Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 14

Jilid 14

DALAM hatinya diam2 berpikir: apakah aku ini benar2 adalah anaknya si pemuda tampan jago pedang? Tapi rasanya tidak mungkin

Mendadak pikirannya ingat sesuatu, ia lalu mengeluarkan 'Liong kuat' dari balik bajunya didadanya dan menanyakan kepada orang aneh itu:

"Apakah Cianpwee kenal benda ini? "orang aneh itu mengawasi sebentar, lalu menjawab sambil gelengkan kepalanja: "Tidak pernah melihat, apa maksudmu menanyakan benda ini?"

Yo Cie Cong anggap bahwa kisah itu mungkin tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri, maka setelah mendapat kenyataan bahwa orang tua aneh itu tidak mengenali benda satu2nya yang dapat digunakan untuk membuktikan asal usul dirinya, juga tidak mau banyak bicara lagi, hanya menjawab :

"Benda ini adalah benda boanpwee bawa dibadan sejak kanak2, entah apa maksudnya boanpwee hanya ingin mendapat keterangan saja" ia lantas berdiam sejenak, kemudian berkata pula,

"Pemuda tampan itu bukankah Giok bin Kiam khek Hoan Thian Hoa ?" "Benar "

"Mengapa Cianpwee berani pasti ia telah binasa ditangannya Giok-bin Giam po ?" "Diantara mereka pasti ada seorang yang binasa, kalau tidak, tragedi ini tentu tidak ada

Akhirnya. Selain dari pada itu, kira2 dua tahun sejak ia menghilang, dengan tidak sengaya lohu telah menemukan wanita cabul itu menyembunyikan diri diatas puncak gunung Pit koan-hong ini, maka lohu berani pastikan Hoan Thian Hoa mungkin sudah binasa."

Yo Cie Cong diam. Tapi dalam hatinya berpikir: "sungguh kasihan nasibnya bibi Tho, oleh karena seorang laki yang tidak menyintakan dirinya, ia korbankan masa mudanya begitu saja, ini benar tidak ada harganya. Namun aku sudah janjikan hendak bantu mencarikan kekasihnya itu, Walaupun bagaimana aku harus mencari tahu sampai kedasarnya, supaya aku tidak mengecewakan pengharapannya "

"Dengan jalan bagaimana Cianpwee hendak mulai mengadakan penyelidikan jalanan rahasia yang menuju kepuncak gunung Pit- koan-hong ini?" demikian ia menanya.

"sekarang ini aku masih belum ada rencana apa2. puncak gunung Pit koan-hong ini seputarnya dikitari oleh jurang yang curam. burung saja sukar terbang diatasnya, apa lagi orang yang ada diatas puncak gunung itu, dalam waktu setahun tidak kelihatan satu kali nampak unjukan diri sedangkan ditengah pegunungan ini ada begitu luas, kita hendak menguntit juga bukan soal mudah "

Yo Cie Cong tundukkan kepala berpikir sekian lamanya, ia anggap bahwa menunggu di situ juga tidak ada gunanya, apalagi ia masih ada urusan yang belum diselesaikan. "Cin Bie Nio ada muridnya Gok-bin Giam-po, mengapa kau tidak mengorek keterangan daripadanya untuk mengetahui jalanan rahasia ini?" demikian ia pikir dalam hatinya.

setelah berpikir demikian, ia lantas barkata kepada Hui-lui-Chiu "Menurut pikiran boanpwee yang bodoh, boanpwee ingin mengorek keterangan dari dirinya Cin Bie Nio, muridnya Giok- bin Giam-po. sedang locianpwee tidak halangan tetap menunggu disini.

Dengan begitu berarti kita turun tangan secara berbareng, jika boanpwee berhasil mendapatkan kabar apa2, selekasnya akan datang untuk menemui loCianpwee, bagaimana pikiran locianpwee ?"

"Baik, Bocah. begitu saja kita tetapkan, aku menunggu disini dalam batas waktu satu tahun. sekalipun besok misalnya aku menemukan jalanan rahasia itu, aku juga akan menunggu kau kembali sampai satu tahun."

"Baik... Nah, sekarang saja boanpwee minta diri "

Yo Cie Cong setelah meninggalkan goa itu terus berpikir. " Heran, orang aneh dari rimba persilatan itu kalau benar mempunyai seorang murid, sedang sang murid itu sudah hilang 10 tahun lebih lamanya, mengapa masih menjanjikan dua manusia aneh dari dunia Kang-ouw untuk mengadukan muridnya dalam pertandingan ilmu silat? Apakah belakangan ini ia menerima murid baru lagi? Untuk itu rasanya baru dapat kepastian diadakan pertandingan digunung see gak nanti. sebentar saja Yo Cie Cong sudah melalui dua bukit.

Tiba2 matanya dapat lihat dua bayangan putih kira2 50 tombak jauhnya,yang sedang meluncur kebawah gunung dengan kecepatan bagaikan kilat.

Yo Cie Cong terperanjat. Pikirnja: "bagus, dua bayangan itu bukankah yang tadi memancing aku naik keatas gunung ini? Entah apa maksudnya mereka turan gunung lagi ? Nampaknya seperti ada urusan penting, tapi kali ini aku tidak akan lepaskan kalian lagi."

Kemudian ia kerahkan seluruh kepandaiannya. Dengan kecepatan kilat ia sudah mengejar kedua bayangan tadi. Gerakannya itu sedikitpun tidak menimbulkan suara.

sebentar saja ia sudah dapat menyandak bayangan yang dikejarnya.

Kali ini ia sudah bisa melihat dengan tegas. bayangan itu ternyata adalah dua orang wanita berpakaian putih, dandanannya sama dengan dandanannya Cin Bie Nio. Tak usah disangsikan lagi, kedua wanita ini tentunya juga ada muridnya Giok bin Giam-po, sehingga dengan Cin Bie Nio ada hubungan sebagai saudara seperguruan.

Yo Cie Cong dengan gerakan budannya yang cepat tidak ada taranya, dari samping ia memutar membuat setengah lingkaran mendahului didepannya kedua wanita baju putih itu, kemudian ia memutar balik tubuhnya memapaki kedua wanita, tersebut. Dengan demikian, kedua pihak menjadi lari dari arah yang berlawanan.

Yo Cie Cong dengan sengaya telah menubruk kedua wanita itu. oleh karena kedua pihak sedang lari dengan kecepatan luar biasa, maka tubrukan itu kelihatannya seperti sukar dihindarkan-

Tepat pada saat selagi kedua pihak hendak bertubrukan, kedua wanita itu dua2nya lompat minggir kesamping, kemudian memutar badannya dengan gaya yang indah sekali.

Yo Cie Cong pada saat itu juga memutar Badannya, sehingga kedua pihak kembali berlari berhadapan

"Eh " demikian kedua wanita itu berseru kaget berbareng. Mungkin mereka dikejutkan oleh gerakan badan yang luar biasa dari Yo Cie Cong, sehingga keduanya berdiri tertegun-

Yo Cie Cong dengan tidak kalah kagetnya, karena melihat dua wanita yang badannya ceking langsing itu ternyata adalahlah dua orang wanita muda yang parasnya jelek sekali.

Kejelekannya itu dapat membuat orang yang melihatnya tidak berani melihat lama2.

salah seorang dari kedua wanita jelek itu lantas menegur dengan suara dingin, "Apakah tuan sengaja mencari setori?" Yo Cie Cong segera menjawab sambil ketawa. "Masing2 mengambil jalannya sendiri, satu sama lain tidak saling mengganggu, mengapa kau katakan aku mencari setori ?"

"Kulihat kepandaianmu tidak lemah. Rasanya tidak mungkin kalau menghindarkan diri dari tubrukan saja tidak mampu."

Yo Cie Cong yang memangnya sengaja hendak mencari setori, lantas menjawab semau2nya: "Taruh kata aku mencari setori, kalian berdua mau apa ?"

Yang lainnya lagi lantas nyeletuk sambil perdengarkan suara mengejek: "Aku akan memberi hajaran padamu, orang kurang ajar mata buta "

"Ha, ha Dengan kepandaian kalian berdua, masih belum pantas mengatakan ucapan hendak

memberi hajaran."

Dua wanita jelek itu masing2 memperlihatkan sikap gusar. sebentar kemudian terlihat dua bayangan berkelebat, masing2 dari dua sudut yang bertentangan mereka melancarkan serangan aneh. serangan itu ternyata ada sangat hebat dan ganas sekali. beda jauh dengan ilmu silat yang terdapat dalam rimba persilatan-

Yo Cie Cong terkejut juga. Ia segera mengeluarkan ilmu Menggeser tubuh mengganti bayangannya, sebentar saja lantas menghilang.

Kedua wanita jelek itu mimpipun tidak akan menyangka bahwa pemuda cakap didepannya memiliki kepandaian begitu gesit, begitu luar biasa, yang bisa menghilang seolah-olah lakunya hantu, sehingga keduanya menarik serangannya kembali.

Ketika melihat lagi, pemuda itu ternyata sedang berdiri dengan tenang di tempat sejauh kira- kira dua tombak. sehingga bukan kepalang rasa kagetnya mereka.

salah seorang diantaranya lalu berkata dengan suara dingin, "jika tuan betul-mempunyai kepandaian keluarkanlah kepandaianmu itu. Dengan sedikit ilmu menghilang seperti setan itu saja masih belum terhitung perbuatannya satu enghiong,"

"Apakah ini bukan terhitung dalam salah satu kepandaian?" balas tanya Yo Cie Cong dengan tidak kalah angkuhnya.

Wanita jelek itu bungkam. lama tidak bisa menjawab.

Yang satunya lagi lalu maju tiga tindak seraya berkata: "se-tidak2nya tuan toch mempunyai nama bukan ?"

"Sudah tentu. tetapi tidak perlu kuberitahukan pada kalian-" "Ng. sungguh terlalu jumawa."

Baru saja habis ucapannya tangannya lantas diayun ber-ulang", sehingga suatu kekuatan tenaga yang tidak terlihat dengan cepat menyambar, se-olah2 gelombang kearah Yo Cie Cong.

Seorang kawannya yang lain juga lantas maju membantu menyerang.

sambil ketawa dingin Yo Cie Cong gerakkan kedua tangannya, hawa asap merah dan putih kelihatan meluncur keluar dari kedua tangannya menyambuti serangan kedua lawannya.

Dua wanita jelek itu ketika melihat angin serangan tangan anak muda itu agak aneh dan merupakan suatu kepandaian ilmu silat yang belum pernah mereka saksikan pada waktu sebelumnya, diam2 keduanya merasa terkejut. Kekuatan serangan mereka lantas ditambah lagi dua bagian, tetapi dengan demikian, akibatnya lebih celaka lagi untuk mereka sendiri

Perlu diketahui, ilmu serangan 'Liang Kek Cin Goan' yang keluar melalui telapakan tangan Yo Cie Cong itu, lain dari pada yang lain, Kekuatan itu jika bertemu dengan kekuatan keras, dengan sendirinya menjadi lunak. tetapi apabila bertemu dengan kekuatan lunak. lantas bisa berubah menjadi kekuatan keras.

Tetapi daya kekuatan mementalkan kekuatan tenaga lawan adalah sebaliknya,, Apabila kekuatan lawan lebih hebat, tenaga membaliknya makin hebat lagi, sudah tentu kedua wanita jelek itu belum mengetahui kalau ilmunya pemuda itu mempunyai daya kekuatan demikian anehnya.

Ketika dua kekuatan tenaga beradu, lantaa terdengar dua kali suara jeritan- seorang yang melancarkan serangan dari depan telah terpental mundur sampai sepuluh tindak jauhnya.Yang menyerang sembari melesat, akibatnya lebih hebat lagi. Ia telah terpental terbang sampai dua tumbak jauhnya baru jatuh Ketanah.

Untungnya kedua wanita jelek itu masing2 mempunyai kepandaian cukup tinggi, selain dari itu, Yo Cie Cong juga hanya menggunakan tenaganya kira2 enam bagian saja, maka kedua-duanya tidak sampai terluka. jika tidak demikian, mungkin mereka berdua sudah mati atau se-tidak2nya sudah terluka parah

setelah menenangkan pikirannya, salah satu dari kedua wanita itu berkata "Kami berdua saudara telah mendapat hadiah yang berharga dari tuan- Tidak nanti kami lupakan-Kalau tuan betul laki2 sejati. tinggalkan nama tuan. Hutang ini nanti kita perhitungkan lagi. sekarang ini kami tidak ada waktu untuk melayani tuan."

"Ha.ha, sebaliknya aku masih punya banyak waktu terluang."

"Kau sebetulnya mau apa ?"

"Aku selamanya tidak suka membuat perhitungan belakangan. Aku lebih suka membuat perhitungan itu sekarang juga."

Kedua wanita jelek itu sangat gusar, sampai Badannya gemetaran. Kedua2nya lantas berseru dan segera hendak bergerak pula.

Tetapi Yo Cie Cong lantas membentak dengan suara dingin- "Tunggu dulu. jika hanya kalian berdua saja, belum dapat menandingi aku. sekarang kita bicara secara terus terang. jawablah pertanyaanku. jika tidak "

"jika tidak bagaimana?" memotong salah seorang diantaranya. "Kalian jangan harap bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup,"

"Hmmm, sombong sekali. Apa kau kira kami berdua saudara takut padamu ?" Kedua2nya lantas bergerak dan menyerang berbareng dari kanan dan kiri

serangan mereka itu begitu ganas dan aneh sekali, sampai Yo Cie Cong sendiri dibuat ter- heran2.

Setiap serangan dilakukan secara kerja sama yang baik sekali dan selalu dilancarkan dari sudut yang tidak terduga sama sekali. jika bukan Yo Cie Cong yang menghadapinya benar2 bisa dibikin ujatuh dalam beberapa jurus saja.

Tetapi bagi Yo Cie Cong, yang sudah mempunyai kepandaian luar biasa, dapat menghindarkan serangan kedua wanita itu secara lincah. Dibawah hujan serangan yang gencar dan aneh dari kedua lawannya. ia masih bisa melesat kesana kemari seperti seeKor ikan yang sedang berenang.

selewatnya dua puluh jurus kemuka, kedua wanita itu sedikitpun tidak mampu menyenggol ujung bajunya Yo Cie Cong.

Mereka kelihatan semakin gusar, serangan mereka pun dilakukan semakin hebat dan ganas.

Yo Cie Cong meski diluarnya kelihaian tenang, tetapi dalam hatinya diam2 juga merasa terkejut, serangan kedua wanita itu makin lama ternyata makin hebat, juga semakin aneh. Kepandaian serupa itu, dalam kalangan rimba persilatan sudah termasuk kepandaian tinggi.

sebab kedua wanita itu wajahnya jelek luar biasa, malahan matanya kelihatannya seperti bukan wanita genit, maka perlahan-lahan kesannya Yo Cie Cong mulai berubah menjadi agak baik dan tidak bermaksud menurunkan tangan kejam. sebentar saja tiga puluh jurus sudah dilalui. Yo Cie Cong lalu berkata dengan suara lantang.

"sekarang aku hendak turun tangan. Diantara kalian berdua ada seorang yang harus rubuh."

Dua wanita jelek itu memang sudah mulai merasa keder. Mereka tidak dapat menduga dari golongan mana asalnya pemuda cakap yang sikapnya dingin ini?

Mereka juga tidak tahu untuk apa dan dengan maksud apa pemuda ini mencari setori dengan mereka.

Ketika mendengar perkataan Yo Cie Cong. hati mereka lantas bercekat.

Bersamaan dengan berAkhirnya suara Yo Cie Cong, mereka cuma meraaa didepan matanya seperti berkelebat satu bayangan orang, satu diantaranya benar2 telah rubuh terjengkang. Yang lainnya, dengan hati ketakutan lalu menghentikan serangan, cepat menghampiri kawannya yang rubuh.

Ketika memeriksa segera mengetahui kalau kawannya itu hanya tertotok saja jalan darahnya, sehingga dengan demikian hatinya mulai merasa lega kembali.

Ia coba membuka totoknya itu, tapi heran, dengan jalan apa juga ia tak mampu membuka totokan pada tubuh kawannya itu, sehingga diam2 hatinya mulai diliputi rasa ketakutan.

"sekarang kaulah yang harus menjawab pertanyaanku" demikian terdengar suara Yo Cie Cong. Wanita jelek itu berdiri tegak, dengan sorot mata gemas ia mengawasi Yo Cie Cong sejenak,

lalu berkata. "tanyalah,"

" Kalian berdua apakah murid2nya Giok- bin Giam-po "hoa Cit Kow?" "Bukan"

"Ng. Bukankah kalian datang dari puncak gunung Pit-koan-hong ?"

Wanita jelek itu dengan sorot mata ter-heran2 mengawasi Yo Cie Cong seujenak, lalu menjawab^ "Memang benar."

"Bukankan Gok-bin Giam-po berdiam di-atas puncak Pit-goan-hong ?" "Tidak "

Yo Cie Cong kelihatan beringas wajahnya. "Kau mau mampus"^ bentaknya bengis,

"Ha, he Hendak men-cari2 kesalahan orang mudah saja. cuma nonamu akan beritahukan

kau, harus kau bisa menjelaskan sebabnya kau turun tangan terhadap kami berdua saudara. jika tidak sekalipun kami sudah jadi setan, Kami juga tidak akan mengampuni padamu." suaranya itu menyatakan keputusan dan kegeramannya membuat orang yang mendengarnya merasa bergidik.

Tetapi Yo Cie Cong yang perasaannya sudah dipengaruhi pikirannya sendiri. masih tetap berkata dengan suaranya yang dingin, "Aku beritahukan padamu juga tidak ada halangan- Biar bagaimana kau toch sudah pasti akan mati. Aku hendak mencari Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow dan mencingcang tubuhnya setiap anak muridnya ada Termasuk orang yang harus juga kubunuh. Bagaimana? Kau sudah mengerti belum? Dengan begitu kau barangkali bisa mati dengan mata meram."

Tiba2 wanita jelek itu mengeluarkan suara ketawanya yang mengharukan, kemudian baru berkata:

"oh. Inikah alasanmu untuk membunuh kami berdua saudara?" "Benar. sebab kalian berdua adalah muridnya Giok-bin Giam-po."

Wanita jelek itu lantas berseru sambil kertak gigi: " orang sombong Kuberitahukan padamu kami bukan muridnya Giok-bin Giam-po."

"Kalau begitu kalian sebenarnya murid siapa?"

Wanita jelek itu agaknya mempunyai kesulitan yang tidak dapat diutarakan, lama baru menjawab: "Hal ini tidak bisa kuberitahukan padamu."

"Kalau kau benar? mau binasa, aku pasti akan mengiringi kehendak kalian berdua." Yo Cie Cong kata dengan suara tetap dingin.

Wanita jelek itu mendongak memandang langit, mulutnya berdoa. "suhu untuk mentaati pesanmu kami berdua saudara terpaksa harus korbankan diri."

suaranya terdengar sangat memilukan hati, sahingga Yo Cie Cong sendiri sampai tergerak hatinya.

setelah habis berdoa, dengan sorot mata gemas lalu ia berkata dengan suara bengis: "Tidak kusangka kau yang mempunyai kepandaian begitu tinggi dan wajah begitu tampan

ternyata hatinya melebihi serigala kejamnya. sekarang kau boleh turun tangan. Nonamu sungguh tidak beruntung binasa ditanganmu karena tidak mampu melawan, sehingga aku cuma bisa sesalkan kepandaianku sendiri yang belum tinggi, cuma Akhirnya perlu juga kuberitahukan padamu bahwa kami berdua saudara sekali2 bukanlah muridnya Giok-bin Giam-po. orang yang berdiam diatas puncak gunung Pit koan-hong juga bukan Giok-bin Giam-po. Demikian saja perkataanku yang terakhir, nah, sekarang kau boleh mulai turun tangan" Sebabis berkata ia lalu berdiri dan siap hendak mengadu jiwa.

Yo Cie Cong hatinya mulai curiga. diam2 ia berpikir, "Kelihatannya dua wanita jelek ini bukan dari golongan jahat, Besar sekali kesetiaannya mentaati pesan gurunya. Rupanya tidak mirip dengan murid2 didikannya Giok-bin Giam-po, Apalagi aku cuma dapat keterangan dari Ngo Yong sepihak saja, kelihatannya dalam hal ini ada terselip kekeliruan besar."

Matanya Yo Cie Cong mengawasi wajahnya wanita jelek tersebut. Dilihatnya matanya itu memancarkan sinar yang begitu cemas, tetapi kelihatannya tidak merasa jeri dalam menghadapi saat2 kematiannya maka pikirannya lama2 terguncang.

"cepatlah turun tangan. Kau tunggu apa lagi?" demikian kata wanita jelek itu.

Pikiran Yo Cie Tiong saat itu lantas berubah. Pikiran waras mulai menguasai otaknya lagi. Benar saja ia telah menemukan beberapa titik bagian yang mencurigakan- Karena pada waktu sebelumnya. ia tidak memperhatikannya, hingga hampir saja ia membuat kesalahan yang sangat besar. seketika itu ia lantas berkata dengan suara lunak:

"Kalau begitu harap nona suka menerangkan jalan yang menuuju kepuncak Pit koan-hong. Aku yang rendah ingin menemui sendiri suhumu. Bagaimana?"

"Hal ini juga tidak mungkin."

Yo Cie Cong lantas berpikir: "supaya jangan sampai aku melakukan pembunuhan terhadap orang yang tidak berdosa, biarlah untuk sementara aku melepaskan mereka. Dikemudian hari. jika terbukti mereka membohong, tentunya tidak akan terlolos juga dari tanganku. Biar bagaimana maksudku toch hendak mencari Manusia jelek nomor satu itu untuk menuntut balas, aku bisa pergi ke Pek-long-bwee untuk mencari Cin Bie Nio dan mencari penjelasan lagi."

Maka Akhirnya dengan diam ia mengebutkan lengan bajunya melepaskan totokan pada tubuhnya wanita jelek yang tertotok tadi kemudian berkata pada yang lainnya: "Baiklah. Untuk sementara aku percaya perkataanmu. setelah aku menyelidiki keadaan sebenarnya, jika ternyata apa yang kau ucapkan hari ini tidak betul rasanya, kau juga tidak akan terlepas dari pada kematian."

sehabis berkata ia lantas gerakan Badannya meninggalkan mereka.

Dalam hati Yo Cie Cong sekarang kembali bertambah satu teka-teki. seaadainya orang yang berdiam diatas puncak gunung itu, benar2 bukan Giok- bin Giam-po, siapa sebenarnya orangnya itu?

si tangan geledek Nao Yong dulu juga merupakan seorang terkenal didalam rimba persilatan, sudah tentu ia tidak perlu membuat cerita yang bukan2, apalagi satu sama lain pernah ketemu.

Perkenalannya dengan Yo Cie Cong itu ada merupakan perkenalan pertama, tidak ada perlunya ia mengarang cerita yang bukan2 untuk membohongi Yo Cie Cong. Yo Cie Cong makin memikir makin bingung, pikirannya makin ruwet.

Ia seperti merasa bahwa Giok-bin Kiam khek Hoan Thian Hoa, dengan asal usul dirinya sendiri ada hubungannya.

Pikiran itu terus menerus berputaran dalam otaknya. Meski pun pikiran warasnya kadang2 membantah sendiri anggapan tersebut, tetapi masih tetap merupakan gangguan dalam pikirannya.

Andaikata Giok-bin Giam-po benar2 ada ibu kandungnya sendiri, bagaimana ia nanti bisa tancap kaki dikalangan Kong-ouw? Bagaimana ia bisa menjadi orang? Benarkah ia mempunyai ibu seorang wanita begitu jahat, kejam, cabul, genit dan rendah martabatnya?

Bukan, pasti bukan demikian ia kadang-bantah pikirannya sendiri, sebab Giok-bin Gian-po ada merupakan salah satu musuh perguruannya, yang ia sudah tetapkan harus binasa dibawah Golok Maut.

Maka pikiran itu kadang2 membuat takut dirinya sendiri, tapi kadang2 juga membuat ia gila sendiri Pada suatu hari kira2 tengah hari, Yo Cie Cong telah tiba di kota Thay-peng-tin, yang letaknya tidak cukup 50 lie dengan pusatnya perkumpulan Pek leng-hwee.

Dalam hati ia sudah meng-hitung2 bagaimana ambil tempat menginap di kota Thay-peng-tin dulu, dan setelah kenjang menangSal perutnya, baru berangkat menuuju kepusatnya Pek leng- hwee. Perjalanan itu yang tidak lebih dari 5 lie, buat ia tidak usah memakan waktu lebih dari satu jam.

oleh karena berpikir demikian, ia telah kendorkan kakinya, dengan jalan sesukanya ia menuju ke kola Thay-peng-tin-

Mendadak pada saat itu ada beberapa penunggang kuda. dengan larikan kudanya secepat kilat menerjang datang.

Penunggang kuda itu ternyata terdiri beberapa orang laki dan seorang wanita, diantara laki itu satu telah mengenakan pakaian seperti anak sekolah, begitu pula topinya. Tapi lengan tangan bagian kiri nampak gerombongan tidak kelihatan tangannya. Laki2 itu ternyata ada jago dari perkumpulan agama Im-mo-kauw, si Pedang Berdarah Kong Jie, yang dalam pertempuran di Cit lio-peng dengan Yo Cie Cong telah terkutung sebelah tangan kirinya oleh golok mautnya Yo Cie Cong.

sedang sang wanita ada memakai pakaian hitam seluruhnya, ia bukan lain adalah Tio Lee Tin si burung Hong hitam.

Tio Lee Tin ada muridnya orang misteri berkedok merah, tapi mengapa bisa berada ber-sama2 dengan orangnya Im-mo-kauw? Ini bukan saja sangat mengherankan pada Yo Cie Cong tapi juga merupakan suatu kejadian yang sangat ganjil.

Yo Cie Cong berpikir: "orang berkedok merah memperlakukan aku seperti anak sendiri, tentang apabila ada anak muridnya yang menyeleweng bagaimana aku bisa berpeluk tangan? Sejak hari ini juga harus bikin jelas keadaan sebenarnya, selain daripada itu tentu pihak Im-mo-kauw yang selalu mengejar-ngejar untuk menangkap dan membunuhnya harus diselidiki.

Yo Cie Cong lantas gerakan tubuhnya, dengan kecepatan kilat ia lompat melesat mengejar panunggang kuda tersebut.

Sebentar saja ia sudah dapat mencandak. kemudian ia melesat tinggi untuk melampaui penunggang kuda itu se-olah2 daun kering putus dari tangkainya, ia melayang turun di tengah jalanan.

Empat penunggng kuda masing2 dengan sekencang2nya telah dikejutkan oleh kejadian yang tidak di-duga2 ini, hingga masing2 pada tarik tali kendali kudanya. Tapi kuda2 itu yang sedang lari kencang, ketika ditarik kandalinya, sudah tentu ngusruk. setelah berbenger dan ngusruk kedepan kira2 tujuh langkah baru berhenti.

Orang yang melayang turun dari atas dan menghadang ditengah jalan itu ternyata ada seorang pemuda berparas cakap. Empat penungggang kuda itu lantas pada berseru: "Eeee" dengan berbareng dan pada memandang kaget. ,

Tio Lee Tin ketika melihat dengan tegas bahwa pemuda itu ternyata adalah Yo Cie Cong yang ia uber sekian lamanya tapi tidak berhasil merebut hatinya, maka diam2 juga bercekat. Untuk sesaat lamanya, hatinya ber-debar2 keras, entah bagaimana perasaannya pada saat itu? Matanya lantas memancarkan sinar kebencian dan kemasgulan.

oooo ooooooooo oooo

SETELAH satu lama lain berhadapan, Yo Cie Cong baru dapat lihat dengan tegas, bahwa 4 orang itu kecuali Kong Jie dan Tio Lee Tin yang ia sudah kenal, dua diantaranya ia belum pernah melihatnya.

Kedua orang itu satu adalah seorang tua berewokan yang usianya kurang lebih 50 tahun sedang yang satunya ada seorang muda cakap berusia kira2 20 tahun- Pemuda itu kelihatannya ada mempunyai hubungan rapat dengan Tio Lee Tin, sebab dilihatnya tidak mau berpisah dari sampingnya si nona. Anak muda itu memang cakap tampan, tapi dari sinar matanya kelihatan bukan orang dari golongan baik2.

Kong Jie tidak kenali kalau Yo Cie Cong adalah itu pemuda yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut, maka ia juga tidak berkata apa2.

Yo Cie Cong hanya mengawasi Tio Lee Tin dengan menjublek. la tidak tahu bagaimana harus mulai membuKa mulutnya,

Pemuda cakap didampingnya Tio Lee Tin tiba2 menegor dengan suara bengis: "Hai. Bocah mata buta, apa maKsudmu ini?"

Dengan sikap menghina Yo Cie Cong mengawasi padanya, kemudian berpaling dan berkata kepada Tio Lee Tin- "Nona Tio, kau "

Tio Lee Tin teringat bagaimana dulu telah ditolak pernyataan Cintanya terhadap pemuda itu, maka seketika itu perasaan gusarnya lantas meluap. dengan alis berdiri dan wajah merah padam ia berkata: "Yo Cie Cong, ganjalan antara kita hari ini kita akan bereskan "

Yo Cie Cong terperanjat, mendengar jawaban si nona,

"Nona Tio, perkataanmu ini apa artinya? Diantara kita ada ganjalan sakit hati apa yang harus dibereskan ?" Tio Lee Tin membisu ditanya demikian-

Pemuda cakap disamping si nona mendengar percakapan mereka sudah mengerti sebagian duduknya urusan, perasaan jelus lantas meluap. maka lalu berpaling dan berkata kepada Tio Lee Tin- "Adik Tio, kau kenal Bocah ini ?"

"Belum dapat diartikan kenal, dia adalah orang yang paling dicinta oleh suhu "

Yo Cie Cong yang menyaksikan sikap akrab antara mereka berdua, hatinya sudah dapat menduga beberapa bagian^

Diwajahnya pemuda itu kawan Tio Lee Tin lantas tertampak satu senyuman yang tidak sedap. dengan suara ketus ia berkata kepada Yo Cie Cong ^

"Bocah, apa maksudmu kau menghadang dijalan? Apakah kau hendak mencari mampus?"

Cie Cong lantas naik darah, sambil kerengkan matanya ia menjawab: "Kau ini terhitung manusia macam apa sih sebetulnya?"

"Haha, Bocah, kau sungguh pandai bicara. setelah aku memberitahukan padamu aku ini manusia macam apa, itu berarti namamu sudah didaftar oleh raja akherat, artinya kau diharuskan mampus" habis berkata ia lantas ketawa ter-bahak2.

Yo Cie Cong keluarkan suara dihidung, katanya: "Hm Tidak tahu malu. Apa gunanya kau menggonggong seperti anjing gila?"

Bukan kepalang gusarnya pemuda itu, napsunya membunuh timbul seketika maka ia lantas berkata sambil kertak gigi: "Bocah, dengar, siauw Kauwcu (kauwcu muda) dari perkumpulan Im mo-kauw yang bergelar Utusan Raja Akherat adalah aku ini"

Yo Cie Cong ketika mendengar jawaban ini, diam2 juga terperanjat, ia lantas berpaling dan berkata kepada Tio Lee tin: "Nona Tio, apakah kau sudah masuk menjadi anggota perkumpulan im mo-kauw ?"

"Kalau ya bagaimana?" jawab Tio Lee Tin yang agak berubah, wajahnya. "Apakah hal ini sudah diketahui oleh suhumu ?"

"Haha, Yo Cie Cong, tahu atau tidak tahu memangnya kenapa ?"

"sebaiknya nona pikir masak2 lebih dulu sebelumnya bertindak apa akibatnya seorang murid yang mengkhianati perguruannya ?"

Hatinya Tio Lee Tin seperti terketok martil dengan tiba2 Perkataan mengkhianati perguruan itu didengarnya seperti sebilah pedang tajam menusuk hatinya. Maka wajahnya lantas berubah pucat seperti kertas.

Seperti pembaca masih ingat benda pusakanya Tio Lee Tin sepotong kayu hitam, ouw-bok-Po- lok telah di rampas oleh siluman tengkorak Lui Bok Thong dan ia dibikin terluka parah, tapi kemudian ditolong oleh Yo Cie Cong dengan menggunakan cara mengurut seluruh Badannya. oleh karena Tio Lee Tin anggap bahwa sekuujur Badannya sudah di-raba2 oleh Yo Cie Cong, apalagi anak muda itu ada tampan dan gagah maka diam2 sudah mengambil keputusan untuk menyerahkan dirinya kepada Yo Cie Cong.

Tapi dipihaknya Yo Cie Cong setelah mengetahui bahwa Tio Lee Tin ada anak perempuannya Tio Ek Chiu, ialah satu musuh perguruannya yang sudah binasa ditangan suhunya sendiri, ia tidak berani menyambut Cintanya nona itu.

Tio Lae Tin pernah dijanjikan oleh suhunya bahwa dalam hal itu nanti sang suhu akan bantu membereskan, Tapi setelah orang aneh berkedok merah itu mengetahui dirinya Yo Cie Cong yang telah memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut, sudah tentu tidak berani merekomendasikan perjodohan muridnya. Terpaksa ia menasehatkan kepada muridnya jangan memaksa perjodohan, sebab perjodohan tergantung pada takdir, tidak bisa menuruti kemauan sendiri Tapi Tio Lee Tin ada seorang tinggi hati dan beradat sombong maka nasehat ini disambut dengan perasaan tidak senang.

Selanjutnya ketika dirinya pemilik Golok Maut yang peranannya dipegang oleh Yo Cie Cong, dibinasakan oleh Liat- yang Lo koay di Cit-lie-peng. Tio Lee Tin yang hendak menuntut balas sakit hati ayahnya, hendak mencincang tubuhnya pemilik Golok Maut disitu juga, tapi niatnya itu dicegah oleh suhunya. Dengan demikian- maka ia semakin merasa tidak puas terhadap suhunya.

Tidak lama kemudian, ia telah berjumpa dengan Kauwcu muda dari Im-mo-kauw yang dalam dunia kang-ouw dikenal dengan nama julukannya Utusan Raja Akherat.

oleh karena Kauwcu muda ini orangnya masih muda dan tampan serta gagah. apalagi pandai omong manis. maka Tio Lee Tin yang kala itu sedang gagal dalam asmara dengan mudah saja sudah kepincut oleh lagak lagu-nya Kauwcu muda itu. Ia sendiri juga tidak segan menempuh bahaya sebagai murid yang mengkhianati perguruannya. kemudian masuk menjadi anggota perkumpulan im-mo-kauw. Tapi walaupun demikian, hatinya selalu merasa ketakutan, sebab ia tahu benar apa akibatnya dari perbuatannya itu.

Maka ketika Yo Cie Cong menyebutkan akibatnya dari murid yang berkhianat terhadap perguruannya, telah menusuk perasaannya dan sudah tentu pula membangkitkan lagi perasaan takutnya.

Utusan Raja Akherat yang menyaksikan kekasihnya tidak bisa menjawab, lantas menalangi: "Bocah, kau tak usah banyak bicara. sudah berjumpa dengan aku, ini berarti kau sudah ditakdirkan binasa ditanganku. Maka pilihlah jalan kematianmu. Kau hendak turun tangan sendiri atau aku yang menghantarkan rohmu keakherat?"

Yo Cie Cong merasa gusar sekali, tetapi ia masih tertawa terbahak2. "Manusia keparat Kau jangan mimpi yang bukan2. justru aku tuan mudamu yang akan membantu menyempurnakan. kau. Ha ha ha "

orang tua berewokan yang sejak tadi berdiri dengan tenang sebagai penonton saat itu mendadak membuka mulut: "Siauw Kauwcu, bolehkah Hiotiomu yang mewakili untuk mengambil jiwanya anjing kecil ini?"

ucapan orang tua itu membuat Yo Cie Cong makin bertambah rasa gusarnya.

Utusan Raja Akherat sebaliknya sudah meng-garuk2kan kepalanya seraya berkata: "Baiklah. Lauw Hocu. kau boleh turun-tangan tak usah kenal kasihan- Menurut kebiasaan Kauwcu kita, harus dibelek perutnya dan dicincang tubuhnya sampai hancur tidak boleh ada yang ketinggalan-" sehabis berkata kembali ia perdengarkan suara ketawa yang menyeramkan.

"Bik," demikian orang tua berewokan itu menyahut, orangnya lantas lompat turun dari atas kudanya. sambil ketawa cengar cengar ia maju menghampiri Yo Cie Cong, kemudian mengirim serangannya secara mendadak. serangan itu hebat sekali, sehingga menimbulkan angin puyuh. Orang tua itu mengira, bahwa dengan serangannya yang sekelebat itu lawannya yang muda itu tentunya akan binasa, atau setidak-tidaknya akan terluka parah.

Yo Cie Cong sangat benci sekali terhadap manusia jumawa ini, tambah lagi ucapannya si Kauwcu muda yang terlalu sombong itu maka membuat ia semakin gusar saja.

Dengan-ayunan sebelah tangannya, ilmu kekuatan Kan-goan Cin-Cao terus meluncur keluar dari lengannya.

Kali ini ia menggunakan kekuatan delapan bagian, tapi ada demikian hebatnya sampai se-olah2 geledek menyambar mangsanya.

Orang tua itu sedkitpun tidak menduga bahwa lawannya yang masih muda belia itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang begitu hebatnya. Tatkala ia merasa hebatnya serangan lawannya, ia sudah tidak punya waktu untuk menyingkirkan diri.

setelah terjadi suatu benturan hebat, orang tua itu keluarkan seruan tertahan, kemudian orangnya mundur sempoyongan sampai lima tindak^ mulutnya menyemburkan darah segar. Badannya lalu rubuh ditanah dan tidak bisa berkutik lagi.

Utusan Raja Akherat dan si Pedang Berdarah Kong Jie serta Tio Lee Tin. bertiga telah menjerit berbareng.

Hanya dalam satu kali serangan saja Yo Cie Cong telah membinasakan jiwanya seorang Hiocu dari Im mo-kauw Kekuatan semacam itu, sesungguhnya bukan termasuk kekuatan manusia biasa. Ini benar2 ada diluar dugaan mereka bertiga.

Terutama bagi Tio Lee Tin, didalam alam pikirannya, Yo Cie Cong tidak mempunyai kekuatan begitu hebat. Hanya beberapa bulan saja tidak bertemu anak muda itu se-olah2 berganti raga. ini benar2 merupakan sesuatu hal yang sangat luar biasa. sudah tentu, jika mereka nmengetahui bahwa Yo Cie Cong ini adalah pemilik Golok Maut yang mereka telah mendapat tugas untuk mencarinya kemana pun juga, tidak nanti timbul perasaan sampai begitu ter-heran2".

Tio Lee Tin yang terlebih dulu lompat turun dari alas kudanya yang kemudian disusul dengan lompat turunnya dua orang yang lainnya. Mereka berdua berdiri berjejer dihadapan Yo Cie Cong.

Diwajahnya Utusan Raja Akherat yang dingin angkuh, tampak napsu membunuh yang tebal sekali. sambil ketawa Ha, ha, h i, h i ia berkata:

"Bocah, hebat benar kepandaianmu heh Pantas dimatamu sepertt tidak melihat orang lain lagi."

Yo Cie Cong hanya mengganda ketawa dingin.

Saat itu Tio Lee Tin sungguh serba salah kedudukannya. Perasaan duka sukar dilukiskan dengan pena, sukar diucapkan dengan-kata2. seorang laki2 yang pernah dirindukan, diubar-ubar dan dicintai, kini telah berubah menjadi musuh mati hidupnya. Apa lagi kalau dipikir bahwa kekuatan dan kepandaianya Yo Cie Cong agaknya masih jauh diatasnya Kauwcu muda dari Im-mo- kauw ini, maka ia kuatirkan sangat, kekasihnya yang baru ini tidak mampu menandingi Yo Cie Cong.

Agaknya ia merasa sangat menyesal akan perbuatannya sendiri yang terburu napsu. Tetapi sekarang ia bukannya seorang gadis suci lagi. seandainya Yo Cie Cong berbalik pikirannya mencinta dirinya, ia sendiri juga tidak bisa menerima lagi Cintanya, sebab ke-suciannya sudah diberikan kepada Utusan Raja Akherat secara gegabah. Rupa pikiran telah mengganggu otaknya. Dalam keadaan demikian, rasa bencinya makin kuat mempengaruhi seluruh pikirannya itu membuatnya menjadi mata gelap.

Tidak dapatkan dirinya dia, kita harus hancurkan dia Demikian pikirnya. Dan itu merupakan putusan terakhir dari si nona gagah itu, maka seketika itu, napsu membunuhnya lantas berkobar.

Pedangnya lantas dihunus keluar lalu berkata kepada Yo Cie Cong: "Yo Cie Cong, manusia yang tidak kenal budi. Hari ini sudah sampai saat kematianmu "

"Nona Tio dengan memandang muka suhumu, aku tidak akan membuat perhitungan dengan kau. sebaliknya kau berdiri sebagai penonton saja. jika tidak " "jika tidak bagaimana ?"

"Kepalan dan kaki tidak ada matanya." "Puh. sombong benar kau"

Utusan Raja Akherat lantas menyelak: "Adik Tin, kau mundur. Biar aku yang bereskan dia." "Tidak. Kau mlinggir sedikit."

Utusan Raja Akherat terpaksa diam, tetapi sepasang matanya tidak pernah teralih dari Badannya Yo Cie Cong.

Ia telah mendapat kenyataan bahwa pemuda ini merupakan salah seorang terkuat yang pernah diketemukannya.

Tio Lee Tin mungkin bukan tandingannya, maka jika perlu ia akan membantunya.

si Pedang Perdarah Kong Jie agaknya sedang memikirkan sesuatu hal. Gerakan yang aneh dan hebat tadi yang telah membinasakan dirinya Lauw Hiocu, agaknya pernah dilihatnya.

Tio Lee Tin gerakkan gedang ditangannya, lalu berkata dengan suara nyaring: "orang she Yo, kau berani bunuh mati Hiocu kami? Rekening lama dan rekening baru antara kita, kita perhitungkan sekalian sekarang "

Yo Cie Cong merasa serba sulit. orang berkedok kain merah perlakukan dirinya seperti memperlakukan anaknya sendiri, Terhadap perbuatannya Tio Lee Tin yang sudah menjadi anggotanya Im mo-kauw, orang itu entah sudah tahu atau belum? Perbuatan yang merupakan suatu pengkhianatan ini seharusnya dibereskan sendiri oleh sang suhu. sekarang jika ia sendiri kesalahan tangan sampai membinasakan jiwanya nona ini, sesungguhnya betul-betul merupakan suatu hal yang sulit dipertanggung jawabkan-

Tetapi sebaliknya, nona ini tampaknya sedang mengumbar amarahnya. Kelihatannya tidak mau sudah jika orang yang dibenCinya belum dihajar betul-betul.

"orang the Yo. sekarang nonamu akan turun tangan, kau masih ada ucapan apa lagi. ^"

Yo Cie Cong lantas menjawab sambil menahan perasaannya: "Apakah nona Tio benar2 hendak memaksa aku turun tangan?^"

"Ha,ha Paksa kau? orang she Yo, Kujelaskan padamu, jangan harap kau bisa berlalu dari sini

dalam keadaan masih benapas."

Yo Cie Cong sudah tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi, maka lantas berkata dengan suara dingin- "Baiklah. Kalau begitu kau jangan sesalkan kalau aku berlaku keterlaluan-"

Tio Lee Tin perdengarkan suara dihidUng.

Pedangnya lantas diputar, dengan kecepatan bagaikan kilat ia mengirim serangannya. Begitu bergerak. secara beruntun sudah berubah lima macam gerakan- serangan itu selain hebat juga sangat ganas.

Yo Cie Cong dengan kelincahan Badannya luar biasa mangengoskan setiap serangan yang dikirim oleh sinona. Kadang2 ia membalas menyerang, tetapi serangannya hanya dituujukan keawak pedang.

Satu kali serangannya itu mengenakan sasarannya dengan tepat, sehingga tangannya Tio Lee Tin dirasakan kesemutan, pedangnya hampir saja terlepas dari cekalannya.

Ia lantas berseru nyaring, tipu serangannya kembali dirubah. Dengan beruntun mengirim serangannya sampai dua puluh delapan kali. serangan itu begitu gencar dan rapat, sehingga membuat lawannya kecuali mundur sudah tidak punya jalan lain lagi Benar saja Yo Cie Cong terpaksa harus lompat mundur.

Agaknya Tio Lee Tin sudah menduga gerakan lawannya itu dari semula, maka se-olah2 bayangan ia terus membayangi gerakan Yo Cie Cong dan menikam dengan hebat.

Yo Cie Cong matanya menjadi merah, Dengan cepat ia mengeluarkan ilmu ,Menggeser tubuh mengganti bayangannya, se-olah2 lakunya hantu sebentar kemudian lantas menghilang dari depan matanya sipenyerang, tetapi sebentar kemudian tiba2 sudah berada di belakang si nona. Ketika Tio Lee Tin mengetahui bahwa Yo Cie Cong pandai menggunakan ilmu perguruannya untuk menghindarkan serangannya. hatinya semakin gusar. ia coba menyingkir kira2 setombak lebih kemudian membalikan Badannya "

Tetapi ternyata ia sudah terlambat bergerak. sambaran angin yang keluar dari tangan Yo Cie Cong sudah meluncur laksana angin puyuh datangnya.

Pada saat yang sangat berbahaya itu, Kong Jie dan Utusan Raja Akherat dari samping telah melancarkan serangan berbareng. Tetapi angin serangan dari kedua orang itu se-olah2 lenyap ditengah udara tanpa suara, sehingga hati mereka merasa kaget bukan kepalang.

Tetapi dalam kagetnya itu Kong Jie yang tidak lantas putus asa lantas menyusulkan serangannya lagi dengan serangannya yang kedua, tetapi juga tidak berhasil menahan serangan Yo Cie Cong.

Ketika serangan kedua pihak saling beradu, Badannya Kong Jie terpental mundur tiga langkah. sehingga hatinya merasa jeri, sebab kekuatan itu sesungguhnya belum pernah dialaminya pada waktu sebelumnya.

Tio Lee Tin setelah terlepas dari serangannya Yo Cie Cong kelihatan alisnya berdiri sambil berseru nyaring kembali ia menyerang lagi.

Yo Cie Cong yang sudah gusar benar2, lantas memutar kepalan tangan kanannya, dengan kekuatan tenaga Kan-goan Thian-thjio untuk menyambut serangan Tio Lee Tin-

Tio Lee Tin hanya merasakan adanya kekuatan dahsyat yang membendung setiap serangannya, bahkan telah mendesak dirinya semakin hebat. Apabila ujung pedang ditangannya menyentuh sedikit saja kekuatan yang tidak terlihat itu, serangannya lantas dibikin punah, sehingga gerakannya selanjutnya lantas mati sama sekali.

Kekuatan hebat Yo Cie Cong ini membuatnya ketakutan setengah mati. Belum sempat ia memikirkan yang lain, kekuatan tenaga yang tidak kelihatan itu sudah menghampiri dirinya.

Pada saat itu, tangannya dirasakan sakit sekali, pertama-tama pedangnyalah yang terbang melesat dari dalam tangannya. selanjutnya, nona itu kelihatannya sadar akan rubuh di tangannya Yo Cie Cong yang mempunyai kekuutan begitu hebat.

"Bocah, kau jangan melukai orang." Demikian terdengar seruan suara orang. Berbareng pada saat itu pula angin dingin terus meluncur keluar menyerang kekuatan yang tidak kelihatan itu.

"Buk. BukBuk^ terdengar serentetan suara benturan nyaring. Kekuatan yang dilancarkan oleh Yo Cie Cong sebagian sudah dibikin punah.

Pedang Tio Lee Tin sudah terlepas dari tangannya, dalam kaget dan ketakutannya tiba2 dirinya telah digulung oleh kekuatan tenaga Yo Cie Cong yang masih ada, sehingga ia harus mundur ter- huyung2 sampai sepuluh tindak. baru bisa berdiri jejak lagi. wajah sinona pucat seperti kertas, napasnya memburu.

serangan yang menahan kekuatan serangan Yo Cie Cong tadi ternyata meluncur keluar dari dalam tangannya Utusan Raja Akherat. saat itu Utusan Raja Akherat lantas maju satu tindak dan terus berkata. kepada Yo Cie Cong sambil tertawa dingin: " Hebat sekali kekuatanmu. Masih dapat menerjang kekuatanku."

"Kau masih bukan tandinganku." jawab Yo Cie Cong dingin.

Jawaban yang sangat jumawa ini telah membuat wajah Utusan Raja Akherat berubah. Ini adalah untuk pertama kalinya ia berkelana didunia Kang-ouw, ada orang yang berani mengucapkan perkataan demikian dihadapannya.

"Kau sungguh jumawa^" demikian ia berkata. "Ng."

Utusan Raja Akherat tadi mula2 menjebutnya 'Bocah'. sekarang menjebut 'kau' Rupanya ia telah dibikin kagum karena kekuatan yang sukar diukur dari lawannya ini.

Tiba2 ia mendapat suatu pikiran. Ia ketawa dan berkata pada Yo Cie Cong: "Kau suka kita bikin suatu pertaruhan?" "Pertaruhan apa ?"

"jika kau yang memenangkan pertandingan, semua ganjalan yang ada diantara kita, kita habiskan semua."

Yo Cie Cong tidak lantas menjawab ia berpikir 'Bikin habis semua? tidak begitu mudah. Im mo- kauw terus mengirim utusannya mengejar pemilik Golok Maut, bahkan me-nyiar2kan cerita bahwa pemilik Golok Maut bukanlah pemilik Golok Maut yang asli. Dalam hal ini pasti ada tersembunyi rahasia apa. sebelum soal ini terang, aku dengan Im-mo-kauw tidak bisa tinggal sama2 begitu saja"

"jikalau kau yang menang, bagaimana?" Yo Cie Cong balik menanya.

"He, he Perkumpulan kami sedang membutuhkan tenaga orang pandai, kami sedang

berdaya mengumpulkan orang kuat supaya pimpinan dalam rimba persilatan terjatuh dalam perkumpulan kami. jika kau tidak beruntung, jatuh ditanganku, maka kau harus menjadi anggota perkumpulan kami"

Yo Cie Cong ketawa bergelak.

"Perkataanmu itu percuma saja kau ucapkan-" jawabnya pasti. "Apa artinya ucapan ini?"

"Kau tidak bisa menangkan aku." ujawab Yo Cie Cong tenang.

Bukan kepalang rasa gusarnya Utusan Raja Akherat itu, sebab, kecuali kejam dan licik, ia juga seorang sombong dan tinggi hati. Tidak nyana hari ini ia bertemu dengan seorang yang lebih sombong beberapa kali dari padanya, maka ia lantas menjawab dengan suara gusar:

"Apa kau kira pasti mendapat kemenangan." "sudah tentu."

Kong Jie yang berdiri disamping agaknya sudah tidak sabaran lagi. Ia berkata dengan suara nyaring: "siao Kauwcu, kasihkan aku yang melayani Bocah ini"

sehabis berkata, pedang berdarahnya lantas keluar dari dalam sarungnya. Dibulang balingkannya pedang itu sebentar sambil mengerahkan tenaga dalamnya, sehingga awak pedang lantas berubah menjadi merah darah. ujung pedang seperti ada darah segar menyembur keluar.

Utusan Raja Akherat ini orangnya licik dan banyak akal. sambil ketawa cengar-cengar ia mundur kesamping.

Biji mutiara merah yang ada digagang pedangnya Kong Jie, kecuali bisa digunakan untuk menyalurkan darah keujung pedang sehingga dapat melukai lawannya tanpa bisa dilihat, bahkan masih bisa lagi mangeluarkan bau harum semerbak yang dapat membuat orang mabuk.

Betapa pun tingginya kekuatan lawannya, sukar juga dapat menghindarkan diri dari serangan bau harum itu.

Kong Jie mampunyai maksud hendak menundukkan Yo Cie Cong dengan akalnya itu dulu, baru kemudian turun tangan menurut kehendak hatinya.

Ketika Kong Jie untuk kedua kalinya bertanding dengan Yo Cie Cong yang ketika itu ada memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut, kedua macam senjatanya yang mukjijat itu tidak dapat menjatuhkan lawannya, sebaliknya malah ia sendirilah yang harus mengorbankan sebelah tangan kirinya. ini adalah merupakan kekalahannya yang pertama sejak ia muncul didunia Kang- ouw. Tetapi dalam hatinya saat itu telah berpikir, bahwa pemilik Golok Maut yang mengalahkannya itu sudah binasa dibawah tangannya Liat- yang Lokoay, sehingga tidak perlu takuti orang lain lagi.

Sudah tentu, mimpipun ia tidak akan menduga, bahwa Yo Cie Cong yang didepan matanya itu adalah si pemilik Golok Maut yang di Cit-lie-peng telah memapas kutung lengan kirinya.

Memang betul ia sudah binasa, tetapi karena khasiatnya biji mustika Gu liong- kauw, ia bisa hidup kembali untuk melanjutkan usahanya. Rombongan yang terdiri dari empat orang itu juga merupakan utusan Im mo-kauw yang dikirim untuk menyelidiki kabar tentang munculnya pengganti pemilik Golok Maut.

Yo Cie Cong dengan sikap dingin memandang Kong Jie, terhadap siapa agaknya ia tidak memandang mata sama sekali.

Kong Jie lalu gerakkan pedangnya sambil ketawa. Warna merah dan bau harum yang semerbak kelihatan berkelebatan dan tersiar luas disekitar diri Yo Cie Cong.

Anak muda itu agaknya sudah berpikir masak2, dengan ilmunya Liang- kek Tiin-goan ia melindungi sekujur Badannya dan seluruh kekuatan tenaganya dan dipusatkan pada sebelah tangannya, kemudian mengirim serangannya.

Ketika Kong Jie mengetahui ujung pedangnya tidak bisa mendekati badan lawannya, sedangkan bau harum juga tidak dapat jatuhkan lawannya, dalam hati merasa golagat tidak baik.

Belum hilang rasa kagetnya. kekuatan yang maha hebat telah menyerang dirinya.

Dalam gugupnya, ia coba melesat kesamping. Tetapi, Yo Cie Cong yang sudah mengandung maksud hendak membunuhnya. sudah tentu tidak mau memberikan kesempatan untuk ia meloloskan diri, maka dengan cepat serangannya yang kedua lantas menyusul.

Suara jeritan ngeri keluar dari mulutnya Kong Jie, dibarengi dengan semburan darahnya, Badannya lantas terpental jatuh.

Utusun Raja Akherat menggeram, ia lantas maju, selagi hendak turun tangan, mendadak terlihat berkelebat sinar terang meluncur ke-arahnya sang lawan.

Yo Cie Cong miringkan badannya sambil ketawa dingin. Tangannya lantas diulur menyambar benda berkilauan itu, ternyata itu adalah sebilah pedang panjang.

Kiranya. tadi ketika Tio Lee Tin pedangnya dibikin terpental oleh Yo Cie Cong, dalam hati meski ketakutan setengah mati, tetapi rasa benci timbulnya semakin meluap2. Ia lalu menggunakan. kesempatan selagi Yo Cie Cong membinasakan Kong Jie, diam2 lantas me-mungut pedang panjangnya. sambil kertak gigi dilontarkan pedang itu kearah dirinya Yo Cie Cong.

Tidak nyana, serangannya itu tidak mengenai sasarannya, malah pedangnya jatuh ditangan Yo Cie Cong. wajahnya lantas pucat, seketika hatinya merasa semakin takut.

Yo Cie Cong setelah menyambuti pedang tersebut, sebetulnya hendak dipatahkannya, tetapi hatinya lantas berpikir: "Ia adalah murid tunggal orang berkedok kain merah. sekarang keadaannya masih belum jelas. jika pedang ini kupatahkan. barangkali tidak enak akibatnya bagi orang berkedok kain merah itu." oleh karena berpikir demikian, maka matanya yang tajam lantas menyapu kearah Tio Lee Tin yang saat itu tengah berdiri menjublek.

"Ambillah." kata Yo Cie Cong sambil melemparkan pedang pada si nona.

Tio Lee Tin menyambuti pedangnya dengan kedua belah tangannya, tetapi hatinya sangat berduka.

Gadis yang selamanya menbawa cara hidupnya sendiri, bagaimana sanggup menerima hinaan begitu rupa? Tetapi oleh karena kepandaiannya sendiri tidak ungkulan menghadapi lawantnya, maka ia hanya dapat mengawasi musuhnya dengan mata sangat penasaran.

Dengan sikap menyayang Utusan Raja Akherat mengawasi Tio Lee Tin sejenak, lalu berkata pada Yo Cie Cong.

"Kepandaianmu betul2 hebat. sekali lagi kuucapkan perkataanku tadi. kita mengadakan pertaruhan dengan tiga jurus pertandingan. Kalau kau yang menang, semuanya habis. Masing2 boleh jalan sendiri. Tetapi kalau aku yang menang, kau harus menjadi anggota perkumpulan kami. Bagaimana?"

Yo Cie Cong diam2 merasa geli dihati, dengan sikap menghina ia berkata: "Aku juga ulangi lagi sekali ucapanku tadi, kau tidak bisa menangkan aku."

wajahnya Utusan Raja Akherat lantas berubah. "Kesombonganmu sungguh jarang bisa di dapatkan." "ouw, begitu ?"

"Kau tidak mau menimbang usulku tadi ?" "Tidak perlu ditimbang lagi."

"Kau tidak akan menyesal ?"

"Locu sekali seumur hidupku aku belum pernah merasa menyesali atas perbuatanku." "Bagus... Kauwcumu hari ini. "

Pada saat itu mendadak ada angin mendesir dihadapan dua orang itu tiba2 tertancap satu bendera segi tiga yang kecil bentuknya.

Kejadian yang terjadinya secara mendadak ini membuat Utusan Raja Akherat yang belum habis mengucapkan perkataannya, terpaksa ditelan kembali.

Datangnya bendera kecil itu lantas disusul dengan munculnya beberapa orang yang meluncur turun ketempat tersebut.

Tio Lee Tin menjerit dengan tiba-tiba. wajahnya pucat pasi, Badannya bergemetaran. OOOOOOOO ooo

SEMUA ORANG yang berada disitu telah dikejutkan oleh kejadian yang datangnya secara tiba2 itu. Bendera kecil segi tiga dengan dasar putih dan pinggir emas, di-tengah2nya terlukis seekor burung laut merah dadu. Bendera itu kelihatan menancap ditanah, ber-goyang2 ditiup angin.

Beberapa puluh bayangan orang telah melayang turun dan berbaris dibelakangnya bendera kecil tadi. Mereka itu setelah berbaris rapih, barulah dapat dihitung. semuanya berjumlah dua belas orang semua berpakaian seragam warna hitam yang ringkas dan bar-kedok kain hitam. Ditengah2 kedok hitam, ada tersulam seekor burung laut. Diatas Badannya burung laut itu, masing2 terdapat satu angka, dari satu sampai dua belas.

"Utusan bendera burung laut" berseru Utasan Raja Akherat.

si Burung Hong Hitam, Tio Lee Tin, wajahnya pucat pasi seperti mayat dan badannya gemetaran.

Yo Cie Cong yang sedang dibikin pusing oleh urusannya Tio Lee Tin yang mengkhianati perguruannya dengan masuk menjadi anggota Im-mo-kauw tidak menyangka kalau pada saat itu telah muncul dua belas orang Utusan bendera burung laut. sebab dengan munculnya bendera tanda perintah itu, berarti suatu tanda bahwa sipemilik bendera yaitu si orang misterius berkedok kain merah, sudah akan segara unjukan dirinya. orang berkedok kain merah itu munculnya didunia persilatan di daerah TOnggoan, baru satu tahun lamanya. tidak ada seorangpun yang tahu, sampai dimana tingginya kepandaiannya. juga tidak ada orang yang tahu asal-usulnya, atau wajah yang sebenarnya. Dua belas utusan burung laut yang merupakan anak buahnya, masing2 juga mempunyai kepandaian yang luar biasa.

orang2 didunia Kangouw, apabila mendengar didisebutnya orang berkedok merah saja, sebagian sudah merasa jeri.

Si Pedang Berdarah Kong Jie, saat itu sedang memejamkan matanya untuk mengumpulkan tenaga. Ia tidak ambil peduli semua apa yang terjadi disekitarnya.

oleh karena munculnya Utusan bendera burung laut, suasana yang sunyi sepi, berubah menjadi tegang.

Tio Lee Tin meskipun benar ada muridnya orang berkedok kain merah, tetapi ia sendiri masih belum mengetahui jelas tentang gurunya itu.

Dalam rombongan Utusan bendera burung laut itu, ada seorang yang mempunyai tanda nomor satu. ia adalah kepalanya. orang itu telah memecahkan suasana sunyi tersebut. Dialah yang pertama membuka mulut, menegur Tio Lee Tin:

"Sumoay. benarkah kau sudah masuk menjadi anggota mereka jadi anggota Im mo-kauw ?"

Tio Lee Tin lantas berubah wajahnya, ia tidak bisa menjawab. Ia tidak berani mengaku, tetapi juga tidak dapat menyangkal. Utusan Raja Akherat yang berdiri disampingnya Tio Lee Tin, mengawasi Utusan burung laut Nomor satu itu sejenak. lantas berkata kepada Tio Lee Tin: "Adik Tin. beritahukan padanya."

Tetapi Tio Lee Tin masih tetap membungkam seperti juga orang bisu.

Utusan bendera burung laut Nomor Satu berkata pula: "sumoay, kami sekalian telah mendapat perintah dari suhu hendak ajak kau pulang."

Tio Lee Tin hatinya terguncang keras, dengan tidak terasa kakinya sudah mundur satu tindak.

^

Utusan Raja Akherat lantas berkata sambil menyengir: "Apa tuan2 hari ini hendak membawa

pergi orang ?"

"Benar." jawab Utusan burung laut Nomor satu.

"Sebaiknya tuan2 mundur saja. Kalau tuan hendak memaksa juga membawa pergi orang, rasanya tidak begitu mudah."

"Dalam hal ini tuan tidak berhak turut campur tangan" jawab si Nomor satu,

"Ha, ha Tio Lee Tin sekarang sudah menjadi anggota kami, yang berkedudukan sebagai

Kauwcu muda dari Im-mo-kauw, dengan ini kuberitahukan pada tuan2, soal membawa pergi orang tidaklah mungkin."

Dua belas orang utusan burung laut itu berbareng menyatakan kegusarannya. si Nomor satu lantas berkata pula.

"Paling baik tuan tidak sembarangan buka mulut. ini adalah soal peribadi dalam perkumpulan kami."

"Tuan2 bersedia bermusuhan dengan perkumpulan kami?" "Hmm, kalau kami bermusuhan, mau apa?"

"Itu tidak bedanya seperti mengadu telor dengan batu, mencari kemusnahan sendiri " "Ha, ha, ha, ha Tuan sungguh terlalu jumawa."

"Tidak percaya? Kalian boleh coba sendiri"

Saat itu agaknya utusan nomor dua sudah tidak dapat menahan sabar lagi, ia berkata pada Tio Lee Tin.

"Sumoy, tahukah kau, apa akibatnya kau berbuat begitu ?"

Tio Lee Tio yang mendengar pertanyaan itu, kembali wajahnya berubah.

saat itu, perasaan hatinya tidak keruan. oleh karena kesalahan bertindak. telah membuat ia terjerumus kedalam jurang yang dalam, tidak mampu menarik keluar dirinya lagi, ia sekarang bukan hanya sebagai anggota Im-mo-kauw saja, tapi sudah merupakan kekasihnya Kauwcu muda dari Im mo-kauw. juga ia bukan seorang gadis suci lagi.

Sekalipun suhunya tidak menghukum karena ia sudah mengkhianati perguruan sendiri, tetapi ia juga tidak punya muka untuk kembali lagi keperguruannya.

Ia merasa malu terhadap perguruannya, tetapi la tidak berdaya sama sekali untuk memperbaiki dirinya.

Selain daripada itu sehingga saat itu, dalam hatinya masih tetap ada bayangannya Yo Cie Cong saja. Ia tidak bisa melupakan anak muda itu, perubahan yang terjadi pada dirinya juga lantaran gara2nya anak muda itu. tapi sekarang ia sudah tidak mempunyai muka untuk mencinta dirinya anak muda itu lagi. Begitulah dengan nasibnya nona gagah ini.

Rasa cinta berubah menjadi benci. Ia sekarang merasa benci sekali terhadap Yo Cie Cong tapi dalam rasa bencinya itu ada bercampur perasaan cinta yang sebenarnya. Rasa cinta demikian hakekatnya sudah melekat dalam hatinya.

Utusan nomor satu setelah menghela napas panjang, lalu berkata dengan suara bengis: "Tio Lee Tin. karena kau telah mengkhianati perguruan, persaudaraan antara kita telah putus "

Utusan Raja Akherat lantas menjelak: "Adik Tin, kau mundur" ucapannya itu disertai dengan gerakan Badannya, dengan cepat sudah berada disampingnya Tio Lee Cin, berbareng dengan itu, ia lantas mengirim satu serangan tangan kearah enam utusan burung laut tersebut.

serangannya yang ada begitu aneh, selain kekuatan yang sangat hebat, juga mengandung sambaran angin ingin yang menusuk tulang.

Enam utusan burung laut itu tidak menduga sama sekali yang Utusan Raja Akherat ini akan turun tangan secara tiba2. Angin serangan yang datang secara tiba2 itu baru menyentuh badan, rasa dingin sudah seperti menusuk kedalam tulang, salah seorang diantara enam utusan itu lantas berseru: "Ini ilmu pukulan Tay-im-Ciang. Lekas mundur " Enam orang itu dengan cepat lantas mencar mundar kekedua samping.

Yo Cie Cong telah menyaksikan bagaimana Utusan Raja Akherat itu dalam waktu segebrakan saja telah mendesak mundur enam orang kuat anak muridnya orang kedok kain merah. Hatinya lantas tergerak. Pikirnya, "Ilmu pukulan Thay im-Ciang ini pasti adalah semacam ilmu tenaga lunak yang sangat jahat, sehingga dapat membuat utusan burung laut itu tidak berani sembarangan menyambutinya."

Ia lantas ingat ilmu pukulan Liat yang-Ciang dari Liat-yang Lokoay. Agaknya dua macam ilmu pukulan 'Im dan Yang' itu tentunya merupakan ilmu pukulan yang berlawanan...

Utusan Raja Akherat setelah berhasil mendesak mundur enam orang orang utusan burung laut itu, lantas berkata dengan sangat bangga " Utusan burung laut ternyata cuma begini saja.

Menurut pikiranku, lebih baik cepat2 menarik diri"

Enam orang utusan itu setelah menarik mundur dirinia sejenak. lantas menerjang maju lagi, dengan masing2 mengirimkan satu. serangan kearah lawan.

Angin serangan dari enam orang itu telah berkumpul merupakan satu gelombang. dengan hebat mengulung dirinya Utusan Raja Akherat.

Utusan Raja Akherat menarik Tio Lee Tin dengan sebelah tangannya seraya berkata: "Adik Tin mundur"

sambil kerutkan dahinya, Tio Lee Tin mundur kesamping sejauh kira2 delapan kaki.

Utusan Raja Akherat memuter kedua tangannya yang terus disodorkan. segumpalan angin dingin keluar dari tangannya menggulung badan lawannya.

Serangan hebat yang keluar sebagai tenaga gabungan dari keenam orang utusan burung laut tadi, ketika kebentrok dengan kekuatan angin yang kelihatannya biasa saja, ternyata dirasakan seperti kompor masak kedalam laut, lantas musnah tanpa bekas.

Kejadian ini telah membuat enam Utusan itu berikut Yo Cie Cong, tercengang semuanya.

Utusan Raja Akherat yang sudah berhasil memunahkan serangan gabungan lawannya, lantas berkata lagi dengan suara dingin: "coba sambuti sekali lagi seranganku."

Kembali tangannya bergerak, keluarlah satu serangan dahsyat. Angin ingin yang hebat telah menembusi daging dan tulang-tulang.

Enam orang Utusan burung laut itu, semua merupakan orang kuat pilihan dari antara sekian banyak muridnya orang berkedok kain merah. Tentu saja dapat berlaku gesit dalam menghadapi segala kemungkinan.

Melihat sang lawan mengirim serangannya, mereka juga terus menyambuti dengan kekuatan tenaga bergabung, suara benturan keras lantas terdengar nyaring.

Badannya Utusan Raja Akherat kelihatan bergoyang sedikit, tetapi enam Utusan burung laut telah dibikin menggigil semua karena serangan hawa yang sangat dingin itu.

Utusan Nomor satu lantas memberikan aba-abanya pada lima utusan yang lainnya: " Kalian maju"

Lima utusan lainnya itu bergerak dengan serentak.

Mereka menyeburkan diri dalam gelanggang pertempuran membantu enam kawannya yang maju duluan. Sedangkan Utusan Nomor satu sendiri, dengan kecepatan kilat menyerbu Tio Lee Tin. sebelas utusan tergabung jadi satu, sudah tentu juga menjadi lain lagi keadaannya.

Kekuatan dari sebelas orang, seolah-olah, gelombang yang maha dahsyat, menyerbu lagi kearah Utusan Raja Akherat.

Ilmu pukulan Thay-im-Ciang dari Utusan Raja Akherat, biar bagamiana hebat, sudah tidak mampu melenyapkan kekuatan bergabung dari sebelas orang itu.

Tepat selagi kekuatan tergabung sebelas orang itu menyerbu kearahnya, Badannya Utusan Raja Akherat dengan ringan sekali mendadak sudah melesat naik keatas setinggi tiga tombak. setelah berada diatas, dengan gayanya yang sangat manis Badannya berputar untuk melepaskan diri dari lingkaran angin yang datang menggulung, kemudian tangannya dibalikan mengirim serangan balasan.

Diantara suara bentakan2. dua orang dari sebelas orang utusan burung laut telah jatuh rubuh ditanah.

Dilain pihak- Utusan Nomor satu yang menyerbu Tio Lee tin, sudah kena dirintangi oleh pedang si nona.

Sedangkan si Pedang Berdarah Kong Jie, juga pada saat itu telah siuman. segera ia membantu mengirim serangan dari samping.

Dengan tidak ammpun lagi Badannya utusan Nomor satu telah terpental mundur sampai tiga tindak.

Utusan Raja Akherat bersama Kong Jie dan Tio Lee Tin, segera berdiri bahu membahu dengan membuat lingkaran segi tiga yang menghadap keluar.

Diatara dua belas utusan burung laut, dua orang telah terluka terkena pukulan Tay- im-Ciang, saat itu yang terakhir disebut sedang bersemadi untuk mendesak keluar hawa dingin yang mengeram dalam tubuh mereka.

Sepuluh orang utusan yang lainnya. setelah bersangsi sejenak lain membagi2 tugas. terpilihnya empat orang yang paling kuat diantara mereka untuk menghadapi Utusan Raja Akherat seorang tiga orang untuk menghadapi Tio Lee Tin dan tiga orang lagi untuk menghadapi Kong Jie.

Yo Cie Cong pada saat itu tengah mengerjakan keras pikirannya.

Menurut pantas dengan memandang hubungannya sendiri dengan orang yang berkedok kain merah. seharusnya ia turut campur tangan membantu pihaknya burung laut.

Tetapi sebaliknya, sebelas orang utusan burung laut itu dalam kalangan Kang-ouw merupakan orang yang cukup punya nama Apalagi hal ini ada mengenai pemberesan dalam partai sendiri, jika ia turut campur tangan. sedikit banyak tentu ada kurang pantas juga.

Disamping itu, karena bendera burung laut sendiri sudah muncul. maka dengan sendirinya pemiliknya pun, si orang berkedok kain merah pasti akan segera muncul. Hanya ia tidak mengerti, mengapa pemilik bendera itu sekarang masih belum mau unjukkan diri juga ?

jikalau hari ini Tio Lee Tin, murid yang murtad itu tidak bisa dibawa balik untuk diberi hukuman sebagaimana mestinya, maka nama baik yang begitu gilang gemilang dari orang berkedok kain merah itu, pasti akan runtuh karenanya.

selagi pikirannya masih me-layang2 jauh keangkasa, dilain pihak orang2 sudah mulai bergerak.

Empat orang utusan burung laut yang ditugaskan menghadapi Utusan Raja Akherat, meskipun semuanya merupakan tenaga2 pilihan. tetapi dalam menghadapi ilmu pukulan Tay-im-Ciang yang hebat dan ganas dalam rimba persilatan, agaknya juga merasa kewalahan.

Dua rombongan lainnya, yang masing2 menghadapi Tio Lee Tin dan Kong Jie, sebab pihak lawannya berdiri bahu membahu dengan saling membelakangi, asal mereka tujukan perhatiannya kemuka, masing2 tidak memikirkan dapat dibokong, maka sudah cukuplah untuk menghadapi musuh yang betapa kuatnya pun juga.

Waktu sedetik demi sedetik telah berlalu, Pertempuran dari dua pihak telah berlangsung terus secara demikian. Tetapi sudahlah nyata, jikalau Utusan Raja Akherat mau turun tangan benar2 dipandang dari sudut ilmu pukulannya Tay-im-Ciang, sudah tentu pihaknya utusan burung laut yang akan dirugikan.

Di dalam otaknya Yo Cie Cong timbul semacam pikiran: "Mengapa aku tidak unjukan diri sebagai pemilik Golok Maut? orang im-mo-kauw itu tujuannya memang khusus hendak menyelidiki dirinya pemilik Golok Maut, jikalau aku turun tangan, bukankah cukup beralasan? Berbareng dengan itu, aku juga bisa terus menyelidiki apa sebabnya Im-mo-kauw telah menggunakan segala daya upaya untuk menghadapi pemilik Golok Maut?"

Setelah berpikir demikian, dengan cepat ia lantas bertindak. selagi semua orang tengah asyiknya bertempur, diam-diam ia lantas angkat kaki untuk menghilang.

Tetapi, Utusan Raja Akherat yang ternyata bermata jeli, mendadak berseru: "sahabat, kau jangan pergi. Urusan diantara kita masih belum dibereskan."

Yo Cie Cong tidak mau berhenti, hanya mulutnya saja yang menyahut: "banyak kesempatan.

Kau tunggu saja."

Ketika ucapan yang terakhir itu masuk dalam telinga Utusan Raja Akherat. Yo Cie Cong sudah tidak kelihatan bayang2nya

Yo Cie Coag menyingkir kesuatu tempat tersembunyi yang terletak kira2 seratus tombak lebih dari tempat mereka bertempur. Dengan menggunakan ilmu merubah wajahnya yang didapatkan dari kawan kecilnya si Pengemis sakti kecil wajah Hitam, sebentar saja ia sudah menjadi seorang pemuda yang berwajah hitam legam yang sangat jelek.

Selesai merubah wajahnya, Yo Cie Cong hendak balik lagi. Tiba2. dibelakangnya terdengar suara angin halus menyampok rumput.

suara sambaran angin dengan keresekan rumputnya yang halus itu, kecuali Yo Cie Cong yang kepandaiannya sudah bisa menangkap suara dalam jarak sepuluh tombak. untuk orang lain, sudah pasti tidak dapat mendengarnya.

Dengan cepat ia lantas lompat melesat sejauh tiga tombak ketika ia balikan tubuhnya, dilihatnya didepannya sudah berdiri pemilik bendera burung laut, orang berkedok kain merah.

Yo Cie Tiong belum lagi membuka mulutnya, orang berkedok kain merah itu sudah berkata padanya: "Anak. apa kau hendak turut campur tangan dalam urusan muridku yang murtad itu ?"

Yo Cie Cong lantas menjawab dengan anggukan kepala: "Ya. Tetapi boanpwee dengan orang- orang Im-mo-kauw juga masih ada lain urusan"

"Urusan apa ?"

"Hendak mencari tahu apa sebabnya perkumpulan itu terus-terusan mencari pemilik Golok Maut."

"Im mo-kauw tumplekan seluruhnya kekuatannya untuk menghadapi kau seorang ?" "Ya. Menurut apa yang boanpwee tahu, pertama adalah ketika boanpwee muncul lagi

dikalangan Kangouw, dengan peranan sebagai suhu boanpwee, yaitu pangcu dari Kam-lo-pang orang2 Im mo-kauw pernah menyiarkan berita bahwa pemilik Golok Maut itu bukannya pangcu Kam-lo-pang asli. Tentang kematian suhu, dikalangan Kangouw. kecuali pembunuhnya sendiri, barangkali tidak ada lain orang yang tahu. Tetapi perkumpulan itu sekarang sudah berani menentukan secara begitu pasti, terang bahwa soal ini tentunya tidak begitu sederhana. Dan lagi, orang2 pilihannya yang diutus beberapa kali keluar untuk mengejar pemilik Golok Maut, diantaranya sekarang ini, adalah Utusan Raja Akherat yang merupakan Kauwcu muda dari perkumpalan itu sendiri"

Orang berkedok kain merah anggukan kepala.

"Perkumpulan im-mo-kauw dalam hari2 belakangan ini kelihatannya makin meluas pengaruhnya. Keributannya ada mengandung maksud hendak menjagoi rimba persilatan didaerah Tionggoan. siapakah kauwcunya sampai sekarang masih merupakan suatu teka-teki, tetapi dalam dugaanku, pasti dia adalah salah satu iblis yang bukan sembarangan." Yo Cie Cong mendadak mengalihkan pembicaraannya kelai nsoal. "Mengapa nona Tio masuk jadi anggota Im mo-kauw ?"

orang berkedok kain merah itu agak sangat terharu. Lama sekali baru ia dapat menjawab: "Hal ini juga aku belum tahu jelas, Mungkin ia telah kepincuk oleh kepandaian dan kecakapan Kauwcu muda, yaitu Utusan Raja Akherat. Disamping itu, mungkin juga lantaran gagalnya ia dalam asmara."

"Gagal dalam asmara ?"

"Ya. Itulah karena kau, anak."

"Karena Boanpwee?" tanya Yo Cie Cong kaget. "Benar."

"Tetapi. boanpwee sedikit pun tidak mengetahui soal itu."

"Sejak itu hari, ia terluka ditangannya si siluman Tengkorak Lie Bok Thong dan ditolong olehmu dengan jalan mengurut seluruh Badannya, diam2 ia sudah mencintai kau. Ia juga pernah minta aku membereskan soal ini. Pada saat itu aku juga sudah menyanggupi hendak memberikan bantuanku padanya."

Yo Cie Cong terdiam. Ia tidak dapat mengutarakan pikiran apa2.

orang berkedok kain merah itu lalu berkata pula: "Tetapi, sejak aku mengetahui rahasiamu, aku lantas tidak menyetujui lagi ia menikah dengan kau. Disatu pihak karena ayahnya telah binasa ditangan suhumu, permusuhan diantara kalian tentu masih ada. jika kemudian hari ia mengetahui kejadian sebenarnya, barangkali akan merupakan bencana dan bukannya bahagia lagi. Dilain pihak. Bocah itu terlalu dalam perasaan dendamnya terhadap musuh ayahnya. Ia terus berdaya upaya untuk menuntut balas. Tabiatnya juga suka membawa caranya sendiri"

Terhadap perhatian yang dicurahkan padanya sampai begitu dalam dari seorang berkedok kain merah ini, Yo Cie Cong merasa terima kasih yang sangat, maka saat itu ia menghela napas panjang.

"Sekalipun tidak ada sebab2 itu semua, boanpwee juga tidak bisa mencintakan dia." "Kenapa?"

"Lebih dulu boanpwee telah berkenalan dengan seorang gadis yang bernama siangkoan Kiauw.

Dalam perjalanan boanpwee ke Lam-hay. dia telah binasa karena badai mengamuk. Karena ini boanpwee telah bersumpah bahwa seumur hidup boanpwee tidak akan kawin kepada perempuan lain lagi."

"Tapi, anak. pepatah kuno ada kata, orang tidak berbakti itu ada terbagi dalam tiga soal. Dan soal tidak punya keturunan itulah yang paling utama "

"Boanpwee sangat berduka bila mengingat akan keadaan diri boanpwee sendiri, sampai saat ini boanpwee masih belum mengetahui asal-usul dan nama sendiri ..."

Badan orang berkedok kain merah itu kelihatan tergetar, lama ia tidak dapat berkata apa.

Dalam hati kecilnya ia berkata: "Apakah harus kuberitahukan padanya? Tidak. tidak boleh. jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, barangkali ia akan tidak punya muka lagi tancap kaki didunia Kangouw. Ini akan berarti rusaklah penghidupannya. Tidak boleh. Biarlah aku sendiri yang menanggung penderitaan ini."

"Anak. kau jangan begitu bersusah hati. Tentang dirimu, pasti ada suatu hari kau akan tahu sendiri"

"Ya, terima kasih atas perhatian Cianpwee."

"Anak, aku sekarang mau pergi dulu. Dua belas utusanku itu barangkali tidak bisa berbuat banyak."

"Bagaimana Cianpwee hendak bereskan soalnya nona Tio ?" "Ngng, tentang ini, kau boleh lihat sendiri nanti."

Sehabis mengucapkan perkataannya, si orang berkedok kain merah lantas menghilang dari depan matanya Yo Cie Cong. Yo Cie Cong juga lantas mengikuti dibelakangnya. Didalam medan pertempuran saat itu sudah ada beberapa orang dari pihaknya utusan burung laut yang terkena pukulan ilmu Tay-im-Ciang Utusan Raja Akherat, sehingga banyak sudah yang mundur dalam keadaan terluka.

sedangkan Tio Lee Tin, kelihatan sedang berdiri berdampingan dengan si Pedang Berdarah Kong Jie.

Utusan Raja Akherat dengan mengandalkan ilmu pukulan Tay-im-Ciang yang sangat ganas dan yang bukan segala macam ilmu pukulan lainnya dapat menandinginya, dengan seorang diri melayani tujuh orang utusan burung laut. tetapi tetap kelihatannya ia berada diatas angin.

Sejak bendera burung laut muncul, ini adalah untuk pertama kalinya mengalami kekalahan hebat.

Utusan Raja Akherat dengan tidak ber-henti2nya ketawa dingin kelihatannya sangat bangga dan jumawa sekali.

Dengan seorang diri ia dapat menjatuhkan lawan2nya yang semuanya terdiri dari orang2 kuat. bahkan sampai begitu banyak jumlahnya, kepandaiannya itu cukup sudah boleh dibuat bangga dalam kalangan Kang ouw.

Tio Lee Tin terus kerutkan alisnya, ia tahu, bahwa orang berkedok kain merah akan segera unjukan diri

Utusan Raja Akherat, meskipun masih mampu menjatuhkan dua belas utusannya, tetapi barangkali masih belum mampu menandingi orang berkedok kain merah. Pada saat itu, dimedan pertempuran itu mendadak sudah bertambah satu orang.

seorang yang memakai kedok kain merah, setelah mencabut bendera burung laut yang menancap ditanah, kelihatan berdiri tegak di tengah lapangan-

tujuh orang utusan burung laut yang sedang bertempur, dengan cepat lantas undurkan diri semuanya membungkukan diri dihadapan orang berkedok kain merah itu, salah seorang

diantaranya, ialah si Nomor satu, lantas berkata dengan sikapnya yang sangat menghormat: "Teecu sekalian tidak berguna, tidak bisa menyelesaikan tugas yang suhu berikan, maka disini

teecu sekalian bersedia menerima hukuman suhu." orang berkedok itu kibaskan tangannya ia tidak berkata apa2. tujuh orang utusan itu tadi, telah mundur dengan berbareng.

Saat itu, Tio Lee Tin merasakan debaran keras didadanya. Ia merasa bersalah telah mengkhianati perguruannya sendiri dan sekarang harus berhadapan dengan suhunya, entah bagaimana merasa hatinya pada saat itu. Hanya kelihatan perubahan wajahnya saja, yang sebentar merah dan sebentar pucat.

Utusan Raja Akherat dan Kong Jie, sesaat lamanya juga pada berdiri kesima.

orang berkedok kain merah itu dengan suara rendah dan berat berkata kepada muridnya. "Tio Lee Tin, aku menyesal tidak hati2 menerima murid, sehingga terjadi peristiwa hari ini,

Melihat bendera perintah, kau masih tidak ambil perduli, bahkan berani turun tangan melawan suhengmu. Ini sudah nyata, bahwa kau tidak ada maksud bertobat atau menyesal atas perbuatanmu."

Pada saat itu, Utusan Raja Akherat agaknya sudah dapat menangkap maksud perkataannya orang berkedok kain merah itu maka lantas memotong, "Nona Tio sekarang sudah menjadi anggota perkumpulan Im mo-kauw. Aku, sebagai Kauwcu muda perkumpulan kami, ada kewajiban untuk melindungnya. siapapun tidak akan kuijinkan menyentuh selembar rambutnyapun juga."

"Tutup mulut. Dihadapanku, kau tidak boleh jual lagak" bentaknya orang berkedok kain merah itu.

"Ha.. ha...Apa tuan anggap diri tuan sendiri sudah terlalu hebat?"

"Ini adalah urusan partai kami yang hendak menghukum muridnya yang berkhianat. Tidak perlu kau turut banyak bicara."

"Tetapi, murid yang berkhianat yang tuan maksudkan, justru adalah anggota perkumpulan kami. Harap tuan suka pikir masak2 lebih dulu." Orang berkedok kain merah itu lantas tertawa ter-bahak2 sambil dongakkan kepala, kemudian berkata: "Dimana bendera perintah burung laut sampai, tak boleh seorang pun yang menentangnya."

Sehabis berkata, tubuhnya tiba2 menghilang......

OOOOOO OOOO OOOOOO

TIBA2 suara jeritan terdengar melengking memecahkan suasana kesunyian. orang berkedok kain merah itu kembali menampakkan diri ditempatnya semula.

Tetapi didepan kakinya, kini sudah ada satu orang yang bukan lain daripada Tio Lee Tin sendiri Kepandaian serupa itu, benar2 membuat Utusan Raja Akherat dan Kong Jie pada kaget dan

merasa jeri.

Mereka benar2 tidak dapat melihat bagaimana caranya Tio Lee Tin telah dapat dikuasai dalam waktu sekejap saja.

Utusan Raja Akherat yang menyaksikan keadaan demikian, hatinya sangat gelisah.

Ia lalu berkata kepada orang berkedok kain merah dengan suara keras: "Bagaimana tuan hendak membereskan soal nona Tio Lee Tin ?"

"Tidak perlu kau turut campur urusan."

"Dia adalah salah satu anggota perkumpulan kami."

"Ha, ha Kami hanya tahu bahwa dia adalah murid yang mengkhianati perguruan kami"

"Tuan tidak segan bermusuhan dengan Im mo-kauw ?"

"ucapanmu ini cuma boleh dipakai untuk menggertak orang lain, dihadapanku sebaiknya kau jangan bawa2 nama begituan."

Wajahnya Utusan Raja Akherat memucat seketika. Ia berkata pula sambil maju dua langkah. "Tuan mengaku telah bermusuhan dengan perkumpulan kami ?"

Orang berkedok merah itu ketawa dingin. " Kalau benar bermusuhan, mau apa?"

"Im- mo-kauw selamanya tidak pernah membiarkan musuhnya berdiri sama satu bumi." "Hmmm " .

Kong Jie yang sejak tadi berdiri menonton saja, tiba2 menghunus pedangnya yang lantas dikibaskan dengan keras. ujung pedang yang sudah berwarna merah darah lantas dikibaskannya dengan keras. ujung pedang yang sudah berwarna merah darah lantas berubah panjang tiga kaki.

sambil ketawa dingin Kong Jie lalu maju menghampiri dua belas orang Utusan burung laut. suasana disitu tampaknya sudah dipengaruhi oleh napsu pembunuhan.

Dua belas orang utusannya burung laut kenal betul kejahatan dan kekejaman si Pedang Berdarah itu, maka masing2 lantas menyedot hawa menutup jalan napasnya masing2 untuk mencegah jangan sampai racun yang dikibaskan oleh Kong Jie itu masuk kedalam badan mereka.

Maka kecuali tindakannya seperti apa yang tersebut tadi, mereka juga sudah bersiap sedia menantikan segala kemungkinan.

Raja Akherat memperlihatkan ketawanya yang menyeramkan, mendadak ia menyerang pada orang berkedok kain merah.

orang berkedok kain merah itu ternyata tidak mau mengegos atau berkelit, ia masih berdiri tegak ditempatnya.

Angin dingin yang dapat menusuk tulang telah menyambar datang. Badannya orang berkedok kain merah itu kelihatan ber-kibar2. Tetapi orangnya kelihatan masih tetap berdiri tanpa bergeming.

Ternyata ia sedang menyambuti serangan ilmu pukulan Tay-im-Ciang yang terkenal sangat ganas.

Utusan Raja Akhirat terperanjat sekali. Lantas berpikiri " orang ini berani menyambuti seranganku yang memakai delapan bagian kekuatanku, ternyata tidak mempengaruhi apa2 atas dirinya. Kelihatannya ia ada mempunyai ilmu kebal yang dapat diandalkannya. Hari ini mungkin sulit untuk menggondol kemenangan," Kong Jie mengerahkan seluruh kekuatannya. Ketika pedangnya diayunkan, diantara berkelebatnya warna merah, bau harum menyambar kearah dirinya dua belas orang utusan burung laut.

Mereka ada orang2 yang berkepandaian tinggi. Ditambah lagi mereka sudah mengetahui sifat ganasnya Kong Jie, maka masing2 sudah menutup jalan darahnya, hingga serangann bau harum itu tidak ada gunanya. Kemudian, mereka melancarkan serangan berbareng.

Ketika melihat datangnya serangan gabungan yang se-olah2 gelombang menggulung ketepi pantai dengan hebatnya, sudah tentu Kong Jie tidak berani menyambuti. Dengan cepat ia mengegos dan lompat melesat sejauh satu tumbak lebih. baru terluput dari serangan dua belas lawannya.

Orang berkedok kain merah setelah menyambut serangannya Utusan Raja Akherat, lalu terdengar ia mendumal sendiri, kemudian membuka totokannya Tio Lee Tin.

Tio Lee Tin menghela napas panjang. ia berdiri sempoyongan. ia tidak berani memandang suhunya, hanya berdiri saja tundukan kepala, hatinya kacau tidak karuan. ia tidak berani membayangkan nasibnya kemudian yang akan dialaminya.

orang berkedok kain merah itu dengan menekan perasaan hatinya sendiri lama baru berkata. "Tio Lee Tin, sejak hari ini kau sudah bukan anak murid kami lagi. Aku tidak akan berbuat

keterlaluan- Biarlah kuberi hukuman se-ringan2nya. Aku usir kau dari perguruan kami. selanjutnya, apabila aku dengar kau berani berlaku dan berbuat tidak karuan di dunia Kang-ouw, kau akan menerima hukuman seperti apa yang aku pernah lakukan ierhadap manusia busuk dari dunia Kang-ouw."

sehabis berkata, tangannya lantas dikibaskan dan terus meninggalkan tempat tersebut.

Tindakan itu lantas diikuti oleh kedua belas anak buahnya. Dengan demikian, peristiwa pengkhianatan terhadap perguruan telah selesai dibereskan-

Tio Lee Tin setelah berlalunya sang bekas suhu, air matanya dengan tidak dapat dibendung lagi sudah mengalir deras. Entah karena merasa menyesal, atau karena merasa sangat senang karena mendapatkan hukuman begitu ringan-

Utusan Raja Akherat maju beberapa tindak. sambil mengusap pundaknya Tio Lee Tin ia berkata:

"Adik Tin, kau tidak perlu kesal. Ada suatu hari, pasti aku nanti bisa cari orang berkedok kain merah itu untuk menagih rekening ini.

Tio Lee Tin menghela napas, kepalanya didongakkan, air matanya mengembeng. Ia mengawasi Utusan Raja Akherat, per-lahan2 ia bersenyum.

Kong Jie tiba2 menanya pada Utusan Raja Akherat, "siao Kauwcu, kita sekarang harus menuju kemana?"

"Sebaiknya kita berjalan menurut rencana semula, Pemilik Goiok. Maut setelah membasmi Cie in-pang, ada kemungkman besar akan muncul ditempat ini."

"Kabarnya orang yang menyebut dirinya sebagai pemilik Golok Maut kedua itu adalah seorang pemuda yang jelek mukanya, tetapi kepandaiannya masih lebih tinggi dari pada kepandaiannya pemilik Golok Maut yang sudah dibinasakan oleh Liat- yang Lokoay. Ini benar2 merupakan suatu hal yang sukar dimengerti."

"Perduli apa sama dia. Perintah Kauwcu adalah, tidak perduli dengan cara apa saja kita harus dapat membinasakannya."

"Kulihat, jika kita hendak membinasakannya, dengan kekuatan kita saja, barangkali." "Ha...haa Kong Tiancu, betapa pun ganasnya pemilik Golok Maut, barangkali juga tidak

mampu menandingi ilmu pukulan Tay-im-Ciang ku ini. Kau terlalu mengukur tinggi kepandaian orang. seorang seperti pemilik Golok Maut, jika kita tidak mampu membasminya, jangan harap perkumpulan kita bisa menjagoi rimba persilatan daerah Tionggoan."

"Betul, tetapi begaimana kesan siao Kauw-cu terhadap kekuatan anak muda muka dingin yang belum lama berselang pergi menggagalkan kita?" "Aku dengan dia belum mengadu tenaga benar2. tetapi barangkali juga susah lolos dari tanganku dalam waktu sepuluh jurus."

Kong Jie yang ber-kali2 mengalami kekalahannya, kesombonganya pun mulai berkurang dengan sendirinya. Ketika mendengar Perkataan siao Kauwcunya. ia hanya anggukan kepala sambil bersenyum.

Pada saat itu dari jauh tiba2 terdengar suara orang ketawa ingin yang kemudian disusul dengan perkataannya yang tidak kalah dinginnya: "omong besar tidak tahu malu"

Ketiga orang itu terperanjat. Mereka celingukan kesana kemari, tetapi tidak dapat melihat bayangan seorang pun juga.

Utusan Raja Akherat membalas dengan perkataannya yang dingin pula: " Kalau berani, boleh unjukan muka, Buat apa main sem-bunyi2?"

"Kau sendiri yang ada mata seperti orang buta. siapa yang kau katakan sembunyi?" suara itu datangnya dari belakangan ketiga orang ini. Mereka dengan cepat membalikan badannya.

Disuatu tempat kira2 tiga tombak jauhnya dari mereka, se-olah2 lakunya hantu, muncul seorang pemuda berwajah hitam yang jelek sekali.

Pemuda itu meskipun wajahnya sangat jelek, tetapi matanya bersinar tajam. dengan tidak berkedip matanya mengawasi ketiga orang itu.

Hanya dengan caranya memperlihatkan diri yang demikian tiba itu saja, dapat diduga kalau pemuda itu bukan orang sembarangan-

Kong Jie yang terlebih dulu membuka suara. "Tuan dari golongan mana?" "Aku adalah orang yang sedang kalian cari itu."

jawaban itu membuat tiga orang itu tercengang, sehingga masing2 pada berpikir. "Mungkinkah dia "

Pemuda jelek itu dengan sikap menghina berkata pula: "Apa kalian benar2 tidak kenal aku?" Ketiga orang itu belum lagi menjawab, pemuda jelek itu sudah menyambung: "Tetapi aku,

sebaliknya kenal betul kalian siapa, He, ha Utusan Raja Akherat Kauwcu muda dari Im-mo-kauw.

Pedang berdarah Kong Jie tiancu bagian hukum dari Im-mo-kauw juga. si Burung Hong Hitam,

Tio Lee Tin- Bekas murid orang berkedok kain merah. yang sudah diusir dari perguruannya. Bagaimana? Betul tidak? Ha ha ha "

Pemuda jelek itu dengan sekaligus telah menyebutkan nama serta kedudukan ketiga orang itu, se-olah2 sudah kenal benar dengan mereka, sudah tentu hal itu membuat mereka menjadi heran.

Utusan Raja Akherat yang wataknya memang sombong, lantas berkata: "Bocah jelek. Kau sebetulnya dari golongan mana?"

"Ha. ha.,.. Kalau aku sebutkan, kau jangan takut."

"omong kosong Kauwcu mudamu belum pernah berjumpah dengan orang yang ditakuti, apalagi segala orang macam kau"

"Kalau begitu, hari ini, biarlah kau ku ajar kenal" "Kau sebetulnya siapa ?"

" Lihat ini" sembari berkata, pemuda itu sudah mengacungkan sebuah golok berkilauan yang aneh bentuknya.

"Golok Maut " seru si Pedang Berdarah Kong Jie, wajahnya lantas berobah seketika.

Begitu suara "Golok Maut" itu keluar dari mulut Kong Jie. Utusan Raja Akherat lantas berubah wajahnya. Dengan tanpa disadari dua jago Im-mo-kau itu mundur satu tindak dan mengawasi pemuda itu dari atas sampai kebawah dan dari bawah keatas.

sungguh tidak disangka, pemilik Golok Maut yang begitu menakutkan.ternyata hanya seorang pemuda jelek lagi rupanya.

Utusan Raja Akherat setelah menenangkan pikirannya, lalu berkata: "Apakah kau ini adalah pemilik Golok Maut yang kedua ?"

"Benar."

"Kedatanganmu sangat kebetulan, sehingga tidak perlu tuanmu mencari kau ke-mana2." "Ha, ha Aku juga merasa senang bisa berjumpa dengan kalian- Mungkin inilah yang

dinamakan jodoh." sehabis berkata, disimpannya kembali Golok Mautnya.

Diwajahnya Tio Lee Tin pada saat itu, nyata benar napsu membunuhnya. Ayahnya sendiri, Tio Ek Chiu, telah binasa ditangannya Golok Maut. Meskipun Pemilik Golok Maut itu barangkali bukan pemilik Golok Maut yang sekarang ini, tetapi rasa benci dan permusuhannya masih belum juga padam, maka ia maju selangkah. dan berkata nyaring: "lblis hutang jiwa pemilik Golok Maut dulu hendak kuperhitungkan atas dirimu,"

"Sudah tentu. sudah tentu, he he cuma saja, aku mau tahu, kau mampu tidak menagih

hutang itu."

Tio Lee Tin menggeram hebat. Pedangnya tiba2 keluar dari serangkanya.

selagi Tio Lee Tin hendak menyerang, tiba2 Utusan Raja Akherat mencegah dan berkata padanya: "Adik Tin, sabarlah dulu. Aku mau bicara dulu sebentar dengannya."

Terpaksa Tio Lee Tin menyimpan kembali pedangnya, rasa gusar masih me-luap2-.

Utusan Raja Akherat setelah perlihatkan wajahnya dan ketawanya yang seram, lantas berkata "Siapa nama tuan yang mulia?"

"Pemilik Golok Maut yang kedua." "Aku menanya namamu "

"Ha ini tak perlu kau tahu."

"Hmmn, kali ini kupersilahkan tuan datAng keperkuMpulAn kami sEbentar." "jika kurasa perlu, tIdak usAh kau undang juga aku bisa datang sendiri." "Apa yang tuan maksudkan dengan perkataan, perlu itu?"

"jawab dulu pertanyaanku " "Silahkan tanya"

"Perkumpulanmu beberapa kali telah mengutus orang kuat untuk menghadapi aku se-orang, apa sebabnya?"

Utusan Raja Akherat setelah merasa heran sejenak, diwajahnya terlintas suatu perasaan aneh, ia berkata dengan suara dingin, "jikalau kau sudi ikut keperkumpulan kami sebentar, kau akan segera dapatkan jawaban yang dikehendaki."

"Aku mau detik ini juga dapatkan jawaban itu," "Tidak bisa."

"Mesti bisa "

"Begitu juga. Kauwcu mudamu menghendaki kau segera ikut keperkumpulan sebentar" "orang seperti kau masih belum pantas mengucapkan perkataan demikian "

"Haha. pemilik Golok Maut Kau kira apa hari ini kau bisa lolos dari tangan kami?" "Aku bebas kemana saja, tak seorang pun yang mampu merintangi "

"Kau yakin sepenuhnya ?" "sudah tentu "

"Coba lihat saja"

"Sekarang aku masih belum ingin pergi, kau masih belum menjawab pertanyaanku"

Utusan Raja Akherat kembali maju dua langkah, sambil ketawa menyengir ia berkata: "Kau tidak bisa mendapat jawaban, lebih baik kau ikut kami saja"

"Kau tidak mau menjawab?" "Benar "

"Kalau begitu aku beritahukan padamu, untuk selanjutnya, jika orangnya Im mo-kauw bertemu dengan aku, semua akan kukirim ke- akherat sampai aku mendapat jawaban"

"Barang kali kau sudah tidak punya kesempatan itu lagi" berbareng ia lantas melancarkan satu serangan-

Yo Cie Cong ketawa dingin, Ilmunya Liang kek Cin-goan segera meliputi dirinya, dengan tegak ia masih berdiri di tempatnya. Ia memang sengaja hendak mencoba kekuatannya Liang kek Cin- goan. "Duk" suara keras dari benturannya kedua macam kekuatan tenaga dalam telah terdengar nyaring. Utusan Raja Akherat terpental mundur sampai dua langkah.

Kejadian yang sangat langka ini, bukan cuma si Utusan Raja Akherat sendiri yang merasa kaget, sedang si Pedang Berdarah Kong Jie dan Tio Lee Tin yang menyaksikan disamping juga turut terheran- heran.

Tay-im-Ciang sebetulnya termasuk ilmu pukulan tenaga 'Im', kalau keluar sedikitpun tidak ada suaranya. hingga bisa melukai lawannya tanpa terlihat. Tidak nyana serangannya Utusan Raja Akherat itu bukan saja tidak mampu melukai pihak lawannya, sebaliknya masih dibikin terpental oleh kekuatan daya pelindung dari pihak lawan, selain daripada itu, juga ada mengeluarkan suara benturan begitu nyaring, ini benar2 bukan hal yang tidak bisa dimengerti. Kalau begitu, apa yang tersiar diluaran ternyata tidak bohong, kekuatan ilmunya pemilik Golok Maut, entah mencapai ketingkat yang sudah tidak ada taranya.

Karena serangannya sudah tidak berhasil merubuhkan lawannya, Utusan Raja Akherat lama2 kertak gigi, dengan kekuatan tenaga sepenuhnya, kembali melancarkan serangannya yang kedua.

Serangan yang menggunakan tenaga sepenuhnya itu, sesungguhnya ada hebat luar biasa, kecuali suara mendesirnya angin yang diterbitkan oleh serangan tersebut, ditempat sekitar 10 tumbak juga penuh hawa dingin yang menusuk tulang.

Yo Cie Cong yang menyaksikan hebatnya serangan itu, juga tidak berani terlalu gegabah, ia telah pusatkan ilmunya Liang Kek Cin-goan sampai beberapa bagian.

pada kedua tangannya saat itu lantas terlihat asap warna pulih dan merah yang keluar meliputi sekujur badannya.

Kembali terdengar suara benturan keras yang amat nyaring, Utus Raja Akherat tubuhnya nampak sempoyongan mundur sampai 5 langkah.

Ilmu Tay im-Ciangnya yang ia lancarkan dengan tenaga sepenuhnya. ternyata sudah dibikin buyar oleh kekuatan tenaga ilmu Liang kek Cin-goan., dan serangannya yang membalik-balik hampir saja membuat ia muntah darah. Namun Yo Cie Cong sendiri juga sudah terpental mundur setengah tindak.

Mengadu kekuatan tenaga untuk kedua kalinya ini. telah membuat ber-debar2 hatinya Kong Jie dan Tio Lee Tin yang menonton disamping.