Gerbang Tengkorak Jilid 07

Jilid 07

Karena, Sian Tauw Bun telah bersumpah biar bagaimana dia akan melindungi terus kedua kitab itu, walaupun harus ditebus oleh nyawarnya dan nyawa puterinya juga!

ternyata Sian Tauw Bun memang seorang Ho-han, seorang laki-laki sejati yang dapat dipegang kata-katanya!

O o o

SETELAH menceritakan pengalaman pahitnya itu, Sian Tauw Bun menghela napas dengan wajah yang berduka.

Bie Liek setelah mendengar semua cerita Sian Tauw Bun, jadi gusar sekali.

“Jadi jadi orang she Cing dan ketujuh jago pedang dari Kian-san itu kaki tangan Siauw-lim-sie, Loopeh?” tanya Bie Liek kemudian.

Sian Tauw Bun mengangguk dengan pasti.

“Aku berani memastikan mereka memang kaki tangan Siauw lim-sie!!” kata Sian Tauw Bun. “Karena persoalan kitab Kim Hun Pit-kip tidak diketahui orang luar, itu hanya diketahui oleh Hong-thio Siauw-lim-sie, yaito Bong Goan Siansu. Mungkin setelah menyiksa dan membunuh Ceng Sian Siansu, Bong Goan melakukan pemeriksaan di Tat- mo tong, dan dia tidak menemui kedua kitab itu, maka dia memerintahkan anak buahnya untuk mengejar diriku dan merebut kembali kitab itu!!”

Bie Liek mengangguk.

“Ya memang bisa kejadian begitu!” katanya dengan cepat. Ling-jie juga mengangguk.

“Ya Bie Siauw-hiap hampir di setiap kota kami selalu mengalami gangguan dan juga kejaran-kejaran dari orang-orang Siauw Lim-sie itu, hidup kami tak tenang!!”

Sian Tauw Bun menghela napas.

“Tetapi aku telah berjanji dan menyanggupi permintaan Ceng Sian Siansu, bahwa biar apa saja yang terjadi, aku harus tetap melindungi kedua kitab Kim Hun Pit Kip tersebut, biarpun aku harus menebus dengan nyawaku!” dan kembali Sian Tauw Bun menghela napas. “Memang pertama kalinya Ceng Sian Siansu telah mengatakan kepadaku, begitu aku menerima tugas tersebut, berarti aku sudah berhadapan dengan pihak Siauw Lim Sie dan berarti banyak jago-jago yang akan mengejar diriku! Sedangkan aku hanya mengenal sedikit dan sebagian kecil saja dari ilmu silat yang kupahami! Tetapi karena aku telah menyanggupi, maka biarlah, aku tetap akan menghadapinya dengan penuh ketabahan, agar arwah Ceng Sian Siansu dapat beristirahat dengan tenang, biar dia binasa penasaran, tetapi dia bisa memejamkan mata dengan tenang, karena walau bagaimanapun, kitab-kitab itu tidak akan terjatuh ke dalam tangan orang-orang rendah itu!”

Mendengar perkataan Sian Tauw Bun yang bersemangat, Bie Liek jadi kagum. Dengan sendirinya dia jadi bersimpatik kepada orang she Sian tersebut, dan berjanji di dalam hatinya bahwa dia akan berusaha menolong kesulitan yang sedang dihadapi oleh Sian Tauw Bun dan puterinya itu.

“Begini saja Loopeh, biarlah untuk sementara waktu aku akan ikut bersama Loopeh untuk mengelana, agar kalau memang orang-orang Siauw Lim Sie masih melakukan pengejaran untuk mencelakai Loopeh ayah dan anak, maka aku dapat menolongnya! Mudah-mudahan nanti aku bisa menghubungi ketua Siauw Lim Sie itu, dan memberi pengertian kepadanya, agar dia sadar kembali kepada jalannya sebagai orang beribadah.”

Sian Tauw Bun memandang Bie Liek dengan ragu.

“Tetapi Bie Siauwhiap, bukannya aku tidak mempercayai keliehayan ilmu silatmu, namun pihak Siauw Lim Sie terdiri para jago yang kosen-kosen, tadi Cing Tian Sun dan Chit kiam Kian-san belum berarti apa-apa, mereka hanya murid Siauw Lim Sie yang tidak langsung, mungkin belajar dari pintu perguruan yang dibuka oleh salah seorang murid Siauw Lim Sie    dan mereka bekerja di Tiekwan itu sebagai tukang pukulnya! Tetapi kalau memang nanti orang-orang Siauw Lim Sie telah turun semua, tentu kita akan berabe menghadapinya! Maaf Siauw-hiap, aku menerangkan begini agar Siauwhiap tidak menghadapi kesulitan-kesulita, karena hatiku jadi tak enak kalau sampai terjadi sesuatu didiri Siauwhiap!”

Mendengar perkataan Sian Tauw Bun, Bie Liek bukan menjadi tersinggung, dia malah berterima kasih, karena orang she Sian ternyata memperhatikan keseiamatannya.

“Terima kasih Loopeh!” kata Bie Liek dengan cepat. “Untuk saat-saat ini kau orang tua tidak usah terlalu menguatirkan diriku, karena aku tahu bagaimana menjaga diri dan keselamatan diriku! Hmm, kalau memang orang-orang Siauw Lim Sie itu masih juga melakukan pengejaran, sekali-sekali aku ingin belajar kenal dengan kepandaian mereka itu!”

Memang agak sombong perkataan Bie Liek ini, tetapi si bocah memang sengaja mengeluarkan perkataan begitu, agar Sian Tauw Bun tidak menghalangi dia lagi untuk ikut mengelana bersama. Sian Tauw Bun memandang Bie Liek dengan pandangan berterima kasih. “Entah bagaimana aku harus membalas budi Siauwhiap?” katanya dengan ragu. Bie LieK tersenyum.

“Untuk saat-saat ini janganlah Loopeh menyebut-nyebut perihal budi segala, yang penting kita harus memikirkan bagaimana nanti kita menghadapi orang-orang Siauw-lim- sie itu!” kata bie Liek sambil tersenyum ramah.

Lingjie mengangguk membenarkan, begitupun Sian Tauw Bun, dia jadi berterima kasih sekali kepada Bie Liek, yang tampaknya ingin membantu mereka benar-benar.

Dan, banyak lagi yang mereka ceritakan mengenai riwayat masing-masing, tetapi Bie Liek tidak mau terlalu banyak menceritakan perihal dirinya, sehingga Sian Tauw Bun tidak begitu banyak mengetahui latar belakang riwayat hidup bocah tersebut, seorang bocah yang masih kecil tetapi mempunyai keganjilan, yaitu dia telah mempunyai kepandaian ilmu silat yang tinggi luar biasa.

o

o o

PAGI itu diantara sebuah lembah dikaki gunung Bie-san, tampak tiga orang penunggang kuda.

Kuda yang dipakai sebagai tunggangan ketiga orang tersebut mempunyai tubuh yang tinggi besar, juga tampaknya larinya sang kuda sangat kuat sekali, sangat cepat.

Kedua penunggang kuda tersebut terdiri dari dua lelaki dan seorang gadis.

Malah, seorang lelaki diantara kedua pria penunggang kuda itu adalah seorang bocah yang mungkin baru berusia diantara tua belas tahun, sedangkan lelaki seorangnya lagi berusia diantara lima puluh tahun, dan gadis yang menjadi kawan jalan mereka berusia dua puluh tahun, wajahnya cantik dan cerah, alisnya lentik, matanya jeli, dan bibirnya merah merekah. Walaupun perjalanan mereka meletihkan, toh tidak tampak sedikitpun perasaan capai pada diri gadis itu.

LAGI pula kalau dilihat dari cara berpakaian ketiga orang itu, maka dapat diketahui bahwa mereka adalah orang yang sering berkelana di dalam kalangan Kang-ouw, sungai telaga, yang selalu hidup di dalam rimba persilatan.

Ketiga penunggang kuda tersebut ternyata tak bukan dari Bie Liek, Sian Tauw Bun dan Sian Su Ling.

Mereka sedang melakukan perjalanan menuju perbatasan antara daratan Tionggoan dengan Sinkiang. Mereka telah melakukan perjalanan selama dua hari tiga malam, dan baru sampai di pinggiran kota Peng-liang-kwan, di kaki gunung Bie-san. Sedangkan untuk menuju ke Sinkiang harus memakan waktu satu bulan lebih lagi.

Selama di dalam perjalanan, Sian Tauw Bun banyak menceritakan perihal orang- orang di dalam rimba persilatan, yang terbagi dalam beberapa golongan, yaitu golongan jahat dan baik.

Bie Liek mendengarkan dengan penuh perhatian, biar bagaimana dia adalah seorang bocah, yang masih hijau dan belum berpengalaman di dalam rimba persilatan, dan dia tidak mengetahui berbagai persoalan yang banyak berlangsung di dalam persilatan tersebut. Maka dari itu, cerita Sian Touw Bun mengenai manusia-manusia yang berkelana di dalam kalangan Kang-ouw, sangat menarik sekali perhatian Bie Liek.

Ketika itu, mereka telah sampai di muka kampung Peng-liang-kwan, dan kampung ini sangat besar sekali, sehingga menyerupai sebuah kota. Itulah sebabnya mengapa kampung tersebut Peng-liang-kwan, kampung ini jadi disebut sebagai kota juga.

“Kita mengaso di sini saja dulu!” kata Sian Tauw Bun sambil menahan larinya kuda tunggangannya. Bie Liek dan Ling-jie juga menahan larinya sang kuda tunggangan mereka.

“Ya ayah    !” kata Ling-jie dengan cepat. “Aku telah lelah benar dan     lebih baik memang kita beristirahat di kampung ini, setelah rasa hilang letih, baru kita melanjutkan perjalanan kita!”

Sian Tauw Bun menoleh kepada Bie Liek.

“Bagaimana Bie Siauw-hiap apakah kita beristirahat saja dulu di kampung ini?” tanyanya meminta keputusan dari si bocah she Bie tersebut.

Bie Liek tersenyum manis.

“Terserah kepada Sian Loo-peh aku hanya menuruti saja!” menyahuti Bie Liek. Sian Tauw Bun tersenyum, dia berkata dengan suara yang perlahan : “Walaupun

Bie Siauw-hiap berusia sangat muda, dan juga sangat kosen, toh dia tidak angkuh!”

Bie Liek dan Ling-jie mendengar gumaman Sian Tauw Bun, mereka jadi tersenyum. Mereka bertiga kemudian memasuki kampung itu.

Ternyata, walaupun disebut sebuah kampung, Peng-liang-kwan ternyata merupakan sebuah kampung yang besar sekali. Dan memang sangat cocok kalau kampung tersebut disebut sebuah kota kecil. Banyak sekali pada saat itu orang-orang yang sedang berbelanja, kedatangan Bie Liek bertiga tidak menjadi perhatian orang banyak.

Mereka, penduduk kampung ini, tampaknya tidak begitu usil untuk ikut campur urusan orang, mereka seperti juga tidak mengacuhkan kedatangan ketiga orang asing bagi mereka. Siauw Tauw Bun mengajak puterinya dan Bie Liek memasuki sebuah rumah makan.

Kuda mereka diserahkan kepada pelayan rumah makan tersebut agar dirawat dan nanti dapat digunakan kembali, karena setelah dibersihkan, kuda-kuda tersebut akan segar kembali.

Siauw Tauw Bun memesan makanan untuk mereka bertiga. Tanpa menunggu lama, makanan-makanan yang dipesan oleh Sian Tauw Bun telah disajikan dimeja mereka. Maka tanpa shejie-shejie lagi, Bie Liek telah menyantapnya dengan cepat, sebab perutnya memang sedang lapar. Ling-jie juga makan dengan cepat.

Sian Tauw Bun sambil makan sambil bercerita, banyak sekali yang diceritakan oleh Sian Tauw Bun mengenai keganasan orang-orang Kangouw dari golongan Hek, hitam, yang selalu sering membunuh orang tanpa menemukan bukti yang nyata.

Bie Liek mendengarkan terus.

“Dan kalau memang kita membunuh tanpa sengaja, apakah kita akan digusur ke depan Tiekwan?” tanya Be Liek dengan cepat.

“Maksudmu?” tanya Sian Tauw Bun sambil mengawasi bocah itu.

“Apakah manusia yang telah membunuh tanpa sengaja, akan digusur begitu saja

kedepan pengadilan?” tanya Bie Liek kembali mengulangi pertanyaannya.

Sian Tauw Bun berhenti menyuap, matanya mencilak.

“Maksud Bie Siauw-hiap siapakah yang kita bunuh itu?” tanyanya kemudian.

“Yang jelas kita membunuh seorang penjahat!” kata Bie Liek. Sian Tauw Bun tertawa.

“Kalau kita membunuh penjahat yang memang sedang dicari oleh pemerintah, kita bukannya digusur kedepan Tiekwan, malah menerima hadiah dari pemerintah!!” kata Sian Tauw Bun sambil tersenyum. “Apakah Bie Siauw-hiap mempunyai minat juga untuk membasmi segala penjahat yang berusaha mengacau penduduk kampung ini?!”

Bie Liek mengangguk.

“Ya!” dia menyahuti. “Kalau memang sampai terpaksa, maku apa boleh buat kita harus membunuh penjahat yang telah banyak mengatur keganasan mereka di kampung ini! Maka dari itu, aku mohon kepada Sian Loocian pwee dan Ling Siocia untuk berdiam di kampung ini beberapa hari lamanya! Aku akan mencari beberapa penjahat di kampung ini memberi hajaran kepada mereka!”

Mendengar perkataan Bie Liek yang bersemangat, maka Sian Tiauw Bun jadi tersenyum. “Begitupun boleh!” dia menyahuti. “Dan Loohu bersama putriku yang bodoh ini selalu akan mendengar setiap perintah dari Bie Siauwhiap!”

Mendengar perkataan Sian Tauw Bun wajah Bie Liek jadi berubah merah.

“Jangan berkata begitu, Sian Loopeh!” kata Bie Liek cepat. “Kau adalah angkatan tua, sebagai seorang bocah, aku harus menghormatimu, maka dari itu, setiap langkah dan tindakan yang akan kuambil, tentu harus disetujui dulu oleh Loopeh!”

Sian Tauw Bun mengangguk sambil mengulurkan tangannya dan menunjukkan jempol tangannya, mulutnya tersenyum girang.

“Aku gembira hari ini bisa bertemu dengan Bie Siauwhiap yang baik hati dan kosen sekali!” kata Sian Tauw Bun. “Seandainya harus mati, Loohu juga puas!”

Bie Liek cepat-cepat merendahkan diri, lebih-lebih Ling-jie juga ikut memuji dirinya. Kemudian mereka makan dengan bernafu sambil bercakap-cakap. Gembira sekali tampaknya mereka bertiga.

Sedang Sian Tauw Bon, Bie Liek dan Sian Su Ling makan dengan lahap, tiba-tiba terdengar suara orang membentak : “Oh rupanya kau bersembunyi disini!!” dan disusul kemudian oleh suara gedebak-gedebuk dari orang yang dihajar.

Sian Tauw Bun, Bie Liek dan Su Ling menoleh, dilihat oleh mereka, seorang bocah berusia sepuluh tahun sedang dihajar oleh dua orang yang bertubuh tinggi besar dan mempunyai muka sangat menyeramkan sekali.

Bocah yang sedang digebuki itu mempunyai tubuh yang kurus kering, mengenakan pakaian yang compang camping, wajahnya pucat sekali dan tampaknya dia menderita kesakitan, karena tangan kedua orang bertubuh tinggi besar itu sangat bertenaga sekali waktu memukuli diri si bocah.

“Biarlah kau mampus! Anjing kecil yang tak tahu diri!!” bentak salah seorang

diantara kedua orang yang sedang menyiksa diri bocah itu.

“Ampun Siauwjin tidak berani lagi! Ampun! Ampun Looya!” teriak si bocah kesakitan. Dan tampak dia mau melarikan diri dari depan rumah makan itu.

Tetapi kedua lelaki bertubuh tinggi besar itu tidak mau membiarkan si bocah, sehingga tak ampun lagi si bocah jadi terjembab dengan muka membentur lantai, menyebabkan seketika itu juga hidungnya muncrat darah merah yang segar.

Si bocah menjerit-jerit meminta ampun, dia juga menangis saking ketakutan. Disamping ketakutan, bocah itu juga sangat menderita kesakitan akibat pukulan-pukulan tangan kedua orang itu yang sangat bertenaga sekali. Kedua orang yang menyiksa bocah itu telah menghampiri, mereka secara berbareng mengulurkan targannya untuk mengangkat tubuh si bocah dengan kasar. Tetapi, belum lagi tangan mereka dapat menyentuh tubuh bocah itu yang sedang merengket ketakutan, terdengar suara seruan kaget dari kedua orang tersebut, disertai oleh suara bentakan yang nyaring :

“Jangan menyiksa orang lemah tak berdaya!” dan tampak seorang bocah berusia tiga belas tahun berdiri di depan kedua orang itu dengan bertolak pinggang. Bocah inilah yang telah menangkis tangan kedua orang itu, sehingga kedua orang itu jadi terhuyung kebelakang beberapa langkah, sebab tangkisan tangan bocah itu sangat kuat sekali.

Bocah ini tak lain dari Bie Liek. Si bocah she Bie tersebut tadi sangat gusar melihat kedua orang itu menyiksa si bocah yang berpakaian compang-camping seperti seorang pengemis kecil itu, maka disaat melihat kedua orang itu mengulurkan tangannya mau menyiksa lagi, cepat-cepat dia melompat dan menangkis tangan orang-orang itu, agar si bocah terlolos dari hajaran mereka.

Mata kedua orang yang bertubuh tinggi besar, dan yang tadi menyiksa bocah berpakaian compang-camping itu jadi mencilak bermain dengan buas.

“Bocah busuk apakah kau mencari mampus dengan menghadang di depan kami?” bentak salah seorang diantara kedua orang bertubuh tinggi besar itu dengan suara yang parau-keras mengguntur, menyatakan kegusaran hatinya.

Bie Liek mengerutkan alisnya, dia tertawa mengejek dan tidak memandang sebelah mata kepada kedua orang tersebut.

“Kalian merupakan tua-bangka yang tidak tahu malu!” bentak Bie Liek dengan suara yang mengejek. “Seorang bocah kalian siksa sampai demikian macam coba kalau sampai dia binasa di tangan kalian, bukankah berarti akan terjadi perkara jiwa?”

Kedua orang bertubuh tinggi besar itu jadi tambah gusar lagi. Tetapi mereka bergusar dengan disertai oleh kemendongkolan yang sangat. Hal itu disebabkan, karena yang menegur mereka adalah seorang bocah cilik, maka bisa dibayangkan betapa kegusaran hati mereka itu. Sedangkan para jago-jago silat saja jeri pada mereka, apalagi seorang bocah!!

Maka dari itu, dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, dengan disertai caci maki, kedua orang tersebut telah melompat menerkam kepada Bie Liek dengan berbareng. Kedua tangan mereka terulurkan akan mencengkeram Bie Liek. Cengkeraman kedua orang tersebut disertai oleh tenaga dalamnya.

Bie Liek melihat orang menyerang dirinya dengan serangan yang ganas dan mematikan, hati si bocah jadi mendongkol sekali.

“Hmm kalian ternyata terlalu telengas sekali dan tangan kalian sangat jahat!!”

kata si bocah sambil mengelakkan cengkeraman kedua orang itu.

Kedua orang tersebut yang bertubuh tinggi besar itu melihat kedua serangan mereka menemui kegagalan dan menyerang tempat kosong, jadi tambah mendongkol. Mereka mengeluarkan seruan tertahan, kemudian dengan cepat kedua orang bertubuh tinggi besar ini menarik pulang tangan mereka, tetapi mereka bukan untuk mundur, melainkan kedua tangan mereka secara serentak telah menyerang lagi.

Bie Liek sedang mengawasi dengan tersenyum mengejek. Sikapnya tenang sekali. Melihat kedua orang ini menyerang dirinya lagi, dia tidak mengelakkan serangan kedua orang tersebut, melainkan disaat kedua serangan orang itu hampir mengenai dirinya, dengan mengeluarkan suara dengusan yang mengandung ejekan, Bie Liek mengayunkan tangannya. terdengar suara 'Plakkk!', 'Plokkk!’ Tampak kemudian kedua orang bertubuh tinggi besar itu terjungkal!

Ternyata tadi Bie Liek telah mengerahkan tiga bagian tenaga Lweekangnya untuk menghajar muka kedua orang itu, sehingga menimbulkan suara yang nyaring begitu. Dan malah yang hebat, tenaga serangan dari Bie Liek telah menyebabkan kedua orang itu terjungkal. 

Dengan merayap dan menahan sakit dan bibir mengalir darah, kedua orang itu berdiri dengan murka. Tetapi disamping bergusar, mereka juga jadi jeri sekali kepada Bie Liek.

“Hmmm hayo menyerang lagi!” kata Bie Liek dengan suara mengejek.

Tetapi kedua orang itu tidak lantas menyerang, mereka saling memandang satu dengan yang lain, kemudian salah seorang diantara kedua orang itu menyusut darah yang mengalir dicelah bibirnya, dia maju dua langkah ke dekat Bie Liek.

Sebutkan namamu!” kata orang ini. “Budi dan kebaikanmu pada hari ini pasti akan bayar impas!!”

Bie Liek ketawa dingin.

“Rupanya kalian ingin membalas dendam, heh?” bentaknya dengan suara yang lantang.

Kedua orang itu mundur satu langkah, rupanya mereka jeri sekali kepada bocah she Bie ini, yang mereka dapati sangat kosen sekali.

“Baiklah!” kata seorang diantara kedua orang itu dengan cepat, “Hari ini kami kena dirubuhkan oleh kau, si bocah bu busuk, tetapi dalam satu dua hari tentu budi kebaikanmu ini akan kami bayar kembali!” dan setelah berkata begitu, dengan cepat kedua orang itu memutar tubuhnya, mereka keluar dari rumah makan itu, meloyor seperti seekor anjing kurap yang kena penggebuk.

Bie Liek tidak mengejar orang itu. Dia menghampiri Sian Tauw Bun dan Sian Su

Ling.

“Hebat kau Bie Siauw-hiap!” memuji Sian Su Ling sambil tersenyum. “Dengan

mudah sekali kau telah merubuhkan kedua orang yang bertubuh tinggi besar itu!” Bie Liek cepat-cepat merendahkan diri, kemudian dia teringat kepada si bocah yang tadi dipukuli oleh kedua orang bertubuh tinggi besar itu.

Dihampirinya bocah yang sedang duduk dengan tubuhnya dirasakan sakit-sakit akibat pukulan kedua orang itu.

Melihat Bie Liek menghampiri padanya dan karena dia melihat tadi bahwa Bie Liek adalah penolongnya, cepat-cepat bocah itu bangun berdiri. Dia menghampiri Bie Liek dan berlutut di depan Bie Liek sambil menangis. Hal ini membikin Bie Liek jadi repot untuk membangunkan bocah itu.

“Jangan berlutut! Hayo bangun!” kata Bie Liek cepat. “Jangan gunakan banyak peradatan!”

Tetapi bocah itu tetap tidak mau bangun, dia masih terus juga berlutut.

“Terima kasih atas bantuan In-kong!!” kata si bocah sambil menangis. “Kalau tidak

ada In-kong, mungkin aku akan mati teraniaya oleh kedua orang itu!”

Bie Liek mengulurkan tangannya, dipegangnya kedua bahu bocah itu.

“Jangan banyak peradatan! Jangan banyak peradatan!” katanya cepat.

Dan, Bie Liek mengerahkan satu bagian tenaga dalamnya, maka tubuh si bocah jadi terangkat.

“Siapa namamu?” tanya Bie Liek kemudian.

Si bocah masih menangis, tetapi dia tidak berlutut lagi, karena dia tahu, bahwa Bie Liek ternyata seorang tuan penolongnya yang tidak mau banyak memakai adat peradatan.

“Siauw-jie she Mie dan bernama tunggal Kong,” menerangkan si bocah.

“Mengapa kau bisa disiksa begitu macam oleh kedua orang yang tadi menyiksamu itu?” tanya Bie Liek lagi.

Baru saja si bocah itu, yang mengaku bernama Mie Kong mau menyahuti, tiba- tiba Sian Tauw Bun dan Sian Su Ling telah menghampiri.

“Ayo kita duduk makan-makan sambil bercerita!” kata Sian Tauw Bun.

Bie Liek membenarkan, dia mengajak si bocah bernama Mie Kong untuk duduk semeja dengannya. Tetapi bocah Mie Kong itu menolaknya namun setelah didesak oleh Bie Liek, akhirnya bocah itu mau juga duduk semeja dengan tuan penolongnya,

Sikapnya selalu menghormat kepada Bie Liek bertiga. Dan, sambil makan, bocah itu menceritakan riwayatnya sampai dia dihajari oleh kedua orang itu.

Ternyata Mie Kong seorang anak yatim piatu. Waktu dia berusia lima tahun, ayah dan ibunya terbinasa terbakar hidup-hidup waktu rumah mereka terjadi suatu kebakaran besar, sehingga untuk seterusnya Mie Kong hidup sebatang kara. Dan karena untuk dapat mengisi perut agar tidak kelaparan, Mie Kong menjalankan hidupnya dengan mengemis.

Akhirnya pada suatu hari, disaat Mie Kong berusia enam tahun, ada seorang kakek bernama Bian Tie Lo yang memungut dia sebagai anak pungut. Tetapi malang bagi Mie Kong, baru saja dia merasakan hidup teratur selama satu tahun lebih, kakek itu telah meninggal dunia disebabkan usia tuanya.

Tetapi disebabkan usianya telah bertambah, maka Mie Kong sudah tidak mau mengemis lagi. Dia bekerja sebagai seorang budak di rumah hartawan Pian Su, dimana dia bekerja berat mengurus kuda-kuda dari majikannya itu.

Tetapi pada suatu hari, disaat dia berusia sepuluh tahun itulah, maka di rumah hartawan she Pian itu telah terjadi kegemparan dengan lenyapnya sebuah permata berlian yang besar dan sangat berharga.

Sebetulnya hal itu tidak menarik perhatian Mie Kong, namun dengan tidak sengaja pada suatu malam dia mendengar percakapan kedua orang yang bertubuh tinggi besar, yang menjadi penjaga malam rumah keluarga hartawan itu, yang masing-masing bernama Kim Ho dan Siu Yang.

Dari percakapan kedua orang itu, orang she Kim dan orang she Siu itu, maka Mie Kong mengetahui, yang mencuri permata berlian keluarga majikannya itu adalah kedua orang tersebut.

Mie Kong sebetulnya tidak mengambil usil persoalan itu, tetapi mengingat kebaikan-kebaikan dari keluarga majikannya itu, maka akhirnya Mie Kong melaporkan hal itu kepada hartawan Pian Su.

Tetapi hartawan itu tidak berani mengambil tindakan keras kepada kedua tukang pukulnya itu, sebab Kim Ho dan Siu Yang memang berasal dari buaya darat kota tersebut. Mereka hanya ditegur keras oleh hartawan tersebut.

Tetapi, kedua orang ini jadi tidak senang. Mereka menyelidiki orang yang mengadukan mereka itu. Akhirnya, entah bagaimana mereka mengetahui bahwa yang melaporkan mereka Mie Kong, itulah sebabnya mereka mengambil keputusan untuk menghajar Mie Kong sampai mampus.

Mie Kong sendiri telah mempunyai perasaan tak enak, lebih-lebih setiap bertemu dengan kedua orang itu, dia melihat mata dari kedua orang tersebut sangat ganas sekali, mengandung hawa pembunuhan.

Sebagai seorang bocah yang baru berusia sepuluh tahun, maka Mie Kong jadi jeri dan ketakutan. Pada suatu malam, saking ketakutan, dia melarikan diri dari rumah hartawan itu.

Tetapi Kim Ho dan Siu Yang dapat mengendus jejak si bocah, itulah sebabnya kedua orang ini melakukan pengejaran, dan akhirnya dapat mengejar bocah itu dimuka rumah makan dimana Bie Liek, Sian Tauw Bun dan Sian Su Ling sedang bersantap, si bocah dihajar keras sekali, dan akan dibikin binasa oleh kedua orang tersebut.

Untung saja ada Bie Liek, coba kalau tidak, tentu Mie Kong sudah di kirim ke akhirat oleh Kim Ho dan Siu Yang.

“UNTUNG saja ada In-kong, kalau tidak tentu Siauw-jin akan dibunuh oleh Kim Ho dan Siu Yang yang menjadi dua orang tukang pukul keluarga hartawan she Pian itu.” kata Mie Kong dengan suara berterima kasih. Tetapi kemudian wajahnya jadi berubah sedih. “Hanya untuk seterusnya mungkin aku akan hidup sebagai sebagai pengemis lagi!”

Mendengar cerita Mie Kong, Bie Liek dan Sian Tauw Bun beserta Sian Su Ling jadi merasa kasihan kepada bocah ini.

“Kau jangan bersedih, Mie Kong!” kata Bie Liek cepat. “Untuk seterusnya lebih baik kau ikut bersamaku saja!”

Mendengar perkataan Bie Liek, si bocah she Mie itu jadi girang sekali.

Cepat-cepat dia berdiri, kemudian berlutut sambil memanggut-manggutkan kepalanya.

“Terima kasih In-kong! Terima kasih! Dengan ikut bersama In-kong tentu tidak akan ada yang berani menghinaku lagi! Aku akan setia ikut bersama In-kong sebagai budakmu!” kata Mie Kong dengan gembira.

Cepat-cepat Bie Liek memerintahkan agar Mie Kong berdiri dan duduk dikursinya kembali.

“Jangan kau mempunyai perasaan bahwa kau adalah budakku, Mie Kong anggap

saja aku sebagai sahabatmu!” kata Bie Liek sesaat kemudian.

“Mana berani Siauw-jjin mempunyai pikiran begitu?” kata Mie Kong cepat. “Sedangkan dengan diangkat sebagai budak In-kong aku sudah bersyukur atas kebesaran Thian!”

Mie Kong selalu membahasakan dirinya dengan sebutan Siauw-jin, si budak, dan dia memanggil Bie Liek dengan sebutan In-kong, tuan penolong, dan yang dimaksud dengan Thian, ialah Tuhan.

Bie Liek juga tidak memaksa orang untuk menjadi sahabatnya, dia mau melihat dahulu keuletan sampai dimana keuletan dari Mie Kong, kalau memang bocah ini adalah seorang anak yang baik dan jujur, dia bertekad akan menurunkan satu dua jurus ilmu silatnya kepada Mie Kong, guna dipakai oleh si bocah untuk menjaga diri, jika pada suatu hari nanti dia menghadapi bahaya.

Mereka bersantap lagi dengan gembira, dan Sian Tauw Bun menceritakan tentang pergolakan-pergolakan di dalam dunia persilatan, Sian Su Ling pun tak hentinya memuji Bie Liek, yang dikatakan olehnya biarpun bocah she Bie itu baru berusia tiga atau empat belas tahun toh sikap-sikap dan wataknya seperti telah dewasa, lagi pula Bie Liek mempunyai budi yang luhur!

Setelah kenyang mengisi perut mereka, keempat orang ini melanjutkan perjalanan mereka.

Mie Kong diberikan seekor kuda, yang dibeli dari seorang pedagang kuda di kampung tersebut.

o

o o

SELAMA berhari-hari Bie Liek, Sian Tauw Bun, Siau Su Ling dan Mie Kong melakukan perjalanan mereka, jarang sekali mereka beristirahat, karena mereka ingin cepat-cepat sampai ditempat tujuan mereka.

Perjalanan yang terus menerus menyebabkan mereka dengan cepat telah berada di pegunungan Tiang san. dimana gunung tersebut merupakan sebuah gunung yang terakhir untuk menuju ke Sin-kiang.

Perjalanan di gunung ini agak sukar, karena jalan-jalan gunung ini selain kecil dan kedua tepiannya terdapat jurang-jurang yang dalam serta berbahaya.

Mie Kong yang paling ketakutan, dia jeri kalau sampai kuda yang ditungganginya itu mengamuk, pasti dia berikut kudanya akan terjerumus ke dalam jurang yang sangat dalam dan berbahaya itu. Sedangkan Bie Liek dan Siauw Tauw Bun dan puterinya berjalan paling muka.

Tiba-tiba disaat mereka sampai di tengah-tengah pegunungan itu, disaat mereka akan melewati sebuah jalan kecil lurus dari gunung tersebut, terdengar orang bersenandung dengan suara yang nyaring dari balik sebuah lamping gunung : “Tak ada kenikmatan lainnya selain arak, Hong-ciu dan Kang-souw akan merupakan kota yang terindah kalau memang ada arak dengan arak di tangan kiri dan pedang di tangan kanan kita membasmi segala penjahat murtad!” suara nyanyian itu berulang kali.

Bie Liek menahan kuda tunggangannya, begitu juga yang lainnya. Bocah she Bie ini memantang matanya lebar-lebar, memperhatikan sekitar tempat itu.

Tetapi tidak tampak seorang manusiapun. Bie Liek menarik tali kekang kudanya lagi, menjalankan kuda tunggangannya itu hati-hati, penuh kewaspadaan. Begitu juga Sian Tauw Bun dan Sian Su Ling serta Mie Kong. Hati ayah dan anak dan budaknya Bie Liek jadi berdebar hatinya. Lebih-lebih Sian Tauw Bun, dia menduga tentu ada orang yang bermaksud untuk menghadang mereka di dalam perjalanan ini. Bie Liek maju terus, sedangkan nyanyian yang melengking tinggi itu masih saja terdengar. Harus diketahui, keadaan dipsgunungin tersebut sangat sunyi sekali, apa lagi diantara jurang-jurang yang dalam dan sangat berbahaya itu, maka suara nyanyian itu jadi menggema keras sekali, terdengar berpantulan.

Ketika itu Bie Liek hampir sampai didekat sebuah tikungan, si bocah she Bie jadi tambah waspada. Ketika dia berbelok, tampak di depannya seorang lelaki gemuk berpakaian serba hitam, dan kalau dilihat sepintas lalu menyerupai seorang pengemis. Didekat pengemis itu terdapat sebuah gerobak yang ditarik oleh seekor kuda, dipedati tersebut tampak botol-botol arak yang sangat besar.

Pedati itu melintang di tengah-tengah jalan, sehingga jadi menghadang perjalanan orang dari dua jurusan, sedangkan orang bertubuh gemuk itu yang berpakaian menyerupai seorang pengemis sedang duduk disebelah batu gunung yang terdapat di tepian jalan, rupa-rupanya dia sedang beristirahat.

Mulutnya masih terus menyanyikan lagunya itu, seperti juga dia tidak seperti mendengar suara langkah kaki kuda dan tidak mengetahui kedatangan Bie Liek bersama Sian Tauw Bun dan lain-lainnya.

Bie Liek menahan les kudanya, sehingga kuda tunggangannya berhenti. Begitu juga yang lainnya, San Tauw Bun, Sian Su Ling dan Mie Kong berhenti di belakang Bie Liek. Dengan ringan Bie Liek melompat turun dari kuda tunggangannya. Dia menghampiri lelaki gemuk berpakaian serba hitam dan menyerupai seorang pengemis itu. Si bocah she Bie ini merangkap kedua tangannya menjura kepada orang itu.

“Loopeh kami ingin menuju ke seberang sana, maka kami minta agar menepikan

kereta arak Loopeh itu.” kata Bie Liek.

Tiba-tiba lelaki gemuk berpakaian serba hitam dan menyerupai seorang pengemis itu menoleh kepada Bie Liek. Cahaya matanya tajam sekali, berkilat-kilat, menyatakan bahwa orang ini adalah seorang ahli Lwee keh.

Bie Liek sendiri terkejut melihat cahaya mata orang itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, orang bertubuh gemuk ini memandang ke arah Sian Tauw Bun dan lain-lainnya juga. Dia masih duduk di batu gunung itu, tidak bergerak sedikitpun.

Melihat orang berdiam diri, Bie Liek merangkapkan tangannya lagi, menjura kepada orang itu.

“Loopeh kuminta agar kau mau memberikan jalan sedikit kepada kami!” kata Bie Liek dengan ramah. Dia juga memanggil orang dengan sebutan Loopeh, yang berarti paman.

Tiba-tiba orang bertubuh gemuk dan berpakaian serba hitam itu melompat berdiri. “Bocah bau!” bentaknya dengan suara yang mengguntur dan matanya mencilak- cilak memain tak hentinya dengan cahayanya yang tajam. “Mengapa tidak angin tidak hujan kau mengganggu kesenanganku?”

Bie Liek jadi melengak sesaat melihat lagak orang, dia jadi heran, mengapa lelaki gemuk ini jadi mencak-mencak begitu, padahal dia berkata dengan cara yang baik.

“Loopeh, mengapa kau mengatakan bahwa kami mengganggu kesenanganmu?” tanya Bie Liek jadi tak senang. “Bukankan kami telah meminta jalan secara baik? Apakah dengan membiarkan pedatimu itu melintang di tengah-tengah jalan tidak akan mengganggu perjalanan orang lain? Jalan ini kukira bukan milikmu seorang!”

Mendengar perkataan Bie Liek, mata orang bertubuh gemuk dan berpakaian serba hitam itu jadi tambah mencilak matanya, mukanya juga berubah bengis.

“Kau bocah bau!” bentaknya dengan suara mengguntur. “Aku Hek Houw Sam-cie, harimau hitam berjari tiga, tidak mau diganggu oleh orang! Kesenanganku adalah kesenanganku, dan kalau memang ada seorang bocah bau yang tidak tahu diri sepertimu, berarti kau mau mampus!!”

Dan setelah berkata begitu, dengan tidak terduga, orang bertubuh gemuk berpakaian serba hitam dan mengaku sebagai Hek Houw Sam-cie, Harimau hitam berjari tiga itu, melompat.

Gesit sekali gerakan orang ini.

Malah Hek Houw Sam-cie melompat bukan hanya untuk menubruk Bie Liek, dia juga telah mengulurkan tangannya, dengan jari-jemari tangan terpentang lebar, dia akan mencengkeram pundak Bie Liek.

Bie Liek sendiri terkejut melihat orang tahu-tahu menyerang dirinya. Lebih-lebih gerakan Hek Houw Sam-cie ini sansat gesit sekali. Dan, bocah she Bie ini menyadari bahwa Hek Houw Sam-cie tersebut adalah seorang jago yang kosen dan berkepandaian tinggi sekali.

Maka dari itu, tidak menunggu lagi serangan dari Harimau hitam berjari tiga tersebut sampai mengenai dirinya Bie Liek telah menggeser kakinya, kemudian dengan gerakan yang indah dan ringan sekali, Bie Liek telah memutar tangannya, memapak tangan orang ini.

Terdengar suara 'dukkkk!’ yang keras sekali. Tampak tangan Bie Lek dan Hek Houw Sam cie saling bentur dengan keras.

Terdengar oleh Sian Touw Bun beramai, Hek Houw Sam-cie mengeluarkan seruan tertahan. Kedua orang ini kemudian saling mundur. Tubuh Bie Liek tadi tidak bergeming sedikitpun. Ternyata dia telah mengerahkan tenaga Lweekangnya, tenaga dalamnya, biarpun Hek Houw Sam-cie telah menyerang dirinya dengan hebat, toh tetap dia tidak bisa membikin tubuh bocah itu tergoncang.

Mie Kong dan yang lainnya, yang menyaksikan partempuran itu jadi kebat kebit hatinya.

Tadi Bie Lie menggeser akinya ke dekat tepian jurang, sehingga bocah itu jadi berdiri di dekat tepian jurang. Coba kalau memang Bie Liek tidak mempunyai ilmu tenaga dalamnya yang telah sempurna, dan Lweekangnya itu telah terlatih sempurna, tentu dia akan terdorong. Sedikit saja dia tergempur kuda-kudanya, pasti Bie Liek akan terpukul terpental terjerumus ke dalam jurang!

Hek Houw Sam-cie pada saat itu telah berdiri dengan mata mencilak memain tak hentinya. Dia jadi heran sekali melihat bocah itu tidak bergeming sedikitpun menerima pukulannya.

Malah yang membuatnya jadi terkejut, tadi waktu tangannya saling bentur dengan tangan Bie Liek, dia merasakan tangan si bocah keras bertenaga sekali, malah kuda-kuda dirinya tergempur pecah, hampir saja membuat diri Hek Houw Sam-cie itu terpental kalau memang dia tidak cepat-cepat mengendalikan keseimbangan tubuhnya.

Maka dari itu, dengan pandangan mati mencilak begitu, Hek Houw Sam-cie telah menatap Bie Liek.

“Bocah busuk, ternyata kau mempunyai kepandaiann yang lumayan juga!” kata si harimau hitam berjari tiga. “Hmmm tetapi Hek Hauw Sam-cie tidak akan mau sudah kepada orang yang telah mengganggu kesenangan hatinya!”

Dan setelah berkata begitu, dia telah melompat lagi, dia mengulurkan tangannya.

Serangannya yang kali ini sangat telengas sekali.

Bie Liek juga melihat cara menyerang dari si gemuk berpakaian serba hitam ini. Dia jadi mendongkol, sebab Hek Houw Sam-cie menyerang ke arah dada dan lambung Bie Liek, kalau sampai serangan itu mengenai tempat yang tepat, maka jangan harap Bie Liek dapat hidup terus dipermukaan bumi ini. Sian Tauw Bun, Sian Su Ling dan Mie Kong jadi mengeluarkan seruan tertahan. Mereka menguatirkan keselamatan Bie Liek.

Sedangkan Sian Tauw Bun dan Su Ling telah bersiap-siap akan memberikan bantuan mereka jika memang nanti Bie Liek ternyata terdesak dari tangan si Harimau hitam berjari tiga ini.

Tetapi Bie Liek sangat tenang sekali. Dia tidak menjadi gugup atau bingung melihat serangan si Harimau hitam berjari tiga itu ke arah dada dan lambungnya, biarpun serangan itu sangat telengas sekali.

Ditunggunya serangan Hek Houw Sam-cie hampir mengenai sasarannya, dengan tidak terduga Bie Liek memutar tubuhnya, sedang berputar begitu, tangannya juga bergerak memain dengan cepat, dan tampak tubuh Hek Houw Sam-cie terpental membentur batu gunung.

Ternyata, karena melihat orang bersikap telengas, maka Bie Liek juga turun tangan tak segan-segan lagi. Waktu kedua tangan Hek Houw Sam-cie hampir mengenai dada dan lambungnya itu, Bie Liek telah berputar begitu macam, dan sambil berputar dia juga mengerahkan tujuh bagian tenaga dalamnya, maka dengan cepat dia memapak serangan orang tersebut, disusul kemudian dengan kibasan tangan kirinya kedada Hek Houw Sam-cie!

Itulah yang menyebabkan Hek Houw Sam-cie jadi terpental dan dia merasakan dadanya seperti juga dihantam oleh godam yang keras sekali. Coba kalau memang Hek Houw Sam-cie bukan seorang jago yang lihay dan mempunyai Lweekang cukup sempurna, tentu dia telah terhajar hancur berantakan tulang-tulang dadanya.

Dengan pandangan mata berkunang, Hek Houw Sam-cie merangkak bangun. Dia mendelik kepada Bie Liek dengan pancaran mata yang mengerikan.

“Bocah busuk akan kubunuh kau!” teriaknya dengan suara yang kalap.

Dan dengan tidak terdupa tangannya merabah jubahnya, tahu-tahu di tangannya itu telah tergenggam sebatang golok kecil yang berkeredep ditimpa cahaya matahari.

Dia mengayun-ayunkan goloknya itu dengan penuh hawa pembunuhan.

“Hmm hari ini jiwamu akan kukirim menghadap pada Giam-lo ong!” bentaknya dengan suara yang bengis.

Melihat orang mencabut senjata itu, tetapi Bie Liek tetap tenang. Dia tidak mencabut pedangnya, tetap berdiri tenang menantikan serangan orang.

“Hei harimau ompong!” bentak Bie Liek mengejek. “Apakah kau tidak jeri nanti

golokmu itu makan tuan dan malah kau sendiri yang menghadap ke Giam lo-ong?!” Muka Hek Houw Sam-cie jadi merah padam.

“Bocah busuk!” bentaknya dengan suara yang tetap bengis dan parau. “Kalau memang hari ini aku tidak bisa membunuhmu, biarlah aku tidak menjadi manusia lagi!”

Bie Liek ketawa mengejek.

“Hmm kau mempermainkan golok itu!” kata Bie Liek tawar. ''Apakah kau kira golok adalah barang permainan yang tidak berbahaya? Bisa-bisa nanti jiwamu sendiri yang melayang!”

Hek Houw Sam-cie jadi tambah murka, dengan cepat dia memasang kuda- kudanya, dan matanya mencilak memain. Goloknya juga terangkat perlahan-lahan. Rupanya dia telah bersiap-siap akan menyerang pada bocah she Bie ini. Melihat lagak orang, Bie Liek tetap membawa sikapnya yang tenang, dia hanya memandang tawar kepada orang yang bergelar Harimau hitam berjari tiga ini.

Hek Houw Sam-cie maju selangkah demi selangkah, sikapnya sangat mengancam

sekali.

Sian Tauw Bun, Sian Su Ling dan Mie Kong jadi menguatirkan keselamatan Bie

Liek. Sian Tauw Bun dan Su Ling memasang mata tajam-tajam, mereka bersiap-siap akan memberikan bantuan mereka kepada bocah she Bie itu jika disaat-saat diperlukannya. Tangan mereka masing-masing telah menggenggam erat-erat gagang senjata mereka masing-masing.

Sedangkan pada saat itu, Hek Houw Sam-cie telah maju lebih mendekat lagi. Matanya sangat merah memancar mengerikan, rupanya dia sangat penasaran dan murka sekali tadi tidak bisa dirubuhkan bocah itu, maka dia mengambil suatu keputusan untuk membunuh Bie Liek.

Dan, disaat dia sedang memutar-mutar goloknya itu, dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur keras, Hek Houw Sam-cie telah menyerang bagaikan kalap. Golok Hek Houw Sam-cie berkeredap akan menabas batang leher Bie Liek.

Biarpun melihat orang bersenjatakan golok yang tajam itu, dan menyerang dirinya dengan serangan yang telengas sekali, toh Bie Liek tetap bersikap tenang. Tidak tampak diwajahnya sedikitpun perasaan jeri.

Dinantikannya datangnya serangan Hek Houw Sam-cie dengan sikapnya yang tenang, dan disaat golok dari harimau hitam berjari tiga itu hampir mengenai lehernya dengan cepat sekali Bie Liek mengebutkan lengan bajunya, kemudian dengan kecepatan yang luar biasa dia mengulurkan tangannya dengan jari telunjuk dan jari tengah tangannya terpentang, dia menekuk sedikit, dan kesudahan dari itu hebat sekali.

Apa yang telah terjadi?

Ternyata Bie Liek telah berhasil menjepit golok Hek Houw Sam-cie. Dan yang hebat, golok yang sedang menyambar dengan disertai oleh tenaga yang kuat dari si Harimau Hitam berjari tiga itu, Bie Liek telah berhasil menjepitnya tak bergerak dengan hanya menggunakan kedua jarinya belaka.

Dan golok itu jadi tak bergeming di dalam jepitan kedua jari tangan Bie Liek. Hek Houw Sam-cie jadi terkejut sekali, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Sian Tauw Bun, Sian Su Ling dan Mie Kong jadi terkejut pula, tetapi mereka terkejut untuk lantas berobah menjadi girang melibat kehebatan Bie Liek. Malah Mie Kong, si bocah yang telah menjadi budaknya Bie Liek, jadi bersorak-sorak dengan penuh kegembiraan. Wajah Hek Houw Sam cie jadi merah padam. Dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menarik goloknya itu. Tetapi jepitan jari-jari tangan Bie Liek seperti juga jepitan dari besi, sedikitpun golok itu tidak bergeming.

Dengan tenang Bie Liek mengawasi Hek Houw Sam-cie yang sedang berkutetan mengerahkan tenaganya untuk menarik pulang goloknya yang terjepit oleh tangan Bie Liek.

Waktu Bie Liek melihat Hek Houw Sam-cie masih mengerahkan tenaganya untuk menarik pulang goloknya tanpa daya itu, maka Bie Liek mengerahkan tenaganya tujuh bagian, dia memutar jari-jari tangannya, seketika itu juga terdengar suara : ‘takkk!’ tampak golok Hek Houw Sam-cie yang terjepit oleh jari-jari tangan Bie Liek patah dua!!

Malah Hek Houw Sam-cie sendiri, karena dia sedang menarik keras sambil mengerahkan tenaganya, begitu goloknya patah, hampir saja dia terjengkang ke belakang.

Untung saja dia cukup kosen dan gesit, begitu dia hampir terpelanting, dia telah menggunakan ginkangnya untuk melompat, maka tubuhnya meletik keatas, dan disaat tubuhnya itu turun kembali, dia turun dengan kaki terlebih dahulu! Dengan begitu, Hek Houw Sam-cie jadi tidak usah menderita malu.

Bie Liek mempermainkan ujung golok yang patah, yang berada di tangannya, dia menimang-nimangnya.

“Hmmm   sebetulnya, kalau aku ingin mengambil jiwamu sama mudahnya dengan mematahkan golokmu ini!” kata Bie Liek dengan tawar. “Namun karena diantara kita memang tidak terdapat ganjalan hati atau juga permusuhan, maka dari itu aku tidak sampai turun tangan begitu jauh, cepat kau singkirkan keretamu itu!'

Wajah Hek Houw Sam-cie berobah merah padam. Rupanya disamping mendongkol, bergusar dan murka, dia juga sangat malu sekali. Apalagi dia melihat dengan seenaknya Bie Liek telah membuang potongan goloknya itu ke dalam jurang.

Mata Hek Houw Sam-cie mendelik kepada Bie Liek dengan memancarkan cahaya permusuhan.

Bie Liek tidak mau memperdulikan lagak orang, dia tertawa tawar.

“Sudahlah tidak usah kau bawa lagak seperti anak kecil!” kata Bie Liek dengan suara yang tawar. “Cepat kau singkirkan keretamu itu sebelum aku merobah pikiran!”

Hek Houw Sam-cie tidak mengatakan apapun, setelah mendelik sesaat lamanya lagi kepada Bie Liek, akhirnya dia memutar tubuhnya menghampiri keretanya.

Bie Liek telah kembali ke kudanya, dengan sekali melompat si bocah telah berada di atas kudanya.

“Sian Loopeh hayo kita berangkat!” kata si bocah. Sian Tauw Bun yang lainnya mengiakan.

Tetapi, baru saja Bie Lek mau menarik tali les kudanya, terdengar Sian Su Ling mengeluarkan suara seruan tertahan, seruan kaget.

Bie Liek sangat heran, tetapi belum lagi lenyap rasa herannya, dan dia belum mengetahui soal apa yang menyebabkan gadis itu berseru kaget seperti itu, dirasakan menyambarnya angin serangan yang keras sekali.

Bocah she Bie ini kosen sekali, biarpun dia diserang tiba-tiba begitu, tetapi dia bisa bergerak dengan gesit. Dengan cepat dia memiringkan tubuhnya, sehingga tubuhnya seperti juga tercantol di atas kudanya dengan tubuh yang miring ke kanan, dan Bie Liek melihat sebuah tong arak dari Hek Houw Sam-cie telah lewat menyambarnya.

Si bocah mendongkol sekali, disaat tong arak itu lewat dekat tubuhnya, maka Bie Lie mengangkat taagannya, dan ‘prakkk!’ kendi arak yang besar itu kena dihajar oleh Bie Lek, seningga seketika itu juga arak di dalam tong itu berhamburan, dan pecahan kendi yang terhajar pecah oleh tangan Bie Liek berserakan di tanah.

Bie Liek telah duduk kembali dikudanya dengan gusar. Dia tidak menyangka bahwa Hek Houw Sam-cie dapat melakukan perbuatan rendah begitu.

Rupanya tadi disaat Bie Liek sedang melompat keatas kudanya, Hek Houw Sam- cie telah membarengi dengan menyembat sebuah kendi araknya, yang dilemparkan ke arah kepala Be Liek.

Hal itulah yang telah menyebabkan Sian Su Ling jadi mengeluarkan seruan tertahan. Untung saja Bie Liek kosen dan liehay sekali, sehingga kendi itu selain dapat dielakkan, pun dapat dihajarnya hancur.

Coba kalau tidak, tentu kepalanya akan hancur oleh benturan kendi arak yang terbuat dari batu pualam hitam itu. Sedangkan Hek Houw Sam-cie juga terkejut melihat si bocah she Bie ini dapat mengelakkan serangannya.

Malah yang lebih mengejutkan hatinya, tangan bocah she Bie ini yang kuat sekali, sekali hajar telah dapat menghancurkan kendi araknya yang keras dan terbuat dari batu pualam hitam itu, coba kalau orang lain, pasti hal itu akan menyebabkan tangan orang tersebut akan patah tangannya.

Sedang Hek Houw Sam-cie berdiri seperti orang kesima, Bie Liek telah melompat turun kembali dari kudanya.

Hek Houw Sam cie juga melihat gerakan Bie Liek, dia tahu-tahu telah menyambar kendi araknya lagi, dilemparkan secara beruntun beberapa kendi arak itu ke arah Bie Liek.

Biar kosen bagaimana, Bie Liek jadi repot juga menghindarkan diri dari sambaran- sambaran kendi-kendi arak yang besar-besar dan kuat bikinannya itu. Arak jadi berhamburan menyiram bumi.

Hek Houw Sam cie masih terus juga melemparkan kendi-kendi arak lainnya ke arah Bie Liek, sehingga Bie Liek jadi repot juga berusaha menggengoskan setiap samberan dari kendi arak itu, yang menyambar disertai oleh tenaga lemparan yang kuat dari si Harimau hitam berjari tiga.

Tiba-tiba Sian Tauw Bun mengeluarkan seruan kaget. Hidungnya dapat mengendus semacam bau, yaitu bau minyak bumi.

Baru saja dia mau berseru, tampak Hek Houw Sam-cie menyalakan bahan api, melemparkan api yang menyala itu ke arah Bie Liek.

Baru-baru Biek Liek heran melihat perbuatan orang, dia mengengoskan samberan api itu, yang sudah lantas jatuh keatas tanah. Tetapi begitu api tersebut menyentuh tanah, begitu juga lantas tanah disekitar tempat itu jadi menyala, api berkobar dan dalam waktu yang sangat singkat sekali api telah berkobar kobar mengurung Bie Liek dan kawan kawannya.

Bie Liek jadi terkejut, seketika itu juga dia tersadar, bahwa yang berhamburan dari kendi arak itu ternyata bukan arak sebenarnya, melainkan minyak bumi!

Agak gugup juga Bie Liek berusaha mengelakkan diri dari sambaran-sambaran api, dan dia juga jadi menguatirkan keselamatan kawan-kawannya, lebih-lebih keselamatan Mie Kong, si bocah yang masih belum mengerti ilmu silat itu.

Maka dari itu, Bie Liek tidak mengejar Hek Hauw Sam-cie yang kala itu telah melarikan diri, dia melainkan melompat ke arah Mie Kong.

Sambil melompat diantara jilatan api yang berkobar-kobar itu, Bie Liek berteriak : “Sian Loo-peh dan kau Sian Siocia, cepat kalian selamatkan diri!! Lari terus ke muka!” dan Bie Liek melompat menyambar tubuh Mie Kong yang kala itu sedang terpelanting dari kuda tunggangannya, sebab kuda tunggangan Mie Kong jadi mengamuk disebabkan kaget melihat kobaran api.

Sambil menjepit tubuh Mie Kong, Bie Liek berlompat dengan gesit diantara jilatan lidah api. Dengan cepat dia telah berada dibagian depan, sehingga dia dapat menjauhi kobaran api itu.

Begitu juga Sian Tauw Bun dan Sian Su Ling, kedua ayah dan anak tersebut dapat meloloskan diri dari kobaran api. Hanya yang menjadi korban adalah kuda tunggangan Mie Kong, kuda itu tertambus hidup-hidup.

Bie Liek menurunkan tubuh Mie Kong. Bocah ini menghela napas.

“Akh aku tidak menyangka bahwa orang yang mengaku gelar Hek Houw Sam-

cie itu dapat berlaku selicik ini!!” Kata Bie Liek. Sian Tauw Bun mengangguk : “Ya kalau memang dia tidak sempat meloloskan diri, mungkin Loohu akan membunuhnya dengan menggunakan kedua tanganku in!” Kata Sian Tauw Bun dengan mendongkol bercampur perasaan gusar.

Bie Liek menghela napas lagi.

“Coba kalau kita bergerak kurang cepat, tentu kita semuanya akan tertambus oleh api itu!” kata Bie Liek sambil memandang ke arah kobaran api yang masih berkobar agak besar.

Sian Tauw Bun mengangguk.

“Benar Bie Siauw-hiap!” katanya membenarkan perkataan Bie Liek. “Kalau memang nanti kita bertemu dengan orang itu lagi, kita harus memberikan pelajaran yang setimpal padanya, agar dia kapok untuk selama-lamanya!”

Bie Liek memandang ke arah Sian Tauw Bun, seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan, tetapi tidak jadi diucapkan olehnya.

Sian Tauw Bun melihat itu, kakek she Sian ini mengetahui apa yang terkandung di hati si bocah she Bie tersebut, maka Tauw Bun tersenyum.

“Bie Siauw-hiap, tampaknya kau seperti ingin mengatakan sesuatu?!” tanyanya. “Katakanlah Loohu akan mendengarkannya!”

Wajah Bie Liek jadi berubah merah, tetapi dia menyahuti juga : “Loopeh jangan marah, kalau memang aku tak salah lihat Hek Houw Sam-cie itu sebetulnya mengincar Loopeh, dan menurut perasaan hati kecilku bahwa Hek Houw Sam-cie itu adalah salah seorang anak buah dari orang-orang Siauw Lim Sie!”

Sian Tauw Bun mengangguk.

“Kukira juga begitu!” kata Sian Tauw Bun dengan cepat. “Tadi waktu Bie Siauw- hiap bertempur dengannya, aku juga memperhatikan Hek Houw Sam cie selalu melirik ke arahku, dan mungkin dia memang mengincar diriku! Akh, kitab Kim Hun Pit-kip itu ternyata selalu membawa persoalan yang rumit! Untung saja hari inipun ada Bie Siauw- hiap, kalau tidak, entah aku dapat menghadapinya atau tidak?!”

Bie Liek cepat-cepat menghibur Sian Tauw Bun. Kemudian dia juga menambahkan

: “Dan untuk selanjutnya kita harus waspada dan hati-hati!” katanya.

Sian Tauw Bun mengiakan. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka lagi. Karena kuda Mie Kong telah kena tertambus api, maka bocah she Mie tersebut jadi ikut pada kuda Sian Tauw Bun. Ternyata perjalanan selanjutnya tak ada rintangan apa- apa lagi mereka dapat melalui gunung itu dengan tak memperoleh halangan apa-apa. WAKTU sampai dikaki gunung Tiang-san, Sian Tauw Bun mengajak Bie Liek kesebelah utara dari kaki gunung tersebut. Mereka sampai didekat sebuah air terjun yang indah sekali, pemandangan disekitar tempat itu sangat menarik sekali.

Mie Kong sendiri sebentar-sebentar memuji keindahan pemandangan tempat itu.

“Kitab Kim-hun Pit-kip itu kusimpan di bawah sebuah batu gunung didekat air terjun itu!” Sian Tauw Bun menerangkan “Dan menurut pesan dari Ceng Sian Siansu bahwa kalau aku telah bertemu dengan salah seorang yang cocok dan berjodoh dengan kitab itu, maka Loohu harus menyerahkan kitab tersebut padanya! Nah Bie Siauw-hiap! Loohu kira Bie Siauw hiap yang cocok dan berjodoh untuk memperoleh kitab itu! Maka dari itu, aku bermaksud untuk menyerahkan kitab tersebut kepadamu!”

Bie Liek jadi terkejut.

“Oh mana bisa begitu!” katanya dengan cepat. “Aku tak berhak untuk memiliki kitab itu!”

“Dengarlah dulu Bie Siauw-hiap!” kata Sian Tauw Bun cepat. “Bukankah telah Loohu ceritakan dulu, bahwa Ceng Sian Siansu telah memberikan amanatnya kepadaku, agar menyerahkan kitab pusaka itu kepada orang yang berjodoh dan berhak mendapatkan kitab itu? Bukankah dengan adanya kitab itu di tangan Bie Siauw-hiap, maka kitab itu akan aman dan dapat dilindungi untuk seterusnya oleh Bie Siauw-hiap?”

Tetapi Bie Liek tetap menolaknya, walaupun Sian Tauw Bun telah mendesaknya terus. Akhirnya Sian Su Ling juga ikut membujuk Bie Liek untuk menerima kitab itu. Akhirnya, karena didesak terus menerus, Bie Liek terpaksa harus menerimanya juga. Dia mengucapkan terima kasih berulang kali.

“Mari kita ambil kitab itu dari tempat penyimpanannya, dan untuk selanjutnya Bie Siauw-hiap bisa mempelajari isi kitab itu! Dengan begitu, Bie Siauw-hiap akan lebih kosen dan liehay lagi dan dengan sendirinya Bie Siauw-hiap juga bisa memberikan pertolongan kepada rakyat lemah bisa menghadapi si jahat tetapi kuat dan terutama sekali menghadapi Hong-thio Siauw-lim-sie itu, membongkar maksud jahatnya itu!”

Bie Liek mengangguk, beramai-ramai mereka menuju kedekat air terjun. Sian Tauw Bun menuju kesebuah batu gunung yang tampak menonjol keluar. Sedangkan yang lainnya hanya mengikuti dari belakang orang she Sian itu.

Waktu sampai didekat batu gunung itu, Siap Tauw Bun tiba-tiba mengeluarkan seruan tertahan, wajahnya juga berubah pucat. Hal ini mengejutkan Bie Liek, Su Ling Mie Kong. Ketiga orang ini cepat-cepat menghampiri Sian Tauw Bun.

“Ada apa Loopeh?” tanya Bie Liek dengan cepat.

Sian Tauw Bun menunjuk ke arah batu gunung itu. “Lihatlah     kita telah kena diduluin orang!” kata Sian Tauw Bun dengan gusar.

“Tempat kusimpan kitab Kim Hun Pit-kip itu telah dibongkar oleh orang!”

Bie Liek mengawasi ke arah tempat yang ditunjuk oleh Sian Tauw Bun.

Dilihatnya di dekat batu gunung yang menonjol itu, tampak sebuah liang. Dilihat dari keadaan liang itu, maka bisa dibayangkan bahwa liang itu baru saja digali orang. Sian Tauw Bun jadi berduka sekali, wajahnya berubah pucat.

“Siapa yang telah mendahului kita mengambil kitab itu? Sedangkan tempat penyimpanan kitab ini hanya diketahui oleh Loohu seorang!” kata Sian Tauw Bun dengan suara yang parau. “Siapakah yang telah mengambilnya? Jago manakah yang telah mendahului kita? Apakah orang-orang Siauw-lim sie?!”

Bie Liek juga jadi berdiri terpaku sesaat memandang ke arah bawah batu gunung itu dengan pandangan mata yang redup. Dia juga bingung kitab itu bisa jatuh ke lain orang, sedangkan tempat penyimpanan kitab itu menurut Sian Tauw Bun hanyalah diketahui oleh Sian Tauw Bun seorang.

Tiba-tiba, sedang mereka berdiam begitu, terdengar suara tertawa mengejek yang

tawar.

“Hmmm biarpun kau mempertahankan kitab ini mati-matian, tetap saja kitab

Kim hun Pit-kip harus kembali pada tangan pemiliknya! Siauw Lim sie adalah pemilik kitab Kim-hun Pit-kip tersebut!” terdengar suara orang berkata dengan suara yang agak sember.

Sian Tauw Bun, Bie Liek, Sian Su Ling dan Mie Kong jadi terkejut. Mereka semuanya menoleh ke arah datangnya suara itu. Ternyata dari balik sebuah batu gunung besar, telah melangkah keluar lima orang Hweeshio.

Yang berkata tadi ada!ah seorang Hweeshio tua yang berjalan paling depan, sedangkan keempat Hweeshio lainnya adalah Hweeshio yang berusia dipertengahan.

Rupanya Hweeshio tua yang memelihara jenggot yang panjang telah berwarna putih seluruhnya itu, adalah pemimpin dari keempat Hweeshio lainnya.

Melihat Hweeshio tersebut, Sian Tauw Bun jadi gusar bukan main.

“Hu! Hu! Rupanya kau, Bo Siang Hweeshio!” tegurnya dengan suara yang dingin. “Hmmm aku tidak menyangka sedikitpun bahwa kau sebagai seorang beribadat yang mempunyai hati sangat welas asih bisa bekerja untuk Bong Goan si murtad itu!”

Wajah Hweeshio tua itu, yang dipanggil oleh Sian Tauw Bun sebagai Bo Siang Hweeshio, jadi berobah untuk sesaat lamanya, tetapi kemudian berobah sabar sekali.

'“Sian Siecu telah dua puluh tahun kita berpisah dan tidak saling jumpa satu dengan yang lain!” kata Bo Siang Hweeshio dengan suara yang sabar. “Ternyata sekarang kau menjadi seorang penaik darah yang cepat marah! Dulu waktu Sian Siecu melarikan diri dari kuil Siauw Lim Sie, seharusnya Sian Siecu harus ditangkap dan dihukum menurut hukum-hukum yang berlaku di dalam lingkungan Siauw-lim sie, lebih- lebih kepergian Sian Siecu dengan membawa lari kitab Kim-hun Pit-kip milik Siauw-lim sie seharusnya Sian Siecu harus menerima hukuman mati! Namun karena Hong-thio kami memang sangat bijaksana dan sangat welas asih, beliau hanya memerintahkan kepada murid-murid Siauw lim-sie untuk menagih pulang kitab ini dan tidak mengapa-apakan Sian Siecu, asalkan mau menyerahkan dan mengembalikan kitab Kim hun Pit-kip ini! Tetapi, ternyata Sian Siecu selalu berusaha menghindarkan diri dari kami dan kita jadi main kucing-kucingan selama dua puluh tahun! Tetapi memang Thian maha adil dan maha penyayang, kitab ini akhirnya dapat dijumpai dan kembali ketangan kami! Maka dari itu, kalau memang Sian Siecu mau meminta maaf dan pengampunan dari sang Buddha maka jiwa Sian Siecu akan kami ampuni!!”

Wajah Sian Tauw Bon jadi berubah merah padam saking gusarnya.

“Bo Siang, kuperingatkan kepadamu, bahwa Bong Goan adalah seorang Hong-thio yang murtad! Maka lebih baik kau cepat-cepat mencuci tangan dan membersihkan dirimu agar kau kembali pada jalanmu yang disertai oleh kesucian yang sejati! Hmm kalau memang kau mau bekerja untuk Bong Goan, biarpun harus binasa di tangannya, akan kupertahankan kitab itu untuk memenuhi amanat yang ditinggalkan oleh Ceng Sian Siansu!!”

Bo Siang Hweeshio mengerutkan alisnya, tampaknya dia tak senang mendengar perkataan Sian Tauw Bun.

“Sian Siecu, perkataan itu sangat kasar dan melampaui batas!” kata Bo Siang dengan mendongkol. Dia menyebut nama sang Budha beberapa kali, kemudian baru melanjutkan perkataannya : “Hong thio Bong Goan Siansu telah melepaskan budi yang besar kepadamu, tetapi ternyata kau ingin membalas budi kebaikan itu dengan hati yang dengki! Soal Ceng Siansu-peh kami itu, kukira menjadi urusan di dalam rumah perguruan kami, dan kau bukan menjadi murid Siauw-lim sie, tidak berhak untuk ikut campur!! Nah orang she Sian, kalau memang kau tidak mau cepat-cepat menyatakan maafmu yang telah menghina Hong-thio kami, biarpun kau seumpamanya seorang kaisar, kau harus menerima kematian yang menyedihkan untuk menebus dosamu!!”

Bo Siang Hweeshio berkata begitu karena dia mendongkol sekali Sian Tauw Bun telah memaki Bong Goan Siansu, Hong-thionya itu, habis-habisan.

Sian Tauw Bun ketawa dingin mendengar perkataan Bo Siang Hweeshio, sikapnya tawar sekali, dia seperti memandang enteng kepada Hweeshio itu, dan tampaknya Sian Tauw Bun tidak jeri menghadapi Hweeshio yang lihay ini, biarpun Sian Tauw Bun sendiri mengetahui bahwa dirinya bukan menjadi tandingan dari Bo Siang Hweeshio.

“Bo Siang ternyata kaupun mau menjadi seorang pertapa murtad seperti Bong Goan, si durhaka itu!!” kata Sian Tauw Bun dengan suara yang mengejek dan sangat berani sekali. “Apakah kau sendiri tidak mengetahui bahwa kau sedang menuju ke neraka bersama-sama dengan Bong Goan? Hu! Hu! Kau masih sempat mengatakan agar aku meminta maaf karena memaki Bong Goan? Untung saja kepandaianku tidak bisa menandingi kalian, coba kalau tidak, sudah siang-siang kepala botaknya Bong Goan kupisahkan dari batang lehernya.”

Wajah Bo Siang Hweeshio jadi merah padam mendengar perkataan Sian Tauw Bun. Dia murka sekali mendengar Hong-thio dan dirinya dihina begitu macam oleh Sian Tauw Bun.

“Orang she Sian, apakah kau benar-benar mencari mampus?” bentak Bo Siang dengan suara yang bengis. “Dengan berani menghina Hong-thio kami, berarti kau telah murtad sebagai seorang manusia!!”

“Murtad sebagai seorang manusia?” balik tanya Sian Tauw Bun dengan berani. “Hmmm biarpun aku harus mati dan binasa di tanganmu orang-orang murtad, tetap akan kumaki! Untuk apa kujerikan orang-orang laknat seperti kalian?!”

Betapa gusar Bo Siang, dia mendengus berulang kali. Dia menoleh ke belakangnya memberikan isyarat kepada keempat Hweeshio lainnya.

Tahu-tahu, seperti juga diberi komando, keempat Hweeshio itu telah melompat ke arah Sian Tauw Bun. Gerakan keempat Hweeshio itu gesit sekali, menandakan bahwa kepandaian keempat orang pertapaan ini telah sempurna.

Melihat keempat Hweeshio itu menerjang dirinya dengan wajah yang bengis, Sian Tauw Bun tidak takut. Dia malah memapaknya akan mengadu jiwa dengan keempat Hweeshio itu. Bie Liek jadi terkejut melihat kenekadan Sian Tauw Bun.

Disaat keempat Hweeshio-Hweeshio itu hampir turun tangan, ingin mengeroyok Sian Tauw Bun, dengan mengeluarkan seruan yang nyaring Bie Liek melompat menghadang di depan Sian Tauw Bun.

“Mundur Sian Loopeh, biar aku yang menghadapi kepala keledai ini!” kata Bie Liek. Sian Tauw Bun memang mengetahui keliehayan Bie Liek, dia mengangguk.

“Hati-hati Bie Siauw-hiap!” pesannya.

Bie Liek hanya mengangguk, dia sudah memutar tubuhnya menghadapi keempat Hweeshio itu.

“Hei kepala keledai!” bentak Bie Liek dengan suara yang lantang sekali. “Kalian adalah manusia-manusia pertapaan yang memakai jubah pertapaan, tetapi rupanya pakaian kalian itu hanya dipakai untuk kedok belaka! Hmmm, ternyata jiwa kalian lebih kotor dari rakyat jelata kebanyakan!!'

Keempat Hweeshio yang menjadi anak buah dari Bo Siang jadi berubah mukanya.

Mereka gusar sekali. Begitu juga Bo Siang, dia murka bukan main. “Hei bocah, apakah kau mencari mampus ingin mencampuri urusan kami?” bentak salah seorang diantara keempat Hweeshio yang menjadi anak buah Bo Siang itu. “Cepat menggelinding enyah dari depan kami!”

Bie Liek ketawa dingin, sikapnya tenang sekali, seperti juga tidak memandang sebelah mata kepada Hweeshio-Hweeshio itu, yang menyebabkan orang-orang pertapaan itu jadi menoongkol bukan main, malah tubuh Bo Siang sampai menggigil saking murkanya.

“Hari ini tuan kecil kalian mau menghajar keledai sepuas hatinya, keledai-keledai botak yang tidak tahu diri itu tidak akan kuampuni sebelum dia menangis meminta ampun!” mengejek Bie Liek dengan suara yang tawar.

Mendengar disebut diri mereka sebagai keledai botak yang tidak tahu diri, Bo Siang dan keempat Hweeshio lainnya jadi gusar sekali. Malah saking murka, keempat Hweeshio yang menjadi anak buah Bo Siang Hweeshio telah menerjang akan menghajar Bie Liek.

Tetapi Bie Liek lebih gesit dari mereka. Belum lagi keempat serangan dari keempat Hweeshio itu berhasil mengenai dirinya, Bie Lek telah bergerak dengan cepat, kedua tangannya juga bergerak-gerak, maka dengan cepat dia telah membikin rubuh keempat Hweeshio ini, yang telah tertotok jalan darah mereka, sehingga keempat Hweeshio itu jadi terjungkal untuk rebah tak berkutik lagi.

Melihat hal itu Bo Siang Hweeshio jadi terkejut bukan main. Tanpa disadarinya dia jadi mengeluarkan seruan tertahan dan mengalirkan keringat dingin dikeningnya. Cepat- cepat Bo Siang Hweeshio merangkapkan kedua tangannya, berulang kali dia menyebut nama sang Budda.

Kemudian dengan mata mencilak dia memandang ke arah Bie Liek. Wajahnya bengis sekali.

“Oh bocah setan!” katanya dengan gusar sekali. “Rupanya kau adalah iblis yang

telah turun ke bumi untuk mengacau! Hmmm kau harus binasa di tangan Pinceng!!”

Setelah berkata begitu, dengan wajah yang tetap bengis Bo Siang menghampiri Bie Liek.

Bie Liek berdiam diri ditempatnya, sedikitpun dia tidak bergeming. Tidak tampak perasaan takut pada wajahnya. Sian Tauw Bun jadi menguatirkan keselamatan Bie Liek, karena dia mengetahui benar kepandaian yang dimiliki oleh Bo Siang Hweeshio.

Bo Siang adalah murid dalam urutan ketiga, maka bisa dibayangkan kepandaiannya. Siauw Lim Sie terbagi dalam urutan murid berbagai golongan. Golongan urutan pertama dibagi untuk para pimpinan kuil, murid golongan kedua terbagi untuk pengawas keamanan dan ketentraman kuil serta mengawasi beberapa ruangan terpenting dari kuil tersebut, sedangkan murid-murid dalam urutan ketiga khusus mendidik murid-murid Siauw Lim Sie yang terbagi dalam urutan golongan angkatan keempat, kelima dan keenam.

Maka dari itu, sebagai murid dari angkatan ketiga, bisa dibayangkan kepandaian yang dimiliki oleh Bo Siang. Mata Hweeshio ini berkilat tajam sekali. Tetapi Bie Liek tidak jeri sedikitpun, dia malah balas menatap muka orang.

“Bocah!” bentak Bo Siang dengan suara yang bengis. “Sebutan nama gurumu,

agar nanti kebinasaanmu itu bisa kuberitakan kepadanya!”

Sangat angkuh nada perkataan Bo Siang, seakan juga dia merasa pasti akan dapat membinasakan Bie Liek. Bie Liek ketawa dingin.

“Keledai botak dan bodoh semacammu ini tidak pantas mendengar nama besar

guruku!” katanya dingin.

Muka Bo Siang jadi merah padam seperti kepiting direbus, seumur hidupnya belum pernah ada orang yang berani berlaku kurang ajar terhadap dirinya, apa lagi sekarang Bie Liek hanyalah seorang bocah dan telah menghinanya begitu macam, bisa dibayangkan kemurkaan Hweeshio ini. Tubuh Bo Siang sampai menggigil saking gusarnya.

“Bocah kurang ajar!” teriaknya seperti kalap, dan tubuhnya mencelat ke arah Bie Lies, tangannya terulurkan akan menghajar dada Bie Liek.

Tetapi Bie Liek yang melihat bahwa Bo Siang mempunyai kepandaian yang tinggi, tidak berani memandang enteng, dia telah bergerak dengan cepat.

Dikala tangan Hweeshio itu akan menyambar kedadanya dengan kecepatan luar biasa Bie Liek juga mengenjotkan kakinya, sehingga dengan tidak kalah cepatnya tubuh bocah itu melambung keatas.

Tetapi Bo Siang Hweeshio adalah seorang Hweeshio yang lihay sekali, dia sangat kosen. Melihat serangan pertamanya mengenai tempat kosong, dia tidak menarik pulang tangannya. Melainkan dengan memperdengarkan suara dengusan, Bo Siang Hweeshio telah memutar tangannya, tahu-tahu dia telah merobah arah serangan, tangannya itu merabuh keatas, ke arah lambung Bie Liek.

Bocah she Bie ini jadi terperanjat juga melihat kehebatan tangan Bo Siang Hweeshio. Bie Liek tidak menduga sebelumnya bahwa Bo Siang Hweeshio dapat merobah arah serangan dalam waktu yang begitu cepat dan tanpa menarik pulang dulu tangannya. Maka dari itu, disamping terkejut, keadaan Bie Liek juga sangat berbahaya sekali, sebab tubuhnya sedang melambung, sehingga sukar baginya untuk menghindarkan diri dari serangan Hweeshio itu.

Tangan Bo Siang Hweeshio menyambar dengan kecepatan yang luar biasa. Bie

Liek sendiri melihat bahwa dirinya sudah tak mungkin dapat mengelakkan serangan Hweeshio tersebut. Maka dari itu, cepat-cepat dia menarik napas dalam-dalam, dan mengerahkan tenaga Lweekangnya ke lengannya, dia mengayunkan tangannya ke bawah, menangkis tangan Bo Siang Hweeshio.

“Dukkkk!” kedua tangan mereka saling bentur dengan menerbitkan suara yang nyaring sekali. Tampak tubuh Bo Siang Hweeshio bergoyang-goyang, hampir saja dia mundur terhuyung. Untung saja Bo Siang Hweeshio liehay dengan cepat dia dapat mengendalikan dirinya, sehingga dia tidak usah menderita malu dengan terhuyung mundur beberapa langkah. Coba kalau tidak, tentu Hweeshio ini telah terpukul terjengkang oleh Bie Liek.

Hanya hati si Hweeshio jadi tergetar juga, dia heran berbareng kaum, karena dia tadi begitu kaget waktu tangannya saling bentur dengan tangan Bie Liek.

Bo Siang Hweeshio merasakan tenaga Lweekang si bocah sangat kuat sekali, dan dirasakan bahwa tenaga dalam bocah she Bie itu mungkin berimbang dengan tenaga dalamnya. Yang membuatnya bingung, kalau memang Bie Liek itu seorang kakek-kakek, dia tidak akan heran, karena wajar kalau orang telah melatih Lweekangnya puluhan tahun, pasti akan terlatih sempurna. Tetapi sekarang Bie Liek dilihatnya mungkin baru berusia tiga belas atau empat belas tahun maka mana masuk dalam hatinya bahwa bocah sebesar itu dapat mempunyai Lweekang yang begitu kuat?

Sedang si Hweeshio Bo Siang terbengong, malah Bie Liek telah turun ke tanah dengan kedua kaki terlebih dahulu. Dia tidak mengalami cidera sedikitpun. Tadi sengaja Bie Liek menangkis serangan Bo Siang Hweeshio dengan kekerasan.

Disaat tangannya membentur tangan Bo Siang Hweeshio, maka si bocah she Bie telah menarik napas panjang, kemudian dia meminjam tenaga benturan itu untuk melambung tinggi, sehingga dia dapat menjauhi diri si Hweeshio itu.