Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 08

Jilid 08

Hampir setiap orang yang mengawasi golok tersebut pada merasa gemetar, akhirnya tidak berani mengawasi lebih lama.

Pada saat yang tegang itu, mendadak dari luar mendatangi seorang gadis berpakaian serba hitam.

Kecantikan gadis baju hitam itu membuat tergerak hatinya semua orang yang ada disitu.

Tapi diwajahnya gadis baju hitam itu nampaknya sangat kejam, sepasang matanya kelihatan beringas, hal ini sesungguhnya membuat heran orang-orang banyak itu. Entah apa maksudnya kedatangan gadis itu ?

Yo Cie Cong ketika menampak kedatangannya gadis baju hitam itu juga agak terkejut. Bukankah ia itu adalah Tio Lee Tin ? Mengapa ia juga muncul disini ? Pertanyaan ini selalu berputeran didalam otaknya.

Gadis baju hitam itu terus berjalan menuju keruangan dimana ada duduk tuan rumah.

Kedaatangan secara mendadak dan sikapnya yang aneh dari gadis itu, telah menimbulkan perasaan curiga bagi orang banyak, apakah dia itu pemiliknya Golok Maut? ……….

Coa Ceng It yang pertama-tama berbangkit dengan wajah berubah, kemudian disusul oleh para tetamu lainnya . Suasana mejadi semakin tegang.

Gadis berbaju hitam itu ketika menampak keadaan demikian, terlebih dulu ia mengangguk- anggukkan kepalanya dan bersenyum kepada semua orang, kemudian berdiri dihadapan tuan rumah sambil mengawasi Golok Maut yang menancap diatas penglari. Setelah itu ia baru berkata kepada Coa Ceng it :

...Siaoli adalah Tio Lee Tin, hari ini dengan secara lancang mengunjungi Coa Loacianpwee , harap Locianpwee suka memberi maaf banyak-banyak !’’

Coa Ceng It dehem-dehem sejenak, perasaan tegangnya lantas lenyap.

Orang-orang Kang-ouw yang tadi pada berbangkit, lantas pada duduk lagi dengan perasaan lega, tapi mata mereka masih ditujukan kepada dirinya gadis itu.

Hanya Yo Cie Cong yang menyaksikan sambil kerutkan alisnya. Hatinya diam-diam berpikir : bagaimana ia bisa datang secara mendadak ? Kalau dilihat dari sikapnya, nampaknya juga ada hubungannya dengan Golok Maut ini.

Bab 18

COA CENG IT saat itu lantas menjawab :

...Nona Tio, hari ini lohu ada urusan, jika nona tidak ada urusan yang penting sekali, bolehkah datang dilain hari saja ? Harap maafkan ’’

...Kedatanganku ini justru karena Golok Maut ini !’’ demikian berkata pula Tio Lee Tin dengan sikap sedih.

Keterangan itu telah mengejutkan semua orang, tidak terkecuali Yo Cie Cong .

Kedatangan Tio Lee Tin yang katanya berhubung dengan Golok Maut ini, sesungguhnya diluar dugaannya.

Peristiwa diatas tanah kuburan pada beberapa waktu berselang, kembali terbayang di otaknya Yo Cie Cong . Tio Lee Tin setelah barang pusakanya dirampas oleh siluman tengkorak Lui Bok Thong , orangnya terluka parah. Ia pernah menolong membuka totokannya nona itu, hingga jari tangannya telah merabah-rabah sekujur badannya sinona.

Sepasang matanya Tio Lee Tin yang bulat jeli, perkataannya yang merdu,masih belum lenyap dari ingatannya, dan sekarang bertemu pula dalam keadaan demikian ……

Coa Ceng It yang dibikin terheran-heran oleh perkataannya sinona, lantas berkata :

...Kedatangan nona adalah karena Golok Maut ini ?’’

...Benar !’’

...Lohu ingin mendapat keterangan nona lebih jauh !’’

...Ayahku Tio Ek Chiu telah binasa dibawah Golok Maut , maka siaoli telah bersumpah hendak menuntut balas sakit hati ini, biar bagaimana harus berusaha untuk menumpas kejahatan itu.’’

...Ouw !’’

Orang banyak ketika mendengar Tio Lee Tin itu lantas ramai membicarakannya : kiranya gadis ini karena mendengar munculnya Golok Maut , telah datang hendak menuntut sakit hati ayahnya, tapi apakah kepandaiannya mampu menandingi kepandaiannya Golok Maut ?

Hanya Yo Cie Cong ketika mendengar itu seolah-loah disambar geledek, ia sungguh tidak nyana bahwa Tio Lee Tin itu adalah anak perempuannya Tio Ek Chiu .

Namanya Tio Ek Chiu sudah di hapus dari dalam daftar musuh-musuhnya Kam-lo-pang , ini menjadi suatu bukti bahwa ayahnya gadis ini sudah binasa dibawah Golok Maut .

...Kalau begitu silahkan nona duduk. Ketika lohu mendengar nona ayah, juga merasa sangat gemas, siapa nyana iblis tua kini telah mengunjungi Lohu !’’

Demikian berkata pula Coa Ceng It .

...Coa Loacianpwee pikir bagaimana ?’’

...Melayani padanya sekuat tenaga !’’

...Siaoli hari ini menyediakan tenaga, dan bersumpah hendak mengadu jiwa dengan iblis itu. Sekalipun harus korbankan jiwa juga tidak apa, demi arwah ayah dialam baqa merasa gembira. Sehabis berkata ia lantas duduk dekat Coa Ceng It .

Tapi baru saja berduduk, matanya yang mengawasi orang banyak lantas dan melihat Yo Cie Cong duduk di suatu sudut.

Nampaknya ia sangat terkejut, tapi ia mendadak , menjadi gusar. Ia bangkit dari tempat duduknya.

...Nona ada urusan apa ? tanya Coa Ceng it heran.

Tidak apa-apa, hanya urusan sahabat lama, aku akan pergi sebentar jawabnya Tio Lie tin juga dapat dilihat dan sekarang sedang berjalan menghampiri dengan hati berdebar ia mendatangi si nona.

Ketika di hadapan Yo Cie Cong Tio Lio Tin lantas merandak setelah mengawasi sejenak ia baru pendengarkan suaranya kemudian berkata agak kaku.

...Yo Cie Cong, aku ingin bicara sedikit dengan kau !”

...Nona ingin bicara apa ? silahkan jawab Yo Cie Cong dengan dingin.

Saat semua mata telah di tunjukan kepda muda mudi itu entah pembicaraan apa yamh hedak dilakukan oleh mereka ?

...Mari kita bicara di luar !berkata pula Tio Lee Tin.

...Disini bukan sama saja ?.

...Tidak!”

...baiklah !”

...Yo Cie Cong lalu megikuti Tio Lee Tin, tidak lama mereka tiba disebuah rimba di luar kota.

...Nona ada keperluan apa ?” YO CIE CONG membuka suaranya.

...Yo Cie Cong aku ingin bertanya sebagai seorang rimba utama di persilatan apakah kau yang paling pertama.?

...Kepercayaan dan ke bajikan !”

...Kalau begitu kenapa kau meninggalkan aku sendiri ketika terluka parah ?”

...Hari itu aku….”

...Kalau begitu nona baju merah Siang-koan Kiauw yang telah tunjukan tepat pada waktunya, barang kali aku sudah di perhina oleh kawanan orang-orang rendah….” ...Yo Cie Cong sekarang mengerti apa sebabnya Tio Lee Tin begitu gusar padanya

...Tapi begitu ia menyebut namanya Siang-koan Kiauw hatinya lantas merasa perih bayangan si nona berbaju merah terlintas dalam otaknya yang tidak mudah terhapus di otaknya dan sinona itu meninggalkan untuk selama-lamanya.

Untuk sesaat lamanya ia terbenam dalam lamunan yang menyedihkan. Tio Lee tin tiba-tiba alisnya berdiri ia berkata dengan suara bengis.

...Yo Cie Cong sekarang kau harus berikan aku satu keadilan !”

...Keadilan ?” Yo Cie Cong balas menanya… ucapan nona ini agaknya…..”

...Hari itu aku tidak bisa menepati janji nona sebetulnya dalam keadan terpaksa !”

...Coba kau terangkan !”

Hari itu setelah meninggalkan nona, sebetulnya hari itu ingin lekas kembali dengan mermbawa kereta tiba-tiba ditengah jalan aku bertemu dengan musuhku, malah hampir saja jiwaku melayang

!”

...Benar’’

...Hari itu sebetulnya terlalu, gegabah aku tidak ingat bahwa diriku sedang di incar musuh hingga hampir mencelakakan nona!’

Mendengar ini Tio Lee Tin nampak sudah reda kegusarannya.

Ia sebetulnya mulai suka terhadap pemuda dingin ini apalagi setelah menyaksikan keberanian Yo Cie Cong yang membela dirinya yang tidak memikirkan resikonya bertambah dengan rasa simpati ketika dirinya terluka parah Yo Cie Cong telah merambah hampir seluruh badannya utuk membebaskan dari totokan Lui Bok Thong Bok Thong.

Tubuh gadis yang masih putih bersih telah dirambah oleh tangan seorang leki-laki

Yang baru saja di kenalnya meski hanya untuk menyembuhkan lukanya tapi biar bagai mana itu merupakan satu kejadian yang tidak biasa maka ia lantas merasa bahwa si pemuda itu calon pendamping hidupnya sudah tidak ada jalan lain lagi.

Oleh karena itu ia mengakmbil keputusan demikian, maka ketika akhirnya Yo Cie Cong tidak balik lagi. Dalam anggapanya lantas mengira kalau pemuda itu menipu dirinya dan kegusarannya telah bertambah ketika tadi dapat lihat dirinya Yo Cie Cong juga berada diantara orang banyak itu.

Sebetulnya hendak mengutarakan isi hatinya, tapi bagaimana ia dapat membuka mulut ?

Ia pernah memberitahukan hal itu kepada suhunya, itu orang misterius yang selalau mengenakan kedok kain merah dan yang mengaku dirinya sebagai pemilik bendera burung laut. Suhunya pernah berjanji padanya, apabila Yo Cie Cong ada seorang laki-laki yang tidak berbudi, ia juga nanti akan membereskan orang muda itu.

…Kalau nona sudah tidak ada lagi keperluan, aku permisi berlalu !” akhirnya Yo Cie Cong berkata setelah mereka lama membisu. Tio Lee Tin wajahnya berubah, ia merasa bahwa pemuda ini ternyata telah menyia-nyiakan harapannya. Meski ia merasa cinta terhadap pemuda itu, tapi Yo Cie Cong sikapnya begitu dingin maka ucapannya yang dingin tadi ia rasakan seolah-olah pisau tajam menusuk ulu hatinya.

…Kau hendak pergi ?” ia bertanya.

Yo Cie Cong merasa heran atasa pertanyaan ini, hatinya berfikir : apakah kau akan terus berada disini ?

Namun demikian, diwajahnya tidak menunjukan perubahan apa-apa, dengan tenang ia menjawab :

…Yah, aku hendak pergi !”

Sehabis berkata, ia lantas balikan badannya. Tapi baru saja bergerak…….

…Kau balik !” demikian Tio Lee Tin minta ia kembali.

Yo Cie Cong dengan perasaan heran hentikan kakinya dan lantas balik kembali.

…Nona masih ada keperluan apa ?” ia menanya.

…Kau ….kau …”

Parasnya Tio Lee Tin saat itu menunjukan peraasaan yang tidak karuan, karena hatinya, hatinya risau, mulutnya tidak mengatkan apa-apa.

Ia hendak menyatakan isi hatinya. Tapi tidak mempunyai keberanian. Sebaliknya ia juga tidak ingin pemuda yang sudah mencuri hatinya itu terlalu begitu saja. Maka untuk sesaat lamanya ia terus berdiri terpaku, tidak bisa berbuat apa-apa. Kesannya Yo Cie Cong terhadap Tio Lee Tin yang bukan saja cantik manis tapi juga mempunyai kepandaian sangat tinggi, sebetulnya juga tidak buruk. Tertapi hari ini, setelah mengetahui asal- usulnya diri sinona itu, kesnnya lantas berubah.

Apalagi hatinya saat itu sudah seperti terbang mengikuti sirinya Siang-koan Kiauw yang sudah binasa didalam lautan. Kalau saat itu ia masih terusa mau hidup, itu disebabkan semata-mata karena tugas dan kewajiban yang dibebenkan oleh suhunya masih belum selesai, sehingga perasaan hatinya seolah-olah sudah padam terhadap semua wanita.

Setelah berdiam sekian lamanya, akhirnya Tio Lee Tin membicarakan soal lainnya.

…Adik Siang-koan kiauw pernah mengatakan ia kenal dengan kau.”

…Benar.”

…Apa kau sudah bertemu padanya ?” Yo Cie Cong hanya mengangguk.

...Dan sekarang, kemana perginya dia ?”

Pertanyaan itu telah menimbulkan kedukaanya Yo Cie Cong, maka ia lantas menjawab sambil ketawa getir :

…Dia sudah meninggal dunia.”

…Apa sudah binasa ?”

…Ya.”

…Bagaimana cara ia meninggal ?”

…Dapat kecelakaan ditengah lautan. Dia telah terlekan ombak laut.” Jawab Yo Cie Cong dengan nada suara sedih.

Dari sikap dan pembicaraanya Yo Cie Cong yang tampaknya sangat berduka, Tio Lee Tin dapat menduga bahwa pemuda yang sikapnya kecut dingin ini tentunnya mempunyai hubungan yang tidak biasa lagi dengang Sian-koan Kiauw.

Tio Lee Tin merasa sangat berduka atas kematiannya Siang-koan kiauw, sebab nona baju merah itu pernah menolong dirinya ketika ia dfalam keadaan berbahaya sehingga senagai gadis ia tetap tak terganggu.

Tetapi dilain pihak, suatu pikiran yang boleh dikatakan pikiran seorang yang rendah, telah menggirangkan hatinya sebab dengan kematian nona baju merah itu ia lantas mendapatkan pemuda idamannya dan juga kehilangan satu saingan yang berat.

Dengan demikian, sebetulnya sangat bertentangan dengan Liang siang sendiri disini dapat dilihat bahwa soal asmara sebetulnya terlalu egostis mementingkan satu keuntungan diri sendiri saja.

Tio Lee Tin setelah berpikirlama, tiba-tiba mengambil suatu keputusan ia mengetahui bahwa kesempatan sebaiknya tudak dilepaskan begitu saja maka dengan tidak menghiraukan kedudukannya sebagai seorang gadis suci lantas berkata dengan tidak malu-malu lagi : 

...Kau rupanya jemu pada ku “

Yo Cie Cong ia segera mengerti perkataan apa yang di maksud dengan pertanyaan si nona maka ia lantas menjawab dengan suara yang dingin :

Dalam kehidupan manusia, betemu ataupun berpisah seperti juga awan yang menggumpal sebentar akan buyar. Diantara kita tak ada apa-apa yang dapat dikatakan jemu.”

Jawaban Yo Cie Cong membuat hati Tio Lee Tin semakin murung karena dengan tegas sudah menggambarkan bagaimana perasan hati Yo Cie Cong .

Tio Lee Tin merasa terluka hatinya wajahnya mengakat keatas memandang kelangit perasannya dirasakan kosong melompong.

Tiba-tiba ia teringat maksud kedatangannya kekota Kuil-Lim hendak menjumpai pemilik Golok Maut dan maksud tujuannya ialah hendak menuntut balas dendam atas kematian ayahnya. Jika pemilik Golok Maut muncul pada saat itu, bukankah itu berarti telah kehilangan kesempatan baiknya ? maka setelah memandang Yo Cie Cong dengan perasaan gemas ia berkata :

...Diantara kita, biar bagaimana kain hari kita bikin perhitungan.’’

Sehabis mengucapkan perkataannya itu dengan cepat Tio Lee Tin lantas berlalu.

Yo Cie Cong mengawasi berlalunya sinona sambil geleng-gelengkan kepalanya lalu ia berkata pada dirinya sendiri : “ya antara, kau dan aku harus membuat perhitungan sekali lagi. Tetapi perhitungan yang dimaksud Yo Cie Cong dan yang di maksud oleh Tio Lee Tin sangat berlainan sifatnya.

Selanjutnya ia sendiri kembali kegedung Coa Ceng It.

Sekarang kita kembali lagi kepada, Tio Lee Tin oleh karena mengigat kematian ayahnya yang sangat mengenaskan dengan ilmu larinya yang luar biasa sebentar saja oia sudah sampai di gedung Coa Ceng It.

Pikiran untuk menuntut balas untuk ayahnya, untuk sementara itu telah membuat tawar hatinya terhadap Yo Cie Cong .

Ketika ia sedang lari, di tengah jalan ia melihat sosok bayangan hitam yang ddengan pesat lewat di sampingnya dan kemudian ia hilang di pandangannya.

Sebagai seorang yang mempunyai ilmu lari yang sangat tinggi ilmunya Tio Lee Tin masisangat heran dengan kegesitannya orang itu dapoat di bayangkan betapa tinggi kepandainnya. Si nona kagum sejak keluar dari perguruannya belum pernah ia menjumpai orang yang mempunyai ilmu kepandaian lari yang sekarang dilihatnya.

...Apakah bayangan itu sipemilik Golok Maut pertanyaan itu timbul dalam hatinya pada saat itu, oleh karena berpikir demikian larinya di percepat pula.

Tatkala ia sampai di gedung Coa Ceng It ketegangan meliputi setiap oaring di tempat. Gedung itu meskipun terang benderang tetapi dirasakan begitu menyeramkan.

Golok maut yang tertancap diatas tiang karena tersorot oleh sinar lillin, kelihatan tambah berkilau.

Coa Ceng it dengan tidak berhenti-hentinya terus mengawasi limapuluh lebih pioauwsunya yang melindungi di sekitarnya dan semua orang-orang Kang ouw datang membantu melindungi tuan rumahnya.

Meski di luarnya dia seolah-olah hendak mengadu jiwa dengan si pemilik Golok Maut tetapi di dalam hatinya merasa ketakutan.

Suatu perasaan buruk telah menekan perasaannya.

Sebab menurut kabaryang di siarkan orang banyak kepandain yang di miliki Golok Maut susah di ukur sampai di mana tingginya.

Meskipun didalamnya penuh dengan orang-orang yang gagah berilmu cukup tinggi dari berbagai golongan tetapi ia sendiri merasa orang terkecil seorang diri, dalam hatinya selalu berpikir : “mungkin aku takan lolos dari nasib yang mengenaskan yang akan menimpa diriku ”

Malaikat maut seperti membayangi dirinya yang membuat tidak enak makan dan enak duduk penderitaan batin yang sangat hebat yang dialami sekarang sebetulnya lebih celaka dari pada mati.

Orang-orang dari persilatan itu turut datang berkumpul ia pun merasa cemas sekali, ketegangan membuat orang susah bernapas.

Dari jauh telah terdengar kentongan lonceng berbunyi dua kali suatu tanda hari sudah pukul dua tengah malam.

Sebantar lagi sudah sampai pukul tiga tetapi pemilik golok maut belum tampak jua dirinya.

Didalam ruangan dan di luar pekarangan semuanya kelihatan sunyi sepi. Ratusan mata yang tidak henti-hetinya mengincar dan mencari bagai sinar bintang yang berkelik-kelik tidak terlihat apa-apa saat di situ.

Pada saat-saat menegangkan terdengar suara tawa yang seram sekali…..

Suara tawa itu seolah –olah sebilah pedang yang tajam yang menikam ulu hati dan menusuk telinga setiap pendengarnya.

Suara tawa itu telah memecahkan kesunyian malam itu.

Setiap wajah orang-orang yang mengaku dirinya sebagai orang-orang rimba persilatan tiba-tiba berubah pucat, hati mereka berdebar-debar napas mereka seolah-olah berhenti.

Terutama Coa Ceng it sendiri, saat itu pucat keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya sedangkan kelima puluh orang piauwsu telah menyiapkan senjata mereka masing-masing untuk menantikan pemilik Golok maut.

Suara tawa yang dingin itu sebentar terputus . tetapi makin lama kedengarannya semakin dekat saja.

Suasana tegang makin memuncak. Keseraman meliputi seluruh gedung. ...Coa Ceng it orang yang hendak menagih hutang kini telah dating ! demikian tiba-tiba terdengar suara seperti orang bicara yang tidak kelihatan orangnya.

Suara itu tidak keras tapi nyaring menusuk telinga sehingga membuat semua orang yang mendengar berdiri bulu kuduknya.

Selanjutnya disusul oleh munculnya seorang orang tua berambut putih dengan tangan yang Cuma sebelah, seolah-oalh malikat yang turun dari langit orang tua aneh itu tiba-tiba sudah ada di atas wuwungan rumah, sedangkan Golok Maut yang menancap kini sudah berada di tangannya.

...Kau….kau..kau..adalah …” berkata Coa Cong it dengan suara gemetar. Semua orang-orang Kang ouw yang berada di tempat melongo seperti patung.

Lima puluh orang piauwsu yang diundang oleh Coa Ceng it saat itu tidak tahu harus berbuat apa dengan mata melotot mengawasi orang aneh yang menyeramkan itu.

...Iblis,aku akan mengabisi nyawamu “saat itu sang nona tak tinggal diam begitu saja.”

Demikian terdengar teriakan nyaring kemudian di susul dengan melesatnya satu bayangan yang kecil langsing.

Tapi sebelum Nona itu bertindak, di dalam ruangan terdengar suara jeritan ngeri kemudian satu bayangan melesat berkelebat dari ruangan.

Bayangan kecil langsing lantas menyusul keluar.

Lima puluh piawsu tersadar dari kagetnya di hadapan mereka sudah tak terlihat bayangan si pemilik Golok Maut diantara suara bentakan riuh merreka lantas keluar loncat untuk mengejar.

Ketika orang-orang berkerumun masuk kedalam ruangan.Coa Ceng it sudah tergeletak di tanah dalam keadaan mengerikan.

Orang she Coa itu sudah binasa dalam keadaan kutung kedua lengan tangannya dan depan dadanya terdapat satu lobang besar yang saast itu masih menyemburkan darah segar kematianya itu sungguh sangat mengenaskan.

Pemimpin delapan belas piaw itu ternyata tidak bisa meloloskan diri dari tangan pemilik Golok Maut. Ia merupakan orang ke delapan yang binasa oleh golok Maut.

Bagaimana sebetulnya Golok Maut itu mengambil jiwa korbannya ? meski terdapet begitu banyak, orang-orang Kang ouw yang sudah banyak pengalaman tapi herannya tak seorang pun dapat terlihat.

Ini sungguh sangat mengherankan tapi merupakan kenyataan suatu bukti yang kuat maka keanehan tetap tinggal keanehan.

Orang yang mengeluarkan terikan dan kemudian kelihatan bayangannya yang kecil langsing mengejar bayangan si pemilik Golok Maut adalah Tio Lee Tin karena ia agak terlambat sedetik, pemilik Golok Maut sudah berhasil mengambil jiwa korbanya.

Tio Lee Tin dengan mata berlinang-linang dan hati panas telah mengejar pemilik Golok Maut sampai jauh.

Ia adalah murid pemilik bendera burung laut, si orang berkedok berkain merah kepandaiannya ilmu silat didalam kalangan Kang Ouw sudah merupakan orang yag terkuat. Tetapi meski demikian nampaknya tidak berhasil menyandang pemilik Golok Maut.

Sebentar saja, kedua bayangan itu sudah menghilang ke luar kota.

Bayangan yang ada di depan terdengar suaranya yang dingin, larinya pun makin cepat hingga kedua bayangan itu terpisah semakin jauh.

Tio Lee Tin terdengar seantero kepandaiannya, tapi masih tak berhasil membuat jarak pendek dengan bayangan pemilik Golok Maut bahkan makin lama terpisah makin jauh, sekejap saja sudah terpisah kira-kira lima puluh tumbak lebih.

Setan iblis kalau kau adalah laki-laki berhenti dulu saambutlah serangan aku ! “Nona itu berkata dalam dongkolanya ia Cuma bisa berseru dengan suara keras.

Tapi bayangan itu seolah-olah tak dengar Tio Lee Tin sekejap saja sudah menghilang kedalam rimba.

Tio Lee Tin terpaksa mengejar terus.

Rimba itu tak lama berselang pernah di gunakan sebagai tempat pertemuan dengan Yo Cie Cong .

Tiba-tiba di suatu tempat dapat melihat berdirinya satu bayangan orang. ...Iblis ! Serahkan jiwamu,’’ demikian Tio Lee Tin berseru dan dengan pedang terhunus ia menerjang kearah bayangan itu.

Bayangan orang itu kelihatan berkelit kesamping dan kemudian membalas dengan serangan tangan kosong.

‘Bluk !’ demikianlah terdengar suatu suara yang nyaring dan Tio Lee Tin beserta pedangnya telah dibikin terpental oleh serangan yang dilancarkan oleh bayangan orang tadi.

Tatkala ia lompat bangun lagi dan selagi hendak menyerang orang tersebut, ia lantas menjadi melongo.

...Ei. Kau ?’’

...Benar, Itu adalah aku. Mengapa nona menyerang aku ?’’

...Kenapa kau belum berlalu dari sini ?”

...Ngng”

Orang itu adalah Yo Cie Cong .

Bertepatan pada saat itu, terlihat satu bayangan yang dengan cara mengendap-ngendap masuk kedalam rimba tanpa mengeluarkan suara.

Tio Lee Tin masih ingant betul kekuatan Yo Cie Cong masih jauh dibawah kekuatannya sendiri.

Tetepi mengapa tadi ketika turun tangan ia menyerang dirinya, ada yang mempunyai kekuatan hebat ?diam-diam ia merasa bingung sendiri.

Ia masih belum mengetahui Yo Cie Cong tadi menggunakan beberapa banyak kekuatan dalam serangannya tetapi ia dapat memastikan muangkin ia tidak mampu menangkis serangan tersebut.

Untuk sesaat lamanya pikirannya menjadi kalut sendiri. Apakah ia dulu hanya pura-pura saja, tidak mau menunjukan kekuatan aslinya ? tetapi perlu apa ia menyembunyikan kekuatannya sendiri ? dengan kekuatan seperti yang sudah di keluarkan tadi, ketika lukaku parah dengan mudah ia dapat menyembuhkan lukaku dengan kekuatan tenaga dalamnya. Tetapi menmgapa ia hanya mengurut jalan darah ku saja dan mengaku tak mempuyai kekuatan untuk menyembuhkan lukaku saja. Mengapa ? pertanyaan-pertanyaan itu terus berdatangan di otakku. “si Nona itu berkata dalam hatinya.”

Sebentar kemudian ia lantas mendekati Yo Cie Cong.

Barusan aku sudah menduga kau sebagai iblis jahat itu, kau lantas turun angan menyerangmu.

Untung kekuatanmu sangat hebat. Jika tidak bukan kah membuat aku menyesal untuk selama- lamanya ?” demikian Tio Lee Tin berkata.

...Nona tadi aku kira aku ini siapa ?”

...Pemilik Golok Maut.”

...YO CIE CONG terperanjat, ia coba menegasi : ...pemilik Golok Maut ?”

...Benar apakah kau barusan melihat ada orang lain masuk kedalam rimba ini ?”

...Tidak”

Ini sengguh heran. Aku tadi sendiri melihat sendiri iblis itu masuk kedalam rimba ini. Apakah ….

...Mengapa nona hendak mengejarnya ?” ……

...Iblis jahat itu mempunyai permusuhan yang sangat dalam dengan aku maka aku takan melepaskan begitu saja.”

...Permusuhan apa sebetulnya ?”

...Ayahku Tio Ek Chiu telah binasa ditangannya.”

...Oooo, tapi mungkin nona masih bukan tandinganmu.”

...Bagaimana kau tahu kalau aku bukan tandingannya ?”

...Menurut berita yang tersiar dikalangan Kang Ouw kepandaian pemilik Golok Maut itu sangat tinggi dan sukar di jajaki .”

...Hmm ! kalau benda pusaka ku tak dirampas oleh siluman tengkorak, sekalipun sepuluh pemilik Golok Maut juga pasti akukan binasakan.”

Yo Cie Cong hatinya tergerak ia tidak benda pusaka apa yang di ucapkan oleh Tio Lee Tin yang katanya ada begitu hebat. Benda itu telah menarik perhatianaya si luman tengkorak yang telah merampas dari tangan si nona, maka dapat di bayangkan betapa pentingnya benda itu dan merupakan suatu benda pusaka yang tak ternilai harganya. Bab 19

Hari itu ketika Si luan tengkorak Lui bok Thong merampas benda pusaka dari tangan si Nona Yo Cie Cong juga menyaksikan sendiri. Tetapi sesudah kejadian tersebut kala itu ia masih belum berani menanyakan kepada Tio Lee Tin tentang benda menarik perhatiannya itu.

Dan sekarang setelah si Nona menyebutkannya lagi benda yang dirampasnya itu perasaan ingin tahu telah timbul dalam dirinya maka ia lalu menanya :

...Benda apakah yang Nona maksudkan dan banggakan itu ?”

...Aku beritahukan padamu juga taka pa, “jawab Si Nona.

...Benda itu namanya Ouw-bok pok-lok.”

Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong mendengar sebutan Ouw-bok pok-lok. Hampir saja mulutnya berseru tanpa di sadari.

Sebab benda yang di sebut oleh Tio Lee Tin adalah barang peninggalan suhunya yang telah hilang juga merupakan peristiwa berdarah Kam-lo pang pada dua puluh tahun berselang.

PADA pesan terakhir dari suhunya, ia pernah menyuruh Yo Cie Cong mencari kembali barang yang merupakan benda pusaka tersebut yang kini hanya ada sepotong saja pada dirinya.

Maksudnya ialah supaya bisa di gunakan untuk menuntut balas kepada musuh- musuhnya.

Sungguh ia tidak pernah menyangka bahwa hari ini secara kebetulan sekali ia telah dapat mengetahui dimana adanya barang yang terhilang itu. Ia kini sudah dapat alamatnya, kepada siapa harus ia meminta, potongan ouw bok Po lok lainnya, ialah pada Lui Bok Thong, seorang iblis yang merupakan musuh besar dari suhunya.

Tetapi kemudian ia berpikir pula, ouw- bok po lok itu meskipun betul merupakan satu benda yang amat mujijad, tetapi jika tidak mendapatkan keterangannya, orang lain juga tidak akan mampu menggunakan inti sarinya yang termuat dalam potongan kayu itu.

Yo Cie Cong terbenam dalam lamunannya. Ia hampir lupa bahwa disisinya masih ada Tio Lee Tin.

"Eh. Kau kenapa tidak bersuara?" Tio Lee Tin menegur, bersenyum manis. "Aku... oh Aku sedang berpikir..." jawab Yo Cie Cong dengan agak gelagapan- "Berpikir mengenai soal apa ?"

"Ouw bok po lok itu merupakan suatu benda sangat berharga, mengapa nona bawa-bawa dibadanmu?"

"Sebab disitu ada kuncinya pelajaran ilmu silat yang dalam dan tinggi sekali. Ayah almarhum telah menggunakan waktu hampir dua puluh tahun lamanya untuk mempelajarinya, tetapi masih juga belum berhasil memecahkan isinya, maka aku pikir, hendak minta suhuku untuk memberi pelajaran dari situ. Barangkali "

"Suhumu ada seorang berkepandaian tinggi luar biasa, mungkin beliau dapat memahami makna isinya."

"Tapi sekarang benda itu sudah terjatuh dalam tangannya si siluman tengkorak." "Apa suhumu sudah tahu soal itu ?"

"Sudah, Malah beliau sudah mengirim dua belas orang utusannya untuk mencari siluman tengkorak itu "

Yo Cie Cong terperanjat. Dalam hatinya diam-diam berpikir: "Aku harus berdaya untuk mencari siluman tengkorak itu lebih dulu. Dan harus bisa mengambil kembali benda pusaka itu sebelum didahului oleh orang-orang pemilik bendera burung laut.

saat itu meskipun dalam hatinya merasa tergoncang hebat, tetapi diluarnya masih tetap dingin kecut. sedikitpun tidak terlihat perubahan apa-apa.

Jikalau Tio Lee Tin mengetahui siapa orangnya yang sedang berbicara dengannya pada saat ini, barangkali sudah akan diajak bertempur mati-matian.

"Nona Tio, aku hendak pergi." "Kau mau pergi?" "Ya."

"Hmmm Tidak begitu gampang."

"Apa maksud nona ?" tanya Yo Cie Cong dengan heran- "Yo Cie Cong, apa benar-benar kau tidak mengerti ?" "Aku tidak mengerti."

"Antara kita toch masih harus mengadakan perhitungan, bukan?"

Diwajahnya Yo Cie Cong yang dingin terlintas perasaan sangsi, ia menanya dengan heran : "Diantara kita masih ada ganjalan apa lagi ?"

"Kalau kau masih berani berkukuh, aku akan membunuh kau terlebih dulu."

Tio Lee Tin kelihatannya sudah gusar benar-benar. Tangannya meraba gagang pedangnya, kelihatannya jika Yo Cie Cong tidak mau menjelaskan sebab-sebabnya waktu itu Yo Cio Cong meninggaikannya begitu saja, ia benar-benar akan segera turun tangan.

Jika hal itu terjadi pada sebulan berselang, sudah tentu Yo Cie Cong tidak mampu menandingi sinona. Tetapi keadaan Yo Cie Cong sekarang sudah berlainan sekali. Dua kali keajaiban yang menimpa dirinya telah membikin ia menjadi seorang yang sangat kuat sekali. Apalagi ia sudah mendapat warisan pelajaran dan dua orang aneh luar biasa, yaitu si hweshio gila dan Pengail ling- lung.

Jika Tio Lee Tin turun tangan benar-benar, pasti ia yang akan menderita kerugian.

Yo Cie Cong ketika mendengar perkataan sinona, hatinya juga merasa mendongkol maka ia lantai menjawab sambil ketawa dingin :

"Tio Lee Tin coba kau sebutkan.Jika terbukti aku bersalah, aku Yo Cie Cong tidak nantinya akan pungkiri kesalahanku sendiri, juga tidak perlu kau yang turun tangan terhadapku. Aku bisa habiskan jiwaku sendiri dihadapanmu. Tetapi ingat, jikalau kau cuma mentiari-cari alasan melulu atau mencari setori, hmmm "

"Bagaimana ?"

"Kau hendak membunuh aku barangkali tidak mungkin."

"Baik. sekarang aku tanya kau. Dengan kekuatan yang kau unjukkan tadi ketika kau menyerang aku, ternyata kekuatan tenaga dalammu sudah cukup matang. Rasanya hal ini toch kau tidak bisa pungkiri bukan ?"

"Sedikit kepandaian yang tidak berarti masih belum boleh dikatakan matang."

"Jika dengan kekuatan tenaga dalammu itu dipakai untuk menyembuhkan luka orang, bukankah sudah lebih dari cukup?"

"Rasanya memang cukup,"

"Kalau begitu, hari itu ketika aku terluka parah karena terkena serangannya si siluman tengkorak. mengapa kau tidak mau menggunakan kekuatan tenaga dalammu untuk menyembuhkan lukaku, sebaliknya mengurut jalan darahku sehingga tanganmu meraba-raba sekujur badanku?"

Yo Cie Cong sekarang baru mengerti apa sebabnya nona itu gusar. Dikala itu, memang ia sendiri tidak mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan lukanya sinona. Kalau dia akhirnya mendapatkan kepandaian dari kekuatan yang maha hebat itu, juga hanya terjadi pada hari-hari belakangan ini saja. Tetapi ia masa bisa membantah ?

"Benar Apakah aku berbuat begitu itu ada salahnya?" "Kau mengandung maksud tidak baik terhadapku "

Yo Cie Cong hampir saja meledak dadanya, ia yang dengan sejujur hatinya menolong jiwa orang, sekarang sebaliknya telah didakwa mengandung maksud jahat, maka saat itu ia lantas berkata dengan suara mengatakan ketidaksenangan hatinya. "Tio Lee Tin, kau mengerti aturan atau tidak?"

"Mengapa kau kata aku yang tidak mengerti aturan ? Kau sendiri yang tidak tahu diri " "Apakah aku menolong kau itu ada salahnya ? Coba katakan "

"Kau tidak mengambil jalan yang dekat, malah sengaja menempuh jalan jauh. itu sudah merupakan suatu bukti bahwa kau ada mengandung maksud tidak baik."

"Ha, ha, ha... Tio Lee Tin. Kalau aku Yo Cie Cong ada seorang yang semacam apa yang kau maksudkan, ketika kau dalam keadaan pingsan tidak ingat diri, segala apa aku toch bisa lakukan terhadapmu. Bukankah begitu? Coba saja kau pikir."

Tio Lee Tin lantas bungkam. Kalau tadi ia terus mendesak Yo Cie Cong, maksudnya ialah supaya Yo Cie Cong mengerti kehendaknya, sebab seluruh badannya sudah di-raba2 oleh Yo Cie Cong, maka ia sudah bermaksud hendak menyerahkan jiwa raganya pada anak muda tersebut.

Tetapi, dengan berbuat demikian, justru ia telah mendapatkan sebaliknya .Jangan kata Yo Cie Cong saat itu hatinya sudah terbawa pergi oleh Siangkoan Kauw, sekalipun tidak begitu juga tidak nantinya ia bisa menyintakan orang secara demikian.

Meskipun Tio Lee Tin mempunyai kecantikan seperti bidadari, tetapi masih juga tak mampu menggerakkan hati Yo Cie Cong.

Sebab Yo Cie Cong sudah mengetahui siapa adanya nona itu, maka ia juga tidak dapat mencintainya.

Kedua orang itu dengan pikiran sendiri-sendiri pada berdiri menjublek berhadapan dalam rimba yang gelap itu.

Tio Lee Tin hatinya seperti diiris-iris rasanya. Ia tidak menduga kalau pemuda itu sedikit pun tidak mempunyai perasaan terhadapnya.

Barang apa saja didunia ini. ..Cinta adalah yang paling makan hati. semakin susah orang mendapatkannya, semakin bernapsu ia hendak mendapatkannya. seolah-olah barang yang tidak mudah didapat itu adalah barang paling indah, paling berharga, yang sukar dimiliki.

Itulah sifat manusia, begitu pula keadaannya Tio Lee Tin pada saat itu.

Buat orang lemah, kalau ia bisa merusak dirinya sendiri. Tapi buat orang yang berhati keras, berkemauan keras, jika tidak dapatkan barang yang diingini, ia juga tidak suka barang itu didapatkan oleh orang lain, ia bisa merusak barang tersebut. Tio Lee Tin ada seorang yang mempunyai sifat seperti orang yang tersebut belakangan.

"Nona Tio, aku hendak memberi sedikit nasehat padamu, aku harap kau dalam segala hal harus pikir dulu masak-masak. Aku berani bersumpah bahwa aku ada berhati jujur terhadap diri nona, sedikitpun tidak mempunyai pikiran jahat seperti apa yang nona kira." berkata Yo Cie Cong.

Sebetulnya hal ini Tio Lee Tin juga sudah tahu, cuma karena ia terlalu dalam cintanya kepada Yo Cie Cong, maka ia terus menerus mendesak anak muda itu. Tapi siapa sangka pemuda itu seolah-olah mengabaikan cintanya.

"Yo Cie Cong, aku tidak menanyakan padamu bagaimana maksud hatimu, aku cuma tanya kau bagaimana hendak kau bereskan perhitungan antara kita berdua."

"Diantara kita tak ada apa-apa yang perlu harus diperhitungkan. Kau mau apa ?" "Apa kau kira aku boleh kau permainkan sembarangan?".

Perkataan yang melantur itu, membuat Yo Cie Cong tidak bisa menahan kesabaran hatinya lagi, maka ia lantas berkata dengan suara dingin: "Kau hendak berbuat apa?"

"Aku hendak bunuh mati kau "

"Dengan kepandaianmu sekarang ini masih belum bisa kau lakukan " "Coba saja."

Sehabis berkata, dengan cepat Tio Lee Tin menghunus pedangnya, dalam waktu sekejapan saja sudah melancarkan serangan sampai delapan kali.

Dengan gerak badannya yang sangat lincah, Yo Cie Cong terus berkelit untuk menghindarkan serangan sinona. "Kau benar-benar hendak turun tangan?" "Memangnya aku main?" Tio Lee Tin mulutnya menjawab, tangannya tidak berhenti bergerak.

Kembali sudah meluncurkan beberapa kali serangan.

Yo Cie Cong tidak senang. Ia lantas ayun tangannya, hingga meluncur keluar kekuatan tenaga dalamnya, meski itu cuma menggunakan tenaga lima bagian saja, tapi sudah cukup hebat.

Tio Lee Tin kenal baik sampai dimana hebatnya tenaga dalam Yo Cie Cong, pedang ditangannya lantas diputar, untuk memunahkan kekuatan tenaga yang dilancarkan oleh anak muda itu.

Yo Cie Cong agak terkejut, tahu-tahu sinar pedang sinona sudah mengurung dirinya lagi.

Kali ini ia sudah gusar benar-benar, maka lantas mengirim serangannya lagi.

Serangannya kali ini dibarengi dengan kekuatan Kan-goan Cin-Cao, hingga pedang Tio Lee Tin lantas tersampok oleh sambaran angin serangannya.

Dalam kagetnya, Tio Lee Tin buru-buru tarik kembali serangannya dan lantas mundur teratur. sekarang ia merasa heran atas kekuatan dan kepandaian anak muda ini, yang kelihatannya tidak dibawahnya Lui Bok Thong, itu Siluman tengkorak yang merupakan lawan paling kuat sejak ia muncul didunia Kangouw.

Justru karena demikian, sikapnya Tio Lee Tin kepada Yo Cie Cong jadi semakin tebal, tapi disamping itu, rasa gemasnya juga semakin bertambah.

Perasaan cinta dan gemas yang timbul secara berbareng ini, sesungguhnya susah dimengerti.

Yo Cie Cong setelah berhasil menyerang mundur lawannya, tidak mendesak lebih lanjut karena ia juga merasa mendongkol atas sikapnya sinona yang dianggapnya mencari setori tanpa sebab, maka ia tidak bermaksud hendak melukai dirinya.

oleh karena meraba gusar dan malu, Tio Lee Tin lantas mengubah wajahnya, dengan suara gemetar ia membentak :

"Yo Cie Cong aku akan adu-jiwa dengan kau "

Perkataannya itu lantas disusul dengan serangannya yang semakin hebat.

Untuk sesaat, Yo Cie Cong terdesak oleh serangan yang dilakukan secara kalap itu sehingga mundur sampai tiga tindak. Anak muda itu diam-diam lantas berpikir,"jika tidak diberi sedikit rasa, Tio Lee Tin tentunya tidak mau mengerti."

Setelah berpikir demikian, tangan kanannya lantas melancarkan serangan berat, hingga Tio Lee Tin mundur lagi.

Yo Cie Cong geser maju kakinya, tangan kirinya ditujukan ketengah udara, dari situ lantas meluncur angin hebat.

Serangan ini adalah ilmu Liu-in Hud-hiat yang ia dapat dari Phoa ngo-hweshio.

Betapapun tirggi kepandaiannya Tio Lee Tin, juga tidak berdaya menghadapi serangan tersebut.

Jika serangan itu mengenakan sasarannya, Tio Lee Tin pasti akan jatuh roboh tanpa ampun lagi.

Dalam saat-saat yang sangat berbahaya itu, mendadak terdengar suara yang muncul dibelakang dirinya Yo Cie Cong: "Bocah tahan "

Yo Cie Cong segera tarik kembali serangannya sambil lompat ke samping.

Tatkala ia menengok, disuatu tempat terpisah kira-kira satu tombak jauhnya, ada kelihatan berdiri satu orang.

Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong, karena orang itu berada dibelakangnya dalam jarak cuma satu tombak saja, ia masih tidak berasa sama sekali, maka kepandaiannya orang itu sesungguhnya sangat luar biasa.

Ketika ia mengawasi dengan seksama, orang tersebut ternyata adalah si orang berkedok kain merah.

Selagi Yo Cie Cong hendak menghampiri, mendadak terdengar suara: "Suhu " Dengan cepat Tio Lee Tin sudah lompat maju dan, berlutut dihadapannya orang berkedok itu. "Tin-jie bangun " demikian orang berkedok itu berkata.

Yo Cie Cong cepat maju menghampiri, memberi hormat sambil berkata :

"Boanpwe Yo Cie Cong disini menghadap locianpwe, atas pertolongan locianpwe ditepi danau Naga yang membuat boanpwe terhindar dari kematian, disini boanpwe mengucapkan banyak- banyak terima kasih "

"Eh Bocah, kiranya adalah kau? Ha ha, Kau bisa terluput dari bencana kematian, di kemudian hari pasti besar sekali rejekimu "

Tio Lee Tin lantas berbangkit, dengan mata masih merah, ia lantas berkata dengan lagaknya yang sangat aleman: "suhu, dia dia menghina muridmu" orang berkedok itu lalu menjawab dengan perlahan-lahan:

"Tinjie, suhumu ada mempunyai pendirian sendiri dalam soal asmara, kedua pihak harus mendapat kecocokan dikedua belah pihak. sedikitpun tidak boleh ada sistem paksaan.

Kau ada seorang pintar, sudah tentu mengerti apa maksud perkataan suhumu ini."

Yo Cie Cong dalam hati diam-diam memuji orang berkedok itu, sebab uraiannya itu memang tepat.

Sebaliknya hati Tio Lee Tin, nona ini merasa seolah-olah tidak digubris pengaduannya, maka hatinya merasa sedih. sambil menekap mukanya ia menangis.

Ia juga mengerti bahwa asmara itu tidak boleh dipaksa, namun ia tidak tahan dengan godaan hatinya.

orang berkedok itu menyaksikan keadaan muridnya, dengan perlahan menghela napas.

Suasana cukup mengharukan-

sejenak kemudian, orang berkedok itu tiba-tiba berkata : "Bocah. namamu Yo Cie Cong ?" "Yah, boanpwe Yo Cie Cong."

"Siapa suhumu ?"

"Untuk sementara boanpwe merasa keberatan untuk memberitahukan, harap locianpwe suka memberi maaf untuk itu."

"Ng"

Namun dalam hatinya orang berkedok itu diam-diam berpikir: "Heran, gerak tipu dan kepandaian bocah ini sungguh aneh, dengan pengalamanku yang sudah demikian luas, ternyata aku masih belum dapat mengenali ilmu silatnya itu berasal dari golongan mana. Lagi pula bocah ini pada sebulan berselang kepandaiannya biasa saja, mengapa sekarang dengan mendadak sudah berubah demikian hebat?"

Sepasang matanya yang tajam, menembusi dua lubang kecil dari kedoknya, terus menatap Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong yang diawasi secara demikian diam-diam merasa tidak enak.

"Bocah, sejak kau menelan mustikanya Gu-liong-kao ditepi danau Naga, apa kau mengalami kejadian gaib lainnya lagi ? Kau boleh jawab asal kau suka, tapi kalau ada mempunyai kesulitan tersendiri, kau boleh tak usah menjawab pertanyaanku ini " berkata orang berkedok itu.

Yo Cie Cong dengan tanpa ragu-ragu lantas menjawab:

"Yah, boanpwe pernah menemukan dan secara tidak terduga-duga sudah makan telurnya burung rajawali raksasa "

"Bocah, kau benar-benar seorang yang mempunyai rezeki besar sekali, harap supaya kau bisa baik-baik bawa diri"

"Terima kasih, locianpwe "

Tio Lee Tin ketika mendengar percakapan mereka, lantas pesut air matanya, kemudian berpaling kepada suhunya. Dalam hatinya berpikir : "suhu dengan dia agaknya sudah kenal satu sama lain" Matanya orang berkedok itu dari wajahnya Yo Cie Cong lantas dialihkan kelangit yang gelap. lama tidak berkata apa-apa, entah apa yang sedang dipikirkannya.

Diantara Tio Lee Tin dengan Yo Cie Cong karena sudah retak hubungannya, maka satu sama lain tidak membuka suara.

Dimalam yang sunyi itu, suasananya nampak semakin mengharukan-

setelah hening sekian lama, orang berkedok itu tiba-tiba berkata pada Tio Lee Tin : "Tin-jie, kau sudah bertemu dengan Pemilik Golok Maut atau belum ?"

"Muridmu sudah berjumpa dengannya, ternyata dia ada seorang tua berambut dan berjenggot putih semua, sedang lengannya cuma tinggal sebelah Tapi kepandaian muridmu sangat terbatas, maka tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya"

"Ng "

Yo Cie Cong diam-diam hatinya bergoncang hebat.

"Suhu, suhu lihat Pemilik Golok Maut itu apakah benar pangcu partai Kam lo-pang waktu dulu itu ?" tanya Tio Lee Tin.

"Dewasa ini masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Menurut kabar yang tersiar dalam kalangan Kangouw, Yo Cin Hoan sendiri memang betul sudah binasa bersama-sama dengan runtuhnya partai Kam lopang pada dua puluh tahun berselang ."

"Tapi dimalaman ketika ayah muridmu dibinasakan olehnya, pernah dengar sendri kalau orang yang turun tangan membinasakan ayah itu ada menyebutkan dirinya sebagai pangcu dari Kam- lopang, Apakah dalam hal ini ..."

"Orang dalam dunia Kangouw banyak sekali akalnya. sebelum keadaan yang sebenarnya menjadi jelas, susah dipastikan " memotong sang suhu.

Dalam hatinya Yo Cie Cong saat itu berkobar pula rasa dendam sakit hatinya. Tapi diwajahnya yang dingin kecut, masih tetap tidak menunjukkan perubahan apa-apa.

"suhu Tidak perduli Pemilik Golok Maut itu siapa orangnya, biarpun Tin-jie harus korbankan jiwa, juga akan turun tangan untuk membinasakan padanya, untuk menuntut balas atas kematian ayah "

"Tin-jie, menuntut balas sakit hati atas kematian orang tua memang sudah seharusnya, cuma kepandaianmu maiih belum mampu menandingi Pemilik Golok Maut"

"Tapi muridmu tidak mau berhenti berusaha sebelum binasa "

Yo Cie Cong yang mendengarkan dari samping, diam-diam merasa bergidik,

"Tin-jie, buat sekarang soal yang penting adalah mencari kembali bendamu yang terhilang itu " "Apakah suheng semuanya sudah berhasil menemukan jejak Siluman tengkorak itu ?"

"Belum ada yang pulang atau memberi laporan."

Yo Cie Cong setelah berpikir sejenak, lalu berkata kepada orang berkedok:

"Locianpwe, boanpwe masih ada sedikit urusan yang hendak dibereskan, sekarang boanpwe minta permisi dulu "

Sebelum orang berkedok membuka mulut, tiba-tiba Tio Lee Tin berkata mendahului: "Suhu, kau ada kata hendak membereskan persoalan muridmu "

"Tinjle, kenapa kau begini kukuh ?"

"Tapi diri muridmu yang masih suci sudah di..."

"Ha ha, Tinjie, dia toch bukan bermaksud hendak menghina kau, bukan ?"

"Suhu, badannya seorang gadis, bagaimana boleh diraba oleh sembarang orang?" Tio Lee Tin lantas menangis sesenggukan-

"Anak tolol, masa satu perempuan Kang-ouw mempunyai pendirian begitu cupat? Dia toch bermaksud baik, bukan?"

"Bermaksud baik ? Aku lihat dia ada mengandung maksud tidak baik "

Yo Cie Cong yang urungkan maksudnya hendak pergi ketika mendengar perkataan si nona hatinya sangat mendongkol. Dengan mata beringas mengawasi gadis itu.

orang berkedok itu tiba-tiba berkata dengan suara bengis: "Tinjie, mengapa kau tidak mau dengar kata? Diam, ada orang datang "

Yo Cie Cong lalu pasang telinga, benar saja dari tempat tidak jauh terdengar suara sangat perlahan jikalau bukan orang berkedok tadi tidak mengatakan, ia sendiri benar-benar tidak mengetahui.

Terhadap kepandaian orang berkedok itu, diam-diam ia merasa kagum.

Tidak antara lama setelah orang berkedok itu tadi berkata, disitu sudah muncul empat orang.

Nampaknya mereka semuanya merupakan orang yang berkepandaian sangat tinggi.

Empat orang tersebut setelah tiba ditempat itu, lalu mengawasi dirinya ketiga orang yang ada disitu. Tiba-tiba mereka berseru: "Eh " lalu mundur setengah tindak, dengan sorot mata heran mengawasi si orang berkedok. .

Empat orang yang baru tiba tadi semua merupakan orang-orang tua yang usianya sudah lima puluh tahunan.

Satu diantara mereka, yang bentuk badannya tinggi, lantas berkata sambil memberi hormat : "Kami tidak tahu kalau pemimpin burung laut ada disini, harap maafkan atas kelancangan kami

ini. Kani berempat adalah orang-orangnya perkumpulan im-mo kauw yang mendapat perintah dari kauwcu kami untuk mencari jejaknya Pemilik Golok Maut "

Yo Cie Cong terperanjat. Ia belum pernah mendengar didalam dunia Kang onw ada perkumpulan yang namanya Im-mo kauw.

Tapi dilihat dari empat orang tua yang mengaku sebagai orang orangnya Im-mo- kauw ini yang kepandaiannya sudah sedemikian tingginya, entah bagaimana kepandaian pemimpinnya ?

Barangkali merupakan satu iblis yang luar biasa .

Tio Lee Tin yang selalu ingat musuh ayahnya, ketika mendengar empat orang tua itu katanya hendak mencari jejaknya Pemilik Golok Maut. "Apakah tuan-tuan berempat sudah dapat menemukan jejaknya iblis itu?"

"Apa nona juga hendak mencari manusia yang sangat misterius itu ?" orang tua berbadan tinggi itu balas menanya sambil ketawa menyeringai..

"Benar "

Orang tua tinggi itu setelah mengawasi tiga kawannya sejenak. lalu menyahut:

"Ada suatu hal yang kami ingin memberitahukan kepada nona, Pemilik Golok Maut itu bukannya pangcu Kam-lopang sendiri, melainkan orang lain yang memegang peranan sebagai pangcu Kam lo-pang "

Yo Cie Cong terkejut sekali ketika mendengar perkataan orang tua itu, diwajahnya yang cakap saat itu lantas timbul napsu hendak melakukan pembunuhan, tapi hanya sebentar saja sudah lenyap lagi. orang-orang yang ada disitu semua tidak satupun yang dapat melihat perubahan sikapnya.

BAB 20

Ia tidak merasa heran akan keterangan orang tua itu, yang membuat ia gegetun mengapa orang tua itu dapat mengetahui begitu jelas.

Didalam daftar nama musuh-musuh Kam lopang tidak terdapat namanya Im mo kauw, tetapi heran keempat orang tua ini telah mengaku diperintahkan mencari jejaknya Pemilik Golok Maut. Dalam hal ini ada terselip maksud apa sebetulnya, ia sendiri juga tidak mengetahuinya .

"Aku harus mencari tahu sampai kedasar-dasarnya mengenai dirinya orang-orang ini." demikianlah Akhirnya Yo Cie Cong mengambil keputusan.

Sementara itu, Tio Lee Tin yang sama memperhatikan tentang Pemilik Golok Maut, lantas menanya dengan suara cemas:

"Mengapa tuan dapat memastikan bahwa Pemilik Golok Maut itu bukannya pangcu Kam lo pang sendiri ?"

oang tua berbadan tinggi itu menjawab sambil bersenyum: "Dalam hal ini nona tidak perlu tanya banyak-banyak, percaya sajalah bahwa aku tidak berkata sembarangan-"

Tetapi Tio Lee Tin masih tetap bersangsi agaknya, menanya lagi:

"Pada malam itu, ketika ayahku Tio Ek Chiu dibinasakan olehnya, aku telah mendengar sendiri bahwa orang yang melakukan pembunuhan itu mengaku sebagai pangcu dari Kam lo pang.

Apakah itu bohong?"

"Itu mungkin benar, tetapi tadi malam yang datang kekota Kui lim melakukan pembunuhan itu bukanlah Pemilik Golok Maut yang muncul beberapa bulan berselang. Tentang ini sedikitpun tidak bisa salah."

Tio Le Tin menjadi binguig sendiri Apakah iblis itu ada dua orang?

Mengenai soal itu, hanya Yo Cie Cong yang mengerti, sedangkan keempat orang tua dari Im mo kauw itu sebetulnya juga hanya mengetahui sebagian saja.

orang berkedok kain merah yang sejak tadi berdiri mendengarkan pembicaraan mereka, sama sekali tidak turut mengutarakan pendapat apa-apa.

orang tua berbadan tinggi besar itu lalu berkata kepada orang berkedok kain merah: "Maaf atas kedatangan kami yang telah mengerecok ketenangan tuan-"

Setelah berkata begitu kemudian ia mengajak ketiga orang kawannya berlalu meninggalkan tempat itu, sebentar saja mereka sudah menghilang dari depan mata. Tio Lee Tin tiba-tiba menanya kepada suhunya :

"suhu, menurut pikiranmu, apa yang dikatakan oleh mereka tadi benar atau tidak?" "Ini susah dibilang."

"Im-mo kauw muncul dikalangan Kang ouw adalah baru-baru ini saja. Mengenai keadaan perkumpulan tersebut, aku sendiri juga tidak mengetahui dengan jelas. Belum lama berselang, kematiannya duapuluh lima orang kuat dari golongan hitam maupun putih yang terdapat dijalan raya antara su-cwan dengan sau see adalah perbuatan im mo-kauw. Tampaknya perkumpulan iblis ini akan membawa malapetaka bagi dunia rimba persilatan..."

"Mengapa Im mo kau mencari jejaknya Pemilik Golok Maut ?"

Yo Cie Cong yang masih hendak membereskan persoalannya, tidak mau membuang tempo cuma-cuma, maka setelah berpamitan sekali lagi pada orang berkedok kain merah itu ia lantas berlalu.

Tio Lee Tin masih hendak merintangi perginya Yo Cie Cong, tetapi sudah dicegah oleh suhunya. Sebentar kemudian Yo ci Cong sudah menghilang ditelan kegelapan-

Tio Lee Tin dengan perasaan mendongkol mengawasi berlalunya Yo Cie Cong. Dalam hatinya saat itu timbul suatu perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Entah benci, entah cinta. Ia sendiri tidak tahu.

sebagai seorang gadis remaja yang baru pertama kalinya jatuh cinta kepada seorang laki-laki dan laki-laki itu ternyata tidak membalas cintanya, dapatlah dibayangkan betapa hancurnya hati Tio Lee Tin-

Akhirnya ia hanya dapat mengomel sendiri: "Yo Cie Cong, kau mempunyai kepandaian berapa tinggi ? Awas, pada suatu hari aku pasti akan membunuh kau." Air mata kelihatan mengalir berlinang-linang dikedua pipinya.

Orang berkedok kain merah itu telah mengawasi murid kesayangannya itu sambil menggelengkan kepala, kemudian berkata dengan suara lemah lembut: "Tinjie, bukankah kau biasanya dengar perkataan suhumu ?."

Tio Lee Tin berpaling dan menganggukkan kepalanya. "Dan sekarang, kau dengar perkataanku sekali lagi." "Murid ingin mendengarkan-" "Dalam segala hal kita harus mengikuti aliran, dalam apa yang dinamakan jodoh atau takdir, kita tidak boleh menuruti perasaan hati sendiri"

Kembali Tio Lee Tin anggukkan kepalanya, tetapi sebetulnya ia ingin menyatakan- Toh suhu sendiri yang menjanjikan hendak membereskan soal ini ?

Tetapi perkataan ini tentu saja tidak berani dikeluarkannya dari mulutnya dan oleh karena pikiran yang keliru inilah Akhirnya di kemudian hari akan membawa ekor yang mencelakakan dirinya sendiri.

Orang berkedok kain merah itu dengan sepasang matanya yang tajam mengawasi wajah muridnya seolah-olah hendak menembusi pikiran muridnya itu, kemudian terdengar ia menghela napas perlahan dan berkata pula: "Tin-jie, mari kita pulang."

"Baiklah."

Dua bayangan orang kelihatan melesat bagaikan bintang jatuh dari langit, sebentar saja menghilang ditelan kegelapan.

Sekarang mari kita balik kembali mengikuti perjalanan Yo Cie Cong.

setelah meninggalkan rimba tersebut, dengan cepat ia lari menuju kearah larinya empat orang tua dari Im-mo kauw tadi.

Perkumpulan im-mo- kauw telah mengutus orang-orangnya untuk mencari jejaknya Pemilik Golok Maut, bahkan mengatakan bahwa orang yang memegang peranan sebagai Pemilik Golok Maut bukanlah pangcu dari Kam-lopang sendiri, hal ini perlu dicari tahu oleh Yo Cie Cong, sebab besar sekali sangkut pautnya dengan dirinya sendiri

Apa yang membuat ia tidak habis mengerti ialah, perkumpulan yang muncul didunia Kang ouw belum lama ini mengapa bisa mengetahui rahasianya Golok Maut ?

setelah berjalan kira-kira empat puluh lie jauhnya, diatasjalan raya Yo Cie Cong melihat empat bayangan orang yang sedang berlarikan dengan perlahan, maka ia juga lantas kendorkan gerakan kakinya.

Empat bayangan itu ternyata adalah empat orang tua yang sedang dikejarnya.

Yo Cie Tiong terus menguntit empat orang Im-mo- kauw itu, sedangkan keempat orang tua tersebut sama sekali tidak merasa kalau di belakang mereka ada orang lain yang membuntuti, bahkan mereka masih enak-enakan mengobrol kebarat ketimur. Terdengar salah seorang dari mereka itu tiba-tiba menanya:

"Dari mana saudara Gouw tahu kalau Pemilik Golok Maut itu bukannya pangcu dari Kam-lo- pang sendiri ?"

Yo Cie Cong bercekat hatinya, ia memasang kuping baik-baik, orang tua yang bertubuh tinggi itu lantas menjawab:

"Ha, ha... Kauwcu setelah mendapat tahu Golok Maut itu muncul dikota Kui-lim terus mengadakan rapat kilat antara para Thian cu dan Tongcu. Aku mendapat dengar itu secara tidak sengaja."

"Mengapa saudara Gouw memberitahukan hal ini kepada nona baju hitam tadi ?Jikalau hal ini diketahui oleh saudara-saudara kita lainnya yang diperintahkan oleh tongcu bagian penyelidik, bukankah kau nanti akan dituduh membocorkan rahasia perkumpulan ? Hukumannya rasanya sangat berat bagimu."

orang tua she Gouw itu hanya menyahut "Hmmm" dan lantas tidak mengatakan apa-apa lagi. Barangkali ia juga telah dibikin takut oleh perkataan kawannya barusan, sebab dalam peraturan Im-mo kauw, hal ini membocorkan rahasia perkumpulan itu hukumannya sangat keras sekali, dan ia mengerti itu.

Setelah hening sekian lamanya, seorang tua lainnya berkata pula : "Sayang kita telah datang terlambat setindak saja, sehingga kita tidak bisa melihat sendiri wajahnya pemilik Golok Maut ini jika kita bisa melihatnya, maka mudahlah kita untuk mencari jejaknya."

Orang tua she Gouw lantas berkata: "Menurut kata orang-orang Kang ouw yang menyaksikan pembunuhan atas dirinya Coa Ceng It, pemilik Golok Maut itu adalah seorang tua yang berambut dan berjenggot putih semua, sedangkan tangannya juga cuma tinggal sebelah saja. Tetapi biarpun begitu, kepandaian ilmu silatnya sukar dijajaki. Untung juga kita hanya mendapat perintah untuk menyerepi jejaknya saja. Perduli apa tentang dirinya lihay atau tidak."

Diseberang jalan sebelah sana kini kelihatan sebuah rimba yang lebat.

Yo Cie Cong diam-diam ketawa geli. Ia lalu menggerakkan badannya, mengambil jalan menyimpang melewati keempat orang tua itu, dan menghilang kedalam rimba.

Keempat orang tua itu disepanjang jalan masih asyik mengobrol, kala itu juga sudah sampai didepan rimba.

Mendadak mereka melihat satu bayangan orang muncul dari dalam rimba. Dengan tak berkata apa-apa bayangan orang itu sudah menghadang, perjalanan keempat orang tua tersebut.

Mereka lalu menghentikan tindakan kakinya. Ketika mereka mengawasi siapa yang menghadang, semangat mereka lantas dirasakan terbang

Sebab orang yang menghadang dijalanan ini ternyata rambut dan jenggotnya sudah putih semuanya, sedangkan lengannya juga hanya tinggal sebelah, sepasang matanya pada malam yang gelap gulita itu kelihatan mencorong seperti dua bintang. Bentuk orang tua ini mirip sekali dengan apa yang dinamakan pemilik Golok Maut

Dalam perkumpulan Im-mo-kauw, empat orang tua itu juga terhitung orang kuat nomor satu. setelah merasa terkejut, masing-masing lalu bersiap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan, orang tua she Gouw bisa mengatasi suasana, lantas berkata: "Apa maksud tuan menghadang jalan maju kami ?"

"Eh, bukankah kalian sedang mencari aku? Agar supaya kalian tidak mencari terlalu jauh, aku datang sendiri menemui kalian" demikian jawab si orang tua berambut putih dan berlengan satu itu sambil ketawa dingin. suaranya begitu menyeramkan, sehingga menimbulkan perasaan tidak enak bagi siapa saja yang mendengarnya.

Keempat orang tua itu kelihatan pada bergemetaran sekujur badannya, dalam hati mereka masing-masing berpikir: "Heran, mengapa dia bisa mengeluarkan perkataan begitu? Apakah benar dia adalah..."

Orang tua berambut putih berlengan satu lalu berkata pula: "Eh, tuan-tuan berempat bukankah hendak mencari aku si orang tua ?" si orang she Gouw dengan hati berdebaran keras coba menyahuti : "Dari mana tuan dapat tahu ini ?"

"Bukankah barusan kau pernah mengatakannya sendiri? Kau kira aku si orang tua ini siapa ?"

Bukan main kagetnya si orang she Gouw, ia mundur satu tindak dan berkata pula dengan suara gemetaran-

"Coba sebutkan nama tuan yang mulia."

"Aku si orang tua adalah orangnya yang sedang kalian cari-cari itu " "Adakah tuan pemilik Golok Maut ?"

"Sedikitpun tidak salah "

Keempat orang tua itu badannya lantai menggigil semakin hebat.

orang tua she Gouw itu merupakan kepala rombongan dari keempat orang tersebut. Kala itu dalam hatinya lantas timbul pikiran :

"Kita berempat hanya merupakan salah satu rombongan yang mendapat tugas mencari jejaknya pemilik Golok Maut ini, rombongan lainnya sekarang masih belum kelihatan, sedangkan kita berempat sudah tentu tidak mampu menandingi iblis tua ini. Kalau kita paksa menempurnya, salah-salah kita berempat bisa mati secara konyol. Lebih baik kita laguin dia saja, kemudian kita berusaha lagi menghubungi rombongan lainnya."

Setelah berpikir demikian, ia lantas tertawa dan maju dua tindak serta berkata sembari membeli hormat:

"Tidak nyana cianpwe adalah pemilik Golok Maut yang namanya sangat terkenal itu. Kami berempat oleh karena tidak tahu, maka telah berlaku kurang hormat, harap cianpwe suka memberi maaf sebesar-besarnya."

Tiga orang tua yang lainnya segera mengerti maksud pemimpinnya itu, maka semuanya lantas memberi hormat dengan serentak.

orang tua berambut putih berlengan satu yang mengaku sebagai pemilik Golok Maut itu lalu berkata:

"Kalian tak usah takut. Aku si orang tua belum perlu mengambil jiwa kalian- Tetapi kalian harus dengan sejujurnya menjawab setiap pertanyaanku, baru aku nanti membiarkan kalian melanjutkan perjalanan kalian jikalau tidak... hmm "

Matanya yang tajam mengawasi si orang she Gouw yang menjadi pemimpin dari tiga orang itu. "Cianpwe ingin menanyakan apa ?" tanya orang itu, sambil tundukkan kepala. "Asal aku yang

rendah tahu, sudah tentu aku akan menjawab dengan sejujurnya."

"Hmmm- Kau sungguh jujur. soal ini mudah sekali, justru adalah kau sendiri yang mengatakan tadi."

"Aku mengatakan apa ?"

"Siapa yang memberitahukan kalian berempat mencari jejak diriku ? Dan apa maksudmu ?

Berdasar atas apa kau dapat memastikan kalau aku si orang tua bukan pangcu dari Kam-lo-pang sendiri ?"

Orang she Gouw itu kaget bukan main- Ia tidak pernah membayangkan, karena ingin membanggakan diri, telah mengucapkan perkataan yang sombong dan Akhirnya malah membuat ia sendiri terlibat dalam kesukaran hebat.

Rupanya orang tua yang menakutkan yang berdiri dihadapan ini, mungkin sudah sejak tadi mengintai dibelakangnya, sebab jika tidak demikian, mana bisa ia mengetahui begitu jelas ? Empat orang tua itu, yang mendapat perintah untuk mencari orang, sebaliknya sudah diketahui segala tindak tanduknya oleh orang yang bersangkutan, ini benar-benar membuat mereka tidak enak sendiri.

Untuk sesaat lamanya orang tua she Gouw diam membisu, tidak menjawab. sebab pemilik Golok Maut itu sudah mengatakan dengan cukup jelas, maka jika ia ingin memungkirinya sekarang, sudah tentu tidak bisa lagi.

Pemilik Golok Maut kelihatan badannya bergerak, lalu berkata dengan suaranya yang menyeramkan :

"Malam ini, jikalau kau tidak menjelaskan persoalannya kepadaku, kalian berempat jangan pikir bisa berlalu dari sini dalam keadaan masih bernyawa. HuH, huh sungguh tidak kusangka perkumpulan im-mo- kauw yang namanya begitu terkenal ternyata mempunyai orang-orang yang seperti gentong2 nasi begini." Ucapan itu mengandung ejekan yang sangat tajam.

Keempat orang tua itu seketika pada berubah wajahnya, tetapi karena merasa takut oleh pengaruhnya Golok Maut, terpaksa mereka menahan perasaan gusarnya.

"Kau sebetulnya mau jawab pertanyaanku atau tidak?" tanya pula pemilik Golok Maut. "Soal ini ada diluar batas kemampuan kami maka sangat menyesal kami tidak dapat

menjawabnya." demikian seorang tua she Gouw menjawab.

"Huhh.. huh    Kau tidak mau jawab pertanyaanku ?jangan sesalkan kalau aku si orang tua

turun tangan terlalu kejam. Sekarang aku hendak menghitung angka2 bilangan dari satu sampai sepuluh, kalau belum mendapat jawaban yang memuaskan, terpaksa aku nanti kirim kalian satu persatu menghadap pada Giam lo-ong " orang tua yang mengaku dirinya sebagai pemilik Golok Maut lantas mulai menghitung. "satu ..."

Empat orang tua dari Im mo-kauw itu biasanya pada menganggap diri sendiri sebagai orang2 kuat dan sekarang telah dipermainkan oleh orang tua yang mengaku dirinya sebagai pemilik Golok Maut, sudah dengan sendirinya tidak enak sekali perasaan mereka. Untuk sekian saat lamanya mereka hanya berdiri dengan saling pandang, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan-

"Dua "

"Tiga " suara si pemilik Golok Maut masih terdengar terus menghitung angka-angkanya. suasana semakin tegang.

" Empat "

Setiap kali menyebutkan angka bilangannya, terasa oleh keempat orang im mo-kauw itu seolah2 ada palu besar mengetuk hati mereka.

Jikalau angka-angka itu telah dihitung sampai sepuluh dan pemilik Golok Maut masih tidak mendapat jawaban yang memuaskan, dengan tidak dapat disangsikan pula tentu Golok Maut akan keluar dari serangkanya, akan habislah jiwanya keempat orang utusan im-mo kauw ini.

"Lima"

Angka bilangan masih disebut terus. Bilangan ini baru keluar dari mulutnya pemilik Golok Maut, si orang tua she Gouw yang agaknya telah timbul pikiran gelap. dengan tidak di-sangka2 lalu turun tangan menyerang sipemilik Golok Maut.

Tiga orang tua yang lainnya juga lantas bergerak dengan serentak, masing2 melancarkan serangan hebat.

Keempat orang tua itu mempunyai kepandaian cukup tinggi, hanya karena pengaruh dari Golok Maut maka sejak tadi mereka mara perlihatkan sikap penakut. Tetapi kali ini karena sudah berlaku nekad, maka serangan yang dilancarkan oleh mereka dengan hampir berbareng pula, tentu saja kekuatannya sangat dahsyat.

"Kalian cari mampus" pemilik Golok Maut membentak. lalu memutar tangannya yang tinggal sebelah itu, dari mana lantas meluncur satu kekuatan tenaga yang maha hebat menyambuti keempat orang tersebut. setelah kekuatan tenaga dari kedua pihak saling beradu, tanah dan pasir pada beterbangan, kekuatan tenaga itu menimbulkan angin yang hebat,.

Pemilik Golok Maut melanjutkan hitungannya, seolah-olah tidak pernah ada kejadian apa2 barusan.

Orang tua she Gouw lalu memberi isyarat dengan matanya kepada tiga kawannya.

Tiga orang tua itu lalu maju berbareng dan terus menerjang Pemilik Golok Maut dengan caranya seperti orang kalap.

BAB 21

PEMILIK GOLOK MAUT kakinya tidak bergeming sedikitpun, hanya badannya yang tampak bergerak2. Dengan caranya yang sedap dipandang mata ia telah mengelakkan setiap serangan yang ditujukan kearah dirinya oleh keempat orang tua tadi, kemudian dari tangannya yang hanya tinggal sebelah lagi itu saja, keluarlah angin serangan dengan menggunakan tujuh bagian dari seluruh kekuatannya secara tiba2.

Suara jeritan terdengar saling sahut memecahkan suasana kesunyian malam ditempat yang gelap gulita dan dari mulutnya ketiga orang tua tadi menyemburkan darah segar, badan mereka juga terpental sejauh tiga tombak lebih dan lantas tidak bisa bangun lagi untuk selamanya.

Bertepatan pada saat rubuhnya tiga orang, diangkasa yang gelap terlihat meluncurnya sinar merah yang agaknya menembusi langit. Ternyata, selagi tiga orang kawannya bertempur melayani pemilik Golok Maut, orang tua she Gouw itu telah menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, meluncurkan api pertandaan dari perkumpulan im- mo-kauw yang dilepaskannya karena merasa keadaan sangat membahayakan bagi dirinya.

Pertandaan Im-mo kauw yang berupa panah api itu ada tiga macam, yang masing-masing berwarna biru, putih dan merah.

Warna biru sebagai tanda minta bantuan biasa, warna putih sebagai tanda berkumpul secara kilat dan yang merah warnanya sebagai tanda minta bantuan yang sangat mendesak.

Api pertandaan warna merah itu jikalau tidak menjumpai kejadian penting atau jikalau tidak menemukan bencana besar sekali2 tidak boleh dilepaskan, sebab dengan dilepasnya api pertandaan warna merah itu, seperti juga Kauwcu (kepala agama) sendiri yang sedang mengeluarkan perintah .

orang2 im-mo kauw yang dapat melihat api pertandaan itu disekitar tempat dilepasnya api pertandaan itu, tidak perduli sedang melakukan pekerjaan apa juga, harus segera menuju ketempat tersebut untuk memberi bantuan kepada sipelepas tanda.

Pemilik Golok Maut dengan acuh tak acuh mengawasi tanda api permintaan bantuan itu, sementara mulutnya sudah mengucapkan angka "sembilan"

si orang she Gouw setelah mengetahui bahwa dirinya sendiri tidak akan terhindar dari kematian, dengan tidak menantikan sampai angka "sepuluh" keluar dari mulutnya pemilik Golok Maut, badannya sudah lantas melesat tinggi keatas, dengan suara gusar ia lantas membentak :

"Meskipun aku binasa dalam tanganmu, tapi malam ini kau juga tidak akan bisa meninggalkan tempat ini"

Setelah mengucapkan perkataan yang paling belakang isi, orangnya lantas menerjang pada pemilik Golok Maut.

Pemilik Golok Maut yang mulutnya sudah mengucapkan angka "sepuluh", dari tangannya yang cuma tinggal sebelah itu lantas keluar satu serangan yang maha hebat.

Dengan demikian, sebelum orang tua itu mengeluarkan serangannya, angin serangan yang keluar dari tangan pemilik Golok Maut dirasakan sudah menindih dadanya sangat hebat.

Baru saja ia hendak berseru "celaka " sekujar badannya sudah dirasakan seperti tersambar, geledek.

Suara jeritan cuma keluar separuh saja dari mulutnya, darah segar sudah menyembur keluar dan isi perutnya hancur, jiwanya me layang seketika itu- juga.

"Tuan sungguh kejam " demikian satu suara terdengar keluar dari tempat sejauh kira2 tiga tombak dari tempat berdirinya pemilik Golok Maut. .

Pemilik Golok Maut terkejut. Ia menoleh kearah datangnya suara tadi, disana terlihat, berdirinya sesosok tubuh orang dengan sikapnya yang tenang luar biasa.

Kejadian serupa itu sesungguhnya baru kali inilah dihadapi oleh pemilik Golok Maut, juga merupakan kejadian yang janggal.

Pemilik Golok Maut yang mempunyai kepandaian yang susah dijajaki tingginya ternyata masih belum mengetahui kalau didekatnya, bahkan hanya tiga tombak saja dari tempat berdirinya, ada orang menyaksikan segala sepak terjangnya dengan bebas.

Orang itu dengan tenang berjalan menghampiri pemilik Golok Maut sampai kira2 satu tombak. sehingga kedua orang itu hanya terpisah kira-kira dua tombak lagi saja.

Pemilik Golok Maut itu setelah dapat melihat dengan tegas wajahnya orang yang datang menghampiri adalah orang berkedok kain merah, yang ditakuti oleh setiap orang rimba persilatan, bukan alang kepalang rasa terkejutnya, sampai badannya kelihatan agak bergetar. Pada saat itu, dari sana sini mendadak terdengar suara gaduh yang amat ramai. Suara itu ada yang bernada rendah dan ada pula yang bernada tinggi melengking.

Dari riuhnya suara-suara itu, dapatlah diperkirakan berapa banyaknya orang-orang yang bakal datang ketempat itu, yang tentunya tidak sedikit, bahkan juga dapat diduga lebih dahulu kedatangan orang- itu tentunya dari perbagai penjuru.

Setelah mengawasi wajahnya pemilik Golok Maut sejenak orang berkedok kain merah itu tiba- tiba berkata :

"Tuan harus berhati2 dalam menghadapi mereka. Selamat berpisah dan sampai ketemu dilain waktu."

Sehabis berkata begitu, sekali bergerak orangnya sudah menghilang.

Perkataan orang berkedok kain merah itu entah sebagai tanda perhatiannya terhadap pemilik Golok Maut ataukah masih mengandung maksud lain yang tersembunyi sekarang masih belum dapat dipastikan-

Pemilik Golok Maut itu kembali merasa terheran, lama ia membisu.

Bertepatan pada saat menghilangnya orang berkedok kain merah, tiga sosok bayangan seolah- olah meluncur bintang dari langit terus turun ketempat didekat berdirinya pemilik Golok Maut.

Tiga sosok bayangan yang baru muncul itu ternyata adalah dua orang tua dan seorang anak muda yang mengenakan pakaian anak sekolahan-

Sesampainya mereka ditempat itu, ketiganya lantas mengeluarkan suara terheran-heran.

Kedua orang tua itu usianya sudah lima puluh tahun lebih, wajahnya tirus, hidungnya bengkung. Kalau bukan karena badan mereka yang seorang tinggi dan yang lainnya pendek, tentunya sukar bagi orang lain membedakan wajah yang mirip satu dengan lainnya seperti pinang dibelah dua itu. Yang seorang lagi, seorang anak muda yang mengenakan pakaian seperti anak sekolah usianya baru kira2 tiga puluh tahun- Bajunya panjang, kepalanya mengenakan kopiah yang sering terlihat dipakai oleh anak2 sekolah pada umumnya, dipinggangnya sebilah agak ke belakang terlihat sebutir mutiara warna merah sebesar mata naga, perhiasan macam itu tampak sangat menyolok mata.

Ketiga orang itu setelah mengawasi empat bangkai manusia yang menggeletak ditanah sekitarnya, matanya lalu dialihkan kewajah pemilik Golok Maut. setelah mengawasi dengan seksama, wajah mereka tampak berubah seketika.

Pemilik Golok Maut masih tetap membisu dan tidak bergerak. Dengan sorot matanya yang tajam dingin ia mengawasi tiga orang itu bergantian.

Pada saat2 lain, dengan beruntun ditempat itu kembali muncul sepuluh lebih sosok bayangan orang.

Mereka semua merupakan orang-orang lelaki, badannya tegap, dandanan mereka semua ringkas seragam.

Setelah mereka berdiri tegak. semuanya lantas membungkukkan badan membeli hormat pada tiga orang yang muncul lebih dulu disitu, kemudian memencarkan diri pula dan berdiri dibelakang ketiga orang tersebut.

Laki yang berdandan sebagai anak sekolahan tadi maju tiga tindak sambil kerutkan alisnya dan sambil menunjuk ke arah bangkai manusia ditanah ia menandakan kepada pemilik Golok Maut: