Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 04

Jilid 04

Untuk sesaat lamanya, ia berdiri seperti patung.

Satu utusan saja sudah demikian hebat kekuatannya, apalagi majikannya, pikirnya.

Thian-san Liong-lie dengan berpendirian menantikan perkembangan lebih jauh, lalu melanjang sejauh 5 tumbak, namun sepasang mata terus ditunjukan kedalam kalangan tanpa berkesip.

Utusan burung laut angka ‘1’ itu lantas maju dua tindak dan berkata kepada si iblis wajah singa

,, Bagaiman dengan saudara ?’’

Si iblis wajah singa yang dengan senjatanya yang istimewa telah berhasil membinasakan Gu-

liong-kauw, sebetulnya mustikanya sudah berada dalam tangannya, siapa Tanya kemudian menjadi barang rebutan kawanan iblis, sehingga secara kebetulan masuk kedalam perutnya Yo Cie Cong.

Dan setelah bertempur mati-matian sampai ia kehilangan sebelah lengannya, kini muncul dua orang yang mengaku sebagai utusan burung laut, biar bagaiman ia tentu tidak mau mengerti, apalagi dalam tanganya masih ada mempunyai senjatanya yang paling ampuh, sudah tentu tidak mau mandah begitu saja.

Maka setelah mendengar pertanyaan sang utusan itu, lantas menjawab sambil perdengarkan suara ketawanyayang aneh :

,, Lohu tidak akan berlalu dari sini, saudara mau apa ?’’

,, Didalam dunia Kang-ouw belum pernah ada orang yang berani menatang terang-terangan perintahnya pemilik bendera burung laut !’’berkata utusan angka ‘1’ itu. ,, Lohu justru tidak mau percaya segala omong kosong demikian, bocah ini pasti lohu hendak bawa !’’ jawab si iblis dengan mata beringas.

,, Dimana bendera burung laut sampai, siapa yang menentang berarti binasa !’’

Bicaranya sang utusan itu diucapkan sepatah demi sepatah, dan perkataan yang paling terahir itu ia sengaja tandaskan demikian rupa.

Si iblis wajahnya berubah seketika, sambil kertak gigi ia berkata dengan suara bengis :

,, Lohu ingin sekali belajar kenal dengan kepandaiannya partai burung laut, ada apanya yang patut dibanggakan, sampai begitu berani tidak memandang mata segala orang heh, heh……’’

,, Kau masih belum berhak untuk belajar kenal !’’ bentak si angka ‘1’. Si iblis wajah singa yang sudah meluap kegusaranya, lantas

Angkat tangan kirinya. Benda kecil hitam dalam gengamanya sudah akan dilemparkan. Jika hal demikian terjadi, maka 4 orang yang berada di situ akan binasa semuanya.

Dua orang utusan burung laut itu lantas mundur 2 tindak.

Pada saat itu Yo Cie Cong perlahan-lahan sudah pulih kekuatanya. Wajahnya yang pucat pasi, perlahan-lahan berubah merah, mungkin itu ada pengaruhnya mustika Gu-Liong-Kauw yang masuk dalam perutnya.

Tapi ia tau bahwa bahaya maut masih belum berlalu dari depan matanya.

Nama pemikik bendera burung laut itu ia belum pernah dengar tapi sekarang tiba-tiba datang utusanya yang hendak membawa ia pergi, ini sesungguhnya sangat aneh.

Dengan sorot mata yang dingin ia mengawasi wajah orang-orang yang ada disitu, hatinya merasa mendelu.

Malam sudah mulai tiba, keadaan seputar situ sudah agak gelap, keadaan itu nampaknya bertsmbsh menyeramkan.

Utusan burung laut itu meski mempunyai kepandayan tinggi, tapi menghadapi keadaan demikian, agaknya juga merasa sulit, tidak bisa mengambil keputusans.

Karena setiap kali bendera burung laut itu muncul, segala sesuatu bisa dibnereskan dengan segera. Maka kalau hari ini tidak bisa menghadapi persoalan yang agak sulit ini, bendera kecil ini selanjutnya akan tidak berharga lagi.

Dipihak Si Iblis Raja Singa, sudah berkeputusan hendak menghancurkan semua orang yang ingin mendapatkan dirinya Yo Cie Cong, sekalipun ia sendiri harus binasa.

Ia tidak senang barang yang ia ingin dapatkan terjatuh kepada orang lain. Orang yang ia paling benci adalah

Cin Bie Nio, itu wanita yang setengah tua yang genit dan jahat. Jikalau ia tidak ada Cin Bie Nio yang selalu menghalang-halangi, mustika Gu-Liong-Kauw itu siang-siang sudah menjadi kepunyaanya.

Maka ia merasa gemas sekali terhadap Cin Bie Nio, ia ingin bisa membesat kulitnya dan kemudian memakan ginjalnya.

Pikiran jahat lalu timbul dalam hatinya : “Jika aku bisa berusaha membinasakan perempuan tua yang genit dan jahat bisa binasa lebih dulu, sekalipun aku sendiri binasa aku puas”.

Maka ia lantas berkata kepada kedua utusan itu:….Lohu ingin melepas bocah ini, juga tidak akan menggunakan senjata lohu yang ampuh itu, tapi ada syaratnya. Kalian harus melakukan sesuatu untuk Lohu”.

Kedua utusan itu saling memandang sejenak, untuk sementara tidak bisa menjawab.

Merasa merasa heran, mengapa iblis itu bisa mengatakan demikian? Dan apa syarat yang hendak diajukan? Kiranya syarat itu tidak mudah tentunya.

Karena kedua utusan itu wajahnya tertutup oleh kedok kain hitam, maka tidak bisa dilihat bagaimana sikapnya pada saat itu.

Thian –san Liong Tie dan Siang Koan Kiaw yang berdiri ditempat sejauh 5 tumbak, ketika menyaksikan orang yang mereka sangat perhatikan keselamatanya berada dalam keadaan bahaya, hati mereka sangat gelisah.

Mereka ingin menggempur iblis wajah singa itu,tapi kuatir membuat gusar iblis itu dan betul- betul melemparkan senjatanya yang bisa meledak itu, sehingga Yo Cie Cong juga turut binasa.

Sebentar kemudian.

Utusan burung laut angka “I” mendadak berkata: ..syarat apa yang saudara hendak ajukan ? coba sebutkan!” Si iblis wajah singa itu dengan matanya yang buas mengawasi Chin Bie Nio juga berdiri jauh-jauh, kemudian berkata sambil kertak gigi:

…..perlu Lohu jelaskan dulu, apa bila syarat ini tidak trpenuhi, maka lohu akan bawa bocah ini pergi. Sipa yang berani menghalangi, kita akan bisa bersama-sama dibawah senjata peledak ini.

Perkataan yang kejam dan tidak tau malu ini, membuat kedua utusan itu tercengang.

..sahabat boleh sebutkan dulu !”

..Lohu dengan wanita baju putih itu, mempunyai permusuhan yang sangat dalam. Kalian berdua coba pergi tangkap padanya setelah lohu pergi dengan tangan sendiri coba membereskan musuh ini, lantas berlalu dengan tangan kosong. Bagaimana?

Maksud dan tujuan si iblis itu, kendak menggunakan tenaganya dua utusan itu untuk menangkap diti Cien Bie Nio, kemudian mati bersama-sama.

..yang sahabat maksud apakah bukan ketua perkumpulan Pek-Leng-Hwee ?.” Benar, dengan kepandaian kalian berdua, rasanya tidak sulit menangkap dia !.”

.. kita berdua hanya mendapat perintah dari majikan bocah ini, tidak mencampuri urusan lainya. Tentang maksudmu ini maaf kami tidak terima !.”

..kalian tidak pikirkan akibatnya?”

..syarat ini kami tidak terima!.”

..jangan sesalkan kalo Lohu berlaku kejam, kita terpaksa harus binasa bersama-sama!” si iblis itu kembali mengancam dengan senjatanya yang ampuh.

Ketegangan makin memuncak, peristiwa yang sangat mengenaskan rasanya tidak dapat dielakan lagi.

Tian-san Liong-lie dan siang koan Kiaw wajahnya berubah pucat, mereka tidak bisa membayangkan bagaimana kesudahanya. Apabila siiblis itu benar-benar buktikan ancamanya.

Dua utusan burung laut itu telah mendapat perintah dari atasanya, tapi tidak berhasil melaksanakan tugasnya, sekalipun dirinya akan dirinya bakal hancur lebur, juga tidak akan mundur setengah jalan sebab ini menyangkut nama baik partai burung laut.

Pertama saja kedua utusan itu sudah nenpunyai kepandayan yang sangat tinggi karena pada saat itu mereka tidak berdaya sama sekali.

Sebentar saja suasana nampak semakin gawat . Mendadak suara nyaring terdengar menggema diudara.

..utusan angka 1 dan 7 lekas mundur, biarlah punleng yang menyelesaikan persoalan ini sendiri.

Kedua utusan itu tanpa banyak bicara lantas melesat sejauh lima tumbak lebih., sekali bergerak lagi. Sudah lenyap dalam kegelapan kegesitanya itu sungguh mengagumkan.

Hati orang-orang pada berdebaran, karena manusia yang sangat misterius itu akan segera muncul. Entah dengan cara bagaimana ia dapat membereskan masalah ini.

Didalam hatinya siiblis wajah singa, tiba-tiba timbul kekejamanya

Dengan kecepatan luar biasa ia pindahkan senjata ampuhnya, kebawah ketiak kanan, tangan kirinya sudah siap sedia mencegah segala kemungkinan, ia lantas menengok ke dalam liang yang dalam dan gelap gulita. Bekas tempat persembunyian Gu-Liong-Kauw. Bagaimana keadaanya didalam liang itu, tidak seorang pun yang tau.

Si Iblis wajah singa dengan mendadak menubruk dirinya Yo Cie Cong, kemudian lemparkan matanya, kedalam liang yang dalam itu. Supaya simustika yang direbut itu tidak jatuh pada siapapun juga.

Kekejaman iblis tua itu, sesungguhnya sukar dicari keduanya. Serangan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu, sudah Tentu ada yang sanggat hebat.

Yo Cie Cong yang kekuatan tenaganya baru pulih dua bagian terang tidak mampu menyingkir.perbuatan si iblis tua ini benar –benar dugaan semua orang suara jeritan terdengar.mulut Yo Cie Yong menyemburkan darah segar,badan nya terpental tinggi seolah –olah jangan putus talinya tubuhnya meluncur hendak masuk kedalam liang.suara jeritan dua wanita terdengar,disusul oleh melesatnya dua bayangan orang laksana anak panah cemburu pada Yo Cie Cong. Hampir bersamaan pada saat itu juga,kembali satu bayangan melesat kearah jatuhnya Yo Jjie Cong.

Ketika dua bayanggan yang disebut duluan hampir tiba di dekat liang, tubuhnya Yo Cie Cong sudah disambar oleh bayangan orang yang melesat belakangan tadi.

Dua bayangan orang yang bergerak duluan tadi adalah Thian-san Liong-lie dan Siang-koan kiauw.setelah menjerit kaget mereka enjot badannya melesat untuk menolong Yo Cie Cong

Pada saat itu,orang yang bergerak berhasil menyambar dirinya Yo Cie - Cong,dengan sangat hati-hati meletakan tubuhnya Yo Cie Cong ditanah.ia mencoba memeriksa jalan pernapasan,lantas geleng-gelengkan kepalanya sambil menghela napas kemudian menghampiri si iblis wajah singa.

Orang itu badanya tinggi langsing,wajah nya di tutupi oleh kedok warna merah mengenakan pakaian baju panjang.Gerakannya gesit luar biasa.

Thian-san Liong-lie dan Siang-koan Kiaw tidak mau memperhatikan orang yang baru datang itu,ia merasa ngeri terhadap orang aneh itu yang jalan menghampiri padanya.

Sebentar kemudian orang itu sudah berdiri dihadapannya kira2 dua kaki jauhnya.

Orang itu pertama-tama mengambil bendera kecil yang menancap ditanah,kemudian dimasukan kedalam sakunya.

Si iblis wajah singa sudah dapat menduga siapa adanya orang itu,hatinya agak bimbang.tetapi ia masih mau mengandalkan senjata peledak didalam tangan nya yang dianggap dengan senjata itu mampu melindungi dirinya.

Saat itu ia coba berlaku tenang sebisanya,dengan suara bengis ia menanya: ”..kau siapa ?”

”..pemilik bendera burung laut !”jawab orang berkedok itu dengan dingin.

Jawaban yang sangat ringkas itu telah membuat orang2 Pek-Leng-Hwee dan kedua berdiri jauh2 pada terperanjat dan gemetaran.

Karena manusia aneh yang sangat misterius itu benar2 telah muncul.

Sipemilik golok maut yang telah di kuatirkan oleh ketua Pek-Leng-hwee dan kedua pangcu ternyata sehingga saat itu masih belum menunjukan dirinya dan sebagai gantinya telah muncul si pendekar aneh ini sesungguhnya ada diluar dugaan mereka.

Kalau begitu,pemuda yang bersikap dingin kecil itu mungkin benar tidak ada hubungannya dengan pemilik golok maut.tetapi kepandaian ilmu silatnya yang pernah diperlihatkatnya,merupakan kepandaian yang hanya dimiliki oleh Pangcu dari Kam-Lo- Pang.dan orang yang mengganas dengan Golok maut itu pernah menyebut dirinya sebaggai Pangcu dari Kam-lo-Pang.

Sudah tentu mereka tidak mengetahui bahwa pemilik golok maut yang asli yang selama waktu empat bulan pernah menggerakan dunia rimba persilatan,sudah kepergok jejakanya oleh musuh lama yang merupapakan musuh nomor satu.ia dikuntit dan kemudian di binasakan.

Sedangkan orang yang melakukan pembunuhan terhadap dirinya Si-buli2 wajah burung sebetulnya adalah pengganti pemilik Golok maut,bukannya Golok Maut yang asli.

Dan penggantinya itu adalah Yo Cie Cong yang saat itu masih belum diketahui nasibnya. Baiklah kita tinggalkan dulu tentang pikiranyakedua pancu dan ketua dari Pek-Leng-Hwee itu.

Sekarang kita balik lagi kepada si iblis wajah singa yang saat itu menjadi gelap pikirany,maka ia lantas menanya pula kepada orang di depannya :

,,mengapa sahabat mencampuri urusan ini ?”

,,hal ini tidak perlu kau menanyakan.”

,,bagaimana maksudmu ?”

,,menurut kebiasaan,siapa yang berani menentang perintah burung laut berarti mati !”

,,Huhh,huhh! dengan satu jiwa aku tukar dengan jiwamu,hitung2masih tidak rugi!”kata si iblis sambil mengacungkan senjata peledak di tangannya.

,,sebutir peluru kecil ini dapat digunakan untuk menggertak orang2 biasa,tetapi bagiku tidak ku pandang sama sekali .”

,,kallau begitu kau boleh coba merasakan peluru kecil ini.”

,,bagus!”

Orang berkedok kain merah itu mengucapkan “bagus!badanya bergerak laksana kilat. Si iblis wajah singa itu belum sempat memikirkan apa yang terjadi,didepan matanya mendadak berkelebat bayangan kemudian tanggannya menjadi ringan benda kecil hitam yang dianggap mempunyai pengaruh melindungi dirinya tahu2 sudah berada ditangan orang lain. 

Semangatnya lantas terbang seketika. Wajahnya pucat seperti mayat.

Perbuatab yang dilakukan oleh orang berkedok itu tadi seolah-olah bukan perbuatan manusia. Orang berkedok itu tiba-tiba pendengaran suaranya yang nyaring.

Sambil ketwa orang berkedok itu mengagkat takan kananya.. 5 jari tanganya kelihatan menunjuk pada si Iblis wajah singa. Jari-jari itu mengeluarkan amgin tajam yang luar biasa hebatnya.

Suara jeritan si Iblis lantas terdengar, Iblis raja singa yang terkenal kejam dan ganas itu telah tamat riwayatnya.

Orang berkedok sehabis membereskan Iblis raja singa itu lalu memutar tubuhnya, dengan perlahan menghampiri Yo Cie Cong.

Bab 8

DIRINYA Yo Cie Cong yang dibuat terpental oleh serangan si Iblis wajah singa, kalau tidak keburu disambar oleh orang berkedok itu, sudah tentu tamat riwayatnya. Dan orang berkedok itu karena anggap ditanganya sio Iblis wajah singa masih mempunyai senjata peledak yang sangat ampuh, maka lantas mengambil keputusan. Untuk membereskan si Iblis wajash singa itu.dulu.

Yo Cie Cong yang menggeletak ditanah, dari mulut, hidung dan telinganya mengeluarkan darah matanya tertutup rapat, keadaanya sangat mengenaskan.

Thian-san Liong-lie dan siang-koan Kiauw yang sudah berada didampinginya, lantas memreiksa pernafasanya, yang ternyata sudah tidak ada, sedang jantungnya juga sudah berhenti, sekujur badannya sudah mulai kaku dingin. Maka seketika itu mereka jadi tertegun.

Siang-koan Kiauw sudah melupakan keadaan dirinya sebagai seorang gadis, telah memeriksa urat-urat penting pemuda itu. Ia kaget dan menangis, dengan suara yang terisak-isak ia bertanya Thian-san Liong-lie.

…Bibi Tho……! Dia………dia……..

Karena tadi ia dengar Yo Cie Cong membahas Tian-san Liong-tie “bibi” dalam keadaan cemas seperti itu, ia juga turut menggunakan panggilan ‘bibi” itu.

Tapi pertanyaanya tidak dilanjutkan, karena suara tangisan sudah tidak dapat dicegah lagi.

Ia agaknya sudah mendapat firasat yang tidak baik, tapi ia masih bertanya juga, dengan perngharapan dari mulutnya orang lain. Tidak membenarkan dugaanya sendiri yang sngat menakutkan.

Sepasang mata Thian-san Liong-lie sudah basah dengan air mata parasnya pucat pasi. Dengan perlahan ia angkat kepalanay, sambil menghela nafas panjang ia menatap wajah siang-koan Kiauw-jie, kemudian dengan suara sediah ia menjawab :

,, Nona siang-koan Kiauw ! dia……dia……..

,, Dia bagaimana ? apa masih ada harapan untuk ditolong ?’’

”Dia sudah mati,”jawab Tian Liong-lie. Sambil gelengkan kepala.…Mati….Dia sudah mati…?

Parasnya siang-koan Kiauw berubah menjadi pucat. Mulutnya mendumal sendiri, seperti sedang mengigo. Air matanya mengalir deras dari sela-sela matanya.Hati seorang gadis putih bersih telah hancur luluh.

”…Bibi Tho ! apakah ini benar ? demikian ia bertanya.

Nona siang-koan Kiauw dai bukan apa-apaku, aku hanya merasa bahwa dengan bocah ini aku seperti merasa cocok. Selain dari pada itu, sebagai manusia yang mempunyai perasaan, peri kemanusiaan, aku tidak bisa tinggal peluk tangan!, “jawab Thian-san Liong-lie ”.yang kemudian balas menanya;

”…nona Siang-koan Kiauw kau mencintai dia ?” Pertanyaanya secara terus terang ituy telah membuat jengah Siang-koan Kiauw. Setelah menyusut air matanya, yang mengalir di kedua pipinya, nona itu menjawab sambung menghela nafas:

“yah dia sudah binasa !”

Angin malam meniup kencang, kesunyian meliputi jagat, kedukaan dan kesedihan dilubuk hatinya kedua wanita itu.

…bibi Tho siapanamanya ?”

…eh !, “ pertanyaan itu sesungguhnya membuat heran Thian-san Liong-lie dan siang liang koan. Yang sudah berada disampingnya.lantas memeriksa pernapasannya,yang ternyata sudah tidak ada,sedang jantungnya juga sudah berhenti berdenyut,sekujur badannya juga sudah mulai kaku dingin.maka seketika itu mereka tertegun.

Siang-koan kiauw saat itu telah sudah melupakan keadaannya sendiri sebagai seorang gadis,telah memeriksa urat2 penting dari pemuda itu.Ia kaget dan menangis,dengan suara tersiak2 ia bertanya pada Thian-san Liong-lie

,,Bibi Tho…! dia…dia…”

Karma ia tadi dengar Yo Jie Cong membahaskan Thian-san Liong-lie’Bibi,dalam keadan cemas seperti itu,ia pun turut menggunakan panggilan itu.

Tapi pertanyaannya tidak dapat dilanjutkan,karena suara tangisan sudah tidak dapat di cegah lagi.

Ia agaknya mendapat pirasat tidak baik,tetapi ia masih menya juga,dengan pengharapan dari mulut orang lain.tidak membenarkan dugaannya sendiri yang menakutkan.

Sepasang matanya Ia agaknya mendapat pirasat tidak baik,tetapi ia masih menya juga Thian- san Liong-lie sudah basah dengan air mata parasnya pucat pasi.dengan perlahan ia angkat kepalanya, sambil menghela napas panjang ia mengawasi wajahnya.

...Nona Siang-koan ! dia…..dia….

…Dia bagaimana ? apa masih ada harapan untuk ditolong ?”

…Dia sudah mati.” Jawabnya Thian-san Liong-Lie sambil gelengkan kepala.

…Mati ? dia sudah mati ?”

Parasnya Siang-koan Kiauw berubah menjdi pucat, mulutnya mendumel sendiri. Seperti sedang mengigo. Air matanya mengalir deras dari sela-sela matanya, hati seorang gadis yang masih putih kini telah hancur luluh !”

…Bibi Tho !apakah       ini ada benar ?” demikian ia bertanya seperti orang linglung.

...Nona Siang-koan Kiauw. Itu adalah benar….sudah tidak tertolong lagi!”

…Bibi Tho ! ijinkanlah aku menyebut demikian kepada dirimu : dia ….dia pernah apa dengan kau ?”

Thian-san Liong-Lie tergoncang hatinya ketika mendengar pernyataan seperti itu. Sudah tentu ia tidak bisa menjawab. Yo Cie Cong ada sangat mirip dengan kekasihnya yang sepuluh tahun lebih lamanya ia piker dan cari-cari. Dia merupakan sebuah jawaban kedua. 

Kalau ia tadi sampai tidak menghiraukan jiwanya sendiri hendak menolong jiwanya Yo Cie Cong sebab pemuda ini sikap dan wajahnya ada sangat mirip dengan kekasihnya pada sepuluh tahun berselang hingga dianggapnya seperti penjelmaan sang kekasih yang sudah lama tidak kedengaran kabar ceritanya itu.

Seandainya jarum lonceng mundur 10 tahun ia bisa anggap pemuda itu kekasihnya.

…Nona Siang-koan Kiauw. Dia bukan apa-apa ku, aku hanya merasa bahwa dengan bocah ini kau merasa cocok. Selain dari pada itu sebagai manusia yang mempunyai perasaan prikemanusiaan, aku tidak bisa tinggal peluk tangan !” jawab Thian-san Liong-Lie yang kemudian balas menanya :

…Nona Siang-koan Kiauw kau mencintai dia ?”

Pertanyaaan secara terus terang itu telah membuat jengah Siang-koan Kiauw. Setelah memesut air matanya yang memgalir di kedua pipinya, nona itu menjawab sambil menghela napas :

…yah dia sudah binasa !”

Angin malam meniup kencang, kesunyian menyelimuti jagat kedukaan dan kesedihan menindik lubuk hatinya kedua wanita itu.

…Bibi Tho Hui Hong, dia siapa namanya ?” …Eh !”

Pertanyaan itu sesungguhnya membuat heran Thian-san Liong-Lie. Cinta itu benar-benar buta.

Nona ini yang masih belum mengenal nama orang yang di cintainya. Dan toh sudah berani mempertaruhkan jiwanya untuk membela !”

…Dia bersama Yo Cie Cong !”

…Yo Cie Cong !” Siang-koan Kiauw menyebut nama itu sampai berulang-ulang. Hening……….

Kedua wanit itu masing-masing mengandung perasaan sendiri-sendiri……

Nona baju merah Siang-koan Kiauw sejak dilahirkan di dalam dunia untuk pertama kalianya telah jatuh cinta kepada seorang laki-laki. Hatinya seorang gadis yang masih putih bersih telah di doberak oleh Yo Cie Cong tapi sekarang orang yang dicintainya itu sudah tidak bernyawa ….

Mungkin cintanya itu hanya sepihak saja sebab pemuda itu cinta padanya atau tidak. Masih merupakan sebuah pertanyaan tapi ia tidak berpikir demikian cinta adalah cinta biar walau bagaimana cinta ia timbul dari hatinya yang suci murni.

Pada saat itu hatinya sedang diliputi oleh kedukaan putus asa dan kehilangn pegangan.

Lain pula sifatnya rasa cinta Thian-san Liong-Lie yang di curahkan kepada Yo Cie Cong cintanya bukan cinta birahi, bukan karena pemuda itu mempunyai wajah yang cakap tampan. Tapi semata- mata ia ada mirip dengan wajahnya seorang yang pernah `menempati ` hatinya pada sepuluh tahun lebih berselang.

Namun ia juga merasa seperti kehilangan hingga hanxur luluh hatinya.

…Aih !”

Suara elahan napas berat telah memecahkan kesunyian dn mengejutkan kedua wanita itu, hingga kedua-duanya lantas menoleh dengan serentak.

Seorang dengan kedok kain merah entah sejak kapan sudah berdiri di belakan g mereka.

Kedua wanita itu seolah-olah sufah tidak tahu kalau orang berkedok kain merah itu tadi sudah membinasakan si iblis wajah singa. Karena hati mereka sedang diliputi oleh perasaan duka yang terlalu hebat.

..Aih ! Tuhan sudah menjelmakan dia di dunia mengapa tidak diberikan umur panjang ? Bakat dan tulang-tulangnya anak inii dalam beberapa ratus tahun lamanya susah ditemukan keduanya. Apalagi dengan secara kebetulan sudah menelan mustika Gu-lion Kauw tidak susah membuat dia jadi seorang kuat nomor satu dalam rimba persilatan : Apamau sekarang telah direnggut jiwanya oleh orang jahat ah ! Tuhan sesungguhnya tidak adil ! demikian orang berkedok itu berkata seolah-olah kepada dirinya tapi juga seperti ditunjukan kepada kedua wanita itu.

Thian-san Liong-Lie seperti pernah dengar suaranya orang berkedok itu , begitu pula dedak dan sikapnya tapi pada saat itu sudah tidak ingat lagi. Mak ia lantas bertanya :

,,Bolehkah tuan memberitahukan kepada kami nama tuan yang mulia ?”

Orang yang berkedok itu agaknya dibikin kaget oleh pertanyaan itu. Badannya agak gemetar, ia mundur satu tindak lama baru menjawab dengan perasaan dingin :

…Pemilik bendera burung laut !”

….yang kutanyakan adalah nama tuan yang mulia ?” Thian-san Liong-Lie tegaskan.

Orang berkedok itu tiba-tiba perdengarkan suara ketawanya yang panjang. Badannya nampak semakin gemetar.

….Aku tidak mempunyai she dan nama aku hanya seekor burung laut yang tidak ada artinya di dunia ini!” jawabnya dengan suara parau.

Sehabis berkata, seakan-akan tidak suka ditanya lagi oleh wanita itu maka lantas menghampiri dirinya Yo Cie Cong pula. Sekali lagi ia juga memeriksa urat nadinya, lalu berkatasambil gelengkan kepala.”

…benar-benar ia sudah binasa !”

Siang-koan Kiauw mengalir lagi air matanya. Ia dongakan kepala mengawasi langit yang gelap.

Pikirannya menjadi linglung seolah-olah sudah tidak menyadari apa yang terjadi disekitarnya.

Apa yanga ada dalam alam pikiranyan pada saat itu ialah satu-satunya orang yang dicintai kini benar-benar sudah binasa dia meninggalkan padanya untuk selama-lamanya.

Thian-san liong-lie melihat orang berkedok itu tidak mau memberi tahukan namanya ia juga tidak baik,maka wajahnya lantas berubah. ,,memangnya kenapa ?”ia bertanya, dengan suara tidak senang.

,,harus di jaga supaya janggan sampai ada orang jahat yang tidak ada yang menggali kuburannya dan membelek matanya.”

Thian-san Liong-lie terperanjat.

,,Hal itu memang terjadi.”

,,Menurut pikiranmu bagaimana ?”

,,Harus dikubur ditempat tersembunyi supaya tidak diketahui orang lain.”

Thian-san Liong-lie mengagukkan kepalanya,suatu tanda ia menyetujui pikiran si orang berkedok.

Pada saat itu orang-orang Pek-leng-Hwee,Cie-in-pang dan ban-siu-pang diam-diam berlalu semuanya,karena mereka takut berhadapan dengan orang berkedok itu.

Tetapi masih ada orang yang menyembunyikan diri sambil terus memperhatikan gerak-gerik semua orang yang ada disitu.

Siapa orangnya itu ?

Orang itu tidak lain adalah Cien Bie Nio,ketua Pek-Leng-Hwee yang terkenal genit dan banyak akal nya.

Mengapa ia masih belum maumeninggalkan tempat itu ? apakah karma di sebabkan Siang-koan Kiauw masih berada di situ ? oleh karna ia ibu tirinya Siang-koan Kiauw-jie,ibu yang memperhatikan anaknya.

Tetapi wanita genit dan jahat tidak mau mengaku sama sekali.sebetulnya ia tidak meninggalkan tempat itu karena menggandung suatu maksud tertentu.

Saat itu satu pikiran jahat memalukan telah timbul di dalam otaknya. Orang berkedok itu tiba-tiba menghela napas.

Entah karena bersedih atas kematiannya Yo Cie Cong atau karena di sebabkan soal lain lagi.

,,Thio Lihiap, aku permisi pergi dulu.”ia berkata pada Thian-san Liong-lie.

Atas bantuanmu yang berharga, aku si orang she Tho mengucapkan terima kasih !”

Kedua mata orang berkedok itu, tiba-tiba memancarkan sinar yang aneh, ia mengawasi Thian- san Liong-lie sejenak, kemudian berlalu.

Seperginya orang berkedok itu, keadan di situ kembali menjadi sunyi senyap.

Thian-san Liong-lie mengawasi berlalunya orang berkedok itu, dalam hatinya timbul perasaan aneh.

Orang berkedok itu seandainya mengetahui siapa adanya Yo Cie Cong yang saat itu sudah binasa,tidak nanti ia gampang-gampang meninggalkannya begitu saja.

Tetapi ia sama sekali tak menduga kalau pemuda itu ada hubungannya dengan dirinya.

Thian-san Liong-lie pada depuluh tahun silam menjadi kenangan bagi dirinya yang menyedihkan, setelah meninggalkan gunung Thian-san Liong-lie,terus berkelana dalam dunia Kang-Ouw dengan maksud hendak mencari seseorang, yaitu kekasihnya yang seumur hidupnya tidak dapat dilupakan.

Orang itu wajahnya mirip sekali dengan Yo Cie Cong hanya umurnya saja berbeda.

Siang-koan Kiauw saat itu agaknya sudah menduga dari semula. Ia tidak berani melihat,tetapi dengan tidak sengaja matanya di tunjukan pula kearah jenajah Yo Cie Cong.

Rasa perih dan sedih kembali menusuk hatinya.

Tiba-tiba memeluk Thian-san Liong-lie dan menangis mengngerung-ngerung seperti anak kecil. Suara tangisannya itu menyayat hati, apa lagi dalam keadaan malam yang sunyi malam itu.

Thian-san Liong-lie turut merasa sedih air matanya turun seperti hujan.

,,nona Siang-koan Kiauw-jie,kau harus pulang.”

,,bibi Tho,bagaimana denagan dia ?”

,,aku kan mencari ke suatu tempat yang sangat sembunyi untuk mengubur jenajahnya.”

…..kenapa ?”

…oleh karena dalam perutnya masih ada mustika Gu-liong-kao. Jika kuburanya diketahui oleh orang lain, kuburannya bisa dibongkar dan perutnya bisa dibelek.”

…Aku mau ikut. Aku harus mengetahui kuburanya. Supaya aku bisa sering-sering tengoki dia.”

Thian-san Liong-lie tergerak hatinya terhadap kecintaan hati nona itu pada dirinya Yo Cie Cong lantas ia berkata dengan suara lemah lembut : ….Nona Siang-koan ”

….Aku bernama Kiauw-jie. Bibi Tho panggil saja aku Kiauw-jie. “

…Baiklah Kiauw-jie mari kita jalan .”

Thian-san Liong-lie lalu menggotong jenajahnya Yo Cie Cong.

Dua bayangan orang dengan cepat berjalan menuju kesebuah bukit yang paling tinggi. Pada saat itu satu bayangan orang lain telah muncul keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan jalan sembunyi-sembunyi ia mengikuti jejak kedua orang yang jalan lebih dulu tadi.

Setelah orang-orang berlalu semuanya. Keadaan ditepi danau itu kembali menjadi sepi sunyi.seperti keadaan semula.

Malam telah makin larut tidak lama lagi akan menjelang pagi hari. Pada suatu tempat yang jauh dari keramaian manusia. Di dalam lembah yang sangat tersembunyi yang berumput subur dan berbunga-bunga beraneka warna. Dibawah sebuah pohon cemara yang besar kelihatan segundukan tanah yang baru penuh dengan bunga-bunga beraneka warna.

Gundukan tanah itu adalah sebuah kuburan baru yang tidak ada batu nisannya juga tidak ada namanya.

Di depan kuburan itu ada berdiri seorang wanita cantik setengah tua dan gadis berpakaian baju merah.

Mereka itu adalah Thian-san Liong-lie dan Sian-koan kiauw.

Dua orang yang rebah dalam kuburan itu adalah Yo Cie Cong pemuda yang tampan cakap.yang bersiakp adem kecut.

Thian-san Liong-lie dengan perlahan tangannya menarik tangannya Siang-koan Kiauw yang kelihatannya sudah terbang semangatnya.

……Kiauw-jie mari kita pulang.”

…..Bibi Tho apakah kita akan membiarkan dia rebahan di dalam lembah yang sesunyi ini ?”

…Anak tolol, jangan mengucapkan perkataan yang setolol ini mari kita pulang.

Kembali Siang-koan Kiauw mengamati gundukan tanah didekatnya, mulutnya kemak-kemik dengan air mata berlinang-linang.

…..Engko Cong kami akan meninggalkan kau tetapi aku akan kembali menengoki kau lagi si nona berkata dalam kemak-kemiknya.

Thian-san Liong-lie menghela napas sambil menggendong tangannya Siang-koan Kiauw berjalan keluar lembah, tetapi sebentar-sebentar masih menoleh kea rah kuburan Yo Cie Cong. Tidak lama setelah kedua orang itu berlalu kelihatan satu bayangan putih muncul disitu.

Bayangan putih itu adalah Cin Bio Nio ketua Pek-leng-hwee yang sejak semalam terus mengikuti jejak Thian-san Liong-lie dan Siang-koan Kiauw-jie.;

Saat itu wajahnya kelihatan perasaan bangga. Ia mengetahui bahwa Yo Cie Cong tidsk bisa mati selama biji mukjijat itu masih berada di dalam badannya.

Setelah berfikir sejenak,Cin Bio Nio mulai bertindak dengan sangat mudah ia sudah menggali kuburan itu, dan sebentar kemudian jenajah Yo Cie Cong sudah terbentang dihadapan matanya.

Ia membiarkan jenajah itu rebah terlentang dia sendiri mengawasi jenajah itu sambil tersenyum. Tapi dimatanya terpancar sinar yang menakutkan.

….Dia tidak bisa mati. Setelah terkena sinar matahari Cuma setengah jam saja ia bisa hidup kembali. Hanya setengah jam saja. “ demikian ia berkata kepada dirinya kemudian menghunus pedang panjangnya. Wanita cantik genit dan jahat itu sudah akan membelek perut orang dan mengambil mustikanya. Sambil memperlihatkan senyumnya yang kejam.ujung pedangnya sudah akan di tancapkan di pusarnya Yo Cie Cong. Asal ia mengerakan tangannya sedikit saja ia sudah dapat mustika yang tidak ada duanya di dunia ini. Tidak ada yang seorangpun yang mengetahui dan menghalang-halangi. Perbuatnnya yang sangat keji itu.

Apa mau ketika matanya melihat wajahnya Yo Cie Cong yang cakap dan tampan mendadak ia jadi ragu-ragu, matanya terus menatap pemuda yang tampan itu.

Meskipun sudah banyak laki-laki yang dikenalnya tapi tidak ada seorangpun yang dapat mnandingi kecakapannya pemuda ini.

Maka pada saat itu hatinya mulai tergoncang.

Napsu jahatnya yang tadinya hendak mengambil jiwanya pemuda itu perlahan-lahan lenyap dengan sendirinya dan napsu keji itu kini telah berganti dengan napsu birahi. Dimatanya yang hitam jeli terlihat berkobar napsu birahinya,sehingga tangannya lantas bergetar.

Pemuda itu kalau di binasakan sangat sayang.sebab seorang yang tampan seperti ini,mungkin sukar di cari tandingannya.

Jenazahnya Yo Cie Cong lalu di pindahkan kesebuah tempat yang mendapat cahaya matahari ! dengan sabar ia menantikan perubahan yang akan sebantar lagi.

Kiranya mustika Gu-liong-kao itu harus bertemu dengan cahaya matahari baru kelihatan kasiatnya.betapun berat luka orang yang mengandung mustika di perutnya, asal tubuhnya tidak di cingcang.orang itu tidak bisa mati.

Khasiatnya yang mukjijatnya ini, sampai orang-orang yang sudah pengalaman seperti oramg berkedok dan Thian-san liong-lie sekalipun tidak bisa mengetauinya.

Mereka menganggap bahwa Yo Cie Cong sudah matisehingga hampir saja jiwanya hampir celaka.

Tetapi entah bagai mana Jhin Bie Nio bisa mengetahui rahasia itu tidak ada seorangpun mengetahuinya.

Maksud Cin Bie Nio sebetulnya hendak membelek perutnya Yo Cie Cong lalu mengambil mustikanya, tetapi sekarang pikiranya berubah.sebab ke tampanannya itu menimbulkan perasaan birahinya.

Setengah jam berlalu dengan pesat ……… Keajaiban telah muncul.

Yo Cie Cong yang sudah mati hampir satu malam, tangan dan kakimya perlahan2 kelihatan bergerak wajahnya sudah mulai memerah badannya mulai bergerak2 dan mulai bernapas.

Dalam hatin Cin Bie Nio saat itu timbul pertanyaan, bagaimana ia bisa membuat pemuda yang tampan ini mau tunduk padanya untuk selama-lamanya.setengah jam telah berlalu.

Yo Cie Cong kelihatan membuka matanya. Ia seperti bangun dari tidurnya yang nyenyak, matanya di tujukan keatas.memandang ke angkasa.otaknya perlahan-lahan mulai mengingat- ngingat apayang telah terjadi atas dirinya.

Perlahan-lahan ingatannya kembali normal,ia mengingat apa yang telah terjadi semalam di tepi danau.

Ia di buat terpental oleh pukulan yang dasyat dan menganggap dirinya pasti binasa.

Tetapi apa yang di anggap paling aneh ialah, pada saat itu rasa sakit di badannya tlah lenyap semuanya, dan di ganti perasan segar.

Mendadak satu pikiran yang menakutkan timnul dalam otaknya. “Apakah aku benar-bener sudah mati? “

Ia mencoba menggigit jarinya sendiri,ternyata masih dirasakan sakit, suatu bukti bahwa sebetulnya ia belum mati.

Ia lantas bangun berdiri,matanya cellingukan memandang keadaan di sekitar tempat itu.

Di bawah pohon cemara kira-kira dua tombak jauhnya dari dia berdiri, kelihatan berdiri seorang wanita muda berbaju putih. Ketika ia memandang siapa adanya wanita itu, wajah nya berubah seketika.

Cin Bie Nio dengan sikapnya yang manis berjalan menghampirinya.

Yo Cie Cong mengawasi padanya dengan alis berdiri, kemudian berkata dengan suara dingin.

,,Cin Bie Nio, hari ini aku akan suruh kau mengucurkan di gunung ini.”

Cin Bie Nio terkejut,tetapi ia menjawab dengan wajah yang tidak menunjukan apa-apa.

,,Dengan kepandaianmu yang sekarang ini,kau masih belum mampu melakukan itu.” Sehabis berkata demikian ia menghampiri semakin dekat kearahYo Cie Cong.

Dari sikap dan tingkah lakunya saat itu, terang si genit tidak bisa mengendalikan gelora asmaranya, tapi sedapat mungkin dia secepatnya menundukan sikapnya yang bisa memikat hati Yo Cie Cong .

Benar saja, Yo Cie Cong saat itu hatinya agk tergoyang tepai kemuida cepa-cepat ia menguatkan hatinya dan berkata padanya dengan suara keras:

,,klau kau berani maju lagi satu langkah, aku terpaksa akan turun tangan!’’

Cin Bio Nio benar saja lantas menghentikan tindakan kakinya, matanya bergeling dan mulunya memperlihatkan ketawanya yang manis menggiurkan. Didalam lembah yang sunyi itu, dimana hanya ada mereka berdua, sudah tentu gampang menimbulkan perasaan yang buka-bukan.

,,joj, kau hendak apakan diriku?” Cin Bio Nio menanya dengan suara merdu.

,,aku mau bunuh kau!”

,,hah?sebabnya kenapa sih?

Yo Cie Cong kemekmek. Didalam namanya musuh-musuh kam-lo-pang ada terdapat antaranya nama Cin Bio Nio bersama kedua pengikut lainya. Tetapi pada saat itu ia tidak berani mengataka terus terang, sebab ia mengetahui sendiri bahwa kepandaian ilmu silat maupun kekuatanya masih belum cukup di gunakan untuk menuntut balas, maka ia lantas balas menanya.

,,akudengan kau ada permusuhan apa? Mengapa kau dengan kedua pengikut itu telah turun tangankeji sehinggga jiwaku hamper melayang? Sakit hati ini tidak boleh tidak aku harus perhitungkan dengan kau.”

,,Ooooo,itu hanya salah paham saja.” Jawab Cin Bio Nio ketawa.

,,hemmm! Salah paham?”

,,kau tidak percaya?”

,,tidak!”

,,tahukah kau, siapa yang menolong dirimu sehingga kau bisa bangun kembali dari lobang kubur?”

,,Yo Cie Cong terkejut. Ia memang tadi juga merasa heran, karena ia masih ingat betul bahwa dirinya sudagh di serang begitu hebat oleh si iblis wajah sings, mengapa tidak bisa binasa dan skarang bagaimna bisa ada disini?

Yang lebih mengherankan ialah: lukanya tadi malam sudah seperti sembuh semua dan kekuatanya juga sudah pulih kembali.

,,tetapi dengan wajah yang masih tetap ketus dingin ia menjawab:

,,apakah kau bisa menolong diriku?”

,,hehh,benar. Justru akulah yang menolongmu.

Jawaban itu seolah-olah bunyi geleg di tengah hari bolong.

Jika benar ditolong oleh perempuan genit dan jahat ini, maka selanjutnya ia takan bisa turun tangan kepadanya. Tetapi wanita ini justru merupakan salah satu musuh-musuh lamanya.

Bukankan itu merupakan suatu soal yang sangat sulit bagi dirinya?” Setelah berpikir sejenak,Yo Cie Cong lantas menanya:

,,mengapa kau menolong dirinya?”

,,ehhh! Kau ini bagai mana sih. Apa menolong kau itu ada salah?” Sehabis berkata begitu, ia maju lagi dua langkah.

Bab 9

OLEH karena itu, maka jarak antara kedua orang itu, kira-kira. Tiga tindak lagi saja.

Bentuk tubuhnya Cin Bio Nio yang sangat menarik hati, ditambah lagi dengan pakainya yang serba tipis, serta sepasang matanyayang genit menantang, benar-benar membuat runtuh hati laki- laki yang memandangnya.

Yo Cie Cong yang usianya belum cukup delapan belas tahun belum pernah menghadapi perempuan yang begini cantik menarik, maka hatinya tiba-tiba berontak.

Derngan tidak di sengaja ialantas bergerak mundur dua tindak.

Suatu perasaan yang belum pernah di rasakan waktu sebelumnya, kini telah membuat hatinya tergoncang keras.

Cin Bio Nio Yang centil genit,saat itu menghadapi seorang anak muda yang jauh lebih muda dari dirinya, matanya menatap wajah Yo Cie Cong yang tampan.

Kedua pipinya merah membara, hatinya berdebar keras badannya kelihatan menggigil,ia sudah lantas memeluk Yo Cie Cong untuk melampiaskan perasaannya yang sedang berkobar.

,,Joj !aku lihat kau ketakutan memangnya aku menelan dirimu bulat-bulat ?jawablah !apa aku menolong dirimu suatu perbuatan yang salah ?”

Sehabisberkata kembali ia menggeser lagi dua tindak. Yo Cie Cong bimbang hatinya. Di jawabnya dengan ketus saat itu mukanya memerah justru dengan demikian wajahnya yang tampan jadi menarik.

Cin Bie Nio makin lama memandang, makin merasa tidak dapat lagi mengendalikan hawa napsunya.

Dengan mata menggering dan napas memburu ia berkata :

,,engko kecil siapa namamu ?”Yo Cie Cong sebetulnya tidak ingin menjawab, tetapi seolah-olah ada kekuatan gaib yang membuat ia sukar menolak, maka akhirnya ia menjawab juga:

,,aku bernama Yo Cie Cong .”

,,Yo Cie Cong ?”

,,Ngng.”

,,YoCien Hoan, ketu dari kam-lo-pang itu masuh pernah apa dengan kau ?”

Wanita genit itu meski di bawah pengaruhnya napsu birahi begitu hebat, tapim masih berlaku hati-hati. Ini salah satu keistimewaan Cien Bio Nio kalau tidak begitu bagaimana biasa mengendalikan orang-orang Pek-leng-hwee ?

Yo Cie Cong ketika mendengar Cien Bio NIo menyebut nama suhunya hatinya terperanjat perasaannya telah lenyap seketika, diganti oleh perasaan gemas dan gusar berkobar dalam hatinya.

Untung pikiran warasnya mengikisi agar tak terpengaruh oleh rayuannya kalau tidak besar sekali bahayanya jika pada saat itu ia tidak bisa menahan sabar, maka itu berarti menggagalkan rencana besarnya. Karena dengan kepandaian dan kekuatannya pada saat itu, untuk menghadapi musuh-musuhnya yang kuat seperti mengadu telur dengan batu.

Cin Bio Nio dan kedua pangju itu, diantara diantara musuh-musuhnya masih belum terhitung seberapa kuatnya meski demikian ia masih belum mampu menghadapinya aplagi musuh yang lainnya maka ia membalas dengan ketus :

,,apa perlunya kau menayakan hal seperti itu ?’

Kau tak usah tanya apa perlunya jawab saja pertanyaan ku itu saja sudah cukup !”

,,aku tak dapat menjawab !”

Cien Bie Nio otaknya lantas berkerja : pangju dari Kam-lo-pang itu pada 20 tahun berselang sudah binas bersama keluarganya, tidak mungkin ia mempunyai keturunan seperti pemuda ini. Memiliki golok maut yang baru-baru menggemparkan dunia Kang-ouw,meski menyebut dirinya sebagai pangju dari Kam-lo-pang tapi benar atau tidaknya masih menjadi suatu pertanyaan, pemuda di depan matanya ada sangkutpautnya dengan pemilik Golok Maut, mengapa selagi pemuda ini menghadapi bahaya menghadapi kematiannya si pemilik Golok Maut itu tidak menunjukan dirinya ?mungkin ini ada satu kesalahan, tapi ilmu silat yang di mainkan oleh si pemuda, yang ilmunya diwarisi Yo Cin Hoan dari siapa ia belajar ?

,,engko kecil boleh kau beritau dari mana kau belajar ilmu silat ?”

,,aku tidak dapat memberitahukan padamu !”Cie Bie Nio tidak gusar sikap ketus sebaliknya tertawa terkekeh-kekeh.

,,engko kecil berapa usiamu tahun ini ?”

,,tidak tahu !”

Ia memang jawab sebenarnya, sebab Yo Cie Cong yang sejak kecil hidup gelandangan dengan kaum gembel, bagaimana bisa tau usianya sendiri ?

,,kau tak mau bilang ya sudah, tapi aku perlu memperingatkankau sekarang ini kau sudah menjelma lagi di dunia. Oleh karena itu aku menolongmu hamper saja aku sendiri yang binasa !”

Yo Cie Cong bercekat hatinya.

Cin Bio Nio nampak bahwa pandangannya menggerak-gerakan hatinya Yo Cie Cong, maka lantas berkata pula.

,,kau sebetulnya sudah binasa serangan si iblis wajah singa, oleh Thian-san Liong-lie jenajahmu dibawa dan dikubur disini. Aku mendadak ingat aku masih mempunyai sebutir pil mustajab yang sudah kusimpan 20 tahun lamanya pil itu namanya Kiu-Coan-Hoan-Hun-tan. Dengan maksud mencoba khasiatnya pil tersebut aku telah gali dirimu dalam kubur dan masukan pil kedalam mulutmu. Kemudian aku Bantu dengan kekuatan tenaga dalamku higa kau bisa hidup kembali.

Kalau kau tidak percaya kau boleh liat liang kubur itu !” Pembohong besar itu karena kau begitu pandainya mengatur perkataannya, membuat Yo Cie Cong mau tidak mau percaya juga pada obrolannya.

Cin Bio Nio mengira bahwa usaha kali ini akan berhasil tapi tidak taunya dibelakang ada seoarang yang sedang mengintai yang saat itu sangat dongkol. Tapi orang itu tidak berani bertindak kalau belum terpaksa.

Yo Cie Cong meski tampaknya dingin ketus tapi ia seorang pemuda yang tegas. Setelah mendengarkan obrolan Cin Bio Nio dalam hatinya merasa tergerak, sikap hatinya yang dingindan kaku juga lantas lenyap tapi ia benar-benar tak sanggup manghadapi pandangan mata si iblis wanita itu terutama potongan badan dan buah dadanya yang menggairakan maka ia lantas tunduk kepalanya tidak berani mengawasi.

Sebagai wanita yang sudah banyak pengalaman sudah tentu Cin Bio Nio segera mengetahui sikapnya Yo Cie Cong itu.

Dengan menindas hawa napsunya yang sudah berkobar keras ia berkata pula dengan lemah- lembut :

,,ketika kau masih belum muncul 8 kawanan iblis yang dating mencari kau hendak membelah dirimu untuk mengambil mustika itu. Setelah bertempur mati-matian mereka baru kabur tapi aku hampir saja binasa ditangan mereka.

Yo Cie Cong pada saat itu perasaannya sangat menderita wanita genit ini adalah musuh suhunya, tapi sebaliknya ia juga merupakan seorang yang sudah melepas budi menolong jiwanya diantara budi dan sakit hati itu bagaimana ia harus bertindak selanjutnya ?

Sudah tau ia tidak tau keadaan yang sebenarnya, ia hanya percaya obrolan Cin Bio Nio setlah mendengar keterangannya itu ia lantas berkata dengan suara sungguh-sungguh :

,,Aku Yo Cie Cong bersedia membalas budi kepada setip orang yang melepas budi kepada diriku !pasti suatu hari aku kan membalas budimu yang sangat besar ini !

Sebetulnya ia masih ingin menambahi tetapi dendam sakit hati suhu masih perlu di perhitungkan. Maka setelah membalas budi ini baru perhitungkan dendam suhu.

Namun perkatan itu tidak sempat dikeluarkan dari mulutnya.

,,Joh aku aku tidak ingin menerima pembalasan darimu aku Cuma mempunyai sedikit permintaan !”

,,permintaan apa ?”

,,panggil aku enci !”

Yo Cie Cong tercengang ia tidak tau iblis wanita ini hendak berbuat apalagi ? maka dalam hatinya lantas berpikir meski kau sudah melepas budi dari diriku, tapi kau tetap musuh suhuku. Aku Yo Cie Cong laki-laki sejati bagaimana aku harus membahaskan kau, satu wanita genit dan berhati kejam sebagi enci ?

Saat itu wajahnya lantas berubah merah, mulutnya bungkam.

Cin Bio Nio mengira pemuda itu sudah terima baik permitaannya maka badannya lantas maju dua tindak sehingga hampir saja mereka berdiri satu sama lain.

,,adik tahukah kau bagaimana encimu mencintaimu.

Yo Cie Cong yang ssampai begitu besar belum pernah menghadapi racun cinta hatinya lantas berdebar d3engan cepat ia mundur dua tindak.

Cin Bio Nio saat itu rupa-rupanya sudah tidak mampu mengendalikan hawa napsunya maka lantas pantang kedua tangannya ia menubruk dirinya Yo Cie Cong seolah –olah macan kelaparan menubruk mangsanya.

Karena jarak mereka terlalu dekat, Yo Cie Cong sudah tidak keburu mundur lagi maka sebentar saja sudah beada di pelukannya.ia masih coba berontak tapi tidak berhasil hingga keduanya rubuh bergulingan di tanah.

Cin Bio Nio sperti sudah kalap ia memeluk erat-erat dirinya Yo Cie Cong dan menciumi pipi dan bibir pemuda itu.

Sekujur badan Yo Cie Cong saat itu seperti kena setrum listrik perasaan aneh timbul dalam hatinya seketika.

Sebagai manusia biasa apalagi dalam usianya masih muda remaja Yo Cie Cong belum mempunyai keteguhan hati untuk menahan godaan setan.akal budinya telah runtuh ia merasakan adanya suatu kebutuhan. Dengan wajah merah dan pandangan yang aneh ia mengawasi perempuan yang menciumi diririnya.

Sambil pejamkan mata Cin Bio Nio terus memanggil-manggil.

,,adik, adik Encimu …encimu … aku …”

Yo Cie Cong yang juga agaknya sudah melupakan dirinya tanggannya lantas merobek baju Cin Bio Nio ……”

Justru pada saat itu tiba-tiba dari dalam rimba tidak jauh dari tempat telah terdengar suara elahan napas perlahan.

Suara itu meski perlahan tapi didalam telinga Yo Cie Cong terdengar solah-olah suara lonceng gereja ketika mendengar itu,ia lantas tersadar dari mimpinya.

Keringat dingin lantas mengucur keluar.

Ia sesalkan dirinya sendiri : ,,Ah, Yo Cie Cong ! kauhampir saja melakuka perbuatan yang akan menyesal seumur hidupmu, bagaimana kau ada muka untuk menemui suhumu diakhirat nanti ? bagaimana kau ada muka untuk tancap kaki didunia Kang-ouw sebagai sutu enghiong…….?”

Pikiran warasnya telah timbul. Ia tahu bahwa ia masih belum mampu menandingi Cin Bio Nio tapi ia sekarang ia bisa turun tangan.

Pikiran itu dengan cepat lantas dilaksanakan jarinya menotok jalan darah ‘Kie-bun-hiat-nya Cin Bio Nio …….,

Cin Bio Nio yang dalam saat itu juga telah membuka matanya. Ketika melihat perubahan mukanya Yo Cie Cong napsu birahinya hilang seketika dengan cepat ia hendak lompat bangun.

Tapi oleh karena ia bergerak,maka bagian darah Ma-hiat-nya telah kena totok, sehingga seketik itu pula ia tidak bisa bergerak ia Cuma bisa mengawasi Yo Cie Cong dengan mata mendelik, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Ia sesungguhnya tidak mendugga bahwa dirinya akan berbuat demikiansebagai salkah satu wanita yang ulung kiniternnyata dengan mudah tergelincir didalam tangan seorang anak muda yang baru muncul dapat di bayangkan bagaimana perasaan si wanita genit pada saat itu !

Yo Cie Cong sehabis menotok Cin Bio Nio ia merassa hutang budi kepada orang yang brusan menghela napas.

Karena kalau bukan helaan napas yang menggagetkan padanya ia sudah melakukan perbuatan yang akan membuat noda namanya untuk seumur hidup.

Sekarang Yo Cie Cong kembali pada sikapnya yang dingin dan ketus.

,,Cin Bio Nio.” Katanya dengan suara dingin . ,,perbuatanmu yang menolong diriku tadi tidak peduli benar atau bohong tapi di tepi danau kau dcengan kedua pangju pernah menyerangku hingga terluka parah, sekarang aku ampuni dirimu maka diantara diantara kita sudah tidak adalagi hutang budi. Lain kali bila aku bertemu dengan dirimu lagi maka akukan menghabisi nyawamu !”

Seandainya ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, ia pasti tidak akan melepaskan begitu saja wanita yang genit dan jahat itu.

Cin Bio Nio, “sekarang menyesal bukan main mengapa ia tidak bunuh mati saja Yo Cie Cong hingga mustika Gu-Liong-Kauw itu dapat di kuasai olehnya ? tapi, sekarang menyesal juga sudah terlambat.

Karena jalan darahnya sudah tertotok, ia sekarang sudah tidak berdaya ssama sekali. Yo Cie Cong setelah mengawasi padanya sejenak, lalu berjalan menuju kedalam rimba. Ia, hendak mencari siapa orangnya yang tadi menghela napas perlahan ?

Ilmunya membentengi tubuh Yo Cie Cong dapat warisan dari suhunya dijaman Cek-kun yang di jamannya Kam-lo-pang sangat terkenal kenal dengan kepandaiannya. Maka sekejap saja ia sudah menghilang kedalam rimba.

Ia mencari kesana-sini tapi di situ ternyata sunyi senyap, tidak terdapat bayangan seorangpun juga.

Keluar dari rimba didepan matanya terbentang, sebuah bukit yang terdiri batu cadas disitu hanya terdapat beberapa batang pohon cemara yang kelihatannya sebagi penghias saja.

Yo Cie Cong bersandar di sebuah batu besar yang bentuknya seperti kursi, matanya memandangi awan yang beterbangan diatas langit, agaknya sedang memikirkan sesuatu yang telah terjadi atas dirinya selama beberapa hari ini. Ia teringat suhu dan kedua pamannya yang mengenaskan, kalau tidak ada mala petaka yang menimpa dirinya ketiga oaring tau itu, pasti ia terus akan mendapat didikan mereka bertiga. Ia lalu mengingat pesan suhunya, ketikla hendak menutup mata, ia harus mencari kayu pusaka Ouw-bok po-lok yang sebelah lagi,baru melanjutkan pelajaran ilmu silatnya. Di samping itu,ia masih harus menuntut balas terhadap musuh-musuhnya Kam-lo-pang yang terdapat dalam daftar buku yang di tinggalkan oleh suhunya.

Selain dari pada itu, ia harus mencari tahu asal usul dirinya sendiri juga.

Dengan tidak terasa ia merambah-rambah batu giok Liong-Kwan yang berada di lehernya lalu berkata kepada dirinya sendiri : “aku ini siapa ? apa sih dan namaku yang sebanarnya ? dan siapa saja ayah dan bundaku ?....

Ia teringat pula akan keajaiban yang dialami selama duahari ini, meskipun suadah binasa ditangannya si iblis wajah singa tetapi akhirnya ia bisa hidup kembali.

Ia juga teringat kepada mustika Gu-liong-kauw yang masuk kedalam perutnya secara kebetulan. Asal bisa mendapatkan telur berwarna dari burung Rajawali raksasa maka kekutannya akan bertambah dan berlimpah-limpah. Tapi kemana ia harus mencari telur yang aneh itu ?

Jika ia berhasil mensari yang seporong lagi kayu pusaka Ouw-bok pol-lok, ia tentu tidak berjasa musuh Kam-lo-pang karena musuh-musuh Kam-lo-pang hampir semuanya merupakan otrang- orang kuat dalam rimba persilatan pada dewsa itu.

Dan apa yang tidak bisa dilupakan ialah budi Bibinya Tho atau Thian-san liong-lie yang membela dirinya tiba-tiba dibelakang dirinya tanpa menghiraukan keselamatan dirinya sendiri.

Budi yang besar dari bibi itu, entah kapan dapat dibalasnya.

Selagi ia tenggelam dalam lamunannya tiba-tiba terdengar pula elahan napas. Dengan cepat ia membalikamn dirinya ….

Ditempat sejauh kira-kira dua tumbak, tampak berdiri seorang nona berbaju merah yang tengah mengawasi pandangnya yang tajam.

Ia terperanjat, dalam hatinya lalu berpikir, bolehnya dia ?

Tiba-tiba ia ingat bahwa nona baju merah itu pernah menolomg dirinya bersama-sama Thian- san liong-lie meski terhadap dirimya nona itu Yo Cie Cong tidak mempunyai kesan baik, tapi tidak urung maju mang hampiri seraya berkata :

…Nona Siang-koan Kiauw kau pernah menolong diriku aku pasti akan membalas budimu ini !” Siang-koan Kiauw tidak menjawab, hanya kembali mengelah napas perlahan.

napas perlahan.

Yo Cie Cong terkejut mendengar elahan suara napas itu

,, Hei, barusan kau yang mengelah napas dilembah sempit tadi ?’’ ia menanya.

,, Ng !

Ingat akan perbuatannya yang tidak sopan telah dilihat oleh si nona, maka wajahnya lantas berubah merah karena merasa jengah. Ia lalu alihkan pembicaraannya kelain soal.

,, Dimana bibi Tho sekarang ?’’ ia menanya.

,, Kita berdua setelah mengubur kau, lantas berpisahan.’’

,, Mengubur aku ?’’

,, Lah !’’

Mengapa kau belum berlalu?’’

,, Sebab ……….aku…….aku ’’

Dijiwanya sinona, sekeyika itu juga lantas berubah merah Yo Cie Cong merasa ketarik oleh jawaban si nona, maka ia lantas berkata :

,, Bolehkah nona menceritakan padaku, apa yang telah terjadi atas diri pemuda itu, sehingga ia dikubur dilembah yang sunyi itu.

Yo Cie Cong tertegun. Ia berkata kepada dirinya sendiri kalau begitu, pemilik bendera burung laut itu juga merupakan salah seorang yang melepas budi terhadap diriku !’’

Setelah hening sejenak, ia berkata pula :

,, Kalau begitu, apa yang diucapkan oleh perempuan hina Cin Bio Nio tadi semuanya bohong.’’

Si nona wajahnya berubah menjadi merah seketika itu juga.,, Aku tidak dapat memberitahukan padamu.’’

,, Kenapa ?’’ ,, Sebab ia adalah ibuku.’’

,, Apa ? Dia ibumu ?’’

,, Bukan ibu benar, tetapi ibu tiri’’

,, Aku tadi sudah berkata kepadanya, bahwa antara aku dan dia sudah tidak mempunyai ganjalan sakit hati atau hutang budi untuk sekarang ini tidak akan bisa berbuat ap-apa terhadap dirinya ceritakan saja. Kau tidak usah khwatir.Aku harus mengetahui persoalan ini.’’

,,meskipin ia ada maksud lain, tetapi ia sudah menggali keluar dirimu dari liang kubur sehingga kau hidup kembali, itu memang sebenarnya. Tetapi sekarang urusan sudah lain biarlah jangan mengungkitnya lagi urusan ini.’’

,, Dengan cara apa ia membuat kau hidup kembali ?’’

,, Tidak tahu. Ia hanya meletakan dirimu dibawah sinar matahari, setengah jam kemudian kau mendadak mendusin. Hal itu juga membuat aku merasa heran.’’

,, Kiranya, orang yang menelan mustika Gu-Liong-Kauw sekalipun sudah terluka para, juga tidak akan bisa mati.’’

,, Tetapi wakti itu kau memang benar sudah mati.’’

Sudah tentu mereka samasekali tidak mengetahui kasiat benda mujijat itu yang baru kelihatan mujijatnya apabila ketemu sinar matahari, sehingga orang yang sudah mati bisa hidup kembali.

Siang-koan Kiauw pada saat itu nampaknya tidak begitu berarti dalam seperti waktu pertama kali bertemu dengan Yo Cie Cong nona itu sikapnya kelihatan semakin menarik. Dengan matanya yang jeli dan bening ia terus mengawasi wajahnya Yo Cie Cong.

,, Dikalau bibi Tho tahu kau bisa hidup kembali, entah bagaimana rasa girangnya.’’ Si nona berkata.

,, Apa ? kau juga bahasakan dia bibi Tho ?’’

Siang-koan Kiauw sebetulnya hendak menjawab bahwa panggilan itu karena mengikuti si pemuda, tetapi berat perkataan itu dikeluarkan dari mulutnya, maka ia hanya menjawab dengan singkat Ng’ saja.

Mendadak Yo Cie Cong mengingat suatu hal.

,, Cin Bio Nio itu apakah ibu tiri nona ?’’ tiba-tiba ia menanya.

,, bukan tadi sudah kukatakan ?’’

,, Kalau begitu ayahmu tentunya………’’

,, Siang-koan Kiauw yang mempunyai gelar Tui-hong-kiam ( pedang pengejar angin ).’ Demikian jawabnya.