Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 16

Jilid 16

Serangan yang dikeluarkan oleh Ang Kut Tan dengan menggunakan seluruh bagian kekuatannya, kecuali dibikin musnah, tetapi juga sudah tertembus oleh sisa kekuatan dari lawannya yang terus meluncur kearah dadanya.

Seketika itu juga ia merasa seperti digempur oleh martil besar. Si Manusia jelek nomor satu keluarkan seruan tertahan- Badannya, kedua orang itu kelihatannya seperti seri lagi. Tetapi darah sudah keluar dari mulutnya.

Ang Kut Tan, sebagai seorang Kangouw kawakan, setelah mengadu kekuatan sampai tiga kali beruntun- sudah tahu kalau lawannya yang muda belia ini tidak mudah dilawani, sebab sekali saja salah bertindak, mungkin benar ia akan jatuh oleh lawannya itu. Ia tahu, dengan jalan kekerasan, bukanlah suatu cara yang sempurna.

Maka, setelah berpikir sejenak, kepalanya yang besar lantas dimiringkan, Badannya yang kurus kecil seperti anak kecil kelihatan ber-goyang2 dan orangnya bergerak maju mendekati Yo Cie Cong sampai sejarak delapan kaki didepannya. Kemudian tangannya digerakkan dengan tipu yang sangat aneh luar biasa ia melancarkan serangan kepada Yo Cie Cong.

Anak muda itu lantas menggunakan gerak tipu ilmu silat dari Kim lo pang untuk menghadapi lawannya, tetapi tarnyata tidak berhasil menghadang serangan tersebut, maka segera merubah tipunya ia menggunakan ilmu Menggeser tubuh menukar barangan menghilang dari hadapannya manusia jelek itu.

Ang Kut Tan, yang melihat serangannya tadi hampir berhasil, bagaimana mau melepaskan musuhnya begitu saja? se-olah2 bayangan. dengan cepat ia memburu dan menyerang lagi. serangannya itu semakin lama semakin aneh. Dibarengi dengan ilmu hasil ciptaannya sendiri terus mendesak hebat lawannya.

Untuk sementara Yo Cie Cong merasa ripuh juga melayani serangan aneh lawannya itu, maka dengan terpaksa ia selalu mengegos sana mengegos sini dengan cara ber-pura2an.

Ang Kut Tin kelihatan sangat bangga, maka lantas berkata dengan sombongnya, "Bocah, nama Golok Maut yang begitu tersohor ternyata cuma begini saja. Apa kau cuma mampu mengegos saja? Apa perlunya kau menuntut balas menagih hutang?"

Yo Cie Cong, yang memang orangnya tinggi hati, sebenarnya ia juga sudah merasakan. dengan caranya itu. sangat tidak memuaskan baginya. maka setelah mendengar ejekan lawannya, dadanya hampir saja meledak rasanya, sambil kertak gigi ia lalu hentikan caranya ber-lari2an itu, kemudian memusatkan ilmu Liang- kek Cin-goannya, kedua tangannya ditujukan kearah 'Manusia jelek nomor satu itu', terus menyapu tanpa berhenti. sehingga asap merah putih dengan kekuatannya yang maha hebat, se-olah2 gelombang laut pasang menyerang lawannya saling susul. Gerakannya kali ini, ternyata membawa hasil bagus.

Betapa aneh dan rapatnya serta hebat serangannya Manusia jelek nomor satu dan betapapun lincahnya gerakan Badannya kini tidak mampu lagi mendekati lawannya,

Yo Cie Cong, dengan adanya barang2 ajaib dari alam serta penemuannya dari seorang manusia aneh dari rimba persilatan, kekuatan tenaga dalamnya keras mengalir keluar bagaikan aliran air dari sungai Tiangkang yang tidak kenal putusnya. Dalam waktu sebentar saat saja asap dan hawa merah putih telah menyelubungi udara sekitarnya. Ditempat sekitar lima tombak dari padanya, semua daun pepohonan pada rontok. dan rumput-rumput pada kuning, kena pengaruhnya hawa gaib tadi. suara Buk, buk/ terdengar tidak henti-hentinya.

Asap mukjijat itu makin lama makin menebal, sehingga membuat orang sukar bernapas, se- olah2 kelelap didalam gelombang lautan.

Pertempuran dahsyat yang jarang terdapat dalam rimba persilatan ini, benar2 sangat mengerikan-

Orangnya Pek-leng-hwee, meski sudah di suruh mundur oleh Manusia jelek nomor satu, tetapi tempat tersebut yang merupakan pUsatnya perkumpulan Pek-leng-hwee dan yang kini sedang menghadapi musuh kuat, betapa pun juga mereka tidak berani berbuat sembarangan. Mereka dengan diam2 telah sembunyikan diri ditempat sekitar medan pertempuran. orang2 itu kini satu demi satu sudah dibikin kesima oleh pertempuran yang luar biasa itu.

Beberapa waktu telah berlalu. Gerakan Ang Kut Tan per-lahan2 mulai mengendor. sedangkan Yo Cie Cong sendiri juga per-lahan2 mulai lambat gerakannya. Tetapi tenagaa yang meluncur keluar dari kedua tangannya. masih tetap hebat, sedikitpun tidak ada bedanya dengan waktu mula2 dilancarkan.

Tapi, manusia ada terdiri dari darah dan daging, betapapun tinggi kekuatan tenaga dalamnya, ada kalanya bisa lelah juga.

Terutama dalam pertempuran dengan kekuatan kedua fihak ada berimbang, dan bertempur secara mati2an, kekuatan tenaga yang digunakan sudah tidak terhitung lagi-

Buat orang yang sudah seperti Yo Cie Cong, yang boleh dikata ada satu manusia istimewa meskipun tenaga dalamnya bisa digunakan tanpa terputus, tapi itu hanya digunakan untuk menghadapi lawan yang kekuatan tenaga dalamnya dibawah dirinya. hingga bisa bertahan terus sampai lama, tidak usah kuatir akan kehabisan tenaga. Tapi ini bukan berarti tidak bisa lelah.

Umpama keadaannya Yo Cie Cong pada saat itu setiap serangannya itu harus menggunakan kekuatan tenaga sepenuhnya, maka lama kelamaan ia kewalahan juga. Kembali beberapa saat berlalu. Kedua pihak kelihatan sudah mulai lelah.

serangannya Yo Cie Cong sudah tidak seperti semula yang begitu hebat, dahinya sudah kelihatan banyak keringatnya, napasnya mulai memnuru.

Manusia jelek nomor satu juga sudah merubah serangannya yang aneh dan cepat diganti dengan serangannya yang bisa menembus tempat kosong. Ia sudah ambil keputusan hendak bertempur mati2an dengan Yo Cie Cong. Kedua pihak sudah bertekad bulat hendak membinasakan lawannya.

Yang satu sedang menagih hutang jiwa perguruannya, yang lain hendak mempertahankan jiwanya maka masing2 berusaha untuk menyingkirkan jiwa lawannya.

Diantara dua musuh itu cuma satu yang boleh hidup, ini berarti suatu pertempuran antara mati dan hidup.

Yo Cie Cong nampaknya makin lama makin gelisah, jika pada saat itu Tin Bie Nio atau orang yang sepadan kekuatannya muncul memberi bantuan pada pihaknya Manusia jelek nomor satu entah bagaimana akibatnya? Mungkin ia bukan saja tidak tercapai tujuan untuk menuntut balas, bahkan barangkali akan mengantarkan jiwa.

Bagi Manusia jelek nomor satu ini adalah untuk pertama kalinya menemukan musuh kuat. Ia sudah dapat kenyataan bahwa kekuatan tenaga dalam musuhnya ternyata lebih tinggi daripada dirinya sendiri, jika bertempur itu berlangsung lama, kemungkinan untuk merebut kemenangan baginya semakin kecil lagi.

Pertempuran yang tadi tampak gencar dan hebat. Kini nampak sudah kendor. Lama kelamaan, kedua pihak setiap kaii melakukan serangan, harus diseling dengan sedikit waktu untuk mengaso, namun setiap serangan itu semuanya ada mengandung kekuatan yang bisa mematikan pihak lawannya. Pihak mana saja yang tidak sanggup menerima serangan. paati akan segera menggeletak ditanah menjadi bangkai.

"Manusia jelek. hutang jiwa dibayar jiwa, saat kematianmu sudah tiba" demikian terdengar suaranya Yo Cie Cong .

"Bocah, apa kau masih mengira bisa keluar dalam keadaaa hidup dari oey to-pa ini? Ha, ha, kau mimpi ditengah hari bolong "

Apa yang membuat Yo Cie Cong tidak habis mengerti pada saat itu, ialah tidak munculnya Cin Bie Nio. Karena sebagai ketua, tidak mungkin ia tidak ambil pusing dan unjukkan diri selagi pusat perkumpulannya diserbu musuh, apalagi terhadap ia sendiri benCinya bukan main.

Apakah dalam hal ini ada rahasia apa? ?

Mungkinkah wanita genit cabut dan banyak akalnya itu kini tidak berada didalam pusat perkumpulan Pek-leng-hwee?

Matanya Yo Cie Cong dengan tidak henti2nya terus ditujukan kearah gedung yang di kitari pohon merah itu, ia telah dapat lihat bahwa disekitar tempat tersebut ada tersembunyi banyak orang2nya Pek-leng-hwee.

"Aku harus lekas menyelesaikan pertempuran ini" demikian pikirnya Yo Cie Cong.

Suatu pikiran segera terlintas dalam otaknya. Melihat keadaannya pada saat itu, apabila ia tidak menyelesaikan pertempuran itu dengan cepat. hilanglah kesempatan bila mengingat dengan Manusia jelek nomor satu saja sudah merasa "berat" untuk membereskan, bagaimana jika pihak Pek-leng-hwee mengerahkan semua kekuatannya?

Disamping itu, lain kekuatiran timbul pula didalam hatinya. Hari ini jika tidak berhasil membinasakan jiwanya si Manusia jelek nomor satu ini, dikemudian hari makin lebih berat lagi tugasnya untuk mencari jejaknya orang ini, karena ada kemungkinan besar ia akan meninggalkan Pek-leng.hwee.

Maka ia lantas mengambil keputusan. hari ini jika tidak bisa membinasakan jiwanya Ang Kut Tan, ia tidak akan meninggalkan tempat yang merupakan pusatnya perkumpulan Pek-leng-hwee itu.

Oleh karenanya maka lantas bangunlah semangatnya, pada saat mengadu kekuatan dan lagi mundur ia lalu kumpulkan sisa kekuatan tenaga dalamnya, dikerahkan kepada kedua telapakan tangannya mulutnya berbareng membentak:

"Setan wajah jelek. sambuti seranganku" berbareng dengan itu, dari kedua telapakan tangannya yang mengandung sisa kekuatan tenaga dalamnya, lantas meluncur keluar asap merah putih dari ilmu pukulannya Liang- kek Cin-goan, dengan amat dahsyat lantas menyerbu kepada dirinya si manusia jelek nomor satu didalam dunia itu.

Ang Kut Tan juga sudah mengambil keputusan nekad, Badannya yang pendek kecil lantas mundur setengah tindak, kedua tangannya diangkat hingga menjadi lempang dengan dadanya. Dengan sisa kekuatan tenaga dalamnya ia mendorong keluar.

suara benturan hebat lantas terdengar nyaring. saat itu keadaan disekitar tempat tersebut se- olah2 mengalami bencana gunung meledak. wajahnya Yo Cie Cong. nampak pucat pasi, namun ia dengan kertak gigi bertahan supaya jangan sampai mengeluarkan suara. Badannya terhuyung sampai mundur lima langkah. Ia telan kembali darah yang hendak keluar dari mulutnya. dengan mata beringas ia mengawasi musuhnya.

Ang Kut Tan sendiri nampak keluarkan seruhan tertahan, Badannya rubuh terjengkang. tapi lantas lompat bangun lagi darah segar mengalir keluar dari mulutnya, wajahnya nampak sangat seram menakutkan, ditambah lagi karena ia memang ada seorang yang mempunyai wajah maha jelek. -

"Setan jelek, hari Akhirmu sudah tiba" demikian Yo Cie Cong berkata.

Ang Kut Tan saat itu napasnya memburu, matanya yang sipit hampir meloncat keluar bijinya, tapi ia tidak bisa menjawabi

Yo Cie Cong tahu benar keadaannya pada saat ini, ia sendiri sudah terluka, tenaga dalamnya sudah terhambur kelewat banyak. Maka ia buru2 berusaha untuk memulihkan kekuatannya.

Untung ia beberapa kali menemukan kejadian ajaib, sehingga menjadiKan dirinya seorang 'istimewa'. Maka setelah mengatur pernapasannnya sebentar, kekuatan tenaga dalamnya dengan cepat sudah pulih kembali,

Pada saat itu, dari berbagai penjuru telah muncul orang2nya Pek-leng-hwee yang jumlahnya lebih dari lima puluh orang.

Menampak kedatangannya mereka, hawa amarahnya Yo Cie Cong lantas berkobar lagi. sambil kertak gigi, Badannya lantas melesat tinggi, ditengah udara ia memutar balik badannya

dan mencabut lagi golok mautnya yang tadi ditancapkan diatas papan merek Pek-leng-hwee.

Gerakan Yo Cie Cong itu telah mengejutkan semua orang2nya Pek-leng-hwee.

DENGAN satu tangan memegang golok mautnya, Yo Cie Cong berdiri tegak ditengah kalangan, sikapnya seperti dewa yang baru turun dari langit.

Ia tidak mau melewatkan setiap kesempatan walaupun bagaimana pendeknya. Kembali ia mengatur pernapasannya dan mengumpulkan kekuatan tenaganya, Ia tahu bahwa ia sedang menghadapi pergulatan batin yang sangat hebat. Bagaimana ia harus menghadapi orang2nya Pek- leng-hwee yang jumlahnya begitu banyak, apabila ia tidak boleh turun tangan melakukan pembunuhan?

Orang2 Pek-leng-hwee yang mengurung Yo Cie Cong, sudah tahu kalau pemilik Golok Maut itu selagi bertempur mati2an dengan Pelindung hukumnya Pak-leng-hwee, ke-dua2nya sudah terluka parah, maka pikirnya saat itulah merupakan kesempatan yang paling baik untuk menyingkirkan jiwanya si manusia ganas itu.

Manusia jelek nomor satu Ang Kut Tan yang terkena serangan Yo Cie Cong dengan telak, sudah mendapat luka didalam yang amat parah, tapi ia ada seorang keras kepala, ia kuatkan Badannya jangan sampai rubuh.

Kedua pihak berdiri diam, suasana menjadi sangat sunyi, hingga bisa terdengar suara jatuhnya jarum.

Tapi keheningan itu rupa2nya cuma merupakan selingan saja, sebab dalam keheningan dan kesunyian itu ada tersembunyi bahaya maut yang setiap saat bisa menerkam jiwa orang.

sejenak kemudian, Yo Cie Cong meski mengawasi orang2 disekitarnya, tapi se-olah2 tidak pandang mata. "Golok Maut" dalam tangannya digerak2kan dengan perlahan, dengan suara ketus dingin ia berkata kepada manusia jelek nomor satu: "Setan jelek. serahkanlah jiwa mu "

Ang Kut Tan merasa gusar sekali. "Bocah kau kira hari ini kau bisa keluar dari oey-Co-pa dalam keadaan selamat ? Ha,ha...jangan mimpi." demikian katanya.

Yo Cie Cong melangkah maju kakinya dua tindak. lalu berkata sambil kertak gigi: "Setan jelek Dimana Golok Maut muncul, tidak seorang yang mampu lolos dari ujungnya. sekarang aku suruh kau merasakan ujung golok itu." sehabis berkata, dengan cepat Badannya lantas bergerak maju lagi. Ia menggunakan Golok Mautnya untuk menyerang musuh berat itu -

Manusia jelek nomor satu itu, meski habis terluka parah, tetapi kepandaian tidak boleh dipandang ringan. Dengan kecepatan bagaikan kilat Badannya memutar kekanan dan kekiri, tangan kirinya melancarkan serangan.

Dengan demikian, ia hendak menggunakan serangan untuk menyambut serangan lawannya.

Tiga gerakan dari ilmu serangan Golok Maut, adalah buah ciptaannya Yo Cin Hoan yang sudah menggunakan waktu dua puluh tahun lamanya untuk diyakinkan terus. Maksud dari tipu serangan itu ialah, se-mata2 untuk dipakai dalam menghadapi musuh2nya maka juga merupakan salah satu tipu serangan yang aneh dan ganas yang sudah tidak ada taranya lagi, maka setiap kali turun tangan hampir tidak ada seorangpun yang dapat menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Pertempuran antara dua orang kuat itu telah dilakukan dengan cepat lawan cepat.

Manusia jelek nomor satu yang melancarkan serangannya sambil memutar badan, juga merupakan satu serangan yang ganas. Dianggapnya, dengan menggunakan cara demikian itu ia dapat menyingkirkan diri dari serangan Golok Mautnya Yo Cie Cong.

Siapa tahu, kenyataan ada lain dugaannya, Begitu bergerak tangan kirinya lantas terkutung. Rasa sakit menusuk keulu hatinya. Darah menyembur laksana air mancur. Ia lalu menjerit dan mundur sampai lima kaki.

Serangan Yo Cie Cong yang hanya berhasil memapas lengan tangan musuhnya itu, dalam hati juga merasa heran, sebab serangan dengan Golok Mautnya itu, jarang ada musuh yang lolos dari tangannya. Dan sekarang Ang Kut Tan dengan Badannya yang habis terluka parah, ternyata masih mampu menghindarkan dua serangan lainnya maka kepandaian ilmu silatnya orang jelek itu, sebetulnya tidak boleh dianggap remeh.

Selagi manusia jelek nomor satu itu mundur dalam keadaan terluka, tiba2 ada tiga bilah pedang panjang datang menjambar kearah Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong dengan gesit egoskan diri dengan ilmu Menggeser tubuh menukar bayangan-nya, ia melesat keluar kalangan.

Diserang secara demikian, amarahnya naik seketika, maka dengan tidak ada ampun lagi, Golok Mautnya dikerjakan dengan beruntun.

Diantara berceceran darah disertai jeritan yang mengerikan, tiga orang yang melakukan serangan gelap tadi, semua sudah terpapas kutung lengannya dan berlubang dibagian dadanya serta orangnya binasa seketika itu juga-

semua orang2nya Peng-leng-hwee yang menyaksikan kejadian tersebut pada berseru kaget, nyalinya copot seketika.

Orang2 itu yang tadinya hanya mendengar saja kekejaman dan keganasannya pemilik Golok Maut mengambil korbannya, hari ini setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, barulah percaya bahwa kabar tersebut ternyata bukan hanya kabar angin belaka.

Yo Cie Cong dengan wajah penuh napsu membunuh dan suara agak serak. berkata pada mereka:

"tujuan kedatanganku kemari, se-mata2 hanya hendak menuntut balas dan menagih hutang jiwa. Aku tidak akan membunuh orang2 yang tidak berdosa. jikalau kalian kenal gelagat. lebih baik lekas2 mundur. tetapi, jikalau kalian tidak mau menurut, Golok Maut ini tidak ada matanya. Itu berarti kalian cari mati sendiri jangan sesalkan aku."

"Pemilik Golok Maut, kau menghina orang begitu keterlaluan. Apa kau kira, Pek-leng-hwee sudah tidak ada orangnya lagi?" -demikian terdengar suara orang bicara yang segera disusul dengan munculnya lima bayangan orang yang lantas berbaris didepannya Yo Cie Cong.

Kelima orang itu, tiga diantaranya adalah orang2 dengan usia lanjut, satu laki2 pertengahan umur, satu lagi seorang wanita, juga pertengahan umur, semuanya pada mengawasi Yo Cie Cong dengan mata mendelik, "Kalian berlima datang ini ada maksud apa?" tanya Yo Cie Cong.

"Pek-leng-hwee bukan satu perkumpulan yang mudah diinjak2 seperti kau kira."

"Kalian barangkali tidak melihat tiga orang yang menggeletak ditanah itu, seperti apa yang kukatakan sendiri, hutang jiwa bayar jiwa. Apa maksud kalian berlima ini hendak menuntut balas

?"

Kelima orangnya Pek-leng-hwee itu telah dibikin gusar oleh ucapannya Yo Cie Cong yang sangat jumawa. Maka mereka lantas mengeluarkan serangannya secara berbareng.

Yo Cie Cong karena barusan habis melakukan pertempuran mati2an dengan Manusia jelek nomor satu dan sekarang, kekuatan tenaga dalamnya yang baru saja pulih separuhnya, sudah tentu agak berat baginya untuk menghadapi lima orang musuh sekaligus.

Tetapi, adatnya yang keras dan tinggi hati meskipun tahu kalau keadaan berbahaya baginya, tetapi tetap akan dilayaninya juga kelima orang musuhnya itu.

Diam2 ia kertak gigi, tangan kirinya mengirim serangan menyambut serangan dari serangan dari lima orang tadi.

setelah serangan kedua belah pihak saling beradu. Yo Cie Cong keluarkan seruan tertahan.

Badannya mundur ter-huyung2 sampai tiga langkah, mulutnya menyemburkan darah.

Sedangkan lima orangnya Pek-leng-hwee, juga bersamaan pada saat itu sudah dibikin terpental mundur sampai lima tindak.

setelah terpukul mundur sedapat mungkin Yo Cie Cong coba menahan rasa sakitnya, kemudian secepat kilat menerjang lagi kepada lima orang tersebut, Golok Mautnya ditangan kanannya sebentaran sudah melakukan serangannya dengan beruntun sampai lima belas kali.

Ia tahu benar, jika ia tidak cepat turun tangan untuk membinasakan lima orang kuat itu, bahaya selanjutnya akan menyusul dengan segera untuknya.

suara jeritan ngeri lantas tertengar saling susul. Lengan atau kaki manusia pada berterbangan ditengah udara. Lima orang kuat dari Pek-leng-hwee semuanya sudah menjadi korbannya Golok Maut.

Orang2 Pek-leng-hwee yang lagi2 menyaksikan kejadiah mengerikan macam itu, semua pada berdiri gemetar.

sedangkan Manusia jelek nomor satu yang sedang menderita luka parah karena luka dalamnya, ditambah lagi karena satu lengannya sudah terpapas kutung, untuk sementara susah baginya untuk mengembalikan kekuatannya maka saat itu sudah lenyap semua semangatnya untuk bertempur dalam hatinya hanya memikirkan bagaimana caranya supaya bisa kabur.

Yo Cie Cong yang dalam waktu sekejapan mata saja sudah berhasil membinasakan lima orang lawannya yang tangguh semuanya dan juga membuat orang2nya Pek-leng-hwee bergemetaran, kelihatan bersangsi sejenak, kemudian dengan menggunakan sisa kekuatannya yang masih ada, tiba2 ia melesat kehadapannya manusia jelek nomor satu.

Ang Kut Tan yang sedang memikirkan bagaimana caranya yang paling baik untuk melarikan diri, tidak tahunya Yo Cie Cong sudah melayang turun dihadapannya.

Dalam kagetnya, ia lantas mundur dua tindak. Yo Cie Cong terus merangsak dengan mata berapa.

Manusia jelek nomor satu karena sudah merasa tidak ada harapan untuk mundur lagi, lalu timbul pikiran nekadnya.

Diam2 ia memusatkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya ketangan kanannya. dengan tidak berkata apa2 ia lantas menyerang Yo Cie Cong.

Dalam jarak yang demikian dekatnya, sudah tentu serangan itu sangat berbahaya sekali. Yo Cie Cong tidak menduga sama sekali kalau musuhnya hendak berlaku nekad demikian- Karena sudah tidak sempat berkelit, maka terpaksa ia miringkan sedikit Badannya dan dalam saat itu, ilmu Cao-kienya secara otomatis menutup dirinya. Berkat Cao-kienya yang digjaya itu, terhindarlah ia dari bahaya maut.

Meskipun demikian serangan itu juga berhasil mengenakan dirinya Yo Cie Cong secara telak. membuat Badannya pemuda ini terpental mundur dan mulutnya kembali menyemburkan darah,

Serangan Manusia jelek nomor satu tadi meski dilakukannya dengan nekad, tetapi oleh karena Badannya sendiri sedang terluka parah dan kekuatan tenaganya masih belum pulih kembali, maka kekuatan dari serangannya secara nekad tadi. hanya keluar tiga bagian saja dari biasanya. jika tidak begitu. sudah tentu Yo Cie Cong tidak sanggup menyambuti.

Selain dari itu, kekuatan Cao-kienya Yo Cie Cong yang melindungi dirinya yang mempunyai daya menendang balik membuat Manusia jelek nomor satu itu terpental beberapa tindak. sehingga menyemburkan darah segar. Badannya kelihatan ter-huyung2, hampir saja jatuh rubuh.

orang2 Pek-leng-hwee yang berada disekitarnya, ketika menyaksikan luka Yo Cie Cong yang tidak ringan- kembali ingin bergerak menyerang.

Yo Cie Cong. mestki lukanya juga tidak ringan. tetapi dalam hati sudah mengerti bahwa bahaya belum lenyap seluruhnya, semua betapapun juga karena tekadnya hendak menuntut balas, membuat ia dapat menghadapi musuh2nya dengan tidak ada perasaan takut sama sekali.

Dengan Golok Maut ditangan kanan ia terus mendesak si Manusia jelek nomor satu.

Ang Kut Tan dengan wajah pucat pasi terus mundur setindak demi setindak. suasana didepan pintu gerbang itu kelihatan sangat tegang kembali.

semua orang2nya Pek-leng-hwee, saat itu masih memikirkan perlu tidaknya segera turun tangan-

Pada saat itu, suatu kejadian yang tidak ter-duga2 telah terbentang dihadapan mata mereka.

Diantara berkelebatnya sinar Golok Maut, terlihat menyemburnya darah merah,

terpentalnya lengan, kaki dan suara jeritan ngeripun terdengar mengenaskan- Tubuhnya Ang Kut Tan Manusia jelek nomor satu sudah rubuh ditanah dalam keadaan mandi darah yang keluar dari dadanya. Keadaannya sangatlah mengerikan-

orang2nya Pek-leng-hwee yang termasuk orang2 kuat yang berjumlah dua puluh lebih, seperti baru tersadar dari mimpinya, sekarang coba bergerak menyerbu. Yo Cie Cong dengan badan berputaran menghadap orang2 itu dengan sorot mata gusar.

orang2 Pek-leng-hwee itu kelihatannya sudah dibikin jeri oleh sikapnya Yo Cie Cong, sehingga masing2 pada merasa ragu.

Yo Cie Cong dengan sangat tenang, dari dalam sakunya mengeluarkan buku daftar musuh2nya Kam-lo-pang, lantas membuka lembaran pertamanya. Lalu dengan darahnya Manusia jelek nomor satu ia menghapus dengan jari tangannya Manusia- jelek nomor satu Ang Kut Tan,

Sehabis berbuat begitu lantas dimasukannya lagi buku daftar itu dengan sangat hati2 kedalam sakunya, kemudian dongakkan kepala dan mendoa: "jika arwah suhu diaLam baka mengetahui ini, teecu hari ini sudah berhasil menagih hutang dari seorang musuh lagi. sisanya empat orang teecu pasti akan berusaha sedapatnya, sekalipun harus menerjang lautan api, juga akan melanjutkan usaha untuk mencari mereka."

Sehabis mendoa disimpannya lagi Golok Mautnya, lalu mengawasi semua orang2nya Pek-leng- hwee, kemudian memutar tubuhnya dan hendak masuk kedalam gedung perkumpulan, orang2nya Pek-leng-hwee, wajahnya pucat pasi semunya. Dengan secara nekad mereka berusaha merintangi majunya Yo Cie Cong,

oleh karena Yo Cie Cong hendak menerjang kedalam pusatnya Pek-leng-hwee, maka dengan terpaksa mereka harus juga merintangi. Diantara orang2nya Pek-leng-hwee yang termasuk kuat juga. adalah seorang tua yang kepalanya sudah botak. saat itu ia lantas maju dan berkata dengan sikap gusar "Tuan hendak bikin apa?"

"Mana ketua kalian? Aku hendak bikin perhitungan dengan dia" "Ketua kami sedang tidak berada dalam gedung pusat."

"He, h e... Apa dengan menyampaikan sedikit perkataanmu ini kau kira aku mau sudah takut?" "Kalau begitu, tuan pikir hendak bikin apa lagi ?"

"Aku tidak mau sudah sebelum menjumpai ketua kalian" "Hari ini barangkali tidak bisa."

"He, he... Tidak bisa? pemilik Golok Maut mampu melaksanakan setiap ucapannya. Tidak ada suatu hal yang tidak bisa." orang2 Pek-leng-hwee itu pada unjukan roman gusar.

Agaknya, jika Yo Cie Cong hendak memakai cara jalan kekerasan, mereka juga akan melawan dengan kekerasan pula.

sebabnya ialah karena mereka sudah melihat keadaan pemilik Golok Maut itu. setelah melakukan pertempuran sengit dengan beruntun, mereka beranggapan kekuatan tenaga dalamnya tentu sudah habis. Apa lagi kalau diingat, disaat itu ia sudah menderita luka2 yang tidak ringan, membuat kurangnya rasa takut mereka. jikalau tidak, mana berani mereka menentang ? suasana kembali menegang.

Pertumpahan darah lagi agaknya sulit dicegah. Tiba2 terdengar auaranya orang berkata "Anak. kau terlalu mem-buang2 percuma kekuatanmu sendiri" suara itu lalu disusul oleh

munculnya satu bayangan orang.

Yo Cie Cong baru saja mendengar suaranya. sudah mengenali siapa orangnya yang baru datang itu, maka dengan cepat lantas balikkan badanya tampak disuatu tempat dua tombak jauhnya berdiri seorang laki2 berkedok kain merah.

orang2nya Pek-leng hwee juga kenal bahwa orang yang baru datang itu adalah pemilik bendera burung laut yang menggetarkan dunia rimba parsilatan, semua lantas tidak ada yang berani buka suara. Mereka tidak tahu apa maksudnya dengan mendadak manusia aneh ini bisa datang ketempat mereka.

Yo Cie Cong sambil bungkukkan badannya berkata: "Cianpwee hendak memberikan petunjuk bagaimana ?"

"Anak, kau mau bikin apa?" balas tanya orang berkedok kain merah.

"Boanpwee mau cari ketua Pek-leng-hwee Cin Bie Nio, itu wanita rendah untuk bikin perhitungan dengannya."

"sekarang ini, kau sudah mendapat luka yang tidak ringan Kekuatanmu belum lagi pulih. Apa kau yakin kau mampu melawan dia ?"

Setelah bersangsi sejenak Yo Cie Cong lantas berdiri dan kemudian menyahut sambil kertak gigi: "Hari ini, biar bagaimana juga boanpwee tidak akan mau melepaskan dia."

"Tetapi anak. kau tidak usah cari dia lagi. selamanya kau tidak bisa menemukan dia lagi."

Keterangan ini membuat Yo Cie Cong berdiri ter-heran2. ia tidak habis mengerti apa maksud perkataan orang berkedok itu, maka lantas menanya heran: "Kenapa ?"

"Dia sudah tidak ada dalam dunia ini."

Orang2nya Pek-leng-hwee yang mendengar keterangan tersebut, semua pada berubah wajahnya. sebab, mengenai hal tersebut, mereka juga masih belum tahu benar.- kecuali orang Pek-leng-hwee yang berkedudukan tinggi dalam perkumpulannya, yang lainnya tidak ada seorangpun lagi yang tahu.

sudah tentu juga berita itu tidak boleh disiurkan kedalam dunia Kang-ouw. tetapi entah bagaimana orang berkedok itu sadah mengetahui hal tersebut. "Anak. kau tinggalkan tempat ini. Nanti akan kuterangkan lebih jauh padamu."

"Baiklah."

Keduanya lantas meninggalkan tempat tersebut. Orang2nya Pek-leng-hwee dengan mata terbelalak dan perasaan ter-heran? mengawasi berlalunya kedua orang itu Bagaimana pikiran mereka ? Hanya mereka sendiri yang tahu.

Yo Cie Cong yang mengikuti orang berkedok itu, setelah meningggalkan oey Co-pa, keduanya lantas lari laktana terbang.

Satu jam kemudian, mereka telah tiba ditepi sungai yang keadaannya amat sunyi.

setelah masing2 ambil tempat duduk ditepinya sungai, Yo Cie Cong yang sudah lidak sabaran, lantas menanya

"Cianpwee, mengapa barusan mengatakan Cin Bie Nio sudah tidak ada didalam dunia lagi?" "Benar"

"Dengan cara bagaimana ia menemukan ajalnya ?"

"Kemarin malam, waktu tengah malam, didalam pusatnya Pek-leng-hwee telah terjadi suatu peristiwa hebat. Dengan tidak ketahuan datangnya dan cara bagaimana masuknya, seseorang yang tidak ketahuan asal usulnya telah mengambil kepalanya Cin Bie Nio. Pagi hari ini, kepalanya itu telah diketemukan orang dipakai untuk sembahjang dikuburannya ketua Pek-leng-hwee yang dulu, yaitu "siangkoan Kin, yang juga merupakan bekas suaminya sendiri ."

"Siapakah yang melakukan perbuatan itu?"

"Hal ini tidak ada seorangpun juga yang tahu. Tetapi menurut dugaanku, mungkin kematiannya siangkoan kin ada hubungannya dengan wanita itu. Cin Bie Nio yang kawin dengan siangkoan Kin sebagai isteri kedua, waktunya tidak lama Perempuan ini begitu genit, jahat kejam, maka kemungkinan besar sekali ia bermaksud merebut kedudukannya ketua dari Pek-leng-hwee, maka ia telah membunuh suaminya sendiri" ,

Yo Cie Cong lantas terbenam dalam lamunannya sendiri: Kepandaiannya Cin Bio Nio tidaklah lemah. Hanya ilmu menggunakan senjata berbisanya itu saja, barangkali sedikit sekali orangnya yang mampu melawan- Apalagi dengan adanya Manusia jelek nomor satu disitu, maka orang yang mampu masuk tanpa diketahui dan sampai berhasil memenggal kepalanya perempuan jahat itu, kepandaiannya sangatlah mengejutkan-

Siang-koan Kin, yang sebetulnya juga merupakan salah satu musuhnYa kam-lo-pang,, tetapi sebelum Yo Cie Cong muncul, orang2nya sudah tidak ada dalam-dunia lagi. Dengan sendirinya, tidak perlu ia menuntut balas kepAda orang yang sudah mati.

Ia masih ingat benar, siangkoan Kin yang aneh. Dari sini dapatlah diterka bahwa orang yang turun tangan mengambil kepalanya Cin Bie Nio itu, mungkin sekali adalah bekas anak buahnya siangkoan Kin dulu yang setia padanya yang dapat tahu belakangan bahwa kematian siangkoan Kin itu adalah dilakukan sendiri oleh Cin Bie Nio, maka ia lantas turun tangan untuk menuntut balas.

Membayangkan ini. ia lantas ingat kembali pada wanita baju merah yang bentuk Badannya mirip sekali dengan siangkoan Kiauw.

Apakah itu betul siangkoan Kiauw? Tapi mengapa kalau benar dia memandang Yo Cie Cong seperti orang yang baru melihat pertama kalinya dijalanan? itu rasanya tidaklah mungkin-

Barangkali juga ia mempunyai kesulitan batin yang tidak dapat dijelaskannya, sehingga untuk sementara ia tidak mau memperlihatkan wajah aslinya.

Tetapi, apabila kejadian benar begitu, terhadap orang lain memang tidak mengapa, tetapi terhadap Yo Cie Cong sebetulnya tidak seharusnya ia berbuat demikian.

Waktu itu mungkin Siangkoan Kiauw adanya, yang dalam kecelakaan dilautan lam-hay. seperti juga dengan halnya Yo Cie Cong yang masih terus hidup sampai sekarang karena ditolong orang dan ia kemudian belajar ilmu silat lagi, lalu balik kembali kedaerah Tionggoan dan disini ia lantas mengetahui sebab2 kematian ayahnya almarhum, maka,...

Berpikir sampai disitu, dengan tanpa sadar Yo Cie Cong lantas berkata pada dirinya sendiri: "Atau mungkin itu adalah perbuatannya "

"Anak. apa yang kau katakan?" orang berkedok kain merah itu menegur. Yo Cie Cong baru tahu kalau ia sudah terbenam dalam lamunannya sendiri, maka segera menjawab, "Boanpwae tiba2 ingat seseorang. Menurut dugaan boanpwee, tentang terbunuhnya Cin Bie Nio ini, kemungkinan benar adalah perbuatannya dia."

"siapa ?"

"Anak perempuannya siangkoan Kin yang bernama Siangkoan Kiauw."

"Hmmm, itu memang bisa saja. Bagaimana kau bisa menduga sampai kesitu? Anak perempuan itu ...oooo. Apakah itu anak perempuan baju merah yang dulu pernah menolong kau ber-sama2 Thian-san Liong- di ditepinya Danau Naga?"

"Benar."

"Anak, apakah kau kenal baik dengan dia?" Pertanyaan itu, sudah tentu mengandung maksud apakah Yo Cie Cong sudah menyintai gadis itu.

Diwajahnya Yo Cie Cong lantas terlihat jelas rasa dukanya, ia lalu menceritakan apa yang telah terjadi dilautan Lam-hay atas dirinya gadis itu, ketika mengikuti ia pergi kepulau Batu Hitam. Ia juga menceritakan karena ia terkena racunnya Pil sorga kepunyaannya Cin Bie Nio. siangkoan Kiauw telah mengawaninya pergi kedaerah Liauw. untuk pergi mencari obat. Akhirnya ia juga menceritakan munculnya wanita aneh baju merah yang baru2 ini unjukan diri didunia Kang-ouw. Dan apa yang mengherankan ialah bentuk Badannya yang mirip dengan bentuk Badannya, siangkoan Kiauw.

Orang misterius berkedok kain merah itu, setelah mendengar habis ceritanya Yo Cie Cong, lantas berkata sambil anggukkan kepalanya: "Anak. dugaanmu ini sangat beralasan-Perempuan baju merah dengan kedoknya yang sangat aneh juga itu sudah muncul didunia Kang-ouw tidak usah kau kuatir tidak bisa bertemu lagi. yang sulit ialah, dengan cara bagaimana supaya dia mau memperlihatkan wajah aslinya. Menurut apa yang kau katakan, kepandaiannya orang itu tinggi sekali."

Yo Cie Cong setelah barpikir sajenak, lalu berkata: "Tidak benar. jikalau benar dia adalah siangkoan Kiauw, tidak ada alasan untuknya tunjukan wajah aslinya terhadap boanpwee. jikalau dia bukannya siangkoan Kiauw. maka apa yang boanpwee duga sekarang ini bukankah cuma dugaan kosong saja ?"

"Anak, soal ini biarlah dikemudian hari kita bicarakan lagi. sekarang aku hendak tanya kau, bagaimana dengan soal penuntutan dendam sakit hatimu?"

"Masih ada empat orang lagi yang terkuat." "Siapa itu?"

"Si iblis rambut merah si Siluman tengkorak. Liat- yang Lokoay dan Giok- bin Giam-po." Ketika Yo Cie Cong menyebutkan Giok- bin Giam-po Badannya orang berkedok kain merah itu mendadak terlihat tergoncang. tetapi agaknya Yo Cie Cong tidak perhatikan perubahannya orang itu, masih tetap melanjutkan penuturannya

"Diantara mereka berempat, hanya si Siluman tengkorak yang sudah pernah bergebrak dengan boanpwee, begitu juga dengan Liat-yang Lokoay. sedang si iblis rambut merah dan Giok- bin Giam-po, masih belum ketahuan jejaknya. cuma, mengenai dirinya Giok- bin Giam-po, Phoa Cit Kow itu, menurut apa yang boanpwee telah selidiki, dia kiranya sedang bersembunyi diatas puncak gunung, apa yang dinamakan Pit-koan- hong, tetapi hal ini belum dapat dibuktikan benar tidaknya."

"Apa? Anak. Giok- bin Giam-po sembunyikan diri diatas puncak gunung Pit-koan- hong ?" "Ya. tidak perduli apa yang akan terjadi. boanpwee telah bersumpah bahwa empat iblis itu,

satu persatu harus binasa diujung Golok Maut"

Hatinya orang berkedok kain merah saat iiu dirasakan bagai ter-iris2 pisau tajam. oleh karena wajahnya tertutup kedok kain merah, Yo Cie Cong tidak dapat melihat perubahan apa yang terjadi pada wajahnya orang itu. Pikirannya orang aneh itu kembali kepada Batu tanda yang ada ditubuhnya Yo Cie Cong, maka ia lalu berkata pada dirinya sendiri: "Liong kuat. ooo, dosa Biarlah kuberitahukan padanya. Ah Tidak, tidak Aih Anak yang patut dikasihani." Yo Cie Cong ketika mengetahui orang itu lama tidak bersuara, lantas mengalihkan pembicaraannya kelain jurusan-

"Benda wasiat ouw bok-Po-lok Cin-kuat yang dibawa oleh nona Tio telah dirampas oleh si Siluman Tengkorak. Mengenai jejaknya iblis itu, apakah loCianpwee, sudah dapat tahuu ?"

"Belum "

"Benda wasiat ouw bok-Po-lok Cin-kuat itu sebetulnya adalah barang peninggalan dari perguruan boanpwee. maka boanpwee harus mendapatkannya kembali."

"Anak, hal ini sudah lama aku tahu. Aku sudah mengutus dua belas anak buahku untuk mencari jejaknya iblis itu. jikalau mereka bisa dapatkan benda itu kembali nanti akan kuberikan padamu."

"Terima kasih atas perhatian loCianpwee, boanpwee setelah bertempur dengan Kaucu dari Im- mo-kauw, telah merasa masih mempunyai banyak kekurangan- Baru ini, ketika boanpwee membinasakan itu Manusia jelek nomor satu Ang Kut Tan, boanpwee dengan menggunanakan tenaga sepenuhnya, hampir saja tidak berhasil mencapai maksudnya, maka boanpwee sangat ingin melatih ilmu silat yang tertera didaLam potongan benda wasiat itu. Bukan saja untuk membasmi semua musuh2 suhu., tetapi juga hendak menepati pesan pada saat hendak menutup mata."

"Ilmu silat yang tertera dalam ouw-bok-Po-lok Cin-kuat itu, sangat dalam sekali maknanya, anak. meskipun kecerdasan melebihi dari manusia biasa, tetapi dalam waktu singkat barangkali juga sudah mengerti apa yang diartikan dalam tulisan itu."

Terhadap orang berkedok kain merah ini. Yo Cie Cong yang sudah mempunyai kesan baik yang dalam sekali. Ia merasa, apabila ia hendak membohongi orang ini. sesungguhnya akan merupakan perbuatan dosa saja, maka dengan tidak ragu2 lagi ia lantas berkata:

"Boanpwe dapat memahami." "Bagaimana kau dapat memahaminya?"

"karena pada boanpwee, masih ada sepotong yang lain dari benda wasiat itu, potongan itu dinamakan ouw-bok-Pok-lok Cin- kuat."

"oooo. pantas saja, jika cuma menggunakan sepotong saja tidak ada seorang pun juga yang bisa mengerti apa isinya, Tetapi jika kedua benda itu disatukan. ilmu silat yang tertulis diatasnya apabila sudah kau dapat mengerti seluruhnya, itu berarti bahwa kepandaianmu akan dapat kemajuan setingkat lebih tinggi lagi. Didalam rimba persilatan. barangkali benar2 sukar menemukan tandingan-"

"tujuan boanpwee memperdalam ilmu silat itu, terutama karena boanpwee hendak sendiri selesaikan tugas yang dibebankan atas pundak boanpwee oleh suhu, boanpwee hendak membasmi habis semua musuh2 Kam-lo-pang dan kedua ialah, hendak menggunakan itu untuk merantau didunia Kang-ouw sambil mencari tahu asal-usul diri boanpwee "

Hatinya orang berkedok kain merah itu kembali tergetar. semua peristiwa yang mengenaskan dimasa silamnya membuat ia harus mengarungi lautan hidup dalam alam duka hampa. Ia merasa kalau ia sendiri adalah seorang yang susah dapat keampunan. Dulu, oleh karena kesalahan bertindak telah membuat ia menderita seumur hidupnya. Tetapi disamping itu. ia juga turut mencelakakan dirinya orang lain yang sama sekali tidak berdosa.

Selama beberapa tahun ia mengharap- harap munculnya suatu keajaiban. Ia sudah berkelana didunia Kang-ouw, mengembara disemua tempat untuk mencari2 keajaiban itu.

Dan sekarang. Tuhan rupanya telah mengabulkan permintaannya. Keajaiban itu telah muncul.

Tetapi, ia sendiri tidak berani menghadapi kenyataan- Ia sendiri mandah memikul semua penderitaan hidupnya.

Ia tidak tahu, itu karena salahnya sendiri ataukah Tuhan yang sudah mengatur semua kejadian yang menimpa dirinya.

Dengan hati pilu matanya mengawasi wajahnya Yo Cie Cong iang tampan cakap tetapi asam kecut itu, hatinya dirasakan seperti di-iris2 sembilu. Beberapa kali ia ingin membuka tabir mengenai dirinya Yo Cie Cong, tetapi selalu perkataannya yang hendak dikeluarkan kandas ditenggorokannya. Ia takut kalau hal itu akan melukai hatinya, mungkin juga akan merusak kebahagiaan seumur hidupnya.

Kekuatiran yang terbesar ialah apabila anak itu setelah mengetahui kejadian sebenarnya, nanti akan membenci padanya untuk se-lama2nya, Tetapi apabila kejadian itu ditutup terus barangkali nanti akan merupakan suatu tragedi yang sangat mengenaskan. Pikirannya memikirkan persoalan ini pergi datang, ia masih tidak mempunyai ketabahan hati untuk mengucapkannya.

Yo Cie Cong setelah berdiam sekian lamanya tiba2 teringat pada suatu hal, maka lekas ia menanyakan : "Cianpwee anda sangat luas pandangannya dan pengetahuannya. Bolehkah boanpwee minta keterangan suatu hal?"

"Perkara apa? jikalau aku tahu, sudah pasti bisa memberitahukan padamu "

"boancwee ingin menanyakan seorang berkepandaian tinggi yang sudah menghilang dari dunia Kang-ouw dua puluh lima tahun lamanya."

"siapa ?"

"Giok bin Khiam-khek Thian Hoa,"

Orang berkedok kain merah saat itu hampir saja jatuh pingsan karena kagetnya. Lama sekali baru ia dapat menindas perasaannya yang bergolak hebat dan kemudian baru dapat menjawab^

"Apa perlunya kau menanyakan soal dia ?"

"Adakah Cianpwee tahu orang gagah dari rimba persilatan ini?"

"coba kau jelaskan dulu apa sebabnya kau minta keterangan tentang dirinya orang tersebut." "Boanpwee pernah menerima baik permintaan seseorang yang boanpwee junjung tinggi dan

paling boanpwee hargai untuk melakukan suatu hal baginya." "siapa orangnya itu?" "Thian-san Liong- lie Tho Hui Hong"

"Thian-san Liong-lie ?"^

Suaranya orang berkedok kain merah saat itu sudah agak gemetar. ia sudah mencoba menekan suaranya se-rendah2nya, supaya jangan sampai terdengar oleh Yo Cie Cong.

oooo ooooo oooo

SETELAH hening sekian saat lamanya. orang berkedok kain merah itu lalu menanya pular "Apa perlunya dia mencari Giok- bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa ?"

"Cinta kasihnya dia terhadap Giok-bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa sangat dalam sekali, selamanya sepuluh tahun lebih lamanya dia terus berusaha untuk mencari kekasihnya itu. Menurut keterangannya, wajah boanpwee mirip benar katanya dengan lelaki yang menjadi pujaannya itu."

orang berkedok kain merah itu hampir tidak sanggup lagi menahan perasaan hatinya, maka ia tidak mampu menjawab perkataannya Yo Cie Cong.

"justru oleh karena wajah boanpwee mirip sekali dengan kekasihnya dimasa mudanya." berkata pula Yo Cie Cong, "maka kesannnya terhadap boanpwee dalam sekali. Ber-kali2 ia telah ulur tangan menolong diri boanpwee dari bahaya maut tanpa menghiraukan jiwanya sendiri oleh karenanya, maka boanpwee telah berjanji padanya untuk mengurus soal tersebut."

"oo, kiranya begitu."

"Apakah Giok-bin Kiam-khek saat ini masih ada dalam dunia ?"

"Menurut dugaanku, mungkin ia sudah tidak ada diantara kita lagi. sekalipun ada, barangkali dia sudah tidak sudi menemui orang2 dunia Kang-ouw lagi."

"Kenapa ?"

"Dia...dia...dia dahulu pernah melakukan suatu kesalahan. Kesalahannya itu sebetulnya tidak disengaja, tetapi kemudian telah diketahuinya terjadinya kesalahan besar itu, maka dia merasa tidak ada muka untuk tancap kaki lagi didunia Kang-ouw, mungkin itulah sebabnya dia menghilang sampai saat ini."

"Kesalahan apa sebetulnya yang telah diperbuatnya itu?"

Orang berkedok itu kelihatan berpikir sejenak, kemudian baru menjawab sambil menghela napas "Tentang ini, aku sendiri juga tidak tahu jelas." "Giok bin Kiam-khek Hoan Thian Hoa itu apakah muridnya leng Jie Hong, itu jago see-pak ?" "Benar."

"jago see-gak itu ada mempunyai berapa orang murid ?" "satu."

"Benarkah cuma satu orang?" "ya, cuma seorang."

"Eh. Kalau begitu, tidak benar." "Eee, anak, apa yang tidak benar?"

"Boanpwee pernah menyanggupi permintaan sepasang manusia aneh dari rimba persilatan, yaitu si Pengail Linglung dan si Hweshio Gila untuk menepati janji mengadakan pertandingan dengan muridnya jago see-gak Leng-Jie Hong itu sekarang Leng Jie Hong sudah mengeluarkan undangannya. Katanya, sang murid itu sedang menantikan di gunung Hoa-san. Dengan nama dan kedudukannya dia dimasa lampau, sudah tentu tidak berani membohong. tetapi, muridnya hanya seorang saja jikalau mati hidupnya masih belum jelas. Disini bukankah terdapat suatu hal yang aneh?"

Orang berkedok kain merah itu sama sekali tidak akan menyangka kalau persoalan itu telah meningkat menjadi begitu aneh dan ruwet. Apa yang dikatakan olehnya, memanglah sesungguhnya. Leng Jie Hong memang hanya mempunyai seorang murid. sungguh tidak disangkanya, bahwa sepasang manusia aneh dari rimba persilatan justru memilih Yo Cie Cong untuk mewakili mereka.

Maka untuk sesaat lamanya ia tidak tahu bagaimana harus menjawabi setelah memutar otaknya sekian lama, barulah ia dapat membuka suara kembali.

"Menurut apa yang aku tahu, manusia ajaib dari rimba persilatan memang betul hanya mempunyai seorang murid. Tetapi ada kemungkinan setelah murid satu2nya itu menghilang dia telah menerima lain murid lagi."

"Ya, boanpwee juga menduga begitu. Dulu sepasang Manusia aneh dan Manusia ajaib itu telah mengadakan pertemuan dipuncak gunung sin-lie-hong diatas gunung Bu-san untuk mengadakan pertandingan ilmu silat. Mereka bertanding sampai tiga hari tiga malam lamanya, kesudahannya hanya selisih setengah jurus sepasang manusia sudah itu sudah kalah oleh manusia ajaib dalam rimba persilatan. Mereka lalu berjanji dua puluh tahun kemudian mengadakan pertemuan lagi dipuncak gunung sin lie-hong. Tidak disangka, manusia ajaib itu tiba2 mendapat cacad karena kemasukan pengaruh jahat selagi melatih ilmunya, Karena dia tahu benar tidak bisa menepati janjinya, maka dia lantas mengabarkan kepada kedua manusia aneh bahwa perjanjian itu akan dapat dilanjutkan oleh muridnya. Mengingat kedududukannya yang lebih tinggi, sepasang manusia aneh itu sudah tentu tidak mau bertanding dengan muridnya si manusia ajaib. "

"Dengan demikian, maka sepasang manusia aneh itu kemudian lantas memilih kau untuk mewakili mereka" sambung orang berkedok kain merah.

"Ya."

"Kau sudah sanggupi?"

"Mereka masing2 telah menurunkan semacam kepandaiannya yang istimewa pada boanpwee dan oleh karena kedua locianpwee itu pernah melepas budi besar telah menolong jiwa boanpwee serta memberi obat selagi boanpwee berada dalam bahaya. maka biar bagaimana boanpwee merasa tidak bisa untuk tidak terima baik permintaan tersebut."

orang berkedok kain merah itu diam. Dalam hatinya sedang memikirkan suatu persoalan penting.

Yo Cie Cong ketika melihat orang berkedok kain merah itu lama tidak bersuara, lalu menanya pula dengan agak heran:

"Locianpwee, apakah dalam soal ini ada apanya yang kurang beres ?"

"Kurang beres sih tidak, dengan kekuatan dan kepandaian yang kau miliki sekarang ini Sudah boleh digunakan untuk bertanding dengan muridnya manusia ajaib itu. Tetapi manusia ajaib itu pernah dianggap sebagai seorang kuat nomor satu didalam rimba persilatan- dia toch sudah menyuruh muridnya untuk mewakilinya menepati janji dengan sepasang manusia aneh, maka muridnya itu tentunya juga mempunyai kepandaian yang sangat hebat. Untuk mempertahankan namanya sebagai orang kuat nomor satu dalam rimba persilatan, pertandiagan itu dapatlah dibayangkan tentunya akan hebat sekali."

"Boanpwee hanya mengandal kepandaian dan kekuatan yang sudah boanpwee punyai, se- bisa2nya mau melayani muridnya orang kuat itu. Menang atau kalah bagi boanpwe tidak ada soal apa2."

"Anak, didalam rimba persilatan ada berapakah jumlahnya orang yang tidak mau menjunjung tinggi namanya sendiri? sifat dan pikiranmu ini patut mendapat penghargaan. Tetapi jika sudah sampai pada saatnya, mungkin kau tidak dapat mengendalikan dirimu sendiri"

"Apa yang cianpwee kuatirkan memang benar. Tetapi boanpwae yakin akan dapat mempertahankan tujuan dan maksud boanpwee itu."

"8aik. Anak, siapa tahu setelah pertandingan itu nanti kau bisa mendapatkan dan menggantikan manusia ajaib sebagai manusia kuat nomor satu didalam rimba persilatan."

"Bukan kesitu tujuan boanpwee."

" Kapan kau hendak berangkat untuk menepati janji itu?"

"Lam-tie dan pak-hong, kedua locianpwee suruh boanpwee pada lain bulan dimalaman terang bulan supaya datang disuatu tempat yang bernama Bonggoat-peng digunung Hoa-san-"

"Ng."

Meskipun jawaban orang berkedok kain merah itu singkat saja, tetapi didalamnya sudah terkandung maksud yang sangat dalam.

oleh karena Yo Cie Cong sangat menjunjung tinggi dan juga sangat menghormati orang yang sangat misterius itu, maka beberapa kali perubahan suara dan sikapnya sedikitpun tidak mau ambil perduli. jikalau Tidak, sedikit banyak ia sudah dapat merasakan adanya perubahan itu.

sampai pada saat itu, Yo Tne Cong masih belum lagi tahu asal usul dan namanya orang berkedok kain merah yang sangat misterius sepak-terjangnya itu. Ia junjung dirinya orang aneh itu sebagai locianpwee. jikalau ia tidak memberitahukan padanya sudah tentu ia tidak berani membuka mulut untuk menanyakan namanya.

setiap kali Yo Cie Cong dalam keadaan bahaya, orang berkedok kain merah yang sangat aneh itu selalu keluar perlihatkan diri, se-olah2 orang itu terus membayangi dirinya Yo Cie Cong.

Adakah itu satu kejadian yang kebetulan saja, ataukah memang dengan sengaja orang itu terus membuntuti anak muda itu ?

Yo Cie Cong sudah tentu dapat merasakan hal Itu, tetapi ia tidak bertanya mengapa sebab semua perbuatannya orang itu maksudnya baik

"Anak, apakah kau sudah punya rencana dalam usahamu itu?" tanya orang berkedok kain merah yang sangat aneh itu.

"Yang penting pada dewasa ini, ialah menyelidiki dulu jejaknya si siluman Tengkorak Lui Bok Hiong, Sebab bukan saja iblis itu salah satu musuh besarnya Kam-lo-pang, tetapi benda wasiat ouw-bok Po-lok yang terjatuh dalam tangannya juga perlu segera diminta kembali. jikalau boanpwee tidak bisa meyakinkan ilmu silat yang lebih tinggi lagi, rasanya untuk menghadapi musuh kuat dikemudian hari barangkali akan menemukan kesulitan, sebab sejak boanpwee bertempur dengan Kauwcu Im-mo-kauw dan Manusia jelek nomor satu boanpwee sudah merasakan belum cukup kekuatan untuk menghadapi musuh yang lebih kuat dari mereka. Dari sini kegunung Hoa-san perjalanannya agak jauh. setengah bulan kemudian boanpwee pikir akan berangkat kesana."

"Anak, baiklah. sampai kita bertemu dilain waktu. Mudah2an kau berhasil dalam usahamu" orang berkedok kain merah itu setelah ucapkan perkataannya yang terakhir. lantas menghilang

dari hadapan matanya Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong juga berbangkit, lama ia berdiri ter-mangu2, kemudian baru meninggalkam tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanannya.

oooooooo Berita tentang pemilik Golok Maut Yo Cie Cong bertempur mati2an dengan Manusia jelek nomor satu Ang Kut Tan dan ketua perkumpulan Pek-leng-hwee Cin Bie Nio. kepalanya sudah dipenggal orang dalam pusat perkumpulan itu sendiri, telah menggemparkan dunia Kang-ouw.

Dua berita ini sangat cepat sekali tersiarnya.

Terutama mengenai perbuatan dan sepak terjangnya pemilik Golok Maut, hampir setiap hari. setiap detik menjadi buah tutur orang dimana saja. Baik orang-orang Kang-ouw, maupun rakyat jelata. Pemilik Golok Maut telah digambarkan sebagai satu dewa yang dianggap didalam dunia Kang-ouw belum pernah ada orang yang mempunyai kepandaian yang demikian tinggi dan hebatnya. Tetapi orang2 yang pernah melihat wajah aslinya Yo Cie Cong, jumlahnya hanya sedikit sekali.

Pada suatu tengah hari.....

Yo Cie Cong baru saja keluar dari sebuah kota kecil. Mungkin karena merasa bergembira ia sudah minum arak agak banyak dari biasanya, sehingga wajahnya yang putih bersih kelihatan ke- merah2an-

setelah meninggalkan kedai minuman, ia berjalan per-lahan2 dijalan raja yang menuju ke san- see.

Hari itu udara terang, Angin mengheambus sepoi2.

Yo Cie Cong yang habis minum, tertiup angin sepoi2 merasakan badannya menjadi lebih segar.

Ia berjalan seorang diri, dengan tidak terasa hari sudah mulai sore suara burung berkicau yang lagi pulang kembali kesarangnya, telah menyadarkan pada Yo Cie Cong bahwa saat itu sudah menjelang magrib.

Ia ketawa geli sendiri sebab dengan tidak disadarnya tahu2 ia sudah berjalan memasuki daerah pegunungan.

Didaerah pegunungan itu, jangan kata rumah, sedangkan orang yang berjalan pun tidak ada yang kelihatan barang seorang.

Maka dalam hatinya lantas berpikir: " Untuk bermalam pada malam ini, barangkali masih tidak bisa, karena disini memerlukan perjalanan yang sangat jauh." , oleh karena berpikir demikian, maka ia hendak mempercepat perjalanannya,

Tiba pada saat itu dari jurusan depan telah ber-lari2an beberapa puluh bayangan orang, orang2 itu ber-macam2 bentuknya dengan ber-macam2 pula coraknya, ada padri. ada imam, ada juga orang biasa. Dan yang terdepan, rupanya adalah seorang hweshio tua.

orang2 itu setelah berjalan semakin dekat, dapat dilihat oleh Yo Cie Cong bahwa orang yang berjalan paling depan memang benar adalah seorang hweshio tua yang usianya kurang lebih enam puluh tahun. Dibelakangnya diikuti oleh delapan atau sembilan orang.

Dari gerak badan dan kaki mereka, rupa2nya masing2 ada mempunyai kepandaian ilmu silat yang cukup berarti.

Rombongan orang itu ketika melihat didepannya ada seorang orang muda cakap dengan sikapnya yang kaku dingin berdiri ditengah jalan, semua lantas pada berhenti dan mengawasi wajahnya itu dari atas sampai kebawah lalu dari bawah kembali keatas lagi.

Yo Cie Cong masih tetap berdiri tanpa bergerak. Seolah2 satu patung ia mengawasi tingkah lakunya orang itu.

Hweshio tua itu yang rupanya bertindak selaku pemimpin rombongan. setelah menyebut nama Buddha, lantas menanya Yo Cie Cong sambil mengangkat satu tangannya memberi hormat.

"sicu menghalang ditengah jalan ini memang disengaja atau tidak ?".

"Bagaimana kalau disengaja dan bagaimana kalau tidak?" balas ditanya Yo Cie Cong sambil ketawa dingin.

"jikalau sicu sengaja, harap jelaskan maksudnya. Tetapi jikalau tidak, lolap sekalian sudah tentu tidak mau menarik panjang urusan ini."

"Ee, aneh Diatas jalan raja, siapa saja toch boleh jalan sesukanya ?" "Tetapi sicu menghalang ditengah jalan."

"Apa kalian tidak bisa jalan dipinggir? jalanan ini toch tidak sempit bukan?"

sembilan orang yang berada dibelakangnya hweshio tua itu, semuanya sudah memperlihatkan sikap gusar. sungguh tidak mereka sangka, pemuda yang wajahnya cakap ini sikapnya bicaranya ketus dan sombong. Benar2 seperti tidak tahu berapa tingginya langit dan berapa tebalnya bumi.

Hweshio tua itu juga wajahnya sudah agak berubah. tapi berkata pula dengan sikapnya yang masih tetap lunak:

"sicu kalau memangnya tidak sengaja, silahkan jalan. Lolap masih ada urusan penting." "Aku tidak kata kalau aku tidak sengaja."

" Kalau begitu sicu rupanya memang mau mencari setori?" "Aku juga tidak mengatakan aku berbuat sengaja."

"Apa maksud sicu sebetulnya? Coba tolong jelaskan." "Aku cuma ingin tahu maksud tujuan Taysu sekalian."

Diantara orang2 itu ada yang menggeram. mengeluarkan suara gusar tetapi hweshio tua itu sudah ulapkan tangannya dan berkata pula pada Yo Cie Cong:

"Lolap adalah Pek-tie dari Siauw-lim-sie. Dan yang lainnya ini adalah kawan2 dari lima partai besar"

Benar diluar dugaan Yo Cie Cong, serombongan orang2 ini kiranya adalah orang kuat dari partai besar yang diutus oleh masing2 partainya. dan hweshio tua yang bertindak selaku kepala rombongan itu, ternyata adalah Pek Tie siansu, murid pilihan dari gereja siauw-lim-sie generasi ketiga puluhan. seketika itu ia lantas berkata pula:

"Lima partai besar telah mengutus orang2nya yang terkuat terjun kedunia Kang-ouw ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian besar. Bolehkah kiranya Taysu memberitahukan maksud perjalanan ini?"

Pek Tie siansu rupanya agak mendongkol juga. selagi hendak buka mulut, dari belakangnya tiba tampil kemuka seorang imam setengah tua dengan jubahnya yang berwarna abu dan menyoreng pedang panjang dipinggangnya. Ia berdiri disamping Pek Tie siansu seraya berkata: "Siansu, "

Pek Tie siansu berpaling, kemudian menanya: "Ceng Yang toheng ingin bicara apa?"

Imam setengah tua itu ternyata adalah Ceng Yang Tojin, dengan matanya tajam ia mengawasi Yo Cie Cong lagi sejenak. lalu berbisik ditelinganya Pek Tie siansu.

Wajahnya hweshio tua itu mengunjuk perasaan sangsi dan tidak enak. Ia mundur satu tindak. matanya yang tajam menatap wajahnya Yo Cie Cong. Lama baru berkata lagi^ "Mohon tanya nama sicu yang mulia."

Yo Cie Cong orangnya sungguh cerdik. Begitu melihat orang berbisik, ia sudah dapat menebak beberapa bagian maka dengan tidak ragu2 lagi ia segera menjawab: "Aku yang rendah bernama Yo Cie Cong."

Perkataan itu baru saja keluar dari mulutnya Yo Cie Cong, diantara orang2 dari rombongan Pek Tie siansu itu sudah ada yang berseru:

"Pemilik Golok Maut"

Berbareng dengan suara tadi. diwajahnya orang2 dari lima partai besar itu lantas menunjukkan sikap yang luar biasa. Ada yang merasa kaget, ada yang merasa gusar, takut. heran dan lain2 perasaan lagi.

Pek Tie siansu setelah menenangkan pikirannya dan menyebut nama buddha, lalu berkata pula: "Benarkah sicu ini adalah pemilik Golok Maut ?"

"Benar. ini adalah aku yang rendah sendiri, Kedatangan Taysu sekalian ini hanya khusus untuk mencari aku yang rendah? Ha, ha, Hampir saja kesempatan itu lewat begitu saja."

orang2 dari lima partai besar itu mendengar kata2 Yo Cie Cong pada berubah semua wajahnya, Pek Tie siansu. yang berlaku sebagai kepala rombongan lantas menyahut: "Lolap sebagai murid Buddha tidak perlu omong bohong. Memang sebetulnya perjalanan kami adalah hendak mencari sicu "

"Entah apa maksudnya Taysu sekalian hendak mencari aku yang rendah?"

"Mengingat bahwa tindakan sicu ada terlalu telengas dan dikuatirkan nanti akan membuat penumpahan darah yang tidak habis-habisnya didalam rimba persilatan, maka lima ketua dari lima partai besar demi kepentingan dunia Kang-ouw, lalu berunding dan kemudian mengambil keputusan untuk mengutus lolap sekalian sepuluh orang untuk mencari jejaknya sicu "

"Hendak berbuat apa terhadap aku yang rendah ini ?"

"Pertama, ingin mendapat keterangan yang sebenarnya dan kedua menasehatkan sicu supaya suka menghentikan perbuatan sicu itu."

"Hal itu tidak mungkin."

JAWABAN yang tegas itu telah membuat Pek Tie siansu tercengang, Begitu juga halnya dengan sembilan kawan2nya yang lain. Dengan demikian, suasananya kelihatan mulai tegang. "Adakah sicu tidak pikir masak2 ?"

"Tidak usah dipikir lagi. Aku merdeka berbuat apa yang aku ingin perbuat, karena perbuatanku itu menyangkut urusan pribadiku sendiri."

"Apa yang sicu maksudkan dengan urusan pribadi itu?"

"Dulu Kam-lo-pang ketika mendirikan pusatnya dibukit Bu-leng-san, telah diserang secara tiba2 oleh beberapa puluh orang2 kuat dari golongan hitam dan golongan putih. Dalam waktu semalaman orang2 Kam-lo-pang terdiri dari ketuanya sampai pada anak buahnya yang seluruhnya berjumlah dua ratus orang lebih, tidak ada satu yang diberi hidup, Bangkai maausia ber-timbun2 dipusat perkumpulan Kam-lo-pang, darah mengalir laksana air sungai. Peristiwa berdarah ini apakah belum pernah Taysu dengar?"

Ketika Yo Cie Cong menuturkan peristiwa yang mengenaskan itu sorot matanya kelihatan beringas, dalam hatinya penuh rasa gusar.

Pek Tie siansu tundukkan kepalanya. Kembali ia menyebut nama Buddha, kemudian berkata kepada Yo Cie Cong: "Mengenai peristiwa berdarah ini, Lolap pernah dengar orang cerita.

Munculnya sicu didunia Kang-ouw, jadi untuk menagih hutang jiwanya saudara2 dari Kam-lo-pang. oMieToHud Balas membalas, entah sampai kapan habisnya ?"

"Taytu tidak perlu pusingkan soal sebab dan akibat dari kalangan Buddha. Perbuatan yang kulakukan pada dewasa ini justru adalah akibat dari perbuatan orang2 jahat itu sendiri pada tahun lalu."

"Sicu hendak menuntut balas. Memang kami tidak akan sesalkan- Akan tetapi. "

"Taysu sudah anggap bahwa perbuatan penuntutan balas memang tidak akan disesalkan apakah masih menyuruh aku meletakkan senjata jangan melanjutkan usahaku itu lagi?" Cie Cong memotong.

"o Mi To Hud sicu hendak menagih hutang darah terhadap orang2 yang dulu berbuat dosa terhadap perguruan sicu, sudah tentu tidak patut dibatalkan. Tapi melakukan pembunuhan jiwa terhadap orang yang tidak berdosa sehingga banjir darah dirimba persilatan, ini agaknya kami tidak dapat membenarkan"

"Tuduhan Taysu ini terlalu berat."

"Di Cit-lie-pang sicu telah melakukan perbunuhan secara besar2an, kemudian perbuatan itu diulangi lagi terhadap orang2nya Cie-in-pang. Apakah itu bukan suatu perbuatan membasmi jiwa orang secara sembarangan? Apakah setiap jiwa orang yang sicu binasakan itu semua ada bermusuhan dengan Kam-lo-pang?"

"Itu adalah mereka sendiri yang memaksa aku berlaku demikian. Mereka tidak mengukur kekuatan diri sendiri dan mengangaap dengan cara mengeroyok bisa menggagalkaa usahaku. Bukan cuma itu saja, mereka bahkan mengingini jiwaku. Maka apabila aku tidak melawan dan tidak membinasakan mereka, tentunya aku sendiri yang akan menggeletak sebagai bangkai. Maka dalam hal ini sebetulnya mereka sendiri yang mencari kematian " "Perkataan sicu ini masih belum cukup dibuat alasan untuk membela diri"

Yo Cie Cong mulai naik darah. ia tidak mau banyak bicara lagi, dengan gusar ia lantas berkata: "Kalau begitu Taysu hari ini hendak berbuat apa terhadap diriku?"

"Untuk bertindak masih belum perlu, tapi selanjutnya jika sicu masih sembarangan melakukan pembunuhan seperti yang sudah2?, lolap sekalian terpaksa tidak bisa tinggal peluk tangan-"

"Bagaimana ?"

"Untuk kepentingan rimba persilatan, terpaksa berlaku kurang sopan terhadap sicu " "Bagaimana caranya berlaku tidak sopan tarhadap diriku "

"Menyingkirkan bahaya besar bagi rimba persilatan " "Hahahaha."

Yo Cie Cong tertawa bergelak-gelak sambil dongakan kepalanya. suara ketawanya itu ada begitu seram kedengarannya, agaknya dengan cara begitu ia hendak melampiaskan ke mendongkolan dalam hatinya.

orang2 dari lima partai besar sampai merasa tergetar hatinya oleh suara ketawanya itu "sicu tidak boleh berbuat menuruti kehendak hati sendiri "

" Ku-ulangi sekali lagi ucapanku tadi, soal ini adalah persoalanku sendiri, tidak ada seorang pun yang boleh merintangi tindakanku hendak menuntut balas sakit hati ini"

"Lima partai besar tidak bisa tinggal diam?" Pek Tie siansi kata tegas. Perkataan Pek Tie siansu itu mengandung ancaman.

"Haha Lima partai besar, aku tidak biasa mandah begitu saja terhadap segala ancaman" "Sicu jangan menyesal"

"Menyesal? Haha jikalau lima partai besar masih tetap tidak bisa membedakan warna hitam dengan warna putih dan tetap hendak mencampuri urusanku ini, buat aku tidak berarti apa2. Tapi semua akibatnya harus menjadi tanggung jawabnya lima partai besar sendiri Begitu saja keteranganku "

orang2 dari 5 partai besar itu pada merasa tersinggung kewibawaannya, masing2 sudah siap sedia hendak melakukan pertempuran hebat. Mereka agaknya sengaja hendak mengunjuk kewibawaannya dari orang2 yang dinamakan partai besar.

Pek Tie siansu dengan alis berdiri lantas berkata dengan suara berat: "Maksud sicu sudah berkeputusan hendak berbuat demikian ?"

"Benar. Taysu sekalian boleh turun tangan, aku akan melayani setiap serangan"

Ceng Yang Tojin dari Bu-tong-pay yang per-tama2 melesat keluar, dari rombongannya, ia lantas berkata dengan suara bengis:

"Kau masih muda, tapi besar sekali napsumu untuk melakukan pembunuhan. Kau sudah tidak mau dengar nasehat orang, malah tidak memandang mata kepada orang lain. Hari ini biarlah kau tahu rasa sedikit"

"Totiang berani omong besar, tentunya mempunyai kepandaian yang cukup berarti. Maka aku ingin belajar kenal dengan kepandaian Totiang, cuma kuperlu jelaskan lebih dulu, kaki dan kepalan itu tidak ada matanya, jika aku kesalahan tangan harap Totiang jangan gusar. Aku yang rendah ini sebetulnya tidak bermaksud hendak bermusuhan dengan lima partay besar, tapi kejadian sudah terlanjur begini rupa, terpaksa aku harus melayani kehendak Totiang sekalian, hal ini kiranya Totiang juga sudah tahu sendiri"

"Kau benar2 terlalu jumawa "

Dalam gusarnya, Ceng Yang Tojin lantas bergerak dan melancarkan satu serangan tangan kosong tangan kosong yang hebat.

Yo Cie Cong kerahkan tujuh bagian kekuatan tenaganya ditangan kanan, menyambuti serangan tersebut.

Ketika kedua kekuatan tangan itu saling beradu, badannya Yo Cie Cong nampak tergoncang sebentar. tapi Ceng Yang Tojin sudah dibuat terpental sampai mundur satu tombak, baju jubahnya yang gerombongan juga sampai berterbangan. Ceng Yang Tojin adalah satu orang terkuat dari golongan Bu-tong-pay, kini ternyata sudah dibikin terpental oleh lawannya hanya dalam waktu segebrakan saja. bahkan hal itu terjadi dihadapannya orang2 kuat dari partay besar, sudah barang tentu kalau ia merasa sangat malu.

la lantas menggeram, kedua tangannya diangkat sampai batas dada, kemudian didorong dengan kekuatan sepuluh bagian penuh.

Yo Cie Cong sambil mesem menyambut serangan tersebut dengan ilmunya Kan-goan Cin-cao, tapi kekuatan tenaganya ditambah dua bagian.

Kembali terdengar nyaring suara benturan hebat dari kedua kekuatan tangan kedua pihak.

Kali ini keadaannya Ceng Yang Tojin lebih mengenaskan, topinya miring sampai hampir terlepas dan badannya mundur ter-huyung2 sampai beberapa langkah sedang Yo Cie Cong sendiri merasa sesak dadanya, badannya mundur setengah tindak.

orang2 kuat dari 5 partay besar yang menyaksikan kejadian tersebut Wajahnya pada berubah seketika, sedang dalam hatinya lantas pada berpikir: "Pemilik Golok Maut ini benar2 bukan cuma nama kosong belaka, kepandaiannya sungguh sukar dijajaki,"

Yo Cie Cong sebetulnya tidak ingin melukai lawannya. maka ia hanya menggunakan satu tangan untuk melayani kedua tangannya Ceng Yang Tojin- walaupan demikian Ceng Yang Tojin tocn masih tidak sanggup menyambuti. jika Yo Cie Cong menggunakan tenaga sepenuhnya, sekalipun sepuluh Ceng Yang Tojin barangkali juga akan rubuh binasa ditangannya anak muda luar biasa ini.

Ceng Yang Tojin setelah mengatur pernapasannya sebentar, tiba2 menghunus pedang panjangnya, yang bersinar berkilauan kena tersorot matahari sore.

Ia buat diam sebentar pedang itu, getaran pedang menimbulkan hawa dingin sampai sejarak 2 tombak jauhnya,

Partai Bu-tong memang sangat terkenal dengan ilmu pedangnya boleh dibilang hampir merajai dikalangan Kang-ouw.

Pek Tie Siansu lantas kerutkan alisnya dan berkata kepada Ceng Yang Tojin: "Toheng, jangan sampai terjadi penumpahan darah"

Tapi Ceng Yang Tojin saat itu badannya sudah bergerak, ujung pedang sudah mengarah badan Yo Cie Cong dengan sangat ganasnya.

Dalam hati Yo Cie Cong diam2 memaki dirinya imam yang tidak tahu diri itu.

Ia segera mengeluarkan ilmunya menggeser tubuh mengganti bayangan- dengan cepat sudah menghilang dan menyingkir dari ancaman ujung pedangnya Ceng Yang Tojin, Kemudian ulur jari tangannya, dengan kecepatan bagaikan kilat menyambar belakang imam dari Bu-tong-pay itu.

oooo ooooooooo oooo

DALAM hal kekuatan tenaga dalam, sudah tentu ceng Yang Tojin bukan tandingan Yo Cie Cong yang bertenaga sakti dan pengaruhnya mustika Gun-liong-kauw dan telur burung Rajawali raksasa. Tapi dalam hal ilmu pedang, ia ada lebih mahir dan pada Yo Cie Cong. ilmu pedangnya imam itu sesungguhnya tidak boleh dianggap enteng.

Ketika serangannya Ceng Yang Tojin tadi tidak mengenakan sasarannya, bahkan kehilangan jejak lawannya, ia segera mengetahui kalau anak muda itu ternyata ada sangat lihay. Maka seketika itu secepat kilat pula ia putar tubuhnya bersama-sama pedangnya.

Lima jari tangan Yo Cie Cong yang sudah akan menyentuh badan imam dari Bu-tong-pay itu, mendadak menghadapi perubahan gerakan dari imam itu, bukan saja badannya si imam sudah lolos dari bawah jari tangannya, bahkan ujung pedangnya sudah balas menyerang dengan hebat

jikalau Yo Cie Cong meneruskan serangannya dengan jari tangannya, Ceng Yang Tojin sudah tentu tidak terluput dari bahaya tapi Yo Cie Cong sendiri sudah terluka oleh serangan balasannya imam itu.

Tapi Yo Cie Cong bukan Yo Cie Cong kalau tidak mampu menyingkirkan diri dan ancamannya imam Bu-tong-pay itu. Dengan cepat ia tarik kembali serangannya, kemudian ia menggunakan pula ilmunya menggeser tubuh menukar bayangan-, sebentar lagi sudah menghilang dan berada dibelakang dirinya Ceng Yang Tojin lagi, sedang jari tangannya kembali diulur hendak menjambret punggung imam itu.

Ceng Yang Tojin terpaksa harus memutar pedangnya untuk melindungi dirinya,

Gerakan Yo Cie Cong meski aneh luar biasa, tapi untuk sementara juga belum menjatuhkan lawannya.

setelah sepuluh jurus lebih berlalu, gerakan serangan pedangnya Ceng Yang Tojin kelihatan semakin hebat, mantap dan ganas. se-olah2 mengalirnya air sungai, tidak ter-putus2.

sedang sinar dan sambaran anginnya, membuat mata silau dan badan dingin-

Tapi gerak badannya Yo Cie Cong seolah-olah bayangan setan, sebentar kelihatan sebentar menghilang. sa bentar ditimur sebentar di barat. Dan jika mendapat kesempatan ia lantas malancarkan serangannya yang dahsjat.

Maka, ilmu pedangnya Ceng Yang Tojin meski sudah termasuk kelas wahid, Namun pada akhirnya terpaksa banyak melakukan penjagaannya daripada melakukan serangan. Malah jika ia sedikit lengah saja, segera diserbu oleh lawannya.

orang2 kuat yang menyaksikan pertempuran itu, dalam hati sudah mengerti bahwa dengan tanpa turun tangan, hanya dengan gerak badan yang lincah dan aneh luar biasa itu Yo Cie cong sudah cukup membikin lelah dirinya Ceng Yang Tojin-

Pada saat itu, dari rombongan itu mendadak muncul keluar seorang imam lagi dengan pedang terhunus,

Yo Cie Cong dengan cepat mundur satu tombak. dan berkata dengaa sikapnya yang menghina: "Apakah kalian hendak mengandalkan jumlah banyak untuk merebut kemenangan?"

Ceng Yang Tojin juga hentikan serangannya, hingga ketiga-tiganya pada berdiri merupakan segi tiga.

Yo Cie Cong lalu berkata pula dengan suara pedas: "orang2 dari partai besar, cuma juga mampu menggunakan cara keroyokan. Huh, kalau begitu. sebaiknya kalian semua maju berbareng saja"

Ucapan Yo Cie Cong ini ada sangat pedas, se-olah2 tidak memandang mata sama sekali kepada 10 orang dari partai besar itu. Tidak heran kalau mereka itu pada merah padam wajahnya.

"Untuk mencegah jangan sampai rimba persilatan mengalami malapetaka, apa salahnya kalau se-kali2 menggunakan cara pengeroyokan?" kata Ceng Yang Tojin dengan wajah merah.

"Totiang, perkataanmu ini benar juga. Nah, mari majulah." Yo Cie Cong menantang dengan berani.

sesaat kemudian, dua bilah pedang panjang secepat kilat sudah menyambar kearahnya dari dua jurusan.

Dalam hati Yo Cie Cong lantas berpikir: "orang2 ini jika tidak dikasih sedikit hajaran, mereka benar2 belum tahu sampai dimana lihaynya pemilik Golok Maut".

setelah itu, kedua tangannya lalu digerakan berbareng, dengan ilmunya Kan-goan Cin-cao ia menyerang kearah dua lawannya,

serangan dua pedang dari kedua orang imam itu telah dibikin mandek oleh kekuatan tenaga Kan-goan Cin-cao, bahkan hampir terlepas dari tangannya. sedangkan orangnya sendiri juga lantas terpental mundur sampai satu tombak jauhnya.

setelah menyaksikan Ceng Yang Tojin berdua terpental mundur sedemikian jauhnya. Pek Tie siansu lalu maju menghampiri Yo Cie Cong seraya berkata: " Kekuatan sicu memang benar2 hebat. Lolap mau juga coba2 beberapa jurus."

"Aku yang rendah juga sangat mengharap bisa mencoba ilmu silat siao-lim-pai. silahkan Taysu turun tangan"

Pek Tie siansu mundur setengah tindak. Kedua tangannya mendadak mendorong keluar. Suatu kekuatan yang dibarengi sambaran anginnya yang sangat hebat menggulung kearah Yo Cie Cong. Pemilik Golok Maut masih tetap dengan sebelah tangannya menyambuti serangan lawan dengan menggunakan ilmunya Kan-goan Cin-cao. setelah dua kekuatan saling beradu, masing2 mundur satu tindak.

Pek Tie Siansu yang menyerang dengan kedua tangannya berbareng, melihat hanya disambuti oleh Yo Cie Cong dengan sebelah tangan saja, dan kesudahannya terjadi seri, maka dalam hatinya diam2 juga terperanjat. Ia menggeser mundur kakinya setengah tindak lagi, dua tangannya diangkat perlahan-lahan. Wajahnya memperlihatkan sikap tegangnya.

Yo Cie Cong tahu bahwa hweshio ini tentunya akan melakukan serangannya yang lebih dahsyat lagi, maka ia juga memusatkan semua kakuatan dan perhatiannya, diam2 ia juga telah mengeluarkan ilmunya Liang-kek Cin-goan pada sebelah tangan lainnya, tetapi di wajahnya masih kelihatan tenang2 saja.

Kedua tangannya Pek Tie siansu ketika diturunkan sampai sebatas dada, wajahnya tiba-tiba menunjukkan suatu perubaban yang sangat luar biasa. Wajahnya itu kelihatan merah seperti anak bayi yang baru lahir, sedangkan kedua matanya memancarkan sinarnya yang amat kejam.

Ini adalah ilmu Pan-giok sin-kang diam-dalam hati Yo Cie Cong berkata:

sekarang dalam alam hatinya ia juga. merasakan tegang. sebab ragu-ragu ilmunya Liang-kek Cin-goan dan Kan-goan Cin-cao dapatkah menandingi kekuatannya ilmu silat dari golongan Buddha yang paling tinggi itu ?

sembilan orang kuat yang lainnya. dengan mata dibuka lebar2 menyaksikan kedua orang kuat yang sedang mengadu ilmunya yang sangat hebat itu.

Jikalau ilmunya Pan-giok sin-kang dari Pak Tie siansu masih belum dapat menandingi ilmunya pemilik Golok Maut itu, maka hal Itu, kecuali mundur secara teratur, sudah tidak ada jalan lain lagi.

Pek Tie siansu tiba-tiba melancarkan serangannya.

Ilmu silat dari golongan Buddha itu benar2 lain daripada yang lain- Ketika kedua tangannya baru mendorong keluar, kekuatan sudah meluncur keluar sampai mencapai tempat sejauh tiga tombak lebih. Kekuatan yang luar biasa hebatnya itu telah menerjang Yo Cie Cong.

Dengan perasaan agak kuatir Yo Tie Cong jugg mendorong dengan kedua tangannya. Pada saat itu dari kedua tangannya lalu mengeluarkan uap merah bercampur putih.

semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut, hampir saja pada berteriak karena herannya mereka.

Ilmu Liang- kek Cin-goan dapat berobah lunak jika menemukan lawan keras dan dapat menjadi keras jka bertemu lawan lunak. Meski diluaran kekuatan itu tidak begitu kelihatan tetapi kekuatan sesungguhnya yang tersembunyi, sangatlah hebat sekali.

Demikian, ketika kedua macam kekuatan itu saling beradu terjadilah satu peristiwa yang sangat ganjil.

serangan hebat yang keluar dari tangannya Pek Tie siansu ketika membentur ilmunya si pemilik Golok Maut, hanya perdengarkan suara benturan yang lembut, sedang serangan itu dirasakan oleh si penyerang se-olah2 masuk kedalam lautan dan lantas lenyap tanpa bekas.

orang2 kuat dari lima partai itu semuanya lantas beruhah pUcat wajahnya, mereka pada berseru kaget.

Pek Tie siansu kelihatan pucat pasi wajahnya, kemudian tiba2 tuhuhnya terjatuh duduk ditanah.

Diantara suara jeritan ketakutan, orang2 dari berbagai partai lantas memburu kearah Pek Tie siansu "Taysu, apakah kau terluka ?"^

"Taysu, kejadian sudah jadi begini rupa. terpaksa kita harus turun tangan berbareng."

Demikianlah orang2 dari lima partai besar itu pada menyatakan pikirannya. Mata

mereka semua ditujukan kearah Yo Cie Cong, agaknya tengah mengikuti segala gerak-geriknya anak muda itu. jikalau benar sembilan orang kuat dari lima partai besar itu turun tangan serentak menghadapi Yo Cie Cong, tentu ia terpaksa turun tangan benar2 dengan tidak mengindahkan segala perikemanusiaan lagi.

suasana mendadak berubah menjadi tegang. Pertempuran hebat agaknya sudah tidak dapat dihindarkan lagi.

Yo Cie Cong tetap berdiri tegak dengan angkernya. Dengan wajah ketus dingin dan sorot mata bersinar tajam ia menghadapi semua apa yang akan terjadi. Ia sudah pikir masak2 hendak memberi hajaran yang telak pada orang2 yang menganggap dirinya sebagai orang dari golongan baik2 dan dari partai besar dalam kalangan Kang-ouw.

Dalam saat yang sangat tegang itu tiba2 terdengar suaranya Pek Tie siansu: "Tuan2 silahkan mundur dulu. jangan berbuat sembarangan."

semua orang ketika mendengar keputusan Pek Tie siansu itu, tidak ada seorang pun juga yang tidak terkejut. Mereka dapat lihat Pek Tie siansu sudah bangun kembali dan kemudian dengan menggoyang-goyangkan kedua tangannya ia mencegah supaya orang-orang itu jangan berlaku secara gegabah.

Padri dari siao-lim-sie tahu benar dirinya ada memiliki kekuatan jauh lebih tinggi daripada semua orang kuat yang ada disana. Tadi, ketika mengadu kekuatan ilmu dengan Yo Cie Cong, bukan saja ilmunya sendiri sudah tidak mampu memunahkan kekuatan lawannya, bahkan sisa dari kekuatan Liang- kek Cin-goan Yo Cie Cong masih dapat menyerang kearah dirinya dengan cukup hebat, hingga ia terjatuh duduk.

Dan sekarang ia melihat bahwa orang2 dari lima partai besar yang turut bersamanya ini, akan menyerbu Yo Cie Cong dengan tidak pikirkan resikonya lebih dulu, maka ia cepat mencegah jangan berlaku sembarangan- sebab jika sampai benar terjadi pertumpahan darah hebat tentunya tak dapat dielakkan lagi.

Ia sudah tahu pasti, orang-orang yang mengikutinya ini semuanya masih belum mampu menandingi kekuatan Yo Cie Cong. Ia dengan kawannya hanya ditugaskan untuk menyelidiki perbuatan kejam dari si Pemilik Golok Maut yang sebenarnya, tapi tidak mendapat perintah untuk menangkap atau membinasakan anak muda itu, maka untuk apa mereka harus menerjang bahaya

?

orang2 dari lima partai tadi sebetulnya juga karena terdorong oleh perasaan gusarnya melihat Pek Tie siansu terluka, maka dengan tidak memikirkan apa akibatnya mereka lantas hendak turun tangan berbareng untuk menghadapi Yo Cie Cong.

Tetapi kini, setelah dicegah oleh Pek Tie siansu, barulah mereka tersadar,

sekalipun dengan kekuatan sembilan orang, rasanya akan percuma saja, Mereka masing2 sudah tahu sendiri, bahwa biar bagaimanapun mereka tidak mampu menghadapi anak muda itu, maka jika mereka- berlaku gegabah, salah2 bisa menghantarkan jiwa dengan percuma. Tanpa banyak bicara lagi mereka semua lantas mundur.

Tidak kecewa Pek Tie siansu sebagai murid golongan Buddha yang beribadat tinggi. ia memiliki ketenangan dan kesabaran luar biasa. saat itu ia lantas maju dan menghampiri Yo Cie Cong seraya berkata:

"Kekuatan sicu betul2 luar biasa. Lolap sekalian sudah tahu tidak mampu menandingi kekuatan sicu. tetapi biar bagaimana lolap tetap masih mengharap dan mohon supaya sicu jangan berbuat terlalu menurut kemauan hati, sehingga dapat menerbitkan bencana besar. Lolap sekalian sekarang hendak kembali ke-masing2 tempat untuk melaporkan pada Ciang-bunjin masing-2,"

Karena Pek Tie siansu sudah mengaku kalah dan kelakuannya hweshio itu yang bersifat kesatria itu ada demikian sopan santun, perasaannya Yo Cie Cong menjadi tertarik dan ia lantas menjawab dengan suara lunak:

"Perkataan Taysu sudah tentu aku akan perhatikan betul2. Tetapi aku yang rendah juga hendak mohon bantuan Taysu, tolong urusanku menuntut balas ini dijelaskan supaya partai kalian dapat memahami duduknya urusan, jangan beranggapan keliru dan jangan sembarangan campur

tangan-" Pek Tie siansu dengan sorot mata lesu mengawasi lagi Yo Cie Cong sejenak. lalu mengibaskan lengan jubahnya dan rombongan orang2 itu lantas berlalu meninggalkan Yo Cie Cong.

setelah mereka sudah pergi jauh, barulah Yo Cie Cong dapat menghelah napas panjang2 baru saja ia hendak melanjutkan perjalanannya itu dari bukit sebelah kiri tiba2 terdengar dua kali suara jeritan ngeri.

Yo Cie Cong menjadi terkejut. Ia coba pasang telinga, tetapi keadaan kembali sunyi. Didalam hatinya menanya: "Aneh Didalam hutan belukar ini bagaimana bisa terdengar suara jeritan orang."

Pada saat itu, matahari sudah silam kebarat. Keadaan mulai gelap, Dua deretan bukit yang ada disepanjang jalan raja kelihatannya seperti singa yang mendekam sedangkan angin gunung yang meniup kencang membuat wajahnya Yo Cie Cong dirasakan dingin-

Yo Cie Cong berdiri menjublek sekian lamanya, ia mengharap dapat menemukan apa. Tetapi kecuali dua kali suara jeritan tadi sudah tidak terdengar suara apa2 lagi. Namun ia tahu benar bahwa pendengarannya tadi tidaklah salah.

Mungkin didalam hutan belukar ini saat itu sedang terjadi suatu peristiwa yang mengerikan- Perasaan heran dan hati mulianya telah mendorong Yo Cie Cong untuk pergi menyelidiki suara tadi. Ia lantas gerakan kakinya menuju keatas bukit dimana datangnya suara jeritan suara tadi.

setelah berada diatas bukit. dengan kedua matanya yang tajam ia menyapu keadaan disekitarnya. Bukit itu ternyata ber-jejer2 begitu panjang. Pohon2 siong yang banyak tumbuh pada bukit itu, tertiup angin malam telah menimbulkan suara men-deru2.

Yo Cie Cong terus berjalan mengitari atas bukit dan naik kepuncaknya. sampai cuaca menjadi gelap benar ia sudah menjelajah, Kearah bukit itu kira2 lima lie jauhnya, tetapi tidak menemukan apa2.

Ia jadi penasaran, Tetapi karena lelahnya ia lantas berhenti dan duduk dibawahnya sebuah pohon siong.

sinar rembulan remang2 menjinari seluruh pegunungan yang sepi sunyi itu. Kadang terdengar bunyi burang2 dan suara serigala yang kedengarannya menyeramkan-

Beberapa kali ia sudah ingin turun dari gunung, tetapi selalu diurungkan tertahan oleh hatinya yang penasaran.

jikalau tidak meneruskan matanya berlalu, dengan cara mencari membabi buta, itu sama saja ia seperti juga menubruk angin menangkap bayangan-

selagi berada dalam keadaan sangsi disuatu tempat kira2 tiga puluh tombak jauhnya tiba2 ia dapat melihat dua bayangan hitam yang ber-gerak2.

Yo Cie Cong yang sudah hampir putus asa, dengan tidak banyak pikir lagi lantas lompat melesat ketempat tersebut.

Begitu kakinya menginjak ditanah di gerombolan rumput tiba2 terdengar suara keresekan yang sebentar kemudian lenyap kembali.

Yo Cie Cong pasang mata telinganya. Di dalam gerombolan rumput itu dilihatnya empat sinar hijau, maka dalam hatinya ia berpikir: "Apakah ini ular berbisa atau binatang buas yang sembunyi didalam rumput ini ?"

Belum lagi lenyap pikirannya. sinar hijau tadi kelihatan bergerak, dan sesosok bayangan hitam sudah menerjang kearahnya.

Yo Cie Cong masih belum dapat melihat tegas bayangan hitam itu orang atau binatang, seketika itu lantas miringkan tubuhnya dan tangannya berbareng menyerang.

suara ngeri lantas terdengar dan bayangan hitam itu termental terbang lagi kedalam gerombolan rumput.

Yo Cie Cong lalu menghampiri. matanya yang tajam segera dapat melihat bahwa bayangan yang datang menerjangnya tadi ternyata adalah seekor binatang buas. Dari suaranya dapat diduga binatang itu kalau bukannya serigala tentunya macan tutul. selanjutnya, sesosok bayangan hitam menerjang lagi. seperti juga halnya dengan binatang yang pertama, Yo Cie Cong lantas menyambuti bayangan itu dengan serangan tangannya.

Tetapi selagi Yo Cie Cong angkat tangannya hendak menyerang, bayangan hitam yang datang menyerbu tadi dengan cepat sudah berkelit kesamping dan dapat menghindarkan serangan Yo Cie Cong yang cukup hebat tadi

setelah singkirkan diri dan serangan Yo Cie Cong tadi, bayangan hitam itu datang menyerbu. Yo Cie Cong diam2 memaki: "Binatang licik," Ia lalu mengangkat tangannya.

Bajangan hitam tadi melompat keatas kepalanya, maka Yo Cie Cong lantas balikkan tangannya untuk menyambar.

Kembali suara ngeri terdengar dan bayangan hitam itu termental setinggi tiga tombak yang kemudian jatuh ditanah dengan tidak berkutik lagi.

Ketika Yo Cie Cong datang melihat, ternyata bayangan hitam tadi adalah seekor serigala sebesar anak sapi, yang saat itu kepalanya sudah hancur remuk dan perutnya berhamburan-

Yo Cie Cong terus mengadakan penjelidikan. Didalam gerombolan rumput tadi tiba2 hidungnya dapat mengendus bau amis. Ketika ia pasang mata, bulu romanya lantas pada berdiri

Disitu ada menggeletak dua bangkai manusia yang sudah tidak utuh anggota badannya.

Bangkai itu masih bermandikan darah. Kepalanya hancur, perutnya berlubang. Ususnya kelihatan berhamburan ditanah.

Ditempat tidak jauh dari situ. kembali terdapat beberapa tengkorak manusia. yang masih kelihatan ada rambutnya, sehingga dapat diduga bahwa tengkorak itu masih belum lama jadi korban,

Diatas gunung belukar, diwaktu malam yang gelap gulita dan sepi sunyi. bangkai manusia dengan tengkoraknya itu sudah cukup membuat bulu roma orang yang menyaksikan berdiri

setelah menyaksikan semuanya itu dalam hati Yo Cie Cong lalu berpikir: "Apakah kedua serigala itu begitu buas? Apakah kedua orang ini telah menjadi korbannya kedua serigala itu?"

Dari keadaannya dua bangkai manusia yang masih ada darahnya, nyata bahwa orang2 itu belum lama menemukan ajalnya. Apakah suara jeritan dua kali tadi keluarnya dari mulutnya kedua orang ini?

Tetapi bangkai dan tengkorak2 manusia itu mengapa bisa berada diatas bukit belukar ini? Dan mengapa sampai menjadi mangsanya kawanan serigala? Ini benar2 merupakan suatu hal yang sukar dimengerti.

Mendadak matanya Yo Cie Cong dapat melihat diatas sebuah pohon ada benda hitam yang me- lambai2 tertiup angin- ia lalu menghampiri untuk mengambil benda tersebut. Penemuan ini lebih2 lagi mengejutkan hatinya.

Benda hitam yang me- lambai2 itu ternyata sepotong baju hitam. Di tengah2 potongan kain hitam itu terdapat sulaman seekor burung laut putih. di-tengah2 badan buruog laut itu tersulam satu huruf nomor 5.

Ditempat tidak jauh dari situ, kembali Yo Cie Cong menemukan benda serupa itu yang bersulam dengan tanda huruf nomor 4.

Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong. Bukankah dua kain hitam itu adalah miliknya Utusan burung laut ?

Tetapi entah bagaimana utusan nomor 4 dan nomor 5 dapat binasa diatas bukit belukar ini?

Dari pakaiannya kedua bangkai manusia tadi dan dari dua potong kain ini ia lantas memastikan bahwa dua bangkai tadi adalah lagi2 bangkai Utusan burung laut yang lain.

Dua belas orang yang sebagai Utusan burung laut, adalah anak bauhnya orang berkedok kain merah. Hampir setiap orangnya mempunyai kepandaian silat yang sangat tinggi. Mustahil sekali kalau mereka tidak mampu menghadapi dua binatang buas tadi saja.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa nomor 4 dan nomor 5 setelah dibinasakan oleh orang yang lebih tinggi kepandaiannya, lantas dibuang ketempat ini. Dua ekor serigala tadi mungkin telah datang karena bau amis dari bangkainya manusia dan itu orang yang mampu membunuh mati kedua utusan burung laut itu. sudah tentu memiliki kepandaian silatt tinggi sekali.

sekarang yang menjadi persoalan utama ialah utusan burung laut nomor 4 dan nomor 5 ini, apa sebabnya mereka datang kegunung belukar ini? Kedatangan mereka berdua apakah atas perintah suhunya ataukah ada lain sebab lagi,

Dan siapakah pembunuhnya kedua orang ini? Dari keadaannya dua korban itu yang sangat mengenaskan, orang membinasakan mereka itu kalau bukan orang yang sangat jahat, tentunya adalah se-orang2 kejam dan telengas, Tetapi dengan seorang sebagai orang berkedok kain merah yang nama kedudukannya sangat terkenal di dalam kalangan Kang-ouw, pembunuh itu ternyata berani turun tangan juga terhadap muridnya, maka dapatlah di duga bahwa pembunuh itu tentunya adalah se-orang2 kuat bukan sembarangan dan tentu ada mempunyai andalan dibelakang dirinya.

sedang itu tengkorak2 manusia. sebenarnya tengkorak2 siapa? Mengapa mereka juga binasa ditempat tersebut?

Yo Cie Cong makin memikir makin bingung sendiri

"Aku harus melporksn hal ini pada orang berkedok kain merah," demikian ia mengambil keputusan.

Tetapi. didalam dunia yang sangat luas ini. dimana harus aku mencari jejaknya orang aneh yang sangat misterius sepak terjangnya.

Apalagi temponya sangat mendesak dan ia harus pergi menepati janji dengan kedua orang aneh dari rimba persilatan, maka ia teringat pula akan perempuan aneh yang memakai kedok merah yang baru muncut dikalangan Kang-ouw. siapakah dia ? Apakah benar dia siangkoan Kiauw

?

Dan kematiannya Cin Bie Nio yang dipenggal kepalanya, apakah juga perbuatannya perempuan berkedok itu?

Kalau mengingat akan musuhnya, ia lantas teringat kedua perempuan jelek yang pernah di kejar2nya. Mereka tidak mengaku sebagai muridnya Giok- bin Giam-po, tetapi siapakah sebenarnya orang yang berada dipuncak gunung pit-koan-hong itu ?

Kembaii ia teringat pada Im-mo-kauw. Apa sebabnya perkumpulan ini terus mengirim utusan yang kuat2 untuk mengejarnya ?

sekarang ia teringat akan dirinya sendiri. Apakah ia akan ada hubungannya dengan Giok-bin Kiam-khek yang sudah menghilang selama dua puluh tahun lamanja? Dari bahan2 yang tidak lengkap dapat ditarik kesimpulan bahwa Giok- bin Kiam-khek dan Giok- bin Giam-po mempunyai hubungan sebagai suami isteri. jikalau benar Giok- bin Kiam-khek ada hubungannya dengan dirinya sendiri sedang Giok-bin Giam-po itu merupakan salah satu musuh besar dari gurunya, ia tidak berani memikirkan lebih lanjut. ia merasa kepalanya hampir pecah dan dadanya hampir meledak memikirkan ini semua. Tiba2 ia bersiul panjang. suaranya menggema ditanah pegunungan yang sunyi.

Perbuatan Yo Cie Cong itu sebenarnya hanya satu perbuatan yang hanya bermaksud hendak melampiaskan kekesalan dalam hatinya.

Tetapi siapa nyana, siulan Yo Cie Cong itu telah mendapat suatu reaksi yang tidak di-duga2.

Suara orang ketawa dingin yang kedengarannya seram sekali terdengar masuk dalam telinganya.

Dengan cepat Yo Cie Cong balikkan badannya, ia memandang keadaan sekitarnya tetapi tidak dapat melihat suatu apa, ia sudah mengira suara itu adalah suara setan, tetapi apakah benar didalam dunia ini ada setan? Apakah suara tadi adalah suara orang dan orang itu bisa mendekati sampai tidak diketahuinya, sudah tentu orang itu mempunyai kepandaian cukup berarti.