Gerbang Tengkorak Jilid 10

Jilid 10

Dan setelah berkata begitu, salah seorang dewa berbaju merah ini telah melangkah maju. Dia mengulurkan tangannya menotok jalan darah ‘Su ma hiat’nya Bie Liek. Seketika itu juga Bie Liek merasakan tubuhnya seperti juga disengat oleh beribu- ribu kalajengking.

Saking kesakitan sekali, si bocah jadi mengucurkan keringat. Dia tidak bisa mengeluarkan suara rintihan juga tidak bisa menerangkan kepada ketujuh orang itu, bahwa mereka telah salah mengenali orang, karena dirinya dalam keadaan tertotok, tidak bisa bicara. Bie Liek benar-benar mendongkol dirinya diperlakukan begitu.

Sedang dia dalam keadaan menderita begitu, dikala ketujuh orang itu, yang menamakan dirinya ‘Sian’, dewa, maka terdengar suara si wanita : “Tahan aku ingin menanyakan sesuatu dulu kepada bocah jahat ini!!”

‘Dewa berbaju merah’ itu semuanya mundur teratur. Mereka seperti juga sangat menghormati diri wanita iti.

“Wu Hujin silahkan kau memeriksa diri bocah busuk ini!!” kata salah seorang di

antara mereka.

Wu Hujin atau nyonya Wu itu, telah maju melangkah menghampiri Bie Liek. Mata wanita ini memancarkan cahaya yang tajam sekali, juga berulang kali dia telah mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin.

“Bocah!!” kata Wu Hujin kemudian dengan suara yang agak keras waktu dia telah menghampiri lebih dekat pada Bie Liek “Mengapa kau telah melakukan kejahatan dan kekejaman itu? Siapa yang telah memerintahkan dan mengendalikan dirimu melakukan kejahatan tersebut?”

Bie Liek memang sedang mendongkol, dia mau mencaci semua orang-orang itu, namun mulutnya masih ‘terkancing’ oleh totokan dari ketujuh lelaki itu.

Maka dari itu, dia hanya mengawasi si Wu Hujin saja dengan mata tak berkedip, juga tubuhnya tak bisa digerakkan disebabkan totokan. Dia masih menderita kesakitan seperti digigiti oleh ribuan kalajengking, maka dari itu, si bocah berdiam diri dengan bergusar. Salah seorang diantara chit-sian itu, tujuh dewa berbaju merah itu, telah teringat, bahwa si bocah masih tertotok jalan darah gagunya, Ah-hiatnya. Cepat-cepat dia mengurutnya membuka jalan darah itu. Begitu jalan darah gagunya terbuka seketika itu juga Bie Liek bisa berkata-kata.

Dengan cepat dia telah memaki : “Kalian makhluk-makhluk jahat! Tak hujan tak angin kalian telah menawan diriku, dan mendesak agar aku mengakui semua apa yang kalian katakan itu! Padahal antara diriku dengan kalian tidk kenal satu dengan yang lainnya!”

Wanita itu, Wu Hujin, telah mendengus.

“Hmmm apakah benar-benar kau tidak mau mengakui kesalahan yang telah kau lakukan?” bentak Wu Hujin dengan suara yang bengis sekali. “Hmm jangan sampai kami menggunakan penyiksaan untuk mengorek dari mulutnya mengenai rahasia itu! Katakanlah apa maksudmu membunuh suami dan puteraku?”

Bie Liek jadi kaget lagi, seketika itu juga dia mengetahui bahwa orang memang benar-benar telah salah mengenali orang, dia diduga adalah pembunuh dari suami dan puteranya wanita itu.

“Apa apa yang kau katakan?” tanya Bie Liek agak gugup.

Wajah wanita itu, Wu Hujin jadi sangat pucat sekali disebabkan perasaan gusar dan dukanya. Tubuhnya juga agak gemetar.

“Hu! Hu! Kau masih mau pura-pura tidak mengetahui persoalan itu, heh?” bentak

Wu Hujin dengan suara yang bengis sekali.

“Apakah kau benar-benar mempunyai kulit muka badak, sehingga kau mau memungkiri begitu saja apa yang telah kau lakukan! Hu! Janganlah kau menganggap kami ini orang-orang bodoh yang tidak bisa melihat persoalan, biarpun kau telah meninggalkan nama palsu dan juga telah meninggalkan kesan pada orang-orang yang melihat kejadian itu dengan sandiwaramu pura-pura menjadi seorang bocah angon, toh tetap saja mataku ini tidak bisa dikelabui! Kaulah yang telah membunuh dengan kejam suamiku itu dan puteraku!” dan setelah berkata dengan sengit begitu, maka tubuh si wanita jadi gemetar dan dia tidak bisa menahan tangisnya.

Dengan sendirinya, biar bagaimana, Bie Liek jadi bingung. Sebetulnya dia gusar dan murka sekali dirinya diperlakukan begitu kasar oleh ketujuh lelaki berpakaian serba merah itu, yang mengaku sebagai Ang-ie-chit sian, tujuh dewa berbaju merah, tetapi setelah mengetahui bahwa orang memang benar-benar salah mengenali orang, dan mengetahui bahwa orang-orang ini memang sedang diliputi oleh kesedihan yang sangat atas terbunuhnya suami wanita itu dan juga terbinasanya sang putera dari Wu Hujin, maka hati Bie Lek yang telah bergolak hawa amarah itu, jadi dingin lagi. Kemarahan dihatinya perlahan-lahan, berangsur-angsur jadi lumer kembali didasar hatinya. “Hujin apakah kalian memang telah yakin bahwa orang yang melakukan kejahatan itu adalah diriku?” tanya Bie Liek kemudian dengan suara yang berobah menjadi sabar. “Cobalah kalian perhatikan benar-benar apakah kalian tidak sedang salah mengenali orang?”

Mendengar perkataan Bie Liek, wanita yang dipanggil sebagai Wu Hujin itu, telah mendengus dengan suara yang dingin sekali.

“Hu! Hu! Kau duga kami ini bocah-bocah ingusan” bentak Wu Hujin dengan suara yang dingin. ''Apakah kau ingin mengelakkan diri dari kenyataan, ingin mengelabui kami dengan kata-katamu yang pura-pura bodoh itu?'' dan setelah berkata begitu, tahu-tahu tangan si wanita Wu Hujin telah mencabut sebatang pisau kecil dari pinggangnya.

“Akan kurusakkan dulu mukamu!? Akan kucacadkan mukamu itu kalau memang kau tidak mau mengakui perbuatan burukmu beberapa hari yang lalu!!”' bentak Wu Hujin dengan suara yang bengis sekali, dia juga menghampiri Bie Liek perlahan-lahan dengan di tangannya masih tergenggam pisau itu.

Bie Liek jadi terkejut. Dia mengawasi ke arah ketujuh orang yang berpakaian serba merah. Ketujuh ‘dewa berbaju merah’ itu tengah mengawasi Bie Liek dengan pancaran mata yang bengis sekali, dingin luar biasa pancaran mata mereka.

Bie Liek kaget karena orang ingin merusak mukanya, yang akan dibuat bercacad oleh goresan pisau-pisau itu. Sedangkan dirinya masih dalam keadaan tertotok, sehingga dia tidak bisa bergerak. Hati Bie Liek jadi berdebar keras, dia berpikir keras untuk mencari jalan keluar bagi dirinya.

Sedangkan Wu Hujin telah menghampiri dekat sekali pada diri Bie Liek.

“Kau mau mengakui atau tidak perbuatan jahatmu pada beberapa hari yang lalu?”

bentak Wu Hujin dengan suara yang bengis sekali.

Bie Liek jadi menghela napas, dia bingung bercampur putus asa. Didalam keadaan begini kalau memang dia berkeras, tentu dirinya yang akan menderita kerugian, atau juga suatu kemungkinan mukanya akan benar-benar dirusak oleh goresan-goresan pisau Wu Hujin.

Maka dari itu, Bie Liek jadi mengambil keputusan untuk mengambil jalan lunak, untuk mengulur waktu belaka.

“Tunggu dulu!” kata Bie Liek dengan cepat.

“Apa lagi?” bentak Wu Hujin dengan bengis. “Alasan apa lagi yang akan kau kemukakan?”

Bie Lek berusaha untuk tersenyum. “Aku ingin mengetahui dulu, sebetulnya kejadian apa yang telah terjadi, sehingga diriku ini akan dijadikan sasaran dari kemarahan dan kemurkaan kalian?” kata Bie Liek lagi.

Wajah Wu Hujin jadi berobah tambah bengis lagi mendengar perkataan Bie Liek.

“Hu! Apakah kau masih mau pura-pura bodoh?” tanya Wu Hujin dengan suara yang mengandung kegusaran. “Tak perlu kami menceritakan lagi soal yang mendatangkan kedukaan bagi kami itu, yang penting kau mengakui perbuatanmu, sehingga kematianmu itu tidak menderita siksaan yang bisa membuat kau binasa dengan tubuh tidak utuh!”

Mendengar perkataan orang Bie Liek tetap membawa sikap yang sabar. Juga sambil mengulur waktu begitu, dia telah mengerahkan tenaga Lweekangnya untuk menggempur totokan pada jalan darahnya, dia mau membuka jalan darahnya itu.

“Begini!” kata Be Liek dengan suara sengaja dilambatkan. ''Aku ingin mengetahui sebetulnya soal apa yang telah menimpa diri kalian, kalau memang ternyata soal yang menyedihkan diri kalian itu hanyalah disebabkan oleh diriku, maka dengan rela aku akan menyerah pada kalian, bersedia kau dan orang-orangmu itu menghukum diriku dengan cara kalian!”

Mendengar perkataan Bie Liek, Wu Hujin telah mendengus lagi. Begitu juga ketujuh orang lelaki yang bergelar ‘dewa berbaju merah’ itu.

“Kau masih tidak mau mengakui kesalahan yang pernah kau lakukan, bocah!” bentak Wu Hujin dengan bengis. “Apakah kau kira kami ini manusia dungu?! Hu! Akuilah kejahatan yang pernah kau lakukan!”

Bie Liek tetap membawa sikap yang sabar.

“Selamanya aku belum mengetahui kesalahan apa yang pernah kulakukan, maka aku tidak akan mau mengakui begitu saja kesalahan yang kalian tuduhkan pada diriku!! Aku tidak mau begitu saja ditumplekkan kesalahan-kesalahan itu di atas punggungku, sedangkan kejadian apa yang telah menimpa diri kalian itu, sampai detik ini aku tidak mengetahui! Jangankan itu, mengenal kalian saja aku tidak pernah!”

Wu Hujin ketawa dingin.

“Jadi kau tetap tidak mau mengakui bahwa suami dan puteraku itu kau yang telah membunuhnya?” bentak Wu Hujin lagi dengan suara yang menyeramkan, menandakan bahwa dia sangat gusar sekali. “Apakah kau tetap akan berputar lidah tak karuan? Hmm pada malam itu jelas aku melihat kau yang telah melakukan perbuatan biadab

itu?”

Dan setelah berkata begitu Wu Hujin melangkah semakin mendekati Bie Liek,

pisau kecil di tangan Wu Hujin telah siap-siap akan merusak muka Bie Liek. Hati Bie Liek jadi mencelos. Dikeraskan sudah jelas tak mungkin, dan juga dilawan lunak, juga tak bisa. Maka dari itu, si bocah jadi berdebar juga hatinya, karena orang mau merusak mukanya, kalau memang sampai mukanya itu kena dirusak oleh Wu Hujin wanita yang tak dikenalnya, dan juga ketujuh lelaki itu, yang juga tak dikenalnya, yang mengaku sebagai tujuh dewa berbaju merah tersebut, disebabkan itulah Bie Liek jadi memutar otak memikirkan jalan keluar sebaik-baiknya untuk dirinya.

Wu Hujin masih maju terus, melangkah terus menghampiri Bie Liek dengan tatapan mata yang luar biasa bengisnya, wajahnya memancarkan kilatan tajam yang luar biasa, dimana mengandung hawa pembunuhan.

“TUNGGU DULU!” bentak Bie Liek dengan suara yang keras waktu dia melihat Wu Hujin telah menggerakkan tangannya itu, yang menggenggam pisau kecilnya akan menggores mukanya. “Aku ingin bicara dulu!”

Wu Hujin telah menatap dengan pancaran mata yang tajam sekali.

“Apa lagi yang akan kau katakan?” bentak Wu Hujin dengan suara yang keras.

Bie Liek mengawasi wanita itu sesaat, kemudian dia mengawasi ketujuh ‘dewa berbaju merah’ yang berdiri di depan dia juga, dia mengawasi seorang demi seorang.

“Aku penasaran sekali!!” kata Bie Liek. “Aku tidak pernah saling mengenal dengan kalian, tetapi kalian telah ingin menyiksa dan membunuh diriku! Maka dari itu, kalian tidak boleh begitu saja menuduh diriku, selidikilah dulu persoalan yang sedang kalian hadapi ini, janganlah kalian main bunuh begitu saja!”

Dan sambil berkata begitu, Bie Liek juga telah mengerahkan tenaga dalamnya terus, dia hampir berhasil membuka jalan darahnya yang tertotok, sebab Lweekangnya tinggi sekali, sehingga dia bisa mendobrak totosan dari orang-orangnya si Wu Hujin tersebut.

Wu Hujin telah mendengus.

“Aku tidak perlu menyelidiki lagi! Memang kau yang telah melakukan pembunuhan itu, pembunuhan terhadap suami dan anakku, hmmm, kalau memang kau ingin memungkirinya, kau bisa membantahnya dineraka nanti!!” dan setelah berkata begitu, maka Wu Hujin telah menggerakkan tangannya, dia telah mengayunkan pisaunya ingin menggores muka dari Bie Liek.

Darah Bie Liek mendesir, dia mengempos semangatnya mengerahkan tenaga Lwee-kangnya, jalan darahnya itu masih tertotok dan belum dapat terbuka. Pisau Wu Hujin telah meluncur dengan cepat sekali menyambar ke arah muka Bie Liek Ang-ie Chit-sian mengawasi saja dengan di sudut bibir mereka masing-masing tersungging senyuman dingin, tawar sekali. Pisau masih meluncur. Dan tahu-tahu Bie Liek bisa menggerakkan tangannya.

Di dalam keadaan yang mendesak begitu, maka Bie Liek telah mengempos tenaga Lweekangnya dan waktu pisau Wu Hujin meluncur hanya terpisah beberapa dim dari rnukanya, maka Bie Liek telah berhasil membuka jalan darahnya.

Disaat itulah Bie Liek telah menggerakkan tangannya menyampok ke arah tangan Wu Hujin.

‘Plakkk!’ tangan Wu Hujin yang mencekal pisau itu tersampok miring, sehingga tidak sampai mengenai muka Bie Liek, dan membarengi dengan itu, Bie Liek juga telah menggunakan tangannya yang lain itu untuk mendorong ke arah lambung dari Wu Hujin. Tenaga dorongan dari tangan Bie Liek ini besar sekali, walaupun peredaran jalan darahnya baru saja terbuka dari totokannya, toh tenaga dorongan ini kuat sekali.

Wu Hujin terkejut waktu pisaunya itu kena tersampok oleh tangan Bie Liek. Hati wanita ini mencelos karena dia tidak menduga sedikitpun bahwa Bie Liek bisa membuka sendiri totokan pada jalan darahnya. Wu Hujin tidak menyadari bahwa tadi Bie Liek telah sengaja mengulur waktu untuk membebaskan diirnya, dan ternyata itu telah membawa hasil.

Ang ie chit sian juga terperanjat sekali, mereka sampai mengeluarkan seruan tertahan. Namun belum lagi mereka itu tersadar dari kaget mereka, belum lagi mereka itu teringat apa yang mereka lihat itu, tahu-tubuh Wu Hujin telah terlempar disebabkan dorongan tangan Bie Liek.

Dengan mengeluarkan suara jeritan yang keras, yang nyaring sekali, maka tampak tubuh Wu Hujin telah terlempar dan ambruk di lantai dengan suara keras dan juga mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan hati.

Begitu tubuh Wu Hujin ambruk di lantai, maka ketujuh ‘dewa berbaju merah’ itu baru tersadar dari terpaku mereka, mereka baru lenyap kesimanya. Juga mereka melihat Bie Liek telah melompat berdiri lagi.

“Oh kau     kau telah mencelakai Wu Hujin!” teriak ketujuh orang itu dengan suara yang gemetar, nyata mereka bergusar sekali. “Kau Kau   memang   seorang bocah yang jahat seorang bocah yang harus dimampusi!!”

Dan setelah berkata begitu dengan penuh kemurkaan, maka dengan cepat ketujuh dewa berbaju merah ini telah menerjang dengan cepat. Mereka menyerang dari berbagai jurusan. Dan setiap serangan mereka itu mengandung tenaga serangan yang kuat sekali, yang bisa mematikan. Jalan darah Bie Liek baru saja terbuka, dia merasakan tubuhnya itu masih lemas. Namun karena dia memang menpunyai kepandaian yang tinggi sekali, biarpun dia diserang dari berbagai jurusan, toh dia masih tidak jeri.

Waktu tadi dia sampai tertawan, karena dia tidak menduga sebelumnya bahwa ketujuh orang ini bermaksud jelek padanya.

Maka dari itu sekarang, setelah mengetahui bahwa ketujuh orang ini memang bermaksud akan mencelakai dirinya, dengan sendirinya Bie Liek juga tidak mau berlaku segan-segan lagi.

Dengan cepat dia telah menggerakkan kaki kirinya, melangkah dua langkah kekanan, kemudian dengan kaki melintang begitu, dengan gaya seperti juga orang yang tengah menjura memberi hormat, dengan tubuh agak dibungkukkan, tahu-tahu tangan Bie Liek telah merentang terbuka, sambil terbuka begitu dia juga mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali.

“Rubuhlah kalian!” bentak Bie Liek dengan cepat. Suaranya juga keras sekali.

Serangan dari ketujuh orang itu memang telah sampai, dan dengan cepat tangan Bie Liek telah menangkis setiap serangan orang-orang itu. Terdengar suara ‘Duk, dik, duk’ yang cepat sekali, dan dengan sendirinya tampak tubuh dari ketujuh orang yang bergelar ‘Dewa berbaju merah’ telah terpental. Masing-masing ambruk di lantai.

Bie Liek masih berdiri di tempatnya dengan sikapnya yang tenang sekali. Wu Hujin dan ketujuh orang itu telah merangkak untuk berdiri. Wajah mereka semuanya pucat. Mereka memang tidak menyangka bahwa Bie Liek begitu liehay. Mereka tadinya menduga, biarpun seliehay-liehaynya Bie Liek, tetapi kalau memang diserang secara mengeroyok, tentu bocah tersebut pasti akan dapat dirubuhkan dan ditawan kembali.

Maka dari itu, kesudahan dari semuanya itu menyebabkan orang-orang ini jadi tercengang dan terkejut juga. Mereka benar-benar tidak menduga bahwa Bie Liek juga bisa membuka jalan darahnya yang tertotok, dann juga memang sama sekali tidak sampai terpikir, bahwa Lweekang dari bocah tersebut telah mencapai puncaknya yang begitu tinggi.

Tadi waktu mereka menyerang dan tangan mereka semua kena ditangkis oleh tangan Bie Liek, walaupun tangkisan Bie Liek tampaknya tidak bertenaga dan sangat ringan sekali, toh telah menyebabkan mereka terkejut sekali, karena tangkisan tangan dari Bie Liek itu telah menimbulkan perasaan sakit yang bukan main. Mereka merasakan tulang tangan mereka itu seperti akan hancur atau patah.

Begitu mereka, termasuk Wu Hujin, telah dapat merangkak bangun, maka mereka jadi tidak lantas menyerang. Semuanya hanya mengawasi dengan tatapan mata yang gusar sekali. Bie Liek masih berdiri di tempatnya dengan sikapnya yang tenang sekali. Biarpun tadi dia telah mengetahui bahwa orang-orang ini sangat jahat sekali, tadi hampir saja membunuh dirinya atau membuat bercacad mukanya dengan pisau kecilnya Wu Hujin, toh tetap saja Bie Liek tidak bergusar. Malah dia telah tersenyum.

“Bagaimana?” tegur Bie Liek dengan suara yang sabar sekali. “Telah kukatakan, tak baik kalau memang kita main seruduk saja tanpa menyelidiki terlebih dahulu persoalan yang kalian sedang hadapi karena semua itu akan membawa suatu akibat yang buruk sekali bagi kalian! Hmmm baiklah, kalau memang kalian salah paham tadi, maka aku masih mau memaafkannya, tetapi kalau memang kalian ini benar-benar seorang kerbau-kerbau dungu, maka, maafkanlah, aku tidak bisa mengampuni orang- yang berjiwa jahat!!”

Dan setelah berkata begitu, Bie Liek telah tertawa dengan sikapnya yang sabar.

Ang-ie chit-sian dan Wu Hujin masih tetap berdiri di tempat mereka dengan bimbang. Dengan sendirinya mereka jadi mengetahui bahwa bocah yang ada di depan mereka ini kosen sekali, dan mereka tidak boleh menganggap enteng atau juga meremehkannya.

Maka dari itu, salah seorang diantari ketujuh Ang-ie chit sian, yang mempunyai tubuh paling tinggi dan besar, telah maju beberapa langkah. Wajahnya masih memperlihatkan sikapnya yang bengis dan bergusar.

“Bocah ternyata kau memang liehay sekali!” kata orang ini. “Hmm tetapi sayang sekali kepandaian yang demikian tinggi telah dipergunakan untuk perbuatan yang salah! Kami seharusnya memang mesti menyelidiki dulu siapa yang telah membunuh Toako kami, Toa sian, sehingga kami dari Pat-sian, delapan dewa, menjadi chit-sian, tujuh dewa!! Semua itu kau yang sebabkan, kau yang telah membunuh Toa-sian, karena Wu Hujin, isteri dari Toa sian, telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa yang telah membunuh suaminya dan anaknya itu adalah seorang bocah, yaitu kau sendiri! Apa lagi sekarang kami melihat bahwa kau memang mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, maka tak mungkin bahwa kau bukan pembunuhnya! Pasti kau yang telah membunuh Toa-sian, Toa-ko kami itu! Hmm sekarang aku mau tanya, sebetulnya apa maksadmu dan apa kesalahan dari Toa-sian sehingga kau telah menurunkan tangan jahat padanya, telah membunuhnya?”

Bie Liek tertawa sabar.

“Tenanglah!” kata Bie Liek. “Bukankah telah kukatakan berulang kali bahwa bukan

aku yang membunuh Toa-ko kalian?”

Tetapi Wu Hujin telah mendengus. Dia tahu-tahu telah melompat menyerang. Begitu juga ketujuh dewa itu, chit-sian, telah langsung menyerang pula. Hal ini menyebabkan Bie Liek mau  tak mau harus mengelakkan  serangan ketujuh  orang tersebut. Gesit sekali gerakan dari Bie Liek, karena dia bergerak dengan mengerahkan Ginkangnya. Tubuh Bie Liek berkelebat bagaikan bayangan.

Setiap serangan dari ketujuh chit-sian dan Wu Hujin telah menyebabkan dia jadi bergerak dengan cepat dan serangan-serangan itu jatuh pada tempat kosong.

Wu Hujin dan orang-orangnya itu jadi penasaran benar. Tadinya mereka sangat tidak memandang sebelah mata pada Bie Liek, namun sekarang telah bergerak dengan cepat, setelah mereka bergebrak, ternyata hebat kesudahannya. Memang sulit dikatakan.

Apa yang benar-benar membuat hati Wu Hujin penasaran, setiap serangan yang dilancarkan oleh dirinya dan ketujuh dewa itu, chit-sian, telah menyebabkan mereka selalu seperti juga menyerang tempat-tempat kosong dan juga seperti menyerang bayangan yang berkelebat-kelebat di depan muka mereka.

Wu Hujin sampai berulang kali mengeluarkan suara jeritan gusar dan murka. Wanita ini juga berjingkrak saking gusarnya. Tetapi Bis Liek memang liehay. Walaupun orang-orang yang dihadapannya itu rata-rata mempunyai ilmu yang tinggi dan juga kosen sekali, toh tetap saja Bie Liek memberikan perlawanan yang baik.

Kalau memang suatu ketika Bie Liek sampai terdesak hebat, itupun dengan cepat dia dapat segera menguasai pula keadaan. Malah tak jarang Bie Liek mengeluarkan suara ejekan membuat hati orang itu jadi tambah mendongkol dan juga membuat orang-orang itu tidak bisa menguasai hawa amarah hati mereka, yang membuat mereka jadi melakukan suatu kesalahan yang besar, sebab dengan menuruti kegusaran di hati, seorang jago di dalam persilatan telah rugi sebagian besar, karena dengan sendirinya perhatiannya juga jadi terpecah. Itulah sebetulnya yang menjadi pantangan bagi jago- jago silat untuk mengumbar hawa amarah hatinya.

Namun biar bagaimana liehaynya Bie Liek, dia tetap hanya berseorang diri. Lama kelamaan tenaganya akan berkurang, dan hal ini memang telah dipikirkan oleh Bie Liek. Kalau sampai akhirnya dia harus bertempur terus menerus dengan cara begitu, berarti dirinya akan kena ditawan kembali. Apa lagi dilihatnya chit-sian, ketujuh dewa itu, telah menggunakan ilmu cara mengepung yang mereka gunakan waktu menangkap diri Bie Liek.

Tubuh chit-sian telah berkelebat-kelebat dengan cepat, seperti juga ingin mengepung rapat pada diri Bie Liek, dan juga Wu Hujin telah membantu chit-sian dengan melancarkan serangan-serangan maut kepada Bie Liek. Hal ini membuat Bie Liek akhirnya jadi terdesak juga. Tetapi Bie Liek tidak menjadi gugup. Cepat sekali dia juga mengerahkan hampir seluruh kepandaiannya. Dan mereka jadi bertempur dengan seru sekali, tubuh mereka berkelebat-kelebat bagaikan bayangan.

Suatu kali, Bie Liek telah mengeluarkan suara bentakan yang keras, tubuhnya mencelat beberapa tombak tingginya, kemudian kedua tangannya digerakkan bagaikan lingkaran, dari kedua tangannya itu menyambar keluar dua jalur angin serangan yang menghantam kepada lawan-lawannya.

Hebat serangan Bie Liek kali ini. Hal ini mengejutkan Wu Hujin dan ketujuh orang yang disebut chit sian tujuh dewa itu. Lebih-lebih Wu Hujin, dia merasakan dadanya sesak, napasnya seperti juga tersengat di tenggorokannya, dan pandangan matanya jadi berkunang-kunang, menyebabkan dia jadi mengeluh dan hatinya mencelos.

Dia tidak menduga Bie Liek bisa menyerang dengan satu serangan yang begitu hebat, karena Wu Hujin segera juga menyadari bahwa Lweekang yang digunakan oleh Bie Liek pada saat itu adalah Lweekang yang benar-benar hebat sekali, yang luar biasa kuatnya, kalau memang tidak cepat-cepat menyelamatkan diri dari tekanan hawa serangan tersebut, tentu setidak-tidaknya dia akan memuntahkan darah, atau juga akan terpukul binasa!

Begitu juga chit-sian, mereka juga menyadari bahwa kali ini Bie Liek menyerang dengan serangan yang benar-benar mematikan. Hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena bisa membahayakan benar-benar diri mereka.

Maka dari itu, dengan serentak, seperti sudah berjanji, mereka telah melompat saling menjauhi diri dengan Bie Liek, hal ini membuat kurungan terhadap diri Bie Liek, kepungan mereka jadi terbuka.

Waktu tubuh Bie Liek telah meluncur turun kembali, setelah dia menginjak lantai ruangan tersebut, maka dengan cepat si bocah Bie Liek telah melancarkan dua kali serangan lainnya, yang dilakukannya dengan beruntun.

Hal ini mau tak mau jadi memaksa chit-sian dan Wu Hujin mundur kembali menjauhkan diri. Kepungan orang-orang itu terhadap diri Bie Liek jadi semakin terbuka. Biie Liek telah mendengus.

“Hmm, rupanya kalian memang harus dikirim ke nerakal” kata Bie Liek dengan suara yang tawar, dingin sekali kata-kata Bie Liek tersebut. “Aku yang akan mewakili Giam-lo ong untuk mengirim kalian ke neraka!”

Wu Hujin telah tertawa dingin.

“Hmm, sungguh takabur sekali kata-katamu itu, bocah! Kau malah yang akan kami kirim ke neraka!” kata Wu Hujin dengan suara yang tawar.

Bie Liek tidak melayani perkataan Wu Hujin, dia telah mengeluarkan suara tertawa yang keras sekali, tubuhnya juga berbareng telah bergerak dengan cepat sekali, bergerak dengan ringan dan gesit, dia telah melancarkan serangan-serangan yang beruntun kepada Wu Hujin.

Wu Hujin terkejut sekali, walaupun Bie Liek berada dihadapannya, namun tetap

saja serangan dari Bie Liek mengejutkan dirinya. Dengan cepat Wu Hujin melompat kebelakang menjauhkan diri dari Bie Liek. Dan waktu Wu Hujin melompat menjauhkan diri begitu, maka ketujuh dewa tersebut chit-sian, telah bergerak dengan cepat, telah menggerakkan tangan dan kaki mereka dengan gerakan yang luar biasa sekali, telah melancarkan serangan-serangan yang mematikan kepada diri Bie Liek.

Bie Liek telah mengeluarkan suara tertawa dingin, dia menarik pulang serangannya terhadap diri Wu Hujin, lalu dengan cepat sekali, dia telah menggerakkan tangannya membuat gerakan seperti setengah lingkaran, tangannya itu telah melindungi diri dari serangan-serangan chit-sian.

Dan terdengar tangan-tangan itu saling bentur dengan mengeluarkan suara benturan yang cukup keras, juga tampak tubuh chit-sian telah saling terhuyung ke belakang.

Bie Liek masih berdiri tetap di tempatnya, hanya saja tampak tubuhnya agak tergoncang oleh serangan keenam orang ini. Chit-sian juga tidak berani berdiam diri di tempat mereka.

Waktu tubuh mereka sedang terhuyung ke belakang, maka mereka juga telah membarengi menjejakkan kaki mereka, sehingga tubuh mereka jadi melompat ke belakang menjauhkan diri dari Bie Liek, karena mereka takut si bocah Bie Liek membarengi menyerang mereka lagi disaat tubuh mereka sedang terhuyung begitu dan juga sedang dalam keadaan tidak bersiap siaga sama sekali.

Tetapi nyatanya Bie Liek tidak melancarkan serangan lagi. Bie Liek hanya berdiri diam di tempatnya dengan memandang saja, matanya memancarkan cahaya yang tajam sekali. Cukup berwibawa sekali Bie Liek, karena selain pandangan matanya yang memancarkan cahaya yang berkilat tajam, pun sikapnya yang agung sekali.

Wu Hujin dan chit sian untuk sementara waktu tidak bisa mengatakan apa-apa.

Mereka hanya menatap saja dengan pandangan mata seperti orang terkesima.

Pada saat yang sepi dan hening seperti itu, Bie Liek jadi terpikir sesuatu. Untuk dia menjatuhkan Chit-sian dan Wu Hujin dengan cepat, hal itu tentunya mustahil sekali, sebab orang-orang itu mempunyai kepandaian yang cukup tinggi. Tetapi kalau memang dia bertempur terus dengan menggunakan cara begitu, dikepung dengan diulur waktu, tentunya pihak dirinya yang akan rugi.

Bie Liek akan kehabisan tenaga, dan penjagaan dirinya kian lama kian mengendur, dan hal itu akan menyebabkan dia jadi mudah tertangkap. Maka dari itu, Bie Liek tidak mau sampai terjadi hal semacam itu.

Setelah berpikir begitu, Bie Liek jadi mengambil suatu keputusan. Dia akan mendesak lagi Wu Hujin dan juga chit-sian. Disaat mereka terdesak, Bie Liek mau menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri dari tangan orang-orang tersebut. Begitu Bie Liek mengambil keputusan demikian, begitu cepat tubuhnya telah bergerak dengan gesit berkelebat-kelebat menyerang chit-sian dan Wu Hujin. Mereka tadinya saling pandang, dan sekarang tahu-tahu Bie Liek telah membuka serangan kembali.

Hal ini mengejutkan chit-sian dan juga Wu Hujin, apa lagi, Bie Liek menyerang mereka dengan menggunakan serangan-serangan yang hebat sekali, mengandung tenaga Lweekang yang luar biasa pada serangannya tersebut.

Cepat-cepat chit sian melompat mundur, sedangkan Wu Hujin rupanya penasaran sekali, dia tidak melompat mundur, melainkan telah menangkis dengan menggunakan tangan kanannya. Sambil menangkis begitu, Wu Hujin juga tidak berdiam diri saja. Dia telah menggunakan tangan kirinya untuk menotok jalan darah Ciu-tie-hiat-nya Bie Liek.

Melihat Wu Hujin bukan hanya menangkis, melainkan juga telah balas menyerang, hal ini membuat Bie Liek jadi mengeluarkan suara dengusan. Dengan cepat Bie Liek telah menarik pulang tangannya. Dia menggeser kaki kirinya setapak ke samping, kemudian menekuknya, sehingga dia seperti juga orang yang berlutut.

Dengan cepat sekali tangan kirinya merabuh kearah dada Wu Hujin, sedangkan tangan kanannya telah menyerang kearah Wu Hujin, dengan satu serangan yang luar biasa hebatnya.

Tenaga serangan yang dilancarkan oleh Bie Liek pada saat itu, dia telah mengerahkan delapan bagian tenaga murninya, sehingga angin serangan menderu dengan hebat sekali!

Wu Hujin terkejut, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan. Pun dia merasakan hatinya mencelos, dengan tidak disadarinya, dia telah mengucurkan keringat dingin. Tetapi sebagai seorang jago yang kosen, biarpun dirinya terancam begitu macam, toh tetap saja dia tidak menjadi gugup.

Dengan cepat sekali, Wu Hujin telah menggerakkan tangannya untuk menangkis Bie Liek, tangan kirinya bocah itu, kemudian waktu tangannya itu berhasil menangkis tangan kiri Bie Liek, dia juga telah menggunakan kesempatan tersebut, disaat tangan mereka saling bentur, Wu Hujin telah meminjam tenaga untuk melompat mundur!

Bie Liek tidak mau memberikan hati. Waktu dia melihat Wu Hujin melompat ke belakang, dia telah menjejakkan kakinya melompat mengejarnya. Sambil melompat begitu, Bie Liek juga telah menyerang lagi dengan menggunakan tangan kanannya menghantam kepala Wu Hujin. Kalau memang kepala Wu Hujin itu kena terhajar oleh tangan Bie Liek, tentu kepala nyonya itu akan terhantam hancur. Hati Wu Hujin jadi mencelos. Dia cepat-cepat membuang diri kebelakang, kemudian bergulingan di tanah! Chit-sian, tujuh dewa itu, pun terkejut sekali, mereka masing-masing mengeluarkan suara teriakan yang keras dan malah dua orang di antara mereka ada yang berjingkrak saking kagetnya melihat jiwa Wu Hujin terancam bahaya kematian.

Melihat Wu Hujin bisa mengelakkan serangannya, Bie Liek tidak mengejarnya lagi. Dia telah berdiri di tempatnya mengawasi Wu Hujin melompat berdiri dengan wajah yang pucat pias dan butir-butir keringat membanjiri mukanya.

Bie Liek telah berkata dengan dingin :

“Sebetulnya soal kematian suamimu itu adalah pembayaran dosa dari suamimu sendiri, yang telah melakukan dosa yang tidak kecil! Dan sekarang kalian telah penasaran serta sakit hati, hal ini benar-benar membuat aku jadi tertawa bisa mati! Nah, kalau memang kalian masih penasaran, majulah, aku akan menghadapi sampai dimana keinginan kalian!”

Wajah Wu Hujin dan chit-sian jadi merah padam.

“Kau bicara terlalu takabur!” kata Wu Hujin dengan murka. “Apakah kau kira hari ini kau bisa terlolos diri kematian di tangan kami? Hmmm, biarpun dewa penolong turun ke bumi untuk memberikan pertolongan dan jalan hidup kepada dirimu, tak nantinya kau terlolos dan kematian di tangan kami dan tidak mungkin kami akan memberikan pengampunan kepada dirimu!”

Mendengar perkataan Wu Hujin, Bie Liek jadi tertawa tawar.

“Baik! Baik!” kata Bie Liek dengan cepat. “Kalau memang kalian masih penasaran,

aku akan melayaninya terus sampai dimana kalian mau membinasakan diriku!”

Bie Liek mengawasi orang-orang itu dengan tatapan mata yang tajam. Sedangkan Wu Hujin dan Chit-sian juga tidak lantas maju menyerang lagi. Tadi mereka telah melihat kepandaian Bie Liek, mereka telah merasakan kekosenan bocah Bie Liek, mereka ini, biar bagaimana diam-diam dihati mereka harus diakui bahwa mereka agak jeri dan nyali mereka telah sempoak!

Bie Liek telah memperdengarkan suara tertawa dinginnya waktu dia melihat Wu Hujin berdiam diri saja saja terus tanpa membuka serangan.

“Hmm kalau memang kalian tidak mau menahan diriku lagi, maka aku akan pergi, karena aku masih mempunyai urusan yang harus kuselesaikan!” kata Bie Liek dengan suara yang dingin.

Dan sambil berkata begitu, Bie Liek telah memutar tubuhnya membalikkan badannya akan melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Melihat ini tampak Wu Hujin dan chit sian mau menahannya. Tetapi mereka tidak jadi, mereka membatalkan maksud mereka untuk menahan bocah ini. Karena biar bagaimana memang nyali mereka telah terpukul dan juga keberanian mereka telah lenyap, sebab mereka merasakan betapa bocah ini liehay sekali.

Tadipun kalau memang Wu Hujin kurang cepat mengelakkan serangan-serangan itu, tentu dengan sendirinya dia telah terbinasa di tangan Bie Liek. Maka dari itu, biarpun di dalam hati mereka masih penasaran, toh mereka tidak berani terlalu mendesak si bocah Bie Liek.

Begitu Bie Liek melangkah akan berlalu untuk meninggalkan ruangan tersebut, maka Wu Hujin berulang kali telah memperdengarkan suara tertawa dinginnya.

“Hu! Hu! Kali ini kau kami beri ampun untuk hidup beberapa saat lagi didalam dunia ini, namun kalau memang nanti kau bertemu dengan kami lagi, maka jangan harap kau dapat terlolos dari kematianmu di tangan kami!” kata Wu Hujin dengan suara yang nyaring.

Bie Liek tidak melayani, dia telah melangkah terus. Bocah ini berpikir kalau memang dia melayani orang-orang tersebut, maka hal tersebut hanya akan merepotkan dirinya. Sebab itulah maka dia tidak bermaksud untuk melayani Wu Hujin dan chit-sian.

Ketika Bie Liek sampai di luar gedung itu, cuaca sangat malam. Rupanya pada saat itu malam hari, dan juga waktu Bie Liek menoleh ke belakang, dia tidak melihat Wu Hujin dan Chit-sian mengejar dirinya.

Bie Liek menghela napas. Dia menahan langkah kakinya dulu sesaat, diawasinya sekitar tempatnya dia berdiri. Setelah itu dengan menjejakkan kakinya tubuhnya telah mencelat cepat sekali. Gerakan Bie Liek begitu ringan dan cepat, gerakannya enteng dan juga gesit, sehingga tubuhnya banyak berkelebat bagaikan bayangan saja. Dengan menggunakan Ginkangnya yang telah sempurna, Bie Liek meninggalkan tempat tersebut.

UDARA cerah benar pada pagi itu di puncak gunung Lung-san. Pemandangan di sekitar puncak gunung Lung-san memang indah dan menarik.

Tampak di persimpangan jalan gunung yang kecil dan sempit, seorang anak muda berpakaian sebagai seorang sasterawan tengah berjalan dengan langkah kaki yang tenang. Sikap dan lagak dari si sasterawan, si pelajar, menandakan bahwa dirinya adalah seorang keturunan hartawan yang kaya raya, karena selain bajunya yang bersih perlente, pun di tubuhnya, di tangannya dan juga pada kopiahnya, topi pelajarnya itu tampak beberapa barang permata yang tinggi harganya!

Si sasterawan yang berusia diantara dua puluh tahun ini tampaknya sedang menikmati keindahan gunung Lung-san tersebut. Berulang kali dia telah menghela napas, memuji keindahan puncak gunung Lung- san, karena memang dia sangat mengagumi akan keindahan pamandangan disekitarnya.

Malah, perlahan sekali, mulutnya telah melagukan sebuah syair yang cukup indah, untuk lebih memperindah suasana di puncak gunung Lung-san tersebut.

Syair yang dibacanya itu berbunyi sebagai berikut, dan juga dibawakan oleh pelajar tersebut dengan bersemangat sekali :

Barisan gagak pulang ke gunung,

Bagaikan pasukan Liu-ciu mengusir penjajah. Tak ada yang dapat membendung,

Karena menyerupai air bah,

Yang melanda ssgalanya dengan semua keindahannya yang musnah. Tak ada lagi apa yang bisa dibanggakan oleh pasukan Liu-ciu.

Karena semuanya memang telah musnah. Hanya satu yang membakar dada,

Bukan keindahan, tetapi hanya keagungan.

Karena negara telah bebas dari cengkeraman kuku penjajah. Pembangunan untuk masa depan.

Syair yang dilagukan oleh si pelajar ternyata adalah syair Liu Tang Ciu Lay, ciptaan dari penyair Bong Sie Hie, dari ahala Tang.

Memang luar biasa suara pelajar itu, terdengar sangat lantang dan bersemangat sekali, lagi pula matanya mengawasi sekitar sekeliling tempatnya berdiri itu, karena sambil melagukan syair itu, pun dia tengah menikmati keindahan dari pegunungan Lung- san tersebut, yang mempunyai banyak bukit dan jurang yang indah dipandang mata.

Setelah membawakan syair itu dengan penuh semangat, si pelajar terdengar menghela napas.

''Ahhh, manusia hidup didunia ini, semakin lama jadi semakin tua, dan juga jadi semakin lanjut usianya, lalu meninggal dunia karena mereka dipanggil oleh Thian untuk pulang kembali keasalnya, namun, dunia tidak pernah tua, keadaan alam dan segalanya tidak berobah, semuanya akan begitu dan begitu terus. Tidak pernah ada perobahan, karena dunia memang tidak pernah tua!”

Dan setelah menggumam begitu, pelajar tersebut telah menghela napas lagi. Dengan kedua tangan tertompang pada belakangnya dia telah melangkah perlahan- lahan. Pelajar tersebut masih memandangi keindahan di sekitar tempatnya berada. Rupanya pelajar ini memang seorang pemuda Siu-chay yang gemar akan keindahan alam.

Berulang kali dia juga memuji akan keagungan alam semesta, memuji akan keluar biasaan alam, yang mempunyai daya tarik luar biasa untuk manusia menikmati segala keindahannya yang terdapat di permukaan dunia ini.

Keadaan di sekitar puncak Lung-san sangat permai, suara burung bercicit dengan kicaunya yang merdu, yang membuat pelajar itu seperti orang kesima menikmati segala keindahan yang terdapat di situ.

Sedang si pelajar kesengsem memandangi pemandangan di sekitarnya, maka tiba- tiba dari balik pohon di sampingnya telah melompat keluar sesosok bayangan. Gesit sekali gerakan dari bayangan tersebut, karena hanya dalam waktu yang sangat singkat sekali, dia telah berada di hadapan si pelajar.

“Berhenti!” terdengar sosok bayangan yang menghadang si pelajar telah membentak begitu dengan suara yang keras dan menyeramkan sekali, karena suara sosok bayangan itu bengis sekali.

Siu-chay tersebut kaget waktu tahu di depannya telah menghadang orang, dan juga waktu orang itu mencelat cepat sekali, dia menduga bahwa dia bertemu dengan hantu.

Apalagi setelah merdengar bentakan orang itu yang bengis sekali. Tubuh si pelajar jadi menggigil, mukanya pucat pias. Dia mengawasi kepada orang yang menghadang di depannya. Ternyata orang yang menghadang dirinya itu adalah seorang lelaki bertubuh tegap dan juga mempunyai muka yang bengis menyeramkan, karena kumis dan cambangnya tumbuh tidak teratur dan pakaiannya juga sangat kotor sekali.

“Si    siapa Tay-ong?!” tanya si pelajar cengan suara gemetar.

Dia memanggil orang dengan sebutan Tay-ong, raja gunung, yang tegasnya kepala begal, karena si pelajar menduga bahwa dirinya tentunya tengah berhadapan dengan seorang kepala begal.

Mendengar pertanyaan pelajar itu, lelaki berkumis jenggot yang tumbuh tidak teratur itu, jadi gusar sekali.

''Aku bukan hanya akan membegal hartamu, tetapi aku juga akan meminta nyawamu!! Aku Tong Sam Tong, tidak akan membiarkan manusia berlalu masih bernapas!” kata orang itu.

Kaki si pelajar jadi lemas, dia merasakan tubulnya menggigil keras sekali. Diawasinya orang yang mengaku bernama Tong Sam Tong itu dengan tatapan mata meminta belas kasihan, karena dia memang seorang pelajar yang lemah, yang tidak akan

bisa memberikan perlawanan kepada begal itu. Dia adalah seorang pelajar yang lemah. ''Oh ampuni jiwaku, Tay-ong, ayah ibuku di rumah tentu akan menangis sedih kalau memang mereka menerima berita bahwa aku binasa di tangan Tay-ong, kau boleh mengambil seluruh hartaku, boleh mengambil apa saja yang Tay-ong inginkan, tetapi jangan membunuhku!”

Pelajar itu meratap dengan suara yang gemetar saking ketakutan. Tong Sam Tong tertawa dengan suara yang keras sekali.

“Siapa namamu?” tanyanya dengan suara yang menyeramkan.

Si pelajar cepat-cepat menyebutkan namanya dengan ketakutan. Ternyata pelajar itu she Wang dan bernama Tu Lie. Dia adalah seorang putera hartawan yang kaya raya.

Wang Tu Lie adalah putera tunggal dari Wang Wang-gwee, hartawan Wang, dan sebagai putera tunggal, maka wajar setiap apa saja yang diinginkan oleh Wang Tu Lie akan dituruti oleh ayahnya.

Disebabkan sejak kecil Wang Tu Lie sakit-sakitan saja, maka dia lebih cocok mengambil pelajaran Bun, sastera. Sang ayah telah mengundang beberapa orang guru Bun untuk memberikan pendidikan kepada putera tunggalnya itu.

Karena otaknya memang encer dan cerdas sekali, dan juga memang Wang Tu Lie juga mempunyai banyak guru yang memberikan bimbingan kepadanya, dengan sendirinya cepat sekali dia telah membaca habis beratus-ratus buku dari berbagai penyair dan pengarang. Semua apa yang telah dibacanya itu hafal di luar kepala.

Guru-guru dari Wang Tu Lie juga kagum sekali kepada Tu Lie, malah mereka merasakan, kepandaian Tu Lie telah berada jauh disebelab atas kalau memang dibandingkan dengan diri mereka.

Setelah memberikan pendidikan selama satu tahun lagi, maka guru-guru itu semuanya memohon kepada Wang Wang-gwee untuk berhenti.

Sebetulnya Tu Lie berat berpisah dengan guru-gurunya itu. Dia telah meminta kepada ayahnya agar meminta kepada guru-gurunya itu sudi tinggal menetap terus di gedung mereka.

Wang Wang-gwee telah menyampaikan keinginan puteranya itu kepada guru-guru putera tunggalnya tersebut, tetapi guru-guru dari puteranya itu menyatakan bahwa mereka telah cukup memberikan bimbingan kepada Tu Lie, maka mereka ingin kembali pulang ke kampung mereka masing-masing.

Wang Wang-gwee tidak menahan lagi. Dengan perasaan berat mereka mengantarkan kepergian para guru dari Tu Lie Guru itu seorangnya dibekali lima ratus tail perak oleh Wang Wanggwee untuk bekal di jalan. Tu Lie malah sejak kepergian guru-gurunya itu, jadi kesepian. Itulah sebabnya dia jadi sering jalan-jalan seorang diri. Maka pada hari itupun tanpa ingat waktu dia telah berjalan terus.

Pemandangan yang dilihatnya semakin lama jadi semakin indah, sehingga membuat Tu Lie seperti tenggelam benar-benar dan membuat dia jadi tidak menyadari telah pergi jauh dari rumahnya.

Pada saat itu, orang yang bercambang bewok yang menghadang Tu Lie telah memperdengarkan suara tertawanya yang bengis dan menyeramkan sekali.

“Kau bernama Wang Tu Lie, kau she Wang, tentunya kau putera dari Wang Wang- gwee!” kata orang tersebut dengan suara yang menyeramkan, “Tentunya kau membawa uang yang banyak sekali, bukan?”

Tubuh Tu Lie menggigil ketakutan, cepat-cepat dia meroboh sakunya, dia mengeluarkan seluruh uangnya, diletakkan di tanah.

“Inilah seluruh uang yang ada padaku!?” kata Tu Lie dengan ketakutan. “Ambillah semuanya untuk Tay-ong, asalkan aku tidak dibunuh.”

Mendengar perkataan Wang Tu Lie, Tong Sam Tong telah tertawa keras sekali, tubuhnya tergoncang keras dan juga suara tertawanya itu menyeramkan benar, menambah rasa takut pada diri Tu Lie

“Hanya sebegitu saja uang yang kau bawa!” tanya Tong Sam Tong dengan suara yang menyeramkan benar. “Kalau memang kau tidak bisa mengadakan uang sejumlah seribu tail perak, jiwamu akan bertamasya ke akhirat menemui Giam Lo-ong!” Kata Tong Sam Tong dengan tawar, matanya juga memancarkan cahaya yang bengis sekali.

Tu Lie jadi tambah ketakutan, tubuhnya menggigil keras.

“Ampun Tay-ong aku sudah tak mempunyai uang lagi   yang ada hanyalah uang yang Tay-ong lihat ini!” meratap Tu Lie dengan suara yang ketakutan sekali.

Tong Sam Tog telah memperdengarkan suara tertawanya yang menyeramkan.

“Sreeeetttt!” tahu-tahu di tangan Tong Sam Tong telah tercekal sebatang golok yang tajam berkilat sekali. Rupanya dia telah mencabut senjatanya itu dengan cepat sekali.

Melihat ini, Tu Lie jadi tambah ketakutan. Kakinya dirasakan lemas sekali, juga dia merasakan jiwanya seperti juga telah melayang kedunia barat menemui Giam Lo-Ong. Dengan tubuh menggigil keras, dia berlutut dan memanggut-manggutkan kepala-nya.

“Ampun Tay-ong jangan membunuhku? Ampun Tay ong Ampun ibuku tentu akan menangis dan berduka kalau mengetahui aku telah meninggal, maka dari itu aku minta agar Tay-ong tidak membunuhku ampun Tay-ong!!”

Tong Sam Tong telah tertawa tawar sekali. “Hmm untuk memberikan pengampunan memang mudah, tetapi kau telah memberikan uang yang tidak memuaskan hatiku, maka dari itu, tetap saja kau binasa dimata golokku ini!”

Dan setelah berkata begitu, Tong Sam Tong menggerakkan goloknya itu, yang diputar-putar dengan cepat, yang membuat golok itu jadi berobah seperti ratusan batang.

Melihat hal tersebut, muka Tu Lie semakin pucat, tubuhnya menggigil. Cepat-cepat dia mencopoti seluruh permata yang dikenakannya itu. Diletakkan menjadi satu dengan tumpukan uangnya.

“Ambilah oleh Tay-ong semuanya ambillah Tay-ong, asal Tay-ong jangan membunuhku!” sesambatan Tu Lie dengan suara yang serak, karena pelajar ini saking ketakutan, telah mengucurkan air mala. Dia ternyata telah menangis sedih sekali.

Tong Sam Tong melihat kelakuan dari Tu Lie, dia jadi tertawa terbahak-bahak.

“Hu, lelaki macam apa kau ini?” kata Tong Sam Tong mengejeknya. “Belum lagi kau kubunuh, eh, eh, sekarang kau sudah menangis! Hu! Hu, malu aku melihat ada lelaki macam kau ini!” dan setelah berkata begitu, Tong Sam Tong sengaja menandalkan mata goloknya pada tengkuk pelajar she Wang tersebut. Dia ingin mempermainkan pelajar she Wang tersebut.

“Aku akan menabas putus lehermu!” kata Tong Sam Tong dengan suara yang keras bengis.

“Uaaahhh!” saking ketakutan Tu Lie tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menangis, suara tangisnya itu meledak keras saking ketakutan sekali, takut dibunuh oleh si raja gunung tersebut.

Tong Sam Tong puas melihat anak muda ini ketakutan begitu macam. Dia kemudian memasukkan goloknya itu ke dalam sarungnya. Dengan membungkukkan tubuhnya sedikit maka Tong Sam Tong telah menyapu mengambil semua harta yang ada di tanah.

Dimasukkan ke dalam kantong bajunya. Kemudian waktu akan berlalu Tong Sam Tong menoleh kepada Tu Lie

“Lain kali kalau memang kau mau keluar rumah, bawalah barang permata dan uang yang banyak, karena kalau memang lain kali kau bertemu denganku dan kau mempunyai uang serta permata yang banyak, tentunya aku tidak akan menghina dirimu! Namun kalau lain kali tetap kau melarat seperti sekarang ini, kau jangan mempersalahkan diriku kejam, jiwamu akan kukirim ke neraka untuk menghadap pada Giam Lo-Ong!”

“Ya, ya, ya!” berulang kali Tu Lie telah mengangguk mengiakan.

Kemudian Sam Tong telah melangkah pergi tanpa memperdulikan Tu Lie yang telah tertunduk menduprah di tanah tanpa bertenaga. Baru saja Tong Sam Tong berlalu beberapa tindak, atau telah terdengar suara orang berkata dengan dingin sekali :

“Janganlah membegal di tengah hari bolong seperti ini! kembalikan harta dari Siuchay itu kalau memang kau mau selamat!” dingin suara itu.

Tong Sam Tong terkejut sekali mendengar suara itu. Cepat-cepat dia memutar tubuhnya memandang arah belakangnya.

Di kejauhan tampak seorang bocah berusia diantara enam belas tahun, wajahnya ganteng dan menunjukkan sikapnya yang tenang sekali, juga bibir si bocah memperlihatkan seulas senyum.

Tu Lie juga telah mengangkat kepalanya, dia menoleh ke belakangnya. Ketika dia melihat si bocah, hati Tu Lie jadi mengutuk bocah itu. Karena dengan adanya si bocah, maka Tong Sam Tong jadi membatalkan maksudnya untuk berlalu.

Dengan begitu, Tu Lie jadi benar-benar mendongkol kepada bocah itu, karena dengan adanya si bocah, dirinya jadi tidak bisa cepat-cepat terlepas dari tangan Tong Sam Tong.

Sedangkan bocah yang baru muncul itu telah tersenyum lagi sambil berkata : “Cepat kau kembalikan harta Siuchay itu!” kata bocah tersebut dengan suara yang dingin. “Kalau memang kau tidak mau mengembalikannya, hmmm biarpun kau mempunyai enam pasang tangan dan juga mempunyai tujuh kepala, toh tetap saja kau harus binasa di tanganku!”

Wajah Tong Sam Tong jadi berobah hebat, merah padam. Rupanya disamping bergusar, dia juga mendongkol sekali. Tong Sam Tong sampai berjingkrak mengeluarkan seruan murka.

“Kau bocah setan geladak!” bentak Tong Sam Tong dengan suara yang keras dan

bengis. “Benar-benar kau mencari mampus!”

Dan setelah berkata begitu, dengan cepat sekali, Tong Sam Tong telah melompat dan menerjang kepada si bocah untuk menghajarnya.

Tetapi bocah tersebut tenang sekali, dia telah memperdengarkan suara seruan seperti orang kaget untuk melucu, kemudian dengan cepat sekali tubuhnya telah berkelebat dan dengan cepat sekali si bocah telah lenyap dari pandangan mata Tong Sam Tong,

Pukulan orang she Tong itu jadi jatuh pada tempat kosong. Tong Sam Tong kaget sendirinya, dia heran berbareng mendongkol. Maka dari itu, cepat-cepat Tong Sam Tong telah memutar tubuhnya. Dilihatnya bocah itu telah berdiri di belakangnya dengan tenang sekali. Dan wajah bocah itu memperlihatkan bahwa bocah tersebut, seperti sedang mempermainkan dirinya. Hal ini benar-benar membuat Tong Sam Tong jadi gusar bukan

main. Dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur Tong Sam Tong memutar tubuhnya, cepat luar biasa dia telah menubruk menerjang bocah tersebut, dia menerjang, dan juga akan menyerang dengan menggunakan kedua tangannya secara berbareng.

Hebat sekali cara menyerang dari kedua tangannya itu keluar menyambar angin serangan yang keras, sebab dia telah mengerahkan tujuh bagian tenaga Lweekangnya.

Dengan sendirinya kalau memang sampai si bocah kena diserang oleh serangan Tong Sam Tong, berarti dia akan ‘terbang’ menghadap Giam Lo-ong.

Bocah itu menyadari bahwa Tong Sam Tong sangat murka kepada dirinya. Maka dari itu, melihat hebatnya serangan yang dilancarkan oleh Tong Sam Tong, bocah ini tidak berani meremehkannya.

Cepat luar biasa kaki kirinya telah digeser sedikit, hanya dua tapak, kemudian menyusul kaki kanannya telah dimajukan kedepan, kemudian digeser seperti lingkaran, yang membuat tubuh si bocah jadi doyong menunduk pendek, yang membikin serangan Tong Sam Tong menghajar tempat kosong lagi! Tetapi bocah itu rupanya bukan hanya mengelakkan serangan tersebut.

Disaat kedua serangan Tong Sam Tong bisa dielakkannya, maka dia telah melancarkan serangan juga! Tangan kanannya telah bergerak dengan cepat luar biasa. Tangannya itu telah menyambar baju Tong Sam Tong, dan dia berhasil mencekal baju orang she Tong itu dengan keras. Hal ini mengejutkan benar hati Tong Sam Tong, dia sampai mengeluarkan jeritan tertahan, jeritan kaget.

Tetapi belum dia bisa berbuat apa-apa, maka dia merasakan betapa tahu-tahu tubuhnya telah terangkat tinggi sekali, karena itu memang telah mengangkat tubuh Tong Sam Tong dia telah membantingnya dengan keras sekali.

Begitu tubuhnya terbanting, seketika itu juga Tong Sam Tong merasakan tunggirnya sakit luar biasa, dan pandangan matanya jadi berkunang-kunang. Tong Sam Tong meringis kesakitan sambil mengeluarkan jeritan kesakitan, mukanya seketika itu juga jadi pucat, karena dengan cepat sekali dia menyadari bahwa bocah yang ada dihadapannya ini adalah seorang bocah yang mempunyai kepandaian tinggi luar biasa.

o o o

DENGAN muka yang pucat pias, Tong Sam Tong telah merangkak bangun.

Dia membersihkan debu-debu yang banyak melekat pada tubuhnya, kemudian dengan cepat sekali diapun telah memandang si bocah yang kala itupun sedang menatap dirinya. “SIA siapa namamu?” tanya Tong Sam Tong. Walaupun masih tampak sikap angkuh dan bengis pada diri orang she Tong itu, toh sekarang suaranya tidak sekeras tadi.

Bocah itu telah tertawa dengan suara tertawanya yang tawar.

“Namaku?” tanyanya sambil tetap tertawa. “Apakah perlu kukatakan kepadamu?” balik tanya si bocah dengan suara yang tawar. Atau dengan cepat sekali wajah bocah ini telah berobah lagi menjadi keren sekali, katanya : “cepat kau kembalikan harta Siuchay itu!” 

Tong Sam Tong telah pecah nyalinya, biar bagaimana dia telah tergempur keberaniannya oleh bantingan bocah tersebut. Maka dari itu, biarpun dia masih penasaran, toh hatinya diliputi oleh keraguan. Namun akhirnya dia berpikir, masakan dia kalah oleh seorang bocah sekecil itu? Hal ini benar-benar membuatnya jadi penasaran sekali.

Dengan cepat Tong Sam Tong telah mengerahkan tenaga Lweekangnya pada kedua lengannya. Kemudian dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, dia telah melompat. Dan sambil melompat begitu, tangannya juga telah bergerak menyerang bocah yang ada dihadapannya. Tong Sam Tong telah nekad dan penasaran sekali, maka dari itu dia tidak mau menyerah begitu saja terhadap diri bocah tersebut.

Si bocah begitu melihat dirinya diserang begitu macam oleh Tong Sam Tong dan juga orang she Tong ini tampaknya belum mau tunduk pada kata-katanya, dengan cepat sekali, si bocah telah mengeluarkan suara dengusan.

“Hmm rupanya kau mencari penyakit sendiri!” kata bocah itu dengan suara yang

dingin.

Sambil berkata begitu, si bocah telah menggerakkan tanganya, tubuhnya juga

berkelebat. Cepat bagaikan angin, tangan si bocah telah bergerak menotok jalan darah Sung-ma-hiatnya Tong Sam Tong. Totokan itu tepat sekali mengenai sasarannya. Seketika itu juga tubuh Tong Sam Tong jadi rubuh terjungkal waktu jalan darahnya kena ditotok oleh si bocah.

Dengan mengeluarkan suara keluhan yang panjang, maka tubuh Tong Sam Tong jadi ambruk di tanah dengan keras, dan dia tidak bisa berkutik lagi. Bocah itu telah tertawa lagi sambil melangkah menghampiri.

Dilihatnya Tong Sam Tong mendelik padanya, memandang dengan sorot mata gusar, murka, penasaran dan juga tampak rasa takut di matanya itu.

“Bagaimana? Apakah kau masih mau membangkang terus, heh?” bentak bocah itu dengan suara yang dingin. “Aku tidak pernah berlaku murah hati kepada orang yang suka membangkang terhadap kata-kataku, maka dari itu, kalau kau masih berkepala batu, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!” Tong Sam Tong jadi tambah ketakutan.

“Aku aku aku akan menuruti setiap perintahmu!” kata Tong Sam Tong dengan ketakutan, karena dia jeri nanti orang akan menyiksa dirinya dengan hebat, maka dari itu, dia pikir lebih baik menyerah saja, walaupun dia akan hilang muka karena menyerah dan dapat dirubuhkan oleh seorang bocah seperti bocah tersebut.

Bie Liek tertawa lagi, keras sekali suara tertawanya itu, tubuh si bocah sampai tergoncang disebabkan tertawanya itu.

“Bagus! Bagus!” kata si bocah sambil tetap tertawa. “Bukankah dengan menuruti

setiap kata-kataku kau tidak perlu menderita?”

Dan setelah berkata begitu, maka si bocah telah menghampiri Tong Sam Tong. Dengan menggunakan ujung kakinya, dia telah membuka totokan pada diri orang she Tong tersebut. Dengan wajah yang agak pucat, Tong Sam Tong telah merangkak bangun. Tubuhnya agak menggigil.

“Cepat kau kembalikan barang-barang dari Siuchay itu!” kata si bocah lagi dengan suara yang tawar.

Tong Sam Tong tidak berani membantahnya lagi, dia juga tidak berani membandel. Dengan cepat dia telah mengeluarkan barang si Siuchay itu, dia telah melemparkannya kepada Tu Lie yang masih duduk mendumprah dengan heran, karena melihat betapa Tong Sam Tong dapat ditundukkan oleh seorang bocah yang ada di hadapannya.

Dengan cepat Tu Lie telah mengumpulkan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam sakunya. Tu Lie juga telah merangkapkan tangannya memberi hormat kepala bocah itu.

“Hak-seng, murid, dengan ini memberikan penghormatan kepada Siauwhiap, dan juga dengan ini Hak-seng mengucapkan terima kasih Hak-seng atas bantuan Siauwhiap terhadap diri Hak-seng.”

Bocah itu hanya mengangkat tangannya mengibaskan lengan bajunya. Kemudian dia sudah tidak melayani pelajar she Wang itu lagi. Dia telah menghadapi Tong Sam Tong lagi sambil tertawa.

“Mulai saat ini kuharap kau mau meninggalkan pekerjaan jelekmu ini, kalau memang lain kali aku bertemu denganmu dan kau masih melakukan pekerjaan jelek ini, hmmm, jangan mempersalahkan aku kalau memang aku menggunakan tangan besi terhadap dirimu!” kata bocah tersebut dengan suara yang dingin.

Tong Sam Tong hanya menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap bocah

itu “Bolehkah bolehkah aku mengetahui she yang harum dan nama yang besar dari anda?” Tanya Tong Sam Tong dengan ragu-ragu.

Mendengar pertanyaan Tong Sam Tong itu, si bocah telah tertawa.

“Jadi kau bermaksud nanti membalas sakit hati, bukan?” tanya bocah itu dingin. Wajah Tong Sam Tong jadi berobah pucat.

“Ini ini ” katanya tergugu. Bocah itu telah tertawa lagi.

“Baiklah!” katanya tawar. “Aku akan memberitahukan namaku kepadamu, agar lain kali kalau memang kau masih penasaran, kau boleh mencariku! Dengarkanlah baik- baik, aku bernama Bie Liek! Dengarkanlah! Aku tidak mau kalau memang lain kali disaat- saat mendatang melihat kau melakukan kejahatan lagi, karena aku akan menurunkan tangan keras kepadamu!”

Dan setelah berkata begitu, wajah si bocah, yang ternyata Bie Liek adanya, telah berobah menjadi keren dan agung benar.

“Menggelindinglah kau dari hadapanku!” kata Bie Liek dengan suara yang dingin.

Tong Sam Tong berdiri ragu, tetapi kemudian seperti juga seekor anjing geladak yang kena kayu penggebuk dia telah mengeloyot pergi.

Di dalam waktu yang sekejap saja, dia telah lenyap dari pandangan mata Bie Liek dan Wang Tu Lie.

Setelah Tong Sam Tong menghilang dari pandangannya, Bie Liek menghela napas.

Dia memutar tubuhnya, dan melihatnya Tu Lie sedang mengawasi dirinya.

“Wang Siuchay    sebetulnya    tadi waktu kau dihadang oleh orang itu, aku sudah menyaksikan, tetapi aku menunggu sampai ada bukti bahwa dia memang benar- benar membegalmu, dan ternyata dia benar-benar melakukan hal itu, maka dari itu, aku baru turun tangan. Pergilah kau pulang, mungkin hatimu masih kaget, hati-hati di jalan, lain kali janganlah terlalu jauh memasuki daerah sepi seperti ini!”

Wang Tu Lie mengangguk. Dia telah merangkapkan kedua tangannya, karena Tu Lie memang merasa berterima kasih benar atas bantuan Bie Liek kepadanya.

“Terima kasih Siauwhiap atas bantuan-bantuanmu itu! Kalau tidak ada kau, entah bagaimana dengan nasibku!” kata Tu Lie,

Bie Liek hanya tertawa. Kemudian dia telah membalikkan tubuhnya, melangkah meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh lagi kepada Wang Tu Lie yang kala itu masih berdiri diam di tempatnya memandangi kepergian Bie Liek.

Di dalam hati pelajar she Wang ini sangat heran dan kagum melihat di dalam usia semuda itu Bie Liek bisa mempunyai kepandaian yang begitu tinggi. Setelah Bie Liek lenyap dari pandangan matanya, Wang Tu Lie baru tersadar bahwa dia berada seorang diri di tempat itu, muncul rasa takutnya lagi, kalau memang Tong Sam Tong kembali lagi, bukankah itu akan berabe? Maka dari itu, cepat-cepat dia berlalu dengan setengah berlarian untuk menuju pulang ke rumahnya.

o o o

BIE LIEK telah berlalu perlahan lahan, dia melangkah dengan tindakan kaki yang perlahan, karena dia memang tidak mempunyai tujuan maka dari itu, dia telah menikmati pemandangan di sekitar puncak gunung Lung-san tersebut.

Kalau dia teringat akan Tong Sam Tong, itu begal yang mempunyai wajah bengis sekali, dia jadi sering tersenyum seorang diri. Begal seperti Tong Sam Tong itu, tidaklah akan selamanya berhasil memperoleh barang barang begalan, karena kepandaian Tong Sam Tong masih rendah benar, maka kalau memang dia kebetulan memperoleh mangsa yang tidak mengerti ilmu silat, dia akan berhasil, namun kalau memang dia bertemu dengan jago-jago silat, tentunya orang she Tong itu akan menerima hajaran yang cukup lumayan.

Sedang Bie Liek melangkah terus melakukan perjalanan di jalan sempit dekat puncak gunung Lung san itu, maka dengan tiba-tiba saja di atas udara didekatnya berada telah terbang tiga ekor burung gagak.

Sebetulnya ketiga burung gagak itu tidak membawa hal yang luar biasa sekali, hanya saja, dikala ketiga burung gagak itu terbang dengan cepat, tampak meluncur tiga batang anak panah yang meluncur menyambar dengan tepat ke arah ketiga ekor burung gagak itu yang dengan tepat telah terpanah, yang membuat burung-burung itu jadi menukik rubuh ke bumi! Hal itulah yang telah menarik perhatian Bie Liek.

Si bocah jadi berpikir, siapakah yang mempunyai kemahiran memanah begitu macam, sekali memanah tiga burung gagak dapat dirubuhkannya? Bie Liek jadi tertarik mau mengetahui orang yang telah melepaskan anak panah itu.

Dengan cepat dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat dengan gesit.

Diialam waktu yang sangat singkat sekali, Bie Liek telah melalui belasan lie.

Harus diketahui, jarak satu lie, sama dengan lima ratus enam puluh tujuh meter, maka dari itu, hanya di dalam waktu yang sangat singkat sekali Bie Liek telah bisa melalui jarak sebelas lie, hal itu menyebabkan orang akan mengagumi akan kegesitan dan kelincahan bocah ini. Apa lagi mengingat bahwa jalan yang dilaluinya itu adalah jalan gunung yang banyak terdapat batu-batu yang yang menghalangi perjalanannya.

Dan setelah berlari-lari lagi sesaat, maka Bie Liek telah melihat seorang berpakaian baju yang tebal tengah berdiri dengan busur panah tercekal di tangannya. Orang itu juga tengah menoleh ke arah Bie Liek, sehingga mereka jadi saling mengawasi. Ternyata waktu Bie Liek datang dekat, sehingga dia bisa melihat tegas muka orang itu, dia memperoleh kenyataan muka orang tersebut ganteng sekali, mungkin usianya baru berkisar diantara dua puluh lima tahun, tubuhnya tinggi dan tegap sekali.

Dari pakaiannya itu, dapat diiihat bahwa dia merupakan seorang pemuda keturunan dari kalangan hartawan atau juga putera pembesar negeri.

Sikap orang itu sangat angkuh sekali, terlihat dan sikapnya yang berdiri tegak mengawasi Bie Liek dengan mengerutkan sepasang alisnya.

Bie Liek telah melontarkan seulas senyumnya kepada pemuda itu.

''Hebat sekali! Kau dapat memanah burung gagak itu sekaligus tiga ekor! Sungguh merupakan hasil yang luar biasa dan menandakan kepunsuan dari kau yang benar-benar hebat!” memuji Bie Liek sambil menghampiri.

Orang yang mengenakan mantel bulu itu masih berdiri diam di tempatnya, hanya tangannya yang mempermainkan busur di tangannya itu.

Kedua alisnya masih mengkerut waktu dia menatap Bie Liek.

“Siapa kau?” tegurnya dergar suara yang dingin sekali.

”Aku she Bie dan bernama tunggal Liek!” menyahuti Bie Liek dengan cepat.

Setelah mendengar perkataan Bie Liek, pemuda yang mengenakan mantel berbulu itu telah menoleh ke arah lain, karena dia sudah tidak memperdulikan Bie Liek lagi, dia menduga Bie Liek hanyalah seorang bocah kampung yang kagum melihat dia dapat memanah sekaligus tiga ekor burung gagak.

Maka dari itu, pemuda tersebut tidak meladeni Bie Liek lagi. Bie Liek juga tidak banyak berkata-kata, dia hanya tertarik melibat cara memanah dari pemuda ini. Maka dari itu, dia jadi berdiri di pinggiran untuk menyaksikan pemuda tersebut memanah burung-burung yang lewat di atasnya.

Waktu dua ekor burung gagak lewat lagi di atasnya, maka pemuda yang mengenakan mantel bulu itu telah menarik tali busurnya, sekaligus telah meluncur empat batang anak panah, dan keempat batang anak panah itu telah melesat menyambar kedua burung gagak tersebut.

Tampak kedua burung gagak itu jatuh meluncur ke bawah, karena masing-masing di tubuh mereka telah bersarang dua batang anak panah! Itulah luar biasa dan hebat sekali! Bie Liek sampai bersorak memuji kehebatan memanah pemuda itu.

Si pemuda tersenyum-senyum dengan bangga mendegar Bie Liek memujinya.

Sebagai seorang manusia, diapun senang akan pujian-pujian untuk dirinya.

Maka dari itu, rasa tidak senang akan kehadiran Bie Liek di tempat itu, berangsur- angsur jadi berkurang dan akhirnya lenyap. Liek. Malah pemuda yang mengenakan mantel berbulu itu telah menoleh kepada Bie

“Dua ekor burung gagak itu boleh kau ambil untuk dibawa pulang guna diberikan kepada ibumu!” kata pemuda yang mengenakan mantel berbulu acuh tak acuh.

Bie Liek tertawa.

“Aku orang pengembaraan, pengelana yang tidak mempunyai tempat tinggal dan juga tidak mempunyai kedua orang tua yang bisa kucurahkan rasa kasih-sayangku! Terima kasih! Bukannya aku tidak mau menerima pemberianmu itu, tetapi aku memang tidak mengetahui kedua burung itu harus kuapakan?!” kata Bie Liek.

Mendengar perkataan Bie Liek, wajah pemuda berpakaian bulu tersebut jadi berobah.

''Kau menolak pemberian dariku? Menolak kebaikan hatiku?” tegur pemuda itu agak tersinggung, dia juga mengawasi Bie Liek dengan tatapan mata yang tajam.

Bie Liek cepat-cepat merangkapkan tangannya dia memberi hormat kepada pemuda itu.

“Maafkan! Maafkan! Sekali-kali tidak pernah tersirat di dalam hatiku untuk menyinggung perasaanmu!” kata Bie Liek dengan cepat. “Hanya saja, sayang aku tidak mengetahui burung-burung itu akan kuapakan kalau memang aku menerimanya, dan kupikir memang lebih baik kalau kau yang membawanya saja pulang untuk oleh-oleh orang-orang di rumahmu!”

Si pemuda mengerutkan alisnya, dia menggoyang-goyangkan busur di tangannya.

“Hmmm      kau seorang yang Put-gie,” katanya dingin.

Yang dimaksud oleh si pemuda yang mengenakan baju bulu jeng tebal itu dengan perkataan Put-gie, ialah tidak berbudi.

Bie Liek menghela napas panjang men-dengar perkataan pemuda ttu.

“Maaf sahabat, aku bukan seorang yang Put-gie, tetapi memang aku sedang berpikir kalau memang aku menerima kebaikanmu itu tak ada gunanya bukankah lebih bermanfaat kalau kedua burung itu digabungkan saja dengan hasil buruanmu yang lainnya untuk orang-orang di rumahmu nanti, agar mereka lebih gembira!?”

Mendengar itu, si pemuda telah tertawa tawar.

“Bagus! Kau tidak mau menerima kebaikan hatikupun tidak ada soal apa-apa, aku tidak akan memaksanya, karena aku tidak akan rugi dengan penolakanmu itu! Hanya yang membuat aku kecewa, mengapakah kau harus menolak pemberianku itu! Bukankah dengan kau menerima, lalu membuang ke jurang setelah aku pergi, hal itu tidak akan merugikan dirimu? Mengapa kau harus menolak di depan mata hidungku?” Bie Liek tertawa, berusaha memperlihatkan wajah yang sabar karena dia mengetahui dan juga menyadarinya bahwa si pemuda tersinggung hatinya oleh penolakannya terhadap pemberian si pemuda.

“Kalau memang kau menginginkan aku menerima pemberianmu itu, akupun tidak dapat menampiknya terus. Baiklah! Pemberianmu itu kuterima dengan baik, dan kuucapkan banyak-banyak terima kasih atas kebaikan hatimu ini.”

Dan setelah berkata begitu Bie Liek merangkapkan kedua tangannya lagi, dia menjura kepada si pemuda mengucapkan rasa terima kasihnya.

Si pemuda rupanya memang telah tersinggung, walaupun sekarang Bie Liek telah mau menerima pemberiannya itu, toh malah sekarang dia yang tidak rela untuk memberikan kedua burung hasil buruannya itu kepada Bie Liek. Timbul sikap ketusnya.

“Sudah kau tidak usah menerima pemberianku itu!” katanya dengan mendongkol. “Aku tidak mau lagi kedua burung hasil buruanku itu diambil olehmu! Kata-kataku yang tadi telah kuralat!”

Bie Liek tidak marah mendengar perkataan si pemuda. Ia malah telah tersenyum.

“Janganlah jadi orang yang cepat marah dan cepat tersinggung!” kata Bie Liek. Si pemuda jadi tambah tersinggung mendengar perkataan Bie Liek.

“Hmmm bisa kau berkata begitu?” katanya dengan mendongkol. “Aku tidak membutuhkan nasihatmu, bocah!!”

Mendengar perkataan si pemuda, Bie Liek jadi mengerutkan alisnya. Dia tidak memberikan kata-kata lagi kepada pemuda ini. Hanya saja Bie Liek masih berdiri di pinggiran mengawasi si pemuda berpakaian bulu itu telah mulai merentangkan tali busurnya dan juga mulai mengincar binatang buruannya yang lain. Bie Liek tidak lantas berlalu, karena dia masih mau mengawasi cara si anak muda ini memburu binatang- binatang buruannya.

Telah terdengar menjepret tali busur dari pemuda itu. Tampak sebatang anak panah telah melesat cepat dan bertenaga sekali ke arah seekor burung gagak yang sedang terbang di kejauhan dan tinggi sekali.

Panah itu dengan cepat melesat dan tepat mengenai sasarannya! Burung itu meluncur jatuh ke bumi karena telah terpanah.

Melihat itu, Bie Liek jadi bersorak memuji tanpa disadarinya.

“Bagus! Bagus!” memuji Bie Liek. “Hebat sekali! Hebat benar!” memuji Bie Liek dengan suara yang keras dan juga berbareng dengan suara tepukan tangannya.

Si pemuda yang mengenakan baju mantel berbulu seperti juga tidak mau memperdulikan Bie Liek lagi. Padahal dia mendengar suara pujian dari Bie Liek yang ditujukan kepada dirinya. Dia telah mengambil sebatang anak panah lagi, merentangkan keatas, akan melepaskan lagi, sebab seekor burung gagak tampak terbang di atas mereka.

Waktu si pemuda merasakan posisinya baik, dan incaran dari sasaran telah tepat, maka menjepretlah tali busur itu. Anak panah melesat cepat sekali ke arah sasarannya, yaitu burung gagak yang sedang terbang melayang di atas mereka, cepat dan bertenaga sekali anak panah itu melesat ke arah si burung gagak.

TETAPI dikala anak panah itu melesat ke arah burung gagak sedang meluncur dengan cepat sekali, maka tampak sebutir batu kerikil telah melayang menuju ke arah anak panah.

Tepat sekali arak panah itu terhantam oleh batu kerikil yang menyambar belakangan ini, dan anak panah itu jadi patah dan jatuh ke tanah lagi. Hal ini mengejutkan dan mengagetkan si pemuda yang mengenakan baju mantel tebal itu, dia sampai berjingkrak dan mengeluarkan seruan tertahan.

Apalagi pada saat itu telah terdengar kata-kata dari suara yang tinggi melengking

“Janganlah membunuh binatang yang tidak bersalah terus menerus! Kasihanilah buruan gagak itu, karena mereka tidak bersalah!”