, teka teki itu sudah mendapatkan jawabannya. Maka ia perlu segera mengabarkan kepada bibi Tho-nya itu.

Ia juga ingat tentang saudara angkatnya Hoan Thian Hoa, yang masih menunggu Hoan Thian Hoa didepan puncak gunung Pit-koan-hong. itu sahabat yang setia, dengan tidak sayang membuang waktunya yang berharga, maksudnya hanya hendak menantikan munculnya Giok-bin Giam-po yang sembunyikan diri dipuncak gunung Pit-koan-hong, untuk menanyakan dirinya Hoan Thian Hoa.

Tapi segala apa didalam dunia ini bisa berubah setiap saat, bukankah Hoan Thian Hoa sekarang ada berdiri dihadapannya dalam keadaan segar bugar?, Kalau begitu itu wanita yang sembunyikan diri diatas puncak gunung Pit-koan-hong, mungkin juga bukan Giok- bin Giam-po.

Ia ingat pula bahwa banyak orang mengatakan ia ada mirip benar dengan Hoan Thiao Hoa, dan orang yang berada didepan matanya ini, dulu pernah mempunyai hubungan suami istri dengan Giok- bin Giam-po ada satu waklu ia pernah sangsikan dirinya sendiri, yang mungkin ada hubungannya dengan soal ini tapi sekarang setelah berhadapan satu sama lain, sedikitpun tidak ada tanda2nya untuk menguatkan dugaannya sendiri itu setidak-tidaknya, hal ini aku harus

beritahukan kepadanya. Demikian Yo Cie Cong diam2 telah mengambil suatu keputusan.

Phoa-ngo Hweshio setelah tenggak habis arak dalam cawannya, lantas umbar perasaannya dengan berdendang:

"Angin sejuk rembulan terang, bagaimana kita harus liwatkan malam ini?"

sipengail Linglung masih tetap dalam keadaannya yang mirip benar dengan seorang linglung, se-olah2 mengoceh sendiri ia berkata kepada Leng jie Hong. "Leng lojie, bagaimana caranya mereka bertanding? Kau sebutkan saja"

jago see-gak itu lantas ketawa ber-gelak2. "Menurut pikiranmu bagaimana?" ia balas menanya. "Tamu selamanya mengikuti saja kehendak tuan rumah, terserah kepadamu bagaimana kau

hendak atur"

Giok-bin Kiam-khek saat itu nampak mengkerutkan alisnya, dengan tidak ber-henti2nya me- lekuk2kan jari tangannya sendiri sebentar mendongakan kepala, sebentar memandang keadaan dalam jurang, agaknya seperti orang2 yang sedang berada didalam kesulitan hebat.

jago see-gak Leng jie Hong nampak duduk setengah rebahan diatas kursi kayunya, sebab kedua kakinya lumpuh akibat kemasukan pengaruh jahat selagi melatih ilmunya. selama lima tahun itu, meski ia bisa pertahankan terus kekuatannya berkat ilmu lwekangnya yang sudah cukup sempurna, tapi hanya bagian atas dari anggota badannya yang masih bisa bergerak dengan leluasa, sedang bagian bawah sudah lumpuh sama sekali.

SAAT ITU ia duduk lempeng, setelah agak berpikir sejenak lalu berkata:

"Kalau begitu aku si orang she Leng terpaksa berlaku lancang aku usulkan mereka masing2 bertanding tiga jurus dan adu kekuatan telapakan tangan tiga kali, kalian pikir bagaimana?"

Usul itu lantas diterima baik oleh Lam-tie dan Pak-hong.

ut-tie Kheng saat itu yang hatinya paling gelisah. ia tidak tahu apakah kekasihnya itu bisa menangkan jago pedang nomor satu yang dahulu sangat kesohor itu? Maka ia buru2 menghampiri Phoa-ngo Hweshio dan menanya dengan suara perlahan-lahan-" Engkong hweshio. kau lihat apakah engko Cong bisa menandingi lawannya?"

Phoa-ngo Hweshio kerengkan matanya. lalu menjawab dengan suara lantang: "Budak, kau tak usah kuatir, menang atau kalah tidak ada artinya "

Tapi oleh karena suaranya hweshio gila itu, hingga semua mata ditujukan kearah mereka.

ut-tie Kheng merasa jengah. Dengan muka merah ia monyongkan mulutnya yang kecil mungil, sedang matanya melototi si hweshio gila sejejak, lalu balikan badannya. Leng jie Hong dengan suara nyaring mengeluarkan perintahnya: "Thian Hoa, mulailah"

Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa setelah menyahut "Baik" lalu berdoa dan menuju ke-tengah2 lapangan- Yo Cie Cong segera mengikuti dibelakangnya.

Dua orang berdiri berhadapan terpisah kira2 dua tombak.

Meskipun itu bukan suatu pertandingan mati2an. tapi hanya sekedar untuk menepati janji pertaruhan antara 3 manusia aneh dari rimba persilatan pada dua tahun- berselang, namun suasana cukup tegang. Tiga manusia aneh itu meski mulutnya masih ketawa2 , tapi dalam hati masing2 tidak urung pada tergoncang juga. Kedua pihak sama2 mengharap supaya jagonya bisa merebut kemenangan-Yo Cie Cong berkata lebih dahulu.

"Kita bertanding apa?."

Giok bin kiam khek Hoan Thian Hoa saat itu dengan sikapnya yang agung, menjawab dengan suara rendah: "Baik kita mengadu kekuatan tangan lebih dahulu"

"Kalau begitu silahkan locianpwee yang mulai lebih dahulu"

"Aku yang rendah sebagai tuan rumah, seharusnya memberi kesempatan kepada tetamunya yang mulai lebih dahulu." Phoa-ngo Hweshio yang menonton di-samping lantas nyeletuk dengan suara nyaring: "Bocah, kau mulailah lebih dahulu, nanti dalam pertandingan mengadu ilmu pukulan biar dia yang lebih dahulu, dengan demikian jadi sama2 tidak ada yang dirugikan"

Yo Cie Cong anggukan kepalanya dan berkata: "Kalau begitu boanpwee minta maaf lebih dahulu atas kelancangan ini"

"Silahkan"

Empat pasang mata diluar kalangan telah memandang kedua jago yang hendak bertanding itu dengan tidak berkedip. Diantara mereka adalah ut-tie Kheng yang mengunjukan perhatiannya paling besar. Perasaan tegangnya hampir saja membuat ia susah bernapas.

Dalam hati Yo Cie Cong diam2 berpikir: "Malam ini meski aku tidak ada niatan akan merebut kemenangan- tapi kedua orang aneh itu sahulu pernah dikalahkan oleh si manusia gaib. dan kini aku muncul sebagai wakilnya dua orang aneh itu, paling baik kalau dapat merebut ke-menangan dengan tanpa ada yang luka."

selama berpikir ia kerahkan seluruh kekuatan ilmunya Kan-goan cin-cao, kemudian ia angkat kedua tangannya dan disodorkan dengan perlahan. Kekuatan tenaga dalamnya yang sangat hebat lantas meluncur keluar dari kedua tangannya.

Giok- bin Kiam-khek juga mengeluarkan kekuatan tenaga dalamnya dari kedua tangannya untuk menyambuti serangan Yo Cie Cong.

Ketika kekuatan dari kedua fihak saling beradu, lantas menimbulkan suara gemuruh. badannya kedua orang itu nampak ber-goyang2 sebentar, Tapi lantas diam. Phoa-ngo Hweshio lantas perdengarkan suaranyam "Pertandingan pertama, seri" semua orang pada bernapas lega.

Yo Cie Cong setelah berdiam sejenak, lalu melancarkan serangannya yang kedua. Kali ini ia menambah dua bagian kekuatannya Hawa cao-khie yang bisa membuat orang sesak bernapas, se- olah2 ombak dari sungai Tiang- kang datang menggulung.

Giok-bin Kiam-khek agak miringkan badannya, kaki kiri maju setengah tindak. dengan kekuatan serangan penuh ia mendorong tangannya.

Empat orang yang menyaksikan disamping kembali merasa tegang. Mendadak terdengar suara benturan keras, kedua pihak badannya nampak ter-huyung2, masing2 agaknya hendak berusaha untuk pertahankan kakinya, tapi ternyata tidak berhasil hingga masing2 pada mundur satu tindak,

Kembali terdengar suaranya Phoa-ngo Hweshio

"Pertandingan kedua kembali seri, kekuatan kedua fihak berimbang"

Yo Cie Cong dengan sungguh2 kerahkan seluruh kekuatannya, kemudian ayunkan tangannya. oleh karena Yo Cie Cong beberapa kali mengalami kejadian gaib, hingga membuat dirinya

mempunyai kekuatan tenaga lweekang yang sama dengan kekuatannya orang yang mempunyai latihan hampir seratus tahun, maka hebatnya serangan babak terakhir ini sungguh sangat mengejutkan

Giok- bin Kiam-khek diam2 menghela napas, ia terpaksa menyambuti serangan itu dengan sepenuh tenaganya.

si Pengail Linglung, Hweeshio gila dan ut-tie Kheng yang menonton disampingnya pada bangun berdiri dalam perasaan ter-heran2. sedang jago see-gak juga angkat tinggi2 kepalanya mereka pada menyaksikan kesudahannya sembari menahan napas.

setelah gemuruhnya suara benturan kedua kekuatan itu, tanah seperti habis mengalami bencana hebat. hingga batu dan pasir pada berterbangan-saat itu terdengar suara jeritan kaget dari ut-Tie Kheng.

Yo Cie Cong nampak mundur sampai tiga langkah, baru bisa berdiri tegak. sedang Giok-bin Kiam-khek terdengar mengeluarkan seruan tertahan, badannya ter-huyung2 sampai satu tindak jauhnya, masih saja belum bisa berdiri tegak.

Kali ini si hweshio gila tidak mengeluarkan suara, sebaliknya adalah si jago see-gak yang berseru:

"Thian Hoa kalah" nadanya mengandung perasaan kecewa. si hweshio gila kini baru terdengar suaranya lagi, "Leng-lojie, masih ada babak lagi. jangan gelisah"

Yo Cie Cong setelah berdiri tegak dan mengatur pernapasannya sebentar lalu mengangkat tangan memberi hormat kepada Giok- bin Kiam-khek seraya berkata. "Terima kasih."

Diwajahnya Giok- bin Kiam-khek terlintas suatu perasaan yang aneh, ia hanya tersenyum, tapi tidak menjawab. Badannya nampak maju lagi, hingga jarak semua pihak kembali menjadi dua tombak jauhnya.

Yo Cie Cong dengan perasaan mendelu mengawasi wajah lawannya, ia agaknya mendapatkan semacam perasaan apa dari pancaran mata yang begitu agung. Lama sekali ia baru bisa berkata.

"Tiga babak yang kedua ini seharusnya cianpwe yang turun tangan lebih dahulu"

Giok-bin Khiam-kek hanya menyambut dengan ketawa hambar. setelah mengUcapkan perkataan "Awas" badannya terus bergerak secepat kilat, kedua tangannya diputar, dari sudut yang sangat sempit ia membabat miring. caranya menyerang ini sesungguhnya sangat luar biasa anehnya.

Yo Cie Cong merasa bahwa serangan ini ada luar biasa aneh, bagaimana pun ia berdaya untuk menahan selalu tidak bisa terlepas dari ancaman serangan tersebut. Tapi sang waktu tidak memberikan padanya untuk berlaku ayal lagi. Dalam keadaan terdesak ia terpaksa untuk mundur dirinya dengan cepat hingga mundur kebelakang satu tindak. ut-tie Kheng mendadak berseru: "Engkong, engko Cong kalah satu babak."

"Ng"

oleh karena seruhannya ut-tie Kheng itu, telah membuat Yo Cie Cong merasa panas mukanya, mendadak timbul semangatnya untuk merebut kemenangan- . , .. "Awas"

Kembali terdengar suaranya Giok- bin Kiam-khek. yang kemudian disusul dengan serangannya yang kedua.

SEperti juga yang pertama, bahkan kali ini tampaknya lebih aneh dan lebih hebat, sampai memnuat lawannya tidak dapat menduga bagian mana sebetulnya yang sedang diarah serangannya itu bahkan mengandung, banyak perobahan pula. si Pengail Linglung dan si HHwehio gila wajahnya nampak murung.

Yo Cie Cong tiba2 timbul pikiran aneh, ia menggunakan taktik menyerang dibalik menjadi taktik untuk menjaga diri.

seluruh kekuatannya dipusatkan kepada telapakan tangan kanan, dengan kecepatan bagaikan kilat ia melancarkan satu serangan dahsyat

serangan ini ia menggnnakan tipu serangan ciptaan suhunya (Yo cin Hoan), ialah tipu serangan yang seharusnya menggunakan Golok Maut yang merupakan satu2nya dalam rimba persilatan-

Dalam keadaan terdesak Yo Cie Cong terpaksa menggunakan tipu serangan tersebut, telapakan tangannya digunakan sebagai gantinya Golok Maut. Betul saja serangan itu ada sangat aneh dan hebat sekali,

Tipu serangannya Giok- bin Kiam-khek meski didalamnya mengandung banyak perubahan yang tidak mudah ditangkap oleh lawannya, tapi tipu serangannya Yo Cie Cong kali ini juga membuat ia tidak berdaya. jika tidak lekas mengambil keputusan tepat, kedua-duanya pasti akan terluka?

selagi kedua fihak sama2 mengeluarkan serangan kilatnya dan selagi bahaya sudah sangat mendesak. Giok- bin Kiam-khek lantas bertindak dengan cepat, ia mengeluarkan ilmunya "Menggeser tubuh mengganti bayangan" lompat melesat ketempatnya semula,

Kedua manusia aneh dan jago dari see-gak itu semua merupakan orang2 yang mempunyai pengetahuan luas dan bermata tajam, sudah tentu mereka lantas pada mengetahui kesudahan pertandingan itu. si hweshio gila lantas berseru: "Babak kedua ini seri"

ut-tie Kheng masih belum mempunyai banyak pengalaman, ia tidak tahu apa sebabnya pertandingan itu dinyatakan seri, oleh karena ia terlalu memperhatikan dirinya Yo Cie Cong, maka lantas menanya. "Bukankah ini Engko Cong yang menang? Mengapa dinyatakan seri?"

"Budak tahu apa. tutup mulutmu. tanyakan saja kepada engkong mu." ut-tie cheng tidak berani membantah lagi, ia lantas diam sambil tundukan kepalanya.

Yo Cie Cong dan Giok-bin Kiam-khek dalam hati sama2 mengerti, jika bukan karena Giok- bin Kiam-khek mengambil keputusan cepat secara tepat dan menggunakan ilmunya yang luar biasa itu, untuk tarik mundur dirinya, maka ke-dua2nya pasti terluka, Maka ke-dua2nya lantas anggukan kepala kepada si hweshio gila.

Diantara lima babak pertandingan yang sudah berlangsung itu, kesudahannya: tiga kali seri, masing2 menang sekali dan kalah sekali maka masih tetap seri Dan babak terakhirlah ini yang menentukan siapa yang menang atau yang kalah.

wajahnya Gio-bin Kiam-khek nampak sebentar2 berubah. seperti sedang memikirkan suatu persoalan yang sangat rumit.

Untuk nama baik perguruannya, babak terakhir ini ia harus merebut kemenangan, tapi disamping itu masih ada lain sebab ....

Ia telah bersangsi. Perasaan antara cinta pada darah dagingnya dan kehormatan perguruannya bergulatan keras dalam alam pikirannya, hingga ia terbenam dalam keragu-raguan- ...

= = ooo ooooo ooo = =

PERASAAN tegang telah meliputi semua orang yang ada disitu, sebab siapa yang menang dan siapa yang kalah akan ditentukan dalam babak terakhir ini.

Rembulan sudah mendoyong kebarat, hingga dua bayangan orang yang berada di-tengah2 kalangan ditarik semakin panjang.

Giok-bin Kiam-khek setelah berpikir lama. dalam hati diam2 lantas mengambil keputusan, ia tidak bisa mengecewakan jerih payah suhunya yang mendidik ia sampai menjadi orang kuat seperti sekarang ini. Disamping itu, apabila ia coba bermain gila sudah tentu tidak dapat mengelabui mata tusunya. Apa lagi juga dia ingat, sekalipun tindakannya itu dapat mengelabui matanya semua orang dengan membiarkan anak muda itu merebut kemenangan, Tapi kemenangan secara demikian juga merupakan suatu hinaan bagi yang menang.

Maka ia lantas berkata dengan suara lantang .

"Tipu seranganku yang terakhir ini dinamanan Thia-tee Kao-thay."

Tipu serangan yang dinamakan Thian-tee Kao-thay ini adalah tipu serangan hebat yang diciptakan oleh gurunya Giok-bik Kiam-khek pada baru2 ini. Dalam kehebatan dan dahsyatnya serangan tersebut, boleh juga dibilang sukar dicari bandingannya. jangankan Yo Cie Cong yang munculnya dikalangan Kang-ouw masih belum lama, hingga belum pernah dengar itu nama, sekalipun si Pengail Linglung dan HHweshio gila juga pada melongo.

Tipu serangan ciptaannya jago see-gak ini belum pernah diumumkan atau digunakan dikalangan Kang-ouw, kecuali penciptanya sendiri dan muridnya, buat orang lain sudah tentu masih sangat asing.

Ut-tie Kheng dengan perasaan kaget dan ter-heran2 mengawasi engkongnya, lalu mengawasi si hweshio gila. Tapi ia merasa sangat kecewa, sebab diwajahnya kedua orang tua itu, agaknya juga menampak kebingungan.

Dalam hatinya kedua orang tua itu masing2 berpikir: -tidak nyana dua puluh tahun kemudian, masih akan kalah juga ditangannya orang tua she Leng ini"

oleh karena dengan menyebutkannya lebih dahulu nama tipu serangannya Giok-bin Kiam-khek ini. telah menyadarkan pikirannya Yo Cie Cong.

setelah Yo Cie Cong berhasil dapat merampas kembali potongan kayu wasiat om-bok Po-lok cin- kuat dari tangannya. siluman tengkorak Liu Bok Thong, selama terjebak dan terkurung oleh Liu Bok Thong didalam goa, ia telah menggunakan waktunya untuk mempelajari ilmu silat yang tertera didalam dua potong kayu wasiat tersebut. Dengan secara tidak ter-duga2 ia telah berhasil menemukan artinya jurus pertama daripada pelajaran ilmu silat yang semuanya ada jurus itu. jurus ini dinamakan Lui-keng Thian-tee, dan dengan ilmunya yang baru ditemukan itulah baru ia bisa keluar dari kurungan jdalam goa itu.

Kini setelah ia mendengar Giok-bin Kiam-khek menyebutkan nama tipu serangannya sebagai Thian-te Kao-thay, ia lantas teringat tipu serangannya yang dinamakan Lui-keng Thian-Tee itu, dalam hatinya lantas berpikir dipandang dari sudut ini. mungkin tipu serangan "Lui-keng Thian- tee" ini dapat digunakan untuk memecahkan tipu serangan yang dinamakan Thian-tee Kao-thay itu.

selagi Yo Cie Cong masih ber-pikir2 diantara gelombang Kekuatan tenaga dalam yang keluar dari tangannya Giok-bin Kiam-khek yang mendadak mengurung dirinya Yo Cie Cong.

Kedua manusia aneh dari rimba persilatan hampir saja pejamkan matanya ketika serangan yang aneh itu telah meluncur keluar, tidak mau menyaksikan kesudahannya pertandingan itu

yang nampak paling gelisah adalah ut-tie Kheng, kedua tangannya di-kepal2, tidak enak diam dan keringat dingin mencucur keluar. Tiba2 Yo Cie Cong berseru nyaring. "Lui-keng Thian-tee "

Kembali satu nama tipu serangan yang ganjil dan belum pernah terdengar dalam kalangan Kang-ouw.

Tiga jago tua dan nona ut-tie Kheng yang mendengar nama itu hampir mengira sedang mengimpi. hingga lantas pada pentang lebar2 matanya.

Mereka menyaksikan Yo Cie Cong menyilangkan kedua tangannya, dengan secara aneh luar biasa telah diputar secara beruntun, kemudian menyodok keluar, saat itu juga lalu terdengar suara seperti ledakan geledek menyambar, sehingga tanah yang mereka injak dirasakan terguncang hebat.

semua kejadian itu telah membuat ke tiga jago tua itu pada terkejut dan ter-heran2. setelah suara seperti bunyi geledek itu sirap. badannya Giok-bin Kiam-khek ternyata sudah

pindah dari tempatnya kira2 satu tumbak lebih, ujung bibirnya nampak mentucurkan darah.

Dengan perasaan terkejut dan gugup Yo Cie Cong lalu menubruk dirinya Giok-bin kiam-khek sembari berkata:

"Harap maafkan boanpweejung sudah kesalahan tangan"

Tapi apa yang mengherankan adalah sikapnya Giok-bin Kiam-khek. disaat itu malah nampak gembira, hingga membuat Yo Cie Cong merasa sangat heran-

ut-tie Kheng dengan cepat lantas menghampiri Yo Cie Cong, dengan nada yang penuh kasih sayang ia berseru: "Engko Cong"

Yo Cie Cong membalas dengan senyumannya. saat itu ia merasa sangat terharu melihat sikapnya Giok-bin Kiam-khek. sebab sejak semula bertemu muka, ia sudah mempunyai kesan sangat baik terhadap jago pedang kenamaan ini, maka sekarang ia merasa agak menyesal yang ia sudah melukai dirinya.

"Bagaimana luka cianpwee ?" "Ah, tidak apa2"

Pada saat itu. juga dari see-gak Leng jie Hong telah menghela napas, lalu berpaling dan berkata kepada kedua manusia aneh

"Gelombang air sungai Tiang-kang yang belakang mendorong yang dimuka, orang2 tingkatan muda sudah waktunya menggantikan kedudukannya orang2 tingkatan tua"

selagi kedua manusia aneh itu masih belum menjawab, dari atas bukit tiba2 terdengar suara orang ketawa dingin yang sangat menusuk telinga, kemudian disusul oleh Ucapannja "Hoan Thian Hoa, kau masih belum binasa ?"

suara itu ada tajam dan garing terang keluar dari mulutnya seorang wanita, Tiga jago tua yang mendengar suara itu lantas pada berubah wajahnya.

sedang Giok-bin Kiam-khek. wajahnya lantas pucat pas i. dengan suara gemas menyahut, "Hm" secepat kilat ia lantas melesat keatas bukit. Yo Cie Cong yang tertarik oleh perasaan aneh, juga lantas meneladani tindakannya Giok-bin Kiam-khek. sebab ia dengar dari nada suaranya orang yang mengeluarkan perkataan tadi, agaknya ada mengandung maksud tidak baik, sedangkan Giok-bin Kiam-khek sendiri masih dalam keadaan terluka bekas serangannya tadi, maka dengan tanpa ragu2 dan tanpa memperdulikan Giok-bin Kiam-khek menjetujui atau tidak atas perbuatannya itu, ia lantas menyusul. Dalam hatinya telah timbul pertanyaan- "entah orang dari golongan mana yang begitu berani berlaku kurang ajar dihadapannya jago2 kenamaan?" ut-tie Kheng ketika melihat engko Cong-nya menyusul, ia juga lantas berseru

"Engko Cong" dan kemudian juga hendak gerakan kakinya, tapi dicegah oleh engkongnya.

Mari sekarang kita mengikuti jejaknya Yo Cie coog yang menyusul dibelakangnya Giok-bin Kiam-khek.

Ketika ia tiba diatas bukit, disitu ternyata nampak sepi sunyi tidak tertampak adanya bayangan orang, hanya Giok-bin Kiam-khek yang nampak berdiri seorang diri.

Yo Cie Cong meluncur turun didampingnya Giok-bin Kiam-khek dengan heran ia menanya: "cianpwee, siapa ia sebetulnya?"

Giok-bin Kiam-khek berpaling mengawasi Yo Cie Cong. Dari sorot matanya orang tua itu, Yo Cie Cong dapat kenyataan bahwa orang tua ini tengah menderita batin yang sangat hebat.

menyaksikan sikapnya Giok-bin Kiam-khek itu, Yo Cie Cong merasa kaget dan ter-heran2.

Dalam hatinya lantas berpikir persoalan apakah sebetulnya? Apakah wanita yang membuka suara tadi ada satu iblis yang perlu ditakuti demikian rUpa?. Ataukah dalam hal ini ada rahasianya apa2 yang membuat jago pedang ini sampai menderita demikian hebat?

"cianpwee, apakah ia sudah berlalu?" kembali Yo Cie Cong menanya.

Giok-bin Kiam-khek gelengkan kepala dan menjawab: "Belum, kau turunlah kebawah"

Karena ia merasa bahwa Giok-bin Kiam-khek agaknya tidak suka orang lain mencampuri urusannya, mungkin didalam hal ini,ada menyangkut persoalan pribadi antara mereka berdua, maka setelah anggukkan kepalanya, ia lantas hendak berlalu.

Mendadak suara wanita itu terdengar pula dipuncak gunung diseberang sana: "Hoan Thian Hoa, antara persoalan kita berdua sudah seharusnya kita bereskan, tapi hanya kau seorang diri yang boleh kemari "

sekarang Yo Cie Cong telah mendapat kepastian bahwa kedatangan orang ini adalah bermaksud mencari setori, mungkin persoalan sangat rumit.

Dengan wajah sangat duka Giok-bin Kiam-khek berkata pula kepada Yo Cie Cong: "Harap kau jangan ikut kesana"

sehabis berkata badannya lantas melesat dan sebentar saja sudah tidak kelihatan mata hidungnya.

sejenak Yo Cie Cong tercenggang hatinya lantas berpikir: "kedatangan orang itu terang ada mencari permusuhan. Dihadapannya ketiga manusia aneh dari rimba persilatan ia berani menantang secara terang2an. Tentunya mempunyai kepandaian sangat tinggi. Hoan Thian Hoa barusan telah terluka ditangannya, mengapa aku harus tinggal diam? Andaikata ia dapat dikalahkan bagaimana? sebaiknya aku pergi untuk menyaksikan, dan jika perlu

barulah bisa membantu sedikit tenaga.

oleh karena berpikir demikian, maka dengan tanpa menghitung apa akibatnya ia lantas pergi menyusul.

Diatas puncak gunung. didalam rimba yang lebat, disitu ada sebidang tanah kosong kira2 setengah ban luasnya. Untuk mencegah jangan sampai membuat tidak senang perasaannya Giok- bin Kiam-khek. Yo cie Cong lantas mencari tempat untuk sembunyikan dirinya, dan dari itu ia pasang mata menyaksikan gerak-geriknya orang yang mencari setori dengan Giok-bin Kiam-khek.

Ia segera dapat lihat dihadapannya Giok-bin Kiam-khek ada berdiri seorang wanita cantik berusia kira2 dua puluh tahun. Di bawah rembulan purnama. kecantikannya wanita itu bertambah menyolok. se-olah2 bidadari yang baru turun dari kayangan. menyaksikan pemandangan itu, Yo Cie Cong merasa jengah sendiri, sebab dilihat dari gerak geriknya wanita itu, mungkin didalam hal ini ada menyangkut persoalan asmara antara mereka berdua, maka adalah suatu perbuatan yang tidak selayaknya untuk mengintip urusan pribadinya orang lain,

setelah berpikir demikian. ia sudah hendak berlalu lagi, tapi, kemadian disusul oleh perkataannya.

"Thian Hoa, sungguh pintar kau menyembunyikan dirimu. Didalam kalangan Kang-ouw semua orang telah menganggap mati hidupmu masih belum terang, tidak nyana, haha "

"Perempuan hina, penghidupanku telah kau rusak, apakah itu masih belum cukup?" demikian ia dengar suaranya Giok- bin Kiam-khek.

Ketika mendengar mereka berdua itu, Yo Cie Cong lantas urungkan maksudnya hendak meninggalkan mereka..

"Haha, cian Hoa, setiap malaman terang bulan, aku selalu naik ke gunung Hoa-san, sepuluh tahun lebih lamanya, belum pernah terputus. Malam ini akhirnya aku menemui juga dirimu, Hahaha orang she Hoan. kau sungguh kejam"

"Aku menasehatkan kau, sabaiknya kau tinggalkan aku, jikalau tidak "

"jikalau tidak bagaimana?" "Aku akan bunuh mati kau"

Kembali terdengar suara ketawa nyaring, tapi suara ketawa itu mengandung perasaan gemas dan gusar. siapakah gerangan wanita itu?

Apakah hubungannya dengan Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa? Mengapa Giok-bin Kiam- khek mengancam hendak membunuh mati ia?

Apakah Hoan Thian Hoa ini ada manusia palsu. dan wanita itu dulu pernah dibikin sakit hatinya atau dicemarkan, hingga sekarang perlu mencari balas dendam?

Tapi, rasanya tidak benar Wanita ini usianya masih sangai muda. sedang Hoan Thian Hoa menghilang hampir 20 tahun lamanya, apalagi kalau dilihat dari sikap dan lagak lagunya wanita ini, rupa2nya bukan dari golongan baik2, Tapi mengapa Hoan Thian Hoa mengatakan bahwa penghidupannya dirusak olehnya?

Serentetan pertanyaan ini telah berputaran mengaduk dalam otaknya Yo Cie Cong sampai ia sendiri merasa bingung.

Wanita itu setelah puas umbar ketawanya, lantas berkata pula: "Thian Hoa, kau hendak bunuh mati aku, h m, kau jangan mengimpi"

"Apa kau kira aku tidak bisa bunuh mati kau?"

"Memang betul, jika aku tidak melawan dan sodorkan kepalaku dihadapanmu" "Perempuan hina, malam ini kalau tidak bisa bunuh mati kau, aku sendiri juga tidak mau

hidup,"

"Thian Hoa, apakah diantara kita tamatlah sudah semua hubungan baik dimasa yang lampau?" "Diantara kita sekarang yang ada cuma benci, benci Kebencian yang sudah menjadi hitam,

hanya kematian yang bisa membikin bersih rasa benci ini"

"Tidak salah, apa yang kau Ucapkan itu memang benar. Diantara kita berdua yang tinggal hanya perasaan benci, lain tidak"

Giok-bin Kiam-khek mendongak memandang angkasa, lantas ketawa ber-gelak2. Tapi suara ketawanya itu lebih mengenaskan daripada suara ketawa tangisan. ia sebetulnya bukan ketawa, tapi sedang mengumbar perasaan sedihnya yang sudah sekian tahun lamanya terpendam dalam hatinya. Mengapa ?

Yo Cie Cong yang sembunyikan diri di dalam rimba. se-olah2 dalam impian yang aneh, didalam dunia sesungguhnya tidak ada kejadian yang begitu aneh seperti halnya kedua orang itu, ia hampir tidak penjaya kalau tidak menghadapi kenyataan.

"Thian Hoa, aku juga sudah sepuluh tahun lebih tidak unjukkan diri dikalangan Kang-ouw. sekarang aku akan beritahukan kau dengan terus terang, persoalan besar yang dewasa ini aku Harus bereskan hanya tinggal dua perkara saja. setelah dua persoalan ini nanti beres, aku selamanya tidak akan muncul lagi dikalangan Kang-ouw"

"coba kau katakan " suaranya, Hoan Thian Hoa agaknya sudah mulai lunak, tapi sedikit banyak masih mengandung perasaan pedih. "Pertama, aku hendak menuntut balas terhadap kematian muridku"

"Dan. yang kedua?"

"sebelum aku mengucapkan soal yang kedua ini, aku perlu menanya kau sekali lagi, tapi kau harus menjawab dengan sejujurnya "

"tanyalah "

"Betulkah diantara kita sudah putus semua hubungan kasih sayang pada masa yang lampau ?" "Benar aku benci padamu"

"Apakah itu dengan sebenar-benarnya? sedikitpun tidak salah" "Kau tidak menyesal ?"

"selama 10 tahun ini, aku terus hidup didalam kemenyesalan dan kebencian. penghidupanku sudah kau bikin rusak hingga hancur berantakan. sekarang menyesal sudah terlambat, masih ada apa lagi yang patut disesalkan? Kau katakanlah."

"Kalau begitu aku beritahukan padamu, Thian Hoa Soal kedua yang aku Phoa cit Kow hendak bereskan ialah membunuh mati kau "

Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa agaknya terperanjat mendengar jawaban itu dengan tanpa sadar, sampai mundur satu tindak.

sementara itu Yo Cie Cong yang mendengar disebutnya nama Phoa cit Kow se-olah2 mendengar suara petir menggeledek. matanya terbelalak beringas.

Dadanya lantas bergolak, rasa bencinya telah meluap. sesaat itu matanya merah membara dan giginya bergemerutukan.

Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow memang merupakan salah satu musuh besarnya Kam-lo-pang yang ia harus binasakan dengan Golok Mautnya sungguh tidak dinyana telah bertemu ditempat ini, kiranya yang dikatakan hendak menuntut balas sakit hati atas kematian muridnya, yang dimaksudkan muridnya itu tentu adalah cin Bie Nio yang tengah malam dikutungi dan dibawa pergi kepalanya oleh musuhnya.

iblis wanita ini tertunya sudah berusia sedikitnya hampir setengah abad, tapi mengapa masih begitu muda dan cantik seperti gadis berusia dua puluh tahunan? ini benar2 ada satu kejadian yang sangat langka. Apakah ia ada mempunyai ilmu merawat diri? Pantas tadi Hoan Thian Hoa suruh dirinya turun dahulu, jangan mencampuri urusan ini, kalau begitu ia sudah tahu siapa adanya orang yang datang itu.

Dengan tanpa banyak pikir lagi, Yo Cie Cong lantas melesat keluar dari tempat sembunyinya dan melayang turun ditempat mereka berdua.

Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa dan Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow, dua2nya lantas menyingkir kesamping, tatkala mereka mengetahui siapa orangnya yang melayang turun dari atas secara mendadak itu, semua pada berseru: "Eh "

Dengan wajah merah padam dan mata beringas, Yo Cie Cong menatap wajahnya - Phoa cit kow.

Hoan Thian Hoa rupanya sudah dapat menduga apa yang akan terjadi, maka hatinya semakin duka, hingga badannya sampai menggigil.

Phoa cit Kow meski usianya telah lanjut tapi kecantikannya sesungguhnya sangat menggiurkan, boleh dikata bisa meruntuhkan hatinya setiap lelaki.

Yo Cie Cong yang berada dalam kegusaran dan kebencian, tidak urung tergoncang juga hatinya, tapi itu hanya merupakan reaksi sekedar saja ketika menyaksikan kecantikannya wanita tersebut.

"Bocah ini siapa?" tanya Phoa cit Kow.

"Kau jangan perdulikan dia siapa " jawabnya Hoan Than Hok sambil kertak gigi.

"Bocah ini wajahnya ada mirip sekali dengan kau, heiii. sungguh aneh." "cit Kow tentang urusan kita berdua, kecuali malam ini, kapan saja aku Hoan Thian Hoa bersedia mengiringi kehendakmu sekarang aku minta supaya kau meninggalkan tempat ini."

"Mengapa aku tinggalkan tempat ini?" tanya Phoa cit Kow,

Yo Cie Cong majukan dirinya 2 tindak. nampaknya sudah akan turun tangan.

Hoan Thian Hoa lintangkan dirinya didepan Yo Cie Cong, kembali ia berkata pada Phuc Cit Kow

,

"Aku minta kau segera tinggalkan tempat ini"

"Thian Hoa, malam ini aku hendak bunuh mati kau, tidak perlu dirobah hatinya lagi" jawabnya

Phoa cit Kow dengan tidak berobah wajahnya.

Yo Cie Cong geser tubuhnya, menyingkir dari alangannya Hoan Thian Hoa, kemu ian berkata kepada Phoa cit Kow dengan suara dingin "Phoa cit Kow, malam ini sioyamu hendak menagih hutang padamu "

Phoa cit Kow wajahnya berubah seketika ia menanya dengan-perasaan heran "Bocah, kau hendak menagih hutang apa?"

"Hutang darah terhadap Kam-lo-pang"

"Kau siapa?" Phoa cit Kow mundur satu tindak karena kagetnya. "Pemilik Golok Maut"

"ow Kaulah itu orangnya yang bernama Yo Cie Cong yang dikabarkan sebagai orang yang memegang peranan menjadi pemilik Golok Maut? Haha. sungguh kebetulan sekali dan kau sekarang mau apa?"

"Hutang darah harus dibayar dengan darah, aku hendak bunuh mati kau" jawabnya Yo Cie Cong gusar.

Giok-bin Giam-po Phoa cit Kow ketawa ter-kekeh2. "Kau hendak bunuh mati aku?" "Benar"

"setan cilik, gede betul mulutmu, he Kini kau telah bertemu dengan aku, sungguh sial nasibmu, karena kematian sudah berada didepan matamu?"

Sekali lagi Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa coba mencegah tiadakannya Yo Cie Cong sembari berkata

"sahabat kecil, aku Hoan Thian Hoa ingin majukan sedikit permintaan kepadamu. Perlu aku jelaskan bahwa tentang tindakanmu hendak menagih hutang darah bagi perguruanmu. aku tidak punya alasan untuk merintangi, tapi aku harap supaya kau suka mencari tempo lain. Malam ini biar bagaimana aku harap supaya kau suka meninggalkan tempat ini dahulu"

Yo Cie Cong saat itu se-olah2 sudah dipengaruhi oleh napsunya hendak segera membunuh mati musuh besarnya itu, perasaan benci sudah melewati takeran. sudah tentu tidak mau terima baik permintaan Hoan Thian Hoa yang tidak mempunyai cukup alasan kuat itu.

Dengan matanya yang tajam ia menatap wajahnya Hoan Thian Hoa. Ketika ia menampak wajahnya Hoan Thian Hoa agaknya diliputi oleh perasaan duka dan seperti sedang tertekan oleh penderitaan bath in yang sangat hebat, hatinya tergerak juga. Tapi akhirnya telah mengambil keputusan untuk menolak permintaannya orang tua itu.

"Maaf dalam hal ini boanpwe terpaksa tidak dapat memenuhi permimaan locianpwe"

Phoa cit Kow sudah tahu kalau Hoan Thian Hoa ada maksud hendak mencegah anak muda itu turun tangan terhadap dirinya, tapi ia tidak tahu apa sebabnya. Maka lantas berkata: "Hoan Thian Hoa, kau sebetulnya sedang main sandiwara apa?"

Yo Cie Cong dengan kecepatan bagaikan kilat memutar- memutar balik badannya, dan menyerang Phoa cit Kow dengan hebat,

Phoa cit Kow ternyata tidak berkelit atau menyingkir, hanya putar dan ayun tangannya, dengan mudah sudah mengelakan serangan Yo Cie Cong yang dilakukan dengan bernapsu itu.

Bukan main kagetnya Yo Cie Cong, ia sungguh tidak nyana bahwa iblis wanita itu ada mempunyai kekuatan begitu hebat. Hoan Thian Hoa dengan muka merah dan muka pucat pasi telah mengawasi dengan tanpa berkedip. Kedua orang yang sudah mulai turun tangan itu.

Yo Cie Cong setelah mengetahui bahwa serangannya itu tidak berhasil, sejenak tampak terkejut, lalu melancarkan serangannya yang kedua. Kali ini ia menggunakan ilmunya Kan-goan cin-cao untuk menguji sampai dimana kekuatannya iblis wanita itu.

Phoa cit Kow dengan sikap sungguh2 keluarkan tangannya untuk menyambuti serangan Yo Cie Cong yang ia duga ada cukup hebat.

Diantara suara gempuran nyaring, Yo Cie Cong nampak terpental mundur sampai 3 tindak. dadanya dirasakan bergolak. Tapi Phoa cti Kow hanya nampak bergoyang sebentar lantas berdiri tegak kembali.

Phoa cit Kow lantas berkala dengan sikapnya yang menghina:

" Kekuatan pemilik Golok Maut kiranya cuma begitu saja dan telah berani mengeluarkan Ucapan bcear. setan cilik. aku masih ada urusan penting yang harus dibereskan- hingga tidak bisa membuang waktu lama2. Kau sudah datang sendiri untuk mencari kematianmu, biarlah aku nanti sempurnakan dirimu. Haha, untuk selanjutnya dikalangan Kang-ouw tidak akan mendengar pula namanya pemilik Golok Maut yang kesohor itu."

Baru habis Ucapannya, tangannya lantas bergerak, satu kekuatan yang maha dahsyat lantas meluncur keluar menggempur dirinya Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong terkejut, ilmunya Liang- kek cin-goan dengan sendirinya lantas timbul melindungi dirinya, maka ketika ia ayun kedua tangannya. hawa asap warna putih tercampur merah lantas mengalir keluar dari kedua tangannya, menyambuti serangan hebat dari lawannya.

Ketika kedua kekuatan itu saling beradu, lantas timbul suara ledakan yang amat hebat. serangan dahsyat dari Giok-bin Giam-po ternyata sudah dibikin buyar oleh kekuatan ilmunya Liang- kek cin-goan Yo Cie Cong. Tapi kedua fihak nampak masih pada berdiri tegak. nyata kekuatan kedua fihak ada berimbang.

Yo Cie Cong sejenak tampak kemekmek. alisnya lantas berdiri. Dengan tanpa membuang tempo lagi, ia lantas maju menyerang lagi dengan menggunakan ilmu serangannya yang terampuh "Lui-keng Thian-tee."

Giok-bin Giam-po tahu hebatnya serangan itu, ia tidak berani menyambuti dengan kekuatan tenaganya. Dengan gerak badannya yang sangat lincah, ia lantas melesat dan berada disamping kanannya Yo Cie Cong, sedang kedua tangannya dengan gerak tipu serangannya yang sangat aneh coba membalas serangannya Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong sejenak kehilangan sasarannya. tiba2 disamping badannya merasakan satu serangan yang aneh, maka dengan cepat ia lantas tarik kembali serangannya dan balikkan badannya, hingga berhadapan pula dengan Giok-bin Giam-po. sekali lagi ia melancarkan serangannya "Lui-keng Thian-tee".

Giok- bin Giam-po keluarkan suara ringan, lalu memutar tubuhnya, kembali sudah berhasil lolos dari ancaman serangan Yo Cie Cong. Dengan cepat ia bergerak. tahu2 sudah berada dibelakang sianak muda dan menjambret dirinya Yo Cie Cong dengan jari tangannya yang sudah dipentang seperti gaetan.

Gerak badannya yang sangai aneh, serangan tangannya yang begitu cepat, mungkin susah dicari tandingannya. Hingga saat itu Yo Cie Cong benar2 sudah berada dalam keadaan yang sangat berbahaya....

Dalam saat sangat kritis itu, sambaran angin yang meluncur keluar dari 10 jari tangan mendadak. meluncur kearah beberapa jalan darah penting dibelakang badan Giok-bin Giam-po.

Giok-bin Giam-po terpaksa tarik kembali serangannya, dan hampir berbarengan pula saat itu Yo Cie Cong juga sudah geser tubuhnya untuk menyelamatkan dirinya dari ancaman musuhnya.

"cit Kow, malam ini kalau kau berani ganggu seujung rambutnya saja " sahutnya Hoan Thian

Hoa dengan wajah dan sikap keren- "Haha. Thian Hoa, kau sudah seperti barang mati, jiwanya sendiri masih belum mampu menjamin keselamatannya, dan toch kau masih berani mencampuri urusan orang lain "

sehabis mengUcapkan perkataannya. dengan cepai ia menerjang pada Yo Cie Cong. Diantara gerak jari tangannya yang berseliweran, lantas terdengar suara seruhan tertahan, Yo Cie Cong lantas mundur sempoyongan sampai lima tindak. mulutnya lantas menyemburkan darah segar.

— ooo ooooo ooo —

DENGAN menggunakan ilmu serangan apa Giok-bin Giam-po. melukai dirinya Yo Cie Cong, sampai Hoan Thian Hoa sendiri yang berada disampingnya juga tidak tahu. sedang Yo Cie Cong sendiri cuma melihat berkelebatnya jari tangan yang menyerang berseliweran dari beberapa sudut, sehingga sukar sekali untuk mengelakan dirinya. Dalam keadaan terpaksa ia menggunakan ilmu serangannya Golok Maut, ia ingin menggunakan taktik menyerang buat gantinya taktik menjaga diri.

Dengan taktiknya ini ia berhasil memunahkan sebagian besar serangannya Giok-bin Giam-po, sehingga jiwanya terlolos dari ancaman bahaya, tapi tidak kurang dadanya masih terkena satu serangan-

Ia tidak menduga sama sekali bahwa iblis wanita itu ada mempunyai kekuatan begitu hebat dan begitu tinggi ilmu silatnya,

sejak ia muncul dikalangan Kang-ouw, sudah banyakya menemukan musuh tangguh, tapi tidak sekuat seperti iblis wanita itu. Diantara 5 musuh besarnya yang terkuat, kecuali siluman rambut merah yang belum unjukan diri, yang lainnya agaknya masih kalah jauh kekuatannya kalau dibandingkan dengan Giok-bin Giam-po ini.

Bagi Hoan Thian Hoa, ini merupakan satu pukulan bathin yang lebih berat lagi. ia sungguh tidak nyana bahwa setelah 10 tahun lebih tidak bertemu Giok-bin Giam-po ini kecuali kecantikannya yang masih tetap seperti sedia kala, kekuatan tenaganya seperti tambah berlipat ganda.

Ia sudah mengambil suatu keputusan, biar bagaimana ia tidak akan kasih dirinya Yo Cie Cong dibikin celaka ditangannya wanita cabul ini, kalau sampai terjadi hal sedemikian, ia matipun tidak bisa meram,

Tapi dilihat dari gelagatnya malam ini, meski dengan kekuatan ia sendiri digabung dengan kekuatan Yo Cie Cong, barangkali masih belum mampu menandingi wanita cabul ini.

Pikirannya lantas bekerja keras, bagaimana baiknya supaya bisa terlepas dari bahaya ini.

Terhadap perbuatannya Hoan Thian Hoa yang melindungi dirinya begitu nekat, Yo Cie Cong tidak mempunyai anggapan apa2, ia hanya anggap sebagai perbuatan orang yang menaruh perhatian besar dan yang berdiri sama2 disatu garis yang sedang berhadapan dengan musuh kuat. seandai ia tahu hubungan apa antara ia dengan Hoan Thian Hoa, sudah tentu akan menjadi lain keadaannya.

Giok-bin Giam-po yang parasnya cantik seperti bidadari, tapi hatinya jahat melebihi iblis, ketika itu lantas unjukan ketawanya yang menyeramkan sembari berkata

"Bagaimana? Thian Hoa, sekarang kau tentunya percaya kalau aku bisa mengambil jiwa kamu berdua dengan sangat mudah"

"Perempuan hina, ada satu hari kau nanti tentu akan mendapat pembalasan atas dosamu sendiri" berkata Hoan Thian Hoa dengan sorot mata berapi.

"Haha, taruh kata benar sayang kau sudah tidak bisa menyaksikannya lagi"

Yo Cie Cong saat itu hatinya sangat berduka, ia tidak menduga bahwa dirinya yang telah beberapa kali menemukan kejadian gaib, ternyata masih belum mampu menandingi kekuatannya iblis wanita ini, tapi sifat yang keras dan adatnya yang tidak gampang menyerah kalah, membuat ia tidak memikirkan soal kabur.

Dalam dirinya masih ada menyimpan kitab pelajaran ilmu silat peninggalan perguruannya yang berupa kayu pusaka "ouw bokPo-lok", tapi ia sudah tidak mempunyai waktu untuk mempelajari lebih mendalam, hanya dalam waktu ter-gesa2 ia baru dapat memahami satu jurus saja yang di- namakan "Lui-keng Thian-tee" sedang 4 jurus yang lainnya, ia masih belum tahu sampai dimana hebatnya, hingga dalam hatinya diam2 berpikir, hendak membereskan jiwanya iblis wanita ini, barangkali harus memahami seluruh kepandaian ilmu silat yang tertera dalam kayu ouw-bok Po- lok itu, baru bisa berhasil.

Tapi, apakah ia masih mendapat kesempatan untuk mempelajari lagi ?

sudah tentu jika diukur kepandaiannya sendiri, apalagi kalau digabungkan dengan kepandaiannya Giok-bin Kian-khek. untuk meloloskan diri dari tangannya Wanita iblis ini, tidak merupakan soal apa2, tapi ia tidak sudah berbuat demikian ia lebih suka hancur lebur dirinya daripada lari secara pengecut.

Dipihaknya Giok-bin Giam-po, kalau ia bertekad hendak menghabiskan jiwanya Yo Cie Cong, itu memang benar, Tapi terhadap dirinya Hoan Thian Hoa, belum tentu ia tega turun tangan. sebab walau-pun bagaimana, ia masih tidak bisa melupakan cinta kasihnya dimasa mudanya. selain daripada itu, ia juga tahu benar apabila kedua laki2 itu ada pikiran hendak kabur, ia sendiri juga masih belum mempunyai keyakinan dapat menahan kaburnya salah satu diantara mereka,

Karena masing2 fihak berada dalam kesangsiannya sen-diri2, maka untuk sementara. keadaan menjadi sangat sunyi.

Tapi didalam suasana sunyi itu, masih diliputi oleh perasaan tegang.

Mengenai kekuatan tenaga Yo Cie Cong, buat dewasa itu, didalam rirnba persilatan barangkali sukar dicarl keduanya. Namun sayang sekali ia masih belum melatih matang dalam hal gerak tipu serangan, maka ia tidak dapat menggunakan kekuatan tenaga dalamnya dengan leluasa.

Meskipun tadi ia sudah mengeluarkan darah karena terluka dalamnya, tapi sebentar saja sudah sembuh lagi dan pulih kembali kekuatannya..

"lblis wanita, serahkan jiwamu" demikian Yo Cie Cong berseru, dan segera menggunakan seluruh kekuatannya, dengan cepat melancarlan serangan terhadap dirinya Giok-bin Giam-po.

Hampir berbarengan dengan itu, Hoan Thian Hoa melihat kesempatan baik yang tidak boleh dikasih liwat begitu saja, juga ia lantas mengirim serangan yang amat dahsyat. Angin yang meluncur keluar dari kekuatan tenaga dalam kedua orang kuat itu, boleh dikata bisa merubuhkan satu anak gunung hebatnya.

Giok-bin Giam-po ada seorang cerdik, sudah tentu tidak mau menyambut serangan berbareng yang amat dahsyat itu. Dalam terkejutnya, ia buru2 melesat sejauh beberapa tombak,

Angin dari tenaga tergabung tadi telah menimbulkan suara gempuran dahsyat, semua yang ada disitu hampir tersapu bersiih seluruhnya.

Dalam keadaan demikian Yo Cie Cong tiba2 merasakan kesemutan pinggangnya, kemudian hilang ingatannya.

Ketika arus dari kekuatan tenaga dalam yang amat dahsyat itu tadi sudah buyar seluruhnya, Giok-bin Giam-po alisnya berdiri, wajahnya nampak sengit sekali, sebab Giok-bin Kiam-khek dan Yo Cie Cong sudah pada tidak kelihatan bayangannya.

Dengan cepat ia lantas melesat tinggi ketengah udara, matanya jelilatan men-cari2 seperti burung elang yang mengincar mangsanya.

Didalam rimba sejauh kira2 30 tombak. la dapat lihat berkelebat bayangan orang.

"Hm Apa kalian kira bisa terlolos dari tangannya Phoa cit Kow?" demikian ia berkata kepada dirinya sendiri dengan gemas.

Ditengah udara badannya bergerak seperti burung terbang. dengan cepat mengejar kearah bayangan orang tadi.

Haana beberapa kali berputeran saja, ia sudah berhasil mencandak mangsanya. "Berhenti" demikian ia berseru dengan suara bengis.

Bayangan itu benar saja lantas hentikan kakinya. Tapi ketika Giok-bin Giam-po melihat keadaannya tempat itu, hatinya lantas bercekat, badannya lantas meluncur turun. Ia lihat Giok- bin- Kiam-khek sambil mengempit dirinya Yo Cie Cong sudah tidak ingat orang berdiri dekat jurang yang dalam.

Hanya beberapa langkah saja ditempat Giok-bin Kiam-khek berdiri ada sebuah jurang yang tidak kelihatan dalamnya. Betapapun tingginya kepandaian orang, jika terjatuh kedalam jurang itu, tidak ampun lagi tubuhnya pasti hancur lebur menjadi bubur.

"Perempuan hina, sudah tidak perlu kau turun tangan lagi" berkata Giok-bin Kiam-khek sambil ketawa getir.

Tapi Giok-bin Giom-po yang tadi nampaknya begitu gusar, kini mendadak seperti kebingungan sendiri

"Thian Hoa, perkataanku semua tadi jangan kau anggap benar2. Aku tidak ada maksud untuk mencelakakan kau, aku hanya saking gusar, sehingga tidak mampu kendalikan perasaanku sendiri

..." demikian ia berkata dengan suara lemah lembut.

"Hm, betulkah kau hendak membinasakan jiwa kami berdua baru merasa puas? Tapi maksud kau ini tidak akan tercapai untuk se-lama2nya"

"Thian Hoa, bolehlah kau tinggalkan tempatmu itu dan kemari sedikit?" "Haha Perempuan hina, apakah kau suruh aku "

"Thian Hoa, aku tadinya tidak menyangka bahwa kita mesti berpisah begini. “

"Benar, tapi dalam hatimu penuh dengan kenistaan dan kehinaan yang paling hebat didunia, karena perbuatanmu satu perempuan hina dina yang penuh dosa ini?"

"Bolehkah kau lupakan dahulu itu kenangan yang tidak menyenangkan?"

"Haha Tidak menyenangkan? Mudah sekali kau bicara. Terus terang kukatakan padamu, tidak Dalam hatiku kini yang ada hanya perasaan benci, benci untuk se-lama2nya. Kebencian ini hinga aku mati barangkali juga tidak bisa meramkan mata"

wajahnya Giok-bin Giam-po pucat seketika. iblis wanita ini dahulu pernah mencintai Hoan Thian Hoa begitu dalam. Tapi cintanya itu bersifat binatang, yang hanya untuk melampiaskan hawa napsunya sendiri setelah hubungan mereka retak selama sepuluh tahun lebih itu kadang2 masih mengingat akan dirinya sang kekasih itu, meski hubungan cinta mereka itu tidak wajar bahkan mengandung dosa, tapi cinta itu tetap cinta, walaupun bagaimana sifatnya hingga membuat iblis wanita itu tidak bisa melupakan begitu saja.

Tapi setelah mengetahui bahwa pengharapannya itu kandas dan tidak ada barapan untuk dicapai kembali, ia lantas umbar hawa napsunya dengan jalan permainkan dirinya banyak kaum lelaki. Namun laki2 yang benar2 ia cintakan, sebetulnya hanya Hoan Thian Hoa seorang saja. Dan kini, seperti ia telah mendesak laki2 yang ia cintai itu untuk mengakhiri riwayatnya sendiri