Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 05

Jilid 05

Yo Cie Cong terperanjat, dalam matanya tiba-tiba terlintas sinar kebencianny. Tetapi itu hanya terjadi sekejapan saja, lantas lenyap kembali. Sehiangga Siang-koan Kiauw tidak dapat melihat perubahan itu.

,, dimana ayahmu sekarang berada ? apa ia bukan menjabat ketua Pek-leng-hwee ……’’

,,Ayah sudah meninggal dunia pada lima tahun berselang jabatan ketua Pek-leng-hwee,itu sekarang dipegang ibu tiri.

Sudah meninggal dunia ?

,,kenapa ?

Apakau kenal ayahku almarhum ?

Yo Cie Cong geleng-geleng kepalanya, tetapi dalam hatinya berpikir : Siang-koan Kiauw juga merupakan salah satu musuhnya suhu yang dulu turut ambil bagian dalam pembasmian Kam-lo- pang.

Karena ia sudah lama binasa dan orang yang sudah mati tak dapat diajak berhitungan, maka hutang darah itu ia akan tagih pada dirinya, tetapi ia adalah anak perempuan salah satu musuh suhunya. Lebih baik ia meninggalkan padanya saja.

Oleh karena berpikiran demikian, maka sikapnya berubah kembali.

,,nona Siang-koan, budimu terhadap diriku akan ku ingat untuk selama-lamanya. Sekarang aku hendak pergi dulu, katanya dengan suara tawar.

Sehabis berkata, ia lantas hendak berlalu.

,, Kau ……,kembali dulu !’’ Siang-koan Kiauw memohon.

Yang tinggi hati dan suka berbuat menuruti perasaannya sendiri sekarang menghadapi sikapnya Yo Cie Cong yang begitu dingin terhadap dirinya perasaanya merasa tersinggung. Yo Cie Cong yang baru saja bertindak, terpaksa berhenti menanya dengan heran

,, Nona masih ada perkataan apa ?’’

Siang-koan Kiauw membisu matanya lantas menjadi merah. Karena biar bagaimana ia adalah satu gadis yang masih suci, tidak bisa membeber kelakuan Yo Cie Cong yang tidak berbudi.

ia pernah menempuh bahaya dan bersedia korbankan jiwanya untuk menolong diri pemuda ini.

Ia pernah bersedih hati karena kematian pemuda ini tetapi ia sekarang setelah hidup kembali sikapnya malah begitu dingin terhadap dirinya. Kenapa ?

Yo Cie Cong sebetulnya juga bukan tidak tergerak hatinya oleh perlakuan dan sikap si nona ini sebab sebagai manusia umumnya sudah tentu tidak akan terhindar dari lingkungan perasaan manusia. Tetapi ia tidak akan menyatakan perasaanya sebab nona itu adalah anak perempuannya musuh suhu itu.

Oleh karena itu pulalah, maka kecantikannya si nona baju merah itu tidak dapat meruntuhkan hati si pemuda yang sikapnya dingin itu.

Setelah agak lama bediri sepasang matanya si Nona kelihatan guram tidak bersinar dengan suara sedih pilu ia berkata.

,,pergilah.”

,,Bukankah nona tadi suruh aku kembali ?”

,,tidak salah, memang suruh kau kembali.”

,,Ada urusan apa ?”

,,Tidak ada. Sekarang aku minta kau tinggalkan aku.”

Yo Cie Cong merasa bingung, ia bertanya sambil kerutkan alisnya :

,,Nona apa artinya ini ?”

,,Tidak apa-apa aku hanya ingin untuk selamanya kita tidak akan bertemulagi dengan kau,”

Jika perkatan itu keluar dari mulut orang lain, Yo Cie Cong pasti sudah lantas berlalu begitu saja tetapi terhadap si Nona yang melepas budi terhadapnya iaterpaksa harus menahan sabar.

Terutama tadi ketika ia berada dalam cengkramannya napsu setan dari Cin Bio Nio jika bukan karna nona ini yang mengeluarkan napas, sehingga kembalilah pada pikiran yang waras barang kali ia telah melakukan perbuatan terkutuk dengan Cin Bio Nio.

Hal ini lebih-lebih ia merasa berhutang budi terhadap nona ini.

,,Apakah dari diriku ada hal-hal yang dapat disalahkan terhadap dirimu ?” Demikian halnya Yo Cie Cong menaya

Siang-koan Kiauw tidak dapat menekankan perasaan sedih hatinya Air matanya lantas keluar.

Yo Cie Cong baru saja muncul dari dunia Kang-Ouw tetapi ia adalah seorang pemuda yang sangat cerdik pada saat itu ia juga sudah agak menduga perasaan hati si nona maka untuk saat lamanya perasaan tergoncang keras ia merasa tidak enak terhadap Siang-koan Kiauw dalam hatinya lantas berpikir : nona manis yang patut dikasihi. Apa aku ada harganya utuk mendapat cintamu ? sesungguhnya aku tak bisa mencintai kau jika satu hari nanti kau mengetahui siapa adanya aku ini kau tentu akan menyesal !”

Siang-koan Kiauw adalah untuk pertamakali timbul perasaan cintanya terhadap seorang pemuda. Tetapi pemuda ini bersikap dingin terhadapnya sudah tentu ini merupakan satu pukulan yang hebat bagi seorang gadis suci murni.

,,pergilah selamanya aku tidak menemui kau lagi ia mengulangi perkataannya itu pula dan perkataan demikian tidak beda dengan seorang wanita yang sedang terhadap kekasihnya.

,,Nona, aku…”kata Yo Cie Cong sambil ketawa geli Kau satu-satunya laki-laki tidak berbudi

Siang-koan Kiauw menekap wajahnya seniri dan lantas berlalu dengan cepat.

Untuk saat lamanya Yo Cie Cong merasa serba salah ragu-ragu baiknya mengejar atau berpisah begitu saja ?

Selagi masih dalam keragu-raguan, nona itu sudah menghiklang dari depan matanya.

Setelah si Nona pergi ia merasa hatinya merasa kosong melompong

dengan lakunya seperti orang linglung ia menongak mengawasi langit membiarkan dirinya tertiup oleh angin pagi yang sangat dingin.

Siang-koan Kiauw sebetulnya tidak terjauh masih menantikan pangilanya Yo Cie Cong . Tetapi ia terlau lama menantikan akhirnya ia merasa putus harapan hatinya seorang gadis telah hancur luluh ia berkata kepada dirinya sendiri sambil kertak gigi :

“Yo Cie Cong, ada satu pasti aku akan bunuh dirimu

Sehabis berkata demikian ia segera berlalu dan kali ini benar-benar berlalu.

Yo Cie Cong sebetulnya tidak benar-benar tidak besikap dingin terhadap dirinya tetapi terpengaruh oleh dirinya sendiri ia tidak berani menerima cintanya Siang-koan Kiauw ia tidak ingin menyakiti hati hati siNona .

Setelah sekian lama berdiri akhirnya ia juga berlalu.

Belum lama ia berlalu dilambah yang sunyi itu kembali muncul orangorang pandai dari golongan hitam.

Orang-orang itu juga merupakan sebagian dari orang-orang yang turut ambil bagian dalam rebutan mustika Gu-Liong-Kauw.

Oleh karena itu munculnya pemilik bendera burung laut maka mereka pada ketekutan dan kabur.

Tetapi terdorong oleh perasan serakah mereka tidak berlalu terlau jauhmereka hendak melihat perkembangan selanjutnya kemana akhirnya mustika itu jatuhnyamereka telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagai mana si orang berkedok kain putih mengaku sebagai pemilik bendera burung laut, dengan kepandaian yang sangat luar biasa tingginya, dalam sekejap saja sudah merebut senjata peledak yang hebat dari tangannya si iblis wajah singa bahkan si iblis dapat dibinasakan dengan mudah.

Kemudian melihat orang berkedok itu berlalu, tetapi masih mondar-mandir kira-kira lima puluh tumbak jauhnya dari tempat persembunyian mereka, agaknya masih tidak mau meninggalkan tempat itu begitu saja.

Dengan demikian, maka orang-orang itu masih belum berani menunjukan diri, sehingga merekapun menyaksikan kejadian ketika jenajahnya Yo Cie Cong dibawa pergi oleh Thian-san Liong-lie dan Siang-koan Kiauw.

Setelah oragn berkedok itu sudah benar-benar berlalu, orang-orang itu baru berani unjukan diri lagi. Mereka mencari ubek-ubekan ditempat sekitar lima lie dari danau tersebut.

Tidak perlulah disangsikan bahwa tujuan mereka itu masih tetap pada mustika yang merupakan benda mukjijat bagi orang-orang rimba persilatan itu.

Mereka masih tetap mencari jenajahnya Yo Cie Cong dan ingin membelek perut jenajah itu serta mengambil mustikanya.

Satu malam telah berlalu, tetapi mereka tidak dapat menemukan apa yang mereka cari.

Ketika mereka tiba dilembah yang sempit sunyi, disitu mereka dapat menemukan dirinya si wanita genit baju putih yang bukan lain dari pada ketua Pek-leng-hwee. Cin Bio Nio.

Maka mereka lantas pada menghampiri Cin Bio Nio.

Bab 10

BERADANYA permpuan itu disitu, pasti bukan tidak ada sebabnya. Kiranya Cin Bio Nio yang dalam keadaan yang tidak menduga-duga telah tertotok jalan darahnya oleh Yo Cie Cong dengan mengandal kekuatan tenaga dalam yang sudah tinggi perlahan-lahan ia sudah berhasil membebaskan totokan itu.

Selagi masih merasa gemas dan gusar serta mendongkol serta beberapa bayangan orang mendadak menghampiri dirinya.

Ketika ia melirik kearah mereka ia segera mengerti apa maksud kedatangan orang-orang itu.

Diantara orang-orang yang sedang mendatangi itu. Terenyata ada dua penjahat dari Lam-bong serta si garuda kepala botak.

Sudah tidak perlu disangsikan lagi bahwa kedatangan orang itu maksudnya tentu hendak mencari mustika Gu-Liong-Kauw dalam perutnya Yo Cie Cong. Kawanan iblis itu ketika menyaksikan lubang kubur yang sudah kosong melompong dan pakaiannya Cin Bio Nio yang sudah terkoyak-koyak agaknya sudah mengerti sebagian sehingga mata mereka semua ditunjukan kearah wanita itu. Agaknya ingin menembusi apa yang tersimpan didalam tubuh wanita genit cantik itu.

Orang-orang itu setelah berdiri dekat pada Cin Bio Nio, pertama-tama adalah si Garuda Kepala Botak yang membuka suara sambil menggaruk-garuk kepanya yang kelimis.

….Cin Hweetio, mengapa kau berada disini seorang diri saja ?

…Ehee, apa dalam hal ini juga ingin mengetahuinya ?

…Untuk seorang yang suka berterus terang, tidak perlu sembunyi-sembunyi. Barangkali kau tahu dimana adanya bangkainya pemuda itu ?

…Tidak tahu !

…Ahh, huh huh …..Rejeki Hweetio sangat besar.

…Apa artinya perkataan ini ?

…Mustika Go-liong-kauw tidak mudah dilihat dalam ribuan tahun sekali. Kini senjata kau dapatkan secara mudah bukan berarti besar sekali rejekimu ?”

Orang yang mndengar perkataan si Garuda Kepala Botak wajahnya masing-masing menunjukan perasaan mengiri dan heran. Sehingga semua mata kembali ditunjukan kearah dirinya. Cin Bio Nio.

…Telah kudapatkan ?” Cin Bio Nio balas menanya.

…Cin Hweetio, perluapa maisih berlaga pilon ?”demikian salah satu dari penjahat dari lam-bong lantas celetuk.

,,apa artinya berlaga pilon ?

Bangkainya bocah itu mungkin sudah menjadi korban pedangnya Cin hweetio,” kata si garuda kepala botak smbikl miringkan kepalanya.

,,kata yang menyemblih pemuda itu dan mengambil mustikanya.

,,kau Cin Hweetio,rasanya mungkin tidak tega turun tangan terhadap anak itu,”

,,Ha, ha, ha,…..”Cin Bio Nio perdengarkan ketawanya yang nyaring.

Begitu seram terdengar suara ketawanya itu, apalagi terdengar didalam kedalaman lembah yang sunyi itu sehingga membuat wajah-wajah orang-orang jahat itu berubah.

Ketawanya Cin Bio Nio seakan–akan hendak melampiaskan benci dan jengkel karna ia dituduh sebagai pencuri.

Ia yang biasa mempermainkan laki-laki sunguh tidak menyangka sekarang bisa terjungkal ditangan satu bocah. Ia tidak mendapat keuntungan apa-apa.sebaliknya sudah di tuduh sebagai orang yang mengambil Mustika dari perut Yo Cie Cong .

Bagai mana ia tidak jadi gusar dan dongkol ?

Tetapi tawa itu sungguh tak enak didengarkanya bagi kawanan penjaha itu. Setelah puas ketawa, Cin Bio Nio lantas berkata dengan suara yang bengis :

,,kalau benar, bagaimana ? apakah kalian hendak membelek perutku dan mengambil mustika itu. ?”

Orang-orang jahat itu pada terkejut, salah seorang dari dua penjahat dari Lam-Bong lalu menjawab sambil tertawa :

,,Ooo , tidak berani. Kita Cuma ingin mengetahui saja dimana sebetulnya mustika itu kini berada. Ternyata Cin Hweetio ternyata rejekinya yang paling besar. Rasanya perlu aku mengucapkan selamat padamu”.

Cin Bio Nio sebagai orang yang banyak akalnya ia bisa menghitung untung rugi.utntuk menghadapi kawan penjahat kini ia tidak takut dan mereka tidak berani berlaku terlalu kejam terhadap dirinya.

Tetapi kalau hal itu disiarkan kedalam dunia Kang-Ouw, itu berarti bahwa ia juga yang akan tertimpa bencana.

Oleh karen itu maka ia lantas berkata :

,,juga tuian-tuan juga tidak salah !Aku mempunyai pikiran serupa itu. Cuma sayang….. kawanan penjahat itu yang menengarkan perkataan Cin Bio Nio ada isinya,semangat lantas terbangun Si Garuda Kepala Botak kepala botak adalah seorang yang banyak akalnya, tetapi dihadapan Cin Bio Nio ia masih belum nampak seujung kukunya.ia tidak mengetahui si wanita genit itu sedang memainkan peranan, maka lantas mendesak dengan mendesak perkataanya : ,,sayang apanya ?”

,,sayang keadaan ku sama dengan tua-tuan yang tidak mempunya itureji untuk mendapatkan mustika itu.

Kawanan pejahat itu agak bikin bingung oleh jawaban perempuan genit cerdik itu. Si Garuda Kepala Botak kepala itu agaknya masih mau percaya maka ia terus mendesak :

,,aku ingin penjelasanmu.”Cin Bio Nio …. Mendadak berkata dengan berkata sunguh-sungguh.

,,tuan-tuan kiranya tahu sendiri bahwa orang yang menelan benda mukjijat itu,

Sekalipun terluka parah juga tidak akan bisa binasa.”kawana penjahat itu aggukan kepada.

,,dari mana Hweetio bisa mengetahui ini.”

,,dengan terus terang, akan juga mempunyai maksud untuk mendapatkan mustika itu. Aku mengikuti sampai disini dan ketika aku menggali liang kubur itu, ternyata sudah kosong”

,,kalau begitu, bocah itu tentu sudah kabur.

,,siapa kata tidak ?” Si Garuda Kepala Botak lantas berkata sambil ketawa dingin :

,,Cin Bio Nio Hweetio tadi rupa-rupanya pernah berkelahi dengan seporang.”

Siapa tahu, pertanyaan yang tidak,pertanyan yang tidak di sengaja ini seolah-olah sebatang anak panah yang tajam menacap keulu hatinya Cin Bio Nio. Bukan berarti berkelahi saja bahkan ia sudah menjadi pecundang anak muda itu.

Tetapi si wanita genit yang banyak akalnya, meskipun dalam hati ada persamaan yang mendongkol diluarnya tidak menunjukan perubahan apa-apa maka ia masih bisa menjawab dengan sejenak saja :

,,memang benar !”

,,dengan siapa ?

,,Thian-san Liong-lie.”meskipun jawaban Cin Bio Nio itu sejenak saja, tetapi tidak ada seorangpun yang tidak percaya.

,,Thian-san Liong-lie ?” Tanya mereka heran.

,,benar ? Thian-san Liong-lie memang satu jalan dengan bocah itu maksudnya dengan membuat kuburan palsu ini tidak lain hanya hendak mengelabui mata orang-orang dunia Kang- Ouw saja.

Ia sendiri masih belum berlalu dari sini. Ketika aku menggali liang kubur, karena dianggapnya membuka rahasianya, maka dalam gusarnya ia lantas mengejar aku.’

Kawan pejahat itu, setelah mendengar keterangan tersebu, hati mereka merasa maksgul si garuda kepala botak memberi pertanyaan sambil tertawa Ha,ha, hi, hi :

,,keterangan Cin Hweetio bertanya apa tidak berbohong ?”

Cin Bio Nio sangat mendongkol terhadap kepala botak ini, tetapi diluar masih tidak menunjukan perubahan apa-apa dan atas pertanyaan itu ia menjawasb dengan sungguh-sungguh :

,,Tuan-tuan rupanya terlalu menganggap rendah diriku biar bagaimana kertas toch tidak dapat dipakai untuk membungkus api didalam kalangan Kang ouw, tauan masih banyak kesempatan bertemu dengan bocah itu. Bagai mana aku bisa bohong ?”

Si garuda kepala botak bungkam seribu bahasa. Tapi hanya sejenak sebab kemudian ia berakta pula sambil ketawa cengar-cengir.

,,Cin Hweetio, maafkan aku yang salah omong sampai ketemu dilain waktu.”

Setelah berkata demikian, Si Garuda Kepala Botak kepala botak lalu lantas berlalu lebih dulu. Kawanan penjahat itu setelah saling pandang sejenak, juga lantas sumuanya bubar.

* * *

Peristiwa yang menyangkut dirinya Yo Cie Cong yang secara kebutulan telah menelan mustika Gu-Liong-Kauw, dan kemudian telah binasa bisa hidup kembali dalam waktu beberapa hari sudah tersiar luas kalangan Kang Ouw oleh karena itu, Yo Cie Cong kini telah merupakan’barang yang di buat incacaran oleh kawanan iblis, yang bermaksud hendak mendapatkan mendapatkan barang mustika itu.

Ini sesungguhnya merupakan suatu hal yang menakutkan.

Kemungkinan penyemblihan atas dirinya untuk mengeluarkan mustika itu dari perutnya, setiap saat bisa saja terjadi sebab mustika Gu-Liong-Kauw itu harus ada telurnya burung raksasa baru bisa lumer dan berguna bagi dirinya pemilik, kalau tidak, selamanya akan tetap tinggal utuh dalam perutnya maka kawanan manusia yang mengandung hati seraka dan kejam lantassudah pada bergerak mencari adanya pemuda dengan mustika Gu-Liong-Kauw itu. Yo Cie Cong hari itu, setelah lolos dari bahaya kematian dari bahaya kematian dan meninggalkan lembah yang sempit sunyi yang pernah mnjadi tempat kuburannya sementara ia mlakukan perjalanan menuju keutara. Tujuannya yang pernah ia tuju mencari pusaka kayu Ouw-boks Po-Lok, supaya ia dapat mempelajari ilmu silatnya yang lebih dalam dan bisa digunakan untuk menuntut balas sakit hati Suhunya.

Ouw-boks Po-loks Cuma merupakan dua kayu hitam apayang ada ditangannya Yo Cie Cong saat itu hanya yang memuat keterangannya, sedangkan sepotong lagi yang belum di temukannya, termuat dihapalannya.

Dalam sepotong kayu yang kecil itu dibuat pukulan tangan yang hanya terdiri dari lima jurus saja, tapi kalau itu dapat di muat pukulan tangan jang hanya terdiri dari jurus saja, tetapi kalau tidak mendapatkan keterangannya dari sepotong kayu yang berada di tangannya Yo Cie Cong saat itu, tentu tidak akan dapat dipahamkan ilmu serangan termaksud.

Untuk mencari benda yang sudah hilang pada dua puluh tahun berselang itu, sebetulnya merupakan suatu pekerjaan yang maha sulit.

tetapi Yo Cie Cong sudah bertekad bulat, sebab benda itu bukan saja merupakan benda pusaka perguruannya, teapi juga merupakan benda penting yang harus didapatkan untuk dapat melaksanakan pesanan suhunya.

Terhadap mustika yang berada dalam perutnya,malahan ia tidak taruh perhatian sama sekali, sebab benda mustika itu harus dibantu dengan telur burung berwarna dari burung rajawali raksasa baru ada gunanya.

Tetapi barang yang tersebut terakhir ini juga merupakan barang yang tidak mudah untuk didapatkan, maka sama artinya dengan barang yang tidak berguna di dalam perutnya.

Disepanjang jalan ia terus mengingat-ingat nama musuh kam-lo-pang.

Nama-nama itu yang teratas adalah namanya lima iblis dengan huruf singkatan IM YANG SIU ROAY PO.

Lima huruf ini masing-masing mewakili namanya seorang iblis yang sudah tentu berkepandaian sangat tinggi.

Tetapi dengan tekadnya yang bulat dan keyakinannya yang ia henak melaksanakan tugas yang berat itu.

Sementara itu, namanya duapuluh orang yang terdapat dalam lembar kedua dan ketiga, kecuali enam nama yang sudah dicoret oleh suhunya,ditambah lagi dengan namanya si Buli-buli arak wajah burung serta nama Sian-koan Kin sudah binasa pada lima penuh, ia hendak melaksanakan tugas yang berat itu.

Meskipun orang-orang itu merupakan orang-orang yang namanya sangat terkenal dalam golongan hitam maupun golongan putih tetapi kalau dibandingkan dengan golongan lima iblis yang tersebut duluan masih belum berarti apa-apa.

Satu persatu ia menyebutkan nama musuh-musuh suhunya itu, mau mengukir nama-nama itu di dalam hatinya supaya selamanya tidak dapat dilupakan.

Kemudian ada satu hari ia akan dapat mencoret nama-nama itu satu per-satu dari daftar nama yang berada padanya.

Selagi dalam keadaan melamun, terbawa oleh siliran angin yang meniup sepoi-sepoi, telinganya lapat-lapat menangkap suara beradunya senjata dan bentakan orang.ia berhenti melamun dan pasang telinganya dengan seksama mendengarkan suara itu, ternyata datangnya dari rimba sebelah kiri jalanan.

Terdorong oleh perasan heran, ia lantas menggerakan badannya dan melesat kedalam rimba tersebut.

Suara pertempuran kedengarannya semakin nyata, diantara suara beradunya senjata, diseling oleh bentakan orang perempuan.

Yo Cie Cong masuk lebih jauh kedalam rimba.

Di rimba dalam terdapat satu tanah pekuburan yang luasnya kira kira saru bau lebih, dikitari oleh pohon-pohon Cemara.

Mula-mula ia menyembunyikan di belakang di rinya di sebuah pohon,tetapi ketika matanya menyaksikan apa yang terjadi hampir saja ia menjerit kaget. Di suatu tanah di lapang kuburan tersebut terlihat tiga orang laki-laki jahat yang sedang mengepung dirinya satu nona yang memakai baju hitam yang usianya masih muda sekali mungkin masih berumur belum cukup delapan belas tahun.

Kedua pihak menggunakan pedang,pertempuran berjalan dengan sengit sekali.

Di atas kuburan tersebut terdapat beberapa bangkai manusia yang tergeletak dalam keadaan tidak utuh. Ada yang terkutung tangan atau kakinya bahkan ada pula yang terkutung kepalanya. Darah merah membanjiri rumput yang hijau suatu pemandangan yang sangat mengenaskan.

Di sekitar lapang itu, masih ada beberapa orangtua dan anak muda yang jumlahnya tidak kurang dari tigapuluh orang.

Mereka itu tampaknya seperti orang-orang yang berkepadaian ilmu tinggi.

Nona baju hitam itu kelihatan gusar. Bilah pedangnya bergerak lincah. Meskipun dengan seorang diri ia harus melawan tiga orang musuhnya, tetapi ia tampaknya tak merasa keder. Bahkan ia telah berhasil mendesak musuh-musuhnya sehingga kelabakan.

Yo Cie Cong terpesona menyaksikan pertempuran tersebut ia telah kagum oleh keahlian gadis berbaju hitam dengan ilmunya sangat tinggi, ia bermaksud untuk menonton saja dulu kalau perlu baru ia turun tangan membantunya. Maka itulah ia menyembunyikan dalam pohon yang lebat.

Tiba-tiba ia mendengar suara jeritan ngeri, salah satu katiga laki-laki yang mengepung sigadis berbaju hitam rubuh dalam keadaan terkatung lengannya.

Kedua laki-laki yang lainnya menyaksikan satu kawannya yang tewas, nampaknya semakin napsu dengan tanpa menghiraukan nyawanya sendiri dengan terus menyerang sigadis berbaju hitam.

Dengan cepat dalam waktu singkat si nona sudah melancarkan 9 serangan, sehingga dua kaki itu menjadi gugup. Mereka terus mundur dengan smpai kira-kira lima sampai enam langkah tidak, baru terhindar dari bahaya.

Gadis berbaju hitam itu agaknya sudah gemas betul-betul, setelah melancarkan serangan bertubi-tubi tadi, lalu rubah gerakaknnya dan kembali melancarkan serangan beruntun tiga kali dengan ilmu padanya yang aneh luar biasa, hingga ke dua laki-laki itu kembali terancam jiwanya.

,,kamu berdua mundur”!

Suara bentakan seperti geledeg tiba-tiba terdengar rombongan orang banyak lantas muncul seorang tua yang bertubuh pendek kecil. Baru saja orangnya bergerak,

Tangan sudah mengeluarkan sambaran angina demikian hebat, menggulung si gadis baju hitam oaring tua pendek itu mempunyai kekuatan yang begitu hebat, sesungguhnya ada di luar duggan semua orang.

Gadis baju hitam itu apa bila tidak menarik serangannya, dua laki-laki tadi akan binasa di bawah pedangnya, tetapi ia sendiri juga akan terluka oleh sambaran angin si orang tua pendek kecil. Itu menghindari serangan hebat ini, terpaksa ia harus melompat menyingkir delapan kaki jauh nya.

Dua orang laki-laki yang terlebih dahulu telah menggunakan kesempatan itu untuk mengundurkan diri. Orang tua pendek kecil tadi, sehabis melancarkan serangannya, lalu berkata sambil mendengarkan suara ketawanya yang aneh :

,,Budak hina lebih baik kau keluar saja dengan baik.”

,,setan cebol, kau belum pantas mengeluarkan perkatan begitu,”jawab si gadis baju hitam. Bukan kepalang gusarnya orang tua pendek kecil itu.

,,budak hina apa kau mencari mampus ?” bentak bengis, setelah berkata, badannya yang pendek kecil telah melesat seperti gangsing mencari si gadis baju hitam. Dalam waktu yang singkat saja ia melanjutkan serangan bertubi-tubi badannya sinona melesat tinggi, ditengah udara ia membuat satu lingkaran, kemudian turun melesat seperti burung wallet, tanganya berbarang melancarkan tiga kali serangan.

Yo Cie Cong yang menyaksikan serangan pertempuran itu dari tempat per sembunyiannya, diam-diam merasa kaget juga. Pikirannya gadis baju hitam betul-betul hebat, Kepadanya tampaknya gadis itu mengerti adanya benda mustika,yang membuat kawanan penjahat belum lenyap pikiran itu, dalam medan pertempuran sudah terjadi perubahan. Orang tua cebol itu dengan kedua tangannya yang kurus terusterusan melancarkan serangan secara hebat. Diantara serangan gadis baju hitam, tangan orang tua masih dapat bergerak dengan berani, kadang- kadang juga menyelusup diantara sinar pedang hendak menyambar diri si nona.

Gadis baju hitam itu, sedikitnya merasa nyeri bahkan serangan dilakukan semakin gencar.

Bertepatan pada saat itu muncul tiga orang tua yang kira-kira usianya lima puluh tahunan yang turut ambil bagian dan mengurung sigadis berbaju hitam.

Dengan muncul mereka, keadaan lantas berubah gadis baju hitam itu keliatan di bawa angin Yo Cie Cong pernah mengalami dirinya dikepung oleh kawaan orang-orang jahat, timbul perasan didalam hatinya kepada si nona berbaju hitam yang terkurung, selagi ia hendak bergerak, mendadak terdengar suara seperti menggeramnya binatang buas. Orang-orang jahat yang saat itu masih belum turun tangan dan masih berdiri dipinggir jalan sebagai penonton ketika mendengar suara geraman itu wajah mereka berubah agaknya mereka sangat ketakutan.

Empat orang tua yang sedang mengepung sigadis baju hitam lantas lompat mundur.

Yo Cie Cong merasa sangat heran. Ia tidak mengetahui kawan iblis macam apa yang mendatangi sehingga membuat orang-orang ketakutan sedemikian rupa ?

Si gais berbaju hitampun terkejut, matanya mengawsi kearah rimba.

Untuk sesaat lamanya keadaan menjadi sunyi senyap tetapi suasana menjadi tegang dan menyeramkan.

Suara menggeram seperti binatang buas itu makin lama makin dekat kedengaranya makin masuk telinga.

Baru saja suara geraman berhenti banyak orang lantas jadi kesima karana menghadapi pemandangan yang luar biasa.

Pada saat itu didalam kalangan bertambah seseoarang yang aneh bentuknya seperti bangkai hidup, badannya tinggi kurus, wajahnya pucatpasi, sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda seperti manusia hidup,matanya memancarkan sinar biru hidungnya pesek dan lebar tangan dan jari- jarinya yang terbungkus oleh kulit yang putih keriput diatas jari-jarinya yang kurus tumbuh kuku yang panjang. Bentuk manusia aneh yang menakutkan cukup menciutkan nyali-nyali yang kecil.

Semua orang yang berada ditempat itu merasa seram melihatnya sangat ngeri datangnya orang itu.

Yo Cie Cong sendiri merasakan bulukuduknya berdiri.

Orang aneh itu dengan matanya yang tajam menyapa sejenak kearah semua orang lantas berkata ke semua orang dengan suaranya yang menyeramkan.

,,kalian semua enyah dari sini !”

Perintah itu dibarengi oleh gerak tangan yang kurus kering dan satu diantara orang-orang tua yang berdiri di hadapan si gadislanta lantas rubuh binasa ,dar iluban gibung, mata dan mulutnya mengalirkan darah hitam.

Entah ilmu apakah yang digunakan oleh manusia aneh itu? Tidak ada seorangpun juga yang mengetahuinya.

Semua kawanan penjahat yang berada itempat pada terbang semangatnya lantas dari tunggang-langgang, sebentar saja keadaan sudah menjadi sepi kembali.

Gadis baju hitam itu melintangkan pedang didepan dadanya, tetapi tangan yang memegang pedang tampaknya agak gemetaran.

Manusia aneh seperti bangkai hidup itu dengan matanya yang biru mengawasi si gadis, setelah itu lalu berkata sembari mengeluarkan suara ketawanya yang menyeramkan :

,,Bocah, siapa namamu ? dank kau anak siapa ? coba kau ceritakan pada Lohu barang kali saja lohu kenal. Kalau tidak …. Huhh, huhh….

Si gadis sepasang alisnya berdiri, ia menjawab dengan suara gusar :

,,Hal ini tidak perlu kau tahu.”

,,Ha, ha, ha…. Satu bocah yang tidak tahu diri ! sekarang serahkan saja benda didirimu itu dengan secara baik-baik, lohu akan memberikan kau kematian dalam keadaan utuh, kalau tidak, ini adalah contohnya !” demikian kata si manusuia aneh itu sambil menunjuk mayat orang tua yang menggeletak di tanah.

Ketika si gadis menengengok ke arah mayat yang di tunjuk oleh orang aneh itu, mayat itu sudah berubah menjadi cair, hanya rambutnya yang ketinggalan,airnya menyiarkan amis.

Yo Cie Cong yang turut menyaksikan di belakang pohon,hatinya juga merasa berdebaran. Entah benda mustika apa yang ada di badannya gadis baju hitam itu sehingga menimbulkan banyak perahatian para kawanan penjahat dan pada datang merebutnya, sampaipun terkenal orang paling ganasjuga merasa tertarik, dan turut ambil bagian merebut benda termaksud.

Si gadis wajahnya berubah seketika, dalam kagetnya ia telah keluarkan jeritan tertahan.

,,Kau adakah si Tengkorak Hidup Lui-bok-thong ?”

,,Huh , huh, huh…… kau masih terhitung seorang yang mempunyai banyak pengalaman sehingga mengenal nama dan julukan Lohu. Oleh karena itu aku akan bertindak, aku akan mengampuni jiwamu asal barang itu kau serahkan kepadaku berikan kepadaku.

,,Oh tidak begitu gampang.”

,,Apa perlu Lohu turun tangan sendiri ?”

Yo Cie Cong mendengar gadis baju hitam itu menyebutkan nama dan gelar orang aneh itu, Bukan kepalang aneh dan kagetnya.

Ia tidak menyangka bahwa disitu telah mengenal wajah asli si muka iblis tua ini, karma dalam daftar musuh-musuhnya Kam-lo-pang nama iblis ini tercantum dalam daftarnya. Siluman tengkorak Lui-bok-thong termasuk orang yang keempat dari lima orang lihay musuh-musuh Kam- lo-pang, Yo Cie Cong yang dirasakan seketika bergolak darahnya bergolak dan beringas.

Tetapi ia tahu bahwa umpannya saat itu menunjukan diri, berarti akan menagantarkan jiwanya secara Cuma-Cuma karena pada saat itu ia belum dapat menandingi si iblis tua itu, namun hatinya sangat gusar tapi ia harus menahan sabar sedikit.

Siluman tengkorak hidup Lui bok thong dengan memandang matanya yang biru mendadak mengawasi ketempat persembunyian Yo Cie Cong setelah mendengarkan ketawanya yang aneh, kembali menatap kearah si gadis berbaju hitam.

Pada saat itu si gadis berbaju hitam menggertak dengan suaranya yang bengis.

,,iblis tua, kalau aku mati ditangan mu tetapi kalau kau inginkan aku menyerahkan benda ini kepadamu jangan harap kecuali ada matahari terbit di sebelah barat.

Si gadis rupanya tidak merasa jerim, maka ia berani berlaku garang terhadap satu iblis yang sudah terkenal keganasanya, terhadap keberanian si gadis itu. Yo Cie Cong merasa kagum.

Siluman tengkorak itu tidak menyangka bahwa gadis kecil itu telah menantangnya dengan berani, maka wajahnya yang putih seperti kertas bergerak-gerak…..

,,Hi...hi..hi…….barang kali kau masih belum tahu”

Baru saja mengucapkan perkataan itu, badanya yang kurus dengan cepat melesat kearah berdirinya kearah si gadis berbaju hitam kedua tangan yang seperti cakar burung dengan gerakannya yang sangat aneh sudah menyambar pinggangnya si gadis.

Gadis berbaju hitam itu langsung menggertak dengan pedang di tangannya lantas terayun membabat tagan si iblis tua.

Diantara suara tawa yang aneh, iblis tua itu lolos dari serangan pedang si gadis berbaju hitam tanpa luka sedikitpun, ia mundur lima kaki tangannya ternyata sudah memegang sebuah benda yang terbungkus kain putih.

Gerakan yang cepat dan gesit sungguh sangat mengejutkan.

Gadis baju hitam terkejut melihat benda di badannya pindah ke tangannya, lantas berubah wajahnya dedngan gemas ia membentak :

,,aku akan mengahabisi nyawamu”

Ucapannya itu dibarengi dengan serangan pedang yang sangat hebat. Siluman itu terpaksa mundur dengan beberapa langkah.

Yo Cie Cong yang menyaksikan semua kejadian denagn perasaan yang terheran-heran diam- diam berpikir” gadis berbaju hitam ini kepandaianya jauh lebih tinggi dari pada aku. Entah dari golongan mana ? kepandainya mungkin berimbang dari bibi Tho

Siluman tengkorak lalu memasukan benda rampasannya kedalam saku, kemudian tangannya bergerak menyerang serangan si gadis.

Si nona telah melancarkan serangannya berkali-kali dengan napsu dan penasaran serangannya agak mirip serangan dilakukan secara kalap ia tidak memperdulikan jiwanya lagi.

Serangan si siluman tengkorak ternyata hebat sekali sampai pedang di tangannya hampir terlepas oleh karena sambaran angina. Saat itu si gadis berbaju hitam merasa terdesak oleh kekuatan yang sangat hebat sehingga rasanya sukar untuk bernapas, maka ia terpaksa harus mundur sampai delapan kaki jauhnya.

,,siluman tengkorak berhasil mundur si gadis baju hitam, lantas menoleh dan berkata ke arah rimba yang sejauh delapan kaki :

,,siapa yang sembunyi dalam rimba itu, lekas tunjukan dirimu !”

Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong ia sunguh tak percaya, terpaksa ia lompat keluar dari tempat persembunyiannya.

Si gadis baju hitam heran, dalam keadaan demikian masih ada orang yang bersembunyi kalau bukan orang yang berilmu tinggi pasti bernyali besar….

Dan ketika melihat siapa orangnya hatinya lantas terguncang hebat.

Bab 11

ORANG yang baru muncul itu adalah seorang pemuda yang tampan tetapi kelihatannya sangat dingin.

Siluman tengkorak itu tersentak melihat munculnya seorang anak muda yang tampan lantas tertawa bergelak-gelak.

,,bocah apa kau sudah bosan hidup ?”

Yo Cie Cong ternyata menghadapi musuh besar suhunya hatinya sudah terguncang hebat sepasang matanya tampak beringas dengan tidak menunjukan rasa takut sedikitpun dia menjawab dengan suara kaku.

,,kau mau berbuat apa ? silahkan !”

,,kalau kau sudah bosan hidup Lohu bersedia mengiringi kehendakmu.

Yo Cie Cong sudah mengetahui bahwa siluman tengkorak ini sangat ganas dan telenges sifatnya ia berbuat apa yang ia ucapkan. Dengan kekuatan Yo Cie Cong hendak menggempur padanya, sama saja mengantarkan kematiannya sendri.

Meskipun Yo Cie Cong mengetahui semua itu masih bisa menjawab dengan berani :

,,siluman tua ! hari ini jika kau tidak membunuh aku maka aku yang suatu hari yang akan membunuh Mu !”

Si gadis berbaju hitam yang berdiri disampingnya ketika mendengar jawaban Yo Cie Cong diam-diam berpikir : pemuda ini sungguh berani dan sombong sekali, ia berani mengucapkan perkataan jumawa di hadapan si iblis ini, bukankah mencari jalan kematian sendiri ?

Tiba-tiba suatu pikiran timbul dalam otaknya, ia merasa simpatik tertarik terhadap keberanian dan ketampanannya Yo Cie Cong , sebentar jika si iblis itu turun tangan terhadap dirinya anak muda itu, ia akan memberi bantuannya dengan sekuat tenaga.

Si siluman tengkorak Lui Bok Thong selama sedang melintang didunia Kang-ouw, namanya saja sudah Lisa membuat takut orang-orang golongan hitam ataupun golongan putih, sehingga tak ada seorangpun yang berani omong besar, dihadapannya. Tetapi sekarang ternyata masih ada orang yang berani menyatakan terang terangan dihadapannya hendak membunuh dirinya, bahkan pekataan dari keluarganya dari mulut seorang pemuda yang usianya baru kira kira delapan belas tahunan saja, mka terhadap keberaniannya pemuda itu tidak marah, malah sebaliknya merasa terheran-heran ia mula-mula menyangka hanya pendengarannya saja yang salah, maka ia menaya pula :

,,Bocah, apa kau katakana tadi ?”

,,Aku kata, kalau hari ini kau tidak berhasil membunuh mati aku, pada suatu hari aku yang akan membunuh mu.

,,Hu ,hu ,hu….. perkataamu yang takabur ini, aku Lui bok Thong yang takakan melepaskan dirimu.

Yo Cie Cong massih dengan wajah ketus dingin menjawab :

,,Tetapi kau jangan menyesal !”

,,Lohu selamanya belum pernah menyesal kau boleh mencari suhu yang lebih pandai melatih dirimu baik-baik baru nanti mencari aku lagi.

Yo Cie Cong Cuma terdiam ia tak menjawab. Si siluman tengkorak itu mendadak berpaling dan berkata kepada si gadis berbaju hitam. :

,,Lohu berkata hendak memberikan kau mati secara utuh.

Baru saja ia mengucapkan nya itu, tangannya dengan cepat melancarkan serangan yang di barengi dengan sambaran angin yang sangat hebat.

Si gadis hitam tidak menyangka bahwa si iblis tua itu bisa turun tangan secara tiba-tiba, dalam gugupnya ia mencoba menagkis serangan dengan sekuat-kuatnya pedangnya juga terlempar untk menangkis serangan si iblis.

,,Duk, duk !’ demikian terdengar duakali suara benturan yang nyaring, beradunya kekuatan dari kedua pihak telah menimbulkan angin hebat, sehingga membuat batu beterbangan.

Sebentar kemudian lalu terdengar suara jeritanm gadis baju hitam itu dengan mulut menyemburkan darah segar, badanya terpental sejauh dua tumbak lebih yang kemudian jatuh bergelimpangan ditanah.

Serangan Yo Cie Cong meski dapat mengurangi kekuatan si iblis tua sedikit, tetapi ia sendiri juga sudah terpental mundur sepuluh tindak lebih oleh karena serangan itu.

Untuk sesaat ia berdiri melongo, tidak bisa berkata apapun. Kekuatan tenaga si iblis tua benar-benar luar biasa hebatnya.

Suara mengaung yang sangat aneh kedengarannya kembali terdengar. Siluman tengkorak itu badannya lantas melesat ke udara kira-kira lima tumbak tingginya, kemudian dengan secara mendadak ia berbalik dan lantas menghilang ketempat gelap.

Yo Cie Cong sembari mengawasi kearah menghilangnya si iblis itu, dengan tidak terasa sedah mengeluarakan elahan napas panjang. Selagi ia hendak meninggalkan tempat tersebut. Mendadak ia ingat dirinya si gadis baju hitam yang saat itu entah bagaimana keaadaannya, maka ia lantas urungkan maksudnya.

Ketika matanya memandang ke arah si gadis, dilihatnya si nona masih rebah dengan tidak bergerak. Suatu pikiran lantas timbul dalam otaknya : apakah dia sudah biansa ?”

Sebetulnya ia hendak meninggalkan tempat tersebut dan tidak ingin mencampuri urusan si gadis itu, tetapi sesuatu kekuatan yang tersembunyi telah memimpin dirinya untuk menghampiri dirinya si nona.

Si gadis baju hitam itu parasnya cantik seperti bidadari. Meskipun dalam keadaan menggeletak tidak sadarkan diri seperti orang yang sudah mati, tetapi tampaknya masih menarik hati. Mata dan mulutnya tertutup rapat, seolah-olah sedang tidur nyenyak.

Agak lama Yo Cie Cong berada dalam kesangsian, tetapi akhirnya ia bejongkok juga, dengan tangannya ia mencoba meraba mulut dan hidungnya si gadis, ia merasa bahwa napas si gadis itu sudah lemah sekali.

Tampaknya jika mendapat pertolongan pada waktunya, mungkin jiwa si nona itu dapat tertolong. Tetapi kalau terlampau lama barangkali tidak ada harapan lagi.

Jika diingat dari kekuatan tenaga dalamnya sendiri pada saat itu, kalau mau digunakan untuk menolong orang lain yang sedang terluka parah, rasanya masih belum cukup. Maka satu-satunya jalan ia harus tempuh ialah berdaya sebisa-bisanya supaya si nona bisa mendusin. Jalan itu adalah mengunakan tangannya mengurut jalan darahnya pada seluruh badannya si gadis.

Tetapi persoalan lain kini telah timbul diotaknya. Jika ia mau menggunakan cara demikian, sudah tentu ia harus meraba-raba sekujur badannya si korban. Justru orang yang terluka parah itu adalah seorang gadis remaja. Sekalipun dalam keadaan terpaksa juga rasanya masih kurang pantas kalau melakukan cara itu.

Maka ia lantas berdiri melongo sekian lamanya.

Sebentar kemudian pikiran warasnya mendorong : “kalau aku masih bersangsi terus, mungkin jiwanya tidak akan tertolong lagi. Apa boleh buat menolong jiwa orang lain lebih penting”.

Setelah mengambil keputusan tetap, ia lantas mengeluarkan kedua jari tangannya menotok seluruh jalan darah di badannya si gadis baju hitam itu.

Ketika jarinya menyentuh badan si nona, timbulah semacam perasaan yang belum pernah ada sebelumnya. Ditambah lagi kini menghadapi badan yang lebih halus dan wajah yang lebih cantik. Maka pikiran yang bukan-bukan lantas timbul dalam hatinya.

Dengan cepat ia menguatkan hatinya, sambil memejamkan kedua matanya tangannya terus digerakan. Tetapi bau harum yang keluar dari dirinya si gadis telah menusuk hidungnya. Bau harum itu kembali mengguncangkan hati nuraninya. Setelah menotok semua jalan darah disekujur badan si nona. Yo Cie Cong lalu mengunakan pula cara yang terdapat dalam perguruanya untuk mengurut sekujur badan si nona.

Napas si gadis baju hitam perlahan-lahan kelihatan mulai teratur, agaknya sudah mulai mendusin.

Ini adalah saat yang paling penting. Ia sekarang tambah berlaku sangat hati-hati.

Ketika ia mengurut-ngurut badan si nona itu, sekujur badanna juga sudah memandikan keringat, hatinya berdebaran keras bukan disebabkan karena ia menggunakan tenga terlalu banyak tetapi disebabkan karena menahan gejolaknya perasaan.

Gadis baju hitam itu sudah perdengarkan suara elahan napas, sebentar kemudian orang nya juga akan mendusin. Ia merasa seperti badannya diraba-raba oleh tangan orang, ketika ia membuka matanya wajahnya berubah merah seketika dan tangannya lantas diayun.

Suara `Plak` terdengar amat nyaring, tangan yang halus dari si gadis baju hitam lantas bersarang di pipinya Yo Cie Cong. Tamparan itu dirasakan panas sekali oleh Yo Cie Cong. Untung saja si gadis baru sembuh dari luka dalamnya, sehingga kekuatan tangannya pun jauh berkurang. Kalau tidak, mungkin Yo Cie Cong sudah dibikin rontok semua giginya.

Tetapi, walaupun demikian, tamparan itu sudah cukup membuat Yo Cie Cong termangu-mangu. Ketika ia baru turun gunung, diatas jalan raya ia sudah pernah ditampar oleh Siang-koan

Kiauw, si gadis baju merah, dan sekarang harus kembali menerima tamparan dari sigadis baju hitam ini. Maka dalam hatinya lantas timbul pikiran : “Apakah semua perempuan didunia ini begini tidak tahu diri ?”

Gadis baju hitam itu setelah memberikan tamparan kepada Yo Cie Cong, ketika melihat keadaanya Yo Cie Cong yang agak kelabakan. Segera ia ingat bahwa pemuda itu sebetulnya sedang mengobati dirinya.

Maka ia merasa jengah sendiri, dalam hatinya merasa sangat menyesal.

Dengan hati penuh penyesalan ia mengawasi Yo Cie Cong sejenak, kemudian lantas berkata :

…siaohiap, maafkan perbuatanku yang ceroboh. Tadi karena aku belum tahu persoalannya sehingga kesalahan tangan menampar pipimu. Aku sungguh menyesal…Apa kau merasa sakit ?”

Sehabis berkata, tangannya lantas mengusap-usap pipinya Yo Cie Cong.

…Tidak apa, tidak apa.” Yo Cie Cong berkata sambil miringkan kepalanya.

Gadis baju hitam ituyg terdorong oleh rasa menyesal dengan tangannya ia telah mengusap pipi si pemuda yang bekas ditampar. Setelah mendengar perkataan Yo Cie Cong ia baru merasa jengah sendirinya, cepat-cepat tangannya ditarik kembali, dengan wajah merah ia tundukan kepalanya.

Yo Cie Cong setelah mengetahui bahwa gadis itu telah sadar, lantas berdiri dan berkata dengan suara dingin :

…Nona, aku hendak pergi. Sampai bertemu kembali.”

Si gadis ketika mendengar perkataan Yo Cie Cong, tampak sepasang matanya terbuka lebar- lebar. Ia coba hendak bangun bediri, tetapi baru saja bergerak tulang-tulangnya tiba-tiba dirasakan sakit sehingga rubuh lagi sambil keluarkan jeritan `Ajoo`.

Suaranya itu telah membuat Yo Cie Cong tidak jadi pergi.

…Apakah nona membutuhkan pertolonganku ?”

…Aku Yo Cie Cong.”

…Oooo, apakah kau ini Yo Siaohiap yang dikabarkan telah menelan mustika Gu-liong-kauw dan hidup lagi sesudah mati ?”

…Kalau begitu, aku mengucapkan terima kasih atas bantuan Yo Siaohiau yang sudah mengobati lukaku. Aku bernama Tio Lee Tin. Orang dunia Kang-ouw memberi gelaran padaku Burung Hong Hitam.”

Yo Cie Cong wajahnya berubah merah, tetapi sebentar kemudian sudah menjadi kecut dingin.

Ia lalu berkata :

…Aku yang rendah masih cetek kepandaiannya. Barusan cuma menggunakan cara yang tidak berarti apa-apa suapya nona bisa mendusin saja. Sementara, mengenai luka nona, aku yang rendah sesungguhnya tidak berdaya, maka aku tidak berani menerima ucapan terima kasih nona ini.”

Tio Lee Tin setelah melihat wajahnya Yo Cie Cong untuk pertama kalinya, hatinya sudah terguncang. Kemudian ketika menyaksikan keberaniannya anak muda ini dalam menghadapi si Siluman tengkorak, maka kesannya terhadap si pemuda itu sangat dalam sekali. Ia sekarang telah menolong dirinya dengan jalan mengurut sekujur badannya. Meskipun ia hendak menolong jiwanya, tetapi sebagai satu gadis, bagaimana badanna dapat diraba oleh sembarang orang ? ia bingung bagaimana harus bertindak ?

Sekarang ia merasakan bahwa luka badannya itu tidak ringan. Urat beberapa bagian jalan darahnya sudah tertutup sehingga buat jalan saja masih merupakan pertanyaan. Apalagi harus memerlukan pengobatan yang sesama.

Maka saat itu Tio Lee Tin dalam hatinya lantas mengambil suatu keputusan.

…Yo Siaohiap, aku ada suatu pertanyaan yang tidak patut.” Demikian ia lantas berkata. Permintaan apa?”

…Tolong kau kawani aku untuk mencari suhu. Lukaku ini didalam tangannya tidak merupakan soal.”

…Dimana suhumu kini berada ?”

…Kabarnya pernah muncul di gunung Heng-san. Barangkali masih belum berlalu terlalu jauh dari gunung itu.”

…Siapakah suhumu itu ?”

…Orang berkedok kain merah.”

Yo Cie Cong terperanjat, sungguh tidak disangka bahwa suhunya nona itu adalah si pemilik bendera burung laut, itu orang berkedok kain merah yang tindak-tanduknya sangat misterius. Pantas nona ini ada mempunyai kekuatan begitu begitu hebat.

Sebetulnya ia ingin menanyakan lagi benda apa yang disebut si Siluman Tengkorak tadi, oleh karena pertanyaan demikian agak mirip dengan orang yang ingin tahu segala urusan orang lain, maka segera niatnya itu diurungkan.

Sebetunya benda Tio Lee Tin yang terjatuh ditangannya si Siluman Tengkorak hidup tadi ada mempunyai hubungan erat dengan dirinya Tio Lee Tin sendiri juga masih ada sangkut pautnya dengan dia.

Oleh karena itu ia urungkan niatnya untuk menanyakan tentang apa yang dipikirkannya tadi, maka telah menimbulkan kejadian yang berbelit-belit dikemudian hari.

Setelah berfikir sejenak, ia lalu menanya dengan suara hambar :

…Apakah nona sekarang bisa berjalan ?”

…Barangkali tidak bisa.”

…Dan …?”

…Disini letaknya tidak berjauhan dengan kota. Tolong Siaohiap carikan sebuah kereta.”

…Baik harap nona suka tunggu disini sebentar.”

Sehabis berkata ia lantas berlalu meninggalkan rimba tersebut dan setelah melalui jalan raya ia terus menuju ke kota.

Tidak sampai setengah jam ia berjalan, sebuah kereta yang cukup besar sudah berada di depan matanya.

Mendadak pada saat itu satu bayangan orang melesat dan melayang turun dihadapannya. Ketika Yo Cie Cong membuka matanya lebar-lebar, seketika itu darahnya lantas mendidih.

Orang itu ternyata adalah si Garuda Kepala Bota, slah satu kawanan penjahat yang turut ambil bagian dalam perbutan mustika Gu-liong-kao ditepi danau Naga.

…He..He…..Bocah, selamat bertemu kembali.”

…Kau mau apa ?”

Mata si Garuda Botak itu nampak berputaran, kemudian berkata dengan kata menyeramkan :

…Aku ingin pinjam sesuatu barang dari kau.”

…mustka Gu-liong-kao yang berada dalam perutmu !”

Yo Cie Cong lantas naik darah. Sambil keluarkan geraman hebat ia maju dan melancarkan serangan yang aneh. Setiap serangannya itu ditunjukan kearah bagian penting dibadannya sang lawan. Kekuatan tenaga dalamnya meskipun masih terbatas oleh karena usianya, tetapi ilmu silatnya dibawah pimpinan tiga orang kuat dari Kam-lo-pang. Sesungguhnya bukan orang sembarangan, maka serangan yang dilancarkan demikain gencarnya sesubngguhnya tidak boleh dipandang ringan.

Si Garuda kepala Botak yang semuanya menganggap ringan dirinya pemuda itu, hampir saja tergelincir dibawah tangannya.

…Setan cilik, kau mempunyai kepandaian yang berarti juga, heh !” berkata si Garuda kepala Botak, sambil melancarkan serangan pembalasan.

Sebentar saja mereka telah bertarung seruh.

Si Garuda kepala botak dengan kekuatan tenaga dalamnya yang hebat telah melancarkan serangannya dengan telapakan jari tangannya.

Sedangkan Yo Cie Cong dengan mengandalkan gerak tipu silatnya yang aneh, ternyata bisa mengimbangi kekuatannya si garuda kepala botak.

Si kepala botak tidak mengira bahwa Yo Cie Cong yang dipandang bocah ternyata mempunyai kepandaian begitu hebat, tetapi setelah 50 jurus kemudian ia lantas dapat lihat bahwa bocah ini kekuatan tenaga dalamnya masih kalah jauh dengan dirinya.

Oleh karena itu, lantas rubah ilmu silatnya, setiap serangannya dibarengi dengan serangannya yang menggunakan kekuatan tenaga dalam. Dengan demikian keadaanya lantas berubah Yo Cie Cong mulai terdesak mundur.

…Setan cilik, aku kalau membiarkan kau bertahan sampai 10 jurus lagi, selanjutnya akan meningalkan dunia Kang-ouw !”

…Setan kepala botak, kau tak usah takabur !”

…Tidak percaya kau boleh lihat !”

Si garuda kepala botak itu tiba-tiba badannya melesat tinggi keatas, setelah perputaran ditengah udara, dengan kepala dibawah dan kaki diatas, seolah-olah burung garuda, ia pentang 10 jari kedua tangannya, dengan kecepatan bagaikan kilat menyambar dirinya Yo Cie Cong.

Tapi gerakan ini telah mmengingatkan Yo Cie Cong caranya untuk menandingi lawannya.

Karena ia ada mahir sekali dalam hal ilmu menggentengi tubuh, 5 tahun lamanya ia sudah mendapat didikan dari Kam-lo-pang.

Dengan cepat ia juga melesat tinggi keatas, tepat sekali menghindarkan sambarannya si garuda kepala botak. Kemudian di tengah udara ia memutar balik tubuhnya untuk balas menyerbu lawannya.

Satu serangan hebat telah dilancarkan dari atas.

Si Garuda kepala Botak yang tidak berhasil menyambar dirinya Yo Cie Cong badannya sudah mendekati tanah. Selagi hendak naik ke atas lagi, serangan tangan Yo Cie Cong telah tiba.

Ia tidak menduga bahwa bocah itu ada mempunyai kepandaian begitu hebat, seketika itu ia jadi sangat gugup.

Si Garuda kepala botak yang juga merupakan salah satu jago yang mempunyai kemahiran dalam hal ilmu menggentengi tubuh serta sudah mempunyai latihan beberapa puluh tahun lamanya. Kalau sampai terjungkal ditangannya Yo Cie Cong bukan merupakan suatu hal yang sangat ganjil ?

Seketika itu ia lantas mengelinding di tanah, kemudian ia melesat lagi keatas dan balas menyerang dua kali.

Yo Cie Cong juga tidak berhasil dengan serangannya, lantas melayang sejauh satu tumbak lebih, untuk menghindarkan serangan lawanya yang sangat hebat.

Si kepala botak mengejar, sebaliknya lantas melayang turun ke tanah. Diwajahnya menunjukan sangat gusar, dengan mata mendelik ia mengawasi Yo Cie Cong.

Anak muda itu merasa heran, entah apa maksudnya si garuda itu….. Mendadak ada satu tangan yang halus telah diletakan diatas pundaknya. Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong, selagi hendak balikan badannya….

…Jangan begerak !” demikian ia dengar satu suara halus tapi bengis sedang tangan yang diletakan diatas pundak kini telah mencengkram dengan keras.

Suara yang halus bengis itu rasanya sudah tidak asing lagi bagi Yo Cie Cong. Suara itu adalah suara satu wanita. Dalam keadaan kejepit Yo Cie Cong mendadak timbul akalnya, dengan kedua sikutnya ia menumbuk ke belakang.

Gerakannya itu sangat bagus sekali, tapi juga agak keterlaluan.

Sikut itu agaknya menyentuh benda yang lunak dan membal, kemudian disusul oleh suara bentakan, tapi Yo Cie Cong sudah mengunakan kesempatan itu melesat sejauh 5 kali, dengan cepat balikan tubuhnya. Orang yang mencekal pundaknya tadi adalah Cin Bie Nio.

Wanita centil genit itu tangannya sedang mendekap dadanya, wajahnya nampak pucat, tapi matanya beringas.

Kiranya sikut Yo Cie Cong tadi dengan cepat telah mengenakan kedua buah dadanya.

Yo Cie Cong sangat benci sekali terhadap wanita kejam dan genit itu, maka lantas menanyasambil gertak gigi :

…Cin Bie Nio, kau mau apa ?”

…Aku hendak bunuh maati kau !”

Si garuda kepala botak yang berdiri disamping lantas berkata dengan suara mendongkol.

…Cin hweetio, bocah ini adalah yang menemukan lohu lebih dulu !”

…Kalau kau yang menemukan mau apa ?”

…Aku hendak bawa ia pergi !”

…Bawa pergi ? Haha, kau boleh coba bawa !”

Si garuda kepala botak gusar sekali, dengan kecepatan kilat ia menyerang Yo Cie Cong dengan tenaga penuh.

Mendengar pembicaraan meraka, Yo Cie Cong dadanya hampir meledak. Dengan gesit sekali ia mengelakan serangan dan tahu-tahu sudah berada disamping dirinya si Garuda kepala botak.

Dengan gemas sekali ia melontarkan satu serangan.

Si Garuda kepala botak ada seorang yang sangat licin, ia menyingkir maka sambil perdengarkan suara ketawanya yang seram. Serangannya dimiringkan ke samping.

Dengan demikian, dengan cepat ia menyambuti serangannya Yo Cie Cong.

Tidak ampun lagi, kekuatan dari kedua pihak lantas saling beradu, Yo Cie Cong terpental mundur sampai tiga tindak.

Untung serangannya si Garuda kepala botak sendiri karena adanya perubahan gerakannya tadi, kekuatnnya juga sudah kurang banyak. Kalau tidak, Yo Cie Cong pasti akan terluka parah.

Sesaat selagi kedua lawan itu memisahkan diri………..

Serangannya tangan Cin Bie Nio dengan diam-diam tapi cepat dan ganas sekali sudah menghajar si garuda kepala botak dari belakang.

Si Garuda kepala botak ketika merasakan dibelakang dirinya ada sambaran angin, badannya lantas melesat kedepan, kemudian tangannya membalik menyambuti serangan Cin Bie Nio. Tidak tahu kalau Cin Bie Nio sudah menduga akan gerakan si Garuda kepala botak itu, maka serangannya tadi dilontarkan seperti mengacip. Maka serangan tangan si Garuda kepala botak tadi lantas mengenakan tempat kosong, sedang serangannya yang bergaya mengacip dari Cin Bie Nio dengan tepat telah mengenakan dirinya.

Tidak ampun tubuhnya si Garuda kepala botak itu lantas terpental sejauh satu tumbak lebih.

Si Garuda kepala botak dengan menahan darahnya yang mengolak, ia lompat bangun dan menegur Cin Bie Nio dengan suara bengis :

…Cin Bie Nio, perbuatanmu yang membokong tadi, apa patut dilalukan oleh seorang gagah seperti kau ?”

…Hihihi ! dengan seorang semacam kau, perlu apa bicara tentang aturan ?” Pada saat itu, 10 orangnya Cin Bie Nio sudah berada didepannya.

Mereka merupakan 5 orang laki-laki pertengahan umur dan 5 perempuan yang amat cantik.

Yo Cie Cong hatinya berkecat, nampaknya 5 laki-laki dan 5 perempuan muda itu tentunya ada anak buahnya Cin Bie Nio, orang-orang dari Pek-leng-hwee.

10 laki-laki dan wanita itu setelah berada didepannya Cin Bie Nio, mereka lantas pada membungkukan badan untuk memberi hormat.

Cin Bie Nio anggukan kepala, kemudian mengeluarkan perintahnya :

…Sepuluh anak buahku dengar !” …Kami bersedia menerima perintah hweetio !” jawab mereka berbarengan.

…Tangkap Setan kepala botak ini dan bawa pulang kepusat kalau perlu bunuh mati saja !”

…Baik !”

Si Garuda kepala botak ketika mendengar perkataan Cin Bie Nio, bukan kepalang gusarnya. Ia sendiri juga merupakan salah seorang jago terkenal dikalangan Kang-ouw-ouw, bagaimana mandah dipermainkan oleh seorang wanita ?

…Cin Bie Nio, kau perempuan hina, aku siorang tua tidak mau sudah dengan kau !” demikan bentaknya si garuda kepala botak.

Tapi sehabis membentak, dirinya sudah dikepung oleh 10 orang-orangnya Cin Bie Nio.

Cin Bie Nio ada seorang wanita yang sangat jahat dan kejam. Ia bermaksud hendak membunuh mati si garuda kepala botak, sepaya rahasianya tidak di bocorkan.

Sebab terhadap dirinya Yo Cie Cong, wanita jahat kejam dan genit itu ada mengandung maksud `istimewa`. Tapi Yo Cie Cong yang dengan secara kebetulan sudah menelan mustika Gu- liong-kao, kini sudah menjadi perhatian orang banyak didunia Kang-ouw, Hari itu ia sudah bertekad bulat hendak membereskan dirinya Yo Cie Cong, apalagi hal ini tersiar dikalangan Kang- ouw maka ia mendatangkan bencana besar bagi Pek-leng-hwee di kemudian hari. Oleh karena itu, ia harus bunuh mati si garuda kepala botak ini, agar rahasianya tertutup selama-lamanya.

Cin Bie Nio melirik kepada si Garuda kepala botak yang dikurung oleh 10 orang buahnya, kemudian berpaling, dengan sepasang matanya yang genit ia menatap wajahnya Yo Cie Cong.

Anak muda itu mengerti bahwa pada saat itu sudah tidak mungkin untuk melepaskan diri dari tangan musuh-musuhnya itu. Maka ia lantas berlaku nekad. Dengan maju beberapa tindak ia lantas berkata sambil menuding Cin Bie Nio :

…Perempuan hina yang tidak tahu malu, kau hendak berbuat apa ?”

Cin Bie Nio ada satu ketua dari satu perkumpulan besar, meskipun sifatnya genit, tapi belum perah dimaki dan dituding demikian rupa. Maka dalam gusarnya ia lantas tertawa bergelak-gelak kemudian menjawab :

…Bocah, kau nanti akan tahu sendiri !”

Ucapan itu diberengi dengan serangan tangannya yang sangat hebat.

Dilain pihak, si Garuda kepala botak yang dikerubuti oleh 10 anak buahnya Cin Bie Nio dengan cepat sudah mulai keteter. Tapi ia masih berdaya hendak melepaskan diri dari kepungan.

10 anak buahnya Cin Bie Nio itu ada orang-orang yang pernah didik sendiri oleh ketua Pek- leng-hwee yang lama. Kekuatan tenaganya dan kepandaiannya cukup kuat, apalagi dengan bekerja sama 10 orang mereka satu sama lain nampaknya sudah saling mengerti, meski si Garuda kepala botak ada seorang berkepandaian tinggi, tapi juga tidak berdaya melepaskan diri dari kepungan 10 orang itu.

Yo Cie Cong dengan hati gemas, telah keluarkan semua kepandaiannya untuk menghadapi Cin Bie Nio. Dengan secara nekad ia berikan perlawananya, hingga untuk sementara Cin Bie Nio juga tidak berdaya.

Tidak lama kemudian, si Garuda kepala botak sudah ditangkap hidup-hidup oleh 10 orang anak buahnya Cin Bie Nio.

Dipihaknya Cin Bie Nio, setelah melancarkan serangannya sampai 10 kali, ia baru berhasil memukul mundur Yo Cie Cong, kemudian ia berkata kepada 10 anak buahnya :

…Kalian pulang dulu, hati-hati dengan tawananmu itu !”

10 anak buahnya, Cin Bie Nio setelah mendapatkan perintah dari ketuanya, lantas berlalu sambil membawa dirinya si Garuda kepala botak.

Cin Bie Nio setelah perintah anak buahnya pulang lantas berpaling menghadapi Yo Cie Cong. sambil ketawa terkekeh-kekeh dan kerlingkan mata ia berkata :

…Bocah, hari ini kalau kau bisa lolos dari tanganku, percuma saja aku menjadi ketua Pek-leng- hwee !

Sehabis berkata, lengan bajunya yang panjang lantas dikebutkan didepan wajahnya si anak muda.

Yo Cie Cong matanya mendelik, selagi hendak turun tangan mendadak bau harum menusuk hidungnya, ia lantas merasa gelagat tidak baik, tetapi sudah terlambat. Saat itu ia rasakan puyeng kepalanya, matanya berkunang-kunang, kaki dan tangannya pada lemas dan lantas jatuh rubuh ditanah.

Cin Bie Nio maju menghampiri, dengan tangannya yang putih balus ia mengelus-elus wajah Yo Cie Cong, matanya memancarkan sinar aneh yang menakutkan.

Yo Cie Cong ingatannya masih sadar matanya masih bisa melihat, saying badannya tidak bisa bergerak, mulutnya tidak bisa dibuka.

Hampir saja ia pingsan karena gusarnya.

Cin Bie Nio dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah botol kecil, dari botol itu mengeluarkan sebuah obat pil warna merah dadu. Dengan paksa ia dijejalkan masuk pil itu kedalam mulut orang, hingga tanpa diingin pil itu kena ditelan Yo Cie Cong. Setelah mana, si genit tertawa cekikikan, katanya :

,, Engko kecil yang manis, pil tadi dinamakan pil sorga dunia untuk satu malaman, setelah kau makan, kutanggung kau akan mendapat kesenangan dan kepuasan. Tapi itu hanya sekali saja setelah itu, kau akan menjadi orang yang bercacat selama-lamanya. Aku Cin Bie Nio tidak suka kau orang yang begini cakap menjadi rebutan orang banyak, maka aku harus menyingkirkan kau dari dunia. Mustika Gu-liong-kao dalam perutmu itu hitung-hitung sebagai gantinya untuk kesenangan dan kepuasanmu.’’

Sehabis berkata, kembali ia tertawa terkekeh-kekeh.

Yo Cie Cong buka lebar-lebar sepasang matanya, tampak tegas sekali berapa gusar hatinya saat itu, matanya membara seperti mengandung api.

Cin Bie Nio dengan wajah ramai senyuman membukukan badan kemudian kempit badannya Yo Cie Cong dibawah ketiaknya, dengan cepat ia sudah berlari menuju ketempat belukar.

Tidak antara lama tibalah, disuatu tempat sepi sunyi, disitu ada terdapat sebuah kelenteng tua yang sudah rusak keadaanya.