Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 13

Jilid 13

SEBALIKNYA, bagi Yo Cie Cong saat itu hatinya merasa tidak keruan, sebab hatinya sendiri seperti sudah mengikuti Siang-koan Kiauw, maka pada saat itu sesungguhnya ia tidak tahu bagaimana harus membereskan persoalan ini di kemudian hari.

Sejenak ia berdiri dalam keadaan bingung, tetapi kemudian lantas berpikir: "Masih banyak urusan lagi yang harus kubereskan, sebaiknya aku harus lekas meninggalkan tempat ini."

Tetapi, biar bagaimana ia merasa tidak enak terhadap Ut-tie Kheng. Meskipun perbuatannya itu dilakukan semata-mata karena hendak menyembuhkan penyakitnya saja, tapi merupakan suatu tindakan yang luar biasa, karena dua badan sudah bersentuhan begitu rupa, untuk dirinya Ut-tie Kheng sebagai seorang gadis yang masih suci murni, sudah tentu merupakan satu hal yang kurang pantas. Tampaknya soal ini akan membawa buntut panjang.

Oleh karena pikirannya itu, maka ia lantas berkata kepada Pho ngo Hweshio:

"Locianpwee, boanpwe masih mempunyai beberapa soal penting yang harus dibereskan, maka boanpwee ingin..."

"Apa ? Bocah, apa kau tidak bersedia menemui Lam Tie si tua bangka ?"

Sementara itu, Ut-tie Kheng yang mendengar perkataan Yo Cie Cong, hatinya merasa berduka, maka ia lalu bertanya:

"Engko Cong, kau hendak pergi kemana?"

"Adik Kheng, urusanku masih banyak yang belum diselesaikan. Kemana aku pergi belum dapat diketahui." "Bolehkah aku pergi ber-sama2 dengan mu?" tanya si nona. Yo Cie Cong merasa serba salah, lama ia tidak bisa menjawab.

Ut-tie Kheng yang menyaksikan keadaan demikian lalu menghela napas dan berkata dengan suara murung: "Pergilah "

"Adik Kheng, setelah urusanku selesai, aku akan mencari kau lagi. Masih ada perkataan penting yang hendak kujelaskan padamu."

"Hm."

Phoa ngo Hweshio lalu berkata sambil mengamati Ut-tie Kheng.

"Budak. ada aku si hweshio, dia tidak akan bisa terbang kemana, sebaiknya kau ikut aku dan menemui engkongmu jangan sampai engkong mu menjadi kebingungan tidak keruan. Mengertikah kau?"

Kemudian ia berkata kepada Yo Cie Cong:

"Bocah apakah kau masih ingat urusan yang dibicarakan oleh Lam tie si tua bangka kepadamu?.."

Yo Cie Cong setelah berpikir sejenak, lalu menjawab:

"Apakah mengenai soal yang jiwie lo-cianpwee suruh boanpwee mewakili lo-cianpwe berdua menepati janji melakukan pertandingan dengan muridnya manusia gaib itu?"

"Benar"

"Hal ini tentu boanpwee tidak akan lupakan"

"Bagus Kau tunggu kabarnya saja. Kalau sudah sampai waktunya, nanti kuberitahukan lagi padamu."

Yo Cie Cong yang pikirannya sedang kalut, agaknya sudah tidak bisa menunggu terlalu lama lagi.

Sebetulnya ia cinta pada Ut-tie Kheng, tetapi rasanya tidak dapat mewujudkan cintanya itu. Namun, kenyataan yang telah terjadi membuat ia tidak berdaya untuk mengatur dirinya sendiri, maka akhirnya ia telah mengambil keputusan untuk menyerahkan peruntungannya kepada sang nasib. Ia sangat kasihan pada Ut-tie Kheng, ia berkata: "Adik Kheng, harap kau jaga dirimu baik2 sampai kita bertemu lagi." Kemudian ia berkata kepada Phoa-ngo Hweeshio sambil memberi hormat se-dalam2nya:

"Locianpwee, boanpwee ingin minta diri dulu." sehabis berkata dengan tidak menantikan jawaban orangtua itu ia sudah lantas berlalu.

sambil menahan mengalirnya airmata Ut-tie Kheng mengawasi berlalunya sang "Kekasih" itu sampai lenyap dari depan matanya. sebenarnya ia masih mempunyai banyak perkataan yang hendak dikatakan, tetapi oleh karena terhalang dengan adanya Phoa ngo Hweshio disitu, ia tidak berkesempatan menyampaikan isi hatinya. Dan sekarang sang " kekasih" itu sudah pergi meninggalkannya.

Ia seperti merasa sangat penasaran, rasa pedih dan duka telah mempengaruhi pikirannya, maka dengan tidak sadarkan diri ia lantas menangis sesenggukan seperti anak kecil.

"Budak.tak usah menangis, kita juga harus pergi sekarang, jangan sampai engkong mu menunggu terlalu lama." kata Phoa-ngo hweshio.

Ia lalu menarik tangannya Ut-tie Kheng dan berlalu menuju kota Tiang-soa.

Yo Cie Cong setelah meninggalkan phoa ngo Hweshio dan Ut-tie Kheng, semangatnya mendadak bangun kembali. saat itu dalam hatinya sudah merencanakan tindakan apa ya akan dilakukan selanjutnya, maka dengan tidak ragu2, pula ia terus lari menuju kekota Pho kheng.

-0000000-

BUKIT CIANG TIANG NIA Letaknya disebelah Utara Pho- kheng.

Lembah Cu ngo- kok adalah pusatnya perkumpulan cie inpang. Lembah itu dikitari oleh rimba yang lebat dan bukit-bukit yang menjulang tinggi. Hari itu, masih pagi sekali. seorang pemuda yang wajahnya hitam dan jelek. dengan gerak badannya yang lincah dan gesit seolah-olah melesatnya bintang sapu dari langit lari menuju kepusatnya perkumpulan Cie in pang. siapa adanya pemuda hitam ini ?

Tidak lain dan tidak bukan, pemuda ini adalah Yo Cie Cong sendiri yang sedang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut

Sejak jelmaannya pemilik Golok Maut, yaitu orang tua berambut putih dan bertangan satu binasa ditangannya Liat yang Lo koay di Ciet lie peng, disebelah Timur luar kota Tiang soa, Yo Cie Cong dengan kepandaiannya mengubah rupa yang luar biasa sudah dapat merubah dirinya menjadi seorang pemuda yang sangat jelek untuk menamakan diri didunia Kang ouw. Dengan wajahnya yang baru ini, ia hendak melanjutkan tindakannya untuk menagih hutang jiwa untuk gurunya.

Kala itu, dikalangan Kang ouw pada umumnya orang telah beranggapan bahwa pemilik Golok Maut yang mewakili segala keseraman dan kebuasan itu benar2 sudah binasa ditangannya Liat yang Lokoay, sebab kejadian tersebut sudah disaksikan sendiri oleh orang2 kuat dari pelbagai golongan yang jumlah keseluruhannya hampir seratus orang.

Namun, tidak ada seorangpun yang mengetahui kalau Yo Cie Cong yang sikapnya kecut dingin adalah orangnya yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut,

juga tidak ada seorangpun yang mengetahui kalau Yo Cie Cong sudah hidup kembali dari pelukannya malaekat elmaut.

Marilah kita balik kembali pada Yo Cie Cong yang saat itu sudah menuju keatas bukit tempat adanya pusat perkumpulan cie- inpang.

Tidak antara lama ia sudah sampai disuatu tempat yang terapit oleh dua buah bukit yang menjulang tinggi. Ia tahu bahwa tempat itu sudah mendekati pusatnya perkumpulan Cie-in pang.

Maka, ia lalu mengendorkan tindakan kakinya, dengan tidak ragu2 pula ia terus berjalan masuk ke dalam lembah itu.

Pada saat itu, didalam hatinya hanya ada perasaan benci dan permusuhan, ia sendiri pernah berkata, bahwa terhadap dua Pang dan satu Hwee ia akan menuntut batas secara berlipat ganda. sebab peristiwa yang terjadi ditepinya danau Naga membuat ia merasa bertambah bencinya pada ketiga perkumpulan tersebut.

Diantara ke dua pang dan satu hwee tersebut, Pang-cu dari Ban-sus pang Thio Pan sudah dibinasakan olehnya. Yang tinggal sekarang hanya Cie in pang dan Pek leng hwee Tetapi, ketua Pek leng hwee yang lama sudah tidak ada didalam dunia dan ketua yang sekarang ini, yaitu Cin Bie Nio, permusuhannya sendiri yang tersebut belakangan ini lain lagi sifatnya, maka pangcu Cie in pang lah yang termasuk sebagai musuhnya Kam lo pang yang sebenarnya.

Pada saat itu, dari dalam lembab tiba2 muncul beberapa bayangan orang. sambil berbaris mereka semuanya melintang ditengah jalanan didalam lembah.

sebagai pemimpin dalam barisan orang2 itu adalah seorang tua berhidung betet dan bermata lebar. Dibelakang orang ini berbaris delapan orang yang berbadan tegap semuanya.

Orang tua hidung betet itu setelah berhenti didepannya Yo Cie Cong lalu berkata dengan suaranya yang menyeramkan:

"Ssahabat datang ke perkumpulan kami Cie- inpang, ada urusan apa ?"

Yo Cie Cong yang lantas menghentikan tindakannya telah menjawab dengan suara dingini "Aku hendak menemui pemimpin kalian, Li Bun Hao."

Orang tua itu ketika mendengar pemuda jelek yang tidak terkenal ini telah menyebut nama pangcunya dengan tidak pakai bahasa, untuk sesaat lamanya ia dibikin bingung oleh asal usulnya pemuda ini, tetapi ia masih menanya lagi sambil menahan perasaan gusarnya: "sahabat hendak menjumpai padanya untuk memberi hormat atau ada lain urusan?"

"juga ya, tetapi bukan, terserah pada anggapanmu sendiri" Orang tua itu kembali melongo.

"Apakah sahabat ada membawa kartu nama?"

"Ha ha... Apakah masih memerlukan kartu nama segala ? Tidak ada " "Dan mana sahabat yang mulia?"

"Kalau sudah bertemu dengan Li Bun Hao sendiri, aku nanti bisa jelaskan pada kalian."

"Oleh karena sahabat tidak mau menjelaskan maksud kedatanganmu, maafkan kalau jalanan ini tidak dapat sahabat lalui"

Yo Cie Cong lalu menjawab dengan nada suara yang lebih kaku:

"Apa kalian kira sudah cukup kuat semua orang2 ini melarang aku masuk kedalam lembah?" orang tua itu ketika mendengar perkataan Yo Cie Cong lantas mengetahui kalau anak muda ini

memang sengaja mencari setori, maka ia lalu berkata sambil ketawa mengejek.

"Bocah jelek Disini bukan tempatmu jual lagak. Hari ini kalau kau tidak mau menjelaskan maksud kedatanganmu, jangan harap kau bisa pulang dalam keadaan utuh. Mengerti."

Delapan orang laki2 yang berbadan tegap semuanya yang berada dibelakangnya orang tua itu, semuanya telah memperlihatkan kegusarannya. Dengan tidak menunggu perintah lagi mereka pada menghunus pedang panjang masing2, tampaknya, jika orang tua itu mengeluarkan perintahnya mereka akan segera menyerbu dengan serentak. Dengan sikap yang memandang rendah pada orang itu, Yo Cie Cong berkata pula:

"Hanya dengan mengandal kekuatan beberapa orang saja ini kalian hendak merintangi aku?

Kalian benar2 tidak mengukur diri sendiri"

Delapan orang laki2 tegap itu pada saat mana kelihatannya seperti sudah tidak berdaya sama sekali, mereka hanya bisa berdiri dalam keadaan menggigil.

Dengan suaranya yang dingin Kaku Yo Ci Cong mengucapkan perkataannya sepatah, sepatah. "Diantara kalian delapan orang hanya seorang yang boleh hidup untuk menyampaikan kabar".

Delapan anak buahnya Cie in pang lantas menjadi pucat mukanya seketika, sebab perkataan pemuda jelek ini tidak ubahnya seperti putusan dari Giam-lo ong. sekalipun ingin kabur juga rasanya tidak bisa lagi, sebab dalam segebrakan saja pemuda itu sudah dapat membinasakan salah satu orang kuat, dalam perkumpulannya.

"Kalian ingin bereskan sendiri atau menunggu aku yang turun tangan ?" salah satu diantara kedelapan orang itu coba berkata:

"Tuan memasuki pusat perkumpulan kami apa sengaja mencari setori ataukah..." "Hal ini kau tidak perlu banyak rewel."

"Perbuatan tuan sebetulnya terlalu kejam."

"Hal ini dikemudian hari pangcumu nanti yang akan menjawab kalian di akherat."

Delapan orang itu sudah mengetahui kalau mereka semuanya tidak akan lolos dari kematian, maka seketika itu lantas timbul pikiran nekadnya. setefah satu diantaranya bergerak, yang lainnyapun turut pula bergerak.

Delapan bilah pedang panjang lantas menyerang berbareng kearah badannya Yo Cie Cong.

Sambil ketawa dingin Yo Cie Cong menggerakkan sebelah tangannya, dari mana dengan cepat meluncur desingan angin kuat dibarengi dengan keluarnya kabut merah putih. Suatu kekuatan gaib mengurung seluruh tubuh delapan orang itu, juga sampai ketempat sejauh lima kaki persegi disekitar mereka.. Terjadilah suatu keajaiban.

Delapan bilah pedang panjang yang dipakai oleh delapan orang tadi untuk melancarkan serangannya, ketika menyentuh kabut merah bercampur putih ini dengan mendadak oleh pemiliknya masing2 dirasakan seperti membentur sebuah dinding teguh kekar sehingga senjata2 itu terpental balik dengan sendirinya.

suara kefuhan, rintihan dan jeritan tercampur dalam suara benturan pedang2, kesemuanya senjata itu terlepas dari tangan pemiliknya, dengan tangan berlumuran darah tampak badannya mundur sempoyongan. Yo Cie Cong cepat menggerakkan badannya dan sekejapan saja sudah berada didekatnya orang tersebut.

suara jeritan yang mengerikan terdengar saling susul berkumandang dimulut lembah yang sunyi. Dari delapan orang anak buahnya Cie inpang tujuh orang diantarnnya sudah rubuh menggeletak sebagaimana tinggal lagi- seorang yang masih hidup, berdiri bagaikan patung saja layaknya, agaknya baru habis dibikin kesima oleh kepandaian Yo Cie Cong yang sangat luar biasa.

^

"Dengar.. Kau telah kubiarkan hidup sebagai saksi. sampaikan semua kejadian disini pada Li Bun Hao ketuamu. Katakan padanya, orang yang hendak menagih hutang sudah datang dan suruh dia singkirkan semua rintangan sepanjang perjalananku kesana nanti." demikian kata Yo Cie Cong.

Orang yang beruntung masih dibiarkan hidup sendiri ini. bagaikan mendapat pengampunan besar dari hakim, dengan tidak menoleh lagi segera lari terbirit2 hendak menyampaikan semua kejadian yang dialami oleh kawan2nya dan pemimpinnya kepada Pangcu-nya.

Yo Cie Cong menantikan sampai orang itu berlalu jauh benar baru melanjutkan perjalanannya lagi dengan perlahan-lahan menuju kedalam lembah.

Lembah itu keadaannya sangat strategis. Di kedua sisinya terlihat gunung2 menjulang tinggi dengan jurangnya yang curam, tebing di tempat tersebut tidak lagi diperlukan tenaga penjagaan.

Oleh karena Yo Cie Cong mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, ia tidak usah takut melihat keadaan disekitar tempat itu yang boleh dikatakan menguntungkan sekali kalau dipakai musuh untuk mengurungnya.

Pada saat itu dalam hatinya hanya ada satu pikiran dan satu tujuan yaitu: Menagih hutang jiwa. Dilain pihak. dalam pusatnya Cie- inpang saat itu sedang diliputi suasana tegang.

Pangcu dari Cie- inpang Li Bun Hao, ketika menerima berita yang mengatakan bahwa ada seorang muda berwajah jelek hendak menemui dirinya sendiri yang sebelumnya sudah membunuhi orang2nya, dalam hati merasa heran. Ia tidak dapat menerka siapa gerangan pemuda yang dimaksud.

Tetapi pemuda jelek itu telah mengaku bahwa kedatangannya disitu untuk menagih hutang jiwa. Hutang jiwa siapa yang harus ditagih?

Sejak terbunuhnya pemilik Golok Maut oleh Liat-yang Lo-koay di ci-lie-peng, ia sudah beranggapan bahwa musuh2 besarnya yang paling ditakuti sudah lenyap, sehingga untuk selanjutnya dapatlah ia melewatkan hari dengan aman tenteram.

Tetapi sekarang, dengan mendadak sontak muncul seorang pemuda ang mengaku hendak menagih hutang jiwa.

Apa yang membuat Li Bun Hao lebih heran ialah, pemuda itu sampai dimulut lembah hanya dalam waktu seketika itu sudah berhasil membinasakan salah satu orang terkuatnya dengan orang2 bawahannya sampai tujuh orang. Menurut apa yang disampaikan oleh orang satu2-nya yang dibiarkan hidup untuk memberikan kabar, pemuda jelek itu katanya mempunyai kepandaian sangat tinggi yang sukar dijajaki ketinggiannya. kepandaiannnya itu se-olah2 merupakan suatu kegaiban dalam rimba persilatan.

Suara lonceng sebagai tanda bahaya tidak lama kemudian berkumandang dengan amat nyaringnya ditengah udara sekitar lembah. Tanda bahaya ini dilembah daripusat Cie-in Pang. suara terus menggema disekitar lembah Im-cio kok. sehingga membuat semua anak buahnya Cie- in-pang pada terkejut dan segera lari menuju kepusat perkumpulannya.

Orang2 cie-in-pang yang berkepandaian tinggi yang termasuk dalam tiga bagian penting daLam perkumpulan tersebut, semuanya ber-lari2an menuju keposnya masing2.

Dari pusat perkumpulan Cie in-pang sampai kemulut lembah jaraknya ada tiga lie, pada setiap lie-nya terdapat sebuah pos penjagaan. Ini berarti, antara mulut lembah dan pusat ada tiga pos penjagaan, bagi orang luar yang hendak memasuki lembah, harus melalui tiga pos itu dulu baru bisa sampai ke pusatnya. Disetiap pos itu ditempatkan seorang sebagai kepala yang dipanggil Tong cu dengan tiga orang pembantunya yang disebut Hiocu. Disamping itu masih ada lagi seratus orang lebih sebagai anak buah pilihan.

Pada saat itu, Pangcu Li Bun Hao sedang berjalan mundar mandiri Alisnya terus dikerutkan, ia tengah memikirkan sangat siapa adanya anak muda jelek yang katanya hendak datang menagih jiwa itu ?

Para Tongcu, Hiocu dan anak buah pilihan lainnya yang berkumpulan dalam pusat, dari wajahnya masing2 dapat dilihat tegas perasaan gusarnya. Mereka menantikan perintahnya pangcu.

Mendadak seorang anak buahnya Cie-inpang lari mendatangi ke dalam pusat perkumpulan-nya dengan badan sempoyongan, yang begitu sampai segera berlutut dihadapan pangcunya. Dengau napas ter-senggal2 orang itu berkata:

"Hunjok beritahu kepada Pangcu, pos pertama sudah bobol. Tongcu. Hiocu dan semua kawan yang menjaga disana sudah binasa ditangannya seorang pemuda jelek sekarang ini dia sedang menuju kepos penjagaan kedua."

Li Bun Hio dengan badan gemetar karena gusarnya, segera memberi perintah pada anak buahnya yang baru datang ini: "Pergi cari keterangan lagi" orang itu segera mengundurkan diri setelah mengatakan, "Baik."

Suasana dalam pusat Cie-in pang kini tampak semakin tegang.

Kejadian ini merupakan suatu kejadian luar biasa yang baru pertama kali ini dialami semenjak berdirinya Cie in pang sekian lamanya dalam keadaan aman tenteram.

Agaknya orang muda itu bukan hanya memiliki kepandaian yang sangat tinggi saja, tetapi tentunya juga ada mengandung permusuhan yang sangat dalam dengan perkumpulan Cie in pang.

Dengan suara gusar Li Bun Hao segera mengeluarkan perintahnya lagi. "Tongcu bendera merah dengar perintah "

"Ya."

"Segera pimpin semua anak buah dibawah kekuasaanmu pergi kepos penjagaan kedua " "Baik."

Tongcu dari bendera merah itu belum lagi berangkat, orang yang tadi diperintahkan mencari berita baru tiba, sudah muncul lagi dan menyampaikan beritanya:

"Hunjuk beri tahu kepada Pangcu. Pemuda itu sudah melewati pos kedua. Hanya Tongcu seorang yang masih diberi jalan hidup dan mundur kepos ketiga, sekarang pemuda itu sudah akan segera sampai dipos ketiga. Mohon Pangcu keluarkan perintah."

"Kau mundur " "Baik."

"Tongcu dari bendera merah dan bendera putih " "Tecu sekalian ada disini."

"Segera berangkat kepos ketiga. Beri bantuan seperiunya. Aku akan segera menyusul." "Baik."

Keadaan Li Bun Hao sudah sangat repot sekali kelihatannya. Dengan alis dan kumis berdiri serta mata melotot kembali ia mengeluarkan perintahnya: "Tongcu bagian hukum dengar perintah "

"Tecu menantikan perintah . "

"Penjagaan didalam pusat ini kuserahkan pada kalian dengan tanggung jawab sepenuhnya." "Baik."

"Yang lainnya ikut aku pergi kepos ketiga." "Baik,"

"Baik."

"Baik." Dalam pusat cie inpeng saat itu diliputi oleh suasana ketegangan dan kesedihan.

Cie in pang yang merupakan salah satu perkumpulan besar diantara sekian banyak perkumpulan besar lain dalam rimba persilatan kini telah dibikin kalang kabut hanya oleh seorang anak muda saja, ini benar2 merupakan suatu lelucon besar bagi dunia kang ouw.

Tetapi kenyataannya memang demikian hal-nya. seorang anak muda berwajah jelek yang belum dikenal dalam waktu sekejap saja sudah berhasil menghancurkan dua penjagaan penting. Banyak anak buahnya Cie-in-pang yang sudah terkenal kekuatannya terbinasa dalam tangannya.

Anak buahnya yang berkepandaian biasa saja yang binasa sudah tidak terbilang lagi jumlahnya.

Ini benar2 merupakan suatu bencana hebat bagi Cie-in pang.

Pangcu Li Bun Hao dengan diiringi elite sejumlah pengawas kelas tingginya berjalan keluar dari dalam pusatnya..

Baru saja mereka sampai, dilapangan di luar pusat perkumpulan, mereka sudah dapat melihat sesosok bayangan orang tengah mendatangi sambii ber-lari2an dengan amat pesatnya. sekejapan saja bayangan orang itu sudah berada didepan mereka. Li Bun Hao dan para pengawalnya lantas merandek.

Orang itu sesampainya didekat mereka, badannya sudah rubuh tersungkur. Beberapa anak buahnya Li Bun Hao dengan cepat maju membimbing bangun orang yang jatuh itu, salah seorang diantaranya dengan suara nyaring berkata:

"Hunjuk beri tahu kepada Pangcu. Tongcu pos ketiga Na Koancu telah terluka parah.

Barangkali..."

Na Koan cu, orang yang rubuh tersungkur dalam keadaan terluka parah tadi, dengan mendadak melepaskan diri diri tangannya dua orang yang memapahnya dan dengan sempoyongan ia berusaha maju lagi dua langkah, lalu berkata dengan suara serak.

"Pangcu, orang yang datang menyerbu itu adalah seorang anak muda muka jelek. Kepandaian ilmu silatnya sangat luar biasa, tidak ada seorangpun juga yang mampu menandingi, Teecu sudah berusaha mengeluarkan seluruh kepandaian Teecu yang ada, tetapi tetap tidak berhasil menghadapi majunya pemuda itu..."

Li Bun Hao yang mendapat keterangan demikian, dadanya dirasakan seperti mau meledak.

Dengan perasaan gusar yang takterhingga ia mengawasi anak buahnya, matanya lalu di alihkan ke arah muka, sebab ia tahu benar bahwa musuh yang kuat itu akan segera muncul didepan matanya.

Benar saja, tidak lama kemudian sososok bayangan manusia perlahan berjalan mendatangi dari depannya.

Saat itu anak buahnya Li Bun Hao semuanya berseru ramai.

Sambil mengulapkan tangannya Li Bun Hao mencegah anak buahnya ribut2.

Bayangan orang itu datang semakin lama semakin dekat, suasanapun semakin menegang.

Akhirnya orang itu berhenti kira2 sejauh tiga tumbak dari tempat berdirinya Li Bun Hao.

Tetamu aneh yang dalam waktu sekejapan saja sudah dapat membobolkan tiga pos penjagaan yang penting dari cie lie-pang yang terkenal kuat ini, dilihat sepintas lalu, hanya seperti seorang anak muda jelek saja, sedikitpun tidak terlihat apa2nya yang luar biasa.

Para pengawal Li Bun Hao setelah melihat orangnya sendiri, kini sudah tidak seberapa takut dan kaget lagi, kembali memperdengarkan suara ribut2, semuanya mengawasi pemuda. wajah jelek itu tanpa berkedip.

Dengan sorot mata beringas Li Bun Hao per-lahan2 berjalan menghampiri pemuda itu. lalu berkata dengan suara gusar: "Dengan maksud apa saudara membikin ribut2 disini?"

Yo Cie Cong dengan suaranya yang ketus dingin menjawab: "Menagih hutang jiwa." Li Bun Hao terperanjat. Semua pengawal2pun memperlihatkan wajah keheranan. "Hutang jiwa siapa yang hendak sahabat tagih dari kami ?"

"Hutang jiwa orang2nya Kam lo-pang "

Wajah Li Bun Hao berubah mendadak. Dengan tidak sadarkan diri kakinya mundur setindak. lalu berkata pula: "Kau... Kau.... Kau... Adakah kau...?"

"Pemilik Golok Maut " "Apa ?"

"Pemilik Golok Maut "

Orang2 yang ada disitu semuanya merasa ketakutan, tetapi juga ada yang agak bersangsi.

Pemuda wajah jelek ini telah mengaku dirinya sendiri sebagai pemilik Golok Maut. Tetapi pemilik Golok maut adalah seorang orang tua rambut putih berlengan satu dan sudah binasa dalam tangan Liat- yang Lokoay belum lama berselang. Kematiannya pemilik Golok Maut sudah disaksikan oleh hampir semua orang2 gagah dari dunia Kang-ouw.

Perkataan pemuda jelek ini sebagai "Pemilik Golok Maut", benar benar merupakan teka teki yang sukar dijawab.

Tetapi dari kepandaian dan kekuatan ilmu silatnya yang hanya dalam waktu sekejapan mata saja sudah berhasil membobolkan tiga pos penjagaan penting yang kuat, dapatlah diukur bagaimana tingginya kekuatan pemuda ini yang rasanya tidak ada dibawahnya kepandaian pemilik Golok Maut.

Li Bun Hao setelah menenangkan pikirannya lalu berkata sambil ketawa dingin: "Bocah, Ucapanmu apa tidak nganglong?"

"Bagaimana kau tahu?"

"Pemilik Golok Maut sudah binasa di Cie lie-peng. Kejadiannya sudah disaksikan oieh banyak orang2 gagah,"

Yo Cie Cong yang diingatkan pada kejadian itu, terlihat kepalanya didongakkan mengawasi angkasa luar, kemudian dengan secara tiba-tiba ia ketawa bergelak-gelak, agaknya hendak melampiaskan rasa penasarannya. setelah merasa puas ketawa ia lantas berkata dengan suara gemas:

"Li Bun Hao, aku adalah keturunannya pemilik Golok Maut yang sudah binasa itu. sekarang aku hendak melanjutkan usahanya menuntut balas, menagih jiwa pada orang2 yang berhutang satu demi satu. siapa saja yang dulu turut ambil bagian dalam pembasmian Kam lo pang, tidak ada seorang juga yang boleh lolos dari ancaman Golok Maut "

Suaranya yang terakhir ditandaskan sehingga membuat Li Bun Hao terkejut sekali, kembali kakinya digeser setindak lagi kebelakang. "sahabat mau bertindak bagaimana ?"

Ia ketawa meringis. "seperti biasa, ditambah dengan bunganya "

saat itu, seorang orang tua berewokan lebat mendadak maju dan berkata pada Li Bun Hao: "Harap Pungcu suka mundur dulu."

Setelah berkata demikian, selanjutnya ia berkata pada Yo Cie Cong:

"Bocah,jiwanya seratus orang2 perkumpulan kami yang kau bunuh bunuh Harus kau ganti sekarang juga "

"Siang-siang sudah kusampaikan kabar yang minta kanan menyingkarkan semua rintangan sepanjang perjalananku kemari. Kalian tidak menurut, itu berarti mencari kematian sendiri siapa yang harus kau salah kan ?"

"Ha, ha... Bocah kau terlalu jumawa" "Sahabat menjabat kedudukan apa disini." "Pelindung hukum Cie in pang " "Sebaiknya kau mundur saja."

Orang tua berewokan itu setelah ketawa ber gelak2, berkata pula dengan suara beringas: "Bocah, sebagai seorang yang bertanggung jawab melindungi hukum perkumpulan, aku hendak minta ganti jiwanya orang2 kami yang kau bunuh bunuhi."

"Kau tidak berhak menagihnya." "Bocah, jangan banyak rewel "

Sambil mengeluarkan bentakan keras orang tua itu menggerakkan kedua tangannya menyerang Yo Cie Cong dengan sangat hebatnya.

Yo Cie Cong memang bermaksud hendak mendemontrasikan kekuatannya, sengaja ia membentak dulu "Kau cari mampus", lalu dengan tidak menyingkir, juga tidak berkelit lagi ia menyodorkan tangannya dengan perlahan. Kabut merah putih terlihat meluncur keluar dari dalam tangannya.

"Liang kok Cin- goan-."

Demikianlah suara seruan terdengar dari antara orang2 yang demikian banyaknya itu, tetapi belum lagi lenyap suara seruan ini dari udara, mendadak terdengar satu suara jeritan ngeri.

-0000000-

BAB 36

SUARA ilmu " Liang- kek Cin goan" masih berkumandang di udara, sudah disusul oleh suara jeritan yang sangat mengerikan. Kemudian kita lihat tubuhnya Pelindung Hukum Cie in pang sudah terpental jatuh, dari lubang2 mata, hidung, mulut dan teinganya sudah mengeluarkan darah segar, jiwanya melayang seketika itu juga.

Kekuatan tenaga "Liang kek Cin- goan" ini sesungguhnya merupakan suatu ilmu silat yang sudah tidak ada taranya, hingga orang ci in pang yang terhitung orang2 kuat dari kalangan Kangouw, seketika itu mau tidak mau juga dibikin kesima dan tidak berdaya sama sekali.

Suasana seram meliputi seluruh tempat yang menjadi pusatnya perkumpulan Cie In pang, yang tadinya merupakan sarangnya harimau.

Tidak nyana pengganasnya pemilik Golok Maut yang baru muncul ini pertama2 telah tujukan sasarannya dan turun tangan kepada Cie ie pang. Bahkan caranya ada lebih kejam ganas dan telengas dari pada pemilik Golok Maut sendiri yang sudah binasa

Cie in pang, salah satu perkumpulan di dunia Kang ouw yang sudah terkenal namanya, kini betul2 sudah menghadapi bencana keruntuhan.

semua orangnya yang menyaksikan pertempuran tersebut, tidak ada satu yang berani maju untuk mencoba rnenyambuti serangan yang begitu hebat dari manusia menakutkan itu

Lie Bun Hao, pangcu dari perkumpulan tersebut, sudah tentu tidak tinggal peluk tangan menyaksikan semua orang2nya binasa secara mengenaskan ditangannya orang aneh yang mengaku dirinya sebagai pemilik Golok Maut.

Apalagi kalau diingat bahwa semua ini adalah akibatnya ia sendiri yang telah menanam bibit bencana pada 20 tahun berselang.

Maka seketika itu ia lantas maju beberapa tindak dan berkata dengan mata beringas:

"Pemilik Golok Maut, hutang piutang harus ditagih kepada orang yang bersangkutan, perlu apa kau melakukan pembunuhan begitu kejam terhadap orang2 yang tidak berdosa ?"

"Lie Bun Hao, 20 tahun berselang, semua orang2nya Kam lo pang, terhitung ketuanya dan anak isterinya, boleh dikata hampir binasa seluruhnya. Apakah mereka itu juga berdosa semuanya? Apakah mereka turut bersalah?" jawab Yo Cie Cong dengan sangat gusar.

Lie Bun Hao bungkam. setelah hening cukup lama ia baru bisa berkata pula dengan suara bengis:

"Apa hari ini kau bermaksud membasmi habis seluruh anggota Cie in pang?" "Aku masih belum mempunyai maksud demikian, kecuali..."

"Kecuali apa ?" "Kecuali jika kau tidak segera membubarkan perkumpulan cie In pang dan lantas meninggalkan lembah ini. Perintahku selalu tidak mengenal kasian Kau harus mengerti sendiri apa akibatnya."

"Bubarkan Cie in pang ?" Bagi orang2 cie inpang, jawaban ini se olah2 suara halilintar ditengah hari, se-akan2 ketokan martil disetiap telinga mereka.

Bagi orang2 Kang ouw, ini dianggap ada satu penghinaan yang sudah tidak ada taranya atau suatu perbuatan yang sudah melewati batas.

Lie Bun Hao masih belum menjawab, dari antara orangnya sudah lompat keluar tiga orang. Mereka itu adalah orang2 yang memangku jabatan Tongcu dalam perkumpulan cie in pang.

Perbuatan tiga tongcu itu segera disusul oleh hiocu yang pada berdiri berbaris dibelakang 3 tongcu tadi.

Yo Cie Cong ketawa dingin. sepasang matanya memancarkan sinar tajam memandang pada mereka, sehingga untuk sesaat membikin 12 orang itu ragu.

Melihat demikian, Li Bun Hao lalu berkata dengan suara terharu: "saudara silahkan mundur dahulu, soal ini akan ku tanggung sendiri" Tongcu Gak Lui Ceng lantas menjawab dengan suara gusar:

"Silahkan Pangcu mundur kesamping, kita orang lebih suka musnah bersama Cie inpang daripada hidup terhina"

Para tongcu dan Hiocu yang lainnya juga lantas menyambuti ucapan Tongcu tadi dengan suara gemuruh.

Yo Cie Cong sebenarnya bukan seorang yang gemar membunuh, cuma oleh karena hendak menuntut balas sakit hati gurunya, ia terpaksa berbuat demikian. Barusan ketika ia dengan beruntun menerjang tempat penjagaan, sudah menewaskan jiwanya orang Cie inpang hampir 100 orang, hawa amarahnya juga sudah tidak begitu berkobar seperti ketika ia baru menginjak lembah yang menjadi pusatnya perkumpulan Cie inpang itu.

Semula ia pikir, bila sudah membinasakan jiwanya orang yang menjadi biang keladi, sudah cukup, tapi kini keadaannya ternyata tidak begitu mudah seperti apa yang ia kira. Maka ia lantas berkata kepada Lie Bun Hao dengan nada yang agak lunak:

"Lie Bun Hao, aku tidak akan berlaku keterlaluan, tidak akan melakukan pembunuhan terhadap orang2 yang tidak berdosa. Asal kau bersedia mau membubarkan Cie inpang, aku berjanji tidak akan membikin luka dirinya siapa juga, kau lihat saja nanti buktinya "

Tapi perkumpulan cie in pang yang sudah didirikan beberapa puluh tahun lamanya, para Tongcu dan Hiocu serta anggotanya yang kini masib ada, kebanyakan merupakan orang2 yang sudah banyak berjasa dalam perkumpulannya sebagai jiwanya sendiri Bagaimana mereka mau mengerti perkumpulannya yang dibangun dengan susah payah itu dibubarkan begitu saja dengan hanya menuruti perintahnya pemilik Golok Maut saja ?

Andai kata, sekalipun Lie Bun Hao mau terima baik permintaan pemilik Golok Maut, tapi anggota Cie inpang yang lainnya juga belum tentu menurut. sebab permintaan perkumpulan itu kalau diterima akibatnya ada lebih memalukan daripada dibubarkan dengan kekerasan atau pembasmian.

Lie Bun Hao yang bertindak sebagai ketuanya, biar bagaimana juga tidak bisa terima baik permintaan pemilik Golok Maut yang berarti menyuruh ia menghianati atau menjual perkumpulannya sendiri

Maka saat itu ia lantas menjawab dengan suara gusar: "Bocah keparat, dengarlah jawabanku : Tidak bisa "

"Lie Bun Hao, kalau begitu kau jangan sesalkan kalau aku berlaku keterlaluan " Yo Cie Cong mengancam.

Belum sampai Lie Bun Hao memberi jawabannya, 12 Tongcu dan Hiocu yang majukan diri tadi sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Meskipun mereka tahu bukan tandingan pemilik Golok Maut, tapi mereka tidak suka diperhina begitu saja, apa lagi mengingat soal ini ada mengenai hidup atau musnahnya perkumpulan cie inpang. Maka diantara suara bentakan riuh, 12 orang kuat dari Cie inpang itu sudah melancarkan serangannya berbareng dari berbagai jurusan kepada Yo Cie Cong.

serangan tangan yang dilancarkan berbareng itu se-olah2 gelombang laut dengan hebat menggempur dirinya Yo Cie Cong.

Tapi Yo Cie Cong agaknya menganggap sepi serangan yang sangat hebat itu. sambil ketawa dingin ia egoskan dirinya, dengan sangat lincah ia melesat tinggi untuk menghindarkan serangan tersebut, kemudian melancarkan serangannya pembalasan.

Ketika serangan 12 orang itu meluncur ke luar tapi mendadak kehilangan sasarannya, mereka lantas mengetahui keadaan tidak beres. Belum sempat mereka bertindak. satu kekuatan tenaga dalam yang amat hebat sudah datang menggulung mereka dengan tidak diketahui dari mana datangnya.

Dengan cepat mereka menyingkir berpencaran, tapi ternyata masih ada dua orang yang agak terlambat gerakannya sudah kesambar oleh kekuatan serangan tersebut, seketika itu lantas rubuh terjengkang tidak bisa berkutik lagi.

Tepat pada saat itu, pangcu Lie Bun Hao secara, pengecut, diam2 telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, dengan kecepatan bagaikan kilat melakukan serangan pembokongan terhadap dirinya Yo Cie Cong.

Lie Bun Hao yang menjadi ketuanya Cie In pang baik kepandaian ilmu silatnya mau pun kekuatan tenaganya, sudah tentu tidak dapat dipandang ringan- Dapat kita bayangkan sendiri, betapa hebatnya serangan yang dilancarkan secara membokong tadi.

Yo Cie Cong yang mengetahui dirinya dibokong, tidak sudi ia menyambuti serangan ini, sebaliknya lantas lompat melesat tinggi untuk menyingkir dari serangan.

Dengan demikian, Lie Bun Hao menjadi kecele. Ia merasa sangat menyesal dan kecewa niatnya telah gagal, maka ia lanta2 berjingkrak-jingkrak dan ber-kauwk2 sendiri seperti orang kalap.

Sementara itu, 12 Tongcu dan Hiocu yang melakukan serangan berbareng tadi, setelah dibalas oleh serangan Yo Cie Cong dan terpaksa mundur tersipu2 bahkan kehilangan jiwa dua orang kawannya, juga lantas maju menyerbu lagi sambil berteriak-teriak. Kali ini mereka menyerang dengan menggunakan senjata masing-masing.

Yo Cie Cong agaknya sudah berkobar lagi napsunya membunuh, dari kedua telapakkan tangannya saat itu sudah mengeluarkan dua uap asap warna putih dan merah, asap yang merupakan kekuatan tenaga dalam yang sudah tidak ada taranya itu lantas menyambuti serangan senjata tajam yang dilancarkan oleh orang2 Cie in pang tadi.

Suara beradunya senjata tajam lantas terdengar berulang ulang lalu disusul oleh suara senjata yang patah dan jatuh kemudian suara rintihan dan jeritan, yang dibarengi oleh menyemburnya darah segar dan rubuhnya beberapa tubuh manusia.

Ditanah yang sudah menjadi merah karena tersiram darah manusia, saat itu sudah tambah lagi 4 manusia yang rebah menggeletak tidak bernyawa.

Dua belas Tongcu dan Hiocu yang terdiri dari orang-orang terkuat dalam perkumpulan Cie inpang, dalam dua gebrakan saja sudah kehilangan 6 jiwa, sedang difihak lawannya masih belum mengeluarkan senjatanya atau menggunakan kekuatan tenaga sepenuhnya. Kalau tidak. barangkali sudah tidak ada yang bisa tinggal hidup,

Para anggota Cie in pang yang lainnya, rupanya telah mengerti bahwa sekalipun mereka semua mengeroyok juga tidak ada gunanya, maka semuanya malah tidak berani bergerak.

Enam dari sisanya 12 Tongcu dan Hiocu yang menyerang Yo Cie Cong tadi, kelihatannya sudah mulai lemas, hanya dengan mata melotot mereka mengawasi Yo Cie Cong, tapi tidak ada satupun yang berani bergerak lagi. Lie Bun Hao sambil memandang pada Yo Cie Cong berkata dengan suara mendongkol. "Bocah, kami bersumpah tidak akan berdiri dibumi ini ber-sama2 dengan kau"

"Li Bun Hao, dengan kepandaianmu seperti sekarang ini masih belum boleh mengucapkan perkataan demikian" jawabnya Yo Cie Cong dengan suara dingin. Kemudian dengan tenang ia mengeluarkan senjatanya Golok Maut.

Lie Bun Hao ketika menyaksikan senjata yang aneh bentuknya itu, wajahnya pucat seketika. " Golok Maut"

Suara seruan itu terdengar amat riuh, sebab senjata yang sangat aneh bentuknya itu, setiap kali muncul. sedikitnya satu jiwa akan melayang, bahkan belum pernah terdengar ada orang kuat yang bisa lolos dari golok aneh itu

Munculnya Golok Maut, berarti datangnya bencana kematian yang tidak bisa ditakar lagi.

Sinar berkeredepan yang memancar keluar dari batangnya Golok Maut, sudah cukup untuk membuat gemetar setiap orang yang melihatnya.. semua orang2 Cie-in-pang yang ada disana, meski mereka tahu bahwa Pangcu mereka akan- menemukan ajalnya dalam saat tidak lama lagi, tapi hati mereka saat itu sudah dipengaruhi oleh perasaan-takut yang hebat, maka sampai pun- bergerak saja juga tidak berani.

Hanya baru beberapa bulan saja Golok Maut unjukkan diri didunia Kang-ouw, tapi sudah cukup membuat geger dan menggema pada dunia rimba persilatan. Dalam pertempuran di ci-lie-peng, berita binasa-nya pemilik Golok Maut ditangannya Liat- yang lo koay. juga menggemparkan dunia Kangouw, tapi sungguh tidak dinyana, belum lagi sirap berita yang menggemparkan itu didunia Kang ouw telah muncul lagi dirinya pemilik Golok Maut yang lain, hal mana telah membuat terkejut dan heran semua orang.

Li Bun Hao setelah sejenak mengawasi Golok Maut yang berbentuk aneh itu, lantas menghunus pedangnya cie ia kiam yang sinarnya berkeredepan menyilaukan mata.

Pedang cie in kiam ini ada suatu benda pusaka dari jaman purbakala. Tajamnya luar biasa, maka dijadikan benda pusaka dari perkumpulan cie in pang, dan ini adalah untuk pertama kalinya digunakan oleh ketuanya untuk menghadapi musuh.

Semua orang cie in pang yang ada disitu ketika menyaksikan senjata pusaka itu keluar dari sarungnya, se-olah2 geledek menyambar saja, setiap orang lalu tersadar bahwa mereka beserta perkumpulannya tengah menghadapi bencana keruntuhan, maka rasa sedih, duka telah menghangatkan perasaan gusar yang me-luap2 terhadap musuhnya ini.

Perasaan takut dan kaget yang tadinya menyelimuti seluruh pikiran mereka, kini telah lenyap semuanya, berganti dengan perasaan sakit hati dan amarah yang me-luap.

"Maju " demikian terdengar suara seruan dari antara mereka itu.

Seruan yang keluarnya secara mendadak itu telah disusul oleh bergeraknya beberapa puluh orang yang-dengan senjatanya masing2 serentak menyerbu dirinya Yo Cie Cong. Li Bun Hao setelah berpekik juga turut menyerang.

Yo Cie Cong Yang menyaksikan keadaan demikian, lantas membentak keras, Golok Maut tangannya sudah lantas dikerjakan, sehingga sebentar saja terjadilah suatu pertempuran hebat yang tidak ada taranya...

Suara beradunya senjata dan jeritan manusia diselingi dengan tangan dan kaki beterbangan ditengah udara serta rubuhnya tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa lagi.

Yo Cie Cong yang agaknya sudah kalap. telah melakukan pembunuhan besar-besaran. Tanpa menghiraukan jiwanya sendiri, dan akibatnya. Darah mengalir tanpa putus2-nya, bangkai bergelimpangan, sehingga ruangan pusat perkumpulan cie in-pang dalam waktu sekejapan saja sudah berubah menjadi tempat jagal manusia.

Keadaan demikian itu, jika berlangsung kira2 setengah jam lagi, semua orang2 kuat Cie in-pang yang berada disitu barangkali seorangpun tidak ada yang bisa hidup, mereka akan terbinasa seluruhnya dibawah senjata Golok Maut. Kejadian ini adalah merupakan peristiwa pembunuhan besar-besaran dalam sejarah rimba persilatan-

Yo Cie Cong rupanya pada saat itu sudah gelap pikirannya, akal budinya sudah dipengaruhi oleh hawa amarah dan napsu membunuhnya, sehingga tujuan satu-satunya: "Membunuh "

Tipu serangan Golok Maut yang sangat luar biasa, karena harus menghadapi musuh yang begitu banyaknya yang semuanya juga sudah menjadi kalap. maka Yo Cie Cong telah menggunakannya sampai ber ulang2, sehingga banyak sudah orang-2 kuat dari Cie in-pang yang jatuh saling susul.

Kalau bukan lengan mereka yang terkutung, sudah pasti bagian pahalah yang terlepas, sedikitpun tidak ada yang meleset dari sasarannya.

Lie Bun Hao yang menyaksikan orang2-nya bertempur secara nekad, meskipun sudah banyak korban yang jatuh, tetapi yang masih hidup masih juga berani maju merangsek terus, ia hanya bisa mengawasi dengan mata beringas. Percuma saja ia mempunyai senjata pusaka yang tajamnya luar biasa, karena tidak mendapatkan kesempatan untuk menghadapi lawannya.

Juga ia tidak berdaya untuk mencegah orangnya berbuat begitu nekad, maka ia hanya membiarkan peristiwa berdarah itu berlangsung terus, namun dalam hatinya diam-diam sudah mengeluh: " Habis, tamatlah riwayatnya Cie- in-pang."

Pada saat itu, suara tajam dan berat terdengar diantara suara jeritan dan suara beradunya senjata2. suara itu tiba-2 masuk kedalam telinganya Yo Cie Cong.

"Anak. kau keterlaluan-" suara itu diulangi sampai tiga kali.

Setiap patah kata dari suara tadi seolah-olah ketukan palu besar didadanya Yo Cie Cong, setinggi tersadarlah anak muda itu akan perbuatannya yang sudah seperti orang gila. Ia sudah mengenali benar siapa orangnya yang mengucapkan perkataan itu tadi.

Orang itu adalah si orang berkedok kain merah yang paling dijunjung tinggi dan paling dihormati oleh Yo Cie Cong.

Perkataan orang berkedok kain merah itu seolah-olah mempunyai pengaruh gaib, sehingga membuat anak muda itu sadar dan tunduk betul-betul. "Ya, aku keterlaluan." demikian kata pemuda itu pada dirinya sendiri.

Selanjutnya, Yo Cie Coug lantas mengambil tindakan tegas dan pendek. ia memusatkan seluruh kekuatan "Liang kek Cin goan" kesebelah tangan, lalu dtayunkun kekanan dan kekiri suatu tenaga dahsyat yang tidak terlihat telah menggulung orang yang berada di kanan dan kiri dirinya.

Kekuatan itu se-olah2 angin menyapu awan, sebentar saja telah mendorong sisa orang-2 yang mengeroyok dan yang masih membandel menyerbu kearah. orang-2 itu telah dibikin terpental sejauh dua tumbak. Yo Cie Cong sendiri dengan kecepatan kilat melayang menghampiri Li Bun Hao.

Gerakannya itu dilakukan secara tiba2 dan juga diluar dugaannya pangcu dari Cie in pang itu.

Li Bun Hao yang bertindak sangat hati2 dalam menghadapi pemilik Golok Maut, ketika Yo Cie Cong bergerak secara tiba-tiba meluncur kearahnya, ia sudah siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Begitu melihat bergeraknya bayangan Yo Cie Cong, ia sudah menggunakan pedang pusakanya yang tajam luar biasa. Dengan sepenuh tenaganya ia membabat dan menikam dada sianak muda, dengan beruntun sampai delapan belas kali.

sinar pedang terlihat berkelebat, sedikitpun tidak memberikan kesempatan pada Yo Cie Cong untuk bertindak.

Yo Cie Cong dengan ilmunya Menggeser tubuh menukar bayanya, se-olah2 gerakan setan dan angin cepatnya telah berputar disekitar dirinya Lie Bun Hao. Ia menantikan sampai Li Bun Hao kehabisan tenaga sendiri, baru bergerak. Tidak lama ia menunggu, saat itu telah tiba. Yo Cie Cong. tertampak telah melancarkan serangan mautnya. Tetapi baru saja menyerang dua kali, serangannya tiba2 dihentikan

Diantara suara jeritan ngeri dan muncratnya darah merah, telah terbang melejit keudara dua buah benda dibarengi berkelebatnya sinar biru. orang2 kuat yang tadi terdorong mundur oleh ilmunya Yo Cie Cong, yang saat itu masih belum lagi bisa berdiri tegak, sudah pada menjerit.

Dua benda yang terbang melesat ketengah udara tadi kiranya adalah dua lengan tangannya Li Bun Hao yang terpapas kutung oleh Golok Maut. sedangkan benda yang berkeredepan bersinar biru adalah pedang pusakanya Cie- in- kiam.

Semua kejadian itu kalau dilukiskan dengan kata2, akan memerlukan banyak perkataan, tetapi sebetulnya hanya terjadi dalam waktu sekejapan saja.

Yo Cie Cong setelah berhasil memapas kutung kedua lengan tangannya Li Bun Hao, tiba-tiba serangan lanjutannya dihentikan kemudian ia berkata dengan suara rendah kepada pangcu Cie- in-pang itu.

"Li Bun Hao, aku mengutungi kedua lengan tanganmu ini adalah untuk menuntut sakit hatinya orang2 Kam lo pang. sekarang aku hendak berbuat atas dirimu seperti apa yang aku lakukan terhadap pangcu Ban siu pang: Aku hendak mengutungi kedua pahamu lagi. Perlu aku beritahukan lagi padamu, aku ini adalah itu bocah yang kalian, kedua "pang" dengan cin Bie Nio dari Pek leng hwe, ketika aku di tepi danau Naga tempo hari. Mendengar ini, rasanya kau bisa mati dengan meram."

Li Bun Hao yang saat itu sedang ter-huyung2 karena kedua lengannya sudah terpapas kutung, ketika mendengar perkataan Yo Cie Cong itu, mendadak lantas berdiri dan berteriak:

"Kau... kau adalah kau si bocah wajah dingin?" baru mengucapkan perkataan demikian, kembali terdengar suara jeritannya, dan kali ini kedua pahanya telah terpapas kutung, dadanya berlubang. Darah segar menyembur keluar dari dadanya, tubuhnya lantas rubuh "berhenti" jadi orang...

Sisa orang Cie inpang yang masih hidup ketika menyaksikan pemimpinnya mati secara demikian mengenaskan, semuanya cepat2 berteriak gusar dan menyerbu Yo Cie Cong dengan tidak menghiraukan jiwanya lagi. Tetapi terjangan gerakan mereka sudah terlambat.

Pemuda aneh wayah jelek hitam yang mengaku sebagai pemilik Golok Muat itu sudah menghilang dari depan mata mereka.

-0000000-

Beberapa hari kemudian dunia Kang-ouw telah dibikin gempar dengan berita tentang terbasminya habis-habisan perkumpulan Cie- in pang, salah satu perkumpulan terbesar dalam dunia persilatan.

Dua pang dan satu Hwee yang dulu namanya sangat terkenal di kalangan Kang ow, sekarang hanya tinggal lagi satu Hwee yaitu Pek leng-hwee yang masih berdiri tegak.

Ban siu-pang, sejak pangcunya, Tio Phan terbinasa diujung Golok Maut di dalam kota Tiang soa juga sudah lantas dibubarkan oleh orang-2nya sendiri

Tetapi apa yang mengherankan orang2 dunia kang-ouw adalah orang yang bertindak melakukan pembunuhan terhadap perkumpulan Cie in pang ternyata adalah pemilik Golok Maut juga yang baru, yang bertindak melanjutkan tugasnya pemilik Golok Maut yang lama, tetapi baik kepandaian ilmu silatnya, maupun kekuatan tenaganya, kalau dibandingkan dengan kekuatan dan tenaga pemilik Golok Maut yang asli, pemilik Golok Maut baru ini agaknya masih lebih tinggi setingkat.

Ketika tersiar berita tentang terbunuhnya pemilik Golok Maut yang ditangannya Liat yang Lokoay, baru saja orang dunia rimba persilatan merasa tenang terhindar dari bencana yang mengerikan dan menakutkan. tiba2 dibikin gemetar oleh munculnya pemilik Golok Maut lagi. Tidak dinyana pemilik Golok Maut yang lama mempunyai pengganti yang meneruskan tugasnya menuntut balas kepada musuh nya. Lima partai terbesar dari rimba persilatan- Kini telah berserikat dan mengutus puluhan orangnya yang paling kuat bawah pimpinannya seorang ketua dari Siau lim pay, Pek Tie siansu untuk menyelidiki keadaan sebenarnya tentang peristiwa berdarah itu supaya jangan sampai menjalar lebih luas..

Disamping itu, orang2 kuat dari golongan hitam dan putih juga mulai bergerak kembali.

Maksudnya sudah tentu juga ingin menyingkirkan manusia yang menakutkan itu Di antara orang2 golongan hitam itu, adalah orang dari Im mo kau yang bergeraknya paling aktif.

Sudah tentu pula, dengan terbasminya perkumpulan Cie in pang, orang2 didunia Kang ouw tidak ada seorangpun yang mengetahui dengan tepat siapa sebenarnya yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut baru.

Karena apa yang pernah mereka saksikan, si pemilik Golok Maut, yang pertamanya di pegang oleh Yo Cie Cong yang menyaru sebagai orang tua, adalah pemimpin Kam lo pang.

Satu2nya orang yang mengetahui rahasia ini, hanyalah si pemilik bendera burung laut, ialah itu orang penuh rahasia yang selalu mengenakan kedok kain merah. sesudah peristiwa hancurnya perkumpulan cie in-pang, dengan beruntun sampai tujuh kali pemilik Golok Maut itu telah unjukkan diri sudah dengan sendirinya pula, setiap kali muncul, Golok Mautnya pasti meminta korban dirinya musuh2 Kam-lo pang. Tempat munculnya pemilik Golok Maut itu terkadang di selatan, terkadang pula di Utara, sehingga membuat orang sukar mengikuti jejaknya, seluruh dunia persilatan telah dibikin gempar, se-olah2 sedang menghadapi dunia kiamat.

Bilakah berhentinya perbuatan gila dan kejam itu? Tidak ada seorangpun yang dapat meramalkan-

Seandainya perbuatan pemilik Golok Maut itu benar hanya hendak menagih hutang jiwanya orang2 Kam-lo-pang yang dibinasakan pada dua puluh tahun berselang, tidakkah perbuatan penuntutan balas itu dilakukan terlalu kejam, hingga dapat metenyapkan perasaan orang2 yang menaruh simpati ?

Perbuatannya yang telengas dan kejam itu bukankah per-lahan2 akan menimbulkan perasaan antipati dari orang2 yang tadinya sudah menaruh simpati?

-000000-

Pada suatu hari, jalan raya yang menuju ke kota Lam ciang tampak seorang pemuda cakap ganteng yang sikapnya kecut dingin.Pemuda ini berjalan seorang diri dengan gerakan sangat lambat sambil menundukan kepala, agaknya ia sedang berpikir keras.

siapakah pemuda itu? Pembaca tentu lantas kenal, sebab ia bukan lain daripada Yo Cie Cong, yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut.

Dengan beruntun sampai tujuh kali telah membasmi satu demi satu musuhnya Kam-lo-pang yang namanya tercatat dalam daftar lembar kedua.

Perbuatannya itu terus dilanjutkan sampai semua nama yang terdapat dalam lembar ke dua itu terhapus habis. Mereka itu semuanya dibinasakan dengan Golok Mautnya.

Dan kini, tindakan selanjutnya yang akan dilakukan ialah hendak mencari musuh2nya yang terkuat, yang namanya tercantum paling atas dalam daftar musuhnya Kam lo pang.

Kelima orang kuat itu tentunya merupakan ahli2 yang terkenal karena kejahatannya dikalangan putih dan hitam.

Ini juga merupakan permulaan bagi Yo Cie Cong menghadapi tugas yang terberat selama melakukan tugasnya menuntut balas pada semua musuh2nya Kam lo-pang, sebab untuk selanjutnya ia akan menghadapi musuh2 yang sangat kuat yang tidak begitu mudah dibinasakan seperti yang lainnya.

Tugas utama bagi Yo Ci Cong pada saat itu ialah, bagaimana dapat mencari jejaknya si siluman Tengkorak Lui Bok Thong, sebab benda pusaka perguruannya, yaitu ouw bok Pow lok satu bagian berada ditangannya iblis itu. Jikalau ia berhasil dapat merebut kembali satu pusaka itu, maka untuk selanjutnya ia dapat menyatukan dengan sepotong lainnya yang sudah berada padanya. Catatan ilmu silat luar biasa yang tertulis dalam dua potong kayu pusaka itu dapat membantu tidak sedikit dalam usahanya menuntut balas dalam menghadapi musuh2nya yang terkuat.

Selain dari pada itu, dua potong kayu pusaka (ouw bok Po lok) itu juga merupakan bibit bencana dalam peristiwa terbasminya perkumpulan Kam lo-pang pada dua puluh tahun berselang, maka apa pun yang akan terjadi ia harus berusaha sampai barang tersebut dapat direbut kembali.

Disamping itu semua, ia juga teringat akan dirinya sendiri yang diselubungi banyak rahasia, asal usulnya yang masih merupakan satu teka teki. Ia harus mencari tahu tentang dirinya dan baru dapat membuka tabir rahasianya itu.

Banyak lagi urusan yang masih harus diselesaikannya, seperti apa yang telah disanggupi dari permintaannya Thian-san liong- lie, mencari itu akhli pedang yang wajahnya mirip sekali dengan wajahnya sendiri

Karena memikir semua persoalannya yang memenuhi otaknya itulah maka ia beryalan sambil tundukkan kepala.

Selagi enak2nya ia berjalan, satu sambaran angin yang sangat halus dirasa berseliwerkan disamping nya. Ia lantas menengok Apa yang dirasakannya telah membuat hatinya bercekat.

-0000000-

BAB 37

DUA BAYANGAN putih dengan kecepatan seperti asap terlihat terbang melalui samping dirinya, lari menuju kearah bukit disebelah kananyalan raya. Bayangan itu hanya dengan beberapa kali berkelebat saja sudah menghilang kedalam rimba yang terdapat di bawah bukit tersebut. Hanya bau harum yang masih tertinggal yang menusuk hidungnya Yo Cie Cong.

Dari bau harumnya itu, Yo Cie Cong mengambil kesimpulan, tentunya bayangan putih yang terbang menghilang seperti asap tadi pasti adalah dua orang wanita atau salah satu di antaranya ada wanita.

Hanya seorang yang berkepandaian tinggi seperti Yo Cie Cong yang bisa mengetahui, bahkan dapat membedakan siapa orangnya yang lewat disampingnya tadi. Untuk orang yang kepandaian Ilmu silatnya belum seberapa tinggi, tidak nanti dapat membedakan kalau bayangan yang melesat disampingnya tadi benar2 manusia, mungkin pula orang itu akan menganggap setan atau makhluk jejadian-

Yo Cie Cong merasa tertarik oleh kepandaian yang luar biasa dari dua bayangan putih tadi.

Dalam hatinya lalu timbul pikiran: "Ilmu lari pesat dari dua wanita tadi sangat berbeda dengan apa yang pernah kulihat didunia Kang-ouw. Ini sungguhnya sangat aneh. Entah kepandaian dari golongan manakah yang dipelajarinya ? Mengapa aku tidak mau mengejar mereka untuk mengetahui asal usulnya ?

Karena terpikir demikian, dengan cepat ia lantas lari menyusul kearahnya kedua bayangan putih tadi.

Yo Cie Cong yang berkali-kali menemukan kejadian gaib dan mujijad, menjadikan dirinya berubah menjadi seorang terkuat dalam kalangan Kang ouw yang susah dicari tandingannya. Sejak ia meyakinkan ilmunya "Liang-kek Cin-goan", kekuatannya telah bertambah beriipat ganda, maka segala gerakan-nya seolah-olah bukan gerakan manusia.

Sebentar saja, ia sudah berada dalam rimba dibawah bukit, dimana kedua bayangan putih tadi menuju.

Rimba itu kira2 setengah lie lebarnya panjangnya tidak cukup 2 lie. Kalau orang berada diatas, tengah-tengahnya rimba, bisa melihat keadaan disekitarnya.

Yo cie Ceng setelah berada didalam rimba, ternyata tidak dapatkan apa2. Ia berdiri sejenak. matanya celingukan memandang keadaan disekitarnya, tapi masih belum mendapatkan tanda apa2, hingga diam2 hatinya merasa heran. sebab ia tahu benar ilmu lari pesatnya sendiri yang dikala itu susah dicari tandingannya, tapi mengapa dalam waktu sekejapan saja sudah kehilangan bayangan orang yang dikejarnya ? Hal ini rasanya benar2 tidak mungkin.

Ia agaknya merata sangat penasaran, dengan cepat ia melesat ke atas pohon yang paling tinggi didalam rimba itu, Ia coba lagi memandang keadaan disekitarnya, Rimba ini ternyata berdampingan dengan sebuah bukit di kedua sisinya ada terdapat tanah datar yang luas.

Tapi heran, satu bayanganpun tidak kelihatan

Yo Cie Cong dengan cepat sudah menarik kesimpulan, kedua bayangan orang tadi sudah lari menuju kedalam bukit sebelum ia bergerak menyusul. sebab kalau tidak. mana mungkin dapat terlolos dari matanya ?

Perasaan heran telah mendorong padanya untuk mencari tahu se-dalam2nya keadaan ditempat tersebut.

Tanpa ragu2 ia lantas gerakan badannya menuju keatas bukit.

Baru saja tiba diatas bukit, besar saja ditengah antara dua puncak gunung tinggi, ia dapat lihat dua titik bayangan putih yang terbang melesat kearah salah satu puncak gunung yang tinggi menjulang ke langit itu.

Yo Cie Cong lantas kerahkan seluruh kekuatannya, secepat kilat melesat kearah larinya orang tersebut.

setelah melalui dua puncak. didepan matanya sudah kelihatan puncak yang tinggi ke langit tadi.

Puncak gunung itu berdiri sendiri ditengah-tengah rentetan bukit se-olah2 sebuah pagoda tinggi. Dan tengah-2 puncak terus menjulang keatas kelihatan diliputi oleh awan dan kabut tipis. Pada saat itu mata Yo Cie Cong mendadak dapat lihat dua bayangan putih tadi melayang dan menghilang di-tengah-2puncak gunung yang diliputi oleh kabut tipis.

Dalam hatinya Yo Cie Cong, kecuali merasa heran juga diliputi oleh perasaan yang sangat rahasia. Ia tidak dapat menduga dari golongan mana sebetulnya dua bayangan putih yang sangat misterius itu, siapakah gerangan orang yang berdiam dipuncak gunung yang menjulang tinggi kelangit itu ?

Dari golongan jahat ataukah dari golongan baik ? semua ini masih merupakan suatu teka teki besar baginya.

Belum lagi hilang rasa herannya, ia sudah sampai didekatnya sebuah puncak gunung. Ketika ia mengawasi tempat tersebut, ternyata didepan matanya terpentang suatu jurang yang dalam sekali yang tidak terlihat dasarnya Jurang itu luasnya kira2 lima puluh tumbak.

Ditambah terlihat kabut tebal. Kalau orang berdiri diatas gunung melihat keatas jurang, keadaannya sangat mengerikan. ia tidak habis pikir bagaimana dua bayangan tadi bisa menyeberangi jurang ini? cepat ia menghentikan gerakan kakinya, dengan perasaan heran ia mengawasi rintangan yang terbuat dari alam itu. setelah berpikir sejenak. tiba-tiba ia mendapatkan suatu akal.

Ia memungut sebuah batu sebesar kelapa yang lalu dilemparkan kedaLam jurang yang tidak kelihatan dasarnya itu. siapa tahu, setelah menantikan sekian lamanya, masih tetap ia tidak melihat reaksi apapun juga, sehingga kembali ia dibikin ter-heran2. Dalam hatinya lantas berpikir: "Kedua bayangan tadi kecuali setan atau siluman sudah tentu tidak mampu terbang melayang melewati rintangan yang begitu jauh dan begitu dalam."

Yo Cie Cong mengukur tenaganya sendiri. Paling banter ia cuma bisa terbang melesat sejauh empat puluh tumbak atau lebih sedikit, tetapi jarak antara kedua tebing yang terpisah oleh jurang yang dalam itu kira-kira jauhnya lima puluh tumbak.

Selain daripada itu, tempat tersebut juga tertutup oleh kabut putih yang tebal, sehingga sama sekali tidak dapat diketahui dengan jelas apakah dipuncak gunung sebelah sana itu ada tempat yang baik untuk tancap kaki, sebab sekali saja salah bertindak. akibatnya akan hancur leburlah dirinya.

Maka untuk sesaat lamanya ia masih berdiri bengong ditempat tersebut.

"Bocah, kau sedang pikirkan apa?" tiba2 terdengar suara seperti suara orang tua yang kedengaran sangat berwibawa, telah terdengar nyata, terbawa desiran angin.

Yo Cie Cong cuma mendengar suara itu yang menyebut dirinya "Bocah", dengan tepat ia lantas lompat kebelakang. Dalam hati bukan kepalang kagetnya, sebab ada orang yang berada didekatnya juga ia masih belum merasa sama sekali.

Ketika ia menegasi, dilihatnya ada seorang tua aneh dengan rambutnya yang digelung ke- belakang, bajunya compang camping dan kakinya telanjang. orang tua itu berdiri tidak jauh dari tempatnya tadi berdiri.

Sepasang matanya yang tajam dengan tidak berkelip mengawasinya.

Setelah menenangkan pikirannya, Yo Ce Cong lalu menghampiri orang aneh itu dan setelah memandang dengan seksama ia lalu menyapa: "Tuan siapa ?"

Orang aneh itu memandang Yo Cie Cong dengan matanya yang tajam sejenak. mendadak berseru kaget : "EH "

se-olah2 sudah melupakan pertanyaannya Yo Cie Cong, terdengar ia menggerutu seorang diri: "Bocah ini mengapa mirip benar dengan dia?"

Yo Cie Cong dikejutkan oleh perkataan orang aneh itu, maka ia lantas menegur pula:

"Tuan siapa? Tuan kata aku mirip dengan dia, siapakah yang tuan maksudkan dengan dia itu"

Orang aneh itu mundur satu langkah, ia masih tetap berkata pada dirinya sendiri: "Sikap dan tindak tanduknya, tidak ada yang tidak mirip."

Yo Cie Cong dibikin bingung oleh kelakuan orang aneh ini sehingga dengan tidak sengaja ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dalam hatinya lalu berpikir. "Apakah orang ini gila ? Tetapi dari kepandaiannya barusan, bisa mendekati diriku tanpa kuketahui terang dia mempunyai kepandaian tinggi. Tetapi mengapa perkataannya tidak karuan juntrungannya ?"

Ia lalu menanya lagi sambil kerutkan keningnya : "Apa yang tuan ucapkan ? Aku tidak mengerti.."

Orang aneh itu agaknya seperti baru tersadar dari mimpinya, lantas berkata dengan suara agak terharu: "Bocah, apa kau ingin melalui jurang ini? Karena apa ?"

"Karena tertarik oleh perasaan ter-heran2."

"Perasaan heran ? Ha ha... Bocah, kau tidak mampu menyeberangi jurang ini. sudah sepuluh tahun lebih lohu menantikan disini, sampai sekarang juga masih belum mampu menyeberangi jurang ini." sehabis berkata ia menghela napas panjang.

"Tuan sudah menantikan sampai sepuluh tahun lebih lamanya ?" "Benar. Malah tepatnya sudah lima belas tahun."

"Untuk apa tuan menantikan sampai begitu lama ?" "Hal ini tidak perlu kau ketahui."

Yo Cie Cong merasa tidak puas oleh jawaban yang dingin itu, maka ia lantas hendak berlalu. "Bocah, kau jangan pergi dulu. Aku masih ada beberapa pertanyaan yang hendak ku- ajukan

padamu." orang aneh itu cepat2 mencegah

Yo Cie Cong terpaksa balik kembali. Dengan matanya yang tajam ia mengawasi si orang aneh. "Ada hal apa lagi yang hendak kau tanyakan padaku?"

"Siapakah namamu?" "Yo Cie Cong."

Orang aneh itu gelengkan kepalanya, tiba2 telah mengelah napas.

Kelakuan aneh dari orang aneh ini sebaliknya menimbulkan perasaan heran Yo Cie Cong, maka ia lantas menanya: "Mengapa tuan menghela napas ?" "Sudahlah, hal ini juga tidak perlu aku jelaskan "

"Tuan barusan mengatakan bahwa aku ada mirip dengan dirinya seseorang, siapakah orang itu

?"

"Akhli pedang nomor satu didunia bernama Hoan Thian Hoa, sahabat karib lohu"

Yo Cie Cong ketika mendengar orang aneh itu mengatakan bahwa dirinya ada mirip dengan

Hoan Thian Hoa, itu ahli pedang nomor satu didunia, bukan kepalang kagetnya. Ia masih ingat benar, Thian san Liong lie juga pernah mengatakan demikian Apakah dirinya ada mempunyai hubungan apa2 dengan orang yang bernama Hoan Thian Hoa itu..?

Tapi kemudian ia berpikir pula, dan lantas merasa geli sendiri. Bukankah banyak sekali jumlahnya orang yang mirip satu sama lainnya ? "Dimanakah sekarang itu orang yang bernama Hoan Thian Hoa ?"

"Bocah, apakah bisa jadi kau kenal padanya ? Nampaknya usiamu masih begini muda sekali.." "Tidak. aku tidak kenal padanya, cuma saja ada seorang yang tengah mencari padanya." orang

aneh itu nampak membuka lebar matanya. "Siapa ?"

"Thian san Liong lie Tho Hui Hong, dia sudah mencari padanya 10 tahun lebih lamanya." "Ahh.. sejak dahulu kala asmara memang selalu membikin sengsara. Nona Thio sesungguhnya

patut dikasihani "

Yo Cie Cong mendengar ucapan orang aneh ini mungkin tahu jelas persoalan antara Thian san Liong lie dengan jago pedang yang bernama Hoan Thian Hoa itu. oleh karena ia sendiri sudah berjanji hendak mencarikan dimana adanya laki2 yang sedang dicari oleh bibi Thionya itu, maka ia pikir hendak mencari keterangan dari dirinya orang itu.

"Apakah Giok bin Kiam khek Hoan Thian Hoa itu bukannya murid dari jago see gak Leng Jie Hong Locianpwee ?"

"Benar "

"Dimana orangnya ?"

"Mati atau hidupnya masih belum jelas. Tapi kemungkinan besar sudah binasa ditangannya wanita cabul yang kejam itu "

Wanita cabul yang dimaksudkan oleh orang aneh itu, sudah tentu Yo Cie Cong tidak tahu siapa orangnya, tapi suatu pikiran mendadak terlintas dalam otaknya, maka lantas menanya:

"Tahukah tuan jago see-gak Leng Jie Hong itu ada mempunyai berapa murid ?" "Cuma satu Hoan Thian Hoa "

Jawaban ini benar-2 mengejutkan Yo Cie Cong. Dua manusia aneh dari rimba persilatan telah menyuruh ia memenuhi janjinya untuk bertanding ilmu silat dengan muridnya manusia gaib dari rimba persilatan, sedang manusia aneh Leng Jie Hong itu cuma mempunyai satu murid, sudah tentu ia adalah Giok bin Kiam khek Hoan Thian Hoa, tidak salah lagi.

Tapi menurut keterangannya bibi Thonya, yang pernah mencari ke gunung see-gak,

Hoan Thian Hoa benar2 sudah menghilang Dan sekarang orang aneh ini mengatakan bahwa mati hidupnya Hoan Thian Hoa masih menjadi satu pertanyaan, ini benar2 membuat orang tidak habis mengerti.

Dengan orang yang mempunyai kedudukan seperti Lam tie Pak hong, yalah dua manusia aneh dari rimba persilatan, sudah tentu tidak nanti membohongi dirinya.

Lama berdiri melongo. Dalam hatinya berpikir sendiri, barangkali dari mulutnya orang aneh ini aku dapat mengetahui sedikit tentang dirinya Hoan Thian Hoa. setelah berpikir demikian, ia lantas menanya dengan suara lemah- lembut: "Bolehkah tuan memberi tahukan nama tuan yang mulia?"

"Lohu adalah Hui Lui chiu (si tangan geledek) Ngo Yong, saudara angkatnya Hoan Thian Hoa "

Yo Cie Cong ketika mendengar orang aneh ini ada saudara angkatnya Hoan Thian Hoa, seketika itu lantas timbul perasaan hormatnya maka ia lantas berkata dengan sikapnya yang menghormat:

"Kiranya Ngo Cianpwee, maafkan sikap boanpwee tadi yang agak kurang sopan " "ow, tidak apa2. Nah bocah, sekarang coba terangkan, cara bagaimana kau bisa datang ke puncak gunung pit koan hong ini?"

"Karena mengejar jejaknya dua orang sehingga tiba disini " "Bagaimana orangnya yang kau kejar?"

"Mungkin dua orang wanita, tapi mereka gesit sekali gerakannya, hingga tidak dapat dilihat dengan nyata "

"Dimana sekarang orangnya ?"

"Ketika boanpwe tiba disini, dua orang itu sudah ada ditepinya tebing puncak gunung diseberang sana"

"Eh, bagaimana lohu tidak dapat lihat"

Yo Cie Cong tampak berpikir sejenak. kemudian bertanya:

"Menurut pikiran boanpwee, mungkin ada jalanan rahasia yang menuju ke seberang puncak sana .Jikalau tidak. dengan jarak yang begitu jauh dan tempat yang begitu curam, didalam rimba persilatan barangkali belum terdapat seorangpun juga yang mampu menyeberangi jurang ini."

"Ng, lohu disini sudah menunggu lebih dari 10 tahun lamanya, belum pernah menemukan dimana ada jalanan rahasia?"

"Apakah cianpwee menunggu disini juga lantaran ketarik oleh perasaan heran ?" orang aneh itu mendadak dongakkan kepala dan tertawa sedih.

"Hahaha... Tertarik oleh perasaan heran?, rasanya cuma tepat sebagian saja, Lohu adalah hendak mencari tahu tentang mati atau hidup saudara angkat lohu Hoan Thian Hoa itu"

"Tentang mati hidupnya Hoan cianpwee apakah ada hubungannya dengan puncak gunung di seberang sana itu ?"

"Benar, ada kemungkinan besar dia telah mati ditangannya Giok- bin Giam-po Phoa Cit Kow, itu wanita cabul yang paling kejam di dunia "

Yo Cie Cong seolah-olah terpagut ular, badannya hampir saja melompat, tapi ia coba kendalikan perasaannya, se-bisa2 jangan sampai naik darahnya.

Ketua Pek leng hwee Cin Bie Nio adalah muridnya Giok bin Giam po Phoa cit Kow. sedang Giok bin Giam po Phoa Cit Kow ini adalah salah satu musuh besarnya Kam-lopang, yang namanya terdapat didalam daftar dilembar pertama.

Hui lui chiu Ngo Yong ketika melihat sikapnya Yo Cie Cong nampak aneh, lantas menanya dengan heran. "Bocah, kau kenapa ?"

Yo Cie Cong coba menekan perasaannya sebisa- bisa, mencoba menjawab sekenanya: "Tidak kenapa-napa, boanpwee juga sudah lama mendengar namanya siluman wanita itu "

"Bocah, tentang Giok-Bin Giam-po Phoa Ciet Kow yang sembunyikan diri dipuncak gunung Pit koan-hong ini, orang2 dunia Kang ouw masih belum ada yang tahu.. Lohu sendiri dengan secara tidak disengaja dapat mempergoki pada puluhan tahun berselang "

"Jikalau Ngo cianpwee tidak berhasil menemukan jalanan yang menuju ketempat tersebut, barangkali akan menunggu disini untuk selamanya." orang aneh itu ketawa getir, tidak menjawab. Yo Cie Cong setelah berpikir sejenak, lalu berkata pula:

"Ngo cianpwee tidak menampik, boanpwe bersedia tenaga untuk membantu usaha Cianpwee, bersama-sama menyelidiki jalanan rahasia disekitar puncak gunung Pit- koan-hong ini tapi belum tahu bagaimana pikiran cianpwee?"

"Bocah, kita agaknya seperti dijodohkan harus berjumpa satu sama lain, marilah kau ikut ke tempat kediamanku, aku akan menceritakan suatu kisah untuk kau."

Yo Cie Cong yang justru kepingin tahu persengketaan antara Giok bin Kiam khek dengan Giok bin Giampo, ia menduga kisah itu tentunya ada hubungannya dengan itu, maka ia lantas terima baik ajakan Nao Yong.

Keduanya dengan jalan disepandiang tepijurang, terus menuju kesebelah kanan puncak gunung. Tidak antara lama, mereka telah tiba di depan sebuah goa kuno.

Hui Lui chiu Ngo Yang lantas berhenti dan berkata: "inilah tempat kediamanku, mari masuk " setelah berkata, ia masuk terlebih dahulu, Yo Cie Cong mengikuti di belakangnya.

Goa itu tidak dalam, baru berjalan dua tikungan sudah buntu. Dinding goa nampak licin, luasnya kira-2 5 tombak. Didalam goa itu tidak terdapat barang apa-2, cuma ditengah-tengah terdapat setumpukan kayu yang masih menyala apinya. Didinding sebelah kanan terdapat gantungan beberapa potong daging kering. Dua orang itu setelah berduduk ditanak. Ngo Yong lalu berkata: "Bocah, sekarang kau boleh dengarkan kisah lohu"

"Bonpwee bersedia mendengarkan"

"Pada 20 tahun berselang, didunia Kangouw telah muncul seorang pemuda tampan cakap seperti kau, dengan sebilah pedangnya ia telah menjatuhkan jago2 pedang di seluruh kolong langit tanpa menemukan tandingan.

Hanya dalam waktu setahun saja ia telah mendapatkan nama jago pedang nomor satu." "Boanpwe duga pemuda itu tentunya Giok-Bin Kiam khek Hoan Thian Hoa..."

"Dengarkan cerita lohu, jangan campur mulut. Namanya pemuda tampan itu menggetarkan seluruh rimba persilatan, berbareng itu juga menggetarkan hatinya banyak wanita muda atau tua. Banyak wanita dengan secara kalap me-ngejar2 dia, tapi pemuda itu sikapnya sedikitpun tidak tergerak hatinya. Thian san Liong lie Tho Hui Hong juga merupakan salah satu diantara-nya wanita cantik dan gagah yang kala itu jatuh hati padanya serta paling aktif mengejar padanya."

Yo Cie Cong diam2 anggukan kepala. Ngo Yong setelah berdiam sejenak, lalu berkata "Dalam suatu ketika, pemuda gagah dan tampan itu telah berkenalan dengan seorang gadis

yang usianya sebaya dengan ia, tapi mempunyai kecantikan yang bisa membuat siapa saja sekali melihat lantas tergila gila padanya. Dan pemuda itu lantas jatuh cinta kepada gadis cantik luar biasa itu..."

"Apakah ia lebih cantik daripada Thian san Liong lie ?" selaknya Yo Cie Cong.

"Benar, bukan saja lebih cantik dari padanya, tapi juga mempunyai kepandaian ilmu silat lebih tinggi"

"Ow "

Yo Cie Cong agaknya merasa kaget. sebab dalam matanya. Thian-san Liong- lie sudah terhitung seorang wanita yang mempunyai kecantikan luar biasa, dengan usianya yang seperti sekarang, sudah setengah tua kecantikannya masih kelihatan nyata, apalagi dimasa mudanya, entah bagaimana cantiknya ? Tapi gadis yang dikatakan oleh orang aneh itu katanya adalah lebih cantik daripadanya, hingga sukar dilukiskan sampai dimana kecantikannya gadis jelita itu ?

Selagi Yo Cie Cong masih terbenam dalam lamunannya sendiri, Ngo Yong sudah melanjutkan ceriteranya:

"Yang lelaki gagah tampan, yang perempuan cantik dan gagah pula, mereka merupakan satu pasangan yang setimpal. Maka tidak lama kemudian mereka terus terangkap jodohnya menjadi suami istri dan berdiam di suatu tempat tersembunyi yang mempunyai pemandangan alam indah permai. Mereka meninggalkan dunia Kang ouw, untuk menikmati penghidupan yang tenang tenteram."

"Siapakah nama wanita itu ?"

"Wanita itu bernama- Phoa san cian- ..." "Apakah dia ada itu Giok-bin Giampo ?"

"Kau dengar dulu ceritera lohu" kata Ngo Yong "pemuda tampan- itu kecuali pergi ketempat perguruannya, tidak membikin perhubungan dengan orang lain lagi. selama itu, lohu karena sedang melatih ilmu pukulan "Hui lui chiu (tangan geledek), juga sudah beberapa tahun tidak unjukan diri didunia Kang-ouw, kalau tidak begitu, barangkali saja bila mencegah tragedi yang mengenaskan ini."

"Lima tahun kemudian, mereka telah melahirkan seorang anak laki2, anak itu begitu cakap. sama dengan ayahnya, bayi itu dinamakan Hoan sin Cie. Ketika Hoan sin Cie baru berusia 3 tahun, ayahnya dipanggil oleh perguruannya untuk melatih semacam kepandaian ilmu silat. Setahun kemudian baru bisa pulang berkumpul lagi dengan anak istrinya. Tapi ketika pemuda itu kembali, ia telah dapat kenyataan bahwa istrinya telah berubah sikapnya."

"Sang istri yang dulu biasanya beradat lemah lembut dan sopan santun, tapi kini mendadak berubah menyadi genit centil dan berandalan. Pemuda itu yang lebih memperhatikan pemeliharaan badan dan ilmu silatnya daripada kesenangan dalam kamar, agaknya tidak memuaskan istrinya yang sudah berubah sifatnya itu.

Hal ini sangat memusingkan kepalanya anak muda itu, disamping itu, sang isteri itu juga sering keluar kelayapan, kadang2 sampai beberapa hari tidak pulang.

si pemuda mengingat kepentingan anaknya, terus menahan sabar terhadap tingkah laku isterinya itu Tapi akhirnya habislah sudah kesabarannya, ia telah kabur meninggalkan rumah tangga bersama anaknya "

"Dan kemudian?" menyelak Yo Cie Cong tidak sabar.

"Kau jangan cemas, dengarkan cerita lohu. Pemuda tampan itu setelah meninggalkan rumah tangganya, untuk sementara menitipkan anaknya kepada seorang petani dan ia sendiri mulai lagi penghidupannya didunia Kang-ouw, sebagaimana umumnya orang2 yang hidup di dunia Kang ouw, tidak mempunyai tempat kediaman tertentu, sebentar disana sebentar disini.

Kala itu lohu juga sudah berhasil menyelesaikan ilmu silat lohu dan mulai terjun kedalam dunia Kangouw hingga kita berdua berjumpa lagi. Dari penuturannya, lohu baru tahu nasib apa yang telah menimpa pada dirinya.

Pada suatu hari, teryadilah suatu kejadian yang tidak di duga-duga, disinilah merupakan permulaan suatu tragedi yang mengenaskan "

Si Tangan Geledek ketika menutur sampai disitu, matanya mendadak memancarkan sinar kebencian, agaknya masih merasa gemas tentang apa yang telah terjadi dikala itu, Setelah berdiam sejenak, ia baru berkata lagi.

"Dalam peryalanan memasuki propinsi Ho lam kita berdua telah mendapat kabar ramai tentang perjanjian adu silat antara 5 partai besar dengan Giok bin Giam po Phoa Cit Kouw hingga perjalanan kita lantas dituju kan ketempat pertandingan tersebut.

Ketika kita tiba disana, orang-2 kuat dari pihaknya partai besar, sudah ada 5 lebih jumlahnya yang binasa didalam tangannya Giok bin Giam po Tapi pemuda tampan itu ketika melihat wajahnya Giok bin Giam po, seketika itu diuga lantas jatuh pingsan, Lohu terpaksa memondong padanya kesuatu tempat yang sunyi untuk membikin sadar padanya. Ketika sadar kembali, ia baru mengatakan bahwa wanita yang menyebut dirinya Giok bin Giam po Phoa Cit Kow itu ternyata adalah isterinya sendiri, Phoa Sian Ciao "

"Giok- bin Giam-po usianya masih belum tua, mengapa menyebut dirinya Po ( nenek) ?" menyela Yo Cie Cong heran-

"Mana. wanita cabut itu kala itu usianya sudah mendekati 30 tahun, sebab ia pandai merawat diri, hingga kelihatannya masih tetap muda belia. Didunia Kang-ouw ia sudah mengacau beberapa puluh tahun lamanya, kecabulan dan kegenitan serta kekejamannya sudah sangat terkenal, entah berapa banyak pemuda binasa dibawah obat beracunnya yang dinamakan obat syorga semalaman- Maka ia disebut sebagai Giok bin Giam-po "

Yo Cie Cong lantas ingat bagaimana dirinya sendiri juga hampir binasa dibawah tangannya Cin Bie Nio dengan obat beracun itu, maka wajahnya lantas nampak beringas, mulutnya tidak hentinya mendumel tendiri, se dang dalam hatinya lantas berpikir: "pantas karena gurunya begitu cabul maka muridnya juga demikian pula"

saat itu ia sudah dengar lagi suaranya Ngo Yong yang nampaknya agak gemas.

"cuma lantaran saudara angkatku itu belum lama muncul didunia Kang ouw, meski pernah dengar tentang Giok- bin Giampo, tapi belum pernah melihat orangnya, maka terjadilah peristiwa yang menyesalkan seumur hidupnya. Ia telah minta lohu supaya menilik anaknya yang masih kecil, ia sendiri hendak berusaha untuk menyingkirkan wanita cabul itu. Karena lohu tidak berhasil mencegah maksudnya, maka kita lantas berpisahan-

"Sungguh tidak di duga, ketika lohu dapat mencari petani yang dititipi anaknya saudara angkat lohu, petani itu rumahnya berikut hartanya sudah ludes karena kebakaran yang terjadi pada beberapa hari berselang sebelum lohu ketemukan, dan yang lebih mengenaskan lagi ialah anak saudara angkat lohu entah kemana dan dimana sekarang adanya "

Tidak lama kemudian, dikalangan Kang ouw telah ramai tersiar kabar tentang hasilnya pertandingan antara pemuda tampan dengan Giok bin Giampo, katanya pemuda tampan itu telah terluka, tapi selanjutnya kedua-duanya lantas menghilang dari dunia Kang ouw itu hingga sekarang sudah kira-2 10 tahun lamanya ?"

Hui lui chiu bicara sampai disini, lalu berdiam sejenak. kemudian berkata pula:

"Bocah, anaknya pemuda tampan itu kalau sekarang masih hidup daLam dunia, barang kali sudah sama besarnya dengan kau. Usiamu toh tidak lebih dari 20 tahun bukan? Ketika untuk pertama kali aku tadi melihat kau, aku benar2 mengira kau mungkin ada anak dia itu, sebab wajahmu ada mirip sekali dengan wajahnya pemuda tampan itu berselang "

Yo Cie Cong hatinya tercekat.