Gerbang Tengkorak Jilid 12

Jilid 12

“Hmmm, aku Cung Tian Lie tidak bisa didustai oleh sandiwaramu!!” dan setelah berkata begitu, kembali si gadis yang mengakui dirinya bernama Cung Tiang Lie telah menggerakkan tangannya, pedangnya yang dipakai untuk menyerang, sambil mulutnya juga mengeluarkan suara bentakan :

“Tahan jaga serangan!!” bentaknya dengan suara yang bengis, dan juga pedannya telah berkelebat membacok ke arah leher Bie Liek.

Melihat gadis ini benar-benar telah menyerang dirinya, Bie Liek mengeluarkan suara tertawa dingin. Cepat-cepat Bie Liek telah menggerakkan tangannya. Disaat pedang si gadis hampir menyentuh batang lehernya, Bie Liek telah menjepit batang pedang dengan menggunakan kedua jarinya, jari telunjuk dan jari tengahnya. Keras sekali jepitan tangan Bie Liek pada badan pedang di gadis.

Gadis yang mengakui dirinya bernama Cung Tiang Lie itupun terkejut sekali waktu badan pedangnya kena dijepit oleh jari tangan Bie Liek. Dia mengerahkan tenaga dalamnya, dia berusaha untuk menarik pulang pedangnya. Tetapi gagal.

Jepitan jari-jari tangan Bie Liek begitu kuat, sehingga jangankan dia dapat menarik pulang pedangnya, sedangkan untuk menggerakkan pedangnya itu di dalam jepitan Bie Liek, dia sudah tidak mampu. Maka dari itu, disamping kaget, gadis tersebut jadi kaget sekali.

Dia mengeluarkan suara seruan yang tinggi, menyatakan dia sangat murka. Dengan begitu, dengan caranya dia mengeluarkan seruan yang begitu melengking tinggi, si gadis bermaksud mengerahkan tenaga dalamnya, dan menarik pulang pedangnya.

Tetapi, pedang itu tetap terjepit keras di tangan Bie Liek.

“Tariklah dan kerahkanlah seluruh tenaga dalammu!!” kata Bie Liek dengan suara mengejek, karena dia mendongkol juga terhadap si gadis, sebab gadis itu telah menyerang dirinya tanpa tanya lagi.

Si gadis jadi tambah mendongkol dan gusar. Kembali dia mengerahkan tenaga dalamnya. Sambil mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, dia telah menarik pulang pedangnya. Tetapi tetap gagal. Pedang itu tetap tidak bergeming di dalam jepitan jari-jari tangan Bie Liek. Hal itu membuat si.gadis jadi gusar dan mendelu.

“Lepaskan   Lepaskan   pedangku, bangsat!!” bentak Cung Tiang Lie dengan suara yang gemetar.

Bie Liek tertawa tawar.

“Lepaskan? Melepaskan pedangmu ini begitu saja?” tanya Bie Liek dengan suara yang mengejek. “Hmmm tidak semudah apa yang kau inginkan! Kalau memang kau mau melepaskan pedangmu dari jepitan jari-jari tanganku, maka tariklah yang keras, kerahkan seluruh tenaga dalammu!”

Si gadis jadi tambah gusar, mukanya merah padam, dan dari keningnya mengucur keringat karena dia telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Tetapi pedangnya itu tetap tidak bisa bergerak, tetap berada di dalam jepitan jari-jari tangan Bie Liek.

Hal ini membuat Cung Tiang Lie jadi murka dan penasaran sekali. Dia jadi hampir mau mewek, mau menangis, karena dia bergusar dan murka kepada Bie Liek tanpa daya sama sekali. o o o  

MELIHAT si gadis she Cung itu hampir menangis, Bie Liek merasa dia telah cukup mempermainkan diri gadis itu, maka dari itu, dia mengendorkan tenaga jepitan pada jari- jari tangannya.

Dengan dilepaskan jepitan jari-jari tangannya pada pedang si gadis, dengan sendirinya si gadis jadi terhuyung-huyung, dan hampir saja dia terguling di tanah. Untung saja ilmu entengi tubuhnya cukup sempurna, sehingga dengan cepat dia bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Cepat luar biasa dia mengendalikan tubuhnya. Dan dia berpoksay dua kali diudara, kemudian dia bisa berdiri tetap di tanah kembali, sambil menatap Bie Liek dengan sorot mata yang bengis.

Betapa gusar dan penasaran hati si gadis, mukanya merah padam disebabkan rasa gusarnya itu. Matanya didelikkan menatap Bie Liek.

“Kau kau lelaki kurang ajar!” kata si gadis dengan suara yang gemetar disebabkan perasaan mendongkol dihatinya yang tidak bisa dilampiaskannya!

Bie Liek tersenyum dengan tenang.

“Aku atau kau yang kurang ajar?” balik tanya Bie Liek dengan suara yang sabar. “Hmmm tidak hujan tidak angin tahu-tahu kau telah menyerang diriku! Betapa kurang ajarnya manusia seperti kau ini!!”

Mendengar perkataan Bie Liek, muka si gadis jadi berobah tambah merah padam.

“Kau kau pemuda bangsat! Akan kubunuh kau!!” kata si gadis dengan suara yang bengis. “Sakit hati dari penduduk kampung ini akan kubalaskan!!” dan setelah berkata begitu, dengan kalap dan nekad, si gadis telah melancarkan serangannya lagi.

Bie Liek melihat biar bagaimana dia tidak bisa melawan si gadis dengan kelunakan. Dia bermaksud akan memberikan pelajaran yang cukup pahit pada gadis yang gede kepala ini. Dengan sendirinya, dengan cara begitu, Bie Liek bermaksud akan memberi pengertian kepada si gadis bahwa dia tidak bermaksud untuk bermaksud jahat kepada si gadis.

Dengan cepat disaat pedang Cung Tiang Lie tengah menyambar dengan cepat sekali ke arahnya, maka Bie Liek telah menggerakkan tangannya. Menggunakan jari telunjuknya, Bie Liek telah menyentil pedang si gadis yang tengah menyambar itu!

“Tringgg!” terdengar nyaring sekali tubuh pedang Cung Tiang Lie kena disentil oleh jari tangan Bie Liek dan pedang gadis itu telah terpentil melayang. Dengan sendirinya, pedang si gadis she Cung tersebut jadi mencong arahnya, dan terlepas dari cekalan si gadis she Cung tersebut, jatuh tersentil ke tanah!

Si gadis she Cung itu sampai mengeluarkan suara seruan kaget. Dia melompat mundur kebelakang dengan cepat sekali, mungkin dia benar-benar terkejut pedangnya sampai kena tersentil oleh Bie Liek. Diawasinya si anak muda she Bie dengan tatapan mata yang tajam.

Dia mengawasi dengan pandangan mata yang mendelong.

“Kau kau oh!” katanya dengan tergugu, dan juga suaranya gemetar sekali. Rupanya semangatnya terbang karena dia melihat betapa kosen dan liehay sekali anak muda she Bie ini, yang bisa hanya menggunakan jari tangannya telah menyentil terlepas pedang yang sedang dicekal dengan keras begitu. Dengan sendirinya, Cung Tiang Lie sampai berdiri bingung sesaat.

Bie Liek tersenyum dengan wajah yang cerah, tidak terlihat suatu perasaan apapun, sabar sekali sikap yang dibawakan oleh anak muda she Bie ini.

“Nona kau terlalu kesusu menyerang seseorang, dan kukira perlu juga kunasehati disini, bahwa pedang itu bukanlah barang mainan yang bisa dipermainkan begitu saja, sebab kalau memang sampai terjadi, sampai menusuk seseorang, bukanlah akan terjadi perkara jiwa?''

Mendengar perkataan Bie Liek, wajah Cung Tiang Lie jadi beruban merah padam

lagi.

“Hmmm kau terlalu banyak bicara!!”“ kata Cung Tiang Lie dengan suara

membentak. “Aku tidak perlu nasehatmu!”

Dan setelah berkata begitu, dengan cepat sekali si gadis telah memungut kembali pedangnya.

Bie Liek tetap membawakan sikapnya yang tenang, dia telah tersenyum.

“Jiwa itu bukanlah barang permainan yang gampang!” kata Bie Liek lagi. “Jiwa tidak bisa dipermainkan diujung senjata! Tadi kalau memang nona bertemu dengan seseorang yang hatinya terlengas, bukankah nora akan celaka di tangan lawan nona? Coba kau pikir-pikir, bukankah kalau memang tadi aku bermaksud jelek, apakah nona masih bisa berdiri tenang-tenang di situ?”

Kembali darah Cung Tiang Lie jadi bergolak gusar. Dia menganggap perkataan Bie Liek itu sebagai juga suatu penghinaan. Tegasnya di dalam anggapan si gadis bahwa dirinya tidak dianggap sebelah mata oleh Bie Liek. Hal itulah yang telah membuat si gadis jadi bergusar sekali. Saking murkanya, tubuh si gadis sampai gemetar dengan keras.

“Kau terlalu memandang remeh kepada diriku!!” teriak si gadis she Cung itu dengan suara yang gemetar karena saking murkanya. “Jagalah serangan!”

Dan setelah membentak begitu, dengan cepat sekali pedang yang ada di tangannya telah berkelebat dengan cepat sekali.

Pedangnya telah menyambar dengan cepat. Bie Liek melihat orang menyerang dirinya lagi, si anak muda she Bie ini telah tersenyum dengan sabar.

“Tenanglah! Tenanglah!!” kata Bie Liek sambil mengelakkan serangan-serangan si gadis, karena Bie Liek diserang oleh Cung Tiang Lie dengan serangan-serangan yang beruntun. “Jangan kau terburu marah! Aku tidak bermaksud menghina dirimu! Aku hanya bermaksud menasehatimu belaka!!”

Tetapi si gadis she Cung itu mana mau mengerti mendengar perkataan Bie Liek. Pedangnya telah menyambar terus dengan serangan yang berbahaya. Melihat itu, Bie Liek menghela napas.

“Baiklah! Kau terlalu mendesak diriku, nona!!” kata Bie Liek dengan suara yang keras. Dan kemudian membarengi dengan perkataannya itu, dia telah menggunakan kedua tangannya dengan cepat sekali, kedua tangannya itu telah berkelebat-kelebat dengan cepat, kemudian dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras, pedang si gadis tahu-tahu telah kena dirampas oleh Bie Liek!

Itulah suatu kejadian yang benar-benar luar biasa di dalam anggapan dari si gadis she Cung. Karena dia diserang dengan menggunakan kedua tangan belaka, dan malah anak muda she Bie itu telah berhasil merampas pedangnya. Itulah yang membuat dia jadi tercengang.

Jangankan untuk merampas pedang yang telanjang dengan segala ketajamannya dan juga memang sedang dipakai menyerang diri Bie Liek, sedangkan untuk menangkis saja, itu sudah merupakan suatu kejadian yang langka. Apa lagi sekarang Bie Liek telah berhasil merampas pedang si gadis.

Dengan sendirinya hal itu membuat si gadis jadi berdiri terpaku sesaat di tempatnya. Dia berdiri bengong mengawasi Bie Liek dengan kedua matanya terpentang lebar-lebar.

“Ini adalah suatu pelajaran bagi nona!” kata Bie Liek dengan sabar dan tenang. “Aku tidak bermaksud mencelakai nona, maka dari itu cukup hanya kurampas pedangmu, coba kalau memang aku bermaksud jeiek, bukankah kau akan celaka, nona? Hmm, tidak semua orang lemah dan mudah diperlakukan kasar dengan serangan-serangan membabi buta seoerti apa yang kau lakukan tadi, maka dari itu, janganlah lain kali nona sembarangan menyerang orang kalau memang nona belum lagi mengetahui dengan pasti bahwa orang itu bersalah atau tidak!”

Dan setelah berkata begitu, Bie Liek mengawasi si gadis dengan tatapan mata yang tajam. Si gadis juga masih berdiri terpaku di tempatnya dengan sorot mata yang bimbang. Setelah mempermainkan pedang yang dapat direbutnya itu sesaat, Bie Liek telah melemparkan pedangnya tersebut.

“Terimalah pedangmu itu!” kata Bie Liek.

Semangat si sadis seperti terbang waktu melihat pedang yang tadi dapat direbut Bie Liek dari tangannya tengah menyambar ke arahnya. Cepat sekali pedang itu menyambar ke arahnya.

“Ceeppp!” pedang tersebut telah menancap pada batang pohon yang ada di dekatnya. Pedang itu menancap dalam sekali, dan kepala pedang tersebut bergoyang- goyang dengan mengeluarkan suara mengaung, menandakan bahwa tenaga timpukan Bie Liek sangat kuat sekali!

Si gadis seperti terbang semangatnya, wajahnya pucat dan dia jadi berdiri diam mematung di tempatnya dengan kedua kaki yang dirasakan lemas sekali.

BIE LlEK jadi merasa kasihan waktu melihat wajah si gadis she Cung yang pucat pasi. Lebih-lebih dilihatnya bibir si gadis yang mungil itu gemetaran.

“Nah nona Cung janganlah soal ini kau pendam dihati dan sakit hati kepadaku! Aku ingin menerangkan kepadamu, bahwa aku tidak ada sangkut paut dengan kejadian di kampung ini, dan juga tidak mengenal para perampok yang kau katakan itu! Au baru saja tiba di kampung ini tadi beberapa saat yang lalu, dan kulihat kehancuran telah meliputi kampung ini disebabkan para perampok tersebut! Maka dari itu, janganlan nona tetap saja mencurigai aku adalah orang yang diutus oleh perampok-perampok jahat itu untuk memata-matai kampung ini!!”

Si gadis mengawasi Bie Liek dengan mata tak berkedip waktu si anak muda she Bie ini berkata-kata. Akhirnya mau juga dia mempercayai apa yang dikatakan oleh Bie Liek. Dia melihat di wajah Bie Liek tidak terlihat cahaya dari maksud jahat.

''Lalu lalu siapa kau sebenarnya?” tanya Cung Tiang Lie dengan suara yang jengah.

Bie Liek telah tersenyum lagi.

“Siauwtee she Bie dan bernama tunggal Liek!” kata Bie Liek memberikan penyambutannya. “Dan kau Cung Siocia, kuharap sekali lagi, janganlah persoalan tadi kau taruh dihati! Memang perkenalan tidak akan terjadi kalau tidak ada pertempuran!!”

Si gadis tersenyum jengah, rupanya dia malu sendirinya.

''Ya, aku terburu nafsu menuduh kau orang jahat!” si gadis she Cung tersebut mengakui kesalahannya itu. “Dan tanpa menyelidiki terlebih dulu, aku telah menyerang kau dengan serangan-serangan yang membabi buta! Aku memang bersalah, dan juga semua itu disebabkan perasaan sedih dan murka melihat kehancuran yang menimpa kampung ini! Akupun baru sampai tadi siang di kampung ini, dan betapa terkejut serta murka hatiku waktu menyaksikan apa yang telah terjadi di sini! Aku melakukan penyjelidikan dan bertemu dengan kau, maka dari itu, kuduga tentunya kau adalah orang-orangnya perampok-perampok itu!! Hmmm, memang diantara kita telah terjadi suatu salah paham, untung saja dapat diselesaikan dengan baik, tidak sampai berlarut- larut!!”

Bie Liek tersenyum.

“Kalau begitu kita satu tujuan, Cung Siocia, akupun memang mau mencari para perampok itu untuk membalaskan sakit hati dan rasa penasaran hati dari para penduduk kampung ini yang telah diobrak-abrik oleh para perampok itu! Nah, kalau memang kau bermaksud untuk membasmi perampok itu, kita bisa jalan bersama, kita boleh bekerja sama untuk mencari perampok-perampok itu dan melakukan pembasmian terhadap diri mereka! Bagaimana Cung Siocia?”

Si gadis tidak lantas memberikan penyahutannya, dia mengawasi Bie Liek sesaat.

Kemudian si gadis tersenyum.

Dia juga menganggukkan kepalanya sambil berkata : “Baiklah!!”

Bie Liek girang sekali.

“Hayo kita menuju ke sarang perampok itu untuk mengobrak-abrik mereka!” kata Bie Liek dengan suara yang girang.

Si gadis she Cung menyetujuinya. Dengan bersemangat keduanya menuju ke sarang perampok di perut gunung untuk melakukan pembasmian, karena mereka memang merupakan dua orang jago yang mem-punyai jiwa kesatria.

o o o

LUNG SAN merupakan gunung yang cukup besar. Tidak mudah bagi Bie Liek dan Cung Tiang Lie untuk cepat-cepat dapat menemukan sarang dari perampok-perampok yang telah melakukan huru hara di kampung yang terletak di kaki gunung Lung-san tersebut.

Tetapi Bie Liek dan Cung Tiang Lie tetap melakukan perjalanan mereka dengan bersemangat sekali, mereka memang telah mengambil keputusan, biar bagaimana mereka akan mencari terus perampok-perampok itu dan melakukan pembalasan sakit hati dari para penduduk kampung yang telah dihancurkan porak poranda oleh perampok- perampok jahat itu.

Ketika mereka sampai di sebuah lamping gunung Lung-San, sarang perampok- perampok jahat itu masih belum juga dapat ditemukan. Bie Liek menganjurkan kepada Tiang Lie untuk beristirahat. Mereka duduk di bawah sebatang pohon. Mereka duduk mengaso di situ. Cung Tiang Lie mengeluarkan bungkusan ransumnya. Dia membagi makanan kering kepada Bie Liek, mereka kemudian mulai bersantap makanan kering itu dengan bercakap-cakap.

“Apakah menurutmu perampok-perampok itu memang mempunyai sarang di gunung ini?” tanya Cung Tiang Lie dengan suara yang tidak begitu keras sambil mengunyah makanan keringnya.

Bie Liek mengangguk.

“Ya, kalau menurut keterangan dari kakek tua yang telah teraniaya sampai binasa oleh perampok itu, perampok-perampok itu mempunyai markas di gunung ini!!” Bie Liek memberikan penyahutannya. “Jadi biar bagaimana kita harus mencari terus markas mereka, pasti kita akan dapat menemukan sarang mereka itu!”

Cung Tiang Lie mengangguk. Kemudian si gadis menanyakan pengalaman Bie Liek sampai si anak muda ini bisa sampai di kampung di kaki gunung Lung-San itu.

Bie Liek belum mau menccritakan riwayat hidupnya secara keseluruhannya kepada si gadis. Dia hanya menceritakan bahwa dirinya adalah pengelana yang mau mencari pengalaman dikalangan Kang-ouw.

Kemudian Bie Liek juga menanyakan riwayat si gadis. Cung Tiang Lie menjelaskan keadaan dirinya.

“Aku masih mempunyai seorang ayah. Masih memrunyai seorang ibu!” kata si gadis she Cung sambil tersenyum. “Dan juga aku masih mempunyai dua orang kakak, seorang ciecie. Hidup kami sangat bahagia sekali, boleh dikata cukup mencicipi kebahagiaan hidup di rumah kami! Hanya saja, disebabkan aku ini senang berkelana, maka pada usia dua puluh tahun aku mulai merantau berkelana di dalam kalangan Kang- ouw, banyak sekali aku melakukan perbuatan baik dan menolong orang yang sedang kesusahan, sehingga dengan cepat banyak bandit-bandik dan Okpak-okpak yang mengenal diriku! Dengan sendirinya banyak juga orang sirik dan membenci diriku, mereka dendam dan sakit hati kalau kena dirubuhkan oleh diriku! Perlahan-lahan, aku mulai mempunyai banyak musuh, maka dari itu, aku harus bersikap hati-hati dan waspada. Tetapi aku tidak jeri, untuk melakukan perbuatan mulia dan kebaikan, aku bersedia untuk berkorban!”

Mendengar cerita si gadis, Bie Liek memuji jiwa si gadis yang begitu mulia.

“Betapa mulia dan agungnya jiwamu, Cung Siocia!” memuji Bie Liek. “Jarang sekali ada wanita yang mau melakukan apa yang telah kau lakukan!!”

Si gadis tersenyum, pipinya jadi berobah merah, dan tampaknya jadi semakin

cantik.

“Kau jangan terlalu memuji diriku!” kata Cung Tiang Lie dengan suara jengah.

“Coba kalau memang tadi aku bertemu orang jahat, bukankah aku telah celaka di tangannya? Memang harus kuakui, kepandaian yang kumiliki ini masih belum mencukupi dan juga belum sempurna! Maka dari itu, aku masih memerlukan latihan-latihan yang giat!! Untung saja tadi aku bertemu dengan kau, coba kalau tidak, tentu aku telah melakukan suatu perbuatan yang benar-benar menjadi penyesalan dihari nanti!”

Bie Liek tersenyum.

“Sudahlah! Kejadian yang sudah, biarkanlah sudah, janganlah kita ingat-ingat lagi! Semua itu hanya terjadi salah paham belaka! Tentang kepandaianmu, sebetulnya telah cukup tinggi, hanya yang kurang hanyalah latihan belaka!”

Dan banyak lagi kata-kata hiburan yang diucapkan oleh Bie Liek untuk si gadis. Keduanya makan rangsum itu cukup kenyang, setelah mengaso sesaat, mereka kemudian melakukan perjalanan lagi mtuk mencari tahu letak sarang perampok- perampok yang telah melakukan kejahatan itu. Sampai menjelang malam hari, keduanya masih belum dapat mencari sampai ketemu sarang dari perampok-perampok itu.

Akhirnya Bie Liek menyarankan agar mereka ni mengaso saja dulu untuk melewati malam. Jalan malam di gunung seperti Lung-san, sangat berbahaya sekali. Jelas benar bahwa di gunung Lung-san ini terdapat banyak sekali binatang-binatang buas.

Bie Liek telah membuatkan api unggun dan menyuruh Cung Tiang Lie untuk tidur. Sedangkan anak muda she Bie ini telah duduk bersila dan berjaga-jaga. Mereka akan tidur secara bergilir. Nanti disaat tengah malam, Bie Liek akan membangunkan si gadis. Dia tidur dan si gadis yang akan berjaga-jaga. Dengan cara begitu, mereka mau menjaga semangat mereka. Menjelang fajar, maka tampak pemandangan di gunung Lung-san sangat indah sekali.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah membersihkan tubuh mereka di sungai kecil yang terdapat di pegunungan tersebut. Kemudian mereka telah melakukan penyelidikan lagi di pegunungan itu. Namun sampai begitu jauh, mereka masih belum juga menemukan sarang perampok-perampok yang sedang mereka cari.

Menjelang tengah hari, Cung Tiang Lie dan Bie Liek mulai bimbang. Mereka berpikir, apakah tidak boleh jadi perampok-perampok itu bukannya bersarang di gunung tersebut?

Bie Liek dan Cung Tiang Lie mengambil keputusan mereka akan memutari gunung Lung-san satu kali lagi, kalau memang sampai sore hari mereka masih belum dapat mencari sarang perampok-perampok itu, maka mereka akan menyelidikinya ke tempat lain.

Tetapi menjelang tengah hari, mereka menemui sesuatu yang aneh. Yaitu ketika mereka sampai di dekat sebuah lapangan yang luas, tampak seekor kuda menggeletak di tanah tidak bernyawa. Di samping mayat kuda yang pecah hancur berantakan itu, tampak barang-barang yang berhamburan. Di sekitar tempat itu tidak tampak manusia atau binatang lainnya. Bie Liek berjongkok di dekat mayat kuda itu, dia memeriksa keadaan kuda tersebut. Dan dia melihat bahwa kepala kuda itu telah dihajar hancur oleh orang dengan menggunakan tenaga Lwee-kang.

Dengan sendirinya, jelas di sekitar tempat itu terdapat orang liehay yang mempunyai kepandaian yang cukup tinggi. Bie Liek mengawasi sekitar tempat itu, tetapi tidak tampak seorang manusiapun. Yang terdengar hanyalah suara kicau dari burung- burung dan juga suara-suara binatang-binatang gunung lainnya.

Cung Tiang Lie juga sangat heran sekali. Gadis inipun ikut mengawasi sekeliling tempatnya itu. Tetapi tetap saja di sekitar tempat tersebut sangat sunyi sekali. Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi saling mengawasi, mereka jadi saling pandang dengan heran.

“Inilah aneh!!” kata Bie Liek. “Kalau memang kita melihat cara kematian kuda ini maka kuda ini binasa terkena pukulan yang berat! Jelas orang yang menggaplok kepala kuda ini mempunyai tenaga Lwee-kang yang kuat sekali, sebab dia bisa memukul hancur tulang kepala kuda tersebut, lalu dimanakah orang yang telah memukul binatang ini?”

“Ya, inilah aneh!!” kata Tiang Lie juga.

Mereka jadi memandang keadaan sekeliling mereka dengan tatapan mata yang heran. Sampai akhirnya mereka mendergar suara jeritan yang melengking tinggi. Suara jeritan itu mendirikan bulu roma.

Benar-benar menyeramkan sekali suara jeritan itu, menyerupai suara jeritan hantu-hantu yang gentayangan, membuat tubuh Cung Tiang Lie jadi gemetar disebabkan rasa yang mengerikan itu.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi saling berpandangan lagi. Tidak ada sepatah katapun yang meluncur keluar dari bibir mereka. Kembali telah terdengar suara jeritan yang menyayatkan hati itu.

Jauh sekali jarak suara jeritan itu dibandingkan dengan tempat berdirinya Cung Tiang Lie dan Bie Liek. Suara jeritan yang menyeramkan tersebut menggema keras sekali. Kemudian lenyap kembali.

Bie Liek setelah berdiam diri sesaat, kemudian telah menjejakkan kakinya.

“Hayo kita lihat ke sana!!” kata Bie Liek dengan tubuh mencelat cepat sekali akan menuju ke tempat jeritan itu.

Cung Tiang Lie juga mengikuti jejak kawannya. Dia mengenjotkan kedua kakinya, tubuhnya mencelat melesat dengan cepat sekali. Mereka berlari-lari menghampiri arah suara jeritan yang menyeramkan tersebut. Jauh juga mereka berlarian, sampai akhirnya masih jauh terdengar suara jeritan yang menyeramkan itu. Hanya sekarang suara jeritan tersebut terdengarnya sudah dekat benar.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie melihat di depan mereka, di sebelah muka, tampak hutan kecil. Bie Liek dan Cung Tiang Lie menduga bahwa suara jeritan itu tentunya berasal dari hutan kecil tersebut.

Maka dari itu, keduanya telah berlari menuju ke hutan itu. Sebelum mereka sampai di pinggiran hutan kecil tersebut, telah terdengar suara jeritan lagi malah suara jeritan itu melengking tinggi dan lebih menyeramkan kalau dibandingkan dengan suara-suara jeritan yang pertama, melengking seperti juga suara jeritan hantu.

DENGAN cepat Bie Liek dan Cung Tiang Lie melompat masuk ke dalam hutan kecil itu. Tubuh mereka melesat dengan cepat sekali, waktu mereka melesat sampai dua puluh tombak lebih, maka tampak suatu pemandangan yang benar-benar mengerikan sekali dalam pandangan mata mereka.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie sampai menggigil ngeri menyaksikan apa yang mereka lihat itu. Kenapa?

Karena di hadapan mereka tampak seorang nenek-nenek tua yang mukanya berkerut, tengah menghajar tiga orang lelaki setengah baya yang bertubuh tinggi tegap.

Yang aneh, setiap kali si nenek menggerakkan tangannya, maka terdengar ketiga lelaki itu mengeluarkan suara jeritan. Dan suara jeritan yang menyeramkan, yang tadi didengar oleh Bie Liek serta Cung Tiang Lie adalah suara-suara jeritan dari ketiga orang itu yang sedang disiksa oleh si nenek. Tubuh ketiga orang lelaki bertubuh tinggi tegap itu melingkar-lingkar mungkin menahan sakit yang bukan main.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie tidak lantas bergerak, mereka berdiri terpaku di tempatnya mengawasi kejadian itu dengan mata terpentang lebar. Cepat sekali si nenek bergerak. Setiap kali tangannya berkelebat, maka tampak tubuh salah seorang ketiga lelaki bertubuh tinggi tegap itu terjungkal dan mukanya mencium tanah.

Dengan begitu, bisa dibayangkan betapa penderitaan yang diderita oleh ketiga lelaki bertubuh tinggi tegap itu. Mereka merintih dan menjerit kesakitan tanpa daya sama sekali. Tubuh mereka dipermainkan si nenek seperti juga bola yang dihajar pulang pergi tanpa daya sama sekali serta mereka tampaknya memang tidak berdaya untuk memberikan perlawanan kepada si nenek.

Dengan cepat sekali Bie Liek menoleh kepada Cung Tiang Lie. “Kita harus menghentikan perbuatan si nenek!” kata Bie Liek. “Kita harus

menolong ketiga orang itu dari penyiksaan si nenek!”

Cung Tiang Lie cepat-cepat menggoyangkan tangannya.

“Jangan! Jangan!” kata si gadis dengan cepat, dia mencegah sambil menoleh kepada Bie Liek. “Kulihat muka ketiga lelaki itu bukan orang baik-baik! Biarkan dulu apa yang dilakukan si nenek, nanti baru kita menanyakannya!”

“Tetapi kalau memang nanti mereka disiksa sampai binasa dan ternyata mereka itu orang baik-baik, bukankah kita akan menyesal, menyaksikan pembunuhan dengan berpeluk tangan tanpa mau turun tangan menolongnya?” kata Bie Liek dengan suara yang bimbang.

Si gadis she Cung itu jadi ragu-ragu, dia berdiri diam di tempatnya sesaat. Tetapi akhirnya dia mengangguk.

“Baiklah! Marilah kita tolong dulu ketiga lelaki itu, narti kalau memang ternyata mereka adalah orang-orang jahat, kita malah boleh menghajarnya lagi!!” kata si gadis dengan suara yang mantap.

Bie Liek juga mengangguk. Sedangkan pada saat itu si nenek masih juga menghajar ketiga orang lelaki bertubuh tinggi besar.

Satu kali, waktu si nenek sedang mencelat ke atas sambil mengayunkan tangannya akan menghajar lagi, ketika lelaki bertubuh tinggi besar itu telah menggulingkan diri di tanah sambil menjerit-jerit menangis : “Ampun! Ampun!!” teriak ketiga orang itu.

Tetapi si nenek tidak mau memperdulikannya. Dia terus juga mau menghajarnya. Tubuhnya telah meluncur turun akan menghajar ketiga orang tersebut. Tetapi disaat tangan si nenek sedang meluncur akan menghajar ketiga orang tersebut, maka tampak dua sosok tubuh yang mencelat ke arahnya dengan cepat.

“Tahan!” terdengar dua suara membentak begitu dengan keras. Juga dibarengi dengan suara : “Dukkk!” yang keras.

Si nenekpun merasakan tangannya agak sakit, karena tangannya itu seperti membentur benda keras. Si nenek sampai mengeluarkan seruan tertahan dan mencelat ke belakang.

Kaget sekali hati si nenek. Di hadapannya berdiri Bie Liek dan Cung Tiang Lie sambil tersenyum.

“Jangan menyiksa ketiga orang ini lagi, Loo tay tay!” kta Be Liek dengan suara yang lembut. ''Mereka sudah setengah mati dihajar terus menerus oleh Loo tay-tay.”

Mata si nenek jadi mencilak memain. “Jadi kalian adalah kawan ketiga perampok laknat ini, heh?” bentak si nenek

dengan suara yang ketus sekali.

Bie Liek jadi melengak ditanya begitu, dan juga Cung Tiang Lie jadi bengong si nenek bertanya begitu.

“Ketiga orang ini mereka perampok-perampok?” tanya Bie Liek dengan tergugu.

Si nenek mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin sambil mengangguk.

“Ya, mereka adalah tiga orang perampok-perampok jahat yang selalu mengganggu ketenteraman penduduk! Kalau kalian mau membela mereka, tentunya kalian ini juga adalah kawan-kawan mereka, berarti kalian adalah kawanan perampok juga, heh?”

Mendengar perkataan si nenek, Bie Liek berobah wajahnya jadi merah padam.

“Mereka perampok-perampok jahat itu?” tanyanya lagi.

MELIHAT lagak Bie Liek, si nenek telah tertawa dingin.

“Hmm kau pura-pura tidak tahu bahwa mereka itu adalah perampok-perampok yang harus dimampuskan, heh?” kata si nenek dengan suara yang dingin.

Tiba-tiba Cung Tiang Lie mengeluarkan suara seruan gusar sambil menarik pedangnya.

“Sreeettt!” pedang si gadis telah dicabut dari serangkanya.

“Akan kubunuh ketiga orang ini dengan tanganku untuk membalaskan sakit hati penduduk kampung di kaki gunung ini yang telah dibunuh dan dihancurkan rumah tangganya!!” kata Cung Tiang Lie dan membarengi dengan perkataannya itu, tubuhnya telah bergerak dengan cepat sekali, juga tangannya telah bergerak menusuk ke arah ketiga orang itu.

Beruntun terdengar suara jeritan yang menyayatkan hati. Tampak ketiga tubuh perampok itu, ketiga lelaki bertubuh timgi besar tersebut telah menggeletak tak bernyawa. Tubuh mereka kejang dan nyawa mereka putus pergi terbang menghadap ke Giam-lo-ong.

Si nenek jadi berdiri bengong.

“Kau kau   !” katanya tergugu dengan heran sekali.

Sedangkan Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah merangkapkan kedua tangan mereka memberi hormat kepada si nenek dengan membungkukkan tubuh mereka dalam-dalam. “Kami tidak mengetahui bahwa mereka adalah orang jahat!” kata Bie Liek dengan cepat. “Maka dari itu, Loo tay tay mau memaafkan kami atas kesalahpahaman kami tadi!!”

Mendengar perkataan Bie Liek dan melihat kelakuan si anak muda dan si gadis yang sopan santun, si nenek jadi senang, dia menghela napas sambil tertawa.

“Ya, ya, aku telah memaklumi akan tindakan kalian tadi! Sebetulnya aku kagum sekali, walaupun usia kalian masih muda sekali, toh kalian telah mempunyai jiwa kesatria, jiwa seorang Hohan, kalian selalu akan turun tangan membela kebenaran! Maka dari itu, aku bisa memaklumi atas terjadinya kesalahpahaman kita tadi! Kalian pun memang tidak bersalah, maka tidak perlu kalian meminta maaf kepadaku! Untuk selanjutnya, mengingat usiaku yang telah lanjut, maka cukup kalian memanggilku dengan sebutan Popo saja!!”

Bie Liek dan Cung Tiang Lie mengangguk.

“Baiklah Popo!” kata Bie Liek dan Cung Tiang Lie hampir berbareng.

Mereka sudah lantas memanggil si nenek dengan sebutan Popo. Si nenek tampaknya girang sekali. Dia menoleh kepada ketiga mayat yang menggeletak sudah tak bernyawa itu. Dan si nenek menghela napas, baru berkata :

“Mereka adalah penjahat-penjahat yang tidak tahu malu! Aku sedang mencari daun obat-obatan dan meninggalkan kuda tungganganku, tak tahunya mereka membunuh kudaku dan akan mengambil harta bendaku yang tidak berharga, untung saja aku keburu memergoki perbuatan mereka, maka tidak sampai terjadi barang-barangku itu lenyap disambar oleh mereka! Hanya aku merasa sayang, kudaku harus binasa dengan kepala hancur di tangan mereka, karena kepala dari kuda tungganganku itu telah dihajar oleh sepotong besi dengan keras sampai tempurung kepala kudaku itu hancur remuk.”

Bie Liek dan si gadis she Cung itu juga mengangguk mengerti waktu mendengar cerita si nenek.

“Maka dari itu, aku telah menyiksa ketiganya.” melanjutkan si nenek pada ceritanya. “Kalau memang aku lantas membunuh ketiga orang ini, tentu mereka akan binasa dengan hati yang lega, aku tidak mau itu, mereka harus binasa dengan penuh penderitaan, maka dari itu aku telah menyiksanya pulang pergi!”

“Mereka ini sebetulnya apakah perampok-perampok yang menghuni gunung ini Popo?” tanya Bie Liek waktu si nenek selesai dengan ceritanya.

Si nenek mengangguk.

“Ya, mereka adalah tiga orang anak buah dari perampok-perampok yang menghuni gunung ini! banyak sekali kudengar tentang kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh perampok yang mendiami gunung ini!! Sebetulnya aku ingin sekali

mendatangi perampok-perampok itu waktu melabrak mereka, namun disebabkan aku telah jatuh sumpah bahwa aku sudah tidak mau ikut mencampuri urusan keduniawian, maka aku tidak bisa melabrak mereka. Aku hanya bisa mendengar tentang kejahatan- kejahatan yang mereka lakukan itu dengan hati yang sedih dan berduka.” kata si nenek lagi dengan suara yang perlahan dan wajahnya memperlihatkan perasaan berduka.

Kemudian setelah berdiam diri sesaat lagi, setelah menghela napas pula, si nenek menanyakan kepada Bie Lek dan Cung Tiang Lie, mengapa mereka bisa berada di gunung itu.

Biek Liek segera menceritakan mengapa berada di gunung itu. Mereka menceritakan bahwa mereka tengah mencari sarang perampok itu, yang telah menghancurkan sebuah perkampungan di kaki gunung Lung-san tersebut.

Hanya sadia mereka sampai saat itu masih juga belum dapat mencari sampai ketemu sarang dari penjahat-penjahat itu.

Mendengar cerita si anak muda, nenek itu menghela napas.

“Alangkah biadabnya perampok-perampok itu!!” kata si nenek dengan suara yang serak. “Sebetulnya kalau memang aku Pian Sian Nie si tua bangka yang sudah mau masuk lobang kubur ini tidak terikat sumpahku sendiri, tentu akan mau melabrak mereka untuk memberikan pelajaran kepada mereka! Hanya saja aku terikat oleh sumpahku sendiri, sehirgsa aku tidak bisa berdaya apa-apa untuk membasmi mereka! Selain kalau memang mereka itu datang mengganggu diriku! Hai, aku menyesal telah mengucapkan sumpah yang kuucapkan dulu itu!! Coba kalau tidak, tentu aku bisa membantu kalian untuk membasmi mereka!!”

Dan setelah berkata begitu, si nenek berulang kali telah menghela napas. Bie Liek cepat-cepat tersenyum.

“Tidak apa Popo cukup kami berdua saja yang membasmi mereka, manusia- manusia yang tidak mempunyai guna itu!” kata Bie Liek.

Tetapi si nenek yang mengaku bernama Pian Sian Nie telah menghela napas lagi.

“Aku benar-benar menyesal tidak bisa membantu kalian! Tetapi biarlah, aku hanya bisa menyertai kalian dengan doaku, agar kalian berhasil membasmi penjahat-penjahat bengis tak beradab itu!”

“Terima kasih Popo!!' kata Bie Lie dan Cung Tiang Lie berbareng. “Terima kasih. Kami tentu akan membasmi mereka dengan sepenuh tenaga kami! Tenangkanlah hati Popo, pasti kami akan berhasil membasmi mereka!!”

Dan setelah berkata begitu, Bie Liek dan Cung Tiang Lie merangkapkan tangan mereka lagi, dia telah memberi hormat pula kepada si nenek Pian Sian Nie.

“Kami kira sudah cukup lama kami mengganggu waktu Popo, maka dari itu, ijinkanlah kami untuk berlalu!!” kata Bie Liek dan Cung Tiang Lie hampir berbareng. “Dan kalau memang kami nanti mempunyai kesempatan, tentu kami akan mencari Popo untuk menghunjukkan penghormatan kami lagi!”

Si nenek Pian Sian Nie mengangguk.

“Baiklah! Hatilah terhadap penjahat-penjahat itu, mereka tentu banyak akal muslihatnya!” kata si nenek.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie mengangguk.

“Ya kami akan waspada menghadpi mereka! Nah, selamat tinggal Pono!” kata Bie Liek sambil merangkapkan tangannya memberi hormat lagi kepada nenek Pian Sian Nie. Cung Tiang Lie juga telah merangkapkan tangannya memberi hormat. Kemudian mereka berlalu.

Si nenek Pian Sian Nie mengawasi kepergian kedua muda-mudi itu, akhirnya setelah Bie Lek dan Cung Tiang Lie lenyap dari pandangan mata mereka, maka si nenek menghela napas.

“Haiii gelombang yang di belakang mendorong gelombang yang di muka! Angkatan muda selalu menggantikan kedudukan angkatan tua!! Mereka adalah calon- calon Hohan yang patut dipuji, karena mereka mempunyai jiwa kesatria!”

Dan perlahan-lahan Pian Sian Nie melangkah pergi berlalu dari tempatnya itu. o o o

BIE LIEK dan Cung Tiang Lie telah memutari gunung itu lagi. Mereka yakin sarang para perampok itu pasti berada di gunung tersebut, karena mereka telah menemui ketiga perampok yang telab dibunuh oleh Cung Tiang Lie. Maka dari itu, mereka tetap mencari sarang perampok tersebut di gunung ini.

Menjelang sore hari mereka masih belum dapat menemui sarang dari perampok itu, tetapi mereka tidak berpjtus asa, mereka telah mengambil keputusan akan terus memutari gunung ini untuk mencari sampai ketemu sarang perampok-perampok itu.

Dan keinginan untuk mencari sampai ketemu sarang perampok-perampok itu telah menjadi suatu niat di dalam hati Cung Tiang Lie dan Bie Liek. Maka dari itu, kalau memang mereka belum dapat mencari sampai dapat sarang perampok itu, maka mereka tak akan berhenti didalam pencarian mereka tersebut. Biar bagaimana mereka berdua telah mengambil keputusan akan mencari sampai dapat sarang perampok itu.

Maka, mereka telah memutari pegunungan itu lagi beberapa saat lamanya. Waktu menjelang gelap, malam, maka kedua muda-mudi ini mengaso di bawah sebuah batu gunung yang besar. Mereka duduk mengaso di situ.

Dan, dikala mereka sedang mengasoh akan memulihkan semangat mereka dan melenyapkan rasa letih, tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi perlahan sekali : Burung gagak terbang,

Bagaikan kekasih yang telah pergi, Air laut bergelombang,

Tinggalkan aku seorang diri. Mengapa dunia begini kejam,

Tak mengenal perasaan ampun sedikitpun, Hanya pada Thian aku memohon, Pengampunan darinya,

Pergi datang bagaikan angin, Tak tampak tapi terlihat, Hampa dan isi menjadi satu,

Kenyataan semuanya tak berguna lagi, Pergilah pergilah

Suara orang menyanyi terdengar begitu dekat, suara orang itu biarpun perlahan toh terdengar jelas sekali oleh Bie Liek dan Cung Tiang Lie.

Kedua anak muda mudi ini telah menoleh dan mereka melihat seorang kakek dengan tangan kirinya buntung, pada tangan kirinya yang buntung itu terikat sebatang tali tambang yang panjang dan di ujung lain dari tali itu terikat sebilah pisau yang tajam dan mengkeredep kena tertimpa cahaya rembulan.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie hanya duduk diam mengawasi orang aneh itu yang datang menghampiri mereka. Sedangkan kakek bertangan buntung itu telah menahan langkah kakinya dikala dia telah sampai jarak antara belasan kaki dengan Bie Liek dan Cung Tiang Lie. 

Dengan sorot mata yang tajam sekali, seperti juga sorot mara kucing, tengah mengawasi Bie Liek dan Cung Tiang Lie.

“Siapa kalian berdua, mengapa pada hari demikian malam kalian masih berkeliaran di sini?” tanya kakek bertangan buntung itu dengan suara yang dingin dan sangat tawar sekali

Bie Liek cepat-cepat bangun. Kelakuan anak muda ini diikuti oleh nona Cung Tiang Lie. Si gadis pun telah berdiri, sehingga mereka jadi berdiri berendeng. Malah Bie Liek telah merangkapkan tangannya.

“Boanpwee Bie Liek dan ini nona Cung Tiang Lie mengunjukkan hormat untuk Loocianpwee,” kata Bie Liek dengan suara yang nyaring. “Siapakah Loocianpwee?” Bie Liek bertanya begitu, dia membawakan sikap begitu, karena dia melihat bahwa kek itu bukanlan orang sembarangan.

Lebih-lebih dengan tangan kirinya yang buntung dan melibatkan seutas tambang pada lengannya tersebut, dan juga pada ujung tambang itu ditambatkan pisau yang tajam berkilauan tertimpa cahaya rembulan, membuat mereka jadi mau menduga bahwa si kakek ini tentunya seorang pendekar yang luar biasa sekali serta mempunyai kepandaian yang tinggi tentunya.

Si kakek bertangan buntung telah tertawa tawar mendengar pertanyaan Bie Liek.

“Hmmm, kalian menanyakan siapa adanya aku ini?” tanya si kakek dengan suara yang tawar dan agak menyeramkan. “Gelaranku adalah ini !”

Dan setelan berkata begitu, tahu-tahu tangan kiri si kakek bertangan buntung tersebut telah bergerak dengan cepat sekali.

‘Srettttt’ tampak pisau yang dlibatkan oleh tali yang melibatkan tangan buntungnya itu telah berkelebat menyambar ke arah Bie Liek dan Cung Tiang Lie.

Cepat sekali sambaran dari pisau itu, bagaikan pisau terbang saja. Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi terkesiap hati mereka. Mereka kaget melihat cara menyambarnya pisau itu yang cepat dan bertenaga sekali. Dengan cepat mereka berbareng menjejakkan kedua kaki mereka. Tubuh muda mudi ini telah melambung dengan cepat ke udara.

Pisau yang dilancarkan serangan oleh kakek bertangan buntung tersebut meleset lewat di bawah kaki dari Bie Liek dan Cung Tiang Lie. Dan karena sasarannya seperti tahu-tahu lenyap dari pandangan matanya, pisau ilu telah menyambar terus, dan membabat sebatang pohon.

“Srettttt      ” terdengar suara begitu.

Tahu-tahu tampak batang pohon yang ada di dekat Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah kena dibabat dan tampak batang pohon itu jadi rubuh rubuh dengan mengeluarkan suara gabrukan yang keras.

Untung saja Bie Liek dan Cung Tiang Lie gesit, sehingga diri mereka tidak sampai kena diserang. Malah disaat rubuh mereka meluncur turun, keduanya telah menjejakkan kaki mereka lagi untuk menjauhkan diri dari kakek bertangan tunggal tersebut.

Si kakek telah menarik pulang pisau terbangnya, dia tertawa terkekeh, seperti juga suara tangisan iblis.

o o o

“DARI pisau itu saja tentunya kalian telah mengetahui siapa adanya gelaranku?” tanya si kakek bertangan buntung itu dengan suara yang dingin.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie tidak memberikan penyahutan. Mereka berdua hanya menatap kakek tersebut dengan tatapan mata yang tajam sekali. Kakek bertangan buntung tersebut telah tertawa terkekeh lagi. Kemudian katanya

:

“Akulah yang biasa digelari si Pisau Terbang!” kata si kakek dengan suara yang

bangga. “Dan kalau memang kalian mengerti bahaya dan mengerti selatan, cepat- cepatlah menggelinding enyah dari daerah ini!”

Dau setelah berkata begitu, kakek tersebut tertawa lagi dengan suara yang menyeramkan, karena suara tertawanya itu menyerupai suara tertawanya iblis yang sedang menangis.

Bie Liek tertawa dingin.

“Pisau terbang!” kata Bie Liek dengan suara yang dingin. “Kami dengan kau tidak saling kenal, mengapa tidak keruan juntrung kau telah menyerang kami? Apakah sebagai seorang angkatan tua kau tidak bisa dihormati?”

Mendengar perkataan Bie Liek, kembali kakek tersebut telah tertawa gelak-gelak.

“Aku tidak membutuhkan penghormatan kalian.” kata si kakek dengan suara yang menyeramkan. “Yang penting sekarang kalian mau menuruti perintah atau tidak untuk menggelinding enyah dari gunung ini?”

Bie Liek tertawa dingin lagi, tawar sekali suara tertawa Bie Liek tersebut. Tetapi baru saja dia mau berkata lagi, Cung Tiang Lie telah berkata lagi :

“Hmmm kakek cacat, kau terlalu takabur! Kau kira kami ini takut oleh sesumbarmu? Hmmm hayolah kau maju kalau memang kau mau coba-coba dengan kepandaian kami, mau merasakan kerasnya kepalan tangan kami!” dan setelah berkata begitu, berulang kali Cung Tiang Lie mendengus memperdengarkan suara tertawa dinginnya.

Wajah kakek tangan buntung yang bergelar Pisau Terbang tersebut jadi berobah merah padam. Napasnya juga memburu menyatakan kemurkaan hatinya.

“Kurang ajar! Kalian memang harus menerima kematian dan mampus di tanganku!” bentak si kakek dengan suara yang bengis sekali, dan membarengi dengan bentakan itu, kakek ini telah menggerakkan tangan kirinya yang buntung itu, pisau terbangnya telah menyambar dengan cepat sekali.

Bie Liek dan Cung Tiang Lie melihat menyambarnya pisau terbang lawan, mereka tidak mau membuang-buang waktu cepat sekali mereka telah bergerak.

Cepat luar biasa keduanya telah menggeser kedudukan kaki mereka, dan mereka telah menjejakkan kaki mereka mengelakkan menyambarnya pisau terbang lawan yang cukup berbahaya.

Pisau terbang dari si kakek telah menyambar dengan cepat. Namun waktu mengenai sasaran kosong, pisau itu tahu-tahu berbalik. Hebat cara berbalik pisau itu, karena telah menyambar lagi. Kali ini menyambar mengincar ke arah jurusan perut Bie Liek.

Anak muda Bie Liek jadi mengeluarkan seruan tertahan. Sedikitpun Bie Liek tidak menduga bahwa si kakek dapat merobah serangan dengan cepat.

Cung Tiang Lie yang melihat itu juga jadi mengeluarkan seruan, karena dia menguatirkan sekali akan jiwa dari kawannya itu. Tetapi Bie Liek mempunyai kepandaian yang tinggi sekali. Dengan cepat dia mengelakkan lagi sambaran pisau terbang itu.

Tetapi si kakek tangan buntung tidak menyerang sampai di situ saja. Pisaunya tahu-tahu telah berbalik dan menyambar lagi menyerang ke arah Cung Tiang Lie. Nona Cung sedang kaget melihat Bie Liek lagi terancam jiwanya. Hal itu membuat Cung Tiang Lie jadi berdiri sejenak terpaku di tempatnya. Atau tiba-tiba dia menjadi kaget dengan sendirinya, karena melihat pisau lawan menyambar malah mengincar ke arah dirinya.

Maka dari itu, dengan mengeluarkan seruan tertahan, Cung Tiang Lie telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat dengan cepat sekali, dia mengelakkan sambaran pisau terbang tersebut.

Bie Liek kala itu telah melihat bahwa kakek bertangan buntung ini tidak bisa dibuat main. Maka dari itu, cepat sekali dia jadi mencabut senjatanya. Dengan membolang balingkan pedangnya, Bie Liek melompat akan menyerang si kakek bertangan buntung itu.

Si kakek juga kaget sendirinya, karena berulang kali dia melancarkan serangan, toh selama itu dia tidak berhasil menyerang mengenai sasarannya. Jarang sekali dia mengalami hal demikian.

Apa lagi dia memang tidak memandang sebelah mata tadinya kepada kedua muda mudi tersebut. Dengan sendirinya dia jadi tambah terkejut setelah melihat kenyataan, selain gesit, Cung Tiang Lie dan Bie Liek ternyata mempunyai kelincahan yang luar biasa sekali. 

Si kakek jadi menarik pulang pisau terbangnya sambil mendelik. Namun belum lagi dia membentak, atau dia melihat Bie Liek telah menerjang ke arahnya.

Si kakek tangan buntung itu jadi kaget bukan main. Apa lagi melihat Bie Liek menyerang dengan pedangnya.

Dia sampai mengeluarkan seruan tertahan dan mencoba untuk mundur. Tetapi Bie Liek mana mau membiarkan kakek itu mengundurkan diri. Cepat luar biasa dia telah melancarkan serangan lagi dengan pedangnya.

Cung Tiang Lie juga yang melihat hal tersebut, telah melompat maju, dia juga telah mencabut senjatanya, melancarkan serangan-serangan yang berbahaya untuk menyerang kakek itu. Melihat si gadis membantu Bie Liek untuk mengeroyok dirinya,

kakek tersebut tambah kaget. Hal itu disebabkan kakek bertangan buntung, si Pisau Terbang ini telah melihat bahwa kedua muda mudi ini tidak bisa dibuat main-main. Kepandaian mereka tidak lemah.

Maka dari itu, dikala dia diserang oleh Bie Liek dan Cung Tiang Lie secara beruntun menyebabkan dia jadi mengeluarkan suara seruan tertahan, serta telah cepat-cepat melompat ke belakang. Dikala sedang melompat ke belakang begitulah, tangan kirinya telah bergerak.

Pisau terbangnya telah menyambar dengan cepat sekali. Dengan berkesiuran pisau terbang tersebut telah menyambar Bie Liek dan Cung Tiang Lie secara berbareng,

Sambaran dari pisau terbangnya si kakek bertangan buntung itu menyebabkan Bie Liek maupun Cung Tiang Lie mau tak mau harus melompat mengundurkan diri dan membatalkan serangan mereka.

Menggunakan kesempatan tersebut, kakek bertangan buntung yang bergelar si Pisau Terbang, jadi bisa menarik napas lega. Namun dia tidak tinggal diam. Tahu-tahu dengan secara berangkai pisau terbangnya itu telah menyambar ke arah Bie Liek dan Cung Tiang Lie secara beruntun, membahayakan sekali cara menyerang dari kakek bertangan buntung itu karena dia menyerang dengan serangan-serangan yang mematikan.

BIE LIEK dan Cung Tiang Lie telah melihat menyambarnya pisau terbang si kakek bertangan buntung itu secara beruntun. Hal itu menyebabkan mereka jadi harus mundur untuk mengelakkan serangan yang dilancarkan oleh si kakek bertangan buntung yang berbahaya tersebut.

Hebat sekali sambaran dari pisau terbang si kakek, membuat Cung Tiang Lie dan Bie Liek mau tak mau harus mengelakkan juga serangan-serangan yang dilancarkan si kakek, dan terpaksa mereka mengalah dengan melompat mundur ke belakang.

Tetapi si kakek ketika melihat bahwa dia telah dapat merebut posisi serta telah dapat merebut kedudukan yang baik dan berada di atas angin, dengan cepat dia tidak mau menghentikan serangan-serangannya, dia telah melancarkan serangan- serangannya lagi.

Malah serangan-serangan yang dilancarkan si kakek kali ini lebih hebat lagi. Bie Liek dan Cung Tiang Lie menyadari akan hal tersebut. Mau tak mau dia jadi harus mengelakkan serangan itu, tetapi Bie Liek yang lebih berani menghadapi risiko, telah menggerakkan senjatanya.

Tahu-tahu pedang Bie Liek telah menyambar. Dan cepat luar biasa tahu-tahu pedang Bie Liek telah menyambar memapas tali pengikat dari pisau terbang tersebut. Itulah suatu penangkisan yang sangat berbahaya sekali, karena sekali saja Bie Liek melakukan suatu kesalahan kecil didalam tindakannya itu, akan membahayakan jiwanya sendiri yang terancam bahaya kematian.

Cung Tiang Lie yang melihat hal tersebut sampai mengeluarkan seruan kaget. Tetapi Bie Liek sangat tabah. Pedangnya tetap digerakkan dan benar saja tali dari tali pengikat pisau terbarg dari si kakek bertangan buntung itu kena ditangkisnya. Namun tali itu sangat ulet. Tidak terputuskan oleh tangkisan pedang Bie Liek yang sangat tajam itu.

Hal itu membuat hati Bie Liek jadi tercekat kaget dengan sendirinya. Malah anak muda she Bie ini sampai mengeluarkan seruan kaget. Cung Tiang Lie cepat-cepat telah melompat menyerbu ke arah si kakek yang bergelar Pisau terbang tersebut, dia bermaksud akan menyerang si kakek guna menolong Bie JLek dari ancaman serangan selanjutnya dari si kakek. Hal itu menyebabkan keadaan sangat genting sekali.

Karena gagal menangkis memapas putus tali pengikat pisau terbangnya si kakek yang bertangan buntung itu, Bie Liek terpaksa harus bergulingan di tanah, sebab pisau terbang dari si kakek bertangan buntung itu telah menyambar ke arahnya terus dengan suatu serangan yang berbahaya sekali.

Dikala si kakek mau melanjutkan serangannya untuk menghajar Bie Liek dengan sambaran pisau terbangnya, dikala Bie LieK sedang ripuh bergulingan di atas tanah, maka cepat luar bibsa, Cung Tiang Lie telah melancarkan serangannya, yang membuat si kakek bertangan buntung yang bergelar Pisau Terbang jadi terkejut.

Dencan cepat sekali dia membatalkan serangannya. Kedua kakinya digeser kedudukannya. Kedua tangannya juga telah dirobah posisi kedudukannya. Dengan mengeluarkan seruan yang nyaring dan mengguntur, kakek bertangan buntung ini telah melancarkan serangannya. 

Kali ini dia melancarkan serangan berangkainya yang berbahaya ke arah Cung Tiang Lie. Hebat sekali serangan yang dilancarkan oleh kakek ini. Cung Tiang Lie menyadari akan bahayanya serangan yang dilancarkan oleh kakek tersebut. Maka dari itu, cepat sekali Cung Tiang Lie telah melompat akan menghidarkan diri dari sambaran serangan lawan, dan juga Cung Tiang Lie telah menarik pulang menghindari serangannya, agar tidak terjadi suatu bentrokan.

Memang tadipun Cung Tiang Lie telah melancarkan serangan hanyalah merupakan serangan mengancam saja, bukan serangan yang sesungguhnya. Melihat Bie Liek telah kena diselamatkan, maka dengan cepat sekali diapun berusaha untuk menyelamatkan dirinya, dan dia berhasil.

Alangkah mendongkol dan murkanya si kakek bertangan buntung itu. Dia sampai berjingkrak-jingkrak mengeluarkan suara bentakan-bentakan murka dan juga berusaha untuk melancarkan serangan-serangan yang mematikan ke arah Bie Liek yang kala itu telah melompat bangun untuk berdiri.

Tetapi Cung Tiang Lie yang melihat hal tersebut, telah cepat-cepat menyerang mengancam punggung si kakek bertangan tunggal itu.

Kalau memang kakek yang bergelar si pisau terbang itu meneruskan serangannya, berarti punggung si kakek juga akan menjadi sasaran serangan dari Cung Tiang Lie.

Hal itu juga disadari oleh kakek yang bergelar si pisau terbang. Dengan sendirinya, kakek tersebut tidak berani mengambil risiko pada dirinya. Cepat sekali dia telah menarik pulang serangannya itu.

Harus diketahui bahwa kalau memang orang di dalam suatu perkelahian mengalami suatu gangguan di dalam pikirannya karena dikacaukan oleh pengeroyokan, hal itu akan mengurangi banyak kewaspadaannya.

Dengan sendirinya, gangguan Cung Tiang Lie kepada diri kakek bertangan buntung itu berakibat banyak sekali pada diri kakek buntung tersebut, yang membuat si kakek yang bergelar si Pisau Terbang jadi kacau pikirannya disebabkan oleh hawa amarahnya. Disebabkan perasaan hawa amarahnya, menyebabkan setiap serangannya jadi kacau.

Itu memang telah diketahui oleh Cung Tiang Lie dan Bie Liek, dan memang mereka sengaja melakukan hal tersebut. Malah Bie Liek yang melihat hal tersebut dan telah melompat bangun, cepat sekali melancarkan serangan lagi. Berbareng itu Cung Tiang Lie juga telah melancarkan serangan pula.

Itulah serangan berbareng yang sangat membahayakan keselamatan jiwa dari si kakek bertangan buntung dan bergelar si Pisau Terbang. Mau tak mau perhatiannya jadi terpecahkan. Kalau memang dia mau menghadapi Bie Liek, berarti dirinya akan terancam keselamatannya dengan serangan yang dilancarkan oleh Cung Tiang Lie.

Itulah sebabnya, mau tak mau dia harus menghadapi dua serangan dari dua jurusan. Sedangkan dia bersenjata hanya satu pisau terbangnya itu saja.

Malah, dikala dia sedang bingung begitu, tahu-tahu pedang Bie Liek telah berhasil melibat tali pisau terbang dari miliknya.

Hal itu benar-benar mengejutkan sekali hati si kakek bertangan buntung tersebut.

Dia sampai mengeluarkan seruan yang nyaring, karena kagetnya.

Seruan itu menandakan dia benar-benar terkejut dan tidak menduga bahwa dirinya akan dapat dikepung begitu macam oleh dua orang jago yang masih ingusan didalam pandangannya. Betapa penasaran hatinya. Dengan berjingkrak dengan murka, kakek bertangan buntung ini telah berusaha untuk menarik pulang senjatanya dari libatan pedang Bie Liek. Namun tenaga Bie Liek sangat kuat sekali.

Dengan sendirinya pisau terbangnya yang melibat pedang Bie Liek tidak bisa ditariknya. Hal itu disebabkan oleh karena tenaga Bie Liek sangat kuat. Dan itu memang harus diakui oleh si kakek bertangan buntung itu. Dengan sendirinya pisau terbangnya tetap melibat pedang dari Bie Liek.

Sedang si kakek mengadu kekuatan dengan Bie Liek dan sedang tarik menarik dengan masing-masing mengerahkan tenaga Lweekang mereka, maka Cung Tiang Lie telah mengeluarkan seruan yang nyaring sambil menyerang.

Yang diserang oleh Cung Tiang Lie adalah punggung si kakek. Dengan sendirinya hal tersebut jadi mengejutkan benar hati si kakek. Kalau memang dia tetap mempertahankan diri menarik senjatanya itu, berarti dia akan kena ditikam oleh sambaran pedang Cung Tiang Lie. Tetapi kalau memang dia bergulingan di tanah, hal itu akan memalukan.

Biarpun dia akan dapat mengelakkan serangan yang dilancarkan oleh Cung Tiang Lie, toh tetap saja nama pamornya yang telah dipupuk beberapa puluh tahun akan hancur punah begitu saja. Hal itu tentunya akan memalukan dirinya sebagai seorang jago dari tingkatan angkatan tua. Dengan cepat otak si kakek bertangan buntung dan bersenjatakan pisau terbang tersebut jadi berputar dengan cepat sekali.

Tahu-tahu dengan nekad, kakek tersebut telah mengangkat kaki kirinya, kaki kanannya tetap seperti tertancap di tanah, tahu-tahu dengan mengeluarkan suara bentakan, kakek ini berusaha untuk menendang tangan Cung Tiang Lie.

Namun belum lagi tendangan dari si kakek berhasil mengenai tangan Cung Tiang Lie, maka cepat luar biasa Bie Liek telah membentak keras, tahu-tahu pedangnya telah berhasil dibebaskan diri libatan tali si kakek dan pedangnya itu telah menyambar cepat sekali. Sinar pedang berkelebat cepat luar biasa.

Disusul kemudian oleh suara jeritan kaget si kakek, karena tangannya telah berhasil digores oleh pedang Bie Liek.

Itulah mengejutkan hati si kakek benar, hatinya tercekat dan semangatnya seperti juga terbang telah meninggalkan raganya. Dengan sendirinya hal itu rmembuat dia jadi melompat mundur cepat luar biasa. Dan dia tidak berhenti didalam satu lompatan, melainkan telah melompat berulang kali.

Hal itu untuk menjauhkan Bie Liek dan Cung Tiang Lie, karena semakin dia bisa menjauhkan kedua pendekar muda tersebut, berarti dia akan dapat mengelakkan serangan susulan yang akan dilancarkan oleh Bie Liek dan Cung Tiang Lie. Sedangkan Cung Tiang Lie dan Bie Liek tidak melakukan pengejaran. Mereka diam di tempat mereka masing-masing mengawasi tingkah laku si kakek dengan di sudut bibir tersungging seulas senyuman. Senyuman mengejek dan memandang rendah pada diri kakek itu yang tadinya begitu sombong dan takabur sekali.

o o o

W A J A H kakek bertangan buntung yang bersenjatakan pisau terbang tersebut berubah pucat pasi dan matanya mendelik dengan murka menatap Bie Liek dan Cung Tiang Lie.

Sedangkan Bie Liek dan Cung Tiang Lie hanya mengawasi saja dari tempat mereka dengan memperlihatkan senyuman mengejek. Kedua remaja ini tidak mengejar dan tidak melakukan serangan susulan.

“Bagaimana kakek tua?” tegur Cung Tiang Lie dengan suara yang mengejek.

“Apakah kau masih menganggap enteng kepada kami berdua?”

Si kakek bertangan buntung itu jadi mendelik matanya mendengar ejekan dari Cung Tiang Lie tersebut. Tubuh si kakek juga jadi gemetaran. Nyata sekali dia sangat murka. Semua itu terlihat pada wajahnya yang merah padam. Bie Liek juga telah mendengus dengan suara yang tawar sekali.

“Aku juga ingin melihat apakah kau bisa menggelindingkan kami dari tempat ini atau tidak?” tanya Bie Liek dengan suara yang mengejek juga.

Mendengar perkataan Bie Liek, kakek itu jadi tambah murka. Dengan mengeluarkan suara mengguntur, kakek bertangan tunggal tersebut telah melancarkan serangannya dengan menggerakkan tangan kirinya yang buntung dan terikat tali yang berpisau tersebut.

'“Bocah-bocah setan, kau mau lihat apakah aku benar-benar tidak bisa merubuhkan kalian!” bentak si kakek dengan suara yang mengguntur. Dan sambil membentak begitu, maka pisau terbangnya telah melayang menyambar ke arah Bie Liek dan Cung Tiang Lie.

Hebat kali ini serangan yang dilancarkan oleh si kakek karena dia telah melancarkan serangan untuk mengadu jiwa, dengan sendirinya serangan yang dilancarkan oleh si kakek menyebabkan Cung Tiang Lie dan juga Bie Liek harus bersikap hati-hati.

Didalam hatï kedua muda remaja ini juga jadi berpikir.

“Siapa sebenarnya kakek bertangan buntung dan bersenjata pisau terbang ini?

Dan mengapa tampaknya si kakek begitu bernafsu ingin membunuh diri mereka?”

Hal itulah yang tidak dimengerti oleh Bie Liek dan Cung Tiang Lie. Tetapi kedua remaja yang kosen ini tidak bisa berpikir banyak-banyak sebab pisau terbang dari si kakek yang bergelar si Pisau Terbang telah melayang menyambar ke arah mereka dengan dahsyatnya.

Cepat luar biasa, Bie Liek dan Cung Tiang Lie telah merobah posisi kedudukan kaki mereka. Mereka cepat luar biasa, dan dengan gerakan yang benar-benar gesit, telah mengelakkan sambaran dari pisau mautnya si kakek.

Tetapi kakek bertangan buntung yang bersenjata pisau terbang tersebut sangat pe-nasaran sekali. Dengan sendirinya, dia telah berulang kali mengeluarkan suara seruan yang keras lalu cepat luar biasa, pisaunya telah menyambar kekiri dan kekanan berulang kali dan beruntun. Berbahaya benar serangan-serangan yang dilancarkan oleh kakek ini.

Dilihat dari cara menyerangnya dan tenaga serangannya yang digunakan, nyata benar si kakek telah nekad. Rupanya dia mau adu jiwa.

Hal itu disebabkan, pertama dia sebagai jago angkatan tua kalau memang sampai rubuh di tangan Bie Liek dan Cung Tiang Lie, akan memalukan sekali. Dia akan kehilangan mukanya. Dan hal yang kedua adalah, dia sangat penasaran sekali.

Disamping penasaran, kakek bertangan buntung yang bergelar si Pisau Terbang itu, sangat murka dan gusar karena setiap serangannya selalu dapat dielakkan oleh kedua remaja itu. Yang dapat diserang dan dihajar hanyalah tempat-tempat kosong saja. Itulah yang membuat si kakek menjadi gusar dan murka serta nekat.

Si kakek melancarkan serangannya dengan serangan-serangan yang mematikan dan juga untuk mengadu jiwa. Dia seperti juga tidak memikirkan lagi akan keselamatan jiwanya.

Tetapi Bie Liek dan Cung Tiang Lie tidak mau melayani kenekatan kakek itu. Malah Bie Liek berusaha untuk menundukkan kakek tersebut. Dia akan berusaha merubuhkan kakek itu tanpa membunuhnya.

Sebab kalau memang Bie Liek dan Cung Tiang Lie bermaksud untuk menurunkan tangan jahat membunuh kakek itu, hal tersebut sangat mudah dan mereka sudah dapat melakukannya sejak tadi.

Namun mereka masih mempunyai perasaan kasihan dan perikemanusiaan. Dengan sendirinya karena mereka tidak mengenal si kakek ini, dengan sendirinya mereka tidak sampai hati uutuk membunuh kakek tersebut.

Tetapi karena si kakek telah melancarkan serangan-serangan selalu dengan serangan-serangan yang kalap dan mengadu jiwa dengan nekat, hal itu menyebabkan Bie Liek dan Cung Tiang Lie jadi sulit untuk merubuhkan si kakek dalam keadaan tidak terluka.

Tadinya Bie Liek bermaksud akan merubuhkan si kakek dengan hanya

memutuskan tali pisau terbang si kakek. Tetapi hal itu sangat sukar sekali dilakukannya. Dengan sendirinya, tidak mudah Bi e Liek akan memutuskan tali pisau terbang si kakek. Si kakek sendiri selalu melancarkan serangan-serangan maut yang bisa membahayakan jiwa Bie Liek dan jiwa Cung Tiang Lie.

Sedikit saja Bie Liek dan Cung Tiang Lie lengah, berarti mereka akan binasa dan jiwa mereka akan dikirim ke neraka oleh pisau terbangnya si kakek.

Hal itulah yang tidak boleh dibuat main-main oleh kedua remaja ini. Mereka tidak bisa menganggapnya remeh, sebab kalau sampai mereka kena dirubuhkan, berarti mereka akan binasa tanpa ampun.

Namun rupanya kesabaran Bie Liek dan Cung Tiang Lie akhirnya ada batasnya juga. Mereka saling memberi tanda. Kemudian dengan berbareng keduanya telah melancarkan serangan secara berangkai. Melihat perobahan cara menyerang dari kedua remaja ini, membuat si kakek bertangan tunggal itu jadi terkejut sekali. Hatinya tercekat. Juga dia terkesiap melihat hebatnya serangan yang dilancarkan sekarang ini oleh Bie Liek bersama-sama dengan Cung Tiang Lie. Dengan sendirinya si kakek jadi bermandi keringan dingin.

Dia mengeluh di dalam hati, menduga bahwa riwayat hidupnya akan tamat di tangan kedua remaja yang masih muda sekali usianya. Tetapi sebagai seorang jago kawakan si kakek bertangan buntung itu, yang merupakan seorang tokoh di rimba persilatan tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan bertempur terus sampai napasnya yang terakhir.

Maka dari itu, dengan gigih dia memberikan perlawanan terus. Dan Bie Liek bersama Cung Tiang Lie melihat itu. Bie Liek tertawa dingin.

“Telah cukup banyak kami mengalah, maka sekarang terimalah serangan kami!” dan setelah berkata begitu, cepat sekali Bie Lek melancarkan serangan yang berangkai beberapa jurus.

Begitu juga dengan Cung Tiang Lie yang melancarkan serangan berangkai juga.

Cepat sekali mereka jadi mengepung diri si kakek bertangan buntung itu.

Kenyataannya si kakek jadi kelabakan dan kewalahan menghadapi serangan- serangan yang berangkai yang dilancarkan terus menerus oelh Cung Tiang Lie dan Bie Liek berbareng.

Itulah hebat sekali, keringat dingin jadi mengucur deras di tubuh si kakek bertangan tunggal dan menggunakan senjata pisau terbang itu.

o o o SATU kali dengan mengeluarkan suara bentakan yang nyaring sekali, Bie Liek menjejakkan kakinya, tubuhnya melambung tinggi lima kaki lebih, dia telah mengayunkan pedangnya.

“Lepas!!” bentak Bie Liek dengan suara yang nyaring sekali. Maksud Be Liek akan memutuskan tali pisau terbang dari si kakek yang bergelar si Pisau Terbang itu.

Tetapi tali pengikat pedang di tangan si kakek itu kuat dan alot, sehingga tidak bisa terputuskan. Hal itu membuat Bie Liek jadi mendongkol dan penasaran. Dikala tubuhnya itu meluncur turun lagi, dengan cepat Bie Liek telah menggerakkan pedangnya lagi.

“Putus!” bentak Bie Liek dengan suara yang nyaring.

Sekarang kali ini Bie Liek bukan menyerang tali dari pisau terbangnya si kakek bertangan bunuing itu. Melainkan menyabetkan pundak si kakek. Hebat kesudahannya. Biarpun si kakek melihat menyambarnya pedang Bie Liek ke arah pundaknya, toh sudah tidak bisa mengelakkan lagi dengan cepat.

Sebab katau memang dia melompat untuk mengelakkan serangan Be Liek, berarti dia akan menjadi korban dari serangan Cung Tiang Lie. Karena gadis itu telah melancarkan serangan juga sangat berbahaya.

Menikam ke arah perut si kakek bertangan buntung tersebut. Dengan sendirinya si kakek jadi mengeluh didalam hatinya :

“Habis habislah semuanya dan tamatlah riwayatku hari ini!” mengeluh si kakek didalam hati dengan putus asa. Dan dengan sekuat tenaga dia ingin melompat untuk bergulingan di tanah. Tetapi dia tidak keburu lagi. Dengan mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan bahunya telah tersabet putus oleh pedang Bie Liek. Darah merah segera juga muncrat keluar dari bahunya itu. Sekarang bukan tali pengikat pisau terbangnya si kakek, melainkan berikut tangan buntungnya itu dari sebatas bahunya yang telah kena dibikin ‘putus’ oleh Bie Liek

Inilah hebat sekali, dengan sendirinya, si kakek bertangan buntung itu jadi menderita kesakitan yang hebat sekali dan juga membuat wajahnya pucat pias menyerupai muka mayat hidup. Bie Liek dan Cung Tiang Lie tidak melakukan penyerangan lagi. Mereka hanya berdiri mengawasi dari tempat berdiri mereka tanpa menyerang lagi.

Dengan sendirinya, dengan dipandangi begitu, tubuh si kakek bertangan tunggal itu jadi gemetaran menahan perasaan gusar dan mendongkolnya. Nyata dia murka dan menderita kesakitan yang sangat akan lukanya itu. Matanya mendelik kepada Bie Liek dan nona Cung Tiang Lie.

“Kau kau!” hanya kata-kata itu saja yang keluar dari bibirnya yang gemetar. Kemudian dia tidak bisa meneruskan perkataannya itu. Tubuhnya terhuyung huyung. Namun dengan menguatkan hatinya, si kakek berusaha untuk dapat terus berdiri di tempatnya.

Bie Liek jadi merasa kasihan melihat keadaan kakek tua ini. Lebih-lebih Cung Tiang Lie. Mereka merasa iba melihat penderitaan kakek yang sudah lanjut usianya ini.

“Loopeh kami terpaksa melakukan tindakan begitu, karena kami tidak mau menjadi korban dari senjata Loopeh!” kata Bie Liek dengan nada suara menyesali akan perbuatannya. Bie Liek juga membahasakan diri kakek itu dengan sebutan Loopeh, yang artinya paman.

Tetapi kakek bertangan buntung dan benar-benar telah tambah buntung dari batas pundak, menjadi berobah pucat sekali wajahnya. Tubuhnya juga gemetar.

“Tak usah kalian terlalu banyak komentar. Dendam dan hutang piutang kita hari ini serta kebaikan hati kalian pada diriku yang sudah tua ini tidak akan kulupakan. Kalau memang Thian masih memberikan aku umur panjang, maka nanti kita akan bertemu lagi, agar aku dapat mengembalikan kebaikan hati kalian ini!” dan setelah berkata begitu dengan suara yang gemetar, si kakek bertangan buntung itu telah berjongkok, dia telah mengambil tangannya yang tersabet putus oleh pedang Bie Liek.

Kemudian kakek bergelar si Pedang Terbang itu telah memutar tubuhnya. Setelah memandang ke arah Bie Liek dan Cung Tiang Lie dengan mata yang mendelik, akhirnya si kakek telah melangkah pergi.

Melihat si kakek akan pergi begitu saja dengan dendam, Bie Liek berusaha mengejarnya.

“Tunggu dulu, Loopeh!” kata Bie Liek meneriakinya.

Si kakek bertangan buntung itu telah menahan langkah kakinya.

“Apa lagi? Apakah kalian memang mau membunuhku untuk menghindarkan perhitungan kita nantinya? Bunuhlan kalau memang kalian dua orang Siauwcut.” kata kakek itu dengan suara yang dingin.

Mendengar perkataan si kakek, Bie Liek cepat-cepat menggoyang-goyangkan tangannya.

“Jangan berkata begitu, Loopeh.'' kata Bie Liek dengan cepat. '“Kami toh dengan kau tidak mempunyai permusuhan apapun toh? Mengapa kami harus membunuh Loopeh, malah bukankah tadinya kami tidak bentrok denganmu, hanya kau yang telah memaksa kami untuk mencabut senjata untuk bertempur dengan kau si orang tua!”

Mendengar perkataan Bie Liek itu, si kakek jadi tambah mendongkol dan gusar.

“Hmmmm jangan kau banyak bicara lagi!” kata kakek itu dengan sengit.

“Semuanya memang telah terjadi dan aku benar-benar bersedih hati, disaat usiaku setua ini aku bisa terjatuhkan dan dirubuhkan dua orang bocah ingusan seperti kalian, sungguh aku tidak habis mengerti dan sangat menyesal dan penasaran, hmmm, sampai dimana saja dendam ini tidak akan lenyap. Aku tetap akan mencari kalian untuk melakukan perhitungan ini tunggu saja sampai harinya nanti!”

Setelah berkata begitu, si kakek berdiri mematung di tempatnya dengan mata mendelik ke arah Bie Liek dan Cung Tiang Lie. Kakek bertangan buntung ini juga mengeluarkan suara dengusan berulang kali. Darah masih mengucur terus dari luka- lukanya.

“Loopeh, memang telah terjadi suatu kesalahan paham diantara kita, maka dari itu aku mohon ” kata Bie Liek dengan cepat.

Namun belum lagi dia dapat menyelesaikan perkataannya itu, si kakek telah memotongnya :

“Tak usah kau mengemukakan berbagai alasan        biar   bagaimana   dendam ini akan tetap tertanam dan bersemi terus dalam hatiku.” kata si kakek dengan murka. “Aku tetap akan mengingatnya terus budi kebaikan kalian pada hari ini.” dan setelah berkata begitu, si kakek telah mengeluarkan suara dengusan berulang kali.

Kemudian dengan cepat dia telah memutar tubuhnya untuk berlalu. Dengan terseok-seok dia berlalu. Bie Liek sebetulnya masih mau menerangkan persoalan mereka kepada kakek itu. Tetapi akhirnya tidak jadi.

Bie Liek bersama Cung Tiang Lie akhirnya hanyalah mengawasi kepergian si kakek yang tambah cacat itu dengan disertai oleh hela napas berulang kali, mereka juga menyesali diri mereka sampai terjadi hal seperti itu. Malah mereka menyesali mereka sampai saat itu tidak mengetahui sebetulnya siapa adanya kakek bertangan buntung dan bergelar Pisau Terbang tersebut. Semuanya merupakan kejadian yang misterius sekali dan gelap bagi pemikiran mereka.

BIE LIEK akhirnya mengajak Cung Tiang Lie untuk mengaso lagi. Karena perkelahian antara mereka dengan kakek aneh yang tangannya telah berhasil dibuntungkan oleh Bie Liek, meletihkan juga tubuh mereka.

Cung Tiang Lie hanya menurut saja, dia mengikuti Bie Liek untuk duduk kembali di bawah batu gunung yang tadi mereka duduki. Di situ mereka mengaso dengan bersemedi untuk memulihkan semangat mereka yang telah banyak terbuang itu. Dan di dalam waktu yang sangat singkat sekali, kedua remaja yang kosen tersebut telah dapat memulihkan tenaga mereka pula.

Bie Liek yang telah melompat bangun terlebih dahulu. Dia menggeliat dan terdengar tulang-tulangnya  berbunyi berkerotokan menandakan bahwa dia sedang mengerahkan tenaga Lweekangnya. Kemudian menyusul Cung Tiang Lie. Gadis inipun telah melompat berdiri.

'“Apakah malam-malam demikian kita akan meneruskan pencarian kita sarang dari perampok-perampok itu?” tanya Cung Tiang Lie kepada Bie Liek.

Bie Liek mengangguk.

“Ya, mari kita mencari terus!” sahut Bie Liek. “Aku penasaran sekali belum dapat menemukan markas mereka.”

Kemudian mereka mulai melakukan pencariab lagi akan sarangnya perampok- perampok ganas yang telah merusak kampung di bawah kaki gunung itu.

o o o

MENJELANG fajar, akhirnya mereka berdua, Cung Tiang Lie dan Bie Liek sampai sampai di perut gunung. Mereka dari atas sebuah pohon yang tinggi, mengawasi sekeliling mereka. Namun tetap saja belum tampak sedikitpun bahwa ada tanda-tanda dari dijumpainya sarang perampok-perampok ganas itu.

Kedua remaja yang kosen ilmu silatnya ini jadi putus asa. Mereka jadi saling pandang, karena mereka seketika itu juga berpikir, mungkin mereka tidak akan menjumpai sarang-sarang dari perampok-perampok itu.

Mereka benar-benar penasaran, karena mereka tidak habis mengerti, mengapa hampir seluruh pegunungan itu dijajahi oleh mereka, tetap saja mereka tidak bisa menemukan sarang dari perampok-perampok tersebut.

Mereka juga jadi berputus asa, karena dendam dari orang-orang kampung itu tentunya tidak akan dapat dibalaskan. Mereka tentunya akan menyesali kedua remaja ini. Bie Liek sendiri berulang kali telah menghela napas menyesal. Dengan lesu Bie Liek menjatuhkan tubuhnya ke rumput yang banyak bertumbuhan di sekitar tempat itu.