Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 06

Jilid 06

Ia letakan dirinya Yo Cie Cong mengerti bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi bulan- bulanan wanita setengah tua yang centil genit itu, entah apa yang ia akan perbuat terhadap dirinya itu.

Cin Bie Nio setelah meletakan dirinya Yo Cie Cong ditanah, ia duduk didampinginya menantikan perubahan selanjutnya.

Tidak antara lama kemudian ……..

Dalam perutnya Yo Cie Cong timbul hawa panas itu kenudian mengeluarkan hawa nafsu birahi yang makin lama hebat hingga tidak dapat dikuasai lagi.

Sebentar saja, mulutnya dirasakan kering, srkujur tubuhnya seperti dibakar, perlahan-lahan budi pekertinya telah lenyap sama sekali ia Cuma merasakan sesuatu kebutuhan untuk melampiaskan hawa napsunya.

Didalam matanya Yo Cie Cong pada saat itu, Cin Bie Nio kelihatannya seperti bidadari yang baru turun dari khayangan, ia sudah tidak merasa benci dan gemas lagi, ia merasa saat itu ia sangat membutuhkan dirinya.

Keadaanya Cin Bie Nio saat itu juga serupa dengan Yo Cie Cong.

Dari sorot matanya Yo Cie Cong ia sudah tahu kalau pemuda itu sudah hampir tidak bisa kuasai dirinya lagi, hingga ia mengerti bahwa saat bekerjanya obat itu telah tiba. Maka dengan cepat ia sudah membuka totokan Yo Cie Cong, siapa telah mendapat kembali kebebasanny, seolah-olah macan kelaparan ia lantas menubruk dirinya Cin Bie Nio. Mulutnya tidak hentinya mengucapkan perkataan : ,, Bie Nio …..Bie Nio……!’’

Bab 12

DENGAN demikian, Yo Cie Cong dan Cin Bie Nio lantas bergulingan ditanah.

Yo Cie Cong yang sudah kehilangan akal budinya, dibawah pengaruhnya obat Cin Bie Nio, pikirannya sudah menjadi gelap sekali.

Suatu perbuatan terkutuk hampir saja terjadi didalam bekas rumah sunyi itu.

Andai kata hal itu benar-benar terjadi, meski Yo Cie Cong dapat kepuasannya ia dapat menjadi orang bercacat untuk seumur hidupnya bahkan lebih mengenaskan lagi bagi nasibnya Yo Cie Cong, karena wanita genit centil itu, setelah merasa puas ia hendak membelek perutnya Yo Cie Cong dan mengambil mustikanya.

Peristiwa yang menyedihkan itu agaknya sudah sukar untuk dilakukan ………..

Untung dalam saat yang sangat kritis itu, mendadak terdengar suara seperti keluar dari mulunya seorang yan gsudah lanjut usianya :

,, diwaktu tengah hari bolong, kau rase genit ini ternyata berani terang-terangan melakukan perbuatan terkutuk !’’

Suara itu meski tidak keras, tapi cukup jelas kedengarannya Cin Bie Nio yang sudah kelelap dalam napsu birahinya, ketika mendadak dengar suara itu, bukan kepalang kagetnya hingga napsunya lenyap buyar seketika.

Yo Cie Cong yang sudah seperti orang kerasokan setan karena pengaruhnya obat, sekalipun dunia kiamat juga tidak peduli ia tetap memeluki dirinya Cin Bie Nio, mulutnya mengeluarkan perkataan seperti orang mengigo.

Terdengar pula seorang tua itu :

,, Suhunya begitu, muridnya sudah tentu begitu juga. Rase tua itu hampir setengah tua umurnya mencelakakan dunia Kang-ouw dan sekarang si rase cilik mjuga kelihatannya hendak melanjutkan kelakuan suhumu ? rupanya peristiwa berdarah yang bersipat romantis akan terulang pula.’’

Cin Bie Nio sudah tidak bisa tahan sabar lagi, kegusarannya lantas memuncak sebab orang tua itu setiap perkataanya seolah-olah ditunjukan kepada dirinya.

Dengan cepat ia lantas mendorong dirinya Yo Cie Cong, kemudian lompat bangun. Selagi hendak keluar dari dalam kelenteng, Yo Cie Cong menghadang dan mulutnya mengoceh:

,, Enci, kau ……sungguh kejam ’’

Tetapi Yo Cie Cong yang hendak memeluk, kembali didorong oleh Cin Bie Nio sehingga trepental sejauh setombak lebih.

Cin Bie Nio lalu membereskan pakaiannya dan rambutnya yang riap-riapan, kemudian dengan cepat lompat keluar dari dalam kelenteng. Kecuali angin yang meniup pakaianya, ia tidak dapat menemukan apapun juga.

Didalam kelenteng tua yang sudah hampir rubuh itu, yang tampaknya sudah mengetahui dengan jelas asal usul tentang dirinya, sudah tentu orang itu bukan orang sembarangan.

Belum lenyap pikirannya itu, Yo Cie Cong sudah menyerbu lagi seperti orang yang sudah kalap.

Tetapi Cin Bie Nio saat itu sudah lenyap segala napsu birahinya. Ia hendak dulu mengetahui siapa orangnya yang usilan tadi, mak ketika Yo Cie Cong menubruk padanya, dengan cepat sekali ia mengulur tangannya dan menotok jalan darah si anak muda.

,, Eh! Kau rase cilik ini apa bermaksud hendak mengambil jiwanya si bocah ?’’ kembali terdengar suara seorang itu seperti dekat telinga Cin Bie Nio, tetapi ia tidak dapat menebak suara itu datangnya dari mana.

Sekarang Cin Bie Nio insap bahwa ia sudah berjumpa dengan seorang yang mempunyai kepandaian yan gsudah tidak ada taranya.

,, Kalau kau ada manusia, lekas unjukan dirimu!’ demikian ia akhirnya berkata cemas. Tetapi ia heran perkataanya itu tidak mendapatkan jawaban.

Tidak lama kemudian, siara yang sangat aneh itu kembali terdengar :

,, Bocah ini mempunyai tulang-tulang dan bakat yang luar biasa nagusnya. Apalagi ia telah menemukan kejadian gaib yang menguntungkan dirinya. Dia tidak boleh mati begitu saja.’’

,, Orang pandai dari mana ? mengapa harus main sembunyi-sembunyian ?’’ demikian Cin Bie Nio berseru, yang pada sebelumnya mengeluarkan perkataanya itu sudah memasang telinganya untuk mendapat tahu dari mana asal datangnya suara itu, Cin Bie Nio bingung tidak berhasil menemukannya,karena suara itu kalau mau dikatakan dari jauh, tetapi kedengarannya dekat sekali dan kalau mau dikatakan dari tempat yang dekat, tetapi tidak bisa dilihat orangnya.

Kini terdengar pula suaranya orang itu yang seperti ditujukan kepada dirinya sendiri :,, Hati wanita sesungguhnya sangat kejam, saying bocah ini kepandaiannya telah musnah. Tapi masih ada harapan, dimulai dari permulaan lagi. Oh ! takdir, takdir !’’

Cin Bie Nio yang mendengar perkataan itu, perasaan takut dan nyerinya tidak dapat disingkirkan lagi. Kiranya, pil ‘sorga dunia’ itu adalah semacam obat racun yang sangat jahat. Tiga puluh tahun berselang orang-orang yang berkepandaian tinggi, baik dari golongan hitam dan maupun dari golongan putih banyak yang menjadi korbannya obat tersebit, jumblahnya tidak kurang dari dua ratus orang banyaknya. Ini merupakan salah satu bencana hebat dalam rimba persilatan.

Orang-orang yang setelah makan obat itu dan sesudahnya melampiaskan hawa nafsunya, seluruh kekuatan badan dan semuanya, orang itu akan menjadi orang bercacat seumur hidupnya,. Ada kemungkinan juga satu jam setelah melampiaskan hawa nafsunya, sesudah musnah kekuatannya, pembuluh darah orang bermaksud pecah dan lantas binasa.

Dan orang tua yang bicara taei agaknya sudah kenal baik semua kasiatnya obat tersebut.

Cin Bie Nio yang baru pertama kali ini hendak melakukannya, lantaas sudah terbuka rahasianya bagaimana ia tidak terkrjut’

Saat itu ia tidak masih tebalkan mukanya dan membentak :

,, jika kau masih tidak mau unjukan diri, jangan salahkan jika aku maki kau dengan perkataan kotor.

Cin Bie Nio sesungguhnya seorang yang sangat licin. Ia telah dapat menduga pasti bahwa orang yang berbicara tetapi tidak mau ujudkan dirinya itu, tentunya dari golongan tua yang namanya sudah kesohor dan orang tua semacam itu adalah pantang sekali kalau dimaki-maki oleh kaum wanita.

Dugaan itu sedikitpun tidak meleset.

,, Rase kecil, apa benar kau mau minta aku ujudkan diri ?’’demikian terdengar suara itu pula.

,, Apakah kau tidak mau diketahui orang luar ?’’

,, Ha,ha,ha, Memnag benar! Agak kurang baik kalau diketahui orang,.’’

,, Kalau begitu, kau jangan sesalkan aku ’’

,,Ooo Tidak ! Tidak ! dulu ketika suhumu, sirase tua melihat aku, lantas lari terbiri-biri .Perlu kuberitahukan dulu padamu, aku sebetulnya tidak bagus kalau dilihat. Aku tanggung kau nanti mersa jemu,’’

Dan setelah mengatakan perkataanya itu, berulang-ulang ia lantas mengucapkan ‘O mie to hud;nya.

Mandadak Cin Bie Nio dapat mengingat dirinya satu orang dan semangatnya lantas terbang seketika. Sesungguhnya ia tidak akan mengira bahwa orang aneh itu ternyata masih belum binasa dan sekarang muncul lagi disitu.

Karena mengingat dirinya orang yang lihay itu, maka Cin Bie Nio lantas tidak perdulikan dirinya Yo Cie Cong lagi dan sudah lantas kabur terbiri-biri.

,, Ha, ha,ha ’’

Suara yang seperti genta itu lama mengema didalam kelenteng tua itu, sehingga kelenteng tua yang sudah lapu itu pada rontok jatuh.

Tidak lama setelah Cin Bie Nio kabur, dari atas penglari telah melayang turun satu bayangan orang, yang lantas menghampiri dirinya Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong saat itu mendadak seperti tergugah semangatnya oleh suara seperti genta tadi, keadaanya seperti orang yang baru terbangun dari tidurnya yang nyenyak dan matanya terpentang lebar-lebar.

Ia melihat seorang tua yang rambut dan jenggotnya sudah tidak bertenaga lagi. Semua tulang- tulangnya seperti sudah rontok, sedangkan untuk mengangkat kepalanya saja dirasakan sukar sekali, maka terpaksa ia mengurungkan maksudnya.

Pada saat itu, ia hanya dapat mengingat sebagian secara lapat-lapt saj apa yang terjadi atas dirinya pada satu jam dimuka, dengansorot mata kaget dan terheran-heran ia mengawasi orang aneh yang sedang menghampiri dirinya itu.

Apakah dia ini seorang hwesio? Kalau benar hweshio, bagaiman di kepalanya ada tumbuh rambut yang sudah putih semuanya?

Dan bukan kalau hweshio mengapa badanya mengenakan juba dan kakinya mengenakan sepatu hweshio ?

Terutama bentuk wajahnya orang tua itu, asal orang sudah melihat satu kali, tidak mungkin dapat dilupakan untuk selama-lamanya. Ia padri bukan padri, imam bukan imam, sedangkan usianya kelihatan sudah lanjut sekali. Tetapi keadaan Yo Cie Cong saat itu sudah lemah sekali, ia tidak dapat memikir banyak lagi apa maksud kedatangan orang aneh itu, entah baik atau jahat maksudnya.

Ia seperti barusan habis mengimpi, setelah juga seperti terumbang-ambing dalam lamunan. Akhirnya orang aneh itu berdiri dihadapannya.

Yo Cie Cong dengan matanya yang sayu terus menatap wajah orang itu tanpa berkedip.

Orang aneh itu kedip-kedipkan matanya yang sipit, lama ia mengawasi Yo Cie Cong baru berkata sambil menggeleng-geloengkan kepala :

,, Budha berkata, bahwa sesuatu hal itu memang ada jodonya kalau tidak ketemi aku, bukankah bocah ini yang merupakan bibit luar biasa sirimba persilatan ini rusak ditangannya itu perempuan hina?’’

Sehabis berkata ia lantas membuka lebar-lebar sepasang matanya itu memancarkan sinar aneh dan tajam.

Yo Cie Cong yang dipandang demikian, dian-diam mengakui tingginya kekuatan tenaga dalam orang aneh itu.

Orang aneh itu kembali berkata kepada dirinya sendiri :’’ bocahini dialis matanya ada diliputi oleh hawa pembunuhan yang hebat. Kalau digunakan pada jalan yang benar, kawanan manusia jahat dan segala iblis dari rimba persilatan tentu akan dibikin musnah olehnya, sehingga merupakan suatu keuntungan bagi rimba persilatan tetapi jika digunakan pada jalan yang tidak benar, maka rimba persilatan akan mengalami bencana besar yang hebat jahat senuaitu sudah digariskan oleh tuhan. Takdir tidak boleh dilawan……

Orang aneh itu lalu gibaskan lengan jubahnya yang mesum kearah dirinya Yo Cie Cong. Totokan pada jalan darahnya pemuda itu sekejap mata juga sudah terbuka oleh karenanya. Ilmu membebaskan jalan darah dengan menggunakan lengan baju semacam ini, dulu Yo Cie 

Cong hanya pernah mendengar dari mulut suhunya, itu hanya ilmu kepandaian yang sudah lama hilang didunia, sebab sukar sekali dipelajari orang, sungguh tidak disangka, orang yang bentuknya luar biasa itu bisa menggunakan kepandaian yang sudah menghilang itu.

Kalau begitu, orang ini tentunya bukan sembarangan orang mungkin orang ini merupakan seorang berkepandaian tinggi sekali dari golongan tua.

Yo Cie Cong setelah merasa jalan darahnya terbuka, lantas berkata :

,, Boanpwee ucapkan banyak terima kasih atas pertolongan Locianpwee ini,’’

,, bocah, budha mengatakan ada sebab ada akibatnya pertemuan kita ini disebabkan oleh Karena adanya jodoh. Maka tidak perlu kaui mengudapkan terima kasih.’’

,, Adakah Locianpwee ini merupakan orang dari kalangan budha yang beribadah tinggi?’’

,, Ha,ha ………Orang beribadah ? separuh saja, bahkan ada sedikit perbuatan nyeleweng..’

Yo Cie Cong terjengang’ mengapa ada orang yang beribadah separuh saja ? maka ia menanya dengan perasaan terheran-heran.?’’

,, Benar, separuh padri,’’

,, Bolehkah Locianpwee menjelaskan apa artinya separuh padri itu,’’

,, Ha. Ha ……. Orang beribadah seharusnya tidak memikirkan apa-apa, sebab yang ditaati hanya ajaran budha saja. Badanku meski masih berkelucuran didalam dunia. Bahkan masih doyan arak dan makanan daging yang dipantang. Bukankah ini hanya bisa dihitung separuh saja ?’’

,, Boanpwee anggap bahwa orang yang beribadah itu pada pikiran dan kelakuannya. Tentang makanan dan minuman, itu hanya diluarnya saja, perlu apa juga harus rojoki hal itu ? maksud tujuannya budha yang utama tidak lain adalah supaya menolong orang berada dalam kesukaran, hud-cow pernah mengatakan, kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka ? dari perkataan ini dapat ditimbang bahwa Locianpwee inilah penganut budha yang benar-benar yang bukan nganut diluarnya saja, entah bagaiman pikiran Locianpwee tentang pendapat Boanpwee yang cetek ini ?’’

Orang aneh itu lantas membuka mulutnya dan memperdengarkan ketawanya yang panjang dan nyaring memekakan telinga Yo Cie Cong. Sehabis ketawa, ia lantas perdengarkan suaranya yang seperti genta.

,, Bocah, kau benar-benar ada seorang cerdik, apa yang kau udapkan itu, cocok sekali dengan pikitanku, si hweshio gila.’’

,, numpang Tanya, apa gelaran Locianpwee ?’’ ,, Semua ini merupakan embel-embel saja yang sudah lam kulupakan maka tidak usah kau tancapkan hal itu,’’

Diam-diam Yo Cie Cong merasa geli sendirinya, orang orang aneh ini benar-benar merupakan seorang aneh dalam segala-galanya. Jika tidak karena tadi ia sudah unjukan kepandaiannya,orang tentunya akan mengira bahwa orang ini adalah hweshio gila benar ?

,, Kalau begitu Boanpwee bagaiman harus menyebut Locianpwee ?’’ demikian Yo Cie Cong coba mendesak pula.

,, Ha, hweshio Bocah, terserah padamu sendiri.’’

Jawaban itu sungguh aneh. Bagaiman boleh menyebut orang secara sembarangan saja?

Yo Cie Cong merasa serba salah, karena orang aneh itu tidak mau menyebutkan mana dan gelarnya, maka ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.

,, Bocah, tidak usah kita bicarakan urusan yang bukan-bukan. Sekarang kita bicarakan saja urusan yang benar-benar.

Ketika mendengar perkataan urusan benar-benar itu, Yo Cie Cong kini baru ingat bahwa murid perempuannya orang berkedok kain merah itu masih menantikan ia yang disuruh mencari kereta. Dengan badannya yang terluka parah, bagaimana kalau nanti terjadi apa-apa atas dirinya si nona ?

Karena memikirkan dirinya Tio Lee Tin itu, pikirannya lantas tegang sendirinya, maka ia lantas berkata dengan suara cemas:

Locianpwee, Boanpwee masih mempunyai seorang kawan yang terluka sedang membutuhkan perawatan, maka Boanpwee harus………..

,, Bocah, tahukah kau, masih berapa lama lagi kau bisa hidup?’’

Perkataan itu keluar dari mulutnya orang neh itu, mau tidak mau Yo Cie Cong harus percaya juga, maka ia lantas menanya :

,, Aku ’’

,, Kalau kau siapa lagi ?’’

,, Boanpwee sungguh tidak habis mengerti apa maksud perkataan Locianpwee ini.

,, Dengan cara bagaimana kau bisa berada disini ?’’

,, Boanpwee telah dibikin tidak ingat orang oleh obat bius Cin Bie Nio serta dipaksa makan obat pil dan kemudian dibawa kemari. Apa yang terjadi selanjutnya Boanpwee sudah tidak tahu lagi,’’ mulutnya berkata, tapi hatinya berdebaran.

,, Boanpwee, kau sudah terkena ilmunya yang sangat keji dari perempuan genit itu, kemudian kau makan lagi sebutir obat pil yang bisa mengorbankan hawa nafsu sangat hebat, sesudah itu kau juga tertotok jalan darahmu, maka saat ini kepandaian ilmu silatmu sudah musnah sama sekali.’’

Yo Cie Cong bukan kepalang kagetnya mendengar keterangan itu, ia doba mengatur jalan pernapasannya, benar saja, kekuaan tenaga dalamnya sudah buyar semuanya, sehingga keadaanya saat itu sudak tidak ada dengan orang biasa yang tidak pernah melatih ilmu silat.

Kejadian itu merupakan suatu pukulan hebat bagi batinnya Yo Cie Cong.

Hasil jerih payahnya selama lima tahun terahir itu, kini telah musnah tanpa meninggalkan bekas sedikitpun juga.

Ia merasakan seperti seorang hukuman yang dapat vonis hukuman mati, untuk sesaat lamanya ia berdiri termangu-mangu.

,, Bocah, masid belim habis begitu saja kau masih mempunyai setengah jam lagi, racun itu akan menyerang jantungmu dank au juga kan lantas binasa!’’ kata orang aneh itu dengan sangat tenang.

Pada saat itu Yo Cie Cong sudah putus asa benar-benar semua rupanya telah musnah.

Sekali lagi jiwannya berada dalam ancaman bahaya maut. Ia tahu, mungkin ia tidak dapat mengelakan lagi bahaya itu. Meskipun sudah beberapa kali ia terhindar dari bahaya kematian, tetapi akhirnya ia tidak dapat terluput dari bahaya maut itu.

Kematian baginya tidak begitu menakutkan, hanya ia masih merasa berat bahwa tugas dan kewajibannya masih belum diselesaikan. Ini merupakan suatu hal penting baginya, maka sekalipun ia mati, barangkali juga tidak bisa meram, mungkin juga rohnya akan tetap bergelandangan. Setelah berdiri melongo seakan lamanya, mendadak ia perdengarkan suara suara ketawa bergelak-gelak, tetapi suara ketawanya itu sangat menyedihkan, lebih-lebih dari suara tangisan.

,, Bocah, kau jangan terguncang dulu pikiranmu. Dengarkanlah perkataanku.’’ Demikian orang aneh itu berkata padanya.

Yo Cie Cong menghentikan ketawanya, dengan matanya yang sayu ia menatap wajahnya orang tua aneh itu, kemudian berkata dengan suara duka :

,, Locianpwee masih ingin memberi pelajaran apa ?’’

,, tahukah kau, asal usulnya permpuan genit yang meracuni dirimu tadi ?’’

,, Boanpwee tidak tahu.’’

,, Dia adalah muridnya ‘ Pho Cit Kow; seorang perempuan cabul dan genit luar biasa yang bergelar ‘ Giok – bin Giam – po’ ( malaikat wajah kumala ) yangt pada tiga puluh tahun berselang telah menimbulkan bencana hebat, sehingga dua ratus jiwa lebih banyaknya dari orang-orang rimba persilatan telah binasa ditangannya,’’

,, Giok-bin Giam-po phoa cit kow?’’ demikian Yo Cie Cong berseru, wajahnya juga berbah seketika.

Sebab nama itu ternyata merupakan salah satu musuh Kam-lo-pang yang didalam daptar musuh-musuhnya Kam-lo-pang tercatat dibaris kelima dalam lembaran pertama.

,, Bocah, apa kau kenal dengan rase tua itu ?’’

Sudah tentu Yo Cie Cong tidak dapat menjawab, maka ia hanya menjawab dengan sekenanya saja.’’

Tetapi pada saat itu dalam hatinya berpikir :’ jiwa hanya tinggal satu jam saja. Perlu apa aku harus memikirkan nama musuhku itu ? biar bagaimana sekarang aku tuh tidak mampu lagi menuntut balas sakit hatinya suhu .’’

,, Bocah, aku sekarang Cuma mempunyai satu cara untuk menolong kau supaya terhinadar dari kematian. Tetapi berhasil atau tidak, itu tergantung dari musuhmu sendiri. Sementaraitu, untuk memulihkan kepandaian ilmu silatmu, untuk sementara ini tidak ada harapan lagi.’’ Demikian orang aneh itu berkata.

Yo Cie Cong ketika mendengar bahwa orang tua aneh itu masih mempunyai daya upaya hendak menolong dirinya dari bahaya kematian, semangatnya lantas terbangun kembali, sebab jika jiwanya masih ada dengan perlahan-lahan masih ada harapan untuknya melatih imlu silatnya lagi, maka ia lantas berkata dengan suara terharu.

,, Dengan cara bagaiman Locianpwee dapat menolong supaya Boanpwee tidak binasa ?’’

,, Aku akan menggunakan ilmu Kan-thian Sin-kang untuk mendesak racun yang mengeram dalam badanmu disuatu sudut, kenudian menutup beberapa bagian jalan darahmu, dengan jalan ini kau masih dapat hidup lagi untuk tiga puluh hari lamanya.’’

Harapan hidup tadi yang telah timbul dalam hatinya, kini telah lenyap kembali.

Hidup Cuma dalam tiga puluh hari, dengan badan yang sudah hilang sama sekali kekuatan dan kepandaian ilmu silatnya bisa digunakan untuk apa ? dan sesudah tuga puluh hari ia masih harus mati. Dari pada masih merasakan penderitaan lagi tiga puluh hari lamanya, bukankah lebih baik mati sekarang ? maka ia lantas menjawab sambil ketawa getir:

,, Budi kebaikan Locianpwee meskipun Boanpwee mati juga tidak bisa dilupakan, tetapi Boanpwee pikir lebih baik mati sekarang saja dari pada nanti.’’

,, Eh bocah, kau ini bagaimana sih, mengapa kau inginkan mati sekarang ?’’

,, Locianpwee Cuma membuat Boanpwee hidup lagi hanya untuk tiga puluh hari lagi dengan mati sekarang ?’’

,, Apa sudah tahu pasti kalau pada tiga puluh hari kemudian kau akan binasa?’’ Yo Cie Cong sekarang dibikin penasaran oleh karena pertanyaannya ini.

,, Bukankah tadi Locianpwee mengatakan sendiri ?’

,, Hi , hi ………Bocah, kau jangan kesusu dulu. Perkataanku masih belum habis.’’

,, Harap maafkan kalau Boanpwee berlaku kurang ajar.’’

,, Kau jangan bodoh. Aku si hweshio gilatuh bukannya anak kecil? Jika aku tidak mempunyai resep untuk menghidupkan jiwamu lagi, perlu apa aku harus kau hidup tiga puluh hari lagi. Sudah tentu aku masih mempunyai daya upaya yang lain,’’

,, Boanpwee ingin mendengar bagaimana hendak Locianpwee ,, Racun semacam ini, dikolong langit ini tidak ada orang yang dapat mengobati, kecuali orang yang menciptakan racun itu sendiri, hanya seorang tua yang tabitnya aneh luar biasa yang kini hidup mengasingkan diri dipulau batu hitam di Lam-hay yang dapat menolong kau. Dia ada mempunyai piliharaan kura-kura yang umurnya sudah ribuan tahun, dengan beberapa tetes darah kura-kura itu saja sudah cukup untuk memunahkan racun yang mengeram dalam tubuhmu, tetapi orang tua itu tabitnya luar biasa anehnya. Ia tidak suka orang lai mengganggu ketenteramannya. Bagi orang biasa, jangan harap biasa menemukan padanya. Maka untuk mendapatkan obat itu, itu juga tergantung dari keberuntunganmu sendiri.’’

Yo Cie Cong kembali timbul harapan dalam hatinya, meskipun harapan itu kecil sekali, tetapi ini juga sudah memberi dorongan untuk ia hidup terus.

,, Boanpwee akan mencoba dan berusaha.’’ Demikian ia akhirnya menjawab.

Orang tua aneh itu lantas mengeluarkan tangannya mengambil sebuah buli-buli kecil kira-kira panjangnya dan berwarna merah, lalu diserahkan kepada Yo Cie Cong seraya berkata.

,, Bocah, ini adalah benda kepercayaan bagi diriku si Hweshio gila. Dengan membawa barang ini, kau boleh pergi keorang tua yang tabitnya aneh itu, mungkin ia mau melindungu dirimu,’’

Yo Cie Cong dengan sangat hirmatnya menerima barang itu, lalu disimpan disakunya.

,, Bocah’ kalau orang tua itu menanyakan padamu tentang jejakku, kau jawab saj begini, tidak ada sesuatu yang dapat mengekangku denganb baju rombeng dan sepatu bututku hendak melunaskan tugasku.’’demikianlah orang aneh itu memberikan pesan pada Yo Cie Cong.

Apa artinya perkataan itu sudah tentu tak dapat dimengerti oleh Yo Cie Cong, ia hanya mencatat saja perkataan itu dalam hatinya, sedangkan mulunya mengucapkan perkataan ‘ baik’ berulang-ulang.

,, Bocah, nafsumu sungguh luar biasa. Jika kau bisa menemukan lagi telurnya burung rajawali raksasa berwarna, kau akanmenjadi seorang seorang luar biasa dalam rimba persilatan, harap saja supaya kua bisa menjaga baik-baik dirimu.’’

Yo Cie Cong merasa sangat heran, bagaiman Hweshio yang seperti orang gila ini bisa mengetahui kalau didalam dirinya ada mustika Gu-liong-kao ?

,, Boanpwee akan ingat baik-baik pesanan Locianpwee .’’

,, Pertemuan antara kau dan aku dinamakan jodoh, karena kita ada jodoh, tidak boleh tidak aku bisa memberikan sedikit bingkisan untukmu, demikian kata orang aneh itu yang lantas berfikir sejenak, kemudian berkata pula :

,, Baiklah, aku akan memberikan padamu dua macam pelajaran tipu silat yang dinamakan Liu- in Hud-hiat’ ( menotok jalan darah secara awan terbang ) dan Hui-sio Kay –Hiut’ ( membuka totokan jalan darah dengan kebisan lengaqn baju ).

Yo Cie Cong sangat girang sekali mendengar ini, sebab pelajaran ilmu silat yang sudah lama dikatakan hilang dari rimba persilatan yang sangat di idam-idamkan oleh stiap orang gagah, kini telah didapatkan seacara tidak terduga-duga. Tetapi jika melihat bahwa kekuatan dan ilmu silatnya sendiri kini sudah lenyap seluruhnya, sekalipun ia bisa mempelajari kedua ilmu tersebut, juga tidak bisa digunakan.

,, Bocah, kedua ilmu itu sekarang hendak kuberitahukan semua hafalannya kepadamu, kau harus ingat-ingat dan simpan baik-baik dalam hatimu, dikemudian hari, apabila kekuatan dan ilmu silatmu sudah pulih kejmbali, tentu dapat kau pergunakan.’’

,, Tidak usah, ini adalah aku si hweshio gila yang ingin menghadiahkan sendiri padamu. Jika tidak begitu, sekalipun kau mau juga tidak bisa didapatkan begitu saja, mari aku gunakan ilmu Kan-thian sin-kang dulu untuk mendesak racun dalam tubuhmu hingga jiwamu dapat hidup lagi 30 hari.’’

Yo Cie Cong kasihkan dirinya dipale orang tua aneh itu yang selalu menyebutkan dirinya sendiri sebagai Hweshioo gila setelah merasakan hidup menggunakan ilmunya, orang tua itu bersnyum kepada Yo Cie Cong yang merasakn dirinya kini banyak lebih segar.

,, Baiklah. Sekarang dengarkanlah baik-baik pelajaran yang akan kuberikan padamu ini. Aku akan mengucapkan sekali saja hafalan itu, kau bisa ingat atau tidak, semua adalah urusan sendiri, kau tidak boleh banyak menanya,’’ Demikian kata orang aneh itu.

,,Boanpwee mengerti.’’ Jawab Yo Cie Cong. Orang tua yang mengatakan dirinya sendiri sebagai Hweshio gila itu lantas mengatakan dua hafalan yang disebutkannya tadi.

Yo Cie Cong yang mendapat karunia kecerdasan otak yang luar biasa, sekali diberikan pelajaran, sidah dapat diingat semuanya dengan baiok untuk selamanya.

,, Sekarang, pergilah kau. Aku juga akan pergi.’’

,, Locianpwee, kapan Boanpwee bisa ketemulagi dengan Cian-pwee?’’

Yo Cie Cong sudah kagum benar-benar terhadap Hweshio yang menyebut dirinya gila ini, dari nama gila Hweshio itu, tidak dirasakan aneh, sebaiknya ia merasa sangat menyenangkan.

Pertemuan dalam waktu yang sangat singkat itu membuat ia merasa berat untuk nerpisahan lagi dengannya.

Orang tua itu lantas menjawab sambil ketawa bergelak-gelak,?’’

,, Bocah, asal ada jodoh dimana saja kita bisa bertemu tetapi ada satu hal yang perlu aku beritahukan padamu, jika jika dikemudian hari kau nati melakukan perbuatan yang tidak patut, sehingga membuat bencana bagi dunia rimba persilatan, aku si hweshio gila barangkali bisa berubah menjadi orang yang menagih jiwamu,;;

Ketika mendengar perkataan itu, dalam hati Yo Cie Cong timbul perasaan bergidiknya, selagi ia masih bercakat orang tua iotu sudah menghilang dari depan matanya, hanya terdengar suara tinjakan sepatunyasaja yang perlahan-lahan menghilang, ia tidak tahu bagaimana cara sijalannya si hweshio gila itu.

Setelah sendiri menjublek, sekian lamanya Yo Cie Cong sudah lenyap lama sekali. Maka gerak jalannya juga tidak bedanyaseperti orang biasa saja. Berjalan hampir satu hari lamanya, barulah ia sampai kota kecil, dengan cepat ia mencari sebuah kereta dan lantas menuju keluar kota dengab kereta itu.

Ia tidak beani membayangkan nagaimana keadaannya Tio Lee Tin pada saat itu,. Entah bagaimana kegelisahan perasaan hati si nona yang menantikan kedatangannya.

Setelah kereta itu dilarikan sekencang-kencangnya, tibalah ia ditempat Tio Lee Tin menunggu.

Ketika Yo Cie Cong melompat turun dari keretanya, apa yang terbentang dimatanya telah membuat ia berdiri menjublek.

Di depan matanya ada rebah menggeletek tubuhnya lima bangkai manusia, darahnya masih keliuatan berhamburan tampaknya matinya belum lama.

Tetapi Tio Lee Tin sendiri saat itu tidak dapat terliahat bayangannya. Tampaknya ditempat tersebut tadi sudah terjadi peristiwa hebat lagi.

Tio Lee Tin yang sedang menderita luka, mungkin sudah menemukan bahaya, pikirnya.

Yo Cie Cong ketika mengingat hal itu badannya diraakan menggigil. Jika benar terjadi apa-apa atas dirinya Tio Lee Tin, bukankah ia juga harus turut menanggung jawab?sebab jika tadi ia tidak menyuruh sinona itu siang-siang sudah meninggalkan tempat tersebut.?

Tukang kereta yang dibawanya serta, setelah menyaksikan keadaan tempat itu yang begitu mengerikan terlihatnya, sudah lantas memutar keretanya dan tanpa menunggu jawaban melarikan kudanya,

Yo Cie Cong yang saat itu sedang terbenam dalam pikirannya sendiri, perbuatannya si tukang kereta tidak diketahuinya sama sekali. Ia merasa sungguh tidak enak begininya terhadap dirinya Tio Lee Tin, sebab Tio Lee Tin yang sedang menderita luka-lukanya, entah bagaimana nasib sekarang ini.

Tetapi ia sendiri sudah tidak mempunyai kepandaian sama sekali, sudah dengan sendirinya pula ia tidak dapat mencari dimana adanya nona itu sekarang.

Apa yang harus dilakukan saat itu ialah, pergi kepulau batu hitam secepat mungkin untuk menemui orang tua yang aneh tabitnya itu.

Jika tidak berbuat begitu, tentu ia akan binasa pada tiga puluh hari kemudian.

Orang tua aneh itu mau memberikan darah kura-kuranya untuk mengobati racun yang mengeram dalam dirinya atau tidak itu masih dalam pertanyaan, sungguh tidak disangka bahwa Cin Bie Nio ternyata adala muridnya Phoa Cit Kiow, salah satu musuh Kam-lo-pang, maka ia lantas menggerendeng seorang diri: mereka harus dibunuh semua … Dengan tidak sadarkan diri, ia lantas merabah senjata golok maut yang disimpannya didalam bajunya, agaknya ia sudah membayangkan bagaiman musuh-muduhnya yang jahat itu satu- persatu akan dibinasakan, dibawah tangannya.

Dalam hatinya saat itu teringat kembali pelajaran ilmu silat yang kusus digunakan dengan golok maut membinasakan musuh-musuhnya.

Meskipun hanya satu jurus saja, gerak tipu itu anehnya luar biasa, sehingga tidak ada seorangpunn yang mampu menghindar dari serangan satu jurus itu.

Sepasang matanya yang sayu dari sigadis baju merah Siang-koan kiaw serta gerak-gerik yang agak berandalan saat itu terbayang kembali didalam otaknya. Ia tidak tahu, bagaimana ia harus menghadapi nona baju merah itu, sebab ayahnya juga merupakan salah satu musuh dari suhunya, tetapi ayahnya itu sudah binasa apakah ia harus membrnci turunannya?’’

Ia juga ingat wajahnya bibi Tho Hui Hongnya, itu pendekar wanita yang wajahnya penuh welas asih, ia percaya bahwa selama hidupnya ia takan melupakan perbuatan sang bibi yang telah membela dirinya tanpa menghiraukan jiwa sendiri.

Akhirnya bayangan Tio Lee Tin yang cantik dan gagah berkelebat didalam otaknya ’’

Untuk sesaat lamanya rupa-rupa pikiran telah timbul saling susul dalam otaknya,,,,,,,,….’’

,, Aih ’’ demikian ia akhirnya mengelah napas dan menggerendeng sendiri.

,, Ah, peduli apa, sekarang kepandaianku sudah musnah, bahkan jiwaku sendiri juga tidak tahu masih bisa hidup terus atau akan binasa, perlu apa aku harus memikirkan semua itu.’’

Setelah itu lantas menggerakan kakinya meninggalkan tempat tersebut. Tujuannya masih tetap ke pulau Batu Hitam di Lam-hay.

Untul mengejar waktu ia membeli seekor kuda, kudanya dilarikan siang dan malam, ia mengharap supaya dalam tiga puluh hari bisa sampai di tempat yang dituju.

Hari itu, pada waktu senja Yo Cie Cong yang melarikan kudanya berhari-hari lamanya, bukan ia saja yang merasa lelah, kudanya juga merasa payah.

Ketika terpisah tidak cukup sepuluh lie dengan kota Liong hoa-in, kudanya dijalankan dengan sangat perlahan karena maksudnya malam itu hendak menginap di tempat termaksud.

Diatas jalan raya saat itu sunyi sepi. Angina utara menghembus kencang.

Yo Cie Cong yang tadinya berjalan melarikan kudanya tampaknya tidak merasakan semua itu.

Tetapi ketika kudanya dijalankan perlahan-lahan dirasakan angin itu dingin sekali.

Tidaklah mengherankan karena saat itu sudah hampir habis tahun bagi rakyat biasa atau pedagang. Kebanyakan semua sudah menyediakan apa untuk menyabut tahun baru. Tetapi Yo Cie Cong yang hidup sebatang kara tidak mempunyai rumah dan sanak saudara, diwaktu menjelang tahun baru ia terus melakukan perjalanan jauh.

Sebab ia masih hendak hidup terus, maka dalam waktu tiga puluh hari itu tidak boleh tidak ia harus sampai ke Pulau Batu Hitam, untuk mendapatkan darahnya kura-kura yang usianya ribuan tahun. Perbuatannya itu seolah-olah berjudi aja layaknya, jiaka menang ia akan dapat melanjutkan tugas dan kewajibannya tetapi kalau sampai kalah ia akan binasa.

Untuk sesaat lamanya rupa-rupa pikiran kembali mengaduk-aduk dalam pikirannya.

Tiba-tiba suara kaki kuda telah memecahkan suasana kesunyian alam pada waktu senja itu.

Suara kuda itu sebentar saja sudah berada dibelakang dirinya.

Yo Cie Cong mengetahui bahwa saat itu ia menjadi seorang yang tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Maka ia tidak berani mencari setori. Sedapat mungkin ia hendak berlaku mengalah, sekalipun harus menerima hinaan. Maka ketika itu mendengar suara derap kaki kuda dibelakang dirinya. Dengan cepat ia meminggirkan kudanya untuk memberi jalan bagi penunggang kuda dibelakangnya.

Tetapi sungguh aneh sekali penunggang kuda dibelakangnya tidak mau jalan melewati dirinya, tampaknya seperti dikendurkan tali kekangnya, sehingga seperti terus menguntit dibelakannya dirinya Yo Cie Cong.

Cara demikian itu berlangsung agak lama juga kemudian Yo Cie Cong merasa heran, maka kudanya lantas dihentikan dan kepalanya berpaling kebelakang.

Penunggang kuda dibelakang dirinya itu agaknya tidak menduga sama sekali yang akan menghentikan kudanya secara mendadak, maka dengan cepat ia menarik mundur kudanya, dengan demikian maka kedua kuda sekarang jadi berdiri berendeng. Yo Cie Cong terperanjat sekali ketika mengetahui siapa orang yang mengikuti jejak kudanya itu.

…Kiranya ada nona Siang-koan “ demikian ia berseru. Siang-koan Kiauw pendengarkan suaranya dihidung.

….ia, kau mau apa ? dijawabnya dengan suara ketus.

Yo Cie Cong mendengar jawaban itu agaknya mendapat rasa tidak baik tetapi ia terus mencoba hendak berlaku sesabar mungkin.

…Nona Siang-koan hendak kemana ?”

…Cari kau !”

…Cari aku !

…Benar ! aku hendak mencari kau, manusia yang tidak berbudi itu.”

Yo Cie Cong memangnya seorang yang mempunyai adat tinggi, maka ketika mendengar jawaban yang singkat dan ketus itu. Darah mudanya lantas mendidih. Ia menarik mundur kudanya.

…Apa perlunya nona mencari mencari aku ? katanya dengan nada dingin.

…Hendak membunuh kau !”

Jawabannya itu membuat Yo Cie Cong sangat terkejut setelah lam dalam keadaan terkesiama mendadak ia seperti ingat apa-apa maka segara ia berkata :

…Apa Nona hendak membunuh kau atas perintah ibu tirimu ?”

…Urusannya dia tidak ada hubungannya dengan aku “

…kalau begitu apa sebabnya ?”

…Sebaba kau adalah orang yang tidak mengenal bakti “

..Tidak berbudi ?” Yo Cie Cong menegasi sambil ketawa getir

…Memang benar, ketika di tepi naga nona pernah melepas budi terhadap diriku. Tetapi merupakan satu hutang seandannya aku Yo Cie Cong tidak binasa aku pasti akan membayar hutang ini.

Ketika menyebut kejadian di tepi danau naga itu hatinya Siang-koan Kiauw merasa sangat berduka, sebab oleh karena dirinya si pemuda sampai Siang-koan Kiauw berani menempuh bahaya hendak menghadapi senjata yang bisa meledak dari si iblis wajah singa. Oleh karena pemuda itu pula, Siang-koan kiauw tidak segan-segan memutuskan hubungannya dengan ibu tirinya. Oleh karena Yo Cie Cong hidup kembali, nona itu lantas terbangun pula semangtnya. Tetapi sekarang pemuda itu sangat dingin sikapnya terhadap dirinya, sehingga membuat hancur luluh hatinya si nona. Sebab begitu besar rasa cintanya si nona terhadap dirinya Yo Cie Cong, tapi cinta yang begitu dalam telah mendapatkan penyambutan yang tidak selayaknya, akhirnya telah menimbulkan perasaan benci dalam sanubarinya. 

Bab 13

DENGAN wajah merah padam, Siang-koan Kiauw berkata dengan suara bengis :

…Yo Cie Cong, oleh karena kau aku merasa sangat malu !”

…Aku merasa tidak pernah membuat malu terhadap orang ini “

…Hm! Aku cinta kau, mengapa kau tidak bisa pegang terhadap dirinya satu nona ?”

…Apa artinya perkataan ini ?”

…Si Burung Hong Hitam Tio Lee Tin, kau toh tidak bisa bilang kenal padanya ?”

Yo Cie Cong terperanjat. Diam-diam berfikir bagaimana ia bisa kenal perempuan itu ?”

…Benar kau kenal padanya !”

…Hm! Kesulitannya sebagai satu gadis hampir saja ternoda gara-garamu !”

…Aku tidak mengerti maksud perkataanmu ini !”

…Aku Tanya mengapa kau tinggalkan sendirian seorang wanita yang sedang terluka parah didalam hutan belukar ? sehingga hampir saja dirinya ternoda didalam kawannya kawan-kawan kurcaci ?”

…Sekarang dimana adanya dia ?”

…Hal ini tidak perlu kau tahu “ Yo Cie Cong teringatkan dirinya sendiri yang hampir saja celaka ditangan Cin Bie Nio, karena gurunya ia lantas ketawa bergelak-gelak.

Mengapa kau ketawa? Hari ini aku akan membunuh kau !”

Adatnya Yo Cie Cong yang angkuh membuat ia tidak mau memberi penjelasan. Setelah berhenti ketawa ia lantas menjawab dengan suara tenang :

…Silakan kau boleh turun tangan !”

…Apakah kau kira aku tidak berani ?” bentaknya Siang-koan Kiauw pecut ditangannya langsung bergerak.

Yo Cie Cong tidak menyingkir atau berkelit, sebetulnya dalam keadaan seperti itu, ia yang sudah hilang semua kepandaiannya sudah tidak mampu berkelit. Apalagi serangan pecut si nona dilakukan dengan cepatnya….

…Tar “ suara pecut terdengar nyaring ujung pecut dengan tepat mengenakan dengan badannya, sehingga dirasakan sakit sekali.

Dalam hatinya Siang-koan kiauw sebetulnya mencintai dirinya pemuda itu cuam karena pemuda itu nampaknya bersikap dingin, maka ia berbalik membenci. Namun serangannya itu juga menggunakan Tenaga 2-3 bagian saja, kalau tidak pasti Yo Cie Cong tidak sanggup menerima.

Siang-koan kiauw hanya berbut menuruti hawa napsunya, sebetulnya dalam hatinya tidal ingin melukai dirinya pemuda itu.

Ia sungguh tidak menyangka kalau Yo Cie Cong tidak berkelit atau coba mrnghindarkan serangannya. Maka seketika itu hatinya dirasakan perih, sudah tentu ia tidak mau tau kalau pada saat itu Yo Cie Cong sudah hilang kepandaiannya. Bahkan semua itu ada perbuatan ibu tirinya Siang-koan kiauw sendiri.

…Mengapa kau tidak melawan ?” menanya Siang-koan kiauw dengan gusar, tapi suarannya agak gemetar.

…Bukankah kau kata tadi hendak membunuh aku ? aku Yo Cie Cong bersedia menerima nasib untuk menerima nasib untuk memenuhi keinginanmu !”

…Kau kira aku benar-benar tidak heran ?”

Tar..Tar..Tar! kembali suara pecut nyaring sampai 3 kali.

Tidak ampun lagi, badannya Yo Cie Cong lantas terjungkal dari atas kudanya !

Tapi, Yo Cie Cong yang beradat keras dan tinggi hati, begitu jatuh lantas jatuh lagi, matanya merah membara.

Siang-koan kiauw lantas melompat turun dari tunggannya, ia berdiri tidak cukup satu tumbak di dapat Yo Cie Cong, entah bagaimana persaan hatinya pada saat itu berdiri terpaku.

Ia merasa bahwa keadaanya. Yo Cie Cong agak aneh, tapi pada saat itu juga tidak mengerti apa sebabnya.

Yo Cie Cong dengan sikapnya yang masih dingin, berkata dengan suaranya yang ketus :

…Nona Siang-koan, kau hendak membunuh aka, lekas turun tangan !”

Kalau tadi Siang-koan Kiauw mengatakan hendak membunuh dirinya Yo Cie Cong, itu hanya disebabkan karena terdorong oleh perasaan gemasnya. Ia tidak nyata Yo Cie Cong anggap itu benar-benar hingga membuat ia tidak bisa tarik kembali perkatannya.

Kalau pada saat itu Yo Cie Cong berkata agak lunak saja sesudahnya mungkin ada berlainan. Tapi adat dan tabeatnya Yo Cie Cong yang tinggi ia lebih suka binasa dari pada berkata dengan suara manis.

Siang-koan Kiauw agaknya merasa bahwa Yo Cie Cong sangat tersinggung perasaannya.

Hatinya sangat merasa sangat berduka, maka dengan tanpa di sadari lantas menangis.

Dengan demikian Yo Cie Cong bertambah bingung. Ia tidak mengerti apa maunya nona yang berandalan ini, sebentar hendak membunuh mati dirinya, sebentar lagi menangis dengan sangat sedihnya !

…Apa nona Siang-koan Kiauw tidak tega turun tangan terhadap diriku ?” Tanya Yo Cie Cong. Justru pertanyaan ini membuat Siang-koan Kiauw menangis semakin sedih !

Si nona berduka karena ia sesungguhnya tidak menduga bahwa si pemuda ada begitu tawar perlakuan dirinya, sedikitpun tidak mempunyai perasaan kasian atau cinta terhadapnya sehingga percuma saja cintanya yang dicurahkan kepadanya. Semakin memikirkan ini semakin sedih. Yo Cie Cong memang ada seorang pemuda cerdas, ketika menampak keadaan nona Siang-koan Kiauw itu, ia nampak sudah dapat menduga sebagian perasaan hatinya si nona ia tahu bahwa si nona itu menaruh hati pada dirinya. Ia sendiripun demikian pula. Cuma suatu anggapan atau pendiriannya mengenai diri si nona ini telah menindas perasaanya sendiri.

Maka saat itu ia lantas berkata dengan suara duka :

…Nona Siang-koan Kiauw dengan terus terang aku beritahukan padamu umurku Cuma tinggal 10 hari lagi. Maka kebaikanmu yang telah kau curahkan kepada diriku kupaksa dilain penitisan aku akan membalas !”

Perkataan Yo Cie Cong itu telah membuat Siang-koan Kiauw terkejut seperti terkena patuk ular. Otomatis ia hentikan tangisannya. Melihat Yo Cie Cong begitu berduka mau tidak mau ia percaya juga perkataan si pemuda.

…Hei, kau barusan kata apa ?” tanyanya agak gemetar.

…Kataku, jiwaku Cuma tinggal 10 hari saja !”

…Sekarang bukankah kau ada baik saja ?”

…Itu memang benar, aku sekarang kelihatan baik-baik saja, tapi kekuatan dan kepandaian ilmu silatku sudah hilang semua !”

Jawaban Yo Cie Cong ini membuat kaget gemetaran Siang-koan Kiauw, pantasan tadi ketika diserang dengan pecut. Ia tidak mau menyingkir atau berkelit, bahkan serangan yang cuma menggunakan 2 atau 3 bagian saja sudah cukup membikin ia terjungkal dari atas kudanya.

Ia pentang lebar kedua matanya mengawasi Yo Cie Cong. Sekarang ia sudah dapat kenyataan bahwa matanya pemuda itu sudah tidak kelihatan cahayanya, keadaanya sama seperti orang biasa maka hatinya lantas merasa pilu.

…Siapakah yang membuat kau menjadi begini ?” Tanya si nona.

…Siapa? Haha! Lebih baik kau jangan coba mencari tahu !”

…Tidak kau harus memberitahukan padaku, aku tidak akan membiarkan ia begitu saja !”

Sehabis berkata, si nona geser tubuhnya mendekati Yo Cie Cong wajahnya menunjukan perasaan gusar.

Yo Cie Cong diam-diam merasa geli, barusan ia berkata hendak membunuh mati dirinya, tetapi sekarang berbalik sangat memperhatikan bahkan mau turun tangan hendak membela keadilan.

…Nona, lebih baik kau jangan coba turut campur dalam urusanku ini “

…Tidak ! biar bagamanapun aku harus nau tahu !”

…kalau begitu aku terpaksa beritahukan padamu orang itu adalah ibu tirimu sendiri !” Mendengar jawaban itu, wajah si nona berubah seketika.

…Dia ?”

…Ng ! kalau tidak ada seorang Locianpwee yang datang memberi pertolongan, niscaya jiwaku siang-siang sudah melayang !”

…Ow ! Lantaran itu maka kau melalaikan kewajibanmu untuk mencarikan kereta bagi enci Tio Lee Tin “

…Benar !”

…Kalau begitu aku yang keliru menduga terhadap dirimu “

Setelah itu badannya digeser semakin rapat kemudian berkat pula dengan lemah-lembut :

…Apa kau merasa sakit bekas pecutan tadi. Ah ! mengapa kau tidak mengatakan sedari siang- siang kepadaku ? kau sungguh keterlaluan.

…Apa artinya sedikit `luka ini`. Kalau tidak ada urusan apa lagi aku hendak pergi ?”

…Kenapa ?”

…Sebab dalam waktu 10 hari aku harus mencapai suatu tempat untuk minta obat buat menyembuhkan penyakitku. Kalau tidak 10 hari kemudian aku pasti mati !”

…Kau…kau …kau …! Aku harus berjalan sama-sama dengan kau !

…Apa perlunya ?”

…Kepandaiannmu sudah hilang semua, jiak ada terjadi apa-apa bukankah….”

…Obat itu bisa kudapatkan atau tidak masih merupakan suatu pertanyaan. Tentan gmati atau hidupku aku pandang sangat tawar!”

Siang-koan Kiauw tundukan kepala untuk memikir sejenak kemudian mendongak, sorot matanya keliatan aneh, dengan wajah memerah-merah dia menanya : …Jawablah pertnyaanku !”

…Pertanyaan apa ?”

…Kau …Kau …apa kau membenci aku “

…Tidak !” jawabnya Yo Cie Cong tegas sambil gelengkan kepala.

…Kalau begitu apa kau suka padaku ?”

Pertanyaan ini menunjukan kecerdikannya Siang-koan kiauw.

Yo Cie Cong tercengang, ia mengerti maksud yang terkandung dalam pertanyaan si nona ini, tapi merasa berat untuk memberi jawaban. Ia akui bahwa ia juga cinta pada Siang-koan kiauw tapi ia tidak boleh mencinta.

Secara berani dan tanpa tedeng aling-aling, Siang-koan Kiauw mengajukan pertanyaan demikian, ini juga merupakan suatu pertanyaan yang terus terang tentang isi hatinya terhadap Yo Cie Cong. Ketika nampak pemuda itu agak bersangsi memberi jawabannya hanya seperti diguyur air dingin, maka ia lantas berkata pula dengan suara duka :

…Aku tahu bahwa kau tidak bisa menyukai diriku. Hah, pergilah !” Tapi Yo Cie Cong lantas berkata :

…Aku sebetulnya juga suka padamu !”

…Benar ?”

…Ng !”

…Boleh aku panggil kau Cong ?”

…Aku juga boleh panggil kau adik kiauw ?”

Semua itu membuat hatinya Siang-koan Kiauw merasa lega dan sangat girang.

…Engko Cong. Sekarang kau boleh beritahukan padaku kemana kau hendak pergi ?”

…Pulau batu Hitam di Lam-hay, aku hendak menemui seorang Lo-cianpwee, mau minta sedikit darahnya binatang kura-kura yang usianya sudah ribuan tahun, untuk menyembuhkan penyakitku

!”

Selanjutnya Yo Cie Cong lantas menceritakan apa yang telah terjadi atas dirinya sehinga kemudian dapat ditolong oleh hwa shio gila itu.

Siang-koan kiauw yang mendengarkan penuturan itu wajahnya sebentar merah sebentar pucat.

Ia dulu hanya curiga terhadap ibu tirinya, tapi sekarang sudah menjadi kenyataan bahwa ibu tirinya itu ternyata seorang permpuan cabul yang sangat berbahaya.

Ia mendadak ingat kematian ayahnya yang tidak jelas apa sebabnya pada 5 tahun berselang.

Maka ia lantas berkata dengan tiba-tiba.

…Engko Cong, aku selalu merasa curiga atas kematian ayahku apakah itu ada hubungannya dengan ibu tiriku yang jahat itu? Aku kira kemungkinan itu memang ada !”

…Jika itu benar ada hubungannya, sehingga membuat kematian ayah, aku Siang-koan pasti akan mencincang ibu tiriku itu.

…Adik Kiauw, bagaimana dengan nona Tio Lee Tin ?”

…Sudah dibawa pergi oleh kawan seperguruannya `utusan burung laut`!”

Yo Cie Cong anggukan kepala dalam hatinya befikir nona Tio telah mengaku sebagai muridnya pemilik bendera burung laut si orang berkedok merah. Kalau sudah dibawa pergi oleh mereka tentunya tidak ada halangan apa-apa lagi.

Tiba-tiba ia berkata Siang-koan kiauw :

…Adik kiauw, seandainya aku beruntung bisa mendapatkan obat, apa kita masih mempunyai kesempatan bertemu lagi ?”

…Tidak, aku hendak ikut kau pergi !”

…Kepergianku ini masih belum diketahui bagaimana kesudahannya, apabila nanti terjadi apa- apa….?”

…Tidak, aku tidak izinkan kau mengucapkan perkataan demikian !”

Sebabnya berkata, dengan tanganya yang halus mungil itu membekap mulutnya Yo Cie Cong, badannya juga lantas dijatuhkan dalam pelukan si pemuda.

Kedua-duanya saling berpelukan, tapi masing-masing tidak berkata apa-apa.

Malam mulai tiba, angin meniup sepoy-sepoy. Bintang di langit mulai nampak betebaran.

Agaknya turut merasa girang atas kebahagiaan kedua merpati itu. Siang-koan kiauw ketika mengingat nasib yang dialami oleh kekasihnya, hatinya merasa seperti diiris-iris. Apabila dalam 10 hari tidak mendapat tempat tujuannya atau tidak mendapatkan obat yang di perlukan.

Ia tidak berani memikirkannya lagi……..

Sekarang, ia berada dalam pelukan si pemuda yang pertama kali mendobrak hatinya ia hedak menikmati kemesraan cintanya dalam waktu yang sangat singkat.

Lama mereka terlelap dalam larut arus asmaranya mereka sudah tahu berapa lama dilewatakan secara demikian.

Tiba-tiba Siang-koan Kiauw memecahkan kesunyian, seolah-oalh sedang mengimpi ia menannya kepada Yo Cie Cong.

,,Engko Cong, katakana bahwa kau cinta padaku !”

,,adik Kiaw, aku cinta kau !”

,,Biar dunia kiamat, cintaku terhadap mu tak akan berubah !”

,,Adik Kiaw, aku akan ingat selamanya mudah-mudahan kembang tetap segar dan rembulan tetap tetap bundar ?”

,,Engko Cong bisa mendapat penyataan perasaan hatimu aku sudah merasa puas.

,,Adik Kiaw hawa mulai dingin kita harus berpisah lain kali kita akan bertemu kembali !”

,,Apa kau tetap tidak mau ikut pergi bersama-sama !”

,,Bukan aku tidak sudi, tapi perjalan itu begitu jauh….

,,Aku tidak peduli sampai diujung langit jangan banyak rewel mari jalan !” Sehabis berkata ia mendahului lompat keastas kudanya.

Yo Cie Cong terpaksa mengikuti jejaknya

Dua ekor kuda jalan berendengan, suara derap kaki kuda memecahkan kesunyian malam itu.

**

Suatu pagi pada hari ke 25 di suatu perkampungan nelayan di tepi Lam hay telah datang dua pengunjung, sepasang muda-mudi yang masih belia mereka hendak menyewa sebuah perahu katanya hendak pergi ka pulau batu hitam yang terpencil.

Si pemuda yang berwajah tampan, badannya tegap Cuma kelihatannya agak dingin sikapnya.

Sedang wanita yang parasnya cantik menarik dengan si pemuda itu merupakan pasangan yang setimpal.

Kedatangan mereka telah datang banyak perhatian orang banyak mereka mengira bahwa mereka itulah dewa-dewi yang baru turun dari kayangan.

Siapa mereka ?

Itu adalah Yo Cie Cong dan Siang-koan Kiauw-jie.

Mereka titpkan kudanya disuatu penginapan perjalana mereka dilanjutkan dengan perahu dan si pemilik perahu yang usianya lebih dari setengah abad, sudah tentunya ia sudah matang dalam perjalan air.

Setelah membawa persedian yang cukup semuanya telah di persiapkan Yo Cie Cong dan Siang- koan Kiauw mereka lantas menuju pulau batu hitam.menurut keterangan Sipemilik perahu, jika tidak ada halangan satu hari satu malam bisa sampai di tempat yang di tuju. 

Tapi, pulau batu hitam ada sayu pulau yang jarang didatangi oleh manusia di sekitarnya terdapat batu karang jika tidak hati-hti perahunya bisa terbalik, jika tidak karena memandang uang.tidak ada satu perahu yang berani yang menuju kesana.

Bab 14

Beberapa saat kemudian, perkampungan nelayan itu sudah hilang dari pandangan.

Langit nan biru seperti mangkok bundar menutupi lautan sedang air laut dengan ombaknya seperti ayunan yang tidak berhehti-henti bergoyang.

Lautan hari itu nampak tenang berlayar dalam keadaan tenang, sungguh sangat menarik hati. Yo Cie Cong dan Siang-koan Kiauw duduk berendeng ditepi perahu mereka tampak mesra dari satu sama lain. Hingga sementara melupakan rasa gelisa diantara keduanya dan melupakan yang

telah terjadi atas mereka. Sepasang pemuda pemudi yang dibesarkan diatas tanah datar telah kesemsem oleh pemandangan dilautan yang indah permai itu.

Kedua pemuda-mudi itu menikmati pemandangan alam, pemilik perahu itu mendadak ketakutan ia memandang kearah timur sambil berkata :

,,Siang-koan Kiauw, nona tampaknya akan timbul badai!”

,,Hawa begini kelihatan sejuk masa akan timbul badai.?”jawab Siang-koan Kiauw sambil ketawa.

,,Apakah kau tidak melihat segumpal awan hitam ?”

,,Aku tidak percaya, apakah awan segumpal itu bisa membawa badai.?

,,Lopek apakah dengan dirimu tidak salah ?” Yo Cie Cong pun turut menanya.

Apakah aku kira aku bcara main –main ? selambat-lambatnya akan datang angin puyuh sedangkan disini tidak ada tempat untuk berlindung. Lantas kita harus berbuat apa, Ah, mudah- mudahan tuhan melindungi kita !” jawab si pemilik perahu sambil mengawasi gumpalan awan yang makin lama makin namopak besar dan nyata.

,,Apabila angin meniup kencang bukankah perahunya juga akan semakin cepat ? mungkin kita cepat sampi kepulau Batu Hitam itu, Engko Cong kau pikir betul tidak? Demikian berkata Siang- koan Kiauw dengan enaknya.

Yo Cie Cong yang sejak kecil banyak bercampur dengan orang-orang dengan segala lapisan, pengalamannya juga lebih banyak dari pada si nona. Ketika si nona nampaknya seperti anak-anak ia berkata dengan suara sungguh-sungguh.

,,Adik Kiaw itu bukan angin biasa ,! Tetapi angin puyuh atau badai yang sangat menakutkan !”

,,Kau sudah pernah melihat ?”

Meski aku belum pernah mengalami, tatapi aku sudah pernah dengar !”

,,Hm ! kau membohongi aku saja !”

Si pemilik itu membakar hio dan kertas dan meminta lindungan kepada dewa laut.

Gumpalan awan itu nampak dekat nampaknya, sehingga menutupi separuh langit. Angin laut makin meniup kencang, ombak laut makin besar, hingga perahu yang di tumpangi bertiga kini sudah tergunang hebat.

Siang-koan Kiauw baru merasa bahwa keadaan ini sungguh diluar dugaan.

Si pemilik perahu dengan wajah pucat pasi dan sikap cemas ia berkata kepada kedua penumpangnya.

Siang-koan Kiauw dan nona lekas masuk kedalam ,badai akan datang ini tidak boleh dibuat main-main. !”

Belum habis ucapannya si pemilik perahu awan gelap itu sudah menjadi ombak yang lantas menggulungnya perahu air hujan datang turun turun seperti dituang.

Yo Cie Cong menarik diri Siang-koan Kiauw di sebelah dalam perahu.

Badai mengamuk semakin hebat saja, ombak laut menggulung-gulung hingga perahu kecil itu terguncang ke atas ke bawah.

Siang-koan Kiauw mulai merasakan mabuk, hatinya mulai ketakutan dan memeluk erat tubuh Yo Cie Cong.

,,Enko Cong skarang bagaimana .?”

,,Adik Kiaw terserah pada nasib saja, aih. Biar bagaimana juga didalam diriku sudah tertanam racun jahat jiwaku juga takkan pernah tahu hidup dan matinya. Sebetulnya aku tidak membiarkanmu kau ikut, aku takut terjadi apa-apa. Ah !”

,,Engko Cong jangan mengucapkan begitu, hidup dan matinya seseorang ada ditangan tuhan.

Baik kita mati sama-sama hidup juga sama-sama.

,, Pada saat itu rasanya perahu sudah terbalik air laut masuk kedalam kemudian di susul dengan suara benturan yang hebat awak perahu seperti patah.

,,Adik Kiaw mungkin perahu sudah patah .”

,,Engko Cong.”

,,Belum habis ucapannya air laut sudah masuk kedalam mulut perahu.”

,,Ketika mereka keluar, air laut sudah menimpa keras sehingga perahu terbalik.”

Siang-koan Kiauw menjerit, ia memegang tiang perahu erat-erat Yo Cie Cong pun berusaha dengan sekuat tenaga ia memegang kayu perahu yang tinggal sepotong. Pemilik perahu pun tak nampak terlihat entah sejak kapan ia di telan laut ombak laut yang dasyat.

Badai mengamuk terus, ombak laut bergulung-gulung seperti gunung tingginya, air hujan turun seperti di tumpahkan dari langit di barengi suara guntur dan sinar kilat yang menyambar-nyambar membuat keadaan di tempat seolah-olah,sudah sampi hari kiamat.

Dalam keadaan yang menyeramkan demikian. Perahu kecil yang seolah-olah sebuah titik hitam dilautan yang luas ternyata sudah pecah berantakan.

Entah sejak berapa lama waktu berlalu secara demikian….

Angin sudah sirap, ombak mulai reda laut kembali tenang seperti semula, seolah2 tak terjadi apa2.

Yo Cie Cong sesaat perahunya terdampar hancur, masih berpegang erat pada potongan kayu dengan mendadak badannya terdampar tinggi kemudian tidak ingat lagi apa yang terjadi atas dirinya.

Ketika ia siuman kembali, badannya merasakan panas seperti terbakar. Ketika matanya terbuka ternyata panas itu disebabkan karena panas matahari yang menyinari dirinya yang kini terdampar di sisi pantai.

Dengan susah payah ia baru bisa duduk, dia baru sadar bahwa dirinya ternyata masih belum binasa tertelan ombak.

Tiba-tiba teringat akan diri Siang-koan Kiauw-jie, sudah terang kalau nona Siang-koan Kiauw mungkin sudah tertelan ombak karena terjadi badai hebat maka seketika itu hatinya dirasakan pedih. Air matanya mengalir tak terasa dengan perasaan sedih ia mengawasi laut yang tak terlihat ujung pangkalnya itu.

Ia teringat pada sumpah dan janji pada diri Siang-koan Kiauw sungguh tidak disangka nasib nona yang baru bersamanya dan menikmati sebagian kecil kesenangan hidupnya, sudah terpisah lagi dengannya.

Seandainya nona Siang-koan Kiauw tidak ikut bersamanya pasti ia tidak akan tertelan ombak, setelah ia berpikir ia merasa berdosa terhadap diri nona itu maka ia segera berdoa kepada tuhan

:’Adik Kiauw-jie kulah yang menyelakakanmu jika arwahmu tahu tunggulah aku dialam baka. Setelah urusanku selesai aku akan menyusulmu bersama-sama dengan dirimu dialam baka.

Yo Cie Cong padasaat itu sedang terbenam dengan kedukaannya di wajahnya selalu terbayang gerak-gerik nona Siang-koan Kiauw-jie.

Ia tak menghiraukan rasa letih dan rasa lapar dahaga yang menyerangnya ia terus-menerus memandangi lautan yang luas hingga tak berkedip.

Matahari mulai terbenam, bintang-bintang mulai bertebaran di langit ombak laut yang tadinya surut kini pasang kembali.

Ketika Yo Cie Cong tersadar dari lamunanya ternyata hari sudah pagi.

Terlitas dalam otaknya . saat itu mungkin jiwanya tinggal dua hari lagi. Jika dalam dua hari ini tidak berhasil mendapatkan darah kura-kura yang dimaksud maka racun yang tersarang dalam tubuhnya sudah lantas akan menyerang jantungnya dengan sendirinya orang itu akan binasa .

Tetapi sekarang dirinya pun tak tahu ada di mana, dan di mana pula letak pulau Batu Hitam yang dicarinya sama sekali tidak di ketahuinya.

Sejenak pikirannya melayang,apa yang ia alami permusuhan yang ada sangkut paut dengan perguruannya membuat semangatnya terbangun pula……

Sekarang ini aku harus belum boleh mati, aku harus hidup masih banyak tugas yang belum aku selesaikan.”demikian Yo Cie Cong berkata kepada dirinya dan lantas ia bangkit.

Pertama kali yang diperiksa adalah barang-barang bawaanya yang ada pada dirinya, Golok maut buku daftar nama-nama musuhnya Kam-lo-pang potongan kayu pusaka Ouw-bok po-lok dan buki-buli tanda kepercayannya si Hwee shio gila semua lengkap masih ada pada tubuhnya.

Perlahan-lahan ia menuju tepi pantai, tetapi ketika berjalan terus dalam hatinya lantas mengeluh.”celaka….

Ternyata tempat itu adalah sebuah pulau kecil yang tidak di tumbuhi sedikitpun tanaman dan tidak ada manusia yang tinggal disitu. Luasnya pulau itu kira-kira Cuma satu Lie persegi di sekitarnya terkurung oleh lautan jangan kata manusia burung saja tak terlihat. Sesaat itu hatinya kembali merasa putus asa diam-diam ia berpikir tampaknya semuanya adalah nasib, aku tidak mau mati didalam pulau ini “taruh tidak mati kelaparan tapi karma dalam diriku tertanam racun yang cuma tahan dalam dua hari saja, kecuali ada pengaruh gaib. Kalau tidak pasti aku kan binasa maka maksud baiknya Hweesiogila itu barangkali akan tersia-sia saja.”

Keadaan Yo Cie Cong pada saat itu tidak ubahnya seperti sedang menghadapi suatu keadaan yang lebih kejam dan menakutkan dari pada binasa seketika itu.

Tapi biar bagaimana, seorang yang masih ada jiwanya, sebelum tiba pada hari akhirnya, sedikit banyak masih mempunyai harapan untuk terus hidup………

Saat itu perutnya dirasakan lapar sekali, matanya bekunang-kunang kepalanya dirasakan pusing. Kaki dan tangnnya dirasakan lemas tidak bertenga. Yo Cie Cong barulah mengingat bahwa dua hari lamanya tidak ada sebutir nasipun yang masuk kedalam perutnya. Maka ia lalu berkata kepada dirinya : “andaikata akau mesti mati, jangan sampai aku menjadi setan kepalaran.”

Oleh karena befikir demikian, timbulah hasratnya hendak mencari barang makanan untuk mengganjal perutnya.

Tetapi usahanya itu hanya sia-sia saja, sebab kecuali tanah dan pasir yang terdapat disekeliling pulau itu, sudah tidak ada apa-apa lagi yag bisa dimakan.

Dengan perasaan kecewa ia kembali ditanah, rasa lapar semakin menghebat. Dalam keadaan demikian, sebuah barang menarik perhatiannya.

Barang itu adalah sebuah barang aneh yang berbentuk bundar relur, besarnya kira-kira dua kaki, warnanya bukan kepalang, dibawahnya sinar matahari kelihatan indah.

Tertarik oleh perasaan heran, Yo Cie Cong lantas berjalan menghampiri benda aneh itu. Ketika ia meraba benda itu dengan tangannya, benda itu ternyata keras, maka dianggapnya benda itu adalah sebuah batu aneh, ia coba mendorong batu aneh yang berwarna indah itu.

Didekat tempat batu aneh itu terdapat suatu tempat yang agak miring. Oleh Karena didorong oleh Yo Cie Cong, batu aneh tadi menggelundung kebawah.

Apa lacur satu bagian dari batu aneh itu sudah membentuk sebuah batu lain yang juga ada di pantai laut itu.

Barang cair seperti putih susu mengalir dari batu yang menggelundung tadi.

Ooo, kalau begitu itu bukannya batu !” demikian Yo Cie Cong berseru sendiri, yang lantas lari menghampiri. Dan ketika ia mengadakan pemeriksaan lebih cermat, seketika itu lantas berdiri melongo. Ternyata barang itu adalah sebutir telur raksasa yang saat itu sudah pecah sebagian, dari lubang yang pecah itu mengalir barang cair. Didalam telur itu masih terlihat kuning telurnya sebesar mangkuk.

Bukan kepalang rasa girangnya Yo Cie Cong dalam keadaan lapar seperti itu, ia sudah tidak memperdulikan lagi telur Itu bisa dimakan atau tidak, dengan cepat ia sudah menghabiskan seluruh isi telur itu.

Apa yang mengherankan, telur itu ternyata tidak bau amis, bahkan enak sekali dan segar rasanya.

Sehabis kenyang makan, badannya dirasakan segar kembali, rasa letihnya hilang semua.

Dengan perasaan terheran-heran ia mengawasi kulit telur raksasa itu.

Sejak ia di jelmakan menjadi manusia didunia, ia belum pernah mendengar orang mengatakan bahwa didalam dunia ini ada telur yang begitu besar. Ia seperti berada dalam impian tetapi dibawah teriknya, apa yang terjadi ternyata bukanlah impina belaka.

Ia tidak mengetahui, telur aneh itu sebenarnya ada telurnya binatang apa ? Setelah perutnya dirasakan kenyang, lain soal timbul pula dalam pikirannya.

Jiwanya hanya tinggal dua hari saja. Diatas pulau terpencil dan sepi ini, sesungguhnya tidak mudah untuk mencari dimana letaknya pulau batu hitam yang sedang ditujunya.

Tampaknya tidak akan luput juga ia dari kematian.

Selagi masih terbenam dalam pikirannya sendiri, ia telah dikejutkan oleh suara aneh yang begitu hebat kedengarannya.

Yo Cie Cong terperanjat, katika ia dongakan kepalanya, awan hitam kelihatan menutupi matahari. Tetapi ketika ia memperhatikan dengan lebih seksama, seketika itu nyalinya seperti hendak melompat keluar, karena ada yang dilihatnya diatas angkasa itu bukannya awan, tetapi adalah burung raksasa yang sedang pentang lebar kedua sayapnya. Saat itu burung itu kelihatan beterbangan di angkasa dan hendak menukik turun. Suara aneh yang sangat hebat, tadi tentunya adalah suara dari burung raksasa ini.

Dengan tidak terasa, keringat dingin membasahi tubuhnya Yo Cie Cong, dalam hatinya lantas berfikir, telur raksasa berwarna tadi apakah terlurnya burung raksasa ini ? jika benar telurnya, burung raksasa ini setalah melihat telurnya sudah pecah dan kumakan habis bagaimana binatang itu bisa mengarti? Ah sungguh tidak kusangka, didalam begini aku harus menghadapi lain bahaya lagi…”

Belum lagi lenyap semua pikiran itu, burung raksasa tadi sudah menukik turun sangat cepat Yo Cie Cong yang sudah tidak berdaya lantas menyembunyikan dirinya didalam pecahan telur.

Kembali terdengar suara burung aneh itu. Dirasakannya badannya terguncang hebat, kiranya telur itu sudah dibawa terbang oleh burung raksasa tersebut.

Yo Cie Cong coba menengok, pulau tempat dia tadi terdampar, hanya kelihatan sebagai sebuah titik hitam sedangkan disekitar dirinya dilihatnya segumpal awan yang seperti asap saja layaknya.

Yo Cie Cong tahu bahwa dirinya sekarang sudah diterbangkan keatas angkasa, perasaan takutnya hampir membuat ia melompat keluar.

Jika cengkraman burung itu tidak kencang bukankah ia akan jatuh dengan badan hancur lebur dari atas udara ? Ia juga tidak mengetahui kemana dirinya hendak dibawa oleh burung raksasa itu

?

Pada saat itu hawa panas tiba-tiba dirasakan dalam perutnya, hawa panas itu makin lama makin hebat bekerjanya sehingga hampir saja ia tidak dapat menahan lagi.

Kemudian dari dalam perutnya kemudian timbul hawa dingin yang membuat dirinya dirasakan sampai mengigil.

Sebentar kemudian, dua rupa hawa yang berlawanan itu telah tergabung menjadi Satu, hawa itu dirasakan seperti telah menyusuri sekujur tubuhnya. Pada suatu saat hawa itu, seperti mandek di suatu sudut dalam dirinya. Rasa sakit membuat Yo Cie Cong hampir keluar menggelinding dari dalam kulit telur itu. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi atas dirinya.

Oleh karena rasa sakit yang tidak tertahankan itu, Yo Cie Cong telah melupakan dirinya kini sedang berada didalam kulit telur yang sedang diterbangkan oleh burung raksasa itu, ia menggerak-gerakan kaki dan tangannya sambil menjerit-jerit.

Mendadak kulit telur itu terlepas dari cengkramannya kaki burung raksasa itu.

Telur raksasa it uterus meluncur turun kebawah, Yo Cie Cong yang berada didalamnya sambil memejamkan rapat-rapat kedua matanya ia berseru : “habislah jiwaku”.

Tetapi kira-kira sepuluh tumbak tingginya terpisah diatas sebuah pulau, badannya dirasakan sperti mumbul lagi keatas dan kemudian lompat keluar, rasa sakit membuat ia pingsan seketika itu.

Tidak lama kemudian setelah ia siuman kembali, apa yang mengherankan ialah : saat itu rasa sakit disekujur badannya telah lenyap tiada berbekas, bahkan kekuatan tenaga dalamnya dirasakan tambah berlipat ganda.

Ia lalu bangun berdiri, ia mendapat kenyataan bahwa dirinya sekarang sudah berada disuatu tempat yang banyak batu-batunya yang semuanya berwarna hitam.

Saat itu ia berada ditengah-tengah antara dua batu besar. Burung raksasa dan kulit telur yang besar itu sudah terlihat lagi.

Kiranya burung raksasa itu ketika telurnya terlepas dari cengkramannya karena getaran-getaran Yo Cie Cong tadi. Dengan cepat sudah lantas menukik turun lagi menyambar telur yang meluncur turun. Disuatu tempat kira-kira sepuluh tumbak dari tanah burung itu menyambar lagi telurnya, tetapi badanya Yo Cie Cong terlempar keluar dari dalam kulit telur.

Kejadian secara kebetulan ini bukan saja Yo Cie Cong tidak binasa, bahkan karena getaran dari badannya yang kebentur dibawah, hawa panas dan dingin yang mandeg di suatu sudut dalam tubuhnya tadi ternyata telah membuka jalan darah pada kedua urat nadinya.

Kesemuanya itu tentunya tidak diketahui oleh Yo Cie Cong sendiri.

Yo Cie Cong memandang kesima keadaan tempat sekitarnya, karena ia mendapat kenyataan, dirinya sekarang kembali ada diatas pulau lagi. Jika ia ingat apa yang terjadi atas dirinya tadi, diam-diam keadaanya dirasakan menggigil. Mendadak ia merasa seperti ada semacam kekuatan dari angin yang dilancarkan oleh orang kuat menyambar kearah dirinya.

Dengan sendirinya Yo Cie Cong sudah mengayunkan tangannya menangkis sambaran tadi. Diluar dugaannjan, semacam kekuatan hebat telah meluncur keluar dari dalam tangannya itu.

Saat itu lantas terdengar suara benturan keras, batu besar yang berada di depannya telah pecah berhamburan, disusul oleh suara orang berseru :

…Eh !”

Kejadian yang tidak terduga-duga ini sebaliknya membuat Yo Cie Cong termangu-mangu. Ia masih ingat betul bahwa kepandaian ilmu silat dan kekuatannya sudah lenyap semua.

Tindakannya barusan hanya merupakan suatu gerakan sewajarnya saja dari seorang yang mengerti ilmu silat jika sedang menghadapi serangan gelap. Tetapi mengandung tenaga kekuatan yang sangat hebat.

Ia adalah merupakan suatu yang tidak habis dimengerti.

Tiba-tiba ia ingat suara orang kaget tadi, ia juga merasa bahwa sambaran angin yang menyerang dirinya tadi datangnya secara tidak terduga-duga.

“Diatas pulau ini pasti ada orang, bahkan orang dari rimba persilatan pula” demikian Yo Cie Cong mengambil kesimpulan setelah berfikir sejenak.

Oleh karena pikirannya itu, maka ia lantas berjalan mencari suara datangnya suara orang tadi, tetapi ia sudah berputaran kesana-kemari, disekitarnya cuma terlihat gundukan-gundukan batu hitam yang hampir tersebar di seluruh pulau itu.

Entah sudah berapa lama waktu telah berlalu. Bukan saja ia tidak menemukan orang yang sedang di cari-cari, malah dirinya sendiri saat itu seperti berada didalam rimba batu. Dan ia sudah tidak berdaya keluar dari gundukan batu itu.

Batu-batu yang warnanya hitam itu agaknya tidak kelihatan ujung pangkalnya, sehingga dalam hatinya mersa cemas. Ia segera melepaskan niatnya hendak keluar dari tumpukan batu itu. Ia lantas duduk untuk memikirkan dari mana datangnya kekuatan yang keluar dari serangan tadi.

Ia mulai mengingat-ingat dari ditekukannya telur raksasa berwarna dan burung raksasa itu serta dirinya sendiri ketika berada didalam telur raksasa. Mengapa didalam dirinya dirasakan mengalir hawa panas dan dingin bergantian yang kemudian bergabung ke dua hawa itu.

Dimulutnya lalu mengoceh sendiri. “telur berwarna burung raksasa…”

Seperti teringat pada sesuatu, ia lantas berkata pula pada dirinya sendiri : “Telur burung rajawali raksasa, ooo..ya! pasti telur itu adanya !

Mendadak ia lompat bangun, saat itu kembali Ia merasa kaget dan terheran-heran.

Karena gerakan melompat yang sedemikian sederhana saja ternyata sudah mencapai jarak lima tumbak tingginya. Dirinya dirasakan ringan sekali.

…Ehh !”

Kembali suara demikian terulang terdengar dari belakang dirinya.

Kali ini Yo Cie Cong tidak bersangsi lagi. Dengan cepat ia lantas melompat keatas batu setinggi sepuluh tumbak lebih.

Bab 15

BERADA setinggi itu, Yo Cie Cong baru dapat melihat bahwa batu-batu hitam itu ternyata ada beberapa lie luasnya. Disebelah kejauhan kelihatan sebuah rimba, tetapi ditempat itu berdiri ternyata adalah tepi laut.

Gerakan Yo Cie Cong tadi sudah cepat luar biasa, tetapi ia masih belum berhasil menemukan orang yang mengeluarkan kaget tadi, sehingga diam-diam merasa kagum atas kepandaian orang itu. Sekarang kembali ia teringat pada dirinya sendiri. Jika apa yang dikabarkan itu tidak salah, oleh karena makan telur berwarna itu, kekuatn yang ada pada dirinya sekarang ini sama dengan seorang kuat yang sefah mempunyai latihan beberapa puluh tahun.

Memang benar. Karena mustika Gu-liong-kao yang secara kebetulan masuk dalam perutnya Yo Cie Cong dengan secara kebetulan Yo Cie Cong bisa memakan telur burung Rajawali raksasa,biji mustika itu lantas lumer dan kekuatannya sudah tidak ada taranya didalam diri Yo Cie Cong . Lantas ia teringat pada semua pelajaran ilmu silatnya yang di dapat dari suhunya dan ke dua pamannya. Ada beberapa gerak yang harus yang saat itu harus dibatasi oleh kekuatan tenaga dalam sehingga ia tidak bisa memaikannya secara leluasa.

Tetapi sekarang setelah mampunyai kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat karena pengaruh dua benda mukjijat, maka segala gerak tipu yang dia mainkan secara mudah.

Ia teringat pula bahwa kepandainya tentu dapat tugas yang di bebankan atas pundak suhunya.

Dengan ‘Golok Maut’, itu secara istimewa ia mencari satu persatu musuhnya Kam-lo-pang pada dua puluhtahun bersilang.

Semangatnya lantas bergolak, dengan lantas pula ia mengeluarkan siulan panjang.

Tetapi mendadak ia ingat bahwa jiwanya hanya satu hari lagi maka ia lantas menghentikan siulannya itu.

Besok adalah hari yang terakhir baginya jika tidak berhasil menemukan pulau Batu Hitam dan oaring tua aneh itu untuk meminta darah kura-kura masih akan tetap binasa juga.

Maka apa gunanya mempunyai kekuatan hebat ?

Kesedihan meliputi hatinya, rasa murung menguasai dirinya pula.

Jikalau karena bukan karena gara-gara Cin Bie Nio, perempuan yang cabul dan genit yang memberikan pil surga padanya tidak mungkin ia sampai menjadi seorang sedemikian !

Dan suhunya Cin Bie Nio,Giok-bin Giam-po Phoa Cit kow ia juga merupakan juga musuhnya Kam-lo-pang maka ia juga lantas mengambil keputusan. ‘jika aku dapat hidup terus,Cin Bie Nio dan suhunya maka ia orang pertama yang akan kubunuh terlebih dahulu.

Yo Cie Cong setelah berpikir lama ia masih belum juga memecahkan persoalan lalu melayang turun meninggalkan tempat itu, ia kenbali kepantai laut.

Dan ketika ia melihat air laut, pikiranya lantas kembali teringat Siang-koan hatinya merasa pilu sekali.

Ia mendoakan Siang-koan agar tidak binasa. Ia mengharapkan supaya Siang-koan seperti dirinya terlepas dari bahaya. Tetapi rasanya semua itu hanya pengharapan saja.

Ia merasa berdosa terhadap dirinya Siang-koan Kiauw pukulan bathin yang sangat hebat ini tidak nudah terhapus untuk selama-lamanya. Taruh kata Yo Cie Cong bisa hidup terus batinnya juga akan menderita.

Dalam keadaan serupa itu suara Siang-koan Kiauw yang lemah lembut dan merayu hati seperti terus berkumandang didalam telinganya.

Suara itu seperti masih terdengar nyata didalam telinganya, tetapi orangnya sudah tidak ada.

Penderitaan batin yang hebat it terus merupakan godaan hatinya…..

Seperti orang linglung saja layaknya. Yo Cie Cong berjalan kepantai laut tanpa tujuan. Andai kata disitu ada orang, mungkin juga tidak bisa membantu dirinya.

Selagi ia masih berjalan, dari jauh ia sudah dapat melihat seorang tua barambut putih sedang duduk bersila diatas sebuah batu besar dipantai laut. Orang tua itu rupanya sedang mengkail ikan.

Melihat adanya orang tua itu, semangat Yo Cie Cong terbangun seketika. Dalam hati ia lantas berfikir “Aku hendak menanyakan dan mencari keterangan dulu dimana sekarang aku berada”.

Setelah berfikir demikian dengan secara gesit sekali ia sudah lompat melesat kesampingnya orang tua itu.

Orang tua berambut putih itu agaknya tidak melihat kedatangan Yo Cie Cong, ia masih ia masih tetap mengail dengan asiknya. Ketika Yo Cie Cong mengawasi dengan seksama, perasaan heran timbul dalam hatinya.

Sebab orang tua yang rambut dan alisnya sudah putih semuanya itu tampaknya sedang berduduk dengan tenang sambil memejamkan mata. Dan apa yang mengherankan bagi Yo Cie Cong ialah kail ditangan orang tua itu ternyata hanya merupakan sebatang bambu kecil yang tidak ada talinya. Juga tidak ada kailnya, ujung bamboo terpisah kira-kira tiga dim diatas permukaan laut.

Menyaksikan kejadian ganjil itu, Yo Cie Cong lantas berdiri melongo.

Karena didalam dunia ini tidak pernah dilihatnya orang yang mengail ikan secara demikian anehnya, baru untuk pertama kali inilah dilihatnya.

Mungkinkah orang ini bukannya sedang mengail ikan ? tetapi hanya suatu perbuatan untuk menghilangkan waktu terluang saja ? Sebaliknya, orang tua itu tampaknya sangat sungguh-sungguh sikapnya dengan kail ditangannya itu.

Perasaan heran lalu timbul dalam hatinya Yo Cie Cong. ia berfikir ‘Aku ingin mengetahui bagaimana cara mengailmu itu. Sesungguhnya aku tidak percaya bahwa dengan caramu itu kau akan berhasil mendapatkan ikan’.

Tetapi belum lagi pikirannya lenyap dari otaknya, bambu ditangannya orang tua itu mendadak kelihatan bergetar, seekor ikan besar tiba-tiba muncul diatas permukaan air, ikan itu masih tergoyang-goyang.

Kepala ikan itu seolah-olah terpancang oleh ujungnya bamboo ditangannya orang tua itu dengan suatu kekuatan yang tidak dapat dilihat.

Ia lantas mendengar orang tua itu berkata seorang diri :

…Bagus binatang kecil, kau jangan kira bahwa kau pandai berenang. Tidak mungkin kau terlolos di kailnya aku, seorang tua.”

Yo Cie Cong terperanjat sekali, terang orang tua ini telah menggunakan kekuatan tenaga dalam yang sudah tidak ada taranya, yang disalurkan keujung bamboo untuk menangkap ikan. Kekuatan semacam ini sesungguhnya sangatlah mengagumkan.

Kalau dugaannya tidak salah, orang tua itu pasti adalah orang rimba persilatan luar biasa yang mengasingkan diri disitu.

Pada saat itu ia kembali mendengar oraang tua itu berkat pula :

…Mengingat aku tidak tau apa-apa, sekarang aku kembalikan dari mana asalmu datang.” ‘Plung…….’ Ikan besar itu kembali diceburkan kedalam laut.

Setelah orang tua mengail seperti biasa lagi.

Yo Cie Cong setelah mendapat tahu bahwa orang tua dihadapannya itu bukannya orang sembarangan, ia tidak berani berlaku gegabah. Ia coba batuk-batuk sebentar untuk menarik perhatiannya orang tua itu, kemudian memberi hormat dan berkata dengan suara latang :

…Lo-cianpwee, maafkan kalau aku menggangu kesenangan Lo-cianpwee. Boanpwee, Yo Cie Cong ingin minta sedikit keterangan “

Siapa tahu meski sudah berulang-ulang Yo Cie Cong berkata demikian, orang tua itu masih terus memejamkan mata, tidak bergerak sama sekali.

Yo Cie Cong berfikir dalam hati : ‘Apakah orang tua ini seorang tuli yang tidak mendengar perkataannya.

Suara itu seperti genta nyaringnya. Jangan kata baru orang tuli, meskipun orang sudah mati barang kali juga akan dibikin bangun kembali oleh karenanya. Ada lagi orang tua itu terang ada mempunyai kepandaiaan yang tinggi sekali.

Siapa nyana, kenyataan tidak seperti apa yang diharapkan oleh Yo Cie Cong. orang tua itu masih tetap seperti tidak mau dengar apa-apa.

Kali ini Yo Cie Cong mulai tidak sabar, maka ia lantas maju menghampirinya. Dengan berada dekat sekali dipinggirnya telinga orangtua itu ia bartanya pula :

…Apakah Lo-cianpwee tidak sudi menjawab pertanyaan Boanpwwee ?”

Pada saat itu, orang tua itu baru terlihat membuka kedua matanya, dengan matanya yang satu ia mengawasi Yo Cie Cong sejenak, lalu berkata dengan tenang seperti tidak pernah ada kejadian apa-apa.

…Engko cilik, kau sedang berbuat apa ?”

Dari sorot matanya orang tua yang tidak bersahaja itu serta dari sikapnya loyo ; terang kalau orang tua itu adalah seorang tua tidak mengerti ilmu silat. Keadan itu kembali telah membuat Yo Cie Cong merasa heran lagi.

…Lo-cianpwee, Boanpwwee ingin menayakan sedikit keterangan. “

…Ow ! Apa kau kata barusan ?”

…Boanpwwee ingin menanyakan sedikit keterangan. “

…Apa ? aku tidak dengar jelas.”

Yo Cie Cong merasa serba salah. Ia lalu berkata dengan suara nyaring.

…Numpang Tanya, disini tempat apa ?”

…Ow ! Apa engko cilik bukan penduduk pulau ini ?” Yo Cie Cong benar-benar merasa jengkel. Bukankah itu merupakan pertayaan yang aneh, sebab kalau ia adalah penduduk pulau itu, perlu apa minta keterangn padanya.

…Bukan.” Demikian ia menjawab secara singkat.

…Bukan begitu, bagaimana kau bisa datang kemari ?” menanya orang tua itu dengan sikap seperti orang linglung.

…Boanpwee belajar dengan perahu, tetapi kemudian terdampar oleh badai sehingga sekarang tiba ditempat itu.”

…Aih ! Engko cilik, angin laut ada sangat berbahaya mengapa kau tidak baik-baik berdiam dirumah saja ?”

…Aku mua tanya kepada Lo-cianpwee, pulau ini apa namanya ?”

Pada saat itu bambu kail di tangannya orang tua kembali kelihatan bergetar, dan lagi-lagi seekor ikan besar kena sedot ujungnya bamboo. Ikan itu kelihatan bergerak-gerak hendak melepaskan diri.

Yo Cie Cong tiba-tiba mendapatkan satu akal, ia lalu berkata kepada dirinya sendiri :

…Aku kepingin lihat kau sebetulnya tuli benar-benar atau berlaga. Jika tidak, kau sesungguhnya terlalu tidak memandang muka orang.”

Setelah berfikir demikian, ia lantas memasukan kekuatan tenaga dalamnya pada tangan kanannya. Kemudian dengan sikap acuh tak acuh tangannya disodorkan. Dan suatu kekuatan tenaga yang tidak dapat terlihat lantas meluncur keluar dari dalam tangan kanannya menuju ke ikan itu.

Oleh karena kekuatan Yo Cie Cong pada saat itu sudah begitu hebat, maka meskipun dilancarkan hanya dengan seenaknya saja, tetapi hebat sekali pengaruhnya.

Tiba-tiba orang tua itu ketawa dingin, ia lantas berkata seperti tidak sengaja :

…Bagus. Aku ada maksud untuk melepskan kau hidup, sebaliknya kau mendekati kail. Kali ini kau jangan sesalkan aku si orang tua : Aku tidak akan memberu jalan hudup lagi bagimu. Ini toh ada kemauanmu sendiri.”

Sehabis berkata, ia lantas menggertak bambunya, sehingga ikan besar itu melejit keatas dan melayang kedalam tangannya siorang tua.

Dengan demikian, maka serangan Yo Cie Cong tadi ternyata sudah mengenai tempat kosong. Orang tua itu masih tetap tidak menengok untuk melihat padanya.

Wajahnya Yo Cie Cong merah seketika, sifatnya yang tinggi hati lantas timbul seketika, maka ia lantas membentuk dengan suara keras :

...Hai ! Aku Tanya kau. Pulau ini apa namanya ?”

Orang tua itu perlahan menengok. Alisnya yang putih kelihatan bergerak-gerak, kemudian baru menanya :

…Bocah, kau bicara dengan siapa ?”

…Dengan kau !”

…Aku ? Aih orang yang sudah lanjut usianya matanya lamur, telinganya tuli. Cobalah katakan sekali lagi !”

Yo Cie Cong dalam hatinya diam-diam lantas memaki :

…Bagus, sungguh pintar kau berlaga, tetapi aku Yo Cie Cong bukan seorang buta.” Walaupun berfikir demikian, ia juga menanya lagi dengan suara lebih keras.

…Aku Tanya kau, pulau ini apa namanya ?”

Pertanyaan itu dikeluarkan oleh Yo Cie Cong dengan mengunakan kekuatan tenaga dalamnya. Bagi orang biasa tentu tidak akan sanggup menerimanya dan kemungkinan telinganya aka pecah, tetapi orang tua itu kelihatannya tenang-tenang saja.

…Bocah, aku si orang Tua aku ada tuli dari pembawaan. Kalau kau tadi bicara demikian nyaringnya, bukannya sudah beres ? kau tanya ini apa perluya ? ini ada satu pulau.”

…Aku tahu ini ada satu pulau, tetapi apa namanya ?”

…Ooo, tentang ini si orang tua sendiri juga tidak tahu. Ini adalah satu pulau yang sunyi sepi.”

Yo Cie Cong hampir saja dadanya meledak. Ia menanya hampir setengah harian, ternyata masih tidak mendapatkan keterangan apa-apa. Ia tahu bahwa orang tua ini sedang main sandiwara mempermainkan padanya, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab ia menduga pasti orang yang menyerang dirinya dan mengeluarkan suara kaget tadi tentunya orang ini juga. Pada saat itu mendadak ia dapatkan suatu akal, hatinya lalu memikir; ‘kalau kau tidak mau menjawab ya sudah. Sekarang aku hendak mencoba menyantroni suaramu. Aku ingin kau tahu nanti mau bicara atau tidak.

Dengan berkata apa-apa Yo Cie Cong lantas memutar tubuh dan hendak berlalu.

…Bocah, kau balik ! demikian ia mendengar orang tua itu memanggilnya. Terpaksa Yo Cie Cong balik kembali.

…Bocah dengan cara bagaimana kau bisa tiba di pulai ini ?” Tanya si orang tua pula.

…Aku berlayar dengan sebuah perahu.”

…Bukankah dibawa oleh seekor burung besar ?”

Yo Cie Cong terperanjat. Kiranya dirinya yang dibawa oleh seekor burung raksasa tadi sudah diketahui dengan jelas oleh orang tua ini. Dari sini jelaslah sudah bahwa orang tua ini sesungguhnya dengan sengaja menguji dirinya, maka ia lantas menjawab :

…Benar. Dibawa oleh burung raksasa.”

…Aku lihat kau bukan seorang nelayan, juga bukan seorang pedagang yang sering melakukan perjalanan jauh. Tetapi kau telah menempuh bahaya mengarungi lautan luas datang ke Lam-hay ini, apa maksudmu yang sebenarnya ?”

…Mencari orang.”

…Siapa orangnya yang kau cari itu ?”

…Seorang Lo-cianpwee yang aneh tabeatnya di pulau batu hitam. Lo-cianpwee mempunyai gelar ‘Pengail linglung’.”

Orang tua itu kelihatan bergetar badannya, alisnya juga bergerak.

Yo Cie Cong ada seorang yang cerdik. Ketika menyaksikan perubahan sikap orang tua itu, hatinya lalu bergerak, seketika itu ia baru ingat bahwa semua batu yang dilihatnya diatas pulau itu ternyata berwarna hitam.