Gerbang Tengkorak Jilid 08

Jilid 08

Bie Liek telah tertawa dingin kembali waktu melihat Hweeshio Siauw Lim Sie terbengong.

“Hei keledai botak, tampaknya kau tambah bodoh saja!” ejeknya. Wajah Bo Siang Hweeshio jadi merah padam kembali seperti kepiting direbus.

Dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras, tubuhnya melambung mencelat ke arah Bie Liek. Dia sedang murka, maka disaat Bo Siang ini mengeluarkan tangannya, tenaga yang dikerahkannya sangat kuat sebali,

Melihat hal itu, Sian Tauw Bun, Sian Su Ling dan Mie Kong jadi kebat kebit hatinya.

Jiwa Bie Liek jadi terancam, sekali saja dia kena diserang oleh si Hweeshio itu, tentu jiwa bocah tersebut akan tamat di situ juga.

Serangan yang dilancarkan oleh Bo Siang Hweeshio kali ini ternyata sangat telengas sekali. Rupanya Hweeshio ini telah murka benar diejek pulang pergi oleh Bie Liek. Bie Liek sendiri melihat bahwa Hweeshio Siauw lim sie ini seperti kalap, tetapi bocah she Bie tersebut masih bisa membawakan lagaknya yang tenang. Tadi dia memang sengaja mengejek terus menerus Hweeshio tersebut, agar darahnya meluap dan ketenangan si Hweeshio jadi lenyap.

Maka itu, dengan penuh kewaspadaan, dan tidak berani main-main lagi, Bie Liek menantikan datangnya serangan Hweeshio tersebut. Waktu kedua tangan si Hweeshio yang dipakai untuk menyerang itu masih terpisah satu depa, Bie Liek telah merasakan angin serangannya telah mendesak dadanya.

Bie Liek menarik napas dalam-dalam. Dia mengerahkan delapan bagian tenaga dalamnya, dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, dia mengangkat kedua tangannya menangkis serangan Hweeshio itu.

Tangan mereka kembali saling bentur. Keras benar benturan tangan mereka, dan tampak tubuh mereka, tubuh Bo Siang Hweeshio dan Bie Liek jadi saling tergetar.

Tangan mereka saling tangkis itu juga tidak lantas terlepas. Menempel keras sekali, mereka seperti juga mengadu tenaga dalam yang menentukan. Sedikit saja salah seorang diantara mereka lemah atau tertindih tenaganya, pasti jiwa mereka akan terbang melayang menuju ke akhirat.

Bie Liek juga terkejut waktu tangannya tidak bisa ditarik pulang seperti menempel di tangan Bo Siang Hweeshio. Bocah she Bie ini menarik napasnya panjang-panjang, memusatkan dipusatnya, dia mengerahkan ke lengannya untuk menarik pulang tangannya. Tetapi usahanya itu tidak berhasil. Malah semakin dia mengerahkan tenaganya untuk menarik pulang kedua tangannya tenaga sedotan dari tangan Bo Siang Hweeshio semakin kuat sekali.

Hal ini mengejutkan Bie Liek juga. Bocah she Bie tidak berani berayal lagi, dia menambah tenaga serangannya. Tetapi, tetap saja dia tidak bisa melepaskan tangannya dari lekatan tangan Bo Siang.

Malah yang hebat. Bie Liek merasakan dari tangan Bo Siang Hweeshio seperti mengalir semacam hawa panas yang menerobos ke tangannya, semakin lama semakin besar, semakin bergelombang.

Semangat Bie Liek hampir saja tergempur. Dengan cepat Bie Liek tersadar.

Rupanya Bo Siang telah melatih tenaga Lweekangnya sempurna betul.

Apa lagi Hweeshio-Hweeshio Siauw-lim-sie selalu melatih tenaga dalam menurut aliran putih, aliran bersih, yang diwarisi oleh Tat-mo Cauwsu, maka bisa dibayangkan tenaga Lweekang Hweeshio ini liehay sekali.

Tetapi Bie Liek juga tidak menjadi gugup. Dengan cepat sekali, begitu dia tersadar, begitu dia lantas menarik pulang seluruh tenaga dalamnya sekaligus. Bo Siang Hweeshio jadi kegirangan, karena tahu-tahu dia merasakan tenaga pertahanan si bocah buyar seluruhannya. Dia duga Bie Liek sudah tidak kuat untuk mempertahankan dirinya terus.

Dengan cepat Bo Siang Hweeshio mengempos semangatnya, dia bermaksud sekali enjot akan membinasakan Bie Liek. Dan, tenaga Lweekang si Hweeshio jadi tersalur keluar hampir seluruhnya, dia bermaksud akan menghantam binasa bocah yang ada dihadapannya.

Tetapi tiba-tiba hati Bo Sang Hweeshio jadi mencelos dan dia jadi mandi keringat dingin. Mengapa? Karena tiba-tiba Be Liek seperti juga lenyap dari hadapannya! Hal ini mengejutkan dan membikin si Hweeshio jadi terkesiap.

Karena dengan tersalurnya hampir seluruh dari tenaga Hweeshio tersebut, dia jadi terjerunuk maju ke depan hilang keseimbangan tubuhnya waktu Biek Liek lenyap dengan sangat tiba-tiba dari hadapannya!

Bo Siang Hweeshio berusaha untuk menahan langkah kakinya itu, tetapi karena dia tadi telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, maka tubuhnya jadi terjerunuk. Untung saja di depannya terdapat sebuah batu gunung yang menonjol, maka Bo Siang mengalihkan sasaran dari tenaga dalamnya itu menghajar batu gunung tersebut.

Terdengar suara ‘brakkk!’ yang keras sekali, dan batu gunung itu telah menjadi sasaran tangan Bo Siang Hweeshio. Batu tersebut jadi hancur berkeping-keping dan jatuh berlurukan.

Dengan mengalihkan serangan tenaga dalamnya itu pada batu gunung tersebut, maka Bo Siang Hweeshio jadi tak usah menderita malu disebabkan jatuh terjerembab.

Hanya saja, dengan terjadinya peristiwa seperti tadi, maka keringat dingin jadi membanjiri kening Hweeshio Siauw Lim Sie tersebut.

Mengapa Bie Liek dapat lenyap dengan tiba-tiba waktu tadi Bo Siang menyerang diri si bocah sepenuh tenaganya? Ternyata, tadi disaat Bie Liek menarik pulang seluruh tenaganya, si bocah telah menekuk kakinya, dia berjongkok. Karena dia seorang bocah bertubuh tidak seberapa tinggi, maka disaat dia menekuk kedua kakinya, dia berada bawah sekali. Dan serangan Bo Siang Hweeshio lewat di atas kepalanya, maka Bie Liek telah mengenjotkan kedua kakinya, tubuhnya mencelat kerarah tempat yang agak jauh dengan Bo Siang Hweeshio.

Dengan sendirinya Bie Liek jadi bisa menyaksikan Bo Siang Hweeshio menghajar batu gunung itu sampai hancur, dan Bie Liek meuganggap hal itu sangat lucu sekali, sehingga dia jadi tertawa tergelak-gelak.

Bo Siang Hweeshio pada saat itu telah dapat berdiri tetap kembali. Dia membalikkan tubuhnya menatap Bie Liek dengan muka yang merah padam saking gusarnya. Tubuh si pertapa dari Siauw Lim Sie ini menggigil menahan perasaan murkanya.

“Bocah busuk!” bentaknya dengan murka. “Kalau memang hari ini Pinceng tak bisa membunuhmu, maka untuk seterusnya Pinceng tidak akan terjun ke dalam dunia kangouw lagi!!”

Bie Liek ketawa dingin, sikap bocah she Bie ini tetap tenang sekali. “Apakah kata-katamu ini bisa dipegang dan dipercaya?” tegur si bocah. Bo Siang Hweeshio jadi tambah gusar.

“Kata-kata Pinceng berat seperti larinya seribu ekor kuda!” kata si Hweeshio dengan murka, sehingga jenggot dan kumisnya seperti bergerak-gerak berdiri. “Dan kalau memang Pinceng tidak bisa merubuhkan dirimu, berarti untuk seumur hidup Pinceng tak akan keluar dari kelenteng Siauw-lim-sie lagi!”

Bie Liek ketawa mengejek.

“Tetapi aku tidak bisa mempercayai kata-kata seekor keledai gundul sepertimu!” kata Bie Liek.

Mendengar perkataan Bie Liek, kemurkaan Bo Siang Hweeshio jadi meluap melewati takarannya. Tubuh Hweeshio ini gemetar menahan perasaan murkanya itu, mukanya jadi silih berganti, dari merah berubah menjadi pucat, kemudian berobah merah lagi dan beralih ke pucat lagi. Bibirnya juga gemetaran.

o

o o

MELIHAT kegusaran orang, Bie Liek sengaja memperdengarkan suara tertawa dinginya lagi.

“Hei keledai gundul, mari kita bertaruh!” kata Bie Liek dengan suara yang memandang enteng kepada si Hweeshio. “Kalau memang kau tidak berani menerima ajakanku untuk bertaruh, kau memang benar-benar seekor keledai bodoh yang pengecut!!”

Mendengar perkataan Bie Liek, tubuh Bo Siang Hweeshio gemetaran menahan perasaan murkanya. Dia sampai berulang kali memuji kebesaran sang Budha dengan suara yang gemetaran, karena dia murka, tetapi murka tanpa daya.

“Sebutkan taruhanmu, bocah busuk!” bentak Bo Siang Hweeshio kemudian. “Walaupun kau mau bertaruh untuk saling potong-potongan leher dan kepala, aku akan menyetujuinya!” Mendengar perkataan si Hweeshio Siauw-lim-sie, kembali Bie Liek memperdengarkan suara tertawanya yang mengejek.

“Tak usah potong-potongan leher!” katanya tawar. “Yang penting kita bertaruh, kalau memang aku sampai rubuh di tangan seekor kerbau botak yang bodoh semacam dirimu ini, biarlah aku akan memanggil dirimu dengan sebutan kakek moyang seratus kali dan keempat anak buahmu ini akan kubebaskan boleh kau bawa kembali pulang ke kuil Siauw-lim-sie!”

Bo Siang Hweeshio jadi tambah gusar, karena dengan berkata begitu, si bocah she Bie itu seperti juga memandang enteng sekali padanya.

“Baik! Baik!” katanya dengan penasaran sekali. “Begitu juga boleh! Dan ingat, kalau memang kau dapat kurubuhkan bukan hanya untuk menyembah dan memanggil aku kakek moyangmu, melainkan juga harus kubunuh sekalian!!”

Bie Liek ketawa tawar mendengar perkataan si Hweeshio. Sikapnya tetap tenang.

“Baik! Boleh! Begitupun boleh!” kata si bocah dengan cepat. “Tetapi kalau memang aku tidak bisa kau rubuhkan, malah kau yang kurubuhkan, maka kau pun harus menyerahkan kembali kitab Kim Hun Pit-kip! Bagaimana? Kau berani?”

Si Hweeshio jadi ragu-ragu mendengar pertanyaan si bocah.

“Bagaimana? Kau jeri menerima tantanganku itu?” tanya Bie Lik dengan sikapnya yang memandang enteng kepada Hweeshio itu.

Ditantangi begitu macam, dan melihat wajah Bie Liek yang menatap dia dengan cahaya memandang rendah, darah si Hweeshio jadi meluap lagi.

“Baik!” akhirnya dia menerima tantangan si bocah. “Begitupun jadi! Tetapi ingat, kalau memang kau dapat kurubuhkan, maka untuk seterusnya kau akan kukirim ke neraka!!”

Bie Liek ketawa dingin.

“Apakah janjimu ini dapat kupercaya?” tanya Bie Liek dengan suara yang sengaja dibuat seperti tidak mempercayai perkataan Bo Siang Hweeshio.

Mata Bo Siang Hweeshio jadi mencilak memain, matanya itu seakan juga terbalik saking gusarnya. Dia merogoh sakunya, dia mengeluarkan dua jilid kitab. Dilemparnya kedua jilid kitab itu ke tanah, dia berkata dengan bengis : “Itulah kedua kitab yang kau katakan! Ambillah olehmu kalau memang kau dapat merubuhkan diriku! Tetapi kalau memang kau dapat kurubuhkan, berarti kau harus binasa di tanganku, bocah monyet!”

Bie Liek tidak melayani kegusaran Hweeshio itu, dia ketawa mengejek.

“Hu keledai botak yang tidak tahu diri!” mengejek si bocah terus. “Apakah kau masih berkhayal akan dapat merubuhkan diriku? Apakah kau tidak tahu bahwa setan- setan dari akhirat yang menjadi utusan dari Giam-lo-ong sedang mengintai jiwa tololmu itu?”

Bo Siang Hweeshio jadi tambah murka, dia sudah tidak dapat menahan perasaan murkanya itu. Maka dari itu, dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, dia melompat ke arah Bie Liek. Kedua tangan si Hweeshio juga bergerak dengan cepat sekali, dia menyerang dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Hebat sekali tenaga serangan Bo Siang kali ini, karena dia sedang murka sekali.

Bie Liek juga sebetulnya mengetahui bahwa serangan Hweeshio ini kali tidak boleh dibuat main dan tidak boleh dipandang enteng, kalau memang dia lengah sedikit saja dan dirinya kena diserang oleh Bo Siang, berarti dia akan binasa!

Maka dari itu, Bie Liek mementangkan kedua matanya lebar-lebar. Dia bersiap- siap menantikan setiap serangan dari si Hweeshio. Disaat dia melihat kedua tangan si Hweeshio yang menyerang dirinya dengan hebat, Bie Liek dengan cepat menarik napas dalam-dalam, dia memusatkan seluruh tenaganya di Tantin, di pusatnya.

Disaat serangan Bo Siang Hweeshio hampir mengenai dirinya, disaat dia menantikan dengan penuh kewaspadaan begitu, maka Bo Siang telah mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur : “Rubuh!”

Dan tenaga serangan Hweeshio tersebut semakin hebat mendesak Bie Liek. Tetapi Bie Liek yang memang telah bersiap-siap dari setiap serangan Hweeshio ini, telah berjaga-jaga.

Maka, disaat si Hweeshio membentak begitu, si bocah Bie Liek juga telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menangkis serangan Hweeshio dari Siauw-lim-sie ini. Tangan mereka jadi saling beradu dengan keras, menimbulkan suara yang keras memekakkan anak telinga.

Sian Tauw Bun, Siansu Lirg dan Mie Kong yang menyaksikan pertandingan yang hebat itu, jadi berdebar keras hati mereka. Lebih-lebih Sian Tauw Bun, dia jadi mengharapkan kemenangan Bie Liek.

Sebab kalau memang Bie Liek berhasil dirubuhkan oleh Bo Siang Hweeshio, berarti dia juga akan binasa di tangan Hweeshio Siauw-lim-sie tersebut.

Tampak tangan Bo Siang Hweee-shio dan Bie Li'ek saling menempel seakan juga tidak akan terlepaskan. Kedua orang ini sedang mengerahkan Lweekang masing-masing untuk merubuhkan lawan mereka.

Tampak tubuh kedua orang ini bergeletar menahan arus Lweekang lawan masing- masing. Sekali saja lengah, maka salah seorang diantara mereka akan terbinasakan! Kedua orang tersebut jadi saling mengempos semangat mereka. Sebetulnya pertandingan diantara Bie Liek dengan Bo Siang Hweeshio tampaknya agak janggal, karena selain yang satu seorang Hweeshio yang telah tua, dan yang satu lagi menyerupai seorang bocah yang baru berusia belasan tahun!

Itulah suatu kejadian yang luar biasa, yang jarang sekali terjadi di dalam dunia persilatan. Bie Liek merasakan tenasa serangan dari tenaga dalam Bo Siang Hweeshio semakin lama semakin kuat, merangsek terus dengan kekuatan yang tidak terhingga.

Tetapi, tenaga serangan Hweeshio itu yang datangnya secara bergelombang, menyebabkan Bie Liek tambah bersemangat mengerahkan tenaga dalamnya. Dan Bo Siang Hweeshio sendiri merasakan arus tenaga Bie Liek semakin lama semakin kuat, mendesak tenaga dalamnya. 

Hati si Hweeshio Siauw Lim Sie jadi tergoncang hebat, karena kalau saja dia kena dirubuhkan oleh si bocah, berarti dia akan rubuh terjungkal dan nama besarnya akan runtuh! Nama besarnya yang telah dipupuknya beberapa puluh tahun itu akan punah begitu saja oleh seorang bocah seperti Bie Liek!

Tetapi, disebabkan kegugupannya itu, maka hal itu menambah suatu keuntungan bagi Bie Liek. Karena dengan gugupnya si Hweeshio, pikiran Bo Siang jadi agak kalut. Dan itu sudah menjadi suatu keuntungan bagi Bie Liek. Dengan tidak terpusatnya semangat si Hweeshio, Bie Liek bisa mengerahkan tenaga murninya itu dengan leluasa..

Juga bocah she Bie ini merasakan semangat Bo Siang Hweeshio semakin lama semakin menurun dan menyebabkan semangat Bie Liek jadi terbangun! Bocah she Bie ini mengempos semangatnya menambah tenaga serangan, sehingga Bo Siang Hweeshio benar-benar terdesak.

Malah yang tampak jelas sekali, Bo Siang Hweeshio sangat terdesak, dari kepalanya yang gundul itu tampak keluar semacam uap putih, dan juga napas si Hweeshio telah memburu keras. Bulir-bulir keringat yang sebesar biji kacang kedele telah membanjiri kening dan wajah si Hweeshio.

Sian Tauw Bun yang menyaksikan hal tersebut jadi agak tenang hatinya. Begitu juga Su Ling.

Tadinya mereka begitu berkuatir sekali atas keselamatan diri si bocah she Bie tersebut. Tetapi setelah melihat bahwa napas Bo Siang Hweeshio telah terengah-engah dan napas Bie Liek masih lancar seperti biasa, maka hati mereka jadi tenang, sebab seketika itu juga mereka bisa menarik kesimpulan bahwa kemenangan akan berada di dalam telapak tangan Bie Liek!

Seoetulnya memang tidak masuk di dalam akal bahwa seorang bocah berusia tiga belas tahun seperti Bie Liek ini dapat mengalahkan seorang Hweeshio tua berpengalaman dari Siauw Lim Sie! Tetapi biarpun Sian Tauw Bun dan puterinya sangat heran menyaksikan hal tersebut, toh hal itu telah menjadi suatu kenyataan dan mereka bisa menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri!

Mereka jadi tambah kagum kepada Bie Liek, dan benar-benar tunduk akan keluar biasaan dari si bocah she Bie itu!

Jangankan Bie Liek yang baru berusia diantara belasan tahun itu, sedangkan seorang jago yang biasa, belum tentu akan mampu melawan sepuluh jurus terhadap si Hweeshio Bo Siang yang berasal dari Siauw Lim Sie ini.

Sedang Sian Tauw Bun dan Sian Su Ling bersama Mie Kong mengawasi dengan mata yang tidak berkedip ke arah gelanggang pertempuran itu, tiba-tiba terdengar Bo Siang Hweeshio mengeluarkan suara bentakan yang keras mengguntur, disertai oleh suara bentakan Bie Liek yang nyaring melengking. Sian Tauw Bun, Sian Su Ling dan Mie Kong jadi tercekat hatinya, serasa semangat mereka seperti terbang meninggalkan raganya.

Mereka menduga bahwa Bie Liek telah kena dicelakai oleh Hweeshio Siauw Lim Sie itu.

o o o

SUATU hal yang hebat memang telah terjadi di antara diri Bie Liek dan Bo Siang Hweeshio!

Tadi, Bo Siang Hweeshio merasakan tenaga serangan dari Bie Liek yang datangnya bergelombang itu semakin lama jadi semakin kuat dan hati si Hweeshio Siauw Lim Sie jadi semakin gugup dan pikirannya jadi kalut.

Padahal, dengan begitu Bo Siang Hweeshio telah melanggar suatu pantangan dari jago-jago silat di dalam rimba persilatan yang mengatakan bahwa orang tidak boleh gugup menghadapi lawan, karena dengan lenyapnya ketenangan diri, berarti kekalahan lebih besar berada dipihaknya.

Dan saking gugupnya. Bo Siang Hweeshio jadi mengerahkan tenaga dalamnya dan dia mengerahkan di luar dari kekuatan yang ada pada dirinya, dia mengeluarkan suara bentakan untuk menyalurkan tenaga serangan itu!

Bie Liek yang merasakan serangan si Hweeshio yang mendadak berobah begitu hebat, jadi tercekat hatinya.

Dia kaget bukan untuk berdiam diri, melainkan si bocah dengan cepat dapat menguasai dirinya. Dengan cepat dia juga membentak dengan suara yang nyaring, dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Dua tenaga raksasa saling bentur diudara, menimbulkan suara yang hebat. Tetapi akibat dari benturan kedua tenaga raksasa itu, hebat sekali bagi Bo Siang Hweeshio, pertapa dan Siauw-Lim sie itu. Tampak tubuh Bo Siang Hweeshio terpental melambung tinggi sekali. Lalu ambruk di tanah dengan keras. Bie Liek sendiri juga terpental, tetapi dia rubuh di tanah untuk lantas berbangkit kembali.

Siauw Tauw Bun yang melihat keadaan si bocah, cepat-cepat menghampiri. Begitu juga Su Ling dan Mie Kong. Mereka manghampiri juga.

“Kau tidak apa-apa, Bie Siauw-hiap?” tanya Sian Tauw Bun dengan penuh kekuatiran.

Bie Liek tersenyum sambil membersihkan debu-debu yang melekat dibajunya.

“Jangan kuatir Sian Loopeh, aku tidak mengalami cidera apa-apa!” dia menyahuti.

Dan si bocah menoleh ke arah Bo Siang Hweeshio. Dan Bie Liek jadi mengeluarkan seruan teruhan. Siauw Tauw Bun dan yang lainnya jadi heran, mereka memandang juga ke arah Bo Siang Hweeshio. Begitu mereka melihat, begitu mereka mengeluarkan seruan kaget.

Apa yang mereka saksikan?

Ternyata Bo Siang Hweeshio menggeletak di tanah tak bernapas, dari mulutnya mengalir darah merah, dan mata Hweeshio itu mendelik. Sedikitpun tubuhnya tidak bergerak, menandakan bahwa dia menang telah dicabut jiwanya oleh utusan Giam Lo ong!

Bie Liek sendiri jadi kaget melihat akibat dari tenaga serangannya. Sekali lompat saja dia sudah berada di sisi mayat Hweeshio Siauw-lim-sie itu. Dia berjongkok dan memeriksa keadaan Bo Siang Hweeshio. Didapatinya tubuh si Hweeshio telah kejang kaku tak berjiwa lagi.

Hati Bie Liek jadi tergoncang juga. Sebetulnya tadi dia tidak bermaksud untuk membunuh Hweeshio tersebut, dan dia menyesal bahwa Bo Siang Hweeshio sebagai seorang pertapa yang kosen sampai rubuh terbinasa di tangannya.

Siauw Tauw Bun dan puterinya bersama Mie Kong juga datang menghampiri.

Siauw Tauw Bun menghela napas waktu melihat keadaan Bo Siang Hweeshio.

Dia juga berasa sayang akan kebinasaan Hweeshio Siauw-lim-sie ini, karena biar bagaimana waktu dia bekerja sebagai juru masak di dalam kuil Siauw-lim sie, dia mengetahui tabiat Hweeshio ini cukup baik.

Hanya mungkin dapat dipengaruhi oleh Bong Goan Hweeshio, Hong-thio Siauw- lim-sie itu, maka Hweeshio ini jadi berobah begitu kukuh. Hanya sayangnya, dia binasa hanya untuk membela Hong-thio dari Siauw-lim-sie.

Bie Liek juga menghela napas. “Sayang! Harus dibuat sayang, seorang jago yang kosen seperti Bo Siang Hweeshio harus binasa secara demikian!!” kata Bie Liek dengan suara mengandung penyesalan.

Sian Tauw Bun juga menghela napas.

“Tetapi lebih baik memang dia menemui kebinasaannya secara begini, karena kalau sampai dia dipengaruhi terus oleh Hong-thio Siauw-lim-sie maka dia lebih menderita lagi!” kata Tauw Bun.

Bie Liek mengangguk.

Perlahan-lahan bocah she Bie ini bangkit berdiri, kemudian setelah menghela napas sekali lagi, dia menghampiri ke arah keempat Hweeshio yang tadi ikut bersama Bo Siang.

Dibebaskannya totokan keempat Hweeshio itu, dan setelah keempat Hweeshio itu terbebas dari totokannya, Bie Liek berkata penuh penyesalan :

“Seharusnya perkara jiwa seperti ini tidak perlu terjadi, tetapi karena Bo Siang Hweeshio terlalu mendesak, maka telah terjadi hal yang menyedihkan ini! Tetapi secara terus terang, semua ini mau kutanggung seluruhnya, dan ini memang menjadi tanggung jawabku! Kalau memang kalian ingin mencari balas atas kematian Bo Siang, maka carilah aku, pasti kalian akan kulayani!!”

Keempat Hweeshio itu tidak mengatakan apa-apa, mereka hanya menatap dengan penuh rasa dendam. Tetapi karena dia telah menyaksikan tadi betapa liehaynya bocah yang dihadapannya ini, maka mereka tidak berani mengambil langkah-langkah untuk menempurnya.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun keempat Hweeshio ini telah memutar tubuh, dan mereka ngeloyor pergi.Bie Liek juga tidak bermaksud untuk menahan keempat Hweeshio itu.

Si bocah menghampiri kedua jilid kitab yang menggeletak di tanah. Diambilnya dan diserahkan kepada Sian Tauw Bun.

“Benarkah kedua kitab ini Loo-peh terima dari Ceng Sian Siansu?” tanya Bie Liek.

Sian Tauw Bun menyambuti kedua kitab itu dari tangan Bie Liek. Dibalik-baliknya halaman kitab itu, dan dia kemudian mengangguk-angguk membenarkan.

“Benar! Inilah kedua kitab Kim Hun Pit-kip!” kata Tauw Bun dengan girang. “Dan Bie Siauw-hiap, terimalah kedua kitab ini untuk kau pelajari!”

Sebetulnya Bie Liek mau menolaknya, tetapi karena beberapa hari yang lalu dia telah menyetujui untuk menerima kitab itu dari pemberian Sian Tauw Bun, akhirnya diteri manya juga kedua jilid kitab Kim Hun Pit-kip. “Hayo kita berangkat!” kata Bie Liek sambil memasukkan kedua jilid kitab itu ke dalam sakunya.

Sian Tauw Bun mengangguk. Mereka masing-masing melompat kekuda mereka. Waktu dalam perjalanan pulang itu, Bie Liek berkata kepada Sian Tauw Bun : “Dengan terjadinya peristiwa ini, maka untuk seterusnya aku harus berhadapan langsung dengan pihak Siauw-lim-sie, Sian Loopeh!” kata Bie Liek.

Sian Tauw Bun mengangguk.

“Ya   kau harus berwaspada dan hati-hati terhadap mereka!” katanya dengan

cepat.

Bie Liek hanya tersenyum, dia membedal kudanya yang dilarikan dengan cepat

sekali. Mereka bermaksud kembali kedaratan Tionggoan pedalaman. Dan peristiwa hebat, angin badai akan terjadi dan bergolak di dalam dunia persilatan.

PAGI itu sebetulnya udara sangat dingin sekali, dan juga udara diliputi oleh kabut yang tebal sekali, sehingga keadaan disekitar telaga Teng-ouw sangat sepi sekali.

Diantara kelenggangau dan kesunyian di sekitar tempat tersebut, tampak dua orang pemuda yang sedang berjalan perlahan-lahan dengan langkah yang ringan. Mereka menuju ketepi telaga disebelah selatan, dan wajah kedua pemuda tersebut sangat muram.

Rupanya ada suatu peristiwa besar yang sedang mereka hadapi, dan dari langkah kaki mereka yang melangkah perlahan-lahan menandakan bahwa mereka sedang dirundung hati susah.

Tiba-tiba salah seorang diantara kedua pemuda itu menoleh kepada kawannya.

“Sam-ko, apakah menurutmu si Tangan Geledek akan datang menepati janjinya?” tanya si pemuda itu.

Anak muda yang satunya, yang menjadi kawannya mengangguk.

“Aku yakin dia akan datang untuk menepati janjinya!” dia menyahuti.

“Tetapi Sam-ko, kukira kalau memang dia mendengar bahwa kita akan melakukan perhitungan dengan dirinya, dia tentu akan jeri untuk datang kemari!!”

Anak muda yang seorangnya tertawa, sikapnya lebih tenang kalau dibandingkan dengan kawannya.

“Kita tidak usah terlalu pusing-pusing memikirkan apakah dia mau datang

menepati janjinya atau tidak!!” katanya dengan suara yang tawar. “Yang penting kita telah datang menepati janji dan menunggu kedatangannya! Kalau memang Si Tangan Geledek tidak muncul, berarti dia adalah seorang Bu Beng Siauw cut!”

Bu Beng Siauw cut berarti penjahat kecil tak bernama. Kawan si pemuda tertawa kecil.

“Ya, ya, kalau memang si Tangan Geledek tak datang untuk menepati janjinya, berarti dia seorang Bu Beng Siauw-cut!!” katanya gembira.

Kawannya mengangguk.

“Maka dari itu lebih baik kira menunggu saja, dan kita mempunyai alasan untuk menjatuhkan nama si Tangan Geledek kalau memang dia tidak menepati janjinya!” katanya.

Dan kedua pemuda ini, yang usianya hampir sebaya dan berusia dua puluh tiga tahun, berjalan terus menuju ke tepi telaga itu. Waktu sampai di tepi telaga, mereka berdiri memandang riak air telaga yang tertiup dan dipermainkan siliran angin.

Keindahan ditelaga Teng-ouw memang sangat menarik sekali. Dan keindahan telaga itu untuk sementara membuat kedua pemuda tersebut jadi berdiri menikmati keindahan pemandangan ditelaga Teng ouw. Lama juga kedua pemuda tersebut berdiri di tepi telaga Teng-ouw tersebut.

Sampai akhirnya salah seorang diantara kedua pemuda itu menuju kesebuah pohon. Dia duduk dibawah pohon ini, dan menjumput beberapa butir batu kerikil, yang dilemparkan batu itu sebutir demi sebutir, sehingga menimbulkan riak gelombang air, dan batu itu tenggelam amblas ke dalam telaga .

Kawan si pemuda yang seorang masih tetap berdiri ditempatnya, dia masih menikmati keindahan telaga itu. Sikap kawannya yang melempari telaga dengan batu- batu kerikil itu tidak menjadi perhatiannya.

Tiba-tiba si pemuda yang duduk di bawah pohon dengan batu-batu kerikil di tangannya yang dibuat main, dia berkata : “Sam-ko, mengapa dia belum datang?” tanyanya.

Yang dimaksud dengan perkataan ‘Dia’ di sini ialah si Tangan Geledek. Pemuda yang satunya, yang dipanggil Sam-ko, menoleh kepada kawannya.

“Ngo-tee, mengapa kau cerewet sekali seperti seorang Siocia pingitan?” kata si Sam-ko dengan suara yang kesal, dan dia juga menghampiri ke arah pemuda dibawah pohon itu, yang dipanggil dengan sebutan Ngo-tee itu, yang berarti adik yang nomor lima.

Si Ngo-tee tersenyum mendengar perkataan Sam-konya itu. Sam-ko berarti kakak nomor tiga. “Aku bukan Siocia, Sam-ko!” katanya tetap tersenyum. “Aku bukannya cerewet seperti nenek-nenek atau gadis-gadis pingitan, tetapi kukira si Tangan Geledek memang tidak berani datang untuk menepati janjinya ini!!”

Siocia berarti gadis.

Si pemuda yang dipanggil Sam-ko itu juga jadi tersenyum,

“Kita tunggu selama sepemakanan nasi lagi, baru nanti setelah dia tidak datang juga kita kembali pulang kerumah!!” katanya. “Dan untuk seterusnya kita boleh siarkan bahwa si Tangan Geledek adalah seorang Bu Beng Siauw-cut!”

“Benar!” si Ngo-tee membenarkan. “Aku akan menyebar luaskan beritanya ini, agar si Tang├ín Geledek yang besar mulut itu mendapat malu!”

Si Sam-ko hanya mengangguk. Kemudian keduanya tenggelam kembali di dalam kesunyian. Mereka telah menikmati lagi keindahan telaga Teng-ouw tersebut. Sedangkan si Ngo-tee tetap duduk di bawah pohon, dan masih terus melempari telaga itu dengan batu-batu kerikil kecil, sehingga membuat lingkaran-lingkaran pada air, yang membesar bergelombang kemudian lenyap tersilir hembusan angin !

Tiba-tiba kesunyian di telaga Teng-ouw itu dipecahkan oleh suara derap kaki kuda. Si Sam-ko dan si Ngo-tee, kedua pemuda itu, jadi menoleh ke arah datangnya suara derap kaki kuda.

Malah si Ngo-tee telah melompat berdiri dari duduknya, dan telah membuang batu-batu kerikil yang masih tersisa di dalam genggaman tangannya.

Kedua pemuda tersebut mementang mata mereka menatap penuh kewaspadaan ke arah datangnya suara derap kaki kuda itu. Dari jauh sudah tampak debu yang mengepul agak tinggi.

Kalau didengar dari suara derap kaki kuda yang sedang mendatangi itu, dan juga dilihat dari mengepulnya debu-debu itu, maka dapat diperkirakan bahwa penunggang kuda yang sedang mendatangi itu bukan sendirian, melainkan paling sedikit bertiga.

Si Ngo-tee menoleh kepada Sam-konya.

“Si tangan Geledek datang bersama kawan-kawannya!” kata si Ngo-tee dengan sengit. “Hu! Dia ternyata memang seorang Bu Beng Siauw-cut yang terlalu besar mulut saja! Dia mengatakan bahwa akan datang kemari sendirian saja, tetapi nyatanya? Hmm dia datang bersama beberapa kawan-kawannya!”

Si Sam-ko mengangguk membenarkan.

“Ya, ruanya si Tangan Geledek memang seorang Bu Beng Siauw-cut.” katanya.

Dan mereka mengawasi terus. Penunggang kuda yang sedang mendatangi itu semakin lama semakin mendekati. Dan kedua pemuda yang saling memanggil dengan sebutan Ngo-tee dan Sam-ko tersebut jadi dapat melihat dengan tegas, bahwa para penunggang kuda itu ternyata seorang lelaki tua, seorang gadis berusia diantara dua puluh tahun dan dua orang bocah.

Waktu melewati kedua pemuda tersebut, semua penunggang kuda itu hanya melirik, dan keempat penunggang itu berhenti di dekat tepi telaga. Mereka masing- masing telah melompat dari kuda tunggangan mereka masing-masing.

Si Ngo-tee telah menoleh kepada Sam-konya lagi.

“Mereka bukan si Tangan Geledek, Sam-ko!!” katanya kemudian dengan agak kecewa.

Sam-konya itu juga mengangguk.

“Ya mereka mungkin pelancong yang hanya ingin menyaksikan keindahan telaga ini.” menyahuti si Sam-ko.

Dan kedua pemuda ini jadi tidak memperhatikan keempat penunggang kuda itu lagi. Ternyata keempat penunggang kuda tersebut adalah Sian Tauw Bun, Sian Su Ling, Bie Liek dan Mie Kong.

Keempat orang ini sebetulnya memang sedang menuju kepedalaman daratan Tionggoan, dan kebetulan pada hari ini, mereka melihat kedua anak muda tersebut, malah Bie Liek telah melihat sikap kedua pemuda ini yang mencurigakan, maka dia meminta kepada Sian Tauw Bun untuk berhenti di tepi telaga itu untuk pura-pura sedang menikmati keindahan alam disekitar telaga itu.

Dan secara diam-diam, Bie Liek, Sian Tauw Bun yang lainnya memperhatikan gerak-gerik kedua pemuda itu, yang sangat mencurigakan sekali.

Sedangkan kedua pemuda itu, si Ngo-tee dan si Sam-ko telah hilang kesabaran menantikan orang yang mereka sebutkan sebagai si Tangan Geledek.

“Sudahlah Sam-ko!” kata si Ngo-tee pada akhirnya dengan kesal. “Rupanya si Tangan Geledek itu memang benar-benar seorang pengecut, dia ternyata memang tidak berani datang untuk menepati perjanjian ini!!”

Si Sam-ko mengangguk membenarkan.

“Ya   ayo kita pulang!!” katanya kemudian.

Tetapi baru saja mereka mau berlalu, tiba-tiba menyambar sebuah batu yang besar sekali, berukuran setengah bulat, yang menyambar ke tengah telaga, dan batu itu kecebur di telaga tersebut, sehingga menimbulkan gelombang air yang agak besar di telaga tersebut.

Sian Tauw Bun, Sian Su Ling, Bie Liek dan Mie Kong jadi terkejut tahu-tahu melihat ada batu sebesar itu yang telah tercebur di tengah-tengah telaga itu, dan mereka kena kecipratan air telaga. Untung saja mereka dapat bergerak cepat dan menjauhi tepian telaga itu, sehingga mereka tidak sampai basah kuyup. Tetapi yang lebih mengherankan Bie Liek, Sian Tauw Bun dan Su Ling, ialah tenaga orang yang telah melemparkan batu yang besar itu sampai tengah telaga. Dapat dibayangkan, betapa tenaga orang itu sangat besar sekali.

Bie Liek sendiri jadi tertarik sekali, dia mengawasi sekitar tempat itu untuk mencari-cari siapa orangnya yang telah dapat melemparkan batu besar itu ke tengah telaga. Tentunya kepandaian ilmu silat dari orang yang melempar batu besar itu ke tengah telaga tidak rendah, tentu dia merupakan orang kosen.

Kedua pemuda yang masing-masing membahasakan diri kawan mereka masing- masing dengan sebutan Ngo-tee dan Sam-ko, adik kelima dan kakak nomor tiga, jadi terkejut.

Tadinya mereka ingin pergi meninggalkan tempat tersebut, tetapi karena dengan adanya kejadian itu, mereka jadi menahan langkah kaki mereka dan memandang ke sekeliling tempat tersebut dengan penun kewaspadaan.

Diantara kesunyian itu, tiba-tiba diri atas pohon, terdengar suara melengking

tinggi.

“Aha rupanya kalian tikus-tikus cilik benar-benar ingin mampus dengan datang ke

tepian telaga ini!!” terdengar suara mengejek dan bisa dipastikan bahwa suara ejekan itu ditujukan untuk si Sam-ko dan Ngo-tee.

Bie Liek memandang ke arah pohon di mana berasal suara ejekan itu. Sian Tauw Bun dan yang lain-lainnya juga menatapnya dengan tertarik. Sedangkan si Ngo-tee dan si Sam-ko juga jadi berwaspada.

“Tangan Geledek, kalau memang kau seorang Hohan, cepat kau keluar dari tempat persembunyianmu itu! Bersikaplah seperti seorang hohan!!” bentak salah seorang diantara kedua pemuda tersebut.

Kembali terdengar suara tertawa yang melengking tinggi sekali. Disusul lagi dengan suara ejekan yang menusuk pendengaran :

“Beberapa hari yang lalu telah kuampuni jiwamu dengan aku tidak turun tangan keras terhadap diri kalian, tetapi hari ini ternyata kalian telah melewati batas, menantangku dengan berbagai cara yang sangat kotor sekali! Hmmm, si Tangan Geledek, Pek-lek-ciu tidak akan jeri terhadap siapapun!!”'

Kedua pemuda itu mendongkol sekali.

“Kalau memang kau tidak jeri kepada kami, keluarlah! Mengapa kau selalu main sembunyi-sembunyian? Hmmm keluarlah, bersikaplah seperti seorang Hohan, seorang pendekar yang sejati!!”

Tidak terdengar sahutan sesaat lamanya. Tetapi kemudian terdengar lagi suara tertawa seperti mengejek. “Apakah kalian telah mengetahui dengan pasti bahwa kalian akan dapat merubuhkan diriku?” terdengar suara orang bertanya begitu.

Kembali kedua pemuda itu jadi tambah mendongkol. Mereka mementangkan mata mereka ke arah pohon yang tumbuh agak jauh dari tempat mereka itu dengan disertai oleh kewaspadaannya. Tampak sesosok bayangan melompat turun dari atas pohon. Gerakan orang itu gesit sekali.

Dalam waktu yang sangat singkat sekali, orang itu telah berdiri dihadapan kedua pemuda tersebut. Ternyata orang itu mempunyai potongan tubuh yang sangat ganjil sekali. Kepala orang tersebut besar sekali, juga jari-jari tangannya sangat panjang. sedangkan tubuhnya sangat pendek sekali.

Keadaan orang tersebut, orang pendek dengan kepala yang besar itu, sangat aneh sekali, bukannya mengerikan, malah jadi agak lucu, sebab dia begitu datang mendekati, dia sudah tertawa lagi dengan suara yang sember parau.

“Hei kalian merupakan lawanku yang tidak setimpal!!” kata si Tangan Geledek dengan suara yang keras dan nyaring sekali.

Kedua pemuda itu jadi berubah mukanya merah padam.

“Jangan kau bicara takabur, karena biar bagaimana hari ini kau harus binasa di tangan kami!” kati si Ngo-tee dengan suara yang nyaring dan keras sekali.

Kembali si Tangan Geledek telah tertawa gelak-gelak sampai tubuhnya tergoncang keras sekali.

“Hahahahaha, apakah kau benar-benar yakin dapat mengalahkan diriku? Bukankah dengan bertempur melawan diriku, berarti kalian mengantarkan jiwa kalian, agar aku mewakili utasan Giam lo-ong mengambil jiwa kotormu itu?!!”

Tampak si Ngo tee dan si Sam-ko sangat gusar sekali.

Dengan hampir berbareng mereka melompat menerjang kepada si Tangan Geledek dan mereka menyerang dengan menggunakan kepalan tangan mereka untuk menyerang.

Cukup hebat serangan kedua kakak beradik itu karena tenaga serangan itu yang merupakan angin serangan mendesir kuat sekali, dan belum lagi serangan itu mengenai sasarannya, angin serangannya telah menyerang dengan hebat.

Si Tangan Geledek yang melihat serangan orang, dia masih tetap tertawa. Sikapnya itu seperti juga memandang enteng sekali kepada kedua orang kakak beradik tersebut. Waktu serangan orang hampir sampai, dengan cepat dan gesit sekali dia menggerakkan badannya, dan dengan mudah dia dapat mengelakkan serangan itu.

Si Ngo-tee dan si Sam-ko jadi kecele waktu serangan mereka mengenai tempat kosong. Dengan cepat mereka menarik pulang serangan dan tangan mereka, kemudian mereka menyerang lagi. Kali ini si Ngo-tee dan si Sam-ko menyerang dengan serangan yang lebih hebat lagi.

Tetapi si Tangan Geledek tetap kosen, dia liehay sekali, maka dari itu, biarpun Ngo-tee dan si Sam-ko menyerang dia dengan serangan-serangan yang berbahaya, selalu saja si tangan Geledek ini dapat mengelakkannya.

Malah, setiap serangan si Ngo-tee dan si Sam-ko seperti tidak ada artinya bagi si Tangan Geledek, dia selalu dapat mengelakkan setiap serangan itu mudah sekali dan disertai oleh suara tertawa hahahehenya.

Semakin lama si Ngo-tee dan si Sam-ko jadi semakin gusar dan mendongkol sekali. Mereka sangat murka, maka semakin lama serangan mereka jadi semakin hebat dan keras, tenaga serangan mereka jadi semakin tambah, sehingga angin serangan mereka menderu-deru dengan kerasnya.

Bie Liek, San Tauw Bun, Sian Su Ling dan Mie Kong jadi tertarik melihat ketiga orang itu yang sedang bertempur. Mereka menyaksikan dari kejauhan di pinggiran tepian telaga.

Biar bagaimana Bie Liek, Sian Tauw Bun dan Su Ling tidak berani sembarangan turun tangan membantu salah satu pihak dari kedua pihak orang yang sedang bertempur itu, karena orang yang berkelana di dalam kalangan Kang ouw memang harus mengetahui, bahwa setiap urusan pribadi antara orang yang sedang mencari balas dendam akan sakit hati, tidak boleh diikut campuri oleh orang luar.

Maka dari itu, Bie Liek dan Sian Tauw Bun berempat tidak berani sembarangan turun tangan memberikan pertolongan kepada mereka yang sedang bertempur. Juga Bie Liek atau Sian Tauw Bun tidak berani sembarangan turun tangan untuk memisahkan kedua pihak yang sedang bertempur itu.

Mereka hanya menyaksikan jalannya pertempuran yang agak pincang dan aneh itu. Bie Liek mengetahui tentang peraturan-peraturan dunia Kang ouw dari cerita-cerita Sian Tauw Bun, sehingga biarpun usia Bie Liek masih muda sekali, toh pandangannya sudah agak luas.

Pada saat itu, si Sam-ko dan si Ngo-tee telah menyerang si Tangan Geledek lagi. Mereka menyerang dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam mereka. Tenaga yang digunakan sangat kuat sekali, angin serangan menimbulkan angin pukulan yang membawa hawa pembunuhan, menderu-deru dengan keras sekali.

Malah yang hebat lagi, setiap serangan dari si Ngo-tee dan si Sam-ko ini, mereka menyerang dengan serangan mematikan, setiap tempat dan bagian tubuh si Tangan Geledek yang mereka incar, adalah bagian yang mematikan. Hanya saja, setiap serangan kedua kakak beradik ini seperti juga dianggap begitu saja oleh si Tangan Geledek. Dia seperti tidak memandang sebelah mata kepada setiap serangan kakak beradik tersebut. Malah setiap mengelakkan setiap serangan dari si Ngo-tee dan si Sam-ko, si Tangan Geledek selalu sja mengeluarkan suara tertawa haha-hihi yang riuh sekali, menambah kegusaran dari si Ngo-tee dan si Sam-ko!

Pada suatu kali, seperti juga nekad, si Sam ko dan si Ngo tee telah melompat menerjang. Mereka telah mementangkan kedua tangan mereka dengan sikut agak tertekuk sedikit, mereka melompat akan menubruk si Tangan Geledek.

Sebetulnya kedua serangan yang dilancarkan oleh kakak beradik si Sam-ko dan si Ngo-tee ini terhadap diri si Tangan Geledek sangat hebat sekali, namun disebabkan mereka belum melatihnya dengan sempurna, menyebabkan kedua serangan dari si Sam- ko dan si Ngo-tee itu jadi agak lemah, yang menyebabkan si Tangan Geledek dapat menghindarkan serangan itu.

Waktu tangan Sam-ko dan si Ngo-tee hampir sampai mengenai sasarannya, tampak si Tangan Geledek telah mengenjotkan kedua kakinya, tubuhnya melambung dengan tinggi dan gesit sekali beberapa tombak keatas, juga mulutnya mengeluarkan siulan yang panjang sekali disaat tubuhnya sedang melambung tinggi begitu macam, kemudian disaat kedua tangan si Sam-ko dan si Ngo-tee lewat di bawah kakinya, dengan cepat si Tangan Geledek telah meluncur turun.

Dan kedua kaki si Tangan Geledek telah bekerja secara tendangan berangkai.

Si Sam-ko dan si Ngo-tee sedang menyerang dan mereka terkejut waktu tahu- tahu tubuh si Tangan Gehdek itu melambung tinggi dan kedua serangan mereka jadi jatuh ketempat kosong, malah kemudian mereka melihat kaki si Tangan Geledek ini telah menyambar dengan cepat dan bertenaga.

Sebelum serangan sampai, Sam-ko dan si Ngo-tee telah dapat merasakan angin serangan yang menyambar dengan kuat sekali. Maka dari itu mereka tidak berani berayal lagi, dengan cepat mereka memiringkan tubuh mereka, kemudian melemparkan tubuh mereka itu untuk bergulingan di tanah.

Si Tangan Geledek telah meluncur turun dan berdiri tetap kembali. Dia tertawa gelak-gelak waktu melihat sikap dan kelakuan si Sam-ko dan si Ngo-tee. Tubuh si Tangan Geledek jadi tergoncang karena dia tertawa gelak-gelak.

Waktu si Ngo-tee dan si Sam-ko merangkak bangun untuk berdiri, si Tangan geledek telah berkata mengejek : “Hmmm, hanya sampai disini saja batas kemampuan dan kepandaian dari kalian!” katanya.

Darah Sam-ko dan si Ngo-tee jadi meluap lagi, mereka mendelik kepada si Tangan Geledek dengan mata yang mencilak.

“Tangan Geledek!” bentak si Ngo-tee dengan penasaran sekali. “Hari ini biarpun kami harus binasa, tetap saja kau harus mampus di tangan kami!!” Kembali si Tangan Geledek ini jadi tertawa gelak-gelak dengan suara yang keras.

“Apakah kalian yakin dapat membunuhku? Hmmm, lebih baik kalian ini lari sipat kuping dan sembunyikan buntut, pulang kepada ibumu dan minta menyusu!!” katanya kemudian.

Hebat ejekan yang dilontarkan oleh si Tangan geledek terhadap si Sam-ko dan si Ngo-tee. Wajah kedua kakak beradik itu jadi merah padam dan mereka murka bukan main.

Dengan tubuh agak menggigil dan mata mencilak, mereka diam mengejang untuk sesaat lamanya mengawasi si Tangan Geledek.

Tiba-tiba dengan hampir berbareng, keduanya melompat lagi, dan mereka kembali menyerang dengan dahsyatnya.

Malah kali ini lebih hebat dari serangan-serangan yang terlebih dahulu, sebab si Ngo-tee dan si Sam-ko telah nekad dan penasaran sekali.

Bie Liek pada saat itu yang menonton dari kejauhan bersama-sama orang-orang lainnya yang pada berdatangan menyaksikan pertunjukan dan keramaian itu, telah menoleh kepada Sian Tauw Bun.

“Sian Loo-peh kalau diperhatikan terus, maka kita akan mengetahui bahwa kepandaian ketiga orang itu tidak ada artinya sama sekali, mereka hanya bisa dan paham sedikit-sedikit ilmu silat kampungan, tetapi mereka telah menjual lagak seperti juga tiga orang jago besar yang sedang bertempur!”

Sian Tauw Bun mengangguk.

“Benar Bie Siauw-hiap, kukira juga begitu!” kata Sian Tauw Bun. “Sejak pertama

kali tadi mereka bertempur, aku sudah melihatnya!” Bie Liek jadi tertawa.

“Aku tidak tertarik untuk menyaksikan terus pertempuran ini, Sian Loo-peh! Mari kita berangkat!” kata Bie Liek lagi sambil tetap tertawa.

Yang lainnya juga menyetujuinya. Mereka menuntun kuda tunggangan mereka, yang akan dipakai untuk meneruskan perjalanan mereka. Keempat orang ini tidak menarik perhatian orang-orang yang sedang menyaksikan keramaian tersebut dari kejauhan dekat tepian telaga. Perhatian orang-orang itu tercurah kepada jalannya pertempuran.

Tetapi disaat Bie Liek, Sian Tauw Bun, Sian Su Ling dan Mie Kong mau pergi, tiba- tiba terdengar suara jeritan. Menyayatkan sekali suara jeritan itu, juga disertai oleh seruan kaget dari orang-orang yang sedang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut. Bie Liek dan kawan-kawannya jadi tertarik lagi. Mereka menoleh untuk melihat dari atas punggung kuda tunggangan mereka masing-masing. Dan tampak si Ngo-tee telah pecah remuk kepalanya terhajar oleh tangan si Tangan Geledek.

Mayat si Ngo-tee menggeletak tak bernyawa atau tidak bernapas lagi di tanah, kepalanya remuk dan wajahnya sudah tidak dapat dikenali lagi.

Si Sam-ko jadi berdiri terpaku, dia pucat sekali, tubuhnya menggigil. Pancaran matanya itu memancarkan cahaya takut dan dendam.

Sedangkan si Tangan Geledek telah tertawa keras sekali.

“Hmmm entah telah berapa kali kalian ini kuberikan jalan hidup, tetapi nyatanya kalian selalu terlalu mendesak diriku, sehingga terpaksa aku harus memberikan sedikit pelajaran kepada kalian! Nah sekarang   ternyata   adikmu   itu telah kukirim ke neraka, maka kalau memang kau juga tidak senang dan mau menyusul untuk pergi ke neraka, aku bisa mengirimnya!” dan kembali si Tangan Geledek tertawa.

Wajah si Sam ko pucat sekali, dia berdiri menjublek dengan mata mendelong.

Biar bagaimana si Ngo-tee itu adalah adik angkatnya yang nomor lima, dan bisa dibayangkan si Ngo-tee itu binasa di depan matanya dengan cara yang mengenaskan tanpa dia bisa menolongnya.

Mata si Sam-ko ini sangat merah sekali, penuh oleh perasaan duka, gusar, dan murka serta penasaran, semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu.

“Kau akan kubalaskan sakit hati Ngo-tee!” kata si Sam-ko dengan suara gemetar.

“Akan kuadu jiwa denganmu!!”

Si Tangan Geledek tertawa mendengar perkataan si Sam-ko, dia mendengus berulang kali. Pada saat itu, bagaikan kalap si Sam-ko telah melompat menerjang ke arah si Tangan Geledek.

Dia menyerang dengan serangan ‘Tui Hiat Tui Tok’, suatu serangan yang berbahaya sekali, jurus untuk mengadu jiwa guna binasa bersama-sama dengan lawan.

Melihat kenekadan dari si Sam-ko, si Tangan Geledek jadi melengak juga, tetapi hanya sesaat, karena dengan cepat dia telah dapat menguasai hatinya, dan bergerak dengan cepat.

Dalam waktu yang sangat singkat sekali dia telah menggeser kedudukan kakinya. Dia juga menggerakkan tangannya, maka dengan cepat dia telah mengelakkan dan menangkis serangan dari si Sam-ko.

Walaupun begitu, si Sam-ko tampaknya tidak puas, dan penasaran sekali. Dengan mengeluarkan bentakan yang keras sekali, dia menyerang lagi dengan sekuat tenaganya, Si Tangan Geledek juga telah melompat mundur untuk menjauhi si Sam-ko dulu, kemudian setelah mengerahkan tenaga Lweekangnya, tenaga dalamnya, dia melompat lagi akan menerjang dengan seluruh tenaganya.

Dengan cepat kedua tangan mereka saling bentur lagi, dan tampak si Sam-ko terhuyung-huyung mundur beberapa langkah ke belakang dengan wajah yang pucat sekali.

Sedangkan si Tangan Geledek juga terhuyung satu langkah, tetapi seterusnya dia bisa berdiri tetap lagi. Dan si Tangan Geledek tertawa mengejek memandang ke arah si Sam-ko yang kala itu sedang berdiri dengan wajah yang pucat dan napas memburu.

Rupanya tangkisan si Tangan Geledek tadi terhadap serangannya telah menyebabkan kuda-kuda si Sam-ko ini tergempur. Mata si Sam-ko pada saat itu telah mencilak memain tak hentinya. Butir-butir keringat tampak menitik turun dari keningnya membasahi wajahnya.

Sedangkan pada saat itu si Tangan Geledek telah tertawa mengejek, sikapnya agak tawar sekali, dan tidak memandang sebelah mata kepada si Sam-ko.

“Hmmm apakah kau masih tidak mau cepat-cepat menggelinding enyah dari hadapanku? Apakah kau mau binasa seperti kawanmu itu?” bentaknya.

Wajah si Sam-ko masih pucat pias, tetapi matanya memancar penuh dendam. Mendengar perkataan si Tangan Geledek, dia jadi ragu-ragu juga, dia berdiri diam sesaat lamanya, rupanya dia sedang berpikir mempertimbangkan tindakannya selanjutnya. Akhirnya si Sam-ko menghela napas.

“Baiklah! Hari ini kami kembali kena dirubuhkan olehmu! Tetapi ingat, kematian Ngo-tee dan hutang piutang kita yang lama pasti akan kuhajar lunas padamu dan kau nantikanlah saat-saat itu!”

''Hmmm, jadi kau bermaksud untuk membalas dendam?” bentak si Tangan Geledek dengan tawar. “Jangan bermimpi kawan, kalau memang nanti kau datang lagi untuk mencari balas, maka pada saat itu jiwamupun tidak bisa kuampuni lagi! Pergilah menggelinding dari depanku!!”

Gusar sekali si Sam-ko mendengar perkataan si Tangan Geledek, dia sampai menggigil menahan kegusaran hatinya itu. Dia gusar berbareng penasaran sekali. Tetapi tanpa memperdulikan si Tangan Geledek lagi, dia lalu memutar tubuhnya menghampiri mayat si Ngo-tee, dia memondongnya, dan membawa pergi.

Sebelum meninggalkan tempat itu, sekali lagi si Sam-ko menoleh kepada Tangan Geledek, dia mendelik penuh dendam, dan kemudian dia berlalu. Melihat lagak orang, si Tangan Geledek tertawa gelak-gelak dengan nada mengejek.

“Hmmm tikus-tikus yang tidak tahu diri!” menggumam si Tangan Geledek

dengan suara yang tawar. Dan setelah melihat si Sam-ko pergi, dia membalikkan tubuhnya, dengan beberapa, kali lompatan, si Tangan Geledek telah melompat pergi lenyap dari pandangan orang banyak.

Melihat pertempuran itu telah selesai, orang ramai semua pada kabur. Sian Tauw Bun yang melihat keadaan di tepi telaga itu telah sepi lagi, dia jadi menghela napas.

“Ahh hidup berkelana di dalam kalangan Kang-ouw, dunia persilatan sungai telaga, sebetulnya sangat membosankan sekali, balas membalas, dengan sakit hati dan segalanya semuanya itu tidak ada habisnya!!” mengumam orang she Sian ini.

Bie Liek menganguk.

“Benar Sian Loo-peh!!” katanya. “Seperti tadi saja, akhirnya di dalam pertempuran itu telah terjadi suatu perkara jiwa, dan mungkin akan berakhir lebih hebat lagi, karena anak muda yang dipanggil sebagai si Sam-ko itu akan mencari si Tangan Geledek untuk melakukan pembalasan dendam lagi! Dan itu tentu akan menimbulkan suatu perkara jiwa lagi yang lebih hebat!!”

Sian Tauw Bun mengangguk.

Begitu juga Sian Su Ling dan Mie Kong membenarkan, mereka memang telah menduga bahwa persoalan dari si Tangan Geledek dengan si Sam-ko itu akan berbuntut panjang.

Biarpun kepandaian dari orang itu hanyalah kepandaian silat yang dimiliki jago- jago kampungan, yang tidak berarti di dalam pandangan mata para jago silat di dalam dunia persilatan, seperti Bie Liek dan yang lain-lain-nya itu, toh tetap saja peristiwa akan panjang sekali, berekor terus.

Tetapi hal itu tidak menarik hati Bie Liek serta kawan-kawannya. Mereka tidak mau tahu apakah persoalan itu akan berekor terus. Mereka juga tidak mau mengetahui kelanjutan dari persoalan tersebut.

Bie Liek telah menarik napas, dia menoleh kepada Sian Tauw Bun, lalu dia melihat ke sekeliling tempat itu, di sekitar tepi telaga tersebut, telah sepi.

Orang-orang yang tadi ramai menyaksikan pertempuran yang dilakukan oleh si Tangan Geledek dengan si Sam-ko dan Ngo-tee kini telah bubar semuanya.

Sekarang yang tampak hanyalah orang yang telah berlalu lalang di sekitar tempat itu, dan keadaan agak sunyi. Bie Liek telah menggeprak kudanya sambil menarik les kudanya tersebut.

“Hayo kita berangkat Sian Loopeh!!”' kata Bie Liek dengan sura yang nyaring.

Sian Tauw Bun mengiakan. Mereka telah berangkat melakukan perjalanan lagi. Jago-jago ini mengambil arah sekarang ke arah tenggara, karena mereka bermaksud akan menuju ke Su-pay-kwan, kota yang cukup ramai dan terletak tak begitu jauh dari tempat tersebut. Mereka mencari rumah penginapan, dan akan bermalam di kota Su- pay-Kwan tersebut.

Bie Liek yang mengamnil sebuah kamar yang terletak dibagian belakang, dekat taman dari rumah penginapan itu, jadi membuka jendelanya untuk memandangi pemandangan malam. Suasana taman dan rumah penginapan tersebut, dikala menjelang malam seperti itu sangat indah sekali.,

Lebih-lebih rembulan yang bersinar penuh itu memancarkan cahaya yang gemerlapan. Keindahan suasana malam itu telah menyebabkan Bie Liek jadi teringat akan nasibnya. Dia hidup di dalam dunia ini menjadi seorang anak yang yatim piatu. Walaupun sekarang dia memiliki ilmu silat yang tinggi dan luar biasa, tetapi dia tidak mempunyai seorang yang bisa dicurahkan rasa kasih sayangnya.

Ibu dan ayahnya sudah tidak ada lagi, itu menyebabkan hidup Bie Liek jadi tenggelam di dalam keadaan yang hampa. Di dalam dunia ini tidak ada orang yang bisa menyayangi dirinya. Dan teringat akan itu, maka Bie Liek jadi menghela napas.

Hati Bie Liek berduka benar, dia ingin menangis rasanya, tetapi air matanya tidak keluar dari pelupuk matanya itu, dia hanya memandang terpaku kepada rembulan yang bercahaya penuh dan indah sekali.

Didengarnya suara binatang malam yang sedang bernyanyi dengan suara nyanyiannya yang berdendang ria. Sebagai seorang jago yang mempunyai tenaga Lweekang sangat tinggi, maka pendengaran dari Bie Liek sangat tajam sebali.

Sedang dia duduk melamun dimuka jendelanya itu, maka pendengarannya yang tajam itu dapat mendengar suara orang menghela napas. Kalau diperhatikan suara menghela napas itu sangat lirih sekali, seperti juga orang sedang menarik napas itu sangat berduka sekali.

Bie Liek semula tidak begitu memperhatikan, tetapi waktu dia mendengar beberapa kali suara helaan napas itu yang masih terdengar saja, maka dengan cepat Bie Liek melompat dari jendelanya. Dia menutup lagi kedua daun jendela kamarnya itu, dia menghampiri sebuah kamar yang terletak disebelahnya, karena suara tarikan napas berduka itu terdengar dari kamar tersebut. Bie Liek mendekati kamar itu, dia dengan gesit, dengan hanya dua kali melompat, telah berada disamping jendela kamar tersebut.

Bie Liek bukannya terlalu usil ingin mengetahui urusan orang, tetapi diseoabkan dia mendengar suara helaan napas itu berasal dan orang yang benar-benar sangat berduka, maka dengan sendirinya dia jadi ingin mengetahui, kejadian apa yang telah menimpa diri orang itu.

Dengan menggunakan ujung lidahnya Bie Liek telah melobangi kertas jendela tersebut. Dia mengintip ke dalam kamar itu. Dilihatnya seorang gadis berusia diantara dua puluh tahun, sedang duduk di tepi pembaringan sambil menangis. Di pembaringan itu rebah seorang nenek tua yang mukanya sangat pucat sekali. Rupanya si nenek adalah seorang jago silat yang telah terluka. Bie Liek melihat, biarpun sinar mata si nenek agak guram, toh diantara keguraman itu tampak juga cahaya terang menandakan bahwa tenaga Lweekang dari si nenek sangat sempurna sekali.

Gadis yang duduk di tepi pembaringan itu masih terus juga menangis.

“Popo akan segera sembuh!” kata si nenek dengan suara yang lemah waktu dia melihat gadis itu masih terus juga menangis. Dia membahasakan dirinya dengan sebutan Popo, yang berarti nenek, dan berarti si gadis adalah cucu dari nenek itu.

“Kau jangan berduka, Su-jie tak mungkin Popomu ini mengalami cidera.”

Si gadis yang dipanggil sebagai Su-jie, anak Su, masih tetap menangis. Dia telah menghapus air matanya.

“Popo, biarlah kalau memang penjahat-penjahat itu datang, Su-jie akan menghadapinya, Su-jie akan mengadu jiwa dengan mereka!” kata si gadis dengan suara yang agak serak disebabkan isak tangisnya.

“Jangan kau berkata begitu, Su-jie!” kata si nenek dengan cepat. “Penjahat itu tentu tidak akan berani datang kemari, karena biarpun telah teruka, Po-pomu ini masih bisa memberi hajaran yang keras kepada mereka!!”

“Jangan Po-po!?” kata si Su-jie, dengan cepat. “Nanti mereka mencelakai Po-po!!”

Si nenek menghela napas, dia tersenyum sedih, tangannya mengelus-elus tangan si gadis.

“Su-jie kau memang seorang anak yang malang sekali, nasibmu selalu saja terjerumus ke dalam jurang perderitaan. Entah mengapa Thian selalu memberikan nasib sial padamu! Sejak kecil kau selalu hidup menderita!” kata si nenek dengan suara berduka.

Si gadis, Su-jie, jadi menangis tambah sedih lagi, tubuhnya tampak agak gemetar menahan isak tangis disebabkan dukanya itu. Si nenek telah menghela napas lagi.

“Sudahlah jangan menangis, Su-jie!” kata si nenek dengan suara yang lembut, dia juga tampaknya berduka sekali. “Biarlah kita menerima segala cobaan dari Thian ini dengan hati yang besar dan terbuka.”

Si gadis mengangguk lesu.

“Ya entah kenapa Thian selalu memberikan penderitaan hidup kepada Su-jie dengan segala kemalangan dan penderitaan yang tak hentinya!” kata si gadis seperti juga mengeluh akan kemalangan nasibnya itu. Si nenek menghela napas lagi, dia tidak mengatakan sesuatu apapun, hanya tampaknya dia jadi tambah berduka lagi.

Bie Liek yang menyaksikan hal tersebut, jadi ikut terharu. Dia mengetahui bahwa si nenek pasti telah dilukai oleh seseorang lawannya, dan si gadis menguatirkan sedang si nenek ini terluka dan tidak mempunyai tenaga, maka lawan-lawan mereka itu datang pula kesitu.

Maka tadi si gadis, si Su-jie, cucu dari si nenek, telah berkata bahwa dia akan mengadu jiwa untuk membela si nenek kalau memang musuh-musuh mereka itu sampai datang juga ke rumah penginapan tersebut.

Bie Liek jadi merasa kasihan kepada nasib dari si gadis, biarpun Bie Liek tidak mengetahui siapa adanya si nenek dan gadis itu yang menjadi cucu dari si nenek, yang dipanggil sebagai si Su-jie.

Tetapi sebagai seorang jago yang baru berkelana di dalam dunia persilatan, dan juga dia memang telah mendengar banyak sekali peraturan-peraturan di dalam dunia persilatan dari Sian Tauw Bun. Maka dari itu, bie Liek tidak berani sembarangan mencampuri urusan orang, dia tidak mau terlalu usil mencampuri urusan si nenek dan anak gadisnya itu.

Perlahan-lahan, setelah memandang sesaat lamanya lagi, maka Bie Liek telah melompat kembali ke dalam kamarnya. Dia merebahkan dirinya di pembaringan. Sebetulnya si bocah ingin sekali mengetahui kesulitan apa yang sedang dihadapi oleh nenek dan cucu itu, dia ingin sekali memberi bantuannya. Namun, kalau memang dia terlalu usil dan si nenek mengetahui tadi Bie Liek mengintai dari jendelanya, mungkin si nenek dan cucunya itu murka sekali.

Maka dari itu, akhirnya Bie Liek mengambil keputusan, dia tidak akan mencampuri urusan si nenek, selain kalau memang nanti di depan mata Bie Liek lawan-lawan dari si nenek itu datang menyatroni si nerek dan dia mengalami ancaman bahaya kematian, maka Bie Liek baru akan turun tangan menolongnya!

Maka dari itu, akhirnya, Bie Liek jadi tertidur juga. Kala itu sudah menjelang kentongan yang ketiga, sudah tengah malam, dan sangat sunyi sekali. Bie Liek juga telah tertidur pulas, dia seperti tidak mengetahui apa yang akan terjadi.

o

o o

TETAPI diantara layap-layap, tertidur dan tidak, Bie Liek jadi tersadar dari tidurnya. Hal itu disebabkan Bie Liek mendengar suara langkah kaki yang ringan di atas genting kamarnya itu.

Sebagai seorang yang mempunyai pendengaran sangat tajam sekali, juga mempunyai kepandaian yang luar biasa tingginya, maka Bie Liek mengetahui dari suara tindakan kaki itu, bahwa yang berdatangan itu, orang-orang di atas genting, berjumlah cukup banyak, mungkin terdapat belasan orang.

Dengan gesit dan cepat sekali, Bie Liek telah melompat turun dari pembaringannya, dia melompat ke arah jendela. Bie Liek berjongkok dibawah jendela kamarnya itu, dia memasang telinganya, mendengarkan segala suara yang dapat didengar

Suara langkah kaki di atas gentina itu terdengar agak keras, juga Bie Liek mendengar ada beberapa orang yang telah melompat ke bawah dari atas genting. Suara lompatan dari orang-orang yang lompat turun itu tidak begitu keras, ringan sekali, menandakan bahwa Ginkang orang-orang tersebut sangat tinggi.

Bie Liek masih memasang telinga terus. Dia mendengar keadaan di sekitar tempat tersebut sunyi sekali. Dia menduga bahwa orang yang ada di atas genting sedang memasang mata melihat situasi di sekitar tempat tersebut. Maka dari itu, Bie Liek juga sengaja berdiam diri terus, dia mau melihat apa yang akan dilakukan oleh orang-orang itu.

“Kukira nenek tua yang sudah mau mampus itu masih terdapat di rumah penginapan ini!!” kata salah seorang dari orang di atas genting kamar Bie Liek dengan suara yang perlahan. Tetapi disebabkan pendengaran Bie Liek sangat tajam, maka dengan sendirinya dia mendengar perkataan dari orang itu.

“Kukira juga begitu!” menyahuti salah seorang lainnya dengan suaranya yang parau. “Dan hari ini, biarpun nenek tua itu dengan gadisnya bisa tumbuh sayap, jangan harap mereka dapat meloloskan diri dari kematian di tangan kita!!”

Terdengar orang ketawa dingin, kemudian keadaan sunyi kembali.

Bie Liek segera juga dapat menduga, bahwa si nenek tua yang sudah mau mampus yang dimaksud oleh orang-orang di atas genting kamarnya itu tentu adalah si nenek dan anak gadisnya yang menjadi tetangganya di kamar sebelah.

Segera juga Bie Liek jadi bergusar kepada orang-orang ini, karena segera juga dia menduga bahwa semua orang-orang yang ada di atas genting kamarnya itu adalah orang jahat yang ingin mengganggu si nenek yang sedang sakit disebabkan luka-lukanya atau anak gadis yang menjadi cucunya itu. Maka dari itu, Bie Liek jadi berjanji di dalam hatinya, biar bagaimana dia akan membantu nenek dan cucunya itu.

Maka, Bie Liek telah bersiap-siap, menantikan begitu tenaga dan bantuannya dia akan segera memberikan pertolongannya. Didengarnya ada beberapa orang yang telah melompat turun lagi dari atas genting. Juga telah ada beberapa orang yang melangkah ke arah kamar si nenek bersama cucunya itu.

Bie Liek mengintip diri celah kertas jendela. Dibawah cahaya rembulan, tampak beberapa orang sedang menuju ke arah kamar si nenek. Malah terdengar salah seorang diantara mereka telah membentak: “Tua bangka yang sudah mau mampus, keluarlah untuk menerima kematian!!”

Dari kamar itu tidak terdengar sahutan, sunyi sekali keadaan disekitar tempat tersebut. Bie Liek melihat orang-orang itu telah mencabut senjata mereka masing- masing. Ada yang mencekal golok, ada yang mencekal Poan-koan-pit, ada yang mencekal pedang yang mengkeredip ditimpa cahaya rembulan, dan ada pula yang mencekal ruyung atau juga cambuk.

Semuanya menunjukkan wajah yang seram, mungkin mereka memang benar- benar ingin membunuh si nenek dan cucunya si gadis yang berusia dua puluh tahun, yang tadi sebelumnya Bie Liek telah melihatnya gadis itu duduk di tepi pembaringan sambil menangis disebabkan hatinya berduka melihat neneknya itu rebah tak berdaya di pembaringan. Salah seorang diantara mereka itu telah maju lagi mendekati ke arah jendela si nenek.

“Tua bangka nenek yang sudah mau mampus!!” bentak orang itu dengan suara yang keras sekali. “Keluarlah untuk menerima mampus di tangan kami! Hmmm, jangan harap malam ini kau dapat meloloskan diri dari tangan kami!!”

Tetapi keadaan tetap sunyi. Keadaan di dalam kamar dari si nenek dan cucunya itu juga sangat gelap sekali, karena tak tampak sedikitpun penerangan di dalam kamar itu. Rupanya orang yang membentak itu jadi bertambah gusar dan mendongkol, dia menggoyang-goyangkan golok yang ada di tangannya beberapa kali.

“Apakah kalian tidak mau keluar!” bentak orang itu dengan suara yang keras sekali, dia gusar bukan main, sebab dirinya seperti juga tidak dipandang olen si nenek di dalam kamar, karena tidak terdengar suara sahutan.

Tetapi biarpun orang itu telah membentak dengan suara yang bengis sekali, toh tetap tidak ada sahutan dari arah kamar si nenek. Masih tampak gelap dan sunyi. Rupanya si nenek memang sengaja tidak mau melayani orang itu dan sengaja membungkam.

Beberapa orang yang berdiri didekat kamar si nenek jadi tambah gusar. Mereka marah bukan main, karena mereka semua menduga bahwa si nenek memang sengaja memperlakukan mereka begitu.

“Kalau memang kalian tidak mau keluar untuk menemui kami, maka jangan mempersalahkan kami kalau sampai menyerbu ke dalam kamar kalian!! Biar bagaimana kalian harus mampus di tangan kami!” teriak salah seorang diantara mereka.

Tetapi tetap saja tidak terdengar sahutan dari kamar si nenek. Bie Liek jadi mementang matanya mengawasi ke arah kamar itu, dimana dia bersiap-siap, kalau memang nanti orang-orang itu menyerbu ke dalam kamar si nenek, dia akan turun tangan untuk memberikan pertolongannya, karena Bie Liek menduga bahwa si nenek tentu sedang rebah tak berdaya disebabkan luka-lukanya.

Sedangkan orang-orang yang mengepung kamar si nenek telah lenyap kesabarannya, mereka maju perlahan-lahan mendekati ke arah kamar si nenek. Namun dari sikap mereka, dari langkah mereka itu, maka dapat dilihat, bahwa mereka masih agak jeri, masih agak takut untuk begitu saja menyerbu ke dalam kamar si nenek, dan hal itu menandakan bahwa si nenek tentu mempunyai kepandaian yang luar biasa tingginya.

Tampak dua orang mendekati ke arah jendela. Mereka berdiam sesaat mengawasi ke arah jendela, seperti juga ingin menembusi kegelapan di dalam kamar itu, guna melihat apakah si nenek dan cucunya si gadis itu masih tertidur atau sedang bersembunyi di dalam kamar itu.

Selang sesaat, suasana di dalam kamar tersebut sangat sunyi sekali, tidak terdengar suara apapun, juga tidak tampak si nenek atau si gadis yang menjadi cucu dari nenek itu tidak melompat keluar guna menyambut kedatangan dari orang-orang yang menjadi lawan mereka.

Tahu-tahu kedua orang yang menghampiri jendela kamar si nenek telah mengeluarkan suara teriakan dengan suara yang keras sekali, salah seorang diantara mereka telah mengayunkan tangannya, menghajar jendela itu sampai hancur berantakan. Tetapi tetap tidak tampak si nenek atau si gadis yang menjadi cucu dari nenek itu. Keadaan kamar itu sangat gelap sekali, tidak tampak seorang manusiapun.

Orang-orang yang mengurung kamar itu tidak berani begitu saja menerobos masuk ke dalam kamar tersebut, karena mereka jeri kalau-kalau mereka akan disambut oleh satu pukulan yang mematikan dari si nenek. Maka dari itu, mereka semuanya banyak bersiap-siap menantikan si nenak di luar dari kamar tersebut. Lama juga keadaan itu berlangsung, sekitar tempat itu jadi sepi sekali.

Tamu-tamu di rumah penginapan tersebut, di kamar lainnya juga mendengar suara ribut-ribut di luar, tetapi mereka semuanya lebih banyak terdiri dari pedagang- pedagang, yang semuanya berhati kecil, maka disaat mereka mendengar suara yang ribut dan suara bentakan yang terus menerus, mereka juga telah datang serombongan penjahat dan perampok, maka dari itu bukannya berani melihat keadaan di luar, malah mereka jadi meringkuk mengkeret di pembaringan mereka masing-masing setelah mengganjal pintu kamar mereka dengan kursi meja yang ada di dalam kamar tersebut.

Itulah yang menyebabkan suasana di dalam rumah penginapan tersebut jadi sunyi sekali, tak ada seorang manusia atau tamu-tamu dari rumah penginapan tersebut atau juga para pelayan rumah penginapan itu, karena mereka duga salah seorang tamu di rumah penginapan itu telah didatangi oleh serombongan perampok, atau juga orang Kang-ouw yang datang untuk membalas sakit hati atau dendam.

Itulah sebabnya tamu-tamu lainnya di rumah penginapan itu menganggap bahwa dengan berdiam diri begitu, dengan mengeram dan tidur terus di pembaringan mereka, itu adalah satu-satunya jalan yang paling baik! Jalan yang paling selamat. Bie Liek sendiri jadi mementang matanya lebar-lebar, dia ingin sekali menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh belasan orang yang mengepung kamar si nenek, karena dia memang telah bermaksud akan memberikan pertolongannya dikala si nenek membutuhkannya!

O

TAMPAK beberapa sosok tubuh telah menerjang masuk ke kamar si nenek sambil mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, juga golok atau senjata lainnya yang tercekal di tangan mereka itu telah bergerak dengan cepat sekali, mereka ingin menjaga diri dari segala serangan tiba-tiba dari si nenek.

Dengan memutar senjata mereka masing-masing itu, maka kalau memang si nenek itu menyerang mereka dengan menggelap, mereka akan dapat membela diri dengan senjata mereka tersebut. Menyusul lagi beberapa sosok tubuh juga telah melompat masuk ke dalam kamar si nenek.

Tetapi orang-orang yang menyerbu masuk melalui jendela ke dalam kamar si nenek itu, jadi mengeluarkan seruan tertahan, karena segera juga mereka melihat bahwa kamar itu ternyata telah kosong! Tak terlihat si nenek atau cucunya, si anak gadis itu!

Orang-orang itu jadi bingung dan mendongkol sekali, mereka juga sangat gusar benar, sebab mereka seperti juga telah dipermainkan oleh nenek itu bersama cucunya.

“Celaka!” teriak salah seorang diantara mereka. “Nenek tua bangka yang sudah

mau mampus itu sudah melarikan diri bersama cucunya! Hayo kita kejar!!”

Dan membarengi dengan perkataannya itu, orang tersebut telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat dengan cepat sekali, telah melompat keluar lagi dari jendela itu. Begitu juga yang lainnya, telah mengikuti perbuatan kawan mereka. Mereka semuanya telah melompat keluar dari dalam kamar si nenek itu yang ditemuinya telah kosong tak berpenghuni!

Bie Liek yang sejak tadi menyaksikan dengan tegang, jadi bisa menarik napas lega, karena dia melihat bahwa kamar itu ternyata telah kosong. Si nenek dan anak gadis yang menjadi cucunya itu entah sudah pergi kemana! Cepat-cepat Bie Liek membuka daun jendelanya, dengan gerakan gesit sekali, sehingga orang-orang yang sedang mengepung kamar si nenek tidak melihat gerakannya itu, Bie Liek telah melompat keluar dari kamar itu.

Dia memernahkan dirinya di payon dari pinggiran genteng, bergelantungan di situ bagaikan seekor kelelawar. Dari tempat yang tinggi begitulah maka Bie Liek jadi leluasa menyaksikan apa yang terjadi dibawah. Dia bisa menyaksikan dengan jelas apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengepung kamar nenek itu. Orang-orang yang mengepung kamar nenek itu jadi memaki kalang-kabutan karena nenek itu tidak dapat mereka temui. Di bawah pembaringan dan tempat-tempat lainnya di dalam kamar itu diperiksa oleh mereka, namun batang hidung si nenek dan anak gadisnya yang menjadi cucunya itu tidak juga tampak.

Dengan kecewa orang-orang dari tamu-tamu yang tak diundang itu, telah melompat keluar dari dalam kamar. Tampak mereka kasak-kusuk diantara kawan-kawan mereka seperti sedang membicarakan sesuatu. Rupanya mereka sedang merundingkan apa yang harus mereka lakukan untuk mengejar si nenek dan cucunya yang sudah melarikan diri.