Golok Maut (Can Cie Leng) Jilid 01

Jilid 01

Permulaan Kata

Itulah senjata yang sangat aneh bentuknya. Panjangnya 1,5 kaki, ujungnya tajam, dikedua bagian sampingnya satu tajam dan yang lainnya berbentuk gigi gergaji.

Seluruh awak senjata itu putih berkilat, sinarnya menyilaukan mata.

Ditengah-tengah awak senjata itu ada terukir tulisan yang indah berbunyi : “GOLOK MAUT”. Dibagian Yang tajam, tajamnya luar biasa, sehingga rambut yang diletakan diatasnya kalau ditiup saja lantas putus. Dibagian yang seperti gergaji, tajamnya melebihi tajam gergajo biasa.

Senjata yang aneh luar biasa bentuknya itu mendapat nama yang sangat seram yaitu : “GOLOK MAUT.”

Golok Maut ini telah mewakili segala keseraman, kekejaman, dan keganasan.

Oleh karena munculnya Golok Maut ini, keadaan dunia Kang-Ouw yang tadinya memang sudah keruh, ditambah diliputi suasana kekejaman dan keganasan.

Orang-orang dalam rimba persilatan semuanya merasa kebat-kebit hatinya dan pucat wajahnya kalau ada orang yang membicarakan Golok Maut itu.

Orang-orang yang sudah menerima Golok Maut ini sebagai pembawa kabar jelek, selambat- lambatnya dalam waktu tiga hari pasti akan binasa dalam keadaan sangat mengenaskan, kalau bukan terpapas kutung kedua lengannya, tentu terpapas kutung kedua pahanya dan sudah pasti ialah dibagian dada terdapat satu lubang yang tembus sampai kepunggungnya. Ini memang benar-benar merupakan suatu kekejaman yang sudah tidak ada taranya. Orang- orang yang menjadi korban Golok Maut itu, baik yang dikutungi kedua lengannya maupun yang dikutungi kedua pahanya, semuanya pasti mendapat tanda gergaji disebelah kirinya.

Golok Maut ini menggegerkan dunia rimba persilatan, menggetarkan Orang-orang dari golongan Putih dan golongan hitam.

Jago-jago dari kedua pihak, golongan Putih dan golongan hitam, telah mengambil tindakan untuk menyelidiki siapa adanya Pemilik Golok Maut itu yang penuh rahasia dan bertangan kejam itu, tetapi tidak ada seorangpun yang pernah mendapatkan tanda-tanda yang dimaksud.

Munculnya Golok Maut ini membingungkan, sebentar di selatan sebentar lagi di utara, sehingga membuat Orang-orang yang mengadakan penyelidikan repot sendiri tanpa hasil.

Siapa adanya Pemilik Golok Maut itu? Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Apa sebabnya Golok Maut itu mengganas di dunia Kang-Ouw? Tidak ada seorangpun juga yang bisa menjawab.

Orang-orang yang menerima ancaman Golok Maut itu kesemuanya merupakan Orang-orang kuat terkenal, baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih, semuanya mempunyai kepandaian tinggi. Tetapi aneh bin ajaib, mereka semua tidak dapat menghindarkan dairi dari cengkraman Golok Maut itu .

Rupa-rupanya Orang-orang yang diincar oleh Golok Maut itu adalah Orang-orang tertentu.

Apa yang menyebabkan Orang-orang itu binasa? Kecuali sang korban dan Pemilik Golok Maut itu sendiri, tidak ada orang ketiganya lagi yang dapat memberi keterangan.

Golok Maut itu kecuali seram, kejam, juga harus pula ditambah dengan kata : PENUH RAHASIA. Tidak ada seorang juga di dunia Kang-ouw yang mengetahui asal-usul munculnya Golok Maut itu .

Hanya dalam waktu yang amat singkat, yaitu dalam waktu tiga bulan saja, Golok Maut itu telah muncul lima kali. Sudah dengan sendirinya ada lima orang yang telah menjadi korban korbannya. Korban-korban itu merupakan jago-jago dari tempat-tempat tertentu, juga merupakan Orang- orang kuat yang cukup berpengaruh namanya.

Pertama kali Golok Maut ini muncul dikota Lam-ciang. Salah satu jago terkenal dari golongan putih yang bernama Siangkoan In Kie telah dikuntungi kedua lengannya, kedapatan mati dengan dada berlubang.

Keduakalinya Golok Maut itu minta korban Pancu dari organisasi Pek-hap-pang didaerah Kiu- kang yang bernama Koo Goan, juga binasa dalam keadaan yang sama seperti keadaan korban pertama. Organisasi itu sebetulnya banyak Orang-orang kuatnya yang berkepandaian tinggi dan nama morganisasi itu juga cukup terkenal di kalangan Kang-ouw, tetapi yang benar-benar merupakan peristiwa yang tidak habis dimengerti ialah karena Koo Goan itu justru binasa didalam markas besarnya sendiri.

Korban ketiga membuat semua orang semakin tidak habis mengerti, karena korban itu adalah orang dari golongan pengemis cabang Thian-lam yang bernama Gouw Cu Ceng. Pada malam itu juga, setelah Gouw Cu Ceng menerima hadiah Golok Maut sebagai pertanda, segera ia binasa dalam keadaan mengerikan.

Korban keempat ialah pengusaha lima perusahaan Piuaw Kiok (Pengantar barang) didaerah kayhomh yang bernama Ban Goan Hong.

Korban kelima lebih-lebih mengherankan lagi, korban itu adalah orang yang bernama Hoat Giam LO (Raja Akhirat Hidup) yang pernah malang melintang 30 tahun lamanya didalam dunia Kang-ouw dan sejak sekian lamanya sudah berdiam dikota Bu-ciang. Dia binasa dalam keadaan kutung kedua pahanya dan berlubang dadanya.

Kiang Hie sebenarnya adalah seorang yang mempunyai kepandaian silat sangat tinggi, tetapi ia juga merupakan seorang yang sangat kejam dan suka membinasakan jiwa orang denga tidak memandang bulu lagi, maka kematiannya itu telah menggirangkan hati banyak orang yang tidak menyukai tindak tanduknya.

Yang merupakan keistimewaan lainnya dari para korban Golok Maut itu adalah bahwa semuanya merupakan Orang-orang yang sudah berusia lima puluh tahun keatas.

Apa sebabnya? Juga tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Dunia Kang-ouw ramai membicarakan peristiwa tersebut. Entah siapa lagi yang akan mendapat giliran nanti dari ancaman Golok Maut itu ?

Perbuatan yang mirip dengan perbuatan gila ini entah kapan berakhirnya?

Menurut apa yang diunjukan oleh peristiwa yang ganas itu, telah menimbulkan kesan bahwa Pemilik Golok Maut itu pasti adalah seorang bertabiat aneh dan mempunyai kepandaian yang luar biasa tingginya. Jika tidak demikian, kelima korbannya itu yang semuanya merupakan Orang- orang yang berkepandaian tinggi dan sudah terkenal itu bagaimana bias jadi dibuat bulan-bulanan oleh Golok Maut tanpa memberi perlawanan. Dari bukti yang didapat dari semua korban itu, nyata bahwa para korban itu semuanya tentu tidak sempat memberi perlawanan.

Sekarang Golok Maut itu muncul lagi untuk keenam kalinya. Perbedaan waktu antara munculnya peristiwa kelima dan keenam hanya satu bulan saja.

Kali ini yang mendapat kehormatan menerimam kunjungan Golok Maut itu adalah seorang Chung Cu dari perkampungan Hui Liong Cung yang sudah sepuluh tahun lebih lamanya sudah cuci tangan dan mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw. Dia adalah Tio Ek Chiu.

Orang tua itu dengan kepandaian ilmu silatnya dan ilmu mengentengkan tubuh serta kekuatan tenaga dalamnya yang sangat tinggi sudah empat puluh tahun lamanya namanaya terkenal di dunia Kang-ouw. Dia adalah seorang tua yang usianya sudah lebih dari 60 yahun, sesungguhnya merupakan suatu kejadian luar dugaan kalau Golok Maut itu telah mengun jungi dirinya.

Mengingat akan kepandaian, nama dan kedudukannya di dunia Kang-ouw, sudah barang tentu hal itu telah menggemparkan dunia rimba persilatan.

Banyak jago-jago dari rimba persilatan pada berduyun-duyun menuju keperkampungan Hui Liong Cung.

Sahabat-sahabat baiknya Tio Ek Chiu, seperti Lui Ceng, Pek Jie Hong dan lain-lainnya sudah pada dating pada hari kedua pagi-pagi sekali sesuadah Orang tua itu menerima Golok Maut itu sebagai pertanda.

Untung hari itu ternyata Pemilik Golok Maut itu tidak muncul.

Diperkampungan Hui Liong Cung hari itu banyak berkumpul Jago-jago dari kalangan Kang-ouw.

Hampir setiap orang menantikan saat yang akan datang dengan hati berdebaran dan gusar. Mereka hampir menantikan setiap waktu tanpa mengenal lelah.

Kecuali ada satu dewa, kalau hanya orang biasa saja , betapun tingginya kepandaian orang itu, rasanya juga tidak mampu melawan banyak Jago-jago rimba persilatan itu.

Rupanya semua Jago-jago itu sudah bertekad bulat hendak membuka tabir rahasia yang dimiliki Golok Maut itu.

Tetapi sampai hari ketiga, orang yang dinanti–nantikan itu belum juga tiba, tidak ada tanda- tanda apa-apa. Sedangkan menurut kebiasaan, Golok Maut itu setiap kali muncul sebagai pertanda, selambat-lambatnya dalam waktu tiga hari sudah pasti minta korban jiwa. Hari ketiga itu ada merupakan hari terakhir. Jika malam ini tidak ada kejadian apa-apa, maka saat yang sangat naas itu dianggap sudah berlalu.

Kampung Hui Liong Cung yang biasanya tenang tentram, kini karena munculnya Golok Maut itu telah diliputi oleh suasana tegang dan seram.

Setiap lorong dan tikungan yang agak gelap dipasang lampu terang-terang. Hampir setiap langkah ada orang yang menjaga, baik siang maupun malam hari. Penjagaan dilakukan sangat kuat. Dibagian depan dan belakang perkampungan itu juga dipasangi berbagai perlengkapan rahasia.

Tempat sekitar tiga lie dalam perkampungan itu banyak Orang-orang dari dunia Kang-Ouw yang menjaga, baik secara terang-terangan maupun secara menggelap. Tujuan mereka sudah tentu ingin melihat wajah asli dari Pemilik Golok Maut itu.

Diruanga besar didalam gedung itu pesta perjamuan dilakukan siang dan malamhari tidak berhenti-hentinya. Hampir 20 orang lebih orang-orang dunia Kang-Ouw yang sudah terkenal keganasannya telah melindungi Tio Ek Ciu demikian rapatnya.

Tio Ek Ciu kelihatan mundar mandir didalam ruangan, kadang-kadang juga menghela nafas.

Rambutnya sudah ubanan kelihatan kusut.

Diatas meja ditengah ruangan besar, diantara mangkok piring perjamuan ada terletak Golok Maut yang luar biasa bentuknya itu yang diantarkan pada tiga hari berselang. Golok Maut ini merupakan suatu utusan yang menagih jiwa, sehingga setiap orang yang melihatnya pada berdiri bulu romanya.

Pada orang-orang kuat yang berada didalam ruangan itumeskipun diluarnya sedapat mungkin hendak berlaku tenang, tetapi dalam hati sebetulnya merasa kebat-kebit.

Meskipun penjagaan dalam perkampungan itu sangat kuat dan mungkin tidak dapat dilalui oleh seekor lalatpun, tetapi apakah mampu mencegah kedatangannya Pemilik Golok Maut itu? Ini masih merupakan pertanyaan dalam hati masing-masing.

Sang waktu sedetik demi sedetik telah berlalu, saat itu sudah jam tiga malam, tetapi masih belum kelihatan perubahan apa-apa. Asal lewat dua jam lagi saja, sudah dapat diharap bahwa Pemilik Golok Maut itu tidak akan muncul lagi.

Apakah kali ini akan merupakan suatu kecualian? Itu adalah suatu pertanyaan yang timbul hampir disetiap hati orang, tetapi tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan itu dari mulutnya.

Setelah lewat lagi beberapa saat lamanya, Lui Ceng baru berani berkata sambil sambil mengurut-urut jenggotnya yang panjang.

“Iblis itu barang kali tidak mendapat kesempatan untuk turun tangan maka tidak berani datang.”

Pek Jie Hong menyambung,

“Dengan penjagaan yang begini rapat dan kuat sampai seekor lalatpun rupanya tidak bisa terbang diatas kita, maka sekalipun dia mempunyai kepandaian tinggi, rasanya juga belum tentu berani muncul.”

Tio Ek Ciu yang mendengar pembicaraan itu hanya ketawa getir saja, ia tidak bisa berkata apa- apa. Hanya ia sendiri rupanya yang sudah mendapat firasat bahwa dirinya tidak akan terluput dari tangannya Pemilik Golok Maut.

Berlalunya sang waktu telah menambah ketegangannya semua orang. Saat-saat yang terakhir itu dirasakan paling tidak enak.

Masih tinggal satu jam lagi waktu untuk si Pemilik Golok Maut itu turun tangan. Tio Ek Ciu pada saat itu lantas berkata sambil menghela nafas :

“Lohu tahun ini sudah berusia 65 tahun. Sekalipun harus binasa juga sudah merasa puas. Lohu merasa sangat berterima kasih atas kecintaan saudara sekalian yang telah memerlukan datang kemari. Tetapi persoalannya malam ini bukan persoalan biasa. Seandainya iblis itu nanti muncul benar-benar, Lohu akan melayani padanya dengan kepandaian yang Lohu miliki sendiri. Saudara- saudara boleh berdiri sebagai penonton saja. Sekali-kali jangan turut campur tangan, agar tidak menanam permusuhan dengan iblis itu. Seumur hidup Lohu, rasanya belum pernah melakukan hal-hal yang melanggar lingsim Lohu. Sesungguhnya tidak tahu apa sebabnya iblis itu mau turun tangan terhadap Lohu?

Lui Ceng yang adatnya sangat berangasan, lantas berkaok-kaok:

“Hei, tua bangka she Tio, kau dan aku telah mempunyai perhubungan persahabatan bebrapa puluh tahun lamanya, kalau aku takut mati, tidak nanti aku perlukan datang kemari!”

“Tio Cungcu harap jangan khawatir, dengan adanya kami orang-orang disini, sekalipun iblis itu mempunyai 3 kepala dan enam tangan, hari ini juga harus dia rasakan goloknya sendiri,” demikian suara seorang berkata.

“Iblis itu mungkin tahu gelagat tidak baik, maka lantas mundur teratur.”

“Masih tidak apa kalau dia tidak datang, kalau dia berani datang, hm! Dia harus rasakan sendiri

……..”

Sesaat itu, sana-sani ramai mengutarakan pikirannya. Kentongan telah berbunyi 4 kali. Tepat pada saat itu………….

Terdengar orang tertawa dingin, yang kedengarannya sangat tegas dalam setiap telinga orang.

Dalam suasana demikian, kedengarannya semakin menyeramkan!

Suara yang datangnya secara tiba-tiba itu, merupakan suatu tanda akan munculnya saat-saat yang menyeramkan.

Ruangan yang tadinya ramai itu sekarang berubah sunyi senyap. Orang-orang yang tadi pada sesumbar, sekarang nampak pada pucat wajahnya. Semua mata ditujukan kearah pekarangan yang keadaannya terang benderang seperti tengah hari. Tapi heran, dari mana datangnya suara ketawa itu? Apakah dalam penjagaan begitu rapat dan kuat, tidak ada seorangpun yang mengetahui ada orang masuk?

Hui Liong Cung Cungcu Tio Ek Ciu, ketika mendapat kenyataan bahwa musuhnya yang dinanti- nantikan sudah tiba dan orang-orangnya yang menjaga tidak bisa berbuat apa-apa, segera mengetahui bahwa sang musuh itu memang sangat lihay. Maka ia juga mengerti bahwa nasibnya malam ini rasanya sukar dipertahankan. Melihat keadaan demikian, ia malah bisa berlaku tenang. Dengan tidak mempunyai rasa takut, ia berkata dengan suara yang nyaring :

“Tio Ek Ciu sudah lama menantikan kedatanganmu, kau hendak kutungkan tangan atau kakiku, terserah padamu. Tapi Lohu masih belum mengerti, ada permusuhan apa sebetulnya kau dengan Lohu, sehingga kau sampai menjatuhkan hukuman ini?”

Sebagai jawaban, telah terdengar satu suara yang dingin kaku:

“Tio Ek Ciu, aku bukan seorang yang buas atau jahat, juga bukan seorang yang berlaku sewenang-wenang atau seorang yang kejam. Peristiwa berdarah pada Perkumpulan Kam-lo-pang dibukit Bu-leng-san pada 20 tahun berselang, kau toch tidak bisa bilang tidak tahu! Kedatanganku malam ini ialah hendak membikin perhitungan hutang darah tersebut.”

Sesaat itu wajah Tio Ek Ciu pucat seperti mayat serta berdiri membisu seperti patung. Semua orang gagah yang berada didalam ruangan besar itu pada terkejut.

Peristiwa berdarah yang dialami oleh Perkumpulan Kam-lo-pang pada dua puluh tahun berselang memang pernah menggemparkan dunia rimba persilatan.

Perkumpulan Kam-lo-pang muncul di dunia Kang-Ouw baru saja satu tahun, mendadak telah diserang oleh lebih dari 50 Jago-jago kuat dari golongan hitam dan putih. Hanya dalam waktu satu malam saja Kam-lo-pang dibikin musnah.

Semua orang-orangnya Kam-lo-pang, mulai dari Pancunya sampai ke orang-orang bawahnya hampir semuanya binasa dalam keadaan putus tangan atau kutung pahanya, ada juga yang kepallanya terpisah dari badannya. Dari 200 jiwa lebih, yang hidup dan dapat meloloskan diri hanya beberapa gelintir saja.

Ini adalah merupakan suatu pembunuhan besar-besaran dalam rimba persilatan. Sementara itu, mengenai sebab-sebabnya sehingga adanya kejadian peristiwa berdarah juga tidak ada yang mengetahui.

Nama selanjutnya dari Kam-lo-pang terhapus dalam dunia Kang-Ouw.

Nama itu sudah menjadi catatan dalam hikayat yang berlahan-lahan hilang dari peringatannya manusia.

Tidak nyana, hari ini 20 tahun kemudian nama itu terdengar pula di kalangan Kang-ouw, bahkan keluarnya dari mulut seorang ‘Penuh Rahasia’, Pemilik Golok Maut yang telah menggemparkan dunia rimba persilatan.

Cungcu dari Hui Liong Cung itu dulu juga merupakan salah satu orang yang turut mengambil bagian dalam pembasmian orang-orang Kam-lo-pang. Hal ini rasanya tidak perlu disangsikan lagi.

Tetapi apakah hubungannya antara Pemilik Golok Maut itu dengan Perkumpulan Kam-lo-pang? Suara orang itu meskipun kedengarannya sangat dekat, tetapi orang tidak dapat dilihat,

sehingga semua orang yang ada disitu tidak mengetahui dari mana datangnya suara tersebut. “Tio Ek Ciu, apakah kau masih ada pesan apa-apa yang perlu ditinggalkan?” terdengar pula

suaranya orang itu.

Sikap Tio Ek Ciu pada saat itu sudah seperti orang kalap, maka ia lantas menjawab dengan suara kasar:

“Iblis! Tinggalkan namamu!” “Pemilik Golok Maut.”

“Peristiwa Kam-lo-pang ada hubungan apa denganmu?” “Hu, hu, hu. Aku adalah Pancu dari Kam-lo-pang.”

Jawaban itu telah membikin terperanjat semua orang, sehinga masing-masing pada saling pandang.

Tio Ek Ciu yang mendengar pengakuan orang itu sebagai Pancu dari Kam-lo-pang, saat itu seperti mengetahui bahwa malam ini mungkin tidak akan terhindar dari kematian, maka ia lantas mengambil keputusan nekad, tetapi karena rasa jeri oleh kepandaian orang itu, membuat ia tidak berani sembarangan keluar dari dalam ruanga besar itu. Selagi masih bersangsi, tiba-tiba berkelebat bayangan seseorang, satu anak darah yang cantik molek sudah muncul didepan matanya.

Gadis itu denga pedang ditangan serta paras gusar, telah berkata dengan suara gemetaran: “Ayah.” Kemudian secepat kilat sudah bergerak melesat keluar pekarangan.

Bukan main kagetnya Tio Ek Ciu, karena gadis itu merupakan anak satu-satunya yang paling disayanginya. Ia sudah memesan wanti-wanti supaya biar bagaimana tidak boleh unjukan diri, tidak disangka dalam saat yang sangat berbahaya itu akhirnya gadis itu mengunjukan diri juga, maka ia lantas berkata:

“Tin-jie, jangan!”

Tepat pada saat itu penerangan lampu disekitar pekarangan mendadak pada semua, sehinga disana-sini terdengar suara gaduh. Semua orang-orang gagah yang berada dalam ruangan masing-masing pada menghunus senjatanya dan lari keluar pekarangan.

Selanjutnya, peneranghan didalam ruanga juga padam, sehingga keadaan disitu menjadi gelap gulita.

Para jago yang datang hendak memberikan bantuan tenaganya ketika itu lantas mengetahui gelagat tidak baik, maka mereka semuanya cepat-cepat lari kembali kedalam ruangan besar itu, tetapi sesaat sebelum mereka sampai kedalam ruangan, sudah terdengar suara jeritan yang sangat mengerikan. Suara jeritan itu merupakan suatu tanda bahwa bencana ternyata sudah tidak dapat dihindarkan.

Didalam ruangan besar itu lantas menjadi ramai sekali. Dalam keadaan gaduh itu, sesososk bayangan manusia tiba-tiba melesat keluar dan akhir menghilang dalam kegelapan.

Tatkala api dinyalakan lagi, suatu pemandangan yang mengerikan telah terbentang didepan mata orang banyak.

Tio Ek Ciu nampak rebah terlentang diantara darah segar yang membanjiri lantai. Cungcu yang sial nasibnya itu kelihatan kutung kedua lengannya sebatas pundak, sedangkan didadanya terdapat lubang masih menyemburkan datah. Sungguh suatu pemandangan yang sangat mengerikan.

Gadis cantik molek yang dipanggil ‘Tin-jie’ tadi lantas menubruk jenazah ayahnya sambil menangis menggerung-gerung.

Suatu peristiwa yang sangat mengerikan telah berakhir.

Sekali lagi Golok Maut mengambil korbannya. Bersama korban-korban yang dulu, semuanya ada enam Jago-jago rimba persilatan telah menjadi mangsanya.

Waktu hari terang tanah, orang-orang kuat dari rimba persilatan yang datang hendak memberikan bantuan tadi dengan hati pilu dan kecewa telah meninggalkan perkampungan Hui Liong Cung. Mereka menyesal tidak dapat melihat wajah asli dari si Pemilik Golok Maut. Apa yang didapat oleh mereka ialah pada saat itu mereka baru tahu bahwa manusia ‘Penuh Rahasia’ yang menimbulkan kegemparan itu adalah Pancu dari Kam-lo-pang yang kabarnya sudah musnah pada 20 tahun berselang.

Oleh karena pengakuan Pemilik Golok Maut itu, maka orang-orang kuat dari golongan hitam dan putih yang dulu turut campur tangan dalam pembasmian perkumpulan tersebut, mungkin tidak seorangpun yang akan terlolos dari pembalasan Golok Maut.

Menurut apa yang tersiar di kalangan Kang-ouw, peristiwa berdarah Kam-lo-pang hampir seluruh orang-orang Kam-lo-pang sudah terbasmi habis, bahkan Pancunya yang bernama Yo Cin Hoan berikut seluruh rumah tangganya yang berjumlah delapan jiwa telah terbinasa semua.

Tetapi Pemilik Golok Maut itu telah mengaku dirinya sebagai Pancun dari Kam-lo-pang, benar- benar merupakan suatu kejadian sangat gankil. Apakah berita kematian Pancu Kam-lo-pang dulu itu tidak benar? Ataukah Pemilik Golok Maut itu tidak melakukan kejahatan dengan meminjam nama Pancu dari Kam-lo-pang atau karena lain-lain sebab ?

Biar bagaimana ‘manusia penuh rahasia’ yang menyeramkan itu hanya meninggalkan suatu teka-teki bagi rimba persilatan. 

Bab 1

Angin meniup dengan kencannya, hawa dingin menyusup di tulang-tulang. Tanah membeku.

Hujan salju yang turun satu hari satu malam terus menerus telah mengubah jagat seperti tumpukan kapas belaka.

Dalam keadaan demikian itu, manusia seperti hilang dari dari jalanan, begitu pula burung- burung dan binatang-binatang buas seolah-olah menghilang dari bumi. Selain angin dingin yang meniap kencang dengan tidak henti-hentinya, seluruh jagat yang kelihatannya putih meletak, diselimuti oleh salju itu agaknya sudah kehilangan rupanya yang lama. Ditengah udara masih kelihatan gelap remang-remang. Sang waktu agaknya sudah berhenti beredar, sehingga membuat orang sukar membedakan waktu siang danmalam.

Bukit Bu-leng-san yang seluruhnya tertutup salju berdiri tegak dengan megahnya. Keadaan kelihatannya sunyi senyap.

Pada saat itu, setitik bayangan hitam yang kelihatannya seperti sebutir gundu yang meluncur turun diatas salju terus menuju kelembah bukit Bu-leng-san. Dalam suasana putih seluruhnya itu, bayangan hitam itu menuju lembah yang putih seluruhannya itu, bayangan hitam itu kelihatannya lebih nyata dan tegas.

Ini sungguh aneh, dalam keadaan yang dingin dan tempat sesunyi itu, ternyata masih ada mahluk berjiwa yang muncul diluaran, bahkan menuju kelembah yang keseluruhannya tertutup salju.

Perlahan-lahan titik hitam itu bisa dilihat nyata, ia adalah manusia tengah mengendong satu buntalan besar.

Sambil melawana tiupan angin utara yang dingin, orang itu lari cepat sekali. Siapakah orang itu?

Oleh karena kepalanya memakai tudung, maka wajahnya tertutup semua dan tidak bisa dilihat dengan nyata. Tetapi dari gerak jalannya yang pesat, terang orang ini merupakan orang kuat dari rimba persilatan.

Orang itu agaknya mengenal baik keadaan bukit disitu. Meski keadaan jalanan penuh bersalju dan tampak putih semuanya, ia masih bisa membedakan tempat yang hendak dituju. Orang itu terus lari menuju kemulut lembah.

Jalanan berliku-liku, kedua sisinya lembah diapit oleh lamping bukit yang menjulang tinggi.

Diujung lembah terdapat banyak batu-batu cadas yang besar-besar. Bayangan itu ketika tiba dibawah batu besar tadi lalu mendongak mengawasi sebuah batu cadas yang menonjol setingi sepuluh tombak, kemudian kakinya menotol tanah, badannya lantas melesat tinggi keatas. Kira- kira 7-8 tombak, sebelum mencapai tempat yang ditujunya, ujung kakinya lalu menotol lamping jurang, sehingga badanya meluncur naik keatas lagi. Dengan gayanya yang sangat luar biasa, orang itu dapat menancapkan kakinya diatas batu cadas termaksud.

Dibelakang batu cadas besar ternyata ada kedapatan sebuah goa yang lebar mulutnya kira-kira satu tumbak.

Orang itu ketika berada dimulut goa, baru membuka tudungnya dan kelihatan wajahnya. Ooo…., ternyata orang itu adalah satu pemuda cakap yang kelihatan baru beruaia 17 tahunan.

Pemuda yang cakap itu telah menurunkan buntelan yang digendongnya, kemudian diteneng ditangan. Dengan wajah ramai dengan senyuman ia berseru kedalam goa,

“Suhu!”

“Suhu!” ……. Suara itu adalah suara kumandangnya dari dalam goa.

Ia memanggil semakin keras, tetapi hanya mendapatkan jawaban yang serupa. Pemuda itu merasa heran, dengan cepat ia lari masuk kedalam goa.

Goa itu tidak dalam, kira-kira Cuma 20 tumbak lebih, disitu terdapat sebuah ruangan besar.

Disalah satu sudut dari ruangan itu ada sebuah balai batu yang dapat dilihat begitu orang memasuki goa. Dan sekarang, balai batu yang biasanya digunakan oleh suhunya untuk bersemedi itu ternyata sudah kosong.

Pemuda itu dengan perasaan tegang lantas lompat masuk kedalam kamar lain.

Mendadak bau darah yang amis telah menusuk hidungnya dan pemandangan yan dihadapannya, saat ittu membikin dirinya berdiri terpaku, matanya berkunang-kunang, hampir saja ia tidak mampu mempertahankan dirinya berdiri.

Apa yang terbentang didepan matanya adalah suatu pemandangan yang sangat mengerikan! Dilantai dalam kamar batu itu sudah berwarna merah karena darah yang sudah membeku itu ada menggeletak tiga sosok tubuh sebagai bangkai yang tidak utuh sekujur badannya.

Buntelan yang dibawah ditangan pemuda itu telah terjatuh dari cekalannya dengan tidak terasa. Isinya ternyata beras, garam, daging dan keperluan sehari-hari telah berantakan dilantai.

Paras si pemuda cakap saat itu telah berubah aneh sekali, matanya mendelong seperti seorang linglung. Ia berdiri terpaku sambil mengucurkan air mata.

Keadaan dalam ruanga itu yang biasanya tenang tentram, kini telah berubah menjadi seram keganasan.

Lama sekali pemuda itu seperti kehilangan semangat, kemudian ketika tersadar ia menjerit lalu menubruk salah satu mayat yang rambutnya sudah putih seluruhnya. Dengan suara terputus- putus ia memanggil:

“Suhu! Suhu! ….. Kau dengan kedua paman telah binasa ditangan siapa? Muridmu akan menuntut balas untukmu, Suhu, jawablah!”

Pemuda itu sembari memanggil, tangannya menggoyang-goyang badannya seorang tua.

Tanganya orang tua ternyata Cuma tinggal satu. Luka dibadannya ada sebelas tempat lebih dan masih mengucurkan darah.

Ubuh orang tua itu mendadak bergerak-gerak, sehingga membikin anak muda cakap itu terkejut. Apakah suhu masih belum binasa? Demikian anak muda itu berpikir.

Ia lalu meraba-raba dada suhunya, benar saja masih hangat. Pemuda itu kelihatannya sangat girang, tetapi hanya sekejap saja, ia lantas tertegun lagi. Ia tidak mengetahui bagaimana ia harus berbuat. Dengan kekuatan tenaga Iweekangnya yang masih belum sempurna ia tidak biasa berbuat apa-apa.

Seandainya pada saat itu ada seorang yang sudah sempurna betul ilmu Iweekang, dengan kekuatan tenaga dalamnya yang disaluran kedalam dirinya sang suhu mungkin masih bisa menolong jiwa suhunya itu.

Tetapi di dalam goa itu kecuali ia sendiri dengan dua jenazah pamannya, tidak ada orang lain lagi yang bisa dimintakan tenaganya untuk menolong suhunya.

Pemuda itu sangat gelisah. Ia berjalan menghampiri jenazah kedua pamannya. Kedua orang itu juga merupakan orang-orang yang sudah lanjut usianya, satu binasa dalam keadaan terkutung kedua tangannya dan yang lainnya binasa dalam keadaan terkutung kedua pahanya.

Ketika badanya diperiksa, ternyata sudah dingin kaku, terang mereka sudah lama binasa.

Kedua orang itu memang adalah orang-orang yang tadinya sudah bercacad, sekarang sekujur badanya penuh dengan tanda senjata tajam. Dari sini dapatlah diduga bahwa orang turun tangan terhadap mereka itu sangat ganas dan telengas.

Sungguh tidak diduga, ketika ia meninggalkan goa tersebut untuk mencari bahan makanan, hanya dalam waktu setengah hari saja sudah ada kejadian yang demikian hebatnya. Dalam keadaan gemas ia hanya bisa membanting-banting kaki dan meremas-remas kepalanya sendiri.

Kenangan dimasa lampau telah terbayang lagi didalam otaknya.

Sebetulnya ia adalah seorang anak piatu yang tidak ketahuan asal-susulnya, tidak berayah, tidak beribu, juga tidak mempunyai nama.

Sejak kecil, ia hidup diantara kawanan pengemis. Sedari ia bisa mengingat, hanya diketahuinya bahwa ia adalah satu pengemis kecil saja.

Selama masa kanak-kanaknya, ia pernha menjadi gembala, pernah menjadi kacung pesuruh; rupa-rupa penderitaan hidup telah dialami, rupa-rupa penghinaan telah diterima.

Ia sering menanya kepada diri sendiri : “Aku ini sebetulnya anak siapa?” Orang lain mempunyai ayah dan ibu, mempunyai rumah tangga yang hangat; setidak-tidaknya mempunyai anam. Tetapi ia, semuanya tidak punya, didalam dunia ini seolah-olah merupakan satu mahluk yang kelebihan.

Ia belum pernah memcicipi apa artinya cinta dan kasih sayang, ia juga tidak mengerti apa artinya cinta itu. Oleh karena sejak masih kecil selau hidup dalam hinaan dan cacian orang, maka apa yang mengeram dalam hatinya ialah : KEBENCIAN.

Lima tahun berselang, sama keadaannya seperti hari ini, juga diwaktu hujan salju sangat lebatnya. Ia telah dipukuli oleh sekaanan manusia biadab, sehingga jatuh menggeletak diatas salju dalam keadaan babak belur.

Seorang tua yang lengannya Cuma tinggal sebelah telah menolong dirinya, dan kemudian membawahnya kedalam goa serta dipungut menjadi muridnya, Orang tua berlengan satu itu adalah orang tua rambut putih yang kini rebah dalam gumpalan darah.

Oleh karena ia sendiri tidak tahu asal-usulnya, tidak tahu anak siapa dan tidak mempunyai SHE dan nama, maka ia ikut SHE suhunya she YO. Suhunya memberikan nama padanya Cie Cong.

Maksud perkataan Cie Cong ialah : supaya ia selamanya ingat dan tidak lupa mencari tahu asal- usul dirinya sendiri.

Didalam goa itu bersama dengan suhunya juga tinggal juga dua orang tua , satu tidak mempunyai tangan, sedangkan yang lainnya tidak mempunyai kaki. Ia biasa membahasakan mereka paman.

Tiga laki-laki tua san satu anak muda, hidup dalam goa yang aman tentram itu sekeluarga.

Selama lima tahun, dibawah dibawah didikan dan bimbingan suhunya yang dibantu oleh kedua pamannya serta bakat yang ada pada dirinya sendiri, telah membuat ia menejadi seorang gagah yang sudah dapat dimasukan golongan kelas satu dalam dunia Kang-Ouw.

Apa yang masih kurang ialah kekuatan tenaga dalamnya, yang masih belum sempurna.

Ketiga orang tua itu membuat ia mengerti apa artinya cinta, ia mersakan bahwa didalam dunia ini ternyata masih ada kasih sayang dan tidak sekejam seperti apa yang dibayangkan.

Dan sekarang, pemandangan ngeri yang terbentang dihadapan matanya, telah membuat perasaan cinta yang baru tumbuh belum lama, sudah terbang lagi tanpa bekas.

Rasa benci kembali timbul dalam perasaan hatinya.

Ia benci terhadap manusia yang kejam dan ganas. Ia benci terhadap dunia Kang-Ouw yang licik sifatnya. Karena manusia-manusia kejam itu telah merampas jiwanya ketiga orang tua yang sudah merupakan keluarganya……… suhu dan kedua pamanya.

Tiba-tiba suara rintihan telah mengejutkan ia dari lamunannya.

Sang suhu yang hampir binasa ternyata hidup kembali. Ia membuka sepasang matanya yang layu, mengawasi padanya tanpa berkesiap.

Dengan hati pilu ia memanggil, “Suhu!” dan kemudian menubruk padanya. Sepasang matanya orang tua itu perlahan-lahan tampak bersinar terang. “Suhu! Kau….. Kau………”

“Cong Jie….. dengarkan aku………” orang tua itu membuka mulutnya, suaranya perlahan, agaknya susah sekali untuk mengeluarkannya.

“Suhu! Nanti Cong Jie bawa kau keatas balai-balai!”

Orang tua itu menggelengkan kepalanya, matanya dibuka semakain lebar. Dadanya bergoncang semakin keras, napasnya memburu, wajahnya nampak makin pucat.

“Suhu, kau inghin apa?”

Orang tua gelengkan kepalanya lagi, sejenak kemudian, baru membuka mulutnya: “Cong Jie, kau…… sudah pulang. Suhumu…….. sedang………. Menantikan ……. kau……!” “Suhu, kau sekarang jangan bicara apa-apa dulu, kau tenangkan dirimu dulu …….”

“Diwajahnya orang tua itu mengunjukan ketawa getir, setelah hening sejenak, ia lalu berkata pula :

“Cong Jie.…… kau…… jangan …… memotong…… suhumu…… dalam waktu…… sesingkat …… ini…… hendak …… memberi…… tahukan…… padamu…… sesuatu…… hal…… .

“Suhu, kau jangan menggunakan banyak tenaga dulu, nanti kalau sudah sembuh baru dibicarakan lagi!”

Matanya orang tua itu nampak gusar, sehingga pemuda itu tidak berani memandang. Saat itu, orang tua itu keadaannya kelihatan agak baikan, pembicaraannya agak jelas. “Cong Jie, suhumu…… sudah tidak berguna…… lagi sekalipub ada thabib sakti…… juga tidak

berdaya…… mengobati lukaku. Tuhan masih adil, pada saat ini aku masih bisa hidup kembali…… sehingga bisa meninggalkan …… pesanan…… kepada mu. Sekarang kau dengar, jangan potong bicaraku!”

Cie Cong anggukan kepalanya dengan peraaan pilu.

“Cong Jie, bakatmu dan tulang-tulangmu, semua…… merupakan bahanluar biasa bagi seorang rimba persilatan…… Suhumu sebetulnya…… menaruh harapan besar…… atas dirimu, suhumu ingin menciptakan…… kau sebagai seorang gagah luar biasa…… didalam dunia……, apa mau Tuhan tidak…… menghendaki suhumu…… mewujudkan cita-citanya…… sehingga harus binasa…… ditangannya…… orang jahat……”

“Suhu! kau……”

“Dengar, tentang dirimu……suhumu sudah……berusaha untuk mencari…… tahu…… tapi…… ternyata…… tidak berhasil…… menukan asal…… usulmu…… Hal ini…… terpaksa mengandalkan…… kau sendiri…… yang harus mencari tahu……!”

Mendengar sang suhu menyebut tentang asal-usul dirinya, Cie Cong wajahnya berubah guram. “Batu giok yang ada pada dirimu dinamakan ‘LIONG KUAT’. Batu giok itu sebetulnya ada dua

muka, kalau dirangkap bernama ‘LIONG-HONG SIANG-KUAT’. Benda itu sebetulnya ada satu benda pusaka dalam dunia Kang-Ouw. Kalau kedua benda itu dirangkap, dapat menyembuhkan segala penyakit dan segala racun…… Kau mempunyai…… 'Liong Kuat'…… maka kau harus …… hati-hati mencari …… dimana…… itu sepotong batu giok yang…… dinamakan 'Hong Kuat'.Batu itu…… ada sangkut…… pautnya dengan asal…… usul dirimu!”

“Yah! Suhu!”

“Cong Jie, kau tahukah siapa suhumu ini?” “Suhu seorang she YO…… “

“Benar, suhumu ini pada 20 tahun berselang adalah Pancu dari Perkumpulan Kam-lo-pang yang bernama Yo Cin Hoan. Kedua pamanmu itu…… satu adalah Pelindung Hukum Perkumpulan Kam- lo-pang, Ciu Lip To, ia terkenal dengan kekuatan tenaga telapak tangannya. Satu lagi adalah Tongcu Bagian Penjara Cek Kun, ia mempunyai ilmu mengentengkan yang luar biasa. Mereka berdua…… ‘

Orang tua itu ketika menuturkan sapai disini, mendadak menangis.

Yo Cie Cong yang mendengar penuturan itu lantas menjadi terkesima, Selama 5 tahun, ia Cuma tahu bahwa suhunya itu seorang she Yo, yang lainnya tidak tahu semua, ia juga tidak berani bertanya banyak-banyak.

Yo Cin Hoan setelah menangis, semangatnya tiba-tiba meluap-luap, tidak seperti seorang yang sedang terluka parah.

“Lima tahun lamanya,” begitu ia melanjutkan penuturannya, “Pelajaran ilmu silatmu sudah cukup sempurna, hanya kekuatan tenaga dalamu, masih jauh dari sempurna. Hal ini tergantung kepada kau sendiri, bagaimana sepaya berhasil mencapai ketingkatan yang sempurna.”

Yo Cie Cong anggukan kepalanya. Namun dalam hatinya diam-diam berpikir, bukankah suhu ini kini nampaknya sudah segar, mengapa mengucapkan perkataan yang bersipat pesan terakhir?

Yo Cin Hoan berkata pula:

“Cong Jie, ambil benda yang berada didalam lubang keempat diatas dinding itu.”

Yo Cie Cong menurut, ia lalu berbangkit dan mengambil benda yang dikamsud yang ternyata adalah sebuah kotak kulit.

“Buka!” demikian sang suhu memerintahkan.

Ketika kotak kulit itu dibuka, didalamnya hanya terdapat sepotong kayu hitam sebesar telapak tanga. Yo Cie Cong merasa heran. “Sepotong Kayu Hitam saja mengapa disimpan begitu rapinya?”

Pada saat itu mata Yo Cin Hoan kelihatan membelalak, ia berkata pula dengan suara gemetaran

:

“Cong Jie, Sepotong Kayu Hitam itu telah menumpas semua kekayaannya Kam-lo-pang dan

jiwanya lebih dari 200 anak muridnya…….”

Yo Cie Cong dengan perasaan terharu mengawasi suhunya. “Dua puluh tahun berselang,” demikian Yo Cin Hoan melanjutkan penuturannya, “tempat asal berdirinya Kam-lo-pang itu ialah dibukit Bong-In-Hong mendadak telah gugur. Dengan secara kebetulan suhumu telah mendapatkan dua potong kayu hitam yang ternyata adalah benda pusaka yang dinamakan ‘Ouw-Bok-Po-Lok’. Diatas potongan kayu hitam itu termuat kepadandaian ilmu silat tangan kosong luar biasa tingginya yang hanya terdiri dari lima jurus saja. Yang sepotong memuat prakteknya, sedangkan yang sepotong lagi memuat keterangannya. Kalau berhasil mempelajari ilmu serangan itu, sudah pasti kau bisa menjadi seorang kuat nomor satu dalam dunia. Ilmu silat yang tertulis dalam potongan kayu ini adalah ciptaan seorang orang luar biasa dari kalangan rimba persilatan yang bernama Co Kang yang hidup pada 500 tahun berselang. Ia telah mengumpulkan semua ilmu serangan dari berbagai partai yang akhirnya kesemuanya itu dijadikan satu sehingga terciptalah ilmu silat yang luar biasa yang ada dalam kayu hitam ini.”

Yo Cie Cong yang juga sudah belajar ilmu surat, ketika itu lantas memeriksa potongan kayu hitam itu memang benar, doatas potongan kayu itu samar-samar ada kelihatan beberapa tulisan yang kecil sekali, tetapi saat itu ia tidak mempunyai kesempatan membaca isinya, sedangkan Yo Cin Hoan saat itu sudah berkata pula :

“Soal benda pusaka itu entah bagaimana bisa tersiar di kalangan Kang-ouw, sehingga menimbulkan perasaan iri hati terhadap suhumu. Mereka telah mengumpulkan 50 lebih orang- orang kuat dari golongan hitam dan putih bersama-sama datang menyantroni suhumu. Malam yang menyeramkan, ketika Kam-lo-pang diserbu secara tiba-tiba, semua nak murid Kam-lo-pang telah melakukan perlawanan secara gagah, tetapi karena pihak musuh waktu itu benar-benar merupakan jago-jago pilihan dari dunia Kang-Ouw, maka setelah bertempur sampai pagi hari meskipun kedua belah pihak banyak jatuh korbannnya, tetapi anak murid Kam-lo-pang yang berjumlah 200 orang lebih telah binasa semuanya, sedangkan suhumu sendiri sekeluarga juga tidak terluput. Suhumu yang sudah terpapas sebelah lengannya dan luka-luka dibadannya ketika itu sudah tidak ingat orang… Kedua pamanmu, Cek-Kun dan Ciu-Lip-To, malam itu juga masing- masing kehilangan dua pahanya dan tangannya.”

Yo Cie Cong tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri tetapi ketika mendengar penuturan itu, darah mudanya merasa panas. Suasana dalam kamar itu kelihatannya semakin menyedihkan.

Orang tua itu melanjutkan pula ceritanya dengan suara yang sedikit parau:

“Setelah pertempuran selesai, ada seorang tabib pandai yang bernama Gouw Cie Jin yang telah datang kebukit Bu-leng-san untuk mencari daun obat-obatan maksudnya. Suhu dan kedua pamanmu tang sudah tidak ingat orang dan terluka telah ditolong olehnya sehingga sampai saat ini suhumu masih hidup.”

Yo Cie Cong merasa sangat kagum atas perbuatannya Gouw Cie Jin yang sudah menolong jiwa suhunya, maka diam-diam ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dikemudian hari pasti ia akan membalas budi ini.

Pada saat itu ia teringat akan potongan kayu hitam itu, maka lantas menanya: “Tentang Ouw-Bok-Po-Lok itu ”

“Ouw-Bok-Po-Lok masih ada sepotong lagi yang memuat tulisan keterangannya. Karena kebetulan suhumu menyimpan ini dilain kamar, masih untung tidak dapat diketemukan oleh mereka. Itu adalah yang kau pegang dalam tanganmu sekarang, dan yang sepotong lagi, yang memuat tulisan prakteknya, suhumu tidak mengetahui barang itu terjatuh ditangan siapa, maka kemudian hari, kau harus berusaha untuk mencarinya kembali, sebab kedua potong kayu hitam itu sebetulnya tidak boleh berpisah, ada prakteknya kalau tidak ada keterangannya tidak akan ada gunanya, begitu puyla sebaliknya.”

Setelah banyak mengucapkan banyak perkataan napas Yo Cin Hoan kelihatan sudah hampir habis, maka setelah terbatuk-batuk sebentar, sorot matanya guram lagi.

Yo Cie Cong yang tampatnya mendapat pirasat tidak enak, lantas memanggil berulang-ulang: “Suhu, suhu.”

Orang tua itu kelihatan sedang bergulat dengan tangan maut yang sedang merenggut jiwanya, tetapi usahanya itu kelihatan sia-sia belaka.

Yo Cie Cong dengan air mata bercucuran menanya pula:

“Suhu, siapakah orang-orang yang hari itu melakukan kejahatan terhadap suhu dan kedua paman sekalian?” Orang tua itu menjawab dengan suara terputus-putus:

“Juga….. merupakan….. salah satu….. musuh lama. Suhumu sebetulnya….. hendak turun tangan sendiri untuk….. menghabiskan semua….. manusia yang berhati binatang itu….., tetapi sekarang tampaknya….. cita-cita itu….. tidak akan tercapai.”

“Suhu, Cong Jie bersumpah akan melaksanakan cita-citamu itu untuk membasmi semua musuh-musuhmu.”

Diwajah orang tua itu sejenak terkilas senyumnya yang menandakan kepuasan hatinya. “Suhumu….. kali ini turun gunung….. dalam perjalanan pulang….. telah dapat tahu….. ada

orang….. mengintai, kala itu….. suhumu tidak curiga….. apa-apa….. tidak nyana….. merupakan malapetaka………”

Memang, selama beberapa bulan ini, suhunya itu pernah 6 kali turun gunung. Meski dalam hati Yo Cie Cong merasa curiga, tapi ia tidak berani membuka mulut untuk menanyakan suhunya.

“Suhu, siapakah penjahat-penjahatnya? Suhu, siapa?” Yo Cie Cong menanya lagi berulang- ulang.

Tapi orang tua itu sudah tidak mampu menjawab. Ia agaknya hendak bertahan sebisa-bisa, napasnya memburu semakin hebat, matanya beberapa kali terbuka lebar menunjukan sinar buas, tapi akhirnya Cuma dapat menjawab:

“Penjahatnya….. nomor satu….. dalam lembar….. pertama ”

“Apa? Suhu, apa yang kau maksudkan dengan nomor satu?”

Orang tua itu mengangkat tangannya, tapi kemudian diturunkankan lagi, hanya dengan jari tangannya yang menunjuk ketempat lobang kedua diatas dinding.

“Suhu, apa maksudnya didalam lobang kedua diatas dinding ada ? tanya Yo Cie Cong.

Orang tua itu kedip-kedipkan matany, suatu tanda membenarkan perkataannya.

Tiba-tiba kedengaran suara pekikbya orang tua itu, badannya lantas tidak bisa bergerak, tapi matanya terbuka lebar.

Yo Cie Cong yang menyaksikan keadaan suhunya, sudah lantas mengerti apa sebabnya. Suhunya sudah mati!

Didalam dunia yang sifatnya kejam ini, ketiga orang yang pernah memberikan padanya cinta dan kasih sayang berlimpah-limpah, kini telah binasa semua, bahkan binasa ditangannya musuh yang masih belum diketahui namanya.

Untuk sesaat lamanya, sekujur badanya dirasakan seperti sudah beku, pikirannya kalut, ia berdiri laksana patung, seolah-olah sukmanya sudah meninggalkan raganya.

Angin dingin meniup kencang masuk kedalam goa, meski hawa dingin seolah-olah menusuk ketulang-tulang, tapi semua itu tidak dihiraukan oleh Yo Cie Cong.

Didalam goa itu, tampak rebah menggeletak tiga mayat orang tua , yang kemarin masih meberikan petunjuk padanya berlatih ilmu silat.

Entah berapa lama telah berlalu, ia baru bisa menjerit dan menangis. Ia menangis terus dengan sedihnya, sampai suaranya menjadi serak dan air matany kering.

Setelah pikirannya tenang kembali, ia baru berhenti menangis. Kedukaan dalam hatinya, telah berubah menjadi perasaan dendam yang berkobar-kobar.

Ia menengok lagi sejenak pada jenazah suhunya, orang tua itu ternyata telah mati dengan mata melotot.

Yo Cie Cong lalu berlutu dihadapannya, mulutnya mendo’a:

“Suhu! Kini Cong Jie berjanji dan bersumpah dihadapanmu, dengan jiwa raga Cong Jie nanti akan menuntut balas sakit hati terhadap msusuh-musuh yang membinasakan 200 lebih anak murid Kam-lo-pang dan keluarga suhu. Semua musuh-musuh itu nanti akan Cong Jie bunuh mati satu persatu, untuk membalas budi suhu yang besar ini. Suhu, meramkanlah matamu!”

Sehabis bersujud, ketika ia buka matanya, si orang tua itu ternyata masih belum meram matanya.

Tiba-tiba ia ingat bahwa suhunya tadi pernah menunjuk kelobang kedua diatas dinding, apakah disitu ada apa-apanya, yang membuat ia tidak bisa meram?

Ia lalu berbangkit, dan mencari-cari lobang yang ditunjuk oleh suhunya tadi. Setelah menemukan lubang tersebut, didalamnya ia dapatkan sebuah buntelan besar yang sangat berat, ketika ia buka seketika itu lantas berdiri kesima. Isi buntelan itu ternyata sebuah senjata yang aneh bentuknya, senjata yang mirip golok tapi disisi bagian atas bentuknya seperti gergaji, sedangkan diawak golok itu ada terdapat tulisan ‘GOLOK MAUT’.

Dengan perasaan sangat heran Yo Cie Cong membaca berulang-ulang ukiran yang terdapat diatas awak golok tersebut.

Dibawahnya golok itu ada sehelai kertas dan sejilid buku kecil. Ia ambil kertasnya, diatas ada tulisan perkataan:

“Golok Maut yang aneh bentuknya, digunakan untuk menuntut balas dendam!”

“Gerak tipu selalu bergerak mencapai tiga sasaran, dapat menggetarkan nyali iblis dan setan!”

Dibawah perkataan itu masih terdapat beberapa tulisan dengan hurup kecil-kecil, yang menjelaskan caranya mainkan gerak tipu ilmu silat yang dimaksud tadi. Ia memang seorang cerdas. Sebentar saja sudah dapat mempelajari.

Dengan sebetulnya, itu memang merupakan satu gerak tipu yang sangat luar biasa. Meski Cuma satu jurus, tapi kalau dimainkan, tujuan sasarannya ada sangat berlainan dengan tipu serangan biasannya. Gerak tipu ini diatas membabat kedua lengan, dibawah memotong kedua paha dan tengah menikam ulu hati.

Ini sesungguhnya ada suatu gerak tipu yang sangat luar biasa, betapapun tingginya ilmu silatnya sang lawan, rasanya juga sulit akan menghindarkan serangan tersebut.

“Sekali bergerak mencapai 3 sasaran, apakah ini yang dimaksudkan suhu?” demikian ia menanya kepada diri sendiri.

Dengan tidak banyak pikir lagi, ia lantas membuka-buka lembaran buku kecil itu. Kulit buku itu ada tertulis beberapa hurup yang ditulis dengan tinta merah darah: ‘DAFTAR NAMA MUSUH-MUSUHNYA KAM-LO-PANG!’

Lembar pertama ada terdapat nama-namanya 5 orang yang masing-masing diberi nomor satu sampai kenomor lima. Nomor satu ada tercatat namanya Cho Ngo Teng dengan nama gelarnya Iblis Rambut Merah.

Lembar kedua dan lembar selanjutnya ada terdapat nama-namanya orang yang kurang lebih 20 orang banyaknya. Diantara nama-nama itu, ada namanya 6 orang yang sudah dicoret dengan guratan kasar berwarna merah. Untuk sesaat lamanya, Yo Cie Cong tidak dapat menduga apa maksudnya. Barang-barang itu ia buntal lagi seperti semula.

Dengan kecerdikannya yang luar biasa, ia coba memecahkan soal itu.

Tidak antara lama, ia mendapat jawabannya. Dalam hati ia berpikir: ‘Suhu menciptakan tipu pukulan yang aneh ini, tujuannya ialah hendak menuntut balas dendam. Selama beberapa bulan ini, suhu sudah 6 kali turun gunung. Nama-namanya orang yang dicoret dalam daftar nama-nama musuhnya suhu itu, pasti sudah binasa dibawah Golok Maut semuanya. Dan kali ini ketika suhu pulang, rupa-rupanya telah diketahui jejaknya oleh musuh lamanya, sehingga diinta terus, kemudian terjadilah peristiwa yang mengenaskan ini. Tatkala aku menanya siapa pembunuhnya paman dan suhu, suhu Cuma mengatakan nomor satu dalam lembar pertama, kalau begitu tidak salah lagi pasti ada si Iblis Rambut Merah Cho Ngo Teng!’

Setelah berpikir demikian, kembali ia berlutut dihadapan jenazah suhunya sembari berkata : “Suhu, Cong Jie berjanji tidak akan mengecewakan harapan suhu, Cong Jie akan melatih ilmu

silat yang lebih sempurna, dengan senjata Golok Maut, Cong Jie hendak membasmi habis musuh suhu satu persatu sampai semua terhapus bersih dari dunia. Suhu, kau sekarang boleh merasa puas!”

Orang tua itu agaknya merasa lega hatinya, sepasang matanya yang tadi terbuka lebar, kini telah meram.

Yo Cie Cong dengan hati pilu, telah menutup goa tersebut, selanjutnya dengan membawa potongan kayu hitam ‘Ouw-Bok-Po-Lok’, Golok Maut dan daftar nama musuh-musuhnya Kam-lo- pang turun gunung untuk pergi mengembara.

Bab 2 Hari itu, diwaktu tengah hari, dijalan raya telah muncul seorang pemuda gagah dan tampan, tapi kecut. Oleh karena potongan paras muka dan badan yang lain dari rakyat biasa, membuat orang-orang yang berjalan dijalan raya itu pada mengawasi dirinya. Tapi, melihat wajahnya yang asam kecut, setelah melihat sekali, tidak berani memandang untuk yang kedua kalinya.

Siapa ia itu?

Ia adalah Yo Cie Cong yang asal usulnya sangat misterius dan selalu dirundung nasib malang.

Setelah mengubur jenazah suhu dan kedua pamanya serta menututp goa yang pernah menjadi tempat tinggalnya selama 5 tahun, dengan penuh hati dendam, ia mulai merantau di dunia Kang- Ouw.

Saat itu, ia sedang berjalan pelahan-lahan sambil menundukan kepalanya.

Mendadak terdengar suara keliningan kuda, lalu disusul oleh larinya seekor kuda bagus kearah dirinya. Dengan tanpa menoleh Yo Cie Cong minggir kesamping.

Tapi aneh, kuda itu terus ditujukan kedepan dirinya, setelah berbenger sebentar, kuda itu lantas berhenti dihadapannya kira-kira 3 kaki jauhnya, sehingga debu dijalanan pada mengotori bajunya.

Perbuatan yang seperti disengaja itu telah membuat ia naik darah.

Ketika ia dongakan kepalanya, ia lihat penunggang kuda yang sembrono itu ternyata ada satu nona cantik berbaju merah. Nona itu kelihatanya masih muda sekali, mungkin usianya masih belum dua puluh tahun. Saat itu nona itu sedang mengawasi padanya setengah ketawa.

Yo Cie Cong sebenarnya sudah hendak mendamprat, tetapi ketika melihat bahwa penunggang kuda itu ada satu nona cantik, niatnya segera diurungkan, karena pada anggapannya, satu laki- laki tidak pantas ribut-ribut dengan kaum wanita. Maka lantas ditindasnya kegusaran yang sudah memuncak tadi, dan hendak melanjutkan perjalanan pula.

Tetapi baru berjalan belum cukup 10 tindak, tiba-tiba kedengaran suara ‘Eh!’ yang lalu disusul dengan berkelebatnya bayangan merah. Nona baju merah itu kembali sudah menghadang didepannya dengan wajah cemberut.

Yo Cie Cong dalam hati merasa heran. Bagaimana sih maunya si nona? Masing-masing punya jalanan sendiri, mengapa ia hendak merintangi? Entah apa maksud yang sebenarnya?

Dengan sorot mata yang penuh rasa jengkel ia terus menatap wajah si nona.

Sebagai seorang yang sejak kanak-kanak sudah mengalami pahit getirnya penghidupan terhina, maka perbuatan si nona telah menjadi ia membenci segala apa, sekalipun dihadapannya ada dewi yang turun dari kayangan, juga tidak dapat lagi menggerakan hatinya.

Nona baju merah yang luar biasa cantinya itu selamanya belum pernah diperlakukan begitu kecut dingin oleh seorang pria. Kelakukan Yo Cie Cong itu adalah untuk pertama kalinya ia mengalami apa artinya ‘TIDAK DIPANDANG MATA OLEH ORANG’.

Ia benar-benar membuat ia tidak puas. Dalam hati sinona berpikir : ‘Kalau dilihat dari potongan dan parasnya, sesungguhnya sangat menarik hari. Tetapi kenapa ia kelihatannya tidak mempunyai perasaan sebagai manusia biasa umumnya?’

Saat itu ia lantas mengunjukan sikapnya yang setengah gusar, tetapi juga setengah mengejek dan lantas berkata:

“Hey, Kau ini kenal aturan atau tidak?”

Ini benar-benar suatu kejadian yang lucu, ia sendiri yang menghadang perjalanan orang tanpa salah, sebaliknya menegur orang ‘Kenal aturan atau tidak’, tidak heran kalau saat itu Yo Cie Cong lantas menjadi gusar.

“Nona tanya siapa kenal aturan atau tidak?” ia balas menanya. Nona baju merah itu lantas ketawa terkekeh-kekeh.

“Ehee, apa disini ada prang yangketiga?”

Yo Cie Cong dengan tidak menjawab lagi lantas hendak berlalu, tetapi nona itu kembali sudah menghadang didepannya.

“Nona, apa artinya ini?” tanyannya.

“Aku hendak bertanya kepadamu,” jawab si nona. “Tanyalah.”

“Kau hendak kemana?” Oleh karena Yo Cie Cong selamanya belum pernah bergaul dengan kaum wanita, apa mau begitu turun gunung sudah dipermainkan oleh seorang wanita, maka perasaannya menjadi serba salah. Tadinya ia mengira bahwa wanita muda itu ada sangat nakal. Masa satu dengan yang lainnya belum kenal, sudah berani menanyakan jejak orang.

“Hal ini tidak perlu kuberitahukan padamu,” jawab Yo Cie Cong.

“Ehmmm, sekalipun kau tidak berkata, aku sudah tahu. Bukankah kau hendak pergi ke danau Naga di Bukit Kheng-San untuk mengambil bagian dalam perebutan barang pusaka. Betul tidak?”

Yo Cie Cong yang mendengar perkataan itu seperti terbenam dalam kebingungan. ‘Perebutan Pusaka di danau Naga’, sesungguhnya ia tidak mengetahui apa adanya soal yang dimaksud nona itu. Meskipun adatnya aneh, tetapi otak pemuda itu cerdas melebihi manusia biasa, ia juga mengetahui si nona menanyakan itu pasti ada sebab-sebabnya. Mengapa tidak mau menggunakan kesempatan sebaik itu untuk mencari keterangan sesungguhnya.

“Entah barang pusaka apa yang nona maksudkan?” ia menanya. Nona baju merah itu berkata pula,

“Aku hendak menanya kau. Kemana jalanan yang menuju ke gunung Kheng-San itu?” “Aku tidak tahu,” jawab Yo Cie Cong.

Jawaban itu memang sebenarnya, sebab ia sendiri memang tidak mengerahui dimana letaknya gunung Kheng-San itu.

Tetapi rupanya Nona baju merah itu rupa-rupanya tidak mau mengerti. “Kau benar-benar tidak tahu?”

“Memang sesungguhnya aku tidak tahu.” “Baik. Aku nanti bikin kau segera tahu sendiri.”

Perkataannya itu lalu dibarengi oleh menyabetnya pecut diatas kepala Yo Cie Cong.

Tetatpi Yo Cie Cong yang mempunyai kepandaian ilmu mengentengi tubuh yang luar, sudah tentu ancaman pecut itu tidak merupakan hal apa-apa bagi dirinya. Ketika pecut itu tinggal lima dim saja didepan matanya, dengan gesit sekali ia sudah mengegoskan badannya, sehingga pecut itu mengenai tempat kosong.

Nona baju merah itu biasanya menyaksikan laki-laki kaum hidung belang, selalu memanjakan dirinya, hanya untuk pertama kali ini ia menemukan satu pemuda yang tidak tergerak melihat kecantikannya.

Kesannnya yang sangat aneh telah timbul terhadap pemuda dihadapannya yang bersipat aneh itu. Pasangan yang dalam cita-citanya justru adalah laki-laki yang semacam ini.

Pikiran itu Cuma sebentaran saja terlintas dalam otaknya. Sebetulnya ia adalah satu wanita yang tinggi hati, maka ketika pecutnya mengenai tempat kosong, ia lantas berkata dengan suara gusar:

“Pantasan kau berani begitu jumawa, kiranya ada mempunyai kepandaian yang lumayan juga.

Cobalah sambuti lagi!”

Ia melancarkn enam jurus serangan pecut beruntun yang dilakukan dengan cepat, ganas dan tidak mengenal kasian.

Yo Cie Cong ketawa dingin, ia berkelit berulang-ulang menghindarkan serangan yang gencar. Karena mengingat sedang berhadapan dengan seorang wanita, maka ia coba menanhan sabar sedapat mungkin. Sungguh tidak disangka bahwa nona itu dikasih hati jadi sangat melunjak.

Si Nona baju merah ketika melihat serangannya yang dianggap paling ampuh itu kembali tidak berhasil mengenai sasarannya, semakin angot marahnya. Segera ia melancarkan serangannya lagi.

Sebentar kemudian, bayangan pecut dan suara pecut telah mengurung dirinya Yo Cie Cong. Semvbari berkelit terus menerus Yo Cie Cong lantas berkata dengan suara nyaring:

“Kalau nona tidak mau menghentikan gerakan tangan nona, jangan sesalkan kalau nanti aku berlaku kurang ajar!”

Tetapi si Nona baju merah seolah-olah tidak mendengar perkataannya Yo Cie Cong, serangannnya dilancarkan malah semakin gencar.

Yo Cie Cong melihat si nona sangat bandel, hatinya mendongkol, kedua tangannya lalu bergerak berbareng mengirim serangan pembalasan.

Nona baju merah itu jadi repot, ia terdesak mundur sampai lima tindak. Juga disebabkan Yo Cie Cong tidak bermaksud melukai dirinya si nona, jika tidak, tidak mudah bagi si nona itu menghindarkan diri dari serangannya yang hebat tadi.

Serangan Yo Cie Cong yang dilancarkan secara berluntun, stelah berhasil mendesak si nona, lantas serangannya itu dihentikan dan kemudian ia sendiri mundur tiga tindak.

Nona baju merah itu setelah terdesak mundur, hatinya merasa sangat dongkol, ia yang sudah biasa berbuah sesuka hati, kini dipermainkan orang, seketika itu wajahnya menjadi pucat, kemudian berkata dengan suara gusar:

“Nonamu ingin mengetahui sampai dimana tinggihnya kepandaianmu.”

“Tarr!” suara pecut itu berbunyi nyaring, pecut yang tadinya sangat lemas, sekarang sudah berubah menjadi lurus kaku dalam tangannya Nona baju merah itu.

Kiranya ia sudah menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya pada pecutnya. Kini ia menyerang lawannya dengan pecut kaku beruntun lima kali .

Saat itu Yo Cie Cong sebetulnya tidak mau meladeni lagi. Tapi karena melihat serangan si nona ada begitu gesit dan gencar, maka terpaksa ia harus melayani.Ketika serangan si nona sudah mulai kendor, tangan kiri Yo Cie Cong mengirim serangan yang dinamakan ‘Ngo Theng Gay San’ mengarah kebagian tengah, sedang kelima jari tangan kanannya dengan kecepatan kilat sudah menyambar pecut.

Nona baju merah itu melihat Yo Cie Cong melancarkan serangannya dengan kedua tangannya berbarengan, ujung pecutnya dengan secara gesit sekali mendadak diputar berbalik kebawah mengarah jalan darah ‘ Wan Me Hiat’ pada pergelangan tagan Yo Cie Cong.

Si anak muda kalau tidak mau menarik pulang serangannya, tentu si nona akan jadi korban, tetapi jalan darah si anak muda sendiri sudah pasti akan kena totok.

Siapa sangka, kesudahannya tidak demikian. Yo Cie Cong sesudah melancarkan serangan dengan tangan kirinya, selagi pecut si nona itu diputar, tangan kanannya dengan kecepatan yang luar biasa sudah sampai lebih dulu dan berhasil menyambar pecutnya si nona.

Si nona mencoba menarik pecutnya dengan sekuat tenaga, tetapi pecut yang tergenggam dalam tangannya si anak muda itu sedikitpun tidak bergeming.

Si nona bukan main kaget. Seketika matanya menjadi merah, air matanya hampir saja melompat keluar, menangis karena jengkel.

Pada saat itu, asal Yo Cie Cong mau menggetak tangannya saja, pecut itu pasti akan terlepas dari tangan si nona. Tetapi ia melihat si nona gelisah hatinya lantas menjadi lemas.

Pada saat itu kedua pihak masing-masing memegang ujungnya pecut, badan kedua orang terpisah tidak cukup tiga kaki jauhnya, maka suara napas si nona kedengaran nyata dalam telingannya Yo Cie Cong. Suatu perasaan yang aneh telah timbul dalam hatinya Yo Cie Cong, tetapi itu hanya sekejapan saja, sebentar kemudian sudah menjadi kecut wajahnya.

Ia mengendorkan cekalannya dan pecut si nona segera terlepas.

Mendadak suara ‘Plaaak!’ terdengar nyaring, pipinya Yo Cie Cong sudah terkena tamparan si nona. Meskipun tamparan itu tidak sakit, tetapi dirasakan panas. Untuk sesaat lamanya ia berdiri kesima.

Setelah menampar pipi orang, Nona baju merah mendadak merasakan bahwa perbuatannya itu agak keterlaluan, ia maka pipinya sendiri lantas merah membara, sikapnya kelihtan sangat aneh.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara nyaring, dua bayangan orang mendadak muncul di hadapan Yo Cie Cong dan nona.

Kedua bayangan itu ternyata adalah dua pemuda dengan baju warna ungu, dipinggang masing- masing terselip sebuah pedang panjang.

Kedua pemuda baju ungu itu setelah mengawasi mata mendelik, lalu mengawasi si Nona Baju Merah sambil unjukan ketawa cengar-cengir yang menjemukan.

Satu diantaranya lantas berkata dengan suara dan sikap yang merendahkan:

“Sumoy, kita mencari kau setengah mati. Mengapa begitu cepat kau sudah berada disini?”

Yo Cie Cong merasa sebal melihat sikap kedua pemuda itu, maka lantas alihkan pandangannya kearah lain.

Pemuda baju ungu yang lainnya lantas turut bicara:

“Sumoy, apa tadi kau dihina oleh manusia liar ini? Nanti aku ” Mendadak Yo Cie Cong berpaling, sepasang matanya yang tajam menatap wajah pemuda yang tengah bicara itu. Kelihatannya begitu kecut dan menyeramkan, sehingga pemuda itu yang dipandang demikian rupa sampai tidak berani bicara lagi.

Si Nona Baju Merah dengan sikapnya yang dingin, lantas menjawab: “Kalian tidak perlu tahu urusanku ini!”

Kedua pemuda itu, mendapatkan jawaban demikian, merasa kepala seperti diguyur air dingin.

Dua pasang mata kejam terus menatap wajahnya Yo Cie Cong.

Sementara si Nona Baju Merah lalu keprak kudanya meninggalkan tempat itu.

Kedua pemuda tadi setelah mengawasi Yo Cie Cong sejenak, lantas mengikuti jejak si nona. Yo Cie Cong merasa geli melihat tingkah lakunya kedua pemuda tadi.

Tiba-tiba ia ingat perkataan si nona yang menyebut-nyebut tentang barang pusaka yang menjadi barang rebutan itu. Ia lantas menduga bahwa si nona dan kedua pemuda tadi ini pasti sedang lari menuju ke gunung Kheng-San. Ia berpikir hendak pergi kesana juga untuk melihat apa sebetulnya yang dimaksud ‘ Barang pusaka yang rebutan’ itu, maka ia lantas bergerak dan lari mengikuti jejak ketiga orang itu.

Sengaja ia membuntuti terus, terpisah Cuma kira-kira seratus tumbak dibelakang mereka.

Waktu senja ia sudah di kota Wan An. Sesudah melalui kota Wan An ini, adalah daerah gunung Kheng-San.

Betul saja, pada semua rumah-rumah makan dan rumah-rumah penginapan sudah ditempati oleh orang-orang dari kalangan Kang-Ouw yang ramai membicarakan soal perebuatan barang pusaka di danau Naga yang akan dibuat rebutan pada besok malam.

Yo Cie Cong saat itu juga sudah merasa lapar, maka ia lantas mencari makanan di sebuah rumah makan yang bernama ‘Ciu Sian Kia’. Ia memilih tempat yang agak tenang, sambil bersantap telingannya dipasang untuk mendengar-dengar tentang barang pusaka yang hendak direbutkan nanti malam. Kiranya dibawah puncak gunung Kheng-San ada sebuah danau yang beberapa bawu luasnya. Kabarnya pada beberapa ratus tahun berselang di gunung Kheng-San itu telah diketemukan seekor naga yang keluar dari tanah dan terbang ke angkasa, setelah angin santer yang mendera hebat dan hujan angin yang lebat berhenti, tanah bekas keluar naga tadi, lantas melesak dan berubah menjadi danau yang sangat dalam. Danau ini dinamakan ‘Gek Liong Tham’. Dipinggir danau itu terdapat satu liang yang dalam, yang selamanya belum pernah ada seorang juga yang berani coba mendekatinya.

Beberapa bulan berselang, setiap malaman terang bulan, dipinggir danau itu kedengaran suara yang sangat aneh.

Ada beberapa orang yang bernyali agak besar dan ketarik oleh perasaan ingin pingin tahu, telah pergi mencari tahu. Dan apa yang dilihat? Ternyata disitu ada seekor mahluk aneh berbadan kerbau dan berkepala naga, keluar dari lubang tanah dan berdiri ditepi danau. Kepalanya menghadap rembulan sambil mengeluarkan dan menyedot sebuah benda bundar, seperti balon warna merah, itulah mustika.

Berita tentang ditemukannya mahluk aneh itu, begitu tersiar kalangan Kang-Ouw, segera dikenal sebagai mahluk aneh yang Cuma didapat sesudah ribuan tahun lamanya. Mahluk demikian dinamakan ‘Gu Liong Kao’, yang lahir dari bapak ular besar yang sudah berusia ribuan tahun dengan ibu seekor kerbau betina. Sesudah ia dilahirkan lantas berdiam didalam satu liang dekat danau. Seratus tahun kemudian mahluk itu baru dewasa, lima ratus tahun kemudian dari dalam perutnya dapat menghasilkan sebuah mustika dan ribuan tahun kemudian mustika itu berubah warnanya menjadi merah. Setiap malaman terang bulan, mahluk aneh itu pasti keluar dari goanya untuk mengeluarkan dan menyedot mustika dari dalam perutnya, kabarnya untuk menyedot hawa dari rembulan. Kalau mahluk aneh itu sedang berbuat demikian, dari tenggorokannya terdengar suara mangaung yang amat aneh.

Menurut kabar, mustika dalam perut mahluk ‘Gu Liong Kao’, apabila ditelan oleh manusia, lantas berhenti didalam pusar, harus mencari lagi benda ajaib berupa telur berwarna dari Burung Rajawali Raksasa untuk dimakan. Kedua barang ajaib itu, setelah tercampur jadi satu dalam perut lantas menyusup kesemua sum-sum, tulang-tulang, otot-otot dan darah orang yang makan sehingga menghasilkan suatu kekuatan tenaga dalam yang luar biasa, kekuatan itu melebihi dari hasil latihan puluhan tahun. Tetapi telur burung Rajawali Raksasa seperti itu sesungguhnya juga benda yang sukar didapatkan. Cuma satu hal yang merupakan suatu kemujijatan, ialah mustika itu selama dalam tubuh mannusia, kecuali tubuh itu dipotong-potong atau dicincang, kalau tidak, biarpun terluka parah juga tidak bisa binasa.

Berita yang mempunyai daya penarik bagi setiap orang yang mempelajari ilmu silat, sudah tentu dengan cepat menarik perhatiannya orang-orang gagah di dunia Kang-Ouw, sekalipun juga jago-jago tua yang sudah mengundurkan diri dari dunia Kang-Ouw, juga pada muncul lagi untuk dapat memiliki barang mujijat itu.

Esok malam justru ada malaman terang bulan, entah siapa orangnnya yang beruntung mendapatkan barang aneh itu?

Tapi satu hal yang sudah dapat dipastikan , ialah selama masa perebutan mustika itu, sudah tentu akan terjadi perkelahian hebat diantara mereka yang menghendakinya.