Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 09

Jilid 09

"Apakah ini semua adalah akibat perbuatan tuan?" "Ng"

"Apakah nama tuan yang mulia ?" "Pemilik Golok Maut."

Jawaban yang singkat itu telah membuat kagetnya setiap orang yang berdiri di tempat itu.

Si pemuda pelajar setelah merasa kaget sejenak lantas ketawa terbahak-bahak, kemudian berkata: "Selamat berjumpa. selamat berjumpa. Aku yang rendah adalah Tiancu bagian hukum dari Im- mo kauw. Namaku Kong jie yang mendapat gelar Pedang berdarah diluaran."

setelah memperkenalkan dirinya, ia menunjuk kearah dua orang tua dibelakangnya, mula2 ia menunjuk orang tua yang badannya tinggi: "saudara ini adalah Tongcu bagian penyelidik.

Namanya Lo Cu Tan yang mempunyai gelar Garuda mas sayap besi, dan saudara itu..." ia menunjuk orang tua pendek badannya, "adalah Tongcu bagian pelindung Namanya Kong-sun Pa yang bergelar iblis terbang."

Pemilik Golok Maut hanya keluarkan suara dihidung, sama sekali ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa terhadap perkataan orang.

Pemuda pelajar yang menyebut dirinya Kong Jie kembali berkata sambil ketawa:

"Kami sekalian telah mendapat perintah dari Kauwcu untuk menyambut kedatangan tuan ke perkumpulan kami."

"Lohu belum pernah bertemu muka dengan Kauwcu kalian. Apa maksudnya perlakuan semacam ini ?" menanya pemilik Golok Maut dengan suaranya yang dingin.

"Hanya tertarik oleh kepandaian tuan yang sangat tinggi, lain tidak."

"Hmmm. Ucapanmu kedengarannya sangat menarik. sayang tindakanmu terlalu kasar."

"Aku yang rendah bicara dari hal sebenarnya, juga dengan sejujurnya. Tidak mengerti apa yang tuan maksudkan dengan tindakan besar itu ?"

"Bolehkah tuan beritahukan dulu nama besar kauwcumu itu ?" "Ng. Tentang itu tuan nanti pasti akan mengetahuinya sendiri." "Lohu tidak mempunyai kegembiraan macam itu."

"Tapi kami ada membawa perintah kauwcu, yang harus mengundang tuan untuk datang keperkumpulan kami "

"Dengan hanya mengandal kekuatan beberapa gelintir manusia seperti kalian ini, apa kalian kira dapat memaksa aku si orang tua menurut kehendak kalian ?"

Kong-sun Pa yang sejak tadi berdiri disamping tidak turut bicara, lantas nyeletuk sambil pendengaran suara ketawanya yang aneh:

"Kong Tiancu, kalau terhadap seorang tetamu yang menyaru nama orang lain saja kita masih tidak mampu mengundang, bukankah itu ada merupakan satu lelucon besar, yang akan membuat tertawaan para saudara didunia Kang-ouw ?"

Pemilik Golok Maut tergerak hatinya, selagi hendak membuka mulut sudah didahului oleh tongcu bagian penyelidik, Lo Cu Tan-"Aku tak percaya ada keganjilan semacam ini " katanya.

"Tidak percaya boleh coba, empat orang yang menggeletak ditanah itu adalah contohnya " kata pemilik Golok Maut tenang.

Begitu keluar jawaban si pemilik Golok Maut itu, sepuluh orang lebih yang berada di situ dengan serentak perdengarkan suara gempar, agaknya sudah marah benar. Suasana dengan cepat berubah menjadi tegang. Tiancu bagian hukum, Kong Jie, lantas berkata sambil ketawa dingin "Sebaiknya tuan pikir masak-masak dulu kalau tidak..."

"Kalau tidak. bagaimana ?"

"Heh, heh Barangkali ada sedikit kurang enak akibatnya ".

Pemilik Golok Maut agaknya juga sudah mulai gusar, sepasang matanya memancarkan sinar aneh, berkata dengan suara keras. "Lohu sebaliknya tidak takut segala akibatnya "

"Benarkah tuan tidak mau jalan bersama-sama dengan kami ?"

"Jangan kata mau atau tidak mau, lohu memang tidak suka pergi Kalian mau apa?" "Barang kali tuan tidak dapat menuruti kehendak hati tuan sendiri "

"Omong kosong"

"Kalau begitu terpaksa kami sekalian berlaku tidak patut terhadap tuan "

Baru selesai ucapan mereka, dengan cepat sudah melancarkan serangan pedang secara beruntun sampai tiga kali.

Gerakan itu dilakukan cepat luar biasa, serangannya juga aneh. Pemilik Golok Maut agak terkejut, dengan gesit egoskan dirinya, menghindarkan tiga serangan gedang itu. Lalu membalas menyerang dengan tangan kosong. serangan itu ia gunakan dengan kekuatan tujuh bagian, tapi sudah cukup hebat dan sangat menakutkan.

Si Pedang berdarah Kong Jie miringkan badannya, kaki kirinya digeser kebalakang dan pedang ditangannya diputar secara aneh sekali, hingga kekuatan serangan pemilik Golok Maut yang sangat dahsyat itu telah dibikin punah. setelah itu, kembali secara cepat luar biasa ia melancarkan enam kali serangan-

Pemilik Golok Maut yang mendapat kenyataan bahwa pemuda pelajar ini ternyata bisa memunahkan kekuatan sampai tujuh bagian, diam juga merasa terkejut. sedang pedang panjang lawannya saat itu sudah melakukan serangannya secara bertubi2 sinar pedangnya seolah-olah meluncur dari pelbagai penjuru dan mengarah sekitar jalan darah bagian tubuhnya.

Dalam gusarnya, ia putar tangannya yang cuma tinggal satu kemudian mendorong dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam sepuluh bagian penuh, untuk menyambuti serangan pedang lawan.

Kong Jie hanya merasakan kekuatan tenaga dalam lawan yang hebat. sambaran anginnya begitu aneh, merupakan suatu kekuatan yang belum pernah ia saksikan. Pedang ditangannya sampai tidak berdaya bergerak. Dalam kagetnya, ia buru-buru lompat mundur sampai delapan kaki jauhnya.

Untung ia sangat cerdik dan keburu menyingkir, kalau tidak begitu pasti ia sudah terluka badannya oleh karena serangan tersebut.

Berbareng pada saat Kong Jie lompat menyingkir, dan pemilik Golok Maut belum menarik lagi serangannya, tiba2 dua kekuatan yang hebat telan menggempur kepala pemilik Golok Maut dari kanan dan kiri.

Ternyata Lo Cu Tan dan Kong sun Pa telah berlaku licik dan hendak menarik keuntungan selagi pihak lawannya lemah karena harus menghadapi lawannya, dengan cepat sudah lompat melesat tinggi keatas, seolah dua ekor burung garuda, mereka menggempur dari kanan dan kiri.

Mereka berdua merupakan ahli-ahli dalam melakukan serangan dari atas, dengan kepandaiannya serupa itu mereka mendapat nama dikalangan Kang-ouw, sehingga mendapatkan gelarnya Garuda mas sayap besi dan iblis terbang. satu saja diantara mereka sudah cukup untuk menghadapi orang kuat kelas satu dalam dunia Kang ouw, apa pula kini berdua mereka turun tangan secara berbarengan. Dapatlah dibayangkan betapa hebatnya serangan gabungan tersebut.

Nampaknya pemilik Golok Maut sudah tidak berdaya untuk menyingkirkan serangan tersebut, mendadak terjadi satu kegaiban . ...

Tepat pada taat kedua kekuatan yang hampir menggempur kepalanya pemilik Golok Maut bisa bertindak dengan gesit, se-olah2 sebatang anak panah, ia melesat tinggi keangkasa di tengah antara kedua kekuatan itu

sebentar lantas terdengar suara gemuruh akibat serangan kedua orang tadi yang menggempur tanah.

Sedang pemilik Golok Maut yang melesat tinggi keangkasa, kemudian dengan cara berjungkir balik di tengah udara, ia memutar balik tubuhnya, dengan demikian ia berbalik berada diatasnya kedua orang tadi.

Ia lalu ayun tangannya yang cuma tinggal sebelah, kekuatan tenaga dalam yang amat dahsyat lantas mengurung kepala kedua orang tersebut.

Lo Cu Tao dan Kong-sun pa yang biasanya menganggap ilmu mengentengi tubuhnya sudah tidak ada tandinganku, sungguh tidak nyana kalau pemilik Golok Maut ini ada jauh lebih hebat ilmu mengentengi tubuhnya dari pada mereka sendiri.

Maka ketika serangan mereka tadi mengenakan tempat kosong, mereka lantas tahu kalau gelagat tidak baik, Ke-dua2nya lantas melayang turun dengan ter gesa2. oleh karenanya mereka jadi terhindar dari serangan pembalasan yang dilancarkan oleh pemilik Golok Maut. Namun demikian, tidak urung keringat dingin sudah membasahi tubuh mereka. Tubuhnya pemilik Golok Maut juga sudah melayang turun ketanah.

orang-orangnya Im mo-kauw yang menyaksikan pertempuran itu, semua pada kesima.

Tepat pada saat tubuhnya pemilik Golok. Maut tiba ditanah, ujung pedangnya Kong Jie sudah datang mengerang lagi.

serangannya itu bahkan ada demikian hebatnya, sekejap saja sudah melancarkan tiga belas kali serangan.

Matanya sipemilik Golok Maut nampak bersinar menakutkan, ia ayun tangannya untuk menahan serangan pedang lawannya, kemudian balas menyerang tiga kali. serangan itu ternyata ada demikian hebat hingga badan Kong Jie sampai ter huyung2.

sebentar kemudian, sinar pedang dan sambaran angin saling menggempur, sehingga tanah dan batu di sekitar dua tombak sampai pada beterbangan: sembari bertempur, pemilik Golok Maut membentak dengan suara keras:

"Kong Jie, kalau kau masih tidak kenal gelagat, jangan sesalkan kalau aku si orang tua berlaku kejam dan ganas "

"Haha Tuan tidak usah omong besar. Hari ini kami sekalian telah mendapat perintah untuk mengundang tuan, biar bagaimana harus berhasil membawa tuan datang ke perkumpulan kami " jawab Kong Jie, serangannya dilakukan semakin gencar.

Pemilik Golok Maut ketawa dingin, matanya makin beringas. setelah mendesak mundur lawannya, badannya digeser mundur sedikit, tangannya ditarik dan disodorkan lagi.

Dari gerakkan yang aneh itu, telah menimbulkan suatu kekuatan tenaga dalam yang luar biasa hebatnya. sambaran angin yang amat dahsyat mendadak meluncur keluar dari tangannya.

Kong Jie terkejut, dengan kekuatan tenaga sepenuhnya ia berdaya hendak menyingkirkan serangan lawannya, siapa nyana pedang ditangannya sudah tidak mampu bergerak, diam-diam lantas mengeluh "Celaka " tapi selagi hendak menarik mundur dirinya, ternyata sudah terlambat.

suara hebat telah terdengar, dibarengi suara jeritan ngeri.

Pedang Kong Jie sudah terlepas dan tangannya, badannya terpental satu tombak lebih jauhnya.

Darah segar menyembur keluar duri mulutnya,

Kedua tongcu dan anak buah Im-mo kauw lainnya, yang jumlahnya kurang lebih sepuluh orang, semua meraba kaget. Mereka lantas pada menghunus senjata masing2, dengan berbareng menyerbu pemilik Golok Maut.

Pemilik Golok Maut kembali melancarkan serangan tangannya, kekuatan hebat menggulung orang2 yang menyerbu padanya. Karena sudah timbul napsunya membunuh, maka caranya turun tangan kali ini mungkin lebih hebat daripada yang sudah2.

Beberapa kali suara jeritan ngeri terdengar, empat orang yang menjadi sasaran pertama badannya telah terpental terbang ke-tengah udara, mulut mereka menyemburkan darah segar, kemudian badan mereka jatuh ketempat sejauh kira tiga tombak dan lantas melayang jiwanya .

Yang lainnya pada Ketakutan setengah mati, maka serangannya dengan sendirinya lantas menjadi kendor.

Pemilik Golok Maut lalu ulur tangannya, dari dalam bajunya mengeluarkan senjata keramatnya. Senjata yang berkilauan sudah berada dalam genggamannya.

"Golok Maut "

Suara seruan kaget telah terdengar riuh, orang2 itu tanpa sadar pada mundur dua tindak dengan perasaan takut yang amat sangat.

senjata aneh itu telah muncul, suatu tanda akan terjadi pembunuhan hebat dan mengerikan. Pada saat itu, hawa malam dirasakan lebih dingin. Lebih jauh sudah terdengar suara ayam berkokok. Langit disebelah Timur sudah kelihatan memancarkan cahaya kuning keemasan, menandakan hari sudah akan menjelang fajar.

Tapi dijalan raya dekat rimba lebat itu akan terjadi pembunuhan besar2an.

Lo Cu Tan dan Kong sun Pa yang sebagai tongcu dari Im mo kauw, dihadapan para anak buah Im mo kauw, sudah tentu tidak boleh menunjukkan perasaan takut.

Mereka sudah mengetahui kalau mereka tidak akan mampu menandingi, juga terpaksa harus bertindak secara nekad. Apa lagi saat itu yang menjadi korban sudah ada tujuh orang banyaknya. Maka ke dua-duanya lantas maju menghampiri pemilik Golok Maut.

Pemilik Golok Maut terus memasang matanya yang bersinar tajam, menatap wajahnya kedua orang tersebut. Kemudian ia berkata dengan suara dingin

"Kalian berdua jika masih ingin mundur dalam keadaan utuh, jawablah pertanyaan yang akan lohu sebutkan ini."

"Coba tuan sebutkan." jawab Lo Cu Tan sambil ketawa nyengir.

"Apa sebabnya perkumpulan kalian mengejar aku dan paksa aku mengunjungi perkumpulan kalian ?"

"Kami hanya berbuat sekedar menurut perintah. Maaf kami tidak dapat memberitahukan apa sebabnya."

"Benarkah kalian tak mau menjawab ?"

Pemilik Golok Maut maju tiga tindak. sehingga kedua pihak terpisahnya semakin dekat. Lo Cu Tan wajahnya berubah.

Kong sun Pa mendekati Lo Cu Tan, ia telah bersiap sedia jika kedua pihak tidak mendapat kecocokan, lantas hendak turun tangan.

Tujuh anak buah Im-mo kauw yang lainnya sambil menghunus senjata masing2 matanya ditujukan kepada ketiga orang itu. suasana makin tegang.

sementara itu, Kong Jie yang tadinya jatuh, kini sudah mengambil kembali pedangnya. Ia duduk disuatu tempat tiga tombak jauhnya dari kalangan untuk mengatur pernapasannya. Kelihatannya ia telah mendapat luka yang tidak ringan. Pemilik Golok Maut membuka mulutnya berkata pula: " Kalian mau menjawab atau tidak ?"

Matanya Lo Cu Tan seolah-seolah membara, ia menjawab dengan suara keras : "Kalau kami tidak menjawab, lalu tuan mau apa ?"

"Heh, heh... Kalian siapapun jangan harap bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup.

Dengarkan kalian ?" -

Terdengar riuh suaranya orang yang sedang berada dalam keadaan gusar.

Kong sun Pa dengan tidak banyak bicara lagi lantas mulai melancarkan serangannya.

Serangan yang dilancarkan itu dari sudut yang begitu dekatnya, apa lagi serangannya itu dilakukan secara tiba2 dengan, kekuatan tenaga sepenuhnya pula, dapatlah dibayangkan sendiri betapa hebatnya.

Pemilik Golok Maut berseru dengan suara gusar : " Kawanan tikus, kau berani ?" Ia tidak menyingkir dari serangan itu, bahkan mendesak maju.

Ia menganggap sepi serangan Kong sun Pa yang menggenggam kekuatan begitu hebat.

Lo Cu Tan juga menggunakan kesempatan tersebut, ia sudah melancarkan serangannya yang hebat. Tetapi selagi ia keluarkan tangannya melancarkan serangannya, tiba2 terdengar suara jeritan dan muncratnya darah segar.

Ternyata Kong sun Pa sudah binasa dalam keadaan tidak utuh anggota badannya, Dengan kepandaian dan kekuatan seorang seperti Kong sun Pa, ternyata juga tidak berdaya lagi buat menyingkirkan dirinya sendiri dari serangan pemilik Golok Maut, ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang sangat mengherankan sekali. Lo Cu Tan yang sudah berpikir bahwa serangannya itu jika mengenakan dengan jitu pada sasarannya, lawannya itu sekalipun tidak binasa juga tentunya akan terluka parah, siapa nyana kenyataannya jauh berbeda daripada apa yang ada dalam dugaannya .Justru merupakan kebalikannya.

Pemilik Golok Maut setelah membereskan jiwanya Kong sun Pa hanya dengan satu jurus serangannya, dengan tidak menoleh lagi, terhadap serangan yang dilancarkan oleh Lo Cu Tan yang demikian hebatnya, se-olah2 tidak menganggap apa2, badannya malah digeser maju menyambuti serangan tersebut.

Setelah terdengar suara benturan sangat hebat, Lo Cu Tan telah terbentur oleh kekuatan tenaga dalam yang tidak terlibat yang sudah dilancarkan oleh pemilik Golok Maut sehingga tangannya dirasakan hampir patah.. Ia buru2 mundur dengan terhuyung2 sampai tiga kaki, wajahnya memperlihatkan perasaan takut yang tidak terhingga.

Sedangkan anak buahnya Im mo kauw yang tadinya pada memperlihatkan sikapnya yang galak. kini terlihat semuanya berdiri gemetaran dengan mulut terbuka lebar. Kekuatan semacam ini mereka sesungguhnya belum pernah mendengar.

Pemilik Golok Maut pada saat itu baru per lahan-lahan menggeser tubuhnya dan berpaling ke arah orang2 itu lalu berkata dengan suara dingin.

"Aku siorang tua selamanya bertindak menurut perkataan yang sudah kukeluarkan. Apakah kalian mau mencari mati sendiri ?"

setelah mengucapkan perkataannya, badannya bergerak dengan cepat suara jeritan terdengar saling susul. Darah berhamburan, kaki dan tangan yang terkutung tampak beterbangan ditengah udara.

Dalam tempo sekejapan mata saja jalan raya itu sudah dibanjiri oleh darah merah dan kutungan anggota badan manusia yang berserakan disana sini. Semua orang2nya Im mo kauw yang tadinya datang hendak menolong kawannya telah habis binasa dalam keadaan tidak utuh anggota badannya dan berlubang dadanya. Keadaan demikian sesungguhnya sangat mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.

Didalam rimba pinggir jalanan saat itu kelihatan bersembunyi seseorang, Agaknya orang ini sudah dibikin bercekat hatinya oleh sepak terjang dan perbuatan ganas atau pembunuhan yang bersifat kejam itu, sehingga diam-diam berkata pada dirinya sendiri "Jika dugaanku tidak salah, dan malaikat elmaut ini benar dia adanya, aku terpaksa harus turun tangan sebelum tumbuh sayapnya Jikalau tidak demikian, rimba persilatan tidak akan aman"

Bertepatan pada saat itu Kong Jie yang tadinya sedang berduduk untuk memulihkan kekuatannya, sudah berdiri dengan per-lahan2. setelah memperlihatkan ketawanya yang menyeramkan, orangnya lantai bergerak dengan perlahan menghampiri pemilik Golok Maut.

Diantara sepuluh orang lebih orang-orang perkumpulan im-mo kauw, dia merupakan satu- satunya orang yang belum binasa.

Pemilik Golok Maut sambil menenteng golok pusakanya, matanya masih kelihatan beringas mengawasi Kong Jie yang perlahan-lahan menghampiri dirinya.

Terpisah kira-kira beberapa kaki jauhnya, Kong Jie menghentikan tindakan kakinya. Ia mengawasi bangkai kawannya yang berserakan ditanah dalam keadaan tidak utuh, kemudian berkata dengan suara bengis: "Perbuatan tuan sebetulnya sangat keterlaluan "

"Heh, heh, kau juga tidak akan terhindar dari kematian "

"Ha, ha, ha Tuan sesungguhnya terlalu tidak pandang mata pada akusi orang she Kong. Hari ini kalau aku tidak bisa mengundang tuan datang keperkumpulan kami, aku yang rendah terpaksa akan membawa pulang bangkai tuan untuk memenuhi tugasku." Pemilik Golok Maut itu tertawa bergelak-gelak, kemudian berkata: "Kong Jie, kau sedang mengimpi diwaktu tengah hari. Aku lihat kau agaknya ada sedikit sinting."

Si Pedang berdarah Kong Jie yang mempunyai kedudukan sebagai Tiancu bagian hukum dalam perkumpulan im mo kauw, sudah barang tentu bukannya sebangsa orang sembarangan. Barusan ia telah dibikin terluka oleh lawannya, itu disebabkan karena ia agak sedikit lalai, yaitu ia sudah salah menaksir kekuatan pihak lawannya. Dan sekarang, ia sudah merencanakan suatu rencana keji dalam hatinya. sudah tentu pula, lain lagi keadaannya, maka ia lantas menjawab sambil ketawa dingin:

"Kepandaian tuan ternyata lebih tinggi daripada kepandaiannya pemilik Golok Maut yang asli yang menggetarkan rimba persilatan pada beberapa bulan berselang. Tetapi perlu apa tuan menyaru orang lain buat melakukan keganasan itu?"

Pemilik Golok Maut agak terperanjat di buatnya, dengan tak terasa ia bergerak mundur satu tindak.

Ucapan si orang she Kong tadi membikin ia terkejut dan ter-heran2, tetapi setelah pikirannya tenang kembali, ia lantas berkata dengan suara dingin:

"Orang she Kong, tidak perduli tulen atau palsu, biar bagaimana kau toch sudah ditakdirkan akan binasa dalam tanganku."

Pemilik Golok Maut meskipun dimulutnya bicara dengan seenaknya, tetapi dalam hatinya masih belum habis mengerti. Biar bagai mana ia juga tidak dapat memikirkan apa sebabnya Kauwcu Im mo-kauw harus mengeluarkan perintah untuk mengejar dirinya. bahkan dapat pula memastikan kalau dia adalah orang yang menyaru sebagai pemilik Golok Maut. Ini benar-benar merupakan suatu keanehan-Mendadak Kong Jie berseru dengan suara bengis:

"Hari ini aku mau tahu, siapa sebetulnya yang akan mati dan siapa yang akan hidup terus." Sehabisnya berkata begitu pedang ditangannya dilonjorkan agak miring ujung pedang lurus kedepan- Mutiara merah yang menghiasi gagangnya pedang tiba2- kelihatan memancarkan sinar

merah yang menyusuri gagang pedang.

Sebentar saja seluruh awak pedang sudah lembah menjadi merah warnanya serta menyiarkan bau aneh.

Pemilik Golok Maut terperanjat. Kelihatannya ini adalah ilmu Kong Jie sehingga ia mendapatkan gelarnya Pedang berdarah..

Sewaktu pemilik Golok Maut menarik napas, bau yang sangat harum dan aneh itu telah tersedot tidak sedikit. seketika itu matanya dirasakan berkunang kunang dan kepalanya pusing. Kaki dan tangannya dirasakan lemas dengan mendadak, sehingga ia mengetahui gelagat tidak menguntungkan dirinya.

Tetapi belum lagi lenyap pikirannya itu, pedang ditangannya Kong Jie sudah digerakkan dan tiba2 menjadi lebih panjang tiga kaki. Bau harum yang agak amis semakin tersiar luas, maka ia lantas berkata sambil ketawa cengar cengir

"Pemilik Golok-Maut, hari ini aku suruh kau menikmati bagaimana rasanya pedang berdarah ku ini."

Belum habis ucapannya, dari ujung pedangku sudah menyemburkan hawa merah membara yang sangat hebat kelihayannya, hawa itu terus meluncur kearah tubuhnya pemilik Golok Maut.

Pemilik Golok maut hatinya tergoncang hebat, dengan cepat orangnya bergerak kesamping sejauh tiga tindak.

Kong Jie lantas memutar pedang ditangannya, sehingga hawa merah kelihatan berputaran sambil menyiarkan bau harum tercampur amis se-olah2 gumpalan jaring merah mengurung diri lawannya. Pada masa2 yang lalu, orang-orang rimba persilatan yang bisa terlolos dari serangan pedang berdarah ini jumlahnya tidak seberapa.

Pemilik Golok Maut dalam keadaan kagetnya mendadak mengeluarkan serangan Golok Maut yang sangat luar biasa. serangannya itu dilakukan cepat laksana kilat.

Tapi Kong Jie sangat cerdik. Ketika ia melihat bahwa hawa merah yang keluar dari pedangnya ternyata tidak bisa merubuhkan lawannya, diam-diam ia sudah siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Maka ketika melihat badan lawannya bergerak. ia tidak menantikan sampai lawan turun tangan sudah menarik kembali pedangnya dan lompat mundur lima kaki jauhnya, sehingga dapat terhindar dari bahaya maut.

sebetulnya pada saat itu pemilik Golok Maut sudah dibikin mabuk oleh hawa pedangnya Kong Jie tadi, cuma karena kekuatan tenaga dalamnya yang sangat hebat, ia masih bisa bertahan bahkan masih mampu pula melancarkan serangannya yang maha hebat. Tetapi kalau serangannya itu dibandingkan dengan keadaan biasanya, sudah dengan sendirinya jauh berkurang banyak kekuatannya .Jikalau tidak demikian, sekalipun Kong Jie sudah mengetahui dari siang2, juga tidak akan terhindar dari kematian-

Bagi si pemilik Golok Maut sendiri, setelah ia melancarkan serangannya, mabuknya dirasakan semakin hebat, sehingga sudah hampir saja orangnya roboh.

Kong Jie yang melihat keadaan lawannya demikian rupa lantas ketawa bergelak-gelak. Ia menggeser maju kedua kakinya, pedang merah ditangannya kembali diputar dan melancarkan serangan sekali lagi. Kali ini serangan ini ditujukan kearah jalan darah didepan dada lawannya.

Pemilik Golok Maut meskipun sudah berada dalam keadaan setengah mati, tetapi kekuatan tenaganya masih tidak boleh dianggap remeh. Ia coba menenangkan pikirannya Sedapat mungkin, kembali melancarkan serangannya dengan Golok Maut. “Sreeet..”

Suaranya yang nyaring terdengar, kedua lengan bajunya Kong Jie yang lebar telah terbeset dan terdapat lubang besar dari ujung golok didepan dadanya sehingga Kong Jie merasa kaget dan ketakutan, ia dapat menyingkirkan diri.

Tetapi pemilik Golok Maut karena hawa racun dari pedangnya Kong Jie tadi sudah masuk terlalu banyak. maka ia tidak mampu mempertahankan diri lagi dan lantas roboh menggeletak ditanah.

Jikalau tidak karena pemilik Golok Maut dalam keadaan setengah mabuk. Kong Jie sekalipun tidak sampai dibikin binasa tetapi sedikitnya juga akan terluka parah, tidak mungkin ia bisa meloloskan diri dengan begitu mudah.

Kong Jie setelah mundur jauh2, kembali maju menghampiri pemilik Golok Maut. setelah memperlihatkan ketawanya yang puas, ia lantas berkata:

"Aku si Pedang berdarah juga harus bertindak seperti apa yang telah aku katakan- Aku akan bawa pulang saja bangkaimu, tentunya lebih aman."

sehabis berkata, ia menggerakkan ujung pedangnya, kembali hendak menyerang.

Pada saat yang sangat membahayakan jiwanya Pemilik Golok Maut, tangan Kong Jie yang memegang pedang dirasakan seperti terpagut oleh semacam binatang yang begitu sakit terasanya, dan kekuatannya lantas hilang lenyap sama sekali dan pedangnya juga hampir saja terlepas dari tangannya.

Ketika ia memeriksa dengan seksama, di pergelangan tangannya telah tertancap sebatang duri pohon cemara yang menancap didagingnya kira2 setengah dim. Pada saat itu sudah terang tanah.

Kong Jie coba melihat keadaan disekitarnya, tetapi la tidak dapat melihat bayangan seorangpun juga .

Ia coba memikir- mikir, orang yang menyerang dia dengan duri pohon cemara ini kecuali sembunyikan dirinya didalam rimba pohon cemara yang lebat itu, sudah tidak ada tempat yang lebih baik lagi untuk sembunyikan dirinya. Tetapi rimba tersebut terpisah dari tempat berdirinya sedikitnya ada lima tombak jauh nya.

Kalau mau dikata dari jarak sekianjauhnya orang bisa menggunakan senjata yang begitu ringan untuk menyerang lawannya tanpa bersuara, maka kepandaian orang itu sesungguhnya sangatlah mengejutkan sekali.

Oleh karenanya, maka ia lantas berseru ke arah rimba lebat itu: "orang pandai dari mana? Kau tidak memandang mata kepada aku seorang she Kong, perlu apa harus main sembunyi- sembunyian? "

Siapa nyana, perkataannya itu tidak ada yang menjawab

Kong Jie menjadi uring2an sendiri, tetapi kemudian ia berpikir pula: "Perduli apa. Lebih baik bereskan jiwanya orang ini lebih dulu "

Pedang panjangnya yang sudah berwarna merah dengan cepat sudah terayun ke arah tubuhnya pemilik Golok Maut yang dalam keadaan mabuk.

Malaikat elmaut yang menggetarkan dunia rimba persilatan itu hampir saja jiwanya melayang diujung pedang Kong Jie si Pedang berdarah.

Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu tiba-tiba ada suatu kekuatan hebat yang tidak kelihatan meluncur dari samping.

Kekuatan yang hebat itu telah membentur pedangnya Kong Jie sehingga miring dan hampir terlepas dari tangannya.

Kong Jie yang biasanya kejam dan ganas, kali ini juga merasa terkejut dan rasa takut terlintas dalam otaknya

Ia yakin orang yang turun tangan secara diam-diam itu ada mempunyai kepandaian jauh lebih tinggi dari padanya sendiri

Ketika ia memandang keadaan disekitarnya ternyata ia tidak dapatkan gerakan apa2?. Ia yang mempunyai kedudukan tinggi dalam perkumpulan Im- mo- kauw, ditambah lagi dengan adatnya yang sombong, sudah tentu tidak mau sudah begitu saja.

Selagi hendak mengeluarkan perkataan untuk memancing keluar orang yang menyerang dua kali kepadanya tadi, tiba2 didalam rimba itu terdengar suara orang ketawa dingin. suara itu mengandung ejekan yang sangat hebat

Kong Jie lalu menghadap kearah datangnya suara tadi dan berkata dengan suara nyaring: "Sahabat, aku si orang she Kong hari ini bisa menjumpai seorang berkepandaian tinggi, sudah

merasa sangat beruntung. Tetapi karena tuan tidak mau unjukkan muka, aku yang rendah terpaksa hendak menghampiri kau sendiri"

Baru saja perkataan terakhir keluar dari mulutnya, orangnya sudah melesat kedalam rimba.

Tetapi aneh bin ajaib. Dalam rimba itu tampak kosong melompong. satu bayangan manusiapun tidak kelihatan.

Kong Jie dengan cepat bergerak memutar kedalam rimba sejauh seratus tombak, tetapi ketika ia keluar dari dalam rimba seketika lantas berdiri melongo.

Karena pemilik Golok Maut yang tadinya menggeletak ditanah kini sudah menghilang dengan tidak meninggalkan jejak.

Ini sesungguhnya merupakan suatu pengalaman pahit bagi Kong Jie. Karena setelah ribut2 sekian lama, jangankan ketemu orangnya, bayangannya saja belum mampu dilihatnya, dan kini tahu-tahu sudah menghilang lagi dari depan hidungnya.

setelah pemilik Golok Maut dibawa pergi oleh orang yang penuh rahasia itu, tidak antara lama disitu kembali muncul serombongan orang2 rimba persilatan- Diantaranya kebanyakan adalah orang2 Pek-leng-hwee, Cie in-pang dan Ban siu pang. Tetapi apa yang disaksikan oleh mereka hanyalah keadaan yang sangat mengerikan. Potongan anggota badan manusia, bangkai yang berserakan disana sini dan darah merah yang membanjiri tanah.

Di suatu tempat pegunungan terpisah kira-kira lima lie jauhnya dari tempat terjadinya peristiwa yang mengerikan itu, ada terlihat sesosok bayangan orang yang sedang menggendong seorang orang tua berambut cputih. se-olah-olah seekor kampret terbang saja layaknya orang ini lari dengan sangat pesatnya.

Sebentar kemudian bayangan orang itu kelihata berhenti di sebuah bukit curam.

Bukit itu keadaannya tinggi sekali. Mungkin monyet saja masih susah mencapai puncaknya. Boleh juga dikatakan tempat tersebut merupakan suatu tempat yang jarang diinjak oleh kaki manusia.

Bayangan orang itu memakai kedok kain merah, sehingga tidak dapat dilihat wajahnya dan tak dapat ditebak umurnya. siapa dia ?

Dia adalah orang penuh rahasia berkedok kain merah yang menyebut dirinya sebagai pemilik bendera burung laut. Dengan kepandaiannya yang tinggi sudah ada taranya, ia telah menolong dirinya pemilik Golok Maut dan membawanya ke suatu tempat yang sangat berbahaya serta jarang diinjak oleh manusia ini.

orang berkedok kain merah itu setelah meletakkan dirinya orang tua dalam gendongannya diatas sebuah batu cadas, kemudian memeriksa dengan sangat teliti, mendadak lantas ketawa ber-gelak2:

"Benar seperti apa yang kuduga, itu adalah dia..."

Dengan tangannya ia lantas mengebut ke mukanya pemilik Golok Maut. Terlihatlah suatu kejadian gaib.

Dengan hanya kebutan itu saja pemilik Golok Maut tang tadinya merupakan seorang tua berambut putih, kini telah berubah menjadi seorang muda yang berwajah cakap dan tampan.

Golok Maut Karya : OPA

Terharunya orang berkedok kain merah

Anak muda itu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Pemilik Golok Maut yang menggetarkan seluruh rimba persilatan ternyata adalah seorang pemuda cakap tampan yang usianya belum lebih dari dua puluh tahun, ini benar2 merupakan suatu hal yang sangat aneh.

Orang berkedok kain merah itu badannya kelihatan bergemetar, nampaknya hatinya telah terguncang hebat. setelah berpikir sekian lamanya, ia lalu mengulurkan jarinya dan hendak menotok jalan darah kematian di badan pemuda tersebut.

Ia bermaksud hendak membunuh pemuda yang ganas menakutkan itu, maksudnya buat menolong orang2 rimba persilatan supaya terhindar dari bencana di kemudian hari.

Tetapi pada saat jari tangannya itu hendak meluncur turun, orang berkedok kain merah itu menghela napas. Ia mengurungkan maksudnya, agaknya merasa tidak tega buat turun tangan-

Sebab anak muda masih merupakan satu pemuda yang usianya masih belum cukup dua puluh tahun-

Selain daripada itu, ada sesuatu perasaan yang sulit dikeluarkan, membuat orang berkedok kain merah ini tidak bisa turun tangan. Justru oleh karena itulah pemilik Golok Maut dapat terluput dari bahaya maut, dan orang berkedok kain merah yang merupakan manusia gaib pada masa itu juga terhindar dari kesalahan terbesar yang hampir saja dilakukannya.

Orang berkedok kain merah itu setelah bersangsi sejenak, lalu berkata kepada dirinya sendiri: "Bocah ini karena mendapat karunia Tuhan sehingga merupakan suatu bibit luar biasa yang sukar dicari selama ratusan tahun dalam rimba persilatan. Ditambah lagi dengan penemuannya yang serba ajaib, sekarang ia telah mempunyai kekuatan yang sudah menyerupai orang kuat yang mempunyai latihan hampir seratus tahun Jikalau kepandaiannya itu digunakan pada jalan yang benar, sudah tentu akan menguntungkan dunia rimba persilatan. Tetapi jikalau digunakan pada tempat yang tidak benar, rimba persilatan tentunya akan mengalami pembunuhan besar2an yang tidak ada taranya. Hah. seorang yang diluarnya begini tampan dan cakap, tidak tahunya hatinya begitu ganas dan kejam. Yah, lebih baik aku tolong hidupkan jiwanya dulu untuk menanyakan sebab2nya Jika ia memang bersifat binatang, terpaksa harus kubereskan menurut maksudku semula."

Setelah berpikir demikian, ia lantas berjongkok. tangan kanannya menempel di tempat jalan darah Beng bun hiat. Dua jari tangan kirinya lantas menotok sekujur jalan darah di badannya pemuda itu.

Orang berkedok kain merah itu hendak menggunakan ilmunya yang tinggi sekali untuk mengeluarkan racun pedangnya Kong Jie dari dalam tubuhnya si pemuda.

Ketika tangannya sampai di dada orang, mendadak ia telah menyentuh sebuah benda. Cepat ia mengeluarkan dan melihat benda tersebut, seketika itu matanya gelap berkunang-kunang, hampir saja ia jatuh rubuh. Ia se-olah2 merasakan seperti disambar geledek. sekujur badannya bergemetaran.

BAB 22

ORANG berkedok kain merah itu seperti orang yang tengah mengigau layaknya, mulutnya terus menyebut: " Liong- kuat? oh dosa " Badannya perlahan-lahan berdiri, ia lalu mengangkat kepalanya, matanya mendongak mengawasi langit.

Mungkin ia sedang mengenangkan semua apa yang telah terjadi di masa yang lampau, ia agaknya hendak mencari apa2 yang sudah berantakan. Lama sekali, matanya kembali menatap wajahnya si anak muda. sebutir air mata, menetes turun melalui lubang dikedoknya.

Selanjutnya, air mata mengalir tak dapat ditahan dan akhirnya membasahi kain merah yang menutupi wajahnya.

Orang berkedok itu setelah terharu sekian lama, perlahan-lahan pikirannya tenang kembali. Ia berjongkok. dengan tangannya ia mengusap-usap wajahnya si anak muda.

Seolah-olah lakunya seorang ayah, dengan penuh welas asih meng-usap2 anaknya, Mulutnya berkata sendiri dengan suara sedih:

"Yo Cie Cong? Dia Yo Cie Cong? Kenapa bisa begitu? Dia tidak seharusnya memakai she Yo"

Pemuda itu memang betul adalah Yo Cie Cong, yang asal usulnya sangat mengenaskan danpada dirinya ada menanggung beban harus melaksanakan penuntutan balas dendam sakit hati untuk suhunya.

Dimasa anak2 Yo Cie Cong pernah bercampur dengan kawanan pengemis dan dari seorang pengemis luar biasa ia telah dapat mempelajari ilmu mengganti rupa atau apa yang disebut make- up pada masa sekarang. Dengan kepandaiannya itu ia bisa menyaru dan merubah dirinya menjadi Yo Cie Hoan, suhunya atau pangcu Kam lo pang

Rupa-rupa kegaiban telah menimpa dirinya silih berganti, pertama dengan secara kebetulan telah menelan mustika Gu liong kao, dan kemudian dapat makan telur burung rajawali raksasa, sehingga menjadikan ia seorang yang kuat seperti sudah mempunyai latihan seratus tahun lamanya. Kemudian dengan secara kebetulan pula ia berjumpa dengan dua manusia aneh rimba persilatan Pak hong Pho ngoa hwesio atau si hwesio gila dan Lam tie Kun siu atau pengail linglung, yang telah menurunkan masing2 ilmu silat mereka yang luar biasa, hingga membuat ia dalam waktu yang singkat berubah seperti orang lain, bukan lagi Yo Cie Cong.

Dengan bekal kepandaian yang didapatkan secara tak terduga2 itu Yo Cie Cong hendak memulai melaksanakan tugasnya untuk menuntut balas. Pemimpin besar delapan belas perusahaan piauw di daerah Kui-lim Ceng Ceng lt yang mempunyai gelar lutung sakti lengan besi, ada merupakan korban kedua yang binasa di tangannya diantara musuh2nya Kam-lo-pang.

sekarang mari kita balik lagi kepada orang aneh berkedok kain merah itu, Setelah pikirannya tenang kembali, lalu melanjutkan lagi usahanya untuk mengeluarkan racun yang mengeram dalam badan Yo Cie Cong.

Kira2 setengah jam lamanya Yo Cie Ceng perlahan2 mulai siuman.

Ketika membuka matanya, pertama2 yang dilihat olehnya adalah warna merah dari kedok orang yang sangat menyolok.

Peristiwa berdarah diatas jalan raya antara Kui-lim dan Ho-lam, dengan cepat terbayang kembali dalam otaknya. Ia lalu merasa bahwa untuk kedua kalinya ia telah ditolong oleh orang berkedok kain merah ini, maka dengan cepat ia lantai berbangkit.

Begitu ia berdiri, ia telah menjadi kesima, karena pada saat itu ia ternyata berdiri diatas batu cadas dipuncak sebuah gunung yang tinggi. orang berkedok itu masih tetap berduduk tanpa bersuara. "Lohu "

Baru saja mengeluarkan perkataan "lohu" Yo Cie Cong telah dapat lihat rambut dan jengot palsunya berserakan dibawah kakinya.

Ia tahu bahwa kedoknya sudah terbuka muka wajahnya merah seketika. Dengan suara merendah ia lantas berkata:

"Boanpwe kembali telah tertolong oleh locianpwe, dengan ini boanpwe ucapkan banyak-banyak terima kasih "

Orang berkedok kain merah itu mengawasi Yo Cie Cong sejenak. baru berkata:

"Anak. mengapa kau melakukan pembunuhan dengan menyaru sebagai pemilik Golok Maut?" "Menyaru ?"

Diwajahnya Yo Cie Cong yang kecut dingin, nampaknya sangat gusar. Ia sedang memikir, apakah ia harus menceritakan hal yang sebenarnya ? setelah berpikir sekian lamanya, ia tahu bahwa rahasianya tidak dapat ditutup lagi, maka lalu katanya: "Boanpwe sama sekali tidak menyaru sebagai orang lain-"

"Yo Cin Hoan- pangcu dari Kam lo-pang sudah binasa pada 20 tahun berselang, sekarang kau telah muncul didunia Kang-ouw dengan wajahnya orang itu ?"

"Pangcu dari Kam lopang itu adalah suhu boanpwe." "Hmm Tahun ini kau umur berapa ?"

"Kira2 diantara 17 atau 18 tahun-"

"Pangcu Kam lopang sudah binasa pada 20 tahun berselang, apakah orang yang sudah mati bisa menerima murid?"

"Suhu boanpwe binasa pada dua bulan berselang." "Apa ? Dua bulan berselang "

"Ya. Beliau telah dibikin celaka untuk ke dua kalinya oleh musuhnya dan binasa pada dua bulan berselang."

Orang berkedok kain merah itu semakin heran, ia agaknya tidak mengerti apa yang di katakan oleh Yo Cie Cong.

"Kedua kali ?"

"Ya. Dua puluh tahun berselang, ketika pusat perkumpulan Kam-lopang dihancurkan, orang- orang Kam-lo-pang telah berkorban semua. suhu boanpwe badannya terluka parah, lengan kirinya terpapas kutung, pingsan dalam tumpukan bangkai manusia. Kebetulan telah di ketemukan oleh seorang tabib kenamaan Gouw Cee Jin, yang sedang mencari obat2an di gunung Bu leng-san.

Berkat pertolongan tabib itu akhirnya beliau tidak jadi binasa. selain daripada suhu sendiri, masih ada lagi dua pahlawan Kam lopang yang tidak turut binasa. satu adalah tongcu bagian hukum bernama Cek Kun yang sudah kutung kedua lengannya, satu lagi adalah tongcu bagian pelindung ciu Lip Toang sudah dibikin kutung kedua, pahanya." "Cek Kun didalam kalangan Kang ouw ada sangat terkenal dengan ilmu mengentengi tubuhnya " kata si orang aneh.

"Ucapan cianpwe ini memang benar. Suhu boanpwe dengan mereka jadi berjumlah tiga orang, telah sembunyikan diri didalam satu goa digunang Bu leng san. Hidup dalam terasing sampai 20 tahun lamanya, mereka telah bertekad hendak menuntut balas atas sakit hati mereka."

"Dan bagaimana kemudian mendapat celaka?"

"Untuk suatu maksudnya hendak menuntut batas, suhu telah membuat senjata istimewa kemudian terkenal dengan nama Golok Maut. Disamping itu juga sudah menciptakan satu tipu silat istimewa yang cuma terdiri dari satu jurus saja. Beberapa bulan berselang suhu telah muncul didunia Kang- ouw untuk mencari musuh-musuhnya yang lama dan hendak menuntut balas dendam kepada mereka. Sayang tindakannya kurang hati sampai jejaknya dapat dibaui orang, salah satu musuhnya mengikuti sampai ditempat sembunyi suhu. Begitulah suhu, dan kedua susiok Cek Kun dan Ciu Lip To bertiga telah dibunuh mati olehnya semua. boanpwe sendiri pada saat itu kebetulan baru keluar mencari bahan makanan, jadi bisa terhindar dari malapetaka."

Bicara sampai disitu, suaranya sudah kedengaran sedih sekali, air matanya mengambang keluar. sebentar kemudian, kembali terlhat tegas perasaan gemasnya. orang berkedok itu agaknya juga merasa terharu mendengar penuturan itu

"Kalau begitu, tujuh kali pembunuhan yang dilakukan dengan Golok Maut adalah perbuatan suhumu setelah muncul lagi didunia Kang-ouw ? sedang pembunuhan yang paling belakang ini barulah kau yang melakukannya dengan jalan menyaru "

"Ketika suhu muncul lagi didunia Kangouw untuk menuntut balas sakit hatinya, baru berhasil membunuh enam musuhnya lantas menemukan ajalnya. Pembunuhan ke 7 dan ke 8 adalah boanpwe yang melakukan, sebagai kelanjutan untuk melaksanakan maksud suhu."

Bicara sampai disitu, Yo Cie Cong tiba-tiba seperti ingat satu hal, maka ia lantas menanya: "Nona Tio Lee Tin yang mempunyai gelar Burung Hong hitam apakah adalah muridnya cianpwe

?"

"Benar "

"Nona Tio pernah berkata hendak mencari pemilik Golok Maut untuk menuntut balas atas

kematian ayahnya, dan sekarang keadaan sudah menjadi terang, bagaimana lo cianpwe hendak menyelesaikan soal ini?"

Orang berkedok itu tampak berpikir sejenak. lalu menjawab:

"Tin-jie hendak melakukan penuntutan balas sakit hati atas kematian ayahnya, itu memang selayaknya bagi seorang anak. Tapi ayahnya Tio Ek Chiu dulu juga pernah turut ambil bagian dalam perbuatan menumpas Kam lo-pang, maka kematiannya itu juga ada akibat atas perbuatannya sendiri. Harap kau suka ambil perhatian sedikit atas dirinya, aku pasti akan berdaya untuk menghapuskan tali permusuhan ini "

Yo cie Cong mendengar keterangan orang berkedok yang tegas dan tidak berat sebelah, dalam hati merasa sangat kagum, maka lantas berkata dengan suara sungguh-sungguh:

"Ucapan locianpwe ini sesungguhnya tidak berat sebelah, boanpwe pasti akan mentaati perintah locianpwe."

"Anak, apa kau she Yo ? Maafkan kalau aku ada sedikit bawel. bolehkah kau menceritakan sedikit asal usul dirimu ?"

Yo Cie Cong merasa heran, ia tidak tahu apa maksud orang aneh ini.

Tetapi ketika matanya menatap sinar mata orang berkedok yang terlihat dari kedua lubangnya, nampaknya sinar mata itu ada mengandung perhatian besar atas dirinya, maka seketika itu ia lantas terdiam. sinar mata orang itu agaknya mempunyai daya penarik yang begitu kuat, sampai ia tidak berdaya menentang kehendaknya. Yo Cie Cong sebetulnya ada seorang pemuda yang beradat tnggi tapi saat itu ia telah berubah menjadi seorang yang jinak sekali.

Penderitaan hidupnya dimasa anak-anak. merupakan suatu kenangan yang pahit. Asal usul dirinya yang tidak diketahui, merupakan tekanan batin yang tidak mudah dihapus. Maka tatkala ditanya tentang asal usul hidupnya, untuk sesaat lamanya ia seperti diombang-ambingkan oleh gelombang kedukaan. setelah menghela napas panjang, ia baru berkata:

"Boanpwe sebetulnya ada satu anak piatu, atau lebih mirip kalau dikatakan anak buangan. ssjak boanpwe bisa mengingat, boanpwe sudah merupakan satu anak piatu yang hidup seorang diri saja. Tidak mempunyai nama, tidak mempunyai she, juga tidak mempunyai sanak dan kadang, boanpwe seolah-olah dijelmakan didalam dunia ini seorang saja tanpa mengenal ibu bapaknya."

Ucapan Yo cie Cong ini se-olah2 sebilah belati tajam menusuk ulu hati orang berkedok itu, ia merasa hatinya seperti telah terluka dan mengalirkan darah. Badannya kembali gemetaran

Yo Cie Cong dengan air mata ber-linang2 melanjutkan penuturannya :

"Lima tahun berselang, boanpwe telah dipungut oleh suhu, ialah ketua Kam-lopang, Yo Cin Hoan. suhu telah memberi pelajaran pada boanpwe ilmu silat dan pandang boanpwe sebagai anaknya sendiri, maka suhu adalah merupakan satu-satunya anggota keluarga buat boanpwe, dan oleh karena itu boanpwe lantas mengikuti shenya suhu."

Saat itu agaknya terbayang pula peristiwa mengenaskan digoa gunung Bu leng san, kematian suhunya dan kedua susioknya yang menggeletak diantara lautan darah.

Maka matanya lantas tampak beringas, suaranya mengandung kebencian hebat.

"kawanan iblis itu," katanya meneruskan kembali "sudah merenggutkan jiwa suhu dan susiok yang merupakan satu-satunya keluarga terdekat dengan boanpwe."

Tangannya dikepal keras, matanya memandang kelangit, ia berkata kepada dirinya sendiri dengan nada penuh rasa duka dan gemas yang meluap-luap: "Bunuh Bunuh Aku akan bunuh habis itu semua kawanan iblis yang tidak mempunyai hati perikemanusiaan." orang berkedok itu agaknya sudah terbenam dalam lamunannya yang menyedihkan, ia sesungguhnya sudah kepingin sekali merangkul anak muda dihadapannya untuk menjelaskan segala-galanya, tetapi ia paksa menindas keinginan hatinya itu. Dengan demikian, ia seolah-olah membunuh perasaannya sendiri

Bertahun-tahun lamanya ia selalu mengharapkan akan tibanya keganjilan dalam hidupnya, tetapi ketika keganjilan itu datang dalam bentuk kenyataan, ia tidak berani menghadapinya, ia kini malah rela hendak memikul penderitaan seorang diri saja.

Dulu karena kesalahan bertindak. telah membuat ia mengalami penderitaan untuk seumur hidupnya.

Jikalau ia kini menceritakan lagi semua apa yang telah terjadi, tentu akan menimbulkan akibat yang menakutkan.

Ia memandang wajah pemuda tampan di depan matanya, didalam penderitaan bathinnya seolah sudah mendapat suatu hiburan.

Ia takut kalau nada dari perkataannya bisa menimbulkan curiga bagi Yo Cie Cong, maka ia tidak berani buka mulut. Tapi air matanya kembali mengalir keluar membasahi kain kedoknya.

Kedua orang itu masing-masing terbenam dalam alam pikirannya sendiri-sendiri Keheningan berlangsung terus sekian lamanya.

Yo cie Cong kembali membuka suaranya memecahkan kesunyian: "Boanpwe ada suatu permintaan yang tidak layak."

Orang berkedok itu agaknya tersadar dari lamunannya setelah menyahut "oh..." ia lantas balas menanya :

"Anak, kau ada permintaan apa ?"

"Tentang rahasia diri boanpwe ini harap locianpwe pegang teguh dulu." "Boleh." "Perkumpulan Im-mo-kauw mengapa memerintahkan orang untuk mengejar boanpwe? Bahkan telah memastikan bahwa boaupwe bukan pemilik Golok Maut aslinya, adakah locianpwe tahu sebab musababnya ?"

"Soal ini ada merupakan suatu teka-teki besar, terpaksa harus diselidiki dengan perlahan-" "Entah ilmu apa yang digunakan oleh si Pedang berdarah Kong Jie, boanpwe cuma merasa

setelah mengendus bau harum, lantas..."

"Pedang berdarah yang digunakan oleh Kong Jie, adalah benda pusaka peninggalan jaman peperangan. Pedang itu dulunya ada pedangnya mo-cun cia, entah bagaimana bisa terjatuh kedalam tangannya..."

Orang berkedok itu bicara sampai disitu, seolah ingat sesuatu maka setelah berhenti sejenak lalu berkata pula:

"Kehebatan pedang itu terletak pada biji mata mutiara merah darah yang ada digagang pedang. Mutiara merah itu bisa mengeluarkan kabut harum orang yang dibikin mabuk oleh kabut harum itu, harus memerlukan waktu dua hari dua malam lamanya baru bisa mendusin. orang yang memegang pedang, dengan kekuatan tenaga dalamnya, dari tangan yang memegang pedang mendesak keluar kabut merah dari dalam mutiara itu keluar pedang .Buat orang yang mempunyai kepandaian sudah tinggi sekali, bisa memancarkan sinarnya pedang sampai lima kaki jauhnya, ditambah lagi dengan awak pedang dan tangannya sendiri yang panjang, serangannya itu dapat melukai sejarak satu tombak lebih jauhnya."

Yo Cie Cong agaknya sangat ketarik oleh keterangan itu, ia semakin kagum terhadap orang berkedok ini yang ternyata memiliki pengetahuan sangat luas dalam rimba persilatan dan segala rupa senjata.

"Apakah sudah tidak ada benda lainnya yang digunakan untuk menundukkan pedang itu?" "Ada Cuma sulit sekali "

"Bagaimana sulitnya ? Boanpwe ingin tahu penjelasannya."

"Kalau bisa melatih ilmu kekuatan tenaga hawa serupa 'cao khie' dan sebagainya, diwaktu menghadapi musuh yang mempunyai senjata demikian, harus dengan menggunakan ilmu 'Cao khie'nya untuk melindungi sekujur badannya, dan mencegah tersentuhnya sinar pedang dan kabut merah yarg tidak kelihatan itu, kemudaan dengan kekuatan tenaga tangan yang sangat tinggi, dikeluarkan serangan secara beruntun, supaya lawan itu tidak berdaya memusatkan kekuatan tenaga dalamnya ketangan yang memegang pedang. Dengan demikian, maka kabut harum dari mutiara itu dengan sendirinya juga tidak bisa dikeluarkan. Tapi orang yang melatih ilmu beginian, selama seratus tahun ini belum pernah ada orang dengar." Yo Cie Cong setelah mendengar keterangan tersebut, diam-diam merasa malu sendiri.

Dari si Pengail linglung dipulau Batu hitam di Lam hay, ia telah dapatkan pelayaran ilmu Kian goan cin cao, yang juga termasuk ilmu Cao khie. sebab tidak mengerti untuk menghadapi musuh yang bagaimana ilmu demikian itu, maka ia tidak pernah gunakan ilmu itu.

Hampir saja ia kehilangan jiwanya .

Dalam hatinya berpikir, tapi mulutnya tidak mengatakan apa-apa. sedang orang berkedok kain merah itu beberapa kali hendak menceritakan rahasia dalam hatinya, tapi perkataannya yang baru sampai dimulut lantas ditelan kembali, ia masih kuatir akibatnya yang sangat menakutkan-

Setelah pikirannya berputar sekian lama, ia telah mengambil keputusan hendak membiarkan kejadian mengenaskan dimasa yang sudah lampau itu terus tertanam dalam lubuk hatinya. setelah menghela napas dalam, ia baru berkata dengan suara agak gemetar: "Anak Kita sudah waktunya untuk berpisah"

Yo Cie Cong cuma bisa anggukkan kepalanya.

"Anak. jikalau kau tak menolak. aku ingin menurunkan pelajaran tipu silat. maukah kau?"

Yo Cie Cong tiba-tiba ingat dirinya si hweshlo gila, pengail linglung yang masing-masing telah menurunkan pelajaran tipu silat istimewa padanya, maksudnya ialah suruh ia mewakili kedua orang aneh itu untuk memenuhi janji dalam pertandingan dengan muridnya orang aneh dalam rimba persilatan Leng Jie Hong.

Dan sekarang orang berkedok ini kembali hendak menurunkan pelajaran silat padanya, entah suruh ia melakukan pekerjaan apa lagi? Maka ia lantas menjawab:

"Cianpwe pernah melepas budi dengan menolong jiwa boanpwe sampai dua kali, jika ada urusan apa-apa yang memerlukan tenaga dari boanpwe..."

"Eh anak, perkataanku ini apa maksudnya ?"

"Perkataan Boanpwe ada keluar dari hati yang sejujurnya."

"Haha Apa kau kira aku menurunkan pelajaran silat kepadamu ada memerlukan bayaran?" Yo cie Cong merasa jengah sendiri, ia tadi memang berpikir demikian-

Berkata pula orang berkedok itu:

"Aku menurunkan pelajaran ilmu silat padamu cuma ingin meninggalkan satu peringatan atau kenangan antara aku dengan kau "

"Meninggalkan satu peringatan ?"

"Ya, anak sekarang barangkali kau masih tidak mengerti maksudku ini, tapi ada satu hari kau nanti pasti akan mengerti sendiri "

Yo cie Cong bingung. ia tidak mengerti apa maksud perkataan orang berkedok ini yang hendak meninggalkan satu peringatan baginya. Namun ia juga tidak mau pikir terlalu dalam. Ia hanya menjawab sekenanya.

Jikalau pada saat itu, Yo Cie Cong mau memperhatikan kelakuan yang luar biasa dari orang berkedok itu kepada dirinya dan menanyakan sebabnya, mungkin ia dapat memecahkan rahasia mengenai dirinya. Tapi sayang ia tidak berbuat demikian.

orang berkedok itu kini mulai dengan pelajarannya dengan hafalan dan prakteknya, supaya Yo Cie Cong faham benar-benar.

Yo Cie Cong ada satu anak cerdik luar biasa, ditambah dengan kegaiban yang ia alami membuat ia mempunyai kekuatan otak yang luar biasa. Maka untuk mempelajari segala ilmu silat. sekejapan saja sudah matang betul.

"Anak, tipu silat ini, adalah hasil ciptaanku sendiri yang menggunakan tenaga dan jerih payah selama hidupku. Tipu silat ini aku namakan 'Menggeser tubuh menukar bayangan' bagi orang Kangouw biasa saja, nanti akan kau bikin bingung oleh tipu silat ini"

Yo Cie Cong saat itu perhatiannya sudah tertarik benar oleh tipu silat yang aneh luar biasa ini. ia makin lama memikirkan makin merasa kegaibannya tipu silat ini. Benar2 seperti ilmu setan menghilang.

Justru ilmu silat itulah yang digunakan oleh si orang berkedok untuk menolong jiwanya pemilik Golok Maut yang kemudian diketahuinya ada dirinya Yo Cie Cong yang menyaru, dari ancaman pedang Kong Jie.

Dengan kepandaiannya dan kekuatannya seperti Kong Jie, ternyata masih tidak tahu bayangannya orang yang menolong jiwa korbannya.

Maksud dan tujuannya orang berkedok itu menolong dirinya pemilik Golok Maut dan kemudian dibawa ke puncaknya gunung, ialah karena mencurigai Yo Cie Cong yang menyaru dan menggunakan nama pemilik Golok Maut untuk melakukan kejahatan, perbuatannya itu agak terlalu ganas, maka ia pikir hendak menyingkirkan dirinya. siapa nyana kenyataannya tidak demikian- Disatu fihak ia merasa simpatik atas perbuatannya anak muda itu, dilain fihak. ia sesungguhnya tidak nyana bahwa anak muda berwajah dan bersikap dingin kaku ini, ternyata merupakan bayangan yang melekat dalam hatinya selama 18 tahun lebih lamanya.

Ia tidak mempunyai keberanian menceritakan semua kejadian yang menyedihkan pada masa yang lampau kepada anak muda itu, ia rela menanggung sendiri itu segala kesedihan untuk selama nya. Ia sungguh tidak memikirkan bahwa dengan berlaku demikian, hampir saja ia melakukan suatu kesalahan besar.

Yo cie Cong dengan sikapnya yang menghormat sekali menyoja kepada orang berkedok merah itu, berkata:

"Boanpwee mengucapkan banyak terima kasih atas budi Locianpwee yang telah memberikan pelajaran kepada Boanpwee ini "

"Anak. kau tak usah mengucapkan terima kasih, semua ini lantaran jodoh, jodoh " "Kalau cianpwee sudah tidak ada lain urusan apa-apa lagi, Boanpwe ingin minta diri " "Baiklah, anak. didalam dunia ini memang tak ada perjamuan yang tidak bubaran " Ucapan orang berkedok kain merah itu kedengarannya sangat memilukan hati.

Yo Cie Cong bercekat. Dalam hatinya diam-diam berpikir, bagaimana orang kuat dalam rimba persilatan yang merupakan seorang sangat misterius ini mendadak bisa berubah seperti lakunya kaum hawa yang berhati lemah?

"Cianpwee, sebagai orang Kang ouw yang merantau, kita pasti bisa bertemu lagi"

"Ya, anak, pergilah Harap kau bisa bawa dirimu baik-baik, kecuali untuk membalas dendam, paling baik jangan terlalu banyak melakukan pembunuhan terhadap jiwanya orang yang tidak berdosa, agar tidak berdosa kepada Tuhan"

"Boanpwee akan ingat pesan cianpwee ini " Kedua orang itu lantas berpisahan dan meninggalkan tempatang berbahaya itu.

Tiga hari kemudian.

Pemilik Golok Maut yang sangat misterius dan menakutkan telah muncul dikota Tiang-soa.

Kali ini, dalam waktu tiga hari saja sudah tiga orang kuat yang namanya cukup terkenal, telah binasa dibawah cincangannya golok Maut.

Yang pertama adalah Gouw Leng Lam yang mempunyai gelar Cit cie seng-kiam atau dewa pedang jari tujuh.

Yang kedua adalah see bun cun Tek. yang mempunyai gelar Burung belibis. Ia adalah pemirnpin kawanan bajak laut yang sering melakukan operasinya didaerah pengairan telaga Tong teng. Tempat dimana ia menemukan ajalnya ialah didalam salah satu kamar rumah penginapan yang paling mewah dikota Tiang-soa.

Yang ketiga adalah Lie Bu shia, yang mempunyai gelar Kiu-thian Hui-peng atau Burung rajawali terbang.

Sejak munculnya Golok Maut didunia Kangouw sehingga pada saat itu, sudah ada 11 orang kuat yang terkenal namanya baik di kalangan hitam maupun putih yang menjadi korban, tidak ada satu yang memberi perlawanan.

Maka, kota Tiang-soa dalam waktu beberapa hari saja sudah menjadi pusat perhatiannya orang2 dunia Kang-ouw. Peristiwa ini sangat menggemparkan, lebih menggemparkan daripada yang sudah-sudah.

Dalam waktu tiga hari mengambil tiga korban jiwa manusia kuat, suatu perbuatan yang mengejutkan.

Orang-orang dunia Kang-ouw dari pelbagai tempat berduyun-duyun menuju kekota Tiang-soa, mereka mengharap bisa melihat wajah aslinya pemilik Golok Maut yang sangat kejam dan ganas itu, tapi ada juga yang mengundang lain maksud.

Terutama bagi orang-orang yang dulu pernah ambil bagian dalam pembasmian perkumpulan Kam-lo-pang, kejadian itu dirasakan seperti duri yang menancap diatas punggungnya. Manusia ganas itu satu hari saja belum di singkirkan, mereka selalu masih merasa tidak aman.

Hari kedua tengah hari tepat pada waktu see-bun cun Tek menemukan ajalnya.

Di Ceng-yang ciu-lauw, satu rumah besar didalam kota Tiang-soa, nampak penuh sesak dengan tetamunya dari pelbagai tempat. Rumah makan yang bertingkat dua dan mempunyai tempat luas yang bisa menampung kurang lebih 30 orang itu, hampir tidak ada satu kursi yang kedapatan kosong. Cuma apa yang agak luar biasa, ialah tetamu-tetamu itu hampir semuanya terdiri dari orang2 Kang-ouw.

suara orang bicara terdengar amat riuh, hampir semuanya membicarakan soal Golok Maut. Apakah Golok Maut itu sudah meninggalkan kota Tiang soa, atau mencari korban lain lagi?

Tidak ada seorangpun yang bisa dapat tahu. Mereka hanya menduga-duga saja secara sembarangan.

Disalah satu meja pada suatu sudut dekat jendela, saat itu ada duduk seorang pemuda berwajah tampan tapi sikapnya dingin kecut, ia duduk seorang diri sambil minum dengan sikapnya yang tenang. Ia adalah Yo Cie Cong.

Daftar nama musuh-musuhnya Kam lo-pang yang berada padanya, kini tiga nama lagi sudah di hapus. Tapi ia masih belum merasa lega, sebab 5 musuh besar yang tertulis dilembar pertama dengan nama singkatan IM, YANG, SIU, KUAY dan PO, hanya siluman tengkorak Pek- bin ciang- sie-kuay Lui Bok Thong, yang sudah bertemu satu kali. Yang lainnya, bayangannya saja masih belum kelihatan.

Musuh- musuh yang binasa ditangannya, diantara musuh- musuhnya Kam-lo-pang, merupakan orang-orang yang tidak berarti. Dapat dibayangkan sendiri betapa beratnya tugas Yo Cie Cong yang harus dipikul itu. sekarang, hanya merupakan babak permulaan saja.

Dengan sepasang matanya yang bersahaya, Yo Cie Cong memandang wajahnya setiap tetamu yang ada di rumah makan tersebut.

Matanya segera dapat melihat 5 laki-laki berbadan tegap yang duduk berkumpul disatu sudut dekat tembok. orang-orang ini rasanya ia seperti pernah lihat, tapi entah dimana setelah ia putar otaknya sekian lama, ia baru ingat bahwa laki-laki itu adalah anak buahnya Pek leng hwee.

orang-orangnya Pek leng hwe sudah muncul di kota Tiang soa, orangnya kedua Pang mungkin juga tidak ketinggalan-

Dalam usahanya untuk menghadapi pemilik Golok Maut, Pek leng hwee dengan kedua pang, selalu bekerja bersama-sama.

Ketua Pek leng hwee dan kedua Pang, juga terdapat dalam daftar nama musuh-musuhnya Kam lopang. Yo cie Cong juga masih tidak lupakan perbuatan orang-orang itu ketika hendak membunuh dirinya ditepi danau Naga.

Itu berarti permusuhan lama ditambah dengan permusuhan baru maka rasa bencinya lantas berlipat ganda, tidak heran kalau pada saat itu Yo Cie Cong matanya lantas beringas secara mendadak. ia hampir saja tidak mampu mengendalikan dirinya. Diwajahnya yang tampan, sekejap saja sudah dipenuhi hawa pembunuhan-'Membunuh' pikiran yang menakutkan itu, telah timbul dalam otaknya Yo Cie Cong.

Mendadak ditangga loteng ada terdengar orang berjalan- sebentar kemudian lantas muncul wajahnya dua orang tua yang sangat menjemukan.

Kebetulan disamping Yo cie Cong duduk tadi terdapat tempat kosong. Dua orang tua yang baru datang itu setelah mencari sana-sini, ia telah dapat lihat tempat kosong itu. Maka keduanya lantas menghampiri

Ketika Yo Cie Cong menyaksikan wajahnya kedua orang tua itu, dalam hatinya diam-diam lantas berseru: "Bagus kembali ada dua orang yang hendak mengantarkan jiwanya."

Dua orang tua itu ketika tiba didepan tempat kosong, mendapat lihat dirinya Yo Cie Cong. semula mereka agak terkejut, kemudian lantas saling mengawasi dengan kawannya dan ketawa terbahak-bahak.

siura ketawa mereka yang kedengarannya seperti ketawa setan itu, telah menarik perhatian para tetamu. Dua orang tua itu setelah duduk ditempatnya, lantas minta pelayan supaya menyediakan makanan dan minuman,.

"sepasang manusia buas dari Lam hong " begitu terdengar suara berisik diantara para tetamu.

Oleh karena suara ketawanya sepasang manusia buas dari Lam hong tadi, telah membual orang-orangnya Pek leng hwee dan kedua Pang, yang tadi tidak perhatikan dirinya Yo cie Cong, kini telah mendapat lihat wajahnya anak muda itu, hingga mereka pada kasak kusuk, entah apa yang dirundingkan Tapi sudah tentu hal-hal yang mengenai dirinya anak muda itu.

Meskipun mereka tidak mengetahui keadaan anak muda itu yang sebenarnya, tapi 5 laki-laki dari Pek leng hwee itu nampaknya ambil perhatian besar terhadap dirinya Yo cie Cong, karena mereka tahu benar bahwa anak muda itu adalah seorang yang dikehendaki benar oleh ketua mereka.

Mendadak, mata semua tetamu terbelalak memandang kearah tangga loteng.

Yo Cie Cong yang tertarik oleh keadaan demikian, matanya juga mengawasi kearah tangga loteng. Diwajahnya yang kecut dingin, mendadak tertampak gembira. Dengan cepat ia berbangkit dari tempat duduknya dan lari menghampiri.

BAB 23

TETAMU yang baru datang itu bukan lain daripada Thian san Liong lie Tho Hui Hong, itu pendekar wanita setengah umur yang berwajah cantik dan berkepandaian tinggi.

Ia kelihatan berdiri celingukan, agaknya sedang mencari tempat kosong untuk tempat duduk.

Thian san Liong - lie meski usianya sudah setengah tua, tapi kecantikannya masih bisa menggiurkan hatinya anak muda.

Semua tetamu yang ada disitu, meski pada dibikin silau matanya oleh kecantikan Thian-san Liong- lie, tapi tidak ada yang berani berlaku ceriwis, karena namanya wanita gagah itu dikalangan Kang-ouw ada sangat terkenal dan ditakuti baik oleh orang golongan hitam maupun golongan putih. Apalagi mengingat suhunya berkepandaian sangat luar biasa, meski usianya sudah lebih dari seratus tahun-

suatu keistimewaan bagi wanita gagah itu, diparasnya yang cantik, selamanya seperti diliputi oleh kabut kedukaan, namun tidak begitu nyata. Apakah sebab yang sebetulnya ? Tidak ada seorangpun yang tahu.

Pada saat itu, ia juga sudah dapat melihat Yo Cie Cong yang berbangkit dan lari menghampiri kepadanya.

Ia juga merasa sangat girang akan pertemuan itu. Dengan bersenyum manis ia berjalan menyongsong Yo Cie Cong.

Wajahnya Yo Cie Cong ada mirip benar dengan kekasihnya 10 tahun berselang dan yang sehingga saat itu masih belum hapus dan ingatannya. Maka didalam matanya, Yo Cie Cong adalah merupakan seorang yang dapat meringankan penderitaan hatinya.

Maka ketika anak muda itu mendapat kesulitan ditepi danau Naga, dengan tanpa menghiraukan jiwanya sendiri ia berusaha untuk melindungi dirinya.

Yo Cie Cong ketika binasa dibawah serangannya iblis berwajah singa, ia telah mengubur jenazahnya bersama-sama Siang-koan Kiauw, itu gadis baju merah, anak tirinya Cin Bie Nio. selanjutnya, ia dengar ramai dikalangan Kangouw tentang beritanya Yo Cie Cong yang sudah mati telah hidup kembali. Ia pernah mencari kemana-mana, tidak nyana hari ini telah bertemu dirumah makan itu.

Begitu pula dilihatnya Yo Cie Cong, yang selalu berwajah kecut, ketika melihat dirinya Thian san Liong lie lantas menjadi girang, karena ia seolah-olah sudah bertemu dengan ibunya sendiri

Masih jauh ia sudah berseru dengan suara girang: "Bibi Tho Mari disini ada tempat kosong." Ia memegang erat tangannya Thian san Liong lie diajak kemejanya. Ia memang duduk dan minum seorang diri saja, kedatangan Thian san Liong lie ada sangat kebetulan-

Thian-san Liong lie setelah duduk dikursinya depan Yo cie Cong, ia mengawasi wajahnya anak muda itu sejenak. baru berkata:

"Anak. sungguh tidak dinyana aku bisa bertemu lagi dengan kau " "Terima kasih atas perhatian bibi, Boanpwee juga selalu ingat diri bibi."

Dua manusia dari Lam hong yang telah dapat melihat Yo Cie Cong, dalam hati mereka sudah menganggap bahwa itu ada satu kesempatan yang paling baik yang diberikan oleh Thian- Ternyata mereka masih belum melupakan mustika Gu-liong kauw yang berada didalam perutnya Yo cie Cong

Tapi kini, mereka lihat dirinya Thian-san Liong- lie yang duduk disatu meja dengan Yo Cie Cong, dalam hati merasa cemas dan sangat gelisah.

Lotoa yang tua dari kedua manusia buas itu duduk membelakangi Yo cie Cong, maka tidak dapat dilihat bagaimana sikapnya. Tapi Lojie (adiknya) ada duduk berhadapan dengan Yo cie Cong.

Dengan matanya yang seperti mata tikus, Lo jie terus mengawasi Yo Cie Cong dengan tanpa berkedip.

Sikapnya manusia buas yang demikian itu, bagi Yo Cie Cong sudah tidak asing lagi.

Ketika kawanan manusia iblis berebutan hendak membelek perutnya ditepinya danau Naga, ia sudah banyak melihat sikap demikian itu. Itu ada satu sikap kombinasi antara kejahatan, kekejaman dan ketemahaan.

Yo cie Cong yang dibikin sebal oleh sikap demikian itu otomatis wajahnya menjadi dingin kecut lagi.

Thian san Liong lie yang menyaksikan Yo cie Cong baru saja bicara, mendadak wajahnya sudah berubah demikian rupa, diam-diam juga merasa heran- Ketika ia mengikuti pandangan mata Yo Cie Cong, wajahnya juga mendadak berubah^

Yo cie Cong setelah mengeluarkan suara dihidung, lantas berkata kepada dua manusia buas dari Lam hong itu. "Adakah kalian masih ingat akan diriku ?"

Lojie lantas menyahut sambil ketawa cengar-cengir: "Bocah pertemuan kita ini memang sudah jodoh "

"Bocah Manusia dimana saja bisa bertemu, pertemuan kita hari ini bukan merupakan suatu kejadian yang ganjil " menyambung Lotoa.

Thian san Liong ie nampak mulai naik darah, wajahnya berubah pucat, selagi hendak buka mulut tidak jadi karena melihat Yo Cie Cong melarang.

Yo Cie Cong mencegah dengan kedipan matanya kemudian sepasang matanya sangat tajam telah menyapu pada kedua manusia buas itu.

Sepasang manusia luas itu nampaknya di bikin terkejut oleh pandangan mata Yo Cie Cong itu. Dalam hati mereka diam-diam berpikir: "Heran, bocah ini yang baru saja dua bulan tidak ketemu, sekarang seolah-olah sudah berubah menjadi lain keadaannya."

Thian san Liong lie tidak perhatikan sinar matanya Yo Cie Cong, hanya dengan sorot matanya yang gusar terus mengawasi dirinya kedua iblis itu. Ia sudah tahu benar kejahatan dan kebuasannyakedua manusia itu.

Ia kuatir bahwa kejadian ditepinya danau Naga tempo hari akan terulang lagi dirumah makan ini. sebab Yo Cie yong pernah menelan mustika Gu liong kauw, dan mereka tahu, bahwa mustika itu masih mengeram dalam perutnya Yo Cie Cong.

Bila benar-benar terjadi gaduh, akibatnya akan lebih menakutkan pikir Thian san Liong lie.

Sudah tentu Thian san Liong lie tidak tahu kalau keadaannya Yo Cie Cong pada saat itu, ada sangat berlainan dengan Yo cie Cong pada tempo hari. Berbareng dengan itu, orang-orang dunia Kang-ouw yang hari itu berkumpul dan makan minum dalam rumah makan itu, satupun tidak tahu bahwa manusia misteri ini, atau si pemilik Golok Maut yang ganas dan menakutkan, adalah itu pemuda berwajah tampan tapi kecut dingin, yang kini beradu didepan mata mereka sendiri

sementara itu, Yo Cie Cong setelah mengawasi kedua manusia buas itu,lalu berkata pula: "Apa yang kalian ucapkan memang tidak salah. Hari ini kita benar-benar ada jodoh, apa yang

kalian lakukan kepada diriku tempo hari tidak ada satu hari aku bisa lupakan. Aku justru sedang mencari kalian berdua "

Lojie setelah tercengang sebentar, lalu menjawab:

"Bocah, kita berdua saudara dapat memenuhi kehendakmu " "Bagus, sekarang juga atau harus mencari tempat lain ?"

Thian san Liong lie merasa kaget dan heran sebab ia tahu benar tentang keadaan dan kekuatannya Yo Cie Cong tidak nanti mampu menandingi kedua iblis itu. Namun ia sekarang berani menantang kedua manusia buas itu, ini benar-benar tidak habis dimengerti. Belum lenyap pikirannya, terdengar Lotoa nyeletuk sambil ketawa.

"Bocah, nanti malam sesudah rembulan muncul, kita bertemu lagi di Cit lie peng, kira-kira 7 lie diluar kota sebelah Timur bagai mana ?"

"Baik tempat yang kalian pilih tepat sekali, disitu sangat indah pemandangan alamnya"

Dua manusia buas itu memandang Yo Cie Cong dengan mata mendelik. Karena sebisa- bisa menahan sabar, dalam hati mereka menyumpahi dirinya anak muda itu. Thian-san Liong lie dengan penuh rasa kuatir berkata kepada Yo Cie Cong: "Anak, kau "

Yo Cie Cong sambil bersenyum menjawab dengan tenang:

"Bibi Tho, jikalau bibi ada kegembiraan nanti malam boleh juga turut menyaksikan keramaian itu "

"Anak. dua manusia itu sangat ganas dan telengas, kepandaiannya juga tidak dapat di pandang ringan-

"Itu boanpwee mengerti, bibi Tho, harap bibi tak usan kuatir, Boanpwe tidak nanti berlaku ceroboh"

"Tapi kau toch masih belum mampu menandingi mereka, apa lagi hari ini dikota Tiang-soa ada banyak orang-orang gagah dari berbagai golongan- apabila hal ini nanti menarik perhatian kawanan iblis yang temaha mengingini mustika Gu long-kauw itu bukankah.."

"Itu ada lebih baik, biarlah mereka semua nanti tahu bahwa dalam rimba persilatan masih ada keadilan "

Thian-san Liong lie dengan penuh keheranan mengawasi Yo Cie Cong. Hanya beberapa bulan saja tidak bertemu, anak muda itu seperti sudah berubah menjadi orang lain.

Berita tentang kedua manusia dari Lambong telah menbuat perjanjian dengan Yo cie Cong untuk mengadakan pertempuran, dari satu mulut kelain mulut, sebentar saja sudah diketahui oleh seluruh tetamu yang ada disitu.

Kejadian gaib yang dialami oleh Yo Cie Cong ditepi danau Naga pada beberapa bulan berselang, sudah lama memang pernah menggemparkan dunia Kang-ouw. Tapi sedikit sekali orang yang mengenal dirinya anak muda itu. Dan kini, setelah disebut-sebut lagi orang-orang yang bersangkutan, maka Yo Cie Cong lantas menjadi pusat perhatian para tetamu.

Jago-jago Kang-ouw itu, dikota Tiang-soa sebetulnya karena tertarik eleh peristiwa Golok Maut. sayang mereka tidak menemukan bayangan si pemilik Golok Maut, sebaliknya bertemu dengan pemuda asam kecut yang ternyata adalah itu pemuda yang pada beberapa bulan berselang pernah menelan mustikanya Gu-liong-kauw.

Dipengaruhi oleh kelemahan, ada beberapa kawanan iblis yang diam-diam sudah memikirkan rencananya yang keji. Diantara para tetamu itu, adalah Thian san Liong lie merupakan orang satu-satunya yang merasa paling gelisah. Peristiwa perebutan mustika Gu- liong kauw yang terjadi ditepi danau Naga pada beberapa bulan berselang, kekejamannya dan keganasannya masih menggores dalam hati sanubarinya, dan nampaknya peristiwa kejam itu akan terulang lagi sekali pada malam nanti.

Yo Cie Cong dalam matanya Thian san Liong lie sudah merupakan duplikat dari kekasihnya yang menghilang pada 10 tahun berselang. Maka terhadap dirinya anak muda itu timbullah perasaan welas asihnya yang sangat tebal sekali. Maka atas keselamatannya anak muda itu, ia agaknya sudah merasa ikut tanggung jawab yang tidak dapat dielakan lagi.

Kedua manusia buas itu setelah puas makan minum, lalu berbangkit dan berkata pula kepada Yo Cie Cong:

"Bocah perjanjian di Cit lie peng pada nanti jam tujuh malam, kau tentunya tidsk akan salah bukan "

"Haha, memang itu yang aku nantikan bagaimana bisa bikin kalian kecewa ?" " Kalau begitu bocah, nanti malam kita ke temu "

Kedua manusia buas itu kembali memandang Yo cie Cong dengan mata melotot, lantas berlalu.

Para tetamu yang lainnya juga nampak sudah pada mulai pergi, hingga keadaan dalam rumah makan itu kini kelihatan mulai sepi lagi.

Tapi Yo Cie Cong yang masih mengandung maksud hendak menantikan kedatangannya ketua Pek leng hwee dan kedua Pang, maka belum mau meninggalkan tempat duduknya. Ia tetap duduk sambil minum dengan sabar, seolah-olah tukang berburu yang menantikan mangsanya.

Tapi sebegitu lamanya, kecuali itu lima orang dari Pek leng hwee, sudah tidak kelihatan orang lain yang datang lagi. Maka dalam hatinya dia lantas berpikir: "hari ini aku harus mencari tahu sebab musababnya."

Tidak antara lama, diatas loteng kembali muncul orang tua yang dandanannya sangat ganjil.

Mereka datang benama seorang yang berbadan tinggi kurus.

Thian san Liong lie ketika melihat kedatangnnya orang aneh itu, lalu berkata kepada Yo Cie Cong dengan suara sangat perlahan-

"Lima orang tua yang dandanannya sangat ganjil itu adalah jago-jago kenamaan dari daerah Biauw yang biasanya disebut Biauw-ciang Ngo tok. sedang orang tua tinggi kurus itu adalah si iblis yang mempunyai gelar Bok tok Kiesu, yang biasanya matang melintang didaerah Thian lam.

Mereka masing-masing mempunyai kepandaian ilmu silat yang luar biasa -

Yo Cie Cong hanya mengangguk saja, kemudian menyahut: "Kedatangan mereka barangkali karena peristiwa Golok Maut "

"Ng... bencana hebat mungkin akan timbul semata-mata karena gara-garanya Golok Maut!"

Yo Cie Cong mendengar kata-kata Thian san Liong lie itu, hatinya diam-diam merasa terperanjat. Pikirnya: "bibi Tho, maafkan aku tidak bisa memberitahukan keadaanku yaag sebenarnya, karena aku sendiri juga mempunyai kesulitan"

Pada saat itu Biauw ciang Ngo tok dan Bo tok Kiesu sudah mulai duduk.

oleh karena datangnya 6 kawanan iblis itu keadaan dirumah makan itu mendadak menj sunyi.

Yo Cie Cong tiba-tiba ingat sesuatu, maka lantas berkata kepada Thian san Liong lie: "Bibi Tho, dulu ketika Boanpwee mengalami kesukaran ditepi danau Naga, mengapa bibi hendak menolong dan melindungi diri Boanpwee tanpa menghiraukan keselamatan jiwa bibi sendiri ?"

Thian san Liong lie hatinya terguncang, ia memandang wajahnya Yo Cie Cong dengan mata mendelu. Apa yang terjadi atas dirinya pada masa yang lampau, seolah-olah ular berbisa yang menyemat dirinya pada masa yang lampau, seolah-olah ular berbisa yang menyemat hatinya. Lama ia berada dalam keadaan demikian, akhirnya baru bisa menjawab sambil ketawa getir:

"Anak. itu hanya untuk membela keadilan didalam rimba persilatan " "Dari sorot mata bibi yang sayu dan agaknya ada menderita kedukaan dalam hati serta sikap bibi ketika pertama kali berbicara dengan Boanpwee. Tapi ini hanya duga-dugaan Boanpwee sendiri Malah Boanpwee masih ingat ketika bibi menanya nama Boanpwee,, waktu Boanpwee menyebutkan nama Yo Cie Cong, bibi mengulangi pertanyaan sampai dua kali, bahkan mengunjukkan perasaan kecewa"

"Ah anak Kau terlalu banyak memikir"

"Mungkin itu benar, tapi Boanpwee selalu merasa bahwa bibi agaknya ada menyimpan rahasia apa-apa?, yang tentunya agak menyedihkan"

"Anak, kau ingin aku menceritakan?"

"Boanpwe hanya mengharap bisa mengetahui sedikit saja, tapi ini juga tidak berani memaksa bibi "

Diwajahnya Thian san Liong lie nampak awan kedukaan, dengan susah payah ia baru bisa mengatakan:

"Anak, pertama karena disebabkan kau ah.."

Yo Cie Cong pentang lebar matanya, ia menanya dengan heran- "Bibi Tho Boanpwee kenapa ?"

"Kalau kau memang benar kepingin tahu, baiklah aku beritahukan padamu. Sebab kau ada mirip benar dengan seseorang "

"Mirip dengan siapa ?"

"Seseorang aku katakan, ya, mirip benar. Baik wajahmu maupun sikap dan gerak-gerikmu, tidak ada yang tidak miripi. Hanya usianya saja yang berbedaan jauh"

"Orang itu tentunya ada mempunyai hubungan erat sekali dengan bibi ?"

Thian-san Liong lie wajahnya mendadak berubah merah, ia anggukkan kepalanya, sebagai Jawaban.

"Bibi Tho, dia itu siapa ?"

"Anak, Adakah kau pernah dengar nama julukan 'Giok bin Kiam-khek-Jago pedang berwajah kumala'?"

Yo Cie Cong agaknya merasa tertarik dengan penuturan bibinya, maka ia lantas menanya pula: "Boanpwee mirip dengan dia ?"

"Benar mirip sekali "

"Dan sekarang, dimana orangnya ?"

"Hilang tanpa kabar ceritanya, mungkin juga sudah binasa. sepuluh tahun berselang, peristiwa hebat telah menimpa dirinya "

"Peristiwa hebat apa ?"

"Anak. pertanyaanmu sudah cukup banyak"

Yo Cie Cong yang tidak ketahuan asal-usulnya, asal ada apa-apa yang mungkin ada hubungannya dengan dirinya sendiri, ia tidak mau lepaskan begitu saja. Ketika ia mendengar cerita bibi Thonya yang nampaknya ada mengandung rahasia besar, lantas unjukan perhatian sepenuhnya .

Thian-san Liong- lie agaknya juga terpengaruh perasaannya, setelah pikirannya tenang kembali, ia baru bisa berkata lagi: "Aku bisa beritahukan sedikit saja pada mu"

"Silahkan "

"Dia adalah muridnya Leng Gie Hong dari see gak. itu manusia gaib dalam rimba persilatan serta merupakan satu orang kuat nomor satu didalam dunia "

Mendengar keterangan itu, hampir saja Yo Cie Cong lompat dari tempat duduknya, karena si hweshio gila Phoa-ngo Hweshio dan Pengail Linglung ut-tie Giok ciang, itu dua manusia aneh dari rimba persilatan, masing-masing telah menurunkan kepandaiannya yang luar biasa, kepada dirinya, maksudnya ialah untuk menepati janji untuk mengadakan pertandingan dengan muridnya manusia gaib itu.

"Bibi Tho, dia ada digunung Hoa san " "Bagaimana kau bisa tahu ?"

"Menurut waktunya yang ditetapkan oleh fihak Leng Gie Hong, dalam waktu- tahun akan ditunggu di gunung Hoa-san- sekarang ia telah mendapat keterangan bahwa orang yang mirip benar dengan dirinya itu ternyata ada satu jago pedang nomor satu, bahkan ada hubungan sangat erat dengan bibi Tho-nya, bagaimana kalau ia tidak terkejut? Maka seketika itu ia kelepatan omong berkata:

"Tengah-tengah see gak - bukankah ada gunung Hoa san ?"

Karena kegirangan, hampir saja ia menceritakan soal perjanjian itu. "Anak. kau tidak tahu, aku sudah pergi kegunung Hoa-san sampai 3 kali"

"Bagaimana ?"

"Dia belum kembali kegunung Hoa-san"

Yo Cie Cong merasa agak bingung. Dalam hatinya lalu berpikir menurut keterangan Pengail Linglung yang diberikan padaku. Leng Gie Hong pernah mengabarkan, bahwa karena dirinya sendiri sudah bercacad gara-gara melatih ilmunya, maka soal perjanjian adu kepandaian akan dilanjutkan oleh murid tunggal-nya. Dalam waktu 5 tahun akan ditunggu di gunung Hoa san- Kalau menurut keterangan ini, dia bukan saja belum hilang, bahkan masih berada di gunung Hoa san, Ada rahasia apakah dalam soalnya bibi Tho ini ?"

Selagi pikirannya masih bekerja keras, mendadak terdengar suara orang bicara dengan nada sangat brutal.

"Hihi, ibunya cantik seperti bidadari, anaknya tampan bagai batu kumala, sungguh bisa membuat setiap orang mengiri " Terdengar pula suaranya seorang lain:

"Daerah Tionggoan meskipun banyak wanita cantik, tapi orang yang se-elok ini, baru pertama kali ini aku melihat"

Thian-san Liong-lie dan Yo Cie Cong pada berpaling dengan berbareng, orang yang bicara itu ternyata ada dua orang diantara Biauw-ciang Ngo toks Dengan mata ceriwis sedang mengawasi mereka.

Lalu terdengar suaranya Bok-tok Kiesu berkata:

"Saudara2, kalian tahu bahwa kembang ini telah ditelantarkan, cuma saja aku tidak berani menyentuhnya"

"Ha ha Apa iya saudara terhadap satu orang perempuan saja tidak berani menyentuh Apakah dia "

"Saudara tidak tahu, dibelakang dia si setan tua itu sungguh menakutkan "

Ketika Bok-tok Kiesu membicarakan tentang setan tua, sikapnya seperti benar-benar ketakutan, tapi nampaknya sangat menjemukan-

Yo Cie Cong yang menyaksikan tingkah lakunya kawanan iblis itu, baru tahu kalau mereka sedang membicarakan dirinya Thian-san Liong-lie, maka darahnya lantas naik seketika.

Thian-san Liong lie dengan merah padam suatu tanda hawa amarahnya sudah memuncak, telah berbangkit dengan pelahan-lahan. sambil menuding pada Bok-tok Kiesu ia berkata:

"Bok-tok Kiesu, kau juga terhitung seorang yang mempunyai nama dikalangan Kang ouw, sopan sedikit tingkah lakumu kenapa sih ?"

"Thian san Liong lie, apakah kau kira aku berlaku tidak sopan terhadap dirimu ?" jawabnya Bok- tok Kiesu sambil ketawa cengar cengir.

Biauw-ciang Ngo tok juga lantas perdengarkan suara ketawa yang menyebalkan. Yo Cio Cong dengan mata beringas, menggeram:

"segala kawanan kurcaci dari daerah luar, juga berani jual lagak didaerah Tionggoan "

Biauw ciang Ngo - tok ketika mendengar ucapan Yo Cie Cong, matanya lantas melotot dan berbangkit dari tempat duduknya. satu diantaranya dengan suaranya yang aneh membentak:

"Bocah, apa kau sudah bosan hidup?" Suasana dirumah makan kini mendadak menjadi tegang. Para tetamu yang tabah dan masih belum berlalu, semua pada pasang mata untuk menonton, sedang para pelayan yang bernyali kecil, sudah pada lari kalang-kabutan-

"Kalian bangsa kurcaci dari daerah luar ini masih ada muka berkata demikian?" kata Yo cie Cong dengan sikap menghina.

Biauw-ciang Ngo-tok pada berubah wajahnya, bukan kepalang rasa gusarnya, sehingga wajahnya merah padam, badannya gemetaran.

Mereka berlima didaerah Biauw merupakan tokoh-tokoh terkemuka dalam dunia Kang-ouw namanya sangat dimalui oleh bangsa mereka. sungguh tidak nyana hari itu dhadapannya begitu banyak orang-orang Kang-ouw, ia telah diperhina oleh seorang muda yang usianya belum cukup 20 tahun. Biar bagaimana, sudah tentu mereka tidak bisa menelan begitu saja.

Salah seorang dari mereka yang tadi buka suara, kakinya lantas bergerak menendang meja, hingga meja itu terbalik berikut cawan, piring dan mangkuk yang ada di atasnya. Kemudian ia sendiri lantas lompat melesat menerjang Yo cie Cong. Thian-san Liong lie dengan wajah pucat, lantas hendak ayun tangannya. Para tetamu juga pada berdiri, hendak menonton pertandingan antara kedua orang itu.

"Balik" demikian terdengar suara bentakan nyaring, tangannya Yo cie Cong bergerak, dari situ lalu meluncur keluar kekuatan tenaga dalamnya yang sangat hebat, untuk memapaki dirinya iblis dari Biauw yang sedang menerjang dirinya itu.

Serangannya Yo cie Cong kali ini dibarengi dengan kekuatan ilmunya Kan goan cin-cao kira-kira enam bagian.

Diantara suara bentakan terdengar suara seruan tertahan iblis tua Biauw-ciang itu, dirinya lantas terpental sejauh kira-kira 5 tumbak lebih, dan kemudian jatuh tersangkut dilangkannya loteng.

Keadaan dalam rumah makan itu sebentar saja lantas menjadi gempar, siapapun tidak akan menduga kalau anak muda itu ada mempunyai kekuatan demikian rupa hebatnya.

Perasaan Kaget, malu, gemas dan gusar saat itu meliputi dirinya Bok-tok Kiesu dan kawan- kawannya .

Thian-san Liong-lie sendiri juga terpesona, dengan terheran-heran menanya kepada Yo cie Cong:

"Anak kau ?"

Yo Cie Cong sudah mengerti apa yang akan diucapkan oleh Thian san Liong-lie, maka lantas ia berkata:

"Bibi Tho, kalau ada kesempatan nanti Boanpwee ceritakan pengalaman Boanpwe selama beberapa bulan ini."

Bok-tok Kiesu saat itu perdengarkan suara ketawanya yang aneh. "Bocah, kau ternyata boleh juga, lihat aku" katanya nyaring.

sehabis bicara, dengan tindakan sangat perlahan ia berjalan menghampiri Yo Cie Cong.

Biauw-ciang Ngo tok. termasuk orang yang dibikin jatuh tadi, semua lantas maju bersama-sama Bok-tok Kiesu, mereka mengawasi Yo Cie Cong dengan sorot mata buas.

Yo Cie Cong masih tetap dengan sikapnya yang dingin, berdiri ditempatnya dengan tanpa bergerak barang sedikit. sikapnya yang jantan itu membuat orang melongo dan kuncup nyalinya.

Ketika Biauw Ciang Ngo tok berjalan sampai didepan Yo Cie Cong, mendadak lantas berhenti. Lengan baju 5 iblis itu tiba-tiba bergoyang, tapi sebentar saja sudah pulih kembali seperti biasa.

Salah satu diantara 5 orang tua itu mendadak berkata sambil ketawa girang:

"Bocah, kali ini kau akan tahu rasa. sekarang kau sudah terkena racun Ngo tok Bok-keng sin ciang dari kita berlima. Kau pasti akan mengalami siksaan hebat, mati tidak hiduppun tidak, Hehe, heh kau coba bernapas" Thian san Liong lie yang sudah banyak pengalamannya, tahu benar lihaynya racun serupa itu. Asal sudah masuk kedalam tubuh orang, jika racunnya digerakkan, orang yang terkena racun itu akan binasa setelah nyalinya dimakan oleh racun jahat itu.

Racun itu ada mempunyai hubungan erat dengan orang yang melepaskannya, sekalipun sang korban itu berada sejauh ratusan lie, asal orang yang melepaskan racun tadi gerakan pikirannya. lantas berkerja hingga jiwanya sang korban seolah-olah benda ditangannya orang yang melepas racun itu, Kecuali di tarik kembali oleh orang yang melepaskan racun tadi, sudah tidak ada lain obat yang bisa melenyapkan racun itu dan dalam badannya.

Yo Cie Cong yang diwaktu kecilnya hidup bergelandangan dengan kawanan jembel, pernah dengar juga tentang racun yang sangat ganas dan berbisa itu. Maka saat itu hatinya lantas bercekat. ia buru-buru atur pernapasannya, benar saja merasakan seperti ada benda halus yang bergerak didalam badannya.

seketika itu juga lantas timbul napsunya hendak membunuh, maka ia lantas berkata dengan suara gusar:

"Setan tua, hari ini sekalipun siaoyamu jatuh, tapi kalian juga jangan harap bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup "

"Hahaha" terdengar mereka ramai ketawa.

"Bocah tutup mulutmu, kau sudah tidak mempunyai kesempatan hidup lagi " kata satu diantara 5 iblis itu

Biauw-ciang Ngo-tok lalu bergerak menjalankan ilmunya jubahnya kelihatan bergerak gerak. sekujur badannya Yo Cie Cong mendadak dirasakan seperti digeremeti binatang ular atau kutu,

rasa sakit dan gatal menusuk ke tulang-tulangnya dan hatinya.

sebentar saja keringat dingin sudah menbasahi tubuhnya Yo Cie Cong. Dalam keadaan cemas, ia buru-buru mengeluarkan ilmunya, hawa dingin dan hawa panas lantas berputaran disekujur badannya, benar saja ia rasakan agak kendor tekanan rasa sakitnya. Maka diam-diam ia lantas berpikir: apakah ilmuku Kan-goan caokhie bisa membasmi racun ini?

Sesungguhnya ia masih belum mengerti, bahwa dua rupa benda mustika Gu- liong kauw dan telurnya burung rajawali raksasa, ada mengandung dua rupa sifat yang sangat dingin dan angat panas, yang merupakan kekuatan satu-satunya untuk membasmi racun Bok bea sin ciang.

Karena ia sudah mendapat kenyataan bahwa kekuatan tenaga dalamnya itu dapat digunakan untuk melawan racunnya kelima orang tua, maka ia lantas perhebat gerakannya.

Biauw ciang Naotok semula ketika menggerakan tenaganya untuk mendesak racun dalam dirinya Yo cie Cong agak berubah, tapi kemudian pulih seperti biasa, agaknya tidak takut menghadapi racunnya. Maka mereka lantas merasa heran-

sedang Bok tok Kiesu yang menyaksikan Thian-san Liong lie sedang kesima mengawasi dirinya Yo cie Cong, diam-diam lantas bergerak mendekati pendekar wanita itu.

Jari tangannya yang kurus kering, sudah akan menyambret pundaknya Thian-san Liong lie.

Thian-san Liong lie sendiri masih belum mengetahui kalau dirinya terancam bahaya. tapi Yo Cie Cong yang mendadak dapat lihat itu, semula ia hendak bersuara untuk memperingatkan Thian-san Liong lie, tapi sudah tidak keburu. Dalam keadaan yang sangat krisis itu, dengan cepat ia lantas membabat dengan tangannya yang mengandung kekuatan tenaga dalam Kan-goan Cin-cao.

Bok tok Kiesu yang sedang kegirangan karena gerakannya membokong itu sudah akan berhasil, mendadak merasakan ada suatu kekuatan tenaga yang sangat hebat menyerang padanya dari samping. Kalau ia tidak tarik mundur dirinya, meski Thian san Liong lie akan terjatuh dibawah kekuasaannya, tapi dirinya sendiri juga akan terluka oleh serangan kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat itu.

Untuk menyelamatkan diri, terpaksa ia harus lompat mundur 5 kaki jauhnya. Thian-san Liong-lie kini sudah tahu kalau dirinya sedang terancam, maka lantas menghunus pedangnya, dengan cepat menyerang dirinya Bok-tok Kiesu.

Dalam waktu sekejapan ia sudah menghujani tikaman prdang pada Bok-tok Kiesu sampai 15 kali banyaknya.

Bok tok Kiesu yang masih belum tancap kakinya, mendadak dihujani serangan pedang oleh Thian san Liong lie, sudah tentu jadi kelabakan.

Badannya yang kurus kering seperti linting, setelah pontang panting kesana kemari, akhirnya berhasil juga lolos dari ujung pedangnya Thian san Liong lie.

Pada saat itu, orang-orang Kang-ouw yang berada dirumah makan tersebut sudah pada hentikan minumnya, mereka semua pada minggir kepojok dinding, hingga di-tengah-tengah terbuka satu tempat yang cukup luas.

Yo cie Cong yang tadi bergerak membantu Thian-san Liong-lie, kekuatan tenaga dalamnya agak kendor, hingga racun dari lima orang tua itu dirasakan bekerja lagi.

Ia sekarang sudah merasa benci sekali terhadap lima orang tua dari daerah Biauw itu, maka ia gunakan seluruh kekuatan tenaga dalamnya untuk mengusir racun didalam badannya. Usahanya itu berhasil bukan saja rasa sakitnya lantas lenyap seketika, bahkan semangatnya bertambah meluap-luap.

Biauw ciang Ngo tok sejak berkelana didunia Kang-ouw beberapa puluh tahun lamanya, belum pernah mengalami kejadian aneh serupa itu. Meski mereka menggerakkan tenaganya sepenuhnya, tapi lawannya itu tetap seperti tidak pernah mengalami kejadian apa-apa. Maka mereka diam-diam lantas merasa jerih dan bergidik.

Racun Bok-heng sin-ciang itu ada berhubungan erat dengan orangnya yang melepaskan racun itu.

Maka jika racun itu musnah, jiwanya orang yang melepaskan juga turut musnah. oleh karena Yo Cie Cong melancarkan serangan tenaga dalamnya dengan sepenuh tenaga, maka racun yang masuk kedalam badannya, per-lahan-lahan sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi Jika orang tua tidak lekas-lekas tarik kembali, maka mereka juga akan terbinasa.

Biauw-ciang Ngo-tok saat itu sudah mengetahui keadaan tidak menguntungkan maka lantas tarik kembali racunnya. Berbareng dengan itu, secepat kilat mereka mengirim serangannya kepada diri Yo cie Cong.

Si anak muda yang tidak menduga akan diserang secara demikian, masih tetap dalam usahanya untuk mengusir racun dalam dirinya. Dan ketika ia mengetahui tapi sudah tidak keburu menyingkir atau menyambuti serangan lawan- Dalam keadaan kepepet, ia paksa menggunakan ilmunya Kan goan cin-cao untuk melindungi dirinya.

Tiba-tiba terdengar suara menggelegar. Yo Cie Cong dengan telak badannya menerima serangan yang dilancarkan oleh orang tua itu, ia mundur beberapa tindak baru bisa tancap kakinya, sedang "Kan goan cin cao" yang melindungi dirinya hampir saja buyar. Tapi difihaknya Biauw-ciang Ngo tok juga terpental mundur. semua orang Kang-ouw yang menyaksikan pertempuran itu pada melongo.

Biauw ciang Ngo tok mengimpi juga tidak bahwa serangan yang dilancarkan dengan kekuatan 5 orang itu, ternyata masih tidak mampu membereskan dirinya bocah yang masih baupupuk bawang itu ini sebetulnya sudah merupakan satu kekalahan yang sangat hebat bagi diri mereka.

Ketika Yo Cie Cong berpaling kearahnya Thian-san Liong-lie, ternyata tidak kelihatan, begitu pula dirinya Bok-tok Kiesu.

Diam-diam ia merasa sangat gelisah, karena ia tahu benar bahwa Bok tok Kiesu ada mengandung maksud tidak baik terhadap Thian san Liong lie, apa lagi kepandaian dan kekuatan Bok tok Kiesu masih jauh lebih tinggi dari pada Thian-san Liong lie Jika dibiarkan manusia jahat itu berhasil berbuat apa-apa atas dirinya Thian san Liong lie, bukankah akan merupakan suatu kemenyesalan besar bagi dirinya ?

Maka dengan cepat ia sudah meninggalkan Biauw ciang Ngo-tok dan melesat keluar melalui jendela .

Ketika ia berada diatas genteng, benar saja lantas dapat lihat satu bayangan orang sedang lari dengan pesatnya sambil mengempit benda apa-apa. Dengan tanpa banyak pikir, ia lantas mengejar bayangan tersebut.

Dibelakang dirinya saat itu. terdengar suaranya Biauw ciang Ngo-tok yang memaki-maki kalang kabutan. Tapi karena mengingat keselamatan dirinya Thian-san Liong-lie terhadap lima orang tua ini, ia tidak mau ambil pusing lagi. Maka sebentar saja kelima orang tua itu sudah ketinggalan jauh.

Yo Cie Cong dengan seluruh kepandaiannya, bergerak secepat meluncurnya anak panah yang terlepas dari busurnya.

Bayangan orang yang dikejar itu sebentar kelihatan sudah melalui tembok kota dan lari menuju kedalam rimba lebat.

Dengan tanpa banyak pikir, la juga mengejar masuk kedalam rimba.

Rimba itu ternyata sangat lebat, betapapun hebatnya daya lihatnya, juga tidak mampu menembusi sejarak 3 tumbakjauhnya. Ditambah lagi dengan keadaannya yang gelap dan suara angin yang kencang meniup, telah menghalangi suara lainnya, maka ia juga tidak mampu mencari jejak orang tadi dengan menggunakan telinganya. Yo Cie Cong hatinya cemas tidak dapat lihat apa apa.

Terpaksa ia mencari-cari tanpa tujuan, kakinya digerakan perlahan-lahan, tapi mata dan telinganya, terus dipasang.

Mendadak ia dapat menangkap satu suara aneh. Dalam kagetnya ia pasang telinganya.

Suara itu seperti suaranya orang ketawa. Untung Yo cie Cong ada seorang berkepandaian tinggi, kalau buat lain orang, mungkin tidak mendengar suara itu. Ia dengar dengan seksama, suara itu keluar dari sebelah kirinya. Dengan tanpa mengeluarkan suara barang sedikit, Yo Cie Cong maju menghampiri.

Apa yang ia lihat ? hampir saja dadanya meledak. napsunya membunuh telah berkobar seketika.

Astaga. Thian-san Liong-lie nampak rebah terlentang, baju bagian dadanya sudah robek. hingga kelihatan badannya yang putih meletak.

Bok-tok Kiesu sedang jongkok mengawasi bakal korbannya sambil ketawa bergelak.

Yo Cie Cong baru saja hendak turun tangan, tiba-tiba hatinya berpikir. "Kalau aku majukan diri dalam keadaan sebenarnya, bukankah bibi Tho nanti malu menemui aku lagi, mengapa aku tidak berbuat.."

Dengan cepat ia keluarkan kedoknya, tangan kirinya dimasukkan dalam lengan bajunya, hingga kelihatan seperti kutung.

Bok-tok Kiesu seperti orang yang sudah lupa daratan, sambil ketawa bergelak-gelak, ia berkata: "Thian san Liong-lie aku Bok-tok Kiesu ada mempunyai kepandaian luar biasa, aku tanggung

kau akan mendapat kepuasan, ha ha ha ha"

Thian-san Liong-lie mendadak buka matanya, ia mengawasi manusia biadab itu dengan sorot matanya sangat gusar, tapi apa daya? Ia sudah tertotok jalan darahnya, ia tidak berdaya memberi perlawanan. ia gelisah ketika tangan Bok-tok Kiesu menggerayangi dan hendak memeluknya...

Dalam saat yang sangat berbahaya itu, mendadak ada suara orang mengerang. Bok tok Kiesu sungguh tidak nyana bahwa dalam keadaan demikian ada orang yang datang itu nampaknya ada mempunyai kepandaian tinggi sekali.

Bok tok Kiesu didaerah Thian lam juga merupakan salah satu orang terkuat, kepandaian tidak boleh dipandang ringan-

Bok-tok Kiesu urungkan maksud kejinya dan geser kakinya ke samping. Ketika ia berpaling, badannya mendadak dirasakan lemas, sebab dihadapan matanya ada berdiri seorang tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, sedang lengan tangannya cuma tinggal sebelah. orang tua itu sepasang matanya memancarkan sorot yang menakutkan, mengawasi padanya dengan tanpa berkesip. Dilihat dari sikap dan bentuknya, orang tua itu seperti apa yang kini sedang ramai dibicarakan-

"Golok Maut" ia berseru tanpa terasa. BAB 24

ORANG tua rambut putih dengan lengan sebelah itu lantas berkata sambil ketawa dingin: "Tidak salah, itu adalah lohu sendiri"

Bo tok Kiesu hatinya berdebaran, dengan tanpa berasa telah mundur satu tindak. "Golok Maut, kau mau apa ?"

"Ambil jiwa mu"

Kembali Bo tok Kiesu mundur satu tindak.

Meskipun ia ada seorang berkepandaian sangat tinggi dan banyak akalnya, tapi terhadap seorang sangat misterius dan menakutkan seperti pemilik Golok Maut ini, ia merasa jeri. Namun ia tidak mau unjukkan kelemahannya, dengan melawan kemauan hatinya ia coba berkata dengan sombongnya:

"Pemilik Golok Maut, sungguh kebetulan,aku justru hendak mencari kau " "Mencari aku?"

"Benar Kauwcu kami telah memerintahkan aku bersama-sama Biauw ciang Ngo tok datang kemari khusus mengundang kau supaya mengunjungi pusat perkumpulan kami, karena Kauwcu kami saat ini sedang membutuhkan bantuannya orang pandai.."

"Hahaha" pemilik Golok Maut tertawa.

Suara ketawanya amat nyaring telah memutuskan perkataannya Bok tok Kiesu.

Thian-san Liong-lie yang menampak pemilik Golok Maut telah muncul dengan tiba-tiba, hatinya merasa girang bercampur malu. Dengan mata membelalak ia mengawasi orang tua aneh itu. sayang mulutnya tidak bisa bicara dan badannya tidak mampu bergerak.

Pemilik Golok Maut setelah puas dengan ketawanya, lalu berkata:

"Bok-tok Kiesu, apa kau juga sudah masuk menjadi anggota perkumpulan Im-mo kauw?" "Ya, bahkan aku sudah diangkat sebagai Tongcu bagian ceng liong-tong, kalau bukan..."

Pemilik Golok Maut itu, yang bukan lain adalah Yo Cie Cong sendiri, dalam hatinya lantas berpikir: "Aku dengan im- mo- kauw tidak mempunyai sangkut paut apa-apa, mengapa Kauwcunya mengutus begitu banyak anak buahnya yang terkuat untuk mengejar-ngejar aku?" sambil pelototkan matanya, ia potong bicaranya Bok tok Kiesu: "Bok-tok Kiesu. kau ingin mampus atau ingin hidup?"

"Apa artinya pertanyaan tuan ini ?"

"Kalau kau masih kepingin hidup, jawablah terus terang pertanyaanku, hari ini aku akan lepaskan kau dalam keadaan hidup. Dan kalau ingin mampus, mudah sekali, aku sekarang juga bisa kirim jiwamu keneraka, supaya kau tidak bisa berbuat kejahatan lagi dikalangan Kang-ouw "

Bok tok Kiesu ada seorang sombong dan banyak akalnya, meski dalam hati merasa jeri, tapi hatinya merasa sangat mendongkol karana orang tua itu telah menggagalkan maksudnya hendak mencemarkan dirinya Thian-san Liong lie, maka ia hendak berlaku nekad. "Kau terlalu jumawa, sahabat Tahukah kau bahwa aku Bok-tok Kiesu bukan seorang penakut yang bisa ditakut-takuti dengan gertakanmu saja ?"

"Kalau begitu aku harus beritahukan padamu, hari ini kau harus mati " "Belum tentu "

"Nah, boleh lihat "

Baru saja menutup mulutnya, pemilik Golok Maut dengan kecepatan bagaikan kilat sudah berada didepan Bok-tok Kiesu sejauh seuluran tangan selanjutnya, tangan kanannya dikebutkan-..

Bok-tok Kiesu belum sempat memikir, beberapa bagian jalan darah dibadannya tahu-tahu sudah merasa kesemutan karena kena tertotok. Dengan tanpa mengeluarkan suara, badannya lantas rubuh ditanah.

Pemilik Golok Maut atau Yo Cie Cong sendiri, dengan kepandaian gabungan yang didapatkan dari orang berkedok merah, Phoa-ngo Hweshio dan Pengail Linglung, dalam tempo sekejapan saja sudah bikin Bok tok Kiesu tidak berdaya.

Karena betapapun tingginya kepandaian ilmu silat Bok tok Kiesu, sudah tentu tidak mampu menghadapi ilmu-ilmu luar biasa yang dipunyai oleh Yo Cie Cong.

Pemilik Golok Maut dengan perlahan mengeluarkan senjata golok mautnya yang berbentuk sangat aneh.

Bok tok Kiesu, seorang iblis kenamaan yang pernah malang melintang didunia Kang-ouw dan belum pernah menemukan tandingan, saat itu dalam keadaan terkapar karena jalan darahnya sudah tertotok. ketika menampak senjata aneh bentuknya yang memancarkan sinarnya berkilauan, matanya menunjukkan rasa kaget dan ketakutan minta diampuni jiwanya.

Pada saat itu, mendadak suara daun berkeresekan serta dibarengi oleh suaranya orang telah terdengar nyata.

Yo Cie Cong berpikir: "totokan bibi Tho belum dibuka. Dalam keadaan demikian rupa, jika dilihat oleh orang bukanlah sangat runyam? sebaiknya aku buka dulu totokannya."

Setelah berpikir demikian, cepat ia menghampiri Thian-san Liong lie. Dengan menggunakan ilmunya 'Hui-siu Kai-hiat' pelajaran dari Phoa ngo Hweshio, ialah membuka totokan jalan darah dengan lengan baju, ia sudah berhasil membebaskan dirinya Thian san Liong lie.

Setelah bebas, Thian san Liong lie dengan cepat lantas lompat bangun. Dengan perasaan sangat malu ia membereskan bayunya, kemudian hendak berlutut dihadapannya pemilik Golok Maut.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa orang tua rambut putih yang dianggap ada pemilik Golok Maut itu adalah Yo cie Cong sendiri

Sudah tentu saja Yo Cie Cong tidak sanggup menerima kehormatan demikian. ia lintangkan tangannya dari mana lantas meluncur keluar satu kekuatan tenaga yang tidak kelihatan untuk mencegah Thian san Liong lie menjalankan peradatan tersebut, kemudian berkata padanya:

"Sebentar lagi ada orang datang, kau lekas-lekas berlalu dari sini "

"Terima kasih atas bantuan cianpwe, sehingga diri siaoli tidak sampai ternoda ditangannya manusia busuk"

"Sudahlah "

Thian san Liong lie sekali lagi memandang orang tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua itu, dalam hati merasa sangat bersyukur. selagi hendak mengucapkan beberapa patah kata lagi, mendadak ingat dirinya Yo Cie Cong yang sudah ditinggalkannya entah bagaimana keadaannya ?

Berpikir demikian, ia lantas hendak berlalu. Mendadak ia dapat lihat Bok tok Kiesu yang terkapar ditanah dalam keadaan tidak berdaya, saat itu lantas timbul perasaan gusarnya hendak membunuh dirinya manusia busuk itu. Dengan cepat ia hunus pedangnya dan hendak membabat kepala Bok tok Kiesu. Pemilik Golok Maut angkat tangannya mencegah perbuatannya Thian san Liong lie kemudian berkata:

"Lohu ada mempunyai cara sendiri untuk menghukum dia, kau lekas pergi "

Thian san Liong lie terperanjat, dengan cepat putar tubuhnya dan berlalu dari depannya 'orang tua' itu.

Yo Cie Cong ternyata sudah pikir masak-masak. Ia kuatir 'im mo kauw' nanti akan memusuhi Thian san Liong lie, maka ia mendesak padanya supaya lekas berlalu.

Pada saat itu, malam mulai tiba, keadaan dalam rimba itu semakin gelap.

Suara orang tadi itu kedengarannya semakin dekat, dari suaranya yang agak ribut, orang itu agaknya ada membawa banyak kawan-

Yo Cie Cong ingat perjanjiannya dengan dua manusia buas dari Lam hong yang akan mengadakan pertandingan di Cit lie peng, maka ia pikir hendak membereskan jiwanya iblis cabul itu lebih dulu, sekalipun hendak memberi peringatan kepada Im mo kauw. setelah mengambil keputusan demikian, ia lalu kebutkan lengan bajunya. Bok tok Kiesu merasa terbuka totokannya secara tiba-tiba, lantas lompat bangun-

Tapi pada saat ia baru saja berdiri, Yo Cie Cong sudah melancarkan serangannya dengan golok mautnya. serangan itu ada sangat aneh dan ganas yang tidak ada taranya terutama setelah Yo Cie Cong punya kekuatan tenaga bertambah hebat karena chasiatnya mustika Gu liong kauw dan telurnya burung rajawali raksasa, maka jarang sekali ada orarg yang mampu menghindarkan diri dari serangannya itu.

sebentar kemudian lantas terdengar suara jeritan ngeri, kedua lengan tangannya Bok tok Kiesu sudah terpapas kutung, dadanya berlobang dan binasa seketika itu- juga.

Tepat pada saat suara jeritan itu terdengar, beberapa bayangan orang sudah melesat mendatangi.

Dengan mata yang tajam luar biasa, Yo Cie Cong sudah dapat lihat bahwa bayangan orarg yang baru datang itu adalah Biauw-ciang Ngo tok. Tapi oleh karena hatinya memikiri perjanjiannya dengan dua manusia buas dari Lam hong, ia tidak mau membuang waktunya lebih lama lagi, maka tidak mau menghadapi 5 iblis itu.

Dengan kecepatan yang luar biasa, ia menyambar bangkainya Bok tok Kiesu, kemudian melesat menghilang kedalam rimba. Biauw ciang Ngo tok yang tepat pada saat itu tiba cuma merasa ada bayangan berkelebat lewat didepan mata mereka, tapi mereka tidak dapat lihat tegas siapa orangnya. Ketika lima orang tua itu coba memburu, namun sudah tidak dapat melihat apa-apa lagi.

Yo Cie Cong sambil membawa bangkainya Bok tok Kesu dengan cepat kabur kedalam kota. saat itu sudah tiba saatnya untuk pasang lampu.

Ia memilih satu tempat didekat pintu kota sebelah Timur, disitu ada terdapat sebatang pohon besar. ia lalu cantelkan bangkainya Bok tok Kiesu diatas pohon besar itu setelah mengunjukkan ketawa puas, lalu ia buka rambut dan jenggotnya yang palsu, hingga terlihat pula wajah aslinya yang cakap tampan. setelah selesai semua, ia lantas lari menuju ke Cit lie peng.

Ketika Yo Cie ycng tiba ditempat tersebut, ternyata tidak kelihatan bayangannya seorangpun juga hanya rembulan purnama yang menyinari bumi dan suara burung malam yang kedengaran disana sini.

Yo Cie Cong dengan tegak berdiri ditanah gundukan itu, ia mendongak memandang rembulan, pikirannya terus bekerja:

Ia ingat keadaan dirinya sendiri, permusuhan suhunya, potongan kayu pusaka 'ouw bok po lok' yang ternyata sudah jatuh ditangannya siluman tengkuk Lui Bok Thong, ia juga ingat dirinya sendiri yang beberapa kali telah menemukan kejadian mujijat. Ia ingat halnya perkumpulan im mo kauw yang selalu menguntit dirinya, siapakah Kauw-cunya

? Mengapa mengetahui kalau pemilik Golok Maut bukan pangcu Kam lopang sendiri ? Teka teki yang sulit dipecahkan ini terus menggoda hatinya.

Dan kalau ia ingat tentang dirinia siang-koan Kiauw, itu gadis baju merah yang mati ditelan badai dilautan Lam hay, hatinya dirasakan hancur luluh.

Ia masih tidak lupa sumpahnya sendiri, maka setelah semua urusannya sendiri nanti selesai, ia akan pergi lagi ke Lam hay untuk menyusul arwahnya siang koan Kiauw.

Selagi ia masih terbenam dalam lamunannya, dua bayangan orang tiba-tiba sudah berada sejarak kira-kira 3 tombak didepan dirinya.

Yo cie Cong tersadar dari lamunannya, dengan matanya yang ia menyapu kedua lawannya, kemudian berkata sambil ketawa dingin: "Jiwie ternyata telah pegang janji" orang yang baru tiba itu menang benar adalah dua manusia buas dari Lam-hong.

"Setan cilik, lohu berdua saudara sudah kata hendak menyempurnakan dirimu, bagaimana bisa tidak datang ?" jawab Lojie.

"Hu..Huh orang yang namanya telah di- daftar oleh Giam lo-ong (raja akherat) kalian bisa lari kemana?" berkata Yo cie Cong.

"Setan cilik, kau tak usah jual lagak. kau ingin meninggalkan pesan apa-apa atau tidak ?" kata Lotoa dengan suara menghina.

Yo cie Cong alisnya berdiri, dengan sorot matanya yang bengis menatap wajah kedua orang tua itu.

Dua manusia buas itu terkejut. Dalam ingatan mereka, kekuatannya Yo Cie Coug ada biasa saja, apakah mungkin baru beberapa bulan tidak kelihatan mendadak bisa berubah ?

"Jiewie hendak menghabiskan jiwa sendiri atau ingin aku yang turun tangan ?"

Dua manusia buas itu, ketika Mendengar perkataan Yo cie Cong itu bukan kepalang gusarnya.

Dengan berbareng mereka lantas maju menghampiri

"setan cilik, aku sebetulnya hendak memberi kau suatu kematian yang secara menyenangkan, tapi karena mengingat lagak lagumu yang terlalu jumawa, terpaksa aku hendak berikan dulu sedikit rasa dan "Pek coa Coao-sim ciang"ku (ilmu gaib seperti ratusan ekor ular menembusi ulu hati)."

Wajahnya Yo Cie nampak semakin gusar, dengan suara bengis ia berkata:

" Kawanan buas dari Lam-hong, ditepinya danau Naga, kalian kawanan iblis ini karena tidak berhasil dalam usaha kalian untuk merebut mustikanya Gu liong kauw lantas timbul maksud keji hendak membelek perutku untuk mengambil mustikanya. Perbuatan keji dan buas itu ada mirip dengan julukan kalian, yang mempunyai sifat kejam dan ganas melebihi binatang berbisa. Malam ini, diwaktu ini dan ditempat ini, adalah saatnya bagi kalian untuk pergi menemui Giam lo ong."

Kedua manusia buas itu menggeram berbareng dan maju lagi satu tindak.

cit lie peng yang semula sangat sepi sunyi saat itu di empat penjuru sudah kelihatan banyak bayangan manusia yang pada datang untuk menonton, tapi kebanyakan ada mengandung maksud jahat.

Yo Cie Cong dengan matanya yang tajam menyapu keadaan sekitarnya, hatinya diam-diam telah berpikir: "bagus, nampaknya peristiwa ditepi danau Naga malam ini akan terulang lagi ditempat ini. Biarlah malam ini kawanan iblis yang sangat buas ini akan mendapat ganjaran yang setimpal dengan kebuasannya, hitung-hitung aku menyingkirkan sejumlah kutu busuk bagi dunia Kang ouw."

Maka ia lantas berkata pula kepada kedua manusia buas itu:

"Apakah jiwie ingin meninggalkan pesan apa-apa untuk keluarga jiwie sebelum berangkat ke akherat ?" Kedua manusia buas itu juga sudah dapat melihat datangnya banyak orang, mereka sangat kuatirkan kalau-kalau orang-orang itu nanti turun tangan terlebih dulu, maka keduanya setelah saling memandang dengan tanpa banyak bicara, lantas menerjang pada Yo Cie Cong dengan berbareng.

Sambil ketawa dingin Yo Cie Tiong sudah kerahkan ilmunya Kan goan cin-cao. ia bermaksud sekaligus hendak merenggut jiwanya kedua manusia buas itu.

Pada saat itu mendadak muncul sesosok bayangan orang, dengan kecepatan bagaikan kilat bayangan orang itu nyerobot dirinya kedua menusia buas itu dari samping.

Dua manusia buas dari lam-hong yang tadi menerjang dirinya Yo Cie Cong dengan sekuat tenaga, sungguh tidak nyana kalau dirinya sendiri diserobot sudah tidak berdaya menarik kembali serangannya, dalam keadaan tergesa-gesa mereka membabat dengan tangan-

Dua kali suara benturan keras lantas terdengar, kemudian disusul oleh dua kali suara jentan ngeri.

Tubuhnya dua manusia buas dari Lam-hong telah dibikin terpental sampai dua tumbak jauhnya oleh bayangan orang yang muncul secara mendadak itu Ketika badan mereka jatuh di tanah, jiwanya lantas melayang seketika. orang-orang disekitarnya yang menyaksikan keadaan demikian, semua lantas urungkan niatnya untuk maju.

Yo cie Cong dengan perasaan heran mengawasi orang yang melayang turun dihadapannya.

Ternyata ia ada seorang imam yang wajahnya pucat pasti, kedua matanya menonjol keluar.

Imam itu setelah berdiri tegak. matanya lantas memandang keadaan disekitarnya, kemudian berkata dengau suaranya yang seperti gembreng pecah: "Bocah Bagaimana dengan seranganku tadi ?"

Yo Cie Cong yang sebetulnya masih belum tahu benar bagaimana dua manusia buas tadi menemukan ajalnya, dalam hati meski merasa heran caranya si imam turun tangan yang sangat aneh, tapi ia merasa mual melihat wajahnya yang menjemukan itu

Dilihat dari sepak terjangnya dan wajahnya, imam itu tentunya juga bukan orang dari golongan baik-baik,

Maka atas pertanyaan tersebut, Yo Cie Cong lantas menjawab dengan suaranya yang dingin ketus: "Boleh juga "

"Apa?, boleh juga ?" "Ng "

"Bocah, mulutmu gede benar, kalau tidak salah kau ini adalah itu bocah yang tempo hari menelan mustika Gu liong kauw ditepinya danau Naga ?"

Yo Cie Cong ketika mendengar imam itu kembali menyebut halnya, mustika Gu liong kauw, lantas bangkit rasa gemasnya terhadap kawanan manusia durhaka yang berusaha hend membelek perutnya. Maka setelah mengawasi imam itu dengan sorot matanya yang tajam, ia lantas menjawab dengan suaranya yang tetap dingin: "Kalau ya bagaimana ?"

"HeHeh, bocah, tidak kecewa kau dipanggil sebagai seorang berwajah kecut, benar saja surup dengan orangnya "

"Memangnya kau mau apa ?"

"HeHeh Tahukah kau siapakah toyamu ini ?" "Tidak tahu "

"Apakah kau pernah dengar namanya Khong tong Sin hong Tojin ? ? (Sin hong Tojin darl Khong thong pay)"

"Belum pernah dengar " "Hm Itulah toyamu sendiri "

Kawanan manusia iblis yang berada disekitar tempat tersebut, ketika mendengar pernyataan imam itu, segera menjadi riuh, terang mereka pada terperanjat ketika mendengar namanya Khong thong Sin hong Tojin itu. BAB 25

SIN HONG TOJIN adalah susioknya Tieng Hie Cu, ketua partay Khong tong-pay pada saat itu. orangnya jahat dan kejam, namun mempunyai kepandaian ilmu silat yang luar biasa tingginya. Kejahatannya sudah bertumpuk-tumpuk, hingga didalam kalangan Kang-ouw, siapa saja kalau mendengar disebutnya nama itu, lantas lari terbirit-birit.

Tapi Yo Cie Cong yang usianya belum cukup 20 tahun, sedikitpun tidak merasa takut atau keder menghadapi itu, bahkan masih berani mengucapkan perkataan begitu keras, hingga membuat gusar hatinya imam jahat itu.

Imam yang nama dan kejahatannya sudah sangat terkenal itu, dalam waktu sekejapan sudah menamatkan jiwanya dua manusia buas dari Lam-hong, yang juga merupakan sepasang iblis kenamaan serta mempunyai kepandaian ilmu silat cukup tinggi, dari sini saja dapat diukur berapa hebatnya kepandaian dan kekuatan imam dari Khong tong itu.

Yo Cie Cong yang baru muncul dikalangan Kang-ouw. terhadap nama dan keyahatan si imam itu, memang sebenarnya tidak tahu, tapi sekalipun tahu, dengan adatnya yang tinggi serta kepandaiannya sendiri yang luar biasa, ia juga lantas menjawab dengan sikapnya yang seperti orang acuh tak acuh. "Kau pikir hendak bagaimana?"

"HeHeh toya mu sudah bertindak menyingkirkan dua musuhmu yang sangat kuat, itu toch tidak bohong bukan ?"

"Ini ada soalmu sendiri yang sudi gawe. Dengan kepandaiannya seperti dua manusia buas dari Lam hong itu saja, apa kau kira mereka bisa berbuat apa terhadap diriku ?"

"Bocah yang terlalu jumawa, dengan terus terang toyamu hendak memberi tahukan padamu, oleh karena melihat bakatmu yang sebagus itu. maka toyamu ingin mengambil kau sebagai muridku..."

"Apa kau kira ada pantas mengucapkan perkataan demikian?" memotong Yo Cie Cong. "Haha setan cilik, kau ada mempunyai berapa lembar jiwa?"