Gerbang Tengkorak Jilid 13

Jilid 13

Tetapi Cung Tiang Lie yang masih penasaran terus, telah melompat ke atas sebuah pohon yang tinggi. Sekali lagi dia mengawasi ke arah sekitar tempat tersebut.

Tiba-tiba selang sesaat, tahu-tahu dia berteriak-teriak.

“Hei   coba kau lihat       apa itu?” teriak Cung Tiang Lie.

Bie Liek sampai melompat dengan cepat, tubuhnya mencelat naik ke pohon tinggi itu. Cung Tiang Lie menunjuk kesuatu arah. Bie Liek mengikuti arah yang ditunjuk oleh Cung Tiang Lie.

Di kejauhan, dari arah bawah sebuah lembah, tampak mengepul asap hitam membubung tinggi. Itulah asap tambun. Dengan adanya asap tambun itu, dengan sendirinya tanda bahwa di lembah itu ada kehidupan manusia. Dan tentunya perampok- perampok itu bersarang di bawah lembah tersebut. Letak lembah itu memang baik sekali, kalau tidak disebabkan adanya asap tambun tersebut, tentunya Bie Liek dan Cung Tiang Lie tidak akan memperhatikan lembah itu. Dengan cepat, bagaikan terbang, keduanya telah melompat turun dan berlari-lari menuju ke arah lembah, dimana tampak asap tambun membubung tinggi.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie mengerahkan tenaga Ginkang mereka berlari dengan pesat, dan harapan mereka timbul kembali untuk dapat menemukan sarang perampok- perampok ganas yang akan mereka basmi tersebut.

Jarak asap tambun yang semakin tinggi membubung itu tampak semakin dekat. Dengan semangat yang kian bertambah, Bie Lek dan Cung Tiang Lie berlari semakin cepat. Mereka juga telah mengerahkan Ginkang mereka, sehingga tubuh kedua remaja ini ringan berlari bagaikan terbang saja layaknya.

Bie Liek sampai terlebih dahulu di mulut lembah. Tak lama kemudian menyusul Cung Tiang Lie yang sampai di situ.

“Bagaimana?' tegur Cung Tiang Lie ketika melihat di mulut lembah itu tidak ada seorang manusiapun. Bie Liek tersenyum.

“Coba kau dengarkan dengan teliti, bukankah itu suara manusia yang ramai sekali?” tanya Bie LieK sambil tetap bersenyum

Wajah Cung Tiang Lie jadi berseri-seri setelah dia memasang pendengarannya.

“Benar benar ” katanya cepat. “Itulah suara manusia-manusia yang ramai sekali. Hanya saja, jarak kita dengan mereka sangat jauh, sehingga tidak terdengar sesuatu apapun.”

Dan setelah berkata begitu, dengan sangat cepat sekali Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah melompat dan mereka telah berlari-lari dengan cepat luar biasa.

Mereka telah mengerahkan Ginkang mereka untuk memasuki lembah itu, karena lembab tersebut terdiri dari jalan yang berliku-liku dan kalau memang mereka tidak berhati-hati, mereka takut kalau nanti berjumpa dengan penjaga lembah itu, dan tentunya rencana mereka akan gagal.

Tak lama kemudian, setelah memasuki lembah itu sejauh lima belas lie, maka akhirnya dari kejauhan mereka melihat bangunan-bangunan rumah yang sederhana. Banyak sekali jumlah bangunan-bangunan itu. Dan Bie Liek bersama Cung Tiang Lie pun melihat bahwa di perumahan yang menyerupai seperti pesanggrahan itu banyak sekali terdapat orang.

Dengan menggunakan ilmu entengi tubuh mereka yang sempurna, Bie Liek dan Cung Tiang Lie memernahkan diri mereka di balik-balik batu gunung. Mereka bersembunyi di situ. Mereka mengawasi keadaan disekitar tempat tersebut dengan teliti. Bie Liek juga berlaku waspada sekali, dia meneliti keadaan di sekitar tempat tersebut. Ketika mereka sedang mengintai begitu, tiba-tiba tampak mendatangi dua orung bertubuh tinggi besar dengan rambut gondrong dan jenggot serta misai yang jembros.

Mereka tampak mendatangi ke arah Bie Liek dan Cung Tiang Lie dengan bercakap cakap. Rupanya ada sesuatu yang sedang mereka percakapkan dan tampaknya serius sekali.

Sewaktu kedua orang ini lewat dengan diri Bie Liek, pemuda she Bie ini memberi tanda kepada Cung Tiang Lie dengan kedipan matanya. Cepat luar biasa, bagaikan dua ekor harimau yang ganas, kedua remaja ini telah melompat menubruk kedua orang yang sedang mendatangi itu.

Kedua orang tersebut yang mempunyai jenggot dan misai yang jembros sekali jadi terkejut waktu tahu-tahu ada dua bayangan besar yang menubruk mereka. Baru saja mereka mau berteriak, maka tahu-tahu mulut mereka telah kejang, begitu juga tubuh mereka telan mengejang.

Sebab mereka telah ditotok oleh Bie Liek dan Cung Tiang Lie pada jalan darah gagu dan kaku tubuh mereka di bagian jalan darah Tay yang hiat dan Kiu na-hiat mereka.

o o o

DENGAN cepat Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah menggusur kedua orang tawanan mereka itu ke sudut balik batu-batu di lembah tersebut. Dan setelah menempatkan mereka di tempat yang sempurna, sehingga tidak akan mudah terlihat oleh siapa saja yang kebetulan lewat di situ.

Setelah itu, Bie Liek membuka totokannya pada salah seorang diantara kedua orang tersebut.

“Jangan kau main gila dengan kami!” kata orang yang baru terbuka totokannya itu dengan suara yang membentak.

Namun baru saja dia berkata sampai di situ, Cung Tiang Lie telah mengayunkan tangannya.

“Plakkk!” terdengar muka orang tersebut telah ditempelengnya. Seketika itu juga pandangan mata orang tersebut jadi berkunang-kunang. Dengan sendirinya, dengan cara begitu, maka pandangan orang itu jadi lain. Mereka jadi kaget dan takut.

“Kau perampok busuk coba kau jelaskan berapa besar jumlah kawan-kawan kalian?” bentak Cung Tiang Lie dengan suara yang bengis. “Kalau kau tidak mau bicara yang jujur, kami akan menyiksa kalian sampai akhirnya kau akan binasa dengan perlahan-lahan.” Perampok-perampok itu biarpun jeri, toh mereka memang sudah biasa menghadapi ancaman bahaya kematian. Menghadapi kedua anak muda ini yang kosen, biarpun mereka tampaknya jeri, toh tetap saja mereka mau mengunjukkan dan memperlihatkan kegarangan mereka.

“Hei bocah tahukah apa hukumannya bagi diri kalian kalau memang kawan- kawan kami mengetahui hal ini?” bentak orang yang ditawan Bie Liek.

Cung Tiang Lie tertawa dingin. Dan kembali tangannya bergerak.

“Gelepok!” terdengar suara yang nyaring sekali. Pipi orang itu telah kena ditempelengnya lagi.

Keras sekali tempelengan itu, sehingga kontan gigi orang tersebut rontok tiga dan orang itu teraduh-aduh.

“Jangan coba-coba kau mengancam kami!” kata Cung Tiang Lie dengan suara yang dingin, “Cepat kau sebutkan berapa besar jumlah kalian, hai perampok busuk?” bentak si gadis dengan menatap bengis sekali.

Perampok itu mengawasi Cung Tiang Lie sesaat, kemudian memandang Bie Liek, lalu dia jadi menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Si siapakah jiwie Siauwhiap?” tanya orang itu kemudian dengan suara yang agak tergetar.

Bie Liek jadi mengerutkan alis melihat kerewelan orang tersebut. Melihat wajah dan potongan tubuh orang tersebut dan melihat cara dengan orang tersebut, Bie Liek dan Cung Tiang Lie tidak meragukan lagi bahwa orang ini tentunya perampok-perampok yang sering mengganas.

Pada saat itu kawan si perampok yang seorangnya yang masih dalam keadaan tertotok dan belum dibebaskan, rebah tak bergerak. Namun pandangan matanya bisa memandang apa yang terjadi di dekatnya.

Dia juga melihat betapa kawannya yang seorang itu telah disiksa oleh tempelengan-tempelengan. Sehingga perampok yang seorang ini jadi agak mengkeret.

Apa lagi memang jiwanya lebih kecil dan penakut kalau dibandingkan dengan kawannya itu.

Bie Liek juga berpikir, kalau diberi hati, tentunya perampok-perampok yang biasanya hidup didalam alam kasar tidak akan mengenal takut. Tanpa pikir lagi, Bie Liek tahu-tahu mengangkat tangannya. Cung Tiang Lie menduga bahwa Bie Lek tentunya akan menempelerg perampok itu juga agar perampok tersebut memberikan keterangannya Tetapi begitu Bie Liek mengayunkan tangannya, dikala terdengar suara ‘Proookkk!’ yang keras sekali, Cung Tiang Lie jadi mengeluarkan suara seruan tertahan, mata si gadis jadi terbuka lebar. Wajah nona Cung ini juga jadi berobah pucat pasi.

“Kau ” kata nona Cung dengan suara yang tidak lampias.

Bie Liek tetsenyum sambil mengangkat tangan kanannya yang berlumuran darah. Ternyata perampok itu telah dihajar batok kepalanya oleh Bie Liek sampai hancur remuk dan darah bercampur poloh berhamburan keluar.

Itulah suatu perbuatan yang tidak pernah diduga-duga oleh Cung Tiang Lie akan dilakukan oleh Bie Liek. Perampok yang seorangnya juga biarpun dia dalam keadaan tertotok, toh tetap saja dia masih bisa menyaksikan apa yang terjadi.

Begitu melihat apa yang dilakukan oleh Bie Liek, dan melihat nasib kawannya yang menggeletak tak bernyawa dengan batok kepala yang hancur remuk, sementara perampok yang seorang ini jadi terbang melayang meninggalkan raganya, dia jadi ketakutan setengah mati, keringat dingin membanjiri keluar dan juga matanya mendelik ketakutan, apa lagi dilihatnya Bie Liek telah melangkah menghampiri dirinya dengan tangan kanannya itu masih berlumuran darah merah dan poloh dari kawannya yang telah dihajar remuk kepalanya oleh Bie Liek.

BIE LIEK telah mendatangi perampok itu dekat sekali. Dengan wajah yang bengis dan tatapan mata yang tajam sekali. Bie Liek mendelik memandang perampok yang sedang ketakutan tersebut.

Kemudian dengan menggunakan ujung kakinya, Bie Liek membebaskan totokan pada urat gagu perampok yang seorang ini, yang masih tertawan.

“Apakah kau ingin mengalami nasibmu seperti kawanmu yang cerewet itu?” bentak Bie Liek dengan suara yang bengis. “Apakah kau mau bicara secara baik-baik atau kau juga mau mampus seperti kawanmu itu?!”

Mata perampok yang seorang ini, yang masih hidup, mencilak memain tak hentinya.

Nyata dia ketakutan sekali. Keringat dinginnya juga telah mengalir keluar dari seluruh tubuhnya, sekujur badannya.

“Aku mau bicara aku mau bicara ” kata perampok ini dengan ketakutan.

Melihat orang ketakutan begitu macam, Bie Liek jadi girang. Usahanya untuk menggempur hati dari perampok ini dengan mengorbankan membunuh kawannya perampok itu, ternyata berhasil. “Hmm baik kalau memang kau mau bicara secara baik-baik, jiwamu akan kami ampuni, tetapi ingat, kalau memang kau bicara melantur dan tidak keruan, hmmm, biarpun kau mempunyai sepuluh kepala, tetap saja jiwamu akan kami kirim ke neraka

!”

“Ya, ya, ya!” sahut perampok yang seorang ini dengan ketakutan.

Dia benar-benar ngeri dan jeri akan dibunuh sama dengan kawannya yang kepalanya dihajar remuk oleh Bie Liek sampai keluar polohnya.

Dengan sendirnya, dia lebih baik memilih jalan hidup, dia akan bicara apa yang ditanyakan oleh Bie Liek, akan menerangkan seluruhnya.

“Kalian ini benar atau tidak perampok-perampok yang telah mengganggu penduduk-penduduk di kaki gunung beberapa hari yang lalu?” tanya Bie Liek selang sesaat setelah mengawasi perampok itu dengan pandangan mata yang tajam sekali.

Perampok tersebut tampaknya ragu-ragu, tetapi akhirnya dia mengangguk juga. “Ya ya ” sahut perampok tersebut dengan ragu-ragu meliputi dirinya terus. “Berapa besar jumlah kalian?” tanya Bie Liek lagi dengan suara yang dingin.

Kembali perampok itu jadi ragu-ragu, tenggelam dalam kebimbangannya. Melihat orang ragu-ragu, Bie Liek tertawa dingin dengan disertai pandangan mata yang dingin. Melihat sikap Bie Liek itu, mendengar juga suara tertawa dinginnya, perampok tersebut jadi ketakutan kembali. Dia teringat akan nasib kawannya yang binasa dengan kepala yang hancur. Dan perampok ini tidak mau mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh kawannya.

Dengan cepat dia menjawab pertanyaan Bie Liek.

“Kami semuanya berjumlah hampir lima puluh orang.” Sahut perampok itu akhirnya.

“Hmmm ada berapa orang jago-jago yang membantu kalian?” tanya Bie Liek lagi kemudian. “Maksudku jago-jago yang mempunyai kepandaian yang berarti.”

Kembali perampok itu ragu-ragu, namun begitu dia teringat akan nasibnya, maka akhirnya dia menjawab juga :

“Semua jago-jago mempunyai ilmu silat luar biasa berjumlah sepuluh orang.” sahut si perampok dengan suara yang sember, karena dia ketakutan sekali. “Mereka mempunyai kepandaian yang luar biasa sekali!”

“Siapa Tay-ong kalian?” tanya Bie Liek lagi.

“Say ma Ciu-hiap.” Sahut si perampoK dengan cepat. “Oh Tayhiap ampunilah jiwa anjing Siauwjin.” kemudian perampok itu menghiba. “Oh sungguh hina sekali kau menghiba-hiba begitu macam.” kata Cung Tiang Lie dengan mendongkol.

Tahu-tahu kaki Cung Tiang Lie telah melayang menjepak muka perampok itu.

“Aduhhh ampun!” teriak si perampok ketakutan dan kesakitan. Be Liek telah tertawa dingin lagi.

“Di mana markas dari Tay ong kalian itu?” tanya Bie Liek lagi.

“Di tengah-tengah dari bangunan yang lainnya, Tay ong menempati sebuah gedung yang berwarna merah darah, sedangkan yang lainnya umumnya berwarna hijau.” Sahut si perampok.

“Mengapa yang lainnya itu bangunan rumah tersebut berwarna hijau?” tanya Bie Liek lagi.

Perampok itu tampak gugup benar, dia gemetaran tak hentinya. Rupanya dia ketakutan sekali. Apa lagi melihat sorot mata Bie Liek yang memancar tajam.

“Semua rumah-rumah itu dicat hijau agar orang-orang dari atas lembah tidak mudah melihatnya, karena warna-warna hijau itu akan mengaburkan pandangan mata orang-orang yang mencari mereka, warna hijau dari rumah-rumah kami itu akan menyerupai warna rumput yang banyak tumbuh di sekitar tempat tersebut!” menerangkan orang tersebut dengan ketakutan sekali. Suaranya juga gemetar.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie tertawa dingin dengan suara yang tawar sekali.

“Apakah kau tidak mendustai kami?” bentak Bie Liek lagi dengan suara yang

bengis.

“Mana berani Siauw-jin berdusta! Mana berani Siauw jiu berdusta?” kata orang itu berulang kali.

“Apakah Tay ong kalian berada dikemahnya?” bentak Bie Liek lagi.

“Ada ada!” sahut orang tersebut dengan cepat.

“Baiklah!” kata Bie Liek sambil tertawa tawar. “Kau tidur dulu disini!” ''Oh jangan Tay hiap ampunnnn!” teriak orang tersebut ketakutan. Tetapi tangan Bie Liek telah bekerja menotok jalan darah dari orang itu.

Seketika itu juga orang itu mengejang kaku. Karena jalan darahnya telah tertotok. Orang itu telah pulas alias pingsan. Dengan hati-hati Bie Liek dan Cung Tiang Lie menuju ke arah perkemahan dari perampok-perampok tersebut.

o o o DENGAN mengerahkan Ginkang mereka, maka didalam waktu yang sangat singkat Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah berada di dalam pesanggrahan dari perampok itu.

Ramai sekali perampok-perampok itu berkumpul berkelompok-kelompok. Dan Cung Tiang Lie bersama Bie Liek dengan ber-sembunyi-sembunyi berhasil mendekati gedung yang berwarna merah, yang menurut keterangan dari perampok yang mereka kompres itu adalah gedung dari Tay ong mereka, si kepala rampok alias si raja gunung.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah melompat melalui jalan di atas genting. Mereka telah berada di atas gedung berwarna serba merah itu. Dari atas genting Cung Tiang Lie dan Bie Liek melihat bahwa di muka gedung itu diri jaga keras oleh empat orang yang bertubuh tinggi besar.

Tetapi disebabkan Ginkang mereka telah sempurna, Bie Liek dan Cung Tiang Lie tidak jeri. Mereka menyelinap tanpa seorang penjaga mengetahuinya. Dengan cepat sekali Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah melakukan penyelidikan. Mereka mengintai dan menyelidiki setiap kamar di dalam gedung itu. Dan ketika mereka sedang akan melompat ke bawah, mereka melihat di kamar sebelah timur api penerangan di kamar itu masih menyala. Cepat-cepat mereka menuju kesana.

Dengan menggunakan kedua kaki mereka menyantel pada payon wuwungan, maka kedua remaja ini telah menggelantung di situ seperti juga kampret.

Mereka masing-masing telah menggunakan lidah mereka untuk membuat lobang di kertas jendela. Dari lobang pada kertas jendela yang mereka buat itu, Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah mengintai ke dalam kamar.

Tampak segera seorang yang bertubuh tinggi besar, dengan potongan tubuh yang kekar dan tatapan matanya yang tajam sekali, menandakan dia seorang ahli Gwaa Khee, tenaga kasar, tengah duduk menghadapi seorang yang duduk membelakangi jendela, sehingga Cung Tiang Lie dan Bie Liek tidak bisa melihat rupa orang itu.

Hanya saja, Bie Liek dan Cung Tiang Lie seperti juga kenal dengan orang itu.

Tetapi mereka lupa, dimana mereka pernah berjumpa dengan orang itu.

Pada saat itu, orang yang bertubuh tinggi besar tersebut telah berkata dengan suara yang dingin :

“Mana mungkin dan benar-benar tidak masuk di dalam akal kau Loo-heng bisa dirubuhkan oleh dua bocah ingusan!” kata orang yang bertubuh tegap itu. “Benar-benar akan membuat perut jago-jago dirimba persilatan akan sakit disebabkan tertawa geli mendengar perihal kekalahan Looheng itu.”

Terdengar orang yang duduk membelakangi jendela tersebut telah tertawa tawar.

“Toocu tidak percaya keteranganku, bahwa kedua bocah setan itu seperti juga

siluman, kepandaiannya sangat luar biasa sekali.” kata orang tersebut. Dan ketika mendengar suara orang itu, seketika itu juga Bie Liek dan Cung Tiang Lie teringat, bahwa orang itu adalah si Pisau Terbang, kakek tua yang telah mereka rubuhkan beberapa saat.

Untuk meyakinkan dugaan mereka itu, maka keduanya memandang ke arah lengan kiri orang itu. Benar saja tampak baju di bagian pundaknya itu agak menonjol keluar, itulah tentunya kain pembalut luka, lagi pula lengan baju orang tersebut tampaknya kosong. Tentunya tak lain orang itu adalah si Pisau terbang.

Ternyata orang ini, si Pisau Terbang, mempunyai hubungan dengan kepala perampok tersebut dan yang pasti tentunya orang bertubuh tegap dan seperti seorang ahli Gwaa-khe itu adalah kepala perampok tersebut, yang bergelar “Say ma ciu Hiap” yang artinya si “pendekar Kuda Singa.”

Bie Liek dan Cung Tiang Lie memasang mata terus sambil mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Saat itu Say ma ciu Hiap telah berkata lagi dengan suara yang kasar sember :

“Mengapa kalau memang kedua bocah itu kosen dan liehay sekali, Looheng tidak mau memancing agar mereka mau masuk ke dalam sarang kita ini? Bukankah di dalam sarang kita ini kita akan dengan mudah menangkap mereka, dan dengan sendirinya setelah mereka kena kita ringkus, Looheng bisa melampiaskan rasa penasaran dan mendongkol Looheng itu.”

Terdengar orang yang bergelar si Pisau terbang itu tertawa tawar.

“Enak saja kau bicara Toocu.” kata si Pisau Terbang, “Apakah kau kira akan begitu mudah menangkap mereka? Bukankah kalau memang aku memancing dia memasuki daerah kita ini berarti kira akan membocorkan tempat pesanggrahan kita yang terahasia ini? Hmmm akupun bentrok dengan mereka disebabkan aku ingin mengusir mereka agar tidak berkeliaran di daerah sekitar tempat kita ininamun siapa nyana semuanya itu harus kubayar dengan mahal, dengan kehilangan lenganku yang sudah buntung setengah itu, hai sungguh celaka, berpuluh tahun aku berlatih diri, nyatanya oleh dua orang bocah ingusan saja aku bisa dirubuhkan lagi!” dan berulang kali si kakek pisau terbang itu menghela napas.

Nampaknya dia berduka benar.

Si Tay ong Say Ma Ciu Hiap berusaha menghiburnya dengan mengeluarkan kata- kata yang muluk-muluk.

“Kau pasti akan bisa menguasai kedua bocah itu, Looheng.” kata Say Ma Ciu Hiap. “Percayalah, kalau memang nanti kita mencari dia dan kita bisa menemukannya, aku pasti akan membikin puas hatimu!”

Si Pisau Terbang tertawa tawar.

“Mudah-mudahan saja sakit hatiku ini bisa terbalas!” katanya. Kepala perampok itu mengangguk. Tetapi dikala dia mengangguk begitu, pendengaran kedua oraag jago yang tajam luar biasa ini mendengar suara sesuatu yang ganjil di luar jendela. Tetapi Say Ma Ciu Hiap tidak menoleh. Begitu juga dengan si Pisau terbang. Mereka meneruskan percakapan mereka. Atau Say Ma Ciu Hiap menggerakkan tangannya.

“Rubuh kau kurcaci!” bentak Say Ma Ciu Hiap dengan suara yang bengis.

Tangannya yang bergerak itu telah melepaskan belasan jarum rahasia. Jarum rahasia itu mengandung racun. Dan juga meluncur ke arah jendela dengan cepat sekali.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie sendiri terkejut. Mereka memang mengetahui bahwa tempat persembunyian mereka ini telah diketahui. Sebab tiupan angin yang agak keras telah menerjang lobang jendela yang dibuat oleh Bie Liek dan Cung Tiang Lie, yang menimbulkan suara keresekan.

Dan begitu melihat Say Ma Ciu Hiap serta si Pisau Terbang menggerakkan tangan mereka masing-masing, dan belasan jarum-jarum rahasia menyambar ke arah jendela tempat persembunyian mereka, keduanya dengan cepat mengerahkan tenaga dalam mereka pada kedua kaki mereka yang menggaet payon itu, kemudian dengan cepat sekali, mereka telah melayang ke atas genting.

Sedangkan jarum-jarum rahasia yang mengandung racun itu telah menyambar menerobos kertas jendela. Lalu berhamburan jatuh meluruk di atas tanah dengan mengeluarkan suara dentingan halus. Menyusul dengan itu, terdengar bentakan dari suara Say Ma Ciu Hiap dan si Pisau Terbang :

“Jangan kabur!”

Menyusul mana tampak mencelat keluar kedua tubuh itu menerobos dari jendela. Tetapi Bie Liek dan Cung Tiang Lie memang tidak melarikan diri. Mereka berdua memang tetap berdiri di atas genting menantikan kedatangan dari Say Ma Ciu Hiap dan si Pisau Terbang.

Sedangkan kedua orang dinantikan Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah sampai dengan cepat di atas genting, karena ilmu entengi tubuh mereka juga sangat kuat.

Tetapi begitu sampai di atas genting, si Pisau Terbang mengeluarkan suara seruan tertahan, seruan kaget : “Kau ?”

SI PlSAU TERBANG begitu kaget, karena segera juga dia dapat mengenali bahwa kedua oreng yang ada di hadapan mereka itu adalah dua orang yang telah merubuhkan dirinya, yaitu Bie Liek dan Cung Tiang Lie.

Say Ma Ciu Hiap juga kaget melihat si Pisau Terbang begitu terkejut melihat kedua remaja ini. Lie. “Kenapa kau, Looheng?” tegur Say Ma Ciu Hiap dengan cepat.

Wajah si Pisau Terbang agak pucat, dia menunjuk ke arah Bie Liek dan Cung Tiang

“Merekalah yang kuceritakan kepadamu Toocu.” kata si Pisau Terbang dengan suara yang agak tergetar.

Say Ma Ciu Hiap mengawasi Bie Liek dan Cung Tiang Lie sesaat lamanya, seperti orang yang terkesima, tetapi kemudian dia telah tertawa dengan suara tertawanya yang keras sekali.

“Inilah lucu benar!” kata Say Ma Ciu Hiap dengan suara yang bergelak. “Apakah kau benar-benar kena dirubuhkan oleh bocah-bocah cilik yang masih ingusan dan menyusu pada tete ibu moyangnya?”

Mendengar perkataan Say Ma Ciu Hiap, betapa gusar dan murkanya Bie Liek dan Cung Tiang Lie.

“Kau kepala perampok yang bengis dan tidak berperikemanusiaan, hari ini adalah hari kematianmu!” bentak Bie Liek dengan suara yang bengis.

Mendengar perkataan Bie Liek, Say Ma Ciu Hiap seperti orang kaget. Lalu dia tertawa lagi.

“Oho, oho aku tidak menyangka bahwa ada seorang bocah yang berani berkata begitu kepadaku.” kata Say Ma Ciu Hiap dengan tertawanya yang gelak-gelak dan mengerikan, karena suara tertawanya itu mengandung rasa murka yang bukan main “Coba kau ulangi lagi.”

“Hari ini adalah hari kematianmu, hei raja perampok yang tidak tahu diri.” bentak Cung Tiang Lie mewakili Bie Liek membentak begitu.

Mendengar itu, Say Ma cu Hiap jadi tertawa gelak lagi. Tetapi mukanya telah berobah merah padam. Matanya mendelik mengawasi Bie Liek dan Cung Tiang Lie bergantian. Mulutnya tidak mengatakan sepatah katapun.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie menyadari bahwa kepala rampok ini tentu akan datang menyerang. Maka dari itu, mereka bersiap-siap untuk menjaga segala serangan yang akan dilancarkan oleh kepala perampok tersebut.

Malah Bie Liek juga telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan dilancarkan oleh kepala rampok ini, sebab Bie Liek dan Cung Tiang Lie menyadari bahwa biarpun kepala rampok tersebut hanyalah seorang ahli Lwee-khee, toh tetap saja setiap serangan yang akan dilancarkan oleh orang ini tetap membahayakan sekali.

Bie Liek juga berkata perlahan kepada Cung Tiang Lie. Lie. “Hati-hati! Orang ini cukup berbahaya!” kata Bie Liek memperingatkan Cung Tiang

Cung Tiang Lie mengangguk. Sedangkan beberapa orang anak buah kepala perampok ini tampak telah berlari-lari mendatangi. Bie Liek malah jadi tambah memperhatikan sekelilingnya, karena dia tidak mau kalau sampai dirinya nanti kena terkepung oleh orang-orangnya perampok tersebut.

Maka dari itu, biarpun dengan segala kewaspadaan itu Bie Liek telah memusatkan perhatian akan mencekuk batang leher dari kepala rampok itu. Karena didalam patokan Bie Liek, kalau memang dia bisa mencekuk batang leher kepala perampok itu, berarti dia akan bisa menguasai anak buah perampok tersebut.

Dengan sendirinya Bie Liek jadi mengawasi terus ke arah Say Ma Ciu Hiap. Say Ma Ciu Hiap sendiri rupanya telah gusar bukan main mendengar perkataan Bie Liek yang mengejek begitu macam.

Itulah sebabnya dia telah mendengus dan tertawa dingin dengan berulang kali dia menghembuskan napasnya dalam-dalam, karena dia sangat murka benar. Tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, kepala rampok ini telah menggerakkan tangannya. Tahu-tahu tiga belas batang jarum beracun telah menyambar ke arah Bie Liek dan Cung Tiang Lie. Membarengi dengan timpukan jarum-jarum beracunnya itu, Say Ma Ciu Hiap telah membarengi dengan melompat akan menyerang.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie yang memang telah bersiap-siap serta waspada, dengan sendirinya tidak sampai kena diselomoti oleh tipu iicik dari kepala rampok tersebut.

Melihat datangnya menyambar jarum-jarum yang cepat dan warnanya kebiru- biruan serta menandakan jarum-jarum itu mengandung racun, Bie Liek dan Cung Tiang Lie cepat-cepat mengempos semangat tenaga dalam mereka, kemudian dengan cepat kedua remaja yang kosen ini telah mengibaskan tangan mereka, sehingga jarum-jarum itu terpental tidak sampai mengenai diri mereka.

Waktu melihat raja rampok itu telah menyerang mereka, dengan cepat sekali, Bie Liek dan Cung Tiang Lie juga telah menggerakkan tangan mereka. Cepat luar biasa tahu- tahu mereka telah mencekal senjata mereka masing-masing.

Si Pisau Terbang yang pernah merasakan kekosenan kedua muda mudi ini jadi keder. “Toocu hati-hati terhadap mereka!” teriak si Pisau Terbang.

Si Toocu, si kepala perampok itu, mendengus saja mendengar peringatan kawannya itu.

“Mereka tidak ada artinya di depan mataku.” teriak kepala perampok itu. Dan membarengi dengan perkataannya, kepala perampok ini telah mencabut goloknya. Cepat luar biasa goloknya itu telah bergerak-gerak akan menyerang Bie Liek dan Cung Tiang Lie. Rupanya kepala rampok, ini sangat takabur dan kepala besar.

Buktinya dia telah melancarkan serangan-serangan tanpa memandang sebelah matapun kepada Bie Liek atau Cung Tiang Lie. Hal ini membikin mendongkol Cung Tiang Lie dan Bie Liek. Di dalam hati kedua remaja tersebut jadi berpikir dan membatin.

“Aku mau lihat, apakah setelah kau dirubuhkan oleh kami dan kami tewaskan, kau

masih bisa pentang bacot dan bersikap takabur begini?”

Dan dengan cepat sekali, Cung Tiang Lie serta Bie Liek telah melancarkan serangan-serangan yang mematikan bagi diri Say Ma Ciu Hiap.

Say Ma Ciu Hiap itu, yang sebenarnya mempunyai nama Ho Hiu San, selalu melancarkan serangan yang disertai oleh tenaga serangan yang besar dan kuat sekali. Dengan sendirinya, angin serangannya selalu menyambar dengan kuat sekali.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie bisa merasakan sambaran serangan-serangan itu dan mereka memaklumi akan santernya angin serangan tersebut, karena raja begal ini memang seorang ahli Lwee-keh, dengan sendirinya dia merupakan seorang jago bagian tenaga luar. Tidak heran kalau setiap serangannya selalu mengandung tenaga serangan yang kuat.

Dan Bie Liek melawan kekerasan itu dengan kelunakan, dia menggunakan tenaga Lwee-kangnya, tenaga lunak. Dengan sendirinya, waktu goloknya Say Ma Ciu Hiap kena ditangkis oleh Bie Liek, Say Ma Ciu Hiap jadi terkesiap hatinya. Karena tenaga serangannya seperti juga amblas ke dasar lautan.

Seketika itu juga dia jadi terkejut, cepat luar biasa dia berteriak :

“Kepung dan tangkap kedua bandit kecil ini!” teriak Say Ma Ciu Hiap kepada anak buahnya yang sudah banyak berkumpul di situ. “Jangan dibiarkan lolos!”

Seketika itu juga anak buah dari Say Ma Ciu Hiap jadi meluruk menyerang Bie Liek dan Cung Tiang Lie dengan berbagai senjata mereka.

Dengan sendirinya, Cung Tiang Lie dan Bie Liek repot juga dikepung begitu macam, apalagi si Pisau Terbang ikut menerjunkan dirinya untuk mengeroyok diri kedua muda mudi ini.

Dengan sendirinya, Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi repot juga. Biar bagaimana mereka hanya berdua, dikepung belasan orang, yang malah semakin lama semakin bertambah, sebab anak buah dari Say Ma Ciu Hiap itu semakin meluruk, menyebabkan diri dari kedua muda mudi ini agak ripuh juga.

Namun, karena mereka memang telah mengambil keputusan dan tekad yang bulat, biar apa saja yang terjadi memang mereka akan hadapi segala rintangan maut guna membasmi segala perampok-perampok jahat tersebut, menyebabkan kedua muda- mudi ini, Bie Liek dan Cung Tiang Lie, jadi bertempur terus dengan gigih.Mereka mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian mereka.

Dengan tekad biarpun binasa, mereka tetap akan mempertahankan prinsip mereka akan membasmi perampok-perampok jahat tersebut untuk membasmi kejahatan dan kejahilan di sekitar daerah pegunungan tersebut.

Dengan sendirinya, Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah mengambil suatu keputusan biarpun mereka harus binasa, toh tetap saja mereka akan melakukan pembasmian terhadap dari dari perampok-perampok itu. Dengan cepat sekali pertempuran seru telah terjadi di markas perampok itu.

Tetapi berhubung kepandaian Bie Liek dan Cung Tiang Lie memang lebih tinggi kalau dibandingkan dengan kepandaian dari orang-yang ada di situ, dengan sendirinya, mereka berada di sebelah atas angin, dan biarpun terkadang mereka sering terdesak oleh lawan-lawannya itu, toh Bie Liek dan Cung Tiang Lie selalu dapat menghadapinya dengan teratur dan tenang, karena mereka biarpun berdua saja, toh dapat bekerja sama dengan kompak, menyebabkan perlahan-lahan perampok-perampok itu seorang demi seorang jadi rontok dan dapat dirubuhkan terluka atau binasa.

Say Ma Ciu Hiap ketika melihat hal itu segera juga menyadari, kalau terus menerus hal itu terjadi, berarti akan membawa kerugian bagi diri pihaknya. Sebab itulah berulang kali Say Ma Ciu Hiap telah mengeluarkan seruan-seruan yang keras, dengnn begitu dia ingin memberi semangat tempur pada anak buahnya.

Namun tetap saja Bie Liek dan Cung Tiang Lie tidak dapat didesak oleh mereka.

Pertempuran masih berjalan terus. o o o

TETAPI biar bagaimana tangguh dan kosennya diri Bie Liek dan Cung Tiang Lie toh tetap saja dengan cara dikepung terus menerus toh semangat tempur mereka ada batasnya.

Setelah dikepung dan bertempur hampir setengah malaman, akhirnya toh Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi terdesak juga. Cepat luar biasa Cung Tiang Lie telah mengempos semangatnya. Dia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk bertempur. Dan Bie Liek juga telah mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Karena mereka menyadari kalau sampai mereka kena dirubuhkan dan ditawan para perampok itu, mereka bisa rusak dan akan disiksa atau dibunuh. Maka dari itu, Bie Liek dan Cung Tiang Lie tidak mau sampai kena dirubuhkan oleh perampok-perampok itu. Malah setelah bertempur sesaat lamanya, Bie Liek telah merobah cara bertempurnya. Dia telah melancarkan serangan-serangan khusus ditujukan kepada diri Say Ma Ciu Hiap.

Dengan cara menyerang dan cara bertempur begitu, Bie Liek dapat bernapas sedikit. Karena didesak Bie Liek begitu macam, terpaksa Say Ma Ciu Hiap jadi ripuh. Dan dia repot membela diri serta mengelakkan diri dari setiap serangan yang dilancarkan oleh Bie Liek.

Dengan sendirinya, karena dia repot mengelakkan dan memang tidak bisa mencurahkan perhatiannya kepada anak buahnya menyebabkan perkelahian itu agak kacau.

Apa lagi anak buabnya tidak berani terlalu merangsek Bie Liek, sebab kalau mereka merangsek dengan membabi buta, mereka takut mengenai diri pemimpin mereka yang berada berdekatan sedang bertempur dengan Bie Liek.

Dengan sendirinya pertempuran itu jadi tambah kalut. Hal itu membuat suatu keuntungan yang tidak kecil bagi diri Bie Liek. Dia malah mengempos semangatnya dan menyerang dengan semangat bertambah kepada diri dari Say Ma Ciu Hiap, si raja rampok itu. Dengan cepat sekali, pertempuran itu telah berlangsung sesaat lamanya lagi.

Si Pisau Terbang sendiri telah melancarkan serangan kepada diri Cung Tiang Lie. Dia telah membantu orang-orangnya Say Ma Ciu Hiap untuk mengepung si gadis. Di dalam anggapan si Pisau Terbang itu, dengan mengepung diri si gadis yang sedang terpencar dari diri Bie Liek, tentu akan lebih mudah untuk ditawannya.

Di dalam hal ini, si Pisau Terbang salah duga dan salah perhitungan. Karena dengan cepat dan gesit sekali, si gadis she Cung ini malah telah berobah seperti juga singa betina yang kalap. Pedangnya berkelebat-kelebat. Dan setiap pedangnya itu berkelebat, maka cepat sekali pedangnya itu mengenai sasarannya. Dan terdengar suara jeritan dari anak buahnya Say Ma Ciu Hiap.

Dengan sendirinya, hal itu menyebabkan si Pisau Terbang jadi kaget sendirinya. Dia tidak menduga bahwa biarpun si gadis bertempur seorang diri tanpa bahu membahu dengan diri Bie Liek, toh tetap saja kepandaiannya begitu hebat.

Malah hampir saja padi suatu kali, karena lengah, kepala dari si Pisau Terbang kena disapu pedang si gadis. Hal itu membuat si Pisau Terbang jadi berpikir dengan sendirinya. Dia menggidik. Hampir saja dia jadi korban kecerobohannya.

Coba kalau dia tidak keburu mengelakkan serangan pedang Cung Tiang Lie, bukankah berarti dia akan mati konyol. Teringat akan hai itu, si Pisau Terbang jadi menggidik dengan sendirinya. Dan dia mengempos semangatnya untuk bertempur lagi.

Namun sekarang Cung Tiang Lie tidak dianggap remeh lagi. Dan tidak dipandang enteng, si Pisau Terbang telah melakukan serangan-serangan yang disertai oleh tenaga serangan yang hebat, biarpun dia hanya menggunakan tangan kanannya saja, sebab tangan kinnya telah tersabet putus oleh pedang Bie Liek, toh tetap saja tangan dari si Pisau Terbang itu sangat hebat.

Cung Tiang Lie juga merasakan perobahan cara menyerang dari si kakek bertangan buntung yang bergelar Pisau Terbang ini, yang telah melancarkan serangan- serangan dengan suatu serangan yang hebat sekali.

Biar bagaimana, setiap serangan dari si kakek bertangan tunggal itu, hebat luar biasa, tidak bisa dipandang remeh. Maka dari itu, biarpun Cung Tiang Lie telah melakukan perlawanan sekuat tenaga, toh akhirnya terdesak hebat sekali. Apa lagi dia memang dikeroyok begitu banyak anak buah dari raja rampok Say Maa Ciu Hiap.

Berulang kali Cung Tiang Lie melirik ke arah Bie L:ek, dengan harapan agar Bie Liek dapat merubuhkan dan menyelesaikan pertempurannya itu dengan cepat sekali, agar Bie Liek bisa membantu si gadis itu.

BIE LIEK sendiri telah melakukan suatu pertempuran yang seru sekali. Setiap serangan yang dilancarkan oleh raja rampok dari Say Ma Ciu Hiap benar-benar hebat dan kuat sekali, setiap serangan yang dilancarkan oleh Say Ma Ciu Hiap adalah serangan- serangan yang mematikan.

Maka dari itu, Bie Liek juga dalam keadaan yang benar-benar gawat, karena dia harus mengerahkan hampir seluruh tenaga dan kepandaiannya agar dapat menghadapi diri si raja rampok tersebut. Say Ma Ciu Hiap melihat orang telah terdesak oleh serangan- serangannya yang berangkai, dia jadi tambah angin dan tambah bersemangat.

Dengan sendirinya, Say Ma Ciu Hiap melancarkan serangan lebih hebat lagi. Dan serangan-serangan itu umumnya adalah serangan-serangan yang mematikan.

Bie Liek sendiri telah melakukan penangkisan dan pembelaan diri. Selama bertempur Bie Liek juga memasang mata mempelajari ilmu silat yang sedang dikerahkan oleh raja rampok itu. Bie Liek mau mencari kelemahan orang yang bergelar Cay Ma Ciu Hiap tersebut.

Pertempuran mereka itu berlangsung hebat sekali, didalam waktu yang singkat, mereka telah melewati hampir seratus jurus lagi. Dengan begitu, dengan adanya serangan-serangan tersebut, mereka bertempur seperti juga sedang mengadu jiwa.

Pertempuran itu memang adalah pertempuran untuk mati atau hidup. Dengan sendirinya, dengan adanya pertempuran tersebut, membuat kedua orang in sedang mempertaruhkan jiwa mereka di ujung senjata masing-masing. Lengah sedikit saja, berarti mereka akan menemui kebinasaan. Dengan bengis Say Ma Ciu Hiap telah melancarkan serangan-serangannya. Dan Bie Liek juga selalu setelah mengelakkan serangan lawan, dia juga telah melakkukan serangan pembalasan.

Seru sekali jalannya pertempuran itu, sehingga debu dan pasir jadi beterbangan. Bie Liek berulang kali mengeluarkan seruan untuk melakukan penyerangan dan serangannya itu selalu dapat dipunahkan oleh Say Ma Ciu Hiap.

Begitu pula Say Ma Ciu Hiap, dia juga selalu gagal melakukan penyerangan terhadap lawannya, sebab Bie Liek terlalu gesit. Walaupun begitu, toh mereka masih terus mengerahkan dan kepandaian mereka masing-masing, untuk melakukan penyerangan.

Mereka seperti juga sedang adu jiwa, dengan begitu, pertempuran itu sangat hebat dan yang tampak hanyalah bayangan-bayangan mereka yang berkelebat cepat dan sinar atau cahaya golok atau pedang mereka masing-masing, yang saling samber dan mengincar jiwa lawan masing-masing.

Bie Liek mengempos semangatnya untuk merubuhkan lawannya yang tangguh ini. Biar bagaimana dia memang telah bertekad akan membunuh atau menundukkan kepala perampok ini. Kalau perlu membasmi semuanya berikut anak buahnya. Hal itu dilakukannya guna menegakkan keadilan dan ketentraman dari penduduk di sekitar daerah pegunungan tersebut.

Begitulah, sambil bertempur Bie Liek juga memutar otak untuk mencari jalan keluar agar dapat menundukkan kepala perampok itu. Begitu juga dengan diri Say Ma Ciu Hiap, dia telah melakukan serangan-serangan sambil berputar otak pula, karena dia sangat penasaran sekali, dia tidak bisa menundukkan Bie Liek yang di dalam pandangannya usia anak muda itu masih sangat muda sekali.

Pertempuran itu berlangsung terus. Sedangkan Cung Tiang Lie telah dapat merubuhkan dan melukai seorang anak buah dari Say Ma Ciu Hiap.

Hal itu membuat rampok-rampok tersebut jadi tambah kalap. Mereka melancarkan serangan lebih kalap iagi, sebab mereka biar bagaimana sangat penasaran tidak bisa merubuhkan si gadis yang biarpun telah dikeroyok begitu macam, dibantu oleh si Pisau Terbang, toh masih bisa terus mengadakan perlawanan dengan gigih.

Itulah sebabnya membuat rampok-rampok itu dan juga si Pisau Terbang jadi penasaran berbareng mendongkol. Apalagi tak lama kemudian Cung Tiang Lie berhasil melukai lagi salah seorang pengeroyoknya. Tangan orang itu telah kena diserempet pedangnya, sampai orang itu mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan hati.

Dengan sendirinya, orang ini cepat-cepat telah melompat mundur untuk menjauhkan diri dari Cung Tiang Lie, yang telah mengamuk terus dengan kalap seperti juga seekor singa betina yang sedang terluka. Dengan adanya pertempuran itu, maka keadaan di sekitar tempat tersebut jadi ramai oleh suara denting dari benturan senjata-senjata tajam yang sedang digenggam oleh mereka masing-masing. Pertempuran masih berlangsung terus.

Bie Liek setelah memperhatikan cara bertempurnya dari Say Ma Ciu Hiap untuk dapat mempelajari letak-letak kelemahan dari diri kepala rampok tersebut. Maka dari itu, dikala si kepala rampok ini tengah melancarkan serangan dengan menyabetkan pedangnya ke arah perut dari Bie Liek. Bie Liek sengaja tidak mengelakkan serangan tersebut.

Hanya saja Bie Liek telah menantikan tibanya serangan itu. Disaat jarak dari senjata Say Ma Ciu Hiap tinggal beberapa dim lagi dari bajunya dan hampir mengenainya, maka Bie Liek menyedot napasnya dalam-dalam.

Disaat perutnya melesak ke dalam, disaat itulah Bie Liek telah menggerakkan pedangnya. Cepat pedang itu berkelebat. Say Ma Ciu Hiap terkejut benar karena ia sedang melakukan penyerangan, atau tahu-tahu ada cahaya terang dari senjata lawannya yang datang menyambar.

Untuk menarik pulang serangannya jelas sudah tidak mungkin. Maka dari itu, mau tak mau dia harus berusaha untuk menarik pulang senjatanya dan melompat mengelakkan serangan yang dilancarkan Bie Liek. Bie Liek tidak mau membuang kesempatan itu. Dikala dia melihat orang akan mundur mengelakkan diri, maka cepat sekali Bie Liek telah membarengi menyerang lagi.

Hebat luar biasa serangan yang dilancarkan oleh Bie Liek. Sebab telah disusul oleh berkelebat pedangnya itu yang berulang kali dan berangkai, menyebabkan mata jadi silau, terdengarlah suara jerit kesakitan dari Say Ma Ciu Hiap, disusul lagi kemudian dengan tubuh Sav Ma Ciu Hiap yang terhuyung-huyung tidak mempunyai pegangan. Hampir saja tubuh dari raja perampok tersebut rubuh bergulingan di tanah.

Untung saja dia mempunyai kepandaian yang cukup tinggi dan memang sempurna, sehingga dia tidak perlu sanpai terguling di tanah. Namun Bie Liek mana mau membuang kesempatan atau yang ada, dia telah menggerakkan pedangnya lagi melancarkan erarg-an susulan kepada diri Say Ma Ciu Hiap yang kala itu masih belum mempunyai kesempatan untuk melakukan persiapan.

Cepat luar biasa cahaya pedang Bie Liek telah menyambar ke arah dada Say Ma Ciu Hiap. Raja perampok itu juga melihat sinar pedang lawannya yang menyambar ke arah dirinya. Dia mengetahui bahaya mengancam dirinya.

Saking kagetnya raja perampok itu sampai mengeluarkan suara seruan kaget. Tetapi sinar pedang telah menjurus terus ke arah dadanya dengan cepat, sehingga membuat si raja rampok ini jadi gelagapan dan bermandikan keringat dingin pada tubuhnya. Kesempatan untuk dapat mengelakkan serangan tersebut sangat tipis sekali sebab pedang Bie Liek telah menyambar dekat sekali, cepat dan bertenaga menjurus ke arah dada Say Ma Ciu Hiap.

o o o

SEMUA orang yang menyaksikan hal tersebut menduga tentunya Say Ma Ciu Hiap akan menjadi korban dari serangan Bie Liek. Dan Say Ma Ciu Hiap sendiri menduga bahwa dirinya pasti tidak akan dapat mengelakkan lagi serangan tersebut, dan disamping hatinya tercekat, diapun menjadi nekat serta menjadi kalap.

Seketika itu juga timbul di dalam hati Say Ma Ciu Hiap untuk mengadu jiwa dengan Bie Liek. Say Ma Ciu Hiap jadi mengambil suatu keputusan untuk binasa bersama dengan Bie Liek.

Maka dari itu, dengan cepat Say Ma Ciu Hiap tidak berusaha mengelakkan lagi serangan Bie Liek, melainkan dia juga telah menggerakkan tangannya yang mencekal senjatanya untuk mengadu jiwa dengan Bie Liek.

Bie Liek jadi terkejut melihat kenekatan lawannya itu. Dengan bergerak semacam itu, Say Ma Ciu Hiap segera juga memperlihatkan bahwa dia sudah tidak ingin hidup dan mau binasa bersama dengan Bie Liek.

Melihat kenekatan orang, Bie Liek yang jadi melompat mundur sambil menarik pulang serangannya. Cepat luar biasa Bie Liek menggeser tubuhnya menjauhkan diri dari Say Ma Ciu Hiap.

Melihat orang telah bergerak mundur disebabkan kenekatannya itu, Say Ma Ciu Hiap semakin memperoleh angin baik. Dia menduga orang jeri. Maka dari itu semakin menggila saja Say Ma Ciu Hiap melancarkan serangannya. Dan setiap serangan yang dilancarkan oleh Say Ma Ciu Hiap mengandung unsur mengadu jiwa.

Dengan sendirinya, hal itu membuat Bie Liek jadi melompat mundur berulang kali dan selalu berusaha membela diri dari setiap serangan. Dengan cepat sekali belasan jurus telah mereka lewati lagi.

Jurus-jurus selanjutnya dari serangan-serangan yang dilancarkan oleh Bie Liek dan Say Ma Ciu Hiap seperti juga terang-terangan nekat belaka. Hal itu mau tak mau membuat Bie Liek dan Say Ma Ciu Hiap terkurung di dalam kelebatan-kelebatan cahaya senjata mereka masing-masing. Melihat dari Say Ma Ciu Hiap telah nekat begitu, Bie Liek selalu berusaha menguasai diri dengan segala ketenangannya.

Sampai akhirnya dia dengan mengeluarkan seruan yang tinggi telah melancarkan serangan balasan untuk melihat dan mencari kelemahan dari Say Ma Ciu Hiap.

Dikala raja gunung itu tengah mundur mengelakkan ke belakang beberapa langkah jauhnya dari serangan Bie Liek, anak muda ini melihat ada lowongan. Bie Liek tidak mau membuang kesempatan semacam itu. Cepat luar biasa senjatanya telah berkelebat lagi menyambar ke arah Say Ma Ciu Hiap.

Disusul kemudian oleh suara ‘tring!’ yang keras sekali, kemudian tampak Say Ma Ciu Hiap mundur terhuyung, wajahnya pucat dan matanya mendelik. Tubuh Say Ma Ciu Hiap tampak kemudian mengejang sangat mengerikan sekali.

Bie Liek tengah memasukkan senjatanya ke dalam kerangkanya. Tenang sekali sikap Bie Liek.

Pertempuran antara Cung Tiang Lie dengan kawanan perampok itu juga jadi terhenti dengan terhentinya pertempuran antara Bie Liek dengan Say Ma Ciu Hiap.

Semua mata memandang ke arah Say Ma Ciu Hiap yang masih berdiri mengejang di tempatnya. Matanya masih mendelik. Tahu-tahu, tubuh Say Ma Ciu Hiap doyong, dan kemudian tanpa bisa ditahan lagi, tubuh Say Ma Ciu Hiap tersebut telah terhuyung- hunyung rubuh. Rubuh terkulai tanpa mengeluarkan suara jeritan.

Sedangkan jiwanya telah terbang melayang sejak dia masih berdiri mendelik, karena, perutnya telah kena didodes oleh ujung pedang Bie Liek. Semua orang yang menyaksikan hal tersebut, jadi mengeluarkan seruan kaget.

Wajah mereka jadi berobah pucat. Begitu pula Cung Tiang Lie. Gadis ini ikut terkejut melihat cara kematian yang diterima oleh Say Ma Ciu Hiap. Cepat luar biasa Bie Liek telah memutar tubuhnya menghadapi si Pisau Terbang.

“Kau telah kami ampuni jiwa anjingmu beberapa saat yang lalu, tetapi kau masih tidak tahu diri!” Kata Bie Liek dengan suara yang dingin. “Hmmm baiklah, hari ini jiwa anjingmu juga akan kami kirim ke neraka!” dan setelah berkata begitu, Bie Liek menghampiri si Pisau Terbang perlahan-lahan dengan langkah yang tetap dan pancaran matanya begitu tajam.

Tubuh si Pisau Teibang jadi menggigil ngeri. Tadinya dia sangat percaya akan kehebatan dan keunggulan kepandaian dari Say Ma Ciu Hiap, yang mungkin bisa diandalkannya.

Namun kenyataannya, Say Ma Ciu Hiap telah kena dibinasakan oleh Bie Liek. Maka dari itu, dia jadi ngeri dan jeri sendirinya Tetapi disebabkan perasaan malu pada dirinya, dia telah tertawa dingin untuk melindungi mukanya dari contrengan malu.

''Hmm kau bocah-bocah setan, ternyata kejahatanmu meluas!” kata si Pisau Terbang dengan suara yang dingin sekali. “Baiklah sekarang aku ingin melihat, apakah dengan caramu ini, kau bisa membasmi kami?”

Dan setelah berkata begitu, si Pisau Terbang bersiap-siap. Dia menantikan serangan orang. Biarpun si Pisau Terbang mengetahui bahwa dirinya tentu bukan lawan dari Bie Liek dan Cung Tiang Lie, namun dari pada menderita malu, dia telah mengambil

suatu keputusan untuk binasa saja. Bie Liek tertawa dingin, dia mengawasi si Pisau Terbang. Begitu juga anak buah Say Ma Ciu Hiap yang masih tersisa hidup, semuanya menatap dengan sorot mata yang mengandung perasaan takut.

WAKTU Bie Liek melangkah maju selangkah demi selangkah, maka keadaan jadi tegang benar. Semua mata saling pentang lebar-lebar, karena pertumpahan darah pasti terjadi. Lebih-lebih tangan Bie Liek perlahan-lahan telah meraba senjatanya. Dan juga Cung Tiang Lie telah bersiap-siap dengan senjatanya tergenggam keras di tangannya.

Anak buah dari Say Ma Ciu Hiap juga jadi keder untuk menghadapi kedua muda mudi yang lihay ini, menghadapi pasangau pendekar muda yang benar-benar kosen dan mempunyai kepandaian yang tinggi sekali.

Bie Liek tetah melangkah maju selangkah demi selangkah. Dan si Pisau Terbang menantikan dengan hati yang tegang benar. Tetapi dikala keadaan tegang begitu, tiba- tiba terdengar suara pentilan dari tali Pie-pee.

Disusul oleh nyanyian suara seorang wanita, yang perlahan, tetapi seperti mengandung kekuatan yang besar dan berpengaruh.

Darah telah tumpah di tanah, Nasi telah menjadi bubur, Penyesalan menyusul kemudian, Hidup di dunia ini berapa lama? Tak ada kenikmatan lagi di dunia,

Kalau memang manusia telah menyadarinya, Garam telah tawar, dan gula telah asin, Semuanya itu tak ada artinya lagi,

Angkat senjata untuk angkat nama, Angkat dada penuh keangkuhan.

Namun semua itu apa gunanya? Hidup ddunia ini berapa lama?'

Menggendong bayi penuh kasih sayang si air susu, Mencium membelai penuh kasih,

Tetapi kalau mengetahui sang bayi akhirnya harus toh kembali ke pangkuan, Untuk apa kita tumpahkan segala kasih sayang itu?

Tak ada lagi di dunia ini yang diharapkan, Toh semuanya kembali pula pada-Nya, Tak ada lagi didunia ini yang diharapkan, Manusia hidup didunia berapa lama?

Menyayatkan benar nada dan perkataan dari nyanyian wanita itu, karena suara itu menyanyikan lagu tersebut seperti juga orang yang sedang menangis, dengan disertai oleh pentilan tali-tali Pie-pee, maka keadaan jadi mengenaskan dan mendirikan bulu tengkuk.

Waktu semua orang menengok, maka tampak seorang wanita tua tengah berdiri di dekat tempat itu dengan di tangannya terdapat sebuah Piepee yang tengah dipentil talinya. Wajah wanita tua itu pucat sekali, tidak memperlihatkan suatu perasaan apapun. Dengan sendirinya, dengan keadaannya itu, dengan tubuhnya yang tinggi kurus juga menyebabkan semua orang jadi ngeri memandangnya. Sorot mata wanita tua tersebut beku kaku dan tidak menganjung perasaan apapun.

Dengan cepat sekali, perempuan itu telah membawakan lagunya itu. Dan setiap kata-kata yang terluncur dari mulutnya telah menyebabkan orang menggidik ngeri. Perlahan-lahan wanita tua tersebut telah berjalan selangkah demi selangkah menghampiri ke arah mayat dari Say Ma Ciu Hiap.

Ketika sampai di samping mayat itu, si wanita tua tersebut berhenti menyanyi, juga tangannya berhenti mementil tali-tali Piepeenya. Cepat luar biasa, cepat sekali, tahu- tahu perempuan itu itu telan menubruk tubuh Say Ma Ciu Hiap dan menangis tersedu- sedu dengan sedihnya.

“Koko kau telah lebih dahulu meninggalkan adikmu ini         oh, betapa menyedihkan sekali kematianmu ini.” meratap wanita tua tersebut.

Semua orang yang melihat hal tersebut, jadi memandang bengong. Anak buah dari Say Ma Ciu Hiap sendiri tidak mengenal akan diri wanita tua tersebut. Dan mendengar perkataan perempuan tersebut ratapannya, pasti dia adalah adik dari Say Ma Ciu Hiap, dan tentunya perempuan tua itu dengan Say Ma Ciu Hiap terdapat ikatan persaudaraan. Dengan cepat sekali, si perempuan tua tersebut telah menangis terus menerus. Begitu menyedihkan dan tersedu sekali tangis si perempuan.

Semua orang hanya memandangnya saja dengan tidak mengerti. Bie Liek dan Cung Tiang Lie juga memandangi saja wanita tua itu. Sampai akhirnya perlahan-lahan wanita tua tersebut telah bangun berdiri.

Dia bangkit dan menghapus air matanya. Dengan mata menatap ke arah mayat Say Ma Ciu HiaD, tangan perempuan tua tersebut mulai mementil tali-tali Piepee memperdengarkan lagu-lagu. Mulutnya juga telah mengumam perlahan-lahan menyerupai lagu. Dan semakin lama suaranya semakin keras, sehingga orang bisa mendengarnya lagu yang sedang dinyanyikan oleh perempuan tua tersebut:

Darah telah tumpah di tanah, Nasi telah menjadi bubur, Penyesalan menyusul kemudian, Hidup di dunia ini berapa lama? Tak ada kenikmatan lagi di dunia,

Kalau memang manusia telah menyadarinya, Garam telah tawar, dan gula telah asin, Semuanya itu tak ada artinya lagi,

Angkat senjata untuk angkat nama, Angkat dada penuh keangkuhan.

Namun semua itu apa gunanya? Hidup ddunia ini berapa lama?'

Menggendong bayi penuh kasih sayang si air susu, Mencium membelai penuh kasih, Tetapi kalau mengetahui sang bayi akhirnya harus toh kembali ke pangkuan, Untuk apa kita tumpahkan segala kasih sayang itu?

Tak ada lagi di dunia ini yang diharapkan, Toh semuanya kembali pula pada-Nya, Tak ada lagi didunia ini yang diharapkan, Manusia hidup didunia berapa lama?

Dan setelah menyanyi begitu, si wanita tua tersebut memandangi terus mayat dari Say Ma ciu Hiap. Dibawa oleh gelombang alunan suara nyanyian dari perempuan itu yang menyayatkan, maka keadaan jadi hening dan sunyi diliputi kesedihan yang sangat. Semua mata memandang pada wanita tua tersebut tanpa berkedip.

Kemudian tahu-tahu dengan tidak terduga, wanita tua itu telah memutar tubuhnya, dan memandang Bie Liek serta Cung Tiang Lie dengan sorot mata yang tajam sekali.

“Kalian memang sepasang pendekar yang berjalan di atas aliran yang baik.” kata wanita tua itu dengan suara yang sember. “Tetapi harus diketahui, bahwa dengan terbunuhnya Say Ma Ciu Hiap, kakakku ini, biar pun dia ini adalah seorang penjahat, toh tetap saja sakit bati dan hutang darah ini harus diperhitungkan.”

Dan setelah betkata begitu, matanya menatap dengan sorot mata yang tajam sekali. Keadaan jadi hening sekali.

Baru saja Bie Liek dan Cung Tiang Lie mau memberikan keterangan, tampak perempuan tua itu telah memenutil tali dari Piepeenya. Mendengung suara yang keras. Berbeda dengan suara Piepee yang tadi yang lembut dan menyedihkan.

Pentilan kali ini menimbulkan suara irama yang keras dan mengandung kekerasan serta juga kebengisan, seperti juga mengandung hawa pembunuhan dan mengandung sifat peperangan.

Bie Liek dan cuog Tiang Lie tidak mengerti apa maksud si wanita tua itu yang bukannya menyerang, malah telah memainkan Piepeenya. Tetapi belum sempat mereka berpikir banyak, tahu-tahu anak buah dari Say Ma Ciu Hiap telah bergulingan dan rubuh di tanah sambil mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan hati.

Melihat hal tersebut Bie Liek dan yang lainnya jadi heran dan terkejut. Atau belum hilang rasa terkejut mereka, atau juga mereka merasakan irama lagu itu seperti menyedot dan menyedot dan membetot-betot arwah dan jantung mereka, yang berdebar keras sekali. Semakin lama suara Piepee itu jadi semakin meninggi, dan tahu-tahu Bie Liek beserta Cung Tiang Lie telah kena dipengaruhinya. Begitu juga si Pisau Terbang, dia juga telah berobah seperti kehilangan pikirannya.

Semua orang seperti telah dipengaruhi oleh iramanya Piepee. Dan juga, anak buah dari Say Ma Ciu Hiap yang paling lemah tenaga Lweekang mereka, telah paling dulu pingsan, tak ingat akan diri. Bie Liek, Cung Tiang Lie dan Pisau Terbang yang kuat tenaga Lweekangnya, masih bisa mempertahankan diri, terapi mereka seperti hilang ingatan tidak bisa berbuat apa- apa, hanya menuruti bunyi irama dari pentilan lagunya si wanita tua itu, yang dikala mementilnya dengan keras, maka jiwa Bie Liek semuanya jadi keras dan beringas, tetapi begitu dipentil dengan irama yang lembutkan menyedihkan, mereka jadi menangis tersedu-sedu.

Inilah hebat sekali. Hal itu telah menandakan bahwa kekuatan Lweekang dari perempuan tua itu sangat tinggi sekali. Dia bisa menguasai lawan-lawannya itu dengan menggunakan kekuatan Lweekangnya.

Malah dengan cara ini, lawan bisa dikuasainya dan terbinasa tanpa terasa, disebabkan rasa letih mengikuti gelombang dan arus dari irama pentilan tali Piepee si nenek itu, seperti juga suara pentilan tali Piepee itu mengandung arus yang bisa menyedot dan membetot sukma manusia.

o o o

BlE LIEK dan Cung Tiang Lie jadi terkejut hebat sekali waktu mereka merasakan bahwa hati dan jiwa mereka tidak bisa dikontrol dan tidak bisa dikendalikan lagi oleh mereka. Bie Liek yang paling kuat Lweekangnya berusaha untuk mengendalikan perasaannya. Tetapi selalu saja dia gagal. Kalau memang irama dari pentilan tali Piepee si nenek berobah meninggi, maka si anak muda jadi melompat-lompat gelisah.

Lebih-lebih si nenek mengetahui bahwa daya tahan dari Bie Liek paling kuat, dengan sendirinya dia telah memperhebat mengerahkan tenaga Lweekangnya.

Malah si nenek tahu-tahu telah merobah cara mementil tali Piepeenya itu. Dia mementil irama yang sayu menyedihkan sekali, sambil mementil begitu, si wanita tua tersebut juga menangis tersedu-sedu menyanyikan sebuah lagu :

Suami telah meninggal,

Anak telah kembali ke pangkuannya, Tak ada harta milik yang berharga lagi, Aku ingin mati,

Menyanyi sampai di situ si nenek menangis terisak-isak sambil mementil terus tali Piepeenya. Hebat akibat dari lagu itu untuk Bie Liek, Cung Tiang Lie dan si Pisau Terbang.

Mereka bertiga jadi ikut-ikutan menangis terisak-isak dan mereka bergulingan di tanah. Juga mereka menjambaki rambut mereka sambil berkata tersedu didalam tangis mereka :

“Aku mau mati  aku mau mati saja ” teriak mereka. Dan Bie Liek, Cung Tiang Lie telah mengangkat senjata mereka.

Tetapi kedua jago ini biarpun telah dikuasai oieh irama lagu itu, toh tetap saja

Lweekang mereka kuat dan alam pikiran mereka sadar. Maka, dengan sekuat tenaga mereka telah menahan terangkatnya tangan mereka yang menggenggam senjata. Tetapi berbeda dengan si Pisau Terbang, yang menjerit-jerit mau mati, tahu-tahu dia menubrukkan kepalanya pada batu gunung yang ada di situ. Seketika itu juga tubuh dari si Pisau Terbang telah ambruk dan ngeloso di tanah tanpa nyawa lagi, kepalanya remuk hancur.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie tetap mencoba untuk mengendalikan diri mereka. Sedangkan wanita tua itu telah menyanyi lagi dengan suara yang menyayatkan diantara isak tangisnya dan mementil terus tali Piepeenya.

Sakit hatinya ditigggalkan orang yang dicintai, Pedih hati menghadapi kenyataan,

Binasa lebih enak dari hidup dipenderitaan, Tak ada gunanya hidup dalam lumpur, Mengapa tidak dipanggil secepatnya?

Mengapa dibiarkan hidup bertahan dalam tahun, Terkilir dan terkecoh,

Tergelincir dalam lumpur kenistaan, Tangis air mata tak ada gunanya,

Tangis air mata darahpun tak ada manfaatnya, Semuanya akan musnah tak ada artinya,

Lebih baik aku mati

Waktu menyanyi sampai pada kata-kata : Lebih baik aku mati, pentilan tali piepee itu meninggi, menyebabkan Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi melompat tinggi. Waktu tubuh mereka telah jatuh terduduk lagi di tanah, dengan cepat benar mereka menangis mengerung-gerung.

Menyayatkan benar suara tangisan mereka, menyebabkan tidak ada lagi di dalam pikiran mereka tersebut alam pikiran lainnya. Yang menyelubungi otak mereka hanyalah mati, mati, mati, mati saja. Tidak lebih dari itu. Dan Bie Liek telah memburu napasnya diantara isak tangis yang sebetulnya tidak diinginkan olehnya. Tubuhnya menggigil.

Biarpun Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah berusaha untuk bersemedi melawan daya betot sukma dari pentilan piepee si wanita tua, toh tetap saja tidak dapat. Darah mereka begitu deras mengalir di dalam diri mereka, juga bergolak cepat sekali, seperti juga akan meledak di dalam tubuh mereka.

Bie Liek maupun Cung Tiang Lie menyadari kalau mereka melawan terus, toh akhirnya jiwa daya tahan mereka pecah berantakan, berarti mereka akan binasa dengan konyol tanpa dalam keadaan sadar. Itulah hebat. Sekuat-kuatnya daya tahan mereka, kalau digempur terus menerus, toh akhirnya akan berantakan.

Si wanita tua tersebut melihat bahwa usahanya hampir berhasil. Dia jadi tambah bersemangat menangis dengan tambah sedih dan mementil terus tali-tali piepeenya.

Tubuh Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah menggigil. Mereka merasakan bahwa mereka memang hampir tidak kuat bertahan terus. TETAPI dikala jiwa kedua remaja ini terancam bahaya kematian yang konyol benar, di dalam benak Bie Liek terlintas serupa ingatan. Cepat benar dia telah teringat akan sesuatu, dan dengan sisa tenaga dan sisa kesadaran yang ada padanya, tahu-tahu Bie Liek telah melompat tinggi ke atas udara, dan sambil mementang mulutnya lebar- lebar, dia berteriak sekuat tenaganya.

Meledaklah suara yang disertai oleh tenaga Lweekang yang sempurna. Bergemuruh suara teriakan Bie Liek. Dibarengi dengan suara teriakannya itu, pulihlah kesadaran Bie Liek untuk sesaat.

Dengan tidak mau membuang kesempatan itu, karena kesadarannya itu diperoleh disaat suara pentilan tali Piepeenya wanita tua itu tertindih oleh suara teriakan Bie Liek, maka Bie Liek telah melompat dengan pesat, tangannya juga bergerak, pedangnya berkelebat. Terdengar suara jeritan yang menyayatkan diantara suara tring, tring, iring, berulang kali.

Tampak tubuh wanita tua itu telah rubuh terjungkal tidak bernapas lagi, karena pedang Bie Liek telah berhasil menusuk dada perempuan itu. Suara tring, tring tring, yang berisik itu, adalah suara putusnya tali Piepee perempuan tersebut. Dengan cepat Bie Liek mencabut pedangnya dari benaman tubuh perempuan yang mengaku sebagai adk dari Say Ma Ciu Hiap.

Dengan tubuh yang lemas karena tadi Bie Liek telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan tekanan suara pembetot sukmanya perempuan tua itu, Bie Lek menyeka keringatnya.

Dengan cepat Bie Liek menoleh ke arah Cung Tiang Lie. Dilihatnya si gadis telah pulih pula kesadarannya itu. Bie Liek cepat-cepat menghampiri. Dia membantu si gadis untuk bangun, karena gadis she Cung itu lemas dan letih. Harus dimaklumi Lweekang Cung Tiang Lie memang berada disebelah bawah dari Bie Liek, wajar kalau daya tahan si gadis lebih lemah dari Be Liek.

Coba kalau tadi wanita tua itu mempunyai kesempatan lebih lama lagi sedikit, tentu Cung Tiang Lie akan menjadi korbannya. Teringat akan kehebatan wanita tua itu, yang Lweekangnya luar biasa, yang bisa disalurkan melalui pentilan tali-tali Piepeenya, Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi menggidik sendirinya.

Nyaris mereka menjadi korban wanita tua itu dan binasa secara konyol. Dengan pandangan ngenas, Bie Liek dan Cung Tiang Lie melihat mayat-mayat bergelimpangan di sekitar mereka. oooOooo

BIE LIEK dan Cung Tiang Lie jadi saling tatap beberapa saat. Sedangkan si gadis, Cung Tiang Lie, telah menghapus keringat yang banyak mengucur dikeningnya.

“Luar biasa perempuan tua ini!” kata Cung Tiang Lie sambil menarik napas lega, menghembuskannya dengan perasaan yang agak gugup, karena nyaris saja dia jadi terbunuh secara konyol oleh nenek tua yang bersenjatakan Piepee, alat tetabuhan seperti mendolin. “Hampir saja kita mati konyol di tangannya.”

Bie Liek mengangguk.

“Ya!” membenarkan Bie Liek. “Memang luar biasa dan hebat benar nenek itu, yang membuat kita jadi begitu terpengaruh dan pikiran kita serta jiwa kita dikuasai oleh pentilan dan suara tali Piepeenya oh, benar-benar luar biasa sekali! Kalau kita terlambat sedikit saja, jelas kita menjadi korban konyol di tangan nenek tersebut!!”

Cung Tiang Lie mengawasi ke arah mayat si nenek dan Say Ma Ciu Hiap yang menggeletak tak bernyawa lagi dan disamping itu juga banyak mayat-mayat lainnya yang malang melintang, menyebabkan suasana jadi menyeramkan sekali.

“Mari kita tinggalkan tempat ini!” ajak Cung Tiang Lie dengan perasaan ngeri.

Bie Liek mengiakan. Mereka meninggalkan tempat tersebut. Selama didalam perjalanan menuruni gunung itu, Cung Tiang Lie masih sering mengemukakan, bahwa hampir saja mereka mati konyol di tangan nenek bertetabuhan Pie-pee itu.

Cung Tiang Lie sering juga mengemukakan bahwa dia merasa ngeri membayangkan betapa si Pisau terbang mati dengan cara yang begitu mengenaskan, binasa dengan membenturkan kepalanya pada batu gunung di dalam keadaan tak sadar, sebab si Pisau Terbang telah terkuasai alam pikiran dan jiwanya oleh bunyi Piepee si nenek, yang tali-tali Piepee itu dipentilnya dengan disertai tenaga Lweekang yang luar biasa sekali!

Untung saja, disebabkan tenaga Lweekang Bie Liek dan Cung Tiang Lie yang tinggi dan terlatih dan sempurna, menyebabkan mereka lolos dari pengaruh pentilan tali-tali Piepee itu dan suara pembetot sukma dari perempuan tua tersebut.

Hawa udara di pegunungan tersebut sangat dingin, burung-burung gagak banyak yang beterbangan, dan Bie Liek bersama-sama Cung Tiang Lie telah menuruni gunung itu.

o o o

DI LUAR KOTA Wong-lian-shia, yang tei-letak tiga puluh Lie dari pintu utara, tampak dua penunggang kuda yang tengah melarikan kuda tunggangan mereka. Pada saat itu udara dingin luar biasa, sebab hujan salju mulai turun. Biarpun belum lebat salju itu turun menyirami bumi, toh permukaan bumi telah diselimuti oleh salju yang berwarna putih bagaikan kapas dan menyilaukan pandangan mata, karena sepanjang mata memandang selain pohon-pohon gundul yang tertutup salju, juga seluruh jalanan telah tertimbun salju.

Kedua penunggang kuda itu adalah sepasang muda-mudi. Yang pemudanya mengenakan pakaian dingin berbulu tebal dan berwarna coklat tua, sedangkan yang gadis memakai baju dingin yang berwarna merah darah, yang wanita ini mempunyai kecantikan yang yang luar biasa, hidungnya bangir, alisnya bagaikan rembulan sabit, bibirnya kecil mungil, dan pipinya yang merah disebabkan udara yang begitu dingin, menyebabkan merah bagaikan buah tho. Mata si gadis jeli dan memancarkan semangat yang menyala-nyala, biarpun tampaknya kedua muda-mudi ini baru saja melakukan suatu perjalanan yang cukup jauh.

Ketika hampir sampai di pintu kota, si pemuda yang bermuka begitu cakap dan berkulit putih dengan rambut tergelung serta diikat oleh pita berwarna kuning, telah menghentikan kudanya dengan menarik les kudanya kuat-kuat sehingga kuda itu mencongklang dan kedua kaki depan binatang tunggangan itu terangkat tinggi sambil mengeluarkan suara ringkikan. Yang wanitanya juga telah menarik les kudanya ikut menghentikan larinya binatang tunggangannya.

Si gadis menoleh kepada kawan seperja-lanannya itu, tanyanya : “Kenapa Bie- ko?” tajam sekali mata si gadis waktu menanya begitu kepada si pemuda.

Si pemuda tersenyum sambil menoleh sekelilingnya.

“Betapa indahnya pemandangan di sekeliling kita!” kata si pemuda yang dipanggil Bie-ko itu. ”Ah, cuma saja aku mempunyai urusan besar yang harus kuselesaikan, aku harus mencari musuh-musuh besarku untuk melakukan pembalasan dendam dan sakit hati dari musnahnya keluargaku! Coba kalau tidak, aku ingin hidup tenteram di sebuah pegunungan dan melewati hari-hari dengan segala ketenangan tanpa mempunyai urusan apa-apa, karena tak ada perlunya merantau di dalam kalangan Kangouw, sebab kulihat hanya akan menambah musuh belaka!”

Si gadis mengangguk.

“Ya benar Bie-ko!!” kata si gadis membenarkan perkataan kawannya itu. “Aku juga

berpikir sama dengan apa yang kau pikirkan!”

Setelah berdiam sesaat lagi menikmati keindahan pemandangan di sekitar mereka itu, akhirnya si pemuda dan si gadis melanjutkan perjalanan mereka memasuki kota Wong lian-shia.

Siapakah mereka? Ternyata mereka tak lain dari Bie Liek dan Cung Tiang Lie. Kota Wong Lian-shia agak sepi, hanya tampak ada beberapa orang yang berlalu lalang dengan berpakaian baju dingin yang tebal, banyak toko-toko yang tutup, sebab musim dingin begini pembeli juga kurang.

Hanya tampak beberapa kedai teh dan arak yang masih buka, karena tampak juga beberapa orang telah singgah dan menghangatkan tubuh mereka di berbagai kedai-kedai arak yang terdapat banyak di kota Wong-lian-shia tersebut.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah berhenti di sebuah rumah makan berikut penginapan juga. Mereka menambatkan kuda mereka di pekarangan rumah penginapan tersebut dan memerintahkan seorang pelayan yang menyambut mereka itu untuk memberi makan kuda mereka.

Kemudian Bie Liek dan Cung Tiang Lie masuk ke dalam rumah makan, mereka memilih sebuah meja.

“Apakah lebih baik kita menginap di sini saja?” tanya Cung Tiang Lie pada Bie Liek dikala mereka telah selesai makan,