Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 17

Jilid 17

Dengan cepat Yo Cie Cong balikkan badannya, ia memandang keadaan sekitarnya tetapi tidak dapat melihat suatu apa, ia sudah mengira suara itu adalah suara setan, tetapi apakah benar didalam dunia ini ada setan? Apakah suara tadi adalah suara orang dan orang itu bisa mendekati sampai tidak diketahuinya, sudah tentu orang itu mempunyai kepandaian cukup berarti.

"Hm"

Kembali terdengar suara orang tadi itu. Kali ini Yo Cie Cong telah dapat mendengarnya dengan jelas.

Suara orang itu datangnya dari sebuah pohon besar yang terletak kira2 tiga tombaknya dari padanya,

"Manusia atau setan- Lekas unjukkan diri" demikian Yo Cie Cong membentak.

Baru saja Yo Cie Cong menutup mulutnya, dari belakang ponon besar itu sudah melayang turun sesosok bayangan orang yang badannya tinggi dan kurus kering, tetapi sinar matanya sangat menakutkan- Dibawah penerangan sinar rembulan, kelihatan wajah orang itu yang pucat seperti mayat

"Apakah benar ada setan" demikian Yo Cie Cong berpikir yang mau tidak mau bulu romanya sudah berdiri juga.

"Bocah, kau datang untuk mengantar jiwa." Demikian terdengar suara manusia yang seperti setan itu, kedengarannya sangat tidak enak.

oleh karena bisa bersuara, maka Yo Cie Cong dapat memastikan bahwa yang ada dihadapannya itu tentunya ada manusia biasa, bukan setan. Maka seketika itu nyalinya lantas besar kembali.

Ia menjawab pertanyaan orang aneh itu dengan tidak kalah dinginnya: "Antar jiwa Belum tentu Mungkin yang benar, adalah hendak mengantarkan kau kepada raja akherat."

"Ha, ha, ha, ha.. ^"

Badannya orang aneh itu lantas maju menghampri satu tindak.

sekarang kedua orang itu berdiri berhadapan dengan jarak yang tidak berjauhan-

orang aneh itu pipinya menonjol hidungnya melesak. Wajahnya pucat laksana tidak berdarah. Kedua tangannya yang kurus kering. diluruskan kebawah, se-olah2 tidak bertenaga. Kuku jarinya lebih dari satu dim panjangnya. Dipandang sekelebatan. orang itu mirip benar dengan tengkorak hidup,

setelah mamandang sejenak, tiba2 Yo Cie Cong ingat siapa adanya orang ini, maka seketika itu juga lantas naik darahnya, napsu membunuhnya juga timbul.

Kiranya orang aneh ini adalah si siluman Tengkorak Lui Bok Thong yang pernah merampas potongan kayu wasiat ouw-bok-Po-lok Cin-kuat dari tangannya Tio Lee Tin, juga merupakan orang yang di cari oleh Yo Cie Cong.

Karena manusia tengkorak ini merupakan salah satu musuh besarnya Kam-lo-pang, maka bukan saja Yo Cie Cong hendak menagih hutang jiwa, tetapi juga hendak minta kembali ouw-bok- Po-lok yang disebutnya Tio Lee Tin supaya dapat dipasangkan dengan ouw-bok-Po-lok Ciu- kuat yang ada padanya, sehingga dapat dipelajari lima jurus ilmu pukulan yang luar biasa yang tertulis pada kedua potongan kayu itu.

sesungguhnya ada diluar dugaan sama sekali dalam keadaan tidak ter-duga2 Yo Cie Cong dapat menemukan orang aneh itu di tempat tersebut.

Apakah iblis ini sudah dapat memecahkan artinya ilmu pukulan yang terdapat dalam kayu yang dirampasnya?

Ini adalah salah satu persoalan yang setiap saat dipikirkan oleh Yo Cie Cong. sebab jika si siluman Tengkorak ini berhasil mempertinggi ilmunya dengan apa yang tercantum dalam potongan kayu wasiat itu, maka sudah tidak mudah lagi baginya untuk merubuhkan orang tua aneh itu.

OOOO OOOOOOO oooo SAMBIL perdengarkan suara tertawanya yang aneh, si siluman Tengkorak itu berkata: "setan cilik, kau benar2 sudah bosan hidup, maka sampai kau lari kemari untuk mencari mampus"

Yo Cie Cong meski dalam hati merasa benci sekali terhadap manusia yang macamnya seperti tengkorak itu, tapi sebelum mengetahui dengan jelas keadaan orang itu, ia tidak mau umbar dulu napsunya, mata ia hanya menyahut dengan suara ketus:

"lblis tua, siaoya-mu telah mencari kau hampir disetiap pelosok dunia, sungguh tidak nyana bisa bertemu disini. Ini seperti juga ada Tuhan yang menentukan aku kemari"

siluman Tengkorak Lui Bok Thong ada seorang yang sangat jahat dan kejam. Kepandaian ilmu silatnya sampai dimana tingginya, ada sukar dijajaki. oleh karena kekejaman dan kebuasannya, orang2 golongan hitam dan putih banyak yang merasa segan berurusan dengannya.

Malam itu ketika melihat bahwa Yo Cie Cong yang usianya masih muda belia, dianggapnya bocah yang masih bau pupuk bawang,

la sungguh tidak nyana bahwa bocah itu berani omong besar dihadapannya, malah agaknya tidak pandang mata sama sekali terhadap dirinya. Maka ia merasa kaget dan ter-heran2.

oleh karena sejak ia mendapatkan kayu wasiat "ouw-bok-Po-lok Cin-kuat" dari tangannya Tio Lee Tin, ia terus sembunyikan diri untuk mempelajari ilmu silat yang terdapat dalam potongan kayu itu, maka terhadap urusan dalam dunia Kang-ouw ia tidak begitu jelas lagi,

Ketika ia dulu merampas potongan kayu itu dari tangannya Tio Lee Tin, saat itu kepandaian ilmu silatnya Yo Cie Cong ada biasa saja, maka ia tidak pandang mata sama sekali. Kini ia ketemu pula dengan pemuda yang dulu tidak dipandang mata itu. tapi ia sekarang sudah tidak kenal lagi Yo Cie Cong.

sudah tentu, jika ia tahu bahwa pemuda sombong didepan matanya ini adalah pemilik Golok Maut yang mang getarkan seluruh rimba persilatan, ia tentunya akan pikir2 dulu, bahkan ada kemungkinan akan berusaha untuk lari kabur....

"Bocah, kau kata kau mencari lohu ?" "Benar"

"Heh...heh Tahukah kau siapakah lohu ini?"

"siluman Tengkorak Lui Bok Thong. Tidak salah toch?"

Manusia aneh itu nampak terkejut, ia sungguh tidak nyana bahwa bocah ini sudah bisa menyebutkan nama dan gelarnya sekalian. Malah kelihatannya tidak merasa takut sama sekali.

"setan cilik, kau mencari lohu ada urusan apa ?" "Aku hendak membunuh mati kau "

siluman Tengkorak heran, matanya terbelalak. Ia seperti tidak percaya kepada talinganya sendiri.

"Apa kau kata?" tanyanya dengan mata masih terbuka lebar. "Aku akan ambil jiwamu" jawb Yo Cie Cong tenang.

"Hahahaha. setan cilik, apa kau ada seorang gila? Masa seorang bocah seperti kau ini berani mengambil jiwa lohu ?"

"Apa kau tidak percaya?"

"Bukan cuma tidak percaya saja, bahkan kuanagap kau sudah gila. Kau tahu, orang yang binasa ditangan lohu, jumlahnya barangkali masih lebih banyak dari pada yang kau si setan cilik ini ketahui. seumur hidup lohu baru pertama kali ini mendengar ada orang berani mau hendak membunuh diri lohu. Ha...hahaha "

"lblis tua, kau ketawa. apa kau kira omonganku ada satu lelucon? Hmm Bukan saja buru

pertama kali kau dengar, tapi perkataan yang kau dengar ini ada merupakan tanda berakhirnya hidupmu. sebab, selewatnya malam ini. kau sudah harus menghadap Giam-lo-ong"

Mendengar perkataan ini. Lui Bok Thong lantas berjingkrak-jingkrak bahwa gusarnya. sebenarnya memang betul, inilah ada untuk pertama kalinya ada orang berani mengatakan hendak membunuh mati dirinya.

"setan cilik, siapa suhumu?" "Hal ini kau tidak usah tanya dulu, sebentar lagi aku sudah tentu bisa memberitahukan padamu"

Yo Cie Cong pada saat itu mendadak ingat sesuatu, ia masih ingat benar perkataannya orang berkedok kain merah, bahwa orang aneh itu. sudah mengirimkan Utusannya untuk mencari jejaknya siluman Tengkorak ini. maksudnya ialah hendak merebut kembali potongan kayu wasiat ouw-bok-Po-lok yang direbut dari tangannya Tio Lee Tin- "

Apa tidak bisa jadi bahwa utusan nomor 4 dan nomor 5 itu setelah mengetahui jejaknya siluman ini, lantas dibinasakan oleh orang kejam itu? Mengingat sampai disitu, ia lantas menanya: "Tumpukan tergkorak manusia ini. "

"Haha, setan cilik, setiap orang yang menemukan jejak lohu, cuma mempunyai satu jalan, ialah mati" memotong siluman Tengkorak ketawa nyengir.

"Kalau begitu kau sudah mengakui sendiri bahwa orang itu adalah kau yang membunuh mati ?" "Memangnya kenapa ?"

"Hutang uang bayar uang, hutang jiwa ganti jiwa "

"Haha, setan cilik, seumur hidup lohu, sudah terlalu banyak hutang jiwa manusia, barangkali tidak bisa membayar lunas. Malam ini mengingat kau ada seorang pemuda yang bernyali besar. lohu akan berikan kau kematian secara sempurna"

"Tapi asal aku turun tangan, sela manya tidak kenal apa artinya mati secara sempurna" Yo Cie Cong balas mengejek.

"setan cilik, apakah kau kepingin lekas mampus?"

"lblis tua, aku sekaraag hendak menanyakan, apa kau masih ingat itu kejadian, dimana kau telah merampas sebuah benda pusaka dari rimba persilatan dari tangannya seorang gadis berpakaian hitam? Kala itu aku justru berada ditempat kejadian tersebut menonton semua perbuatanmu "

siluman Tengkorak terkejut dan mundur satu tindak, tiba-tiba lantas berkata sambil ketawa seram: "oh setan cilik. kau apakah bocah cilik yang hari itu telah lohu lepaskan?"

"Apakah kau masih ingat, apa yang pernah ku bicarakn pada kala itu?" "Kau pernah bicara apa ?"

"Kala itu aku pernah berkata, jikalau kau tidak membunuh aku, lain kali apabila ketemu lagi aku pasti hendak bunuh mati kau. Dan sekarang kita telah berjumpa lagi, apa katamu?"

"setan cilik, jangan banyak rewel, lohu nanti sempurnakan dirimu "

siluman Tengkorak setelah mengucapkan perkataannya yang terakhir lantas gerakan tubuhnya, jari tangannya yang runcing seperti cakar burung dengan cepaat menyambar mukanya Yo Cie Cong.

Pemilik Golok Maut melesat kesamping sejauh delapan kaki, untuk menghindarkan serangan2nya siluman Tengkorak yang sangat ganas itu, kemudian berkata dengan suara dingini

"Tungga dulu, aku hendak menanya padamu"

"setan cilik jangan banyak rewel, cepat atau lambat kau toch mampus juga"

sehabis itu, badannya yang kurus kering kembali melesat dengan cepatnya, jari2 kedua tangannya dari sudut yang sangat aneh, menyerang Yo Cie Cong seperti sambaran kilat cepatnya.

Dalam rimba persilatan kala itu, orang yang mampu menghindarkan serangan siluman Tengkorak itu barangkali tidak banyak jumlahnya.

Yo Cie Cong hanya ganda dengan mesem, dengan ilmunya menggeser badan mengganti bayangan, secepat kilat ia sudah menghilang dari depan matanya siluman Tengkorak. Bukan kepalang kagetnya si iblis dengan cepat ia lantas hentikan gerakkannya.

"lblis tua, tahukah kau, siapa aku ini?"

"Tidak lebih daripada satu bocah jumawa yang pandai menggunakan gerakan aneh saja" Dari dua kali gerak serangannya Yo Cie Cong sudah dapat mengukur bahwa kekuatannya siluman Tengkorak ini tidak setinggi yang perlu dibuat takut, ia tahu bahwa iblis tua ini tentu

belum berhasil mempelajari ilmu silat yang tertulis dalam potongan kayu ouw-bokspo-lok itu. Maka diam2 hatinya merasa lega. Dengan sangat tenang dan per-lahan2, ia mengeluarkan senjata Golok Mautnya. Kemudian berkata: "lblis tua, kau kenal barang ini ?"

Se-olah2 melihat hantu ditengah hari si Siluman tengkorak itu lantas berdiri, kesima dengan mulut menganga dan mata melotot. Dengan tanpa disadari ia lantas mundur satu tindak, lama sekali ia baru baru bisa berseru: " Golok Maut"

siluman Tengkorak itu meski tidak banyak dengar tentang sepak terjangnya Golok Maut yang menggemparkan tapi munculnya Golok Maut dikalangan Kang-ouw yang sudah mengambil korban beberapa jiwa musuh2nya dimasa lampau ia sudah dengar semuanya. Ia merasa ketar-ketir hatinya, karena ia sendiri juga merupakan salah seorang yang dulu pernah ambil bagian dalam pembasmian perkumpulan Kam-lo-pang.

surgguh tidak dinyana bahwa bocah yang berada didepan matanya sekarang ini yang dianggapnya masih bau pupuk bawang, ternyata ada itu pemilik Golok Maut yang menggemparkan dunia Kang-ouw.

Yo Cie Cong maju mendekati lagi satu tindak, ia bulang-balingkan Golok Maut di ditangannya, kemudian berkata pula dengan suara bengis: "Lui Bok Thong, kau tak usah merasa menyesal binasa ditanganku"

siluman Tengkorak tadi ketika melihat Golok Maut, memang benar hatinya menggetar dan pikirannya merasa jeri. Tapi kemudian ia lantas menganggap bahwa orang yang membawa Golok Maut itu ternyata cuma satu bocah cilik, maka pikirannya lantas tenang kembali, begitu pula kebuasannya.

"setan cilik golok itu kau boleh "nimpah" dari mana?" "Haha...aku adalah pemilik Golok Maut ini "

"Kau pemilik Golok Maut?" "Apa perlu membohong?"

"Haha, setan cilik, apa kau kira dapat membohongi lohu ?"

"Percaya atau tidak terserah padamu. walaupun bagaimana. hutang darah Kam-lo-pang malam ini ditempat ini dan pada saat ini juga harus dibereskan, selain daripada itu. kayu wasiat ouw-bok- po-lok, aku lihat sebaiknya kau serahkan saja secara baik2"

"setan cilik, omongan gedemu boleh juga, hanya sayang kau tidak mampu mencapai maksudmu Ha ha..ha "

Tangannya kembali diputar, kali ini ia melakukan suatu serangan yang agak berlainan dari pada yang tadi.

Suatu kekuatan tenaga dalam yang hebat sekali, se-olah2 gunung gugur atau serbuan ombak air laut, dibarengi dengan angin men-deru2 dan bau amisnya bangkai manusia telah mengempur dirinya Yo Cie Cong.

siluman tengkorak sesudah mengetahui bahwa anak muda wajah dingin didepan matanya ini adalah pemilik Golok Maut, lantas mendapat firasat bahwa pertempuran malam ini ada merupakan pertempuran antara mati dengan hidup, Maka begitu turun tangan ia sudah mengerahkan seluruh kekuatannya, maksudnya supaya ia bisa binasakan jiwanya anak muda itu dengan segabrakan saja. Lagipula dalam serangannya itu ia berikuti ilmu tunggalnya yang dinamakan "Hu-sie kang" (ilmu kekuatan tenaga dalam yang menggunakan bangkai manusia sebagai latihan) yang ia jarang sekali gunakan-

Yo Cie Cong tahu ia menghadapi satu musuh yang sangat tangguh, maka saat itu ia sudah pusatkan seluruh ilmunya Liang- kek Cin-goan dan Kan-goan Cin-cao. Ketika bau amis menusuk hidungnya, dengan segera ia menutup seluruh jalan darahnya dan mengeluarkan ilmunya mengentengi tubuh yang luar biasa untuk menghadapi musuhnya itu,

se-olah2 selembar bulu burung, badannya Yo Cie Cong terbang mengikuti aliran kekuatan sambaran angin serangan siluman Tengkorak. Ketika serangan musuh sudah berhenti, ia lantas melayang turun ditanah lagi, kemudian dengan kecepatan bagaikan kilat menerjang siluman Tengkorak. sedang Golok Maut ditangannya juga lantas dikerjakan- Ilmu serangan dengan Golok Maut itu hanya satu jurus saja, tapi sebagai gerakan yang mengarah kedua lengan tangan- kedua paha kaki dan yang terakhir membuat lobang didada musuhnya.

Itu ada ilmu Pukulan istimewa ciptaan dari gurunya Yo Cie Cong sendiri, ialah Yo Cin Hoan, yang disesuaikan dengan keadaannya badan sendiri yang cuma mempunyai sebelah tangan-

siluman Tengkorak sungguh mati tidak nyana kalau bocah cilik yang masih bau pupuk bawang yang mengaku sebagai pemilik Golok Maut ini ada mempunyai kepandaian ilmu silat demikian tinggi luar biasa. sebab selagi serangannya yang diharap-harap bisa membinasakan musuhnya itu gagal mengenakan sasarannya, tahu2 musuh itu sudah balas menyerang dengan ilmunya yang sangat aneh luar biasa.

la merasa bahwa saat itu ia seperti sudah tidak berdaya untuk menyingkirkan diri atau menutup dirinya.

Akan tetapi, ia yang mempunyai kepandaian ilmu silat sangat tinggi dan kegesitan luar biasa, dalam keadaan terjepit demikian tapi ia masih mampu menggunakan ujung kakinya untuk menotol tanah dan badannya melayang miring. Hanya selisih seujung rambut saja, ia sudah berhasil menghindarkan diri dari serangan mautnya Yo Cie Cong. Namun badannya sudah mandi keringat dingin karenanya.

Yo Cie Cong melihat musuhnya bisa meluputkan diri dari serangan mautnya dalam hati diam2 juga merasa terkejut. sambil keluarkan geramannya, kembali Yo Cie Cong melakukan serangan dengan Golok Mautnya.

si siluman Tengkorak yang baru saja dapat bernapas sebentar, serangannya Yo Cie Cong sudah menyusul lagi.

Tepat ketika badannya Yo Cie Cong bergerak dan selagi serangannya yang kedua hendak diluncurkan, dengan kecepatan kilat pula si siluman Tengkorak itu sudah lompat melesat lagi sampai lima kaki jauhnya,

Dengan demikian, maka serangan kedua kalinya Yo Cie Cong kembali mengenakan tempat kosong.

Ia tahu bahwa kalau malam ini ia tidak berhasil mengambil jiwanya si siluman Tengkorak. maka untuk selanjutnya barangkali sukar sekali baginya untuk mencari jejak si iblis. Apalagi potongan kayu ouw-bok Po-lok Cin-kuat itu harus ia rebut kembali dari tangan si iblis.

Apabila kesempatan malam ini dilewatkan begitu saja dan dikemudian hari si siluman tengkorak benar2 sampai berhasil dalam mempelajari ilmu silat yang tertera pada kayu ouw-bok Po-lok Cin- kuat, maka bukan saja sukar untuk ia menuntut balas, bahkan sebaliknya mungkin ia sendiri yang akan menemukan kesulitan besar.

Dilain waktu, jika dibiarkan saja seorang yang sangat kejam dan ganas seperti Lui Bok Thong itu sampai mendapat ilmu yang lebih tinggi lagi, bukankah itu berarti sang macan telah tumbuh sayap? Tentu juga akibatnya akan membahayakan orang2 dunia rimba persilatan-

Ia lalu menggunakan ilmu Menggeser tubuh menukar bayangan, secepat kilat sudah berada disampingnya si siluman tengkorak. Tangan kirinya lantas mengebut dengan ilmu 'Liu im Hut- hiat'nya, semacam ilmu menotok jalan darah yang tiada tandingannya di dalam rimba persilatan.

si siluman Tangkorak hanya melihat berkelebat bayangan orang didepan matanya. Belum ia melihat tegas bayangan tadi siapa adanya, serangan totokan Yo Cie Cong hampir menotok jalan darah Tong-tiong-hiat didadanya.

Dalam kaget dan kekuatan cepat la menggunakan ilmu tunggal dalam perguruannya untuk menutup jalan darah didadanya.

setelah mengirim serangan kepada musuhnya dengan Liu-im Hut-hiat, Yo Cie Cong tahu benar bahwa serangannya sudah mengenakan sasaran dengan jitu, tetapi badan iblis tua itu hanya kelihatan sedikit tergetar, sama sekali tidak rubuh, sehingga diam2 la juga merasa heran. Ilmu menotok jalan darah Liu-im Hut-hiat itu adalah pelajaran yang diturunkan oleh Phoa-ngo Hweshio kepada Yo Cie Cong janh Hweshio gila sendiri hampir separuh umurnya telah meyakinkan ilmu tersebut baru berhasil menciptakannya. Ketika diturunkan kepada Yo Cie Cong Golok Maut itu waktu itu sudah mahir sekali menggunakannya, mungkin sekarang kepandaiannya sudah sama tingkatnya dengan si Hweshio sendiri, boleh di katakan setiap menyerang tidak pernah luput dari sasarannya. Tetapi tidak nyana, iblis tua itu tidak dapat dilukai barang sedikit pun juga olehnya, Bagaimana tidak kaget kerena itu?

Dilain pihak. si siluman Tengkorak setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa setiap serangan Yo Cie Cong hampir semuanya merupakan tipu2 aneh kelas tinggi, dalam hati mengerti, jika pertandingan itu dilanjutkan terus juga, baginya tentu agak sulit untuk merebut kemenangan walaupun kemungkinan dijatuhkan lawannya adalah besar. Maka itu, selagi Yo Cie Cong berada dalam keadaan tertegun dengan cepat la lantas melarikan diri.

Yo Cie Cong tidak mau melepaskan musuhnya begitu saja, maka dengan dibarengi suara bentakan keras: "Kau mau lari kemana" badannya juga sudah bergerak mengejar,

Karena si siluman Tengkorak juga mahir sekali menggunakan ilmu lari pesat, walaupun Yo Cie Cong sudah bergerak cepat, selisih, waktu yang hanya sedikit saja sudah dapat memisahkan jarak diantara mereka sampai sejauh dua puluh tombak lebih.

Yo Cie Cong coba tancap gas, dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya ia terus mengejar musuhnya dengan sekuat tenaganya.

Kedua orang itu sama2 mahir ilmu lari pesat. Terutama Yo Cie Cong, yang sudah mendapatkan beberapa kali pengalaman gaib. makin lama mengejar, makin dekat jaraknya.

Mereka lari berkejaran didalam hutan diatas bukit, dibawahnya penerangan sinar rembulan dan bintang2 dilangit, berkelebatannya dua bayangan orang seperti hantu yang kejar mengejar.

semakin lama waktunya, semakin dekat terpisahnya jarak kedua orang itu, sampai pada suatu waktu jarak diantara mereka hanya kurang lebih dua tombak saja.

Didepan mata mereka saat itu terbentang gua- suatu tempat yang banyak batu2nya, yang tidak ditumbuhi sedikit tumbuhanpun juga.

Ketika mendekati sebuah batu cadas besar, se-olah2 burung garuda terbang melayang. badannya si siluman Tengkorak melesat tinggi keangkasa yang Kemudian menukik turun dengan cepat dan menghilang.

Yo Cie Cong terus mengejar. tetapi ketika ia sudah sampai diatas batu cadas bekas tadi, si siluman Tengkorak sudah tidak terlihat lagi bayangnya.

" Heran Apakah iblis itu punya ilmu menghilang.?" demikian Yo Cie Cong bertanya dalam hatinya sendiri.

sesudah itu, badannya lantas melayang tinggi melewati batu cadas, kearah si siluman Tengkorak tadi menghilang, sedang matanya jelalatan mencari dengan cermat disekitar tempat itu.

Didekat salah satu batu cadas yang cukup besar, ia melihat sebuah lubang kecil semacam goa yang kira2 hanya dapat dimasuki oleh satu orang saja.

Cepat ia menghampiri goa itu dan melongok kedalamnya, Meskipun ia memiliki daya penglihatan yang luar biasa tajamnya, masih tetap ia tidak berhasil mengetahui keadaan dalam itu dari luar.

Ketika itu, dalam hatinya Yo Cie Cong lantas berpikiri "Kecuali tempat ini, tidak ada tempat lain yang dapat dipakai untuk tempat sembunyinya. iblis tua itu.

Memikir kesitu, dengan tidak mem-buang2 waktu lagi, setelah menyimpan Golok Mautnya, dengan didahului masuknya serangan yang maha hebat kedalam goa, tubuhnya pun dengan cepat masuk juga kedalam.

Keadaan disebelah dalam goa itu ternyata gelap-gulita. Tetapi dasar memang daja penglihatannya Yo Cie Cong jauh lebih tinggi daripada daya penglihatan manusia biasa, ia dapat melihat tegas keadaan didalam tempat tersebut. Dindingnya licin dan rata. Masuk lagi kesebelah dalam sampai sejauh kira2 tiga tombak. jalanan menjadi semakin lebar. terus melebar. Garis tengah pelebaran ada kurang lebih satu tombak. Yo Cie Cong siap siaga, per-lahan2 berjalan masuk terus kedalam goa.

Makin jauh masuk kedalam. makin lebar jalanannya, makin luas pula ruangannya. setelah melalui dua kali tikungan, didepannya kelihatan tiga persimpangan.

sesampainya ditempat ini, Yo Cie Cong jadi bersangsi. ia harus memilih satu antara. ketiga. Ia tidak tahu si siluman Tengkorak tadi mengambil jalanan yang mana diantara ketiga jalan simpang itu. setelah berpikir sejenak. ia mengambil keputusan untuk memasuki jalanan yang kekiri lebih dulu.

Dengan cepat ia lantas memasuki jalan simpangan kekiri tadi.

jalanan didalamnya ber-liku2. setengah jam kemudian, terlihat satu agak luas yang tidak ada tembusannya, ia meneliti keadaan disekitarnya sebentar, kemudian menoleh ke-kanan. Disebelah kanan dari tempat ia keluar, dilihatnya ada lagi sebuah goa yang kira2 adalah tembusan dari simpangan yang kedua dari muka ketika ia masuk tadi. Mungkin kedua persimpangan itu berhubungan satu dengan lainnya. Tetapi kalau benar begitu, yang mengherankannya ialah, mengapa belum dapat juga ia menemukan jejaknya si siluman Tengkorak itu?

Dalam hati Yo Cie Cong lalu berpikir: "Kedua mulut goa tadi tentunya saling menembus dengan dua yang lain. Kalau ke-tiga2 lubang goa itu setelah kumasuki masih juga belum menemukan jejaknya, mungkin juga iblis itu tidak tinggal dalam goa ini. jika dihitung waktunya sedari masuknya iblis tadi sampai sekarang, kira2 sudah hampir satu jam lamanya. Kalaupada saat ini iblis itu sudah kabur dari lubang goa ketiga, sedikitnya sudah berada di tempat sejauh sepuluh lie lebih. Ah Kalau begitu sukar untuk mencari dia lagi."

Memikir begitu, cepat2 ia balik kembali dan masuk kedalam lubang goa yang satunya lagi untuk memburu waktu sambil mencari jejak. Dengan gerakan yang cepat ringan dan lincah, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun juga ia berjalan memasuki goa. tiba2 dilihatnya satu jalanan silang. Dengan tidak banyak pikir lagi ia memilih jalan yang menjimpang, tidak terus.

Tidak jauh ia berjalan, didepan matanya lalu terlihat sebuah kamar yang lurus. Didalamnya terdapat segala macam perabot dapur dan alat tidur, lengkap dengan bantal guling serta kasurnya.

Yo Cie Cong merasa girang. ini sudah merupakan suatu bukti bahwa didalam goa ini ada orang yang mendiami. malah ada kemungkinan besar orang yang mendiami tempat ini adalah si Siluman Tengkorak sendiri.

Lantas juga ia mengerahkan seluruh tenaganya kekedua belah tangannya untuk menghadapi segala kemungkinan, terutama dari serangan bokongan musuh. Ia juga mengerahkan ilmu mengentengi tubuh, dengan tidak menerbitkan suara sedikitpun juga sudah terus maju kedalam,

Baru saja sampai diambang pintu, dalam kamar itu mendadak dilihatnya satu bayangan orang yang lantas menghilang lagi dengan cepat.

Yo Cie Cong dengan cepat menerjang masuk kedalam kamar, tetapi bayangan itu sudah lenjap entah kemana.

Dilain sudut dalam kamar itu kembali ia menemukan sebuah pintu lagi yang segera di masuki.

Ternjata juga ada jalanan goa.

Ia terus berjalan dengan cepat. setelah ber-belok2 lima kali, kembali ia sampai ketempat semula, tempat mula2 sekali ia masuk, dipersimpangan sebelah kanan ini merupakan suatu bukti bahwa ketiga persimpangan goa tadi berhubungan satu sama lain, tetapi tetap ia tidak dapat menemukan suatu apa pun juga kecuali kamar dengan perabotan tadi. Bayangan orang yang dilihatnya tadi dalam kamar dan kemudian menghilang. mungkin telah lari kelain jurusan.

jikalau ia terus mengejar seperti juga main petak umpat, untuk selamanya barangkali ia tidak akan berhasil menyandak musuhnya. selelah berpikir bolak-balik, tiba2 Yo Cie Cong menemukan suatu akal. jika ketiga mulut goa itu yang dua disumbat dan ia sendiri terus mencari melalui mulut goa ketiga, sudah tentu tidak ada jalan lain untuk si iblis keluar dan kalau juga ia mau keluar, pasti akan berpapasan dengan ia ditengah dijalan yang ketiga Apa yang dipikir lantas dilakukan.

Badannya mundur dua tombak lebih. Ilmu Kang-goan Cin-caonya dikerahkan kedalam tangannya lalu dipakai untuk menggempur batu dipinggir mulut goa. Dengan beruntun ia menggempur sampai tiga kali, sehingga terdengarlah suara gemuruh, yang kemudian disusul oleh runtuhnya batu2 yang seketika itu juga lantas menutup lubang goa.

setelah kedua mulut goa itu tertutup, Yo Cie Cong lalu memasuki mulut goa ketiga, Ketika badannya baru masuk kepintu kamar, tiba2 disambut oleh satu serangan angin yang amat dahsyat.

Yo Cie Cong lantas menyambuti serangan itu dengan ilmu 'Liang-kek Cin-goan'nya, sehingga serangan yang dilancarkan oleh musuhnya sudah dibikin musnah.

Tatkala ia membuka matanya, bukan kepalang rasa girangnya, sebab ia telah berhadapan dengan musuh yang sedang dicari, "lblis tua, kau tidak bisa kabur lagi" .

si siluman Tengkorak Lui Bok Thong dengan badannya yang tinggi dan kurus kering kelihatan berdiri menyender didinding tembok tengah kamar. Dengan wajahnya yang buas dan sepasang matanya yang biru menatap wajah Yo Cie Cong.

Anak muda itu setelah menenangkan kembali pikirannya, kembali berkata: " Lui Bok Thong, kau sungguh beruntung Tempat ini bagus sekali untuk kediamanmu se-lama2nya."

Wajahnya Lui Bok Thong yang sudah seperti mayat kelihatan semakin pucat menyeramkan. sambil kertak gigi ia lantas menjawab:

"Bocah, kau jangan omong besar dulu kau sudah masuk kamar ini, berarti juga sudah masuk ketempat kematian. Ha, ha.,., Kutanggung badan dan tulang2mu nanti akan hancur lebur."

Yo Cie Cong terkejut dalam hati lalu berpikir: "Apa iblis tua ini sudah memasaan jebakan dalam kamar ini."

Meski dalam hatinya memikir demikian dan merasa agak kuatir, tetapi mulutnya masih dapat menjawab dengan suara dingin: "Lui Bok Thong. kau punya akal muslihat macam apa? Keluarkan semua Biar bagaimana juga kau toch sudah diharuskan mati"

"Bocah, apa kau kira aku menggertak kau dengan omong kosong ?" "Iblis tua omong kosong atau bukan. kau harus mati"

Tangan kanannya si siluman Tengkorak mendadak mancekal gelangan kecil yang terdapat didinding batu, sedang tangannya kirinya ditempelkan kedinding tembok. lalu berkata sambil ketawa menyeramkan,

"Setan cilik Terus terang kuberitahukan padamu, dalam kamar batu ini dengan tiga mulut goa yang bisa menembus kemari, sudah kutanam obat peledak. Asal aku menarik gelang ini, badanmu akan hancur lebur jadi abu."

Yo Cie Cong bergidik juga mendengar keterangan itu. Ia menduga bahwa jarak antara ia dan si siluman-Tengkorak sedikitnya ada sepuluh tombak lebih. Dengan kekuatannya sendiri yang mampu mencapai dengan sekali lompatan saja, tetapi barangkali tidak mampu mencegah kecepatan gerakan tangan yang menarik gelang2an tersebut.

Mendadak ia dapat pikiran, jika iblis tua itu hendak menghancurkan kamar batu tersebut, ia sendiri kemana hendak menyingkirkan diri? Apakah ia sendiri sudah bertekat bulat hendak turut berkorban?

"setan cilik Kau sudah takut bukan? Malam ini lohu sudah sengaja membuat satu kecualian selama hidupku. Kau totoklah jalan darahmu sendiri dan musnahkan kepandaianmu, baru berikan kau jalan hidup, Bagaimana?"

"iblis tua. jangan kau mimpi" teriak Yo Cie Cong gusar.

"Kalau begitu kau sudah ambil putusan membiarkan tubuhmu hancur lebur untuk mengikuti suhumu dialam baka?" Sampai pada saat itu, didalam dunia Kang-ouw kecuali beberapa gelintir orang yang mengetahui, orang2 masih terus menganggap bahwa pemilik Golok Maut yang dulu sudah binasa ditangannya Liat- yang Lo koay dan Yo Cie Cong yang muncul kemudian untuk menghadapi musuh2nya dari Cie- in-pang telah menjaru sebagai pemuda bermuka jelek. Tidak tahunya bahwa semua yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut itu sebetulnya hanya Yo Cie Cong seorang.

Yo Cie Cong ketika mendengar si siluman Tengkorak itu menghina nama suhunya, napsu membunuhnya lantas bergolak hebat. Dengan sorot mata beringas ia lantas berkata, "Lui Bok Thong siaoya-mu malam ini hendak menghancurkan tulangmu sampai jadi abu."

sehabis berkata begitu, ia mengerahkan seluruh kekuatannya, mendadak ia menggunakan ilmu Menggeser tubuh menukar bayangannya, dengan kecepatan luar biasa ia menerjang kearah si siluman Tengkorak.

Dalam pikirannya Yo Cie Cong, sekalipun benar ia tidak akan terlolos dari bahaya kematian karena ledakan obat pasang, se-tidak2nya ia juga harus membunuh si siluman Tengkorak itu terlebih dahulu. selain daripada itu, sekarang ini ia juga seperti sedang menghadapi jalan buntu. sebab kalau benar seperti apa yang dikatakan oleh si siluman Tengkorak. bahwa didalam goa itu sudah dipasang obat peledak. biar bagaimana juga ia toch tidak bisa lolos seorang diri saja.

si siluman Tengkorak tidak menduga Yo Cie Cong berani melakukan serangan secara, tiba2, maka seketika itu ia merasa terkejut. Tetapi sebagai seorang yang mempunyai kepandaian cukup tinggi sekalipun tengah menghadapi bahaya besar, ia masih bisa bertindak cepat. Tangan kiri yang menempel didinding goa lantas menekan, disitu mendadak terbuka sebuah pintu lagi, kemudian dengan tangan kanannya ia menarik gelang-gelangan tangan kecil dan dengan cepat badannya masuk kedalam pintu yang baru terbuka tadi.

Tepat pada saat si siluman Tengkorak menarik gelang gelangan. badannya Yo- cie Cong juga sudah menerjang sampai.

Yo Cie Cong sudah mengerahkan seluruh kekuatannya dan sekaligus sudah meloncat sejauh sepuluh tombak lebih, sudah barang tentu harus memerlukan tempo Lagi untuk berhenti menambah kekuatannya,

Dan siluman Tengkorak, begitu masuk kedalam mulut goa yang baru terbuka, pintunya segera menutup lagi.

saat itu merupakan suatu saat yang sangat berbahaya bagi dirinya Yo Cie Cong,

sebab ketika pintu goa itu baru tertutup separuh badannya Yo Cie Cong sudah menerobos masuk kedalam. Karena Yo Cie Cong sudah mengerahkan seluruh kekuatannya, maka hampir tidak dapat menguasai daya terjangnya yang begitu hebat. setelah jumpalitan sampai dua kali, barulah ia berhasil mendekati siluman Tengkorak.

Begitu mendekati, dengan cepat ia lantas mengulur tangannya untuk menyambar tubuhnya si siluman Tengkorak.

Apa lacur, sambarannnya itu hanya mengenakan ikat pinggang lawannya dan iblis tua itu yang kena tersambar dirinya, pada saat itu sudah hilang semangatnya. Ia berdaya sekuat tenaga menggelindingkan dirinya sehingga ikat pinggang itu terputus dan orangnya terlempar jauh.

Yo Cie Cong lompat berdiri lagi. selagi hendak bergerak, Tiba2 terdengar suara gemuruh yang maha hebat, se-olah2 gunung meledak suaranya yang kemudian disusul oleh runtuhnya batu2 dari dalam goa itu. Tanah yang diinjaknya ber-goyang hebat, sehingga hampir2 ia rubuh tengkurap.

Ia tahu, bahwa obat peledak itu benar2 sudah meledak. Kalau dipikir, dengan tanpa merasa berdiri semua bulu romanya. Sebab, jikalau ia tidak bertindak cepat dan tidak berhasil mengikuti dirinya si siluman Tengkorak tadi, pada saat itu tubuhnya tentu sudah hancur berkeping-keping.

setelah pikirannya dapat dikuasai kembali, kakinya tiba2 menyentuh suatu benda. Dengan cepat ia lantas perhatikan benda apa itu, tiba2 ia berseru karena giraag bukan kepalang: "Oow- bok-Po-lok Cin-kuat"

OOOOO OOOOOOO ooooo KIRANYA si siluman Tengkorak yang ikat pinggangnya dibikin putus oleh Yo Cie Cong, bajunya lantas mengendur dengan sendirinya, sehingga ouw-bok Po-lok Cin-kuat yang disimpan didalam bajunya terus saja terjatuh kebawah.

Dan si siluman Tengkorak itu sendiri yang lari ter-birit2 mungkin masih belum mengetahui, bahwa benda wasiatnya sudah hilang.

Tidak dapat digambarkan bagaimana perasaan hatinya Yo Cie Cong pada saat itu, setelah menemukan ouw-bok Po-lok Cin-kuat. Tidak pernah disangkanya bahwa benda peninggalan dari perguruannya yang siang hari malam selalu dirindukannya telah didapatkan dengan cara yang tidak ter-duga2. jikalau ia mampu mempelajari ilmu silat yang tertera dalam dua potong kayu wasiat itu, ia tidak akan merasa takut lagi untuk menghadapi musuh2nya yang bagaimana pun tangguhnya.

Tetapi dilain pihak. ia juga merasa sangat masgul. Dengan terlepasnya si siluman Tengkorak kali ini, entah harus menggunakan berapa banyak waktu dan tenaga untuk mencarinya kembali.

Setelah berdiri bengong sesaat lamanya, ia membersihkan pakaiannya yang penuh dengan reruntuhan tanah dan batu dari dalam goa.

Dalam goa itu meskipun gelap. tetapi Yo Cie Cong yang mempunyai daya penglihatan yang tajam luar biasa. masih dapat membaca tulisan2 yang tertera diatasnya kayu ouw-bok Po-lok Cin- kuat itu, yang ternyata hanya ada lima patah perkataan hafalannya saja.

Setelah Yo Cie Cong membacanya dengan seksama, benar saja ia tidak dapat menangkap artinya yang sangat dalam. sekalipun ia seorang pemuda yang sangat cerdas. tetapi masih juga belum berhasil memecahkan artinya perkataan hafalan tersebut, jikalau tidak digabungkan atau dipadu dengan sepotong oow-bok Po-lok yang lainnya, jelas ouw-bok Poi-ok Cin-kuat. Pantas kalau Tio Ek Chiu dan si siluman Tengkorak yang sudah pernah mendapatkan kayu itu, sedikitpun tidak mendapatkan faedah apa2 dari padanya.

Cepat2 ia lalu memasukkan potongan kayu mujijat itu kedalam sakunya, kemudian meninggalkan tempat tersebut untuk keluar dari dalam goa.

Tidak antara lama kemudian. ia sudah sampai diujung goa. Ternjata disitu sudah tidak ada lagi jalan keluar. Di empat penjuru semuanya terdapat dinding batu yang kokoh kekar, sehingga membuat hatinya merasa cemas tidak keruan.

oleb karena didepan menghadapi jalan buntu sedangkan dibelakang sudah dipegat oleh reruntuhan akibat dari ledakan tadi, maka untuk sesaat lamanya Yo Cie Cong menjublak, ia tidak berdaya. Tetapi jalan keluar itu pastinya ada, sebab jikalau tidak bagaimana iblis tua itu bisa meloloskan diri?

Mungkin sesudah si siluman Tengkorak itu keluar, ia menutup kembali jalan keluarnya, atau ia bikin rusak pesawat rahasianya.

Yo Cie Cong yang ingin keluar dari tempat itu sesungguhnya tidak mudah. Betapapun kuatnya tenaga manusia, juga tidak akan mampu menggempur gunung.

jikalau sang waktu berlalu lebih lama lagi, mau tidak mau Yo Cie Cong pasti akan mati terkurung dalam goa tersebut.

Yo Cie Cong tenangkan pikirannya sedapat mungkin, ia asah otaknya untuk mencari jalan keluar. Ia mengharapkan dapat menemukan apa2, tetapi akhirnya ia kecewa. Ia sudah me-raba2 hampir keseluruh dinding yang ada disekitar goa tersebut, tapi ia tidak dapatkan tanda2 yang mencurigakan. ia telah memastikan bahwa jalan keluar pasti dikuasai oleh pesawat rahasia. Tetapi saat itu ia tidak dapat menemukan dimana adanya pesawat rahasia tersebut.

Didalam goa itu keadaannya gelap gulita. Ia tidak tahu saat itu sudah jam berapa. tetapi jika dihitung dari mula2 ia masuk tadi mulut goa sampai sekarang mungkin sudah mendekati pagi hari saat itu.

Entah berapa lama lagi telah berlalu ia tetap masih belum mendapatkan jalan keluar. Dalam keadaan sengit, ia lantas kumpulkan kekuatan dikedua belah tangannya, lalu main gempur dinding disekitarnya. Gempuran itu hebat sekali, sampai batu2 berserakan ditanah. Tetapi hasilnya, hanya membuang tenaga secara cuma2 saja.

Rasa lapar dan haus mulai menyerang dirinya. saat itu ia hanya merasakan mulutnya haus, perutnya lapar. Tetapi dalam goa itu, dimana bisa mendapatkan air? setetes airpun tidak bisa didapatkan. Dalam keadaan demikian itu, rasa lapar dan haus itu dirasakan makin menjadi2. Agaknya semenitpun tidak sanggup lagi untuk menahan rasa haus dan laparnya.

"Apakah aku Yo Cie Cong harus binasa ditempat ini? Apakah aku akan mati konyol? Tidak- tidak Aku tidak boleh mati Aku masih harus melaksanakan tugas2ku2." demikian Yo Cie Cong berkata pada dirinya sendiri.

Memikir demikian, ia lantas berduduk dalam keadaan lesu, badannya menyender.

Rasa haus dan lapar masih sanggup diterimanya, tetapi rasa penasaran dalam hatinya belum mampu menyelesaikan tugasnya, membuat ia seperti tengah berada di-tengah2 lautan api.

Per-lahan2 ia mulai putus asa. sekalipun ia mempunyai kepandaian luar biasa, dalam keadaan demikian, apa yang dapat diperbuatnya?

Memikir begitu, Yo Cie Tiong dengan tanpa merasa sudah meloloskan benda kecil yang dikalungkan dilehernya yaitu 'Liong-kuat'nya. Dengan tangan gemetaran ia memainkan sejenak benda2 kecil itu, air matanya mengalir bercucuran.

Ia masih ingat jelas, ber-kali2 ia telah diberitahukan oleh suhunya, bahwa benda kecil yang dikalungkan lehernya itu mempunyai hubungan rapat dengan asal usulnya, maka gurunya telah menyuruhnya menyimpan benda itu baik2. selelah menemukan pasangannya yang dinamakan 'Hong-kuat' itulah saatnya baginya untuk mengetahui asal-usul dirinya....

Pesanan gurunya itu agaknya masih seperti berkumandang didalam telinganya. Tetapi sekarang, ia akan binasa secara penasaran bagaimana ia bisa menemukan 'Hong kuat'?

Dan, Liong- kuat itu, yang merupakan tanda pengenal satu2nya bagi dirinya, juga akan lenyap ber-sama2 dengan dirinya.

Teka-teki mengenai asal- usulnya, akan merupakan teka-teki yang tidak akan terbongkar ucnuk se-lama2nya.

"Lui Bok Thong, jika aku masih diberi kesempatan untuk hidup terus, aku pasti akan hancur leburkan dirimu" Dengan sangat gemas ia berkata sendirian.

Akan tetapi, lain suara dari lubuk hatinya, agaknya telah memberitahukan padanya, "Yo Cie Cong, kau tidak akan dapat melakukan semua itu. Kau tidak dapat keluar dari goa ini untuk se- lama2nya. semua dendam sakit hatimu akan ikut terkubur disini ber-sama2 kau."

Putus asa se-olah2 juga ular yang sangat berbisa memagut mangsanya selalu menggoda hatinya. Ia tidak takut mati, karena ia sudah pernah dua kali mengalami kematian. Pertama kali ketika ia berada ditempatnya danau Naga, binasa dibawah telapak tangannya iblis Wajah singa, kedua kalinya binasa ditangannya Liat- yang Lo koay di Cit-lie-peng didalam badannya ada khasiat Mustika Gu-liong-kauw, maka ia dapat hidup kembali setelah mati.

Kali ini mangkin untuk ketiga kalinya ia akan mati. Ia telah terkurung didalam goa, sehingga harapan untuk hidup boleh dikata hampir tidak ada sama sekali.

Ia hanya merasa bahwa sekeaang ini ia masih belum boleh mati. jika ia mati sebelum menyelesaikan semua tugas yang diberikan suhunya, ia akan mati dengan mata tidak bisa meram, dan roh-nya akan terus gentayangan-

setelah dengan tidak merasa ia mencium benda kecil Liong- kuat itu lalu dilakukan lagi dengan rapih dilehernya.

Pada saat itu dengan tidak sadar jari tangannya telah menyentuh dua potong kayu wasiat ouw- bok Po-lok Cin-kuat dan Cin-kai. Dengan cepat ia lantas mengeluarkan kayu itu kedua-duanya.

Kebiasaannya seorang yang gemar mejakinkan ilmu silat, telah membuat ia dengan sendirinya tertarik untuk memeriksa arti tulisannya yang tertera dalam potongan kayu itu. Meskipun dalam keadaan gelap gulita, ia mau mencoba juga kerahkan seluruh Perhatiannya dan dengan matanya yang tajam ia telah berhasil dapat melihat tulisan2 yang tertera diatas pcoongan kayu kecil itu. Pertama-tama yang dapat dibacanya ialah, nama2 dari ilmu tipu serangan yang masing2 dinamakan 'Lui-keng Thian-tee' (Geledek mengejutkan langit dan bumi), la la Lip-ciang To- liong (Dengan telapakan tangan membunuh naga), seterusnya, 'Chiu-hong Lok-yap' (Daun runtuh tertiup angin musim rontok), 'Lo-hay Hong-po' (Badai gelombang lautan) dan 'Kian-kun sit-sek' (Langit dan bumi bergoncang).

Dibawahnya setiap nama tipu2 serangan, dijelaskan juga empat patah tulisan hapalannya.

Tatkata Yo Cie Cong membaca tulisan itu, bukan saja terlalu dalam artinya, tetapi juga aneh luar biasa. Ia membaca terus, sampai sepuluh kali lebih, tetapi sedikitpun belum menemukan artinya.

oleh karena perasaannya tertarik oleh serangan yang aneh2 itu, telah membuatnya untuk sementara melupakan penderitaan yang dirasakan saat itu.

Cepat2 ia memeriksa lagi sepotong ouw-bok Po-lok Cin-kai yang lainnya, mula2 seluruh pikirannya dipusatkan pada tipu serangan yang pertama, yang disebut 'Lui-keng Thian-tee'

sesudah dicocokkan satu dengan yang lainnya, agaknya ia mulai sedikit paham. Ia lalu mengerjakan keras otaknya untuk memecahkan lebih dalam arti2 dalam setiap perkataan dari apa yang tertulis itu, makin dipikir ia makin merasa bahwa tipu serangan 'Lui -eng Thian-tee' itu, kebalik anehnya, maupun kekuatan semua merupakan tipu serangan yang tidak ada tandingannya.

Tiga jam kemudian, Yo Cie Cong kelihatan mulai kegirangan. ia lompat bangun dan dengan tidak berhentinya terus ia meyakinkan penemuannya yang baru itu Kembali setelah dua jam berlalu lagi. Yo Cie Cong lantas berseru dengan perasaan girang: "Benar seharusnya begini? ini benar2 merupakan suatu pelajaran yang sangat luar biasa"

Sampai pada saat itu, ia baru sadar bahwa ia sendiri meskipun sudah beberapa kali menemukan penemuan ajaib, mendapatkan kekuatan jasmani yang sangat hebat, tetapi jika tidak ditambah lagi atau diperlengkapi lagi dengan ilmu ouw-bok sin-kang, itu ilmu silat yang sudah lama menghilang dan merupakan ilmu silat yang sudah tidak ada taranya mdalam rimba persilatan, benar2 masih belum boleh dikatakan cukup untuk mengeluarkan seluruh kekuatannya.

Akan tetapi, ilmu silat yang tidak ada taranya itu. juga hanya seorang yang seperti Yo Cie Cong inilah yang mempunyai tenaga yang melebihi tenaga manusia biasa, yang dapat menggunakan dan dapat menarik manfaatnya.

Baru jurus pertama saja Yo Cie Cong dalam beberapa jam itu telah mendapatkan hasil yang tidak ternilai harganya.

Dengan ilmu yang sudah dimilikinya, seperti Kan-goan Cin-cao dan Liang- khek Cin-goan, dua macam ilmu tenaga dalam yang sudah tidak ada taranya, diperlengkapi lagi dengan ilmu ouw-bok sim-keng. Kekuatannya yang akan menggetarkan seluruh dunia rimba persilatan.

Yo Cie Cong boleh dikata sudah lupa pada saat itu ia sedang berada dimana. ia sudah lupa pada rasa lapar dan hausnya serta lelahnya. Badannya mendadak melesat lima tombak lebih, ia mengerahkan seluruh kekuatannya, ia hendak mencoba ilmu serangan 'Lui-keng Thian-tee' sebetulnya sampai dimana hebatnya.

Ketika dua tangannya bergerak. sebentar kemudian timbul reaksi yang sangat aneh.

Ia tujukan serangan itu kebawah tanah. Suatu suara seperti gunung rubuh yang gemuruhnya terdengar hebat.

Tiba2, ketika kekuatan serangan tersebut menggempur lapisan dibawah tanah dalam goa itu, mendadak keluar suara ledakan yang sangat hebat, sehingga batu2 pada berhamburan. Seluruh goa tergoncang hebat. Suara ledakan itu menggema dari empat penjuru dinding, membuat Yo Cie Cong merasakan telinganya sakit, sedangkan badannya telah terpental mundur dan membentur dinding goa.

Ia merasakan sekujur badannya sakit, matanya ber-kunang2. Ia mengira bahwa atas goa itu sudah digempur rubuh olehnya. Bukankah itu berarti ia menguruk mati dirinya sendiri? Setelah pikirannya tenang kembali, matanya celigukan melihat keadaan diseputarnya. Tiba-tiba ia menjadi kegirangan- Dengan tidak terasa telah berseru: "Aku bisa hidup terus"

Kiranya tepat dibawah tanah dalam goa itu, ternyata adalah pintu goa yang tebalnya lima kaki.

Pantas saja tadi ketika digempur oleh Yo Cie Cong, suaranya begitu keras dan sekarang pintu itu telah terbuka sebab batunya telah hancur ber-keping2. Sinar terang mulai kelihatan menyorot masuk dari lubang yang terbuka itu.

Yo Cie Cong setelah menyimpan baik2 dua potong kayu wasiatnya, segera melesat keluar dari lubang pintu goa itu.

Baru saja meninggalkan pintu goa. mendadak dirasakan ada perubahan pada dirinya. badannya ternyata seperti terapung ditengah udara, sedangkan dibawahnya terdapat suatu

jurang yang tidak kelihatan dasarnya.

Kiranya mulut goa itu telah dibuka disamping gunung. Yo Cie Cong yang belum tahu keadaannya, ia masih mengira berada ditanah diatas, maka dengan tidak pikir2 lagi lantas melesat keluar. sudah barang tentu kakinya tidak dapat menginjak tanah, sebaliknya ter-apung2 ditengah udara.

Keringat dinginnya lantas mulai keluar. Untung dia mempunyai ilmu silat tinggi. Ditengah udara ia kerahkan seluruh kepandaiannya, ia tiba2 membelokkan arahnya dan kembali turun diatasnya sebuah bukit.

Bukit itu meski keadaannya sangat berbahaya, tetapi dimatanya seorang sebagai Yo Cie Cong, dianggapnya tidak beda dari tanah datar.

Dengan meminjam tanah yang tidak rata diatas bukit itu, untuk menotolkan kakinya, se-olah2 burung garuda itu mengapung tinggi lagi keatas. Hanya dengan beberapa kali gerakan saja ia sudah berada diatas puncak gunung. setelah melalui beberapa gunung, ia menemukan jalan raya kembali. Ketika ia melihat keadaan cuaca, ternyata hari sudah pagi dihari ketiga.

Yo Cie Cong coba meng-hitung2 waktunya. Hendak mengadakan pertemuan digunung Hoa-san. Ternyata sudah semakin dekat. Dihari kelima pada malam harinya ia harus sudah berada ditempat Bong-goat-peng dibelakangnya puncak gunung Hoa-san, untuk menepati janjinya.

Ia tidak ada kesempatan lagi untuk memikirkan soal ouw-bok-Po-lok. Ia terus lari turun gunung dan melanjutkan jalannya lagi melalui jalan raya.

Dirumahnya seorang petani, didekat jalan raya ia coba numpang minta makan. setelah tangsal kenyang perutnya, ia terus melanjutkan perjalanannya ke san-see.

Hari itu, selewatnya tengah hari Yo Cie Cong sudah tiba didaerah Man-coan-ko-koan yang merupakan perbatasan antara san-see dan im-lam.

Ia hitung2 waktunya. Ternyata masih mempunyai cukup waktu untuk menepati janjinya, maka dengan tindakan per-lahan2 ia memasuki daerah kota. Ia ingin mencari sebuah rumah makan untuk tangsal perut, sekalian mencari tempat untuk tempat menginap. untuk melepas lelah selama beberapa hari ini.

Dua jalanan besar sudah dilaluinya, tetapi masih belum juga berhasil menemukan rumah makan yang cocok untuknya. semua rumah makan yang ditemukan, kalau tidak terlalu ramai, tentu terlalu kotor.

selagi ia hendak membeluk kelain jalanan diantara orang yang berjalan tiba2 dilihatnya ada berkelebat satu bayangan merah yang dari belakangnya kelihatan seperti ia sudah kenal betul dengan potongan tubuhnya. Hatinya tergerak dan segera menyusul bayangan merah tadi.

Bayangan merah itu sebentar kelihatan sebentar menghilang diantaranya ramainya orang berjalan, sebab saat itu kebetulan adalah hari pasaran, sehingga banyak orang dari perbagai desa yang masuk kedalam kota untuk berbelanya, maka jalanan besar diatas kota kelihatan ramai sekali. Untuk mencegah jangan sampai menimbulkan onar dijalan besar, Yo Cie Cong terpaksa menguntit dengan- sabar.

setelah melalui lagi beberapa jalanan,. orang yang berjalan kelihatan semakin sedikit.

Yo Cie Cong lalu mempercepat gerakan kakinya, tetapi orang berbaju merah itu se-olah2 mempunyai mata dibelakangnya, ia juga mempercepat jalannya.

sebentar saja ia sudah berada diatas jalan raja diluar kota. Kedua orang terpisah tidak sampai sepuluh tombak jauhnya.

Yo Cie Cong sudah dapat mengenali bahwa orang berbaju merah itu adalah itu wanita aneh yang memakai baju merah dia kedok merah yang sedang dicarinya.

sebab potongan badan dari perempuan itu mirip benar dengan siangkoan Kiauw itu belum lama munculnya didunia Kang-ouw terjadi peristiwa terbunuhnya Cin Bie Nio. ketua dari perkumpulan Pek-leng-hwee, maka Yo Cie Cong bertambah kecurigaannya, bahwa wanita aneh ini mungkin sekali adalah siangkoan Kiauw yang pernah bersumpah akan sehidup sejiwa dengan dia.

Tetapi mengapa wanita itu ketika mula2 bertemu tidak mau mengenali padanya, se-olah2 merasa asing satu dengan lainnya? Itulah yang membuat ia tidak habis pikir.

"Apakah siangkoan Kiauw sudah berubah hatinya? Rasanya tidak mungkin Mungkin ia mempunyai kesulitan dalam hatinya sehingga untuk sememtara tidak mau memperlihatkan wajah aslinya. Tetapi kesulitan macam apakah sebetulnya? Biar bagaimana juga aku harus dapat membuka tabirnya."

Demikianlah setelah Yo Cie Cong mengambil keputusan, badannya lantas lompat melesat, sampai kira2 terpisah dua tombak dibelakangnya perempuan itu.

Wanita itu mendadak putar balik tubuhnya ia berhenti ditengah jalan. Yo Cie Cong terperanjat, ia juga lantas berhenti.

Setelah saling berhadapan kedua orang itu Yo Cie Cong merasa bahna wanita itu kecuali bagian mukanya yang tertutup, seluruh badannya dari atas sampai kebawah tidak ada sebagian juga yang tidak mirip dengan siangkoan Kiauw, maka itu hampir saja Yo Cie Cong berseru memanggil namanya.

Wanita berkedok merah itu setelah berdiri tertegun sejenak, mendadak berkata dengan suara ketus: "Kau ini mengapa tidak tahu aturan, terus mengejar-ngejar aku?"

Yo CIE CONG, mendengar suara itu, seperti tidak asing lagi baginya, tetapi juga tidak mirip dengan suaranya siangkoan Kiauw, maka untuk sesaat lamanya ia tidak mampu menjawab.

"Eeee, apa kau orang gagu ?" "siapa yang gagu?"

"Kenapa kau tidak jawab pertanyaanku." "Pertanyaan apa?"

"Apa sebabnya kau terus mengejar aku ?"

"Diatas jalan raja, siapa saja toch boleh berjalan? Dengan alasan apa kau kata aku mengejar kau ?"

"Hmm, apa kau kira nonamu gampang2 kau permainkan? Kuberitahukan padamu. jikalau kau tahu gelagat, lebih baik kau lekas enyah dari sini. jikalau tidak "

"Bagaimana ?"

"Nonamu hari ini akan memberi hajaran padamu."

Wajah Yo Cie Cong lantas berubah, ia berkata dengan suara dingin: "Kau hendak menghajar aku? Ha, ha "

"orang lain boleh takuti kau pemilik Golok Maut tetapi buat nonamu, tidak"

Yo Cie Cong kaget mendengar jawaban itu, dengan tidak sadar sudah mundur satu tindak.

Dalam hatinya pun ia lantas berpikir: "Heran- sungguh Kenapa ia tahu aku ini pemilik Golok Maut?" Akan tetapi, ucapannya nona itu membuat ia tidak sanggup menahan rasa sabarnya, maka ia lantas menyahut: "Perkataan nona ini apa artinya?"

"Apa artinya? Aku tanya kau, apa sebabnya kau mengejar aku?"

Yo Cie Cong berpikir. "Apa tidak baik aku menggunakan perkataannya untuk menyelidiki dirinya? Aku toch tidak bisa, oleh karena suaranya tidak mirip lantas pungkiri anggapanku se- tidak2nya aku harus tahu asal-usulnya."

setelah berpikir demikian, ia lalu mulai berkata dengan suara sabar: "sebabi .. sebab... kau mirip dengan seseorang."

"Kau toch tidak bisa melihat wajah asliku? Bagaimana kau tahu aku mirip dengan orang yang kau maksudkau?" .

"Dari bentuk dan potongan nona, nampaknya memamg mirip sekali dengan dia." "Mirip dengan siapa ?"

"seorang yang tidak dapat kulupakan seumur hidupku. oleh karena dia, aku lalui dalam penderitaan-"

Wanita berkedok itu dadanya agak bergetar,

Yo Cie Cong yang mengawasi dengan matanya yang tajam, dapat mengetahui perubahan si nona.

"Orang itu siapa namanya?"

"Ia bernama siangkoan Kiauw yang suka sekali memakai pakaian warna merah seperti nona." Yo Cie Cong sehabis mengucapkan perkataannya, matanya terus ditujukan kearah wanita tersebut untuk mengetahui reaksinya.

Benar saja, badannya wanita itu tergetar, maka dalam hatinya lantas berpikir: "Apa tidak bisa jadi ia sengaja merubah nada suaranya supaya aku tidak dapat mengenalinya lagi? Tetapi kenapa begitu?"

Wanita berkedok itu setelah berdiam sesaat lamanya baru berkata "Dimana adanya wanita yang kau katakan itu?

"Dia telah mendapat kecelakaan dilautan Lam-hay, sampai sekarang aku masih belum tahu mati hidupnya."

"Apa dia ada harganya sampai kau menderita seumur hidup?" "sudah tentu."

"Hh Bohong omong kosong Dengan wajah dan kepandaianmu, apa kau tidak bisa dapatkan lain wanita ?"

"Hatiku hanya Tuhan yang tahu."

"Tetapi itu cucunya Pengail linglung, nona ut-tie Kheng, kau toch tidak bisa pungkir tidak cintakan padanya ?"

Yo Cie Cong kembali dibikin ter-heran2. Mengapa urusan pribadinya sendiri dapat diketahui dengan jelas oleh nona berkedok merah ini? "Bolehkah nona beritahukan padaku nama nona yang mulia ?"

"Tidak ada perlunya," "jikalau aku ingin tahu ?"

"Aku tidak akan beritahukan padamu."

Yo Cie Cong tergoncang pikirannya. Mendadak ia berseru: "Kau sendiri adik Kiauw " Wanita berkedok itu mundur setindak dan berkata dengan suara bengis: "siapa ada adik

Kiauwmu"

"Adik Kiauw, kau boleh tidak perdulikan aku lagi, tetapi kau harus beritahukan apa sebabnya?" "Kalau kau mengaco belo lagi. jangan salahkan nonamu nanti turun tangan dan tidak akan

kenal kasihan lagi."

"Adik Kiauw, kau tidak perlu main sandiwara lagi. sejak hari itu, untuk partama kali aku melihat kau, aku lantas "

"Aku beritahukan lagi padamu, kau jangan omong yang tidak2."

"Peristiwa Cin Bie Nio yang mati dipenggal kepalanya diwaktu malam kau toch tidak bisa pungkir bahwa ini adalah perbuatanmu?" "sekali lagi kukatakan, aku bukannya adik Kiauw mu." "Apa benar bukan?"

"Bukan-"

"Kalau begitu, kau ini siapa?" "Hal ini tidak perlu kau cari tahu."

" Kalau begitu, harap nona suka buka kedokmu." "Mau apa ?"

"jikalau terbukti ucapan nona tidak bohong, aku segera akan pergi." "Tidak bisa."

"Kalau begitu, terpakaa aku berlaku kurang ajar."

Wanita berkedok itu kembali mundur satu tindak. badannya yang langsing kelihatan gemetar.

Yo Cie Cong yang menjaksikan itu semua telah membenarkan dugaannya, maka ia lantas maju menghampiri tiga tindak.

"Kau mau apa ?"

"Aku selamanya akan berbuat seperti apa yang aku ucapkan. Aku inginkan bukti betul apa tidak kau ada wanita yang sedang aku cari."

"Kau berani?" "Kenapa tidak?"

sehabis berkata, dengan cepat ia sudah berada disampingnya wanita itu. Ia turun tangan cepat menyambar kedoknya yang merah, tetapi wanita itu dengan kelincahan dan kegesitannya yang luar biasa sudah melesat kesamping mengegos, kemudian dengan balikkan tangannya melancarkan satu serangan-

jangan dikira bahwa serangan yang dilancarkan secara seenaknya saja itu lemah, ternyata serangan itu mengandung kekuatan yang maha hebat.

Ketika menyambar tempat kosong. Yo Cie Cong diam2 juga merasa terkejut. saat itu angin kuat sudah menyambar datang kaarahnya. Untung ia mempunyai kepandaian yang sangat luar biasa.

Dengan caranya yang indah sekali ia berhasil menghindarkan serangan tersebut, kemudian balikkan badannya lagi, tangannya kembali menyambar keduknya sinona.

Wanita berkedok merah itu tiba2 melesat tinggi secepat kilat, kemudian la nmemutar, dengan gaya seperti alap2 menyambar ayam melayang turun menyambar kepalanya Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong ketawa dingin- Dengan cepat ia sudah menghilang seperti setan.

Wanita itu ketika tidak berhasil menyambar kepalanya Yo Cie Cong, badannya melesat lagi keatas. Ia melihat Yo Cie Cong sudah berada ditempat satu tombak lebih jauhnya, maka ia lantas ulurkan kedua tangannya, ditengah udara kelihatan sepuluh jari dari kedua tangannya itu dikepal dan dibuka dari situ mendadak meluncur keluar sambaran angin yang sangat tajam, yang terus menyambar kearah Golok Maut.

Yo Cie Cong sudah menduga betul bahwa ia adalah siangkoun Kiauw, kekasihnya yang mendapat kecelakaan dilautan Lam-hay, maka ia tentu tidak berani turun tangan sungguh2 supaya jangan salah tangan mencelakakannya.

Dan kini, ketika mendapat serangan angin hebat yang keluar dari jarinya sinona, kembali ia menggunakan ilmu menggeser tubuh menukar bayangannya, dengan cepat meluputkan diri dari serangan hebat tersebut.

Tetapi kepandaian wanita itu benar2 luar biasa tingginya. Kekuatan angin yang keluar dari sepuluh jari tangannya ternyata hebat sekali. jikalau Yo Cie Cong tidak mempunyai kepandaian ilmu yang dapat mengelakan serangan itu, mungkin akan rubuh ditangannya. 

Wanita kedok merah itu ketika mengetahui bahwa serangannya yang hebat itu mengenakan tempat kosong, badannya lantas meluncur turun kebumi, kemudian memutar kedua tangannya, sehingga terlihat seperti banyak bayangan yang dengan secara aneh terus menyerang Yo Cie Cong sampai sembilan jurus ber-turut2. semuanya itu dengan secara beruntun ia telah melancarkan dua puluh tujuh kali serangannya,

Dengan mengandalkan ilmu Menggeser tubuh menukar bayangan-nya Yo Cie Cong berhasil menghindarkan setiap serangan dari wanita berkedok kain merah itu. Tapi setelah mendapat serangan hebat demikian rupa, ia lantas mengambil keputusan untuk melayani benar2.

Maka selanjutnya, tangan kanannya lantas terayun dengan disertai tujuh bagian kekuatannya.

Hawa merah dan putih meluncur keluar dari tangannya dibarengi dengan meluncurkan kekuatan yang sangat dahsyat kearah lawannya.

Wanita berkedok kain merah itu diam2 kertak gigi, kakinya lalu memasang kuda2 yang kuat. ia juga mengeluarkan serangan berat untuk menyambuti serangan Yo Cie Cong.

ooo OOOOO ooo

DUA MACAM kekuatan yang saling beradu telah menimbulkan suara bentakan hebat. Kedua orang yang mengadu kekuatan itu pada mundur setindak.

Ilmu Liang- kek Cin-goan Yo Cie Cong yang dikeluarkan dengan Kekuatan tujuh bagian, ternyata masih belum mampu melenyapkan kekuatan serangan pihak lawan, bahkan ia sendiri sudah dibikin terpental mundur sampai satu tindak. sudah barang tentu ia merasa ter-heran2.

Tetapi oleh karenanya juga, maka timbullah kegusaran dan perasaan tidak mau mengalahnya.

Ia lantas berkata dengan suara nyaring: "Coba sambuti sekali lagi "

Ucapannya itu dibarengi oleh meluncurnya kekuatan yang kedua. Tetapi kali ini ia menggunakan kekuatan sepenuhnya.

Wanita berkedok kain merah itu agaknya juga sudah menggunakan tenaga sepenuhnya untuk menyambuti serangan Yo Cie Cong.

Kembali terdengar suara benturan keras. Tetapi kali ini, kekuatan tenaga dalam yang keluar dari tangannya wanita berkedok kain merah telah dibikin lenyap sembilan bagian oleh ilmu serangannya Yo Cie Cong, maka kesudahannya, Yo Cie Cong hanya kelihatan bergoyang badannya sebentar, tetapi wanita baju merah itu terdorong mundur dua tindak.

"sungguh hebat"

Demikian terdengar suara yang keluar dari mulutnya wanita berkedok kain merah itu. yang kemudian lantas melancarkan serangannya lagi kearah Yo Cie Cong.

serangan yang dilakukan oleh wanita itu, baik dilihat dari sudutnya, maupun dilihat dari tempat yang diarahnya, semuanya merupakan serangan yang aneh luar biasa dan sangat berlainan dari kebiasaan serangan orang2 rimba persilatan- sehingga membuat lawannya, merasa ripuh dan tidak tahu bagian mana yang harus dijaga.

Yo Cie Cong terkejut bukan kepalang. ia tetap menggunakan ilmu Menggeser tubuh menukar bayangan-nya, se-olah2 lakunya hantu ia melesat sampai lima kaki jauhnya, sedang kaki tangan kanannya dengan tanpa sadar lantas balas menyerang dengan menggunakan kekuatan sepenuh tenaganya.

semua gerakan itu dilakukannya secara cepat luar biasa, sehingga membuat lawannya tidak mendapat kesempatan untuk menyambuti sarangannya. Ketika wanita berkedok kain merah tadi setelah melancarkan serangannya dan mendadak kehilangan orang yang diserangnya, mengetahui keadaan tidak beres, tetapi sebelum memikirkan begaimana caranya harus bertindak, kekuatan hebat sudah mengancam dirinya.

Maka segala daya upaya untuk menyingkirkan serangan tersebut sudah terlambat.......

sebagai kesudahannya, hanya terdengar suara jeritan nyaring, satu bayangan merah tampak terpental sejauh tiga tombak yang kemudian jatuh rubuh ditanah. Yo Cie Cong diam2 lantas mengeluh: "Celaka".

"Kau berani melukai Kiongcuku" Kemudian disusul oleh sambaran kekuatan angin yang sangat hebat menyerang padanya. Yo Cie Cong karena menuruti hawa napsunya, telah melukai pihak lawannya. Ia sangat kuatir apabila lawan itu benar2 siangkoan Kiauw adanya, maka kejadian ini tentu sangat sulit baginya untuk membereskan- seketika itu hatinya dirasakan sangat kalut,

Dalam keadaan demikian, Ia telah terkena serangan orang tadi dengan telak. Ia lalu keluarkan suara seruan tertahan, badannya hampir saja terpukul rubuh.

oleh karena dalam dirinya Yo Cie Cong ada ilmunya Liang- kek Cin-goan yang melindungi ilmu itu jika mendapat serangan dari luar, lantas kelihatan khasiatnya, secara reftek. Maka meski mendapat serangan secara tiba2, juga sukar untuk dapat melukai dirinya. jika tidak adanya ilmu tersebut, meski tidak membuat dia binasa terkena serangan orang tadi, setidaknya juga tentu akan terluka parah.

Ketika ia membuka lebar kedua matanya, dilihatnya seorang wanita tua yang jelek wajahnya berdiri dihadapannya, kira2 dua tombak lebih jauhnya. Dengan sorot matanya yang tajam nenek itu mengawasi Yo Cie Cong.

Ucapan si nenek yang mengatakan "Kau berani melukai Kiongcuku" telah dapat didengar sepatah demi sepatah oleh Yo Cie Cong dengan tegas, maka hatinya lantas berpikir: "Kalau begitu, apa ia benar2 bukannya adik Kiauw? Tetapi nenek ini dari golongan mana? Kenapa kekuatannya begitu tinggi?" .

Pada saat itu wanita berkedok kain merah itu kelihatan sudah siuman kembali dan lantas kembali dan lantas bangun berdiri dengan keadaan ter-huyung2.

Nenek itu cepat2 membimbing dirinya, lalu berkata dengan suara yang penuh kasih sayang dan lemah lembut:

"Kiongcu, apa Kioncu terluka berat? Biarlah aku nanti bunuh bocah ini untuK melampiaskan kemendongkolanmu"

Ketika mendengar perkataan nenek itu, diam2 Yo Cie Cong sudah bersiap siaga.

selagi hendak membuka mulutnya, wanita berkedok kain merah itu sudah berkata sambil geleng2kan tangannya: "sudahlah. Mari kita pergi."

Dalam hatinya Yo Cie Cong merasa tidak enak. tetapi sebagai seorang pemuda beradat tinggi, ia tidak mau menyatakan penyesalannya, ia tidak mau meminta maaf, hanya semua itu dilukiskan diwajahnya saja.

Nenek itu lantas berkata sambil delikkan matanya: "Kiongcu, apa artinya ini? Apa...,.." "Bibi Cin, hal ini lain waktu kita bicarakan lagi."

Nenek tua itu yang dipanggil Bibi Cin tadi lantas berkata pula: "Kiongcu, bagaimana, kau bisa berbuat begitu."

"Biarkan sajalah dulu."

"Apa kau sudah tidak perdulikan nama baiknya kita orang2 dari Pek-soa-kiong ?"

"Ah " wanita berkedok kain merah yang dipanggil Kiongcu itu hanya menghela napas sebagai jawaban- suara elahan napasnya itu membuat tercengang hatinya Yo Cie Cong. Ia tidak tahu apa sebabnya wanita itu mengelah napas, bahkan kelihatannya seperti mengandung banyak kesedihan-

Didalam hatinya, Yo Cie Cong saat itu berpikir^ "Kiranya ia adalah putri dari Pek-soa-kiong dari golongan Lam-hay pay? Entah apa perlunya ia datang kedaerah Tionggoan? Lam-hay-pay memiliki kepandaiannya yang tersendiri Hampir setiap generasi terus mengeluarkan seorang yang terkuat dengan kepandaiannya yang aneh. Cuma serangan si nenek itu tadi saja kelihatannya tidak boleh dipandang ringan-

" Kiongcu " demikian terdengar pula suaranya si nenek Cin.

"Bibi Cin, sudahlah. Paling-paling kita urus kerjaan kita lebih dulu."

orang tua yang disebut Bibi Cin itu dengan terpaksa anggukkan kepalanya, kemudian berkata pula, "Kiongcu, apa kau kira Go Cee Jin itu bisa memenuhi permintaan kita?"

"Bisa saja, kabarnya dia adalah seorang tabib yang berhati mulia." Ketika mendengar pembicaraan mereka berdua yang menyebut-nyebut nama Go Cee Jin, hatinya Yo Cie Cong lantas bercekat.

Bukankah Go Cee Jin itu juga merupakan penolong besarnya? Dua puluh tahun berselang ketika Kam-lo-pang dibasmi oleh musuhnya, hampir semua orangnya terbunuh habis.

Pangcunya, yaitu Yo Cin Hoan, dengan tongcunya Cek Kun dan Ciu Hian To, dalam keadaan sudah tidak utuh anggota badannya, pingsan diantara timpukan bangkai2 manusia, sesudah musuhnya semua berlalu. Go Cee Jin yang kebetulan lewat disitu ketika hendak mencari obat2an, ketika melihat bangkai manusia berserakan ditanah, ia coba memeriksa satu persatu. Ia hanya dapatkan tiga orang yang nadinya masih bergerak. sebagai seorang tabib pandai yang berhati mulia, ia terus memberi pertolongan kepada tiga orang yang sudah bercacat itu dari tangannya malaikat elmaut. Meskipun Yo Cin Hoan bertiga pada tiga puluh tahun kemudian kembali terbunuh ditangannya iblis rambut merah, tetapi Yo Cin Hoan sudah menghasilkan atau menurunkan seorang kuat yang berupa Yo Cie Cong, orang yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut untuk melanjutkan usahanya menuntut balas.

Semua kejadian itu masih tergores dalam sekali dalam lubuk hatinya Yo Cie Cong. setiap saat ia memikirkan bagaimana harus mencari tabib budiman itu untuk membalas budinya, Tetapi tabib yang sangat mulia itu sudah lama menghilang dari dunia Kang-ouw, maka usahanya untuk mencarinya selalu tersia-sia saja.

Dan kini, kedua wanita itu mendadak me-nyebut2 nama Go Cee Jin, maka dalam kagetnya ia tidak tahu maksudnya wanita berkedok kain merah itu hendak mencari tabib budiman itu

Diam2 ia berpikir: " Kenapa aku tidak menguntit mereka supaya aku tahu kediamannya Go Cee Jin dan lain waktu supaya bisa mengunjunginya untuk membalas budinya? Lain dari itu, supaya aku juga bisa mengetahui bahwa orang2 Pek-soa-kiong dari golongan Lam-hay-pay ini mau minta apa daripadanya. jika mereka mengandung maksud tidak baik terhadap dirinya tabib mulia itu, aku juga bisa lantas turun tangan untuk memberi bantuan-"

Nenek tua itu kelihatan mengawasi Yo Cie Cong dengan mata mendelik, lalu berkata pula kepada Kiongcunya: "Kiongcu, kalau begitu, bukankah akan membuat bocah ini menganggap bahwa Lam-hay-hay sudah tidak ada orangnya lagi?"

"soal ini lain waktu kita bicarakan lagi."

"Kalau Kiongcu tetap berpikiran begtu, hari ini terlalu enak sekali buat bocah ini."

Yo Cie Cong yang mendengar percakapan kedua orang itu, lantas keluarkan suara di hidung.

Si nenek Cin kembali delikkan matanya sembari membentak: "Bocah, apa kau. merasa bangga?"

"Hh Percuma saja kau hidup sudah sampai begitu tua. kau masih belum tahu tingginya langit dan tebalnya bumi."

"Ha, ha Kau berani memberi nasehat pada nenekmu ?"

Ketika mendengar perkataan 'Nenekmu', wanita berkedok kain merah itu lantas ketawa geli, kemudian berkata: "Bibi Cin- apa kau sudah pernah dengar bahwa di Tiong-goan sudah muncul satu bintang malaikat yang dijuluki pemilik Golok Maut?"

"Pertama kali aku menginjak bumi Tiong-goan, aku sudah lantas dengar orang pada mengatakan Malaikat elmaut itu. Memangnya kenapa ?"

"Itulah dia orangnya."

si nenek itu dalam kagetnya lantas mundur satu tindak. Agaknya ia masih tidak mempercaya: "Benarkah?"

"Kalau kau tidak percaya, boleh tanya sendiri."

setelah berpikir sejenak, nenek itu lalu berkata pada Yo Cie Cong dengan suara kasar: "Apa benar kau ini pemilik Golok Maut yang menggetarkan dunia rimba persilatan daerah Tiong-goan ?"

Yo Cie Cong yang semula mengira bahwa wanita berkedok kain merah itu adalah siangkoan Kiauw, kekasihnya yang dirindukan siang hari malam terus, mulanya ia mengambil sikap mengalah. sekarang, setelah mengetahui bahwa wanita itu adalah orang dari golongan Lam-hay, maka sikapnya sudah tidak begitu lunak lagi. Ketika ia mendengar pertanyaan si nenek. wajahnya kelihatan semakin dingin, lalu balas menanya dengan suara ketus: "Kalau ia, bagaimana?"

"Tidak perduli kau dia atau bukan, aku siok-hun siang- ngo Cing Hong Lan -tidak akan pandang kau sama sekali."

Yo Cie Cong sekarang baru tahu bahwa nenek yang sangat jelek dimukanya ini ternyata adalah seorang kuat nomor satu dibawahnya Ketua dari golongan Lam-hay-pay. Pantas suaranya begitu galak dan sikapnya begitu jumawa.

seketika itu ia lantas menjawab sambil ketawa dingin: "Kau Siok-hun siong-ngo. Boleh saja menjagoi didaerah Lam-hay. Tetapi, bagiku tidak ada artinya. Kau anggap dirimu sudah cukup hebat? Hmmm... Aku pemilik Golok Maut ingin belajar kenal"

Cin siok Lan delikkan matanya, ia sudah hendak turun tangan, tetapi kembali dicegat oleh wanita berkedok kain merah, katanya: "Bibi Cin, marilah kita pergi. Kita urus kepentingan kita dulu. suhu sedang menantikan kedatangan kita, bukan?"

"Tetapi bocah ini. "

"Kau tidak usah kuatir. Ada satu hari dia nanti pasti akan datang sendiri mencari kita."

Perkataan wanita berkedok kain merah ini bukan saja membikin Yo Cie Cong heran tetapi si nenek Cin Hong Lan sendiri juga tidak habis mengerti. Apa sebabnya dikatakan Yo Cie Cong sendiri akan mencari mereka?

"Apa ucapan Kiongcu ini benar?"

"Dikemudian hari kau nanti akan buktikan sendiri. Mari kita pergi."

Wanita berkedok kain merah itu setelah berkata lebih dulu bergerak meninggalkan tempat tersebut-

Nenek Cin kembali delikan matanya mengawasi Yo Cie Cong baru menjusul majikannya.

Yo Cie Cong setelah ditinggalkan oleh mereka, hatinya kembali dirasakan kosong melompong.

Harapannya semula yang dikiranya telah menemukan kembaii kekasihnya, kini telah ludes.

Wanita kedok kain merah itu terang bukannya siangkoan Kiauw. Ini suatu bukti bahwa siangkoan Kiauw benar2 sudah terbenam dalam lautan Lam-hay.

Tetapi dalam pikirannya Yo Cie Cong terhadap wanita berbedok kain merah itu telah timbul kesannya yang sangat aneh. Ia ingin sangat menemukan dia lagi, bahkan bayangannya nona dengan kedok kain merah itu selalu ada dipelupuk matanya, sebab potongan badannya mirip benar dengan sang kekasih. sekarang ia mengerti apa sebabnya Thian-san Long-lie Tho Hui Hong begitu pertama kali melihat dirinya, lantas mencurahkan segenap perhatiannya. sebabnya tentu saja karena wajahnya mirip sekali dengan wajah kekasihnya yang sudah menghilang sekian tahun lamanya. Itulah pengaruhnya asmara....

setelah pikirannya dikerjakan keras, ia ingat bahwa tujuannya kali ini ialah hendak kegunung Hoa-san untuk menepati janji terhadap kedua manusia aneh dari rimba persilatan itu

Kalau di-hitung2, waktunya memang agak kurang, tetapi pikiran hendak membalas budi pada tabib Go Cee Jin, mendesak ia supaya mengikuti terus jejaknya kedua wanita tersebut duluan.

Suatu perasaan lain yang aneh pula membuat ia mengambil keputusan cepat untuk mengikuti jejaknya kedua wanita tadi.

Kira2 satu jam kemudian, ia sudah meninggalkan jalan raya dan mulai memasuki jalanan pegunungan.

setelah melalui dua bukit, didepan matanya terbentang sebuah sungai. Dipinggir sungai itu banyak sekali ditanami pohon2 bambu. Kalau angin bertiup, daun bambu itu me-lambai2. Tidak jauh dari dalam rimba bambu itu, lapat2 terlihat sebuah bangunan atap.

Pada saat itu, bayangannya wanita berkedok kain merah dan si nenek Cin sudah menghilang dalam rimba bambu.

Yo Cie Cong telah menganggap bahwa saat ini sudah sampai ditempat kediamannya Go Cee Jin, dengan tidak ragu-ragu lagi ia lantas kerahkan ilmu Menggeser tubuh menukar bayangan-nya. sehingga sebentar kemudian ia sudah berada didalam rimba pohon bambu. Tiba2 didalam rimba pohon bambu terdengar suara jeritan seorang wanita

Yo Cie Cong tidak perlu sembunyikan dirinya lagi, dengan cepat lari menuju kearah datangnya suara jeritan tadi, Dan-... Apa yang terlihat olehnya, membuat ia berdiri terkesima.

Dilihatnya ditanah lapang didepan rumah berratap ada sesosok mayat manusia. Itu adalah seorang laki2 tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua. Mayat itu kelihatan rebah terlentang ditanah dengan badan mandi darah. Kematiannya sungguh mengenaskan.

sedangkan wanita dengan kedok merah dan si nenek Cin kelihatan berdiri kesima didepan bangkai tersebut,

suara jeritan tadi tidak salah lagi pasti keluar dari mulutnya wanita yang berkedok kain merah itu. sedangkan bangkai manusia itu juga tidak usah dikatakan lagi tentunya adalah penghuni rumah atap itu sendiri, Go Cee Jin.

Wanita aneh berkedok kain merah itu ketika mendadak melihat Yo Cie Cong unjukan diri juga merasa kaget dan ter-heran2.

sebaliknya dengan si nenek Cin Hong Lan, dengan mata melotot dan suara gusar berkata "Apa perlunya kau datang kemari juga?"

Pada saat itu Yo Cie Cong sudah terbenam dalam kedukaan. Dalam otaknya hanya memikirkan: "Go Cee Jin ada satu tabib yang sangat mulia. selama hidupnya, entah berapa banyak jiwa yang telah ditolongnya. Ia tidak pernah berebut nama maupun pengaruh didunia luar. siapa orangnya telah turun tangan begitu kejam?"

Pembunuhan lantaran permusuhankah? Adalah lain kecuali itu?

"satu2nya orang yang sudah melepas budi kepada Kam-lo-pang kini telah menemukan ajalnya secara begitu mengenaskan. Aku Yo Cie Cong belum dapat membalas budinya dikala ia masih hidup, sekarang terpaksa harus menuntutkan balas sakit hati ia setelah ia menutup mata." Demikianlah Yo Cie Cong berjanji pada dirinya sendiri. Ia berdiri lenggong diliput kedukaan.

Atas pertanyaannya si nenek Cin Hong Lan, ia tinggal membisu seolah tidak mendengarnya . "Hei Kau sedang pikirkan apa? Pertanyaanku tadi kau dengar apa tidak?" tegur si nenek

mendongkol "Apa?"

"Apa perlunya kau mengikuti kami sampai disini?"

"sungguh aneh. Mengikuti, kau kata? Kalian bisa datang kemari, mengapa aku tidak?" "Aku... kau, bocah, apa maksudmu kau datang kemari?"

Mendengar pertanyaan demikian, Yo Cie Cong teringat kejadian pada beberapa jam dimuka, mereka berdua pernah mengatakan hendak minta obat dari Go Cee Jin- Apakah kedatangannya mereka berdua kemari Ini ada kepentingannya dengan kematiaanya Go Cee Jin ini? jika bisa mengetahui maksud sebenarnya dari kedatangan mereka, mungkin dapat diusut urusan pembunuhan ini.

oleh karena berpikir demikian, maka ia lantas balas menanya: "Dan kalian berdua, apa maksud kalian datang kemari?"

"jawab dahulu pertanyaanku."

setelah berpikir sejenak, Yo Cie Cong lalu berkata dengan suara terharu: " orang yang binasa itu pernah melepas budi besar terbadap perguruanku. Aku tadi dengar kalian berdua hendak minta pertologan pada Go Cee Jin, maka aku lantas datang menyusul kemari, maksudku ialah, karena aku kuatir ada orang yang akan berbuat jahat padanya. Tetapi sekarang "

"Kau ternyata masih terlambat satu tindak."

"Sekarang giliran kalian harus jelaskan maksud kedatangan kalian yang sesungguhnya." "Perlu apa harus kami beritahukan padamu ?" jawab si nenek mendongkol.

"Aku cuma membutuhkan jawaban atas pertanyaanku saja"

"Kesombonganmu sebetulnya jarang ada tandingannya dalam dunia ini. Nenekmu sengaja tidak mau memberitahukan padamu. Kau mau apa?"

"Barangkali kau tidak bisa berbuat sesukamu." "Bocah, apa kau mau mengadu kekuatan?" saat itu suasana telah menjadi tegang. Kedua orang itu sudah sama sengitnya mereka siap untuk segera turun tangan.

"orang semacam kau ini juga berani mengadu tanaga dengan aku? Hmm " kata Yo Cie Cong

dengan suara dihidung.

"Bagus, bocah Kau boleh tidak pandang orang. Hari ini aku harus beri pelajaran padamu." si nenek lantas maju menghampiri, lalu mengangkat tangannya dan hendak menyerang.

Tetapi wanita berkedok kain merah itu lantas cepat2 berkata: "Bibi Cin. beritahukanlah padanya."

Yo Cie Cong lantas berkata dengan suara dingin, "jika kalian tidak mau mengatakan sebab sebabnya, aku akan anggap kalian berdua sudah berserikat dengan pembunuhnya si korban, Kalau benar bagitu, aku hendak menuntut balas untuk mendiang Go Cee Jin dan tindakanku itu akan kubuktikan sekarang ini."

Cin Hong Lan tiba2 turunkan tangannya. ia lantas menanya dengan suara kaget, "Kau mau menuntut balas untuknya?"

"Benar. sebab ia pernah melepas budi begitu besar terhadap perguruanku."

"Kalau begitu, baiklah, aku beritahukan padamu. Tetapi perlu kuterangkan dahulu, bahwa untuk aku, Cie Hong Lan, bukan karena takut pada gertakanmu tadi, tetapi lantaran mengingat maksudmu itu baik sekali, maka aku mau beritahukan juga padamu."

"silahkan."

"Ciang-bun-jin kami telah mengutus kami berdua dengan membawa sepuluh butir mutiara datang kemari untuk menemui Go Cee Jin, untuk tukar mutiara itu dengan sebotol obat untuk menyambung tulang dan merapatkan daging. obat itu perlunya untuk mengobati orang yang terluka diluar. Tapi siapa tahu kami telah jumpai Go Cee Jin sudah binasa. Apa sekarang kau sudah mengerti?"

sehabis berkata, dari sakunya lalu dikeluarkan sepuluh butir mutiara se-besar2 buah lengkeng yang diperlihatkan pada Yo Cie Cong.

sekarang mau tidak mau Yo Cie Cong harus percaya juga, dengan demikian, maka kedatangan mereka berdua sedikitpun tidak ada hubungannya dengan kematian Go Cee Jin-

Dengan alis berdiri Yo Cie Cong lantas bertindak dan melesat kedalam rumah untuk mengadakan penyelidikan.

Didalam rumah atap itu, tampak perabot rumah tangga keadaannya kalang-kabutan. Botol obat berserakan ditanah. Terang disitu tadi pernah terjadi pertempuran sengit.

Mendadak. disatu sudut, matanya dapat melihat ada secarik kertas merah yang menyolok mata.

Yo Cie Cong segera mengambil carikan kertas itu ternyata itu adalah satu surat undangan yang isinya berbunyi:

"Bersama ini, perkumpulan kami telah mengutus Tancu dari cabang kami di In-tay, yaitu saudara Go Pa Thian dan lain2nya untuk menemui tuan dengan pengharapan supaya tuan suka turun gunUng, untuk membantu perkumpulan kami, karena kami membutuhkan seorang tenaga untuk mengepalai bagian pengobatan. Dengan ini kami mengundang dengan hormat pada tuan dan besar harapan kami supaya tuan tidak merasa keberatan. Tertanda: Pemimpin Im-mo-kao."

Yo Cie Cong setelah membaca surat undangan tersebut, merasakan dadanya hampir meledak. Diwajahnya yang dingin kelihatan perasaan sangat gusarnya, sambil kertak gigi ia berkata seorang diri:

"Kembali perbuatannya orang- Im-mo-kao. Kalau aku tidak mampu membasmi habis kawanan Im-mo-kao yang biadab itu, aku bersumpah tidak mau jadi manusia."

jika dilihat dari keadaan sekitar tempatnya dancara kematiannya Go Cee Jin yang mengenaskan, mungkin sekali Go Cee Jin pernah menolak keras undangannya Im-mo-kao, karena sebagai orang jujur dan mulia, sudah tentu ia tidak mau membantu perbuatannya orang jahat. Pada saat itu, wanita barkedok kain merah. dengan Cin Hong Lan, diam2 sudah mengikuti masuk ke dalam gubuk. maka segala gerak geriknya Yo Cie Cong semua telah diketahui oleh mereka.

Wanita berkedok kain merah tiba2 berkata kepada Cin Hong Lan: "Bibi Cin, penjahat yang membinasakan Go locianpwee ini sudah tentu adalah perbuatannya Goaw Pa Thian yang menjabat Tancu cabang daerah In-thay bersama orang2nya."

"Dimana letaknya cabang im-mo-kao daerah In-thay itu?".. "Ada dikota In-thay-cin didaerah song-ciu."

Yo Cie Cong tergerak hatinya. Perjalanannya kali ini kegunung Hoa san, song-ciu itu merupakan suatu tempat yang harus dilalui, maka dalam hatinya lantas berpikir: "Mengapa aku tidak menggunakan kesempatan ini untuk datang ke In-thay-cin guna membalas sakit hatinya Go Kiesu?"

setelah mengambil keputusan tetap. pikirannya tidak begitu kalap lagi seperti tadi. Dengan tidak mengucapkan perkataan apakah pada mereka ia terus berjalan keluar, kemudian memondong jenazahnya Go Cee Jin yang diletakkan di-tengah2 ruangan dalam rumahnya, lalu berlutut dan menjura sambil berdoa:

"jikalau locianpwee arwahnya masih belum jauh, boanpwee Yo Cie Cong, dengan ini menyatakan telah bertekad bulat hendak membasmi kawanan penjahat itu untuk menuntut balas sakit hati locianpwee, sekalian untuk membalas budi locianpwee pada dua puluh tahun berselang "

sehabis mendoa, ia lantas berjalan keluar rumah.

Wanita berkedok kian merah dan si nenek Cie Hong Lan yang menyaksikan semua gerak-gerik dan perbuatan Yo Cie Cong itu keduanya pada anggukkan kepala, diam2 hatinya juga turut merasa terharu.

Yo Cie Cong lain mencari bahan bakar disekitar rumah itu, lalu menyalakan api. sebentar kemudian rumah gubuk itu sudah dimakan api, dengan demikan, seorang tabibnya kenamaan telah turut tamat riwayatnya.

setelah membakar rumah serta jenazahnya Go Cee Jin, dengan tidak memperdulikan si wanita berkedok kain merah dan nenek Cin lagi, dengan napsu berkobar-kobar Yo Cie Cong meninggalkan tempat itu.

Wanita berkedok kain merah telah mengawasi kearah mana Yo Cie Cong tadi menghilang, kemudian terdengar ia menghela napas.

Dua butir air mata sunyi kelihatan menetes keluar melalui kedok kain merahnya. Didalam hatinya yang hampa, diliputi kesedihan yang tidak terhingga. Apa yang dibuat sedih? Apa hubungannya dengan Yo Cie Cong?

Mari sekarang kita mengikuti perjalanan Yo Cie Cong. yang dengan napsu yang berkobar-kobar berlalu meninggalkan tempat tersebut, pada saat itu didalam otaknya hanya ada satu tujuan yang menakutkan, yaitu: MEMBUNUH

Disepanjang jalan, ia hanya beristirahat sekejap saja, malam2 terus melanjutkan perjalanannya

.

Pagi2 hari dihari kedua. ia sudah berada diatas jalan raya yang terpisah kira2 lima puluh lie dari

kota siong-ciu. Pada saat itu tiba2 ada sepuluh penunggang kuda lebih tampak melarikan kudanya dengan pesat melewati belakang dirinya. Yo Cie Cong tanpa menoleh lagi sudah melesat kepinggir.

Penunggang2 kuda itu terus melarikan kuda tunggangannya.

Diantara mengepulnya debu jalanan, lapat2 ia dengan salah seorang diatas kuda itu berkata: "Pun Tancu, si tua bangka itu benar2 cari mampus sendiri sungguh orang tidak tahu diri"

"Hh, hh....sejak kapan im- mo-kao pernah melepaskan korbannya "

Yo Cie Cong diam2 memaki: " Kawanan iblis Betul2 itu adalah perbuatan kalian" seketika itu juga ia lantas bergerak, badannya melesat tinggi. Hanya dengan menggunakan beberapa kali gerakan saja ia sudah melewati sepuluh lebih penunggang kuda itu, lalu berdiri di- tengah2 jalan raya.

OOOOO OOOOOOOOOO ooooo

Penunggang kuda yang kurang lebih berjumlah sepuluh orang itu, ketika melihat ada orang menghadang ditengah jalan selagi mereka enak2nya melarikan kudanya, terpaksa manahan tali kekang binatang tunggangannya, sehingga kuda2 itu berjingkrak sambil berbenger keras, lama baru bisa berkampul lagi.

Melihat orang yang berdiri menghadang ditengah jalan itu ternyata hanya seorang anak muda saja, bukan main gusarnya mereka.

salah seorang diantaranya. yaitu orang yang badannya tinggi kurus, lantas maju menghampiri pemuda penghadang itu yang bukan lain daripada Yo Cie Cong adanya. Ia memutar pecutnya sedemikian rupa, sehingga bunyi menggeletar terdengar nyaring ditengah udara. sambil pelototkan matanya yang sebesar jengkol, orang tinggi kurus itu menegur Yo Cie Cong dengan suara keras:

"Bocah siapa kau sudah bosan hidup? Berani kau menghalang jalan kami?"

Yo Cie Cong balas deliki padanya, matanya buas menakutkan. Ia menatap wajahnya laki2 tinggi kurus itu sampai orang tersebut merasa jeri melihatnya. Dalam hatinya orang itu berpikir:

"sungguh hebat kekuatan tenaga dalam bocah ini."

Tetapi, karena sudah kebiasaan, ia suka berbuat se-wenang2 dan sering jual lagak maka dengan memikir hendak mengandalkan jumlah yang lebih banyak untuk merebut kemenangan, ia hanya tercengang untuk sesaat lamanya.

"Bocah," katanya pula, "kau sebetulnya bermaksud apa? jawab semua pertanyaan Toayamu baik2. Kalau tidak. hati2 jaga dirimu"

Yo Cie Cong tidak mau meladeni orang macam demikian, matanya menyapu kearah orang banyak dihadapan matanya yang kira2 berjumlah tiga belas orang dan terdiri dari orang2 tua dan muda.

Diantaranya,yang rupanya menjadi pemimpin rombongan orang2 tersebut, seorang orang yang wajahnya hitam dengan hidungnya yang pesek seperti hidung singa dan matanya yang besar bundar serta dengan kumis pendek yang seperti duri landak menghias bibir sebelah atasnya, tampak duduk berjongkok diatas kudanya. orang itu berbadan tegap. Dengan duduk tegak. kelihatan orang itu bagaikan pagoda. Dilihat dari bentuk dan tongkrongannya, orang itu kebanyakan adalah ketua dari cabang im-mo-kao untuk daerah In-thay, yaitu yang bernama Gouw Pa Thian-

Laki2 tinggi kurus tadi ketika melihat ia tidak digubris oleh Yo Cie Cong. merasa malu bukan main, dari malu akhirnya ia jadi gusar. Karena itulah maka ia lantas membentak dengan suara keras:

"Bocah. aku akan berikan kau sedikit hadiah dahulu"

sehabis mengucapkan perkataannya, kedua kakinya lantas mengempit perut kudanya keras2, sehingga binatang itu nyelonong kemuka, berbareng pecut ditangan kanannya menghajar mukanya Yo Cie Cong hebat sekali. Yo Cie Cong lantas membentak: "Mau cari mampus, kau"

Tanpa menoleh, sambil berdiri tegak ia menantikan datangnya ujung pecut sampai benar2 dekat diatas kepalanya, lalu dengan cepat bagaikan kilat tangannya menyambar pecut yang lantas disentak^ sehingga orang tinggi kurus itu terpelanting berserta dengan pecutnya.

Ia tadi sikapnya jumawa sekali dan besar juga omongnya, tetapi, begitu turun tangan ia sudah dapatkan hinaan begitu rupa, maka dapatlah dibayangkan bagaimana gusarnya ia saat itu.

Tatkala badannya Yo Cie Cong ditarik, kemudian didorong kembali, ia melontarkan pecutnya kearah si pemuda, badannya juga turut melesat tinggi dan berjumpalitan ditengah udara untuk kemudian bercokol lagi diatas kudanya. Kepandaian ilmu mengentengi tubuh yang dipertunjukkannya itu sungguh mengagumkan. Akan tetapi, Yo Cie Cong yang datang dengan penuh kegusaran dan rasa dendam yang sangat hebat, sudah tentu begitu turun tangan tidak mau tanggung2.

saat itu, setelah menyambuti pecut orang kurus itu yang didalam genggamannya lantas berubah lurus seperti tombak. lantas ditimpukkan keatas sebuah batu besar yang terletak dipinggir jalan-

Hanya dengan terdengarnya sekali suara "Crak" pecut tersebut sudah amblas kedalam batu itu. Kekuatan ilmu tenaga dalam yang sangat hebat, yang dipertunjukkan oleh Yo Cie Cong,

membuat semua orang yang menyaksikan menjadi duduk kesima diatas kudanya masing2. Tidak usahlah disangsikan lagi, tentunya kekuatan lweekang peamuda itu sudah mencapai ketingkat yang tiada ada taranya.^

setelah berbuat begitu, Yo Cie Cong lalu berpaling dan berkata pada laki2 tinggi kurus tadi: "Biarlah aku kirim kau jalan lebih dahulu"

Baru saja selesai ucapannya, suatu kekuatan yang maha hebat yang tidak terlihat oleh mata manusia menyerang datang kearah orang tersebut dengan dahsyatnya.

sebentar kemudian lantas terdengar suara jeritan ngeri, laki2 tinggi kurus tadi berikut kudanya sudah menggeletak ditanah sebagai mayat.

Diantara suara jeritan ngeri, kelihatan dua belas bayangan manusia turun dari kudanya masing2 lalu mengepung Yo Cie cong rapat2. setiap orang memperlihatkan wajah gusar dan mata beringas, seperti lakunya binatang buas kelaparan-

Baru saja turun tangan Yo Cie Cong sudah membinasakan salah seorang lawannya. Dari sini dapat dibayangkan betapa tingginya kekuatan tenaga dalamnya.