Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 12

Jilid 12

EMPAT TUKANG joli dampaknya juga mempunyai kepandaian ilmu silat, saat itu mereka juga turut mundur kebelakang, sehingga hanya ketinggalan sebuah joli yang tertutup rapat yang berhadapan dengan Yo-Cie Cong.

"Yo Cie Cong, kau telah bermusuhan dengan aku. Bagimu tidak ada faedahnya." demikian terdengar suaranya Cin Bie Nio dari dalam-joli.

"Cin Bie Nio, jikalau kau tidak mau keluar, jangan sesalkan kalau nanti tanganku terlalu telengas"

"Kau hendak berbuat apa?"

"Aku hendak membikin hancur Jolimu. Aku ingin lihat kau nanti unjukkan diri atau tidak." "Yoy Galak benar bicaramu. Barangkali kau nanti tidak tega turun tangan-"

"Kau lihat saja"

Sehabis berkata tangannya lantas hendak bergerak.

"Yo Cie Cong. kau tentunya tidak menghendaki sibudak cilik Ut-tie Kheng akan turut binasa, bukan ?"

Yo Cie Cong terperanjat. pikirnya: Kiranya Ut-tie Kheng telah terjatuh dalam tangannya wanita jahat ini. Entah apa maksudnya wanita berbisa ini ?

"Cin Bie Nio, nona Ut-tie sekarang ini berada dimana ?"

"Yoy Kau jangan keburu napsu, ia sekarang sedang duduk dengan aku secara baik-baik, dalam satu joli. "

"Hmm Kau hendak apakan dia ?" " Hatimu menjadi perih bukan?"

"Jikalau kau berani mengganggu seujung rambutnya saja..." "Habis kau mau apa ?"

"Pek-leng-hwee akan kuhancur leburkan, tidak ada seorangpun yang dapat hidup lagi, termasuk kau sendiri."

"Hi, hi hi, hi. sombong benar,"

"Tidak percaya kau boleh tunggu dan lihat" "Hh"

"Cin Bie Nio apa maksudmu kau menculik nona Ut-tie?"

"Bocah. Kau baik-baik ikut aku, semua nanti dapat kita rundingkan secara baik-baik" "Aku mau kau sekarang juga lepaskan tawananmu."

"Jikalau aku tidak mau turut?"

"Termasuk kau tentunya sebelas orang, jangan harap bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup."

"Kau lihat "

Jendela tiba-tiba terbuka, lalu terlihat dirinya Ut-tie Kheng dalam keadaan seperti orang linglung. ia duduk disampingnya Cin Bie Nio, sedangkan Cin Bie Nio kelihatan berseri-seri, agaknya ia tidak mauperdulikan ancaman Yo Cie Cong.

si anak muda dadanya hampir saja meledak. ia lalu berseru dengan suara nyaring: "Adik Kheng

"

Tetapi Ut-tie Kheng sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apa-apa, agaknya si dara tidak

kenal lagi pada pemuda itu.

Yo Cie Cong merasa cemas dan gusar, ia lalu berkata dengan suara bengis: "Cin Bie Nio, kau apakah dirinya."

Cin Bie Nio mendadak wajahnya berubah dan dengan suara keren ia menjawab:

"8ocah, kau tidak usah kuatir. Dia tidak akan mati. Cuma jikalau kau tidak mau terima baik permintaanku itu ada susah dibilang, Kau lihat saja nanti"

Diwajahnya Yo Cie Cong yang asam dingin terlintas napsunya hendak membunuh. IA lalu membentak sambil kertak gigi:

"Cin Bie Nio, aku mau kau lepaskan tawanannmu." "Tidak bisa."

Yo Cie Cong sudah mulai tidak sabar, badannya tiba-tiba bergerak maju.

sepuluh orang anak-anak buahnya Pek-leng hwee sudah lantas maju dengan berbareng menghalang didepan joli, dengan pedang masing-masing mereka menghalangi majunya Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong sudah tidak dapat mengendali hawa amarahnya. "Kalian cari mampus" bentaknya keras.

setelah membentak, dengan cepat ia mengayunkan tangan kanannya.

serangannya itu dilakukan tenaga delapan bagian. Dilihat dari kekuatan Yo Cie Cong pada serangan itu sudah cukup dahsyat kalau untuk menggempur satu bukit saja.

Sepuluh orang anak buahnya Pek Leng hwee baru saja hendak bergerak menyerang, tahu-tahu kekuatan serangan Yo Cie Cong yang sangat hebat sudah sampai lebih dulu, sehingga pedang ditangan masing-masing tidak mampu lagi di gerakkan. Barulah semuanya merasa kaget dan ketakutan setengah mati.

Sebentar kemudian lalu terdengar suara jeritan ngeri diantara suara jeritan itu darah tampak berhamburan.

Dua orang laki dan dua wanita dan anak buahnya Pek leng hwee sudah rebah menjadi mayat. Enam orang yang lainnya telah terpental sejauh setombak lebih.

Cin Bie Nio sesungguhnya tidak menduga bahwa anak muda itu sudah mempunyai kekuatan yang begitu hebat. Gara-gara perbuatannya yang memandang rendah pihak lawannya itu ia sudah mengantarkan empat jiwa anak buah.

Ia lalu membentak kepada enam orang anak buahnya yang masih ada: "semua mundur " Kemudian ia berpaling dan berkata kepada Yo Cie Cong:

"Bocah, jikalau kau berani maju lagi satu tindak. aka akan mengambil jiwanya anak ini lebih dulu."

Sehabis berkata sebelah tangannya lalu menekan jalan darah Leng-bun hiat . ditubuh Ut-tie Kheng. Asal tangan itu bergerak saja, jiwanya Ut-tie Kheng akan melayang seketika.

Perbuatan Cin Bie Nio itu sesungguhnya terlalu keji.

Yo Cie Cong kuatirkan sangat kalau jiwanya Ut-tie Kheag melayang, benar saja ia lantas tidak berdaya.

setelah berdiam sekian lama barulah ia berkata lagi:

" Cin Bie Nio, percuma saja kau menjabat ketua dari suatu perkumpulan. Ternyata kau masih mau berbuat begitu rendah. Apa kau kira aku Yo Cie Cong benar-benar tidak bisa berdaya menghadapi kau ?"

Cia Bie Nio sambil kerlingkan matanya yang jeli dengan cepat juga mengeluarkan sebutir obat yang lalu dimasukkan kedalam mulut Ut-tie Kheng, kemudian lompat keluar dari dalam jolinya dan berdiri dihadapan Yo Cie Cong sambil ketawa cekikikan.

Yo Cie Cong mendadak mengeluarkan ilmu Menggeser tubuh menukar bayangannya, dengan kecepatan luar biasa ia telah berhasil merebut dirinya Ut-tie Kheng dari dalam joli.

Tindakan luar biasa dari Yo Cie Cong ini telah membikin semua anak buahnya Pek Leng hwee yang menyaksikan pada terheran- heran.

Cin Bie Nio yang semula kelihatan wajahnya berubah, dengan cepat sudah pulih lagi pada keadaan sediakala dan memperlihatkan sifatnya yang genit. Terhadap dirinya Ut-tie Kheng yang ditolong oleh Yo Cie Cong, agaknya ia tidak memperdulikan sama sekali.

Yo Cie Cong mengetahui bahwa wanita itu banyak akalnya, hatinya juga kejam, ketika melihat sikapnya yang acuh tak acuh, hatinya lantas merasa curiga, maka itu ia lantai berkata:

"Cin Bie Nio, kau barusan berbuat apa atas dirinya ?"

Cin Bie Nio setelah memperdengarkan suara ketawa cekikikannya lalu menjawab:

"Bocah, kau ternyata pintar sekali. Aku tadi sudah memberikan padanya sebutir obat pil yang dinamakan "siao sun sie kut tan, Dalam waktu tiga hari saja tulang dan dagingnya akan berubah menjadi darah dan orangnya mati seketika. Aku memperingatkan padamu, didalam kolong langit ini, kecuali aku dan anak muridku, tidak ada lagi orang yang mampu melenyapkan racun itu"

Yo Cie Cong yang terpengaruh pikirannya, hampir saja rubuh tidak ingat orang. "Cin Bie Nio, kau terlalu kejam"

"Kau cinta padanya? Betul tidak?"

Yo Cie Cong dengan perlahan meletakkan tubuhnya Ut-tie Kheng yang sudah tidak ingat orang, sepasang matanya kelihatan mengembeng air.

Kiranya, itu hari, didalam rumah penginapan didalam kota Tiang soa, Yo Cie Cong dan Ut-tie Kheng masing-masing mengambil sebuah kamar dalam rumah penginapan tersebut. Dengan kamarnya Cin Bie Nio cuma terpisah satu lorong dan satu pintu tengah.

Cin Bie Nio yang tidak berhasil memikat hatinya Yo Cie Cong akhirnya dibikin kaget dan kabur oleh sao-hek. Tetapi terhadap dirinya Yo Cie Cong, wanita genit itu kelihatan semakin besar cintanya, maka ia telah bertekad bulat hendak mendapatkan dirinya pemuda itu, kemudian setelah mengetahui Ut-tie Kheng mempunyai hubungan rapat dengan Yo Cie Cong, lantas saja timbul perasaan mengiri dan jelusnya.

Diam-diam ia masuk nyelundup kedalam kamarnya Ut-tie Kheng, dengan menggunakan obat mabuk ia telah berhasil membuat Ut-tie Kheng tidak berdaya. Ia bermaksud hendak membawa Ut- tie Kheng kepusat perkumpulan Pek leng hwee, kemudian dengan menggunakan dirinya nona ini sebagai umpan ia mau supaya Yo Cie Cong masuk dalam perkumpulannya Pek leng hwee, dengan begitu akan tercapailah segala cita-citanya dan keinginannya. Sesungguhnya ia tidak menduga kalau mereka akan bertemu satu dengan lainnya ditempat itu.Jikalau ditimbang dari kekuatannya, Ut-tie Kheng yang mendapat warisan kepandaian ilmu silat dari engkongnya kalau hendak dibandingkan dengan CmBie Nio rasanya masih lebih tinggi setingkat. sayang ia masih belum banyak mempunyai pengalaman dalam dunia Kang-ouw. ditambah lagi ia tidak menduga sama sekali kalau begitu bertemu sudah lantas dibikin tidak berdaya oleh lawannya dengan senjatanya yang beracun, maka dengan mudah sudah tertawan oleh musuhnya.

Sekarang mari kita balik kembali pada jalannya cerita.

Setelah meletakkan tubuhnya Ut-tie Kheng, Yo Cie Cong lantas berkata dengan suara gusar: "Adik Kheng lihat aku nanti bunuh wanita genit dan jahat ini untuk membalas sakit hatimu."

Ia lalu mengangkat kepalanya, dengan mata beringas lantas hendak turun tangan. Cin Bie Nio kelihatan berubah wajahnya, kemudian berkata dengan tenang:

"Bocah, kau jangan sombong. Terus serang kuberitahukan padamu tidak nanti kau mampu menyambuti serangan tipu silatku "cut siu Tiauw hua" Jikalau kau menghendaki dia hidup, kau harus pikir lagi masak-masak"

Yo Cie Cong yang mendengar perkataan itu jadi melongo.

Sebetulnya,Jikalau Yo Cie Cong menggunakan tipu silatnya yang luar biasa, yaitu "Menggeser badan menukar bayangan" dan menyerang Cin Bie Nio secara tiba-tiba barangkali Cin Bie Nio sudah tidak berkesempatan melancarkan tipu serangannya. Tetapi karena saat itu Yo Cie Cong sedang bersedih memikirkan nasibnya Ut-tie Kheng, dalam pikirannya yang kalut ia sudah tidak dapat memikirkan itu.

sebaliknya Cin Bie Nio, dalam hatinya diam-diam sudah merasa heran, pemuda ini dalam waktu yang sangat singkat dari mana bisa mendapatkan kepandaian ilmu silat yang begini tinggi? Ia mengerti bahwa kini ia tidak mampu lagi menandingi dirinya pemuda itu, tetapi iblis wanita ini banyak sekali akalnya. Ia dapat menggunakan kelemahan lawannya, maka lantas ia mendesak lagi setindak. katanya:

"Bagaimana ? Itu mudah sekali sebenarnya, asal kau mau menjadi anggota Pek- leng hwee saja."

Tiba-tiba Yo Cie Cong ingat akan pesannya orang berkedok kain merah bahwa dalam menghadapi sesuatu hal harus memikirkan masak-masak dulu baru bertindak. maka saat itu ia lantas tidak bisa menjawab.

Pada saat itu, dari atas pohon tiba-tiba terdengar suara orang disertai oleh suara ketawanya yang seperti orang gila:

"Rase cilik, apa kau benar-benar tidak takut pembalasan dari tuhan?"

Cin Bie Nio ketika mendengar suara itu wajahnya lantas berubah seketika.

Yo Cie Cong juga merasa pernah dengar suara itu, tapi untuk saat itu ia sudah lupa siapa orangnya. Dalam kagetnya, ia lantas dongakkan kepalanya melihat kearah pohon yang sangat lebat dengan daunnya.

Tapi apa yang mengherankan, orang tua setelah perdengarkan suaranya tadi lantas tidak terdengar suaranya lagi. sebab daun pohon sangat lebat, tidak bisa ditembusi oleh daya pemandangan mata orang biasa, hingga dapat diketahui dimana tempat sembunyinya orang itu.

Kekuatan mendengar Yo Cie Cong pada saat itu sudah sampai ketaraf bisa mendengar suara nyamuk terbang sejarak kira-kira 10 tumbak jauhnya. Tapi heran ia tidak tahu kalau ada sembunyi diatas kepalanya. selain dari pada itu, suara orang yang bicara itu agaknya dari jarak jauh, tapi juga seperti dari tempat dekat, hingga membuat orang sukar mengenali letaknya. Maka benarkah tingginya kepandaian orang yang bicara itu, dari sini saja kita bisa ukur sendiri

Cin Bie Nio sebaliknya sudah tahu siapa orangnya yang bicara tadi, maka saat itu ia sudah menjadi ketakutan, untung orang itu tidak unjukan diri, hingga ia masih dapat kesempatan untuk lekas-lekas kabur, kalau tidak. akibatnya sangat runyam. Tapi baru saja ia hendak angkat kaki, Yo Cie Tiong yang sudah murka, lantas menghadang didepannya. Cin Bie Nio terpaksa mundur satu tindak.

"Kau hendak mabur? Tidak begitu gampang heh" berkata Yo Cie Cong dengan suara dingin. Cin Bie Nio kuatir kalau orang yang bicara ditempat sembunyi tadi unjukkan diri, hingga tidak gampang lagi untuk ia kabur, ia harus segera meninggalkan tempat itu. maka ia lantas menjawab: "Kau hendak berbuat apa?"

"Tinggalkan obat pemunah mu, hari ini aku bebaskan kau, lain waktu kalau ketemu lagi kita perhitungkan kembali"

"Um, bebaskan aku, kau betul terlalu jumawa." "Kau mau serahkan obat pemunah mu atau tidak?" "Kalau tidak kau mau apa ?"

"Kalian sebelas orang jangan harap bisa meninggalkan tempat ini."

Lagi sekali Cin Bie Nio menengok ketempat pohon lebat, kemudian berkata : "obat pemunah ? Itu gampang sekali."

setelah berkata, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan keluarkan sebutir obat pil sebesar kacang. "Nah, ambillah segera," sambil lemparkan pil itu kepada Yo Cie Cong, siapa menyambuti dengan dua jarinya.

"Apa masih ada urusan lain lagi?" tanya Cin Bie Nio sambil unjukan ketawanya yang kecut. "Aku sudah kata, asalkan mau serahkan obat pemunah, aku bebaskan kau sekali lagi, pergilah " "Gunung hijau tidak berubah, air biru tetap mengalir, sampai ketemu lagi dilain waktu" kata Cin

Bie Nio mendongkol.

sehabis berkata ia lantas lompat masuk ke dalam jolinya, 4 laki-laki yang pemikul joli itu lantas pikul jolinya dengan cepat. sedang 6 anak buahnya yang lain, dengan membawa 4 mayat kawannya, juga lantas ikut kabur.

Yo Cie Cong tidak nyana Cin Bie Nio kali ini begitu mudah diajak urusan, hanya dengan beberapa patah kata gertakan saja sudah mengeluarkan obat pemunahnya.

Ia memikirkan dirinya Ut-tie Kheng yang perlu segera ditolong, maka tanpa banyak pikir lagi lantas bikin hancur pil obat pemunah itu dan lari menghampiri Ut-tie Kheng.

si nona masih duduk ditanah dalam keadaan linglung, tidak bergerak juga tidak bersuara. Yo Cie Cong lantas jongkok didepannya, dengan perkataan penuh kasih sayang ia berkata : "Adik Kheng, kau telan pil pemunah ini, ada satu hari aku pasti balaskan sakit hatimu ini " Ia berkata sambit sodorkan obatnya kedalam mulutnya Ut-tie Kheng.

"Bocah, kau sudah tidak ingin dia hidup lagi ?" suara itu datangnya secara tiba-tiba, hingga Yo Cie Cong terpera at dan urungkan maksudnya hendak memasukkan pil itu kedalam mulutnya si nona.

Ketika ia angkat kepalanya, lantas dapat lihat seorang tua aneh setengah paderi setengah imam, berdiri disampingnya.

Bukan kepalang girangnya Yo Cie Cong. ia lantas buru-buru maju 3 tindak dan berkata padanya sambil membungkukkan badan memberikan hormat: "Boanpwe Yo Cie Cong menjumpahi locianpwee "

orang tua aneh yang baru datang itu adalah Phoa ngo Hweshio, si hweshio gila, salah satu dari dua manusia aneh dalam rimba pesilatan. Pantasan tadi Cin Bie Nio ketakutan stengah mati dan buru-buru lari meninggalkan tempat itu.

"Bocah, kau betul-betul sembrono. Apa kau kira si rase kecil itu benar-benar mau memberikan kau obat pemunah yang tulen ?"

"Apa itu obat palsu ?" tanya Yo Cie Cong terkejut

"Hmm, bocah, kau terlalu kekanak-kanakan, kau kira Cin Bie Hio itu perempuan macam apa ?". "Hal ini......locianpwee..."

"Apa kau tidak percaya ?" "Bukan tidak percaya, hanya bagaimana locianpwe bisa tahu kalau obat pemunah ini adalah palsu?"

"Bagaimana moralnya si rase itu, bisa di ukur dari sifat gurunya. Menurut sifatnya Giok bin Giampo Phoa Cit Kau suhunya Cin Bie Nio. aku berani pastikan kalau obat itu ada palsu, coba kau cium bagaimana baunya ? Kalau baunya pedas dan menusuk hidung itu tandanya tulen. Kalau harum, haha, bocah kau toch sudah pernah makan satu kali, bukan ?"

Yo Cie Cong lantas mencium obat pil itu, benar saja baunya harum, tangannya memuncak. Dengan suara keras ia berkata pada dirinya sendiri: " Cin Bie No, perempuan kejam, kalau ako tidak bisa beset kulitmu, aku bersumpah tidak mau jadi orang"

"Bocah, bagaimana ?" tanya si paderi gila. "Harum baunya "

"Haha, kau sendiri toch sudah pernah makan satu kali, seharusnya tahu itu ada pil apa " "Apa itu ada pil sorga dunia ?"

"sedikitpun tidak salah "

Yo Cie Cong kepalanya seperti diguyur air dingin, matanya memandang wajah Ut-tie Kheng sejenak. Tiba-tiba ia berkata kepada Phoa-ngo Hweshio:

"Locianpwee nona Ut-tie ini, dia telah diberi makan obat beracun yang paling jahat didalam dunia "siao hun sie kutan" dalam waktu 3 hari dia akan binasa dalam keadaan hancur badannya"

"Ini aku tahu "

"Kalau locianpwee tahu nona Ut-tie diberi makan obat beracun, dan tahu pula kalau pil ini ada palsu, mengapa siang-siang tidak unjukkan diri memperingatkan perempuan jahat tadi? sudah tentu tadi boanpwee tidak gampang-gampang melepaskan dirinya perempuan jahat itu berlalu begitu saja. Tapi sekarang..."

"Sekarang bagaimana ?"

"Nona Ut-tie sudah tidak dapat tertolong jiwanya lagi" jawabnya Yo Cie Cong dengan suara masgul.

Phoa-ngo hweshio melirik pada Yo Cie Cong sejenak, lantas berkata:

"Bocah. ini ada urusanmu sendiri orang kau yang melepaskan, obat palsu juga kau sendiri yang minta dan yang terima, Hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan aku si hweshio gila"

Yo Cie Cong merasa sangat gelisah, tapi tahu bahwa locianpwe ini ada seorang yang suka bergurau dan adatnya memang gila-gilaan, barang kali ia masih mempunyai daya lain untuk menolong dirinya Ut-tie Kheng. Maka ia lalu berkata dengan suara cemas: "Hal ini boanpwe mengharapkan sangat pertolongan locianpwee"

"Hm, bocah, aku si hweshio gila bagaimana berani berlaku gegabah. Bocah perempuan ini sudah berani meninggalkan engkongnya pergi menemui kekasihnya, sudah sepantasnya kalau dia ketularan"

Yo Cie Cong ketika mendengar perkataan phoa- ngo Hweshio, wajahnya merah seketika. Dalam hatinya diam-diam berpikir: Hweshio gila ini bagaimana bisa tahu kalau adik Kheng itu kabur untuk mencari aku? Jikalau ada apa-apa telah terjadi atas diri adik Kheng. engkongnya tentu akan mencari aku. Meski ini ada urusan kecil, tapi aku toch tidak dapat membiarkan adik Kheng mati begitu saja"

Karena berpikir demikian, hatinya semakin gelisah, akhirnya ia merengek-rengek kepada Phoa ngo Hweshio:

"Locianpwee jiwanya nona Ut-ti cuma tinggal beberapa hari " "Habis mau apa?"

"Mau mencari Cin Bie Nio lagi tidak gampang, waktunya barangkali sudah terhambat " "Habis kau hendak berbuat apa ?"

"Kalau locianpwee tak dapat menolongnya, terpaksa boanpwee hendak mencari Cin Bie Nio lagi untuk minta obat pemunahnya "

"Kemana hendak kau cari ?" "Pek leng hwee "

"Kau tahu pasti dia mau memberikan kau obat pemunahnya ?"

"Tentang ini, asal bisa menemukan padanya, boanpwee tidak mau sudah kalau belum tercapai maksud boanpwe"

"Huh, huh, bocah, hitunglah kau bisa menemukan padanya. Tapi pusat Pek- leng hwe adalah di Hiu kang. pergi pulang paling sedikit kau harus memerlukan waktu 4 hari, apakah bocah perempuan ini bisa menunggu begitu lama ?"

Yo Cie Cong sebenarnya dalam perjalanan hendak menuntut balas kepada Cie in-pang, tidak nyana ditengah jalan menemukan kejadian demikian, yang tidak boleh tidak ia harus turut campur tangan. Tapi ia sekarang harus sesalkan perbuatannya sendiri yang begitu mudah melepaskan dirinya Cin Bie Nio.

"Locianpwe, terhadap soal ini sudah tahu betul, tapi bagaimana locianpwee membiarkan boanpwee melepaskan dirinya Cin Bie Nio dan tidak mau mencegah, sekarang bagaimana dengan jiwanya nona ut-ti ini?"

"Haha, bocah, kau ternyata pintar menyangkal. Taruh kata jiwanya anak perempuan ini binasa ditanganku, tapi toch bukan aku yang suruh kau melepaskan dirinya Cin Bie Nio ?"

Si hweshio gila itu nampaknya masih tidak tergerak hatinya barang sedikit, ia masih tetap dengan membawa adatnya sendiri

Yo Cie Cong menjadi penasaran, maka ia lalu berkata dengan sengit:

"Boanpwee ada satu permintaan yang tidak patut, harap locianpwee suka terima baik" "Coba kau terangkan"

"Tolong locianpwee menjagai dirinya nona ut-ti untuk sementara..." "Dan kau sendiri hendak berbuat apa?"

"Mencari Cin Bie nio, kiranya dia masih belum pergi terlalu jauh, boanpwee aka kejar sekuat tenaga".

"Jikalau tidak kecandak ?"

Untuk sesaat lamanya Yo Cie Cong membisu, tapi sebentar kemudian matanya nampak beringas, ia lantas menjawab dengan suara keras:

"Jikalau tidak dapat mencandak dan dalam waktu 3 hari tidak bisa dapatkan obat pemunah, boanpwee akan terus pergi ke Ki kang meng ubrak-abrik pusatnya Pek Leng-hwee guna menuntut balas sakit hatinya nona ut-ti "

Phoa-ngo Hwesio lantas tertawa terbahak-bahak.

"Bagus bocah, orang beribadat sudah sepantasnya kalau berlaku welas asih. Aku si hweshio gila kalau tidak mencegah kau melakukan perbuatan gila ini, bukankah nanti akan diceburkan kedalam neraka?"

Yo Cie Cong merasa gemas dan mendongkol, kalau bukan karena berhadapan dengan orang berkedudukan begitu tinggi dan pernah menerima budinya begitu besar, barangkali ia sudah naik darah ketika itu.

saat itu ia cuma bisa memandang si hweshio gila dengan hati mendelu, dengan tanpa disadari keringat dingin sudah membasahi dahinya...

Phoa-ngo Hweshio rupanya sudah menganggap cukup mempermainkan dirinya anak muda itu, lantas berkata sambil ketawa terbahak-bahak: "Bocah, jawab pertanyaanku dahulu."

"silahkan "

"Kau pernah menelan mustikanya binatang Gu liong- kauw?" "Benar?"

"Dan kemudian makan telurnya burung rajawali raksasa ?"

Yo Cie Cong merasa heran, soal ini hanya si Pengail Linglung dan cucu perempuannya serta si orang aneh berkedok merah bertiga orang saja yang mengetahui, dari mana si hweshio gila ini bisa dapat tahu? Tapi meski dalam hati merasa heran, ia tokh menjawab juga sambil anggukan kepala. "Benar "

"Tahukah kau bahwa saat ini dalam dirimu sudah mempunyai kekuatan tenaga dalam "Lian kek Cin khie" yang sudah tidak ada tara-nya dalam rimba persilatan ?"

"Hal ini, boanpwe tidak begitu faham "

"Mustikanya binatang Gu liang kauw, termasuk semacam kekuatan yang bersifat dingin, ialah "Im" murni, sedang telurnya burung rayawali raksasa, termasuk kekuatan yang bersifat panas, ialah "Yang" murni. Kekuatan "lm" dan "Yang" yang tergabung menjadi satu, berubah menjadi kekuatan tenaga dalam "Liang kek Cin khie" yang sudah tidak ada taranya..."

Mendengar keterangan itu, Yo Cie Cong diam2 merasa girang, tapi kalau ia mengingat jiwanya Ut-tie Kheng yang cuma tinggal 3 hari, perasaan sedih tidak dapat dicegah lagi, maka ia hanya menjawab "Ng, ng" saja.

Phoa ngo Hweshio berkata pula: "Kekuatan tenaga dalam "Liang kak Cin kie" itu, kalau bertemu keras lantas menjadi lunak, dan kalau bertemu lunak lantas menjadi keras Jika sudah terlatih benar tenaga dapat digunakan menurut kemauan sang hati, keras atau lunak bisa menurut kehendak hati sendiri, hingga kekuatannya melebihi dari segala kekuatan tenaga dalam yang mana saja Terutama untuk menghadap tenaga "Im" yang lunak dan segala kekuatan tenaga Yang bagaimana berbisa, ada merupakan senjata yang paling ampuh "

Yo Cie Cong merasa tergerak hatinya, mendadak ia ingat jiwanya sendiri hampir saja binasa didalam tangannya Liat yang Lokoay yang menggunakan ilmunya Liat-yan-ciang"

Jikalau benar seperti apa yang dikatakan oleh si hweshio gila, bahwa bertemu kekuatan keras bisa berobah lunak, tapi bagaimana saat itu tidak kelihatan khasiatnya? Mungkin ia masih belum tahu khasiat ini, sehingga percuma saja ia mempunyai kekuatan yang begitu mujijat, yang ternyata masih belum mengerti menggunakannya.

"Tolong locianpwee suka memberi keterangan bagaimana harus melatih kekuatan ini supaya bisa digunakan menurut kehendak hati" tanya Yo Cie Cong.

"Sekarang jangan kita bicarakan soal itu dulu, nanti terlantar urusan penting. Yang paling perlu adalah menolong jiwa orang lebih dulu "

Yo Cie Cong baru sadar, benar jiwa Ut-tie Kheng masih belum ketahuan bagaimana ? ia sendiri sebaliknya membicarakan soal lain

"Menolong jiwa nona Ut-tie ?" "sekarang kau malah tidak gelisah ?"

"Bukan begitu, dari mana datangnya obat pemunah racun?"

"obat pemunah racun? Haha, bocah, kau sendiri sudah cukup untuk menolong dia, buat apa obat pemunah ?"

Yo Cie Cong merasa heran, sampai mundur setindak. "Boanpwee bisa menolong dia ?" "Benar, kau bisa menolong dia "

"Terhadap segala ilmu ketabiban boanpwe sedikitpun tidak mengerti, apalagi..."

"Aku si hweshio gila, kata kau bisa menolong dia. tidak nanti bisa salah lagi. sekarang kau pondong perempuan ini, dan ikut aku ketempat yang sunyi. Disini ada jalan raya, kurang pantas "

Yo Cie Cong agak sangsi sejenak. tapi kemudian pondong dirinya Ut-tie Kheng. Phoa ngo Hweshio secepat kilat sudah berada ditempat 10 tombak lebih jauhnya.

Yo Cie Cong kerahkan seluruh kepandaiannya, dengan cepat ia mengikuti jejaknya hweshio itu, seolah-olah bintang sapu meluncur kearah kanan jalan raya.

Tidak antara lama, mereka sudah mulai menanyak jalanan keatas gunung. Tapi, betapapun Yo Cie Cong berdaya kerahkan seluruh kepandaiannya, masih tetap terpisah sejarak sepuluh tumbak dengan phoa-ngo Hweshio, biar bagaimana ia tidak berhasil mengeyar. Hingga diam ia memuji "benar, tidak kecewa ia menjadi orang luar biasa dalam kalangan Kang ouw "

Dengan cepat mereka sudah mendaki dua buah bukit dan baru berhenti setelah tiba di satu tempat dilamping gunung yang agak menonjol bentuknya. "Letakkan dia, bocah" perintah Phoa ngo Hweshio.

Yo Cie Cong menurut, ia letakkan dirinya Ut-tie Kheng ditanah.

"Bocah, kekuatan tenaga dalammu pada saat ini, didalam dunia Kang ouw sudah sukar mencari tandingan"

Yo Cie Cong diam, ia ingat pertempuran hebat di Cie lipeng pada beberapa hari berselang, kalau bukan si orang aneh berkedok merah yang memberi pertolongan, terang ia sudah binasa didalam tangannya Liat yang lokoay, bagaimana masih dikatakan tidak ada tandingannya ?

"Tapi boanpwee merasa bahwa kepandaian boanpwee masih belum cukup untuk menghadapi dunia Kangouw.." demikian ia menyawab sambil ketawa getir.

"Haha, bocah, ambekkanmu sungguh besar, apakah kau ingin menjadi orang kuat nomor satu didalam rimba persilatan ? cuma hal ini juga bukan satu kemustahilan yang kau tidak bisa dapatkan, itu tergantung dengan keberuntunganmu sendiri" ia berhenti sejenak. kemudian berkata pula: "Aku sudah kerahkan seluruh kekuatanku, tapi kau dengan memondong dirinya satu orang, masih bisa mengikuti dalam jarak 10 tumbak tidak sampai ketinggalan. Hal ini, aku si hweshio gila sungguhnya merasa sangat kagum."

"Cianpwe terlalu memuji "

"Bocah, sekarang aku hendak beritahukan caranya melatih ilmu Liang kek Cin khie ?" "Locianpwee, menurut pikiran boanpwe, sebaliknya menolong jiwanya nona Ut-tie dulu ada

lebih penting "

"Eh, bocah, bagaimana kau hendak menolong ?"

Yo Cie Cong dibikin melengak oleh pertanyaan ini, pikirnya: "Bukankah tadi ia sendiri yang berkata bahwa aku bisa menolong dirinya nona Ut-tie, tapi bagaimana sekarang berbalik berkata demikian ?" Phoa ngo Hweshio lantas berkata sambil ketawa cekikikan:

"Bocah, kau jangan marah dulu, pertama kau harus menggunakan waktu satu hari satu malam, untuk mengumpulkan dua kekuatan tenaga murni dalam badannu, kemudian dengan kekuatan tenaga itu kau baru bisa menolong dirinya nona itu " Yo Cie Cong kini baru mengerti.

Wajahnya Phoa ngo Hweshio mendadak berubah menjadi sungguh2.

"Bocah. kau duduk dulu, sebelum kau mulai, aku si hweshio gila masih ada satu hal yang sangat penting, harus kujelaskan pada mu lebih dulu, supaya lain hari tidak timbul kerewelan "

Yo Cie Cong menurut, ia duduk didepannya si hweshio. Phoa ngo Hweshio lantas berkata: "Sekarang kau harus menjawab pertandaan ku dengan terus terang, kau cinta kepada bocah

perempuan ini atau tidak ?"

Yo Cie Cong kemekmek. Ia tidak sangka si hweshio gila akan mengajukan pertanyaan demikian, maka seketika itu wajahnya lantas berubah merah, tidak bisa menjawab. "Heh bocah, kau tidak cinta padanya ?"

"Locianpwee, cinta atau tidak. ada hubungan apa dengan menolong jiwanya dia?" "Besar sekali hubungannya. Kau harus jawab dulu, kau sebetulnya cinta atau tidak?" ^ "Boanpwee.. boanpwe... tidak menyangkal memang cinta padanya, cuma saja cinta itu

memang tidak bisa terlaksana " "Heran, apa sebabnya ?"

"Boanpwe bisa mencelakakan dirinya, karena boanpwee sudah mempunyai kekasih orang lain " "Seorang yang mempunyai wajah seperti kau ini, sudah tentu tidak terluput dari godaan banyak

orang perempuan. Tidak ini tidak begitu penting, asal kau bisa mencintai dia dengan tulus hati, urusan mudah dibereskan "

"Tapi, boanpwee tidak bisa berbuat demikian"

"Hai, kenapa? Apa kau sudah gila? Kasih bocah perempuan ini begitu besar cinta kasihnya terhadap dirimu, dia kabur dari damping engkongnya, perlunya hanya hendak mencari kau. Dan sekarang jiwanya terancam bahaya, kau sendiri masih bisa mengatakan demikian? Apa kau sudah tidak mempunyai perasaan tanggung jawab ? Kasian juga nasibnya si Pengail Linglung, bagaimana perasaannya kalau dia mengetahui hal ini... Kabarnya dia juga sudah ter-birit2 meninggalkan pulau Batu Hitam untuk muncul lagi didunia Kang-ouw."

"Apa Lam-tie Locianpwee sudah meninggalkan pulau Batu Hitam?"

"orang tua itu cuma mempunyai satu cucu perempuan ini saja, kau pikir sendiri, ia gelisah atau tidak ketika mengetahui cucu perempuannya itu telah kabur?"

"Dan sekarang dimana adanya dia si orang tua ?"

"Aku dengan dia telah memencar diri untuk mencari anak perempuan ini, kami sudah berjanji 3 bulan kemudian akan bertemu di- kota Tiang-soa, sekarang kau tidak perlu tanyakan hal ini, kau harus jawab dulu pada ku, kau cinta padanya atau tidak?"

"Boanpwee sebetulnya memang tidak boleh mencintai dia ?"

"oleh karena lebih dulu kau sudah ada mencintai lain perempuan?" "Ya, tapi dia kini sudak tidak ada lagi didalam dunia "

Diwajahnya Yo Cie Cong nampak sangat berduka, ia dongakkan kepala memandang ke-langit, agaknya hendak mencari-cari bayangan kekasihnya yang sudah tiada, tapi juga seperti mengenangkan semua kejadian dimasa lampau yang sangat mengenaskan itu.

Untuk pertama kalinya ia mencintakan satu wanita, dan wanita itu kini sudah berlalu meninggalkan padanya, meninggalkan, untuk se-.lama2nya. Maka ia telah membawa pergi semua perasaan hatinya, itu benar2 merupakan satu tragedi yang sangat mengenaskan.

"oleh karena kedukaanmu yang sangat hebat itu, maka kau tidak memikirkan untuk mencintakan lain orang lagi ?" demikian Phoa ngo Hweshio menanya.

"Ya, sebab dia sudah membawa semua perasaan hatiku. selain daripada itu, boanpwe juga sudah bersumpah, asal urusan boanpwe sudah selesai, boanpwe akan menyusul arwah-nya ke alam baka"

Phoa-ngo Hweshio anggukan kepalanya, agaknya juga terharu oleh " cinta sejatinya" Yo Cie Cong.

setelah hening sejenak. Ia lalu berkata pula: "Bocah, kau suka melihat dia binasa ?" "Boanpwee tidak mempunyai maksud demikian, asal bisa menolong jiwanya nona Ut-tie Kheng,

boanpwee tidak sayang berkorban "

"Baik Kalau begitu, kau harus berkorban satu kali " "Boanpwee masih belum paham maksudnya"

"Diwaktu mengobati lukanya, kau harus bersentuhan daging dengan dia. Dengan mulutmu kau masukan hawa tenaga kekuatan Lian kek Cin-khi melalui mulutnya, dan dengan telapakan tanganmu kau menyalurkan hawa kekuatan tenaga Yang kek Cin goan melalui jalan darah "Beng hun hiat". Tindakan berbareng ini dapat mengalirkan kekuatan tenaga Im dan Yang kedalam badannya, dengan demikian baru bisa mendesak keluar racun yang mengeram didalam badannya. Coba kau kata, meski anak-anak orang rimba persilatan tentunya tidak terlalu kukuh dengan peradatan kuno, tapi dengan bersentuhan begitu rupa, apakah dia masih bisa kawin dengan orang lain ? Apalagi lelaki yang ia cintai adalah kau sendiri "

"Apa sudah tidak ada lain jalan ?" "Tidak ada "

ooocooo

BAB 31

SEKARANG Yo Cie Cong menghadapi satu ujian yang berat. Ia tidak dapat mengantapi Ut-tie Kheng binasa begitu saja, tapi ia juga tidak dapat menerima usul si hweshio gila, yang berat mengadakan perjanjian untuk sehidup semati dengan Ut-tie Kheng

Ia tidak menyangkal bahwa ia sesungguhnya juga menyintai Ut-tie Kheng, tapi ia tidak boleh menyinta nona itu, sebab kematiannya siang-koan Kiauw, sigadis baju merah yang juga ia cintai, sudah membawa pergi semua perasaan hatinya.

juga karena ia sudah bersumpah hendak menyusul arwahnya, ia tidak boleh melanggar sumpahnya sendiri.

Kalau ia terima baik usulnya Phoa-ngo Hweshio, terang ini akan merupakan satu tragedi pula. Tapi untuk sekarang ini, apa daya ?

Setelah memikir bulak balik, akhirnya ia mengambil keputusan untuk terima saja dulu permintaan si hweshio gila. Ut-tie Kheng ada satu wanita bijaksana, setelah sembuh dari penyakitnya, ia nanti akan jelaskan duduknya perkara dengan sabar, rasanya masih tidak terlambat. Yang sekarang ini adalah menolong jiwanya terlebih dahulu. setelah mengambil keputusan tetap. ia lantas berkata kepada Phoa-ngo Hwesio: "Boanpwe sekarang bersedia menurut perintah locianpwee "

"Haha, bocah, kau tidak boleh ragu-ragu. Kalau tidak, di kemudian hari apabila si orang tua Pengail Linglung mencari aku untuk membuat perhitungan, aku si hweshio gila tidak dapat mengampuni dirimu"

Yo Cie Cong anggukkan kepala sambil ketawa getir.

"Baiklah, sekarang kau boleh mulai melatih ilmumu " berkata Phoa ngo Hwesio yang lantas memberi petunjuk bagaimana caranya harus melatih ilmunya yang hebat itu. Yo Cie Cong tiba2 menanya dengan perasaan heran : "Apakah locianpwee pernah melatih ilmu " Liang kek Cin Goan ini?"

"Aku si Hweshio gila mempunyai rejeki begitu besar ?" "Bagaimana locianpwee bisa mengetahui begitu jelas ?"

"Pengertianku ini aku dapatkan dari kitab "Bu lim siu kie lok" (Kumpulan segala ilmu silat yang aneh), dari catatan buku itu aku sekarang ajarkan kepada kau. Menurut catatan dari kitab itu, harus orang yang mempunyai kekuatan tenaga "Im" dan "Yang" yang cukup kuat baru bisa melatih ilmu "Liang kek cin goan". ini berarti hanya orang yang mempunyai rezeki dapatkan dua macam kekuatan itu saja yang bisa mempunyai kepandaian ilmu istimewa ini."

"Kalau begitu, jika tidak kebetulan menemukan pengalaman gaib, lantas tidak ada orang yang bisa melatih ilmu luar biasa itu ? Dan locianpwee yang menulis kitab itu berdasarkan apa ?"

"Masih ada semacam orang lagi dapat melatihnya." "orang macam apa ?"

"Dengan dua orang yang mempunyai kekuatan ilmu lweekang yang sangat tinggi, tapi ada melatih ilmu kekuatan tenaga "Im" dan "Yang" yang sangat berlawanan, kemudian dengan menggunakan cara dari kalangan Buddha, kedua kekuatan "im" dan "Yang" itu disalurkan kedalam badannya seseorang, orang itu bisa juga melatih ilmu kekuatan yang sangat hebat ini.

Yo Cie Cong merasa sangat kagum terhadap pengetahuannya Pho ngo Hweshio dalam hal ilmu silat yang begitu luas.

sambil duduk bersila menundukkan kepala dan mengheningkan ciptanya, ia melatih ilmunya "Liang kek Cin goan".

Tiga hari kemudian Yo Cie Cong sudah masuk ketingkat seperti orang yang berada di antara sadar dan tidak sadar.

sang waktu telah berlalu terus tanpa terasa.

Esok hari menjelang tengah hari sekitar badannya Yo Cie Cong telah diliputi oleh selapis hawa yang berupa asap berwarna putih tercampur merah, kabut merah putih ini adalah tanda2 keistimewaannya ilmu "Liang- kek cin-goan".

Dijidatnya Yo Cie Cong, keringat sebesar biji kacang kedele nampak menetes turun. saat itulah, merupakan saat2 yang paling genting dan berbahaya Jika terkena goda, bukan saja akan lenyap segala jeri payahnya, tapi juga ada kemungkinan akan kemasukan iblis jahat, sehingga orangnya akan menjadi bercacad untuk seumur hidupnya.

Phoa-ngo Hweshio meski kepandaiannya sudah mencapai taraf yang tertinggi, tetap senantiasa melindungi keselamatan Yo Cie Cong, namun demikian, ia juga tidak berani gegabah. setiap saat dengan tidak berhenti-hentinya ia meronda disekitar tempat tersebut. Keadaan nona Ut-tie Kheng masih tetap seperti orang linglung, ingatannya hilang sama sekali, dengan badan lemah, ia rebah terlentang ditanah tanpa bergerai terhadap segala urusan yang terjadi didepan matanya sedikit pun ia tidak mengetahui.

Kabut merah putih yang tersebar dari badannya Yo Cie Cong, makin lama makin tebal. sekujur badannya nampak gemetaran, suatu tanda bahwa kekuatannya " Liang kek Cin goan" sudah nyelusup keseluruh tubuhnya.

Phoa-ngo Hweshio nampaknya sangat terperanjat terhadap hasil yang telah di dapat oleh anak muda itu, hingga dalam hatinya diam2 berpikir: "Bocah ini setelah berhasil mendapatkan ilmunya yang hebat ini, tidak bedanya seperti macan yang tumbuh sayap. Dalam kalangan kang-ouw, barangkali sudah tidak ada seorangpun yang mampu menandingi si bocah ini meski agak berat napsunya membunuh, tapi budinya luhur, rasanya tidak sampai teryerumus kedalam kejahatan.

Kalau tidak sungguh menyeramkan sekali akibatnya.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara pekikan yang nyaring memecahkan kesunyian tempat tersebut, hingga tempat belukar yang sunyi itu seolah-olah berobah menjadi seram keadaannya. Meski waktu itu sudah tengah hari, tapi suara pekikan yang kedengarannya menyeramkan itu, cukup membuat berdiri bulu roma.

Phoa ngo Hweshio juga terkejut, entah siapa orangnya yang akan datang itu? Kawan ataukah lawan ? orang yang lewat secara kebetulan ataukah mencari setori ?

Untuk membuktikan kebenarannya, dengan cepat ia lantas lompat melesat keatas batu cadas.

Dibawahnya batu cadas itu, Yo Cie Cong yang sedang melatih ilmunya "Liang-kek cin goan" sedang mencapai taraf yang paling genting dan berbahaya, sedang disampingnya masih ada nona Ut-tie Kheng yang masih menantikan pertolongannya, hingga dua anak muda muda itu sedikitpun tidak mempunyai kekuatan tenaga untuk melawan bahkan keadaannya sangat menguatirkan.

Suara pekikan seperti suara setan itu makin lama kedengarannya makin dekat. Diantara suara pekikan itu juga terdengar suara berkibarnya pakaian orang, terang yang datang itu bukan cuma seorang saja.

Phoa-ngo Hweshio dengan matanya yang tajam, terus mengawasi ke arah orang ini. Makin dekat bayangan orang itu kelihatan makin tegas. Ternyata jumlahnya ada 8 orang.

Dari gerakan mereka dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang2 ini semuanya ada mempunyai kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi.

Baru saja suara pekikan itu berhenti, bayangan orang itu sudah loncat melesat ke puncaknya batu cadas.

Pho-ngo Hweshio delikkan sepasang matanya, mengawasi orang tersebut.

Ternyata Cin Bie Nio juga terdapat di antara 8 orang itu. Apa maksud kedatangan mereka, rasanya tidak sukar diduga.

orang yang pertama unjukan diri itu wajahnya sangat jelek dan menakutkan, hingga membuat orang yang melihatnya seperti menemukan setan diwaktu tengah hari. orang itu tingginya cuma 3 kaki, paha dan lengannya sangat pendek. hingga bentuknya seperti anak2, tapi kepalanya luar biasa besarnya, sungguh tidak seimbang dengan keadaan badannya, begitu pula keadaan panca indranya, sepasang matanya kecil sipit dan tidak beralis, sedang hidungnya besar seperti hidung singa, tapi mulutnya monyong. Diatas kepalanya ada tumbuh rambut warna kuning yang sangat garang. Dengan itu saja, sudah cukup membuat orang bergidik.

Enam orang lainnya, adalah itu 5 pasang muda mudi pengiringnya Cin Bie nio, yang sepasang diantaranya sudah binasa di tangannya Yo Cie Cong, hingga kini cuma tinggal 5 pasang atau 10 orang.

phoa-ngo Hweshio setelah ketawa terbahak-bahak lantas berkata sambil mengawasi manusia jelek itu. "Ang Put Tan, selamat bertemu sudah beberapa puluh tahun kita tidak bertemu, kiranya kau masih belum mampus"

Kiranya manusia jelek luar biasa ini adalah Ang Put Tan, si Manusia jelek nomor satu yang namanya pernah menggetarkan dunia Kang-ouw. Manusia jelek ini sampai dimana tinggi kepandaiannya sesungguhnya sukar dijajaki. Ia termasuk orang yang berada ditengah-tengah antara kebaikan dan kejahatan.

Manusia jelek nomor satu itu dengan matanya yang sipit, setelah perdengarkan suara ketawanya yang aneh dan menyeramkan, baru menjawab:

"Hweshio gila, kau jangan bermain gila terus-terusan, kemana perginya dua bocah cilik itu ? Mereka ada orang2 yang dimaui oleh ketua kami, maka aku minta dengan hormat supaya kau suka serahkan saja kepada kami "

sambil ketawa bangga Cin Bie Nio turut bicara:

"Phoa ngo locianpwee, kau toch tidak bisa hilang kalau tidak tahu bukan ?"

Phoa ngo Hwes hio tidak mau ladeni padanya, sebaliknya berkata kepada Ang Pat Tan:

"Eh, bocah, sungguh bagus nasibmu, sejak kapan kau menjabat tugas sebagai pengawal bunga berjiwa ini ?"

Pertanyaan Phoa ngo Hweshio ini membikin merah wajahnya Ang Put Tan.

Cin Bie Nio menampak Phoa-ngo Hweshio tidak perdulikan pertanyaannya, sangat tidak enak perasaannya. Ia lalu kerlingkan matanya dan berkata kepada Ang Put Tan:

"Ang hokhoat (pelindung hukum), aku lihat tidak usah kau banyak bicara, sebaiknya kita geledah saja "

Phoa ngo Hweshio sangat gelisah, ia tahu benar kepandaian dan kekuatannya manusia jelek nomor satu ini. Dulu dengan ia hanya selisih setingkat saja, tapi kini setelah beberapa puluh tahun telah lalu, entah ia ada melatih ilmu kepandaian apa lagi?

Jika manusia jelek ini harus mengerocok padanya, sesungguhnya juga sangat runyam, apalagi Yo Cie Cong saat itu sedikitpun tidak boleh diganggu. Maka seketika itu lantas berkata sambil ketawa terbahak-bahak. "Rase cilik, tahukah kau siapa adanya bocah perempuan itu ?"

"Siapa dia?" Cin Bie Nio balas menanya.

"Cucu perempuannya si Pengail Linglung Lam tie"

Cin Bie Nio terperanjat. Ia tahu bahwa Lam-tie Kun-siu dengan Pak hong Phoa-ngo Hweshio ini ada merupakan sepasang manusia aneh dalam rimba persilatan. Baginya, satu saja sudah tidak berani mengganggu, apalagi dua?

Kedatangannya kali ini, pertama karena ia masih penasaran dan tidak bisa melupakan dirinya Yo Cie Cong yang cakap tampan, ia belum merasa puas kalau belum bisa dapatkan dirinya anak muda itu. Dan kedua, karena mengandal "Manusia jelek nomor satu" ini yang membantu, kalau tidak. biar bagaimana ia tidak berani menemui Phoa-ngo Hweshio.

"Hweshio gila, buat aku si orang she Ang tidak perd uli siapa itu Lam tie atau Pak bong" berkata Ang Pat Tan sambil goyangkan kepalanya yang besar.

"Hihi, bocah, apa kau memangnya sengaja hendak mencari setori dengan aku si hweshio gila ?" "Asal kau unjukkan dimana tempat sembunyinya kedua bocah cilik itu, antara kita tidak akan

terjadi apa2 "

"omieToHud, kalau begitu aku si hweshio gila nanti akan berdosa besar "

Ang Put Tan lantas ulapkan tangannya dan berkata kepada Cin Bie Nio: "Hweshio, kalian pergi geledah." Dengan demikian, suasana menjadi sangat tegang.

sebetulnya tidak perlu digeledah, asal turun kebawah. mereka sudah bisa menemukan orang yang dicari.

Pada saat itu, Yo Cie Cong yang berada dibawah lobang batu itu sudah mencapai taraf terakhir dalam latihannya ilmu gaib itu, kabut merah putih yang meliputi dirinya, per-lahan2 sudah mulai terisap masuk kedalam badannya. Sementara Cin Bie Nio setelah mendengar perkataan Ang put Tan, lalu ulapkan tangannya kepada 6 pengiringnya, hingga sebentar kemudian 7 orang itu sudah pada loncat turun kebawah.

Phoa ngo Hweshio dalam cemasnya, dengan cepat mengirim serangannya yang amat dahsyat untuk mendesak mundur kepada orang itu.

serangannya yang dilancarkan dalam keadaan mendesak itu, dapat diduga betapa hebatnya.

Maka Cin Bie Nio dan 6 pengiringnya telah terdorong balik dan merasa darah di dadanya pada menggolak hebat.

Tepat pada saat orang itu didorong balik oleh kekuatan tenaga yang dilancarkan oleh Phoa-ngo Hweshio, Ang Put Tan juga secepat kilat sudah melancarkan serangannya kepada dirinya hwessio gila.

Phoa ngo Hweshio yang sedang melancarkan serangannya kepada Cin Bie Nio dan pengiringnya, belum sempat menarik kembali tangannya, serangan si manusia jelek nomor satu sudah datang mendesak dirinya.

Dalam kagetnya, ia terpaksa lompat ke samping sampai 5 kaki, untuk menghindarkan serangan Ang Put Tan yang amat dahsyat itu. Ang Put Tan pentang bacotnya sambil ketawa bangga.

"Hweshio gila yang merupakan salah satu dari sepasang manusia aneh dalam rimba persilatan, kiranya cuma begitu saja"

Tapi Phoa ngo Hweshio ada seorang yang sudah mempunyai kedudukan dan kepandaian tinggi, dengan sendirinya juga mempunyai kesabaran luar biasa. Maka ia tidak ambil pusing ejekan manusia jelek itu, ia hanya memikirkan dengan cara bagaimana supaya dapat menahan sampai Yo Cie Cong selesaikan latihannya.

Jika Yo Cie Coag sudah berhasil dengan ilmunya itu, sudah cukup untuk menghadapi manusia jelek nomor satu ini, bahkan masih belum ada artinya buat ia. Tapi sekarang dalam keadaan demikian, sedikit suara saja juga sudah cukup membikin celaka dirinya anak muda itu.

Phoa ngo Hweshio tadi turun tangan merintangi tindakannya Cin Bie Nio, ia seperti juga memberitahukan bahwa orang2 yang mereka cari itu benar2 ada dibawah batu cadas itu.

Cin Bie Nio sehabis menerima serangan phoa ngo Hweshio yang sangat hebat itu, terus ketakutan- Beberapa kali ia hendak bergerak lagi, tapi tidak berani melanjutkan- ia sangat mengharapkan si "Manusia jelek nomor satu" segera turun tangan untuk merintangi si hweshio, supaya bisa bergerak dengan leluasa.

Phoa ngo Hweshio meski diluarnya kelihatan tenang2 saja, tapi dalam hatinya sebetulnya sangat gelisah, perasaannya itu hanya Tuhan saja yang tahu. sebab jika sedikit salah bertindak saja, akibatnya terialu hebat. Namanya sendiri akan runtuh, itu masih merupakan soal kedua, tapi Yo Cie Cong yang bakal menjadi orang kuat idam-idaman dalam rimba persilatan akan menjadi batal dan cacad karenanya.

Waktu itu ia lantas kerahkan seluruh kekuatannya, siap untuk menghadapi segala kemungkinan, siapa saja yang lompat turun kebawah, ia akan bunuh mati dengan lantas.

Suasana pada saat itu, sesungguhnya sangat genting. Mendadak si Manusia jelek nomor satu itu menggeram. "Geledah "

Perintah ini disusul dengan gerakan sepasang tangannya, yang dengan kecepatan bagaikan kilat telah meneryang kepada Phoa ngo Hweshio. sedang Cin Bie Nio dan 6 pengiringnya juga pada saat itu sudah loncat lagi....

Phoa ngo Hweshio yang merupakan salah satu dari dua manusia aneh didalam rimba persilatan, sudah tentu bukan seorang sembarangan. Apalagi ia sudah siap sedia dengan seluruh kekuatannya untuk menghadapi segala kemungkinan, maka ketika si manusia paling jelek turun tangan melancarkan serangannya, seperti kilat cepatnya ia juga mengimbangi serangan tersebut dengan gerakan badannya yang luar biasa gesitnya, hingga terhindar dari serangan lawannya yang dilakukan secara tiba2-itu, kemudian dengan sepasang lengan bajunya ia mengebut dari tengah udara.

Cin Bie Nio yang baru bergerak. segera merasakan suatu kekuatan hebat yang sangat aneh meluncur dari tengah udara menyerang padanya. Untung ia bisa berlaku cerdik dan sebat, dengan jalan jungkir balik ia kembali keatas batu cadas.

Enam anak buahnya, dua diantaranya sudah terjungkal kebawah jurang tanpa bisa mengeluarkan suara, sedang yang 1 lagi bisa menyelamatkan diri dengan jalan bergulingan ditanah.

Phoa ngo Hweshio setelah berhasil mencegah maksud orang2 itu dengan ilmunya "Liu-in Hut hiat", lantas balik ketempat dimana tadi ia berdiri, dengan tidak mengunjukan perubahan sikap apa2.

serangannya si "Manusia jelek nomor satu" yang kembali mengenakan tempat kosong, bukan kepalang gusarnya, sehingga rambutnya sampai pada berdiri. Ia merasa sangat penasaran, maka setelah perdengarkan suara geramnya yang bebas, lalu maju lagi, sepasang tangannya dengan sikap dan gerak yang berisik, telah melancarkan serangan pula dengan berbareng. serangannya sangat aneh sekali.

Phoa-ngo Hweshio tiba2 menyebut: "oMiToHud", sepasang lengan bajunya lantas dikebutkan dengan berbareng, untuk menyambuti serangan yang amat aneh itu. Kali ini ia juga menggunakan serangan tipu silat "Liu in Hut hiat" yang tidak kalah anehnya dari serangan si manusia jelek.

Tapi serangan kedua pihak itu sebetulnya tidak dilancarkan sepenuhnya, asal gerakan pihak lawan mengunjukan tanda bisa memecahkan serangannya, lantas akan ditarik kembali untuk merubah gerakannya. Dengan demikian, nampaknya kedua belah fihak tidak bertempur secara sungguh2, hanya hendak mencoba kekuatan lawannya.

Tapi pertempuran dalam kalangan orang kuat ini, memerlukan pemusatan tenaga, pikiran dan semangat, sedikit lengah saja, lantas bisa digulingkan oleh lawannya, maka sesungguhnya ada sangat berbahaya.

Phoa ngo Hweshio benar2 tidak menduga bahwa "Manusia jelek nomor satu" ini sesudah beberapa puluh tahun tidak bertemu, ternyata mendapat kemajuan begitu pesat kepandaian ilmu silatnya, dan hampir mengimbangi kekuatannya sendiri, maka ia juga tidak berani memandang ringan-

Cin Bie Nio dan sisa pengiringnya, saat itu sudah dibikin kesima oleh tipu2 pukulan yang sangat aneh dari kedua orang itu, sehingga melupakan maksud kedatanganmu ke situ.

"Manusia jelek nomor satu" itu sudah tidak berdaya memperingatkan Cin Bie Nio supaya lekas bertindak. oleh karena ia sendiri repot sedang bertempur melawan musuh yang amat tangguh, dan saat itu semua kekuatannya sudah dikerahkan kebatas puncak kemampuannya. Apabila ia bersuara, pasti akan diserbu oleh lawannya.

Dalam kerepotan mendadak timbul kecerdikannya. selagi melakukan gerak serangannya, kakinya telah menendang sebutir batu kecil, ditujukan kepada Cin Bie Nio yang sedang berdiri kesima dan batu itu telah mengenakan dengan tepat.

Rasa sakit telah membuat Cin Bie Nio sadar. Dengan cepat ia lantas bergerak meloncat turun kebawah. Perbuatan itu lantas ditiru oleh sisa anak buahnya...

Phoa ngo Hweshio yang menyaksikan keadaan demikian, batinya merasa cemas, hingga lawannya mendapat kesempatan untuk mendesak.

Phoa ngo Hweshio agak ripuh, dengan beruntun ia robah gerak tipu serangannya sampai 8 kali, baru berhasil mengimbangi serangan lawannya.

Memang tidak mudah bagi si "Manusia jelek nomor satu" untuk mengalahkan lawannya yang amat tangguh itu, tapi jika hanya hendak melihat saja masih bisa. Phoa ngo Hweshio sekalipun kepandaiannya sudah mencapai batas yang tidak ada taranya, tapi juga tidak mampu kendalikan perasaannya yang sudah cemas, sebab Cin Bie Nio dan anak buahnya sudah pada turun kebawah, entah bagaimana dengan nasibnya kedua bocah itu.

Hal itu justru mempengaruhi kekuatan dan kepandaiannya. Kalau tadi kekuatan kedua pihak masih kelihatan berimbang, tapi sekarang ia sudah mulai terdesak terus2an oleh " manusia jelek nomor satu". Dengan sendirinya ia sudah tidak berdaya untuk melepaskan dirinya.

sekarang mari kita tengok kepada Cin Bie Nio dan anak buahnya yang berjumlah 5 orang, begitu tiba di bawah batu cadas, apa yang dia saksikan, telah membuat ia kegirangan.

Yo Cie Cong nampak masih duduk bersemedi seperti paderi. sedang Ut-tie Kheng masih menggeletak disisinya dalam keadaan linglung.

Bukan kepalang girangnya Cin Bie Nio, sepasang matanya yang genit terus menatap wajahnya Yo Cie Cong. Makin lama memandang makin berkobar rasa cintanya terhadap anak muda itu.

Ia sudah kepingin memeluk dan mondong dirinya anak muda itu, untuk melampiaskan hawa napsunya.

Hawa napsunya itu mendadak berkobar begitu hebat, sehingga ia sudah melupakan dirinya berada dimana.

Dilainphak. -"Manusia jelek nomor satu" sedang bertempur mati2an melawan phoa ngo Hweshio di atas batu cadas.

Cin Bie Nio yang rupa2nya sudah tidak mampu kendalikan perasaannya, lantas perintahkan anak buahnya supaya membawa pergi dirinya Ut-tie Kheng.

Ia sendiri lalu mendekati Yo Cie Cong mulutnya berkata: "Manisku, kali ini kau sudah tidak bisa terlepas lagi dan tanganku" Tiba2 wanita jahat dan cabul itu berpikir:

"Tidak bisa bikin mabuk dia dulu dengan kebutan lengan bajuku yang mengandung racun dan dibawa ketempat sunyi? Kalau anak muda ini telah menikmati kesenangan, mungkin dia mau masuk menjadi anggota Pek leng-hwee Bukankah?"

Berpikir demikian, maka ia lantas angkat tangannya. Tapi baru saja lengan bajunya hendak bekerja, mendadak pada saat itu Yo Cie Cong sudah berhasil menyelesaikan latihannya untuk mendapatkan ilmu-yang amat hebat itu. Ia telah membuka matanya secara mendadak.

Sinar matanya yang tajam terus menatap wajahnya Cin Bie Nio, hingga wanita genit itu dengan tanpa sadar sudah mundur satu tindak

Yo Cie Cong setelah mengetahui siapa orangnya yang berada didepan matanya itu, yang bukan lain daripada itu wanita genit cabul yang ia paling benci, maka seketika itu lantas timbul napsunya untuk membunuh.

Dengan cepat ia lompat bangun dan berkata dengan suara dingin kaku: "Cin Bie Nio saat kematianmu sudah tiba"

Baru saja habis mengucapkan perkataannya, tangan kanannya sudah menyerang secepat kilat serangan tangannya itu mengunjukan tanda kemujijatan kabut berwarna putih campur merah, telah meluncur keluar dari telapak tangannya dengan tanpa bersuara.

serangan itu kelihatannya seperti sangat perlahan sekali, tapi sebetulnya cepat laksana kilat, sebentar saja sudah mengancam didepan matanya.

Cin Bie Nio meski merupakan salah satu orang ternama dalam kalangan Kangouw, tapi seumur hidupnya belum pernah menyaksikan ilmu kepandaian serupa itu, sedang dengar sajapun tidak pernah .

Belum hilang rasa kagetnya, hawa serupa kabut merah tercampur putih itu sudah mendekat dirinya, dan baru saja menyentuh tubuhnya lantas ia merasakan seperti terdampar oleh gelombang yang sangat hebat.. suara jeritan ngeri tiba2 terdengar amat nyaring, darah segar menyembur keluar dari mulutnya wanita genit itu, dari badannya terpental sejauh 3 tumbak lebih, kemudian jatuh ditanah tanpa bisa berkutik.

Yo Cie Cong sendiri juga dikejutkan oleh ilmu serangannya yang amat dahsyat dan aneh itu, hingga untuk seketika lamanya ia menjadi kesima. sebelumnya serangan tadi ia cuma menggunakan kekuatan 6 bagian saja, tidak nyana mempunyai kekuatan begitu hebat

Sekarang ia baru percaya ucapannya si hweshio gila yang ternyata tidak bohong. selagi ia hendak menghampiri dirinya Cin Bie Nio untuk bikin tamat nwayatnya, mendadak ia merasakan keadaan telah berubah, tubuhnya Ut-tie Kheng yang tadi menggeletak disisi dirinya, kini ternyata sudah lenyap.

Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong, ketika ia dong akan kepalanya, lantas dapat lihat berkelebatnya beberapa bayangan orang yang berada sejauh kira2 10 tombak lebih.

Dengan tidak memperdulikan dirinya Cin Bie Nio lagi yang sudah mampus atau masih hidup. dengan cepat ia lantas bergerak menyusul kearah bayangan orang tersebut.

Sementara itu, si "Manusia jelek nomor satu^ yang sedang bertempur mati2an dengan Phoa ngo Hweshio diatas batu cadas, saat itu juga dikejutkan oleh suara jertan ngeri dari Cin Bie Nio, hingga lantas berhenti bertempur. Kedua-duanya lantas loncat turun ke bawah

Phoa ngo Hweshio mengira suara jeritan itu adalah suara Ut-tie Kheng, kalau benar demikian halnya, niscaya Yo Cie Cong tentunya juga telah binasa, maka saat itu bancur luluhlah perasaan hatinya si hweshio gila itu. Tapi ketika ia sudah tiba dibawah, ia jadi berdiri melongo

Yo Cie Cong dan Ut-tie Kheng telah lenyap dua2nya, dan ditempat kira-2 10 tombak jauhnya, ada menggeletak tubuhnya CinBio nio yang sudah seperti mayat, sedang 4 anak buahnya juga sudah tidak kelihatan bayangannya.

semua pemandangan ini sudah membikin bingung hwesbio aneh itu, ia tidak tahu apa yang telah terjadi.

si "Manusia jelek nomor satu" yang baru tiba agak belakangan, dapat lihat dirinya Cin Bie Nio yang menggeletak dalam keadaan seperti mayat. Ia segera menghampiri dan ketika memeriksa lobang pernapasannya, ternyata napasnya sangat lemah. Dengan perasaan sangat sedih, ia lantas pondong dirinya Cin Bie nio.

seorang jelek yang tinggi badannya cuma 7 kaki, ialah memondong tubuhnya wanita cantik yang bentuk badannya lebih tinggi 2 kali daripadanya, sesungguhnya sangat lucu kelihatannya.

Kiranya si "Manusia jelek nomor satu" ini, selain bentuk wajahnya jelek. tapi ia ada mempunyai kepandaian luar biasa, Cin Bie Nio yang membutuhkan orang kuat seperti ia itu, maka ia tidak sayang menyerahkan dirinya kepadanya, meskipun sebenarnya ada sangat ganjil.

Dan untuk menghadapi Golok Maut, Cin Bie Nio lantas angkat dirinya manusia jeiek yang sudah tidak beda seperti suaminya itu, menjadi pelindung hukum untuk perkumpulannya Pek leng hwe, tapi masih tetap dibawah perintahnya.

Buat si manusia jelek nomor satu sendiri, yang sudah mendapat perhatian dan penghargaannya Cin Bie Nio yang cantik serta berpengaruh itu, sudah merupakan suatu keistimewaan, maka ia lantas terima baik semua permintaan Cin Bie Nio tanpa syarat.

Terhadap sepak terjangnya Cin Bie Nio yang gemar anak muda, ia juga tidak mau ambil pusing.

Maka tidak heran sebegitu lama, kedua orang itu tidak pernah bertengkar.

Dan kini "Manusia jelek nomor satu" itu setelah menyaksikan dirinya Cin Bie Nio berada ditepi jurang kematian, bagaimana ia tidak cemas dan sedih?

Jikalau tidak lekas ditolong, barangkali jiwanya bisa melayang. Maka seketika ia lantas berkata kepada Phoa ngo Hweshio sambil kedip2kan matanya yang sipit:

"Hweshio gila, ganjalan antara kita masih belum beres, lain waktu kita bikin perhitungan lagi." sehabis berkata, ia lantas berlalu sambil pondong tubuhnya Cin Bie Nio. Phoa ngo Hweshio yang hatinya masih memikirkan nasibnya Yo Cie Cong dan Ut-tie Kheng, mendengar perkataan si manusia jelek itu, ia juga tidak mau ambil pusing, hanya menjawab "Ng ", antapi musuh yang sangat tangguh itu berlalu.

-0000000-

BAB 34

DENGAN perasaan bingung phoa ngo Hweshio mengawasi berlalunya si manusia jelek nomor satu bersama Cin Bie nio yang masih belum ketahuan mati atau hidupnya.

sekalipun ia ada seorang yang sudah kenyang asam garamnya dunia Kang ouw, tapi menghadapi kejadian aneh didepan matanya saat itu, ia sendiri juga merasa bingung. Cin Bie Nio sebenarnya terluka ditangan siapa ?

Hilangnya Yo Cie Cong dan Ut-tie Kheng, apa celaka ditangan Cin Bie Nio dan orang-orangnya atau ada lain sebab lagi ?

sebab mereka yang satu sedang bersemedi melatih ilmunya, sedang yang lain dalam keadaan linglung jika ada terjadi apa2 atas diri mereka, besar sekali tanggung jawabnya bagi dirinya.

Dengan kedudukannya sendiri yang merupakan salah satu orang terkuat dalam rimba persilatan, ternyata tidak mampu melindungi jiwanya dua bocah, ini sudah merupakan satu noda yang tidak mudah dihapus begitu saja. Maka ia semakin memikir semakin gelisah.

Mendadak pada saat itu terdengar suara beberapa jeritan ngeri yang datangnya dari arah sejarak kira-2 ratusan tumbak.

Phoa ngo Hweeshio hatinya bercekat, dengan tanpa ragu-2 lantas melesat kearah datangnya suara jeritan tadi.

setelah melalui satu bukit, suatu pemandangan yang mengerikan telah terbentang didepan matanya.

Empat bangkai manusia telah menggeletak di tanah dalam keadaan hancur tidak keruan macamnya, keadaannya sangat menggenaskan.

Phoa ngo Hwesio setelah memeriksa keadaannya semua bangkai itu, agaknya seperti terbinasa didalam tangannya seorang kuat yang mempunyai kekuatan tenaga dalam luar biasa. Maka seketika itu ia lantas merasa heran, sebab orang yang turun tangan itu selain hebat sekali kekuatan tenaga dalamnya, juga nampaknya sangat ganas dan telengas.

Ketika ia periksa lebih jauh, bangkai itu terdiri dari seorang wanita dan tiga pria, semuanya berdandan pakaian ringkas dan mana bawa pedang. Hweshlo gila itu lantas sadar. Bukankah itu ada bangkainya 4 anak buahnya Cin Bie Nio? Heran, siapa gerangan yang turun tangan begitu kejam ?

Yo Cie Cong dan Ut-tie Kheng masih tetap belum diketemukan. Hatinya semakin cemas, perasaannya semakin bingung.

selagi dalam keadaan demikian, didalam rimba sebelah kanannya ia berdiri, tiba2 terdengar suara aneh.

Dengan cepat ia lompat masuk kedalam rimba tersebut. Dan apa yang disaksikan. Disitu ia telah dapatkan dirinya Yo Cie Cong yang nampaknya sedang kebingungan, tangannya dengan tidak berhentinya meng-garuk2 kepalanya yang tidak gatal.

Diatas tanah, nampak dirinya Ut-tie Kheng yang bergulingan sambil merintih dan mengeluh.

Begitu melihat hweshio itu segera mengetahui bahwa obat racun "sia- kut sia huntan"-nya Cin Bie Nio sedang bekerja, maka ia lantas maju menghampiri dan mengebut dengan lengan bajunya.

Yo Cie Cong yang sedang kebingungan, mendadak melihat datangnya satu bayangan orang, yang dengan cepat melesat kearahnya Ut-tie Kheng. Dengan tanpa melihat dan berpikir, ia lantas membentak dengan suara keras: "Kau cari mampus " Berbareng dengan mara bentakannya itu, tangan kanannya lantas diayun, dari situ lantas meluncur keluar kabut merah putih, dengan tanpa bersuara meneryang ke arah Phoa ngo Hweshio yang baru tiba.

"Bocah, aku " demikian si hweshio gila berseru, dengan cepat menghindarkan serangan Yo Cie Cong tadi...

Yo Cie Cong ketika mendengar seruan itu dalann hatinya lantas berseru. " Celaka "

Dengan cepat ia tarik kembali serangannya, namun demikian, kabut merah putih masih ada sebagian yang tidak keburu ditarik kembali, saat itu lantas meluncur terus dan menyambar daunpohon dalam rimba itu, hingga beberapa batang pohon besar pada dibikin tumbang.

Phoa ngo Hweshio yang semula hendak kebutkan lengan bajunya untuk menotok jalan darah Ut-tie Kheng yang bergulingan di tanah supaya mengurangi penderitannya, tidak nyana hampir saja ia mati konyol.

Untung ia ada mempunyai kepandaian sangat tinggi yang sudah tidak ada taranya, Jikalau bukan dia, mungkin tidak mampu menghindarkan serangannya Yo Cie Cong yang sangat hebat itu.

sesudah hilang rasa kagetnya, Phoa ngo Hwesbio lantas berkata:

"Bagus, bocah Jiwaku yang sudah tua bangkotan ini masih perlu menantikan kedatangan sang Buddha."

"Locianpwee maafkan boanpwee yang kelerlepasan tangan "

"sudahlah bocah, apakah Cin Bie Nio dan 4 anak buahnya semua terluka dibawah tanganmu ?" "Adakah ilmu mu " Liang kek Cin goan" sudah berhasil dengan sempurna ?"

"Terima kasih atas bantuan locianpwee."

"Hihi, bocah, aku si hweeshio gia cuma menyampaikan apa yang aku dapat baca dari buku orang lain saja, bantuan apa sampai aku perlu mendapat terima kasihmu. Jikalau bukan karena kemujijatan yang ada pada dri mu. sekalipun kau mengerti pelajarannya, apa gunanya ? Bukankah percuma saja ?"

"Eh locianpwee, bagaimana dengan Cin Bie Nio? sudah mampus atau masih hidup?"

"sudah dibawa pergi oleh si "Manusia jelek nomor satu" didalam dunia, barangkali masih belum tiba saatnya untuk binasa."

Bercekatlah hatinya Yo Cie Cong ketika mendengar disebutnya nama julukan "Manusia jelek nomor satu didalam dunia ini, maka dengan cepat ia lantas menanya:

"Locianpwee, siapa yang locianpwee sebutkan sebagai manusia jelek nomor satu didalam dunia itu ?"

"Kenapa ? Apa kau kenal padanya ?"

"oh tidak. boanpwee tidak kenal dia cuma..."

Yo Cie Cong tahu bahwa ia telah keterlepasan omong, tapi sesaat itu ia sudah bisa lantas perbaiki lagi, maka ketika ditanya oleh si hweshio gila, ia lantas kelabakan tidak mampu menjawab. sedang dalam hatinya tergoncang keras, hampir tidak mampu kendalikan perasaannya

.

"Cuma apa ?" tanya Phoa ngo Hweshio.

"Boanpwe pernah dengar bahwa iblis itu bentuknya jelek sekali "

"Ng manusia jelek nomor satu didalam dunia Ang put Tan, jelek si memang jelek. tapi kejahatannya masih tidak seberapa. orangnya termasuk golongan di tengah2 antara kejahatan dan kebaikan, cuma selama ini bagaimana sepak terjangnya ? Aku sendiri masih belum jelas "

"Bagaimana iblis itu bisa bersama dengan Cin Bie Nio?"

"Manusia jelek nomor satu itu sudah di angkat sebagai pelindung hukum dalam Pek leng hwee oleh Cin Bie Nio "

"ow, ada kejadian demikian-"

Phoa ngo Hweshio lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi diatas bukit itu, Yo Cie Cong yang mendengarkan sampai rambutnya pada berdiri Perasaan dendam yang sangat hebat timbul dalam batinnya Yo Cie Cong. sebab dalam rentetan nama2 musuhnya Kam lopang dalam buku daftar, diantara 5 orang yang termasuk golongan paling kuat, kecuali si iblis rambut merah dan Giok bin Giam po Phoa Cit Kow yang belum unjukkan diri, siluman tengkorak Lui Bok Thong, Im yang Lo-koay dan si manusia jelek nomor satu dalam dunia, satu persatu sudah muncul dikalangan Kang ouw.

Sedang ia sendiri kini sudah berhasil mempunyai ilmu Liang kek Cin-goan yang sangat ampuh, sehabis membereskan musuhnya yang namanya terdapat didalam lembar kedua, sudah tentu akan melayani mereka dengan sepenuh tenaga.

Phoa ngo Hweshio tidak perhatikan sikapnya Yo Cie Cong, sembari menuturkan kejadian yang barusan telah terjadi, ia sudah menotok jalan darah su hiat dibadannya Ut-tie Kheng dengan ilmu Liu-in hut-hiat.

Ut-tie Kheng- meski sudah ditotok jalan darahnya dan segera hentikan perbuatannya yang bergulingan di tanah, tapi diwajahnya masih mengunyukan perasaan menderita yang sangat hebat.

"Bocah, urusan tidak boleh terlambat, sekarang kau harus segera mulai keluarkan racun dari dalam badannya "

"Baiklah "

"sekarang kaupondong dirinya dan rebahkan dalam keadaan terlentang didalam lobang gua dibawah pohon besar itu "

Yo Cie Cong berbuat menurut apa yang diperintahkan oleh Phoa- ngo Hweshio, Lobang goa itu ternyata cukup, luas untuk dua-orang.

"Sedang hoa ngo Hweshio sendiri lantas senderkan diri dibawah pohon besar diluar goa. "Bocah, setiap aku sebutkan, kau harus lakukan seperti apa yang aku sebut."

"sekarang kau buka bajunya "

Yo Cie Cong nampaknya merasa keberatan.

"Lo... locianpwe,.hal ini..." ia berkata dengan suara gemetar. "Tidak usah itu itu, lekas buka "

Yo Cie Cong terpaksa melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Phoa-ngo Hweshio. setelah pakaian si nona dibuka, tangannya mulai gemetar begitu pula hatinya juga berdebar keras.

Yo Cie Cong kini merasakan gawatnya persoalan. ia sungguh tidak menyangka ada cara yang demikian untuk menyembuhkan penyakit. Kalau tidak mengingat budinya si orang tua yang menjadi engkongnya si nona ini, ia lebih suka menempuh bahaya untuk dapatkan obat pemunah nya.

"Lekas bocah " demikian panggilnya si hweshio gila dari luar.

sambil menutup matanya, Yo Cie Cong mulai kerjakan tangannya untuk mengurut seluruh jalan darah penting dibadannya Ut-tie Kheng.

Perbuatan demikian memerlukan keteguhan batin yang sangat kuat, sebab kalau tidak. akibatnya runyam.

"Bocah buka totokan jalan darah Sui-hiat nya." terdengar pula suaranya si hweshio gila. "Baik"

Yo Cie Cong yang baru pertama kali me-raba2 tubuh wanita, hatinya berdebar keras, hampir saja ia tidak mampu kendalikan dirinya.

Untung saat itu Ut-tie Kheng masih dalam keadaan tidak ingat orang, kalau tidak... bagaimana anggapannya ?

Kembali terdengar suaranya Phoa- ngo Hweshio.

"Awas kau harus tempelkan badanmu didadanya, bawa kekuatanku kau masukkan melalui mulutmu kemulutnya, tangan kananmu harus menempel rapat dijalan darah Ben bun-hiat..."

Yo Cie Cong agak sangsi sejenak, tapi akhirnya ia lakukan juga seperti apa yang di katakan oleh si hweshio gila. Suatu perasaan yang belum pernah ada, membuat dirinya Yo Cie Cong seperti dibakar. semangatnya dirasakan terbang melayang jauh entah kemana.

Ia kepingin lari keluar dari dalam goa itu, tapi sudah tidak mempunyai kekuatan dan keberanian.

Pada saat itu, kembali terdengar suaranya Phoa ngo Hieshio:

"Bocah, singkirkan dulu pikiran yang bukan-2, pusatkan semua perhatian dan kekuatan serta perasaan, mulai gunakan " Liang kek Cin goan mu."

suara hweshio gila itu telah menggugah perasaannya, ia mencoba melakukan seperti apa yang dikatakan oleh hweshio itu, tapi sukar menenteramkan pikirannya yang kalut, hingga hampir saja gila

"Bocah, kau tidak boleh menyesatkan diri orang lain dan dirimu sendiri" lagi2 terdengar uarania si hweshio gila, yang meski berada diluar goa, tapi agaknya mengetahui segela apa yang terjadi didalam goa.

Perkataan "Menyesatkan diri orang lain dan dirimu sendiri" dari si hweshio gila itu se-olah2 geledek menyambar kepala, Yo Cie Cong sadar seketika, hingga pikirannya yang bukan2 telah lenyap semua. Pikiran jernih timbul, kembali, mendadak didepannya terbayang parasnya seorang gadis baju merah.

Itu adalah parasnya siang-koan Kiauw yang mati tertelan oleh ombak dilautan Lam hay. oleh karena cintanya yang begitu besar terhadap dirinya siang koan Kiauw telah menempuh

segaia bahaya mengikuti perjalanannya Yo Cie Cong ke pulau Batu Hitam, tapi akhirnya mendapat kecelakaan dalam lautan lam-ha y, maka Kematiannya gadis itu, dianggapnya gara2 dia yang bawa.

"Yah, aku tak boleh menyesatkan dirinya lain orang dan diriku sendiri Aku sudah menyesatkan dirinya seseorang.." demikian Yo Cie Cong berkata kepada dirinya sendiri

Oleh karena pikiran jernih sudah kembali, maka segala pikirannya lalu dipusatkan kepada usahanya untuk menyembuhkan lukanya nona Ut-tie Kheng.

sebentar sekujur badannya Yo Cie Cong lantas mengeluarkan hawa seperti kabut berwarna putih campur merah, yang makin lama nampak makin tebal dan kemudian telah meliputi tubuh Yo Cie Cong dan tubuh Ut-tie Kheng.

Telapakan tangan kanannya juga sudah mulai mengeluarkan hawa "Liang-kek "Cin-goan", dengan melalui jalan darah Beng-bun hiat, perlahan-lahan menyusup ke sekujur badan Ut-tie Kheng.

Entah berapa lamanya berlalu, hawa "Liang kek Cin-goan" yang masuk dari mulut dan telapakan tangan, telah membuat ingatannya Ut-tie Kheng perlahan lahan mulai jernih, semua racun yang mengeram dalam badannya, juga sudah mulai buyar.

Ut-tie Kheng yang sejak masih kanak2 sudah dilatih ilmu "Kan-goan cin cao" oleh engkongnya, maka dalam ilmu lwekang sedikit banyak sudah mempunyai dasar yang sempurna.

Dan kini, setelah racun yang mengeram dalam badannya sudah lenyap. Kan goa n cin cao, yang didesak oleh "Liang kek Cin- goan" segera menimbulkan reaksi yang nyata.

Dua rupa kekuatan hawa lweekang dalam tubuhnya yang membaur menjadi satu dengan cepat menyusup keurat-urat dan otot2 sekujur badannya dan akhirnya menembus bagian terpenting apa yang dinamakan "seng-te Hian koan" atau bagian yang merupakan batas antara kematian dan kehidupan manusia.

Setelah terjadi gelora hebat, jalan darah Jin dan "Tek" tertoblos secara mendadak, hingga uttie Kheng kembali berada dalam keadaan pingsan.

Yo Cie Cong dibikin kaget oleh getaran itu hingga sekujur badannya turut menggetar, dan mulutnya dengan tanpa sadar mengeluarkan seruan tertahan- ia sendiri tidak mengira apa sebabnya bisa terjadi begitu. Phoa ngo Hweshio juga dikejutkan oleh suara seruan Yo Cie Cong, ia buru2 tongolkan kepalanya untuk melongok kedalam goa. Begitu melihat, ia lantas mengerti apa yang telah terjadi. Maka lantas berkata sambil angguk-anggukan kepala:

"Ai, bencana dan rezeki nampaknya salalu berdampingan. Hal ini sesungguhnya diluar dugaanku si hwethio gila. Budak ini karena mendapat bencana akhirnya menemukan rezeki, bagian batas kematian dan kehidupannya telah tertoblos. Yah dasar takdir "

Setelah itu, ia lantas membentak dengan suara keras: "Bocah, sudah selesai"

Yo Cie Cong menarik napas lega, selagi hendak berdiri Tepat pada saat itu Ut-tie Kheng telah mendusin dan membuka matanya

Ketika mengetahui bahwa baju atasnya telah terbuka, sedang Yo Cie Cong rupanya baru habis menindihkan dirinya, wajahnya lantas merah seketika.

Ia yang sama sekali tidak mengetahui sebab musababnya telah menganggapnya Yo Cie Cong hendak berlaku tidak senonoh terhadap dirinya. Maka ia lantas mendorong dengan pelahan dan berkata dengan perasaan malu: "Engko Cong, ini.. ini mana boleh?"

Yo Cie Cong yang mendengar perkataan si nona, hatinya merasa malu serta cemas. ia tahu bahwa Ut-tie Kheng telah salah sangka. Maka ia buru2 duduk, tangannya mengambil pakaian Ut- tie Kheng dan ditutupkan diatas dadanya, lalu berkata dengan suara ter-putus2.

"Adik Kheng, bu bukan-.."

sebaliknya Ut-tie Kheng telah dibikin terkejut oleh perobahan sikap Yo Cie Cong ini, maka lantas berkata sambil buka lebar matanya. "Engko Cong, kenapa ?"

"Adik Kheng, bereskan pakaianmu dulu, sebentar kujelaskan lagi."

Ut-tie Kheng yang sudan bermandikan keringat, sambil menahan rasa malunya lantas mengenakan pakaiannya kembali.

Yo Cie Cong setelah menghela napas lalu berundak keluar goa.

Tidak lama kemudian Ut-tie Kheng juga turut keluar. Begitu berada diluar, kembali ia merasa ter-heran2.

sebab Phoa- ngo Hweshio sedang mengawasi dirinya sambil ketawa cengar-cengir. Ia merasa lebih bingung lagi sebentar menengok mengawasi si hweshio gila, sebentar lagi melirik kearah Yo Cie Cong.

Ketika ia ingat apa yang telah terjadi di dalam goa tadi, pipinya lantas menjadi merah dan menanya pada Phoa ngo Hweshio dengan suara aleman : "Engkong Hweshio, kalian ini apa artinya ?"

"Hm. bu Budak. apa kau tidak senang?"

Perkataan yang bersifat menggoda ini, didalam telinganya Ut-tie Kheng dirasakan sangat menusuk, sebagai seorang gadis yang masih putih bersih, bagaimana mengerti godaan secara demikian, maka seketika itu wajahnya antas berubah pucat dia berkata dengan suara keras:

"Kalian telah bersepakat menghina diriku?" sehabis berkata ia lantas mengayun tangannya hendak menampar muka si hweshio gila.

Barusan ketika Yo Cie Cong menggunakan ilmunya untuk mendesak keluar racun dalam badannya, dengan tidak disengaja telah berhasil menoblos urat nadi bagian jin" dan "Tok", maka serangannya itu sesungguhnya sudah hebat sekali.

Phoa-Hgo Hweshio cepat2 berkelit dan berkata pada nona Ut-tie sambil tetap masih tertawa. "Budak, kau berani bersikap kurang ajar terhadap aku? Aku nanti suruh engkong mu pukul

pantatmu."

Ut-tie Kheng yang sudah gusar menjadi semakin gusar, apa lagi ketika serangannya mengenakan tempat kosong, maka ia lantas menyerang lagi semakin sengit.

Yo Cie Cong yang berdiri disamping merasa kuatir kalau nanti Ut-tie Kheng yang digoda keterlaluan menimbulkan kejadian yang tidak diingini, maka cepat ia mencegah: "Adik Kheng, tahan dulu." Ut-tie Kheng menarik serangannya kembali, dengan suara geram ia menanya pada Yo Cie Cong: "Mau apa?"

"Apakah adik Kheng sudah tidak ingat semua apa yang telah terjadi selama ini ?" "Kejadian apa sebetulnya ?"

"Bukankah kau sudah ditawan oleh si iblis Cin Bie Nio..."

Ut-tie Kheng baru sadar maka dengan tidak menantikan Yo Cie Cong melanjutkan perkataannya, ia memotong. "oooo, ya, Tapi sekarang bagaimana ?"

Phoa ngo Hweshio lalu menceritakan apa yang terjadi atas dirinya.

Ut-tie Kheng sekarang baru mengerti duduknya perkara, maka ia cepat-2 maju beberapa tindak dan berkata:

"Kheng jie minta maaf pada engkong Hweshio." sehabis berkata ia sudah hendak berlutut.

Phoa ngo Hwesio ketawa bergelak sambil kebutkan lengan bajunya, sesuatu kekuatan tenaga yang tidak terlihat telah mencegah Ut-tie Kheng menjalankan peradatan demikian.

"Tidak usah, tidak usah. Asal lain kali kau tidak sembarangan turun tangan kepada orang sudah cukup," si hweshio berkata masih bergurau. Ut-tie Kheng delikkan matanya lalu menjawab dengan suara aleman.

"Siapa suruh kau menggoda orang ? Sebagai orang tua masih suka berbuat seperti anak2 saja." "Ha, ha... Bagus sekali ucapanmu. Tetapi budak. kau harus mengucapkan terima kasih, kepada

engkong mu si hweshio gila ini yang sudah mengatur dirimu." "Eeeh, Mengatur? Mengatur apa ?"

"Apa kau benar2 tidak mengerti ? - Kau telah kabur dari pulau batu hitam sehingga membuat engkongmu yang tolol dan linglung itu mencari2 dirimu, sampai hampir2 patah kakinya. Apa sebabnya yang membuat kau berbuat demikian ?"

Ut-tie Kheng memang orangnya cerdas, maka saat itu ia sudah mengerti apa maksud perkataan mengatur yang diucapkan oleh si hweshio gila ini, maka seketika itu juga ia menundukkan kepala kemaluan, sedangkan matanya melirik kearah Yo Cie Cong yang sedang berdiri disamping.