Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 07

Jilid 07

Ketika tadi ia sampai di pulau ini, jangan kata orang sedangkan asap saja tidak kelihatan, maka pulau itu tentunya tidak ada orang yang mendiami kecuali orang tua itu, maka seketika itu seolah- olah baru tersadar dari mimpinya ia lantas berkata kepada dirinya sendiri : “Mengapa aku begitu bodoh, seharusnya siang-siang aku harus sudah dapat menduga bahwa orang itu yang mengail dilaut ini dengan sikapnya seperti orang linglung, bukankah itu orang tua yang yang sedang kucari

?”

Oleh karena itu pula maka sekali lagi ia lantas memberi hormat seraya berkata :

…Boanpwee dengan brutal berani menemui Lo-cianpwee, sebetulnya ingin minta sesuatu pertolongan dari Lo-cianpwee”

…Apa ? Bocah, kau mencari aku ?”

…Benar.”

…Ha..ha..ha…kau bocah kau mencari aku si orang tua hendak belajar mengail ikan atau mau beli ikan ?”

…Lo-cianpwee,………”

…Apa ? kau panggil aku Lo-cianpwee ?”

…Lo-cianpwee tidak usah berlaga lagi. Lo-cianpwee adalah itu orang tua yang bergelar Pengail linglung.”

…Apa yang kau ucapkan aku sedikitpun tidak mengerti lekas pergilah.”

…Lo-cianpwee, dari jauh Boanpwee perlukan datang ke Lam hay ini, perlunya hanya menjumpai Lo-cianpwee yang ingin meminta suatu pertolongan. Mengapa Lo-cianpwee menolak demikian getas.”

Orang Tua itu dengan perlahan berdiri dari tempat duduknya, dengan gerakannya yang seperti tidak bertenaga sama sekali ia berjalan turun dari atas batu. Ia taruh bambunya diatas pundaknya, lalu berjalan lagi tanpa melihat Yo Cie Cong lagi.

Anak muda itu mengingat jiwanya hanya tinggal sehari saja dan kini orang yang dapat menolongnya berada didepan mata, sudah tentu tidak mau melepaskannya begitu saja, maka dengan cepat ia sudah bergerak menghadang didepanya si orang tua.

... Lo-cianpwee, tahan dulu.”

…Ech. Bocah kau mau apa ?”

…Hendak minta pertolongan.” …Aku adalah seorang tua yang tuli dan bodoh. Apa yang bisa ku Bantu untukmu ?”

Yo Cie Cong melihat orang tua itu masih tetap berlaga linglung sudah lantas merasa gusar, dengan alis berdiri dan mata terbelalak ia berkata dengan sengit :

…Apa Lo-cianpwee benar ? nama dan gelarnya sudah tidak mau akui lagi ?”

Perkataan itu betul-betul memakan, sebab orang-orang dalam rimba persilatan dalam urusan- urusan lain dapat mengangap main-main tapi nama dan gelar harus di jungjung tinggi, maka tidak seorang pun dalam rimba persilatan yang tidak menghargai nama dan gelarnya sendiri.

Orang tua itu nampak bergerak rambut dan jenggotnya, matanya yang sayu saat itu tiba-tiba memancarakan cahaya yang tajam. Sikapnya yang lonyo mendadak hilang sama sekali, dengan suaranya yang berat ia berkata :

…Bocah, aku seorang tua memang benar ada itu orang tua yang di juluki si Pengail linglung, tapi di pulauku batu hitam ini selamanya tidak diijinkan orang luar menginjak. Kalau kau kenal gelagat, sebaiknya lekas pergi dari sini !”

Yo Cie Cong menyaksikan caranya orang tua aneh itu memperlakukan dirinya ada demikian kasar, meski ia sudah diperingati oleh sihwesio gila tentang adatnya yang aneh dari orang tua itu. Namun tidak urung merasa mendongkol juga. Maka ia lantas berkata dengan suara dingin :

…Perkataan Lo-cianpwee ini agaknya ada sedikit keterlaluan !”

…Apa artinya keterlaluan ?”

…Adakah pulau Batu Hitam ini kepaunyaan Lo-cianpwee seorang ?”

…Hal ini Boanpwee tidak berani, cuma saja Boanpwee yang datang dari tempat jauh dengan maksud minta bertemu secara sopan mengapa Lo-cianpwee menolak, begitu getas ? ini bukannkah agak keterlaluan ?

…Bocah, kau mau pergi atau tidak ?”

…Kedatangan Boanpwee dengan sungguh hati maka hanya tahu maju tidak kenal mundur !” Orang tua itu perdengarkan suara ketawanya yang dingin.

…Bocah, usiamu masih muda sekali, ternyata adatmu sombong sekali !”

Yo Cie Cong lalu berfikir biar bagamana jiwaku toh cuma tinggal satu hari. Dengan adatnya yang aneh seperti orang tua ini, nampaknya tidak bisa diminta secara halus terpaksa aku harus menggunakan kekerasaan. Aku harus sebisa mungkin untuk mendapatkan darahnya binatang

kura-kura itu untuk menolong jiwaku, sekalipun aku harus melanggar pesannya si hweehio gila itu, juga apa boleh buat.

Sebetulnya pada saat itu apabila Yo Cie Cong mengunjukan barang bukti yang berupa buli-buli kecil warna merah yang diberikan oleh hwesio gila itu, barangkali orang tua itu tidak bersikap batu lagi. Tapi Yo Cie Cong adatnya juga tinggi, makin diperlakukan kasar, ia makin tidak mau menunjukan barang bukti itu.

Seketika itu lantas berkata dengan lantang :

…Dalam badan Boanpwee ada kemasukan racun yang sangat jahat hanya darahnya binatang kura-kura peliharaan Lo-cianpwee yang sudah ribuan tahun usianya yang bisa menyembuhkan. Keesokan hari racun itu sudah akan menjalar keseluruh badan. Jika Lo-cianpwee sudi memberi sedikit saja darahnya binatang kura-kura itu Boanpwee segera meninggalkan pulau ini !”

Perkataan Yo Cie Cong ini kurang dipikiar, pulau batu hitam ini seolah-olah berada ditengah lautan jika tidak ada perahu bagaimana ia bisa berlalu ?

Pengail Linglung ketika mendengar perkataan Yo Cie Cong agaknya merasa heran, mengapa bocah ini tahu kalau dirinya ada memelihara kura-kura aneh itu ?

…Bocah, kau siapa namamu ?” demikian ia menanya dengan suara bengis :

…Boanpwee adalah Yo Cie Cong !”

…Siapa suhumu ?”

…Harap Lo-cianpwee suka maafkan, dalam hal ini Boanpwee mempunyai kesukaan yang Boanpwee tidak bisa dijelaskan maka Boanpwee tidak dapat memberi tahukan nama suhu !”

…Siapa yang memberi tahukan padamu, kalau aku seorang tua disini ada mempunyai peliharaan binatang kura-kura yang sudah ribuan tahun usianya ?”

Yo Cie Cong sebetulnya hendak memberitahukan nama si hwetio gila itu, tapi kemudian berfikir lain, ia lantas berkata dengan sikap agak keras :

…Boanpwee dengar dari salah satu orang aneh dari dalam dunia Kang-ouw !” …Hm ! Orang aneh, enyahlah kau dari sini !”

…Boanpwee tadi sudah bilang, sebelum mencapai maksud Boanpwee, tidak mau meninggalkan tempat ini !”

Orang tua itu tertawa tergelak-gelak.

…Bocah, kau tidak dapat membawa caramu sendiri !” katanya

…Belum tentu !”

…Kau boleh coba !”

Setelah mengucapkan demikian, orang itu lantas melancarkan satu serangan dari kekuatan tenaga dalam yang amat hebat kearah si anak muda.

Yo Cie Cong meski sangat mendongkol terhadap sikapnya Pengail Linglung, tapi ia masih bisa kira-kira. Terhadap serangan hebat itu, ia tidak mau balas menyerang untuk mencegah supaya urusan tidak sampai menjadi runyam.

Disini menunjukan kecerdikannya Yo Cie Cong.

Dengan menggunakan ilmunya menggentengi tubuh yang luar biasa. Badannya melayang mengikuti arahnya serangan angin, sehingga kelihatannya enteng sekali. Ia terus melayang sampai kekuatan serangan berkurang, baru balik ke tempat asalnya.

Gerakannya itu mengejutkan hatinya Pengail Lingkung.

Selanjutnya ia lantas mengirim lagi dua kali serangannya yang lebih hebat dari pada serangan yang pertama lalu barkata :

…Lo-cianpwee, Boanpwee sudah mengalah sampai tiga kali “

Orang tua itu tabeatnya sangat aneh sudah lama terkenal didalam rimba persilatan. Meskipun saat itu ia merasa heran terhadap kepandaiannya si anak muda, tetapi ia tidak mau behenti begitu saja. Atas ucapannya Yo Cie Cong tidak mau ambil pusing, sebaliknya malah mengirim lagi serangannya yang lebih hebat.

Yo Cie Cong terpaksa coba-coba menyambuti serangan.

Suara beradunya tenaga kekuatan lantas terdengar nyaring, badannya Pengail Linglung kelihatan terhujung-hujung sebentar tetapi badanya Yo Cie Cong telah terpental mundur tiga tindak, darahnya dirasakan bergolak.

Yo Cie Cong meskipun sudah mempunyai latihan puluhan tahun yaitu karena bekerjanya gabungan dua rupa benda ajaib, tetapi saat itu masih belum dapat digunakan secara leluasa.

Apalagi ia tidak mengunakan tenaga sepenuhnya, maka akhirnya Ia terpental juga sejauh tiga tindak. Tetapi bagi pihaknya Pengail Linglung, sekarang benar-benar merasa sangat heran.

Sungguh tidak habis dipikirnya, pemuda yang usianya yang begitu muda ternyata sudah mampu menyambuti serangannya yang dilancarkan dengan menggunakan delapan dari seluruh kekuatannya.

Ini benar-benar merupakan suatu kejadian gaib, maka saat itu ia berdiri melongo seperti terpaku.

Yo Cie Cong maju dua tindak lalu berkata dengan sikapnya yang sungguh-sungguh.

…Lo-cianpwee, sekali lagi Boanpwee minta dengan hormat atas kemurahan hati. Lo-Cianpwee supaya sudi memberi beberapa tetes darahnya kura-kura Lo-cianpwee yang sudah ribuan tahun usianya. Budi Lo-cianpwee ini tidak akan Boanpwee lupakan untuk selama-lamanya.” Sehabis berkata Yo Cie Cong lantas membungkukan diri dalam-dalam memberi hormatnya.

Tetapi Pengail Linglung masih tetap kukuh dengan pendirinanya sendiri.

…Tidak bisa !” jawabnya ketus

…Lo-cianpwee adalah seorang golongan tua dari rimba persilatan, apakiranya tega melihat Boanpwee mati terkena racun yang jahat itu ?”

…Hmmm, iatu adalah urusanmu sendiri.”

Kali ini Yo Cie Cong benar-benar menjadi gusar, ia lantas berakta sambil pelototkan matanya :

…Kalau begitu, karena hendak mempertahankan jiwa, Boanpwee terpaksa harus berlaku kurang ajar.”

…Bocah, apa kau kira ada harganya hendak bertengkar dengan Lohu?” sehabisnya berkata demikian ia menggunakan bambu kailnya dengan luar biasa cepat melancarkan serangan sampai tiga kali.

Yo Cie Cong kedesak menghadapi serangan tersebut, terpaksa mundur berulang-ulang. …Bocah, kau coba lagi sambuti beberapa jurus, si orang tau aneh itu berkata sambil terus memutar bambunya dan menyerang bertubi-tubi.

Bambu sebagai alat pengail yang kecil itu sebenarnya merupakan senjata satu-satunya yang paling ampuh dari Pengail Linglung yang telah mengangkat namanya dan yang menjadikan ia seorang terkenal dalam rimba persilatan. Senjata yang kelihatanya dari luar sangat sederhana itu sebetulnya bukanlah senjata sembarangan dan didalam rimba persilatan, orang yang mampu menyambuti serangan Pengail Linglung mungkin tidak seberapa jumlahnya.

Maka betapapun tingginya ilmu sialt Yo Cie Cong, biar bagaimana juga ia hanya baru mendapatkan didikan lima tahun saja. Meskipun saat itu kekeuatan tangannya sudah bertambah berlipat ganda karena pengaruhnya dua benda ajaib yang bergabung, tetapi untuk menghadapi serangan si jago tua yang aneh itu, ia hanya mampu berkelit saja tanpa membalas.

Setelah lima jurus berlalu, Yo Cie Cong tiba-tiba ingat gerak tipu aneh yang pernah diajarkan oleh suhunya ketika hendak menutup mata, maka timbulah pikirannya hendak mencoba-coba tipu pukulan yang aneh itu.

Dengan cepat ia lalu maju mendekati si orang tua, tangan kanannya digunakan sebagai golok, untuk menyerang lawan.

Dengan telapak tangan dipakai sebagai pengganti golok, jurus serangannya yang mempunyai tiga rupa gerakan itu dilancarkan cepat bagaikan kilat. Secara berbareng pula ia membabat kedua lengan kanan lawannya, kemudian menotok kebagian dada. Gerak tipunya ini adalah gerak tipu ciptaan Yo Cie Hoan Pribadi yang sudah diyakinkan selama dua puluh tahun, yang tadinya hendak digunakan untuk menuntut balas kepada musuh-musuhnya.

Sebetulnya gerak tipu silat semacam ini kusus digunakan dengan menggunakan senjatanyam Golok Maut.

Dengan kekuatan dan kepandaiannya seorang jago tua seperti Pengail Linglung ini. Ternyata masih tidak berdaya menghindarkan serangan yang demikian aneh itu, sehingga orang tua itu kelihatannya sudah akan menjadi sasaran dari serangannya Yo Cie Cong. Mendadak pada saat itu terdengar suara bentakan nyaring, suatu sambaran angin hebat mengancam diri Yo Cie Cong.

Bab 16

OLEH KARENA Yo Cie Cong tidak mempunyai maksud hendak melukai lawannya maka ketika serangannya hendak melukai seorang cepat-cepat ditariknya kembali badannya juga melompat mundur. Maka dengan demikian, ia malah menghindar dari serangan si orang tua jika tidak demikian sungguh hebat sekali akibatnya.

Pengail Linglung sudah terkenal namanya sebagai orang yang hebat dan kuat sejak bepuluh- puluh tahun lamanya. Betapa hebat kekuatannya sudah tentu tidak ada tandinganya dengan kekuatan yang ia punya jika serangan Yo Cie Cong sungguh-singguh dengan menggunakan tenaga, maka pastilah ia akan dibikin terpental dan terluka oleh kekuatan dan tenaga yang tidak terlihat dari orang tua itu. Kekuatan semacam itu dinamakan Kan-goan cin-cao.

Kekuatan tidak berwujud yang dinamakan Kan-goan cin-cao ini merupakan ilmu yang paling ampuh dari Pengail Linglung yang sudah diyakini beberapa puluh tahun lamanya ilmu kekuatan ini tidak berwujud hampir serupa dengan ilmu kekuatan untuk melindungi diri seperti yang terdapat dalam rimba persilatan hanya bedanya ialah ilmu Kang-goan cin-cao bukan hanya dapat melindungi diri tetapi juga dapat digunakan untuk membalas menyerang kearah musuhnya dengan kekuatan tenaga yang luar biasa hebatnya.

Ketika Yo Cie Cong melompat mundur, ia berdiri melongok seperti terpaku.

Karena pada saat itu, dihadapannya sudah berdiri seorang gadis cantik jelita yang kecantikannya melebihi Siang-koan kiauw dan Tio Lee Tin.

Gadis jelita itu matanya menatap Yo Cie Cong, kelihatannya juga terkejut, agak terpesona ketampanan pemuda itu sehinga kedua pipinya lantas menjadi merah.

Tetapi ketika mengingat apa yang dilakukan oleh anak muda itu wajahnya lantas berubah pedang ditangannya lantas dikibaskan sepasang matanya menatap wajah Yo Cie Cong kemudian ia membentak dengan suara yang halus : …Nyalimu sungguh besar, kau berani berlaku sembarangan di pulau Batu Hitam ini ?”

Suara itu meskipun bentakan tetapi kedengarannya begitu merdu, menyenangkan dan tidak menyakiti hati yang mendengarkannya. Yo Cie Cong yang terpesona oleh kecantikan si gadis itu hatinya tampak juga begerak taoi ia belim dapat memikirkan hal yang lainya ia hanya heran dan terpesona atas kecantikan nona itu.

Berhubung Siang-koan Kiauw telah terkubur didasar laut hilangnya gadis itu telah membawa pergi semua perasaan yang ada pada dirinya.

Apa yang dipikirkannya saat itu, darah kura-kura peliharaan yang sudah berusia ribuan tahun yang akan menyelamatkan dirinya jiwanya tinggal satu hari lagi, jika ia tidak berhasil mendapatkan darah kura-kura mukjizat itu besok jiwanya itu akan melayang.

Maka atas teguran gadis jelita tadi ia hanya menjawab dengan sikap yang dingin dan angkuh.

…Aku yang rendah tadi telah datang dengan cara sopan, bagaimana nona katakan aku kurang ajar ?”

…Kau berani turun tangan terhadap yayaku, bukankah itu berarti berlaku kurang ajar ?”

…Aku yang rendah berani turun tangan karena terpaska !”

…Bohong ! Yayaku kalau benar-benar menghendaki jiwamu, apakau kira bisa hidup sampai saat ini ?”

…Belum tentu !”

Belum tentu, kau boleh coba saja , kau bisa menjalani beberapa jurus dibawah pedang nonamu?’’

Pedang ditanganya sinona yang bersinar biru ungu,dengan cepat dan gerakan yang sangat aneh sudah menyerang sampai 5 kali dangan beruntun.

Karena Yo Cie Cong bukan hendak mencari setori, maka ia tidak mau membalas . Dengan berkelit kesana-kemari ia menghindarkan serangan sinona yang luar biasa hebatnya .

Pengail Linglung saat itu sudah kembali dalam keadaanya seperti seorang tolol dan linglung. Ia berdiri tanpa berkata apa-apa .

Sigadis cantik melihat seranganya mengenakan tempat kosong , hatinya merasa sangat mendongkol. Ia lalu putar pedangnya semakin kencang, hinga dirinya Yo Cie Cong seolah-olah berkurung oleh sinar pedang berwarna ungu.

Yo Cie Cong menampak pihaknya sinona melancarkan seranganya semakin gencar, ditambah lagi dengan pedangnya yang merupakan pedang pusaka , jika ia tidak membalas mungkin akan terluka dibawah pedangnya sinona.

Oleh karena itu , maka ia lantas melancarkan serangan membalas.

Meski ia cuma menggunakan tenaganya 6 bagian saja, tapi karena pengaruh hasiatnya benda mustika , kekuatanya itu sangat mengejutkan hebatnya !

Setelah terdengar suara ‘Buk!’ yang amat nyaring , pedangnya si nona lantas terpental miring.

Nona itu terkejut, ia lantas tarik kembali pedangnya dan lompat mundur..Dengan sikap terheran-heran ia mengawasi ia mengawasi Yo Cie Cong .

Kekuatan tenaga dalam si anak muda yang luar biasa , aganya sudah mengejutkan hatinya sinona.

Yo Cie Cong sendiri juga sangat kagum menyaksikan kepandaian sinona

,,Kheng-jie mundur , kau masih bukan tandinganya dia!” berkata Pengail Linglung kepada cucunya.

Justru perkataan sikakek itu rupa-rupanya telah membangkitkan napsu sinona untuk mendapat kemenangan , maka ia lantas menjawab sambil monyongkan mulunya .

,,Yaya , kau Cuma membuat dia bertambah bertingkah saja!”

Sehabis berkata ,ia lantas masukan pedangnya kedalam serangkanya, kemudian berdiri tegak sambil lonjorkan kedua tanganya. Setelah itu ia lantas menyedot napasnya dalam-dalam .

Yo Cie Cong yang menyaksikan keadaan sinona , dalam hatinya merasa bercekat, ia lantas menjaga-jaga segala kemungkinannya .

Kedua tangan sinona mendadak bergerak dengan cepat ,suatu kekuatan yang tidak kelihatan , lantas menyembar keluar dari tanganya.

,,Kheng-jie jangan!” Pangail linglung coba merintangi , tapi sudah terlambat .

Yo Cie Cong dalam keadan kaget , buru-buru mengeluarkan tenaganya,untuk menyambutinya. ,Kedua kekuatanyang tidak dkelihatan lantas saling beradu , hanya terdengar suaranya yang sangat nyaring .Yo Cie Cong mendadak merasakan dadanya nyesak, badanya mundur 3 tindak.

Badanya sijelita terhuyung-huyung, wajahnya berubah mundur satu tindak , baru bisa berdiri tegak , dalam hatinya juga merasa terheran-heran sebab serangannya dengan ilmunya ‘Kan-goan cin cao’ yang ia lancarkan dengan tenaga penuh, ternyata tidak mampu melukai dirinya si anak muda .

Pengail Linglung meski adatnya sangat kukoay , tapi ia masih terhitung orang dari golongan baik . maka ketika nampak cucunya menggunakan ilmunya ‘Kan-goan Cin-cao, ia kuatir anak muda itu tidak sanggup melawan dan terluka, lantas coba marintangi, sungguh tidak nyana kalau kekuatan tenaga anak muda itu ada begitu hebat, dengan tabah berani menyambuti serangan yang sangat hebat itu . Dalam hatinya merasa tidak habis mengerti .

Meskipun ia sudah dapat melihat bahwa Yo Cie Cong bukan pemuda nakal atau dari golongan jahat, tapi dalam hati masih merasa curiga . Sebab ia dengan cucu perempuannya yang mengasingkan diri dalam pulau sunyi itu, sebetulnya karena terpaksa, kecuali beberapa kenalannya yang dekat, tidak ada orang yang tau jejaknya . Dan Yo Cie Cong yang datang katanya mau minta darah binatang kura-kura peliharaannya, tapi tidak mau menyebutkan nama suhunya, sudah tentu tambah membikin ia merrasa curiga.

Cucu perempuannya yang dipanggil Kheng-jie ( anak Kheng ) tadi, mendadak mendapat kesan baik terhadap pemuda yang wajahnya tampan tapi sikapnya dingin kecut itu . bagi satu gadis dewasa seperti Kheng-jie yang hidup terasing dalam alam sunyi , kalau ia merasa terpikat oleh ketampanannya wajah Yo Cie Cong , memang merupakan satu soal wajar.

Tapi pikiran mau menang sendiri, memang merupakan suatu penyakit bagi orang-orang yang belajar ilmu silat, terutama bagi orang-orang dari golongan muda, pikiran demikian nampaknyaada lebih kuat. Begitu juga bagi sijelita itu. Ketika serangannya tidak berhasil merubuhkan lawannya, ia lantas mendongkol, maka lalu membentak pula :

,,Aku kepingin tahu sampai dimana kepandaianmu !”

Sehabis berkata sinona lantas menggeser maju kakinya, kedua tangannya melancarkan serangan bertubi-tubi, setiap serangan seolah-olah mengandung kekuatan yang dapat menghancurkan batu keras.

Kiranya, nona itu sudah menyalurkan kekuatan Kan-goan Cincao kedalamkedua telapak tangannya.

Yo Cie Cong lantas berkelit sambil berseru :

,,Bolehkah nona dengar sedikit keterangnku dulu ?”

,,Kau harus sambuti seranganku dulu, nanti baru kita bicara lagi.”

,,Apa nona hendak memaksa aku turun tangan?”

,,Kalau ia bagaimana?”

,,Nanti kalau aku keterlepasan tangan mungkin mengakibatkan ”

Nona itu lantas ketawa cekikikan.

,,Perkataanmu sungguh membawa,” katanya.

Jawaban itu sesungguhnya tidak enak di dengar oleh Yo Cie Cong, maka ia lantas menjawab dengan suara dingin :

,,Aku bukan bangsa orang penakut.”

,,Kalau begitu, bagus sekali. Sambutlah lagi beberapa jurus seranganku.”

Gadis itu lalu menggeser dirinya kesamping kira-kira lima kaki dijauhnya, ia mengirim serangannya dari arah samping. Serangannya itu kelihatannya lebih hebat daripada serangannya yang pertama.

Diperlukan secara demikian rupa, Yo Cie Cong hatinya mulai panas. Dalam hatinya berpikir : “perempuan ini sangat keterlaluan. Hari ini kelihatanya ia tidak mau mengerti kalau aku belum turun tangan.”

Setelah berpikir demikian, badannya juga agak dimiringkan, tanga kanannya lantas mengebut keudara.

,,Tahan!” demikian terdengar suara seseorang yang membentak dengan dibarengi oleh sambaran sesuatu kekuatan yang maha hebat.

Yo Cie Cong dan si jelita sama-sama terpental lima tumbak dijauhnya. Pengail linglung dengan sorot matanya yang aneh, berdiri ditengah-tengah mereka berdua

,,Yaya, kau ?” demikian si nona berseru.

,,Kau mundur dulu,” jawab si orang tua.

Gadis itu monyongkan mulutnya yang kecil mungil. Setelah mengawasi Yayanya sejenak, matanya lalu menatap wajahnya Yo Cie Cong, kemudian tunjukan ketawanya yang manis,

Panggil Linglung lalu menanya kepada Yo Cie Cong :

,,Bocah, barusan gerak tipu silatmu, ‘Liu-in Hut-hiat’ kaudapat belajar dari siapa?”

Kiranya, Yo Cie Cong ketika mengeluarkan serangannya tadi, kalau tidak dicegah oleh si orang tua ini, si jelita pasti akan terluka dibawah tangannya.

Yo Cie Cong setelah mengetahui bahwa orang tua itu telah mengenali asal-usul tipu serangannya yang digunakan tadi, maka dalam hatinya lantas berpikir : ’Oleh karena kedatanganku ini adalah atas atas petunjuk si Hweshio gila, maka apa salahnya kalau aku menerangkannya secara sejujurnya?’

,Tipu silat tadi, kudapat dari ajaran seorang Engkong Hweshio.’Demikian Yo Cie Cong menjawab atas pertanyaan pengail Linglung.

,,Bagaimana ada hweshio disebut engkong ?” celetuk si jelita sambil ketawa geli.

,,Bagai mana macamnya hweshio itu ?” Tanya Pengail Linglung.

,,Separuh hweshio separuh imam, kelakuannya seperti orang gila !”

,,Yaya, hweshio yang dia disebutkan tentunya ada itu kakek hweshio gila yang pernah datang kemari pada lima tahun berselang !” celetuk pula si gadis.

Yo Cie Cong diam-diam juga merasa geli, barusan ia menyebut hweshio gila itu sebagai engkong, telah ditertawakan oleh gsdis itu, dan dia sendiri menyebutnya kakek padanya.

Si Pengail Limglung mengawasi tujuannya sejenak, lalu berkata pada Yo Cie Cong :

,,Bocah, apa kau ada muridnya ‘Pak-hong Phoa-ngo Hweshio’?”

Yo Cie Cong terperanjat. Kiranya hweshio yang kelakuannya seperti orang sinting itu ternyata ada ‘Pak-hong Phoa-ngo Hweshio’, seorang luar biasa didalam dunia Kang-ouw yang namanya menakutkan orang-orang golongan hitam atau putih dari rimba persilatan. Tentang hwesio anah itu sudah lama ia dapat dari suhunya, sungguh tidak nyata kalau hweshio tua itu masih hidup, bahkan sudah menurunkan kepandaiannya kepadanya.

Saat itu ia lalu balas menanya:

,,Benar. Namaku adalah Ut-tio Giok Ciang ! Bocah, kau masih belum menjawab pertanyanku tadi.”

Yo Cie Cong sungguh tidak menyangka bahwa itu hweshio sinting yang pernah ditemuinya dan orang yang ada dihadapannya kini, ternyata adalah dua orang tua luar biasa yang kabarnya sudah menghilang itu yang biasanya disebut Pak-kong dan Lam-tie (Si Gila Dari Utara dan si linglung dari Selatan ), maka ia lalu ia sesalkan perbuatannya yang telah gegabah tadi.”

Setelah itu, ia lalu memberi homat pula seraya berkata.

,,boanpwee bukan muridnya Phoa-ngo Locianpwee. Sedangkan nama gelarnya Locianpwee itu saja juga baru sekarang Boanpwee tahu dari keterangan Locianpwee tadi.

,,Apa ? kalu begitu, tipu silatmu Liu-in Hut-hiat tadi kau dapatkan dari man ? kau harus bicara terus terang.”

Yo Cie Cong segera menceritakan hal ikhwalnya, setelah dibikin celaka oleh Cin Bio Nio dan kemudian ditolong oleh Hweshio itu didalam kelenteng tua, kemudian hal tentang diberikannya pelajaran berupa dua macam ilmu silat Liu-in Hut-hiat dan Hui-siu Kay-hiat, selain daripada itu, ia menunjukan jalan padanya supaya datang ke Batu Hitam untuk minta beberapa tetes darahnya kura-kura peliharan yang sudah ribuan tahun usianya, sehabis itu ia memberikan benda kepercayaan dari Phoa-ngo Hweshio yang berupa buli-buli kecil berwarna merah.

Pengail tua itu. Setelah menyambuti buli-buli tersebut dan diperiksanya lalu diberikan kembali kepada Yo Cie Cong ia ketawa ber gelak-gelak kemudian berkata :

,,kalau begitu, karena gara-garanya si Hweshio gila itu. Sebab sejak aku berdiam disini selama limabelas tahun sampai sekarang kecuali si Hweshio gila itu, kaulah orangnya yang merupakan satu-satunya orang luar yang datang mengunjungi pulau ini bocah siapa gurumu ? dari mana kepandaiana itu kau dapat ?” Mengenai suhu boanpwee, buat dewasa ini masih ada kesulitan-kesulitan yang di dapat Boan pwee jelaskan. Maaf saja, untuk sementara Boanpwee masih belum berani menyebutkan nama suhu……’’

,,Ha, ha, Kalau begitu, sudahlah. Aku ada melihat kau telah jatuh dari cengkraman kaki

burung rajawali raksasa. Bagaimanakah sebetulnya ?”

Yo Cie Cong lantas menceritakan semua pengalaman yang dialaminya.

Pengail Linglung ketika mendengar penuturannya Yo Cie Cong yang menarik hatinya, merasa heran sekali, maka ia lalu berkata sambil mengurut-urut Jenggotnya :

,,Bocah, bakat dan tulang-tulangmu sukar didapat selama seatus tahun ini dan sekarang kembali kau mendapat pengalaman-pengalaman gaib itu. Hal ini akan merupakan suatu kegaiban didalam rimba persilatan selama tahun-tahun mendatang. Mungkin itu semua ada takdir. Aih !’’

Yo Cie Cong yang mendengar itu. Diam-diam juga merasa bersyukur atas pengalamannya sendiri.

,,Bocah, Hweshio gila itu sejak berkelana didunia Kang-ouw, selamanya belum menerima murid. Tetapi dia menurunkan ilmu silatnya yang luar biasa dan dipandangnya sebagai jiwanya sendiri itu kepadamu, suata bukti bahwa kau telah menarik perhatiannya, maka sekarang lohu juga akan menghadiahkan apa-apa kepadamu, ‘’ demikian kata pengail tua itu pula !

,,Hadiah ?’’

,,Ja. Aku hendak menurunkan ilmuku Kan-goan Cin-cao kepadamu.’’

Yo Cie Cong terperanjat, hampir-hampir ia tidak percaya pada pendengarannya sendiri.

Sesungguhnya ia tidak menyangka kalau orang tua itu mau menurunkan kepandaiannya yang tunggal dan luar biasa itu padanya.

Tetapi setelah memikirkan keadaan dirinya, ia lantas Menjawab :

,,Atas budi kecintaan Locianpwee,Boanpwee merasa sangat bersyukur dan disini Boanpwee ucapkan banyak-banyak terima kasih.

Tetapi Boanpwee sudah merasa puas jika Loacianpwee sudi memberikan beberapa tetes darahnya kura-kura yang sudah berusia ribuan tahun itu untuk mengobati racun didalam badan Boanpwee. Ini saja Boanpwee sudah merasa cukup dan hal-hal lainnya Boanpwee tidak berani mengharapkan.’’

,,Apa ? Kau tidak sudi belajar Ilmuku ?’’

,,Bukannya tidak suka, hanya ’’

,,Huh, huh Bocah , kalau aku mau menurunkan pelajaranku ini, sebabnya ialah karena

suatu soal janji untuk mengadu kepandaian.’’

,,Janji mengadu kepandaian?’’

,,Benar, perjanjian telah ditetapkan pada lima belas tahun berselang.’’

,,Bagaimana sipatnya perjanjian Itu ? Dengan Boanpwee ’’

,,Soalnya ini untuk sementara jangan kita bicarakan dulu. Kheng-jie, mari sini.’’ Si jelita lalu menghampiri engkongnya.

Pengail Linglung lantas berkata pula kepada Yo Cie Cong sambil menunjuk pada si gadis :

,,Ini adalah cucu perempuanku. Namanya Ut-tie Kheng.’’ Yo Cie Cong lalu menjura pada sigadis, seraya berkata :

,,Aku yang rendah adalah Yo Cie Cong.’’

Ut-tie Kheng saat itu mendadak berubah wajahnya kemalu-maluan, ia membalas hormatnya Yo Cie Cong.

,, Semua nanti kita bicarakan lagi di tempat kediaman kita,’’ kata Pengail Linglung yang lantas bergerak lebih dulu meninggalkan tempat itu, kemudian diikuti oleh Ut-tie Kheng dan Yo Cie Cong

.

Tidak antara lama, mereka bertiga sudah sampai didepan gubuk sederhana , yang lalu masuk kedalamnya .

Rumah gubuk itu dibangun di pantai laut . Meskipun bentuknya sederhana , begitu pula perabot rumah tangganya , tetapi semuanya sangat bersih.

Setibanya dirumah dengan tidak diperintah lagi Ut-tie Kheng lantas masuk kedalam menyediakan barang santapan. Pengail tua itu menyuruh Yo Cie Cong menantikan diruangan sejenak , ia lalu keluar dan tidak lama kemudian sudah balik lagi sambil membawa cawan kecil yang diberikan kepada Yo Cie Cong seraya berkata :

,,Bocah, ini adalah darahnya kura-kura yang berusia ribuan tahun yang kau maksudkan, minumlah.’’

Yo Cie Cong menyambuti cawan itu dengan kedua tangannya . Lantas berkata dengan suara terharu :

,,Locianpwee , budi kebaikan Locianpwee selamanya tidak akan Boanpwee lupakan .’’

,,Bocah, tidak usah kau begitu merendahkan diri, minumlah ! Yo Cie Cong menurut.

Kira-kira setengah jam sesudah minum darahnya kura-kura itu, Yo Cie Cong merasa seperti ada hawa panas menusuri sekujur badannya. Ternyata itu adalah khasiatnya dari darah kura-kura yabg sudah berusia ribuan tahun tersebut.

Oada saat itu Ut-tie Kheng sudah siap dengan hidangannya, sehingga ketiga orang itu lantas mulai bersantap.

Yo Cie Cong yang sudah sembuh dari penyakitnya, sudah tentu dalam hati merasa sangat girang.

Sehabis dahar, Penagail Linglung itu lantas berkata kepada Yo Cie Cong :

,,Bocah, kau ikutlah aku kebelakang rumah, sekarang aku hendak menurunkan ilmu Kan-goan cin-cao kepadamu.”

,,sekarang ?”

,,Kau tidak usah Tanya apa sebabnya aku ter-buru buru menurunkan pelajaran kepadamu, karena pelajaran itu kepadamu bukannya secara Cuma Cuma.

,,Apakah Locianpwee hendak menggunakan diri Boanpwee ?”

,,Aku tadi sudah katakan, kau tidak usah banyak bertanya belajarlah dulu.”

,,Jika Locianpwee mempunyai keperluan apa apa, perintahkan sajalah. Buat apa harus menurunkan pelajaran sebagai hadiah. Hal ini sebaliknya …..

,,Bocah, tidak usah banyak rewel. Marilah !”

Ut-tie Kheng yang menyaksikan dari samping hanya ketawa saja sambil menekap mulutnya. Yo Cie Cong terpaksa mengikuti orang tua itu kehalaman belakang.

Dibelakang rumah gubuk itu tanah lapang yang luasnya kira kira lima tumbak persegi yang seputarnya dikitari oleh tanaman pohon bambu.

Pengail Linglung sesampainya di tempat tersebut lanats mulai memberi petunjuk-petunjuk serta memberitahukan dengan tanda tanda gerakan tangan tentang bagaimana caranya melatih ilmu Kan-goan cin-cao itu.

Yo Cie Cong memang seorang cerdik dan terang otaknya, maka sebentar saja ia sudah dapat memahaminya.

Kemudian orang tua itu lantas menyuruh Yo Cie Cong melatih, latihan pertama itu waktu duabelas jam sudah cukup untuk Yo Cie Cong mendapatkan hasil yang diharapkan .

Setelah itu tua itu lantas meninggalkan Yo Cie Cong seorang ditanah lapangan tersebut.

Yo Cie Cong mengawasi berlalunya orang tua aneh itu ia merasa heran atas kelakuan penagail linglung uyang hendak menurunkan ilmu silatnya tetapi tak memberikan kesempatan padanya menanya apa sebabnya.

Saat itu matahari mulai condong ke barat tidak akan lama lagi sang siang akan di ganti sang malam.

Yo Cie Cong dengan ketekunanya yang kuat mulai melatih ilmu barunya, Kang-goan Cin cao.

Ketika malam sudah gelap, keadaan sudah menjadi sunyi sosok bayangan hitam dengan perlahan menghampiri diri Yo Cie Cong yang sedasng melatih ilmu.

Yo Cie Cong tidak merasa adanya orang itu sebab seluruh perhatiannya sedang di pusatkan pada ilmunya yang luar biasa.

Setelah Yo Cie Cong menjalnkan latihan ilmunya cukup matan, tiba-tiba kedua tangannya di sodorkan kedepan dengan perlahan dan setelah menyedot tangan napas dalam-dalam lantas mengeluarkan hawa dari kekuatan tenaga dalamnya.

Suara nyaring lalu terdengar, suatu kekuatan yang maha dasyat telah keluar dari tangan yang. Saat itu tiba-tiba terdengar orang menjerit. Yo Cie Cong terperanjat sebab ia tidak menyangka bahwa pada saat itu masih ada orang yang berada dekatnya. Ketika ia menyodorkan kedua tangannya sambil memeramkan matanya kini membuka matanya di tempat kira-kira dua langkah jauhnya kelihatan tergeletak tubuh nya seseorang.

Cepat ia menghampiri ketika diperiksa dengan seksama prang itu ternyata adalah Ut-tie Kheng sendiri.

Pada saat itu sepasang mata si jelita sudah di pejamkan dan kelihatan sudah bergerak sama sekali.

Sesaat lamanya Yo Cie Cong merasa bingung sendiri.

Ketika ia mengatakan pemeriksaan lebih lanjut, di tanah terlihat satu bakul kecil Berisikan piring dan mangkok nasi dengan laukpauk yang saat itu sudah jatuh berhamburan jatuh ketanah.

Saat itu ia baru sadar dan mengerti kalau nona itu telah datang untuk menghantarkan hidangan kepadanya.

Dengan demikian, ia merasa semakin tidak enak hatinya.

,,Bocah, tidak apa. Kau boleh melatih terus.’’ Demikian ia mendengar suara orang tua berkata.

,,Locianpwee, Boanpwee sungguh tidak menyangka dan, ……. Dan sekarang ternyata sudah kesalahan tangan ………’’

,,Bocah, ini bukan salahmu. Kau tidak usah pikirkan. Dari tangnmu tadi aku sudah dapatkan kenyataan bahwa kemajuan yang kau dapatkan ternyata ada demilian pesatnya. Ini sesungguhnya ada diluar dugaanku semula. Benar-benar merupakan suatu keajaiban dalam dunia rimba persilatan.’’

Orang tua itu sebetulnya sudah lama mengintai perbuatannya Yo Cie Cong yang sedang melatih ilmunya itu.

Ketika cucu perempuannya datang hendak menghantarkan barang makanan, orang tua itu juga sudah melihatnya dengan jelas, ia hanya tidak menduga kalau Yo Cie Cong tiba-tiba mencoba ilmunya yang baru saja dipelajari, sehingga terjadilah insiden tersebut.

Orang tua itu lalu memondong tubuhnya Ut-tie Kheng yang terus dibawa masuk kedalam rumah untuk diobati. Disepanjang jalan ia masih menggerendeng seorang diri , Hweshio gila itu matanya sungguh tajam. Pilihanya kali ini sedikitpun tidak keliru .

Suara itu yang terbawa oleh angin dan masuk ditelinganya Yo Cie Cong , telah membuah anak muda itu terdiam termangu-mangu, ia tidak mengerti apa maksud ucapan orang tua itu , dalam hati diam-diam lalu berpikir : ‘Apakah Pak-hong Phoa-ngo Hweshio itu menolong diriku dan memberikan ilmunya kepadaku serta kemudian menunjukan aku datang kepulau Batu Hitam ini semuanya sudah yang merupakan suatu hal yang sudah direncanakan terlebih dahulu ? Sebab jika tidak begitu, bagaimana Pengail tua ini bisa mengucapkan perkataan demikian ? Tetapi biar bagaimana juga, kedua orang tua itu adalah merupakan orang-orang luar biasa dalam rimba persilatan . Tentunya tidak nanti mereka mempunyai maksud jahat terhadap diriku.

Bab 17

OLEH KARENA kejadian tersebut, telah membikin Yo Cie Cong tidak bisa tenteram lagi hatinya.

Dia merasa tidak enak terhadap dirinya Ut-tie Kheng , sebab nona itu dengan baik hati hendak mengantarkan makanan untuknya, tidak tahunya dengan tidak di sengaja ia telah membikin dirinya terluka, entah bagaimana keadaan lukanya sekarang ?

Setelah kira-kira satu jam berlalu, barulah ia mampu menindas semua perasaan tidak enak hatinya dan melanjutkan ilmunya lagi.

Setelah melakukan latihannya dengan tekun, sehingga berhasil sangat memuaskan, Yo Cie Cong merasa girang dan terheran-heran.

Ketika ia membuka matanya, dipermukaan air laut ternyata sudah diliputi oleh embun pagi. Ia sekarang baru tahu bahwa hari sudah menjadi pagi, pada hari kedua.

Dihadapannya kelihatan berdiri seorang tua, yaitu Pengail Linglung yang sedang mengawasi dirinya dengan mata tidak berkesip, sedangkan Ut-tie Kheng juga kelihatan berdiri disisinya sang Yaya sambil bersenyum. Yo Cie Cong dengan cepat menghampiri, lebih dulu ia memberi hormat kepada Pengail Linglung, kemudian mengawasi Ut-tie Kheng dan sambil menjuta berkata :

...Tadi malam aku telah kesalahan tangan sehingga melukai nona. Aku merasa sangat menyesal dan sesungguhnya tidak enak sekali. Entah ………’’

Ut-tie Kheng memotong sambil bersenyum :

...Tidak menjadi soal. Kau lihat sendiri. Bukankah aku sekarang berdiri dihadapanmu dalam keadaan sugar bugar ?’’

Pengail Linglung tertawa melihat kelakuan dua anak muda itu.

Di hari-hari yang akan datang masih banyak tempo untuk kalian berdua nanti akan terbiasa terjun diantara Kham-Lopang tidak usah kau bahaskan tentang dirimu begitu merendah. Kalian boleh membahasakan sebagai Engko dan adik saja.

Otie-kang merasa cengah, wajahnya merah seketiaka sambil melirik Yo Cie Cong si nona menundukan kepalanya. Entah apa yang dipirkirkan saat itu ?

Wajah Yo Cie Cong masih terlihat dingin sama sekali tidak menunjukan perubahan apa-apa dengan sikap menghormat ia menjawab :

...Boanpwee menurut saja .”

...Bocah sekarang kau boleh coba letihanmu selama satu malam itu. Bagaimana hasilnya.” Demikian si pengail linglung bekata.

Yo Cie Cong setelah menjawab ‘baik’ lalu berjalan menuju ketempat yang jauh yang kira-kira tiga tumbak dari orang tua itu, setelah melakukan sebentar tiba-tiba tangan keduanya terayun suatu kekuatan yang maha hebat dan di barengi oleh sambaran angin keras mendadak keluar dari tangannya itu.

Gerakannya itu sungguh sangat mengejutkan si pengail linglung tetapi keajaiban tidak hanya di situ saja setelah terdengar suara hebat,batu-batu hitam yang terdapat di sekitar tempat sejauh tiga tumbak,begitu pula tanaman bambu berterbangan di udara.

Pengail linglung menyaksikan sendiri sampai menjadi terkesima di buatnya ia lalu berkata dengan suara agak gemetaran :

…Bocah sudah cukup ! Aku sendiri yang menyaksikan selama lima puluh tahun ternyata telah dapat kau yakini dengan waktu semalam saja, ini adalah satu keajaiban.Aku sungguh tak dapat berkata apa-apa …..”

Yo Cie Cong seorang yang cerdik, ia mendengarkan perkataan orang tua itu, segera ia menangkap maksudnya itu maka ia menjawab dengan sikap yang sangat menghormat .

...Boanpwee sudah mempunyai suhu maka tidak bisa meninggalkan suhu yang lama untuk mencari suhu yang lain. Tetepi budi Locianpwee yang memberikan pelajaran ini tidak aklan Boanpwee lupakan untuk selama-lamanya.jika Locianpwee memberikan perintah sekalipun harus terjun kedalam lautan api tidak akan Boanpwee tolak.”

...Bocah Hweshio gila, pernah mengatakan apa kepadamu.?

Pho ngo Locianpwee hanya memberikan sedikit pesan yaitu beberapa kata kepada Boanpwee : Tidak ada suatu perbuatan yang mengekang diriku. Dengan baju dan sepatu butut itu ia mengakhiri persoalan yang lalu.

Pengail linglung kemudian menokan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Setelah merasa puas tertawa ia berkata seakan di tunjukan padanya sendiri : Baik-baik Hweshio kalau sudah terjun kedalam dunia Kang-ouw lagi, aku si pengail linglung terpaksa juga akan turun dan muncul lagi.

Perkataannya itu sudah tentu tak dapat di mengerti apa maksud nya oleh Yo Cie Cong . Pengail linglung itu setelah agak tenang kembali melanjutkan ucapannya kali ini terhadap Yo

Cie Cong :

Bocah sekarang mari ikut Lohu pulang.Ada sedikit perkataan yang hendak aku bicarakan dengan kau. Hari ini kau boleh tingglakan pulau ini. Lohu nanti suruh Kheng-jie mendayung perahu untuk mengantarkan kau.”

…Baik.”

Mereka bertiga kembali masuk kedalam gubuknya, tetapi tidak lama Ut-tie Kheng keluar lagi untuk menyediakan sebuah perahu, sedangkan si Pengail Linglung sendiri lantas duduk beromong- omong dengan Yo Cie Cong. Mendadak Yo Cie Cong ingat sesuatu, maka ia lantas ajukan pertanyaan :

…Lo-cianpwee kemarin katakan bahwa Lo-cianpwee menurunkan kepandaian ilmu silat kepada Boanpwee ialah karena soal janji pertaruhan…..”

…Ha, ha…..Sekalipun kau tidak tanya lohu juga akan beritahukan kapadamu.” Yo Cie Cong mengawasi orang tua itu dengan penuh pertanyaan.

Pengail Linglung itu lantas berkata dengan sikapnya yang sungguh-sungguh :

…Bocah urusan ini terjadi pada lima belas tahun berselang. Apakah kau pernah dengar namanya orang aneh didalam rimba persilatan ?”

…Boanpwee dulu pernah aku dengar suhu berkata, katanya didalam rimba persilatan memang ada tiga orang yang sangat aneh kelakuannya. Ketiga orang aneh itu disebut sepasang manusia aneh dan seorang gaib.”

…Hm….Sepasang manusia aneh dan seorang gaib itu siapa orangnya ? Tahukah kau ?”

…Sepasang manusia aneh yang dimaksudkan adalah Lo-cianpwee sendiri dengan Pho-ngo Lo- cianpwee. Sedang yang dimaksudkan dengan sebutan orang gaib itu adalah itu pemimpin dari see-gak yang brenama Leng Jie Hong yang menyebut dirinya sebagai seorang kuat nomor satu dalam dunia.”

…Tepat, pengetahuanmu ternyata cukup luas.”

…Kabarnya Leng Jie Hong Lo-cianpwee itu mempunyai kepandaian ilmu silat yang memang…..”

…Kau dengarkan cerita lohu,” memotong Pengail Linglung.

…Pada limabelas tahun berselang, dua manusia aneh dan satu manusia gaib telah mengadakan pertemuan dipuncak gunung Busan yang dinamakan Sun-lie-hong untuk mengadu kepandaian.

Tiga hari tiga malam lamanya bertarung, lohu dan Pho-ngo, dua orang telah jatuh ditangannya……"

…Aaaa !” Yo Cie Cong bersru kaget.

…Jago see gak Leng Jie Hong itu lantas menganggap dirinya sebagai seorang kuat nomor satu didalam dunia.”

…Dan kemudian ?”

…Lohu berdua setelah kalah, jago see-gak pernah sesumbar katanya, wlaupun sampai dua puluh tahun lagi lohu dan Pho-ngo masih belum mampu melindungi dirinya. Maka kita lantas mengadakan perjanjian untuk bertemu lagi diatas puncak gunung Sin-lie-hong itu.”

…Sekarang batas waktu itu apa betul tinggal lima tahun lagi ?” Tanya Yo Cie Cong.

…Benar setelah Lohu dan Pho-ngo turun gunung, lantas kita berpisah masing-masing mencari tempat sendiri-sendiri untuk melatih ilmunya lebih dalam. Lohu berdiam dipulau Batu Hitam ini dan si hwetio gila itu tinggal dipuncak gunung Ceng-keng-hong.”

…Apakah ilmu Kan-goan Cin Bie Nio ciptaan Lo-cianpwee itu masih belum mampu menandingi kepandaiannya si jago See-gak itu ?”

…Ilmu yang lohu latih pada sepuluh tahun berselang baru selesai kuyakinkan. Tetapi saat itu hanya kira-kira lima persen saja daripada yang kuhasilkan sekarang ini, sedangkan ilmu Hut-hiat kang yang diyakinkan ileh Hweshio gila itu, juga baru sepuluh tahun kemarin saja kelihatan hasilnya.

…Lima tahun kemudian, apakah jiewie Lo-cianpwee hendak menepati janji dengan Leng Jie Hong untuk mengadakan pertandingan lagi dipuncak gunung Sin-lie-hong ?”

…Aa ha ….Bocah, pertaruhan atau perjanjian itu sebetulnya hanya untuk melampiaskan kemendongkolan hati kita saja saat itu. Siapa yang sudah bertanding untuk memperebutkan nama kosong. Apalagi soal ini belum diketahui oleh orang-orang dunia Kang-ouw.”

…Tapi sekarang Lo-cianpwee sudah memberitahukan kepada Boanpwee.”

…Dalam hal ini sudah tentu ada sebabnya.”

…Boanpwee sungguh ingin sangat mengetahuinya.”

…Tiga tahun berselang. Hweshio gila itu tiba-tiba datang berkunjung kemari, katanya ia dapat surat dari See-gak Leng Je hong yang mengabarkan karena kurang hati-hati mempelajari ilmu tubuhnya telah rusak menyayat…….

...Kalau begitu bukankah pertandingannya dengan sendirinya telah batal.

...Kalau sudah batal perlu apa Hweshio gila itu mencari aku ?”

...See-gak setelah bernyayat itu apakah masih menepati janjinya ?” ...Ia akan menyuruh murid satu-satunya untuk melaksanakan perjanjianya tersebut.”

...Siapa muridnya itu ?”

...Pada dewasa ini masih belum di ketahui. Dia hanya mengatakan bahwa lima tahun kemudian muridnya itu akan menantikan di gunung Hoa-san.”

...Apakah jiwie Locianpwee hendak pergi menepati janjinya itu?”

...Lohu dan Phoa-ngo Hweshio semuanya sudah merupakan orang-orang tua yang usianya audah sembilan puluh tahun lebih. Bagagaimana kita bisa berebutan nama dan kedudukan dengan seorang dari golongan muda ? bukankah hal itu akan menjadi buah tertawaan orang-orang muda dunia persilatan ?’’

...Lohu dan Phoa-ngo Hweshio sama-sama tidak mempunyai murid. Tetapi kedua pihak telah berjanji hendak orang yang berbakat tinggi dan masing-masing menurunkan ilmunya sendiri- sendirinya.Dan dengan darah kura-kura yang usianya sudah ribuan tahun untuk menambah kekuatannya. Orang itu akan memakili lohu berdua untuk melaksanakan janji itu.’’

Yo Cie Cong setelah mendengar perkataan itu , telah mengerti sebagian , lantas ia menanya:

...Apa disini maksud Locianpwee meberikan pelajaraan ilmu itu kepada Boanpwee ?’’

...Benar, bocah, dua kali kau telah menemukan kejadian gaib.Sudah tidak perlu lagi Lohu mengorbankan darahnya kura-kura yang usianya sudah ribuan tahun untuk membantu kekuatan dirimu.Meskipun hal ini adanya mengandalkan kekuatan gaib dan apa yang telah terjadi atas dirimu, tetapi antara kita dengan jago sejak itu tidak mempunyai permusuhan apa-apa.

Maksudnya adalah hendak menguji kepandaian saja.’’

Yo Cie Cong mendadak terbangun semangatnya.Ia merasa bersyukur atas kesempatan yang diberikan kekuatannya dengan muridnya satu jago yang merupakan jago terkuat nomor satu dalam dunia.

Orang tua itu lantas berkata pula:

...Hweshio gila itu seumur hidupnya hanya hidup bergelandangan saja.Habiatnya juga lucu dan suka main-main. Kalau dia mau berdiam dipuncaknya gunung Ceng-kong-hong yang sepi sunyi itu selama lima belas tahun lamanya, ini sebetulnya merupakan suatu tekanan hebat bagi jiwanya yang suka kebebasan itu.Tetapi Hweshio itu juga licik sipatnya. Dia sendiri tidak mau menjelaskan persoalannya kepadamu, sebaliknya ia malah menyuruh kau mencari aku.’’

Yo Cie Cong ketawa hambar,tba-tiba ia berkata dengan sungguh-sungguh :

...Boanpwee merasa sangat bersyukur sudah mendapatkan hadiah berupa darahnya binatang Locianpwee yang usianya sudah ribuan tahun itu, yang telah menolong Boanpwee dari racun yang mengeram didiri Boanpwee. Budi ini tidak ada bedanya dengan memberi jiwa baru bagi Boanpwee. Dan sekarang kembali Locianpwee itu, disini Boanpwee hendak bersumpah akan menggunakan segala kepandaian yang Boanpwee dapatkan untuk membasmi semua kejahatan didalam dunia.Hanya dengan jalan ini saja Boanpwee hendak membalas jiwa Locianpwee.

Sementara mengenai pelaksana perjanjian dengan muridnya jago See-gak itu, disegala tempat dan sembarang waktu akan Boanpwee tunggu panggilan Locianpwee .’’

...Tetapi, bocah, kalau kau nanti menggunakan kepandaianmu untuk melakukan kejahatan didunia Kang-ouw, biar bagaimana lohu tidak akan melepaskan kau begitu saja.’’

...Boanpwee mengerti.’’

...Kalau begitu, sekarang kita boleh mengadakan suatu ketetapan. Pada waktunya, lohu akan muncul lagi didunia Kang-ouw ’’

Pada saat itu Ut-tie Kheng mendatangi dari luar gubuk, ia lantas berkata dengan suaranya yang nyaring :

...Yaya, perahu sudah siap.’’

...Baik. Kheng-jie,antarkan dia meninggalkan pulau ini.’’

Yo Cie Cong lantas berbangkit, ia memberi hormat kepada orang tua itu mengambil selamat berpisah.

...Locianpwee , Boanpwee meskipun akan berkelana didunia Kang-ouw, tetapi sembarang waktu bersedia memenuhi panggilan Locianpwee.’’

Yo Cie Cong pada saat itu agaknya merasa berat meninggalkan Pengail Linglung, sebab orang tua itu bukan saja sudah menghadiahkan darahnya binatang kura-kura mujijad sehingga dapat menyembuhkan penyakitnya, tetapi juga telah menurunkan kepandaiannya yang tinggi. Kedua muda-mudi itu setelah keluar dari dalam gubuk sebentar saja sudah sampai di pantai laut. Disana sudah menantikan sebuah perahu kecil.

Setelah sudah ada diperahu, Yo Cie Cong lalu berkata kepada Ut-tie Kheng dengan suara perlahan :

...Aku telah merepotkan adik Kheng yang sudah menghantarkan aku.’’

...Huhhh. Tidak perlu kau ucapkan kata-kata yang begitu merendah. Duduk dengan baik. Aku sekarang hendak mendayung perahu ini.’’

Sehabisnya berkata, dengan gerakannya yang lincah dan cekatan sekali ia mendayung perahunya yang kecil, sebentar saja perahu itu sudah nyelonong ketengah laut.

Karena bentuk perahu itu kecil dan ringan, maka mereka bisa berlayar dengan laju.

Caranya sinona mendayung perahunya yang agak luar biasa, membuat Yo Cie Cong yang menyaksikan menjadi terheran-heran.

Setelah berada di tengah lautan yang luasitu, banyak perasaan mengganggu otaknya Yo Cie Cong .

Ia teringat akan nasib Siang-koan Kiauw yang telah pergi kemudian di telan ombak sekarang dia sudah berhasil mendapatkan apa yang dicari tetapi sudah sebaliknya Siang-koan Kiauw sudah terbenam di lautan yang luas.

Ut-tie Kheng yang menyaksikan sikapnya Yo Cie Cong itu dalam hati merasa agak heran, maka ia lantas menanya.

...Engko Cong kau sedang memikirkan apa ?”

Seseorang yang lagi terbenam dalam kedukaan, jika tidak terganggu mungkin masih tetap tinggal dalam lamunannya tetapi apabila ia tertegur maka ia sadar pula.

Begitu pula keadaan Yo Cie Cong setelah mendapat teguran dari Ut-tie Kheng matanya mendadak menjadi basah air mata hampir turun, setelah sekian lama membisu barulah ia menjawab dengan suara sedih.

...Aku sedang memikirkan diri seseorang.”

...Siapa ?”

...Seseorang yang bersama-sama belajar dengan aku.”

...Lelaki atau perempuan.”

...Sama dengan kau.”

Jiwa Ut-tie Kheng mendadak terlintas suatu perasaan.

...Apa dia cantik.”

...Ya.”

...Dimana dia sekarang berada ?”

...Di telan oleh ombak laut.”

...Apa.”

...Mungkin dia sudah didasar lautan atau didalam perut ikan.”

...Benar.”

...Ketika datang bersama-sama tetapi pulangnya hanya sendiri .”

...Engko Cong maaf kan aku telah mengajukan pertanyan yang membuat kau berduka.”

Nona itu lalu tundukan kepalanya tangannya lalu di gerakan makin cepat sehingga perahu itu berjalan semakin laju.

Yo Cie Cong geleng-gelengkan kepala tak bisa menjawab sebab dalam pikirannya terbenam rasa sedih yang sangat memilukan.

Dua jam kemudian, perahu kecil itu mendarat dipantai yang dituju.

Yo Cie Cong lantas lompat kedarat, kemudian berpaling dan berkata kepada Ut-tie Kheng-tie Keng :

...Adik Keng, sampai ketemu dilaun hari.”

Hati Ut-tie Kheng-tie Keng saat itu merasa sangat risau. Perpisahan itu membuat perasaannya sangat berat. Dengan air mata mengembang ia berkata kepada Yo Cie Cong dengan suara tidak lampias.

…Engko Cong, harap dijaga baik-baik dirimu.”

Banyak kata-kata yang hendak diucapkan, tetapi saat itu tidak bisa diucapkan dari mulutnya. Mereka sejak bertemu hingga sekarang perpisahan, sebetulnya hanya dalam dua hari saja, tetapi bayangan Yo Cie Cong sudah menggores dalam hatinya si nona. Ia sebetulnya ingin mengatakan perasaan hatinya itu. Tetapi bagaimana ia bisa keluarkan dari mulutnya sendiri.

Meskipun dalam hatinya sendiri ada pikiran demikian, tetapi ia tidak mampu mengatakan pikirannya itu dihadapan sinona. Sambil ulapkan tangannya ia lantas berkata …Adik Keng, silakan kau pulang. Tolonglah sampaikan pernyataan terima kasihku kepada Ut-tie Lo-cianpwee.”

Diwajahnya Ut-tie Kheng-jie yang merah segar itu diliputi oleh kesedihan. Dengan suara gemetaran ia menjawab :

…Engko Cong, ada satu hari aku nanti pasti akan datang mencari kau.”

Setelah mengucapkan perkataan itu dia lantas menekap wajahnya dengan tangannya, satu tangan digunakan untuk mendayung perahu. Sebentar saja perahu itu sudah meluncur ke tengah lautan.

Yo Cie Cong mengawasi perahu kecil itu yang dengan perlahan-lahan menghilang seolah-olah ditelan laut, kemudian sambil menghela napas ia berlalu meninggalkan tempat tersebut.

Sejak dengan tidak disengaja ia telah dapatkan dan makan telurnya burung rajawali raksasa, mustika Gu-liong-kao yang semula mengeram dalam perutnya dalam keadaan utuh itu kini telah lumer dan menyelusup menyusuri semua jalan darah dan ototnya sehingga dengan demikian ia telah menjadi seorang kuat yang sudah mempunyai latihan dari setengah abad.

Dengan kekuatan yang ada pada saat itu, Yo Cie Cong ketika mengerahkan ilmu membentengi tubuhnya, benar-benar seperti sudah terbang saja. Jika dibandingkan keadaannya pada satu bulan berselang, seperti dua orang saja layaknya.

Dua hari kemudian, ia sudah tiba dikota Kui lim.

Dikota tersebut ia menginap disebuah rumah penginapan.Waktu malam hari, ketika keadaan diluar sudah sunyi senyap, ia mulai membuka buku yang termuatkan nama-nama musuh Kam-lo- pang.

Sepasang matanya memancarkan cahaya yang menakutkan. Ternyata anak muda itu sedang merencanakan suatu rencana yang besar dan hebat ………

. . .

Kota Kui-lim yang ramai tetapi tenang tenteram itu dengan mendadak telah diliputi suasana ketakutan yang hebat.

Ada apa ? Oh, Golok Maut ………

Senjata aneh bentuknya yang menakutkan hati setiap orang itu, kini telah muncul kembali dikota Kui-lim.

Golok keramat yang belum lama berselang menggegerkan dunia Kang-ouw dan sudah sekian waktu tidak terdengar lagi kabar ceritanya, kini muncul kembali untuk kedelapan kalinya.

Oleh karena pada setiap kali munculnya Golok Maut itu, pasti ada saja korbannya yang diminta, maka kali ini tentunya juga tidak ada kecualinya.

Dua orang yang kali inimenerima ancaman Golok Maut itu, ternyata adalah pemimpin dari delapan belas perusahaan Piauw dikedua propinsi Kang-tang dan Kang-see.

Jago itu bernama Coa Ceng It dan bergelar ‘Lutung sakti lengan besi.’ Kalau Golok Maut itu berani mengancam jago yang kenaman itu, sesungguhnya ada diluar dugaan semua orang.

Coa Ceng It yang memimpin delapan belas perusahaan Piauw besar, kepandaian ilmu silatnya sudah termasuk dalam golongan kelas wahid dalam rimba persilatan. Namanya sudah sangat terkenal dikedua propinsi yang disebut duluan, bahkan orang-orang golongan hitam dan golongan putih semuanya telah memandang padanya sebagai satu macan.

Piauwsu-piauwsu yang mempunyai kepandaian tinggi yang berada dibawah pimpinannya, jumlah keseluruhannya lebih dari seratus orang.

Tapi Golok Maut itu toh masih tetap berani mengancam dirinya, ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang sangat menggemparkan.

Siapakah pemilik Golok Maut itu ? Sampai sekarang masih tetap merupakan suatu teka-taki besar.

Oleh karena munculnya Golok Maut itu dikota Kui-lim ini, maka orang yang berkepandaian tinggi dari golongan hitam maupun dari golongan putih yang dulu sedang mengejar-ngejar Golok Maut itu, setelah mendengar kabar itu, kini kembali pada berduyun-duyun menuju kekota Kui-lim. Coa Ceng it dulu juga merupakan salah seorang dari orang-orang kuat yang turut ambil bagian dalam peristiwa pembasmian Kamlo-pang. Ia tidak akan menyangka kalau pada duapuluh tahun masih ada orang yang datang menagih jiwa padanya.

Mengingat setiap kali munculnya Golok Maut itu selalu ditujukan kepada orang-orang yang dulu pernah ambil bagian dalam peristiwa pembasmian Kam-lo-pang, maka manusia yang menakutkan itu, sekalipun bukannya Pangcu dari Kam-lo-pang sendiri, tetapi sedikit-dikitnya juga pasti adalah seorang yang mempunyai perhubungan erat dengan Kam-lo-pang .

Coa Ceng It setelah menerima ancaman Golok Maut itu, dapatlah diduga kaget dan takutnya pada waktu itu. Dengan cepatnya ia mengumpulkan lima puluh lebih orang-orangnya yang terkenal kuat untuk melindungi tempat kediamannya.

Ia sudah bertekad bulat untuk melayani orang yang penuh rahasia dan menakutkan itu.

Tetapi munculnya Golok Maut kali ini agak berbeda sedikit keadaanya dengan beberapa kejadian yang lalu.

Golok Maut itu disampaikan oleh seorang pemuda berwajah jelek yang mengaku dirinya sebagai ‘Utusan Golok Maut .‘

Ketika itu Coa Ceng It juga sudah suruh empat orang muridnya yang kuat untuk menguntit pemuda wajah jelek itu, tetapi pemuda jelek yang mengaku sebagai utusannya Golok Maut itu kepandaiannya tinggi sekali, dengan mudah ia sudah berhasil meloloskan diri dari intaiannya empat orang itu. Dipandang dari kepandaiannya utusan itu saja, dapat dibayangkan berapa tingginya sipemilik Golok Maut itu.

Dari keterangan empat muridnya Coa Ceng It yang menguntit jejaknya Utusan Golok Maut itu menghilangnya utusan tersebut secara misterius merupakan suatu kepandaian yang sangat gaib.

Tertarik oleh perasaan keingintahuan, orang-orang rimba persilatan sekitar kota Kui-lim berduyun-duyun datang dikediamannya Coa Ceng It .

Mereka kepingin bisa menyaksikan bagaimana macamnya itu ( pemilik Golok Maut ) yang sepak terjangnya seperti malaikat pencabut nyawa.

Kira-kira waktu tengah hari pada hari ketiga, seorang pemuda cakap tapi bersikap adam kecut juga nampak berkunjung kegedungnya Coa Ceng It .

Siapakah pemuda itu ? Ia adalah Yo Cie Cong yang baru kembali dari pulau Batu Hitam di Lam- hay.

Coa Ceng It yang kedudukannya sebagai pemimpin 18 perusahaan Piauw, mempunyai banyak kawan dan perhubungannya sangat luas, setiap orang yang berkunjung padanya, ia harus sambut dengan baik, itu ada kebiasaannya orang yang mengusahakan perusahaan tersebut. 

Digedungnya Coa Ceng It pada hari itu, diadakan perjamuan makan, hingga gedung itu penuh dengan orang-orang Kang-ouw dari segala macam. Yo Cie Cong juga terdapat diantara mereka.Oleh karena ia masih merupakan pemuda yang tidak banyak orang kenal, sudah tentu tidak mendapat banyak perhatian. Ia duduk di tempat biasa.

Piauwsu-piauwsu yang diundang oleh Coa Ceng It , pada hari kedua sudah datang di gedung tersebut , jumlahnya kira-kira 50 orang.

Piauwsu-piauwsu itu semua merupakan orang-orang pilihan yang tergolong paling kuat dari barisan piauwsu dari perusahaan piauw yang dipimpin oleh Coa Ceng It. Maka setelah piauwsu itu tiba, gedung Coa Ceng It telah dilindungi begitu kuat, seolah-olah dikurung oleh tembok besi atau baja.

Dalam perjamuan itu, orang-orang pada ramai membicarakan sepak terjangnya ‘Golok Maut ‘ dimasa yang lalu.

Perjamuan makan telah berlangsung dibawah suasana yang seram dan penuh kekuatiran.

Coa Ceng It usianya sudah 60 tahun lebih, orang masih gagah. Tapi semenjak menerima ancaman Golok Maut , semangatnya seperti runtuh, ia harus duduk di pertengahan ruangan dengan hati ketar-ketir.

Hari itu adalah hari ketiga, juga merupakan hari terakhir.

Selama tiga hari itu, ia selalu berada dalam ketakutan dan kekuatiran.

Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri, apabila ia beruntung terlolos dari kematian, ia nanti akan bubarkan perusahaan piauwnya,dan selanjutnya akan mengundurkan diri dari dunia Kang- ouw . Meski hari itu orang-orang dari dunia Kang-ouw yang datang berkumpul digedungnya Coa Ceng It lebih dari 300 orang jumlahnya, tapi belum cukup untuk meredakan suasana, setiap orang diliputi oleh perasaan tegang.

Yo Cie Cong yang sikapnya dingin kecut, tidak jarang matanya berkeliaran memandang keadaan sekitarnya,juga tidak jarang mengawasi situan rumah Coa Ceng It yang keadaannya sangat mengesankan.

Diatas penglari diruangan tersebut, ada menancap sebilah golok yang panjangnya kira-kira satu setengah kaki, golok itu bentuknya sangat aneh, disisi bawah tajam sekali, disisi atas bentuknya seperti gigi gergaji.

Itulah Golok Maut yang diantarkan oleh utusannya pada dua hari berselang.

Golok yang bentuknya aneh dan memancarkan sinarnya berkilauan itu, menimbulkan rasa takut dan ngeri bagi siapa yang memandangnya.