Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 10

Jilid 10

"serupa dengan kau "

"Apakah kau merasa kepanjangan umur mu"

"Kaulah yang sudah bosan hidup, maka kau datang minta siaoyamu untuk mengantarkan kau menghadap kepada Giam lo ong"

Bukan kepalang gusarnya sin-hong Tojin, sampai mukanya merah padam.

"Bocah kau cari mampus " demikian ia menggeram, yang kemudian lantas pentang kedua tangannya, jari tangannya yang seperti gaetan dengan cepat menyengkcram Yo Cie Cong.

Sin-hong Tojin mengira bahwa gerakannya itu pasti berhasil menyambar dirinya Yo Cie Cong, siapa nyana ketika jari-jari tangannya sudah akan mengenakan sasarannya, orang yang di arah itu sudah menghilang entah kemana perginya. Hanya suara ketawa dingin yang seolah-olah menyambut gerakannya itu.

Dengan kegesitannya, Sin hong Tojin mendapat nama dikalangan Kang-ouw, hingga ia mendapat gelar sin hong yang berarti Malaikat Angin.

Ia sungguh tidak nyana bahwa satu bocah yang usianya masih begitu muda, ada mempunyai kegesitan melebihi dirinya sendiri Bukan saja dengan secara mudah sekali sudah mengelak sambaran tangannya yang dinamakan sin hong Kui ciauw atau malaikat angin dan kuku setan, bahkan sudah molos kebelakang dirinya. Kegesitannya ini benar-benar merupakan suatu gerakan yang tidak habis dipikir.

Dalam keadaan kaget dan ketakutan setengah mati, buru-buru ia tarik mundur serangannya dan memutar tubuhnya.

Yo cie Cong dengan sikapnya yang tenang mengawasi padanya. Kawanan iblis yang pada datang dengan maksud jahat terhadap Yo Cie Cong, kini ketika melihat caranya Yo Cie Cong menghindarkan dirinya dari serangannya imam jahat itu, seketika itu juga lantas pada merasa kuncup nyalinya, Kelihatannya bocah ini ada mempunyai kepandaian ilmu gaib, demikian mereka pada berpikir. setelah hening sejenak. Yo cie Cong baru berkata pula :

"Sin-hong Tojin, apa benar kau hendak mencari mampus ?"

Pertanyaan Yo Cie Cong ini membuat kalap sin-hong Tojin, karena pemuda itu bukan saja sudah tidak pandang mata dirinya, bahkan melunjak menyebut namanya tanpa bahasa. Hal serupa ini baru pertama kali dialami oleh sin-hong Tojin.

Dengan tanpa banyak bicara, ia lantas kepal kedua tangannya, sebentar saja ia sudah melancarkan serangkaian serangan sampai 10 kali.

Gerak serangannya itu bukan saja sangat aneh, tapi juga mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat, seolah-olah ada beberapa orang yang melakukan serangan secara berbareng.

Yo cie Cong saat itu merasa agak kewalahan juga untuk membendung serie serangannya imam jahat itu, kembali ia menggunakan ilmu silat menggeser tubuh menukar bayangan ajarannya orang berkedok merah, seolah-olah setan yang bisa menghilang ia sudah lompat keluar kalangan....

sin-hong Tojin dengan cepat tarik mundur serangannya dan orangnya mundur 3 tindak.

Dengan mata kesima ia mengawasi Yo Cie Cong, pikirannya terus bekerja, ia coba memikirkan asal usulnya ilmu silat Yo Cie Cong yang sangat aneh itu

Tiba-tiba sinar merah berkelebat diangkasa, kira-kira beberapa lie jauhnya dari tempat pertempuran itu.

Begitu melihat tanda sinar merah itu, Yo Ce Cong lantas dapat tahu bahwa sinar merah itu adalah api pertandaan yang dilepaskan oleh orangnya Im mo kauw.

Sin hong Tojin wadahnya mendadak berubah, sejenak kelihatan ia agak bersangsi, kemudian berpaling dan berkata kepada Yo Cie Cong:

"Bocah. toyamu sekarang ada urusan penting, persoalan kita ini kita tunda dulu, lain kali kalau bertemu kita perhitungkan lagi"

Sehabis mengucapkan perkataannya, orangnya lantas lompat melesat dan sebentar saja sudah hilang dari pemandangan-

Dalam kagetnya Yo Cie Cong lantas berpikir, orang-orang Im-mo kauw itu entah ada kejadian apa lagi, sehingga perlu mengumpulkan orangnya yang berkepandaian tinggi ?

Belum lenyap pikirannya, diantara suara menderunya angin malam, kembali melayang satu bayangan orang yang turun dihadapannya.

Yo Cie Cong dengan cepat menyingkir, ketika ia pasang matanya, lantas berseru: "Bibi Tho "

Memang benar, orang yang baru tiba itu adalah Thian san Liong-lie Tho Hui Hong

"Anak, kau tidak ada halangan suatu apa-apa? Aku menduga kau pasti ada disini. Eh Mana itu dua manusia buas dari Lam hong ? "

"Sudah binasa"

"Bukan binasa ditanganmu ?"

"Bukan, mereka dibunuh mati oleh Khong tong sin hong Tojin " "Sin hong TOjin ?"

"Ya"

"Imam jahat itu kepandaiannya sukar dijajaki, bagaimana dia juga muncul disini? Dan malahan membunuh mati dua manusia buas itu, apakah imam jahat itu ?"

"Mengandung maksud serupa dengan iblis wajah singa ditepi danau Naga " "Hm sungguh menjemukan. Dan kemana orangnya ?"

"sudah pergi sudah dipanggil oleh orang-orangnya Im-mo-kauw dengan panah api pertandaan."

"Apa imam jahat itu juga anggautanya Im-mo kauw ?" "Mungkin begitu "

Pada saat itu, sinar rembulan nampak semakin terang, hingga keadaan disitu seperti dipasangi lampu.

Kawanan manusia iblis yang tadi menonton disekitarnya tempat tersebut, kini sudah pada menghilang dengan secara diam-diam.

Yo Cie Cong setelah mengawasi Thian san Liang- lie sejenak. la pura-pura tidak tahu dan menanya:

"Bibi Tho, tadi didalam rumah makan mengapa bibi mendadak menghilang ?"

Thian san Liong lie mengingat apa yang telah terjadi atas dirinya, yang hampir saja tercemar ditangannya Bok tok Kiesu, wajahnya merah seketika dengan suara mendongkol ia menjawab:

"Aku telah ditotok oleh itu iblis Bok-tok Kiesu dengan ilmunya totokan yang istimewa, kemudian dibawa kabur kedalam rimba, untung saja keburu ditolong oleh pemilik Golok Maut"

"Pemilik Golok Maut?" tanya Yo cie Cong yang berlaga heran "Ng "

"Bagaimana macamnya ?"

"Seorang tua berambut dan berjenggot sudah putih seluruhnya, dan tangannya cuma tinggal sebelah. Namun kepandaian ilmu silatnya luar biasa tingginya "

"Bibi Tho, dalam kalangan Kang-ouw telah tersiar bahwa pemilik Golok Maut itu ada seorang iblis yang kejam dan ganas luar biasa sebab caranya membunuh musuhnya ada terlalu kejam, bibi anggap bagaimana ?"

"Ucapan orang tidak selamanya betul.Jika dia benar-benar ada pangcu Kam lo pang, pembunuhan secara ganas itu, dia telah lalukan cuma terhadap musuh-musuhnya yang dulu melakukan pembasmian terhadap orang-orang Kam lo pang dan semua keluarganya. Maka boleh dianggap sebagai tindakan pembalasan atas keganasan musuh-musuhnya itu "

Dalam hati Yo Cie Cong merasa lega.

"Menurut pemandangan bibi, apa benar pemilik Golok Maut itu adalah pangcu Kam lo pang ?" "Dalam hal ini agak sulit untuk menentukan- cuma saja, mengapa menurut kabar yang tersiar

dalam kalangan Kang ouw, ketika pemilik Golok Maut itu muncul di kampung Hui- liong- chung untuk ke enam kalinya mengambil jiwanya Tio Ek Chiu, kabarnya pernah menyebut dirinya sebagai pangcu Kam-lo pang. Benar atau tidaknya agak sulit dipastikan "

"Kedatangan ke kota Tiang soa ini, apakah juga karena peristiwa Golok Maut itu?"

"Benar Tapi aku sekarang sudah melihat wajahnya?, bahkan sudah ditolong olehnya, maka aku sudah tidak ada perlunya berdiam lebih lama ditempat ini "

"Kemana bibi hendak pergi?"

"Untuk mencari jejaknya satu orang, sudah sepuluh tahun lebih aku merantau di kalangan Kang ouw "

Ia ucapkan perkataannya itu dengan wajah murung. "Bagaimana macamnya orang yang bibi cari itu ?"

"Ah sudahlah jangan kita bicarakan lagi"

"Apa bukan muridnya itu manusia gaib dari rimba persilatan yang bernama Hoan Thian Hoa bergelar Giok bin Kiam-khek.? Yang bibi katakan ada mirip dengan boanpwe"

"Anak. aku sudah- mulai kehilangan kepercayaan terhadap diriku sendiri " "Bibi Tho, biarlah boanpwee melakukan sesuatu untuk bibi "

"Melakukan sesuatu untuk aku ?"

"Benar, boaapwee pasti akan berdaya untuk mencari dia "

"Anak. maksud baikmu aku merasa berterima kasih. Tapi dimisalkan kau bisa menemukan lantas bagaimana ?"

"Bukankah bibi hendak mencari dia ?"

"Ya, aku kepingin mencari dia, tapi tidak ingin menemui padanya " Yo Cie Cong bingung. ia tidak dapat memahami perkataan bibinya yang bertentangan maksudnya itu.

setelah berdiam sejenak, ia lantas berkata pula:

"Bibi Tho, boanpwee pasti mencarikan untuk bibi, setidak-tidaknya boanpwee juga akan menyampaikan berita ini kepadanya. Tentang bibi suka menemui dia atau tidak. itu ada lain soal "

Tiba-tiba suatu pikiran mendadak terlintas di-otaknya, Yo Cie Cong bertanya: "Manusia gaib dalam rimba persilatan itu sebetulnya ada mempunyai berapa murid?"

"Hal ini aku sendiri tidak begitu jelas " jawab Thian-san Liong lie.

Kalau Yo Cie Cong berani majukan pertanyaan demikian, disebabkan karena ia hendak mewakili kedua manusia aneh dari rimba persilatan untuk menepati janjinya mengadakan pertandingan dengan muridnya manusia gaib dari rimba persilatan-

Pada saatnya ia pasti bisa bertemu muka dengan orang itu. Kini mendadak ia merasa bersangsi apabila manusia gaib itu muridnya bukan hanya seorang, bukankah persoalannya menjadi ruwet? Disamping itu, ia juga sama sekali masih belum mengetahui bagaimana hubungannya Thian-san Liong-lie dengan Giok-bin Kiam khek...

"Anak. waktu sudah malam, kita harus pergi "

Terhadap bibi Tho-nya yang manis budi itu, Yo Cie Cong mempunyai perasaan suka yang tidak bisa dikatakan- Ia sebetulnya merasa berat berpisahan dengannya, tapi itu tidak mungkin, maka ia lantas berkata dengan suara sember:

"Bibi Tho, semoga Tuhan melindungi dirimu, boanpwee pasti akan mencari dia untuk bibi" "Anak. semoga kita bisa bertemu lagi dalam keadaan selamat "

Thian-san Liong lie sedikitpun tidak menduga bahwa pemuda didepan matanya yang ia selalu sebut 'anak' itu, adalah pemilik Golok Maut yang namanya menggegerkan rimba persilatan dan yang pernah menolong dirinya dari cengkeramannya Bok tok Kiesu.

Yo Cie Cong setelah berpisahan dengan Thian san Liong lie, terus balik ke kota Tiang-soa.

Ketika ia melalui di jalan pintu kota sebelah Timur. bangkainya Bok tok Kiesu yang di cantelkan diatas pohon, ternyata sudah lenyap. Diam-diam ia anggukan kepalanya.

Bok tok Kiesu adalah Tongcu bagian ceng liong tong, barusan im mo kauw telah melepaskan api pertandaan warna merah mungkin karena menemukan bangkainya Bok tok Kiesu yang terbinasa ditangannya Golok Maut maka lantas mengumpulkan semua anggautanya Im-mo kauw untuk mengadakan rapat kilat.

Golok Maut sudah mengambil satu korban lagi, dan bangkainya korban itu di gantung diatas pohon dipinggir jalan, terang itu ada merupakan satu tantangan buat perkumpulan Im mo kauw.

Im mo kauw ada merupakan satu perkumpulan agama besar yang baru saja muncul didunia Kang-ouw. siapa pemimpin (Kauwcu)nya ? Tidak ada orang yang tahu. Tapi dari sepak terjangnya dan orang-orangnya yang ditarik serta kemudian diberikan kedudukan tinggi dalam perkumpulan, hampir semuanya dari orang-orang kuat yang merupakan hantu atau iblis dikalangan Kang-ouw, Kauwcu itu tentunya bukan orang sembarangan Jikalau tidak, orang-orang seperti Biauw- ciang Ngo tok, sin-hong Tojin, si Pedang Berdarah Kong Jie, Bok tok Kiesu dan lain-lainnya, yang pada menjagoi di daerah masing-masing, bagaimana mau tunduk dibawah perintahnya ?

Perkumpulan tersebut kian hari kian besar pengaruhnya, nampaknya sang Kauwcu ada begitu napsunya hendak menjadikan perkumpulan im mo kauw sebagai perkumpulan terbesar dikalangan Kang-ouw. Dan kini pemilik Golok Maut sudah berani melakukan pembunuhan terhadap orang- orangnya Im mo kauw, jika tidak segera diambil tindakan pembalasan, maka hal tersebut tentunya akan membikin merosot wibawanya Im mo kauw.

Disamping itu, ini juga merupakan satu bukti bahwa pemilik Golok Maut pada saat itu masih berada dikota Tiang soa. Maksud dan tujuannya Yo Cie Cong menggantungkan bangkainya Bok tok Kiesu diatas pohon, disatu fihak merupakan jawaban bagi tindakannya Im mo kauw yang mengutus orang-orangnya untuk mengejar jejaknya. Dilain fihak, Ia hendak menggunakan dirinya Bok tok Kiesu yang dibinasakan secara demikian, sebagai pancingan agar perkumpulan tersebut begerak lebih aktif. hingga banyak kemungkina bisa terbuka rahasianya diri pemimpinnya.

Benar saja, perkembangan selanjutnya telah berjalan seperti apa yang diharapkan oleh Yo Cie Cong. Im mo kauw kirim lebih banyak utusannya yang berkepandaian tinggi-tinggi, malam itu juga menuju kekota Tiang soa untuk menghadapi pemilik Golok Maut.

Dewasa ini orang-orang Kang ouw dan kawanan manusia iblis yang sudah unjukkan diri dikota Tiang soa, kecuali orang-orangnya Im mo kauw, masih ada orang-orangnya Cie in pang, sejumlah kira-kira 16 orang dibawah pimpinannya pangcu sieBun Hao sendiri

Ketua Pek leng hwee Cin Bie Nio dan pangcu Ban siupang Thio phan, juga tidak ketinggalan, mereka pada memimpin anak buah masing-masing datang kekota Tiang soa.

Disamping itu, masih ada lagi, Ceecu dari 36 perkumpulan bajak laut didaerah Tong teng ouw, Tiang lo atau golongan tua dari perkumpulan kawanan pengemis (Kaipang) cabang Thian lam dan lain-lainnya lagi.

orang-orang Kang ouw dari golongan putih maupun hitam yang belum unjukkan diri masih belum ketahuan jumlahnya.

Dengan demikian, maka kota Tiang soa dalam waktu beberapa hari saja sudah menjadi sarangnya orang-orang dunia Kang-ouw atau kawanan iblis dari sebala jenis. Kedatangan orang- orang itu semua karena gara-garanya Golok Maut

suasana dikota Tiang soa pada saat itu seperti hendak menghadapi suatu peristiwa besar.

Jikalau semua kawanan iblis yang berada dikota Tiang soa itu bisa bersatu padu menghadapi pemilik Golok Maut, betapapun tingginya kepandaian pemilik Golok Maut rasanya juga sukar melindungijiwanya dari tangan kawanan iblis itu. satu hari telah liwat tanpa ada kejadiam apa- apa... Dua hari...

Masih tetap belum kelihatan bayangannya pemilik Golok Maut.

Hati kawanan iblis itu mulai ragu-ragu, mungkinkah pemilik Golok Maut itu sudah kabur dari kota Tiang soa ?

Andaikata benar bahwa pemilik Golok Maut itu sudah kabur dari kota Tiang soa karena melihat gelagat tidak baik, maka di dalam dunia Kang ouw yang begitu luas, ke mana harus mencari jejaknya manusia yang sangat misterius itu.

Ini bukan satu soal mudah

ADA berapa orang sudah mulai putus harapan, sebab mereka anggap sudah tidak dapat menyaksikan kejadian besar dari dunia Kang-ouw. orang-orang dari golongan ini tidak mempunyai maksud tertentu, kedatangan mereka hanya tertarik oleh perasaan heran saja.

Ada orang-orang yang merasa cemas dan mendongkol, orang-orang ini terdiri dari mereka yang datang dengan tekad membinasakan dirinya manusia yang menakutkan itu.

Ada pula orang-orang yang merasa ketar-ketir hatinya, sebab orang-orang semacam ini pernah berbuat dosa, jika pemilik Golok Maut itu tidak dapat disingkirkan pada kali ini dengan bantuannya banyak orang kuat, maka di kemudian hari akan merupakan satu bencana bagi mereka sendiri.

Hari ketiga...

Peristiwa yang menggemparkan telah terjadi.

Pemilik Golok Maut bukan saja belum pergi dari kota Tiang soa, bahkan sudah bertindak. Pangcu dari Ban siu pang, Thio Phan telah kedapatan mati dalam rumah penginapannya dalam keadaan terkurung kedua lengan dan kedua pahanya serta berlobang bagian dadanya.

orang-orang dari Ban-siu-pang ada tinggal bersama-sama dalam satu rumah penginapan dengan orang-orang Cie in pang dan Pek leng hwee. Di bawah pimpinan pemimpin masing-

masing, orang-orang itu jumlahnya tidak kurang dari 50 jiwa.

Apa yang mengherankan, di bawah penjagaan keras dari begitu banyak orang. Golok Maut sudah bisa mengambil jiwanya Thio Phan, pangcu dari Ban-siu-pang. Kepandaian serupa itu, benar menggetarkan hatinya semua orang kuat dari golongan Kang-ouw.

Menurut kebiasaan Golok Maut, kalau mengambil jiwa korbannya, selalu dipereteli dulu kedua tangan tangannya atau kedua paha kakinya, yang sudah pasti ialah dibikin berlobang bagian dadanya. Tapi terhadap pangcu dari Bau siupang kali ini nampak ada kecualian, ia telah mati dalam keadaan kutung satu lengan tangannya dan satu paha kakinya serta berlobang di dadanya.

Kembali ini ada merupakan satu hal yang tidak dapat dimengerti.

Siapa yang hendak dijadikan korban untuk selanjutnya? Tidak ada orang yang tahu. Tapi yang sudah nyata ialah: pemilik Golok Maut itu terang tidak pandang mata pada semua orang kuat atau kawanan iblis yang saat itu berada di kota Tiang soa. Ini berarti pula bahwa peristiwa pembunuhan kejam serupa itu tidak akan berakhir sampai di situ saja. juga merupakan suatu tantangan buat semua orang-orang kuat atau kawanan iblis. Kota Tiang soa saat itu seperti diliputi oleh suasana ketakutan yang sangat hebat.

Semua orang dapat merasakan, dapat menduga, satu pembunuhan besar-besaran akan terjadi di kota itu.

Kecuali kalau pemilik Golok Maut sudah berlalu dari kota tersebut, kalau tidak, pembunuhan kejam dan besar-besaran itu pasti tidak dapat dicegah lagi. sedang dari kejadian yang diunjukkan oleh pemilik Golok Maut, terang bahwa manusia aneh itu sudah menerima tantangan semacam itu.

Hampir setiap pelosok kota siang hari malam dilakukan penjagaan sangat kuat.

Diantara orang-orang, golongan-golongan dan kawanan iblis yang saat itu berada dikota Tiang soa, yang paling kuat pengaruhnya adalah perkumpulan im mo kauw. Yang sudah mengunjukkan diri secara terang-terangan saja semuanya terdiri dari orang-orang kuat nomor satu dikalangan Kang ouw.

Dalam rumah penginapan dimana ada tinggal orangnya Pek-leng-hwee, Ban-siu-pang dan Cie in pang, disuatu kamar yang letaknya ada dipaling belakang rumah penginapan tersebut, ada menginap seorang pemuda gagah dan tampan, namun wajahnya nampak selalu kecut asam.

Ia itu adalah Yo Cie Cong yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut.

Pada malam itu, rembulan nampak terang benderang menyinari pohon-pohon kembang yang ada di daLam pekarangan rumah penginapan-

Yo cie Cong sambil bertopang dagu, duduk di bawah jendela mengadangi sang puteri malam.

Nampak pikirannya sedang bekerja keras.

Di atas genteng terhadang kedengaran suaranya orang berjalan malam, tapi ia berlagak tidak dengar, otaknya sedang memikirkan satu persoalan yang sangat penting.

Persoalan yang dihadapi, pada dewasa itu ialah: ia harus unjukkan diri terang-terangan menerima tantangan semua orang kuat dari golongan hitam atau pilih saat itu berada di kota Tiang soa, ataukah menahan sabar untuk sementara waktu supaya ia bisa menjalankan rencana secara teratur?

Ini ada merupakan satu ujian yang sangat berat, ia sudah dapat membayangkan kekuatannya pihak lawan yang tidak boleh dipandang remeh, sedang dipihaknya sendiri hanya seorang diri saja. Lama sekali ia duduk dalam keadaan demikian, mendadak ia buka matanya dan memancarkan sinar yang menakutkan- Kemudian dengan tangan kanannya ia menggebrak meja, rupanya ia sudah mengambil suatu keputusan penting.

sifatnya yang tinggi hati dan dingin laksana es serta perasaan dendam kepada musuh- musu h suhunya, telah membuat ia mengambil keputusan yang menakutkan-

Dengan pelahan ia menutup pintu jendela, kemudian geser kursinya dan duduk di bawahnya penerangan lampu.

Dari dalam sakunya ia mengeluarkan sejilid buku kecil, ialah buku daftar musuh-musuhnya Kam lopang yang tertulis dengan huruf merah.

Ia membuka lembaran yang pertama, di situ terdapat huruf yang berbunyi : IM, YANG, SIU, KUI, Po.

Dalam lima huruf itu, hanya si siluman tengkorak (ciang sie-kuay) Lui Bok Thong yang sudah bertemu muka, bahkan ia masih mencari padanya, sebab potongan kayu pusaka Kam-lo-pang telah berada didalam tangannya.

Selain dari pada itu, Giok- bin Giam-po Phoa Cit Kow, ia telah dapat dengar dari phoa-ngo Hweshio bahwa iblis wanita itu adalah gurunya Cin Bie Nio.

Sedang Cek-hoat Im-mo atau iblis rambut merah yang namanya berada paling atas, adalah itu orang yang melakukan pembunuhan kedua kalinya terhadap suhunya dan kedua susioknya.

Hanya musuh-musuhnya yang tercatat dalam huruf Yang dan siu, ia masih belum tahu siapa orangnya.

5 iblis yang nama-namanya tercantum dilembar pertama ini yang merupakan musuh-musuhnya yang paling tangguh diantara semua musuh-musuhnya Kam-lo-pang. Maka terhadap mereka, Yo cie Cong akan menghadapi suatu tugas yang maha berat. Ia membuka lagi lembar kedua... Disitu terdapat 20 nama, ia baca dengan suara pelahan: "Tiang-goan It-go siangkoan In kie... To- liong- chiu Koo Goan.... Tok gan kai (Pengemis mata satu) Gouw Cu Ceng... Chian chin Jie lay (Jie lay tangan seribu) Ban Goan Thong. Hek giam lo (malaikat wajah hitam) Kiang Hie... In liong sam hian (Naga dalam awan) Tio Ek Chiu...

Nama-namanya enam orang di atas itu sudah dicoret dengan tinta merah, itu adalah musuh- musuhnya Kam lopang yang sudah dibinasakan oleh suhunya sendiri Yo Cin Hoan, sebelum ia menemukan ajalnya yang mengenaskan-selanjutnya......

Tui hong kiam (Pedang pengejar angin) siang koan Kin-..

Siang koan Kin adalah ketua dari Pek leng hwee, sudah lama meninggal dunia. orang yang sudah binasa tidak perlu dibongkar kuburannya, tidak perlu dikorek dosanya. Apalagi ia adalah ayahnya Siang koan Kiauw, itu gadis baju merah, yang korbankan jiwanya dilautan Lam-hay karena ikut ia pergi mencari obat. Maka nama Tui-hong kian siang koan Kin juga dicoret.

Lalu, nama-namanya musuh-musuh yang terbinasa di tangannya: Tiauw-bin Cu ho (Buli-buli arak wajah burung) Liauw Ciang Thie-pie sin-wan (Lutung sakti lengan besi) Coa Cang It. Cui-

yauwcu (Belibis dalam air) see bun cun Tek. Kiu thian Hui peng (garuda terbang) Li Bu Cia Hoat pangcu (Pangcu hidup) Thio Phan.

Di wajahnya Yo Cie Cong yang asam, telah terlintas satu senyuman, tapi sebentar saja sudah diganti dengan wajah yang menakutkan, matanya mengawasi nama berikutnya, dan kemudian berkata kepada diri sendiri:

selanjutnya adalah Cie san khek (Tetamu baju ungu) Lie Bun Hao, ketua dari Cie in pang Ia ada serupa dengan Thio Phan, harus dipereteli kaki dan tangannya. sepasang tangannya untuk menebus dosa atas perbuatannya terhadap Kam lopang, sedang kedua kakinya sebagai ganjaran atas perbuatan terhadap diriku ditepinya danau Naga."

Sejenak ia berdiam, kemudian berkata pula dengan ganas: "Hm Terhadap Cin Bie Nio aku harus membunuh mati dia dengan unjukan wajah asliku " Terhadap wanita cantik genit itu, Yo Cie Cong bencinya bukan main- Karena iblis wanita itu pernah turun mangan terhadapnya ketika berada ditepi danau Naga, selain dari pada itu, ia juga berusaha hendak membelek perutnya untuk mengambil mustikanya Gu- liong- kauw.

Yang terakhir, kalau bukan si hweshio gila Phoa-ngo Hweshio yang menolong Yo Cie Cong mungkin cuma tinggal namanya saja, karena terbinasa dibawah pengaruhnya obat sorga dunia dari wanita cabul itu.

Tiba-tiba, di belakangnya terdengar suara elahan napas pelan.

BAB 26

BUKAN kepalang kagetnya Yo cie Cong, ia buru-buru berbangkit dan berdiri nempel ditembok.

Selanjutnya, ia lantas kerahkan ilmunya 'Kan goan cin cao' disatukan ke sepasang telapak tangannya. sebab orang itu sudah mengetahui rahasianya, maka orang itu harus dibinasakan-

Terang bahwa suara tadi ada di belakang dirinya, tapi pintu dan jendela tertutup semua, bagaimana orang itu bisa masuk ke dalam kamarnya ? Bahkan tidak diketahui olehnya, ini benar- benar luar biasa.

Ketika ia sudah lihat tegas siapa orangnya yang bukan lain adalah itu orang sangat misterius yang memakai kedok kain merah. kekuatirannya lenyap seketika. Ia buru-buru memberi hormat seraya berkata:

"Kiranya adalah Lo cianpwee yang berkunjung, entah ada keperluan apa ?"

Orang berkedok kain merah itu ada mempunyai kepandaian tinggi luar biasa, ketika tadi Yo cie Cong menutup pintu kamar, diam-diam sudah menyelusup masuk ke dalam, terhadap semua gerak-geriknya Yo cie Cong, ia telah mengetahui dengan jelas. Ia yang selalu memperhatikan dirinya anak muda itu, maka dengan tanpa sadar sudah menghela napas perlahan

"Anak, kau harus berlalu dari kota Tiang soa ini" demikian orang berkedok itu berkata, suaranya penuh kasih sayang.

Orang berkedok itu adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasianya Yo Cie Cong. "Kenapa ?" tanya Yo Cie Cong.

"Orang-orang kuat yang berkumpul di kota ini, jumlahnya sudah lebih dari seratus orang. Mereka semua belum puas kalau belum mendapatkan dirimu. Kau tidak boleh mengandalkan keberanian saja, nanti akan membuat kemenyesalan untuk seumur hidupmu."

Yo Cie Cong sendiri bukannya tidak tahu kalau dirinya berada dalam keadaan sangat berbahaya, tapi adatnya yang tinggi dan pantang menyerah, membuat ia semakin mengalami kesulitan semakin keras dan tabah menghadapinya.

Disamping itu ia juga harus menjaga nama baik dan kewibawaannya Golok Maut.

Meskipun ia merasa berat untuk menolak permintaannya orang berkedok itu, yang penuh kasih sayang dan dengan hati sejujurnya, tetapi sifat kejantanannya dan kesombongannya rupa-rupanya lebih kuat menguasai perasaannya. Dengan perasaan berat ia menjawab dengan suara pelahan:

"Maksud baik cianpwee telah boanpwe ketahui dengan baik, tapi boanpwe tidak bisa berlalu dari sini"

"Kenapa?"

"Untuk nama baik dan kewibawaannya Golok Maut, boanpwe tidak akan tunduk terhadap pengaruh jahat "

"Nama baik da kewibawaan? Benar, Anak, berapa banyak orang gagah didunia Kang-ouw yang hancur karena hendak mengejar nama dan kewibawaan?".

"Boanpwe bukan hendak mengejar nama kosong, melainkan berat meninggalkan kota ini, yang berarti mengelakkan diri dari ancaman mereka?"

"Tapi kau hanya dengan sepasang kepalan agak sulit untuk melawan empat tangan ?" "Untuk kepentingan usaha boanpwee dalam penuntutan balas dendam terhadap musuh suhu almarhum, untuk kepentingan keadilan dunia Kang-ouw, boanpwe bersedia dengan kemampuan yang boanpwee ada, akan menghadapi mereka dengan sepenuh tenaga "

"Aku tidak menentang kau hendak menuntut balas untuk suhumu, tapi bukan pada saat ini, kau harus mengetahui gelagat"

"Sekarang atau nanti toch sama saja "

"Keadaan pada dewasa ini tidak menguntungkan buat kau "

"Boaspwee tadi sudah katakan, boanpwe akan menggunakan kepandaian yang boanpwee punyai, akan melawan mereka sampai titik darah penghabisan "

"Anak. kau terlalu keras kepala "

"Menyesal sekali boanpwee telah mengabaikan maksud baik cianpwee "

"Anak. kalau kau hendak bertindak menuruti perasaan hatimu sendiri, mungkin akan menimbulkan bencana hebat. Apakah kau sudah pikirkan akibatnya nanti ?"

"Akibatnya ?"

"Benar. Kau akan menjadi musuhnya dunia rimba persilatan"

"Perbuatan boanpwee inijika tidak dapat dimengerti oleh dunia rimba persilatan, yah apa boleh buat "

"Ai " orang berkedok itu kembali keluarkan suara elahan napas pelahan dan geleng-gelengkan kepalanya.

suara itu meski perlahan, tapi dalam telinganya Yo Ce Cong seolah-olah satu martil besar yang mengetuk ulu hatinya.

Ia merasa sangat duka karena tidak dapat menerima nasehat yang diberikan oleh orang berkedok itu, padahal itu ada satu nasehat untuk kepentingan dirinya. Ia tundukkan kepala sambil membisu.

Lama sekali kedua orang itu saling berhadapan dalam keadaan membisu, Akhirnya orang berkedok itu berkata dengan suara terharu:

"Anak, apa kau sudah ambil keputusan hendak berbuat demikian?"

Yo Cie Cong anggukkan kepala, sebagai tanda membenarkan pertanyaan orang berkedok itu. "AH " orang berkedok itu kembali menghela napas, dengan pelahan ia mendorong terbuka

pintu kamar dan lantas menghilang ditempat gelap "Cianpwee "

Yo Cie Cong memanggil, tapi orang berkedok itu sudah tidak kelihatan bayangannya. Apa yang ketinggalan ialah satu perasaan menyesal, ia agaknya merasa berbuat satu kekeliruan besar

Ia berdiri dipintu kamar sambil mengawasi sang puteri malam, hatinya seperti menangis. "Sst"

Dilorong depan- mendadak terdengar suara orang ketawa dingin.

Dalam kagetnya Yo Cie Cong lantas berpaling, saat itu matanya lantas dapat lihat dirinya seorang perempuan cantik berpakaian putih, sedang menghampiri padanya dengan tindakan pelahan.

Ketika ia sudah melihat tegas siapa adanya perempuan cantik itu, hatinya bercekat, diwajahnya yang tampan tapi asam timbul napsunya untuk membunuh.

"Hihi manisku, kembali kita bertemu di sini " ujar si cantik.

Ucapan yang merayu itu bukan merupakan madu, sebaliknya membuat Yo Cie Cong berdiri bulu romanya.

"Hm Cin Bie Nio kau manusia rendah, ada satu hari nanti siaoyamu pasti hendak mencincang dirimu "

Perempuan cantik itu memang benar adalah Cin Bie Nio, ketua Pek-leng-hwee yang juga menginap didalam rumah penginapan tersebut.

Ia agaknya belum melupakan perbuatan mesum yang hendak dilakukan terhadap dirinya Yo Cie Cong tempo hari, maka disemprot secara kasar demikian, ia sedikitpun tidak gusar sebaliknya malah mengunjukkan kegenitannya yang luar biasa menyoloknya. Dengan suara yang manis merayu ia berkata:

"Yoy engko kecil yang manis. Baru saja bertemu sudah mengucapkan perkataan begitu kasar, nampaknya sedikit perasaanpunt idak ada " sembari bicara, badannya digeser makin dekat kepada Yo Cie Cong. Anak muda itu sangat gusar, dengan wajah merah padam ia membentak: " Cin Bie Nio, kalau kau berani maju tiga tindak lagi, aku nanti bunuh kau di sini"

Cin Bie Nio sebetulnya siang-siang sudah tahu kalau Yo Cie Cong juga berdiam dirumah penginapan itu. oleh karena terhalang oleh kematiannya Thio Phan di bawah Golok Maut, maka sebegitujauh ia belum pergi mencari padanya. Malam itu karena udara baik, timbul napsunya. Ia teringat dirinya Yo Cie Cong yang cakap muda dan tampan, maka dengan tanpa malu-malu lantas menyamperi ke kamarnya.

Meski sudah diancam oleh Yo Cie Cong ia masih belum hentikan tindakan kakinya, dengan wajah berseri-seri ia menghampiri makin dekat.

Yo cie Cong mendadak timbul napsunya membunuh, pikirnya, aku sebetulnya hendak membiarkan kau hidup lagi beberapa hari tapi kau ternyata sudah tidak sabaran Baiklah, sekarang aku antarkan kau menghadap kepada Giam-lo ong.

Setelah berpikir demikian, ia lalu kerahkan kekuatannya ke dalam kedua tangannya.

Tapi mendadak ia ingat bahwa di situ ada tempat penginapan umum.Jika terjadi peristiwa berdarah, orang-orang kuat yang menginap itu tentu akan dibikin terkejut, hingga menjadi runyam akibatnya. Maka terpaksa ia menahan sabar, dengan mata mendelik ia mengawasi Cin Bie Nio, kemudian putar tubuhnya hendak masuk ke kamarnya.

Tapi Cin Bie Nio bisa bergerak sangat gesit, sebelum Yo Cie Cong bertindak masuk. la sudah merapat dirinya anak muda itu dan menghadang di depan pintu. " Cin Bie Nio, kau hendak berbuat apa ?"

"Yoy manis, mengapa kau selalu mengawasi aku dengan muka mendelik ? Aku toch tidak akan menelan dirimu? Kedatanganku ini adalah hendak memberi penjelasan kesalahan paham antara kita "

"Haha kesalahan paham?"

"Benar, urusan yang sudah lalu itu telah terjadi karena suatu kesalahan paham yang sangat besar "

"Cin Bie Nio, kau tak usah banyak lagak, lekas keluar dari sini ." "Ah Kau ini bagaimana sih?"

Sehabis berkata, ia malah lompat masuk ke dalam kamar dan duduk di pinggir pembaringan.

Dengan lagaknya yang centil ia berseri-seri mengawasi anak muda yang dirinduinya.

Yo Cie Cong rasakan dadanya hampir meledak saking jengkel, sambil menuding ia membentak dengan suara keras:

"Cin Bie Nio, apa kau mencari mampus?"

"Cari mampus belum tentu, hanya dengan kepandaianmu seperti itu" "Kalau begitu tocu kan boleh coba "

"Tunggu dulu, kau dengar perkataanku dulu"

"Heheheh, Cin Bie Nio siaoyamu hampir saja binasa di bawah pengaruhnya obat mu yang terkukuk itu"

Cin Bie Nio terperanjat. Tapi sebentar saja sudah pulih seperti biasa. Sepasang matanya yang genit, memancarkan sinarnya yang memikat hati, dengan tidak berkedip ia menatap wajahnya Yo Cie Cong.

"Engko kecil yang manis, aku sebetulnya sangat cinta kau, karena takut kau tidak mau menurut, maka terpaksa telah mengambil itu tindakan rendah "

Sehabis berkata ia perlihatkan senyumannya yang menggiurkan- Ia memang mempunyai paras cantik, dengan ketawanya itu, telah menambah kecantikannya tidak sedikit. Tapi Yo Cie Cong yang sikapnya dingin kaku, apalagi terhadap dirinya wanita cantik genit itu sudah mempunyai kesan buruk begitu dalam, sudah tentu tidak merasa ketarik oleh kecantikan yang memikatmu. "Pui tidak tahu malu "

Kali ini Cin Bie Nio benar-benar sudah tidak tahan hinaan itu lagi maka sikapnya juga lantas berubah, lalu berkata dengan suara mendongkol: "Yo Cie Cong, kau jangan bertingkah "

"Jikalau kau masih ingin hidup lagi beberapa hari, kau lekas pergi dari sini. Kalau tidak.." "Kalau tidak bagaimana ?"

"Aku akan bikin mampus kau "

"Haha, kau masih belum mempunyai itu kemampuan "

Yo Cie Cong sudah kalap benar-benar, ia lalu angkat tangan kanannya.

Cin Bie Nio ketawa mengejek. la juga ayun tangannya, lengan bajunya lantas menyambar.

Yo cie Cong tiba ingat bahwa dalam lengan baju perempuan genit itu ada senjata rahasianya yang sangat ampuh. Dalam kagetnya, ia buru-buru menutup jalan pernapasannya, badannya dengan secara gesit sekali sudah lompat mundur sampai 5 kakijauhnya. Cin Bie Nio kembali unjukan ketawanya yang menawan hati.

"Bagaimana ? sebaiknya kau dengar kata saja" demikian katanya yang lantas geser lagi tubuhnya untuk mendekati Yo cie Cong.

Yo Cie Cong sangat mendongkol, selagi hendak bertindak...

Tiba-tiba di luar pekarangan ada terdengar suara orang berkata dengan dibarengi suara ketawanya yang aneh.

"Haha, kupu-kupu yang manis telah bertemu dengan sang kumbang yang buas, suatu pemandangan yang sangat ganjil "

Cin Bie Nio meski ada seorang perempuan genit yang sudah tidak kenal apa artinya kesopanan dan malu, tapi biar bagaimana ia ada menjabat kedudukan ketua dari satu perkumpulan besar.

Perbuatan demikian jika diketahui oleh orang luar, sudah tentu merasa kurang pantas.

Serta merta lantas merah wajahnya dan badannya lantas melesat keluar.

Dalam pekarangan keadaannya ternyata sepi sunyi, hanya sinar rembulan yang menyinari taman bunga, tidak kelihatan bayangannya seorangpun juga. Cin Bie Nio pucat seketika, ia hampir tidak mampu kendalikan perasaan gusarnya. Dan ketika ia berpaling kekamarnya Yo Cie Cong, kamar itu ternyata sudah ditutup.

Sambil banting-banting kaki ia berkata kepada dirinya sendiri: "setan cilik, kau tidak bisa terbang dari tanganku. Kalau aku Cin Bie Nio tidak mampu dapatkan dirimu, percuma saja aku menjadi muridnya Giok bin Giampo"

sehabis berkata ia lantas tinggalkan taman bunga itu dengan perasaan sangat mendongkol.

Baru saja Cin Bie Nio meninggalkan taman tersebut, dari atas sebuah pohon besar dalam taman itu tiba-tiba melayang turun sesosok bayangan. Waktu tiba di tanah bayangan itu seperti setangkai daun yang jatuh di tanah. Tidak kedengaran suaranya.

Bayangan yang baru turun itu ternyata ada seorang pengemis tua yang mukanya sangat mesum. Pengemis itu nampaknya tidak mirip manusia, selain wajahnya jelek dan mesum, gegernya juga bongkok. tapi sepasang matanya ternyata begitu tajam, suatu tanda bahwa pengemis itu ada mempunyai kepandaian sangat tinggi.

Pengemis tua itu ketika melihat di situ tidak ada orang, lalu berjalan menghampiri pintu kamarnya Yo Cie Cong, kemudian memanggil-manggil: "Giok wajie keluar "

Selanjutnya, ia lantas perdengarkan suara ketawanya yang aneh .Justru suara ketawa inilah yang tadi mengusir Cin Bie Nio pergi.

Yo Cie Cong ketika mendengar sebutan nama Giok wajie, diam-diam terperanjat, tapi juga lantas teringat pengalamannya dimasa kanak-kanak. Dimasa kanak-kanak Yo Cie Cong hidup dengan anak-anak pengemis. sebab ia kulitnya putih bersih dan wajahnya tampan, maka diantara kawan-kawannya lantas mendapat julukan 'Giok wa jie', yang "berarti " boneka dari batu kumala. Dan oleh karena ia tidak mempunyai she dan nama maka sebutan 'Giok wajie' itu lantas menjadi popular sekali namanya.

Panggilan demikian, sudah 20 tahun lamanya ia belum pernah dengar lagi. "Giok-wajie, kau tahu aku siapa ?"

Pengemis tua itu mengulangi pertanyaannya, tapi masih belum mendapat jawaban- Ia lalu menggerutu sendiri: "Eh terang memang dia, apakah aku kesalahan mata ?"

"Tidak, kau tidak salah lihat "

Tiba-tiba ia dengar satu jawaban, dan tahu-tahu pundaknya sudah dicekal oleh satu tangan yang kuat.

Pengemis tua itu rasakan sekujur badannya tergetar, seolah-olah terpagut ular, Dengan cepat ia lompat melesat sejauh 3 tumbak.

Ia merasa sudah dirubuhkan oleh orang yang muncul secara tiba-tiba itu, sebab ada orang berada dekat disampingnya ia sudah tidak berjaga sama sekali.

Ketika ia berpaling ia lihat orang yang tadi memegang pundaknya adalah satu anak muda cakap dan gagah, namun sikapnya dingin kaku.

Ia balas berseru: "Kau kau bukankah kau ini ada itu anak yang dulu dipanggil Giok wajie ?"

"Benar, dan cianpwee siapa ?."

"Ha ha, beberapa tahun tidak ketemu, kau ternyata sudah mempunyai kepandaian ilmu silat begitu tinggi. Kau lihat aku "

Sehabis berkata, tangannya mengusap wajahnya dan membuka rambut dikepalanya, kemudian berdiri dengan tegak.

Ternyata ia bukan seorang pengemis tua dengan geger bongkok, melainkan ada seorang pemuda kulit hitam yang sebaya umurnya dengan Yo cie Cong.

Dengan sepasang matanya yang aneh, memandang berputaran, sambil ketawa girang ia menghampiri lebih dekat kepada Yo cie Cong.

Ketika Yo Cie Cong mengenali siapa adanya orang itu, hatinya merasa sangat girang. "Oh, kau siao hek " serunya.

"Haha, aku tadinya mengira kau sudah melupakan sahabat lamamu " "Siao hek. mari, kita omong-omong didalam kamar "

"Baiklah "

Dengan jalan berdampingan, kedua kawan lama itu berjalan masuk kekamar, lalu duduk mengobrol di pinggir meja.

"Siao-hek. apa suhumu ada baik ?" Yo Cie Cong mulai menanya.

"Suhu sudah meninggal dunia " jawabnya si siao-hek dengan suara duka.

"Apa ? suhumu sudah meninggal dunia ?"

"Ya, diwaktu hendak melepaskan napasnya yang penghabisan, suhu pernah menyebut-nyebut kau, suhu kata bahwa hari kemudian kau tiada berbatas "

Yo Cie Cong tundukkan kepala, semua kejadian yang sudah lalu kembali terbayang di depan matanya.

Siao-hek adalah kawan Yo cie Cong di masa kanak-kanak. suhunya siao- hek sering mengatakan bahwa Giok wa-jie ada mempunyai bakat dan tulang-tulang luar biasa bagi orang persilatan. Karena ia tidak mau merusak bakatnya yang bagus itu, maka ia tidak mau menerima sebagai murid, hanya diberi warisan satu-satunya kepandaian yang saat itu cuma dipunyai sendiri olehnya didalam rimba persilatan. Kepandaian itu ialah suata cara untuk merubah wajah dan bentuk badan sehingga menjadi lain rupa. Hanya siao-hek seorang yang menjadi murid satu-satunya dari jago tua dalam kalangan pengemis itu.

Pada masa kanak-kanak, Yo Cie Cong sangat kepingin bisa belajar silat, terhadap siao-hek yang dapat didikan ilmu silat, ia merasa kagum dan mengiri.

Siao-hek ada satu anak berandalan, tapi Yo cie Cong adatnya pendiam, maka sifat kedua anak itu merupakan satu kontras yang sangat menyolok.

sejak Yo Cie Cong hidup di kalangan pengemis, hampir selalu berada bersama sama dengan siao hek.

Sudah beberapa tahun mereka tidak saling bertemu, sekarang masing-masing sudah menyadi orang dewasa. oleh karena pengalamannya berlainan, Yo cie Cong telah mengalami perubahan besar dalam sejarah hidupnya. Dari satu anak yang tidak diketahui asal usulnya, telah berubah menjadi seorang kuat, aneh, misterius dan menakutkan.

"Giok-wa-jie, bagaimana kau bisa berobah menjadi pemuda berwajah dingin Yo Cie Cong? Aku tadinya hampir tidak percaya kalau benar Yo cie Cong adalah kau. Barusan aku coba beranikan hati memanggil kau, sungguh tidak nyana benar-benar adalah kau "

Kalau kawan dimasa kanak-kanak saling bertemu lagi, dalam kegembiraannya, apa saja dibicarakan-

"Karena aku mengikuti she suhuku, maka aku memakai she Yo, nama Cie Cong ada pemberian dari suhuku "

"Hihi, sangat unik sekali. selanjutnya aku harus panggil kau Yo Cie Cong!" "Itu terserah kepada kau sendiri "

"Eh suhumu tentunya ada seorang yang mempunyai kepandaian sangat hebat" "Bagaimana kau tahu?"

"Kepandaian yang barusan kau unjukkan, aku sedikitpun tidak nempil. Aku siao-hek baru pertama kali ini merasa telah terjungkal, karena pundakku dicekal orang sedikitpun tidak berasa, untung adalah kau sendiri, kalau lain orang?"

"Kalau lain orang bagaimana ?"

"Sudah mati konyol Aku siao- hek jangan harap bisa gelandangan didunia Kang-ouw lagi" "Hahaha Itu cuma satu kepandaian yang tidak berarti, bung "

"Oya. siapakah sebetulnya suhumu. Giok wajie, eh Cie Cong ?" Yo cie Cong bersenyum. setelah berpikir sejenak. lalu menjawab:

"Sangat panjang kalau hendak dibicarakan, biarlah lain hari saja aku ceritakan padamu "

siao hek meski orangnya kecil, tapi pengalamannya dalam dunia Kang ouw sudah matang.

Mendengar jawaban kawannya, segera mengetahui bahwa sang kawan itu ada mempunyai kesulitan yang tidak dijelaskan, maka ia tidak mau mendesak terus.

"Sekarang aku sudah bukan bernama siao hek lagi, tapi perhubungan kita ada lain dari pada yang lain, kau boleh panggil sesukamu saja "

"Ooh Mohon tanya nama saudara yang mulia ?"

"Maaf. aku yang rendah adalah itu orang yang mempunyai sebutan Hok-bin sin-kie atau Pengemis kecil sakti berwajah hitam."

"Bulak-balik masih tidak terlepas dari perkataan hitam- hahaha " "Hahahaha "

"Siao hek. ada keperluan apa kau datang ke kota Tiang-soa ?" "Mencari pemilik Golok Maut untuk membuat perhitungan "

Yo cie Cong terperanjat, wajahnya berubah seketika, tapi sebentar saja sudah pulih seperti biasa.

Siao hek yang sedang gembira dapat menjumpai kawannya diwaktu kanak-kanak. sudah tentu tidak perhatikan perubahan sikap sahabatnya itu.

"Perhitungan apa " Yo Cie Cong pura-pura menanya. "Ketua (Tocu) Kai-pang cabang Thian- lam, Tok-gan kui (setan mata satu) Gouw Cu Ceng telah binasa di tangannya Golok Maut, kau kata rekening ini harus dibikin perhitungan apa tidak ?"

"Perkumpulanmu Kai pang bagaimana bisa bermusuhan dengan Golok Maut?" tanya Yo Cie Cong pura-pura tidak mengerti.

"Kalau diceritakan sebetulnya ada satu hal yang sangat memalukan perkumpulan kita. Dulu, Gouw Cu Ceng sebetulnya tidak seharusnya ambil bagian daLam peristiwa pembasmian partai Kam-lo-pang. Maka penyakit itu sebetulnya ia yang mencari sendiri "

"Balas membalas, entah kapan habisnya ? Kalau betul perkumpulanmu sudah mengerti bahwa kematian Gouw Cu Ceng itu ada salahnya sendiri, sedangkan pemilik Golok Maut itu juga tidak melakukan pembunuhan terhadap orang- mu yang tidak berdosa, buat apa kau perlukan buang waktu dan tenaga banyak kawan pergi jauh-jauh untuk menuntut balas?"

"Menurut apa yang tersiar dalam kalangan Kang-ouw, pangcu dari Kam-lo-pang sudah binasa pada 20 tahun berselang, tapi pemilik Golok Maut yang mengganas itu telah menyebut dirinya sendiri sebagai pangcu dari Kam lo pang maka terang sekali kalau dalam hal ini pasti ada apa- apanya..."

"Sekarang perkumpulannya bersedia ambil tindakan apa ?"

"Mencari tahu keadaan yang sebenarnya. Jikalau pemilik Golok Maut itu benar adalah pangcu Kam lo pang dulu yang menuntut balas sakit hatinya, perkumpulan kita yang selalu utamakan kebajikan dan tegas bertindak terhadap kejahatan dan kebaikan, sudah tentu tidak akan campur tangan "

"Dan kalau bukan ?"

"Hutang darah terpaksa ditagih dengan darah "

"Dengan jalan bagaimana perkumpulanmu dapat membedakan tulen atau palsu?" "Anggauta tertua dari perkumpulan kita, Ciu Cong Jin yang bergelar si pengemis welas asih

pada 20 tahun berselang pernah mempunyai hubungan dengan pangcu dari Kam-lo pang itu. Asal melihat, ia lantas bisa kenali betul atau tidaknya "

Yo Cie Cong merasa lega.

"Tindakan tegas dari perkumpulanmu, sesungguhnya sangat mengagumkan "

"Mana ? Peraturan atau disiplin perkumpulan kita ada sangat keras. Gouw Cu Ceng kalau tidak dibinasakan oleh Golok Maut juga akan menerima hukuman dari perkumpulannya sendiri "

"Orang yang sudah bersalah begitu, bagaimana membiarkan padanya menjadi ketua cabang di daerah Thian-lam ?"

"Tentang kesalahannya itu, setelah dia di binasakan oleh Golok Maut baru diketahui oleh perkumpulan kita "

"Ooh begitu Eh ? kabarnya dari perkumpulan ada datang tiga orang dari angkatan tua " "Benar, Ciu Cong Jin adalah satu diantara mereka, satu lagi adalah sam-gan sin-kie (Pengemis

sakti mata tiga) Li Ceng Hong " "Dan yang satunya lagi ?"

Siao-hek ketawa cekikikan sambil menunjuk hidungnya sendiri

"Nah yang ketiga adalah aku sendiri yang rendah si Pengemis kecil wajah hitam."

Yo Cie Cong tertegun, Ia tidak habis mengerti bagaimana si siao-hek yang usianya sebaya dengan dirinya sendiri bisa dihitung orang angkatan tua dalam perkumpulan pengemis itu. "Kau, siao hek ?"

"Kau tidak percaya? Kuberitahukan padamu, suhu didaLam perkumpulan Kai-pang kedudukannya tinggi sekali, ketuanya yang sekarang panggil suhu "su-couw", dan aku yang menjadi muridnya, sudah tentu turut mendapat penghargaan sebagai orang angkatan tua (tianglo)"

"Oow, kiranya begitu. kalau begini aku harus memberi selamat padamu" "Edan kau Mari kita keluar minum kopi, bagaimana ?"

"Baiklah Aku yang traktir" "Tidak usah, masa seorang Tiang lo dari perkumpulan Kaipang, minum saja minta dibayari orang ?"

"Eh ? sombong kau. Mari kita jalan "

Seorang pemuda berparas putih cakap, jalan bersama-sama dengan seorang pengemis hitam seperti pantat kuali, tidak heran kalau menimbulkan perhatian banyak orang, mereka agaknya pada terheran-heran ada 'Kopi susu jalan-jalan'

Tapi dua pemuda itu tidak mau ambil pusing, di sepanjang jalan mereka terus mengobrol sembari ketawa-ketawa.

Tidak antara lama, mereka sudah tiba di salah satu rumah minuman yang paling terkenal dikata Tiang soa, Ceng yang lauw.

Pelayan rumah makan begitu melihat dua pemuda itu, masih kenali bahwa pemuda putih cakap itu adalah pemuda yang pernah berkelahi dirumah makan tersebut dan hampir membikin rubuh lotengnya. Maka dalam hati merasa agak kurang senang, apalagi ketika melihat di sebelahnya pemuda itu ada seorang pengemis, tambah merasa tidak senang. Tapi ia tidak bisa berbuat apa..

Pada saat itu, sekelompok kawanan pengemis yang ada di depan pintu rumah makan tiba-tiba pada minggir untuk memberijalan, mereka pada anggukkan kepala tiga kali kepada pengemis hitam itu.

selanjutnya, seorang pengemis setengah umur, telah datang menghampiri.

PENGEMIs muda wajah hitam itu nampak bicara beberapa patah kata dengannya, dan pengemis pertengahan umur itu dengan sikapnya yang sangat menghormat, setelah angguk- anggukkan kepala lantas berlalu.

semua kejadian itu telah dapat disaksikan dengan tegas oleh pelayan rumah makan. Pada umumnya, orang yang mencari penghidupan sebagai pelayan rumah- makan, kebanyakan kenal baik segala manusia dari berbagai tingkat dan golongan. Maka begitu menyaksikan keadaan demikian, ia lantas mengetahui bahwa pengemis muda yang hitam wajahnya itu tentunya ada seorang penting dalam perkumpulan kaum pengemis.

Jangan dipandang ringan kepada perkumpulan kaum jembel, meski mereka terdiri dari orang- orang yang hidupnya minta-minta dengan pakaiannya yang mesum dan banyak tambalan, tapi kalau berani berlaku salah kepada mereka, tahu sendiri akibatnya.

Dengan tidak banyak tingkah lagi, pelayan itu lantas mempersilahkan kedua tetamunya itu masuk ke dalam.

Dua pemuda itu mencari tempat yang paling sepi. Di situ mereka makan minum sembari mengobrol.

Si pelayan yang meski dalam hati merasa takut, tapi masih tidak puas, mukanya kelihatan kecut.

Hek bin siao sin kie ketika menampak keadaan demikian lantas menegur sambil ketawa. "Hei, pelayan Mari, aku hendak tanya kau"

"Tuan hendak tanya apa ?"

"Apa dalam rumah tanggamu kematian orang."

Pertanyaan itu membuat si pelayan merasa bingung. Tapi ia tidak berani marah, terpaksa menjawab sambil melototkan matanya: "Tuan pandai membanyol "

"Siapa bilang ? Aku lihat kau sejak tadi kelihatan asam saja, maka lantas menduga kalau kau kematian keluarga "

Yo Cie Cong yang mendengarkan itu, hampir saja ketawa besar. Ia ulapkan tangannya dan berkata kepada si pelayan: "Kau pergilah " Pelayan itu mengawasi lagi kepada siao hek sejenak lantas berlalu. Kedua orang itu sesudah mengobrol ke barat ke timur, kembali alihkan pembicaraannya ke soalnya Golok Maut.

"Siao hek. menurut pikiranmu, jika pemilik Golok Maut berani terang-terangan menerima tantangan orang-orang dunia Kang-ouw yang sekarang berada dikota Tiang-soa ini, bagaimana kesudahannya ?"

"Betapapun tingginya kepandaian ilmu silat pemilik Golok Maut juga sukar melawan begitu banyak musuh kuat "

"Aku lihat belum tentu seperti yang kau kira"

"Hm, kau masih belum tahu. Khabarnya itu manusia hantu dari seng sut-hay, Liat yang Lo koay, yang pada 10 tahun berselang namanya sangat ditakuti oleh orang-orang golongan hitam dan golongan putih, juga datang ke kota Tiang-soa"

Yo Cie Cong ketika mendengar namanya "Liat yang Lokoay" darahnya mendidih, napsunya membunuh timbul seketika. Tapi ia kuatir perubahan sikapnya itu nanti diketahui oleh siao hek. maka ia coba berlaku tenang.

Liat yang Lo koay ini ternyata dalam daftar musuh-musuhnya Kam lopang termasuk dalam urutan huruf YANG pada lembar pertama.

Si siao hek yang tidak mengetahui perasaannya Yo Cie Liong lantas melanjutkan perkataannya: "Hanya itu satu 'Liat yang Lo koay' saja. sudah cukup membikin pusing pemilik Golok Maut"

"Khabarnya kepandaian pemilik Golok Maut itu sangat tinggi sekali, belum tentu kalau tidak dapat menandingi itu hantu yang kau sebut 'Liat yang Ko koay' "

"Boleh jadi, tepi kau tahu selain dari pada itu hantu tua dari Liat yang masih ada banyak lagi orang-orang kuat dari berbagai cabang dan golongan yang tersembunyi disekitar kota ini, dan masih ada lagi yang masih berada didalam perjalanan. semakin lama, jumlah yang datang semakin banyak."

Yo Cie Cong dalam hatinya lantas berpikir: "Ucapan siau hek ini memang benar. semakin lama, semakin tidak menguntungkan bagi diriku. Dengan keadaan seperti dewasa ini saja sudah memusingkan kepala, apalagi kalau ditambah banyak orangnya. Tapi ia ada seorang muda keras kepala yang selalu pantang mundur."

"Jikalau pemilik Golok Maut itu ada seorang cerdik dan tahu gelagat, untuk sementara ini dia seharusnya menyingkir dulu," berkata pula si siao hek.

"Barang kali belum tentu dia berbuat begitu" jawab Yo cie Cong dengan mengandung arti. "Eh Kau seperti merasa simpati terhadap pemilik Golok Maut itu ?"

"Mungkin benar. Kabarnya dulu diatas gunung Bu leng-san pusatnya perkumpulan Kam lo pang telah diserbu secara mendadak oleh orang rimba persilatan dari golongan hitam dan golongan putih. Dalam penyerbuan secara besar-besaran itu, orangnya Kam lopang hampir binasa semuanya, begitu pula pangcunya dan semua keluarganya. Hanya dalam waktu satu malam saja, Kam lo-pang telah tersapu bersih, dan kalau sekarang pangcu itu datang untuk menagih hutang darah itu, sudah tentu soal sewajarnya saja. orang-orang yang dulu turut ambil bagian melakukan serangan secara keji itu sudah sepantasnya kalau dibunuh mati semuanya "

Yo Cie Cong nampaknya sangat bernapsu mengucapkan kata-katanya, sampai matanya merah membara.

Siao- hek yang menyaksikan keadaan demikian dalam hatinya lalu berpikir, mengapa bocah ini begitu bernapsu? Kalau kau sebagai pemilik Golok Maut, dunia akan menjadi gempar.

Ia tidak tahu bahwa sahabat diwaktu kanak-kanak itu, memang adalah itu orang yang memegang peranan sebagai Pemilik Golok Maut. Kalau pada saat itu ia tahu, entah bagaimana perasaannya?

"Mari, jangan banyak pikir, persetan urusan orang Mari keringkan arakmu" demikian ia berkata: "Mari " "Banyak orang-orang kuat dari rimba persilatan telah berkumpul, hanya untuk menghadapi satu orang saja, ini sebetulnya merupakan suatu kejadian yang sangat langka" berkata pula siao-hek.

"Aku kira pemilik Golok Maut akan membuat satu surprise bagi rimba persilatan"

"Ng. kalau benar begitu, mungkin akan terjadi pembunuhan besar-besaran yang tidak ada taranya "

"Siao hek. si hantu tua 'Liat yang Lokoay' yang kau sebut tadi ada apanya sebetulnya yang dapat dibanggakan?"

"Hal iri aku hanya dengar orang kata saja, khabarnya hantu tua itu ada mempunyai ilmu pukulan tangan yang sangat luar biasa, namanya 'Liat yang ciang'. Pukulan tangannya itu ada mengandung angin panas seperti bara, katanya bisa membakar lumer barang logam "

Yo Cie Cong diam-diam merasa kaget. Pikirnya: lokoay ini mungkin merupakan satu lawan yang paling tangguh, ia ada mempunyai ilmu pukulan demikian rupa, apa aku mampu menandingi padanya atau tidak. masih merupakan satu pertanyaan-setelah berpikir demikian, ia lantas pura- pura menanya:

"Ilmu pukulan 'Liat yang ciang' itu, apa betul sudah tidak ada orang yang mampu memecahkan? "

"Ada, menurut apa yang aku tahu, hanya semacam ilmu pukulan Thay im ciang yang bisa memecahkan ilmu pukulan hantu itu. Ilmu pukulan "Thay im ciang" justru merupakan musuh yang paling ditakuti oleh ilmu pukulan 'Liat yang ciang', karena ilmu pukulan yang tersebut duluan itu melulu terdiri dari kekuatas "Im", Kalau terkena pukulan tersebut, seketika itu juga darahnya lantas menjadi dingin dan beku, hingga sekujur badan lantas menjadi kaku dan binasa. Tapi didalam rimba persilatan kabarnya cuma seorang saja yang menyakinkan ilmu pukulan serupa itu".

"Siapa ?"

"Cek hoat Im mo" (iblis rambut merah).

Kembali Yo cie Cong dibikin kaget, hampir saja ia lompat dari tempat duduknya. sebab nama itu juga terdapat dalam daftar, musuh-musuhnya Kam lo pang..

Bukan cuma begitu saja, iblis itu malah melakukan pembasmian untuk kedua kalinya kepada pangcu Kam lo pang dan kedua-dua pahlawannya yang sudah bercacad di dalam goa di gunung Bu leng san, ketika jejaknya pangcu itu diketahui oleh iblis itu.

Peristiwa mengenaskan di atas gunung Bu leng-san ketika langit sedang turun salju lebat, kembali terbayang di depan matanya Yo Cie Cong.

Ia telah lupakan dirinya sendiri, kalau saat itu sedang mengobrol dengan kawannya, seketika itu lantas mengunjukkan rasa gusarnya.

Siao hek merasa heran atas perubahan sikap kawannya itu, maka lantas menanya padanya "Eh. kau kenapa ?"

Yo Cie Tong baru sadar atas kekeliruannya, ia buru-buru menenangkan lagi pikirannya, kemudian baru bisa menjawab:

"Ooh tidak kenapa- napa, aku cuma merasa heran didalam dunia ini bagaimana ada kepandaian aneh serupa itu ?"

"Ya dunia memang lebar segala apa bisa terjadi "

"Siao hek. kauw ternyata mempunyai pengetahuan luas, apa saja kau tahu " "Hihi kau terlalu memuji "

"Siao hek. tahukah kau dimana adanya si iblis rambut merah Cek hoat Im-mo itu sekarang ?" "Hal ini aku belum pernah dengar, iblis itu sudah sepuluh tahun lebih tidak muncul lagi didunia

Kangouw"

Yo Cie Cong tiba-tiba ingat suatu hal, pikirnya: Siao hek ternyata luas sekali pengetahuannya, mungkin ia dapat membantu aku memecahkan beberapa kesulitan, mengapa aku tidak mencari keterangan dari mulutnya ? "Siao hek. tahukah kau Kauwcu perkumpulan agama Im mo kauw yang baru saja muncul di dunia Kang ouw ?" demikian ia menanya, matanya terus menatap wajahnya siao hek.

"Im mo kauw, makin hari makin besar pengaruhnya. Khabarnya perkumpulan itu sudah berhasil menarik dirinya beberapa orang kuat yang jumlahnya tidak sedikit. Tapi siapa dan bagaimana rupanya sang Kauwcu, barangkali tidak ada seorangpun yang bisa memberi keterangan- Kau tahu perkumpulan kita Kaipang hampir di seluruh pelosok dunia tersebar mata-matanya dan toh masih belum berhasil membuka kedoknya Kauwcu itu. Cuma menurut dugaan kita, Kauwcu itu tentunya ada seorang yang mempunyai kepandaian dan kecerdikan luar biasa "

Yo cie Cong agaknya sangat kecewa.

"Kabarnya sudah ada tiga orang Tongcu dari Im mo kauw yang terbinasa di bawah Golok Maut

"

"Tentang ini ada terselip sebab-sebab apa didalamnya, buat orang luar sukar untuk mendapat

tahu. Tapi Golok Maut sudah berani menantang terang-terangan terhadap Im mo kauw, tentu pemilik Golok Maut itu sendiri juga bukan seorang sembarangan"

Dua kawan lama itu mengobrol hampir satu jam lamanya, saat itu diluar sudah terdengar kentongan 3 kali. Keadaan dalam rumah makan itu sudah sepi, yang ketinggalan hanya mereka berdua.

Yo Cie Cong mengawasi ruangan yang sudah kolong melompong itu, lantas tertawa sendiri dan berkata kepada kawannya: "Siao hek, mari kita pulang "

"Ah, mengapa terburu-buru? Kalau kita mengobrol terus, mungkin akan berpapasan dengan tetamu yang hendak bersantap pagi Mari kita jalan "

"Aku hendak bayar uang makannya dulu "

"Tak usah, sudah ada orang yang membayarnya "

Dua kawan itu ketika keluar dari rumah makan, keadaan dijalan raya sudah tepi sunyi, tidak kelihatan seorangpun juga. "siao hek. dimana kita bisa bertemu lagi?"

"Hihi. Kawan, ditempat mana ada terdapat orang-orang pengemis, di situ kau bisa mendapat tahu tempatku"

"Sampai ketemu " "Sampai ketemu "

Pengemis sakti wajah hitam itu nampak membelok disatu tikungan jalan, sebentar lantas lenyap dari pemandangan.

Yo Cie Cong mengawasi bayangannya kawan dimasa kanak-kanak itu, rupa-rupa pikiran timbul dalam otaknya.

Jalannya penghidupan sungguh aneh. Dua kawan kanak-kanak yang dulu bergelandangan dalam kalangan pengemis kini telah menjadi tokoh-tokoh penting dalam rimba persilatan yang tindak tanduknya dapat mempengaruhi nasibnya rimba persilatan.

Yo Cie Cong memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut, seorang misterius yang ditakuti oleh hampir semua orang.

Sedang siao hek sudah menjadi salah satu pemimpin golongan tertua dari partai pengemis, yang kedudukannya tidak boleh diabaikan begitu saya dalam rimba persilatan. semua ini, hampir- hampir sukar dipercaya kebenarannya.

Dengan seorang diri Yo Cie Cong berjalan pelahan-lahan dijalan raya yang sudah menjadi sepi sunyi. Kesunyian dalam hatinya semakin terasa.

Dalam keadaan sunyi seperti itu, mudah menimbulkan kenangan dimasa yang lampau dan mengingat dimasa yang akan datang. Dengan tanpa berasa Yo Cie Cong mengalirkan air matanya.

Ia tanya kepada dirinya sendiri: "Apakah aku datang sendirian didalam dunia ini ? Tidak Aku seharusnya mempunyai ayah mempunyai ibu Tapi, dimana adanya mereka? Apakah masih hidup didunia atau sudah meninggal ? Mengapa aku harus di terlantarkan seorang diri ? Apakah bencana alam yang mememencarkan nasib kita..?" Karena pikirannya kalut, tindakan kakinya agak limbung

"Bocah kita berjumpa lagi disini " demikian satu suara yang berat telah menyadarkan Yo Cie Cong dari lamunannya.

Di depan matanya, saat itu berdiri 5 orang tua yang dandanannya sangat aneh. Mereka adalah Biauw-Ciang Ngo-tok dari Im-mo-kauw.

Yo cie Cong hentikan kakinya, lamunannya lenyap seketika dan diganti oleh perasaan gusar. ia lalu menanya dengan suara dingin: "Kalau sudah berjumpa mau apa ?" salah satu diantara 5 orang tua itu lantas menjawab.

"Setan cilik, tempo hari didalam rumah makan kau bisa lolos dari tangan kami, tapi malam ini, huh. Kau jangan harap bisa berlalu dalam keadaan hidup Jikalau kami tidak mampu membereskan jiwamu, selanjutnya nama Biauw-ciang Ngo-tok boleh dihapus saja "

"Hm Aku lihat, sudah tiba saatnya nama kalian harus dihapus "

"Setan cilik, dijalan raya kita bertempur, mungkin akan mengagetkan orang, mari kita keluar kota "

Itu memang yang diharapkan oleh Yo Cie Tong, karena ia sudah mempunyai rencana masak- masak. ia tidak sudi berhadapan sebagai musuh besar-besaran dengan Im mo kauw. Disamping itu dalam kota juga ada terdapat banyak orang-orang kuat, jika mengejutkan mereka, banyak kemungkinan akan menyulitkan pekerjaannya di kemudian hari. Maka ia lantas menjawab sambil ketawa dingini

"Bagus kalian boleh menerima satu tempat yang bagus sekali letaknya untuk tempat kuburan kalian "

Biauw-ciang Ngo-tok dengan serentak menjadi gusar, orang yang buka suara itu berkata lagi: "Setan cilik, kau jangan mengandalkan lidahmu yang tajam, mari jalan " Enam bayangan orang

dengan beruntun lari menuju keluar kota bagian Barat.

Disitu terdapat sebidang tanah ladang yang sangat luas dan beberapa gubuk dari kaum petani. Karena saat itu hari sudahjum tiga pagi, para penduduknya tentu masih tidur semua. Keadaan ada sangat sunyi.

Ke enam orang itu telah berhenti di suatu tempat kira-kira setengah lie terpisahnya dari kota.

Dengan mengambil sikap mengurung, Biauw ciang Ngo-tok berdiri berpencaran sehingga membuat Yo cie Cong berada ditengah-tengah antara mereka.

Dengan sikapnya tenang luar biasa. Yo cie Cong berdiri di-tengah-tengah dengan tegak. sama sekali agaknya tidak memandang mata pada kelima iblis tua itu. salah satu diantara lima orang tua itu yang bercambang lebat berkata:

"Setan cilik, lebih baik kau tamatkan riwayatmu sendiri, barangkali bisa mati dalam keadaan utuh."

"Ha, ha.. sombong benar kau. Malam ini kalian berlima barangkali ingin mati dalam keadaan utuh saja masih susah."

"Setan cilik, apakah kau masih mau menantikan kita berlima turun tangan ?"

Yo cie Cong setelah tertawa bergelak-gelak lantas berkata:

"Dengan mengandalkan kepandaian kalian berlima kawanan setan tua ini masih belum pantas mengeluarkan perkataan semacam itu."

"Haha.. Anjing cilik Malam ini kau harus dicincang, baru kami bisa merasa puas," sehabis berkata, tangannya diayun berbareng.

"Aku akan mengambil kau sebagai contoh dulu " berkata Yo Cie Cong dan dengan kecepatannya yang sangat luar biasa ia menyerang kearah orang tua yang bicara tadi. Gerakannya itu ada tipu silat kombinasi dari Liu im Hut hiat pelajarannya Phoan-ngo Hweshio dan 'Menggeser tubuh menukar bayangan', pelajarannya orang berkedok kain merah, sedangkan kedua-duanya itu sudah merupakan tipu silat yang tidak ada taranya lagipada masa itu.

Maka dengan tidak ada ampun lagi salah satu iblis tua dari Biauw-ciang Ngo tok telah menjadi korban. Belum sampai serangannya meluncur keluar tiba-tiba matanya dirasakan gelap dan beberapa bagian jalan darah penting di badannya telah kena tertotok oleh suatu kekuatan hebat yang tidak dapat dilihat mata, maka dengan tidak mengeluarkan sedikit suarapun juga badannya lantas rubah di tanah.

Ke empat kawannya sudah dibikin terkejut dan terheran- heran oleh gerakan Yo cie Cong itu. Mereka masih belum mengetahui dengan cara bagaimana Yo Cie Cong turun tangan tadi, tahu- tahu salah satu kawannya sudah binasa. oleh karena gerakannya yang gesit dan aneh luar biasa itu, maka mereka sama sekali tidak sempat memberikan pertolongan pada kawannya.

Menyaksikan kepandaian Yo cie Cong yang seolah-olah perbuatan iblis menerkam jiwa manusia, hati mereka seketika itu lantas menjadi keder.

Namun mereka tidak mau tinggal diam begitu saja, maka setelah keluarkan geraman hebat keempat-empatnya lantas menyerang Yo cie Cong dengan berbareng.

Bertempur di suatu tempat yang luas itu, sudah tentu banyak bedanya dengan keadaan bertempur dirumah makan yang terbatas. Apa lagi empat iblis tua itu sedang berada dalam keadaan kalap, maka serangan mereka berempat sesungguhnya sangat hebat tak dapat di ucapkan dengan kata-kata.

Kekuatan dari serangan tergabung ke empat orang itu telah menyerang Yo Cie Cong dari empat penjuru.

Yo Cie Cong sedikitpun tidak merasa takut akan serangan itu, ia sengaja tidak mau berkelit maupun menyingkirkan diri, ia hanya menunggu sampai kekuatan serangan tersebut sudah datang dekat benar, barulah badannya melesat ke atas sambil berputaran, kemudian dengan secara ringan sekali orangnya melayang turun kebawah.

Gerakan Ye Cie Cong macam ini telah membuat bimbang hatinya kawanan iblis tersebut. "Kalian masih menyimpan kepandaian macam apa lagi, lekas keluarkan semua. Kalau terlambat

sedikit saja nanti tidak keburu di keluarkan," kata Yo cie Cong sambil ketawa dingin.

Biauw-ciang Ngo-tok itu ada merupakan tokoh terkuat didaerah Biauw. Mereka sudah menjagoi dan malang melintang didaerahnya sendiri. sungguh tidak disangka, setelah ditarik menjadi anggotanya Im mo-kauw, baru saja turun tangan sudah terjungkal ditangannya seorang bocah cilik.

Bahkan hanya dalam segebrakan saja si bocah sudah membinasakan salah satu kawannya. Dapatlah dibayangkan sendiri bagaimana perasaan gusar kawanan iblis dari daerah Biauw itu, maka ketika mereka mendengar ejekan Yo cie Cong, seolah-olah api di siram minyak, perasaan gusarnya semakin meluap-luap.

Empat iblis itu dengan berbareng memendekkan badannya, tiba-tiba pakaian dibadan mereka pada melembung.

Yo Cie Cong sudah kenali gerakan ini ketika mereka berada dirumah makan, kawanan iblis itu kembali hendak menggunakan cara tempo hari melepaskan ilmu gaibnya, Bok-beng in cong.

Tetapi karena Yo cie Cong sudah bersiap siang, sedikitpun ia tidak merasa takut. Dengan ilmunya Kan-goan cao-kie ia telah menutup rapat sekujur badannya.

Ilmunya itu selainnya dapat menolak serangan hawanya racun, juga bisa dipakai untuk menghancurkan daya kekuatan yang melakukan serangan padanya.

sebentar kelihatan hawa putih seperti kabut menutupi sekujur badannya, maka racun dari ilmu gaib keempat iblis itu sedikitpun tidak berdaya menghadapinya. Kawanan iblis itu segera mengetahui gelagat kurang menguntungkan bagi pihaknya, mereka lalu berduduk semuanya, dengan kekuatan sepenuhnya mereka melanjutkan serangan mereka.

Dengan demikian, keadaan menjadi berubah.

Yo cie Cong merasa seperti ada bau harum sedap yang datang dari empat penjuru dengan tidak berhenti- hentinya mencoba menyusup kedalam badannya.

Bahkan perasaan itu makin lama makin hebat, maka ia juga menggunakan seluruh kekuatannya untuk memberikan perlawanan.

sekejapan saja kedua pihak kelihatan sudah mengucurkan keringat deras.

Racun yang digunakan dalam ilmu gaib Bo-beng sin cong itu merupakan salah satu racun yarg paling ganas .Jikalau tidak menghadapi musuh yang sangat tangguh ilmunya tidak digunakan secara sembarangan, karena racun ini terdiri dari binatang kutu hidup yang disalurkan dengan kekuatan dan hawa dari orang yang menggunakan. Apabila racun itu binasa, orangnya juga pasti turut binasa.

Ke empat iblis dari daerah Biauw itu meskipun sudah mengetahui bahayanya menggunakan racun tersebut, tetapi mereka masih tetap nekad dengan tidak menghiraukan jiwanya sendiri lagi.

Kedua pihak kini kembali berkutetan sekian lamanya.

Yo Cie Cong tidak mau membuang waktu terlalu lama, ia sengaja mengendurkan pertahanannya, maka sebentar saja sudah ada satu racun kutu telah menyusup masuk dalam badannya.

Salah satu dari kawanan iblis itu yang melancarkan serangannya ketika mengetahui bahwa racun kutunya sudah menyusup masuk ke dalam badan lawannya, diam-diam merasa girang. Ia lantas memperhebat gerakannya dan racun kutu itu mulai bekerja dibadan lawannya. 

Tetapi Yo Cie Cong yang sengaja memancing lawannya melakukan perbuatan demikian setelah racun kutu itu masuk ke dalam dirinya, ia lantas menggunakan kekuatan Kan-goan-cao khienya Untuk menggempur racun tersebut.

Iblis yang menyerang tadi mendadak merasakan keadaan tidak beres, cepat-cepat ia menarik kembali serangannya, tetapi sudah terlambat sedikit. Racun kutunya sudah dibinasakan musuh oleh kekuatan lawannya.

Dengan tidak ada ampun, lagi darah di badannya lantas mengalir keluar dari lubang hidung, kuping dan matanya, kemudian disusul dengan badannya rubuh.

Dengan demikian, lima orang iblis dari daerah Biauw itu sekarang hanya tinggal tiga orang lagi saja yang masih hidup.

Ketika mereka bertiga mengetahui keadaan tidak baik, cepat-cepat mereka menarik mundur serangannya, dengan mata melotot mereka mengawasi Yo Cie Cong, kemudian memutar tubuhnya hendak kabur.

Yo Cie Cong yang sudah tentu tidak membiarkan 3 orang tua itu berlalu begitu saja.. Dengan cepat ia sudah menghadang di depan mereka, kemudian berkata dengan suara bengis: "Kalian bertiga hendak berlalu dari sini, tidak begitu mudah "

Tiga orang tua beracun itu wajahnya berubah seketika, matanya mendelik semakin lebar. satu diantaranya lantas berkata: "setan cilik, kau hendak berbuat apa ?"

"Kalian mau berlalu, boleh, tapi harus menjawab pertanyaanku dulu "

Tiga orang tua itu karena kedua kawannya sudah binasa, lagi pula mereka memang terdiri dari manusia-manusia yang kejam dan buas, maka setelah didesak begitu rupa oleh Yo Cie Cong, lantas timbul pikiran nekadnya, masing-masing dengan kekuatan sepenuhnya menyerang Yo cie Cong.

serangan gabungan dari ketiga orang itu hebatnya luar biasa. Yo Cie Cong ketawa dingin, lalu ia memusatkan kekuatannya Kan-goan cin cao dikedua tangannya untuk menyambuti serangan dari ketiga orang tua itu.

Suara benturan keras lantas terdengar amat nyaring. suara itu dibarengi oleh suara jeritan tertahan dari tiga orang.

Yo Cie Cong badannya terhuyung-huyung kebelakang beberapa tindak baru bisa berhenti.

Tetapi Biauw-ciang sam-tok itu masing-masing sudah terpental mundur lima tindak. sehingga badan merekapun sempoyongan, mulut masing-masing mengeluarkan darah segar, wajah mereka pucat pasi.

Yo Cie Cong kembali membentak dengan suara keras

"Dengar Pertanyaanku pertama, siapakah Kauwcu kalian" Ketiga orang tua itu dengan napas memburu dan mata mendelik mengawasi Yo Cie Cong, tetapi tidak ada seorangpun yang memberi jawaban.

Yo Cie Cong mengulangi lagi pertanyaannya:

"Aku ulangi sekali lagi, siapa Kauwcu kalian ?jikalau tidak mendapat jawaban, satu diantara kalian bertiga pasti tidak akan bernyawa lagi. Ingat siapa nama dan gelar Kauwcumu "

Ketiga orang tua itu kembali terdiam tidak menjawab.

Yo cie Cong segera berubah wajahnya lantas bergerak dengan cepat.

Diantara suara jeritan ngeri, satu diantara ketiga orang tua itu telah rubuh ita nah, jiwanya melayang seketika.

Dua orang yang lainnya, wajahnya lantas memucat seperti mayat, seorang diantaranya sambil kertak gigi berkata:

"Setan cilik Tak perlu kau berbuat begitu kejam. sekalipun kau berhasil membunuh mati kami semuanya, tetapi pertanyaanmu itu kami memang tidak tahu." Yo Cie Cong tidak mau percaya keterangan ini, ia lalu berkata pula:

"Sekarang pertanyaan kedua .Jikalau kalian masih tetap tidak menjawab, diantara kalian berdua hanya seorang saja yang boleh hidup, Dengar biar terang Apa sebabnya Im-mo-kauw mengejar- ejar dirinya pemilik Golok Maut ?"

Dua orang tua ini saling pandang, tidak ada seorangpun yang dapat menjawab.

Terhadap dua pertanyaanku itu, lima orang tua dari Biauw itu memang sebetulnya tidak mengetahuinya, sejak mereka menjadi anggota Im mo-kauw sehingga saat itu, mereka masih belum pernah melihat wajahnya Kauwcu mereka. Tentang tindakan mereka yang mengejar-ngejar pemilik Golok Maut, juga diperbuatnya hanya sekedar untuk menunaikan tugas mereka.

Justru kedua pertanyaan yang sudah lama mengeram dalam hatinya Yo Cie Cong kini tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan lagi maka berkobarlah napsu membunuhnya.

Kembali suara jeritan ngeri terdengar lagi, satu diantara kedua orang tadi telah rebah menggeletak dalam keadaan tidak bernyawa.

"sekarang kau harus menjawab kedua pertanyaanku tadi.Jikalau tidak. kau akan mendapat perlakuan yang serupa seperti kawan-kawanmu."

satunya orang tua yang masih tetap hidup itu dengan perasaan sedih dan gusar lantas menjawab :

"Lohu akan adu jiwa dengan kau" Badannya lantas bergerak, Yo Cie Cong cepat mengeluarkan senjatanya Golok Maut.

sambil membolang-balingkan senjata yang aneh bentuknya dan yang memancarkan sinar yang kemilau itu, ia menanya pula: "Ku mau jawab atau tidak?"

Orang tua itu dengan perasaan takut setengah mati lantas mengurungkan gerakannya dan mundur satu tindak. Dengan suara gemetar ia berkata:

"Kau.... Kau.... Kau ini adalah pemilik Golok Maut ?..."

Pada saat itu dari jauh terdengar suara helaan napas yang sangat perlahan. Yo Cie Cong tidak akan menduga kalau di tanah belukar dan diwaktu tengah malam buta seperti itu, ternyata masih ada orang yang sembunyi di sekitarnya, bahkan ada kemungkinan besar sudah menyaksikan segala sepak terjangnya barusan.

Mengingat sampai di situ, bukan kepalang rasa kagetnya, maka ia lantas lompat melesat menuju ke arah datangnya suara tadi.

Gerakan badan Yo cie Cong sudah cukup gesit, tetapi ternyata masih tidak berhasil melihat suatu apa, hanakesunyian malam saja yang saat itu membungkus keadaan di sekitarnya.

Tiba-tiba ia teringat, masih ada seorang tua yang ada disitu. Ia karena sudah menunjukkan Golok Mautnya, itu berarti sudah mengunjukkan siapa dirinya, maka jikalau orang tua itu tidak dibereskan sekalian, tentunya nanti akan membawa akibat yang sangat hebat.

Dengan cepat ia lari balik. Tetapi Apa yang di saksikan telah membuat ia melongo. satu- satunya orang dari Biauw ciang Ngotok yang masih hidup saat itu ternyata juga sudah menggeletak di tanah dalam keadaan tidak bernyawa.

Rupa-rupa pertanyaan timbul dalam otaknya Yo Cie Cong. siapakah orangnya yang mengeluarkan suara elahan napas perlahan tadi?" siapakah orangnya yang membinasakan orang tua ini?"

Pertanyaan itu tinggal merupakan suatu pertanyaan yang tidak terjawab, sebab sesungguhnya ia memang tidak akan menduga dan tidak bisa menduga siapa adanya orang itu

Jikalau mau dikatakan bahwa orang yang membunuh mati sisanya orang tua dari Biauw ciang Ngo-tok adalah itu orang yang telah mengeluarkan suara helahan napas perlahan, maka kepandaiannya orang tersebut boleh di kata sudah tidak ada taranya lagi dalam dunia ini. segala sepak terjangnya barusan juga sudah tentu semuanya sudah disaksikan olehnya.

Jikalau orang yang sangat misterius itu adalah pihak musuhnya, mengapa harus membunuh mati orang tua itu? Tetapi jikalau bukannya dari pihak musuh, mengapa harus berlaku begitu misterius dan tidak mau mengunjukkan muka didepan matanya ? siapakah sebetulnya dia itu ?

Andaikata orang yang sangat aneh itu masih mengandung maksud lain- hal ini sesungguhnya sangat menakutkan.

Sebab pada dewasa ini, didalam kota Tiang soa yang seolah-olah sudah menjadi sarangnya macan dan kedungnya naga, kedatangan semua orang gagah itu ialah semata-mata karena munculnya pemilik Golok Maut disitu. Jikalau Yo cie Cong yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut itu diketahui oleh mereka maka sungguh hebat sekali akibatnya.

Ia memikirkan soal ini bolak balik, tetapi masih tetap belum berhasil memecahkan persoalan yang merupakan teka-teki itu.

Akhirnya ia telah mengambil keputusan tetap, hendak berbuat seperti apa yang sudah direncanakan-

Dengan senjata Golok Mautnya, ia telah mempreteli tangan kakinya Biauw ciang Ngo tok.

Bangkai dari lima orang tua itu dibuat sedemikian rupa sehingga kelihatannya seolah-olah sudah dibunuh mati oleh Golok Maut, kemudian ia membawa bangkainya mereka pergi den lalu digantungkan di atas sebuah pohon besar didekat pintu kota. setelah selesai semuanya, ia pulang kembali kerumah penginapannya.

BAB 28

BELUM LAMA Yo Ce Cong meringkuk dipembaringan dalam kamarnya, cuaca sudah mulai terang.

Yo Cie Cong bangun dari tempat tiduran, Ia dapat menghela napas lega. "Siangkong, selamat pagi."

Yo Cie Cong terperanjat. Ketika ia berpaling, orang yang menegur padanya itu ternyata adalah pelayan rumah penginapan.

"Ng. Pagi-pagi kau sudah bangun. Aku hendak pergi buang air." Pelayan itu berkata sambil tertawa cengar cengir: "siangkong juga pagi-pagi sekali sudah bangun."

Yo cie Cong cuma mengganda ketawa lantas meninggalkan pelayan itu. Ketika baru saja berlalu pelayan itu tiba-tiba berkata pada dirinya sendiri:

"Aku sibotak sudah cukup banyak melihat orang, tetapi belum pernah melihat perempuan secantik itu. siang kong ini sungguh beruntung. Aku si botak sekalipun sepuluh tahun lagi juga jangan harap bisa dapatkan perempuan begitu cantik." sehabis berkata begitu, ia lantas berlalu.

Yo Cie Cong dapat menangkap perkataannya pelayan tadi yang terang ada ditujukan pada dirinya sendiri, lain timbul perasaan curiganya.

Ketika ia hendak menanya pelayan itu sudah berlalu, maka ia lantas melanjutkan tindakannya ke-wc. dan tidak lama kemudian ia balik lagi ke dalam kamarnya. Ketika ia membuka pintu kamarnya, seketika ia lantas melongo.

Diatas pembaringannya tampak rebah seorang wanita muda yang menghadap ke dinding tembok. sehingga tidak bisa dilihat wajahnya. Yo cie cong bingung.

Mengapa tidak lama ia keluar pintu wanita itu sudah tidur di atas pembaringan ? ini sesungguhnya ada merupakan suatu hal yang sangat ganjil. siapa sebetulnya wanita ini ?

Mengapa ia berani tidur diatas pembaringan seorang laki-laki ?

Didalam keadaan demikian rupa itu. Yo Cie Cong tidak bisa berbuat lain, kecuali dengan sengaja berdehem.

Wanita itu tempaknya terkejut mendengar deheman Yo cie Cong, ia lantas lompat bangun dan lompat melesat kepinggiran tembok. Kedua tangannya sudah disiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan- Dilihat dari setiap gerakannya, wanita itu terang ada mempunyai kepandaian tinggi.

Untuk sesaat lamanya Yo Cie Cong juga dibikin terkejut oleh gerakannya wanita itu. "Engko Cong. Kau? Hampir semalam suntuk aku menantikan kau "

"Dengan susah payah aku mencari kau sampai disini. Tetapi ketika aku tiba dikamarmu kau ternyata sudah tidak ada. Kemana saja tadi malam kau pergi ?"

"Ooooh. Aku telah bertemu dengan kawanku semasa kanak-kanak dan makan minum sampai hampir pagi."

Kiranya wanita itu adalah Ut tie Kheng, cucu perempuannya Pengail Linglung dari pulau Batu Hitam.

"Engko Cong, apakah kau masih ingat ketika kau meninggalkan pulau Batu Hitam, aku yang mengantarkan kau mendarat? Didalam pernah berkata apa padamu"

Nona itu berkata sambil tersenyum simpul sehingga terlihat kedua sujen dikedua pipinya, yang membuat dia semakin menarik kelihatannya. "Adik Kheng, aku sudah, lupa." jawab Yo Cie Cong sambil ketawa.

Ut-tie Kheng parasnya kelihatan sedikit berubah, ia lalu berkata setelah monyongkan mulutnya yang kecil mungil:

"Hmmm. Aku tahu. Kau tentunya sudah melupakan diriku"

"Mana bisa ? Engkong mu telah melepas budi kepadaku karena dia sudah mewariskan pada ku semacam pelajaran kelas tinggi ketika aku berada dipulau Batu Hitam itu juga adalah adik Kheng sendiri yang merawati segala kebutuhanku. Bagaimana semuanya itu bisa kulupakan? Hanya..."

"Hanya apa?" tania Ut tie Kheng sambil ketawa geli. "Hanya ingatanku kurang baik."

"Hh. Justa. Didalam hatimu mungkin sudah tidak ada lagi bayanganku."

ut tie Kheng ketika mengucapkan perkataannya itu, mendadak ia merasakan sudah keterlepasan. sebagai seorang gadis remaja yang masih putih bersih, bagaimana ia boleh mengucapkan perkataan macam itu ? Tetapi karena sudah terlanjur diucapkan, maka ia tidak bisa menariknya kembali. Cuma seketika itu ia merasa sangat malu sehingga parasnya menjadi merah padam dan kepalanya lantas ditundukkan-

Yo Cie Cong bukan tidak mengerti kecintaan hati Ut tie Kheng terhadapnya, cuma saja hatinya sudah diberikan kepada siang-koan Kiauw yang sudah binasa didalam lautan sewaktu mengikuti peryalanannya ke Lam-hay.

Yo Cie Tiong yang merasa bertanggung jawab atas kematiannya Siang koan Kiauw, ia menganggap adalah suatu kedosaan besar terhadap Siang-koan Kiauw. jika ia menyintakan dirinya lain gadis.Jikalau bukan karena urusannya sendiri yang masih belum selesai mungkin ia sudah menyebutkan dirinya ke dalam lautan yang untuk menyusul kekasihnya.

Maka terhadap cinta kasihnya Ut-tie Kheng, ia bukannya tidak mau menerimanya, ia merasa bahwa perasaannya sendiri saat itu sudah hampa.

"Adik Kheng, harap kau jangan gusar.. Benar-benar ingatanku kurang baik." "Hmm siapa yang gusar ? Apa perlu aku lagi yang mengingatkan ?"

"Baik. Coba kau sebutkan-"

"Aku pernah mengatakan bahwa ada satu hari aku akan datang keTiong-goan untuk mencari kau."

Ut tie Kheng mengangkat kepalanya, dengan sangat mesra ia melirik Yo Cie Cong sejenak. lalu kembali menundukkan kepalanya.

"Benar. Kau pernah ucapkan perkataan demikian-" berkata Yo Cie Cong. "Adik Kheng, mari kita duduk beromong-omong"

Ut tie Kheng tersenyum, ia lantas duduk di pinggir pembaringan. Yo Cie Cong menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan si nona.

Beberapa detik lamanya keduanya membisu, seolah-olah kehilangan bahan yang harus diucapkan, padahal ut tie Kheng ingin mengutarakan semua isi hatinya, dengan segala perkataan yang sudah disiapkan dalam hatinya. Tetapi sebagai seorang perempuan, ia merasa tidak enak jikalau harus menyatakan hatinya kepada sang kekasih, maka Akhirnya ucapannya tidak berani dikeluarkan-

Sebaliknya bagi Yo Cie Cong yang memang benar-benar tidak ada apa-apa yang harus diucapkan hanya dalam hati saja ia merasakan tidak enak.

setelah pada membisu sekian lamanya, akhirnya Yo Cie Cong jugalah yang memecahkan kesunyian.

"Adik Kheng, bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di sini ?"

"Peristiwa Golok Maut telah menggempatkan seluruh rimba persilatan. Aku menduga mungkin kau juga bisa datang kemari untuk menonton keramaiannya, maka aku lantas tujukan kakiku kekota Tiang soa ini. Baru saja aku sampai dikota ini aku sudah mendengar ramai orang membicarakan halnya pemuda kecut Yo Cie Cong yang dengan seorang diri melawan Biauw ciang Ngo tok, lima orang kuat dari daerah Biauw dan Thian-san Liong lie membuat geger dirumah makan ceng yang ciu lauw. Bukankah itu mudah sekali untuk mencari jejakmu?"

Yo Cie Cong menganggukkan kepalanya, mendadak suatu pikiran terlintas dalam otaknya: "Apakah Pengail Linglung itu juga ikut datang? Jikalau orang tua itu turut datang dan mau turut campur tangan dalam peristiwa ini, sesungguhnya agak berabe. Maka ia lalu menanya dengan suara perlahan: "Dik Kheng datang seorang diri ataukah..."

"Ng. Aku datang hanya seorang diri saja. Kata yaya, dia mau menunggu beberapa waktu lagi baru bisa datang. Dia malah betkata hendak menyelesaikan sedikit persoalan yang sudah lama, tetapi aku tidak tahu entah persoalan apa yang dimaksudkannya itu."

Hati Yo cie Cong merasa lega. Tentang persoalan yang dikatakan oleh nona ini, yang dimaksudkan barang kali persoalan perjanjian pertandingan ilmu silat dengan muridnya seorang dari rimba persilatan, tetapi saat itu ia tidak menjelaskannya. setelah hening sejenak, barulah ia betkata pula:

"Adik Kheng ketika meninggalkan pulau Batu Hitam apakah sudah mendapatkan persetujuannya ut tie Lo cianpwee?"

"Kau tanya ini apa perlunya ?" ut tie Kheng balas menanya sambil monyongkan mulutnya yang mungil.

"Kalau begitu, kau tentunya kabur dengan diam-diam." "Hmmm. Kabur ? Apa bukan-.."

Ut tie Kheng seolah-olah merasa diperlakukan tidak manis oleh Yo cie Cong.

Karena rasa cintanya yang sangat besar, diam-diam ia telah kabur dari pulau Batu Hitam. Dengan tidak takut mengarungi laut Lam-hay yang luas dan meninggalkan engkongnya yang sudah tua seorang diri di atas sebuah pulau yang sepi sunyi, tetapi apa yang diterima dari Yo cie Cong sekarang tidak lain daripada sikap yang dingin- Ia tadinya bermaksud mau menjawab: "Bukankah lantaran kau?" tetapi perkataannya itu tidak berani di keluarkan dari mulutnya.

Lain lagi halnya dengan apa yang dipikirkan oleh Yo Cie Cong. Ia sangat menguatirkan kalau soal ini nanti akan menjadi persoalan yang berlarut-larut tidak ada habisnya. Di samping itu juga ia sekarang sedang memainkan dua peranan dalam dunia Kang-ouw dan sekitarnya merupakan kawanan orang gagah semuanya.Jikalau ada dirinya nona ini disampingnya. bukankah ia nanti akan merasa sangat berabe ? Benar-benar ia tidak mengetahui bagaimana harus mengatur dirinya Ut tie Kheng. "Adik Kheng, kau menginap dirumah penginapan mana ?"

"Aku belum dapat rumah penginapan-"

Saat itu tiba-tiba dari luar terdengar suara riuh ramai. Terdengar orang tarik urat.

"Kau benar-benar menghina orang. Apakah karena aku hanya seorang pengemis cilik tidak boleh menemui sahabatku ?"

"Diruangan belakang, kebanyakan ditempati oleh para tetamu yang beruang jikalau terjadi kegaduhan, sangat tidak enak tentu akibatnya,"

"Bohong Aku hendak cari sendiri itu pemuda wajah putih. Apakah perbuatanku itu dikatakan hendak membuat gaduh?"

"Kau mencari orang juga harus melihat tempatnya."

"Hih i...Aku pengemis kecil justru hendak melihat tempat ini." "Kau ingin gebukan ?"

"Hi, hi. Aku si pengemis kecil tidak mempunyai kepandaian apa-apa, tetapi kalau untuk

betkelahi saja aku masih sanggup melayani,"

"Jangan banyak bicara dengan dia. Usir saja, Habis perkara." terdengar pula suara orang lain dengan nada sombong.

Begitu mendengar, Yo cie Cong sudah mengenali bahwa yang ngotot itu adalah suaranya siao hek. sipengemis kecil wajah hitam, maka ia lantas betkata kepada ut tie Kheng. "Adik Kheng, aku akan keluar dulu sebentar. aku akan segera kembali." setelah betkata demikian, ia sudah lari ke luar menuju pekarangan.

Ketika sampai didepan pintu dilihatnya ada beberapa pelayan dengan sikapnya yang garang sedang mengurung dirinya siao hek yang masih ketawa cengar cengir.

Yo Cie Cong lalu berseru sambil ketawa.

"siao-hek tidak perlu ribut-ribut dengan mereka. Mari sini " sambil ketawa besar ia lantas berjalan menghampiri Yo Cie Cong.

Para pelayan itu ketika ada tetamu yang mengajak siao-hek masuk. semuanya menduga bahwa pengemis kecil itu tentunya tidak bohong, maka mereka juga tidak mau mengambil tindakan apa- apa lagi. Siao hek ketika melangkah masuk kepintu kamarnya Yo Cie Cong, sudah lantas dapat melihat adanya seorang gadis cantik sedang duduk diatas pembaringan, maka ia cepat-cepat mundur teratur.

Yo Cie Cong cepat-cepat mencekal tangannya seraya berkata: "Siao hek, kita bukan orang luar.

Mari aku perkenalkan-"

"Ayaaa. o Mi To Hud. Aku si pengemis kecil seumur hidupnya tidak boleh menemui orang perempuan-"

Kata-kata siao hek tadi telah membuat Yo cie Cong merasa jengah sendiri. ut-tie Kheng yang berada didalam kamar juga sudah dapat mendengarnya, maka cepat-cepat ia berbangkit dan melihat keluar. Ternyata ada seorang pengemis kecil hitam, berpakaian compang camping sedang berdiri berendeng dengan Yo cie Cong, sehingga dalam hatinya diam-diam merasa heran.

"Engko Cong bagaimana bisa berkenalan dengan pengemis cilik ini?"

Ut-tie Kheng yang sejak masih kanak-kanak mendapat asuhan dari engkongnya, terhadap kejadian-kejadian dikalangan Kang-ouw meskipun ia masih belum melihat dengan mata kepalanya sendiri, tetapi apa yang didengarnya sebenarnya sudah banyak sekali.

Justru karena itulah maka ia tidak pernah memandang rendah pada kawanan pengemis. setelah berdiam dan bersenyum sejenak. la lantas mempersilahkan Siao hek masuk.

Pengemis kecil wajah hitam itu membuka matanya dan mulutnya menyengir kepada Yo Cie Cong, kemudian masuk kedalam.

Setelah berduduk Yo cie Cong petkenalkan mereka satu sama lain-

Ut-tie Kheng baru tahu bahwa pengemis cilik hitam ini ternyata besar pengaruhnya dan tinggi kedudukannya dalam partai pengemis.

Ia tidak nyana bahwa pengemis yang masih muda ini ternyata ada salah satu Tiang lo (orang tingkatan dua) dalam golongannya, dan sang susioknya ketua partai pengemis pada dewasa ini. Maka ia lantas pandang hormat padanya.

Pokoknya siao-hek pandang nona cantik ini ada Cucu perempuannya Pengail Linglung, satu jago kenamaan yang sudah lama mengasingkan diri dari dunia Kangouw. Hanya ini saja maka siao-hek tidak berani pandang enteng padanya. Yo cie cong menanya kepada Siao-hek: "Ada urusan apa kau pagi-pagi mencari aku?"

"Hihi, aku lihat kau seperti maling kesiangan"

"Ada urusan apa sebetulnya sampai berlaku begitu tergesa-gesa?"

"Lima tiancu bagian hukum Im mo kauw, ialah itu manusia beracun dari daerah Biauw ciang Ngo-tok. tadi malam telah di bunuh oleh Golok Maut. Bangkainya digantung di atas pohon besar dekat pintu kota sebelah Barat. Peristiwa ini kini telah menggempatkan seluruh kota Tiang-soa"

"Haa Ada terjadi hal demikian ?" Yo cie Cong pura-pura kaget. "Memangnya aku bicara bohong ?"

"Dalam perjalananku dari Lam-hay kemari dunia Kang-ouw ramai membicarakan sepak terjangnya Golok Maut. Nampaknya manusia misterius dan sangat menakutkan ini akan membuat geger dunia Kang-ouw " berkata ut-tie Kheng.

"Kalau di hitung-hitung, orang-orangnya Im mo-kau yang terbinasa dibawah Golok Maut sudah 4 orang banyaknya. Entah ada permusuhan apa perkumpulan agama itu dengan Golok, Maut ?" kata siao-hek.

"Sudah tentu kalau tidak ada angin tidak akan timbul ombak, terjadinya semua hal tentu ada sebabnya. Kita orang luar bagaimana bisa tahu ?" jawab Yo Cie Cong hambar.

"Kabarnya Golok maut itu sangat ganas dan telengas, pemilik Golok Maut itu kepandaian ilmu silatnya tinggi sekali. Dalam perbuatannya menyingkirkan jiwa musuhnya, belum pernah kesalahan tangan- sepak terjangnya sangat rahasia, seperti juga hantu atau setan " kata ut tie Kheng.

Yo Cie Cong yang mendengar itu cuma bersenyum saja. kemudian ia berkata kepada siao hek. "Siao-hek. pusatnya perkumpulan Im mo kauw itu sebetulnya terletak dimana sih?"

"Hal ini sehingga sekarang aku sendiri masih belum jelas. Cuma tiga cabangnya Im mo kauw yang masing-masing didirikan digunung Kiu leng-san, ln-thay-san dan ceng liong-peng, sudah diketahui oleh anak buah kita, memang sesungguhnya ada."

"Bagaimana reaksinya Im mo kau terhadap Golok Maut yang telah berkali-kali mengambil jiwa anggotanya ?"

"Kabarnya Kauwcu Im mo kauw ketika mendengar tentang berita itu, dia sangat gusar sekali dan segera mengutus beberapa kelompok orang-orangnya yang kuat untuk menghadapi Golok Maut. Umpamanya, yang sekarang ini telah berada didalam kota Tiang-soa saja jumlahnya orang kuat dari Im mo kauw sudah tidak sedikit."

Yo Cie Cong masih gelap. apa sebabnya Im mo kauw hendak menghadapi dirinya dengan sepenuh tenaga, bahkan sudah menyiatkan berita pula bahwa pemilik Golok Maut bukannya pangcu Kam lo-pang yang asli. soal ini terus mengganggu hatinya saja, maka akhirnya ia telah mengambil keputusan hendak mencari tahu apa yang menjadi sebabnya perbuatan Im mo kauw itu.

selain daripada itu, kemarin malam ketika Yo Cie Cong membinasakan dirinya Biauw ciang Ngotok diluar pintu kota sebelah barat, ia mendapatkan kenyataan bahwa seorang diantara Ngo- tok itu sudah binasa ditangan orang lain. Tentunya pembunuh ini sudah mengetahui dengan jelas segala sepak terjangnya, hal ini juga membuat ia sangat betkuatir.

Selagi ketiga orang itu enak-enakan mengobrol, dari arah pekarangan tiba-tiba terdengar suara orang ketawa cekikikan dan suara orang yang tertawa kasar dan aneh. Dua macam suara itu bergabung menjadi satu, terdengarnya sangat tidak enak sekali. Yo cie Cong yang tertarik oleh suara tadi segera menoleh.

Matanya segera melihat pula Cin Bie Nio, si perempuan genit, dengan dikawani oleh seorang tua tinggi besar dan berwajah merah.