Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 15

Jilid 15

Yo Cie Cong setelah memukul mundur Utusan Raja Akherat, lalu berkata dengan suara dingin: "Utusan Raja Akherat, hari ini kalau kau tidak mau mengatakan terus terang sebabnya Im-mo-

kauw me-ngejar2 aku. jangan pikir kau bisa mundur dalam keadaan utuh. Terus terang kuberitahukan padamu sebelum keadaan yang sebenarnya menjadi terang aku tidak segan2 melakukan pambunuhan besar2an terhadap orang2 Im mo-kauw. Begitu ketemu aku segera kirim jiwa mereka ke akherat "

Utusan Raja Akherat semula menganggap bahwa ilmunya Tay im-Ciang bisa digunakan untuk menjagoi dunia Kang-ouw, karena sudah tidak ada orang mampu menandingi, tetapi kenyataannya sekarang membuat ia sangat cemas. Sejak ia muncul didunia Kang-ouw, ia belum pernah mendapatkan penghinaan seperti yang dialami saat itu dari pemilik Golok Maut,

Ia benar2 tidak menyangka bahwa hari ini dengan beruntun mengalamkan kekalahan begitu hebat, sudah tentu kegusarannya lantas memuncak wajahnya merah padam, sepasang matanya merah membara, Badannya gemetaran-

Sambil kertak gigi ia lantas berkata: "Bocah jelek, kau jangan terlalu sombong dulu, lihat sebentar" Sehabis berkata ia lantas melirik dan memberi isyarat kepada Kong Jie. Dengan cepat Kong Jie lalu mengeluarkan panah api dan dilepaskan keangkasa. Benda bersinar merah lantas meluncur se-olah2 hendak menembusi langit.

Yo Cie Corg tahu bahwa itu ada panah api untuk mengumpulkan orang2nya Im mo-kauw yang terkuat untuk menghadapi dirinya, maka ia lantas berkata dengan sikapnya yang menghina.

"Kumpulkan lebih banyak orang yang akan mengantarkan jiwa, boleh juga, aku nanti akan antarkan mereka satu persatu manghadap kepada Giam lo ong"

Utusan Raja Akherat sangat mendongkol. Ia segera maju lagi, kedua tangannya, diputar laksana kitiran, hingga hawa dingin mengurung dirinya Yo Cie Cong.

Hebat dan ganasnya serangan tersebut sesungguhnya sukar dilukiskan. Bagaimana caranya ia menggerakkan tangannya, tidak dapat dilihat dengan jelas, cuma ditempat sekitar satu tumbak persegi, semua hanya kelihatan bayangan tangan, hingga hampir seluruh jalan darah sekujur badan Yo Cie Cong, semua berada dibawah ancaman serangan tersebut.

Yo Cie Cong ketawa dingin. Ia cepat mengeluarkan ilmu "Menggeser tubuh menukar bayangan- nya". se-olah2 layaknya hantu begitu berkelebat, orangnya sudah menghilang. Tahu2 sudah berada dibelakang dirinya Utusan Raja Akherat, dari situ, dengan kecepatan kilat ia mengirim serangan yang maha hebat.

serangannya itu, jikalau mengenakan sasaran dengan tepat, sekalipun sepuluh orang Utusan Raja Akherat lagi juga pasti akan binasa seketika.

Kepandaiannya Utusan Raja Akherat ternyata juga tidak kecewa. Ketika melihat tubuhnya sang lawan menghilang, ia lantas mengetahui gelagat buruk. maka dengan tidak merubah gerakannya, tiba2 ia sudah melesat kedepan kira2 satu tombak. baru memutar balik tubuhnya.

Berbareng pada saat itu, sinar pedang merah putih telah menyerang berbareng mengarah Yo Cie Cong.

si pedang berdarah Kong Jie dan si Burung Hong Hitam Tio Lee Tin, semuanya merupakan orang2 kuat kelas satu didunia Kang-ouw, maka gerakkannya juga cukup cepat. Begitu melihat tubuhnya pemilik Gotok Maut mendadak muncul dan melancarkan serangan dari belakang dirinya Utusan Raja Akherat, ke-dua2nya lantas menghunus pedangnya masing2 dan lantas juga menyerang berbareng.

Yo Cie Cong gagal serangannya, sebab tubuhnya Utusan Raja Akherat sudah sempat melompat, sebaliknya dua batang pedang pada saat itu dengan kecepatan kilat sudah menyerang dirinya.

Diantara berkilauannya sinar pedang, tersebarlah bau harum semerbak.

seketika itu Yo Cie Cong enjot badannya melesat jauh, sehingga serangan Kong Jie dan Tio Lee tin hanya mengenakan tempat kosong.

Tatkata Yo Cie Cong melesat menyingkirkan diri tadi, tangannya sudah dibalikkan melakukan serangan balasan.

Angin hebat keluar dari tangannya itu, dengan tepat mengenai Kong Jie dan Tio Lee Tin berdua, sehingga pedang ditangan mereka hampir saja terbang keudara.

Dalam kagetnya, cepat2 mereka menarik kembali serangannya dan lompat mundur sejauh lima kaki. Begitu menancap kaki, dilihatnya bahwa pemilik Golok Maut itu dengan tenang sedang berdiri ditempat sejauh dua tombak dari tempat mereka berdiri

Saat itu, kedengaran suara geramnya Utusan Raja Akherat, kembali tubuhnya terbang melayang mengirim serangannya yang lebih hebat.

Yo Cie Cong yang sudah gusar, dengan kecepatan kilat tangannya yang sebelah kanan mengeluarkan ilmu Kan-goan Cin-Cao, sedang tangan kirinya menggunakan ilmu serangan Liang kek-Cie-goan. Dua rupa serangan yang merupakan serangan yang maha hebat, telah digunakannya berbareng. Utusan Raja Akherat dapat merasakan bahwa serangan tangan lawannya, itu agak aneh. selainnya keras dan hebat dari kekuatannya yang tidak dapat dijajaki, gerakan dari serangannya sendiri ternyata sudah tidak mampu lagi dilanjutkan, sehingga saat itu ia menjadi ketakutan setengah mati. cepat2 ditariknya kembali serangannya dan melesat minggir kesamping.

Bagi orang2 rimba persilatan dewasa itu, barangkali tidak ada seorang pun yang mampu menyambuti serangan kombinasi yang begitu hebat diri Yo Cie Cong itu. Utusan Raja Akherat masih terhitung orang cerdik dan yang tahu bahaya. ,

Ketika ia melihat gelagat kurang baik. segera ia sudah mundur dan menyingkirkan diri dari ancaman bahaya. Tetapi. walaupun demikian, tidak urung sambaran anginnya saja pukulan Yo Cie Cong sudah membuat ia terpental mundur lompat setombak lebih jauhnya.

Dari sisa kekuatan anginnya pemilik Golok Maut itulah menyapu Kong Jie dan Tio Lee Tin yang hampir tidak bisa berdiri tegak.

Yo Cie Cong dengan suaranya yang ketus dingin berkata: "Bagaimana? sekarang terpaksa kau harus menjawab terus terang."

Utusan Raja Akherat yang baru saja hilang rasa kagetnya lantas menjawab dengan napas masih memburu "Bocah jelek. Im-mo-kauw tidak mau berdiri ber-sama2 dengan kau."

"Im mo-kauw itu perkumpulan macam apa? Buat aku sama sekali tidak ada artinya." jawab Yo Cie Cong mengejek.

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara berisik yang lalu disusul dengan munculnya beberapa orang Im-mo-kauw.

sebentar saja disitu sudah tambah lagi dua puluh orang banyaknya.

Yo Cie Cong tahu bahwa orang2 yang baru datang ini tentunya adalah orang2 Im- mo-kauw yang dapat melihat pertanda panah berapi tadi.

orang2 itu baru saja sampai semua lantas memberi hormat pada Utusan Raja Akherat seraya berkata: "siauw Kauwcu, ada urusau penting apa yang memperlukan bantuan kami?"

Utusan Raja Akherat lantas menjawab sambil menuding Yo Cie Cong: "Apakah saudara2 kenal Bocah jelek ini?"

Matanya orang2 itu lantas ditujukan ke-arahnya Yo Cie Cong. semuanya pada memperlihatkan wajah kaget. dan ter-heran2. Kalau dilihat, pemuda yang nampaknya jelek luar biasa ini, sebetulnya tidak ada apa2nya yang dapat mengejutkan orang. Tetapi mengapa siauw Kauwcunya telah melepaskan api pertandaan yang sangat penting untuk mengundang mereka ? Ini benar2 merupakan suatu hal yang tidak habis dimengerti oleh mereka.

"Dia adalah pemilik Golok Maut yang kedua." berkata pula Utusan Raja Akherat sambil ketawa.

Begitu mendengar disebutnya Pemilik Golok Maut saja diwajahnya orang itu lantas dapat dilihat perasaan kaget dan ter-heran2nya mereka. Dalam hati, masing2 kebanyakan berpikir "Kiranya pemilik Golok Maut kedua yang Kauwcu perintahkan harus dikejar adalah Bocah yang begini jelek rupanya."

seorang tua bungkuk. salah satu diantara orang2 Im- mo-kauw yang baru datang itu, dengan seksama mengamat-amati Yo Cie Cong sejenak, lalu berpaling dan berkata pada Utusan Raja Akherat.

"Siauw Kauwcu biarlah aku melayani dia lebih dulu."

Utusan Raja Akherat itu tampaknya agak bersangsi sejenak, tetapi Akhirnya ia menjawab sambil angguk2kan kepalanya: "Ie Tongcu, jangan terlalu pandang ringan musuh. Bocah ini memiliki kepandaian hebat."

si bungkuk yang sudah lanjut usianya itu malah ketawa menghina dan terus maju menghampiri Yo Cie fjong.

oooooo TANPA memperdulikan si bungkuk yang sudah tua itu Yo Cie Cong berpaling dan berkata pada Utusan Raja Akherat: "Aku hendak melaksanakan ucapanku tadi. sekarang aku hendak melakukan pembunuhan besar2an. Bagaimana pikiranmu? Lekas kau jelaskan. jikalau tidak nanti sudah tidak keburu lagi."

Utusan Raja Akherat menjawab kenes: "Bocah jelek. jangan jual lagak kau"

orang tua bungkuk itu melihat Yo Cie Cong sama sekali tidak pandang mata padanya, lantas keluarkan geraman hebat yang kemudian disusul dengan kata2nya: "Pemilik Golok Maut, hari ini, aku suruh kau merasakan bagaimana rasanya orang yang dipereteli kaki tangannya."

Dengan sikapnya yang dingin Yo Cie Cong memandang orang tua bungkuk itu lalu menjawab: "Kau toch sudah terhitung orang yang sudah tua. mengapa adatmu begitu berangasan dan omonganmu begitu besar ?"

"Ha, ha...Tongcu dari bagian sam-tong dalam perkumpulan Im- mo-kauw, Kie Jie cu yang gelarnya Naga Berewokan, apa belum pernah kau dengar?"

Yo Cie Cong baru tahu bahwa orang tua bungkuk ini ternyata adalah orang bekas berandal tersohor didaerah suagai Kuning yang bernama Kie Jie Cu dengan gelarnya Naga Berewokan. ia pernah memimpin kawanan bajak laut disekitar daerah sungai Kuning tiga puluh tahun lamanya. Kejahatannya sudah ber-timbun2. Tidak nyana, kini juga sudah menjadi anggotanya Im-mo-kauw. maka dalam hati Yo Cie Cong berpikir: "Hari ini, kalau kusingkirkan dirinya, hitung2 juga menyingkirkan satu bahaya bagi rakyat sekitar deerah sungai Kuning."

Ia pancing amarah orang katanya: "satu siauwcu jang tidak ada namanya. Belum pernah kudengar didalam kalangan Kangouw ada orang kuat seperti kau ini."

"Hmm^ Bocah cilik Kesombonganmu benar-benar membuat kau tidak tahu berapa tingginya langit dan berapa tebalnya bumi."

"Aku mau kau binasa dalam segebrakan."

si Naga Berewokan seumur hdupnya belum pernah mengalami penghinaan begitu rupa. maka seketika itu dadanya dirasakan hampir meledak.

orang kuat Im-mo-kauw yang lainnya juga dibikin naik darah karena kesombongannya Yo Cie Cong itu. si Naga Brewokan lantas ber-kauwk2: "Bocah jelek, apa kau bukan sedang mimpi?"

"Aa, ha... Kau selalu mengatakan aku Bocah jelek. Akan kuberikan kau hajaran lebih dulu." Begitu habis berkata, Badannya Yo Cie-Cong lantas menghilang dan kemudian muncul kembali. selama ia menghilang dan muncul kembali itu, lantas terdengar suara "Plak" yang nyaring.

Pipi kanannya Kie Jie Cu sudah terkena tamparannya dengan telak. sehingga saat itu pipinya bengap. mulutnya menyemburkan darah.

Dibawah matanya orang begitu banyak. tidak ada seorang pun juga yang tahu bagaimana caranya pemilik Golok Maut itu turun tangan menampar pipinya. Kepandaian serupa itu benar2 sangat menakjubkan. Maka dalam hati masing2 lantas berpikir: "Kepandaiannya bocah jelek ini benar2 sukar diukur sampai dimana tingginya. Kelihatannya sukar sekali untuk dapat melaksanakan perintah Kauwcu, kecuali jika Kauwcu mau turun tangan sendiri "

Kie Jie Cu yang sudah terkenal kepandaiannya diantara Tongcu dari perkumpulan Im-mo-kauw, telah Mendapat tamparan sampai bengap oleh Yo Cie Cong, satu anak muda jelek dihadapannya banyak orang. sudah tentu tak dapat menelan hinaan macam itu begitu saja.

Maka, sehabis ber-jingkrak2 ia lantas berkata dengan suara seperti orang kalap: "Bocah jelek Aku akan adu jiwa dengan kau"

Lantas tubuhnya terputar, dari kedua tangannya keluarlah serangan yang cepat dan hebat.

Yo Cie Cong lantas juga berkata sambil ketawa dingin: "Perkataanku harus kubuktikan. Aku ingin kau binasa dalam segebrakan-"

Baru saja mulutnya tertutup, orangnya sudah melesat menghampiri orang tua bungkuk itu, begitu sepasang tangannya digerakkan- suatu kekuatan yang sangat dahsyat lantas meluncur keluar dari tangannya. "jangan melukai orang" tiba2 Utusan Raja Akherat berseru.

Berbareng dengan itu, ia lantas melancarkan dua kali serangannya Tay-im-Ciang. Tetapi sudah terlambat.

seketika itu telah terdengar suara jeritan ngeri mengulung.

Mulutnya Kie Jie Cu mengeluarkan darah segar. Badannya terpental tinggi sampai setombak lebih, kemudian jatuh lagi ketanah, jiwanya melayang seketika itu juga.

Hampir berbarengan pada saat itu, serangan yang dilancarkan oleh Utusan Raja Akherat juga sudah mengenai sasarannya.

Yo Cie Cong yang hendak berkelit, atau menyambuti, juga sudah tidak keburu lagi.

Untunglah, ia memiliki kepandaian dan kekuatan yang sangat hebat. Kekuatan ilmu Tiao- kie yang melindungi dirinya, setiap saat mampu melindungi dirinya dari bahaya yang bagaimana pun besarnya.,

Ketika suara "Plak" terdengar nyaring, Badannya Yo Cie Cong kelihatan ber-goyang2. Angin serangan Tay-im-Ciang meski sudah dibikin buyar sebagian oleh kekuatan ilmu Cao- kie yang melindungi tubuhnya, tetapi oleh karena terjadinya diluar dugaannya. Yo Cie Cong masih merasakan juga hawa dingin menyusup tubuhnya, sehingga dalam hatinya diam2 berpikir: "Tay- im-Ciang ini ternyata lihay juga."

Orang2 im- mo-kauw yang lainnya, ketika menyaksikan pemilik Golok Maut itu benar saja sudah dapat merengut jiwanya Kie Jie Cu dalam segebrakkan, lantas pada menjerit ketakutan-

Utusan Raja Akherat melihat serangannya yang diluncurkan begitu cepat, ternyata masih tidak dapat menolong jiwanya Kie Jie Cu, disamping kaget timbullah hati kejinya, maka ia lantas berkata dengan mata beringas: "Pemilik Golok Maut, perkumpulan kami dengan kau tidak akan berdiri sama2."

Yo Cie Cong dengan sikap mantap masih tidak memandang mata, menjawab:

"Tidak akan berdiri sama2. Hmm Kuberitahukan padamu. jikalau kalian tidak mau menjelaskan apa maksudnya kalian memusuhi aku, he, he Lihat Cie-in-pang adalah contohnya."

Mengenai peristiwa perkumpulan Cie-in-pang dibasmi habis2an oleh pemilik Golok Maut, memang sudah tersiar luas dikalangan Kang-ouw. semua orang2 im-mo-kauw ketika mendengarnya berita tersebut. dalam hati masing2 sudah merasa jeri.

"Cie in-pang dengan perkumpulan kami? Kuberitahukan padamu, sekalipun kau tidak cari kami, perkumpulan kami juga tidak akan melepaskan kau." jawab Utusan Raja Akherat gusar.

"Ha. ha itulah memang yang paling baik. Hari ini kau akan berbuat apa ?"

"Hmm Berbuat apa? Hari ini kami mau minta keadilan darimu dan menuntut balas sakit hati

bagi saudara2 kami yang gugur dalam tanganmu."

"macam kalian, masih belum pantas untuk mengucapkan perkataan begitu"

orang2 im mo-kauw yang lainnya. berubah wajahnya semua. dengan serentak mereka pada berteriak gusar

Memang benar perkumpulan im-mo-kauw muncul dalam dunia Kang-ouw belum lama, tetapi keganasan dan kejahatannya, sekalipun orang yang cukup besar nyalinya, juga masih merasa segan berbentrokan dengan orang2nya.

Hinaan yang orang2 im mo-kauw terima hari ini. betul2 merupakan sesuatu hal yang belum pernah terjadi pada waktu sebelumnya.

Tetapi, apa yang terbentang didepan mata, memang merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah-.

Kekuatan dan sepak terjangnya pemuda jelek ini yang mengaku dirinya sebagai pemilik Golok Maut kedua, telah membuat runtuh nyalinya semua orang kuat dan im mo-kauw yang sekarang ada dilapangan pertempuran itu.

Utusan Raja Akherat yang berkedudukan sebagai ketua muda dari perkumpulan im- mo-kauw dalam hal kekuatan dan kepandaian ilmu silatnya, sudah tentu merupakan orang yang paling tinggi diantara orang2 kuat itu. Tetapi hari ini, jikalau masih juga tidak berhasil menundukan lawannya, bagaimana ia masih punya muka kembali lagi kepusatnya?

Tidaklah heran, kalau Utusan Raja Akherat begitu besar napsunya hendak membinasakan jiwanya pemuda jelek yang sangat jumawa itu. suasana semakin menegang. Pertempuran hebat sudah akan dimulai.

Kali ini Im-mo-kauw pasti akan tumplekkan seluruh tenaganya yang aaa disitu dalam menghadapi musuh tangguhnya ini.

Utusan Raja Akherat setelah perlihatkan roman ketawanya yang seram. lantas berkata sambil kertak gigi: "Hari ini, siauw Kaucu biar bagaimana juga pasti akan mengambil jiwa anjing mu."

sehabis berkata, Badannya lantas digerakkan dan terus menyerang dengan seluruh kekuatan yang ada padanya, sebentar saja, angin dingin telah meniup keluar mengikuti sambaran tangan Kaucu muda itu.

Angin dingin itu mengitari seluruh tempat sampai tiga tombak luasnya.

semua orang2 Im-mo-kauw tahu benar lihaynya ilmu pukulan Tay-im-Ciang ini, maka semuanya lantas lari kepinggiran-

Yo Cie Cong lantas mengerahkan ilmu Liang kek-ciu-goannya, dengan tenaga penuh menyambuti serangan Utusan Raja Akherat.

suara benturan hebat dari dua macam kekuatan tenaga yang hebat itu, kedengarannya menggelegar seperti gunung meledak.

Utusan Raja Akherat terdengar mengeluh tertahan- orangnya terpental mundur terhuyung- huyung sampai lima tindak. wajahnya pucat seperti mayat, mulutnya menyemburkan darah segar,

Yo Cie Cong juga merasakan dadanya sesak sedikit, Badannya kelihatan bergejang sebentar tetapi ia masih tetap berdiri tegak ditempatnya.

sedangkan angin dari benturan dua kekuatan tadi, menyampok semua orang2 im-mo-kauw yang berdiri ditempat tiga tombak jauhnya dari mereka bertempur, hingga hampir tak dapat mempertahankan dirinya terjungkal dari berdirinya. Hawa dingin dirasakan menusuk ketulang punggung mereka,

Dimatanya Utusan Raja Akherat, saat itu memancarkan sinarnya yang sangat kejam. setelah membersihkan darah mengalir dari mulutnya, lalu kembali tangannya diputar dan

melancarkan serangannya yang kedua.

orang2 im-mo-kauw yang tadi hanya berdiri sebagai penonton tidak mau berdiam diri lagi. semua sudah meluruk mengurung Yo Cie Cong dengan senjata terhunus. Dengan demikian, terjadilah suatu pertempuran ramai yang bersifat pengeroyokan-

Yo Cie Cong yang diserbu banyak musuh, matanya lantas mendelik, napsu membunuhnya lantas berkobar.

Dengan cepat ia mengeluarkan senjatanya Golok Maut dan mengamuk didalam rombongan orang yang datang menyerbu itu.

Disamping Gotok Mautnya yang bekerja. tangan kirinya juga turut bekerja dengan ilmu pukulan Liang kek-Cin-goannya

Meskipun hanya seorang diri saja, tetapi karena tangan kanan memegang senjata Golok Maucang hebat- dan tangan kirinya sudah menggunakan ilmu pukulannya yang sangat ampuh. maka tidaklah mengherankan kalau dalam waktu sekejapan saja disana sini lantas terdengar suara jeritan ngeri. ,

Darah dan kaki tangan manusia kelihatan serabutan ditengah udara yang lalu disusul dengan rubuhnya beberapa orang dan binasa seketika.

Dalam pertempuran pengereyokan yang begitu hebatnya itu, orang2 dari pihaknya Im-mo- kauw makin lama kelihatan makin sedikit, sedangkan Yo Cie Cong sendiri, kelihatan bagai kerbau gila mengamuk dan membunuh musuhnya tanpa kenal apa artinya kasihan lagi. Jka pertempuran itu berlangsung agak lama sedikit lagi saja, semua orang2 Im-mo-kau. kecuali dua orang yang tinggi kepandaiannya, pasti tidak ada seorang sajapun yang dapat hidup,

Dengan berkurangnya orang yang bertempur, maka keadaan pertempuran itu dengan nyata dapat diramalkan kesudahannya.

Utusan Raja Akherat dengan badan dan muka penuh berlepotan darah, masih bertempur mati2an-

si Pedang Berdarah Kong Jie yang dulu dengan jumawa karena senjata pedangnya yang ampuh kini kelihatannya tidak berdaya sama sekali.

Demikian juga halnya dengan Tio Lee Tin. Kelihatannya ia juga bertempur sengit, sampai napasnya memburu dan rambutnya awut-awutan.

Diantara orang2nya Im- mo-kauw yang datang belakangan, paling Akhir hanya tinggal ampat orang lagi yang termasuk paling tinggi kepandaiannya, tetapi dua orang diantara mereka sudah terluka parah, sekujur Badannya sudah bermandikan darah.

Dipihaknya Yo Cie Cong sendiri, Badannya juga sudah penuh darah. Tetapi serangan tangan dan goloknya masih tetap hebat. siapa orangnya yang berani mendekat, lantas rubuh binasa seketika.

sehingga Akhirnya, tujuh orang yang masih coba melawan itu, cuma dapat mengurung berkitaran dari jarak jauh.

Utusan Raja Akherat yang melihat keadaan demikian, jikalau pertempuran itu dilanjutkan terus, barangkali tidak ada seorangpun yang bisa pulang dalam keadaan masih bernyawa.

Maka ia lantas bersiul nyaring, tujuh orang dengan berbareng lompat keluar dari dalam kalangan-

Yo Cie Cong juga lantas hentikan serangannya,

"Pemilik Golok Maut.rekening hari ini, kita perhitungkan lagi dikemudian hari," demikian Utusan Raja Akherat berkata gemas.

"Kalian mau kabur? Hmm sudah tidak gampang2 lagi." jawab Yo Cie Cong dingin.

"Kau mau apa?"

"Urusan sekarang, bereskan dulu. sudah tentu aku akan berikan kalian jalan hidup," "Urusan apa ?"

"Hmmm, kau tidak usah berlagak pilon- jawab dulu pertanyaan yang kuajukan tadi." "Pertanyaan apa?"

"Benar sekali lagi kuulangi, siapa pemimpinnya Im-mo-kauw? Apa maksudnya ia begitu menghendaki jiwa ku."

Utusan Raja Akherat kelihatan agak bersangsi sejenak, lalu menjawab: "Aku tidak bisa menjawab."

"Ha, ha Kalau begitu, kalian bertujuh, jangan pikir bisa berlalu dalam keadaan hidup."

tujuh orang itu wajahnya barubah seketika, dengan berbareng pada mundur satu tindak. matanya mengawasi Yo Cie Cong. suasana kembali diliputi napsu pembunuhan yang hebat.

Yo Cie Cong dengan tangannya menuding salah seorang yang tangannya sudah terkutung: "Dia adalah Contoh kalian-"

Dimatanya tujuh orang itu. terlihat jelas perasaan gusarnya. tapi tercampur perasaan jeri. oleh karena kepandaiannya sendiri tidak dapat dipakai untuk melawan, sekarang apa daya?

Utusan Raja Akherat dengan mata beringas menuding Yo Cie Cong: "Bocah jelek. Apa benar2 hendak kau basmi habis orang2 kami ?"

"Bencana atau bahagia, tergantung atas perbuatannya orang2 itu sendiri. Kejadian ini adalah kalian sendiri yang mulai lebih dulu. Kujelaskan padamu, apa yang kukatakan, selamanya tidak bisa ditawar-tawar. jikalau aku tidak dapatkan jawaban yang cukup memuaskan. Ha, ha "

"Bagaimana ?"

"Ini baru merupakan permulaan saja " "Hmmm."

"Kau mau jawab atau tidak?" "Tidak "

"Baik "

Baru saja habis mengeluarkan perkataan, se-olah2 lakunya hantu, tubuhnya yang besar tegap tantas menghilang Tiba2 terdengar suara jeritan ngeri.

salah seorang dari tujuh orang itu, lengannya sudah terpapas kutung, sehingga orang itu bergulingan ditanah sambil men-jerit2 mengerikan,

"Kau mau jawab atau tidak?" "Tidak "

"Dengan begitu, kalau kau masih tetap tidak mau menjawab, Akhirnya akan sampai juga pada bagianmu. sekarang, setiap kali kau menjawab Tidak. akan kukutungi salah satu diantara orang2mu."

Begitu habis mengucapkan perkataannya tadi, ia lantas menghilang dan kemudian muncul lagi.

Dan seperti juga tadi, tatkala ia menghilang. lantas terdengar suara jeritan ngeri,

Oang2nya Im-mo-kauw kembali ada seorang lagi yang menjadi korban Golok Maut. sekarang hanya tinggal lima orang lagi yang belum dapat bagian- Dengan berbareng mereka

berseru dan menggunakan tenaga masing2 sepenuhnya mengirim serangan kearah lawannya yang ganas.

serangan tergabung dari kekuatan kelima orang itu telah menyambar dengan hebat.

Yo Cie Cong yang sudah menjadi kalap. meskipun merasa bahwa serangnn itu betul cukup hebat, tatapi masih tetap ia tidak mau menyingkirkan diri. Golok Mautnya cepat disimpannya kembali, ia menyambuti serangan mereka berlima dengan kedua belah tangan-

Ketika dua aliran kekuatan itu saling beradu, kembali terdengar suara gemuruh yang sangat hebat. sesudah itu....

Dipihaknya Utusan Raja Akherat berlima, semuanya terpental mundur. Yo Cie Cong sendiri juga turut terpental mundur dua tindak.

Baru saja berdiri tegak. Yo Cie Cong sudah menanya lagi dengan suara dingin: "Utusan Raja Akherat, kau sebetulnya mau jawab pertanyaanku tidak?"

"sekali tidak, tetap tidak" jawab Utusan Raja Akherat keras.

"Kalau begitu, terpaksa aku melanjutkan rencanaku tadi hendak mengambil jiwanya salah seorang diantara kalian."

Diantara kelima orang itu, salah seorang diantaranya tampaknya segera akan menjadi korban keganasannya Yo Cie Cong.

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara bentakan nyaring: "Tahan "

suara itu, meskipun tidak keras, tetapi masuknya kedalam telinga seperti bunyi geledek menyambar, sehingga hampir memekakkan telinga semua orang yang ada disitu.

Dengan perasaan kaget dan ter-heran2 semua mata lalu ditujukan kearah datangnya suara tadi.

sebentar kemudian, disitu telah muncul secara tiba2 tiga orang yang ternyata adalah dua orang tua dan seorang wanita muda.

Stu, adalah seorang tua aneh dengan rambutnya yang putih, dandanannya setengah mirip padri, setengah mirip imam.

seorang lagi, adalah seorang tua juga yang tangannya membawa sebatang bambu kail, sedangkan yang muncul paling belakang adalah seorang gadis jelita yang cantiknya seperti bidadari dari kayangan.

Ketika melihat kedatangannya ketiga orang itu hatinya Yo Cie Cong tergoncang keras. Pikirnya: "Heran- bagaimana Pak hong. Lam-tie dan adik Kheng ini bisa datang kemari semuanya berbareng?" Tetapi Yo cie Cong masih mengandalkan parasnya sendiri yang sudah berubah menjadi seorang pemuda yang berwajah jelek, ia tidak kuatirkan dapat dikenali oleh Pak- hong dan Lam-tie, maka ia masih coba berlaku tenang.

Utusan Raja Akherat dan kawan2nya, untuk sesaat lamanya juga tidak dapat mengenali siapa adanya ketiga orang yang baru datang itu, sebab hweshio setengah gila dan pengail linglung itu lama sudah mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw.

Ut-tie Kheng dengan sikapnya yang masih ke-kanak2an, menarik lengan bajunya Phoa-ngo Hweishio sembari berkata. "Kong kong, apakah dia ini adanya si Pemilik Golok Maut kedua."

"Ng."

"Dia usianya masih begini muda, tetapi perbuatannya begitu ganas. Kau lihat. Bagaimana mengerikannya orang2 yang binasa ditangannya itu."

Si pengail linglung dengan sikipnya yang ke-tolol2an lantas nyeletuk. " Kheng jie, jangan banyak mulut."

Phoa-ngo Hweshio melirik dan berkata pada Yo Cie Cong: "Bocah, perbuatanmu terlalu kejam"

Diluarnya Yo Cie Cong kelihatan tenang saja, tetapi dalam hatinya tergoncang hebat. Ketika mendengar teguran tersebut, lama baru bisa menjawab: "Aku yang rendah terpaksa harus berbuat begini."

"Ha, ha Enak benar jawabmu. Aku, si Hweshio gila sudah kesalahan mata. Buddha yang

welas asih. teecu karena berpikir kurang hati2, telah menimbulkan pembunuhan begini hebat. sungguh berdosa." demikian kata-katanya si hweshio gila yang seperti mengoceh sendiri, namun telah membuat semua orang itu terkejut mendengarnya.

Terutatna Yo Cie Cong yang merasa semakin kuatir. Pikirnya: "Apakah orang tua ini sudah kenali aku."

si Pedang Berdarah Kong Jie yang pengalamannya agak luas, ketika itu lantas ingat dua orang dari golongan tua aneh yang sudah lama mengasingkan diri dari dunia Kang-ouw. semakin dilihatnya, semakin meyakinkan dugaannya, maka dalam hatinya lantas mengambil suatu keputusan. Pikirnya, "jikalau saat ini tidak mau pergi, tunggu kapan lagi, apa harus mengantarkan jiwa disini ?"

Ia lantas baritahukan maksudnya pada Utusan Raja Akherat.

Utusan Raja Akherat lalu memberikan isyarat pada orang2nya, sebentar kemudian ia lantas pimpin kawan2nya dengan tidak meninggalkan sepatah perkataan pun pada ketiga orang yang baru datang itu.

Yo Cie Cong lantas membentak dengan suaru keras, dan lantas juga hendak mendatangi berlalunya mereka.

"Jangan bergerak." demikian didengarnya suara orang yang berwibawa, suatu kekuatan tidak tertampak yang sangat hebat telah mencegah tindakannya Yo Cie Cong. sehingga dengan terpaksa Yo Cie Cong urungkan maksudnya.

orang yang turun tangan mencegahnya tadi, ternyata adalah Phoa-ngo Hweshio. "Bocah, apa kau masih belum merasa puas dengan perbuatan membunuhmu itu?"

Yo Cie Cong membisu

Ut tie Kheng dengan perasaan ter-heran2 mengawasi si pemilik Golok Maut yang telah menggemparkan seluruh rimba persilatan itu Kemudian ia mengawasi dirinya Phoa-ngo Hweshio, dalam hatinya merasa heran, mengapa engkong hweshionya ini menyebut pemilik Golok Maut itu Bocah? Dan mengapa pemilik Golok Maut itu sedikit pun tidak membantah?

"Bocah, tidak perlu kau mengelabui aku lagi. Buka kedokmu "

Yo Cie Cong dengan terpaksa lalu membuka kedoknya Terlihatlah satu wajah yang tampan

cakap.

Ut-tie Kheng lantas berseru: "Kau .... Engko Cong Kau adalah itu pemilik Golok Maut ?"

Dengan wajah ke-merah2an Yo Cie Cong mengangguk. kemudian memberi hormat pada kedua orang tua aneh itu. Sepasang matanya pengail linglung yang tadi dipejamkan, mendadak kini dibuka lebar. sinar matanya yang tajam telah menyapu wajahnya Yo Cie Cong, lalu menghelah napas dan kembali pejamkan matanya.

Ut Tie Kheng kembali menanya pada Phoa-ngo Hweshio sambil menarik-narik bajunya: "Kong- kong, bagaimana kau bisa tahu kalau pemilik Golok Maut tadi adalah engko Cong ini yang menyaru?"

"Dalam rimba persilatan pada dewasa ini." jawab Phoa-ngo Hweshio, "orang gagah yang memiliki ilmu kekuatan ampuh Kan-goan Cian-Cao dan Liang- kek Cin-goan, kecuali dia seorang, tidak ada orang keduanya lagi. Barusan dari jauh aku telah lihat dia turun tangan, maka aku berani pastikan dia siapa."

Yo Cie Cong lalu berkata pada dua orang tua itu. " Harap jiwie Locianpwee berdua. Ini disebabkan karena terpaksa."

ooooooo ooooooo ooooooo

Hatinya Ut-tie Kheng berdebaran keras. sungguh tidak disangkanya bahwa kekasihnya itu ternyata adalah orang yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut yang telah menggemparkan dunia rimba persilatan. sepasang matanya yang jernih dengan tidak berkedip mengawasi wajahnya Yo Cie Cong.

Phoa-ngo Hweshio kini telah hilang kebiasaanya yang ke-gila2an- Ia berkata dengan sikap sungguh2: "Bocah, apakah kau masih ingat perkataan apa yang pernah diucapkan olehku si Hweshio gila padamu?"

"Harap Locianpwee ingatkan lagi, boanpwee sesungguhnya sudah lupa "

"Ha, ha... Bocah, ketika aku memberikan pelajaran ilmu totokan Liu-in Hut-hiat kan Hui-siu Kay- hiat kepadamu dulu, pernah kukatakan, jikalau kau menggunakan kepandaianmu untuk melakukan kejahatan didunia Kang-ouw, aku si Hweshio gila tidak akan gampang2 melepaskanmu."

"Benar. Ketika Locianpwee memberi pertolongan terhadap diri boanpwee selagi boanpwee dalam bahaya, memang pernah mengatakan begitu."

"Untung kau masih ingat." "Bagaimana boanpwee bisa lupakan?"

"Kalau begitu, perbuatanmu hari ini, bagaimana harus kau katakan terhadapku?"

"Perbuatan boanpwee tidak berlawanan dengan hati nurani boanpwee sendiri, sesungguhnya boanpwee telah didesak untuk melakukan perbuatan tadi"

"Ha. ha Apa kau kira aku si Hweshio gila tidak punya mata dan telinga?"

"Harap Locianpwee suka unjukkan kesalahan boanpwee."

"Pembunuhan besar2an di Cit-tie-peng. Pembasmian orang2 Cie in-pang dan pembunuhan besar2an hari ini. Apakah semuanya itu bohong?"

Yo Cie Cong lalu menjawab sambil ketawa getir: "Boanpwee telah didesak demikian rupa, sehingga mau tidak mau harus berlaku begitu "

"Ha. ha dengan kepandaianmu, barang kali tidak ada orang yang bisa mendesak kau."

"Mengapa tidak ada orang yang mampu mendesak? Boanpwce toh pernah binasa ditangannya Liat Yang LoKoay? Tetapi beruntung bisa hidup kembali."

"Tetapi perbuatanmu yang melakukan pembunuhan itu, toch semuanya merupakan kenyataan bukan ?"

"Maksud LoCianpwee, apa hendak menghukum boanpwee ?" "Hapuskan kepandaianmu."

Jawaban itu se-olah2 bunyi geledek disiang hari, membuat Yo Cie Cong sangat terkejut tetapi juga lantas membangkitkan adatnya yang tinggi dan dingin, maka dengan lantas ia menjawab:

"Boanpwee melakukan pembunuhan itu telah dipakaa oleh karena keadaan. Cianpwee pernah melepas budi pada diri boanpwee karena pernah menolong jiwa boanpwee dan telah menurunkan pelajaran pada boanpwee. Dalam hal ini, boanpwee sedikitpun tidak akan bisa melupakan- Boanpwee bersedia mentaati perintah Cienpwee untuk menepati janji dengan seorang aneh dari dunia rimba persilatan- sementara itu, ilmu kepandaian yang Cianpwee berdua telah berikan pada boanpwee, untuk selanjutnya tidak akan boenpwee gunakan lagi. oleh karena boanpwee sedang memikul tugas menuntut balas sakit hati perguruan boanpwee, maka kehendak locianpwee yang menghendaki boanpwee hapuskan lagi kepandaian boanpwee, maafkan boanpwee merasa sangat keberatan-"

Si Pengail Lingkung yang sejak tadi diam saja sambil pejamkan mata, mendadak membuka lebar2 matanya, dengan tidak berkedip mengawasi Yo Cie Cong, tetapi dari sinar matanya dapatlah dilihat perhatiannya dan kasih sayangnya terhadap anak muda itu.

Phoa-ngo Hweshio bergerak rambut dan kumis saja. Ia lalu berkata pula: "Baiklah. apa kau mau menentang perintahku si Hweshio gila?"

"Menentang perintah. tidak berani, Namun kenyataan memang sesungguhna berat bagi boanpwee menerima usul Cianpwee tersebut."

Dengan wajah kebingungan ut Tie Kheng lalu berkata pada Phoa-ngo Hweshio: "Kong-kong. benarkah kau hendak melenyapkan kepandaiannya engko Cong ?"

"Apa kau kira aku main2?"

"Kalau begitu, aku kata tidak boleh." "Ha, ha Budak, kau kata tidak boleh ?"

"Aku bisa adu jiwa dengan kau" si nona nyegongot.

"Kau hendak adu jiwa dengan aku? Namun aku akan tetap menjalankan apa yang aku ucapkan."

Sepasang matanya Ut-tie Kheng kelihatan merah, ia berkata dengan suara terharu: "Khong- kong, benarkah kau hendak berbuat demikian ?"

"Sudah tentu. Ada hubungan apa kau dengan urusannya bocah ini?"

Wajah Ut-tie Kheng merah seketika, lama baru ia bisa menjawab: "Tidak perduli. Aku kata tidak boleh tetap tidak boleh "

Pengail linglung lantas nyeletuk: "Kheng-Jie, kau kemari." "Tidak." jawab sang cucu.

Yo Cie Cong mengawasi ut Tie Kheng dengan perasaan terima kasih, kemudian dengan suara tegas ia berkata pula pada Phoa-ngo Hweshio: "Locianpwee, boanpwee hendak mengulangi sekali lagi keterangan boanpwee, untuk kepentingan boanpwee menuntut balas sakit hati suhu boanpwee harus mempunyai kekuatan untuk melakukan pekerjaan tersebut."

Ut Tie Kheng lantas menyetuk: "Kong-kong, kau berikan dia dua rupa ilmu silat. orang toch sudah menjelaskan tidak akan menggunakan kepandaian yang kau turunkan padanya, mengapa dengan tidak ada alasan yang cukup kau hendak melenyapkan seluruh kepandaiannya ?"

Ucapan ini telah membuat si Hweshio gila melongo.

Ut Tie Kheng berkata pula: "sukakah kau mendengar keterangan orang ?"

sebetulnya Phoa-ngo Hweshio juga tidak ada maksud melenyapkan kepandaiannya Yo Cie Cong. Ia hanya hendak menggunakan kesempatan itu dengan jalan menggertak supaya dapat menekan Yo Cie Cong punya napsu membunuh dan jangan sampai anak muda itu berlaku keterlaluan, maka ketika mendengar perkataan ut Tie Kheng ia lantas putar haluan-"Baiklah. Bocah, coba kau jelaskan bagaimana duduknya perkara."

Yo Cie Cong lalu menceritakan bagaimana Kam-lo-pang dulu telah dibasmi oleh segerombolan orang2 jahat dari dunia Kang-ouw. dan bagaimana suhunya, Yo Cin Hoan untuk kedua kalinya mendapat serangan sehingga sampai pada ajalnya secara mengenaskan-Bagaimana ia telah mendapat pesan terakhir dari suhunya untuk menuntutkan balas sakit hati dengan berdasarkan atas orang2 yang namanya terdapat dalam daftar musuh2nya Kam-lo-pang, Akhirnya ia menceritakan juga bagaimana perkumpulan Im-mo-kauw yang terus-menerus mengirim orang-nya yang kuat mengejar padanya sehingga dengan terpaksa ia turun tangan terhadap orang2nya Im- mo-kauw.

Si Hweshio gila bertiga ketika mendengar cerita Yo Cie Cong itu, juga merasa terharu. "Bocah, musuh2mu itu sekarang masih tinggal berapa orang?" tanya Phoa-ngo Hweshio. "Sampai saat ini hanya tinggal lima orang lagi saja."

"Siapa lima orang itu?"

"Mereka itu adalah, si iblis Rambut Merah. Liat Yang Lokoay, Manusia jelek nomor satu, si siluman Tengkorak dan Giok bin Gam-po"

Begitu mendengar disebutnya kelima orang itu, orang2 yang sudah mempunyai kepandaian dan kedudukan tinggi seperti Pengail linglung dan Phoa-ngo Hweshio juga pada kerutkan alisnya.

Hanya ut Tie Kheng yang lantas berseru: "Aaa "

"Lima iblis itu" kata Phoa-ngo Hweshio. "dulu pernah mengacau seluruh dunia persilatan- salah seorang saja diantara kelima orang itu, susah sudah sekali dihadapinya sekarang, ke-limanya merupakan musuh2mu semuanya. Hmmm, usahamu untuk menuntut balas sakit hati ini barangkali ,"

"Boanpwee tidak akan berhenti berusaha sebelum mencapai maksud boanpwee." memotong Yo Cie Cong dengan gagah.

"Kau ini anak yang berambekan besar" menggerutu Phoa-ngo Hweshio.

Ut-tie Kheng lantas menyelak sambil ketawa geli. "Hosiang Kong-kong apakah kau masih hendak memunahkan kepandaian engko Cong?"

si Hweshio gila lantas menjawab sambil ketawa: "Anak nakal, dengan memandang kau, aku si Hweshio gila mau tarik kembali perkataanku."

"Ng."

Yo Cie Cong lantas menjura dalam2 kepada si Hweshio gila sambil berkata: "LoCianpwee terima kasih banyak."

Phoa-ngo Hweshio mendadak berkata dengan suara sungguh2: "Bocah, walaupun demikian, aku mengharap kau suka selalu ingat bagaimana kasih Tuhan pada umat manusia. janganlah kau melakukan pembunuhan terhadap orang yang sama sekali tidak berdosa."

"Boanpwee akan selalu ingat pesan Cianpwee ini."

Dengan demikian, maka berakhirlah sudah segala kesalahan pahaman tadi-

Ut Tie Kheng sejak berkenalan dengan Yo Cie Cong dipulau Batu Hitam, hatinya sudah tertambat oleh anak muda itu, Dan kemudian, setelah tubuhnya bersentuhan oleh karena Yo Cie Cong sudah mengobati dirinya yang terkena racun, membuat seluruh hatinya telah diberikan kepada anak muda yang gagah itu.

Begitu pula dipihaknya sipengail Ling-lung dan phoa-ngo Hweshio, mereka juga sudah bermaksud hendak merekokan perjodohan ke dua muda mudi itu.

Barusan, kalau Hweshio gila itu bersikap begitu bengis, sebetulnya hanya sedang main sandiwara saja, maka sipengail Ling-lung yang menyaksikan tingkah laku sahabatnya itu, sedikit pun kelihatannya tidak mau ambil pusing.

Kembali Phoa-ngo Hweshio berkata pada Yo Cie Congo "Bocah untuk menghadapi lima iblis yang nama2nya baru kau sebutkan tadi, kau sudah ada rencana apa ?"

"Liat-yang Lokoay dan si siluman Tengkorak sudah pernah bertempur dengan boanpwee, sampai sekarang masih belum lagi ketahuan dimana jejak mereka, sedangkan Manusia jelek nomor satu sekarang ini sudah menjadi pelindung hukumnya perkumpulan Pek-leng-hwee. Hanya si iblis Rambut merahlah sampai sekarang belum pernah boanpwee lihat orangnya " ia berdiam

sejenak, kemudian berkata pula: "Giok bin Giam-po Phoa Cit Kow. menurut apa yang boanpwee tahu dari keterangan2 orang kabarnya sedang sembunyikan diri dipuncak gunung Pit-goan-hong didekat daerah Lam-ciang."

"Dari mana kau bisa dapatkan keterangan itu?"

"Pada suatu ketika, yang sama sekali tidak boanpwee sangka, boanpwee mengejar dua orang yang sangat mencurigakan, ketika sampai digunung pit goan-hong boanpwee barjumpa dengan seorang tua aneh yang mengaku bernama Hui-lui-chiu Nao Yong. Menurut keterangannya orang tua itu, dipuncak gunung Pit-goan-hong itu, ia sudah menunggu sepuluh tahun lebih lamanya, tetapi masih tetap tidak berhasil melewati jurang yang curam itu. Ia telah memastikan bahwa orang yang berdiam diatas puncak gunung Pit-goan-hong itu pasti adalah Giok-bin Giam-po."

"Apa sebabnya Hui-lui-chiu menunggui terus Giok-bin Gam-po ?"

" Hui-lui-chiu mengaku sebagai saudara angkatnya yang tua dari jago gedang nomor satu didunia. Giok-bin Kiam khek Hoan Thian Hoa. Ia pikir, dari dirinya Giok bin Giam-po hendak mencari rahasia mati hidupnya Hoan Thian Hoa. Ia juga berjanji dengan boanpwee akan berjumpa lagi setahun kemudian,"

"oooo," tiba2 si Pengail Linglung menyelak. "Tentang Giok- bin Kiam khek Hoan Thian Hoa, Bocah itu, pada dua puluh tahun berselang. pernah bertemu dengan lohu beberapa kali. wajahnya mirip sekali dengan kau."

Yo Cie Cong terperanjat. Ia lantas menanya: "Mirip dengan boanpwee ?"

Mengenai dirinya yang dikatakan mirip dengan Hoan Thian Hoa termasuk dengan Pengail linglung ini ia sudah dengar tiga orang yang mengatakan demikian, sehingga membuat ia berpikir pula: "Apakah benar aku ini ada hubungannya dengan Hoan Thian Hoa?"

si Pengail Linglung lantas berkata pula: "Hoan Thian Hoa adalah muridnya jago see-gak Leng Jie Hong."

"Jago see-gak itu sebetulnya mempunyai berapa murid? " tanya Yo Cie Cong. "Mengenai ini. malah aku belum tahu betul"

"Kapankah boanpwee dapat memenuhi janji Locianpwee berdua pada Leng Jie Hong?"

Phoa-ngo Hweshio lantas berkata: "justru lantaran inilah maka kami mencari kau. Bulan depan diwaktu malaman bulan purnama, kau harus datang disuatu tempat yang dinamakan song-goat- peng dibelakangnya puncak gunung Hoa-san"

"Malaman bulan purnama bulan depan?"

"Benar. Kau harus ingat baik2 jangan membuat soal ini jadi runyam." "Boanpwee akan ingat betul2 dan pasti sampai disana pada waktunya."

Yo Cie Cong telah menyanggupi dengan perasaan hati tergoncang.

sebab manusia gaib dari see-gak itu, dulu pernah merupakan tokoh kuat satu2nya didalam rimba persilatan. Kepandaian muridnya sudah tentu tidak boleh dipandang ringan-

Ia kini telah mewakili kedua orang aneh dari rimba persilatan untuk memenuhi perjanjian hendak mengadakan pertandingan.

Dipandang dari sudut persoalannya, sebetulnya soal itu merupakan suatu soal yang besar. "Bocah apa kau pernah dengar orang mengatakan persoalannya antara Hoan Thian Hoa

dengan Giok bin Giam-po?" tanya si Pengail Linglung.

"Bagus. Tua bangka gila, kau telah membikin panjang pembicaraan dan sekarang kembali hendak menceritakan kisahnya orang. Aku si Hweshio gila, yang berdiri sekian lama, sudah merasa letih. Marilah kita duduk di- bawah pohon sana." nyeletuk Phoa-ngo Hwe-shio sambil ber-kauw2

"Baiklah."

Keempat orang itu, semuanya lantas berjalan dan pindah kebawah sebuah pohon rindang yang terletak kira2 lima tombak jauhnya.

Yo Cie Cong terus sangsikan dirinya yang mungkin benar ada hubungannya dengan Giok-bin Khiam-kek Hoah Thian Hoa, maka ingin sekali ia dapat mengetahui semua hal yang bersangkutan dengan itu jago pedang yang hampir dua puluh tahun lamanya sudah menghilang. 

setelah semuanya sudah duduk, Ut Tie Kheng dengan aleman mendesak engkongnya. " Engkong, lekaslah ceritakan-"

Pengail Linglung itu kelihatan berpikir sejenak. lantas pejamkan mata dan mulai bercerita sebAgai berikut: "Giok bin Kiam-kek Hoan Thian Hoa, dulu sangat terkenal karena kepandaian, kegagahan dan ketampanannya. Ilmu pedangnya sesungguhnya sangat luar biasa. Diantara golongan muda, ia telah dianggap oleh semua orang dunia Kang-ouw sebagai jago pedang nomor satu. banyak wanita2 tergila2 padanya. Murid perempuannya To-thian Ie siu dari gunung Thian san, oleh karena dia, telah meninggalkan pelajaran ilmu silatnya setengah jalan dan terjun ke dunia Kang-ouw mencari dia."

Yo Cie Cong tergerak hatinya. Ia lalu nyeletuk: "Murid perempuannya To-thian Ie-siu itu apakah bukan Thian-san Liong Lie Tho Hui Hong, ?"

"Mungkin dia. Aku lapat2 masih ingat budak itu seperti she Tho."

Yo Cie Cong lalu sadar bagaimana Thian-san Liong Lie dengan tidak perduli akan jiwanya sendiri ber-kali2 telah menolong jiwanya, kiranya, wajahnya sendiri begitu miripnya dengan kekasih wanita gagah itu.

"Dan selanjutnya ?" Yo Cie Cong mohon cerita diteruskan-

"Giok-bin Kiam-khek orangnya tinggi hati, Terhadap banyak Wanita yang mengejarnya, ia sama sekali tidak mau ambil pusing. Tetap Akhirnya ia telah dibikin lunak hatinya oleh cinta kasih yang begitu besar dari perempuan she Tho itu."

"Tetapi bagaimana lantas bisa menyangkut dengan dirinya Giok bin Giam-po?" nyeletuk Yo

Cie Cong.

"Dengar dulu cerita ku." kata si Pengail Linglung. "kemudian Giok-bin Kiam-khek, pada suatu ketika yang tidak disengaja, telah bertemu dengan seorang gadis jelita yang kecantikan parasnya luar biasa. Kecantikannya gadis itu telah membuat setiap kaum pria yang melihatnya pada ter- gila2."

Ut Tie Kheng lantas menyelak: "Apakah gadis itu namaya Giok-bin Giam-po ? "

"Kau jangan menyelak. Dengarlah cerita engkongmu. Dan Giok-bin Kiam-khek itu lantas jatuh cinta kepada gadis cantik jelita tersebut "

Pada saat itu, Phoa-ngo Hweshio mendadak berkata dengan suara keras kearah sebuah pohon lebat yang berada sejauh lima tombak dari situ^

"Siapa? Tidak perlu main sembunyi2. Keluarlah "

Pengail Linglung lalu hentikan penuturannya. Yo Cie Cong lalu menengok kearah tempat tersebut.

Sebentar kemudian, sesosok bayangan manusia telah melesat keluar dari tempat itu dan tiba dihadapan mereka.

orang itu ternyata adalah seorang aneh, Badannya tinggi besar, kepala dan wajahnya ditutupi kerudung kain-

orang aneh itu setelah memperlihatkan dirinya, lalu berkata sambil ter-tawa2: "Selamat bertemu. Sepasang manusia aneh dari rimba persilatan mungkin sudah bosan dengan penghidupannya yang tenang tenteram, dan sekarang hendak muncul lagi didunia Kang-ouw."

Kalau didengar dari ucapannya orang aneh itu agaknya tinggi juga kedudukannya didalam rimba persilatan, sebab bukan saja lantas ia mengenali kedua manusia aneh itu, tetapi perkataannya juga sangat jumawa.

sambil ketewa Ha, ha, Hi, hi. si Hweshio gila lantas berkata: "Tuan tentunya toch ada nama?" "sudah tentu."

"Aku si Hweshio gila. selamanya tidak suka orang main kucing2an Lebih baik lekas kau beritahukan namamu,"

"Kauwcu dari perkumpulan Im-mo-kauw."

Ketika mendengar keterangan itu, empat orang itu lantas berbangkit semuanya.

Tidak nyana, tetapi orang aneh yang memakai kerudung yang berdiri dihadapan mereka itu ternyata adalah pemimpin perkumpulan Im-mo-kauw yang dikalangan Kang-ouw dipandang sebagai orang yang sangat misterius dan kejam perbuatannya, Terutama bagi Yo Cie Cong, yang saat itu hatinya lantas tergoncang keras.

sekarang ia harus dapat membuka tabir rahasia dari Im-mo-kauw, apa sebabnya perkumpulan itu terus menghendaki dirinya ? Pemimpin perkumpulan im-mo-kauw itu berpaling dan berkata pada Yo Cie Cong. "Bocah, kiranya adalah kau yang mengatakan diri sebagai pemilik Golok Maut itu?"

"Benar." jawab Yo Cie Cong ketus.

"Bagus. Kalau begitu, tidak sia-sia perjalananku ini,"

Yo Cie Cong tidak menjiwab, ia hanya memperdengarkan suara dari hidung.

"Bocah, tidak usah dikata... kau tentunya adalah muridnya Pangcu dari Kam-lo-pang?" "sedikitpun tidak salah."

Sekarang jelaslah sudah, munculnya pemimpin Im-mo-kauw itu ternyata se-mata2 hanyalah untuk mencari Yo Cie Cong seorang.

si Hweshio gila, Pengail Linglung dan ut Tie Kheng bertiga matanya semua ditujukan kepada pemimpin im-mo-kauw itu untuk melihat apa yang akan diperbuatnya selanjutnya.

Pemimpin im-mo-kauw itu sudah dapat mengatakan dengan Yo Cie Cong bahwa pemuda itu sebagai pemilik Golok Maut, kalau begitu sudah terang bahwa pemimpin itu sudah lama berada ditempat tersebut, maka ketika itu Hweshio gila suruh Yo Cie Cong membuka kedoknya, tentu sudah juga diketahui semua olehnya.

Dengan demikian, maka mengenai diri pemilik Golok Maut,sekarang sudah tidak perlu lagi dirahasiakan-

Yo Cie Cong juga sudah mengakui terus terang.

Kembali Kauwcu itu perdengarkan suara ketawanya yang sangat aneh. "Bocah, dengan beruntun kau telah membinasakan beberapa puluh orang kuat dari perkumpulan kami, bagaimana kau hendak bikin perhitungan rekening ini?"

Yo Cie Cong dengan wajah ketus dingin balas menanya: "Perkumpulan im-mo-kauw dengan aku dulu tidak ada ganjalan apa2 dan juga tidak ada permusuhan apa, mengapa terus2an mengejar-ejar aku? Apalagi ketika aku baru muncul didunia Kang-ouw, perkumpulanmu telah berani sesumbar bahwa pemilik Golok Maut bukan Pangcu Kam-lo-pang sendiri Dalam hal ini, tentu ada sebabnya. oleh karena itu, maka aku tidak bisa tinggai diam mandah dipermainkan-"

"Dan sekarang, kau mau apa?" "Membuka tabir rahasia"

"Betulkah kau pernah berkata hendak membasmi habis perkumpulan kami?"

"Benar. jikalau tidak mau menjelaskan sebab2nya dari apa yang kutanyakan tadi, aku berani berkata, juga berani berbuat. semua itu bukan omong kosong saja."

"Pui...Bocah, kesombonganmu benar2 sampai tidak mengetahui tingginya langit dan tebalnya bumi. Hmmm, Aku juga akan berbuat seperti apa yang kau ucapkan-"

"Kau yakin mempunyai cukup kepandaian untuk berbuat begitu ?" "Boleh dibuktikan dengan kenyataan."

"Barang kali kau tidak punya kesempatan untuk membuktikan itu." "Mustahil,"

Si Pengail Linglung dan Hweshio gila saat itu pula tertegun-

Ut Tie Kheng lagi berdiri disampingnya Yo Cie Cong. Matanya dipentang lebar, parasnya merah padam. Dengan perhatiannya yang sangat besar, seolah-olah hendak memberi dorongan semangat pada kekasihnya itu,

Yo Cie Cong dengan sikapnya yang masih tetap Ketus dingin- memandang pemimpin Im-mo- kauw itu sejenak. lantas berpaling dan berkata pada Pengail Linglung dan phoa-ngo Hweshio

"Harap LoCianpwee suka mundur sedikit dan mohon jangan turut campur tangan. ini adalah urusan boanpwee pribadi."

Kemudian berkata kepada ut Tie Kheng: "Adik Kheng harap kau juga menyingkir."

Ut-tie Kheng dengan perasaan berat mengawasi kekasihnya . kemudian undurkan diri Pengail Linglung dan phoa-ngo Hweshio berdua, merupakan orang2 kenamaan didunia Kang-

ouw setelah saling pandang sejenak, keduanya juga lantas pada mundur sejauh dua tombak. Yo Cie Cong yang sudah pernah, merasakan bagaimana hebatnya ilmu pukulan Tay-im-Ciang, dapatlah dibayangkan kekuatan dari kepandaian pemimpin im-mo-kauw ini, yang pasti lebih hebat dari pada pemimpin mudanya.

Pemimpin im-mo-kauw itu kembali berkata dengan suaranya yang menyeramkan: .Apa kau sudah siap?"

oooooo ooooooo oooooo

DENGAN TIDAK menggubris Yo Cie Cong berkata: "Tidak ada apa2nya yang perlu disiapkan," "Kau jangan kira oleh karena ada sepasang manusia aneh yang menunjang, kau lantas hendak

jual lagak."

"Ha, ha...Kau ada seorang pemimpin dari satu perkumpulan, perkataanmu sebetulnya agak kurang dipikir. Kau terlalu banyak pikir yang bukan2. Golok Maut sejak muncul didunia Kang-ouw, sudah banyak menghadapi bahaya besar atau kecil. Kapan pernah dia minta bantuan tenaga orang lain ?"

phoa-ngo Hweshio yang agaknya sudah tidak sabaran, lantas menyelak: "Kauwcu. kiranya kau juga bukan seorang yang tidak punya nama. Bagaimana perbuatanmu begitu pengecut? jikalau kau benar punya nyali, sebutkanlah namamu untuk aku seorang tua dengar."

"He, he Hweshio gila, meskipun kau merupakan salah satu dari sepasang Manusia Aneh dari rimba persilan, tetapi buat Kauwcumu masih belum ada artinya apa."

"Eeee, sombongnya boleh juga," si Hweshio gila nyengir.

saat itu, si Pengail linglung lantas membuka matanya, ia melihat keadaan disekitarnya sejenak. lalu berkata dengan suara yang dingin: "orang2mu yang ikut datang, jumlahnya ternyata tidak sedikit."

" Untuk menbereskan Bocah ini, kami sebetulnya cuma memerlukan waktu segebrakan saja." jawab Kauwcu Im-mo-kauw jumawa. Yo Cie Cong ketawa ber-gelak2,

"Toa Kauwcu, bukankah kau sedang mengimpi?" tanyanya tenang.

Pemimpin im mo-kau itu pe-lahan2 majukan kakinya dua tindak. menghampiri "Kau tidak percaya ?"

"Aku kata, kau masih belum pantas bicara begitu."

"He, he,,,. jika kau mampu menyambuti seranganku sampai tiga kali saja, hari ini kita bikin habis persengketaan kita. Rekening ini kita perhitungkan dilain kali apabila kita bertemu lagi,"

"Enak saja kau mengoceh. Hari ini, jika kau tidak mau bereskan soal yang menjangkut diriku, jangan harap kau bisa angkat kaki dari sini,"

Pemimpin im-mo-kauw ini lantas menjawab dengan suara gusar: "Bocah, kau benar2 tidak tahu diri Rupanya sudah kepingin mampus benar2,"

Yo Cie Cong kelihatan semakin dingin wajahnya napsu membunuhnya semakin berkobar, "Siapa yang akan mati dan siapa yang akan tetap tinggal hidup, nanti bisa diketahui dan

ditentukan oleh kepalan kita." "Baik."

Pemimpin im-mo-kauw itu lalu bergerak. tangannya terputar dan diayun- ... Hawa dingin lalu meluncur kaluar dari telapakan tangannya,

Yo Cie Cong juga mengerahkan seluruh kepandainya. Ia menutup dirinya dengan kedua telapakan tangannya,

Suara Bluk lantas terdengar amat nyaring. Masing2 pada mundur satu tindak.

"Bocah, benar saja kekuatanmu tidak tercela. Awas serangan kedua " Kedua tangannya kali ini dengan lambat2 didorong kemuka.

Suatu kekuatan tenaga dalam yang amat dahsyat telah meluncur keluar dengan tidak mengeluarkan suara sama sekali. disertai menyambarnya hawa dingin yang dapat menyusup tulang2 sampai sejarak lima tombak. hawa itu masih dapat membuat orang menggigil dan susah bernapas. Yo Cie Cong kali ini tidak berani berlaku gegabah.

Ilmu Liang-kek Cin goan-nya segera dikerahkan pada kedua tangannya untuk menyambuti serangan Kauwcu lihay ini dengan sepenuh tenaga.

Tetapi, kekuatan ilmu Liang kek Cin-goan yang sedemikian hebatnya, setelah membentur angin dingin dari lawannya, ternyata hanya mengeluarkan suara perlahan, yang kemudian sudah dibikin lenyap tanpa bekas.

sedangkan sisa kekuatan hawa dingin itu, membuat gemetar Badannya Yo Cie Cong.

Bukan hanya Yo Cie Coog seorang saja yang merasa heran si Pengail Linglung dan si Hweshio gila keduanya pun juga merasa dikejutkan.

Serang pun tidak pernah menduga, bahwa kekuatan tenaga dalam dari pemimpin Im mo-kauw itu, ternyata ada demikian hebatnya.

Tetapi, bagi sipemimpin im mo-kauw sendiri, dalam hatinya diam2 juga terperanjat. Ilmu serangan tangan Tay-im-Ciang nya yang dilancarkan dengan sepuluh bagian penuh tenaganya ternyata masih belum mampu melukai pihak lawannya. Bahkan dari sambutan serangan tadi. ia telah dapat menilai kekuatan pemilik Golok Maut itu, hebatnya ternyata ada diluar dari pada dugaannya semula. Pantas beberapa orang yang terhitung kuat yang beberapa kali diutus untuk mengejar pemilik Golok Maut, kesudahannya, kalau tidak binasa, tentu terluka parah.

Skarang telah ternyata bahwa kalau Hendak menyingkirkan orang ini, sebetulnya bukan suatu hal yang mudah.

Setelah kedua pihak hening sekian lamanya....

Badannya pemimpin im-mo-kauw itu agak ditarik mundur kebelakang. Kedua tangannya terangkat pelahan2, kemudian diayunkan dengan cepat. ternyata ia telah mengirim serangan pada lawannya.

Serangan itu rupanya disengaja supaya membuat Yo Cie Cong mendapat "Rasa", maka ia menggunakaa tenaga dalam sampai2 melewati takaran-Angin yang keluar dari tangannya kali ini sudah tentu lain lagi keadaannya.

Diantara sambaran angin yang maha hebat itu, juga dibarengi dengan suara tajam 'serr-ser' yang menusuk telinga.

Yo Cie Cong juga sudah mengumpulkan seluruh kekuatan tenaganya untuk dapat menyambuti serangan lawannya tersebut.

Asap merah bercampur putih, se-olah2 awan mendung menutupi sekeliling dirinya.

Phoa-ngo Hweshio segera menarik lengan bajunya ut Tie Kheng, dengan cepat mundur dua tindak.

Perbuatannya itu segera diikuti oleh si Pengail Linglung. "Dung "

suara gemuruh yang seperti gunung meletus dengan sangat dahsyatnya bergema disekitar tempat tersebut Udara pun bergelombang karena pengaruhnya benturan dua rupa tenaga, sehingga pasir dan batu pada beterbangan. Tanah dan rumput pada berhamburan. Kemudian- ...

disusul oleh keluarnya dua seruan tertahan-

Badannya pemimpin im- mo-kauw telah mundur sempoyonyan sampai satu tombak lebih dari tempat berdirinya semula,

Sedangkan Yo Cie Cong. mundur sepuluh langkah, wajahnya pucat, dadanya dirasakan bergoncang hebat.

Dari beradunya kedua kekuatan tadi, orang dapat mengira bahwa kekuatan kedua pihak agaknya berselisih hanya sedikit sekali.

ut Tie Kheng berubah wajahnya, ia lantas menjerit dan lompat menubruk Yo Cie Cong.

Tangannya menggoyang pundak Yo Cie Cong, dengan perasaan cemas ia me-manggil ber-ulang2. "Engko Cong, engko Cong, apa kau tidak kenapa?"

Yo Cie Cong hanya anggukkan kepala. Kelihatannya seperti sudah tidak bertenaga, ia menjawab dengan perasaan penuh terima kasih. "Adik Kheng, tidak apa2." Mendadak ut Tie Kheng berkata pula sambil menuding kesuatu tempat tiga tombak jauhnya: "Eeee, siapa dia ?"

Orang2 yang ada disitu, hampir rata2 merupakan orang-orang gagah terkuat dari rimba persilatan, Bagaimana ada orang yang berada ditempat sedekat itu sampai tidak dapat diketahui oleh mereka?

Itu semua, tidak lain karena disebabkan semua perhatian sudah ditumplekkan pada Yo Cie Cong yang sedanng bertanding dengan pemimpin Im-mo-kauw. maka semuanya agak lengah dengan sendirinya.

Walaupun demikian, kepandaian orang yang baru muncul itu juga sudah cukup mengejutkan,

Semua orang, setelah mendengar suara ut Tie Kheng, lalu pada berpaling kearah yang ditunjuk.

Suatu tubuh yang bentuknya ceking langsing, dengan pakaiannya yang serba merah menyolok mata tampak berdiri ditempat sejauh tiga tumbak dari medan pertempuran tersebut. wajahnya tertutup selapis kain merah, sehingga tidak dapat dilihat wajah aslinya Tetapi dari sikap dan bentuk Badannya yang begitu menarik. dapatlah diduga bahwa orang itu tentunya adalah seorang perempuan cantik jelita,

Yo Cie Cong yang juga melihat wanita aneh berpakaian serba merah itu, hatinya tergoncang hebat. Mulatnya lantas berseru "Aaa"....

Orang yang berdiri ditempat tidak jauh dari hadapannya itu, agaknya ia kenal betul. Bentuk Badannya mirip sekali dengan bentuk badan kekasihnya,yang sampai pada saat itu masih belum dapat dilupakannya. siang-koan Kiauw, gadis baju merah- demikianlah hati kecilnya men-duga.

Tetapi ia tahu benar, bahwa siang-koan Kiauw sudah ditelan ombak dilautan Lam-hay. Maka, keadaannya pada saat itu seperti orang linglung, setelah mengucapkan perkataan ."Aaaaa." lantas menutup mulutnya lagi.

Peristiwa menyedihkan yang terjadi pada masa lampau, sekali lagi terbayang didepan matanya.

Untuk seumur hidupnya ia tidak akan menemukan lagi gadis jelita yang seperti kekasihnya yang pertama itu dan dengan sia2 sudah bersumpah ber-sama2 mengikat janji.

Gadis aneh berpakaian serba merah itu, ketika mendengar seruan 'Aaaaa' yang keluar dari mulutnya Yo Cie Cong, Badannya kelihatan sedikit gemetar.

Umumnya wanita itu mempunyai perasaan paling halus. Terutama dalam masa pencintaan. Perasaan wanita lebih tajam daripada perasaan kaum pria. Gerakan yang meski hanya sepintas lalu itu. telah dapat dilihat oleh matanya Ut Tie Kheng. Dengan perasaan curiga ia mengawasi Yo Cie Cong dan menanya pula: "Engko. Cong, apa kau kenal dia?"

Yo Cie Cong pada saat itu, dengan munculnya wanita baju merah telah timbulkan kenangan lamanya akan nasib yang menyedihkan atas diri kekasihnya. Dalam keadaan demikian itu, maka pertanyaan ut Tie Kheng sudah tidak didengarnya sama sekali. Ia masih tetap mengawasi perempuan baju merah itu dengan mata tanpa berkedip.

Dengan demikian, perasaan curiganya ut Tie Kheng semakin hebat. Diwajahnya lantas kelihatan berduka, sekali lagi ia bertanya pada Yo Cie Cong dengan suara agak keras: "Engko Cong, kau "

Yo Cie Cong. se-olah2 baru tersadar dari alam mimpinya, telah mengalihkan pandangan matanya kearah ut Tie Kheng dan menanya: "Apa? Adik Kheng, kau tanya apa tadi."

"Hm, hm, aku tanya, apa kau kenal dia?" "Siapa ?"

"Dia"

Dengan perasaan sedih Yo Cie Cong gelengkan kepalanya, "Tidak kenal." jawabnya agak parau suaranya. "Apa benar ?"

"Apa aku perlu membohongi kau ?" "Tetapi aku melihat sikapmu "

"Dia telah mengigatkan aku pada dirinya seseorang."

"Siapa? Apakah siangkoan Kiauw yang ditelan gelombang lautan Lam-hay ?" "Ya."

Badannya wanita baju merah pada saat itu kembali kelihatan tergetar oleh karena wajahnya tertutup kain merah, orang lain tidak dapat melihat perubahan wajahnya.

Tetapi, yang sudah terang, dengan munculnya wanita baju merah ini ditempat tersebut, bukan tidak ada sebabnya.

Pemimpin Im-mo-kauw dengan Yo Cie Cong, setelah mengadu kekuatan sampai tiga kali, sudah mengetahui bahwa lawannya itu sesungguhnya bukannya orang yang mudah dijatuhkan-

Meskipun ia berniat hendak membinasakan dirinya Yo Cie Cong, tetapi jika melihat keadaan hari ini, maksudnya itu mungkin sukar terlaksana. Apalagi disampingnya masih adalagi sepasang Manusia Aneh dari rimba persilatan itu.

Maka ia lantas berkata: "Kami tadi sudah berkata, asal kau mampu menyambuti serangan tanganku sampai tiga kali saja, hari ini urusan antara kita, kita bikin habis. Hutang yang kau telah membunuh mati orang2ku yang terkuat akan kita perhitungkan lagi dikemudian hari."

Sehabis berkata ia lantas memutar Badannya hendak berlalu.

Tetapi Yo Cie Cong dengan cepat sudah bergerak dan tahu2 sudah berada dihadapannya, kemudian berkata dengan suara dingin-"Kau mau kabur? sudah tidak begitu gampang lagi, heh "

"Kau. mau bikin apa?"

"jelaskan dulu, mengapa Im-mo-kauw selalu mengejar pemilik Golok Maut, baru boleh berlalu." "jikalau aku tidak mau jelaskan?"

"Aku akan buka kerudung kepalamu. Aka mau lihat, kau mau jawab apa tidak."

sehabis mengeluarkan ucapannya, dengan cepat mengeluarkan ilmu menggeser tubuh menukar bayangan-nya, menyerbu kearah pe-mimpin im mo-kauw itu, bersamaan dengan itu, tangannya lantas menyambar kerudungnya pemimpin itu.

Maksudnya Yo Cie Cong ialah, apabila ia sudah berhasil membuka kerudung pemimpin Im-mo- kauw, teka-teki yang mengganjal didalam hatinia, mungkin akan dapat jawabannya. Tetapi, gerakannya itu ternyata sudah menubruk tempat kosong.

sebab gerakan dari ilmu Menggeser tubuh menukar bayangan- yang sangat aneh dari Yo Cie Cong ini. boleh dikata hanya pemimpin im-mo kauw itulah yang merupakan orang yang pertama dapat mempunahkan serangan tersebut.

Selagi Yo Cie Cong berada dalam keadaan heran, pemimpin im- mo-kauw itu sudah berada ditempat sejauh sepuluh tombak lebih yang kemudian menghilang. Kemudian, dari empat penjuru terdengar suara ser, ser yang tidak henti2nya.

Barangkali itu adalah senjata rahasia yang dilancarkan oleh orang2nya Im-mo-kauw yang bersembunyi disekitar tempat tersebut.

"Engko Cong biarlah dia pergi. jangan kuatir tidak dapat menemukannya lagi." demikian Ut Tie Kheng menghibur,

Dengan mengunjukan kasih sayangnya yang demikian besar, ia telah menggeser sampai dekat kepadanya Yo Cie Cong, agaknya hendak menghibur sang kekasih itu.

Wanita misterius baju merah yang sejak memperlihatkan diri belum pernah mengeluarkan sepatah perkataan pun juga, saat itu tiba2 menghelah napas panjang.

Setelah itu, ia lantas gerakkan Badannya dan terus menghilang. Tinggal suara elahan napasnya saja yang masih lapat2 terdengar terbawa angin- Datangnya wanita itu secara mendadak, perginya pun secara mendadak juga. Siapa pun tidak ada yang dapat menerka ia muncul disitu, terutama elahan napas panjang yang kedengarannya sangat menyedihkan sewaktu ia berlalu, membuat orang semakin bingung.

Dengan kepandaiannya yang diperlihatkan ketika berlalu, ternyata ia cukup mempunyai kepandaian tinggi. siapakah dia itu ?

Didalam hatinya orang2 yang berada disitu, ia telah meninggalkan suatu teka-taki. Terutama bagi Yo Cie Cong. kelihatan bertambah masgulnya, Pemimpin im mo-kauw sudah pergi, wajah aslinya, tetap tidak ada orang yang tahu.

Teka-teki yang sudah lama terbenam dalam hatinya Yo Cie Cong. masih tetap tidak mendapatkan jawaban. Bahkan, ilmu kepandaian silatnya pemimpin itu, ternyata tidak berada dibawahnya kepandaiannya sendiri.

sedangkan wanita baju merah yang gerak geriknya sangat misterius itu, yang se-olah2 setan, begitu muncul terus lenyap kembali, membuat Yo Cie Cong kembali menghadapi teka-teki baru.

Dalam keadaan demikian, timbullah pikirannya yang aneh benarkah dia itu tadi adik Kiauw adanya? Mungkinkah dia belum binasa?Ya, benar. Bukankah aku sendiri juga bisa terlolos dari gelombang laut yang mengamuk hebat itu? Bagaimana dengan sangat gegabah aku memastikan dia sudah binasa? Tetapi, kepandaian silatnya adik sampai begitu tinggi.

Wanita baju merah itu sudah berlalu. Tetapi bayangannya masih tetap tergores nyata dalam otaknya Yo Cie Cong, membuat ia merasa kesal dan lelah.

"Aku pasti akan menyelidiki soal ini sampai kedasar-dasarnya. sekalipun ia bukan adik Kiauw, tetapi juga harus menjelaskan maksudnya ia unjukkan diri tadi" demikian Yo Cie Cong berpikir yang kemudian terus memutar Badannya dan berkata pada Phoa-ngo Hweshio:

"Harap locianpwee suka maafkan kalau boanpwee berlaku tidak sopan, Boanpwee masih ada urusan lagi yang harus boanpwee selesaikan, Bulan depan, pada Waktu malaman rembulan bundar, boanpwee pasti akan datang tepat pada waktunya digunung Hoa-san untuk menepati janji lociapwee berdua."

Si Hweshio gila lantas berkata: "Bocah, ingat Menuntut balas tidak salah. tetapi jangan terlalu banyak membunuh orang yang tidak berdosa,"

"Boanpwee ingat benar pesan locianpwee ini"

Ut Tie Kheng lantas berkata dengan suara terharu dan mata merah: "Engko Cong, kau hendak pergi lagi?"

"Adik Kheng, mudah2an kita bisa bertemu lagi." jawab Yo Cie Cong sambil anggukkan kepala. "Engko Cong, kapan kita bisa bertemu lagi ?"

"Hal ini sukar dijawab, maafkan, oleh karena aku masih memikul tugas untuk menyelesaikan penuntutan balas sakit hati perguruan kami, tidak boleh tidak harus kulakukan."

Ut-tie Kheng se-olah2 hendak berkata lagi yang lebih banyak. tetapi mulutnya rupanya agak berat untuk mengucapkannya, maka ia hanya tundukkan kepalanya.

Pengail linglung mengawasi keadaannya kedua muda mudi itu sejenak, matanya lalu dialihkan pada si Hweshio gila.

Phoa-ngo Hweshio agaknya seperti ingat sesuatu. setelah ketawa ber-gelak2, ia lalu berkata pada Yo Cie Cong.

"Bocah. kau pernah menggunakan ilmu Tiang- kek Cin-goan untuk mengeluarkan racun dari badannya budak ini, apakah kau masih ingat?" Yo Cie Cong hatinya tergoncang. ia lalu menjawab sambil ketawa getir "Ingat"

"Itu bagus. jangan kau bikin sampai budak kecil ini merasa kecewa. jikalau tidak, aku si Hweshio gila tidak mau mengerti." Yo Cie Cong lantas anggukkan kepalanya.

Ia bukannya tidak cinta pada ut-tie Kheng, cuma karena tidak bisa melupakan siangkoan Kiauw yang telah binasa ditelan air laut lantaran mengikuti dirinya, maka ia tidak berani menerima cintanya Ut-tie Kheng.

Tapi dilain pihak, ia dengan Ut-tie Kheng perhubungannya ada lain dari pada yang lain, ia juga tidak dapat meninggalkan ut-tie Kheng begitu saja. Soal ini membikin ruwet pikirannya. ia makin memikir makin kalut pikirannya. Maka Akhirnya telah mengambil putusan lebih baik pergi saja meninggalkan mereka. setelah permintaan dengan kedua orang tua aneh dan Ut-tie Kheng, lantas ia berlalu.

Pada saat Ut-tie Kheng angkat kepalanya, sang kekasih sudah tidak kelihatan bayangan. Rasa sedih timbul seketika, ia lantas jatuhkan kepala didada engkongnya dan menangis terseduh-seduh.

"Anak tolol, ini apa perlunya?" kata si Pengail Linglung sambil usap2 rambut cucunya. Sebaliknya dengan si Hweshio gila, ia ini lantas berkata sambil ketawa haha-hihi: "Kheng jie,

ada aku, kuatirkan apa? Lain bulan dalam pertemuan diatas gunung Hoa-san. Cie Cong pasti datang. Bukankah kamu akan bertemu lagi?" Ut-tie Kheng cuma bisa mendelikan matanya kepada hweshio yang jahil itu.

"Ya, baik2 dengar kata orang tua. Mari, kita juga sudah harus pergi" kata engkongnya. Mereka bertiga lantas jalan meninggalkan tempat tersebut.

Mari sekarang kita lihat keadaannya Yo Cie Cong sesudah meninggalkan ketiga orang tadi.

Dengan perasaan setengah duka dan dan setengah heran, ia berjalan mencari wanita baju merah yang sangat aneh itu.

Menurut rencana semula, ia sebetulnya hendak pergi kepusatnya Pek leng-hwee untuk mencari si Manusia jelek nomor satu yang kini memangku jabatan pelindung hukum dari perkumpulan tersebut, untuk menuntut balas dendam. Disamping itu ia juga hendak mencari Ciu Bio Nio untuk membuat perhitungan serta dari mulutnya wanita genit itu hendak mengorek keterangan tentang dirinya Giok- bin Giam-po.

Cin Bie Nio adalah muridnya Giok-bin Giam-po, mungkin tahu jejak gurunya.

siapa nyana kini telah muncul dirinya wanita baju merah yang membikin semangatnya me- layang2 mengenangkan tempo yang lampau.

Karena hendak mencari tahu rahasianya wanita baju merah itu. untuk sementara ia urungkan pergi ke Pek-leng-hwee.

Dua jam lamanya ia terus berjalan- sedikitnya sudah melalui jarak dua lie lebin. Tapi wanita baju merah yang sangat misterius itu tetap tidak diketemukan jejaknya, sedang matahari sudah mulai mendoyong kebarat.

Mengejar jejaknya orang secara membabi buta demikian, tidak bedanya seperti mencari jarum didalam lautan.

Dalam keadaan terpaksa, Yo Cie Cong lalu mencari kesalah satu kota dan bermalam disitu. Satu malam telah dilewatkan dengan sangat cepat.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, untuk sementara Yo Cie Cong telah melepaskan rencananya untuk mencari wanita baju merah dan balik lagi pada niatannya semula untuk pergi kepusatnya Pek-leng-hwee.

Suatu perkampungan yang dinamakan oey Co-pa yang letaknya kira2 sepuluh lie jauhnya disebelah selatan kota Kiu-kang, adalah tempatnya pusat perkumpulan Peks leng- hwee.

Didalam dunia Kang-ouw umumnya ada cepat sekali tersiar jika ada sesuatu berita yang menggemparkan. Begitu juga kabar tentang Yo Cie Cong, itu pemuda kecut dingin adalah si pemilik Golok Maut. telah disiarkan luas oleh orang2nya Im-mo-kauw. Dalam waktu dua hari saja, berita tersebut sudah menggemparkan dunia rimba persilatan.

Cerita yang sangat mengejutkan ini, membuat orang2 yang dipasang mata-mata didunia Kang- ouw dengan cepat sudah pada pulang untuk memberikan laporan kepada ketuanya masing- masing .

Sudah barang tentu, tidak ada kecualinya untuk Pek-leng-hwee.

munculnya Yo Cie Cong dikota Kiu- kang membuat orang2 dari Pek-leng-hwee dengan cepat sudah mengetahuinya. Sebagai seorang pemuda yang tampan dan adem sikapnya, sudah tentu mudah sekali dikenali.

Tetapi, ia sama sekali tidak taruh dihati, malah seolah-olah tidak merasa adanya kegemparan didunia Kang-ouw.

Perkampungan Oey Co-pa.....

Dibagian belakangnya adalah daerah bukit yang tidak terlalu tinggi. sedangkan dibagian depannya ada danaunya- Pada tanah datar yang sangat luas, ditengahnya terdapat suatu perkampungan dengan gedungnya yang berdiri dengan megahnya.

jikalau bukan orang2 rimba persilatan, siapapun tidak tahu bahwa gedung besar yang berdiri terpencil ditengah-tengah tanah daratan itu adalah gedung pusat dari perkumpulan Pek-leng- hwee.

Baru saja kira-kira sepuluh lie Yo Cie Cong memasuki daerah oey Co-pa orang2nya Pek-leng- hwee sudah tidak henti2nya memperlihatkan diri untuk mencegah pemuda Kita masuk terus.

Yo Cie Cong yang masih ingat pesannya Phoa-ngo Hweshio, jikalau tidak terpaksa, jangan membunuh jiwa orang sembarangan, maka untuk menghadapi orang2nya Pek-leng-hwee yang menghalang-halangi masuknya itu, ia telah menggunakan ilmu Menggeser tubuh mengganti bayangan-nya yang sangat luar biasa itu dan kemudian langsung menuju kepusatnya Pek-leng- hwee.

Dengan munculnya Yo Cie Cong dipusatnya perkumpulan Pek-leng-hwee. membuat perkumpulan itu yang biasanya tenteram, telah menjadi panik. suara bunyi tanda bahaya terdengar berulang-ulang dari mana2.

semua orang2nya Pek-leng-hwee yang biasanya digolongan terkuat, tidak ada seorang pun juga yang mampu merintangi kedatangannyaitu, maka ia se-olah2 memasuki tempat yang tidak ada penjagaannya saja.

Apa yang mnngherankan. didalam keadaan demikian paniknya, Cin Bie Nio dan Manusia jelek nomor satu, kedua orang yang cukup kuat untuk menghadapi Yo Cie Cong, ternyata tidak memperlihatkan dirinya.

Pemilik Golok Maut yang menggetarkan rimba persilatan, kini sudah sampai dipusatnya Pek- leng-hwee. sehingga membuat semua orangnya Pek-leng-hwee seolah-olah menghadapi hari kiamat.

Didalam perkampungan oey co-pa, suasana menjadi sangat tegang.

Mengingat peristiwa berdarah yang menimpa perkumpulan Cie- in-pang, sudah cukup membuat orang2nya Pek-leng-hwee katakutan setengah mati.

Ada kemungkinan, Pek-leng-hwee akan mengalami nasib yang serupa dengan Cie-in-pang. oooo ooooooo oooo

SEKELOMPOK pohon2 besar dengan daun yang rindang dan bunga2nya yang merah bersemi. kelihatan mengitari gedung besar yang luasnya beberapa bau.

Yo Cie Cong dengan mukanya yang dingin kecut telah kendurkan kakinya, dengan per-lahan2, ia berjalan menuju kegedung tersebut.

Pada saat itu, dendam sakit hati yang baru dan permusuhan yang lama telah membuat hatinya berguncang keras.

Ketuanya Pek-leng-hwee, Cin Bie Nio, telah ber-kali2 berusaha hendak mencelakakan dirinya. sedangkan pelindung hukum perkumpulan tersebut, yaitu Manusia jelek nomor satu di dalam dunia, merupakan salah satu musuh terkuat dari suhunya.

Dalam hatinya, Yo Cie Cong diam2 sudah mengambil keputusan. Walaupun apa yang terjadi, ia tidak akan melepaskan kedua iblis itu. Ia berjalan makin lama makin mendekati gedung tersebut.

Dibawahnya tanaman pohon2 yang merupakan rimba kecil itu, lapat2 sudah kelihatan pintu gerbang gedung tersebut, Diatas pintu gerbang, ada terdapat tiga hurup besar yang ditulis dengan warna emas. Matanya Yo Cie Cong yang mempunyai penglihatan sampai sejauh lima puluh tombak, sudah tentu dapat melihat dengan tegas ketiga huruf emas itu berbunyi "PEK LENG HWEE".

Yo Cie Cong ketawa dingin. Begitu gerakkan kakinya. sebentar saja sudah berada tidak cukup tiga tombak dihadapan pintu gerbang.

Dari dalam gedung mendadak terlihat muncul serombongan orang, tua muda. laki2 perempuan, jumlahnya kurang lebih seratus orang. Mereka berjejer berdiri seperti bentuknya kipas, agaknya khusus hendak menyambut kedatangannya Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong tidak pandang mata, lama sekali orang2 yang jumlahnya besar itu, ia terus berjalan menghampiri dan berdiri tidak jauh dari mereka.

siapapun tidak pernah menyangka babwa pemilik Golok Maut yang menggetarkan rimba persilatan, ternyata adalah seorang muda yang wajahnya tampan cakap.

Karena merasa jeri oleh nama besarnya, orang2 kuat dari Pek-leng-hwee semuanya ada memperlihatkan perasaan kaget dan jeri diwajahnya.

Anak muda ini, dalam waktu sekejapan sudah berhasil melalui sepuluh lebih tempat pos penjagaan, se-olah2 memasuki tempat yang tidak ada panjagaannya sama sekali. Meskipun sampai pada saat tersebut masih belum ada seorang pun juga dari pihaknya Pek-leng-hwee yang korbankan jiwanya. tetapi karena kepandaiannya anak muda itu, dapatlah diduga sampai dimana kekuatannya.,

Yo Cie Cong baru menghentikan gerakannya, dan antara orang banyak itu lalu muncul tiga orang tua. salah seorang diantaranya, yang berkumis seperti tikus, lantas berkata: "Tuan ini apa yang menyebut diri sebagai pemilik Golok Maut ?"

"Benar."

"Dengan maksud apa tuan mengunjungi perkumpulan kami?"

Dengan sorot matanya yang tajam Yo Cie Cong mengawasi orang itu sejenak kemudian berkata dengan suara dingin: "Aku hendak menemui ketua dan pelindung hukum perkumpulan kalian untuk memperhitungkan hutang yang lama."

orang tua berkumis seperti tikus itu kelihatan berubah wajahnya, Lantas menjawabi "Barangkali tuan sukar dapat menemui mereka."

"Kau siapa? Berani mengucapkan perkataan begitu ?"

"Cit sat Sin Koo piauw. Tongcu pertama dari Pek-leng-hwee."

"jikalau tuan2 tidak ingin mengalami nasib seperti Cie in-pang, lebih baik berlaku kenal gelagat sedikit."

Perkataan sombong yang mengandung maksud mengancam itu, membuat orang2 Pek-leng- hwee pucat pasi wajahnya, sehingga di-antara orang2 itu terdengar suara gaduh sebentar.

Koo piauw berkata dengan wata melotot, "Tuan agaknya terlalu tidak pandang mata pada orang lain-"

"Aku datang kesini secara terang. ini kuanggap masih menghargai perkumpulan kalian" "Sekali lagi kujelaskan- Tuan tidak dapat mencari ketua kami."

"Apa dengan tenaga kalian ini kalian hendak merintangi aku? Aku tidak suka melukai orang yang tidak berdosa, lebih baik kalian tahu diri sendiri."

"Dan jikalau tidak ?"

"Ha... ha Apakah kalian hendak memaksa aku turun tangan?"

"Pek-leng-hwee ada suatu perkumpulan yang tidak mudah dihina."

Alisnya Yo Cie Cong lantas berdiri, Matanya masih membara, dengan per-lahan2 mengeluarkan Golok Mautnya.

Senjata yang bentuknya sangat aneh itu lantas dilemparkan di-tengah2 pintu gerbang yang ada papan huruf nya. tepat menutup diatas huruf 'Pek-leng-hwee', tiga huruf yang terukir dari emas itu. semua orang kuat dari Pek-leng-hwee lantas pada berubah wajahnya, sebab perbuatannya Yo Cie Cong itu, merupakan suatu tanda akan dimulainya pembunuhan besar2an.

Yo Cie Cong setelah menyambitkan Golok Mautnya, Badannya dengan cepat lantas menerjang masuk melalui pintu gerbang,

Ketika orang tua yang tersebut duluan,. melihat kejadian demikian. lantas membentak berbareng: "Kemana?"

Mereka barengi dengan serangan mereka yang sangat hebat.

Yo Cie Cong berkata sambil tersenyum dingin, " dengan orang2 seperti kalian, juga hendak menghalangi perjalananku ?"

Meski mulutnya mengatakan demikian, tetapi kaki dan tangannya tidak berhentinya menahan serangan tersebut.

Tiga orang tua tadi, masing2 terpental mundur satu tindak, itu hanya disebabkan karena Yo Cie Cong yang masih selalu ingat pesannya si Hweshio gila, hanya menggunakan separuh dari kekuatan tenaganya.

Maksudnya Yo Cie Cong dengan menyambitkan Golok Mautnya tadi, se-mata2 hanyalah untuk menggertak orang2nya Pek-leng-hwee supaya tahu gelagat buruk dan lekas mundur. Tetapi dengan itu juga, ia bermaksud supaya dapat memancing keluar ketua Pek-leng-hwee. sebab dengan kekuatan dan kepandaian Yo Cie Cong yang dimilikinya pada dewasa itu, baik seara terang mau pun secara menggelap. kedatangannya dipusat perkumpulan Pek-leng-hwee itu, sudah tentu tidak ada orang yang mampu merintangi.

Tetapi kedatangannya Yo Cie Cong kali ini ialah, hendak mengunjungi secara terang-terangan-

Kedua fihak setelah pada mundur sebentar, kemudian mulai bertempur lagi.

Tiga orang tua itu semuanya sudah manjabat pangkat tongcu dalam perkumpulan Pek-leng- hwee, kepandaiannya sudah tentu tidak boleh dipandang remeh. Apalagi dengan kekuatan tenaga gabungan orang2. maka serangan yang keluar dari ketiga orang tua itu seolah-olah gelombang lautan yang sedang pasang, bukan kepalang hebatnya.

Menghndapi serangan demikian hebatnya, dalam hati Yo Cie, Cong diam2 lantas memaki: "Manusia yang tidak tahu diri, nampaknya jika tidak diberi sedikit rasa, barangkali belum mau mengerti."

Maka ia lantas mengeluarkan serangan dengan dua rupa ilmu serangannya yang amat dahsyat.

Tiga orang tua itu meski juga merupakan orang kuat dari rimba persilatan, tapi sehingga sebegitu tuanya, belum pernah melihat ilmu pukulan demikian dahsyatnya. Mereka cuma merasakan bahwa kekuatan angin yang keluar dari serangan tangannya begitu kebentur dengan kekuatan Yo Cie Cong yang mengeluarkan asap berwarna putih campur merah itu kekuatan mereka sendiri lantas lenyap tanpa bekas. maka lantas mengetahui kalau gelagat tidak baik.

Namun sang waktu sudah tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk berpikir lagi.

Kekuatan yang dahsyat itu, sudah menindih diri mereka, sehingga sudah tidak ada Kesempatan bagi mereka menyingkirkan diri

Diantara suara jeritan ngeri, Badannya ketiga orang itu terus melesat keatas dan kemudian jatuh diantara orang banyak. sudah tentu kalau luka yang mereka derita tidak ringan.

orang2nya Pek-leng-hwee yang berkumpul didepan pintu gerbang lantas pada berteriak2 dan maju menyerbu semuanya,

Dengan demikian, Yo Cie Tiong telah diserbu dengan serangan dari berbagai penjuru.

Saat itu, Yo Cie Cong hanya mempunyai dua jalan yang harus dipilihnya, satu ialah dengan mengandalkan kepandaian ilmu silatnya yang luar biasa, berusaha meloloskan diri dalam kepungan dan terus menuju kepusatnya Pek-leng-hwee yang lainnya. yang kedua, ialah balas menyerang tanpa menghiraukan jumlahnya orang yang mati atau terluka. Sang waktu tidak memberikan kesempatan untuknya berpikir lagi. Ia harus mengambil keputusan dengan cepat,

Akhirnya ia telah mengambil keputusan: Turun tangan-

Keputusan yang dipilihnya itu merupakan vonis terakhir bagi orang2 Pek-leng-hwee.

Dengan tidak ragu lagi ia lantas mengeluarkan kepandaian ilmu silat yang sudah tidak ada taranya.

Dengan tangan kiri ia melancarkan serangan. dengan Kan-goan Cin-tiao, sedangkan tangan kanannya mengeluarkan juga Liang- kek Cin-goannya.

Dua macam ilmu kekuatan yang sudah tidak ada taranya itu telah digunakan berbareng. Bukan saja merupakan suatu kejadian yang langka didalam dunia rimba persilatan, tetapi kakuatannya juga membuat orang jeri.

Dalam waktu sekedipan saja, suara jeritan. suara keluhan dan suara jatuhnya tubuh orang terdengar saling susul. selagi darah berhamburan dan bangkai manusia bergelimpangan, tiba2 terdengar suara bentakan mundur yang datangnya seperti bunyi halilintar,

Dari dalam pintu gerbang telah muncul seorang orang tua dengan wajahnya yang buruk bentuk badannya hanya kira2 tiga kaki tingginya.

Manusia aneh itu, tangan dan kakinya pendek Tetapi kepalanya besar sekali. Matanya kecil, tetapi tidak ada alisnya. sedangkan hidungnya seperti hidung singa dan mulutnya tebal. Di atas kepalanya tumbuh rambut berwarna kuning yang sangat jarang. Rambut itu seperti juga kering warnanya.

Bentuk Badannya yang aneh dan wajahnya yang buruk bukan saja mengherankan, tetapi juga menakutkan-

Orang2 Pek-leng-hwee yang tidak terluka dan yang tidak sampai binasa, lantas pada mundur kekedua samping.

Korban yang jatuh jumlah seluruhnya hampir lima puluh orang. sedangkan yang terluka dan belum binasa, terdengar suaranya yang merintih- rintih.

Manusia aneh yang jelek wajahnya itu mengawasi sejenak orang2nya yang menggeletak ditanah, lantas ulapkan tangaanya pada beberapa orang yang berdiri tegak dipinggir jalan sembari berkata: "yang luka2 lekas bawa kedalam untuk diberikan pertolongan dan yang binasa lekas kubur sebagaimana mestinya. Kalian semua boleh mundur "

Orang2 Pek-leng-hwee itu lantas serabutan melakukan perintah yang dititahkan oleh manusia jelek itu, sebentar saja tempat itu sudah bersih kembali.

Yo Cie Cong yang menyaksikan roman dan bentuk orang yang baru muncul itu, segera mengetahui bahwa orang ini adalah pelindung Pek-leng-hwee, Ang Kut Tan, si Munusia jelek nomor satu yang juga merupakan salah satu musuhnya Kam-lo-pang yang terdapat dalam lembar pertama dari daftar nama musuhnya Kam-lo-pang.

Karena tujuan utamanya dari kedatangan Yo Cie Cong kepusat perkumpulan Pe-leng-hwee itu memangnya hendak mencari Manusia jelek nomor satu itu untuk menuntut balas, dan sekarang musuh besar itu sudah berada didepan matanya, maka napsu membunuhnya lantas berkobar dengan tidak terkendalikan lagi.

Tetapi apa yang membuatnya heran ialah mengapa Cin Bie Nio tidak perlihatkan diri sekalian ?

Manusia jelek nomor satu itu setelah menyuruh orang2nya mundur, tidak ketahuan lagi bagaimana caranya ia bergerak. tahu2 sudah melesat maju tiga tombak kemuka dan berhenti dihadapan Yo Cie Cong kira2 satu tombak lebih jauhnya. sepasang matanya yang kecil sipit memancarkan sinarnya yang tajam.

setelah mengawasi Yo Cie Cong sejenak. lalu ia berkata: "Bocah, apakah kau ini pemilik Golok Maut ?"

Yo Cie Cong yang sudah hampir tidak dapat menguasai dirinya lagi, lantas menjawab ketus^ "Benar " "Apa maksud kedatanganmu ini?"

"Menagih hutang darah Kam-lo-pang pada dua puluh tahun berselang."

"Kalau begitu, kedatanganmu ini semata-mata ditujukan padaku seorang, pelindung Hukum dari Pek-leng-hwee ?"

"Benar."

"Ha, ha., .Bocah, barangkali kau sudah makan nyali singa sehingga berani main gila diatas kepala singa "

"Setiap musuhnya Kam-loo-pang tidak boleh ada yang terlolos dari Golok Mautku."

"Apa kau hanya mengandalkan dirimu, satu Bocah yang masih bau pupuk bawang saja? Ha ha ha "

"Ang Kut Tan, hutang darah harus dibayar dengan darah, tidak perlu kau mengulur tempo lagi. jiwa dari kau, manusia jelek sudah ditetapkan cuma tinggal hari dan detik ini saja."

Manusia jelek nomor satu Ang Kut Tan selama hidupnya mempunyai pantangan nomor satu kalau orang mengatakan dirinya ada orang jelek. Padahal si Congornya itu memang luar biasa jeleknya.

Perkataan 'orang jelek' dari Yo Cie Cong tadi seakan sebuah belati menusuk di ulu hatinya, maka matanya yang sipit itu lantas kelebatan mendelik, rambut di kepalanya yang seperti rambut jagung, kelihatan pada berdiri sedangkan mulutnya memperdengarkan suaranya yang ber- kauw^2.

"Bocah, kau sebetulnya mempunyai berapa tingginya kepandaian? Eeeem.. kau mengeluarkan perkataan yang begitu jumawa, sekalipun kau tidak mencari aku orang tua, aku juga hendak mencari kau. Hari ini kau sudah datang sendiri Itu sama juga seperti selaron menubruk api, sehingga tak usah aku capai hati untuk turun tangan"

"Setan jelek. Kematianmu sudah didepan mata, perlu apa kau masih banyak bacot ?"

Manusia jelek nomor satu itu kelihatan ketawa meringis. Badannya yang kecil lantas bergerak dan mengeluarkan serangan tangannya yang sangat hebat.

Yo Cie Cong, meskipun mulutnya mengeluarkan parkataan demikian yang seolah-olah tidak pandang mata sama sekali pada manusia pendek kecil itu. tetapi sebetulnya didalam hatinya sangat hati2 sekali, sedikitpun tidak berani pandang rendah kekuatan lawannya.

saat itu. ilmu pukulan Kan-goan Cin-Caonya sudah dipusatkan ditangan kanannya, dengan tenaga delapan bagian ia menyambuti serangan lawannya.

setelah dua kekuatan beradu, kelihatan Badannya kedua orang itu pada tergoncang dan terhuyung-huyung .

Kesudahannya dari mengadu kekuatan itu ternyata seri saja. -

Sebetulnya Yo Cie Cong, yang sudah dua kali mengalami kejadian gaib atas dirinya, dalam dirinya sudah ada kekuatan tenaga dalam seperti orang yang sudah mempunyai latihan beberapa puluh tahun- Kalau diukur dari kekuatan tenaga dalamnya, ia masih jauh lebih kuat dari Manusia jelek nomor satu, Tetapi, mengenai cara menggunakan ilmunya, agaknya kalah dari lawannya, sebab dari gerakan pukulan tangannya, ternyata ia belum pernah mempelajari gerak tipu pukul yang aneh2. Karena masing2 mempunyai kelebihan dan kekurangan- maka kesudahannya gebrakan yang kedua, kembali menjadi seri lagi.

Didalam hatinya Manusia jelek nomor satu diam2 juga merasa heran, sebab lawannya yang usianya masih sangat muda ini ternyata sudah mempunyai kekuatan tenaga dalam yang begitu hebat.

Ia sendiri yang sudah mempunyai latihan hampir lima puluh tahun lamanya, ternyata sedikitpun tidak mampu melukai lawannya yang katanya masih bau pupuk bawang, bahkan dua kali sudah ia mengadu kekuatan, kesudahannya se1alu seri (berimbang),

seketika itu juga ia lantas naik darah. Dengan kakuatan tenaga sepenuhnya, kembali ia melancarkan serangan tangannya, Ilmu pukulan Kan-poan Cin-Cao Yo Cie Cong juga dikerahkan sampai sepuluh bagian penuh untuk menyambuti serangan tersebut.

Kembali terdengar suara benturan hebat. Masing2 telah mundur satu tindak.

"Bocah coba sambut sekali lagi seranganku yang paling lihay ini." Demikian si Manusia jelek nomor satu. setelah membentak keras, lalu memusatkan seluruh kekuatannya kedalam kedua tangannya. Lalu diputar dan disodorkan kedepan, kemudian menepuk sampai tiga kali.

serangan yang menggunakan seluruh kekuatan tenaganya itu, hebatnya hampir dapat merubuhkan bukit kecil.

Yo Cie Cong agak terperanjat ia mengerahkan ilmu pukulan Liang- kek Cin-goannya sampai melewati takaran, sehingga kedua telapakan tangannya, kecuali atap putih tercampur merahnya, yang keluar, juga ada suara ser-ser yang meluncur keluar.

Untuk sekian kalinya dua kekuatan saling beradu, sehingga mengeluarkan suara yang hebat seperti ledakan gunung meletus.

Ilmu Liang-kek Cin-goannya Yo Cie Cong hampir saja dibikin buyar. orang juga sampai terpental mundur sejauh tiga tombak baru bisa berdiri tegak. Dadanya dirasakan bergolak.