Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 02

Jilid 02

Yo Cie Cong stelah kenyang dahar, juga sudah mendapat keterangan cukup jelas tentang perebutan benda mujijat itu, maka ia lantas hendak berlalu meninggalkan rumah makan.

Selagi kakinya hendak melangkah keluar pintu, tiba-tiba ada mendatangi seorang tua berambut putih dengan wajahnya seperti burung. Orang tua itu menggunakan baju panjang, matanya bersinar, dipinggangnya ada menggemblok sebuah buli-buli arah, rupanya ia ada seorang yang doyan air kata-kata (Pemabukan).

Para tetamu rumah amakn ketika menampak kedatangannya si orang tua, seketika ia lantas tidak ada yang berani membuka mulut. Masing-masing pada makan atau minum sambil tundukan kepala.

“Si ‘Buli-buli Arak Wajah Burung’, Lauw Chiang!” demikian ada orang yang mengatakan dengan suara pelahan sekali.

Yo Cie Cong yang mendengar nama itu, hatinya tergeuncang, Lauw Chiang, yang mempunyai gelar Si ‘Buli-buli Arak Wajah Burung’ didalam daftar nama musuh-musuhnya Kam-lo-pang tercatat dalam urutan nomor 10, itu ia masih ingat benar. Sungguh tidak dinyana bisa bertemu disini.

Rasa dendam seketika itu lantas bergolak didalam dadanya. Ia telah memikirkan apakah harus turun tangan melaksanakan penuntutan balas dendam suhunya sekarang juga? Setelah memikirkan bolak-balik, akhirnya ia mengambil keputusan tetap, ia hendak menggunakan kesempatan turun tangan dalam perebutan benda mujijat itu.

Maka ia lantas balik kembali ketempat duduknya tadi dan minta pelayan rumah makan menyediakan arak untuknya.

Ia duduk sambil minum perlahan-lahan, sampai kira-kira jam dua malam. Si ‘Buli-buli Arak Wajah Burung’ itu baru keluar dari rumah makan dalamkeadaan sinting.

Yo Cie Cong diam-diam membuntuti dibelakangnya, dalam hatinya memikirkancara bagaimana turun tangan.

Orang tua itu masuk ke rumah penginapan ‘Way-Lay-Can’ satu-satunya rumah penginapan terbesar dikota Wan-An itu. Yo Cie Cong juga lalu menyewa sebuah kamar disitu, hingga mereka jadi berdampingan didalam rumah penginapan tersebut.

Orang tua yang berwajah burung itu, memang betul Lauw Chiang, yang bergelar Si ‘Buli-buli Arak Wajah Burung’. Ia datang dari tempat kediamannya yang jayh semata-mata untuk turut merebut mustika dari mahluk aneh yang dinamakan Gu Liong Kao itu.

Ketika kentongan berbunyi empat kali, keadaan dalam rumah penginapan sudah sunyi senyap. Pinu kamar Lauw Chiang diketuk orang dari luar.

“Siapa?” tanya dari dalam kamar.

“Sahabat lama.” Jawabnya dari luar, suara seperti orang tua.

Pintu kamar begitu terbuka, sesosok bayangan manusia lompat masuk dengan gesit.

Dibawah penerangan lampu, yang lebih dahulu kelihatan dimata orang tua berwajah burung itu adalah sebuah golok yang berbentuk aneh bersinar berkialauan.

“Golok Maut.” Orang tua itu berseru tertahan, hatinya merasa bergidik. Ia melihat orang yang memegang golok tersebut adalah seorang yang berjenggot dan berpakaian putih, dengan wajah yang kereng dan mata mendelik sedang mengawasi kepadanya. Sesaat itu ia merasa seperti berhadapan dengan malakait pencabut nyawa, rasa takut telah membikin terbang semangatnya, karena orang tua itu adalah Pangcu dari Kam-lo-pang yang sudah binasa pada dua puluh tahun berselang.

Benarkah di dalam dunia ini ada setan? Mengapa orang yang sudah mati bisa hidup kembali untuk menuntut balas?

Sesaat lamanya orang tua wajah burung itu berdiri kesima seperti patung.

Kiranya Yo Cie Cong sebelum diambil murid oleh Yo Cin Hoan, sudah bercampuran dengan kawanan pengemis dan dari salah seorang pengemis aneh ia telah mempelajari ilmu ‘Merubah Wajah’. Ilmu itu sesungguhnya sangat luar biasa. Wajah manusia bisa dirubah-rubah begitu rupa, sehingga sukar dibedakan mana aslinya dan mana tiruanya. Kepandaian ilmu yang dipelajarinya itu kini telah digunakan dalam peranannya sebagai Pangcu dari Kam-Lo-Pang.

Pada saat orang tua ‘Wajah Burung’ itu masih dalam keadaan kaget dan jeri, Golok Maut yang berkilauan itu sudah beraksi didepan tubuhnya.

Sebentar kemudian lalu terdengar suara jeritan ngeri, kedua lengan orang tua wajah burung itu sudah terpapas kutung dan dadanya berlubang.

Waktu baru sebelah lengannya yang terpapas kutung, orang tua wajah burung itu barulah tersadar bahwa orang mati tidak bisa hidup kembali, lebih-lebih ketika ia sudah melihat orang tua itu lengkap semua anggota badannya,maka ia lantas berseru:

“Kau sebetulnya……”

Sebelum habis pertanyaannya, Golok Maut sudah memapas lagi sebelah lengan lainnya yang kemudian menikam dadanya. Tatkala ia rubuh, samar-samar ia hanya mendengar: “Pemilik Golok Maut, Penagih hutang dari Kam-lo-pang.”

Begitulah akhirnya si orang tua wajah burung telah rubuh binasa tanpa mengetahui siapa pembunuh itu sebenarnya. Orang tua yang membawa Golok Maut itu juga segera menghilang dari dalam kamar tempat kejadian.

Suara jeritan tadi telah mengejutkan para tamu lainnya dalam rumah penginapan itu, yang kebanyakan terdiri dari orang-orang gagah dari kalangan Kang-ouw yang hendak turut ambil bagian dalam perebutan mustika dari mahluk aneh itu pada besok malam.

Semua lampu telah dinyalakan dan kemudian terdengar suara ribut-ribut dari keluarnya orang- orang yang hendak menyaksikan apa yang telah terjadi. Setelah sampai dikamar tempat kejadian itu, barulah mereka mengetahui iblis kenamaan Si 'Buli-buli Arak Wajah Burung' Liauw Chiang telah binasa dalam keadaan yang mngerikan. Ia rebah menggeletak dengan kedua lengannya terpapas kutung, darah segar masih menyembur dari lubang yang ada didadanya.

Begitu melihat, orang-orang sudah mengetahui bahwa itu adalah hasil perbuatannya si Pemilik Golok Maut.

Orang-orang yang menyaksikan keadaan yang mengerikan itu pada bergidik semuanya.

Golok Maut telah muncul untuk ketujuh kalinya dan kali ini yang menjadi mangsanya asalah si 'Buli-buli Arak Wajah Burung', Liauw Chiang, satu iblis kenamaan.

Pintu kamar disebelah kamar orang tua wajah burung itu juga terbuka, darimana keluar seorang pemuda cakap dengan sikapnya yang dingin kecut juga menimbrung diantara orang banyak yang menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.

Seorang wanita muda berbaju merah juga muncul dari kamarnya, mulutnya mendumel : “Golok Maut ”

Pada saat itu, dalam hati setiap orang timbul hampir serupa pikiran: ‘Jika dalam benda mujijat besok malam Pemilik Golok Maut juga turut ambil bagian, dengan kepandaiannya yang sangat luar biasa tingginya itu, rasanya benda itu bisa terjatuh dalam tangannya. Kalau benda itu benar-benar jatuh dalam tangannya akan berarti bertambah hebatlah kekuatannya, berarti pula rimba persilatan sudah sampai pada hari kiamatnya.

Si Nona baju merah ketika melihat pemuda yang dingin kecut itu juga berada disitu, lantas unjukan ketawanya yang manis. Pemuda itu wajahnya merah seketika, cepat-cepat ia masuk kekamarnya kembali.

Peristiwa yang mengerikan itu sudah tentu dilakukan oleh Yo Cie Cong.

Perbuatan yang nekad ini yang pertama kalinya dilakukan, telah berhasil gilang gemilang, tetapi tidak urung hatinya merasa kebat-kebit tidak karuan. Jika ditinjau dari kekuatan tenaga, sudah tentu Yo Cie Cong bukanlah tandingannya Liauw Chiang, tetapi dengan kecerdikan yang luar biasa, untuk pertama kalinya itu Yo Cie Cong berhasil menyingkirkan satu musuh kuat dari Kam-lo-pang.

Akal yang digunakan itu ialah, mula-mula ia membikin sang mangsa kaget dan jeri dulu oleh Golok Maut-nya, kemudian setelah sang korban kaget dan jeri ia menunjukan diri sebagai Pangcu dari Kam-Lo-Pang , supaya sang mangsa tambah jeri.

Yo Cie Cong tahu benar bahwa kesempatan macam ini cepat akan lenyapnya, maka kesempatan selagi sang mangsa masih merasa kaget, jeri dan kesima itu, telah dipergunakan dengan sebaik-baiknya supaya sang korban tidak keburu melawan, sebab ia tahu benar bahwa ia sendiri sebenarnya tidak mampu menghadapi iblis tua itu.

Bab 3

GUNUNG KHENG-SAN……………

Danau Naga yang terdapat di gunung Kheng-San itu telah mendapat kunjungan banyak orang- orang gagah rimba persilatan yang berjumlah dari 300 orang.

Tetapi diantara sekian banyak orang-orang gagah itu, juga ada orang yang masih rendah kepandaiannya yang hanya karena merasa ketarik oleh adanya benda mujijat itu. Kedatangan orang-orang yang tersebut belakangan ini rupa-rupanya tidak menghiraukan usahanya dalam perebutan benda itu, tetapi tidak demikian halnya dengan orang-orang yang kepandaiannya agak tinggi, mereka dengan sengaja datang untuk mendapatkan benda tersebut.

Sekian banyak orang-orang kuat dari rimba persilatan telah berkumpul disuatu tempat, ini juga merupakan suatu pertemuan yang paling besar dalam rimba persilatan selama hampir sepuluh tahun terakhir.

Malam itu justru malam terang bulan.

Mahluk aneh termaksud pasti akan muncul dan bakal main mustikannya dibawah terangnya sinar rembulan.

Rombongan orang-orang dari rimba persilatan yang datang semuanya menyembunyikan diri, dibawah pohon-pohon besar yang banyak terdapat disekitar danau tersebut.

Sebentar mereka menengok keatas, sebentar pula mereka menengok kearah liang ditepinya danau itu yang merupakan tempat kediaman mahluk aneh itu.

Oleh karena Golok Maut sudah muncul di kota Wan An, maka orang banyak menduga-duga apakah Pemilik Golok Maut juga akan muncul dalam perebutan nanti?

Disampingnya merasa ngeri, mereka juga mengharapkan supaya si Pemilik Golok Maut itu muncul disitu agar mereka dapat menyaksikan bagaimana macamnya wajah asli si Pemilik Golok Maut, apakah dia ada satu manusia yang menyeramkan?

Yo Cie Cong juga terdapat dalam rombongan orang banyak itu, sikapnya masih tetap dingin kecut. Ia tidak mempunyai maksud hendak turut ambil bagian dalam perebutan benda mujijat itu, ia hanya datang sebagai penonton saja.

Dari dalam rimba sebelah kiri danau tersebut, perlahan-lahan muncul keluar dua orang tua dan seorang wanita muda berbaju putih.

Seorang gadis baju merah menyambut dan jalan berdampingan dengan wanita baju putih itu, dua pemuda baju ungu mengikuti dibelakang si wanita baju merah. Dibelakang pemuda itu ada lagi tujuh orang tua dan lima orang laki-laki usia pertengahan.

Kedua orang tua yang jalan lebih dulu, usianya kira-kira sudah 50 tahun keatas, tetapi kelihatannya masih gagah keren, satu berpakaian baju panjang warna ungu, satunya lagi berdandan sebagai ‘Wan-gwee’ (orang hartawan).

Wanita muda baju outih itu tidak kalah cantiknya dengan kecantikan wanita baju merah yang berada disampingnya, bentuk dan potongan badannya malah lebih menarik, sehingga merupakan suatu kecantikan yang jarang mendapat tandingan bagi seorang wanita. Hanya sayang yang harus dibuat sayang adalah matanya sangat genit, suatu tanda bahwa wanita itu bukan dari golongan orang baik.

Dalam rombongan itu telah terjadi sedikit kegemparan. Bagi Yo Cie Cong, kecuali bagi si Nona baju merah dan kedua pemuda baju ungu yang sudah dikenalnya, yang lainnya semua masih asing baginya. Ia hanya bisa menduga-duga dalam hatinya bahwa rombongan orang yang datang itu tentunya bukan dari golongan orang sembarangan.

Rombongan orang tua terdiri dari 18 orang itu setelah muncul dari dalam rimba, berjalan kira-kira e tumbak, lantas pada berhenti. Gadis baju merah ketika melihat Yo Cie Cong juga ada dalam rombongan orang banyak, lantas ketawa mesem. Dari sikapnya yang dingin kecut, Yo Cie Cong mendadak merasa jengah, dengan tidak terasa dibalasnya dengan ketawa hambar.

Kedua pemuda baju ungu tadi ketika menyaksikan si gadis baju merah itu ketawa mesem kehadapan orang banyak, dalam hati lantas timbul rasa curiga. Ketika mereka memasan mata, segera dapat melihat bahwa pemuda sombong dan bersikap dingin kecut yang kemarin mereka ketemukan dijalan raya juga sedang unjukan ketawa hambarnya, maka seketika itu lantas timbul rasa cemburunya.

Antara rombongan wanita baju putih itu dengan rombongan orang banyak, terpisah hanya sejarak kira-kira sepuluh tumbak jauhnya.

Dua pemuda baju ungu tadi satu sama lain saling memberi isyarat, lalu berjalan menghampiri kearah Yo Cie Cong dengan wajah bengis, mereka berhenti sejarak kira-kira tiga tumbak didepan Yo Cie Cong.

Satu diantaranya yang bermuka tirus lantas berkata sambil menuding Yo Cie Cong: “Bocah, kau keluar. Tuan mudamu hendak memberi hajaran padamu.”

Seorang lagi yang matanya seperti burung elang dan bibirnya tipis juga turut bicara : “Anjing kecil, dengan orang semacam kau ini juga ingin makan daging angsa, sungguh tidak

tahu diri!”

Yo Cie Cong mendadak mendusin bahwa kedua pemuda itu cemburu gara-gara wanita baju merah itu, maka ketika mendengar perkataan kedua pemuda itu, sikapnya kelihatan makin kaku ketus, dengan tidak banyak bicara lagi ia berjalan menghampiri.

Para jago disekitar tempat tersebut semua pada tujukan matanya pada ketiga orang pemuda itu.

Hampir bersamaan pada saat itu juga si gadis baju merah itu sudah lompat melesat dan turun disamping ketiga pemuda tersebut. Dengan sorot mata menghina ia mengawasi kedua pemuda baju ungu itu.

Yo Cie Cong setelah berhadapan dengan kedua pemuda itu lalu menegir dengan suara dingin : “Kalian berdua hendak berbuat apa?”

Kedua pemuda itu lantas menjawab dengan sikapnya yang galak. “Hendak memberi pelajaran padamu, satu bocah yang tidak punya mata.”

“Hanya mengandalkan kekuatan orang-orang yang semacam kalian berdua ini?” tanya Yo Cie Cong mengejek.

Pertanyaan itu telah membikin geli si gadis baju merah.

Kedua pemuda baju ungu itu semakin mendongkol, keduanya lantas menggeram dan turun tangan berbareng, keduanya mengeluarkan serangan yang serupa.

Yo Cie Cong dengan gesit sekali egoskan dirinya, sekejap saja, seolah-olah bayangan setan ia sudah berada dibelakang dirinya kedua pemuda itu. Dengan tangan kanan dan kiri masing-masing mengirim satu pukulan dari belakang dua pemuda itu.

Kedua pemuda itu ketika mengeluarkan serangannya dan mendadak lantas kehilangan sasaranya, hati mereka merasa kaget. Mendadak dibelakangnya dirasakan ada sambaran angin, maka lantas lompat melesat kekanan dan kekiri untuk menghindarkan serangan Yo Cie Cong, kemudian dengan gesit sekali mereka memutar tubuh dan melancarkan serangan berbareng lagi.

Kali ini Yo Cie Cong tidak berkelit dan tidak juga menyingkirkan diri, dengan ketawa dingin ia buka lebar-lebar sepuluh jari tangannya dan dengan kecepatan bagaikan kilat sudah mengcengkeram pergelangan tangan kedua orang lawannya.

Gerakan itu bukan saja cepatnya luar biasa, bahkan tampaknya sangat aneh, maka begitu bergerak lantas dapat mencengkeram pergelangan tangan lawan-lawannya dengan tepat.

Ia benci sejali pada kedua pemuda yang adatnya sombong dan tidak sopan itu, maka sengaja ia hendak memberi hajaran pada mereka berdua. Dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya ia mencengkeram pergelangan tangan kedua pemuda itu, sehingga kedua pemuda itu berteriak-teriak kesakitan. Oleh karena disampingnya ada gadis baju merah itu, maka mereka hendak berontak sebisa-bisanya, tetapi tidak berhasil melepaskan diri.

“Tahan!” Suara itu datangnya secara tiba-tiba yang kemudian disusul oleh satu serangan yang hebat kearah Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong orangnya cerdik, ketika mengetahui dirinya diserang orang dari belakang, kedua tangannya lantas bergerak berbareng mengentak dirinya kedua pemuda dalam cengkeramannya tadi digunakan menyambuti serangan dari belakang.

“Bleduk!” suara itu kedengaran hebat, disisi tempat Yo Cie Cong berdiri telah terbuka satu lubang yang dalam. Ternyata lubang itu hasil dari serangannya si orang tua baju ungu yang sudah menyerang Yo Cie Cong tadi.

Oleh karena orang tua itu tadi ketika menyerang mendadak dapat melihat Yo Cie Cong hendak menggunakan tubuhnya kedua pemuda baju ungu untuk memapaki serangannya, maka setelah mengetahui bahwa ia tidak keburu menarik kembali serangannya, terpaksa serangannya dimiringkan sedikit, maka sudah mengenai tanah kosong disamping tempat Yo Cie Cong tadi berdiri.

Pada saat seorang tua lainnya yang berdandan seperti Wangwee dan wanita cantik berbaju putih itu sudah pula pada datang ketempat mereka berkelahi.

Orang tua baju ungu itu dengan perasaan gusar bercampur curiga telah menegur pada Yo Cie Cong :

“Bocah, Yo Cin Hoan itu masih pernah apa dengan kau?”

Yo Cie Cong terperanjat mendengar pertanyaan itu. Ia orangnya sangat cerdik, maka segera mengetahui bahwa gerak tipu serangannya tadi ketika menyambar tangan kedua pemuda baju ungu itu, pasti telah dikenali oleh orang tua itu.

Karena gerak tipu yang dinamakan ’Meraup Awan dan Mengambil Rembulan’ itu adalah satu- satunya tipu silat dari Yo Cin Hoan.

Dalam keadaan demikian, Yo Cie Cong lantas bisa mengambil keputusan cepat, untuk sekarang ini ia masih belum boleh memperkenalkan asal-usul dirinya, maka ia segan menjawab dengan sikapnya yang masih dingin.

“Maaf, aku tidak dapat memberikan keterangan!” Setalah itu ia lantas melepaskan cekalannya dan kedua pemuda itu telah mundur kesamping dalam keadaan menggenaskan.

Gadis baju merah itu lantas anggukan kepala kepada Yo Cie Cong.

Sementara itu, si orang tua yang berdandan sebagai Wangwee jugga turut menanya: “Bocah, kau dari golongan mana?”

“Hal ini tidak perlu kalian mengetahui.” Jawabnya ketus. “Hai! Sungguh tajam lidahmu!”

Pada saat itu rembulan yang bulat sudah kelihatan muncul diujung langit. Sinarnya yang terang benderang sudah menyinari air danau Naga.

Semua orang juga datang berkkerumun disitu pada mengawasi orang-orang yang berkelahi tadi dengan perasaan heran.

Kedua orang tadi setelah saling pandang sejenak dengan si wanita baju putih, mata orang tua yang memakai baju ungu lantas mendadak kelihatan bersorot buas. Dengan suara bengis ia berkata kepada Yo Cie Cong:

“Bocah, kau mau menjawab terus terang atau tidak?” “Bagaimana kalau tidak?”

Orang tua baju ungu itu lalu mengulurkan tangannya mengirim serangan yang hebat.

Yo Cie Cong yang diserang secara hebat dengan tiba-tiba itu, dengan cepat sudah lompat kesamping sejauh lima kaki menghindarkan diri. Tetapi belum sampai berdiri, serangan kedua sudah menyusul.

Dalam keadaan terdesak sedemikian rupa, tiba-tiba ia ingat pelajaran pamannya, Cek Kun, yang terkenal dengan ilmu mengentengkan tubuhnya, maka dengan ilmu silat warisannya itu ia melayang sambil mengikuti serangan lawan sampai sejauh setumbak lebih.

Gerakan menghindarkan serangan dengan mengikuti arahnya serangan lawan itu telah mendapat sambutan riuh rendah dari delapan penjuru angin. Kedua orang tua dan wanita baju putih itu, berbareng pada mengeluarkan seruan kaget.

Secepat kilat mereka berbareng maju menerjang dan mengurung dirinya Yo Cie Cong, kemudian masing-masing pada melancarkan satu serangan.

Serangan segitiga ini sebetulnya sangat sulit dielakannya. Maksud semula dari ketiga orang itu ialah sudah tentu hendak membinasakan Yo Cie Cong dengan pukulan sekaligus.

Apa sebabnya mereka bertindak dengan begitu ganas dan kejam?

Tidak lain adalah karena mereka mencurigai dirinya anak muda itu mempunyai hubungan rapat dengan Kam-lo-pang.

Kalau berhasil menyingkirkan dirinya pemuda itu, bukan saja berarti menyingkirkan satu ancaman bahaya, tetapi juga dari perbuatannya itu mungkin mereka akan dapat memancing keluar si Pemilik Golok Maut.

Pengakuan dari Pangcu Kam-lo-pang ketika dengan Golok Mautnya mengambil korban di Kampung Hui Liong Cung, bagi mereka dianggap sebagai ancaman yang paling besar, sehingga membuat mereka tidak enak makan dan tidak enak tidur, seolah-olah ada duri yang malang ditenggorokan mereka.

Ketika ketiga orang tadi melancarkan serangan berbarengan, lantas terdengar suara jeritannya si gadis baju merah yang berdiri disamping.

Diantara suara jeritan gadis baju merah tadi, terdengar pula suara seruan tertahan yang lalu didalam gumpalan debu yang mengepul keatas kelihatan semburan darah, sedangkan tubuhnya Yo Cie Cong telah terpental tinggi terputar seperti gasing setinggi setumbak lebih yang kemudian turun kembali ketanah.

Orang-orang dri rimba persilatan disekitar tempat itu yang menyaksikan perbuatan tersebut, pada menjadi pucat dan terheran-heran. Mengapa ketiga orang itu turun tangan berbareng terhadap satu bocah yang tidak diketahui asal-usunya?

Setelah melayang turun kembali ketanah, Yo Cie Cong memaksa mengerahkan tenaganya yang masih ada, dengan badan semboyongan ia mencoba berdiri tegak. Dengan wajah bengis dan buas serta suaranya yang serak ia bertanya:

“Aku Yo Cie Cong, kalau tidak sampai binasa, aku akan perhitungkan rekening ini sepuluh kali lipat!” Sehabis berkata mulutnya kembali mengeluarkan darah da tubuhnya jatuh lagi ditanah.

Orang tua baju ungu tadi kelihatan ketawa nyengir, lalu berjalan maju dua tindak kedepanya Yo Cie Cong dan mengangkat tanganya hendak memukul dirinya Yo Cie Cong.

Si gadis baju merah yang menyaksikan keadaan demikian lantas menjerit, tetapi selagi hendak maju menubruk, tangannya sudah ditarik oleh si wanita baju putih.

Jiwa Yo Cie Cong kelihatan terancam bahaya……………………..

Pada saat segenting itu, sesosok bayangan orang dengan kecepatan kilat telah meluncur keaah orang tua baju ungu tadi sembari mengirimkan satu serangan yang sangat hebat.

Orang tua baju ungu itu terkejut, ia terpaksa menarik kembali tangannya dan dengan cepat mundur lima tindak.

“Hehhhh! Ketua dari Dua Golongan dan Satu Perkumpulan, sungguh tidak malu menghadapi satubocah kemarin sore. Apa kalian tidak takut ditertawakan oleh orang-orang dunia Kang-Ouw?” demikian terdengar satu suara yang nyaring dan lantas disusul oleh munculnya seorang wanita cantik pertengah umur.

Yo Cie Cong yang masih dalam keadaan setengah pingsan ketika mendengar perkataan ‘Ketua dari Dua Golongan dan Satu Perkumpulan’, suatu kekuatan tenaga yang tidak terlihat mendadak memimpin ia bangun tersadar.

Dalam hatinya lalu berpikir: “Dua Golongan dan Satu Perkumpulan, apa itu bukannya golongan Cie-In-Pang, Ban-Siu-Pang, dan Pek-Hap-Hwee? Tidak kusdangka disini aku mendapatkan banyak musuh-musuh Kam-lo-pang!”

Dua orang tua itu dan si wanita baju putih bertiga ketika melihat munculnya si wanita cantik pertengah umur tadi seketika itu wajah mereka lantas berubah.

Bab 4 Wanita baju putih itu sesungguhnya genit sekali. Meskipun dihadapannya orang wanita juga, ia masih menunjukan kegenitannya. Setelah mengerling kearah wanita yang baru datang itu, lantas ia berkata sambil tersenyum :

“Yo! Aku kira siapa, tidak tahunya Thian-San Liong-Lie yang datang. Kalau begitu, aku menyambutnya sudah agak terlambat.”

Wanita cantik pertengah umur itu tidak ambil perduli atas sikap yang ditunjukan oleh si wanita baju putih. Ia maju dua tindak untuk memeriksa keadaannya Yo Cie Cong yang terluka parah.

Tiba-tiba ia membuka lebar-lebar kedua matanya.

Hatinya berdebaran. Diam-diam berkata kepada dirinya sendiri: “Bocah ini mengapa mirip dengan dia?

Dengan menahan air matanya yang mau keluar, ia menanya kepada Yo Cie Cong dengan suaranya yang lemah lebut dan penuh rasa welas asih.

“Anak, siapa namamu?”

Yo Cie Cong yang saat itu sudah panas hatinya, atas perbuatan orang-orang yang tidak patut terhadap dirinya, sebenarnya tidak ingin menjawab, tetapi ketika melihat kedua matanya yang penuh kasih sayang dari wanita setengah umur itu, ia lalu menjawab :

“Aku bernama Yo Cie Cong.”

“Yo Cie Cong?” mengulang wanita setengah umur, agaknya merasa kecewa. “Ya, Yo Cie Cong.” Jawab Yo Cie Cong lagi dengan suara lemah.

Wanita cantik pertengah umur itu menghela nafas, lalu mengambir tiga butir obat yang sehera dimasukan kealam mulutnya Yo Cie Cong. Kembali ia mengawasi anak muda itu sekian lamanya, kemudian berkata pula:

“anak, ini adalah obat untuk menyembuhkan luka dalam yang sangat mujarab. Asalkan tekanan jantung dan nadi masih belum putus, kau tidak bisa binasa.”

Pada matanya Yo Cie Cong, saat itu dengan tegas terlihat perasaan terima kasihnya, ia lalu menjawab dengan suara perlahan:

“”Aku akan membalas budimu ini!”

Wanita cantik pertengah umur itu kembali berpaling dan berkata kepaa orang tua baju ungu bertiga:

“Harap Samwie suka memandang mukaku, jangan turunkan tangan jahat lagi terhadap bocah ini”

Ketiga orang tua itu selagi hendak menjawab, tiba-tiba tanah bekas mereka berdiri telah bergoncang yang kemudian disusul oleh suara seperti kerbau yang sangat aneh kedengarannya. Suara itu kedengarannya seperti dari jarak jauh, tetapi kalau diperhatikan benar-benar, barulah bisa diketahui bahwa suara itu datangnya dari bawah tanah.

Saat itu rembulan sudah naik tinggi, suatu tanda bahwa mahluk aneh Gu Liong Kao sudah muncul.

Tempat bekas orang tua baju ungu dan lain-lainnya berdiri tadi, ternyata Cuma terpisah kira- kira lima tumbak jauhnya dari lubang tanah itu.

Semua orang lantas menyingkir sejauh dua puluh tumbak.

Pada saat itu, ada tiga ratus pasang mata lebih yang semuanya ditujukan kearah lubang tanah ditepi danau itu. Suatu pemandangan anehn yang hanya dapat dilihat dalam beberapa ratus tahun sekali akan segera muncul didepan mata.

Semua orang-orang gagah yang berada disekitar tempat itu pada merasakan tegtang perasaannya. Diantara mereka, ada beberapa orang yang berkepandaian tinggu yang datang dengan maksud hendak merebut benda pusaka mujijat itu, sudah siap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Sebagian lagi yang tidak ingin turun ambil bagian dalam perebuan itu dalam hati mereka hanya menduga-duga, siapa nanti yang bernasib baik dapat memperoleh benda mujijat itu.

Suara mahluk aneh itu semakin lama kedengarannya semakin keras, sampai-sampai tanah disekitarnya pada bergetar. Dari situ dapat diduga, sampai dimana hebatnya mahluk aneh itu.

Terpisah kira-kira lima tumbak diatas tanah dekat lubang itu menggeletak dirinya seseorang. Ia mungkin sudah binasa, tetapi mungkin juga masih hidup. Namun tidak ada seorang pun yang memperhatikannya. Orang itu adalah Yo Cie Cong yang sedang terluka parah karena kena serangan dari tiga orang tua gagah tadi. Saat itu, meskipun sudah diberiikan obat oleh wanita cantik pertengah umur tadi, sehingga kekuatannya perlahan-lahan sudah pulih sebagian, tapi dalam hatinya mengerti, bahwa keadaan pada saat itu sesungguhnya sangat berbahaya. Jika mahluk aneh itu nanti muncul, mungkin dia merupakan orang pertama yang menjadi santapannya. Tetapi oleh karena bergerak sajapun sudah susah, maka ia tidak berdaya meninggalkan tempat yang sangat berbahaya itu.

Betulkah tidak ada seorangpun yang mengambil perhatian terhadap pemuda yang berada dalam keadaan yang sangat berbahaya itu?

Ada!!!

Gadis baju merah hatinya merasa gelisah, tetapi karena tangannya dipegang erat-erat oleh si wanita baju putih, ia tidak berdaya menolong anak muda itu.

Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia telah perhatikan dirinya anak muda itu demikian rupa.

Wanita cantik pertengah umur, Thian-San Liong-Lie, mendadak ingat bahwa diatas tanah dekat lubang itu masih ada seorang pemuda yang terluka parah yang wajahnya mirip benar dengan si ‘DIA’. Ia merasa bahwa ia harus menolong si pemuda dari tempat berbahaya itu.

Saat mana ditepi danau Naga, tiga ratus lebih orang-orang gagah dari rimba persilatan semua pada terdiam sambil menahan nafas. Tidak ada seorangpun yang berani membuka mulut, karena mereka takut kalau-kalau nanti mengejutkan mahluk aneh itu.

Suasananya meskipun sangat sunyi, tetapi perasaan tegang makin memuncak.

Dapatkah kiranya menundukan mahluk aneh itu untuk mengambil mustikanya? Siapapun tidak ada yang berani memastikan.

Tetapi mustika yang mempunyai daya tarik yang demikian hebatnya sudah telah membuat banyak orang pada berani pertaruhkan jiwa mereka untuk bisa mendapatkan benda mujijat tersebut.

Sudah barang tentu, dalam usaha memperebutkan mustika itu pasti akan disusul oleh pertempuran hebat antara orang-orang gagah disitu.

Thian-San Liong-Lie setelah berpikir sejurus lamanya akhirnya mengambil keputusan bahwa ia harus menolong Yo Cie Cong dari tempat yang berbahaya itu.

Tetapi selagi ia hendak turun tangan, suara gemuruh hebat mendadak telah terdengar pula yang kemudian disusul oleh bau amis yang menusuk hidung.

Mahluk aneh itu ternyata sudah muncul dari dalam tanah.

Hati jago rimba persilatan saat itu hampir lompat keluar dari tempat lubang persembunyiannya, lantas melesat keatas setinggi sepuluh tumbak lebih yang kemudian turun lagi ketanah dengan perlahan.

Kejadian itu telah disaksikan oleh jago-jago dari rimba persilatan itu dengan hati berdebaran. Makluk itu mempunyai bentuk badan kuda berkepala naga. Seluruh badannya hitam berkilat.

Kaki dan tangannya berwarna putih. Ekornya seperti ekor ular. Panjangnya dari kepala sampai ekor kira-kira dua tumbak.

Setelah berada ditanah kembali, kepalanya lantas menghadap kearah rembulan, dari mulutnya mengeluarkan sebutir mustika yang merah warnanya. Mustika merah itu dikelaur masukan melalui mulutnya seolah-olah seorang akrobat yang tengah memainkan gumpalan api dalam mulutnya.

Mustika ‘Gu Liong Kao’ itu telah membuat para jago persilatan pada berseru dalam hatinya, sedangkan mata mereka terus ditujukan kearah benda mujijat itu.

Karena siapa saja yang bisa mendapatkan benda mujijat itu, berarti sekaligus mendapat tambahan kekuatan tenaga yang sama dengan kekuatan dari latihan puluhan tahun. Bagi orang- orang dari rimba persilatan, ini merupakan satu-satunya kesempatan yang paling baik untuk menjadi seorang orang kuat yang tidak ada tandingannya,maka tidak ada seorangpun yang tidak ingin mendapatkan benda itu, sekalipun harus mempertaruhkan jiwanya.

Tetapi setelah menyaksikan keadaannya mahluk aneh itu, sekalipun bagi orang yang mempunyai kepandaian sangat tinggi juga merasa jeri. Mereka rata-rata segan turun tangan lebih dulu.

Mahluk aneh itu, paling lama setengah jam sudah akan masuk kembali kealam tempat persembunyiannya. Keadaan menjadi sunyi tapi serba tegang. Dari tempat bekas orang tua baju ungu dan kawan- kawannya tadi berdiri, tiba-tiba melesat lima bayangan orang sambil mengeluarkan serangannya dengan lima benda putih berkilauan kearah mahluk aneh itu.

Orang-orang disekitar danau saat itu tampak semakin tegang.

Bersamaan dengan serangannya kelima orang tadi, dari berbagai penjuru lantas meluncur berbagai senjata rahasia serta meunculnya bayangan orang yang tidak kurang dari tiga puluh orang banyaknya.

Mahluk aneh Gu Liong Kao itu yang hidup sejak ribuan tahun berselang, luar biasa cerdiknya.

Setelah dirinya dihujani oleh rupa=rupa senjata rahasia dari berbagai penjuru, mutikanya lalu disedot kembali dan dia sendiri lantas berdiam diri menantikan kejadian selanjutnya, sedangkan kedua biji matanya memancarkan sinar hijau yang berkilauan.

Ketika banyak bayangan orang itu mendekati dirinya, mahluk aneh itu kembali keluarkan geramannya yang hebat. Badannya yang besar mendadak melesat tinggi, sehingga bayangan orang banyak itu terpaksa harus mundur, tetapi kemudian disusul oleh suara jeritan dari bayangan orang banyak tersebut.

Sebentar kemudian, tampak darah dan gading manusia pada berhamburan diudara, sedikitnya ada sepuluh orang yang telah binasa, maka orang yang bergerak belakangan terpaksa harus mundur secara teratur.

Mahluk aneh itu setelah membinasakan jiwanya orang-orang yang mendekati dirinya, kembali duduk melingkar ditanah.

Sebentar kemudian, jumlah orang yang maju tampaknya semakin banyak saja, pedang, golok dan berbagai senjata rahasia pada meluncur kearah badan mahluk aneh itu seperti hujan, tapi semua senjata itu Cuma bisa perdengarkan suaranya yang ramai seperti membentur banda keras yang kemudian terpental balik. Ada lagi yang melesat tinggi, sedangkan mahluk aneh itu sedikitpun tidak terluka badannya.

Semua senjata tajam dan senjata rahasia itu telah dilancarkan oleh banyak tangan orang-orang dari dunia Kang-Ouw dengan sekuat tenaganya. Dapatlah diduga betapa hebatnya serangan- serangan tersebut.

Meskipun kulit mahluk aneh itu sangat kebal, tetapi tidak urung merasa kesakitan juga. Dengan demikian, mahluk aneh itu tapaknya semakin buas. Suara menggeramnya terdengar berkali-kali.

Tanpa menunggu orang banyak datang menyerang, badannya lantas sudah bergerak dan melesat tinggi. Begitu melihat bayangan orang, lantas diserangnya secara hebat, sehingga suara jeritan terdengar disana-sini dan bangkai manusia bergelimpangan ditanah.

Orang-orang yang hanya hanya ingin menonton keajaiaban alam saja, tampaknya saat itu tidak berani berkutik. Mereka takut kalau tempat mereka sembunyian mereka diketahui oleh mahluk aneh itu dan mendapat serangannya secara tiba-tiba.

Setelah menumbar amarahnya dengan puas,mahluk aneh itu kembali duduk melingkar ditempatnya semula.

Pada saat itu, tiba-tiba tampak melayang satu bayangan putih. Bayanan putih itu ternyata adalah bayangan Ketua Pek Leng Hwee yang dengan kedua tangan memegang sepasang pedang terbang melayang kearah mahluk aneh itu. Sepasang pedangnya yang berkilauan dengan kecepatan kilat telah menusuk kedua matanya mahluk aneh itu.

Dua bayangan manusia lagi telah muncul dan meluncur kearah mahluk aneh itu juga.

Mahluk aneh kembali mengeluarkan geramannya yang hebat dan lantas menerjang kearah tiga orang yang baru datang.

Tetapi ketiga orang itu mempunyai kepandaian yang luar biasa tingginya,mereka bisa bergerak leluasa ditengah udara, gerakannya begitu gesit dan lincahnya, dan senjata mereka hanya ditujukan kearah mata si mahluk aneh.

Pertempuran yang terjadi antara manusia dengan mahluk aneh tersebut, selewat beberapa jurus kedua pihak tampak ripuh.

Tepat pada saat itu, dari dalam rimba melesat tinggi satu bayangan orang, yang kemudian dengan tiga kali bergerak ditengah udara, orang itu sudah berada diatas mahluk aneh itu.

Terpisah kira-kira tiga tumbak diatas si mahluk aneh, dari dari dalam tangannya tiba-tiba keluar sebuah benda dan mulutnya lantas berseru: “Lie Pangcu, Cin Hwetio, kalian lekas mundur!”

Tiga bayangan orang yang pertama, ketika mendengar seruan itu lantas pada mundurkan diri semua.

Apa yang sangat mengherankan ialah benda yang dilontarkan dari tangan orang yang baru muncul tadi ternyata bau yang harum sekali. Dengan sempokan angin malam saat itu, bau harum itu tersebar jauh sekali.

Mahluk aneh Gu Liong Kao lantas membuka lebar-lebar mulutnya dan menelan benda tersebut.

Orang tadi setelah melemparkan benda aneh yang berbau harum itu, badannya dengan cepat sudah lompat kembali.

Belum lagi balik kembali ketempat asalnya, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang hebat, badan mahluk aneh telah hancur berkeping-keping.

Orang tadi setelah mendengar suara ledakan itu, lantas melesat balik. Diantara tumbukan daging Gu Liong Kao yang sudah hancur berkeping-keping, ia coba mencari-cari mustika yang berwarna merah itu, lalu diambil dari perutnya si mahluk aneh, kemudian ia ketawa bergelak-gelak dengan sangat bangganya.

Mahluk aneh itu telah binasa!

Semua orang yang bersembunyi disekitar tempat itu kini berani pada unjukan diri.

Orang yang berhasil mendapatkab mustika merah dari badannya mahluk aneh tadi, ternyata adalah satu laki-laki bercambang dan wajahnya yang menakutkan dengan gigi yang bercaling seperti babi hutan.

Orang itu ternyata adalah satu iblis yang namanya sudah menggetarkan dunia rimba persilatan dengan julukan ‘Iblis Muka Singa’.

Orang ini bukan saja sangat buas dan kejam sifatnya, bahkan mempunyai kebiasaan dan kegemaran makan nyali manusia. Entah berapa banyak orang-orang gagah dari golongan hitam, maupun dari golongan Putih yang sudah terbinasa dalam tangannya.

Mustika merah yang ajaib dari Gu Liong Kao telah didapatkanoleh iblis yang buas dan kejam ini. Semua orang gagah yang berada disitu rata-rata pada merasa jeri, sebab dengan adanya mustika itu berarti akan menambah kekuatannya, dengan sendirinya juga kalau sudah kuat lantas kekejamannya menjadi-jadi. Karena jika iblis itu bertambah kekuatannya sedemikian tinggi, tidak seorangpun diantara orang-orang gagah dari rimba persilatan yang mampu menundukan padanya. Bukankah itu akan berarti pula bahwa ia akan dapat berbuat sesuka hatinya sehingga tentunya menjadi ancaman bencana besar bagi orang-orang dunia Kang-Ouw pada umumnya.

Tepat pada saat si Iblis Muka Singa tadi mendapatkan mustika tersebut, dari antara rombongan banyak orang itu tiba-tiba muncul melesat keluar tiga bayangan orang, yang sebentar saja sudah berada didepannya si Iblis Muka Singa. Ketiga orang itu ternyata adalah orang-orang tua yang berbadan pendek katai.

Si Iblis Muka Singa lantas berkata sambil memperdengarkan suara ketawanya yang aneh: “Eeee, Tiga Cebol dari Kiong-Lay! Apakah kalian tiga bersaudara juga ingin mendapatan

bagian? Kalian sesungguhnya tidak mengukur diri sendiri. Menurut pikiranku, sebaiknya kalian kembali saja ke gunung Kiong-Lay-San, agar bangkai kalian nanti tidak menggeletak ditempat yang asing bagi kalian ini?”

Perkataan ini sesungguhnya sangat sombong, seolah-olah tidak memandang mata pada kekuatanya tiga orang pendek tadi.

Satu diantara ketiga orang pendek itu lantas berkata:

“Harta benda dari langit dan pusaka dari tanah, siapa yang melihat ada mempunyai bagian.” Iblis Muka Singa itu dengan mata beringas lalu masukan mustika merahnya kedalam sakunya. “Aku sudah lama tidak makan nyali manusia!” katanya bengis. “Apakah kalian sengaja hendak

mengantarkan? He, he……! Tidak pantas rasanya kalau tawaran ini kutolak.”

Tiga Cebol dari Kiong-Lay itu dalam kalangan Kang-ouw namanya sudah cukup terkenal. Ketika mendengar perkataan si Iblis Muka Singa, lantas pada ketawa bergelak-gelak. Satu diantara mereka ialah yang tertua lantas berkata :

“Nyali kami bertiga saudara ada sangat keras dan pedas, barangkali kau tidak bisa makan!”

Iblis Muka Singa itu kembali memperdengarkan suara ketawa yang aneh, belum lagi berhenti suara ketawanya, lima jari tangan kirinya sudah bergerak mencakar mukanya tiga orang pendek tadi, sedangkan tangan kanannya melakukan berbareng, begitu pula kakinya. Dengan sekaligus ia dapat melakukan berbareng, begitu pula kakinya. Tidak kecewa iblis itu mendapatkan nama besarnya beberapa puluh tahun lamanya.

Tiga orang pendek dari Kiong-Lay itu ternyata juga buka orang sembarangan. Yang paling tua ketika mukanya hendak dicakar, dengan cepat miringkan sedikit tubuhnya, tangannya berbalik menyambar pergelangan tangan musuhnya.

Kedua saudaranya juga lantas bergerak dengan berbareng, kemudian maju merangsak, dengan secepat kilat mereka bertiga menyambar pinggang si iblis.

Dua orang pendek yang ditendang oleh kaki si iblis tadi, badanya melesat keatas menghindarkan serangan lawannya, kemudian dari tengah udara mereka balas menyerang dengan tangan dan kakinya.

Iblis Wajah Singa itu benar-benar tidak akan menduga bahwa Tiga orang pendek dari Kiong- Lay begitu lihaynya, maka ia lantas merubah cara bertempurnya, dengan caranya yang luar biasa. Kedua tangannya melancarkan serangannya yang sangat hebat. Satu digunakan untuk menyerang si pendek yang tertua, satu lagi untuk menyerang kedua saudaranya yang lebih muda.

Setelah terdengar dua kali suara ‘Buk, buk!’ yang amat nyaring, si pendek yang tertua badannya terpental mundur setumbak lebih, dua saudara lainnya tampak jungkir balik, tetapi si iblis itu sendiri badannya juga sempoyongan.

Sesaat selagi badan si Iblis Wajah Singa dalam keadaan sempoyongan, kakinya yang digunakan untuk menendang tadi telah mengenai ketiak kirinya si pendek, sementara itu salah satu orang pendek sepuluh jari tangannya juga sudah berhasil menyambar pinggannya si Iblis Wajah Singa.

Badan si pendek yang termuda telah terjatuh kesuatu tempat sejauh setumbak lebih, tubuhnya menyemburkan darah segar.

Tetapi ikat pinggangnya si Iblis Wajah Singa juga terrputus dan mustika itu juga menggelinding jatuh ditanah.

Orang-orang gagah disekitar ramai berseru kaget. Beberapa puluh bayangan orang secepat kilat sudah menyerbu kearah jatuhnya mustika merah tadi.

Sementara itu, si Iblis Wajah Singa ketika pinggangnya merasa kendur, segera mengetahui gelagat tidak baik. Dengan cepat ia menyambar mustika merah yang jatuh itu dengan tangannya, tetapi sudah tidak berhasil dan mustika itu sudah menggeliding sejauh setumbak lebih.

Ia berteriak-teriak dengan sangat kalapnya, matanya Cuma dapat menyaksikan beberapa puluh bayangan yang sedang menerjang kearah benda pusaka tersebut. Dalam keadaan cemas, si iblis mengeluarkan serangannya dengan sepenuh tenaganya.

Serangan itu sangat hhebat sekali, mungkin dapat menggempur batu beasr sampai pecah berkeping-keping. Setelah mengenai sasarnnya, lantas terdengar suara jeritan mengerikan. Sepuluh orang yang mengerumun tadi sebagian rubuh ditanah dan sisanya terpental mundur.

Oleh karena terdampar oleh serangan yang dahsyat tadi, mustika merah tadi juga turut beterbangan ditengah udara bersama-sama batu-batu kecil dan debu. Ketika si Iblis Wajah Singa itu melayang menyambar benda pusaka tersebut, mendadak kelihatan muncul satu bayangan putih. Secepat kilat sudah pindah tangan kedalam tangan bayangan putih tadi.

Semua orang-orang gagah disekitr tempat itu kembali perdengarkan suaranya yang gemuruh. Bayanga putih tadi ternyata adalah Ketua dari Pek-Leng-Hwee Cin Bie Nio.

Dengan mata beringas dan rambut berdiri dengan gusarnya, si Iblis Wajah Singa itu membentak Cin Bie Nio:

“Lekas bawa kemari!”

Cin Bie Nio dengan tingkah lakunya yang centil lantas menjawab sambil ketawa terkekeh- kekeh:

“Apa yang harus aku serahkan padamu?”

Sepasang matanya si Iblis Wajah Singa kelihatan mendelik.

“Mengingat persehabatan dengan suamimu almarhum, mustika itu kau serahkan saja kepada secara baik-baik, tidak nanti akan menyusahkan dirimu. Kalau tidak, heh, heh…….”

Orang tua baju ungu dan itu orang tua berpakaian seperti Wan-Gwee, kedua-duanya lantas maju berbareng, berdiri dikedua sisinya Cin Bie Nio. Selain dari pada itu, Nona Baju Merah dan beberapa pembantuanya Cin Bie Nio yang terhitung kuat-kuat juga pada maju dan berdiri dibelakangnya Cin Bie Nio.

Iblis Wajah Singa itu saking gusarnya lantas tertawa sambil bergelak-gelak:

“Heh, Heh! Pangcu dari Cie-In-Pang Lie Bun Hao dan Pangcu dari Ban-Siu-Pang Thio Phan! Kalian berdua sudah tidak ingat tali persahabatan kita pada dua puluh tahun berselang. Berani membantu wanita genit ini bermusuhan dengan Lohu? Bagus, Bagus! Lohu kepingin tahu sampai dimana kepandaiannya kedua Pangcu dan Hweetio ini!”

Lie Bun Hao dan Thio Phan ketika mendengar si iblis menyebutkan tali persahabatan dua puluh tahun berselang, wajah lantas pada berubah seketika. Selagi hendak menjawab……..

Cin Bie Nio sudah menjawab dengan suaranya yang dingin…. “Kau si Iblis Wajah Singa ada mempunyai apa yang berarti?” “Rase genit, kamu mau kembalikan atau tidak?”

“Kalau tidak bagaimana?!”

Si Iblis Wajah Singa, yang dalam Golongan Hitam terkenal sebagai orang paling kejam dan ganas, bagaimana mau mengerti diperlakukan sedemikian rupa oleh Cin Bie Nio? Maka ia lantas menggeram hebat, dengan kecepatan kilat ia sudah melancarkan serangan secara bertubi-tubi.

Cin Bie Nio juga bukan sebangsa orang lemah, meski diserang secara tiba-tiba namun masih berhasil menyingkirkan diri, tapi biar bagaimana kepandaiannya masih kalah setingkat dengan si Iblis Wajah Singa itu, maka tangannya sudah terkena serangannya si iblis, dan mustika yang tergenggam dalam tangannya lantas melesat keluar.

Selagi si iblis hendak menyambar mustika itu, kedua Pangcu sudah mengeluarkan serangan dengan berbareng.

Iblis Wajah Singa yang terdampar oleh anginnya serangan tersebut, lantas mundur tiga tindak. Pada saat itu, dirinya Yo Cie Cong yang menggeletak ditanah dan sudah hampir dilupakan oleh semua orang, oleh karena sudah minum obat mujarabnya Thian-San Liong-Lie, setelah mengasoh

sekian lamanya, perlahan-lahan sudah siuman kembali, seolah-olah orang yang baru bangun dari tidurnya, ia coba merayap bangun dengan badan masih sempoyongan.

Baru saja ia merayap bangun, sebuah benda merah sudah menyambar didepan mukanya!

Dalam keadaan habis terluka parah dan seluruh kekuatan dan semangatnya masih belum pulih kembali, sudah tentu ia tidak mampu berkelit untuk menghindarkan meluncurnya benda merah itu, maka ia lantas membuka mulutnya hendak berseru……

Dan selagi ia pentang mulutnya, mustika itu dengan tepat telah masuk kedalam mulutnya dan terus masuk kedalam perutnya melalui tenggorokan.

Ia lantas berdiri melongo!

Suara seruan kaget terdengar riuh dari empat penjuru! Banyak orang lari menuju kearah dirinya.

Yo Cie Cong merasa agak kuatir, karena saat itu keadaannya masih sangat payah, angkat kaki saja masih dirasakan sangat berat. Jika para jago itu hendak mengambil tindakan kepada dirinya, ia cuma bisa mandah digebuk tanpa melawan.

Coba saja pikir, para jago itu memerlukan datang ketempat itu, maksudnya ialah hendak merebut benda pusaka alam yang merupakan benda mujijat bagi orang-orang dari dunia persilatan dan sekarang benda itu telah masuk kedalam perutnya seorang pemuda yang bersikap dingin serta belum terkenal namanya itu, bagaimana mereka mau mengerti apa lagi ketika dalam pertempuran merebut benda pusaka dari badannya mahluk aneh Gu Liong Kao tadi, sudah banyak jiwa telah melayang.

Para jago dari dunia persilatan itu, lantas mengurung rapat dirinya Yo Cie Cong. Hampir setiap orang memperlihatkan wajahnya yang gusar, ada juga yang merasa mengiri terhadap anak muda yang tidak dikenal itu.

Tapi semua rupanya sudah menjadi takdir tuhan, Yo Cie Cong yang datang hanya tertarik oleh perasaan kepingin tahu, sedikitpun tidak bermaksud untuk turut ambil bagian dalam perebutan benda pusaka itu, namun benda pusaka dari alam itu sudah ditakdirkan siapa yang harus memiliki, maka dengan tanpa diminta, benda itu telah meluncur sendiri kedalam mulutnya. Bab 5

Dengan sikapnya yang kaku dingin, Yo Cie Cong mengawasi orang-orang itu dengan perasaan kaget dan terheran-heran. Kalau kedua Pangcu dan Ketua dari Pek-Leng-Hwee tadi tangan terhadap dirinya, itu karena disebabkan soal mengenai asal-usul dirinya. Tapi kelakuan orang- orang yang terdiri dari jago-jago dari rimba persilatan, sesungguhnya sangat mengherankan mereka yang menyaksikan.

Ternyata Yo Cie Cong masih belum tahu bahwa mustika yang masuk kedalam mulutnya tadi adalah benda pusaka alam yang dibuat perebutan oleh orang-orang gagah itu dengan pertaruhkan jiwanya.

Tadi jiwanya hampir saja melayang, karena dirinya dicurigai sebagai muridnya Yo Cie Hoan, Pangcu dari Kam-Lo-Pang yang terkenal pada dua puluh tahun berselang, untung perbuatannya ketiga orang jahat tadi keburu dicegah oleh Thian-San Liong-Lie, sehingga dirinya terhindar dari kematian.

Tetapi sekarang, benda pusaka yang dibuat rebutan itu telah masuk kedalam perutnya, ini sangat runyam jadinya.

Kalau benar seperti apa yang diduga oleh Cin Bie Nio dan kedua Pangcu itu, bahwa anak muda ini ada hubungannya dengan Golok Maut, jika dibiarkan dirinya mendapat kekuatan tenaga demikian hebatnya, akibatnya tentu ada bencana bagi dunia rimba persilatan.

Maka pada saat itu, diantara orang-orang yang mengurung dirinya Yo Cie Cong, adalah Lie Bun Hao Pangcu Cie-In-Pang, Thio Phan Pangcu dari Ban-Siu-Pang dan Cin Bie Nio Ketua dari Pek- Leng-Hwee, yang nampak paling gelisah.

Pada saat itu seorang tua berewokan dengan gigi bercaling telah menerobos keluar dari antara orang-orang banyak, mulutnya memperdengarkan suara ketawanya yang mirip dengan suara iblis. Orang tua itu telah mengawasi orang banyak itu sejenak, lalu berkata : 

“Bocah ini akan kubawa. Siapa yang mengenal gelagat, lekas minggir!”

Semua orang terkejut mendengar perkataan itu, ternyata orang yang mengeluarkan perkataan tersebut adalah si Iblis Wajah Singa yang sangat buas itu.

Mustika dari Gu Liong Kao sudah masuk kedalam perutnya si pemuda yang bersikap dingin itu.

Entah apa maksudnya orang tua itu hendak membawa anak muda tersebut.

Sementara Yo Cie Cong yang mendengar perkataan si iblis, kedua matanya lantas merah beringas, ia berkta sambil kertak gigi :

“Dengan hak apa kau hendak membawa aku pergi?”

“Bocah, aku si orang tua telah menaksir kau ada mempunyai bakat yang luar biasa untuk menjadi seorang gagah yang terkuat didalam rimba persilatan, maka aku mempunyai maksud hendak menjadikan kau muridku. Ini sebetulnya ada keberuntunganmu. Apakah kau tidak suka?” kata si Iblis Wajah Singa sambil perdengarkan suara ketawanya yang aneh.

“Maksud baikmu aku ucapkan terima kasih, sayang aku tidak mempunyai peruntungan untuk menjadi muridmu,” demikian Yo Cie Cong menjawa sambil ketawa dingin.

Orang-orang yang ada disitu, mendengar tanya jawab kedua orang itu, ramai kasak-kusuk.

Pada umumnya mereka berpendapat bahwa iblis tua itu karena sudah tidak mempunyai harapan mendapatkan mustika dari Gu Liong Kao, maka latas timbul pikirannya hendak mengambil pemuda itu sebagai muridnya.

“Bocah, kau boleh pikir biar mateng dulu. Aku si orang tua sebenarnya belum pernah menerima murid, tetapi hari ini buat kau aku kecualikan. Maka ini adalah peruntunganmu yang bagus!”

“Tadi sudah kukatakan, bahwa maksud baikmu itu hanya aku bisa mengucapkan terima kasih, maka kecuali itu sebetulnya tidak perlu lagi.”

“Bocah, perkataanku ada merupakan hukum. Kau tidak suka juga harus suka.”

“Memaksa orang jadi murid, sesungguhnya merupakan suatu hal yang langka dalam rimba persilatan.” “Bocah, kau berani menentang maksudku? Sesungguhnya kau tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, he, he!”

“Habis kau mau apa?” tanya Yo Cie Cong jengkel, ia merasa tidak puas dengan caranya si Iblis Wajah Singa memaksa orang menjadi muridnya.

“Setan cilik, kau mau atau tidak?” “Tidak!!!!”

Iblis itu lantas perdengarkan suaranya yang menyeramkan.

“Setan cilik! Kalau kau tidak mau ikut aku, sekalipun kau mempunyai jiwa yang hidup seratus kali, juga akan binasa ditepi danau ini. Tahukah kau, sudah berapa banyak orang yang menginginkan dirimu?”

Yo Cie Cong terkejut, lalu berpaling dan dengan mata gemas ia mengawasi si Wanita Baju Putih dan dua orang tua yang tadi telah turun tangan keji terhadap dirinya. Ketika matanya berbentrokan dengan matanya si Gadis Baju Merah yang berdirinya disampingnya Cin Bie Nio, hatinya merasa berdebar, tetapi dengan cepat ia lantas mengalihkan pandangannya kearah si iblis kemudian berkata padanya :

“Hidup atau mati adalah urusanku sendiri, tidak perlu kau turut capaikan hati.” “Setan cilik, tetapi sekarang kau tidak dapat berbuat menurut kehendakmu sendiri.” Saat itu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin.

Si Iblis Wajah Singa itu lalu berpaling dan mencari orangnya yang ketawa tadi, orang itu ternyata adalah Cin Bie Nio, Ketua dari Pek-Leng-Hwee.

Si iblis lantas menegur dengan suara bengis:

“Cin Bie Nio, kau jangan berbuat dengan tidak melihat gelagat.”

Wanita centil itu tertawa terkekeh-kekeh dan kemudian maju tiga tindak kearah si Iblis Wajah Singa, matanya yang genit mengerling dan mulutnya masih memperdengarkan ketawanya yang dingin.

“Yo, apa artinya tidak kenal gelagat?” jawabnya. “Aku juga ada mempunyai maksud hendak membawa bocah ini ke perkumpulanku. Kau pikir bagaimana?” sehabis berkata kembali ia memperdengarkan ketawanya yang nyaring.

“Rase genit, setan cilik ini sikapnya dingin. Hatinyapun dingin. Dia merupakan barang yang enak dilihat, tetapi tidak enak dimakan.”

Perkataan si Iblis Wajah Singa sesungguhnya ada sangat tajam dan mengandung ejekan terhadap dirinya wanita centil itu.

Tetapi Cin Bie Nio tidak menunjukan perubahan sikap apa-apa, malah ia menyahut dengan suaranya yang merdu.

“Hal ini tidak perlu kau turut campur. Kami sebagai Ketua dari suatu perkumpulan, juga harus melaksanakan setiap perkataan yang keluar dari mulut kami. Hari ini, biar bagaima bocah ini pasti akan kami bawa. Siapa yang mau coba-coba merintangi kami ingin melihat sampai dimana tingginya kepandaian orang itu!”

“Hmmm, aku si orang tua terhadap kesukaan dalam hal makan nyali manusia, tidak perduli nyalinya laki-laki atau wanita, aku anggap serupa saja.”

Wajah Cin Bie Nio lantas berubah. Ia lantas berkata :

“Dengan memandang persahabatan dengan suamiku almarhum, aku sebetulnya masih hendak mengindahkan dirimu. Tetapi nyatanya kau adalah seorang yang tidak kenal budi. AKU Cin Bie Nio nyalinya ada panas laksana bara. Tetapi kerasnya seperti baja. Barangkali tidak biasa masuk kerongkonganmu.”

Yo Cie Cong yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua telah memperebutkan dirinya, dalam hati merasa sangat gemas tetapi apa daya? Karena badannya yang bekas terluka parah, sedikitpun ia tidak mempunyai kemampuan.

Terutama terhadap wanita yang centil genit itu, bencinya semakin menjadi-jadi.

Ia juga mengetahui bahwa keadaan dirinya sendiri saat itu sebetulnya sungguh berbahaya, maka ia tidak dapat memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tetapi hatinya yang keras seperti baja dan sifatnya yang tinggi hati telah membuat ia dapat menghadapi segala kejadian dengan ketabahan, sedikitpun tidak mempunyai rasa takut. Si Iblis Wajah Singa itu yang biasanya memang bersifat buas bagaimana dapat membikin sudah saja tantangan Cin Bie Nio? Maka saat itu juga ia lantas menggeram serta maju dua langkah, dengan matanya yang buas ia membentak :

“Rase genit! Apa benar-benar kau hendak mencari kematian?”

Ucapan si Iblis Wajah Singa itu yang selalu mengatakan Cin Bie Nio sebagai ‘Rase genit’, apalagi hadapannya begitu banyak orang, betapapun tebalnya muka Cin Bie Nio, juga tidak biasa tinggal diam begitu saja, maka sikapnya lantas berubah, dengan suara ketus ia menjawab:

“”Iblis tua, kau jangan sombong, bole coba-coba saja!” Suasana ditepi danau itu kembali menegang.

Si Iblis Wajah Singa kelihatan berjingkrat-jingkrat bahna gusarnya, tetapi selagi hendak bergerak, tujuh orang tua dan tiga laki-laki kuat serta dua orang muda dengan satu Gadis Baju Merah dengan cepat sudah bergerak maju berada disampingnya Cin Bie Nio.

Dua diantara ketujuh orang tua itu adalah Pangcu dari Cie-In-Pang dan Ban-Siu-Pang. Barisan yang demikian kuatnya itu mau tidak mau membuat ...................................................................

Juga oleh karena pernyataan Cien Bie Nio itu, telah membuat beberapa kawanan iblis yang ada didalam rombongan orang banyak itu, masih mengandung harapan terhadap mustika “Gu liong kao” yang sangat mujijat itu.

Beberapa pasang mata yang kejam, kini mulai ditujukan kepada dirinya Yo Cie Cong.

Maksud biadab dan nafsu serakah yang melebihi binatang buas itu, sesungguhnya sangat menakutkan.

Cin Bie Nio dan kedua pangcu yang semula bermaksud hendak membinasakan dirinya Yo Cie Cong, karena mencurigai anak muda itu sebagai keturunannya Yo Cin Hoan, mengapa sekarang tidak membiarkan si iblis berwajah singa turun tangan terhadap anak muda itu ?

Ini bukannya merupakan suatu teka – teki.

Keserakahan hati manusia memang tidak ada batasnya. Disuatu fihak hendak membinasakan jiwanya, tadi dilain fihak menginginkan mustika diperutnya.

Cien Bie Nio dapat menebak maksudnya yang keji dari si iblis tua wajah singa, ada suatu bukti, ia sendiri juga memang mempunyai maksud yang serupa.

Yo Cie Cong kini telah dijadikan sasaran.

Suatu usaha pembunuhan yang keji dan menakutkan akan terulang lagi.

Kawanan manusia yang berhati iblis itu akan memperlakukan Yo Cie Cong seperti halnya mereka memperlakukan mahluk ajaib Gu – Liong – kao tadi. Mereka akan berusaha dengan segala daya upayanya untuk mencapai maksuknya mendapatkan barang ajaib itu.

Diantara orang banyak itu ada juga yang masih mempunyai prikemanusiaan, orang – orang itu kini perlahan lahan bubarab meninggalkan tempat yang seperti neraka itu, meskipun diantara mereka ada juga yang mengandung maksud hendak mendapatkan benda mujijat itu, tapi masih merasa segan untuk membelek perut manusia hanya sekedar untuk memenuhi keserakahannya hati sendiri.

Orang – orang yang saat itu masih berada ditempat tersebut, sudah tentu ada serombongan kawanan iblis yang masih menginginkan benda tersebut.

Satu kecualian hanya terhadap dirinya Thian-San liong-lie.saat itu ia masih nampak bingung, ia tidak mau meninggalkan tempat tersebut, entah kekuatan apa yang membuat ia tidak tega meninggalkan dirinya si pemuda bersikap dingin yang keadaannya sudah sangat payah itu.

Cin Bie Nio dan dua pangcu serta para pembantunya, yang sudah sekian lama berhadapan dengan si iblis berwajah singa, akhirnya Cin Bie Nio-lah yang membuka kesunyian dari suasana tegang itu.

Setelah perdengarkan suara ketawanya yang genit, matanya memandang kedua pangcu yang berdiri dikedua sisinya sejenak,kemudian perintahkan kepada para pembantunya :

,,kalian boleh mundur dulu !’’

Gadis baju merah yang dipanggil kiauw-jie itu menggerendeng sendirian, nampaknya merasa kurang senang, dengan sikapnya ogah – ogahan ia terpaksa undurkan diri, yang lantas di ikuti oleh kedua pemuda baju ungu. Saat itu Yo Cie Cong masih rebah menggeletak ditanah, darah yang mengalir dari mulut dan hidungnya sudah membeku. Entah masih hidup atau sudah binasa, tapi yang terang ialah sedikitpun tidak kelihatan ia bergerak. Setelah mengundurkan orang – orang, Cin Bie Nio lalu berkata pula kepada si iblis berwajah singa :

,,apakah kau bersedia menerima suatu usulku ?’’

Iblis berwajah singa itu tahu bahwa diantara orang banyak yang kini berada ditempat itu, hanya wanita ini yang paling sulit dilayani. Selain centil genit dan kejam buas, ia juga mempunyai banyak akal. Dan sekarang entah akal muslihat apalagi yang hendak diajukan. Maka seketika itu ia lantas menjawab dengan suara dingin :

,, Usul apa ? coba sebutkan !’’

,, Kau kau sudah bertekad bulat hendak mendapatkan benda mujijat ?’’

,, Benar !’’

,, Apa kau sudah berkeputusan dan tetap hendak membelek perutnya setan cilik ini, untuk mengambil mustikanya ?’’

,, Ng !’’

,, Jikalau kami tidak turut campur tangan ?’’

,, Itu ada kecerdikan kalian !’’ si iblis memotong.

Cin Bie Nio bersenyum simpul, ia berkata pula sambil menunjuk orang – orang sekitarnya :

,, Sudahlah kau memikirkan, bahwa kecuali aku dan kedua pangcu, masih ada banyak sahabat dari dunia Kang – ouw yang datang untuk turut merebut benda gaib itu ? Dan apakah mereka membiarkan anak muda itu begitu saja ?’’

Ucapan ini benar – benar sangat lihai ! sampai si iblis yang ditanya demikian lantas melongo seketika lamanya tidak mampu menjawab.

Andai kata bertempur satu – persatu, kawanan iblis yang berada disitu, mungkin semua bukan tandingan si iblis berwajah singa, tapi jika main keroyok, ini lain soalnya.

Pada saat itu, matanya semua kawanan iblis yang ada disitu dari dirinya Yo Cie Cong telah dialihkan kearah si iblis berwajah singa dan Cie Bie Nio. Cuma dua orang yang sikapnya terhadap To Cie Cong harus dikecualikan.

Satu adalah sigadis baju merah, sikapnya nampak sangat gelisah. Barangkali, pemuda dengan wajah dingin kecut itu, sudah mendobrak pintu hatinya.

Yang lain adalah Thian – san Liong – lie, ia sangat bingung. Seolah-olah ada pengaruh gaib yang mendorong padanya : kau harus menolong anak itu, kau tidak boleh membiarkan dia dibelek perutnya oleh kawanan iblis !

Tapi saat itu kawanan iblis sudah pada bersiap untuk turun tangan, disamping itu masih ada lagi Cin Bie Nio dan kedua pangcu, yang juga ada mengandung maksud hendak membinasakan dirinya pemuda itu, taruh kata kepandaiannya Thian – san Liong – lie sangat luar biasa, tapi kalau mau merebut jiwanya pemuda dibawah ancamannya begitu banyak musuh, sesungguhnya bukan soal mudah.

Si iblis berwajah singa sesungguhnya ada manusia yang sangat kejam ganas dan buas, setelah mendengar keterangan Cin Bie Nio, hanya nampak terkejut sebentar, kemudian matanya menyapu para kawanan iblis lainnya, lantas pendengarkan suara ketawanya yang menyeramkan.

,, Tadi kata tidak akan campur tangan ?’’ demikian tanyanya kepada Cin Bir Nio.

,, Jah !’’ jawabnya Cin Bir Nio singkat.

,, Apa kau dapat menguasai kedua pangcu ?’’

,, Kau rupanya terlalu memandang rendah kepada Cin Bie Nio !’’

,, Ng ! kau dan kedua pangcu tanpa sebab akan melepaskan kesempatan yang sukar diketemukan ini ?’’

,, Tidak kecewa kau menjadi jago untuk satu masa, dugaanmu sedikitpun tidak keliru !’’

,, Apa syaratnya ?’’

,, Kau harus melakukan pembedahan anak itu dan mengambil mustikanya dihadapan aku dan kesua pangcu !’’

Si iblis itu setelah berpikir sejenak, lalu menjawab sambil ketawa :

,, Kau anggap aku situa bangka sebagai anak-anak umur 3 tahun saja !’’

,, Apa artinya ?’’ ,, Kau hendak menggunakan tenagaku, mengundurkan semua orang kuat yang berada disini, kemudian kau akan menggunakan ketika selagi aku kehabisan tenaga, lantas turun tangan bersama kedua pangcu itu, betul tidak ?’’

,, Kau telah mengukur jiwa orang dengan jiwanya orang rendah. Kita sebagai ketua dan pangcu dari perkumpulan besar, didalam kalangan Kang – ouw bukan orang – orang yang tidak ada nama. Rasanya belum sampai berbuat begitu rendah seperti apa yang kau ucapkan !’’

,, Kalau begitu mengapa kau suruh aku melakukan perbuatan itu didepan kalian ?’’

,, Setan cilik itu dengan aku kadua pangcu seolah- olah air dengan api. Maksudnya supaya kau melakukan pembedahan perutnya anak itu dihadapan kita, hanya mengharap bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematiannya setan cilik itu !’’

,, Benar ?’’

,, Hm ! apa…’’