Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 11

Jilid 11
DISEPANJANG jalan Cin Bie Nio terus memperhatikan gayanya yang genit, mulutnya saban- saban tersungging senyuman.

Yo Cie Cong ketika melihat wajahnya Cin Bie Nio sudah lantas berkobar lagi napsu membunuhnya. Ia menyesal tidak bisa lantas menghabiskan jiwanya perempuan yang centil genit itu.

Siao-hek yang menyaksikan aksinya Cin Bie Nio sudah lantas berkata dengan suara perlahan: "Cie Cong, kau lihatlah biar tegas. Itu orang tua yang berbadan tinggi besar dan yang sangat

galak nampaknya, adalah itu hantu tua yang dipanggil Liat yang Lokoay. Hantu ini usianya sudah sembilan puluh tahun lebih, tetapi kelihatannya masih seperti seorang yang belum cukup lima puluh tahun usianya.

"Liat-yang Lo-koay?" tanya Yo Cie Cong beberapa kali.

"Cie Cong, hantu tua itu didalam kalangan Kangouw benar-benar merupakan seorang kuat yang dimalui."

Yo Cie Cong berpikir: 'Lo-koay ini merupakan musuh kuat nomor dua dari Kam lo-pang. Tetapi entah bagaimana dan sampai dimana pula tingginya? Apakah mampu menandingi kepandaiannya

... "

Ut-tie Kheng mendadak menanya Yo Cie Cong dengan penuh perhatian:

"Engko Cong, aku melihat keadaanmu ini seperti seorang yang sedang melamun atau banyak pikiran Apakah kau lelah? Aku lihat kau mengaso dulu sebentar tentu ada baiknya." Siao-hek pura- pura berkata dengan nada sedih:

"Aihh. Aku si pengemis kecil yang tidak mempunyai sanak kadang serta hidup sebatang kara, tidak ada seorangpun yang mengambil perhatian atas diriku. Tetapi begitu dijelmakan aku sudah mempunyai jiwa mengemis. Jikalau sampai mendapat perhatiannya orang bukankah itu berarti hendak mengurangi umurku. Aku lihat seharusnya aku balik kembali ke dalam kuil, kalau ada pembicaraan antara orang tua itu dengan aku, boleh dibicarakan belakangan." sehabis berkata, orangnya hendak lantas berbangkit.

"Siao-hek, apa benar kau hendak berlalu ?" tanya Yo Cie Cong.

"Kalau aku tidak pergi, cuma menghalang maksud kalian berdua saja." sambil ketawa cengar cengir pengemis cilik itu lantas berlalu.

Yo Cie Cong dan Ut-tie Kheng yang digoda sedemikian rupa oleh Siao-hek. mereka merasa tidak enak. hingga wajahnya pada merah.

setelah Siao-hek berlalu Yo Cie Cong dan Ut-tie Kheng mengobrol lagi sampai lama, kemudian Yo Cie Cong minta kepada pelayan supaya menyediakan sebuah kamar untuk Ut-tie Kheng menginap.

Selama tiga hari, Yo Cie Cong terus berdiam dalam rumah penginapan

Ut-tie Kheng terus menunggui Yo Cie Cong, hingga semua tindakan selanjutnya yang sudah direncanakan baik-baik oleh Yo Cie Cong, terpaksa tidak dapat dijalankan- Untuk sementara itu ia tidak berhasil melepaskan diri dari pengawasannya Ut-tie Kheng.

Manusia tetap manusia yang terdiri dari daging dan darah, sudah tentu mempunyai perasaan. Yo Cie Cong lambat laun telah tergerak hatinya oleh kecintaannya Ut-tie Kheng yang begitu besar, tapi karena masih belum bisa melupakan dirinya siang koan Kiauw, ia masih bimbang untuk menyambut cintanya Ut-tie Kheng.

Kalau saat itu ia menerima cintanya Ut-tie Kheng, baginya merupakan satu penderitaan, bukannya bahagia. sebab perasaan hatinya seluruhnya sudah ditumpahkan kepada dirinya Siang koan Kiauw. sedang nona baju merah itu kini sudah tiada di dalam dunia, dan binasanya juga karena mengikuti dirinya ke Lam hay. Cinta pertama memang susah dihapus begitu saja. sekalipun orang yang dicintai itu sudah tiada, perasaan cinta itu masih begitu besar melekat dalam hatinya, maka ia tidak boleh menipu dirinya sendiri.

Tapi, kalau ia menolak kecintaan Ut-tie Kheng secara getas, ia akan melukai beban hatinya nona itu maka ia juga tidak mau berbuat demikian-Penderitaan itu terus mengganggu batinnya.

Ut-tie Kheng yang masih putih bersih dan berhati mulia, bagaimana bisa tahu kalau dalam benak sang kekasih itu sedang menderita begitu rupa ? Ia terus kelelap dalam lamunannya sendiri yang sangat muluk-muluk. begitu besar rasa cintanya. kepada Yo Cie Cong, pemuda yang pertama-tama merebut hatinya, ia selalu membayangkan hari kemudian yang penuh bahagia.

Hari itu pagi-pagi sekali seperti biasanya, Yo Cie Cong setelah membersihkan badannya, ia menantikan Ut-tie Kheng di kamarnya untuk makan pagi bersama-sama. Tapi ditunggu sampai tengah hari masih belum kelihatan si nona itu muncul.

Yo Cie Cong yang mula-mula masih menantikan dengan segala kesabarannya, akhirnya menjadi cemas. Ia lantas menduga bahwa nona itu tentu telah mengalami apa-apa yang tidak enak.

Ia lalu pergi ke kamarnya Ut-tie Kheng yang letaknya dibagian sebelah barat, tapi kamar itu ternyata sudah kosong.

Bukan kepalang rasa kagetnya, Karena ia tahu benar, tidak nanti nona itu bisa berlalu begitu saja tanpa pamitan dengannya. Tapi kenyataannya memang begitu, kemana sebetulnya ia pergi ?

Hilangnya Ut-tie Kheng ini kembali membuat pusing kepalanya Yo Cie Cong.

satu hari kembali telah berlalu, ia menduga bahwa perginya Ut-tie Kheng tanpa pamit, mungkin ada keperluan yang sangat mendesak yang membuat ia tidak ada kesempatan untuk memberitahukan padanya. Disamping kecemasan, perlahan-lahan ia mulai lega pikirannya, karena dengan demikian ia bisa melanjutkan rencananya semula. Sama sekali ia tidak menduga bahwa pada saat itu Ut-tie Kheng tengah mengalami nasibnya yang sangat menakutkan-Ia sudah terjatuh dalam tangannya kawanan iblis....

Kota Tiang-soa...

Seolah-olah sedang menghadapi datangnya angin ribut dan hujan lebat, hawa udara nampak seram.

orang-orang rimba persilatan yang datang karena munculnya Golok Maut, sesudah melakukan penyelidikan berhari-hari, tetap masih tidak menemukan jejaknya itu pemuda misterius, seram dan menakutkan

Mereka itu seolah-olah lakunya tukang menangkap ikan yang memasang jalanya dimana-mana, tapi sang ikan sudah molos entah kemana arahnya.

Apakah Golok Maut masih berada didalam kota Tiang soa atau sudah kabur ke lain tempat ?

Tidak ada seorangpun yang tahu.

Ada sementara orang yang sudah mulai kendor napsunya, mengincar, menunggu dan mencari secara tidak ke urusan, membuat mereka tidak sabaran. Itu ada hari ke 9 sejak munculnya Golok Maut dikota Tiang soa.

Peristiwa hebat yang mengejutkan telah terjadi peristiwa itu menggetarkan hatinya setiap orang.

Selain daripada itu, ini juga merupakan satu alamat akan berlangsungnya suatu penumpahan darah secara besar-besaran.

Ooo

BAB 29

Di ATAS tembok rumah makan Ceng - yang Ciu - lauw, satu rumah makan yang paling besar didalam kota Tiang soa, mendadak terdapat sehelai kertas selebar kira-kira dua kaki persegi, di atas kertas itu ada terdapat sebuah lukisan yang melukiskan bentuknya satu senjata serupa golok dan gergaji yang sangat aneh. Di tengah-tengah kertas ada tertulis huruf besar yang berbunyi:

"BESOK JAM 3 MALAM, MENUNGGU DI CIT LIE-KENG"

Ini ada merupakan satu tantangan yang sangat brutal

Golok Maut sudah menyampaikan tantangan kepada semua orang gagah dari golongan hitam dan golongan putih dari rimba persilatan yang saat itu berkumpul di kota Tiang soa. Perbuatan ini agak mirip dengan perbuatan seorang gila.

Kecuali dia ada satu dewa, kalau tidak. dengan kekuatannya seorang sekalipun mempunyai kekuatan luar biasa, juga tidak berani berlaku begitu jumawa, seolah-olah tidak pandang mata pada itu semua orang-orang kuat yang berada dikota Tiang-soa, sehingga berani menantang secara terangkan Tapi, kenyataannya Golok Maut sudah berbuat demikian Maka seluruh kota lantas menyadi gempar.

Semua orang-orang gagah dari berbagai partai atau golongan yang datang kekota Tiang-soa karena hendak menangkap pemilik Golok Maut, sesungguhnya tidak menduga kalau Golok Maut berani berbuat demikian. Maka perbuatan Golok Maut itu selain mengejutkan mereka, juga mereka mulai merasa jeri atas keberaniannya. Mereka hampir semuanya mempunyai satu pikiran-

Golok Maut sudah tahu kalau di sekitarnya diputari oleh orang-orang kuat dari berbagai golongan, tapi ia masih berani menantang secara terang-terangan, sudah tentu dalam dirinya sendiri ada mempunyai kekuatan yang dapat diandalkan- Maka dalam dugaan mereka, jikalau hendak meringkus dirinya manusia misterius seram, ganas dan menakutkan itu, pasti harus membayar dengan harga sangat mahal. Itu berarti suatu penumpahan darah besar-besaran.

Cit-lie-peng...

Letaknya 2 lie diluar kota Tiang-soa. Pada saat itu, menjelang jam 1 pagi hari. Di lapangan sebuah bukit kecil yang disebut Cit-lie- peng, di sekitarnya sudah penuh dengan bayangan manusia. Yang sudah mengunjukkan diri secara terang-terangan, jumlahnya tidak kurang dari 100 orang, entah berapa banyak jumlahnya yang pada sembunyikan diri, mereka semua telah datang untuk menantikan kedatangan pemilik Golok Maut.

Rembulan nampak bundar dan terang benderang, angin malam meniup sepo^sepoi, hingga kedengaran suara berkereseknya daun-daun pohon yang tertiup angin.

Dalam suasana yang sunyi sepi itu diliputi ketegangan yang mulai menanyak setiap detik, sebab begitu kentongan kali 3 terdengar, akan berkobarlah pertempuran besar-besaran yang tidak ada taranya. semua orang yang ke Cit-lie peng malam itu meski maksudnya adi berlainan tapi tujuannya ada sama. Melenyapkan dirinya Golok Maut, manusia yang dianggap sangat ganas dan menakutkan-Waktu sedetik demi sedetik telah berlalu. Rembulan dari timur telah mendoyong ke barat.

Hati dan perasaan orang-orang gagah yang berada disekitar tempat itu sudah semakin menegang.

Dari dalam kota, tiba-tiba terdengar suara kentongan 3 kali.

Belum lagi lenyap suara kentongan itu mendadak terlihat sesosok bayangan orang, laksana bintang yang meluncur dari langit, lari menuju ke Cit lie keng.

Ketika bayangan orang itu berhenti dan berdiri di atas suatu gundukan tanah dari empat penjuru lantas terdengar suara riuh: " Golok Maut... Golok Maut "

Orang yang baru tiba dan disebut sebagai pemilik Golok Maut itu ternyata ada seorang tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semuanya, tangannya cuma tinggal sebelah, ia tampak berdiri tegak ditengah-tengah lapangan, seolah-olah satu dewa saja.

Setelah suara seruan mulai reda, dari empat penjuru lantas muncul bayangan orang yang pada datang mengerubungi pemilik Golok Maut. Ketegangan dengan lantas menjadi meningkat.

Pertumpahan darah secara besar-besaran rasanya sudah tak dapat dihindarkan lagi.

Orang-orang gagah dari berbagai tempat itu telah membentuk tembok pagar manusia di sekitar kira-kira lima tumbak ditempat berdirinya pemilik Golok Maut.

Orang aneh itu masih berdiri tegak dengan tenangnya, seolah-olah sebuah patung tetapi di dalam hatinya ada berkobar api permusuhan yang sangat hebat..

Ia membunuh orang semata-mata hanyalah untuk menuntut balas belaka, tetapi kawanan manusia itu tidak mengerti dan tidak mau melepaskan padanya begitu saja. Apa sebabnya? perbuatan itu adalah apa yang dinamakan keadilan dalam rimba persilatan ataukah suatu peraturan yang di telorkan- oleh itu orang-orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai pendekar budiman? sungguh ia tidak habis mengerti.

Didalam kalangan pertempuran, saat itu kelihatan sunyi senyap. Semua orang pada menahan napas menghadapi orang tua yang dianggapnya sebagai manusia biadab, ganas dan menakutkan. sedikit banyak dalam hati mereka sudah diliputi oleh suatu perasaan ketakutan hebat.

Mendadak dari dalam rombongan orang-orang itu telah muncul keluar dua orang tua dan seorang anak muda dari golongan pengemis. Mereka bertiga ternyata adalah tiga golongan tua, Tiang lo dari partai pengemis (Kay-pang) ialah Li Ceng Hong, ciu Cong Jin dan pengemis sakti wajah hitam Siao-hek.

Ketiga orang itu berdiri kira-kira sejarak satu tumbak di depannya pemilik Golok Maut.

Dari rombongan orang-orang itu terdengar suara riuh sebentar, tetapi kemudian tenang kembali. Ciu Cong Jin yang menjabat sebagai ketua dari para Tiang-lo, dengan sepasang matanya yang amat tajamnya mengawasi wajah pemilik Golok Maut sejenak. Tongkat di tangannya digedrukan perlahan di tanah, lalu berkata: "Yo Pa ngcu, apakah masih kenali aku si pengemis tua ?"

Pemilik Golok Maut itu bukan lain dari pada Yo Cie Cong yang memegang peranan sebagai Yo Hin Hoan, bekas ketua Kam lo-pang yang juga merupakan gurunya sendiri

oleh karena dari kawan kecilnya si siao- hek. Yo Cie Cong sudah mengetahui keadaan dari kedua Tiang-lo itu, maka dalam otaknya sudah mempunyai suatu rencana yang sempurna. saat itu ia lantas menjawab sambil anggukan kepala:

"Sudah beberapa puluh tahun tidak bertemu, ternyata kesehatan saudara Cia masih tetap seperti sediakala."

"Murid- murid dari partai kami sesungguhnya tidak semestinya turut mengambil bagian daLam peristiwa pembasmian Kang lopang. Aku si pengemis tua bertiga telah mendapat perintah dari ketua kami sengaja datang ke tempat ini jikalau benar ketua cabang daerah Thin Lam si setan mata satu Go Cie Ceng binasa ditangan Yo Pangcu, itu memang sudah seharusnya untuk menebus dosa perbuatannya sendiri Tentang persoalan ini, sampai di sini sebaiknya kita bikin habis."

"Ketua saudara sesungguhnya ada seorang arif bijaksana. Aku si orang she Yo di sini menghaturkan banyak-banyak terima kasih." jawab pemilik Golok Maut dengan suara terharu.

Ciau Cong Jin mengawasi semua orang-orang gagah di sekitarnya, kemudian berkata pula dengan suara sungguh-sungguh:

"Aku si pengemis tua ada sedikit perkataan yang mungkin tidak enak didengar. Apakah saudara Yo suka dengar ?"

"Silahkan "

"Saudara Yo yang hendak menagih hutang darah kepada orang-orang yang pada dua puluh tahun berselang, turut ambil bagian dalam pembasmian Kam lo pang, memang kami tidak dapat menyesalkan. Tetapi menurut pikiranku yang bodoh, sebaiknya saudara tujukan kepada orang- orang yang bersangkutan saja dan sedapat mungkin menghindarkan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak berdosa."

"Maksudku memang begitu. Tetapi keadaan telah memaksa aku berbuat sedapat mungkin untuk membela diri. Bagaimana aku harus menghindarkan diri dari pertumpahan darah itu."

"Ah. Memang itu agak sulit dilakukan, namun bagaimanapun juga saudara harus batasi dia sebisanya. selain daripada itu, keadaan malam ini ada sangat gawat. saudara Yo meskipun mempunyai kepandaian tinggi luar biasa, tetapi sedapat mungkin saudara harus berlaku hati-hati dalam menghadapi mereka semua. Maafkan kalau aku si pengemis tua terlalu banyak mulut dan sekarang aku permisi meninggalkan tempat ini."

Ketiga orang Tiang-lo dari partai pengemis itu lantas berlalu dari depannya pemilik Golok Maut.

Setelah mereka bertiga berlalu, beberapa puluh bayangan orang segera maju dengan serentak. Dengan hati kurang tenteram pemilik Golok Maut mengawal datangnya orang-orang tersebut. Ia mengepal kencang tangannya, sepasang matanya memancarkan sinarnya yang menakutkan-

Beberapa puluh orang yang terdiri dari orang-orang tua dan muda itu dengan wajah gusar dan bengis pada berdiri kira-kira dua tumbak di hadapannya pemilik Golok Maut.

Salah seorang diantara mereka, yaitu seorang tua yang berkumis lebat kelihatan maju dan berkata dengan suara agak gemetar:

"Pemilik Golok Maut, si Belibis Air see-bun cun Tek apa benar terbinasa ditangan mu?" "Tidak salah "

"Hmmm.. Peribahasa ada kata, hutang uang bayar uang, hutang jiwa bayar jiwa" "Kematian see bun cu Tek adalah karena dosanya sendiri"

Beberapa puluh orang disitu lantas memperdengarkan suaranya yang berisik, tetapi lantas dibikin sirap oleh orang tua tadi. "Malam ini, cee-cu dari tiga puluh enam perkumpulan bajak laut dari telaga Tong teng-ouw hendak minta keadilan untuk see bun cun Tek. pemimpin pusat kami."

"Harap tuan-tuan juga pikirkan masak-masak dulu baru bertindak."

"Ini sudah merupakan suatu keputusan dari semua ketua tiga puluh enam perkumpulan bajak laut yang harus minta keadilan kepada tuan,"

"Aku si orang tua sebenarnya tidak suka melakukan pembunuhan kepada orang-orang yang tidak berdosa, maka aku harap supaya tuan-tuan suka memikirkan masak-masak dulu."

Siapa nyana, perkataan itu sebaliknya malah membuat gusarnya putra ketua dari tiga puluh enam perkumpulan bajak laut itu semuanya pada mengeluarkan seruan gusarnya, kelihatannya mereka sudah siap untuk segera turun tangan. orang tua tadi lantas berkata pula sambil ketawa dingin:

"Perkataan tuan sebetulnya terlalu jumawa. Bagaimana pandangan tuan terhadap kami semua, ketua dari tiga puluh enam perkumpulan bajak laut?"

"Ini sebetulnya adalah maksud baikku."

"Ha, ha, ha... Maksud baik, Pemilik Golok Maut kiranya juga kenal istilah maksud baik,." "Aku ulangi sekali lagi, kematiannya si Belibis Air see-bun ciun Tek adalah karena salahnya

sendiri. Dalam peristiwa pembasmian Kam lopang pada dua puluh tahun berselang ia juga turut ambil bagian. seperti apa yang ku katakan tadi, hutang jiwa harus bayar jiwa. sebab see-bun Cun Tek ada hutang jiwa pada orang-orang Kam lopang, maka dari sebab itu ia juga harus membayarnya dengan jiwanya sendiri"

"Maju" berseru si orang tua.

Teriakan maju ini disambut dengan sorak ramai oleh tiga puluh enam ketua perkumpulan bajak laut itu, mereka maju dengan serentak. Tujuh cee cu yang sudah tidak sabaran berbareng menyerbu dirinya pemilik Golok Maut.

Ke tujuh orang itu masing-masing telah melancarkan serangannya yang maha hebat. orang tua yang tadi bicara juga termasuk dalam tujuh orang yang melancarkan serangan

tersebut.

Tetapi pemilik Golok Maut mendadak sudah menghilang dari depan mereka, sehingga serangan dari ketujuh Cee Cu ini hanya menemui tempat kosong. Tetapi ketika mereka pentang lebar matanya, ternyata pemilik Golok Maut itu masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

Perasaan kaget dan takut lantas menunduk otak mereka masing-masing, sebab caranya pemilik Golok Maut menghindarkan serangan mereka tadi seolah-olah lakunya iblis saja.

"Cee cu yang lain-lainnya hanya menyaksikan dari samping juga masih belum mengetahui dengan cara bagaimana pemilik Golok Maut tadi menghindarkan serangan kawan-kawannya.

Jikalau pemilik Golok Maut tidak mempunyai ilmu gaib, maka kepandaian serupa itu sesungguhnya merupakan kepandaian ilmu silat yang sudah tidak ada taranya.

Dari sini dapatlah dinilai betapa tingginya kepandaian ilmu silat pemilik Golok Maut ini, oleh karenanya maka para ketua dari perkumpulan bajak laut saat itu dengan sendirinya lantas sudah merasa keder.

"Sekali lagi aku peringatkan kepada kalian, sebaiknya kalian mundur saja." berkata pula pemilik Golok Maut.

Tetapi ketiga puluh enam cee-cu (kepala) perkumpulan bajak laut itu berikut anak buahnya yang berjumlah empat ratus jiwa lebih serta dengan barisannya yang kuat untuk mundur begitu saja sudah tentu akan mesti buat tertawanya orang-orang dunia Kang-ouw, apa lagi kedatangan mereka itu justru hendak meminta keadilan bagi pemimpin pusatnya.

Tujuh orang cee-cu yang barusan turun tangan, setelah mengeluarkan seruan geramnya, kembali melakukan serangan berbareng.

Pemilik Golok Maut dengan mata beringas lalu memutar tangannya yang hanya tinggal sebelah, menyambuti serangan ke tujuh orang itu. Beberapa kali suara benturan hebat telah terdengar, disusul oleh suara jeritan dan seruan tertahan yang memedihkan.

Tujuh orang cee-cu itu, empat diantara sudah dibikin terguling di tanah dan yang lainnya mundur sempoyongan sampai satu tombak lebih.

Dari rombongan kawanan bajak laut segera muncul beberapa orang menolong empat cee-cu yang terluka itu dengan membawanya mundur ke samping.

Para cee-cu yang lainnya setelah memperdengarkan suara riuh masing-masing lalu menghunus senjatanya dan dengan serentak menyerbu pada lawannya yang tangguh.

Pemilik Golok Maut dengan sikapnya yang masih tetap tenang, telah menghadapi setiap serangan dari musuh-musuhnya, tetapi dalam hatinya saat itu sudah berpikir: Keadaan hari ini jikalau belum ada yang tewas jiwanya mungkin mereka tidak mau sudah begitu saja, apa lagi di bawah ancaman begitu banyak orang kuat, maka caranya yang paling baik ialah bereskan mereka secepat mungkin.

Ia segera mengambil putusan. Ia kerahkan ilmunya Kan-goan cin-cao dipusatkan pada tangan kanannya dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Tiga puluh orang lebih ceecu mengurung dirinya pemilik Golok Maut, suasana nampak semakin menegang.

Sementara itu, orang-orang gagah yang berada di sekitarnya, masing-masing hanya berdiri menonton dengan tujuan yang berlainan.

Pemilik Golok Maut yang sudah berani menantang terang-terangan kepada semua orang gagah yang mencari padanya, perbuatan itu tidak bedanya seperti mencari kematian sendiri Bagi orang- orang yang bermaksud hendak menyingkirkan jiwanya, hal ini memang merupakan suatu kesempatan yang terbaik, sebab si pemilik Golok Maut bagaimana tinggi sekalipun kepandaiannya, ia hanya seorang manusia biasa yang terdiri dari daging dan darah, bagaimana mampu menghadapi seratus lebih orang-orang kuat dari rimba persilatan yang bercampur secara bergiliran. Maka dalam anggapan mereka, malam ini pemilik Golok Maut pasti tidak berlalu dari cit- lie-peng dalam keadaan hidup.

Suara bentakan-bentakan nyaring, golok. pedang, dan sambaran angin dari serangan tangan kosong seolah-olah lautan yang bergelombang telah menyerang dirinya pemilik Golok Maut. Tiga puluh orang ceecu lebih yang mempunyai kepandaian tinggi telah bergandengan tangan hanya untuk menghadapi seorang pemilik Golok Maut saja.

Pemilik Golok Maut tiba-tiba mengeluarkan suara ketawanya yang nyaring menusuk dan menyeramkan.

Diantara suara ketawanya yang menyeramkan itu, tangannya sudah melancarkan serangannya yang maha dahsyat.

Suara benturan-benturan hebat lantas terdengar amat nyaring.

Segera jeritan terdengar saling susul.. kemudian tampak bayangan orang yang terpental jauh bergelimpangan, darah manusia berhamburan disertai potongan lengan tangan atau senjata tajam yang berterbangan ditengah udara.

Dalam segebrakan itu saja, tiga puluh cee-cu lebih yang melancarkan serangan berbareng tadi, separuh diantaranya telah terluka berat atau binasa.

orang-orang gagah yang menyaksikan kehebatan-pertempuran tersebut telah dibikin melongo dan ketakutan setengah mati.

Kekuatan yang diperlihatkan oleh Pemilik Golok Maut itu sesungguhnya tidak masuk diakal pikir mereka.

Sepuluh orang lebih dari kawanan cee-cu yang terhindar dari maut tadi setelah menenangkan pikirannya masing-masing sudah lantas menyerbu lagi dengan tidak menghiraukan jiwa sendiri. Pemilik Golok Maut tadinya memang tidak bermaksud melukai tiga puluh enam orang- ceecu itu, tetapi karena dari pihak ceecu terus mendesak. maka terpaksa pula ia harus turun tangan-

Sebab kalau ia tidak mau membunuh, berarti orang lainlah yang akan membunuhnya..

Maka dalam keadaan demikian rupa, ia sudah tidak mempunyai pilihan lain daripada turun tangan secara kejam.

Setelah suara jeritan dan suara patahnya senjata yang saling beradu itu sirap. keadaan menjadi sunyi kembali.

Kesunyian yang dibungkus oleh kedukaan, karena di situ terlihat suatu pemandangan yang sangat mengerikan.

Potongan tangan dan kaki manusia berserakan di sana-sini..

Bangkai manusia tampak bergelimpangan dalam keadaan menyedihkan. Darah merah membanjiri rumput hijau di tanah Cit lie-peng.

Tiga puluh enam ceecu perkumpulan bajak laut yang biasanya malang melintang di telaga Tong-teng-ouw, hanya dalam beberapa gebrakan saja semuanya sudah binasa ditangan pemilik Golok Maut, Ini sesungguhnya merupakan suatu hal yang sangat mustahil. Namun kenyataan sudah demikian rupa, sehingga sudah merupakan kemustahilan lagi.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu di sekitarnya masing-masing hanya bingung mengawasi, siapapun tidak berani maju lebih dahulu untuk menghadapi pemilik Golok Maut yang berkepandaian sangat hebat itu.

Masing-masing hanya mengandung maksud supaya lain orang yang maju dulu kemudian baru turun tangan secara membokong.

Dengan demikian, keadaan ditempat itu kembali sunyi senyap.

Tetapi dalam kesunyian macam ini, setiap saat dapat gula terjadi suatu pertumpahan darah yang terlebih hebat.

Dalam keadaan sesunyi itu, terdengar suaranya pemilik Golok Maut berkata:

"Tuan-tuan tentunya tidak akan menyangkal bahwa kedatangan tuan-tuan sekalian ini melulu untuk menghadapi diriku si orang tua. Aku si orang-tua malam ini tidak akan membikin kecewa pengharapan tuan-tuan, maka setiap saat aku bersedia menghadapi tuan-tuan sekalian- Baik bertempur secara seorang lawan seorang maupun secara mengeroyok. itu terserah atas kehendak tuan-tuan sekalian-"

"Ha, ha sombong sekali" terdengar suara mengejek.

Dan antara orang banyak itu kelihatan muncul seorang setengah umur yang berdandan sebagus anak sekolah. Pinggangnya menyoren pedang panjang yang diatas gagangnya terdapat sebuah mutiara merah, kelihatannya sangat menyolok mata. orang itu ternyata ada musuh lamanya pemilik Golok Maut. Dengan mata beringas pemilik Golok Maut berkata sambil ketawa dingini "Kong Tiancu, selamat bertemu pula.".

Orang laki-laki pertengahan umur yang berdandan sebagai anak sekolahan itu memang benar adalah Kong Jie, si Pedang Berdarah, Tian cu bagian hukum dari Im mo kau. "Roh setan gentayangan dari bawah pedang ternyata masih bisa omong besar." jawabnya.

"Kong Jie, malam ini aku si orang tua akan membereskan kau dulu."

"Ha, ha Golok Maut, Tiancu- mu malam ini akan menelanjangi dirimu." demikian Kong Jie

berkata sambil mendekati pemilik Golok Maut.

Pemilik Golok Maut tercengang. Mengapa si orang she Kong ini tetap mengatakan padanya bukan Pangcu dari Kam lopang yang tulen? Apa gerangan yang menjadikan pegangan bagi orang ini yang dapat menduganya dengan jitu ?

"Kong Jie, kau anggap aku si orang tua ini siapa ?" "Manusia tidak tahu malu yang menyaru nama orang lain."

jawaban Kong Jie ini telah menggemparkan orang-orang yang berdiri disekitar tempat tersebut. "Orang she Kong, perkataanmu ini berdasarkan atas apa ?" "Setelah binasa kau nanti akan tahu sendiri"

Dalam gusarnya pemilik Golok Maut membentak dengan suara bengis:

"Kong Jie Malam ini jikalau kau tidak mau menjelaskan duduknya perkara, aku si orang tua kini bersumpah hendak membunuh habis semua orang-orang Im mo kauw. Kau boleh pikir-pikir sendiri sampai dimana kekuatan tenagaku "

"Hei... Kau mengimpi sahabat. sinarnya binatang kunang-kunang juga hendak menyaingi sinarnya rembulan. Aku beritahukan padamu, malam ini sekalipun kau mempunyai sayap juga tidak mungkin bisa terbang. Tian-cumu hendak mematahkan tulang-tulangmu dan membeset kulitmu untuk membalas sakit hati kawanku yang terbinasa dalam tanganmu."

"Dengan kepandaian yang kau punyai itu saja ?" "Sudah cukup untuk menghadapi kau."

Sehabis mengucapkan perkataannya, pedang panjang sudah berada dalam tangannya.

Bertepatan pada saat itu, dari dalam rombongan orang banyak mendadak melesat ke luar dua puluh lebih bayangan orang yang pada berdiri disampingnya Kong Jie.

Salah seorang diantara mereka, seorang laki-laki berbadan tegap dengan wajahnya yang jelek dan menakutkan, setelah mengawasi Kong Jie sejenak. lantas berkata sambil memberi hormat.

"Tiancu, binatang tua ini tadi telah sesumbar hendak membunuh habis orang-orang Im mo- kauw. Aku Tiat Bu hendak mencoba dulu kekuatannya."

"Kau bukan tandingannya..."

Laki-laki tegap yang mengaku dirinya bernama Tiat Bu itu matanya mendelik, mulutnya berkauwk-kauwk.

"Tiancu sebenarnya terlalu memandang rendah pada diriku si Tiat Bu." "Hmm, kau tidak percaya? Boleh coba saja sendiri"

Tiat Bu sangat girang. Dengan cepat ia maju menghampiri pemilik Golok Maut, kemudian melancarkan satu serangan dahsyat.

Pemilik Golok Maut telah mengenali bahwa laki-laki tegap ini begitu turun tangan sudah lantas menggunakan kepandaian ilmu Cuipay ciang (Tangan menghancurkan batu bata) dari golongan siao lim-pay, dalam hatinya merasa kaget juga. Diam-diam ia berpikir. orang ini tentunya dari golongan siao- lim-pay.

Ia lalu mengegoskan dirinya menghindari serangan Tiat Bu yang amat hebat.

Tiat Bu melihat serangannya mengenai tempat kosong sudah menggeram keras dan kemudian kembali melancarkan dua kali serangan-

Pemilik Golok Maut tertawa dingin, lalu menggeser tubuhnya menghilang seperti setan. Tiat Bu yang tiga kali melancarkan serangannya selalu dapat dihindarkan dengan caranya yang aneh sudah lantas merasa gelagat tidak menguntungkan dirinya.

Baru saja ia memikir bagaimana caranya hendak menghadapi musuh tangguh itu tiba-tiba ada semacam kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat menyerang dirinya dari belakang.

Dengan cepat ia coba menggeser kakinya ke samping, tetapi ternyata sudah terlambat. Ia hanya merasakan di belakang gegernya seperti digempur oleh senjata berat. setelah suara jeritan ngeri, badannya Ciat Bu yang sebesar kerbau lantas terpental dan jatuh sejauh dua tumbak lebih dan kemudian ternyata jiwanya sudah melayang.

Orang dari Im-mo-kauw menyaksikan Tiat Bu sudah binasa lantas menjadi gusar dan dengan serentak mereka menyerbu pada pemilik Golok Maut.

Pemilik Golok Maut yang saat itu sudah berkobar napsu membunuhnya sudah menyambuti pula datangnya serbuan orang banyak itu dengan serangan tangannya yang mengandung kekuatan ilmu Kan goan cin-cao. Dengan tangannya yang mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sangat ampuh itu, tidak heran kalau setiap orang yang tersambar olen serangan angin pukulannya lantas rubuh binasa seketika itu juga.

Sebentar saja ditanah sekitar tempat itu sudah ada sepuluh lebih orang Im-mo kauw yang rubuh menggeletak menjadi bangkai. Hampir semuanya terbinasa karena kekuatan Kan- goan cin- cao, telah mengalirkan darah segar, Keadaan serupa itu sungguh mengenaskan, sehingga membuat orang-orang sekitarnya yang menyaksikan berdiri bulu romanya.

Tetapi semakin ganas perbuatan pemilik Golok Maut, semakin keras pula napsu orang baniak itu hendak menyingkirkan dirinya pemilik Golok Maut.

Dalam hati mereka berpikir, jika tidak mau menggunakan kesempatan ini, dimana telah berkumpul semua kekuatan para jago dari pelbagai tempat untuk menyingkirkan bahaya untuk hari kemudian, tentu lain hari akibatnya tidak dapat dibayangkan hebatnya .Jikalau malam ini pemilik Golok Maut bisa lolos dari tangan mereka, di kemudian hari pasti ia akan membuat perhitungan, satu persatu dengan orang-orang yang malam ini turut ambil bagian dan mengepung padanya.

Kong Jie dengan suara keras melarang orang-orang itu bertindak semaunya sendiri. Dengan pedang terhunus ia melesat maju menghampiri pemilik Golok Maut.

sambil memperdengarkan suara ketawanya yang seram ia berkata kepada pemilik Golok Maut: "Tidak perduli kau ada pangcu dari Kam lopang yang tulen atau palsu, Tian-cu-mu tetap akan

menghantarkan jiwamu menghadap pada Giam-lo-ong."

Kong Jie berbareng menggerakkan pedang di tangannya, sebentar saja awak pedang itu sudah lantas berubah menjadi merah darah serta menyiarkan bau harum yang luar biasa.

Dengan kecepatan bagaikan kilat ia melancarkan serangan ke arah pemilik Golok Maut, sedangkan anak buah Im-mo-kauw yang saat itu berdiri disampingnya masing lantas lompat mundur ke belakang tiga tumbak.

Pemilik Golok Maut yang sudah mempunyai rencana segera mengeluarkan ilmu Kang- goan Cin caonya untuk melindungi dirinya. sekujur badannya ditutup ilmu itu guna mencegah jangan sampai terserang oleh pedang yang amat lihay itu. sebelah tangannya tangan kekuatan tenaga delapan bagian secepat kilat sudah melancarkan serangannya secara bertubi-tubi.

Angin cao khie yang meluncur keluar dari dalam tangannya itu telah menimbulkan rasa sakit seperti ditusuk pisau oleh lawannya.

si Pedang Berdarah Kong Jie yang mengetahui bahwa racun pedangnya yang bersinar merah ternyata tidak lagi mampu mendekati dirinya sang lawan, ditambah dengan dilancarkan serangan dari lawannya dengan tidak henti-hentinya, telah membuat tidak berdaya memusatkan kekuatan tenaga dalamnya kepada tangannya yang memegang pedang, maka mutiara merah darah itu lantas lenyap semua khasiatnya. Hanya tiga sampai lima jurus saja Kong Jie sudah merasa kewalahan dan hampir saja hatinya meledak saking jengkel.

Pemilik Golok Maut mengetahui, kesempatan semacam ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Mendadak ia memusatkan seluruh kekuatan tenaganya. Dengan tangan kanannya ia mengebut dari tengah udara menyerang Kong Jle.

Kong Jie sebagai Tiancu bagian hukum Im-mo-kauw sudah dengan sendirinya juga mempunyai kekuatan hebat luar biasa.

Tepat pada saat pemilik Golok Maut itu mengebut dengan lengan bajunya, Kong Jie segera mengenali bahwa ilmu silat yang digunakan oleh pemilik Golok Maut itu ternyata adalah ilmu silat Hui siu Hut hiat dari Phoa ngo Hweshio yang dikabarkan sudah menghilang dari dunia Kang-ouw, maka seketika itu ia lantas ketakutan setengah mati dan cepat-cepat menghindarkan diri Pemilik Golok Maut melihat Kong Jie bisa menyingkirkan diri secara begitu bagus terhadap serangannya Hui siu Hut-hiat dalam hati juga merasa kaget dan terheran-heran.

Tetapi ia terus menyerang dengan tidak berhenti- hentinya. Dengan kecepatan yang sudah tidak ada taranya ia mengeluarkan senjatanya Golok Maut, kemudian meluncurkan serangannya yang selalu membawa akibat memutuskan tangan dan kaki lawannya.

Serangan yang maha hebat itu meskipun hanya satu jurus saja tetapi orang-orang dunia Kang- ouwpada dewasa itu yang dapat meloloskan dirinya dari serangan tersebut jumlahnya tidak seberapa.

Kong Jie menyaksikan pemilik Golok Maut itu sudah mengeluarkan lagi serangannya yang sangat aneh, bukan saja cepat bagaikan kilat, tetapi juga aneh luar biasa.

sama sekali ia tidak berdaya, maka rasa takutnya pun lantas menjadi-jadi. Dalam kagetnya, ia lantas melintangkan pedangnya di depan dadanya, siapa nyana kalau perbuatannya tadi telah menolong jiwanya sendiri.

"Tidak boleh melukai orang " terdengar suara teriakan-

Diantara suara seruan yang riuh itu, beberapa sosok bayangan orang dengan kecepatan bagaikan kilat coba menyerbu kedaiam kalangan, tetapi ternyata sudah tidak keburu menolong dirinya Kong Jie.

Setelah terdengar suara jeritan ngeri, Kong Jie yang tidak berhasil membela diri dengan kepandaiannya yang luar biasa, lengan kirinya sudah terpapas kutung.

Dengan cepat ia mundur beberapa tindak. rasa sakit telah membuat badannya sempoyongan. Dengan wajah menakutkan Kong Jie mengawasi pada pemilik Golok Maut.

Lima sosok bayangan orang pada saat itu sudah lompat maju dan berdiri dihadapannya pemilik Golok Maut.

Mereka itu ternyata adalah seorang imam dan empat orang tua.

Imam itu matanya menonjol keluar, wajahnya pucat. Ia berdiri ditengah-tengah antara ke empat kawannya.

Terhadap imam itu Pemilik Golok Maut sudah tidak asing lagi, sehingga diam-diam ia merasa heran.

Imam itu mendelikkan matanya yang menonjol keluar, dengan juaranya yang seperti gembreng pecah ia berkata:

"Pemilik Golok Maut, saat kematianmu sudah tiba "

Pemilik Golok Maut menjawab dengan suara dingin:

"Sin Hong Tojin, dengan mengandalkan kepandaian macam apa kau berani bermusuhan dengan aku si orang tua ?"

"Ha, ha, ha,.. Yang lain tak usah dibicarakan- Hanya beberapa puluh jiwa yang binasa denganmu apakah mereka harus mati secara cuma-cuma begitu saja dan tidak minta ganti jiwa dari dirimu ?"

"Sin Hong Tojin Urusanku dengan Im mo kauw masih belum selesai. Jikalau kau tidak mau memberikan penjelasan apa sebabnya Im mo kauw menghendaki jiwaku, aku masih akan terus melakukan pembunuhan terhadap mereka."

Jawaban ini telah membuat berubahnya wajah keempat orang tua tadi. sin Hong tojin perdengarkan suara ketawanya yang aneh, kemudian berkata: "Kau sudah tidak ada kesempatan membunuh orang lagi."

"Dengan hanya mengandal kepandaianmu kau masih belum berhak mengatakan itu."

Keempat orang tua yang berada di kedua sisinya sin Hong Tojin agaknya sudah merasa tidak sabar. setelah masing-masing membentak dengan suara keras semuanya pada bergerak maju dan masing-masing melancarkan serangan. Serangan itu sedemikian hebatnya, sampai-sampai anginnya saja sudah menyambar seperti angin puyuh yang datang menggulung.

Tetapi Pemilik Golok Maut sedikitpun tidak menyingkirkan diri, maupun berkelit, badannya malah digeser maju tiga tindak. Golok Mautnya kembali telah bekerja.

suara jeritan yang mengerikan terdengar, salah satu dari ke empat orang tua itu kedua pahanya sudah terpapas kutung, dadanya berlubang dan orangnya jatuh menggeletak sebagai bangkai.

Sedangkan pemilik Golok Maut sendiri juga terpental tiga tindak karena serangan kuat dari ke empat lawannya tadi.

Kiranya sin Hong Tojin setelah menjadi anggotanya Im mo-kauw oleh Kauwcu sudah diangkat sebagai Tancu (ketua) cabang daerah Kui ling dan ke empat orang tua itu adalah empat Hiocu di bawah penilikannya.

Tiga orang Hiocu yang masih hidup telah mengetahui bahwa perbuatannya tadi bukan saja sudah tidak berhasil merubuhkan lawannya, tetapi sebaliknya malah mengantarkan satu jiwa kawannya sendiri, dalam gusarnya, setelah mereka mundur sudah lantas maju lagi dan menyerang pula dengan kekuatan sepenuhnya.

Pemilik Golok Maut yang bertujuan hendak membereskan pertempuran itu secara kilat, lalu menyimpan Golok Mautnya.

Kekuatan tenaga dalam lalu dipusatkan ke satu tangannya, kemudian melancarkan satu serangannya yang maha hebat.

Ia berniat sekaligus hendak menamatkan jiwanya ketiga orang tua itu.

BAB 30

PADA saat itu tiba-tiba terdengar suaranya sin Hong Tojin, " Kalian mundur "

Bersamaan dengan seruannya, imam tua dari Khong-tong-pay itu secepat kilat gerakkan badannya melesat maju dan tangannya lantas melancarkan serangan berat.

sebagai seorang yang sudah mempunyai banyak pengalaman, sin Hong Tojin tahu bahwa tiga orang Hiocunya itu tidak mampu menandingi kekuatan pemilik Golok Maut, maka ia lantas turun tangan sendiri

Tetapi ternyata ia sudah datang terlambat sedetik saja.

Tiga orang tua itu yang disuruh mundur oleh sin Hong Tojin, serangannya lantas mengendur, sedangkan serangannya Kan goan cin cao dari lawannya saat itu sudah menyerbu mereka bertiga.

Maka setelah terdengar suara jeritan ngeri tubuh ketiga orang tua itu lalu terbang ke tengah udara seperti layangan putus talinya. setelah jatuh pula dari tengah udara, tubuh ketiga orang tua itu telah hancur lebur mengerikan.

Bersamaan pada saat itu pula serangan Sin Hong Tojin yang sangat hebat sudah menggempur badannya pemilik Golok Maut.

Tubuhnya pemilik Golok Maut telah terbawa terbang oleh serangan hebat tersebut.

orangnya melayang ke suatu tempat kira-kira dua tumbak jauhnya, tetapi tidak menderita luka sedikitpun juga.

Kiranya, dengan ilmunya yang sangat luar biasa, pemilik Golok Maut telah berhasil menolong dirinya dari serangan hebat tadi.

Sin Hong Tojin hanya melongo menyaksikan pemilik Golok Maut selamat terkena pukulannya yang hebat.

Sedangkan para jago yang menonton di empat penjuru telah memperdengarkan suara sorak ramai dan terheran-heran.

Pemilik Golok Maut setelah kakinya menginjak tanah dengan cepat sudah menghampiri lagi lawannya, lalu berkata dengan suara bengis: "Sin Hong, imam bangsat Kau harus menjawab terus terang pertanyaanku ini, Im mo kauw telah mengutus orang-orangnya yang kuat untuk mengejar-ngejar aku, apa sebabnya ? Jikalau kau tidak menyawab.."

"Bagaimana ?"

"Aku hendak bunuh mati kau di Cit lie peng ini." "Tidak begitu gampang sahabat."

"Benarkah kau tidak mau menjawab ?" "Tidak "

"Kalau begitu kau harus menerima kematianmu,"

Pemilik Golok Maut menutup bicaranya dengan melancarkan serangan berantai.

Sin Hong Tojin ada salah satu orang kuat dan menjadi susiok dari ketua Keng thong pay pada saat itu, kekuatannya sudah tentu tidak dapat dipandang ringan jikalau tidak Im mo kauw tentu tidak akan mengangkat dirinya sebagai ketua cabang.

Serangan berantai dari pemilik Golok Maut telah ia punahkan dengan bagus, kemudian ia balas menyerang sampai empat kali.

Kedua pihak lalu saling menyerang hebat, sehingga terjadilah suatu pertempuran yang sangat langka dapat disaksikan dalam rimba persilatan-saking hebatnya pertempuran tersebut terdengarlah angin menderu- deru.

Dalam suasana malam sesunyi itu, kedua pihak tampaknya sudah pada mengeluarkan kepandaian simpanannya masing-masing sehingga pertempuran itu telah membuat jago di sekitarnya yang menyaksikan pada terheran-heran-

Selewatnya dua puluh jurus, badannya Sin Hong Tojin kelihatan mundur satu tumbak lebih, ia coba mengatur jalan pernapasannya.

Kedua jari tangannya lalu ditekuk seperti gaetan, badannya mulai bergerak lagi dan mulutnya memperdengarkan suara ketawa dingin-

Pemilik Golok Maut yang menyaksikan keadaan demikian, lantas mengetahui bahwa imam tua itu tentunya akan melancarkan serangannya yang maha hebat.

Selagi pemilik Golok Maut masih menduga-duga, badannya sin Hong Tojin tiba-tiba melesat ke atas. Di tengah udara badannya kelihatan berputaran, kedua tangannya diputar begitu rapat dan kemudian menyambar dirinya pemilik Golok Maut.

serangan itu adalah serangan sin Hong Tojin yang dinamakan tipu serangan sin-hong KuiJiauw (Angin sakti dengan Kuku setan) yang membikin sin Hong Tojin mendapat nama baik dalam kalangan rimba persilatan.

Pemilik Golok Maut yang sudah memusatkan seluruh kekuatan Kan-goan cin cao ke tangannya yang hanya tinggal sebelah itu, sudah lantas diayunnya tangan itu berulang-ulang sehingga kekuatan tenaga dalam meluncur keluar dari dalam tangannya menyambut serangan si imam yang amat dahsyat itu.

setelah terdengar beberapa kali suara benturan hebat, serangan sin Hong Tojin telah berhenti secara mendadak.

Sin Hong Tojin sangat gusar sehingga matanya mendelik, rambutnya pada berdiri. Ia hanya bisa berdiri tegak seperti patung, mungkin inilah untuk pertama kalinya ilmu serangannya yang sangat ampuh itu mengalami kekalahan mutlak. Dengan suara ketus dingin pemilik Golok Maut berkata:

"Sin Hong Tojin, aku berikan kesempatan terakhir untukmu. Kalau kau mau menjelaskan maksudnya In-mo-kauw yang menghendaki diriku, aku akan mengampuni jiwamu dari kematian. Tetapi kalau tidak mau menjelaskan, jangan harap kau bisa berlalu dari tempat ini." 

"Toyamu bisa berlalu dari sini atau tidak. aku juga tidak bisa hidup lagi." "Kalau begitu baik, aku terpaksa hendak sempurnakan dirimu." Setelah mengucapkan perkataannya tadi badannya pemilik Golok Maut tiba-tiba menghilang dari pemandangan dan kemudian setelah menampakkan diri kembali, ternyata tubuhnya sin Hong Tojin sudah rebah terjengkang dalam keadaan tidak bernyawa. Cara membunuh orang yang demikian aneh ini benar-benar tidak habis dimengerti.

Dari empat penjuru kembali terdengar suara gemuruh, mereka tampaknya pada merasa jeri. Bagaimana sebetulnya sin Hong Tojin menemukan ajalnya itu, tidak ada seorangpun yang dapat tahu.

Jikalau dilihat daripada apa yang telah terjadi maka maksud orang-orang itu yang malam itu hendak menyingkirkan jiwanya manusia ganas dan menakutkan itu barangkali sudah tidak ada harapan lagi.

Kiranya, cara membunuh yang digunakan oleh pemilik Golok Maut tadi telah menggunakan ilmunya Menggeser tubuh mengganti bayangan-, itu ilmu silat yang sangat luar biasa, dengan kecepatan bagaikan kilat ia membuat suatu lingkaran, kemudian dengan ilmu silat Liu-in Hut- hiatnya ia menotok jalan darah kematian di depan dada sin Hong Tojin, maka terlihatlah seperti bayangan pemilik Golok Maut yang menghilang dan muncul lagi, tetapi diam-diam ia sudah menurunkan tangan jahat.

Bertepatan pada saat rebah binasanya sin Hong Tojin, angkasa raya tiba-tiba terlihat sinar merah.

Itulah adalah tanda s.o.s. (minta pertolongan) bagi Im-mo-kauw.

Dalam rombongan Im mo kauw kali ini yang menjadi kepala adalah sin Hong Tojin, kini ia sudah binasa, antara orang-orang kuat yang saat itu masih ada, hanya tinggal Kong-jie seorang yang tangannya sudah terkutung dan sisanya yang masih belum mau turun tangan- Mereka ini insyaf, jika hendak turun mangan percuma saja, hanya berarti akan mengantarkan jiwa secara cuma-cuma, maka lantas mengeluarkan seruan tertahan.

Pada saat itu hari sudah menjelang pagi, rembulan sudah hampir tidak kelihatan. Angin pagi meniup amat dingin.

Ciet lie-peng yang tadinya sunyi senyap. kini terlihat darah yang berceceran dan bangkai manusia pada bergelimpangan di tanah.

Pemilik Golok Maut mengerti apa bila waktunya diulur lebih lama lagi, pasti tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri, maka ia sudah ingin mengundurkan diri, ia lalu berkata pada orang-orang di sekitarnya:

"Tuan-tuan masih mempunyai keperluan apa lagi ?Jikalau tidak aku hendak berlalu dari sini."

Matanya bersinar mengawasi keadaan di sekitarnya, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menjawab.

Pemilik Golok Maut lalu ketawa, tetapi baru saja orangnya hendak berlalu, tiba-tiba terdengar suara orang berkata: "Iblis tua Tunggu dulu l"

Suara itu ada begitu nyaring dan merdu terdengarnya, kemudian disusul oleh munculnya sesosok bayangan orang kecil langsing yang menyerbu ke arah dirinya pemilik Golok Maut yang baru saja hendak berlalu meninggalkan tempat tersebut.

Pemilik Golok Maut ketika mengenali orang yang baru datang itu, diam-diam merasa kaget. Ia lu bertanya kepada dirinya sendiri: Bagaimana Tio Lee Tin juga bisa muncul di sini? ia adalah muridnya orang berkedok kain merah. sudah tentu aku tidak boleh melukai dirinya. Tetapi kalau ia terus mencari setori dengan aku sesungguhnya merupakan soal yang sangat runyam."

Orang yang baru muncul itu memang betul Tio LeeTin, ia mengenakan pakaian hitam seperti biasa, Dengan pedang terhunus ia membentak dengan suara gusar: "Iblis tua, serahkan jiwamu"

Sehabis mengucapkan perkataannya, dengan tidak menunggu jawaban lawannya lagi ia terus menyerang secara bertubi-tubi. setiap serangannya ditujukan kebagian-bagian tubuh yang sangat berbahaya. Pemilik Golok Maut dengan sangat gesit dan lincah telah berhasil menghindarkan setiap s erangan pihak lawannya. Dengan pura-pura tidak tahu ia menanya: "Nona, kau ada murid siapa? Dengan aku si orang tua ada permusuhan apa?"

"Iblis tua, nonamu adalah anak perempuan Tio Ek Chiu. Malam ini aku sengaja datang hendak menuntut balas sakit hati atas kematian ayahku. Kau tokh tidak bisa tahu bukan?" setelah berkata, kembali ia menyerang secara kalap. Tetapi pemilik Golok Maut kali ini hanya terus berkelit, tidak balas menyerang.

Dari antara orang banyak yang menonton di sekitarnya, tiba-tiba ada seorang berseru: "Mari kita beramai-ramai menangkap iblis ini" seruan itu ternyata mendapat sambutan ramai. sehingga sebentar saja, keadaan menjadi genting.

orang-orang kuat dari dunia Kang-ouw yang tadi pada turun tangan kini tampak berkerumun maju dari empat penjuru.

Oleh karena jumlah mereka ada sangat banyak. maka pertempuran kali ini mungkin saja akan meminta korban jiwa yang tidak sedikit.

Tio Lee Tin yang menjadi muridnya orang berkedok kain merah merupakan seorang kuat nomor satu diantara rombongan orang-orang kuat itu.

Kedatangannya juga adalah bermaksud menuntut balas atas kematian ayahnya, tidaklah heran kalau setiap serangannya dilancarkan sangat ganas dan kejam, sehingga membuat pemilik Golok Maut merasa agak ripuh dibuatnya.

Tetapi pemilik Golok Maut tetap tidak membalas menyerang, ia hanya mundur, menyingkir atau berkelit saja. Apa sebabnya?

Sudah tentu tidak diketahui oleh orang luar.

Orang-orang kuat yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang telah mengurungnya makin rapat. Mereka sudah bertekad bulat hendak menyingkirkan jiwanya manusia menakutkan itu dengan secara mengeroyok.

Karena pemilik Golok Maut sejak muncul di dunia Kang ouw tindak tanduknya seperti setan atau hantu saja, maka jarang sekali orang yang bisa melihat wajah aslinya.

Malam itu adalah merupakan suatu kesempatan yang paling baik, sudah tentu mereka tidak mau melepaskannya begitu saja.

Terhadap Tio Lee Tin, pemilik Golok Maut agaknya merasa segan turun tangan, dan kini menyaksikan banyak musuh hendak menyerbu dirinya, sudah tentu ia mengerti kalau dirinya tengah terancam bahaya.

Saat itu matanya lantas nampak beringas, ia meninggalkan Tio Lee Tin, dan menghampiri orang-orang yang mulai maju mendekati dirinya, kemudian ia menghunus Golok Mautnya.

Pertempuran hebat, tapi lebih mirip kalau dikatakan pembunuhan besar-besara telah terjadi seketika itu.

sebentar saja, tangan dan kaki manusia berterbangan-Darah merah berhamburan-Bangkai manusia bergelimpangan-

suara jeritan tercampur suara orang berkauwk-kauwk, kedengarannya sangat mengerikan-

Suatu pemandangan yang membikin hati mencelos dan mengerikan, telah terbentang di atas lapangan yang penuh dengan tumbuhan rumput hijau.

orang yang tadinya kelihatan begitu banyak jumlahnya, pelahan-lahan mulai berkurang.

Bangkai manusia, kian meningkat jumlahnya.

Pemilik Golok Maut sekujur badannya sudah penuh darah, seolah-olah ia sudah berubah menjadi manusia berdarah. Pikiran waras agaknya sudah terpengaruh oleh napsunya membunuh, hingga ia cuma tahu membunuh, membunuh secara gila. Kemana tangannya dia pasti di situ ada jatuh korban, sedikit-dikitnya harus ada dua orang korban yang binasa. Ini ada suatu pembunuhan besar-besaran dalam sejarah rimba persilatan-

Pembunuhan besar-besaran itu selagi masih berlangsung dengan hebatnya, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring: "Semua mundur"

Orang-orang kuat yang mengepung dirinya pemilik Golok Maut, telah dibikin kaget oleh suara bentakan itu, hingga semua pada hentikan gerakannya.

Begitu mengetahui siapa orangnya yang datang itu, lantas pada menyingkir ke samping. Pemilik Golok Maut dengan mata beringas mengawasi orang yang baru datang itu Ia adalah seorang tua berwajah bengis, pakaiannya berwarna merah bara. Dengan tindakan pelahan ia memasuki medan pertempuran.

"Liat-yang Lokoay," demikian terdengar suara orang berseru.

Pemilik Golok Maut nampaknya juga terperanjat, sinar matanya semakin buas. Dengan tindakan mantap ia berjalan menghampiri orang tua yang disebut Liat yang Lokoay, dan baru berhenti sejarak kira-kira satu tumbak di depan orang tua itu.

Liat yang Lokoay memang merupakan salah satu orang musuhnya Kam-lopang yang terkuat, iblis tua ini sudah sepuluh tahun lebih tidak muncul di kalangan Kang ouw. Tidak nyana malam itu bisa muncul di Cit-lie-peng, sesungguhnya ada di luar dugaan semua orang. 

Liat yang lokoay setelah mengawasi bangkai-bangkai manusia yang berserakan di tanah itu sejenak. tiba-tiba ulapkan tangannya kepada beberapa puluh orang yang tadi mengepung pemilik Golok Maut dan berkata: "Kalian menyingkir jauh-jauh" .

orang-orang itu ternyata juga dengar kata, dengan cepat sudah pada mundur sejauh kira-kira 10 tumbak.

Iblis tua ini usianya sudah lebih dari 90 tahun, tapi kelihatannya seperti seorang yang baru berusia kira-kira 50 tahun- Beberapa puluh tahun berselang, namanya sudah menggetarkan dunia Kang-ouw.

Ia ada melatih semacam ilmu gaib yang dinamakan 'Liat-yang-ciang' atau pukulan telapakan tangan panas membara. Hawa panas yang keluar dari serangan tangannya itu bisa membikin hancur batu dan membikin lumer barang logam.

Pemilik Golok Maut mengerti bahwa ia ada berhadapan dengan musuh tangguh, maka napsunya mendidih, badannya nampak gemetar.

Liat-yang Lokoay, setelah mengundurkan orang banyak. dengan sepasang matanya yang tajam dan merah membara, tanpa berkesip memandang dirinya pemilik Golok Maut, kemudian berkata sambil ketawa ha ha hi: "sahabat, kiranya kan masih belum binasa"

"Lokoay, jikalau tuanmu binasa, hutang darah ini siapa yang akan menagih?" jawab pemilik Golok Maut dengan gemas.

Iblis tua itu ternyata masih anggap bahwa pemilik Golok Maut yang malam itu berdua di depan matanya adalah pangcu dari Kam-lopang yang dulu. sudah tentu ia tidak tahu, siapa sebetulnya orang yang memegang peranan sebagai Golok Maut ini ?

"Hihihihi sahabat, tidak nyana malam ini setelah 20 tahun kita tidak bertemu, kau masih menghendaki aku si orang tua repot turun tangan lagi. Jikalau kau tidak suka badan dan tulang- tulangmu menjadi abu, kau boleh bicara terus terang, aku masih bisa memberikan kau kelonggaran, supaya kau mati dalam keadaan utuh. Kau pikir bagaimana ?"

Orang yang sudah pada menyingkir jauh-jauh itu ketika mendengar perkataan Liat yang Lokoay, diam-diampada merasa girang. sebab dengan adanya iblis tua ini yang mau turun tangan sendiri, pemilik Golok Maut itu pasti tidak bisa terhindar dari kematian. Dengan demikian, mereka tak usah takut akan jiwanya terancam oleh Golok Maut lagi. "Lokoay, tuanmu sungguh merasa penasaran kalau tidak bisa makan nyalimu dan membeset kulitmu "

"Keinginan hatimu ini kau cuma bisa menantikan dalam penirisan saja. Buat sekarang ini kaujangan harap "

"Hmm... "

"Apa kau tetap menghendaki aku turun tangan ?"

"Pui... siluman tua, hutang darah harus kau bayar dengan darah Tuanmu tidak akan melepaskan kau begitu saja "

Liat yang Lokoay kembali ketawa bergelak-gelak. kedua tangannya diangkat pelahan-lahan sampai batas dada, sepasang telapakan tangannya mendadak berubah merah seperti bara, sepasang matanya juga merah, ditambah lagi dengan dandanan dan pakaiannya yang serba merah, sehingga nampaknya seperti sebatang tiang merah yang sedang membara. Pemandangan ini sesungguhnya sangat menakutkan.

Pemilik Golok Maut juga telah pusatkan seluruh kekuatannya pada sebelah tangannya, matanya memandang beringas. Ia berdiri dengan sikapnya yang keren, nampaknya sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Kedua pihak kelihatannya sudah bertekad bulat hendak membinasakan lawannya, satu sama lain sudah bermaksud begitu turun tangan, segera dapat merenggut jiwa lawannya.

Orang-orang tadi yang sekarang pada berdiri disekitar tempat tersebut sebagai penonton, pada menyaksikan keadaan itu dengan perasaan tegang.

suasana kembali menjadi sunyi, hingga hampir terdengar suara bernapasnya orang-orang yang berada di situ.

Tapi dalam kesunyian itu ada mengandung hawa napsu pembunuhan yang setiap saat bisa meledak.

Andaikata Liat yang Lokoay tidak bisa membinasakan lawannya, akibatnya sungguh hebat. sebab semua orang yang ada di situ, barangkali akan binasa semua di tangannya Golok Maut.

Pada saat itu, di luar kalangan justru ada seseorang yang mengawasi kedua musuh dalam kalangan itu dengan perasaan cemas. Ia nampak seperti sedang menggertak gigi, sepasang tangannya dikepal erat-erat, rupa-rupanya segera akan turun tangan jikalau perlu.

Ia dengan pemilik Golok Maut ada mempunyai hubungan erat, sekalipun harus berkorban jiwa untuknya, ia juga tidak akan menolak. Andaikata pemilik Golok Maut benar-benar tidak mampu menandingi Liat-yang Lokoay, ia akan segera turun tangan dengan tanpa ragu-ragu lagi. sebab ia sudah menganggap pemilik Golok Maut itu lebih penting daripada dirinya sendiri siapa orang itu ?.

Ia adalah pemilik bendera Burung Laut, itu manusia misterius yang kalau muncul di kalangan Kang-ouw selalu menggunakan kedok merah.

Mendadak berkelebat sinar merah, kemudian disusul oleh suara keras seolah-olah yang berdiri sejauh 10 tumbak lebih, masih tidak bisa berdiri tegak.

Itu adalah akibat dari pemilik, Golok Maut dengan Liat-yang Lokoay yang mengadu kekuatan dengan sepenuh tenaga.

Orang-orang banyak yang menonton setelah di bikin kaget oleh suara keras itu, lantas pada menengok ke dalam medan pertempuran, untuk menyaksikan apa yang telah terjadi.

Segera dapat melihat bahwa jarak antara pemilik Golok Maut dengan Liat-yang Lo koay, kini sudah kira-kira 3 tumbak jauhnya. Kedua orang itu masih berdiri tegak dengan berhadapan.

Tapi kalau dilihat dengan seksama, keadaannya ternyata ada sedikit aneh.

Liat-yang Lokoay kedua tangannya lurus ke bawah. ujung bibirnya mengalirkan banyak darah badannya gemetar.

Sedang pemilik Golok Maut pakaiannya bagian atas sudah berubah hangus, mulutnya juga mengucurkan darah Tanah kira-kira satu tumbak di depan kakinya, semua sudah seperti terbakar hangus keadaannya. Kedua lawan tangguh setelah mengadu kekuatan tadi, nampaknya kedua pihak sudah terluka parah.

Ilmunya Liat-yang-ciang si iblis tua itu dapat menghancurkan batu dan membikin lumer logam, tapi mengapa pemilik Golok Maut...

"Bluk "

Tubuhnya pemilik Golok Maut tiba-tiba rubuh di tanah

"Dia binasa " demikian suara riuh terdengar dari empat penjuru.

Liat yang Lokoay dengan tindakan sempoyongan maju menghampiri, ia berdiri di sisi badannya pemilik Golok Maut, setelah mengawasi sejenak. mendadak ia ketawa bergelak-gelak kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.

Tepat pada saat berlalunya Liat yang Lo koay, sesosok bayangan orang telah melayang turun di medan pertempuran- Di belakangnya bayangan orang itu ada menyusul pula satu bayangan orang kecil langsing.

Orang-orang yang menonton di sekitarnya yang semula pada berdiri dalam keadaan kesima, kini seolah-olah dibikin sadar, hingga dengan serentak pada menyerbu ke dalam kalangan-

Bayangan yang melayang turun tadi ternyata ada seorang berkedok merah. sedang bayangan kecil langsing yang menyusul belakangan- adalah nona Tio Lee Tin yang datang hendak menuntut balas atas kematian ayahnya. seperti telah diketahui, ia adalah murid kesayangannya orang berkedok merah itu.

Setibanya di medan bekas pertempuran tadi, Tio Lee Tin lantas berseru: "Suhu " Kemudian ia telah menghunus pedangnya dengan tiba-tiba.

Orang berkedok merah itu bungkukkan badannya untuk memeriksa jalan pernapasannya pemilik Golok Maut, badannya lantas gemetar, hampir saja rubuh.

Saat itu, hatinya dirasakan hancur luluh, tanpa disadari airmatanya lantas mengalir ke luar.

Orang banyak setelah maju mengerumun, lalu tujukan matanya kepada dirinya pemilik Golok Maut yang sudah hangus. Mereka agaknya pada merasa heran, sebab dalam dugaan mereka, orang yang terserang oleh ilmu 'Liat yang ciang'-nya Liat-yang Lokoay, pasti akan hancur lebur, tapi mengapa badannya pemilik Golok Maut ini sedikitpun tidak nampak terluka ? Hanya bajunya saja yang terbakar hangus, ini benar-benar merupakan suatu keganjilan. Tapi, orang yang sudah binasa, biar bagaimana toh tidakperlu dicari tahu melit-melit.

Orang berkedok merah itu dengan suara parau berkata kepada orang-orang yang mengurung diri:

"Dia sudah binasa, tuan-tuan boleh berlalu "

Orang banyak itu sudah tercapai tujuan-nya, apa perlunya harus mencari setori dengan orang berkedek yang sangat misterius ini? Maka setelah mendengar perkataannya, tanpa di minta lagi, lantas pada bubaran.

Di sebelah Timur saat itu sudah tertampak sinar putih, dari jauh sudah terdengar ramai suara burung berkicau. Suatu tanda bahwa hari sudah menjelang pagi.

Di atas tanah Cit-lie-peng, bangkai manusia nampak bergelimpangan di sana sini dan darah berceceran di sana sini.

Tapi semua itu sudah lewat, dan sekarang cuma ada orang berkedok kain merah dengan muridnya, yang menghadapi dirinya pemilik Golok Maut yang sudah menjadi bangkai juga.

Malam yang gelap gulita setelah berlalu, sebagai gantinya adalah pagi hari. Tapi sebelum pagi hari itu tiba, masih ada jangka waktu gelap untuk sementara.

Diwaktu menjelang pagi yang keadaannya masih belum terang betul itu, nampak berkelebat pedang panjangnya Tio Lee Tin, yang hendak membacok dirinya pemilik Golok Maut.... Orang berkedok merah dengan cepat lantas menghadang di depannya dan berkata padanya dengan suara s ember: "Tin-jie, kau hendak berbuat apa ?"

"Murid hendak membabat kutung tangan dan kakinya " "Tapi dia toch sudah binasa "

"Dia harus mendapat bagian seperti apa yang dia lakukan terhadap dirinya orang lain " "Tin-jie, orang yang sudah mati, semua kebencian lantas lenyap. Benarkah kau hendak

melakukan suatu perbuatan kejam terhadap satu bangkai? Apalagi dia.. ai dia sama sekali bukan itu orang yang kau cari "

"Apa? suhu, kau kata... ?"

Pada saat itu, beberapa puluh bayangan manusia tiba-tiba melayang turun dari beberapa jurusan.

orang berkedok itu dengan kecepatan bagaikan kilat telah memondong dirinya pemilik Golok Maut, kemudian menghilang ditempat gelap.

Tio Lee Tin cuma bisa menggerendeng dengan perasaan mendongkol tapi tidak bisa berbuat apa-apa. setelah kedrukan kakinya, ia juga lantas berlalu.

Beberapa puluh bayangan orang itu kemudian muncul dengan beruntun didalam medan bekas pertempuran tadi. Tapi mereka cuma dapat menyaksikan bangkai manusia yang bergelimpangan di tanah, karena pertempuran itu ternyata sudah selesai.

Mereka itu adalah dari perkumpulan im mo kauw yang mendapat lihat api tanda permintaan tolong, semua lantai datang dari berbagai penjuru untuk menghadapi pemilik Golok Maut Tapi mereka ternyata sudah datang terlambat, pertempuran hebat itu sudah tamat.

Untuk selanjutnya, kematian pemilik Golok Maut di bawah tangannya Liat-yang Lokoay, sebentar saja sudah tersiar luas di kalangan Kang-ouw. Ada orang yang merasa girang, ada pula yang merasa sayang. sebab pemilik Golok Maut itu kalau benar-benar ada pangcu Kam-lopang yang muncul lagi di dunia Kang-ouw setelah terhindar dari malapetaka, untuk menagih hutang kepada musuh-musuhnya, tidak perd uli bagaimana kejam caranya membinasakan musuh- musuhnya, tetap mendapat simpatik orang banyak.

Sekarang kita balik lagi kepada si orang kedok merah yang membawa kabur jenazahnya pemilik Golok Maut. Dengan hati hancur lebur, dengan ilmu lari pesatnya yang sudah tidak ada taranya, ia terus kabur ke tempat belukar, untuk mencari tempat guna mengubur jenazahnya pemilik Golok Maut.

Di sepanjang jalan, orang berkedok merah itu terus sesalkan dirinya sendiri ia menangis tapi tidak bisa keluar air matanya Jika saat itu ia tanpa ragu-ragu lantas turun tangan pada waktunya yang tepat, pemilik Golok Maut ini mungkin tidak akan binasa, tapi sekarang, semua sudah habis.

Hari sudah mulai terang, ketika kabut putih mulai buyar dan sinar matahari pagi muncul, orang berkedok merah itu sudah tiba diatasnya sebuah puncak gunung yang tinggi.

Dengan perlahan ia letakkan dirinya pemilik Golok Maut, kemudian mengusap wajahnya orang tua yang matanya tertutup rapat, segera tertampak wajah yang sangat tampan dan menarik hati.

Orang berkedok merah dengan perasaan mendelu mengawasi wajahnya anak muda tampan yang sudah menjadi mayat, lalu berkata: "Anak. kau terlalu keras kepala, kesombonganmu sesungguhnya hampir membuat orang tidak percaya. sekarang kau telah mengaso untuk selama- lamanya, tapi anak. aku menyesal selagi kau masih hidup aku tidak berani memberitahukan semua hal yang terkandung dalam hatiku. Aku takut akan melukai hatimu, maka aku simpan sendiri segala rahasia dan penderitaan hidupku. sekarang apakah kau bisa dengar ucapanku.."

Perkataannya itu diucapkan dengan nada yang sangat sedih, hampir setiap patah perkataannya dibarengi oleh tetesan air mata. Setelah berhenti sejenak. kembali ia berkata tapi seolah-olah mendoa: "Anak. nasibmu patut dikasiani, kau sudah dewasa, tapi she dan nama saja kau tidak punya. Kau sebetulnya bukan seorang she Yo, kau juga bukan bernama Cie Cong"

Ooo

BAB 31

Y0 CIE CONG dan Liat yang Lo koay...

Satu ada seorang jago angkatan muda, seorang luar biasa bakatnya dalam rimba persilatan, dan penemuannya yang gaib telah membuat ia menjadi seorang kuat tidak ada taranya. Yang lain adalah satu hantu angkatan tua, yang sudah mendapat nama sejak beberapa puluh tahun sebagai orang kuat nomor satu pada masa itu sehingga saat ini.

Kedua fihak dengan kekuatan sepenuh tenaga, telah mengadu kekuatan dan kepandaian. Yo Cie Cong karena sudah ada ilmunya 'Kan goan cin cao' yang melindungi dirinya, maka tidak bisa terbakar oleh ilmu gaibnya Liat yang Lo koay. Namun meski demikian, ilmunya Kan goan cia cao juga hampir dibikin buyar, hingga binasa pada saat itu juga. Sedang Liat yang Lo koay sendiri juga terluka parah oleh ilmunya Kan goan cin cao Yo Cie Cong. Matahari pelahan mulai naik tinggi orang berkedok merah dengan sabar dan tidak berhenti- hentinya mengusap-usap wajah dan badannya Yo Cie Cong. Hatinya dirasakan hancur luluh, airmatanya sudah hampir dikuras habis. Ia sudah lupa diam, lupa segala-galanya, ia sudah kelelap dalam kedukaan hebat.

Di bawah sinarnya matahari pagi itu, terjadilah suatu kegaiban.

Tubuhnya Yo Cie Cong yang sudah dingin, ketika terkena sinar matahari kembali menjadi hangat. Wajahnya yang sudah pucat pasi, pelahan-lahan mulai merah kembali. Begitu pula jantungnya juga kelihaian berdenyut lagi dan darah mulai berjalan normal.

Tangannya orang berkedok merah yang masih menempel di badannya Yo Cie Cong, mulai gemetar. ia kini telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, pengaruhnya mustika Gu liong- kauw yang sangat mujijat, suatu keganjilan yang belum pernah terjadi pada sebelumnya....

manusia sudah mati bisa hidup kembali.

Sekarang ia ingat bahwa Yo Cie Cong pernah menelan mustikanya Gu liong kauw. Mustika itu tergolong 'dingin atau 'Im' meski mustika itu sendiri sudah lumer karena telurnya burung rajawali raksasa, hingga berubah menjadi kekuatan yang sangat hebat, tapi pengaruhnya masih ada. Asal dijemur di bawahnya matahari kira-kira satu jam lamanya, mustika itu masih bisa mengeluarkan khasiatnya yang mujijat, hingga orang yang sudah binasa bisa hidup lagi.

Untung ia tidak terburu napsu mengubur jenazahnya Yo Cie Cong, kalau tidak, tamatlah riwayatnya anak muda gagah perkasa itu.

Sebetulnya Yo Cie Cong juga belum mati benar-benar. semua kekuatan dalam badan yang mengendalikan jiwanya, untuk sementara telah tertutup dalam beberapa bagian jalan darah, asal melihat sinar matahari, kekuatan 'Im dan Yang' saling bekerja, hingga jalan darah yang tertutup itu terbuka dengan sendirinya, maka ia juga lantas bisa hidup lagi.

Oleh karena pertempuran hebat kali ini, membuat dua macam mustika yang berada dalam dirinya Yo Cie Cong berkesempatan berkumpul menjadi satu dan beruban menjadi kekuatan murni yang sangat hebat.

Ini sesungguhnya diluar dugaan Yo Cie Cong semula.

Memang sesungguhnya kejadian ini merupakan suatu hal yang sangat ganjil, sebab bencana yang menimpa dirinya tadi telah berhasil menjadi suatu sumber kekuatan yang tidak ada batasnya.

Jikalau tidak ada pertempuran hebat seperti tadi itu. sedikitnya ia harus mengalami latihan sepuluh tahun lagi barulah khasiat dari kedua macam kekuatan tadi dapat disatukan dan dapat pula digunakan secara leluasa. Yo Cie Cong yang saat itu masih berada dalam keadaan rebah, dadanya sudah terlihat berombak. napasnya mulai berjalan teratur nyata, kaki tangannya juga mulai bergerak-gerak.

Orang berkedok kain merah itu dengan termangu-mangu menyaksikan kejadian aneh itu, air matanya kembali mengalir keluar, Tetapi kali ini air mata itu merupakan air mata kegirangan, bukannya air mata kedukaan.

Didalam keputus- asaannya ia telah menemukan kembali pengharapannya.

Kira-kira setengah jam kemudian. Yo Cie Cong pelahan-lahan membuka matanya. Dengan heran ia mengawasi keadaan di sekitarnya, matanya yang saya itu kemudian menatap pada orang berkedok kain merah.

Perlahan-lahan ia mulai ingat apa yang telah terjadi di Cit-lie-peng. setelah melakukan pertempuran hebat dengan kawanan iblis, ia lalu mengadu kekuatan dengan Lit yang Lokoay.

Saat itu ia cuma merasakan satu getaran hebat dan hawa panas, lapat-lapat ia masih ingat pula bahwa dipihak lawannya kelihatan mengalirkan darah dari mulutnya. tetapi apa yang terjadi selanjutnya ia sudah tidak bisa ingat lagi. Dengan suara agak tergetar ia bertanya: "Ciannwee, kembali kau telah menolong jiwaku." orang berkedok kain merah itu mengangguk.

"Beberapa kali Cianpwe telah mengulurkan tangan untuk menolong diriku, sehingga membuat boanpwee seolah-olah hidup kembali dari lubang kubur. Budi dan kebaikan itu sesungguhnya besar sekali. Mungkin selama hidup boanpwee, tidak mampu membalas habis budi sebesar itu"

"Anak. tak usah kau mengucapkan perkataan demikian- sekarang kau coba atur dulu pernapasanmu, masih ada yang tidak beres atau tidak?" berkata orang berkedok kain merah dengan suara lemah lembut seolah-olah sikapnya seorang ayah.

Yo Cie Cong mengawasi orang misterius itu dengan sorot mata penuh perasaan terima kasih.

Kemudian ia bangun dari duduk. Ia coba mengatur pernapasannya, ternyata tidak mendapat gangguan apa-apa, bahkan sebaliknya ia merasa bahwa kekuatan tenaga dalam dirinya seolah- olah telah bertambah lipat ganda.

Dalam kegirangannya, ia lantas jatuhkan diri dan berlutut dihadapannya orang berkedok kain merah seraya berkata:

"Terima kasih atas budi Cianpwee yang telah sudi menolong diri boanpwe "

orang berkedok kain merah itu juga tidak menolak pernyataan terima- kasih dan penghaturan hormat anak muda itu, sambil membimbing bangun padanya ia berkata: "Anak bangunlah."

Yo Cie Cong setelah memberi hormat lalu berbangkit.

Orang berkedok kain merah itu lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh: "Anak. sekali lagi kau sudah mengalami kematianmu."

"Boanpwee ? "

"Benar jikalau tidak karena kau sudah pernah menelan mustikanya Gu liong kauw, mungkin dewa sendiri tidak mampu mengembalikan rohmu. Dan saat ini mungkin juga kau sudah rebah dalam liang kubur."

Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong, sampai keringat dingin dengan tidak dirasa, sudah mengucur keluar.

Sudah tentu perkataan orang berkedok kain merah itu bukanlah perkataan kosong belaka. "Anak. jikalau terjadi apa-apa atas dirimu.. maka sakit hati perguruanmu siapa yang harus

menuntut balas? Dia Lam baka barangkali kau nanti juga tidak ada muka untuk menemui suhumu."

"Boanpwee mengerti telah berbuat suatu kekeliruan besar."

"Kita yang hidup idaLam dunia Kang-ouw, jika sekitar diri kita sedang terancam oleh musuh- musuh yang terlalu kuat, tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandal kekuatan dan keberanian seorang diri saja."

"Menurut apa yang kuketahui, diantara musuhmu, kalau tidak salah juga terdapat orang-orang yang namanya termasuk dalam urutan huruf IM, YANG. sIU. KoAY dan po, lima iblis itu satu saja sudah cukup membantu kau pusing untuk melayaninya. Apa lagi kelimanya sekarang masih ada.Jikalau kau tidak memikirkan dan merencanakan lebih dulu dalam usahamu, barangkali sebelum usahamu itu berhasil jiwamu sendiri sudah terancam bahaya."

"Boancwee tahu kesalahan boanpwee sendiri, maka selanjutnya tentu akan boanpwee ubah." "sekarang ada sesuatu hal aku hendak memberitahukan padamu,"

"Boanpwee ingin dengar."

"Di Cit lie peng di bawah matanya orang banyak. pemilik Golok Maut sudah binasa di tangannya Liat-yang Lokoay, maka untuk selanjutnya kau harus muncul lagi dengan lain rupa, berbareng dengan itu kau harus ingat pula, sekali-kali tidak boleh hanya mengandalkan keberanian dan kegagahanmu seorang diri saja. Dalam sebala hal kau harus pikir itu masak-masak dulu baru bergerak."

"Boanpwee akan ingat betul pesan cianpwee ini." "Anak, kau... Kau..."

Badannya orang berkedok kain merah itu kelihatan agak terguncang, suaranya juga parau dan gemetar. la tadinya ingin membuka rahasia mengenai hubungan dirinya sendiri dengan Yo Cie Cong, tapi suatu perasaan berkuatir telah mencegah maksudnya.

"Apa Cianpwee masih ada urusan penting?"

"Ah anak. semoga kau bisa bawa dirimu baik-baik. sekarang aku hendak pergi." "Cianpwe, kau..."

Belum lagi habis ucapan Yo Cie Cong, orang berkedok kain merah itu sudah menghilang dari depan matanya.

Ia memang orangnya cerdik luar biasa, terhadap perbuatan orang berkedok kain merah itu yang berkali-kali telah menolong dirinya dari ancaman bahaya maut, bahkan sudah pula menurunkan kepandaian yang tertinggi dalam rimba persilatan, ia sudah merasa curiga terhadap dirinya orang misterius itu. Ia merasa bahwa dalam hal ini pasti ada apa-apanya yang menjadi sebabnya pula. Dan kini ketika melihat sikapnya dan pembicaraannya orang berkedok kain merah itu yang agak ragu-ragu dan tidak jelas seolah-olah masih mengandung suatu rahasia besar yang tidak dapat dikeluarkan tetapi entah rahasia apakah yang disimpannya itu ? Itu ia tidak dapat memecahkannya.

Dengan termangu- mangu ia memandang ke arah menghilangnya orang berkedok kain merah itu ia terus berdiri menjublek sekian lamanya.

Lama sekali ia berada dalam keadaan demikian, kemudian ia baru ingat tindakan apa selanjutnya yang harus diambilnya.

Pertama-tama ia harus mencari dirinya siluman tengkorak Lui Bok Tong untuk mendapatkan kembali pusaka peninggalan suhunya, ouw-bok po-lok Cin kuat, barulah bisa merupakan ia rangkai ilmu silat yang sangat hebat, jika digabungkan dengan ouw-bok Po-lok Cin-kay yang ada pada dirinya. setelah ia berhasil mempelajari ilmu silatnya itu, barulah ia nanti mencari dan membuat perhitungan lagi dengan lima manusia iblis yang sangat tangguh.

Soal kedua ialah mengenai asal usul dirinya sendiri yang harus dicari tahu keterangannya sendiri, tetapi jika hanya mengandalkan pada sebuah batu Liong kuat yang terdapat pada dirinya saja, untuk mencari keterangan, mungkin agak sulit. Ia ingat bibi Tho-nya pernah berkata:

Bahwa ia ada mirip benar dengan Giok bin Kiam khek Hoan Thian Hoa, jago pedang nomor satu yang sudah sepuluh tahun lebih menghilang dari dunia Kang-ouw.

Ia tahu, bahwa Hoan Thian Hoa itu adalah muridnya Leng Jie Hong dari see gak, manusia gaib dari rimba persilatan.

Sedangkan ia sendiri sudah menyanggupi permintaan secara tak langsung dari kedua manusia aneh dari rimba persilatan ialah Pengail Linglung dan phoa ngo Hweeshio untuk menepati janjinya mengadakan pertandingan dengan orang itu, maka jikalau saat itu sudah sampai, mungkin ia dapat menemukan Giok bin Kiam khek Hoan Thian Hoa. Akhirnya ia ingat dirinya nona Ut-tie Kheng yang telah menghilang dari dalam rumah penginapan-

Biar bagaimanapun juga ia harus turut tanggung jawab atas keselamatannya nona itu sebab kedatangan sinona kekota Tiang-soa adalah melulu gara-gara dirinya.

Meskipun disebabkan siang koan Kiauw ia tidak dapat menerima cintanya nona Ut-tie kheng, tetapi biar bagaimanapun ia tetap tidak dapat membiarkan dirinya nona itu begitu saja, apalagi ia sudah menerima budi yang sangat besar dari kakeknya yang telah memberikan pula hadiah berupa darahnya kura-kura yang sudah berumur ribuan tahun dan juga mewariskan padanya ilmu silat Kan- goan cin-cao.

Kembali ia membuka buku daftar musuh-musuhnya Kam lo pang. la lalu berkata pada dirinya sendiri: Kali ini seharusnya adalah LieBun Hao pangcu dari Cie In pang yang akan mendapat giliran-

Setelah berkata demikian semangat terbangun secara mendadak. maka dengan cepatpula ia terus turun gunung.

Cie in pang...

Pusatnya berkedudukan dibukit Ciang tiangnya di daerah Po kheng perbatasan propinsi 0uw lam.

Hari itu, di atas jalanan raya yang menghubungkan kota Tiang-soa dengan Po Kheng telah terlihat seorang muda cakap tetapi sikapnya dingin kecut dengan tenang berjalan seorang diri

Dilihat dari segala gerak geriknya yang gesit dan ringan, pemuda itu tentunya mempunyai kepandaian ilmu silat yang luar biasa, tetapi kedua mata kelihatannya tidak banyak bedanya dengan mata orang-orang biasa, tidak seperti orang yang mempunyai kekuatan tenaga dalam sangat hebat. siapakah pemuda itu ?

Pemuda itu tidak lain adalah Yo Cie Cong pemuda yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut.

Hari itu matahari sedang panasnya, di atas jalan raya itu seperti dibakar.

Yo Cie Cong meskipun mempunyai kepandaian tinggi dan tidak takuti segala hawa panas maupun dingin, tetapi ketika ia melihat ada sebuah pohon besar dengan daunnya yang rindang yang ada di pinggir jalan raya itu, ia lantas berhenti dan meneduh di bawah pohon tersebut.

Sebentar kemudian tiba-tiba dijalan raya kelihatan mengepul debunya, beberapa ekor kuda terlihat sedang berlari mendatangi dengan cepatnya.

Penunggang kuda yang terdiri dari lima orang laki-laki berbadan tegap setelah tiba dibawah pohon, masing-masing juga turun dari kudanya.

Lima orang laki-laki tegap itu matanya dapat melihat Yo Cie Cong, dengan berbareng lantas berseru: "Eeeeh..."

Yo Cie Cong yang sebetulnya tengah mengawasi ke arah lain, agaknya tidak mau ambil pusing atas kedatangannya kelima orang itu, tetapi ketika mendengar seruan mereka, ia juga lantas menoleh dan kemudian menjadi kaget.

Kiranya kelima orang laki-laki itu adalah lima orang dari antara sepuluh orangnya Cin Bie Nio, ketua Pek Leng hwee.

Yo Cie Cong lalu mendekati kelima orang laki-laki itu, dengan matanya yang tajam ia memandang kelima orang itu dengan tidak berkedip.

Tepat pada saat itu di atas jalan raya kembali terlihat joli yang dipikul oleh empat orang. Di belakang joli itu kembali terlihat pula penunggang kuda.

sebentar saja rombongan itu sudah sampai juga di bawah pohon dan lima orang laki-laki yang sampai duluan tadi lantas pada menyingkir ke samping. Joli tadi di sekitarnya kelihatannya tertutup rapat, sedangkan lima penunggang kuda yang ada di belakang joli ternyata adalah lima orang wanita muda yang menyoreng pedang semuanya dan saat itu juga pada lompat turun dari kuda tunggangannya dan berdiri berbaris di belakang joli.

Yo Cie Cong sudah tahu sekarang siapa orangnya yang berada daLam joli itu, tetapi apa yang membuat heran ialah pada hari yang hawanya panas demikian rupa mengapa joli itu tertutup demikian rapatnya ? Apakah didalamnya ada apa-apanya yang mencurigakan ?

Lima orang laki-laki tegap tadi cepat-cepat maju menghampiri joli dan berkata dengan suara pelahan-

Dari daLam joli lantas terdengar suara ketawa cekikikan yang disusul oleh suaranya wanita yang sangat merdu. "Aku tahu."

Yo Cie Cong ketika mendengar suara ketawa itu segera mengetahui bahwa apa yang diduganya semula tidak keliru maka wajahnya kelihatan semakin kecut, napsu membunuh lantas berkobar.

Dengan suara dingin ia berkata pada orang yang duduk dalam joli. "Cin Bie Nio, musuh bebuyutan kembali bertemu disini."

Dari dalam joli ini terdengar suaranya Cin Bie Nio:

"Tidak salah, aku juga sedang mencari kau. Ini sungguh kebetulan." "Cin Bie Nio, lekas kau keluar."

Lima orang laki-laki dan lima orang wanita muda yang berbaris disekitar joli tadi, semua kelihatan pada berubah wajahnya. Dengan tanpa menunggu perintah lagi pedang masing-masing lantas dihunus keluar.

Tampaknya jikalau Yo Cie Cong berlaku tidak sopan lagi mereka lantas akan turun tangan.

Yo Cie Cong dengan sorot matanya yang tajam menyapu anak buahnya Cin Bie Nio lalu memperlihatkan tertawa dingin. Cin Bie Nio dalam joli membentak dengan suara perlahan:

"Kalian mundur "

sepuluh orang anak buahnya dengan perasaan mendongkol mundur kebelakang joli.