Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 03

Jilid 03

Para kawanan iblis yang lainnya saat itu agaknya sudah tidak sabar lagi.

Pertama- tama adalah si 3 cebol dari Kiong – lay yang bertindak lebih dulu, dengan kecepatan bagai kilat ia menyerbu dirinya Yo Cie Cong.

Selanjutnya sepasang penjahat dari Lam-bong, 4 setan dari Pak-bin, si garuda kepala botak dari bukit Kow-nia bertuju juga pada bergerak mengikuti jejak si 3 cebol.

Pertempuran sengit lantas dimulai.

3 cebol dari Kiong-lay itu belum sampai kakinya menginjak tanah, sudah disambut oleh Thian- san Liong-lie dengan serangannya yang amat dasyat !

3 cebol itu tidak menduga kalau Thian-san Liong-lie bisa turun tangan secara demikian mendadak, selagi badan mereka masih berada ditengah udara, angina kuat sudah kuat menyambar dirinya, maka lantas buru-buru jumpalitan ditengah udara dan melayang turun setombak lebih jauhnya.

Si iblis berwajah singa mengeluarkan geramnya yang sangat hebat, ia maju beberapa langkah, kemudian melancarkan serangannya tangan yang tepat menghalangi majunya 7 iblis dibelakangnya 3 cebol.

7 iblis itu terpaksa harus menarik diri masing-masing secara mendadak. Kedua fihak sekarang saling berhadapan.

Hanya Cin Bie Nio dan kedua pangcu itu yang berdiri sebagai penonton sambil bersenyum puas. Bab 6

PANGCU dari Cie-in-pang Lie bun hao, pancu dari Ban-siu-pang Thio Phan dan ketua Pek-leng- hwee Cin Bie Nio bertiga selain berdiri sebagai penonoton, bahkan kadang-kadang memberi anjuran kepada kedua fihak yang bertempur.

Akal muslihatnya Cin Bie Nio ini sesungguhnya sangat jahat.

Ia menganjurkan si iblis berwajah singa supaya bertempur mati-matian dengan para iblis lainnya, tidak peduli fihak mana saja yang menang, ia bersama kedua pangcu yang akan memungut hasilnya.

Thian-san Liong-lie namanya sangat terkenal didunia Kang-ouw sebagai satu pendekar wanita yang tinggi sekali kepandaiannya ilmu silatnya, terutama ilmu pedangnya. Dan ia sekarang telah turun tangan membela Yo Cie Cong, Cin Bie Nio dan kedua pangcu tidak usah berhadapan sebagai musuh dengan pendekar wanita itu.

Cin Bie Nio sudah berhasil dalam usahanya hendak menyingkirkan dirinya bocah yang dicurigai itu dengan menggunakan tenaganya para iblis itu.

Karena golok maut sudah muncul didekat situ, yang mengambil jiwanya si buli-buli arak berwajah burung, siapa berani pastikan kalau pemilik golok maut itu tidak berada dibukit Keng-san ini maka Pek-leng-hwee, Cie-in-pang dan Ban-siu-pang harus menyimpan tenaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Dengan berdasarkan perhitungan kepentingan sendiri, maka tercapailah suatu perjanjian antara fihak Cin Bie Nio dan kawannya dengan fihak si iblis berwajah singa,. Sementara itu, apakah perjanjian itu dapat dipertahankan terus atau tidak ? itu ada lain soal. Mari sekarang kita balik lagi kepada 3 si cebol dari Kiong-lay yang ditahan serangannya, oleh Thian-san Liong-lie.

Yang tertua dari 3 cebol itu ialah Wie Bu Liang, saat itu matanya yang sipit lantas didelikan, dengan suaranya yang keras is berkata :

,, Thian-san Liong-lie yang menganggap dirinya sebagai pendekar budiman, apakah juga kepingin mendapat bagian ?’’

,, Aku Tho Hui Hong Cuma tahu berbuat apa yang aku harus buat. Aku minta supaya kalian bertiga suka kembali kepada kebenaran, perbuatan yang melanggar prikemanusiaan ini, tidak dapat diizinkan oleh tuhan dan manusia !’’ jawab Thian-san Liong-lie.

Si cebol kedua Cong liat lantas menyahut sambil ketawa dingin :

,, Kita bertiga Cuma tahu ambil apa yang harus kita ambil tidak mengerti peraturan kebuddahan. Kau Thian-san Liong-lie jauh-jauh datang kemari, apa perlunya masih berpura-pura berlaku sebagai orang budiman ?’’

,, Dibawah sepasang mataku seorang she tho, tidak mengizinkan manusia kawanan buas melakukan perbuatan buas !’’

,, Kau thian-san Liong-lie sesungguhnya terlalu tidak memandang mata kepada lain orang. Kita bertiga sodara bukannya orang yang mudah diperhina, kalau kau tahu diri, lekas kau mundur untuk menjaga nama baik dan mukamu dikemudian hari !’’ kata Wie Bu Liang sambil kedip- kedipkan matanya yang sipit.

,, Benda ajaib yang muncul dari bumi atau langit, sudah tahu sendiri siapa yang berhak memilikinya, hanya orang yang berjodo yang bisa memiliki benda tersebut. Merebut dengan akal atau atau dengan kekerasan, akan merupakan bencana sebaliknya membawa bahagia. Apalagi membedah perut orang itu ada perbuatan yang melanggar undang-undang ketuhanan !’’

Si cebol yang ketiga Wan Hong Hong lantas menyahut sambil ketwa aneh :

,, Thian-san Liong-lie memang baik hati, Cuma sayang kau sudah salah liat orang !’’

,, Apa kalian bertiga pasti hendak turun tangan terhadap pemuda itu ?’’

,, Memang begitu !’’

,, Boleh coba !’’

,, Baik !’’ sahutnya berbareng.

Tiga orang cebol itu lantas turun tangan berbareng menyerang Thian-san Liong-lie

Kekuatan dari tiga orang cebol itu sesungguhnya tidak boleh dipandang ringan, serangannya seolah-olah gelombang laut yang datang menggulung.

Tapi Thian-san Liong-lie Cuma ganda ketawa, lalu ulur tangannya satu tenaga lunak meluncur keluar, hingga kekuatan tenaga keras yang dilontarkan oleh ketiga orang cebol itu lantas lenyap tanpa bekas.

Tiga manusia cebol itu berubah wajahnya semua. Setelah saling memandang sejenak, Wie Bu Liang mundur setindak, lalu melancarkan serangan dengan kedua tangan, angin kuat telah menyambar kearah Thian-san Liong-lie.

Berbareng pada saat itu, si lojie atau si cebol kedua Ciong Liat mendadak merabu dari bawah ia mengunakan kaki dan tangannya, menyerang kaki bagian Thian-san Liong-lie. Serangannya itu dilakukan secara ganas sekali.

Losam atau cebol yang ketiga Wan Hong Hong badannya melesat tinggi, kemudian dengan menggunakan kedua tangannya menyambar muka lawannya.

Thian-san Liong-lie badannya melesat miring untuk mentingkirkan serangan Ciong Liat Jang ditujukan kepada kakinya tangan kirinya melanjutkan satu serangan untuk menyambuti serangannya Wie Bu Liang, sedang tangan tangannya balik menyambar tangannya Wan Hong Hong.

Setelah mendengar suara ‘bruk !‘, Wie Bu Liang terpental tubuhnya, dan Wan Hong Hong yang menampak tangannya hendak disambar, lantas buru-buru narik kembali tangannya, sedang Ciong Liat Jang serangannya mengenakan tempat kosong juga lantas melayang turun ketanah.

Sitiga cebol itu dengan kekuatannya tiga orang masih tidak berdaya menghadapi Thian-san Liong-lie, dalam gusarnya lantas menyerbu berbareng.

Dilain fihak si iblis berwajah singa sudah mulai menggebrak dengan Empat Setan dari pak-bin ( Pak-bin Si-kui ). Empat orang yang mendapat julukan 4 setan itu dengan gerak ilmunya seperti setan gesit dan lincahnya, ternyata bisa bekerja sama dengan rapat dan baik sekali, hingga si iblis wajah singa hampir tidak berdaya sama sekali.

Masih ada 10 orang-orang kuat dari golongan hitam yang berdiri sebagai penonton, ketika menampak dalam medan pertempuran itu telah berlangsung pertempuran dasyat dari dua rombongan, telah menganggap kedua itu ada kesempatan yang paling baik bagi mereka, maka dengan berbareng lkantas menyerbu Yo Cie Ciong.

Tapi dua penjahat dari Lam-bong dan si Garuda kepala botak yang berdiri menonton si iblis wajah singa bertarung, ketika menampak perbuatan pengecut itu lantas melesat berbareng, untuk merintangi majunya orang-orang tersebut.

Suara jeritan ngeri lantas terdengar dari sana-sini, ditanah lalu terkapar bangkainya 6 orang yang menjadi korban serangan lawannya.

Sisanya buru-buru mundur secara teratur.

Kedua penjahat dari Lam-bong dan garuda kepala botak yang begitu turun tangan lantas minta korban 6 jiwa dan mengusir mundur sisa yang lainnya, dengan berbareng telah melayang turun tidak jauh dari Yo Cie Cong menggeletak.

Pada saat itu, apabila kedua penjahat dari Lam-bong itu turun tangan, sudah tentu akan dihalangi oleh garuda kepala botak dari bukit Kow-nia. Sebaliknya apabila si garuda kepala botak turun tangan , juga akan dirintangi oleh dua penjahat dari Lam-bong.

Dalam keadaan demikian, tiga iblis itu jadi berdiri saling memandang dan memikirkan cara bagaiman turn tangan.

Thian-san Liong-lie yang menyaksikan keadaan demikian, diam-diam merasa gelisah, dengan cepat ia lantas menghunus pandangnya, dengan sgerakan yang sangat hebat ia berhasil mendesak mundur 3 orang cebol yang melakukan serangan secara kalap.

Kemudian jago betina dari Thian-san itu melesat kesampingnya Yo Cie Cong.

Dua penjahat dari Lam-bong dan si garuda kepala botak bertiga menjadi terjengang.

Iblis wajah singa yang mengawatirkan mangsanya didahului oleh orang lain,lantas timbul pikiran buasnya. Dengan kekuatan tenaga penuh yang demikiannya ,ia lantas mengirim serangannya yang paling ganas kepada lawannya.

Salah satu dari ‘Empat Setan’ yaitu yang paling tua adalah orang yang pertama-tama menjadi korbannya.

Setan sial itu setelah keluarkan jeritan ngeri,badanya terpertal sejauh tiga tumbak lebih dan tidak bisa bangun lagi.

Tiga orang kawannya yang menyaksikan keadaan demikian lantas pada berdiri terpaku dengan kertak gigi,

Iblis wajah singa masih belum merasa puas hatinya, dengan kecepatan bagaikan kilat kembali ia menyerang setan ketiga yang berdiri diujung kanan. Setan itu sudah kena tersambar badannya, kedua setan yang lainnya dengan mata beringas menterang berbareng dari kanan dan kiri.

Iblis wajah singa sambil menggeram hebat dengan menggunakan tubuhnya setan ketiga yang sudah berhasil ditangkap olehnya untuk memapaki serangan setan kedua dan kemudian memutar balik tubuhnya menyambuti serangan setan keempat.

Sebentar lalu terdengar suara jeritan ngeri, kepalanya setan ketiga telah hancur remuk karena digunakan untuk memakai serangan kawannya sendiri.

Berbareng pada saat itu, serangan setan keempat telah beradu dengan kekuatan dari si iblis wajah singa yang dipakai untuk menjabuti serangan tersebut.

Kesudahnya, setan keempat itu rubuh terduduk ditanah, sedangkan si ivlis berwajah singa juga terpental mundur lima tumbak.

Setan kedua yang tidak menduga-duga bahwa lawannya ini akan menggunakan tubuhnya setan ketiga menjabuti serangannya tadi, maka ia sudah tidak sempat menarik serangannya kembali, sehingga sang kawan itu harus menjadi korban dari tangannya sendiri. Dalam gusar dan sakit hatinya, ia lantas maju menyerang lagi secara nekad……..

Maka ketika si iblis wajah singa baru saja bisa tancap kaki, serangan setan kedua sudah sampai. Iblis wajah singa itu pendengarkan suara ketawanya yang aneh tangan kanannya melancarkan satu serangan yang hebat sambil menggeser maju badannya.

Sementara itu, lima jari tangan kirinya yang runcing tajam menghantam badannya setan kedua.

Setan kedua itu badannya telah terpental mundur beberapa tindak karena serangannya si iblis wajah singa tadi, siapa punya jari tangan terus membayangi menghantam serangan total, serangan luar biasa dasyat.

Si iblis wajah singa tidak keburu mengegos maka setelah keluarkan seruan tertahan, mulutnya lantas menyemburkan darah, tubuhnya mundur terhujung-hujung.

Tetapi berbareng tubuhnya si setan kedua dan ditarik sehingga badannya terbelah menjadi dua bagian dan isiu perutnya berhamburan ditanah.

Semua orang pada bergidik menyaksikan perbuatan si iblis wajah singa itu.

Sehabis membereskan setan kedua, iblis itu menghampiri si setan keempat yang masih duduk ditanah.

Si setan keempat mendadak lompat bangun, setelah mengawasi mayat ketiga saudaranya, lantas berseru dengan suara memilukan hati :

,, Iblis tua, kembalikan ketiga nyawa saudaraku !’’ Kegusarannya meluap dari takeran, mukanya berubah buas.’

Ia lalu mengerahkan ilmu simpanannya yang paling ampuh untuk menyerang musuh. Tangan kanannya mendadak melebar menjadi besar, kemudian berubah menjadi hitam. Ditengah-tengah telapakan tangannya itu ada timbul satu bundaran seperti bola sebesar mangkok.

Si iblis wajah singa adalah seorang yang sudah mempunyai banyak pengalaman. Begitu melihat, segera juga ia mengerti bahwa setan keempat ini bermaksud hendak mengadu jiwa dengannya dan telah mengerahkan serangan simpanannya yang dinamakan Tok tijang Kui-cian’.

Tipu ‘Tok-ciang Kui-cian’iniadalah tipu yang menggunakan seluruh kekuatan dan darah yang dipusatkan ketelapak tangan, kemudian membikin pecah kulitnya sendiri, sehingga dari kulitnya itu menyemburkan darah laksana anak panah yang terlepas dari busurnya. Semburan itu dapat mencapai jarak satu tumbak lebih sekalipun badannya berbadan seperti besi juga jika terkena serangan darah itu bisa tembus.

Tetapi bagi sipenyerang sendiri, juga akan binasa karena kehabisan tenaga dan darahnya, maka ilmu ini merupakan ilmu serangan yang paling kejam.

Setan keempat itu karena melihat ketiga orang saudaranya sudah binasa semua ditangannya si iblis wajah singa dan hanya ketinggalan dia seorang diri yang masih hidup, maka ia telah memilih jalan yang terhir ini.

Si iblid wajah singa yang mengetahui maksud lawannya itu hatinya diam-diam juga terkejut, maka telah urungkan gerakannya menyerbu lagi.

Telapakan tangan si setan keempat yang melambung seperti bola tadi, tiba-tiba telah pecah dan menyemburkan darah menyerang kearah si iblis wajah singa.

Betapapun ganas dan buasnya si iblis wajah singa, juga tidak akan berani pertaruhkan jiwanya sendiri untuk menjabuti serangan yang nekad itu. Dalam kagetnya ia lantas melompat nyamping kekanan apa mau sekalipun ia sudah bergerak sangat gesit, sehingga bagian anggota badan terpenting dapat dihindarkan dari serangan tersebut, tetapi tidak urung daun telinga kirinya sudah terkena semburan darah itu dapat copot jatuh, sedangkan pundak kirinya juga berlubang mengeluarkan darah segar.

Berbareng dengan itu tubuhnya si setan keempat juga lantas rubuh untuk tidak bangun kembali.

Iblis wajah singa itu lolos dari bahaya matanya kelihatan lebih buas ia lalu menghampiri mayat setan ke empat, dengan tangan kirinya ia merobek baju setan ke empat tangan tangannya lalu di tancapkan kedadanya sebentar kemudian nyalinya si setan ke empat sudah berada di tangannya.Nyali yang masih bertetesan darah itu lantas di masukan kemulutnya.

Perbuatan iblis wajah singa talah mengejutkan semua orang yang memyaksikan dan berdiri bulu roma.

Si iblis wajah singa telah menghilangkan nyali setan ke empat lantas melompat kearah Tian-san Liong-lie.

Hampir bersamaan pada saat itu tiga orang pendekar dari Kiong-lay juga menyusul. Pada saat itu keadaan kembali meneggang.

Tian-san Liong-lie tampaknya sedang berpikir keras.Karna pada saat itu Yo Cie Cong masih dalam keadaan pingsan,jika ia tidak berhasil melindungi tentu saja sangat berbahaya.

Dengan kekuatanya sendiri untuk menghadapi kawanan iblis mungkin tidak menjadi soal tetapi hendak menolong dirinya Yo Cie Cong yang sudah hampir mati itu keluar dari tempat yang berbahaya itu benar-banar merupakan satu persoalan yang sangat sulit

Si iblis wajah singa yang saat itu mulut dan badannya penuh dengan darah manusia dengan suara bengis lantas membentak :

,,siapa yang tahu gelagat,lekas mundur !”

Dua penjahat dari Lam-bong,tiga pendekar dari Kiong-lay dan si garuda keapala botak dari bukit Kow-nia,meskipun mreka merasa jeri terhasap keganasan iblis tua itu,tetapi tidak ada seorangpun yang mau mundur.

Sedangkan Thian-san Liong-lie sambil memegang erat-erat pedang.Mengawasi kawanan iblis itu tanpa berkedip.

Disamping itu di luar sejarak kira-kira lima tombak jauhnya orang-orang dari pek-leng,Cie-in- pang dan Ban-siu-pang dengan sikap yang tenang menyaksikan semua kejadian yang terjadi di tempat itu seolah-olah kejadian itu tidak ada hubungannya dengan mereka sendiri.

Selain daripada itu, ditempat sejauh kira-kira sepuluh tumbak masih ada banyak orang-orang kuat dari golongan hitam dan putih yang hendak menghentikan berahirnya peristiwa yang mengenaskan demikian.

Diantaraanya, adajuga yang bermaksud hendak mencari untung dalam kekeruhan itu.

Yo Cie Cong yang lama pingsan perlahan-lahan telah terlihat membuka matanya, ketika kedua matanya berbentrokan dengan berapa pasang mata kawanan iblis yang buas-buas itu, diam-diam merasa bergidik sendirinya, ia insyaf dirinya ada dalam bahaya.

Ketika melihat Thian-san Liong-lie ada disitu, siapa pernah memberikan obat padanya waktu ia terkena serangan orang-orang ganas, sedang berdiri disampingnya dengan pedang terhunus, dalam hatinya diam-diam merasa bersyukur. Ia berpikir, siapakah wanita pertengahan umur itu ? mengapa ters-terusan memperhatikan diriku yang sangat asing dan sebagai anak piatu yang tidak mempunyai sanak keluarga ? apakah ia mampu menghadapi kawana iblis itu semua ? jika aku Yo Cie Cong tidak binasa, aku nanti akan membalas budinya yang besar ini.

Karena kesannya yang sangat baik itu, maka ia lantas mengawasi Thian-san Liong-lie sambil tersenyum.

Justru senyuman itu telah membikin goncang hatinya thian-san Liong-lie. Tekadnya bertambah bulat untuk menolong dirinya anak muda itu. Ia merasa bahwa dari dirinya anak muda ini ia akan mendapat sedikit hiburan untuk hatinya yang terluka.

Si iblis wajah singa ketika melihat gertakannya tidak ada seorangpun yang menggubrisnya, timbul pula hati ganasnya. Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba ia memutar kedua tangannya dan menyerang kearah dua orang penjahat dari lam-bong.

Iblis tua wajah singa ini meskipun adatnya kejam dan buas, tetapi ia bisa bertindak sangat hati- hati. Ia telah memperhitungkan masa-masa dari kekuatan lawan-lawannya, maka lantas mengambil keputusan hendak merubuhkan satu demi satu.

Dengan adanya Thian-san Liong- lie disitu,beberapa orang itu tentunya tidak berdayamendapatkan dirinya Yo Tie Cong.

Maka ia mau membereskan lawannya yang kuat satu-persatu dulu, setelah itu baru menghadapi Thian-san Liong-lie.

Tetapi dua penjahat dari Lam-bong itu juga bukannya orang-orang sembarangan, bahkan kekuatan mereka berdua masih berada diatasnya kekuatan ‘ Empat Setan dari Pak-bin’. Ketika mereka dijadikan sasaran pertama oleh siiblis wajah singa, sambil keluarkan ketawa dingin, kedua- duanya lantas mengeluarkan tangan mereka untuk menjabuti serangan si iblis tua wajah singa itu.

Karena masing-masing pada mendendam maksud untuk mrmbinasakan lawannya. Maka setiap serangan telah dilancarkan dengan sepenuh tenaga dan ganas.

Sementara itu, dipihaknya tiga orang pendek dari Kiong-lay, ketika menyaksikan kejadianitu mereka bertiga lantas menganggap bahwa itu merupakan suatu kesempatan baik yang harus digunakan. Maka setelah satu sama lain memberikan isyarat. Wang Hong-hong tiba-tiba melesat tinggi, dengan gerakan burung elang menerkam tajam, lantas menyerbu dirinya garuda kepala botak.

Bersamaan saat itu juga, Wie Bu Liang dengan sepenuh tenaga menerjang Thian-san Liong-lie, sedangkan Ciong-Liat juga secepat kilat menyambar dirinya Yo Cie Cong dan melompat keliar kalangan.

Gerakan mereka itu sebenarnya diluar dugaan semua orang. Thian-san Liong-lie wajahnya berubah seketika, rupanya ia sudah gusar benar-benar. Sambil keluarkan bentakan hebat pedang di tangannya bergerak seperti bianglala, dengan kecepatan luar biasa sebentar saja sudah mengeluarkan serangannya secara bertubi-tubi dengan demikian. Maka serangannya Wie Bu Liang lantas kandas ditengah jalan.

Thian-san Liong-lie merangsek, sehingga Wie Bu Liang seluruh badannya lantas terkurung oleh sinar pedangnya.

Mendadak terdengar suaranya Thian-san Liong-lie yang berseri kena !’ yang selanjutnya terdengar suara dijeritnya Wie Bu Liang, ternyata kanan orang she Wie itu sudah terpapas kutung darah tampak berhamburan ditanah, dan orangnya bergulingan.

Dengan tidak mendongak lagi Thian-san liong-lie lantas mengejar si cebol kedua, Ciong-liat.

Sementara itu, si garuda kepala botak yang diserbu oleh Wan Hong-hong secara mendadak,ternyata tidak berkelit atau tidak menyingkirkan diri dari serangan lawannya, bahkan dengan kedua tangannya ia memapaki serbuannya lawannya itu.

Sementara itu, si garuda kepala botak yang diserbu oleh Wan Hong-hong lantas terpental, dan setelah jumpalitan ditengah udara baru jatuh ketanah, sedangkan sigarusa kepala botak sendiri badannya juga terhujung-hujung.

Si garuda kepala botak yang dalam golongan hitam paling terkenal dengan kepandaian mengentengi tubuhnya, setelah kakinya berdiri lagi, lalu meledat tinggi keatas mengejar Wan Hong-hong.

Si iblis wajah singa dan kedua orang penjahat dari dari Lam-bong, ternyata merupakan lawan yang berimbang. Meskipun kedua pihak sudah berdaya sedapat-dapatnya untuk menjatuhkan lawannya, tetapi untuk sementara tidak ada yang berhasil melepaskan diri dari lawannya, keadaannya ternyata sudah berubah.

Cing-liat, si pendek yang kedua, ternyata sudah binasa dalam keadaan terkutung kepalanya, sedangkan pemuda baju kuning, Yo Cie Cong, sudah dikuasai oleh orang-orangnya Pek-leng- hwee, dan Ban-siu-pang.

Thian-san liong-lie dan lain-lainnya pada berdiri sejarak dua tumbak lebih.

Si iblis wajah singa dengan mata beringas lantas hendak menerjang maju…..

Tetapi sesaat itu mendadak terlihat berkelebatnya satu bayangan putih, Cien Bie Nio dengan sepasang pedang dikedua tangannya menghadang didepannya Yo Cie Cong, ia masih tetap dengan gusar lantas ia berkata kepada Cien Bie Nio :

,, Cien Bie Nio, perkataanmua tadi masih berlaku atau tidak ?’’

,, Perkataan apa ?’’

,, Setan cilik ini sksn kubelek perutnya.’’

Meskipun dirinya Yo Cie Cong sudah dikuasai orang, tetapi pikirannya masih terang. Ketika mendengar perkataan si iblis wajah singa itu, bukan kepalang rasa gusarnya, ia segera mengerti bahwa maksudnya kawanan iblis itu ialah hendak mengambil mustika dari dalam perutnya.

Atas ucapan si iblis wajah singa tadi, Cien Bie Nio lalu menyahut sambil ketawa :

,, Setiap perkataan yang keluar dari mulut kami selalu berharga.’’

Si iblis tampaknya kegirangan, ia berkata pula dengan suara cemas :

,, Apa sekarang juga kau hendak memberikan setan cilik itu kepadaku,’’

,, Ini sangat mudah sekali, Cuma sahabat-sahabat dunia Kang-ouw yang berada disekitar tempat ini apakah ’’ jawab Cien Bie Nio mengerling kearah dua penjahat dari Lam-bong,

garuda kepala botak dan lain-lainnya.

Belum sampai si iblis wajah singa menjawab mendadak Wie Bu Liang si pendek yang tertua menjelak dengan suara gusar.

,, Kembalikan jiwa saudaraku !’’ lalu ia bersama saudaranya yang ketiga lantas menyerang berbareng pada Cien Bie Nio. Ternyata si pendek yang kedua Cing-liat, tadi ketika berhasil merebut dirinya Yo Cie Cong dan hendak dibawa kabur telah binasa ditangannya Cien Bie Nio, dengan demikian Yo Cie Cong juga telah direbut oleh Cien Bie Nio.

Ketika melihat kedua orang cebol itu menerjang, Cien Bie Nio tertawa terpingkal-pingkal, lantas memutar kedua pedangnya, sehingga pedang itu merupakan tembok yang melindungi dirinya.

Kedua orang pendek tadi terpaksa harus melancarkan serangan menggunakan tenaganya dengan sepenuh tenaga.

Serangan dari kedua orang pendek itu ternyata sangat hebat sebab mereka sudah berhasil membuyarkan tembok pedangnya Cie Cong juga direbut oleh Cien Bie Nio, tetapi keduanya juga terpental jauh.

Dipihak si iblis wajah singa, setelah permintaannya diterima baik oleh Cien Bie Nio, pikirnya asal tidak ada orang ketiga yang turut campur tangan, dirinya Yo Cie Cong segera akan terjatuh dalam tangannya, maka seketika itu ia lantas turun tangan membantu Cien Bie Nio.

Tiga orang pendek dari Kiong-lay yang sekarang Cuma tinggal dua orang lagi, rupa-rupanya mengerti bahwa jika pertempuran dilakukan terus, tidak akan menguntungkan fihaknya sendiri, ketambahan lagi si pendek yang tertua saat itu tangannya Cuma tinggal sebelah, maka pengharapan mereka jadi semakin tipis untuk merebut kemenangan.

Setelah menyaksikan si iblis wajah singa membantu Cin Bie Nio, kedua-duanya lalu lompat melesat sejauh setumbak lebih menghindari serangan si iblis wajah singa itu dan lantas hilang kedalam rimba.

Si iblis wajah singa tertawa bergelak-gelak, lalu berpaling dan berkata kepada dua penjahat dari Lam-bong.

,, Apakah kalian masih belum mau lepas tangan ?’’

Dua penjahat dari Lam-bong itu mengawasi Cin Bie Nio dan Thian-san liong-lie sejenak, kedua- duanya lantas mundur sejauh sepuluh tumbah.

Sementara itu, si garuda kepala botak juga meninggalkan tempat tersebut.

Disitu hanya tertinggal Cin Bie Nio, kedua pangcu, si iblis wajah singa dan Thian-san liong-lie. Yo Cie Cong dengan wajah pucat pasi, kedua tangannya dipegangi oleh orang-orangnya Pek-

leng-hwee, saat itu berdiri ditempat sejauh lima tumbak, dengan matanya juga beringas ia mengawasi kawanan iblis itu.

Si gadis baju merah yang dipanggil ‘Kiauw Jie’ terus menggerak-gerakan pecut lemas ditangannya, sebentar mengawasi Yo Cie Cong yang berada disampingnya, sebentar lagi mengawasi kedalam kalangan. Tampak tegas sekali betapa tegang perasaan hatinya, sedangkan pemuda baju ungu itu kelihayan berdiri sebagai penonton dengan perasaan puas.

Thian-san liong-lie dengan sangat memperhatikan mengawasi Yo Cie Cong sejenak, kemudian telah mengambil suatu keputusan tetap. Dengan keadaan tidak bersuara ia lantas melajang kea rah Yo Cie Cong.

Orang-orangnya Pek-leng-hwee yang saat itu menguasai dirinya Yo Cie Cong, kecuali dua orang kuat yang memegang tangannya Yo Cie Cong, masih ada lagi lima orang tua.

Kala itu, ketika melihat melesatnya bayangan manusia, lima orang tua itu lantas maju berbareng, masing-masing mengeluarkan serangan tangannya.

Thian-san liong-lie, sebelum lawan sampai sudah melanjutkan serangan tangannya, maka serangan kelima orang tadi lantas berbentrokan dengan serangan tangannya Thian-san liong-lie, dan kelima orang tua itu lantas terpental mundur semuanya.

Sebentar kemudian, pedangnya Thian-san liong-lie dengan kecepatan kilat sudah menikam kearah laki-laki yang sedang memegang dirinya Yo Cie Cong.

Mendadak suara ‘ terang terdengar nyaring, pedang Thian-san liong-lie telah terpental miring. Ketika ia melihat siapa orangnya yang mengkis serangannya tadi, ternyata orang itu adalah Cin

Bie Nio yang dengan sepasang pedangnnya sudah berdiri didepannya kedua laki-laki tua tadi denga wajah merah padam.

Terang bahwa ia tadi sudah menggunakan tenaga sepenuhnya untuk mengkis serangan Thian- san liong-lie. Yo Cie Cong yang masih terluka parah, saat itu dirinya dipegangi oleh dua orang laki-laki kuat, tampaknya terus menggigil, sedangkan jidatnya sudah penuh keringat dingin. Ia hanya kuatkan hatinya saja sehingga tidak merintih.

Saat itu, ketika menyaksikan Thian-san liong-lie telah menolong dirinya lagi, bahkan dengan tidak menghiraukan jiwanya sendiri, hatinya merasa tergerak.

Kedua matanya yang sayu telah memancarkan sinar berterima kasih mengawasi Thian-san liong-lie, sedangkan dalam hatinya berpikir : Wanita pertengahan umur ini kalau dilihat dari wajahnya, seharusnya aku panggil kwok-kwok ( bibi ) padanya. Jika hari ini aku akan binasa ditangannya kawanan iblis, busi ini rasanya hanya dapat kubahas dilain penitisan.

Cin Bie Nio kecuali cabul dan centilnya yang sudah sangat terkenal, juga merupakan seorang cerdik juga banyak akalnya. Ketika melihat Thian-san liong-lie berkali-kali turun tangan melindungi dirinya Yo Cie Cong, dengan tidak menghiraukan segala bahaya, ia sudah mengetahui bahwa disitu pasti ada sebab-sebabnya maka ia lantas berkata sambil ketawa :

,, Tho Lihiap perlu apa campur tangan dalam urusan ini ?’’

,, Campur tangan ? apa dosanya anak ini ? mengapa kalian akan membelek perutnya dan mengambil mustikanya ? perbuatan jahat yang melanggar hukum dan perikemanusiaan ini, aku Tho Hui Hong tidak boleh tidak harus turut campur tangan’ jawab Thian-san liong-lie tegas.

Jawabnya itu telah membuat Cin Bie Nio wajahnya berubah seketika. Pangcu dari Cie-in-pang, Lie Bun Hao, tiba celetuk :

,, Tho Lihiap, barangkali tidak bermaksud dengan kami berdua pang dan Pek-leng-hwee.’’

,, Dua pang Pek-leng-hwee tidak dapat menggertak orang.’’jawab Thian-san liong-lie sambil ketawa dingin.

Pangcu dari Ban-siu-pang. Tio Phan, lantas berkata sambil ketawa bergelak-gelak :

,, Sombongnya perkataan Tho Lihiap.’’

,, Kalau benar, kau mau apa ?’’ jawab Thian-san liong-lie ketus.

Tiba-tiba Cin Bie Nio mengeser kakinya tiga tindak, tangannya menekan jalan darah Beng-hun- hiat dibelakang gegernya Yo Cie Cong. Dengan wajah masih ramai dengan senyuman ia berkata kepada Thian-san liong-lie :

,, Tho Lihiap barangkali tidak suka melihat bocah cakap ini melayang jiwanya disini ?’’ Thian-san liong-lie melongo.

Yo Cie Cong lantas membentak dengan suara yang serak :

,, Iblis perempuan, aku Yo Cie Cong menyesal sekali tidak bisa membeset kulitmu dan makan dagingmu !’’

Thian-san liong-lie hampir saja meledak dadanya, wajahnya nampak merah padam, dengan suara gusar ia berkata :

,, Pek-leng-hwee dan Cie-in-pang serta Ban-siu-pang ternyata Cuma bisa mengeluarkan perbuatan yang begitu rendah, turun tangan selagi orang tidak berdaya. Apa masih ada muka untuk mengaku sebagai ketua dari partai-partai terbesab dalam dunia Kang-ouw ?’’

Cin Bie Nio lepaskan tangannya, ia maju 3 tindak dan kata dengan tenang :

,, Menurut pikiran Tho Lihiap, urusan ini bagaimana harus kita bereskan ?’’

,, Anak ini dengan perkumpulan kalian sebetulnya ada masalah apa ? mengapa kalian harus membinasakan jiwanya ? jika memang benar anak ini memang cukup alasannya patut dibinasakan, maka aku Tho Hui Hong akan terlalu tanpa ambil perduli lagi !’’ jawab Thian-san liong-lie, mendengar perkataan itu, merah mukanya Cin Bie Nio.

Memang sebetulnya mereka tidak punya alasan untuk mengambil jiwa Yo Cie Cong, mereka hanya mencurigakan dirinya pemuda itu ada hubungan dengan golok maut.

Tapi karena hal itu ada menyangkut urusan atau peristiwa yang terjadi pada 20 tahun berselang, biar bagaiman tentu mereka tidak dapat menjelaskan.

Cin Bie Nio dengan kecantikannya, kegenitan dan akal muslihatnya yang banyak, telah merupakan kepala dalam rombongan dari orang-orang Pek-leng-hwee, Cie-in-pang dan Ban-siu- pang-siu-pang. Saat itu setelah berdiam sejenak, lalu menjawab dengan sangat misterius :

,, Urusan ini ada menyangkut urusan pribadi dalam perkumpulan kami, maaf tidak dapat kami beritahukan kepadamu !’’ ,, Segala permusuhan dan dendaman dalam dunia Kang-ouw, boleh saja diumumkan secara terus terang, dalam urusanmu ini mungkin ada urusan yang tidak patut diketahui oleh orang lain

?’’ Tanya Thian-san liong-lie.

Sebetulnya Yo Cie Cong sendiri juga mengerti, tapi ia tidak mau buka mulut, karena jika ia menerangkan dirinya bukan Cuma Pek-leng-hwee, Cie-in-pang dan Ban-siu-pang saja akan membinasakan dirinya, tapi masih ada banyak lagi manusia iblis yang menakutkan tentunya juga tidak akan melepaskan dirinya.

Cin Bie Nio rupanya merasa jengah, sikapnya yang genit lantas musnah seketika. ,, Tho Hui Hong, kami ketua dari Pek-leng-hwee ada menjungjung tinggi kau seorang pendekar wanita kenamaan, maka selalu bersikap mengalah. Jangan ka uterus mendesak demikian rupa. Aku sekarang Tanya hendak kau, hari ini kau hendak berbuat apa ?’’ demikian Tanya gusar.

,, Harap kau suka lepaskan anak yang tidak berdosa ini dengan sekuat tenaga yang ada padaku !’’ Suasana kembali menjadi tegang.

,, Dengan memandang mukamu Thian-san liong-lie, bukan tidak bisa kita lepaskan anak ini, tapi……’’ jawabnya Cin Bie Nio dingin.

,, Tapi bagaimana ?’’

,, Orang lain mau mengerti atau tidak ? kami tidak tahu !’’ sahutnya Cin Bie Nio sambil melirik pada si iblis wajah singa.

,, Kalau begitu kau lepaskan dulu orangnya, tentang orang lain mau mengerti atau tidak, ada urusanku Tho Hui Hong !’’ Thian-san liong-lie mendesak.

Dengan tanpa ragu-ragu Cin Bie Nio lantas memberi tanda kepada kedua laki-laki yang memegangi tangan Yo Cie Cong, kedua laki-laki itu lantas lepaskan cekalannya. Dan selagi kedua pangcu itu hendak membuka mulut, tapi sudah dicegah oleh Cin Bie Nio dengan lirikan matanya yang tajam.

Sepasang alisnya Kiauw-jie yang dikerutkan sejak tadi, kini baru kelihatan terang.

Yo Cie Cong dengan badan sepoyongan menghampiri Thian-san liong-lie, kemudian berkata padanya dengan suara sangat terharu :

,, Bibi Tho, izinkan aku demikian memanggil dirimu. Terhadap budimu yang begitu besar yang kau lepaskan kepada diriku, aku tidak berani mengucapkan bisa membalas. Tapi aku Yo Cie Cong selama masih hidup, pasti akan ingat terus budimu ini dalam hatiku.

Sehabis mengucapkan perkataannya itu, sikap dan wajahnya kembali nampak sangat dingin dan kecut, sedang matanya memancarkan sinar kebencian.

Sebutan Bibi Tho itu ternyata sangat menggirangkan hati Thian-san liong-lie, sehingga sepasang matanya yang agak layu memancarkan sinar yang menandakan tergoncangnya sang hati. Ia terus mengawasi wajahnya Yo Cie Cong, agaknya sedang mencari-cari barangnya prang yang sudah menghilang dari depan matanya, tapi agaknya juga seperti mengenangkan kepada masa yang sudah lampau. Akhirnya ia berkata sendiri dengan suara perlahan : “…Betapa miripnya anak ini dengan dia..”

Wajahnya mendadak berubah sedih, air mata tampak mengembang ditelakupan matanya.

Kemudian mengetes turun kedadanya.

Yo Cie Cong memandang dengan perasaan heran, entah siapa yang dimaksudkan denga si

`Dia` ?

Saat itu mandadak terdengar suara ketawa aneh, si iblis wajah singa sudah lompat maju ke depan Thian-san liong-lie, dengan matanya yang beringas ia berkata dengan sengit :

…Thian-san liong-lie, kau berani bermusuhan dengan aku si orang tua ?”

Thian-san liong-lie angkat perlahan-lahan mukanya, baru menjawab dengan suara dingin :

…Kau hendak berbuat apa ?”

…Kalau kau kenal gelagat, lekas serahkan dirinya bocah ini !” Yo Cie Cong lekas nyeletuk dengan mata beringas :

…iblis tua, aku Yo Cie Cong kalau tidak mati, pasti akan bikin remuk tulang-tulangmu !”

….setan cilik, kau pasti tidak bisa hidup lagi, tunggu sampai lain penitisan kau baru bisa membuat perhitungan hutang ini !” kata si iblis wajah singa.

Thian-san liong-lie nampaknya sudah gusar benar-benar ia bertanya dengan suara bengis : …iblis tua, kau benar-benar hendak melakukan perbuatan yang melanggar hukum dan prikemanusiaan !”

…Kau berani ganggu selembar rambut saja anak ini, pembalasan segera berada didepan mata

!”

…He…he…he! Orang semacam kau masih belum pantas untuk mengucapkan demikian “

…Kalau begitu kau boleh coba saja !”

Rambut dan jenggot si iblis wajah singa nampak pada berdiri mulutnya mengangah hingga

kelihatan calingnya yang tajam. Sikapnya itu sungguh menakutkan, seolah-olah siluman wajah singa berbadan manusia.

Setelah pendengaran geramnya yang seram, ia lantas menyerang dengan beruntun sampai 8 kali kepada Thian-san liong-lie.

Iblis ini sudah napsu benar-benar hendak mendapatkan mustika dari dalam perutnya Yo Cie Cong. Dan Thian-san liong-lie, wanita setengah umur yang sangat cantik ini, merupakan musuh kuatnya yang terakhir. Maka ia harus menghadapi dengan dengan sepenuh tenaganya.

Serangan 8 kali itu dilanjutkan sekaligus, setiap gerakan mengandung kekuatan tenaga dalam yang hebat.

Thian-san liong-lie mundur 3 tindak, baru berhasil menghindarkan serangan yang sangat hebat itu.

Ketika serangan lawanya agak kendor, ia lantas balas menyerang dengan pedang panjangnya. Ia melanjutkan serangan berantai sampai 9 kali.

Iblis wajah singa itu nampak sangat ripuh. Setelah berkelit kesana-kemari, baru berhasil meloloskan diri dari ancaman ujung pedangnya Thian-san liong-lie. Tapi dengan demikian justru telah membangkitkan kebuasannya.

Dengan mendadak ia tarik mundur dirinya sampai 5 kali. Lalu mendorong kedua tangannya dengan kekuatan tenaga sepenuhnya. Seketika itu lantas terbit angin hebat yang ditimbulkan oleh serangan si iblis wajah singa tua itu. Serangan itu benar-benar sangat dahsyat. Thian-san liong-lie meski ada satu ahli pedang kenamaan tetapi kekuatan tenaga dalamnya masih kalah setengah tingkat dari pada si iblis wajah singa, maka pedangnya lantas tidak dapat digunakan.

Ketika menapak serangan lawannya ada begitu hebat, ia tidak berani menyambuti dengan kekuatan tangan kanannya dan terpaksa berkelit kesamping sampai 8 kali jauhnya.

Si iblis wajah singa tidak mau memberi hati, dengan cepat susulkan serangan berikutnya.

Karena dirinya sedang terluka parah, bergerak saja masih menjadi pertanyaan, mana ada kemampuan untuk melawan para iblis tua ?

Thian-san Liong Lie meski membela dirinya secara mati-matian meski untuk menghadapi si Iblis Wajah singa rasanya masih tidak menjadi soal, tapi jika Tin Bie Nio Dn kedua pancu itu turut turun tangan, sudah tentu ia tidak dapat melawan. Disamping itu masih banyak lagi kawanan iblis yang mengincar diam-diam ? Masih belum diketahui.

Pikir bolak-balik, semuanya merupakan jalan buntu, satu-satunya jalan ialah kematian.

Dalam keadaan demikian, ia telah inggat dirinya yang tidak ketahuan asal-usulnya. Ia ingat dendam sakit hati gurunya.

Denangan tidak terasa, air matanya lantas mengalir turun.

Ia tidak takut mati, tapi ia merasa bahwa pada saat itu ia tidak boleh mati.

Banyak urusan masih masih menantikan padanya, yang ia harus dapat melaksanakan sebaik- baiknya.

Namun dalam keadaan demikian, pengharapannya hidup rasanya sedikit sekali ! Dengan tanpa terasa ia lantas berpaling dan berkata kepada Thian-san Liong-Lie.

..Bibi Tho, pergilah ! Budi kebaikanmu, sampai matipun aku tidak bisa melupakan. Buat sekarang ini aku susah menandingi mereka, jikalau aku terjadi apa-apa atas dirimu karena hendak menolong diriku …….” Perkataannya kandas sampai disini. Thian-san Liong-Lie dengan sorot matanya yang penuh welas asih, yagn memandang wajah Yo Cie Cong, kemudian menjawab dengan suaranya yang lemah lembut :

….Anak, bibi Tho sejak berkelana di dunia Kang-ouw, belum pernah tunduk kepada pengaruh kejahatan !” Jawaban itu telah menggerakan hatinya Yo Cie Cong, wajahnya yang putih lantas berubah merah.

Dari mulutnya seorang wanita, telah keluar perkataan yang demikian gagah. Benar-benar sangat menggerakan hati Yo Cie Cong dan sesungguhnya juga memalukan kaum laki-laki yang menganggap diri ada seorang gagah.

Si Iblis wajah singa karena daging gemuk yang sudah berada dalam mulutnya telah hilang lagi, lantas menjadi kalap, dengan mata mendelik dan mulut berkaok-kaok ia berkata kepada Thian-san Liong-Lie :

…Thian-san Liong-Lie, apa kau benar-benar tidak kenal dengan gelagat ? . Tidak peduli kau ada mengandalkan dirinya siapa yang bagaimana lihainya, aku si Orang Tua akan turun tangan terhadap dirimu juga !”

Oleh karena itu Iblis Tua menyebut orang yang diandalkan oleh Thian-san Liong-Lie, membuat Cin Bie Nio dan kedua pancu saat itu pada terkejut. Kalau sejak tadi mereka mereka masih berlaku hormat kepada Thian-san Liong-Lie, membuat Cin Bie Nio dan kedua pancu saat itu pada terkejut.

Kalau sejak tadi mereka masih berlaku horamt kepada Thian-san Liong-Lie sebabnya ialah dibelakangnya Thian-san Liong-Lie masih ada seorang yang kepandaiannya luar biasa tingginya.

Suhunya Thian-san Liong-Lie “ To-thian Le-siu usianya sudah lebih seratus tahun, tinggi kepandaiannya tidak bisa di jajaki, tabeatnya juga luar biasa. Di dalam rimba persilatan tidak ada yang berani main-main padanya.

Di mulutnya si Iblis wajah Singa itu meski mengatakan demikian , tapi dalam hatinya sebetulnya merasa kebat-kebit, biar bagaimana ia tidak berani turun tangan jahat terhadap muridnya orang gagah itu.

Apa lagi kekuatanya sendiri ada seimbang dengan kekuatannya Thian-san Liong-Lie kalau bertempur benar-benar. Belum tau siapa yang akan menang dan siapa yang kalah.

Thian-san Liong-Lie ketika mendengar si Iblis wajah siapa nyebut-nyebut orang yang diandalkan. Sudah tentu yang dimaksudkan adalah suhunya, maka lantas berkata sambil ketawa dingin :

…Aku Tho Hui Hong sejak berkelana didunia Kang-ouw belum pernah membawa-bawa namanya suhu !”

Si Iblis wajah Singa itu sedang mengimpikan cita-citanya menjadi orang kuat nomor satu di dunia , sudah tentu menjadi gelap pikirannya.

Dengan sorot mata buas, ia memandang dirinya. Yo Cie Cong.

Tapi satu-satunya rintangan terberat adalah Thian-san Liong-Lie maka ia harus merubuhkan dirinya wanita itu, maka seketika ia lantas berkata :

…Bagus sekali !Biarlah aku yang menyingkirkan kau !”

Baru saja menutup mulutnya tangannya, tangannya melancarkan 5 serangan dengan beruntun. Thian-san Liong-Lie pada saat itu masih berdiri dihadapan Yo Cie Cong kira-kira 5 kaki jauhnya,

kalau ia berkelit, pasti dirinya Yo Cie Cong yang menjadi sasaran serangannya Iblis tua itu.

Sang waktu tidak memberikan kesempatan untuk ia banyak berfikir, terpaksa sambil gertak gigi ia menymbuti serangannya si Iblis wajah singa itu. Setelah kedua kekuatan beradu, Thian-san Liong-Lie terpental mundur beberapa tindak, dadanya dirasakan sesak.

Sejenak ia memulihkan jalan pernapasannya. Kemudian ia putar pedangnya melanjutkan serangan membalas dengan hebatnya.

Tipu-tipu serangan pedang yang membingungkan musuh yang diperlihatkan secara indah dan bersahaja. Sehingga membuat kelabakan si Iblis. Ia terpaksa mundur sampai satu tombak jauhnya, mulutnya berkaok-kaok tidak berhentinya.

Ia menantikan sampai serangan Thian-san Liong-Lie agak kendor, lalu buka serangannya pula.

Kedua pihak nampaknya tidak ada yang mau mengalah.

Setelah pertempuran berjalan seratus jurus lebih, kedua pihak sudah kelihatan lelah, gerak serangannya mulai kendor, meski demikian, tapi setiap serangan cukup untuk mengambil jiwa lawannya.

Mendadak Thian-san Liong-Lie melanjutkan tipu serangan simpanan yang paling lihay yang dinamakan `Seng-Lo-kie-po`. Tipu serangn ini setiap dikeluarkan, pasti meminta korban. Selama hidupnya Thian-san Liong-Lie baru menggunakan dua kali saja tipu serangan demikian. Si Iblis Wajah Singa ketika nampak Thian-san Liong-Lie mengeluarkan tipu serangannya yang aneh itu. Ia jadi kebingungan untuk menjaga dirinya, maka seketika itu timbul pikiranya untuk mengadu jiwa.

Ia tidak mundur, sebaliknya merangsak maju. Ia putar kedua tangannya dengan cepat ia hendak menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk merintangi serangannya pedang.

Disamping itu ia lantas gigit lidahnya sendiri sehingga dalam mulutnya penuh darah. Dibarengi dengan tenaga dalamnya, darah dari dalam mulutnya disemburkan kewajahnya Thian-san Liong- Lie.

Perbuatan itu juga merupakan tindakan terakhir bagi si iblis tua itu.

Ia mengunakan tipu serangan itu harus menghamburkan kekuatan tenaga dalam yang tidak sedikit, tapi si iblis wajah singa yang berada dalam keadaan kepepet, ia sudah tidak pikirkan lagi bahwa tindakannya itu akan membuat hilang kekuatannya yang ia latih beberapa puluh tahun lamanya.

Sebentar kemudian, kelihatan kedua-duanya pada mundur.

Si Iblis wajah singa tangannya terpapang kutung, darah darah menyembur keluar seperti air mancur.

Thian-san Liong-Lie pipi kanannya terkena semburan darahnya si iblis, sehingga terdpat tiga lubang sebesar kacang kedele, wajahnya yang cantik manis, kini telah menjadi cacat.

Selain dari pada itu, sebutir darah lagi mengenakan dengan tepat pada jalan darah `Sim-hiong- hiat`sehingga ia lantas jatuh duduk ditanah.

Si Iblis wajah singa menggunakan jarinya menotok jalan darah lengan kanannya untuk mencegah mengalirnya darah lebih banyak kemudian badannya bergerak menubruk dirinya Yo Cie Cong yang masihj berdiri kesima.

…tunggu dulu !” demikian mendengar suara bentakan nyaring.

Badannya si iblis tiba-tiba terpental mundur oleh kekuatan angin yang menyerang padanya, ia ketika pentang matanya. Ternyata adalah Cin Bie Nio yang berdiri dihadapannya.

Sebentar saja, pasir dan batu berhamburan. Suatu gemuruh terdengar saling menyusul.

Thian-san liong-lie dengan mengandal gerak badannya yang lincah dan gesit. Berhasil menghindarkan dari serangannya si iblis wajah tua itu.

Tapi Yo Cie Cong masih terluka parah, lantas kehilangan pelindungnya.

Si iblis wajah tidak mau sia-siakan kesempatan yang baik itu selagi Thian-san liong-lie ripuh menghindarkan diri serangannya. Dengan kecepatan bagikan kilat ia menyambar dirinya Yo Cie Cong.

Thian-san liong-lie yang sudah tidak keburu menolong dirinya Yo Cie Cong dalam keadaan kepepet tiba-tiba telah melontarkan pedangnya ke arah iblis.

Lontaran itu dilakukan dengan separuh tenaga, apalagi jarak antara ia dengan si iblis Cuma 2 tumbak saja jauhnya, dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan tersebut.

Si iblis wajah singa yang baru saja merasa girang karena usahanya sudah berhasil tidak menduga kalau Thian-san liong-lie melontarkan pedangnya.

Kalau ia teruskan tindakannya, meski dirinya Yo Cie Cong bisa didapatkan, tapi tapi pedangnya Thian-san liong-lie pasti akan menembus badannya.

Dalam keadaan demikian sudah tentu melindungi jiwanya dulu yang paling penting.

Ia lalu ayun tangan kanannya untuk menyampok badan pedang. Sedang badannya sediri lantas melesat mundur 5 kaki.

Sedang Thian-san liong-lie berbaring pada saat melontarkan pedangnya, dirinya sudah melompat melesat kedepannta Yo Cie Cong. Maka ketika pedangnya kesampok oleh tangannya si iblis wajah singa ia lantas sambar kembali dengan tangannya.

Tindakan yang sangat berani dan bagus sekali itu membuat kesima semua orang yang menyaksikannya.

Hanya Thian-san liong-lie yang sikapnya nampak berlainan dengan orang banyak.

Semula ia nampak girang melihat tindakannya si iblis wajah singa akan berhasil tetapi ketika melihat Thian-san liong-lie dapat mencegah maksud musuhnya dengan caranya yang sangat hebat itu alisnya lantas dikerutkan. Iblis wanita yang ganas dan genit itu apa yang sebetulnya yang di pikir dalam hatinya ? siapapun tidak ada yang tahu ! benarkah ia dapat membiarkan si iblis wajah singa berhasil mendapatkan dirinya Yo Cie Cong ?Rasanya masih belum tentu!

Sekalipun pancu dari Cie Cong-in-pang dan Ban-siu-pang yang merupakan `orang dekat` juga masih tidak bisa menebak maksud maksudnya si wanita genit itu.

Keadaanya Yo Cie Cong itu waktu sesungguhnya sukar di lukiskan dengan pena. Dengan secara kebetulan ia telah menelan mustika yang sangat mukjijat bagi orang rimba persilatan tapi kini dirinya mendadak menjadi rebutan kawanan iblis. Dan semua iblis itu tujuannya ialah serupa : hendak membelek perutnya !

Bab 7

PANGCU dari Cie-in-pang Lie Bun Hoo dan pangcu dari Bang-sio-pang Thio Pan, juga ikut nyerbu dalam kalangan, mereka berdiri berdampingan dengan Cin Bie Nio.

…Cin Bie Nio saat itu wajahnya sudah tidak semanis seperti tadi, dengan suaranya yang dingin ketus ia balas menanya :

…Pungkir apa ?”

..Lohu sudah menepati janji memukul mundur semua orang yang ingin turut ambil bagian dalam urusan ini. Tadi kau kata sendiri, setelah lohu memukul mundur mereka bocah ini hendak kau serahkan kepada lohu untuk di belek perutnya dan diambil mustikanya, apa kau tidak mengakui janjimu sendiri.

…benar, memang aku tadi kata begitu “

…kalau brgitu mengapa kau merintangi tindakanku ?”

…Tapi sekarang keadaannya ada lain, aku tidak ingin bocah ini biasa !”

…Benarkah kau hendak mengingkari janjimu sediri ?”

…kau jangan lupa bocah ini tadi jatuh ditangan siapa?

Dia selain kita lepaskan sesudah terjatuh dalam tangan orang-orang Pek-leng-hwee, Cie-in- pang Lie Bun Hoo, maka perjanjian tadi harus kita batalkan “

Si iblis wajah singa yang mendengar itu, hatinya sangat mendelu. Bukan kepalang gusarnya.

Sampai-sampai urat jidatnya kelihatan menonjol. Matanya mendelik seperti seperti mau mau meloncat keluar. Tetapi mulutnya tidak bisa mengatakan apa-apa.

Pada saat itu matahari sudah kelihatan mendoyong ke Barat. Angin malam meniup sepoy- sepoy. Puncak gunung sekitar danau Liong-than sudah diliputi oleh suasana malam.

Yo Cie Cong dengan susah payah berjalan menghampiri Thian-san Liong-Lie.

Ia melihat wajahnya Thian-san Liong-Lie yang cantik bercacad oleh serangan yang ganas dari si iblis wajah singa semata-mata karena hendak menolong dirinya.ia merasa tidak enak terhadap wanita cantik yang berbudi luhur itu, maka lalu berkata padanya dengan dengan suara agak bergetar :

…Bibi Tho, kau ”

….Anak, tidak apa. Aku hanya menyesal tidak mempunyai cukup kekuatan untuk menolong kau dari tangannya kawanan iblis ini….”

Thian-san Liong-Lie tidak sanggup melanjutkan perkataanya, dalam hati berdo`a supaya pemuda yang cakap ganteng ini tidak mengalami nasibnya yg mengerikan.

Yo Cie Cong pada saat itu juga seperti mendapat firasat bahwa tangan maut sedang melambai- lambai hendak menyembutnya ia seperti merasa bahwa ajalnya sudah hampir sampai, dengan tidak terasa air matanya mengalir keluar.

Kematian ada merupakan berakhirnya penghidupan manusia. Setiap manusia tidak akan terhindar daripada kematian.

Yo Cie Cong bukan karena takut mati, tetapi kematian yang mengenaskan, apa lagi mati ditangan musuhnya, kematian itu baginya merupakan penderitaan bathin yang sangat hebat.

Dengan perasaan putus asa ia menghelap napas panjang kembali ia berkata kepada Thian-san Liong-Lie.

….Bibi Tho, budi kebaikanmu terpaksa hanya bisa kubalas pada lain penitisannya .” ….Anak, siapa suruh kita saling jumpa ? ini yang dinamakan jodoh yang sudah diatur oleh yang maha kuasa. Kau masih sangat muda, barangkali tidak akan memahami perkataanku ini”.

…Bibi Tho, kau …..”

Yo Cie Cong menatap wajah cantik pertengahan umur itu yang berusaha sedapat mungkin untuk menolong jiwanya tanpa menghiraukan keselamatan jiwanya sendiri. Tiba-tiba ia merasa sedih dalam hati.

Sehingga air-mata mengalir bercucuran tanpa terasa.

Dengan tindakan berat ia berlalu meningalkan bibinya yang baik hati itu. Dalam hatinya diam- diam mendoakan :Bibi Tho,selamat tinggal.biarlah kau selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.

Ia berlalu karena ia tidak ingin orang yang memperhatikan dirinya begitu sangat, akan binasa ditangan musuhnya karena hendak membela dirinya.

Kira2 dua tumbak jauhnya disebelah sana, si Iblis wajah singa yang amarahnya sudah memuncak,telah mendengarkan suara ketawanya yang benar2 seperti iblis.

Selagi ia masih ketawa itu tanggan kirinya mendadak mengeluarkan sebuah benda hitam sebesar kepalan tangan.Benda hitam itu mengeluarkan bau harum yang sangat luar biasa.Cin Bie Nio dan kedusa pangcuketika menyaksikan benda itu.

Karena mereka ingat bahwa benda aneh itu adalah senjata ampuhnya si iblis wajah singa yang pernah digunakan untuk membunuh binatang Gu-liong-kao yang aneh itu.

Jika si iblis wajah singa nanti melempar benda yang aneh itu maka semua orang yan ada di dekatnya kan mati seketika.

Perbuatan iblis tua itu sesungguhnya di luar dugaan semua orang banyak yang menyaksikan bagaimana hebatnya benda itu,siapapun tidak mau menghantarkan nyawanya dengan percuma.

Sekalipun Cin Bie Nio sendiri yang terkenal cerdik dan banyak akalnya saat itu juga tidak berdaya sama sekali kelihatannya.

Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah membiarkan si iblis itu mencapai maksudnya membelek perut Yo Cie Cong.

Tetapi Cin Bio Nio wanita yang genit cabul, saat itu dengan mendadak timbul hati sukanya terhadap Yo Cie Cong yang masih muda dan tampan itu. Kalau bukan karena dibawah mata orang banyak barangkali ia sudah berbuat apa yang ia suka terhadap dirinya Yo Cie Cong.

Sebetulnya ia ingin pemuda tampan itu binasa ditangannya si iblis wajah singa. Tetapi kenyataan ada ada begitu rupa jadinya, ia harus dengan segera memilih satu jalan antara dua dan tidak mungkin dibikin sempurna kedua-duanya.

Oleh karena itu iblis wajah singa mempunyai senjata yang sangat ampuh, maka itu berarti pula bahwa ia itu sudah menguasai jiwanya semua orang. Dengan sangat jumawa dan bangga sekali si iblis berkata kepada Cin Bio Nio dan kedua Pancu :

….Sekarang kalian bertiga lekas mundur ketempat sepuluh tumbak jauhnya dari tempat kalian

!”

Perkataan ini merupakan suatu perintah. Anehnya tiga orange aneh itu yang biasanya

mengangap diri jempolan sebagai pemimpin dari perkumpulan besar tidak ada seorangpun yang berani melanggar perintah itu.

Ketiga orang itu mundur seperti apa yang diperintahkan oleh si iblis wajah singa.

Setelah mereka mundur, si iblis wajah singa lalu berpaling dan berkata kepada Thian-san Liong- lie :

…perempuan hina ! sakit hati lantaran kau bikin putus tanganku, sebentar lagi laho akan bikin perhitungan dengan kau “

Setelah berkata demikian, benda hitam itu dikempinya di ketiak kanannya supaya jika perlu bias digunakan lagi, kemudian baru ia menghampiri Yo Cie Cong.

Pemuda itu sudah mengetahui bahwa dirinya menghadapi bahaya maut, tetapi ia sudah tidak mempunyai daya memberi perlawanan.

Thian-san Liong-lie yang tadi hamper saja jatuh pingsan karena terkena serangan darah dari si iblis, kini memaksakan diri untuk melompat bangun lagi.

Karena ia sangat simpatik terhadap Yo Cie Cong, maka ia rela mengorbankan dirinya dibawah ancaman senjata si iblis wajah singa demi keselamatan Yo Cie Cong, jangan sampai terbelek perutnya……. Pada saat itu tiba-tiba kedengaran suara melengking dan sosok bayangan merah lantas meluncur turun ke dalam kalangan.

Bayangan merah itu ternyata adalah si gadis baju merah yang oleh Cin Bio Nio dipanggil Kiauw- jie.

Oleh karena itu hatinya Kiauw-jie yang masih suci murni adalah jatuh cinta pada Yo Cie Cong, maka karana pengaruhnya asmara itulah membuat Kiauw-jie tidak memperdulikan bahaya, ia lantas bergerak melindungi dirinya orang yang dicintainya.

….. Kiauw-jie, apa kau sudah gila ? lekas kembali !” demikian terdengar suara Cin Bio Nio yang cemas.

Tetapi Kiauw-jie saat itu sudah berlaku nekad, bagaimana ia mau mendengar perkataan orang

?”

Baru saja gadis itu sampai dikalangan pertama-tama ia tersenyum kerpada Yo Cie Cong

kemudian memutar tubuhnya dengan senjata pecut lemasnya ia hendak menghajar si iblis wajah singa.

Dengan kepandaian ytang dimiliki oleh si gadis. Sebetulnya masih berselisih sangat jauh dengan kepandaian si iblis, maka perbuatannya itu sebetulnya sangat gegabah dan tidak mengukur dirinya sendiri. Tetapi pengaruhnya cinta ada lebih kuat daripada segala apapun juga. Sekalipun seekor kambing juga berani melawan seekor singa.

Si iblis wajah singa yang lengan kanannya sudah dibikin kutung oleh Thian-san Liong-lie maka kekuatnya pada saat itu agak berkurang. Apa yang diandalkan sebetulnya sekarang hanyalah benda yang dapat meledak itu saja.

Yo Cie Cong terhadap gadis baju merah itu sebetulnya tidak mempunyai kesan yang mendalam, ditambah lagi setelah ia mengetahui bahwa si gadis ternyata ada orang dari golongan Pek-leng- hwee dan kedua pang, maka ia sudah mengangap gadis itu sebagai musuhnya.

Tetapi saat itu melihat kelakuannya si gadis baju merah perasaan Yo Cie Cong yang tadinya menganggap gadis itu sebagai musuhnya, telah banyak berkurang.

Pada saat itu, Thian-san Liong-lie juga sudah berdiri disampingnya Yo Cie Cong.

Si iblis wajah singa sesungguhnya tidak menyangka kalau masih ada orang yang tidak takut mati seperti gadis itu, maka saat itu ia sendiri juga menjadi kesima.

Jika ia menggunakan senjatanya itu mungkinsemua akan musnah, sedangkan ia sendiri juga tidak bisa mendapatkan apa-apa tetapi jika ia tidak mau menggunakan senjatanya yang paling ampuh itu sudah tentu ia tidak akan mampu melawan kedua wanita itu. Karena tangannya Cuma tinggal sebelah lagi.

Sebentar kemudian benda hitam juga berada dibawah ketiak lengan kanannya kembali tenggelam dalam tangan kirinya. Dengan mata buas ia memandang kedua wanita itu. Agaknya ia tengah menimbang-nimbang, apakah senjata itu harus dilemparkan atau tidak.

Jika benda hitam itu dilemparkan, maka empat orang yang berada disitu termasuk ia sendiri sekejapan saja akan hancur lebur, jangn harap bisa lolos dari situ.

Suasana yang tampaknya sunyi itu sebetulnya sangat tegang.

Kiauw-jie sampai saat itu masih belum mengetahui nama dan asal-usulnya Yo Cie Cong tetapi ia sudah berani korbankan diri untuk membela diri pemuda itu.

Pengaruhnya asmara besar sekali.

Yo Cie Cong meskipun wajahnya tampan cakap tetapi yang menarik hatinya si gadis baju merah itu adalah sikapnya yang dingin dan angkuh dari si pemuda.

Perasaan cinta itu memang bisa timbul dari beberapa sudut ini kadang-kadang memang suatu keanehan. Dan begitulah perbuatan si gadis baju merah, juga merupakan satu keanehan dari begitu banyak keanehan.

Thian-san Liong-lie dengan perasaan heran mengawasi Kiauw-jie sesaat itu hatinya agak tergoncang. Ia sudah mengetahui dari sebab apa gadis itu unjuk perbuatanya yang nekad hendak melindungi Yo Cie Cong.

Suasana kembali menjadi sunyi, setiap saat menjadi suatu pembunuhan yang mengenaskan kalau si iblis itu bergerak melemparkan benda ditangannya.

Si iblis wajah singa meskipun sifatnya sangat kejam dan ganas, tetapi saat ia juga ragu-ragu atas dirinya sendiri. Karena jarak antara kedua pihak sudah dekat sekal, maka sudah tentu senjatanya itu bisa membinasakan lawannya tetapi ia sendiri juga tidak akan terluput dari kematian.

Namun ia juga tidak berdaya menghadapi kedua wanita itu terutama Thian-san Liong-lie sebelum lengannya dibikin kutung saja, barang kali masih belum mampu menandingi, apalagi sekarang tangannya Cuma tinggal satu.

Apakah ia harus tinggalkan begitu saja ? bagaiman ia mau mengerti ?

Pikirnya iblis wajah singa itu masih terus berkekuatan diantara dilemparkan atau tidak senjatanya itu.

Pada saat itu, timbul pula keanehan. Didalam kalangan mendadak kelihatan menancap 3 buah bendera kecil segi tiga.

Benderaitu dasarnya putih, pinggirnya warna emas, ditenga-tengahnya ada terlukis seekor burung laut warna merah dadu.

Orang-oranga yang berada disitu baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih, ketika menyaksikan bendera kecil itu semua lantas pada berubah wajahnya, hanya merasa ngeri.

Bendera burung laut itu seolah-olah mewakili pendekar aneh yang sangat misterius.

Bendera burung laut ini muncul didalam rimba persilatan didaerah tionggoan, hanya baru setahun sajatapi ternyata sudah menggetarkan orang-orang golongan hitam dan putih, pemilik bendera aneh itu kabarnya ada seorang yang memakai kedok kain warna merah, kepandaiannya ilmu silat tinggi sekali, hingga sukar di jajaki. Ia ada mempunyai kurang lebih 12orang pengikut, yang biasanya disebut ‘ utusan burung laut’ orang-orangnya itu juga merupakan orang-orang kuat dalam rimba persilatan.

Dimana bendera burung laut itu muncul, berarti pendekar aneh berkedok kain merah itu juga segera akan tiba, dan dimana pendekar aneh itu unjukan diri, sudah tentu merupakan kejadian yang bukan biasa lagi.

Mengapa pendekar kedok itu bisa muncul secara tiba-tiba tidak ada seorangpun yang mampu menjawab.

Orang banyak yang tadinya hendak menonton keramaian itu, kini dengan sendirinya telah bubardengan diam-diam, sehingga hanya ketinggalan mereka, orang-orang yang mempertengkarkan dirinya Yo Cie Cong.

Pada saat itu, hanya satu orang saja yang seperti acuh tak acuh orang itu ialah Yo Cie Cong yang sedang terluka parah dan tengah menantikan nasibnyayang hendak disembelih oleh iblis berwajah singa.

Disatu fihak, karena ia baru saja muncul didunia Kang-ouw dan dilain fihak, ia sekarang bagai seekor kambing yang tengah menantikan nasibnya hendak dijadikan korban, hingga sudah tidak kenal lagi apa artinya takut.

Orang-orang yang ada disitu dengan perasaan heran dan takut mengawasi pada bendera kecil segi tiga itu, coba menebak-nebak akan maksud kedatangan sipendekar aneh berkedok.

selagi semua orang masih belum hilang rasa takutnya, dua bayangan orang secara tiba-tiba sudah muncul ditengah-tengah lapangan kedatangannya kedua orang itu bukan saja secara mendadak juga tidak kedengaran suaranya. Dengan kepandaiannya mengentengi tubuh itu saja, sudah cukup mengejutkan orang yang mengerti silat.

Semua orang itu semuanya memakai kedok kain hitam tersulam bergambar seekor burung laut warna putih. Ditengah-tengah sulaman burung laut itu ada terdapat angka ‘1’ dan seorang lagi berangka ‘7’.

Itu mungkin satu tanda untuk membedakan diri mereka, tapi tidak seorangpun yang tahu maksud yang sebenarnya.

Orang yang berkedok angka ‘1’ itu tiba-tiba membuka mulutnya :

,, Atas perintah majikan burung laut, siapa saja dilarang membikin celaka dirinya bocah ini !’’ Semua orang ketika mendengar perkataan itu pada terkejut

,,Harap semua pada meninggalkan tempat ini’’ kata pula arang berkedok itu.

Perkataan itu seolah-olah satu perintah, orang-orang disitu semuanya merupakan orang-orang Kang-ouw kenamaan, sudah tentu tidak mau menurut begitu saja.

,, Jiwie siapa ?’ si iblis wajah singa majukan pertanyaanya, ini mungkin merupakan ucapannya si iblis yang paling sopan untuk menghadapi orang yang belum dikenalnya. ,, Utusan burung laut !’’ demikian dijawabnya. Jawaban itu membuat kaget semua orang.

Thian-san Liong-lie meski sudah pernah dengar namanya pendekar berkedok kain merah yang aneh dan sangat misterius sepakterjangnya itu, tapi karena saat itu sedang memikirkan keselamatannya Yo Cie Cong maka tidak mau meninggalkan tempat tersebut secara gegabah.

Sebab jika orang berkedok yang mengaku dirinya utusan burung laut itu ada mengandung maksud jahat seperti si iblis wajah singa, bukankah akan mengantarkan jiwanya anak muda itu secara Cuma-Cuma.?

Kiauw-jie, gadis baju merah, memang ada satu gadis berandalan yang tidak takut segala apa, sudah tentu tidak gubris perintahnya utusan tersebut. Dan bagaiman dengan si iblis wajah singa sendiri ?

Ia merupakan orang satu-satunya yang hendak mengangkangi mustika sudah barang tentu tidak mau meninggalkan begitu saja.

Utusan burung laut itu agaknya dapat memahami semua maksud yang terkadang dalam hati orang-orang itu, maka dengan mendadak ia lantas mendekati Thian-san Liong-lie dan kiauw-jie serta berkata kepada mereka.

‘’Tho liehiap’’ nona siang-koan, kalian berdua harap jangan khwatir, majikan kita tidak ada mengandung maksud jahat terhadap sahabat kecil ini, mungkin malah ada faedahnya bagi dia !’’

Thian-san Liong-lie dan sigadis baju merah pada merasa heran, mengapa utusan ini mengetahui nama mereka, bahkan tahu maksud mereka ini benar-benar sangat aneh.

Yo Cie Cong saat itu mendengar dari mulutnya utusan burung laut, lantas mengetahui bahwa sigadis baju merah itu ada seorang she Siang-koan, namanya sudah tentu adalah siang- koan kiauw. Sebab cin Bie Nio panggil padanya Kiauw-jie ( anak kiauw ).

Siang-koan kiauw yang biasanya membawa adatnya sendiri, lantas menanya kepada si utusan :

,, Bagaiman jika aku tidak mau berlalu ?’’ Utusan angka ‘1’ ketawa ringan.

,, Barangkali tidak mungkin kau bisa bawa caramu sendiri !’’ jawabnya.

Baru saj habis ucapannya, sang utusan itu nampak gerakan tangannya, suatu kekuatan tenaga dalam yang tidak kelihatan, sudah meluncur kearah Siang-koan kiauw, seranganitu nampaknya sedikitpun tidak ada yang luar biasa.

Siang-koan kiauw dengan seenaknya saja lantas angkat tangannya untuk menyabuti.

Siapa serangan yang kelihatan biasa saja itu, begitu menyentuh badan orang, segera menimbulkan semacam kekuatan yang luar biasa hebatnya, sehingga dirinya Siang-koan Kiauw terpental sampai 3 tumbak jauhnya.