Gerbang Tengkorak Jilid 14 (Tamat)

Jilid 14 (Tamat)

“Boleh kukira pikiran Lie-moy cocok denganku! Memang lebih baik kita menginap saja di sini, bermalam di rumah penginapan ini, karena kalau kita keluar mencari rumah penginapan lain, udara di luar sangat dingin sekali.”

Setelah berkata begitu, Bie Liek menggapai seorang pelayan. Pemuda ini minta disediakan dua kamar. Si pelayan telah mengantarkan Bie Liek dan Cung Tiang Lie masing-masing ke sebuah kamar yang tidak begitu besar.

Karena tidak bisa tidur dan juga memang ingin bercakap-cakap dengan Bie Liek. Cung Tiang Lie telah mengunjungi kamar Bie Liek. Mereka bercakap-cakap sampai mendekati kentongan kedua, barulah Cung Tiang Lie kembali ke kamarnya.

Malam itu hujan salju masih turun terus agak lebat, dan udara sangat dingin sekali, sehingga orang-orang yang menginap di rumah penginapan tersebut jadi bersembunyi di dalam selimut yang tebal.

Tetapi ketika kentongan ketiga terdengar dipukul, maka Bie Liek jadi tersadar dari tidurnya, sebab pendengarannya yang tajam dan peka sekali dapat mendengar suara orang berjalan di atas genting kamarnya.

Gesit sekait Bie Liek telah melompat turun dari pembaringannya, dia telah memasang pendengarannya. Ternyata tamu malam itu bukan mengunjungi kamarnya, sebab Bie Liek mendengar suara langkah kaki di atas genting itu yang menjauh. Mungkin ada orang yang sedang mencari seseorang kawan atau lawannya yang menginap di rumah penginapan tersebut.

Bie Liek mau naik kembali ke atas pembaringannya sebab udara sangat dingin sekali atau dia mendengar samar-samar orang berkata : “Inilah urusan besar, Lotee!” suara itu parau sekali. “Biarpun apa yang terjadi kita harus memaksa tua bangka itu menuruti perintah kita, kalau memang dia membangkang, hmm anak gadisnya yang telah kita tawan itu kita perkosa berramai-ramai!”

Bie Liek jadi mengerutkan alisnya, dia segera dapat menduga, bahwa orang yang menjadi tamu malam yang tidak diundang di rumah penginapan tersebut bukanlah orang baik. Bie Liek jadi membatalkan maksud nya untuk tidur kembali.

Didengarnya orang berkata pula : “Benar Toako    kalau     memang     tua bangka itu membandel, biar anak gadisnya itu ramai-ramai kita jagal, hmmm, aku mau lihat, dia sayang puterinya atau tidak!!”

Bie Liek jadi mendongkol berbareng gusar, sebab didengar dari perkataannya, tentunya orang-orang itu bukan orang-orang baik dan sedang mendesak dan berlaku tidak pantas terhadap seseorang, yang ditekannya untuk menuruti maksud mereka dengan ancaman akan memperkosa beramai-ramai puteri orang itu, yang disebut sebagai si tua bangka.

Dengan cepat Bie Liek membuka daun jendelanya perlahan-lahan, dan waktu dilihatnya di luar kamarnya tidak terlihat seorang manusiapun, Bie Liek telah melesat keluar dengan cepat sekali. Tubuhnya itu meletik ke payon dan bersembunyi di situ. Dari tempatnya bersembunyi itu Bie Liek bisa menyaksikan keadaan di sekitarnya.

Tampak di kejauhan, terpisah tiga kamar dari kamarnya, di atas genting, dua orang anak muda yang tadi berkata-kata.

Bie Liek memperhatikannya, dilihatnya kedua anak muda itu mungkin berusia diantara dua puluh lima tahun. Kedua pemuda tersebut sedang mengintai ke arah sebuah kamar, yang dihampirinya per-lahan-lahan, kemudian dengan membongkar genting itu, tiba-tiba dari arah dalam kamar itu meleset tiga cahaya silau yang menyambar dengan cepat sekali, disusul dengan perkataan :

“Rubuh kau!”

Tampak dua pemuda itu terkejut sekali, untung saja mereka gesit, sehingga dengan cepat mereka bisa mengelakkan sambaran dari tiga buah piauw yang ditimpukkan oleh orang yang berada di dalam kamar itu.

Tampaknya kedua pemuda itu sangat gusar dan murka sekali.

“Hei tua bangka, keluar kau!” bentak salah seorang diantara kedua pemuda itu, janganlah kau bersembunyi terus di dalam kamar seperti seorang Bu Beng Siauw cut!!”

Boe Beng Siauw cut berarti penjahat kecil tak bernama.

Terdengar orang berkata sabar “Janganlah kalian memaksa aku menjadi seorang pembunuh dengan membunuh kalian dua manusia tak punya guna!”

Kedua pemuda itu tampak jadi semakin marah dan gusar. “Tua bangka she Phoa!” bentak pemuda itu hampir berbareng. “Janganlah sampai kami yang menerobos ke kamarmu! Keluarlah!”

Tidak terdengar sahutan, cuma kemudian terdengar orang yang berada di dalam kamar itu lelah bernyanyi dengan suara yang perlahan :

Dua anjing bergonggong, Salju terus juga turun, Udara dingin menggigilkan,

Namun anjing tak tahu diri menggonggong terus, Hati ini jadi kesa! dan jemu,

Ingin menyepak kedua ekor anjing geladak tersebut, Namun tak sampai hati melakukannya,

Salju masih turun terus.

Kedua pemuda itu jadi tambah murka. Apa yang dinyanyikan oleh orang yang disebut sebagai si ua bangka she Phoa dan berada di dalam kamar ituo, jelas sekali memaki kedua pemuda itu.

“Hei orang she Phoa keluarlah kau! Kami Ming Sun Hie dan Pang Tiauw San tak

jeri menghadapimu, kami tak takut mati, tak jeri kami menghadapi kematian asal kau juga mampus! Kalau memang kau masih membandel juga, biarlah kami akan memberikan perintah kepada kawan-kawan kami untuk meniperkosa gadismu beramai- ramai!! Puterimu itu akan kami bunuh secara perlahan-lahan!”

Terdengar suara orang berseru dengan gusar dari dalam kamar. Rupanya orang Phoa itu sangat murka benar. Salah seorang diantara kedua anak muda itu telah tertawa dingin lagi.

“Hmmm tadi sebelum kami berangkat kemari telah kami beritahukan kepada kawan-kawan kami, begitu menjelang fajar kami belum kembali, berarti kami celaka di tanganmu dan dengan sendirinya mereka boleh segera memperkosa puterimu!” kata salah seorang diantara kedua pemuda itu, dan mereka lalu secara berbareng telah tertawa.

Terdengar lagi suara seruan gusar dari orang she Phoa di dalam kamar itu.

Kemudian sunyi kembali.

Waktu salah seorang diantara kedua orang pemuda yang masing-masing mengaku bernama Ming Sun Hie dan Pang Tiauw San, mau berkata lagi, atau telah terdengar orang tua she Phoa itu telah bernyanyi dengan suara yang perlahan namun penuh oleh rasa murka dan gusar yang bukan main.

Salju masih turun deras,

Anjing geladak masih menggonggong, Rasa kasihan tak dihiraukan,

Rupanya mencari kematian untuk ke neraka, Dikala salju yang putih bagaikan kapas,

Darah merah akan mengalir penuh menggenanginya. Dan disusul kemudian dengan terbukanya daun jendela. Melesat keluar sesosok bayangan dengan gesit sekali. Kedua pemuda itu melompat turun dari atas genting di sebelah kanan, kemudian melompat beberapa kali menjauhkan diri dari jendela kamar itu.

Bie Liek mementang matanya mengawasi orang yang baru melesat keluar itu.

Ternyata dia seorang tua dengan jenggot yang tumbuh panjang.

Mukanya muram benar, rupanya dia sangat gusar sekali kepada kedua pemuda

itu.

“Aku Phoa Ceng Sie selamanya mau memberikan maaf dan pengampunan kepada

siapa saja! Tetapi kalian adalah manusia yang benar-benar mencari mampus! Kalau memang seujung rambut dari puteriku sampai terganggu, hmmm, seluruh perkumpulan kalian yang bernama Ang Ma Hwee itu akan kuhancur leburkan tanpa seorang anggotamu yang dapat hidup!”

Salah seorang pemuda itu, Ming Soen Hie, telah tertawa dingin.

“Hmmm kau bicara terlalu takabur! Memang kami mengakui bahwa kepandaian kami bukan menjadi tandinganmu, dan kami bisa saja kau binasakan sekarang juga! Namun kami tidak takut! Bunuhlah! Tetapi seperti telah kukatakan tadi, kalau memang sampai menjelang fajar kami belum kembali ke markas kami, hmm

nasib puterimu bisa kau bayangkan!!”

Tampak tubuh Phoa Ceng Sie, orang tua berjenggot panjang itu, jadi gemetar saking gusar dan murka menjadi satu.

“Kalian   oh   kalian benar-benar bangsat kecil yang mau mampus!” dia memaki,

“Jadi jadi apa maksud kalian sebenarnya?”

Ming Sun Hie telah tertawa agak keras, begitu juga Pang Tiauw San, dia telah tertawa juga untuk mengejek Phoa Ceng Sie.

“Kami tidak minta apa-apa darimu, hanya saja kami mengharapkan kau bisa memenuhi syarat-syarat yang telah dikirim oleh Kauwcu kami! Bagaimana? Kau bersedia melakukannya atau tidak?! Nasib puterimu berada di tanganmu!” kata Pang Tiauw San.

Muka Phoa ceng Sie jadi berobah merah padam, dan juga tubuhnya telah gemetar lagi saking murka dan marahnya.

“Bagus! Rupanya kalian mau menggunakan puteriku untuk menekan aku! Hmm sungguh suatu perbuatan seorang Hohan!” dan Phoa ceng Sie telah tertawa dengan suara menyeramkan, menyatakan kemarahan dan penasaran dihatinya.

Kedua pemuda she Pang dan she Ming itu jadi ngeri juga melihat sorot mata dari lelaki tua Phoa ceng Sie itu yang amat bersinar lajam dan bengis sekali, mereka masing- masing sampai mundur satu tindak. “Ceng-hoa kiam tidak terada di tanganku!” kata Phoa Ceng Sie kemudian setelah menatap bengis begitu. “Lagi pula Ceng-hoa-kiam memang bukan milikku, aku tidak tahu menahu tentang pedang Ceng-hoa kiam itu! Permintaan Kauwcu kalian itu benar-benar keterlaluan sekali! Dia salah mengenali orang, bukan aku orang yang memiliki pedang itu!!”

Ceng-hoa-kiam adalah pedang bunga hijau.

Pang Tiauw San dan Ming Sun Hie telah tertawa tergelak-gelak.

“Orang she Phoa! Apakah kau anggap kami bocah-bocah cilik yang masih ingusan dan tidak mengetahui urusan? Hmm kau tidak perlu mungkir begitu, karena semuanya akan cuma-cuma saja! Kau serahkan Ceng-hoa-kiam kepada pihak kami atau puterimu akan mengalami nasib yang sangat malang sekali, akan dijagal dan diperkosa beramai-ramai oleh kawan-kawan kami!”

Muka Phoa Ceng Sie jadi tambah merah padam saking gusar dan penasaran, dia melangkah maju dengan sikap yang mengancam benar. Sorot matanya juga mengerikan, mengandung hawa pembunuhan.

PANG TIAUW SAN dan Ming Sun Hie jadi keder juga melihat sorot mata yang mengandung hawa pembunuhan dari Phoa Ceng Sie. Mereka mundur beberapa langkah.

“Kau boleh membunuh kami, karena memang kami tahu, begitu kami datang kemari, kecil sekali kesempatan kami untuk hidup terus! Namun tidak apa-apa, pengorbanan kami akan ada artinya! Menjelang fajar, kau akan kehilangan pula orang yang kau cintai! Tak rugi kami mati, karena kami mati tidak dengan Cuma-cuma!!”

Dan kedua pemuda ini telah tertawa, biarpun Pang Tiauw San dan Ming Sun Hie tidak bisa menyembunyikan rasa takut mereka, suara tertawa mereka itu tergetar.

Phoa Ceng Sie seperti baru tersadar. Dia tidak melanjutkan langkah kakinya, cuma saja matanya masih terpentang lebar mengawasi kedua pemuda itu dengan kemarahan yang meluap-luap.

“Kalian terlampau licik!” kata Phoa Ceng Sie kemudian dengan suara gemetar. “Katakan kepada Kauwcu kalian, kalau memang dia itu seorang Hohan, datanglah kepadaku dan bicara dengan aku! Kauwcu kalian itu, San Eng Pie merupakan manusia yang paling rendah kalau mau menundukkan aku dengan memperalat dan mengancam keselamatan puteriku!!”

Pang Tiauw San telah tertawa dingin mengejek.

“Kauwcu kami telah memberikan banyak kelonggaran dan keringanan kepadamu! Seharusnya mengingat apa yang kau pernah lakukan, kami musti membunuhmu dengan tubuh yang tercincang! Namun Kauwcu kami itu memang seorang yang welas-asih, sehingga dia mau menganggap urusan itu menjadi habis, asalkan kau mau menyerahkan kembali pedang Ceng-hoa-kiam itu! Keselamatan puterimu juga kami jamin kalau memang kau mau menyerahkan pedang bunga hijau itu!”

Mendengar perkataan Pang Tiauw San, Phoa Ceng Sie tertawa tergelak-gelak.

“Kau terlalu memandang rendah pada aku si orang she Phoa!” kata Phoa Ceng Sie dengan suara yang bengis. “Hmmbelum pernah ada orang yang berani memandang rendah begitu kepadaku! Baiklah! Aku mau lihat, dengan kalian berdua dibunuh, apa yang bisa dilakukan oleh Kauwcu kalian! Soal puteriku itu, adalah soal belakangan!!”

Dan setelah berkata begitu, cepat luar biasa, dengan kegesitan yang tiada taranya, menandakan bahwa Phoa Ceng Sie mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, tubuhnya mencelat dengan kedua tangan bergerak akan menghajar kedua pemuda itu. Angin serangan menyambar kuat sekali, sebab serangan itu disertai oleh tenaga Lweekang yang sempurna sekali.

Pang Tiauw San dan Ming Sun Hie jadi terkejut sekali.

Mereka cepat-cepat membuang diri kesamping sambil berteriak hampir berbareng

: “Ingat, nasib puterimu berada di tanganmu orang she Phoa!!”

Phoa Ceng Sie merandek, dan dia menatap kedua pemuda yang sedang merangkak itu dengan muka yang merah padam. Namun Phoa Ceng Sie tidak menyerang lagi, cuma saja kedua alisnya telah berkerut.

“Hmmm     aku tahu, kalian juga takut mampus! Puteriku kalian sebut-sebut untuk melindungi keselamatan dirimu! Baiklah! Kalian cepatlah menggelinding enyah dari hadapanku, katakan pada Kauwcu kalian bahwa aku akan menyerahkan pedang Ceng Hoa Kiam itu besok tengah hari di sini dan kalian bawa serta puteriku! Tetapi ingat, kalau ada seujung rambut saja puteriku itu mengalami gangguan diri kalian, hmmm, biar kalian mempunyai jiwa sepuluh ribu dan kepala seratus ribu, tetap saja kalian akan pergi ke neraka untuk menghadap Giam-lo-ong!”

Pang Tiauw San dan Ming Sun Hie telah merangkak berdiri dan tertawa.

“Nah, bukankah dengan begitu, dengan menuruti apa yang diinginkan oleh Kauwcu kami, puterimu itu akan selamat! Baiklah! Kami akan segera kembali ke markas kami untuk mencegah puterimu itu mengalami kecelakaan yang benar-benar mengerikan!!” dan setelah berkata begitu Pang Tiauw San tertawa tergelak-gelak mengejek lelaki tua Phoa Ceng Sie. Phoa Ceng Sie tidak mengatakan apa-apa, dia cuma mendelik mengawasi kedua pemuda tersebut.

Dengan tertawa terus, kedua pemuda itu telah memutar tubuhnya, sekali menjejakkan kakinya, mereka telah lenyap ditelan kegelapan malam.

Lelaki tua Phoa Ceng Sie telah menepiskan bajunya dari siraman salju, kemudian

dia menghela napas dan dengan langkah yang lesu Phoa Ceng Sie telah malangkah masuk ke dalam kamarnya. o o o

BEGITU melihat keadaan disekitar tempat tersebut telah sepi lagi, dan hanya keputihan yang terdapat disebabkan salju telah menutupi tempat-tempat itu, Bie Liek melompat turun dari tempat persembunyiannya.

Tetapi begitu Bie Liek melompat turun, tampak sesosok tubuh telah melompat turun pula dari payon di seberang lainnya. Bie Liek terkejut juga, karena orang itu tadi tidak dilihatnya dan dia tidak mengetahui bahwa di dekatnya ada orang lain yang bersem- bunyi.

Dengan waspada Bie Liek menatap ke arah sosok tubuh yang berbareng melompat turun dari atas payon itu. Ketika melihat tegas, Bie Liek jadi girang.

“Kau Lie-moy?” tegurnya.

“Ya!” menyahuti sosok tubuh itu. “Aku sudah lebih dulu berada di sini Bie-ko

sehingga kau tidak melihat aku!!”

Bie Liek menghampiri, ternyata orang itu Cung Tiang Lie.

“Kasihan orang tua itu!” kata Cung Tiang Lie begitu mereka telah datang dekat.

“Dia ditekan dan diperas dengan mengancam puterinya, orang-orang Ang Ma Hwee itu ternyata jahat sekali! Bagaimana pandanganmu Bie-ko apakah kita perlu turun tangan untuk menolong orang tua she Phoa itu?”

Bie Liek menundukkan kepalanya dengan kedua alisnya berkerut. Rupanya dia sedang berpikir. Kakinya juga menendang-nendang salju yang ada di sekitar kakinya.

“Bagaimana Bie-ko?” tanya Cung Tiang Lie tak sabar waktu dilihatnya pemuda ini berdiam diri saja.

Bie Liek menoleh menatap si gadis sambil mengangguk dan tersenyum.

“Yang jelas kita harus berdiri di atas kebenaran dan juga harus menolong orang yang sedang mengalami kesusahan!” kata Bie Liek. “Kita memang mempunyai kawajiban untuk mengulurkan tangan menolong orang yang sedang tertimpa kemalangan!! Tetapi duduknya perkara ini kita tidak mengetahui jelas, sebenarnya ada sangkutan apakah antara Phoa Ceng Sie dengan orang-orang Ang Ma Hwee itu? Kita sendiri tidak mengetahui! Maka dari itu, lebih baik kita menunggu saja sampai besok dimana Kauwcu dari Ang Ma Hwee itu akan menemui Phoa Ceng Sie, dengan sendirinya kita akan mengetahui duduknya perkara! Kalau kita menanyakan langsung perseorangan kepada Phoa ceng Sie, jelas dia mau memenangkan pihaknya, karena memang sudah wajar setiap orang akan memenangkan dirinya sendiri.”

“Itu memang sudah wajar, maka dari itu kukira tak ada gunanya kita menanyakan persoalan itu kepada orang she Pnoa tersebut!”

Cung Tiang Lie mengangguk membenarkan. “Hayo kita tidur!” kata Bie Liek. “Hawa sangat dingin!!”

Cung Tiang Lie mengiakan, dan mereka kembali ke kamar mereka masing-masing.

• o o


HARI ITU Cung Tiang Lie bangun agak pagi. Tetapi berbeda dengan gadis itu, Bie Liek bangun agak terlambat, kesiangan, sebab udara yang dingin begitu. Cung Tiang Lie jadi tak sabar ketika menjelang hampir mendekati tengah hari Bie Liek belum terbangun juga.

Didatangi kamar si pemuda, diketuknya pintu kamar itu. Hal ini dilakukan oleh Cung Tiang Lie sebab dia kuatir nanti orang-orang Ang Ma Hwee telah datang menemui kakek tua Pihoa Ceng Sie dan Bie Liek belum terbangun, sehingga meteka tidak bisa menyaksikan, dimana mereka tidak bisa mengetahui pihak mana yang salah dan pihak mana yang benar.

“Siapa?” tanya Bie Liek terbangun dengan kaget waktu si gadis telah mengetuk pintu kamarnya agak keras.

Cung Tiang Lie telah menyahuti. Bie Liek mengenali suara wanita itu, cepat cepat dia melompat turun dari pembaringannya, dan meminta agar Cung Tiang Lie menunggu sebentar karena dia mau salin pakaian dulu.

Dengan tak sabar Cung Tiang Lie menantikannya di depan kamar dari pemuda tersebut. Tak lama kemudian tampak pintu kamar terbuka dan Bie Liek keluar dengan pakaian yang telah rapih. Pagi ini tampak Bie Liek cakap sekali.

“Kau sudah makan, Lie-moy?” tanya Bie Liek kepada si gadis. “Mari kita pergi ke ruangan makan!!”

Cung Tiang Lie mengangguk, dan mereka berdua telah pergi ke ruangan makan. Waktu telah duduk, Bie Liek menanyakan pada si gadis, waktu pada semalam apakah tidur si gadis nyenyak. Cung Tiang Lie mengatakan bahwa dia bisa tertidur nyenyak dan enak.

Bie Liek sendiri menceritakan, sebetulnya tadi pagi dia telah terbangun, namun karena masih merasa letih, maka dia telah tertidur jagi sampai bangun kesiangan begitu.

“Apakah orang-orangnya Ang Ma Kwee telah datang?” tanya Bie Liek kepada si gadis. Cung Tiang Lie menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Sejak tadi kuperhatikan, tetapi tidak ada orang yang datang ke rumah penginapan ini!” menerangkan gadis tersebut. “Dan juga lelaki tua she Phoa itu tetap masih berada di dalam kamarnya, tidak

pernah keluar dari kamarnya tersebut.”

Bie Liek mengerutkan keningnya, dia jadi berpikir.

“Apakah puteri si kakek she Phoa itu telah mengalami ini suatu halangan, sehingga orang-orang Ang Ma Hwee itu tak berani datang.” Kata Bie Liek. “Dan kukira kalau sampai terjadi puteri kakek she Phoa itu mengalami cidera atau binasa di tangan orang-orang Ang Ma Hwee, pasti kakek she Phoa itu tidak akan mau mengerti begitu saja! Baiklah, kalau memang sampai menjelang sore orang-orang Ang Ma Hwee masih belum datang juga, lebih baik kita menyelidiki markas mereka!!”

Cung Tiang Lie hanya mengangguk, dan mereka telah makan. Kemudian setelah bercakap-cakap sebentar di situ, mereka telah kembali ke kamar masing-masing. Cung Tiang Lie dan Bie Liek cuma mau melewatkan waktu, guna melihat perkembangan selanjutnya dari persoalan yang sedang dihadapi oleh kakek she Phoa itu dengan orang- orangnya Ang Ma Hwee.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie bermaksud menantikan datangnya malam, dan nanti kalau memang benar-benar orang-orangnya Ang Ma Hwee tidak datang menepati janji mereka terhadap diri kakek tua she Phoa itu, dengan sendirinya mereka akan mendatangi markas perkumpulan tersebut untuk melakukan penyelidikan.

Itulah sebab mengapa Bie Liek dan Cung Tiang Lie mau menantikan sampai tibanya kentungan ketiga, sebab bekerja diwaktu malam lebih leluasa kalau dibandingkan dengan tengah hari, apa lagi pada saat itu sedang turun hujan salju, telah sampai musim salju.

o o o

NAMUN menjelang tengah hari, mendadak sekali Bie Liek telah mendengar suara ribut-ribut di luar. Cung Tiang Lie juga mendengar suara ribut-ribut itu yang datangnya berasal dan ruangan makan.

Dengan cepat Bie Liek telah Mendatangi kamar Cung Tiang Lie.

“Orang-orang Ang Ma Hwee telah datang!” kata BieLiek waktu si gadis keluar dari

kamarnya. “Hayo kita lihat! Mereka rupanya datang dalam jumlah yang besar sekali!”

“Mari!!” kata Cung Tiang Lie dengan cepat. “Aku mau melihat orang-orang yang menamakan diri mereka anggota dari Ang Ma Hwee!!”

Dengan cepat mereka menuju keluar ke ruangan makan. Benar saja dugaan Bie Liek dan Cung Tiang Lie.

Di ruangan makan itu telah berkumpul banyak sekali orang-orang yang berpakaian dengan bermacam ragam bentuk pakaian. Tetapi kalau dilihat dari cara pakaian mereka itu yang rata-rata mempunyai wajah yang bengis adalah orang-orang Mongolia. Waktu Cung Tiang Lie dan Bie Liek memasuki ruangan makan tersebut, banyak yang memperhatikan mereka. Tetapi Bie Liek dan Cung Tiang Lie tidak memperdulikannya. Mereka telah memilih sebuah meja. Dipesannya makanan kering dan juga beberapa kati arak. Selama berada disitu, Bie Liek telah memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Satu persatu, seorang demi seorang, semuanya perhatikan Bie Liek dan Cung Tiang Lie dengan seksama, dan kedua muda-mudi ini mengetahui, bahwa diantara orang- orang yang berada di dalam ruangan makan itu rata-rata mempunyai kepandaian yang tinggi sekali. Juga dilihat dari sorot mata mereka itu, nyata benar banyak yang memiliki Lweekang, telaga dalam, yang tinggi dan sempurna.

“Kalau demikian, ternyata kakek she Phoa itu benar-benar menghadapi kesulitan yang benar-benar menyusahkan hatinya, karena yang harus dihadapinya itu adalah orang-orang yang rata-rata mempunyai kepandaian yang tinggi-tinggi.” kata Bie Liek.

Cung Tiang Lie mengangguk.

“Ya!” menyahuti si gadis. “Maka dari itu kita harus membantu kakek she Phoa itu dan juga kita harus berusaha untuk membebaskan puterinya dari tangan orang-orangnya Ang Ma Hwee ini!!”

Bie Liek membenarkan dengan suara yang berbisik.

Dia juga berkata : “Kita akan bertindak begitu keadaan mengijinkan. Kalau memang kakek she Phoa itu tidak terancam jiwanya kita tak usah turun tangan, namun kalau memang lelaki she Phoa itu menemui kesulitan, dan jiwanya terancam bahaya, kita harus cepat-cepat turun tangan!!”

Kedua muda-mudi ini telah memperhatikan benar-benar dan bersiap-siap, karena mereka pikir disaat yang diperlukan mereka akan bisa bergerak dengan cepat dan tepat waktunya.

Sedangkan orang-orang yang banyak berdatangan terus menerus tak hentinya ke ruangan kamar makan ini, semakin lama jadi semakin banyak, ramai dan berisik sekali. Sampai detik itu, masih belum terjadi sesuatu di dalam ruangan tersebut.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie mengawasi terus keadaan disekitar tempat tersebut. Tiba-tiba suara orang-orang yang berkumpul di ruangan makan yang tadinya begitu ramai dan gaduh sekali menjadi lenyap dan sepi sekali. Semua mata memandang ke arah pintu.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi heran dan mereka juga telah ikut memandang ke arah pintu. Dimana tidak tampak sesuatu. Cuma saja, tak lama kemudian tampak mendatangi seorang yang masuk ke dalam ruangan makan ini. Wajah orang tersebut bengis sekali, berusia diantara tiga puluh tahun, mempunyai jenggot yang kaku-kaku di sekeliling wajahnya. Begitu memasuki ruangan makan tersebut, orang itu telah memandang dan menyapu seluruh ruangan dengan matanya yang tajam sekali. Dia memandangi orang- orang yang berada di dalam ruangan itu satu persatu.

Semua orang yang berkumpul di ruangan makan itu telah berdiri semuanya, mereka mengeluarkan suara yang berbareng :

“Selamat datang, Tang Cung-cu!” teriak orang-orang yang berada di situ.

Orang yang mempunyai jenggot yang begitu tajam dan bengis mukanya hanya

memperdengarkan suara “Hmmmm” saja dan melangkah masuk.

Bie Liek mengawasi dengan sudut matanya, begitu juga dengan Cung Tiang Lie.

Keadaan orang tersebut membuat Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi berpikir : “Hmmm mereka ini tentu dari golongan orang-orang jahat, orang-orang yang tidak benar dan mengambil jalan yang tak lurus!”

Dan mau juga Bie Liek serta Cung Tiang Lie menduga bahwa semua orang yang berada di dalam ruangan ini, yang rata-rata mempunyai muka yang bengis dan kejam itu adalah orang-orang dari Ang Ma Hwee yang sedang menunggu saat untuk menemui Phoa Ceng Sie.

Sedangkan lelaki tua she Phoa itu masih belum juga tampak di dalam ruangan makan ini.

Orang yang bertubuh tinggi besar dengan jenggot yang kaku ini, yang dipanggil

“Tang Cung-cu, telah menghadapi orang banyak dengan berkata :

“Sebentar lagi Kauwcu akan datang, apakah si tua bangka she Phoa itu telah datang?” tegurnya.

“Belum!” menyahuti seseorang, “Rupanya dia ingin mengingkari janjinya!!”

Lelaki berjenggot kaku itu telah mengeluarkan suara “Hmmm!” kemudian dia telah mengambil tempat duduk setelah melirik sedikit kepada Bie Liek dan Cung Tiang Lie.

CUNG TIANG LIE telah mengedipi Bie Liek dengan matanya.

“Mari kita ke belakang sebentar!” kata Cung Tiang Lie dengan suara yang perlahan berbisik agar jangan terdengar orang lain. Bie Liek mengangguk. Dipanggilnya seorang pelayan, Bie Liek membayar harga makanan yang telah mereka makan. Kemudian kedua muda-mudi ini telah menuju ke belakang meninggalkan ruangan makan tersebut.

“Ada apa Lie-moy?” Tanya Bie Liek waktu mereka telah berada di dalam taman

itu. “Aku bermaksud akan melihat ke kamar orang tua she Phoa itu, apakah dia telah mengetahui bahwa pihak Ang Ma Hwee telah datang berkumpul di ruangan makan itu?” kata Cung Tiang Lie. “Kasihan orang tua itu, dia Cuma seorang diri menghadapi pihak Ang Ma Hwee yang berjumlah sangat banyak itu.”

Bie Liek mengangguk.

“Ya benar! Mungkin orang tua she Phoa itu akan terdesak hebat, sebab tak mungkin dia bisa menghadapi lawannya yang berjumlah banyak begitu! Maka dari itu, kalau memang bisa kita memberikan saja bantuan secara bersembunyi, menolong kakek tua she Phoa itu secara diam-diam!”

“Namun kalau memang terpaksa, kita harus menampakkan diri juga! Kakek tua she Phoa itu biar bagaimana harus ditolong juga!” Kata Cung Tiang Lie waktu dia mendengar perkataan Bie Liek.

Bie Liek mengangguk lagi.

“Benar!” menyahuti anak muda ini. “Maka dari itu, mari kita melihatnya di kamar si kakek itu, apakah dia telah bersiap-siap atau belum!”

Cung Tiang Lie mengiakan. Dengan gesit mereka telah mencelat ke atas genting dan berlari ke arah kamar si kakek she Phoa yang ingin mereka tolong. Ketika mereka sampai di kamar si kakek itu, mereka telah melompat ke atas payon, dan dari celah-celah jendela yang terbuat dari kertas, mereka berdua telah mengintai ke dalam.

Tampak kakek she Phoa itu tengah duduk termenung di sebuah kursi, dia bertopang dagu. Mukanya muram benar. Cung Tiang Lie dan Bie Liek yang menyaksikan hal itu jadi tambah kasihan.

Dengan sendirinya di dalam hati mereka telah berjanji, biar bagaimana mereka akan berusaha menolong kakek ini. Dan juga Bie Liek berdua Cung Tiang Lie memang bermaksud akan berusaha guna menolong puteri si kakek yang tertawan oleh pihak lawan. Cung Tiang Lie telah memberikan isyarat kepada Bie Liek untuk meninggalkan kamar kakek ini.

Bie Liek mengerti maksud kawannya itu, dengan gesit sekali mereka berdua telah melompat meninggalkan tempat itu.

“Kita kembali ke ruangan makan saja!!” kata Cung Tiang Lie. “Kita nantikan saja perkembangan di dalam ruangan makan. Tampaknya tak lama lagi tentu si kakek she Phoa itu akan keluar untuk ke ruangan makan.”

Dengan gesit mereka berlari untuk kembali ke depan ke ruangan makan, dimana telah terdengar suara yang gaduh sekali dari orang-orangnya Ang Ma Hwee.

o o o KETIKA Cung Tiang Lie dan Bie Liek sampai di ruangan makan itu, disaat mereka masuk ke dalam ruangan makan tersebut, maka dilihatnya pengunjung rumah makan ini sudah semakin banyak. Rata-rata mereka mengeluarkan suara yang berisik dan gaduh benar.

Dan rupanya mereka ini semuanya anak buah dari Ang Ma Hwee, sebab pengunjung lainnya telah bubar dan tak ada yang berani masuk ke dalam ruangan makan ini, sebab mereka jeri sekali di dalam ruangan makan ini terjadi suatu keributan.

Bie Liek mencari tempat yang ada di pojok ruangan makan itu. Waktu mereka memasuki ruangan makan itu. Bie Liek dan Cung Tiang Liek mengetahui bahwa Tang Cung-cu itu, lelaki yang mempunyai jenggot yang lebat dan kaku, tengah memandangi mereka. Namun Bie Liek dan Cung Tiang Lie pura-pura tak melihatnya.

Berisik sekali ruangan makan ini, dan pelayan-pelayan jadi sibuk melayani tamu- tamunya yang begitu banyak.

Meja besar yang terdapat di tengah-tengah ruang itu dibiarkannya kosong, sebab meja besar itu mungkin disediakan untuk Phoa Ceng Sie dan Kauwcu dari Ang Ma Hwee mengadakan pertemuan.

Sedang susana di dalam ruangan ini berisik dan ribut dan juga gaduh sekali, maka tampak memasuki ruangan itu seorang lelaki tua dengan langkah kaki yang perlahan- lahan. Dialah Phoa Ceng Sie.

Seketika itu juga semua orang yang berada di ruangan makan itu jadi memandang kepada Phoa Ceng Sie dan suara berisik di dalam ruangan makan jadi sirap. Phoa Ceng Sie telah menyapu semua orang yang berada di ruangan makan itu dengan sorot mata yang redup, mukanya muram.

Tang Cung-cu telah cepat-cepat berdiri, dia membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangannya yang terangkap memberi hormat kepada Phoa Ceng Sie.

“Silahkan duduk Phoa Loo-peh!!” kata Tang Cung-cu sambil tersenyum, dia memanggil Phoa Ceng Sie dengan sebutan Loopeh, yang artinya paman.

Phoa Ceng Sie telah mengawasi Tang Cung-cu, dia juga telah merangkapkan kedua tangannnya membalas pembelian hormat dari orang she Tang itu.

“Bukankah Siecu Tang Su Hoan, Siecu adalah Tang Cung-cu dari Ang Ma Hwee?”

tegur dari orang she Phoa ini.

Tang Cung-cu, yang ternyata namanya Tang Su Hoan itu, telah mengangguk sambil tetap tersenyum.

“Benar!” dia menyahuti membenarkan pertanyaan dari Phoa Ceng Sie. “Kauwcu kami telah memperintahkan kami untuk menemui Phoa Loopeh dulu! Sebentar lagi juga Kauwcu kami akan datang! Silahkan duduk! Silahkan duduk!!” Phoa Ceng Sie telah duduk di sebuah kursi yang terdapat di meja di tengah ruangan rumah makan ini, dia duduk dengan sikapnya yang tenang, walaupun wajahnya muram sekali.

Semua orang yang berada dalam ruangan makan tersebut jadi memandang seluruhnya kepada Phoa ceng Sie dan ada beberapa orang yang kasak-kusuk mungkin sedang membicarakan persoalan diri Phoa ceng Sie itu. Tetapi Phoa Ceng Sie tidak memperdulikan semua orang yang berkumpul di situ dalam jumlah yang banyak sekali, tampaknya orang tua she Phoa ini tidak jeri.

Tang Cung-cu, Tang Su Hoan, telah memberi isyarat kepada beberapa orang- orangnya, dan tampak orang-orang itu telah keluar dari ruangan makan tersebut.

Bie Liek yang menyaksikan hal itu, segera mengetahui, rupanya orang-orang ini menjaga sesuatu kemungkinan nanti terjadi suatu pertempuran, maka orang-orang dari Ang Ma Hwee itu telah berjaga-jaga di luar.

Pemuda ini memberi isyarat kepada Cung Tiang Lie, agar si gadis bersiap-siap dari segala kemungkinan. Kalau memang telah tiba saatnya, kalau memang Phoa Ceng Sie membutuhkan pertolongan mereka, maka segera juga mereka akan bisa memberikan bantuan mereka kepada lelaki tua she Phoa itu.

Sedangkan Phoa Ceng Sie telah duduk dengan tenang di tempatnya, tak tampak rasa gentar atau jeri terhadap orang-orang dari Ang Ma Hwee. Malah waktu dia melihat Tang Cung-cu Tang Su Hoan memberikan isyarat kepada orang-orangnya itu, hanya tampak di bibirnya tersungging senyum ejekan. Dengan sikap yang tak acuh dia mengawasi seorang demi seorang dari orang-orang Ang Ma Hwee yang berkumpul di ruangan tersebut.

Suasana di dalam ruangan itu jadi sunyi dan mengandung ketegangan yang luar biasa. Para pelayan rumah makan juga berdebar-debar hati mereka, sebab mereka mengetahui di dalam ruangan rumah makan itu akan terjadi suatu pertarungan yang hebat. Beberapa orang pelayan yang nyalinya kecil telah siang-siang meninggalkan tempat itu untuk mencari keselamatan diri mereka.

Di dalam ketegangan begitu, tiba-tiba terdengar orang berteriak dari luar :

“Kauwcu Ang Ma Hwe akan menjelang datang!” teriak orang yang di luar itu.

“Bersiaplah semua!!”

Semua orang-orang Ang Ma Hwee yang berada di dalam ruangan itu jadi berdiri semuanya, termasuk juga Tang Su Hoan. Mereka berdiri dengan hormat sekali, sikap mereka begitu menghormat Kauwcu mereka yang akan datang ke ruangan itu.

Hanya Phoa Ceng Sie, Bie Liek dan Cung Tiang Lie yang tetap duduk di tempatnya. Mereka tidak mau berdiri biarpun mereka mendengar bahwa Kauwcu dari Ang Ma Hwee itu akan datang. Dan tak lama kemudian, tampak seorang lelaki tua diiringi oleh dua orang pemuda. Mereka tak lain dan San Eng Pie, Kauwcu dari Ang Ma Hwee itu, dan kedua pemuda tersebut adalah Pang Tiauw San serta Ming Sun Hie.

Mata lelaki tua itu, Kauwcu dari Ang Ma Hwee yang bernama San Eng Pie, telah menyapu semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut dengan mata yang tajam sambil melangkah perlahan-lahan memasuki ruangan makan tersebut.

o o o

SEMUA orang-orangnya Ang Ma Hwee telah membungkukkan tubuh mereka memberi hormat kepada San Eng Pie sambil merangkapkan kedua tangan mereka. Begitu pula dengan Tang Su Hoan, diapun telah memberi hormat dan menyambut Kauwcunya ini.

Kemudian diajaknya San Eng Pie mendekati meja dari Phoa Ceng Sie, dimana lelaki tua itu tetap duduk dengan sikapnya yang tenang dan matanya memandang tajam sekali kepada San Eng Pie.

Dengan merangkapkan kedua tangannya San Eng Pie telah memberi hormat kepada Phoa ceng Sie.

“Gembira sekali Loohu bisa bertemu dengan anda!” kata San Eng Pie. “Dan hari

ini. hari yang bahagia, bisa kita selesaikan persoalan kita secara kekeluargaan!” Phoa Ceng Sie telah bangkit, dia membalas pemberian hormat orang.

“Akupun gembira sekali bisa bertemu dengan kau! Memang telah lama aku ingin bertemu dengan kau untuk menanyakan persoalan kita dan terutama mengenai puteriku!!” kata Phoa Ceng Sie.

Kauwcu dari Ang Ma Hwee tertawa.

“Jangan kuatir, puteri anda tidak mengalami kekurangan sesuatu apapun! Malah kami telah memperlakukannya dengan hormat dan telaten! Bisa kau tanyakan saja nanti padanya! Soal kita mengenai pedang Ceng Hoa Kiam itu kukira anda mau menyelesaikannya secara baik, bukan?” kata San Eng Pie dengan suara yang tenang dan sabar.

Wajah Phoa Ceng Sie jadi berobah, tetapi itu hanya sesaat saja, karena dengan cepat Phoa Ceng Sie telah bisa menguasai kegusaran hatinya.

“Duduklah dulu!” kata Kauwcu Ang Ma Hwee waktu melihat sikap dari Phoa Ceng

Sie. “Nanti kita bisa bicara perlahan-lahan.”

Tanpa mengucapkan sesuatu apapun, Phoa Ceng Sie telah duduk kembali, begitu juga dengan diri dari San Eng Pie, dia telah duduk pula.

Pang Tiauw San dan Ming Sun Hie telah berdiri di sisi Kauwcu mereka, mengawasi Phoa Ceng Sie dengan sorot mata yang tajam. Phoa Ceng Sie tidak memperdulikan semua orang-orang itu, dia cuma menoleh kepada San Eng Pie, tanyanya dengan agak gusar :

“Mana puteriku?”

San Eng Pie telah tertawa lagi, dia membawa sikap yang tenang sekali.

“Sabar!” kata San Eng Pie, “Nanti juga kami akan mengembalikan dan membebaskan puterimu itu! Sekarang yang penting kita bicarakan adalah bagaimana caranya menyelesaikan persoalan pedang Ceng Hoa Kiam itu!?”

Phoa Ceng Sie menyahuti agak gusar : “Sebetulnya Ang Ma Hwee adalah sebuah perkumpulan yang cukup besar dan anggota-anggotanya terkenal sebagai seorang Hoohan, seorang gagah! Tetapi nyatanya apa? Kalian hanya bisa menggunakan puteriku untuk menekan aku si orang tua! Hmm! Hmm! Bagus! Orang-orang gagah tentu akan tertawa semuanya!”

“Kita tak usah berbicara persoalan lain!” kata San Eng Pie dengan suara yang tegas. “Yang sekarang kita mau bicarakan adalah persoalan pedang Ceng Hoa Kiam itu. Kami pihak Ang Ma Hwee sangat mengharapkan persoalan ini bisa diselesaikan dengan jalan yang baik, agar kita kedua belah pihak tidak mengalami suatu kerugian apa-apa! Bagaimana Phoa Looheng?” dan San Eng Pie telah mengawasi Phoa Ceng Sie dengan sorot mata yang tajam sekali.

Phoa Ceng Sie telah tertawa dingin lagi dengan suara yang mengejek dia berkata

:

“Baik! Memang persoalan pedang Ceng Hoa Kiam bisa saja kita selesaikan!” kata

orang she Phoa ini. “Namun aku malah ingin persoalan puteriku itu didahulukan!”

San Eng Pie tidak menyahuti, dia hanya mengawasi Phoa Ceng Sie dengan sorot mata yang tajam. Begitu juga dengan Phoa Ceng Sie telah balas menatap pada San Eng Pie dengan sorot mata yang bermusuhan. Keadaan pada saat itu di dalam ruangan makan ini jadi tegang sekali

Bie Liek dan Cung Tiang Lie dapat merasakan suasana yang tegang itu. Mereka juga jadi bersiap-siap, kalau memang sampai terjadi suatu pertempuran dan kakek she Phoa itu dikeroyok, mereka akan segera turun tangan untuk memberikan pertolongannya.

Saat itu Phoa Ceng Sie telah berkata lagi dengan tawar :

“Puteriku tentu berada di dalam keadaan tak kurang sesuatu bukan?” tanyanya. San Eng Pie dengan tertawa telah mengangguk, “Benar!” dia menyahuti, “Dan,

malah kami telah memperlakukannya seperti juga puteri Looheng seperti juga seorang

puteri bangsawan!!”

Phoa ceng Sie telah tertawa dingin. “Bagus! Memang kalau sampai seujung rambut saja puteriku itu tersentuh oleh kalian, maka jangan harap Ang Ma Hwee bisa menancap kaki terus, akan kuhancurkan dan aku tidak akan mau mengerti sampai dimanapun juga!”

Bagus! Memang begitu mustinya kalau puteri Looheng itu mengalami kekurangan sesuatu di tangan kami! Tetapi aku berani jamin, bahwa puteri Looheng masih mulus dan tidak ada seujung rambutpun kami ganggu keselamatannya. Maka dari itu, cepatlah Looheng selesaikan persoalan pedang Ceng Hoa Kiam itu, sebab dengan selesainya urusan ini, bukankah dengan cepat Looheng akan bisa berkumpul kembali dengan puterimu itu?”

Ceng Sie mendengus mengejek.

“Perlu kujelaskan!!” kata Phoa Ceng Sie kemudian. “Bahwa aku memang mau menyerahkan pedang Ceng Hoa Kiam itu kepada kalian pihak Ang Ma Hwee, itupun kalau memang pedang Ceng Hoa Kiam berada di tanganku! Tetapi dengan sangat menyesal sekali perlu kujelaskan pada kalian, pada saat-saat sekarang ini pedang tersebut tidak berada di tanganku!”

Muka San Eng Pie jadi berobah hebat, dia menatap dengan bengis sekali.

“Kau!” suaranya mengandung kegusaran yang sangat, sehingga suasana di dalam ruangan itu jadi bertambah tegang. Phoa Ceng Sie telah tertawa dingin.

“Begini saja kita atur!” katanya dengan tenang, “Bagaimana kalau sekarang pihak kalian membebaskan puteriku itu dulu, nanti aku akan berusaha mendapatkan kembali pedang itu dan aku berjanji akan menyerahkannya pada kalian!”

Muka San Eng Pie jadi berobah tambah merah padam.

“Kami telah banyak membelikan kelonggaran padamu dan juga kami telah berulang kali mengalah! Namun sekarang kau ingin mengeluarkan akal licikmu itu! Hmm rupanya niat kami untuk mengambil jalan baik diantara kita itu malah membuat kau jadi berbesar kepala! Baiklah! Sekarang kau ingin melakukan apapun akan kami iringkan! Kau ingin menggunakan kekerasan atau tidak, hari ini persoalan kita harus selesai! Titik!”

Phoa Ceng Sie tertawa lagi dengan sikapnya yang tenang luar biasa.

“Kalian harus memaklumi, biarpun kalian mendesak aku dengan kekerasan semua itu akan percuma saja! Percayalah, kalau memang pedang Ceng Hoa Kiam itu berada di tanganku, tentu akan kuserahkan padamu!”

San Eng Pie tertawa mengejek.

“Siapa yang mau mempercayai dirimu yang terkenal sekali dengan akal bulus dan busuk hatimu?! Hmm      sudah kukatakan, kalau memang biar apa saja yang terjadi kita harus menyelesaikan persoalan kita!” Muka Phoa Ceng Sie jadi merah padam. Tahu-tahu dia menggeprak meja dengan suara yang keras, dan dengan gusar dia membentak : “Terserah pada kalian saja apa yang kalian akan lakukan!!” katanya, “Aku akan mengiringi kemauan kalian itu!”

San Eng Pie jadi berdiri dari duduknya dengan gusar. Semua orang-orang San Eng Pie, anggota dari Ang Ma Hwee itupun, jadi berdiri semuanya dengan sikap yang bersiap sedia untuk melakukan pertarungan mengepung diri lelaki tua she Phoa itu, suasana di dalam ruangan jadi bertambah tegang mengandung hawa pembunuhan!

BIE LIEK dan Cung Tiang Lie menyadari bahwa di dalam ruangan tersebut segera akan terjadi suatu pertempuran. Cung Tiang Lie juga telah mengisyaratkan kepada Bie Liek agar bersiap-siap.

Mereka menantikan waktunya yang tepat untuk memberikan pertolongan kepada Phoa Ceng Sie, di saat orang tua she Phoa itu membutuhkan pertolongan mereka. Tetapi Phoa Ceng Sie sendiri tetap duduk di tempatnya dengan tenang.

“Kalau seumpamanya aku tetap tidak mau menyerahkan pedang Ceng-Hoa-kiam itu, apakah yang akan kalian lakukan terhadap diriku?” tanya Phoa Ceng Sie dengan suara yang tenang.

Wajah San Eng Pie telah berobah merah padam, begitu juga anggota-anggota dari Ang Ma Hwee, mereka mengawasi dengan mata yang terpentang lebar. Tangan orang- orang Ang Ma Hwee itu telah bersiap-siap dekat tangkai senjata mereka masing-masing.

“Memang kami memaklumi kepandaianmu sangat luar biasa! Namun kami juga tidak percaya kalau dikeroyok oleh kami, kau masih bisa mempertahankan dirimu!” kata San Eng Pie dengan suara yang mendongkol sekali, “Biarkan hari ini kau tumbuh sayap, tak mungkin kau bisa meloloskan diri dari kami!”

Phoa Ceng Sie tertawa dengan tenang, sikapnya begitu sabar dan tidak memperlihatkan perasaan gusar atau gugup, karena dia memang mau memancing kemarahan dari Kauwcu Ang Ma Hwee itu.

“Kukira kalau memang kalian ini sebangsa Hohan, orang gagah, tentu kalian akan malu menggunakan puteriku untuk menekan diriku ini! Hmmm bebaskanlah puteriku itu, dan nanti baru kita bicara lagi secara laki-laki!”

San Eng Pie telah tertawa tawar.

“Kalau kau tidak mau menyerahkan pedang Ceng Hoa Kiam itu kepada kami, jangan harap kau bisa melihat kebebasan puterimu itu! Puterimu akan kami binasakan kalau memang kau tidak mau menuruti keinginan dari pihak kami!!” kata San Eng Pie dengan suara yang agak kasar, sebab dia sangat gusar dan murka benar melihat sikap Phoa Ceng Sie.

Namun Phoa Ceng Sie tetap tertawa tenang, sikapnya begitu sabar.

“Baik! Baik! Aku mau melihat kepandaianmu sampai dimana sehingga kau mau menekan diriku begini macam? Nah lihatlah!” dan sehabis berkata begitu, tahu-tahu tangan Phoa Ceng Sie telah menepuk ujung meja sampai sempal dan belum lagi orang- orang Ang Ma Hwee mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kakek tua ini, tangan Phoa Ceng Sie telah bergerak terayunkan.

Terdengar suara jeritan beberapa orang Ang Ma Hwee. Karena ternyata kayu sempalan meja itu telah diremas oleh Ceng Sie, yang menyebabkan menjadi beberapa potong, kemudian waktu dia mengayunkan tangannya itu potongan kayu tersebut telah melayang menyambar ditimpukkan oleh Ceng Sie ke arah anak buah Ang Ma Hwee, menyebabkan beberapa orang Ang Ma Hwee itu terluka disebabkan oleh beberapa potong kayu meja yang terpotong-potong itu.

Segera juga orang-orang Ang Ma Hwee yang terluka itu jadi rubuh terguling sambil menjerit-jerit memegangi mata mereka yang terluka. San Eng Pie mengeluarkan seruan gusar. Malah orang she San ini telah menggeprak meja.

“Kau oh kau tua bangka!” memakinya dengan suara tak lampias.

Orang-orang Ang Ma Hwee lainnya juga jadi gusar bukan main. Mereka mengeluarkan seruan murka sambil menarik senjata masing-masing dari sarung senjata mereka, hal mana menyebabkan timbul suara yang berisik dari tertariknya senjata orang- orang Ang Ma Hwe itu dari kerangkanya.

Phoa Ceng Sie masih tetap membawakan sikap yang tenang sekali. Lelaki tua ini masih duduk diam di tempatnya.

“Nah bukankah telah kukatakan, kalau memang aku menginginkannya, maka kalian dapat kumusnahkan dan orang-orang Ang Ma Hwee bisa kubinasakan seluruhnya! Janganlah kalian terlalu mendesak aku sampai aku harus dan terpaksa turun tangan berat terhadap kalian! Aku mau memberikan waktu pada kalian selama tiga hari untuk segera membebaskan puteriku! Kalau memang di dalam tiga hari kalian masih tidak membebaskan puteriku dan juga malah puteriku itu terganggu saja seujung rambutnya, maka kalian akan kumusnahkan dari permukaan bum ini! Tak ada seorang anggota dari Ang Ma Hwee bisa hidup terus di permukaan bumi ini!! Mengerti kalian?”

San Eng Pie sangat gusar sekali.

“Tua bangka telengas!!” bentak San Eng Pie dengan gusar dan murka, “Janganlah kau bicara terlalu takabur! Hmmm     apakah dengan bertambahnya kawan-kawan kami yang terluka ini, dijumlahkan dengan kawan-kawan kami yang terluka beberapa hari yang lalu, kau kira jiwa tuamu itu masih bisa dipertahankan?!!” Phoa Ceng Sie mencilak matanya memain tak hentinya. Kemudian setelah menatap dengan bengis begitu, tiba-tiba dia telah tertawa gelak-gelak dengan suara yang menyeramkan.

“Sudah kukatakan tadi, kalian jangan terlalu mendesak padaku, sampai akhirnya aku terpaksa harus menggunakan kekerasan membasmi kalian! Hmmm lebih baik kalian menggunakan cara baik-baik saja untuk berunding denganku!!” kata Phoa Ceng Sie dengan suara yang menyeramkan sekali.

San Eng Pie telah menoleh kepada tiga orang anak buah dari Ang Ma Hwee, dia mengisyaratkan sesuatu.

Tampak lima orang anak buah Ang Ma Hwee telah menerjang ke arah Phoa Ceng Sie. Mereka menyerang dengan senjata mereka masing-masing. Sinar golok dan pedang telah berkelebat menyambar ke arah Phoa Ceng Sie. Namun lelaki tua she Phoa itu tetap duduk tenang di tempatnya.

Berulang kali dia mengeluarkan suara ‘hmm’ ‘hmmm’, dan tahu-tahu dikala senjata-senjata lawan hampir mengenai tubuhnya, Phoa ceng Sie mengebutkan lengan jubahnya. Terdengar beruntun beberapa kali suara jeritan yang menyayatkan. Tampak kelima anak buah Ang ini Hwee itu telah terpental.

Sedangkan Phoa ceng Sie masih duduk tenang di tempatnya. Bibirnya tersungging seulas senyum mengejek. Semua orang jadi terkejut sekali, untuk sesaat mereka jadi memandang terpaku kepada kelima orang yang menggeletak di lantai ruangan makan tersebut.

Tetapi tak lama kemudian San Eng Pie berikut anak buahnya jadi tersadar dengan murka sekali! Ternyata kelima anggota dari Ang ini Hwee itu telah menggeletak dengan kepala yang pecah dan poloh mereka berhamburan keluar.

Mereka ternyata telah binasa, waktu tubuh mereka terpental, nyawa mereka telah lenyap terbang menghadap pada Giam-lo-ong, karena kepala mereka itu kena dikeprak oleh lengan jubah Phoa Ceng Sie!

Bie Liek bersama Cung Tiang Lie jadi terperanjat juga melihat hal itu. Mereka sampai mengeluarkan seruan tertahan.

“Oh kakek she Phoa itu telengas sekali tangannya!!” kata Cung Tiang Lie pada Bie Liek. “Bagaimana ini Bie-ko? Kalau dilihat cara si kakek yang begitu serampangan main bunuh, nyata dia juga bukan orang baik-baik!!”

Bie Liek mengangguk. “Itulah sebabnya mengapa aku meminta agar kau jangan terlalu cepat membantu dan menolong kakek itu dari tangannya orang-orang Ang Ma Hwee, sebab kita tidak mengetahui pihak mana sebetulnya yang bersalah!!”

Cung Tiang Lie mengangguk pula, katanya dengan mata melirik kepada Phoa Ceng Sie : “Kalau begitu kita tunggu perkembangan selanjutnya saja!” kata si gadis. “Kita lihat bagaimana kejadian selanjutnya dan siapakah sebenarnya yang bersalah di dalam soal ini?”

“Ya!” membenarkan Bie Liek.

Keduanya telah menoleh memandang kepada Phoa Ceng Sie pula, ingin melihat apa yang akan terjadi pula!

Suasana di dalam ruangan rumah makan itu jadi sangat tegang sekali benar-benar mengandung hawa pembunuhan yang bisa mengkirikkan bulu tengkuk yang menjadi merinding.

SAN ENG PIE telah mengeluarkan seruan murka dengan muka yang berobah merah padam, tangannya telah mencabut senjatanya, yaitu sepasang Poan-koan-pit.

“Oh tua bangka kejam!” bentak San Eng Pie dengan suara mengguntur. “Hari ini kami dari pihak Ang Ma Hwee akan segera mengadu jiwa dengan kau! Hari ini akan menentukan kau atau kami yang hidup!” dan setelah berkata begitu, dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur San Eng Pie telah menerjang dengan senjatanya itu merangsek ke arah Phoa Ceng Sie bersama-sama dengan anak buahnya. termasuk Pang Tiauw San dan Ming Sun Hie.

Macam-macam alat persenjataan yang tajam dan berbahaya sekali, telah menyambar ke arah Phoa Ceng Sie. Rupanya menghadapi situasi semacam ini, Phoa Ceng Sie juga tidak berani untuk memandang remeh. Dia tidak berani memandang remeh, segera juga dia bangun berdiri dan melancarkan serangan penangkisan.

Di tangan Phoa Ceng Sie dengan cepat telah tergenggam sebilah pedang yang panjang dan tajam sekali, pedang mana telah diputarnya dengan cepat menyerupai kitiran, menangkis setiap serangan yang meluncur ke dirinya. Terdengar suara benturan senjata yang ramai sekali.

Bie Liek menyaksikan, orang tua she Phoa itu kosen sekali, dia dapat menghadapi berpuluh-puluh musuhnya itu. Cuma saja tampak jelas sekali, orang she Phoa ini lebih memperhatikan terhadap serangan-serangan dari San Eng Pie dan Ming Sun Hie bersama Pang Tiauw San. Sinar pedang dan golok berkelebat-kelebat diantara suara jeritan yang menyayatkan hati. Tampak beberapa orang Ang Ma Hwee telah terjungkal rubuh dan binasa. Dengan sendirinya, darah merah telah menggenangi lantai rumah makan ini.

Bie Liek yang menyaksikan hal tersebut, jadi mengerutkan alisnya.

“Telengas sekali setiap serangan si kakek she Phoa itu!” kata Bie Liek dengan suara perlahan kepada Cung Tiang Lie. Si gadis she Cung ini telah mengangguk membenarkan.

“Kita harus cepat-cepat turun tangan untuk menghentikan pertarungan ini, sebab kalau berlangsung terus, berarti akan banyak sekali korban yang berjatuhan.”

Bie Liek tidak segera menyahuti, dia hanya menyaksikan jalannya pertempuran dengan kening dan kedua alisnya berkerut. Menandakan bahwa anak muda ini sedang berpikir keras.

Pertempuran pada saat itu jadi semakin seru dan hebat sekali. Anggota Ang Ma Hwee yang lainnya, yang masih hidup, bukannya jadi jeri menyaksikan kawan-kawan mereka yang terbunuh, malahan telah menjadi nekad dan kalap. Lebih-lebih San Eng Pie, Kauwcu dari Ang Ma Hwee ini tampaknya menyerang dengan serangan untuk mengadu jiwa untuk mati bersama.

Pang Tiauw San dan Ming Soen Hie telah menggunakan senjata mereka untuk melancarkan serangan-serangan yang mematikan kepada Phoa Ceng Sie. Kedua anak muda ini bertempur tanpa memikirkan keselamatan diri mereka. Angin serangan senjata mereka menderu-deru hebat sekali. Cepat luar biasa, pertandingan itu telah merupakan suatu pertandingan banjir darah yang luar biasa sekali.

San Eng Pie telah berulang kali mengeluarkan suara bentakan kalap. Juga San Eng Pie, Kauwcu dari Ang Ma Hwee ini telah berulang kali memaki Phoa Ceng Sie.

“Kami akan bertempur sampai titik darah kami yang penghabisan untuk menebus penasaran dari kawan-kawan kami yang binasa di tanganmu! Kalau memang kau masih tak bisa kami bunuh, maka kami akan mati dengan mata tak meram!”

Dan setelah memaki-maki begitu dengan kalap, cepat sekali Phoa Ceng Sie telah diserangnya dengan berbagai serangan-serangan yang mematikan. Hal ini membuat Phoa Ceng Sie jadi kelabakan dan agak terdesak oleh setiap serangan-serangan dari Kauw-cu Ang ini Hwee tersebut. Hal itu disebabkan setiap serangan Kauwcu dari Ang Ma Hwee ini mengandung tenaga serangan yang kuat sekali, juga memang berbahaya sekali.

Phoa Ceng Sie tidak berani memandang rendah pada diri Kauwcu dari Ang Ma Hwee tersebut, sebab biar bagaimana San Eng Pie mempunyai kepandaian yang tidak bisa dipandang remeh. Setiap serangan dari San Eng Pie mengandung tenaga Lweekang yang luar biasa kuatnya dan tidak bisa dibuat main, karena sekali saja dirinya terserang oleh serangan Kauwcu dari Ang ini Hwee tersebut, berarti dia akan dapat dibinasakan. Itu disadari oleh Phoa Ceng Sie. Namun disebabkan dia memang sangat kosen dan tenaga latihan Lweekangnya sangat sempurna, dengan sendirinya dia bisa mengelakkan dan malah membalas serangan San Eng Pie dengan serangan-serangan yang tak kalah berbahayanya.

Beberapa orang Ang Ma Hwee telah rubuh terjungkal, binasa lagi disebabkan oleh serangan-senjata Phoa Ceng Sie ini. Namun orang-orang Ang Ma Hwee itu benar-benar luar biasa, bukannya mereka jadi jeri dan keder menghadapi kenyataan itu dimana kawan mereka telah berguguran, malah mereka jadi bertambah kalap! Mereka jadi melancarkan serangan-serangan yang lebih membabi buta untuk mengadu jiwa.

o o o

BIE LIEK yang telah menyaksikan cukup lama bersama-sama dengan Cung Tiang Lie, telah berkata : “Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut!” dan setelah berkata begitu, Bie Liek telah bangun berdiri diikuti oleh si gadis she Cung tersebut.

Tampak kedua pendekar muda ini telah melompat dengan gesit sekali ke tengah pertarungan tersebut. Dengan menggunakan senjata mereka masing-masing keduanya telah membolang-balingkan kesana-kemari pedang mereka itu, sambil membentak : “Hentikan pertempuran ini!”

Terdengar suara Trang-tring-treng dan tampak beberapa senjata telah terlepas dari genggaman beberapa orang. Termasuk Poan-koan-pit dari Kauwcu Ang Ma Hwee itu, San Eng Pie, telah terlepas dari cekalannya, dan orang she San tersebut jadi merasakan telapak tangannya kesemutan.

Dengan cepat sekali, semua orang telah melompat mundur dengan terkejut. Phoa Ceng Sie sendiri terperanjat, dia juga ikut melompat ke belakang dengan mengeluarkan seruan gusar dan memandang ke arah Be Liek dan Cung Tiang Lie yang kala itu telah berdiri di tengah-tengah gelanggang pertempuran dengan sikap mereka yang agung sekali, gagah tampaknya.

“Si siapa kalian?” bentak Phoa Ceng Sie dengan gusar.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie cepat-cepat telah memberikan hormat kepada orang- orang itu dengan senjata masih tergenggam di tangan mereka.

“Kami adalah dua orang tak ternama yang kebetulan lewat dan melihat pertarungan semacam ini yang akan memakan banyak sekali korban berdarah, maka dari itu, apakah tidak lebih baik kalau memang mengambil jalan tengah untuk menyelesaikannya secara baik-baik?” kata Bie Liek dengan suara yang tenang sekali.

Mata San Eng Pie dan Phoa Ceng Sie jadi mencilak memain. Mereka melihat usia

kedua orang ini masih sangat muda, maka tak mungkin mereka bisa mempunyai kepandaian yang luar biasa. Kehadiran kedua orang muda ini mungkin juga disebabkan rasa iseng mereka belaka. Memang umumnya anak-anak muda terlalu ceroboh, biarpun kepandaian mereka tak seberapa, toh mereka selalu main seruduk saja, sehingga mau tak mau mereka sering membuang jiwa dengan cuma-Cuma.

Dan menurut anggapan dari Phoa Ceng Sie dan San Eng Pie, bahwa Bie Liek dan Cung Tiang Lie adalah sebangsa anak muda yang mereka bayangkan, maka dari itu bukannya mereka memandang mata, malah telah memandang rendah serta gusar urusan mereka ingin dicampuri oleh kedua muda-mudi tersebut.

“Kalian dua bocah yang masih bau ingusan, cepat menggelinding dari tempat ini!” bentak Phoa Ceng Sie dengan suara yang bengis. “Kami sedang mempunyai urusan dan persoalan, kalau memang kalian mencampuri urusan kami ini, maka aku tidak akan menjamin keselamatan kalian berdua!”

“Ya menyingkirlah kalian!” bentak San Eng Pie juga.

Tetapi Bie Liek dan Cung Tiang Lie sangat tenang. Mereka memandang kepada orang-orang yang berada di dalam ruangan makan tersebut dengan sikap yang gagah, tidak tampak sedikitpun rasa takut pada diri mereka.

Dengan sendirinya, sikap Bie Liek dan Cung Tiang Lie ini jadi tambah menggusarkan Phoa Ceng Sie dan San Eng Pie berikut anak-buahnya. Mereka menganggap bahwa sikap anak muda ini sebagai suatu penghinaan yang tidak bisa mereka terima.

“Kalian dua orang anak muda yang tidak tahu diri! Kalau memang kalian tidak mau cepat-cepat menyingkir, kalau memang benar sampai terjadi sesuatu atas diri kalian, hmmm, jangan persalahkan kami!!” bentak San Eng Pie dengan suara yang bengis.

Phoa Ceng Sie telah memperdengarkan suara tertawa dingin berulang kali.

“Hmmm       berapa tinggi kepandaianmu sehingga ingin mencampuri urusan aku, Phoa Ceng Sie?” tanyanya dengan suara yang mengejek.

Bie Liek jadi mengerutkan alisnya, begitu juga dengan Cung Tiang Lie. Mereka bermaksud baik dan ingin menghentikan pertempuran itu agar jangan sampai berjatuhan korban lagi lebih banyak! Namun nyatanya mereka diterima dengan begitu sinis dan juga sambutan yang diberikan atas kehadiran mereka hanyalah berupa ejekan belaka. Bie Liek jadi mendongkol.

“Sudah kukatakan!” kata Bie Liek akhirnya dengan mendongkol. “Aku menginginkan pertempuran ini dihentikan! Siapa saja diantara kalian yang masih membandel dan bertempur terus, hmmm artinya orang itu akan berhadapan langsung dengan diri kami!” dan setelah berkata begitu, Bie Liek dan Cung Tiang Lie mengawasi orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut dengan tatapan mata yang tajam sekali. Cung Tiang Lie juga telah mengeluarkan suara tertawa mengejek!

“Ya kalau memang kalian masih bertempur, maka kalian akan kami jagal menjadi kunyuk yang hilang tanganmu!!” menimpali gadis ini.

Hal mana telah membuat Phoa Ceng Sie dan San Eng Pie jadi gusar bukan main. Begitu juga anggota-anggota dari Ang Ma Hwee mengeluarkan seruan gusar dan murka. Tetapi semua itu tidak diperdulikan oleh Bie Liek dan Cung Tiang Lie.

San Eng Pie telah maju beberapa langkah.

“Hei anak muda    kami masih menyayangi jiwa kalian! Kalau memang kalian mau melibatkan diri kalian di dalam persoalan kami, berarti kalian akan tersangkut dan terlibat di dalam suatu kancah pertempuran yang bisa membahayakan jiwa kalian! Lebih- lebih kau telah menyaksikan sendiri, betapa bengisnya tua bangka she Phoa itu, tentu kalian akan celaka di tangannya! Aku sih cuma mau memberikan sedikit nasehat pada kalian kalau memang kalian mau selamat, cepat-cepat pergi meninggalkan tempat ini!”

Bie Liek tersenyum dengan sikapnya yang sangat tenang.

“Terima kasih atas nasehat Kauwcu!” kala Bie Liek dengan suara yang nyaring. “Namun tadi kami telah menyaksikan seluruh pertempuran ini, kami kira tak ada seorangpun yang berada di dalam ruangan ini bisa mengalahkan kami! Percayalah, diantara kalian aku berani pastikan dan yakin benar, bahwa kalian tak ada seorangpun yang bisa menandingi kepandaian kami!!”

Mendengar perkataan Bie Liek, San Eng Pie jadi gusar. Begitu pula Phoa Ceng Sie dan orang-orang dari Ang Ma Hwee. Phoa ceng Sie mau mengartikan perkataan dari Bie Liek itu ditujukan untuk dirinya dan merupakan suatu tantangan.

Baru saja dia mau berkata, dengan suara yang membentak, tetapi San Eng Pie telah mendahuluinya dengan berkata : “Hmmm     kau terlalu takabur anak muda! Kalian seperti juga dua ekor anak domba yang baru lahir di permukaan bumi ini tetapi tidak kenal bahaya dan tingginya langit! Memang mudah berkata dengan bergoyang lidah, namun tahukah kalian kalau memang sampai kalian ini melibatkan diri di dalam persoalan kami, berarti kalian tidak akan bisa pulang untuk bertemu dengan ibu kalian lagi!”

Bie Liek tersenyum dengan sikap yang tetap sabar dan tenang.

“Sudah kukatakan tadi Kauwcu, bahwa kami tidak jeri pada kalian, sebab sejak tadi aku telah menyaksikan, betapa diantara kalian tak ada seorangpun yang bisa menandingi kepandaianku, apa lagi untuk mimpi merubuhkan diri kami! Maka dari itu, siapa saja diantara kalian ada yang tidak mau mempercayai perkataanku itu, baiklah! Aku persilahkan orang itu untuk maju mencoba-coba!” dan setelah berkata begitu, Bie Liek tertawa tergelak-gelak. Begitu juga Cung Tiang Lie telah mengeluarkan suara tertawa mengejek, dia mau membakar kemarahan orang-orang yang dianggapnya tidak mengenal budi, sebab setelah ditolong untuk jangan berkelahi dengan akibat berjatuhan korban berdarah, malahan mereka telah mencaci dan mengeluarkan kata-kata yang tidak sedap, itulah sebabnya si gadis membawa sikap untuk membikin orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut menjadi murka.

Dan benar saja, semua orang yang berkumpul di dalam ruangan makan ini jadi mengeluarkan seruan murka semuanya. Mereka menganggap perkataan dari pemuda ini terlampau kurang ajar sekali.

o o o

TAHU-TAHU DENGAN mengeluarkan suara bentakan yang keras dan mengguntur, San Eng Pie telah melompat menerjang ke arah Bie Liek. Orang she San yang menjadi Kauwcu dari Ang Ma Hwee itu disebabkan karena tadi kedua Poan-koan-pitnya telah kena dipukul terlepas dari cekalan tangannya dan menyebabkan telapakan tangannya itu jadi kesemutan. Dengan sendirinya, dengan terjadinya hal itu, dari malu San Eng Pie juga jadi gusar.

Dia menyerang begitu kepada Bie Liek dengan harapan bisa merubuhkan diri Bie Liek, sebab begitu dia bisa menghajar tubuh anak muda ini, berarti dia tidak perlu hilang nama dan juga memang San Eng Pie mau melenyapkan rasa penasarannya.

Bie Liek melihat orang menyerang dirinya, dia tidak jeri. Lagi pula pemuda inipun tidak berusaha mengelakkannya. Dinantikannya pukulan dari San Eng Pie itu hampir tiba, hampir mengenai tubuhnya, Bie Liek telah menggerakkan tangan kirinya sambil membentak : “Rubuh kau!!” nyaring suara bentakan pemuda tersebut. Tanpa ampun lagi San Eng Pie jadi terpental dan ambruk di lantai dengan keras. Punggungnya sebelumnya telah menubruk tembok sehingga waktu dia jatuh, dia jadi meringkuk menahan perasaan sakit.

Semua orang yang menyaksikan hal itu jadi terkejut sekali. Lebih-lebih Phoa Ceng Sie, sedikitpun dia tidak menyangka bahwa tadinya Bie Liek mempunyai kepandaian yang begitu tinggi. Saking kagetnya, Phoa Ceng Sie sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Hal itu disebabkan Phoa Ceng Sie mengetahui benar berapa tinggi kepandaian yang dimiliki oleh San Eng Pie. Kepandaian Kauwcu dari Ang Ma Hwee itu hampir berimbang dengan dirinya, dengan rubuhnya Kauwcu dari Ang Ma Hwee itu, berarti dia juga akan rubuh di tangan Bie Liek kalau memang dia memaksakan dirinya untuk melawan dan menghadapi pemuda tersebut.

Tetapi untuk mundur, dia tidak mau, karena dia akan kehilangan muka. Untuk sesaat, Phoa Ceng Sie jadi memandang terpaku kepada San Eng Pie yang masih meringkuk menahan sakit pada dirinya. Juga orang-orang dari Ang Ma Hwee itu jadi berdiri bengong mengawasi Kauwcu mereka yang telah dirubuhkan dengan mudah oleh Bie Liek hanya dalam satu gebrakan belaka. Itulah sebabnya mengapa mereka seketika itu juga jadi jeri menghadapi Bie Liek dan Cung Tiang Lie. Orang-orang ini segera menyadari bahwa kepandaian yang dimiliki oleh Bie Liek luar biasa sekali!!

Ruangan makan tersebut jadi sunyi, hanya terdengar ada beberapa pelayan rumah makan itu yang bisik-bisik dengan suara yang kasak-kusuk, mereka memuji dan mengagumi kepandaian pemuda ini.

Bie Liek masih berdiri di tempatnya dengan tenang. Dia tadi telah menangkis serangan San Eng Pie dengan mengerahkan lima bagian tenaga Lweekangnya dan Kauwcu dari Ang Ma Hwee itu telah terjungkal rubuh di dalam waktu yang sangat singkat benar, hanya dalam satu gebrakan saja.

Peristiwa ini tentu akan tersebar luas dan dengan sendirinya pamor dari Ang Ma Hwee dibawah pimpinan San Eng Pie merosot dan Kauwcu dari Ang Ma Hwee ini pun telah kehilangan muka serta namanya yang telah dipupuknya belasan tahun. Semuanya telah kandas dengan rubuhnya dia di tangan Bie Liek.

Phoa Ceng Sie sendiri jadi berdiri ragu-ragu di tempatnya. Sebentar-sebentar dia melirik Bie Liek dan Cung Tiang Lie dengan bergantian.

Bie Liek melihat sikap orang ini, dan Bie Liek bersama Cung Tiang Lie jadi tersenyum sendirinya karena mereka merasa lucu.

o o o

“NAH!” kata Bie Liek dengan suara yang nyaring waktu dilihatnya orang-orang di dalam ruangan makan ini berdiam diri saja, “Aku tadi sudah mengatakan bahwa tidak mungkin ada seorangpun diantara kalian yang bisa menjatuhkan dan merubuhkan diriku! Tetapi kalian tak seorangpun mau mempercayainya!! Sekarang setelah melihat bukti, apa yang ingin kalian katakan lagi? Untung saja aku masih mempunyai belas kasihan, sehingga aku hanya mempergunakan tenaga serangan beberapa bagian saja, coba kalau memang aku mengerahkan tenaga dalamku, bukankah berarti Kauwcu dari Ang Ma Hwee ini telah binasa dengan cara yang sangat konyol sekali?”

Semua orang terdiam saja, mereka mengawasi Bie Liek dengan tatapan mata gusar, marah, murka, penasaran dan bercampur oleh perasaan kagum! Biar bagaimana tadi mereka telah menyaksikan betapa dengan mudah benar Bie Liek telah merubuhkan diri Kauwcu Ang Ma Hwee yang bernama San Eng Pie tersebut dalam satu gebrakan.

“Sebetulnya diantara kalian ini siapa yang bersalah?” tanya Bie Liek Lagi. “Kalian

boleh merundingkannya dengan cara yang baik-baik, saling meminta maaf! Bukankah itu tidak akan memakan banyak korban?! Hmmm dan kau kakek she Phoa, bukankah puterimu telah tertawan oleh orang-orang Ang Ma Hwee?”

Ditegur mendadak begitu, Phoa Ceng Sie jadi gelagapan juga, untuk sementara waktu dia tidak bisa menjawab pertanyaan Bie Liek.

Bie Liek tersenyum.

“Kakek she Phoa mengenai puterimu yang tertawan oleh orang-orang Ang Ma Hwee itu telah kami ketahui dan tadinya kami bermaksud akan menolongmu guna membebaskan puterimu, tetapi nyatanya tadi kami melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kau begitu telengas membunuh lawan-lawanmu, maka kami jadi menguatirkan sekali itikad baikmu!! Lagi pula mengenai persoalan pedang Ceng Hoa Kiam itu sebetulnya milik siapa? Mengapa kalian memperebutkannya?”

Phoa Ceng Sie telah mendehem, kemudian dengan sikap yang dibuat setenang mungkin orang tua ini telah berkata sambil tersenyum.

“Ya memang ternyata kau mempunyai penglihatan yang tajam! Hmmm, kalau memang apa yang kami saksikan itu bukan kulihat dengan mata kepalaku sendiri, tentu aku tak akan mau mempercayainya di dalam usia begitu muda kau telah mempunyai kepandaian yang demikian tinggi! Namun semuanya memang telah kusaksikan, maka mau tak mau aku harus kagum juga pada kepandaian yang bisa kau latih begitu sempurna! Dan mengenai pedang Ceng Hoa Kiam itu sebetulnya adalah milikku, tetapi dengan menggunakan puteriku yang mereka tawan, orang-orang dari Ang Ma Hwee ini ingin mengangkanginya untuk pihak mereka!!”

“Dusta!!” teriak Ming Sun Hie dan Pang Tiauw San hampir berbareng. “Kau tua bangka penipu! Setelah kau menjadi pencuri pedang Ceng Hoa Kiam kami, sekarang kau ingin memutar balikkan duduknya persoalan! Hmm, memang sungguh licik kau!”

Bie Liek tersenyum kepada Ming Sun Hie dan Pang Tiauw San yang kala itu tengah membantu Kauwcu mereka untuk berdiri.

“Jadi siapa sebetulnya yang mempunyai hak untuk menguasai pedang Ceng Hoa Kiam itu?” tanya Bie Liek lagi.

“Aku!!” menyahuti Phoa Ceng Sie dengan suara yang nyaring.

“Bohong! Dusta! Pedang Ceng Hoa Kiam adalah milik kami, milik Ang Ma Hwee!!”' kata Ming Sun Hie dan Pang Tiauw San dengan cepat. “Kakek jahat itu telah banyak sekali membunuh saudara-saudara seperkumpulan kami, dan dia malah mencuri pedang pusaka perkumpulan kami, maka kami telah mengeroyoknya agar dia mau mengembalikan pedang Ceng Hoa Kiam itu kepada kami, maka Kauwcu kami akan menganggap persoalan habis sampai di situ saja! Puteri si tua bangka she Phoa itu yang kami tawan, akan kami bebaskan begitu tua bangka itu mau menyerahkan pedang Ceng Hoa Kiam itu kepada kami secara baik-baik!” “Hmm jadi kakek tua itu adalah seorang pencuri ulung?” tanya Bie Liek sambil

tertawa kecil.

Ming Sun Hie telah mengangguk. Begitu juga yang lain, yang ikut-ikutan menganggukkan kepalanya.

''Benar!” kata Pang Tiauw San. “Memang benar kakek tua she Phoa itu sudah terlampau banyak menumpuk dosa terhadap perkumpulan kami! Hmm untung saja dia mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, sehingga sampai saat ini kakek tua bangka she Phoa itu masih hidup.”

Bie Liek mengawasi Phoa Ceng Sie dengan sorot mata yang tajam sekali. “Benarkah begitu, kakek tua she Phoa?” tanya Bie Liek dengan suara yang nyaring. Tahu-tahu Phoa Ceng Sie telah tertawa tergelak-gelak.

“Kalau memang benar pedang Ceng Hoa Kiam itu milik mereka, maka itu hanya menuruti perkataan mereka saja! Tetapi kalau memang nyatanya sekarang aku tidak mau mengembalikan pedang Ceng Hoa Kiam itu kepada mereka, maka apa yang akan kau lakukan terhadap diriku!”

Mendengar perkataan Phoa Ceng Sie, Bie Liek tersenyum.

“Aku memang tidak bisa melakukan banyak sesuatu terhadap dirimu! Kami berdua juga tidak bisa melakukan banyak hal yang bersangkut paut dengan dirimu! Hmmm, biar bagaimana hari ini, persoalan ini akan dapat diselesaikan di dalam waktu yang sangat singkat sekali dan dia juga telah terluka olehku, sehingga Kauwcu dari Ang Ma Hwee tidak mungkin dapat bertempur lagi! Nah orang she Phoa coba kau pikir-pikir, apakah saranku itu dapat diterima atau tidak?!”

Ceng Sie tertawa tawar.

“'Kalau memang nyatanya aku menolak saranmu itu, apa yang mau kau lakukan?” tanya Phoa Ceng Sie dengan suara yang serius sekali.

Bie Liek tersenyum.

“Aku akan membunuhmu! Habis perkara!” menyahuti Bie Liek. Phoa Ceng Sie tertawa dingin.

“Hmmm kau mengatakan bahwa kau bisa membunuhku?” tegur Phoa Ceng Sie dengan suara yang gusar sekali. “'Mari maju! Mari maju! Kalau memang aku tidak bisa merubuhkan dirimu, biarlah aku tidak menjadi manusia lagi!!”

Dan setelah berkata begitu, Phoa Ceng Sie bersiap-siap untuk melakukan penyerangan yang keras kepada Bie Liek. Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah mengawasi dengan mata yang terpentang lebar dan mereka tetap telah berdiri tegak. Dibenak mereka masing-masing telah berpikir yang sabar, bahwa biar bagaimana mereka tidak akan mengambil jalan kekerasan, sebab biar bagaimana mereka menginginkan kedamaian diantara kedua belah pihak. Kalau memang persoalan bertambah rumit, maka Bie Liek akan mencari jalan keluar lainnya untuk menghadapi kakek tua she Phoa itu,

“Sekali lagi aku ingin minta kepada kakek tua she Phoa, agar kau mengambil jalan damai dengan pihak Ang Ma Hwee!” kata Bie Liek.

“Bagus! Sekarang aku baru tahu, rupanya kau orang Ang Ma Hwee yang pura- pura untuk memisahkan perkelahian ini!” kata Phoa Ceng Sie dengan suara yang sangat nyaring sekali.

Bie Liek masih tersenyum sabar, berbeda sekali gadis she Cung itu yang jadi gelagapan disebabkan perasaan gusarnya.

“Ohhh sungguh tak tahu malu!” kata Cung Tiang Lie dengan suara yang nyaring. “Setelah kami memisahkan agar kalian bisa mengambil jalan tengah di dalam perundingan diantara kalian, tetapi nyatanya apa yang diterima dari kalian? Bukannya ucapan terima kasih, malah kau telah begitu berani memaki-maki Bie-ko!! Hmmm, aku mau lihat jadinya, sampai dimanakah kepandaian silat yang kau miliki! Aku mau mencobanya untuk bertanding dengan kau! Telapak tanganku sekarang jadi gatal ingin sekali bertempur.”

Mendengar perkataan Cung Tiang Lie, kakek she Phoa itu jadi tertawa tergelak- gelak dengan suara yang gusar sekali

“Hmmm, kau gadis ingusan, coba kau cepat-cepat melarikan diri, sebab kalau terlambat sedikit saja, jiwa anjingmu tidak bisa dipertanggung jawabkan lagi!” bentak kakek she Phoa tersebut dengan suara yang bengis.

Cung Tiang Lie mengerutkan alisnya, dia menoleh kepada Bie Liek.

“Bie Koko orang she Phoa ini juga mungkin bukan orang baik-baik! Lihatlah cara dia berkata, cara dia dengan telengas membunuh lawannya! Hmm, tak nantinya dia bisa diberi jalan baik sebab tampaknya orang she Phoa ini selalu mencari pasal saja!” kata si gadis she Cung.

Bie Liek mengangguk.

“Ya! Kita nanti mendengar penjelasan kedua belah pihak!” kata anak muda ini, “Kalau memang kedua belah pihak bersalah maka kita tak usah membantu pihak manapun, tetapi kalau memang nyatanya kakek she Phoa itu yang jahat, biarlah sekarang kita robah tujuan kita, kita jadi berbalik membantu orang-orang Ang Ma Hwee!”

Dan setelah berkata begitu, Bie Liek mengawasi si kakek dengan sorot mata yang tajam sekali. Cung Tiang Lie juga telah tertawa dingin berulang kali. Muka si gadis memperlihatkan bahwa dia sangat gusar.

Sedangkan pada saat itu Phoa Ceng Sie telah membentak dengan suara yang keras sekali : “Hei bocah, lebih baik kalian menggelinding agar jangan sampai kalian menjadi korban yang konyol, sebab urusan kami ini tidak akan bisa diselesaikan oleh anak-anak muda semacam kalian!!”

Mendengar perkataan Phoa ceng Sie, Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi tambah mendongkol.

“Memang kami mengakui bahwa usia kami masih sangat muda   namun kami juga tidak menginginkan kalau ada orang-orang golongan tua yang mau membuat suatu kerusuhan di dalam rumah makan ini! Tahu dirilah sedikit! Hmmm kalau memang nyatanya kalian telah mengakui bahwa kalian adalah golongan tua, maka kalian harus memberikan contoh yang baik! Kukira kalau memang kalian masih mau berkeras membikin kerusuhan di tempat ini, mau tak mau aku harus mengambil tindakan yang tegas! Kurasa mau tak mau aku harus ikut mencampuri persoalan ini, dan maafkan saja kalau memang ini nyatanya menyinggung kalian dan kalau memang ada yang tak senang, bisa berhadapan langsung dengan aku!”

Setelah berkata begitu, Bie Liek mengawasi semua orang yang berada di tempat itu dengan sorot mata yang tajam.

Phoa Ceng Sie telah berjingkrak dengan gusar sekali, dia merasa terhina oleh Bie Liek. Pada saat itu San Eng Pie telah merangkak dapat bangun berdiri, dia mengawasi ke arah Bie Liek dengan sorot mata mendendam bercampur jeri.

PENUTUP

“KAU INGIN membantu orang she Phoa itu, bocah?” bentak San Eng Pie dengan suara yang keras. “Tetapi kami tak akan jeri sedikitpun kepada manusia-manusia sebangsa kalian, yang jalan dialiran hitam!! Hmmm, majulah, biarpun harus binasa, aku tak akan jeri!!” 

Bie Liek tertawa tawar.

“Sudah kukatakan bahwa diantara aku dengan orang she Phoa itu tidak mempunyai sangkutan apapun, begitu juga dengan pihak kau, kami berdua tidak mempunyai hubungan apa-apa kami berdiri di atas kebenaran! Pihak mana saja yang benar, akan kami bantu dengan tangan terbuka!”

Dan setelah berkata begini, Bie Liek mengawasi San Eng Pie dengan sorot mata tajam serta bibir tersenyum gagah. San Eng Pie balas menatap, sehingga untuk sesaat mereka jadi saling pandang. Selang sesaat San Eng Pie menghela napas. “Baiklah!” katanya. “Baiklah hal ini kuceritakan duduknya persoalan kepadamu!! Biarpun kau orang luar, namun ada baiknya juga agar kau dapat mengerti akan kelicikan dari orang she Phoa itu!!”

Dan setelah berkata begitu, San Eng Pie telah merogoh sakunya, dia mengeluarkan sepucuk surat.

“Surat ini akan menjelaskan segalanya kepadamu sifat kakek tua she Phoa itu!!”

kata San Eng Pie. “Nah  kau baca saja sendiri!”

Dan setelah berkata begitu, Kauwcu dari Ang Ma Hwee tersebut telah memberikan surat tersebut kepada Bie Liek.

Bie Liek telah menerima surat yang diangsurkan kepadanya, dia membacanya : Kauwcu Ang Ma Hwee :

Pedang Ceng Hoa Kiam telah berada di tanganku! Aku telah berhasil merebut pedang itu dari tangan kalian, dan untuk selanjutnya Ang Ma Hwee akan kehilangan muka! Aku mengerti, kalian tentu panik sekali memperoleh kenyataan bahwa pedang itu telah lenyap dari markas kalian, namun tak apa-apa asalkan kalian mau menyerahkan padaku uang sejumlah dua laksa tail, maka pedang itu akan kembali ke tangan kalian! Kalau tidak, ya sudah! jangan kalian bermimpi bahwa kalian mau mengirim orang menggunakan kekerasan padaku, sebab perlu kuperingatkan, bahwa aku tidak akan segan-segan untuk membunuh siapa saja.

Kutunggu jawaban kalian. Phoa Ceng Sie.

“Sudah banyak saudara-saudara kami yang binasa di tangan bangsat she Phoa ini, sampai akhirnya kami menyadari bahwa kami tidak akan bisa merebut kembali pedang Ceng-Hoa-Kiam itu dari tangannya dengan menggunakan jalan kekerasan, maka kami telah berusaha menculik puterinya dan berhasil! Dengan adanya puteri bangsat she Phoa ini, ketelengasannya jadi berkurang! Dia adalah begal tunggal yang selalu bekerja seorang diri!” menjelaskan San Eng Pie waktu Bie Liek habis membaca surat itu.

Bie Liek mengangguk sambil melipat surat tersebut dan dikembalikan kepada San Eng Pie.

Namun baru saja Bie Liek memutar tubuhnya untuk berkata-kata kepada Phoa Ceng Sie, atau tahu-tahu telah terdengar suara bentakan yang mengguntur keras sekali, dan tampak sesosok bayangan telah melompat menerjang kepada Bie Liek.

Bayangan itu telah melancarkan serangan yang hebat luar biasa. Bie Liek kosen dan liehay, biar bagaimana dia mempunyai pendengaran yang tajam. Waktu diserang begitu macam, sebetulnya posisi Bie Liek kurang begitu baik, karena dia diserang sama saja dengan dibokong. Namun secara cepat dan gesit sekali, Bie Liek telah melompat dan tahu-tahu tangannya bergerak.

Terdengar suara jeritan yang menyayatkan hati! Tampak Phoa Ceng Sie telah terpental dan ambruk dilantai dengan keras. Dari mulutnya tampak mengalir keluar darah merah yang segar. Kepalanya juga telah rengat dan pecah terbentur dinding tembok rumah makan ini.

Ternyata tangkisan dari Bie Liek luar biasa sekali, kuat dan mengandung tenaga Lwee-kang yang kuat sekali. Waktu semua orang melihat keadaan Phoa Ceng Sie, semuanya jadi terdiam.

Keadaan di dalam ruangan makan ini jadi sunyi sekali. Bie Liek juga tidak menyangka bahwa yang menyerangnya itu adalah Phoa ceng Sie. Dia jadi kaget sendirinya melihat akibat tangkisannya yang berakibat begitu luar biasa sekali.

Cepat-cepat dia menghampiri, dilihatnya orang she Phoa itu masih bernapas.

“Aku aku memang bersalah!” terdengar Phoa ceng Sie berkata dengan suara yang terputus-putus. “Pedang Ceng Hoa Kiam kusembunyikan di penglarian kamarku, tetapi puteriku puteriku harap dibebaskan dan jangan diganggu!” dan sehabis berkata begitu, Phoa Ceng Sie merintih kesakitan, tubuhnya mengejang, kemudian dia telah menghembuskan napasnya yang terakhir!

Semua orang jadi berdiam diri tenggelam di dalam keharuan, ketegangan yang tadinya meliputi ruangan itu telah lenyap. Bie Liek kemudian menghela napas.

“Aku sebetulnya tidak bermaksud untuk membunuhnya!” kata Bie Liek dengan

suara yang perlahan.

Cung Tiang Lie menghibur anak muda ini.

“Ia orang jahat Bie Koko dengan terbinasanya orang she Phoa itu, maka kau sama dengan melenyapkan sebagian kejahatan di permukaan bumi ini!” kata Cung Tiang Lie.

Bie Liek mengangguk.

“Ya ya!” katanya sambil mengangguk dan berjalan perlahan-lahan.

Tetapi Sian Eng Pie telah menahannya, Kauwcu dari Ang Ma Hwee ini menyatakan terima kasih mereka dan meminta agar Bie Liek dan Cung Tiang Lie bersedia untuk mereka jamu, karena secara tak langsung Bie Liek telah membantu, pihak mereka untuk memperoleh pedang Ceng Hoa Kiam itu.

Setelah ragu-ragu sesaat, akhirnya Bie Liek menyetujuinya juga. o o o DENGAN terbunuhnya Phoa Ceng Sie nama Bie Liek jadi menjulang tinggi, dia jadi terkenal akan kekosenannya. Dan bersama-sama Cung Tiang Lie, Bie Liek melakukan pengembaraan di dalam kalangan Kangouw. Banyak perbuatan amal dan kebaikan yang mereka lakukan.

Setelah perjamuan yang diadakan oleh Kauwcu Ang Ma Hwee itu selesai, maka merekapun berpisah. Selama merantau di dalam kalangan Kangouw, nama Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi terkenal luar biasa menjadi jago yang tiada tandingannya

Satu persatu orang-orang jahat telah mereka basmi dan juga Bie Liek telah berusaha untuk mencari musuh keluarganya dan seorang demi seorang telah didatangi dan dibunuhnya, akhirnya setelah musuh-musuhnya itu habis terbunuh seluruhnya, maka Bie Liek dan Cung Tiang Lie melangsungkan perkawinan mereka.

Banyak persoalan yang telah mereka selesaikan, kemudian keduanya telah hidup mengasingkan diri di pegunungan Thian San. Pasangan suami isteri ini sangat rukun dan bahagia, sampai mereka dianugerahi oleh Thian beberapa orang anak.

Kedua pendekar yang telah mempunyai nama besar dan menggegerkan dunia persilatan dengan tindak-tanduk mereka yang sangat membenci kejahatan sama bencinya seperti musuh buyutan mereka itu, telah membuat penjahat-penjahat jadi menggigil ngeri kalau mendengar di kota mereka itu didatangi oleh pasangan pendekar tersebut.

Semua orang menyadari, bahwa kalau saja pasangan pendekar ini tidak hidup mengasingkan diri di pegunungan Thian-san, tentu dunia persilatan pada saat itu bisa aman, karena Bie Liek dan Cung Tiang Lie merupakan dua tokoh di rimba persilatan yang sangat disegani.

Sampai Kong-thio Sauw Lim Sie, seorang tokoh persilatan yang mempunyai kepandaian yang luar biasa, sering mengunjungi Bie Liek dan Cung Tiang Lie untuk tukar pikiran guna memulihkan keamanan dan ketenangan di dalam rimba persilatan tersebut. Juga sahabat-sahabat dari kedua pendekar ini banyak yang mengunjunginya.

Namun disaat setelah Bie Liek dan Cung Tiang Lie mempunyai anak sampai empat orang. Disaat putera puteri mereka telah berusia diantara enam tahun, maka tahu-tahu Bie Liek dan Cung Tiang Lie beserta anak-anaknya itu telah, menghilang dari pegunungan Thian San. Sahabat-sahabatnya yang mengunjungi pasangan pendekar ini jadi bingung mencari Bie Liek dan Cung Tiang Lie disekitar pegunungan Thian San. Namun Bie Liek rupanya memang sengaja telah menyingkirkan diri untuk hidup terasing dan jauh dari keramaian.

Sejak saat itulah maka orang-orang tak ada yang mengetahui dimana tempat pengasingan diri dari pasangan pendekat luar biasa itu. Biar bagaimana dunia berputar terus, dan kejahatan dan kebaikan saling berlomba untuk saling menguasai dan generasi selanjutnya masih banyak jago-jago muda yang bermunculan setelah Bie Liek dan Cung Tiang Lie lenyap dari dunia persilatan.

TAMAT